doktrin dasar alkitab 20

Tampilkan postingan dengan label doktrin dasar alkitab 20. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doktrin dasar alkitab 20. Tampilkan semua postingan

doktrin dasar alkitab 20


 


mpa kami dan sembu-

nyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di

atas takhta dan terhadap murka Anak Dom-

ba itu.’ Sebab sudah tiba hari besar murka

mereka dan siapakah yang dapat bertahan?”

(Why. 6:15-17).

Akan namun  kegembiraan umat yang me-

rindukan kedatangan-Nya menutupi ratap ta-

ngis orang-orang yang jahat itu. Kedatangan

Penebus merupakan puncak kemuliaan bagi

sejarah umat Allah; sebab  itulah saat kele-

pasan mereka. Dengan suara pujaan yang

menggetarkan mereka berseru: “Sesungguh-

nya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan,

supaya kita diselamatkan. Inilah Tuhan yang

kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-so-

rak dan bersukacita oleh sebab  keselamatan

yang diadakan-Nya!” (Yes. 25:9).

Ketika Yesus semakin turun mendekati

bumi, Ia memanggil orang-orang saleh yang

tidur supaya keluar dari kubur mereka dan

menyuruh para malaikat-Nya keluar “meniup

sangkakala yang dahsyat bunyinya dan me-

reka akan mengumpulkan orang-orang pilih-

an-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung

langit yang satu ke ujung langit yang lain”

(Mat. 24:31). Dari segenap penjuru dunia,

orang-orang benar yang mati mendengar

suara-Nya lalu bangkit dari kubur mereka–

itulah hari kesukaan!

Maka orang-orang benar yang masih hi-

dup akan diubahkan “dalam sekejap mata” (1

Kor. 15:52). Mereka dimuliakan dengan ke-

abadian, bergabung dengan orang-orang sa-

leh yang dibangkitkan, untuk menyongsong

Tuhan mereka ke awan-awan dan akan ting-

gal dengan Dia selama-lamanya (1 Tes. 4:16,

17).

KEPASTIAN KEDATANGAN

KRISTUS

Para rasul dan orang-orang Kristen yang

mula-mula menganggap kedatangan Kristus

kedua kali yaitu  pengharapan “yang penuh

bahagia” (Tit. 2:13; bandingkan Ibr. 9:28).

Mereka menanti kegenapan seluruh nubuatan

itu dan janji-janji Kitab Suci pada Kedatangan

Kristus yang kedua kali (baca 2 Ptr. 3:13;

bandingkan Yes. 65:17), sebab  itulah tujuan

pengembaraan orang Kristen yang sesung-

guhnya. Semua orang yang mengasihi Kris-

tus akan menanti hari itu dengan penuh peng-

harapan, suatu saat di mana mereka dapat

mengadakan persekutuan dengan Dia muka

Kedatangan Kristus yang Kedua Kali 375

dengan muka–bersama Bapa, Roh Kudus

dan para malaikat.

Kesaksian Kitab Suci. Kepastian Keda-

tangan Kristus yang kedua kali berakar pada

pengharapan yang pantas atas Kitab Suci.

Sebelum Kristus mati, Ia telah mengatakan

kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan

kembali kepada Bapa-Nya untuk menyedia-

kan tempat bagi mereka. Bahkan Ia berjanji

kepada mereka, “Aku akan datang kembali

dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya

di tempat di mana aku berada, kamu pun ber-

ada” (Yoh. 14:3).

Sebagaimana kedatangan Kristus yang

pertama kali ke dunia ini telah lebih dahulu

dinubuatkan, begitu pula dengan kedatangan-

Nya yang kedua kali juga telah diceritakan

lebih dahulu di dalam Kitab Suci. Bahkan

sebelum Air Bah terjadi, Tuhan telah menga-

takan kepada Henokh bahwa Kristuslah

yang akan datang dalam kemuliaan-Nya un-

tuk mengakhiri dosa. Ia menubuatkan, “Se-

sungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ri-

bu orang kudus-Nya, hendak menghakimi se-

mua orang dan menjatuhkan hukuman atas

orang-orang fasik, yang mereka lakukan dan

sebab  semua kata-kata nista, yang diucapkan

orang-orang berdosa yang fasik itu kepada

Tuhan” (Yud. 14, 15).

Seribu tahun sebelum Kristus lahir, pe-

mazmur telah berbicara mengenai kedatangan

Tuhan untuk mengumpulkan umat-Nya de-

ngan berkata, “Allah kita datang dan tidak

akan berdiam diri, di hadapan-Nya api men-

jilat, sekeliling-Nya bertiup badai yang dah-

syat. Ia berseru kepada langit di atas, dan ke-

pada bumi untuk mengadili umat-Nya: Ba-

walah ke mari orang-orang yang Kukasihi,

yang mengikat perjanjian dengan aku ber-

dasarkan korban sembelihan!” (Mzm. 50:3-

5).

Murid-murid Kristus sangat gembira atas

janji kedatangan-Nya. Di tengah-tengah se-

gala kesulitan yang dihadapi mereka, jaminan

atas janji ini tidak pernah gagal untuk memba-

rui keberanian dan kekuatan mereka. Guru

mereka akan datang kembali dan akan mem-

bawa mereka ke rumah Bapa!

Jaminan Atas Kedatangan yang Pertama

Kali Dibuat. Kedatangan Kristus yang ke-

dua kali erat kaitannya dengan kedatangan-

Nya yang pertama. Jika Kristus tidak datang

dan memperoleh kemenangan yang menentu-

kan atas dosa dan Setan (Kol. 2:15), maka

kita tidak akan memiliki alasan untuk percaya

bahwa Ia akan datang pada kali yang kedua

untuk mengakhiri penguasaan Setan atas

dunia dan memulihkannya kepada kesem-

purnaan yang semula. Akan namun  sebab 

kita mempunyai bukti bahwa Ia “pada zaman

akhir... menghapuskan dosa oleh korban-

Nya,” maka kita memiliki alasan untuk per-

caya bahwa “Ia akan menyatakan diri-Nya

sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk

menganugerahkan keselamatan” (Ibr. 9:26,

28).

Pelayanan Kristus di Surga. Wahyu Kris-

tus kepada Yohanes menyatakan dengan je-

las bahwa bait suci surga yaitu  pusat ren-

cana keselamatan (Why. 1:12, 13; 3:12; 4:1-

5; 5:8; 7:15; 8:3; 11:1, 19; 14:15, 17; 15:5, 6, 8;

16:1, 17). Nubuatan-nubuatan yang menunjuk-

kan bahwa Ia telah memulai tugas pelayanan

terakhir-Nya demi kepentingan orang-orang

yang berdosa menambahkan jaminan bahwa

Ia akan segera kembali untuk menjemput

umat-Nya pulang ke rumah (lihat bab 24).

Keyakinan bahwa Kristus bekerja dengan gi-

at untuk menyempurnakan penebusan yang

telah dilaksanakan di atas kayu salib telah

mendatangkan keberanian bagi orang Kristen

yang sedang mengharapkan kedatangan-

Nya kembali.

376 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

CARA KEDATANGAN KRISTUS

KEMBALI

Sebagaimana Kristus telah mengutarakan

tanda-tanda yang menunjukkan dekat-Nya

kedatangan-Nya, Ia juga menunjukkan per-

hatian yang sungguh-sungguh atas murid-

murid-Nya, agar mereka jangan sampai ter-

tipu oleh pernyataan yang palsu. Ia mem-

berikan amaran bahwa sebelum Kedatangan

Kristus yang kedua kali “mesias-mesias pal-

su dan nabi-nabi palsu akan muncul dan

mereka akan mengadakan tanda-tanda yang

dahsyat dan mukjizat-mukjizat, sehingga se-

kiranya mungkin, mereka menyesatkan

orang-orang pilihan juga.” Ia berkata, “Jika

orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias

ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan

kamu percaya” (Mat. 24:24, 23). Diamarkan

lebih dahulu supaya waspada. Untuk mem-

buat orang yang percaya itu dapat membe-

dakan antara peristiwa yang murni dengan

yang palsu, beberapa ayat dalam Alkitab di-

berikan untuk menyatakan rincian cara-cara

kedatangan Kristus kembali.

Datang Secara Nyata dan Pribadi. Tat-

kala Yesus naik dan terangkat ke awan-

awan, dua orang malaikat memberikan ama-

nat kepada murid-murid, yang masih tetap

menatap ke atas ketika Tuhannya terangkat;

“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu

berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang

terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan

datang kembali dengan cara yang sama

seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kis.

1:11).

Dengan kata lain, mereka mengatakan

bahwa Tuhan yang sama yang terangkat dari

tengah-tengah mereka–mempunyai pribadi,

dengan wujud daging dan darah, bukan dalam

wujud roh (Luk. 24:36-43) –akan kembali ke

dunia. Dan kedatangan-Nya yang kedua kali

yaitu  dalam wujud nyata dan pribadi seba-

gaimana waktu Ia berangkat ke surga.

Kedatangan-Nya dapat Dilihat. Kedatang-

an Kristus bukanlah kedatangan dalam batin,

atau pengalaman yang tidak tampak melain-

kan sebuah pertemuan yang nyata dengan

Pribadi yang tampak. Tidak perlu diragukan

mengenai kedatangan-Nya kembali yang

kelak tampak dengan nyata, Yesus meng-

amarkan murid-murid-Nya terhadap keda-

tangan-Nya yang dikatakan secara diam-di-

am dengan tegas menyatakan bahwa keda-

tangan-Nya kembali disertai kilat yang

memancar (Mat. 24:27).

Dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa

baik orang yang benar maupun orang yang

jahat secara serentak menyaksikan kedatang-

an-Nya. Yohanes menulis, “Lihatlah, Ia da-

tang dengan awan-awan dan setiap mata

akan melihat Dia” (Why. 1:7), dan Kristus

mencatat sambutan orang yang jahat: “Dan

semua bangsa di bumi akan meratap dan me-

reka akan melihat Anak kita semua  itu datang di

atas awan-awan di langit dengan segala ke-

kuasaan dan kemuliaan-Nya” (Mat. 24:30).

Terdengar Jelas. Untuk menambah gam-

baran kesadaran yang universal dari hal kem-

balinya Kristus yaitu  keterangan Alkitabiah

bahwa kedatangan-Nya akan diketahui de-

ngan terdengarnya bunyi: “Sebab pada waktu

tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu ma-

laikat berseru dan sangkakala Allah berbu-

nyi” (1 Tes. 4:16). “Sangkakala yang dahsyat

bunyinya” (Mat. 24:31) menyertai umat-Nya

yang berhimpun itu. Di sini tidak ada yang

bersifat rahasia.

Kembali dengan Penuh Kemuliaan. Apa-

bila Kristus kembali, Ia datang sebagai seo-

rang pemenang disertai dengan kuasa “dalam

kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malai-

Kedatangan Kristus yang Kedua Kali 377

kat-Nya” (Mat. 16:27). Yohanes Pewahyu

menggambarkan kemuliaan Kristus waktu

kembali dengan cara yang sangat dramatis.

Ia menggambarkan Kristus menunggang ku-

da putih seraya memimpin pasukan yang

tidak terhitung jumlahnya dari surga. Kein-

dahan yang luar biasa dari kemuliaan Kristus

itu tampak dengan nyata (Why. 19:11-16).

Kembali dengan Tiba-tiba, Tidak Disang-

ka-sangka. Orang Kristen yang percaya,

yang rindu dan mengharapkan kedatangan

Kristus, akan waspada menjelang kedatangan

yang semakin dekat itu (1 Tes. 5:4-6). Akan

namun  mengenai penduduk dunia ini pada

umumnya, Paulus menulis, “Bahwa hari Tu-

han datang seperti pencuri pada malam. Apa-

bila mereka mengatakan “semuanya damai

dan aman–maka tiba-tiba mereka ditimpa

oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan

yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin–me-

reka pasti tidak akan luput” (1 Tes. 5:2, 3;

bandingkan Mat. 24:43).

Ada orang yang menyimpulkan bahwa

dengan perbandingan Paulus atas kedatangan

Kristus dengan seorang pencuri menunjukkan

bahwa Ia akan datang secara diam-diam, de-

ngan cara yang tidak tampak. Pendapat yang

demikian bertentangan dengan gambaran

yang diberikan Alkitab mengenai kedatangan

Kristus yang disertai dengan kemuliaan dan

keindahan di hadapan semua mata (Why.

1:7). Pandangan Paulus bukanlah menyatakan

bahwa kedatangan Kristus secara rahasia,

akan namun  justru bagi pikiran yang duniawi,

kedatangan itu begitu tiba-tiba sehingga tidak

disangka-sangka mereka.

Kristus membuat perbandingan yang se-

rupa dengan membanding kedatangan-Nya

dengan kebinasaan yang tiba-tiba terjadi ke-

pada dunia purba, oleh air bah. “Sebab seba-

gaimana mereka pada zaman sebelum air bah

itu makan dan minum, kawin dan mengawin-

kan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam

bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu,

sebelum air bah itu datang dan melenyapkan

mereka semua, demikian pulalah halnya ke-

lak pada kedatangan Anak kita semua ” (Mat.

24:38, 39). Sekalipun Nuh telah berkhotbah

bertahun-tahun mengenai air bah yang akan

datang, toh orang juga masih merasa terkejut.

Ada dua golongan kita semua  yang hidup. Satu

golongan kita semua  yang percaya kepada per-

kataan Nuh dan mereka masuk ke dalam

bahtera dan selamat, sedang  yang lain

yaitu  orang-orang yang memilih tetap ber-

ada di luar lalu “air  bah itu datang dan mele-

nyapkan mereka semua” (Mat. 24:39).

Peristiwa Perubahan Besar. Seperti hal-

nya dengan Air Bah, mimpi Nebukadnezar

dari hal patung logam menggambarkan cara

perubahan besar yang di dalamnya Kristus

akan mendirikan kerajaan kemuliaan-Nya (li-

hat bab 4). Nebukadnezar melihat patung

yang besar dengan “kepalanya dari emas tua,

dada dan lengannya dari perak, perut dan

pinggangnya dari tembaga, sedang pahanya

dari besi dengan kakinya sebagian dari besi

dan sebagian lagi dari tanah liat. Sementara

tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah

batu tanpa perbuatan tangan kita semua , lalu

menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang

dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk.

Maka dengan sekaligus diremukkannyalah

juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas

itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di

tempat pengirikan pada musim panas, lalu

angin menghembuskannya, sehingga tidak

ada bekas-bekasnya yang ditemukan. namun 

batu yang menimpa patung itu menjadi gu-

nung besar yang memenuhi seluruh bumi”

(Dan. 2:32-35).

Melalui mimpi ini Tuhan memberikan

kepada Nebukadnezar ikhtisar sejarah dunia.

Antara masanya dengan pendirian kerajaan

378 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

kekal Kristus (batu itu), empat kerajaan besar

dan campuran beberapa bangsa kecil yang

lemah dan kuat menguasai panggung dunia.

Pada zaman Kristus para penafsir telah

mengidentifikasi kerajaan ini sebagai berikut:

Babilon (605-539 SM), Medo-Persia (539-

331 SM), Yunani 331-168 SM, dan Roma

(168 SM - 476 TM). Sebagaimana telah di-

nubuatkan, tidak ada kerajaan lain yang

menggantikan Roma. Selama masa abad ke-

empat dan kelima Tarikh Masehi, kerajaan itu

terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan

kecil yang lalu  menjadi bangsa-bangsa

Eropa. Selama berabad-abad, penguasa

yang  tangguh–Charlemagne, Charles V, Na-

poleon, Kaisar Wilhem dan Hitler–telah ber-

usaha membangun kerajaan dunia yang lain.

Semuanya gagal, tepat seperti apa yang telah

dinubuatkan: “namun  tidak akan merupakan

satu kesatuan, seperti besi tidak dapat ber-

campur dengan tanah liat” (Dan. 2:43).

Akhirnya, fokus mimpi itu tertuju kepada

klimaks yang dramatis: pendirian kerajaan

Tuhan selama-lamanya. Batu yang terungkit

lepas tanpa tangan yang mendorong meng-

gambarkan kerajaan kemuliaan Kristus

(Dan. 7:14; Why. 11:15), yang akan didirikan

tanpa upaya kita semua  pada waktu kedatangan

Kristus yang kedua kali.

Kerajaan Kristus tidaklah serempak ada

dengan kerajaan kita semua  mana pun. Ketika

Ia masih hidup di atas dunia ini saat kerajaan

Roma berkuasa, kerajaan batu yang meng-

hancurkan segala bangsa itu belumlah tiba.

Hanyalah sesudah fase kaki yang terdiri dari

besi bercampur tanah liat, periode bangsa-

bangsa terbagi-bagi, kerajaan itu tiba. Kera-

jaan itu akan didirikan pada waktu Keda-

tangan Kristus yang kedua kali, saat Ia me-

misahkan yang benar dari yang jahat (Mat.

25:31-34).

Apabila itu terjadi, batu atau kerajaan ini

akan menimpa “patung itu, tepat pada kaki-

nya yang dari besi dan tanah liat itu,”dan “itu

akan meremukkan segala kerajaan dan

menghabisinya,” tidak ada yang sisa dari me-

reka (Dan. 2:34, 44, 35). Sesungguhnya, Ke-

datangan Kristus yang kedua kali yaitu  pe-

ristiwa yang menggoncangkan bumi.

KEDATANGAN YANG KEDUA

KALI DAN BANGSA kita semua 

Kedatangan Kristus yang kedua kali akan

menyentuh dua kelompok besar kita semua –-

mereka yang menerima-Nya dan keselamatan

yang dibawa-Nya, dan mereka yang telah

berpaling dari pada-Nya.

Pengumpulan Orang yang Terpilih. Salah

satu aspek penting dari pendirian kerajaan

kekal Kristus ialah pengumpulan semua

orang yang sudah ditebus (Mat. 24:31; 25:32-

34; Mrk. 13:27) untuk dibawa ke surga yang

telah disediakan Kristus (Yoh. 14:3).

Apabila seorang kepala negara mengun-

jungi negeri lain, hanya sebagian kecil saja da-

ri rombongan itu yang mendapat sambutan

selamat datang. Akan namun  kalau Kristus

datang, setiap orang percaya yang pernah hi-

dup, tanpa memandang usia, jenis kelamin,

pendidikan, atau status ekonomi maupun

bangsa, akan turut mengambil bagian dalam

perayaan kedatangan Kristus yang Agung

itu. Dua peristiwa yang mungkin terjadi seca-

ra universal ketika pengumpulan orang yang

ditebus ini berlangsung: kebangkitan orang

saleh yang sudah mati dan pengubahan orang

saleh yang masih hidup.

1. Kebangkitan orang mati di dalam

Kristus. Pada waktu bunyi sangkakala ter-

dengar untuk memberitahukan kedatangan

Kristus, orang benar yang sudah mati akan di-

bangkitkan dengan mengenakan tubuh yang

tidak ada cacatnya lagi, memperoleh kehi-

Kedatangan Kristus yang Kedua Kali 379

dupan yang baka (1 Kor. 15:52, 53). Pada

ketika itu juga “mereka yang mati dalam

Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tes.

4:16). Dengan kata lain, mereka dibangkitkan

sebelum orang benar yang masih hidup

dibawa kepada Tuhan.

Kebangkitan yang pertama itu akan mem-

pertemukan kembali mereka yang berkabung

pada saat perpisahan dahulu. Mereka berso-

rak kegirangan, “Hai maut di manakah keme-

nanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

(1 Kor. 15:55).

Bukanlah tubuh yang berpenyakitan, yang

tua-renta atau tubuh yang terpotong-potong

yang masuk ke dalam kubur yang kelak akan

diangkat pada waktu hari kebangkitan itu,

melainkan tubuh yang baru, yang kekal, yang

sempurna, tidak lagi dinodai oleh dosa yang

membuat tubuh mereka hancur. Pengalaman

kebangkitan orang-orang saleh merupakan

penyempurnaan pekerjaan pemulihan yang

dilakukan Kristus, memantulkan gambar Al-

lah yang sempurna di dalam pikiran, jiwa dan

tubuh (1Kor. 15:42-54; baca juga bab 26).

2. Pengubahan Umat Percaya yang

Masih Hidup. Apabila orang saleh yang

mati itu dibangkitkan, maka orang saleh yang

masih hidup di atas dunia ini pada waktu Ke-

datangan Kristus yang kedua kali akan diu-

bahkan. “sebab  yang dapat binasa ini harus

mengenakan yang tidak dapat binasa, dan

yang dapat mati ini harus mengenakan yang

tidak dapat mati” (1 Kor. 15:53).

Pada waktu Kristus kembali tidak ada ke-

lompok umat percaya yang mendahului umat

percaya lainnya. Paulus menyatakan bahwa

umat percaya yang masih hidup dan diubah-

kan “akan diangkat bersama-sama dengan

mereka di awan menyongsong Tuhan di ang-

kasa. Demikianlah kita akan selama-lama-

nya bersama-sama dengan Tuhan” (1 Tes.

4:17; bandingkan Ibr. 11:39, 40). Oleh sebab 

itu, semua umat percaya akan berdiri bersa-

ma-sama, berhimpun pada waktu kedatangan

Kristus kedua kali yang penuh dengan ke-

muliaan, baik orang benar yang dibangkitkan

dari segala kurun zaman dan mereka yang

tinggal hidup pada waktu kedatangan Kris-

tus.

Kematian Orang Durhaka. Bagi orang

yang selamat, kedatangan Kristus yang ke-

dua kali merupakan saat kegembiraan yang

menyenangkan, akan namun  bagi orang yang

jahat hari itu merupakan saat yang paling

menakutkan. Mereka telah menghalang-

halangi cinta kasih Kristus dan undangan-

Nya untuk menerima keselamatan yang

diidam-idamkan sehingga mereka terpe-

rangkap dalam tipu muslihat (baca 2 Tes. 2:9-

12; Rm. 1:28-32). Apabila mereka melihat

Orang yang telah ditolak itu datang sebagai

Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala

tuan, maka tahulah mereka bahwa hari kebi-

nasaan mereka telah tiba. Dengan dirundung

rasa takut dan putus asa yang luar biasa, me-

reka meminta agar ciptaan yang tidak ber-

nyawa melindungi mereka (Why. 6:16, 17).

Pada ketika itu Tuhan akan membinasakan

Babilon, persatuan segala agama yang mur-

tad. “Dan ia akan dibakar dengan api” (Why.

18:8). Pemimpin konfederasi ini–rahasia

pendurhaka, yang tidak mempedulikan hu-

kum–“Tuhan Yesus akan membunuhnya

dengan napas mulut-Nya dan akan memus-

nahkannya, kalau Ia datang kembali” (2 Tes.

2:8). Kuasa yang bertanggung jawab atas

pemaksaan tanda binatang itu (baca bab 13)

akan dilemparkan ke dalam “lautan api yang

menyala-nyala oleh belerang.” Dan sisa

orang jahat itu akan “dibunuh dengan pedang,

yang keluar dari mulut Penunggang kuda

itu”–Tuhan Yesus Kristus (Why. 19:20, 21).

380 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

TANDA-TANDA DEKATNYA

KEDATANGAN KRISTUS

Kitab Suci tidak hanya menyatakan cara

dan tujuan kedatangan Kristus, namun  juga Al-

kitab menggambarkan tanda-tanda yang me-

nuturkan dekatnya puncak peristiwa itu. Tan-

da-tanda yang pertama mengumumkan Ke-

datangan Kristus yang kedua kali telah ber-

langsung kurang lebih 1700 tahun sesudah 

kenaikan Kristus, dan tanda-tanda yang lain

menyusul, menambah bukti bahwa keda-

tangan-Nya sudah sangat dekat.

Tanda-tanda di Alam. Kristus meramalkan

akan adanya “tanda-tanda pada matahari dan

bulan dan bintang-bintang” (Luk. 21:25), de-

ngan merinci bahwa “matahari akan menjadi

gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-

bintang akan berjatuhan dari langit, dan kua-

sa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu

itu orang akan melihat Anak kita semua  datang

dalam awan-awan dengan segala kekuasaan

dan kemuliaan-Nya” (Mrk. 13;24-26). Tam-

bahan lagi, Yohanes melihat bahwa gempa

yang dahsyat akan mendahului tanda-tanda

di langit (Why. 6:12). Semua ini menandai

akhir 1260 tahun masa aniaya (baca bab 13).

1. Bumi menjadi saksi. Dalam kege-

napan nubuatan ini “gempa bumi yakni paling

dahsyat yang pernah diketahui,”1 terjadi pada

tanggal 1 November 1755. Dikenal dengan

gempa Lisbon, efeknya dirasakan sampai di

Eropa, Afrika dan Amerika, meliputi kawas-

an 4 juta mil persegi. Kehancuran yang di-

akibatkannya berpusat di Lisbon, Portugal, di

mana dalam beberapa menit saja meratakan

gedung-gedung, dan menewaskan beribu-ri-

bu kita semua .2

Sementara efek fisik gempa bumi itu sa-

ngat besar, dampaknya terhadap pemikiran

pada ketika itu sungguh sangat berarti. Ba-

nyak orang yang hidup pada ketika itu meng-

akui peristiwa itu merupakan bagian dari

akhir dunia3 sehingga mendorong mereka su-

paya mulai dengan sungguh-sungguh memikir-

kan penghakiman Allah dan akhir zaman.

Gempa bumi Lisbon memberikan dorongan

untuk mempelajari nubuatan.

2. Matahari dan bulan menjadi saksi.

Dua puluh lima tahun lalu  dari 1 No-

vember 1755  tanda yang disebutkan dalam

nubuatan berlangsung––gelapnya matahari

dan bulan. Kristus telah menyatakan bahwa

waktu tanda ini digenapi, mengingatkan kita

tentang malapetaka besar, masa 1260 tahun

aniaya kepausan yang dikatakan di dalam

Kitab Suci (Mat. 24:29; lihat juga bab 12).

Akan namun  Kristus juga mengatakan bahwa

malapetaka yang mendahului tanda-tanda ini

akan disingkatkan (Mat. 24:21, 22). Melalui

pengaruh Reformasi dan gerakan-gerakan

yang tumbuh dari dalamnya, aniaya kepausan

dipersingkat, sehingga pada pertengahan

abad kedelapan belas hampir secara keselu-

ruhan dihentikan.

Dalam penggenapan nubuatan ini, pada

tanggal 19 Mei 1780, sebuah kegelapan yang

luar biasa terjadi pada bagian timur laut da-

ratan Amerika Utara.4

Mengingat kembali peristiwa ini, Timothy

Dwight, Rektor Yale University, berkata,

“Tanggal 19 Mei 1780, yaitu  hari yang luar

biasa. Lilin-lilin dinyalakan di banyak rumah;

burung-burung diam dan menghilang, dan

unggas kembali ke kandangnya. . . . Orang

pada umumnya berpendapat bahwa hari

penghakiman sudah dekat.”5

Samuel Williams dari Harvard melaporkan

bahwa kegelapan “menutupi langit dari barat

daya ‘antara pukul 10.00 sampai 11.00, dan

berlanjut sampai tengah malam berikutnya,’

dengan aneka kadar kegelapan dan lamanya

di pelbagai tempat yang berbeda. Di bebera-

Kedatangan Kristus yang Kedua Kali 381

pa tempat ‘orang-orang tidak dapat melihat

dan membaca bahan cetakan di alam ter-

buka.”6 Menurut pandangan Samuel Tenny

“kegelapan pada waktu petang berikutnya

merupakan kegelapan yang paling pekat

yang dapat diamati sejak Yang Mahakuasa

menciptakan terang.... Jika setiap jasad yang

bersinar di alam semesta telah ditutupi oleh

bayang-bayang yang tidak dapat ditembusi,

atau tiba-tiba menghilang, maka kegelapan

itu tidaklah sepekat itu.” 7

Pada pukul 9.00 malam bulan purnama

muncul, akan namun  kegelapan bertahan sam-

pai tengah malam. Ketika bulan mulai kelihat-

an, tampak seperti darah.Yohanes Pewahyu

telah menubuatkan peristiwa-peristiwa luar

biasa akan hari ini . sesudah  gempa bu-

mi, tulisnya, matahari akan menjadi “hitam

bagaikan karung rambut dan bulan menjadi

merah seluruhnya bagaikan darah” (Why.

6:12).

3. Bintang-bintang menjadi saksi. Ba-

ik Kristus maupun Yohanes berbicara

mengenai bintang-bintang yang berguguran

yang me-nunjukkan bahwa kedatangan

Kristus sudah dekat (Why. 6:13; bandingkan

Mat. 24:29). Benda-benda angkasa yang

bergoncang pada tanggal 13 November

1833—pameran berjatuhannya bintang seca-

ra ekstensif menurut catatan sejarah—me-

rupakan kegenapan nubuatan ini. Diperkira-

kan bahwa seorang peneliti dapat melihat

rata-rata 60.000 meteor per jam.8  Itu tampak

dari Kanada sampai Meksiko dan dari per-

tengahan Atlantik hingga ke Pasifik,9 banyak

orang Kristen yakin bahwa itulah yang meng-

genapi nubuatan yang ada  di dalam

Alkitab.10

Seorang saksi mata mengatakan bahwa

“hampir-hampir tidak ada tempat di langit

yang tidak dipenuhi dengan bintang yang gu-

gur... berkelompok-kelompok gugur–meng-

ingatkan orang kepada pohon ara, buahnya

berjatuhan sebab  goncangan angin ken-

cang.”11

Kristus memberikan tanda-tanda ini agar

orang-orang Kristen waspada atas dekatnya

kedatangan-Nya supaya dengan demikian

mereka dapat gembira dalam pengharapan

dan siap-siaga untuk itu. “Apabila semuanya

itu mulai terjadi,” kata-Nya, “bangkitlah dan

angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu

sudah dekat.” Selanjutnya Ia menambahkan,

“Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa sa-

ja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu su-

dah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya

bahwa musim panas sudah dekat. Demikian

juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ke-

tahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat”

(Luk. 21:28-31).

Kesaksian bumi unik, juga matahari, bulan

dan bintang-bintang, yang terjadi tepat pada

waktunya seperti yang telah diramalkan

Kristus, mengarahkan perhatian orang ba-

nyak langsung kepada nubuatan-nubuatan

dari hal kedatangan Kristus yang kedua kali.

Tanda-tanda di Dunia Agama. Alkitab me-

ramalkan bahwa sejumlah bukti yang sangat

berarti di dunia agama akan menandai waktu

kedatangan Kristus.

1. Suatu kebangkitan besar di bidang

agama. Kitab Wahyu memberitahukan akan

adanya suatu kebangkitan besar di bidang

agama menjelang kedatangan Kristus yang

kedua kali. Di dalam khayal yang diterima

Yohanes, seorang malaikat memberitahukan

kembalinya Kristus yang dilambangkan de-

ngan pergerakan ini: “Dan aku melihat seo-

rang malaikat lain terbang di tengah-tengah

langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk

diberitakannya kepada mereka yang diam di

atas bumi dan kepada semua bangsa dan

suku dan bahasa dan kaum, dan ia berseru

382 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

dengan suara nyaring: ‘Takutlah akan Allah

dan muliakanlah Dia, sebab  telah tiba saat

penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang

telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan

semua mata air’” (Why. 14:6, 7).

Pekabaran itu sendiri menunjukkan kapan

itu bakal diumumkan. Kabar Injil kekal telah

dikhotbahkan dari zaman ke zaman. Akan te-

tapi pekabaran ini, menekankan aspek peng-

hakiman dari Injil itu, yang dapat diumumkan

hanya pada akhir zaman, sebab  itu meng-

amarkan bahwa “telah tiba saat penghakiman-

Nya.”

Kitab Daniel memberitahukan kepada ki-

ta bahwa pada masa akhir nubuatan itu akan

dibukakan (Dan. 12:4). Pada waktu itu orang

pun memahami rahasia-rahasianya. Pembu-

kaan meterai itu berlangsung pada waktu pe-

riode 1260 tahun dominasi kepausan diakhiri

dengan tertawannya Paus tahun 1798. Ga-

bungan antara diasingkannya Paus dengan

tanda-tanda di alam menuntun banyak orang

Kristen untuk mempelajari nubuatan-nubuatan

mengenai kejadian yang penting menuju

kedatangan yang kedua kali itu, yang meng-

hasilkan sebuah pemahaman mendalam atas

nubuatan ini.

Fokus mengenai kedatangan Kristus yang

kedua kali ini juga mendatangkan pembaruan

rohani menyeluruh atas pengharapan Keda-

tangan itu. Sebagaimana Reformasi muncul

secara mandiri di pelbagai negeri di dunia

Kristen, demikian pula dengan pergerakan

Advent. Sifat pergerakan ini yaitu  menye-

luruh sebagai salah satu tanda yang amat

jelas bahwa kembalinya Kristus sudah sangat

dekat. Sebagaimana Yohanes Pembaptis

menyediakan jalan bagi kedatangan-Nya

yang pertama kali, demikianlah pergerakan

Advent menyediakan jalan bagi kedatangan

Kristus yang kedua kali–mengumumkan pe-

kabaran dari Wahyu 14:6-12, panggilan Allah

yang terakhir supaya menyiapkan diri untuk

menyambut kedatangan Juruselamat yang

penuh dengan kemuliaan itu (baca bab 12 dan

23).12

2. Mengkhotbahkan Injil. Allah “telah

menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia

dengan adil akan menghakimi” (Kis. 17:31).

Amaran yang diberikan kepada kita menge-

nai hari itu, tidaklah dikatakan Kristus bahwa

hal itu akan terjadi apabila penghuni dunia ini

telah ditobatkan seluruhnya, melainkan apa-

bila “Injil Kerajaan ini akan diberitakan di se-

luruh dunia menjadi kesaksian bagi semua

bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudah-

annya” (Mat. 24:14). Oleh sebab  itu, Petrus

menguatkan hati orang-orang percaya supa-

ya “mempercepat kedatangan hari Allah” (2

Ptr. 3:12).

Statistik penerjemahan dan penyebaran

Alkitab pada abad ini menunjukkan perkem-

bangan kesaksian Injil kebenaran. Dalam

tahun 1900 Alkitab telah diterjemahkan ke

dalam 537 bahasa. Pada tahun 1980, Alkitab

telah diterjemahkan, apakah secara lengkap

atau masih dalam bagian-bagian tertentu, ke

dalam 1811 bahasa, mewakili 96% dari pen-

duduk dunia. Seiring dengan itu, penyebaran

Alkitab dari tahun ke tahun telah naik dari 5,

4 juta dalam tahun 1900 menjadi 36,8 juta; dan

hampir setengah milyar bagian-bagian Alki-

tab yang disebarkan sampai tahun 1980.13

Tambahan lagi, agama Kristen sekarang

ini telah dapat mempergunakan pelbagai

sumber yang belum pernah digunakan sebe-

lumnya untuk melancarkan misinya: pelayanan

melalui perwakilan, lembaga pendidikan dan

medis, para pekerja nasional maupun misio-

naris, radio dan siaran televisi, dan aneka sa-

rana keuangan yang sangat mengesankan.

Dewasa ini, stasiun-stasiun radio gelombang

pendek dengan kekuatan penuh dapat me-

mancarkan Injil secara praktis di hampir

semua negeri di penjuru dunia. Apabila sum-

Kedatangan Kristus yang Kedua Kali 383

ber-sumber yang tiada taranya ini digunakan

di bawah bimbingan Roh Kudus, betapa rea-

listiknya tujuan evangelisasi seluruh dunia

pada zaman kita.

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, de-

ngan keanggotaan yang mewakili pengguna

700 bahasa dengan 1000 dialek, sedang

memberitakan Injil di 190 negeri. Hampir

90% anggota ini tinggal di luar Amerika Se-

rikat. Yakin bahwa pekerjaan medis dan ke-

pendidikan memegang peranan penting da-

lam tugas penyelesaian Injil, kita menjalankan

hampir 600 unit rumah sakit, rumah-rumah

perawatan, klinik dan balai pengobatan, 19

kapal medis, 27 pabrik makanan sehat, 86

perguruan tinggi dan universitas, 834 sekolah

menengah, 4166 sekolah dasar, 125 sekolah

kursus Alkitab tertulis, dan 33 lembaga peng-

ajaran bahasa. 51 rumah percetakan dan pe-

nerbitan menerbitkan bahan bacaan di da-

lam 190 bahasa, sedang  stasiun radio ge-

lombang pendek memancarkan siaran ke-

pada hampir 75 persen penduduk dunia. Roh

Kudus telah mencurahkan berkat yang ber-

kelimpahan kepada misi kita.

3. Kemunduran Agama. Tersebar luas-

nya pemberitaan Injil ini tidaklah selalu berarti

suatu perkembangan Kekristenan yang mur-

ni secara besar-besaran. Sebaliknya, Alkitab

meramalkan bahwa kemunduran kerohanian

yang sejati terjadi menjelang akhir zaman.

Paulus mengatakan bahwa “pada hari-hari

terakhir akan datang masa yang sukar. Ma-

nusia akan mencintai dirinya sendiri dan men-

jadi hamba uang. Mereka akan membual dan

menyombongkan diri, mereka akan menjadi

pemfitnah, mereka akan berontak terhadap

orang tua dan tidak tahu berterima kasih, ti-

dak mempedulikan agama, tidak tahu menga-

sihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan

orang, tidak dapat mengekang diri, garang,

tidak suka yang baik, suka mengkhianati, ti-

dak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih

menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Al-

lah. Secara lahiriah mereka menjalankan

ibadah mereka, namun  pada hakikatnya me-

reka memungkiri kekuatannya” (2 Tim. 3:1-

5).

Demikianlah sekarang ini, cinta diri, lebih

mementingkan kekayaan dan dunia telah

menggantikan Roh Kristus dalam hati banyak

orang. Mereka tidak mau memakai 

asas-asas dan hukum Allah untuk membimbing

hidup mereka; sikap tidak peduli terhadap hu-

kum merajalela. “Dan sebab  makin bertam-

bahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan

orang akan menjadi dingin” (Mat. 24:12).

4. Bangkitnya Kembali Kepausan.

Menurut nubuat yang ada  dalam Alkitab,

pada akhir 1260 tahun itu Paus akan terkena

“luka yang membahayakan hidupnya” akan

namun  itu bukan mengakhiri hidupnya (baca

bab 13). Kitab Suci menyatakan bahwa luka

yang mematikan ini akan sembuh. Kepausan

akan mengalami pembaruan pengaruh yang

besar dan mendapat kehormatan–“seluruh

dunia heran, lalu mengikut binatang itu”

(Why. 13:3). Dewasa ini banyak orang yang

menganggap Paus sebagai pemimpin moral

dunia.

Dalam pengertian yang lebih luas dan

lebih jauh, pengaruh bangkitnya kepausan

terjadi dengan adanya upaya orang Kristen

menempatkan tradisi, ukuran kita semua , dan

ilmu pengetahuan menempati otoritas yang

seharusnya diberikan kepada Alkitab. Dengan

berbuat demikian, mereka mudah dimasuki

“si pendurhaka,” yang bekerja dengan “rupa-

rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukji-

zat-mukjizat palsu” (2 Tes. 2:9). Setan de-

ngan alat-alatnya akan mengadakan konfede-

rasi dengan yang jahat, yang dilambangkan

dengan trinitas yang tidak suci yakni naga,

binatang dan nabi palsu, yang akan menipu

384 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

dunia (Why. 16:13, 14; bandingkan 13:13, 14).

Hanyalah mereka yang memakai  Alki-

tab sebagai penuntunnya, dan orang yang

“menuruti perintah Allah dan iman kepada

Yesus” (Why. 14:12) yang dapat dengan ber-

hasil menentang kuasa penipuan yang dida-

tangkan persekutuan ini.

5. Mundurnya Kebebasan Beragama.

Bangkitnya kembali kepausan akan mempe-

ngaruhi Kekristenan secara dramatis. Kebe-

basan beragama yang diperoleh dengan

pengorbanan besar, yang dijamin dengan pe-

misahan antara gereja dengan negara, akan

hanyut dan pada akhirnya dihapuskan. De-

ngan bantuan pemerintahan sipil yang tang-

guh, kuasa kemurtadan ini akan memaksakan

bentuk perbaktiannya kepada semua orang.

Setiap orang akan menentukan pilihan mere-

ka sendiri apakah akan setia kepada Tuhan

dan hukum-hukum-Nya ataukah setia kepada

binatang dan patungnya (Why. 14:6-12).

Tekanan ini diikuti dengan paksaan di bi-

dang ekonomi: “Dan tidak seorang pun yang

dapat membeli atau menjual selain dibandingkan 

mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama

binatang itu atau bilangan namanya” (Why.

13:17). Akhirnya, orang-orang yang menolak

bekerja sama akan menghadapi hukuman

mati (Why. 13:15). Pada masa kesukaran

yang terakhir ini Tuhan akan campur tangan

bagi umat-Nya dan melepaskan setiap orang

yang namanya tertulis di dalam kitab kehidup-

an (Dan. 12:1; bandingkan Why. 3:5; 20:15).

Bertambahnya Orang Jahat. Kemerosotan

kerohanian yang terjadi di kalangan Kristen

dan adanya pembaruan di kalangan orang

yang mendurhaka telah menuntun kepada

pelecehan hukum Tuhan di dalam jemaat dan

dalam hidup umat percaya. Banyak orang

yang akan percaya bahwa orang Kristen

tidak wajib lagi memeliharanya. Pelecehan

hukum Allah ini akan menambah tindak

kejahatan dan tingkah laku yang bejat.

1. Gelombang kejahatan di dunia. Si-

kap melecehkan hukum Tuhan di kalangan

orang Kristen dewasa ini telah turut me-

nambah pelecehan atas hukum dan peraturan

di tengah-tengah masyarakat modern. Di

seluruh dunia, kejahatan meroket di luar ken-

dali. Sebuah laporan koresponden dari bebe-

rapa ibukota dunia menyebutkan: “Seperti

halnya di Amerika Serikat, kejahatan sedang

meningkat di mana-mana di seluruh penjuru

dunia.” “Mulai dari London hingga ke Mos-

kow terus ke Johannesburg, kejahatan begitu

cepat menjadi ancaman besar yang mengubah

cara hidup orang banyak.”14

2. Revolusi seksual.  sebab  sikap me-

lecehkan hukum Tuhan, maka kekang terha-

dap sopan santun dan kemurnian pun hancur,

akibatnya ialah gelombang besar kemerosotan

akhlak. Sekarang ini seks telah didewakan

dan diperdagangkan melalui film, televisi, vi-

deo, nyanyian, majalah dan iklan.

Revolusi seksual telah mengakibatkan

timbulnya secara mengejutkan angka perce-

raian, penyimpangan-penyimpangan seperti

“perkawinan terbuka” atau tukar-tukar pa-

sangan, penyalahgunaan seks anak-anak,

jumlah pengguguran yang amat mengerikan,

tersebar luasnya homoseksual dan lesbian-

isme, merajalelanya penyakit kelamin, dan

belakangan ini sedang muncul AIDS (acqui-

red immune deficiency syndrome–Gejala

merosotnya kekebalan tubuh).

Perang dan Malapetaka. Sebelum Kristus

kembali ke dunia, Ia berkata, “Bangsa akan

bangkit melawan bangsa dan kerajaan mela-

wan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi

yang dahsyat dan di berbagai tempat akan

ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan

Kedatangan Kristus yang Kedua Kali 385

terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan

tanda-tanda yang dahsyat dari langit” (Luk.

21:10, 11; bandingkan Mrk. 13:7, 8; Mat.

24:7). Apabila masa akhir itu makin dekat dan

konflik antara yang jahat melawan pasukan

Ilahi makin dahsyat, malapetaka ini pun se-

makin kejam dan semakin lebih sering, dan

menggenapi nubuatan yang belum pernah di-

genapi sampai pada masa kini.

1. Peperangan. Sekalipun peperangan

telah menggenangi sejarah kita semua , perang

yang berlangsung akan melebihi apa yang

pernah terjadi sebelumnya. Perang Dunia I

dan II telah mengakibatkan kerusakan dan

penderitaan yang jauh lebih besar dibandingkan 

yang sebelumnya sekalipun digabungkan.15

Banyak orang yang melihat kemungkinan

adanya perang lain yang melibatkan seluruh

dunia. Perang Dunia II bukanlah perang

menghancurkan sama sekali. Sejak perang

itu berakhir, tidak kurang dari “140 buah kon-

flik bersenjata dengan memakai  senjata

konvensional, yang menewaskan lebih ku-

rang 10 juta orang.”16

2. Bencana Alam. Bencana tampaknya

bertambah secara pesat dan berarti dalam

tahun-tahun belakangan ini. Belum lama ber-

selang, bencana alam saling menyaingi, yang

mengakibatkan orang terheran-heran apakah

dunia ini sudah semrawut–dan bahwa jika

dunia ini mengalami perubahan besar dalam

iklim dan struktur maka bencana itu makin

bertambah pada masa mendatang.17

3. Bala Kelaparan. Bala kelaparan telah

sering terjadi pada masa lampau, namun  ska-

lanya tak sebanding dengan apa yang terjadi

dalam abad ini. Sebelumnya, tidak ada bala

kelaparan melanda dunia sehingga berjuta-

juta kita semua  menderita kelaparan atau keku-

rangan makanan.18 Prospek masa depan ti-

daklah cerah. Peristiwa penderitaan kelaparan

seperti ini merupakan pertanda jelas bahwa

Kristus akan segera datang.

BERSEDIALAH SETIAP SAAT

Berulang-ulang Alkitab memberikan ja-

minan kepada kita bahwa Yesus akan datang

segera. Akan namun , apakah Ia akan datang

tahun mendatang? Lima tahun mendatang?

Sepuluh tahun lagi? Ataukah dua puluh tahun

lagi? Tidak seorang pun mengetahui dengan

pasti. Yesus sendiri menyatakan, “namun 

tentang hari dan saat itu tidak seorang pun

yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak,

dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri”

(Mat. 24:36). Hari-hari terakhir ketika Kris-

tus bekerja di atas dunia, Ia pernah menceri-

takan perumpamaan sepuluh anak dara untuk

menggambarkan pengalaman jemaat masa

akhir. Dua golongan anak dara itu mewakili

dua jenis orang yang percaya yang mengaku

menanti kedatangan Tuhan. Mereka disebut

anak dara sebab  mereka mengaku mempu-

nyai iman yang sejati. Pelita mereka melam-

bangkan Firman Tuhan, sedang  minyak

mereka melambangkan Roh Kudus.

Sepintas lalu, kedua kelompok ini tampak

serupa; kedua-duanya berangkat untuk me-

nyongsong pengantin, kedua-duanya mempu-

nyai minyak dalam lampu, dan tingkah laku

mereka pun kelihatannya tidak jauh berbeda.

Semua telah mendengar pekabaran bahwa

Kristus akan segera datang dan menanti-

kannya. Akan namun  harinya ditangguhkan–

iman mereka diuji.

Tiba-tiba di tengah malam–pada malam

paling gelap-gulita dalam sejarah dunia–me-

reka mendengar seruan, “Mempelai datang!

Songsonglah dia!” (Mat. 25:6). Lalu perbe-

daan antara kedua kelompok itu menjadi

jelas: beberapa dari antara mereka jelas-jelas

tidak siap bertemu dengan pengantin itu.

386 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

Orang-orang “yang bodoh,” anak dara ini,

yaitu  orang-orang munafik; mereka meng-

hormati kebenaran, Firman Tuhan. Akan te-

tapi mereka melalaikan minyak–mereka ti-

dak dimeteraikan oleh Roh Kudus (bandingkan

Why. 7:1-3). Mereka telah puas dengan pe-

kerjaan yang dangkal dan belum “jatuh” pada

Yesus Kristus, batu karang itu. Mereka keli-

hatannya dalam bentuk yang baik namun  ko-

song dari kuasa Allah.

Tatkala pengantin itu tiba, hanya mereka

yang siap-sedia yang masuk bersama Dia ke

pesta perjamuan kawin itu, lalu  pintu

pun ditutup. Akhirnya anak dara yang bodoh

pergi membeli minyak lalu kembali dan

berseru-seru, “Tuan, tuan, bukakanlah kami

pintu!” Akan namun  Pengantin itu menjawab,

“Sesungguhnya aku tidak mengenal kamu”

(Mat. 25:11-12).

Betapa malangnya jika Kristus kembali

ke dunia ini, Ia harus mengucapkan perkata-

an seperti itu kepada orang-orang yang se-

benarnya dikasihi-Nya. Ia mengingatkan,

“Pada hari terakhir banyak orang akan ber-

seru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah

kami bernubuat demi nama-Mu, dan meng-

adakan banyak mukjizat demi nama-Mu

juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus-

terang kepada mereka dan berkata: Aku

tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari

pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

(Mat. 7:22, 23).

Sebelum air bah, Allah telah mengutus

Nuh untuk memperingatkan orang-orang pa-

da zamannya bahwa dunia akan dibinasakan.

Dengan cara serupa, Allah mengirimkan pe-

kabaran tiga rangkap untuk memberikan

amaran supaya mempersiapkan dunia ini bagi

kedatangan-Nya (lihat Why. 14:6-16).

Semua orang yang mau menerima peka-

baran kemurahan Allah akan bergembira

atas pengharapan Kedatangan Kristus yang

kedua kali. Kepada merekalah diberikan ja-

minan, “Berbahagialah mereka yang diundang

ke perjamuan kawin Anak Domba!” (Why.

19:9). Sesungguhnya, “Sesudah itu Ia akan

menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa me-

nanggung dosa untuk menganugerahkan ke-

selamatan kepada mereka, yang menantikan

Dia” (Ibr. 9:28). Kembalinya sang Penebus

akan merupakan puncak kemuliaan atas se-

jarah umat Allah. Inilah saat kelepasan me-

reka, dan dengan penuh kegembiraan dan pu-

jaan mereka berseru dengan nyaring, “Se-

sungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-

nantikan... marilah kita bersorak-sorak dan

bersukacita oleh sebab  keselamatan yang

diadakan-Nya” (Yes. 25:9).

Upah dosa yaitu  maut. namun  Allah, yang abadi, akan membe-

rikan hidup yang kekal kepada orang-orang yang ditebus-Nya. Bagi

orang yang sudah mati sampai menjelang hari itu, mereka semua

dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Apabila Kristus, yang menjadi

kehidupan kita tampak kelak, orang benar yang dibangkitkan dan

juga orang benar yang hidup pada saat kedatangan-Nya, akan di-

muliakan dan diangkat untuk bertemu dengan Tuhan mereka. Ke-

bangkitan yang kedua, kebangkitan orang yang tidak benar, akan

terjadi seribu tahun lalu .–Fundamental Beliefs,–26.

391

P asukan Filistin bergerak ke Sunem, men-

     dirikan kemah di sana dan siap menye-

rang Israel. Dengan perasaan yang kurang

optimis, Raja Saul menempatkan pasukan

Israel di dekat Bukit Gilboa. Pada waktu lam-

pau, jaminan kehadiran Allah telah menyang-

gupkan Saul memimpin bangsa Israel mela-

wan musuh-musuhnya tanpa gentar. Akan

namun  ia tidak menurut Tuhan lagi, dan ketika

raja yang murtad ini mencoba mencari hu-

bungan dengan Tuhan mengenai hasil perang

yang bakal terjadi, Allah tidak bersedia ber-

komunikasi dengan dia.

Rasa gentar yang belum pernah dirasakan

sebelumnya menindih hati Saul. Ah, seandai-

nya Samuel ada di sana. Akan namun  Samuel

sudah meninggal dunia dan mustahil dapat

meminta nasihatnya. Atau, apakah ada ke-

mungkinan?

Dengan menemukan seorang  pengantara

yang bisa berhubungan dengan dunia orang

mati, yang pernah lolos dari pemusnahannya

dahulu, raja yang berperawakan tinggi ini ber-

upaya mencari tahu apa gerangan kelak hasil

peperangan yang bakal terjadi keesokan hari.

Ia memohon, “Tolong bawa Samuel kepada-

ku.” Ketika pengantara itu kesurupan ia “me-

lihat roh yang keluar dari dalam bumi.” Roh

ini memberikan penjelasan kepada raja yang

malang itu bahwa bangsa Israel bukan saja

akan kalah dalam perang itu, namun  bahkan

dia dan anak-anaknya akan tewas (baca 1

Sam. 28).

Ramalan itu benar terjadi. Akan namun ,

apakah benar-benar roh Samuel yang meng-

adakan ramalan itu? Bagaimanakah seorang

pengantara, yang dihukum oleh Tuhan, me-

miliki kuasa atas roh Samuel, nabi Tuhan itu?

Dan dari manakah Samuel datang–mengapa

rohnya “keluar dari dalam bumi?” Kematian

yang bagaimanakah yang menimpa Samuel?

Jika bukan roh Samuel yang datang dan ber-

bicara kepada Saul, lalu siapakah itu? Marilah

kita simak dengan saksama apa yang diajar-

kan Alkitab mengenai kematian, upaya ber-

hubungan dengan orang mati, dan juga ten-

tang kebangkitan.

KEKEKALAN DAN KEMATIAN

Kekekalan artinya keadaan atau kualitas

BAB 26

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN

392           Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ...

yang tidak dapat mati. Para penerjemah

Alkitab memakai  kata kekekalan untuk

menerjemahkan istilah Yunani athanasia,

“ketidakmatian,” dan aphtarsia, “yang tidak

binasa.” Bagaimanakah konsep ini berhu-

bungan dengan Tuhan dan makhluk kita semua ?

Kekekalan. Alkitab menyatakan bahwa Al-

lah yang kekal yaitu  abadi (1 Tim. 1:17). Se-

sungguhnya, Ia “satu-satunya yang tidak tak-

luk kepada maut” (1 Tim. 6:16). Ia bukan di-

ciptakan, ada dengan sendirinya, tidak ber-

awal dan tidak berakhir (baca bab 2).

“Kitab Suci tidak pernah melukiskan ke-

kekalan sebagai kualitas atau keadaan yang

dimiliki kita semua –atau ‘jiwanya’ atau ‘rohnya.’

Istilah-istilah yang biasa menggambarkan ‘ji-

wa’ dan ‘roh’... di dalam Alkitab digunakan

lebih dari 1600 kali, sama sekali tidak pernah

dikaitkan dengan perkataan ‘abadi’ atau ‘ti-

dak dapat mati’” (lihat bab 7).1

Berbeda dengan Allah, makhluk kita semua 

itu fana. Alkitab membandingkan hidup ma-

nusia dengan “uap yang sebentar saja kelihat-

an lalu lenyap” (Yak. 4:14). “Bahwa mereka

itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan

kembali” (Mzm. 78:39). kita semua  itu “seperti

bunga ia berkembang, lalu layu, seperti ba-

yang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat

bertahan” (Ayb. 14:2).

Nyata benar perbedaan antara Allah de-

ngan kita semua . Allah abadi, kita semua  fana. Al-

lah kekal, kita semua  tidak abadi. Allah kekal

selama-lamanya, kita semua  bersifat sementara.

Kekekalan Bersyarat. Pada waktu pencip-

taan “Tuhan Allah membentuk kita semua  itu

dari debu tanah dan menghembuskan napas

hidup ke dalam hidungnya; demikianlah ma-

nusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej.

2:7). Penciptaan menyatakan bahwa kita semua 

memperoleh hidup dari Allah (bandingkan

Kis. 17:25, 28; Kol. 1:16, 17). Kesimpulan

dari kenyataan dasar ini ialah bahwa keke-

kalan tidaklah diwariskan kepada kita semua 

melainkan merupakan pemberian Tuhan.

Ketika Tuhan menciptakan Adam dan

Hawa, Ia memberikan kebebasan berpikir–

kuasa untuk menentukan pilihan. Mereka

dapat menurut atau tidak menurut, kelanjutan

eksistensi mereka bergantung kepada penu-

rutan mereka yang terus-menerus kepada

kuasa Allah. Oleh sebab  itu, pemilikan me-

reka atas karunia kekekalan yaitu  bersyarat.

Dengan cermat Tuhan mengeja kondisi

bagaimana mereka dapat kehilangan karu-

nia ini–dengan memakan buah “pohon pe-

ngetahuan tentang yang baik dan yang jahat

itu.” Allah memperingatkan mereka, apabila

“engkau memakannya, pastilah engkau mati”

(Kej. 2:17).2

Maut: Upah Dosa. Bertentangan dengan

apa yang diperingatkan Tuhan bahwa pen-

durhakaan mereka akan mendatangkan ke-

matian, justru Setan berkata, “Sekali-kali ka-

mu tidak akan mati” (Kej. 3:4). namun  sesu-

dah mereka melanggar perintah Tuhan, ak-

hirnya Adam dan Hawa menerima upah dosa

yaitu maut (Rm. 6:23). Dosa mereka menda-

tangkan hukuman seperti berikut: Engkau

akan “kembali lagi menjadi tanah, sebab  dari

situlah engkau diambil; sebab engkau debu

dan engkau akan kembali menjadi debu”

(Kej. 3:19). Perkataan ini bukanlah menunjuk

kepada kehidupan yang berkelanjutan, me-

lainkan akhir dari kehidupan itu.

sesudah  menyatakan hukuman, Allah me-

rintangi supaya jangan pasangan yang sudah

jatuh ke dalam dosa ini memetik buah kehi-

dupan dan “memakannya, sehingga ia hidup

untuk selama-lamanya” (Kej. 3:22). Tindakan

itu menunjukkan dengan jelas bahwa keke-

kalan yang telah dijanjikan itu bersyarat atas

penurutan, dosalah yang menghilangkannya.

Sekarang mereka menjadi fana, takluk kepa-

Kematian dan Kebangkitan 393

da maut. sebab  Adam tidak dapat mewaris-

kan apa yang tidak dimilikinya lagi, “demiki-

anlah maut itu telah menjalar kepada semua

orang, sebab  semua orang telah berbuat

dosa” (Rm. 5:12).

Hanyalah sebab  kemurahan Tuhan ma-

ka Adam dan Hawa tidak segera mati. Anak

Allah harus menyerahkan nyawa-Nya supa-

ya dengan demikian mereka memiliki kesem-

patan yang lain – kesempatan yang kedua. Ia

yaitu  “Anak Domba, yang telah disembelih”

(Why. 13:8) sejak dunia dijadikan.

Harapan bagi kita semua . Walaupun kita semua 

lahir fana, Alkitab memberikan dorongan ke-

pada mereka untuk mengusahakan kehidupan

yang abadi (misalnya lihat Rm. 2:7). Yesus

Kristus yaitu  sumber kekekalan ini: “namun 

karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam

Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23; ban-

dingkan 1 Yoh. 5:11). “Yesus Kristus, yang

oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan

mendatangkan hidup yang tidak dapat bina-

sa” (2 Tim. 1:10). “sebab  sama seperti se-

mua orang mati dalam persekutuan dengan

Adam, demikian pula semua orang akan dihi-

dupkan kembali dalam persekutuan dengan

Kristus” (1 Kor. 15:22). Kristus sendiri me-

ngatakan bahwa suara-Nya akan membuka

pintu kubur dan membangkitkan orang mati

(Yoh. 5:28, 29).

Jika Kristus tidak kembali, maka kita semua 

tidak mempunyai harapan sama sekali, dan

semua orang yang mati akan binasa selama-

lamanya. Bagaimanapun, sebab  Dia, tidak

seorang pun yang perlu binasa. Yohanes

berkata, “sebab  begitu besar kasih Allah

akan dunia ini, sehingga Ia telah menga-

runiakan Anak-Nya yang tunggal, supaya se-

tiap orang yang percaya kepada-Nya tidak

binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”

(Yoh. 3:16). Oleh sebab  itu, percaya kepada

Kristus bukan hanya melenyapkan hukuman

dosa, namun  juga menjamin umat percaya atas

karunia kehidupan kekal yang tiada taranya

itu.

Kristus membawa “hidup yang tidak da-

pat binasa” melalui Injil (2 Tim. 1:10). Paulus

memberikan jaminan kepada kita bahwa

Kitab Sucilah yang dapat “memberi hikmat

kepadamu dan menuntun engkau kepada ke-

selamatan oleh iman kepada Kristus Yesus”

(2 Tim 3:15). Barangsiapa yang tidak meneri-

ma Injil tidak akan memperoleh kekekalan.

Menerima Kekekalan. Saat pencurahan

karunia kekekalan itu dilukiskan oleh Paulus:

“Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu

suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya,

namun  kita semuanya akan diubah, dalam se-

kejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang

terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan

orang-orang mati akan dibangkitkan dalam

keadaan yang tidak dapat binasa dan kita

semua akan diubah. sebab  yang dapat bina-

sa ini harus mengenakan yang tidak dapat

binasa, dan yang dapat mati ini harus menge-

nakan yang tidak dapat mati, maka akan

genaplah firman Tuhan yang tertulis: ‘Maut

telah ditelan dalam kemenangan’ (1 Kor.

15:51-54). Inilah yang membuat amat jelas

bahwa Tuhan tidaklah memberikan kekekalan

itu kepada orang yang percaya pada saat ke-

matian tiba melainkan pada waktu kebangkit-

an, saat “nafiri terakhir” dibunyikan. Kemu-

dian “yang dapat binasa ini” akan “mengenakan

yang tidak dapat binasa.” Sementara itu Yo-

hanes menyatakan bahwa kita menerima ka-

runia hidup kekal apabila kita menerima

Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi (1

Yoh. 5:11-13), pewujudan yang sesungguhnya

akan karunia ini berlangsung pada waktu

kedatangan Kristus yang kedua kali. Hanya

dengan demikianlah kita dapat diubah dari

394           Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ...

yang dapat binasa kepada keadaan yang

tidak dapat binasa, dari tubuh yang fana

kepada tubuh yang baka.

SIFAT MAUT

Jika kematian itu merupakan berhentinya

hidup, apakah yang dikatakan Alkitab me-

ngenai keadaan seseorang yang berada di

alam maut itu? Mengapa penting bagi orang

Kristen untuk mengerti ajaran Alkitabiah ini?

Mati yaitu  Tidur. Kematian itu bukanlah

pembinasaan yang sudah sempurna–itu ada-

lah suatu keadaan ketidaksadaran saat sese-

orang menanti kebangkitan. Berulang-ulang

Alkitab mengatakan bahwa ini merupakan

lanjutan dari keadaan tidur. Berbicara me-

ngenai kematian, Perjanjian Lama melukiskan

Daud, Salomo dan raja-raja Israel lainnya,

begitu pula dengan Yehuda, sebagai sedang

tidur dengan leluhur mereka (1 Raj. 2:10;

11:43; 14:20, 31; 15:8; 2 Taw. 21:1; 26:33;

dsb). Ayub menyebut maut itu sebagai tidur

(Ayb. 14:10-12), sebagaimana halnya Daud

(Mzm. 13:4), Yeremia (Yer. 51:39, 57), dan

Daniel (Dan. 12:2).

Perjanjian Baru pun memakai  gam-

baran yang sama. Dalam pelukisan keadaan

putri Yairus, yang telah mati itu, Kristus

mengatakan bahwa anaknya itu tidak mati

melainkan tidur (Mat. 9:24; Mrk. 5:39). Ia

juga menunjuk kepada Lazarus yang sudah

meninggal dunia itu dengan cara yang sama

(Yoh. 11:11-14). Matius menulis bahwa ba-

nyak “orang kudus yang telah meninggal

bangkit” sesudah  kebangkitan Kristus (Mat.

27:52), dan catatan yang dibuat mengenai

Stefanus yang mati syahid, Lukas menulis

bahwa “ia tertidur” (Kis. 7:60, KJV). Paulus

maupun Petrus juga mengatakan bahwa mati

itu hanyalah tidur (1 Kor. 15:51, 52; 1Tes.

4:13-17; 2Ptr. 3:4).

Gambaran yang diberikan Alkitab menge-

nai kematian itu sebagai tidur, sangat tepat

dan jelas keadaannya, sebagaimana dengan

perbandingan yang berikut: 1. Orang yang

tidak sadar. “namun  orang yang mati tak tahu

apa-apa (Pkh. 9:5). 2. Waktu orang tidur, ia

berhenti berpikir. “Apabila nyawanya mela-

yang... pada hari itu juga lenyaplah maksud-

maksudnya” (Mzm. 146:4). 3. Tidur meng-

hentikan segala kegiatan sehari-hari. “sebab 

tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan

dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana

engkau akan pergi” (Pkh. 9:10). 4. Tidur me-

misahkan kita dari orang-orang yang bangun,

dan juga dari segala kegiatan mereka. “Untuk

selama-lamanya tak ada lagi bagian mereka

dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah

matahari” (ayat 6). 5. Tidur yang normal

membuat emosi tidak aktif. “Baik kasih me-

reka, maupun kebencian dan kecemburuan

mereka sudah lama hilang” (ayat 6). 6. Wak-

tu tidur orang tidak memuji Tuhan. “Bukan

orang-orang mati akan memuji-muji Tuhan”

(Mzm. 115:17). 7. Tidur mengisyaratkan

adanya bangun. “Saatnya akan tiba, bahwa

semua orang yang di dalam kuburan akan

mendengar suara-Nya, dan mereka yang te-

lah berbuat baik akan keluar dan bangkit”

(Yoh. 5:28, 29).3

Kembali menjadi Debu. Untuk memahami

apa yang terjadi kepada seseorang pada

waktu mati, ia harus mengerti terbuat dari

apakah sebenarnya dirinya. Alkitab meng-

gambarkan seseorang sebagai kesatuan or-

ganik (lihat bab 7). Berulang-ulang pengguna-

an kata jiwa menunjuk kepada pribadi secara

keseluruhan, dan pada kali yang lain menun-

juk kepada kasih sayang dan emosi. Akan

namun  itu bukan berarti mengajarkan bahwa

kita semua  terdiri dari dua bagian yang terpisah.

Tubuh dan jiwa ada bersamaan; membentuk

persatuan yang sama sekali tidak dapat dipi-

Kematian dan Kebangkitan 395

sahkan. Pada waktu kita semua  dijadikan, per-

satuan debu tanah (unsur tanah) dan napas

hidup menghasilkan makhluk at