gereja masehi advent 1
ذَكٖر وَ ُكى يِّ َٰٓأَيُّهَا ٱنَُّاُس إََِّا َخهَۡقََُٰ ِ يََٰ ٌَّ أَۡكَرَيُكۡى ِعَُد ٱَّللَّ إِ
ا ْۚ ُكۡى ُشُعىٗبا َوقَبَآَٰئَِم نِتََعاَرفُىَٰٓ أَُثَىَٰ َوَجَعۡهََُٰ
َ ٌَّ ٱَّللَّ ُكۡىْۚ إِ َعهِيٌى َخبِير أَۡتقَىَٰ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Al-Hujarat: 13)
TRANSLITERASI
Penulisan Transliterasi huruf-huruf Arab Latin dalam skripsi ini
berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik negara kita nomor : 158/ 1987 dan nomor :
0543b/U/1987. Penyimpangan kata sandang (al-) disengaja secara konsisten agar
sesuai teks Arabnya.
Tidak ا
dilambangkan
{t ط
{z ظ B ب
` ع T ت
G غ \s ث
F ف J ج
Q ق {h ح
K ك Kh خ
L ل D د
M و \z ذ
ر R ٌ N
W و Z ز
S ِ H س
` ء Sy ش
Y ي {s ص
{d ض
xi
Bacaan Mad : Bacaan Diftong :
a> = a panjang او = au
i> = i panjang اي = ay
u> = u panjang
Skripsi ini berjudul Strategi Adaptasi Jemaat Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh (Studi Kasus Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan)
dilatarbekangi oleh banyaknya kasus intoleran yang berujung pada tindakan
diskriminasi, persekusi, maupun intervensi terhadap kelompok minoritas yang
terjadi di berbagai wilayah. Mulai dari kekerasan fisik maupun verbal, hingga
penghancuran rumah ibadah yang merupakan ranah spiritual.
Keberadaan jemaat Advent di Desa Kuwaron yang masih eksis sampai
saat ini menginisiasi peneliti untuk mengetahui bagaimana strategi yang dilakukan
jemaat Advent di Desa Kuwaron. Ketertarikan peneliti terhadap upaya-upaya
yang dilakukan oleh jemaat Advent yang membuat kelompok ini tetap eksis dan
tidak ada konflik yang besar seperti yang terjadi di kebanyakan wilayah.
sebab penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research), maka
peneliti memulai melakukan observasi dan pendekatan terhadap Jemaat Advent.
Kemudian untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, peneliti melakukan
wawancara terhadap beberapa narasumber, yakni dari Jemaat Advent dan
Perangkat Desa setempat. Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder
seperti buku-buku, jurnal, artikel, serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan
penelitian ini . sesudah semua informasi terkumpul, selanjutnya peneliti
mengolah dan menganalisa data yang didapat dari narasumber untuk mengetahui
bagaimana strategi adaptasi yang dilakukan oleh jemaat Advent Desa Kuwaron.
Dari hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa strategi adaptasi yang
dilakukan oleh jemaat Advent yaitu sebgai berikut: 1) menjaga interaksi sosial,
2) bersikap inklusif trhadap warga , 3) berintegrasidalam kegiatan-kegiatan
sosial, 4) mematuhi aturan desa serta mencegah konflik.
Di dunia sekarang ini mungkin tidak ada negara yang penduduknya
homogen, yang mana terdiri hanya dari satu suku bangsa. Pada umumnya
negara-negara di dunia terdiri dari berbagai macam ras, suku, etnis maupun
agama. Tidak terkecuali negara kita yang merupakan salah satu negara dengan
wilayah yang sangat luas dengan ribuan pulau di dalamnya, yang
memungkinkan hidup dan berkembangnya penduduk dalam wilayah yang
berbeda-beda.
Data yang diperoleh Koentjaraningrat menyebutkan tidak kurang dari
151 suku bangsa negara kita dari Sabang sampai Merauke.
sedang menurut
Heldred Geertz, sebagaimana dikutip oleh Zada di negara kita ada lebih
dari tigaratus etnis. Masing-masing etnis memiliki budayanya sendiri dengan
menggunakan lebih dari dua ratus lima puluh bahasa.
2
Fenomena ini
mencerminkan negara kita sebagai negara yang sangat beragam. mulai dari segi
kultural maupun struktural. Keberagaman negara kita dipengaruhi baik oleh
faktor internal maupun faktor eksternal yang akhirnya menjadikan penduduk
di negara ini sangat beragam.
Keberagaman bangsa negara kita salah satunya yaitu agama. ada
agama-agama besar dunia yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau
negara kita . Selain itu masih eksisnya agama lokal (kepercayaan) sampai saat
ini yang masih dianut oleh sebagian warga negara kita , khususnya
warga pedalaman menambah banyaknya tingkat pluralitas negara kita
pada agama. tingkat kemajemukan yang relatif tinggi membuat potensi
konflik dan perpecahan memiliki eskalasi yang cenderung tinggi.
Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan negara kita , yang
memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua menjadi semangat
negara kita untuk tetap bersatu. Melihat kemerdekaan yang tidak hanya
diperoleh berkat satu kelompok saja, menjadikan warga nya harus
mengakui bahwa negara kita bukan hanya milik satu kelompok. Maka dari itu,
sikap toleransi dan kepemilikan bersama harus tertanam kuat dalam diri
masing-masing individu. Perbedaan suku, ras, etnis maupun agama
seharusnya bukan menjadikan negara kita terpecah belah. Melainkan untuk
menjadikan negara kita semakin kuat.
Meskipun demikian, munculnya konflik tidak bisa dihindarkan.
Mengingat konflik menjadikan sejarah peradaban manusia terus tercipta. Yang
menjadi tugas yaitu bagaimana konflik itu bisa dikelola dengan baik
sehingga tidak semakin besar yang berakibat pada tindakan kekerasan.
Salah satu konflik yang sering terjadi di negara kita yaitu konflik yang
bercirikan agama. Meskipun agama bukan menjadi trigger dasar, akan tetapi
peran agama dalam menjadikan konflik menjadi besar sangat dominan.
Terbukti, sejarah membuktikan pasca kemerdekaan negara kita , konflik yang
berbau agama sudah sangat sering terjadi baik internal (antar golongan)
maupun eksternal (antar agama). Sebagai contoh konflik Ambon, GAM
(Gerakan Aceh Merdeka), Sunni-Syiah di Madura, dan lain sebagainya.
Dalam konflik-konflik ini menjelaskan bagaimana agama dengan
mudahnya menjadi faktor yang memicu konflik menjadi besar dan tidak
bisa dianggap remeh.
Bukti historis yang mengungkapkan pertikaian antara agama yang
sudah berlangsung sejak lama meninggalkan kultur yang mana pemeluknya
memiliki rasa curiga terhadap pemeluk lain. Seperti halnya Kristen dengan
Islam. Perang salib yang terjadi sudah berabad-abad yang lalu masih tetap
menjadi sumber konflik terpendam diantara kedua pengikut agama ini. sumber
utama dari perang antar pengikut agama ialah kepercayaan atau keyakinan
akan kebenaran agama yang sering memicu timbulnya monopoli
kebenaran oleh penganutnya. Monopoli ini terletak pada sikap sikap dan
keyakinan bahwa agama yang dianutnya merupakan agama yang benar, paling
diridhoi Tuhan, sedang agama yang dianut oleh penganut agama lain
yaitu sesat. Pada akhirnya sikap ini memicu fanatisme yang berlebihan,
sehingga memicu sikap intoleransi terhadap penganut agama lain.
Para penganut agama ini sampai sekarang belum sepenuhnya
melupakan tragedi kelam pertikaian antar kedua agama ini. Pembunuhan,
pengusiran, intimidasi, terbatasnya hak-hak sebagai warga sipil menjadi
peristiwa yang biasa dikala para penguasa agama menjadi penguasa. Seperti
muslim arab yang menjadi penguasa, maka penduduk lokal nonmuslim
merasa terancam lalu disubordinasikan ke dalam jaringan warga yang
disebut dalam bahasa arab sebagai dzimmi.
Sebaliknya, diskriminasi juga
dirasakan oleh muslim saat Andalusia (Spanyol) kembali jatuh ke tangan
Kristen. Umat Islam disana mau tidak mau harus meninggalkan Andalusia jika
tidak ingin mati. Terkecuali bagi mereka yang mengambil langkah untuk
pindah agama. Dan tidak sedikit dari mereka yang diam-diam masih beragama
Islam. oleh sebab itu peran stakeholder sangat memengaruhi tehadap konflik
yang muncul.
Persoalan mayoritas dan minoritas selalu saja mencuat ke permukaan
dan menjadi sumber konflik dan disharmonitas di dalam warga
majemuk. Problem ini berlaku umum, tidak hanya di negara-negara
berkembang seperti negara kita yang baru memasuki era reformasi dan
demokrasi. Akan tetapi ini juga terjadi di negara-negara di Eropa dan
Amerika.
Kelompok mayoritas atau kelompok dominan dalam suatu warga
identik dengan kelompok yang memiliki kontrol atau kekuasaan untuk
mengontrol. Mereka merupakan sumber daya kekuasaan dalam sebuah
institusi. sedang setting institusi itu sangat penting sebab hal ini
mempengaruhi warga , penyelenggaraan pemerintahan, pendidikan,
ekonomi maupun agama. sebaliknya kelompok minoritas kurang memiliki
akses terhadap sumber daya, privilese kurang atau bahkan tidak berpeluang
mendapatkan kekuasaan seperti kelompok mayoritas. Hal inilah yang
memicu prasangka antara minoritas dan mayoritas, sebab
ketidakseimbangan dalam sebuah warga .
Sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya yaitu muslim.
warga nonmuslim yang memiliki tantangan tersendiri untuk mampu
beradaptasi dengan kelompok mayoritas ini . Terlebih lagi tinggal di
daerah pedesaan. Karakteristik warga desa yang cenderung keras
terhadap agama serta rasa sentimen yang tinggi terhadap agama lain
menjadikan pendatang harus menyadari hal ini .
Menurut Raimundo Panikkar, ada tiga kemungkinan sikap yang
ditampilkan suatu agama bila mengalami pertemuan dengan agama lain. Sikap
pertama yaitu ekslusif. Sikap eksklusif sikap eksklusif berarti sikap yang
menutup diri, menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran
yang diyakininya, dan mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran satu-
satunya. Dalam eksklusivisme tidak ada tempat dalam toleransi. Sikap kedua
yaitu inklusif. Sikap kedua ini merupakan kebalikan dari sikap eksklusif. Jadi
dalam sikap insklusif dapat menerima kedatangan orang yang berbeda agama
(tolereansi).
8
Sikap ketiga menurut Panikkar yaitu sikap paralelisme. Sikap
paralelisme yaitu menjaga batas-batas yang jelas di satu pihak dan
menampilkan pembaharuan-pembaharuan yang konstan dari suatu agama di
alin pihak. Sikap paralelisme tampak nyata dalam kecenderungan suatu agama
untuk mencari titik-titik padanan atau titik-titik pertemuan dengan agama-
agama lainnya. Sikap demikian dapat mengantar kepada suatu sikap yang
dialogal terhadap agama lain.
9
Mengingat ada sikap-sikap yang ditunjukkan oleh para pemeluk
agama jika bertemu, perlu adanya strategi untuk menjaga agar nantinya tidak
timbul konflik antara kedua belah pihak. Oleh sebab itu, sebagai pendatang,
individu atau kelompok harus memahami betul bagaimana hidup di
lingkungan yang agamanya bukan menjadi mayoritas di tempat ini .
Dikhawatirkan jika salah dalam adaptasi dengan warga sekitar akan
timbul konflik. Sebaliknya, dengan adaptasi yang baik maka resiko terjadi
konflik akan minim.
Adaptasi menjadi faktor penentu apakah individu atau kelompok
ini dapat bertahan dalam lingkungan barunya atau tidak. Dengan kondisi
budaya yang berbeda dengan budayanya, individu atau kelompok harus dapat
memahami betul hal itu. sebab pada sebuah kasus, bertemunya dua budaya
yang berbeda akan timbul konflik. Dan puncak dari konflik ini bisa
berupa pengusiran individu atau kelompok oleh penduduk lokal. Bahkan bisa
saja terjadi tindakan genosida terhadap kelompok imigran ini .
10
Oleh
sebab itu, strategi adaptasi menjadi hal yang sangat penting supaya mampu
hidup bersama dengan warga lokal.
Sebagai wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Warga
yang beragama non muslim Desa Kuwaron, Grobogan, khususnya Kristen
Advent memiliki tantangan tersendiri untuk beradaptasi dengan warga
setempat. Terlebih agama ini merupakan agama pendatang yang masih baru di
desa ini . Karakteristik warga desa yang cenderung keras terhadap
agama dan memiliki rasa sentimen terhadap agama lain harus dipahami
betul bagi jemaat Kristen Advent. Ini berbeda dengan warga perkotaan
dalam memandang agama dalam ranah sosial.
Aliran yang didirikan oleh Ellen G. White ini juga mendapat reaksi
negatif bagi aliran-aliran Kristen mainstream. Ajaran-ajaran yang dinilai
sangat kontradiktif dengna Kristen pada umumnya menjadi salah satu alasan
mengapa aliran ini sangat ditentang. Ajaran-ajaran Kristen ini lebih mirip
dengan Yahudi dan juga Islam. Melaksanakan kebaktian di hari Sabtu (hari
sabat) seperti layaknya umat Yahudi. Selain itu kriteria makanan dan
minuman yang dinilai umat Yahudi dan Islam haram juga diharamkan oleh
sekte ini.
Kristen Advent sendiri masuk di Desa Kuwaron, Gubug, Grobogan
sudah terbilang cukup lama. Agama ini masuk sekitar tahun 90an. Dalam
perkembangannya, para jemaat ini menggunakan rumah sebagai gereja. Secara
rutin mereka bergilir dari satu rumah ke rumah jemaat yang lain untuk
melaksanakan kebaktian di setiap minggunya. Sebuah tantangan besar bagi
jemaat Kristen Advent Desa Kuwaron sebab mereka yaitu pendatang.
Dengan jumlah jemaat yang bisa tergolong sangat sedikit dalam sebuah
warga yang mayoritas yaitu Islam, Kristen ini mampu bertahan dengan
umur yang sudah lebih dari dua puluh tahun. Sebuah waktu yang bisa dibilang
lama.
Berangkat dari realitas di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih
dalam mengenai Jemaat Kristen Advent Kuwaron dalam hal adaptasi. Peneliti
kemuadian menuangkanny dalam sebuah penelitian yang berjudul Strategi
Adaptasi Jemaat GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh) Studi
Kasus di Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.
Dari beberapa literatur di atas ada kesamaan dengan penelitian
yang sedang peneliti lakukan yaitu tentang adaptasi. Akan tetapi ada
perbedaan yang jelas antara skripsi yang diteliti dengan penelitian-penelitian
yang telah disebutkan di atas dengan skripsi penulis. Selain tempat penelitian
yang berbeda, pada penelitian ini kelompok keagamaan yaitu Jemaat
GMAHK yang menjadi objek penelitian. Hal ini berbeda pada penelitian-
penelitian di atas yang mana objek penelitiannya bukan kelompok keagamaan.
F. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini yaitu hasil penelitian lapangan (field research). Oleh
sebab itu, objek penelitiannya yaitu objek di lapangan yang sekiranya
mampu memberikan informasi tentang kajian penelitian.
a. Jenis Penelitian
Penelitian karya ilmiah ini merupakan penelitian deskriptif-
kualitatif. Menurut Strauss dan Corbin, jenis penelitian yang hasil
temuannya tidak berbentuk statistik atau penjabaran angka-angka hitung
disebut dengan penelitian kualitatif.
11
Pendekatan kualitatif dipilih sebab
peneliti akan menggunakan metode penelitian lapangan (field research).
Menurut Lexy J. Moeloeng, ide dasar dari penelitian lapangan yaitu
seorang peneliti berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan
tentang suatu fenomena dalam suatu keadaan ilmiah.
12
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif-kualitatif, maka salah satu untuk
mendapatkan data yaitu dengan cara terjun ke lapangan. Adapun lokasi
penelitian ini yaitu di Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten
Grobogan.
b. Sumber Data
Lofland dan Lofland sebagaimana dikutip oleh Lexy J. Moeloeng
menyatakan bahwa sumber data dalam sebuah penelititan kualitatif dibagi
menjadi dua macam, yakni sumber data utama (primer) dan sumber data
tambahan (sekunder).
13
1. Sumber Data Primer
Data primer yaitu data yang sumber utamanya dicatat melalui
catatan tertulis. Dengan maksud agar memperoleh suatu informasi
yang diperlukan serta dilakukan secara sadar dan terarah.
14
sebab ini
yaitu penelitian lapangan, maka data primernya diperoleh dari objek
penelitian yaitu dari kelompok jemaat Kristen Advent yang tinggal di
Desa Kuwaron, mayarakat sekitar melalui wawancara maupun
pengamatan langsung di tempat yang dijadikan objek.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder yaitu sumber data yang berasal dari
dokumen-dokumen, catatan maupun literatur ilmiah dari pihak lain.
Penulis akan mendapatkan dari pihak ketiga yang memiliki dokumen,
catatan, maupun literatur ilmiah yang memiliki kesesuaian dengna
skripsi ini.
c. Metode Pengumpulan Data
Data yaitu segala keterangan (informasi) mengenai suatu hal
yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Sehingga tidak semua informasi
atau keterangan yang didapatkan dari sumber data, bisa menjadi sumber
penelitian.
15
Menurut Prof. Dr. Sugiyono, tekhnik pengumpulan data
merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian kualitatif, sebab
tujuan utama penelitian yaitu mendapatkan data. Sehingga tanpa
Muhammad Idrus, Metodologi Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kulitatif dan
Kuantitatif, Erlangga, Yogyakarta, 2009, h. 61
11
mengetahui tehnik data yang tepat, penelitia akan kesusahan memperoleh
data sesuai kebutuhan atau yang memenuhi standar data yang ditetapkan.
16
1. Pengamatan (Observasi)
Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti yaitu secara langsung.
Ini ditujukan untuk menperkuat data lain. Pengamatan yang dilakukan
yaitu dengan melihat kondisi warga nya. Untuk mengetahui relasi
sosial antar pemeluk agama disana sehari-hari. Selain itu, untuk
mengetahui sikap warga muslim terhadap Jemaat Kristen Advent
saat ada kegiatan sosial, keagamaan maupun nasional.
2. Wawancara (Interview)
Dengan wawancara ini penulis bertindak sebagai pewawancara
(interviewer) yang mengajukan pertanyaan kepada terwawancara
(interviewer) atau yang memberikan atas pertanyaan.
17
Dalam hal ini,
informan yang diwawancarai yaitu para tokoh di desa ini .
Seperti, perangkat desa, Jemaat Kristen Advent, dan muslim yang
tinggal di daerah ini . Wawancara dilakukan untuk mendapatkan
data yang nantinya akan lebih objektif.
3. Dokumentasi
Tekhnik dokumentasi yaitu cara pengumpulan data melalui
peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip, buku-buku dan notulen dari
rapat serta teori-teori yang berhubungan dengan masalah penelitian.
18
Dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data tembahan. Seperti,
kondisi warga , sejarah perkembangan desa, maupun buku ajar
yang digunakan Jemaat Kristen Advent di desa Kuwaron, Kecamatan
Gubug, kabupaten Grobogan.
d. Metode Analisis Data
Analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk
menganalisis, mempelajari, serta mengolah data tertentu, sehingga dapat
diambil suatu kesimpulan yang konkrit tentang persoalan yang diteliti.
Dalam menganalisis data disini, penulis merujuk pada riwayat-riwayat
mengenai konflik yang terjadi di desa ini .
Apabila semua data yang diperlukan telah terkumpul, maka
selanjutnya yang dilakukan yaitu analisis data dengan menggunakan
analisis deskriptif-kualitatif. Yakni sesudah pengumpulan dan menyeleksi
data, penulis mencoba melakukan penyederhanaan data ke dalam bentuk-
bentuk paparan yang mudah dibaca dan dipahami. Kemudian agar
nantinya dapat menyimpulkan upaya-upaya apa saja yang dilakukan oleh
jemaat Advent dalam beradaptasi di lingkungan yang mayoritas muslim.
Secara etimologi strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu
strategos yang memiliki arti komandan militer. sedang menurut
terminologi strategi yaitu pendekatan secara keseluruhan yang
berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi
sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.
1
Definisi strategi menurut Kamus besar Bahasa negara kita , strategi
yaitu 1) ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa-bangsa
untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam peraeng dan damai.
2) rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran
khusus.
2
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Menurut Argyris,
Mintzberg, Stainer dan Miner, strategi merupakan respons secara
terus menerus maupun adaptif terhadap peluang dan ancaman
eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat
memengaruhi organisasi.
3
Beberapa definisi strategi yang dikemukakan oleh pakar strategik
seperti Uyterhoeven yang mendefinisikan strategi sebagai usaha
pencapaian tujuan. Sementara Glueek dan Jauch mendefinisikan
strategi sebagai rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi.
Sedagkan Christensen mendefinisikan strategi sebagai pola-pola
berbagai tujuan serta kebijakan dasar rencana untuk mencapai tujuan.
4
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa pakar,
strategi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan keputusan dan
tindakan yang menghasilkan perumusan dan implementasi rencana
yang dirancang untuk mencapai sebuah tujuan.
Suatu organisasi harus mengidentifikasi tantangan yang harus
dihadapi dan kesempatan yang timbul, suatu organisasi dihadapkan
kepada keharusan untuk:
1. Merumuskan tujuan yang hendak dicapai
2. Menetapkan berbagai sasaran yang ingin dicapai
3. Menetapkan berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan untuk
mencapai sasaran
4. Mengembangkan sistem dan mekanisme kerja yang tepat
5. Mengalokasikan sumber dana, daya, peralatan serta tenaga
manusia
6. Memonitor hasil yang dicapai
7. Melakukan berbagai perubahan organisasional apabila diperlukan
8. Menata hubungan antar manusia dalam organisasi sedemikian
rupa sehingga mereka bergerak sebagai suatu kesatuan yang
bulat.
5
Menurut Hisyam Alie yang dikutip Rafi‟udin dan Djaliel, untuk
mencapai strategi yang strategis maka suatu organisasi/lembaga perlu
menganalisis kemampuan internal dan eksternal organisasinya
dengan menggunakan analisi matriks SWOT sebagai berikut:
1. Strength (kekuatan), yakni memperhitungkan kekuatan yang
dimiliki yang biasanya menyangkut manusianya, dananya,
beberapa sarana dan prasarana yang dimiliki oleh suatu
organisasi.
2. Weakness (kelemahan), yakni memperhitungkan kelemahan-
kelemahan yang dimilikinya, yang menyangkut aspek-aspek
sebagaimana dimiliki sebagai kekuatan, misalnya kualitas
manusianya, dananya, dan sarana dan prasarana organisasi
ini .
3. Opportunity (peluang), yakni seberapa besar peluang yang
mungkin tersedia di luar, hingga peluang yang sangat kecil
sekalipun dapat diterobos.
4. Threats (ancaman), yakni memperhitungkan kemungkinan
adanya ancaman dari luar.
b. Pengertian Adaptasi
Kata adaptasi, secara terminologi dapat diartikan sebagai: 1) Proses
mengatasi halangan-halangan dari lingkungan, 2) memanfaatkan
sumber-sumber yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan
sistem, 3) proses perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi yang
berubah, 4) penyesuaian kelompok terhadap lingkungan, 5)
penyesuaian biologis atau budaya sebagai hasil seleksi alamiah.
6
Kata
adaptasi juga memiliki hubungan yang relevan dengan seleksi
alamiah. Seleksi alamiah merupakan proses di mana alam menyeleksi
bahan-bahan genetika tertentu sehingga memungkinkan makhluk
hidup menyesuaikan lingkungannya.
7
Adaptasi yaitu penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan,
pelajaran proses perubahan serta akibatnya pada seorang individu
dalam suatu kelompok sosial atau organisme sosial yang
memicu hal itu dapat hidup atau berfungsi lebih baik.
8
. Menurut
Karta Sapoetra adaptasi memiliki dua arti. Adaptasi yang pertama
disebut penyesuaian diri yang autoplastis (auto artinya sendir, plastis
artinya bentuk), sedang pengertian yang kedua penyesuaian diri
yang alloplastis (allo artinya yang lain, plastis artinya bentuk). Jadi
adaptasi ada yang artinya pasif yang mana kegiatan pribadi ditentukan
oleh lingkungan. Dan ada yang artinya aktif yang mana pribadi
mempengaruhi lingkungan.
9
Menurut Bungin adaptasi yaitu “naluri yang mendorongnya untuk
selalu menyatukan hidupnya dengan orang lain dalam kelompoknya”.
Naluri kelompok itu juga yang mendorong manusia untuk
menyatukan dirinya dengan kelompok yang lebih besar dalam
kehidupan manusia lain di sekililingnya bahkan mendorong manusia
menyatu dengan alam fisiknya.
10
Pengertian adaptasi di atas dapat disimpulkan bahwa adaptasi
yaitu kemampuan atau kecenderungan manusia dalam menyesuaikan
diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap bertahan hidup dengan
baik. Seseorang dalam kehidupan bersama harus mengkoordinasikan
dan mengintegrasikan perilakunya untuk menghindarkan terjadinya
kekacauan. Untuk itu, dalam proses adaptasinya manusia tidak
terlepas dari interaksi antar sesamanya untuk menghadirkan situasi
keserasian dan harmonis dalam kehidupan bersama.
Adaptasi tidak hanya dibataskan pada pengertian penyesuaian diri,
namun secara luas adaptasi diartikan bagaimana seseorang berusaha
untuk tetap bertahan hidup dengan kondisi tertentu, yang pastinya
memerlukan cara bagaimana seseorang ini bisa beradaptasi dan
mengapa harus beradaptasi.
Soerjono Soekanto memberikan beberapa batasan pengertian dari
adaptasi, yakni:
1. Proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan.
2. Penyesuaian terhadap norma-norma untuk menyalurkan
3. Proses perubahan untuk menyesuaikan untuk situasi yang
berubah.
4. Mengubah agar sesuai dengan kondisi yang diciptakan
Adaptasi jika dalam konteks sosial, memiliki 3 konsep. Yang
pertama yaitu keadaan kosong, yakni saat begitu luas dan samar
maknanya sehingga lebih menghasilkan kebingungan bukannya
kejelasan. Kedua, terlibat dalam pernyataan yang kedengarannya saja
bagus tapi secara logis tampak cacat bila ditilik dari penjelasan
fungsional. Atau yang ketiga terlibat dalam paparan tentang
kecenderungan-kecenderungan dinamis warga manusia yang
tentu saja salah kaprah.
12
c. Pengertian Strategi Adaptasi
Menurut Usman Pelly yang mengutip pendapat Whitten, Graves
dan Berger, strategi adaptasi yaitu cara-cara yang digunakan
pendatang (migran) untuk mengatasi rintangan-rintangan yang mereka
hadapi dan untuk memperoleh keseimbangan yang positif dari
kondisi-kondisi latar belakang lingkungan tujuan.
13
Menurut Moelino, strategi adaptasi diartikan sebagai suatu rencana
yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran atau tujun
yang khusus. Strategi adaptasi yaitu suatu gambaran tentang
manusia dalam menanggapi suatu keadaan.
14
Mengikuti John W. Bennett, ada tiga konsep yang perlu
diperhatikan dalam persoalan adaptasi yaitu adaptasi perilaku
(adaptive behavior), adaptasi siasat (adaptive strategy), dan adaptasi
proses (adaptive processes). Pertama, adaptasi perilaku merupakan
perilaku yang dianggap sebagai sesuatu yang dianggap dinamis dan
terus menerus berubah seiring dengan berjalannya waktu. Perilkau
yang muncul biasanya digunakan sebagai suatu alat oleh individu
maupun kelompok untuk mempertahankan diri terhadap lingkungan
dan kelompok yang berubah dengan mengikuti alur yang ada dalam
lingkungan ini . dengan demikian, adaptasi perilaku sebagai suatu
tindakan yang dilakukan oleh suatu organisme (individu maupun
kelompok) dalam upaya mengalami perubahan.
Kedua, adaptasi siasat merupakan perilaku yang dilakukan oleh
individu digunakan sebagai cara-cara untuk menyiasati suatu
perubahan yang ada di lingkungan sekitar hal ini dilakukan
sebab melalui perubahan yang terjadi dalam lingkungan maupun
keadaan sekitar memerlukan suatu solusi untuk mengatasi hambatan
ini , sebab cara-cara yang dilakukan oleh organisme (individu
maupun kelompok) pada umumnya tidak dapat lepas dari masalah
yang mendasari, walaupun perubahan-perubahan ini tidak
menimbukan suatu hal yang buruk (negatif), akan tetapi organisme
(individu-kelompok) perlu untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang ada dengan melakukan pemeriksaan yang sesuai
agar dapat berada pada posisi yang tepat, sehingga dapat
memperteahankan hidup.
Ketiga, adaptasi proses merupakan proses adaptasi yang dibagi
menjadi tiga level, yaitu individu dan kelompok. Individu lebih
mengarah pada kemampuan seseorang untuk mengatasi hambatan
dalam suatu lingkungan alam. Hal ini sebab dalam upaya untuk
mendapatkan sumber daya dianggap sebagai alat pemuas kebutuhan.
sedang pada level kelompok, adaptasi bisa dikatakan sebagai
suatu cara yang digunakan untuk mempertahankan hidup (survival).
Pada dasarnya individu-individu akan hidup bersama dalam suatu
lingkungan sosial, maka dari itu antar individu harus dapat
mempertahankan hidup dengan melakukan pemecahan permasalahan
bersama yang ada dalam lingkungan sosial. Hal ini sebab masalah
yang timbul selamanya tidak dapat dipecahkan oleh individu sendiri,
akan tetapi dalam penyelesaian masalah selalu memerlukan orang
lain.
Strategi adaptasi sendiri merupakan salah satu studi dalam
paradigma ekologi budaya yang berusaha memahami keajekan dan
perubahan budaya sebagai proses interaksi manusia dengan
lingkungannya. Paradigma ini terinspirasi dari teori evolusi biologi
sebagaimana dikembangkan oleh Charles Darwin, di mana evolusi
makhluk hidup sangat bergantung kepada seleksi alam dan adaptasi
terhadap lingkungan.
Makluk hidup harus melakukan adaptasi agar ketidakcocokan
dapat disesuaikan, sehingga mereka dapat bertahan hidup di
llingkungan yang baru. Dalam konteks kebudayaan, upaya-upaya
yang dilakukan oleh manusia untuk menghadapi lingkungan baru
merupakan respon alamiah dan budaya, sehingga mereka dapat
diterima dan menjadi bagian dari lingkungan baru ini . Ingkungan
baru ini memiliki perbedaan dengan tempat asal, seperti perbedaan
lingkungan alam, sosial dan budaya.
16
Sebenarnya gagasan adaptasi hanya dapat digunakan dengan tepat
jika dalam konteks biologi, sesuai asal mula gagasan itu, dimana
maknanya yang biasa mengacu pada mode-mode dipengaruhinya
kelompok gen organisme oleh interaksi dengan lingkungan sebagai
akibat dari sifat-sifat pertahanan hidup yang selektif.
17
Merton mengemukakan tipologi cara adaptasi manusia terhadap
situasi. Pertama, konformitas, yaitu perilaku yang mengikuti tujuan
dengan cara yang ditentukan warga untuk mencapai tujuan
ini . Maksudnya yaitu cara dijalankan dan goals juga dijalankan.
Kedua, inovasi, merupakan perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan
warga , tetapi memakai cara yang dilarang oleh warga
(termasuk tindak kriminal). Maksudnya yaitu caranya tidak sama dan
ends atau goals-nya yang sama.
Ketiga ritualisme, yaitu perilaku seseorang yang telah
meninggalkan tujuan budaya. Namun masih tetap berpegangan pada
cara-cara yang telah digariskan warga , dalam arti ritual atau
upacara dan perayaan masih diselenggarakan tetapi maknnya telah
hilang. Keempat pengunduran/ pengasingan diri, meninggalkan baik
tujuan konvensional maupun cara pencapaiannya yang konvensional,
sebagaimana yang dilakukan oleh pecandu obat bius, pemabuk,
gelandangan maupun orang-orang gagal lainnya. Dan yang terakhir
yaitu pemberontakan (rebellism) , penarikan diri dari tujuan dan cara-
cara konvensional yang disertai dengan upaya untuk melembagakan
tujuan dan cara baru, misalnya para reormator agama.
Pada dasarnya manusia memiliki kapasitas merancang strategi
adaptasi yang sesuai dengan situasi yang menekan. Kemampuan
adaptasi ini mempnyai nilai kelangsungan hidup sehingga batas-batas
tertentu dianggap sebagai agen aktif yang mampu menanggapi
tuntunan lingkunagan. Salah satu indikator keberhasilan dari strategi
adaptasi yaitu apabila mereka telah betah dan kerasan di tempat
tujuan. Atau dengan kata lain, apabila telah tercapai keserasian antara
pendatang dan lingkungan tujuan, khususnya terhadap penduduk asli.
2. Konsep Adaptasi
a. Interaksi Sosial
Interaksi sosial yaitu hubungan-hubungan antara orang
perorangan, antara kelompok manusia atau antara orang perorangan
dan kelompok manusia. Interaksi sosial merupakan hal penting dalam
kehidupan bersama di dalam warga . Dengan demikian dapat
disebutkan bahwa interaksi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang.
2. Ada komunikasi antar pelaku dengan simbol-simbol.
3. Ada dimensi waktu dahulu, sekarang dan akan datang yang
menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung.
4. Ada tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan
ini dengan yang diperkirakan pengamat.
18
Interaksi sosial merupakan bentuk umum dari proses sosial. Proses
sosial akan terjadi jika ada interaksi sosial, sebab tanpa adanya
interaksi tidak mungkin ada kehidupan bersama.
19
sedang bentuk
khusus dari proses sosial yaitu aktivitas-aktivitas sosial. Syarat
terjadinya interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial (social
contact) dan adanya komunikasi (communication).
20
Interaksi sosial antarmanusia meliputi empat unsur utama, yakni
struktur sosial (social structure), tindakan sosial (social act), relasi
sosial (social relation), dan impression management.
Pertama, yang dimaksud dengan struktur sosial yaitu tata aturan
relasi yang berpola tertentusebagaimana yang diharapkan untuk
membimbing interaksi sosial. Kedua, tindakan sosial yang
diwujudkan dengan perilaku yang nyata, dapat dibayangkan dan
dapat diingat. Hal ini berarti interaksi sosial tanpa perbuatan yang
nyata tidak bisa disebut interaksi sosial. Ketiga, relasi sosial yaitu
pengaruh yang dirasakan di antara dua atau lebih sebagai akibat dari
perilaku timbal balik. Keempat, aspek terakhir yang juga penting
untuk diperhatikan yaitu impression management. Ini menerangkan
bahwa hubungan antar manusia semata-mata untuk memnuhi
interaksi sosial melainkan hubunga ini harus dikelola
sedemikian rupa sehingga selalu ada langkah atau cara yang
digunakan leh kedua belah pihak untuk memelihara dan
melanggengkan interaksi demi membangun klaim identitas diri yang
positif atau mencegah kesalahpahaman karean stigma atau
labelling.
21
ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi
sosial, yaitu;
1. Imitasi, yaitu proses seseorang mencontoh orang lain atau
kelompok. Hal ini sebab manusia memiliki keinginan untuk
meniru orang lain atau kelompok lain.
2. Sugesti, yaitu cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh
oleh seseorang kepada orang lain. Sugesti terjadi sebab pihak
yang menerima anjuran itu tergugah secara emosional dan
biasanya emosi ini mengambat daya pikir rasionalnya. Selain
itu, proses sugesti akan lebih mudah terjadi jika orang yang
memberikan sugesti memiliki wibawa atau otoriter.
3. Identifikasi, yaitu kecenderungan-kecenderungan atau
keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi orang
lain.
4. Simpati, yaitu perasaan tertarik yang timbul dalam diri
seseorang yang membuatnya seolahh-olah berada dalam
keadaan orang lain. Faktor simpati yang utama yaitu ingin
mengerti dan ingin bekerjasama dengan seseorang.
22
Bentuk-bentuk interaksi sosial diantaranya dapat berupa kerjasama
(cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga
berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict), dan bentuk lain
yang akan muncul yaitu akomodasi (accomodation). Gillin dan
Gillin menggolongkan proses sosial yang timbul sebagai akibat
adanya interaksi sosial menjadi dua,
1. Proses sosial asosiatif, yaitu suatu proses yang terjadi di mana
ada saling pengertian dan kerjasama timbal balik antar individu
atau kelompok satu dengan yang lainnya, an proses ini
menghasilkan pencapaian tujuan bersama. Adapun bentuk-
bentuknya antara lain:
a. Kerjasama (cooperation) yaitu usaha bersama antara individu
atau kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan
bersama. Proses terjadinya yaitu apabila di antara individu
atau kelompok tertentu menyadari adanya kepentingan dan
ancaman yang sama.
b. Akomodasi (accomodation) yaitu proses sosial dengan dua
makna. pertama sebagai suatu keadaan, akomodasi mengacu
pada suatu keadaan seimbang (equilibrium) dalam interaksi
antara orang perorang atau kelompok-kelompok manusia
dengan kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai
sosial yang berlaku di dalam warga . sedang sebagai
suatu proses, akomodasi berarti tindakan aktif yang dilakukan
untuk menerima kepentingan yang berbeda dalam rangka
meredakan suatu pertentangan yang terjadi. Para sosiolog
menggunakan istilah akomodasi sebagai suatu pengetian untuk
menggambarkan suatu proses dalam hubungan sosial yang
sama artinya dengan pengertian adaptasi (adaptation).
24
c. Asimilasi (asimilation), yang merupakan proses pencampuran
dua atau lebih budaya yang berbeda sebagai akibat dari proses
sosial, kemudian menghasilkan budaya tersendiri yang berbeda
dengan budaya aslinya.
25
2. Proses sosial disosiatif, merupakan proses perlawanan (oposisi)
yang dilakukan oleh individu-individu dan kelompok dalam proses
sosial diantara mereka pada suatu warga . Adapun bentuk-
bentuk proses disosiatif yaitu :
a. Persaingan (competition) yaitu proses sosial di mana individu
atau kelompok-kelompok berjuang dan bersing untuk mencari
keuntungan pada bidang-bidang kehidupan yang menjadi pusa
tperhatian pusat publik atau mempertajam prasangka yang telah
ada, tanpa mempergunakan ancaman ata kekerasan.
b. Kontroversi (controversion) yaitu proses sosial yang berada
di antara persaingan dan pertentangan. Kontroversi yaitu
proses sosial di mana terjadi pertentangan pada tatran konsep
dan wacana, pertentangan atau pertikaian telah memasuki
unsur-unsur kekerasan dalam proses sosialnya.
c. Konflik (conflict) yaitu proses sosial di mana individu atau
kelompok menyadari memiliki perbedaan masing-masing.
Perbedaan ini dapat mempertajam perbedaan yang ada
hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian di mana
pertikaian itu sendiri dapat menghasilkan ancaman dan
kekerasan fisik.
26
b. Komunikasi
Kata komunikasi berasal dari bahasa latin communicare yang
artinya memberitahukan. Kata ini kemudian berkembang dalam
bahasa inggris communication yang artinya proses pertukaran
informasi, konsep, ide, gagasan, perasaan dan lain-lain antara dua
orang atau lebih.
27
Menurut Soerjono Soekanto komunikasi yaitu suatu hubungan
yang memicu saling pengaruh mempengaruhi antara para
individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok.
Komunikasi sosial mengandung persamaan pengertian pandangan
antara orang-orang yang berinteraksi terhadap sesuatu. Menurut
Soerjono Soekanto, komunikasi yaitu bahwa seseorang memberikan
tafsiran pada seseorang pada perikelakuan orang lain (yang berwujud
pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap).
Komunikasi dapat diwujudkan dengan pembicaraan, gerak-gerik
fisik atau perasaan. Selanjutnya dari sini timbul sikap dan ungkapan
perasaan, seperti senang, takut, menolak, dan semacamnya yang
merupakan reaksi atas pesan yang diterima. Dalam berkomunikasi,
dapat terjadi banyak sekali tafsiran terhadap perilaku dan sikap
masing-masing orang yang sedang berhubungan. Misalnnya jabat
tangan yang dapat ditafsirkan sebagai kesopanan, persahabatan,
kerinduan, dan sebagainya.
Dengan pengertian di atas ini berarti komunikasi menjadi syarat
pokok lain daripada proses sosial dan komunikasi sosial di sebuah
warga merupakan proses yang tidak bisa dilepaskan dari sistem
nilai warga .
Komunikasi di dalam warga dibagi menjadi lima jenis:
1. Komunikasi individu dengan individu atau antarpribadi, yaitu
komunikasi antar perorangan dan beersifat pribadi baik yang terjadi
secara langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui
medium)
2. Komunikasi kelompok, memfokuskan pembahasannya kepada
interaksi di antara orang-orang ke dalam kelompok kecil.
3. Komunikasi organisasi, menunjuk pada pola dan bentuk
komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi.
Komunikasi orgnisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar
pribadi dan komunikasi kelompok.
4. Komunikasi sosial, yaitu salah satu bentuk komunikasi yang lebih
intensif, di mana komunikasi terjadi secara langsung antara
komunikator dan komunikan, sehingga situasi komunikasi
berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu
situasi integrasi sosial, melalui kegiatan ini terjadilah aktualisasi
dan berbagai masalah yang dibahas.
5. Komunikasi massa, menurut McQuail yaitu komunikasi yang
berlangsung pada tingkat warga luas. Pada tingkat ini
komunikasi dilakukan dengan media massa.
29
Dalam warga majemuk sangat berpotensi untuk berinteraksi
dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda etnik
30
. Oleh sebab
itu penting untuk individu memahami komunikasi antarbudaya.
Komunikasi antarbudaya sendiri merupakan pertukaran pesan-pesan
yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara
dua orang yang berbeda latar belakang budaya.
31
Kemajuan-kemajuan dalam bidang komunikasi dan transportasi
sebenarnya telah nmengarungi proses isolalasi budaya. kemajuan-
kemajuan dalam bidang teknologi juga cenderung meningkatkan
penghargaan budaya suatu kelompok minoritas sehingga memberikan
kesadaran terhadap mereka mengenai perbedaan-perbedaan mereka
sendiri dan kelompok-kelompok lain. Komunikasi berfungsi uuntuk
meningkatkan peranan yang menembusi tidak hanya pada mobilitas
sosial dan pembangunan tetapi juga mampu menguatkan kesadaran
etnik.
32
Komunikasi juga memiliki peran yang sangat penting dalam
kehidupan sosial. Dengan komunikasi memungkinkan manusia
melakukan strategi-strategi adaptif untuk mengatasi situasi-situasi
problematik yang ia hadapi. Orang yang tidak pernah berkomunikasi
dengan sesama manusia dipastikan akan tersesat, sebab ia tidak
sempat menata dirinya dalam suatu lingungan sosial.
33
c. Integrasi Sosial
Integrasi yaitu pembaruan hingga menjadi kesatuan yang utuh.
34
Kesatuan mengisyaratkan berbagai macam elemen yang berbeda satu
sama lain mengalami proses pembauran. Jika pembauran telah
mencapai suuatu perhimpunan, maka gejala perubahan ini dinamai
integrasi.
sedang integrasi sosial yaitu proses penyesuaian di antara
unsur-unsur sosial yang berbeda-beda sehingga membentuk suatu
kesatuan warga yang serasi.
35
Dalam sosiologi integrasi sosial
berarti proses penyesuaian unsur-unsur yang saling berbeda dalam
kehidupan warga sehingga menghasilkan pola kehidupan
warga yang memiliki keserasian fungsi. Dengan demikian ada
dua unsur pokok inntegrasis sosial. Unsur pertama adaah pembauran
atau penyesuaian, sedang unsur kedua yaitu unsur ffungsional.
Jika kemajemukan gagal mencapai pembaurana atau penyesuaian satu
sama lain, maka kemajemukan sosial berarti disintegrasi sosial.
Dengan kata lain, kemajemukan gagal membentuk (disungsioonal)
warga .
36
Menurut Durkheim inntegrasi sosial sering diidenntikkan dengan
solidaritas sosial yang diklasifikasikan menjadi dua yakni solidaritas
organik dan mekanik. Pertama, solidaritas mekanik, didasarkan padda
kesadaran pada suatu “kesadaran kolektif” bersama yang menunjuk
pada totalitas kepercayaan-kepercayaan yang sentimen bersama yang
rata-rata ada pada warga warga yang sama. Solidaritas semacam
ini tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang
sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula.
Kedua, solidaritas organik muncul sebab pembagian kera bertambah
besar. Solidarittas ini didasarkan pada tingkat saling ketergantunga
yang tinggi.
37
Lebih jauh Karsidi menggambarkan beberapa syarat bagi
warga heterogen untuk dapat mencapai integrasi. Dikatakan
bahwa integrasi hanya terjadi bila pertama, anggota warga tidak
dirugikan bahkan keuntungan akan diperooleh lebih besar. Kedua,
adanya penyesuaian paham tentang norma. Artinya, tantangan dan
bagaimana harus bertingkah laku untuk mencapai tujuan dalam
warga . Ketiga, norma yang berlaku harus konsisten, untuk
membentuk suatu struktur yang jelas.
38
Integrasi sosial terjadi harus mealui tiga tahapan. Pertama,
akomodasi, merupakan upaya para pihak yang berbeda pendapat atau
bertentangan untuk mencari peecahan masaahh atau upaya
mempertemukan perbedaan atau pertentangan atau upaya
menyeesaikan perbedaan melalui koordinasi. Kedua, koordinasi
merupakan perwujudan suatu bentuk kerjasama. Ketiga, asimilasi atau
akulturasi merupakan kontak kebudayaan yang berlainan atau
pertemuan dua kebudayaan yang lebih baik.
39
Dalam membangun nilai harmoni akan ditentukan tahapan ini atau
dengan kata lain ada relasi saling bergantung sehingga masing-
masing pihak menyadari perannya. Dalam proses ini tidak ada in
group (kita) atau out group (mereka), keduanya memiliki peran yang
sama dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
3. Aspek-aspek Adaptasi
Menurut Atwater di dalam penyesuaian diri atau adaptasi harus dilihat
dari tiga aspek yaitu diri kita sendiri, orang lain dan perubahan yang
terjadi. Namun pada dasarnya penyesuaian diri pribadi dan penyesuaian
sosial. Berikut akan diuuraikan mengenai penyesuaian pribadi dan
penyesuuaian sosial.
40
a. Penyesuaian pribadi
Penyesuaian pribadi yaitu kemampuan individu uuntuk menerima
dirnnya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara
dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa
dirinya sebenarnya, apa kelebian dan kekurangannya dan mampu
bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya ini .
Keberrasilan penyesuaian diri ditandai dengan tidak adanya rasa
benci, lari dari kenyataan atau tangungjawab, kecewa, atau tidak
percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaan ditandai dengan
tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa
bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, dan keluhan terhadap nasib
yyang dialaminya.
Sealiknya kegagalan adaptasi ditandai dengan kegncangan emosi,
kecemasan, ketiidakpuasan, dan keluhan terhadap nasib yang
dialaminya sebagai akibat adanyya gap antara individu dengan
tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi
sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut
dan kecemasan, sehinga uuntuk meredakannya individu harus
melakukan penyesuaian diri.
41
b. Penyesuaian sosial
Setiap seoran individu hidup di dalam warga . Di dalam
warga ini ada proses saling mempengaruhi satu sama
lain. Dari proses ini timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah
laku sesuai denan sejumlah aturan, hukum, adat, dan nilai-nilai yang
mereka harus patuhi demi untuk mencapai penyesuaian bagi
persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Penyesuaian sosial
teradi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan
berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan ini
mencakup dengan hubunga warga di sekitar tempat tinggalnya,
keluaga, sekolah, teman atau warga luas secara umum. Dalam
hal ini individu dan warga sebenarnya sama-sama memberikan
dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi,
budaya, dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas
(warga ) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oeh
sang individu.
42
Scneiders mengemukakan bahwa adaptasi yang baik meliputi enam
aspek, yaitu sebagai berikut:
1. Kontrol terhadap emosi yang berlebihan.
2. Mekanisme pertahanan diri yang minimal.
3. Frustasi personal yang minimal.
4. Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri.
5. Sikap realistik dan objektif.
43
4. Bentuk-bentuk Adaptasi
Bentuk-bentuk penyesuaian diri atau adaptasi dapat diklasifikasikan
dalam dua kelompok, yaitu yang bersifat adaptive dan adjustive.
44
a. Adaptive
Bentuk penyesuaian diri atau adaptasi ini lebih bersifat badani.
Artinya, perubahan-perubahan dalam proses badani untuk
menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan.
Pada dasarnya, pengertian luas mengenai penyesuaian itu terbentuk
sesuai dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya yyang
dituntut dari individu, tidak hanya mengubah perilakunya dalam
menghadapi kebutuhan-kebutuhan dirinya dari dalam dan keadaan di
luar, di lingkungan tempat ia hidup, tetapi ia juga dituuntu untuk
menyesuaikan diri dengan adanya orang lain dan macam-macam
kegiatan mereka. Orang yan ingin menjadi anggora dari suatu
kelompok, ia berada untuk menyesuaikan diri dari kelompok ini .
b. Adjustive
Bentuk penyesuaian yang lain, yang menyangkut kehidupan psikis
ini disebut sebagai bentuk penyesuaian yang adjustive. Penyesuaian
diri yang adjustive ini berhubungan dengan tingkah laku.
Sebagaimana kita ketahui, tingakh laku manusia sebagian besar
dilatarbelakanngi oleh hal-hal psikis, kecuali tingkah laku tertentu
dalam bentuk gerakan-gerakan yang sudah menjadi kebiasaan atau
gerakan-gereakan refleks. Penyesuaian ini yaitu penyesuaian diri
tingkah laku terhadap lingkungan yang dalam lingkungan ini ada
aturan—aturan atau norma-norma. Singkatnya, penyesuaian terhadap
norma-norma.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adaptasi
Menurut Schneiders setidaknya ada ima faktor yang
mempengaruhi proses adaptasi;
a. Keadaan fisik
Kondisi fisik seorang individu dapat mempengaruhi penyesuaian
diri atau adaptasi. Sebab keadaan sistem kekebalan tubuh dapat
menjadi faktor penunjang kelancaran individu dalam melakuukan
penyesuaian diri. Kondisi fisik yang dapat mempengaruhi adaptasi
seorang inndividu mencakup hereditas, konstitusi fisik, sistem saraf,
kelenjar dan otot, ataupun penyakit.
b. Perkembangan dan kematangan
Pada setiap tahap perkembangan seorang individu akan meakukan
penyesuaian diri yang berbeda-bedamenurut kondisi saat itu. Hal
ini disebab kan kematangan inndividu dalam segi intelektual,
33
sosial, moral dan emosi yang mempengaruhibagaimana individu
melakukan penyesuaian diri. Perkembangan dan kematangan yang
dimaksud mencakup kematangan intelektual, kematangan sosial,
kematangan moral, serta kematangan emosional.
c. Keadaan psikologis
Keadaan mental yang sehat dapat menciptakan penyesuaian diri
yang baik pada individu. Keadaan mental yang baik akan mendorong
individu untuk memberikan respon yang selaras dengan dorongan
internal maupun tuntutan yang didapatkan dari linngkungan. Faktoor
psikologis mencakup pengalaman, perasaan, belajar, kebiasaan, self
determination, frustasi dan konflik.
d. Keadaan lingkungan
Keadaan linngkunga yang damai , tentram, penuh penerimaan dan
dukungan, serta mampu memberi perlindungan merupakan
lingkungan yang dapat memperlancar proses adaptasi pada indivisu
maupun kelompok.
e. Tingkat religiusitas dan kebudayaan
Agama berkaitan erat dengan dengan faktor budaya agama
memberikan sumbangan nilai-nilai, keyakinan, praktik-praktik yang
memberikan makna yang sangat mendalam, tujuan, serta kestabilan
dan keseimbangan hidup individu. Agama secara konsisten dan terus
menerus menginngatkan manusia kepada Tuhan, bukan sekedar niai-
nilai instrumental sebagiaman yang dihasilkan olehh manusia. Selain
itu budaya juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
kehdupan individu. Hal ini dilihat dari karakteristik budaya yang
dwariskan kepada individu melalui berbagai media daam ingkungan
keluarga, sekolah maupun warga . Dengan deikian faktor agama
serta budaya memberikan sumbangan yang berarti terhadap
perkembangan sebuah adaptasi.
B. Mayoritas-Minoritas
34
Suatu warga terdiri atas kelompk-kelompok manusia yang saling
terkait oleh sistem-sistem, adat-istiadat, ritus-ritus, serta hukum khas yang
dalam hidup bersama. Kehidupan bersama iaah kehidupan yang ada di
dalamnya kelompok-kelompok mnausia hidup bersama-sama di suatu wiayah
tertentu dan sama-sama berbagi iklim serta makanan yang sama. warga
terbagi menjadi bebereapa kelompok-keompok, lapisan-lapisan, dan kelas-
kelas berlainan yang kadang-kadang saling bertentangan. Hal ini menjadi
dalah satu penyebab kategorisasi dalam kelompok warga , seperti
kelompok mayoritas dan minoritas.
Kelompok mayoritas yaitu keompok yang jumlah atau bagian yang lebih
besar dari suatu jumlah tertentu. Sdangkan kelompok minoritas ialah
keompok yang jumlahnya lebih kecil.
45
Sosiolog Louis Wirth mendefinisikan keompok minoritas sebagai
kelompok orang yang sebab karakteristik fisik atau budaya mereka, dipiihh
dari yang lain di warga tempat mereka tinggal untuk perlakuan yang
berbeda dan tidak setara, dan oleh sebab itu menganggap diri mereka sebagai
obek dari diskriminasi kolektif.
46
Dengan pengertian di atas, berarti kelompok mayoritas ialah kelompok
yang dari segi jumahnya lebih banyak serta dari segi peran dan kedudukannya
lebih unggul dari kelompok yang lain. Sebaliknnya, kelompok minoritas iaah
keompok yang dari segi jumlahnya lebih sedikit serta dari segi peran dan
kedudukannya lebihh rendah dari kelompok yang lain.
Kelompok minoritas memiiki lima karakteristik, yaitu:
1. Menderita diskriminnasi dan subordinasi
2. Ciri fisik dan/ atau budaya yang membedakannya dan yang tidak
disetujui oleh kelompok doominan
3. Rasa bersama identitas kolektif dan beban bersama
4. Aturan besama secara sosial tentang siapa yang termasuk dan yang
tidak menentukan status minoritas
Setiap masyarkat luas mengandung etnik minoritas dan mayritas bahasa,
budaya, agama, dan asal usul mereka yangg dapat dibedakan dengan
mayoritas. Status minoritas dikondisikan tidak hanya oleh hubungan numerik
yang jelas tetapi juga oleh pertanyaan tentang kekuatan politik. Di bebrapa
tempat kelompok etnik menjadi suboordinan namun dapat merupakan
mayoritas numerik, seperti kulit hitam di Afrika Selatan di bawah apartheid.
Selain minoritas tradisional (penduduk lama) mereka mungkin yaitu
komunitas pengembara migran, penduduk asli, atau yang tidak memiiki
tanah.
JEMAAT GMAHK (GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH DESA
KUWARON, KECAMATAN GUBUG, KABUPATEN GROBOGAN)
A. Sejarah GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh)
Adventis menunjuk pada penantian kedatangan Yesus kedua kali ke
dunia. Orang-orang adventis meyakini bahwa kedatangan Yesus ke dunia
merupakan sesuatu yang pasti dan segera seperti yang telah diterangkan di
Alkitab. Oleh sebab itu, pada abad ke 19 di Amerika muncul kebangunan
besar tentang kedatangn Yesus yang kedua ini . dari kebangunan ini
kemuadian lahir Seventh Day Adventist atau yang biasa disebut dengan Gereja
Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK).
1
Awal mula lahirnya kepercayaan ini dipelopori oleh William Miller
(1782 M-1849 M), seorang petani yang lahir di Pittsfield, Massachusetts.
Ayahnya merupakan seorang kapten tentara revolusi dan Miller juga
merupakan seorang tentara revolusi.
2
Pasca meninggalkan dinas ketentaraan
pada perang antara AS dan Inggris (1812 M-1814 M) ia memiliki waktu
lebih untuk mendalami Alkitab.
3
Penelitiannya atas Alkitab dan jerih payahnya mengutak-atik





.jpeg)
