al-quran akhir zaman 3

Tampilkan postingan dengan label al-quran akhir zaman 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al-quran akhir zaman 3. Tampilkan semua postingan

al-quran akhir zaman 3


 


� تَق و  ثَل   

ْ ۚ ا و  ه ْ ّللٰا ْ اِن َما ۚ ْ ل ك مْ  َخي ًرا اِن تَه  اِحد ْ اِل  ْٰٓ ۚ ْ و  َنه  نَْ اَنْ  س ب ح  لَهْ  ي ك و   

تِْ فِى َما لَهْ  ۚ ْ َولَد ْ و  ْ فِْى َوَما الس م  ِض  َر  ْى اْل  ِباّلٰلِْ َوَكف   

 ࣖ َوِكي ًلْ

(Qur’ān, an-Nisa, 4:171) 

Wahai para pengikut Kitab Suci, yaitu Injil! Jangan melampaui batas 

[kebenaran] dalam keyakinan agamamu, dan jangan katakan 

tentang Allah selain kebenaran. Al Masih, Yesus, putra Mariam, 

hanyalah utusan Allah—[penggenapan] janji-Nya yang telah Dia 

sampaikan kepada Mariam—dan Roh dari-Nya. Maka, percayalah 

kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan 

“tiga”, yaitu bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi. Hentikan 

pernyataan ini demi kebaikanmu sendiri. Allah hanyalah satu Tuhan; 

jauh sekali Dia, dalam kemuliaan-Nya, dari memiliki seorang anak 

laki-laki: bagi-Nyalah segala yang ada di langit dan semua yang ada 

di bumi; dan tidak ada yang layak dipercaya selain Allah 

Al-Qur'an juga menegaskan kelahiran Yesus  السالم عليه    dari 

sang ibu perawan dan menyatakan bahwa ibunya secara sakral 

diangkat ke derajat atau kedudukan tertinggi di antara para wanita di 

dunia. 

Baik orang Kristen maupun Muslim percaya bahwa al-Masih 

datang, pergi, dan akan kembali suatu hari nanti. Sementara orang 

Yahudi (setelah menolak Yesus  sebagai al-Masih) berpegang teguh 

pada keyakinan bahwa al-Masih belum datang, dan masih akan 

menunggu kedatangannya. 

76 

 

Ada bukti substansial dalam Al-Qur'an tentang kembalinya 

(mukjizat) al-Masih lebih dari 2000 tahun setelah Dia meninggalkan 

dunia ini. Bab berikutnya menyajikan bukti ini . 

Baik orang Kristen maupun Muslim percaya bahwa sebelum 

al-Masīh kembali, akan ada makhluk jahat yang disebut Antikristus, 

yang akan mencoba menirunya sambil menyatakan dirinya sebagai 

al-Masīh, dan yang pada akhirnya akan muncul di dunia sebagai sosok 

pribadi manusa saat memerintah  dunia dari Yerusalem. Dia akan 

memerintah dari apa yang dia klaim sebagai Negara Suci Israel 

Salaiman. Ummat Muslim mengetahui makhluk jahat itu dengan 

nama al-Masīh ad-Dajjāl, atau Dajjāl al-Masīh palsu. Orang Kristen 

menyebutnya sebagai Antikristus. Ada bukti bahwa orang-orang 

Yahudi juga mengetahui tentang Dajjal namun  memilih untuk tidak 

mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Mereka mengajukan tiga 

pertanyaan yang harus dijawab oleh Nabi Muhammad   عليه  للا صل  

 untuk membuktikan bahwa dia memang benar seorang Nabi وسلم

dari Tuhan Ibrahim atau Dajjal, hal itu yaitu  tujuan dari salah satu 

pertanyaan ini . (Lihat buku kami yang berjudul Surah al-Kahfi 

dan Zaman Modern.) Bab terakhir dari buku ini akan menjelaskan 

bahwa saat  dia kembali ke dunia ini, al-Masīh akan membunuh 

Antikristus. 

Setelah menjelaskan perbedaan mendasar antara keyakinan 

Kristen, Yahudi dan Muslim tentang al-Masīh, kami sekarang 

menyajikan informasi wahyu Ilahi yang terletak di dalam Al-Qur'an 

yang menjelaskan dan mengklarifikasi hal-hal di mana mereka 

berbeda. Namun, seperti yang telah kami tulis sebelumnya, Al-Qur'an 

sendiri telah menyatakan bahwa ini yaitu  salah satu fungsinya 

(Qur'an, al-Naml, 27:76). 

2.2 Silsilah al-Masih (keluarga Amran) / Imran 

Subjek tentang kedatangan Al Masih seperti yang dijelaskan 

dalam Al Qur'an dimulai dengan seseorang bernama 'Imran (yaitu, 

77 

 

“Amran” dari Kitab Keluaran dalam Taurat) yang sangat berperan 

penting sehingga Surat Al Qur'an ketiga dinamai dengan namanya, 

yaitu, Sūrah ali-'Imrān atau 'Keluarga Imrān'. Penulis berpendapat 

bahwa namanya dalam Taurat yaitu  “Amran”, bukan “Amram” yang 

sekarang, karena kata “Amran” sesuai dengan bahasa Arab ‘Imrān, 

sedangkan “Amram” tidak! Oleh karena itu, penulis memilih untuk 

menyebut dia dalam buku ini sebagai “Amran”, dan mengabaikan 

bentuk lain dari nama ini . 

Amran, atau ‘Imran, tinggal di Mesir dan termasuk generasi 

kedua atau ketiga Bani Isrāīl, atau orang Israel, yang telah 

meninggalkan Tanah Suci untuk tinggal di Mesir. Mereka bermigrasi 

ke Mesir karena Nabi Yūsuf السالم عليه  memerintahkan mereka untuk 

melakukannya. Pandangan kami yaitu  bahwa Allah تعاىل و سبحانه  

memerintahkan migrasi mereka ke Mesir untuk alasan yang bab ini 

akan mencoba untuk  meungkapkannya. Amran yaitu  ayah dari dua 

Nabi Allah, yaitu Nabi Mūsā  السالم عليه  dan Nabi Hārūn السالم عليه . 

Muhammad Asad13 mengomentari Amran, atau ‘Imrān, 

sebagai berikut : 

Keluarga 'Imrān terdiri dari Musa dan Harun, yang 

ayahnya yaitu  'Imrān (Amram didalam versi 

Alkitab), dan keturunan Harun, (kasta setingkat 

Pendeta di antara orang Israel) termasuk Yohanes 

Pembaptis, yang kedua orang tuanya berasal dari 

keturunan yang sama ( lihat referensi : dalam 

Lukas I, 5, untuk ibu Yohanes Elisabeth sebagai 

salah satu "dari putri Harun"), serta Yesus, yang 

ibunya Mariam—kerabat dekat Yohanes—

 

13 Muhammad Asad atau Leopold Weiss yaitu  seorang cendekiawan muslim, 

mantan Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa Bangsa, dan penulis 

beberapa buku tentang Islam termasuk salah satu tafsir Al Qur'an modern yakni The 

Message of the Qur'an (Wikipedia) 

78 

 

dibicarakan di tempat lain dalam Al-Qur'an 

(19:28) sebagai "saudara perempuan Harun": 

dalam kedua kasus ini  mewujudkan 

kebiasaan Semit kuno yang menghubungkan 

nama seseorang atau orang dengan nama 

seorang leluhur yang termasyhur. Referensi ke 

Rumah `Imran berfungsi sebagai pengantar kisah 

Zakharia, Yohanes, Mariam, dan Yesus. 

(Muhammad Asad, Terjemahan dan Tafsir 

Surah ali-‘Imrān 3:33-34) 

 

Sangat membingungkan dan misterius pendangan dari 

seorang Cendikiawan tafsir Qur’an ini yang harus mengecualikan 

keturunan Musa  السالم عليه   dari Keluarga Amran namun disisi lain 

memasukkan Musa   السالم عليه   sendiri, yang notabene putra Amran, 

di keluarga amran terebut. 

Di antara mereka yang memiliki keturunan dari Amran 

yaitu  seorang wanita yang digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai 

“Imra-atu 'Imran” (yaitu, seorang wanita dari Keluarga Amran), 

apakah ia yaitu  nenek al-Masīh, atau anak Perempuannya, atau 

ibunya al-Masīh, yang kemudian disebut sebagai “Bintu 'Imrān” 

(yaitu, putri dari keluarga Amran): 

َراَتْ  قَالَتِْ اِذْ  َرانَْ ام  تْ  اِن ِيْ  َرب ِْ ِعم  ِنيْ  فِيْ  َما لَكَْ َنذَر  ًرا َبط  َحر  م   

ْ ِمن ِيْ  فَتَقَب لْ  ال عَِلي مْ  الس ِمي عْ  اَن تَْ اِن كَْ ۚ   

(Qur’ān, ali-Imran, 3:35) 

… saat  seorang wanita dari [keluarga] ‘Imran berdoa: “Ya Tuhanku! 

Lihatlah, kepadamu aku bersumpah [anak] yang ada di dalam 

rahimku, untuk mengabdikan diri pada pelayanan-Mu. Maka 

79 

 

terimalah dariku: Sesungguhnya, hanya Engkau yang Maha 

Mendengar lagi Maha Mengetahui!” 

َيمَْ نَْ اب َنتَْ َوَمر  ر  ْٰٓ ِعم  َصَنتْ  ال تِي  َجَها اَح  َنا فَر  ِحَنا ِمنْ  فِي هِْ فََنفَخ  و  رُّ  

تِْ َوَصد قَتْ  ِنِتي نَْ ِمنَْ َوَكاَنتْ  َوك ت ِبهْ  َرب َِها ِبَكِلم  ال ق   ࣖ 

(Qur’ān, at-Tahrim, 66:12) 

Dan Mariam, seorang putri [keluarga] dari 'Imran, yang menjaga 

kesuciannya, kemudian Kami meniupkan Ruh Kami ke dalam [yang 

ada di dalam rahimnya], dan yang menerima kebenaran Firman 

Allah dan [dengan demikian, ] dari Wahyu-Nya—dan merupakan 

salah satu yang benar-benar saleh. 

Justru karena al-Masīh akan datang dari Bani Amran maka Al-

Qur'an (QS ali-'Imrān, [3]:33-34 di bawah) memperkenalkannya 

sebagai seseorang dengan kedudukan yang sangat tinggi sehingga ia 

disebutkan bersama Adam, Nuh dan Ibrahim sebagai pilihan Ilahi, 

dan keturunannya dihormati—generasi demi generasi dalam urutan 

biologis yang tak terputus—di atas semua umat manusia : 

ىْٰٓ ّللٰاَْ اِنْ  َطف  دَمَْ اص  ًحْا ا  لَْ َون و  ا  ِهي مَْ و  لَْ اِب ر  َرانَْ َوا  َعلَى ِعم   

لَِمي َنْ   ال ع 

(Qur’ān, ali-Imran, 3:33) 

Sesungguhnya Allah meninggikan Adam, dan Nuh, dan keluarga 

Ibrahim, dan keluarga Amran di atas seluruh umat manusia  

ي ةًْ ْ ذ ر ِ َها ۚ  ْ ِمن ْ  َبع ض  َعِلي م ْ  َسِمي عْ  َوّللٰا ْ بَع ض     

(Qur’ān, ali-Imran, 3:34) 

generasi demi generasi dalam satu garis keturunan (tidak terputus). 

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui 

80 

 

Hal ini harus menguras pemikiran yang berat di pihak 

pembaca dari ayat diatas bahwa penyebutan  dua nabi pertama, yaitu 

Adam dan Nuh, hanya disebutkan namanya saja sebagai pilihan Ilahi 

tanpa ada kalimat tambahan yang menyematkan pada keluarga 

mereka, berbeda dengan nama Ibrahim pada kalimat selanjutnya 

(pada ayat al-Qur’an diatas) yang disertai penyematan nama 

keluarganya yang dipilih untuk dihormati, dan kemudian, secara 

menakjubkan, Keluarga Amran juga dipilih untuk diberikan sebutan 

kehormatan dari Ilahi yang terus mengalir kepada mereka dalam 

generasi-generasi berikutnya. Beberapa pertanyaan sekarang 

muncul: 

Mengapa Amran (yaitu, 'Imrān) yang bukan 

seorang Nabi Allah, dimasukkan oleh Allah  سبحانه 

تعاىل و  dalam daftar kehormatan-Nya yang berisi 

nama-nama Nabi terkemuka seperti Adam, Nuh 

dan Ibrahim? 

Mengapa dibuat pernyataan bahwa Keluarga 

Ibrahim dan Keluarga Amran, yaitu ‘Imran, dipilih 

oleh Allah تعاىل و سبحانه  untuk dihormati secara 

turun-temurun? 

Di manakah letak hikmah Ilahi dalam serangkaian 

sebutan kehormatan yang berurutan ini—generasi 

demi generasi? 

Mengapa Amran dimuliakan sedemikian rupa 

dalam Al-Qur'an sehingga Surah ali -'Imrān (yaitu 

keluarga Amran), terletak di sebelah Surah al 

Fātihah dan Surah al-Baqarah di awal Al-Qur'an? 

 

Pandangan kami, dari keterkaitan satu sama lain dari ayat-

ayat Al-Qur'an ini, yaitu  sebuah peta jalan generasi Ilahi yang baru 

81 

 

telah ditetapkan melalui garis keturunan Amran, yang akan 

membawa kita ke jalan yang lurus dari Bani Isrāīl di Mesir menuju Al 

Masih. Pandangan kami yaitu  bahwa Adam, Nuh, Ibrahim dan 

Amran mewakili empat lentera surgawi yang menerangi jalan kami 

saat kami melakukan penelusuran, dari generasi ke generasi, dari 

Bani Isrāīl di Mesir di jalan yang membawa kita kepada al-Masīh. 

Al-Qur'an kemudian melanjutkan untuk membuka lentera 

jalan menuju al-Masīh saat  menegaskan bahwa Amran (yaitu, 

'Imran) yaitu  ayah dari Musa  السالم عليه   dan saudaranya, yaitu 

Harun. Hal itu terjadi saat  mengutip (dalam ayat al-Qur’an di 

bawah), bahwasanya orang Israel menyebut Mariam sebagai 

saudara perempuan Harun : 

تَْ ٰٓا خ  نَْ ي  و  ر  كِْ َكانَْ َما ه  َراَْ اَب و  ءْ  ام  َما َسو  َكانَتْ  و   

كِْ بَِغيًّا ا مُّ  ْ ۚ  

(Qur’ān, mariam, 19:28) 

Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah 

seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina" 

Karena Mariam yaitu  seorang putri di keluarga Amran 

(yaitu 'Imran), melalui ibunya, yang disebut  sebagai “Imra-atu 

'Imrān” (yang berarti seorang wanita 'Amran) yaitu  termasuk dalam 

Keluarga Imran, maka jika dia digambarkan oleh orang Israel sendiri 

sebagai saudara perempuan Harun, maka baik Harun maupun 

saudaranya yaitu Musa  السالم عليه   yaitu  termasuk anggota keluarga 

Amran. 

Sama pentingnya, Al-Qur'an telah menjaga kita di jalan yang 

lurus menuju al-Masīh saat  mengungkapkan informasi yang sangat 

penting bahwa al-Masīh diturunkan dari Amran melalui putranya 

Musa, dan bukan melalui putranya Harun. 

82 

 

Para Pengkritik yang saling berseteru dalam masalah ini 

harus berhenti sejenak untuk mencari pemahaman tentang 

implikasi sastra dari penggunaan kata saudara perempuan dalam 

ayat di atas (QS Mariam19:28). 

Mariam disebut sebagai saudara perempuan Harun karena 

dua alasan : 

Pertama, karena Al-Qur’an memakai  kata 

saudara perempuan sebagai kiasan, dan bukan 

karena dia memiliki ayah atau ibu kandung yang 

sama dengan Harun. 

Kedua, Al-Qur'an ingin membangun hubungan 

generasi yang berurutan antara Almasih, yang lahir 

dari Mariam, dengan Harun dan Musa, dan 

kemudian ke Amran. 

Hal itu karena ibunya telah disebut sebagai wanita Amran, 

dan ini berarti seorang wanita yang termasuk dalam Keluarga 

Amran—dan bukan istri Amran, dan dia sendiri telah digambarkan 

sebagai putri Amran, dan ini berarti bahwa ibunya berasal dari 

Keluarga Amran (dan bukan karena dia yaitu  putri kandung Amran), 

bahwa penggunaan 'saudara perempuan' secara kontekstual tepat 

dan sesuai dalam hal gaya sastra. 

Para Pengkritik yang saling berseteru harus menghentikan 

serangannya dan mengakui bahwa dia salah memahami Al-Qur'an 

saat  dinyatakan bahwa dia yaitu  “saudara perempuan” Harun. 

Kata “saudara perempuan” di sini tidak berkonotasi saudara 

kandung, melainkan merupakan kiasan yang dipakai  dalam 

konteks sastra yang sama seperti yang dipakai  “putri Amran” dan 

“wanita Amran” sebelumnya. 

Konsisten dengan implikasi dari hubungan yang dibangun 

dalam Al-Qur'an antara Keluarga yang pertama yaitu : Amran dan 

83 

 

putranya, Musa dan Harun, dan Keluarga yang kedua yaitu : ibu nya 

Mariam, Mariam sendiri, dan Almasih (putra Mariam), jelaslah 

sekarang kita dapat menawarkan sebuah hipotesis bahwa Amran 

(yaitu, 'Imran) dipilih sebagai “Keluarga Amran yang baru”, tidak 

hanya untuk memfasilitasi pembentukan garis keturunan Al Masih, 

namun  juga untuk memberikan peta jalan yang mengarah dari Ibrahim 

ke Al Masih (semoga damai dan berkah Allah تعاىل و  سبحانه   atas 

mereka semua). 

Kami menyimpulkan analisis awal ini dengan menyatakan 

bahwa Al-Qur’an telah menetapkan dua hal sehubungan dengan Al 

Masih dan Keluarga Amran, atau ‘Imran : 

Pertama, telah menunjukkan bahwa bayi yang 

lahir dari Mariam berasal dari keluarga 'Imrān, 

namun  ditelusuri keturunannya berasal dari Musa, 

bukan dari saudaranya Harun. 

Kedua, telah menegaskan bahwa orang Israel 

(yaitu Ban Isrāīl) mengetahui bahwa bayi ini  

memiliki status keturunan Musa karena mereka 

sendiri menyebut Mariam sebagai saudara 

perempuan Harun. 

Hal yang penting yaitu  orang-orang Israel mengakui bahwa 

Musa   السالم عليه   diangkat oleh Allah  تعاىل و  سبحانه  untuk memerintah 

atas orang-orang Israel, sedangkan Harun, kakak laki-lakinya, 

diangkat sebagai asisten perjuangannya. 

Garis keturunan al-Masīh  harus ditelusuri ke garis 

keturunan dari Musa, bukan ke Harun, karena fungsinya yaitu  

untuk memerintah (Pemimpin), bukan menjadi seorang asisten. 

Namun ayat-ayat Al-Qur’an tentang al-Masīh memberikan 

lebih dari sekadar peta jalan garis keturunan dari Banū Isrāīl di Mesir 

sampai pada  kelahiran al-Masīh. Ia (Allah melalu al-Qur’an-Red) juga 

84 

 

menyampaikan peringatan awal tentang nasib yang menunggu 

bagian dari Banū Isrāīl yang akan menolak al-Masīh. 

saat  Nabī Yūsuf تعاىل و  سبحانه  memerintahkan Banū Isrāīl 

untuk meninggalkan Tanah Suci dan bermukim kembali di Mesir, dia 

pasti bertindak atas perintah dari Tuhan. 

Ada persamaan antara permulaan baru dalam migrasi 

Yahudi dari Tanah Suci ke Mesir yang diperintahkan oleh Nabi Yūsuf 

dan peristiwa saudara-saudaranya yang berencana untuk 

menempatkan Yusuf  السالم عليه   dalam timba dan menurunkannya ke 

dalam sumur. 

Pada Peristiwa Yusuf   السالم عليه  dan sebuah Sumur, Allah 

تعاىل و  سبحانه  kemudian mengirimkan wahyu kepadanya bahwa suatu 

hari Ia akan memberi tahu mereka tentang apa yang mereka lakukan 

padanya : 

ا ا فَلَم  ا ِبهْ  ذََهب و  َمع و ٰٓ ه ْ اَنْ  َواَج  عَل و  َبتِْ فِيْ  ي ج  ِْ  َغي  ب  َنآْٰ ال ج  َحي  اِلَي هِْ َواَو   

مْ  ِرِهمْ  لَت َنب ِئَن ه  ذَا ِباَم  نَْ َْلْ َوه مْ  ه  و  ع ر  َيش   

(Qur’ān, Yusuf, 12:15) 

Maka, saat  mereka pergi bersamanya, mereka memutuskan untuk 

melemparkannya ke kedalaman sumur yang gelap. Dan Kami 

mengungkapkan [ini] kepadanya: “Kamu akan memberi tahu 

mereka suatu hari tentang ini, perbuatan mereka, dan itu akan 

terjadi pada waktunya dan mereka bahkan tidak akan 

mengenalimu! 

Dalam hal migrasi orang Israel ke Mesir, yang (menurut 

pendapat kami) telah ditetapkan secara Ilahi, tidak hanya Allah 

تعاىل و سبحانه  memulai sebuah peta jalan yang memimpin, generasi 

demi generasi (kepada al-Masīh), namun  Dia juga mengirimkan pesan 

kepada mereka yang akan terus terungkap hingga Akhir Zaman. 

85 

 

Mereka akhirnya akan mengalami penindasan Fir’aun, dan kemudian 

melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana nasib akhir Fir’aun 

sebagai penindas; namun bukan hanya itu saja : 

رَْ ِبك مْ  فََرق َنا َواِذْ  ك مْ  ال َبح  َرق َنآْٰ فَاَن َجي ن  لَْ َواَغ  نَْ ا  َعو  َواَن ت مْ  فِر   

نَْ و   تَن ظ ر 

(Qur’ān, al-Baqarah, 2:50) 

Dan saat  Kami membelah laut untukmu, dan dengan demikian 

menyelamatkanmu, dan menyebabkan orang-orang Firaun 

tenggelam di depan matamu 

Banū Isrāīl tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana 

Fir’aun mati selain apa yang mereka lihat dengan mata mereka 

sendiri bahwa dia mati karena tenggelam. Apa yang tidak mereka 

ketahui, dan juga apa yang tidak diketahui oleh saudara-saudaranya 

Nabi Yusuf  السالم عليه  , bukanlah akhir dari permasalah ini. Dengan 

cara yang sama bahwasanya Allah تعاىل  و سبحانه  memiliki pra-

pengetahuan tentang peristiwa yang akan terjadi kemudian, dan 

akan mencapai puncaknya saat  tiba saatnya Nabi Yusuf  السالم عليه   

memberi tahu mereka ke wajah mereka tentang apa yang telah 

mereka lakukan padanya, demikian juga Dia memiliki pra-

pengetahuan bahwa sebagian Banū Isrāīl akan menolak al-Masīh, dan 

bahwa mereka kemudian akan menjadi penindas seperti Fir’aun. 

saat  waktu itu tiba dalam sejarah, dan orang-orang Yahudi menjadi 

penindas seperti Fir’aun, maka peristiwa akhir yang drammatis  

Fir’aun akan terulang dalam sejarah. Tubuh Fir’aun akan muncul 

kembali dalam sejarah untuk menyampaikan peringatan keras bahwa 

mereka yang hidup dengan cara hidup Fir’aun, yaitu, sebagai 

penindas, akan mati sebagaimana cara Fir’aun mati yang 

mengenaskan. 

86 

 

Ini yaitu  hubungan atau keterkaitan antara peristiwa yang 

melibatkan Yusuf   السالم عليه  , saudara-saudaranya dan sebuah sumur, 

dan Peristiwa penindasan Fir’aun terhadap orang-orang beriman. 

Bagaimana Fir’aun mati? 

Tidak ada yang tahu bagaimana Fir’aun mati sampai Allah 

تعاىل و سبحانه  mengungkapkan informasi ini  dalam Al-Qur'an. 

Karenanya informasi ini tidak dapat ditemukan di tempat lain selain 

di dalam Al-Qur’an. Padahal informasi ini sangat penting bagi orang-

orang Yahudi yang menolak Yesus sebagai al-Masīh, serta bagi semua 

umat manusia lainnya yang meremehkan untuk menerima Al-Qur'an 

sebagai Firman Tuhan Yang Maha Esa! 

Al-Qur’an memberitahu kita dalam Sūrah Yūnus bahwa 

saat  Fir’aun tenggelam, dia menyadari bahwa dia bukan Tuhan, dan 

dia kemudian menyatakan imannya kepada Tuhan Banū Isrāīl. Allah 

اىلتع و سبحانه  menanggapi pernyataan iman dari seorang penindas, 

pada saat kematiannya, dengan menyatakan bahwa Dia akan 

menjaga jasad atau tubuh Fir’aun sehingga dapat berfungsi sebagai 

tanda bagi orang-orang yang akan datang setelahnya—yaitu, tanda 

bagi orang-orang yang akan hidup seperti Fir’aun hidup dan 

kemudian akan mengalami nasib kematian sebagaimmana Firaun 

mati. Inilah petikan Al-Qur'an dalam Sῡrah Yῡnus, 10: 90-92 : 

َنا ۞ ْٰٓ َوَجاَوز  ِءي لَْ ِبَبِني  َراٰۤ رَْ اِس  مْ  ال َبح  نْ  فَاَت َبعَه  َعو  د هْ  فِر  ن و  َوج   

ًيا َعد ًوا بَغ  َحتٰىْٰٓ و  َمن تْ  قَالَْ ال غََرقْ  اَد َرَكه ْ اِذَآْٰ ۚ  هَْ َْلْٰٓ اَن هْ  ا  ْ اِل  اِْل   

َمَنتْ  ال ِذي ْٰٓ ا ِبهْ  ا  ِءي لَْ َبن و ٰٓ َراٰۤ ِلِمي نَْ ِمنَْ َواََناْ  اِس  س  ال م    

(Qur’ān, Yunus, 10:90) 

Dan Kami bawa bani Israil menyeberangi lautan; dan di sana Firaun 

dan pasukannya mengejar mereka dengan kekejaman dan 

kezaliman yang keras, sampai [mereka dibanjiri oleh air laut. Dan] 

87 

 

saat  dia hampir tenggelam, [Firaun] berseru: ”Aku menjadi 

percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang dipercayai oleh 

orang-orang Israel, dan aku termasuk orang-orang yang 

menyerahkan diri kepada-Nya!” 

 

نَْ ـ  

ل 

ف ِسِدي نَْ ِمنَْ َوك ن تَْ قَب لْ  َعَصي تَْ َوقَدْ  ا ٰۤ ال م   

(Qur’ān, Yunus, 10:91) 

[namun  Allah berfirman:] “Sekarang?—sementara selama ini kamu 

memberontak [melawan Kami], dan kamu melakukan Fasad?” 

مَْ ي كَْ فَال َيو  نَْ ِبَبدَِنكَْ ن َنج ِ َيةًْ َخل فَكَْ ِلَمنْ  ِلتَك و  َواِنْ  ا  نَْ َكِثي ًرا ۚ  ِم   

ِتَنا َعنْ  الن اِسْ ي  نَْ ا  ِفل و  لَغ   

(Qur’ān, Yunus, 10:92) 

“Hari ini, Firaun, Kami telah menetapkan agar jasadmu diawetkan 

sehingga dapat berfungsi sebagai tanda yang menakjubkan bagi 

orang-orang yang akan datang setelah kamu; namun begitu banyak 

yang lalai dari peringatan Kami!” 

Kesimpulan kami yaitu  bahwa Nabī Yūsuf  السالم  عليه  

memerintahkan migrasi seluruh Israel dari Tanah Suci ke Mesir 

karena Allah تعاىل و سبحانه  ingin memulai babak baru dalam sejarah 

Israel yang akan dikhususkan untuk persiapan kedatangan al-Masīh; 

Dia juga memilih Amran ('Imran) sebagai cikal bakal dimulainya 

babak baru karena dia yaitu  ayah dari Musa dan Harun yang 

keduanya memiliki peran penting untuk memainkan dalam babak 

baru ini. 

Sekarang tinggal saatnya Al-Qur’an menjelaskan: mengapa 

mereka menolak Yesus  السالم عليه   sebagai al-Masīh pada saat Allah 

88 

 

mengutusnya kepada mereka? dan mengapa mereka terus 

melakukannya hingga hari ini? 

2.3 al-Masīh lahir dari seorang Ibu Perawan 

al-Masīh lahir secara ajaib dan tanpa dosa, dari seorang ibu 

perawan yang belum menikah, inilah tanda kekuasaan dari Allah yang 

esa. Dia lahir sebagai akibat dari campur tangan Tuhan yang sangat 

menakjubkan melalui seorang Malaikat yang berbicara kepada 

ibunya Mariam السالم عليه  sebelumnya untuk menyampaikan 

kepadanya kabar dari  Allah bahwa dia akan memiliki bayi laki-laki. 

Dalam menjalankan tugasnya, Malaikat juga mengungkapkan 

informasi tambahan penting mengenai bayi laki-laki dan ibunya. 

Mariam tidak seperti setiap wanita lain di seluruh umat 

manusia karena dia dipilih oleh Allah dzat Maha Tinggi Yang 

memurnikannya dan mengangkatnya ke derajat tertinggi di antara 

semua wanita di dunia : 

ىَِٕكة ْ قَالَتِْ َواِذْ 

َيمْ  ال َمل ٰۤ َمر  ىكِْ ّللٰاَْ اِنْ  ي  َطف  ىكِْ َوَطه َركِْ اص  َطف  َواص   

ءِْ ىَعلْ  لَِمي نَْ ِنَساٰۤ ال ع   

Dan ingatlah ! Para malaikat berkata: “Wahai Mariam! 

Sesungguhnya, Allah telah memilih kamu, dan menyucikan kamu, 

dan mengangkat kamu di atas semua wanita di dunia.” 

(Qur’ān, ali-Imran, 3:42) 

Jika Tuhan memilih seorang gadis dan mengangkatnya ke 

derajat tertinggi di antara semua wanita di dunia, maka orang-orang 

di mana Dia berasal, yang menyembah Tuhan yang sama, dan yang 

diberkahi untuk memiliki Nabi yang terus silih  berganti  generasi di 

tengah-tengah mereka selama ribuan tahun, seharusnya memiliki 

wawasan spiritual untuk mengenali bahwa Dia bukan gadis biasa. 

89 

 

Ada bukti nyata yang menunjukkan kedudukan spiritualnya 

yang unik karena dia yaitu  satu-satunya gadis yang pernah tinggal 

di lingkungan bait suci dari masa kanak-kanak sampai dia mencapai 

pubertas. Ibunya telah bersumpah untuk memberikan bayinya 

kepada Tuhan untuk dibesarkan di Kuil sebagai Imam. saat  seorang 

bayi perempuan (bukan bayi laki-laki yang diharapkan) lahir, sumpah 

itu tetap dipenuhi, dan bayi perempuan itu diambil sebagai seorang 

anak untuk tinggal di bait suci. Ini yaitu  peristiwa unik dalam sejarah 

Israel. 

Orang-orang Israel, yaitu, Bani Isrāīl sesungguhnya memiliki 

bukti tambahan yang dapat dipercayai tentang kedudukan 

spiritualnya yang sangat tinggi, saat  dia ditempatkan di bawah 

perwalian Kepala Rabbi, yaitu Zakharia saat  dia tinggal di bait Suci. 

Tentunya bukti dari Kepala Rabbi mereka sendiri dapat dipercaya. 

Saat dia tinggal di bait dalam perawat Kepala Rabi itulah 

keajaiban terjadi, dan yang pasti akan diketahui oleh seluruh dunia 

Israel. Mihrāb yaitu  ruangan khusus Masjid, atau Kuil, yang dikenal 

sebagai 'Mahakudus’, dan di mana benda peninggalan suci ini  

disimpan seperti tongkat yang dipakai  Musa  السالم عليه   untuk 

membelah Laut Merah. Tidak ada yang diizinkan di ruangan itu selain 

Kepala Rabi. Namun, karena dia bertanggung jawab untuk merawat 

Mariam, dia diizinkan masuk ke Mihrāb. Memang, bahasa yang 

dipakai  oleh Al-Qur’an menunjukkan bahwa dia pasti tinggal di 

Mihrāb. 

Setiap kali Zakharia memasuki Mihrāb di mana dia tempati, 

dia menemukan makanan yang tidak dia berikan kepadanya. saat  

dia menanyainya, dia mengetahui bahwa dia menerima makanan di 

ruangan suci yang secara ajaib diturunkan kepadanya dari Surga oleh 

Allah SWT. 

Orang-orang Israel, yaitu Bani Isrāīl, pasti akan bertanya 

pada diri mereka sendiri: bagaimana dia (Mariam) bisa menerima 

90 

 

makanan di Ruang Mahakudus saat  Zakharia tidak memberikannya 

kepadanya, dan dia tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana 

makanan itu sampai padanya di sebuah ruangan, tidak ada yang 

diizinkan untuk masuk selain dia? 

Semua bukti dengan demikian menunjukkan terjadinya 

mukjizat! Karena itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa Mariam 

bukanlah gadis Israel biasa; melainkan, dia yaitu  seorang gadis yang 

memiliki hubungan khusus dengan Tuhan. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

91 

 

Berikut yaitu  sebagian informasi di dalam Al-Qur'an yang 

relevan mengungkapkan informasi tentang hal ini, marilah  kita simak 

surah  ali 'Imrān ayat 35 hingga 41 berikut ini : 

َراَتْ  قَالَتِْ اِذْ  َرانَْ ام  تْ  اِن ِيْ  َرب ِْ ِعم  ِنيْ  فِيْ  َما لَكَْ َنذَر  ًرا َبط  َحر  م   

ْ ِمن ِيْ  فَتَقَب لْ  ال عَِلي مْ  الس ِمي عْ  ن تَْاَْ اِن كَْ ۚ   

(Qur’ān, ali-Imran, 3:35) 

… saat  seorang wanita dari [keluarga] ‘Imran berdoa: “Ya 

Tuhanku! Lihatlah, kepadamu aku bersumpah [anak] yang ada di 

dalam rahimku, untuk mengabdikan diri padaMu. Maka terimalah 

pengabdian dariku: Sesungguhnya, hanya Engkau yang Maha 

Mendengar lagi Maha Mengetahui!” 

ا ىْ  َوَضع ت َهآْٰ اِن ِيْ  َرب ِْ قَالَتْ  َوَضعَت َها فَلَم  لَمْ  َوّللٰا ْ ا ن ث  بَِما اَع   

ْ َكاْل  ن ث ى الذ َكرْ  َولَي سَْ َوَضعَت ْ  ت َها َواِن ِيْ  ۚ  ي  َيمَْ َسم  ْٰٓ َمر  َواِن ِي   

ي تََها ِبكَْ ا ِعي ذ َها نِْ ِمنَْ َوذ ر ِ ِجي مِْ الش ي ط  الر     

(Qur’ān, ali-Imran, 3:36) 

namun  saat  dia melahirkan anak itu, dia berkata: “Ya Tuhanku! 

Sesungguhnya, aku telah melahirkan seorang perempuan”—

sementara Allah mengetahui sepenuhnya apa yang akan ia lahirkan, 

dan sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada anak laki-laki yang 

mungkin diharapkannya dapat menjadi seperti perempuan ini (yang 

akan melahirkan anak laki-laki yang akan menjadi al-Masīh)— “dan 

aku menamainya Maria. Dan sesungguhnya aku memohon 

perlindungan-Mu untuknya dan keturunannya dari setan yang 

terkutuk.”  

 

92 

 

saat  Allah SWT menyatakan di atas, “dan laki-laki tidak 

seperti perempuan”, sebagai tanggapan atas seruannya bahwa dia 

telah melahirkan seorang bayi perempuan dan bukan bayi laki-laki, 

implikasinya yaitu  bahwa tidak ada bayi laki-laki yang dapat 

memenuhi fungsi historisnya dari bayi perempuan, ini yang dipiliih 

yang akhirnya melahirkan al-Masīh. 

لْ  َربَُّها فَتَقَب لََها َبتََها َحَسنْ  ِبقَب و  اَن   َكف لََها َحَسًناْ  َنَباتًا و  َزَكِري ا و   ْ ۚ  

َراَبْ  َزَكِري ا َعلَي َها دََخلَْ ك ل َما قًْا ِعن دََها َوَجدَْ ال ِمح  ْ ِرز  قَالَْ ۚ   

َيمْ  َمر  ذَا لَكِْ اَنٰى ي  قْ  ّللٰاَْ اِنْ  ۚ ْ ّللٰاِْ ِعن دِْ ِمنْ  ه وَْ قَالَتْ  ۚ ْ ه  ز  َير   

ءْ  َمنْ  ِحَسابْ  ِبغَي رِْ ي َشاٰۤ  

(Qur’ān, ali-Imran, 3:37) 

Dan kemudian Tuhannya menerima anak perempuan itu dengan 

pengasuhan yang baik, dan membuatnya tumbuh dalam 

pertumbuhan yang baik, dan menempatkannya dalam asuhan 

Zakharia. Setiap kali Zakharia mengunjunginya di ruang 

Mahakudus, dia menemukan dia (mariam) diberi makanan. Dia 

akan bertanya: "Wahai Mariam, dari mana ini datang kepadamu?" 

Dia akan menjawab: “Itu dari Allah; lihatlah, Allah memberikan 

rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, melampaui segala 

perhitungan 

Sangat jelas bahwa Zakharia mempercayai klaimnya bahwa 

makanan itu turun secara ajaib dari Allah تعاىل و  سبحانه , karena dia 

menanggapi keajaiban itu dengan berdoa di ruangan itu sambil 

meminta seorang putra yang akan menjadi ahli warisnya: 

 

ْ َرب هْ  َزَكِري ا دََعا ه َناِلكَْ ي ةًْ ل د ن كَْ ِمنْ  ِليْ  َهبْ  َرب ِْ قَالَْ ۚ  ذ ر ِ  

ْ َطي َِبةًْ ءِْ َسِمي عْ  اِن كَْ ۚ  الدَُّعاٰۤ  

93 

 

(Qur’ān, ali-Imran, 3:38) 

Di tempat yang sama, Zakharia berdoa kepada Tuhannya, berkata: 

“Ya Tuhanku! Berikan kepadaku [juga], dari kasih karunia-Mu, 

karunia keturunan yang baik; karena sesungguhnya Engkau maha 

mendengar segala doa.” 

ىَِٕكة ْ فََنادَت ه ْ

ىِٕمْ  َوه وَْ ال َمل ٰۤ َراِبْ  فِى يَُّصل ِيْ  قَاٰۤ كَْ ّللٰاَْ اَنْ  ال ِمح  ر  ي َبش ِ  

ى ي  قًاْ  ِبَيح  َصد ِ نَْ ِبَكِلَمةْ  م  ًرا َوَسي ِدًا ّللٰاِْ ِم  و  َحص  َنِبيًّْا و  نَْ و  ِم   

  الٰصِلِحي نَْ

(Qur’ān, ali-Imran, 3:39) 

Kemudian, saat  dia berdiri berdoa di tempat suci, para malaikat 

memanggilnya: “Allah mengirimkan kabar gembira kepadamu 

tentang [kelahiran] Yahya, yang akan mengkonfirmasi kebenaran 

sebuah firman dari Allah, dan [akan] menonjol di antara mereka. 

laki-laki, dan benar-benar suci, dan seorang nabi dari antara orang-

orang saleh  

نْ  اَنٰى َرب ِْ قَالَْ مْ  ِليْ  يَك و  قَدْ  غ ل  َراَِتيْ  ال ِكبَرْ  َبلَغَنِيَْ و  َعاقِرْ  َوام   ْ ۚ  

ِلكَْ قَالَْ ءْ  َما َيف عَلْ  ّللٰا ْ َكذ  َيَشاٰۤ  

(Qur’ān, ali-Imran, 3:40) 

[Zakharia] berseru: “Ya Tuhanku! Bagaimana saya bisa memiliki 

anak laki-laki, padahal usia saya sudah tua, dan istri saya mandul?” 

Dijawab [malaikat]: “Demikianlah: Allah melakukan apa yang Dia 

kehendaki.” 

عَلْ  َرب ِْ قَالَْ ْٰٓ اج  َيةًْ ل ِي  َيت كَْ قَالَْ ۚ ْ ا  ْ ا  ثَةَْ الن اسَْ ت َكل ِمَْ اَْل  اَي امْ  ثَل   

ْ ًزا اِْل  ب كَْ َواذ ك رْ  ۚ ْ َرم  َسب ِحْ  َكِثي ًرا ر  ِْ و  ب َكارِْ ِبال عَِشي  ِ َواْل   ࣖ 

(Qur’ān, ali-Imran, 3:41) 

94 

 

[Zachariah] Berdoa: “Ya Tuhanku! Tunjukanlah tanda padaku! ” 

maka beratalah [malaikat]: “Tandamu yaitu  selama tiga hari 

kamu tidak akan berbicara kepada pria selain dengan gerakan 

isyarat. Dan ingatlah Tuhanmu tanpa henti dan memuji 

kemuliaannya yang tak terbatas pada malam hari dan siang hari. ” 

 

Di atas merupakan bukti  tentang kedudukan spiritual dari 

seorang ibu perawan yaitu Mariam yang menakjubkan dan mulia dari 

Tuhan yang seharusnya bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang 

Israel untuk mengenalinya  dan mengamatinya dengan seksama. 

• Dia dilahirkan oleh seorang wanita yang bersumpah bahwa 

bayinya akan diberikan dan diasuh di bait suci hingga tumbuh 

menjadi seorang rabi; 

• Meskipun bayi itu dilahirkan sebagai seorang gadis, dia masih 

ditampatkan di bait suci. 

• Kepala rabi (Zakharia-Red) menjadi pembimbing dan 

pengasuhnya di bait suci 

• Dia (mariam) diizinkan untuk masuk dan tinggal di ruangan 

yang dikenal sebagai Ruang Mahakudus, pintu masuk yang 

dilarang bagi semua orang selain Kepala Rabi. 

• Makanan turun untuknya di ruangan itu dari surga. 

saat  dia mencapai usia pubertas, dan dengan demikian 

menjadi (tentunya secara biologis) seorang wanita, dia tidak bisa lagi 

tinggal di Kuil Suci, dan harus kembali ke orang tuanya. Alasannya 

yaitu  bahwa darah menstruasi dapat mencemari kuil, dan para rabi 

harus memastikan bahwa peristiwa seperti itu tidak boleh terjadi. 

Selain itu, pubertas membangunkan hasrat seksual yang kuat, Oleh 

karena itu saat  seorang gadis mencapai usia pubertas, ia harus 

dilindungi dengan keamanan ekstra oleh orang tua atau walinya. 

Sementara Zakaria bisa berfungsi sebagai wali dan “orang-tuanya” 

95 

 

saat dia masih kecil. Namun, Dia (Zakharia) tidak bisa lagi 

melakukannya sekarang karena dia telah menjadi seorang Gadis. 

Orang tuanya yang sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga 

dan melindunginya. 

Dengan demikian pada saat Mariam memiliki kedudukan 

moral dan agama tertinggi di negeri itu, dan meskipun dia pasti baru 

berusia 13 atau 14 tahun, dan belum menikah, bahwa Allah و  سبحانه  

 mengutus malaikat kepadanya untuk memberi tahu Mariam تعاىل

bahwa dia akan memiliki bayi laki-laki yang akan menjadi al-Masīh. 

Jadi, jelaslah dengan keterangan yang kami sampaikan diatas bahwa 

Allah تعاىل و  سبحانه  telah menyiapkan ujian tertinggi kepada Bani 

Israel, karena mereka harus menghadapi seorang perawan dengan 

status kedudukan spiritual yang sangat tinggi dengan status belum 

menikah, namun melahirkan bayi laki-laki yang yaitu  al-Masīh. 

Ayat-ayat berikut, yaitu  Sūrah Ali ‘Imrān [3] ayat 45-47 

mengkonfirmasi kelahiran al-Masih dari seorang perawan : 

ىَِٕكة ْ قَالَتِْ اِذْ 

َيمْ  ال َمل ٰۤ َمر  كِْ ّللٰاَْ اِنْ  ي  ر  ن ه ْ  بَِكِلَمةْ  ي َبش ِ ه ْ ِم  م  ال َمِسي حْ  اس   

َيمَْ اب نْ  ِعي َسى ِخَرةِْ الدُّن َيا فِى َوِجي ًها َمر  ِبي َنْ  َوِمنَْ َواْل   قَر  ال م   

(Qur’ān, ali-Imran, 3:45) 

Ingatlah! Para malaikat berkata: “Wahai Mariam! Sesungguhnya, 

Allah mengirimkan kepadamu kabar gembira, melalui firman dari-

Nya, tentang seorang putra yang bernama Al Masih Isa putra 

Mariam, seorang yang sangat terhormat di dunia ini dan di 

kehidupan yang akan datang, dan [akan menjadi] dia orang yang 

didekatkan kepada Allah. 

دِْ فِى الن اسَْ َوي َكل ِمْ  ًلْ ال َمه  ِمنَْ َوَكه  الٰصِلِحي نَْ و   

 

96 

 

(Qur’ān, ali-Imran, 3:46) 

“Dan dia akan berbicara (secara manakjubkan) kepada manusia 

(keduanya saat masih bayi) dalam pangkuannya, dan (sekali lagi) 

sebagai pria dewasa, dan akan menjadi orang-orang yang saleh.” 

(Bahwa seorang bayi dalam pangkuan ibunya dapat berbicara tentu 

saja merupakan suatu keajaiban. Namun demikian, juga, apakah 

akan menjadi suatu hal yang menakjubkan saat  lebih dari 2000 

tahun setelah Ia meninggalkan dunia ini, Ia harus kembali ke dunia 

dan kembali berbicara sebagai orang dewasa). 

نْ  اَنٰى َرب ِْ قَالَتْ  لَمْ  َولَد ْ ِليْ  يَك و  نِيْ  و  َسس  ِلكِْ قَالَْ ۚ ْ َبَشرْ  َيم  َكذ   

ل قْ  ّللٰا ْ ءْ  َما َيخ  اِذَا َيَشاٰۤ ٰٓى ۚ  ًرا قَض  لْ  فَِان َما اَم  ك نْ  لَهْ  َيق و   

نْ   فَيَك و 

(Qur’ān, ali-Imran, 3:47) 

Dia berkata: “Ya Tuhanku! Bagaimana aku bisa memiliki seorang 

putra sedangkan tidak ada seorang pun yang pernah 

menyentuhku?” [Malaikat] menjawab: “Begitulah: Allah 

menciptakan apa yang Dia kehendaki. saat  Dia menginginkan 

sesuatu “jadi!”, Dia mengatakan kepadanya, 'Jadilah' (Tidak lebih 

dari akal sehat dasar bagi para pengkritik yang saling berseteru 

untuk mengenali bahwa Mariam mengacu pada status 

keperawannya saat  dia mengatakan bahwa tidak ada pria yang 

pernah menyentuhnya). 

Bagian indah dari Surat Mariam dari Al-Qur'an yang kita bisa 

simak di ayat 16 sampai dengan ayat 21, telah menegaskan bahwa 

dia masih perawan saat  Malaikat Jibril datang kepadanya untuk 

memberitahunya bahwa dia akan memiliki bayi laki-laki : 

بِْ فِى َواذ ك رْ  َيَمْ  ال ِكت  ِلَها ِمنْ  ان تََبذَتْ  اِذِْ َمر  قِيًّا َمَكاًنا اَه  َشر   ْ ۚ  

97 

 

(Qur’ān, Mariam, 19:16) 

Dan ingatlah, melalui Firman Ilahi ini, wahai Mariam. Lihatlah! Dia 

menarik diri dari keluarganya ke seuatu tempat di bagian di timur. 

نِِهمْ  ِمنْ  فَات َخذَتْ  َسل َنآْٰ ِحَجاًباْ  د و  َحَنا اِلَي َها فَاَر  و  َبَشًرا لََها فَتََمث لَْ ر   

  َسِويًّا

(Qur’ān, Mariam, 19:17) 

dan menjaga dirinya dalam pengasingan dari mereka, di mana Kami 

mengirim kepadanya malaikat Wahyu Kami (yaitu, Roh Kudus), yang 

menampakkan diri kepadanya dalam sosok manusia yang 

sempurna. 

ْٰٓ قَالَتْ  ذ ْ اِن ِي  نِْ اَع و  م  ح  تَِقيًّا ك ن تَْ اِنْ  ِمن كَْ ِبالر   

(Qur’ān, Mariam, 19:18) 

Dia berseru: “Sesungguhnya, aku berlindung darimu dengan Tuhan 

Yang Maha Pemurah! Jangan dekati aku jika kamu takut kepada 

Allah 

لْ  اََناْ  اِن َمآْٰ قَالَْ ًما لَكِْ ِْلََهبَْ َرب ِِكْ  َرس و  َزِكيًّْا غ ل   

(Qur’ān, Mariam, 19:19) 

Malaikat itu menjawab: “Aku hanyalah seorang utusan Tuhanmu, 

Allah yang mengatakan, ‘Aku akan menganugerahkan kepadamu 

seorang anak laki-laki yang diberkahi kesucian. 

نْ  اَنٰى قَالَتْ  مْ  ِليْ  يَك و  لَمْ  غ ل  نِيْ  و  َسس  لَمْ  َبَشرْ  يَم  َبِغيًّْا اَكْ  و   

(Qur’ān, Mariam, 19:20) 

98 

 

Dia berkata, ”Bagaimana saya bisa memiliki anak laki-laki jika tidak 

ada pria yang pernah menyentuh saya? Karena aku tidak pernah 

menjadi wanita pezina!” 

ِلِكْ  قَالَْ ْٰٓ َهي ِن ْ  َعلَيْ  ه وَْ َربُّكِْ قَالَْ َكذ  عَلَه  َيةًْ َوِلَنج  َمةًْ ل ِلن اِسْ ا  َوَرح   

ن ْ ًرا َوَكانَْ اْ م ِ ق ِضيًّا اَم  م    

(Qur’ān, Mariam, 19:21) 

Malaikat itu menjawab: “Beginilah; namun  Tuhanmu berkata, 'Ini 

mudah bagi-Ku; dan kamu akan mempunyai seorang anak laki-laki, 

agar Kami menjadikannya sebagai tanda bagi manusia, dan suatu 

karunia dari Kami; dan itu yaitu  sesuatu yang ditetapkan oleh 

Allah.” 

Tanggapan Mariam yang mengatakan “Bagaimana saya 

bisa memiliki anak laki-laki saat  tidak ada seorang pun yang pernah 

menyentuh saya? Karena saya tidak pernah menjadi wanita pezina!”, 

cukup bagi siapapun yang berfikir dengan benar agar menyadari 

bahwa dia memang masih perawan. saat  dia mengandung bayi laki-

lakinya, momentum penggenapan Nubuat Tuhan dalam sejarah telah 

tiba, yakni Kelahiran sosok  al-Masīh yang telah lama ditunggu-

tunggu, dan inilah babak baru ujian bagi Bani Isrāīl  yang sebelumnya 

belum pernah diuji dengan ujian seperti ini. 

2.4 Mariam dan bayi yang baru lahir dalam buaian 

Mukzijat kehamilan seorang gadis yang masih perawan inilah 

yang dimaksud Al-Qur'an (Mariam, 19:21) saat  menyatakan 

peristiwa kelahiran Al Masih sebagai Tanda Ilahi dalam bentuk 

cobaan atau ujian yang dengannya Allah تعاىل و  سبحانه  menguji orang 

Israel : 

ْٰٓ عَلَه  َيةًْ َوِلَنج  ل ِلن اِسْ ا  … 

99 

 

(Qur’ān, Mariam, 19:21) 

… agar Kami menjadikannya sebagai tanda bagi manusia … 

Inilah momentum yang sangat penting dalam sejarah Israel 

juga dalam sejarah dunia, suatu bangsa yang seharusnya memiliki 

kepasitas untuk melihat dengan dua mata (Penglihatan Internal dan 

eksternal) untuk menyadari diantara banyak bayi yang lahir di  dunia  

ini  dari pengamatan yang normal, mereka gagal dalam melewati 

ujian Ilahi ini dan menyimpulkan hal ini secara keliru bahwa Mariam 

telah melakukan dosa dan bahwa bayi ini , yaitu Yesus  السالم  عليه  

yaitu  anak haram. Sūrah at-Tahrīm menegaskan status keperawan 

Mariam saat  dia mengandung al-Masīh : 

َيمَْ نَْ اب َنتَْ َوَمر  ر  ْٰٓ ِعم  َصَنتْ  ال تِي  َجَها اَح  َنا فَر  ِمنْ  فِي هِْ فََنفَخ   

ِحَنا و  تِْ َوَصد قَتْ  رُّ ِنِتي نَْ ِمنَْ َوَكاَنتْ  َوك ت ِبهْ  َرب َِها بَِكِلم  ال ق   ࣖ  

(Qur’ān, At-Tahrim, 66:12) 

Dan [Kami telah mengemukakan perumpamaan lain tentang 

ketentuan Tuhan dalam kisah] Mariam, putri 'Imran (yaitu, seorang 

putri yang lahir dari seorang wanita yang berasal dari Keluarga 

'Imran) yang menjaga kesuciannya (dan karenanya masih seorang 

perawan yang belum menikah), kemudian Kami meniupkan Roh 

Kami ke dalam [yang ada di dalam rahimnya], dan yang menerima 

kebenaran dari Firman Tuhan-Allahnya dan [dengan demikian,] dari 

wahyu-Nya—dan yaitu  salah satu dari orang-orang yang benar-

benar saleh. 

Al-Qur'an juga mengungkapkan bahwa Mariam sadar dia 

akan melahirkan seorang anak yang akan menjadi al-Masīh, dan 

bahwa dia menerima perannya dalam pemenuhan Kebenaran yang 

diwahyukan. Dia juga tahu bahwa bayinya akan berbicara secara ajaib 

dari buaiannya, oleh karena itu saat  bayi itu lahir, dia kembali 

kepada kaumnya untuk menjalani ujian yang ditetapkan Tuhan. 

100 

 

Sejarah pasti telah berhenti pada saat yang luar biasa dramatis ini 

saat  orang-orang yang telah menunggu (mungkin ribuan tahun) 

untuk kedatangan sosok al-Masīh, saat ini mereka sedang 

menghadapi al-Masīh yang sedang dalam buaian sebagai bayi yang 

baru lahir. 

saat  Mariam kembali kepada mereka (kaumnya, bani 

Israel-Red) dengan seorang bayi laki-laki yang baru lahir disaat 

berstatuskan belum menikah, mereka (kaumnya, bani Israel-Red) 

mempertontonkan kebutaan spiritualnya yang luar biasa dalam cara 

mereka menyapa, atau saat  mereka menanyainya dengan 

menunjuk ke bayi dari pangkuan Mariam ini , dan sejarah 

terbentang di depan mata mereka saat  bayi yang baru lahir bisa 

berbicara diluar nalar dari buaian dan Bayi ini  berbicara untuk 

memberikan pembelaan kepada ibunya. Kita kembali ke Sūrah 

Mariam ayat 27 sampai dengan ayat 33, untuk menggambarkan ayat 

demi ayat al-Qur’an dari peristiwa itu : 

َمَها ِبهْ  فَاَتَتْ  ِمل هْ  قَو  ا تَح  قَال و  َيمْ  ۚ  َمر  فَِريًّا َشي ـًٔا ِجئ تِْ لَقَدْ  ي   

(Qur’ān, Mariam, 19:27) 

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan 

menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya 

kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar 

تَْ ٰٓا خ  نَْ ي  و  ر  كِْ َكانَْ َما ه  َراَْ اَب و  َما ءْ َسوْ  ام  كِْ َكاَنتْ  و  َبِغيًّا ا مُّ  ْ ۚ  

(Qur’ān, Mariam, 19:28) 

Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah 

seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina" 

Jika Mariam السالم عليه  sudah menikah, tidak mungkin orang 

Israel menunjukkan keterkejutan seperti itu dan menanggapi begitu 

buruk atas kelahiran bayinya Mariam السالم  عليه ? Sikap  Terkejut dan 

101 

 

kecewaa dari cara ekspresii mereka (bani israel-Red) hanya dapat 

dipahami dalam konteks kelahiran anak di luar nikah! Bukan saja 

dalam konteks kelahiran bayi disaat Mariam السالم عليه  belum nikah, 

namun  berimplikasi bahwa tidak ada bukti bahwa status Mariam  عليه 

 pernah menikah; maka kami percaya bahwa Gereja Kristen السالم

Ortodoks, serta beberapa yang lain, yaitu  benar saat  mereka 

menolak pandangan bahwa Yesus  السالم عليه  memiliki saudara 

kandung : 

 

ِهْ  فَاََشاَرتْ  ا اِلَي  دِْال مَْ فِى َكانَْ َمنْ  ن َكل ِمْ  َكي فَْ قَال و  َصِبيًّْا ه   

(Qur’ān, Mariam, 19:29) 

Setelah itu dia menunjuk padanya. Mereka berseru, ”Bagaimana 

kami bisa berbicara dengan orang yang masih bayi dalam 

pangkuan”? 

 

ِنيَْ ّللٰاِْ َعب د ْ اِن ِيْ  قَالَْ ت  ا  بَْ ۚ  َنِبيًّا َوَجعَلَِنيْ  ال ِكت   ْ ۚ  

(Qur’ān, Mariam, 19:30) 

(Bayi itu) kemudian berkata: “Lihatlah, aku yaitu  hamba Allah. Dia 

telah memberikan kepadaku kitab yang diwahyukan (yaitu, Injil) dan 

menjadikanku seorang Nabi 

 

َجعَلَنِيْ  َرًكا و  ب  ِنيْ  ك ن ت ْ  َما اَي نَْ م  ص  وةِْ َواَو  ل  وةِْ ِبالص  ك  تْ  َما َوالز  د م   

ۚ ْ َحيًّا  

(Qur’ān, Mariam, 19:31) 

102 

 

dan membuat aku diberkati di mana pun aku berada; dan Dia 

mewajibkan kepadaku shalat dan zakat selama hidup 

 

اْ  بَرًّ عَل نِيْ  َولَمْ  بَِواِلدَتِيْ  و  َشِقيًّا َجب اًرا يَج    

(Qur’ān, Mariam, 19:32) 

dan [telah memberi aku] sikap berbakti terhadap ibuku; dan Dia 

tidak menjadikan aku angkuh atau kehilangan kasih atau karunia 

مْ  مَْ َعلَيْ  َوالس ل  ِلد تُّْ َيو  مَْ و  تْ  َوَيو  و  مَْ اَم  َحيًّْا ا ب عَثْ  َوَيو   

(Qur’ān, Mariam, 19:33) 

Oleh karena itu, keselamatan atasku pada hari saat  aku 

dilahirkan, dan pada hari aku mati (yaitu, hari saat  Allah 

mengambil jiwaku dan tidak mengembalikannya), dan pada hari 

saat  aku dibangkitkan [ lagi]! 

Ini yaitu  pernyataan yang cukup panjang dan menarik yang 

diucapkkan dari mulut seorang  bayi yang baru lahir. Dan jika bukan 

karena Al-Qur’an yang menginformasikan, kata-kata yang diucapkan 

oleh bayi Yesus (  السالم عليه  ) serta begitu banyak informasi lainnya 

tentang hal ini, tidak akan tersimpan dalam sejara,. Bahkan 

Muhammad (   وسلم عليه للا صل  ) sang Nabi pun tidak akan mengetahui 

semua ini, jika hal itu tidak diungkapkan dalam Al-Qur’an : 

ِلكَْ ءِْ ِمنْ  ذ  َباٰۤ ِحي هِْ ي بِْال غَ اَن   َوَما اِلَي كَْ ن و  نَْ اِذْ  لَدَي ِهمْ  ك ن تَْ ۚ  ي ل ق و   

مْ  مْ  اَق َلَمه  ف لْ  اَيُّه  َيَمْ  َيك  نَْ اِذْ  لَدَي ِهمْ  ك ن تَْ َوَما َمر  و  تَِصم  َيخ   

(Qur’ān, Ali Imran, 3:44) 

Informasi ini, terletak di dunia yang tak terlihat, Kami [sekarang] 

mengungkapkan kepadamu (Muhammad): karena kamu tidak 

103 

 

bersama mereka saat  mereka mengundi siapa di antara mereka 

yang harus menjadi wali Mariam, dan kamu tidak bersama mereka 

saat  mereka berdebat [tentang itu] dengan satu sama lain. 

 

Orang Israel menolak mukjizat bayi yang berbicara dari 

pangkuan Mariam dan menyatakan bahwa itu yaitu  sihir murni. 

Dengan sikap ini , mereka telah mempertontonkan  kebutaan 

spiritual yang mengerikan. 

Yang lebih aneh lagi yaitu  bahwa orang-orang yang telah 

mengklaim diri mereka sendiri sebagai orang-orang pilihan Tuhan, 

dan menghadapi bukti nyata didepan mereka seorang anak yang lahir 

di luar nikah dari gadis paling dikenal diantara mereka, tidak 

berusaha membawa Mariam ke pengadilan Israel untuk 

mendapatkan suatu putusan hukum tentang bayinya yang lahir di 

luar nikah. Tuduhan percabulan tersirat dalam kata-kata mereka: 

“Hai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukan pria jahat, ibumu 

juga bukan wanita pezina!” Taurat dengan jelas menetapkan 

hukuman untuk kejahatan Zinā (yaitu, percabulan atau hubungan 

intim diluar pernikahan) yaitu dengan hukuman 'dirajam sampai 

mati'. 

Alasan mengapa mereka tidak bisa membawanya ke 

pengadilan mereka (mungkin) karena kasusnya akan terlalu 

mencolok, dan akan mengarahkan perhatian publik yang tidak 

diinginkan terhadap fakta bahwa mereka telah mengkhianati Taurat 

selama ratusan tahun dengan mengganti hukum Ilahi tentang 'rajam 

sampai mati' sebagai hukuman bagi Zinā, dengan hukum baru ciptaan 

mereka sendiri, yaitu, membuat wajah hitam dan cambuk di depan 

umum. 

2.5 Yesus, putra Mariam yaitu  al-Masih 

104 

 

Al-Qur’an tidak memberikan penjelasan yang jelas tentang 

arti kata al-Masīh. Namun, dengan jelas mengidentifikasi bahwa 

Yesus السالم عليه  putra Perawan Mariam (yaitu, Nabī 'Īsa السالم عليه ) 

sebagai al-Masīh, Hal itu menggambarkan Sosok Dia sebagai manusia 

dengan kualitas dan fungsi yang membuatnya benar-benar unik 

dalam semua ciptaan. Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa Yesus   عليه 

 dikuatkan dengan Roh Kudus (al-Rūh al-Qudus). Al-Qur'an juga السالم

dengan jelas mengidentifikasi Roh Kudus sebagai Malaikat Jibril : 

تَي َنا … َيمَْ اب نَْ ِعي َسى َوا  تِْ َمر  ه ْ ال َبي ِن  حِْ َواَي د ن  و  ْ بِر  ال ق د ِس   … 

(Qur’ān, al-Baqarah, 2:253) 

… Dan Kami anugerahkan kepada Isa putra Mariam 

dengan bukti Kebenaran, dan Kami kuatkan dia dengan Ruhul 

Kudus…. 

Al-Qur'an mengidentifikasi Roh Kudus, dengan siapa Allah 

SWT memperkuat Yesus السالم عليه , sebagai sosok Malaikat Jibril yang 

menurunkan Al-Qur'an pada Nabi Muhammad    وسلم عليه للا  صل   : 

 

لَهْ  ق لْ  حْ  نَز  و  ب ِكَْ ِمنْ  ال ق د ِسْ ر  ا ال ِذي نَْ ِلي ثَب ِتَْ ِبال َحق ِْ ر  َمن و  ا   

ى َوه دًى ب ش ر  ِلِمي نَْ و  س  ِلل م   

(Qur’ān, an-Nahl, 16:102) 

Katakanlah: “Roh Kudus telah menurunkannya (yaitu, Al-Qur'an) 

dari Tuhanmu secara bertahap, menjelaskan kebenaran, sehingga 

memberikan keteguhan kepada orang-orang yang telah mencapai 

iman, dan memberikan petunjuk dan kabar gembira bagi semua 

orang yang menyerahkan diri kepada Allah. 

Mungkin karena Malaikat selalu bersamanya 

mengutakannyanya, dan karenanya menguatkannya, sehingga dia 

105 

 

dikenal sebagai al-Masīh (Al Masih) atau orang yang disentuh; dan 

Allah Maha Tahu! Kata Ibrani, "mashiach" berarti melukis, mengolesi, 

atau mengurapi. 

Al-Qur'an selanjutnya mengungkapkan bahwa karena dia 

dikuatkan dengan Roh Kudus, dia dapat berbicara secara ajaib saat  

masih bayi, dan bahwa dia dapat kembali ke dunia ini lebih dari dua 

ribu tahun setelah dia pergi, untuk kembali berbicara secara ajaib 

sebagai seorang pria yang telah beranjak dewasa : 

ِعي َسى ّللٰا ْ قَالَْ اِذْ  َيمَْ اب نَْ ي  ى َعلَي كَْ ِنع َمتِيْ  اذ ك رْ  َمر  َوَعل   

اِذْ  َواِلدَِتكَْ حِْ اَي د تُّكَْ ۚ  و  بِر   

ْ دِْ فِى الن اسَْ ت َكل ِمْ  ال ق د ِس  لًْ ال َمه  َوَكه   ْ  ۚ  

(Qur’ān, n, al-Māidah, 5:110) 

Lihatlah! Allah berfirman: “Wahai Yesus, putra Mariam! Ingatlah 

karunia yang Kuberikan kepadamu dan ibumu—bagaimana Aku 

menguatkanmu dengan Roh Kudus, sebagai akibatnya kamu dapat 

berbicara (secara ajaib) kepada orang-orang saat  kamu masih 

bayi dalam buaian, dan (sekali lagi berbicara secara ajaib) sebagai 

seorang pria dewasa (saat  kammu kembali ke dunia setelah lebih 

dari dua ribu tahun) …” 

Bab terakhir buku ini memberikan bukti bahwa hal pertama 

yang akan dilakukan Yesus  السالم عليه  , saat  ia kembali secara 

menakjubkan ke dunia setelah lebih dari 2000 tahun, yaitu  berdoa 

sesuai dengan Syariah atau Hukum Suci yang dibawa Nabi 

Muhammad    وسلم عليه  للا  صل  , dan dengan melakukan hal itu dia akan 

menegaskan bahwa Al-Qur'an ini benar-benar Firman Tuhan Yang 

Maha Esa yang diwahyukan yang tidak ada kerusakan didalamnya, 

dan bahwa apa pun yang dikatakan Al-Qur'an tentang dia (Yesus), dan 

tentang Tuhan (Allah), yaitu  Kebenaran yang mutlak dan tanpa 

106 

 

syarat. juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad    وسلم  عليه للا صل   

(sesungguhnya) yaitu  seorang Nabi utusan Allah sekaligus sebagai 

penutup para nabi : 

 

 

Berikut ini yaitu  ayat Al-Qur'an yang mengidentifikasi 

Yesus  السالم عليه , putra Mariam, yaitu, Nabi 'Isa السالم عليه  sebagai al-

Masīh : 

ىَِٕكة ْ قَالَتِْ اِذْ 

َيمْ  ال َمل ٰۤ َمر  كِْ ّللٰاَْ اِنْ  ي  ر  ن ه ْ  بَِكِلَمةْ  ي َبش ِ ه ْ ِم  م  ال َمِسي حْ  اس   

َيمَْ اب نْ  ِعي َسى ِخَرةِْ الدُّن َيا فِى َوِجي ًها َمر  ِبي َنْ  َوِمنَْ َواْل   قَر  ال م   

(Qur’ān, Ali Imran, 3:45) 

Lihatlah! Para malaikat berkata: “Wahai Mariam! Lihatlah, Allah 

mengirimkan kabar gembira, melalui sebuah Firman dari-Nya, dari 

seorang anak laki-laki yang namanya akan menjadi Al Masih, Isa, 

putra Mariam, kehormatan besar di dunia ini dan di kehidupan yang 

akan datang dan akan menjadi orang-orang yang didekatkan 

kepada Allah.” 

Al-Qur’an melanjutkan penjelasannya, dan 

memperingatkan, bahwa al-Masīh bukanlah Tuhan (bukan bagian 

dari Tuhan Tritunggal), bukan pula Anak Tuhan. Melainkan dia yaitu  

orang yang diutus (yaitu Rasul atau Utusan Tuhan) diutus dengan 

risalah Ilahi : 

ٰٓاَه لَْ بِْ ي  ا َْلْ ال ِكت  ا َوَْلْ ِدي ِنك مْ  فِيْ  تَغ ل و  ل و  ْ ّللٰاِْ َعلَى تَق و  اِْل   

َيمَْ اب نْ  ِعي َسى ال َمِسي حْ  اِن َما ال َحق ْ  لْ  َمر  َوَكِلَمت هْ  ّللٰاِْ َرس و   ْ  ۚ  

َهآْٰ ى اَل ق  َيمَْ اِل  حْ  َمر  و  ن ه ْ َور  ا م ِ ِمن و  فَا  ْ  ِباّلٰلِْ ۚ  س ِله  ا َوَْلْ َور  ل و  تَق و   

ثَة ْ ا ثَل  و  اِن تَه  ه ْ ّللٰا ْ اِن َما ۚ ْ ل ك مْ  َخي ًرا ۚ  اِحد ْ اِل  ْٰٓ ۚ ْ و  َنه  اَنْ  س ب ح   

107 

 

نَْ تِْ فِى َ