doktrin Advent 15
atakan cinta yang demi-
kian. Yesus berkata, “Jikalau kamu menga-
sihi Aku, kamu akan menuruti segala perin-
tah-Ku” (Yoh. 14:15). “Jikalau kamu menu-
ruti, perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam
kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Ba-
pa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yoh.
15:10). Sama halnya, jika kita mengasihi umat
Allah maka kita pun mengasihi Allah dan
“menuruti perintah-perintah-Nya” (1 Yoh.
2:3).
Hanyalah dengan tinggal di dalam Kristus
kita dapat membuat hati yang penurut. “Sama
seperti ranting tidak dapat berbuah dari diri-
nya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok
anggur,” kata-Nya, “demikian juga kamu ti-
dak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di
dalam Aku .... Barangsiapa tinggal di dalam
Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,
sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat
apa-apa” (Yoh. 15:4, 5). Agar dapat tinggal di
dalam Kristus kita harus disalibkan dengan-
Nya dan mengalami seperti apa yang ditulis
Paulus: “namun bukan lagi aku sendiri yang
hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam
aku” (Gal. 2:20). Bagi orang yang sudah ber-
ada dalam kondisi seperti ini Kristus dapat
menggenapi Perjanjian Baru-Nya: ”Aku
akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi
mereka dan menuliskannya dalam hati me-
reka, maka Aku akan menjadi Allah mereka,
dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Ibr.
8:10).
Berkat-berkat Penurutan. Penurutan me-
ngembangkan tabiat Kristen dan menghasilkan
suatu perasaan yang baik, menjadikan umat
percaya bertumbuh sebagai “bayi yang baru
lahir” dan akan diubah menjadi serupa de-
ngan gambar Kristus (baca 1 Ptr. 2:2; 2 Kor.
3:18). Perubahan dari orang berdosa menjadi
anak Allah akan menjadikan saksi yang ber-
hasil baik terhadap kuasa Kristus.
Kitab Suci menyatakan “berbahagialah”
semua “orang yang hidupnya tidak bercela,
yang hidup menurut Taurat Tuhan” (Mzm.
119:1), “yang kesukaannya ialah Taurat Tu-
han, dan yang merenungkan Taurat itu siang
dan malam” (Mzm. 1:2). Berkat-berkat pe-
nurutan itu banyak: (1) kebijaksanaan dan
akal budi (Mzm. 119:98, 99); (2) damai
(Mzm. 119:165; Yes. 48:18); (3) pembenaran
(Ul. 6:25; Yes. 48:18); (4) Kemurnian dan ke-
hidupan moral (Ams. 7:1-5); (5) pengetahu-
an akan kebenaran (Yoh. 7:17); (6) penjaga-
an terhadap penyakit; (7) panjang usia (Ams.
3:1, 2; 4:10, 22); (8) jaminan bahwa doa sese-
orang akan dijawab (1 Yoh. 3:22; bnd Mzm.
66:18).
Dengan mengundang kita supaya menjadi
penurut, Allah menjanjikan berkat yang ber-
kelimpahan (Im. 26:3-10; Ul. 28:1-12). Apa-
bila kita menyambut dengan positif, maka
kita akan menjadi “harta kesayangan” Tu-
han—“menjadi... kerajaan imam dan bangsa
yang kudus” (Kel. 19:5, 6; bandingkan 1 Ptr.
2:5, 9), ditinggikan “di atas segala bangsa di
bumi,” “menjadi kepala dan bukan menjadi
ekor” (Ul. 28:1, 13).
________________:
1. Holbrook, “What God’s Law Means to Me,” Adventist Review, 15 Januari 1987, hlm. 16.
2. White, Selected Messages, buku 1, hlm. 235.
3. Ibid., hlm. 218.
4. Bnd Pengakuan Iman Westminster, 1647 TM, bab XIX, dalam Philip Schaff, The Creeds of Christendom, jilid 3,
hlm. 640-644.
5. Lihat Taylor G. Bunch, The Ten Commandments (Washington, D.C.: Review and Herald, 1944), hlm. 35, 36.
6. ‘Ten Commandments,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 1106.
7. Hukum Musa dapat juga dirujuk kepada satu bagian Perjanjian Lama yang disebut Pentateukh—lima buku pertama
dari Alkitab (Luk. 24:44; Kis. 28:23).
Hukum Tuhan Allah 285
8. Yang termasuk juga di dalam perjanjian itulah beberapa peraturan keupacaraan dan hukum sipil tertentu. Peng-
ajaran-pengajaran sipil bukanlah sebuah tambahan terhadap Sepuluh Firman (Dekalog) melainkan hanyalah se-
kadar penerapan yang rinci dari prinsip atau asas itu secara luas. Hukum keupacaraan melambangkan injil dengan
menyediakan sarana anugerah bagi orang-orang yang berdosa. Oleh sebab itu, Sepuluh Firman itulah yang men-
dominasi perjanjian itu. Bnd Yer. 7:21-23; Francis D. Nichol,Answers to Objections (Washington, D.C.: Review
and Herald, 1952), hlm. 62-68).
9. Arnold V. Wallenkampt, “Is Conscience a Safe Guide?” Review and Herald, 11 April 1983, hlm. 6.
10. Sebagian orang menafsirkan pernyataan Paulus bahwa “Kristus yaitu kegenapan hukum untuk membenarkan
setiap orang yang percaya” dimaksudkan bahwa akhir atau tujuan hukum itu membawa kita kepada sasaran di mana
kita dapat melihat betapa berdosanya kita, dan datang kepada Kristus meminta pengampunan, menerimanya
melalui iman akan kebenaran-Nya. (Penggunaan kata “akhir” (Yunani, telos), juga ada dalam 1 Tes. 1:5,
Yak. 5:11 dan dalam 1 Petr. 1:9). Lihat juga catatan 23.
11. Bnd SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 961; White, Selected Messages, buku 1, hlm. 233. Hukum
keupacaraan yaitu sebuah guru yang membawa individu kepada Kristus namun dengan sarana yang berbeda. Pela-
yanan di bait suci dengan segala persembahan pengorbanan menunjukkan kepada orang berdosa keampunan dari
dosa bahwa darah Anak Domba yang akan datang itu, Yesus Kristus, akan menyediakannya, dengan demikian
membawa kepada mereka pengertian terhadap anugerah injil itu. Hal itu direncanakan untuk menciptakan cinta
terhadap hukum Allah sementara persembahan-persembahan korban yaitu menjadi gambaran dramatis dari kasih
Allah di dalam Kristus.
12. Ibid., hlm. 213.
13. White, The Desire of Ages, hlm. 329.
14. Bnd White, Education, hlm. 173-184.
15. Pengakuan-pengakuan yang bersifat historis, pengakuan iman yang meninggikan keabsahannya yaitu “Ka-
tekhismus Waldensia, 1500 TM; Katekhismus kecil Luther, 1529 TM; Katekhismus Anglikan, 1549 TM dan
1662 TM; Pengakuan Iman Scottish, 1560 TM (Reformed); Katekhismus Heidelberg, 1563 TM (Reformed);
Konfensi Helvetic Kedua, 1566 TM (Reformed); Tigapuluh sembilan Artikel Agama, 1571 TM (Gereja Inggeris);
Formula Konkord, 1576 TM (Lutheran); Artikel-artikel Iman Irish, 1615 TM (Gereja Episkopal Irish); Konfesi
Iman Westminster, 1647 TM; Katekhismus Singkat Westminster, 1647 TM; Konfesi Waldenses, 1655 TM;
Deklarasi Savoy, 1658 TM (Congregational); Konfesi Masyarakat Sahabat, 1675 TM (Quakers); Konfesi
Philadelphia, 1688 TM (Baptis); Duapuluh lima Artikel Agama, 1784 TM (Metodis); Konferensi New Hamps-
hire, 1833 TM (Baptis); Katekhismus panjang dari Ortodoks, Katolik, Gereja Timur, 1839 TM (Gereja Yunani
Rusia), sebagaimaan dikutip dalam The Creeds of Christendom, “ed. Philip Schaff, revisi oleh David S. Schaff
(Grand Rapids: Baker Book House, 1983), jilid 1-3.
16. Rujukan untuk hukum-hukum pertama dan kedua, baca Kej. 35:1-4; keempat, Kej. 2:1-3; kelima, Kej. 18:29; ke-
enam, Kej. 4:8-11; ketujuh, Kej. 39:7-9; 19:1-10; kedelapan, Kej. 44:8; kesembilan, Kej. 12:11-20; 20:1-10; dan
kesepuluh, Kejadian 27.
17. Froom, Prophetic Faith of Our Fathers, jilid 1, hlm. 456, 894; jilid 2, hlm. 528, 784; jilid 3, hlm. 252, 744; jilid
4, hlm. 392, 846.
18. Questions on Doctrine, hlm. 142.
19. Kain dan Habil mengenal betul sistem persembahan korban (Kej. 4:3-5; Ibr. 11:4). Adam dan Hawa membuat pa-
kaian mereka yang pertama (Kej. 3:21) dari kulit binatang yang dikorbankan (dipersembahkan) untuk meng-
adakan pendamaian sebab dosa-dosa mereka.
20. Lihat juga misalnya, pengakuan iman yang historis yang berikut: Konfesi Iman Westminster, Artikel-artikel
Agama Irish; Deklarasi Savoy, Konfesi Philadelphia, Artikel-artikel Metodis mengenai Agama.
21. Bnd The SDA Bible Commentary, edisi revisi jilid 6, hlm. 204; White, Patriarchs and Prophets, hlm. 365.
22. Calvin, Commenting on a Harmony of the Evangelists, terjemahan William Pringle (Grand Rapids: Wm B.
Eerdmans, 1949), jilid 1, hlm. 277.
23. The SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 541, 542.
24. Sebagian lagi para penafsir menafsirkan Kristus sebagai akhir (the end) hukum berarti bahwa Kristus yaitu tujuan
atau arah yang dituju hukum itu (bnd. Gal. 3:24) atau penggenapan hukum itu (bnd Mat. 5:17). Bagaimana pun,
pandangan bahwa Kristus yaitu akhir (termination) hukum itu sebagai alat keselamatan (bnd Rm. 6:14) tam-
paknya lebih cocok dengan konteks Rm. 10:4. “Paulus mengkontraskan cara Tuhan mengenai pembenaran oleh
iman dengan usaha manusia dengan pembenaran oleh hukum. Pekabaran yang ada dalam Injil itulah Kristus
akhir dari hukum itu sebagai suatu jalan pembenaran bagi setiap orang yang memiliki iman” (The SDA Bible
Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 595). Bnd White, Selected Messages buku 1, hlm. 394.
25. Nichol, Answers to Objections hlm. 100, 101.
Khalik yang penuh kemurahan, setelah enam hari Penciptaan,
berhenti pada hari ketujuh dan melembagakan hari Sabat bagi semua
umat sebagai satu peringatan Penciptaan. Perintah keempat dari
Hukum Allah yang tak dapat berubah itu mengharuskan pemeliha-
raan Sabat hari ketujuh ini sebagai hari istirahat, berbakti, dan me-
layani sesuai dengan ajaran dan praktik yang dilakukan Yesus Kris-
tus, Tuhan atas hari Sabat itu. Hari Sabat yaitu hari perhubungan
yang menyenangkan dengan Tuhan Allah, dan juga dengan sesama.
Sabat merupakan sebuah lambang penebusan kita di dalam Kristus,
satu tanda penyucian kita, sebuah pernyataan bahwa kita tunduk dan
taat, sebuah gambaran mendatang tentang kehidupan yang abadi di
dalam kerajaan Allah. Sabat merupakan tanda Allah yang kekal, aba-
dinya perjanjian-Nya antara Dia dan umat-Nya. Pemeliharaan de-
ngan rasa gembira atas hari yang kudus ini dari senja kepada senja,
dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, yaitu sebuah
perayaan atas karya kreatif dan tindak perbuatan yang menebus yang
dilakukan Tuhan.—___________________—20.
287
Bersama Allah, Adam dan Hawa mem-
perhatikan sekeliling rumah Firdaus me-
reka. Pemandangan itu tidak terlukiskan, ti-
dak terkatakan. Ketika matahari turun pe-
lahan pada hari Jumat itu, hari keenam pen-
ciptaan, dan bintang-bintang mulai muncul,
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-
Nya itu, sungguh amat baik” (Kej. 1:31). De-
ngan demikian Allah menyelesaikan pencip-
taan “langit dan bumi dan segala isinya” (Kej.
2:1).
Betapa indahnya dunia yang telah dijadi-
kan dan diselesaikan-Nya itu, pemberian ter-
besar yang dapat diberikan Allah untuk pa-
sangan baru yang dijadikan-Nya, merupakan
sebuah hubungan yang sangat bersifat pri-
badi dan khusus dengan Allah. Kemudian Ia
memberikan kepada mereka hari Sabat, hari
dengan berkat khusus, persekutuan dan per-
hubungan dengan Pencipta mereka.
SABAT MENURUT ALKITAB
Sabat yaitu pusat perbaktian kita kepada
Allah. Peringatan atas Penciptaan, yang me-
nyatakan sebab-musabab mengapa Allah ha-
rus disembah: Ia Pencipta dan kitalah cipta-
an-Nya. Oleh sebab itu, Sabat menjadi dasar
utama fondasi perbaktian kepada Tuhan, ka-
rena di dalamnya diajarkan pengajaran agung
yang sangat indah dalam cara yang amat
mengesankan, tidak ada lembaga yang setara
dengan itu. Dasar perbaktian yang benar
kepada Allah, bukan hanya pada hari yang
ketujuh itu saja, namun juga semua perbaktian,
didasarkan dalam perbedaan antara Pencipta
dan makhluk ciptaan-Nya. Kenyataan agung
ini tidak akan pernah menjadi aus, dan tidak
akan pernah dapat dilupakan.”1 Itulah sebab-
nya Allah melembagakan Sabat ini, supaya
kebenaran ini tetap dipegang umat manusia.
Sabat pada Penciptaan. Sabat diberikan
kepada kita dari dunia yang tidak berdosa.
Itulah karunia istimewa yang diberikan Allah,
yang akan menyanggupkan umat manusia
untuk dapat merasakan wujud surga di atas
dunia ini. Tiga tindakan Ilahi yang jelas dalam
mendirikan Sabat itu:
BAB 20
HARI SABAT
288 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
1. Allah berhenti pada hari Sabat.
Pada hari yang ketujuh Allah “berhenti be-
kerja untuk beristirahat” (Kel. 31:17), namun
demikian Ia beristirahat bukan sebab Ia me-
merlukannya (Yes. 40:28). Kata kerja “ber-
istirahat,” Shabath, secara harfiah berarti
“berhenti” dari pekerjaan atau kegiatan (ban-
dingkan Kej. 8:22). “Allah berhenti bukan
sebab keletihan atau capek, melainkan ber-
henti dari pekerjaan yang lebih dahulu.”2
Allah beristirahat sebab Ia ingin manusia
beristirahat; Ia membuat contoh untuk diikuti
manusia (Kel. 20:11).
Jika Allah telah selesai mengadakan Pen-
ciptaan pada hari keenam (Kej. 2:1), apakah
yang dimaksud Kitab Suci tatkala mengatakan
bahwa Ia “menyelesaikan pekerjaan yang
dibuat-Nya itu” pada hari yang ketujuh (Kej.
2:2)? Allah telah selesai mencipta langit dan
bumi di dalam enam hari, namun toh Ia masih
menjadikan hari Sabat. Sabat dijadikan untuk
hari beristirahat. Dengan hari Sabat sebagai
penyelesaian akhir, maka Ia mengakhiri kar-
ya-Nya.
2. Allah memberkati hari Sabat. Allah
tidak hanya menjadikan hari Sabat, namun Ia
juga memberkatinya. “Dengan diberkatinya
hari ketujuh itu, berarti itulah yang menya-
takan sebagai hal yang khusus diperkenan
Ilahi dan merupakan hari yang mendatangkan
berkat bagi makhluk yang diciptakan-Nya.3
3. Allah menyucikan Sabat. Arti me-
nyucikan ialah membuatnya kudus dan suci,
atau mengasingkannya sebagai sesuatu yang
suci dan digunakan untuk maksud-maksud
yang kudus saja; menahbiskannya. Khalayak,
tempat-tempat (misalnya bait suci, gereja
atau tempat kebaktian), dan waktu (hari-hari
yang kudus) dapat disucikan. Kenyataan
bahwa Allah menguduskan hari ketujuh ber-
arti bahwa hari itu memang kudus, bahwa Ia
menjadikannya khusus untuk tujuan yang
luhur untuk memperkaya hubungan manusia-
llahi.
Allah memberkati dan menguduskan Sa-
bat hari ketujuh sebab Ia beristirahat pada
hari ini dari semua pekerjaan-Nya. Ia mem-
berkati dan menguduskannya bagi umat ma-
nusia, bukan hanya untuk diri-Nya sendiri.
Hanyalah dengan kehadiran-Nya berkat Al-
lah dan pengudusan-Nya dapat berlangsung.
Sabat di Sinai. Peristiwa-peristiwa yang
mengikuti keluarnya bangsa Israel dari Mesir
menunjukkan bahwa sebenarnya mereka
telah melalaikan pemeliharaan Sabat. Peratur-
an yang kejam ketika masih diperhamba tam-
paknya membuat pemeliharaan hari Sabat itu
sukar dilakukan. Begitu mereka memperoleh
kemerdekaan, Allah mengingatkan mereka
dengan tegas, melalui manna yang diberikan
secara ajaib dan pengumuman Sepuluh Hu-
kum, mengenai tugas mereka memelihara
Sabat hari yang ketujuh.
1. Sabat dan manna. Sebulan sebelum
Allah mengumumkan hukum dari bukit Sinai,
Ia menjanjikan kepada umat-Nya perlindung-
an dari penyakit jika mereka dengan rajin
memperhatikan “perintah-perintah-Nya dan
tetap mengikuti segala ketetapan-Nya” (Kel.
15:26; bandingkan Kej. 26:5). Segera setelah
memberikan janji ini Allah mengingatkan
orang-orang Israel mengenai kudusnya hari
Sabat. Dengan manna yang ajaib, mukjizat
mengajarkan kepada mereka secara nyata
betapa pentingnya Ia dianggap mereka harus
beristirahat pada hari ketujuh itu.
Sepanjang minggu, setiap hari dalam
minggu itu Allah memberikan kepada orang
Israel cukup manna bagi keperluan mereka.
Mereka tidak perlu menyimpan persediaan
untuk hari esok, sebab manna itu akan rusak
jika mereka simpan (Kel. 16:4, 16-19). Pada
Hari Sabat 289
hari keenam mereka disuruh untuk mengum-
pulkan dua kali lebih banyak dari hari biasa
supaya mereka mempunyai cukup makanan
hari itu dan esoknya, Sabat. Dengan demikian
kepada mereka diajarkan bahwa hari ke-
enam merupakan hari persediaan dan bagai-
mana seharusnya mereka memelihara Sabat.
Allah berkata, “Besok yaitu hari perhentian
penuh, Sabat yang kudus bagi Tuhan; maka
roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa
yang perlu kamu masak, masaklah; dan se-
gala kelebihannya biarkanlah di tempatnya
untuk disimpan sampai pagi” (Kel. 16:23).
Hanya pada hari ketujuh saja manna yang
disimpan tidak menjadi rusak (Kel. 16:24). Di
dalam bahasa yang serupa dengan hukum
yang keempat itu, Musa berkata, “Enam hari
lamanya kamu memungutnya, namun pada
hari ketujuh ada Sabat; maka roti itu tidak ada
pada hari itu” (Kel. 16:26).
Selama empat puluh tahun, atau sama de-
ngan 2000 kali pergantian Sabat, orang-orang
Israel berada di padang belantara, mukjizat
manna mengingatkan mereka atas pola kerja
enam hari ini, dan mereka beristirahat pada
hari ketujuh.
2. Hari Sabat dan hukum. Allah me-
nempatkan hukum hari Sabat tepat pada pu-
sat Sepuluh Hukum atau Dekalog itu. Bunyi-
nya sebagai berikut:
“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
enam hari lamanya engkau akan bekerja dan
melakukan segala pekerjaanmu, namun hari
ketujuh yaitu hari Sabat Tuhan, Allahmu;
maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan,
engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu
perempuan, atau hambamu laki-laki, atau
hambamu perempuan, atau hewanmu atau
orang asing yang di tempat kediamanmu.
Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan
langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia
berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya
Tuhan memberkati hari Sabat dan mengu-
duskannya” (Kel. 20:8-11).
Semua perintah dalam Dekalog itu amat
penting, tidak boleh ada satu pun yang dilalai-
kan (Yak. 2:10), namun demikian Tuhan ma-
sih membedakan perintah hari Sabat dari
perintah-perintah yang lain. Sehubungan de-
ngan itu, Ia menyuruh “Ingatlah,” yang ber-
arti mengamarkan kepada manusia bahaya
melupakan betapa pentingnya hari itu.
Perkataan yang digunakan dalam hukum
itu dimulai dengan: “Ingatlah dan kuduskanlah
hari Sabat”—menunjukkan bahwa hari Sa-
bat bukannya dilembagakan untuk pertama
kalinya di Bukit Sinai. Perkataan itu menun-
jukkan bahwa lembaga tersebut telah didiri-
kan jauh sebelumnya—sebenarnya pada
waktu hari penciptaan itulah, hukum hari ber-
istirahat itu dinyatakan. Allah bermaksud su-
paya kita memelihara Sabat sebagai kenang-
an kepada-Nya selaku Khalik. Itulah saat
beristirahat dan berbakti, saat kita secara
langsung merenungkan Dia dan karya-kar-
ya-Nya.
Sebagai kenangan atas hari Penciptaan,
pemeliharaan hari Sabat merupakan sebuah
penawar terhadap penyembahan ilah. Dengan
mengingatkan kita bahwa Allah menciptakan
langit dan bumi, membedakan Dia dari segala
dewa-dewa palsu. Dengan memelihara Sa-
bat, maka itulah yang menjadi tanda bahwa
kita tunduk kepada Allah yang benar—tanda
bahwa kita mengakui kekuasaan-Nya seba-
gai Pencipta dan Raja.
Fungsi hukum Sabat yaitu sebagai cap
hukum Allah.4 Pada umumnya, cap itu berisi
tiga unsur: nama pemilik yang tertera dalam
cap itu, jabatan, dan yuridiksinya. Cap yang
resmi digunakan untuk mengesahkan doku-
men-dokumen yang amat penting. Dokumen
itu diberi cap secara resmi sesuai dengan
yang berhak atasnya. Cap itu mengartikan
bahwa pejabat termaksud menyetujui secara
290 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
hukum dan didukung oleh kuasa resmi yang
dimiliki.
Di antara Sepuluh Hukum itu, hukum hari
Sabat sajalah yang berisi unsur-unsur vital
dari cap itu. Itulah satu-satunya dari sepuluh
hukum itu yang memiliki gambaran ciri-ciri
Allah yang benar dengan mencantumkan
nama-Nya: “Tuhan, Allahmu;” jabatan-Nya:
Oknum yang membuat—Sang Pencipta dan
wilayah-Nya: “langit dan bumi” (Kel. 20:10,
11). Hanya hukum yang keempat itulah yang
menunjukkan atas kuasa siapa Sepuluh Hu-
kum itu diberikan, oleh sebab itu “berisi cap
Allah,” yang dilampirkan kepada hukum-Nya
sebagai bukti autentik dan kuasanya yang
mengikat.5
sebenarnya , Allah menjadikan hari Sa-
bat itu sebagai “pengingat atau tanda kuasa-
Nya dan otoritas-Nya di dalam dunia yang
tidak dicemari oleh dosa dan pemberontakan.
Dimaksudkan sebagai sebuah lembaga tugas
tanggung jawab pribadi yang abadi digabung
dengan permohonan “ingatlah dan kuduskan-
lah hari Sabat’ (Kel. 20:8).”6
Hukum ini membagi minggu itu ke dalam
dua bagian. Allah memberikan kepada manu-
sia waktu enam hari yang digunakan mereka
untuk “melakukan segala pekerjaanmu,”
akan namun hari yang ketujuh “jangan mela-
kukan sesuatu pekerjaan” (Kel. 20:9, 10).
“Enam hari lamanya,” kata hukum itu, yaitu
hari kerja, akan namun “hari ketujuh” yaitu
hari berhenti. Bahwa ‘hari yang ketujuh’ di-
khususkan sebagai hari perhentian, Tuhan
membuktikan di dalam kata pembukaan hu-
kum itu: ‘Ingatlah dan kuduskanlah hari Sa-
bat.’”7
3. Hari Sabat dan perjanjian. sebab
hukum Allah yaitu pusat perjanjian (Kel.
34:27), maka hari Sabat, yang terletak di
tengah-tengah hukum itu, yang utama di da-
lam perjanjian-Nya. Allah menyatakan Sa-
bat sebuah “peringatan di antara Aku dan
mereka, supaya mereka mengetahui bahwa
Akulah Tuhan yang menguduskan mereka”
(Yeh. 20:12; bandingkan Yeh. 20:20; Kel.
31:17). Oleh sebab itu, Ia mengatakan pe-
meliharaan Sabat yaitu “perjanjian abadi”
(Kel. 31:16). “Sama seperti perjanjian yang
didasarkan pada kasih Allah kepada umat-
Nya (Ul. 7:7, 8), begitu pula dengan Sabat,
sebagai tanda perjanjian, merupakan tanda
kasih Ilahi.”8
4. Sabat-sabat tahunan. Tambahan atas
Sabat-sabat mingguan (Im. 23:3), ada tujuh
sabat tahunan, di dalam kalender Israel yakni
sejumlah sabat keupacaraan. Sabat-sabat ta-
hunan ini tidaklah berhubungan langsung de-
ngan Sabat hari ketujuh atau dalam lingkaran
mingguan itu. Sabat-sabat ini, “belum terma-
suk hari-hari Sabat Tuhan” (Im. 23:38), ada-
lah hari-hari pertama dan terakhir dari Pesta
Roti yang Tak Beragi, Hari Pentakosta, Pes-
ta Serunai, Hari Pendamaian, yang pertama
dan hari-hari terakhir dari Pesta Korban Api-
apian (bandingkan Im. 23:7,8, 21, 24, 25, 27,
28, 35, 36).
sebab penghitungan sabat-sabat ini ber-
gantung kepada permulaan tahun kudus,
yang didasarkan atas kalender bulan, maka
mungkin saja jatuh pada hari mana pun dalam
minggu itu. jika jatuh bersamaan dengan
hari Sabat dalam minggu itu, maka disebutlah
“hari yang besar” (bandingkan Yoh. 19:31).
“Sementara hari Sabat mingguan itu ditahbis-
kan pada penutupan minggu Penciptaan bagi
semua umat manusia, maka sabat-sabat ta-
hunan yaitu merupakan bagian yang inte-
gral dari sistem upacara-upacara dan keupa-
caraan yang diadakan oleh orang Yahudi
yang dilembagakan di Bukit Sinai,... yang
menunjuk kepada datangnya sang Mesias,
dan pemeliharaannya yang berakhir pada
waktu kematian Yesus di kayu salib.”9
Hari Sabat 291
Hari Sabat dan Kristus. Kitab Suci menya-
takan bahwa, sebagaimana Bapa, Kristus
yaitu Pencipta (lihat 1 Kor. 8:6; Ibr. 1:1, 2;
Yoh. 1:3). Maka Dialah yang menetapkan
hari yang ketujuh itu sebagai hari berhenti
bagi manusia.
Kristus menggabungkan Sabat dengan
penebusan yang dilakukan-Nya, juga dengan
karya ciptaan-Nya. Sebagaimana agungnya
“AKU yaitu AKU” (Yoh. 8:58; Kel.
3:14) Ia memasukkan Sabat dalam Dekalog
sebagai pengingat yang tangguh atas perbak-
tian mingguan ini, yang telah ditentukan untuk
menyembah Khalik. Alasan lain ditambahkan-
Nya sehubungan dengan pemeliharaan Sa-
bat: Penebusan umat-Nya (Ul. 5:14, 15).
Oleh sebab itu, Sabat menjadi pertanda bagi
orang-orang yang menerima Yesus sebagai
Pencipta dan Juruselamat.
Peranan Kristus yang bersifat ganda itu,
sebagai Pencipta dan Penebus membuat je-
las mengapa Ia menyatakan bahwa sebagai
Anak Manusia, Ia “juga Tuhan atas hari Sa-
bat” (Mrk. 2:28). Dengan otoritas yang de-
mikian, Ia dapat mengatur Sabat jika Ia mau,
namun Ia tidak melakukan hal yang demikian.
Justru sebaliknya Ia menerapkannya bagi se-
mua umat manusia dengan berkata, “Hari
Sabat diadakan untuk manusia” (ayat 27).
Selama hidup-Nya di atas dunia Kristus
menunjukkan kesetiaan-Nya memelihara ha-
ri Sabat. “Kebiasaan-Nya” berbakti pada ha-
ri Sabat (Luk. 4:16). Keikutsertaan-Nya da-
lam perbaktian hari Sabat menunjukkan bah-
wa Ia membenarkannya sebagai hari per-
baktian.
Kristus sangat menaruh perhatian atas
kekudusan Sabat sehingga ketika Ia berbica-
ra mengenai aniaya yang akan terjadi setelah
kenaikan-Nya, Ia menasihatkan murid-mu-
rid-Nya mengenai hal itu. “Berdoalah,” ka-
ta-Nya, “supaya waktu kamu melarikan diri
itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan
pada hari Sabat” (Mat 24:20). Jelas ini meng-
artikan, sebagaimana yang dikatakan Jonathan
Edwards, “bahwa orang-orang Kristen itu
terikat dengan ketatnya akan pemeliharaan
Sabat.”10
Tatkala Kristus menyelesaikan pekerjaan
Penciptaan—tindakan-Nya yang agung perta-
ma di dalam sejarah dunia—Ia berhenti pada
hari yang ketujuh. Perhentian ini mengartikan
lengkapnya tugas itu. Begitu pula yang ba-
nyak dilakukan-Nya pada akhir tugas-Nya di
atas bumi ini, manakala Ia menyelesaikan
tindakan agung yang kedua di dalam sejarah.
Pada hari Jumat petang, hari keenam dalam
minggu itu, Kristus menyelesaikan tugas pe-
nebusan-Nya. Kata terakhir yang diucapkan-
Nya ketika itu, yakni “Sudah selesai” (Yoh.
19:30). Kitab suci menekankan bahwa ketika
Ia mati, hari itu yaitu hari persiapan dan
Sabat hampir mulai” (Luk. 23:54). Setelah
kematian-Nya, Ia beristirahat di kubur yang
melambangkan bahwa Ia telah menyelesaikan
penebusan bangsa manusia. 11
Dengan demikian Sabat menjadi saksi
bagi karya Kristus atas Penciptaan dan pene-
busan. Dengan memelihara Sabat, para
pengikut-Nya bersukaria dengan Dia atas
tugas yang telah diselesaikan-Nya bagi ma-
nusia.12
Hari Sabat dan Para Rasul. Murid-murid
sangat menghormati hari Sabat. Ini terbukti
ketika kematian Kristus. Ketika hari Sabat
sudah tiba, menjelang persiapan penguburan
yang dilakukan mereka dan “pada hari Sabat
mereka beristirahat menurut hukum Taurat,”
dengan rencana akan melanjutkan pekerjaan
persiapan itu pada hari Minggu, “hari pertama
minggu itu” (Luk. 23:56; 24:1).
Seperti yang dilakukan Kristus, begitu pu-
la rasul-rasul, mereka berbakti pada hari Sa-
bat yang ketujuh itu. Dalam perjalanan evan-
gelisasi yang dilakukan Paulus, ia memasuki
292 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
Sinagog pada hari Sabat dan mengkhotbahkan
Kristus (Kis. 13:14; 17:1, 2; 18:4). Bahkan
orang yang bukan Yahudi pun mengundang-
nya untuk menyampaikan firman Allah pada
hari Sabat (Kis. 16:13). Sebagaimana Kristus
selalu mengikuti kebaktian hari Sabat yang
menunjukkan penerimaan-Nya atas hari ke-
tujuh itu sebagai hari khusus untuk sembah-
yang, begitu pulalah dengan Paulus.
Kesetiaan rasul ini dalam memelihara hari
Sabat dengan tegas menunjukkan sikap yang
berbeda terhadap upacara-upacara sabat ta-
hunan. Dengan jelas dinyatakannya bahwa
orang-orang Kristen tidak wajib memelihara
hari-hari perhentian tahunan ini sebab Kris-
tus sudah disalibkan bersama-sama hukum
keupacaraan itu (baca bab 18). Ia berkata,
“sebab itu janganlah kamu biarkan orang
menghukum kamu mengenai makanan dan
minuman atau mengenai hari raya, bulan baru
ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah
bayangan dari apa yang harus datang, sedang
wujudnya ialah Kristus” (Kol. 2:16, 17). Ka-
rena “konteks (dalam wacana ini) berkaitan
dengan masalah-masalah keupacaraan, sabat
yang dimaksudkan di sini yaitu sabat-sabat
upacara pesta tahunan Yahudi yang merupa-
kan “bayangan”, atau tipe yang kegenapannya
ada dalam Kristus yang datang itu.”13
Begitu pula, di dalam kitab Galatia, Paulus
mencela pemeliharaan aturan hukum upacara.
Ia berkata, “Kamu dengan teliti memelihara
hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa
yang tetap dan tahun-tahun. Aku khawatir
kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah
sia-sia”(Gal. 4:10, 11).
Banyak orang menyangka bahwa Yoha-
nes menunjuk kepada hari Minggu manakala
ia mengatakan ia “dikuasai oleh Roh” “pada
hari Tuhan” (Why. 1:10). Bagaimana pun, di
dalam Kitab Suci, hari yang dianggap suci
hanyalah hari milik Tuhan yang khusus, yakni
hari Sabat. Kristus berkata, “Hari ketujuh
yaitu hari Sabat Tuhan, Allahmu” (Kel.
20:10); belakangan disebut-Nya “hari kudus-
Ku” (Yes. 58:13). Dan Kristus menyebut di-
ri-Nya sendiri “Tuhan atas hari Sabat” (Mrk.
2:28). Menurut Alkitab, satu-satunya hari
yang dikatakan Tuhan sebagai hari-Nya ada-
lah Sabat, hari yang ketujuh, maka wajarlah
menyimpulkan bahwa Sabat itulah yang di-
maksudkan oleh Yohanes. Tidak ada bukti
yang menguatkan di dalam Kitab Suci yang
menyatakan bahwa istilah itu digunakan un-
tuk menunjuk hari pertama dalam minggu itu,
atau hari Minggu.14
Tidak ada di dalam Alkitab yang me-
nyuruh kita memelihara hari mana saja dalam
minggu itu selain dari hari Sabat. Tidak per-
nah dikatakan hari lain yang diberkati atau di-
sucikan dalam minggu itu, kecuali Sabat. Per-
janjian Baru pun tidak menunjukkan bahwa
Tuhan telah mengubahnya dengan hari yang
lain dari hari-hari dalam minggu itu.
Sebaliknya, Kitab Suci menyatakan bah-
wa Allah menginginkan agar umat-Nya me-
melihara Sabat sampai pada hari kekekalan:
“Sebab sama seperti langit yang baru dan bu-
mi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal
tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman Tu-
han, demikianlah keturunanmu dan namamu
akan tinggal tetap. Bulan berganti bulan, dan
Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat ma-
nusia akan datang untuk sujud menyembah di
hadapan-Ku, firman Tuhan” (Yes. 66:22,
23).
Makna Sabat. Hari Sabat memiliki makna
yang luas dan makna rohani yang kaya dan
mendalam.
1. Peringatan abadi akan Penciptaan.
Sebagaimana telah kita ketahui, makna
fundamental Sepuluh Hukum mengaitkan
Sabat sebagai peringatan penciptaan bumi
(Kel. 20:11, 12). Perintah untuk memelihara
Hari Sabat 293
Sabat hari ketujuh ada “kaitan yang tidak ter-
pisahkan dengan tindakan penciptaan, pe-
lembagaan Sabat dan perintah untuk meme-
liharanya secara langsung merupakan konse-
kuensi tindakan penciptaan. Maka, seluruh
umat manusia berutang budi atas eksistensi
mereka berkat penciptaan yang dilakukan
Ilahi sehingga mereka perlu memperingatinya;
oleh sebab itu, tugas supaya taat mengikuti
perintah memelihara Sabat sebagai peringatan
atas kuasa kreatif Allah jatuh pada seluruh
umat manusia.”15 Pernyataan yang tegas
bahwa Sabat “kewajiban abadi yang dijadi-
kan Tuhan sebagai peringatan atas kegiatan
penciptaan.”16
Barangsiapa yang memeliharanya sebagai
suatu peringatan atas Penciptaan akan me-
lakukan demikian sebagai suatu pengakuan
rasa syukur “Bahwa Tuhan yaitu Pencipta
mereka dan Penguasanya yang sungguh;
bahwa mereka yaitu karya tangan-Nya dan
menjadi warga kekuasaan-Nya. Dengan de-
mikian lembaga itu sepenuhnya merupakan
peringatan, yang diberikan kepada seluruh
umat manusia. Di dalamnya tidak ada yang
merupakan bayangan, atau tentang pene-
rapannya yang terbatas kepada umat yang
mana pun.”17 Selama kita menyembah Allah
sebab Ia Khalik kita, selama itulah Sabat
berfungsi sebagai tanda dan peringatan pen-
ciptaan.
2. Lambang penebusan. Waktu Allah
melepaskan bangsa Israel dari perhambaan
di Mesir, hari Sabat itu telah menjadi hari
peringatan Penciptaan, yang menjadi sebuah
peringatan kelepasan juga (Ul. 5:15). “Tuhan
bermaksud supaya hari istirahat, hari Sabat
itu, yang ada dalam siklus minggu, jika
dipelihara dengan layak, akan senantiasa me-
lepaskan manusia dari perhambaan Mesir
tidak terbatas pada lingkup negeri atau kurun
waktu namun yang mencakup setiap negeri
dan lingkup dan zaman. Manusia sekarang ini
perlu kelepasan dari perhambaan akibat ke-
tamakan, dan keuntungan dan kuasa, dari ke-
tidakpedulian sosial, dan juga dari dosa dan
sifat mementingkan diri sendiri.”18
jika kita memandang salib maka kita
akan melihat bahwa Sabat itu tetap merupa-
kan hari beristirahat, sebagai lambang khusus
dari penebusan. “Itulah merupakan peringatan
atas keluarnya dari perhambaan dosa di ba-
wah kepemimpinan Imanuel. Beban yang
paling besar yang kita tanggung yaitu rasa
bersalah sebab kita tidak menurut. Sabat
yang menjadi hari perhentian itu, dengan
mengingat kembali kepada Kristus yang ber-
istirahat di dalam kubur, istirahat sebab ke-
menangan atas dosa, memberikan kepada
orang Kristen bukti nyata untuk menerima
dan merasakan keampunan dari Kristus, da-
mai dan sejahtera.”19
3. Tanda penyucian. Sabat merupakan
tanda kuasa Tuhan yang membentuk, sebuah
tanda kesucian atau penyucian.
Tuhan menyatakan, “Akan namun hari-
hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab
itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun
temurun, sehingga kamu mengetahui bahwa
Akulah Tuhan, yang menguduskan kamu”
(Kel. 31:13; bandingkan Yeh. 20:20). Oleh
sebab itu, Sabat juga merupakan satu tanda
Allah selaku Penyuci. Sebagai umat yang
disucikan oleh darah Kristus (Ibr. 13:12), Sa-
bat juga merupakan sebagai tanda penerimaan
umat percaya atas darah-Nya demi keampun-
an dosa.
Sebagaimana halnya Tuhan memisahkan
hari Sabat itu sebagai hari untuk tujuan yang
kudus, begitu pula Ia telah mengasingkan
umat-Nya untuk tujuan yang suci—menjadi
saksi yang khusus bagi-Nya. Bersatunya me-
reka pada hari itu membawa kepada keku-
dusan; mereka belajar bergantung bukan ke-
294 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
pada sumber-sumber yang ada pada mereka
sendiri melainkan bergantung kepada Tuhan
yang menguduskan mereka.
“Kuasa yang menciptakan segala sesuatu
yaitu kuasa yang menyegarkan kembali
jiwa dalam citra-Nya. Bagi barangsiapa yang
memelihara hari Sabat, hari itu merupakan
tanda penyucian. Penyucian yang kudus ber-
arti selaras dengan Dia, menjadi satu di dalam
tabiat-Nya. Ini diterima melalui penurutan
atas prinsip-prinsip yang menjadi gambaran
tabiat-Nya. Dan hari Sabat merupakan tanda
penurutan. Orang yang benar-benar dengan
sepenuh hati menuruti hukum keempat akan
memelihara seluruh hukum itu. Ia disucikan
melalui penurutan.„20
4. Tanda kesetiaan. Sebagaimana
Adam dan Hawa, kesetiaan mereka dicobai
dengan pohon pengetahuan baik dan jahat
yang ditempatkan di tengah-tengah taman
Eden, begitu pula kesetiaan setiap orang ter-
hadap Allah akan diuji dengan hukum hari Sa-
bat yang ditempatkan di tengah-tengah Sepu-
luh Hukum (Dekalog) itu.
Alkitab menunjukkan bahwa sebelum ke-
datangan Kristus yang kedua kali, seluruh du-
nia akan terbagi dalam dua kelompok: orang-
orang yang setia “yang menuruti perintah Al-
lah dan iman kepada Yesus,” serta orang-
orang yang menyembah “binatang dan pa-
tungnya itu” (Why. 14:12, 9). Pada saat itu
kebenaran Tuhan akan dimuliakan di hadap-
an dunia dan akan menjadi jelas kepada se-
mua orang bahwa menurut dan memelihara
Sabat hari yang ketujuh sesuai dengan yang
tertulis dalam Alkitab menyatakan bukti ke-
setiaannya kepada Pencipta.
5. Waktu persekutuan. Allah menjadi-
kan binatang sebagai teman manusia (Kej.
1:24, 25). Untuk pendamping yang lebih tinggi
dan mengadakan persekutuan yang setara,
Tuhan menjadikan lelaki dan perempuan un-
tuk saling berdampingan (Kej. 2:18-25).
Akan namun pada hari Sabat, Allah memberi-
kan sebuah pemberian yang menjadi perse-
kutuan yang paling tinggi dan mulia—perse-
kutuan dengan Dia. Makhluk manusia dijadi-
kan bukan hanya untuk berteman dengan bi-
natang, tidak juga dengan sesamanya saja.
Mereka dijadikan untuk Tuhan.
Di dalam Sabat inilah kita dapat mera-
sakan secara khusus pengalaman atas keha-
diran Allah di antara kita. Tanpa Sabat, se-
mua orang akan bekerja keras dan memban-
ting tulang tanpa habis-habisnya. Hari-hari
akan dihabiskan untuk hal-hal yang sekular
saja. Dengan hadirnya hari Sabat, maka dida-
tangkannya pengharapan, kegembiraan, mak-
na dan keberanian. Itulah saat untuk meng-
adakan hubungan dengan Allah, melalui per-
baktian, doa, nyanyian, belajar dan mere-
nungkan Firman dan dengan membagi-bagi-
kan Injil kepada orang lain. Sabat merupakan
kesempatan bagi kita untuk merasakan hadi-
rat Allah.
6. Tanda dibenarkan oleh iman.
Orang-orang Kristen mengakui bahwa me-
lalui bimbingan hati nurani yang diterangi,
orang-orang yang bukan Kristen yang de-
ngan sungguh-sungguh mencari kebenaran
akan dapat dituntun oleh Roh Kudus ke dalam
pemaham-an atas asas-asas umum hukum
Allah (Rm. 2:14-16). Ini menjelaskan meng-
apa kesembilan hukum selain dari hukum
yang keempat ini, untuk suatu tingkat ter-
tentu, dipraktikkan di luar yang bukan Kris-
ten. Akan namun , bukan kasus yang demi-
kianlah yang menyangkut dengan hukum
yang keempat ini.
Banyak orang yang dapat memahami
sebab perlunya beristirahat di dalam minggu
itu, akan namun sering mereka sulit memahami
mengapa pekerjaan, yang dilakukan dan di-
Hari Sabat 295
anjurkan sepanjang hari-hari kerja dalam
minggu itu, justru bila dilakukan pada hari
Sabat dianggap dosa. Alam tidak menyediakan
landasan apa pun untuk pemeliharaan hari
yang ketujuh itu. Planet-planet beredar pada
orbit yang tetap, tumbuh-tumbuhan bertumbuh,
hujan dan sinar matahari silih berganti, dan
binatang-binatang pun memperlakukan hari
itu sama. Kalau begitu, mengapa justru ma-
nusia itu harus menyucikan hari Sabat, hari
yang ketujuh itu? “Bagi orang Kristen terda-
pat hanya satu alasan, dan tidak ada yang lain;
akan namun alasan itu cukup memadai: Allah
mengatakannya.”21
Hanya berdasarkan pernyataan khusus
Allah yang membuat orang mengerti sebab-
musabab pemeliharaan hari ketujuh itu. Me-
reka yang memelihara hari yang ketujuh, me-
lakukannya hanya berdasarkan iman dan
berharap pada Kristus, yang dapat merasakan
nikmatnya pemeliharaan itu. Dengan memeli-
hara hari Sabat, umat percaya menyatakan
kerelaan menerima kehendak Allah bagi hi-
dup mereka bukannya bergantung kepada
pertimbangan mereka sendiri.
Dalam memelihara hari ketujuh, umat
percaya tidak berarti mengusahakan diri me-
reka supaya menjadi benar. Bukan itu. Mere-
ka memelihara Sabat sebagai hasil hubungan
mereka dengan Kristus sang Pencipta dan
Penebus.22 Pemeliharaan Sabat yaitu hasil
pembenaran-Nya dan penyucian, menandai
bahwa mereka telah dilepaskan dari perham-
baan dosa dan menerima kebenaran-Nya
yang sempurna.
“Sebuah pohon apel tidaklah menjadi po-
hon apel sebab membuahkan apel. Pertama-
tama pohon itu haruslah menjadi pohon apel.
Dan secara alamiah kemudian buahnya, buah
apel dihasilkan. Nah, demikianlah orang Kris-
ten yang sejati tidak memelihara Sabat atau
kesembilan hukum lainnya untuk mereka
dibenarkan. Melainkan ini merupakan buah-
buah yang alamiah dari kebenaran Kristus
yang dibagikan kepadanya. Orang yang me-
melihara hari Sabat dengan cara seperti ini
bukanlah seorang legalis, sebab pemeliharaan
lahiriah atas hari yang ketujuh itu menandakan
pengalaman batiniah dari orang yang beriman
dalam pembenaran dan penyucian. Dengan
demikian, pemelihara Sabat yang sejati tidak
mengekang diri dari perbuatan-perbuatan
yang terlarang pada hari Sabat itu untuk se-
kadar diperkenankan Allah, melainkan kare-
na ia mengasihi Allah dan ingin menjadikan
hari Sabat itu sebagai persekutuan yang pa-
ling erat dengan Dia.”23
Pemeliharaan Sabat menyatakan bahwa
kita telah berhenti bergantung kepada amal
kita sendiri, bahwa kita menyadari bahwa
hanya Kristus sang Pencipta yang dapat me-
nyelamatkan kita. sebenarnya , “roh pe-
meliharaan Sabat yang sejati menyatakan
suatu kasih yang tertinggi terhadap Kristus
Yesus, Pencipta dan Juruselamat, yang
membuat kita menjadi orang-orang yang
baru. Itulah yang menjadikan pemeliharaan
hari itu sebagai hari yang benar dengan cara
yang benar dan tanda pembenaran sebab
iman.”24
7. Sebuah lambang beristirahat dalam
Kristus. Hari Sabat itu, sebuah peringatan
atas pembebasan bangsa Israel dari Mesir,
yang dilakukan Tuhan, menuju Kanaan dunia,
yang membedakan yang ditebus pada ketika
itu dari bangsa-bangsa di sekelilingnya. Se-
perti itulah Sabat sebagai tanda kelepasan
dari dosa kepada hari perhentian Allah, men-
jadikan yang ditebus itu terpisah dari dunia ini.
Semua orang yang masuk ke tempat isti-
rahat yang disediakan Tuhan , “ia sendiri telah
berhenti dari segala pekerjaannya, sama se-
perti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya”
(Ibr. 4:10). “Perhentian ini merupakan per-
hentian rohani, berhenti dari ‘segala peker-
296 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
jaannya’, berhenti berbuat dosa. Ke dalam
perhentian seperti inilah Tuhan memanggil
umat-Nya, perhentian inilah yang dilambang-
kan Sabat dan Kanaan.”25
jika Allah menyelesaikan pekerjaan-
Nya atas Penciptaan dan berhenti pada hari
yang ketujuh, Ia menyediakan bagi Adam dan
Hawa, pada Sabat itu, sebuah kesempatan
untuk beristirahat di dalam Dia. Walaupun
mereka gagal, maksud semula Allah dalam
memberikan hari perhentian itu bagi manusia
tetap tidak berubah. Setelah kejatuhan manu-
sia ke dalam dosa, hari Sabat tetap me-
rupakan sebuah peringatan atas perhentian
itu. “Pemeliharaan Sabat hari ketujuh itu
bukan saja menunjukkan beriman kepada
Allah selaku Pencipta segala sesuatu, namun
juga beriman kepada kuasa-Nya yang mem-
bentuk hidup dan kualitas lelaki dan perem-
puan agar mereka layak masuk ke dalam
‘perhentian’ yang abadi yang sejak semula
dimaksudkan-Nya bagi penghuni dunia ini.”26
Allah menjanjikan perhentian rohani ini
kepada bangsa Israel jasmani. Sekali pun me-
reka gagal memasukinya, undangan Tuhan
Allah masih tetap berlaku:”Jadi masih ter-
sedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi
umat Allah” (Ibr. 4:9). Semua orang yang
ingin masuk ke dalam hari perhentian itu
“harus pertama-tama masuk, oleh iman, ke
dalam ‘perhentian’ rohani-Nya, tempat per-
hentian jiwa dari dosa dan dari upaya-upa-
yanya sendiri untuk mencari keselamatan.”27
Undangan Perjanjian Baru bagi orang
Kristen bukanlah untuk menunggu agar
mengalami perhentian anugerah dan iman,
sebab “pada hari ini” saat memasukinya
(Ibr. 4:7; 3:13). Semua yang sudah masuk ke
dalam perhentian ini—anugerah yang menye-
lamatkan dalam iman kepada Kristus Ye-
sus—telah berhenti dengan upaya sendiri un-
tuk memperoleh pembenaran sebab perbuat-
an mereka sendiri. Dengan cara inilah, me-
melihara Sabat hari yang ketujuh itu menjadi
suatu lambang masuknya orang beriman ke-
pada peristirahatan Injil.
USAHA-USAHA UNTUK
MENGUBAH HARI PERBAKTIAN
sebab Sabat memegang peranan vital
dalam perbaktian kepada Allah sebagai Pen-
cipta dan Penebus, maka tidaklah menghe-
rankan jika Setan melakukan segala upa-
ya untuk memerangi dan menghancurkan
lembaga yang kudus ini.
Di dalam Alkitab tidak ada hak untuk
mengubah hari perbaktian kepada Allah yang
dijadikan di taman Eden dan yang dikukuhkan
kembali di Sinai. Orang-orang Kristen yang
lain, mereka yang memelihara hari Minggu,
mengakui akan hal ini. Kardinal Katolik Ja-
mes Gibbons menulis sebagai berikut, “Anda
dapat membaca Alkitab mulai dari Kejadian
sampai Wahyu, Anda tidak akan menemukan
sebuah ayat pun yang menyatakan pengu-
dusan hari Minggu. Justru Alkitab menekankan
pemeliharaan hari Sabtu sebagai hari yang
dipelihara agama.”28
A.T. Lincoln, seorang Protestan, mengakui
bahwa “tidaklah dapat dibuktikan bahwa
Perjanjian Baru memberikan jaminan keya-
kinan bahwa sejak Kebangkitan, Allah men-
jadikan hari pertama itu dipelihara sebagai
hari Sabat.29 Ia mengakui: “Menjadi pemeli-
hara Sabat hari ketujuh satu-satunya arah tin-
dakan yang konsisten bagi siapa pun yang
memegangnya, bahwa seluruh Sepuluh Hu-
kum itu merupakan ikatan hukum moral.”30
Nah, jika tidak ada bukti yang ada
dalam Alkitab bahwa Kristus atau murid-
murid-Nya mengubah hari perbaktian dari
hari yang ketujuh itu, mengapa begitu banyak
orang Kristen menerima hari Minggu sebagai
gantinya?
Hari Sabat 297
Timbulnya Pemeliharaan Hari Minggu.
Perubahan dari Sabat kepada Minggu seba-
gai hari berbakti muncul pelahan-lahan. Ti-
dak ada bukti perbaktian Kristen pada hari
Minggu dalam minggu itu sebelum abad ke-
dua, akan namun bukti menunjukkan bahwa
pada pertengahan abad itu beberapa Kristen
secara sukarela memelihara hari Minggu se-
bagai hari perbaktian, bukan sebagai hari
perhentian.31
Gereja Roma, yang sebagian besar ber-
asal dari umat percaya yang bukan rumpun
Yahudi (Rm. 11:13), yang menuntun kepada
kecenderungan pemeliharaan hari Minggu.
Di Roma, yang menjadi ibukota kerajaan,
rasa anti Yahudi sangat kuat, dan dari waktu
ke waktu semakin kuat saja. Reaksi terhadap
sentimen kebangsaan ini, sehingga orang-
orang Kristen yang diam di kota itu berusaha
membedakan diri mereka dari orang Yahu-
di. Mereka mulai meninggalkan beberapa
kebiasaan yang dilakukan orang Yahudi dan
mulai cenderung menjauh dari pemeliharaan
hari Sabat sehingga menuju kepada pemeliha-
raan hari Minggu secara eksklusif.32
Dari abad kedua sampai abad kelima, ma-
nakala pengaruh hari Minggu mulai bangkit,
orang-orang Kristen masih terus memeliha-
ra Sabat hari ketujuh di mana-mana di hampir
seluruh Kerajaan Roma. Sejarawan abad
kelima, Socrates, menulis sebagai berikut:
“Hampir semua gereja di seluruh dunia me-
melihara Sabat yang kudus setiap minggu, na-
mun orang Kristen yang di Aleksandria mau-
pun di Roma, dengan alasan beberapa tradisi
kuno, berhenti melakukannya.”33
Pada abad keempat dan kelima banyak
orang Kristen yang berbakti baik pada hari
Sabat maupun hari Minggu. Sozomen, se-
orang sejarawan lain pada kurun waktu yang
sama, menulis, “Penduduk Konstantinopel,
dan hampir semua di mana-mana pun, ber-
kumpul bersama-sama pada hari Sabat, dan
juga pada hari pertama dalam minggu itu,
kebiasaan yang tidak pernah dipelihara di
Roma atau di Aleksandria.”34 Catatan-catat-
an ini menunjukkan peranan Roma yang me-
nuntun kepada pelecehan pemeliharaan Sa-
bat.
Mengapa orang yang berpaling dari hari
ketujuh itu justru memilih hari Minggu dan
bukan hari lain dalam minggu itu? Alasan
paling utama yaitu bahwa Kristus bangkit
pada hari Minggu; sehingga diakuilah bahwa
Ia telah membenarkan penyembahan pada
hari itu. “Akan namun , anehnya, tidak seo-
rang pun penulis pada abad kedua dan
ketiga yang mengutip satu ayat pun dari
Alkitab yang membenarkan pemeliharaan
Minggu sebagai ganti hari Sabat. Tidak juga
Barnabas, tidak juga Ignatius maupun Yus-
tianus, tidak juga Irenaeus maupun Tertullian,
tidak pun Clement dari Roma atau Clement
dari Aleksandria, tidak juga dari Origen atau
Ciprianus atau Vitorinus, maupun penulis lain
yang hidup dekat pada masa Yesus hidup me-
ngetahui petunjuk yang demikian dari Yesus
atau dari bagian mana pun dari Alkitab.35
Kepopuleran dan pengaruh penyembahan
matahari dari Roma kafir tidak diragukan lagi
memegang peranan penting dalam pemeliha-
raan hari Minggu, yang semakin bertumbuh
penerimaannya sebagai hari perbaktian. Pe-
nyembahan matahari memegang peranan
penting selama sejarah purbakala. Ini meru-
pakan “sebuah komponen yang paling tua da-
ri agama Romawi.” sebab pemujaan mata-
hari Timur, “dari bagian awal abad kedua Ta-
rikh Masehi, aliran Sol Invictus sangat do-
minan di Roma dan di pelbagai bagian ke-
rajaan itu.”36
Agama populer ini memberi dampak pada
jemaat yang mula-mula melalui orang-orang
yang baru bertobat. “Orang-orang Kristen
yang ditobatkan dari kafir tetap tertarik pada
pemujaan matahari. Ini diindikasikan bukan
298 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
hanya oleh betapa seringnya penghakiman
atas praktik semacam ini dari pihak (Gereja)
Bapa-bapa namun juga oleh refleksi yang
begitu bermakna dari penyembahan Matahari
di dalam liturgi Kristen.”37
Pada abad keempat undang-undang hari
Minggu mulai diperkenalkan. Undang-un-
dang hari Minggu yang pertama dikeluarkan
dan kemudian menjadi undang-undang hari
Minggu yang bersifat religius. Undang-un-
dang sipil pertama mengenai hari Minggu di-
dekritkan oleh kaisar Konstantin pada tang-
gal 7 Maret 321 TM. Dengan melihat bahwa
hari Minggu itu sangat populer di kalangan
pemuja matahari dan juga di kalangan Kris-
ten, sehingga Konstantin berharap bahwa
dengan menjadikan hari Minggu itu sebagai
hari libur, ia dapat memastikan dukungan dari
kedua konstituensi ini bagi pemerintahannya.38
Undang-undang hari Minggu Konstantin
membayangkan latar belakangnya selaku pe-
nyembah matahari. Cobalah simak yang ber-
ikut: “Pada Hari pemujaan Matahari (vene-
rabili die Solis) hendaknya para hakim dan
penduduk yang tinggal di kota-kota beristirahat
dan tempat-tempat kerja ditutup. Di pedesa-
an, penduduk yang berhubungan dengan
pertanian dapat dengan bebas dan didukung
undang-undang meneruskan usaha mere-
ka.”39
Beberapa dekade kemudian gereja pun
mengikuti teladan itu. Konsili Laodikea (364
TM), yang tidak merupakan sebuah konsili
universal melainkan diselenggarakan oleh
Katolik Roma, untuk pertama kalinya menge-
luarkan undang-undang pemeliharaan hari
Minggu. Dalam Kanon 29 ketentuan gereja
menyatakan bahwa orang-orang Kristen ha-
ruslah memuliakan hari Minggu dan “jika
mungkin janganlah bekerja pada hari itu,”
sementara itu mencela praktik pemeliharaan
hari Sabat, dan mengatakan supaya orang-
orang Kristen janganlah “berpangku tangan
pada hari Sabtu (kata Yunani sabbaton,
“Sabat”), dan harus bekerja pada hari itu.”40
Pada tahun 538 TM, tahun tonggak awal
masa 1260 tahun nubuat (lihat bab 12), Kon-
sili ketiga Katolik Roma Orleans menge-
luarkan sebuah undang-undang yang lebih
keras dari yang dikeluarkan Konstantin. Ka-
non 28 dari konsili itu mengatakan bahwa
pada hari Minggu “pekerjaan pertanian pun
harus disingkirkan agar dengan demikian
orang-orang tidak terhalang datang ke ge-
reja.”41
Perubahan telah Dinubuatkan. Alkitab
menyatakan bahwa pemeliharaan hari Ming-
gu sebagai sebuah lembaga Kristen bermula
dari “rahasia kedurhakaan” (2 Tes. 2:7) yang
telah mulai bekerja pada zaman Rasul Paulus
(baca bab 12). Melalui nubuatan Daniel 7
Allah menyatakan lebih dahulu mengenai
perubahan hari perbaktian.
Khayal Daniel menggambarkan sebuah
serangan terhadap umat Tuhan dan hukum-
Nya. Kuasa yang menyerang itu diwakili oleh
tanduk kecil (dan oleh binatang dalam Why.
13:1-10), memberitakan tentang kemurtadan
besar di dalam jemaat Kristen (baca bab 12).
Timbul dari binatang keempat dan menjadi
kuasa besar yang menganiaya setelah keja-
tuhan Roma (baca bab 18), tanduk kecil ber-
usaha “untuk mengubah waktu dan hukum”
(Dan. 7:25). Kuasa kemurtadan ini sangat
berhasil menipu hampir seluruh dunia, akan
namun pada akhir zaman penghakiman akan
mengambil kepastian atas yang menentangnya
(Dan. 7:11, 22, 26). Pada masa kesukaran
akhir itu Tuhan akan turut campur tangan de-
mi kepentingan umat-Nya dan akan melepas-
kan mereka (Dan. 12:1-3).
Nubuatan ini hanya pas bagi sebuah kuasa
yang ada dalam ke-Kristenan. Yakni,
sebuah organisasi agama yang menyatakan
memiliki hak istimewa untuk mengubah hu-
Hari Sabat 299
kum Ilahi. Menurut catatan sejarah, simaklah
apa yang pernah dinyatakan Katolik Roma:
Sekitar tahun 1400 TM Petrus de Ancha-
rano menegaskan bahwa “paus dapat meng-
ubah hukum Ilahi, sebab kuasanya bukan
berasal dari manusia melainkan dari Allah,
dan ia bertindak atas nama Tuhan di atas
dunia ini, dengan kuasa penuh yang mengikat
dan melepaskan domba-dombanya.„42
Dampak penegasan yang mencengangkan
ini telah diperlihatkan selama masa Reformasi.
Luther menyatakan bahwa Kitab Suci saja-
lah dan bukan tradisi gereja yang menjadi pe-
nuntun hidupnya. Slogan yang digunakannya
ialah sola scriptura —“Alkitab dan hanya
Alkitab saja.” John Eck, salah seorang pem-
bela ajaran Katolik Roma yang terkemuka
menyerang Luther dalam masalah ini dengan
menyatakan bahwa otoritas jemaat atau ge-
reja di atas Alkitab. Ia menantang Luther me-
ngenai pemeliharaan hari Minggu ganti hari
Sabat. Eck berkata, “Kitab Suci mengajarkan:
‘Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam
hari lamanya engkau akan bekerja dan mela-
kukan segala pekerjaanmu, namun hari ketu-
juh yaitu hari Sabat Tuhan, Allahmu, dst.
Namun demikian, gereja telah mengubah Sa-
bat menjadi Minggu berdasarkan otoritas itu,
yang kau (Luther) tidak mempunyai hak atas
Kitab Suci.”43
Pada Konsili Trent (1545-1563), yang di-
pimpin oleh paus untuk menghadapi Protes-
tanisme, Gaspare de Fosso, uskup agung
Reggio, mengemukakan isu itu kembali. “O-
toritas gereja,” katanya, “kemudian, dilukiskan
dengan sangat jelas oleh Kitab Suci; semen-
tara di satu pihak dia (gereja) memuji, me-
nyatakannya sebagai yang Ilahi (dan) me-
nyampaikan kepada kita untuk dibaca,... di
pihak lain, ajaran-ajaran yang sah atau legal di
dalam Kitab Suci yang diajarkan Tuhan telah
berakhir dengan kebajikan otoritas yang sa-
ma (gereja). Sabat, hari yang sangat dimu-
liakan di dalam hukum, telah diganti dengan
hari Tuhan.... Ini dan masalah-masalah lain-
nya tidak berakhir oleh kebajikan ajaran Kris-
tus (sebab Ia mengatakan bahwa ia telah
datang untuk menggenapi hukum, bukan un-
tuk membinasakannya), namun hukum-hukum
itu telah diubah atas otoritas gereja.”44
Bukankah gereja masih tetap memper-
tahankan keadaan ini? Buku The Convert’s
Catechism of Catholic Doctrine edisi 1977
memuat serangkaian tanya jawab yang ber-
ikut ini:
“T. Yang manakah hari Sabat itu?”
“J. Hari Sabtu yaitu hari Sabat.”
“T. Kalau begitu, mengapa kita me-
melihara hari Minggu, bukan hari Sabtu?
“Kita memelihara hari Minggu ganti hari
Sabtu sebab gereja Katolik memindahkan
kekhidmatannya dari Sabtu kepada Ming-
gu.”45
Di dalam bukunya yang paling laris, The
Faith of Millions (1974), sarjana Katolik
Roma John A.O’Brien, menyampaikan ke-
simpulan sebagai berikut: “sebab Sabtu, bu-
kannya Minggu, hari yang istimewa di dalam
Alkitab, bukankah aneh bahwa orang-orang
yang bukan Katolik yang mengaku beragama
langsung dari ajaran Alkitab dan tidak dari ge-
reja, memelihara hari Minggu dan bukannya
hari Sabtu? Begitulah, mereka ini tidak kon-
sisten.” Kebiasaan memelihara hari Minggu,
katanya, “berdasarkan otoritas Gereja Kato-
lik dan bukan atas ayat-ayat Alkitab. Pemeli-
haraan itu tetap menjadi satu peringatan Ge-
reja Induk dan dari sanalah aliran-aliran yang
bukan Katolik beranjak—seperti seorang
anak tanggung yang lari dari rumahnya namun
masih tetap mengantongi gambar ibunya atau
ikat rambutnya.”46
Pernyataan atas pemilikan hak istimewa
ini menggenapi nubuatan dan menjadi pertan-
da dari kuasa tanduk kecil itu.
300 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
Pemulihan hari Sabat. Di dalam kitab Ye-
saya 56 dan 58 Allah memanggil bangsa Is-
rael supaya mengadakan pembaharuan Sa-
bat. Dengan menyatakan kemuliaan atas
berhimpunnya kelak orang-orang yang bukan
Yahudi ke dalam lingkungan-Nya (Yes.
56:8), Ia menghubungkan suksesnya misi ke-
selamatan dengan pemeliharaan serta pe-
ngudusan Sabat (Yes. 56:1, 2, 6, 7).
Dengan saksama Ia mengikhtisarkan pe-
kerjaan khusus bagi umat-Nya. Walaupun
misi mereka bersifat meliputi seluruh dunia,
petunjuk itu diberikan secara khusus kepada
satu golongan orang yang mengaku orang-
orang percaya akan namun dalam kenyataan
menyimpang dari ajaran-ajaran-Nya (Yes.
58:1, 2). Ia menyatakan tugas mereka kepada
orang yang mengaku selaku orang-orang
percaya dalam istilah seperti berikut ini:
“Engkau akan membangun reruntuhan yang
sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki
dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan.
Engkau akan disebutkan ‘yang memperbaiki
tembok yang tembus,”yang membetulkan
jalan supaya tempat dapat dihuni.’ jika
engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat
dan tidak melakukan urusanmu pada hari
kudus-Ku; jika engkau menyebutkan hari
Sabat ‘hari kenikmatan,’ dan hari kudus Tu-
han ‘hari yang mulia’; jika engkau meng-
hormatinya dengan tidak menjalankan segala
acaramu dan dengan tidak mengurus urusan-
mu atau berkata omong kosong, maka eng-
kau akan bersenang-senang sebab Tuhan”
(Yes. 58:12-14).
Misi Israel rohani sejajar dengan misi
bangsa Israel masa dulu. Hukum Tuhan di-
langgar saat kuasa tanduk kecil itu mengubah
hari Sabat. Sebagaimana Sabat yang diinjak-
injak itu harus dipulihkan kembali di tengah-
tengah bangsa Israel, demikian pula yang ter-
jadi pada masa moder
.jpeg)
