doktrin Advent 5
llah berkata, "Baiklah Kita
menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa Kita"(Kej. 1:26). yaitu amat jelas ke-
tidaksinambungan antara makhluk manusia
dengan makhluk yang ada dalam dunia
binatang. Silsilah yang diberikan Lukas meng-
gambarkan asal-usul umat manusia dengan
sangat sederhana namun gamblang, "anak
Adam, anak Allah" (Luk. 3:38).
Kedudukan Manusia Diunggulkan.
Penciptaan manusia yaitu mahkota atau
puncak semua Ciptaan. Allah menaruh ma-
nusia, menciptakannya dalam gambar Allah
yang penuh kuasa, untuk mengatur Planet
Bumi dan semua makhluk yang ada di
dalamnya. L. Berkhof berkata mengenai
Adam, "Hak dan tanggung jawabnyalah me-
ngatur alam dan makhluk yang ada di
dalamnya, yang telah ditempatkan di bawah
pengawasannya, tunduk kepada perintahnya,
taat kepada kehendak dan tujuannya, agar ia
dan semua yang di bawah kuasanya memu-
liakan Khalik yang Mahakuasa dan Tuhan
semesta alam, Kej. 1:28; Mzm. 8:5-10.4.2
Kesatuan Umat Manusia. Silsilah yang
ada dalam Kejadian menunjukkan bah-
wa keturunan manusia berasal dari pasangan
Adam dan Hawa. Sebagai manusia, kita se-
mua memiliki sifat yang sama, yang memili-
ki benih keturunan atau kesatuan keturun-
97Sifat dan Keadaan Manusia
an. Paulus berkata, "Dari satu orang saja Ia
telah menjadikan semua bangsa dan umat
manusia untuk mendiami seluruh muka bu-
mi" (Kis. 17:26).
Selanjutnya, kita melihat petunjuk lain-
nya mengenai kesatuan organis umat manu-
sia dalam pernyataan yang tegas dari Alkitab
bahwa pelanggaran Adam telah mendatang-
kan dosa dan kematian kepada semuanya,
dan dalam persyaratan keselamatan bagi se-
mua melalui Kristus (Rm. 5:12, 19; 1 Kor.
15:21, 22).
KESATUAN SIFAT ATAU KEADAAN
MANUSIA
Terdiri dari apakah sifat-sifat manusia
itu? Apakah manusia itu dibuat dari bebera-
pa komponen yang mandiri, misalnya terdi-
ri dari satu tubuh, satu jiwa dan satu roh?
Nafas Hidup. Allah "membentuk manu-
sia itu dari debu tanah dan menghembuskan
nafas hidup ke dalam hidungnya; demikian-
lah manusia itu menjadi makhluk yang hi-
dup" (Kej. 2:7).
Tatkala Allah mengubah unsur-unsur de-
bu menjadi makhluk hidup, Ia "menghem-
buskan" "napas hidup" ke dalam lubang hi-
dung Adam yang mempunyai tubuh yang be-
lum bernyawa itu. Napas hidup ini yaitu
"nafas Yang Mahakuasa" yang memberikan
hidup (Ayb. 33:4)—percikan kehidupan. Ki-
ta dapat membandingkannya dengan arus lis-
trik yang jika mengalir melalui pelbagai
komponen listrik, mengubah warna buram
dalam kotak kaca menjadi percikan warna
yang bergerak—bilamana kita putar dalam
televisi berwarna. Arus listrik itu mendatang-
kan suara dan gerak dalam tempat yang ta-
dinya kosong.
Manusia—Jiwa yang Hidup. Apakah
yang dilakukan nafas hidup itu? jika Tu-
han membentuk makhluk manusia dari un-
sur-unsur debu, maka semua organ tubuh
diadakan di dalamnya: jantung, paru-paru,
ginjal, hati, limpa kecil, otak, dsb.—Semua-
nya sempurna namun tidak bernyawa. Kemu-
dian Tuhan menghembuskan ke benda yang
tidak bernyawa ini napas hidup dan jadilah
"manusia yang hidup."
Persamaan yang dibuat kitab suci cukup
gamblang: debu dari tanah (unsur-unsur ta-
nah) + nafas hidup—makhluk hidup atau
jiwa yang hidup. Persatuan unsur-unsur ta-
nah dengan nafas hidup menghasilkan ma-
khluk hidup atau jiwa.
"Nafas hidup" ini tidak terbatas pada ma-
nusia saja. Semua makhluk hidup memiliki-
nya. Alkitab, sekadar contoh, menyifatkan
nafas hidup itu baik kepada binatang yang
ikut masuk ke dalam bahtera Nuh maupun
yang tidak ikut masuk (Kej. 7:15, 22).
Istilah Ibrani dalam Kejadian 2:7 yang
telah diterjemahkan "makhluk hidup" atau
"jiwa yang hidup" yaitu nephesh chayyah.
Pernyataan ini tidaklah ditujukan hanya ke-
pada manusia saja, juga termasuk kepada bi-
natang-binatang yang hidup dalam air, juga
kepada serangga, reptil dan binatang buas
(Kej. 1:20, 24; 2:19).
Nephesh, diterjemahkan sebagai "makh-
luk" atau "jiwa," berasal dari nasphash, yang
berarti "untuk bernafas." Persamaannya da-
lam bahasa Yunani dalam Perjanjian Baru
yaitu psuche. "Sebab sebagaimana nafas
yaitu merupakan bukti yang paling nyata
kehidupan itu nephesh pada dasarnya me-
nunjukkan manusia sebagai makhluk hidup,
satu pribadi.”3 Bila digunakan untuk bina-
tang, sebagaimana kisah Penciptaan, itu
menggambarkan mereka sebagai makhluk
hidup yang telah diciptakan Tuhan.
Perlu diingat pernyataan bahwa Alkitab
mengatakan bahwa manusia itu menjadi se-
98Sifat dan Keadaan Manusia
buah jiwa yang hidup. Tidak ada catatan
yang menunjukkan bahwa manusia itu me-
nerima sebuah jiwa dalam kisah Pencipta-
an—yang terpisah secara lahiriah dan kemu-
dian digabungkan dengan tubuh manusia itu.
Sebuah Kesatuan yang Tidak Dapat
Dipisahkan. Pentingnya laporan Penciptaan
untuk dipahami secara memadai tentang si-
fat manusia tidak boleh dilebih-lebihkan. De-
ngan menekankan kesatuan organisnya, Ki-
tab Suci melukiskan manusia secara keselu-
ruhan. Bagaimanakah jiwa dan roh berhu-
bungan dengan sifat atau keadaan manusia
itu?
1. Makna jiwa menurut Kitab Suci. Se-
bagaimana telah kita sebutkan, di dalam Per-
janjian Lama "jiwa" yaitu sebuah terjemah-
an nephesh dalam bahasa Ibrani. Di dalam
Kejadian 2:7 ditunjukkan bahwa manusia se-
bagai makhluk hidup setelah nafas hidup di-
hembuskan ke dalam tubuh jasmani yang di-
bentuk dari unsur-unsur tanah. "Demikian
pula, satu jiwa baru menjadi ada jika se-
orang bayi lahir, setiap 'jiwa' merupakan satu
unit kehidupan yang berbeda secara khas,
dan terpisah, dari unit-unit lain yang sama.
Kualitas individualitas ini di dalam setiap
makhluk hidup, yang berisi sebuah kesatu-
an yang khas, tampaknya yaitu ide yang
ditekankan oleh istilah Ibrani nephesh. Apa-
bila digunakan dalam cara seperti ini maka
nephesh bukanlah satu bagian dari pribadi
itu, melainkan itulah pribadi itu, dan me-
mang dalam banyak contoh, yaitu diterje-
mahkan sebagai 'pribadi' (baca Kej. 14:21;
Bil. 5:6; Ul. 10:22; bandingkan Mzm. 3:3)
atau 'diri' (Im. 11:43; 1 Raj. 19:4; Yes. 46:2,
dsb).
"Sebaliknya, pernyataan seperti 'jiwaku,'
'jiwamu,' dsb, yaitu ungkapan umum un-
tuk kata ganti orang 'I', 'aku,' 'dia,' dsb. (lihat
Kej. 12:13; Im. 11:43, 44; 19:8; Yos. 23:11;
Mzm. 3:3; Yer. 37:9, dsb).Lebih dari 100 kali
dari 755 peristiwa dalam Perjanjian Baru ter-
jemahan KJV nephesh diterjemahkan seba-
gai 'hidup' (Kej. 9:4, 5; 1 Sam. 19:5; Ayb. 2:
4, 6; Mzm. 31:14; dsb.)
"Sering nephesh menunjuk kepada ke-
inginan, selera atau nafsu (bandingkan Ul.
23:24; Ams. 23:2; Pkh. 6:7), dan kadang-
kadang juga diterjemahkan 'selera' (Ams. 23:
2; Pkh. 6:7). Boleh jadi juga menunjuk pada
kasih sayang (Kej. 34:3; Kid. 1:7, dsb.), dan
pada kali tertentu menggambarkan kemauan
sendiri, sebagaimana bila diterjemahkan 'ke-
senangan' (KJV) dalam Ul. 23:24; Mzm.
105:22; Yer. 34:16. Di dalam Bil. 31:19
nephesh yaitu 'dibunuh', dan dalam Hak.
16:30 (diterjemahkan 'aku') yaitu mati. Di
dalam Bil. 5:2 ('mati') dan pasal 9:6 ('tubuh
yang mati') yang dimaksudkan ialah mayat
(bandingkan Im. 19:28; Bil. 9:7, 10).
"Penggunaan kata Yunani psuche di da-
lam Perjanjian Baru yaitu sama dengan ka-
ta nephesh yang digunakan dalam Perjanji-
an Lama. Biasanya digunakan untuk hidup
binatang serta halnya hidup manusia (Why.
16:3). Di dalam terjemahan Versi King
James (KJV) ini diterjemahkan 40 kali se-
bagai "hidup" atau "kehidupan" (baca Mat.
2:20; 6:25; 16:25; dsb.) Dalam beberapa
contoh biasa digunakan untuk maksud 'ba-
nyaknya orang' (baca Kis. 7:14; 27:37; Rm.
13:1; 1 Ptr. 3:20, dsb.), sedang pada yang
lain itu sama dengan kata ganti orang (baca
Mat. 12:18; 2 Kor. 12:15; dsb.). Kadang-ka-
dang digunakan juga untuk menunjuk ter-
hadap emosi (Mrk. 14:34; Luk. 2:35), untuk
pikiran (Kis. 14:2; Flp. 1:27), atau kepada
hati (Ef. 6:6)."4
Psuche itu tidak abadi melainkan tunduk
kepada maut (Why. 16:3). Itu dapat dibinasa-
kan (Mat. 10:28).
Bukti Alkitabiah menunjukkan bahwa ka-
99Sifat dan Keadaan Manusia
dang-kadang nephesh dan psuche menunjuk
kepada pribadi secara keseluruhan dan pada
waktu lain kepada aspek khusus manusia,
misalnya kasih sayang, emosi, selera dan pe-
rasaan. Pemakaian ini, bagaimanapun, tidak-
lah menunjukkan bahwa manusia terdiri dari
dua bagian yang berbeda. Badan dan jiwa
ada bersama-sama, keduanya terbentuk me-
rupakan kesatuan yang tidak dapat dipisah-
kan. Jiwa bukanlah satu wujud yang terpi-
sah dari tubuh dan tidak memiliki kesadar-
an sendiri. Tidak ada ayat yang menunjuk-
kan bahwa jiwa ada dalam tubuh sebagai satu
kesadaran.
2. Makna Alkitabiah Roh. Mengingat
kata Ibrani nephesh diterjemahkan jiwa, me-
nunjuk kepada individualitas atau kepriba-
dian, kata Ibrani dalam Perjanjian lama ru-
ach, diterjemahkan roh, menunjuk kepada
percikan tenaga yang hakiki bagi kehidupan
eksistensi individual. Menunjuk kepada te-
naga llahi, atau prinsip hidup yang menghi-
dupkan makhluk manusia.
Ruach digunakan 377 kali dalam Perjan-
jian Lama dan pada umumnya sering diterje-
mahkan sebagai ‘roh,’ ‘angin,’ atau ‘nafas’
(Kej. 8:1, dsb.). Juga digunakan untuk me-
nunjuk kepada vitalitas (Hak. 15:19), kebe-
ranian (Yos. 2:11), kemarahan atau amarah
(Hak. 8:3), watak (Yes. 54:6), sifat tabiat
(Yeh 11:19), dan tempat emosi (1 Sam. 1:15).
"Sehubungan dengan napas, ruach manu-
sia sama dengap ruach hewan (Pkh. 3:19).
Ruach manusia meninggalkan tubuh pada
waktu mati (Mzm. 146:4) dan kembali ke-
pada Tuhan (Pkh. 12:7; bandingkan Ayb.
34:14). Sering kata Ruach digunakan untuk
menyatakan Roh Allah, seperti yang terda-
pat dalam Yesaya 63:10. Tidak pernah digu-
nakan dalam Perjanjian Lama menunjuk ke-
pada manusia ruach itu sebuah eksistensi
yang mampu dan berpikir secara terpisah
dari tubuh jasmani.
"Kata yang sama dalam Perjanjian Baru
bagi ruach ialah pneuma, 'roh,' dari pneo,
'meniupkan,' atau 'bernapas.' Sebagaimana
dengan ruach, tidak ada yang disifatkan da-
lam kata pneuma yang menunjuk kepada ek-
sistensi kesadaran yang benar-benar mem-
punyai kemampuan yang terpisah dari tubuh,
tidak juga digunakan dalam Perjanjian Baru
yang menunjuk kepada manusia sebagai se-
buah konsep. Sebagaimana nas dalam Roma
8:15; 1 Korintus 4:21; 2 Timotius 1:7; 1 Yo-
hanes 4:6 pneuma menunjuk kepada 'suasa-
na hati,"sikap,' atau 'keadaan perasaan.' Juga
digunakan untuk menyatakan pelbagai as-
pek kepribadian sebagaimana yang ada
dalam Galatia 6:1; Roma 12:11; dsb. Seba-
gaimana halnya ruach, pneuma tunduk pada
Tuhan pada waktu kematian (Luk. 23:46;
Kis. 7:59). Seperti ruach, pneuma juga digu-
nakan atas Roh Allah (1 Kor. 2:11, 14; Ef.
4: 30; Ibr. 2:4; 1 Ptr. 1:12; 2 Ptr. 1:21; dsb)."5
3. Kesatuan Badan, jiwa dan Roh. Apa-
kah hubungan antara badan, jiwa dan roh?
Apakah pengarah hubungan ini dalam kesa-
tuan manusia?
a. Persatuan dua-ganda. Walaupun Al-
kitab memandang sifat atau keadaan manu-
sia itu sebagai satu kesatuan, hubungannya
secara persis tidaklah diberikan, yakni hu-
bungan antara badan, jiwa dan roh. Kadang-
kala penggunaan kata jiwa maupun roh digu-
nakan secara tumpang tindih. Cobalah per-
hatikan persamaan yang ada dalam ung-
kapan Maria ketika menyatakan kegembira-
annya dalam pujaan yang berikut: "Jiwaku
memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira
sebab Allah, Juruselamatku" (Luk. 1:46,
47).
100Sifat dan Keadaan Manusia
Dalam sebuah contoh manusia disifatkan
oleh Yesus sebagai tubuh dan roh (Mat. 10:
28) dan dalam peristiwa lain dinyatakan oleh
Paulus sebagai tubuh dan jiwa (1 Kor. 7:34).
Dahulu jiwa dianggap menunjuk kepada ke-
mampuan tinggi manusia, dianggap pikiran,
yang digunakan untuk mengadakan komuni-
kasi dengan Tuhan. Belakangan roh diang-
gap merupakan kemampuan yang tinggi ini.
Di dalam kedua contoh itu tubuh termasuk
secara fisik, sebagaimana halnya emosi seba-
gai aspek-aspek sebuah pribadi.
b. Persatuan tiga serangkai. Ada sebu-
ah kekecualian atas penyifatan secara umum
mengenai manusia yang dua ganda atau
rangkap dua itu. Rasul Paulus, yang berbi-
cara mengenai kesatuan yang rangkap ini,
yakni tubuh dan jiwa, juga berbicara dengan
menggunakan istilah kesatuan dalam tiga
serangkai. Ia berkata sebagai berikut, "Se-
moga Allah damai sejahtera menguduskan
kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan
tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak
bercacat pada kedatangan Yesus Kristus,
Tuhan kita" (1 Tes. 5:23). Nas ini menyam-
paikan keinginan Paulus bahwa tidak ada
dari antara ketiga aspek pribadi ini dapat di-
keluarkan dari proses penyucian.
Dalam contoh ini roh dapatlah dipahami
sebagai "prinsip tinggi kecerdasan dan pikir-
an yang dengannya dikaruniai kepada ma-
nusia, yang dengannya pula Allah dapat ber-
komunikasi melalui Roh-Nya (baca Rm. 8:
16). Dengan membaharui pikiran melalui
kegiatan Roh Kudus sehingga secara indi-
vidual diubah menjadi serupa dengan Kris-
tus (baca Rm. 12;1, 2).
"Dengan 'jiwa' ... bila dibedakan dari roh,
dapatlah dipahami bahwa bagian sifat atau
keadaan manusia itu mengungkapkan diri
melalui naluri, emosi dan keinginan. Bagi-
an watak manusia ini dapat juga dikudus-
kan. jika melalui usaha Roh Kudus, pi-
kiran diselaraskan dengan pikiran Allah,
maka pikiran yang dikuduskan ini dapat me-
lawan sifat-sifat yang rendah, dorongan-do-
rongan yang mungkin bertentangan dengan
kehendak Allah, sehingga menjadi takluk ke-
pada kehendak-Nya."6
Tubuh, yang dikendalikan oleh sifat yang
tinggi maupun yang rendah, pada hakikat-
nya secara jasmani terdiri dari: daging, da-
rah dan tulang.
Rangkaian yang dikemukakan Paulus de-
ngan menyebutkan pertama roh, kemudian
jiwa, dan akhirnya tubuh bukanlah secara ke-
betulan. jika roh dikuduskan maka pikir-
an berada di bawah kuasa Ilahi. Pikiran yang
telah disucikan itu, kemudian akan mempu-
nyai pengaruh yang menguduskan jiwa, yak-
ni: keinginan, perasaan dan emosi. Orang
yang dikuduskan ini tidak menyalahgunakan
tubuhnya, sehingga secara fisik akan tetap
sehat. Dengan demikianlah tubuh menjadi
alat yang dikuduskan, yang dapat digunakan
orang Kristen untuk melayani Tuhan dan Ju-
ruselamatnya. Panggilan Rasul Paulus supa-
ya menguduskan diri erat kaitannya dengan
konsep kesatuan sifat manusia serta menun-
jukkan keefektifan persiapan untuk menanti
kedatangan Kristus yang kedua kali, dengan
keutuhan pribadi: roh, jiwa dan tubuh.
c. Kesatuan yang tidak dapat dipisah-
kan dan simpatik. Jelas bahwa setiap makh-
luk manusia yaitu kesatuan yang tidak da-
pat dipisahkan. Badan, jiwa dan roh berfung-
si erat sekali, dalam kerja samanya, menun-
jukkan hubungan simpatik yang intens an-
tara kemampuan pribadi secara fisik, men-
tal dan jasmani. Kemerosotan pada salah
satu bagian akan menghambat dua yang lain.
Roh dan pikiran yang sakit, kotor akan
mengakibatkan efek yang merusak atas kese-
hatan emosi dan fisik seseorang juga. Begi-
101Sifat dan Keadaan Manusia
tu pula sebaliknya. Orang yang sakit-sakitan,
lemah atau menderita secara fisik pada umum-
nya akan merusak kesehatan dan emosi serta
kerohaniannya. Dampak kemampuan atas se-
tiap orang berarti bahwa setiap individu me-
miliki tanggung jawab yang diberikan Allah
untuk mencapai kondisi yang terbaik. Me-
lakukan hal yang demikian yaitu merupakan
bagian penting dan vital bagi orang yang di-
pulihkan ke dalam gambar Pencipta.
MANUSIA DALAM GAMBAR ALLAH
Makhluk hidup yang diciptakan Tuhan
pada hari keenam pada waktu Penciptaan
itu, dijadikan "menurut gambar-Nya, menu-
rut gambar Allah diciptakan-Nya dia" (Kej.
1: 27). Secara tidak langsung, apakah sebe-
nar-nya makna diciptakan dalam gambar-
Nya?
Diciptakan dalam Gambar dan Seru-
pa Allah. Seringkali disiratkannya, bahwa
dimensi moral dan spiritual manusia itu me-
nampakkan sesuatu mengenai moral dan
spiritual Allah. Bahkan Alkitab telah menga-
jarkan bahwa manusia terdiri dari kesatuan
yang tidak terpisahkan: tubuh, pikiran dan
jiwa, maka ciri-ciri fisik manusia haruslah
juga, dalam pelbagai cara, memantulkan
gambar Allah. Akan namun , bukankah Allah
itu roh? Bagaimanakah satu roh digabung-
kan dengan bentuk mana pun?
Sebuah tinjauan singkat mengenai malai-
kat menunjukkan bahwa mereka pun, seperti
Tuhan juga, yaitu makhluk spiritual (Ibr.
1:7, 14). Akan namun mereka senantiasa tam-
pak dalam bentuk manusia (Kej. 18:1-19:22;
Dan. 9:21; Luk. 1:11-38; Kis. 12:5-10). Apa-
kah mungkin makhluk spiritual mempunyai
"tubuh spiritual" memiliki bentuk dan ciri-
ciri (bandingkan 1 Kor. 15:44).
Alkitab menunjukkan bahwa ada orang
yang pernah melihat bagian-bagian tubuh Al-
lah. Musa, Harun, Nadab, Abihu dan ketu-
juh puluh tua-tua melihat kaki-Nya (Kel. 24:
9-11). Walaupun Ia menolak memperli-
hatkan wajah-Nya, setelah menutupi Musa
dengan tangan-Nya Allah menunjukkan
punggung-Nya kepada Musa ketika Ia lewat
(Kel. 33: 20-23). Allah menampakkan diri
kepada Daniel dalam sebuah khayal peng-
hakiman ketika Yang Lanjut Usia duduk di
atas takhta (Dan. 7:9, 10). Kristus digambar-
kan sebagai "gambar Allah yang tidak keli-
hatan" (Kol. 1:15) dan "gambar wujud Al-
lah" (Ibr. 1:3). Nas ini tampaknya menun-
jukkan bahwa Allah yaitu makhluk priba-
di dan mempunyai wujud pribadi. Tentu saja
hal ini tidak mengejutkan sebab manusia
diciptakan menurut gambar Allah.
Manusia telah diciptakan "sedikit lebih
rendah daripada malaikat-malaikat" (Ibr.
2:7), merupakan satu petunjuk bahwa ia su-
dah pasti dikaruniai dengan pemberian men-
tal dan spiritual. Walaupun Adam kurang pe-
ngalaman, gagasan dan pertumbuhan tabiat,
ia telah dijadikan manusia yang "jujur" (Pkh.
7:29), sebuah petunjuk untuk menyatakan
keluhuran moral yang tinggi.7 Dengan moral
yang ada dalam gambar Allah itu, manu-
sia itu benar dan kudus (bandingkan Ef.
4:24), dan telah menjadi bagian Ciptaan Al-
lah dalam kategori "sungguh amat baik"
(Kej. 1:31).
sebab manusia diciptakan dalam moral
gambar Allah, maka kepadanya telah diberi-
kan kesempatan untuk menunjukkan kasih-
nya dan kesetiaannya kepada Khaliknya. Se-
perti halnya Allah, manusia mempunyai kua-
sa memilih—kebebasan berpikir dan bertin-
dak sesuai dengan perintah moral itu. Oleh
sebab itu, ia bebas mengasihi dan menurut
atau tidak menaruh percaya atau pun men-
durhaka. Allah memberikan kepada manu-
sia kemungkinan yang riskan untuk menga-
102Sifat dan Keadaan Manusia
dakan pilihan yang salah, sebab hanya de-
ngan kebebasan memilih itulah manusia da-
pat mengembangkan tabiat yang benar-be-
nar dapat memamerkan prinsip kasih yang
menjadi hakikat Allah sendiri (1 Yoh. 4:8).
Nasibnya ialah meraih ungkapan yang pa-
ling tinggi dari citra Allah: untuk mengasihi
Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan pikir-
an serta mengasihi sesama seperti diri sendiri
(Mat. 22:36-40).
Diciptakan supaya Berhubungan de-
ngan Orang Lain. Allah berkata, "Tidak
baik, kalau manusia itu seorang diri saja"
(Kej 2:18), maka Ia pun menjadikan Hawa.
Sebagaimana ketika anggota Keallahan disa-
tukan dalam hubungan kasih sayang, demi-
kian pula kita diciptakan untuk persekutuan
dalam persahabatan atau pernikahan (Kej.
2:18). Di dalam hubungan seperti ini kita
memperoleh kesempatan hidup bersama orang
lain. Supaya hidup kita lebih manusiawi, ma-
ka kita harus berorientasi kepada perhubung-
an satu dengan yang lain. Pengembangan as-
pek ini, aspek gambar Allah merupakan sa-
tu bagian yang utuh dari harmoni dan kese-
jahteraan kerajaan Allah.
Diciptakan untuk Menjadi Penatala-
yan Lingkungan. Allah berkata, "Baiklah
Kita menjadikan manusia menurut gambar
dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di uda-
ra dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan
atas segala binatang melata yang merayap
di bumi" (Kej. 1:26). Di sini Allah menye-
butkan manusia dari peta llahi dan pemerin-
tahannya atas ciptaan yang lebih rendah yang
ditiup sekali jadi. Allah menempatkan manu-
sia itu sebagai wakil-Nya untuk memerin-
tah ciptaan yang lebih rendah itu. Kerajaan
binatang tidak akan memahami kekuasaan
Allah, akan namun banyak binatang yang
mampu mengasihi serta melayani manusia.
Daud, sehubungan dengan sebutan me-
ngenai pemerintahan manusia berkata seba-
gai berikut, "Engkau membuat dia berkuasa
atas buatan tangan-Mu; segala-galanya te-
lah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing
domba dan lembu sapi sekalian, juga bina-
tang-binatang di padang" (Mzm. 8: 7-9).
Manusia yang diberi tempat yang mulia me-
nunjukkan kemuliaan dan penghormatan se-
bagai mahkotanya (Mzm. 8:6). Manusia di-
beri tanggung jawab untuk memerintah se-
cara hormat dunia ini, membayangkan atau
memantulkan kemurahan pemerintahan Tu-
han atas semesta alam. Oleh sebab itu, kita
bukanlah korban lingkungan yang dikuasai
oleh kuasa-kuasa lingkungan. Sebaliknya,
Allah telah menyuruh kita supaya berperan
positif dengan membentuk lingkungan, meng-
gunakan setiap situasi di tempat mana kita
telah ditempatkan menjadi suatu kesempa-
tan untuk menyempurnakan kehendak Allah.
Wawasan ini menyediakan kunci per-
baikan hubungan manusia di dunia yang su-
dah porak poranda. Di dalamnya juga terda-
pat jawaban terhadap pemakaian yang sewe-
nang-wenang terhadap sumber-sumber alam
sehingga menimbulkan pencemaran udara
dan air yang cukup berat yang membawa ke
arah kemerosotan kualitas hidup yang se-
makin memburuk. Hanyalah dengan menga-
nut pandangan yang Alkitabiah mengenai
alam manusia maka jaminan kesejahteraan
mendatang dapat diperoleh.
Diciptakan untuk Meniru Allah. Seba-
gai makhluk manusia seharusnya kita bertin-
dak seperti yang dilakukan Tuhan Allah ka-
rena kita diciptakan menurut gambar-Nya.
Walaupun kita manusia, bukan yang Ilahi,
kita harus memantulkan citra Allah dalam
pemerintahan kita sebaik-baiknya. Hukum
keempat mengimbau atas tanggung jawab
103Sifat dan Keadaan Manusia
ini: kita harus mengikuti teladan Pencipta
kita dalam bekerja enam hari pada minggu
pertama waktu dunia diciptakan dan berhenti
pada hari yang ketujuh (Kel. 20:8-11).
Diciptakan dengan yang Bersyarat. Pa-
da waktu hari penciptaan, leluhur kita yang
pertama diberi sifat abadi walaupun pemi-
likan sifat ini sangat bergantung pada penu-
rutan. Jika tetap mendekati pohon kehidup-
an itu maka mereka akan tetap hidup sela-
ma-lamanya. Satu-satunya yang dapat mem-
bahayakan keadaan keabadian mereka itu ha-
nyalah melalui pelanggaran terhadap pera-
turan Allah yang melarang mereka mema-
kan buah pohon pengetahuan baik dan bu-
ruk. Pendurhakaan akan membawa maut
(Kej. 2:17; bandingkan 3:22).
KEJATUHAN
Walaupun diciptakan dalam keadaan
sempurna dan dalam gambar Allah serta di-
tempatkan di lingkungan yang sempurna.
Adam dan Hawa menjadi pelanggar. Bagai-
manakah perubahan yang radikal dan me-
ngerikan itu terjadi?
Asal-usul Dosa. Kalau Tuhan menjadi-
kan dunia dalam keadaan sempurna, bagai-
manakah mungkin dosa berkembang?
1. Allah dan asal-usul dosa. Apakah Al-
lah Pencipta itu, juga pembuat dosa? Alkitab
menunjukkan bahwa Allah itu suci (Yes. 6:3)
dan tidak ada ketidakbenaran di dalam Dia.
"Pekerjaan-Nya sempurna, sebab segala ja-
lan-Nya adil; Allah yang setia, dengan tiada
kecurangan, adil dan benar Dia" (Ul. 32: 4).
Kitab Suci menyatakan, "Jauhlah dari pada
Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari
pada Yang Mahakuasa untuk berbuat cu-
rang" (Ayb. 34:10). "Sebab Allah tidak da-
pat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri
tidak mencobai siapa pun" (Yak. 1: 13); Ia
membenci dosa (Mzm. 5:5; 11:5). Pada mu-
lanya Ciptaan Tuhan "sangat baik adanya"
(Kej. 1:31). Sama sekali Ia bukanlah Pencip-
ta dosa, Ia "menjadi pokok keselamatan yang
abadi bagi semua orang yang taat kepada-
Nya" (Ibr. 5:9).
2. Pencipta dosa. Allah dapat mencegah
dosa dengan menciptakan semuanya robot
yang diprogram untuk melakukan apa yang
telah ditentukan supaya mereka lakukan. Te-
tapi Allah yang menaruh kasih itu mencip-
takan makhluk yang dapat menyambut ka-
sih-Nya dengan bebas—sebuah sambutan
yang mungkin dari makhluk yang mempu-
nyai kuasa untuk memilih.
Dengan memberikan jenis kebebasan se-
perti ini kepada ciptaan-Nya, bagaimanapun,
itu berarti Allah harus menanggung risiko
bahwa sebagian makhluk ciptaan-Nya itu da-
pat berpaling dari pada-Nya. Sayangnya, Lu-
sifer, seorang makhluk yang mulia dengan
kedudukan tinggi di dunia para malaikat,
menjadi angkuh (Yeh. 28:17; bandingkan 1
Tim. 3:6). sebab merasa tidak puas atas ke-
dudukannya di dalam pemerintahan Allah
(bandingkan Yud. 6), ia mulai mengingin-
kan kedudukan Tuhan Allah (Yes. 14:12-14).
Dalam upayanya untuk mengambil alih se-
mesta alam, malaikat yang telah jatuh ini me-
naburkan benih-benih ketidakpuasan di an-
tara sesama malaikat, dan banyak orang yang
mulai berpihak kepadanya. Alhasil, konflik
yang terjadi di surga ini diakhiri dengan ter-
campaknya Lusifer yang kemudian dikenal
dengan nama Setan, si perusuh, berikut ma-
laikat-malaikatnya diusir dari surga (Why.
12:4, 7-9; baca bab 8).
3. Asal-usul dosa di lingkungan ma-
nusia. Dengan tidak merasa gentar walau-
104Sifat dan Keadaan Manusia
pun sudah diusir dari surga, Setan bertekad
memikat orang lain supaya bergabung de-
ngannya dalam pemberontakan melawan pe-
merintahan Allah. Perhatiannya tertarik ke-
pada umat manusia yang baru raja dicipta-
kan. Bagaimanakah ia dapat mengajak Adam
dan Hawa supaya ikut memberontak? Mere-
ka hidup di dunia yang sempurna, segala ke-
perluan mereka serba ada disediakan Pencip-
ta mereka. Bagaimana membuat supaya me-
reka merasa tidak puas dan tidak percaya ke-
pada satu Oknum yang menjadi sumber ke-
bahagiaan mereka? Catatan mengenai dosa
yang pertama itu memberikan jawaban.
Dalam serangannya terhadap makhluk
manusia yang pertama itu, Setan mulai me-
masang perangkap untuk menangkap mere-
ka ketika lepas dari penjagaan. Setan mende-
kati Hawa ketika ia dekat-dekat kepada po-
hon pengetahuan baik dan jahat—menyamar
sebagai ular menanyainya mengenai larang-
an Tuhan supaya jangan memakan buah po-
hon itu. Manakala Hawa mengukuhkan bah-
wa Tuhan mengatakan sekali buah pohon itu
dimakan maka mereka akan mati, lalu Setan
menantang larangan Ilahi itu dengan berka-
ta, "Sekali-kali kamu tidak akan mati." Se-
tan membangkitkan rasa ingin tahu dengan.
menyarankan bahwa Allah sebenarnya beru-
saha merintanginya untuk memperoleh se-
buah pengalaman baru yang menakjubkan:
untuk menjadi sama dengan Allah (Kej. 3:4,
5). Maka dengan segera akar kebimbangan
terhadap sabda Allah pun ditanamkan. Hawa
berhasrat sekali memperoleh apa yang da-
pat dihasilkan oleh buah pohon itu. Godaan
telah merusak pikirannya yang kudus itu. Ke-
percayaan terhadap firman Tuhan telah beru-
bah menjadi kepercayaan terhadap perkataan
Setan. Tiba-tiba ia membayangkan bahwa
"buah pohon itu baik untuk dimakan dan se-
dap kelihatannya, lagipula pohon itu mena-
rik hati sebab memberi pengertian." Ia me-
rasa tidak puas lagi dengan kedudukannya,
Hawa menyerah terhadap godaan untuk men-
jadi sama dengan Allah. "Lalu ia mengam-
bil dari buahnya dan dimakannya dan dibe-
rikannya juga kepada suaminya yang bersa-
ma-sama dengan dia, dan suaminya pun me-
makannya" (Kej. 3:6).
sebab lebih berharap pada indera pera-
saannya ketimbang firman Tuhan, Hawa me-
rusak ketergantungannya kepada Allah, ia
pun jatuh dari kedudukannya yang tinggi,
dan terjun ke dalam dosa. Kejatuhan umat
manusia, sebenarnya setelah peristiwa itu,
yang paling utama ditandai oleh retaknya
iman terhadap Allah dan firman-Nya. Rasa
tidak percaya ini menuntun kepada pendur-
hakaan, yang kemudian berakibat rontoknya
hubungan dan pada akhirnya mendatangkan
perpisahan antara Allah dan manusia.
Dampak Dosa. Apakah akibat yang lang-
sung dan akibat jangka panjang dosa itu? Ba-
gaimanakah pengaruhnya terhadap sifat ma-
nusia? Dan apakah prospek pelenyapan do-
sa dan perbaikan keadaan dan sifat manu-
sia?
1. Akibat langsung. Akibat pertama dosa
yaitu perubahan dalam keadaan manusia
yang mempengaruhi hubungan antar priba-
di, begitu pula dengan hubungan dengan Tu-
han. Kesegaran baru, mata yang terbuka ha-
nyalah membawa pengalaman perasaan yang
memalukan bagi Adam dan Hawa (Kej. 3:7).
Ganti menjadi sama dengan Allah, sebagai-
mana yang dijanjikan Setan, justru mereka
menjadi ketakutan dan berusaha bersembu-
nyi (Kej. 3:8-10).
jika Allah menanyakan kepada Adam
dan Hawa mengenai dosa mereka, ganti me-
ngakui kesalahan mereka, malah mereka ber-
usaha berdalih. Adam berkata, "Perempuan
yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang
105Sifat dan Keadaan Manusia
memberi dari buah pohon itu kepadaku, ma-
ka kumakan" (Kej. 3:12). Perkataannya itu
secara tidak langsung menuduh Hawa dan
juga Tuhan bertanggung jawab atas dosa
yang dilakukannya, terang-terangan menun-
jukkan bagaimana dosanya telah merontok-
kan hubungannya dengan istri dan Tuhan-
nya, sang Pencipta. Kemudian Hawa menu-
duh sang ular (Kej. 3:13).
Akibat dahsyat yang timbul menunjuk-
kan betapa seriusnya pelanggaran mereka.
Allah mengutuk pengantara yang digunakan
Setan, ular itu, Ia mengutukinya, bahwa ia
akan merayap dengan perutnya, sebagai su-
atu yang mengingatkan kejatuhan selama-
nya (Kej. 3:14). Kepada perempuan itu Tu-
han berkata, "Susah payahmu waktu me-
ngandung akan Kubuat sangat banyak; de-
ngan kesakitan engkau akan melahirkan
anakmu; namun engkau akan berahi kepada
suamimu dan ia akan berkuasa atasmu" (Kej.
3:16). sebab Adam mendengarkan istrinya,
bukannya apa yang dikatakan Tuhan, maka
dunia ini dikutuk dengan keluh kesah yang
bertambah, dan bersusah payah melakukan
pekerjaan: "Terkutuklah tanah sebab eng-
kau; dengan bersusah payah engkau akan
mencari rezekimu dari tanah seumur hidup-
mu: semak duri dan rumput duri yang akan
dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuh-
an di padang akan menjadi makananmu; de-
ngan berpeluh engkau akan mencari makan-
anmu, sampai engkau kembali lagi menjadi
tanah, sebab dari situlah engkau diambil;
sebab engkau debu dan engkau akan kemba-
li menjadi debu" (Kej. 3:17-19).
Dalam pengukuhan kembali hukum-Nya
yang tidak dapat diubah, bahwa setiap pe-
langgaran mana pun akan menuju kepada ke-
matian yang pasti, Allah berkata: "Sebab eng-
kau debu dan engkau akan kembali menjadi
debu" (Kej. 3:19). Ia melaksanakan putusan
ini dengan mengusir si pelanggar itu dari ta-
man Eden, merusak hubungan langsung de-
ngan Allah (Kej. 3:8), dan mencegah mere-
ka agar tidak memetik buah pohon kehidup-
an, sumber kehidupan selama-lamanya. Oleh
sebab itu. Adam dan Hawa menjadi takluk
kepada kematian (Kej. 3:22).
2. Sifat dosa. Banyak nas dalam Alkitab,
khususnya termasuk di dalamnya catatan
mengenai Kejatuhan, menjelaskan dengan
gamblang bahwa dosa yaitu moral jahat—
akibat pemilihan akan akhlak yang buruk itu
untuk melanggar kehendak Allah yang telah
dinyatakan sebelumnya (Kej. 3:1-6; Rm. 1:
18-22).
Definisi dosa. Definisi dosa menurut Al-
kitab termasuk: "pelanggaran hukum Allah"
(1 Yoh. 3:4), seseorang yang gagal melaku-
kan yang diketahuinya "bagaimana ia harus
berbuat baik, namun ia tidak melakukannya"
(Yak. 4:17), dan "segala sesuatu yang tidak
berdasarkan iman" (Rm. 14:23). Definisi yang
agak luas termasuk: "Setiap penyimpangan
dari yang dikenal kehendak Allah, baik pela-
laian atas apa yang secara rinci disuruh-Nya
atau melakukan sesuatu yang secara khusus
dilarang-Nya."8
Tidak ada yang netral terhadap dosa.
Kristus berkata, "Siapa tidak bersama Aku,
ia melawan Aku" (Mat. 12:30). Kegagalan
untuk mempercayai-Nya yaitu dosa (Yoh.
16:9). Dosa bersifat mutlak sebab itu ber-
arti pemberontakan melawan Tuhan dan ke-
hendak-Nya. Dosa mana pun, baik yang ke-
cil maupun besar, berakibat putusan "bersa-
lah". Oleh sebab itu, "Sebab barangsiapa
menuruti seluruh hukum itu, namun meng-
abaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah
terhadap seluruhnya" (Yak. 2:10).
Dosa melibatkan pikiran, sebagaimana
halnya perbuatan. Kerapkali dosa dibicara-
kan hanya dalam istilah konkret dan tindak-
106Sifat dan Keadaan Manusia
an nyata pelanggaran hukum. namun Kris-
tus mengatakan bahwa seseorang yang ma-
rah terhadap orang lain berarti melanggar hu-
kum keenam dalam Sepuluh Hukum itu,
"Jangan membunuh" (Kel. 20:13), dan ke-
inginan-keinginan yang penuh nafsu berarti
melanggar hukum "Jangan berzinah" (Kel.
20:14). Oleh sebab itu, dosa bukanlah han-
ya keterlibatan pada perbuatan yang tidak
taat namun juga mencakup pikiran dan ke-
inginan.
c. Dosa dan kesalahan. Dosa mengha-
silkan kesalahan. Menurut pandangan Al-
kitabiah, kesalahan yang membawa orang
untuk melakukan dosa patut dihukum. Dan
sebab semua sudah berbuat dosa, maka se-
luruh dunia ini "jatuh ke bawah hukuman
Allah" (Rm. 3:19).
Penangkal kesalahan ialah pengampunan
(Mat. 6:12), yang menghasilkan hati nurani
yang murni dan kedamaian dalam pikiran.
Pengampunan ini hendak diberikan Tuhan
kepada orang berdosa yang bertobat. Kepa-
da orang yang dibebani dosa, bangsa yang
dirundung kesalahan, dengan penuh kemu-
rahan Kristus mengundang, "Marilah kepa-
da-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban
berat, Aku akan memberi kelegaan kepada-
mu" (Mat. 11:28).
Pusat Pengendalian Dosa. Menurut Al-
kitab takhta dosa itu ada dalam hati—yang
kita kenal dengan kata pikiran. sebab dari
hatilah "terpancar kehidupan" (Ams. 4:23).
Kristus mengatakan bahwa pikiran seseo-
ranglah yang mencemarkan, "sebab dari
hati timbul segala pikiran jahat, pembunuh-
an, perzinaan, percabulan, pencurian, sum-
pah palsu dan hujat" (Mat. 15:19). Hati
mempengaruhi segenap pribadi; pikiran (In-
telek), kehendak, kasih sayang, emosi dan
tubuh. sebab hati itu "licik, lebih licik dari
pada segala sesuatu" (Yer. 17:9), sifat alamiah
hati itu dapatlah dikatakan bejat, rusak dan
penuh dengan tipu daya dosa.
3. Efek dosa atas Manusia. Mungkin ba-
nyak orang merasa bahwa hukuman mati
yang dijatuhkan hanya sebab memakan bu-
ah larangan itu terlalu kejam. Akan namun kita
hanya dapat mengukur betapa seriusnya pe-
langgaran itu dalam cahaya efek dosa Adam
atas umat manusia.
Anak pertama Adam dan Hawa melaku-
kan pembunuhan. Keturunan mereka pun ti-
dak lama kemudian melanggar persatuan
pernikahan yang kudus dengan melakukan
poligami, dan itu terjadi tidak lama kemudi-
an sehingga kejahatan dan pelanggaran su-
dah merajalela di seluruh permukaan bumi
ini (Kej. 4:8, 23; 6:1-5, 11-13). Panggilan
Allah supaya mengadakan perubahan dan
pertobatan berlalu tanpa diindahkan, dan ha-
nya delapan orang saja yang telah diselamat-
kan dari air bah yang membinasakan mere-
ka yang tidak bertobat. Sejarah manusia se-
telah air bah yaitu , dengan beberapa keke-
cualian, catatan yang penuh dengan kesedih-
an sebab ulah sifat manusia yang penuh de-
ngan dosa.
a. Dosa umat manusia. Sejarah menun-
jukkan bahwa keturunan Adam turut dice-
markan sifat dosanya. Daud dalam doanya
berseru, "Sebab di antara yang hidup tidak
seorang pun yang benar di hadapan-Mu"
(Mzm. 143:2; bandingkan 14:3). "sebab
tidak ada manusia yang tidak berdosa" (1
Raj. 8:46). Dan Salomo pun berkata, "Sia-
pakah dapat berkata: 'Aku telah membersih-
kan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?’”
(Ams. 20:9); "sebenarnya , di bumi tidak
ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan
tak pernah berbuat dosa!" (Pkh. 7:20). De-
ngan tandas Perjanjian Baru juga mengata-
107Sifat dan Keadaan Manusia
kan bahwa "semua orang telah berbuat dosa
dan kehilangan kemuliaan Allah" (Rm. 3:23)
dan bahwa "jika kita berkata, bahwa kita ti-
dak berdosa, maka kita menipu diri kita sen-
diri dan kebenaran tidak ada di dalam kita"
(1 Yoh. 1:8).
Apakah dosa diwariskan atau diperoleh?
Paulus berkata, "sebab sama seperti semua
orang mati dalam persekutuan dengan
Adam" (1 Kor. 15:22). Di tempat lain ditu-
lisnya pula, "Sama seperti dosa telah masuk
ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh do-
sa itu juga maut, demikianlah maut itu telah
menjalar kepada semua orang, sebab semua
orang telah berbuat dosa" (Rm. 5:12).
Hati manusia yang penipu itu mempenga-
ruhi seluruh pribadi. Dalam keadaan seperti
inilah Ayub berseru, "Siapa yang dapat men-
datangkan yang tahir dari yang najis? Se-
orang pun tidak!" (Ayb. 14:4). Daud berka-
ta, "sebenarnya , dalam kesalahan aku di-
peranakkan, dalam dosa aku dikandung ibu-
ku" (Mzm. 51:7). Dan rasul Paulus menga-
takan bahwa "keinginan daging yaitu per-
seteruan terhadap Allah, sebab ia tidak tak-
luk kepada hukum Allah; hal ini memang ti-
dak mungkin baginya. Mereka yang hidup
dalam daging, tidak mungkin berkenan kepa-
da Allah" (Rm. 8:7, 8). Sebelum pertobatan
ia menyatakan orang-orang percaya yaitu
"orang-orang yang harus dimurkai," seperti
manusia yang lain (Ef. 2:3).
Sekalipun sebagai anak-anak kita mela-
kukan dosa sebab meniru, nas yang di atas
mengukuhkan bahwa kita pada dasarnya or-
ang yang berdosa. Manusia yang berdosa se-
cara universal yaitu merupakan bukti bah-
wa menurut alamiah kita cenderung kepada
yang tidak baik, yang jahat.
Pemberantasan tabiat yang penuh dengan
dosa. Betapa berhasilkah orang banyak
membuangkan dosa dari kehidupan dan ma-
syarakat mereka?
Setiap usaha untuk memperoleh kehidup-
an yang benar dengan kekuatan sendiri akan
mengalami malapetaka. Kristus mengatakan
bahwa barangsiapa yang melakukan dosa
berarti "ia yaitu hamba dosa." Hanya kuasa
Ilahi yang dapat memerdekakan kita dari per-
hambaan. Bahkan Kristus telah memberikan
jaminan kepada kita, "Jadi jika Anak itu
memerdekakan kamu, kamu pun benar-be-
nar merdeka" (Yoh. 8:36). Anda dapat meng-
hasilkan kebenaran hanyalah jika, kata Dia,
"tinggal di dalam-Nya" sebab "di luar Aku
kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh. 15:
4, 5).
Bahkan Paulus pun gagal menghayati hi-
dup yang benar melalui usahanya sendiri. Ia
tahu ukuran kesempurnaan hukum Allah te-
tapi ia tidak akan mampu meraihnya. De-
ngan menimbang-nimbang upayanya, ia ber-
kata, "Sebab apa yang aku perbuat, aku ti-
dak tahu. sebab bukan apa yang aku ke-
hendaki yang aku perbuat, namun apa yang
aku benci, itulah yang aku perbuat." Kemu-
dian ditunjukkannya dampak dosa dalam hi-
dupnya: "Jadi jika aku perbuat apa yang ti-
dak aku kehendaki, aku menyetujui.... Ka-
lau demikian bukan aku lagi yang memper-
buatnya, namun dosa yang ada di dalam aku."
Sekalipun gagal ia mengagumi ukuran ke-
sempurnaan Tuhan, dengan berkata, "Sebab
di dalam batinku aku suka akan hukum Al-
lah, namun di dalam anggota-anggota tubuh-
ku aku melihat hukum lain yang berjuang
melawan hukum akal budiku dan membuat
aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada
di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, ma-
nusia celaka! Siapakah yang akan melepas-
kan aku dari tubuh maut ini?" (Rm. 7:15,
19, 20, 22-24). Akhirnya Paulus mengakui
bahwa kuasa Ilahi diperlukannya supaya da-
pat menang. Melalui. Kristus ia mengesam-
pingkan hidup mengikuti nafsu jasmani lalu
memulai hidup baru yang sesuai dengan Roh
108Sifat dan Keadaan Manusia
(Rm. 7:25; 8:1).
Hidup baru di dalam Roh merupakan ka-
runia pengubah yang berasal dari Allah. Me-
lalui anugerah Ilahi, kita yang dahulu "mati
sebab pelanggaran-pelanggaran dan dosa-
dosanya" menjadi pemenang (Ef. 2:1, 3, 8-
10). Kelahiran kembali secara rohani yang
demikian itu akan mengubah hidup (Yoh. 1:
13; Yoh. 3:5) sehingga kita dapat berbicara
mengenai kejadian yang baru—"yang lama
sudah berlalu" sehingga "sebenarnya yang
baru sudah datang" (2 Kor. 5:17). Bagai-
manapun, hidup baru itu, tidak menghilang-
kan kemungkinan berbuat dosa (1 Yoh. 2:1).
4. Evolusi dan kejatuhan manusia. Se-
jak zaman Penciptaan Setan telah menga-
caubalaukan pikiran orang dengan jalan me-
lemahkan keyakinan mereka atas catatan
yang ada dalam kitab suci mengenai
asal-usul manusia dan tentang Kejatuhan ke
dalam dosa. Salah satu dari antaranya yang
dapat disebutkan ialah evolusi, sebuah pan-
dangan "alamiah" mengenai manusia, pan-
dangan yang didasarkan atas dugaan bahwa
hidup mulai hanyalah secara kebetulan, dan
mengenai manusia itu sendiri, setelah meng-
alami proses yang panjang, telah timbul dari
bentuk-bentuk kehidupan yang paling ren-
dah. Melalui sebuah proses perjuangan hi-
dup bahwa yang kuat itulah yang akhir-nya
muncul, manusia mengalami perubahan sam-
pai kepada statusnya yang kini. Mereka ma-
sih terus mengalami perubahan, belum men-
capai tingkat potensialnya.
Banyak orang Kristen yang menganut fa-
ham evolusi yang teistis, yang menyatakan
bahwa Allah menggunakan evolusi dalam
Penciptaan yang ada dalam kitab Keja-
dian. Orang yang menganut faham ini tidak
menerima pandangan yang dikemukakan
bab-bab pertama buku Kejadian sebagai ma-
na tertulis di situ, melainkan menganggap-
nya sebagai alegori atau mitos.
a. Pandangan Alkitabiah Mengenai
Manusia dan evolusi. Orang-orang Kristen
yang menganut faham Kreasionis sangat
prihatin atas dampak teori evolusi terhadap
iman orang Kristen. James Orr menulis:
"Menghadapi Kekristenan dewasa ini, bu-
kanlah dengan serangan sedikit demi sedikit
atas doktrin-doktrinnya...melainkan dengan
pandangan yang bertentangan namun positif
mengenai dunia, mengungkapkannya dengan
ilmiah dibuat dengan baik dan dapat diperta-
hankan, namun ide-idenya secara fundamen-
tal menghantam akar-akar sistem Kristen."9
Alkitab menolak penafsiran secara alego-
ris maupun mitos, kitab Kejadian. Para pe-
nulis Alkitab sendiri mengakui penafsiran
Kejadian 1-11 sebagai sejarah yang harfiah.
Adam, Hawa, dan ular serta Setan dilihat se-
bagai pelakon yang historis di dalam peristi-
wa pergolakan yang besar itu (baca Ayb. 31:
33; Pkh. 7:29; Mat. 19:4, 5; Yoh. 8:44; Rm.
5:12, 18, 19; 2 Kor. 11:3; 1 Tim. 2:14; Why.
12:9).
Golgota dan evolusi. Evolusi dalam ben-
tuk dan wujud bagaimanapun berlawanan
dengan dasar-dasar Kekristenan. Sebagai-
mana dikatakan Leonard Verduin, "Di tem-
pat kisah 'kejatuhan' telah muncul; kisah ke-
naikan."1 Kekristenan dan evolusi sama se-
kali bertentangan. Kedua leluhur kita yang
pertama itu diciptakan menurut gambar Al-
lah dan mengalami kejatuhan ke dalam dosa
atau tidak sama sekali. Jika tidak, lalu me-
ngapa menjadi Kristen?
Golgota mempertanyakan evolusi seca-
ra radikal. Jika tidak ada kejatuhan, menga-
pa kita memerlukan Allah mati demi kita?
Bukan hanya mati secara umum, akan namun
kematian Kristus bagi kita menyatakan bah-
wa manusia tidak "BERES" atau OK. Bila
109Sifat dan Keadaan Manusia
bergantung hanya pada diri saja maka kita
akan merosot terus sampai akhirnya umat
manusia binasa.
Pengharapan kita bertumpu pada Manu-
sia yang tergantung di kayu salib itu. Hanya
kematian-Nya saja yang membuka kepada ki-
ta suatu kemungkinan yang lebih baik, hi-
dup yang penuh dan tidak akan pernah bera-
khir. Golgota mengumumkan bahwa kita me-
merlukan seorang pengganti untuk melepas-
kan kita.
c. Penjelmaan dan Evolusi. Barangkali
Penciptaan-versus-evolusi, pertanyaan-per-
tanyaan sekitar itu, dapat dijawab dengan ja-
waban paling tepat oleh memandang pencip-
taan manusia itu dari sudut pandang penjel-
maan. Dengan datangnya Adam yang kedua
itu, yakni Kristus, masuk ke dalam sejarah,
Allah bekerja dengan cara yang kreatif. Jika
Allah dapat mendatangkan mukjizat yang
luar biasa ini, maka tidak akan ada lagi per-
tanyaan mengenai kemampuan-Nya menja-
dikan Adam yang pertama itu.
Manusia sudah tua sekali? Seringkali
penganut faham evolusi menunjuk kepada
kemajuan ilmu dan pengetahuan yang begi-
tu pesat beberapa abad belakangan ini se-
bagai bukti bahwa kelihatannya manusia itu-
lah wasit bagi nasibnya. Bila saja cukup wak-
tu baginya, dengan adanya ilmu yang meme-
nuhi segala keperluannya, maka ia akan da-
pat memecahkan segala masalah dunia.
Namun demikian, peranan teknologi yang
memberikan harapan itu justru menemui ba-
nyak kebimbangan—sebab nyatanya tekno-
logi telah mendorong planet ini ke tepi ju-
rang kebinasaan. Manusia telah gagal menak-
lukkan dan mengendalikan hati yang penuh
dengan dosa. Akibatnya, semua kemajuan il-
mu membuat dunia semakin dirundung ma-
rabahaya.
Filsafat nihilisme dan kesia-siaan sema-
kin berkembang dan tampaknya dianggap sa-
hih. Alexander Pope berkata sebagai beri-
kut, "Pengharapan yang abadi bersemi di
dalam dada manusia," dewasa ini bergema
kosong. Ayub menangkap realitas itu lebih
baik—waktu beringsut dan "berakhir tanpa
harapan" (Ayb. 7:6). Dunia manusia mero-
sot ke bawah. Seseorang harus datang dari
seberang sejarah manusia, menyerbunya, dan
membawa realitas baru ke dalamnya.
Harapan yang Tipis. Seberapa besarkah
kemerosotan manusia itu? Di kayu salib ma-
nusia membunuh Pencipta mereka—puncak
pengkhianatan yang luar biasa! Akan namun
Tuhan tidak meninggalkan umat manusia da-
lam keadaan tanpa harapan.
Daud merenungkan kedudukan manusia
dalam Penciptaan. Kesan mula-mula ialah
keluasan alam semesta, lalu ia menganggap
bahwa manusia itu tidak berarti sama sekali.
Kemudian ia menjadi sadar mengenai kedu-
dukan manusia yang sebenarnya. Berbicara
mengenai keadaan manusia kini dengan hu-
bungannya terhadap Allah, ia berkata, "Na-
mun Engkau telah membuatnya hampir sama
seperti Allah, dan telah memahkotainya de-
ngan kemuliaan dan hormat. Engkau telah
membuat dia berkuasa atas buatan tangan-
Mu" (Mzm. 8:6, 7; bandingkan Ibr. 2:7).
Selain kejatuhan, masih ada lagi yang ber-
kaitan dengan martabat manusia. Walaupun
sudah bernoda, wujud Keilahian itu belum-
lah hapus sama sekali. Walaupun telah jatuh
ke dalam dosa, tercemar, penuh dengan dosa,
manusia masih tetap wakil Allah di dunia ini.
Keadaannya lebih rendah dari yang Ilahi na-
mun masih tetap memegang sebuah kedudu-
kan yang terhormat sebagai wakil Allah atas
ciptaan yang ada di bumi. jika Daud me-
nyadari hal ini, maka ia pun melantunkan
110Sifat dan Keadaan Manusia
pujian dan rasa syukurnya, "Ya Tuhan, Tu-
han kami, betapa mulianya nama-Mu di se-
luruh bumi!" (Mzm. 8:10).
PERJANJIAN ANUGERAH
sebab pelanggaran maka pasangan per-
tama manusia itu menjadi berdosa. Tidak
mampu lagi menentang Setan, akankah me-
reka tetap bebas ataukah dibiarkan untuk bi-
nasa? Masih adakah harapan?
Perjanjian Diberikan pada Waktu Ke-
jatuhan. Sebelum Allah mengumumkan hu-
kuman kepada pasangan yang jatuh ke da-
lam dosa itu, Ia memberikan kepada mereka
pengharapan dengan memperkenalkan per-
janjian anugerah. Ia berkata, "Aku akan meng-
adakan permusuhan antara engkau dan pe-
rempuan ini, antara keturunanmu dan ketu-
runannya; keturunannya akan meremukkan
kepalamu, dan engkau akan meremukkan tu-
mitnya" (Kej. 3:15).
Pesan yang disampaikan Tuhan itu me-
rupakan kekuatan bagi hati mereka sebab
diumumkan juga bahwa walaupun Setan me-
nempatkan manusia di bawah kuasanya yang
jahat, pada akhirnya dia pun akan dikalah-
kan juga. Perjanjian telah diadakan antara
Allah dengan manusia. Pertama-tama Allah
menjanjikan melalui anugerah-Nya sebuah
pertahanan melawan dosa. Ia akan menim-
bulkan kebencian antara ular dari perempuan
itu; antara pengikut Setan dengan pengikut
Tuhan. Ini akan mengacaukan hubungan ma-
nusia dengan Setan sehingga membuka ja-
lan untuk mengadakan pembaharuan hubun-
gan dengan Allah.
Dari abad ke abad perang berkelanjutan
antara jemaat Allah dengan Setan. Konflik
itu mencapai puncaknya pada waktu kema-
tian Yesus Kristus, yang disiratkan dalam nu-
buat Benih perempuan itu. Di Golgota, Se-
tan dikalahkan. Walau diremukkan Benih pe-
rempuan itu, namun pembuat kejahatan itu
dikalahkan dengan sempurna.
Semua orang yang mau menerima pem-
berian Allah, anugerah-Nya, akan mengeta-
hui perseteruan terhadap dosa akan membuat
mereka berhasil dalam pertempuran mela-
wan Setan. Melalui iman mereka turut me-
ngambil bagian dalam kemenangan Kristus
di bukit Golgota.
Perjanjian yang Diadakan Sebelum
Penciptaan. Perjanjian pemberian anugerah
itu tidaklah dikembangkan sesudah kejatuh-
an. Kitab Suci membentangkan bahwa se-
belum Penciptaan, Keallahan telah menga-
dakan perjanjian antara sesama mereka un-
tuk menyelamatkan umat manusia bila me-
reka jatuh ke dalam dosa. Paulus mengata-
kan Tuhan "telah memilih kita sebelum du-
nia dijadikan, supaya kita kudus dan tak ber-
cacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah
menentukan kita dari semula oleh Yesus
Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, se-
suai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya
terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia"
(Ef. 1:4-6; bandingkan 2 Tim. 1:9). Berbi-
cara mengenai pendamaian yang dilakukan
Kristus, Petrus berkata, "Ia telah dipilih sebe-
lum dunia dijadikan" (1 Ptr. 1:20).
Perjanjian itu telah diadakan di atas da-
sar, yang tidak dapat digoyahkan: janji dan
sumpah Allah sendiri (Ibr. 6:18). Yesus Kris-
tus merupakan jaminan perjanjian ini (Ibr.
7:22). Sebuah jaminan yaitu diandaikannya
seseorang dihukum sebab utang atau jamin-
an atas perkara orang lain yang seharusnya me-
nerima hukuman. Pelayanan Kristus meru-
pakan sebuah jaminan bahwa jika umat ma-
nusia jatuh ke dalam dosa Ia akan menang-
gung hukuman yang seharusnya dijatuhkan
kepada mereka. Ia akan membayar harga pe-
nebusan mereka; Ia akan mengadakan pen-
111Sifat dan Keadaan Manusia
damaian atas dosa-dosa mereka; Ia akan me-
menuhi tuntutan atas pelanggaran terhadap
hukum Allah. Tidak ada manusia atau ma-
laikat sekalipun yang mampu memikul tang-
gung jawab yang demikian. Hanya Kristus
sang Pencipta itu, yang menjadi wakil dan
pemimpin umat manusia yang dapat melak-
sanakan tanggung jawab itu (Rm. 5:12-21;
1 Kor. 15:22).
Anak Allah bukanlah hanya jaminan per-
janjian itu, Ia juga menjadi pengantara atau
pelaksana. Penggambaran-Nya mengenai
misi-Nya sebagai Anak manusia yang men-
jelma menunjukkan aspek peranan-Nya ini.
Ia berkata, "Sebab Aku telah turun dari sor-
ga bukan untuk melakukan kehendak-Ku,
namun untuk melakukan kehendak Dia yang
telah mengutus Aku" (Yoh. 6:38; banding-
kan 5:30, 43). Kehendak Bapa ialah "supaya
setiap orang, yang melihat Anak dan yang
percaya kepada-Nya beroleh hidup yang ke-
kal" (Yoh. 6:40). "Inilah hidup yang kekal
itu," kata-Nya, "yaitu bahwa mereka menge-
nal Engkau, satu-satunya Allah yang benar,
dan mengenal Yesus Kristus yang telah Eng-
kau utus" (Yoh. 17:3). Pada penghujung tu-
gas-Nya itu, Ia bersaksi mengenai pelaksa-
naan yang dilakukan-Nya atas tugas yang di-
emban-Nya dari Bapa dengan berkata, "Aku
telah mempermuliakan Engkau di bumi de-
ngan jalan menyelesaikan pekerjaan yang
Engkau berikan kepada-Ku untuk melaku-
kannya" (Yoh. 17:4).
Di kayu salib Yesus menggenapi janji-
Nya untuk menjadi jaminan bagi manusia da-
lam perjanjian itu. Jeritan "Sudah selesai"
(Yoh. 19:30), menandai tuntasnya misi-Nya
itu. Dengan hidup-Nya sendiri Ia telah mem-
bayar hukuman atas pelanggaran hukum Al-
lah, yang dituntut oleh hukum itu, menjamin
keselamatan umat manusia yang bertobat.
Pada saat itu darah Kristus mengesahkan per-
janjian anugerah itu. Melalui iman dalam
darah-Nya yang mendamaikan, orang-orang
yang berdosa dan bertobat akan diangkat
menjadi putra-putri Allah, sehingga menja-
di waris kehidupan kekal.
Janji anugerah ini menunjukkan kasih Al-
lah yang tiada batasnya bagi umat manusia.
Diadakan sejak sebelum Penciptaan, perjan-
jian itu diungkapkan sesudah Kejatuhan. Pa-
da ketika itu, dalam suasana yang khusus,
Allah dan manusia menjadi sekutu.
Perjanjian Dibarui. Sayang sekali, jan-
ji anugerah yang agung ini ditolak umat
manusia baik pada zaman Air bah maupun
sesudahnya (Kej. 6:1-8; 11:1-9). Ketika Al-
lah mempersembahkan perjanjian itu kem-
bali, hal itu dilakukan-Nya melalui Ibrahim.
Lagi-lagi dikukuhkan-Nya janji penebusan:
"Oleh keturunanmulah semua bangsa di bu-
mi akan mendapat berkat, sebab engkau men-
dengarkan firman-Ku" (Kej. 22:18; banding-
kan 12:3; 18:18).
Kitab Suci secara khusus meninggikan
kesetiaan Ibrahim atas syarat-syarat perjan-
jian itu. Ibrahim percaya kepada Tuhan se-
hingga Ia "memperhitungkan hal itu kepa-
danya sebagai kebenaran" (Kej. 15:6). Tu-
rut sertanya Ibrahim dalam berkat-berkat per-
janjian itu, yang dialaskan pada anugerah
Allah, juga bergantung pada penurutannya
menunjukkan bahwa perjanjian itu mening-
gikan otoritas hukum Tuhan (Kej. 17:1;
26:5).
sebab iman Ibrahim yang seperti itulah
yang membuat ia disebut "bapa semua orang
percaya" (Rm. 4:11). Ialah contoh Allah me-
ngenai pembenaran oleh iman yang menya-
takan diri dalam penurutan (Rm. 4:2, 3; Yak.
2:23, 24). Perjanjian anugerah tidaklah se-
cara otomatis mencurahkan berkat-berkat ke-
pada keturunan Ibrahim secara lahiriah, me-
lainkan hanya dengan mengikuti teladan
iman Ibrahim."Mereka yang hidup dari iman,
112Sifat dan Keadaan Manusia
mereka itulah anak-anak Ibrahim" (Gal. 3:7).
Setiap individu di dunia ini dapat memper-
oleh pengalaman atas janji-janji perjanjian
keselamatan itu melalui pemenuhan syarat:
"Dan jikalau kamu yaitu milik Kristus, ma-
ka kamu juga yaitu keturunan Abraham dan
berhak menerima janji Allah" (Gal. 3: 29).
Dari pihak Allah perjanjian Sinai itu (juga
lazim disebut perjanjian pertama) yaitu se-
buah pembaruan dari perjanjian yang dibe-
rikan kepada Ibrahim, janji anugerah itu (Ibr.
9:1). Akan namun bangsa Israel mengacau-
kannya dengan perjanjian amal (Gal. 4: 22-
31).
Perjanjian Baru. Kemudian nas-nas ki-
tab suci berbicara mengenai tiadanya sebuah
perjanjian yang lebih baik dan baru."11 Akan
namun hal itu disebutkan demikian bukankah
sebab perjanjian abadi itu telah diubah me-
lainkan sebab (1) ketidaksetiaan Israel per-
janjian kekal Allah itu telah dikacaukan ke
dalam sebuah sistem amal; (2) perjanjian itu
dihubungkan dengan penyataan baru dari ka-
sih Allah di dalam penjelmaan Kristus Ye-
sus, hidup, mati, kebangkitan dan meditasi
(bandingkan Ibr. 8:6-13); dan (3) di salib itu-
lah disahkan dengan darah Kristus (Dan
9:27; Luk. 22:20; Rm. 15:8; Ibr. 9:11-22).
Betapa banyak yang diberikan bagi orang
orang yang menerima perjanjian ini. Mela-
lui anugerah Allah diberikannya kepada me-
reka keampunan atas dosa-dosa mereka.
Juga memberikan Roh Kudus yang bekerja
dan menuliskan Sepuluh Hukum di dalam
hati mereka, serta memulihkan orang berdo-
sa yang bertobat ke dalam citra Pencipta me-
reka (Yer. 31:33). Perjanjian Baru, kelahi-
ran baru, pengalaman mendatangkan pem-
benaran Kristus serta pengalaman akan pem-
benaran oleh iman.
Pembaruan hati menyanggupkan peruba-
han individu sehingga mereka dapat meng-
eluarkan buah-buah Roh: "kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, ke-
baikan, kesetiaan, kelemahlembutan, pengu-
asaan diri" (Gal. 5:22, 23). Melalui kuasa
anugerah Kristus yang menyelamatkan itu
mereka dapat berjalan menempuh jalan yang
dijalani Kristus, dari hari ke hari menikmati
hal-hal yang berkenan kepada Allah (Yoh.
8:29). Pengharapan manusia yang telah ja-
tuh ke dalam dosa itu hanyalah dengan me-
nerima undangan Allah untuk masuk ke da-
lam perjanjian anugerah-Nya. Melalui iman
di dalam Yesus Kristus kita dapat mengalami
hubungan ini yang memberikan jaminan ke-
pada kita menjadi anak-anak Allah dan men-
jadi ahli waris dalam kerajaan-Nya.
.jpeg)
