Juli 2026

tanda akhir zaman 1


 


Al-Qur’an dengan tegas melarang persahabatan dan aliansi 

Muslim dengan aliansi Yahudi-Kristen. Namun di seluruh dunia 

Islam saat ini kebanyakan pemerintah melanggar larangan ilahi 

itu. Mereka, pendukung dan pengikutnya, mendapatkan balasan 

untuk tindakan seperti itu. Mereka kehilangan Islam dan 

menjadi bagian dari aliansi Euro-Yahudi / Euro-Kristen yang 

berperang melawan Islam. Ini yaitu  aliansi pertama yang 

muncul dalam sejarah, dan mengobarkan perang ini  demi 

kepentingan Negara Euro-Yahudi Israel. Al-Qur’an dan Nabi 

Muhammad telah memberi  informasi yang memungkinkan 

kita untuk menemukan Yakjuj dan Makjuj dalam barisan kedua 

aktor ini , yaitu, Euro-Kristen dan Euro-Yahudi, yang 

berperang melawan Islam. 

 

aya dan Shaikh Ali Mustafa dari Suriname mendaki sebuah 

bukit di Morvant (di pulau asal saya di Karibia, Trinidad) ke 

puncak di mana sebuah Gereja Kristen berada, dan kami 

lalu  duduk untuk mengatur napas (bagi saya) dan akhirnya 

berpartisipasi dalam apa yang kami harapkan dapat menjadi 

pertukaran pandangan Kristen-Muslim yang bersahabat. 

 

Serangan palsu dan ganas terhadap Al-Qur’an dan sisi 

personal Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam), yang 

kami tanggapi, hampir tidak bersahabat. Sungguh mengejutkan 

dan sangat berdosa. Namun, kami segera menemukan sumber 

dari perilaku jelas non-Kristen dalam ‘perang melawan Islam’ 

yang dilakukan oleh Yakjuj dan Makjuj sebagai aliansi adikuasa 

di seluruh dunia. Kami pun memahami motif perilaku aneh itu 

dalam kepanikan mereka untuk menahan penyebaran Islam di 

antara kaum miskin di perbukitan Laventille dan Morvant. 

 

"Persahabatan antara Kristen dan Muslim dilarang oleh Al-

Qur’an sendiri", kata pembicara Kristen itu disambut tepuk 

tangan meriah dari jemaahnya. Dia, tentu saja, bergantung pada 

terjemahan sebuah ayat Al-Qur’an yang sering disalahpahami. 

Inilah ayat yang diterjemahkan oleh penulis ini: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman (pada Al-Qur’an ini), 

janganlah kamu menjadikan golongan Yahudi dan Kristen 

(tertentu) sebagai teman dan sekutu yang mereka sendiri 

menjadi teman dan sekutu bagi satu sama lain. Barangsiapa 

di antara kamu (Muslim) yang menjadikan mereka (teman 

dan sekutu), maka sesungguhnya dia termasuk golongan 

mereka; Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada 

orang-orang yang zalim.” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 51) 


Pada saat Al-Qur’an diturunkan, dan selama lebih dari 

seribu tahun sesudah nya, Kristen dan Yahudi terkunci dalam 

hubungan kebencian timbal balik sedemikian rupa sehingga 

tidak mungkin untuk membayangkan rekonsiliasi Kristen-

Yahudi pada masa selanjutnya, dengan persaudaraan dan aliansi 

timbal balik. Meski demikian, Injil sendiri telah mencatat peran 

eksklusif Yahudi dalam tuntutan penyaliban Kristus, selain fakta 

bahwa pemerintah Romawi telah menentangnya (Yohanes, 19: 

4-7). Kekristenan secara konsisten, dan secara tepat, 

menyalahkan orang-orang Yahudi yang menuntut penyaliban 

itu. Itu menciptakan permusuhan abadi di antara dua umat  

beragama. 

 

Namun, ayat Al-Qur’an yang luar biasa ini sebenarnya 

mengantisipasi saat dunia akan menyaksikan rekonsiliasi yang 

aneh dan misterius antara dua musuh ini, dan munculnya aliansi 

Yahudi-Kristen. Hanya di zaman modern, saat  Yakjuj dan 

Makjuj menyerang Euro-Kristen dan Euro-Yahudi dan telah 

mengubah Eropa menjadi warga  sekuler yang pada 

dasarnya tidak bertuhan di mana pria dapat menikahi pria secara 

sah, dunia telah menyaksikan terwujudnya nubuwah ilahi yang 

menakjubkan dalam ayat Al-Qur’an ini (lihat Bab mengenai 

Yakjuj dan Makjuj dalam artikel  ‘Yerusalem dalam Al-Qur’an’). 

 

Seharusnya jelas bahwa Al-Qur’an melarang Muslim untuk 

memelihara hubungan persahabatan hanya dengan aliansi 

Kristen-Yahudi dan tidak dengan semua orang Kristen maupun 

semua Yahudi. Al-Qur’an juga telah memperingatkan orang-

orang Muslim yang menjalin hubungan persahabatan dengan 

aliansi Yahudi-Kristen yang sekarang menguasai dunia, bahwa 

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakui mereka sebagai anggota 

aliansi itu (bukan komunitas Muslim), dan dengan demikian 

mempertimbangkan perilaku seperti itu merupakan 

pengkhianatan utama terhadap Islam. 


 

Euro-Kristen dan Euro-Yahudi hari ini telah bergabung 

dalam aliansi jahat untuk menaklukkan dan menguasai dunia 

dari London, Washington dan Yerusalem sembari berperang 

melawan Islam. Mereka melakukannya untuk memberi  

kekuasaan atas dunia kepada Negara Euro-Yahudi Israel palsu - 

sebuah Negara yang mereka ciptakan sendiri, dan lalu  

membujuk orang-orang Yahudi oriental (yaitu, Yahudi Israel) 

untuk menerimanya. Aliansi itu juga mengobarkan perang 

terhadap cara hidup religius dan dalam prosesnya mengubah 

hampir seluruh dunia menjadi suka bermaksiat dan sekuler. 

 

❖ Terjemahan Lain dari Ayat Ini 

 

Dalam terjemahan Al-Qur’an yang banyak dibaca, Abdullah 

Yusuf Ali menerjemahkan ayat 51 Surat Al-Maidah sebagai 

berikut: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan jadikan 

orang Yahudi dan Kristen sebagai teman dan 

pelindungmu: mereka hanyalah teman dan pelindung 

satu sama lain. Dan barangsiapa yang berpaling kepada 

mereka (untuk persahabatan) maka dia yaitu  salah satu 

dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi 

petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” 

 

Muhammad Asad, seorang Muslim Eropa penerjemah Al-

Qur’an yang sangat dihormati dan seorang ulama Islam 

terkemuka, menerjemahkan ayat ini  sebagai berikut: 

 

“Wahai orang-orang yang telah mencapai keimanan! 

Jangan jadikan orang Yahudi dan Kristen sebagai sekutu 

bagimu: mereka hanyalah sekutu bagi satu sama lain - 

dan barangsiapa yang bersekutu dengan mereka, 

 

sesungguhnya, menjadi salah satu dari mereka; 

sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada 

orang-orang yang zalim.” 

 

Muhammad Marmaduke Pickthall, Muslim Inggris 

penerjemah Al-Qur’an, tidak berbeda dalam terjemahannya: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan jadikan 

orang Yahudi dan Kristen sebagai teman. Mereka 

berteman satu sama lain. Dia di antara kamu yang 

menjadikannya sebagai teman yaitu  (salah satu) dari 

mereka. Sesungguhnya! Allah tidak memberi petunjuk 

kepada orang-orang yang berbuat salah.” 

 

M. Shakir, seorang Muslim Pakistan, menerjemahkan ayat 

ini  dengan cara yang sama: 

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan jadikan 

orang Yahudi dan Kristen sebagai teman; mereka yaitu  

teman bagi satu sama lain; dan barangsiapa di antara 

kamu yang menjadikannya sebagai teman, maka 

sesungguhnya dia yaitu  salah satu dari mereka; 

sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada 

orang-orang yang zalim.” 

 

T. B. Irving, Muslim Amerika penerjemah Al-Qur’an, 

memiliki terjemahan yang serupa: 

 

“Kamu yang beriman, jangan menerima orang Yahudi 

atau Kristen sebagai penyokong; sebagian dari mereka 

bertindak sebagai penyokong bagi satu sama lain. 

Barangsiapa yang berteman dengan mereka maka dia 

menjadi salah satu dari mereka. Tuhan tidak 

 

membimbing orang-orang yang melakukan kesalahan 

seperti itu.”  

 

❖ IMPLIKASI DARI TERJEMAHAN SEMACAM ITU 

 

Jika kita menerima salah satu terjemahan ayat di atas yaitu  

benar, kontradiksi berat dengan Al-Qur’an dan teladan Nabi 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) akan muncul. 

 

Pertimbangkan hal-hal berikut ini: 

 

▪ Al-Qur'an secara khusus mengizinkan pernikahan seorang 

pria Muslim dengan seorang wanita Kristen atau Yahudi:  

 

“Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. 

Makanan (sembelihan) Ahli Kitab (yakni umat Kristen dan 

Yahudi yang memiliki kitab suci yang diwahyukan) itu 

halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan 

(dihalalkan bagimu menikahi) wanita -wanita  yang 

menjaga kehormatan di antara wanita -wanita  yang 

beriman dan wanita -wanita  yang menjaga 

kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab 

sebelum kamu, apabila kamu membayar mas kawin mereka 

untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan 

bukan untuk menjadikan wanita  piaraan. Barangsiapa 

kafir sesudah  beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, 

dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” 

 (Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 5) 

 

Jika kita menerima terjemahan ayat di atas yaitu  benar, 

seorang pria Muslim harus memberi tahu istrinya yang Kristen 

dan Yahudi bahwa meskipun dia bisa menjadi istrinya, 

‘persahabatan’ di antara mereka sangat dilarang. 

 

▪ Al-Qur’an juga mengizinkan Muslim untuk makan 

makanan Kristen dan Yahudi (asalkan makanan ini  

diHalalkan bagi Kristen dan Yahudi) dan membalas dengan 

mengizinkan mereka untuk makan makanan Muslim (Al-

Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 5). Seorang Muslim yang 

mengundang tetangganya yang beragama Kristen untuk 

makan harus mengaku kepadanya, dengan rasa malu yang 

cukup, bahwa meskipun Al-Qur’an mengizinkannya untuk 

berbagi roti dengan tetangganya yang beragama Kristen 

(yaitu, berbagi makanan dengannya), Al-Qur’an melarang 

keras persahabatan diantara mereka. 

 

▪ Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menasihati 

para pengikut terlemahnya, yang dianiaya dengan kejam 

oleh orang-orang Arab pagan, untuk melarikan diri ke 

Abyssinia Kristen kulit hitam dan mencari keamanan dan 

perlindungan di sana. Mereka melakukannya, dan Raja 

Kristen yang adil menyambut dan melindungi mereka. 

Bertahun-tahun lalu  saat  Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam) mendapat kabar tentang kematian Raja Kristen itu, 

dia benar-benar mendirikan shalat jenazah untuknya dari 

kota Madinah yang jauh. Tingkah laku seperti itu akan 

sangat tidak konsisten dengan Al-Qur’an jika terjemahan 

ini  diterima sebagai benar.  

 

▪ Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) membangun 

aliansi politik dan konstitusional dengan orang-orang 

Yahudi di Madinah sehingga menjadikan kota itu - Negara 

Madinah; namun, terjemahan ayat Al-Qur’an di atas 

melarang aliansi semacam itu. 

 

▪ Akhirnya, Al-Qur’an secara spesifik menyatakan bahwa 

tidak ada larangan bagi umat Islam yang mencegah mereka 

untuk mempertahankan hubungan persahabatan dengan 


 

setiap orang (Hindu, Kristen, Budha, Yahudi, kulit putih, 

hitam, coklat atau kuning) yang tidak berperang melawan 

Islam dan tidak menindas Muslim dengan mengusir mereka 

dari rumah dan wilayah tempat tinggal mereka: 

 

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku 

adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu 

dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari 

kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai 

orang-orang yang berlaku adil.” 

(Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah, 60: 8) 

 

Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, ayat Al-

Qur’an (5: 51) tidak melarang Muslim untuk menjaga hubungan 

persahabatan dengan semua orang Kristen dan Yahudi. 

Sebaliknya ayat itu melarang persahabatan hanya dengan orang-

orang Kristen dan Yahudi yang masuk ke dalam aliansi Kristen-

Yahudi (Zionis). Itu terjadi sebab  mereka yaitu  termasuk 

golongan pemerintah dunia Yakjuj dan Makjuj yang akan 

berperang melawan Islam dan mengusir Muslim dari rumah 

mereka dan dari wilayah di mana mereka tinggal.  

 

Al-Qur’an cukup eksplisit dalam memperkirakan saat-saat 

saat  orang Yahudi akan menjadi yang paling memusuhi umat 

Islam dari semua kaum. Pada saat itu, firman dalam Al-Qur’an, 

akan ada orang-orang Kristen yang akan menjadi sahabatmu: 

 

Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras 

permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman 

(pada Al-Qur’an ini), yaitu orang-orang Yahudi dan 

orang-orang musyrik (yaitu orang-orang yang 

menyembah berhala). Dan pasti akan kamu dapati orang 

yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang 

yang beriman (pada Al-Qur’an ini) ialah orang-orang 


 

yang berkata, “Sesungguhnya kami yaitu  orang 

Kristen.”: yang demikian itu sebab  di antara mereka 

terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) sebab  

mereka tidak menyombongkan diri.” 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 82) 

 

Hal di atas bukan merupakan dakwaan bagi semua orang 

Yahudi. Melainkan hanya berlaku untuk orang-orang Yahudi 

yang berperang melawan Islam dan yang mengusir Muslim dari 

rumah dan wilayah mereka (seperti yang terjadi di Tanah Suci). 

Ini juga memberi umat Islam sarana di mana mereka dapat 

mengenali orang-orang yang diakui Al-Qur’an, pada zaman itu, 

sebagai umat Kristen. Mereka akan menjadi orang-orang yang 

akan menunjukkan kasih sayang yang paling dekat kepada 

Muslim pada saat kaum Yahudi dan penyembah berhala 

menunjukkan kebencian yang besar terhadap Islam dan Muslim.  

 

Terjemahan (5: 51) berdasarkan kesalahpahaman Al-Qur'an 

pasti akan menghalangi perkembangan hubungan persaudaraan 

antara Muslim dan Kristen dan Yahudi ini  (dan dengan 

implikasi Hindu dan Budha) di sisi lain, yang tidak berpartisipasi 

dalam perang melawan Islam saat ini. 

 

 

 

❖ IKAN HIU DAN IKAN SARDEN 

 

Negarawan Amerika Latin, Juan Domingo Alvarado, 

pernah menyatakan bahwa dunia saat ini terdiri dari ‘ikan hiu’ 

dan ‘ikan sarden’. Kaum Kristen Morvan, yang semuanya 

berasal dari Afrika, yaitu  ‘ikan sarden’. Begitu pula kami umat 

Islam yang naik ke atas bukit untuk bertemu dengan mereka. 

Dengan demikian kami bersusah payah untuk berpisah dari 

mereka tanpa permusuhan. Kami berharap dapat menjangkau 

 

mereka untuk bersatu dalam menentang perang ini, tidak hanya 

terhadap Islam tetapi juga terhadap segala hal yang sakral. Kami 

berharap dapat bergandengan tangan dan hati dalam perjuangan 

bersama melawan ‘ikan hiu’ dunia yang sekarang melancarkan 

perang bahkan dengan bom yang meledak di tempat sampah dan 

tempat pembuangan sampah di pusat kota Port of Spain. 

 

Aliansi ‘hiu’ telah menginvasi dan menduduki Afghanistan 

dan Irak, dan mengancam akan menyerang Iran pula. Ada 

banyak orang di dunia saat ini, orang Kristen, Hindu, Yahudi 

dan lainnya, yang menyadari kezaliman besar dalam perang 

terhadap Islam dan Muslim, yang menentang perang yang tidak 

adil itu, dan oleh sebab  itu akan menyambut esai penjelasan 

singkat ini.  

 

Ada juga Muslim, biasanya dalam pemerintahan, yang 

menuai hasil dari persahabatan mereka dengan aliansi ‘hiu’ yang 

menguasai dunia dari London, Washington, dan Yerusalem. 

Mereka tidak ingin memahami topik ini sebab  rasa malu 

mereka yang luar biasa sebab Al-Qur'an dengan jelas 

mengungkap pengkhianatan mereka kepada Allah Subhanahu wa 

Ta’ala, dan telah menyatakan mereka sebagai bagian dari aliansi 

Yahudi-Kristen dan bukan sebagai bagian dari umat Muslim. 

*** 

 

apankah orang-orang Afrika ‘Afro-Saxon’ di Karibia 

belajar menghormati Malcolm X dan dengan berani 

mengikuti jejaknya dalam menanggapi penindasan di 

dunia saat ini? Kapankah mereka belajar ‘hidup’ untuk Allah 

Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang dia lakukan? Kapan mereka 

akan belajar ‘mati’ untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti yang 

dia lakukan? 

 

Malcolm ‘hidup’ untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Malcolm 

‘mati’ untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala! Dan saya menulis dengan 

doa semoga melalui kata-kata yang sederhana ini. Islam dapat 

menyentuh jiwa mereka seperti jiwanya tersentuh, dan 

lalu  dia menjadi seorang pangeran di antara orang-orang 

yang beriman. 

 

Al-Qur’an menyatakan: “Jangan katakan pada mereka 

yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka sudah mati. 

Sebaliknya mereka hidup, tetapi kamu tidak dapat melihat 

mereka”. Malcolm X dibunuh pada 21 Februari 1965. Musuh-

musuhnya mengira bahwa mereka akhirnya menebang pohon 

itu. Tetapi yang mengejutkan dan kesedihan bagi mereka, pohon 

itu terus tumbuh. Itu menjelaskan mengapa sebagian dari kita 

masih hidup sampai sekarang. Satu Malcolm seperti itu sudah 

cukup bagi majikan budak dunia! Tetapi jika Malcolm masih 

hidup hari ini, dapat dipastikan bahwa dia akan dinyatakan 


sebagai “teroris” dan “resiko keamanan yang besar”. Masuknya 

dia ke sebagian besar negara bagian Karibia ‘Afro-Saxon’ pasti 

akan dilarang.  

 

Saya melakukan kunjungan kehormatan kepada Gubernur 

Jenderal Kepulauan Karibia di Negara Grenada beberapa tahun 

yang lalu. Menanggapi pertanyaannya mengenai tujuan 

kunjungan saya ke pulau itu, saya menyebutkan ibu Malcolm X, 

Louise, sebagai penduduk Grenada (dia tidak mengetahui hal 

itu), dan bahwa saya merasa terhormat untuk melakukan kontak 

dengan keluarganya di Grenada selama kunjungan singkat saya. 

 

Gubernur Jenderal menanggapi dengan cukup terus terang 

mengenai pendapatnya bahwa Malcolm yaitu  “penjahat”. Saya 

tidak heran. Ini yaitu  sifat dari tatanan dunia-Eropa modern 

yang menjelekkan dan berusaha untuk memberangus dan 

mencekik semua orang yang menolak dominasi dan 

pemerintahan imperiumnya di dunia. Jauh lebih rumit untuk 

memahami kecaman pahit Louis Farrakhan terhadap Malcolm 

sebagai “pengkhianat bagi kaumnya”, dan “kami telah 

menghadapinya dengan cara kami menangani pengkhianat.” 

 

Saya mencintai Malcolm, seorang Muslim. Dia yaitu  

Pangeran di antara orang-orang beriman. Dia menangkap esensi 

Islam dengan tanggapan anti-sistemiknya terhadap penindasan 

tatanan dunia kulit putih. Dia telah menjadi pahlawan saya sejak 

saya masih remaja, dan dia mengancam akan membawa AS ke 

Majelis Umum PBB untuk mempertanggungjawabkan kasus 

genosida.  

 

Malcolm X, sang guru, mengajari saya perbedaan yang 

sangat penting antara ‘budak rumahan’ dengan ‘budak 

lapangan’. Keduanya tanpa kebebasan ‘fisik’, dan sebab nya 

dalam perbudakan ‘fisik’. Tapi sementara ‘budak lapangan’ 

 

membenci penindasan dan perbudakan itu, ‘budak rumahan’ 

tunduk padanya, diidentifikasi bersama dengan tuan budak, dan 

menerima perbudakannya. Dia begitu dicuci otak dan ‘mata 

hatinya’ buta sehingga dia menjadi pelengkap dari tuan budak 

(Al-Qur’an Surat Al-Maidah, 5: 51). Dia selalu ada untuk 

melayani tuan budak, apapun yang diminta, dan kapanpun tuan 

budak membutuhkannya. saat  tuannya sakit, ‘budak 

rumahan’ akan merasakan sakit dan penderitaan tuannya dan 

akan menyatakan kepada tuannya: “Kita sakit!” ‘Budak 

rumahan’ yaitu  budak ‘internal’ dan ‘eksternal’, yaitu budak 

secara fisik dan psikologis. Ia menjadi bagian dari sistem 

perbudakan (orang yang buta ‘mata hatinya’ selalu berakhir 

sebagai budak). Tuan budak menghadiahi ‘budak rumahan’ atas 

pelayanannya yang setia. 

 

Tetapi tidak demikian halnya dengan ‘budak lapangan’ 

yang mungkin secara ‘eksternal’ yaitu  budak tetapi ‘secara 

internal’ yaitu  orang merdeka. sebab  kebebasan ‘internal’ itu, 

‘budak lapangan’ memiliki kapasitas untuk ‘melihat’, dan 

dengan demikian menyadari penindasan dan kejahatan, dan dia 

membencinya dengan segenap hati dan jiwanya. ‘Budak 

lapangan’ tidak akan pernah tunduk pada penindasan, melainkan 

ingin mendapatkan kembali kebebasannya dan menghancurkan 

perbudakan. Maka ‘budak lapangan’ menanggapi penindasan 

dan perbudakan dengan cara yang anti-sistemik. Tuan budak 

yang merupakan penindas yaitu  ‘musuhnya’. saat  rumah 

majikan budak terbakar, ‘budak lapangan’ akan berdoa kepada 

Tuhan agar mengirimkan angin kencang yang akan “membakar 

rumah ini ”. Tuan budak membenci ‘budak lapangan’ dan 

membuatnya menerima balasan atas pembangkangannya. 

 

Para majikan budak saat ini yang sekarang berusaha untuk 

mewujudkan perbudakan terbesar yang pernah ada (dan itu 

yaitu  tanda utama Hari Akhir yang berhubungan dengan Dajjal 


 

Al-Masih palsu), menjelekkan ‘budak lapangan’ sebagai teroris, 

dan mencari undang-undang anti-terorisme yang akan 

memberangus dan mencekik mereka. Tetapi mereka harus tahu 

bahwa darah Malcolm menggetarkan hati jutaan orang di 

seluruh dunia yang ingin mengikuti jejak keberaniannya. 

 

Seluruh Amerika Selatan, dari Venezuela hingga Argentina, 

saat ini menerapkan politik ‘budak lapangan’. Hugo Chavez dari 

Venezuela bukanlah penyimpangan. Sebaliknya, ia yaitu  

perwujudan dari kebencian yang dirasakan oleh massa kulit 

berwarna Amerika Selatan dalam menanggapi kezaliman yang 

telah lama mereka alami dari para penindas ‘kulit putih’. Di 

antara kezaliman ini  yaitu  pembunuhan, berkali-kali, 

terhadap para pemimpin Amerika Selatan pemberani yang 

berusaha melindungi rakyat mereka dari penindasan ‘kulit 

putih’. Omar Torrijos dari Panama, Jaime Roldos dari Ekuador, 

Salvador Allende dari Chili semuanya terbunuh melalui aksi 

terorisme yang direncanakan dan dieksekusi oleh mereka yang 

sekarang secara sesat dan menipu menyatakan diri berupaya 

memerangi terorisme. (Jika kami ingin memperluas cakupan 

esai kami, kami harus menyertakan Zia Ul Haq dari Pakistan dan 

Raja Faisal dari Arab Saudi di antara para pemimpin yang juga 

dibunuh. Dan lalu  ada intelektual Palestina, Prof.Dr.Ismail 

Faruqi, yang menjadi duri bagi pihak mereka. Dia juga dibunuh. 

Dan daftar ini pun terus bertambah.) 

 

Di sisi lain, hampir seluruh dunia Muslim saat ini diatur oleh 

pemerintah ‘budak rumahan’. Dan majikan budak ‘kulit putih’ 

yang secara licik menggambarkan dirinya sedang memerangi 

terorisme, dirinya selalu siap untuk melakukan teror untuk 

memastikan kelangsungan hidup bagi ‘budak rumahan’ yang 

memerintah Muslim demi kepentingannya.  

 

18 

 

Meskipun kita mengingat Malcolm X empat puluh tahun 

lalu , kita juga pun mengingat dan menghormati istri 

tercintanya, Dr. Betty Shabazz. Saya bertemu dengannya dua 

kali. Kali kedua yaitu saat  dia terbaring di peti mati di samping 

makam Malcolm, dan enam putrinya menghormati saya dengan 

meminta saya untuk membaca Al-Qur’an dan berdoa di atas 

jenazahnya sebelum diturunkan ke dalam makam bersama 

suaminya.  

 

Saya ingat diri saya sendiri gemetar seperti daun saat  saya 

berdiri di samping makam Malcolm untuk pertama kalinya, dan 

saat  saya melihat istri tercintanya bergabung kembali 

dengannya sesudah  melewati cobaan sulit dalam hidup. 

 

Karakteristik dominan dalam hidupnya, sesudah  kematian 

Malcolm, yaitu  kesetiaannya yang kuat dan pengabdiannya 

yang tak tergoyahkan pada kenangan bersama suaminya dan 

misinya dalam hidup. Dan ini membawa saya ke pertemuan 

pertama saya dengannya yang merupakan pokok bahasan esai 

ini. 

 

Saat itu tanggal 22 September 1996, hanya delapan bulan 

sebelum kematiannya, dan saya diantar ke belakang sebuah aula 

besar di tengah kota Manhattan untuk diperkenalkan kepadanya. 

Dia tidak tersenyum untuk menyambut saya. Ada sesuatu yang 

jauh dan kesepian dalam dirinya, seolah-olah dia berasal dari 

tempat yang jauh dan di lain waktu - bukan tipe wanita yang 

akan membuat nyaman di hadapannya. Tetapi saya hampir bisa 

merasakan kekuatan dan keteguhannya yang tenang saat dia 

menunggu dengan kesabaran yang tak terbatas untuk waktu 

berikutnya saat  dia akan pulang kepada kekasihnya. Dia 

duduk di bagian belakang aula, dia dengan tenang menjelaskan 

kepada saya, agar lebih mampu menilai empat pembicara yang 

dijadwalkan untuk berbicara malam itu mengenai topik yang 

19 

 

menantang ‘sesudah  Malcolm X - Masa Depan Kepemimpinan 

Islam di Amerika Utara’. Dia telah mendengar tentang saya, 

tentang asal Trinidad saya, dan referensi saya di New York dan 

di tempat lain tentang suaminya, dan dia ingin sekali 

mendengarkan malam itu apa yang saya katakan tentang topik 

ini . 

 

Dalam pidato ini , saya mencurahkan perhatian untuk 

menjelaskan keimanan yang teguh kepada Allah Subhanahu wa 

Ta’ala yang merupakan hakikat manusia. Dia hidup untuk Allah 

Subhanahu wa Ta’ala, dan dia mati untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Dan itulah jenis kepemimpinan Islam yang dibutuhkan Muslim 

Amerika Utara. Namun saya pun mengambil waktu untuk 

mengenang integritasnya yang tiada tara. Komitmennya yang 

penuh semangat terhadap kebenaran dan keadilan sedemikian 

rupa sehingga dia benar-benar membenci oportunisme dan 

kelicikan. Dan nilai-nilai dalam hidupnya merupakan inti ajaran 

Islam. 

 

Saya lalu  mengamati bahwa Malcolm, mungkin, tidak 

tahu tentang larangan riba (menerima atau memberi  

pinjaman uang dengan bunga) dalam Islam. Bagaimana lagi kita 

bisa menjelaskan komentar Alex Haley dalam artikel  

‘Autobiografi' bahwa Malcolm mengambil uang darinya untuk 

membayar uang muka sebuah rumah di Elmhurst, New York, 

sesudah  rumahnya dibom oleh musuh Islam? Dan itu yaitu  

komentar yang membuat saya kesulitan. 

 

sesudah  keempat pembicara memberi  presentasi mereka, 

Betty maju, dengan sangat lambat dan sengaja, ke podium 

depan, untuk berpidato di pertemuan ini . Dia mulai dengan 

mengutip kata-kata saya: “Imam berkata bahwa suamiku hidup 

untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam berkata bahwa suamiku 

mati untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam itu benar.” Tapi 

20 

 

lalu  dia berbalik menghadap ke arah saya, dan menatap 

mata saya, dan dengan tegas menyatakan, “Tapi Imam, dia tidak 

menandatangani perjanjian itu. Dia meninggal sebelum dia bisa 

melakukan itu. Jadi dia tidak terlibat dalam Riba!” Hanya 

sesudah  dia dengan penuh semangat membela suaminya, dia 

menjadi tenang. Tetapi cara dia memandang saya (jangan 

berani-berani mengkritik suami saya!) sedemikian rupa 

sehingga saya butuh waktu lebih lama untuk tenang. Jarang 

dalam hidup ini, saya pernah menyaksikan pengabdian yang 

begitu penuh semangat pada kenangan dan warisan seorang 

pemimpin. Dan contoh menakjubkan yang dia tinggalkan untuk 

wanita muslimah saat ini. 

 

Dia lalu  memohon kepada para pemimpin Islam agar 

menjadi pria yang berani dan berintegritas, pria yang, seperti 

suaminya, akan menentang penindas dunia. Tetapi dia juga 

berbicara tentang iman, dan tentang pencarian ilmu 

pengetahuan. Malam itu, sesudah  saya meninggalkan aula untuk 

pergi ke janji pertemuan lain, dia menandatangani salinan 

'Autobiografi' untuk saya. Dan inilah yang dia tulis: “Anda 

yaitu  pemimpin bagi pria dan wanita dari segala usia dan 

sepanjang waktu. Semoga kedamaian dan berkah Allah 

selamanya membimbing Anda.” Dan dia menandatangani 

Hajjah B. Shabazz / Mrs. MX. Itu membuat saya meneteskan air 

mata.  

 

Semoga makam mereka nyaman, sejuk dan luas bagi 

mereka, serta dipenuhi dengan cahaya. Dan semoga mereka 

berdua beristirahat dengan tenang bersama di makam itu. 

Aamiin!  

 

ejarah lebih dari sekedar catatan peristiwa. Sejarah tidak 

hanya mencatat perubahan konstan yang terjadi di dunia 

tetapi juga berupaya menafsirkan fenomena perubahan 

itu. Analisis proses sejarah, pergerakan sejarah, dan akhir 

sejarah, muncul dari interpretasi perubahan dunia. Hal ini 

menjawab banyak pertanyaan yang penting. 

 

Apakah perubahan terjadi secara acak, atau adakah pola 

dalam perubahan? Apakah proses sejarah itu akan bertahan 

sampai kekekalan, atau akankah ada Akhir Zaman dan akhir 

sejarah? Tatanan dunia-Eropa yang aneh dan misterius kini 

mengendalikan seluruh dunia dalam cengkeraman besinya. Ia 

telah memperoleh kekuatan yang belum pernah terjadi 

sebelumnya dari revolusi ilmiah dan teknologi yang terus 

berlanjut yang benar-benar mengubah seluruh dunia. Namun 

kekuatannya bertumpu pada fondasi yang pada dasarnya 

sekuler, maksiat dan korup. Ia memiliki kekuatan penipuan yang 

besar sehingga membuat kebohongan tampak sebagai kebenaran 

dan sebaliknya. Ia menceritakan kebohongan yang mengerikan 

sementara tanpa henti dan zalim mengejar tujuan untuk 

menindas semua orang yang menolak otoritas tertingginya. Ia 

mendirikan pemerintahan dunia atas nama demokrasi universal 

namun sebaliknya, justru memaksakan kediktatoran universal 

atas seluruh umat manusia. Ia memproklamasikan doktrin 


 

perdagangan bebas namun justru membangun ekonomi riba 

yang menghancurkan pasar yang adil. Ia merenggut umat 

manusia melalui proses pencurian yang dilegalkan yang 

membuat massa di seluruh dunia terjerumus ke dalam 

kemiskinan dan kemelaratan permanen. Ia meraup jauh lebih 

banyak pendapatan berlumuran darah dalam kapasitasnya 

sebagai pemberi pinjaman uang paling istimewa di dunia 

dibandingkan  yang secara licik dibagikannya dalam bentuk bantuan 

penyelamat muka dan pengampunan utang. Ia arogan secara 

rasial, budaya dan intelektual dan menganggap dirinya tidak 

hanya lebih unggul dari orang non-Eropa tetapi juga menjadi 

‘tanggung jawab orang kulit putih’ untuk ‘membangun 

peradaban’ bangsa manusia lainnya. Hanya jika orang non-

Eropa meniru cara hidup Eropa, mereka akan diakui sebagai 

orang yang beradab. Ini membawa umat manusia kepada 

revolusi feminis dan seksual yang membawa mereka ke dalam 

pergaulan bebas dan penyimpangan seksual sehingga institusi 

keluarga itu sendiri mulai gagal dan menghancurkan diri sendiri. 

Ia membawa aliansi misterius antara orang Kristen dengan 

Yahudi, ini yaitu  sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak 

mungkin. Ia lalu  menggunakan aliansi misterius Euro-

Kristen / Euro-Yahudi untuk membebaskan Tanah Suci, 

membawa orang Yahudi Israel kembali ke Tanah Suci sesudah  

2000 tahun pengasingan yang ditetapkan oleh Tuhan, lalu 

mendirikan Negara Israel di Tanah Suci. 

 

Sama sekali tidak ada dalam sejarah yang dapat 

menjelaskan kemunculan tatanan dunia Eropa yang aneh dan 

misterius itu. Apakah itu merupakan tanda Hari Akhir? Dan 

dapatkah peradaban dan tatanan dunia seperti itu terus 

mendominasi dunia tanpa batas? atau apakah dunia yaitu  

tatanan moral dengan proses historis yang pada akhirnya harus 

berujung dengan kemenangan kebenaran, keadilan, perdamaian, 


 

kebahagiaan, kebenaran, kesucian dan kesederhanaan, 

persaudaraan, kebebasan, dan kesetaraan?  

 

Periode 1955-1956 yaitu  yang paling menarik dari semua 

kehidupan mahasiswa kami di Institut Studi Islam Aleemiyah di 

Karachi, Pakistan. Rektor Institut sekaligus guru saya yang 

terpelajar dengan kenangan yang diberkahi, Maulana Dr. 

Muhammad Fazlur Rahman Ansari, berhasil membujuk 

rekannya yang terhormat, filsuf sejarah, Dr. Burhan Ahmad 

Faruqi, untuk meninggalkan kota Lahore dan bergabung dengan 

staf dosen Institut di Karachi. Dr. Faruqi dan Dr.Ansari yaitu  

kolega di Universitas Muslim Aligarh pada tahun 1930-an di 

mana mereka berdua belajar filsafat di bawah bimbingan filsuf 

Muslim terkemuka, Profesor Dr. Syed Zafarul Hassan. Faruqi, 

menulis disertasi doktoralnya di bidang Metafisika Islam dengan 

topik, ‘Konsepsi Tauhid Seorang Mujjadid’. Dia dengan berani, 

dalam artikel  itu, melakukan evaluasi komparatif kritis teori 

Muhyiddin Ibnu ‘Arabi tentang ‘wahdah al-wujud’ (yaitu, 

bahwa semua keberadaan yaitu  satu kesatuan yang nyata) 

dengan teori saingan Syaikh Ahmad Sirhindi tentang ‘wahdah 

ash-shuhud’ ( yaitu, bahwa semua eksistensi hanya tampak 

sebagai satu kesatuan). Lebih dari setengah abad telah berlalu 

sejak beliau menulis artikel  itu dan tetap tak tertandingi sebagai 

tengara dalam metafisika Islam modern. Sedangkan disertasi 

doktor Dr. Ansari ditulis dengan topik ‘Landasan dan Struktur 

warga  Muslim Berdasarkan Al-Qur’an’ (dalam dua 

volume) dan artikel  itu tetap tak tertandingi sebagai tengara ilmu 

pengetahuan modern dalam filsafat moral Islam. (Jika berkenan, 

saya merekomendasikan kedua artikel  ini kepada para pembaca 

yang budiman.) 

 

Kedua kekuatan intelektual ini, Dr. Faruqi dan Dr. Ansari, 

berinteraksi satu sama lain di Institut dengan bunga cahaya 

terbang ke segala arah. Kami, para mahasiswa, sangat 

24 

 

terstimulasi oleh interaksi mereka. Dr. Faruqi mengajari kami 

filosofi sejarah Islam selama dua tahun yang tak terlupakan 

sebelum dia kembali ke Lahore. Pandangan jauh Dr. Ansari-lah 

yang membukakan pintu-pintu bagi kami menuju konsepsi 

Islam tentang filsafat sejarah. Studi semacam itu secara 

mencolok tidak ada di Darul Ulum hari ini di mana pembelajaran 

hafalan diterapkan setiap hari. 

 

Dengan filsafat sejarah itulah kini kami mencoba 

menjelaskan pandangan Islam tentang akhir sejarah dan 

mengenali ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ dalam skema segala hal 

yang terjadi. Mari kita mulai dengan menjelaskan bahwa Islam 

memahami ‘akhir sejarah’ dan ‘akhir dunia’ sebagai dua hal 

yang sangat berbeda. 

 

‘Akhir dunia’ akan terjadi dengan bumi, dan langit di atas, 

berubah menjadi sesuatu yang berbeda secara ruang dan waktu. 

Umat manusia lalu  akan dibangkitkan ke alam baru untuk 

menghadapi penghakiman.  

 

Sementara itu, ‘akhir sejarah’ akan terjadi beberapa saat 

sebelum ‘akhir dunia’, dan saat  terjadi, itu akan menutup pintu 

pilihan bebas di mana manusia dapat menerima kebenaran yang 

diwahyukan secara ilahi dan diberkahi hadiah untuk mengambil 

pilihan ini . Islam telah menyediakan banyak informasi 

yang dikenal sebagai ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ mengenai 

peristiwa yang akan mencapai puncaknya dengan ‘akhir 

sejarah’. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentu saja, yang 

mengetahui kapan alam dunia ini akan berakhir. 

 

Al-Qur’an telah mengungkapkan bahwa tanda tertinggi dari 

akhir sejarah yaitu  kembalinya Al-Masih sejati, Nabi ‘Isa 

(‘alaihi salam), putra perawan Maryam. Dan Nabi Muhammad 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) selanjutnya menginformasikan 

25 

 

bahwa kembalinya Al-Masih akan menandai kemenangan akhir 

kebenaran atas kebatilan, dan keadilan atas penindasan dan 

tirani. Perang Eropa melawan Islam yang dimulai dengan perang 

salib Eropa yang biadab, dan yang menyaksikan fase buruknya 

saat ini dengan pendudukan dan penindasan brutal dan berdarah 

Barat di Afghanistan dan Irak, lalu  akan berakhir dengan 

kehancuran pihak penindas yang ditetapkan oleh Tuhan. 

Peradaban Barat yang pada dasarnya sekuler dan suka 

bermaksiat akan menghancurkan dirinya sendiri melalui wabah 

penyakit. Tentara Muslim yang tak terhentikan yang akan 

muncul dari Khurasan (yaitu, Afghanistan dan wilayah di 

sekitarnya), pada akhirnya akan menyapu setiap rintangan yang 

menghalangi jalannya saat membebaskan semua wilayah yang 

diduduki hingga ke Yerusalem. Dengan demikian sejarah akan 

berakhir dengan kemenangan bagi Islam. 

 

Para pembaca non-Muslim sebaiknya berhenti sejenak 

untuk bertanya pada dirinya sendiri. Apa akibat baginya jika 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) benar-benar jujur 

saat  dia menyatakan bahwa dia yaitu  seorang Nabi, seperti 

halnya Ibrahim, Musa, dan ‘Isa (‘alaihim salam), dan bahwa Al-

Qur’an yang dia sampaikan kepada umat manusia memang 

benar dan merupakan firman otentik dari Tuhan Yang Maha 

Esa? 

 

Mari kita perhatikan pada saat penulisan esai ini bahwa 

perlawanan Islam bersenjata terhadap penindas di Afghanistan 

dan Irak tidak hanya muncul tetapi sudah menunjukkan 

kapasitas untuk tetap berada di jalur selama 20 atau 30 tahun ke 

depan sampai kemenangan tercapai. Saya ragu apakah perang 

terakhir dari semua perang ini akan memakan waktu lebih lama 

dari itu untuk berakhir. 


 

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan akhir 

dari sejarah, dan ‘Firman’ Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah 

berubah: 

 

“Bagi mereka (orang-orang yang beriman kepada Allah 

Subhanahu wa Ta’ala, seperti, menentang perang terhadap 

Islam) Berita Gembira di dalam kehidupan di dunia 

(yakni, kemenangan Islam) dan di akhirat (balasan 

surga). Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. 

Demikian itulah kemenangan yang agung.” 

 

(Al-Qur’an Surat Yunus, 10: 64) 

 

Sebelum kita beralih ke esai-esai lain dalam artikel  ini dan 

‘Tanda-tanda Hari Akhir’ dalam Islam, kami mencoba untuk 

membuat tinjauan komparatif yang sangat singkat tentang 

berbagai konsepsi proses sejarah, pergerakan sejarah, dan akhir 

dari sejarah. Sejarah dalam Hindu, Yahudi, Kristen, dan 

akhirnya, dalam pandangan peradaban Barat modern. 

Pandangan Hindu yaitu  bahwa pergerakan sejarah terus 

berputar. Pandangan Yahudi bersifat linier dan regresif, begitu 

pula pandangan Kristen. Peradaban Barat memandang 

pergerakan sejarah sebagai gerakan linier dan progresif, 

sedangkan pandangan Islam yaitu  zig-zag sebab  dikondisikan 

oleh kemenangan dan kegagalan dalam perjuangan moral 

dilakukan oleh agen moral yang pada dasarnya bebas.  

 

❖ PANDANGAN HINDU TENTANG PERGERAKAN 

DAN AKHIR SEJARAH 

 

Agama Hindu menyatakan bahwa pergerakan sejarah yaitu  

siklus, yaitu berputar-putar dan dengan demikian terus berulang. 

saat  satu siklus selesai, siklus lainnya dimulai. Dalam 

pandangan banyak cendekiawan Hindu saat ini, pergerakan 

27 

 

sejarah sekarang berada pada titik waktu saat  satu siklus akan 

segera berakhir dan siklus lainnya akan segera dimulai. Jadi bagi 

orang Hindu, dalam arti tertentu, ini yaitu  zaman akhir, yaitu 

akhir dari siklus sejarah saat ini. 

 

Sementara agama Hindu siap untuk mengakui kebenaran 

yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk banyak sungai 

yang semuanya mengalir ke laut yang sama, kenyataannya 

yaitu  bahwa agama Hindu juga dengan tegas bersikeras bahwa 

saat  sungai-sungai itu semua mencapai laut umum ini , 

konsep Hindu tentang kebenaranlah yang pasti. untuk menang. 

Implikasi logisnya yaitu  bahwa suatu siklus tidak dapat 

berakhir tanpa validasi konsep Hindu tentang kebenaran.  

 

Apa konsep kebenaran dalam agama Hindu? Dan apa 

implikasinya bagi umat manusia lainnya jika konsepsi 

kebenaran seperti itu ingin divalidasi? Untuk keperluan esai ini, 

kami perlu melihat tidak lebih dari satu atau dua implikasi 

ini . 

 

❖ HINDUISME DAN TANAH SUCI BHARAT 

 

Agama Hindu dibangun di atas konsep tanah suci, yaitu Bharat, 

yang tidak hanya mencakup India saat ini, tetapi juga sebagian 

besar wilayah regional sekitarnya. Agama Hindu berpegang 

teguh pada nostalgia pada zaman keemasan di masa lalu yang 

jauh di mana para dewa dan dewi Hindu hidup di bumi dan 

kebenaran Hindu mendominasi dunia yang saat itu dikenal di 

tanah suci itu. Umat Hindu percaya bahwa agama Hindu 

memiliki hak agama eksklusif untuk mendominasi di tanah suci 

Bharat itu, dan oleh sebab  itu umat Hindu memiliki kewajiban 

agama untuk memastikan bahwa konsep Hindu tentang 

kebenaran berlaku di tanah suci ini .  


 

Delapan abad pemerintahan Muslim atas tanah suci itu, 

diikuti dengan pembagian tanah suci untuk menampung 

penciptaan Negara Muslim Pakistan, Muslim Bangladesh, 

Muslim Maladewa dan Negara Budha Sri Lanka, melukai 

integritas tanah suci itu dan, implikasinya, pada kesadaran 

agama Hindu. Hal ini pun mengatur panggung bagi perjuangan 

untuk memulihkan integritas 'Bharat' suci. Sejarah akan 

berakhir, dalam pandangan agama Hindu, dengan validasi 

konsep Hindu tentang kebenaran yang akan mengharuskan 

Muslim Pakistan dan Bangladesh dan wilayah sekitarnya 

lainnya yang dulunya ‘Bharat’ untuk diserap kembali dalam 

tanah suci, dan yang suci tidak terbagi. Tanah 'Bharat' di bawah 

kekuasaan politik, ekonomi dan agama Hindu Brahmana 

direstorasi. 

 

Konsep kebenaran Hindu Brahmana dengan tegas 

didasarkan pada keyakinan bahwa umat manusia diciptakan 

secara tidak setara. Brahmana Hindu dilahirkan dalam kasta 

tertinggi dan dengan demikian merupakan elit umat manusia. 

Manusia non-Brahmana lainnya lebih rendah darinya. 

Keyakinan pada superioritas dan inferioritas yang melekat pada 

manusia secara alami cocok untuk pembentukan sistem 

dominasi. Implikasinya, sejauh menyangkut proses sejarah, 

yaitu bahwa sejarah tidak dapat berakhir tanpa dominasi politik 

‘Bharat’ yang diperintah oleh Brahman atas semua yang lain 

dalam lingkup pengaruhnya. Kehidupan politik dan ekonomi 

Asia Selatan bergerak tepat ke arah itu. 

 

Ada implikasi politik yang muncul dari konsep Hindu 

tentang akhir sejarah ini. Pertama yaitu bahwa pendekatan akhir 

dari siklus ini akan dengan sendirinya memunculkan munculnya 

nasionalisme religius Hindu yang akan berdampak buruk pada 

hubungan politik dan ekonomi dengan non-Hindu (khususnya 

Muslim). Hal ini sudah terjadi. 

29 

 

 

Kedua, hal ini menjadi tak terelakkan bahwa orang-orang 

Hindu dengan keyakinan pada konsep Hindu tentang akhir 

sejarah akan membuat tujuan yang sama dengan mereka yang 

kini sedang mengobarkan perang terhadap Islam di seluruh 

dunia. Mereka melakukannya sebab  menganggap Islam sebagai 

penghalang utama yang menghalangi agama Hindu untuk 

merealisasikan takdir sejarahnya. Mereka akan melakukannya 

untuk mewujudkan akhir sejarah yang akan memvalidasi agama 

Hindu dengan cara merestorasi integritas dan kesatuan tak 

terpecah tanah air suci Hindu ‘Maa Bharat’ (Ibu India). Justru 

sebab  alasan inilah India kini, sesudah  AS, menjadi sekutu 

paling strategis Israel di dunia. 

 

Mari kita segera memperhatikan bahwa ada orang Hindu 

yang menolak konsep akhir sejarah ini dengan dominasi 

Brahmana atas umat manusia lainnya, dan akan bersikeras 

bahwa keadilan, dan persaudaraan dengan semua umat manusia 

yang sesuai dengan nilai-nilai ini , harus menjadi tujuan 

agama Hindu pada akhir sejarah. Maka akan selalu 

memungkinkan bagi umat Islam untuk membangun 

persahabatan dan aliansi dengan orang Hindu seperti itu. 

 

❖ AGAMA HINDU DAN REINKARNASI 

 

Selain kepercayaan bahwa sejarah bergerak dalam siklus, agama 

Hindu juga dilandasi oleh keyakinan bahwa kehidupan itu 

sendiri yaitu  siklus. Kita dilahirkan, kita hidup, kita mati, dan 

lalu  kita dilahirkan kembali atau kita bereinkarnasi. 

 

Tidak pernah ada bukti nyata yang mendukung kepercayaan 

pada reinkarnasi. Seseorang di Swedia mungkin mengklaim 

mengingat kehidupan sebelumnya saat  dia tinggal di tempat 

ini dan itu, dan lalu  mungkin menghasilkan ingatan 

30 

 

tentang kehidupan sebelumnya yang biasanya tidak dapat 

dijelaskan. Umat Hindu sering menggunakan bukti seperti ini 

untuk menunjukkan validitas reinkarnasi. Tetapi tidak 

meyakinkan bagi orang lain bahwa seseorang di Swedia 

memiliki ingatan seperti itu tentang kehidupan sebelumnya. 

Bagaimana pengaruhnya terhadap umat manusia lainnya? 

Seorang pria mungkin membantah, “Jika saya ingin diyakinkan 

tentang siklus kehidupan di mana seseorang terlahir kembali lagi 

dan lagi, maka saya harus memiliki pengetahuan pribadi tentang 

kehidupan saya sebelumnya (jika saya memilikinya). Tetapi 

kenyataannya yaitu  saya tidak memiliki ingatan seperti itu.” 

 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah 

meramalkan sebuah peristiwa yang akan terjadi pada Akhir 

Zaman yang pasti akan dielu-elukan oleh umat Hindu sebagai 

validasi spektakuler dari klaim Hindu atas kebenaran. Apa itu? 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah menyatakan, 

sebagaimana hanya seorang Nabi sejati yang dapat menyatakan, 

bahwa seorang pria yang akan tampak seperti ayah seseorang 

(yang meninggal sekitar 30 atau 40 tahun yang lalu) akan berdiri 

di depannya. Dia akan memiliki penampilan fisik ayah yang 

mati itu. Dia akan berbicara dengan suara ayah itu dan dia akan 

mengatakan hal-hal yang hanya bisa diketahui mendiang 

ayahnya. saat  itu terjadi, sebagian besar umat manusia akan 

sepenuhnya yakin bahwa orang mati dilahirkan kembali. 

Akankah hal seperti itu benar-benar terjadi? Nabi Muhammad 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah menubuwahkan ‘Tanda Akhir 

Zaman ‘ seperti itu. Inilah sabdanya:  

 

“Dan akan dibangkitkan bersamanya (yaitu, dengan 

Dajjal Al-Masih Palsu atau Antikristus) Setan yang akan 

mengambil wujud dari mereka yang sudah mati, dan 

lalu  akan berbicara kepada mereka yang masih 

31 

 

hidup (yaitu, kepada kerabat dekat dari orang mati) “Apa 

kau tidak mengenalku? Aku ayahmu; atau aku 

saudaramu; atau kerabat dekat lainnya.” 

 

(Kanz al-Ummal) 

 

Setan yang akan dibangkitkan bersama Dajjal yaitu  jin 

(yaitu, makhluk tak terlihat yang diciptakan dari api tanpa asap) 

yang Kafir. Jin inilah yang akan mengambil wujud manusia dan 

akan muncul di hadapan seseorang dalam wujud ayahnya yang 

telah meninggal dan lalu  akan berbicara dengan suara 

ayahnya dan akan mengklaim, “Aku ayahmu. Tidakkah kamu 

mengenaliku nak?” 

 

Bagi saya, kloning merupakan langkah pertama dari jalan 

yang akan mengarah pada peristiwa penting itu. sesudah  kloning 

domba, kloning manusia akan menjadi perkembangan yang 

alami. saat  itu terjadi, dalam dua puluh lima tahun atau lebih, 

sel yang diawetkan dari ayah yang sudah lama mati akan 

digunakan untuk membuat tiruannya, dan jin lalu  akan 

berbicara melalui klon itu dalam suara dan dengan ingatan 

tentang ayah aslinya. Maka menjadi mungkin nubuwah Nabi 

Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) ini akan terpenuhi. Umat 

Hindu pasti akan menanggapi peristiwa semacam itu dengan 

secara antusias menerimanya sebagai validasi klaim agama 

Hindu atas kebenaran. Tetapi Muslim yang memiliki 

pengetahuan akan dapat mengenali penipuan ini .  

 

 

❖ PANDANGAN YAHUDI TENTANG PERGERAKAN 

DAN AKHIR SEJARAH 

 

Pandangan Brahmana Hindu dan Yahudi tentang pergerakan 

sejarah dan akhir sejarah sangat mirip. Baik Yahudi dan 

32 

 

Brahmana Hindu menganggap diri mereka sebagai elit umat 

manusia dan menganggap semua non-Hindu atau non-Yahudi 

pada awalnya diciptakan dengan status yang lebih rendah. Dan 

sebab nya keduanya berusaha untuk membangun sistem 

dominasi politik, ekonomi, sosial dan agama yang akan 

memastikan bahwa kaum elit akan mendominasi yang lainnya. 

 

Keduanya menghargai kenangan masa keemasan saat  

dominasi politik, ekonomi dan agama mereka atas semua bangsa 

lain dalam lingkungan pengaruh mereka terwujud dalam sejarah. 

Keduanya percaya pada tanah suci di mana masa keemasan 

masing-masing terwujud saat mereka akan kembali 

mendominasi dunia di sekitar wilayah tanah suci mereka 

masing-masing. 

 

Orang Israel diusir dari tanah suci mereka lebih dari 2000 

tahun yang lalu, dan mereka hidup dalam pengasingan yang 

menyedihkan untuk jangka waktu yang lama. Tapi itu sangat 

penting dan sejarah yang penting bahwa mereka kini telah 

kembali ke jantung tanah suci itu untuk mengklaimnya kembali 

sebagai milik mereka. Sangatlah penting bahwa mereka 

mencapai kepulangan itu dengan menunggangi kaum Yahudi 

Eropa yang mengejar tujuan mereka tanpa mempedulikan nilai-

nilai kebenaran atau keadilan. 

 

Sejarah mencapai puncaknya pada zaman keemasan 

Yudaisme saat  Daud dan Sulaiman memerintah dunia dari 

Israel Suci. Sejarah sesudah  zaman keemasan menyaksikan dua 

periode pengkhianatan Yahudi terhadap perjanjian dengan Allah 

Subhanahu wa Ta’ala dan akibatnya, dua periode keruntuhan 

historis dan pengasingan Yahudi dari Tanah Suci. Yang pertama 

yaitu  pengasingan di Babilonia. Yang kedua, yang dimulai 

tidak lama sesudah  kaum Yahudi menolak klaim Nabi ‘Isa (‘alaihi 

salam) sebagai Al-Masih dan lalu  menyombongkan diri 

33 

 

bahwa mereka telah membunuhnya (Al-Qur’an Surat An-Nisa, 

4: 159), mengakibatkan pengasingan selama dua ribu tahun. 

2000 tahun itu merupakan, dari sudut pandang mereka, Zaman 

Kegelapan Yahudi. Proses sejarah dengan demikian linier dan 

regresif. Tetapi kemunduran diselingi oleh intervensi ilahi yang 

pernah membawa kaum Yahudi kembali dari Babilonia untuk 

merebut kembali Tanah Suci, dan yang sekali lagi akan 

memenuhi janji Ilahi mengenai kedatangan Al-Masih yang 

melaluinya kaum Yahudi akan menyadari kembalinya zaman 

keemasan saat  Israel Suci memerintah dunia. 

 

Agama Yahudi percaya dirinya sebagai kekuatan dominan 

yang berdampak pada proses sejarah pada awal dan akhir 

sejarah. Sejarah utama yaitu  sejarah kaum Yahudi. Namun 

sejarah khususnya sejarah orang-orang Yahudi dalam hubungan 

mereka dengan Tanah Suci yang mereka yakini diberikan secara 

ilahiah kepada mereka secara eksklusif dan tanpa syarat, dan 

dengan Negara Suci Israel yang pernah memerintah dunia dari 

tanah suci itu. Sejarah tidak dapat berakhir sampai kaum Yahudi 

membebaskan sisa tanah suci di luar perbatasan Negara Israel 

saat ini. Alkitab sendiri menyatakan bahwa tanah suci 

membentang “dari sungai Mesir sampai sungai Efrat” di Irak. 

Sejarah tidak dapat berakhir sampai Negara suci Israel 

memulihkan kendali atas seluruh tanah suci, dan memerintah 

dunia sebagai negara yang berkuasa sekali lagi. 

 

Proses sejarah tidak dapat berakhir tanpa validasi agama 

Yahudi sebagai kebenaran. Namun agar validasi seperti itu 

tercapai, pertama-tama orang Yahudi perlu kembali ke Tanah 

Suci untuk mengklaimnya kembali sebagai milik mereka. Ini 

sudah mereka lakukan. Kedua, Negara Israel juga harus 

direstorasi. Ini dicapai pada tahun 1948. Ketiga, Negara Israel 

harus diperluas untuk mencakup seluruh wilayah tanah suci, dan 

Kuil Sulaiman harus dibangun kembali (yang berarti Israel harus 

34 

 

menghancurkan Masjid Al-Aqsha untuk membangun kembali 

Bait Suci) . Keempat, Negara suzci Israel harus sekali lagi 

menjadi negara penguasa di dunia. Ini kemungkinan besar akan 

segera terjadi. Akhirnya, seorang Yahudi harus menguasai dunia 

dari Yerusalem dengan klaim kekuasaan abadi dan menyatakan 

dirinya Al-Masih. saat  kaum Yahudi mengakui dia sebagai 

Al-Masih, maka itu merupakan akhir bagi sejarah agama 

Yahudi.  

 

sebab  kaum Yahudi sekarang telah kembali ke Tanah Suci 

untuk mengklaimnya kembali sebagai milik mereka, dan Negara 

Israel telah direstorasi, dan Bait Sulaiman kemungkinan akan 

segera dibangun kembali, kebanyakan orang Yahudi percaya 

bahwa proses sejarah mendekati akhir. Jadi pandangan Hindu, 

seperti pandangan Yahudi, yaitu  bahwa kita sekarang berada 

pada tahap terakhir sejarah. Keyakinan bahwa proses sejarah 

akan segera berakhir telah berdampak pada agama Yahudi 

dengan cara yang sama seperti yang telah berdampak pada 

agama Hindu, dan sebab  itu kami melihat nasionalisme sekuler 

digantikan di Israel oleh nasionalisme agama Yahudi dengan 

semua dampak yang menyertainya pada politik Negara. 

 

Satu-satunya kekuatan penting di dunia yang dianggap 

menghalangi kaum Yahudi untuk mewujudkan takdir sejarah 

agama Yahudi yaitu  Islam. Ini menjelaskan perang saat ini 

yang dilakukan terhadap Islam untuk menghilangkan 

penghalang jalan itu. 

 

Ada beberapa orang Yahudi yang benar-benar merasa ngeri 

dengan kezaliman dan penindasan Israel terhadap orang-orang 

Arab Muslim dan Kristen yang tinggal di Tanah Suci sebelum 

kelahiran Negara Euro-Yahudi. Mereka menentang Negara 

Zionis dan mendukung hak-hak kaum Muslim dan Kristen yang 

tertindas di Tanah Suci dan sekitarnya. Sangat tidak mungkin 

35 

 

bahwa orang-orang Yahudi ini akan menerima klaim Al-Masih 

yang mencapai kekuasaannya atas seluruh dunia melalui 

penipuan, kebohongan, pembunuhan, terorisme, kezaliman, dan 

penindasan.  

 

Maka dimungkinkan bagi umat Islam untuk membangun 

persahabatan dan aliansi dengan orang-orang Yahudi seperti itu. 

 

❖ PANDANGAN KRISTEN TENTANG 

PERGERAKAN DAN AKHIR SEJARAH 

 

Pandangan Kristen yaitu bahwa semua sejarah sebelum 

kedatangan Yesus bersifat persiapan, dan sejarah itu mencapai 

zamannya saat  Tuhan berinkarnasi dalam pribadi Yesus, ‘anak 

Tuhan’, pribadi kedua dalam ‘trinitas’. Sejarah akan mencapai 

puncaknya saat  ‘Tuhan’ itu kembali untuk menghakimi 

seluruh umat manusia pada Hari Penghakiman. Pandangan 

Kristen tentang proses sejarah dengan demikian linier dan 

regresif, tetapi ia memahami sejarah yang diakhiri dengan 

intervensi ilahi lain yang akan memvalidasi klaim Kristen atas 

kebenaran.  

 

Sejarah memang sejarah kebenaran. Proses sejarah dan 

pergerakan sejarah, menurut agama Kristen, ditentukan oleh 

inkarnasi kebenaran dalam sejarah. Tuhan, yang yaitu  

kebenaran, mengambil bentuk manusia dan datang untuk hidup 

di bumi dalam pribadi putra satu-satunya, Yesus, yang juga 

dikenal sebagai putra dari perawan Maria. Fakta bahwa Tuhan 

muncul dalam sejarah dan hidup di bumi menyiratkan bahwa 

zaman di mana dia hidup yaitu  zaman keemasan, dan bahwa 

sesudah  kepergiannya setiap zaman berturut-turut menyaksikan 

kemunduran historis dan penyimpangan dari kebenaran. 

 

36 

 

Ada konsensus di antara orang-orang Kristen bahwa 

kedatangan kembali Yesus Kristus (yaitu, Al-Masih atau Al-

Masih) sekarang sudah dekat, dan sebagai konsekuensinya kita 

mendekati akhir sejarah. Banyak orang Kristen non-Eropa 

diyakinkan oleh argumen Euro-Kristen yang dominan bahwa 

kelahiran Negara Israel yaitu  pemenuhan nubuwah Alkitab dan 

oleh sebab  itu orang Kristen memiliki kewajiban agama untuk 

memfasilitasi kembalinya Yesus dengan memberi  dukungan 

mereka kepada Israel dan dengan melawan orang-orang yang 

menentang Israel. Mereka tetap buta dengan mudahnya terhadap 

kezaliman, kebohongan dan penipuan yang dengannya apa yang 

disebut nubuwah Alkitab sedang diwujudkan. 

 

Sungguh kelahiran Israel itu sendiri yaitu  hasil dari 

perkawinan aneh Yahudi-Kristen yang juga membentuk tatanan 

dunia pada saat ini. 

 

Saat kembalinya Yesus semakin dekat, dunia sudah 

menyaksikan kebangkitan nasionalisme agama Kristen yang 

berdampak pada pemikiran politik Kristen dengan implikasi 

penting. Tidak ada tempat di dunia ini yang memiliki dampak 

kebangkitan kembali nasionalisme Kristen pada akhir zaman 

yang membuat dampak yang lebih tidak menyenangkan di dunia 

selain dalam pembentukan pemerintahan George Bush di AS. 

 

Tinjauan singkat dari sudut pandang ketiga agama ini cukup 

untuk menunjukkan bahwa mereka semua percaya pada akhir 

sejarah dan, lebih jauh, bahwa akhir sejarah sudah dekat. 

 

❖ PANDANGAN PERADABAN BARAT MODERN 

TENTANG PERGERAKAN DAN AKHIR SEJARAH 

 

Barangkali filsuf terkemuka dalam sejarah peradaban Barat 

modern yaitu  filsuf Jerman, Friedrich Hegel. Ia memberi  

37 

 

gambaran tentang proses sejarah yang dimulai dengan tesis. Ini 

memprovokasi antitesis. Dan keduanya lalu  didamaikan 

melalui munculnya sintesis. Sintesis dalam filosofi sejarahnya 

mewakili tahap sejarah yang lebih tinggi dan sebab nya, 

merupakan kemajuan. Dengan demikian, pergerakan sejarah 

menyaksikan kemajuan yang konstan. Gerakan sejarah itu linier 

dan progresif, dan yang terbaru selalu yang terbaik. 

 

Dalam filsafat sejarah Hegelian, kekuasaan dan dominasi 

yang tak tertandingi dari peradaban Barat modern mewakili 

sintesis dari semua yang mendahuluinya. Fakta bahwa Barat 

dominan, tetap dominan, dan berkembang dalam dominasinya, 

menunjukkan bahwa klaimnya terhadap kebenaran yaitu  valid. 

Ini juga menyiratkan bahwa semua peradaban sebelumnya 

dengan konsep kebenaran dan sejarah mereka yang berbeda, 

termasuk Islam, kini telah menjadi mubazir dan hampir mati 

sebab  telah disintesis dan digantikan oleh dispensasi Barat saat 

ini. sebab  Barat modern itu sekuler, maka implikasinya yaitu 

agama ditakdirkan untuk masuk ke museum sejarah. 

 

Peradaban Barat modern tidak hanya mengklaim bahwa ia 

yaitu  yang terbaru dan oleh sebab  itu yang terbaik, tetapi 

anehnya ia juga mengklaim bahwa ia yaitu  yang terakhir 

sebab  ia mewakili sintesis terakhir dalam sejarah. Mereka 

percaya peradaban mereka telah bertahan dan tidak akan pernah 

terlampaui. Kepercayaan bahwa proses sejarah telah mencapai 

klimaksnya dan bahwa akhirnya, kapan pun itu datang, akan 

memvalidasi klaim mereka atas kebenaran. 

 

Francis Fukuyama mengakui naiknya peradaban Barat 

modern sebagai akhir sejarah. Samuel Huntington berbeda 

pendapat. Dia percaya bahwa ada beberapa operasi pembersihan 

yang tersisa sebab  peradaban selain peradaban Barat modern 

masih memiliki kehidupan di dalamnya. Dia membayangkan 

38 

 

benturan peradaban sebelum akhir sejarah. Dia memperingatkan 

bahwa bentrokan pada dasarnya akan terjadi antara Islam


tanda akhir zaman 2


  


dengan Barat, tetapi dengan yakin berharap bahwa itu akan 

menghasilkan kemenangan bagi Barat.  

 

Ada seorang filsuf sejarah dunia Barat, Arnold Toynbee, 

yang masih menjadi teka-teki. Dia yaitu  seorang Kristen yang 

taat, namun pemikirannya tertanam kuat dalam peradaban Barat 

sekuler. Dia berjuang untuk merumuskan pandangan sejarah 

yang akan mengakomodasi pandangan Barat serta Kristen 

tentang kebenaran dan sejarah. Karya intelektualnya 

berkontribusi dalam membentuk aliansi Euro-Yahudi / Euro 

Kristen yang sekarang menguasai dunia demi kepentingan 

Negara Euro-Yahudi Israel. 

 

❖ PANDANGAN ISLAM TENTANG PERGERAKAN 

DAN AKHIR SEJARAH 

 

Sekarang mari kita beralih ke pandangan Islam tentang topik di 

mana pergerakan sejarah ditentukan oleh pergerakan kebenaran 

dalam sejarah. Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu  Al-Haq (yaitu, 

Kebenaran): 

 

 

“sebab  Allah, Dialah (Tuhan) Al-Haq (kebenaran) …” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Hajj, 22: 62) 

 

Tidak hanya Dia Yang Mahatinggi, Kebenaran, tetapi 

Kebenaran juga berasal dari-Nya dalam bentuk Firman yang 

diwahyukan: 

 

“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari 

Tuhanmu …” 

39 

 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 29)  

 

Al-Qur’an juga menjelaskan segala sesuatu di alam dunia sekitar 

kita  mengandung Kebenaran:  

 

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang 

(kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit 

dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya 

melainkan dengan Kebenaran dan dalam waktu yang 

ditentukan . . . .” 

 

(Al-Qur’an Surat Rum, 30: 8) 

 

Kebenaran (Al-Haq) yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala 

memicu konfrontasi dengan kebatilan (Al-Batil). Dalam 

pandangan Islam, konflik antara kebenaran dan kebatilan 

merupakan faktor dominan yang menentukan pergerakan 

sejarah. Manusia berpartisipasi dalam perjuangan ini sebab  

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi  kepada mereka kebebasan 

memilih. Meskipun mereka memiliki kebebasan terbatas, namun 

tetap saja itu yaitu  kebebasan: 

 

“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari 

Tuhanmu; barangsiapa menerimanya hendaklah dia 

beriman, dan barangsiapa menolaknya biarlah dia kafir.” 

 

(Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 29) 

 

Manusia bebas memilih, apakah menerima kebenaran dan diberi 

pahala atas pilihan itu, atau menolaknya dan menerima akibat 

dari penolakan itu. Keinginan mandiri dan kemampuan bebas 

memilih ini menyebabkan proses sejarah kadang-kadang 

bergerak ke arah ini, kadang ke arah itu. Dr. Burhan Ahmad 

40 

 

Faruqi menggunakan istilah zigzag untuk menggambarkan 

pergerakan sejarah. Ini bergerak sekarang seperti ini, dan 

lalu  - terkadang kemajuan dan terkadang kemunduran 

yang mencerminkan keberhasilan dan kegagalan dalam 

perjuangan moral. Dengan demikian, Islam menolak baik 

pandangan siklik maupun pandangan regresi linier dan 

pandangan progresif linier pada pergerakan sejarah. 

 

Intervensi Ilahi terjadi dalam proses sejarah saat  para 

Nabi diutus, dan saat  Kitab Suci diturunkan. Intervensi 

ini  mengakibatkan seorang Nabi menyelipkan dirinya 

dalam sapuan sejarah dan melancarkan upaya untuk 

mengarahkan kembali pergerakan sejarah agar dikembalikan ke 

jalan yang lurus (Siratal Mustaqim). Intervensi ilahi ini 

merupakan kejadian penting dalam proses sejarah. Kedatangan 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam), meski demikian, 

menyaksikan kemenangan kebenaran yang paling menentukan 

dan paling komprehensif atas kebatilan yang pernah terjadi 

dalam sejarah.  

 

Dr. Faruqi menggunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan 

pandangan Islam bahwa sejarah tidak dapat berakhir tanpa 

kemenangan kebenaran atas kebatilan. Peristiwa seperti itu, 

meski demikian, akan memvalidasi klaim Islam atas kebenaran 

sebab  itu akan memberi  realisasi kembali zaman keemasan 

para Nabi, Daud dan Sulaiman (‘alaihima salam), saat  Negara 

Suci Israel (Islam) menguasai dunia dari Tanah Suci, dan masa 

keemasan Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) yang 

menyatakan: “Sahabat-sahabatku seperti hujan. Aku tidak tahu 

curahan mana yang lebih baik, yang pertama atau yang terakhir”.  

 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah 

memberi  gambaran tentang Akhir Zaman yang akan 

mendahului akhir sejarah. Banyak Tanda Hari Akhir 

41 

 

mengungkapkan peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi 

pada Akhir Zaman. Peristiwa ini akan tampak seperti badai 

kejahatan yang bertiup ke seluruh dunia saat menyaring biji-

bijian (yaitu, mereka yang memiliki iman sejati) dari sekam 

(mereka yang tidak memiliki keyakinan).  

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan badai kejahatan yang 

akan menyapu semua orang ke dalam tong sampah sejarah - 

kecuali mereka yang memiliki keyakinan teguh kepada Tuhan 

Yang Maha Esa dan kebenaran yang datang dari-Nya. Islam 

menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus 

Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sebagai Nabi terakhir 

dan Rasul-Nya kepada seluruh umat manusia, dan mengutusnya 

dengan Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan 

Tuhan. Sejauh dia benar-benar seorang Nabi yang benar, dan Al-

Qur’an memang wahyu ilahi, maka hanya mereka yang dengan 

setia mengikutinya, dan yang dibimbing oleh Al-Qur’an, yang 

dapat bertahan dari badai kejahatan. 

 

Esai-esai dalam artikel  ini mencoba untuk menemukan dan 

menjelaskan beberapa dari Tanda-Tanda Hari Akhir yang telah 

muncul di dunia modern. Tanda-tanda itu menggambarkan badai 

kejahatan yang sudah dilepaskan dan menyapu semua orang ke 

dalam tong sampah sejarah kecuali yang benar-benar beriman. 

Bahaya terbesar bagi cara hidup religius yang menyertai badai 

itu yaitu  serangan epistemologis terhadap jantung spiritual 

agama. 

 

❖ BADAI JAHAT DAN PERANG TERHADAP INTI 

SPIRITUAL AGAMA 

 

Ada orang-orang sesat dan jahat di dunia modern yang aneh ini 

yang terus menerus menyerang dan berusaha menghancurkan 

inti spiritual dalam jalan hidup religius. Mereka telah 

42 

 

menghancurkan inti spiritual Kristen, Yahudi, Hindu, dan Budha 

dan sekarang menargetkan Islam. Mereka menjelekkan ahli Sufi 

Islam yang otentik seperti guru saya yang terpelajar Maulana Dr. 

Muhammad Fazlur Rahman Ansari, dan gurunya yang 

termasyhur, Maulana Abdul Aleem Siddiqui, dan secara keliru 

menuduh mereka sebagai orang sesat yang terlibat dalam 

tindakan Syirik. 

 

Mereka yaitu  orang-orang yang secara efektif bergabung 

dengan barisan musuh-musuh Islam yang saat ini sedang 

berperang melawan Islam dan umat Muslim di seluruh dunia. 

Mereka sendiri tidak menyadari bahwa mereka telah diperalat 

oleh seorang dalang dengan tujuan mesianis yaitu menghalangi 

umat Islam untuk menyadari kenyataan dunia saat ini. 

Dalangnya yaitu Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus, yang 

bermata satu, dan sebab nya buta secara spiritual, dan yang tahu 

bahwa orang-orang yang buta spiritual tidak dapat mengenali 

Tanda-Tanda Hari Akhir. 

 

Banyak nubuwah Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam) tentang ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ telah disampaikan 

kepada kita dalam bahasa kiasan yang harus ditakwilkan agar 

dapat dipahami dengan benar. Proses penakwilan ini  

membutuhkan penerapan epistemologi Sufi untuk melihat 

dengan mata batin internal (yaitu, ilmu pengetahuan spiritual 

intuitif internal). Ini juga membutuhkan pengamatan yang tajam 

terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam proses sejarah.  

 

Beruntung sekali penulis ini menjadi murid dari seorang 

Syeikh Sufi yang otentik. Esai-esai dalam artikel  ini yaitu  buah 

dari upaya sederhana untuk menakwilkan proses sejarah, dan 

peristiwa-peristiwa yang kini terjadi di dunia, dalam konteks 

Tanda-tanda Hari Akhir. Barangkali esai-esai ini dapat 

membantu orang-orang, yang lebih berbakat dibandingkan  penulis 

43 

 

ini, untuk memahami dan menakwilkan ‘Tanda-tanda Hari 

Akhir’ dengan cara yang lebih meyakinkan tentunya akan 

menunjukkan ‘Kebenaran’ dalam Islam. 

 

Hadits (yaitu, sabda Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa 

salam)) yang dikutip di bawah ini hanyalah sebagian kecil dari 

hadits yang membahas tentang ‘Tanda-tanda Hari Akhir’. Para 

pembaca harus senantiasa waspada saat mengkaji Hadits tentang 

topik ini sebab  hal ini pasti menjadi sasaran utama orang-orang 

dengan misi jahat yaitu mengarang Hadits palsu sehingga 

menyesatkan Muslim dan merusak pemahaman mereka tentang 

topik yang sangat penting ini. 

 

Bagian dari metodologi yang digunakan untuk 

mengidentifikasi Hadits dengan integritas yang meragukan 

yaitu  dengan pertama-tama menemukan sistem makna yang 

konsisten yang akan menjelaskan topik secara keseluruhan yang 

didapatkan dari Al-Qur’an dan Hadits. lalu  kita dapat 

menangguhkan pertimbangan sehubungan dengan Hadits yang 

tidak selaras dengan sistem makna itu. Tidak ada yang lebih 

membutuhkan metodologi seperti ini selain dalam mengkaji 

‘Tanda-tanda Hari Akhir’. 

 

Teks terjemahan Hadits berikut kadang-kadang diselingi 

dengan komentar singkat kami yang diapit oleh tanda kurung. 

Selain itu, terkadang kami menawarkan tafsiran singkat dalam 

sebuah Hadits: 

 

*** 

 

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Hari 

Akhir tidak akan datang kecuali (dan sampai) kaum Muslimin 

memerangi kaum Yahudi dan kaum Muslimin membunuh 

mereka (yaitu, kalahkan mereka sehingga) kaum Yahudi akan 

bersembunyi di balik batu atau pohon dan sebuah batu atau 

44 

 

pohon akan berkata: Muslim, atau hamba Allah, ada seorang 

Yahudi di belakangku; datang dan bunuh dia; tetapi pohon 

Gharqad tidak akan mengatakan demikian, sebab  itu yaitu  

pohon orang Yahudi.” 

 

(Sahih Muslim) 

 

Nubuwah Hari Akhir ini dengan sangat jelas mengesampingkan 

kemungkinan penyelesaian damai dalam konflik antara kaum 

Yahudi dan Muslim atas penindasan kaum Yahudi di Tanah Suci 

dan di tempat lain di dunia. 

 

***  

 

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: 

“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi Isfahan 

yang mengenakan syal Persia.” 

 

(Sahih Muslim) 

 

Ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi Eropa dan 

Gerakan Zionis Eropa yang mendirikan Negara Israel, pada 

akhirnya akan melepaskan kekuasaan dan kendali atas Israel dan 

merayu orang-orang Yahudi yang sebenarnya, yaitu orang-

orang Yahudi oriental, untuk menggantikan mereka. Sangatlah 

penting bahwa seorang Yahudi Iran kini menjadi Presiden Israel. 

 

*** 

 

Jabir bin Samurah meriwayatkan: Saya mendengar Rasulullah 

bersabda: “Sebelum Hari Kiamat akan ada banyak pendusta 

(besar).” Ada tambahan dalam Hadits yang diturunkan atas 

otoritas Abul Ahwas dari kata-kata ini: “Saya bertanya 

kepadanya: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah? 

Dia berkata: Ya.”  

 

45 

 

(Sahih Muslim) 

 

Kebohongan besar itu sudah keluar dari Washington, London, 

dan Tel Aviv / Yerusalem. Selain itu, dunia terus menerus 

menjadi sasaran kebohongan dan informasi yang salah yang 

tersebar melalui media berita internasional yang didominasi 

Barat. 

 

*** 

 

Hudhayfah bin Usayd Ghifari meriwayatkan: “Rasulullah 

datang kepada kami secara tiba-tiba saat kami sedang 

berkumpul (dalam sebuah diskusi). Dia bertanya: Apa yang 

kalian diskusikan? (Para Sahabat) berkata: Kita sedang 

membahas tentang Kiamat. sesudah  itu dia bersabda: Itu tidak 

akan datang sampai kalian melihat sepuluh tanda dan (dalam 

hubungan ini) dia menyebutkan ‘asap’, ‘Dajjal’, ‘binatang’, 

‘terbitnya matahari dari barat’, ‘turunnya ‘Isa putra Maryam’, 

‘Yakjuj dan Makjuj’, dan ‘gempa bumi di tiga tempat, satu di 

timur, satu di barat dan satu di Arab, yang pada akhirnya ‘api 

akan menyala dari Yaman dan akan mendorong orang ke 

tempat berkumpul mereka’. 

 

(Sahih Muslim) 

 

Lihat esai dalam artikel  ini yang berjudul “Sepuluh Tanda Utama 

Hari Terakhir - Apakah Satu Baru Saja Terjadi?” 

 

*** 

 

‘Umar bin Khattab (ra) berkata: 

 

“Saat kami duduk suatu hari bersama Rasulullah (shala 

Allahu ‘alaihi wa salam), seorang pria tiba-tiba muncul. Dia 

mengenakan pakaian putih bersih dan rambutnya hitam pekat 

46 

 

– tidak ada tanda-tanda perjalanan padanya, namun tidak ada 

dari kami yang mengenalnya. 

 

Dia datang dan duduk di hadapan Nabi (shala Allahu ‘alaihi 

wa salam), meletakkan lututnya bersentuhan dengan lutut 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam), dan tangannya di atas 

pahanya. Dia berkata, “Hai Muhammad! Jelaskan tentang 

Islam.” 

 

Rasulullah (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Islam 

yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa 

Muhammad yaitu  Rasulullah; mendirikan shalat; membayar 

Zakat; berpuasa Ramadhan; dan melaksanakan ibadah Haji ke 

Rumah Allah jika mampu.” 

 

Pria itu berkata, “Engkau benar,” dan kami terkejut bahwa dia 

bertanya dan lalu  mengkonfirmasi jawabannya.  

 

lalu , dia bertanya, “Beritahu aku apa itu iman.” 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Iman 

yaitu  percaya kepada Allah; Malaikat-malaikat-Nya; Kitab-

kitab-Nya; Rasul-rasul-Nya; Hari Akhir; dan qodho dan 

qodhar.” 

 

Pria itu berkata, “Engkau benar. Kini, beritahu aku tentang 

keunggulan spiritual (Ihsan).” 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab,”Ihsan 

yaitu  beribadah kepada Allah seakan melihat-Nya; dan jika 

engkau tidak melihat-Nya, (maka ketahuilah bahwa) Dia 

tentu melihatmu.” 

 

“Sekarang, beritahu aku tentang As-Sa’ah,” tanya pria itu. 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Yang 

ditanya tidak lebih tahu dibandingkan  yang bertanya.” 

 

47 

 

“Maka beritahu aku tentang tanda-tandanya,” kata pria itu. 

 

Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Bahwa 

seorang budak wanita akan melahirkan majikannya; dan 

bahwa engkau akan melihat para penggembala tanpa alas kaki 

bersaing dalam pembangunan gedung-gedung tinggi.” 

 

Lalu pengunjung itu pergi, dan aku menunggu lama sekali. 

lalu  Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) bertanya 

kepadaku, “Tahukah engkau, Umar, siapa penanya tadi?” 

 

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu.” Dia 

(shala Allahu ‘alaihi wa salam) bersabda, “Dia yaitu  Jibril. 

Dia datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang 

agama.” 

 

(Sahih Muslim) 

 

 

Berikut yaitu  nubuwah yang disajikan dengan sangat jelas 

dalam bahasa kiasan yang harus ditakwilkan. Namun Hadits ini 

juga mengarahkan perhatian kita pada Al-Ihsan, atau 

pendalaman spiritual, sebagai bagian dari prasyarat yang 

diperlukan untuk menanggapi ‘Tanda-tanda Hari Akhir’. 

“Budak wanita  yang melahirkan majikannya” yaitu  

nubuwah mengejutkan yang hanya bisa ditakwilkan jika 

seseorang memahami dan mendalami nubuwah tentang Dajjal 

dengan Riba di satu sisi, dan Dajjal dengan revolusi feminis di 

sisi lain.  

 

*** 

 

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Hari 

Kiamat (yaitu, Hari Akhir) tidak akan datang sebelum ilmu 

pengetahuan (agama) diangkat, gempa bumi akan sangat sering 

terjadi, waktu akan berlalu dengan cepat, penderitaan akan 

48 

 

muncul, pembunuhan akan meningkat dan uang akan melimpah 

di antara kalian.” 

 

(Sahih Bukhari) 

 

Kekosongan dalam ilmu agama dapat dengan mudah dipahami 

dalam konteks penyerangan yang telah dilancarkan terhadap 

para ulama Islam dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam. 

Serangan terhadap ulama Islam ini merupakan bagian dari 

perang terhadap Islam dan umat Muslim secara keseluruhan. 

 

*** 

 

Dari Ubay bin Ka’ab: Saya mendengar Rasulullah bersabda, 

“Efrat akan segera menampakkan gunung emas dan saat  

orang-orang mendengarnya mereka akan berbondong-bondong 

ke sana tetapi orang-orang yang akan memiliki (harta) itu (akan 

berkata): Jika kita membiarkan orang-orang ini mengambilnya, 

mereka akan mengambil semuanya.” Jadi mereka akan 

bertempur dan sembilan puluh sembilan dari seratus akan 

terbunuh. Abu Kamil dalam narasinya mengatakan: “Aku dan 

Abu Ka'ab berdiri di bawah naungan benteng Hassan.”  

 

(Sahih Muslim) 

 

Saya percaya gunung emas yang ditemukan di Sungai Efrat 

hanya dapat dipahami sebagai simbol minyak bumi (emas 

hitam) dan bahwa kematian yang dinubuwahkan (99 dari setiap 

100) akan terjadi dalam perang untuk menguasai sumber minyak 

ini . Mungkin senjata pemusnah massal seperti senjata 

nuklir akan digunakan pada masa depan. 

 

*** 

 

Berikut yaitu  beberapa Hadits yang dipilih secara acak 

yang berkaitan dengan Tanda-tanda Hari Akhir: 

49 

 

 

Sa’ad bin Abu Waqqas meriwayatkan: Rasulullah bersabda, 

“Kiamat tidak akan datang hingga munculnya orang-orang 

yang makan dengan lidah seperti sapi.” Ahmad 

merawikannya.” 

 

(Tirmizi) 

 

*** 

 

Hudhaifah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Kiamat tidak 

akan datang sampai kalian membunuh pemimpin kalian, 

bertarung bersama dengan pedang kalian, dan yang terburuk 

mewarisi harta dunia kalian.” 

 

(Sunan Tirmizi) 

 

*** 

 

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, 

“Kiamat tidak akan datang sampai waktu berlalu dengan cepat, 

satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu 

seperti sehari, sehari seperti satu jam, dan satu jam seperti nyala 

api.” 

 

(Sunan Tirmizi) 

 

*** 

 

Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah 

bersabda, “Demi Dia yang jiwaku ada dalam genggaman-

Nya, Kiamat tidak akan datang sampai binatang buas 

berbicara kepada manusia, ujung cambuk manusia dan tali 

sandalnya berbicara kepadanya, dan memberi tahu dia apa 

yang telah dilakukan keluarganya sejak dia pergi 

50 

 

meninggalkan mereka.” (Ini tampaknya memperkirakan 

munculnya ponsel modern.) 

 

(Sunan Tirmizi) 

 

*** 

 

Talhah bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, 

“Salah satu tanda mendekatnya Hari Kiamat yaitu  kehancuran 

bangsa Arab (yaitu, perang melawan bangsa Arab).” 

 

(Sunan Tirmizi) 

 

*** 

 

Abdullah bin Hawalah al-Azdi meriwayatkan: “Rasulullah 

mengutus kami dengan berjalan kaki untuk mendapatkan 

rampasan, tetapi kami kembali tanpa mendapatkan apa pun. 

saat  dia melihat tanda-tanda kesusahan di wajah kami, dia 

berdiri di depan kami dan bersabda: Ya Allah, jangan 

tempatkan mereka di bawah pengawasanku, sebab  aku akan 

terlalu lemah untuk merawat mereka; jangan tempatkan mereka 

dalam perawatan diri mereka sendiri, sebab  mereka tidak akan 

mampu melakukannya, dan jangan tempatkan mereka dalam 

perawatan manusia, sebab  mereka akan memilih hal-hal 

terbaik untuk diri mereka sendiri. Dia lalu  meletakkan 

tangannya di atas kepalaku dan bersabda: Ibnu Hawalah, saat  

engkau melihat Khilafah didirikan di Tanah Suci (yaitu, saat  

Negara Euro-Yahudi Israel penipu menguasai dunia dari Tanah 

Suci) gempa bumi, kesedihan, dan masalah serius akan 

mendekat, maka pada hari itu Kiamat akan datang lebih dekat 

dengan umat manusia dibandingkan  tanganku ini ke kepalamu.” 

 

(Sunan Abu Daud) 

 

*** 

51 

 

 

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Kiamat 

tidak akan datang sampai orang-orang saling bersaing tentang 

Masjid (yaitu, saling bersaing untuk mendapatkan kendali atas 

Masjid).” 

 

(Sunan Abu Daud) 

  

 

*** 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

52 

 

ESAI 4 

 

Iqbal, Epistemologi Sufi  

dan Akhir Sejarah  

 

 

 

alam esai ini kami berupaya untuk mengkaji munculnya 

paradoks epistemologis dalam pemikiran Dr. 

Muhammad Iqbal.  

 

Ada ilmu pengetahuan yang dia berikan kepada orang-

orang asli Muslim India yang menjadi sasaran penjajahan brutal 

Inggris anti-Islam, ilmu pengetahuan ini menyentuh jiwa mereka 

dan menyemangati mereka dengan penegasan kembali 

komitmen terhadap Islam sebagai agama. Ilmu pengetahuan ini 

dikomunikasikan dalam bahasa asli mereka - Urdu dan Persia. 

Seandainya hal ini dikomunikasikan dalam bahasa Inggris, 

dunia akademisi Eropa yang berperang melawan Islam akan 

menolak dan mencemoohnya. Iqbal akan kehilangan prestise di 

antara rekan-rekan Eropa-nya. 

 

Dan lalu  ada ilmu pengetahuan lain yang dia 

komunikasikan dalam bahasa Inggris, dan termasuk 

pandangannya tentang ‘Akhir Zaman’. Ilmu pengetahuan ini 

mengesankan akademisi Eropa, serta rekan senegaranya yang 

berpendidikan Barat. Seandainya sebagian dari pendapatnya 

dikomunikasikan dalam bahasa Urdu atau Persia, seperti 

penolakannya terhadap keyakinan pada kedatangan Imam Al-

Mahdi, atau Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus, dan 

kembalinya Al-Masih asli, Nabi ‘Isa putra Perawan Maryam, 

maka ini akan menciptakan masalah serius dan permanen 

53 

 

baginya di kalangan warga  Muslim. Sampai hari ini, ada 

banyak Muslim yang terinspirasi oleh Iqbal, tetapi tetap dengan 

senang hati mengabaikan pandangannya tentang ‘Akhir Zaman’. 

 

Dualisme dalam pemikiran dan karya Iqbal diperparah oleh 

fakta bahwa ia terkadang mengatakan satu hal dalam bahasa 

Inggris, dan lalu  melanjutkan dengan mengatakan sesuatu 

yang sangat berbeda dalam bahasa Urdu atau Persia. 

 

Misalnya, ia setuju dengan Ijtihad Turki (jika bisa disebut 

demikian) sehingga Imamah atau Khilafah (yang dihapuskan 

oleh Majelis Nasional Turki Mustafa Kamal pada tahun 1924) 

dapat diberikan kepada orang pribadi atau Majelis terpilih. 

Asalkan Parlemen modern terdiri dari orang-orang Muslim yang 

baik, Iqbal akan bersedia menerimanya sebagai pengganti 

Khilafah yang sah. Namun Iqbal, dalam bait puisinya, mendesak 

pemulihan Khilafah, dan mengupayakan mobilisasi semangat 

Islam: 

 

“Taa Khilafat kee bina dunyah main ho phir ustawaar, 

 

La kahein say dhoond kar aslaaf ka qalb-o-jigar.” 

 

(Untuk memperkuat atau menghidupkan tujuan (pemulihan) 

Kekhalifahan di dunia ini,  

 

Sangat penting bagi kita untuk menemukan dan membangun 

kembali jantung dan hati, yaitu keberanian, keimanan, dan 

kesungguhan Muslim generasi pertama.) 

 

Iqbal cukup terang-terangan dalam penolakannya terhadap 

keyakinan pada kedatangan Imam Al-Mahdi dan kembalinya 

Al-Masih sejati, Nabi ‘Isa putra Perawan Maryam. Inilah 

pendapatnya: 

54 

 

 

“Doktrin finalitas kenabian selanjutnya dapat dianggap 

sebagai obat psikologis bagi sikap Majusi dari ekspektasi 

konstan yang cenderung memberi  pandangan yang keliru 

mengenai sejarah. Ibnu Khaldun, melihat semangat 

pandangannya sendiri tentang sejarah, sepenuhnya telah 

mengkritik dan, saya yakin, akhirnya menghancurkan dugaan 

dasar wahyu dalam Islam tentang sebuah gagasan yang mirip, 

setidaknya dalam efek psikologisnya, dengan gagasan yang 

berasal dari Majusi yang muncul kembali dalam Islam di 

bawah tekanan pemikiran Majusi.” 

 

(Iqbal, Dr. Muhammad., Rekonstruksi Pemikiran Religius 

dalam Islam, ed. Oleh M. Saeed Shaikh, Lahore, Institute of 

Islamic Culture, 1986) hal. 115 

 

Memang, dalam suratnya kepada Muhammad Ahsan dia 

menambahkan keyakinan pada kedatangan Dajjal Al-Masih 

palsu dalam daftar gagasan Majusi yang, menurutnya, telah 

menyusup ke dalam pemikiran Islam. Ini terlihat jelas dari 

penggunaan kata masihiyat. (Iqbal, Vol. II, hal. 231. Dikutip 

dalam M. Saeed Sheikh, “Pengantar Editor” pada Rekonstruksi 

karya Iqbal, op.cit., hal. xi).  

 

Namun Iqbal, dalam bait puisinya, cukup eksplisit dalam 

penegasan keyakinan akan kedatangan Imam Al-Mahdi: 

 

“Dari pengasingan gurun Hijaz, 

 

Panduan Zaman (Khidr-e-Waqt) akan datang, 

 

Dan dari lembah yang jauh sekali 

 

Kafilah akan muncul.” 

 

55 

 

Ada pendapat yang diungkapkan bahwa Khidr-e-waqt yang 

dimaksud Iqbal tidak lain yaitu  pendiri Pakistan Muhammad 

Ali Jinnah. Kami tidak setuju. Jinnah tidak dapat dibayangkan 

muncul dari lembah yang jauh di Hijaz. Sultan Abdul Aziz bin 

Saud, yang menempatkan Hijaz di bawah klien Inggris-

Amerika, juga tidak bisa dianggap sebagai Khidr-e-Waqt. Lalu 

siapa, selain Imam al-Mahdi, yang dimaksud Iqbal? 

 

Kami menelusuri dualisme yang tampaknya mengganggu 

dalam pemikiran dan karya Iqbal ini, dan kami menyarankan 

bahwa hal itu muncul dari ambivalensi epistemologis dalam 

pemikirannya. Epistemologi yang berbeda berfungsi pada 

tingkat kesadaran yang berbeda. Kesadaran teoretis Iqbal, yang 

beroperasi dengan bahasa Inggris, tampaknya berfungsi dengan 

satu epistemologi. Kesadaran estetika dan spiritualnya, yang 

beroperasi dengan bahasa aslinya, tampaknya berfungsi dengan 

epistemologi lain. Kecuali jika seseorang berhasil 

mengintegrasikan semua tingkat kesadaran ke dalam 

kepribadian, ambivalensi epistemologis dan dualisme dalam 

pemikiran dapat muncul.  

 

Akan merugikan Iqbal jika dikatakan bahwa dia sengaja 

memilih dualitas pandangan ini untuk menyesatkan 

pendengarnya di Eropa. Hal itu menyiratkan bahwa dia juga, 

dalam prosesnya, menyesatkan seluruh generasi Muslim 

bangsanya yang dengan mudah menyerap pandangannya yang 

diungkapkan dalam bahasa Inggris. Iqbal yaitu  seorang ulama 

yang terlalu masyhur dalam menggunakan keilmuan Islam 

untuk menyesatkan pembaca, yang termasuk begitu banyak 

orang Muslim bangsanya sendiri. 

 

 

 

❖ EPISTEMOLOGI SUFI 

56 

 

 

Para sufi memiliki catatan yang konsisten tidak hanya dalam 

menyadari, tetapi juga menggunakan hati sebagai sarana untuk 

memperoleh ilmu pengetahuan. Pengalaman hati yang ‘melihat’ 

dan langsung mengalami ‘kebenaran’, dalam istilah filsafat 

sering disebut sebagai ‘pengalaman religius’. Dalam arti yang 

lebih luas, ‘pengalaman religius’ juga mencakup ilmu 

pengetahuan spiritual intuitif internal yang menyampaikan 

‘hakikat’ atau ‘kenyataan’ mengenai suatu hal kepada orang 

beriman. Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menyebutkannya 

saat  dia memperingatkan: “Perhatikanlah firasah (yaitu, 

kapasitas spiritual intuitif yang mampu memahami hakikat 

suatu hal) orang beriman, sebab  tentunya dia melihat dengan 

cahaya Allah.” (Tirmidzi) Dan Iqbal sendiri mengarahkan 

perhatian pada hal ini dalam sajaknya yang terkenal: 

 

“Hazaron saal Nargis 

 

apni baynuri pay roti hay, 

 

bari mushkil say hota hai, 

 

chaman main, deedawar paida.” 

 

“Selama ribuan tahun, 

 

Sang narcissus (bunga) meratapi kebutaannya; 

 

Dengan susah payahlah seorang bijak yang melihat (yaitu 

seseorang yang melihat apa yang orang lain tidak dapat 

melihat) 

 

Muncul di taman kehidupan.” 

 

Deedawar (yakni orang bijak) yang dimaksud Iqbal jelas 

yaitu  orang yang melihat dengan cahaya batin, dan ini yaitu  

57 

 

kualitas yang menentukan dari seorang Khidr. Iqbal sendiri, 

merupakan contoh deedawar. 

 

Epistemologi yang mengakui ‘pengalaman religius’ sebagai 

sumber ilmu inilah yang selanjutnya disebut sebagai 

epistemologi Sufi. Ilmu pengetahuan internal yang datang dari 

sumber semacam itu dikenal sebagai ‘Ilmu Al-Batin. 

 

Sepanjang sejarah, selalu penting bagi para penuntut ilmu 

agar dapat memahami ‘hakikat’ atau ‘kenyataan’ mengenai 

berbagai hal. Namun ini justru menjadi sangat penting pada 

zaman di mana ‘penampilan’ dan ‘kenyataan’ akan saling 

bertentangan satu sama lain. ‘Penampilan’ yang memikat akan 

sangat berbahaya sehingga, jika diterima, akan menyebabkan 

kehancuran iman. Dan oleh sebab nya, pada zaman ini, 

kelangsungan hidup bergantung pada kemampuan melampaui 

bentuk penampilan eksternal untuk mencapai hakikat internal, 

sehingga dengan demikian terselamatkan dari tipu daya dan 

kebinasaan. Islam menyatakan bahwa zaman ini akan terjadi 

sebelum hari kiamat. Maka hal ini menegaskan pentingnya 

epsitemologi Sufi. 

 

Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menyarankan 

agar Surat Al-Kahfi (Surat ke-18) dalam Al-Qur’an dibaca 

setiap hari Jumat sebagai perlindungan dari Fitnah (tipu daya, 

ujian) Dajjal dengan modus operandinya yaitu  menipu. Kisah 

Musa (‘alaihi salam) dan Khidr (‘alaihi salam) dalam Surat Al-Kahfi 

memberi  peringatan keras tentang berbahayanya kelemahan 

epistemologi Barat yang mengakui ilmu pengetahuan hanya 

didapat melalui pengamatan saja. Musa (‘alaihi salam) keliru 

dalam ketiga kesempatan. Khidir di sisi lain, yang melihat 

dengan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengoreksi kekeliruan 

yang dibuat Musa. 

 

58 

 

Kisah ini pun secara tidak langsung menunjukkan dampak 

yang tidak menyenangkan bagi komunitas yang bergabung 

dengan persekutuan Kristen dan Yahudi yang salah arah dalam 

aliansi Kristen-Yahudi yang diciptakan Zionis, sebagai 

golongan yang menjadi sasaran penipuan terbesar dan tidak 

mampu memahami secara akurat berjalannya proses sejarah. 

Oleh sebab  tertipu, mereka akan secara membabi buta 

mengikuti tokoh yang paling berbahaya, yaitu, Dajjal Al-Masih 

palsu atau Anti-Kristus, menuju kehancuran terakhir mereka 

dalam sejarah. Pandangan saya yaitu  bahwa penipuan ini telah 

terjadi, dan penghancuran terakhir Negara Euro-Yahudi Israel 

kini sudah pasti. 

 

Iqbal sendiri yaitu  contoh yang sangat baik dari seorang 

ulama dengan kemampuan melampaui penampilan untuk 

memahami kenyataan mengenai suatu hal. Dia melakukan studi 

menyeluruh dan mendalam tentang peradaban Kristen-Yahudi 

Barat modern dan sampai pada kesimpulan bahwa 

penampilannya sangat berbeda dari kenyataan yang sebenarnya. 

Hanya tiga bulan sebelum kematiannya, dia menyingkap tabir 

penampilan ‘kemajuan’ dan menyampaikan kecaman pedas 

terhadap Barat modern. Banyak pendukung modernisme Islam, 

termasuk orang-orang seperti Sheikh Muhammad Abduh, serta 

kaum liberal sekuler saat ini, telah menyatakan bahwa mereka 

justru melihat Islam hadir di Barat modern. Iqbal tidak tertipu: 

 

“Zaman modern bangga dengan kemajuannya dalam 

pengetahuan dan perkembangan ilmu sainsnya yang tiada 

tara. Tidak diragukan lagi, kebanggaan itu dibenarkan ... 

Tetapi terlepas dari semua perkembangan ini, tirani 

imperialisme bertebaran di luar negeri, menutupi wajahnya 

dengan topeng Demokrasi, Nasionalisme, Komunisme, 

Fasisme, dan langit pun tahu apa lagi selain itu. Di balik 

topeng ini, di setiap penjuru bumi, semangat kebebasan dan 

martabat manusia sedang diinjak-injak sampai sedemikian 

59 

 

parah sehingga bahkan periode tergelap dalam sejarah 

manusia pun tidak sebanding.” 

 

(Iqbal, Dr. Muhammad, Pesan Tahun Baru, 

Disiarkan dari Radio All India, Lahore, 1 Januari 1938. 

Dikutip dalam Syed Abdul Vahid, Pemikiran dan Renungan 

Iqbal, Lahore, Ashraf, 1964. hal. 373) 

 

❖ EPISTMOLOGI BARAT MODERN 

 

Peradaban Barat modern muncul sebagai akibat dari perubahan 

mendadak yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sampai 

sekarang tidak dapat dijelaskan, berhasil mengambil alih Eropa. 

Sebuah peradaban yang sebelumnya didasarkan kepercayaan 

pada Kristen Eropa, dan telah menunjukkan ekspresi misterius 

berlandaskan keyakinan ini  dengan Perang Salib, 

mengalami perubahan radikal yang secara misterius 

mengubahnya menjadi peradaban Kristen-Yahudi yang pada 

dasarnya sekuler dan suka berbuat maksiat dengan berlandaskan 

pada materialisme. Epistemologi ‘mata-satu’ yang baru, 

membuka jalan bagi ajaran kolektif materialisme, merupakan 

epistemologi yang secara khusus menyangkal kemungkinan 

ilmu pengetahuan diperoleh melalui pengalaman religius, atau 

melalui ilham dari alam tak terlihat, yakni melalui mata kedua 

(mata hati). Observasi dan eksperimen ilmiah merupakan satu-

satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan; 

dengan demikian apa yang tidak bisa diamati maka tidak bisa 

diketahui. Epistemologi baru secara alami membuka jalan bagi 

kesimpulan dramatis, yaitu, bahwa alam yang tidak dapat 

diamati dan diketahui, tidak ada. Dengan demikian, tidak ada 

alam selain alam materi. 

 

 

 

 

60 

 

❖ TANGGAPAN EPISTEMOLOGIS IQBAL 

 

Iqbal menyadari bahwa penerimaan epistemologi Barat ini akan 

mengakibatkan kehancuran total pada ajaran agama, termasuk 

Islam. Ilmu pengetahuan akan disekulerkan, dan pikiran sekuler 

akan terputus dari alam gaib – alam sakral. Hati lalu  akan 

kehilangan cahaya suci sehingga tanpanya penglihatan akan 

meredup. Bahkan ulama terbaik di dunia Islam akan berada 

dalam bahaya ditipu oleh Barat, dan semua bangsa manusia akan 

menari mengikuti irama mereka. Pemikiran Islam akan menjadi 

sangat sekuler sehingga golongan Protestan buta spiritual yang 

disebut versi kebangkitan Islam pun muncul. Sebuah zaman, di 

mana peradaban Barat mendominasi total atas seluruh bangsa 

manusia, pun mengakibatkan bahaya besar bagi pemahaman 

epistemologis dan kerusakan pemikiran Muslim. 

 

Tanggapan Iqbal yaitu mencurahkan dua dari tujuh ceramah 

yang lalu  disusun dalam sebuah artikel  dengan judul 

“Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam”, untuk 

membela epistemologi Sufi dengan yakin, dan menempatkan 

dua ceramah ini di awal rangkaian ceramahnya. Keduanya 

menempati posisi penting sebagaimana bab pertama artikel  ini. 

(Lihat situs; http://www.allamaiqbal.com/works/prose/english/ 

reconstruction.) 

 

Dalam bab Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman Religius 

serta Uji Filsafat Ilham Pengalaman Religius, Iqbal menyajikan 

tantangan yang paling argumentatif dan persuasif terhadap 

epistemologi Barat baru yang pernah ditulis oleh seorang 

Muslim. Dua bab pertama dalam artikel  Rekonstruksi ini disusun 

dan ditempatkan secara mencolok untuk tujuan ini, yaitu, 

mendorong kalangan ulama Islam untuk menyelidiki dengan 

cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan melampaui penampilan 

61 

 

menggoda yang dihadirkan oleh zaman modern, untuk 

memahami kenyataannya yang beracun. 

 

Lebih dari enam puluh tahun telah berlalu sejak tanggapan 

epistemologis terhadap tantangan Barat muncul dalam dua bab 

pertama artikel  Rekonstruksi, dan kalangan cendekia Barat tidak 

merendahkan hati untuk menanggapinya, begitu pula ulama 

Islam tidak peduli untuk mengikuti jejak epistemologis yang 

Iqbal sampaikan. Bahkan, kegagalan golongan ulama Islam ini 

sebagian berakibat menimbulkan keadaan buruk yang dialami 

umat Islam saat ini. Dunia Barat, dengan sistem pendidikan 

sekulernya, politik nafsu kekuasaan, keserakahan dan polarisasi 

warga , serta eksploitasi ekonomi, sudah mencapai 

keberhasilan hampir secara menyeluruh dalam menipu umat 

Islam sehingga dengan demikian memimpinnya menuju 

ketidakberdayaan, anarki, kebingungan intelektual, dan 

kehancuran iman. 

 

❖ AMBIVALENSI IQBAL 

 

Dari masa remaja sebagai mahasiswa di Lahore saat  ia 

bertemu dengan Thomas Arnold, hingga pendidikan pasca-

sarjananya di universitas-universitas terkemuka di Inggris dan 

Jerman, kedekatan Iqbal dengan pemikiran Barat sangat intim. 

Dia hidup pada zaman yang didorong untuk mengamati dan 

menanggapi lonjakan ilmu pengetahuan Barat yang unik dan 

menakjubkan sehingga memperluas batas-batas pengetahuan di 

hampir setiap cabang ilmu. Pemikiran modern peradaban Barat 

menempati panggung utama dalam dunia ilmu pengetahuan. 

Sejarah belum pernah menyaksikan sesuatu yang sebanding 

dengan keilmuan ini. Barat menantang dunia keilmuan 

tradisional dengan klaim telah berhasil melampaui segala 

sesuatu yang mendahuluinya. Bahkan, revolusi sains dan 

teknologi di Barat yaitu  sesuatu yang unik dalam dunia ilmu 

62 

 

pengetahuan. Sering kali rasa hormat Iqbal kepada keilmuan 

Barat tumbuh menjadi kekaguman secara langsung. Ini 

memuncak pada tahun-tahun terakhir hidupnya yang dituliskan 

dalam artikel  Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam. 

Kekagumannya kepada keilmuan Barat memicu akibat wajar 

yang mengganggu. Ini terungkap dengan sendirinya dalam 

klaim yang mengejutkan bahwa “... selama lima ratus tahun 

terakhir pemikiran religius dalam Islam praktis tidak 

berkembang” (Iqbal, Rekonstruksi, op.cit., hal. 6.) 

 

Dan sebagai akibat dari kekaguman yang mendalam kepada 

keilmuan Barat ini ditemukan dalam artikel  Rekonstruksi penuh 

dengan referensi dan kutipan dari rekan-rekannya di dunia 

keilmuan Barat itu. Tidak ada rekan seperti itu dalam 

komunitasnya sendiri, jadi tidak ada satu referensi pun dalam 

Rekonstruksi yang menyebutkan seorang ulama Muslim 

kontemporer dalam komunitas Muslim India yang besar dan 

berpengaruh secara intelektual. 

 

Ambivalensi ini, hubungan cinta-benci yang menemukan 

ekspresi dalam dua bab pertama Rekonstruksi, seperti dalam 

referensi tak berujung kepada para cendekiawan Barat, juga 

terungkap dalam pilihan bahasa Iqbal untuk menyapa umat 

Islam pada topik yang sama pentingnya dengan rekonstruksi 

pemikiran religius mereka. Dia memilih untuk berbicara kepada 

kaum intelektual Muslim yang berpendidikan Barat dalam 

bahasa Inggris. Tentu menjadi tontonan yang sangat 

menakjubkan untuk melihat Iqbal, tujuh puluh tahun yang lalu, 

berbicara kepada audiens Muslimnya yang sebagian besar tidak 

mengerti (perlu memahami ilmu pengetahuan filsafat untuk 

memahami ceramahnya) dalam bahasa Inggris murni dan 

dengan cara yang sesuai dengan etika dan kepekaan linguistik 

Barat sekuler. Tentu menjadi pemandangan yang sama 

menakjubkannya untuk melihat Iqbal yang sama menggunakan 

63 

 

bahasa asli Urdu dan bahasa Persia untuk menyampaikan pesan 

melalui sajak puisi yang bentuk dan hakikatnya cukup asing bagi 

pemikiran Barat. 

 

Kami percaya bahwa Iqbal sendiri tidak kebal dari pengaruh 

negatif epistemologi Barat yang sudah dia peringatkan. 

Puisinya, yang datang langsung dari hati, menerapkan 

penggunaan epistemologi Sufi yang tak tertandingi dan tidak 

terkekang oleh batasan epistemologis atau logika Barat. Hal ini 

tidak selalu dapat dikatakan sama dengan pemikirannya yang 

diungkapkan dalam bahasa Inggris. Tujuan kami dalam esai ini 

yaitu untuk mengarahkan perhatian pada topik yang 

menggambarkan dualitas pemikiran Iqbal. Topik ini  yaitu 

tentang eskatologi Islam.   

 

❖ ISLAM DAN AKHIR SEJARAH 

 

Apakah ada eskatologi Islam? Apakah Iqbal pernah 

menyampaikannya? 

 

Sesuai dengan konteks topik yang kita bahas di sini, untuk 

dicatat bahwa Islam sudah memilih istilah untuk periode waktu 

yang merujuk pada akhir zaman. Kata Islamnya yaitu As-Sa’ah. 

Informasi terpenting dalam topik As-Sa’ah ini, yakni, akhir 

zaman, ditentukan dalam kunjungan terkenal Malaikat Jibril 

(‘alaihi salam) saat  dia muncul di hadapan Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) di Masjid dalam wujud seorang pria. Dia 

mengajukan pertanyaan, Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

menjawabnya, dan Jibril lalu  menegaskan bahwa jawaban 

itu benar. Beberapa saat sesudah  kepergiannya, Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) memberi tahu umat Islam mengenai identitas 

sang pengunjung, dan fakta bahwa dia datang (pada tahap paling 

akhir dalam kehidupan Nabi) untuk mengajarkan mereka 

tentang ajaran agama mereka. Malaikat Jibril mengajukan lima 

64 

 

pertanyaan dan dua pertanyaan terakhir terkait dengan akhir 

zaman. Pertanyaan pertama dari dua pertanyaan terakhir itu 

yaitu : kapan akhir zaman akan datang? Nabi (shala Allahu ‘alaihi 

wa salam) menjawab bahwa orang yang ditanyai tidak memiliki 

lebih banyak pengetahuan tentang hal ini  dibandingkan  sang 

penanya. Pertanyaan kedua yaitu : beritahu aku tentang tanda-

tanda yang dengannya kita akan tahu bahwa akhir sudah dekat 

(yakni, apa saja tanda-tanda yang dengannya kita akan 

mengenali zaman yang merupakan akhir sejarah?) Dia 

menjawab bahwa seorang budak wanita akan melahirkan 

majikannya (dan ini sekarang menjadi mungkin dengan menjadi 

ibu pengganti dalam program bayi tabung), dan bahwa para 

gembala yang kemarin tanpa alas kaki akan bersaing satu sama 

lain dalam membangun gedung-gedung bertingkat. (Beberapa 

ulama Islam terkemuka pada zaman ini telah menyatakan bahwa 

tanda ini telah terwujud.) 

 

Hadits yang luar biasa ini menunjukkan betapa pentingnya 

keterkaitan Islam dengan pokok bahasan akhir sejarah. Hadits 

ini pun dengan jelas menetapkan bahwa kini kita hidup pada 

akhir zaman. 

 

Pandangan Islam tentang akhir zaman cukup komprehensif. 

Ini termasuk keyakinan bahwa bumi akan berfungsi sebagai 

tempat tinggal untuk waktu yang terbatas (Al-Baqarah 2: 36). 

Bumi suatu hari akan diubah menjadi tanah yang tandus (Al-

Kahfi 18: 8). Ini menyiratkan bahwa pada akhir zaman, akan 

terjadi kematian (sementara) bumi – sehingga dengan demikian 

terganggunya produksi makanan – akan didahului oleh zaman di 

mana persediaan air (tawar) terus berkurang, yang pada akhirnya 

menyebabkan kelangkaan air yang ekstrim. Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) menggambarkan akhir zaman sebagai Zaman 

Fitnah (yakni ujian dan cobaan), dan Al-Qur’an 

memperingatkan bahwa semua bangsa manusia akan menjadi 

65 

 

sasarannya, dan bahwa hukuman Allah akan sangat mengerikan. 

(Al-Qur’an Surat Al-Anfal, 8: 25). 

 

Persediaan air yang terus berkurang terjadi sebagai akibat 

dari dilepasnya makhluk jahat ciptaan-Nya ke dunia oleh Allah 

Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Yakjuj dan Makjuj. Dua Surat terakhir 

dalam Al-Qur’an secara khusus ditujukan untuk 

memperingatkan orang-orang beriman mengenai bahaya besar 

yang muncul di dunia sebagai akibat dari lepasnya “kejahatan 

yang diciptakan oleh Allah.” Bahaya besar muncul dalam 

bentuk “makhluk jahat” yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa 

Ta’ala untuk menguji dan menghukum. Makhluk jahat ini pun 

tentunya termasuk Dajjal Al-Masih palsu. Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) menggambarkan Yakjuj dan Makjuj sebagai 

makhluk yang sangat kehausan sehingga mereka akan meminum 

semua air yang ada di dunia. “Mereka akan melewati Danau 

Tabariyah di (Tanah Suci) dan meminumnya sampai kering.” 

(Sahih Muslim). “Mereka akan melewati sungai”, dia bersabda, 

“dan mereka akan meminumnya hingga kering”. (Kanz Al-

Ummal, Vol. 7, Hadits No. 2157). Dengan demikian, akhir 

zaman ditandai dengan konsumsi berlebihan, pemborosan, dan 

sikap tidak menghargai air. Umat manusia akan menyaksikan, 

pada akhir zaman, kerusuhan dan perang demi memperebutkan 

air. 

 

Jika kita melihat sekeliling kita di dunia ini, tampak cukup 

jelas bahwa hitungan mundur terjadinya kelangkaan air sudah 

dimulai. Ada kekurangan air yang tidak menyenangkan dan 

terus bertambah parah di hampir semua bagian dunia saat ini. 

Kepala Program Lingkungan PBB baru-baru ini 

mengungkapkan kekhawatirannya bahwa dunia sedang menuju 

“periode perang antar negara disebabkan oleh air”. Seorang 

menteri pemerintah Pakistan memperingatkan kemungkinan 

terjadinya kerusuhan sebab  air di Kota Karachi. Proyek 

66 

 

Bendungan Kalabagh mengancam pertumpahan darah. 

Bendungan Farrakha, yang dibangun oleh India, mengancam 

akan menenggelamkan Bangladesh. Turki dan Suriah mungkin 

suatu hari akan berperang memperebutkan air yang merupakan 

salah satu masalah paling parah yang memecah belah mereka. 

Israel, Arab Palestina, dan negara-negara Arab tetangganya 

(khususnya Yordania) memiliki perselisihan yang serius dan 

semakin parah terkait pembagian pasokan air yang semakin 

menipis. Israel sebenarnya melancarkan perang sebab  air 

terhadap bangsa Arab Palestina, Muslim dan juga Kristen. 

 

Bukti yang terus bertambah dengan jelas menegaskan 

bahwa lepasnya Yakjuj dan Makjuj sudah terjadi. Iqbal setuju. 

Bahkan, ia tampaknya menjadi salah satu dari sedikit ulama 

Islam yang memiliki visi dan keberanian untuk membuat 

pernyataan resmi bahwa pelepasan ini  sudah terjadi dan 

bahwa kita kini hidup pada akhir zaman, atau zaman yang akan 

menyaksikan akhir sejarah. Deklarasi penting ini dibuat oleh 

Iqbal dalam sajak Urdu dan sudah bisa diperkirakan, tidak ada 

satupun isyarat ini  dalam tulisan atau pernyataannya yang 

dibuat dalam bahasa Inggris. Berikut inilah sajaknya: 

 

“Khul gayay y’ajuj aur m’ajuj kay lashkar tamam, 

Chashmay Muslim dekhlay tafseer harf-e-yansiloon.” 

Terlepaslah segerombolan Yakjuj dan Makjuj; 

Jelaslah di mata umat Muslim arti kata yansilun. 

Kata yansilun, yang muncul di bagian akhir ayat, dan Tafsir 

(penjelasan) Iqbal mengarahkan perhatian umat Muslim,  dalam 

Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala 

berfirman bahwa saat Yakjuj dan Makjuj dilepas, mereka akan 

menyebar ke segala arah (min kulli hadabin yansilun). Berikut 

ini yaitu  ayat yang dimaksud: 

67 

 

 

“Ada larangan di sebuah kota yang telah Kami 

hancurkan, bahwa mereka (yakni penduduk kota itu) 

tidak akan pernah dapat kembali (untuk merebut kota itu 

sebagai milik mereka lagi), hingga Yakjuj dan Makjuj 

dilepas (dari dinding penghalang yang dibangun Dzul 

Qarnain untuk menahan mereka) dan mereka menyebar 

ke segala arah.”   

 

(Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’, 21: 95-96) 

 

Ini menunjukkan bahwa Yakjuj dan Makjuj tidak hanya 

menjadi kekuatan dominan di dunia, tetapi mereka pun dapat 

menaklukkan seluruh bangsa manusia. Bahkan, kekuatan 

mereka akan sedemikian kuat sehingga, menurut Hadits Qudsi, 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tidak ada selain Aku yang 

mampu melawan (dan membinasakan) mereka.” (Kanz Al-

Ummal, Vol. 7, Hadith No. 3021). 

 

Pendapat kami yaitu Iqbal dapat sampai pada kesimpulan 

yang sangat akurat ini sekitar delapan puluh tahun yang lalu 

sebagai akibat dari penerapan epistemologi Sufi. Dia memiliki 

keberanian untuk membuat lompatan intelektual dengan ilmu 

pengetahuan intuitif mengejutkan yang disampaikan kepadanya, 

dalam satu momen yang mempesona sebagai inti dari topik 

eskatologi Islam ini. Orang yang tidak berpendidikan dapat 

mengatakan banyak hal tanpa ilmu pengetahuan. Akan tetapi 

jika seorang ulama Al-Qur’an membuat pernyataan seperti ini, 

maka pasti didasarkan pada landasan yang sangat kuat. 

Cendekiawan Islam konvensional dilengkapi dengan Ijazah-

ijazah yang mengesankan, namun tidak mampu atau tidak mau 

menjangkau ilmu pengetahuan intuitif mengenai topik 

eskatologi Islam, belum mengumumkan kapan terjadinya 

pelepasan Yakjuj dan Makjuj. Penulis ini bertemu di Lahore 

68 

 

dengan penafsir artikel -artikel  karya Iqbal, almarhum Prof. 

Muhammad Munawwar, yang berpendapat bahwa Iqbal 

menganggap Barat Kristen-Yahudi modern sebagai peradaban 

Yakjuj dan Makjuj. 

 

Kami yakin Iqbal memang benar. Pertimbangkan hal-hal 

berikut: 

 

Kedudukan Khalifah merupakan institusi pusat kesatuan 

kolektif Umat Muslim. Walaupun kursi Khalifah sering kali diisi 

dengan cara yang tidak sesuai dengan Syari’ah Islam, institusi 

Khalifah bertahan lama sampai sekitar 1.300 tahun. Ada indikasi 

dalam Hadits terkenal bahwa Khalifah akan menghilang tetapi 

akan direstorasi pada saat kedatangan Imam Al-Mahdi dan 

kembalinya Nabi ‘Isa (‘alaihi salam): 

 

“Betapa bahagianya kalian saat Putra Maryam turun ke 

tengah kalian dan Imam kalian akan berasal dari kalangan 

kalian sendiri.” 

 

(Sahih Bukhari) 

 

sesudah  tujuh tahun pernyataan Iqbal mengenai lepasnya 

Yakjuj dan Makjuj pada 1917, kekuatan dan pengaruh yang 

belum pernah ada sebelumnya di peradaban Barat yang dominan 

saat ini mengakibatkan kehancuran Kekaisaran Islam 

Utsmaniyah dan lalu  jatuhnya Khalifah. 

 

Kedua, haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi 

Islam, dan telah bertahan selama ribuan tahun. Nabi (shala Allahu 

‘alaihi wa salam) meramalkan ibadah Haji akan ditinggalkan 

dalam konteks sesudah  lepasnya Yakjuj dan Makjuj. Nubuwah 

atau ramalan ini tampaknya akan segera terjadi. Ini harus terjadi 

segera sesudah  orang-orang Yahudi memenuhi janji mereka 

untuk menghancurkan Masjid al-Aqsa untuk membangun 

69 

 

kembali Bait Sulaiman (‘alaihi salam). saat  terjadi, maka hal itu 

akan mengkonfirmasi tanpa dibayangi keraguan bahwa Iqbal 

memang benar dalam pernyataan bahwa Yakjuj dan Makjuj 

sudah dilepas.  

 

Ketiga, ciri dasar Yakjuj dan Makjuj yaitu  fasad (yaitu, 

tingkah laku mereka yang merusak, menipu dan 

menghancurkan) (Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 94). Dengan 

demikian, pada zaman Yakjuj dan Makjuj terjadi kerusakan dan 

kehancuran dalam skala besar dan belum pernah terjadi 

sebelumnya. Segalanya rusak dan akhirnya hancur – agama dan 

ulama; kehidupan pemerintahan dan politik; pasar, ekonomi, 

dan bidang finansial atau keuangan; hukum dan keadilan; 

transportasi, lingkungan, bahkan sistem ekologi bumi; seks, 

pernikahan dan kehidupan keluarga; olahraga dan hiburan; 

pendidikan, pemuda, peran wanita  dalam warga , dan 

sebagainya. saat  kita melihat sekeliling kita di dunia saat ini, 

kita menemukan banyak bukti dari kerusakan dan kehancuran 

universal ini. Bumi akan menjadi tanah yang kering lagi tandus 

yang tidak mampu menghasilkan makanan untuk mendukung 

kehidupan manusia. Hal ini menandakan bahwa Iqbal memang 

benar, dan hitungan mundur sudah dimulai. 

 

Keempat, karakteristik dasar Yakjuj dan Makjuj lainnya 

yaitu sekuler dan suka berbuat maksiat (khabats). Karakteristik 

sekuler atau tidak bertuhan ini dijelaskan dalam Hadits Qudsi di 

mana kita diberitahu bahwa hanya 1 dari setiap 1.000 orang pada 

akhir zaman yang akan masuk ke dalam surga (dan orang itu 

yaitu  pengikut agama Ibrahim yang sejati). Sisanya, 999 dari 

setiap 1.000, merupakan orang-orang yang mengikuti Yakjuj 

dan Makjuj akan dimasukkan ke Neraka (Sahih Bukhari, 4:567; 

6:265; 8:537).  

 

70 

 

Karakteristik suka berbuat maksiat dijelaskan dalam sebuah 

Hadits di mana Nabi menyampaikan kepada istrinya, Zainab, 

berita bahwa kehancuran bangsa Arab akan terjadi pada saat 

Yakjuj dan Makjuj membanjiri dunia dengan kemaksiatan. 

Sabdanya yaitu: “Celaka bagi bangsa Arab, sebab  kejahatan 

yang kini mendekat” (Sahih Bukhari, 4:797; 9:181; 9:249).  

 

Penggunaan istilah Khabats dalam Al-Qur’an termasuk 

penyimpangan seksual yang menjadi ciri penduduk Sodom dan 

Gomora. Ada cukup bukti karakteristik sekuler, kemaksiatan, 

dan perilaku seksual yang menyimpang di dunia saat ini 

sehingga memenuhi syarat sebagai deskripsi yang digambarkan 

oleh Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam). Sekali lagi Iqbal benar. 

 

Karakteristik kelima Yakjuj dan Makjuj, juga melanjutkan 

dari hal-hal yang sudah disebutkan di atas, yaitu mereka akan 

mengubah seluruh bangsa manusia menjadi satu warga  

global di mana seluruh manusia pada dasarnya akan mengikuti 

cara hidup yang sama. Mereka akan menjadi sekuler dan suka 

berbuat maksiat. warga  tunggal yang sekuler dan suka 

berbuat maksiat ini telah merangkul kalangan elit di seluruh 

dunia. Prosesnya sekarang bergerak tanpa henti untuk juga 

merangkul warga  secara luas. Narasi Hadits yang 

sebenarnya yaitu Yakjuj akan berkembang untuk 

menggabungkan empat ratus bangsa manusia lainnya dan 

Makjuj pun melakukan hal yang sama. Maka dunia Yakjuj dan 

Makjuj akan menjadi dunia informasi, komunikasi, hiburan, dsb. 

Proses ini akan sampai pada pembentukan satu warga  

global yang suka berbuat maksiat dengan penerangan mental 

dan spiritual Kentucky Fried Chicken dan Coca Cola. 

Pemerintah dunia akan memimpinnya. Televisi telah 

memainkan, dan masih memainkan, peran penting dalam upaya 

tanpa henti untuk mencapai tujuan ini  – sebuah tujuan yang 

71 

 

sekarang tampaknya cukup dalam jangkauan. Ini menegaskan 

pernyataan Iqbal. 

 

Keenam, mungkin menjadi petunjuk paling penting dari 

lepasnya Yakjuj dan Makjuj, dan konsekuensi yang tidak 

menyenangkan dari lepasnya mereka bagi umat Islam, ada 

dalam hadits (disebutkan di atas) yaitu Nabi (shala Allahu ‘alaihi 

wa salam) bersabda kepada istrinya, Ummul Mukminin Zainab 

(radhiyallahu ‘anha), tentang lepasnya Yakjuj dan Makjuj. 

Sabdanya yaitu: “Celaka bagi bangsa Arab, sebab  kejahatan yang 

kini mendekat.” Dengan kata lain lepasnya Yakjuj dan Makjuj 

akan mengakibatkan penderitaan dan malapetaka besar 

khususnya di negara-negara Arab. Petunjuk mengenai hal ini 

diungkapkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu 

wa Ta’ala menyatakan kota (atau negeri) yang telah dihancurkan 

oleh-Nya, bahwa restorasi negeri itu tidak akan dapat terjadi 

hingga lepasnya Yakjuj dan Makjuj membuatnya menjadi 

mungkin (lihat rujukan pada ayat 95 & 96 Surat Al-Anbiya’ di 

atas).  

 

Penggunaan epistemologi Sufi yang saya lakukan 

mengarahkan saya pada kesimpulan bahwa kota itu yaitu  

Yerusalem (yaitu, berdirinya Negara Israel) dan dengan 

demikian saya menginterpretasikan ayat ini  bahwa Negara 

Israel, yang dihancurkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dua kali 

dalam sejarah, direstorasi pada saat Yakjuj dan Makjuj telah 

dilepas, dan sebagai konsekuensinya, restorasi Negara Israel ini 

merupakan bagian dari Rencana Ilahi sehingga dengan cara ini 

Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus akan menipu kaum 

Yahudi dan memimpin mereka menuju kebinasaan terakhir 

mereka. Sesungguhnya, inilah tepatnya mengapa ia dikenal 

sebagai Al-Masih Ad-Dajjal. Identifikasi “Kota” yang dimaksud 

yaitu  Yerusalem sama sekali tidak dibuat-buat. Ada Hadits 

yang menghubungkan Yakjuj dan Makjuj dengan Yerusalem 

72 

 

(yakni ibu kota Negara Israel). Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) 

bersabda bahwa saat Yakjuj dan Makjuj dilepas, mereka akan 

melewati Danau Tabariyah (yang ada di Israel) (Kanz Al-

Ummal, Vol. 7, Hadits No. 3021).  

 

Lalu ada Hadits yang sangat panjang dalam Sahih Muslim 

di mana kita diberitahu bahwa Yakjuj dan Makjuj akan 

menyerang Al-Masih asli, Nabi ‘Isa putra perawan Maryam 

(‘alaihi salam) di Yerusalem. 

  

Perlu diperhatikan bahwa Perjanjian Perdamaian Yordania-

Israel Oktober 1994 mengakui hak Yordania atas sejumlah air 

dari sungai yang dibagi untuk kedua negara. Israel dapat 

memenuhi kewajiban perjanjian ini dengan memompa air dari 

Danau Tabariyah. Permukaan air Danau Tabariyah telah 

mencapai titik terendah pada tahun 1998 (saat  penulisan esai 

ini), sehingga pemompaan air lebih lanjut akan mengakibatkan 

gangguan pada kepasitasnya untuk menyimpan air. Akibatnya, 

Israel terpaksa menangguhkan pemenuhan kewajiban 

perjanjiannya tentang penyediaan air ke Yordania. Israel baru-

baru ini mengatakan kepada Yordania bahwa bagian air untuk 

Yordania akan berkurang 60% selama musim panas mendatang 

sebab  “curah hujan rendah”. Menanggapi hal ini , Menteri 

Luar Negeri Yordania telah mendesak Israel untuk memenuhi 

komitmennya dan melaksanakan kesepakatan yang telah 

ditandatangani. Hitungan mundur sudah dimulai! 

 

Restorasi Negara Israel tidak hanya menegaskan lepasnya 

Dajjal Al-Masih palsu serta Yakjuj dan Makjuj, tetapi juga 

merupakan belati yang benar-benar menghujam ke jantung 

dunia Muslim Arab. Ini, pada gilirannya, memenuhi ramalan 

yang tidak menyenangkan: “Malapetaka bagi bangsa Arab.” Kita 

dapat menambahkan, secara sepintas, bahwa revolusi feminis 

zaman modern (di mana malam ingin menjadi siang) 

73 

 

menegaskan bahwa Dajjal sekarang berada di tahap akhir 

misinya.  

 

Sungguh menjadi suatu kejutan yang menyenangkan bagi 

saya  mendapati kesimpulan ini dikonfirmasi oleh Syeikh Sufi 

terkemuka. Mungkin saja Iqbal sampai pada kesimpulan yang 

sama sebab  alasan inilah mengapa dia mengarahkan perhatian 

pada tafsir yansilun (yaitu penafsiran ayat 95 dan 96 Al-Qur’an 

Surat Al-Anbiya’). Lagipula, Gerakan Zionis didirikan pada 

tahun 1898, dan aliansi antara Zionis dan Barat modern dengan 

menyakitkan diungkapkan kepada Iqbal dalam Deklarasi 

Balfour tahun 1917. 

 

❖ AMBIVALENSI EPISTEMOLOGIS IQBAL DAN 

AKHIR SEJARAH 

 

Aktor utama dalam tahap akhir sejarah, yaitu Yakjuj dan 

Makjuj, Dajjal, Imam Al-Mahdi, dan kembalinya Al-Masih asli, 

Nabi ‘Isa putra perawan Maryam (‘alaihi salam), dan peran 

masing-masing yang mereka jalankan, semuanya tergabung 

dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.  

 

Hal yang benar-benar mengkhawatirkan yaitu meskipun 

Iqbal sudah mengkonfirmasi lepasnya Yakjuj dan Makjuj, dia 

menolak kepercayaan pada munculnya Dajjal Al