delusi tuhan 15
rlandia dan Amerika. Saya
mengira sebagian kedongkolan publik tambahan berasal dari kemunafikan para pastor yang
kehidupan profesionalnya terutama berurusan dengan membangkitkan rasa bersalah mengenai
‘dosa’. Lalu ada penyalahgunaan kepercayaan oleh tokoh yang berwibawa, yang anak itu dilatih
sejak bayi untuk kagumi. Kedongkolan tambahan seperti itu seharusnya membuat kita lebih
waspada lagi agar tidak terlalu cepat menilai. Kita harus menyadari akan kekuatan luar biasa
pikiran untuk menciptakan ingatan palsu, khususnya jika dibantu oleh terapis tidak beretika dan
pengacara mata duitan. Psikolog Elizabeth Loftus telah menunjukkan keberanian besar,
menghadapi kepentingan yang penuh dengki, dengan mendemonstrasikan betapa mudah orang
bisa mengarang ingatan yang seluruhnya palsu tetapi yang terkesan, bagi korban, sama nyatanya
dengan ingatan asli.137 Hal ini saking berlawanan dengan intuisi, juri-juri masih dibujuk dengan
mudah oleh kesaksian tulus tetapi palsu.
Dalam kasus partikular Irlandia, bahkan tanpa kekerasan seksual, brutalitas para Bruder
junjungan kristen ,138 yang bertanggung jawab untuk pendidikan sebagian besar penduduk lelaki negaranya,
sudah legendaris. Dan hal yang sama dapat dikatakan mengenai para suster yang sering kejam
seperti iblis yang mengepalai banyak sekolah gadis di Irlandia. Sekolah-sekolah Magdalene yang
terkenal buruk, subjek film Peter Mullan The Magdalene Sisters, terus bereksistensi hingga
1996. Empat puluh tahun kemudian, menjadi lebih sulit mendapat kompensasi untuk pemukulan
daripada untuk rabaan seksual, dan tidak ada kekurangan pengacara yang secara aktif mencari
klien di antara para korban yang seandainya tidak dihasut mungkin tidak akan mengungkit masa
lalu yang sudah lama. Ada emas dalam rabaan ceroboh di ruang belakang gereja – memang,
beberapa darinya begitu lama sehingga tersangka besar kemungkinan sudah mati dan tidak
mampu mempresentasikan ceritanya dari sudut pandangnya sendiri. Gereja Katolik di seluruh
dunia telah membayar lebih dari satu miliar dolar sebagai kompensasi.139 Kita hampir dibuat
bersimpati dengannya, sebelum kita mengingat dari mana semua uang mereka berasal.
Pernah, di sesi tanya-jawab setelah suatu ceramah di Dublin, saya ditanyai pendapat saya
mengenai kasus-kasus kekerasan seksual pastor-pastor Katolik di Irlandia yang pada saat itu
menerima banyak publisitas. Saya membalas bahwa, meskipun kekerasan seksual tentu saja
mengerikan, dapat dikemukakan bahwa kerusakannya tidak seberat kerusakan psikologis akibat
anak itu dibesarkan secara Katolik. Itu yaitu komentar spontan yang dikeluarkan begitu saja,
dan saya heran bahwa komentar itu mendapat tepukan tangan antusias dari hadirin Irlandia itu
(yang harus diakui terdiri dari para intelektual Dublin dan kemungkinan besar tidak mewakili
negaranya pada umumnya). Tetapi saya teringat akan peristiwa itu kemudian ketika saya
menerima sepucuk surat dari seorang perempuan Amerika umur 40-an yang dibesarkan sebagai
Katolik Roma. Pada usia tujuh tahun, dia menceritakan dua hal yang tidak menyenangkan yang
terjadi kepadanya. Dia dilecehkan secara seksual oleh pastor jemaatnya di mobilnya. Dan, di
sekitar waktu yang sama, seorang teman sekolahnya, yang meninggal secara tragis, masuk
neraka karena dia yaitu seorang Protestan. Atau begitulah penulis surat itu dibuat percaya oleh
doktrin resmi pada waktu itu di gereja orang tuanya. Pandangannya sebagai orang dewasa
yaitu , dari kedua contoh kekerasan terhadap anak Katolik Roma ini, yang satu fisik dan yang
satu mental, yang kedua jauh lebih buruk. Dia menulis:
Dilecehkan oleh pastor itu hanya meninggalkan kesan (dari pikiran anak berusia
7 tahun) ‘jijik’ sedangkan ingatan mengenai teman saya masuk neraka yaitu
ketakutan yang dingin dan tak terukur. Saya tidak pernah susah tidur karena
pastor itu – tetapi saya menghabiskan banyak malam ketakutan bahwa orang-
orang yang saya kasihi akan masuk Neraka. Hal itu memberi saya mimpi buruk.
Jujur, cumbuan seksual yang dia derita di mobil pastor cukup ringan dibandingkan
dengan, misalnya, rasa sakit dan jijik seorang misdinar yang diperkosa. Dan katanya belakangan
ini Gereja Katolik tidak begitu menekankan neraka seperti dahulu kala. Tetapi contoh itu
menunjukkan bahwa mungkin saja kekerasan psikologis anak bisa lebih besar daripada yang
fisik. Ada kisah bahwa Alfred Hitchcock, ahli sinema besar dalam seni membuat orang takut,
pernah sedang mengendarai mobil di Swiss, lalu dia tiba-tiba menunjukkan jarinya ke luar
jendela mobil dan berkata, ‘Itu pandangan paling menakutkan yang pernah saya lihat.’
Pandangannya yaitu seorang pastor yang sedang bercakap dengan seorang anak lelaki kecil,
tangan pastor pada bahu anak. Hitchcock mengeluarkan kepala dari jendela mobil dan teriak,
‘Lari, anak kecil! Lari demi hidupmu!’
‘Tongkat dan batu mungkin mematahkan tulangku, tetapi kata-kata tidak pernah bisa
menyakitiku.’ Lagu itu benar asalkan kita sebenarnya tidak memercayai kata-katanya. Tetapi jika
seluruh pendidikan seseorang, dan segala sesuatu yang orang itu pernah diberi tahu oleh orang
tua, guru dan pastor, telah membuat orang itu percaya, sungguh percaya, secara total, tanpa ragu-
ragu, bahwa para pendosa dibakar di neraka (atau pasal doktrin menjengkelkan lain seperti
perempuan menjadi milik suaminya), sangat masuk akal bahwa kata-kata bisa berdampak secara
lebih bertahan lama dan lebih merusak daripada tindakan. Saya cenderung yakin bahwa frasa
‘kekerasan terhadap anak’ tidak berlebihan ketika digunakan untuk mendeskripsikan apa yang
dilakukan oleh guru dan pastor kepada anak-anak yang mereka dorong untuk memercayai
sesuatu seperti hukuman bagi dosa berat yang tidak diampuni dalam suatu neraka abadi.
Di acara dokumenter televisi Root of All Evil? yang sudah saya sebut tadi, saya
mewawancarai sejumlah pemimpin religius dan dikritik karena memilih para ekstremis Amerika
dan bukan tokoh aliran utama yang dihormati seperti uskup agung.* Itu terdengar seperti kritik
yang wajar – kecuali, di Amerika abad ke-21 awal, apa yang terkesan ekstrem bagi dunia luar
sebenarnya yaitu aliran utama. Salah satu orang yang saya wawancarai yang paling
mengganggu penonton televisi di Britania, misalnya, yaitu Pastor Ted Haggard dari Colorado
Springs. Tetapi, jauh dari menjadi ekstrem di Amerika zaman Bush, ‘Pastor Ted’ yaitu presiden
National Association of Evangelicals dengan 30 juta anggota, dan dia mengklaim diutamakan
dengan konsultasi melalui telepon dengan Presiden Bush setiap Senin. Jika saya ingin
mewawancarai ekstremis asli menurut tolok ukur Amerika, saya akan memilih para
‘Rekonstruktionis’ yang ‘Teologi Dominion’nya secara terbuka menyokong suatu teokrasi
Kristiani di Amerika. Sebagaimana ditulis kepada saya oleh seorang kolega Amerika yang
khawatir:
Orang Eropa harus tahu bahwa ada suatu karnival keliling teologis yang
sungguh mendukung penetapan kembali hukum Perjanjian Lama – pembunuhan
homoseksual dst. – dan hak untuk memegang jabatan, atau bahkan untuk
memilih, hanya untuk orang junjungan kristen . Hadirin kaum menengah bersorak-sorai
ketika mendengar retorika ini. Jika para sekularis tidak waspada, kaum
Dominionis dan kaum Rekonstruksionis sebentar lagi akan menjadi aliran
utama dalam suatu teokrasi Amerika asli.†
* Uskup Agung Canterbury, Uskup Agung Kardinal Westminster dan Kepala Rabi Britania semua diajak untuk
diwawancarai oleh saya. Mereka semua menolak, tentu untuk alasan yang baik. Uskup Oxford setuju, dan dia sama
menyenangkannya, dan jauh dari ekstremis, seperti mereka pasti akan bersikap.
† Yang berikut sepertinya asli, meskipun saya semula menduga suatu hoaks sindiran oleh The Onion:
www.talk2action.org/story/2006/5/29/195855/959. Suatu gim komputer berjudul Left Behind: Eternal Forces. P.Z.
Meyers merangkumnya di situs webnya yang luar biasa, Pharyngula. ‘Bayangkan, Anda yaitu seorang prajurit
dalam suatu kelompok paramiliter yang tujuannya yaitu membentuk Amerika kembali sebagai suatu teokrasi
Kristiani dan menetapkan visi duniawinya untuk merajanya Kristus bagi segala aspek kehidupan...Anda memiliki
misi – baik religius maupun militer – untuk mengonversikan atau membunuh orang Katolik, Yahudi, Muslim,
Buddha, gay, dan siapa pun yang mendukung pemisahan di antara gereja dengan negara...’ Lihat
Salah satu orang lagi yang saya wawancarai di televisi yaitu Pastor Keenan Roberts,
dari negara bagian yang sama dengan Pastor Ted, Colorado. Jenis kegilaan khas Pastor Roberts
merupakan apa yang dia sebut sebagai Rumah-rumah Neraka (Hell Houses). Sebuah Rumah
Neraka yaitu tempat anak-anak dibawa, oleh orang tuanya atau sekolah Kristianinya, untuk
dibuat setakut-takutnya mengenai apa yang mungkin akan terjadi kepada mereka setelah mereka
mati. Para pemain membuat pementasan seram mengenai ‘dosa’ tertentu seperti aborsi atau
homoseksualitas, dengan seorang iblis berpakaian merah sedang merayakan adegannya. Semua
itu merupakan pendahuluan bagi pièce de résistance-nya, Neraka sendiri, lengkap dengan bau
sulfur belerang yang realistis dan jeritan kesakitan mereka yang terkutuk selamanya.
Setelah menonton latihannya, dengan Iblisnya yang cukup keiblisan bergaya berlebihan,
seperti tokoh penjahat dalam melodrama era Victoria, saya mewawancarai Pastor Roberts,
disaksikan para pemainnya. Dia memberi tahu saya bahwa usia terbaik untuk mengunjungi
sebuah Rumah Neraka yaitu 12. Saya agak terkejut mendengar itu, dan saya menanyainya
apakah dia akan khawatir bahwa seorang anak berusia 12 tahun akan mengalami mimpi buruk
setelah salah satu pertunjukkannya. Dia membalas, sepertinya dengan jujur:
Saya lebih memilih jika mereka memahami bahwa Neraka yaitu tempat yang
sangat tidak ingin mereka masuki. Saya lebih memilih untuk menyampaikan
pesan itu kepada mereka pada usia 12 daripada tidak menyampaikan pesan itu,
lalu mereka hidup dalam dosa dan tidak pernah menemukan pencipta junjungan kristen
Kristus. Dan jika akhirnya mereka mengalami mimpi buruk, karena mengalami
hal ini, saya kira ada kebaikan lebih tinggi yang akhirnya dicapai dalam hidup
mereka daripada sekadar mimpi buruk.
Saya mengira bahwa, jika seseorang sungguh memercayai apa yang Pastor Roberts
katakan dia percayai, orang itu juga akan menganggap intimidasi terhadap anak benar.
Kita tidak bisa mengabaikan saja Pastor Roberts sebagai seorang ekstremis fanatik.
Seperti Ted Haggard, dia yaitu aliran utama di Amerika saat ini. Saya akan heran jika mereka
menerima kepercayaan beberapa sesama junjungan kristen lain bahwa kita dapat mendengar teriakan orang
terkutuk jika kita mendengar gunung api,140 dan bahwa cacing tabung raksasa yang ditemukan di
ventilasi panas di kedalaman laut memenuhi Markus 9: 43–4: ‘Dan jika tanganmu menyesatkan
engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari
pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak
terpadamkan; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.’ Apa pun yang
mereka percayai tentang suasana neraka sebenarnya, para penggemar api neraka ini sepertinya
memiliki Schadenfreude dan kepuasan sombong khas bagi mereka yang tahu bahwa mereka
termasuk dalam golongan yang selamat, disampaikan dengan baik oleh teolog terkemuka itu,
Santo Thomas Aquinas, dalam Summa Theologica: ‘Supaya para santo dapat lebih banyak
menikmati kebahagiaannya dan rahmat pencipta , mereka dibolehkan untuk melihat hukuman
mereka yang terkutuk di neraka.’ Orang yang baik.*
Ketakutan akan api neraka bisa sangat nyata, bahkan bagi orang yang selain dari itu
http://scienceblogs.com/pharyngula/2006/05/gta_meet_lbef.php; untuk ulasan, lihat
http://select.nytimes.com/gst/abstract.html?res=F1071FFD3C550C718CDDAA0894DE404482.
* Bandingkan belas kasih Kristiani Ann Coulter yang memesona: ‘Saya menantang siapa pun yang sesama junjungan kristen
untuk berkata kepada saya bahwa mereka tidak tertawa memikirkan Dawkins terbakar di neraka’ (Coulter 2006:
268).
rasional. Setelah acara dokumenter televisi saya tentang kepercayaan , di antara banyak surat yang saya
terima ada yang ini, dari seorang perempuan yang jelas pintar dan jujur:
Saya belajar di sekolah Katolik dari umur 5 tahun, dan saya terindoktrinasi oleh
suster-suster yang menghukum dengan cambuk dan tongkat. Saat remaja saya
membaca Darwin, dan apa yang dia katakan mengenai evolusi sangat masuk
akal bagi bagian logis pikiran saya. Namun, saya menjalani hidup dengan
menderita banyak konflik dan ketakutan mendalam akan api neraka yang sangat
sering terpicu. Saya mendapat psikoterapi yang memungkinkan saya untuk
menyelesaikan beberapa masalah saya dari dulu tetapi sepertinya saya tidak
dapat mengatasi ketakutan mendalam ini.
Jadi, alasan saya menulis kepada Anda yaitu tolong bisakah Anda
mengirim kepada saya nama dan alamat terapis yang Anda wawancarai di
episode minggu ini yang bekerja dengan ketakutan khusus ini.
Saya terharu oleh suratnya, dan (sambil menahan penyesalan sesaat dan kurang baikyang
kurang mulia bahwa tidak ada neraka bagi suster-suster itu) membalas bahwa dia harus
memercayai akal budinya sebagai suatu pemberian luar biasa yang dia – berbeda dengan orang
yang kurang beruntung – jelas-jelas miliki. Saya mengemukakan bahwa kengerian ekstrem
neraka, sebagaimana direpresentasikan oleh pastor dan suster, dibesar-besarkan untuk menutupi
kemustahilannya. Jika neraka itu masuk akal, maka hanya perlu sedikit tidak nyaman untuk
membuat orang tidak berdosa. Karena neraka begitu tidak mungkin ada, maka ia harus
diiklankan sebagai sangat amat menakutkan, untuk mengimbangi kemustahilannya dan
mempertahankan kemampuannya untuk membuat orang tidak berdosa. Saya juga
menghubungkannya dengan terapis yang dia sebut, Jill Mytton, seorang yang menyenangkan dan
tulus secara mendalam, yang saya wawancarai di depan kamera. Jill sendiri dibesarkan dalam
suatu sekte yang lebih menjijikkan daripada yang biasanya Exclusive Brethren: saking tidak
menyenangkannya, bahkan ada suatu situs web, www.peebs.net, yang sepenuhnya didedikasikan
untuk merawat mereka yang telah melarikan diri darinya.
Jill Mytton dibesarkan untuk takut sekali pada neraka, lalu melarikan diri dari Kristianitas
saat dewasa, dan kini membimbing dan membantu orang lain yang trauma secara serupa di masa
kanak-kanak: ‘Jika saya mengingat kembali masa kanak-kanak saya, masa itu didominasi
ketakutan. Dan itu ketakutan akan ketidaksetujuan pada masa kini, tetapi juga akan kutukan
abadi. Dan bagi seorang anak, gambar-gambar api neraka dan kertak gigi sebenarnya sangat
nyata. Hal itu tidak metaforis sama sekali.’ Kemudian saya memintanya untuk menguraikan apa
yang sebenarnya diberitahukan kepadanya mengenai neraka, sebagai seorang anak, dan
balasannya setelah dia diam sejenak sama mengharukannya dengan mukanya yang ekspresif saat
dia menjawab: ‘Aneh, bukan? Setelah sekian lama, masih saja mampu ... memengaruhi saya ...
ketika Anda ... ketika Anda melontarkan pertanyaan itu. Neraka yaitu tempat yang penuh
ketakutan. Penolakan mutlak oleh pencipta . Hukuman mutlak, ada api nyata, ada azab nyata,
siksaan nyata, dan itu berlangsung selamanya jadi tidak ada istirahat darinya.’
Dia kemudian bercerita tentang kelompok dukungan yang dia buat untuk orang yang
melarikan diri dari masa kanak-kanak yang serupa dengan masa kanak-kanaknya sendiri, dan dia
merenungkan betapa sulit bagi banyak dari mereka untuk keluar: ‘Proses keluar itu luar biasa
sulit. Ah, Anda meninggalkan jaringan sosial yang lengkap, suatu sistem lengkap yang di
dalamnya Anda hampir seluruhnya dibesarkan, Anda meninggalkan suatu sistem kepercayaan
yang Anda pegang selama bertahun-tahun. Sangat sering Anda meninggalkan keluarga dan
teman ... Anda sudah tidak begitu ada bagi mereka.’ Saya sempat menceritakan pengalaman saya
sendiri atas surat dari orang-orang di Amerika yang berkata bahwa mereka telah membaca buku-
buku saya dan keluar dari kepercayaan mereka sebagai konsekuensinya. Secara membingungkan,
banyak kemudian berkata bahwa mereka tidak berani memberi tahu keluarga mereka, atau
bahwa mereka telah memberi tahu keluarga mereka, dan hasilnya sangat buruk. Contoh yang
berikut lazim. Penulisnya yaitu mahasiswa kedokteran muda Amerika.
Saya merasa terdorong untuk menulis surel kepada Anda karena pandangan
saya mengenai kepercayaan sama dengan Anda, suatu pandangan yang, sebagaimana
Anda pasti sadari, cukup mengisolasikan di Amerika. Saya besar di sebuah
keluarga junjungan kristen dan meskipun ide kepercayaan tidak pernah cocok dengan saya, saya
baru saja cukup berani untuk menceritakan itu kepada orang lain. Orang itu
yaitu pacar saya yang ... merasa ngeri karenanya. Saya menyadari bahwa
menyatakan diri ateis bisa saja mengejutkan tetapi kini seolah-olah dia
memandangi saya sebagai orang yang sepenuhnya berbeda. Dia tidak bisa
memercayai saya, katanya, karena moral-moral saya tidak berasal dari pencipta .
Saya tidak tahu apakah kami akan mengatasi ini, dan saya tidak begitu ingin
mengucapkan kepercayaan saya kepada orang lain yang dekat dengan saya
karena saya takut akan reaksi jijik yang sama ... Saya tidak mengharapkan
balasan. Saya hanya menulis kepada Anda karena saya berharap Anda akan
bersimpati dengan frustrasi saya. Bayangkan kehilangan orang yang Anda
cintai, dan yang mencintai Anda, atas dasar kepercayaan . Selain dari pandangannya
bahwa kini saya seorang kafir tidak berpencipta , kami pasangan sempurna.
Pengalaman ini mengingatkan saya akan pengamatan Anda bahwa orang
melakukan hal-hal gila atas nama imannya. Terima kasih sudah mendengar.
Saya membalas pemuda malang ini dengan menunjukkan kepadanya bahwa, sementara
pacarnya telah mengetahui sesuatu tentang dirinya, dia juga telah mengetahui sesuatu tentang
diri pacarnya. Apakah pacar itu sungguh cukup baik untuknya? Saya ragu.
Saya sudah pernah menyebut aktor dan pelawak Amerika Julia Sweeney dan
perjuangannya yang gigih dan lucu secara menyenangkan untuk menemukan beberapa sifat baik
dalam kepercayaan dan menyelamatkan pencipta masa kecilnya dari keraguan dewasanya yang semakin
besar. Akhirnya pencarian dia berakhir dengan bahagia, dan kini dia menjadi seorang panutan
yang layak dipuji untuk ateis-ateis muda di mana pun. Bagian akhir ceritanya barangkali yaitu
adegan paling mengharukan dalam pementasannya, Letting Go of God. Dia sudah mencoba
segalanya. Lalu...
...sambil aku berjalan dari kantorku di halaman belakang ke dalam rumahku,
aku menyadari bahwa ada suara sangat kecil sedang berbisik dalam otakku. Aku
tidak tahu berapa lama suara itu sudah ada, tetapi tiba-tiba ia mengeras satu
desibel saja. Suara itu berbisik, ‘Tidak ada pencipta .’
Dan aku berusaha untuk mengabaikannya. Tetapi suara itu mengeras lagi.
‘Tidak ada pencipta . Tidak ada pencipta . Ya pencipta , tidak ada pencipta .’ ...
Dan aku merinding. Aku merasa tergelincir dari sekoci.
Lalu aku berpikir, ‘Tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu jika aku bisa tidak
percaya akan pencipta . Aku membutuhkan pencipta . ‘Kan, kami sudah punya
sejarah’ ...
‘Tetapi aku tidak tahu caranya tidak percaya akan pencipta . Aku tidak tahu
bagaimana itu dilakukan. Bagaimana bangun pagi, bagaimana menjalankan
hari?’ Aku merasa tidak seimbang...
Aku pikir, ‘Baik, tenang. Mari kita coba memakai kacamata tidak-percaya-
akan-pencipta sejenak, sebentar saja. Pakai saja kacamata tidak-ada-pencipta dan
melihat-lihat di sekeliling sekilas lalu langsung lepaskan kacamata itu.’ Dan aku
memakainya dan melihat-lihat di sekeliling.
Aku malu mengatakan bahwa semula aku merasa pusing. Aku sungguh
berpikir, ‘Kalau begitu, bagaimana Bumi bisa tetap di langit? Berarti kita hanya
meluncur saja di antariksa? Itu rentan sekali!’ Aku ingin lari keluar dan
menangkap Bumi pada saat terjatuh dari antariksa ke dalam tanganku.
Lalu aku ingat, ‘Ya iya, gravitasi dan momentum sudut akan membuat kita
terus memutar di sekeliling Matahari untuk waktu yang mungkin sangat, sangat
lama.’
Ketika saya menonton Letting Go of God di sebuah teater di Los Angeles, saya sangat
terharu oleh adegan ini. Khususnya ketika Julia kemudian bercerita tentang reaksi orang tuanya
pada laporan pers mengenai penyembuhannya:
Panggilan pertama dari ibuku lebih mirip teriakan. ‘Ateis? ATEIS?!?!’
Ayahku menelepon dan berkata, ‘Kau telah mengkhianati keluargamu,
sekolahmu, kotamu.’ Seperti aku menjual rahasia ke Rusia. Mereka berdua
mengatakan bahwa mereka tidak akan berbicara denganku lagi. Ayahku berkata,
‘Aku bahkan tidak ingin kau menghadiri acara penguburanku.’ Setelah aku
mematikan teleponnya, aku berpikir, ‘Coba saja menghentikanku.’
Sebagian dari bakat Julia Sweeney yaitu dia bisa membuat kita menangis sekaligus tertawa:
Aku mengira orang tuaku sedikit kecewa saat aku berkata aku sudah tidak
percaya akan pencipta , tetapi menjadi seorang ateis yaitu persoalan lain lagi.
Buku Dan Barker, Losing Faith in Faith: Dari Pengkhotbah ke Ateis yaitu cerita
konversinya yang pelan-pelan dari pendeta fundamentalis taat dan pengkhotbah keliling
bersemangat hingga menjadi ateis yang kuat dan percaya diri saat ini. Secara signifikan, Barker
terus menginjil secara hampa setelah dia menjadi seorang ateis, karena itu yaitu satu-satunya
karier yang dia ketahui dan dia merasa terkunci dalam suatu jaringan kewajiban sosial. Kini dia
mengenal banyak imam Amerika yang lain yang berada di posisi yang sama dengannya tetapi
hanya mengaku kepadanya, karena sudah membaca bukunya. Mereka tidak berani mengakui
ateismenya bahkan kepada keluarganya sendiri, begitu buruk tanggapan yang mereka bayangkan.
Kisah Barker sendiri memiliki bagian penutup yang lebih bahagia. Pertama, orang tuanya sangat
terkejut dan merasa sengsara. Tetapi mereka mendengarkan penalarannya yang lembut, dan
akhirnya mereka sendiri menjadi ateis.
Dua profesor dari satu universitas di Amerika secara terpisah menulis kepada saya
mengenai orang tua mereka. Satu mengatakan bahwa ibunya terus berkabung karena dia takut
untuk jiwanya yang kekal. Yang lain mengatakan bahwa ayahnya berharap dia tidak pernah
lahir, saking percayanya bahwa anaknya akan abadi di neraka. Dua orang ini yaitu profesor
universitas yang berpendidikan tinggi, percaya diri mengenai kesarjanaannya dan
kedewasaannya, yang dapat dikira telah melampaui orang tuanya dalam segala persoalan intelek,
tidak hanya kepercayaan . Bayangkan saja bagaimana sukarnya bagi orang yang tidak sekuat itu secara
intelektual, kurang dibekali oleh pendidikan atau keterampilan retoris daripada profesor-profesor
itu, atau daripada Julia Sweeney, untuk mempertahankan posisinya di hadapan anggota keluarga
yang keras kepala. Sama seperti untuk banyak pasien Jill Mytton, barangkali.
Lebih awal dalam percakapan kami yang disiarkan di televisi, Jill mendeskripsikan jenis
pendidikan religius ini sebagai salah satu bentuk kekerasan mental, dan saya kembali ke poin itu,
sebagai berikut: ‘Anda menggunakan istilah kekerasan religius. Jika Anda membandingkan
kekerasan dalam membesarkan seorang anak untuk sungguh percaya akan neraka ... bagaimana
menurut Anda itu dapat dibandingkan secara trauma dengan kekerasan seksual?’ Dia menjawab:
‘Pertanyaan itu sangat sulit ... Saya pikir ada banyak yang serupa sebenarnya, karena itu
persoalan penyalahgunaan kepercayaan; itu persoalan tidak memberi anak hak untuk merasa
bebas dan terbuka dan mampu berhubungan dengan dunia secara normal...itu bentuk degradasi;
sejenis penolakan diri sejati dalam kedua kasus itu.’
MEMBELA ANAK-ANAK
Kolega saya, psikolog Nicholas Humphrey, menggunakan amsal ‘tongkat dan batu’
sebagai permulaan untuk Ceramah Amnesty-nya di Oxford pada 1997.141 Humphrey mulai
dengan berargumen bahwa amsal itu tidak selalu benar, dengan merujuk kasus orang yang
percaya akan Voodoo Haiti, yang mati (sepertinya akibat efek psikosomatis ketakutan) dalam
waktu beberapa hari setelah kena ‘sihir’ jahat itu. Lalu dia bertanya apakah Amnesty
International, yang menerima keuntungan dari seri ceramah dia kontribusikan ini, seharusnya
berkampanye melawan pidato atau publikasi yang menyakitkan atau merusak. Jawabannya
yaitu ‘tidak’ secara kukuh terhadap penyensoran seperti itu pada umumnya: ‘Kebebasan
berbicara yaitu kebebasan yang terlalu berharga untuk diganggu.’ Tetapi kemudian dia
mengejutkan diri liberalnya sendiri dengan mendukung satu pengecualian yang penting: dia
berargumen untuk penyensoran dalam kasus istimewa anak-anak...
...pendidikan moral dan religius, dan terutama pendidikan yang diterima
seorang anak di rumah, di mana orang tua boleh – bahkan diharapkan –
menentukan untuk anak-anaknya apa yang dianggap benar dan salah, baik dan
buruk. Anak-anak, saya kemukakan, memiliki suatu hak asasi agar pikirannya
tidak cacat oleh eksposur terhadap ide-ide buruk orang lain – siapa pun orang
lain itu. Sesuai dengan itu, orang tua tidak memiliki izin dari pencipta untuk
membudayakan anak-anaknya dengan cara apa saja yang mereka pilih secara
pribadi: tidak berhak untuk membatasi horizon pengetahuan anaknya, untuk
membesarkannya dalam suasana dogma dan takhayul, atau untuk bersikeras
bahwa anak itu mengikuti jalur lurus dan sempit dari iman orang tua itu sendiri.
Pendek kata, anak-anak berhak agar pikirannya tidak dibingungkan oleh
omong kosong, dan kita sebagai masyarakat wajib melindungi mereka dari itu.
Jadi seharusnya kita tidak membolehkan orang tua mengajarkan anaknya
memercayai, misalnya, kebenaran harfiah Alkitab atau bahwa planet-planet
merajai hidupnya, sama seperti kita tidak membolehkan orang tua untuk
memukul anaknya hingga giginya lepas atau mengunci mereka di penjara
bawah tanah.
Tentu saja, suatu pernyataan keras seperti itu membutuhkan, dan menerima, banyak
kualifikasi. Bukankah omong kosong itu persoalan opini? Bukankah ilmu pengetahuan ortodoks
sudah terlalu sering dijungkirbalikkan, sehingga kita harus insaf dan hati-hati? Para ilmuwan
mungkin menganggap pengajaran astrologi dan kebenaran harfiah Alkitab sebagai omong
kosong, tetapi ada orang yang berpikir sebaliknya, dan bukankah mereka berhak untuk
mengajarkannya kepada anak-anaknya? Bukankah sama sombongnya untuk bersikeras bahwa
anak-anak harus diajarkan ilmu pengetahuan?
Saya berterima kasih kepada orang tua saya sendiri karena mereka berpandangan bahwa
anak-anak tidak begitu perlu diajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi bagaimana mereka
harus berpikir. Jika, setelah mereka dengan wajar dan layak terekspos kepada semua bukti
ilmiah, mereka beranjak dewasa dan memutuskan bahwa Alkitab benar secara harfiah atau
bahwa gerakan planet-planet merajai hidup mereka, itu hak mereka. Poin pentingnya yaitu , hak
mereka untuk memutuskan apa yang mereka akan pikirkan, dan bukan hak orang tua untuk
memaksakannya karena kekuatannya yang lebih besar. Dan ini, tentu saja, khususnya penting
ketika kita berefleksi bahwa anak-anak menjadi orang tua di generasi berikutnya, dalam posisi
untuk mewariskan indokrinasi apa pun yang mungkin membentuk mereka sebelumnya.
Humphrey mengusulkan bahwa, selama anak-anak masih muda, rentan, dan
membutuhkan perlindungan, perwalian yang sungguh bermoral memperlihatkan dirinya dalam
suatu usaha jujur untuk mempertanyakan apa yang mereka akan pilih untuk diri mereka sendiri
jika mereka cukup besar untuk melakukannya. Dia dengan mengharukan mengutip contoh
seorang gadis Inka yang jenazahnya yang berusia 500 tahun ditemukan dalam keadaan beku di
pegunungan Peru pada 1995. Antropolog yang menemukannya menulis bahwa dia yaitu korban
suatu pengurbanan ritual. Menurut Humphrey, sebuah film dokumenter mengenai ‘gadis es’
muda ini disiarkan di televisi Amerika. Para penonton diajak
mengagumi komitmen rohani para imam Inka dan mengalami bersama dengan
gadis itu dalam perjalanan terakhirnya kebanggaannya dan kegirangannya
karena sudah terpilih untuk penghormatan tertinggi, yakni, dikurbankan. Pesan
acara televisi itu ternyata yaitu praktik pengurbanan manusia dengan caranya
sendiri merupakan ciptaan budaya yang luhur – salah satu permata lagi di
mahkota multikulturalisme, mungkin.
Humphrey marah betul, sama seperti saya.
Tetapi bagaimana bisa ada orang yang berani berkata demikian? Berani sekali
mereka mengajak kita – di ruang keluarga, sedang menonton televisi – untuk
merasa terangkat dengan kontemplasi akan suatu tindakan pembunuhan ritual:
pembunuhan seorang anak yang belum mandiri oleh sekelompok lelaki tua yang
bodoh, sombong, dan menganut takhayul? Berani sekali mereka mengajak kita
untuk menemukan kebaikan untuk diri kita sendiri dalam kontemplasi atas
tindakan imoral terhadap orang lain?
Sekali lagi, pembaca liberal yang baik mungkin akan mulai merasa kurang nyaman. Tidak
bermoral menurut tolok ukur kita, tentu, dan bodoh, tetapi bagaimana dengan tolok ukur Inka?
Pasti, bagi para Inka, pengorbanan itu yaitu tindakan moral dan jauh dari bodoh, diberkati oleh
semua yang mereka anggap suci? Gadis kecil itu yaitu , tentu saja, seorang yang setia pada
kepercayaan di mana dia dibesarkan. Siapa kita yang menggunakan kata seperti ‘pembunuhan’,
menilai para imam Inka menurut tolok ukur kita sendiri daripada tolok ukur mereka? Barangkali
gadis ini gembira mengenai nasibnya: barangkali dia sungguh percaya bahwa dia akan langsung
masuk surga abadi, dihangati oleh kehadiran cemerlang Dewa Matahari. Atau barangkali – yang
sepertinya jauh lebih mungkin – dia menjerit ketakutan.
Poin Humphrey – dan saya – yaitu , tanpa mengindahkan apakah dia yaitu korban yang
rela atau tidak, ada alasan kuat untuk menduga bahwa dia tidak akan rela seandainya dia
memiliki semua faktanya. Misalnya, andaikan bahwa dia tahu bahwa Matahari sebenarnya
merupakan bola hidrogen, lebih panas dari satu juta derajat Kelvin, sedang mengonversikan
dirinya sendiri menjadi helium melalui fusi nuklir, dan bahwa Matahari itu semula terbentuk dari
sebuah cakram gas yang darinya bagian tata surya yang lain, termasuk Bumi, juga
mengembun...Kalau begitu, dapat diperkirakan bahwa dia tidak akan memuja Matahari sebagai
dewa, dan hal itu akan mengubah perspektifnya mengenai dikorbankan deminya.
Para imam Inka tidak dapat disalahkan untuk ketidaktahuan mereka, dan barangkali dapat
dianggap terlalu keras jika kita menilai mereka bodoh dan sombong. Tetapi mereka dapat
disalahkan untuk memaksakan kepercayaannya sendiri kepada seorang anak yang terlalu muda
untuk memutuskan apakah dia akan memuja Matahari atau tidak. Poin tambahan Humphrey
yaitu para pembuat film dokumenter saat ini, dan kita penontonnya, dapat disalahkan untuk
melihat keindahan dalam kematian gadis kecil itu – ‘suatu yang memperkaya kebudayaan
kolektif kita’. Kecenderungan yang sama untuk merayakan keanehan kebiasaan religius etnis,
dan untuk membenarkan kekejaman atas namanya, muncul terus-menerus. Itu yaitu sumber
konflik batin yang menggeliat dalam pikiran orang liberal baik yang, di satu sisi, tidak tahan
melihat penderitaan dan kekejaman, tetapi di sini lain telah dilatih oleh para posmodernis dan
relativis untuk menghargai budaya lain sama seperti budaya mereka sendiri. Mutilasi kelamin
perempuan (terkadang disebut khitan pada wanita atau sunat perempuan) tak teragukan sangat
menyakitkan, menyabotase kenikmatan seksual bagi perempuan (memang, ini besar
kemungkinan yaitu tujuan tersembunyinya), dan separuh pikiran liberal baik ingin
memusnahkan praktik itu. Namun, separuh yang lain ‘menghormati’ kebudayaan etnis dan
merasa bahwa kita harus tidak campur tangan jika ‘mereka’ ingin memutilasi gadis ‘mereka’.*
Poinnya, tentu saja, yaitu gadis ‘mereka’ sebenarnya yaitu manusia pada dirinya sendiri, dan
keinginan mereka seharusnya tidak diabaikan. Lebih sulit untuk menjawab, bagaimana jika
seorang gadis mengatakan bahwa dia ingin dikhitan? Tetapi akankah, dari perspektif masa depan
seorang dewasa dengan semua informasi terkait, dia ingin bahwa hal itu tidak pernah terjadi?
Humphrey membuat poin bahwa tak seorang perempuan pun yang entah bagaimana tidak
dikhitan saat anak-anak akan dengan sukarela memilih untuk mendapat operasi itu kemudian
hari.
Setelah mendiskusikan kaum Amish, dan hak mereka untuk membesarkan anak mereka
‘sendiri’ dengan caranya ‘sendiri’, Humphrey mengecam antusiasme kita sebagai masyarakat
untuk
mempertahankan keberkepercayaan n kebudayaan. Baiklah, Anda mungkin ingin
berkata, jadi berat bagi anak para Amish, atau para Hasidim, atau para gipsi
untuk dibentuk oleh orang tuanya seperti itu – tetapi setidaknya hasilnya yaitu ,
tradisi-tradisi kebudayaan yang menarik sekali tetap berlangsung. Bukankah
seluruh peradaban kita akan menjadi lebih miskin jika tradisi itu menghilang?
Sayangnya, mungkin, ketika individu harus dikorbankan untuk
mempertahankan keberkepercayaan n seperti itu. Tetapi begitulah: itu harga yang kita
bayar sebagai masyarakat. Kecuali, saya merasa wajib mengingatkan Anda, kita
tidak membayar, mereka yang membayar.
* Hal itu yaitu praktik yang lazim di Britania saat ini. Seorang Penyidik Sekolah senior memberi tahu saya
mengenai anak-anak perempuan di London pada 2006 yang dikirim ke seorang ‘paman’ di Bradford untuk dikhitan.
Pemerintahan tidak memperhatikannya, karena takut dianggap rasis dalam ‘komunitasnya’.
Isu itu mendapat perhatian publik pada 1972 ketika Mahkamah Agung AS memutuskan
suatu kasus, Wisconsin versus Yoder, yang berkaitan dengan hak orang tua untuk menarik
anaknya dari sekolah atas dasar religius. Suku Amish hidup di komunitas tertutup di berbagai
wilayah Amerika Serikat, kebanyakan menggunakan dialek bahasa Jerman lama bernama
Pennsilfaanisch Deitsch dan menolak, pada tingkat yang berbeda-beda, listrik, motor bakar
pembakaran dalam, ritsleting, dan manifestasi lain dari kehidupan modern. Ada, memang, hal
yang cukup menarik mengenai sebuah pulau kehidupan abad ke-17 yang tersedia untuk ditonton
oleh mata saat ini. Bukankah hal itu layak dilestarikan, demi kekayaan keberkepercayaan n manusia?
Dan satu-satunya cara melestarikannya yaitu membolehkan kaum Amish mendidik anaknya
sendiri dengan caranya sendiri, dan melindungi mereka dari pengaruh korup modernitas. Tetapi,
kita tentu ingin bertanya, bukankah anak-anak itu sendiri seharusnya mendapat suara mengenai
persoalannya?
Mahkamah Agung diminta untuk memutuskan pada 1972, ketika beberapa orang tua
Amish di Wisconsin menarik anaknya dari SMA. Konsep pendidikan di atas usia tertentu
bertentangan dengan nilai-nilai religius Amish, apalagi pendidikan ilmiah. Negara Bagian
Wisconsin mengadukan orang tuanya, dengan mengklaim bahwa anak-anak itu dirugikan atas
haknya untuk berpendidikan. Setelah melalui beberapa pengadilan, kasus itu akhirnya sampai ke
Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang memutuskan secara terbagi (6:1) memihak para orang
tua.142 Opini mayoritas, ditulis oleh Hakim Ketua Warren Burger, memuat yang berikut:
‘Sebagaimana ditunjukkan oleh catatan, kehadiran sekolah wajib hingga usia 16 untuk anak-anak
Amish menyebabkan ancaman sangat nyata untuk menggerogoti komunitas dan praktik
kekepercayaan an Amish sebagaimana adanya saat ini; mereka harus meninggalkan kepercayaan
mereka dan terasimilasi ke dalam masyarakat pada umumnya, atau terpaksa untuk bermigrasi ke
kepercayaan yang lain yang lebih toleran.’
Opini minoritas Hakim William O. Douglas yaitu , anak-anak itu sendiri seharusnya
ditanyai. Apakah mereka sungguh ingin memutus pendidikannya? Apakah mereka, memang,
sungguh ingin tetap hidup dalam kepercayaan Amish? Nicholas Humphrey akan melangkah lebih jauh
lagi. Meskipun anak-anak itu ditanyai dan telah mengucapkan bahwa mereka memilih kepercayaan
Amish, apakah kita dapat mengandaikan bahwa mereka akan berpendapat demikian jika mereka
sudah dididik dan diberi tahu mengenai alternatif-alternatif yang ada? Agar hal itu masuk akal,
bukankah harus ada contoh pemuda dari dunia luar yang memilih dengan kakinya dan dengan
suka rela menjadi Amish? Hakim Douglas melangkah lebih jauh ke arah yang sedikit berbeda.
Dia tidak melihat alasan tertentu untuk memberi pandangan religius orang tua status istimewa
dalam memutuskan sejauh mana mereka boleh tidak memberi pendidikan kepada anaknya. Jika
kepercayaan yaitu dasar untuk pengecualian, bukankah ada kepercayaan sekuler yang juga masuk
hitungan?
Mayoritas Mahkamah Agung membuat analogi dengan beberapa nilai positif ordo
monastik, yang secara kontroversial dapat dianggap memperkaya masyarakat melalui
kehadirannya. Tetapi, sebagaimana ditunjukkan oleh Humphrey, ada perbedaan krusial.
Biarawan memilih kehidupan monastik secara sukarela dengan kehendak bebasnya sendiri.
Anak-anak Amish tidak pernah memilih dengan sukarela untuk menjadi Amish; mereka terlahir
di dalamnya dan tidak sempat memilih.
Ada suatu yang sungguh sombong, dan juga tidak manusiawi, mengenai pengurbanan
siapa pun, khususnya anak-anak, di altar ‘keberkepercayaan n’ dan keutamaan melestarikan beraneka
ragam tradisi kekepercayaan an. Kita-kita yang lain bisa bahagia dengan mobil dan komputer, vaksin
dan antibiotik. Tetapi kalian suku aneh nan lucu dengan kerudung dan celana kuno, kereta kuda,
dialek kuno dan kloset yang berupa lubang di tanah, kalian memperkaya kehidupan kami. Tentu
saja kalian harus dibolehkan menjebak anak-anak kalian bersama dengan kalian dalam relung
waktu abad ke-17 kalian itu; jika tidak, suatu yang tidak bisa didapat kembali akan hilang bagi
kita, sebagian dari keberkepercayaan n luar biasa kebudayaan manusia. Sebagian kecil dari diri saya
bisa melihat suatu yang meyakinkan di sini. Tetapi bagian yang lebih besar merasa sungguh
kurang nyaman.
SUATU SKANDAL PENDIDIKAN
Perdana Menteri negara saya, Tony Blair, menyebut ‘keberkepercayaan n’ ketika ditantang di
Dewan Rakyat oleh Anggota Parlemen Jenny Tonge untuk membenarkan subsidi pemerintah
untuk sebuah sekolah di daerah timur laut Inggris yang (secara hampir unik di Britania)
mengajarkan kreasionisme alkitabiah harfiah. Pak Blair membalas bahwa sangat disayangkan
jika kekhawatiran mengenai isu itu mengganggu hadirnya ‘suatu sistem sekolah yang seberagam
yang selayaknya kita bisa bangun’.143 Sekolah itu, Emmanuel College di Gateshead, yaitu salah
satu ‘akademi kota’ yang didirikan dalam suatu prakarsa yang dibanggakan oleh pemerintahan
Blair. Penyumbang-penyumbang kaya dibujuk untuk memberi sejumlah uang yang relatif kecil
(£2 juta dalam kasus Emmanuel), yang membeli sejumlah uang pemerintahan yang jauh lebih
besar (£20 juta untuk sekolahnya, ditambah biaya operasional dan gaji selamanya), dan juga
memberikan penyumbang hak untuk mengendalikan etos sekolahnya, penetapan mayoritas
administrator sekolah, kebijakan untuk murid siapa yang boleh masuk atau harus dikeluarkan,
dan banyak yang lain.
Penyumbang 10 persen Emmanuel yaitu Sir Peter Vardy, seorang penjual mobil kaya
dengan suatu keinginan yang baik untuk memberi kepada anak-anak saat ini pendidikan yang
ingin dia dapat saat dia kecil, dan suatu keinginan yang kurang baik untuk mencetak keyakinan
religius pribadinya kepada mereka.* Sayangnya, Vardy telah terlibat dengan sekelompok guru
fundamentalis yang terinspirasi oleh Amerika, dipimpin oleh Nigel McQuoid, mantan kepala
sekolah Emmanuel dan kini direktur konsorsium sekolah-sekolah Vardy. Tingkat pemahaman
ilmiah McQuoid dapat dinilai dari keyakinannya bahwa umur dunia kurang dari 10 ribu tahun,
dan juga dari kutipan berikut: ‘Tetapi membayangkan bahwa kita hanya berevolusi dari suatu
ledakan, bahwa dahulu kita yaitu monyet, itu terkesan sulit dipercayai ketika kita melihat
kerumitan tubuh manusia ... Jika kita mengajarkan anak-anak bahwa tidak ada tujuan hidupnya –
bahwa mereka hanya suatu mutasi kimia – itu tidak membangun kepercayaan-diri.’144
Tak seorang ilmuwan pun pernah mengemukakan bahwa seorang anak yaitu suatu
‘mutasi kimia’. Penggunaan frasa itu pada konteks seperti itu yaitu omong kosong buta huruf,
setara dengan pernyataan-pernyataan ‘Uskup’ Wayne Malcolm, pemimpin gereja Christian Life
City di Hackney, London timur, yang, menurut Guardian 18 April 2006, ‘membantah bukti
ilmiah untuk evolusi’. Pemahaman Malcolm mengenai bukti yang dia bantah dapat diukur dari
pernyataannya bahwa ‘Jelas ada kekosongan dalam catatan fosil terkait tahap perkembangan
menengah. Jika seekor katak menjadi seekor monyet, bukankah harus ada banyak kanyet?’
Sebenarnya, ilmu pengetahuan bukan subjek Pak McQuoid juga, jadi, agar adil,
* H.L. Mencken seolah-olah bernubuat ketika dia menulis: ‘Di kedalaman hati setiap penginjil ada seorang penjual
mobil gagal.’
sebaiknya kita lihat kepala ilmu pengetahuannya, Stephen Layfield. Pada 21 September 2001,
Pak Layfield memberi ceramah di Emmanuel College mengenai ‘Pengajaran Ilmu Pengetahuan:
Suatu Perspektif Alkitabiah’. Teks ceramah itu dibagi di suatu situs web Kristiani
(www.christian.org.uk). Tetapi ceramah itu sudah tidak terdapat di sana. The Christian Institute
menghapus ceramahnya satu hari setelah saya menarik perhatian padanya dalam sebuah artikel
dalam Daily Telegraph pada 18 Maret 2002, di mana saya membedahnya secara kritis.145
Namun, sulit untuk menghapus sesuatu secara permanen dari World Wide Web. Mesin pencari
web bisa begitu cepat karena mereka menyimpan tembolok informasi, dan tembolok itu secara
tak terelakkan bertahan sejenak bahkan setelah versi asli terhapus. Seorang wartawan Britania
yang cukup sadar, Andrew Brown, koresponden persoalan kekepercayaan an pertama di Independent,
cepat menemukan ceramah Layfield, mengunduhnya dari tembolok Google dan membaginya,
aman dari penghapusan, di situs webnya sendiri,
http://www.darwinwars.com/lunatic/liars/layfield.html Anda akan menyadari bahwa kata-kata
yang dipilih oleh Brown untuk URL-nya menjadi bacaan menarik sendiri. Namun, mereka
kehilangan kekuatannya untuk menghibur ketika kita melihat isi ceramah itu sendiri.
Kebetulan, ketika seorang pembaca yang ingin tahu menulis kepada Emmanuel College
untuk bertanya kenapa ceramah itu ditarik dari situs webnya, dia menerima balasan tidak jujur
berikut dari sekolahnya, sekali lagi dicatat oleh Andrew Brown:
Emmanuel College telah berada di tengah-tengah suatu debat mengenai
pengajaran ciptaan di sekolah. Pada tingkat praktis Emmanuel College
menerima sejumlah panggilan dari pers yang luar biasa besar. Hal ini menuntut
cukup banyak waktu dari Kepala Sekolah dan para Direktur senior Kampus ini.
Semua orang ini memiliki pekerjaan lain. Supaya membantu, kami untuk
sementara menghapus sebuah ceramah oleh Stephen Layfield dari situs web
kami.
Tentu saja, para pejabat sekolah mungkin saja terlalu sibuk untuk menjelaskan kepada
wartawan sikapnya mengenai pengajaran kreasionisme. Tetapi kalau begitu, buat apa menghapus
dari situs webnya teks ceramah yang melakukan justru itu, dan yang mereka dapat tunjukkan
kepada para wartawan, dan dengan cara itu menghematkan banyak waktu? Tidak, mereka
menghapus ceramah kepala ilmu pengetahuan karena mereka menyadari bahwa hal itu layak
disembunyikan. Paragraf berikut diambil dari bagian awal ceramahnya:
Mari kita katakan dari awal bahwa kita menolak gagasan yang dipopulerkan,
barangkali tidak dengan sengaja, oleh Francis Bacon pada abad ke-17 bahwa
ada ‘Dua Kitab’ (yaitu, Kitab alam dan Kitab-kitab Suci) yang boleh ditambang
secara mandiri untuk kebenaran. Sebaliknya, kita berdiri kukuh pada proposisi
gamblang bahwa pencipta telah berfirman secara berwibawa dan tanpa kekeliruan
di halaman-halaman Kitab Suci. Kiranya seberapa rapuh, kuno, atau naif
penampakan pernyataan ini, terutama bagi suatu kebudayaan modern yang tidak
beriman dan mabuk televisi, kita bisa yakin bahwa itu yaitu suatu dasar
sekuat-kuatnya, untuk diletakkan dan untuk dibangun di atasnya.
Anda harus terus mencubit diri Anda sendiri. Anda tidak sedang mimpi. Ini bukan
seorang pengkhotbah di sebuah tenda di Alabama melainkan kepala ilmu pengetahuan di sebuah
sekolah tempat pemerintah Britania alirkan dana banyak, dan yang merupakan buah hati Tony
Blair. Sebagai junjungan kristen taat, Pak Blair sendiri pada 2004 memimpin acara pembukaan salah satu
sekolah baru di kelompok sekolah Vardy.146 Keberkepercayaan n mungkin merupakan suatu
keutamaan, tetapi ini yaitu keberkepercayaan n yang kebablasan.
Layfield kemudian merincikan perbandingan di antara ilmu pengetahuan dengan kitab
suci, dengan menyimpulkan, dalam setiap kasus yang sepertinya mengandung konflik, bahwa
kitab suci yang lebih unggul. Setelah menyebut bahwa ilmu bumi kini masuk dalam kurikulum
nasional, Layfield berkata, ‘Sepertinya akan bijaksana untuk semua pihak yang memberi
pelajaran ini untuk mulai membaca makalah-makalah geologi Banjir oleh Whitcomb & Morris.’
Ya, arti ‘geologi Banjir’ persis seperti yang Anda kira. Maksudnya Bahtera Nuh. Bahtera Nuh! –
ketika anak-anak bisa saja mempelajari fakta yang membuat menggigil bahwa Afrika dan
Amerika Selatan pernah menyatu, dan telah berpisah dengan kecepatan yang sama dengan
pertumbuhan kuku. Berikut lebih banyak dari Layfield (kepala ilmu pengetahuan) mengenai
banjir Nuh sebagai penjelasan cepat dan baru mengenai fenomena yang, menurut bukti geologis
asli, membutuhkan ratusan juta tahun untuk terjadi:
Kita harus mengakui dalam paradigma geofisika besar kita historisitas banjir
sedunia sebagaimana dijelaskan dalam Kej. 6-10. Jika narasi Alkitabiah aman
dan genealogi yang diuraikan (mis. Kej. 5; 1 Taw. 1; Mat. 1 & Luk. 3) secara
substansial lengkap, kita harus menilai bahwa malapetaka bumi ini terjadi di
masa lalu yang relatif baru. Akibatnya tampak dengan jelas di mana pun. Bukti
utama ditemukan di batuan sedimen yang sarat fosil, simpanan luas bahan bakar
hidrokarbon (batu bara, minyak, dan gas) dan kisah-kisah legendaris mengenai
justru banjir itu di berbagai kelompok populasi di seluruh dunia. Kemungkinan
menjalankan sebuah bahtera penuh dengan makhluk-makhluk representatif
selama setahun sebelum air bah cukup surut telah didokumentasikan dengan
baik oleh, di antara lain, John Woodmorrappe.
Dalam arti tertentu ini bahkan lebih buruk daripada pernyataan orang yang tidak tahu-
menahu seperti Nigel McQuoid atau Uskup Wayne Malcolm yang dikutip di atas, karena
Layfield berpendidikan dalam ilmu pengetahuan. Berikut suatu kutipan lagi yang memukau:
Sebagaimana kita katakan di awal, orang junjungan kristen , dengan alasan sangat baik,
menganggap Kitab-kitab Suci Perjanjian Lama & Baru sebagai penuntun yang
dapat diandalkan mengenai apa persisnya yang harus kita percayai. Mereka
bukan sekadar dokumen-dokumen kekepercayaan an. Mereka memberi kita suatu
penjelasan benar mengenai sejarah Bumi yang bahaya jika diabaikan.
Implikasi bahwa kitab-kitab suci memberi suatu penjelasan harfiah mengenai sejarah
geologis akan membuat teolog kredibel siapa pun gelisah. Teman saya Richard Harries, Uskup
Oxford, menulis sepucuk surat bersama dengan saya kepada Tony Blair, dan kami mendapat
tanda tangan 8 uskup dan 9 ilmuwan senior.147 Sembilan ilmuwan itu termasuk Presiden Royal
Society pada saat itu (sebelumnya penasihat utama ilmu pengetahuan Tony Blair), baik sekretaris
biologis maupun fisik Royal Society, sang Astronomer Royal (kini Presiden Royal Society),
direktur Museum Sejarah Alam, dan Sir David Attenborough, barangkali orang paling terhormat
di Inggris. Para uskup meliputi seorang uskup Katolik Roma dan tujuh uskup Anglikan –
pemimpin-pemimpin kekepercayaan an senior dari seluruh Inggris. Kami menerima balasan otomatis
dan tidak memadai dari kantor Perdana Menteri, yang merujuk hasil ujian baik sekolahnya dan
laporannya yang baik dari dinas inspeksi sekolah resmi, OFSTED. Sepertinya Pak Blair tidak
menyadari bahwa, jika para penyidik OFSTED memberikan laporan sangat baik mengenai
sebuah sekolah yang kepala ilmu pengetahuannya mengajarkan bahwa seluruh alam semesta
bermula setelah domestikasi anjing, mungkin saja ada sedikit masalah dengan tolok ukur badan
inspeksi itu.
Barangkali bagian ceramah Stephen Layfield yang paling mengusik yaitu kesimpulan,
‘Apa yang dapat dilakukan?’, ketika dia mempertimbangkan taktik yang harus digunakan oleh
guru-guru yang ingin memasukkan Kristianitas fundamentalis ke dalam ruang belajar ilmu
pengetahuan. Misalnya, dia mendorong guru ilmu pengetahuan untuk
mencatat setiap kali suatu paradigma evolusioner/bumi-lama (jutaan atau
miliaran tahun) disebut secara eksplisit atau tersirat dalam sebuah buku
pelajaran, pertanyaan ujian atau tamu dan dengan sopan menunjukkan bahwa
pernyataan itu bisa salah. Di mana pun yang mungkin, kita harus memberi
penjelasan Alkitabiah (selalu lebih baik) mengenai data yang sama. Kita akan
segera melihat beberapa contoh dari Fisika, Kimia, & Biologi.
Sisa ceramah Layfield yaitu panduan propaganda belaka, suatu sumber daya untuk
guru-guru religius biologi, kimia, dan fisika yang ingin, sambil tetap mematuhi peraturan
kurikulum nasional, menggerogoti pendidikan ilmu pengetahuan berdasarkan bukti dan
menggantikannya dengan Alkitab.
Pada 15 April 2006, James Naughtie, salah satu pembawa acara berita paling
berpengalaman di BBC, mewawancarai Sir Peter Vardy di radio. Subjek utama wawancara
yaitu investigasi polisi mengenai tuduhan, yang disangkal oleh Vardy, bahwa sogokan – gelar
kesatria dan bangsawan – telah ditawarkan oleh pemerintahan Blair kepada orang kaya, dalam
usaha untuk membuat mereka mendukung rencana akademi kota itu. Naughtie juga menanyai
Vardy mengenai isu kreasionisme, dan Vardy menolak secara kategoris bahwa Emmanuel
menyokong kreasionisme Bumi muda kepada murid-muridnya. Salah satu alumni Emmanuel,
Peter French, sama kategorisnya berkata,148 ‘Kami diajarkan bahwa bumi berusia 6000 tahun.’*
Siapa yang berkata benar di sini? Sebenarnya kita tidak tahu, tetapi ceramah Stephen Layfield
menguraikan kebijakannya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan secara cukup terbuka. Apakah
Vardy belum pernah membaca manifesto Layfield yang sangat eksplisit itu? Apakah dia
sebenarnya tidak tahu aktivitas kepala ilmu pengetahuannya? Peter Vardy menjadi kaya menjual
mobil bekas. Apakah Anda akan membeli darinya? Dan apakah Anda, seperti Tony Blair, akan
menjual kepadanya sebuah sekolah untuk 10 persen dari harganya – bersama dengan suatu
penawaran untuk membayar semua ongkos operasional? Mari kita adil terhadap Blair dan
berasumsi bahwa dia, setidaknya, belum membaca ceramah Layfield. Mungkin kita terlalu
optimis jika kita berharap bahwa kini dia akan memperhatikannya.
Kepala sekolah McQuoid menawarkan suatu pembelaan atas apa yang jelas ia lihat
sebagai keterbukaan pikiran sekolahnya, yang luar biasa untuk kepasifannya yang meremehkan:
contoh terbaik mengenai keadaan di sini yaitu suatu ceramah filsafat tingkat
SMA yang saya berikan. Shaquille sedang duduk di situ dan dia berkata,
‘Alquran itu tepat dan benar.’ Dan Clare, di sini, berkata, ‘Tidak, Alkitab itu
benar.’ Jadi kami membahas kemiripan di antara apa yang mereka katakan dan
tempat mereka tidak setuju. Dan kami setuju bahwa kedua-duanya tidak bisa
benar. Dan akhirnya saya berkata, ‘Maaf Shaquille, kau keliru, Alkitablah yang
* Agar memahami skala kekeliruannya, itu setara dengan percaya bahwa jarak dari New York ke San Fransisco
yaitu 7,8 meter.
benar.’ Dan dia berkata, ‘Maaf Pak McQuoid, Bapak yang keliru, Alquran yang
benar.’ Dan mereka melanjutkan diskusinya sambil makan siang. Itulah yang
kami inginkan. Kami ingin anak-anak tahu kenapa mereka memercayai apa
yang mereka percayai dan mempertahankannya.149
Gambaran yang menarik! Shaquille dan Clare makan siang bersama, dengan semangat
berargumen untuk kasus mereka sendiri dan mempertahankan kepercayaan mereka yang tidak
sesuai. Tetapi apakah itu sungguh menarik? Bukankah itu sebenarnya suatu gambaran tercela
yang Pak McQuoid lukiskan? Atas dasar apa, akhirnya, Shaquille dan Clare membuat argumen
mereka masing-masing? Bukti jelas apa yang masing-masing mereka mampu tunjukkan, dalam
debat yang bersemangat dan konstruktif itu? Baik Clare maupun Shaquille sekadar menyatakan
bahwa kitab sucinya sendiri lebih unggul, begitu saja. Sepertinya hanya itu yang mereka katakan,
dan memang hanya itu yang dapat dikatakan ketika anak-anak diajarkan bahwa kebenaran
berasal dari kitab suci dan bukan dari bukti. Clare dan Shaquille dan teman-temannya tidak
dididik. Mereka dikecewakan oleh sekolahnya, dan kepala sekolah mereka melakukan
kekerasan, tidak pada tubuh mereka, tetapi pikiran mereka.
KEBANGKITAN KESADARAN LAGI
Dan sekarang, salah satu gambaran menarik lagi. Di satu tahun saat Natal, koran harian
saya, Independent, mencari gambaran musiman dan menemukan suatu yang lintas-kepercayaan yang
mengharukan di salah satu pementasan sekolah mengenai kelahiran junjungan kristen . Tiga Orang Majus
diperankan oleh, sebagaimana dikatakan dengan bangga dalam tulisan di bawah gambarnya,
Shadbreet (seorang Sikh), Musharaff (seorang Muslim) dan Adele (seorang junjungan kristen ), semua
berusia empat tahun.
Lucu? Mengharukan? Tidak sama sekali; itu menjijikkan. Bagaimana bisa orang baik
siapa pun menganggap benar pelabelan anak-anak berusia 4 dengan pendapat kosmis dan
teologis orang tuanya? Untuk melihat ini, bayangkan sebuah fotograf yang identik, dengan
tulisan di bawah diubah sebagai berikut: ‘Shadbreet (seorang Keynesian), Musharaff (seorang
Monetaris) dan Adele (seorang Marxis), semua berusia empat tahun.’ Bukankah ini calon sasaran
surat-surat protes yang marah? Tentu seharusnya begitu. Namun, karena status kepercayaan secara
aneh diutamakan, tidak ada protes sedikit pun, dan tidak pernah ada pada keadaan yang serupa.
Bayangkan saja kehebohan jika ada tulisan, ‘Shadbreet (seorang Ateis), Musharaff (seorang
Agnostik), dan Adele (seorang Humanis Sekuler), semua berusia empat tahun.’ Mungkinkah
orang tua itu diselidiki untuk memastikan bahwa mereka mampu membesarkan anak? Di
Britania, karena kami tidak memiliki pemisahan da

