gereja masehi advent 1

Tampilkan postingan dengan label gereja masehi advent 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja masehi advent 1. Tampilkan semua postingan

gereja masehi advent 1


 









ذَكٖر وَ  ُكى يِّ َٰٓأَيُّهَا ٱنَُّاُس إََِّا َخهَۡقََُٰ ِ يََٰ ٌَّ أَۡكَرَيُكۡى ِعَُد ٱَّللَّ  إِ

ا ْۚ ُكۡى ُشُعىٗبا َوقَبَآَٰئَِم نِتََعاَرفُىَٰٓ أَُثَىَٰ َوَجَعۡهََُٰ

 َ ٌَّ ٱَّللَّ ُكۡىْۚ إِ  َعهِيٌى َخبِير   أَۡتقَىَٰ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan 

seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku 

supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia 

diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. 

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” 

(Q.S. Al-Hujarat: 13) 

  


 

TRANSLITERASI 

Penulisan Transliterasi huruf-huruf Arab Latin dalam skripsi ini 

berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri 

Pendidikan dan Kebudayaan Republik negara kita  nomor : 158/ 1987 dan nomor : 

0543b/U/1987. Penyimpangan kata sandang (al-) disengaja secara konsisten agar 

sesuai teks Arabnya.  

 Tidak ا

dilambangkan 

 {t ط

 {z ظ B ب

 ` ع T ت

 G غ \s ث

 F ف J ج

 Q ق {h ح

 K ك Kh خ

 L ل D د

 M و \z ذ

ر   R ٌ N 

 W و Z ز

 S ِ H س

 ` ء Sy ش

 Y ي {s ص

   {d ض

 

  

xi 

 

Bacaan Mad :      Bacaan Diftong : 

a> = a panjang      او = au 

i> = i panjang       اي = ay 

u> = u panjang 

  


Skripsi ini berjudul Strategi Adaptasi Jemaat Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh (Studi Kasus Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan) 

dilatarbekangi oleh banyaknya kasus intoleran yang berujung pada tindakan 

diskriminasi, persekusi, maupun intervensi terhadap kelompok minoritas yang 

terjadi di berbagai wilayah. Mulai dari kekerasan fisik maupun verbal, hingga 

penghancuran rumah ibadah yang merupakan ranah spiritual. 

Keberadaan jemaat Advent di Desa Kuwaron yang masih eksis sampai 

saat ini menginisiasi peneliti untuk mengetahui bagaimana strategi yang dilakukan 

jemaat Advent di Desa Kuwaron. Ketertarikan peneliti terhadap upaya-upaya 

yang dilakukan oleh jemaat Advent yang membuat kelompok ini tetap eksis dan 

tidak ada konflik yang besar seperti yang terjadi di kebanyakan wilayah. 

sebab  penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research), maka 

peneliti memulai melakukan observasi dan pendekatan terhadap Jemaat Advent. 

Kemudian untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, peneliti melakukan 

wawancara terhadap beberapa narasumber, yakni dari Jemaat Advent dan 

Perangkat Desa setempat. Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder 

seperti buku-buku, jurnal, artikel, serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan 

penelitian ini . sesudah  semua informasi terkumpul, selanjutnya peneliti 

mengolah dan menganalisa data yang didapat dari narasumber untuk mengetahui 

bagaimana strategi adaptasi yang dilakukan oleh jemaat Advent Desa Kuwaron. 

Dari hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa strategi adaptasi yang 

dilakukan oleh jemaat Advent yaitu  sebgai berikut: 1) menjaga interaksi sosial, 

2) bersikap inklusif trhadap warga , 3) berintegrasidalam kegiatan-kegiatan 

sosial, 4) mematuhi aturan desa serta mencegah konflik. 


Di dunia sekarang ini mungkin tidak ada negara yang penduduknya 

homogen, yang mana terdiri hanya dari satu suku bangsa. Pada umumnya 

negara-negara di dunia terdiri dari berbagai macam ras, suku, etnis maupun 

agama. Tidak terkecuali negara kita  yang merupakan salah satu negara dengan 

wilayah yang sangat luas dengan ribuan pulau di dalamnya, yang 

memungkinkan hidup dan berkembangnya penduduk dalam wilayah yang 

berbeda-beda. 

Data yang diperoleh Koentjaraningrat menyebutkan tidak kurang dari 

151 suku bangsa negara kita  dari Sabang sampai Merauke.

 sedang  menurut 

Heldred Geertz, sebagaimana dikutip oleh Zada di negara kita  ada  lebih 

dari tigaratus etnis. Masing-masing etnis memiliki budayanya sendiri dengan 

menggunakan lebih dari dua ratus lima puluh bahasa.

2

 Fenomena ini 

mencerminkan negara kita  sebagai negara yang sangat beragam. mulai dari segi 

kultural maupun struktural. Keberagaman negara kita  dipengaruhi baik oleh 

faktor internal maupun faktor eksternal yang akhirnya menjadikan penduduk 

di negara ini sangat beragam.

 

Keberagaman bangsa negara kita  salah satunya yaitu  agama. ada  

agama-agama besar dunia yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau 

negara kita . Selain itu masih eksisnya agama lokal (kepercayaan) sampai saat 

ini yang masih dianut oleh sebagian warga  negara kita , khususnya 

warga  pedalaman menambah banyaknya tingkat pluralitas negara kita  

                                                

 

pada agama. tingkat kemajemukan yang relatif tinggi membuat potensi 

konflik dan perpecahan memiliki eskalasi yang cenderung tinggi. 

Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan negara kita , yang 

memiliki  arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua menjadi semangat 

negara kita  untuk tetap bersatu. Melihat kemerdekaan yang tidak hanya 

diperoleh berkat satu kelompok saja, menjadikan warga nya harus 

mengakui bahwa negara kita  bukan hanya milik satu kelompok. Maka dari itu, 

sikap toleransi dan kepemilikan bersama harus tertanam kuat dalam diri 

masing-masing individu. Perbedaan suku, ras, etnis maupun agama 

seharusnya bukan menjadikan negara kita  terpecah belah. Melainkan untuk 

menjadikan negara kita  semakin kuat. 

Meskipun demikian, munculnya konflik tidak bisa dihindarkan. 

Mengingat konflik menjadikan sejarah peradaban manusia terus tercipta. Yang 

menjadi tugas yaitu  bagaimana konflik itu bisa dikelola dengan baik 

sehingga tidak semakin besar yang berakibat pada tindakan kekerasan. 

Salah satu konflik yang sering terjadi  di negara kita  yaitu  konflik yang 

bercirikan agama. Meskipun agama bukan menjadi trigger dasar, akan tetapi 

peran agama dalam menjadikan konflik menjadi besar sangat dominan. 

Terbukti, sejarah membuktikan pasca kemerdekaan negara kita , konflik yang 

berbau agama sudah sangat sering terjadi baik internal (antar golongan) 

maupun eksternal (antar agama). Sebagai contoh konflik Ambon, GAM 

(Gerakan Aceh Merdeka), Sunni-Syiah di Madura, dan lain sebagainya. 

Dalam konflik-konflik ini  menjelaskan bagaimana agama dengan 

mudahnya menjadi faktor yang memicu  konflik menjadi besar dan tidak 

bisa dianggap remeh. 

Bukti historis yang mengungkapkan pertikaian antara agama yang 

sudah berlangsung sejak lama meninggalkan kultur yang mana pemeluknya 

memiliki rasa curiga terhadap pemeluk lain. Seperti halnya Kristen dengan 

Islam. Perang salib yang terjadi sudah berabad-abad yang lalu masih tetap 

menjadi sumber konflik terpendam diantara kedua pengikut agama ini. sumber 

utama dari perang antar pengikut agama ialah kepercayaan atau keyakinan 

akan kebenaran agama yang sering memicu  timbulnya monopoli 

kebenaran oleh penganutnya. Monopoli ini terletak pada sikap sikap dan 

keyakinan bahwa agama yang dianutnya merupakan agama yang benar, paling 

diridhoi Tuhan, sedang  agama yang dianut oleh penganut agama lain 

yaitu  sesat. Pada akhirnya sikap ini memicu  fanatisme yang berlebihan, 

sehingga memicu  sikap intoleransi terhadap penganut agama lain.

Para penganut agama ini sampai sekarang belum sepenuhnya 

melupakan tragedi kelam pertikaian antar kedua agama ini. Pembunuhan, 

pengusiran, intimidasi, terbatasnya hak-hak sebagai warga  sipil menjadi 

peristiwa yang biasa dikala para penguasa agama menjadi penguasa. Seperti 

muslim arab yang menjadi penguasa, maka penduduk lokal nonmuslim 

merasa terancam lalu disubordinasikan ke dalam jaringan warga  yang 

disebut dalam bahasa arab sebagai dzimmi.

 Sebaliknya, diskriminasi juga 

dirasakan oleh muslim saat  Andalusia (Spanyol) kembali jatuh ke tangan 

Kristen. Umat Islam disana mau tidak mau harus meninggalkan Andalusia jika 

tidak ingin mati. Terkecuali bagi mereka yang mengambil langkah untuk 

pindah agama. Dan tidak sedikit dari mereka yang diam-diam masih beragama 

Islam. oleh sebab  itu peran stakeholder sangat memengaruhi tehadap konflik 

yang muncul. 

Persoalan mayoritas dan minoritas selalu saja mencuat ke permukaan 

dan menjadi sumber konflik dan disharmonitas di dalam warga  

majemuk. Problem ini berlaku umum, tidak hanya di negara-negara 

berkembang seperti negara kita  yang baru memasuki era reformasi dan 

demokrasi. Akan tetapi ini juga terjadi di negara-negara di Eropa dan 

Amerika.

Kelompok mayoritas atau kelompok dominan dalam suatu warga  

identik dengan kelompok yang memiliki kontrol atau kekuasaan untuk 

                                                 

mengontrol. Mereka merupakan sumber daya kekuasaan dalam sebuah 

institusi. sedang  setting institusi itu sangat penting sebab  hal ini  

mempengaruhi warga , penyelenggaraan pemerintahan, pendidikan, 

ekonomi maupun agama. sebaliknya kelompok minoritas kurang memiliki  

akses terhadap sumber daya, privilese kurang atau bahkan tidak berpeluang 

mendapatkan kekuasaan seperti kelompok mayoritas. Hal inilah yang 

memicu  prasangka antara minoritas dan mayoritas, sebab  

ketidakseimbangan dalam sebuah warga .

Sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya yaitu  muslim. 

warga  nonmuslim yang memiliki  tantangan tersendiri untuk mampu 

beradaptasi dengan kelompok mayoritas ini . Terlebih lagi tinggal di 

daerah pedesaan. Karakteristik warga  desa yang cenderung keras 

terhadap agama serta rasa sentimen yang tinggi terhadap agama lain 

menjadikan pendatang harus menyadari hal ini . 

Menurut Raimundo Panikkar, ada  tiga kemungkinan sikap yang 

ditampilkan suatu agama bila mengalami pertemuan dengan agama lain. Sikap 

pertama yaitu  ekslusif. Sikap eksklusif sikap eksklusif berarti sikap yang 

menutup diri, menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran 

yang diyakininya, dan mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran satu-

satunya. Dalam eksklusivisme tidak ada tempat dalam toleransi. Sikap kedua 

yaitu inklusif. Sikap kedua ini merupakan kebalikan dari sikap eksklusif. Jadi 

dalam sikap insklusif dapat menerima kedatangan orang yang berbeda agama 

(tolereansi).

8

 

Sikap ketiga menurut Panikkar yaitu sikap paralelisme. Sikap 

paralelisme yaitu menjaga batas-batas yang jelas di satu pihak dan 

menampilkan pembaharuan-pembaharuan yang konstan dari suatu agama di 

alin pihak. Sikap paralelisme tampak nyata dalam kecenderungan suatu agama 

untuk mencari titik-titik padanan atau titik-titik pertemuan dengan agama-


agama lainnya. Sikap demikian dapat mengantar kepada suatu sikap yang 

dialogal terhadap agama lain.

9

 

Mengingat ada  sikap-sikap yang ditunjukkan oleh para pemeluk 

agama jika bertemu, perlu adanya strategi untuk menjaga agar nantinya tidak 

timbul konflik antara kedua belah pihak. Oleh sebab  itu, sebagai pendatang, 

individu atau kelompok harus memahami betul bagaimana hidup di 

lingkungan yang agamanya bukan menjadi mayoritas di tempat ini . 

Dikhawatirkan jika salah dalam adaptasi dengan warga  sekitar akan 

timbul konflik. Sebaliknya, dengan adaptasi yang baik maka resiko terjadi 

konflik akan minim. 

Adaptasi menjadi faktor penentu apakah individu atau kelompok 

ini  dapat bertahan dalam lingkungan barunya atau tidak. Dengan kondisi 

budaya yang berbeda dengan budayanya, individu atau kelompok harus dapat 

memahami betul hal itu. sebab  pada sebuah kasus, bertemunya dua budaya 

yang berbeda akan timbul konflik. Dan puncak dari konflik ini  bisa 

berupa pengusiran individu atau kelompok oleh penduduk lokal. Bahkan bisa 

saja terjadi tindakan genosida terhadap kelompok imigran ini .

10

 Oleh 

sebab  itu, strategi adaptasi menjadi hal yang sangat penting supaya mampu 

hidup bersama dengan warga  lokal. 

Sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Warga 

yang beragama non muslim Desa Kuwaron, Grobogan, khususnya Kristen 

Advent memiliki  tantangan tersendiri untuk beradaptasi dengan warga  

setempat. Terlebih agama ini merupakan agama pendatang yang masih baru di 

desa ini . Karakteristik warga  desa yang cenderung keras terhadap 

agama dan memiliki  rasa sentimen terhadap agama lain harus dipahami 

betul bagi jemaat Kristen Advent. Ini berbeda dengan warga  perkotaan 

dalam memandang agama dalam ranah sosial. 

Aliran yang didirikan oleh Ellen G. White ini juga mendapat reaksi 

negatif bagi aliran-aliran Kristen mainstream. Ajaran-ajaran yang dinilai 

                                                

 

sangat kontradiktif dengna Kristen pada umumnya menjadi salah satu alasan 

mengapa aliran ini sangat ditentang. Ajaran-ajaran Kristen ini lebih mirip 

dengan Yahudi dan juga Islam. Melaksanakan kebaktian di hari Sabtu (hari 

sabat) seperti layaknya umat Yahudi. Selain itu kriteria makanan dan 

minuman yang dinilai umat Yahudi dan Islam haram juga diharamkan oleh 

sekte ini. 

Kristen Advent sendiri masuk di Desa Kuwaron, Gubug, Grobogan 

sudah terbilang cukup lama. Agama ini masuk sekitar tahun 90an. Dalam 

perkembangannya, para jemaat ini menggunakan rumah sebagai gereja. Secara 

rutin mereka bergilir dari satu rumah ke rumah jemaat yang lain untuk 

melaksanakan kebaktian di setiap minggunya. Sebuah tantangan besar bagi 

jemaat Kristen Advent Desa Kuwaron sebab  mereka yaitu  pendatang. 

Dengan jumlah jemaat yang bisa tergolong sangat sedikit dalam sebuah 

warga  yang mayoritas yaitu  Islam, Kristen ini mampu bertahan dengan 

umur yang sudah lebih dari dua puluh tahun. Sebuah waktu yang bisa dibilang 

lama. 

Berangkat dari realitas di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih 

dalam mengenai Jemaat Kristen Advent Kuwaron dalam hal adaptasi. Peneliti 

kemuadian menuangkanny dalam sebuah penelitian yang berjudul Strategi 

Adaptasi Jemaat GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh) Studi 

Kasus di Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. 


 

Dari beberapa literatur di atas ada  kesamaan dengan penelitian 

yang sedang peneliti lakukan yaitu tentang adaptasi. Akan tetapi ada  

perbedaan yang jelas antara skripsi yang diteliti dengan penelitian-penelitian 

yang telah disebutkan di atas dengan skripsi penulis. Selain tempat penelitian 

yang berbeda, pada penelitian ini kelompok keagamaan yaitu Jemaat 

GMAHK yang menjadi objek penelitian. Hal ini berbeda pada penelitian-

penelitian di atas yang mana objek penelitiannya bukan kelompok keagamaan. 

F. Metode Penelitian 

Dalam penelitian ini yaitu  hasil penelitian lapangan (field research). Oleh 

sebab  itu, objek penelitiannya yaitu  objek di lapangan yang sekiranya 

mampu memberikan informasi tentang kajian penelitian. 

a. Jenis Penelitian 

Penelitian karya ilmiah ini merupakan penelitian deskriptif-

kualitatif. Menurut Strauss dan Corbin, jenis penelitian yang hasil 

temuannya tidak  berbentuk statistik atau penjabaran angka-angka hitung 

disebut dengan penelitian kualitatif.

11

 Pendekatan kualitatif dipilih sebab  

peneliti akan menggunakan metode penelitian lapangan (field research). 

Menurut Lexy J. Moeloeng, ide dasar dari penelitian lapangan yaitu  

seorang peneliti berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan 

tentang suatu fenomena dalam suatu keadaan ilmiah.

12

 

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa penelitian ini 

merupakan penelitian deskriptif-kualitatif, maka salah satu untuk 

mendapatkan data yaitu dengan cara terjun ke lapangan. Adapun lokasi 

penelitian ini yaitu di Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten 

Grobogan. 

b. Sumber Data 

                                                 

 

  Lofland dan Lofland sebagaimana dikutip oleh Lexy J. Moeloeng 

menyatakan bahwa sumber data dalam sebuah penelititan kualitatif dibagi 

menjadi dua macam, yakni sumber data utama (primer) dan sumber data 

tambahan (sekunder).

13

 

1. Sumber Data Primer 

Data primer yaitu  data yang sumber utamanya dicatat melalui 

catatan tertulis. Dengan maksud agar memperoleh suatu informasi 

yang diperlukan serta dilakukan secara sadar dan terarah.

14

 sebab  ini 

yaitu  penelitian lapangan, maka data primernya diperoleh dari objek 

penelitian yaitu dari kelompok jemaat Kristen Advent yang tinggal di 

Desa Kuwaron, mayarakat sekitar melalui wawancara maupun 

pengamatan langsung di tempat yang dijadikan objek.  

2. Sumber Data Sekunder 

Sumber data sekunder yaitu  sumber data yang berasal dari 

dokumen-dokumen, catatan maupun literatur ilmiah dari pihak lain. 

Penulis akan mendapatkan dari pihak ketiga yang memiliki dokumen, 

catatan, maupun literatur ilmiah yang memiliki kesesuaian dengna 

skripsi ini. 

c. Metode Pengumpulan Data 

Data yaitu  segala keterangan (informasi) mengenai suatu hal 

yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Sehingga tidak semua informasi 

atau keterangan yang didapatkan dari sumber data, bisa menjadi sumber 

penelitian.

15

 

Menurut  Prof. Dr. Sugiyono, tekhnik pengumpulan data 

merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian kualitatif, sebab  

tujuan utama penelitian yaitu  mendapatkan  data. Sehingga tanpa 

                                                 

 Muhammad Idrus, Metodologi Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kulitatif dan 

Kuantitatif, Erlangga, Yogyakarta, 2009, h. 61 

 

11 

 

mengetahui tehnik data yang tepat, penelitia akan kesusahan memperoleh 

data sesuai kebutuhan atau yang memenuhi standar data yang ditetapkan.

16

 

1. Pengamatan (Observasi) 

Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yaitu  secara langsung. 

Ini ditujukan untuk menperkuat data lain. Pengamatan yang dilakukan 

yaitu dengan melihat kondisi warga nya. Untuk mengetahui relasi 

sosial antar pemeluk agama disana sehari-hari. Selain itu, untuk 

mengetahui sikap warga  muslim terhadap Jemaat Kristen Advent 

saat  ada  kegiatan sosial, keagamaan maupun nasional. 

2. Wawancara (Interview) 

Dengan wawancara ini penulis bertindak sebagai pewawancara 

(interviewer) yang mengajukan pertanyaan kepada terwawancara 

(interviewer) atau yang memberikan atas pertanyaan.

17

 Dalam hal ini, 

informan yang diwawancarai yaitu  para tokoh di desa ini . 

Seperti, perangkat desa, Jemaat Kristen Advent, dan muslim yang 

tinggal di daerah ini . Wawancara dilakukan untuk mendapatkan 

data yang nantinya akan lebih objektif. 

3. Dokumentasi 

Tekhnik dokumentasi yaitu  cara pengumpulan data melalui 

peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip, buku-buku dan notulen dari 

rapat serta teori-teori yang berhubungan dengan masalah penelitian.

18

 

Dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data tembahan. Seperti, 

kondisi warga , sejarah perkembangan desa, maupun buku ajar 

yang digunakan Jemaat Kristen Advent di desa Kuwaron, Kecamatan 

Gubug, kabupaten Grobogan. 

d. Metode Analisis Data 

 

Analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk 

menganalisis, mempelajari, serta mengolah data tertentu, sehingga dapat 

diambil suatu kesimpulan yang konkrit tentang persoalan yang diteliti. 

Dalam menganalisis data disini, penulis merujuk pada riwayat-riwayat 

mengenai konflik yang terjadi di desa ini . 

Apabila semua data yang diperlukan telah terkumpul, maka 

selanjutnya yang dilakukan yaitu  analisis data dengan menggunakan 

analisis deskriptif-kualitatif. Yakni sesudah  pengumpulan dan menyeleksi 

data, penulis mencoba melakukan penyederhanaan data ke dalam bentuk-

bentuk paparan yang mudah dibaca dan dipahami. Kemudian agar 

nantinya dapat menyimpulkan upaya-upaya apa saja yang dilakukan oleh 

jemaat Advent dalam beradaptasi di lingkungan yang mayoritas muslim. 

Secara etimologi strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu 

strategos yang memiliki arti komandan militer. sedang  menurut 

terminologi strategi yaitu  pendekatan secara keseluruhan yang 

berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi 

sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.

1

 

Definisi strategi menurut Kamus besar Bahasa negara kita , strategi 

yaitu  1) ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa-bangsa 

untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam peraeng dan damai. 

2) rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran 

khusus.

2

 

Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Menurut Argyris, 

Mintzberg, Stainer dan Miner, strategi merupakan respons secara 

terus menerus maupun adaptif terhadap peluang dan ancaman 

eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat 

memengaruhi organisasi.

3

 

Beberapa definisi strategi yang dikemukakan oleh pakar strategik 

seperti Uyterhoeven yang mendefinisikan strategi sebagai usaha 

pencapaian tujuan. Sementara Glueek dan Jauch mendefinisikan 

strategi sebagai rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi. 

Sedagkan Christensen mendefinisikan strategi sebagai pola-pola 

berbagai tujuan serta kebijakan dasar rencana untuk mencapai tujuan.

4

 

Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa pakar, 

strategi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan keputusan dan 

tindakan yang menghasilkan perumusan dan implementasi rencana 

yang dirancang untuk mencapai sebuah tujuan. 

Suatu organisasi harus mengidentifikasi tantangan yang harus 

dihadapi dan kesempatan yang timbul, suatu organisasi dihadapkan 

kepada keharusan untuk: 

1. Merumuskan tujuan yang hendak dicapai 

2. Menetapkan berbagai sasaran yang ingin dicapai 

3. Menetapkan berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan untuk 

mencapai sasaran 

4. Mengembangkan sistem dan mekanisme kerja yang tepat 

5. Mengalokasikan sumber dana, daya, peralatan serta tenaga 

manusia 

6. Memonitor hasil yang dicapai 

7. Melakukan berbagai perubahan organisasional apabila diperlukan 

8. Menata hubungan antar manusia dalam organisasi sedemikian 

rupa sehingga mereka bergerak sebagai suatu kesatuan yang 

bulat.

5

 

Menurut Hisyam Alie yang dikutip Rafi‟udin dan Djaliel, untuk 

mencapai strategi yang strategis maka suatu organisasi/lembaga perlu 

menganalisis kemampuan internal dan eksternal organisasinya 

dengan menggunakan analisi matriks SWOT sebagai berikut: 

1. Strength (kekuatan), yakni memperhitungkan kekuatan yang 

dimiliki yang biasanya menyangkut manusianya, dananya, 

beberapa sarana dan prasarana yang dimiliki oleh suatu 

organisasi. 

2. Weakness (kelemahan), yakni memperhitungkan kelemahan-

kelemahan yang dimilikinya, yang menyangkut aspek-aspek 

                                                 

 

sebagaimana dimiliki sebagai kekuatan, misalnya kualitas 

manusianya, dananya, dan sarana dan prasarana organisasi 

ini . 

3. Opportunity (peluang), yakni seberapa besar peluang yang 

mungkin tersedia di luar, hingga peluang yang sangat kecil 

sekalipun dapat diterobos. 

4. Threats (ancaman), yakni memperhitungkan kemungkinan 

adanya ancaman dari luar. 

b. Pengertian Adaptasi 

Kata adaptasi, secara terminologi dapat diartikan sebagai: 1) Proses 

mengatasi halangan-halangan dari lingkungan, 2) memanfaatkan 

sumber-sumber yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan 

sistem, 3) proses perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi yang 

berubah, 4) penyesuaian kelompok terhadap lingkungan, 5) 

penyesuaian biologis atau budaya sebagai hasil seleksi alamiah.

6

 Kata 

adaptasi juga memiliki  hubungan yang relevan dengan seleksi 

alamiah. Seleksi alamiah merupakan proses di mana alam menyeleksi 

bahan-bahan genetika tertentu sehingga memungkinkan makhluk 

hidup menyesuaikan lingkungannya.

7

 

Adaptasi yaitu  penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan, 

pelajaran proses perubahan serta akibatnya pada seorang individu 

dalam suatu kelompok sosial atau organisme sosial yang 

memicu  hal itu dapat hidup atau berfungsi lebih baik.

8

. Menurut 

Karta Sapoetra adaptasi memiliki  dua arti. Adaptasi yang pertama 

disebut penyesuaian diri yang autoplastis (auto artinya sendir, plastis 

artinya bentuk), sedang  pengertian yang kedua penyesuaian diri 

yang alloplastis (allo artinya yang lain, plastis artinya bentuk). Jadi 

adaptasi ada yang artinya pasif yang mana kegiatan pribadi ditentukan 

                                                 

 

oleh lingkungan. Dan ada yang artinya aktif yang mana pribadi 

mempengaruhi lingkungan.

9

 

Menurut Bungin adaptasi yaitu  “naluri yang mendorongnya untuk 

selalu menyatukan hidupnya dengan orang lain dalam kelompoknya”. 

Naluri kelompok itu juga yang mendorong manusia untuk 

menyatukan dirinya dengan kelompok yang lebih besar dalam 

kehidupan manusia lain di sekililingnya bahkan mendorong manusia 

menyatu dengan alam fisiknya.

10

 

Pengertian adaptasi di atas dapat disimpulkan bahwa adaptasi 

yaitu  kemampuan atau kecenderungan manusia dalam menyesuaikan 

diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap bertahan hidup dengan 

baik. Seseorang dalam kehidupan bersama harus mengkoordinasikan 

dan mengintegrasikan perilakunya untuk menghindarkan terjadinya 

kekacauan. Untuk itu, dalam proses adaptasinya manusia tidak 

terlepas dari interaksi antar sesamanya untuk menghadirkan situasi 

keserasian dan harmonis dalam kehidupan bersama. 

Adaptasi tidak hanya dibataskan pada pengertian penyesuaian diri, 

namun secara luas adaptasi diartikan bagaimana seseorang berusaha 

untuk tetap bertahan hidup dengan kondisi tertentu, yang pastinya 

memerlukan  cara bagaimana seseorang ini  bisa beradaptasi dan 

mengapa harus beradaptasi. 

Soerjono Soekanto memberikan beberapa batasan pengertian dari 

adaptasi, yakni: 

1. Proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan. 

2. Penyesuaian terhadap norma-norma untuk menyalurkan  

3. Proses perubahan untuk menyesuaikan untuk situasi yang 

berubah. 

4. Mengubah agar sesuai dengan kondisi yang diciptakan 

                                                 

  

Adaptasi jika dalam konteks sosial, memiliki  3 konsep. Yang 

pertama yaitu keadaan kosong, yakni saat  begitu luas dan samar 

maknanya sehingga lebih menghasilkan kebingungan bukannya 

kejelasan. Kedua, terlibat dalam pernyataan yang kedengarannya saja 

bagus tapi secara logis tampak cacat bila ditilik dari penjelasan 

fungsional. Atau yang ketiga terlibat dalam paparan tentang 

kecenderungan-kecenderungan dinamis warga  manusia yang 

tentu saja salah kaprah.

12

 

c. Pengertian Strategi Adaptasi 

Menurut Usman Pelly yang mengutip pendapat Whitten, Graves 

dan Berger, strategi adaptasi yaitu  cara-cara yang digunakan 

pendatang (migran) untuk mengatasi rintangan-rintangan yang mereka 

hadapi dan untuk memperoleh keseimbangan yang positif dari 

kondisi-kondisi latar belakang lingkungan tujuan.

13

  

Menurut Moelino, strategi adaptasi diartikan sebagai suatu rencana 

yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran atau tujun 

yang khusus. Strategi adaptasi yaitu  suatu gambaran tentang 

manusia dalam menanggapi suatu keadaan.

14

 

Mengikuti John W. Bennett, ada tiga konsep yang perlu 

diperhatikan dalam persoalan adaptasi yaitu adaptasi perilaku 

(adaptive behavior), adaptasi siasat (adaptive strategy), dan adaptasi 

proses (adaptive processes). Pertama, adaptasi perilaku merupakan 

perilaku yang dianggap sebagai sesuatu yang dianggap dinamis dan 

                                                 

terus menerus berubah seiring dengan berjalannya waktu. Perilkau 

yang muncul biasanya digunakan sebagai suatu alat oleh individu 

maupun kelompok untuk mempertahankan diri terhadap lingkungan 

dan kelompok yang berubah dengan mengikuti alur yang ada dalam 

lingkungan ini . dengan demikian, adaptasi perilaku sebagai suatu 

tindakan yang dilakukan oleh suatu organisme (individu maupun 

kelompok) dalam upaya mengalami perubahan. 

Kedua, adaptasi siasat merupakan perilaku yang dilakukan oleh 

individu digunakan sebagai cara-cara untuk menyiasati suatu 

perubahan yang ada  di lingkungan sekitar hal ini dilakukan 

sebab  melalui perubahan yang terjadi  dalam lingkungan maupun 

keadaan sekitar memerlukan  suatu solusi untuk mengatasi hambatan 

ini , sebab  cara-cara yang dilakukan oleh organisme (individu 

maupun kelompok) pada umumnya tidak dapat lepas dari masalah 

yang mendasari, walaupun perubahan-perubahan ini  tidak 

menimbukan suatu hal yang buruk (negatif), akan tetapi organisme 

(individu-kelompok) perlu untuk menyesuaikan diri dengan 

lingkungan yang ada dengan melakukan pemeriksaan yang sesuai 

agar dapat berada pada posisi yang tepat, sehingga dapat 

memperteahankan hidup. 

Ketiga, adaptasi proses merupakan proses adaptasi yang dibagi 

menjadi tiga level, yaitu individu dan kelompok. Individu lebih 

mengarah pada kemampuan seseorang untuk mengatasi hambatan 

dalam suatu lingkungan alam. Hal ini sebab  dalam upaya untuk 

mendapatkan sumber daya dianggap sebagai alat pemuas kebutuhan. 

sedang  pada level kelompok, adaptasi bisa dikatakan sebagai 

suatu cara yang digunakan untuk mempertahankan hidup (survival). 

Pada dasarnya individu-individu akan hidup bersama dalam suatu 

lingkungan sosial, maka dari itu antar individu harus dapat 

mempertahankan hidup dengan melakukan pemecahan permasalahan 

bersama yang ada dalam lingkungan sosial. Hal ini sebab  masalah 


yang timbul selamanya tidak dapat dipecahkan oleh individu sendiri, 

akan tetapi dalam penyelesaian masalah selalu memerlukan  orang 

lain.

 

Strategi adaptasi sendiri merupakan salah satu studi dalam 

paradigma ekologi budaya yang berusaha memahami keajekan dan 

perubahan budaya sebagai proses interaksi manusia dengan 

lingkungannya. Paradigma ini terinspirasi dari teori evolusi biologi 

sebagaimana dikembangkan oleh Charles Darwin, di mana evolusi 

makhluk hidup sangat bergantung kepada seleksi alam dan adaptasi 

terhadap lingkungan. 

Makluk hidup harus melakukan adaptasi agar ketidakcocokan 

dapat disesuaikan, sehingga mereka dapat bertahan hidup di 

llingkungan yang baru. Dalam konteks kebudayaan, upaya-upaya 

yang dilakukan oleh manusia untuk menghadapi lingkungan baru 

merupakan respon alamiah dan budaya, sehingga mereka dapat 

diterima dan menjadi bagian dari lingkungan baru ini . Ingkungan 

baru ini memiliki perbedaan dengan tempat asal, seperti perbedaan 

lingkungan alam, sosial dan budaya.

16

 

Sebenarnya gagasan adaptasi hanya dapat digunakan dengan tepat 

jika dalam konteks biologi, sesuai asal mula gagasan itu, dimana 

maknanya yang biasa mengacu pada mode-mode dipengaruhinya 

kelompok gen organisme oleh interaksi dengan lingkungan sebagai 

akibat dari sifat-sifat pertahanan hidup yang selektif.

17

 

Merton mengemukakan tipologi cara adaptasi manusia terhadap 

situasi. Pertama, konformitas, yaitu perilaku yang mengikuti tujuan 

dengan cara yang ditentukan warga  untuk mencapai tujuan 

ini . Maksudnya yaitu cara dijalankan dan goals juga dijalankan. 

                                                 

Kedua, inovasi, merupakan perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan 

warga , tetapi memakai cara yang dilarang oleh warga  

(termasuk tindak kriminal). Maksudnya yaitu caranya tidak sama dan 

ends atau goals-nya yang sama. 

Ketiga ritualisme, yaitu perilaku seseorang yang telah 

meninggalkan tujuan budaya. Namun masih tetap berpegangan pada 

cara-cara yang telah digariskan warga , dalam arti ritual atau 

upacara dan perayaan masih diselenggarakan tetapi maknnya telah 

hilang. Keempat pengunduran/ pengasingan diri, meninggalkan baik 

tujuan konvensional maupun cara pencapaiannya yang konvensional, 

sebagaimana yang dilakukan oleh pecandu obat bius, pemabuk, 

gelandangan maupun orang-orang gagal lainnya. Dan yang terakhir 

yaitu pemberontakan (rebellism) , penarikan diri dari tujuan dan cara-

cara konvensional yang disertai dengan upaya untuk melembagakan 

tujuan dan cara baru, misalnya para reormator agama. 

Pada dasarnya manusia memiliki  kapasitas merancang strategi 

adaptasi yang sesuai dengan situasi yang menekan. Kemampuan 

adaptasi ini mempnyai nilai kelangsungan hidup sehingga batas-batas 

tertentu dianggap sebagai agen aktif yang mampu menanggapi 

tuntunan lingkunagan. Salah satu indikator keberhasilan dari strategi 

adaptasi yaitu  apabila mereka telah betah dan kerasan di tempat 

tujuan. Atau dengan kata lain, apabila telah tercapai keserasian antara 

pendatang dan lingkungan tujuan, khususnya terhadap penduduk asli. 

2. Konsep Adaptasi 

a. Interaksi Sosial 

Interaksi sosial yaitu  hubungan-hubungan antara orang 

perorangan, antara kelompok manusia atau antara orang perorangan 

dan kelompok manusia. Interaksi sosial merupakan hal penting dalam 

kehidupan bersama di dalam warga . Dengan demikian dapat 

disebutkan bahwa interaksi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 

1. Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang. 


2. Ada komunikasi antar pelaku dengan simbol-simbol. 

3. Ada dimensi waktu dahulu, sekarang dan akan datang yang 

menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung. 

4. Ada tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan 

ini  dengan yang diperkirakan pengamat.

18

 

Interaksi sosial merupakan bentuk umum dari proses sosial. Proses 

sosial akan terjadi jika ada interaksi sosial, sebab tanpa adanya 

interaksi tidak mungkin ada kehidupan bersama.

19

 sedang  bentuk 

khusus dari proses sosial yaitu  aktivitas-aktivitas sosial. Syarat 

terjadinya interaksi sosial yaitu  adanya kontak sosial (social 

contact) dan adanya komunikasi (communication).

20

 

Interaksi sosial antarmanusia meliputi empat unsur utama, yakni 

struktur sosial (social structure), tindakan sosial (social act), relasi 

sosial (social relation), dan impression management. 

Pertama, yang dimaksud dengan struktur sosial yaitu  tata aturan 

relasi yang berpola tertentusebagaimana yang diharapkan untuk 

membimbing interaksi sosial. Kedua, tindakan sosial yang 

diwujudkan dengan perilaku yang nyata, dapat dibayangkan dan 

dapat diingat. Hal ini berarti interaksi sosial tanpa perbuatan yang 

nyata tidak bisa disebut interaksi sosial. Ketiga, relasi sosial yaitu  

pengaruh yang dirasakan di antara dua atau lebih sebagai akibat dari 

perilaku timbal balik. Keempat, aspek terakhir yang juga penting 

untuk diperhatikan yaitu  impression management. Ini menerangkan 

bahwa hubungan antar manusia semata-mata untuk memnuhi 

interaksi sosial melainkan hubunga ini  harus dikelola 

sedemikian rupa sehingga selalu ada langkah atau cara yang 

digunakan leh kedua belah pihak untuk memelihara dan 

melanggengkan interaksi demi membangun klaim identitas diri yang 

                                                 

 

positif atau mencegah kesalahpahaman karean stigma atau 

labelling.

21

 

ada  beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi 

sosial, yaitu; 

1. Imitasi, yaitu proses seseorang mencontoh orang lain atau 

kelompok. Hal ini sebab  manusia memiliki keinginan  untuk 

meniru orang lain atau kelompok lain. 

2. Sugesti, yaitu  cara pemberian suatu pandangan  atau pengaruh 

oleh seseorang kepada orang lain. Sugesti terjadi sebab  pihak 

yang menerima anjuran itu tergugah secara emosional dan 

biasanya emosi ini mengambat daya pikir rasionalnya. Selain 

itu, proses sugesti akan lebih mudah terjadi jika orang yang 

memberikan sugesti memiliki wibawa atau otoriter. 

3. Identifikasi, yaitu  kecenderungan-kecenderungan atau 

keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi orang 

lain. 

4. Simpati, yaitu  perasaan tertarik yang timbul dalam diri 

seseorang yang membuatnya seolahh-olah berada dalam 

keadaan orang lain. Faktor simpati yang utama yaitu  ingin 

mengerti dan ingin bekerjasama dengan seseorang.

22

 

Bentuk-bentuk interaksi sosial diantaranya dapat berupa kerjasama 

(cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga 

berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict), dan bentuk lain 

yang akan muncul yaitu  akomodasi (accomodation). Gillin dan 

Gillin menggolongkan proses sosial yang timbul sebagai akibat 

adanya interaksi sosial menjadi dua,

1. Proses sosial asosiatif, yaitu  suatu proses yang terjadi di mana 

ada saling pengertian dan kerjasama timbal balik antar individu 

atau kelompok satu dengan yang lainnya, an proses ini 

menghasilkan pencapaian tujuan bersama. Adapun bentuk-

bentuknya antara lain: 

a. Kerjasama (cooperation) yaitu  usaha bersama antara individu 

atau kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan 

bersama. Proses terjadinya yaitu  apabila di antara individu 

atau kelompok tertentu menyadari adanya kepentingan dan 

ancaman yang sama. 

b. Akomodasi (accomodation) yaitu  proses sosial dengan dua 

makna. pertama sebagai suatu keadaan, akomodasi mengacu 

pada suatu keadaan seimbang (equilibrium) dalam interaksi 

antara orang perorang atau kelompok-kelompok manusia 

dengan kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai 

sosial yang berlaku di dalam warga . sedang  sebagai 

suatu proses, akomodasi berarti tindakan aktif yang dilakukan 

untuk menerima kepentingan yang berbeda dalam rangka 

meredakan suatu pertentangan yang terjadi. Para sosiolog 

menggunakan istilah akomodasi sebagai suatu pengetian untuk 

menggambarkan suatu proses dalam hubungan sosial yang 

sama artinya dengan pengertian adaptasi (adaptation).

24

 

c. Asimilasi (asimilation), yang merupakan proses pencampuran 

dua atau lebih budaya yang berbeda sebagai akibat dari proses 

sosial, kemudian menghasilkan budaya tersendiri yang berbeda 

dengan budaya aslinya.

25

 

2. Proses sosial disosiatif, merupakan proses perlawanan (oposisi) 

yang dilakukan oleh individu-individu dan kelompok dalam proses 

 

sosial diantara mereka pada suatu warga . Adapun bentuk-

bentuk proses disosiatif  yaitu : 

a. Persaingan (competition) yaitu  proses sosial di mana individu 

atau kelompok-kelompok berjuang dan bersing untuk mencari 

keuntungan pada bidang-bidang kehidupan yang menjadi pusa 

tperhatian pusat publik atau mempertajam prasangka yang telah 

ada, tanpa mempergunakan ancaman ata kekerasan. 

b. Kontroversi  (controversion) yaitu  proses sosial yang berada 

di antara persaingan dan pertentangan. Kontroversi yaitu  

proses sosial di mana terjadi pertentangan pada tatran konsep 

dan wacana, pertentangan atau pertikaian telah memasuki 

unsur-unsur kekerasan dalam proses sosialnya. 

c. Konflik (conflict) yaitu  proses sosial di mana individu atau 

kelompok menyadari memiliki perbedaan masing-masing. 

Perbedaan ini  dapat mempertajam perbedaan yang ada 

hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian di mana 

pertikaian itu sendiri dapat menghasilkan ancaman dan 

kekerasan fisik.

26

 

b. Komunikasi 

Kata komunikasi berasal dari bahasa latin communicare yang 

artinya memberitahukan. Kata ini  kemudian berkembang dalam 

bahasa inggris communication yang artinya proses pertukaran 

informasi, konsep, ide, gagasan, perasaan dan lain-lain antara dua 

orang atau lebih.

27

  

Menurut Soerjono Soekanto komunikasi yaitu suatu hubungan 

yang memicu  saling pengaruh mempengaruhi antara para 

individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok.


Komunikasi sosial mengandung persamaan pengertian pandangan 

antara orang-orang yang berinteraksi terhadap sesuatu. Menurut 

Soerjono Soekanto, komunikasi yaitu  bahwa seseorang memberikan 

tafsiran pada seseorang pada perikelakuan orang lain (yang berwujud 

pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap). 

Komunikasi dapat diwujudkan dengan pembicaraan, gerak-gerik 

fisik atau perasaan. Selanjutnya dari sini timbul sikap dan ungkapan 

perasaan, seperti senang, takut, menolak, dan semacamnya yang 

merupakan reaksi atas pesan yang diterima. Dalam berkomunikasi, 

dapat terjadi banyak sekali tafsiran terhadap perilaku dan sikap 

masing-masing orang yang sedang berhubungan. Misalnnya jabat 

tangan yang dapat ditafsirkan sebagai kesopanan, persahabatan, 

kerinduan, dan sebagainya. 

Dengan pengertian di atas ini berarti komunikasi menjadi syarat 

pokok lain daripada proses sosial dan komunikasi sosial di sebuah 

warga  merupakan proses yang tidak bisa dilepaskan dari sistem 

nilai warga . 

Komunikasi di dalam warga  dibagi menjadi lima jenis: 

1. Komunikasi individu dengan individu atau antarpribadi, yaitu 

komunikasi antar perorangan dan beersifat pribadi baik yang terjadi 

secara langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui 

medium) 

2. Komunikasi kelompok, memfokuskan pembahasannya kepada 

interaksi di antara orang-orang ke dalam kelompok kecil. 

3. Komunikasi organisasi, menunjuk pada pola dan bentuk 

komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. 

Komunikasi orgnisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar 

pribadi dan komunikasi kelompok. 

4. Komunikasi sosial, yaitu  salah satu bentuk komunikasi yang lebih 

intensif, di mana komunikasi terjadi secara langsung antara 

komunikator dan komunikan, sehingga situasi komunikasi 

berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu 

situasi integrasi sosial, melalui kegiatan ini terjadilah aktualisasi 

dan berbagai masalah yang dibahas. 

5. Komunikasi massa, menurut McQuail yaitu  komunikasi yang 

berlangsung pada tingkat warga  luas. Pada tingkat ini 

komunikasi dilakukan dengan media massa.

29

 

Dalam warga  majemuk sangat berpotensi untuk berinteraksi 

dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda etnik

30

. Oleh sebab  

itu penting untuk individu memahami komunikasi antarbudaya. 

Komunikasi antarbudaya sendiri merupakan pertukaran pesan-pesan 

yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara 

dua orang yang berbeda latar belakang budaya.

31

  

Kemajuan-kemajuan dalam bidang komunikasi dan transportasi 

sebenarnya telah nmengarungi proses isolalasi budaya. kemajuan-

kemajuan dalam bidang teknologi juga cenderung meningkatkan 

penghargaan budaya suatu kelompok minoritas sehingga memberikan 

kesadaran terhadap mereka mengenai perbedaan-perbedaan mereka 

sendiri dan kelompok-kelompok lain. Komunikasi berfungsi uuntuk 

meningkatkan peranan yang menembusi tidak hanya pada mobilitas 

sosial dan pembangunan tetapi juga mampu menguatkan kesadaran 

etnik.

32

 

Komunikasi juga memiliki  peran yang sangat penting dalam 

kehidupan sosial. Dengan komunikasi memungkinkan manusia 

melakukan strategi-strategi adaptif  untuk mengatasi situasi-situasi 

problematik yang ia hadapi. Orang yang tidak pernah berkomunikasi 

                           

 

dengan sesama manusia dipastikan akan tersesat, sebab  ia tidak 

sempat menata dirinya dalam suatu lingungan sosial.

33

 

c. Integrasi Sosial 

Integrasi yaitu  pembaruan hingga menjadi kesatuan yang utuh.

34

 

Kesatuan mengisyaratkan berbagai macam elemen yang berbeda satu 

sama lain mengalami proses pembauran. Jika pembauran telah 

mencapai suuatu perhimpunan, maka gejala perubahan ini dinamai 

integrasi. 

sedang  integrasi sosial yaitu  proses penyesuaian di antara 

unsur-unsur sosial yang berbeda-beda sehingga membentuk suatu 

kesatuan warga  yang serasi.

35

 Dalam sosiologi integrasi sosial 

berarti proses penyesuaian unsur-unsur yang saling berbeda dalam 

kehidupan warga  sehingga menghasilkan pola kehidupan 

warga  yang memiliki keserasian fungsi. Dengan demikian ada 

dua unsur pokok inntegrasis sosial. Unsur pertama adaah pembauran 

atau penyesuaian, sedang  unsur kedua yaitu  unsur ffungsional. 

Jika kemajemukan gagal mencapai pembaurana atau penyesuaian satu 

sama lain, maka kemajemukan sosial berarti disintegrasi sosial. 

Dengan kata lain, kemajemukan gagal membentuk (disungsioonal) 

warga .

36

 

Menurut Durkheim inntegrasi sosial sering diidenntikkan dengan 

solidaritas sosial yang diklasifikasikan menjadi dua yakni solidaritas 

organik dan mekanik. Pertama, solidaritas mekanik, didasarkan padda 

kesadaran pada suatu “kesadaran kolektif” bersama yang menunjuk 

pada totalitas kepercayaan-kepercayaan yang sentimen bersama yang 

rata-rata ada pada warga warga  yang sama. Solidaritas semacam 

                                                 

 

ini  tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang 

sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. 

Kedua, solidaritas organik muncul sebab  pembagian kera bertambah 

besar. Solidarittas ini didasarkan pada tingkat saling ketergantunga 

yang tinggi.

37

 

Lebih jauh Karsidi menggambarkan beberapa syarat bagi 

warga  heterogen untuk dapat mencapai integrasi. Dikatakan 

bahwa integrasi hanya terjadi bila pertama, anggota warga  tidak 

dirugikan bahkan keuntungan akan diperooleh lebih besar. Kedua, 

adanya penyesuaian paham tentang norma. Artinya, tantangan dan 

bagaimana harus bertingkah laku untuk mencapai tujuan dalam 

warga . Ketiga, norma yang berlaku harus konsisten, untuk 

membentuk suatu struktur yang jelas.

38

 

Integrasi sosial terjadi harus mealui tiga tahapan. Pertama, 

akomodasi, merupakan upaya para pihak yang berbeda pendapat atau 

bertentangan untuk mencari peecahan masaahh atau upaya 

mempertemukan perbedaan atau pertentangan atau upaya 

menyeesaikan perbedaan melalui koordinasi. Kedua, koordinasi 

merupakan perwujudan suatu bentuk kerjasama. Ketiga, asimilasi atau 

akulturasi merupakan kontak kebudayaan yang berlainan atau 

pertemuan dua kebudayaan yang lebih baik.

39

 

Dalam membangun nilai harmoni akan ditentukan tahapan ini atau 

dengan kata lain ada  relasi saling bergantung sehingga masing-

masing pihak menyadari perannya. Dalam proses ini tidak ada in 

group (kita) atau out group (mereka), keduanya memiliki peran yang 

sama dalam membangun kehidupan yang lebih baik. 

3. Aspek-aspek Adaptasi 

                                                 

 

Menurut Atwater di dalam penyesuaian diri atau adaptasi harus dilihat 

dari tiga aspek yaitu diri kita sendiri, orang lain dan perubahan yang 

terjadi. Namun pada dasarnya penyesuaian diri pribadi dan penyesuaian 

sosial. Berikut akan diuuraikan mengenai penyesuaian pribadi dan 

penyesuuaian sosial.

40

 

a. Penyesuaian pribadi 

Penyesuaian pribadi yaitu  kemampuan individu uuntuk menerima 

dirnnya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara 

dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa 

dirinya sebenarnya, apa kelebian dan kekurangannya dan mampu 

bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya ini . 

Keberrasilan penyesuaian diri ditandai dengan tidak adanya rasa 

benci, lari dari kenyataan atau tangungjawab, kecewa, atau tidak 

percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaan ditandai dengan 

tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa 

bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, dan keluhan terhadap nasib 

yyang dialaminya. 

Sealiknya kegagalan adaptasi ditandai dengan kegncangan emosi, 

kecemasan, ketiidakpuasan, dan keluhan terhadap nasib yang 

dialaminya sebagai akibat adanyya gap antara individu dengan 

tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi 

sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut 

dan kecemasan, sehinga uuntuk meredakannya individu harus 

melakukan penyesuaian diri.

41

 

b. Penyesuaian sosial 

Setiap seoran individu hidup di dalam warga . Di dalam 

warga  ini  ada  proses saling mempengaruhi satu sama 

lain. Dari proses ini  timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah 

laku sesuai denan sejumlah aturan, hukum, adat, dan nilai-nilai yang 

                                                 

mereka harus patuhi demi untuk mencapai penyesuaian bagi 

persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Penyesuaian sosial 

teradi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan 

berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan ini  

mencakup dengan hubunga warga  di sekitar tempat tinggalnya, 

keluaga, sekolah, teman atau warga  luas secara umum. Dalam 

hal ini individu dan warga  sebenarnya sama-sama memberikan 

dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, 

budaya, dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas  

(warga ) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oeh 

sang individu.

42

 

Scneiders mengemukakan bahwa adaptasi yang baik meliputi enam 

aspek, yaitu sebagai berikut: 

1. Kontrol terhadap emosi yang berlebihan. 

2. Mekanisme pertahanan diri yang minimal. 

3. Frustasi personal yang minimal. 

4. Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri. 

5. Sikap realistik dan objektif.

43

 

4. Bentuk-bentuk Adaptasi 

Bentuk-bentuk penyesuaian diri atau adaptasi dapat diklasifikasikan 

dalam dua kelompok, yaitu yang bersifat adaptive dan adjustive.

44

 

a. Adaptive 

Bentuk penyesuaian diri atau adaptasi ini lebih bersifat badani. 

Artinya, perubahan-perubahan dalam proses badani untuk 

menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan.  

Pada dasarnya, pengertian luas mengenai penyesuaian itu terbentuk 

sesuai dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya yyang 

                                                 

 

dituntut dari individu, tidak hanya mengubah perilakunya dalam 

menghadapi kebutuhan-kebutuhan dirinya dari dalam dan keadaan di 

luar, di lingkungan tempat ia hidup, tetapi ia juga dituuntu untuk 

menyesuaikan diri dengan adanya orang lain dan macam-macam 

kegiatan mereka. Orang yan ingin menjadi anggora dari suatu 

kelompok, ia berada untuk menyesuaikan diri dari kelompok ini . 

b. Adjustive 

Bentuk penyesuaian yang lain, yang menyangkut kehidupan psikis 

ini disebut sebagai bentuk penyesuaian yang adjustive. Penyesuaian 

diri yang adjustive ini berhubungan dengan tingkah laku. 

Sebagaimana kita ketahui, tingakh laku manusia sebagian besar 

dilatarbelakanngi oleh hal-hal psikis, kecuali tingkah laku tertentu 

dalam bentuk gerakan-gerakan yang sudah menjadi kebiasaan atau 

gerakan-gereakan refleks. Penyesuaian ini yaitu  penyesuaian diri 

tingkah laku terhadap lingkungan yang dalam lingkungan ini ada  

aturan—aturan atau norma-norma. Singkatnya, penyesuaian terhadap 

norma-norma. 

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adaptasi 

Menurut Schneiders setidaknya ada ima faktor yang 

mempengaruhi proses adaptasi; 

a. Keadaan fisik 

Kondisi fisik seorang individu dapat mempengaruhi penyesuaian 

diri atau adaptasi. Sebab keadaan sistem kekebalan tubuh dapat 

menjadi faktor penunjang kelancaran individu dalam melakuukan 

penyesuaian diri. Kondisi fisik yang dapat mempengaruhi adaptasi 

seorang inndividu mencakup hereditas, konstitusi fisik, sistem saraf, 

kelenjar dan otot, ataupun penyakit. 

b. Perkembangan dan kematangan 

Pada setiap tahap perkembangan seorang individu akan meakukan 

penyesuaian diri yang berbeda-bedamenurut kondisi saat itu. Hal 

ini  disebab kan kematangan inndividu dalam segi intelektual, 

 

33 

 

sosial, moral dan emosi yang mempengaruhibagaimana individu 

melakukan penyesuaian diri. Perkembangan dan kematangan yang 

dimaksud mencakup kematangan intelektual, kematangan sosial, 

kematangan moral, serta kematangan emosional. 

c. Keadaan psikologis 

Keadaan  mental yang sehat dapat menciptakan penyesuaian diri 

yang baik pada individu. Keadaan mental yang baik akan mendorong 

individu untuk memberikan respon yang selaras dengan dorongan 

internal maupun tuntutan yang didapatkan dari linngkungan. Faktoor 

psikologis mencakup pengalaman, perasaan, belajar, kebiasaan, self 

determination, frustasi dan konflik. 

d. Keadaan lingkungan 

Keadaan linngkunga yang damai , tentram, penuh penerimaan dan 

dukungan, serta mampu memberi perlindungan merupakan 

lingkungan yang dapat memperlancar proses adaptasi pada indivisu 

maupun kelompok. 

e. Tingkat religiusitas dan kebudayaan 

Agama berkaitan erat dengan dengan faktor budaya agama 

memberikan sumbangan nilai-nilai, keyakinan, praktik-praktik yang 

memberikan makna yang sangat mendalam, tujuan, serta kestabilan 

dan keseimbangan hidup individu. Agama secara konsisten dan terus 

menerus menginngatkan manusia kepada Tuhan, bukan sekedar niai-

nilai instrumental sebagiaman yang dihasilkan olehh  manusia. Selain 

itu budaya juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap 

kehdupan individu. Hal ini dilihat dari karakteristik budaya yang 

dwariskan kepada individu melalui berbagai media daam ingkungan 

keluarga, sekolah maupun warga . Dengan deikian faktor agama 

serta budaya memberikan sumbangan yang berarti terhadap 

perkembangan sebuah adaptasi. 

B. Mayoritas-Minoritas 

 

34 

 

Suatu warga  terdiri atas kelompk-kelompok manusia yang saling 

terkait oleh sistem-sistem, adat-istiadat, ritus-ritus, serta hukum khas yang 

dalam hidup bersama. Kehidupan bersama iaah kehidupan yang ada di 

dalamnya kelompok-kelompok mnausia hidup bersama-sama di suatu wiayah 

tertentu dan sama-sama berbagi iklim serta makanan yang sama. warga  

terbagi menjadi bebereapa kelompok-keompok, lapisan-lapisan, dan kelas-

kelas berlainan yang kadang-kadang saling bertentangan. Hal ini menjadi 

dalah satu penyebab kategorisasi dalam kelompok warga , seperti 

kelompok mayoritas dan minoritas. 

Kelompok mayoritas yaitu  keompok yang jumlah atau bagian yang lebih 

besar dari suatu jumlah tertentu. Sdangkan kelompok minoritas ialah 

keompok yang jumlahnya lebih kecil.

45

 

Sosiolog Louis Wirth mendefinisikan keompok minoritas sebagai 

kelompok orang yang sebab  karakteristik fisik atau budaya mereka, dipiihh 

dari yang lain di warga  tempat mereka tinggal untuk perlakuan yang 

berbeda dan tidak setara, dan oleh sebab  itu menganggap diri mereka sebagai 

obek dari diskriminasi kolektif.

46

 

Dengan pengertian di atas, berarti kelompok mayoritas ialah kelompok 

yang dari segi jumahnya lebih banyak serta dari segi peran dan kedudukannya 

lebih unggul dari kelompok yang lain. Sebaliknnya, kelompok minoritas iaah 

keompok yang dari segi jumlahnya lebih sedikit serta dari segi peran dan 

kedudukannya lebihh rendah dari kelompok yang lain. 

Kelompok minoritas memiiki lima karakteristik, yaitu: 

1. Menderita diskriminnasi dan subordinasi 

2. Ciri fisik dan/ atau budaya yang membedakannya dan yang tidak 

disetujui oleh kelompok doominan 

3. Rasa bersama identitas kolektif dan beban bersama 

4. Aturan besama secara sosial tentang siapa yang termasuk dan yang 

tidak menentukan status minoritas 

                                                 

 

Setiap masyarkat luas mengandung etnik minoritas dan mayritas bahasa, 

budaya, agama, dan asal usul mereka yangg dapat dibedakan dengan 

mayoritas. Status minoritas dikondisikan tidak hanya oleh hubungan numerik 

yang jelas tetapi juga oleh pertanyaan tentang kekuatan politik. Di bebrapa 

tempat kelompok etnik menjadi suboordinan namun dapat merupakan 

mayoritas numerik, seperti kulit hitam di Afrika Selatan di bawah apartheid. 

Selain minoritas tradisional (penduduk lama) mereka mungkin yaitu  

komunitas pengembara migran, penduduk asli, atau yang tidak memiiki 

tanah.

JEMAAT GMAHK (GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH DESA 

KUWARON, KECAMATAN GUBUG, KABUPATEN GROBOGAN) 

A. Sejarah GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh) 

Adventis menunjuk pada penantian kedatangan Yesus kedua kali ke 

dunia. Orang-orang adventis meyakini bahwa kedatangan Yesus ke dunia 

merupakan sesuatu yang pasti dan segera seperti yang telah diterangkan di 

Alkitab. Oleh sebab itu, pada abad ke 19 di Amerika muncul kebangunan 

besar tentang kedatangn Yesus yang kedua ini . dari kebangunan ini  

kemuadian lahir Seventh Day Adventist atau yang biasa disebut dengan Gereja 

Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK).

1

 

Awal mula lahirnya kepercayaan ini dipelopori oleh William Miller 

(1782 M-1849 M), seorang petani yang lahir di Pittsfield, Massachusetts. 

Ayahnya merupakan seorang kapten tentara revolusi dan Miller juga 

merupakan seorang tentara revolusi.

2

 Pasca meninggalkan dinas ketentaraan 

pada perang antara AS dan Inggris (1812 M-1814 M) ia memiliki  waktu 

lebih untuk mendalami Alkitab.

3

 

 Penelitiannya atas Alkitab dan jerih payahnya mengutak-atik