delusi tuhan 15

Tampilkan postingan dengan label delusi tuhan 15. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label delusi tuhan 15. Tampilkan semua postingan

delusi tuhan 15


 


rlandia dan Amerika. Saya 

mengira sebagian kedongkolan publik tambahan berasal dari kemunafikan para pastor yang 

kehidupan profesionalnya terutama berurusan dengan membangkitkan rasa bersalah mengenai 

‘dosa’. Lalu ada penyalahgunaan kepercayaan oleh tokoh yang berwibawa, yang anak itu dilatih 

sejak bayi untuk kagumi. Kedongkolan tambahan seperti itu seharusnya membuat kita lebih 

waspada lagi agar tidak terlalu cepat menilai. Kita harus menyadari akan kekuatan luar biasa 

pikiran untuk menciptakan ingatan palsu, khususnya jika dibantu oleh terapis tidak beretika dan 

pengacara mata duitan. Psikolog Elizabeth Loftus telah menunjukkan keberanian besar, 

menghadapi kepentingan yang penuh dengki, dengan mendemonstrasikan betapa mudah orang 

bisa mengarang ingatan yang seluruhnya palsu tetapi yang terkesan, bagi korban, sama nyatanya 

dengan ingatan asli.137 Hal ini saking berlawanan dengan intuisi, juri-juri masih dibujuk dengan 

mudah oleh kesaksian tulus tetapi palsu.  

  Dalam kasus partikular Irlandia, bahkan tanpa kekerasan seksual, brutalitas para Bruder 

junjungan kristen ,138 yang bertanggung jawab untuk pendidikan sebagian besar penduduk lelaki negaranya, 

sudah legendaris. Dan hal yang sama dapat dikatakan mengenai para suster yang sering kejam 

seperti iblis yang mengepalai banyak sekolah gadis di Irlandia. Sekolah-sekolah Magdalene yang 

terkenal buruk, subjek film Peter Mullan The Magdalene Sisters, terus bereksistensi hingga 

1996. Empat puluh tahun kemudian, menjadi lebih sulit mendapat kompensasi untuk pemukulan 

daripada untuk rabaan seksual, dan tidak ada kekurangan pengacara yang secara aktif mencari 

klien di antara para korban yang seandainya tidak dihasut mungkin tidak akan mengungkit masa 

lalu yang sudah lama. Ada emas dalam rabaan ceroboh di ruang belakang gereja – memang, 

beberapa darinya begitu lama sehingga tersangka besar kemungkinan sudah mati dan tidak 

mampu mempresentasikan ceritanya dari sudut pandangnya sendiri. Gereja Katolik di seluruh 

dunia telah membayar lebih dari satu miliar dolar sebagai kompensasi.139 Kita hampir dibuat 

bersimpati dengannya, sebelum kita mengingat dari mana semua uang mereka berasal. 

  Pernah, di sesi tanya-jawab setelah suatu ceramah di Dublin, saya ditanyai pendapat saya 

mengenai kasus-kasus kekerasan seksual pastor-pastor Katolik di Irlandia yang pada saat itu 

menerima banyak publisitas. Saya membalas bahwa, meskipun kekerasan seksual tentu saja 

mengerikan, dapat dikemukakan bahwa kerusakannya tidak seberat kerusakan psikologis akibat 

anak itu dibesarkan secara Katolik. Itu yaitu  komentar spontan yang dikeluarkan begitu saja, 

dan saya heran bahwa komentar itu mendapat tepukan tangan antusias dari hadirin Irlandia itu 

(yang harus diakui terdiri dari para intelektual Dublin dan kemungkinan besar tidak mewakili 

negaranya pada umumnya). Tetapi saya teringat akan peristiwa itu kemudian ketika saya 

menerima sepucuk surat dari seorang perempuan Amerika umur 40-an yang dibesarkan sebagai 

Katolik Roma. Pada usia tujuh tahun, dia menceritakan dua hal yang tidak menyenangkan yang 

terjadi kepadanya. Dia dilecehkan secara seksual oleh pastor jemaatnya di mobilnya. Dan, di 

sekitar waktu yang sama, seorang teman sekolahnya, yang meninggal secara tragis, masuk 

neraka karena dia yaitu  seorang Protestan. Atau begitulah penulis surat itu dibuat percaya oleh 

doktrin resmi pada waktu itu di gereja orang tuanya. Pandangannya sebagai orang dewasa 

yaitu , dari kedua contoh kekerasan terhadap anak Katolik Roma ini, yang satu fisik dan yang 

satu mental, yang kedua jauh lebih buruk. Dia menulis: 

   

Dilecehkan oleh pastor itu hanya meninggalkan kesan (dari pikiran anak berusia 

7 tahun) ‘jijik’ sedangkan ingatan mengenai teman saya masuk neraka yaitu  

ketakutan yang dingin dan tak terukur. Saya tidak pernah susah tidur karena 

pastor itu – tetapi saya menghabiskan banyak malam ketakutan bahwa orang-

orang yang saya kasihi akan masuk Neraka. Hal itu memberi saya mimpi buruk. 

 

  Jujur, cumbuan seksual yang dia derita di mobil pastor cukup ringan dibandingkan 

dengan, misalnya, rasa sakit dan jijik seorang misdinar yang diperkosa. Dan katanya belakangan 

ini Gereja Katolik tidak begitu menekankan neraka seperti dahulu kala. Tetapi contoh itu 

menunjukkan bahwa mungkin saja kekerasan psikologis anak bisa lebih besar daripada yang 

fisik. Ada kisah bahwa Alfred Hitchcock, ahli sinema besar dalam seni membuat orang takut, 

pernah sedang mengendarai mobil di Swiss, lalu dia tiba-tiba menunjukkan jarinya ke luar 

jendela mobil dan berkata, ‘Itu pandangan paling menakutkan yang pernah saya lihat.’ 

Pandangannya yaitu  seorang pastor yang sedang bercakap dengan seorang anak lelaki kecil, 

tangan pastor pada bahu anak. Hitchcock mengeluarkan kepala dari jendela mobil dan teriak, 

‘Lari, anak kecil! Lari demi hidupmu!’ 

  ‘Tongkat dan batu mungkin mematahkan tulangku, tetapi kata-kata tidak pernah bisa 

menyakitiku.’ Lagu itu benar asalkan kita sebenarnya tidak memercayai kata-katanya. Tetapi jika 

seluruh pendidikan seseorang, dan segala sesuatu yang orang itu pernah diberi tahu oleh orang 

tua, guru dan pastor, telah membuat orang itu percaya, sungguh percaya, secara total, tanpa ragu-

ragu, bahwa para pendosa dibakar di neraka (atau pasal doktrin menjengkelkan lain seperti 

perempuan menjadi milik suaminya), sangat masuk akal bahwa kata-kata bisa berdampak secara 

lebih bertahan lama dan lebih merusak daripada tindakan. Saya cenderung yakin bahwa frasa 

‘kekerasan terhadap anak’ tidak berlebihan ketika digunakan untuk mendeskripsikan apa yang 

dilakukan oleh guru dan pastor kepada anak-anak yang mereka dorong untuk memercayai 

sesuatu seperti hukuman bagi dosa berat yang tidak diampuni dalam suatu neraka abadi. 

  Di acara dokumenter televisi Root of All Evil? yang sudah  saya sebut tadi, saya 

mewawancarai sejumlah pemimpin religius dan dikritik karena memilih para ekstremis Amerika 

dan bukan tokoh aliran utama yang dihormati seperti uskup agung.* Itu terdengar seperti kritik 

yang wajar – kecuali, di Amerika abad ke-21 awal, apa yang terkesan ekstrem bagi dunia luar 

sebenarnya yaitu  aliran utama. Salah satu orang yang saya wawancarai yang paling 

mengganggu penonton televisi di Britania, misalnya, yaitu  Pastor Ted Haggard dari Colorado 

Springs. Tetapi, jauh dari menjadi ekstrem di Amerika zaman Bush, ‘Pastor Ted’ yaitu  presiden 

National Association of Evangelicals dengan 30 juta anggota, dan dia mengklaim diutamakan 

dengan konsultasi melalui telepon dengan Presiden Bush setiap Senin. Jika saya ingin 

mewawancarai ekstremis asli menurut tolok ukur Amerika, saya akan memilih para 

‘Rekonstruktionis’ yang ‘Teologi Dominion’nya secara terbuka menyokong suatu teokrasi 

Kristiani di Amerika. Sebagaimana ditulis kepada saya oleh seorang kolega Amerika yang 

khawatir: 

   

Orang Eropa harus tahu bahwa ada suatu karnival keliling teologis yang 

sungguh mendukung penetapan kembali hukum Perjanjian Lama – pembunuhan 

homoseksual dst. – dan hak untuk memegang jabatan, atau bahkan untuk 

memilih, hanya untuk orang junjungan kristen . Hadirin kaum menengah bersorak-sorai 

ketika mendengar retorika ini. Jika para sekularis tidak waspada, kaum 

Dominionis dan kaum Rekonstruksionis sebentar lagi akan menjadi aliran 

utama dalam suatu teokrasi Amerika asli.† 

                                                 

* Uskup Agung Canterbury, Uskup Agung Kardinal Westminster dan Kepala Rabi Britania semua diajak untuk 

diwawancarai oleh saya. Mereka semua menolak, tentu untuk alasan yang baik. Uskup Oxford setuju, dan dia sama 

menyenangkannya, dan jauh dari ekstremis, seperti mereka pasti akan bersikap. 

† Yang berikut sepertinya asli, meskipun saya semula menduga suatu hoaks sindiran oleh The Onion: 

www.talk2action.org/story/2006/5/29/195855/959. Suatu gim komputer berjudul Left Behind: Eternal Forces. P.Z. 

Meyers merangkumnya di situs webnya yang luar biasa, Pharyngula. ‘Bayangkan, Anda yaitu  seorang prajurit 

dalam suatu kelompok paramiliter yang tujuannya yaitu  membentuk Amerika kembali sebagai suatu teokrasi 

Kristiani dan menetapkan visi duniawinya untuk merajanya Kristus bagi segala aspek kehidupan...Anda memiliki 

misi – baik religius maupun militer – untuk mengonversikan atau membunuh orang Katolik, Yahudi, Muslim, 

Buddha, gay, dan siapa pun yang mendukung pemisahan di antara gereja dengan negara...’ Lihat 

 

  Salah satu orang lagi yang saya wawancarai di televisi yaitu  Pastor Keenan Roberts, 

dari negara bagian yang sama dengan Pastor Ted, Colorado. Jenis kegilaan khas Pastor Roberts 

merupakan apa yang dia sebut sebagai Rumah-rumah Neraka (Hell Houses). Sebuah Rumah 

Neraka yaitu  tempat anak-anak dibawa, oleh orang tuanya atau sekolah Kristianinya, untuk 

dibuat setakut-takutnya mengenai apa yang mungkin akan terjadi kepada mereka setelah mereka 

mati. Para pemain membuat pementasan seram mengenai ‘dosa’ tertentu seperti aborsi atau 

homoseksualitas, dengan seorang iblis berpakaian merah sedang merayakan adegannya. Semua 

itu merupakan pendahuluan bagi pièce de résistance-nya, Neraka sendiri, lengkap dengan bau 

sulfur belerang yang realistis dan jeritan kesakitan mereka yang terkutuk selamanya. 

  Setelah menonton latihannya, dengan Iblisnya yang cukup keiblisan bergaya berlebihan, 

seperti tokoh penjahat dalam melodrama era Victoria, saya mewawancarai Pastor Roberts, 

disaksikan para pemainnya. Dia memberi tahu saya bahwa usia terbaik untuk mengunjungi 

sebuah Rumah Neraka yaitu  12. Saya agak terkejut mendengar itu, dan saya menanyainya 

apakah dia akan khawatir bahwa seorang anak berusia 12 tahun akan mengalami mimpi buruk 

setelah salah satu pertunjukkannya. Dia membalas, sepertinya dengan jujur: 

 

Saya lebih memilih jika mereka memahami bahwa Neraka yaitu  tempat yang 

sangat tidak ingin mereka masuki. Saya lebih memilih untuk menyampaikan 

pesan itu kepada mereka pada usia 12 daripada tidak menyampaikan pesan itu, 

lalu mereka hidup dalam dosa dan tidak pernah menemukan pencipta  junjungan kristen   

Kristus. Dan jika akhirnya mereka mengalami mimpi buruk, karena mengalami 

hal ini, saya kira ada kebaikan lebih tinggi yang akhirnya dicapai dalam hidup 

mereka daripada sekadar mimpi buruk. 

 

  Saya mengira bahwa, jika seseorang sungguh memercayai apa yang Pastor Roberts 

katakan dia percayai, orang itu juga akan menganggap intimidasi terhadap anak benar. 

  Kita tidak bisa mengabaikan saja Pastor Roberts sebagai seorang ekstremis fanatik. 

Seperti Ted Haggard, dia yaitu  aliran utama di Amerika saat ini. Saya akan heran jika mereka 

menerima kepercayaan beberapa sesama junjungan kristen  lain bahwa kita dapat mendengar teriakan orang 

terkutuk jika kita mendengar gunung api,140 dan bahwa cacing tabung raksasa yang ditemukan di 

ventilasi panas di kedalaman laut memenuhi Markus 9: 43–4: ‘Dan jika tanganmu menyesatkan 

engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari 

pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak 

terpadamkan; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.’ Apa pun yang 

mereka percayai tentang suasana neraka sebenarnya, para penggemar api neraka ini sepertinya 

memiliki Schadenfreude dan kepuasan sombong khas bagi mereka yang tahu bahwa mereka 

termasuk dalam golongan yang selamat, disampaikan dengan baik oleh teolog terkemuka itu, 

Santo Thomas Aquinas, dalam Summa Theologica: ‘Supaya para santo dapat lebih banyak 

menikmati kebahagiaannya dan rahmat pencipta , mereka dibolehkan untuk melihat hukuman 

mereka yang terkutuk di neraka.’ Orang yang baik.* 

  Ketakutan akan api neraka bisa sangat nyata, bahkan bagi orang yang selain dari itu 

                                                                                                                                                             

http://scienceblogs.com/pharyngula/2006/05/gta_meet_lbef.php; untuk ulasan, lihat 

http://select.nytimes.com/gst/abstract.html?res=F1071FFD3C550C718CDDAA0894DE404482. 

* Bandingkan belas kasih Kristiani Ann Coulter yang memesona: ‘Saya menantang siapa pun yang sesama junjungan kristen  

untuk berkata kepada saya bahwa mereka tidak tertawa memikirkan Dawkins terbakar di neraka’ (Coulter 2006: 

268). 

rasional. Setelah acara dokumenter televisi saya tentang kepercayaan , di antara banyak surat yang saya 

terima ada yang ini, dari seorang perempuan yang jelas pintar dan jujur: 

   

Saya belajar di sekolah Katolik dari umur 5 tahun, dan saya terindoktrinasi oleh 

suster-suster yang menghukum dengan cambuk dan tongkat. Saat remaja saya 

membaca Darwin, dan apa yang dia katakan mengenai evolusi sangat masuk 

akal bagi bagian logis pikiran saya. Namun, saya menjalani hidup dengan 

menderita banyak konflik dan ketakutan mendalam akan api neraka yang sangat 

sering terpicu. Saya mendapat psikoterapi yang memungkinkan saya untuk 

menyelesaikan beberapa masalah saya dari dulu tetapi sepertinya saya tidak 

dapat mengatasi ketakutan mendalam ini. 

  Jadi, alasan saya menulis kepada Anda yaitu  tolong bisakah Anda 

mengirim kepada saya nama dan alamat terapis yang Anda wawancarai di 

episode minggu ini yang bekerja dengan ketakutan khusus ini. 

 

  Saya terharu oleh suratnya, dan (sambil menahan penyesalan sesaat dan kurang baikyang 

kurang mulia bahwa tidak ada neraka bagi suster-suster itu) membalas bahwa dia harus 

memercayai akal budinya sebagai suatu pemberian luar biasa yang dia – berbeda dengan orang 

yang kurang beruntung – jelas-jelas miliki. Saya mengemukakan bahwa kengerian ekstrem 

neraka, sebagaimana direpresentasikan oleh pastor dan suster, dibesar-besarkan untuk menutupi 

kemustahilannya. Jika neraka itu masuk akal, maka hanya perlu sedikit tidak nyaman untuk 

membuat orang tidak berdosa. Karena neraka begitu tidak mungkin ada, maka ia harus 

diiklankan sebagai sangat amat menakutkan, untuk mengimbangi kemustahilannya dan 

mempertahankan kemampuannya untuk membuat orang tidak berdosa. Saya juga 

menghubungkannya dengan terapis yang dia sebut, Jill Mytton, seorang yang menyenangkan dan 

tulus secara mendalam, yang saya wawancarai di depan kamera. Jill sendiri dibesarkan dalam 

suatu sekte yang lebih menjijikkan daripada yang biasanya Exclusive Brethren: saking tidak 

menyenangkannya, bahkan ada suatu situs web, www.peebs.net, yang sepenuhnya didedikasikan 

untuk merawat mereka yang telah melarikan diri darinya. 

  Jill Mytton dibesarkan untuk takut sekali pada neraka, lalu melarikan diri dari Kristianitas 

saat dewasa, dan kini membimbing dan membantu orang lain yang trauma secara serupa di masa 

kanak-kanak: ‘Jika saya mengingat kembali masa kanak-kanak saya, masa itu didominasi 

ketakutan. Dan itu ketakutan akan ketidaksetujuan pada masa kini, tetapi juga akan kutukan 

abadi. Dan bagi seorang anak, gambar-gambar api neraka dan kertak gigi sebenarnya sangat 

nyata. Hal itu tidak metaforis sama sekali.’ Kemudian saya memintanya untuk menguraikan apa 

yang sebenarnya diberitahukan kepadanya mengenai neraka, sebagai seorang anak, dan 

balasannya setelah dia diam sejenak sama mengharukannya dengan mukanya yang ekspresif saat 

dia menjawab: ‘Aneh, bukan? Setelah sekian lama, masih saja mampu ... memengaruhi saya ... 

ketika Anda ... ketika Anda melontarkan pertanyaan itu. Neraka yaitu  tempat yang penuh 

ketakutan. Penolakan mutlak oleh pencipta . Hukuman mutlak, ada api nyata, ada azab nyata, 

siksaan nyata, dan itu berlangsung selamanya jadi tidak ada istirahat darinya.’ 

  Dia kemudian bercerita tentang kelompok dukungan yang dia buat untuk orang yang 

melarikan diri dari masa kanak-kanak yang serupa dengan masa kanak-kanaknya sendiri, dan dia 

merenungkan betapa sulit bagi banyak dari mereka untuk keluar: ‘Proses keluar itu luar biasa 

sulit. Ah, Anda meninggalkan jaringan sosial yang lengkap, suatu sistem lengkap yang di 

dalamnya Anda hampir seluruhnya dibesarkan, Anda meninggalkan suatu sistem kepercayaan 

yang Anda pegang selama bertahun-tahun. Sangat sering Anda meninggalkan keluarga dan 

teman ... Anda sudah tidak begitu ada bagi mereka.’ Saya sempat menceritakan pengalaman saya 

sendiri atas surat dari orang-orang di Amerika yang berkata bahwa mereka telah membaca buku-

buku saya dan keluar dari kepercayaan  mereka sebagai konsekuensinya. Secara membingungkan, 

banyak kemudian berkata bahwa mereka tidak berani memberi tahu keluarga mereka, atau 

bahwa mereka telah memberi tahu keluarga mereka, dan hasilnya sangat buruk. Contoh yang 

berikut lazim. Penulisnya yaitu  mahasiswa kedokteran muda Amerika. 

   

Saya merasa terdorong untuk menulis surel kepada Anda karena pandangan 

saya mengenai kepercayaan  sama dengan Anda, suatu pandangan yang, sebagaimana 

Anda pasti sadari, cukup mengisolasikan di Amerika. Saya besar di sebuah 

keluarga junjungan kristen  dan meskipun ide kepercayaan  tidak pernah cocok dengan saya, saya 

baru saja cukup berani untuk menceritakan itu kepada orang lain. Orang itu 

yaitu  pacar saya yang ... merasa ngeri karenanya. Saya menyadari bahwa 

menyatakan diri ateis bisa saja mengejutkan tetapi kini seolah-olah dia 

memandangi saya sebagai orang yang sepenuhnya berbeda. Dia tidak bisa 

memercayai saya, katanya, karena moral-moral saya tidak berasal dari pencipta . 

Saya tidak tahu apakah kami akan mengatasi ini, dan saya tidak begitu ingin 

mengucapkan kepercayaan saya kepada orang lain yang dekat dengan saya 

karena saya takut akan reaksi jijik yang sama ... Saya tidak mengharapkan 

balasan. Saya hanya menulis kepada Anda karena saya berharap Anda akan 

bersimpati dengan frustrasi saya. Bayangkan kehilangan orang yang Anda 

cintai, dan yang mencintai Anda, atas dasar kepercayaan . Selain dari pandangannya 

bahwa kini saya seorang kafir tidak berpencipta , kami pasangan sempurna. 

Pengalaman ini mengingatkan saya akan pengamatan Anda bahwa orang 

melakukan hal-hal gila atas nama imannya. Terima kasih sudah mendengar. 

 

  Saya membalas pemuda malang ini dengan menunjukkan kepadanya bahwa, sementara 

pacarnya telah mengetahui sesuatu tentang dirinya, dia juga telah mengetahui sesuatu tentang 

diri pacarnya. Apakah pacar itu sungguh cukup baik untuknya? Saya ragu. 

  Saya sudah pernah menyebut aktor dan pelawak Amerika Julia Sweeney dan 

perjuangannya yang gigih dan lucu secara menyenangkan untuk menemukan beberapa sifat baik 

dalam kepercayaan  dan menyelamatkan pencipta  masa kecilnya dari keraguan dewasanya yang semakin 

besar. Akhirnya pencarian dia berakhir dengan bahagia, dan kini dia menjadi seorang panutan 

yang layak dipuji untuk ateis-ateis muda di mana pun. Bagian akhir ceritanya barangkali yaitu  

adegan paling mengharukan dalam pementasannya, Letting Go of God. Dia sudah mencoba 

segalanya. Lalu... 

   

...sambil aku berjalan dari kantorku di halaman belakang ke dalam rumahku, 

aku menyadari bahwa ada suara sangat kecil sedang berbisik dalam otakku. Aku 

tidak tahu berapa lama suara itu sudah ada, tetapi tiba-tiba ia mengeras satu 

desibel saja. Suara itu berbisik, ‘Tidak ada pencipta .’ 

  Dan aku berusaha untuk mengabaikannya. Tetapi suara itu mengeras lagi. 

‘Tidak ada pencipta . Tidak ada pencipta . Ya pencipta , tidak ada pencipta .’ ... 

  Dan aku merinding. Aku merasa tergelincir dari sekoci. 

  Lalu aku berpikir, ‘Tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu jika aku bisa tidak 

percaya akan pencipta . Aku membutuhkan pencipta . ‘Kan, kami sudah punya 

sejarah’ ... 

  ‘Tetapi aku tidak tahu caranya tidak percaya akan pencipta . Aku tidak tahu 

bagaimana itu dilakukan. Bagaimana bangun pagi, bagaimana menjalankan 

hari?’ Aku merasa tidak seimbang... 

  Aku pikir, ‘Baik, tenang. Mari kita coba memakai kacamata tidak-percaya-

akan-pencipta  sejenak, sebentar saja. Pakai saja kacamata tidak-ada-pencipta  dan 

melihat-lihat di sekeliling sekilas lalu langsung lepaskan kacamata itu.’ Dan aku 

memakainya dan melihat-lihat di sekeliling. 

  Aku malu mengatakan bahwa semula aku merasa pusing. Aku sungguh 

berpikir, ‘Kalau begitu, bagaimana Bumi bisa tetap di langit? Berarti kita hanya 

meluncur saja di antariksa? Itu rentan sekali!’ Aku ingin lari keluar dan 

menangkap Bumi pada saat terjatuh dari antariksa ke dalam tanganku. 

  Lalu aku ingat, ‘Ya iya, gravitasi dan momentum sudut akan membuat kita 

terus memutar di sekeliling Matahari untuk waktu yang mungkin sangat, sangat 

lama.’ 

 

  Ketika saya menonton Letting Go of God di sebuah teater di Los Angeles, saya sangat 

terharu oleh adegan ini. Khususnya ketika Julia kemudian bercerita tentang reaksi orang tuanya 

pada laporan pers mengenai penyembuhannya: 

   

Panggilan pertama dari ibuku lebih mirip teriakan. ‘Ateis? ATEIS?!?!’ 

  Ayahku menelepon dan berkata, ‘Kau telah mengkhianati keluargamu, 

sekolahmu, kotamu.’ Seperti aku menjual rahasia ke Rusia. Mereka berdua 

mengatakan bahwa mereka tidak akan berbicara denganku lagi. Ayahku berkata, 

‘Aku bahkan tidak ingin kau menghadiri acara penguburanku.’ Setelah aku 

mematikan teleponnya, aku berpikir, ‘Coba saja menghentikanku.’ 

 

Sebagian dari bakat Julia Sweeney yaitu  dia bisa membuat kita menangis sekaligus tertawa: 

 

Aku mengira orang tuaku sedikit kecewa saat aku berkata aku sudah tidak 

percaya akan pencipta , tetapi menjadi seorang ateis yaitu  persoalan lain lagi. 

 

  Buku Dan Barker, Losing Faith in Faith: Dari Pengkhotbah ke Ateis yaitu  cerita 

konversinya yang pelan-pelan dari pendeta fundamentalis taat dan pengkhotbah keliling 

bersemangat hingga menjadi ateis yang kuat dan percaya diri saat ini. Secara signifikan, Barker 

terus menginjil secara hampa setelah dia menjadi seorang ateis, karena itu yaitu  satu-satunya 

karier yang dia ketahui dan dia merasa terkunci dalam suatu jaringan kewajiban sosial. Kini dia 

mengenal banyak imam Amerika yang lain yang berada di posisi yang sama dengannya tetapi 

hanya mengaku kepadanya, karena sudah membaca bukunya. Mereka tidak berani mengakui 

ateismenya bahkan kepada keluarganya sendiri, begitu buruk tanggapan yang mereka bayangkan. 

Kisah Barker sendiri memiliki bagian penutup yang lebih bahagia. Pertama, orang tuanya sangat 

terkejut dan merasa sengsara. Tetapi mereka mendengarkan penalarannya yang lembut, dan 

akhirnya mereka sendiri menjadi ateis. 

  Dua profesor dari satu universitas di Amerika secara terpisah menulis kepada saya 

mengenai orang tua mereka. Satu mengatakan bahwa ibunya terus berkabung karena dia takut 

untuk jiwanya yang kekal. Yang lain mengatakan bahwa ayahnya berharap dia tidak pernah 

lahir, saking percayanya bahwa anaknya akan abadi di neraka. Dua orang ini yaitu  profesor 

universitas yang berpendidikan tinggi, percaya diri mengenai kesarjanaannya dan 

kedewasaannya, yang dapat dikira telah melampaui orang tuanya dalam segala persoalan intelek, 

tidak hanya kepercayaan . Bayangkan saja bagaimana sukarnya bagi orang yang tidak sekuat itu secara 

intelektual, kurang dibekali oleh pendidikan atau keterampilan retoris daripada profesor-profesor 

itu, atau daripada Julia Sweeney, untuk mempertahankan posisinya di hadapan anggota keluarga 

yang keras kepala. Sama seperti untuk banyak pasien Jill Mytton, barangkali. 

  Lebih awal dalam percakapan kami yang disiarkan di televisi, Jill mendeskripsikan jenis 

pendidikan religius ini sebagai salah satu bentuk kekerasan mental, dan saya kembali ke poin itu, 

sebagai berikut: ‘Anda menggunakan istilah kekerasan religius. Jika Anda membandingkan 

kekerasan dalam membesarkan seorang anak untuk sungguh percaya akan neraka ... bagaimana 

menurut Anda itu dapat dibandingkan secara trauma dengan kekerasan seksual?’ Dia menjawab: 

‘Pertanyaan itu sangat sulit ... Saya pikir ada banyak yang serupa sebenarnya, karena itu 

persoalan penyalahgunaan kepercayaan; itu persoalan tidak memberi anak hak untuk merasa 

bebas dan terbuka dan mampu berhubungan dengan dunia secara normal...itu bentuk degradasi; 

sejenis penolakan diri sejati dalam kedua kasus itu.’ 

  

MEMBELA ANAK-ANAK 

 

  Kolega saya, psikolog Nicholas Humphrey, menggunakan amsal ‘tongkat dan batu’ 

sebagai permulaan untuk Ceramah Amnesty-nya di Oxford pada 1997.141 Humphrey mulai 

dengan berargumen bahwa amsal itu tidak selalu benar, dengan merujuk kasus orang yang 

percaya akan Voodoo Haiti, yang mati (sepertinya akibat efek psikosomatis ketakutan) dalam 

waktu beberapa hari setelah kena ‘sihir’ jahat itu. Lalu dia bertanya apakah Amnesty 

International, yang menerima keuntungan dari seri ceramah dia kontribusikan ini, seharusnya 

berkampanye melawan pidato atau publikasi yang menyakitkan atau merusak. Jawabannya 

yaitu  ‘tidak’ secara kukuh terhadap penyensoran seperti itu pada umumnya: ‘Kebebasan 

berbicara yaitu  kebebasan yang terlalu berharga untuk diganggu.’ Tetapi kemudian dia 

mengejutkan diri liberalnya sendiri dengan mendukung satu pengecualian yang penting: dia 

berargumen untuk penyensoran dalam kasus istimewa anak-anak... 

   

...pendidikan moral dan religius, dan terutama pendidikan yang diterima 

seorang anak di rumah, di mana orang tua boleh – bahkan diharapkan – 

menentukan untuk anak-anaknya apa yang dianggap benar dan salah, baik dan 

buruk. Anak-anak, saya kemukakan, memiliki suatu hak asasi agar pikirannya 

tidak cacat oleh eksposur terhadap ide-ide buruk orang lain – siapa pun orang 

lain itu. Sesuai dengan itu, orang tua tidak memiliki izin dari pencipta  untuk 

membudayakan anak-anaknya dengan cara apa saja yang mereka pilih secara 

pribadi: tidak berhak untuk membatasi horizon pengetahuan anaknya, untuk 

membesarkannya dalam suasana dogma dan takhayul, atau untuk bersikeras 

bahwa anak itu mengikuti jalur lurus dan sempit dari iman orang tua itu sendiri. 

  Pendek kata, anak-anak berhak agar pikirannya tidak dibingungkan oleh 

omong kosong, dan kita sebagai masyarakat wajib melindungi mereka dari itu. 

Jadi seharusnya kita tidak membolehkan orang tua mengajarkan anaknya 

memercayai, misalnya, kebenaran harfiah Alkitab atau bahwa planet-planet 

merajai hidupnya, sama seperti kita tidak membolehkan orang tua untuk 

memukul anaknya hingga giginya lepas atau mengunci mereka di penjara 

bawah tanah. 

 

  Tentu saja, suatu pernyataan keras seperti itu membutuhkan, dan menerima, banyak 

kualifikasi. Bukankah omong kosong itu persoalan opini? Bukankah ilmu pengetahuan ortodoks 

sudah terlalu sering dijungkirbalikkan, sehingga kita harus insaf dan hati-hati? Para ilmuwan 

mungkin menganggap pengajaran astrologi dan kebenaran harfiah Alkitab sebagai omong 

kosong, tetapi ada orang yang berpikir sebaliknya, dan bukankah mereka berhak untuk 

mengajarkannya kepada anak-anaknya? Bukankah sama sombongnya untuk bersikeras bahwa 

anak-anak harus diajarkan ilmu pengetahuan? 

  Saya berterima kasih kepada orang tua saya sendiri karena mereka berpandangan bahwa 

anak-anak tidak begitu perlu diajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi bagaimana mereka 

harus berpikir. Jika, setelah mereka dengan wajar dan layak terekspos kepada semua bukti 

ilmiah, mereka beranjak dewasa dan memutuskan bahwa Alkitab benar secara harfiah atau 

bahwa gerakan planet-planet merajai hidup mereka, itu hak mereka. Poin pentingnya yaitu , hak 

mereka untuk memutuskan apa yang mereka akan pikirkan, dan bukan hak orang tua untuk 

memaksakannya karena kekuatannya yang lebih besar. Dan ini, tentu saja, khususnya penting 

ketika kita berefleksi bahwa anak-anak menjadi orang tua di generasi berikutnya, dalam posisi 

untuk mewariskan indokrinasi apa pun yang mungkin membentuk mereka sebelumnya. 

  Humphrey mengusulkan bahwa, selama anak-anak masih muda, rentan, dan 

membutuhkan perlindungan, perwalian yang sungguh bermoral memperlihatkan dirinya dalam 

suatu usaha jujur untuk mempertanyakan apa yang mereka akan pilih untuk diri mereka sendiri 

jika mereka cukup besar untuk melakukannya. Dia dengan mengharukan mengutip contoh 

seorang gadis Inka yang jenazahnya yang berusia 500 tahun ditemukan dalam keadaan beku di 

pegunungan Peru pada 1995. Antropolog yang menemukannya menulis bahwa dia yaitu  korban 

suatu pengurbanan ritual. Menurut Humphrey, sebuah film dokumenter mengenai ‘gadis es’ 

muda ini disiarkan di televisi Amerika. Para penonton diajak 

   

mengagumi komitmen rohani para imam Inka dan mengalami bersama dengan 

gadis itu dalam perjalanan terakhirnya kebanggaannya dan kegirangannya 

karena sudah terpilih untuk penghormatan tertinggi, yakni, dikurbankan. Pesan 

acara televisi itu ternyata yaitu  praktik pengurbanan manusia dengan caranya 

sendiri merupakan ciptaan budaya yang luhur – salah satu permata lagi di 

mahkota multikulturalisme, mungkin. 

 

Humphrey marah betul, sama seperti saya. 

   

Tetapi bagaimana bisa ada orang yang berani berkata demikian? Berani sekali 

mereka mengajak kita – di ruang keluarga, sedang menonton televisi – untuk 

merasa terangkat dengan kontemplasi akan suatu tindakan pembunuhan ritual: 

pembunuhan seorang anak yang belum mandiri oleh sekelompok lelaki tua yang 

bodoh, sombong, dan menganut takhayul? Berani sekali mereka mengajak kita 

untuk menemukan kebaikan untuk diri kita sendiri dalam kontemplasi atas 

tindakan imoral terhadap orang lain? 

 

Sekali lagi, pembaca liberal yang baik mungkin akan mulai merasa kurang nyaman. Tidak 

bermoral menurut tolok ukur kita, tentu, dan bodoh, tetapi bagaimana dengan tolok ukur Inka? 

Pasti, bagi para Inka, pengorbanan itu yaitu  tindakan moral dan jauh dari bodoh, diberkati oleh 

semua yang mereka anggap suci? Gadis kecil itu yaitu , tentu saja, seorang yang setia pada 

kepercayaan  di mana dia dibesarkan. Siapa kita yang menggunakan kata seperti ‘pembunuhan’, 

menilai para imam Inka menurut tolok ukur kita sendiri daripada tolok ukur mereka? Barangkali 

gadis ini gembira mengenai nasibnya: barangkali dia sungguh percaya bahwa dia akan langsung 

masuk surga abadi, dihangati oleh kehadiran cemerlang Dewa Matahari. Atau barangkali – yang 

sepertinya jauh lebih mungkin – dia menjerit ketakutan. 

  Poin Humphrey – dan saya – yaitu , tanpa mengindahkan apakah dia yaitu  korban yang 

rela atau tidak, ada alasan kuat untuk menduga bahwa dia tidak akan rela seandainya dia 

memiliki semua faktanya. Misalnya, andaikan bahwa dia tahu bahwa Matahari sebenarnya 

merupakan bola hidrogen, lebih panas dari satu juta derajat Kelvin, sedang mengonversikan 

dirinya sendiri menjadi helium melalui fusi nuklir, dan bahwa Matahari itu semula terbentuk dari 

sebuah cakram gas yang darinya bagian tata surya yang lain, termasuk Bumi, juga 

mengembun...Kalau begitu, dapat diperkirakan bahwa dia tidak akan memuja Matahari sebagai 

dewa, dan hal itu akan mengubah perspektifnya mengenai dikorbankan deminya. 

  Para imam Inka tidak dapat disalahkan untuk ketidaktahuan mereka, dan barangkali dapat 

dianggap terlalu keras jika kita menilai mereka bodoh dan sombong. Tetapi mereka dapat 

disalahkan untuk memaksakan kepercayaannya sendiri kepada seorang anak yang terlalu muda 

untuk memutuskan apakah dia akan memuja Matahari atau tidak. Poin tambahan Humphrey 

yaitu  para pembuat film dokumenter saat ini, dan kita penontonnya, dapat disalahkan untuk 

melihat keindahan dalam kematian gadis kecil itu – ‘suatu yang memperkaya kebudayaan 

kolektif kita’. Kecenderungan yang sama untuk merayakan keanehan kebiasaan religius etnis, 

dan untuk membenarkan kekejaman atas namanya, muncul terus-menerus. Itu yaitu  sumber 

konflik batin yang menggeliat dalam pikiran orang liberal baik yang, di satu sisi, tidak tahan 

melihat penderitaan dan kekejaman, tetapi di sini lain telah dilatih oleh para posmodernis dan 

relativis untuk menghargai budaya lain sama seperti budaya mereka sendiri. Mutilasi kelamin 

perempuan (terkadang disebut khitan pada wanita atau sunat perempuan) tak teragukan sangat 

menyakitkan, menyabotase kenikmatan seksual bagi perempuan (memang, ini besar 

kemungkinan yaitu  tujuan tersembunyinya), dan separuh pikiran liberal baik ingin 

memusnahkan praktik itu. Namun, separuh yang lain ‘menghormati’ kebudayaan etnis dan 

merasa bahwa kita harus tidak campur tangan jika ‘mereka’ ingin memutilasi gadis ‘mereka’.* 

Poinnya, tentu saja, yaitu  gadis ‘mereka’ sebenarnya yaitu  manusia pada dirinya sendiri, dan 

keinginan mereka seharusnya tidak diabaikan. Lebih sulit untuk menjawab, bagaimana jika 

seorang gadis mengatakan bahwa dia ingin dikhitan? Tetapi akankah, dari perspektif masa depan 

seorang dewasa dengan semua informasi terkait, dia ingin bahwa hal itu tidak pernah terjadi? 

Humphrey membuat poin bahwa tak seorang perempuan pun yang entah bagaimana tidak 

dikhitan saat anak-anak akan dengan sukarela memilih untuk mendapat operasi itu kemudian 

hari. 

  Setelah mendiskusikan kaum Amish, dan hak mereka untuk membesarkan anak mereka 

‘sendiri’ dengan caranya ‘sendiri’, Humphrey mengecam antusiasme kita sebagai masyarakat 

untuk 

   

mempertahankan keberkepercayaan n kebudayaan. Baiklah, Anda mungkin ingin 

berkata, jadi berat bagi anak para Amish, atau para Hasidim, atau para gipsi 

untuk dibentuk oleh orang tuanya seperti itu – tetapi setidaknya hasilnya yaitu , 

tradisi-tradisi kebudayaan yang menarik sekali tetap berlangsung. Bukankah 

seluruh peradaban kita akan menjadi lebih miskin jika tradisi itu menghilang? 

Sayangnya, mungkin, ketika individu harus dikorbankan untuk 

mempertahankan keberkepercayaan n seperti itu. Tetapi begitulah: itu harga yang kita 

bayar sebagai masyarakat. Kecuali, saya merasa wajib mengingatkan Anda, kita 

tidak membayar, mereka yang membayar. 

                                                 

* Hal itu yaitu  praktik yang lazim di Britania saat ini. Seorang Penyidik Sekolah senior memberi tahu saya 

mengenai anak-anak perempuan di London pada 2006 yang dikirim ke seorang ‘paman’ di Bradford untuk dikhitan. 

Pemerintahan tidak memperhatikannya, karena takut dianggap rasis dalam ‘komunitasnya’. 

 

  Isu itu mendapat perhatian publik pada 1972 ketika Mahkamah Agung AS memutuskan 

suatu kasus, Wisconsin versus Yoder, yang berkaitan dengan hak orang tua untuk menarik 

anaknya dari sekolah atas dasar religius. Suku Amish hidup di komunitas tertutup di berbagai 

wilayah Amerika Serikat, kebanyakan menggunakan dialek bahasa Jerman lama bernama 

Pennsilfaanisch Deitsch dan menolak, pada tingkat yang berbeda-beda, listrik, motor bakar 

pembakaran dalam, ritsleting, dan manifestasi lain dari kehidupan modern. Ada, memang, hal 

yang cukup menarik mengenai sebuah pulau kehidupan abad ke-17 yang tersedia untuk ditonton 

oleh mata saat ini. Bukankah hal itu layak dilestarikan, demi kekayaan keberkepercayaan n manusia? 

Dan satu-satunya cara melestarikannya yaitu  membolehkan kaum Amish mendidik anaknya 

sendiri dengan caranya sendiri, dan melindungi mereka dari pengaruh korup modernitas. Tetapi, 

kita tentu ingin bertanya, bukankah anak-anak itu sendiri seharusnya mendapat suara mengenai 

persoalannya? 

  Mahkamah Agung diminta untuk memutuskan pada 1972, ketika beberapa orang tua 

Amish di Wisconsin menarik anaknya dari SMA. Konsep pendidikan di atas usia tertentu 

bertentangan dengan nilai-nilai religius Amish, apalagi pendidikan ilmiah. Negara Bagian 

Wisconsin mengadukan orang tuanya, dengan mengklaim bahwa anak-anak itu dirugikan atas 

haknya untuk berpendidikan. Setelah melalui beberapa pengadilan, kasus itu akhirnya sampai ke 

Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang memutuskan secara terbagi (6:1) memihak para orang 

tua.142 Opini mayoritas, ditulis oleh Hakim Ketua Warren Burger, memuat yang berikut: 

‘Sebagaimana ditunjukkan oleh catatan, kehadiran sekolah wajib hingga usia 16 untuk anak-anak 

Amish menyebabkan ancaman sangat nyata untuk menggerogoti komunitas dan praktik 

kekepercayaan an Amish sebagaimana adanya saat ini; mereka harus meninggalkan kepercayaan 

mereka dan terasimilasi ke dalam masyarakat pada umumnya, atau terpaksa untuk bermigrasi ke 

kepercayaan  yang lain yang lebih toleran.’ 

  Opini minoritas Hakim William O. Douglas yaitu , anak-anak itu sendiri seharusnya 

ditanyai. Apakah mereka sungguh ingin memutus pendidikannya? Apakah mereka, memang, 

sungguh ingin tetap hidup dalam kepercayaan  Amish? Nicholas Humphrey akan melangkah lebih jauh 

lagi. Meskipun anak-anak itu ditanyai dan telah mengucapkan bahwa mereka memilih kepercayaan  

Amish, apakah kita dapat mengandaikan bahwa mereka akan berpendapat demikian jika mereka 

sudah dididik dan diberi tahu mengenai alternatif-alternatif yang ada? Agar hal itu masuk akal, 

bukankah harus ada contoh pemuda dari dunia luar yang memilih dengan kakinya dan dengan 

suka rela menjadi Amish? Hakim Douglas melangkah lebih jauh ke arah yang sedikit berbeda. 

Dia tidak melihat alasan tertentu untuk memberi pandangan religius orang tua status istimewa 

dalam memutuskan sejauh mana mereka boleh tidak memberi pendidikan kepada anaknya. Jika 

kepercayaan  yaitu  dasar untuk pengecualian, bukankah ada kepercayaan sekuler yang juga masuk 

hitungan? 

  Mayoritas Mahkamah Agung membuat analogi dengan beberapa nilai positif ordo 

monastik, yang secara kontroversial dapat dianggap memperkaya masyarakat melalui 

kehadirannya. Tetapi, sebagaimana ditunjukkan oleh Humphrey, ada perbedaan krusial. 

Biarawan memilih kehidupan monastik secara sukarela dengan kehendak bebasnya sendiri. 

Anak-anak Amish tidak pernah memilih dengan sukarela untuk menjadi Amish; mereka terlahir 

di dalamnya dan tidak sempat memilih. 

  Ada suatu yang sungguh sombong, dan juga tidak manusiawi, mengenai pengurbanan 

siapa pun, khususnya anak-anak, di altar ‘keberkepercayaan n’ dan keutamaan melestarikan beraneka 

ragam tradisi kekepercayaan an. Kita-kita yang lain bisa bahagia dengan mobil dan komputer, vaksin 

dan antibiotik. Tetapi kalian suku aneh nan lucu dengan kerudung dan celana kuno, kereta kuda, 

dialek kuno dan kloset yang berupa lubang di tanah, kalian memperkaya kehidupan kami. Tentu 

saja kalian harus dibolehkan menjebak anak-anak kalian bersama dengan kalian dalam relung 

waktu abad ke-17 kalian itu; jika tidak, suatu yang tidak bisa didapat kembali akan hilang bagi 

kita, sebagian dari keberkepercayaan n luar biasa kebudayaan manusia. Sebagian kecil dari diri saya 

bisa melihat suatu yang meyakinkan di sini.  Tetapi bagian yang lebih besar merasa sungguh 

kurang nyaman. 

  

SUATU SKANDAL PENDIDIKAN 

 

  Perdana Menteri negara saya, Tony Blair, menyebut ‘keberkepercayaan n’ ketika ditantang di 

Dewan Rakyat oleh Anggota Parlemen Jenny Tonge untuk membenarkan subsidi pemerintah 

untuk sebuah sekolah di daerah timur laut Inggris yang (secara hampir unik di Britania) 

mengajarkan kreasionisme alkitabiah harfiah. Pak Blair membalas bahwa sangat disayangkan 

jika kekhawatiran mengenai isu itu mengganggu hadirnya ‘suatu sistem sekolah yang seberagam 

yang selayaknya kita bisa bangun’.143 Sekolah itu, Emmanuel College di Gateshead, yaitu  salah 

satu ‘akademi kota’ yang didirikan dalam suatu prakarsa yang dibanggakan oleh pemerintahan 

Blair. Penyumbang-penyumbang kaya dibujuk untuk memberi sejumlah uang yang relatif kecil 

(£2 juta dalam kasus Emmanuel), yang membeli sejumlah uang pemerintahan yang jauh lebih 

besar (£20 juta untuk sekolahnya, ditambah biaya operasional dan gaji selamanya), dan juga 

memberikan penyumbang hak untuk mengendalikan etos sekolahnya, penetapan mayoritas 

administrator sekolah, kebijakan untuk murid siapa yang boleh masuk atau harus dikeluarkan, 

dan banyak yang lain. 

  Penyumbang 10 persen Emmanuel yaitu  Sir Peter Vardy, seorang penjual mobil kaya 

dengan suatu keinginan yang baik untuk memberi kepada anak-anak saat ini pendidikan yang 

ingin dia dapat saat dia kecil, dan suatu keinginan yang kurang baik untuk mencetak keyakinan 

religius pribadinya kepada mereka.* Sayangnya, Vardy telah terlibat dengan sekelompok guru 

fundamentalis yang terinspirasi oleh Amerika, dipimpin oleh Nigel McQuoid, mantan kepala 

sekolah Emmanuel dan kini direktur konsorsium sekolah-sekolah Vardy. Tingkat pemahaman 

ilmiah McQuoid dapat dinilai dari keyakinannya bahwa umur dunia kurang dari 10 ribu tahun, 

dan juga dari kutipan berikut: ‘Tetapi membayangkan bahwa kita hanya berevolusi dari suatu 

ledakan, bahwa dahulu kita yaitu  monyet, itu terkesan sulit dipercayai ketika kita melihat 

kerumitan tubuh manusia ... Jika kita mengajarkan anak-anak bahwa tidak ada tujuan hidupnya – 

bahwa mereka hanya suatu mutasi kimia – itu tidak membangun kepercayaan-diri.’144 

  Tak seorang ilmuwan pun pernah mengemukakan bahwa seorang anak yaitu  suatu 

‘mutasi kimia’. Penggunaan frasa itu pada konteks seperti itu yaitu  omong kosong buta huruf, 

setara dengan pernyataan-pernyataan ‘Uskup’ Wayne Malcolm, pemimpin gereja Christian Life 

City di Hackney, London timur, yang, menurut Guardian 18 April 2006, ‘membantah bukti 

ilmiah untuk evolusi’. Pemahaman Malcolm mengenai bukti yang dia bantah dapat diukur dari 

pernyataannya bahwa ‘Jelas ada kekosongan dalam catatan fosil terkait tahap perkembangan 

menengah. Jika seekor katak menjadi seekor monyet, bukankah harus ada banyak kanyet?’ 

  Sebenarnya, ilmu pengetahuan bukan subjek Pak McQuoid juga, jadi, agar adil, 

                                                 

* H.L. Mencken seolah-olah bernubuat ketika dia menulis: ‘Di kedalaman hati setiap penginjil ada seorang penjual 

mobil gagal.’ 

sebaiknya kita lihat kepala ilmu pengetahuannya, Stephen Layfield. Pada 21 September 2001, 

Pak Layfield memberi ceramah di Emmanuel College mengenai ‘Pengajaran Ilmu Pengetahuan: 

Suatu Perspektif Alkitabiah’. Teks ceramah itu dibagi di suatu situs web Kristiani 

(www.christian.org.uk). Tetapi ceramah itu sudah tidak terdapat di sana. The Christian Institute 

menghapus ceramahnya satu hari setelah saya menarik perhatian padanya dalam sebuah artikel 

dalam Daily Telegraph pada 18 Maret 2002, di mana saya membedahnya secara kritis.145 

Namun, sulit untuk menghapus sesuatu secara permanen dari World Wide Web. Mesin pencari 

web bisa begitu cepat karena mereka menyimpan tembolok informasi, dan tembolok itu secara 

tak terelakkan bertahan sejenak bahkan setelah versi asli terhapus. Seorang wartawan Britania 

yang cukup sadar, Andrew Brown, koresponden persoalan kekepercayaan an pertama di Independent, 

cepat menemukan ceramah Layfield, mengunduhnya dari tembolok Google dan membaginya, 

aman dari penghapusan, di situs webnya sendiri, 

http://www.darwinwars.com/lunatic/liars/layfield.html Anda akan menyadari bahwa kata-kata 

yang dipilih oleh Brown untuk URL-nya menjadi bacaan menarik sendiri. Namun, mereka 

kehilangan kekuatannya untuk menghibur ketika kita melihat isi ceramah itu sendiri. 

  Kebetulan, ketika seorang pembaca yang ingin tahu menulis kepada Emmanuel College 

untuk bertanya kenapa ceramah itu ditarik dari situs webnya, dia menerima balasan tidak jujur 

berikut dari sekolahnya, sekali lagi dicatat oleh Andrew Brown: 

   

Emmanuel College telah berada di tengah-tengah suatu debat mengenai 

pengajaran ciptaan di sekolah. Pada tingkat praktis Emmanuel College 

menerima sejumlah panggilan dari pers yang luar biasa besar. Hal ini menuntut 

cukup banyak waktu dari Kepala Sekolah dan para Direktur senior Kampus ini. 

Semua orang ini memiliki pekerjaan lain. Supaya membantu, kami untuk 

sementara menghapus sebuah ceramah oleh Stephen Layfield dari situs web 

kami. 

 

  Tentu saja, para pejabat sekolah mungkin saja terlalu sibuk untuk menjelaskan kepada 

wartawan sikapnya mengenai pengajaran kreasionisme. Tetapi kalau begitu, buat apa menghapus 

dari situs webnya teks ceramah yang melakukan justru itu, dan yang mereka dapat tunjukkan 

kepada para wartawan, dan dengan cara itu menghematkan banyak waktu? Tidak, mereka 

menghapus ceramah kepala ilmu pengetahuan karena mereka menyadari bahwa hal itu layak 

disembunyikan. Paragraf berikut diambil dari bagian awal ceramahnya: 

   

Mari kita katakan dari awal bahwa kita menolak gagasan yang dipopulerkan, 

barangkali tidak dengan sengaja, oleh Francis Bacon pada abad ke-17 bahwa 

ada ‘Dua Kitab’ (yaitu, Kitab alam dan Kitab-kitab Suci) yang boleh ditambang 

secara mandiri untuk kebenaran. Sebaliknya, kita berdiri kukuh pada proposisi 

gamblang bahwa pencipta  telah berfirman secara berwibawa dan tanpa kekeliruan 

di halaman-halaman Kitab Suci. Kiranya seberapa rapuh, kuno, atau naif  

penampakan pernyataan ini, terutama bagi suatu kebudayaan modern yang tidak 

beriman dan mabuk televisi, kita bisa yakin bahwa itu yaitu  suatu dasar 

sekuat-kuatnya, untuk diletakkan dan untuk dibangun di atasnya. 

 

  Anda harus terus mencubit diri Anda sendiri. Anda tidak sedang mimpi. Ini bukan 

seorang pengkhotbah di sebuah tenda di Alabama melainkan kepala ilmu pengetahuan di sebuah 

sekolah tempat pemerintah Britania alirkan dana banyak, dan yang merupakan buah hati Tony 

Blair. Sebagai junjungan kristen  taat, Pak Blair sendiri pada 2004 memimpin acara pembukaan salah satu 

sekolah baru di kelompok sekolah Vardy.146 Keberkepercayaan n mungkin merupakan suatu 

keutamaan, tetapi ini yaitu  keberkepercayaan n yang kebablasan. 

  Layfield kemudian merincikan perbandingan di antara ilmu pengetahuan dengan kitab 

suci, dengan menyimpulkan, dalam setiap kasus yang sepertinya mengandung konflik, bahwa 

kitab suci yang lebih unggul. Setelah menyebut bahwa ilmu bumi kini masuk dalam kurikulum 

nasional, Layfield berkata, ‘Sepertinya akan bijaksana untuk semua pihak yang memberi 

pelajaran ini untuk mulai membaca makalah-makalah geologi Banjir oleh Whitcomb & Morris.’ 

Ya, arti ‘geologi Banjir’ persis seperti yang Anda kira. Maksudnya Bahtera Nuh. Bahtera Nuh! – 

ketika anak-anak bisa saja mempelajari fakta yang membuat menggigil bahwa Afrika dan 

Amerika Selatan pernah menyatu, dan telah berpisah dengan kecepatan yang sama dengan 

pertumbuhan kuku. Berikut lebih banyak dari Layfield (kepala ilmu pengetahuan) mengenai 

banjir Nuh sebagai penjelasan cepat dan baru mengenai fenomena yang, menurut bukti geologis 

asli, membutuhkan ratusan juta tahun untuk terjadi: 

   

Kita harus mengakui dalam paradigma geofisika besar kita historisitas banjir 

sedunia sebagaimana dijelaskan dalam Kej. 6-10.  Jika narasi Alkitabiah aman 

dan genealogi yang diuraikan (mis. Kej. 5; 1 Taw. 1; Mat. 1 & Luk. 3) secara 

substansial lengkap, kita harus menilai bahwa malapetaka bumi ini terjadi di 

masa lalu yang relatif baru. Akibatnya tampak dengan jelas di mana pun. Bukti 

utama ditemukan di batuan sedimen yang sarat fosil, simpanan luas bahan bakar 

hidrokarbon (batu bara, minyak, dan gas) dan kisah-kisah legendaris mengenai 

justru banjir itu di berbagai kelompok populasi di seluruh dunia. Kemungkinan 

menjalankan sebuah bahtera penuh dengan makhluk-makhluk representatif 

selama setahun sebelum air bah cukup surut telah didokumentasikan dengan 

baik oleh, di antara lain, John Woodmorrappe. 

 

  Dalam arti tertentu ini bahkan lebih buruk daripada pernyataan orang yang tidak tahu-

menahu seperti Nigel McQuoid atau Uskup Wayne Malcolm yang dikutip di atas, karena 

Layfield berpendidikan dalam ilmu pengetahuan. Berikut suatu kutipan lagi yang memukau: 

   

Sebagaimana kita katakan di awal, orang junjungan kristen , dengan alasan sangat baik, 

menganggap Kitab-kitab Suci Perjanjian Lama & Baru sebagai penuntun yang 

dapat diandalkan mengenai apa persisnya yang harus kita percayai. Mereka 

bukan sekadar dokumen-dokumen kekepercayaan an. Mereka memberi kita suatu 

penjelasan benar mengenai sejarah Bumi yang bahaya jika diabaikan. 

 

  Implikasi bahwa kitab-kitab suci memberi suatu penjelasan harfiah mengenai sejarah 

geologis akan membuat teolog kredibel siapa pun gelisah. Teman saya Richard Harries, Uskup 

Oxford, menulis sepucuk surat bersama dengan saya kepada Tony Blair, dan kami mendapat 

tanda tangan 8 uskup dan 9 ilmuwan senior.147 Sembilan ilmuwan itu termasuk Presiden Royal 

Society pada saat itu (sebelumnya penasihat utama ilmu pengetahuan Tony Blair), baik sekretaris 

biologis maupun fisik Royal Society, sang Astronomer Royal (kini Presiden Royal Society), 

direktur Museum Sejarah Alam, dan Sir David Attenborough, barangkali orang paling terhormat 

di Inggris. Para uskup meliputi seorang uskup Katolik Roma dan tujuh uskup Anglikan – 

pemimpin-pemimpin kekepercayaan an senior dari seluruh Inggris. Kami menerima balasan otomatis 

dan tidak memadai dari kantor Perdana Menteri, yang merujuk hasil ujian baik sekolahnya dan 

laporannya yang baik dari dinas inspeksi sekolah resmi, OFSTED. Sepertinya Pak Blair tidak 

menyadari bahwa, jika para penyidik OFSTED memberikan laporan sangat baik mengenai 

sebuah sekolah yang kepala ilmu pengetahuannya mengajarkan bahwa seluruh alam semesta 

bermula setelah domestikasi anjing, mungkin saja ada sedikit masalah dengan tolok ukur badan 

inspeksi itu. 

  Barangkali bagian ceramah Stephen Layfield yang paling mengusik yaitu  kesimpulan, 

‘Apa yang dapat dilakukan?’, ketika dia mempertimbangkan taktik yang harus digunakan oleh 

guru-guru yang ingin memasukkan Kristianitas fundamentalis ke dalam ruang belajar ilmu 

pengetahuan. Misalnya, dia mendorong guru ilmu pengetahuan untuk 

   

mencatat setiap kali suatu paradigma evolusioner/bumi-lama (jutaan atau 

miliaran tahun) disebut secara eksplisit atau tersirat dalam sebuah buku 

pelajaran, pertanyaan ujian atau tamu dan dengan sopan menunjukkan bahwa 

pernyataan itu bisa salah. Di mana pun yang mungkin, kita harus memberi 

penjelasan Alkitabiah (selalu lebih baik) mengenai data yang sama. Kita akan 

segera melihat beberapa contoh dari Fisika, Kimia, & Biologi. 

 

  Sisa ceramah Layfield yaitu  panduan propaganda belaka, suatu sumber daya untuk 

guru-guru religius biologi, kimia, dan fisika yang ingin, sambil tetap mematuhi peraturan 

kurikulum nasional, menggerogoti pendidikan ilmu pengetahuan berdasarkan bukti dan 

menggantikannya dengan Alkitab. 

  Pada 15 April 2006, James Naughtie, salah satu pembawa acara berita paling 

berpengalaman di BBC, mewawancarai Sir Peter Vardy di radio. Subjek utama wawancara 

yaitu  investigasi polisi mengenai tuduhan, yang disangkal oleh Vardy, bahwa sogokan – gelar 

kesatria dan bangsawan – telah ditawarkan oleh pemerintahan Blair kepada orang kaya, dalam 

usaha untuk membuat mereka mendukung rencana akademi kota itu. Naughtie juga menanyai 

Vardy mengenai isu kreasionisme, dan Vardy menolak secara kategoris bahwa Emmanuel 

menyokong kreasionisme Bumi muda kepada murid-muridnya. Salah satu alumni Emmanuel, 

Peter French, sama kategorisnya berkata,148 ‘Kami diajarkan bahwa bumi berusia 6000 tahun.’* 

Siapa yang berkata benar di sini? Sebenarnya kita tidak tahu, tetapi ceramah Stephen Layfield 

menguraikan kebijakannya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan secara cukup terbuka. Apakah 

Vardy belum pernah membaca manifesto Layfield yang sangat eksplisit itu? Apakah dia 

sebenarnya tidak tahu aktivitas kepala ilmu pengetahuannya? Peter Vardy menjadi kaya menjual 

mobil bekas. Apakah Anda akan membeli darinya? Dan apakah Anda, seperti Tony Blair, akan 

menjual kepadanya sebuah sekolah untuk 10 persen dari harganya – bersama dengan suatu 

penawaran untuk membayar semua ongkos operasional? Mari kita adil terhadap Blair dan 

berasumsi bahwa dia, setidaknya, belum membaca ceramah Layfield. Mungkin kita terlalu 

optimis jika kita berharap bahwa kini dia akan memperhatikannya. 

  Kepala sekolah McQuoid menawarkan suatu pembelaan atas apa yang jelas ia lihat 

sebagai keterbukaan pikiran sekolahnya, yang luar biasa untuk kepasifannya yang meremehkan: 

   

contoh terbaik mengenai keadaan di sini yaitu  suatu ceramah filsafat tingkat 

SMA yang saya berikan. Shaquille sedang duduk di situ dan dia berkata, 

‘Alquran itu tepat dan benar.’ Dan Clare, di sini, berkata, ‘Tidak, Alkitab itu 

benar.’ Jadi kami membahas kemiripan di antara apa yang mereka katakan dan 

tempat mereka tidak setuju. Dan kami setuju bahwa kedua-duanya tidak bisa 

benar. Dan akhirnya saya berkata, ‘Maaf Shaquille, kau keliru, Alkitablah yang 

                                                 

* Agar memahami skala kekeliruannya, itu setara dengan percaya bahwa jarak dari New York ke San Fransisco 

yaitu  7,8 meter. 

benar.’ Dan dia berkata, ‘Maaf Pak McQuoid, Bapak yang keliru, Alquran yang 

benar.’ Dan mereka melanjutkan diskusinya sambil makan siang. Itulah yang 

kami inginkan. Kami ingin anak-anak tahu kenapa mereka memercayai apa 

yang mereka percayai dan mempertahankannya.149 

 

  Gambaran yang menarik! Shaquille dan Clare makan siang bersama, dengan semangat 

berargumen untuk kasus mereka sendiri dan mempertahankan kepercayaan mereka yang tidak 

sesuai. Tetapi apakah itu sungguh menarik? Bukankah itu sebenarnya suatu gambaran tercela 

yang Pak McQuoid lukiskan? Atas dasar apa, akhirnya, Shaquille dan Clare membuat argumen 

mereka masing-masing? Bukti jelas apa yang masing-masing mereka mampu tunjukkan, dalam 

debat yang bersemangat dan konstruktif itu? Baik Clare maupun Shaquille sekadar menyatakan 

bahwa kitab sucinya sendiri lebih unggul, begitu saja. Sepertinya hanya itu yang mereka katakan, 

dan memang hanya itu yang dapat dikatakan ketika anak-anak diajarkan bahwa kebenaran 

berasal dari kitab suci dan bukan dari bukti. Clare dan Shaquille dan teman-temannya tidak 

dididik. Mereka dikecewakan oleh sekolahnya, dan kepala sekolah mereka melakukan 

kekerasan, tidak pada tubuh mereka, tetapi pikiran mereka. 

  

KEBANGKITAN KESADARAN LAGI 

 

  Dan sekarang, salah satu gambaran menarik lagi. Di satu tahun saat Natal, koran harian 

saya, Independent, mencari gambaran musiman dan menemukan suatu yang lintas-kepercayaan  yang 

mengharukan di salah satu pementasan sekolah mengenai kelahiran junjungan kristen  . Tiga Orang Majus 

diperankan oleh, sebagaimana dikatakan dengan bangga dalam tulisan di bawah gambarnya, 

Shadbreet (seorang Sikh), Musharaff (seorang Muslim) dan Adele (seorang junjungan kristen ), semua 

berusia empat tahun. 

  Lucu? Mengharukan? Tidak sama sekali; itu menjijikkan. Bagaimana bisa orang baik 

siapa pun menganggap benar pelabelan anak-anak berusia 4 dengan pendapat kosmis dan 

teologis orang tuanya? Untuk melihat ini, bayangkan sebuah fotograf yang identik, dengan 

tulisan di bawah diubah sebagai berikut: ‘Shadbreet (seorang Keynesian), Musharaff (seorang 

Monetaris) dan Adele (seorang Marxis), semua berusia empat tahun.’ Bukankah ini calon sasaran 

surat-surat protes yang marah? Tentu seharusnya begitu. Namun, karena status kepercayaan  secara 

aneh diutamakan, tidak ada protes sedikit pun, dan tidak pernah ada pada keadaan yang serupa. 

Bayangkan saja kehebohan jika ada tulisan, ‘Shadbreet (seorang Ateis), Musharaff (seorang 

Agnostik), dan Adele (seorang Humanis Sekuler), semua berusia empat tahun.’ Mungkinkah 

orang tua itu diselidiki untuk memastikan bahwa mereka mampu membesarkan anak? Di 

Britania, karena kami tidak memiliki pemisahan da