delusi tuhan 17
g tidak benar, atau iba merengek untuk diri sendiri
dari mereka yang merasa bahwa kehidupan wajib memberikan mereka sesuatu. Emily Dickinson
berkata,
Bahwa kehidupan tidak pernah akan datang lagi
Itu yang membuatnya begitu manis.
Jika kematian pencipta akan meninggalkan celah, orang-orang yang berbeda akan
mengisinya dengan cara yang berbeda. Cara saya meliputi sedosis besar ilmu pengetahuan,
yakni, prakarsa jujur dan sistematis untuk mengetahui kebenaran mengenai dunia nyata. Saya
melihat usaha manusia untuk memahami alam semesta sebagai suatu ikhtiar membuat model.
Kita masing-masing membangun, di dalam otak kita sendiri, suatu model mengenai dunia di
mana kita kebetulan ada. Model minimal dunia yaitu model yang dibutuhkan leluhur kita untuk
bertahan di dalamnya. Perangkat lunak simulasi dibangun dan dibersihkan oleh seleksi alam, dan
perangkat lunak paling terampil di dunia yang akrab bagi leluhur kita di sabana Afrika: suatu
dunia tiga-dimensi yang terdiri dari objek-objek material berukuran menengah, berjalan dengan
kecepatan menengah relatif dengan objek-objek serupa yang lain. Sebagai bonus yang tidak
diharapkan, otak-otak kita ternyata cukup kuat untuk memuat suatu model dunia yang jauh lebih
kaya daripada model utilitarian biasa saja yang dibutuhkan leluhur kita untuk bertahan hidup.
Seni dan ilmu pengetahuan yaitu manifestasi luar biasa dari bonus ini. Biarkan saya gambarkan
satu lukisan terakhir, untuk menyampaikan kekuatan ilmu pengetahuan dalam membuka pikiran
dan memuaskan jiwa.
BURKA TERBESAR DI ALAM SEMESTA
Salah satu tontonan paling menyedihkan yang dapat disaksikan di jalanan kita saat ini
yaitu seorang wanita yang berpakaian serba hitam tanpa bentuk dari kepala hingga kaki,
menatap ke arah dunia melalui celah yang sangat kecil. Burka bukan hanya suatu alat penindasan
perempuan dan represi yang memenjarakan kebebasan dan kecantikannya; bukan hanya suatu
tanda atas kekejaman kaum pria yang kelewat batas dan kepapencipta kaum perempuan yang
ditaklukkan secara tragis. Saya ingin menggunakan celah sempit dalam cadar sebagai suatu
simbol atas hal yang lain.
Mata kita melihat dunia melalui suatu celah sempit dalam spektrum elektromagnetik.
Cahaya kasat mata yaitu kepingan kecerahan dalam spektrum gelap yang luas, dari gelombang
radio di ujung panjang spektrum hingga sinar gama di ujung pendek. Betapa sempitnya hingga
sulit dipahami dan disampaikan. Bayangkan sebuah burka hitam raksasa, dengan celah
penglihatan yang kelebarannya standar, mungkin satu inci. Jika panjang kain hitam di atas celah
merepresentasikan ujung gelombang-pendek spektrum tidak terlihat, dan jika panjang kain hitam
di bawah celah merepresentasikan bagian gelombang-panjang spektrum tidak terlihat, burka itu
harus berapa panjang untuk memuat celah yang lebarnya satu inci pada skala yang sama? Sulit
merepresentasikan hal ini secara yang masuk akal tanpa menggunakan skala logaritmik, saking
besarnya panjang yang kita hadapi. Bab terakhir dalam buku seperti ini bukan tempat yang layak
untuk mulai bermain dengan logaritme, tetapi Anda bisa percaya saya saja bahwa itu akan
merupakan burka terbesar di alam semesta. Jendela satu-inci cahaya kasat mata tampak kecil
secara remeh dibandingkan dengan bermil-mil kain hitam yang merepresentasikan bagian
spektrum yang tak terlihat, dari gelombang radio di kelim rok hingga sinar gama di atas kepala.
Ilmu pengetahuan membantu kita dengan memperlebar jendela itu. Jendela itu terbuka saking
lebarnya, baju hitam yang memenjarakan itu jatuh hampir seluruhnya dari tubuh, membuka
pancaindra kita terhadap kebebasan yang terbuka dan menggembirakan.
Teleskop optik menggunakan lensa kaca dan cermin untuk memantau langit, dan apa
yang terlihat yaitu bintang yang kebetulan memancar dalam pita sempit panjang gelombang
yang kita sebut cahaya kasat mata. Tetapi teleskop-teleskop lain ‘melihat’ dalam panjang
gelombang sinar X atau radio, dan menyajikan kepada kita suatu hidangan besar langit-langit
malam alternatif. Pada skala yang lebih kecil, kamera dengan filter yang sesuai dapat ‘melihat’
dalam ultraungu dan mengambil foto bunga yang memperlihatkan serentang asing garis dan titik
yang tampak bagi, dan sepertinya ‘dirancang’ untuk, mata serangga tetapi yang tidak dapat
dilihat sama sekali oleh mata kita tanpa bantuan. Mata serangga memiliki jendela spektral yang
lebarnya serupa dengan kita, tetapi sedikit digeser ke atas di burkanya: mereka buta terhadap
merah dan mereka melihat lebih jauh dalam ultrungu daripada kita – ke dalam ‘kebun
ultraungu’.*
Metafora jendela sempit cahaya, yang melebar hingga mencakup spektrum yang luar
biasa luas, juga berguna di bidang ilmu pengetahuan yang lain. Kita hidup di dekat pusat sebuah
* ‘The Ultraviolet Garden’ yaitu judul salah satu dari lima ceramah Royal Institution Christmas saya, semula
disiarkan di televisi oleh BBC di bawah judul umum ‘Beranjak Dewasa di Alam Semesta’ (‘Growing Up in the
Universe’). Seluruh seri yang terdiri dari lima ceramah kini tersedia dalam bentuk DVD dari
www.richarddawkins.net/home.
museum magnitudo yang sangat besar, memandang dunia dengan organ pancaindra dan sistem
saraf yang dilengkapi untuk mempersepsikan dan memahami hanya serentang menengah kecil
ukuran-ukuran, yang berjalan pada rentang menengah kecepatan-kecepatan. Kita akrab dengan
objek-objek dalam rentang ukuran dari beberapa kilometer (pemandangan dari puncak gunung)
hingga sekitar sepersepuluh milimeter (ujung jarum). Di luar rentang ini bahkan imajinasi kita
cacat, dan kita membutuhkan bantuan alat-alat dan matematika – yang, untungnya, dapat kita
pelajari untuk gunakan. Rentang ukuran, jarak dan kecepatan yang nyaman bagi imajinasi kita
yaitu pita yang sempit sekali, di antara suatu rentang raksasa yang mungkin, dari skala
keanehan kuantum pada ujung lebih kecil skala hingga kosmologi Einsteinian di ujung lebih
besar.
Imajinasi malang kita kurang dibekali untuk menangkap jarak di luar rentang menengah
sempit yang akrab bagi leluhur kita. Kita berusaha memvisualisasikan sebuah elektron sebagai
sebuah bola kecil yang mengorbit sekelompok bola lebih besar yang merepresentasikan proton
dan neutron. Tidak seperti itu sama sekali. Elektron tidak seperti bola kecil. Elektron tidak
seperti apa pun yang kita kenali. Tidak jelas bahwa ‘seperti’ berarti apa pun ketika kita berusaha
untuk terbang terlalu dekat dengan horizon-horizon realitas yang lebih jauh. Imajinasi kita belum
dibekali untuk menerobos lingkungan kuantum. Tidak ada apa pun pada skala itu yang
berperilaku secara materi – sebagaimana kita berevolusi untuk berpikir – seharusnya berperilaku.
Kita juga tidak bisa menangkap perilaku objek yang berjalan pada pecahan kecepatan cahaya
yang cukup besar. Akal sehat mengecewakan kita, karena akal sehat berevolusi di suatu dunia di
mana tidak ada yang bergerak begitu cepat, dan tidak ada yang sangat kecil atau sangat besar.
Pada akhir sebuah esai terkenal mengenai ‘Possible Worlds’ (‘Dunia-Dunia yang
Mungkin’), biolog besar J.B.S. Haldane menulis, ‘Dugaan saya sendiri yaitu , alam semesta
tidak hanya lebih aneh daripada yang kita kira, tetapi lebih aneh daripada yang bisa kita kira ...
saya menduga bahwa ada lebih banyak di langit dan bumi daripada yang dimimpikan, atau dapat
dimimpikan, dalam filsafat apa pun.’ Sebagai tambahan, saya tertarik dengan usulan bahwa
pidato Hamlet terkenal yang dirujuk oleh Haldane biasanya salah diucap. Tekanan biasa ditaruh
pada ‘-mu’:
Ada lebih banyak di langit dan bumi, Horatio,
Daripada yang dimimpikan di filsafatmu.
Memang, kutipan itu biasanya dipakai secara mengganjal dengan implikasi bahwa
Horatio mewakili kaum rasionalis dan skeptis dangkal di mana pun. Tetapi beberapa sarjana
menaruh tekanan pada ‘filsafat’, dengan ‘-mu’ hampir menghilang: ‘...daripada yang dimimpikan
di filsafatmu.’ Perbedaannya tidak begitu penting untuk diskusi kita saat ini, kecuali tafsir kedua
sudah mengurus filsafat ‘apa pun’ Haldane.
Orang yang kepadanya buku ini dipersembahkan mencari nafkah dari keanehan ilmu
pengetahuannya, mendorongnya hingga menjadi komedi. Yang berikut diambil dari pidato
impromptu yang sama di Cambridge pada 1998 yang saya kutip di Bab 1: ‘Fakta bahwa kita
hidup di bagian bawah sebuah lubang gravitasi mendalam, pada permukaan sebuah planet yang
diselimuti gas yang mengelilingi sebuah bola api nuklir 90 juta mil dari kita dan menganggap hal
ini biasa jelas menunjukkan betapa miring perspektif kita.’ Sedangkan penulis-penulis fiksi
ilmiah yang lain memainkan keanehan ilmu pengetahuan untuk memicu rasa kita akan yang
misterius, Douglas Adams menggunakannya untuk membuat kita tertawa (mereka yang pernah
membaca The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy mungkin akan mengingat ‘infinite improbability
drive’-nya, misalnya). Dapat dikemukakan bahwa tawa yaitu tanggapan terbaik terhadap
beberapa paradoks fisika modern yang lebih aneh. Alternatifnya, saya terkadang berpikir, yaitu
menangis.
Mekanika kuantum, puncak tinggi prestasi ilmiah abad ke-20, membuat prediksi yang
sukses secara cemerlang mengenai dunia nyata. Richard Feynman membandingkan presisinya
dengan memprediksi suatu jarak selebar Amerika Utara hingga ketepatan lebar sehelai rambut
manusia. Kesuksesan prediktif ini sepertinya berarti teori kuantum pasti benar dalam suatu arti;
sama benarnya dengan apa pun yang kita ketahui, bahkan termasuk fakta-fakta akal-budi yang
paling membumi. Namun, asumsi-asumsi yang harus dibuat oleh teori kuantum, supaya
menghasilkan prediksi-prediksi itu, saking misteriusnya bahwa Feynman yang hebat itu sendiri
terharu hingga berkomentar (ada berbagai versi kutipan ini, dan saya menganggap yang berikut
sebagai yang paling rapi): Jika Anda mengira Anda memahami teori kuantum...Anda tidak
memahami teori kuantum.’*
Teori kuantum begitu aneh, para fisikawan harus bernaung di salah satu ‘tafsir’ paradoks
atasnya yang mereka pilih dari beberapa. Bernaung yaitu kata yang tepat. David Deutsch,
dalam The Fabric of Reality, merangkul tafsir ‘banyak dunia’ mengenai teori kuantum,
barangkali karena hal terburuk yang dapat dikatakan mengenainya yaitu tafsir itu luar biasa
boros. Tafsir banyak dunia melontarkan sejumlah alam semesta yang besar dan cepat meningkat,
dengan masing-masing alam semesta itu berada secara paralel dan tidak dapat saling terdeteksi
kecuali melalui jendela sempit eksperimen mekanika kuantum. Di beberapa alam semesta ini
saya sudah mati. Di sejumlah kecil darinya, Anda berkumis hijau. Dan seterusnya.
‘Tafsir Copenhagen’ alternatif sama tidak masuk akalnya – tidak boros, hanya
berparadoks hingga meremukkan. Erwin Schrödinger menyindirnya dengan perumpamaan
kucingnya. Kucing Schrödinger dikunci dalam kotak dengan mekanisme membunuh yang dipicu
oleh suatu peristiwa mekanika kuantum. Sebelum kita membuka kotaknya, kita tidak tahu
apakah kucingnya mati. Akal sehat memberi tahu kita bahwa, bagaimanapun, kucing itu pasti
hidup atau mati dalam kotaknya. Tafsir Copenhagen berlawanan dengan akal sehat: yang ada
sebelum kita membuka kotak hanyalah probabilitas. Sesegera kita membuka kotaknya, fungsi
gelombangnya runtuh, meninggalkan suatu peristiwa tunggal: kucingnya mati, atau kucingnya
hidup. Sebelum kita membuka kotaknya, kucing itu tidak mati atau hidup.
Tafsir ‘dunia banyak’ atas peristiwa yang sama yaitu , di beberapa alam semesta
kucingnya mati; di alam semesta lain kucingnya hidup. Tidak satu pun dari kedua interpretasi itu
memuaskan akal sehat atau intuisi manusia. Para fisikawan yang lebih macho tidak peduli. Apa
yang penting yaitu matematikanya berfungsi, dan prediksinya dipenuhi secara eksperimental.
Kebanyakan dari kita terlalu kemayu untuk mengikuti mereka. Kita sepertinya membutuhkan
semacam visualisasi mengenai apa yang ‘sebenarnya’ terjadi. Saya mengerti bahwa Schrödinger
semula mengemukakan eksperimen pemikiran kucingnya untuk membongkar apa yang dia lihat
sebagai absurditas tafsir Copenhagen.
Biolog Lewis Wolpert percaya bahwa keanehan fisika modern hanyalah puncak gunung
es. Ilmu pengetahuan pada umumnya, dan bukan teknologi saja, melakukan kekerasan pada akal
sehat.156 Wolpert menghitung, misalnya, ‘bahwa ada jauh lebih banyak molekul dalam segelas
air daripada gelas-gelas air di laut’. Karena semua air di planet bersiklus melalui laut, sepertinya
dapat disimpulkan bahwa setiap kali Anda minum segelas air, kemungkinannya lumayan besar
bahwa sebagian dari apa yang Anda minum itu dulu pernah melalui kandung kemih Oliver
Cromwell. Tentu saja, tidak ada yang istimewa mengenai Cromwell, atau kandung kemih.
* Suatu komentar yang serupa diatribusikan kepada Niels Bohr: ‘Siapa pun yang tidak terkejut oleh teori kuantum
belum memahaminya.’
Bukankah Anda baru saja menghirup atom nitrogen yang pernah diembuskan oleh igunaodon
ketiga di sebelah kiri dari pohon sikas tinggi itu? Tidakkah Anda bahagia hidup di suatu dunia di
mana hal seperti itu tidak hanya dapat dibayangkan tetapi Anda begitu unggul hingga bisa
memahami kenapa? Dan menjelaskannya secara publik kepada orang lain, tidak sebagai
pendapat atau kepercayaan tetapi sebagai suatu yang mereka, ketika memahami penalaran Anda,
akan merasa harus menerimanya? Mungkin ini yaitu aspek dari maksud Carl Sagan ketika dia
menjelaskan motivasinya untuk menulis The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the
Dark: ‘Tidak menjelaskan ilmu pengetahuan terkesan sesat bagi saya. Ketika kita jatuh cinta, kita
ingin memberi tahu dunia. Buku ini yaitu pernyataan pribadi yang mencerminkan percintaan
saya seumur hidup dengan ilmu pengetahuan.’
Evolusi kehidupan rumit, memang eksistensi kehidupan itu di suatu alam semesta yang
mematuhi hukum-hukum fisik, mengejutkan secara menggembirakan – atau akan seperti itu
kecuali fakta bahwa kejutan yaitu suatu emosi yang hanya bisa ada dalam sebuah otak yang
merupakan produk dari proses sangat mengejutkan itu. Jadi ada arti antropik yang menurutnya
eksistensi kita seharusnya tidak mengejutkan. Saya suka menganggap diri saya mewakili sesama
manusia dengan bersikeras, bagaimanapun, bahwa hal itu sangat mengejutkan.
Pikirkan itu. Di sebuah planet, dan mungkin hanya satu planet di seluruh alam semesta,
molekul yang biasanya tidak akan membuat apa pun yang lebih rumit daripada sebngkah batu,
berkumpul sendiri menjadi bongkah materi sebesar batu yang saking rumitnya mereka mampu
berlari, meloncat, berenang, terbang, melihat, mendengar, menangkap dan makan bongkahan
kerumitan hidup yang lain; mampu dalam kasus tertentu berpikir dan merasa, dan jatuh cinta
dengan bongkahan materi rumit yang lain lagi. Kini kita memahami secara esensial bagaimana
sulap itu dilakukan, tetapi baru sejak 1859. Sebelum 1859 itu akan terkesan memang sangat
sangat aneh. Kini, berkat Darwin, hal itu hanya sangat aneh. Darwin merenggut jendela burka
dan memaksanya terbuka, membiarkan masuk suatu banjir pemahaman yang kebaruan
cemerlangnya, dan kekuatannya untuk mengangkat semangat manusia, barangkali tidak ada
pendahulunya – kecuali kesadaran Copernican bahwa Bumi bukan pusat alam semesta.
‘Beri tahu aku,’ tanya filsuf agung abad ke-20 Ludwig Wittgenstein kepada temannya,
‘kenapa orang selalu berkata bahwa lumrah saja bagi manusia untuk berasumsi bahwa Matahari
mengelilingi Bumi, dan bukan sebaliknya?’ Temannya membalas, ‘Jelas karena tampak seolah-
olah Matahari mengelilingi Bumi.’ Wittgenstein membalas, ‘Lalu, memangnya seperti apa
kelihatannya kalau tampak seolah-olah Bumi yang berputar?’ Saya kadang mengutip komentar
Wittgenstein ini dalam ceramah, dan berharap para hadirin tertawa. Mereka malah tersentak
diam.
Dalam dunia terbatas di mana otak kita berevolusi, objek kecil lebih mungkin bergerak
daripada objek besar, yang dilihat sebagai latar belakang gerakan. Sambil dunia berputar, objek
yang terkesan besar karena dekat – gunung, pohon dan gedung, tanah itu sendiri – semua
bergerak persis bersamaan yang satu dengan yang lain dan bersama si pengamat itu sendiri,
bertolak dari benda-benda langit seperti Matahari dan bintang-bintang. Otak kita yang telah
berevolusi memproyeksikan ilusi gerakan pada benda langit itu ketimbang pada gunung dan
pohon di latar depan.
Sekarang saya ingin mendalami poin yang disebut di atas, bahwa cara kita melihat dunia,
dan alasan kenapa kita menganggap hal tertentu mudah secara intuitif untuk ditangkap dan yang
lain sulit, yaitu otak kita sendiri yaitu organ yang telah berevolusi: komputer portabel yang
berevolusi untuk membantu kita bertahan hidup di suatu dunia – saya akan menggunakan nama
Dunia Tengah – di mana objek-objek yang penting untuk bertahan hidupnya kita tidak sangat
besar atau sangat kecil; suatu dunia di mana barang-barang tidak bergerak atau bergerak lambat
dibandingkan dengan kecepatan cahaya; dan di mana hal yang kemungkinannya sangat kecil
dapat dengan aman dianggap mustahil. Jendela burka mental kita sempit karena tidak perlu lebih
luas supaya membantu leluhur kita untuk bertahan hidup.
Ilmu pengetahuan telah mengajarkan kita, berlawanan dengan semua intuisi yang
berevolusi, bahwa benda yang tampak padat seperti kristal dan batu sebenarnya hampir
seluruhnya terdiri atas ruang kosong. Ilustrasi terkenal itu merepresentasikan nukleus atom
sebagai seekor lalat di tengah sebuah stadion olahraga. Atom berikutnya berada pas di luar
stadion itu. Jadi, batu yang paling keras dan padat, ‘sebenarnya’ hampir seluruhnya yaitu ruang
kosong, dengan beberapa titik partikel sangat kecil yang saking jauhnya seharusnya tidak
berpengaruh. Jadi kenapa batu terlihat dan terasa padat dan keras dan tidak terterobos?
Saya tidak akan mencoba membayangkan bagaimana Wittgenstein mungkin akan
menjawab pertanyaan itu. Tetapi, sebagai seorang biolog evolusioner, saya akan menjawabnya
begini. Otak kita telah berevolusi untuk membantu tubuh kita mencari jalan di dunia pada skala
di mana tubuh itu beroperasi. Kita tidak pernah berevolusi untuk navigasi di dunia atom.
Seandainya begitu, besar kemungkinan otak kita akan melihat batu sebagai penuh dengan ruang
kosong. Batu terasa keras dan tak terterobos bagi tangan kita karena tangan kita tidak dapat
menerobosnya. Alasan tangan kita tidak dapat menerobosnya tidak terkait dengan ukuran dan
pemisahan partikel-partikel yang mengonstitusikan materi. Alasan sebenarnya berhubungan
dengan medan gaya yang berkaitan dengan partikel-partikel ini yang jaraknya jauh yang satu dari
yang lain dalam materi ‘padat’. Berguna bagi otak kita untuk mengonstruksi gagasan seperti
kepadatan atau ketakterobosan karena gagasan seperti itu membantu tubuh kita untuk navigasi
dalam dunia di mana objek – yang kita sebut padat – tidak dapat menduduki ruang yang sama
dengan objek lain.
Sedikit hiburan komik sekarang – dari The Men Who Stare at Goats oleh Jon Ronson:
Ini yaitu kisah nyata. Pada musim panas 1983. Mayor Jenderal Albert Stubblebine III
duduk di belakang mejanya di Arlington, Virginia, dan dia menatap dindingnya, di mana
tergantung beberapa penghargaan militer. Penghargaan itu mendeskripsikan suatu karier yang
panjang dan berprestasi. Dia yaitu kepala inteligensi Angkatan Darat Amerika Serikat, dengan
16 ribu prajurit di bawah komandonya...Dia mengabaikan penghargaannya dan melihat dinding
itu sendiri. Ada suatu yang dia merasa harus ia lakukan meskipun memikirkannya saja membuat
dia takut. Dia memikirkan keputusan yang harus ia ambil. Dia bisa tetap di kantornya atau dia
bisa memasuki kantor sebelah. Itu keputusannya. Dan dia telah mengambilnya. Dia akan
memasuki kantor sebelah...Dia berdiri, pindah dari belakang mejanya, dan mulai berjalan.
Karena, dia pikir, atom itu kebanyakan terdiri dari apa, sebenarnya? Ruang! Dia mempercepat
jalannya. Saya kebanyakan terdiri dari apa? Dia pikir. Atom! Dia hampir berlari sekarang.
Dinding itu kebanyakan terdiri dari apa? Dia pikir. Atom! Aku hanya perlu menyatukan
ruangnya ... Lalu hidung Jenderal Stubblebine menabrak keras dinding kantornya. Sial, dia pikir.
Jenderal Stubblebine dibuat bingung oleh kegagalan terus-menerus untuk berjalan melalui
dindingnya.
Jenderal Stubblebine secara cocok dideskripsikan sebagai seorang ‘pemikir di luar kotak’
di situs web organisasi yang, sejak pensiun, dia jalankan dengan istrinya. Situsnya bernama
HealthFreedomUSA, dan didedikasikan untuk ‘suplemen (vitamin, mineral, sama amino, dst.),
obat herbal, pengobatan homeopatik, obat nutrisional dan makanan bersih (tidak ternodai oleh
pestisida, herbisida, antibiotik), tanpa korporasi (melalui penggunaan paksaan pemerintahan)
mendiktekan dosis dan obat apa yang Anda boleh pakai’. Tidak ada cairan tubuh berharga
disebut.*
Karena berevolusi di Dunia Tengah, kita dengan mudah secara intuitif menangkap ide
seperti: ‘Ketika seorang mayor jenderal bergerak, pada jenis kecepatan menengah yang biasa
bagi gerakan mayor jenderal dan objek-objek Dunia Tengah, dan menabrak sebuah objek pada
Dunia Tengah yang lain seperti dinding, lajunya terhenti secara menyakitkan.’ Otak kita tidak
dibekali untuk membayangkan bagaimana menjadi sebuah neutrino yang melewati dinding,
dalam ruang-ruang leluasa yang ‘sebenarnya’ mengonstitusikan dinding itu. Pemahaman kita
juga tidak mampu menangkap apa yang terjadi ketika barang bergerak hampir pada kecepatan
cahaya.
Intuisi manusia tanpa bantuan, yang berevolusi dan dididik di Dunia Tengah, bahkan sulit
percaya Galileo ketika dia memberi tahu kita bahwa sebuah peluru meriam dan sebuah bulu
burung, jika tidak ada gaya gesek dengan udara, akan mengenai bumi pada titik yang sama
ketika dijatuhkan dari sebuah menara yang condong. Itu karena, di Dunia Tengah, gaya gesek
udara selalu ada. Jika kita berevolusi di tempat hampa udara, kita akan mengharapkan bahwa
bulu burung dan peluru meriam akan serentak mengenai bumi. Kita yaitu pemukim yang
berevolusi di Dunia Tengah, dan fakta itu membatasi apa yang mampu kita bayangkan. Jendela
sempit burka kita membolehkan kita, kecuali kita sangat pintar atau dididik dengan sangat baik,
untuk melihat hanya Dunia Tengah.
Ada arti yang menurutnya kita para hewan harus bertahan hidup tidak hanya di Dunia
Tengah tetapi di dunia mikro atom dan elektron juga. Impuls saraf yang dengannya kita berpikir
dan berimajinasi bergantung pada aktivitas di Dunia Mikro. Tetapi tidak satu pun tindakan yang
harus dilakukan oleh leluhur liar kita, tidak satu pun keputusan yang mereka harus ambil, yang
akan dibantu oleh suatu pemahaman akan Dunia Mikro. Jika kita yaitu bakteri, terus-menerus
digoyangkan oleh gerakan termal molekul, keadaan kita akan berbeda. Tetapi kita para penghuni
Dunia Tengah terlalu besar dan ceroboh untuk memperhatikan gerak Brown. Secara serupa,
kehidupan kita didominasi oleh gravitasi tetapi kita hampir tidak menyadari sama sekali akan
gaya halus tegangan permukaan. Seekor serangga kecil akan membalikkan prioritas itu dan akan
menganggap tegangan permukaan tidak halus sama sekali.
Steve Grand, dalam Creation: Life and How to Make It, bernada pedas ketika
mengomentari kesibukan kita dengan materi sendiri. Kita memiliki kecenderungan ini untuk
berpikir bahwa hanya ‘hal’ yang padat dan material ‘sebenarnya’ yaitu hal sama sekali.
‘Gelombang’ fluktuasi elektromagnetik dalam ruang hampa udara terkesan ‘tidak nyata’. Orang
di era Victoria berpikir bahwa gelombang harus berada ‘di dalam’ semacam medium materi.
Tidak ada medium seperti itu yang diketahui, jadi mereka menciptakannya dan menamakannya
‘luminiferous aether’. Tetapi kita menganggap materi ‘nyata’ nyaman bagi pemahaman kita
hanya karena leluhur kita berevolusi untuk bertahan hidup di Dunia Tengah, di mana materi
yaitu konstruksi yang berguna.
Di sisi lain, bahkan kita para penghuni Dunia Tengah dapat melihat bahwa sebuah
pusaran yaitu ‘hal’ dengan realitas yang agak sama dengan sebuah batu, meskipun materi
dalam pusaran terus-menerus berubah. Di padang gurun di Tanzania, di bawah Ol Dounyo
Lengai, gunung api suci suku Masai, ada gumuk besar yang terdiri dari abu dari suatu erupsi di
1969. Gumuk itu dipahat dan dibentuk oleh angin. Tetapi hal indahnya yaitu gumuk itu
bergerak sebagai tubuh. Secara teknis fenomena itu disebut barchan (dilafalkan barkan). Seluruh
gumuk berjalan melintasi padang gurun ke arah barat pada kecepatan sekitar 17 meter per tahun.
* www.healthfreedomusa.org/aboutus/president.shtml. Untuk sebuah potret Jenderal Stubblebine yang sungguh
menyampaikan wataknya, lihat www.mindcontrolforums.com/images/Mind94.jpg.
Ia mempertahankan bentuk sabitnya dan merayap ke arah pembukaannya. Angin meniup pasir
menaiki sisinya yang melandai. Lalu, sambil setiap biji pasir mencapai puncak gumuknya, ia
jatuh di sisi yang lebih curam di bagian dalam sabitnya.
Sebenarnya, sebuah barchan lebih merupakan ‘hal’ ketimbang ombak. Ombak sepertinya
bergerak secara horizontal sepanjang laut lepas, tetapi molekul-molekul air bergerak secara
vertikal. Serupa, gelombang bunyi dapat berjalan dari pembicara ke pendengar, tetapi molekul
udara tidak; itu angin, bukan bunyi. Steve Grand menunjukkan bahwa Anda dan saya lebih
menyerupai gelombang daripada ‘hal’ yang kekal. Dia mengajak pembacanya untuk
memikirkan...
...suatu pengalaman dari masa kanak-kanak.
Suatu yang Anda ingat dengan jelas, suatu yang Anda dapat lihat, rasa,
bahkan mungkin cium, seolah-olah Anda sungguh ada di sana. Karena
sebenarnya, Anda sungguh ada di sana saat itu, bukan? Jika tidak, bagaimana
bisa Anda mengingatnya? Tetapi inilah petir di siang bolong: Anda tidak ada di
sana. Tidak satu pun atom yang ada di tubuh Anda saat ini ada di sana saat
peristiwa itu terjadi ... Materi mengalir dari tempat ke tempat dan sementara
menyatu untuk menjadi Anda. Berarti apa pun Anda, Anda bukan bahan Anda.
Jika itu tidak membuat bulu di belakang leher Anda merinding, baca lagi hingga
begitu, karena hal itu penting.*
‘Sebenarnya’ bukan istilah yang seharusnya kita pakai dengan kepercayaan-diri yang
lugu. Jika sebuah neutrino memiliki otak yang berevolusi dalam leluhur sebesar neutrino,
neutrino akan berkata bahwa batu ‘sebenarnya’ terdiri dari kebanyakan ruang kosong. Kita
memiliki otak yang berevolusi dalam leluhur ukuran menengah, yang tidak bisa berjalan melalui
batu, jadi ‘sebenarnya’ kita yaitu suatu ‘sebenarnya’ di mana batu itu padat. ‘Sebenarnya’,
untuk hewan, yaitu apa pun yang otaknya butuhkan untuk membantunya bertahan hidup. Dan
karena spesies yang berbeda hidup di dunia yang begitu berbeda, akan ada juga sejumlah
‘sebenarnya’ yang mengusik.
Apa yang kita lihat mengenai dunia nyata bukan dunia nyata begitu saja melainkan suatu
model atas dunia nyata, diatur dan disetel oleh data indrawi – suatu model yang dikonstruksi agar
berguna untuk berurusan dengan dunia nyata. Kodrat model itu bergantung pada jenis hewan
kita. Hewan yang terbang membutuhkan jenis model dunia berbeda dengan hewan yang berjalan,
memanjat, atau berenang. Pemangsa membutuhkan jenis model berbeda dengan mangsa,
meskipun dunia-dunia mereka niscaya tumpang-tindih. Otak monyet harus memiliki perangkat
lunak yang mampu menyimulasikan suatu labirin tiga-dimensi yang terdiri dari dahan dan
batang. Otak serangga water boatman tidak membutuhkan perangkat lunak 3D, karena ia tinggal
di permukaan danau di suatu Flatland ala Edwin Abbott. Perangkat lunak tikus tanah untuk
mengonstruksikan model-model dunia akan dikhususkan untuk penggunaan di bawah tanah.
Tikus mondok telanjang besar kemungkinan memiliki perangkat lunak yang merepresentasikan
dunia yang serupa dengan perangkat lunak tikus tanah. Tetapi tupai, meskipun dia hewan
pengerat seperti tikus mondok, besar kemungkinan memiliki perangkat lunak yang menghasilkan
dunia yang jauh lebih menyerupai yang milik monyet.
Saya pernah berspekulasi, dalam The Blind Watchmaker dan di tempat lain, bahwa
kelelawar mungkin ‘melihat’ warna dengan telinganya. Model dunia yang dibutuhkan kelelawar,
* Ada yang mungkin akan membantah kebenaran harfiah pernyataan Grand, misalnya dalam kasus molekul-molekul
tulang. Tetapi semangatnya pasti valid. Anda lebih menyerupai gelombang daripada sebuah ‘benda’ material statis.
untuk menavigasi melalui tiga dimensi sambil menangkap serangga, tentu harus serupa dengan
model yang dibutuhkan burung walet untuk melakukan tugas yang hampir sama. Fakta bahwa
kelelawar menggunakan pantulan untuk memutakhirkan variabel dalam modelnya, sedangkan
burung walet menggunakan cahaya, tidak penting. Kelelawar, saya kemukakan, menggunakan
warna yang dipersepsikan seperti ‘merah’ dan ‘biru’ sebagai label batin untuk suatu aspek
berguna pantulan, barangkali tekstur akustik permukaan; sama seperti burung walet
menggunakan warna yang dipersepsikan yang sama untuk melabelkan panjang gelombang
cahaya yang panjang dan pendek. Poinnya yaitu kodrat model diatur oleh bagaimana ia akan
digunakan dan bukan oleh modalitas indrawi yang terlibat. Pelajaran dari kelelawar sebagai
berikut: bentuk umum model pikiran – dibedakan dari variabel-variabel yang terus-menerus
dimasukkan oleh saraf-saraf indrawi – yaitu suatu adaptasi pada cara hidup hewan, sama seperti
sayapnya, kakinya, dan ekornya.
J.B.S. Haldane, dalam artikelnya mengenai ‘dunia-dunia mungkin’ yang saya kutip di
atas, mengatakan hal yang relevan mengenai hewan yang dunianya didominasi oleh bau. Dia
melihat bahwa anjing dapat membedakan dua asam lemak volatil yang sangat serupa – asam
kaprilat dan asam kaproat – masing-masing pada konsentrasi hanya satu bagian per juta. Satu-
satunya perbedaan yaitu , rantai molekuler utama asam kaprilat dua atom karbon lebih panjang
daripada rantai utama asam kaproat. Anjing, Haldane kira, besar kemungkinan dapat
mengurutkan asam-asam ‘menurut berat molekulernya berdasarkan baunya, sama seperti
manusia dapat mengurutkan sejumlah kawat piano berdasarkan nadanya’.
Ada asam lemak yang lain, asam kaprat, yang persis sama dengan dua asam lain tersebut
kecuali ia memiliki dua atom karbon lagi di rantai utamanya. Seekor anjing yang belum pernah
menemui asam kaprat akan barangkali tidak lebih kesulitan membayangkan baunya daripada kita
akan kesulitan membayangkan sebuah trompet yang bermain satu nada lebih tinggi daripada
yang pernah kita dengar. Bagi saya, terkesan sangat masuk akal untuk mengira bahwa anjing,
atau badak, mungkin akan menganggap percampuran bau sebagai akord yang berharmoni.
Barangkali ada yang tidak selaras. Besar kemungkinan tidak ada melodi, karena melodi dibangun
dari nada yang mulai atau berhenti secara mendadak pada waktu yang tetap, berbeda dengan bau.
Atau barangkali anjing dan badak cium dalam warna. Argumennya akan sama seperti untuk
kelelawar.
Sekali lagi, persepsi yang kita namakan warna yaitu alat yang digunakan otak kita untuk
melabeli pembedaan penting di dunia luar. Warna yang dipersepsikan – apa yang filsuf sebut
sebagai qualia – tidak memiliki koneksi intrinsik dengan cahaya pada panjang gelombang
tertentu. Mereka yaitu label batin yang tersedia bagi otak, ketika otak mengonstruksikan
modelnya mengenai realitas eksternal, untuk membuat pembedaan yang khas mencolok bagi
hewan itu. Dalam kasus kita, atau kasus burung, itu berarti cahaya pada panjang gelombang yang
berbeda. Dalam kasus kelelawar, saya pernah berspekulasi, itu mungkin yaitu permukaan
dengan sifat atau tekstur pantulan yang berbeda, barangkali merah untuk mengkilat, biru untuk
halus, hijau untuk kasar. Dan dalam kasus anjing atau badak, kenapa bukan bau? Kekuatan untuk
membayangkan dunia asing kelelawar atau badak, pond skater atau tikus tanah, bakteri atau
kumbang kulit pohon, yaitu salah satu keunggulan yang ilmu pengetahuan hibahkan kepada
kita ketika ia menarik kain hitam burka kita dan memperlihatkan kepada kita serentang lebih luas
dari apa yang ada di luar untuk kenikmatan kita.
Metafora Dunia Tengah – rentang fenomena menengah yang bisa kita lihat melalui celah
sempit di burka kita – berlaku juga untuk skala-skala atau ‘spektrum-spektrum’ yang lain lagi.
Kita bisa membuat skala ketidakmungkinan, dengan suatu jendela yang sama sempitnya, yang
melaluinya intuisi dan imajinasi mampu kita tembus. Di satu ujung spektrum ketidakmungkinan
ada peristiwa potensial itu yang kita sebut tidak mungkin. Keajaiban yaitu peristiwa yang
sangat tidak mungkin. Sebuah patung Bunda Maria dapat melambaikan tangan pada kita. Atom-
atom yang membuat struktur kristalnya semua bergetar. Karena ada begitu banyak, dan karena
tidak ada preferensi yang mereka sepakati mengenai arah gerakannya, tangannya, sebagaimana
kita melihatnya di Dunia Tengah, tetap diam, seperti batu. Tetapi atom-atom yang bergetar di
tangan bisa saja kebetulan bergerak ke arah yang sama pada titik yang sama. Dan sekali lagi.
Dan sekali lagi... Dalam kasus ini tangan itu akan bergerak, dan kita akan melihatnya melambai.
Itu bisa terjadi, tetapi probabilitasnya saking kecilnya, jika Anda mulai menulis angka itu pada
awal alam semesta, Anda belum akan menulis cukup angka nol hingga hari ini. Kekuatan untuk
memperhitungkan probabilitas seperti itu – kekuatan untuk menguantifikasi yang hampir
mustahil daripada mengangkat tangan putus asa – yaitu satu contoh lain mengenai kebaikan
membebaskan ilmu pengetahuan bagi semangat manusia.
Evolusi di Dunia Tengah tidak membekali kita dengan baik untuk berurusan dengan
peristiwa yang sangat tidak mungkin. Tetapi di keluasan ruang astronomis, atau waktu geologis,
peristiwa yang terkesan mustahil di Dunia Tengah ternyata tak terelakkan. Ilmu pengetahuan
membanting terbuka jendela sempit yang melaluinya kita terbiasa memandangi spektrum
kemungkinan. Kita dibebaskan oleh perhitungan dan akal budi untuk mengunjungi wilayah
kemungkinan yang dahulu terkesan di luar batas atau didiami oleh naga. Kita sudah
menggunakan pelebaran jendela ini di Bab 4, ketika kita mempertimbangkan improbabilitas asal-
usul kehidupan dan bagaimana bahkan suatu peristiwa kimia yang hampir mustahil harus terjadi
jika diberi cukup tahun planet; dan di mana kita mempertimbangkan spektrum alam semesta
yang mungkin, masing-masing dengan perangkat hukum dan konstannya sendiri, dan
keniscayaan antropik bahwa kita kebetulan berada di salah satu dari minoritas tempat yang
ramah.
Bagaimana kita harus menafsirkan ‘lebih aneh dari yang bisa kita kira’ Haldane? Lebih
aneh dari yang bisa, secara prinsip, dikira? Atau hanya lebih aneh dari yang bisa kita kira,
karena keterbatasan pemagangan evolusioner otak kita di Dunia Tengah? Bisakah kita, melalui
latihan, membebaskan diri kita sendiri dari Dunia Tengah, melepaskan burka hitam kita, dan
mencapai semacam pemahaman intuitif – dan tidak hanya matematis – mengenai yang sangat
kecil, yang sangat besar, dan yang sangat cepat? Saya sungguh tidak tahu jawabannya, tetapi
saya bersemangat sekali karena sempat hidup pada saat manusia mendorong batas-batas
pemahaman. Lebih baik lagi, kita mungkin akhirnya akan menemukan bahwa tidak ada batas.

