doktrin dasar alkitab 11
Hari Sabtu yaitu hari Sabat. T. Mengapa kita memelihara hari Minggu ganti hari Sabtu? J. Kita memelihara hari Minggu
sebagai ganti hari Sabtu sebab Gereja Katolik memindahkan kekhidmatan Sabtu kepada Minggu” (Geiermann, hlm. 50).
Lihat juga Source Book, hlm. 886. Katekismus ini menerima “berkat kerasulan” Paus Pius X, 25 Januari 1910 (Ibid.).
204
Bahwa jemaat yaitu satu tubuh dengan banyak anggota, dipanggil
dari setiap bangsa, bahasa dan kaum. Di dalam Kristus kita yaitu
ciptaan baru; berbeda suku-bangsa, budaya, pengetahuan, kebangsaan,
dan perbedaan tinggi dan rendah, kaya dan miskin, lelaki dan
perempuan, seharusnya tidaklah mendatangkan perpecahan di antara
kita. Kita sama di dalam Kristus, yang dengan satu Roh telah menjadikan
kita satu dalam persekutuan dengan Dia dan satu dengan yang lain;
kita harus melayani dan dilayani tanpa pilih kasih atau tanpa pamrih.
Melalui penyataan Yesus Kristus di dalam Alkitab kita membagikan iman
dan pengharapan yang sama, dan menjangkau ke luar dalam satu
kesaksian kepada semua orang. Kesatuan ini bersumber dalam kesatuan
ketritunggalan Allah, yang telah mengangkat kita menjadi anak-anak-
Nya.—Fundamental Beliefs,—14.
205
Yesus, sesudah menyelesaikan pekerjaan-
Nya di atas dunia ini (Yoh. 17:4), ma-
sih terus merasa tersiksa melihat keadaan
murid-murid-Nya, bahkan pada saat senja
menjelang kematian-Nya.
sebab di dalam hati mereka masih ter-
dapat kecemburuan dan mereka melibatkan
diri dalam perdebatan tentang siapakah yang
terbesar dan siapakah yang akan mendapat
jabatan yang tinggi di dalam kerajaan Kris-
tus. Penjelasan yang diberikan Yesus bah-
wa kerendahan hati yaitu ciri-ciri pokok
kerajaan-Nya, dan pengikut-pengikut-Nya
yang sejati ialah orang yang mau menjadi
pelayan, yang mau menyerahkan diri mere-
ka sendiri tanpa berharap pujian dan imba-
lan terima kasih, tampaknya semua itu se-
olah-olah jatuh ke telinga orang yang tuli
(Luk. 17:10). Bahkan teladan yang diberi-
kan-Nya, dengan merendahkan diri memba-
suh kaki mereka ketika tidak seorang pun
mereka berbuat demikian, tampaknya per-
buatan itu seperti sia-sia belaka (baca bab
16).
Yesus yaitu kasih. sebab simpati yang
ada pada-Nya membuat orang banyak meng-
ikuti-Nya. Murid-murid-Nya yang tidak me-
ngenal kasih yang tidak mementingkan diri
ini, justru mereka diisi prasangka dan ke-
cemburuan yang kuat terhadap orang-orang
yang bukan Yahudi, perempuan-perempuan,
“orang berdosa,” dan orang miskin, sehing-
ga membutakan mereka terhadap kasih Kris-
tus yang ditujukan kepada orang-orang yang
paling hina sekalipun. Ketika murid-murid
itu melihat Ia berbicara dengan wanita Sama-
ria yang terkenal buruk kelakuannya, mere-
ka masih juga belum dapat memahami bah-
wa ladang yang sudah di dalamnya ada
aneka ragam gandum, sudah siap untuk di-
tuai.
namun Kristus tidak dapat digoncangkan
oleh tradisi, pendapat umum, bahkan tidak
juga oleh pengendalian kaum kerabat. Ka-
sih-Nya yang tidak dapat dibendung itu me-
ngalir dan memulihkan kita semua yang telah
hancur lebur. Kasih yang demikian yang
memisahkan mereka dari orang banyak yang
BAB 14
KESATUAN DALAM TUBUH KRISTUS
206Kesatuan dalam Tubuh Kristus
acuh tak acuh, menjadi bukti murid yang se-
jati. sebab Ia mengasihi mereka maka me-
reka pun mengasihi-Nya. Oleh sebab itu,
dunia akan senantiasa dapat membedakan
orang Kristen—bukan sebab pengakuan
mereka melainkan sebab penyataan kasih
Kristus di dalam mereka (bandingkan Yoh.
13:34, 35).
Itulah sebabnya di Taman Getsemani pun
yang menjadi beban pikiran utama Kristus
yaitu kesatuan jemaat-Nya—mereka yang
telah keluar “dari dunia” (Yoh. 17:6). Ia
memohon kepada Bapa-Nya kesatuan dalam
jemaat sama seperti yang ada dalam ke-
Allahan. Aku berdoa “supaya mereka semua
menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa,
di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar
mereka juga di dalam Kita, supaya dunia
percaya, bahwa Engkaulah yang telah meng-
utus Aku” (Yoh 17:21).
Kesatuan yang demikian merupakan alat
bersaksi yang paling tangguh bagi gereja,
sebab itulah yang membuktikan kasih Kris-
tus yang tidak mementingkan diri bagi manu-
sia. Ia berkata, “Aku di dalam mereka dan
Engkau di dalam Aku supaya mereka sem-
purna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa
Engkau mengasihi mereka, sama seperti
Engkau mengasihi Aku” (Yoh 17:23).
KESATUAN ALKITAB DAN GEREJA
ATAU JEMAAT
Jenis kesatuan yang bagaimanakah yang
ada dalam pikiran Yesus Kristus bagi je-
maat-Nya yang tampak itu? Bagaimanakah
kasih dan kesatuan itu dimungkinkan? Apa-
kah fondasinya? Apakah unsur-unsur pokok
yang ada di dalamnya? Apakah kesera-
gaman yang dituntutnya ataukah justru kea-
nekaragaman yang diperkenankan? Bagai-
manakah fungsi kesatuan itu?
Kesatuan Roh. Roh Kudus merupakan
kekuatan penggerak di belakang kesatuan
jemaat. Melalui Dia orang-orang yang beri-
man dipimpin ke dalam jemaat. Melalui Dia
mereka “telah dibaptis menjadi satu tubuh”
(1 Kor. 12:13). Anggota-anggota yang telah
dibaptiskan ini memiliki satu kesatuan seba-
gaimana yang digambarkan rasul Paulus
“memelihara kesatuan Roh” (Ef. 4:3).
Sang rasul mencatat unsur dasar kesatuan
dalam Roh: “Satu tubuh, dan satu Roh, se-
bagaimana kamu telah dipanggil kepada satu
pengharapan yang terkandung dalam pang-
gilanmu,” katanya, “satu Tuhan, satu iman,
satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari se-
mua, Allah yang di atas semua dan oleh se-
mua dan di dalam semua” (Ef. 4:4-6). De-
ngan mengulang-ulangi sampai tujuh kali ka-
ta satu, Paulus menekankan secara lengkap
kesatuan yang diidam-idamkannya.
Dengan memanggil mereka dari pelbagai
suku-bangsa, Roh Kudus membaptiskan me-
reka ke dalam satu tubuh—yakni tubuh Kris-
tus, jemaat. Kalau mereka semakin bertum-
buh di dalam Kristus maka perbedaan bu-
daya tidak akan ada lagi untuk memecah-
mecah. Roh Kudus meruntuhkan rintangan
antara yang tinggi dan yang rendah, yang
miskin dan kaya, antara lelaki dan perem-
puan. sebab dengan menyadari bahwa pada
pemandangan Tuhan semua mereka sama,
maka mereka bersatu.
Kesatuan ini pun berfungsi dalam ting-
kat kelembagaan. Itu berarti bahwa jemaat-
jemaat lokal di mana pun berada tingkatnya
sama, sekalipun ada dari antaranya yang
masih menerima bantuan keuangan dan mi-
sionaris dari negeri-negeri yang lain. Persa-
tuan yang bersifat rohani itu tidak menge-
nal hierarki. Pribumi dan kaum misioner sa-
ma di hadapan Tuhan.
Jemaat yang disatukan itu memiliki satu
207Kesatuan dalam Tubuh Kristus
pengharapan—yakni “pengharapan yang
penuh bahagia” atas ‘keselamatan yang akan
diwujudkan pada waktu “penyataan kemu-
liaan Allah yang Mahabesar dan Jurusela-
mat kita Yesus Kristus” (Tit. 2:13). Pengha-
rapan ini yaitu satu sumber damai dan ke-
gembiraan, serta mengadakan motif persa-
tuan yang tangguh untuk bersatu dan ber-
saksi (Mat. 24:14). Itulah yang menuntun
kepada transformasi, sebab “setiap orang
yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya,
menyucikan diri sama seperti Dia yang ada-
lah suci” (1 Yoh. 3:3).
Melalui satu iman yang biasa—iman pri-
badi dalam korban pendamaian Kristus Ye-
sus—sehingga semua menjadi bagian dari
tubuh itu. Satu dalam baptisan yang me-
lambangkan kematian Kristus dan kebang-
kitan-Nya (Rm. 6:3-6) yang secara sempur-
na menyatakan iman ini, menjadi saksi persa-
tuan dengan tubuh Kristus.
Akhirnya, Kitab Suci mengajarkan bah-
wa hanya ada satu Roh, satu Tuhan, dan satu
Allah Bapa. Semua aspek kesatuan jemaat
memperoleh fondasinya dalam kesatuan Al-
lah yang tritunggal. “Ada rupa-rupa karunia,
namun satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayan-
an, namun satu Tuhan. Dan ada berbagai-ba-
gai perbuatan ajaib, namun Allah yaitu satu
yang mengerjakan semuanya dalam semua
orang” (1 Kor. 12:4-6).
Tingkat Kesatuan. Orang-orang yang
beriman akan mengalami suatu kesatuan pi-
kiran dan pertimbangan. Cobalah perhatikan
nasihat yang berikut: “Semoga Allah, yang
yaitu sumber ketekunan dan penghiburan,
mengaruniakan kerukunan kepada kamu, se-
suai dengan kehendak Kristus Yesus, sehing-
ga dengan satu hati dan satu suara kamu me-
muliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus
Kristus” (Rm. 15:5, 6). “namun aku menasi-
hatkan kamu, saudara-saudara, demi nama
Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia,
sekata dan jangan ada perpecahan di antara
kamu, namun sebaliknya supaya kamu erat
bersatu dan sehati sepikir” (1 Kor. 1:10). “Se-
hati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam
damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih
dan damai sejahtera akan menyertai kamu”
(2 Kor. 13:11).
Oleh sebab itu, jemaat Tuhan haruslah
menunjukkan kesatuan perasaan, pikiran dan
perbuatan. Apakah berarti para anggota ha-
rus memiliki perasaan yang sama, pikiran
yang sama dan perbuatan yang sama? Apa-
kah kesatuan yang Alkitabiah itu berarti ke-
seragaman?
Kesatuan dalam Keanekaragaman.
Kesatuan yang dimaksudkan dalam Alkitab
bukanlah berarti keseragaman. Metafora
yang digunakan Alkitab mengenai tubuh ma-
nusia menunjukkan kesatuan jemaat dalam
keanekaragaman.
Tubuh kita memiliki banyak organ
;
se-
muanya bertindak dengan sebaik-baiknya.
Masing-masing melaksanakan tugas yang vi-
tal walaupun dalam tugas berbeda-beda; ti-
dak ada yang tidak berguna.
Prinsip yang serupa juga berlaku dalam
jemaat. Allah membagi-bagikan karunia-Nya
“kepada tiap-tiap orang secara khusus, se-
perti yang dikehendaki-Nya” (1 Kor. 12:11),
membuat keanekaragaman yang sehat yang
menguntungkan jemaat. Tidak semua ang-
gota harus berpikir sama, pula tidak semua-
nya mampu melakukan pekerjaan yang se-
rupa. Alhasil, tugas dan kegunaan yang be-
rada di bawah pengarahan Roh yang sama
membangun jemaat untuk menyanggupkan
mereka melakukan yang terbaik bagi Allah.
Untuk melaksanakan misi itu dengan ba-
ik, jemaat memerlukan keikutsertaan semua
karunia yang diberikan. Dengan bersatu padu
mereka melakukan tugas penginjilan secara
208Kesatuan dalam Tubuh Kristus
menyeluruh. Sukses yang diperoleh jemaat
bukanlah bergantung kepada setiap anggota
yang melakukan pekerjaan yang sama, mela-
inkan bergantung pada semua anggota jemaat
yang melaksanakan tugas yang diserahkan
Tuhan kepada masing-masing mereka.
Ilustrasi tentang pohon anggur dan ran-
ting-rantingnya menggambarkan kesatuan
dalam keanekaragaman. Yesus memakai
perlambang pohon anggur untuk menggam-
barkan persatuan umat percaya dengan diri-
Nya (Yoh. 15:1-6). Ranting-ranting itu,
orang-orang beriman, ada perluasan Anggur
Sejati—Kristus. Seperti halnya setiap ran-
ting dan daun, setiap orang Kristen secara
individu berbeda satu dengan yang lain, na-
mun dalam kesatuan mereka satu, sebab me-
reka menerima makanan dari sumber yang
sama, Pohon Anggur. Ranting-ranting ang-
gur itu secara individu terpisah dan tidak ter-
padu satu dengan yang lain; namun masing-
masing ranting berada dalam persekutuan de-
ngan yang lain apabila mereka tetap berga-
bung pada dahan yang sama. Semua mene-
rima makanan dari sumber yang sama: pem-
beri hidup yang sama.
Jadi, kesatuan orang Kristen itu bergan-
tung pada keterkaitan setiap anggota kepada
Kristus. Dari Dia datang kuasa yang menye-
garkan kehidupan Kristen. Ialah yang men-
jadi sumber talenta dan kuasa yang diper-
lukan untuk menyelesaikan tugas-tugas je-
maat. Bila bersatu dengan Dia, maka cita-
rasa, kebiasaan dan gaya hidup semua orang
Kristen dibentuk. Melalui Dia semua anggo-
ta digabungkan satu dengan yang lain, ber-
gabung ke dalam persatuan untuk melaksa-
nakan misi bersama. Kalau setiap anggota
berada di dalam Dia maka sikap mementing-
kan diri akan lenyap, kesatuan Kristen dite-
gakkan dan menyanggupkan mereka untuk
menyelesaikan tugas yang diemban-Nya.
Sekalipun dalam jemaat itu ada tem-
peramen yang berbeda-beda, semua peker-
jaan tetap di bawah pimpinan satu Kepala.
Sekalipun banyak karunia, Roh tetap satu.
Sekalipun karunia berbeda-beda, tindakan
selalu selaras. “namun Allah yaitu satu yang
mengerjakan semuanya dalam semua orang”
(1Kor. 12:6).
Kesatuan Iman. Keanekaragaman karu-
nia bukanlah mengartikan keanekaragaman
kepercayaan. Pada akhir zaman jemaat Al-
lah akan terdiri dari orang-orang yang bera-
da pada mimbar Injil kekal—hidup mereka
ditandai oleh pemeliharaan hukum Tuhan
dan iman kepada Yesus (Why. 14:12). Mere-
ka bersama-sama memberitahukan kepada
dunia undangan Tuhan Allah, yang memba-
wa keselamatan.
BERAPA PENTINGKAH PERSATUAN
JEMAAT ITU?
Kesatuan sangat penting bagi jemaat.
Tanpa persatuan jemaat akan gagal menye-
lesaikan misinya yang kudus.
Kesatuan Membuat Upaya Jemaat
Efektif. Dalam sebuah dunia yang terpilah-
pilah sebab perbedaan pendapat dan kon-
flik, cinta kasih dan kesatuan di antara ang-
gota jemaat yang berbeda-beda kepribadi-
an, temperamen, dan pembawaan menjadi
saksi yang amat tangguh bagi pekabaran je-
maat dibandingkan dengan upaya apa pun
yang lain yang dapat dilakukan. Kesatuan
ini menyediakan suatu bukti yang tidak akan
terbantah atas hubungan mereka dengan sur-
ga dan keabsahan mereka sebagai murid-
murid Yesus Kristus (Yoh. 13:35). Itu mem-
buktikan kuasa Sabda Allah.
Konflik di antara orang-orang yang me-
ngaku Kristen menimbulkan rasa jijik di ka-
langan orang yang tidak beriman dan mung-
209Kesatuan dalam Tubuh Kristus
kin merupakan rintangan yang paling besar
untuk mereka menerima iman Kristen. Ka-
lau di kalangan orang Kristen ditemukan ke-
satuan yang sejati maka sikap ini akan lu-
luh. Itu menjadi sebuah bukti yang besar bagi
dunia ini, sebagaimana dikatakan Kristus,
bahwa Ia Juruselamat mereka (Yoh. 17:23).
Kesatuan Menyatakan Realitas Ke-
rajaan Allah. Jemaat yang bersatu padu di
dunia ini menunjukkan bahwa anggota-ang-
gotanya memang sungguh-sungguh berharap
hidup rukun bersama di surga. Kesatuan di
dunia menunjukkan realitas kerajaan Allah
yang kekal. Barangsiapa yang hidup dengan
cara seperti ini menggenapi apa yang dikata-
kan dalam Kitab Suci, “Sungguh, alangkah
baiknya dan indahnya, apabila saudara-sau-
dara diam bersama-sama dengan rukun!”
(Mzm 133:1).
Kesatuan Menunjukkan Kekuatan Je-
maat. Kesatuan mendatangkan kekuatan,
ketidaksatuan menimbulkan kelemahan. Se-
buah jemaat akan benar-benar makmur dan
tangguh apabila anggota-anggota disatukan
dalam Kristus, bekerja sama dalam kese-
larasan demi keselamatan dunia. Hanya de-
ngan demikianlah mereka benar-benar men-
jadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor. 3:9).
Kesatuan orang Kristen menjadi tantang-
an terhadap dunia kita yang semakin terce-
rai-berai, yang terpecah-pecah sebab hanya
mengasihi diri sendiri. Jemaat yang bersatu
akan menahan serangan setan. Sesungguh-
nya, kuasa kegelapan menjadi tidak berdaya
melawan jemaat yang anggotanya saling me-
ngasihi sebagaimana Kristus telah menga-
sihi mereka.
Efek positif dan indah dari jemaat yang
bersatu dapatlah dibandingkan dengan pe-
nampilan sebuah orkestra. Saat-saat sebelum
pemimpinnya muncul, ketika pemain musik
mulai mencoba musiknya, kedengarannya
mereka menimbulkan bunyi-bunyi musik
yang janggal. Begitu pemimpin musik mun-
cul, bunyi-bunyian yang gaduh dan tidak me-
nentu itu segera lenyap, semua mata dituju-
kan kepadanya. Setiap anggota orkestra du-
duk dan siap menerima petunjuknya. sebab
anggota orkestra itu mengikuti pemimpin-
nya, maka terdengarlah lagu dan musik yang
indah dan merdu.
“Kesatuan dalam tubuh Kristus berarti
memadukan instrumen hidupku dalam or-
kestra besar yang terpilih untuk keluar, di ba-
wah dirigen Pembimbing Ilahi. Dengan me-
ngikuti gerak turun dan naik, mengikuti ira-
ma aslinya, kita dapat menyajikan simponi
kasih Allah untuk umat kita semua .”1
PENCAPAIAN KESATUAN
Jika jemaat mau memperoleh pengalaman
kesatuan itu, maka Keallahan dan umat per-
caya haruslah dilibatkan dalamnya. Apakah
sumber kesatuan dan apakah itu dapat dica-
pai? Peran apakah yang harus dilakonkan
orang-orang percaya?
Sumber Kesatuan. Kitab Suci menun-
jukkan bahwa kesatuan memperoleh sumber-
nya dalam (1) pemeliharaan dalam kuasa Ba-
pa (Yoh. 17:11), (2) kemuliaan Tuhan yang
diberikan Kristus kepada para pengikut-Nya
(Yoh. 17:22), dan (3) umat percaya yang di-
diami Kristus (Yoh. 17:23). Roh Kudus, yak-
ni “Roh Kristus” yang tinggal di tengah-te-
ngah tubuh Kristus, yaitu kuasa pemadu
dan hadir sehingga membuat setiap bagian
bersatu.
Seperti poros dan jari-jari sebuah roda,
makin dekat anggota jemaat (jari-jari) kepa-
da Kristus (poros) makin dekatlah satu de-
ngan yang lain. “Rahasia kesatuan yang sejati
di dalam jemaat dan di dalam keluarga bu-
210Kesatuan dalam Tubuh Kristus
kanlah dalam diplomasi, bukan pula dalam
manajemen, tidak pula upaya kita semua yang
luar biasa untuk mengatasi pelbagai kesukar-
an—walaupun ini banyak juga dilakukan—
melainkan persatuan dengan Kristus.”2
Roh Kudus sebagai Pemersatu. Seba-
gaimana “Roh Kristus” dan “Roh kebenar-
an,” Roh Kudus mendatangkan kesatuan.
1. Fokus kesatuan. Kalau Roh itu ma-
suk dalam diri umat percaya, maka Ia men-
jadikan mereka mampu mengatasi prasang-
ka budaya kita semua , soal kesukuan, seks, war-
na kulit, kebangsaan dan status (baca Gal.
3:26-28). Ia menyempurnakan ini dengan
mendatangkan Kristus dalam hati. Orang
yang di dalamnya Kristus tinggal, mereka
akan memusatkan perhatian kepada Kristus,
bukan kepada diri mereka sendiri. Persatu-
an mereka dengan Kristus menegakkan ikat-
an kesatuan antara sesama mereka—buah
sebab tinggalnya Roh. Dengan cara demi-
kian mereka mengurangi perbedaan-perbe-
daan yang ada di antara mereka, dan me-
reka akan bersatu dalam tugas untuk memu-
liakan Yesus.
2. Peranan karunia-karunia rohani da-
lam pencapaian kesatuan. Bagaimana tu-
juan kesatuan jemaat itu dapat dicapai? Apa-
bila Yesus memulai pekerjaan pengantaraan-
Nya di sisi Bapa-Nya di surga Ia membuat
ketentuan bahwa tujuan memperoleh kesatu-
an dalam umat-Nya itu bukanlah hanya ang-
an-angan. Melalui Roh Kudus Ia memberi-
kan karunia khusus untuk mendirikan “kesa-
tuan iman” di antara orang-orang yang per-
caya.
Waktu membicarakan masalah karunia-
karunia ini, Paulus berkata, Kristus “membe-
rikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-
gembala dan pengajar-pengajar.” Karunia-
karunia ini diberikan kepada jemaat untuk
“memperlengkapi orang-orang kudus bagi
pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan
tubuh Kristus, sampai kita semua telah men-
capai kesatuan iman dan pengetahuan yang
benar tentang Anak Allah, kedewasaan pe-
nuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai
dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4:11-13).
Karunia-karunia yang unik ini direncana-
kan untuk mengembangkan “kesatuan Roh”
ke dalam sebuah “kesatuan iman” (Ef. 4:3,
13) sehingga umat percaya menjadi dewasa
dan teguh dan “bukan lagi anak-anak, yang
diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin
pengajaran, oleh permainan palsu kita semua
dalam kelicikan mereka yang menyesatkan”
(Ef. 4:14; baca juga bab 17).
Melalui karunia-karunia inilah umat per-
caya membicarakan kebenaran dalam kasih
dan bertumbuh dalam Kristus, Kepala jemaat
itu—mengembangkan sebuah kesatuan ka-
sih yang dinamis. Di dalam Kristus, kata ra-
sul Paulus, “seluruh tubuh,—yang rapi tersu-
sun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan
semua bagiannya, sesuai dengan kadar pe-
kerjaan tiap-tiap anggota—menerima per-
tumbuhannya dan membangun dirinya dalam
kasih” (Ef. 4:16).
3. Dasar Kesatuan. Seperti halnya “Roh
kebenaran” (Yoh. 15:26) begitu pula Roh
Kudus bekerja menggenapi janji Kristus. Tu-
gas-Nya ialah membimbing umat percaya ke
dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Maka
jelaslah kebenaran yang berpusat pada Kris-
tus yaitu dasar kesatuan.
Misi Roh ialah membimbing umat per-
caya ke dalam “kebenaran sebagaimana yang
ada di dalam Kristus Yesus.” Studi yang de-
mikian membawa efek kesatuan. namun stu-
di saja tidaklah cukup memadai untuk men-
datangkan persatuan yang sejati. Hanyalah
211Kesatuan dalam Tubuh Kristus
dengan percaya, hidup dan mengkhotbahkan
kebenaran seperti yang ada di dalam
Kristus kesatuan yang sejati itu dapat diwu-
judkan. Persekutuan, karunia rohani, dan ka-
sih semuanya sangat penting, namun kepe-
nuhannya terjadi hanyalah melalui Seorang
yang berkata, “Akulah jalan dan kebenaran
dan hidup” (Yoh. 14:6). Kristus berdoa, ”Ku-
duskanlah mereka dalam kebenaran; firman-
Mu yaitu kebenaran” (Yoh. 17:17). Untuk
merasakan kesatuan orang-orang percaya ha-
ruslah menerima terang sebagaimana yang
bersinar dari Sabda itu.
Kalau kebenaran ini, seperti kebenaran
yang ada di dalam Kristus tinggal di da-
lam hati, maka kebenaran itu akan member-
sihkan, meninggikan, memurnikan hidup ser-
ta menghapuskan segala prasangka dan per-
pecahan.
Hukum Kristus yang Baru. Sama se-
perti kita semua , jemaat itu didirikan dalam
gambar Allah. Sebagaimana setiap Oknum
dalam Keallahan itu saling mengasihi begitu
pula seharusnya anggota jemaat itu. Kristus
menyuruh umat-Nya menunjukkan kasih me-
reka kepada Tuhan dengan jalan saling me-
ngasihi di antara mereka (Mat. 22:39).
Yesus sendiri menjalankan prinsip kasih
sampai ke bukit Golgota. Menjelang kema-
tian-Nya Ia melaksanakan amanat yang te-
lah disampaikannya sebelumnya, dengan
memberikan hukum yang baru kepada mu-
rid-murid-Nya: “Inilah perintah-Ku, yaitu
supaya kamu saling mengasihi seperti Aku
telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12; ban-
dingkan 13:34). Ia seolah-olah berkata ke-
pada mereka, “Saya mohon supaya kamu ja-
ngan menuntut hak kamu, melihat kalau-ka-
lau ada imbalan, menuntut kalau tidak diberi-
kan. Saya meminta kamu membiarkan pung-
gungmu terbuka terhadap pecut, memberi-
kan pipi yang lain, dituduh tanpa alasan, di-
olok-olok, diejek, dilukai, dipakukan ke kayu
salib sampai mati dan dikuburkan, jika itu
memang untuk mengasihi orang lain. Kare-
na begitulah kasih terhadap orang lain se-
bagaimana Aku mengasihi kamu.”
1. Mungkinnya Ketidakmungkinan.
Bagaimanakah kita menunjukkan kasih se-
perti yang ada pada Kristus? Tidak
mungkin! Kristus meminta yang tidak mung-
kin, akan namun Ia dapat melakukan yang ti-
dak mungkin itu. Ia berjanji, “Dan Aku, apa-
bila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan me-
narik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh.
12:32). sebab kesatuan di dalam tubuh Kris-
tus bersifat penjelmaan kesatuan umat per-
caya dengan Allah melalui Firman yang te-
lah menjadi daging. Ini juga bersifat rela-
sional, kesatuan umat percaya melalui akar
mereka yang sama di dalam Pohon Anggur
itu. Dan akhirnya, akarnya ada pada salib:
kasih Golgota itu terbit di dalam diri orang-
orang yang beriman.
2. Kesatuan di kayu salib. Kesatuan je-
maat berlangsung di kayu salib. Hanyalah
dengan menyadari bahwa kita tidak dapat
dan tidak menaruh kasih seperti yang dimi-
liki Kristus maka kita mengakui perlunya kita
tinggal di hadapan hadirat-Nya—serta mem-
percayai-Nya tatkala Ia berkata: “Sebab di
luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”
(Yoh. 15:5). Kita mengetahui bahwa kema-
tian-Nya di kayu salib bukan hanya untuk
kita saja, melainkan untuk setiap orang yang
ada di atas dunia. Ini berarti bahwa Ia menga-
sihi semua bangsa, suku, warna kulit dan
segala tingkat masyarakat Kasih-Nya terha-
dap semua orang sama, betapa pun berbeda-
bedanya mereka. Itulah sebabnya kesatuan
berakar di dalam Allah. Visi kita semua yang
sempit cenderung memisah-misahkan manu-
sia. Salib itu meretas kebutaan kita semua dan
212Kesatuan dalam Tubuh Kristus
menaruh harga yang diberikan Allah kepada
umat kita semua . Itu berarti bahwa pada peman-
dangan Tuhan kita semua amat berharga. Se-
mua kita diperlukan. Jika Kristus mengasihi
mereka, begitu pula seharusnya kita.
Ketika Kristus meramalkan bahwa pe-
nyaliban-Nya sudah makin dekat, yang di-
maksudkan-Nya ialah kuasa-Nya menarik
makin dekat, penderita yang paling merana
itu, akan mendatangkan kesatuan kepada tu-
buh-Nya, yakni jemaat. Jurang yang dalam
antara surga dengan kita, jurang yang telah
dijembatani Kristus, membuat kita dapat me-
langkah ke seberang atau ke kota yang harus
kita lalui untuk menjangkau saudara kita
yang rendah.
Golgota berarti, “Bertolong-tolonganlah
menanggung bebanmu” (Gal. 6:2). Ia me-
nanggung beban semua umat kita semua , yang
meremukkan hidup-Nya supaya dengan de-
mikian Ia dapat memberikan kepada kita hi-
dup serta melepaskan kita untuk saling to-
long.
Langkah-langkah menuju Kesatuan.
Kesatuan tidak datang secara otomatis. Orang-
orang percaya harus memastikan langkah
untuk memperolehnya.
1. Kesatuan di dalam rumah tangga.
Salah satu latihan yang ideal bagi kesatuan
jemaat bermula di dalam rumah tangga (baca
bab 23). Jika kita menguasai manajemen, ke-
lemahlembutan, keramahan, kesabaran, dan
kasih yang berpusat kepada salib, maka kita
dapat melaksanakan prinsip ini di dalam
jemaat.
2. Tujuan Kesatuan. Kita tidak akan per-
nah mencapai kesatuan kecuali kita bekerja
dengan saksama dan penuh kesadaran untuk
itu. Janganlah kita merasa puas bahwa kita
dengan upaya sendiri dapat memperolehnya.
Kita harus berdoa setiap hari agar dapat
memperolehnya, mengusahakannya dengan
hati-hati.
Kita harus mengurangi perbedaan dan
menghindari perbantahan atas hal-hal yang
tidak penting. dibandingkan kita memusatkan
perhatian terhadap hal-hal yang memisahkan
kita, sebaiknya kita berbicara mengenai ba-
nyak kebenaran yang berharga yang sama-
sama kita sepakati. Berbicaralah mengenai
kesatuan dan berdoa agar doa Kristus dipe-
nuhi. Dengan melakukan yang demikianlah
kita dapat menyadari kesatuan dan kehar-
monisan yang diperlukan Tuhan pada kita.
3. Bekerja sama untuk tujuan yang sa-
ma. Jemaat tidak akan pernah mengalami ke-
satuan sampai, sebagai satu unit, jemaat me-
libatkan pemberitaan Injil Yesus Kristus. Tu-
gas yang demikian menyediakan sebuah latih-
an yang ideal untuk pelajaran keselarasan.
Itulah yang akan mengajarkan kepada umat
percaya bahwa mereka semua secara indi-
vidu menjadi bagian dari keluarga Allah, dan
bahwa kebahagiaan semua bergantung kepa-
da kesiapan setiap orang yang beriman.
Di dalam tugas-Nya, Kristus membaur-
kan pemulihan jiwa dan pemulihan tubuh.
Apabila Ia mengutus murid-murid-Nya un-
tuk melaksanakan tugas mereka, Ia mene-
kankan maksud yang sama: berkhotbah dan
menyembuhkan (Luk. 9:2; 10:9).
Oleh sebab itu, jemaat Kristus haruslah
menjalankan tugas untuk berkhotbah—tugas
pelayanan firman—sekaligus dengan peker-
jaan penginjilan melalui pengobatan. Peker-
jaan Tuhan ini janganlah dilakukan sendiri-
an atau hanya itulah segala-galanya. Pada za-
man Kristus ada keseimbangan dalam
tugas itu, dikerjakan bersama-sama dengan
selaras, sehingga demikianlah seharusnya
menjadi sifat pekerjaan kita dalam penarikan
jiwa.
213Kesatuan dalam Tubuh Kristus
Barangsiapa yang terlibat dalam pelbagai
bidang pekerjaan jemaat haruslah bekerja
sama dengan erat jika mereka ingin menyam-
paikan undangan Injil kepada dunia dalam
cara yang penuh kuasa. Banyak orang mera-
sa bahwa kesatuan berarti konsolidasi demi
efisiensi. Dengan memperhatikan perban-
dingan (metafora) tubuh, yang berkaitan dan
menunjuk pelbagai organ tubuh, masing-ma-
sing organ tubuh itu baik yang besar mau-
pun yang kecil semuanya penting. Kerja sa-
ma—bukannya bersaing yaitu rencana Tu-
han bagi pekerjaan-Nya yang meliputi selu-
ruh dunia. Dengan demikian kesatuan dalam
tubuh Kristus menjadi sebuah ungkapan ka-
sih Kristus yang tidak mementingkan diri
yang begitu agung dinyatakan di kayu salib.
4. Mengembangkan perspektif yang
global. Sebuah jemaat tidaklah memperli-
hatkan kesatuan yang sejati kecuali jemaat
itu membangun pekerjaan Tuhan di seluruh
penjuru dunia. Jemaat harus melakukan se-
gala daya yang dipunyainya untuk menghin-
dari keterasingan sebab rasa kebangsaan,
budaya atau kedaerahan. Untuk memperoleh
kesatuan pikiran tujuan dan perbuatan orang-
orang percaya yang berbeda-beda kebangsa-
annya haruslah berbaur dan melayani bersa-
ma-sama.
Jemaat haruslah berhati-hati jangan sam-
pai menonjolkan kepentingan nasional yang
mendatangkan perpecahan, yang merusak
seluruh kesatuan. Para pemimpin jemaat ha-
ruslah bekerja sedemikian rupa untuk men-
jaga kesatuan dan kesamaan, berhati-hati
agar jangan sampai mengembangkan pelba-
gai program atau fasilitas di satu kawasan
yang harus ditanggungkan atas pekerjaan
pembangunan yang seharusnya dilakukan di
bagian-bagian lain dunia ini.
5. Hindari sikap yang memisahkan. Si-
kap yang hanya mementingkan diri sendiri,
angkuh, rasa yakin diri sendiri, merasa sok
tahu, merasa lebih unggul, prasangka, kritik
dan sifat mengadu domba, serta sikap men-
cari-cari salah cenderung memecah-belah je-
maat. Kasih Kristen yang mula-mula itu se-
ring hilang di balik sikap seperti yang dise-
butkan di atas. Pandangan yang segar terha-
dap karunia Kristus di Golgota dapat mem-
barui kasih kepada sesama (1 Yoh. 4:9-11).
Anugerah Allah yang disalurkan melalui Roh
Kudus dapat menaklukkan sumber-sumber
perpecahan dalam hati yang bersifat alamiah.
Apabila ada salah satu jemaat Perjanjian
Baru mengembangkan masalah perpecahan
ini, Paulus memberi saran kepada jemaat su-
paya mereka “hidup oleh Roh” (Gal. 5:16).
Melalui doa yang terus-menerus kita men-
cari bimbingan Roh, yang akan menuntun
kita ke dalam kesatuan. Hidup oleh Roh be-
rarti membuahkan buah-buah Roh—kasih,
kegembiraan, damai, kesabaran, keramahan,
kebajikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan
pengendalian diri—yang merupakan obat
mujarab melawan perpecahan (Gal. 5:22, 23).
Yakobus berbicara melawan akar dan
sumber lain perpecahan itu: mendasarkan
bagaimana kita memperlakukan individu de-
ngan melihat kekayaan dan kedudukan mere-
ka. Dengan tajam dan keras ia mengecam
sikap pilih kasih yang demikian: “Jikalau
kamu memandang muka, kamu berbuat dosa,
dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa
kamu melakukan pelanggaran” (Yak. 2:9).
sebab Allah tidak memandang muka (Kis.
10:34), maka kita tidak boleh menaruh hor-
mat kepada orang-orang tertentu dalam je-
maat dan membedakannya dengan anggota
jemaat yang lain hanya sebab kedudukan,
kekayaan dan kemampuan mereka. Kita da-
pat menghormati mereka, namun janganlah
kita menganggap mereka jauh lebih berhar-
ga kepada Allah Bapa kita dibandingkan anak
214Kesatuan dalam Tubuh Kristus
Allah yang paling hina atau rendah. Firman
Kristus mengoreksi pandangan kita: “Se-
sungguhnya segala sesuatu yang kamu laku-
kan untuk salah seorang dari saudara-Ku
yang paling hina ini, kamu telah melakukan-
nya untuk Aku” (Mat. 25:40). Ia digambar-
kan dalam pribadi orang yang paling hina,
seperti juga di dalam diri anggota-anggota
jemaat yang paling diberkati. Semua yaitu
anak-anak Allah dan sama penting bagi-Nya.
Seperti halnya Tuhan kita, Anak kita semua ,
menjadi saudara bagi setiap putra-putri
Adam, begitu pula dengan para pengikut-
Nya, dipanggil supaya bersatu dalam piki-
ran dan misi, dengan cara yang bersifat pene-
busan terhadap sesama saudara-saudari kita
dari “semua bangsa dan suku dan bahasa dan
kaum” (Why. 14:6).
____________________________:
1. Benjamin F. Reaves, “Apa arti kesatuan bagiku,” dalam Adventist Review, 4 Desember 1986, hlm. 20.
2. White, Rumah Tangga Advent (The Adventist Home) Nashville, TN: Southern Publihsing Assn., 1952, hlm. 179.
215Kesatuan dalam Tubuh Kristus
Melalui baptisan kita mengakui iman kita dalam kematian dan
kebangkitan Yesus Kristus, dan memberikan kesaksian akan kematian
kita terhadap dosa dan tujuan kita berjalan dalam hidup baru. De-
mikianlah kita mengaku Kristus Tuhan dan Juruselamat, kita menjadi
umat-Nya, dan diterima sebagai anggota jemaat-Nya. Baptisan ada-
lah sebuah lambang persatuan kita dengan Kristus, keampunan dosa-
dosa serta penerimaan kita atas Roh Kudus. yaitu dengan diselam-
kan ke dalam air dan persatuan dalam pengukuhan iman dalam
Kristus bukti pertobatan dari dosa. lalu diikuti dengan petunjuk
yang ada dalam Kitab Suci dan penerimaan pengajaran yang
ada di dalamnya.—Fundamental Beliefs,––15.
219
Bagi Nyangwira, yang tinggal di Afrika
Tengah, baptisan tidaklah dianggap ha-
nya sekadar pilihan. Kurang lebih setahun ia
belajar Alkitab dengan rajin. Ia ingin benar
menjadi seorang Kristen.
Pada suatu petang ia menceriterakan ke-
pada suaminya tentang hal-hal yang telah
dipelajarinya. Suaminya dengan kasar berte-
riak, “Saya tidak suka agama seperti ini ada di
dalam rumah tanggaku, dan kalau kau masih
terus juga mempelajarinya, saya akan mem-
bunuh kau.” Walaupun Nyangwira diancam
namun ia terus saja belajar dan siap menerima
baptisan.
Sebelum berangkat menuju tempat bap-
tisan, Nyangwira dengan hormat bertelut di
hadapan suaminya sambil memberitahukan
kepadanya bahwa ia akan dibaptiskan. Sua-
minya mengambil golok berburunya sambil
berteriak, “Sudah kukatakan padamu bahwa
kau tidak boleh dibaptiskan. Pada hari kau
dibaptiskan, kau akan kubunuh.
namun Nyangwira bertekad untuk meng-
ikuti Tuhannya. Ia meninggalkan suaminya
dengan ancaman yang masih tetap berde-
ngung di telinganya.
Sebelum masuk ke dalam air, ia mengakui
dosa-dosanya dan membaktikan segenap hi-
dupnya kepada Juruselamatnya, tidak tahu
apakah ia harus menyerahkan nyawanya
.
ke-
pada Tuhan pada hari itu juga. Suasana damai
memenuhi hatinya ketika ia dibaptiskan.
Tatkala ia kembali ke rumah, ia meng-
ambil golok suaminya dan membawanya ke-
pada suaminya.
Dengan berat suaminya bertanya,
“Apakah kau sudah dibaptiskan?” “Su-
dah,” jawab Nyangwira dengan tulus. “Inilah
golokmu, lakukanlah.” “Apakah kau sudah
siap untuk mati?” ”Ya, sudah.”
Melihat keberaniannya, suaminya terce-
ngang sehingga hilanglah semangat untuk
membunuhnya.l
BETAPA PENTINGKAH BAPTISAN
ITU?
Apakah nyawa menjadi taruhan baptisan
itu? Apakah Tuhan benar-benar mengharus-
kan baptisan itu? Adakah keselamatan itu
BAPTISAN
BAB 15
220 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
bergantung pada apakah seseorang itu dibap-
tiskan?
Teladan Yesus. Pada suatu hari Yesus me-
ninggalkan pertukangan kayu di Nazaret se-
raya mengucapkan selamat tinggal kepada
kaum kerabatnya, lalu ia pergi menuju Yor-
dan sebab di sana ada sepupu-Nya, Yoha-
nes, sedang berkhotbah. Ketika Ia mendekati
Yohanes, Ia meminta padanya supaya Ia di-
baptiskan. Dengan tercengang Yohanes me-
nampik-Nya dengan berkata, “Akulah yang
perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang
datang kepadaku?”
“Biarlah hal itu terjadi, sebab demikianlah
sepatutnya kita menggenapkan seluruh ke-
hendak Allah,” jawab Yesus (Mat. 3:14-15).
Baptisan Yesus menjadikan pengesahan
peraturan Ilahi (Mat. 3:13-17; bandingkan
Mat. 21:25). Baptisan merupakan satu aspek
pembenaran di mana semua orang dapat tu-
rut serta. Sejak Kristus, Seorang yang Tanpa
Dosa itu, dibaptiskan untuk “menggenapkan
seluruh kehendak Allah,” maka kita orang
yang berdosa ini, haruslah melakukan hal
yang lama.
Perintah Yesus. Pada akhir tugas Kristus di
dunia ini Ia memberikan perintah kepada
murid-murid-Nya: “sebab itu pergilah, jadi-
kanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh
Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senan-
tiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat.
28:19-20).
Di dalam perintah ini Kristus menjelaskan
bahwa baptisan merupakan keharusan bagi
orang yang ingin turut ambil bagian dalam
jemaat-Nya, di dalam kerajaan rohani. Kare-
na melalui pelayanan murid-murid itu, Roh
Kudus membuat orang bertobat dan mene-
rima Yesus sebagai Juruselamat mereka, dan
mereka harus dibaptiskan di dalam nama
Allah Tritunggal itu. Pembaptisan mereka
menunjukkan bahwa mereka sudah memasuki
hubungan yang bersifat pribadi dengan Kris-
tus dan berjanji hidup selaras dengan prinsip-
prinsip kerajaan anugerah-Nya. Kristus me-
nyimpulkan mandat yang diberikan-Nya itu,
membaptis dengan sebuah jaminan, “Dan ke-
tahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman.”
sesudah kenaikan Kristus, para rasul
mengumumkan perlu dan pentingnya baptisan
(Kis. 2:38; 10:48; 22:16). Sebagai sambutan-
nya, orang banyak dibaptiskan, membentuk
jemaat Perjanjian Baru (Kis. 2:41, 47; 8:12)
dan menerima otoritas Bapa, Anak dan Roh
Kudus.
Baptisan dan Keselamatan. Kristus
mengajarkan bahwa “Siapa yang percaya
dan dibaptis akan diselamatkan,” (Mrk.
16:16). Di dalam jemaat kerasulan secara
otomatis baptisan mengikuti penerimaan atas
Kristus. Itulah sebuah pengukuhan iman
orang yang baru percaya (bandingkan Kis.
8:12; 16:30-34).
Petrus memakai pengalaman Nuh
waktu air bah untuk menggambarkan hu-
bungan antara baptisan dengan keselamatan.
Pada zaman dahulu kala dosa kita semua telah
melampaui batasnya sehingga melalui Nuh,
Allah memberikan peringatan kepada dunia
supaya bertobat, kalau tidak akan menghadapi
kebinasaan. Hanya delapan orang yang per-
caya dan masuk ke dalam bahtera sehingga
“diselamatkan oleh air bah itu.” “Juga kamu
sekarang diselamatkan oleh kiasannya,” kata
Petrus, “yaitu baptisan—maksudnya bukan
untuk membersihkan kenajisan jasmani, me-
lainkan untuk memohonkan hati nurani yang
baik kepada Allah—oleh kebangkitan Yesus
Kristus”(1 Ptr. 3:20, 21).
Baptisan 221
Petrus menerangkan bahwa kita disela-
matkan oleh baptisan sebagaimana juga Nuh
dan keluarganya diselamatkan oleh air. Su-
dah tentu Tuhan Allah yang menyelamatkan
Nuh, bukan air bah. Menurut analoginya, da-
rah Kristuslah, bukannya baptisan, yang
menghapuskan dosa dari dalam diri orang
percaya. “namun baptisan, seperti (Nuh) pe-
nurutan dalam memasuki bahtera itu, itulah
‘jawab untuk memohonkan hati nurani yang
baik kepada Allah.’ Apabila kita semua melalui
kuasa Allah memberikan ‘jawaban,’ maka
keselamatan yang disediakan ‘oleh kebang-
kitan Yesus Kristus’ menjadi efektif.”
Walaupun demikian, baptisan memang
penting hubungannya dengan keselamatan,
namun itu bukanlah jaminan keselamatan.4
Paulus menganggap pengalaman bangsa Is-
rael yang keluar dari Mesir sebagai sebuah
lambang yang menggambarkan baptisan.5
“Aku mau supaya kamu mengetahui, sauda-
ra-saudara, bahwa nenek moyang kita semua
berada di bawah perlindungan awan dan
bahwa mereka semua telah melintasi laut.
Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua
telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.
“Mereka semua makan makanan rohani
yang sama dan mereka semua minum mi-
numan rohani yang sama.” “Diselamkan” di
dalam air—awan di atas dan air di kiri ka-
nan—secara simbolis bangsa Israel dibaptis-
kan ketika mereka melewati Laut Merah.
Walaupun mereka mengalami hal seperti ini
“Allah tidak berkenan kepada bagian yang
terbesar dari mereka” (1 Kor. 10:1-5). Demi-
kian juga sekarang ini, baptisan tidaklah oto-
matis menjamin orang selamat. Pengalaman
bangsa Israel itu ditulis untuk “menjadi per-
ingatan bagi kita yang hidup pada waktu, di
mama zaman akhir telah tiba. Sebab itu siapa
yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, ha-
ti-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Kor.
10:11, 12).
“SATU BAPTISAN”
Pelaksanaan baptisan di dunia Kristen
beraneka-ragam. Sebagian dengan cara pe-
nyelaman atau diselamkan; sedang se-
bagian lagi dengan pemercikan atau diper-
cik. Ciri-ciri kesatuan yang diberikan Roh
dalam jemaat Allah ialah praktik “satu bap-
tisan” (Ef. 4:5).6 Apakah yang dinyatakan Al-
kitab mengenai makna istilah membaptiskan,
tentang praktik itu sendiri, dan makna rohani-
nya?
Makna kata “Membaptis.“ Kata baptis
dalam bahasa Inggris berasal dari kata Yu-
nani baptizo, yang berarti diselamkan, kare-
na kata itu diambil dari kata kerja bapto,
artinya “diselamkan atau dimasukkan ke ba-
wah.”7 Bilamana kata kerja baptize dikenakan
kepada baptisan air maka yang dimaksudkan-
nya ialah diselamkan seseorang yang dice-
lupkan ke bawah air.8
Dalam Perjanjian Baru kata kerja mem-
baptis digunakan untuk (1) menunjuk kepada
baptisan air (misalnya dalam Mat. 3:6; Mrk.
1:9; Kis. 2:41); (2) sebagai sebuah perban-
dingan atas derita dan kematian Kristus
(Mat. 20:22, 23; Mrk. 10:38,39; Luk. 12:50);
(3) kepada kedatangan Roh Kudus (Mat.
3:11; Mrk. 1:8; Luk. 3:16; Yoh. 1:33; Kis. 1:5;
11:16); dan (4) pembasuhan atau upacara
pembersihan tangan (Mrk. 7:3, 4; Luk.
11:38). Keempat penggunaan ini menunjuk
kepada pembersihan untuk membasuh dari
upacara yang tidak kudus, dan tidak me-
ngesahkan baptisan dengan percikan.9 Kitab
Suci memakai kata benda baptisan, baik
untuk baptisan air maupun dengan kematian
Kristus (Mat. 3:7; 20:22).
J.K. Howard menyatakan dalam peneli-
tiannya bahwa Perjanjian Baru mengemuka-
kan “tidak adanya bukti baptisan pemercikan
yang dipraktikkan rasul, bukti dari segala segi
222 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
menunjukkan bahwa pemercikan itu dikenal-
kan belakangan.”10
Baptisan di dalam Perjanjian Baru. Peris-
tiwa pembaptisan dengan air di dalam Perjan-
jian Baru dicatat dengan cara diselamkan. Di
dalamnya dapat kita baca bahwa Yohanes
dibaptiskan di dalam sungai Yordan (Mat.
3:6; bandingkan Mrk. 1:5) dan di Ainon dekat
Salim “sebab di situ banyak air” (Yoh. 3:23).
Hanyalah baptisan dengan diselamkan me-
merlukan “banyak air.”
Yohanes membaptiskan Yesus dengan
diselamkan. Ia membaptiskan Yesus “di su-
ngai Yordan” dan sesudah dibaptiskan Yesus
keluar dari air” (Mrk. 1:9, 10; bandingkan
Mat. 3:16).11
Baptisan pada zaman kerasulan juga
dilakukan dengan diselamkan. Ketika Filipus,
sang evangelis itu, membaptiskan sida-sida
Etiopia, mereka “turun ke dalam air” dan “ke-
luar dari air” (Kis. 8:38, 39).
Baptisan menurut Sejarah. Sebelum za-
man Kristus, orang-orang Yahudi membap-
tiskan orang yang Diyahudikan dengan bap-
tisan diselamkan. Kaum Essenes di Qumran
mengikuti praktik pembaptisan seperti ini,
baik untuk anggota mereka sendiri, juga ke-
pada orang yang ditobatkan.12
Bukti dari lukisan-lukisan yang ada di
dalam katakom (penjara bawah tanah) dan di
dalam pelbagai gereja, dari mosaik-mosaik di
lantai, dinding, langit-langit, dan relief-relief
patung, dan dari gambar-gambar yang terda-
pat dalam Perjanjian Baru “penuh dengan
kesaksian pembaptisan dengan cara diselam-
kan, sebuah cara yang lumrah dilakukan pada
gereja Kristen pada masa sepuluh sampai
empat belas abad permulaan.”13 Cara pem-
baptisan pada zaman kuno di Katedral, gereja
dan reruntuhan yang ditemukan di Afrika
Utara, Turki, Italia, Perancis dan di mana-
mana pun tetap menunjukkan praktik kebia-
saan ini.14
ARTI BAPTISAN
Arti baptisan itu sangat erat kaitannya
dengan ragamnya. Alfred Plummer berkata,
“Hanyalah baptisan yang dilakukan dengan
cara selam yang mempunyai makna utuh
yang kelihatan.”15
Simbol Kematian dan Kebangkitan
Kristus. Air yang menutupi melambangkan
penutupan derita dan kesusahan (Mzm. 42:7;
69:2; 124:4, 5), oleh sebab itu, pembaptisan
Yesus dengan air menggambarkan nubuat
mengenai penderitaan, kematian dan pengu-
buran yang akan dialaminya (Mrk. 10:38;
Luk. 12:50) dan keluar dari air berbicara me-
ngenai kebangkitan-Nya (Rm. 6:3-5).
Baptisan tidak akan bermakna sebagai
simbol penderitaan Kristus “sekiranya jema-
at kerasulan mempraktikkan sebuah ragam
pembaptisan yang bukan dengan cara se-
lam.” Oleh sebab itu, “alasan paling kuat
untuk baptisan dengan cara diselamkan ada-
lah salah satu alasan yang bersifat teolo-
gis.”16
Lambang Kematian terhadap Dosa dan
Hidup untuk Allah. Di dalam baptisan
orang-orang beriman merasakan pengalaman
derita Tuhan kita. Paulus berkata, “Atau ti-
dak tahukah kamu, bahwa kita semua yang
telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis
dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita
telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia
oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama
seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara
orang mati. . . demikian juga kita akan hidup
dalam hidup yang baru” (Rm. 6:3, 4).
Akrabnya hubungan orang percaya de-
ngan Kristus dinyatakan melalui pernyataan
Baptisan 223
seperti “dibaptiskan ke dalam Kristus Ye-
sus,” “dibaptiskan ke dalam kematian-Nya,”
dan “dikuburkan dengan Dia melalui bap-
tisan.” Howard mencatat, “Dalam tindakan
pelambangan dengan baptisan itu orang per-
caya masuk ke dalam kematian Kristus, dan
dalam arti yang sebenarnya kematian itu
menjadi kematiannya; dan ia memasuki ke-
bangkitan Kristus, dan kebangkitan itu men-
jadi kebangkitannya.”17 Apakah yang dimak-
sudkan dengan masuknya orang percaya itu
ke dalam derita Tuhan kita?
1. Mati terhadap dosa. Di dalam bap-
tisan umat percaya “telah menjadi satu de-
ngan apa yang sama dengan kematian-Nya”
(Rm. 6:5) dan “telah disalibkan dengan Kris-
tus” (Gal. 2:19). Ini berarti “bahwa kita semua
lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh
dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita
menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab
siapa yang telah mati, ia telah bebas dari
dosa”(Rm. 6:6-7).
Orang-orang yang beriman telah mening-
galkan gaya hidup mereka yang lama. Me-
reka mati terhadap dosa dan menegaskan
bahwa “yang lama sudah berlalu” (2 Kor.
5:17), hidup mereka tersembunyi dalam Kris-
tus dan di dalam Allah. Baptisan berarti me-
lambangkan penyaliban hidup lama. Ini bukan
hanya sebuah kematian namun juga pengubur-
an. Kita “dengan Dia kamu dikuburkan dalam
baptisan” (Kol. 2:12). Sebagaimana kematian
seseorang pastilah diikuti dengan penguburan,
begitu pulalah apabila orang beriman masuk
ke dalam air dari kehidupan yang lama yang
segera berlalu apabila ia menerima Yesus
Kristus yang telah dikuburkan itu.
Di dalam baptisan, umat percaya mening-
galkan dunia. Dengan menurut perintah “ke-
luarlah kamu dari antara mereka, dan pisah-
kanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan
janganlah menjamah apa yang najis” (2 Kor.
6:17), para calon itu menyatakan kepada
orang banyak bahwa mereka telah mening-
galkan pengabdian kepada Setan lalu mereka
menerima Kristus dalam hidup mereka.
Dalam zaman jemaat rasul dahulu kala
panggilan untuk mengadakan pertobatan
termasuk dalamnya panggilan untuk menerima
baptisan (Kis. 2:38). Oleh sebab itu, baptisan
juga merupakan tanda pertobatan sejati.
Umat percaya itu menjadi mati terhadap pe-
langgaran hukum dan lalu memperoleh
keampunan dosa melalui darah Yesus Kris-
tus yang menyucikannya. Upacara baptisan
yaitu sebuah pernyataan penyucian batiniah
—pembasuhan dari dosa yang telah diakui.
2. Hidup bagi Allah. Kuasa kebangkitan
Kristus terus bekerja dalam hidup kita. Itulah
yang menyanggupkan kita berjalan dalam
kehidupan yang baru (Rm. 6:4)—sekarang
mati terhadap dosa, “namun kamu hidup bagi
Allah di dalam Kristus Yesus.” (Rm. 6:11).
Kita menyaksikan bahwa pengharapan satu-
satunya yakni kehidupan yang penuh keme-
nangan terhadap hidup yang lama hanyalah di
dalam anugerah Tuhan yang telah bangkit
dari kubur menyediakan kehidupan rohani
yang baru melalui kuasa Roh Kudus yang
memberikan tenaga baru. Kehidupan baru ini
mengangkat kita ke dalam pengalaman ma-
nusia yang lebih tinggi, memberikan nilai-nilai
baru kepada kita, aspirasi dan hasrat yang
berpusat kepada pengabdian kepada Yesus
Kristus. Kita sekarang menjadi murid yang
baru bagi Juruselamat, dan baptisan menjadi
sebuah tanda bahwa kita telah menjadi
murid-Nya.
Simbol sebuah Hubungan Perjanjian. Pa-
da zaman Perjanjian Lama, sunat merupakan
sebuah hubungan perjanjian antara Allah dan
Abraham (Kej. 17:1-7).
Perjanjian yang diberikan kepada Abra-
224 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
ham ini mempunyai aspek rohani dan ke-
bangsaan. Sunat merupakan sebuah tanda
atau ciri-ciri kebangsaan. Abraham sendiri
dan semua lelaki dalam keluarganya yang
berusia delapan hari sudah disunat (Kej.
17:10-14; 25-27). Jika ada lelaki yang belum
disunat haruslah “dilenyapkan” dari kalangan
umat Allah sebab ia telah melanggar perjan-
jian itu (Kej. 17:14).
Perjanjian itu diadakan antara Allah dan
Abraham, menyatakan dimensi rohaninya.
Penyunatan Abraham berarti pengukuhan
pengalaman pendahuluannya dalam pembe-
naran oleh iman. Penyunatannya merupakan
“meterai kebenaran berdasar iman yang
ditunjukkannya, sebelum ia bersunat” (Rm.
4:11).
Akan namun , sunat itu sendiri tidak dapat
menjamin pemasukan ke dalam dimensi ro-
hani sejati perjanjian itu. Sering jurubicara
Tuhan menasihatkan betapa cukup memadai-
nya sunat rohani. “Sebab itu sunatlah hatimu
dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk” (Ul.
10:16; bandingkan 30:6; Yer. 4:4). “Sebab se-
gala bangsa yang tidak bersunat hatinya”
akan dihukum dengan orang yang bukan
Yahudi (Yer. 9:25, 26).
Apabila orang Yahudi menolak Yesus
sebagai Mesias, saat itulah mereka melanggar
hubungan perjanjian mereka dengan Tuhan,
memutuskan hak status istimewa mereka se-
laku umat pilihan-Nya (Dan. 9:24-27; lihat
Bab 4). Walau pun janji Tuhan dan janji-janji-
Nya tetap lama, Ia memilih umat yang baru.
Israel rohani menggantikan bangsa Yahudi
(Gal. 3:27-29; 6:15, 16).
Kematian Kristus mengukuhkan perjanjian
yang baru. Orang banyak memasuki perjan-
jian ini melalui sunat rohani—sebuah sam-
butan iman terhadap kematian Kristus yang
mendatangkan pendamaian. Orang-orang
Kristen mempunyai “pemberitaan Injil untuk
orang-orang tak bersunat” (Gal. 2:7). Perjan-
jian yang baru mewajibkan “iman yang bati-
niah” bukannya “yang bersifat lahiriah” yang
menjadi milik bangsa Israel. Seorang dapat
menjadi orang Yahudi sebab kelahiran; te-
tapi seorang dapat menjadi Kristen hanyalah
melalui kelahiran baru. “Sebab bagi orang-
orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal
bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai
sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh
kasih” (Gal. 5:6). Yang menjadi masalah ia-
lah “sunat di dalam hati, secara rohani” (Rm.
2:28, 29).
Baptisan, tanda hubungan selamat di da-
lam Yesus, menggambarkan sunat rohani ini.
“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan de-
ngan sunat yang dilakukan oleh kita semua , te-
tapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari
penanggalan akan tubuh yang berdosa, ka-
rena dengan Dia kamu dikuburkan dalam
baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibang-
kitkan juga oleh kepercayaanmu kepada ker-
ja kuasa Allah, yang telah membangkitkan
Dia dari antara orang mati” (Kol. 2:11, 12).
“Dengan ‘tubuh daging’ yang dipisahkan
melalui sunat rohani yang dilakukan oleh
Yesus, seorang yang kini dibaptis ‘ditempatkan
dalam Kristus’ dan memasuki hubungan per-
janjian dengan Yesus. Oleh sebab itu, ia tu-
rut menjadi penerima kegenapan janji-janji
yang diberikan dalam perjanjian itu.”18 "Ka-
rena kamu semua, yang dibaptis dalam Kris-
tus telah mengenakan Kristus.... Dan jikalau
kamu yaitu milik Kristus, maka kamu juga
yaitu keturunan Abraham dan berhak me-
nerima janji Allah” (Gal. 3:27-29). Barang-
siapa yang turut serta ke dalam hubungan
perjanjian ini akan merasakan dan mengalami
janji Allah yang pasti, “Maka Aku akan men-
jadi Allah mereka dan mereka akan menjadi
umat-Ku” (Yer. 31:33).
Lambang Pengabdian kepada Pekerjaan
Kristus. Pada waktu Yesus menerima bap-
Baptisan 225
tisan, Ia memperoleh kecurahan Roh Kudus,
menandai pengurapan-Nya atau penyerahan-
Nya ke dalam tugas yang diberikan Bapa
kepada-Nya (Mat. 3:13-17; Kis. 10:38). Pe-
ngalaman-Nya menunjukkan bahwa baptisan
air dan baptisan Roh berjalan bersama, se-
hingga baptisan tanpa Roh Kudus itu tidaklah
lengkap.
Jemaat pada zaman rasul-rasul kecurahan
Roh Kudus umumnya mengikuti baptisan air.
Demikian juga sekarang, apabila kita dibap-
tiskan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Ku-
dus, kita dibaktikan, ditahbiskan dan disatu-
kan dengan ketiga kuasa besar surga untuk
mengabarkan Injil kekal itu.
Roh Kudus menyiapkan kita untuk me-
laksanakan pekerjaan pelayanan dengan
memurnikan hati kita dari dosa. Yohanes
menyatakan bahwa Yesus “akan membap-
tiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan
api” (Mat. 3:11). Yesaya menyatakan bahwa
Allah akan membersihkan umat-Nya dari ke-
najisan mereka “dengan roh yang mengadili
dan yang membakar” (Yes. 4:4). “Aku akan
memurnikan perakmu dengan garam soda,”
kata Tuhan, “dan akan menyingkirkan segala
timah dari padanya” (Yes. 1:25). “Sebab
Allah kita yaitu api yang menghanguskan”
dosa (Ibr. 12:29). Roh Kudus akan memur-
nikan hidup semua orang yang menyerahkan
diri kepada-Nya, dan dosa-dosa mereka akan
dihanguskan.
Lalu Roh Kudus akan melengkapi mere-
ka dengan pelbagai karunia-Nya. Karunia
atau pemberian yang dimaksudkan-Nya ialah
“pemberian Ilahi yang istimewa, yang dikaru-
niakan pada waktu baptisan, untuk menyang-
gupkan umat percaya melayani jemaat dan
melayani orang-orang
.
yang belum meneri-
ma Yesus Kristus.”19 Baptisan Roh Kudus
memberikan kuasa bersaksi bagi jemaat yang
mula-mula (Kis. 1:5, 8), dan hanyalah dengan
baptisan yang serupa yang dapat menyang-
gupkan jemaat melaksanakan tugas pengha-
rapan Injil kekal kerajaan (Mat. 24:14; Why.
14:6).
Tanda Masuk ke dalam Jemaat. Sebagai
sebuah tanda kita semua yang sudah dibaharui
atau memperoleh kelahiran baru (Yoh. 3:3,
5), baptisan juga merupakan tanda seorang
masuk ke dalam kerajaan rohani Kristus.20
Oleh sebab itulah yang menyatukan orang
percaya yang baru itu kepada Kristus, maka
fungsinya yaitu pintu masuk ke dalam je-
maat. Melalui baptisan Tuhan menambah-
kan murid-murid yang baru itu ke dalam tubuh
umat percaya—tubuh-Nya, yakni jemaat
(Kis. 2:41, 47; 1 Kor. 12:13). lalu me-
reka menjadi anggota keluarga Allah. Se-
orang tidak dapat dibaptiskan tanpa bergabung
ke dalam keluarga jemaat.
SYARAT BAPTISAN
Kitab Suci membandingkan hubungan
Kristus dengan jemaat-Nya dengan perni-
kahan. Dalam pernikahan, kedua belah pihak
harus saling mengetahui tanggung jawab ma-
sing-masing dan segala sesuatu yang ber-
kaitan dengan tanggung jawab itu. Orang-
orang yang menginginkan baptisan haruslah
menunjukkan iman dalam hidup mereka, per-
tobatan dan buah-buah pertobatan, sama hal-
nya dengan pemahaman atas makna bap-
tisan dan hubungan rohani yang menyusul
lalu .21
Iman. Salah satu syarat mutlak baptisan
yaitu iman di dalam korban pendamaian
Yesus sebagai satu-satunya sarana kesela-
matan dari dosa. Kristus berkata, “Siapa
yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan”
(Mrk. 16:16). Pada zaman rasul-rasul, jemaat
226 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
pada waktu itu m
.jpeg)
