doktrin dasar alkitab 2
n yang masih berlaku
sekarang ini di Timur Dekat dan Timur. Ada
nama yang dianggap menunjukkan sifat-sifat
pemiliknya, bagaimana sifatnya yang sebenar-
32Keallahan
nya dan berikut identitasnya. Pentingnya nama-
nama Allah, mengungkapkan sifat-Nya, tabi-
at-Nya, kadar-Nya, dinyatakan dalam hukum-
Nya “Jangan menyebut nama Tuhan, Allah-
mu, dengan sembarangan” (Kel. 20:7). Daud
menyanyi: “Aku hendak bersyukur kepada Tu-
han sebab keadilan-Nya” (Mzm. 7:18). “Na-
ma-Nya kudus dan dahsyat” (Mzm. 111:9).
“Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab
hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur”(Mzm.
148:13).
Nama-nama Ibrani El dan Elohim (“God”)
menunjukkan kuasa Tuhan Allah. Digambar-
kannya Tuhan sebagai Oknum yang kokoh dan
perkasa, Tuhan pencipta semesta (Kej. 1:1;
Kel. 20:2; Dan. 9:4). Elyon (“Yang Mahating-
gi”) dan El Elyon (“Allah Yang Mahatinggi”)
berfokus pada peninggian kedudukan-Nya
(Kej. 14:18-20; Yes. 14:14). Adonai (Tuhan)
menggambarkan Allah sebagai Penjaga dan
Pembela (Yes. 6:1; Mzm. 35:23). Nama-nama
ini menekankan sifat Allah yang agung dan
amat mulia.
Nama-nama lain yang dimiliki Allah me-
nunjukkan kesediaan-Nya menjalin hubung-
an dengan umat kita semua . Shaddai (“Yang
Mahatinggi”) dan El Shaddai (“Allah Yang
Mahatinggi”) menggambarkan Allah Yang
Mahatinggi yang menjadi sumber berkat dan
penghiburan (Kel. 6:3; Mzm. 91:1). Nama
Yahweh diterjemahkan Jehovah atau Tuhan,
menekankan janji setia Allah dan kemurah-
an-Nya (Kel. 15:2, 3; Hos. 12:5, 6) Di da-
lam Kel. 3:14, Yahweh menggambarkan diri-
Nya sebagai “AKU yaitu AKU,” atau
“AKULAH AKU telah mengutus aku kepa-
damu,” menunjukkan hubungan-Nya yang
tidak dapat diubah terhadap umat-Nya. Da-
lam beberapa peristiwa malahan Tuhan Al-
lah menyatakan diri-Nya dengan cara yang
sangat akrab dengan sebutan “Bapa” (Ul. 32:
6; Yes. 63:16; Yer. 31:9; Mal. 2:10), menye-
but orang Israel dengan “Israel ialah anak
Ku yang sulung” (Kel. 4:22; bandingkan Ul.
32:19).
Kecuali untuk Bapa, nama-nama yang
ada dalam Perjanjian Baru, yang ditu-
jukan kepada Allah mengandung kadar mak-
na yang setara dengan yang ada di da-
lam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian
Baru Yesus memakai kata Bapa untuk
meng-akrabkan kita secara pribadi dengan
Allah (Mat. .6:9; Mrk. 14:36; bandingkan
Rm. 8: 15; Gal. 4:6).
Kegiatan-kegiatan Allah. Para penulis
Alkitab memakai lebih banyak waktu
untuk melukiskan kegiatan-kegiatan Allah
dibandingkan ciptaan-Nya. Ia diperkenalkan se-
bagai Pencipta (Kej. .1:1; Mzm. 24:1, 2), Pe-
nopang dunia (Ibr. 1:3), dan Penebus serta
Juruselamat
.
(UI. 5:6; 2 Kor. 5:19), mengang-
kat beban demi kepentingan nasib kita semua .
Ia mengadakan rencana-rencana (Yes. 46:
11), ramalan (Yes. 46:10), dan janji-janji (Ul.
15:6; 2 Ptr. 3:9). Ia mengampuni dosa-dosa
(Kel. 34:7), dan secara konsekwen meneri-
ma ibadah, kita (Why. 14:6,7).
Akhirnya Kitab Suci menyatakan Allah
sebagai Pemerintah “Raja segala zaman, Al-
lah yang kekal, yang tak nampak, yang Esa”
(1 Tim. 1:17). Tindakan-tindakan yang dila-
kukan-Nya menegaskan bahwa Ia Allah yang
berpribadi.
Ciri-ciri Allah. Para penulis Alkitab
memberikan informasi tambahan mengenai
hakikat Allah melalui kesaksian-kesaksian
tentang ciri-ciri Keilahian-Nya.
Ciri-ciri Allah yang tidak dapat diung-
kapkan berisi aspek-aspek sifat Keilahian-
Nya tidak diberikan kepada makhluk yang
diciptakan. Allah ada dengan sendirinya, ka-
rena Ia memiliki “hidup dalam diri-Nya sen-
diri” (Yoh. 5:26). Ia independen dalam ke-
hendak (Ef. 1:5),dan dalam kuasa (Mzm.
33Keallahan
115:3). Ia Mahatahu, mengetahui segala se-
suatu (Ayb. 37:16; Mzm. 139:1-18; 147:5;
1 Yoh. 3:20), sebab sebagai Alfa dan Ome-
ga (Why. 1:8), Ia mengetahui akhir dari per-
mulaan. (Yes. 46:9-11).
Allah Mahahadir (Mzm. 139:7-12; Ibr. 4:
13), melebihi semua ruang. Bahkan Ia hadir
dalam setiap bagian ruang, Ia abadi (Mzm.
90:2; Why. 1:8), melebihi batas waktu, na-
mun demikian hadir sepenuhnya dalam seti-
ap saat.
Allah penuh kuasa, Mahakuasa. Oleh ka-
rena itu, tidak ada yang tidak mungkin bagi-
Nya untuk menjamin bahwa Ia memenuhi
apa saja yang dimaksudkan-Nya. (Dan. 4:17,
25, 35; Mat. 19:26; Why. 19:6). Ia kekal—
atau tidak dapat diubah—sebab sesungguh-
nya Ia sempurna. Ia berkata, “Bahwasanya
Aku, Tuhan, tidak berubah” (Mal. 3:6; baca
Mzm. 33:11; Yak. 1:17). Oleh sebab itu, ci-
ri-ciri ini menyatakan bahwa Allah itu ke-
kal selama-lamanya.
Sifat-sifat Allah yang dapat disalurkan
mengalir dari cinta kasih-Nya terhadap ma-
nusia. Dicakupnya kasih (Rm. 5:8), kasih ka-
runia (Rm. 3:24), kemurahan (Mzm. 145:9),
sabar (2 Ptr 3:15), suci (Mzm. 99:9), kebe-
naran (Ezr. 9:15; Yoh. 17:25), keadilan
(Why. 22:12), dan hal yang benar (1 Yoh.
5:20). Karunia-karunia ini datang hanya ber-
sama dengan Pemberi itu sendiri.
KEDAULATAN ALLAH
Jelas sekali Kitab Suci mengajarkan ke-
daulatan Allah. “Ia berbuat menurut kehen-
dak-Nya.... Dan tidak ada seorang pun yang
dapat menolak tangan-Nya” (Dan. 4:35).
“Sebab Engkau telah menciptakan segala
sesuatu; dan oleh sebab kehendak-Mu se-
muanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11).
“Tuhan melakukan apa yang dikehendaki-
Nya, di langit dan di bumi” (Mzm. 135: 6).
Dengan demikianlah Salomo berkata, “Hati
raja seperti batang air di dalam tangan Tu-
han, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini” (Ams.
21:1). Paulus yang waspada atas kedaulatan
Allah, menulis sebagai berikut, “Aku akan
kembali kepada kamu, jika Allah menghen-
dakinya.” (Kis. 18:21; baca Rm. 15:32). Se-
mentara Yakobus memohon, “Sebenarnya
kamu harus berkata ‘Jika Tuhan menghen-
dakinya” (Yak. 4:15).
Penentuan nasib lebih dahulu dan Ke-
bebasan kita semua . Alkitab juga menyata-
kan pengendalian yang dilakukan Allah se-
penuh-nya atas dunia ini. “Mereka juga di-
tentukan-Nya dari semula untuk menjadi se-
rupa dengan gambaran Anak-Nya itu (Rm.
8: 29, 30), ditentukan-Nya menjadi anak-
anak-Nya, dan menjadi ahli waris (Ef. 1:4,
5, 11). Betapa suatu pernyataan yang tidak
langsung mengenai kebebasan kita semua itu.
Kata kerja menentukan dari sejak semu-
la berarti “menetapkan sebelumnya.” Banyak
orang beranggapan ayat-ayat ini mengajar-
kan bahwa Allah secara acak memilih orang
untuk selamat sedang yang lain membiar-
kannya binasa, tanpa menghargai pilihan me-
reka sendiri. Akan namun apabila konteks ini
dipelajari dengan saksama ternyata Paulus
tidaklah membicarakan mengenai Allah yang
secara sewenang-wenang berubah dan me-
nyingkirkan seseorang.
Titik tolak nas ini ialah sifat yang inclu-
sive. Dengan jelas Alkitab menyatakan bah-
wa Allah “menghendaki supaya semua orang
diselamatkan dan memperoleh pengetahuan
akan kebenaran” (1 Tim. 2:4). Ia “menghen-
daki supaya jangan ada yang binasa, melain-
kan supaya semua orang berbalik dan berto-
bat” (2 Ptr. 3:9). Tidak ada bukti yang Allah
telah tetapkan bahwa sebagian orang harus
binasa; pernyataan yang demikian menging-
kari kematian Kristus di Golgota, sebab Ye-
34Keallahan
sus mati di sana bagi semua orang. Kata se-
tiap orang dalam nas, “sebab begitu besar
kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, su-
paya setiap orang yang percaya kepada-Nya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal” (Yoh. 3:16), mengartikan bahwa sia-
pa pun dapat diselamatkan.
“Bahwa kita semua , yang mempunyai ke-
bebasan memilih yaitu faktor yang menen-
tukan nasibnya sendiri, merupakan bukti nya-
ta bahwa Allah senantiasa menghadirkan ha-
sil-hasil penurutan dan hasil-hasil pendurha-
kaan, serta mendorong orang berdosa supa-
ya memilih penurutan dan kehidupan (Ul. 30:
19; Yos. 24:15; Yes. 1:16, 20; Why. 22: 17);
dan dari kenyataan bahwa bagi orang beri-
man sangat mungkin, yang pernah menjadi
penerima kasih karunia, jatuh dan binasa (1
Kor. 9:27; Gal. 5:4; Ibr. 6:4-6; 10:29). “Al-
lah mungkin saja mengetahui lebih dahulu
setiap pilihan yang akan dibuat seseorang,
akan namun pengetahuan-Nya yang lebih da-
hulu ini bukanlah menentukan pilihan yang
akan diambilnya.... Penentuan lebih dahulu
yang ada dalam Alkitab tercapai dalam
tujuan efektif yang dirancang Allah yakni,
bahwa semua orang yang memilih percaya
kepada Kristus akan diselamatkan (Yoh.
1:12; Ef. 1:4-10).
Lalu apakah yang dimaksud Kitab Suci
tatkala mengatakan bahwa Allah mengasihi
Yakub dan membenci Esau (Rm. 9:13) yang
juga mengatakan bahwa Tuhan Allah menge-
raskan hati Firaun (ayat 17, 18, bandingkan
dengan ayat 15, 16; Kel. 9:16; 4:21)? Kon-
teks ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ke-
prihatinan Paulus yaitu misi, bukan kese-
lamatan. Penebusan tersedia bagi siapa pun
—namun demikian Tuhan memilih orang-
orang tertentu untuk melaksanakan tugas
khusus. Keselamatan yang sama diberikan
juga kepada Yakub dan Esau, akan namun
Tuhan memilih Yakub, bukan Esau, menjadi
jalur yang digunakan Allah untuk menyam-
paikan pekabaran keselamatan kepada du-
nia. Allah menunjukkan kedaulatan dalam
strategi misi-Nya.
Apabila Kitab Suci menyebutkan bahwa
Allah mengeraskan hati Firaun itu hanyalah
sekadar pengakuan pada-Nya dalam melaku-
kan apa yang diperkenankan-Nya, bukanlah
berarti Ia menakdirkannya begitu. Sambut-
an Firaun yang negatif terhadap panggilan
Allah yang sebenarnya menggambarkan bah-
wa Tuhan menghormati kebebasan Firaun
dalam menentukan pilihannya.
Mengetahui lebih dahulu dan Kebe-
basan kita semua . Ada orang yang percaya
bahwa Tuhan Allah berhubungan dengan pri-
badi-pribadi tanpa mengetahui pilihan mere-
ka sampai mereka mengadakannya sendiri;
bahwa Tuhan mengetahui beberapa peristi-
wa mendatang yang tertentu, misalnya me-
ngenai Kedatangan Kristus kedua kali, mille-
nium, dan pemulihan kembali bumi ini, na-
mun tidak tahu sama sekali siapa yang akan
diselamatkan. Mereka merasa bahwa hu-
bungan dinamis Allah dengan umat manu-
sia ada dalam bahaya jika Ia mengetahui se-
gala sesuatu yang akan terjadi dari masa ke-
kekalan kepada kekekalan. Ada pula seba-
gian yang mengatakan bahwa Ia akan bosan
bila Ia mengetahui akhir dari permulaan.
Akan namun pengetahuan Allah mengenai
apa yang akan dilakukan individu-individu
tidak menyatu dengan apa yang sesungguh-
nya menjadi pilihan untuk mereka lakukan,
sama halnya pengetahuan seorang ahli seja-
rah tentang apa yang pernah dilakukan orang
pada masa lalu tidak turut menyatu dengan
tindakan-tindakan mereka. Sama seperti po-
tret merekam sebuah pemandangan atau pe-
ristiwa namun tidak mengubahnya, pengeta-
huan yang lebih dahulu (foreknowledge) me-
35Keallahan
natap ke depan tanpa mengubahnya. Menge-
tahui lebih dahulu, sifat yang dimiliki Ke-
allahan itu tidak pernah melanggar kebe-
basan kita semua .
DINAMIKA DALAM KEALLAHAN
Apakah hanya satu Allah saja? Bagaima-
na dengan Kristus dan Roh Kudus?
Keesaan Tuhan. Bertentangan dengan
keyakinan bangsa-bangsa yang hidup di se-
keliling bangsa Israel, bangsa-bangsa lain
itu, bangsa Israel percaya bahwa Tuhan itu
Esa (Ul. 14:35; 6:4; Yes. 45:5; Za. 14:9). Per-
jan-jian Baru menekankan yang serupa juga
mengenai keesaan Allah (Mrk. 12:29-32;
Yoh. 17:3; 1 Kor. 8:4-6; Ef. 4:4-6; 1 Tim.
2:5). Pandangan yang monoteistik ini tidak
bertentangan dengan konsep Kristen me-
ngenai Trinitas—Bapa, Anak dan Roh Ku-
dus; malahan mengukuhkan bahwa tidak ada
kuil pelbagai dewa.
Kemajemukan dalam Keallahan. Wa-
laupun Perjanjian Lama tidak mengajarkan
secara tegas bahwa Allah tritunggal, dising-
gungnya juga mengenai kemajemukan da-
lam Keallahan. Berulang-ulang Allah meng-
gunakan kata ganti jamak, misalnya: “Baik-
lah Kita menjadikan kita semua menurut
.
gam-
bar dan rupa Kita” (Kej. 1:26); “Sesungguh-
nya kita semua itu telah menjadi seperti salah
satu dari Kita”(Kej. .3:22); “Baiklah Kita
turun” (Kej. 11:7). Berulang-ulang malaikat
Tuhan diidentifikasi sebagai Allah. Ketika
menampakkan diri kepada Musa, Malaikat
Tuhan berkata, “Akulah Allah ayahmu, Al-
lah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub”
(Kel. 3:6).
Pelbagai petunjuk yang jelas membeda-
kan Roh Allah dari Allah. Di dalam kisah
Penciptaan “Roh Allah melayang-layang di
atas permukaan air” (Kej. 1:2). Sebagian nas
menunjuk bukan saja kepada Roh namun juga
kepada pribadi ketiga dalam karya penyela-
matan yang berasal dari Allah: "Dan seka-
rang, Tuhan Allah (Allah Bapa) mengutus
Aku (Anak Allah) dengan Roh-Nya (Roh
Kudus)" (Yes. 48:16); "Aku (Bapa) telah me-
naruh Roh-Ku ke atasnya (Mesias), supaya
ia menyatakan hukum kepada bangsa-bang-
sa" (Yes. 42:1).
Hubungan dalam Keallahan. Kedatangan
Kristus pertama ke dunia ini memberikan be-
gitu banyak pandangan jelas tentang ketri-
tunggalan Allah. Injil Yohanes menyatakan
bahwa Keallahan terdiri dari Allah Bapa (ba-
ca bab 3 artikel ini), Allah Anak (baca bab 4),
dan Allah Roh Kudus (bab 5), sebuah kesa-
tuan dari ketiga oknum yang abadi yang me-
miliki hubungan unik dan misterius.
1. Sebuah Hubungan Penuh Kasih. Ke-
tika Kristus berseru, “Allahku, Allahku, me-
ngapa Engkau meninggalkan. Aku?” (Mrk.
15:34) Ia merasakan betapa derita ketera-
singan dari Allah Bapa akibat dosa kita semua ,
sangat menekan perasaan-Nya. Dosa telah
memutuskan hubungan kita semua dengan Al-
lah (Kej. 3:6-10; Yes. 59:2). Pada detik-de-
tik terakhir, Yesus, yang tidak mengenal dosa
itu, dijadikan dosa bagi kita. Dalam memi-
kul dosa kita, mengambil tempat kita, Ia
merasakan perpisahan dari Allah yang se-
sungguhnya menjadi bagian kita—dan ke-
matianlah akibatnya.
Orang-orang berdosa tidak akan pernah
dapat memahami apa anti kematian Kristus
terhadap Keallahan. Dari sejak zaman keke-
kalan Ia telah bersama-sama dengan Allah
Bapa dan Allah Roh. Mereka hidup abadi
dan saling mengasihi. Bekerja sama selalu
memperlihatkan kesempurnaan, kasih yang
mutlak ada dalam Keallahan. “Allah
36Keallahan
yaitu kasih” (1 Yoh. 4:8) berarti bahwa ma-
sing-masing hidup bagi orang lain sehingga
mereka mengalami kesempurnaan kebaha-
giaan yang lengkap.
Mengenai kasih ini diterangkan panjang
lebar dalam 1 Korintus 13. Sebagian orang
mungkin ingin mengetahui kadar panjang sa-
bar dan penderitaan yang ada dalam Ke-
allahan, yang memiliki hubungan kasih yang
sempurna. Yang pertama-tama diperlukan
ialah kesabaran pada waktu menghadapi ma-
laikat pemberontak itu, dan lalu manu-
sia yang mendurhaka.
Tidak ada jarak antara pribadi-pribadi Al-
lah tritunggal itu. Tritunggal itu Ilahi, na-
mun kuasa Ilahi dan kadarnya saling berba-
gi. Kalau dalam organisasi kita semua otoritas
terakhir ada pada satu orang—misalnya
pada presiden, raja, atau perdana menteri.
Di dalam Keallahan, otoritas terakhir terda-
pat pada ketiganya.
Keallahan itu dalam wujud pribadi bu-
kan satu, sedang dalam tujuan, pikiran
dan tabiat Allah tetap satu. Keesaan ini ti-
dak melenyapkan ciri-ciri khas Bapa, Anak
dan Roh Kudus. Adanya pribadi-pribadi
yang ter-pisah ini dalam Keilahian tidak
menghancurkan pengharapan yang monote-
istik yang ada dalam Kitab Suci, bahwa
Bapa, Anak dan Roh Kudus satu adanya, Allah
yang Esa.
2. Hubungan pekerjaan. Di dalam Ke-
allahan ada fungsi penghematan. Allah
tidak perlu mengulangi pekerjaan yang ti-
dak perlu. Tata tertib yaitu hukum perta-
ma sur-ga, dan Tuhan Allah bekerja dalam
cara-cara yang tertib. Keteraturan ini dike-
luarkan dan memelihara persatuan yang ter-
dapat dalam Keallahan. Bapa bertindak se-
bagai sumber,
Anak sebagai Mediator (pengantara), dan
Roh sebagai pewujud atau pelaksana.
Indahnya penjelmaan menunjukkan hu-
bungan kerja ketiga oknum Keallahan itu.
Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Kristus
menyerahkan Diri-Nya sendiri, dan Roh me-
ngaruniakan kelahiran Yesus (Yoh. 3:16;
Mat. 1:18, 20). Kesaksian malaikat kepada
Maria jelas menunjukkan kegiatan ketiga-
nya dalam rahasia Allah yang menjadi manu-
sia itu. “Roh Kudus akan turun atasmu dan
kuasa Allah Yang Mahatinggi akan mena-
ungi engkau; sebab itu anak yang akan kau
lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Al-
lah” (Luk. 1:35).
Setiap anggota Keallahan itu, hadir pada
saat Kristus dibaptiskan: Bapa memberikan
dorongan yang menguatkan (Mat. 3:17),
Kristus menyerahkan diri-Nya dalam bap-
tisan untuk menjadi teladan bagi kita (Mat.
3:13-15), dan Roh memberikan diri-Nya
Sendiri kepada Yesus untuk memberi kuasa
kepada-Nya (Luk. 3:21, 22).
Menjelang akhir tugas-Nya di atas dunia
ini, Yesus berjanji akan mengirim Roh Ku-
dus sebagai penasihat atau penolong (Yoh.
14:16). Beberapa jam lalu , ketika ma-
sih tergantung di kayu salib, Yesus berseru
kepada Bapa-Nya, “Allah-Ku, Allah-Ku, me-
ngapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat.
27:46). Pada saat-saat puncak sejarah kese-
lamatan itu, Bapa, Anak dan Roh Kudus
menjadi bagian dalam seluruh keadaan itu.
Sekarang Bapa dan Anak menjangkau ki-
ta melalui Roh Kudus. Yesus berkata, “Jika-
lau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa
datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar da-
ri Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh.
15:26). Bapa dan Anak mengirim Roh un-
tuk menyatakan Kristus kepada setiap orang.
Beban berat Tritunggal yaitu membawa
Allah dan suatu pengetahuan mengenai Kris-
tus kepada setiap orang (Yoh. 17:3) dan
membuat Yesus hadir dan nyata (Mat. 28:20;
bandingkan Ibr. 13:5). Orang-orang percaya
37Keallahan
dipilih untuk selamat, tentang ini Petrus ber-
kata, “sesuai dengan rencana Allah, Bapa ki-
ta, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya
taat kepada Yesus Kristus dan menerima per-
cikan darah-Nya” (1 Ptr. 1:2).
Puji syukur, rasul memasukkan ketiga pri-
badi Keallahan. “Kasih karunia Tuhan Ye-
sus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutu-
an Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2
Kor. 13:13). Kristus dalam urutan pertama.
Allah berhubungan dengan kita semua mela-
lui Yesus Kristus—Allah yang menjelma
menjadi kita semua . Walaupun ketiga anggota
Tritunggal itu bekerja sama untuk menga-
dakan karya keselamatan, hanya Kristuslah
yang hidup sebagai kita semua , mati sebagai
kita semua dan lalu menjadi Juruselamat
kita (Yoh. 6:47; Mat. 1:21; Kis. 4:12). Akan
namun “Sebab Allah mendamaikan dunia de-
ngan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak
memperhitungkan pelanggaran mereka” (2
Kor. 5: 19), maka Allah dapat juga dinyata-
kan sebagai Juruselamat kita (bandingkan
Tit. 3:4), sebab Ia menyelamatkan kita mela-
lui Kristus Juruselamat (Ef. 5:23; Flp. 3:20;
bandingkan Tit. 3:6).
Dalam penghematan fungsi, anggota Ke-
allahan dengan pribadi yang berbeda melak-
sanakan tugas-tugas yang jelas dalam upaya
menyelamatkan kita semua . Pekerjaan Roh Ku-
dus tidak menambahkan sesuatu apa pun un-
tuk melayakkan pengorbanan yang diadakan
Yesus Kristus di kayu salib. Melalui Roh Ku-
dus tujuan pendamaian di kayu salib pada
pokoknya menyatakan Kristus sendirilah
pendamaian itu. Oleh sebab itulah Paulus
mengatakan “Kristus yang yaitu pengha-
rapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27).
FOKUS KESELAMATAN
Jemaat yang mula-mula membaptiskan
orang di dalam nama Bapa, Anak dan Roh
Kudus (Mat. 28:19). Sejak itulah melalui
Yesus, kasih Allah dan maksud-Nya dinya-
takan, Alkitab berpusat kepada Kristus. Dia-
lah bayang-bayang pengharapan yang di-
nyatakan dalam korban-korban serta peraya-
an-perayaan dalam Perjanjian Lama. Dialah
yang menjadi titik pusat dalam Injil. Dialah
Kabar Baik yang diberitakan oleh murid-mu-
rid melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tu-
lisan—Pengharapan yang kudus. Perjanjian
Lama menatap dan menantikan kedatangan-
Nya: Perjanjian Baru melaporkan kedatang-
an-Nya yang pertama dan berharap akan ke-
datangan-Nya kembali.
Kristus, pengantara di antara Allah dan
kita, dengan demikian menyatukan kita ke-
pada Keallahan. Yesus yaitu “jalan dan ke-
benaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Kabar baik
itu berpusat kepada Seorang Pribadi, bukan
hanya sekadar kebiasaan. Ada peran dalam
hubungan, bukan hanya peraturan-peraturan
saja—sebab Kekristenan itu sendiri yaitu
Kristus. Kita menemukan di dalam-Nya inti,
isi dan konteks seluruh kebenaran dan hi-
dup.
Dengan memandang kepada salib, kita
memandang ke dalam hati Allah. Di dalam
alat penyiksaan itu Ia mencurahkan kasih-
Nya kepada kita. Melalui Kristus cinta ka-
sih Keallahan memenuhi hati kita yang ham-
pa dan menderita. Yesus tergantung di kayu
salib sebagai karunia Allah dan pengganti
bagi kita. Di bukit Golgota Allah turun ke
bumi yang paling bawah untuk menemui ki-
ta; akan namun itulah tempat yang paling ting-
gi yang dapat kita tuju. Apabila kita pergi ke
bukit Golgota kita naik setinggi apa yang
dapat kita lakukan untuk menuju Allah.
Di atas kayu salib itulah Tritunggal me-
nyatakan perwujudan dan kelengkapan si-
fat yang tidak mementingkan diri. Di sana-
lah diungkapkan, perwujudan Allah yang pa-
ling lengkap. Kristus menjelma menjadi
38Keallahan
kita semua dan menjadi korban untuk bangsa
kita semua . Ia lebih menghargai sifat tidak me-
mentingkan diri dibandingkan sebaliknya. Di sana
Kristus menjadi yang “membenarkan dan
menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:
30). Apa pun nilai dan makna yang kita mi-
liki atau yang pernah kita miliki berasal da-
ri pengorbanan-Nya di kayu salib.
Allah yang benar hanyalah Allah dari
salib itu. Kristus membukakan kepada alam
semesta kasih Keallahan yang tiada batas-
nya itu berikut kuasa yang menyelamatkan;
diperkenalkan-Nya Allah Tritunggal yang re-
la menjalani derita keterpisahan sebab cin-
ta kasih yang tidak bersyarat yang diberikan
kepada planet yang memberontak. Dari sa-
lib inilah Allah mengumumkan undangan-
Nya yang penuh kasih kepada kita: Damai-
lah, “damai sejahtera Allah, yang melam-
paui segala akal, akan memelihara hati dan
pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:7).
Allah Bapa yang Kekal yaitu Pencipta, Sumber, Penopang dan Pe-
merintah semua ciptaan. Ia adil, ‘kudus, penuh rahmat dan kemurahan,
lambat marah, dan berkelimpahan cinta kasih dan setiawan. Kualitas
dan kuasa yang tampak dalam Anak dan Roh Kudus yaitu juga me-
nyatakan Bapa.—Fundamental Beliefs.—3.
41
Hari penghakiman yang besar itu dimulai.
Takhta yang menyala dengan roda-roda
yang berkobar-kobar dengan nyala api meng-
gelinding ke tempatnya. Yang Lanjut Usia
menduduki takhta-Nya. Dengan penampilan
yang penuh kemuliaan, Ia memimpin penga-
dilan. Kehadiran-Nya yang mempesona itu
menyelubungi ruang pengadilan yang sangat
luas, dengan hadirin yang sangat banyak. Pa-
ra saksi yang amat banyak berdiri di hadap-
an-Nya. Pengadilan sudah diatur, kitab dibu-
ka, dan catatan pemeriksaan hidup kita semua
dimulai (Dan. 7:9, 10).
Saat seperti ini telah lama dinantikan oleh
penghuni alam semesta. Allah Bapa akan
melaksanakan keadilan-Nya terhadap semua
orang yang jahat. Pengumuman yang telah
diberikan ialah: “Dan keadilan diberikan ke-
pada orang-orang kudus” (Dan. 7:22). Puji-
pujian yang penuh kegembiraan dan rasa
syukur menggema di seluruh surga. Sifat-
sifat Allah tampak dengan segala kemulia-
an-Nya, dan nama-Nya yang ajaib diperta-
hankan di seluruh alam semesta.
PANDANGAN-PANDANGAN
TENTANG BAPA
Seringkali Allah Bapa disalahpahami. Ba-
nyak orang yang mengamati dengan cermat
misi Kristus ke dunia ini demi umat manu-
sia dan peranan Roh Kudus dalam individu,
namun apakah yang dilakukan Bapa kepada
kita? Apakah Ia, berbeda dengan kemuliaan
Anak dan Roh, sama sekali jauh dari dunia
kita ini, Tuan tanah yang tidak hadir di tem-
patnya, Pihak Utama yang tidak tergoyah-
kan?
Atau apakah Ia, seperti yang dianggap ba-
nyak orang mengenai Dia, “Allah Perjanjian
Lama”—seorang Tuhan pembalas dendam,
yang memiliki sifat dan keputusan “mata
ganti mata dan gigi ganti gigi”(Mat. 5:38;
dan Kel. 21:24); tepatnya, Allah yang me-
nuntut perbuatan yang harus sempurna—
atau sesuatu yang lain!
Allah yang sama sekali berbeda dengan
Allah Perjanjian Baru yang dilukiskan be-
gitu penuh kasih sayang, yang menekankan
untuk membiarkan pipi sebelah-menyebelah
ditampar dan juga supaya berjalan dua mil
seperti yang ada dalam Mat. 5:39-41.
ALLAH BAPA DALAM PERJANJIAN
LAMA
Kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru, dan kesamaan rencana penebusan, di-
nyatakan oleh fakta bahwa Allah yang sama
jualah yang berbicara dan bertindak, baik
dalam Perjanjian Lama dan Baru, untuk ke-
selamatan umat-Nya. “sesudah pada zaman
dahulu Allah berulang kali, dan dalam pel-
bagai cara berbicara kepada nenek moyang
kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pa-
da zaman akhir ini Ia telah berbicara kepa-
da kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang
telah Ia tetapkan sebagai yang berhak mene-
rima segala yang ada. Oleh Dia, Allah telah
menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1, 2). Wa-
laupun Perjanjian Lama menyinggung Pri-
badi-pribadi Keallahan, itu bukan berarti
membedakan Mereka. Bahkan Perjanjian
Baru membuat jelas bahwa Kristus, Anak
Allah, yaitu pribadi yang aktif dalam Pen-
ciptaan (Yoh. 1:1-3, 14; Kol. 1:16) dan Dia-
lah Allah yang menuntun Israel keluar dari
Mesir (1 Kor. 10:1-4; Kel. 3:14; Yoh. 8:58).
Apa yang dikatakan Perjanjian Baru menge-
nai peranan Kristus dalam Penciptaan dan
Keluaran seringkali menyampaikan gambar
Allah Bapa kepada kita melalui Allah Anak
itu. “Sebab Allah mendamaikan dunia de-
ngan diri-Nya” (2 Kor. 5:19). Perjanjian La-
ma melukiskan Bapa dalam istilah berikut:
Allah Penyayang dan Pengasih. Tidak
ada kita semua berdosa yang pernah melihat
wajah Allah (Kel. 33:20). Kita tidak memi-
liki gambar wajah-Nya atau wujud-Nya. Al-
lah menyatakan tabiat-Nya melalui perbuat-
an-Nya yang penuh murahan dan melalui
gambaran yang diumumkan-Nya kepada
Musa: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan
pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-
Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih
setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang
mengampuni kesalahan, pelanggaran dan
dosa; namun tidaklah sekali-kali membebas-
kan orang yang bersalah dari hukuman, yang
membalaskan kesalahan bapa kepada anak-
anaknya dan cucunya, kepada keturunan
yang ketiga dan keempat” (Kel. 34:6, 7; ban-
dingkan Ibr. 10: 26, 27). Namun demikian,
kemurahan bukanlah pengampunan yang
buta, melainkan dituntun oleh prinsip keadil-
an. Barangsiapa yang menolak kemurahan-
Nya akan menuai hukuman atas dosa-dosa-
nya.
Di Bukit Sinai Tuhan Allah menyatakan
kerinduan-Nya menjadi sahabat bagi bang-
sa Israel, agar senantiasa
.
bersama-sama me-
reka. Ia berkata kepada Musa, “Dan mereka
harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supa-
ya Aku akan diam. di tengah-tengah me-
reka” (Kel. 25:8). sebab tempat itulah tem-
pat Allah di atas dunia ini, maka kaabah men-
jadi titik pusat pengalaman ibadah Israel.
Perjanjian Allah. Untuk menciptakan
hubungan yang kekal dengan umat-Nya, Tu-
han Allah mengadakan perjanjian yang ku-
dus dengan mereka, misalnya dengan Nuh
(Kej. 9:1-17) dan Ibrahim (Kej. 12:1-3, 7;
13:14-17; 15:1, 5, 6; 17:1-8; 22:15-18; lihat
bab 7 artikel ini). Perjanjian ini menunjuk-
kan satu pribadi, Allah yang menaruh kasih
dan perhatian kepada keperluan umat-Nya.
Kepada Nuh Ia memberikan jaminan dengan
musim yang tetap (Kej. 8:22) dan bahwa ti-
dak akan terjadi lagi air bah yang menutupi
seluruh permukaan bumi (Kej. 9:11); dan ke-
pada Ibrahim Ia berjanji akan memberikan
43Allah Bapa
sejumlah keturunan yang banyak (Kej. 15:5-
7) dan sebuah negeri yang akan didiami oleh
keturunannya (Kej. 15:18: 17:8).
Allah Penebus. Sebagaimana halnya Al-
lah yang membawa bangsa Israel keluar, Ia
memimpin satu bangsa budak dengan cara
yang penuh mukjizat menuju kemerdekaan.
Karya penebusan yang agung ini yaitu la-
tar belakang seluruh Alkitab Perjanjian La-
ma dan merupakan sebuah contoh kerindu-
an-Nya menjadi Penebus bagi kita. Sesung-
guhnya Allah tidak jauh, bukannya tidak
dapat dihampiri, bukan pula sebuah pribadi
yang bersikap acuh tak acuh, akan namun Se-
orang Pribadi yang sangat terlibat dalam se-
gala persoalan kita.
Khususnya Mazmur diilhami kedalaman
kasih Allah yang turut serta: “Jika aku melihat
langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-
bintang yang Kautempatkan: Apakah manu-
sia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah
anak kita semua , sehingga Engkau mengindah-
kannya?” (Mzm. 8:4, 5). “Aku mengasihi Eng-
kau, ya Tuhan, kekuatanku! Ya Tuhan, bukit
batuku, kubu pertahananku dan penyelamat-
ku, Allahku, gunung batuku, tempat aku ber-
lindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota
bentengku!”(Mzm. 18:2, 3). “Sebab Ia tidak
memandang hina ataupun merasa jijik keseng-
saraan orang yang tertindas” (Mzm. 22:25).
Allah Tempat Perlindungan. Daud me-
lihat Allah sebagai tempat yang dapat men-
jadi perlindungan bagi kita—seperti enam
kota perlindungan Israel, tempat bernaung
pengungsi yang tidak bersalah. Penulis Maz-
mur memakai tema “perlindungan” apa-
bila ia hendak menggambarkan Kristus dan
Bapa. Keallahan yaitu tempat berlindung.
“Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-
Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyi-
kan aku dalam persembunyian di kemah-
Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung ba-
tu” (Mzm. 27:5). “Allah itu bagi kita tempat
perlindungan dan kekuatan, sebagai peno-
long dalam kesesakan sangat terbukti” (Mzm.
46:2). ”Yerusalem, gunung-gunung sekeli-
lingnya; demikianlah Tuhan sekeliling umat-
Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya”
(Mzm. 125:2).
Penulis Mazmur melukiskan kerinduan-
nya terhadap Allah sebagai berikut: ”Seper-
ti rusa yang merindukan sungai yang berair,
demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya
Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Al-
lah yang hidup. Bilakah aku boleh datang
melihat Allah?”(Mzm. 42:2, 3). Dari penga-
laman, Daud memberikan kesaksian, “Serah-
kanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan
memelihara Engkau! Tidak untuk selama-la-
manya dibiarkan-Nya orang benar itu go-
yah” (Mzm. 55:23). “Percayalah kepada-
Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi
hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat
perlindungan kita” (Mzm. 62:9)—”Allah pe-
nyayang dan pengasih, panjang sabar dan
berlimpah kasih dan setia” (Mzm. 86:15).
Allah yang Suka Mengampuni. Sete-
lah Daud melakukan dosa zina dan pem-
bunuhan, ia memohon dengan sangat, “Kasi-
hanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-
Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut
rahmat-Mu yang besar!” “Jadikanlah hatiku
tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku de-
ngan roh yang teguh!” (Mzm. 51:3, 12). Ia
memperoleh penghiburan melalui jaminan
bahwa Allah penuh kemurahan. “namun se-
tinggi langit di atas bumi, demikian besar-
nya kasih setia-Nya atas orang-orang yang
takut akan Dia; sejauh timur dari barat, de-
mikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelang-
garan kita. Seperti bapa sayang kepada anak-
anaknya, demikian Tuhan sayang kepada
orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia
44Allah Bapa
sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita
ini debu” (Mzm. 103:11-14).
Allah Kebajikan. Tuhan Allah “yang
menegakkan keadilan untuk orang yang di-
peras, yang memberi roti kepada orang yang
lapar. Tuhan membebaskan orang yang terku-
rung, Tuhan membuka mata orang buta, Tu-
han menegakkan orang yang tertunduk, Tu-
han mengasihi orang benar. Tuhan menjaga
orang asing, anak yatim dan janda ditegak-
kan-Nya kembali, namun jalan orang fasik di-
bengkokkan-Nya” (Mzm. 146:7-9). Betapa
besarnya gambaran mengenai Tuhan dilukis-
kan dalam artikel Mazmur!
Allah yang Setiawan. Selain kebesaran
Allah, bangsa Israel hampir sepanjang masa
menjauh dari Tuhan (Im. 26, Ul. 28). Allah
digambarkan mengasihi orang Israel bagai
suami yang mengasihi istrinya. artikel Hosea
dengan tajam melukiskan kesetiaan Allah di
tengah-tengah penolakan dan ketidaksetiaan
yang parah. Pengampunan yang terus-me-
nerus yang ditunjukkan Allah memperlihat-
kan tabiat-Nya yang menaruh kasih tanpa
syarat.
Walaupun Allah membiarkan bangsa Isra-
el mengalami malapetaka yang disebabkan
pendurhakaan mereka—dengan menegur ja-
lan-jalan salah yang ditempuh mereka—Ia
masih tetap memeluk mereka dengan kemura-
han-Nya. Ia memberikan jaminan, “Engkau
hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan ti-
dak menolak engkau; janganlah takut, sebab
Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bah-
kan akan menolong engkau... dengan tangan
kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes.
41:9, 10). Walaupun mereka tidak setia, Ia te-
tap memberikan janji dengan penuh belas kasi-
han, “namun bila mereka mengakui kesalahan
mereka dan kesalahan nenek moyang mereka
dalam hal berubah setia yang dilakukan mere-
ka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa
hidup mereka bertentangan dengan Daku, ...
atau bila lalu hari mereka yang tidak
bersunat itu telah tunduk dan mereka telah
membayar pulih kesalahan mereka, maka Aku
akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub;
juga perjanjian-Ku dengan Ishak dan per-
janjian-Ku dengan Abraham pun” (Im. 26:40-
42; Yer. 3:12).
Allah mengingatkan umat-Nya mengenai
tingkah laku perbuatan-Nya yang bersifat pe-
nebusan: “Hai Israel, engkau tidak Kulupa-
kan. Aku telah menghapus segala dosa pem-
berontakanmu seperti kabut diterbangkan
angin dan segala dosamu seperti awan yang
tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku
telah menebus engkau!” (Yes. 44:21, 22). Ti-
daklah mengherankan jika Ia berkata, “Ber-
palinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu
diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab
Akulah Allah dan tidak ada yang lain” (Yes.
45:22).
Allah Keselamatan dan Pembalas. Per-
janjian Lama melukiskan Allah sebagai Tu-
han yang pembalas, haruslah dilihat dalam
konteks pemusnahan umat-Nya yang setia
oleh orang jahat. Melalui tema “hari Tuhan”
para nabi menunjukkan tindakan-tindakan
Tuhan demi kepentingan umat-Nya pada
akhir zaman. Inilah hari keselamatan bagi
umat-Nya, namun merupakan hari pemba-
lasan atas musuh-musuh mereka yang akan
dibinasakan. “Katakanlah kepada orang yang
tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah ta-
kut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan
pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia
sendiri datang menyelamatkan kamu!’” (Yes.
35:4).
Allah Bapa. Kepada bangsa Israel, Musa
menyatakan Allah sebagai Bapa, yang telah
menebus mereka: “Bukankah Ia Bapamu
45Allah Bapa
yang menciptakan engkau, yang menjadikan
dan menegakkan engkau?” (Ul. 32:6). Me-
lalui penebusan, Allah menjadikan Israel se-
bagai anak-Nya. Yesaya menulis, “Ya Tuhan,
Engkaulah Bapa kami” (Yes. 64:8; banding-
kan 63:16). Melalui Maleakhi, Allah mengu-
kuhkan, “Aku ini Bapa” (Mal. 1:6). Di mana-
mana, Maleakhi menghubungkan kebapaan
Allah atas peran-Nya sebagai Pencipta: “Bu-
kankah kita sekalian mempunyai satu bapa?
Bukankah satu Allah menciptakan kita?”
(Mal. 2:10). Allah yaitu Bapa kita baik me-
lalui Penciptaan maupun penebusan. Beta-
pa kebenaran yang amat mulia!
ALLAH BAPA DALAM PERJANJIAN
BARU
Allah Perjanjian Lama tidak berbeda dari
Allah Perjanjian Baru. Allah Bapa dinyata-
kan sebagai Pencipta segala sesuatu, Bapa
semua orang percaya yang sejati, dan dalam
sebuah perasaan yang unik Bapa dari Yesus
Kristus.
Bapa Semua Ciptaan. Paulus mengiden-
tifikasi Bapa, membedakan-Nya dari Yesus
Kristus: “Namun bagi kita hanya ada satu
Al-lah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya
berasal segala sesuatu, ... dan satu Tuhan
saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya se-
gala sesuatu telah dijadikan dan yang kare-
na Dia kita hidup” (1 Kor. 8:6 dan Ibr. 12:9;
Yoh. 1: 17). Ia memberikan kesaksian, “Itu-
lah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang
dari pada-Nya semua turunan yang di dalam
surga dan di atas bumi menerima namanya”
(Ef. 3:14, 15).
Bapa Semua Orang Percaya. Pada za-
man Perjanjian Baru ada hubungan rohani
bapa-anak bukan antara Allah dan bangsa
Israel melainkan antara Allah dan orang per-
caya secara individu. Yesus menyediakan pe-
nuntun untuk hubungan ini (Mat. 5:45; 6:6-
15), yang terselenggara dengan mantap me-
lalui penerimaan orang-orang percaya ter-
hadap Yesus Kristus (Yoh. 1:12, 13).
Melalui penebusan Kristus, orang-orang
percaya diangkat menjadi anak-anak Allah.
Roh Kudus melengkapi hubungan ini. Kristus
datang untuk “menebus mereka, yang takluk
kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk mene-
bus mereka, yang takluk kepada hukum Tau-
rat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan
sebab kamu yaitu anak, maka Allah telah
menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,
yang berseru: ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Gal. 4:5,
6; bandingkan Rm. 8:15, 16).
Yesus Menyatakan Bapa. Yesus, Allah
Anak, di dalamnya ada pandangan yang
paling dalam mengenai Allah Bapa ketika Ia,
yang menyatakan, diri Allah sendiri, datang
dalam wujud daging (Yoh. 1:1, 14). Yohanes
berkata, “Tidak seorang pun yang pernah me-
lihat Allah; namun Anak Tunggal Allah, ...
Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18).
Yesus berkata, “Sebab Aku telah turun dari
surga” (Yoh. 6:38); “Barangsiapa telah me-
lihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9).
Mengenal Yesus berarti mengenal Bapa.
Surat-surat yang ditujukan kepada orang-
orang Ibrani menekankan pentingnya per-
nyataan pribadi ini: “sesudah pada zaman da-
hulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai
cara berbicara kepada nenek moyang kita de-
ngan perantaraan nabi-nabi, maka pada za-
man akhir ini Ia telah berbicara kepada kita
dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia
tetapkan sebagai yang berhak menerima se-
gala yang ada. Oleh Dia Allah telah menja-
dikan alam semesta. Ia yaitu cahaya kemu-
liaan Allah dan gambar wujud Allah dan me-
nopang segala yang ada dengan firman-Nya
46Allah Bapa
yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:1-3).
1. Allah yang pemberi. Yesus memper-
lihatkan Bapa-Nya sebagai Allah yang pem-
beri. Kita melihat pemberian-Nya pada Pen-
ciptaan, di Betlehem dan di Golgota.
Dalam penciptaan, Bapa dan Anak beker-
jasama. Allah memberikan hidup kepada kita
walaupun mengetahui, bahwa, dengan mela-
kukan hal yang demikian, akan mendatang-
kan kematian Anak-Nya sendiri.
Di Betlehem, Ia memberikan diri-Nya
sendiri sebagaimana Ia memberikan Anak-
Nya. Betapa pedihnya pengalaman Bapa ke-
tika Anak-Nya memasuki planet kita yang
penuh dengan dosa!
Bayangkanlah perasaan
Bapa ketika Ia melihat Anak-Nya memper-
tukarkan kasih dan pujaan para malaikat de-
ngan kebencian orang-orang berdosa; kemu-
liaan dan kebahagiaan surga dengan jalan ke-
matian.
Akan namun di Golgota diberikan kepada
kita wawasan paling dalam terhadap Bapa.
Bapa yang Ilahi itu, menderita kepahitan ka-
rena dipisahkan dari Anak-Nya—dalam hi-
dup dan kematian—lebih dibandingkan apa yang
mungkin dirasakan kita semua . Begitulah Ia
menderita dengan Kristus. Sebuah kesaksi-
an yang agung yang pernah ada diberikan
Bapa! Salib menyatakan—yang tidak mung-
kin dapat dilakukan yang lain—kebenaran
mengenai Bapa.
2. Allah Kasih. Tema yang paling disu-
kai Yesus ialah kelembutan dan kelimpahan
kasih Allah. “Kasihilah musuhmu,” kata-
Nya, “berdoalah bagi mereka yang menga-
niaya kamu. sebab dengan demikianlah ka-
mu menjadi anak-anak Bapamu yang di sor-
ga, yang menerbitkan matahari bagi orang
yang jahat dan orang yang baik dan menu-
runkan hujan bagi orang yang benar dan or-
ang yang tidak benar” (Mat. 5:44, 45). “Teta-
pi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah
baik kepada mereka dan pinjamkan dengan
tidak mengharapkan balasan, maka upahmu
akan besar dan kamu akan menjadi anak-
anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik
terhadap orang-orang yang tidak tahu berte-
rima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti
Bapamu yaitu murah hati.” (Luk. 6:35, 36).
Waktu Yesus merendahkan diri sambil
membasuh kaki orang yang akan mengkhia-
nati-Nya, Yesus menyatakan sifat Allah yang
penuh belas kasihan. Apabila kita melihat
Kristus memberi makan orang yang lapar
(Mrk. 6:39-44; 8:1-9), menyembuhkan pen-
dengaran orang yang tuli (Mrk. 9:17-29),
membuat yang bisu berbicara (Mrk. 7:32-
37), membuka mata orang yang buta (Mrk.
8:22-26), menyembuhkan orang yang ber-
penyakit kusta (Luk. 5:12, 13), menyuruh
orang yang lumpuh berdiri dan berjalan (Luk.
5:18-26), membangkitkan orang mati (Mrk.
5:35-43; Yoh 11:1-45), mengampuni orang-
orang yang berdosa (Yoh. 8:3-11), mengusir
Setan (Mat. 15:22-28;17:14-21), kita meli-
hat Bapa berada di tengah-tengah kita semua ,
memberikan hidup-Nya kepada mereka,
membebaskan mereka, memberikan peng-
harapan kepada mereka, dan mengarahkan
mereka kepada dunia mendatang yang diba-
harui. Kristus mengetahui bahwa dengan
menyatakan kasih yang sangat berharga dari
Bapa yaitu kunci untuk membawa manu-
sia kepada pertobatan (Rm. 2:4).
Tiga dari perumpamaan-perumpamaan
Kristus menggambarkan kasih Allah kepa-
da kita semua yang telah hilang (Luk. 15). Pe-
rumpamaan mengenai domba yang hilang
mengajarkan kepada kita bahwa keselamat-
an datang melalui inisiatif Allah, bukan ka-
rena upaya kita mencari Dia. Sebagaimana
seorang gembala mengasihi domba-domba-
nya dan mempertaruhkan hidupnya apabila
47Allah Bapa
ada seekor pun yang hilang, begitulah da-
lam ukuran yang jauh lebih besar, Allah me-
nunjukkan kasih-Nya terhadap setiap orang
yang hilang.
Perumpamaan ini juga memiliki makna
kosmis—domba yang hilang itu menggam-
barkan dunia kita yang memberontak, tak le-
bih dari sebuah atom di alam semesta Allah
yang mahaluas. Pemberian Allah yang sa-
ngat berharga itu yakni Anak-Nya yang tung-
gal untuk membawa kembali planet kita ke
dalam kawanan itu menunjukkan bahwa du-
nia kita yang sudah hilang ini cukup berharga
bagi-Nya sebagai bagian dari penciptaan-Nya.
Perumpamaan mengenai keping perak
yang hilang menekankan betapa besarnya ni-
lai yang diberikan Allah kepada kita yang
berdosa. Begitu pula perumpamaan menge-
nai anak yang hilang menunjukkan kasih Ba-
pa yang berkelimpahan, yang menyambut ba-
ik: anak-anak yang menyesali perbuatannya.
Jika di surga ada suatu kegembiraan yang
besar sebab seorang yang berdosa yang ber-
tobat (Luk. 15:7), bayangkanlah betapa gem-
biranya alam semesta pada waktu kedatangan
Tuhan kita yang kedua kalinya.
Perjanjian Baru menyatakan dengan je-
las keterlibatan Bapa yang sangat akrab da-
lam soal kembalinya Anak-Nya. Pada hari
kedatangan Kristus yang kedua kali orang-
orang jahat akan berseru kepada gunung-
gunung dan bukit batu, “Runtuhlah menim-
pa kami dan sembunyikanlah kami terhadap
Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap
murka Anak Domba itu” (Why. 6:16). Ye-
sus berkata, “Sebab Anak kita semua akan da-
tang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi ma-
laikat- malaikat-Nya” (Mat. 16:27), dan “ka-
mu akan melihat Anak kita semua duduk di se-
belah kanan Yang Mahakuasa dan datang di
atas awan-awan di langit” (Mat. 26:64).
Dengan hati yang penuh kerinduan Bapa
mengantisipasi hari Kedatangan Kristus
yang kedua kali, saat orang-orang yang dite-
bus pada akhirnya akan dibawa ke rumah
mereka yang abadi. Dengan demikian, me-
ngutus Anak-Nya “yang tunggal ke dalam
dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yoh.
4:9) nyatalah tidak akan sia-sia. Hanyalah
yang tidak dapat diduga, kasih yang tidak
mementingkan diri menjelaskan mengapa,
walaupun kita musuh masih juga kita “diper-
damaikan dengan Allah oleh kematian Anak-
Nya”(Rm. 5:10). Bagaimanakah kita akan
menolak kasih yang demikian dan gagal me-
ngakui Dia sebagai Bapa kita?
48
Anak Allah yang Kekal menjelma dalam Yesus Kristus. Melalui Dialah
segala sesuatu diciptakan, sifat-sifat Allah dinyatakan, keselamatan
kita semua dilengkapkan, dan dunia dihakimi. Ialah Allah yang sejati
selama-lamanya, juga menjadi kita semua yang sejati, yakni Yesus Kristus
Dikandung sebab Roh Kudus dan dilahirkan melalui anak dara Ma-
ria. Ia hidup dan mengalami pencobaan sebagai seorang kita semua , akan
namun melakukan dengan sempurna kebenaran dan kasih Allah. Melalui
mukjizat yang diperbuat-Nya Dia menyatakan kuasa Allah dan telah
ter-bukti sebagai Mesias yang dijanjikan Allah. Ia menderita dan mati
dengan sukarela di kayu salib sebab dosa-dosa kita dan menggantikan
tempat kita, lalu la dibangkitkan dari kematian dan naik ke surga
untuk melayani kepentingan kita di kaabah yang di surga. Ia akan datang
kem-bali dalam kemuliaan untuk melepaskan umat-Nya untuk kali yang
terakhir serta memulihkan segala sesuatu.—Fundamental Beliefs,—4.
49
Padang belantara menjadi tempat ber-
keliaran ular berbisa yang mengerikan.
Ular merayap di bawah periuk, dan berge-
lung di tiang-tiang tenda yang terpancang.
Sebagian lagi bersembunyi di antara bone-
ka-boneka anak-anak, berbaring di atas bale-
bale, menanti. Gigi mereka siap menghun-
jam dalam-dalam, menyemburkan racun
yang mematikan.
Padang belantara, yang tadinya menjadi
tempat berlindung bangsa Israel, telah men-
jadi kuburan. Beratus-ratus orang mati berse-
rakan. Mengingat keadaan yang amat ber-
bahaya itu, orang-orang tua yang ketakutan
mulai bergegas-gegas menuju tenda Musa
untuk meminta pertolongan. “Musa, tolong
doakan bangsa ini.”
Apakah jawab Allah? Buatlah sebuah ukir-
an ular, lalu pancangkan tinggi-tinggi—dan
semua orang yang memandangnya akan hi-
dup. “Lalu Musa membuat ular tembaga dan
menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika
se-seorang dipagut ular, dan ia memandang
kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”
(Bil. 21:9).
Ular sebenarnya tetap merupakan lam-
bang Setan (Kej. 3; Why. 12), menggambar-
kan dosa. Perkemahan itu telah jatuh ke ta-
ngan Setan. Bagaimanakah penyembuhan
dari Tuhan? Bukannya dengan memandang
kepada domba yang di atas mezbah, melain-
kan dengan memandang ular tembaga itu.
Hal ini merupakan sebuah lambang yang
aneh dari Kristus. Sama seperti ular-ular yang
memagut itu diangkat tinggi-tinggi di atas
sebuah galah, Yesus menjadi “serupa de-
ngan daging yang dikuasai dosa sebab
dosa” (Rm. 8:3), dan ditinggikan di atas kayu
sa-lib yang sangat hina itu (Yoh. 3:14, 15).
Ia menjadi dosa, Ia memikul sendiri semua
dosa orang yang pernah hidup atau akan hi-
dup. “Dia yang tidak mengenal dosa telah
dibuat-Nya menjadi dosa sebab kita, supaya
dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2
Kor. 5: 21). Dengan memandang kepada
Kristus ma-nusia yang tidak berdaya itu da-
pat memperoleh hidup.
Bagaimanakah penjelmaan itu dapat
membawa keselamatan kepada kita semua ?
Efek apakah yang diakibatkannya kepada
BAB 4
ALLAH ANAK
50Allah Anak
Sang Anak? Bagaimanakah Allah menjadi
kita semua dan mengapa harus demikian?
PENJELMAAN: RAMALAN DAN
KEGENAPANNYA
Rencana Allah ialah menyelamatkan orang
yang tersesat jauh dari semua petunjuk yang
diberikan-Nya (Yoh. 3:16, 1 Yoh. 4:9) me-
nunjukkan kasih-Nya dengan sangat meya-
kinkan. Di dalam rencana ini Anak-Nya yang
“telah dipilih sebelum dunia dijadikan” men-
jadi korban dosa, menjadi harapan bagi umat
kita semua (1 Ptr. 1:19, 20). Ia membawa kita
kembali kepada Allah serta menyediakan
kelepasan dari dosa melalui penghancuran
pekerjaan si jahat (1 Ptr. 3:18; Mat. 1:21; 1
Yoh. 3:8).
Dosa telah memisahkan Adam dan Hawa
dari sumber kehidupan, akibatnya ialah ke-
matian yang segera. Akan namun sesuai de-
ngan rencana yang telah dibentangkan sebe-
lum asas dunia ini (1 Ptr. 1:20, 21), “permu-
fakatan tentang damai”(Za. 6:13), Allah
Anak turun dan berada di antara mereka serta
menjadi keadilan Ilahi, menjembatani kesen-
jangan dan mengendalikan maut. Bahkan se-
belum dan sesudah salib, anugerah-Nya saja
yang membuat orang-orang berdosa hidup
dan memberikan jaminan keselamatan me-
reka. Akan namun , untuk menjadikan kita be-
nar-benar menjadi putra-putri Allah, Ia ha-
rus menjadi kita semua .
Begitu Adam dan Hawa jatuh ke dalam
dosa, Allah memberikan pengharapan de-
ngan janji memperkenalkan kepada mereka
perseteruan yang supra natura antara ular dan
perempuan itu, antara benihnya dan turunan-
nya. Di dalam penjelasan yang agak samar-
samar, dalam Kejadian 3:15 ular dan benih-
nya menggambarkan Setan dengan para pe-
ngikutnya; perempuan dan turunannya me-
lambangkan umat Allah dan Juruselamat
dunia. Pernyataan ini merupakan jaminan
pertama bahwa perbantahan antara yang baik
dan jahat akan berakhir dengan kemenang-
an Anak Allah.
Bagaimanapun, kemenangan itu disertai
dengan hal yang menyakitkan: “Keturunan-
nya (Juruselamat) akan meremukkan kepa-
lamu (Setan), dan engkau (Setan) akan me-
remukkan tumitnya (Juruselamat)” (Kej. 3:
15). Tidak ada yang muncul tanpa cedera.
Sejak saat itulah umat kita semua berharap
atas datang-Nya Seorang yang telah Dijan-
jikan. Perjanjian Lama mengungkapkan-
Nya. Nubuat telah menyatakan lebih dahu-
lu bahwa apabila yang Dijanjikan itu telah
datang, dunia harus memiliki bukti yang
mengukuhkan identitas-Nya.
Dramatisasi Nubuat Mengenai Kesela-
matan. Sesudah dosa masuk, Allah mendi-
rikan lembaga pengorbanan hewan untuk
menggambarkan tugas Juruselamat yang
akan datang itu (baca Kej. 34:4). Sistem yang
memakai lambang ini menggambarkan
corak bagaimana Allah Anak akan membi-
nasakan dosa.
sebab dosa—pelanggaran atas Hukum
Tuhan—kita semua harus mengalami kematian
(Kej. 2:17; 3:19; 1Yoh. 3:4; Rm. 6:23). Hu-
kum Allah menuntut nyawa orang berdosa.
Akan namun dalam kasih-Nya yang tiada ba-
tasnya itu, Allah mengaruniakan Anak-Nya,
“yang tunggal, supaya setiap orang yang per-
caya kepada-Nya tidak binasa melainkan
beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Beta-
pa suatu tindakan merendahkan diri yang tia-
da taranya! Allah Anak yang abadi, Ia sendiri
membayar hukuman dosa yang seharusnya
menjadi tanggungan orang lain, supaya dengan
demikian Ia dapat memberikan pengampun-
an dan pendamaian dengan Keallahan.
sesudah bangsa Israel keluar dari Mesir,
persembahan korban diselenggarakan di da-
51Allah Anak
lam bait suci sebagai suatu bagian hubung-
an perjanjian antara Allah dengan umat-Nya.
Musa membangunnya sesuai dengan pola
yang ada di surga, bait suci dengan se-
gala pelayanan yang dilakukan di dalamnya
dibuat untuk menggambarkan rencana kese-
lamatan (Kel. 25:8, 9, 40; Ibr. 8:1-5).
Untuk memperoleh pengampunan, orang
berdosa yang bertobat membawa persem-
bahan korban hewan yang tidak bercacat-ce-
la—melambangkan Juruselamat yang tidak
berdosa. Orang yang berdosa menumpang-
kan tangannya di atas binatang yang tidak
bersalah itu seraya mengakui dosa-dosanya
(Im. 1:3, 4). Tindakan ini melambangkan pe-
mindahan dosa dari yang bersalah kepada
korban yang tidak bersalah itu, menggam-
barkan sifat pengganti dari korban itu.
sebab “tanpa pertumpahan darah tidak
ada pengampunan” dosa-dosa (Ibr. 9:22),
maka kita semua mengorbankan binatang,
menjadikannya sebagai bukti sifat dosa yang
mematikan. Sebuah jalan duka untuk menya-
takan pengharapan namun satu-satunya jalan
yang dapat ditempuh oleh orang berdosa un-
tuk menyatakan imannya.
sesudah pelayanan keimamatan (Im. 4,7),
orang berdosa menerima pengampunan dosa
melalui imannya dalam kematian pengganti
dari Penebus yang akan datang, yang dilam-
bangkan oleh korban persembahan binatang
itu (bandingkan Im. 4:26, 31, 35). Perjan-
jian Baru mengakui Yesus Kristus, Anak Al-
lah, sebagai “Anak domba Allah yang meng-
hapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Melalui da-
rah-Nya yang mahal itu, “seperti darah anak
domba yang tak bernoda dan tak bercacat”
(1 Ptr. 1:19), Ia memperoleh penebusan bagi
umat kita semua dari hukuman dosa.
Ramalan-ramalan Mengenai Seorang
Juruselamat. Allah menjanjikan bahwa Me-
sias—Juruselamat—Yang Diurapi—akan
datang melalui garis keturunan Abraham:
“Oleh keturunanmulah semua bangsa di bu-
mi akan mendapat berkat,” (Kej. 22:18; ban-
dingkan 12:3).
Yesaya telah menubuatkan bahwa Juruse-
lamat yang akan datang sebagai bayi lelaki,
yang akan menjadi kita semua dan Ilahi: “Se-
bab seorang anak telah lahir untuk kita, seo-
rang putra telah diberikan untuk kita; lam-
bang pemerintahan ada di atas bahunya, dan
namanya disebutkan orang: Penasihat Aja-
ib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal,
Raja Damai” (Yes. 9:5). Penebus ini akan
naik takhta Daud dan mendirikan pemerin-
tahan damai yang kekal (Yes. 9:6). Betle-
hem akan menjadi tempat kelahiran-Nya
(Mi. 5:2).
Kelahiran kita semua Ilahi ini ajaib. De-
ngan mengutip dari Yes. 7:14, Perjanjian Ba-
ru berkata, “Sesungguhnya, anak dara itu
akan mengandung dan melahirkan seorang
anak laki-laki, dan mereka akan menamakan
Dia Imanuel—yang berarti: Allah menyer-
tai kita” (Mat. 1:23).
Tugas Juruselamat dinyatakan dalam per-
kataan yang berikut: “Roh Tuhan Allah ada
padaku, oleh sebab Tuhan telah mengurapi
aku; Ia telah mengutus aku untuk menyam-
paikan kabar baik kepada orang-orang seng-
sara, dan merawat orang-orang yang remuk
hati, untuk memberitakan pembebasan kepa-
da orang-orang tawanan, dan kepada orang-
orang yang terkurung kelepasan dari penjara,
untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan
dan hari pembalasan Allah kita: (Yes. 61:1,
2; bandingkan Luk. 4:18, 19).
Ajaib sekali, sang Mesias harus men-
derita penolakan. Ia akan merasa seperti”
tunas dari tanah kering” “Ia tidak tampan dan
semaraknya pun tidak ada sehingga kita me-
mandang dia, dan rupa pun tidak sehingga
kita menginginkannya.... Seorang yang pe-
52Allah Anak
nuh kesengsaraan dan yang biasa menderi-
ta kesakitan.... Dan bagi kita pun dia tidak
masuk hitungan.” (Yes. 53:2-3).
Seorang sahabat karib pun mengkhianati-
Nya (Mzm. 41:10) dengan uang tiga puluh
keping perak (Za. 11:12). Selama pengadi-
lan-Nya Ia akan diludahi dan dipukuli (Yes.
50:6). Pelaksana hukuman atas diri-Nya me-
ngundi jubah yang dipakai-Nya (Mzm. 22:
19). Tidak ada tulang-Nya yang dipatahkan
(Mzm. 34:21), akan namun lambung-Nya
akan ditikam (Za. 12:10). Di dalam sengsa-
ra-Nya Ia tidak melawan melainkan seperti
“induk domba yang kelu di depan orang-
orang yang menggunting bulunya, ia tidak
membuka mulutnya” (Yes. 53:7).
Juruselamat yang tidak berdosa itu harus
menderita sangat hebat sebab orang-orang
berdosa. “namun sesungguhnya, penyakit ki-
talah yang ditanggungnya, dan kesengsara-
an kita yang dipikulnya.... Dia tertikam oleh
sebab pemberontakan kita, dia diremukkan
oleh sebab kejahatan kita; ganjaran yang
mendatangkan keselamatan bagi kita ditim-
pakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya ki-
ta menjadi sembuh.... namun Tuhan telah me-
nimpakan kepadanya kejahatan kita sekali-
an.... Sungguh, ia terputus dari negeri orang-
orang hidup, dan sebab pemberontakan
umat-Ku ia kena tulah” (Yes. 53:4-8).
Mengenali Juruselamat. Hanya Yesus
Kristus yang menggenapi nubuatan ini. Ki-
tab-kitab Suci mencatat permulaan garis
keturunan-Nya kepada Abraham, yang me-
nyebut-Nya Anak Abraham (Mat. 1:1), dan
Paulus mengukuhkan bahwa janji kepada
Abraham dan keturunannya telah digenapi
di dalam Kristus (Gal. 3:16). Gelar Kemesia-
san “Anak Daud” secara luas ditujukan pada-
Nya (Mat. 21:9). Ia dikenal sebagai Mesias
yang dijanjikan, yang akan menduduki takh-
ta Daud (Kis. 2:29, 30).
Kelahiran Yesus itu ajaib. Maria yang
masih perawan itu “mengandung dari Roh
Kudus” (Mat. 1:18-23). Maklumat yang
diberikan pemerintah Roma kepada rakyat
jajahan membawa Maria ke Betlehem, tem-
pat kelahiran Mesias yang telah dinubuat-
kan lebih dahulu (Luk. 2:4-7).
Salah satu nama yang diberikan kepada
Yesus ialah Imanuel yang artinya “Allah me-
nyertai kita,” membayangkan sifat-Nya se-
bagai kita semua Ilahi serta menggambarkan
ciri-ciri Allah dengan kita semua (Mat. 1:23).
Nama yang umum diberikan pada-Nya, Ye-
sus, dipusatkan pada misi keselamatan yang
diemban-Nya: “Dan engkau akan menama-
kan Dia Yesus, sebab Dialah yang akan me-
nyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka”
(Mat. 1:21).
Ciri-ciri tugas Yesus yaitu seperti yang
diramalkan mengenai Mesias dalam artikel
Yes. 61:1, 2: “Pada hari ini genaplah nas ini
sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:17-
21).
Walaupun Ia mem
.jpeg)
