delusi tuhan 5

Tampilkan postingan dengan label delusi tuhan 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label delusi tuhan 5. Tampilkan semua postingan

delusi tuhan 5



  mengalaminya. Tetapi sekaligus argumen 

paling tidak meyakinkan bagi siapa pun yang lain, dan siapa pun yang sedikit tahu tentang 

psikologi. 

  Kata Anda, Anda pernah langsung mengalami pencipta ? Ada juga orang yang pernah 

mengalami seekor gajah merah muda, tetapi mungkin itu tidak mengesankan bagi Anda. Peter 

Sutcliffe, si Yorkshire Ripper, dengan jelas mendengar suara junjungan kristen   menyuruhnya untuk 

membunuh perempuan, dan dia dipenjarakan seumur hidup. George W. Bush berkata bahwa 

pencipta  menyuruhnya untuk menyerbu Irak (sayangnya pencipta  tidak memberinya wahyu bahwa 

tidak ada senjata pemusnah massal di sana). Individu-individu di rumah sakit jiwa berpikir 

bahwa mereka Napoleon atau Charlie Chaplin, atau bahwa seluruh dunia bersekongkol untuk 

menjatuhkannya, atau bahwa mereka bisa menyiarkan pemikirannya ke dalam otak orang lain. 

Kita menghibur mereka tetapi tidak menganggap kepercayaan batin mereka serius, terutama 

karena tidak ada banyak orang yang setuju. Pengalaman religius hanya berbeda karena ada bayak 

orang yang mengklaimnya. Sam Harris tidak terlalu sinis ketika dia menulis, dalam The End of 

Faith: 

   

Ada beberapa nama untuk orang yang memiliki banyak kepercayaan yang 

untuknya tidak ada pembenaran rasional. Ketika kepercayaan itu sangat lazim 

kita menyebut mereka ‘religius’; jika tidak, mereka mungkin akan disebut 

‘gila’, ‘psikotik’, atau ‘berkhayal’ ...Tentu ada kewarasan bersama orang 

banyak. Namun, fakta bahwa di masyarakat kita, memercayai bahwa Pencipta 

alam semesta dapat mendengar pemikiran kita dianggap biasa merupakan suatu 

konsekuensi sejarah kebetulan, sedangkan memercayai bahwa Pencipta itu 

berkomunikasi dengan kita melalui hujan yang tetesannya merupakan kode 

Morse di jendela kamar dianggap sebagai tanda akan kelainan jiwa. Jadi, 

kalaupun orang religius pada umumnya tidak gila, kepercayaan intinya tentu 

saja begitu. 

 

  Saya akan kembali ke subjek halusinasi di Bab 10. 

  Otak manusia menjalankan perangkat lunak simulasi kelas pertama. Mata kita tidak 

mempresentasikan kepada otak kita sebuah foto setia atas apa yang ada di luar, atau suatu video 

akurat atas apa yang terjadi dalam waktu. Otak kita membangun suatu model yang 

dimutakhirkan secara terus-menerus: dimutahirkan oleh pulsa-pulsa terkode yang bergetar 

sepanjang saraf optik, tetapi tetap dibangun. Ilusi-ilusi optis merupakan pengingat yang jelas 

sekali akan hal ini.47 Salah satu jenis utama ilusi, yang salah satu contohnya yaitu  Kubus 

Necker, muncul karena data indrawi yang diterima otak bersesuaian dengan dua model realitas 

yang berbeda. Otak, yang tidak mempunyai dasar untuk memilih salah satunya, silih berganti di 

antara kedua-duanya, dan kita mengalami seruntunan pembalikan dari satu model internal 

kepada yang lain. Gambar yang kita pandangi tampak seolah-olah membalikkan dirinya dan 

menjadi sesuatu yang lain. 

  Perangkat lunak dalam otak khususnya cakap dalam membuat wajah dan suara. Di 

ambang jendela saya, ada sebuah topeng Einstein dari plastik. Ketika dilihat dari depan, topeng 

itu tampak seperti wajah padat, yang tidak mengejutkan. Apa yang mengejutkan yaitu , ketika 

dilihat dari belakang – dari sisi yang kosong – topeng itu juga tampak seperti wajah padat, dan 

persepsi kita atasnya aneh sekali. Sambil pemandang mengelilinginya, wajah itu seolah-olah 

mengikuti – dan tidak dengan cara lemah dan tidak meyakinkan seperti konon mata Mona Lisa 

mengikuti pemandang. Topeng kosong itu benar-benar tampak seolah-olah bergerak. Orang 

yang belum pernah melihat ilusinya tersentak heran. Lebih aneh lagi, jika topeng itu dipasang di 

atas sebuah meja putar yang memutar pelan-pelan, topengya sepertinya berputar ke arah yang 

benar ketika dilihat dari sisi padat, tetapi ke arah yang terbalik ketika sisi kosong muncul. 

Hasilnya yaitu , ketika kita menonton transisi dari satu sisi ke sisi lain, sisi yang datang seolah-

olah ‘memakan’ sisi yang pergi. Ilusi ini memukau, dan Anda layak merepotkan diri untuk 

mencarinya. Terkadang Anda dapat berada dekat sekali dengan wajah yang kosong dan tetap 

tidak melihat bahwa itu ‘sebenarnya’ kosong. Ketika Anda melihatnya, sekali lagi ada 

pembalikan tiba-tiba, yang mungkin dapat dibalikkan lagi. 

  Kenapa itu terjadi? Tidak ada sulap dalam konstruksi topengnya. Topeng kosong apa pun 

akan melakukan itu. Semua penyulapannya berada dalam otak si pemandang. Perangkat lunak 

simulasi batin menerima data yang menunjukkan kehadiran sebuah wajah, barangkali tidak lebih 

dari sepasang mata, hidung dan mulut di posisi yang kira-kira benar. Ketika sudah menerima 

petunjuk kabur itu, otak menyelesaikan gambarannya. Perangkat lunak simulasi wajah menyala 

dan membuat suatu model yang seluruhnya padat atas wajah, meskipun realitas yang 

dipresentasikan kepada mata yaitu  sebuah topeng kosong. Ilusi pemutaran ke arah yang salah 

terjadi karena (ini sangat sulit, tetapi Anda dapat mengonfirmasikannya jika Anda 

memikirkannya dengan teliti) pemutaran terbalik yaitu  satu-satunya cara memahami data optis 

ketika sebuah topeng kosong berputar sambil dipersepsikan sebagai sebuah topeng padat.48 Itu 

sama seperti ilusi parabola radar berputar yang terkadang kita lihat di bandara. Sebelum otak 

pindah ke model benar atas parabola radar, suatu model keliru dilihat berputar ke arah yang salah 

tetapi dengan cara yang aneh dan tidak lurus. 

  Saya mengatakan semua ini hanya untuk mendemonstrasikan kekuatan hebat perangkat 

lunak simulasi otak. Perangkat lunak itu mampu saja membuat ‘visi’ dan ‘kunjungan’ yang 

tampak persis seperti benar-benar terjadi. Menyimulasikan hantu atau malaikat atau Perawan 

Suci Maria yaitu  hal remeh bagi perangkat lunak secanggih itu. Dan hal yang sama berlaku 

untuk pendengaran. Ketika kita mendengar suatu bunyi, bunyi itu tidak diantar dengan setia 

sepanjang saraf auditori lalu disampaikan ke otak seolah-olah oleh pengeras suara fidelitas-tinggi 

Bang & Olufsen. Sama seperti dengan penglihatan, otak membangun suatu model bunyi, 

berdasarkan data saraf auditori yang dimutakhirkan terus-menerus. Itu alasannya kita mendengar 

bunyi trompet sebagai sebuah nada tunggal, dan bukan sebagai komposit atas nada-nada 

harmonik murni yang memberi trompet itu nada menggeramnya yang khas. Sebuah klarinet yang 

menghasilkan nada yang sama terdengar ‘kekayuan’, dan obo terdengar ‘ke-reed-an’, karena 

proporsi harmonik yang berbeda. Jika Anda memanipulasikan sebuah synthesizer suara agar 

memasukkan harmonik-harmonik yang berbeda satu per satu, otak mendengarnya sebagai suatu 

kombinasi nada murni untuk waktu sebentar, sebelum perangkat lunak simulasi 

‘menangkapknya’, dan setelah itu kita hanya mengalami sebuah nada tunggal trompet atau obo 

murni, atau apa pun. Huruf vokal dan mati dalam pembicaraan dibangun dalam otak dengan cara 

yang sama, dan demikian, pada tingkat yang berbeda, dengan fonem-fonem tingkat tinggi dan 

kata-kata. 

  Suatu kali, waktu saya kecil, saya mendengar hantu: suara lelaki bergumam, seolah-olah 

sedang membacakan doa. Saya hampir bisa mengartikan kata-katanya, yang sepertinya bernada 

serius dan berat. Saya pernah mendengar cerita tentang lubang pastor di rumah-rumah kuno, dan 

saya sedikit takut. Tetapi saya bangun dari tempat tidur dan diam-diam mendekati sumber 

suaranya. Sementara saya mendekat, suara itu mengeras, lalu tiba-tiba ‘membalik’ dalam otak 

saya. Kini saya cukup dekat untuk mengartikan apa suara itu. Angin, bertiup melalui lubang 

kunci, menghasilkan bunyi-bunyi yang digunakan perangkat lunak simulasi dalam otak saya 

untuk membangun suatu model pembicaraan lelaki dengan nada serius. Seandainya saya yaitu  

anak yang lebih mudah terpengaruh, mungkin saya akan ‘mendengar’ tidak hanya tuturan yang 

tidak dapat diartikan tetapi kata-kata tertentu dan bahkan kalimat. Dan seandainya saya baik 

mudah terpengaruh maupun dibesarkan secara religius, saya bertanya kata-kata apa yang 

mungkin akan diucapkan oleh angin. 

  Pada waktu yang lain, di usia yang hampir sama, saya melihat sebuah muka raksasa 

bundar yang memandang, dengan kejahatan yang tidak dapat dideskripsikan, keluar melalui 

jendela di dalam sebuah rumah yang selain dari itu biasa di sebuah desa pesisir. Ketakutan, saya 

mendekat hingga saya bisa melihat apa muka itu sebenarnya: hanya pola yang sedikit 

menyerupai muka yang dihasilkan oleh cara gorden kebetulan terurai. Muka itu sendiri, dan air 

mukanya yang jahat, dikonstruksi dalam otak kekanak-kanakan saya yang ketakutan. Pada 11 

September 2001, orang-orang beriman mengira mereka melihat wajah Iblis dalam asap yang naik 

dari Menara Kembar: suatu takhayul yang didukung oleh sebuah fotograf yang diterbitkan di 

Internet dan tersebar luas. 

  Otak manusia sangat terampil dalam membangun model-model. Ketika kita tidur hal itu 

disebut mimpi; ketika kita sadar hal itu disebut khayalan atau, ketika luar biasa jelas, halusinasi. 

Sebagaimana akan ditunjukkan dalam Bab 10, anak-anak yang memiliki ‘teman imajinasi’ 

terkadang melihatnya dengan jelas, sama seperti jika teman itu nyata. Jika kita mudah ditipu, kita 

tidak mengenali halusinasi atau mimpi sadar sebagaimana sebenarnya dan kita mengklaim telah 

melihat atau mendengar hantu; atau malaikat; atau pencipta ; atau – terutama jika kita kebetulan 

muda, wanita, dan Katolik – Perawan Suci Maria. Visi dan manifestasi seperti itu tentu saja 

bukan alasan yang baik untuk percaya bahwa hantu atau malaikat, pencipta  atau perawan, 

sebenarnya ada. 

  Pada pandangan pertama, visi massal, seperti laporan bahwa 70 ribu peziarah di Fatima 

di Portugal pada 1917 melihat matahari ‘merobek dirinya dari langit dan menjatuhkan dirinya di 

atas orang banyak’,49 lebih sulit diabaikan. Tidak mudah menjelaskan bagaimana semua dari 70 

ribu orang itu bisa mengalami halusinasi yang sama. Tetapi lebih sulit lagi menerima bahwa hal 

itu sebenarnya terjadi tanpa seluruh dunia yang lain, di luar Fatima, melihatnya juga – dan tidak 

hanya melihatnya, tetapi merasakannya sebagai malapetaka penghancuran tata surya, termasuk 

kekuatan-kekuatan akselerasi yang cukup besar untuk melemparkan semua orang ke luar 

angkasa. Saya tidak bisa tidak teringat akan tes singkat David Hume untuk suatu keajaiban: 

‘Tidak ada kesaksian yang memadai untuk menetapkan suatu keajaiban, kecuali ciri kesaksian 

itu sedemikian rupa, sehingga kepalsuannya akan lebih ajaib daripada fakta yang ingin 

dibuktikan olehnya.’ 

  Mungkin terkesan tidak begitu mungkin bahwa 70 ribu orang tertipu serentak, atau semua 

dapat bersekongkol dalam suatu kebohongan massal. Atau bahwa sejarah keliru dalam mencatat 

bahwa 70 ribu orang mengklaim melihat matahari menari. Atau bahwa mereka semua serentak 

melihat suatu fatamorgana (mereka sebelumnya telah dibujuk agar menatap matahari, yang tidak 

mungkin baik untuk penglihatannya). Tetapi salah satu dari hal yang tampak tidak begitu 

mungkin itu jauh lebih mungkin daripada alternatifnya: bahwa Bumi tiba-tiba ditarik ke samping 

dalam orbitnya, dan tata surya dibinasakan, tanpa kesadaran seorang pun di luar Fatima. Portugal 

tidak begitu terisolasi.* 

  Sebenarnya, hanya itulah yang perlu dikatakan mengenai ‘pengalaman’ pribadi akan 

                                                 

* Padahal saya harus mengaku bahwa mertua saya pernah menginap di sebuah hotel di Paris bernama Hôtel de 

l’Univers et du Portugal. 

pencipta -pencipta  atau fenomena religius yang lain. Jika Anda pernah mengalami suatu yang serupa, 

Anda mungkin saja akan memercayai dengan kuat bahwa itu benar. Tetapi jangan harapkan kita 

yang tidak mengalaminya, khususnya jika kita sedikit saja mengenal otak dan cara kerjanya yang 

ampuh. 

 

ARGUMEN DARI ALKITAB 

 

  Masih ada beberapa orang yang dibujuk oleh bukti alkitabiah untuk percaya akan pencipta . 

Suatu argumen yang lazim, yang diatribusikan di antara orang lain kepada C.S. Lewis (yang 

seharusnya tidak sebodoh itu), berkata bahwa, karena junjungan kristen   mengklaim dirinya sebagai Anak 

Allah, dia harus benar atau gila atau seorang pembohong: ‘Gila, Jahat, atau pencipta ’.  Bukti 

sejarah bahwa junjungan kristen   mengklaim status ilahi apa pun sangat minim. Tetapi seandainya bukti itu 

memadai, trilema yang ditawarkan di atas tidak memadai sama sekali. Suatu kemungkinan 

keempat, hampir terlalu nyata untuk perlu disebut, yaitu , junjungan kristen   keliru dengan tulus. Ada 

banyak orang seperti itu. Bagaimanapun, seperti sudah saya katakan, tidak ada bukti historis 

yang baik bahwa dia pernah menganggap dirinya ilahi. 

  Fakta bahwa sesuatu ditulis bisa membujuk orang yang tidak terbiasa melontarkan 

pertanyaan seperti: ‘Siapa yang menulisnya, dan kapan?’ ‘Bagaimana mereka tahu apa yang 

harus ditulis? ‘Apakah mereka, di zaman mereka, sebenarnya memaksudkan apa yang kita, di 

zaman kita, pahami dari kata-kata itu?’ ‘Apakah mereka yaitu  pengamat yang tidak berpihak, 

atau apakah mereka memiliki agenda yang mewarnai tulisannya?’ Sejak abad ke-19, teolog-

teolog ilmiah telah membuat kasus yang tidak tersangkal bahwa injil bukan catatan yang dapat 

diandalkan mengenai apa yang terjadi dalam sejarah dunia nyata. Semuanya ditulis lama setelah 

kematian junjungan kristen  , dan juga setelah surat-surat Paulus, yang hampir tidak sama sekali menyebut 

apa yang dianggap fakta-fakta kehidupan junjungan kristen  . Semuanya kemudian disalin dan disalin ulang, 

melalui banyak ‘generasi Bisikan Tiongkok’ (lihat Bab 5) yang berbeda, oleh juru tulis yang 

dapat membuat kekeliruan dan, bagaimanapun, memiliki agenda religiusnya sendiri. 

  Suatu contoh baik atas pewarnaan oleh agenda-agenda religius yaitu  seluruh legenda 

yang mengharukan tentang kelahiran junjungan kristen   di Betlehem, yang diikuti oleh pembantaian anak-

anak tidak bersalah oleh Herodus. Ketika injil-injil ditulis, puluhan tahun setelah kematian 

junjungan kristen  , tak seorang pun tahu di mana dia lahir. Tetapi salah satu nubuat Perjanjian Lama (Mikha 

5: 2) telah membuat orang Yahudi berharap bahwa Mesias mereka yang sudah lama dinantikan 

akan lahir di Betlehem. Karena nubuat itu, injil Yohanes secara eksplisit mengatakan bahwa 

pengikutnya heran karena dia tidak lahir di Betlehem: ‘Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi 

yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, 

bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu 

tinggal.”’ 

  Matius dan Lukas menangani masalahnya secara yang berbeda, dengan memutuskan 

bahwa junjungan kristen   pasti lahir di Betlehem. Tetapi mereka membawa dia ke situ melalui rute yang 

berbeda. Menurut Matius, Maria dan Yusuf berada di Betlehem dari awal, dan hanya pindah ke 

Nazaret lama setelah kelahiran junjungan kristen  , saat mereka kembali dari Mesir, tempat mereka 

mengungsi dari Raja Herodus dan pembantaian anak-anak tidak bersalah. Lukas, sebaliknya, 

mengakui bahwa Maria dan Yusuf tinggal di Nazaret sebelum junjungan kristen   lahir. Jadi bagaimana dia 

bisa sampai di Betlehem pada momen yang menentukan, supaya nubuat dipenuhi? Kata Lukas, 

pada waktu Kirenius (Quirinius) yaitu  gubernur Suriah, Kaisar Agustus mengeluarkan perintah 

pendaftaran untuk alasan pajak, dan setiap orang harus pergi mendaftar ‘di kotanya sendiri’. 

Yusuf ‘berasal dari keluarga dan keturunan Daud’ jadi dia harus pergi ‘ke kota Daud yang 

bernama Betlehem’. Itu pasti tampak sebagai solusi yang bagus. Kecuali bahwa secara historis 

hal itu omong kosong belaka, sebagaimana ditunjukkan oleh A.N. Wilson dalam junjungan kristen   dan 

Robin Lane Fox dalam The Unauthorized Version (di antara lain). Daud, jika dia pernah ada, 

hidup hampir seribu tahun sebelum Maria dan Yusuf. Kenapa gerangan orang Romawi akan 

menyuruh Yusuf pulang ke kota di mana seorang leluhur jauh tinggal satu milenium 

sebelumnya? Itu sama seperti jika saya disuruh menetapkan, misalnya, Ashby-de-la-Zouch 

sebagai kampung saya saat mendaftar untuk sensus, jika ternyata saya dapat menelusuri 

keturunan saya kembali ke Seigneur de Dakeyne, yang datang di sini dengan William sang 

Penakluk lalu menetap. 

  Lagi pula, Lukas mengacaukan penanggalannya secara bodoh dengan menyebut 

peristiwa-peristiwa yang dapat diverifikasi secara mandiri oleh sejarawan. Memang ada sensus di 

bawah Gubernur Kirenius – suatu sensus lokal, bukan yang diperintahkan Kaisar Agustus untuk 

keseluruhan Kekaisarannya – tetapi itu terjadi terlambat: di 6 Masehi, lama setelah kematian 

Herodus. Lane Fox menyimpulkan bahwa ‘Kisah Lukas tidak mungkin secara historis dan tidak 

koheren secara internal’, tetapi dia bersimpati dengan masalah Lukas dan keinginannya untuk 

memenuhi nubuat Mikha. 

  Dalam edisi Desember 2004 Free Inquiry, Tom Flynn, Editor majalah luar biasa itu, 

mengumpulkan sekelompok artikel yang mendokumentasikan kontradiksi-kontradiksi dan 

lubang sebesar jurang dalam cerita Natal itu yang sangat disayangi. Flynn sendiri mencatat 

banyak kontradiksi di antara Matius dengan Lukas, kedua penulis injil yang sedikit pun 

membahas kelahiran junjungan kristen  .50 Robert Gillooly memperlihatkan bagaimana semua corak esensial 

legenda junjungan kristen  , termasuk bintang di Timur, kelahiran dari perawan, pemujuaan bayi oleh raja-

raja, keajaiban, eksekusi, kebangkitan dan kenaikan dipinjam – semuanya – dari kepercayaan -kepercayaan  

lain yang sudah ada saat itu di wilayah Laut Tengah dan Timur Dekat. Flynn mengusulkan 

bahwa keinginan Matius untuk memenuhi nubuat-nubuat mengenai mesias (keturunan dari 

Daud, kelahiran di Betlehem) demi pembaca-pembaca Yahudi bertabrakan langsung dengan 

keinginan Lukas untuk menyadur Kristianitas untuk para non-Yahudi, dan karena itu untuk 

merujuk aspek-aspek akrab dari kepercayaan -kepercayaan  Hellenistik (kelahiran dari perawan, pemujaan 

oleh raja-raja, dst.). Kontradiksi-kontradiksi yang dihasilkan oleh tabrakan itu sangat mencolok, 

tetapi secara konsisten diabaikan oleh orang-orang beriman. 

  Orang-orang junjungan kristen  terpelajar tidak membutuhkan Ira Gershwin untuk meyakinkannya 

bahwa ‘Hal-hal yang kau cenderung / Membaca dalam Alkitab / Belum tentu benar’.(‘The things 

that you’re li’ble / To read in the Bible / It ain’t necessarily so’). Tetapi ada banyak orang 

junjungan kristen  tidak terpelajar di dunia yang berpikir bahwa itu tentu benar – yang menganggap Alkitab 

memang serius sebagai catatan harfiah dan akurat atas sejarah dan karena itu sebagai bukti yang 

mendukung kepercayaan religius mereka. Apakah orang-orang ini tidak pernah membuka buku 

itu yang mereka anggap sebagai kebenaran harfiah? Kenapa mereka tidak menyadari akan 

kontradiksi-kontradiksi yang mencolok itu? Bukankah seorang yang percaya akan kebenaran 

harfiah Alkitab khawatir mengenai fakta bahwa Matius menelusuri keturunan Yusuf dari Raja 

Daud melalui 28 generasi di antara kedua tokoh itu, sedangkan dalam Lukas ada 41 generasi? 

Lebih buruk lagi, hampir tidak ada kesamaan nama-nama dalam kedua daftar itu! 

Bagaimanapun, jika junjungan kristen   sebenarnya lahir dari perawan, keturunan Yusuf tidak relevan dan 

tidak dapat digunakan untuk memenuhi, atas nama junjungan kristen  , nubuat Perjanjian Lama bahwa Mesias 

seharusnya menurun dari Daud.  

  Sarjana Alkitab Amerika, Bart Ehrman, dalam bukunya dengan subjudul The Story 

Behind Who Changed the New Testament and Why, menguraikan ketidakpastian sangat besar 

yang menghantui teks-teks Perjanjian Baru.* Di pengantar bukunya, Profesor Ehrman dengan 

mengharukan mengisahkan perjalanan pendidikan pribadinya dari fundamentalis yang percaya 

akan Alkitab hingga orang skeptis yang mampu berpikir, suatu perjalanan yang didorong oleh 

kesadarannya yang semakin muncul mengenai potensi kekeliruan Alkitab yang luar biasa besar. 

Secara signifikan, sambil dia menaiki hierarki universitas-universitas Amerika,dari tingkat paling 

bawah di ‘Institut Alkitab Moody’, melalui Wheaton College (sedikit lebih tinggi di skalanya, 

tetapi tetap almamaternya Billy Graham) hingga Seminari Teologis Princeton, di setiap langkah 

dia diperingati bahwa dia akan sulit mempertahankan Kristianitasnya yang fundamentalis jika 

dihadapkan dengan progresivisme yang berbahaya. Ternyata peringatan itu benar; dan kita, 

pembacanya, yang beruntung karena hal itu. Buku-buku kritik Alkitab ikonoklastik yang lain 

yaitu  The Unauthorized Version-nya Robin Lane Fox, yang sudah saya sebut, dan The Secular 

Bible: Why Nonbelievers Must Take Religion Seriously-nya Jacques Berlinerblau. 

  Empat injil yang berhasil diterima ke dalam kanon dipilih, secara kurang lebih aribitrer, 

dari sampel yang lebih besar yang terdiri atas setidaknya 12, termasuk Injil-injil Thomas, Petrus, 

Nikodemus, Filipus, Bartolomeus, dan Maria Magdalena.51 Beberapa injil ini, Apokrifa yang 

dikenal dari zaman itu, yaitu  injil-injil tambahan yang dirujuk Thomas Jefferson dalam 

suratnya kepada keponakannya: 

   

Saya lupa untuk mencatat, ketika membahas Perjanjian Baru, bahwa sebaiknya 

kamu membaca semua riwayat-riwayat Kristus, baik yang telah diputuskan bagi 

kita oleh konsili gerejawi sebagai Penginjil Semu, maupun yang disebut 

Penginjil. Karena Penginjil Semu ini mengklaim inspirasi, sama seperti yang 

lain, dan kamu seharusnya menilai klaimnya dengan akal budimu sendiri, bukan 

akal budi wakil gerejawi itu. 

 

  Injil-injil itu yang tidak lolos diabaikan oleh wakil gerejawi barangkali karena memuat 

kisah-kisah yang secara memalukan lebih tidak mungkin daripada yang terdapat dalam empat 

injil kanonik. Deskripsi masa bayi junjungan kristen   di Injil Thomas, misalnya, mengandung banyak 

anekdota mengenai anak junjungan kristen   yang salah menggunakan kekuatan magisnya seperti peri nakal, 

mengubah teman bermainnya menjadi kambing, atau mengubah lumpur menjadi burung gereja, 

atau membantu ayahnya dalam penukangannya dengan memperpanjang sepapan kayu secara 

ajaib.† Akan dikatakan bahwa tak seorang pun memercayai kisah keajaiban kasar seperti yang 

                                                 

* Saya hanya memberi subjudul karena hanya itu yang dapat saya sampikan dengan percaya diri. Judul utama versi 

buku itu yang saya miliki, diterbitkan oleh Continuum di London, yaitu  Whose Word is it? Saya tidak dapat 

menemukan apa pun dalam edisi ini untuk menyimpulkan apakah ini yaitu  buku yang sama dengan terbitan 

Amerika oleh Harper San Fransisco, yang saya belum lihat, yang judul utamanya yaitu  Misquoting Jesus. Saya 

mengira bahwa kedua-duanya yaitu  buku yang sama, tetapi kenapa penerbit harus bertingkah seperti itu? 

† A.N. Wilson, dalam biografinya atas junjungan kristen  , meragukan bahwa Yusuf sebenarnya yaitu  tukang kayu. Istilah 

Yunani tekton memang berarti tukang kayu, tetapi itu diterjemahkan dari istilah Aram naggar, yang bisa berarti 

tukang atau orang terpelajar. Ini yaitu  salah satu dari banyak kesalahan terjemahan konstruktif yang menghantui 

Alkitab, yang paling terkenal di antaranya yaitu  kesalahan menerjemahkan istilah Iibrani dalam kitab Yesaya untuk 

gadis (almah) menjadi istilah Yunani untuk perawan (parthenos). Suatu kesalahan yang mudah saja dibuat (pikirkan 

saja istilah-istilah Inggris maid dan maiden untuk melihat bagaimana itu bisa terjadi), kekeliruan oleh seorang 

penerjemah ini kemudian dibesar-besarkan dan menghasilkan legenda sulit dipercaya bahwa ibunya junjungan kristen   yaitu  

perawan! Satu-satunya pesaing untuk juara kesalahan terjemahan konstruktif sepanjang sejarah juga berkaitan 

dengan perawan. Ibn Warraq dengan lucu sekali berargumentasi bahwa dalam janji terkenal atas 72 perawan untuk 

terdapat dalam Injil Thomas. Tetapi tidak ada alasan lebih besar atau kecil untuk memercayai 

keempat injil kanonik. Semuanya memiliki status legenda, yang sama dapat diragukan sebagai 

fakta seperti kisah-kisah Raja Arthur dan Para Kesatria Meja Bundarnya. 

  Kebanyakan persamaan di antara keempat injil kanonik menurun dari satu sumber 

bersama. Bisa jadi sumber itu yaitu  injil Markus sendiri atau sebuah karya hilang yang darinya 

keturunan paling awal yang masih ada yaitu  Markus. Tak seorang pun tahu siapa keempat 

penginjil itu, tetapi mereka hampir pasti tidak pernah menemui junjungan kristen   secara pribadi. Banyak 

dari apa yang mereka tulis bukan sama sekali suatu usaha tulus untuk menulis sejarah melainkan 

hanya didaur ulang dari Perjanjian Lama, karena para pembuat injil secara saleh yakin bahwa 

kehidupan junjungan kristen   harus memenuhi nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Suatu kasus historis yang 

serius, meskipun tidak didukung secara luas, dapat dilontarkan bahwa junjungan kristen   tidak pernah hidup 

sama sekali, sebagaimana pernah dilakukan oleh, di antara orang lain, Profesor G.A. Wells dari 

Universitas London dalam beberapa buku, termasuk Did Jesus Exist?. 

  Meskipun junjungan kristen   kemungkinan besar pernah ada, sarjana Alkitab yang kredibel biasanya 

tidak menganggap Perjanjian Baru (dan tentu saja bukan Perjanjian Lama) sebagai catatan yang 

dapat diandalkan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam sejarah, dan saya tidak akan 

mempertimbangkan Alkitab lebih lanjut sebagai bukti untuk pencipta  jenis apa pun. Dalam kata-

kata Thomas Jefferson yang melihat jauh ke masa depan, yang menulis kepada pendahulunya 

sebagai presiden, John Adams, ‘Hari akan datang ketika kemenjadian mistis junjungan kristen  , oleh Entitas 

Tertinggi ayahnya, dalam rahim seorang perawan, akan dikelompokkan bersama dengan 

dongeng kemenjadian Minerva di dalam otak Jupiter.’ 

  Novel Dan Brown The Da Vinci Code, dan film yang dibuat darinya, sedang 

menimbulkan kontroversi sangat besar di kalangan-kalangan gereja. Orang junjungan kristen  dihimbau 

agar memboikot filmnya dan mengunjuk rasa di depan bioskop yang memutarkannya. Cerita itu 

memang terfabrikasi dari awal hingga akhir: karangan fiksi yang diciptakan manusia belaka.  

Dalam arti itu, cerita itu persis sama dengan injil. Satu-satunya perbedaan di antara The Da Vinci 

Code dengan injil yaitu  injil merupakan fiksi kuno sedangkan The Da Vinci Code merupakan 

fiksi modern. 

 

ARGUMEN DARI ILMUWAN RELIGIUS YANG DIKAGUMI 

 

  Mayoritas sangat besar dari manusia yang terkemuka secara intelektual tidak 

memercayai kepercayaan  junjungan kristen , tetapi mereka menyembunyikan fakta itu di publik, karena mereka 

takut kehilangan pendapatannya. 

  –BERTRAND RUSSELL 

 

  ‘Newton itu orang religius. Siapa kau yang berani menempatkan dirimu di atas Newton, 

Galileo, Kepler, dll., dll., dll.? Jika pencipta  cukup untuk mereka, kau menganggap dirimu siapa?’ 

Hal ini tidak akan begitu memengaruhi suatu argumen yang sudah buruk, tetapi beberapa 

apologis bahkan menambahkan nama Darwin yang tentangnya desas-desus yang persisten 

namun dapat dibuktikan salah mengenai suatu konversi menjelang kematiannya terus berulang 

                                                                                                                                                             

setiap martir Muslim, ‘perawan’ merupakan terjemahan yang salah dari ‘kismis putih yang jernih seperti kristal’. 

Seandainya hal itu diketahui secara lebih luas, berapa banyak korban pengeboman bunuh diri yang tidak bersalah 

dapat diselamatkan? (Ibn Warraq, ‘Virgins? What virgins?’, Free Inquiry 26: 1, 2006, 45–6.) 

seperti bau yang tidak menghilang,* sejak saat desas-desus itu dengan sengaja mulai disebarkan 

oleh seorang bernama ‘Lady Hope’, yang membuat kisah mengharukan tentang Darwin yang 

beristirahat di atas beberapa bantal di cahaya senja, membaca Perjanjian Baru dan mengaku 

bahwa evolusi itu keliru. Di seksi ini saya akan terutama berkonsentrasi pada ilmuwan, karena – 

untuk alasan yang barangkali tidak begitu sulit dibayangkan – mereka yang suka mengeluarkan 

nama-nama individu yang dipuji sebagai teladan religius sangat sering memilih ilmuwan. 

  Newton memang mengklaim dirinya religius. Sama seperti hampir setiap orang hingga – 

secara signifikan, menurut saya – abad ke-19, ketika kurang ada tekanan sosial dan yudisial 

dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya untuk mengklaim kepercayaan , dan lebih banyak 

dukungan ilmiah untuk meninggalkannya. Tentu saja pernah ada pengecualian di kedua arahnya. 

Bahkan sebelum Darwin, tidak setiap orang beriman, sebagaimana ditunjukkan oleh James 

Haught dalam 2000 Years of Disbelief: Famous People with the Courage to Doubt. Dan 

beberapa ilmuwan terkemuka terus percaya setelah Darwin. Tidak ada alasan untuk meragukan 

ketulusan Michael Faraday sebagai seorang junjungan kristen , bahkan setelah waktu dia pasti mengenal 

karya-karya Darwin. Dia yaitu  anggota aliran Sandemanian, yang dulu percaya (kala lampau 

karena kini mereka hampir punah) akan suatu tafsir harfiah atas Alkitab, mencucikan kaki 

anggota yang baru diterima secara ritus dan menggunakan undian untuk menentukan kehendak 

pencipta . Faraday menjadi seorang Elder pada 1860, satu tahun setelah The Origin of Species 

diterbitkan, dan dia meninggal sebagai Sandemanian di 1867. Pasangan teoretikus Faraday sang 

eksperimentalis, James Clerk Maxwell, yaitu  junjungan kristen  yang sama-sama saleh. Demikian halnya 

dengan satu lagi tokoh besar fisika Britania abad ke-19, William Thomson, Lord Kelvin, yang 

berusaha mendemonstrasikan bahwa evolusi tidak mungkin terjadi karena tidak ada cukup 

waktu. Tanggal-tanggal keliru teoretikus termodinamika agung itu berasumsi bahwa Matahari 

yaitu  semacam api yang membakar bahan bakar yang harus habis dalam waktu puluhan jutaan 

tahun, bukan ribuan jutaan. Kelvin tentu saja tidak dapat diharapkan mengetahui energi nuklir. 

Secara menyenangkan, di rapat British Association 1903, Sir George Darwin, anak kedua 

Charles, ditugaskan untuk membenarkan ayahnya yang belum menjadi kesatria dengan 

mengandalkan penemuan para Curie atas radium, dan mengacaukan perkiraan lebih awal oleh 

Lord Kelvin yang masih hidup. 

  Ilmuwan-ilmuwan agung yang mengklaim kepercayaan  menjadi semakin sulit ditemukan 

sepanjang abad ke-20, tetapi mereka tidak begitu langka. Saya menduga bahwa kebanyakan dari 

mereka yang terbaru hanya religius dalam arti Einsteinian yang, sebagaimana saya berargumen 

di Bab 1, merupakan kesalahgunaan atas istilah itu. Namun, ada beberapa contoh asli atas 

ilmuwan bagus yang religius secara tulus dalam arti yang penuh dan tradisional. Di antara 

ilmuwan-ilmuwan Britania kekinian, tiga nama yang sama muncul dengan keakraban yang 

menyenangkan, seperti tiga partner senior dalam praktek hukum di sebuah novel Charles 

Dickens: Peacocke, Stannard dan Polkinghorne. Ketiga-tiganya pernah memenangkan 

Penghargaan Templeton atau duduk di Dewan Pengawas Templeton. Setelah diskusi-diskusi 

ramah dengan mereka semua, baik secara publik maupun privat, saya masih kebingungan, tidak 

begitu oleh kepercayaan mereka akan semacam pemberi hukum kosmik, tetapi oleh kepercayaan 

                                                 

* Bahkan saya pernah dihargai dengan ramalan atas suatu konversi menjelang kematian. Memang, ramalan itu 

berulang dengan konsistensi yang membosankan (lihat misalnya Steer 2003), setiap repetisi diiringi oleh awan 

lembut ilusi bahwa itu lucu, dan yang pertama. Sebaiknya saya menginstalasi perekam pita sebagai penanggulangan 

untuk mempertahankan reputasi saya setelah wafat.  Lalla Ward menambah, ‘Buat apa menunggu sampai menjelang 

kematian? Jika kau ingin membelok, lakukan itu dengan cukup waktu untuk memenangkan Penghargaan Templeton 

dan mengaku pikun.’ 

mereka akan detail-detail kepercayaan  junjungan kristen : kebangkitan, pengampunan dosa, semua. 

  Ada beberapa contoh yang sesuai di Amerika Serikat, misalnya Francis Collins, kepala 

administratif cabang Amerika Proyek Genom Manusia resmi.* Tetapi, sama seperti di Britania, 

mereka menonjol karena kelangkaannya dan menjadi sasaran kebingungan yang ramah bagi 

kolega-koleganya di komunitas akademik. Di 1996, di taman-taman kolesenya yang lama di 

Cambridge, Claire, saya mewawancarai teman saya Jim Watson, genius pendiri Proyek Genom 

Manusia, untuk suatu dokumenter televisi BBC yang sedang saya buat mengenai Gregor Mendel, 

genius pendiri genetika sendiri. Mendel, tentu saja, yaitu  orang religius, seorang biarawan 

Agustinian; tetapi itu di abad ke-19, ketika menjadi biarawan yaitu  cara paling mudah bagi 

Mendel untuk menjalankan ilmu pengetahuannya. Baginya, menjadi biarawan itu setara dengan 

hibah penelitian. Saya menanyai Watson apakah dia mengenal banyak ilmuwan religius saat ini. 

Dia menjawab: ‘Hampir tidak ada sama sekali. Sekali-sekali saya menemui mereka, dan saya 

sedikit malu [tertawa] karena saya susah percaya ada siapa pun yang menerima kebenaran 

melalui wahyu. 

  Francis Crick, pendiri revolusi genetika molekuler bersama dengan Watson, mundur dari 

posisinya di Churchill College, Cambridge, karena kolese itu memutuskan untuk membangun 

sebuah kapel (atas permintaan penyumbang). Dalam wawancara saya dengan Watson di Clare, 

saya menyampaikan kepadanya bahwa, berbeda dengan dia dan Crick, ada orang yang tidak 

melihat konflik di antara ilmu pengetahuan dengan kepercayaan , karena mereka mengklaim bahwa 

ilmu pengetahuan mencari bagaimana hal-hal berfungsi dan kepercayaan  mencari untuk apa semua hal 

itu. Watson membalas: ‘Kalau saya tidak berpikir semua ini untuk apa pun. Kita hanyalah 

produk-produk evolusi. Orang boleh berkata, “Aduh, kehidupanmu pasti muram sekali jika kau 

mengira tidak ada tujuan.” Tetapi saya mengharapkan makan siang yang enak.’ Dan makan siang 

kami memang enak. 

  Usaha para apologis untuk menemukan ilmuwan modern yang sungguh terkemuka dan 

juga religius sedikit berbau keputusasaan, dan menghasilkan bunyi yang tidak bisa tidak 

terdengar kosong: bagian bawah barel dikorek. Satu-satunya situs web yang saya mampu 

temukan yang mengklaim suatu daftar ‘junjungan kristen  Ilmiah Pemenang Penghargaan Nobel’ 

menghasilkan enam, dari total beberapa ratus Nobelis ilmiah. Dari enam ini, ternyata empat 

bukan pemenang Penghargaan Nobel sama sekali; dan setidaknya satu, saya tahu dengan pasti, 

tidak beriman dan pergi gereja untuk alasan yang murni sosial. Suatu kajian yang lebih sistematis 

oleh Benjamin Beit-Hallahmi ‘menemukan bahwa di antara pemenang Penghargaan Nobel di 

ilmu pengetahuan, serta yang di sastra, ada tingkat ketidakreligiusan yang luar biasa, 

dibandingkan dengan populasi-populasi dari mana mereka berasal’.52 

  Suatu kajian dalam jurnal terkemuka Nature oleh Larson dan Witham di 1998 

menunjukkan bahwa ilmuwan-ilmuwan Amerika yang dianggap cukup terkemuka oleh 

koleganya untuk dipilih menjadi anggota National Academy of Sciences (setara dengan menjadi 

Fellow Royal Society di Britania), hanya sekitar 7 persen percaya akan suatu pencipta  pribadi.53 

Mayoritas ateis yang sangat besar hampir bertolak belakang dengan profil populasi Amerika 

pada umumnya, yang darinya lebih dari 90 persen percaya akan semacam entitas supernatural. 

Jumlah ilmuwan-ilmuwan yang kurang terkemuka, tidak dipilih untuk National Academy, 

bersifat menengah. Sama dengan sampel yang lebih terkemuka, orang beriman religius yaitu  

minoritas, tetapi minoritas yang kurang dramatis: sekitar 40 persen. Bahwa ilmuwan-ilmuwan 

Amerika kurang religius daripada publik Amerika pada umumnya, dan bahwa ilmuwan-ilmuwan 

                                                 

* Berbeda dengan proyek genom manusia yang tidak resmi, dipimpin oleh ‘pemberani’ ilmu pengetahuan yang 

cemerlang (dan tidak religius), Craig Venter. 

paling terkemuka paling tidak religius, seluruhnya sesuai dengan harapan saya. Apa yang 

menakjubkan yaitu  oposisi mutlak di antara religiositas publik Amerika pada umumnya dengan 

ateisme elit intelektualnya.54 

  Agak lucu bahwa situs web kreasionis terkemuka, ‘Answers in Genesis’, mengutip kajian 

Larson dan Witham itu, tidak sebagai bukti bahwa mungkin ada yang salah dengan kepercayaan , tetapi 

sebagai senjata dalam pertempuran internal mereka melawan para apologis religius pesaing yang 

mengklaim bahwa evolusi sesuai dengan kepercayaan . Di bawah kepala berita ‘National Academy of 

Science is Godless to the Core’,55 ‘Answers in Genesis’ dengan senang hati mengutip paragraf 

penutup dari surat Larson dan Witham kepada redaktur Nature: 

   

Sambil kami mengumpulkan hasil kami, NAS [National Academy of Sciences] 

mengeluarkan sebuah pamflet yang mendukung pengajaran evolusi di sekolah-

sekolah publik, suatu sumber tegangan kronis di antara komunitas ilmiah 

dengan sejumlah orang junjungan kristen  konservatif di Amerika Serikat. Pamflet itu 

meyakinkan pembaca, ‘Apakah pencipta  ada atau tidak yaitu  pertanyaan yang 

tentangnya ilmu pengetahuan tetap netral.’ Presiden NAS Bruce Albterts 

berkata: Ada banyak sekali anggota luar biasa di akademi ini yang juga sangat 

religius, orang yang percaya akan evolusi, dan banyak dari mereka yaitu  

biolog.’ Survei kita menunjukkan sebaliknya. 

 

  Alberts, kita rasa, merangkul ‘NOMA’ untuk alasan-alasan yang saya bahas dalam 

‘mazhab evolusionis Neville Chamberlain’ (lihat Bab 2). ‘Answers in Genesis’ memiliki agenda 

yang sangat berbeda. 

  Organisasi yang setara dengan National Academy of Sciences AS di Britania (dan 

Persemakmuran, termasuk Kanada, Australia, Selandia Baru, India, Pakistan, Afrika anglofon, 

dst.) yaitu  Royal Society. Sementara buku ini diterbitkan, kolega-kolega saya R. Elisabeth 

Cornwell dan Michael Stirrat sedang menulis penelitian mereka yang sebanding tetapi lebih 

menyeluruh mengenai pendapat-pendapat religius para Fellows of the Royal Society (FRS). 

Kesimpulan-kesimpulan para penulis itu akan diterbitkan secara lengkap nanti, tetapi mereka 

dengan ramah membolehkan saya untuk mengutip hasil-hasil awal mereka di sini. Mereka 

menggunakan suatu teknik standar untuk mengukur pendapat, skala tujuh-poin Likert-semu. 

Semua dari 1.074 Fellow Royal Society yang memiliki alamat surel (mayoritas sangat besar) 

disurvei, dan sekitar 23 persen membalas (jumlah yang bagus untuk kajian seperti ini). Mereka 

ditawarkan berbagai proposisi, misalnya: ‘Saya percaya akan suatu pencipta  pribadi, yakni, pencipta  

yang memperhatikan individu-individu, mendengar dan membalas doa, berurusan dengan dosa 

dan transgresi, dan menjatuhkan putusan. Untuk setiap proposisi, mereka diajak untuk memilih 

angka dari 1 (sangat tidak setuju) hingga 7 (sangat setuju). Agak susah membandingkan hasilnya 

secara langsung dengan kajian Larson dan Witham, karena Larson dan Witham hanya 

menawarkan suatu skala tiga-poin, bukan tujuh-poin, tetapi kecenderungan umum tetap sama. 

Mayoritas sangat besar FRS, seperti mayoritas sangat besar anggota akademi AS, yaitu  ateis. 

Hanya 3,3 persen dari para Fellows sangat setuju dengan pernyataan bahwa suatu pencipta  pribadi 

ada (yaitu, memilih 7 di skalanya), sedangkan 78,8 persen sangat tidak setuju (yaitu, memilih 1 

di skalanya). Jika ‘orang beriman’ didefinisikan sebagai mereka yang memilih 6 atau 7, dan jika 

‘orang tidak beriman’ didefinisikan sebagai mereka yang memilih 1 atau 2, ada 213 orang tidak 

beriman dan hanya 12 orang yang beriman. Seperti Larson dan Witham, dan sebagaimana juga 

dicatat oleh Beit-Hallahmi dan Argyle, Cornwell dan Stirrat menemukan suatu kecenderungan 

yang kecil tetapi signifikan untuk ilmuwan-ilmuwan biologis untuk menjadi bahkan lebih ateistik 

daripada ilmuwan-ilmuwan fisik. Untuk detail-detailnya, dan semua kesimpulan-kesimpulan 

sangat menarik mereka yang lain, silakan lihat makalah mereka sendiri saat diterbitkan.56 

  Terlepas dari para ilmuwan elit di National Academy dan Royal Society, apakah ada 

bukti apa pun bahwa, di populasi umum, orang ateis lebih mungkin berasal dari kaum lebih 

terdidik dan cerdas? Beberapa kajian penelitian telah diterbitkan mengenai hubungan statistik di 

antara religiositas dengan tingkat pendidikan, atau religiositas dengan kecerdasan intelektual 

(IQ). Michael Shermer, dalam How We Believe: The Search for God in an Age of Science, 

mendeskripsikan suatu survei besar atas warga Amerika yang dipilih secara acak yang dilakukan 

olehnya dan koleganya, Frank Sulloway. Di antara banyak hasil yang menarik yaitu  penemuan 

bahwa religiositas memang berkorelasi secara negatif dengan pendidikan (orang yang 

berpendidikannya lebih tinggi lebih mungkin tidak religius). Religiositas juga berkorelasi secara 

negatif dengan ketertarikan dengan ilmu pengetahuan dan (secara kuat) dengan liberalisme 

politik. Tidak ada yang mengejutkan, sama seperti fakta bahwa ada korelasi positif di antara 

religiositas dengan religiositas orang tua. Sosiolog-sosiolog yang mengkaji anak-anak Britania 

telah menemukan bahwa hanya sekitar satu dari dua belas anak berpisah dari kepercayaan 

religius orang tuanya. 

  Sebagaimana Anda mungkin akan kira, peneliti yang berbeda mengukur hal-hal dengan 

cara yang berbeda, jadi sulit untuk membandingkan kajian-kajian yang berbeda. Dalam meta-

analisis, seorang penyelidik melihat semua makalah yang telah diterbitkan mengenai satu topik, 

lalu menghitung jumlah makalah yang telah menyimpulkan satu hal, versus jumlah yang telah 

menyimpulkan hal yang lain. Mengenai subjek kepercayaan  dan kecerdasan intelektual, satu-satunya 

meta-analisis yang saya ketahui diterbitkan oleh Paul Bell dalam Mensa Magazine di 2002 

(Mensa yaitu  organisasi untuk orang dengan kecerdasan intelektual yang tinggi, dan jurnal 

mereka tidak mengejutkan memuat artikel-artikel mengenai satu-satunya hal yang menyatukan 

mereka).57 Bell menyimpulkan: ‘Dari 43 kajian yang dilakukan sejak 1927 atas hubungan di 

antara kepercayaan religius dengan kecerdasan atau tingkat pendidikan seseorang, semua kecuali 

empat menemukan suatu hubungan terbalik. Dengan kata lain, semakin tinggi kecerdasan atau 

tingkat pendidikan seseorang, semakin sedikit kemungkinan bahwa orang itu yaitu  religius atau 

menganut “kepercayaan” apa pun.’ 

  Suatu meta-analisis hampir pasti kurang spesifik dibandingkan dengan salah satu kajian 

apa pun yang berkontribusi kepadanya. Akan bagus jika ada lebih banyak kajian seperti ini, serta 

lebih banyak kajian atas anggota kelompok elite seperti akademi nasional yang lain, dan 

pemenang penghargaan besar dan medali seperti Nobel, Crafoord, Fields, Kyoto, Cosmos, dll. 

Saya berharap bahwa edisi-edisi buku ini di masa depan akan memuat data itu. Kesimpulan yang 

masuk akal dari kajian yang ada yaitu , para apologis religius sebaiknya lebih diam daripada 

kebiasaan mereka mengenai subjek panutan yang dikagumi, setidaknya mengenai ilmuwan. 

 

TARUHAN PASCAL 

 

  Matematikawan Prancis agung Blaise Pascal menalar bahwa, sekecil apa pun 

kemungkinan akan eksistensi pencipta , ada asimetri besar sekali dalam hukuman jika kita salah 

memilih. Sebaiknya Anda percaya akan pencipta , karena jika Anda benar, Anda bisa mendapat 

kebahagiaan abadi, dan jika Anda salah, tidak ada bedanya juga. Di sisi lain, jika Anda tidak 

percaya akan pencipta  dan ternyata salah, Anda kena hukuman abadi di neraka, sedangkan jika 

Anda benar, tidak ada bedanya. Pada permukaan keputusan ini tidak perlu dipikirkan. Percaya 

akan pencipta . 

  Namun, ada suatu yang sangat aneh mengenai argumennya. Memercayai bukan suatu 

yang Anda dapat putuskan untuk lakukan sebagai kebijakan. Setidaknya, itu bukan suatu yang 

saya dapat putuskan sebagai tindakan kemauan. Saya bisa memutuskan untuk pergi ke gereja dan 

saya bisa memutuskan untuk membacakan Kredo Nicea dan saya bisa memutuskan untuk 

bersumpah atas sehimpunan Alkitab bahwa saya memercayai setiap kata di dalamnya. Tetapi 

dari semua itu, tidak ada yang bisa membuat saya sungguh percaya jika saya tidak percaya. 

Taruhan Pascal hanya pernah bisa merupakan suatu argumen untuk berlagak percaya akan 

pencipta . Dan pencipta  yang Anda klaim Anda percayai semoga bukan jenis pencipta  yang maha tahu, 

atau dia akan mengetahui muslihat Anda. Ide konyol itu, yakni, bahwa kepercayaan merupakan 

suatu yang dapat diputuskan, dihina secara menyenangkan oleh Douglas Adams dalam Dirk 

Gently’s Holistic Detective Agency, di mana kita temui Biarawan Listrik robotik, sebuah 

perangkat penghemat-waktu yang kita beli ‘untuk percaya untuk kita’. Model mewah diiklankan 

sebagai ‘Mampu memercayai hal yang tidak akan dipercayai orang di Salt Lake City’. 

  Tetapi bagaimanapun, kenapa kita dengan mudah menerima ide bahwa satu-satunya hal 

yang harus dilakukan untuk membuat pencipta  senang yaitu  percaya akan dia? Apa yang begitu 

istimewa mengenai kepercayaan? Bukankah sama mungkinnya pencipta  akan menghargai 

kebaikan, atau kemurahan hati, atau kesederhanaan? Atau ketulusan? Bagaimana jika pencipta  

yaitu  ilmuwan yang menganggap pencarian jujur untuk kebenaran sebagai keutamaan tertinggi? 

Memang, bukankah perancang alam semesta harus sebagai ilmuwan? Bertrand Russell ditanyai 

apa yang dia akan katakan jika dia meninggal dan ternyata berhadapan dengan pencipta , yang 

menuntut untuk diberi tahu kenapa Russell tidak percaya padanya. ‘Buktinya kurang, pencipta , 

buktinya kurang,’ jawab Russell (saya hampir tambah, secara abadi). Mungkinkah pencipta  

menghargai Russell untuk skeptisismenya yang berani (apalagi untuk pasifisme yang 

membuatnya dipenjarakan saat Perang Dunia Pertama) jauh lebih daripada dia menghargai 

Pascal untuk taruhannya yang pengecut? Dan, meskipun kita tidak bisa tahu apa yang pencipta  

akan putuskan, kita tidak perlu tahu untuk menyangkal Taruhan Pascal. Ingat, kita sedang 

membahas suatu taruhan, dan Pascal tidak mengklaim bahwa taruhannya begitu pasti. Apakah 

Anda akan bertaruh bahwa pencipta  akan lebih menghargai kepercayaan palsu tidak jujur (atau 

bahkan kepercayaan yang jujur) daripada skeptisisme jujur? 

  Lagi pula, andaikan bahwa pencipta  yang menghadapi Anda ketika Anda meninggal 

ternyata yaitu  Ba’al, dan andaikan bahwa Ba’al itu sama cemburunya dengan yang dikatakan 

mengenai pesaing lamanya, Yahweh. Mungkinkah Pascal akan lebih aman jika memilih bahwa 

tidak ada pencipta  daripada memilih pencipta  yang salah? Memang, bukankah jumlah besar pencipta -

pencipta  potensial yang dapat dipilih menggerogoti logika Pascal? Pascal mungkin bercanda ketika 

melontarkan taruhannya, sama seperti saya bercanda ketika mengingkarinya. Tetapi saya pernah 

menemui orang, misalnya di sesi tanya-jawab setelah sebuah ceramah, yang dengan serius 

melontarkan Taruhan Pascal sebagai suatu argumen yang mendukung kepercayaan akan pencipta , 

jadi taruhan itu layak dibahas secara singkat di sini. 

  Akhirnya, apakah mungkin berargumentasi untuk semacam Taruhan anti-Pascal? 

Andaikan ada kemungkinan kecil bahwa pencipta  memang ada. Namun, dapat dikatakan bahwa 

Anda akan menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih penuh jika Anda bertaruh bahwa dia 

tidak ada, daripada jika Anda bertaruh bahwa dia ada dan karena itu membuang waktu Anda 

yang berharga dalam memujanya, berkorban untuknya, berjuang dan mati untuknya, dst. Saya 

tidak akan membahas pertanyaan itu lebih lanjut di sini, tetapi sebaiknya pembaca mengingatnya 

ketika sampai di bab-bab lebih akhir mengenai konsekuensi-konsekuensi jahat yang dapat 

berasal dari kepercayaan dan praktek religius. 

  

ARGUMEN-ARGUMEN BAYESIAN 

 

  Saya mengira kasus paling aneh yang pernah saya lihat dalam satu usaha untuk 

membuktikan eksistensi pencipta  yaitu  argumen Bayesian yang baru-baru ini dikemukakan oleh 

Stephen Unwin dalam The Probability of God. Saya enggan memasukkan argumen ini, yang 

lebih lemah serta kurang terhormat karena kekunoannya dibandingkan dengan yang lain. Namun, 

buku Unwin menerima lumayan banyak perhatian jurnalistik ketika diterbitkan pada 2003, dan 

juga memberi kesempatan untuk menjalin beberapa benang penjelasan. Saya agak bersimpati 

dengan tujuannya karena, seperti saya berargumen di Bab 2, saya percaya bahwa eksistensi 

pencipta  merupakan suatu hipotesis ilmiah yang setidaknya secara prinsip dapat diselidiki. Pula, 

usaha Unwin, yang kemungkinannya untuk berhasil sangat kecil, untuk menetapkan probabilitas 

itu dengan suatu bilangan sebenarnya sangat lucu. 

  Subjudul buku itu, Suatu Perhitungan Sederhana yang Membuktikan Kebenaran 

Terakhir (A Simple Calculation that Proves the Ultimate Truth), memiliki banyak indikasi 

sebagai suatu tambahan belakangan oleh penerbit, karena kepercayaan-diri seperti itu tidak 

terdapat dalam teks Unwin. Bukunya mendingan dipandang sebagai sebuah panduan, semacam 

Teorema Bayes for Dummies, yang menggunakan eksistensi pencipta  sebagai studi kasusnya yang 

separuh dangkal. Unwin bisa saja menggunakan suatu pembunuhan hipotetis sebagai kasusnya 

untuk mendemonstrasikan Teorema Bayes. Sang detektif menyusun barang bukti. Sidik jari di 

pistol menunjukkan Nyonya Peacock. Ukur dugaan itu dengan memberinya suatu kemungkinan 

numeris. Namun, Profesor Plum memiliki motif untuk menjebaknya. Kurangi dugaan terhadap 

Nyonya Peacock dengan suatu nilai numeris yang sesuai. Bukti forensik menunjukkan suatu 

kemungkinan 70 persen bahwa pistol itu ditembakkan dengan tetap dari jarak jauh yang berarti 

pelaku mungkin dilatih secara militer. Ukur dugaan kita yang ditingkatkan atas Kolonel Mustard. 

Pendeta Green memiliki motif yang paling masuk akal untuk pembunuhan.* Tingkatkan 

penilaian numeris kita atas kemungkinannya. Tetapi rambut pirang panjang di jas korban hanya 

mungkin berasal dari Nona Scarlet ... dan seterusnya. Suatu campuran atas kemungkinan yang 

rata-rata dinilai secara subjektif bergejolak dalam pikiran sang detektif, menariknya ke arah-arah 

yang berbeda. Teorema Bayes dianggap membantu dia sampai di suatu kesimpulan. Teorema 

tersebut yaitu  mesin matematis untuk menggabungkan banyak kemungkinan yang diperkirakan 

dan menghasilkan suatu putusan akhir, yang memiliki perkiraan kuantitatif sendiri akan 

kemungkinannya. Tetapi tentu saja perkiraan terakhir itu hanya bisa sebagus bilangan-bilangan 

awal yang dimasukkan kepadanya. Bilangan tersebut biasanya dinilai secara subjektif, dengan 

semua keraguan yang pasti mengalir dari penilaian seperti itu. Prinsip GIGO (Garbage In, 

Garbage Out – Sampah Masuk, Sampah Keluar) berlaku di sini  – dan, dalam kasus contoh 

pencipta  Unwin, berlaku yaitu  kata yang kurang tegas. 

  Unwin yaitu  konsultan manajemen risiko yang mendukung inferensi Bayesian melawan 

metode-metode statistik pesaing. Dia melukiskan Teorema Bayes dengan mengangkat, bukan 

suatu pembunuhan, melainkan kasus terbesar yang ada, eksistensi pencipta . Rencananya yaitu  

mulai dengan ketidakpastian total, yang dia pilih untuk mengukur dengan memberi eksistensi 

                                                 

* Pendeta Green yaitu  nama tokohnya di versi-versi Cluedo yang dijual di Britania (tempat permainannya berasal), 

Australia, Selandia Baru, India dan semua daerah yang berbahasa Inggris kecuali Amerika Utara, di mana tiba-tiba 

dia menjadi Tuan Green. Kenapa bisa begitu? 

dan non-eksistensi pencipta  masing-masing 50 persen sebagai kemungkinan awalnya. Lalu dia 

mencatat enam fakta yang mungkin akan relevan, memberi masing-masing pembobotan numeris, 

memasukkan keenam bilangan itu ke dalam mesin Teorema Bayes dan melihat bilangan apa 

yang keluar.  Masalahnya yaitu  (saya ulangi) keenam pembobotan itu bukan kuantitas yang 

diukur melainkan penilaian pribadi Stephen Unwin, dijadikan bilangan hanya demi latihan itu. 

Keenam fakta yaitu : 

   

1. Kita memiliki suatu rasa akan kebaikan. 

 

2. Manusia melakukan kejahatan (Hitler, Stalin, Saddam Hussein). 

 

3. Alam melakukan kejahatan (gempa bumi, tsunami, topan). 

 

4. Mungkin ada keajaiban kecil (saya kehilangan kunci saya dan menemukannya kembali). 

 

5. Mungkin ada keajaiban besar (junjungan kristen   mungkin bangkit dari kematian). 

 

6. Manusia memiliki pengalaman religius. 

 

  Sebagai rangkuman (yang menurut saya tidak begitu berguna), pada akhir suatu balapan 

Bayesian di mana pencipta  maju ke depan dalam taruhan, lalu mundur jauh ke belakang, lalu 

berjuang hingga kembali di tingkat 50 persen dari mana dia mulai, akhirnya dia menikmati, 

menurut perkiraan Uniwn, suatu kemungkinan 67 persen untuk ada. Unwin kemudian 

memutuskan bahwa keputusan Bayesian 67 persennya tidak cukup tinggi, jadi dia mengambil 

langkah aneh meningkatkannya hingga 95 persen melalui suatu suntikan ‘iman’ darurat. Itu 

terdengar seperti lelucon, tetapi begitulah prosesnya. Saya berharap saya bisa berkata bagaimana 

dia membenarkannya, tetapi benar-benar tidak ada yang dapat dikatakan. Saya pernah menemui 

absurditas seperti ini di tempat lain, ketika saya menantang ilmuwan yang religius namun selain 

dari itu cerdas untuk membenarkan kepercayaannya, meskipun mereka mengaku bahwa tidak 

ada bukti: ‘Saya mengaku tidak ada bukti. Ada alasan kenapa itu disebut iman’ (kalimat terakhir 

ini diucapkan dengan keyakinan yang hampir menantang, dan tidak sedikit pun ingin minta maaf 

atau menjadi waswas). 

  Secara mengejutkan, daftar enam pernyataan Unwin tidak memuat argumen dari 

rancangan, atau satu pun dari lima ‘bukti’ Aquinas, atau dari berbagai argumen ontologis. Dia 

tidak berurusan dengannya: mereka tidak berkontribusi sedikit pun kepada perkiraan numerisnya 

atas kemungkinan pencipta . Dia membahasnya dan, sebagai statistikawan yang baik, menolaknya 

sebagai kosong. Menurut saya ini menunjukkan kepintarannya, meskipun alasannya untuk 

mengingkari argumen rancangan berbeda dengan argumen saya. Tetapi argumen-argumen yang 

dia bolehkan masuk melalui pintu Bayesian, menurut saya, sama lemahnya. Maksud saya yaitu  

pembobotan kemungkinan subjektif yang akan saya  berikan kepadanya berbeda dengan yang dia 

berikan, dan lagi pula, siapa yang peduli tentang penilaian subjektif? Dia berpikir fakta bahwa 

kita memiliki rasa benar dan salah sangat menunjukkan eksistensi pencipta , sedangkan saya tidak 

melihat bahwa fakta itu seharusnya memindahkannya sama sekali, ke arah mana pun, dari 

harapan awalnya sebelumnya. Bab 6 dan 7 akan menunjukkan bahwa tidak ada argumen yang 

baik yang dapat dibuat bahwa kepemilikan kita akan suatu rasa benar dan salah berkaitan secara 

jelas dengan eksistensi suatu pencipta  supernatural. Sama seperti dalam kasus kemampuan kita 

untuk menikmati sebuah kuartet Beethoven, perasaan kita akan kebaikan (tetapi belum tentu 

dorongan kita untuk mengikutinya) akan sama jika ada pencipta  dan tanpa pencipta . 

  Di sisi lain, Unwin berpikir bahwa eksistensi kejahatan, khususnya bencana alam seperti 

gempa bumi dan tsunami, sangat melawan kemungkinan bahwa pencipta  ada. Di sini, penilaian 

Unwin bertolak-belakang dengan saya tetapi mengikuti banyak teolog yang gelisah. ‘Teodisi’ 

(pembenaran atas adanya pencipta  di hadapan eksistensi kejahatan) membuat para teolog sulit tidur 

malam-malam. Oxford Companion to Philosophy yang berwibawa menganggap masalah 

kejahata