doktrin Advent 7

Tampilkan postingan dengan label doktrin Advent 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin Advent 7. Tampilkan semua postingan

doktrin Advent 7


 


erikan suatu

makna kepada salib yang tidak dapat dilihat

oleh murid-murid yang terpencar pada Ju-

mat penyaliban itu. Kebangkitan-Nya telah

mengubah murid-murid ini menjadi satu pa-

sukan yang perkasa yang mengubah sejarah.

Kebangkitan—tidak pernah dapat dilepas-

kan dari penyaliban—menjadi pusat peker-

jaan mereka. Mereka mengumumkan Kris-

tus yang disalibkan dan hidup kembali, yang

telah menang atas kekuatan pasukan si ja-

hat. Di sinilah letak kuasa pekabaran kera-

sulan.

“Kebangkitan Kristus,” tulis Philip Schaff,

“jelas-jelas merupakan sebuah pertanyaan yang

menguji, yang di dalamnya bergantung kebe-

naran atau kepalsuan agama Kristen. Itulah

mukjizat paling besar ataukah tipuan

,

 yang

paling besar yang dicatat sejarah.”1 Wilbur

M. Smith memberi komentar, “Kebangkitan

Kristus yaitu  benteng utama iman Kristen.

Inilah doktrin yang menggoncanggancing

dunia pada abad pertama, yang meninggi-

kan Kekristenan lebih unggul atas Judais-

me serta agama-agama kafir di dunia Me-

diterania. Dengan demikian, hal itu menja-

di yang paling vital dan unik dalam Injil Tu-

han Yesus Kristus: ‘Jika Kristus tidak di-

bangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan ka-

mu’” (1 Kor. 15:17).”14

Pekerjaan Kristus kini berakar pada ke-

matian dan kebangkitan. Sementara korban

atau persembahan pendamaian di Golgota

sudah cukup dan lengkap, maka tanpa ke-

bangkitan kita tidak mempunyai jaminan

bahwa Kristus telah selesai dengan sukses

melakukan tugas keilahian-Nya di atas du-

nia ini. Bahwa Kristus telah bangkit itu me-

ngukuhkan realitas hidup di balik kubur serta

menunjukkan kebenaran janji Allah tentang

hidup kekal di dalam Dia.

HASIL PEKERJAAN KRISTUS YANG

MENYELAMATKAN

Pekerjaan pendamaian Kristus tidak saja

mempengaruhi umat manusia namun  juga se-

mesta alam.

Pendamaian Semesta alam. Rasul Pau-

lus menyatakan kebesaran keselamatan dari

134Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus

Kristus di dalam dan melalui jemaat: “Su-

paya sekarang oleh jemaat diberitahukan pel-

bagai ragam hikmat Allah kepada pemerin-

tah-pemerintah dan penguasa-penguasa di

surga” (Ef. 3:10). Lebih lanjut ia menyata-

kan bahwa hal itu berkenan kepada Allah

melalui Kristus “memperdamaikan segala se-

suatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bu-

mi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia

mengadakan pendamaian oleh darah salib

Kristus” (Kol. 1:20). Paulus mengungkap-

kan hasil yang mengejutkan dari pendamai-

an ini:

“Supaya dalam nama Yesus bertekuk lu-

tut segala yang ada di langit dan yang ada di

atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan

segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus yaitu 

Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp.

2:10, 11).

Mempertahankan Hukum Tuhan. Kor-

ban pendamaian yang sempurna dari Kris-

tus meninggikan keadilan dan kebajikan atau

kebenaran hukum Allah yang kudus seba-

gaimana halnya tabiat-Nya yang penuh ke-

murahan. Kematian dan penebusan Kristus

memuaskan tuntutan hukum (sebab  dosa

perlu dihukum), sementara membenarkan

orang-orang berdosa yang bertobat melalui

anugerah dan rahmat-Nya. Paulus berkata,

“Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan

hukum Taurat sebab  tak berdaya oleh da-

ging, yang serupa dengan daging yang dikua-

sai dosa sebab  dosa, Ia telah menjatuhkan

hukuman atas dosa di dalam daging, supaya

tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam

kita, yang tidak hidup menurut daging, teta-

pi menurut Roh” (Rm. 8:3, 4).

Pembenaran. Pendamaian dapat menja-

di efektif hanyalah jika  pengampunan

diterima. Anak yang hilang itu diperdamai-

kan dengan ayahnya jika  ia menerima ka-

sih ayahnya dan keampunan.

“Barangsiapa yang menerima dengan

iman bahwa Allah mendamaikan dunia ke-

pada diri-Nya dalam Kristus dan tunduk ke-

pada-Nya akan menerima dari Tuhan pem-

berian yang sangat berharga dengan pembe-

naran yang segera menjadi buah damai de-

ngan Allah. Rm. 5:1. Tidak lagi menjadi sa-

saran murka Allah, orang-orang percaya

yang dibenarkan telah menjadi tujuan per-

kenan Allah. Dengan terbukanya jalan menu-

ju takhta Allah melalui Kristus, mereka me-

nerima kuasa Roh Kudus untuk meruntuh-

kan segala rintangan atau tembok pemisah

dari perseteruan antara manusia yang dilam-

bangkan dengan perseteruan yang ada 

antara orang Yahudi dengan yang bukan Ya-

hudi. Bacalah Ef. 2:14-16.”

Sia-sia Keselamatan melalui Perbuat-

an. Pelayanan yang dilakukan Allah sehu-

bungan dengan pendamaian menunjukkan

betapa sia-sianya usaha manusia untuk mem-

peroleh keselamatan melalui perbuatan me-

nurut hukum. Pandangan yang berharap ke-

pada anugerah Ilahi akan menuntun kepada

penerimaan kebenaran pembenaran yang di-

mungkinkan melalui iman dalam Kristus. Pe-

ngucapan syukur dari orang-orang yang te-

lah mengalami pengampunan menjadikan

penurutan sebagai suatu kegembiraan; oleh

sebab  itu amal bukanlah landasan kesela-

matan, melainkan buah-buahnya.16

Sebuah Hubungan Baru dengan Allah.

Dengan adanya pengalaman atas anugerah

Allah, yang memberikan kehidupan yang

sempurna Kristus atas penurutan, kebenaran-

Nya, dan kematian-Nya yang mendamaikan

sebagai sebuah pemberian yang cuma-cuma,

menuntun kepada suatu hubungan yang le-

135Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus

bih dalam dengan Allah. Rasa syukur, puji-

an dan kegembiraan timbul, penurutan men-

jadi sebuah kesukaan, mempelajari Sabda-

Nya menjadi suatu kesenangan, sehingga pi-

kiran menjadi tempat tinggal yang siap bagi

Roh Kudus. Sebuah hubungan baru antara

Allah dan orang berdosa yang telah berto-

bat berlangsung. Persekutuan yang demiki-

an didasarkan atas kasih dan pujaan, bukan-

nya sebab  takut atau sebab  paksaan (Yoh.

15:1-10).

Makin dalam pemahaman kita atas anu-

gerah Allah dalam terang salib, makin berku-

ranglah kita membenarkan diri sendiri dan

semakin kita sadari berkat yang dicurahkan

kepada kita. Kuasa Roh Kudus yang lama

yang bekerja dalam Kristus ketika Ia bang-

kit dari kubur akan mengubah hidup. Kita

akan mengalami kemenangan atas dosa dari

hari ke hari, bukannya kegagalan.

Motivasi Tugas itu. Kasih yang menak-

jubkan itu diperlihatkan dalam pelayanan

Allah dalam pendamaian melalui Yesus Kris-

tus yang menggerakkan kita untuk memba-

gi-bagikan Injil kepada orang lain. Jika kita

sendiri telah mengalaminya, kita tidak da-

pat menahan rahasia kenyataan bahwa Al-

lah tidak akan memperhitungkan dosa ter-

hadap orang-orang yang telah menerima kor-

ban Kristus atas dosa-dosa. Kita akan me-

nyampaikan undangan Injil itu, “Sebab Al-

lah mendamaikan dunia dengan diri-Nya

oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan

pelanggaran mereka. Ia telah mempercaya-

kan berita pendamaian itu kepada kami” (2

Kor. 5:20, 21).

________________:

1. George E. Ladd, A Theology of the New Testament (Grand Rapids, MI: Wm B. Eerdmans, 1974), hlm. 453.

2. “Atonement”, SDA Bible Dictionary, edisi revisi., hlm. 97.

3. Untuk diskusi lengkap mengenai konsep Alkitabiah ini, baca Seventh-day Adventists Answer Questions on Doctrine

(Washington D.C.: Review and Herald, 1957), hlm. 341-355.

4. Vincent Taylor, The Cross of Christ (London: Macmillan, 1956), hlm. 88, 89.

5. Hans K. LaRondele, Christ Our Salvation (Mountain View, CA: Pacific Press, 1980), hlm. 25, 26.

6. Raoul Dederen, “Atoning Aspects in Christ’s Death,” in The Sanctuary and the Atonement, eds., Arnold V, Wallenkampf

dan W. Richard Lesher, (Washington. D.C.: Biblical Research Institute of the General Conference of Seventh-day Ad-

ventists, 1981), hlm. 295. la menambahkan: “Di kalangan penyembah berhala perdamaian dianggap sebagai suatu

kegiatan yang membuat penyembahnya mampu dengan diri sendiri menyediakannya sehingga membujuk supaya dewa

mengubah pikirannya. Ia sekadar mcnyuap dewanya supaya berkenan kepadanya. sedang  di dalam Kitah Suci per-

damaian penebusan dianggap muncul dari kasih Allah” (ibid, hlm. 317).

7. LaRondelle, hlm. 26.

8. Ibid., hlm. 26, 27.

9. Dederen, hlm. 295.

10. LaRondelle, hlm. 28. Kutipan di sini herasal dari H.G Link dan C.Brown, “Reconciliation,” The New International

Dictionary of New Testament Theology (Grand Rapids. MLZondervan, 1978), jilid 3, hlm. 162.

11. LaRondelle, hlm. 30.

12. Baca White, Christ’s Object Lessons (Washington, D.C.: Review and Herald, 1941), hlm. 312.

13. Philip Schaff, History of the Christian Church (Grand Rapids, MI: Wm B. Eerdmans, 1962), jilid 1, hlm. 173.

14. Wilbur M. Smith, “Twentieth-Century Scientists and the Resurrection of Christ” Christianity Today, 15 April 1957, hlm.

22. Argumentasi mengenai kesejarahan kcbangkitan kembali, baca Josh McDowell, Evidence That Demands a Verdict

(Campus Crusade for Christ, 1972), hlm. 185-274.

15. LaRondelle, hlm. 32, 33.

16. Lihat Hyde, “What Christ’s life Means to Me,” Adventist Review, 6 November 1986, hlm. 19.

136

Kasih dan kemurahan Tuhan yang tiada taranya membuat Kristus,

yang tidak mengenal dosa, menjadi dosa sebab  kita, supaya di dalam

Dia kita dapat dibenarkan di hadapan Allah. Berkat bimbingan Roh

Kudus kita pun merasakan keperluan kita, mengaku bahwa kita penuh

dengan dosa, bertobat dari pelanggaran-pelanggaran kita, dan melatih

iman dalam Kristus Yesus sebagai Tuhan kita, sebagai Pengganti dan

Teladan. Iman ini yang mendatangkan keselamatan melalui kuasa Ilahi

dari Sabda merupakan karunia anugerah Allah. Melalui Kristus kita

dibenarkan, diangkat sebagai putra putri Allah, dan dilepaskan dari

perhambaan dosa. Melalui Roh kita dilahirkan kembali serta

dikuduskan; Roh membarui pikiran kita, menuliskan hukum kasih Allah

di dalam hati kita, dan kepada kita diberikan kuasa untuk menghidupkan

suatu kehidupan yang kudus. Kalau kita tinggal di dalam Dia maka kita

akan menjadi orang yang turut mengambil bagian dalam tabiat Ilahi

dan memperoleh jaminan keselamatan sekarang dan juga pada

penghakiman itu. —___________________ —10.

137

Beberapa abad yang lalu, Gembala dari

Hermas bermimpi tentang seorang wa-

nita yang baik berusia lanjut. Di dalam mim-

pinya, wanita itu berubah, sementara waktu

berjalan terus, tubuhnya tetap tua dan ram-

but beruban, namun wajah wanita itu tam-

pak awet muda. Ia telah menjadi muda kem-

bali.

T.F. Torrance membandingkan wanita ini

dengan jemaat.l Orang-orang Kristen tidak

boleh bersifat statis. Jika Roh Kristus diam

di dalam mereka (Rm. 8:9) maka mereka

akan mengalami proses perubahan.

Paulus berkata, “Sebagaimana Kristus te-

lah mengasihi jemaat dan telah menyerah-

kan diri-Nya baginya untuk menguduskan-

nya, sesudah Ia menyucikannya dengan me-

mandikannya dengan air dan firman, supaya

dengan demikian Ia menempatkan jemaat di

hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa

cacat atau kerut atau yang serupa itu, namun 

supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef.

5:25-27). Kesucian yang demikianlah yang

seharusnya menjadi cita-cita jemaat. Oleh

sebab  itu, orang-orang beriman yang ber-

sekutu ke dalam jemaat dapat menjadi saksi

bahwa “meskipun manusia lahiriah kami

semakin merosot, namun manusia batiniah

kami dibarui dari sehari ke sehari (2 Kor.

4:16). “Dan kita semua mencerminkan ke-

muliaan Tuhan dengan muka yang tidak ber-

selubung. Dan sebab  kemuliaan itu datang-

nya dari Tuhan yang yaitu  Roh, maka kita

diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya,

dalam kemuliaan yang semakin besar” (2

Kor. 3:18). Perubahan ini merupakan pun-

cak Pentakosta.

Di dalam Kitab Suci gambaran pengala-

man orang-orang percaya—keselamatan,

pembenaran, penyucian, pembersihan dan

penebusan—dibicarakan sebagai (1) telah

dilengkapkan, (2) sekarang sedang diwujud-

kan, dan (3) akan nyata kemudian. Pemaha-

man atas ketiga pandangan ini membantu un-

tuk memecahkan ketegangan yang tampak

dalam penekanan yang relatif atas pembe-

nar-an dan penyucian. Oleh sebab  itu, bab

ini, terbagi atas tiga bagian penting yang

berka-itan dengan keselamatan orang per-

caya pada masa lalu, kini dan mendatang.

BAB 10

PENGALAMAN KESELAMATAN

138Pengalaman Keselamatan

PENGALAMAN KESELAMATAN

DAN MASA LAMPAU

Sebuah pengetahuan yang benar menge-

nai Allah dan kasih-Nya serta kemurahan-

Nya tidaklah cukup. Upaya yang dilakukan

dengan tidak mengikutsertakan Kristus, yak-

ni dengan kebajikan diri sendiri saja yaitu 

lancung (palsu). Pengalaman keselamatan

yang jauh menyusup ke dalam jiwa hanya

berasal dari Tuhan saja. Berbicara menge-

nai pengalaman ini, Kristus berkata, “Aku

berkata kepadamu, sebenarnya  jika seo-

rang tidak dilahirkan kembali, ia tidak da-

pat melihat Kerajaan Allah.... Jika seorang

tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak

dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh.

3:3, 5).

Hanya melalui Kristus Yesus saja seseo-

rang dapat pengalaman keselamatan, “sebab

di bawah kolong langit ini tidak ada nama

lain yang diberikan kepada manusia yang

olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:

12). Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebe-

naran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang

datang kepada Bapa, kalau tidak melalui

Aku” (Yoh. 14:6).

Pengalaman keselamatan menyangkut

pertobatan, pengakuan, keampunan, pembe-

naran dan penyucian.

Pertobatan. Menjelang penyaliban-Nya,

Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya

akan memberikan Roh Kudus, yang akan me-

nunjukkan Dia melalui upaya untuk “meng-

insafkan dunia akan dosa, kebenaran dan

penghakiman” (Yoh. 16:8). Ketika Pentakos-

ta, Roh Kudus menginsafkan orang atas per-

lunya mereka memperoleh seorang Juruse-

lamat, dan mereka menanyakan bagaimana-

kah mereka sebaiknya menyambutnya, ma-

ka Petrus menjawab, “Bertobatlah!” (Kis. 2:

37, 38; bandingkan 3:19).

1. Apakah pertobatan itu. Kata per-

tobatan yaitu  terjemahan dari bahasa Ibra-

ni nacham, “meminta maaf,’ “bertobat.” Pa-

danannya dalam bahasa Yunani metanoeo

yang berarti “mengubah pikiran seseorang,”

“merasa menyesal,” “bertobat.” Pertobatan

yang sejati timbul dalam satu perubahan

yang radikal dalam tingkah laku terhadap Al-

lah dan dosa. Roh Allah menginsafkan orang

yang menerima-Nya betapa seriusnya dosa

itu membawa mereka ke dalam suatu pe-

rasaan kebenaran Allah dan keadaan mere-

ka yang telah jauh terhilang. Mereka menga-

lami suatu perasaan duka mendalam, dan ra-

sa bersalah yang menekan. Dengan menga-

kui kebenaran sebab  “siapa menyembunyi-

kan pelanggarannya tidak akan beruntung,

namun  siapa mengakuinya dan meninggalkan-

nya akan disayangi” (Ams. 28:13), mereka

akan mengakui dosa-dosa mereka sampai se-

kecil-kecilnya. Dengan bertekad sepenuh ha-

ti, mereka tunduk sepenuhnya kepada Juru-

selamat serta meninggalkan tabiat mereka

yang penuh dengan dosa. Oleh sebab  itu,

pertobatan mencapai puncaknya dalam pe-

ngakuan—orang berdosa yang berpaling ke-

pada Allah (dari bahasa Yunani epistrophe,

“berpaling kepada,” bandingkan Kis. 15:3).2

Pertobatan Daud dari dosa-dosanya, ber-

zina dan membunuh, jelas merupakan con-

toh bagaimana pengalaman ini menyiapkan

jalan kemenangan terhadap dosa. sebab  di-

insafkan oleh Roh, ia merasa hina sebab  do-

sanya, meratapi nasibnya dan memohon pe-

nyucian: “Sebab aku sendiri sadar akan pe-

langgaranku, aku senantiasa bergumul de-

ngan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap

Engkau sajalah aku telah berdosa dan mela-

kukan apa yang Kau anggap jahat.” “Kasiha-

nilah aku, Ya Allah, menurut kasih setia-Mu,

hapuskanlah pelanggaranku menurut rah-

mat-Mu yang besar!” “Jadikanlah hatiku ta-

hir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku de-

139Pengalaman Keselamatan

ngan roh yang teguh” (Mzm. 51:3, 5, 6, 12).

Pengalaman Daud yang berikutnya menun-

jukkan bahwa pengampunan Allah tidak saja

menyediakan pengampunan bagi dosa teta-

pi juga memulihkan mereka kembali dari do-

sa.

Walaupun pertobatan mendahului peng-

ampunan, orang berdosa tidak dapat mela-

lui pertobatan itu melayakkan dirinya sendi-

ri untuk memperoleh jaminan berkat Allah.

sebenarnya , orang berdosa tidak dapat

menghasilkan dari diri sendiri pertobatan—

pertobatan itu karunia Allah (Kis. 5:31; ban-

dingkan Rm. 2:4). Roh Kudus yang menarik

orang berdosa kepada Kristus supaya orang

berdosa itu dapat memperoleh pertobatan de-

ngan hati yang sungguh-sungguh ikhlas me-

ratapi dosa.

2. Motivasi untuk bertobat. Kristus ber-

kata, “Dan Aku, jika  Aku ditinggikan dari

bumi, Aku akan menarik semua orang da-

tang kepada-Ku” (Yoh. 12:32). Hati menja-

di luluh dan takluk jika  kita merasakan

bahwa kematian Kristus membenarkan kita

serta melepaskan kita dari hukuman mati.

Cobalah bayangkan perasaan narapidana

yang sedang menunggu pelaksanaan hukum-

an mati tatkala tiba-tiba pengampunan di-

berikan padanya.

Di dalam Kristus orang berdosa bukan sa-

ja diampuni namun  juga dibebaskan—dan di-

nyatakan benar! Sebenarnya ia tidak layak

dan tidak akan dapat memperoleh perlakuan

demikian! Sebagaimana yang dinyatakan Ra-

sul Paulus, Kristus mati untuk membenarkan

kita tatkala kita masih dalam keadaan tidak

berdaya, penuh dengan dosa, kurang iman’

dan seteru Allah (Rm. 5:6-10). Tidak ada sen-

tuhan yang lebih dalam daripada sentuhan

jiwa yang dilakukan oleh kasih Kristus yang

mengampuni itu. jika  orang-orang ber-

dosa merenungkan kasih Ilahi yang tidak da-

pat diduga ini, yang diperlihatkan di atas ka-

yu salib, mereka menerima motivasi yang

paling tangguh yang mungkin didapat un-

tuk bertobat. Inilah kebajikan Allah yang me-

nuntun kita kepada pertobatan (Rm. 2:4).

Pembenaran. Di dalam kasih dan kemu-

rahan Allah yang tidak terduga dalamnya,

Allah menjadikan Kristus “yang tidak me-

ngenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa

sebab  kita, supaya dalam Dia kita dibenar-

kan oleh Allah” (2 Kor. 5:21). Melalui iman

dalam Kristus, hati dipenuhi dengan Roh-

Nya. Melalui iman yang sama ini, yang men-

jadi karunia anugerah Allah (Rm. 12:3; Ef.

2:8), orang-orang berdosa yang bertobat di-

benarkan (Rm. 3:28).

Istilah “Pembenaran” yaitu  terjemahan

dari bahasa Yunani dikaioma yang berarti “sya-

rat pembenaran, perbuatan,” “tindakan pem-

benaran,” “pemulihan nama baik,” dan dika-

iosis berarti “pembenaran,” “memulihkan na-

ma baik,””dibebaskan dari utang.” Kata kerja

dikaioo, artinya “dinyatakan dan diperlakukan

sebagai benar,” “dibebaskan,” “dibenarkan,”

“dilepaskan, dijadikan murni,” “pembenaran,”

“dipulihkan,” “melakukan yang adil,” mem-

beri gagasan tambahan atas makna istilah itu.

Secara umum, pembenaran, sebagaimana

digunakan menurut teologia, yaitu  “tindak-

an Ilahi yang dengannya Allah menyatakan

manusia yang menyesali dosanya dibenar-

kan, atau dianggap sebagai orang yang be-

nar. Pembenaran yaitu  kata lawan penghu-

kuman” (Rm. 5:16).4 Dasar pembenaran itu

bukanlah penurutan kita, melainkan Kristus,

“sama seperti oleh satu pelanggaran semua

orang beroleh penghukuman, demikian pula

oleh satu perbuatan kebenaran semua orang

beroleh pembenaran untuk hidup.... Demiki-

an pula oleh ketaatan satu orang semua orang

menjadi orang benar” (Rm. 5:18, 19). Ia telah

memberikan penurutan ini kepada orang-

140Pengalaman Keselamatan

orang percaya yang “telah dibenarkan de-

ngan cuma-cuma sebab  penebusan dalam

Kristus Yesus” (Rm. 3:24).”Bukan sebab 

perbuatan baik yang telah kita lakukan, namun 

sebab  rahmat-Nya” (Tit. 3:5).

1. Peranan iman dan perbuatan. Ba-

nyak orang mempunyai keyakinan yang sa-

lah bahwa kedudukan mereka di surga ber-

gantung atas perbuatan baik atau perbuatan

buruk mereka. Mengenai pertanyaan bagai-

mana orang dibenarkan di hadapan Tuhan

Allah, jelas sekali Paulus berkata, “Malah-

an segala sesuatu kuanggap rugi, sebab  pe-

ngenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, le-

bih mulia daripada semuanya, ... supaya aku

memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia

bukan dengan kebenaranku sendiri... mela-

inkan dengan kebenaran sebab  kepercayaan

kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah

anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Flp.

3:8, 9). Ia menunjuk kepada Abraham yang

percaya “kepada Tuhan, dan Tuhan memper-

hitungkan hal itu kepadanya sebagai kebe-

naran” (Rm. 4:3; Kej. 15:6). Ia dibenarkan

sebelum penyunatan, diperhitungkan benar

bukan sebab  hal itu (Rm. 4:9, 10).

Kalau begitu, iman yang bagaimanakah

yang dimiliki Abraham? Kitab Suci menya-

takan bahwa “sebab  iman Abraham taat” tat-

kala Allah memanggilnya, ia segera mening-

galkan tanah kelahirannya dan kemudian ber-

angkat “dengan tidak mengetahui tempat

yang ia tujui” (Ibr. 11:8-10; bandingkan Kej.

12:4; 13:18). la memiliki iman sejati, iman

yang hidup dalam Tuhan yang dinyatakan-

nya melalui penurutan. Hanyalah berdasar-

kan iman yang dinamis inilah dibenarkan.

Rasul Yakobus juga mengamarkan ten-

tang pemahaman lain yang kurang tepat me-

ngenai dibenarkan oleh iman: bahwa sese-

orang dapat dibenarkan oleh iman tanpa me-

nunjukkan hubungan pekerjaan. Ia menun-

jukkan bahwa iman yang sejati tidak akan

ada tanpa perbuatan. Seperti halnya Paulus,

Yakobus melukiskan masalahnya dari sudut

pengalaman Abraham. Dengan perbuatan

Abraham mempersembahkan anaknya, Ishak

(Yak. 2:21) ditunjukkannya imannya. “Ka-

mu lihat,” kata Yakobus, “bahwa iman be-

kerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan

oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi

sempurna” (Yak. 2:22). “Jika iman itu tidak

disertai perbuatan, maka iman itu pada hake-

katnya yaitu  mati” (Yak. 2:17). Pengalaman

Abraham menyatakan perbuatan yaitu  buk-

ti hubungan yang sejati dengan Allah. Iman

yang membawa kepada pembenaran yaitu 

iman yang hidup yang berbuat (Yak. 2:24).

Paulus dan Yakobus sepakat mengenai

pembenaran oleh iman. Sementara Paulus

mengamanatkan betapa tidak benarnya pen-

carian pembenaran melalui perbuatan, dan

Yakobus mengaitkan betapa berbahayanya

konsep pernyataan pembenaran tanpa per-

buatan. Baik amal maupun iman yang mati

tidaklah akan menuntun kepada pembenar-

an. Hal itu dapat diwujudkan hanyalah de-

ngan iman yang sejati yang bekerja berdasar-

kan kasih (Gal. 5:6) yang memurnikan jiwa.

2. Pengalaman pembenaran. Melalui

pembenaran oleh iman di dalam Kristus, ke-

benaran-Nya dipertalikan kepada kita. Kita

menjadi benar di hadapan Allah sebab  Kris-

tus telah menjadi Pengganti kita. Mengenai

Allah, kata Paulus, “Dia yang tidak menge-

nal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa kare-

na kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan

oleh Allah” (2 Kor. 5:21). Sebagai orang-

orang berdosa yang bertobat, kita mengalami

pengalaman dan pengampunan yang leng-

kap. Kita diperdamaikan kepada Allah!

Khayal yang diperoleh Zakharia menge-

nai Yosua, sang imam besar, digambarkan

dengan sangat indahnya akan pembenaran.

141Pengalaman Keselamatan

Dalam khayal itu dikatakan Yosua berdiri di

hadapan malaikat Tuhan dengan mengena-

kan pakaian kotor, yang mewakili betapa na-

jisnya dosa itu. Ketika ia berdiri di sana, Se-

tan meminta supaya ia dihukum. Tuduhan

Setan memang benar—Yosua memang tidak

layak. Akan namun  Tuhan, dalam kemurahan-

Nya, mengecam Setan: “Bukankah dia ini

puntung yang telah ditarik dari api?” (Za. 3:

2). Bukankah ini milikku yang berharga yang

telah ku pelihara dengan cara istimewa?

Tuhan memerintahkan agar pakaian yang

kotor itu disingkirkan dengan segera, seraya

berkata, “Tanggalkanlah pakaian yang ko-

tor itu dari padanya.... Lihat, dengan ini aku

telah menjauhkan kesalahanmu dari pada-

mu! Aku akan mengenakan kepadamu pa-

kaian pesta” (Za. 3:4).Tuhan kita yang pe-

nuh kasih dan kemurahan melenyapkan tu-

duhan Setan, membenarkan orang berdosa

yang gemetar itu, menutupinya dengan ju-

bah kebenaran Kristus. Sebagaimana jubah

Yosua melambangkan dosa, begitu pula de-

ngan jubah baru melambangkan pengalaman

baru orang yang beriman dalam Kristus. Da-

lam proses pembenaran itu, dosa-dosa yang

diakui dan diampuni dialihkan kepada Anak

Domba si penanggung dosa, Anak Allah

yang kudus. “Orang percaya yang bertobat

serta tidak layak itu, bagaimanapun, diberi

jubah kebenaran Kristus. Penggantian jubah

ini, yang Ilahi, merupakan transaksi yang

menyelamatkan, yaitu  ajaran Alkitabiah

mengenai pembenaran.” Orang percaya yang

dibenarkan mengalami pengampunan dan

dibersihkan dari dosa-dosanya.

Hasil-hasilnya. Apakah hasil-hasil per-

tobatan dan pembenaran?

1. Penyucian. Kata “penyucian” yaitu 

terjemahan dari kata Yunani hagiasmos,

yang artinya “kekudusan,” “penahbisan,”

”penyucian,” dari hagiazo, yang artinya

“membuat, kudus,” “menahbiskan,” “me-

nguduskan,” “mengasingkan.” Padanannya

dalam bahasa Ibrani ialah qadash, “memi-

sahkan dari kegunaan yang biasa.”6

Pertobatan sejati dan pembenaran me-

nuntun kepada penyucian. Pembenaran dan

penyucian berhubungan erat,7 berbeda teta-

pi tidak dapat dipisahkan sama sekali. Ada

dua fase keselamatan yang dinyatakannya:

Pembenaran ialah apa yang dilakukan Tu-

han bagi kita, sedang  penyucian yaitu 

apa yang dilakukan Tuhan dalam kita.

Penyucian maupun pembenaran sama se-

kali bukanlah hasil jasa sebab  perbuatan.

Kedua-duanya hanyalah menunjuk kepada

karunia Kristus dan kebenaran-Nya. “Kebe-

naran yang dengannya kita dibenarkan ada-

lah dihisabkan, kebenaran yang dengannya

kita disucikan yaitu  dibenarkan. Yang per-

tama merupakan hak kita untuk masuk ke

surga, sedang  yang kedua yaitu  kela-

yakan kita masuk ke dalam surga.”8

Ketiga fase penyucian yang dikemukakan

Alkitab ialah: (1) perbuatan atau tindakan

penyempurnaan atas masa lalu orang yang

beriman; (2) sebuah proses yang masih ber-

langsung dalam pengalaman orang beriman

pada masa kini; (3) dan hasil akhir yang di-

alami orang beriman pada waktu kedatang-

an Kristus yang kedua kali.

Terhadap masa lalu orang beriman, pada

saat pembenaran orang beriman, maka itu

juga dikuduskan “dalam nama Tuhan Yesus

Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Kor.

6:11). Pria maupun wanita menjadi “orang

saleh.” Pada keadaan yang demikian orang

yang beriman ditebus, dan sepenuhnya men-

jadi milik Allah.

Sebagai hasil panggilan Tuhan (Rm. 1:7),

orang-orang yang beriman disebut “orang

kudus” sebab  mereka berada “dalam Kris-

tus Yesus” (Flp. 1:1; baca juga Yoh. 15:1-7),

142Pengalaman Keselamatan

bukan sebab  mereka sudah mencapai suatu

keadaan tidak berdosa. Keselamatan yaitu 

pengalaman yang sedang berlangsung. “Dia

telah menyelamatkan kita,” kata Paulus, “ka-

rena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran

kembali dan oleh pembaharuan yang diker-

jakan oleh Roh Kudus” (Tit. 3:5), telah meng-

asingkan serta menguduskan kita untuk tuju-

an yang suci serta untuk berjalan bersama

Kristus.

2. Diangkat ke dalam keluarga Allah.

Pada saat yang bersamaan orang-orang per-

caya yang baru telah menerima “Roh yang

menjadikan.” Allah telah menjadikan mere-

ka seperti anak-Nya, yang berarti menjadi

putra-putri Raja! Ia telah menjadikan mere-

ka milik-Nya, ahli waris, “menerimanya ber-

sama-sama dengan Kristus” (Rm. 8:15-17).

yaitu  suatu kehormatan dan kegembiraan!

3. Jaminan keselamatan. Pembenaran

menjadi jaminan penerimaan orang beriman.

Didatangkannya kegembiraan sebab  diper-

satukan kembali dengan Allah sekarang juga.

Tidak menjadi soal betapa berdosa pun sese-

orang pada masa lalu, Allah mengampuni se-

mua dosa kita sehingga kita tidak berada lagi

di bawah hukuman dan kutuk hukum. Pene-

busan telah menjadi sebuah kenyataan. “Se-

bab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita

beroleh penebusan, yaitu pengampunan do-

sa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya”

(Ef. 1:7).

4. Awal kehidupan baru yang penuh

kemenangan. Pelaksanaan bahwa darah Ju-

ruselamat menutupi dosa-dosa kita pada ma-

sa lampau mendatangkan kesembuhan tu-

buh, jiwa dan pikiran. Rasa bersalah tidak

diperlukan lagi sebab  di dalam Kristus se-

muanya sudah diampuni dan semuanya men-

jadi baru. Dengan kecurahan anugerah-Nya

dari hari ke hari, Kristus mulai mengubah

kita ke dalam gambar Allah.

Sementara iman kita bertumbuh di dalam

Dia, pemulihan dan perubahan kita menda-

pat kemajuan, dan diberikan-Nya kepada

kita kemenangan atas kuasa kegelapan. Ke-

menangan-Nya atas dunia ini memberikan

jaminan kelepasan kita dari perhambaan

dosa (Yoh. 16:33).

5. Pemberian hidup kekal. Hubungan ki-

ta yang baru dengan Kristus mendatangkan

hidup kekal. Yohanes mengukuhkan, “Barang-

siapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; ba-

rangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak me-

miliki hidup” (1 Yoh. 5:12). Dosa kita yang

banyak pada masa lalu telah diselesaikannya;

melalui Roh yang tinggal di dalam kita, kita

dapat menikmati berkat keselamatan.

PENGALAMAN KESELAMATAN

DAN MASA KINI

Melalui darah Kristus yang menyucikan,

membenarkan serta memurnikan dan

menguduskan, orang percaya yaitu  ”cipta-

an baru: yang lama sudah berlalu, sesung-

guhnya yang baru sudah datang” (2 Kor.

5:17).

Ajakan untuk Penyucian Hidup

Keselamatan mencakup menghidupkan

satu kehidupan yang disucikan berdasarkan

apa yang telah digenapkan oleh Kristus di

Golgota. Paulus mengajak umat percaya un-

tuk menghidupkan suatu kehidupan yang

berserah oleh perbuatan etis yang suci dan

bermoral (1 Tes. 4:7). Untuk menyanggup-

kan mereka mempunyai pengalaman penyu-

cian, maka Tuhan memberikan kepada umat

percaya “Roh kekudusan” (Rm. 1:4). “Me-

nurut kekayaan kemuliaan-Nya,” Paulus se-

lanjutnya berkata, Tuhan akan “menguatkan

143Pengalaman Keselamatan

dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya, se-

hingga oleh imanmu Kristus diam di dalam

batinmu” (Ef. 3:16, 17).

Sebagai ciptaan baru, orang-orang yang

beriman mempunyai tanggung jawab yang

baru. “Sebab lama seperti kamu telah menye-

rahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi

hamba kecemaran dan kedurhakaan yang

membawa kamu kepada kedurhakaan,” kata

Paulus, “ demikian hal kamu sekarang harus

menyerahkan anggota-anggota tubuhmu men-

jadi hamba kebenaran yang membawa kamu

kepada pengudusan” (Rm. 6:19). Maka me-

reka pun hidup “oleh Roh” (Gal. 5:25).

Orang-orang percaya yang dipenuhi Roh

itu “tidak hidup menurut daging, namun  me-

nurut Roh” (Rm. 8:4). Mereka diubah kare-

na “keinginan daging yaitu  maut, namun 

keinginan Roh yaitu  hidup dan damai se-

jahtera” (Rm. 8:6). Dengan tinggalnya Roh

Allah di dalam diri mereka, maka mereka “ti-

dak hidup dalam daging, melainkan dalam

Roh” (Rm. 8:9).

Tujuan tertinggi kehidupan yang dipenu-

hi dengan Roh ialah supaya berkenan kepa-

da Allah (1 Tes 4:1). Penyucian yaitu  ke-

hendak Allah, kata Paulus. Oleh sebab  itu,

“kamu menjauhi percabulan” dan “orang ja-

ngan memperlakukan saudaranya dengan ti-

dak baik atau memperdayakannya.... Allah

memanggil kita bukan untuk melakukan apa

yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1 Tes.

4:3, 6, 7).

Perubahan batiniah. Pada kedatangan

Kristus yang kedua kali kita akan diubah seca-

ra jasmani. Tubuh yang fana dan rusak akan

dijadikan abadi (1 Kor 15:51-54). Bagaima-

napun, tabiat kita harus mengalami perubahan

dalam persiapan menyongsong hari kedatang-

an Yesus kedua kali itu.

Perubahan tabiat berkaitan dengan aspek

mental dan rohani terhadap citra Allah, bah-

wa “batiniah” itu dibaharui dari hari ke hari

(2 Kor. 4:16; Rm. 12:2). Seperti halnya pe-

rempuan tua yang diceritakan dalam kisah

Gembala Hermas, gereja bertambah muda

di dalam—setiap orang Kristen yang benar-

benar berserah diubah dari kemuliaan kepa-

da kemuliaan, pada hari kedatangan Kristus

yang kedua kali, perubahan untuk menjadi

serupa dengan gambar Allah disempurnakan.

1. Keterlibatan Kristus dan Roh Ku-

dus. Hanya Khalik saja yang dapat mengada-

kan pekerjaan yang kreatif di dalam meng-

ubah hidup kita (1 Tes. 5:23).Namun demi-

kian, tanpa kerja sama kita, Ia tidak dapat

melakukan hal itu. Kita harus menempatkan

diri kita sendiri dalam saluran pekerjaan Roh,

yang dapat kita lakukan dengan memandang

Kristus. jika  kita merenung-renungkan

hidup Kristus, maka Roh Kudus akan me-

mulihkan kemampuan jasmani, pikirani dan

rohani (bandingkan dengan Tit. 3:5). Tugas

Roh Kudus termasuk di dalamnya menyata-

kan Kristus dan memulihkan kita kembali ke-

pada gambar-Nya (bandingkan Rm. 8:1-10).

Allah ingin hidup di dalam umat-Nya. Ka-

rena Ia pernah berjanji “Aku akan diam ber-

sama-sama dengan mereka” (2 Kor. 6:16;

bandingkan 1 Yoh. 3:24; 4:12) sehingga Pau-

lus dapat berkata: “Kristus yang hidup di da-

lam aku” (Gal. 2:20; bandingkan Yoh. 14:23).

Dengan adanya Khalik itu dalam kehidupan

dari sehari ke sehari maka orang-orang per-

caya dibarui secara batiniah (2 Kor. 4:16),

membarui pikiran mereka (Rm. 12:2; lihat

juga Flp. 2:5).

2. Turut serta dalam tabiat Ilahi. “Jan-

ji-janji yang berharga dan yang sangat be-

sar” yang diberikan Kristus, menjanjikan kua-

sa Ilahi-Nya untuk melengkapkan perubah-

an tabiat kita (2 Ptr. 1:4). Jalan untuk mem-

peroleh kuasa ini memungkinkan kita rajin

144Pengalaman Keselamatan

untuk “dengan sungguh-sungguh berusaha

untuk menambahkan kepada imanmu keba-

jikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,

dan kepada pengetahuan penguasaan diri, ke-

pada penguasaan diri ketekunan, dan kepa-

da ketekunan kesalehan, dan kepada kesaleh-

an kasih akan saudara-saudara, dan kepada

kasih akan saudara-saudara kasih akan se-

mua orang” (2 Ptr. 1:5-7). “Sebab jika  se-

muanya itu ada padamu dengan berlimpah-

limpah,” kata Petrus, “kamu akan dibuatnya

menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan-

mu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. namun 

barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia

menjadi buta dan picik” (2 Ptr. 1:8, 9).

a. Hanya melalui Kristus. Apa yang

mengubah manusia menjadi serupa dengan

Penciptanya ialah dengan mengenakan atau

turut ambil bagian dalam Tuhan kita Yesus

Kristus (Rm. 13:14; Ibr. 3:14), yang “oleh

pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Ku-

dus” (Tit. 3:5).

Yakni dengan menyempurnakan kasih

Allah di dalam kita (1 Yoh. 4:12). Inilah se-

buah misteri yang erat kaitannya dengan pen-

jelmaan Anak Allah. Sebagaimana Roh Ku-

dus menyanggupkan Kristus yang Ilahi itu

mengambil rupa manusia, begitu pula Roh

menyanggupkan kita turut mengambil bagi-

an dalam sifat-sifat Ilahi. Dengan pemilikan

sifat ini (yang Ilahi) maka pembaharuan pun

dapat berlangsung dalam batin seseorang,

membuat kita menjadi serupa dengan Kris-

tus, walaupun dalam tingkat yang agak ber-

beda. Kalau Kristus menjadi manusia, namun 

orang-orang percaya tidaklah menjadi Ilahi.

sebenarnya , mereka menjadi serupa de-

ngan Allah dalam tabiat.

b. Sebuah proses yang dinamis. Penyu-

cian itu progresif. Dengan berdoa dan mem-

pelajari Firman maka kita dapat senantiasa

bertumbuh dalam persekutuan dengan Allah.

Hanya sekadar pemahaman intelektual

atas rencana keselamatan tidaklah memadai.

“Aku berkata kepadamu, sebenarnya  jika-

lau kamu tidak makan daging Anak Manu-

sia dan minum darah-Nya,” kata Yesus, “ka-

mu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum

darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal

dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir

zaman. Sebab daging-Ku yaitu  benar-benar

makanan dan darah-Ku yaitu  benar-benar

minuman. Barangsiapa makan daging-Ku

dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam

Aku dan Aku di dalam dia”(Yoh. 6:53-56).

Dengan jelas dikatakan bahwa orang-

orang percaya haruslah bersatu dengan sab-

da Kristus. Yesus berkata, “Perkataan-per-

kataan yang Kukatakan kepadamu yaitu  roh

dan hidup” (Yoh. 6:63; lihat juga Mat. 4:4).

Tabiat itu terbuat dari apa yang “dima-

kan dan diminum” pikiran. jika  kita men-

cerna roti hidup maka kita diubahkan men-

jadi serupa dengan Kristus.

3. Kedua Perubahan. Pada tahun 1517,

tahun yang lama ketika Luther memancang-

kan ke-95 dalil ke pintu biara di Wittenberg,

Jerman. Rafael mulai melukiskan lukisan

Transfigurasi (Perubahan) yang sangat terke-

nal itu di Roma. Kedua peristiwa ini memi-

liki persamaan yang berarti. Tindakan Luther

menandai kelahiran Protestantisme, lukisan

Rafael walau pun tidak sengaja, memberi-

kan ringkasan semangat Reformasi.

Lukisan itu menunjukkan Kristus berdiri

di atas bukit dan dari lembah ada orang yang

dirasuk Setan memandang kepada-Nya de-

ngan penuh pengharapan (bandingkan Mrk.

9:2-29). Kedua kelompok murid-murid itu

—satu kelompok di atas bukit, yang satu ke-

lompok lagi di lembah—menggambarkan

dua corak orang Kristen.

145Pengalaman Keselamatan

Murid-murid yang ikut ke bukit itu ingin

tetap bersama Kristus, tampaknya kurang pe-

duli terhadap kebutuhan orang-orang yang

berada di lembah. Selama berabad-abad ba-

nyak orang yang membangun di atas “bukit”

jauh dari orang-orang yang berkekurangan di

dunia ini. Pengalaman mereka yaitu  doa tan-

pa perbuatan.

Sebaliknya, murid-murid yang ada di lem-

bah bekerja tanpa doa—dan usaha mereka un-

tuk mengusir Iblis tidak berhasil. Orang ba-

nyak terperangkap apakah itu dalam perangkap

bekerja bagi orang lain tanpa kuasa atau ber-

doa banyak tanpa melakukan sesuatu pun bagi

orang lain. Kedua jenis orang Kristen ini me-

merlukan citra Allah dipulihkan dalam mere-

ka.

a. Perubahan sejati. Harapan Allah ia-

lah mengubah manusia yang telah jatuh da-

lam dosa itu kepada gambar-Nya dengan

mengubah kemauan mereka, pikirannya, ke-

inginannya serta tabiat mereka. Roh Kudus

mendatangkan kepada orang percaya satu

perubahan pandangan yang nyata. Buah-bu-

ahnya ialah “Kasih, sukacita, damai sejah-

tera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, ke-

setiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”

(Gal. 5:22, 23), kini menjadi gaya hidup me-

reka—walaupun mereka masih tetap memi-

liki tubuh yang fana sampai kedatangan Kris-

tus kembali.

Jika kita tidak menghalangi Kristus maka

Dia “akan menyamakan diri-Nya dengan

pemikiran dan tujuan kita, memadukan hati

dan pikiran kita menjadi selaras dengan ke-

hendak-Nya, sehingga jika  kita mengiku-

ti Dia, kita tidak akan melakukan kehendak

kita sendiri. Kemauan, yang dibersihkan dan

disucikan, akan mencapai puncak kenik-

matannya dalam melayani-Nya.”9

b. Kedua tujuan. Pemuliaan Kristus me-

nampakkan hal yang mencolok lainnya. Kris-

tus dipermuliakan, namun  dalam satu hal ter-

tentu, begitulah anak lelaki yang berada di

lembah itu. Anak muda itu telah diubah ke

dalam citra Iblis (baca Mrk. 9:1-29). Di sini

kita melihat gambaran dua rencana yang

amat bertentangan satu sama lain—rencana

Allah untuk memulihkan kita dan rencana

Setan untuk membinasakan kita. Kitab Suci

mengatakan Allah mampu memelihara kita

“dari kejatuhan” (Yud. 24). Sebaliknya, Set-

an melakukan upayanya dengan segala cara

sehingga kita tetap dalam keadaan berdosa.

Hidup senantiasa ada hubungannya de-

ngan perubahan yang terus-menerus. Tidak

ada basis netral. Kita mau ditinggikan atau-

kah direndahkan. Kita yaitu  “hamba dosa”

atau “hamba kebenaran” (Rm. 6:17, 18). Sia-

pa yang menempati pikiran kita itulah yang

menguasai kita. Jika, melalui Roh Kudus,

Kristus menempati pikiran kita, maka kita

menjadi umat yang seperti Kristus—hidup

yang dipenuhi dengan Roh akan senantiasa

“menawan segala pikiran dan menaklukkan-

nya kepada Kristus” (2 Kor. 10:5). namun 

jika  tidak bersama Kristus maka kita ter-

cabut dari sumber hidup dan berubah serta

membuat kebinasaan kita tidak terelakkan

lagi.

Kesempurnaan Kristus. Apakah yang di-

maksud dengan kesempurnaan menurut Al-

kitab? Bagaimanakah itu dapat diperoleh?

1. Kesempurnaan yang Alkitabiah. Ka-

ta “sempurna” dan “kesempurnaan” yaitu 

terjemahan dari bahasa Ibrani atau tamim,

yang berarti “lengkap,” “betul,” “damai se-

jahtera,” “bunyi,” “sehat,” atau “tidak ber-

cacat.” Umumnya kata teleios dalam bahasa

Yunani berarti “lengkap,” “sempurna,” “de-

wasa,” “matang,” “berkembang dengan ba-

ik,” dan “mencapai sasarannya.”10

Di dalam Perjanjian Lama, jika  digu-

146Pengalaman Keselamatan

nakan sehubungan dengan manusia, kata itu

mengandung suasana relatif. Nuh, Abraham

dan Ayub masing-masing digambarkan seba-

gai orang yang sempurna atau tidak berca-

cat-cela (Kej. 6:9; 17:1; 22:18; Ayb. 1:1, 18),

walaupun sebenarnya orang itu mempunyai

ketidaksempurnaan (Kej. 9:21, 20; Ayb. 40:

2-5).

Di dalam Perjanjian Baru kata sempurna

sering digunakan untuk menggambarkan

orang yang matang yang telah menghayati

kehidupan yang terbaik yang dapat dilaku-

kannya dalam terang yang diperolehnya, dan

memperoleh kerohanian yang potensial, be-

gitu pula dalam kemampuan mental, dan jas-

mani (bandingkan 1 Kor. 14:20; Flp. 3:15;

Ibr. 5:14). Orang-orang yang percaya harus-

lah sempurna dalam keterbatasannya, kata

Kristus, sebagaimana Kristus sempurna da-

lam ketidakterbatasan-Nya, Kristus yang ju-

ga memiliki ruang lingkup yang sempurna

(bandingkan Mat. 5:48). Pada pemandangan

Allah, seorang yang sempurna ialah yang

memiliki hati dan hidupnya sepenuhnya di-

serahkan untuk mengabdi dan berbakti kepa-

da Allah, yang senantiasa bertumbuh dalam

pengetahuan Ilahi, yang melalui anugerah-

Nya, hidup sesuai dengan terang yang dite-

rimanya, bersuka-suka dalam suatu kehidup-

an yang menang (bandingkan Kol. 4:12; Yak.

3:2).

2. Kesempurnaan yang lengkap dalam

Kristus. Bagaimana kita dapat sempurna?

Roh Kuduslah yang mendatangkan kesem-

purnaan Kristus di dalam kita. Melalui iman

maka kesempurnaan tabiat Kristus menjadi

milik kita. Orang tidak dapat menyatakan

bahwa kesempurnaan itu mandiri, seolah-

olah ia milik bawaan mereka, atau milik me-

reka dengan sendirinya. Kesempurnaan ada-

lah pemberian Allah.

Jika terpisah dari Kristus umat manusia

itu tidak akan dapat memperoleh pembenar-

an. “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan

Aku di dalam dia,” kata Yesus, “ia berbuah

banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat

berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Di dalam Kris-

tus, “yang oleh Allah telah menjadi hikmat

bagi kita. Ia membenarkan dan mengudus-

kan dan menebus kita” (1 Kor. 1:30).

Kadar kesempurnaan, kita peroleh di da-

lam Kristus. Untuk semuanya, Ia melengkap-

kan pengudusan dan penebusan kita. Tiada

seorang pun yang dapat menambahkan ke-

pada apa yang telah dilakukan-Nya. Jubah

pesta perkawinan yang kita miliki, atau ju-

bah kebenaran, telah ditenun oleh kehidup-

an Kristus, kematian dan kebangkitan-Nya.

Roh Kudus kini melaksanakan penyelesaian

dan pengerjaannya di dalam kehidupan Kris-

ten. Dengan jalan seperti inilah kita dapat”

dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”

(Ef. 3:19).

3. Bergerak menuju kesempurnaan.

Sebagai umat percaya, peranan apakah yang

kita lakukan di dalam semua ini? Dengan

berada di dalam Kristus, kita mengalami per-

tumbuhan kepada kedewasaan rohani. Mela-

lui karunia Allah kepada jemaat-Nya kita da-

pat mengembangkan “kedewasaan penuh,

dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan

kepenuhan Kristus” (Ef. 4:13). Kita harus

bertumbuh melampaui pengalaman rohani

masa kanak-kanak (Ef. 4:14), dari kebenar-

an dasar pengalaman Kristen menuju kepa-

da “makanan keras” yang disediakan bagi

orang-orang Kristen yang dewasa (Ibr. 5:14).

“Sebab itu,” kata rasul Paulus, “marilah kita

tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran ten-

tang Kristus dan beralih kepada perkem-

bangannya yang penuh” (Ibr. 6:1). “Dan ini-

lah doaku,” katanya, “semoga kasihmu ma-

147Pengalaman Keselamatan

kin melimpah dalam pengetahuan yang be-

nar dan dalam segala macam pengertian, se-

hingga kamu dapat memilih apa yang baik,

supaya kamu suci dan tak bercacat menje-

lang hari Kristus, penuh dengan buah kebe-

naran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus

untuk memuliakan dan memuji Allah” (Flp.

1:9-11).

Hidup yang disucikan bukanlah satu ke-

hidupan tanpa kesukaran dan rintangan. Pau-

lus meminta kepada orang-orang yang per-

caya supaya “tetaplah kerjakan keselamatan

dengan takut dan gentar, bukan saja seperti

waktu aku masih hadir, namun  terlebih pula

sekarang waktu aku tidak hadir, sebab  Al-

lahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik

kemauan maupun pekerjaan menurut kere-

laan-Nya” (Flp. 2:12, 13). Demikian ia me-

nambahkan perkataan yang menguatkan hati

mereka.

“namun  nasihatilah seorang akan yang la-

in setiap hari,” katanya, “selama masih da-

pat dikatakan ‘hari ini,’ supaya jangan ada

di antara kamu yang menjadi tegar hatinya

sebab  tipu daya dosa. sebab  kita telah ber-

oleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita

teguh berpegang sampai kepada akhirnya

pada keyakinan iman kita yang semula (Ibr.

3:13, 14; bandingkan Mat. 24:13).

Akan namun  Kitab Suci memberikan ama-

ran, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa,

sesudah memperoleh pengetahuan tentang

kebenaran, maka tidak ada lagi korban un-

tuk menghapus dosa itu. namun  yang ada ia-

lah kematian yang mengerikan akan peng-

hakiman dan api yang dahsyat akan meng-

hanguskan semua orang durhaka” (Ibr. 10:

26, 27).

Upaya nasihat menasihati ini merupakan

bukti bahwa orang Kristen “masih memer-

lukan hal yang lebih daripada pengesahan

pembenaran atau penyucian. Mereka memer-

lukan kekudusan tabiat walaupun sebenar-

nya keselamatan hanyalah melalui iman.

Kelayakan masuk ke dalam surga terletak

pada kebenaran Kristus saja. Tambahan ke-

pada pembenaran, rencana Allah tentang

keselamatan yang diadakan dengan kelayak-

an masuk surga ini ialah dengan tetap ting-

gal di dalam Kristus. Kelayakan ini harus-

lah dinyatakan dalam tabiat moral manusia

sebagai bukti bahwa keselamatan itu ‘telah

terjadi.’”11

Dalam istilah manusia, apakah artinya

ini? Berdoa tidak berkeputusan untuk meng-

hidupkan suatu kehidupan yang dikuduskan

yang sempurna pada setiap langkah perkem-

bangannya. “Sebab itu sejak waktu kami

mendengarnya, kami tiada berhenti-henti

berdoa untuk kamu... sehingga hidupmu la-

yak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-

Nya dalam segala hal, dan kamu memberi

buah dalam segala pekerjaan yang baik dan

bertumbuh dalam pengetahuan yang benar

tentang Allah” (Kol. 1:9, 10).

Pembenaran dari Hari ke Hari. Semua

orang percaya yang hidup dalam kepenuhan

Roh dan yang dikuduskan (milik Kristus)

terus-menerus memerlukan pembenaran dari

hari ke hari (berkelimpahan dalam Kristus).

Kita memerlukan ini sebab  menyadari pe-

langgaran dan kesalahan yang kita lakukan

secara tidak sadar. Dengan menyadari beta-

pa hati manusia itu jahat adanya, Daud me-

mohon keampunan atas pelanggarannya

yang “tidak disadari” (Mzm. 19:13; ban-

dingkan Yer. 17:9). Berbicara secara khusus

mengenai dosa-dosa yang dilakukan orang

percaya, Allah memberikan jaminan kepa-

da kita bahwa “jika seorang berbuat dosa,

kita mempunyai seorang pengantara pada

Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 Yoh.

2:1).

148Pengalaman Keselamatan

PENGALAMAN KESELAMATAN

DAN MASA MENDATANG

Akhirnya keselamatan kita lengkap dan

sempurna pada waktu kita dibangkitkan atau

diubahkan untuk masuk ke dalam surga.

Melalui kemuliaan Allah terurailah kepada

orang-orang yang ditebus-Nya cahaya ke-

muliaan-Nya sendiri. Inilah pengharapan ki-

ta semua, yang seharusnya kita sambut se-

bagai anak-anak Allah. Paulus berkata, “Kita

bermegah dalam pengharapan akan mene-

rima kemuliaan Allah” (Rm. 5:2).

Ini digenapi pada saat kedatangan Kris-

tus yang kedua kali, tatkala Ia datang”untuk

menganugerahkan keselamatan kepada me-

reka, yang menantikan Dia” (Ibr. 9:28).

Pemuliaan dan Penyucian. Salah satu

syarat keselamatan mendatang ialah jika 

Kristus tinggal di dalam hati kita—pemulia-

an tubuh kita yang fana. “Kristus ada di te-

ngah-tengah kamu,” kata rasul Paulus, “ada-

lah pengharapan akan kemuliaan!” (Kol. 1:

27), dengan penjelasan lainnya, “Dan jika

Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus

dari antara orang mati,’diam di dalam kamu,

maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus

Yesus dari antara orang mati, akan menghi-

dupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh

Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (Rm.

8:11). Paulus memberikan jaminan kepada

kita, bahwa Allah “dari mulanya telah me-

milih kamu untuk diselamatkan dalam Roh

yang menguduskan kamu dan dalam kebe-

naran yang kamu percayai. . . sehingga kamu

boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus”

(2 Tes. 2:13, 14).

Kalau kita di dalam Dia berarti kita telah

berada di ruangan takhta surga (Kol. 3:1-4).

Barangsiapa yang “pernah mendapat bagi-

an dalam Roh Kudus” sebenarnya  telah

mengecap “firman yang baik dari Allah dan

karunia-karunia dunia yang akan datang”

(Ibr. 6:4, 5). Dengan merenung-renungkan

kemuliaan Allah serta mengarahkan mata ki-

ta kepada keindahan tabiat Kristus, maka kita

“diubah menjadi serupa dengan gambar-

Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar”

(2 Kor. 3:18) — berarti kita telah siap untuk

perubahan yang akan kita alami pada saat

kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali-

nya.

Penebusan dan pengangkatan kita selaku

anak Allah pada akhirnya berlangsung sua-

tu saat kelak. Paulus berkata, “Sebab dengan

sangat rindu seluruh makhluk menantikan

saat anak-anak Allah dinyatakan,” dan tam-

bahnya, “kita juga mengeluh dalam hati kita

sambil menantikan pengangkatan sebagai

anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Rm.

8:19, 23; bandingkan Ef. 4:30).

Puncak peristiwa ini terjadi pada waktu

“pemulihan segala sesuatu” (Kis. 3:21).

Kristus menyebutnya “penciptaan kembali”

(Mat. 19:28; “pembaruan kembali segala se-

suatu” menurut terjemahan bahasa Inggris

NIV). “sebab  makhluk itu sendiri juga akan

dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan

dan masuk ke dalam kemerdekaan kemulia-

an anak-anak Allah” Rm. 8:21).

Menurut pandangan Alkitabiah bahwa pa-

da satu sisi pengertian pengangkatan menja-

di anak dan penebusan—atau keselamatan

—telah “tersedia” lengkap sedang  pema-

haman pada sisi lain bahwa mereka belum

dilengkapkan telah membingungkan banyak

orang. Sebuah studi lengkap dan menyelu-

ruh mengenai pekerjaan Kristus akan menye-

diakan jawaban untuk itu. “Paulus menghu-

bungkan keselamatan kita kini kepada keda-

tangan Kristus yang pertama. Dalam penya-

liban yang bersejarah itu, kebangkitan, dan

pelayanan surgawi yang dilakukan Kristus,

pembenaran dan penyucian kita dipastikan

sekali dan untuk semua. Keselamatan kita

149Pengalaman Keselamatan

mendatang, pemuliaan tubuh, bagaimana-

pun, dihubungkan Paulus dengan kedatang-

an Kristus yang kedua kali.

“Untuk alasan inilah maka Paulus dapat

berkata serta-merta: ‘Kita telah diselamat-

kan,’ menurut salib dan kebangkitan Kris-

tus yang dahulu; dan ‘kita belum diselamat-

kan’ dalam hal mendatang, kedatangan Kris-

tus untuk menebus tubuh kita.”12

Menekankan keselamatan kita sekarang

ini dengan mengecualikan keselamatan kita

mendatang akan menimbulkan kekeliruan,

pemahaman yang tidak benar mengenai ke-

selamatan yang sempurna dalam Kristus.

Pemuliaan dan Penyempurnaan. Ba-

nyak yang percaya secara keliru bahwa pe-

muliaan dan penyempurnaan yang asasi yang

akan dibawa itu sudah boleh diperoleh ma-

nusia. Akan namun , Paulus berbicara menge-

nai dirinya sendiri, yang sepenuhnya diab-

dikan kepada Allah, menulis seperti berikut

saat menjelang akhir hayatnya, “Bukan seo-

lah-olah aku telah memperoleh hal ini atau

telah sempurna, melainkan aku mengejarnya,

kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya,

sebab  aku pun telah ditangkap oleh Kristus

Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak

menganggap, bahwa aku telah menangkap-

nya, namun  ini yang kulakukan: aku melupa-

kan apa yang telah di belakangku dan me-

ngarahkan diri kepada apa yang di hada-

panku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk

memperoleh hadiah, yaitu panggilan surga-

wi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp.

3:12-14).

Penyucian yaitu  proses seumur hidup.

Kesempurnaan kita kini hanya ada pada Kris-

tus, akan namun  yang pokok, perubahan yang

lengkap hidup kita ke dalam gambar Allah

akan berlangsung pada waktu kedatangan

Kristus yang kedua kali. Paulus mengingat-

kan: “Sebab itu siapa yang menyangka, bah-

wa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia ja-

ngan jatuh!” (1Kor. 10:12). Sejarah bangsa

Israel dan kisah kehidupan Daud, Salomo

dan Petrus merupakan amaran serius bagi

semua orang. “Selama hidup, diperlukan

pengawasan cinta kasih dan perasaan dengan

tujuan yang kokoh. Ada kerusakan batiniah,

ada pula penggodaan lahiriah, dan di mana

saja pekerjaan Tuhan memperoleh kemajuan,

Setan pun membentangkan rencana untuk

menciptakan situasi agar godaan itu mengu-

asai jiwa. Tidak ada satu saat pun kita dapat

aman kecuali bergantung kepada Tuhan, hi-

dup bersama Kristus dalam Allah.”13

Perubahan yang paling akhir dan di da-

lam disempurnakan manakala yang tidak fa-

na dan tidak bercacat-cela itu telah menjadi

milik kita, jika  Roh Kudus memulihkan

kembali secara sempurna seperti semula.

LANDASAN PENERIMAAN KITA

KEPADA ALLAH

Ciri-ciri tabiat Kristus maupun tingkah

laku yang tidak bernoda, bukanlah landasan

penerimaan kita kepada Allah. Kebenaran

yang menyelamatkan hanyalah berasal dari

seorang Manusia saja, yakni Yesus, yang di-

sampaikan kepada kita melalui Roh Kudus.

Kita tidak mampu memberi sesuatu atas ka-

runia pembenaran yang diberikan Kristus

itu; kita hanya dapat menerimanya. Kristus

saja kebenaran, tidak ada yang lain (Rm. 3:

10); kebenaran manusia yang mandiri hanya-

lah kain lara yang kotor (Yes. 64:6; baca juga

Dan. 9:7, 11, 20; I Kor. 1:30).14

Apa pun yang kita lakukan dalam me-

nyambut kasih Kristus yang menyelamatkan

itu tidak dapat menjadi landasan kita ber-

kenan kepada Allah. Penerimaan diidentifi-

kasikan dengan pekerjaan Kristus. Dengan

150Pengalaman Keselamatan

membawa Kristus kepada kita, Roh Kudus

membawakan penerimaan itu.

Adakah penerimaan kita didasarkan atas

kebenaran Kristus yang membenarkan atau

kebenaran-Nya yang membenarkan ataukah

kedua-duanya? John Calvin menunjukkan

bahwa sebab  “Kristus tidak dapat dibagi-

bagi, maka kedua hal itu, pembenaran dan

penyucian, tidak dapat dipisahkan.”15

Pelayanan Kristus haruslah tampak di da-

lamnya secara menyeluruh. Dengan demiki-

an membuatnya sebagai yang paling tinggi

untuk menghindari spekulasi mengenai ke-

dua istilah ini dengan “mencoba mendefini-

sikan secara teliti bagian-bagian yang ber-

beda antara pembenaran dengan penyuci-

an.... Mengapa mencoba berupaya menjadi

lebih teliti daripada Ilham itu mengenai per-

tanyaan-pertanyaan yang vital tentang pem-

benaran oleh iman?”

Sama seperti matahari mempunyai terang

dan panas—yang sama sekali tidak dapat

dipisahkan, namun demikian tetap mempu-

nyai fungsi yang unik—begitu pulalah Kris-

tus menjadi kebenaran dan penyucian bagi

kita (1 Kor. 1:30). Kita bukan saja dibenar-

kan seutuhnya, namun  juga disucikan seleng-

kapnya di dalam Dia.

Roh Kudus membawa serta yang “Sudah

selesai” di Golgota itu, memberlakukan pe-

ngalaman satu-satunya penerimaan Allah,

Allah yang telah menjadi manusia itu, ke-

pada kita. Seruan di kayu salib “Sudahlah

selesai” mempertanyakan semua upaya ma-

nusia lainnya untuk memperoleh penerima-

an itu. Dengan membawakan yang Disalib-

kan itu, Roh Kudus membawa landasan satu-

satunya penerimaan kita kepada Allah, yang

menyediakan kelayakan yang murni bagi

kita kepada keselamatan itu, yang dimung-

kinkan bagi kita.