bahasa ibrani 2
( ...kalian datang untuk melihat-lihat ... Tidak tuanku ! Melainkan hamba-hambamu
datang untuk membeli makanan --- Kejadian 42:9-10 )
d> Diterjemahkan “baik ... maupun ...” bila menghubungkan dua hal. Misalnya
:
( ... Satu ketetapan harus berlaku bagi kalian, baik bagi orang asing, maupun
bagi orang Israel asli --- Bilangan 9:14 ).
13.3.2. Pada permulaan kalimat atau permulaan alenia baru, Awalan Penghubung
diterjemahkan dengan “maka” atau “lalu”.
13.3.3. Di depan kata kerja, Awalan Penghubung dapat memiliki arti khusus, yang
akan dibahas kemudian.
35
Dengan demikian, setiap kali bertemu dengan Awalan Penghubung, perlu diputuskan
terjemahan mana yang tepat. Bila ragu-ragu, pakailah dahulu terjemahan standar
“dan”.
TUGAS (6)
A. Terjemahkanlah ungkapan-ungkapan di bawah ini !
10 01
11 02
12 03
13 04
14 05
15 06
16 07
17 08
18 09
B. Terjemahkanlah ke dalam bahasa Ibrani !
01 Tangan dan kaki 07 Baik Yehuda maupun Mesir
02 Kota ITU dan rumah ITU 08 Air ITU dan api ITU
03 Baik siang maupun malam 09 Putera dan puteri
04 Sang raja dan bangsa ITU 10 Bapa dan ibu
05 Sang imam dan sang hamba 11 Nyanyian dan pengajaran
06 Baik emas maupun perak 12 Para suami dan para istri
14. KATA SIFAT
Pada dasarnya sebuah kata sifat dapat digunakan dengan dua cara utama, yakni :
<a> Kata Sifat yang berfungsi sebagai keterangan langsung ( Atributif ) untuk sebuah
kata benda. Misalnya : - Lelaki yang jahat
- Sang nabi yang baik
- Rumah yang tua ITU
<b> Kata Sifat yang berfungsi sebagai sebutan ( Predikatif ) sebuah kalimat.
Misalnya : - Lelaki ITU adalah jahat
- Sang nabi adalah baik
- Rumah ITU adalah tua
36
Demikianlah pemakaian kata sifat dalam bahasa Indonesia hanya dibedakan melalui
kata “yang” untuk pemakaian secara Atributif dan melalui kata “adalah” untuk
pemakaian secara Predikatif. Namun dalam bahasa Ibrani, perbedaan antara dua cara
ini lebih besar dan nyata sehingga perlu dipelajari dan dikuasai dengan baik.
14.1. Kata Sifat Sebagai Atribut
14.1.1. Urutan Kata
Kata Sifat yang dipakai sebagai keterangan langsung ( Atribut ), ditempatkan langsung
di belakang kata benda yang diterangkannya.
Contoh : ( Lelaki yang jahat )
Perhatikan bahwa dalam bahasa Ibrani tidak perlu kata penghubung “yang”, sebab
kata sifat menyusul langsung setelah kata bendanya.
14.1.2. Kata Sifat & Awalan Penentu
Bila kata sifat menerangkan kata benda yang memiliki Awalan Penentu, maka kata sifat
tersebut harus juga dilengkapi dengan Awalan Penentu. Misalnya :
Sang nabi yang baik, atau : Nabi yang baik ITU
Rumah yang tua ITU
Awalan Penentu di depan kata sifat menunjukkan betapa erat hubungannya dengan
kata bendanya. Namun perhatikanlah bahwa Awalan Penentu di depan kata sifat tidak
muncul dalam terjemahan bahasa Indonesia.
14.1.3. Satu Kata Benda Dengan Beberapa Kata Sifat Atributif
Bila SATU kata benda dengan Awalan Penentu diterangkan melalui lebih dari satu
kata sifat, maka masing-masing kata sifat itu juga diberi Awalan Penentu. Misalnya :
Sang Nabi yang baik dan tua
Rumah yang besar dan kudus ITU
14.2. Kata Sifat Sebagai Predikat
Pemakaian kata sifat yang kedua disebut “predikatif” sebab dalam kasus ini kata sifat
berfungsi sebagai predikat dalam sebuah kalimat yang kecil, yang dapat terdiri atas
subyek dan predikat saja. Misalnya :
( Rumah ITU adalah tua )
37
14.2.1. Urutan Dalam Kalimat
Sebelum kita membahas penempatan kata sifat yang dipakai secara predikatif, perlu
untuk membahas urutan dalam kalimat bahasa Ibrani, yang berbeda dengan pola
kalimat bahasa Indonesia.
Æ Æ Æ
Bahasa Indonesia : Subyek (1) + Predikat (2) + Obyek (3)
Sang nabi menulis buku
Å Å Å
Bahasa Ibrani : Obyek (3) + Subyek (2) + Predikat (1)
buku sang nabi menulis
Dengan menempatkan predikat pada urutan pertama dalam tiap kalimat ternyata bahwa
bahasa Ibrani menganggap unsur kegiatan yang dinyatakan melalui predikat
adalah yang terpenting ! Dengan demikian, kita tidak perlu merasa heran bahwa kata
sifat yang dipakai secara predikatif biasanya mendahului kata benda ( subyek ), dan
bukan di belakangnya sebagaimana pada pemakaian atributif.
Perhatikanlah contoh berikut ini !
( TUHAN adalah kudus )
Dalam terjemahan bahasa Indonesia biasanya kata “adalah” akan disisipkan di antara
subyek dan kata sifat. Kemungkinan terjemahan lain, yang lebih mendekati cara
ungkapan bahasa Ibrani adalah : “Kuduslah TUHAN”.
14.2.2. Kata Sifat & Awalan Penentu
Kata sifat yang dipakai secara predikatif tidak pernah mendapat Awalan Penentu,
sekalipun subyek kalimat memilikinya. Contoh :
Adillah Sang Raja ( Raja ITU adalah adil )
Tualah orang ITU ( Orang ITU adalah tua )
Baiklah malam ITU ( Malam ITU adalah baik )
Perhatikanlah :
Dalam contoh nomor 3, ternyata kata sifat yang dipakai secara predikatif sewaktu-
waktu dapat menyusul setelah subyek. Namun demikian, terjemahannya tidak
membingungkan, sebab kata sifat tersebut tidak memiliki Awalan Penentu, tanda
bahwa kata sifat tersebut dipakai secara predikatif.
38
15. KATA BENDA & KATA SIFAT
15.1. Jenis ( Gender ) Kata Benda
Dalam bahasa Ibrani, setiap kata benda dianggap memiliki jenis ( gender ) tertentu,
yang mempengaruhi penggunaan kata benda tersebut. Pada umumnya kata benda
memiliki salah satu dari dua jenis ( gender ) berikut ini :
a> Kata benda jenis ( gender ) laki-laki atau Maskulin ( m ),
b> Kata benda jenis ( gender ) perempuan atau Feminin ( f ).
15.1.1. Kata Benda Feminin
15.1.1.1. Kata benda yang berakhir dengan , , atau biasanya Feminin.
Misalnya :
Perempuan Puteri
Nabiah Pengetahuan
Keadilan Pintu
15.1.1.2. Nama wanita dan tentunya juga semua fungsi wanita berjenis Feminin.
Misalnya :
Ibu Ratu
Puteri Kuda betina
15.1.1.3. Nama kota atau negeri adalah Feminin, sebab dianggap sebagai ibu para
penduduknya. Misalnya :
Bumi
Yerusalem
Kota
15.1.1.4. Sebutan untuk anggota tubuh yang berpasangan adalah Feminin. Misalnya :
Tangan
Kaki
Mata
39
15.1.2. Kata Benda Maskulin
Kata benda Maskulin lebih banyak jumlahnya daripada kata benda Feminin. Kata benda
Maskulin tidak memiliki ciri tertentu yang menunjukkan jenisnya. Namun sebutan
untuk manusia dan binatang tentu mengikuti jenisnya yang alamiah.
Misalnya :
Laki-laki ( m ) Putera ( m )
Perkecualian misalnya : Malam ( m )
15.2. BENTUK JAMAK
Bilamana kata benda bahasa Ibrani muncul dalam bentuk jamak, maka lebih mudah
untuk mengenal jenisnya ( gendernya ) sebab selalu nyata melalui akhiran-akhiran
jamak yang khas.
15.2.1. Akhiran Jamak Pada Kata Benda Maskulin
Kata benda Maskulin dalam bentuk jamak mempunyai akhiran ( full script ) atau
( defective script ) yang langsung ditambahkan pada kata benda bentuk tunggal.
Tunggal Kuda Jantan
Jamak ( Full Script ) Kuda-kuda Jantan
Jamak ( Defective Script ) Kuda-kuda Jantan
Perubahan Vokalisasi
Melalui penambahan akhiran jamak pada kata benda dasar, maka tekanan suara
semakin berpindah ke bagian belakang kata tersebut. Hal ini seringkali mengakibatkan
perubahan pada suku kata pertama yang akan menjadi lebih ringan.
Tunggal Jamak
Vokal Suku Kata
Pertama Qamets Æ
Vokal Suku Kata Pertama
Shewa Bersuara
Bila Konsonan pertama adalah Gutturals, yang tidak dapat menerima Shewa Biasa,
maka Qamets akan berubah menjadi Shewa Gabungan. Misalnya :
Æ
( Tunggal ) ( Jamak )
40
Kata-kata yang memiliki Segolata ( dua segol ) mengalami perubahan vokalisasi yang
khas sebagai berikut :
Tunggal Jamak
Vokal Suku Kata Pertama :
Segol/Tsere
Suku Kata Kedua : Segol
Æ Shewa Bersuara
Æ Qamets
( Gutturals )
Suku kata yang memiliki vokal penuh ( vokal plus huruf vokal ) tetap panjang dan
tidak dapat diperingan, meskipun ditambah akhiran. Misalnya :
Tunggal Jamak
Vokalisasi Khusus
Ada beberapa kata benda Maskulin yang mengalami perubahan vokalisasi yang khusus,
yang tidak mengikuti salah satu peraturan di atas, yakni :
Tunggal Jamak
Lelaki (m)
Putera (m)
Siang/hari
(m)
Kepala (m)
Bangsa (m)
Rumah (m)
15.2.2. Akhiran Jamak Pada Kata Benda Feminin
Kata benda Feminin dalam bentuk jamak mempunyai akhiran khusus, yakni
( full script ) atau ( defective script ).
41
15.2.2.1. Kata benda Feminin yang mempunyai akhiran akan kehilangan
akhirannya dan digantikan oleh akhiran jamak . Misalnya :
Tunggal Jamak
Kuda Betina (f)
Nabiah (f)
Hukum (f)
Keadilan (f)
15.2.2.2. Kata benda Feminin tanpa akhiran menerima akhiran langsung di
belakang bentuk tunggalnya. Perubahan vokalisasi pada kata induknya
mengikuti pola yang sama seperti pada kata benda Maskulin. Contoh :
TUNGGAL JAMAK
Tangan (f)
Jiwa (f)
Roh (f)
Pintu (f)
Mata (f)
Negeri (f)
15.2.3. Akhiran Jamak Yang Tidak Sesuai Gender Kata Benda
15.2.3.1. Ada beberapa kata benda Maskulin yang bentuk jamaknya mengikuti pola
kata benda Feminin, misalnya :
Tunggal Jamak
Ayah (m)
Hati (m)
Hati (m)
Malam (m)
Mezbah (m)
Tempat (m)
Suara (m)
42
Nama (m)
Dosa (m)
15.2.3.2. Ada pula beberapa kata benda Feminin yang bentuk jamaknya mengikuti
pola kata benda Maskulin, misalnya :
Tunggal Jamak
Batu (f)
Wanita (f)
Kota (f)
Tahun (f)
15.2.4. Pengertian Bentuk Jamak
Dalam bahasa Ibrani bentuk jamak tidak hanya berarti bahwa jumlah sesuatu hal itu
lebih dari satu. Ada beberapa kemungkinan yang lain, sebagai berikut :
15.2.4.1. Bentuk jamak dapat mengandung pengertian luasnya ( tempat/waktu ) suatu
hal ( disebut Extensive Plural ). Misalnya :
Langit, Surga
Air
Wajah, permukaan, muka
Hidup, kehidupan
15.2.4.2. Tidak jarang bentuk jamak pada kata benda abstrak mengandung pengertian
Intensitas hal/keadaan ( disebut Intensive Plural ), misalnya :
Berkat
Berkat besar ( Mazmur 21:7 )
15.2.4.3. Ada pula jamak keagungan, yang ada kaitan dengan jamak intensitas.
Pengertian ini khususnya pada nama Elohim ( ). Bila bentuk
tunggal tampaknya tidak cukup untuk mengekspresikan pengertian “wajah”
atau “langit”, apalagi untuk Tuhan. Ia melebihi segala sesuatu dalam segala
hal.
Edited with the trial version of
Foxit Advanced PDF Editor
To remove this notice, visit:
www.foxitsoftware.com/shopping
43
15.3. Bentuk DUAL
Bentuk akhiran Dual ini dipakai untuk benda-benda yang muncul dalam bentuk
pasangan ( berjumlah dua ), secara khusus untuk anggota-anggota tubuh. Bentuk
akhiran Dual ini dipakai baik untuk kata benda Maskulin, maupun kata benda Feminin.
15.3.1. Bentuk Akhiran Dual ini biasanya ditulis ( Patakh yang beraksen, plus
Yod, plus Khireq, plus Mem Final ). Contoh :
Tunggal Arti Jamak DUAL Arti
Telinga (f) Sepasang telinga
Tangan (f) Sepasang tangan
Sayap (f) Sepasang sayap
Mata (f) Sepasang mata
Kaki (f) Sepasang kaki
Bibir (f) Sepasang bibir
Hari (f) Dua hari
Kuda Jantan (f) Dua ekor kuda jantan
15.3.2. Bilamana kata benda yang memiliki akhiran Feminin harus mendapatkan
akhiran Dual, maka dari akhiran Feminin itu akan menjadi dan akhiran
Dual ditambahkan di belakangnya, misalnya :
Bibir (f) Sepasang bibir
Kuda betina (f) Dua ekor kuda betina
15.3.3. Ada perkecualian yang tidak jelas alasannya, sejumlah kata benda yang
muncul dengan bentuk akhiran Dual, namun tanpa arti Dual ( berpasangan ).
Misalnya :
Air Yerusalem
Langit, Surga Mesir
44
TUGAS (7)
A. Berikanlah bentuk jamak untuk kata-kata di bawah ini ! Kenalilah & tuliskan
gender dari setiap kata tersebut !!
09 05 01
10 06 02
11 07 03
12 08 04
B. Berikanlah akhiran Dual pada kata-kata di bawah ini ! Terjemahkan pula setiap
kata dalam bentuk Dual tersebut !!
06 01
07 02
08 03
09 04
10 05
C. Terjemahkanlah kalimat-kalimat Ibrani di bawah ini !
06 01
07 02
08 03
09 04
10 05
D. Berikanlah tanda lingkaran pada kata yang tampaknya salah ditempatkan pada
setiap kelompok kata di bawah ini !
06 01
07 02
08 03
09 04
10 05
45
15 11
16 12
17 13
18 14
15.4. Gender & Jumlah Kata Sifat
Bentuk Kata Sifat harus selalu sesuai dengan bentuk Kata Benda yang diterangkannya
a> Dalam hal gender : Maskulin atau Feminin, dan
b> Dalam hal jumlah : tunggal atau jamak.
Peraturan ini berlaku untuk pemakaian Kata Sifat baik secara atributif maupun secara
predikatif.
Sama seperti Kata Benda, demikian pula pada Kata Sifat dapat terjadi perubahan vokal
kata dasar atau perubahan konsonan terakhir bilamana dibubuhi akhiran Feminin atau
jamak.
15.4.1. Kata Sifat yang vokalnya tidak berubah
Maskulin TUNGGAL
Maskulin JAMAK
Feminin TUNGGAL
Feminin JAMAK
Contoh :
Sang putera ( adalah ) baik
atau : Baiklah sang putera.
Pohon-pohon yang baik
Sang puteri yang baik ITU.
Baiklah para nabiah ITU
15.4.2. Kata Sifat yang terdiri atas dua suku kata, dengan Qamets dalam suku kata
pertama ; Qamets itu akan berubah menjadi Shewa Bersuara ( di bawah
Gutturals akan berubah menjadi Shewa Gabungan ) bilamana Kata Sifat
tersebut dibubuhi akhiran Feminin atau jamak. Perhatikan tabel berikut di
bawah ini !
46
Besar Tua Jujur Fasik Bijaksana
M. Tunggal
M. Jamak
F. Tunggal
F. Jamak
Contoh :
Kaki (f) yang besar.
Bijaksanalah perjanjian (f) ITU.
Bapak-bapak yang tua ITU.
Jujurlah para wanita ITU.
Nabi-nabi yang fasik.
15.4.3. Beberapa Kata Sifat yang terdiri atas satu suku kata saja ; Konsonan kedua
akan menerima Dagesh Forte ( dalam kasus Gutturals terjadi kompensasi )
bilamana Kata Sifat tersebut dibubuhi akhiran Feminin atau jamak. Lihat tabel
berikut !
Banyak Hidup Miskin Jahat
M. Tunggal
M. Jamak
F. Tunggal
F. Jamak
Perhatikanlah :
[1] Bilamana Kata Sifat menerangkan Kata Benda yang akhirannya tidak sesuai
dengan gendernya, maka akhiran Kata Sifat akan sesuai dengan gender Kata
Benda tersebut & bukan sesuai dengan bentuk akhirannya. Misalnya :
Malam (m) yang baik, Selamat Malam.
Istri-istri (f) yang baik.
Bijaksanalah para bapak (m) ITU.
47
[2] Kata Benda yang hanya muncul dalam bentuk jamak, biasanya mendapat Kata
Sifat dalam bentuk jamak pula, meskipun pengertiannya tunggal. Misalnya :
Banyak air, Air yang banyak
Wajah yang jahat.
[3] Kata Sifat yang menerangkan ( Elohim ) selalu dalam bentuk
Tunggal. Misalnya :
Adillah Elohim.
Jahatlah para ilah ITU.
[4] Tidak ada bentuk Dual untuk Kata Sifat ! Oleh karena itu, bila Kata Bendanya
menyandang akhiran Dual, maka Kata Sifat yang menerangkannya memakai
akhiran jamak biasa. Misalnya :
Sepasang tangan yang besar.
[5] Pengertian Jamak Intensif berlaku hanya untuk beberapa Kata Benda dan tidak
berlaku untuk Kata Sifat. Dengan kata lain, , ,
tidak boleh diterjemahkan “baik-baik”, “besar-besar”, melainkan hanya
menunjukkan bahwa Kata Benda yang diterangkannya tersebut dalam status
jamak.Terjemahan Kata Sifat tersebut dalam bahasa Indonesia tetap memakai
bentuk tunggal, “baik”, “besar”.
TUGAS (8)
A. Terjemahkanlah ke dalam bahasa Ibrani, kalimat-kalimat berikut di bawah ini !
01. Lagu-lagu yang indah.
02. Fasiklah bangsa ITU.
03. Besarlah berkat ITU.
04. Bapat ITU baik.
05. Suami dan istri.
06. Langit dan bumi.
07. Adillah imam ITU dan benarlah sang nabiah.
08. Para suami yang tua dan para istri yang bijaksana.
09. Sepasang Kuda jantan dan sepasang kuda betina.
10. Elohim ITU benar dan para ilah ITU jahat.
Edited with the trial version of
Foxit Advanced PDF Editor
To remove this notice, visit:
www.foxitsoftware.com/shopping
48
B. Terjemahkanlah ke dalam bahasa Indonesia, kalimat berikut di bawah ini !
02 01
04 03
06 05
08 07
10 09
16. KATA GANTI ( PRONOUNS )
16.1. Kata Ganti Orang ( Independent Personal Pronouns )
Kata Ganti Orang ditulis sebagai bentuk terpisah dan hanya dipakai untuk menyatakan
Subyek dalam sebuah kalimat. Untuk menyatakan obyek, bahasa Ibrani memiliki
pronominal suffixes khusus, yang ditempatkan sebagai akhiran pada kata lain ( kata
kerja, kata depan, atau kata benda ). Bentuk-bentuk suffix ini akan dipelajari pada
pelajaran-pelajaran selanjutnya.
Untuk sementara ini, kita membatasi diri kepada Kata Ganti Orang, yang berdiri sendiri
sebagai Subyek Kalimat. Bentuk-bentuk Kata Ganti Orang ( Independent Personal
Pronouns ) ini adalah sebagai berikut :
Tunggal Jamak
, Saya (m/f ) Kami/kita (m/f )
Engkau (m) Kalian (m)
Engkau (f) , Kalian (f)
Dia (m) , Mereka (m)
Dia (f) , Mereka (f)
Catatan :
[1] Kata Ganti Orang Kedua Jamak (f) jarang muncul.
[2] Kata Ganti Orang Ketiga Tunggal (f) terdapat sepanjang kitab-kitab Pentateuch.
Contoh :
Akulah Elohim YHWH.
Engkaulah lelaki ITU.
Dialah sang raja yang besar ITU.
Merekalah para hamba yang baik.
Edited with the trial version of
Foxit Advanced PDF Editor
To remove this notice, visit:
www.foxitsoftware.com/shopping
49
16.2. Kata Ganti Penunjuk ( Demonstrative Pronouns )
Kata Ganti Penunjuk adalah kata ganti yang menunjukkan sesuatu benda atau
seseorang yang khusus harus diberi perhatian. Dalam bahasa Ibrani ada dua macam
Kata Ganti Penunjuk, yakni :
a> Menunjuk pada hal-hal yang dekat : ini,
b> Menunjuk pada hal-hal yang jauh : itu.
Dalam hal ini bisa jadi pemakaian kata “itu” membingungkan, sebab kata tersebut juga
dipinjam sebagai Kata Sandang Tertentu ( Awalan Penentu ) yang sebenarnya tidak
ada dalam bahasa Indonesia.
Adapun bentuk-bentuk Kata Ganti Penunjuk ini adalah sebagai berikut :
Tunggal Jamak
Ini/This (m) Ini/These (m)
Ini/This (f) Ini/These (f)
Itu/that (m) , Itu/Those (m)
Itu/that (f) , Itu/Those (f)
Perhatikan, Kata Ganti Orang Ketiga dipinjam untuk berfungsi sebagai Kata Ganti
Penunjuk.
Dalam bahasa Ibrani, Kata Ganti Penunjuk memiliki fungsi yang sama seperti Kata
Sifat ( dapat dipakai secara atributif & predikatif ). Dalam hal ibi Kata Ganto Penunjuk
harus sesuai dalam hal : gender & jumlah dengan Kata Benda yang diterangkannya.
16.2.1. Kata Ganti Penunjuk yang berfungsi sebagai Keterangan Langsung ( dipakai
secara Atributif ) untuk sebuah Kata Benda selalu :
<a> Ditempatkan di belakang Kata Benda yang diterangkannya,
<b> Mendapat Awalan Penentu sama seperti Kata Bendanya.
Contoh :
Lelaki ini.
Lelaki itu.
Negeri ini.
Kota-kota ini.
Bila sebuah Kata Benda dimodifikasi oleh sebuah Kata Sifat, maka Kata Ganti
Penunjuknya akan selalu berdiri setelah Kata Sifat. Misalnya :
50
Hal yang besar ini.
Negeri yang baik ini.
Tahun-tahun yang baik ini.
Padang gurun yang besar itu.
16.2.2. Kata ganti Penunjuk yang dipakai secara predikatif :
a. Ditempatkan di depan Kata Benda.
b. Tidak pernah mendapat Awalan Penentu.
Misalnya :
Inilah hari ITU.
Inilah wanita yang jujur ITU.
Itulah kota yang besar ITU.
Itulah Raja yang bijaksana ITU.
16.3. Kata Ganti Tanya ( Interrogative Pronouns )
Ada dua Kata Ganti Tanya dalam bahasa Ibrani. Posisi Kata Ganti Tanya tersebut
biasanya pada awal kalimat.
16.3.1. Kata Ganti Tanya ( Siapa ? ). Misalnya :
Siapa engkau ?
Siapa lelaki ITU ?
16.3.2. Kata Ganti Tanya ( Apa ? atau Alangkah ... ! ).
Biasanya dihubungkan dengan kata berikutnya melalui garis Maqqef dan
huruf pertama kata berikutnya tersebut akan mendapat Dagesh Forte.
Misalnya :
Apa ini ?
Alangkah baiknya !
Bila bertemu dengan Gutturals dalam kata berikutnya, maka vokalisasi
akan berubah sesuai dengan peraturan yang telah diuraikan
sebelumnya sehubungan dengan Awalan Penentu, sehingga melalui
kompensasi akan terjadi bentuk-bentuk sebagai berikut ( tanpa Dagesh Forte ) :
51
Apa yang telah kaulakukan ?
Apakah kesalahanku dan apakah dosaku ?
Dan apakah yang lebih kuat dari seekor
singa ? ( Hakim-hakim 14:18 )
Apakah hambamu ? ( 2 Samuel 9:8 )
dan sewaktu-waktu juga diterjemahkan “barangsiapa” dan “apa saja”.
Yang menentukan dalam hal ini adalah konteksnya.
16.4. Awalan Tanya ( Interrogative “He” )
Berhubung tidak ada tanda tanya dalam bahasa Ibrani, maka kata atau hal yang
dipertanyakan dibubuhi Awalan Tanya : ( dalam bahasa Indonesia memakai akhiran
-kah ). Misalnya :
Besarkah pohon-pohon ITU ?
Bukankah engkau laki-laki ?
Selamatkah ? ( Apa kabar ? )
Di depan Gutturals, Awalan Tanya dapat mengalami perubahan vokal sehingga menjadi
atau , sama seperti Awalan Penentu. Untuk membedakan Awalan Tanya dari
Awalan Penentu, perlu diperhatikan :
<a> Vokal Awalan Tanya yang biasa adalah Khatef-patakh, sedangkan vokal
Awalan Penentu adalah Patakh.
<b> Awalan Tanya tidak diikuti oleh Dagesh Forte.
<c> Awalan Tanya agak jarang ditemukan, sedangkan Awalan Penentu amat sering
dipakai.
16.5. Kata Keterangan Tanya ( Interrogative Adverbs )
Pertanyaan-pertanyaan dapat juga diperkenalkan dengan Interrogative Adverbs ( Kata
Keterangan Tanya ). Interrogative Adverbs yang paling umum dipakai adalah :
1 Di mana ? 6 Bagaimana ?
2 Di mana ? 7 , Dimanakah ?
Pada tempat apakah ?
3 Di mana ? 8 , Mengapa ?
4 Kapankah ?
Dari manakah ?
9 Mengapa ?
5 Dari manakah ?
52
Contoh :
Di manakah Habel saudaramu ?
Mengapa engkau sendirian ?
53
TUGAS (9)
A. Berikanlah tanda lingkaran untuk bentuk kata sifat yang benar untuk kalimat-
kalimat di bawah ini !
( , ) 01
( , ) 02
( , ) 03
(, ) 04
(, ) 05
(, ) 06
(, ) 07
(, ) 08
(,) 09
(,) 10
B. Pilihlah pasangan yang tepat untuk ayat-ayat di bawah ini !
( ) A Di manakah Sara, istrimu
( Kejadian 18:9 ) ?
( ) B Di manakah Elohimmu
( Mazmur 42:4 ) ?
( ) C TUHAN Elohim bapa-bapamu
( Ulangan 1:21 )
( ) D Apakah nama puteranya ( Amsal
30:4 ) ?
( ) E Adakah mereka tergolong pada
kita ( Kejadian 34:23 ) ?
( ) F Pada hari bapa-bapa kalian ( Yoel
1:2 )
( ) G Bukankah ia bapamu ( Ulangan
32:6 ) ?
( ) H Bukankah ini perkataanku
( Yunus 4:2 ) ?
( ) I Kalian & bapa-bapa kalian
( Yeremia 44:3 )
( ) J Siapakah raja kemuliaan itu
( Mazmur 24:8 )?
( ) K Di manakah Elohim mereka ( Yoel
2:17 ) ?
( ) L TUHAN Elohim bapa-bapanya
( 2 Tawarikh 30:19 )
Edited with the trial version of
Foxit Advanced PDF Editor
To remove this notice, visit:
www.foxitsoftware.com/shopping
54
17. KATA DEPAN ( PREPOSITIONS )
Bila dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, maka bahasa Ibrani memiliki sedikit
preposisi ( Kata Depan ). Ada sejumlah preposisi Ibrani yang tidak bisa dipisahkan
dengan Kata Benda, dan ada pula yang dihubungkan dengan Awalan Penentunya.
Sejumlah preposisi lainnya berdiri sendiri dan berfungsi hampir sama dengan preposisi
dalam bahasa Inggris.
17.1. Inseparable Prepositions
Bahasa Ibrani memiliki tiga Inseperable Prepositions berbentuk Awalan yang
dibubuhkan langsung pada awal kata berikutnya ( Kata Benda ) dan tidak pernah
berdiri sendiri. Inseperable Prepositions ini adalah :
Preposisi Artinya
Dalam, di dalam, oleh, dengan
Seperti, bagaikan, menurut
Kepada, bagi, untuk
Ketentuan-ketentuan Preposisi yang diberikan kepada kata-kata benda adalah sebagai
berikut :
17.1.1. Vokalisasi yang biasa untuk ketiga Preposisi ini adalah Shewa Bersuara.
Contoh :
Dalam Taurat.
Menurut sebuah kata.
Untuk perdamaian.
17.1.2. Di depan Shewa yang lain, ketiga Preposisi tersebut akan mendapat Khireq
dan Shewa yang kedua itu tetap bersuara. Contoh :
Menurut keadilan.
Dengan kata-kata.
Bagi Samuel.
17.1.3. Di depan , ketiga Preposisi tersebut mendapat Khireq dan Shewa di bawah
Yod hilang. Contoh :
Di Yerusalem.
55
Seperti Yehuda.
Untuk Yerikho.
17.1.4. Di bawah Gutturals yang memiliki Shewa Gabungan, ketiga preposisi
tersebut mendapat vokal penuh dari Shewa Gabungan itu. Contoh :
Dalam pelayanan.
Seperti Edom.
Bagi penyakit.
Catatan :
Vokalisasi ketiga preposisi tersebut di atas, di depan nama Elohim memiliki
kekhususan sebagai berikut :
[1] Di depan kata , ketiga preposisi tersebut mendapat Tsere ( bukan
Segol ) dan ‘alef kehilangan vokalnya. Contoh :
Seperti Elohim.
Bagi Elohim.
[2] Di depan kata , ketiga preposisi tersebut mendapat Patakh dan
‘alef kehilangan vokalnya. Contoh :
Seperti TUHAN.
Bagi Tuhan.
17.1.5. Bila ketiga preposisi itu bertemu dengan kata yang mendapat tekanan pada
suku kata pertamanya, maka Shewa di bawah preposisi tersebut sewaktu-
waktu berubah menjadi Qamets. Misalnya :
Seperti ini.
Kepada kekekalan.
Kepada air.
17.1.6. Ketika ketiga preposisi tersebut diberikan kepada Kata Benda yang memiliki
Awalan Penentu, maka dari Awalan Penentu itu dihilangkan, dan
digantikan oleh Konsonan dari preposisi tersebut dengan vokalisasi dari
Edited with the trial version of
Foxit Advanced PDF Editor
To remove this notice, visit:
www.foxitsoftware.com/shopping
56
Awalan Penentunya. Misalnya :
Dalam tahun ITU.
Menurut perjanjian ITU.
Bagi lelaki ITU.
17.1.7. Inseperable Prepositions digabung dengan
Dalam penggabungan antara , , dan perhatikan ragam-ragam
arti preposisi tersebut di bawah ini :
1
( Hakim-hakim 16:5 )
( Kejadian 15:8 )
( Hakim-hakim 6:15 )
Dalam hal apakah kekuatannya ?
Melalui apakah aku tahu ?
Dengan apa akan kuselamatkan ?
2
( Kejadian 47:8 )
( Ayub 7:19 )
( Mazmur 78:40 )
Berapa banyak tahun hidupmu ?
Berapa lama Engkau tidak .....
Berapa kali mereka .....
3 ( Kejadian 4:6 )
( Kejadian 27:46 )
Mengapa hatimu panas ?
Apa gunanya aku hidup lagi ?
17.2. Independent Prepositions
Ada beberapa preposisi yang berdiri sendiri, atau tanpa digabungkan langsung pada
kata berikutnya ( kata benda ). Preposisi jenis ini berfungsi seperti preposisi dalam
bahasa Inggris. Beberapa dari preposisi tersebut yang sangat umum dipakai adalah :
Ke, ke dalam, ke arah. Sebelum, di hadapan.
Atas, tentang. Dengan, bersama.
Di antara. Kepada, sehingga.
Sesudah, di balik. Di bawah, sebaliknya.
Di samping, di dekat.
57
17.3. Kata Depan
Sekalipun preposisi ( dari, keluar dari ) termasuk dalam Independent
Prepositions, namun ketentuan untuk penulisan kata depan ini berbeda, sebagaimana
dijelaskan di bawah ini :
17.3.1. Di depan kata benda yang memiliki Awalan Penentu, kata depan ini berdiri
sendiri dan dihubungkan dengan kata berikutnya melalui garis Maqqef.
Contoh :
Dari kota ITU.
Dari sang Imam.
Dari rumah ITU.
17.3.2. Di depan kata benda tanpa Awalan Penentu, di mana konsonan pertama dari
kata benda tersebut bukan Gutturals, maka preposisi ditulis “Mem plus
Khireq, plus Konsonan pertama dari Kata Benda tersebut di-Dagesh
Forte-kan”. Misalnya :
Dari satu rumah.
Dari raja.
Dari nabi.
Bila konsonan pertama dari kata benda itu :
17.3.2.1. Memiliki Shewa, maka Dagesh Forte dihilangkan. Contoh :
Dari Salomo.
17.3.2.2. Adalah , maka Yod itu akan membisu sebagai huruf vokal ( Shewa &
Dagesh Forte hilang ). Misalnya :
Dari Yerikho.
17.3.3. Di depan Kata Benda tanpa Awalan Penentu, di mana konsonan pertama dari
kata benda tersebut adalah Gutturals, maka preposisi ditulis “Mem
ditambah Tsere, Khireq diperpanjang menjadi Tsere sebagai
kompensasi huruf Gutturals yang tidak bisa diduakalikan”. Misalnya :
Dari kota.
58
Dari kepala.
Dari satu gunung.
17.3.4. Preposisi dapat pula dipakai untuk mengekspresikan suatu
perbandingan. Misalnya :
Ia lebih besar daripada Samuel.
Terang ITU lebih baik daripada
kegelapan ITU.
17.4. Kata Ganti Penghubung ( Relative Pronoun )
Kata Ganti Penghubung ( Relative Pronoun ) dalam bahasa Ibrani adalah
( yang ) sering mengawali anak kalimat yang berisikan keterangan tentang kata
terakhir sebelum . Dengan kata lain Kata Ganti Penghubung ini berfungsi
sebagai keterangan tambahan dengan orang atau benda yang disebutkan sebelumnya.
Misalnya :
Bangsa yang di Mesir ITU.
Para saudara lelaki yang dari Yerusalem.
Yang seringkali menjadi kesulitan adalah terjemahan dari , sebab kata “yang”
dalam bahasa Indonesia tidak selalu dapat mewakili fungsi secara tepat.
Terjemahan yang selalu dapat mewakili adalah ungkapan “dengan
keterangan sebagai berikut”. Tergantung konteks maka seringkali terjemahan di
mana, dari mana, ke mana, paling tepat. Perhatikan cara pengungkapan khas Ibrani
dan terjemahannya di bawah ini !
Ibrani : Lihatlah tempat yang ia
tinggal di situ !
Indonesia : Lihatlah tempat di
mana ia tinggal.
Ibrani : Lihatlah tempat yang ia
datang dari sana !
Indonesia : Lihatlah tempat dari
mana ia datang !
Ibrani : Lihatlah tempat yang ia
pergi ke sana !
Indonesia : Lihatlah tempat ke
mana ia pergi !
59
Ada pula kasus, di mana cara pengungkapan Ibrani mirip dengan cara bahasa
Indonesia. Perhatikan contoh berikut di bawah ini :
Lihatlah orang ITU yang bukunya telah saya ambil.
Catatan :
[a] Pada umumnya berdiri setelah sebuah kata yang dalam status tertentu
( misalnya dengan Awalan Penentu ).
[b] Bentuk kata tetap dan tidak terpengaruh oleh gender atau jumlah kata
yang diterangkannya.
[c] Kata Sifat yang menyusul langsung setelah kata benda yang diterangkannya,
tidak perlu menyisipkan di antaranya. Misalnya :
Raja yang bijaksana.
TUGAS (10)
A. Berikanlah prefiks dengan preposisi untuk kata-kata berikut di bawah ini,
pertama tanpa Awalan Penentu, kemudian dengan Awalan Penentu. Terjemahkan
pula kedua bentuk dari setiap kata tersebut !
7 4 1
8 5 2
9 6 3
B. Berikan prefiks dengan preposisi untuk kata-kata berikut di bawah ini !
11 06 01
12 07 02
13 08 03
14 09 04
15 10 05
16
60
C. Tempatkan Awalan Penghubung “Waw” untuk kata-kata atau ungkapan-
ungkapan berikut di bawah ini ! Terjemahkan pula setiap bentuk kata tersebut !
1 10 05 01
2 11 06 02
3 12 07 03
4 13 08 04
5 14 09
D. Terjemahkanlah kalimat-kalimat di bawah ini !
Contoh : Tidak ada buah di dalam kebun ITU.
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
61
18. KATA KERJA BIASA ( STRONG VERBS )
Ada dua macam kata kerja dalam bahasa Ibrani. Klasifikasi pertama yakni Strong
Verbs. Dan yang kedua adalah Weak Verbs.
Disebut “kuat” ( Strong Verbs ) sebab tidak menyimpang dari pola dasar. Semua kata
kerja “kuat” dikelompokkan dalam satu kelas. Dan Strong Verbs harus memiliki tiga
konsonan dalam bentuk Qal Perfect Orang Ketiga Maskulin Tunggal, sebagaimana
terlihat jelas dalam Lexicon ( Kamus ).
Dengan demikian, secara otomatis, kata-kata kerja yang huruf tengahnya adalah
vokal tergolong Weak Verbs. Lebih lanjut, kata-kata kerja yang memiliki satu atau
dua konsonan Gutturals disebut juga Weak Verbs. Kata kerja lain dimasukkan ke
dalam Weak Verbs bila kata kerja tersebut diawali dengan huruf Yod, Waw, atau
Nun, atau bila huruf ketiganya sama dengan huruf keduanya. Demikian pula kata-kata
kerja yang berakhir dengan huruf He, atau kata-kata kerja yang diawali & diakhiri
oleh huruf ‘alef termasuk dalam Weak Verbs.
Untuk sementara ini, kita akan membatasi diri pada Kata Kerja yang mengikuti pola
dasar itu ( Strong Verbs ).
18.1. Bentuk Asal Kata Kerja
Kata Kerja dalam bahasa Ibrani selalu terdiri atas TIGA KONSONAN saja, misalnya
Menulis
Bekerja.
Memanggil
Bentuk Asal atau Bentuk Dasar ini, yang sering dibubuhi awalan & akhiran serta
mengalami banyak perubahan lainnya, dapat pula disebut “Kata Induk” atau “Akar
Kata”.
Pada umumnya kata kerja dihafal dalam bentuknya yang paling sederhana atau paling
pendek. Dalam bahasa Inggris, bentuk asal kata kerja itu adalah Infinitive, misalnya :
to write, to sing, to go. Dalam bahasa Yunani, bentuk yang biasanya dihafal adalah
orang pertama tunggal, misalnya : λυω , φιλω , γινοµαι .
Dalam bahasa Ibrani, bentuk asal kata kerja terdapat dalam bentuk orang ketiga,
Maskulin, tunggal, misalnya : ( Ia telah menulis ). Namun demikian, bilamana
ditulis tanpa vokalisasi, maka terjemahannya adalah sebagai bentuk asal kata
kerja : “menulis”. Bentuk ini dipakai untuk mendaftarkan kata kerja di dalam Kamus
dan untuk penghafalan.
62
18.2. Pengertian Waktu Pada Kata Kerja
Tata bahasa Ibrani tidak membedakan antara “waktu lampau”, “waktu kini”, dan
“waktu yang akan datang”. Yang dibedakan pada kata kerja adalah hanya dari dua
segi
[a] Perbuatan yang sudah selesai ( Perfect ),
[b] Perbuatan yang belum selesai ( Imperfect ).
Bentuk-bentuk kata kerja yang menyatakan “perbuatan yang sudah selesai” dalam
Tata bahasa Ibrani Tradisional disebut Perfect dalam arti sudah selesai, sempurna,
dan tidak selalu dalam arti “waktu lampau”.
Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa Perfect dapat pula mencakup perbuatan pada
waktu yang akan datang, bilamana yang berbicara memandang perbuatan itu sebagai
perbuatan yang sudah selesai, sudah menjadi kenyataan pada waktu yang akan
datang.
Penggunaan Perfect seperti itu dalam bahasa Inggris disebut Future Perfect atau
Prophetic Perfect, sebab sering ditemukan dalam ucapan para nabi. Misalnya : 700
tahun sebelum Kristus, nabi Yesaya berkata tentang Dia dalam Yesaya 9:1-3
“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar ...
Mereka telah bersukacita ... sebab kuk telah Kaupatahkan ... sebab seorang anak
telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan ...
Semua kata kerja yang dicetak tebal memakai Perfect biasa, namun dengan arti yang
khusus, sebagaimana diuraikan di atas.
18.3. Kata Kerja Biasa : PERFECT
Perfect ini dalam beberapa buku lain disebut Preterite. Sementara itu, Baker/Siahaan
menyebutnya bentuk berakhiran, sebab memang kata induknya ditambah akhiran-
akhiran yang khas.
Berikut di bawah inilah Pola Pembentukan Perfect yang lengkap dari Kata Kerja
Biasa ( Strong Verbs ). Biasanya Daftar bentuk-bentuk kata kerja dimulai dengan
63
orang ketiga, Maskulin, tunggal, mengingat itulah bentuk kata kerja yang paling
sederhana ( Tiga Konsonan yang ditemani oleh dua vokal; suku kata pertama
memakai Qamets & suku kata kedua memakai Patakh ).
Adapun akar kata kerja yang dipakai adalah sebagai contoh yang cocok untuk
melatih pola pembentukan kata kerja, meskipun kata kerja tersebut hanya muncul tiga
kali saja di dalam Tanakh Ibrani, dan artinya memang tidak menyenangkan, yakni :
mematikan.
Akhiran-akhiran yang ditambahkan pada akar kata tersebut menyatakan Subyek &
merupakan singkatan dari kata ganti orang.
Seluruh Pola Pembentukan Perfect harus dikuasai secara mutlak sebab merupakan
Pola Dasar yang akan diikuti oleh semua kata kerja yang lain.
Pola Pembentukan PERFECT dari Strong Verbs
Tunggal Bentuk Arti
3.Maskulin Dia (m) telah mematikan
3. Feminin Dia (f) telah mematikan
2. Maskulin Engkau (m) telah mematikan
2. Feminin Engkau (f) telah mematikan
1.Maskulin/Feminin Saya (m/f) telah mematikan
Jamak
3. Maskulin/Feminin Mereka (m/f) telah mematikan
2. Maskulin Kalian (m) telah mematikan
2. Feminin Kalian (f) telah mematikan
1. Maskulin/Feminin Kami/kita (m/f) telah mematikan
18.4. Subyek Kalimat
Sebagaimana nyata dari bentuk-bentuk kata kerja tersebut, maka kata kerja Ibrani
selalu terdiri atas subyek & predikat sekaligus.
Dia










