al-quran akhir zaman 2
��an. Nabi
melihatnya dalam penglihatan yang diberkahi untuk beliau alami
saat beliau dibawa dalam perjalanan yang menakjubkan pada
malam hari dari Masjid Suci di Mekah yang dibangun oleh Nabi
Ibrahim السالم عليه ke Masjid yang jauh di Yerusalem yang dibangun
oleh Nabi Sulaiman السالم عليه , Perjalanan menakjubkan ini
yaitu Isra' dan Mi'raj :
ْ اََحاطَْ َرب كَْ اِنْ لَكَْ ق ل َنا َواِذْ َيا َجعَل َنا َوَما ِبالن اِس ء تِيْٰٓ الرُّ
ال
كَْ ْ اََري ن َنةَْ َوالش َجَرةَْ لن اِسِْل ْ فِت َنةًْ اِْل نِْ فِى ال َمل ع و ا ال ق ر ْ ۚ
م ْ ف ه ِ ْ َيِزي د ه مْ فََما َون َخو َياًنا اِْل َكِبي ًرا ط غ ࣖ
(Qur’ān, al-Isra, 17:60)
Dan lihatlah! Kami berkata kepadamu, [Wahai Nabi:] “Lihatlah,
Tuhanmu meliputi umat manusia — karenanya semua sejarah
manusia — dalam pengetahuan dan kekuatan-Nya: dan Engkau
harus tahu bahwa Kami tidak memberikan penglihatan ini
kepadamu, yaitu, di Isra' dan Mi'raj, kecuali untuk menyampaikan
kepadamu pengetahuan tentang apa yang akan menyebabkan
Fitnah (yaitu, cobaan dan kesusahan) bagi umat manusia, dan juga
untuk menyampaikan pengetahuan tentang pohon yang terkutuk,
yang dikutuk dalam Al-Qur'an, yang akan menyebabkan fitnah.
Kami terus memperingatkan mereka, namun itu hanya menambah
sikap pembangkangan mereka.
Al-Qur'an telah memberi tahu kita tentang perjalanan yang
menakjubkan yaitu Isra' dan Mi'rāj dalam ayat pertama dari Surat Al-
Qur'an yang diberi nama ganda Surah al-Isra' dan Surah Banī Isrāīl.
Hal ini mungkin bermaksud untuk menunjukkan bahwa Isra' dan
Mi'rāj mengizinkan Nabi untuk melihat Neraka yang akan dialami
umat manusia karena pohon terlarang, yaitu ambisi Yahudi untuk
menguasai dunia dari Yerusalem dengan kerajaan yang tidak akan
pernah hilang atau runtuh.
Kemudian Allah تعاىل و سبحانه melanjutkan penjelasan subjek
pemerintahan yang adil di bumi kepada Adam السالم عليه , Adam dapat
menerima pengetahuan ini (sementara para Malaikat tidak bisa)
karena Allah telah meniupkan Rūh Ilahi-Nya ke dalam dirinya;
akibatnya, ia menjadi mampu menerima pengetahuan baik secara
eksternal maupun internal. (Al-Qur'an, al-Baqarah, 2:31-2) serta
mampu, melalui intuisi dan pemikiran kritis, untuk mengintegrasikan
pengetahuan 'yang diterima secara internal' dan 'yang diperoleh
secara eksternal' menjadi satu kesatuan yang harmonis.
Implikasi dari hal di atas yaitu bahwa pemerintahan yang
adil di muka bumi hanya dapat berhasil ditegakkan oleh mereka yang
memiliki pengetahuan yang diajarkan oleh Allah تعاىل و سبحانه kepada
Adam السالم عليه dan kemudian diwahyukan dalam Kitab Suci. Hanya
pengetahuan itu yang bisa membuat mereka memenuhi syarat untuk
memerintah. Oleh karena itu siapa pun yang tidak memiliki
pengetahuan yang berasal dari Allah السالم عليه , dan yang akibatnya
tidak mampu menerapkan pengetahuan itu dalam penyelenggaraan
Negara, tidak memenuhi syarat untuk memerintah.
Allah تعاىل و سبحانه kemudian meminta Nabi Adam السالم عليه
untuk menjelaskan subjek pemerintahan di bumi dan dia
melakukannya. (Al-Qur'an, al-Baqarah, 2:31-33).
Kesimpulan yang kita peroleh dari uraian di atas yaitu
bahwa umat manusia ditempatkan di bumi untuk kepentingan utama
yaitu menegakkan pemerintahan yang adil dimuka bumi, dan hal itu
tidak dapat dicapai kecuali oleh mereka yang bertindak dengan benar
sesuai dengan pengetahuan dan petunjuk yang Allah تعاىل و سبحانه
telah diwahyukan dalam Kitab Suci-Nya, dan yang tidak mengejar
kepentingan lain saat menetapkan aturan mereka. Al-Qur'an telah
memperingatkan bahwa mereka yang memerintah sebaliknya akan
menghadapi hari kiamat yang mengerikan (lihat Al-Qur'an, Sad, 38:26
nanti dalam bab ini).
1.3 Hubungan di Akhir Sejarah dengan Peristiwa Pertama
Prinsip keyakinan yang menyatakan bahwa Allah yaitu Dzat
Yang Pertama dan Yang Terakhir, dan bahwa Dia yaitu Dzat yang
Maha mengetahui atas segala sesuatu, Al-Qur'an telah
mengungkapkan sebuah drama Eskatologis yang akan terungkap
dalam Sejarah, yaitu: bahwa apa yang terjadi di awal Sejarah, begitu
juga di akhir Sejarah.
Sebuah peristiwa pada akhirnya akan terungkap di akhir
Sejarah akan sejajajar sebagaimana Peristiwa yang terjadi di awal
Sejarah.
44
Apa akhir Sejarah yang akan sejajar dengan awal Sejarah
yang digambarkan di atas?
Selain bukti substansial didalam Al-Qur'an yang menegaskan
kembalinya yang begitu manakjubkan, Sabda Nabi Muhammad صل
وسلم عليه للا yaitu yang paling kuat dalam Sejarah yang telah
menubuatkan kembalinya al-Masih, Yesus السالم عليه , putra Mariam.
Dia melanjutkan nubuahnya bahwa Yesus السالم عليه akan
kembali ke dunia sebagai al Hākim al-'Ādil (yaitu, penguasa yang adil),
dan dengan pemenuhan nubuatan inilah Sejarah akan berakhir
dengan Pax Dei 12yang dengannya ia ditakdirkan memulainya kembali
diawal episode Sejarah :
يَمَْ اب نْ فِيك مْ يَن ِزلَْ أَنْ لَي وِشَكنْ بِيَِدهِْ نَف ِسي َوال ِذي َحَكًمْا َمر
َعد ْلًْ
Demi Dia yang jiwaku di Tangan-Nya, putra Mariam akan turun di
antara kalian sebagai penguasa yang adil…
(Sahih Bukhari)
Nubuatan yang sama dapat ditemukan di Hadist yang lain dengan
redaksi yang sedikit berbeda :
Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai Yesus Putra Mariam turun
sebagai Penguasa yang Adil (yaitu, atas umat manusia) dan sebagai
Pemimpin yang Adil (bagi orang-orang yang beriman).
(Sunan ibnu majah)
Namun, mari kita ingat bahwa awal Sejarah juga memberi
tahu kita sebuah hubungan satu samaa lain dengan akhir Sejarah.
Hubungan atau keterkaitan ini terletak (dalam upaya mereka untuk
menetapkan Pax Dei Palsu versi mereka) pada karakter orang-orang
yang arogan, yang menganggap diri mereka sendiri (seperti sifat Iblis)
lebih unggul dari umat manusia lainnya. Mereka juga mengklaim
(seperti sifat iblis) bahwa asal-usul keturunan mereka lah yaitu
keturuan yang terbaik dan superior, Dengan kata lain, mereka
mengklaim bahwa Tuhan memilih mereka sebagai umat pilihan-Nya
dengan mengesampingkan seluruh umat manusia. Mereka juga
mengklaim sebagai kaum yang paling cerdas menurut mereka,
karena mereka berkeyakinan bahwa Tuhan menganugerahkan
pengetahuan yang lebih tinggi kepada mereka, seperti yang Dia (Iblis)
lakukan kepada Adam dan karenanya mereka sendiri (merasa-red)
yang paling memenuhi syarat untuk mendirikan Pax Dei.
Perilaku seperti itu tidak dibenarkan di Surga, dan hal itu lah
yang menyebabkan pengusiran Iblis dari Surga sebagai bentuk
hukuman ilahi atas dirinya. Allah juga menyatakan bahwa
kesombongan seperti itu akan dihukum dengan hukuman yang
mengerikan, menghinakan, dan menestapakan :
ا ا ال ِذي نَْ فَاَم َمن و تِْ َوَعِمل وا ا َره مْ فَي َوف ِي ِهمْ الٰصِلح و ا ج
نْ َويَِزي د ه مْ ْ فَضْ م ِ ا ِله ا ال ِذي نَْ َواَم تَن َكف و ْا اس و َبر تَك مْ َواس ب ه فَي عَذ ِ
َْلْ اَِلي ًماْ َعذَاًبا نَْ و مْ َيِجد و نْ لَه نِْ ِم َْلْ َوِليًّا ّللٰاِْ د و َنِصي ًرا و
(Qur’ān, an-nisa, 4:173)
… adapun orang-orang yang sombong, dan yang menyombongkan
diri dalam kesombongan mereka, Allah akan menghukum mereka
dengan hukuman yang mengerikan: dan mereka tidak akan
menemukan seorang pun untuk melindungi mereka dari Allah, dan
tidak seorang pun untuk membantu mereka.
Oleh karena itu, Peristiwa yang akan terjadi di akhir Sejarah
yang akan menyaksikan bagaimana bentuk hukuman llahi atas
respon kesombongan (kaum yang arogan-red) ini ,
Sebagaimana bentuk hukuman Allah pada Iblis di akhir sejarah
karena kesombongannya.
1.4 Negara Suci didirikan
Informasi pertama yang tertulis di dalam Al-Qur'an tentang
realisasi Nubuah Ilahi yang diungkapkan pada episode pertama
Sejarah untuk menetapkan aturan yang ditetapkan oleh Tuhan di
bumi, baru mulai terjadi setelah kedatangan Nabi Nuh السالم عليه ,
Allah وسلم عليه للا ل ص berbicara kepada seorang penguasa tunggal
bumi . (Al-Qur'an, al-A'rāf, 7:69; Yunus, 10:14; 10:73; an-Naml,
27:62). Akan namun , Al-Qur’an tidak memberi kita informasi tentang
Negara apa (jika memang ada) yang mereka kuasai.
Bukti sejarah pertama yang kita ketahui (informasinya-red)
tentang realisasi Negara seperti itu (Negara yang menerapkan aturan
yang ditetapkan illlahi) yaitu dalam ayat Al-Qur'an di mana Allah
تعاىل و سبحانه menyatakan bahwa Dia meng-anugerahkan kepada Bani
Ibrahim sebuah kerajaan besar :
نَْ اَمْ س د و ى الن اسَْ َيح مْ َمآْٰ َعل ىه ت ْ ِمنْ ّللٰا ْ ا ِله َنآْٰ فَقَدْ فَض تَي لَْ ا ا
ِهي مَْ بَْ اِب ر َمةَْ ال ِكت مْ َوال ِحك ه تَي ن ل ًكا َوا َعِظي ًما مُّ
(Qur’ān, an-nisa, 4:54)
47
… adapun orang-orang yang sombong, dan yang menyombongkan
diri dalam kesombongan mereka, Allah akan menghukum mereka
dengan hukuman yang mengerikan: dan mereka tidak akan
menemukan seorang pun untuk melindungi mereka dari Allah, dan
tidak seorang pun untuk membantu mereka.
Bukti pertama dalam Al-Qur'an tentang Kerajaan yang akan
datang yang diberikan kepada Keluarga Ibrahim yaitu posisi
kekuasaan strategis yang penting yang diduduki Yusuf السالم عليه di
Mesir yang pada waktu itu yaitu sebuah monarki. Dia berdoa
kepada Allah تعاىل و انهسبح untuk bersyukur kepadaNya atas anugrah
yang telah diberikan kepadanya:
تَي تَنِيْ قَدْ َرب ِْ ۞ ل كِْ ِمنَْ ا تَنِيْ ال م ََحاِدي ِث ْ تَأ ِوي لِْ ِمنْ َوَعل م اْل
تِْ فَاِطرَْ و ْ الس م ِض َر ْ اَن تَْ َواْل َيا فِى َوِلي ِخَرةِْ الدُّن تََوف ِنيْ َواْل
ِلًما س اَل ِحق ِنيْ م ِبالٰصِلِحي نَْ و
(Qur’ān, Yusuf, 12:101)
“Ya Tuhanku! Engkau telah menganugerahkan kepadaku kekuatan
(kekuasaan, kedaulatan), dan telah memberikan kepadaku
kekuatan untuk menafsirkan untuk mempelajari makna batin dari
segala sesuatu. Duhai Pencipta langit dan bumi! Engkau dekat
denganku di dunia ini dan di kehidupan yang akan datang:
Matikanlah aku sebagai orang yang telah menyerahkan dirinya
kepada-Mu dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang
yang shalih.
Ada petunjuk tentang kerajaan yang akan datang dalam
peristiwa yang terjadi saat Fir’aun memperbudak orang Israel di
Mesir dan Allah تعاىل و سبحانه akan membangkitkan Musa السالم عليه
dan menugaskannya dengan misi untuk mengeluarkan mereka dari
48
perbudakan di Mesir dan memulai perjalanan kembali ke Tanah Suci.
Allah وسلم عليه للا صل mengungkapkan sebagai berikut:
نْ اَنْ َون ِري د ْ ا ال ِذي نَْ َعلَى ن م ِعف و ت ض ِضْ فِى اس َر مْ اْل عَلَه َوَنج
ةًْ مْ اَىِٕم عَلَه َنج ِرِثي نَْ و ال و ْ ۚ
(Qur’ān, al-Qasas, 28:5)
Dan Kami berkehendak untuk melimpahkan nikmat Kami kepada
orang-orang yang tertindas, dan menjadikan mereka pemimpin dan
penguasa, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisinya.
Allah سبحانه و تعالى memberikan Petunjuk lebih lanjut perihal
ini saat Ia menyatakan :
مْ َوَجعَل َنا ةًْ ِمن ه نَْ اَىِٕم د و ِرَنا ي ه ا ِباَم اْ لَم و ا َصَبر ِتَنا َوَكان و ي ِبا
نَْ قِن و ي و
(Qur’ān, as-Sajdah, 32:24)
Dan [sebagai] Kami mengangkat di antara mereka pemimpin yang,
selama mereka menanggung diri mereka dengan kesabaran dan
memiliki keyakinan yang teguh pada perintah Kami, membimbing
[umat mereka] sesuai dengan perintah Kami [demikian juga dengan
wahyu yang diturunkan. kepadamu, wahai Muhammad].
Kerajaan yang Besar tidak lama lagi akan berdiri; Kerjaaan
yang besar itu berdiri setelah orang-orang Israel kembali ke Tanah
Suci dari mana mereka telah terusir sekitar 400 tahun sebelumnya.
Kerajaan besar yang dianugerahkan kepada Keluarga
Ibrahim, yang dirujuk oleh Al-Qur’an, tentu saja yaitu Negara Suci
Israel yang didirikan oleh Raja Daud, yaitu Nabi Daud السالم عليه di
Tanah Suci (Yerusalem-Red). Allah تعاىل و سبحانه menyebutnya dengan
49
sebuah nama saraya memberi tahu dia bahwa dia ditunjuk secara
ilahi untuk memerintah di bumi :
د ْ دَاو كَْ اِن ا ي ِضْ فِْى َخِلي فَةًْ َجعَل ن َر ك مْ اْل ِبال َحق ِْ الن اِسْ َبي نَْ فَاح
ى تَت ِبعِْ َوَْلْ اِنْ ّللٰاِْ َسِبي لِْ َعنْ فَي ِضل كَْ ال َهو نَْ ال ِذي نَْ ۚ َيِضلُّو
مْ ّللٰاِْ َسِبي لِْ َعنْ ِبَما َشِدي د ْ َعذَابْ لَه ا ۚ مَْ َنس و ال ِحَسابِْ َيو ࣖ
(Qur’ān, Sad, 38:26)
“Wahai Daud! Sesungguhnya, Kami telah menetapkan kamu untuk
memerintah di bumi: tegakkan pemerintahanmu, dan aturlah
orang-orang dengan Kebenaran, dan jangan mengikuti agenda
sekuler yang angkuh, karena hal itu akan menyesatkan kamu dari
jalan Allah. Sesungguhnya bagi orang-orang yang saat
memerintah kesesatan dari jalan Allah, akan ada siksaan yang
sangat pedih bagi mereka karena melupakan Hari Pembalasan.
Tentu saja Nabī Daūd yang memilih Yerusalem sebagai ibu
kota Negara Suci itu.
Bukan hanya karena Allah SWT yang menetapkan bahwa
Nabī Daūd harus mendirikan Negara Khilafah pertama, atau Negara
Suci di dalam Sejarah, akan namun Ia melanjutkan kembali untuk
memenuhi pernyataanNya (Nubuah Illahi-Red) bahwa Allah swt akan
menganugerahkan kerajaan yang besar kepada Bani Ibrahim, Inilah
korelasinya dengan apa yang terjadi saat Dia membawa Negara
atau Kerajaan ini t tumbuh dan berkembang dalam kekuatan
dan kekuasaan hingga pada masa Nabi Sulaiman ( السالم عليه ),
kerajaan itu menjadi kerajaan terbesar di dunia :
ل َكهْ َوَشدَد نَا ه ْ م تَي ن َمةَْ َوا لَْ ال ِحك ال ِخَطابِْ َوفَص
(Qur’ān, Sad, 38:20)
Dan Kami kuatkan Kerajaannya (atau Negara) dan Kami berikan
kepadanya kebijaksanaan dan kecerdasan dalam mengambil
keputusan..
1.5 Negara Suci, Tanah Suci, dan Bangsa Israel
Al-Qur'an telah memberitahu kita bahwa Allah SWT
membawa Nabi Ibrahim ( السالم عليه ) dari Babilonia ke tanah khusus.
Keturunannya menetap di tanah ini , dan di tanah itulah Nabi
Daud ( السالم عليه ) mendirikan Negara Israel dan Nabī Sulaimān as
putranya, memerintah dunia dari Negara ini .
Hal iitu digambarkan di dalam Al-Qur'an, pertama, Ia
sebagai tanah yang diberkati (yang secara khusus diberkati oleh Allah
SWT) :
ِضْ … َر َنا ال ِتيْ اْل َرك ِضْ فِي َهاْ ب َر َنا ال ِتيْ اْل َرك فِي َهاْ ب …
(Qur’ān, al-Anbiya, 21:81)
…Tanah yang kami berkati…
َنا ال ِذيْ … َرك لَهْ ب َحو …
(Qur’ān, al-Isra, 17:01)
dan Kami ‘memberkati’ tanah di mana (yaitu, Masjid al-Aqsā)
berada …
ِضْ … َر َْ ال تِيْ اْل نا َرك لَِمي نَْ فِي َها ب ِلل ع
(Qur’ān, al-Anbiya, 21:71)
… tanah yang kami berkahi bagi seluruh umat manusia.
51
Dan Nabī Musa ( السالم عليه ) menggambarkannya sebagai 'tanah suci'
:
مِْ قَو ل وا ي ضَْ اد خ َر قَد َسةَْ اْل ا َوَْلْ لَك مْ ّللٰا ْ َكتَبَْ ال تِيْ ال م تَدُّو تَر
ٰٓى ا اَد َباِرك مْ َعل ِسِري نَْ فَتَن قَِلب و خ
(Qur’ān, al-Maidah, 5:21)
…Wahai umatku, masuklah ke Tanah Suci…
Bani Israil sebenarnya yaitu keturunan Ibrahim ( السالم عليه )
melalui putranya Nabi Ishāq ( السالم عليه ), dan melalui putra Nabi
Ishāq, lalu memiki keturunan yaitu Nabi Ya’qub ( السالم عليه ). Al-
Qur'an menyebut mereka sebagai Bani Isrāīl, dan melalui ayat al-
Qur’an di bawah ini, di mana Zakaria berdoa untuk seorang anak laki-
laki, kami membenarkan bahwa Bani Isrāīl yaitu nama yang
diberikan kepada mereka yang memiliki garis keturunan dari Yakub :
لِْ ِمنْ َويَِرثْ ي ِرث نِيْ بَْ ا عَل ه ْ يَع ق و َرِضيًّْا َرب ِْ َواج
(Qur’ān, Mariam, 19:6)
“siapa yang akan menjadi pewarisku, serta pewaris Keluarga Yakub
(karenanya garis keturunannya akan mencapai sampai ke Yakub);
dan berikanlah dia ridha-Mu, ya Tuhanku!
Untuk alasan yang akan dijelaskan dalam Bab selanjutnya
dari buku ini, Al-Qur'an memilih penggunaan nama 'Israel', untuk
Yakub dalam ayat di bawah ini :
ىِٕكَْ
نَْ َعلَي ِهمْ ّللٰا ْ اَن عَمَْ ال ِذي نَْ ا ول ٰۤ نَْ ِم ي ةِْ ِمنْ الن ِبي دَمَْ ذ ر ِ نْ ا َوِمم
ح ْ َمعَْ َحَمل َنا ِمنْ ن و ي ةِْ و ِهي مَْ ذ ر ِ ِءي لَْ اِب ر َراٰۤ َواِس ْ ۚ
(Qur’ān, Mariam, 19:58)
52
Ada beberapa nabi yang Allah berikan berkah-Nya—[nabi] dari
keturunan Adam dan dari mereka yang Kami lahirkan [di dalam
bahtera] bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel …
Ayat diatas yaitu bukti didalam Al-Qur'an yang menegaskan
bahwa Bani Isrāīl, atau orang-orang Israel, yaitu termasuk golongan
Bani Ibrahim dan tentu saja Negara atau Kerajaan Suci mereka yang
didirikan di Tanah Suci dan diberkati itu.
namun Taurat melanjutkan dengan mengklaim bahwa Tanah
Suci diberikan kepada mereka dengan Cuma-cuma sehingga tanah itu
yaitu tanah mereka, dan mereka memahami bahwa Taurat telah
memberi mereka hak eksklusif atas Tanah Suci ini ; maka
mereka percaya bahwa itu milik mereka, dan hanya milik mereka.
Kami sekarang melanjutkan, dengan Al-Qur'an, untuk
memeriksa validitas keyakinan Yahudi tentang kepemilikan eksklusif
Tanah Suci.
Al-Qur’an telah menegaskan bahwa Tanah ini t telah
telah tertulis untuk mereka, sebagai berikut :
مِْ قَو ل وا ي ضَْ اد خ َر قَد َسةَْ اْل ا َوَْلْ لَك مْ ّللٰا ْ َكتَبَْ ال تِيْ ال م تَدُّو تَر
ٰٓى ا اَد َباِرك مْ َعل ِسِري نَْ فَتَن قَِلب و خ
(Qur’ān, al-Maidah, 5:21)
(Dan Musa berkata): “Wahai umatku! Masuklah ke Tanah Suci yang
telah Allah tuliskan untukmu; namun janganlah berbalik [pada
imanmu], karena pada waktu itu kamu akan tersesat!”
Kita perlu memastikan : apa yang tertulis untuk mereka
tentang Tanah itu?
53
Al-Qur’an menjawab pertanyaan itu saat Allah menyatakan
bahwa tanah itu ditulis untuk mereka sebagai tanah tempat tinggal :
أ َنا َولَقَدْ ْٰٓ َبو ِءي لَْ َبنِي َراٰۤ اَْ اِس َبو مْ ِصد قْ م ه َرَزق ن نَْ و تِْ ِم الط ي ِب
ْ ۚ ا فََما تَلَف و َءه مْ َحتٰى اخ اِنْ ال ِعل مْ َجاٰۤ مْ َيق ِضيْ َرب كَْ ۚ َبي نَه
مَْ َمةِْ َيو ا فِي َما ال ِقي نَْ فِي هِْ َكان و تَِلف و َيخ
(Qur’ān, Yunus, 10:93)
Dan [setelah itu], sesungguhnya, Kami berikan kepada orang Israel
tempat tinggal di tanah Sidq (yaitu, tanah kebenaran, kesetiaan,
ketaatan dan ketulusan — dan itu yaitu Tanah Suci), dan memberi
mereka rezeki. dari hal-hal baik dalam hidup. Dan tidak akan sampai
pengetahuan [tentang apa yang telah ditetapkan Allah dalam
wahyu-Nya] bahwa mereka mulai memiliki pandangan yang
berbeda: [namun ,] sesungguhnya, Tuhanmu Allah akan memutuskan
di antara mereka pada Hari Kebangkitan tentang semua yang
mereka perselisihkan.
Al-Qur'an kembali memakai bahasa yang sama saat
ditujukan kepada orang-orang Israel setelah Allah SWT secara
manakjubkan menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun dan bala
tentaranya dengan membelah lautan untuk mereka dan kemudian
menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya. Allah SWT
mengarahkan mereka untuk tinggal di Tanah Suci :
ق ل َنا ِءي لَْ ِلَبنِيْٰٓ بَع ِدهْ ِمن ْ و َراٰۤ ك ن وا اِس ضَْ اس َر ءَْ فَِاذَا اْل د ْ َجاٰۤ َوع
ِخَرةِْ لَِفي فًاْ بِك مْ ِجئ َنا اْل
(Qur’ān, al-Isra, 17:104)
Dan setelah (mereka telah menyeberangi Laut dengan aman) Kami
berkata kepada Bani Israel: “Tinggallah dengan aman sekarang di
54
Tanah (yaitu, Tanah Suci)—namun [ingatlah bahwa] saat janji Hari
Akhir akan terjadi, Kami akan membawamu keluar sebagai [bagian
dari] kerumunan yang bercampur-baur.”
Al-Qur’an selanjutnya menyatakan, dengan jelas, bahwa
tanah itu diberikan kepada mereka sebagai Warisan :
َرث َنا مَْ َواَو ْا ال ِذي نَْ ال قَو نَْ َكان و عَف و تَض ِضْ َمَشاِرقَْ ي س َر اْل
َنا ال تِيْ َوَمغَاِرَبَها َرك تْ فِي َهاْ ب ى َرب ِكَْ َكِلَمتْ َوتَم ن س ى ال ح َعل
ْٰٓ ِءي َلْ َبِني َراٰۤ اْ بَِما اِس و َنا َصبَر ر َنعْ َكانَْ َما َودَم نْ َيص َعو فِر
هْ م ا َوَما َوقَو نَْ َكان و َيع ِرش و
(Qur’ān, al-A’raf, 7:137)
… sedangkan kepada orang-orang yang [di masa lalu] dianggap
sangat terhina, Kami berikan sebagai warisan mereka (yaitu, untuk
mewarisi) bagian timur dan barat dari tanah yang telah Kami
berkahi (yaitu, Tanah Suci). Dan dengan demikian janji baik
Tuhanmu kepada anak-anak Israel digenapi sebagai hasil dari
kesabaran mereka dalam kesulitan; sedangkan Kami benar-benar
membinasakan semua yang dibuat Firaun dan kaumnya, dan semua
yang mereka bangun.
namun sekarang kita harus segera menjelaskan bahwa
Tanah Suci tidak pernah diberikan kepada orang Israel sebagai milik
abadi dengan mengesampingkan semua umat manusia lainnya. Itu
salah! Sebaliknya, Al-Qur'an telah memberikan penjelasan yang jauh
lebih kredibel saat menyatakan bahwa Allah menempatkan berkah
55
di Tanah Suci untuk semua dari antara umat manusia yang beriman
kepada-Nya dan yang perilakunya saleh :
ه ْ ي ن ًطا َوَنج ِضْ اِلَى َول و َر َْ ال تِيْ اْل نا َرك لَِمي نَْ فِي َها ب ِلل ع
(Qur’ān, al-Anbiya, 21:71)
Kami menyelamatkan dia (yaitu, Ibrahim) serta Luth, [putra
saudaranya, dengan membimbing mereka] ke tanah yang Kami
berkahi untuk seluruh umat manusia
Kesimpulan pertama yang kita dapatkan yaitu Pemahaman
Yahudi tentang Taurat, bahwa Allah SWT memberikan kepemilikan
eksklusif Tanah Suci kepada orang-orang Israel dengan
mengesampingkan semua ummat yang lainnya, yaitu salah. Tanah
Suci yaitu milik mereka, serta ummat-ummat yang lainnya yang
beriman kepada Allah SWT.
1.6 Apakah pemberian Tanah Suci bersyarat atau tidak bersyarat?
Orang-orang Yahudi memahami Taurat telah menyatakan
bahwa Tanah Suci diberikan kepada orang-orang Israel tanpa syarat;
dengan kata lain, tidak peduli apakah perilaku mereka benar atau
jahat, apakah mereka setia pada Kebenaran atau tidak, tanah itu
tetap milik mereka. Inilah pemahaman mereka tentang implikasi dari
pernyataan aneh ini dalam Taurat:
“Karena itu ketahuilah, bahwa bukan karena keshalihanmu,
Tuhanmu, telah memberikan kepadamu tanah yang baik ini untuk
dimiliki; karena kamu yaitu orang-orang yang angkuh.”
(Deuteronomy: 9:6)
56
Al-Qur'an mengungkap kepalsuan kepercayaan Yahudi ini
saat memberitahu kita bahwa Allah SWT menetapkan kondisi iman
dan perilaku yang benar untuk tinggal di Tanah Suci:
Al-Qur'an mengungkap kepalsuan kepercayaan Yahudi ini
saat memberitahu kita bahwa Allah تعاىل و سبحانه menetapkan
kondisi iman dan perilaku yang benarlah untuk tinggal di Tanah Suci
:
رِْ فِى َكتَب نَا َولَقَدْ ب و ْ الز ك رِْ بَع دِْ ِمن ضَْ اَنْ الذ ِ َر اْل
نَْ ِعبَاِديَْ يَِرث َها و الٰصِلح
(Qur’ān, al-Anbiya, 21:105)
Kami menyatakan dalam Zabūr (yaitu, Mazmur Daud) bahwa
hamba-hamba-Ku yang saleh akan mewarisi (dan karenanya
memiliki hak tinggal di) Tanah.
Tidak ada bagian bumi yang pernyataan ini (di atas)
menemukan penerapan yang lebih tegas daripada (yang dimaksud
dalam ayat diatas – Red) di Tanah Suci karena Al-Qur'an lebih lanjut
mengungkapkan bahwa setiap kali bangsa Israel melanggar atas
syarat kepemilikan di Tanah Suci, Allah تعاىل و سبحانه mengusir mereka
dari Tanah.
Dalam Surah al-Isra' (17:4-7 di bawah), Al-Qur'an
mengidentifikasi dua periode pelanggaran ini , dan menyatakan
bahwa Allah تعاىل و سبحانه mengusir mereka dari Tanah Suci
disebabkan oleh kedua perkara yang mereka lakukan :
ى َوقََضي َنآْٰ ْٰٓ اِل ِءي لَْ َبِني َراٰۤ بِْ فِى اِس ِضْ فِْى لَت ف ِسد نْ ال ِكت َر تَي نِْ اْل َمر
ا َولَتَع ل نْ َكِبي ًرا ع ل وًّ
57
(Qur’ān, al-Isra, 17:4)
Dan Kami peringatkan Bani Israil melalui Wahyu bahwa mereka
akan dua kali melakukan Fasad (yaitu, apa yang merusak dengan
cara yang dapat menghancurkan) di Tanah (yaitu, Tanah Suci), dan
menjadi sombong dan sombong dalam perilaku mereka (namun
mereka melakukannya tidak mengindahkan peringatan Kami).
ءَْ فَِاذَا د ْ َجاٰۤ َمْا َوع ىه ل ْٰٓ ِعبَادًا َعلَي ك مْ بَعَث نَا ا و ا وِليْ ل نَا
ْ ْا َشِدي دْ بَأ س لَْ فََجاس و يَاِرْ ِخل دًْا َوَكانَْ الد ِ ًْلْ َوع ف ع و م
(Qur’ān, al-Isra, 17:5)
Oleh karena itu, saat masa pertama perilaku jahat terjadi (seperti
yang telah Kami peringatkan) Kami menghukum Anda dengan
mengirimkan kepada Anda beberapa budak Kami yang memiliki
kecakapan yang mengerikan dalam perang, dan mereka
menghancurkan Anda dengan kehancuran total; dengan demikian
peringatan hukuman kami terpenuhi. (Orang Israel diusir dari Tanah
Suci dan dibawa ke perbudakan di babilonia).
ةَْ لَك مْ َردَد َنا ث مْ ك مْ َعلَي ِهمْ ال َكر دَد ن َوالْ َواَم َبِني نَْ ِباَم ك مْ و ثَرَْ َوَجعَل ن اَك
َنِفي ًرْا
(Qur’ān, al-Isra, 17:6)
namun setelah beberapa waktu berlalu, Kami mengizinkanmu untuk
menang sekali lagi melawan mereka (dan untuk kembali ke Tanah
Suci untuk tinggal di dalamnya) dan Kami membantumu dengan
kekayaan dan keturunan, dan menjadikanmu berjumlah lebih
banyak [daripada sebelumnya]
58
َسن ت مْ اِنْ َسن ت مْ اَح َواِنْ ِْلَن ف ِسك مْ اَح ءَْ فَِاذَا فَلََهاْ اََسأ ت مْ ۚ د ْ َجاٰۤ َوع
ِخَرةِْ ا اْل ـُٔو
َهك مْ ِلَيس ٰۤ و ج ل وا و ِجدَْ َوِلَيد خ ه ْ َكَما ال َمس لَْ دََخل و اَو
ة ْ ا َمر و ِلي تَب ِر ا َما و تَت ِبي ًرا َعلَو
(Qur’ān, al-Isra, 17:7)
Dan Kami sekali lagi memberkan peringatan kepadamu, selain
peringatan sebelumnya: “Jika kamu berjuang untuk kebaikan, kamu
akan berbuat baik untuk keberuntungan kamu sendiri; dan jika
kamu kembali ke perbuatan jahat, kamulah yang harus membayar
akibatnya.” Maka, sebagaimana yang telah kamii periingatkan
kepadamu, tibalah masa kedua Fasad, Kami bangkitkan kembali
orang-orang yang menghukummu dengan cara yang sangat
mengerikan yang membawa aib bagimu, dan mereka memasuki dan
menghancurkan Masjid (atau Kuil yang dibangun oleh seperti yang
terjadi pada kesempatan sebelumnya, dan mereka menghancurkan
dengan kehancuran total semua yang telah mereka taklukkan.
Setelah menceritakan tentang dua periode Fasad yang
terjadi pada bangsa Israel, (yaitu yang merusak dan dapat
menghancurkan) di Tanah Suci, dan tentang akibat dari dua kali
pengusiran dari Tanah itu (meskipun Tanah diberikan kepada mereka
untuk tinggal di sana) Al-Qur'an memberitahu mereka bahwa pintu
rahmat masih terbuka bagi mereka. Namun, jika mereka kembali ke
Tanah Suci dengan perilaku jahat, mereka diperingatkan akan
pengusiran lagi dari Tanah itu :
ى َحَمك م ْ اَنْ َربُّك مْ َعس َناْ ع د تُّمْ َواِنْ ي ر َجَهن مَْ َوَجعَل َنا ع د
ِفِري نَْ َحِصي ًرْا ِلل ك
(Qur’ān, al-Isra, 17:8)
Tuhan mu mungkin masih menunjukkan belas kasihan kepadamu;
namun jika kamu kembali kepada perilaku jahat, Kami akan kembali
59
menghukumu; dan ingatlah ! Kami telah menetapkan bahwa
Neraka akan menutup semua orang yang menolak dan menentang
kebenaran tentang masalah ini.
Ayat-ayat Al-Qur'an di atas dengan jelas menetapkan bahwa
pemberian Tanah Suci kepada orang-orang Israel bergantung pada
Iman dan perilaku yang saleh; oleh karena itu kepercayaan orang
Yahudi pada pemberian Ilahi tanpa syarat dari Tanah Suci kepada
mereka yaitu salah.
Bukti lebih lanjut bahwa hal itu salah, akan muncul secara
dramatis di akhir Sejarah saat mereka melanggar syarat-syarat
pewarisan Tanah Suci untuk terakhir kalinya(dan itulah tepatnya
perilaku mereka saat buku ini ditulis) tapi kali ini bukannya diusir,
mereka bahkan dihancurkan.
Buku ini menjelaskan realitas kembalinya orang-orang
Yahudi yang jahat dan berlumuran darah ke Yerusalem dan Tanah
Suci di Zaman Modern, dan menjelaskan kehancuran mereka yang
ditetapkan secara Ilahi di Tanah Suci pada akhir Sejarah. Mereka akan
dihancurkan sebagai akibat dari pelanggaran dan pembangkangan
mereka terhadap keimanan dan perilaku yang benar sebagai pewaris
Tanah Suci ini .
Al-Qur'an t dengan jelas menetapkan kewajiban bagi orang-
orang beriman untuk bangkit melawan perilaku jahat di 'kota' (yang
jelas merupakan Yerusalem) pada saat kaum tertindas telah direduksi
menjadi kelemahan dan ketidakberdayaan yang hina :
نَْ َْلْ لَك مْ َوَما عَِفي نَْ ّللٰاِْ َسِبي لِْ فِيْ ت قَاِتل و تَض س َجالِْ ِمنَْ َوال م الر ِ
ءِْ نَْ ال ِذي نَْ َوال ِول دَانِْ َوالن َِساٰۤ ل و َنا َرب َنآْٰ َيق و ِرج ِذهِْ ِمنْ اَخ َيةِْ ه ال قَر
ل َهاْ الظ اِلمِْ عَلْ اَه عَلْ َوِليًّاْ ل د ن كَْ ِمنْ ل َنا َواج ل د ن كَْ ِمنْ ل َنا َواج
َنِصي ًرْا
60
(Qur’ān, an-Nisa, 4:75)
Bagaimana kamu bisa menolak untuk berperang di jalan Allah demi
orang-orang yang lemah dan tidak berdaya, pria dan wanita dan
anak-anak yang menangis, “Ya Tuhan kami! Pimpin kami [ke
kebebasan] keluar dari negeri ini yang rakyatnya penindas, dan
bangkitkan bagi kami, karena rahmat-Mu, orang yang akan
melindungi kami, dan bangkitkan bagi kami, dari kasih karunia-Mu,
orang yang akan membebaskan kami dari penderitaan !”
Saat buku ini ditulis, beberapa pemerintah negara-negara
Muslim mengkhianati seruan Al-Qur'an yang meminta mereka untuk
bangkit dan berjuang untuk membebaskan yang tertindas. Bukannya
bangkit, mereka malah menjadi negara anggota NATO, atau mereka
membungkuk dalam sujud di hadapan penindas atau sambil
memperluas pengakuan politik ke Negara Israel.
saat orang-orang beriman yang pada akhirnya bangkit
sebagai jawaban atas panggilan Allah, dan saatnya tiba untuk
pembebasan terakhir Yerusalem dari penindasan, situasi akan
berubah :
ا اِذَا َحتٰىْٰٓ نَْ َما َراَو َعد و نَْ ي و و عَفْ َمنْ فََسيَع لَم اَقَلُّْ َناِصًرا اَض و
َعدَدًاْ
(Qur’ān, al-Jinn, 72:24)
Biarkan mereka, kemudian, menunggu sampai saat saat mereka
melihat malapetaka yang mereka telah diperingatkan sebelumnya:
karena kemudian mereka akan memahami siapakah yang lebih
tidak berdaya dan yang jumlahnya lebih sedikit..
saat perjuangan terakhir untuk membebaskan dari
penindasan di Yerusalem benar-benar terjadi, Allah تعاىل و سبحانه
memperingatkan bahwa tidak akan ada ruang untuk berkompromi,
61
atau untuk perdamaian atau gencatan senjata. Sebaliknya Dia akan
menghabiskan perjuangan sampai berakhir terlepas dari
kemungkinan mengorbankan banyak nyawa untuk melawan mereka
dalam rangka berjuang untuk meraih kebebasan :
ا فََلْ ا تَِهن و ِمْ اِلَْى َوتَد ع و ٰٓ ل َنْ َواَن ت مْ الس لَو َع َوّللٰا ْ اْل
َمالَك مْ ي تَِرك مْ َولَنْ َمعَك مْ اَع
(Qur’ān, Muhammad, 47:35)
Dan ketahuilah, saat kamu berjuang untuk tujuan yang adil itu,
jangan putus asa dan jangan pernah memohon perdamaian: karena
Allah menyertaimu, Pasti pada akhrnya akan dijadikan lebih unggul;
dan Dia tidak akan pernah membiarkan perbuatan baikmu menjadi
sia-sia
Akhirnya, Al-Qur’an mengirimkan pesan yang luar biasa
kepada bangsa Israel bahwa sejarah pada saat itu akan berulang.
Seperti halnya orang-orang yang lemah dan tidak berdaya
dibebaskan oleh ketetapan Allah dari penindasan Fir’aun di Mesir dan
kemudian mewarisi Tanah Suci, demikian pula orang-orang beriman
yang lemah dan tidak berdaya akan dibebaskan dari penindasan
Negara palsu. Israel, dan mereka kemudian dengan keputusan Ilahi,
mewarisi Tanah Suci :
نْ اَنْ َون ِري د ْ ا ال ِذي نَْ َعلَى ن م ِعف و ت ض ِضْ فِى اس َر مْ اْل عَلَه َوَنج
ةًْ مْ اَىِٕم عَلَه َنج ِرِثي نَْ و ال و ْ ۚ
(Qur’ān, al-Qasas, 28:5)
namun i itulah kehendak Kami untuk melimpahkan kebaikan Kami
kepada orang-orang yang dianggap sangat rendah di negeri ini, dan
menjadikan mereka pelopor dalam iman, dan menjadikan mereka
pewaris Tanah Suci.
62
Kita akan menunggu bagaimana nasib orang-orang Yahudi
yang memiliki watak seperti Fir’aun sang penindas, sekali lagi seperti
Fir’aun yang dengan keras kepala dan arogan menolak Kebenaran.
kali ini Mereka (orang-orang Yahudi) menolak kebenaran bahwa
Yesus السالم عليه yaitu al-Masih, niscaya mereka akan mengalami
nasib yang sama seperti Firaun. Bagimana Nasib mereka ?
saat takdir yang telah ditentukan untuk Fir’aun tiba, dan
dia tenggelam di laut, Kebenaran yang telah disampakan kepadanya
sedemikian rupa sehingga dia terpaksa menerimanya, dan
menyatakan, (sesaat sebelum kematiannya), keimanan kepada
Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang diimani orang-orang Israel.
Tanggapan Ilahi terhadap pernyataan iman itu dengan jelas
menunjukkan bahwa sudah terlambat untuk menyelamatkannya dari
api neraka. Sebaliknya, Allah dzat Maha Tinggi kemudian
menetapkan (pada saat kematian Fir’aun), bahwa jasadnya akan
terpelihara sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai tanda
yang luar biasa bagi orang-orang yang akan datang setelahnya.
Pandangan kami tentang tanda itu yaitu bahwa mereka yang akan
berperilaku jahat seperti dia, akan mengalami nasib yang sama
seperti dia, yaitu, mereka akan mati dengan cara sebagaimana dia
(Fir’aun) mati :
َنا ۞ ْٰٓ َوَجاَوز ِءي لَْ ِبَبنِي َراٰۤ رَْ اِس مْ ال َبح نْ فَاَت بَعَه َعو د هْ فِر ن و َوج
ًيا َعد ًوا بَغ َحتٰىْٰٓ و َمن تْ قَالَْ ال غََرقْ اَد َرَكه ْ اِذَآْٰ ۚ هَْ َْلْٰٓ اَن هْ ا ْ اِل اِْل
َمَنتْ ال ِذي ْٰٓ ا ِبهْ ا ِءي لَْ َبن و ٰٓ َراٰۤ ِلِمي نَْ ِمنَْ َواََناْ اِس س ال م
(Qur’ān, Yunus, 10:90)
Dan Kami membawa orang-orang Israel menyeberangi laut; dan
kemudian Firaun beserta bala tentaranya mengejar mereka dengan
kekejaman dan kezaliman yang keras, sampai [mereka dibanjiri oleh
air laut. Dan saat ] dia hampir tenggelam, [Firaun] berseru: “Saya
percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang dipercayai oleh
63
orang Israel, dan saya termasuk orang-orang yang menyerahkan
diri kepada-Nya!
نَْ ـ
ل
ف ِسِدي نَْ ِمنَْ َوك ن تَْ قَب لْ َعَصي تَْ دْ َوقَْ ا ٰۤ ال م
(Qur’ān, Yunus, 10:91)
[namun Allah berfirman:] “Sekarang?—Padahal selama ini kamu
memberontak [melawan Kami], dan melakukan Fasad?”
(Tanggapan ilahi ini menunjukkan bahwa pernyataan iman datang
terlambat untuk diterima.
مَْ ي كَْ فَال َيو نَْ ِبَبدَِنكَْ ن َنج ِ َيةًْ َخل فَكَْ ِلَمنْ ِلتَك و َواِنْ ا نَْ َكِثي ًرا ۚ ِم
ِتَنا َعنْ الن اِسْ ي نَْ ا ِفل و لَغ
(Qur’ān, Yunus, 10:92)
“Hari ini, Firaun, Kami telah menetapkan agar jasadmu diawetkan
sehingga dapat berfungsi sebagai tanda yang menakjubkan bagi
orang-orang yang akan datang setelah kamu; namun begitu banyak
yang lalai dari peringatan Kami!”
Dari ayat-ayat al-Qur’an diatas, Seolah ingin menyampaikan
Peringatan keras kepada mereka yang mendukung penindasan tanpa
henti, dan penolakan keras terhadap Kebenaran yang dlilakukan
Negara Israel saat ini, seperti berikut :
“Kamu hidup mengikuti cara hidup Fir’aun, dan Kamu
akan dibinasakan dengan cara bagaimana dia binasa.
Hingga saat-saat terakhir sebelum Dia mati karena
tenggelam di Laut Merah, Dia sempat yakin bahwa dia
akan berhasil. demikian juga, apakah orang-orang
Yahudi akan tetap yakin akan keberhasilan sampai
saat al-Masih kembali?”
64
Saat buku ini sedang ditulis, Angkatan Bersenjata Amerika
Serikat (AS) sedang bersiap untuk meninggalkan Afghanistan setelah
melewati kegagalan, lebih dari dua puluh tahun pendudukan militer
yang brutal dan tidak adil, untuk menaklukkan rakyat Afghanistan.
Mundurnya AS dari Afghanistan pasti akan menghasilkan pemulihan
Imarah Islam di Afghanistan yang telah didirikan setelah penarikan
Soviet. Rencana Ilahi dengan demikian perlahan-lahan terungkap
yang akan menyaksikan pembersihan akhir Tanah Suci dari para
penindas. Nabi Muhammad وسلم عليه للا صل menubuatkan bahwa
pasukan tak terbendung yang datang dari Khorasan akan
membebaskan Tanah Suci, dan peristiwa baru-baru ini tampaknya
menegaskan bahwa ini memang akan terjadi.
1.7 Hilangnya tiba-tiba Negara Suci Israel
Pasca wafatnya Nabi Sulaiman السالم عليه , Negara Suci Israel
mulai runtuh, dan akhirnya menghilang. Ini lah peristiwa yang paling
traumatis dan menyakitkan dalam sejarah Israel. Mereka tidak
memiliki pengetahuan pasti tentang penyebab hilangnya Israel Suci
secara misterius (Bukan hanya pada waktu itu, namun juga sampai hari
ini) Sebaliknya, mereka berdebat tentang subjek ini dan berselisih
pendapat dalam penjelasan mereka.
Hanya saat Al-Qur’an diturunkan, Allah تعاىل و سبحانه
mengungkapkan untuk pertama kalinya, penjelasan yang benar atas
lenyapnya Negara Suci Israel. Kami telah menulis sebuah buku
tentang topik itu yang berjudul: “Al-Qur'an, Dajjal dan Jasad”
Pembaca dapat menemukan penjelasan rinci dalam buku ini .
Al-Qur'an telah menyatakan bahwa Ia datang untuk menjelaskan
kepada orang-orang Israel banyak hal yang mereka perselisihkan, dan
inilah salah satu hal yang akan dijelaskan. Berikut penjelasan
singkatnya yang ada di dalam Al-Qur’an.
65
Tepat pada saat sejarah saat Negara Israel telah menjadi Negara
Penguasa di dunia, yaitu Pax Dei, Allah dzat Maha Tinggi
menyebabkan Sulaiman السالم عليه mengalami suatu peristiwa yang
membuatnya tertekan :
نَْ فَتَن ا َولَقَدْ ى َواَل قَي نَا س لَي م ِسي ِهْ َعل اَنَابَْ ث مْ َجَسدًْا ك ر
(Qur’ān, Sad, 38:34)
Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman saat Kami
tempatkan seorang Jasad di singgasananya; dan saat dia
memahami makna dan menyadari tanda dari penglihatan itu, dia
berbalik kepada Kami dengan penuh penyesalan”
Nabi Sulaiman السالم عليه mengalami sebuah Penglihatan,
di mana dia melihat seseorang duduk di singgasananya. Al-Qur'an
menggambarkan sosok itu sebagai Jasad dan menyatakan bahwa
Penglihatannya yaitu Fitnah yang akan terjadi, yaitu, dan hal itulah
yang membuat Nabi Sulaiman مالسال عليه merasa cemas.
Sulaiman السالم عليه segera mengenali Jasad itu. Dia juga
memahami arti dan implikasi dari Penglihatannya ini (Melihat
Jasad).
Siapa, atau apa, Jasad ini ?
Tentu saja, bukanlah metodologi yang tepat untuk
mempelajari Al-Qur'an memakai kamus untuk mencari arti kata
“Jasad”, atau dengan demikian mempelajari dan memahami ayat ini
secara terpisah—yaitu, berdiri sendiri.
Metodologi yang tepat yaitu mempelajari Al-Qur’an
secara keseluruhan, dan dengan demikian berusaha memahami Al-
Qur’an dengan Al-Qur’an. Dari tanggapan Sulaiman terhadap
Penglihatan itulah kita bisa mulai mendapatkan informasi tentang
66
siapa, atau apa, Jasad (yang dilihat oleh Nabi Sulaiman – Red)
ini .
Sulaiman السالم عليه menanggapi penglihatan itu dengan
sebuah Do'ā kepada Allah تعاىل و سبحانه seraya memohon ampunan
atas dosa-dosa. Dia meminta kepada Allah تعاىل و سبحانه untuk
mengabulkan bahwa tidak ada yang bisa mewarisi Kerajaannya
setelah sepeninggalannya. Permintaannya juga termasuk bahwa
tidak akan pernah ada Negara atau Kerajaan lain dalam sejarah yang
dapat dibandingkan dengan Negara Suci Israel yang telah
dipimpinnya :
ِفرْ َرب ِْ قَالَْ ل ًكا ِليْ َوَهبْ ِليْ اغ ْ م َبِغيْ ْل
ن ْ ِْلََحدْ َين بَع ِدي ْ ِم
ال َوه ابْ اَن تَْ اِن كَْ
(Qur’ān, Sad, 38:35)
Sulaiman berdoa: “Ya Tuhanku! Ampunilah dosa-dosaku, dan
kabulkanlah agar tidak ada yang mewarisi Kerajaanku setelah aku
(dan bahwa tidak akan pernah ada lagi Kerajaan yang sebanding
dengan kerajaanku). Sesungguhnya hanya Engkau yang dapat
mengabulkan apa yang aku minta.”
Allah تعاىل و سبحانه mengabulkan doa terebut. Israel Suci
menjadi Negara yang selamanya tidak ada bandingannya dengan
Negara atau Kerajaan yang lain, dan Allah تعاىل و سبحانه juga
menyebabkan Negara itu runtuh dan menghilang segera setelah
wafatnya Sulaiman السالم عليه , baik karena doa Sulaiman السالم عليه
maupun karena orang Israel telah melanggar syarat-syarat pewarisan
Tanah Suci ini . Bahkan saat al-Masih kembali, dan
memulihkan Negara Penguasa Suci di Yerusalem, itu masih tidak
dapat dibandingkan dengan Negara Suci Israel Sulaiman (Kerajaan
Sulaiman).
67
Informasi penting tentang Jasad berikut ini dapat dengan mudah
disimpulkan dari tanggapan Sulaiman السالم عليه terhadap
penglihatan ini :
• Jasad yaitu seorang Manusia, dan bukan mayat tak
bernyawa atau tubuh belaka.
• Jasad yaitu seseorang yang sangat jahat.
• Jasad ingin mewarisi Kerajaan Sulaiman, yaitu Negara Suci
Israel; dan karena Israel Suci yaitu Negara penguasa di
dunia, maka Jasad ingin menguasai dunia dari Negara
penguasa Sulaiman.
1.8 Jasad yaitu Dajjal (anti Kristus)
Penulis ini mengenali Jasad, yang diperlihatkan dalam
penglihatan duduk di singgasana Sulaiman, sebagai Dajjal, al-Masih
Palsu, yang pada akhirnya akan muncul di dunia dalam wujud
manusia, sebagai manusia yang hidup, berjalan dan berbicara.
TIDAK ADA SEORANG PUN (mohon maafkan huruf besar)
yang boleh menerima pandangan, di atas, dari penulis ini kecuali
yakin bahwa dia benar dalam mengidentifikasi Jasad sebagai Dajjal
al-Masih palsu!
Pandangan kami yaitu bahwa Dajjal digambarkan dalam Al-
Qur'an sebagai “Jasad” karena dia tidak memiliki Ruh yang ditiupkan
Allah تعاىل و سبحانه ke dalam setiap manusia.
Dajjal al-Masih palsu akan memiliki semua karakteristik
eksternal manusia namun secara internal tidak memiliki kepribadian
spiritual. Semua orang yang mengikutinya juga, pada akhirnya, akan
hidup dalam kehampaan spiritual. Mereka akan menjadi tuli, bisu,
dan buta, dan dia akan membawa mereka ke api neraka.
68
Karakteristik paling mendasar dari mereka yang mengikuti
Dajjal yaitu penerimaan mereka, kenyamanan hidup di jalur cepat,
dangan kapasitas yang luar biasa mereka untuk berpikir cepat dan
cepat dan memahami semua yang berkaitan dengan kehidupan di
jalur cepat. Namun, akibatnya mereka tidak mampu berpikir kritis,
yang membutuhkan waktu dan kesabaran; dan karenanya mereka
tidak akan pernah bisa menembus pengetahuan dalam Al-Qur’an
yang hanya dapat diakses dengan pemikiran yang mendalam. (Lihat
buku saya yang berjudul ‘The Qur’ān, Dajjāl and the Jasad’.)
1.9 Janji Ilahi dari seorang al-Masih
Pasti tidak lama setelah keruntuhan dan hilangnya Israel Suci
yang misterius dan traumatis, saat orang-orang Israel masih
terguncang karena trauma dan mengalami rasa sakit, derita, dan
kesedihan, bahwa Allah تعاىل و سبحانه pasti telah membawa
pertolongan dan kegembiraan kepada mereka dengan janji Ilahi.
bahwa Dia akan mengutus mereka seorang yang akan menjadi Nabi
mereka, dan yang akan dikenal sebagai Al-Masih. Mereka pasti telah
menerima dengan gembira berita tentang kedatangan Al-Masih yang
dijanjikan yang akan mengembalikan zaman keemasan saat Israel
Suci pernah memerintah dunia.
Mungkin juga berita tentang janji Al-masih sampai kepada
mereka tidak hanya setelah Negara Israel runtuh, namun juga setelah
periode Fasad pertama (Al-Qur'an, al-Isra', 17:4-7) terjadi, dan orang
Israel telah diusir dari Tanah Suci dan dibawa sebagai budak ke
Babelilonia.
Mereka mungkin telah menghabiskan hingga (mungkin)
seratus tahun di pengasingan di Babilonia, seraya merindukan suatu
hari kelak saat al-Masih (yang dijanjikan-Red) akan datang.
Meskipun setiap orang Kristen dan setiap orang Yahudi
percaya pada kedatangan al-Masih, namun (secara misterius) kitab
69
suci sebelum Injil, yang mencatat kehidupan dan ajaran banyak nabi
yang dikirim pada waktu itu kepada orang Israel, tidak memberikan
kejelasan dan informasi yang tepat tentang al-Masih yang dijanjikan
secara ilahi. Sangat mungkin bahwa seseorang dapat menghapus
informasi tentang janji al-Masih dari kitab suci ini karena
informasi yang hilang akan mengkonfirmasi Yesus السالم عليه sebagai
al-Masih.
saat Allah تعاىل و سبحانه mengizinkan orang Israel untuk
kembali ke Tanah Suci, dan membangun kembali Masjid atau Kuil,
mereka yakin bahwa al-Masih akan segera datang (dan tentu saja al-
Masih memang datang!) namun saat Allah اىلتع و سبحانه mengutus
al-Masih kepada mereka, hanya sebagian dari mereka yang
menerimanya, sedangkan para ulama Israel menolaknya. Memang,
mereka terus menolaknya selama lebih dari 2000 tahun yang telah
berlalu sejak saat itu.
Tepat pada saat ini (dalam sejarah) setelah pengusiran
pertama bangsa Israel dari Tanah Suci, lalu kemudian setelah sekitar
seratus tahun di pengasingan, saat mereka kembali dan
membangun Masjid atau Kuil (pokok bahasan yang tepat dari buku
ini dimulai), justru pada saat inilah Allah تعاىل و سبحانه memenuhi janji-
Nya kepada mereka dan mengutus al-Masih kepada mereka.
Siapa al-Masih itu? Bagaimana dia muncul? Mengapa para
cendekiawan Israel (yakni para rabi) menolaknya? Kami beralih ke Al-
Qur'an, di bab berikutnya dari buku ini, untuk menjawabnya.
Catatan :
Seorang pria bernama Mirza Ghulam Ahmad dari India,
berusaha mengidentifikasi dirinya dengan nubuah tentang
kembalinya putra Mariam السالم عليه ini dengan mengklaim bahwa
dia menggenapi dalam dirinya sendiri nubuat tentang kembalinya
70
yang mencengangkan itu, namun dia memiliki masalah yang tidak
dapat diatasi karena dia yaitu putra seorang wanita dari suku
Punjabi, sedangkan ramalan mengidentifikasi kembalinya seseorang
yang akan menjadi putra Mariam. masalah, karena hanya ada satu
Perawan Mariam السالم عليه sepanjang sejarah
71
72
erkadang penulis perlu mengutip ayat Al-Qur’an yang sama
lebih dari satu kali dalam bab ini, kami berdoa agar pembaca
yang budiman memahami kebutuhan kami untuk
melakukannya.
Dalam Surah al-Wāqi'ah (56:75) yang dijalakan didalam Al-
Qur'an, Allah تعاىل و سبحانه menyatakan sumpah dengan posisi di
mana bintang-bintang berada, dan melanjutkan untuk menekankan
bahwa itu yaitu sumpah yang sangat penting karena itu yaitu
kunci metodologi untuk mempelajari Al-Qur'an. Sebagaimana kita
harus belajar membaca bintang-bintang untuk menentukan arah,
demikian pula jika kita ingin menembus ilmu yang disampaikan
melalui wahyu Ilahi, kita harus menemukan bagaimana ayat-ayat Al-
Qur’an saling berhubungan satu sama lain secara harmonis.
Implikasi bagi subjek kita tentang al-Masih yaitu bahwa kita
tidak hanya harus menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan
dengan subjek ini, namun juga untuk menemukan bagaimana ayat-
ayat ini terhubung secara harmonis satu sama lain.
Buku ini mencoba untuk menyatukan semua ayat Al-Qur'an
tentang pembahasan ini menjadi satu kesatuan yang harmonis, dan
kemudian menawarkan sebuah pandangan dan analisis yang
dimaksudkan untuk membantu pembaca dalam memahami sistem
makna dari subjek ini .
saat kita menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an tentang al-
Masih, kita menemukan bahwa ayat-ayat ini mengungkapkan
bukti persiapan Ilahi untuk mempersiapkan kedatangan Al-Masih di
dunia, dalam arti bahwa ayat-ayat itu dengan jelas mengidentifikasi
garis keturunan al-Masih.
Selain itu, Allah تعاىل و سبحانه memberikan peringatan yang
tegas kepada mereka yang pada akhirnya akan menolak al-Maih, dan
tentang nasib yang akan menunggu mereka.
T
73
2.1 Yahudi, Kristen dan al-Masih
Sebelum kita beralih ke Al-Qur’an untuk menjelaskan silsilah
Al-Masih, kita mengarahkan perhatian pada pernyataan yang sangat
penting bagi orang Kristen dan Yahudi tentang hal-hal di mana
mereka berbeda satu sama lain. Al-Qur'an menyatakan bahwa ia
memberikan penjelasan yang menyelesaikan perbedaan-perbedaan
itu—dan ini harus mencakup perbedaan mereka tentang al Masīh :
ذَا اِنْ نَْ ه ا ْى َيق صُّْ ال ق ر ْٰٓ َعل ِءي لَْ َبِني َراٰۤ ثَرَْ اِس فِي هِْ ه مْ ال ِذيْ اَك
نَْ تَِلف و َيخ
(Qur’ān, an-Naml, 27:76)
Lihatlah, Al-Qur'an ini menjelaskan kepada orang-orang Israel
sebagian besar di mana mereka memiliki pandangan yang berbeda.
Oleh karena itu, penting bagi orang-orang Kristen dan Yahudi
bukan hanya secara hati-hati memerksa kredensial Al-Qur'an sebagai
Firman Tuhannya Ibrahim, namun juga mempelajari penjelasan yang
ditawarkannya tentang hal-hal yang berbeda. Subyek buku ini, yaitu
al-Masīh, sejauh ini merupakan masalah terpenting yang
memisahkan orang Yahudi dan Kristen (Nashrani-Red).
Orang-orang Kristen percaya kepada Yesus السالم عليه , putra
dari sang perawan Mariam, sebagai al-Masīh. namun selanjutnya juga
menyatakan bahwa dia yaitu putra Allah, serta salah satu dari tiga
pribadi dalam Allah Tritunggal—yaitu, Tuhan yang terdiri dari tiga
pribadi : Tuhan ayah, Tuhan anak, dan Tuhan Roh Kudus. Orang-orang
Kristen juga mengakui ibunya, Mariam, memiliki status paling tinggi
di antara semua wanita di dunia
Buku ini tidak bermaksud untuk memperdebatkan atau
beradu argumenn dengan orang-orang Kristen tentang kepercayaan
mereka pada Tuhan yang terdiri dari tiga pribadi, yaitu Trinitas, dan
74
tentang kepercayaan mereka kepada al-Masih sebagai Anak Tuhan;
melainkan kami membatasi diri untuk sekadar menyajikan
pernyataan Ilahi dari subjek ini .
Akan merugikan jika kita berhenti sejenak untuk
mencatat bahwa orang Kristen Haiti yang telah
lama menderita, menderita karena mereka berani
menentang penindas Prancis 200 tahun yang lalu,
memiliki pandangan yang berbeda tentang
Trinitas. Bagi Haiti, terdiri dari ayah, anak, dan
CIA.
Orang Yahudi menolak kepercayaan pada Tuhan Tritunggal
Kristen yang masih Satu Tuhan, dan bersikeras bahwa Tuhan yaitu
satu kesatuan yang sederhana, namun mereka juga terus menolak
Yesus السالم عليه sebagai al-Masih karena mereka percaya bahwa dia
dilahirkan dalam dosa, oleh karena itu mereka memiliki pandangan
serendah mungkin dan sehina mungkin kepada Dia (Yesus-Red) dan
ibunya, Mariam. Bukti paling kuat yang mereka (orang-orang Yahudi-
Red) miliki untuk mengkonfirmasi bahwa dia (Yesus-Red) tidak
mungkin yaitu sosok al-Masih yaitu kematiannya dengan
penyaliban yang mereka saksikan dengan mata mereka. Mereka
yakin bahwa dia bukan al-Masih karena dia mati tanpa memulihkan
Negara Suci Israel, dan tanpa menegakkan pemerintahan abadinya
atas umat manusia dari Yerusalem, dan dari Negara Suci ini .
Al-Qur'an menegaskan kepercayaan Kristen pada Yesus عليه
سبحانه و sebagai al-Masih, sementara bersikeras bahwa Allah السالم
-yaitu Satu Tuhan. Ini dengan tegas menolak klaim bahwa al تعالى
Masih yaitu 'Tuhan Anak', dan bahwa dia yaitu salah satu dari tiga
Tuhan yang terdiri dari tiga pribadi, yaitu, Allah Tritunggal :
75
ٰٓاَه لَْ بِْ ي ا َْلْ ال ِكت ا َوَْلْ ِدي ِنك مْ فِيْ تَغ ل و ل و ْ ّللاِْٰ َعلَْى تَق و ال َحق ْ اِْل
َيمَْ اب نْ ِعي َسْى ال َمِسي حْ اِن َما لْ َمر ْ َوَكِلَمت هْ ّللاِْٰ َرس و َهآْٰ ۚ اَل ق
ى َيمَْ اِل حْ َمر و ن ه ْ َور ا م ِ ِمن و فَا ْ ِباّلٰلِْ ۚ س ِله ا َوَْلْ َور ل و ثَة �

