doktrin dasar alkitab 5

Tampilkan postingan dengan label doktrin dasar alkitab 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin dasar alkitab 5. Tampilkan semua postingan

doktrin dasar alkitab 5


 


ri dari badan, jiwa dan roh yang tidak terpisahkan, napas dan

hidupnya bergantung kepada Allah. Ketika leluhur kita yang pertama

mengingkari Allah, mereka menyangkal ketergantungan mereka kepada-

Nya sehingga mereka jatuh dari kedudukan yang tinggi di bawah kuasa

Allah. Gambar Allah dalam mereka dinodai dan mereka menjadi takluk

kepada maut. Keturunan mereka turut merasakan akibat-akibat sifat

kejatuhan ini. Mereka lahir dalam keadaan lemah dan memiliki

kecenderungan kepada yang jahat. namun  Tuhan dalam Kristus

memperdamaikan dunia kepada diri-Nya dan melalui Roh-Nya

memulihkan citra Pencipta mereka di dalam diri mereka yang fana.

sebab  mereka diciptakan untuk kemuliaan Allah maka mereka diminta

supaya saling mengasihi dan mengasihi-Nya, serta memelihara

lingkungan mereka.—Fundamental Beliefs.—7.

95

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita men-

jadikan kita semua  menurut gambar dan

rupa Kita." Mengenai mahkota ciptaan ini,

Tuhan tidak bersabda lalu jadilah. Gantinya,

dengan penuh kasih sayang Ia membentuk

ciptaan baru ini dari debu tanah.

Pemahat dunia yang paling mahir dan

kreatif sekalipun tidak akan pernah dapat

mengukir makhluk semulia itu. Barangkali

Michelangelo dapat membuat eksterior yang

mempesona keindahannya, namun  bagaima-

na dengan anatomi tubuh yang direncana-

kan begitu hati-hati agar berfungsi, sebagai-

mana juga keindahan itu?

Patung yang sempurna itu dilengkapi de-

ngan rambut, alis, kuku, akan namun  belum-

lah selesai dikerjakan Tuhan. kita semua  yang

dijadikan-Nya ini bukanlah kumpulan debu

melainkan harus hidup, berpikir, kreatif dan

bertumbuh dalam kemuliaan.

Sambil membungkuk atas ciptaan yang

agung ini, Khalik "menghembuskan nafas

hidup ke dalam hidungnya; demikianlah ma-

nusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej.

2:7; bandingkan 1:26). Dengan menyadari

bahwa kita semua  ini memerlukan pendam-

ping, Allah membuat "penolong baginya,

yang sepadan dengan dia." Allah mendatang-

kan "tidur nyenyak" atas Adam sehingga

Adam terlelap lalu Tuhan mengambil sebuah

tulang rusuk Adam dan menjadikannya pe-

rempuan (Kej. 2:18, 21, 22). "Maka Allah

menciptakan kita semua  itu menurut gambar-

Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya

dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya

mereka." (Kej. 1:27). Lalu Allah member-

kati mereka seraya berkata, "Beranakcucu-

lah dan bertambah banyak; penuhilah bumi

dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-

ikan di laut dan burung-burung di udara dan

atas segala binatang yang merayap di bumi."

(Kej. 1:28). Sebuah taman yang amat indah

yang tiada taranya di atas dunia ini diberi-

kan Tuhan kepada Adam dan Hawa. Ada pe-

pohonan, pohon-pohon anggur, bunga-bu-

nga, bukit-bukit, lembah-lembah, semuanya

dihiasi Allah sendiri. Ada dua pohon yang

istimewa di dalam taman itu, yakni pohon

kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik

dan yang jahat. Kepada Adam dan Hawa

BAB 7

SIFAT DAN KEADAAN kita semua 

96Sifat dan Keadaan kita semua 

diberikan kebebasan untuk memakan buah

pohon-pohonan kecuali buah pohon penge-

tahuan yang baik dan yang jahat (Kej. 2:8,

9, 17).

Demikianlah peristiwa pemahkotaan ming-

gu Penciptaan itu telah disempurnakan. "Ma-

ka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya

itu, sungguh amat baik"(Kej. 1:31).

ASAL-USUL kita semua 

Walaupun banyak orang dewasa ini per-

caya bahwa makhluk kita semua  berasal dari

bentuk hewan yang paling rendah dan meru-

pakan hasil proses alamiah yang berlangsung

selama biliun tahun, pemikiran yang demiki-

an tidak selaras dengan catatan yang terda-

pat dalam Alkitab. Proses perkembangan ma-

nusia seperti itu bertentangan dengan pan-

dangan Alkitab.1

 Allah Menjadikan kita semua . Asal-usul

umat kita semua  sebenarnya ditemukan dalam

majelis Ilahi. Allah berkata, "Baiklah Kita

menjadikan kita semua " (Kej. 1: 26). Kata ja-

mak "Kita" menunjuk kepada Keallahan

yang tri tunggal—Allah Bapa, Allah Anak

dan Roh Kudus Allah (baca bab 2). Kemu-

dian, untuk satu maksud, maka Allah men-

jadikan seorang kita semua  yang pertama (Kej.

1:27).

Dijadikan dari Debu Tanah. Allah men-

jadikan kita semua  dari "debu tanah" (Kej. 2:7),

memakai  yang telah ada sebelumnya te-

tapi bukan dari jenis makhluk hidup lainnya,

misalnya dari makhluk yang hidup dalam air

atau binatang melata di darat. Tidak lama ke-

mudian, sesudah  organ-organ tubuh semua

terbentuk dan ditempatkan pada tempatnya

maka dihembuskan-Nya "napas hidup" se-

hingga kita semua  menjadi pribadi yang hidup.

Dijadikan Menurut Bentuk Ilahi. Al-

lah menjadikan setiap hewan dan makhluk

binatang lainnya—ikan, burung, reptil, se-

rangga, binatang menyusui, dsb,—"menurut

jenisnya masing-masing" (Kej. 1:21, 24, 25).

Setiap jenis makhluk memiliki bentuk khas-

nya sendiri serta memiliki kemampuan un-

tuk berbiak sesuai dengan jenisnya. Manu-

sia telah dijadikan menurut bentuk Ilahi, ti-

dak menurut bentuk salah satu jenis dalam

dunia binatang. Allah berkata, "Baiklah Kita

menjadikan kita semua  menurut gambar dan

rupa Kita"(Kej. 1:26). yaitu  amat jelas ke-

tidaksinambungan antara makhluk kita semua 

dengan makhluk yang ada  dalam dunia

binatang. Silsilah yang diberikan Lukas meng-

gambarkan asal-usul umat kita semua  dengan

sangat sederhana namun  gamblang, "anak

Adam, anak Allah" (Luk. 3:38).

Kedudukan kita semua  Diunggulkan.

Penciptaan kita semua  yaitu  mahkota atau

puncak semua Ciptaan. Allah menaruh ma-

nusia, menciptakannya dalam gambar Allah

yang penuh kuasa, untuk mengatur Planet

Bumi dan semua makhluk yang ada  di

dalamnya. L. Berkhof berkata mengenai

Adam, "Hak dan tanggung jawabnyalah me-

ngatur alam dan makhluk yang ada  di

dalamnya, yang telah ditempatkan di bawah

pengawasannya, tunduk kepada perintahnya,

taat kepada kehendak dan tujuannya, agar ia

dan semua yang di bawah kuasanya memu-

liakan Khalik yang Mahakuasa dan Tuhan

semesta alam, Kej. 1:28; Mzm. 8:5-10.4.2

Kesatuan Umat kita semua . Silsilah yang

ada  dalam Kejadian menunjukkan bah-

wa keturunan kita semua  berasal dari pasangan

Adam dan Hawa. Sebagai kita semua , kita se-

mua memiliki sifat yang sama, yang memili-

ki benih keturunan atau kesatuan keturun-

97Sifat dan Keadaan kita semua 

an. Paulus berkata, "Dari satu orang saja Ia

telah menjadikan semua bangsa dan umat

kita semua  untuk mendiami seluruh muka bu-

mi" (Kis. 17:26).

Selanjutnya, kita melihat petunjuk lain-

nya mengenai kesatuan organis umat manu-

sia dalam pernyataan yang tegas dari Alkitab

bahwa pelanggaran Adam telah mendatang-

kan dosa dan kematian kepada semuanya,

dan dalam persyaratan keselamatan bagi se-

mua melalui Kristus (Rm. 5:12, 19; 1 Kor.

15:21, 22).

KESATUAN SIFAT ATAU KEADAAN

kita semua 

Terdiri dari apakah sifat-sifat kita semua 

itu? Apakah kita semua  itu dibuat dari bebera-

pa komponen yang mandiri, misalnya terdi-

ri dari satu tubuh, satu jiwa dan satu roh?

Nafas Hidup. Allah "membentuk manu-

sia itu dari debu tanah dan menghembuskan

nafas hidup ke dalam hidungnya; demikian-

lah kita semua  itu menjadi makhluk yang hi-

dup" (Kej. 2:7).

Tatkala Allah mengubah unsur-unsur de-

bu menjadi makhluk hidup, Ia "menghem-

buskan" "napas hidup" ke dalam lubang hi-

dung Adam yang mempunyai tubuh yang be-

lum bernyawa itu. Napas hidup ini yaitu 

"nafas Yang Mahakuasa" yang memberikan

hidup (Ayb. 33:4)—percikan kehidupan. Ki-

ta dapat membandingkannya dengan arus lis-

trik yang apabila mengalir melalui pelbagai

komponen listrik, mengubah warna buram

dalam kotak kaca menjadi percikan warna

yang bergerak—bilamana kita putar dalam

televisi berwarna. Arus listrik itu mendatang-

kan suara dan gerak dalam tempat yang ta-

dinya kosong.

kita semua —Jiwa yang Hidup. Apakah

yang dilakukan nafas hidup itu? Apabila Tu-

han membentuk makhluk kita semua  dari un-

sur-unsur debu, maka semua organ tubuh

diadakan di dalamnya: jantung, paru-paru,

ginjal, hati, limpa kecil, otak, dsb.—Semua-

nya sempurna namun  tidak bernyawa. Kemu-

dian Tuhan menghembuskan ke benda yang

tidak bernyawa ini napas hidup dan jadilah

"kita semua  yang hidup."

Persamaan yang dibuat kitab suci cukup

gamblang: debu dari tanah (unsur-unsur ta-

nah) + nafas hidup—makhluk hidup atau

jiwa yang hidup. Persatuan unsur-unsur ta-

nah dengan nafas hidup menghasilkan ma-

khluk hidup atau jiwa.

"Nafas hidup" ini tidak terbatas pada ma-

nusia saja. Semua makhluk hidup memiliki-

nya. Alkitab, sekadar contoh, menyifatkan

nafas hidup itu baik kepada binatang yang

ikut masuk ke dalam bahtera Nuh maupun

yang tidak ikut masuk (Kej. 7:15, 22).

Istilah Ibrani dalam Kejadian 2:7 yang

telah diterjemahkan "makhluk hidup" atau

"jiwa yang hidup" yaitu  nephesh chayyah.

Pernyataan ini tidaklah ditujukan hanya ke-

pada kita semua  saja, juga termasuk kepada bi-

natang-binatang yang hidup dalam air, juga

kepada serangga, reptil dan binatang buas

(Kej. 1:20, 24; 2:19).

Nephesh, diterjemahkan sebagai "makh-

luk" atau "jiwa," berasal dari nasphash, yang

berarti "untuk bernafas." Persamaannya da-

lam bahasa Yunani dalam Perjanjian Baru

yaitu  psuche. "Sebab sebagaimana nafas

yaitu  merupakan bukti yang paling nyata

kehidupan itu nephesh pada dasarnya me-

nunjukkan kita semua  sebagai makhluk hidup,

satu pribadi.”3 Bila digunakan untuk bina-

tang, sebagaimana kisah Penciptaan, itu

menggambarkan mereka sebagai makhluk

hidup yang telah diciptakan Tuhan.

Perlu diingat pernyataan bahwa Alkitab

mengatakan bahwa kita semua  itu menjadi se-

98Sifat dan Keadaan kita semua 

buah jiwa yang hidup. Tidak ada catatan

yang menunjukkan bahwa kita semua  itu me-

nerima sebuah jiwa dalam kisah Pencipta-

an—yang terpisah secara lahiriah dan kemu-

dian digabungkan dengan tubuh kita semua  itu.

Sebuah Kesatuan yang Tidak Dapat

Dipisahkan. Pentingnya laporan Penciptaan

untuk dipahami secara memadai tentang si-

fat kita semua  tidak boleh dilebih-lebihkan. De-

ngan menekankan kesatuan organisnya, Ki-

tab Suci melukiskan kita semua  secara keselu-

ruhan. Bagaimanakah jiwa dan roh berhu-

bungan dengan sifat atau keadaan kita semua 

itu?

1. Makna jiwa menurut Kitab Suci. Se-

bagaimana telah kita sebutkan, di dalam Per-

janjian Lama "jiwa" yaitu  sebuah terjemah-

an nephesh dalam bahasa Ibrani. Di dalam

Kejadian 2:7 ditunjukkan bahwa kita semua  se-

bagai makhluk hidup sesudah  nafas hidup di-

hembuskan ke dalam tubuh jasmani yang di-

bentuk dari unsur-unsur tanah. "Demikian

pula, satu jiwa baru menjadi ada apabila se-

orang bayi lahir, setiap 'jiwa' merupakan satu

unit kehidupan yang berbeda secara khas,

dan terpisah, dari unit-unit lain yang sama.

Kualitas individualitas ini di dalam setiap

makhluk hidup, yang berisi sebuah kesatu-

an yang khas, tampaknya yaitu  ide yang

ditekankan oleh istilah Ibrani nephesh. Apa-

bila digunakan dalam cara seperti ini maka

nephesh bukanlah satu bagian dari pribadi

itu, melainkan itulah pribadi itu, dan me-

mang dalam banyak contoh, yaitu diterje-

mahkan sebagai 'pribadi' (baca Kej. 14:21;

Bil. 5:6; Ul. 10:22; bandingkan Mzm. 3:3)

atau 'diri' (Im. 11:43; 1 Raj. 19:4; Yes. 46:2,

dsb).

"Sebaliknya, pernyataan seperti 'jiwaku,'

'jiwamu,' dsb, yaitu  ungkapan umum un-

tuk kata ganti orang 'I', 'aku,' 'dia,' dsb. (lihat

Kej. 12:13; Im. 11:43, 44; 19:8; Yos. 23:11;

Mzm. 3:3; Yer. 37:9, dsb).Lebih dari 100 kali

dari 755 peristiwa dalam Perjanjian Baru ter-

jemahan KJV nephesh diterjemahkan seba-

gai 'hidup' (Kej. 9:4, 5; 1 Sam. 19:5; Ayb. 2:

4, 6; Mzm. 31:14; dsb.)

"Sering nephesh menunjuk kepada ke-

inginan, selera atau nafsu (bandingkan Ul.

23:24; Ams. 23:2; Pkh. 6:7), dan kadang-

kadang juga diterjemahkan 'selera' (Ams. 23:

2; Pkh. 6:7). Boleh jadi juga menunjuk pada

kasih sayang (Kej. 34:3; Kid. 1:7, dsb.), dan

pada kali tertentu menggambarkan kemauan

sendiri, sebagaimana bila diterjemahkan 'ke-

senangan' (KJV) dalam Ul. 23:24; Mzm.

105:22; Yer. 34:16. Di dalam Bil. 31:19

nephesh yaitu  'dibunuh', dan dalam Hak.

16:30 (diterjemahkan 'aku') yaitu  mati. Di

dalam Bil. 5:2 ('mati') dan pasal 9:6 ('tubuh

yang mati') yang dimaksudkan ialah mayat

(bandingkan Im. 19:28; Bil. 9:7, 10).

"Penggunaan kata Yunani psuche di da-

lam Perjanjian Baru yaitu  sama dengan ka-

ta nephesh yang digunakan dalam Perjanji-

an Lama. Biasanya digunakan untuk hidup

binatang serta halnya hidup kita semua  (Why.

16:3). Di dalam terjemahan Versi King

James (KJV) ini diterjemahkan 40 kali se-

bagai "hidup" atau "kehidupan" (baca Mat.

2:20; 6:25; 16:25; dsb.) Dalam beberapa

contoh biasa digunakan untuk maksud 'ba-

nyaknya orang' (baca Kis. 7:14; 27:37; Rm.

13:1; 1 Ptr. 3:20, dsb.), sedang  pada yang

lain itu sama dengan kata ganti orang (baca

Mat. 12:18; 2 Kor. 12:15; dsb.). Kadang-ka-

dang digunakan juga untuk menunjuk ter-

hadap emosi (Mrk. 14:34; Luk. 2:35), untuk

pikiran (Kis. 14:2; Flp. 1:27), atau kepada

hati (Ef. 6:6)."4

Psuche itu tidak abadi melainkan tunduk

kepada maut (Why. 16:3). Itu dapat dibinasa-

kan (Mat. 10:28).

Bukti Alkitabiah menunjukkan bahwa ka-

99Sifat dan Keadaan kita semua 

dang-kadang nephesh dan psuche menunjuk

kepada pribadi secara keseluruhan dan pada

waktu lain kepada aspek khusus kita semua ,

misalnya kasih sayang, emosi, selera dan pe-

rasaan. Pemakaian ini, bagaimanapun, tidak-

lah menunjukkan bahwa kita semua  terdiri dari

dua bagian yang berbeda. Badan dan jiwa

ada bersama-sama, keduanya terbentuk me-

rupakan kesatuan yang tidak dapat dipisah-

kan. Jiwa bukanlah satu wujud yang terpi-

sah dari tubuh dan tidak memiliki kesadar-

an sendiri. Tidak ada ayat yang menunjuk-

kan bahwa jiwa ada dalam tubuh sebagai satu

kesadaran.

2. Makna Alkitabiah Roh. Mengingat

kata Ibrani nephesh  diterjemahkan jiwa, me-

nunjuk kepada individualitas atau kepriba-

dian, kata Ibrani dalam Perjanjian lama ru-

ach, diterjemahkan roh, menunjuk kepada

percikan tenaga yang hakiki bagi kehidupan

eksistensi individual. Menunjuk kepada te-

naga llahi, atau prinsip hidup yang menghi-

dupkan makhluk kita semua .

Ruach digunakan 377 kali dalam Perjan-

jian Lama dan pada umumnya sering diterje-

mahkan sebagai ‘roh,’ ‘angin,’ atau ‘nafas’

(Kej. 8:1, dsb.). Juga digunakan untuk me-

nunjuk kepada vitalitas (Hak. 15:19), kebe-

ranian (Yos. 2:11), kemarahan atau amarah

(Hak. 8:3), watak (Yes. 54:6), sifat tabiat

(Yeh 11:19), dan tempat emosi (1 Sam. 1:15).

"Sehubungan dengan napas, ruach manu-

sia sama dengap ruach hewan (Pkh. 3:19).

Ruach kita semua  meninggalkan tubuh pada

waktu mati (Mzm. 146:4) dan kembali ke-

pada Tuhan (Pkh. 12:7; bandingkan Ayb.

34:14). Sering kata Ruach digunakan untuk

menyatakan Roh Allah, seperti yang terda-

pat dalam Yesaya 63:10. Tidak pernah digu-

nakan dalam Perjanjian Lama menunjuk ke-

pada kita semua  ruach itu sebuah eksistensi

yang mampu dan berpikir secara terpisah

dari tubuh jasmani.

"Kata yang sama dalam Perjanjian Baru

bagi ruach ialah pneuma, 'roh,' dari pneo,

'meniupkan,' atau 'bernapas.' Sebagaimana

dengan ruach, tidak ada yang disifatkan da-

lam kata pneuma yang menunjuk kepada ek-

sistensi kesadaran yang benar-benar mem-

punyai kemampuan yang terpisah dari tubuh,

tidak juga digunakan dalam Perjanjian Baru

yang menunjuk kepada kita semua  sebagai se-

buah konsep. Sebagaimana nas dalam Roma

8:15; 1 Korintus 4:21; 2 Timotius 1:7; 1 Yo-

hanes 4:6 pneuma menunjuk kepada 'suasa-

na hati,"sikap,' atau 'keadaan perasaan.' Juga

digunakan untuk menyatakan pelbagai as-

pek kepribadian sebagaimana yang ada 

dalam Galatia 6:1; Roma 12:11; dsb. Seba-

gaimana halnya ruach, pneuma tunduk pada

Tuhan pada waktu kematian (Luk. 23:46;

Kis. 7:59). Seperti ruach, pneuma juga digu-

nakan atas Roh Allah (1 Kor. 2:11, 14; Ef.

4: 30; Ibr. 2:4; 1 Ptr. 1:12; 2 Ptr. 1:21; dsb)."5

3. Kesatuan Badan, jiwa dan Roh. Apa-

kah hubungan antara badan, jiwa dan roh?

Apakah pengarah hubungan ini dalam kesa-

tuan kita semua ?

a. Persatuan dua-ganda. Walaupun Al-

kitab memandang sifat atau keadaan manu-

sia itu sebagai satu kesatuan, hubungannya

secara persis tidaklah diberikan, yakni hu-

bungan antara badan, jiwa dan roh. Kadang-

kala penggunaan kata jiwa maupun roh digu-

nakan secara tumpang tindih. Cobalah per-

hatikan persamaan yang ada  dalam ung-

kapan Maria ketika menyatakan kegembira-

annya dalam pujaan yang berikut: "Jiwaku

memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira

sebab  Allah, Juruselamatku" (Luk. 1:46,

47).

100Sifat dan Keadaan kita semua 

Dalam sebuah contoh kita semua  disifatkan

oleh Yesus sebagai tubuh dan roh (Mat. 10:

28) dan dalam peristiwa lain dinyatakan oleh

Paulus sebagai tubuh dan jiwa (1 Kor. 7:34).

Dahulu jiwa dianggap menunjuk kepada ke-

mampuan tinggi kita semua , dianggap pikiran,

yang digunakan untuk mengadakan komuni-

kasi dengan Tuhan. Belakangan roh diang-

gap merupakan kemampuan yang tinggi ini.

Di dalam kedua contoh itu tubuh termasuk

secara fisik, sebagaimana halnya emosi seba-

gai aspek-aspek sebuah pribadi.

b. Persatuan tiga serangkai. Ada sebu-

ah kekecualian atas penyifatan secara umum

mengenai kita semua  yang dua ganda atau

rangkap dua itu. Rasul Paulus, yang berbi-

cara mengenai kesatuan yang rangkap ini,

yakni tubuh dan jiwa, juga berbicara dengan

memakai  istilah kesatuan dalam tiga

serangkai. Ia berkata sebagai berikut, "Se-

moga Allah damai sejahtera menguduskan

kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan

tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak

bercacat pada kedatangan Yesus Kristus,

Tuhan kita" (1 Tes. 5:23). Nas ini menyam-

paikan keinginan Paulus bahwa tidak ada

dari antara ketiga aspek pribadi ini dapat di-

keluarkan dari proses penyucian.

Dalam contoh ini roh dapatlah dipahami

sebagai "prinsip tinggi kecerdasan dan pikir-

an yang dengannya dikaruniai kepada ma-

nusia, yang dengannya pula Allah dapat ber-

komunikasi melalui Roh-Nya (baca Rm. 8:

16). Dengan membaharui pikiran melalui

kegiatan Roh Kudus sehingga secara indi-

vidual diubah menjadi serupa dengan Kris-

tus (baca Rm. 12;1, 2).

"Dengan 'jiwa' ... bila dibedakan dari roh,

dapatlah dipahami bahwa bagian sifat atau

keadaan kita semua  itu mengungkapkan diri

melalui naluri, emosi dan keinginan. Bagi-

an watak kita semua  ini dapat juga dikudus-

kan. Apabila melalui usaha Roh Kudus, pi-

kiran diselaraskan dengan pikiran Allah,

maka pikiran yang dikuduskan ini dapat me-

lawan sifat-sifat yang rendah, dorongan-do-

rongan yang mungkin bertentangan dengan

kehendak Allah, sehingga menjadi takluk ke-

pada kehendak-Nya."6

Tubuh, yang dikendalikan oleh sifat yang

tinggi maupun yang rendah, pada hakikat-

nya secara jasmani terdiri dari: daging, da-

rah dan tulang.

Rangkaian yang dikemukakan Paulus de-

ngan menyebutkan pertama roh, lalu 

jiwa, dan akhirnya tubuh bukanlah secara ke-

betulan. Apabila roh dikuduskan maka pikir-

an berada di bawah kuasa Ilahi. Pikiran yang

telah disucikan itu, lalu  akan mempu-

nyai pengaruh yang menguduskan jiwa, yak-

ni: keinginan, perasaan dan emosi. Orang

yang dikuduskan ini tidak menyalahgunakan

tubuhnya, sehingga secara fisik akan tetap

sehat. Dengan demikianlah tubuh menjadi

alat yang dikuduskan, yang dapat digunakan

orang Kristen untuk melayani Tuhan dan Ju-

ruselamatnya. Panggilan Rasul Paulus supa-

ya menguduskan diri erat kaitannya dengan

konsep kesatuan sifat kita semua  serta menun-

jukkan keefektifan persiapan untuk menanti

kedatangan Kristus yang kedua kali, dengan

keutuhan pribadi: roh, jiwa dan tubuh.

c. Kesatuan yang tidak dapat dipisah-

kan dan simpatik. Jelas bahwa setiap makh-

luk kita semua  yaitu  kesatuan yang tidak da-

pat dipisahkan. Badan, jiwa dan roh berfung-

si erat sekali, dalam kerja samanya, menun-

jukkan hubungan simpatik yang intens an-

tara kemampuan pribadi secara fisik, men-

tal dan jasmani. Kemerosotan pada salah

satu bagian akan menghambat dua yang lain.

Roh dan pikiran yang sakit, kotor akan

mengakibatkan efek yang merusak atas kese-

hatan emosi dan fisik seseorang juga. Begi-

101Sifat dan Keadaan kita semua 

tu pula sebaliknya. Orang yang sakit-sakitan,

lemah atau menderita secara fisik pada umum-

nya akan merusak kesehatan dan emosi serta

kerohaniannya. Dampak kemampuan atas se-

tiap orang berarti bahwa setiap individu me-

miliki tanggung jawab yang diberikan Allah

untuk mencapai kondisi yang terbaik. Me-

lakukan hal yang demikian yaitu  merupakan

bagian penting dan vital bagi orang yang di-

pulihkan ke dalam gambar Pencipta.

kita semua  DALAM GAMBAR ALLAH

Makhluk hidup yang diciptakan Tuhan

pada hari keenam pada waktu Penciptaan

itu, dijadikan "menurut gambar-Nya, menu-

rut gambar Allah diciptakan-Nya dia" (Kej.

1: 27). Secara tidak langsung, apakah sebe-

nar-nya makna diciptakan dalam gambar-

Nya?

Diciptakan dalam Gambar dan Seru-

pa Allah. Seringkali disiratkannya, bahwa

dimensi moral dan spiritual kita semua  itu me-

nampakkan sesuatu mengenai moral dan

spiritual Allah. Bahkan Alkitab telah menga-

jarkan bahwa kita semua  terdiri dari kesatuan

yang tidak terpisahkan: tubuh, pikiran dan

jiwa, maka ciri-ciri fisik kita semua  haruslah

juga, dalam pelbagai cara, memantulkan

gambar Allah. Akan namun , bukankah Allah

itu roh? Bagaimanakah satu roh digabung-

kan dengan bentuk mana pun?

Sebuah tinjauan singkat mengenai malai-

kat menunjukkan bahwa mereka pun, seperti

Tuhan juga, yaitu  makhluk spiritual (Ibr.

1:7, 14). Akan namun  mereka senantiasa tam-

pak dalam bentuk kita semua  (Kej. 18:1-19:22;

Dan. 9:21; Luk. 1:11-38; Kis. 12:5-10). Apa-

kah mungkin makhluk spiritual mempunyai

"tubuh spiritual" memiliki bentuk dan ciri-

ciri (bandingkan 1 Kor. 15:44).

Alkitab menunjukkan bahwa ada orang

yang pernah melihat bagian-bagian tubuh Al-

lah. Musa, Harun, Nadab, Abihu dan ketu-

juh puluh tua-tua melihat kaki-Nya (Kel. 24:

9-11). Walaupun Ia menolak memperli-

hatkan wajah-Nya, sesudah  menutupi Musa

dengan tangan-Nya Allah menunjukkan

punggung-Nya kepada Musa ketika Ia lewat

(Kel. 33: 20-23). Allah menampakkan diri

kepada Daniel dalam sebuah khayal peng-

hakiman ketika Yang Lanjut Usia duduk di

atas takhta (Dan. 7:9, 10). Kristus digambar-

kan sebagai "gambar Allah yang tidak keli-

hatan" (Kol. 1:15) dan "gambar wujud Al-

lah" (Ibr. 1:3). Nas ini tampaknya menun-

jukkan bahwa Allah yaitu  makhluk priba-

di dan mempunyai wujud pribadi. Tentu saja

hal ini tidak mengejutkan sebab  kita semua 

diciptakan menurut gambar Allah.

kita semua  telah diciptakan "sedikit lebih

rendah dibandingkan  malaikat-malaikat" (Ibr.

2:7), merupakan satu petunjuk bahwa ia su-

dah pasti dikaruniai dengan pemberian men-

tal dan spiritual. Walaupun Adam kurang pe-

ngalaman, gagasan dan pertumbuhan tabiat,

ia telah dijadikan kita semua  yang "jujur" (Pkh.

7:29), sebuah petunjuk untuk menyatakan

keluhuran moral yang tinggi.7 Dengan moral

yang ada  dalam gambar Allah itu, manu-

sia itu benar dan kudus (bandingkan Ef.

4:24), dan telah menjadi bagian Ciptaan Al-

lah dalam kategori "sungguh amat baik"

(Kej. 1:31).

sebab  kita semua  diciptakan dalam moral

gambar Allah, maka kepadanya telah diberi-

kan kesempatan untuk menunjukkan kasih-

nya dan kesetiaannya kepada Khaliknya. Se-

perti halnya Allah, kita semua  mempunyai kua-

sa memilih—kebebasan berpikir dan bertin-

dak sesuai dengan perintah moral itu. Oleh

sebab  itu, ia bebas mengasihi dan menurut

atau tidak menaruh percaya atau pun men-

durhaka. Allah memberikan kepada manu-

sia kemungkinan yang riskan untuk menga-

102Sifat dan Keadaan kita semua 

dakan pilihan yang salah, sebab  hanya de-

ngan kebebasan memilih itulah kita semua  da-

pat mengembangkan tabiat yang benar-be-

nar dapat memamerkan prinsip kasih yang

menjadi hakikat Allah sendiri (1 Yoh. 4:8).

Nasibnya ialah meraih ungkapan yang pa-

ling tinggi dari citra Allah: untuk mengasihi

Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan pikir-

an serta mengasihi sesama seperti diri sendiri

(Mat. 22:36-40).

Diciptakan supaya Berhubungan de-

ngan Orang Lain. Allah berkata, "Tidak

baik, kalau kita semua  itu seorang diri saja"

(Kej 2:18), maka Ia pun menjadikan Hawa.

Sebagaimana ketika anggota Keallahan disa-

tukan dalam hubungan kasih sayang, demi-

kian pula kita diciptakan untuk persekutuan

dalam persahabatan atau pernikahan (Kej.

2:18). Di dalam hubungan seperti ini kita

memperoleh kesempatan hidup bersama orang

lain. Supaya hidup kita lebih kita semua wi, ma-

ka kita harus berorientasi kepada perhubung-

an satu dengan yang lain. Pengembangan as-

pek ini, aspek gambar Allah merupakan sa-

tu bagian yang utuh dari harmoni dan kese-

jahteraan kerajaan Allah.

Diciptakan untuk Menjadi Penatala-

yan Lingkungan. Allah berkata, "Baiklah

Kita menjadikan kita semua  menurut gambar

dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas

ikan-ikan di laut dan burung-burung di uda-

ra dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan

atas segala binatang melata yang merayap

di bumi" (Kej. 1:26). Di sini Allah menye-

butkan kita semua  dari peta llahi dan pemerin-

tahannya atas ciptaan yang lebih rendah yang

ditiup sekali jadi. Allah menempatkan manu-

sia itu sebagai wakil-Nya untuk memerin-

tah ciptaan yang lebih rendah itu. Kerajaan

binatang tidak akan memahami kekuasaan

Allah, akan namun  banyak binatang yang

mampu mengasihi serta melayani kita semua .

Daud, sehubungan dengan sebutan me-

ngenai pemerintahan kita semua  berkata seba-

gai berikut, "Engkau membuat dia berkuasa

atas buatan tangan-Mu; segala-galanya te-

lah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing

domba dan lembu sapi sekalian, juga bina-

tang-binatang di padang" (Mzm. 8: 7-9).

kita semua  yang diberi tempat yang mulia me-

nunjukkan kemuliaan dan penghormatan se-

bagai mahkotanya (Mzm. 8:6). kita semua  di-

beri tanggung jawab untuk memerintah se-

cara hormat dunia ini, membayangkan atau

memantulkan kemurahan pemerintahan Tu-

han atas semesta alam. Oleh sebab  itu, kita

bukanlah korban lingkungan yang dikuasai

oleh kuasa-kuasa lingkungan. Sebaliknya,

Allah telah menyuruh kita supaya berperan

positif dengan membentuk lingkungan, meng-

gunakan setiap situasi di tempat mana kita

telah ditempatkan menjadi suatu kesempa-

tan untuk menyempurnakan kehendak Allah.

Wawasan ini menyediakan kunci per-

baikan hubungan kita semua  di dunia yang su-

dah porak poranda. Di dalamnya juga terda-

pat jawaban terhadap pemakaian yang sewe-

nang-wenang terhadap sumber-sumber alam

sehingga menimbulkan pencemaran udara

dan air yang cukup berat yang membawa ke

arah kemerosotan kualitas hidup yang se-

makin memburuk. Hanyalah dengan menga-

nut pandangan yang Alkitabiah mengenai

alam kita semua  maka jaminan kesejahteraan

mendatang dapat diperoleh.

Diciptakan untuk Meniru Allah. Seba-

gai makhluk kita semua  seharusnya kita bertin-

dak seperti yang dilakukan Tuhan Allah ka-

rena kita diciptakan menurut gambar-Nya.

Walaupun kita kita semua , bukan yang Ilahi,

kita harus memantulkan citra Allah dalam

pemerintahan kita sebaik-baiknya. Hukum

keempat mengimbau atas tanggung jawab

103Sifat dan Keadaan kita semua 

ini: kita harus mengikuti teladan Pencipta

kita dalam bekerja enam hari pada minggu

pertama waktu dunia diciptakan dan berhenti

pada hari yang ketujuh (Kel. 20:8-11).

Diciptakan dengan yang Bersyarat. Pa-

da waktu hari penciptaan, leluhur kita yang

pertama diberi sifat abadi walaupun pemi-

likan sifat ini sangat bergantung pada penu-

rutan. Jika tetap mendekati pohon kehidup-

an itu maka mereka akan tetap hidup sela-

ma-lamanya. Satu-satunya yang dapat mem-

bahayakan keadaan keabadian mereka itu ha-

nyalah melalui pelanggaran terhadap pera-

turan Allah yang melarang mereka mema-

kan buah pohon pengetahuan baik dan bu-

ruk. Pendurhakaan akan membawa maut

(Kej. 2:17; bandingkan 3:22).

KEJATUHAN

Walaupun diciptakan dalam keadaan

sempurna dan dalam gambar Allah serta di-

tempatkan di lingkungan yang sempurna.

Adam dan Hawa menjadi pelanggar. Bagai-

manakah perubahan yang radikal dan me-

ngerikan itu terjadi?

Asal-usul Dosa. Kalau Tuhan menjadi-

kan dunia dalam keadaan sempurna, bagai-

manakah mungkin dosa berkembang?

1. Allah dan asal-usul dosa. Apakah Al-

lah Pencipta itu, juga pembuat dosa? Alkitab

menunjukkan bahwa Allah itu suci (Yes. 6:3)

dan tidak ada ketidakbenaran di dalam Dia.

"Pekerjaan-Nya sempurna, sebab  segala ja-

lan-Nya adil; Allah yang setia, dengan tiada

kecurangan, adil dan benar Dia" (Ul. 32: 4).

Kitab Suci menyatakan, "Jauhlah dari pada

Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari

pada Yang Mahakuasa untuk berbuat cu-

rang" (Ayb. 34:10). "Sebab Allah tidak da-

pat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri

tidak mencobai siapa pun" (Yak. 1: 13); Ia

membenci dosa (Mzm. 5:5; 11:5). Pada mu-

lanya Ciptaan Tuhan "sangat baik adanya"

(Kej. 1:31). Sama sekali Ia bukanlah Pencip-

ta dosa, Ia "menjadi pokok keselamatan yang

abadi bagi semua orang yang taat kepada-

Nya" (Ibr. 5:9).

2. Pencipta dosa. Allah dapat mencegah

dosa dengan menciptakan semuanya robot

yang diprogram untuk melakukan apa yang

telah ditentukan supaya mereka lakukan. Te-

tapi Allah yang menaruh kasih itu mencip-

takan makhluk yang dapat menyambut ka-

sih-Nya dengan bebas—sebuah sambutan

yang mungkin dari makhluk yang mempu-

nyai kuasa untuk memilih.

Dengan memberikan jenis kebebasan se-

perti ini kepada ciptaan-Nya, bagaimanapun,

itu berarti Allah harus menanggung risiko

bahwa sebagian makhluk ciptaan-Nya itu da-

pat berpaling dari pada-Nya. Sayangnya, Lu-

sifer, seorang makhluk yang mulia dengan

kedudukan tinggi di dunia para malaikat,

menjadi angkuh (Yeh. 28:17; bandingkan 1

Tim. 3:6). sebab  merasa tidak puas atas ke-

dudukannya di dalam pemerintahan Allah

(bandingkan Yud. 6), ia mulai mengingin-

kan kedudukan Tuhan Allah (Yes. 14:12-14).

Dalam upayanya untuk mengambil alih se-

mesta alam, malaikat yang telah jatuh ini me-

naburkan benih-benih ketidakpuasan di an-

tara sesama malaikat, dan banyak orang yang

mulai berpihak kepadanya. Alhasil, konflik

yang terjadi di surga ini diakhiri dengan ter-

campaknya Lusifer yang lalu  dikenal

dengan nama Setan, si perusuh, berikut ma-

laikat-malaikatnya diusir dari surga (Why.

12:4, 7-9; baca bab 8).

3. Asal-usul dosa di lingkungan ma-

nusia. Dengan tidak merasa gentar walau-

104Sifat dan Keadaan kita semua 

pun sudah diusir dari surga, Setan bertekad

memikat orang lain supaya bergabung de-

ngannya dalam pemberontakan melawan pe-

merintahan Allah. Perhatiannya tertarik ke-

pada umat kita semua  yang baru raja dicipta-

kan. Bagaimanakah ia dapat mengajak Adam

dan Hawa supaya ikut memberontak? Mere-

ka hidup di dunia yang sempurna, segala ke-

perluan mereka serba ada disediakan Pencip-

ta mereka. Bagaimana membuat supaya me-

reka merasa tidak puas dan tidak percaya ke-

pada satu Oknum yang menjadi sumber ke-

bahagiaan mereka? Catatan mengenai dosa

yang pertama itu memberikan jawaban.

Dalam serangannya terhadap makhluk

kita semua  yang pertama itu, Setan mulai me-

masang perangkap untuk menangkap mere-

ka ketika lepas dari penjagaan. Setan mende-

kati Hawa ketika ia dekat-dekat kepada po-

hon pengetahuan baik dan jahat—menyamar

sebagai ular menanyainya mengenai larang-

an Tuhan supaya jangan memakan buah po-

hon itu. Manakala Hawa mengukuhkan bah-

wa Tuhan mengatakan sekali buah pohon itu

dimakan maka mereka akan mati, lalu Setan

menantang larangan Ilahi itu dengan berka-

ta, "Sekali-kali kamu tidak akan mati." Se-

tan membangkitkan rasa ingin tahu dengan.

menyarankan bahwa Allah sebenarnya beru-

saha merintanginya untuk memperoleh se-

buah pengalaman baru yang menakjubkan:

untuk menjadi sama dengan Allah (Kej. 3:4,

5). Maka dengan segera akar kebimbangan

terhadap sabda Allah pun ditanamkan. Hawa

berhasrat sekali memperoleh apa yang da-

pat dihasilkan oleh buah pohon itu. Godaan

telah merusak pikirannya yang kudus itu. Ke-

percayaan terhadap firman Tuhan telah beru-

bah menjadi kepercayaan terhadap perkataan

Setan. Tiba-tiba ia membayangkan bahwa

"buah pohon itu baik untuk dimakan dan se-

dap kelihatannya, lagipula pohon itu mena-

rik hati sebab  memberi pengertian." Ia me-

rasa tidak puas lagi dengan kedudukannya,

Hawa menyerah terhadap godaan untuk men-

jadi sama dengan Allah. "Lalu ia mengam-

bil dari buahnya dan dimakannya dan dibe-

rikannya juga kepada suaminya yang bersa-

ma-sama dengan dia, dan suaminya pun me-

makannya" (Kej. 3:6).

sebab  lebih berharap pada indera pera-

saannya ketimbang firman Tuhan, Hawa me-

rusak ketergantungannya kepada Allah, ia

pun jatuh dari kedudukannya yang tinggi,

dan terjun ke dalam dosa. Kejatuhan umat

kita semua , sesungguhnya sesudah  peristiwa itu,

yang paling utama ditandai oleh retaknya

iman terhadap Allah dan firman-Nya. Rasa

tidak percaya ini menuntun kepada pendur-

hakaan, yang lalu  berakibat rontoknya

hubungan dan pada akhirnya mendatangkan

perpisahan antara Allah dan kita semua .

Dampak Dosa. Apakah akibat yang lang-

sung dan akibat jangka panjang dosa itu? Ba-

gaimanakah pengaruhnya terhadap sifat ma-

nusia? Dan apakah prospek pelenyapan do-

sa dan perbaikan keadaan dan sifat manu-

sia?

1. Akibat langsung. Akibat pertama dosa

yaitu  perubahan dalam keadaan kita semua 

yang mempengaruhi hubungan antar priba-

di, begitu pula dengan hubungan dengan Tu-

han. Kesegaran baru, mata yang terbuka ha-

nyalah membawa pengalaman perasaan yang

memalukan bagi Adam dan Hawa (Kej. 3:7).

Ganti menjadi sama dengan Allah, sebagai-

mana yang dijanjikan Setan, justru mereka

menjadi ketakutan dan berusaha bersembu-

nyi (Kej. 3:8-10).

Apabila Allah menanyakan kepada Adam

dan Hawa mengenai dosa mereka, ganti me-

ngakui kesalahan mereka, malah mereka ber-

usaha berdalih. Adam berkata, "Perempuan

yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang

105Sifat dan Keadaan kita semua 

memberi dari buah pohon itu kepadaku, ma-

ka kumakan" (Kej. 3:12). Perkataannya itu

secara tidak langsung menuduh Hawa dan

juga Tuhan bertanggung jawab atas dosa

yang dilakukannya, terang-terangan menun-

jukkan bagaimana dosanya telah merontok-

kan hubungannya dengan istri dan Tuhan-

nya, sang Pencipta. lalu  Hawa menu-

duh sang ular (Kej. 3:13).

Akibat dahsyat yang timbul menunjuk-

kan betapa seriusnya pelanggaran mereka.

Allah mengutuk pengantara yang digunakan

Setan, ular itu, Ia mengutukinya, bahwa ia

akan merayap dengan perutnya, sebagai su-

atu  yang mengingatkan kejatuhan selama-

nya (Kej. 3:14). Kepada perempuan itu Tu-

han berkata, "Susah payahmu waktu me-

ngandung akan Kubuat sangat banyak; de-

ngan kesakitan engkau akan melahirkan

anakmu; namun engkau akan berahi kepada

suamimu dan ia akan berkuasa atasmu" (Kej.

3:16). sebab  Adam mendengarkan istrinya,

bukannya apa yang dikatakan Tuhan, maka

dunia ini dikutuk dengan keluh kesah yang

bertambah, dan bersusah payah melakukan

pekerjaan: "Terkutuklah tanah sebab  eng-

kau; dengan bersusah payah engkau akan

mencari rezekimu dari tanah seumur hidup-

mu: semak duri dan rumput duri yang akan

dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuh-

an di padang akan menjadi makananmu; de-

ngan berpeluh engkau akan mencari makan-

anmu, sampai engkau kembali lagi menjadi

tanah, sebab  dari situlah engkau diambil;

sebab engkau debu dan engkau akan kemba-

li menjadi debu" (Kej. 3:17-19).

Dalam pengukuhan kembali hukum-Nya

yang tidak dapat diubah, bahwa setiap pe-

langgaran mana pun akan menuju kepada ke-

matian yang pasti, Allah berkata: "Sebab eng-

kau debu dan engkau akan kembali menjadi

debu" (Kej. 3:19). Ia melaksanakan putusan

ini dengan mengusir si pelanggar itu dari ta-

man Eden, merusak hubungan langsung de-

ngan Allah (Kej. 3:8), dan mencegah mere-

ka agar tidak memetik buah pohon kehidup-

an, sumber kehidupan selama-lamanya. Oleh

sebab  itu. Adam dan Hawa menjadi takluk

kepada kematian (Kej. 3:22).

2. Sifat dosa. Banyak nas dalam Alkitab,

khususnya termasuk di dalamnya catatan

mengenai Kejatuhan, menjelaskan dengan

gamblang bahwa dosa yaitu  moral jahat—

akibat pemilihan akan akhlak yang buruk itu

untuk melanggar kehendak Allah yang telah

dinyatakan sebelumnya (Kej. 3:1-6; Rm. 1:

18-22).

Definisi dosa. Definisi dosa menurut Al-

kitab termasuk: "pelanggaran hukum Allah"

(1 Yoh. 3:4), seseorang yang gagal melaku-

kan yang diketahuinya "bagaimana ia harus

berbuat baik, namun  ia tidak melakukannya"

(Yak. 4:17), dan "segala sesuatu yang tidak

berdasar  iman" (Rm. 14:23). Definisi yang

agak luas termasuk: "Setiap penyimpangan

dari yang dikenal kehendak Allah, baik pela-

laian atas apa yang secara rinci disuruh-Nya

atau melakukan sesuatu yang secara khusus

dilarang-Nya."8

Tidak ada yang netral terhadap dosa.

Kristus berkata, "Siapa tidak bersama Aku,

ia melawan Aku" (Mat. 12:30). Kegagalan

untuk mempercayai-Nya yaitu  dosa (Yoh.

16:9). Dosa bersifat mutlak sebab  itu ber-

arti pemberontakan melawan Tuhan dan ke-

hendak-Nya. Dosa mana pun, baik yang ke-

cil maupun besar, berakibat putusan "bersa-

lah". Oleh sebab  itu, "Sebab barangsiapa

menuruti seluruh hukum itu, namun  meng-

abaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah

terhadap seluruhnya" (Yak. 2:10).

Dosa melibatkan pikiran, sebagaimana

halnya perbuatan. Kerapkali dosa dibicara-

kan hanya dalam istilah konkret dan tindak-

106Sifat dan Keadaan kita semua 

an nyata pelanggaran hukum. namun  Kris-

tus mengatakan bahwa seseorang yang ma-

rah terhadap orang lain berarti melanggar hu-

kum keenam dalam Sepuluh Hukum itu,

"Jangan membunuh" (Kel. 20:13), dan ke-

inginan-keinginan yang penuh nafsu berarti

melanggar hukum "Jangan berzinah" (Kel.

20:14). Oleh sebab  itu, dosa bukanlah han-

ya keterlibatan pada perbuatan yang tidak

taat namun  juga mencakup pikiran dan ke-

inginan.

c. Dosa dan kesalahan. Dosa mengha-

silkan kesalahan. Menurut pandangan Al-

kitabiah, kesalahan yang membawa orang

untuk melakukan dosa patut dihukum. Dan

sebab  semua sudah berbuat dosa, maka se-

luruh dunia ini "jatuh ke bawah hukuman

Allah" (Rm. 3:19).

Penangkal kesalahan ialah pengampunan

(Mat. 6:12), yang menghasilkan hati nurani

yang murni dan kedamaian dalam pikiran.

Pengampunan ini hendak diberikan Tuhan

kepada orang berdosa yang bertobat. Kepa-

da orang yang dibebani dosa, bangsa yang

dirundung kesalahan, dengan penuh kemu-

rahan Kristus mengundang, "Marilah kepa-

da-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban

berat, Aku akan memberi kelegaan kepada-

mu" (Mat. 11:28).

Pusat Pengendalian Dosa. Menurut Al-

kitab takhta dosa itu ada dalam hati—yang

kita kenal dengan kata pikiran. sebab  dari

hatilah "terpancar kehidupan" (Ams. 4:23).

Kristus mengatakan bahwa pikiran seseo-

ranglah yang mencemarkan, "sebab  dari

hati timbul segala pikiran jahat, pembunuh-

an, perzinaan, percabulan, pencurian, sum-

pah palsu dan hujat" (Mat. 15:19). Hati

mempengaruhi segenap pribadi; pikiran (In-

telek), kehendak, kasih sayang,  emosi dan

tubuh. sebab  hati itu "licik, lebih licik dari

pada segala sesuatu" (Yer. 17:9), sifat alamiah

hati itu dapatlah dikatakan bejat, rusak dan

penuh dengan tipu daya dosa.

3. Efek dosa atas kita semua . Mungkin ba-

nyak orang merasa bahwa hukuman mati

yang dijatuhkan hanya sebab  memakan bu-

ah larangan itu terlalu kejam. Akan namun  kita

hanya dapat mengukur betapa seriusnya pe-

langgaran itu dalam cahaya efek dosa Adam

atas umat kita semua .

Anak pertama Adam dan Hawa melaku-

kan pembunuhan. Keturunan mereka pun ti-

dak lama lalu  melanggar persatuan

pernikahan yang kudus dengan melakukan

poligami, dan itu terjadi tidak lama kemudi-

an sehingga kejahatan dan pelanggaran su-

dah merajalela di seluruh permukaan bumi

ini (Kej. 4:8, 23; 6:1-5, 11-13). Panggilan

Allah supaya mengadakan perubahan dan

pertobatan berlalu tanpa diindahkan, dan ha-

nya delapan orang saja yang telah diselamat-

kan dari air bah yang membinasakan mere-

ka yang tidak bertobat. Sejarah kita semua  se-

telah air bah yaitu , dengan beberapa keke-

cualian, catatan yang penuh dengan kesedih-

an sebab  ulah sifat kita semua  yang penuh de-

ngan dosa.

a. Dosa umat kita semua . Sejarah menun-

jukkan bahwa keturunan Adam turut dice-

markan sifat dosanya. Daud dalam doanya

berseru, "Sebab di antara yang hidup tidak

seorang pun yang benar di hadapan-Mu"

(Mzm. 143:2; bandingkan 14:3). "sebab 

tidak ada kita semua  yang tidak berdosa" (1

Raj. 8:46). Dan Salomo pun berkata, "Sia-

pakah dapat berkata: 'Aku telah membersih-

kan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?’”

(Ams. 20:9); "Sesungguhnya, di bumi tidak

ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan

tak pernah berbuat dosa!" (Pkh. 7:20). De-

ngan tandas Perjanjian Baru juga mengata-

107Sifat dan Keadaan kita semua 

kan bahwa "semua orang telah berbuat dosa

dan kehilangan kemuliaan Allah" (Rm. 3:23)

dan bahwa "jika kita berkata, bahwa kita ti-

dak berdosa, maka kita menipu diri kita sen-

diri dan kebenaran tidak ada di dalam kita"

(1 Yoh. 1:8).

Apakah dosa diwariskan atau diperoleh?

Paulus berkata, "sebab  sama seperti semua

orang mati dalam persekutuan dengan

Adam" (1 Kor. 15:22). Di tempat lain ditu-

lisnya pula, "Sama seperti dosa telah masuk

ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh do-

sa itu juga maut, demikianlah maut itu telah

menjalar kepada semua orang, sebab  semua

orang telah berbuat dosa" (Rm. 5:12).

Hati kita semua  yang penipu itu mempenga-

ruhi seluruh pribadi. Dalam keadaan seperti

inilah Ayub berseru, "Siapa yang dapat men-

datangkan yang tahir dari yang najis? Se-

orang pun tidak!" (Ayb. 14:4). Daud berka-

ta, "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku di-

peranakkan, dalam dosa aku dikandung ibu-

ku" (Mzm. 51:7). Dan rasul Paulus menga-

takan bahwa "keinginan daging yaitu  per-

seteruan terhadap Allah, sebab  ia tidak tak-

luk kepada hukum Allah; hal ini memang ti-

dak mungkin baginya. Mereka yang hidup

dalam daging, tidak mungkin berkenan kepa-

da Allah" (Rm. 8:7, 8). Sebelum pertobatan

ia menyatakan orang-orang percaya yaitu 

"orang-orang yang harus dimurkai," seperti

kita semua  yang lain (Ef.  2:3).

Sekalipun sebagai anak-anak kita mela-

kukan dosa sebab  meniru, nas yang di atas

mengukuhkan bahwa kita pada dasarnya or-

ang yang berdosa. kita semua  yang berdosa se-

cara universal yaitu  merupakan bukti bah-

wa menurut alamiah kita cenderung kepada

yang tidak baik, yang jahat.

Pemberantasan tabiat yang penuh dengan

dosa. Betapa berhasilkah orang banyak

membuangkan dosa dari kehidupan dan ma-

syarakat mereka?

Setiap usaha untuk memperoleh kehidup-

an yang benar dengan kekuatan sendiri akan

mengalami malapetaka. Kristus mengatakan

bahwa barangsiapa yang melakukan dosa

berarti "ia yaitu  hamba dosa." Hanya kuasa

Ilahi yang dapat memerdekakan kita dari per-

hambaan. Bahkan Kristus telah memberikan

jaminan kepada kita, "Jadi apabila Anak itu

memerdekakan kamu, kamu pun benar-be-

nar merdeka" (Yoh. 8:36). Anda dapat meng-

hasilkan kebenaran hanyalah jika, kata Dia,

"tinggal di dalam-Nya" sebab  "di luar Aku

kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh. 15:

4, 5).

Bahkan Paulus pun gagal menghayati hi-

dup yang benar melalui usahanya sendiri. Ia

tahu ukuran kesempurnaan hukum Allah te-

tapi ia tidak akan mampu meraihnya. De-

ngan menimbang-nimbang upayanya, ia ber-

kata, "Sebab apa yang aku perbuat, aku ti-

dak tahu. sebab  bukan apa yang aku ke-

hendaki yang aku perbuat, namun  apa yang

aku benci, itulah yang aku perbuat." Kemu-

dian ditunjukkannya dampak dosa dalam hi-

dupnya: "Jadi jika aku perbuat apa yang ti-

dak aku kehendaki, aku menyetujui.... Ka-

lau demikian bukan aku lagi yang memper-

buatnya, namun  dosa yang ada di dalam aku."

Sekalipun gagal ia mengagumi ukuran ke-

sempurnaan Tuhan, dengan berkata, "Sebab

di dalam batinku aku suka akan hukum Al-

lah, namun  di dalam anggota-anggota tubuh-

ku aku melihat hukum lain yang berjuang

melawan hukum akal budiku dan membuat

aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada

di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, ma-

nusia celaka! Siapakah yang akan melepas-

kan aku dari tubuh maut ini?" (Rm. 7:15,

19, 20, 22-24). Akhirnya Paulus mengakui

bahwa kuasa Ilahi diperlukannya supaya da-

pat menang. Melalui. Kristus ia mengesam-

pingkan hidup mengikuti nafsu jasmani lalu

memulai hidup baru yang sesuai dengan Roh

108Sifat dan Keadaan kita semua 

(Rm. 7:25; 8:1).

Hidup baru di dalam Roh merupakan ka-

runia pengubah yang berasal dari Allah. Me-

lalui anugerah Ilahi, kita yang dahulu "mati

sebab  pelanggaran-pelanggaran dan dosa-

dosanya" menjadi pemenang (Ef. 2:1, 3, 8-

10). Kelahiran kembali secara rohani yang

demikian itu akan mengubah hidup (Yoh. 1:

13; Yoh. 3:5) sehingga kita dapat berbicara

mengenai kejadian yang baru—"yang lama

sudah berlalu" sehingga "sesungguhnya yang

baru sudah datang" (2 Kor. 5:17). Bagai-

manapun, hidup baru itu, tidak menghilang-

kan kemungkinan berbuat dosa (1 Yoh. 2:1).

4. Evolusi dan kejatuhan kita semua . Se-

jak zaman Penciptaan Setan telah menga-

caubalaukan pikiran orang dengan jalan me-

lemahkan keyakinan mereka atas catatan

yang ada  dalam kitab suci mengenai

asal-usul kita semua  dan tentang Kejatuhan ke

dalam dosa. Salah satu dari antaranya yang

dapat disebutkan ialah evolusi, sebuah pan-

dangan "alamiah" mengenai kita semua , pan-

dangan yang didasarkan atas dugaan bahwa

hidup mulai hanyalah secara kebetulan, dan

mengenai kita semua  itu sendiri, sesudah  meng-

alami proses yang panjang, telah timbul dari

bentuk-bentuk kehidupan yang paling ren-

dah. Melalui sebuah proses perjuangan hi-

dup bahwa yang kuat itulah yang akhir-nya

muncul, kita semua  mengalami perubahan sam-

pai kepada statusnya yang kini. Mereka ma-

sih terus mengalami perubahan, belum men-

capai tingkat potensialnya.

Banyak orang Kristen yang menganut fa-

ham evolusi yang teistis, yang menyatakan

bahwa Allah memakai  evolusi dalam

Penciptaan yang ada  dalam kitab Keja-

dian. Orang yang menganut faham ini tidak

menerima pandangan yang dikemukakan

bab-bab pertama artikel  Kejadian sebagai ma-

na tertulis di situ, melainkan menganggap-

nya sebagai alegori atau mitos.

a. Pandangan Alkitabiah Mengenai

kita semua  dan evolusi. Orang-orang Kristen

yang menganut faham Kreasionis sangat

prihatin atas dampak teori evolusi terhadap

iman orang Kristen. James Orr menulis:

"Menghadapi Kekristenan dewasa ini, bu-

kanlah dengan serangan sedikit demi sedikit

atas doktrin-doktrinnya...melainkan dengan

pandangan yang bertentangan namun  positif

mengenai dunia, mengungkapkannya dengan

ilmiah dibuat dengan baik dan dapat diperta-

hankan, namun ide-idenya secara fundamen-

tal menghantam akar-akar sistem Kristen."9

Alkitab menolak penafsiran secara alego-

ris maupun mitos, kitab Kejadian. Para pe-

nulis Alkitab sendiri mengakui penafsiran

Kejadian 1-11 sebagai sejarah yang harfiah.

Adam, Hawa, dan ular serta Setan dilihat se-

bagai pelakon yang historis di dalam peristi-

wa pergolakan yang besar itu (baca Ayb. 31:

33; Pkh. 7:29; Mat. 19:4, 5; Yoh. 8:44; Rm.

5:12, 18, 19; 2 Kor. 11:3; 1 Tim. 2:14; Why.

12:9).

Golgota dan evolusi. Evolusi dalam ben-

tuk dan wujud bagaimanapun berlawanan

dengan dasar-dasar Kekristenan. Sebagai-

mana dikatakan Leonard Verduin, "Di tem-

pat kisah 'kejatuhan' telah muncul; kisah ke-

naikan."1 Kekristenan dan evolusi sama se-

kali bertentangan. Kedua leluhur kita yang

pertama itu diciptakan menurut gambar Al-

lah dan mengalami kejatuhan ke dalam dosa

atau tidak sama sekali. Jika tidak, lalu me-

ngapa menjadi Kristen?

Golgota mempertanyakan evolusi seca-

ra radikal. Jika tidak ada kejatuhan, menga-

pa kita memerlukan Allah mati demi kita?

Bukan hanya mati secara umum, akan namun 

kematian Kristus bagi kita menyatakan bah-

wa kita semua  tidak "BERES" atau OK. Bila

109Sifat dan Keadaan kita semua 

bergantung hanya pada diri saja maka kita

akan merosot terus sampai akhirnya umat

kita semua  binasa.

Pengharapan kita bertumpu pada Manu-

sia yang tergantung di kayu salib itu. Hanya

kematian-Nya saja yang membuka kepada ki-

ta suatu kemungkinan yang lebih baik, hi-

dup yang penuh dan tidak akan pernah bera-

khir. Golgota mengumumkan bahwa kita me-

merlukan seorang pengganti untuk melepas-

kan kita.

c. Penjelmaan dan Evolusi. Barangkali

Penciptaan-versus-evolusi, pertanyaan-per-

tanyaan sekitar itu, dapat dijawab dengan ja-

waban paling tepat oleh memandang pencip-

taan kita semua  itu dari sudut pandang penjel-

maan. Dengan datangnya Adam yang kedua

itu, yakni Kristus, masuk ke dalam sejarah,

Allah bekerja dengan cara yang kreatif. Jika

Allah dapat mendatangkan mukjizat yang

luar biasa ini, maka tidak akan ada lagi per-

tanyaan mengenai kemampuan-Nya menja-

dikan Adam yang pertama itu.

kita semua  sudah tua sekali? Seringkali

penganut faham evolusi menunjuk kepada

kemajuan ilmu dan pengetahuan yang begi-

tu pesat beberapa abad belakangan ini se-

bagai bukti bahwa kelihatannya kita semua  itu-

lah wasit bagi nasibnya. Bila saja cukup wak-

tu baginya, dengan adanya ilmu yang meme-

nuhi segala keperluannya, maka ia akan da-

pat memecahkan segala masalah dunia.

Namun demikian, peranan teknologi yang

memberikan harapan itu justru menemui ba-

nyak kebimbangan—sebab  nyatanya tekno-

logi telah mendorong planet ini ke tepi ju-

rang kebinasaan. kita semua  telah gagal menak-

lukkan dan mengendalikan hati yang penuh

dengan dosa. Akibatnya, semua kemajuan il-

mu membuat dunia semakin dirundung ma-

rabahaya.

Filsafat nihilisme dan kesia-siaan sema-

kin berkembang dan tampaknya dianggap sa-

hih. Alexander Pope berkata sebagai beri-

kut, "Pengharapan yang abadi bersemi di

dalam dada kita semua ," dewasa ini bergema

kosong. Ayub menangkap realitas itu lebih

baik—waktu beringsut dan "berakhir tanpa

harapan" (Ayb. 7:6). Dunia kita semua  mero-

sot ke bawah. Seseorang harus datang dari

seberang sejarah kita semua , menyerbunya, dan

membawa realitas baru ke dalamnya.

Harapan yang Tipis. Seberapa besarkah

kemerosotan kita semua  itu? Di kayu salib ma-

nusia membunuh Pencipta mereka—puncak

pengkhianatan yang luar biasa! Akan namun 

Tuhan tidak meninggalkan umat kita semua  da-

lam keadaan tanpa harapan.

Daud merenungkan kedudukan kita semua 

dalam Penciptaan. Kesan mula-mula ialah

keluasan alam semesta, lalu ia menganggap

bahwa kita semua  itu tidak berarti sama sekali.

lalu  ia menjadi sadar mengenai kedu-

dukan kita semua  yang sebenarnya. Berbicara

mengenai keadaan kita semua  kini dengan hu-

bungannya terhadap Allah, ia berkata, "Na-

mun Engkau telah membuatnya hampir sama

seperti Allah, dan telah memahkotainya de-

ngan kemuliaan dan hormat. Engkau telah

membuat dia berkuasa atas buatan tangan-

Mu" (Mzm. 8:6, 7; bandingkan Ibr. 2:7).

Selain kejatuhan, masih ada lagi yang ber-

kaitan dengan martabat kita semua . Walaupun

sudah bernoda, wujud Keilahian itu belum-

lah hapus sama sekali. Walaupun telah jatuh

ke dalam dosa, tercemar, penuh dengan dosa,

kita semua  masih tetap wakil Allah di dunia ini.

Keadaannya lebih rendah dari yang Ilahi na-

mun masih tetap memegang sebuah kedudu-

kan yang terhormat sebagai wakil Allah atas

ciptaan yang ada di bumi. Apabila Daud me-

nyadari hal ini, maka ia pun melantunkan

110Sifat dan Keadaan kita semua 

pujian dan rasa syukurnya, "Ya Tuhan, Tu-

han kami, betapa mulianya nama-Mu di se-

luruh bumi!" (Mzm. 8:10).

PERJANJIAN ANUGERAH

sebab  pelanggaran maka pasangan per-

tama kita semua  itu menjadi berdosa. Tidak

mampu lagi menentang Setan, akankah me-

reka tetap bebas ataukah dibiarkan untuk bi-

nasa? Masih adakah harapan?

Perjanjian Diberikan pada Waktu Ke-

jatuhan. Sebelum Allah mengumumkan hu-

kuman kepada pasangan yang jatuh ke da-

lam dosa itu, Ia memberikan kepada mereka

pengharapan dengan memperkenalkan per-

janjian anugerah. Ia berkata, "Aku akan meng-

adakan permusuhan antara engkau dan pe-

rempuan ini, antara keturunanmu dan ketu-

runannya; keturunannya akan meremukkan

kepalamu, dan engkau akan meremukkan tu-

mitnya" (Kej. 3:15).

Pesan yang disampaikan Tuhan itu me-

rupakan kekuatan bagi hati mereka sebab 

diumumkan juga bahwa walaupun Setan me-

nempatkan kita semua  di bawah kuasanya yang

jahat, pada akhirnya dia pun akan dikalah-

kan juga. Perjanjian telah diadakan antara

Allah dengan kita semua . Pertama-tama Allah

menjanjikan melalui anugerah-Nya sebuah

pertahanan melawan dosa. Ia akan menim-

bulkan kebencian antara ular dari perempuan

itu; antara pengikut Setan dengan pengikut

Tuhan. Ini akan mengacaukan hubungan ma-

nusia dengan Setan sehingga membuka ja-

lan untuk mengadakan pembaharuan hubun-

gan dengan Allah.

Dari abad ke abad perang berkelanjutan

antara jemaat Allah dengan Setan. Konflik

itu mencapai puncaknya pada waktu kema-

tian Yesus Kristus, yang disiratkan dalam nu-

buat Benih perempuan itu. Di Golgota, Se-

tan dikalahkan. Walau diremukkan Benih pe-

rempuan itu, namun pembuat kejahatan itu

dikalahkan dengan sempurna.

Semua orang yang mau menerima pem-

berian Allah, anugerah-Nya, akan mengeta-

hui perseteruan terhadap dosa akan membuat

mereka berhasil dalam pertempuran mela-

wan Setan. Melalui iman mereka turut me-

ngambil bagian dalam kemenangan Kristus

di bukit Golgota.

Perjanjian yang Diadakan Sebelum

Penciptaan. Perjanjian pemberian anugerah

itu tidaklah dikembangkan sesudah kejatuh-

an. Kitab Suci membentangkan bahwa se-

belum Penciptaan, Keallahan telah menga-

dakan perjanjian antara sesama mereka un-

tuk menyelamatkan umat kita semua  bila me-

reka jatuh ke dalam dosa. Paulus mengata-

kan Tuhan "telah memilih kita sebelum du-

nia dijadikan, supaya kita kudus dan tak ber-

cacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah

menentukan kita dari semula oleh Yesus

Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, se-

suai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya

terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia"

(Ef. 1:4-6; bandingkan 2 Tim. 1:9). Berbi-

cara mengenai pendamaian yang dilakukan

Kristus, Petrus berkata, "Ia telah dipilih sebe-

lum dunia dijadikan" (1 Ptr. 1:20).

Perjanjian itu telah diadakan di atas da-

sar, yang tidak dapat digoyahkan: janji dan

sumpah Allah sendiri (Ibr. 6:18). Yesus Kris-

tus merupakan jaminan perjanjian ini (Ibr.

7:22). Sebuah jaminan yaitu  diandaikannya

seseorang dihukum sebab  utang atau jamin-

an atas perkara orang lain yang seharusnya me-

nerima hukuman. Pelayanan Kristus meru-

pakan sebuah jaminan bahwa jika umat ma-

nusia jatuh ke dalam dosa Ia akan menang-

gung hukuman yang seharusnya dijatuhkan

kepada mereka. Ia akan membayar harga pe-

nebusan mereka; Ia akan mengadakan pen-

111Sifat dan Keadaan kita semua 

damaian atas dosa-dosa mereka; Ia akan me-

menuhi tuntutan atas pelanggaran terhadap

hukum Allah. Tidak ada kita semua  atau ma-

laikat sekalipun yang mampu memikul tang-

gung jawab yang demikian. Hanya Kristus

sang Pencipta itu, yang menjadi wakil dan

pemimpin umat kita semua  yang dapat melak-

sanakan tanggung jawab itu (Rm. 5:12-21;

1 Kor. 15:22).

Anak Allah bukanlah hanya jaminan per-

janjian itu, Ia juga menjadi pengantara atau

pelaksana. Penggambaran-Nya mengenai

misi-Nya sebagai Anak kita semua  yang men-

jelma menunjukkan aspek peranan-Nya ini.

Ia berkata, "Sebab Aku telah turun dari sor-

ga bukan untuk melakukan kehendak-Ku,

namun  untuk melakukan kehendak Dia yang

telah mengutus Aku" (Yoh. 6:38; banding-

kan 5:30, 43). Kehendak Bapa ialah "supaya

setiap orang, yang melihat Anak dan yang

percaya kepada-Nya beroleh hidup yang ke-

kal" (Yoh. 6:40). "Inilah hidup yang kekal

itu," kata-Nya, "yaitu bahwa mereka menge-

nal Engkau, satu-satunya Allah yang benar,

dan mengenal Yesus Kristus yang telah Eng-

kau utus" (Yoh. 17:3). Pada penghujung tu-

gas-Nya itu, Ia bersaksi mengenai pelaksa-

naan yang dilakukan-Nya atas tugas yang di-

emban-Nya dari Bapa dengan berkata, "Aku

telah mempermuliakan Engkau di bumi de-

ngan jalan menyelesaikan pekerjaan yang

Engkau berikan kepada-Ku untuk melaku-

kannya" (Yoh. 17:4).

Di kayu salib Yesus menggenapi janji-

Nya untuk menjadi jaminan bagi kita semua  da-

lam perjanjian itu. Jeritan "Sudah s