Tentang hewan 12
istem radar manusia yang ada saat
ini. Kita juga tidak bisa memandang
sebelah mata terhadap kemampuan
terbang capung. Contoh berikutnya
yaitu cara kerja sistem pemanas dan
pendingin dalam sarang rayap yang
jauh lebih murah dan efisien daripada
teknologi manusia saat ini. Berbagai
algae, ubur-ubur, cumi-cumi, udang,
Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menu-
rut ukuran. (al-Qamar/54: 49)
Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang
ada di bumi untukmu lalu Dia menuju ke
langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh
langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
(al-Baqarah/2: 29)
Berbagai fakta memperlihatkan
banyak proses di alam perlu ditiru
oleh manusia untuk menyejahterakan
kehidupannya. Sebut saja kemampuan
burung madu (hummingbird) yang
343Perikehidupan Hewan
ikan, dan beberapa jenis serangga dapat
mengkombinasikan beberapa bahan
kimia dan membuat bagian tubuhnya
berpendar. Ikan yang hidup di perairan
Arktik dan kodok melakukan hibernasi
dan aktif kembali saat musim panas.
Belajar dari kemampuan dua hewan
ini para peneliti mulai mengamati
cara membekukan diri tanpa merusak
organ tubuh. Bunglon dan cumi-cumi
yang dapat mengubah warna dan
corak pada kulitnya sesuai keadaan
lingkungannya untuk berkamuflase.
Lebah, burung, dan penyu laut dapat
pergi ke satu tempat tanpa harus
memakai kompas. Ikan paus dan
burung penguin yang bernafas dengan
paru-paru dapat menyelam cukup lama
tanpa harus memakai alat selam.
Sedikit contoh mekanisme dan
desain alam yang mengagumkan ini
berpotensi memperkaya teknologi ma-
nusia di berbagai bidang. Potensi ini
akan menjadi nyata saat pengetahuan
manusia meningkat dan teknologi yang
diciptakan memiliki arti. Beberapa ayat
di bawah ini dapat disimak lebih lanjut.
sebagian (yang lain) berjalan dengan empat
kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.
Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
(an-Nūr/24: 45)
Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air,
maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya
dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang
Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semua-
nya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditum-
buhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri,
maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
(Yāsīn/36: 36)
Dan yang menciptakan semua berpasang-pasangan
dan menjadikan kapal untukmu dan hewan ternak
yang kamu tunggangi. (az-Zukhruf/43: 12)
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan
apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.
Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah
orang-orang yang kafir itu sebab mereka akan
masuk neraka. (Șād/38: 27)
Semua jenis hewan memiliki
sisi-sisi yang sangat mengagumkan.
Beberapa di antaranya memiliki bentuk
tubuh yang sangat hidrodinamik yang
memungkinkannya bergerak cepat
dan leluasa di dalam air. Yang lainnya
memiliki pendengaran yang sangat
tajam. Hari demi hari makin banyak saja
sisi luar biasa dalam dunia hewan yang
ditemukan oleh para peneliti. Tidak
jarang penelitian harus melibatkan
peneliti-peneliti dari disiplin ilmu yang
berbeda-beda, seperti ahli teknologi
komputer, insinyur mesin; ahli elek-
tronika, matematik, fisika, kimia, bio-
logi, dan sebagainya, untuk sekadar
meniru satu sisi saja dari kemampuan
makhluk hidup lain.
Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu
sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu
rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan
ternak yang kamu merasa ringan (membawa)
nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu
kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari
bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-
alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu
(tertentu). (an-Naĥl/16: 80)
Para peneliti sangat kagum
saat hari demi hari makin banyak
saja rahasia alam yang mereka temu-
kan. Mereka memanfaatkan keka-
guman ini untuk menginspirasi diri
dan menginvensi teknologi baru bagi
keuntungan perikehidupan manusia.
Berbekal pengalaman bahwa apa
yang terjadi di alam jauh lebih canggih
daripada apa yang ada dalam pemikir-
an mereka, para peneliti mulai meng-
acu alam daripada mengembangkan
pemikiran mereka sendiri. Mereka ya-
kin cara demikian ini jauh lebih efisien,
cepat, dan murah.
Hingga abad 19 alam ditiru hanya
untuk keperluan estetika belaka. Para
seniman dan arsitek, misalnya, hanya
meniru sisi luar dari alam dalam mela-
kukan pekerjaannya. Penduduk asli
Amerika, Indian, dan juga nenek
moyang manusia, mengetahui prinsip
pengobatan dari pengamatan terha-
dap perikehidupan hewan liar. Saat
terserang penyakit atau terluka, hewan
liar seperti serigala atau beruang
mencari dan memakan tumbuhan ter-
Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di
bumi dan burung-burung yang terbang dengan
kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan
umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu
pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, lalu
kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (al-An‘ām/6:
38)
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan
keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi)
perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu
ketahui.(an-Naĥl/16: 8)
345Perikehidupan Hewan
tentu untuk menyembuhkan diri, dan
berhasil. Kekaguman atas kemampuan
alam yang dapat ditiru dan dijadikan
inspirasi bagi upaya menyejahterakan
kehidupan manusia dimulai pada abad
20, dengan melakukan studi alam
pada tingkat molekuler. Para peneliti
sekarang mulai meniru apa yang per-
nah dikatakan Al-Qur'an pada 14 abad
lebih yang lalu.
untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua
orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan
yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan
rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu
yang saleh.” (an-Naml/27: 19)
Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk
bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di
bumi) ada tanda-tanda (kebesaran Allah)
untuk kaum yang meyakini. (al-Jāšiyah/45: 4)
Hingga saat mereka sampai di lembah semut,
berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut!
Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu
tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya,
sedang mereka tidak menyadari.” (an-Naml/27:
18)
Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa
sebab (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia
berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham
Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia
(Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah
diajari bahasa burung dan kami diberi segala
sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia
yang nyata.” (an-Naml/27: 16)
Maka tidak lama lalu (datanglah Hud-hud),
lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu
yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu
dari negeri Saba' membawa suatu berita yang
meyakinkan. (an-Naml/27: 22)
Manusia diciptakan Allah untuk
menjadi khalifah di bumi. Dengan
demikian, manusia harus bertanggung
jawab di hadapan Allah tentang apa
yang dilakukannya terhadap ciptaan-
Nya. Al-Qur'an menguraikan secara
jelas tentang peran hewan sebagai
kelompok-kelompok yang juga mem-
punyai hak yang mesti dipenuhi
layaknya manusia. Semua ciptaan
memiliki tempatnya sendiri-sendiri.
Al-Qur'an juga menunjukkan bahwa
tidak saja manusia yang bersujud,
bertasbih, dan tunduk kepada Allah,
belakangi oleh beberapa alasan, di
antaranya perubahan kondisi klimat
lokal, ketersediaan pakan di tingkat
lokal, sampai dengan yang berkaitan
dengan iklim tahunan yang berlaku
global.
Untuk dapat disebut sebagai
migrasi, dan bukan hanya sekadar
persebaran secara lokal, peristiwa
pergerakan hewan harus berlangsung
secara tahunan atau musiman secara
berulang, seperti burung-burung jenis
tertentu yang terbang ke tempat yang
panas saat tempat tinggal asalnya
mengalami musim dingin. Migrasi juga
bisa dipicu perubahan perilaku dalam
siklus hidup hewan, seperti anakan
ikan salmon yang berukuran tertentu
akan bermigrasi dari hulu sungai ke
laut untuk menjalani hidup dewasanya.
Siklus sebuah migrasi bisa saja
diselesaikan oleh individu dari satu
generasi yang sama (seperti migrasi
pada burung, binatang menyusui, atau
ikan), dan bisa juga dilakukan lintas
generasi. Contoh klasik dari siklus
yang disebut terakhir ini dapat dilihat
pada kupu-kupu monarch (Danaus
plexippus) yang bermigrasi dari Kanada
ke Meksiko, dan kembali lagi.
Migrasi tidak hanya terjadi pada
dunia burung dan kupu-kupu. Mi-
grasi juga dilakukan oleh beberapa
jenis binatang menyusui, serangga,
ikan, dan kelompok kepiting atau
namun juga hewan, tumbuhan, bahkan
benda-benda mati. Allah berfirman,
Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di
langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada
Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-
gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata
dan banyak di antara manusia? namun banyak
(manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang
siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan
memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja
yang Dia kehendaki. (al-Ĥajj/22: 18)
Dengan berbagai keterbatasan,
buku yang ada di hadapan para
pembaca ini berusaha menguraikan
beberapa saja dari proses-proses yang
mencengangkan pada perikehidupan
hewan. Di antaranya yaitu migrasi
hewan, kemampuan hewan berkomu-
nikasi, simbiosis pada dunia hewan,
dan manfaat hewan bagi manusia
dengan adanya proses domestikasi.
A. MIGRASI HEWAN
Migrasi hewan yaitu perpindahan
sekelompok jenis hewan, baik secara
permanen maupun musiman, dari satu
tempat ke tempat lain. Migrasi dilatar-
347Perikehidupan Hewan
udang. Kelompok Arthropod (udang)
berukuran kecil yang hidup pada
masa Kambrian sekitar 520 juta tahun
yang lalu, misalnya, ditemukan dalam
bentuk fosil dengan kondisi saling
bergandengan dan membentuk ran-
tai. Muncul dugaan bahwa formasi
yang demikian ini mereka bentuk saat
bermigrasi. Manusia pada masa lalu
dan saat ini pun tidak ketinggalan;
mereka sering melakukan migrasi ka-
rena berbagai sebab.
Tidak saja bersifat musiman,
migrasi juga dilakukan dalam skala
harian. Ini misalnya dilakukan oleh
banyak hewan yang hidup di perairan
laut. Migrasi yang mereka lakukan
yaitu dengan bergerak menegak dan
bergerak turun-naik sepanjang kolom
air. Migrasi demikian banyak ditemui
pada plankton, ubur-ubur, dan hewan
laut berukuran kecil lainnya. Dalam
menjelaskan migrasi hewan, Al-Qur'an
memberi penjelasan pada Surah al-
Mulk/67: 19 dan an-Nūr/24: 41.
Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada
Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi,
dan juga burung yang mengembangkan sayapnya.
Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara)
berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa
yang mereka kerjakan. (an-Nūr/24: 41)
Dari dua ayat di atas digambar-
kan tentang burung yang terbang di
antara langit dan bumi. Kadangkala
burung-burung itu terbang ribuan kilo-
meter dalam proses migrasi. Seringkali
mereka harus terbang menyeberangi
lautan tanpa berhenti. Tentu saja tidak
ada yang memberi mereka kelengkap-
an pengetahuan dan kekuatan untuk
dapat melakukan hal ini selain
Allah. Burung-burung ini patuh kepada
perintah Allah, dan dapat mengenali
tanda-tanda yang diberikan-Nya untuk
melakukan migrasi ke arah tertentu.
Gambar 363
Kumpulan burung dalam proses migrasi.
(Sumber: forum.xcitefun.net)
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung
yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya
di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di
udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia
Maha Melihat segala sesuatu. (al-Mulk/67: 19)
Ada beberapa penunjuk arah yang
Allah berikan bagi mereka, seperti arah
arus di lautan, kedudukan bintang-
bintang di langit pada malam hari dan
matahari pada siang hari, serta ciri-ciri
lanskap di daratan. Semua itu dipahami
dan dipakai oleh burung-burung
untuk melaksanakan perintah-Nya.
Manusia diundang untuk bertauhid
kepada Allah dengan memperhatikan
burung. Allah telah merancang arah,
rute, dan kemampuan individu dari
setiap jenis burung. Dalam hal inilah
ada tanda-tanda eksistensi dan
kekuasaan Allah yang hanya bisa dipa-
hami oleh mereka yang beriman dan
mau memaksimalkan kemampuan in-
telektualitasnya.
PERIHAL MIGRASI
Migrasi Manusia
Migrasi manusia yaitu perpindahan
secara fisik manusia dari satu kawasan
ke kawasan lainnya. Seringkali dalam
prosesnya manusia melakukan per-
jalanan jauh dan panjang dalam ke-
lompok yang besar. Pergerakan po-
pulasi manusia berlangsung terus
sepanjang zaman. Migrasi bisa saja
dilakukan dengan suka rela, namun
tidak jarang pula dilakukan dengan
terpaksa. Bentuk yang kedua ini misal-
nya dipicu oleh terjadinya perbudakan,
perdagangan manusia (human traffic-
king), genosida, bencana alam, dan
lain-lain.
Sejarah migrasi umat manusia
dimulai dengan pergerakam Homo
erectus keluar dari benua Afrika menu-
ju kawasan Eurasia sekitar satu juta
tahun yang lalu. Homo sapiens tersebar
merata di Afrika sekitar 150.000 tahun
lalu, bergerak keluar mulai 70.000
tahun lalu, dan menyebar ke Australia,
Asia, dan Eropa sekitar 40.000 tahun
lalu. Selanjutnya, mereka bermigrasi
ke Amerika pada 20.000 hingga 15.000
tahun lalu. Pada sekitar 2.000 tahun
lalu manusia pun akhirnya mulai meng-
kolonisasi pulau-pulau di Pasifik.
Migrasi manusia modern dapat
diketahui mulai dari abad 18 Masehi.
Industrialisasi merupakan salah satu
penyebab terjadinya migrasi ini. Mi-
grasi sukarela dan terpaksa banyak
terjadi sebagai akibat Perang Dunia I
dan II. Migrasi secara terpaksa, selain
dipicu oleh perbudakan, dapat juga
dipicu oleh persoalan agama, seperti
yang terjadi di India, Pakistan, dan
Bangladesh.
Sejarah Islam mencatat suatu
peristiwa yang bisa saja dikategorikan
sebagai migrasi. Peristiwa itu yaitu
hijrah yang sangat penting dan berse-
jarah bagi seluruh umat Islam. Hijrah
tidak saja menandai bermulanya pe-
nanggalan tahun hijriah, tapi ia punya
349Perikehidupan Hewan
makna yang lebih dalam daripada
itu. Sejarah merekam peristiwa keti-
ka Rasulullah diperintahkan oleh Allah
untuk berhijrah saat ruang untuk
berdakwah di Mekah sudah terlalu
sempit. Allah tidak mengajari beliau
untuk mendoakan buruk kepada pen-
duduk Mekah yang enggan beriman.
Sebaliknya, Allah mewahyukan kepa-
da beliau untuk mengambil suatu tin-
dakan yang sukar, berbahaya, dan
berisiko tinggi. Melalui perintah hijrah,
Rasulullah berusaha untuk merancang
dan bertindak demi masa depan dak-
wah Islamiyah yang lebih baik.
Hijrah seperti yang dilakukan
oleh Rasulullah tidak lagi diamanatkan
kepada umat Islam pada masa seka-
rang. Namun demikian, konsep dan inti
ajaran hijrah harus terus berlangsung.
Rasulullah menegaskan bahwa tidak
ada lagi perintah hijrah sesudah peris-
tiwa penaklukan kota Mekah. Yang
tersisa, kata beliau, yaitu kewajiban
berjihad dan niat untuk berhijrah apa-
bila keadaan memaksa.
Kata hijrah dalam bahasa Arab
berarti bergerak meninggalkan satu
tempat untuk pergi ke tempat lain
yang lebih baik. Ia juga dapat berarti
meninggalkan kepercayaan, amalan,
peraturan, dan cara hidup yang ber-
tentangan dengan ajaran Islam se-
bagai agama yang diridai Allah. Islam
tidak menyuruh manusia untuk ber-
diam diri dan menunggu pertolong-
an datang tanpa adanya usaha untuk
mendapatkannya. Allah berfirman,
Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang
selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan
belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah
Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah
keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah
keadaan diri mereka sendiri. Dan jika Allah
menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,
maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak
ada pelindung bagi mereka selain Dia. (ar-Ra‘d/13:
11)
Migrasi Burung
Alasan burung melakukan migrasi
sangat kompleks dan belum sepenuh-
nya dimengerti. Penjelasan yang se-
derhana yaitu bahwa perpindahan
itu berkaitan dengan ketersediaan
pakan dan reproduksi. Burung Artic
Tern (Sterna paraisaea), misalnya,
yang berkembang biak di kawasan
Arktika di Kutub Utara pada musim
panas memperoleh keuntungan dari
banyaknya makanan (ikan laut) yang
tersedia. Pada musim dingin mereka
kembali dan hidup di Antartika
(Kutub Selatan, yang saat itu berada
Contoh di atas memperlihatkan
kompleksitas hal-hal yang berkaitan
dengan perjalanan migrasi. Di samping
persedian lemak dalam tubuh hewan
migran yang menjadi sediaan energi,
berbagai kondisi alam (antara lain
arah angin, kecepatan angin, dan arus
laut) juga sangat berperan. Dengan
memperhatikan hal-hal ini, lokasi
tujuan migrasi lebih mudah mereka
capai dengan melewati rute tertentu.
Burung memanfaatkan arah angin
untuk membantunya terbang dan
mencapai lokasi dengan lebih cepat.
Seringkali mereka terbang tinggi un-
tuk memperoleh aliran udara yang
kuat dan mengarah pada tempat yang
ditujunya. Banyak jenis burung ber-
sayap panjang dan lebar meluncur
pada aliran udara ini untuk menghemat
energi, sebagaimana dilakukan oleh
semua jenis burung dari kelompok
Albatross. Beberapa jenis burung
dapat terbang tanpa henti selama
beberapa hari, namun pada umumnya
mereka beristirahat di tempat tertentu
sesudah terbang beberapa jam.
Penelitian membuktikan bahwa
burung menjadikan posisi matahari
dan bintang sebagai kompas untuk
menentukan arah tujuan. Burung juga
diketahui dapat memakai magnet
bumi utara sebagai acuan. Di luar
itu, mereka memakai bentang
alam secara visual, penciuman (bau
dalam musim panas sebagaimana
bumi belahan selatan lainnya). Jarak
lurus antara kedua kutub ini yaitu
15.000 km. Namun demikian, rute
yang ditempuh burung ini tidak
selamanya lurus, melainkan berbelok-
belok menyesuaikan dengan posisi
lanskap. Dengan demikian, jarak yang
ditempuhnya dapat mencapai 20.000
km. Artinya, dalam satu kali migrasi
mereka harus menempuh jarak antara
30.000–40.000 km.
laut), dan suara (pecahnya ombak di
pantai, angin yang melewati celah
di daerah pegunungan) sebagai ciri.
Aspek yang sangat mengagumkan
dalam hal migrasi ini yaitu bahwa
semua pengalaman (lokasi, rute, dan
mungkin juga cara dan teknik yang
dipakai ) terpatri dalam otak semua
individu. Banyak burung migran yang
meninggalkan anaknya yang belum
dewasa untuk terbang kembali ke
tempat asal. Anaknya akan terbang
menyusul tanpa ada yang memberi-
tahunya arah dan rute migrasi yang
biasa dilalui kelompok orang tua me-
reka.
Hampir semua kelompok burung
terwakili oleh jenis dari kelompok itu
yang melakukan migrasi, mulai dari
kelompok bangau, belibis, burung pe-
mangsa, hingga burung kecil sebangsa
burung madu. Bahkan, burung yang
tidak dapat terbang, seperti burung
emu, juga melakukan migrasi. Burung
yang hidup di Australia ini bermigrasi
mengikuti ketersediaan air. Burung
penguin bermigrasi di lautan. Anakan
burung auk dari kelompok penguin
dari suku Alcidae bermigrasi dengan
cara berenang di laut hingga bulu di
tubuhnya tumbuh dan ia mulai dapat
terbang.
Berikutnya timbullah pertanyaan
besar, mengapa tidak semua burung
melakukan migrasi, padahal dengan
kemampuannya terbang mereka men-
dapat keuntungan lebih daripada apa
yang didapat oleh jenis hewan lainnya,
misalnya dalam hal mencari kawasan
yang memiliki sumber daya pakan
dan tempat berkembang yang baik.
Sampai saat ini belum ada yang dapat
memastikan mengapa tidak semua
burung melakukan migrasi. Yang
diketahui yaitu bahwa persoalan
migrasi dan tidak bermigrasi telah
diatur sedemikian rupa hanya untuk
burung, dan mereka telah melakukan
dan mempraktikkannya selama jutaan
tahun. Allah-lah yang telah mengatur
hal ini sejak pertama mencipta-
kan hewan ini.
Migrasi kupu-kupu
Kisah migrasi yang sangat menakjub-
kan tidak saja dicatatkan oleh burung.
Beberapa jenis serangga juga memiliki
kisah migrasi yang tidak kalah me-
ngagumkan. Kupu-kupu monarch (Da-
naus plexippus) misalnya bermigrasi
dari Kanada ke Meksiko yang dilaku-
kannya dalam beberapa generasi.
Cara migrasi yang demikian ini bahkan
memiliki tingkat kompleksitas yang
lebih tinggi dibandingkan apa yang
dilakukan kebanyakan burung.
Masa dewasa kupu monarch
hanya berlangsung 5–6 minggu. Dalam
satu tahun ada empat generasi,
di mana tiga dari empat generasi
ini dipakai untuk melakukan per-
jalanan migrasi antara Kanada dan
Meksiko. Migrasi selalu dimulai saat
puncak musim gugur di Kanada. Kupu-
kupu yang akan memulai penerbangan
ke Meksiko ini yaitu individu generasi
keempat, dan merupakan individu
yang jauh lebih super daripada individu
generasi lainnya. Mereka hidup enam
bulan lebih panjang daripada individu
generasi lainnya. Ini sangat diperlukan
untuk dapat menyelesaikan perjalanan
dari Kanada ke Meksiko sekaligus.
Kupu-kupu monarch terbang
melintasi hampir separuh Benua Ame-
rika, dan akhirnya berkumpul di suatu
tempat di bagian tengah Meksiko.
Bagaimana jutaan kupu yang semula
menyebar lalu menyatu dan
mengarah ke satu lokasi, belum dite-
mukan jawabannya oleh para peneliti
hingga saat ini. Selama empat bulan
dari Desember hingga Maret, mereka
tidak makan apa-apa dan hanya me-
minum sedikit air. Persediaan lemak
dalam tubuh menjadi faktor kunci bagi
keberhasilan migrasi mereka. Begitu
sampai di kawasan pegunungan yang
dipenuhi dengan tumbuhan di Meksiko
(ketinggiannya mencapai 3.000 meter)
mereka melanjutkan hidupnya.
sesudah empat bulan berpuasa,
mereka memperoleh nektar dari bunga
yang berlimpah dan mengembalikan
persediaan lemak dalam tubuh mereka
sebagai modal untuk terbang kembali
ke Kanada. Mereka kawin pada akhir
bulan Maret, hanya beberapa saat men-
jelang perjalanan pulang ke Kanada.
Sebelum melakukan perjalanan pu-
lang, mereka bertelur. Begitu sampai
di Kanada, mereka pun mati.
Telur yang ditinggalkannya di
Meksiko lalu menjadi generasi
pertama untuk tahun itu. Generasi ini
hidup selama 1–1,5 bulan. Berikutnya
hadirlah generasi kedua dan ketiga
yang hidup dalam rentang waktu yang
sama. Seiring lahirnya generasi empat
yang memiliki masa hidup enam (6)
bulan lebih panjang daripada generasi
lainnya, migrasi pun dimulai lagi.
Sistem yang demikian kompleks
ini belum sepenuhnya dapat dipecah-
kan oleh manusia. Mengapa generasi
keempat dari kupu-kupu ini memiliki
masa hidup enam bulan lebih panjang
daripada generasi sebelumnya; me-
ngapa generasi ini selalu muncul ber-
samaan dengan musim dingin; dan
mengapa pula kupu-kupu ini bersama-
sama memulai migrasinya pada saat
pertengahan musim gugur, yaitu
pertanyaan-pertanyaan yang belum
ditemukan jawabannya secara ilmiah.
Semua pertanyaan itu sangat
sulit dijawab oleh ilmu tentang evo-
lusi. Kupu jenis ini tampaknya sudah
memiliki karakter demikian ini sejak
diciptakan. jika generasi keem-
pat tidak dibekali dengan umur
panjang maka diperkirakan jenis ini
sudah punah sejak lama. Kondisi
yang demikian ini tentu tidak dapat
dinyatakan sebagai kebetulan belaka.
Tidak mungkin juga kupu-kupu itu
melakukan perencanaan untuk hidup
lebih panjang dengan mengatur me-
tabolisme, DNA, dan genetikanya sen-
diri. Tidak ada penjelasan lain yang
dapat dikemukakan, selain apa yang
tercantum dalam ayat berikut.
Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada
Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi,
dan juga burung yang mengembangkan sayapnya.
Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara)
berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa
yang mereka kerjakan. (An-Nūr/24: 41)
Migrasi kepiting merah Pulau
Christmas (Gecarcoidae natalis)
Kepiting merah Pulau Christmas (Ge-
carcoidae natalis) yang hidup di Pulau
Christmas, Australia, yaitu jenis uta-
ma dari 14 jenis kepiting darat yang
hidup di pulau ini. Diperkirakan kepiting
besar yang berwarna merah mencolok
ini berjumlah 120 juta saat ini. Hewan
ini hidup di dalam hutan yang memberi
naungan yang mereka sukai. Kepiting
merah dewasa dapat memiliki lebar
tubuh 116 milimeter, di mana kepiting
jantan berukuran lebih besar daripada
betina. Pertumbuhan kepiting merah
ini sangat lambat. Mereka baru meng-
injak usia dewasa pada umur 4–5
tahun, saat ukuran tubuhnya men-
capai sekitar 40 milimeter. Pada saat
inilah mereka mulai berpartisipasi da-
lam migrasi untuk kawin.
Makanan utama kepiting merah
yaitu serasah berupa daun, buah,
bunga, dan anakan pohon. Mereka
juga menyukai bagian tumbuhan
yang segar, meski mereka juga doyan
memakan bagian pohon yang jatuh.
Meski makanan utama mereka yaitu
tumbuhan, namun mereka juga tidak
melewatkan begitu saja burung, he-
wan lain, bahkan kepiting lain yang
mati. Menilik jumlahnya yang sangat
banyak, kepiting merah diduga tidak
mendapati pesaing untuk memperoleh
makanan.
Di hutan mereka hidup di da-
lam lubang yang digalinya, atau di
celah-celah bebatuan. Mereka hidup
menetap dan jarang berpindah kecuali
saat bermigrasi. Kepiting merah hidup
soliter, menyendiri, kecuali saat musim
kawin. Mereka aktif pada siang hari,
dan tidur pada malam hari. Kepekaan
mereka terhadap kelembapan udara
merupakan penyebab mengapa musim
kawin berlangsung bersamaan. Pada
musim panas, mereka menutup liang
dengan dedaunan untuk memper-
tahankan kelembapan pada bagian
dalamnya. Pada saat itu, sekitar dua
sampai tiga bulan, kepiting merah
jarang terlihat di luar liang atau tempat
persembunyian lainnya.
Pada musim kawin yang pada
umumnya berlangsung pada permu-
laan musim hujan (November atau
Oktober), kepiting merah jantan akan
mulai bermigrasi ke pantai. Kepiting
betina mengikuti lalu . Kepiting
jantan lantas membuat liang di pantai.
Kepiting betina mendatangi lubang-
lubang itu dan terjadilah kawin massal
selama tiga hari. Selama 12 hingga
14 hari mereka akan tinggal bersama
dalam lubang. Usai melakukan perka-
winan, setiap kepiting merah betina
dapat memproduksi telur sampai
100.000 butir.
Pada pagi atau malam hari saat
bulan sabit, kepiting betina ramai-
ramai masuk ke air dan melepaskan
telurnya sebelum pasang tinggi da-
tang. Pelepasan telur dapat berlang-
sung lima sampai enam malam selama
musim kawin ini. sesudah malam kedua
pelepasan telur, banyak kepiting beti-
na yang sudah tidak lagi ditempeli telur
kembali ke pedalaman pulau. jika
kondisi alam tidak mendukung musim
kawin maka mereka akan tetap di pan-
tai hingga siklus bulan berikutnya.
Telur kepiting merah akan me-
netas begitu terjadi kontak dengan
air laut. Larva akan terbawa arus ke
tengah laut. Jutaan di antaranya tidak
akan hidup sebab menjadi santapan
ikan dan predator lainnya. Satu bulan
lalu larva yang masih bertahan
hidup teah berubah menjadi seperti
udang kecil, yang disebut megalope.
Megalope akan berenang ke pantai
dan hidup di genangan-genangan air
yang ada di sekitar pantai. Satu atau
dua hari lalu megalope akan
berubah menjadi kepiting kecil. Walau
baru berukuran 5 milimeter, mereka
sudah memulai perjalanan migrasi ma-
suk ke hutan. Untuk sampai di hutan
mereka melakukan perjalanan selama
sekitar sembilan hari. Mereka kemu-
dian “menghilang” selama tiga tahun,
hidup di bawah serasah dan batu, atau
di dalam lubang yang dibuatnya.
Migrasi Paus
Hampir semua ikan paus melakukan
migrasi untuk memperoleh makan
dan berkembang biak. Salah satunya
yaitu ikan paus baleen yang makanan
utamanya berupa udang kecil alias
krill. Udang kecil ini disaring dengan
gigi tapis yang dimilikinya. Krill banyak
ditemukan hidup di perairan dingin,
namun kondisi perairan yang demikian
ini tidak cukup nyaman bagi bayi ikan
paus. Bayi paus yang baru dilahirkan
belum punya lapisan lemak yang cukup
tebal, sehingga mereka akan langsung
mati di air yang dingin ini. Itulah alasan
mengapa paus kawin dan melahirkan
bayinya di perariran yang lebih panas.
Ikan paus memenuhi keperluan makan
dan berkembang biak dengan cara
melakukan perjalanan panjang dari
perariran dingin tempatnya mencari
makan ke perairan yang lebih hangat
dan lebih dangkal untuk kawin dan
membesarkan anaknya.
Pola migrasi ikan paus berbeda
pada jenis yang berbeda, bahkan
antarpopulasi pada jenis yang sama.
Humback whale alias paus bongkok
(Megaptera novaeangliae) ditemukan
di semua lautan. Pada bulan-bulan
musim panas populasi yang hidup di
belahan bumi selatan akan berada di
Antartika untuk makan krill. Pada akhir
musim gugur mereka memulai migrasi
tahunannya ke perairan tropis di
Pasifik untuk kawin dan membesarkan
anaknya. Mereka kembali ke selatan
pada musim semi. Ikan paus jenis ini
menjelajah perairan sekitar 5.000 ki-
lometer dalam migrasinya ini; suatu
jarak migrasi terpanjang untuk jenis
mamalia di bumi.
Hal yang mirip dilakukan oleh
paus biru atau blue whale (Balaenop-
tera musculus), jenis paus lain yang
juga pemangsa krill. Pada musim
dingin mereka berenang ke arah per-
airan tropis yang lebih hangat untuk
kawin dan melahirkan anak. Pada
musim panas mereka kembali ke arah
garis lintang yang tinggi, yaitu kutub,
baik ke Antartika atau ke Arktika
untuk makan. Mereka akan berada
di perariran ini selama tiga hingga
empat bulan. Mereka lalu mulai
bermigrasi lagi ke perariran tropis
dalam pola tertentu. Dalam pola ini,
paus yang sudah cukup tua dan yang
hamil melakukan perjalanan lebih
dulu. Perjalanan ini lantas ditutup oleh
kelompok paus biru yang masih belum
dewasa.
Pada perjalanan ini mereka ham-
pir tidak makan apa-apa selama empat
bulan. Mereka hidup dari persediaan
lemak yang tersimpan di dalam tubuh-
nya. Paus hanya melahirkan satu ekor
anak. Meski baru lahir, bayi paus
sudah memiliki ukuran panjangnya
hingga tujuh meter dan berat hingga
2,5 ton. Anakan paus disusui oleh
induknya selama tujuh bulan dan ikut
bersamanya dalam perjalanan migrasi
ke perairan kutub. sesudah disapih,
paus mulai makan krill dan bergabung
untuk mengikuti pola migrasi.
Pola migrasi demikian, dengan
sedikit variasi di sana-sini, juga dapat
ditemui pada semua ikan paus ukuran
besar, misalnya saja grey whale atau
paus abu-abu (Eschrichtius robustus)
yaitu paus pemakan krill yang pan-
jang tubuhnya dapat mencapai 16
meter dengan berat sekitar 36 ton.
Umur paus ini mencapai 50–60 tahun.
Paus lain yang juga bermigrasi yaitu
paus pemangsa krill lainnya, minke
whale (Balaenoptera acutorostrat dan
Balaenoptera bonaerensis). Ini yaitu
marga kedua terkecil dalam kelompok
ikan.
Pada usia dewasa (sekitar umur
6–8 tahun), panjang tubuh minke
whale jantan dapat mencapai 7,4
meter, dengan bobot berkisar 4–5 ton.
Jenis ini memiliki jumlah baleen (alat
untuk menapis krill) 240–360 buah
di bagian sisi mulutnya. Paus ini pada
umumnya dapat hidup antara 30–50
tahun. Dalam beberapa kasus, paus ini
bahkan diketahui dapat hidup sampai
60 tahun.
Paus berikutnya yaitu bowhead
whale (Balaena mystic etus), yang di-
kenal juga dengan nama Greenland
Right Whale atau Arctic Whale. Pan-
jang tubuh paus pemangsa krill ini
mencapai 20 meter dengan bobot 136
ton. Ukurannya yang demikian besar
menjadikannya berhak menempati po-
sisi kedua paus dengan tubuh terbesar
sesudah paus biru. Bowhead whale
hidup sepenuhnya di kawasan Arktika
dan Sub-Arktika, dan tidak melakukan
migrasi yang berarti. Paus ini memiliki
mulut terbesar di antara semua hewan
yang ada.
Paus lain yang berukuran besar
yaitu paus bergigi atau sperm whale
(Physeter macrocephalus). Sperm whale
berbeda dari paus raksasa lainnya.
Ia tidak memangsa krill, melainkan
memakai giginya untuk memang-
sa cumi-cumi raksasa yang hidup di
laut dalam dan juga ikan. Paus jenis
ini memegang beberapa rekor, di an-
taranya sebagai hewan bergigi ter-
besar dan hewan dengan volume
otak terbesar di antara semua hewan
yang hidup saat ini. Di samping itu,
sperm whale juga memperoleh gelar
penyelam terdalam di dunia. Mereka
dapat menyelam hingga kedalaman
tiga kilometer untuk memburu mang-
sanya. Panjang tubuh sperm whale
jantan yang sudah dewasa mencapai
20,5 meter. Hidupnya diatur dalam
kelompok-kelompok. Kelompok in-
duk dan anak-anaknya terpisah dari
kelompok jantan dewasa. Para induk
bergotong-royong melindungi anak-
anak mereka. Seekor paus betina
melahirkan anaknya dalam rentang
tiga sampai enam tahun sekali. Anak-
anak sperm whale dipelihara induknya
sampai usia 10 tahun. Paus ini dapat
ditemukan hidup di semua lautan di
dunia.
Migrasi Hewan Darat di Afrika
Beberapa jenis mamalia yang hidup
di Afrika juga melakukan migrasi ta-
hunan. Di antara mereka ada wil-
debeest dari jenis black wildebeest
(Connochaetes gnou) dan blue wilde-
beest (Connochaetes taurinus). Tinggi
bahu wildebeest dewasa sekitar 1,2–
1,5 meter, dan bobot mencapai 270 kg.
Mereka mampu bertahan hidup rata-
rata selama 20 tahun, meski dalam
kondisi tertentu dapat mencapai 30
tahun.
Wildebeest terkenal sebab mi-
grasinya yang melibatkan sampai ra-
tusan ribu ekor. Penelitian memper-
lihatkan bahwa hewan ini memiliki
kecerdikan yang dikategorikan ke
dalam “swarm intelligence”, sebuah
tindakan eksplorasi secara sistematis
tentang suatu masalah yang lalu
dipecahkan untuk keuntungan bersa-
ma. Wildebeest biasanya bermigrasi
bersama-sama dengan banyak mama-
lia lainnya, seperti zebra dan berbagai
jenis rusa.
Migrasi Ikan
Ikan bermigrasi dalam beberapa
cara. Ada jenis-jenis yang bermigrasi
secara vertikal, dari dasar perairan
ke permukaan air, dan ada yang hori-
sontal, baik di lautan, di perairan
air tawar, atau di kedua tempat ini.
Waktu yang mereka perlukan untuk
bermigrasi juga beragam; ada yang
butuh waktu lama, dan ada pula yang
bermigrasi dalam rentang harian. Pada
migrasi horisontal dikenal pola migrasi
yang terjadi hanya di air tawar, di air
laut saja, dan ada pula yang dilakukan
dari air laut ke air tawar untuk bertelur.
Migrasi yang terakhir ini misalnya dila-
kukan oleh jenis-jenis ikan salmon.
Ada pula migrasi horisontal yang dila-
kukan sebaliknya, seperti dilakukan
oleh kelompok jenis-jenis ikan sidat.
Migrasi besar banyak dilakukan
oleh jenis ikan yang hidup di laut,
seperti jenis-jenis ikan yang masuk
dalam kelompok tuna dan cakalang
(antara lain albacore, bluefin tuna, dan
lainnya), ikan layaran (sailfish), marlin,
ikan hiu dan lain-lain. Alasan migrasi
umumnya sama dengan hewan lain-
nya, yaitu mencari keberadaan pakan
dan tempat berkembang biak.
Ada ikan-ikan yang bermigrasi
bolak-balik antara air tawar dan air laut.
Migrasinya tidak berkait sama sekali
dengan urusan perkembangbiakan.
Mi-grasi ini misalnya dilakukan oleh
jenis ikan hiu kelompok bull shark
(Carcharhinus leucas) yang hidup di
Danau Nikaragua (Amerika Selatan)
dan Danau Zambesi (Afrika). Mereka
bermigrasi bolak-balik antara Danau
Nikaragua dan Samudra Atlantik, dan
bolak-balik dari Danau Zambesi ke Sa-
mudra Hindia.
Pengetahuan tentang migrasi
ikan sangat penting, terutama ikan-
ikan yang memiliki nilai komersial
tinggi. Berbagai modeling dalam mi-
grasi ikan dikembangkan dan dikait-
kan dengan aturan penangkapan se-
cara internasional agar tidak terjadi
penangkapan yang berlebihan, sehing-
ga membahayakan populasinya.
Uraian di atas masih menyisakan
pertanyaan yang perlu dijawab, yakni
faktor apa saja yang menentukan
migrasi, dan kapan waktu migrasi
dilakukan. Para peneliti menyatakan
bahwa tiap individu memiliki “body
clock” yang membantu mereka me-
ngenali dan mengetahui waktu dalam
pergantian musim. Mereka akan segera
bermigrasi begitu jam di tubuhnya itu
berdering. Hebatnya jam itu berdering
secara bersamaan dalam satu waktu
tertentu. Sampai di sini muncul lagi
pertanyaan-pertanyaan lain, seperti
bagaimana bentuk jam tubuh ini;
dimana posisi tepatnya dalam tubuh;
a p a k a h s e m u a
jenis memiliki jam
itu; apa yang ter-
jadi jika jam itu
tidak bekerja de-
ngan benar; dan sete-
rusnya.
Jam tubuh ini diper-
caya bukanlah jam kha-
yalan, namun suatu sistem
yang sengaja Allah ciptakan dalam
tubuh mereka. Tidak terlalu berlebihan
bila keyakinan adanya sistem yang
demikian ini dikaitkan dengan ayat
berikut.
suatu bunyi. Bunyi-bunyi yang sudah
disepakati artinya lantas digabungkan
dalam susunan yang tepat untuk
menjadi kalimat, yang pada tahap
selanjutnya akan membentuk suatu
bahasa. Bahasa dari satu kelompok
warga dengan warga di
tempat lain dapat sangat berlainan,
akan namun tidak demikian halnya de-
ngan hewan.
Bahasa diduga sudah dipakai
manusia sekitar 45.000 tahun SM.
Daerah yang disinyalir sebagai tempat
pertama munculnya bahasa yaitu
kawasan yang sekarang masuk wilayah
negara Iran. Jumlah bahasa di dunia
dipercaya berkisar di angka 6.000.
Di Indonesia sendiri ada sekitar 370
suku bangsa, dan hampir seluruhnya
memiliki bahasa sendiri. Perbedaan
lidah (dalam artian bahasa) diuraikan
dalam salah satu ayat Allah,
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan,
Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama
yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih
kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Maha-
bijaksana. (al-Ĥasyr/59: 24)
B. SISTEM KOMUNIKASI
PADA HEWAN
Kata komunikasi berarti pengiriman
atau penerimaan pesan atau berita
antara dua pihak atau lebih sehingga
pesan atau berita yang dimaksud dapat
dipahami. Manusia berkomunikasi de-
ngan suara dan bahasa tubuh. Suara
dibentuk sedemikian rupa sehingga
muncullah bahasa. Untuk dapat menge-
luarkan bunyi yang berbeda-beda,
atau yang disebut berbicara, manusia
memiliki banyak organ yang saling
berkaitan satu dengan lainnya, seperti
bibir, mulut secara keseluruhan, paru-
paru, kerongkongan, dan pita suara.
Manusia dapat berkomunikasi
dengan berbicara sesudah seluruh
warga menyepakati arti dari
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan
bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada
yang demikan itu benar-benar ada tanda-
tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (ar-
Rūm/30: 22)
Berbicara yaitu suatu kegiatan
yang sangat kompleks. Ia dimulai de-
ngan perasaan yang mendorong untuk
mengucapkan suatu maksud. Perasaan
itu lalu berpindah, entah bagai-
mana, ke otak kiri, demikian kata para
pakar. Dada lalu mendorong
udara di dalamnya dalam jumlah ter-
tentu melalui tenggorokan. Udara
akan mencapai pita suara yang amat
kompleks, sehingga pita suara itu
menghasilkan bunyi sebagaimana di-
perintahkan oleh otak: nyaring atau
berbisik, panjang atau pendek, tekan-
an pada bunyi tertentu, dan lain-lain.
Selanjutnya bergeraklah bibir, lidah,
rahang, serta alat bantu ucap lainnya.
Sesudah itu, juga sesudah mengalami
proses yang rumit, bunyi yang dike-
luarkannya dapat dipahami oleh mitra
bicara. Semua dilakukan tanpa sadar,
dan pembicara sendiri pun tidak tahu
betul bagaimana itu terjadi.
Dalam bidang biologi, bahasa
dan sistem komunikasi hampir mirip.
Definisi bahasa yang resmi telah dibe-
rikan oleh para ahli linguistik, akan
namun kata bahasa banyak dipakai
bukan dalam bentuk “bahasa yang
benar”, seperti bahasa tubuh, bahasa
pemrograman dalam ilmu komputer,
dan selanjutnya. Dalam dunia biologi
juga dikenal kata bahasa untuk meng-
ekspresikan sistem komunikasi, misal-
nya bahasa burung, bahasa tarian
lebah, dan sebagainya.
Dengan uraian di atas dapat
disetujui bahwa kata bahasa dalam
artian informal yaitu suatu sistem
komunikasi. Apakah lumba-lumba,
misalnya, punya bahasa atau sistem
komunikasi? Jawabannya yaitu ya.
jika demikian maka semua makh-
luk hidup memiliki bahasa, seperti
burung, kera, kupu-kupu, semut,
bahkan bakteri. Mereka memiliki
cara untuk memberitahukan sesuatu
kepada jenisnya dengan berbagai cara
yang mereka kuasai, bahkan antarjenis.
Bunga, misalnya, dapat berkomunikasi
(misal dengan warna dan bau) tentang
tingkat kesiapan penyerbuknya de-
ngan kelelawar, kupu-kupu, lebah,
lalat, dan sebagainya. Sel dalam tubuh
manusia yang masing-masing mem-
punyai fungsi yang berbeda-beda
dan harus saling kerja sama tentunya
memiliki suatu sistem untuk ber-
komunikasi. Untuk hal ini, suatu sistem
sinyal kimiawi dipakai untuk ber-
komunikasi antarsel yang sama, sel
lain yang berdekatan, maupun sel
lain yang letaknya berjauhan. Tanpa
adanya komunikasi itu tidak akan ada
tubuh seperti yang manusia kenal saat
ini.
Ada satu ayat dalam Al-Qur'an
yang memperlihatkan adanya komu-
nikasi daam dunia hewan. Ayat terse-
but yaitu firman Allah,
365Perikehidupan Hewan
Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya
dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris
dengan tertib. Hingga saat mereka sampai di
lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai
semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarang-
mu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala
tentaranya, sedang mereka tidak menyadari.”
(an-Naml/27: 17–18)
Ayat ini sedang menggambarkan
sistem komunikasi di antara semut,
yang sangat mungkin memakai
bahan yang bersifat kimiawi. Belum
lama ini manusia baru dapat memahami
bahwa semut, begitu pula banyak jenis
hewan lainnya, melakukan komunikasi
antarindividu jenis dengan berbagai
cara, di antaranya dengan feromon,
suatu hormon yang mengeluarkan
bau dan dihasilkan oleh satu atau lebih
kelenjar pada tubuhnya. Bila seekor
serangga, misalnya, mengeluarkan
feromon, maka serangga sejenis lain-
nya akan menerimanya dengan cara
mencium baunya atau menyentuhnya,
dan bereaksi sesuai dengan maksud
dikeluarkannya hormon ini .
Feromon banyak dikenal dalam
kaitan dengan urusan kawin pada dunia
hewan. Hewan betina akan mempro-
duksi feromon untuk “mengiklankan”
bahwa dirinya sudah siap kawin.
Hewan jantan akan menciumnya dan
segara menghampiri betinanya. Se-
nyawa kimia yaitu salah satu bahan
yang dipakai hewan untuk ber-
komunikasi. Komunikasi juga dapat
hewan lakukan dengan bersentuhan
langsung, dengan mengunakan suara,
dan juga dengan ekspresi dalam ben-
tuk warna. Berkomunikasi dengan
suara banyak ditemukan pada burung
dan kelompok kera, sedang ko-
munikasi dengan warna seringkali di-
temukan pada cumi-cumi karang.
Komunikasi dengan Feromon
Feromon yaitu substansi kimia yang
dilepaskan suatu organisme ke ling-
kungannya yang memampukan orga-
nisme itu berkomunikasi secara intra-
spesifik dengan individu lain. Feromon
diproduksi sebagai cairan maupun
substansi yang menguap di udara.
Feromon terdiri dari asam-asam
lemak tak jenuh. Senyawa kimia de-
ngan berat molekul rendah seperti
ester, alkohol, aldehida, ketone,
epoxida, laktone, hidrokarbon, dan
sesquiterpene yaitu komponen
umum dalam feromon. Sintesis fero-
mon dapat terjadi sepanjang hidup
hewan, namun pengeluarannya hanya
terjadi pada saat-saat tertentu sesuai
kondisi lingkungan dan fisiologi he-
wan ini . berdasar fungsi atau
tingkah laku yang ditunjukkan oleh
penerima, feromon dibagi atas fero-
mon seks, feromon agregasi, feromon
alarm, feromon penanda jejak, dan fe-
romon penanda lokasi.
Dalam dunia hewan, feromon
tidak saja dikeluarkan dalam rangka
menarik lawan jenis untuk kawin,
tapi juga untuk banyak keperluan
lain. Feromon tanda bahaya misalnya
dilepaskan oleh kutu daun atau aphid,
saat tubuhnya dihancurkan. Sinyal ini
akan membuat aphid di sekitarnya lari
menjauh. Ada pula feromon penanda
kawasan yang ditinggalkan kucing saat
menggosok-gosokkan lehernya di kaki
manusia. Tanda ini mereka tinggalkan
untuk memberi tahu kucing lainnya
milik siapa manusia ini . Sama
halnya dengan anjing, sebenarnya ti-
dak ada keharusan bagi anjing untuk
kencing pada jarak pendek tertentu
sebab hal-hal yang bersifat fisiologis.
Mereka melakukannya dengan maksud
menandai kawasan yang dikuasainya.
Ada pula feromon penanda kelompok.
Feromon yang ada pada serangga
ini sangat spesifik sehingga kelompok
lain dari jenis yang sama tidak dapat
masuk ke sarang yang salah. Feromon
pemanggil dimiliki oleh semut. Saat
seekor semut menemukan mangsa
hidup, misalnya belalang, maka semut
itu akan menyerang belalang dengan
memakai sengatnya. Bau yang
keluar dari sengat itu menjadi pertanda
bagi semut pekerja lainnya akan ada-
nya makanan di lokasi tertentu.
Feromon yaitu bau yang bera-
sal dari bahan kimia, yang dikeluarkan
untuk memperoleh respons sosial dari
anggota yang sejenis. Feromon yaitu
bahan kimia yang mampu merangsang
si penerima untuk berperilaku sebagai-
mana yang diinginkan oleh individu
yang mengeluarkannya. pemakaian
feromon pada serangga cukup banyak
dicatat oleh para peneliti. Sebagai
tambahan, banyak hewan bertulang
belakang dan tumbuhan yang juga
berkomunikasi memakai feromon.
Lebah madu yaitu kelompok hewan
yang memiliki sistem komunikasi de-
ngan feromon yang paling kompleks.
Ditemukan ada 15 kelenjar dalam
tubuh lebah yang memproduksi ber-
bagai senyawa kimia sebagai bahan
feromon.
Kata feromon (bahasa Inggris:
pheromone) diperkenalkan oleh dua
orang peneliti, Peter Karlson dan
Martin Luscher, pada 1959. Kata ini
berasal dari bahasa Yunani, pherein
yang berarti memindahkan atau men-
transportasi, dan hormone yang berarti
merangsang. Feromon juga kadang
dikategorikan sebagai ecto hormones,
hormon yang berfungsi di luar tubuh.
Secara garis besar, feromon dibagi
dalam dua kelompok besar, yaitu
Feromon Releaser (Realeaser Phero-
mones) dan Feromon Primer (Primary
Phermonones). Feromon Primer ber-
367Perikehidupan Hewan
peran mengubah tatanan fisiologi
dari penerima, serta memiliki
pengaruh untuk waktu yang lama.
Feromon ini dikeluarkan oleh misalnya
induk kelinci yang mengakibatkan
kelinci muda berperilaku seperti
anak kelinci. Sementara itu, feromon
Releaser mengubah perilaku si pene-
rima dalam waktu singkat. Feromon
releaser hanya memiliki pengaruh
sebentar saja. Feromon semacam ini
umumnya amat kuat, namun tidak
bertahan lama, sehingga memerlukan
respons yang sangat cepat. Feromon
releaser misalnya feromon seks untuk
“memanggil” lawan jenisnya yang ber-
jarak satu atau dua kilometer.
Feromon berfungsi pada hewan
dengan ukuran besar tertentu, sebab
untuk biasa efektif feromon yang
dihasilkan individu haruslah cukup
banyak. Pada hewan berukuran kecil,
pemakaian feromon menjadi kurang
efektif sebab produksinya yang sedi-
kit akan cepat menguap, sedang
produksinya sangat lambat dan jum-
lahnya kecil. Bakteri, misalnya, tidak
memakai feromon untuk keper-
luan kawin, meski mereka masih meng-
gunakannya untuk keperluan lain, se-
perti mengatur kepadatan populasi.
Hewan kecil yang hidup di air, rotifera,
juga demikian. Rotifera betina terlalu
kecil untuk dapat meninggalkan jejak
kimiawi untuk diikuti pejantan. Se-
mentara itu, hewan yang berukuran
sedikit lebih besar, copepoda, betina-
nya dapat meninggalkan jejak feromon
yang dapat diikuti oleh hewan pejan-
tannya.
Rotifera yaitu hewan renik
yang hidup di perairan tawar (danau,
sungai, situ, kolam) dan tanah yang
basah. Pada tanah basah, mereka
hidup di dalam air yang ada di antara
partikel tanah. Hewan ini juga dapat
ditemukan hidup pada lumut yang
tumbuh di tempat lembap, seperti
di pangkal pohon di dalam hutan.
Ukuran tubuhnya sangat kecil, hanya
sekitar 200 mikrometer. Tubuhnya
transparan. jika ada warna, hal ini
lebih disebabkan oleh warna saluran
makanannya. Mereka bergerak dengan
cara berenang pada kolom air atau
berjalan di substrat padat. Individu
jantan hewan ini umumnya lebih kecil
dari betina.
Copepoda yaitu udang renik,
ditemukan hidup di perairan laut
maupun air tawar. Dari 10.000 jenis
yang sudah diketahui, sebagian besar
hidup di lautan. Mereka ditemukan
berenang pada kolom air atau me-
nempel pada dasar laut, rumput laut,
atau benda lain. Jenis yang hidup di
air tawar juga ditemukan hidup pada
lantai hutan yang basah. Ukuran tu-
buhnya juga sangat kecil, berkisar
antara 0,5–2 mm.
feromon untuk kawin hanya dihasilkan
oleh individu betina, dan hanya sedikit
yang dihasilkan oleh individu jantan.
Feromon agregasi banyak dite-
mukan pada serangga, seperti ke-
lompok kumbang (Coleoptera), ke-
pik (Hemiptera), belalang sembah
(Dyctioptera) dan belalang (Orthop-
tera). Feromon pengumpul saat ini
banyak dipakai dalam menanggu-
langi serangan hama kumbang pada
lumbung padi/beras dan jagung, yang
dikenal dengan nama kutu beras (Sito-
philus oryzae) dan kutu jagung (Sito-
Beberapa jenis feromon yang
ada pada hewan diuraikan berikut.
1. Feromon Agregasi
Feromon Agregasi (bahasa Inggris:
Aggregation pheromones dan Recruit-
ment Pheromones) berfungsi mengum-
pulkan individu jenis bagi beberapa
keperluan, seperti pertahanan terha-
dap predator dan seleksi untuk kawin.
Feromon yang dihasilkan oleh individu
jantan yaitu feromon agregasi, ka-
rena hasil dari pelepasan feromon
akan mendatangkan baik individu ja-
ntan maupun betina bersama-sama
ke lokasi pemanggilan. Sementara itu,
philus zeamae). Hal ini juga dilakukan
pada penyimpanan biji-bijian lainnya,
seperti kedelai, kacang hijau, dan se-
jenisnya. pemakaian feromon agre-
gasi dalam membasmi hama bahan
makanan di atas dipandang sebagai
cara yang paling ekologis, selektif,
aman, tidak beracun, sehingga tidak
membahayakan kesehatan. Cara ini
juga dianggap efektif sebab penang-
gulan hama pada skala cukup besar
bisa dilakukan dengan memakai
konsentrasi bahan yang sangat kecil.
Feromon Alarm (Alarm Phero-
mones) berfungsi sebagai sinyal tanda
bahaya. Pada kutu daun (aphid), sinyal
ini berarti “lari” untuk semua kutu
daun lainnya yang tidak diserang.
Adapun pada kelompok hewan lain,
seperti semut, lebah, atau rayap, sinyal
itu berarti sebaliknya, “serang”. Sinyal
semacam ini juga ada pada tanaman.
Produksinya berkaitan dengan produk-
si tanin pada tanaman lain yang ada
di sekitarnya. Dengan kadar tanin itu
rasa pahit yang dihasilkannya akan
mengurangi selera makan hewan yang
memakannya.
Lebah madu pekerja diketahui
menghasilkan dua jenis feromon alarm.
Pertama, feromon yang dihasilkan
oleh kelenjar yang terletak di dekat
alat sengat. Feromon ini diidentifikasi
terdiri atas lebih dari 40 senyawa
kimia, termasuk isopentyl acetate
(IPA), butyl acetate, 1-hexanol, n-bu-
tanol, 1-octanol, hexyl acetate, octyl
acetate, n-pentyl acetate, dan 2-nona-
nol. Feromon ini dilepaskan saat le-
bah pekerja menyengat hewan lain,
dan akan menarik lebah madu lain
untuk datang ke tempat peristiwa itu.
Feromon alarm ini memiliki titik
lemah; ia akan hilang akibat adanya
asap. Itulah sebabnya warga men-
dekatkan asap ke sarang lebah saat
memanen madu liar. Kedua, feromon
alarm yang dihasilkan oleh kelenjar
di sekitar rahang. Feromon ini meru-
pakan campuran antara senyawa 2-hep-
tanone. Senyawa ini memiliki
efek repellent yang dipakainya untuk
mengusir musuh potensialnya. Kan-
dungan senyawa ini meningkat seiring
bertambahnya umur, dan lebah pe-
ngumpul nektar yaitu yang paling
banyak menghasilkan feromon ini.
Feromon lain, Epideitic Pheromo-
nes, memiliki fungsi yang mirip dengan
feromon yang menandai kawasan ke-
kuasaan. Feromon ini dipakai oleh
serangga betina untuk menandai loka-
si telurnya. Tanda ini memberitahu
betina lainnya agar tidak bertelur di
dekat tempat yang telah diberi tanda.
2. Feromon Penanda Lokasi
(Territorial Pheromones)
Feromon ini menandai batas-
batas kawasan yang dikuasai individu
penghasil feromon ini. Informasi ter-
sebut ditujukkan hanya kepada individu
lain yang sejenis, yang menyatakan
eksistensi individu penanda di sekitar
tempat itu. Pada anjing atau kucing,
hormon ini ada pada air seninya.
Urin kucing, terutama kucing jantan,
memiliki unsur feromon 3-mercapto-
3-methylbutan-1-ol (MMB), suatu se-
nyawa yang membuat urin kucing
memiliki bau yang khas. Pada bebera-
pa burung laut, penanda ini dipakai
untuk menciri sarangnya yang terletak
di antara sekian ratus sarang lainnya
saat musim bertelur. Feromon ini juga
dikenal sebagai Information Pheromo-
nes.
Lebah juga menghasilkan fero-
mon penanda semacam ini (Footprint
pheromones) yang dipakai nya un-
tuk menciri bunga-bunga yang pernah
dikunjungi. Dengan cara ini lebah lain
akan menghindari bunga yang sudah
diberi tanda, sehingga kerja lebah
menjadi sangat efisien. Penanda se-
rupa juga diberikan oleh ratu lebah
untuk mencegah para pekerja mem-
buat “rumah” bagi ratu. Dengan cara
ini ratu mencegah “pengadaan” ratu
baru yang akan mengakibatkan peme-
cahan sarang (sebab dalam satu
sarang hanya ada satu ratu lebah).
Produksi feromon penanda ini akan
berkurang dan hilang sejalan dengan
menuanya ratu lebah.
3. Feromon Penanda Jejak
(Trail Pheromones)
Feromon ini umum dipakai
oleh serangga-serangga sosial, seperti
semut. Tanda ini akan menarik semut
dari jenisnya sendiri untuk mengikuti
tanda itu menuju sumber makanan.
Semut tertentu juga mengeluarkan
feromon ini untuk menandai jalan
pada saat kembali ke sarang. saat
kembali ke sarang dengan membawa
makanan, mereka memperbarui jejak
feromon yang sudah mengabur de-
ngan mendeposit feromon baru. Fe-
romon harus cepat diperbarui sebab
bahan kimia ini akan menguap dengan
cepat. Seiring berjalannya waktu,
saat sumber makanan makin menipis,
penandaan jalan juga semakin sedi-
kit. Beberapa jenis semut, dalam ke-
adaan demikian, menandai dengan
feromon lain (repellent pheromones),
yang memberi sinyal bahwa deposit
makanan tinggal sedikit lagi.
Dalam kaitan dengan feromon
penanda jejak, ada suatu fenomena
yang dinamakan Ant Mill. Fenomena
ini dimulai saat semut tentara, sebab
sesuatu sebab, melepaskan diri dari
kelompok utama yang dipandu fero-
mon, dan mulai mengikuti satu sama
lain secara acak. Umumnya, di akhir
kebingungan ini terlihat suatu baris-
an yang membentuk lingkaran luas
yang berputar terus-menerus. Pada
akhirnya semut yang ikut dalam pro-
ses ini akan mati sebab kelelahan.
Fenomena ini diduga efek dari adopsi
struktur mengorganisasi sendiri (self-
organization structure) dari koloni se-
mut. Situasi Ant Mill pernah juga dijum-
pai pada beberapa jenis ulat dan ikan.
4. Feromon Seks
(Sex Pheromones)
Feromon seks menandai keha-
diran hewan betina yang sudah siap
kawin. Hewan jantan juga dapat me-
lepaskan feromon semacam ini untuk
mengabarkan kehadirannya di wilayah
itu, serta kondisi genotipenya. Pada
tingkat mikroskopis, udang renik
copepoda jantan dapat mengikuti
feromon tiga dimensi yang dilepas
oleh copepoda betina saat berenang
di perairan. Keadaan demikian juga
dilakukan oleh gamet (sel reproduksi)
yang dilepas di perairan. Gamet jantan
mengikuti petunjuk untuk bertemu
gamet betina dan melakukan fertilisasi.
Timun laut juga memakai fero-
mon yang merangsang timun laut
lainnya untuk melepaskan sel-sel re-
produksinya secara bersama-sama ke
perairan.
Banyak jenis serangga menggu-
nakan feromon seks untuk menarik
lawan jenisnya. Beberapa jenis kupu-
kupu dapat mendeketeksi lawan jenis
yang potensil dari jarak sampai 10 km.
Sedikit berbeda kejadiannya dengan
lebah; lebah jantan memiliki feromon
seks yang khas, dan berperan untuk
mengumpulkan lebah jantan lainnya
untuk mengawini ratu lebah.
Feromon seks dipakai petani
untuk menjerat serangga hama dalam
usaha memonitor dan menanggulangi
serangan hama. Cara ini juga dilakukan
untuk menanggulangi serangan ha-
ma kumbang kelapa (Oryctes rhino-
ceros). pemakaian feromon dalam
pengendalian hama dapat mengurangi
pemakaian insektisida, sehingga keru-
sakan lingkungan dapat dicegah. Di
samping itu, feromon dapat dipakai
untuk mengevaluasi keberhasilan peng-
gunaan virus di lokasi-lokasi pelepasan
virus untuk mengendalikan jenis hama
serangga tertentu.
Tipe feromon lain yang dike-
nali ada pada kelompok lebah ada-
lah feromon yang dipakai untuk
menandai anak asuh (Brood Recog-
nition Pheromone). Feromon ini ada
pada lebah pekerja, yang dipakai nya
untuk membedakan larva dan anakan
lebah. Hal ini diperlukan oleh lebah
pengasuh agar tidak salah dalam
memberi makan. Tipe feromon lain
(Dufour’s Pheromone dan Egg Marking
Pheromone) dihasilkan oleh ratu lebah
di saluran telur. Feromon ini berfungsi
menandai telur yang dihasilkannya.
Akibatnya, telur ini akan lebih menarik
bagi lebah pekerja (untuk lebih diper-
hatikan dan dipelihara), daripada telur
yang dihasilkan oleh lebah pekerja.
Ada juga feromon yang dipro-
duksi lebah pengumpul nektar yang
berfungsi sebagai pengatur orien-
tasi kelompok. Feromon lain yang
dilepaskannya berperan untuk men-
cegah lebah muda yang bertugas
sebagai pengurus rumah tangga be-
rubah terlalu cepat menjadi lebah
pengumpul nektar. Seperti dijelaskan
sebelumnya, ada tingkat-tingkat
pekerjaan pada lebah pekerja sepan-
jang hidupnya yang berlangsung seki-
tar enam minggu. Lebah pekerja,
yang semuanya berkelamin betina,
mula-mula bekerja mengurus rumah
tangga (selama 3 minggu). Lepas
dari tugas ini mereka beralih tugas
menjadi lebah penjaga. Pada minggu
ketiga sebagai lebah penjaga, mereka
mulai bertugas untuk mengumpulkan
nektar dan benangsari sebagai ma-
kanan. Pada tingkat inilah mereka
memiliki bahan kimia ethyl oleate di
dalam perutnya. Bahan ini mencegah
lebah pengurus rumah menunda ke-
dewasaannya dan menjadi pengum-
pul nektar. Penundaan ini bertujuan
menjaga rasio lebah peng-urus rumah
tangga dan pengumpul nektar agar
tetap efisien dan menguntungkan bagi
kehidupan lebah di sarang.
Feromon lain pada lebah yang
cukup penting yaitu feromon yang
dihasilkan ratu lebah yang dinamai
QMP (Queen Mandibular Pheromone).
Feromon ini mempengaruhi perilaku
sosial kelompok, mengatur kehidupan
di sarang, perilaku kawin dan kandung
telur, serta memproduksi lebah pe-
kerja. Bahan kimia utamanya yaitu
asam carboxylic dan senyawa aroma-
tik. Senyawa yang penting di dalamnya
yaitu :
• (E)-9-oxodec-2-enoic acid (9-ODA)
yang berperan dalam pertum-
buhan kandung telur untuk mem-
produksi lebah pekerja, merang-
sang datangnya lebah jantan
saat terjadi perpindahan sarang,
serta mendorong pekerja untuk
memperhatikan ratu;
• (R,E)-(-)-9-hydroxy-2-enoic acid (9-
HDA) yang berperan menenangkan
kelompok;
• (S,E)-(+)-9-HAD;Methyl-phydroxy-
benzoate (HOB); dan 4-hydroxy-3-
methoxy phenylethanol (HVA)
Feromon lainnya yang dihasilkan
ratu lebah yaitu QRP (Queen reti-nue
pheromone) yang merupakan kom-
binasi antara 5 senyawa QMP dan 4
senyawa lainnya (metil oleate: methyl
(Z)-octadec-9-enoate ; coniferyl alcohol:
(E)-3-(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)-
prop-2-en-1-ol; hexadecan-1-ol; dan asam
linolenic (Z9,Z12,Z15)-octadeca-9,12,15-
trienoic acid)
Komunikasi secara Bersentuhan
Pada serangga sosial, seperti semut,
interaksi antarindividu sangat penting
dalam pengelolaan koloni. Hasil inter-
aksi dapat dipakai sebagai bahan per-
timbangan dalam pengambilan ke-
putusan dan menentukan tindakan
selanjutnya. Pada saat berinteraksi,
bagian sungut dan kaki depan mereka
saling bersentuhan. Pada saat itulah
diduga terjadi komunikasi mengguna-
kan gelombang radio di antara kedua-
nya. Dugaan ini muncul sebab adanya
kandungan magnet pada sungut se-
rangga.
saat terjadi transfer makanan,
misalnya, ditemukan adanya perbe-
daan jumlah sentuhan sungut dan kaki
depan serangga penerima, tergantung
pada kualitas dan jumlah makanan
yang ditransfer. Jumlah sentuhan akan
bertambah seiring makin tingginya
kualitas dan jumlah makanan. Keber-
adaan magnet kecil pada sungut
semut, ternyata juga dipakai untuk
dapat mengenal posisi lokasi. Cara
kerja magnet mirip dengan cara kerja
GPS (Global positioning System). Apa-
bila pada GPS yang dipakai manusia
mengacu pada satelit yang ada di luar
angkasa,maka pada semut, sistem GPS
nya mengacu pada mineral-mineral
yang ada di permukaan tanah.
Komunikasi secara Vokal
Bunyi atau suara yang dikeluarkan
oleh hewan yaitu salah satu cara bagi
mereka untuk berkomunikasi. Pada
dasarnya hewan memiliki pemahaman
yang sama terhadap bunyi, dan “ber-
sepakat” memahami bunyi yang “de-
mikian” berarti “demikian”. Pem-
buktian akan hal ini diperoleh dari
pene-litian selama 30 tahun terhadap
burung paruh bengkok abu-abu
Afrika (Psittacus erithacus) bernama
Alex (kependekan dari suatu proyek
bernama Avian Languange Experi-
ment, yang lalu berubah menjadi
Avian Learning Experiment). Burung
paruh bengkok yang satu ini dianggap
sebagai hewan yang paling cerdas di
dunia. Dari hasil pengamatan diperoleh
keterangan bahwa mereka dapat
mengidentifikasi objek. Mereka dapat
mengenal kunci tanpa membedakan
ukuran maupun bentuknya. Mereka
juga diketahui dapat membedakan
“besar”, “kecil”, atau “sama”, juga
mengenal arti kata “di atas” dan “di
bawah”.
Pada burung, vokalisasinya di-
bagi ke dalam panggilan (bird calls) dan
nyanyian (bird song). Nyanyian burung
yaitu suara yang terdengar memiliki
melodi di telinga manusia. Fungsi
nyanyian ini dibedakan oleh para ahli
dari panggilan. Nyanyian burung dibe-
dakan dari panggilan berdasar
perbedaan kompleksitas, lama waktu
bersuara, serta konteksnya. Nyanyian
burung umumnya lebih kompleks dan
berasosiasi dengan perilaku bercumbu
dan kawin. Adapun panggilan burung
umumnya pendek, tidak kompleks,
dan dimaksudkan sebagai peringatan
adanya predator, atau untuk mengum-
pulkan kelompok. Definisi ini terkait
dengan suara yang dikeluarkan oleh
individu burung ini , namun ada
pula peneliti yang menyatakan bahwa
bunyi yang dihasilkan burung (seperti
ketukan burung pelatuk pada pohon,
atau bunyi yang dihasilkan saat burung
mengibaskan sayapnya) juga merupa-
kan nyanyian.
Nyanyian burung berkembang
dengan baik pada kelompok burung
madu yang memiliki sekitar 320 jenis.
Burung madu berkomunikasi melalui
berbagai vokal dan gerak tubuh. saat
terjadi perkelahian antara dua burung
jantan, burung jantan yang melindungi
kawasan bertelurnya akan menusuk
sang penyusup dengan paruhnya
yang tajam. Perkelahian ini seringkali
diiringi suara beleter yang parau dan
bunyi demping dari getaran sayap yang
mengepak sangat cepat. Vokal yang
dipakai burung madu ini pada saat
perkelahian sangat bervariasi. Vokal
dasarnya yaitu bersiul, memekik,
dan menggeram. Seringkali itu diser-
tai bunyi “menghalau”, sekaligus
terdengar seperti “mengolok-olok”.
Bunyi demping tampaknya sangat ber-
pengaruh terhadap perilaku, terutama
burung betina sejenis. Burung betina
ini dapat membedakan bunyi demping
yang dihasilkan sayap dan bunyi men-
dengung yang juga menjadi bunyi
tambahan dari gerakan sayap.
Beberapa jenis burung bernyanyi
saat hinggap, sedang beberapa
jenis lainnya dapat ditemui bernyanyi
saat terbang. Beberapa kelompok
lainnya hampir tidak pernah bersuara,
kecuali mengeluarkan bunyi alat musik
pukul yang ritmik. Bunyi demikian
ditemui pada burung bangau yang
memukulkan kedua bilah paruhnya.
Komunikasi pada burung tampaknya
tidak saja dilakukan dengan memfung-
sikan pita suara, namun juga suara lain
yang dihasilkan oleh anggota badan
lainnya. Bangau, misalnya, mengeluar-
kan bunyi dari pukulan-pukulan kedua
bilah paruhnya. Bagian tubuh lain yang
diduga dipakai untuk komunikasi
yaitu sayap, kaki, dan bulu.
Hewan lain yang banyak dibica-
rakan terkait kemampuan komuni-
kasinya dengan memakai suara
yaitu anjing prairie (prairie dog).
Hewan ini disebut anjing, namun pada
dasarnya masuk ke dalam kelompok
hewan pengerat, seperti halnya tikus.
Postur tubuhnya sama sekali tidak
memperlihatkan bentuk anjing seperti
yang kita kenal. Anjing prairie diper-
kirakan dapat mengeluarkan sekitar
100 bunyi atau “kata”, jumlah yang
lebih tinggi bila dibandingkan dengan
kemampuan lumba-lumba maupun
kera. Dari penelitian diketahui bahwa
untuk memberikan peringatan, hewan
ini dapat membedakan beberapa jenis
hewan dengan bunyinya yang spesifik.
Bunyi anjing liar berbeda dari bunyi
yang dihasilkan anjing peliharaan, dan
berbeda pula dari bunyi burung elang
atau manusia. Ini diekspresikan dalam
perbedaan tinggi rendahnya bunyi
serta interval waktu dari cericitnya.
Dalam bahasa manusia, “bahasa anjing
prairie” mirip dengan bahasa Cina atau
suku Indian Navayo di Amerika Serikat.
Pada bahasa-bahasa ini, perubahan
tone menunjukkan arti yang berbeda
pula.
Salah satunya anjing prairie yang
banyak diteliti yaitu anjing prairie
berekor hitam (Cynomys ludovicianus).
Jenis ini memiliki tinggi 30 cm saat
berdiri, dengan berat sekitar 1 kg.
Walau berukuran kecil, hewan ini me-
miliki andil yang menentukan dalam
ekosistem padang rumput di Amerika
Utara. Mereka membangun saluran
liang yang kompleks. Lubang keluar-
masuknya liang berada pada timbun-
an tanah yang meninggi. Posisi ini
sangat tepat untuk berjaga-jaga dari
datangnya pemangsa. Kelompok kelu-
arga hewan ini terdiri dari seekor jan-
tan, beberapa ekor betina, dan anak-
anak mereka.
Anjing prairie kawin pada bulan
Maret, dan melahirkan antara tiga atau
empat anak pada bulan April atau Mei.
Untuk satu sampai dua bulan, anakan
dipelihara induknya. sesudah itu, anak-
anak anjing prairie menjadi tanggung-
an kelompok secara komunal. Bekerja
dalam suatu jaringan sosial, mereka
berkomunikasi dengan menyalak dan
mencicit. Begitu hewan pemangsa
mendekat, mereka yang berada di luar
lubang tidak berusaha segera masuk
lubang. Mereka menyalak terus-me-
nerus un



