delusi tuhan 11
el dan menyelamatkan
lima orang dengan membunuh satu. Kita mengabaikan kemungkinan hipotetis seperti, satu orang
di jalur samping itu mungkin yaitu Beethoven, atau seorang teman dekat.
Elaborasi akan eksperimen pemikiran itu mempresentasikan sejumlah teka-teki moral
yang semakin mengusik. Bagaimana jika kereta dapat dihentikan dengan menjatuhkan objek
berat di jalurnya dari jembatan di atas? Itu mudah: kita jelas harus menjatuhkan objeknya. Tetapi
bagaimana jika satu-satunya objek berat yang ada yaitu seorang sangat gemuk yang duduk di
jembatan, menikmati terbenamnya matahari? Hampir setiap orang setuju bahwa mendorong
orang gemuk dari jembatan itu imoral, meskipun, dari sudut pandang tertentu, dilema ini
mungkin terkesan serupa dengan dilema Denise, ketika menggeser wesel membunuh satu orang
untuk menyelamatkan lima. Kebanyakan dari kita memiliki intuisi kuat bahwa ada perbedaan
krusial di antara kedua kasusnya, meskipun kita mungkin tidak mampu mengartikulasikan apa
perbedaan itu.
Mendorong orang gemuk dari jembatan menyerupai dilema lain yang dipertimbangkan
oleh Hauser. Lima pasien di sebuah rumah sakit sekarat, masing-masing dengan organ berbeda
yang gagal. Masing-masing akan diselamatkan jika seorang donor dapat ditemukan untuk
organnya yang gagal, tetapi tidak ada donor seperti itu. Lalu ahli bedah melihat bahwa ada
seorang sehat di ruang tunggu, dengan kelima organnya berfungsi dengan baik dan cocok untuk
transplantasi. Dalam kasus ini, hampir tak seorang pun dapat ditemukan yang siap untuk berkata
bahwa tindakan moralnya yaitu membunuh satu orang untuk menyelamatkan lima.
Sama seperti orang gemuk di jembatan, intuisi yang sama bagi hampir semua orang
yaitu , seorang tidak bersalah yang hanya kebetulan berada di situ seharusnya tidak tiba-tiba
ditarik ke dalam suatu keadaan buruk dan digunakan demi orang lain tanpa persetujuannya.
Immanuel Kant dengan terkenal mengartikulasikan prinsip bahwa suatu makhluk rasional
seharusnya tidak pernah digunakan hanya sebagai sarana tanpa persetujuannya untuk suatu
tujuan, meskipun tujuannya yaitu membantu orang lain. Prinsip tersebut sepertinya
memberikan perbedaan krusial di antara kasus orang gendut di jembatan (atau orang di ruang
tunggu rumah sakit) dan orang di jalur samping Denise. Orang gendut di jembatan digunakan
secara positif sebagai sarana untuk menghentikan kereta tak terkendali. Ini jelas melanggar
prinsip Kantian. Orang di jalur samping tidak digunakan untuk menyelamatkan nyawa lima
orang di jalur utama. Jalur sampinglah yang digunakan, dan orang malang itu kebetulan berdiri
di situ. Tetapi, ketika pembedaannya dirumus seperti itu, kenapa itu memuaskan? Bagi Kant,
prinsip itu yaitu suatu kemutlakan moral. Bagi Hauser, prinsipnya diprogramkan oleh evolusi
kita.
Keadaan-keadaan hipotetis mengenai kereta tak terkendali menjadi semakin cerdik, dan
dilema moral semakin menyiksa. Hauser membandingkan dilema-dilema yang dihadapi oleh
individu-individu hipotetis bernama Ned dan Oscar. Ned berdiri di jalur kereta. Berbeda dengan
Denise, yang dapat mengalihkan kereta ke jalur samping, wesel Ned mengalihkannya ke suatu
putaran samping yang bergabung lagi dengan jalur utama pas di depan lima orang itu.
Menggeser wesel saja tidak membantu: bagaimanapun, kereta akan menabrak lima orang itu
ketika bergabung lagi dengan jalur utama. Namun, kebetulan, ada seorang sangat gemuk di jalur
pengalihan yang cukup berat untuk menghentikan keretanya. Apakah Ned harus menggeser
wesel dan mengalihkan kereta? Intuisi kebanyakan orang yaitu tidak. Tetapi apa perbedaan di
antara dilema Ned dengan Denise? Dapat diperkirakan bahwa orang menerapkan prinsip Kant
secara intuitif. Denise mengalihkan kereta agar tidak menabrak lima orang, dan kematian satu
orang malang di jalur samping merupakan ‘kerusakan tambahan’ (collateral damage), dalam
bahasa Donald Rumsfeld. Satu orang itu tidak digunakan oleh Denise untuk menyelamatkan
orang lain. Ned sebenarnya menggunakan orang gemuk untuk menghentikan kereta, dan
kebanyakan orang (mungkin tanpa berpikir), bersama dengan Kant (yang berpikir dengan sangat
teliti), menganggap hal tersebut sebagai perbedaan krusial.
Perbedaan ditekankan lagi oleh dilema Oscar. Keadaan Oscar identik dengan keadaan
Ned, kecuali ada massa besi besar di putaran pengalihan jalur, cukup berat untuk menghentikan
kereta. Jelas Oscar tidak akan mengalami kesukaran dalam memutuskan untuk menggeser wesel
dan mengalihkan kereta. Tetapi kebetulan ada seorang pejalan kaki di depan massa besi itu. Dia
pasti akan mati jika Oscar menggeser wesel, sama seperti orang gemuk Ned. Perbedaannya
yaitu pejalan kaki Oscar tidak digunakan untuk menghentikan kereta: dia merupakan kerusakan
tambahan, seperti dalam dilema Denise. Seperti Hauser, dan seperti kebanyakan subjek
eksperimental Hauser, saya merasa bahwa Oscar boleh menggeser wesel tetapi Ned tidak boleh.
Tetapi saya juga cukup susah membenarkan intuisi saya. Poin Hauser yaitu , intuisi moral
seperti itu sering tidak dipikirkan dengan teliti tetapi kita tetap merasakannya secara kuat, karena
warisan evolusioner kita.
Di suatu petualangan menarik ke dalam bidang antropologi, Hauser dan koleganya
menyadur eksperimen moralnya untuk suku Kuna, suku kecil di Amerika Tengah dengan hanya
sedikit hubungan dengan orang Barat dan tanpa kepercayaan resmi. Para peneliti mengubah
eksperimen pemikiran ‘kereta’ menjadi hal setara yang cocok dengan konteks lokal, seperti
buaya yang berenang menuju perahu. Dengan perbedaan kecil yang sesuai, suku Kuna
menunjukkan penilaian moral yang sama seperti kita.
Yang khususnya menarik untuk buku ini, Hauser juga bertanya apakah orang religius
berbeda dengan ateis dalam intuisi moralnya. Tentu, jika kita mendapat moralitas kita dari
kepercayaan , seharusnya berbeda. Tetapi sepertinya tidak. Hauser, bekerja sama dengan filsuf moral
Peter Singer,87 berfokus pada tiga dilema hipotetis dan membandingkan putusan ateis dengan
putusan orang religius. Dalam setiap kasus, subjek diminta memilih apakah suatu tindakan
hipotetis tu ‘wajib’, ‘boleh’, atau ‘dilarang’ secara moral. Ketiga dilema yaitu :
1. Dilema Denise. Sembilan puluh persen orang berkata bahwa boleh mengalihkan kereta,
membunuh satu untuk menyelamatkan lima.
2. Anda melihat seorang anak sedang tenggelam dalam danau dan tidak ada bantuan lain
yang dekat. Anda bisa menyelamatkan anak, tetapi celana Anda akan rusak. Sembilan
puluh tujuh persen setuju bahwa Anda harus menyelamatkan anaknya (luar biasa,
sepertinya 3 persen lebih memilih untuk menyelamatkan celananya).
3. Dilema transplantasi organ yang dideskripsikan di atas. Sembilan puluh tujuh persen dari
subjek setuju bahwa dilarang secara moral untuk menangkap orang sehat di ruang tunggu
dan membunuhnya untuk organnya untuk menyelamatkan lima orang lain.
Kesimpulan utama dari kajian Hauser dan Singer yaitu tidak ada perbedaan yang
signifikan secara statistik di antara ateis dengan orang beriman religius dalam membuat
keputusan ini. Ini sepertinya sesuai dengan pandangan, yang dianut oleh saya dan banyak orang
lain, bahwa kita tidak membutuhkan pencipta untuk menjadi baik – atau jahat.
JIKA TIDAK ADA pencipta , UNTUK APA MENJADI BAIK?
Dilontarkan seperti itu, pertanyaannya terkesan hina betul. Ketika seorang religius
melontarkannya kepada saya dengan cara ini (dan memang banyak seperti itu), godaan pertama
saya yaitu mengeluarkan tantangan berikut: ‘Apakah Anda sebenarnya bermaksud untuk
berkata bahwa satu-satunya alasan Anda berusaha menjadi baik yaitu supaya mendapat
persetujuan dan pahala pencipta , atau supaya menghindari ketidaksetujuan dan hukumannya? Itu
bukan moralitas, itu hanya menjilat, menyogok, melihat ke belakang ke CCTV besar di langit,
atau penyadap kecil di dalam otak Anda, yang memantau setiap gerakan Anda, bahkan setiap
pemikiran dasar.’ Sebagaimana dikatakan oleh Einstein, ‘Jika manusia hanya baik karena takut
dihukum, dan berharap mendapat pahala, kita memang hina.’ Michael Shermer, dalam The
Science of Good and Evil, menyebutnya sebagai penghenti debat. Jika Anda setuju bahwa, tanpa
pencipta , Anda akan ‘merampok, memerkosa, dan membunuh’, Anda menyingkapkan diri Anda
sebagai orang imoral, ‘dan sebaiknya kami menjauh darimu’. Jika, sebaliknya, Anda mengaku
bahwa Anda akan tetap baik meskipun tidak dipantau secara ilahi, Anda telah menggerogoti
klaim Anda secara fatal bahwa pencipta niscaya agar kita menjadi baik. Saya menduga bahwa
cukup banyak orang religius sebenarnya berpikir bahwa kepercayaan yang memotivasikannya untuk
menjadi baik, khususnya jika mereka menganut salah satu kepercayaan yang mengeksploitasi rasa
bersalah pribadi secara sistematis.
Bagi saya, sepertinya memerlukan kepercayaan-diri yang sangat rendah untuk berpikir
bahwa, seandainya kepercayaan akan pencipta tiba-tiba sirna dari dunia, kita akan tiba-tiba menjadi
hedonis yang kasar dan egois, tanpa keramahan, tanpa amal, tanpa kemurahan hati, tanpa apa
pun yang layak disebut kebaikan. Dipercayai secara luas bahwa Dostoyevsky berpendapat seperti
itu, mungkin karena beberapa pernyataan yang dia taruh di mulut Ivan Karamazov:
[Ivan] mengamati dengan berat bahwa tidak ada sama sekali suatu hukum alam
untuk membuat manusia mengasihi umat manusia, dan bahwa jika kasih
memang ada dan pernah ada di dunia sampai sekarang, hal itu tidak karena
hukum alam, tetapi secara keseluruhan karena manusia memercayai
kekekalannya sendiri. Sebagai tambahan, dia berkata bahwa persis itu yang
mengonstitusikan hukum alam, yakni, bahwa ketika iman manusia mengenai
imortalitasnya sendiri sudah dihancurkan, tidak hanya kemampuannya untuk
kasih yang habis, tetapi juga kekuatan vital yang menopang kehidupan di bumi
ini. Dan lagi pula, tidak ada yang imoral lagi, segala sesuatu akan dibolehkan,
bahkan kanibalisme. Dan akhirnya, seolah-olah semua itu belum cukup, dia
menyatakan bahwa bagi setiap individu, seperti kamu dan aku, misalnya, yang
tidak percaya akan pencipta atau imortalitasnya sendiri, hukum alam ditakdirkan
untuk langsung menjadi bertolak belakang dari hukum berdasarkan kepercayaan yang
mendahuluinya, dan bahwa egoisme, bahkan hingga tindakan kejahatan, tidak
hanya akan dibolehkan tetapi akan diakui sebagai raison d’être kondisi
manusia esensial, paling rasional, dan bahkan paling luhur.88
Barangkali secara naif, saya cenderung menyukai suatu pandangan mengenai kodrat
manusia yang tidak sesinis Ivan Karamazov. Apakah kita sungguh harus dipolisikan – oleh
pencipta atau sesama manusia – untuk menghentikan kita berperilaku secara egois dan jahat? Saya
sangat ingin percaya bahwa saya tidak membutuhkan pengawasan seperti itu – dan Anda juga,
pembaca yang terkasih. Di sisi lain, hanya untuk melemahkan kepercayaan-diri kita, dengar
pengalaman mengecewakan Steven Pinker dalam suatu mogok polisi di Montreal, yang dia
deskripsikan dalam The Blank Slate:
Sebagai remaja muda di Kanada yang bangga akan kedamaiannya di tahun
1960-an yang romantik itu, saya yaitu penganut setia anarkisme Bakunin. Saya
menertawakan argumen orang tua saya bahwa jika pemerintahan melepaskan
senjatanya akan terjadi kekacauan. Prediksi kami yang saling bersaing diuji
pada pukul 8.00 17 Oktober 1969, ketika polisi Montreal mogok kerja. Sebelum
pukul 11.20, bank pertama dirampok. Sebelum pukul 12.00 kebanyakan toko di
pusat kota telah tutup karena penjarahan. Dalam beberapa jam berikutnya,
beberapa sopir taksi membakar garasi jasa limosin yang bersaing dengannya
untuk pelanggan bandara, seorang penembak di atap gedung membunuh
seorang petugas polisi provinsi, penjarah merampok beberapa hotel dan
restoran, dan seorang dokter membunuh seorang perampok di rumahnya di luar
kota. Pada akhir harinya, 6 bank telah dirampok, 100 toko telah dijarah, 12
kebakaran telah dibuat, 40 muatan mobil kaca jendela depan tokoh telah
dipecahkan, dan 3 juta dolar kerusakan properti telah disebabkan, sebelum
pemerintahan kota terpaksa memanggil tentara dan, tentu saja, para Mounties
untuk memulihkan tatanan. Ujian empiris yang menentukan ini menghancurkan
politik saya...
Barangkali saya juga terlalu optimis ketika percaya bahwa orang akan tetap baik ketika
tidak diawasi atau dipolisikan oleh pencipta . Di sisi lain, mayoritas populasi Montreal
kemungkinan besar percaya akan pencipta . Kenapa ketakutan akan pencipta tidak menahan mereka
ketika polisi duniawi secara sementara ditiadakan? Bukankah mogok polisi Montreal merupakan
suatu eksperimen alami yang lumayan untuk menguji hipotesis bahwa kepercayaan akan pencipta
membuat kita baik? Atau apakah sang sinis H.L. Mencken benar ketika dia menulis dengan
tajam: ‘Orang mengatakan bahwa kita membutuhkan kepercayaan , tetapi maksud mereka yang
sebenarnya yaitu kita membutuhkan polisi.’
Jelas, tidak semua orang di Montreal berbuat buruk sesegera polisi tidak ada. Akan
menarik, mengetahui apakah ada kecenderungan statistik, sekecil apa pun, bagi orang beriman
religius untuk menjarah dan merusak lebih sedikit daripada orang tidak beriman. Prediksi tidak
berdasar saya yaitu sebaliknya. Biasanya dikatakan secara sinis bahwa tidak ada ateis dalam
lubang perlindungan perang. Saya cenderung menduga (dengan sedikit bukti, meskipun mungkin
terlalu dangkal untuk menarik kesimpulan darinya) bahwa ada sangat sedikit ateis di penjara.
Saya belum tentu mengklaim bahwa ateisme meningkatkan moralitas, meskipun humanisme –
sistem etis yang sering menyertai ateisme – kemungkinan besar begitu. Salah satu kemungkinan
baik yang lain yaitu ateisme berkorelasi dengan suatu faktor ketiga, seperti pendidikan,
kecerdasan, atau sifat reflektif yang lebih tinggi, yang mungkin melawan dorongan jahat. Bukti
penelitian yang ada tentu saja tidak mendukung pandangan umum bahwa religiositas berkorelasi
secara positif dengan moralitas. Bukti korelasi tidak pernah pasti, tetapi data berikut,
dideskripsikan oleh Sam Harris dalam Letter to a Christian Nation, tetap mengesankan.
Sedangkan afiliasi partai politik di Amerika Serikat bukan indikator sempurna
mengenai religiositas, bukan rahasia bahwa ‘negara bagian merah’ [Republikan]
terutama merah karena pengaruh politik para junjungan kristen konservatif yang luar biasa
besar. Jika ada korelasi kuat di antara konservatisme Kristiani dengan
kesehatan masyarakat, kita akan berharap melihat semacam tanda mengenainya
di negara bagian merah Amerika. Kita tidak melihat itu. Dari 25 kota dengan
tingkat kejahatan keras paling rendah, 62 persen berada di negara bagian ‘biru’
[Demokrat], dan 38 persen berada di negara bagian ‘merah’ [Republikan]. Dari
25 kota paling berbahaya, 76 persen berada di negara bagian merah, dan 24
persen berada di negara bagian biru. Sebenarnya, tiga dari lima kota paling
berbahaya di AS terletak di negara bagian Texas yang terkenal saleh. Dua belas
negara bagian dengan tingkat perampokan tertinggi berwarna merah. Dua puluh
empat dari 29 negara bagian dengan tingkat pencurian tertinggi berwarna
merah. Dari 22 negara bagian dengan tingkat pembunuhan tertinggi, 17
berwarna merah.*
Penelitian sistematis cenderung mendukung data korelasi seperti itu. Gregory S. Paul,
dalam Journal of Religion and Society (2005), secara sistematis membandingkan 17 negara yang
maju secara ekonomi, dan menarik kesimpulan dahsyat bahwa ‘tingkat kepercayaan dan
pemujaan akan suatu pencipta berkorelasi dengan tingkat pembunuhan, kematian anak dan di
usia dini, infeksi penyakit menular seksual, kehamilan remaja dan aborsi yang lebih tinggi di
demokrasi-demokrasi maju’. Dan Dennett, dalam Breaking the Spell, berkomentar dengan pedas
mengenai kajian seperti itu pada umumnya:
Tidak perlu dikatakan, hasil-hasil ini begitu memukul klaim-klaim standar
mengenai keutamaan moral yang lebih tinggi di antara orang religius, sehingga
ada lonjakan penelitian lebih lanjut yang lumayan besar yang dipicu oleh
organisasi religius yang berusaha menyangkalnya ... satu hal yang tentangnya
kita bisa pasti yaitu jika ada hubungan positif signifikan di antara perilaku
moral dan afiliasi, praktek, atau kepercayaan religius, korelasi itu akan
ditemukan dalam waktu dekat, karena begitu banyak organisasi religius sangat
ingin mengonfirmasikan kepercayaan tradisionalnya mengenai hal ini secara
ilmiah. (Mereka sangat terkesan dengan kekuatan ilmu pengetahuan untuk
menemukan kebenaran ketika hasilnya mendukung apa yang mereka sudah
percayai.) Setiap bulan yang berlalu tanpa demonstrasi semacam itu
menggarisbawahi dugaan bahwa memang tidak seperti itu.
Kebanyakan orang bijaksana akan setuju bahwa moralitas tanpa kepolisian lebih
bermoral secara sejati daripada jenis moralitas palsu yang menghilang sesegera polisi mogok
kerja atau kamera mata-mata dimatikan, apakah kamera mata-mata itu yaitu kamera nyata yang
dipantau di kantor polisi atau versi imajiner di surga. Tetapi barangkali tidak adil menafsir
pertanyaan ‘Jika tidak ada pencipta , buat apa menjadi baik?’ secara begitu sinis.† Seorang pemikir
religius dapat menawarkan tafsir yang asli lebih bermoral, serupa dengan pernyataan berikut dari
seorang apologis imajiner. ‘Jika Anda tidak percaya akan pencipta , Anda tidak percaya bahwa ada
tolok ukur mutlak moralitas sama sekali. Dengan kehendak terbaik di dunia, barangkali Anda
bermaksud untuk menjadi orang yang baik, tetapi bagaimana Anda memutuskan apa yang baik
dan apa yang buruk? Hanya kepercayaan pada akhirnya dapat memberikan tolok ukur Anda mengenai
kebaikan dan kejahatan. Tanpa kepercayaan Anda harus mengarang saja sembarangan. Itu yaitu
moralitas tanpa buku petunjuk: moralitas asal-asalan. Jika moralitas hanya persoalan pilihan,
Hitler dapat mengklaim dirinya sebagai orang bermoral berdasarkan tolok ukurnya sendiri yang
terinspirasi oleh eugenika, dan ateis hanya bisa membuat keputusan pribadi untuk hidup secara
yang berbeda. Orang junjungan kristen , Yahudi, atau Muslim, sebaliknya, dapat mengklaim bahwa
kejahatan memiliki makna mutlak, benar untuk segala waktu dan di setiap tempat, yang
menurutnya Hitler jahat secara mutlak.
Seandainya benar bahwa kita membutuhkan pencipta untuk bermoral, itu tentu saja tidak
membuat eksistensi pencipta lebih mungkin, hanya lebih diinginkan (banyak orang tidak bisa
* Perhatikan bahwa konvensi warna di Amerika bertolak belakang dengan yang di Britania, di mana biru yaitu
warna Partai Konservatif, dan merah, seperti di seluruh dunia selain dari Amerika, yaitu warna yang secara
tradisonal dikaitkan dengan politik kiri.
† H.L. Mencken, sekali lagi dengan sinisime yang khas, mendefinisikan hati nurani sebagai suara batin yang
memperingatkan kita bahwa mungkin ada orang yang melihat.
membedakannya). Tetapi itu bukan satu-satunya isu di sini. Apologis religius imajiner saya tidak
perlu mengaku bahwa menjilat pencipta yaitu motivasi religius untuk berbuat baik. Klaim dia
justru yaitu , dari mana pun motif untuk menjadi baik berasal, tanpa pencipta tidak akan ada tolok
ukur untuk memutuskan apa yang baik. Kita bisa masing-masing menciptakan definisi kebaikan
sendiri, dan berperilaku secara yang sesuai dengannya. Prinsip-prinsip moral yang hanya
berdasarkan pada kepercayaan (berbeda dengan, misalnya ‘aturan emas’, yang sering dikaitkan dengan
kepercayaan tetapi dapat diturunkan dari sumber lain) dapat disebut absolutis. Baik yaitu baik dan
buruk yaitu buruk, dan kita tidak merepotkan diri dengan memutuskan kasus partikular
berdasarkan apakah, misalnya, ada yang menderita. Apologis religius saya akan mengklaim
bahwa hanya kepercayaan dapat memberi dasar untuk memutuskan apa yang baik.
Beberapa filsuf, terutama Kant, pernah berusaha untuk menghasilkan moral-moral mutlak
dari sumber non-religius. Meskipun dia sendiri religius, seperti hampir tak terelakkan pada
zamannya,* Kant berusaha untuk mendasarkan suatu moralitas atas kewajiban demi kewajiban
sendiri, daripada demi pencipta . Imperatif kategorisnya yang terkenal mengimbau kita supaya
‘bertindak hanya berdasarkan kaidah itu yang Anda dapat sekaligus kehendaki bahwa kaidah itu
akan berlaku sebagai hukum universal’. Ini bekerja dengan bagus dalam kasus berbohong.
Bayangkan dunia di mana semua orang berbohong secara prinsip, di mana berbohong dianggap
sebagai hal yang baik dan bermoral. Dalam dunia seperti itu, kebohongan sendiri tidak akan
bermakna lagi. Kebohongan membutuhkan praandaian akan kebenaran untuk definisinya sendiri.
Jika suatu prinsip moral yaitu suatu yang seharusnya kita inginkan setiap orang ikuti,
berbohong tidak bisa menjadi suatu prinsip moral karena prinsip itu sendiri akan meroboh dalam
ketidakbermaknaan. Berbohong, sebagai peraturan hidup, secara inheren tidak stabil. Secara
lebih umum, keegoisan, atau parasitisme bebas pada kehendak baik orang lain, mungkin berhasil
bagi saya sebagai seorang individu egois sendiri dan memberikan saya kepuasan pribadi. Tetapi
saya tidak bisa menginginkan bahwa semua orang akan menghayati parasitisme egois sebagai
suatu prinsip moral, hanya karena kalau begitu tidak ada lagi yang dapat saya eksploitasi.
Imperatif Kantian sepertinya berhasil untuk kebohongan dan beberapa kasus lain. Tidak
begitu mudah untuk melihat cara memperluasnya hingga mencakup moralitas secara umum.
Tanpa mengindahkan Kant, kita tergoda untuk setuju dengan apologis hipotetis saya bahwa
moral-moral absolutis biasanya didorong oleh kepercayaan . Apakah membantu seorang yang sakit
terminal mati jika dia sendiri yang memintanya selalu salah?? Apakah bercinta dengan sesama
jenis selalu salah? Apakah membunuh sebuah embrio selalu salah? Ada yang percaya demikian,
dan dasarnya mutlak. Mereka tidak menoleransi argumen atau debat. Siapa pun yang tidak setuju
layak ditembak: secara metaforis tentu saja, tidak secara nyata – kecuali dalam kasus beberapa
dokter di klinik aborsi Amerika (lihat bab berikutnya). Namun, untungnya, moral tidak perlu
mutlak.
Filsuf-filsuf moral yaitu orang profesional dalam memikirkan benar dan salah.
Sebagaimana dirumuskan dengan singkat oleh Robert Hinde, mereka setuju bahwa ‘aturan
moral, meskipun belum tentu dibuat oleh akal budi, seharusnya dapat dipertahankan oleh akal
budi’.89 Mereka mengklasifikasikan dirinya dengan banyak cara, tetapi dalam peristilahan
modern pembedaan utama terletak di antara para ‘deontologis’ (seperti Kant) dengan para
‘konsekuensialis’ (termasuk para ‘utilitarian’ seperti Jeremy Bentham, 1748–1832). Deontologi
yaitu istilah mewah untuk kepercayaan bahwa moralitas terdiri atas pemapencipta peraturan.
* Ini yaitu interpretasi standar atas pandangan Kant. Namun, filsuf terkenal A. C. Grayling telah berargumen secara
yang masuk akal (New Humanist, Juli–Agustus. 2006) bahwa meskipun Kant secara publik mengikuti konvensi
religius pada zamannya, dia sebenarnya yaitu ateis.
Deontologi secara harfiah yaitu ilmu kewajiban, dari bahasa Yunani untuk ‘apa yang
mengikat’. Deontologi tidak persis sama dengan absolutisme moral, tetapi secara garis besar
dalam sebuah buku tentang kepercayaan , kita tidak perlu memperhatikan pembedaannya. Para
absolutis percaya bahwa ada hal mutlak mengenai benar dan salah, imperatif yang kebenarannya
tidak merujuk konsekuensinya sama sekali. Para konsekuensalis secara lebih pragmatis
beranggapan bahwa moralitas suatu tindakan seharusnya dinilai dari konsekuensinya. Salah satu
versi konsekuensialisme yaitu utilitarianisme, filsafat yang dikaitkan dengan Bentham,
temannya James Mill (1773–1836) dan anaknya Mill, John Stuart Mill (1806–73).
Utilitarianisme sering dirumuskan dalam kutipan Bentham yang sayangnya kurang tepat:
‘Kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbesar yaitu fondasi moralitas dan legislasi’.
Tidak semua absolutisme menurun dari kepercayaan . Namun, lumayan susah mempertahankan
moral-moral absolutis atas dasar selain dari kepercayaan . Satu-satunya pesaing yang dapat saya
pikirkan yaitu patriotisme, terutama pada waktu perang. Sebagaimana dikatakan oleh sutradara
Spanyol terkemuka, Luis Buñuel, ‘pencipta dan Negara yaitu tim yang tak terkalahkan; mereka
memecahkan semua rekor untuk penindasan dan penumpahan darah.’ Petugas perekrutan sangat
mengandalkan perasaan kewajiban patriotik korbannya. Di Perang Dunia Pertama, perempuan
memberi bulu putih kepada lelaki muda yang tidak berseragam.
Kami tak mau kehilanganmu, tapi kesebaiknya kau pergi,
Karena Rajamu dan negaramu begitu membutuhknamu.
Conscientious objector dibenci, bahkan yang di negara musuh, karena patriotisme
dianggap sebagai keutamaan mutlak. Sulit menjadi lebih mutlak daripada semboyan prajurit
profesional, ‘Negaraku benar atau salah’, karena semboyan itu membuat seseorang berkomitmen
membunuh siapa pun yang suatu saat di masa depan ditentukan oleh para politikus sebagai
musuh. Penalaran konsekuensalis mungkin akan memengaruhi keputusan politik untuk
berperang tetapi, ketika perang telah dinyatakan, patriotisme absolutis mengambil alih dengan
suatu kekuatan yang di luar konteks itu tidak akan terlihat kecuali dalam kepercayaan . Seorang prajurit
yang membiarkan pemikiran moralitas konsekuensialisnya sendiri membujuknya agar tidak
menyerang besar kemungkinan akan dituntut pengadilan militer dan bahkan dihukum mati.
Titik tolak diskusi filsafat moral ini yaitu klaim religius hipotetis bahwa, tanpa pencipta ,
moral-moral bersifat relatif dan arbitrer. Terlepas dari Kant dan filsuf moral terpelajar yang lain,
dan dengan pengakuan yang layak atas semangat patriotik, sumber terpilih moralitas mutlak
biasanya merupakan sejenis kitab suci, ditafsir seolah-olah memiliki otoritas yang jauh
melampaui kemampuan sejarahnya untuk membenarkannya. Memang, penganut otoritas
alkitabiah memperlihatkan tingkat keingintahuan yang cukup rendah hingga menakutkan
mengenai asal-usul historis (yang biasanya sangat meragukan) kitab sucinya. Bab berikutnya
akan mendemonstrasikan bahwa, bagaimanapun, orang yang mengklaim dirinya menyarikan
moralnya dari kitab suci sebenarnya tidak melakukannya secara praktis. Dan itulah hal yang
sangat baik, sebagaimana mereka sendiri, jika berefleksi, akan setujui.
BAB 7
ALKITAB DAN ZEITGEIST MORAL YANG BERUBAH
Politik telah membunuh ribuan, tetapi kepercayaan telah membunuh puluhan ribu.
–SEAN O’CASEY
Ada dua cara kitab suci bisa menjadi sumber moral atau peraturan hidup. Satu yaitu
pengajaran langsung, misalnya melalui Sepuluh Perintah, yang menjadi pusat pertikaian yang
begitu pahit di perang budaya pedesaan Amerika. Cara lain yaitu melalui contoh: pencipta , atau
tokoh alkitab yang lain, mungkin merupakan – menurut jargon kekikinian – panutan. Kedua
jalan alkitabiah itu, jika diikuti secara taat, menyokong suatu sistem moral yang akan dianggap
oleh seorang manusia beradab modern sebagai – tidak ada kata yang lebih halus untuknya –
menjengkelkan.
Agar adil, banyak dalam Alkitab tidak jahat secara sistematis tetapi aneh saja,
sebagaimana kita akan harapkan dari suatu antologi yang disusun secara sembarangan dari
dokumen-dokumen yang tidak berkaitan satu sama lain, dikarang, direvisi, diterjemahkan,
didistorsi dan ‘diperbaiki’ oleh ratusan penulis, editor, dan juru tulis anonim, yang tidak
diketahui oleh kita dan pada umumnya tidak saling berkenalan, selama sembilan abad.90 Ini
mungkin bisa menjelaskan sebagian dari keanehan belaka Alkitab. Tetapi sayangnya, kitab aneh
yang sama dijunjung tinggi oleh orang fanatik religius sebagai sumber yang tidak mungkin keliru
untuk moral dan peraturan hidup kita. Mereka yang ingin mendasari moralitasnya secara harfiah
pada Alkitab belum membacanya atau belum memahaminya, sebagaimana dicatat dengan benar
oleh Uskup John Shelby Spong, dalam The Sins of Scripture. Uskup Spong yaitu contoh baik
atas seorang uskup liberal yang kepercayaannya begitu maju sehingga hampir tidak dapat
dikenali oleh mayoritas orang yang menyebut dirinya junjungan kristen . Setaranya di Britania yaitu
Richard Holloway, yang baru pensiun sebagai Uskup Edinburgh. Uskup Holloway bahkan
mendeskripsikan dirinya sebagai seorang ‘mantan junjungan kristen ’. Saya mengadakan diskusi publik
dengannya di Edinburgh, dan itu yaitu salah satu pertemuan paling menyemangatkan dan
menarik yang pernah saya alami.91
PERJANJIAN LAMA
Mulai di Kejadian dengan cerita Nuh yang sangat dikagumi, yang menurun dari mitos
Babilon mengenai Unapisytim dan dikenal dari mitologi lebih tua di beberapa budaya. Legenda
mengenai hewan yang memasuki bahtera berpasangan cukup menghibur, tetapi moral kisah Nuh
mengerikan. pencipta memandang manusia buruk, jadi dia (dengan pengecualian satu keluarga)
menenggelamkan semuanya, termasuk anak-anak, dan juga, sebagai tambahan, semua hewan
yang lain yang besar kemungkinan tidak bersalah.
Tentu saja, para teolog dengan kesal memprotes bahwa kita sudah tidak menafsir kitab
Kejadian secara harfiah. Tetapi itulah poin saya! Kita memilih-milih bagian mana dari Alkitab
yang kita akan percaya, dan bagian yang mana yang akan dianggap simbol atau alegori belaka.
Memilih-milih seperti itu yaitu persoalan keputusan pribadi, persis sama dengan keputusan
ateis untuk mengikuti peraturan moral ini atau itu yaitu keputusan pribadi, tanpa suatu dasar
mutlak. Jika salah satu pendekatan tersebut yaitu ‘moralitas asal-asalan’, yang lain juga begitu.
Bagaimanapun, terlepas dari niat baik teolog terpelajar, sejumlah menakutkan orang
masih menafsir kitab suci mereka, termasuk kisah Nuh, secara harfiah. Menurut Gallup, orang
tersebut termasuk sekitar 50 persen pemilih di AS. Pula, tidak dapat diragukan, banyak dari
imam-imam Asia itu yang menyebut sebab tsunami 2004 bukan sebagai pergeseran lempeng
tektonik melainkan dosa manusia,92 dari mabuk dan berjoget di bar hingga melanggar peraturan
sabat kecil yang tidak penting. Tercelup dalam kisah Nuh, dan tidak tahu-menahu apa pun selain
Alkitab, siapa yang dapat menyalahkan mereka? Seluruh pendidikannya membuatnya
memandang bencana alam sebagai terkait dengan urusan manusia, pembalasan dendam untuk
pelanggaran kecil manusia, dan bukan suatu yang begitu impersonal seperti tektonika lempeng.
Sebagai tambahan, mereka sungguh egosentris jika percaya bahwa peristiwa-peristiwa yang
menggetarkan bumi, pada skala suatu pencipta (atau lempeng tektonik) akan beroperasi, harus
selalu terkait dengan manusia. Buat apa suatu entitas ilahi, yang sibuk memikirkan ciptaan dan
keabadian, peduli sedikit pun mengenai pelanggaran kecil manusia? Kita manusia sombong
sekali, bahkan melebih-lebihkan ‘dosa’ kecil kita hingga signifikan secara kosmik!
Ketika saya mewawancarai untuk televisi Pendeta Michael Bray, seorang aktivis anti-
aborsi Amerika yang terkemuka, saya menanyainya kenapa para junjungan kristen evangelikal begitu
terobsesi dengan kecenderungan seksual privat seperti homoseksualitas, yang tidak mengganggu
kehidupan orang lain. Balasannya mengandalkan semacam pertahanan-diri. Warga yang tidak
bersalah berisiko menjadi kerusakan tambahan ketika pencipta memilih untuk menghantam sebuah
kota dengan bencana alam karena kota itu menampung pendosa. Pada 2005, kota baik New
Orleans kena banjir secara katastrofis setelah Badai Katrina. Pendeta Pat Robertson, salah satu
televangelis Amerika paling terkenal dan mantan calon presiden, dicatat menyalahkan seorang
pelawak lesbian yang kebetulan tinggal di New Orleans untuk badainya.* Seharusnya suatu
pencipta yang maha kuasa akan menggunakan pendekatan yang sedikit lebih terfokus dalam
membasmi pendosa: suatu serangan jantung bijaksana, barangkali, daripada pembinasaan seluruh
kota hanya karena kebetulan didiami oleh seorang pelawak lesbian.
Di November 2005, warga Dover, Pennsylvania bersuara dan mengusir dari dewan
sekolah lokal seluruh kader fundamentalis yang membuat kotanya terkenal secara buruk, dan
menjadi sasaran ejekan, karena berusaha untuk memaksakan pengajaran ‘rancangan cerdas’.
Ketika Pat Robertson mendengar bahwa para fundementalis dikalahkan secara demokratis , dia
menawarkan suatu peringatan berat kepada Dover:
Saya ingin berkata kepada warga Dover yang baik, jika ada bencana alam di
kawasan Anda, jangan andalkan pencipta . Anda baru saja mengusirnya dari kota
Anda, dan jangan bertanya kenapa dia belum membantu Anda saat masalah
mulai, jika mulai, saya tidak berkata bahwa itu akan terjadi. Tetapi jika terjadi,
ingat saja bahwa Anda memilih untuk mengusir pencipta dari kota Anda. Dan
kalau begitu, jangan minta pertolongannya, karena mungkin dia tidak ada di
sana.93
* Tidak jelas apakah cerita itu, yang pertama kali muncul di
http://datelinehollywood.com/archives/2005/09/05/robertson-blames-hurricane-on-choice-of-ellen-deneres-to-host-
emmys/, benar. Benar atau tidak, cerita itu dipercayai secara luas, tentu karena begitu sesuai dengan ucapan-ucapan
lain dari para pendeta evangelikal, termasuk Robertson, mengenai bencana alam seperti Katrina. Lihat, misalnya,
www.emediawire.com/releases/2005/9/emw281940.htm. Situs web yang berkata bahwa cerita Katrina itu tidak
benar (www.snopes.com/katrina/satire/robertson.asp) juga mengutip Robinson berkata, mengenai suatu acara parade
Gay Pride sebelumnya di Orlando, Florida, ‘Saya ingin memperingatkan Orlando bahwa kalian akan kena badai
yang cukup besar, dan saya tidak akan mengibarkan bendera itu di muka pencipta jika saya menjadi kalian.’
Pat Robertson akan dianggap sebagai hiburan yang tidak sama sekali berbahaya,
seandainya dia tidak begitu menyerupai mereka yang hari ini berkuasa dan berpengaruh di
Amerika Serikat.
Dalam kebinasaan Sodom dan Gomora, tokoh yang setara dengan Nuh, dipilih untuk
diselamatkan dengan keluarganya karena dia secara khusus saleh, yaitu keponakan Abraham,
Lot. Dua malaikat lelaki diutus ke Sodom untuk memperingati Lot supaya ia meninggalkan kota
sebelum pemusnahannya. Lot dengan ramah menerima malaikatnya ke dalam rumahnya, lalu
semua pria Sodom berdatangan dan menuntut bahwa Lot harus memberi malaikatnya kepadanya
agar mereka bisa (apa lagi?) menyodominya: “Di manakah orang-orang yang datang kepadamu
malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka” (Kejadian 19: 5).
Keberanian Lot dalam menolak tuntutannya menunjukkan bahwa pencipta mungkin ada benarnya
ketika dia memilihnya sebagai satu-satunya orang baik di Sodom. Tetapi aura kebaikan Lot
dirusak oleh cara dia menolak: “Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu,
aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah
mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti kamu pandang baik; hanya
jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung dalam
rumahku” (Kejadian 19: 7-8).
Apa pun makna lain yang terkandung dalam kisah aneh ini, tentu kita diceritakan
mengenai penghormatan yang diberi kepada perempuan di budaya ini yang begitu religius.
Kebetulan, tawaran Lot atas keperawanan putri-putrinya ternyata tidak perlu, karena kedua
malaikat berhasil mengalahkan para perampok dengan membutakan mereka secara ajaib. Mereka
lalu menyuruh Lot untuk langsung pergi dengan keluarganya dan hewannya, karena kotanya
akan segera dibinasakan. Seisi rumah tangga selamat, dengan pengecualian istri malang Lot,
yang pencipta ubah menjadi tiang garam karena dia melakukan pelanggaran – yang terkesan cukup
enteng – menoleh ke belakang melihat penghancurannya.
Kedua putri Lot muncul kembali secara singkat dalam kisahnya. Setelah ibu mereka
dijadikan tiang garam, mereka hidup dengan ayahnya di gua di pegunungan. Haus akan perhatian
lelaki, mereka memutuskan untuk membuat ayah mereka mabuk dan bersetubuh dengannya. Lot
terlalu mabuk, hingga tidak menyadari bahwa putri sulungnya mendatangi ranjangnya atau saat
dia pergi, tetapi dia tidak terlalu mabuk untuk menghamilinya. Malam berikutnya kedua putri
setuju bahwa sudah gilirannya si bungsu. Sekali lagi Lot terlalu mabuk untuk sadar, dan dia
menghamilinya juga (Kejadian 19: 31-6). Jika keluarga disfungsional ini yaitu penawaran
terbaik kota Sodom secara moral, mungkin ada yang mulai bersimpati dengan pencipta dan
hukumannya yang berapi.
Kisah Lot dan para orang-orang Sodom secara merindingkan bergema di pasal 19 kitab
Hakim-hakim, ketika seorang Lewi (pendeta) yang namanya tidak disebut berjalan dengan
selirnya di Gibea. Mereka bermalam di rumah seorang lelaki tua yang ramah. Sambil mereka
makan malam, para lelaki kota datang dan mengetok pintu, menuntut bahwa lelaki tua itu harus
memberi tamu lelakinya kepada mereka “supaya kami pakai dia”. Dengan kata-kata yang hampir
persis sama dengan kata-kata Lot, lelaki tua itu berkata: “Tidak, saudara-saudaraku, janganlah
kiranya berbuat jahat; karena orang ini telah masuk ke rumahku, janganlah kamu berbuat noda.
Tetapi ada anakku perempuan, yang masih perawan, dan juga gundik orang itu, baiklah kubawa
keduanya ke luar; perkosalah mereka dan perbuatlah dengan mereka apa yang kamu pandang
baik, tetapi terhadap orang ini janganlah kamu berbuat noda” (Hakim-hakim 19: 23-4). Sekali
lagi, etos misoginis disampaikan dengan jelas. Saya menganggap frasa ‘perkosalah mereka’
menggentarkan secara khusus. Nikmati dengan memalukan dan memerkosa putriku dan gundik
pendeta ini, tetapi hormati dengan layak tamuku yang lelaki. Meskipun ada kemiripan di antara
kedua ceritanya, dénouement-nya kurang bahagia untuk gundiknya orang Lewi daripada untuk
putri-putri Lot.
Orang Lewi memberi gundiknya kepada massa, yang memerkosanya ramai-ramai
semalaman: ‘Mereka bersetubuh dengan perempuan itu dan semalam-malam itu mereka
mempermainkannya, sampai pagi. Barulah pada waktu fajar menyingsing mereka melepaskan
perempuan itu. Menjelang pagi perempuan itu datang kembali, tetapi ia jatuh rebah di depan
pintu rumah orang itu, tempat tuannya bermalam, dan ia tergeletak di sana sampai fajar’ (Hakim-
hakim 19: 25-6). Pagi-pagi, orang Lewi menemukan gundiknya berbaring di ambang pintu dan
berkata – dengan nada yang mungkin terkesan bagi kita hari ini sebagai kasar – ‘Bangunlah, mari
kita pergi.’ Tetapi dia tidak bergerak. Dia mati. Jadi ‘diambilnyalah pisau, dipegangnyalah mayat
gundiknya, dipotong-potongnya menurut tulang-tulangnya menjadi dua belas potongan, lalu
dikirimnya ke seluruh daerah orang Israel’. Ya, Anda telah membaca dengan benar. Cari sendiri
di Hakim-hakim 19: 29. Mari kita dengan murah hati menganggap ini sebagai salah satu
keanehan lagi yang khas Alkitab. Sebenarnya, kisah itu tidak segila kesan pertamanya. Ada
motivasi – untuk menghasut pembalasan dendam – dan itu berhasil, karena peristiwa itu
menghasut suatu perang pembalasan dendam terhadap suku Benyamin di mana, sebagaimana
dicatat dengan lembut dalam pasal 20 Hakim-hakim, lebih dari 60.000 orang mati. Kisah gundik
orang Lewi begitu menyerupai kisah Lot, kita jadi bertanya apakah suatu fragmen naskah tidak
sengaja salah ditempatkan dalam suatu tempat penyimpanan naskah yang sudah lama dilupakan:
suatu ilustrasi mengenai asal-usul tidak konsisten teks-teks suci.
Paman Lot, Abraham, yaitu bapak pendiri ketiga kepercayaan monoteistik ‘besar’. Status
patriarkalnya membuat kemungkinan dia dijadikan panutan hanya kalah sedikit dengan pencipta .
Tetapi orang bermoral modern siapa yang ingin mengikutinya? Saat dia relatif muda dalam
hidupnya yang panjang, Abraham pergi ke Mesir untuk lepas dari bencana kelaparan dengan
istrinya Sara. Dia menyadari bahwa perempuan secantik itu akan diinginkan oleh para orang
Mesir dan karena itu nyawanya sendiri, sebagai suaminya, mungkin terancam. Jadi dia
memutuskan untuk berpura-pura bahwa Sara yaitu saudarinya. Sebagai saudari, Sara
dimasukkan ke dalam harem Firaun, dengan hasilnya Abraham menjadi kaya karena disukai
Firaun. pencipta tidak menyetujui susunan nyaman tersebut, dan mengirimkan tulah kepada Firaun
dan rumahnya (kenapa bukan Abraham?). Firaun, yang, secara yang dapat dipahami cukup
terganggu, menuntut penjelasan kenapa Abraham tidak memberi tahunya bahwa Sara yaitu
istrinya. Lalu Firaun mengembalikan Sara kepada Abraham dan mengusir mereka berdua dari
Mesir (Kejadian 12: 18-19). Anehnya, sepertinya pasangan itu kemudian berusaha untuk
menggunakan penipuan yang sama, kali ini dengan Abimelekh, Raja Gerar. Dia juga
dikondisikan oleh Abraham supaya menikahi Sara, sekali lagi karena dia percaya bahwa Sara
yaitu saudarinya Abraham, bukan istrinya (Kejadian 20: 2-5). Dia juga mengucapkan rasa tidak
sukanya, dengan kata-kata yang hampir identik dengan Firaun, dan kita susah tidak bersimpati
dengan mereka berdua. Apakah kemiripan itu yaitu satu tanda lagi bahwa integritas teks ini
sulit diandalkan?
Episode-episode tidak menyenangkan dalam kisah Abraham merupakan pelanggaran
kecil dibandingkan dengan kisah terkenal ketika ia mengurbankan putranya, Ishak (Kitab suci
Muslim menceritakan kisah yang sama mengenai putra Abraham yang satu lagi, Ismael
(Isma’il)). pencipta menyuruh Abraham untuk mengurbankan putranya yang dia dambakan.
Abraham membangun altar, menaruh kayu bakar di sana, dan mengikat Ishak di atas kayunya.
Dia sudah memegang pisau untuk membunuhnya ketika malaikat melerai secara dramatis dengan
kabar mengenai suatu perubahan rencana mendadak: pencipta ternyata hanya bercanda,
‘menggoda’ Abraham, dan menguji imannya. Seorang bermoral modern tidak bisa tidak bertanya
bagaimana seorang anak pernah akan pulih dari trauma psikologis seperti itu. Menurut tolok ukur
moralitas modern, kisah memalukan ini sekaligus merupakan contoh pelecehan anak,
perundungan dalam dua hubungan kekuasaan yang asimetris, dan penggunaan pertama yang
dicatat atas Nürnberg: ‘Saya hanya mematuhi perintah.’ Namun legenda itu yaitu salah satu
mitos pendirian besar bagi ketiga kepercayaan monoteistik.
Sekali lagi, para teolog modern akan memprotes bahwa kisah Abraham mengurbankan
Ishak seharusnya tidak dianggap sebagai fakta harfiah. Dan, sekali lagi, tanggapan yang layak
bersisi dua. Pertama, banyak sekali orang, bahkan hingga hari ini, memang menganggap
keseluruhan kitab suci mereka sebagai fakta harfiah, dan mereka memiliki kekuasaan politik
yang amat besar atas kita-kita yang lain, terutama di Amerika Serikat dan di dunia Islami. Kedua,
jika bukan fakta harfiah, bagaimana harus kita tafsir kisahnya? Sebagai alegori? Lalu alegori
untuk apa? Tentunya bukan apa pun yang layak dipuji. Sebagai pelajaran moral? Tetapi moral
jenis apa yang dapat disarikan dari kisah mengerikan ini? Ingat, pada saat ini saya hanya ingin
menetapkan bahwa kita tidak, sebenarnya, menyarikan moral kita dari kitab suci. Atau, jika
begitu, kita memilih-milih di antara kitab-kitab untuk bagian-bagian yang bagus dan menolak
yang buruk. Tetapi kalau begitu kita harus memiliki suatu kriteria mandiri untuk memutuskan
bagian mana yang bermoral: suatu kriteria yang, dari mana pun berasalnya, tidak bisa berasal
dari kitab suci sendiri dan dapat dikira terbuka bagi kita semua apakah kita religius atau tidak.
Para apologis bahkan mencoba untuk menyelamatkan sedikit kebaikan bagi tokoh pencipta
dalam kisah tercela ini. Bukankah pencipta itu baik karena menyelamatkan nyawa Ishak pada titik
terakhir? Seandainya ada pembaca saya yang diyakinkan oleh penalaran keliru dan menghina itu
(suatu yang saya anggap tidak begitu mungkin), saya merujuk suatu kisah lain mengenai
pengurbanan manusia, yang tidak berakhir sebahagia yang pertama. Dalam Hakim-hakim,
pemimpin militer Yefta membuat kesepakatan dengan pencipta bahwa, jika pencipta menjamin
kemenangan Yefta atas bani Amon, Yefta akan, dengan pasti, mengurbankan ‘apa yang keluar
dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali’. Yefta memang mengalahkan
bani Amon (dengan ‘pembantaian yang amat besar’, sebagaimana biasa dalam kitab Hakim-
hakim) dan pulang dengan kemenangan. Tidak mengejutkan, putrinya, satu-satunya anaknya,
keluar untuk menyapanya (dengan memukul rebana serta menari-nari) dan – sayangnya – dia
yaitu makhluk hidup pertama yang keluar. Dapat dimaklumi bahwa Yefta mengoyakkan
bajunya, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghindar. pencipta jelas menanti kurban
yang dijanjikan kepadanya, dan dalam keadaannya putri itu dengan sangat baik setuju untuk
dikurbankan. Dia hanya meminta bahwa dia dibolehkan pergi ke pegunungan selama dua bulan
untuk meratapi keperawanannya. Pada akhir masa itu dia kembali dengan patuh, dan Yefta
memasaknya. pencipta tidak merasa harus melerai pada kesempatan ini.
Murka pencipta yang monumental kapan pun bangsa terpilihnya mendekati pencipta lain
menyerupai kecemburuan seksual dalam bentuknya yang paling buruk, dan sekali lagi
seharusnya terkesan bagi seorang bermoral modern sebagai jauh dari bahan panutan yang baik.
Godaan untuk selingkuh dapat saja dimaklumi, bahkan bagi orang yang tidak melakukannya, dan
sudah menjadi unsur wajib dalam fiksi dan drama, dari Shakespeare hingga komedi romantis.
Tetapi sepertinya godaan yang tidak dapat ditolak untuk menjadi pelacur pencipta asing yaitu hal
yang untuknya kita para modern lebih sulit berempati. Bagi mata naif saya, ‘Jangan ada padamu
allah lain di hadapanku’ terkesan sebagai perintah yang cukup mudah untuk dipatuhi: gampang
sekali, saya kira, dibandingkan dengan ‘Jangan mengingini istri sesamamu’. Atau keledainya.
(Atau lembunya.) Namun sepanjang Perjanjian Lama, dengan kekerapan membosankan seperti
dalam komedi romantis, pencipta hanya perlu membelakanginya sejenak dan Anak-anak Israel
sudah selingkuh dengan Ba’al, atau berhala pelacur yang lain.* Atau, pada satu kesempatan
celaka, seekor anak lembu emas...
Musa, bahkan lebih dari Abraham, mungkin menjadi panutan bagi penganut ketiga
kepercayaan monoteistik. Abraham mungkin sebagai patriark pertama, tetapi jika ada siapa pun yang
layak disebut pendiri doktrin Yudaisme dan kepercayaan -kepercayaan turunannya, itulah Musa. Pada saat
episode anak lembu emas, Musa tidak hadir karena dia di atas Gunung Sinai, berbicara dengan
pencipta dan mendapat loh batu yang diukir olehnya. Orang-orang di bawah (yang akan dihukum
mati jika menyentuh gunungnya) tidak membuang-buang waktu:
Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung
itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya:
“Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa
ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu
apa yang telah terjadi dengan dia. (Keluaran 32: 1)
Harun menyuruh semua orang mengumpulkan emasnya, meleburnya dan membuat
sebuah anak lembu emas, dan untuk pencipta yang baru diciptakan itu mereka membangun altar
agar semua orang bisa mulai berkurban untuknya.
Seharusnya mereka cukup pintar untuk tidak main-main di belakang pencipta seperti itu.
Mungkin dia sedang di atas gunung, tetapi dia juga maha tahu, dan tidak membuang waktu untuk
mengutus Musa sebagai wakilnya. Musa bergegas turun dari gunung, memegang loh batu yang
padanya pencipta telah menuliskan Sepuluh Perintah. Ketika dia datang dan melihat anak lembu
emas, saking marahnya dia menjatuhkan loh dan menghancurkannya (pencipta kemudian
memberinya pengganti, jadi tidak masalah). Musa merebut anak lembu emas, membakarnya,
menggilingnya hingga menjadi bubuk, mencampurkannya dengan air dan memaksa orang-orang
menelannya. Lalu dia menyuruh setiap orang di suku pendeta Lewi mengangkat pedang dan
membunuh orang sebanyak mungkin. Ternyata jumlahnya sekitar tiga ribu yang, kita mungkin
berharap, merupakan jumlah yang cukup untuk meredakan pencipta agar tidak lagi merajuk dengan
cemburu. Tetapi tidak, pencipta belum selesai. Dalam ayat terakhir pasal seram ini, tindakan
terakhirnya yaitu menulahi orang-orang yang tersisa ‘karena mereka telah menyuruh membuat
anak lembu buatan Harun itu’.
Kitab Bilangan mengisahkan bagaimana pencipta menghasut Musa untuk menyerang
bangsa Midian. Tentaranya dengan cepat membantai semua lelaki, dan mereka membakar semua
kota Midian, tetapi mereka tidak membunuh para perempuan atau anak-anak. Penahanan-diri
yang berbelas kasih oleh prajuritnya membuat Musa murka, dan dia memerintah bahwa semua
anak lelaki harus dibunuh, dan semua perempuan yang bukan perawan. ‘Tetapi semua orang
muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu
biarkan hidup bagimu’ (Bilangan 31: 18). Tidak, Musa bukan panutan besar bagi orang bermoral
modern.
Sejauh penulis religius modern mengaitkan makna simbolik atau alegoris apa pun dengan
pembantaian bangsa Midian, simbolismenya justru salah arah. Bangsa Midian yang malang,
* Ide sangat lucu ini diusulkan kepada saya oleh Jonathan Miller yang, secara mengejutkan, tidak pernah
memasukkannya ke dalam adegan Beyond the Fringe. Saya juga berterima kasih kepadanya untuk rekomendasi
buku ilmiah yang menjadi dasar untuknya: Halbertal dan Margalit (1992).
sejauh yang kita bisa simpulkan dari kisahnya dalam Alkitab, yaitu korban genosida dalam
negaranya sendiri. Namun namanya hidup dalam ingatan Kristiani hanya karena lagu gereja
kesukaan itu (yang masih saya hafal setelah 50 tahun, dengan dua melodi yang berbeda,
keduanya dalam kunci minor yang suram):
junjungan kristen , lihatkah kau mereka
Di tanah suci?
Bagaimana pasukan Midian
Berkeliaran?
junjungan kristen , bangkit dan hantam mereka,
Anggap untung sebagaii rugi;
Hantam mereka dengan kebaikan
Salib suci.
Ah, bangsa Midian malang yang dihina dan dibantai, hanya diingat sebagai simbol puitis
kejahatan universal dalam sebuah lagu gereja era Victoria.
pencipta pesaing, Ba’al, sepertinya merupakan godaan abadi untuk pemujaan sesat. Dalam
kitab Bilangan, pasal 25, banyak orang Israel diumpani oleh perempuan Moab untuk berkurban
demi Ba’al. pencipta menanggapinya dengan murkanya yang biasa. Dia menyuruh Musa untuk
‘Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan pencipta
di tempat terang, supaya murka pencipta yang bernyala-nyala itu surut dari pada Israel.’ Sekali
lagi, kita susah tidak terbelalak heran dengan pandangan sangat keras terhadap dosa mendekati
pencipta pesaing. Bagi rasa modern kita mengenai nilai dan keadilan, dosa itu terkesan enteng
dibandingkan dengan, misalnya, menawarkan putri Anda untuk diperkosa ramai-ramai. Itulah
salah satu contoh lagi atas keterputusan di antara moral-moral alkitabiah dengan moral-moral
modern (saya tergoda untuk mengatakan ‘beradab’). Tentu, cukup mudah memahami itu dengan
merujuk teori meme, dan kualitas-kualitas yang dibutuhkan oleh suatu pencipta agar bertahan hidup
dalam lungkang meme.
Tragikomedi kecemburuan gila pencipta terhadap pencipta -pencipta pesaing berulang terus-
menerus sepanjang Perjanjian Lama. Kecemburuan itu yang memotivasi yang pertama dari
Sepuluh Perintah (yang di loh yang dihancurkan oleh Musa: Keluaran 20, Ulangan 5), dan lebih
mencolok lagi di perintah pengganti dari pencipta , yang selain dari itu cukup berbeda (Keluaran
34). Setelah berjanji untuk mengusir dari tanah airnya bangsa Amori, bangsa Kanaan, bangsa
Het, bangsa Feris, bangsa Hewi, dan bangsa Yebus yang malang, pencipta mengurus apa yang
sungguh penting: pencipta -pencipta pesaing!
...mezbah-mezbah mereka haruslah kamu rubuhkan, tugu-tugu berhala mereka
kamu remukkan, dan tiang-tiang berhala mereka kamu tebang. Sebab janganlah
engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena pencipta , yang nama-Nya
Cemburuan, yaitu Allah yang cemburu. Janganlah engkau sampai mengadakan
perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan
mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka,
maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban
sembelihan mereka. Apabila engkau mengambil anak-anak perempuan mereka
menjadi isteri anak-anakmu dan anak-anak perempuan itu akan berzinah dengan
mengikuti allah mereka, maka mereka akan membujuk juga anak-anakmu lagi-
laki untuk berzinah dengan mengikuti allah mereka. Janganlah kaubuat bagimu
allah tuangan. (Keluaran 34: 13-17)
Saya tahu, ya, tentu saja, tentu saja, zaman sudah berubah, dan tak seorang pun pemimpin
religius saat ini (selain dari orang seperti Taliban atau versi setara junjungan kristen Amerika) berpikir
seperti Musa. Tetapi itulah justru maksud saya. Saya hanya menetapkan bahwa moralitas
modern, dari mana pun itu berasal, tidak berasal dari Alkitab. Para apologis tidak boleh lolos
dengan mengklaim bahwa kepercayaan memberi mereka semacam jalan pintas untuk mendefinisikan
apa yang baik dan apa yang buruk – suatu sumber unggulan yang tidak dapat diakses oleh ateis.
Mereka tidak boleh lolos, meskipun mereka menggunakan sulap kesukaannya, yakni, menafsir
kitab-kitab tertentu sebagai ‘simbolik’, bukan secara harfiah. Atas dasar kriteria apa kita
memutuskan bagian mana yang simbolik, yang mana harfiah?
Pembersihan etnis yang dimulai pada zaman Musa dipanen secara berdarah dalam kitab
Yosua, suatu teks yang luar biasa untuk pembantaian haus darah yang dicatat di dalamnya dan
kenikmatan xenofobik catatan tersebut. Sebagaimana diucapkan dalam lagu lama itu, ‘Joshua fit
the battle of Jericho, and the walls came a-tumbling down…There’s none like good old Joshuay,
at the battle of Jericho.’ Yosua yang baik itu tidak beristirahat sebelum ‘mereka menumpas
dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan,
baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai’ (Yosua 6: 21).
Sekali lagi, para teolog akan protes, itu tidak terjadi. Sebenarnya tidak – kisah itu
bercerita bahwa tembok itu runtuh hanya karena suara orang teriak dan meniup sangkakala, jadi
memang itu tidak terjadi – tetapi itu bukan maksud saya. Maksud saya yaitu , benar atau tidak,
Alkitab dijunjung tinggi sebagai sumber moralitas kita. Dan kisah Alkitab mengenai
penghancuran Yerikho oleh Yosua, dan penyerbuan Tanah yang Dijanjikan pada umumnya,
tidak dapat dibedakan secara moral dari penyerbuan Polandia oleh Hitler, atau pembantaian
orang Kurdi dan Arab Rawa-rawa oleh Saddam Hussein. Alkitab mungkin merupakan karya
fiksi yang memukau dan puitis,

