doktrin Advent 6
11. Perjanjian Baru menghubungkan pengalaman bangsa Israel di Bukit Sinai dengan perjanjian lama (Gal. 4:24, 25). Di
Sinai Allah membarui perjanjian anugerah-Nya yang kekal kepada umat-Nya yang telah dilepaskan itu (1 Taw. 16:14-
17; Mzm. 105:8-11; Gal. 3:15-17). Allah berjanji kepada mereka, "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-
Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bang-
sa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus"
(Kel. 19:5, 6; bandingkan Kej. 17:7, 9, 19). Perjanjian itu diadakan berdasarkan pembenaran oleh iman (Rm. 10:6-8; Ul.
30:11-14) dan hukum itu akan dituliskan di dalam hati mereka (Ul. 6:4-6; 30:14).
Perjanjian anugerah selalu menjadi pokok kekacauan oleh orang-orang percaya yang menempatkannya di bawah sebuah
sistem keselamatan melalui amal atau perbuatan. Paulus menggunakan kegagalan Abraham untuk bergantung kepada
Tuhan—yang bergantung kepada perbuatannya sendiri untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya—sebagai satu
ilustrasi dari Perjanjian Lama (Kej. 16; 12:10-20; 20; Gal. 4:22-25). sebenarnya pengalaman pembenaran oleh per-
bu-atan telah ada sejak dosa masuk ke dunia ini dan perjanjian yang kekal itu dilanggar (Hos. 6:7).
Sepanjang sejarah bangsa Israel umumnya mereka mencoba "menegakkan kebenaran mereka sendiri" melalui "melalui
hukum Taurat" (Rm. 9:30-10:4). Mereka hidup sesuai dengan apa yang tersurat, tidak sesuai dengan Roh (2 Kor. 3:6).
Mereka mencoba membenarkan diri mereka melalui hukum (Gal. 5:4), mereka hidup di bawah hukuman hukum dalam
perhambaan, bukannya dalam kemerdekaan (Gal. 4:21-23). Dengan demikianlah mereka mengacaukan perjanjian yang
diadakan di Bukit Sinai itu.
Buku Ibrani menerapkan yang pertama atau perjanjian yang lama kepada sejarah bangsa Israel sejak Sinai seraya meng-
ungkapkan sifat kontemporernya. Dinyatakannya bahwa keimamatan Lewi bersifat sementara, menunjukkan fungsi
simbolik sampai wujudnya dalam Kristus menjadi kenyataan (Ibr. 9:10). Alangkah sedihnya sebab begitu banyak orang
yang gagal melihat ini dalam diri mereka sendiri dan dalam upacara-upacara yang menjadi kehilangan makna (Ibr.
10:1). Bertalian dengan sistem "bayang-bayang" tatkala bentuk menjadi wujud bayang-bayang menjadi kenyataan,
mengacaukan misi sejati Kristus. Oleh sebab itu bahasa yang tegas digunakan untuk menekankan superioritas perjan-
jian yang baru dan yang Iebih baik daripada perjanjian di Bukit Sinai.
Perjanjian yang lama, oleh sebab itu, dapat digambarkan dalam istilah yang negatif maupun positif. Secara negatif,
yang menunjuk kepada pemutarbalikan janji kekal Allah yang dilakukan banyak orang. Yang positif, adanya untuk tu-
juan sementara dalam pelayanan di dunia ini yang direncanakan oleh Allah untuk memenuhi keadaan darurat yang di-
timbulkan oleh kegagalan manusia. Baca juga White, Patriarchs and Prophets,
DOKTRIN KESELAMATAN
Semua manusia kini terlibat dalam pertikaian besar antara Kristus
dan Setan mengenai tabiat Allah, hukum-Nya dan kekuasaan-Nya atas
semesta alam. Konflik ini bermula di surga tatkala seorang makhluk
yang diciptakan, yang dikaruniai kebebasan memilih, meninggikan diri
dan menjadi Setan, seteru Allah, dan memimpin pemberontakan beserta
sebagian dari para malaikat. la memperkenalkan roh pemberontakan
kepada dunia ini ketika is membuat Adam dan Hawa jatuh ke dalam
dosa. Kejatuhan manusia mengakibatkan pemutarbalikan atas gambar
Allah dalam diri manusia, mengharu-birukan dunia yang diciptakan,
sehingga mendatangkan bencana yang dahsyat waktu Airbah melanda
seluruh dunia. Makhluk ciptaan yang memperhatikan, dunia ini menjadi
arena konflik universal, kasih Allah terbukti mencapai puncaknya. Untuk
membantu umat-Nya menghadapi pertarungan ini, Kristus mengirim
Roh Kudus dan malaikat-malaikat yang setia untuk memimpin,
melindungi serta mendukung mereka dalam jalan keselamatan.—
Kitab Suci menggambarkan sebuah per-
tempuran alam antara yang baik dan
yang jahat, antara Tuhan dengan Setan. De-
ngan memahami pertikaian ini, yang meli-
batkan seluruh alam, membantu menjawab
pertanyaan, Mengapa Yesus datang ke pla-
net ini?
SEBUAH PANDANGAN DUNIA
MENGENAI PERTIKAIAN
Misteri dari segala misteri, konflik an-
tara yang baik dan yang jahat bermula di sur-
ga. Bagaimanakah mungkin dosa timbul di
sebuah lingkungan yang amat sempurna?
Malaikat-malaikat, makhluk yang lebih
tinggi daripada manusia (Mzm. 8:6), telah
diciptakan untuk menikmati hubungan yang
akrab dengan Allah (Why. 1:1; 3:5; 5:11).
Yang mempunyai kekuatan hebat serta me-
nurut kepada Sabda Tuhan (Mzm. 103:20),
mereka bertugas sebagai pelayan atau “roh-
roh yang melayani” (Ibr. 1:14). Walaupun
pada umumnya tidak tampak dengan mata
manusia, namun sekali-sekali mereka menam-
pakkan diri sebagai manusia (Kej. 18:19; Ibr.
13:2). Hanya dengan seorang dari antara ma-
laikat inilah dosa diperkenalkan kepada alam
semesta.
Asal-mula Pertikaian. Dengan menggu-
nakan perlambang raja-raja Tirus dan Babi-
lon untuk melukiskan Lusifer, Kitab Suci
menggambarkan bagaimana pertikaian alam
ini dimulai. “Lusifer, anak fajar,” seorang
kherubium yang sudah diurapi, bertempat
tinggal di hadapan hadirat Tuhan (Yes.
14:12; Yeh. 28:14).1 Alkitab berkata, “Gam-
bar dari kesempurnaan engkau, penuh hik-
mat dan maha indah.... Engkau tak bercela
di dalam tingkah lakumu sejak hari pencip-
taanmu sampai ada kecurangan pada-
mu” (Yeh. 28:12, 15).
Walaupun timbulnya dosa itu tidak da-
pat diterangkan secara tuntas dan tidak pula
dapat dibenarkan, akarnya dapat ditelusuri
kepada keangkuhan Lusifer:
“Engkau sombong sebab kecantikanmu,
hikmatmu kau musnahkan demi semarak-
mu.” (Yeh. 28:17). Lusifer tidak mau puas
PERTIKAIAN BESAR
dengan kedudukannya yang sudah tinggi itu,
jabatan yang diberikan Penciptanya. Dengan
meninggikan diri ia ingin menyamakan ke-
dudukannya dengan Allah sendiri: “Engkau
yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku
hendak naik ke langit, aku hendak mendiri-
kan takhtaku mengatasi bintang-bintang Al-
lah.... Aku hendak naik mengatasi ketinggian
awan-awan, hendak menyamai Yang Maha-
tinggi!” (Yes. 14:13-14). Akan namun , wa-
laupun ia menginginkan kedudukan Allah,
ia tidak ingin tabiat Allah. Ia ingin meraih
otoritas Allah bukan kasih-Nya. Pemberon-
takan Lusifer melawan pemerintahan Allah
yaitu langkah awal menuju perubahannya
menjadi Setan, “sang seteru” itu.
Tindakan-tindakan Lusifer yang tersamar
itu membutakan banyak malaikat terhadap
kasih Allah. Akibat rasa tidak puas dan ti-
dak setia kepada pemerintahan Allah ber-
tumbuh terus sampai sepertiga malaikat sur-
ga bergabung dengan dia dalam pemberon-
takan (Why. 12:4). Ketenangan dalam kera-
jaan Tuhan diguncang dan “timbullah pepe-
rangan di sorga” (Why. 12:7). Peperangan sur-
ga ditimbulkan Setan, yang digambarkan se-
bagai naga besar, ular tua, iblis, yang “dilem-
parkan ke bumi, bersama-sama dengan malai-
kat-malaikatnya” (Why. 12:9).
Bagaimanakah Manusia Dilibatkan?
Dengan pengusirannya dari surga, Setan pun
menyebarkan pemberontakannya ke dunia
ini. Setan menyamar sebagai ular yang da-
pat berbicara dan menggunakan alasan yang
sama dengan kejatuhannya, secara efektif ia
merusak kepercayaan Adam dan Hawa ter-
hadap Khaliknya (Kej. 3:5). Setan membang-
kitkan di dalam diri Hawa rasa tidak puas
terhadap kedudukan yang diberikan kepada-
nya. Tergiur sebab ingin setara dengan Tu-
han, ia mempercayai godaan itu dan kemu-
dian mulai merasa bimbang terhadap Tuhan.
Dengan mengingkari perintah Tuhan, ia pun
memakan buah pohon pengetahuan yang ba-
ik dan yang jahat itu serta mempengaruhi
suaminya untuk melakukan hal yang sama.
sebab mereka mempercayai perkataan ular
itu maka mereka kehilangan percaya dan ke-
setiaan terhadap Tuhan. Tragisnya, benih-be-
nih pertikaian yang dimulai di sorga mulai
berakar di Planet Bumi (baca Kej. 3).
Dengan membujuk leluhur kita yang per-
tama untuk melakukan dosa, jelaslah Setan
merebut pemerintahan bumi ini dari mere-
ka. Kini, dengan menyatakan diri sebagai
“penguasa dunia ini,” Setan menantang Al-
lah, pemerintahan-Nya dan kedamaian se-
mesta alam ini dari pusat pemerintahannya
yang baru, di Planet Bumi.
Pengaruhnya terhadap Umat Manu-
sia. Efek pergolakan antara Kristus dengan
Setan jelas merusak citra Allah dalam manu-
sia. Sekalipun Allah memberikan janji anu-
gerah kepada umat manusia melalui Adam
dan Hawa (Kej. 3:15; baca bab 7), anak su-
lung mereka, Kain toh membunuh saudara-
nya (Kej. 4:8). Kejahatan semakin bertam-
bah-tambah sampai akhirnya Tuhan dengan
sedih berkata mengenai manusia itu “hati-
nya selalu membuahkan kejahatan semata-
mata” (Kej. 6:5).
Allah menggunakan air bah untuk mem-
bersihkan dunia ini dari penduduknya yang
tidak bertobat dan memberikan kepada umat
manusia sebuah awal baru (Kej. 7:17-20).
Akan namun tidak lama kemudian keturunan
Nuh yang setia menjauh dari janji Allah. Wa-
laupun Allah telah berjanji tidak akan men-
datangkan kebinasaan yang menyeluruh lagi,
melalui air bah, namun mereka terang-terang-
an menunjukkan rasa tidak percaya mereka
kepada Tuhan dengan mendirikan Menara
Babel dalam upaya mereka menjangkau la-
ngit supaya dengan demikian lepas dari air
119Pertikaian Besar
bah berikutnya. Pada kali ini Tuhan meron-
tokkan pemberontakan manusia itu dengan
mengacaukan bahasa mereka secara semes-
ta (Kej. 9:1, 11:11).
Ada satu masa kemudian, ketika dunia
hampir dipenuhi kemurtadan total, Allah me-
nyampaikan perjanjian-Nya kepada Abra-
ham. Melalui Abraham Allah merencanakan
untuk memberkati semua bangsa di dunia
(Kej. 12:1-3; 22:15-18). Bagaimanapun, ge-
nerasi penerus dari keturunan Abraham ter-
bukti kurang percaya atas janji karunia Tu-
han itu. Dengan terperangkapnya dalam do-
sa, mereka membantu Setan mencapai tuju-
annya dalam pertikaian besar dengan me-
nyalibkan Pencipta dan Penjamin perjanjian
itu, yakni Yesus Kristus.
Bumi, Panggung Alam Semesta. Cata-
tan yang ada dalam kitab Ayub tentang
pertemuan wakil-wakil dari pelbagai penju-
ru alam semesta memberikan tambahan da-
lam pertikaian besar itu. Catatan itu dimu-
lai, “pada satu hari datanglah anak-anak Al-
lah menghadap Tuhan dan dari antara mere-
ka datanglah juga Iblis. Maka bertanyalah
Tuhan kepada Iblis: ‘Dari mana engkau?’ La-
lu jawab Iblis kepada Tuhan: ‘Dari perjalan-
an mengelilingi dan menjelajah bumi.’” Ayb.
1:6, 7; bandingkan 2:1-7).
Kemudian Tuhan berkata, “Apakah eng-
kau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab
tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang
demikian saleh dan jujur, yang takut akan
Allah dan menjauhi kejahatan!” (baca Ayb.
1:8).
jika Iblis menjawab, “Apakah de-
ngan tidak mendapat apa-apa Ayub takut
akan Allah? Bukankah Engkau yang mem-
buat pagar sekeliling dia?” Kristus menja-
wab dengan memperkenankannya menco-
bainya (baca Ayb. 1:9-2:7).
Dari buku Ayub ini diperlihatkan sebuah
bukti yang cukup kuat betapa besarnya per-
tikaian antara Kristus dengan Setan. Planet
ini menjadi sebuah panggung terjadinya pe-
ristiwa perjuangan antara yang baik dan yang
jahat dilakonkan. Sebagaimana dikatakan
dalam Kitab Suci, “Sebab kami telah men-
jadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-ma-
laikat dan bagi manusia” (1 Kor. 4:9).
Dosa membuat renggangnya hubungan
antara Allah dan manusia, dan “segala sesua-
tu yang tidak berdasarkan iman, yaitu dosa”
Rm. 14:23). Pelanggaran atas hukum-hukum
dan peraturan Tuhan, yaitu akibat langsung
dari kurangnya iman, merupakan bukti retak-
nya hubungan itu. Sebaliknya, dengan ada-
nya rencana keselamatan Allah ingin memu-
lihkan pengharapan atas Khalik yang mem-
bawa kepada hubungan penuh kasih yang di-
nyatakan dalam penurutan. Sebagaimana di-
nyatakan Kristus, cinta kasih menuntun ke-
pada penurutan (Yoh. 14:15).
Pada zaman kita yang tidak mengindah-
kan hukum ini, yang absolut dikatakan ne-
tral, ketidakjujuran dibanggakan, suap me-
nyuap menjadi sebuah cara hidup, perzinaan
merajalela, dan perjanjian secara pribadi
maupun internasional, dihancurkan dusta.
yaitu merupakan suatu keistimewaan kita
dapat melihat di balik dunia yang penuh de-
ngan keputusasaan ini, Allah yang Mahakua-
sa dan penuh perhatian. Pandangan yang se-
makin luas ini menunjuk kepada kita pen-
tingnya pendamaian Kristus bagi kita, yang
mengakibatkan berakhirnya pertikaian di
alam semesta.
ISU KOSMIS
Apakah isu yang paling penting dalam
perjuangan hidup dan mati?
Undang-undang dan Pemerintahan
Allah. Hukum moral Allah merupakan hu-
120Pertikaian Besar
kum yang adil dan penting bagi eksistensi
alam semesta Tuhan sebagaimana juga hu-
kum jasmani yang merangkumnya bersama-
sama dan menjaganya agar tetap berfungsi
sebagaimana mestinya. Dosa yaitu “pe-
langgaran hukum Allah” (1 Yoh. 3:4), atau
“tanpa aturan” sebagaimana yang dinyata-
kan dalam bahasa Yunani, anomia. Isu pe-
langgaran hukum sebab penolakan atas pe-
merintahan Tuhan dan Tuhan.
Setan tidak mengakui tanggung jawab-
nya atas pelanggaran hukum di atas dunia
ini, malah ia menyalahkan Tuhan Allah. Ia
mengatakan hukum Tuhan, yang disebutnya
sewenang-wenang, melanggar kebebasan in-
dividu. Selanjutnya ia menuduh sebab mus-
tahil menurut hukum itu, sebenarnya hu-
kum itu bertentangan dengan kepentingan
makhluk yang diciptakan. Dengan merong-
rong dan menjelek-jelekkan hukum terus
menerus, Setan berusaha menaklukkan pe-
merintahan Allah dan bahkan Allah sendiri.
Kristus dan Pokok Masalah Penurut-
an. Godaan yang dihadapi Yesus Kristus se-
waktu Ia hidup melayani di dunia ini menun-
jukkan betapa seriusnya pertikaian atas penu-
rutan dan menyerah kepada kehendak Allah.
Untuk menghadapi pencobaan ini, yang me-
nyiapkan Dia menjadi “Imam Besar yang
menaruh belas kasihan dan yang setia” (Ibr.
2:17), Ia menghadapi musuh yang memati-
kan itu seorang diri. Setelah Yesus Kristus
berpuasa 40 hari di padang belantara, Setan
mencobai-Nya dengan meminta supaya me-
ngubah batu menjadi roti untuk membukti-
kan Dia seorang Anak Allah (Mat. 4:3). Se-
tan telah menggoda Hawa di taman Eden un-
tuk meragukan keabsahan apa yang dikata-
kan Allah pada saat Ia dibaptiskan: “Inilah
Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah
Aku berkenan”(Mat. 3:17). Seandainya Kris-
tus menangani masalah itu dengan tangan-
Nya sendiri, menciptakan roti dari batu un-
tuk membuktikan bahwa Ia Anak Allah, ma-
ka Ia akan sama dengan Hawa, menunjukkan
rasa kurang percaya kepada Tuhan Allah.
Maka tugas-Nya akan berakhir dalam kega-
galan.
Akan namun tugas utama Kristus ialah
menghidupkan suatu kehidupan yang ber-
gantung kepada firman Tuhan. Sekalipun Ia
dilanda rasa lapar yang amat sangat, Ia men-
jawab godaan Setan dengan berkata bahwa
“Manusia hidup bukan dari roti saja, namun
dari setiap firman yang keluar dari mulut
Allah” (Mat 4:4).
Dalam upaya lain untuk menaklukkan
Kristus, Setan memperlihatkan pemandang-
an yang indah dari hal kerajaan dunia kepa-
da Yesus seraya berjanji, “Semua ini akan
kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud
menyembah aku” (Mat 4:9). Ia membayang-
kan bahwa dengan berbuat demikian berarti
Kristus dapat memperoleh kembali dunia se-
hingga Ia dapat menyelesaikan tugas-Nya
tanpa merasakan derita di Golgota. Tanpa
menunjukkan kelengahan sejenak pun, dan
dalam kesetiaan yang mutlak kepada Allah,
Yesus berkata, “Enyahlah, Iblis!”Lalu de-
ngan menggunakan Kitab Suci, senjata yang
paling tangguh dalam pertikaian besar itu,
Ia berkata, “Engkau harus menyembah Tu-
han, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah
engkau berbakti!” (Mat. 4:10). Perkataan-
Nya itu mengakhiri pertarungan tersebut.
Dengan bersandar sepenuhnya kepada Bapa,
Kristus mengalahkan Setan.
Perjuangan yang Menentukan di Gol-
gota. Pertikaian kosmik mencapai titik pu-
sat di Golgota. Setan memperkuat usahanya
untuk menggugurkan misi Yesus pada saat
mendekati akhirnya. Dengan sangat berha-
sil Iblis menggunakan para pemimpin aga-
ma pada ketika itu, yang sebab cemburu ter-
121Pertikaian Besar
hadap kepopuleran Kristus, mengakhiri pe-
layanan-Nya di kalangan orang banyak (Yoh.
12:45-54). Melalui pengkhianatan salah se-
orang murid-Nya, dengan sebuah kesaksian
palsu, Yesus ditangkap, dijatuhi hukuman
mati (Mat. 26:63, 64; Yoh. 19:7). Dalam pe-
nurutan yang mutlak kepada kehendak Bapa-
Nya, Yesus tetap setia sampai mati.
Keuntungan dari kematian dan hidup Ye-
sus di luar batas dunia umat manusia. Berbi-
cara mengenai salib, Kristus berkata, “Se-
karang juga penguasa dunia ini akan di-
lemparkan ke luar” (Yoh. 12:31); “sebab pe-
nguasa dunia ini telah dihukum” (Yoh. 16: 11).
Pertikaian kosmik mencapai puncaknya
di atas kayu salib. Cinta kasih, kesetiaan dan
penurutan Kristus ditunjukkan waktu meng-
hadapi Setan, penguasa yang kejam itu, ke-
dudukan Iblis tumbang sama sekali di sana.
PERTIKAIAN MENGENAI
KEBENARAN SEBAGAIMANA
ada DALAM YESUS.
Kini pertikaian besar berkecamuk sekitar
otoritas Kristus bukan saja menyangkut hu-
kum-Nya namun juga sabda-Nya—Kitab Su-
ci. Pelbagai pendekatan terhadap Alkitab te-
lah dikembangkan dengan penafsiran yang
tidak memberi peluang terhadap penyataan
Ilahi.2 Kitab Suci diperlakukan seolah-olah
tidak ada bedanya dengan dokumen-doku-
men kuno dan dianalisis dengan metode kri-
tis yang sama. Sejumlah besar orang Kris-
ten, termasuk di dalamnya kaum teolog, ti-
dak lagi menganggap Kitab Suci sebagai Fir-
man Tuhan, penyataan kehendak Allah yang
tidak dapat salah. Akibatnya, mereka mem-
pertanyakan pandangan Alkitabiah menge-
nai pribadi Kristus; sifat-Nya, kelahiran dari
seorang anak dara, mukjizat dan kebangkit-
an, semuanya diperdebatkan secara luas.3
Pertanyaan yang Paling Berat. Ketika
Kristus bertanya, “Kata orang, siapakah
Anak Manusia itu?” lantas murid-murid itu
menjawab “Ada yang mengatakan: Yohanes
Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia
dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau
salah seorang dari para nabi” (Mat. 16:13,
14). Dengan kata lain, pada umumnya or-
ang pada zaman itu menganggap-Nya han-
ya ma-nusia biasa saja. Lebih lanjut Kitab
Suci memberikan laporan: Yesus bertanya
kepada kedua belas murid itu, “namun apa
katamu, siapakah Aku ini?’ Maka jawab Si-
mon Petrus: ‘Engkau yaitu Mesias, Anak
Allah yang hidup!’”
“Kata Yesus kepadanya: ‘Berbahagialah
engkau Simon bin Yunus sebab bukan manu-
sia yang menyatakan itu kepadamu, melain-
kan Bapa-Ku yang di sorga’” (Mat. 16:15-17).
Dewasa ini setiap orang menghadapi per-
tanyaan sama yang ditanyakan Kristus ke-
pada murid-murid-Nya. Jawaban atas per-
tanyaan soal hidup mati ini bergantung ke-
pada iman seseorang atas kesaksian firman
Tuhan.
Pusat Ajaran Alkitab. Kristus yaitu
pusat Kitab Suci. Tuhan mengundang kita
untuk memahami kebenaran sebagaimana
ada dalam Kristus (Ef. 4:21), sebab Ia
sendirilah kebenaran itu (Yoh. 14:5). Salah
satu strategi Setan dalam konflik kosmik itu
ialah meyakinkan orang bahwa mereka dap-
at memahami kebenaran itu lepas dari Ye-
sus. Oleh sebab itu, beberapa pusat kebe-
naran dikemukakan, baik secara individu
maupun secara gabungan: (1) manusia, (2)
alam atau semesta yang dapat diamati, (3)
Kitab Suci, dan (4) gereja.
Sementara semua ini memang memiliki ba-
gian yang menunjukkan kebenaran, maka Ki-
tab Suci menyampaikan Kristus sebagai Pen-
cipta masing-masing yang di atas dan melebi-
hinya. Mereka akan mendapat makna yang
122Pertikaian Besar
sebenarnya hanyalah pada Seorang yang men-
jadi sumber semua hal itu. Kalau ajaran-ajar-
an Alkitab dipisahkan dari pada-Nya maka pe-
mahaman akan disesatkan mengenai “jalan dan
kebenaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Sepadan
baik bagi alam dan tujuan anti Kristus untuk
menganjurkan pusat kebenaran ketimbang
Kristus. (Menurut bahasa Yunani antichrist bu-
kan saja berarti “melawan” Kristus, namun juga
“menggantikan” Kristus). Dengan menggan-
tikan pusat yang lain selain Kristus dalam dok-
trin gereja, Setan memperoleh tujuannya un-
tuk mengalihkan perhatian dari Orang yang
menjadi tumpuan harapan manusia.
Fungsi Teologi Kristen. Pandangan kos-
mik mengungkapkan tabir rahasia usaha Se-
tan untuk menyingkirkan Kristus dari tem-
pat-Nya, baik di alam semesta begitu pula
dalam kebenaran. Teologi, menurut definisi-
nya ialah studi mengenai Allah dan hubung-
an-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya, seha-
rusnya membentangkan semua doktrin da-
lam terang Kristus. Mandat teologi Kristen
ialah mengilhami keyakinan dalam otoritas
Sabda Tuhan dan menempatkan kembali se-
mua kebenaran yang berpusat kepada Kris-
tus. Jika diperlukan dengan demikian, maka
teologi Kristen yang sejati akan melayani je-
maat dengan baik, sebab itu berakar pada
pertikaian kosmik, membentangkannya, dan
menghadapinya dengan argumen yang tidak
dapat dibantah—Kristus sebagaimana dinya-
takan dalam Kitab Suci. Dari perspektif ini-
lah Allah dapat menggunakan teologi menja-
di suatu sarana yang efektif untuk memban-
tu manusia dalam menentang upaya Setan
di atas dunia ini.
MAKNA ATAU SIGNIFIKANSI
DOKTRIN
Doktrin mengenai pertikaian besar me-
nampakkan pertempuran yang dahsyat yang
mempengaruhi setiap orang yang lahir di du-
nia ini—yakni, sebenarnya menyentuh se-
tiap penjuru alam semesta. Alkitab berkata,
“sebab perjuangan kita bukanlah melawan
darah dan daging, namun melawan pemerin-
tah-pemerintah, melawan penguasa-pengua-
sa, melawan penghulu-penghulu dunia yang
gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara”
(Ef. 6:12).
Doktrin Menghasilkan suatu Keadaan
yang Tetap Waspada. Dengan memahami pe-
ngajaran ini seseorang diyakinkan betapa per-
lunya melawan si jahat. Keberhasilan dapat
diperoleh hanyalah di dalam Kristus Yesus,
selalu bergantung kepada Dia yang menjadi
Pemimpin pasukan, Seorang yang “jaya dan
perkasa dalam peperangan!” (Mzm. 24:8). Pau-
lus berkata, menerima strategi hidup Kristus
berarti “ambillah seluruh perlengkapan senja-
ta Allah, supaya kamu dapat mengadakan per-
lawanan pada hari yang jahat itu dan tetap ber-
diri, sesudah kamu menyelesaikan segala se-
suatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggang-
kan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,
kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberi-
takan Injil damai sejahtera: dalam segala ke-
adaan pergunakanlah perisai iman, sebab de-
ngan perisai itu kamu akan dapat memadam-
kan semua panah api dari si jahat, dan teri-
malah ketopong keselamatan dan pedang Roh,
yaitu firman Allah, dalam segala doa dan per-
mohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam
Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu
dengan permohonan yang tak putus-putusnya
untuk segala orang kudus” (Ef. 6:13-18). Ada-
lah menjadi suatu hak istimewa bagi orang
Kristen sejati untuk hidup menghayati suatu
kehidupan yang ditandai kesabaran dan ke-
setiaan, sebuah kesediaan setiap waktu meng-
hadapi pergolakan (Why. 14:2), menyatakan
ketergantungan yang terus-menerus terhadap
123Pertikaian Besar
Seorang yang telah membuat kita “orang-
orang yang menang” (Rm. 8:37).
Dijelaskannya Misteri Derita. Kejahat-
an tidak berasal dari Tuhan. Ia yang “men-
cintai keadilan dan membenci kefasikan”
(Ibr. 1:9), tidak sepantasnya dituduh ber-
tanggung jawab atas kesengsaraan yang
menimpa dunia. Setan, malaikat yang jatuh,
bertanggung jawab atas segala kekejaman
dan penderitaan. Kita akan dapat memaha-
mi lebih jelas perampokan, pembunuhan, pe-
nguburan, tindak kejahatan dan pelbagai pe-
ristiwa yang demikian—betapapun menya-
kitkan hati—jika kita melihatnya dalam
kerangka pertikaian yang besar itu.
Salib memberikan kesaksian baik me-
ngenai binasanya dosa dan kedalaman ka-
sih Allah kepada orang-orang yang berdo-
sa. Dengan demikianlah tema pertikaian be-
sar itu mengajarkan kepada kita kebencian
terhadap dosa sekaligus mengasihi orang
yang berdosa.
Menunjukkan Kepribadian Kasih
Allah Terhadap Dunia. Dengan kepergian-
Nya kembali ke surga, Kristus tidak mem-
biarkan umat-Nya dalam keadaan yatim pia-
tu. Dengan penuh rasa kasihan Ia menyiap-
kan segala bantuan yang dapat diberikan un-
tuk melawan kejahatan. Roh Kudus telah di-
utus untuk “mengisi” tempat yang ditinggal-
kan Kristus sampai hari kedatangan-Nya,
menjadi teman bagi kita (Yoh. 14:16; ban-
dingkan Mat. 28:20). Para malaikat juga di-
utus untuk melibatkan diri dalam upaya ke-
selamatan (Ibr. 1:14). Kemenangan kita te-
lah dijamin. Kita dapat berharap dan mem-
peroleh keberanian untuk menghadapi masa
mendatang, sebab Tuhan kitalah yang me-
ngendalikan. Bibir kita dapat mengucapkan
puji-pujian atas pekerjaan keselamatan yang
dilakukan-Nya.
Dinyatakannya Makna Kosmik Salib.
Keselamatan umat manusia dipertaruhkan
dalam pelayanan dan kematian Kristus,
sebab Ia datang menyerahkan nyawa-Nya
demi keampunan dosa-dosa kita. Dalam ber-
buat demikian Ia mempertahankan sifat
Bapa-Nya, hukum dan pemerintahan mela-
wan fitnahan palsu yang dilontarkan Setan.
Hidup Kristus mempertahankan keadilan
Allah dan kebajikan-Nya serta menunjuk-
kan bahwa hukum Tuhan dan pemerintah-
an-Nya adil. Kristus menyatakan betapa ti-
dak beralasan serangan Setan terhadap Al-
lah, menunjukkan bahwa melalui ketergan-
tungan yang total atas kuasa Allah dan anu-
gerah-Nya, orang-orang percaya yang ber-
tobat dapat bangkit mengatasi gangguan ser-
ta frustrasi godaan hidup sehari-hari dan hi-
dup menang atas dosa.
________________ :
1. ‘Lucifer’ berasal dari bahasa Latin, Lucifer berarti “pembawa terang.” Frase “anak fajar” merupakan ungkapan umum
yang berarti “bintang fajar”—Venus. “Terjemahan harfiah ungkapan Ibrani bermakna ‘Lucifer, anak fajar’ berarti ‘yang
bercahaya, anak fajar.’ Gambaran yang digunakan untuk planet Venus yang cemerlang, planet yang paling gemerlap di
langit, digunakan untuk Setan sebelum kejatuhannya... gambaran yang paling tepat mengenai keadaan yang paling
tinggi, tempat dari mana Lucifer jatuh” (“Lucifer,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 683).
2. Lihat, General Conference Committee, “Methods of Bible Study,” 1986; Hasel, Biblical Interpretation Today (Washing-
ton, D.C., Biblical Research Institute (of the General Conference of Seventh-day Adventist), 1985.
3. Lihat, K. Runia, The Present-day Christological Debate (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984); G.C. Berkouwer,
The Person of Christ (Grand Rapids MI: Wm, B. Eerdmans, 1954), hlm. 14-56.
124
Di dalam hidup Kristus yang taat dengan sempurna kepada kehendak
Allah, penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya, disediakan Allah
sebagai satu-satunya sarana pendamaian bagi dosa manusia, supaya
dengan demikian barangsiapa yang percaya dan menerima pendamaian
ini dapat memperoleh hidup kekal, dan semua makhluk ciptaan dapat
memahami lebih baik cinta kasih Pencipta yang tiada batasnya itu.
Pendamaian yang sempurna ini mempertahankan kebenaran hukum
Tuhan dan kemurahan tabiat-Nya; sebab dengan itulah dosa-dosa kita
dihukumkan dan sekaligus memberikan keampunan kepada kita.
Kematian Kristus yaitu pengganti dan korban yang tidak bercacat-
cela, yang mendamaikan dan mengubahkan. Kebangkitan Kristus mem-
proklamasikan kemenangan Kristus atas kekuatan Iblis, dan bagi orang
yang menerima pendamaian merupakan jaminan kemenangan akhir me-
reka atas dosa dan maut. Dinyatakannya juga Ketuhanan Yesus Kristus,
di hadapan-Nya setiap lutut di surga dan di bumi akan tunduk memberi
hormat.—Fundamental Beliefs.—9.
125
Sebuah pintu terbuka, membentangkan
jalan menuju pusat semesta alam, surga.
Ada sebuah suara terdengar berkata, “Ma-
suklah, lihatlah apa yang berlangsung di tem-
pat ini!’’ Di dalam Roh, Rasul Yohanes me-
lihat ke dalam ruangan takhta Allah.
Pelangi zamrud yang mempesonakan me-
ngelilingi pusat takhta, cahaya, guntur dan
suara-suara keluar dari dalamnya. Orang-
orang agung—dengan pakaian putih dan me-
ngenakan mahkota bertatahkan emas duduk
di takhta yang lebih kecil. Ketika Kidung
pu-jian memenuhi udara, tua-tua itu menun-
dukkan diri dalam pujaan, melemparkan
mahkota emas mereka ke muka takhta.
Seorang malaikat membawa sebuah gu-
lungan yang dimeteraikan dengan tujuh me-
terai sambil berseru-seru: “Siapakah yang la-
yak membuka gulungan kitab itu dan mem-
buka meterai-meterainya?” (Why. 5:2). De-
ngan penuh ketakutan Yohanes memperha-
tikan bahwa tidak ada seorang pun di surga
atau di bumi yang layak membuka gulung-
an itu. Ia menangis dan meratap sampai ada
seorang tua-tua yang menghiburnya: “Jangan
engkau menangis! sebenarnya , singa dari
suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah me-
nang, sehingga Ia dapat membuka gulungan
kitab itu dan membuka ketujuh meterainya”
(Why. 5:5).
Yohanes kemudian mengalihkan pan-
dangannya ke takhta yang penuh kemuliaan
itu, ia melihat Anak Domba yang telah ter-
sembelih namun sekarang telah hidup kembali
dan dipenuhi dengan kuasa Roh. Ketika
Anak Domba itu mengambil gulungan terse-
but maka makhluk hidup dan tua-tua seren-
tak mendengungkan sebuah pujian yang ba-
ru: “Engkau layak menerima gulungan ki-
tab itu dan membuka meterai-meterainya;
sebab Engkau telah disembelih dan dengan
darah-Mu Engkau telah membeli mereka
bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan
kaum dan bangsa. Dan Engkau telah mem-
buat mereka menjadi suatu kerajaan, dan
menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan me-
reka akan memerintah sebagai raja di bumi”
(Why. 5:9, 10). Setiap makhluk ciptaan di
surga dan di bumi bergabung dalam nyanyi-
an mereka itu: “Bagi Dia yang duduk di atas
BAB 9
HIDUP, MATI DAN KEBANGKITAN KRISTUS
126Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
takhta dan bagi Anak Domba, yaitu puji-
pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa
sampai selama-lamanya!” (Why. 5:13).
Betapa pentingkah gulungan ini? Di da-
lamnya dimuat kisah penyelamatan umat
manusia mulai dari perhambaan manusia ke-
pada Setan dan juga lukisan puncak keme-
nangan Allah atas dosa. Dinyatakannya ke-
selamatan yang begitu sempurna sehingga
orang-orang yang ditawan dosa dapat dibe-
baskan dari rumah penjara nasib mereka ha-
nyalah melalui pilihan mereka. Lama sebe-
lum kelahiran-Nya di Betlehem, Anak Dom-
ba berseru: “Sungguh, aku datang; dalam gu-
lungan kitab ada tertulis tentang aku; aku
suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku;
Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mzm. 40:8,
9; bandingkan Ibr. 10:7). Dengan datangnya
Anak Domba yang telah tersembelih sebe-
lum asas dunia inilah yang mewujudkan pe-
nebusan umat manusia (Why. 13:8).
ANUGERAH ALLAH
YANG MENYELAMATKAN
Alkitab menyatakan Allah yang menaruh
perhatian atas keselamatan manusia. Ang-
gota Keallahan bersatu dalam upaya mem-
bawa kembali manusia ke dalam persatuan
dengan Pencipta mereka. Yesus meninggi-
kan kasih Allah yang menyelamatkan itu
dengan berkata, “sebab begitu besar kasih
Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah me-
ngaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supa-
ya setiap orang yang percaya kepada-Nya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal” (Yoh. 3:16).
Alkitab menyatakan bahwa “Allah yaitu
kasih” (1Yoh. 4:8). Ia menjangkau manusia
“dengan kasih yang kekal” (Yer. 31:3). Al-
lah yang menyodorkan undangan keselamat-
an itu penuh dengan kuasa, akan namun ka-
sih-Nya mengharuskan Ia mengizinkan se-
tiap orang memiliki kebebasan memilih da-
lam sambutannya (Why. 3:20, 21). Paksaan
bertentangan dengan tabiat-Nya, sehingga
dengan sendirinya tidak termasuk dalam stra-
tegi-Nya.
Inisiatif Ilahi. Tatkala Adam dan Hawa
berdosa, Allah mengadakan inisiatif untuk
mencari mereka. Pasangan yang bersalah itu,
ketika mendengar suara Penciptanya, tidak
berlari dengan gembira untuk menemui Dia
seperti yang biasa mereka lakukan sebelum-
nya. Sebaliknya, mereka justru menyembu-
nyikan diri. Akan namun Tuhan tidak mening-
galkan mereka. Ia tetap memanggil mereka,
“Di manakah engkau?”
Dengan duka maha dalam, Allah men-
jelaskan akibat pendurhakaan mereka—rasa
sakit, kesukaran akan mereka hadapi. Namun
demikian, dalam keadaan mereka yang lama
sekali tidak ada pengharapan itu, Ia menun-
jukkan sebuah rencana yang ajaib yang men-
janjikan kemenangan atas dosa dan maut
(Kej. 3:15).
Anugerah atau Keadilan? Belakangan,
seiring dengan kemurtadan bangsa Israel di
Sinai, Allah mengungkapkan kemurahan dan
tabiat-Nya yang penuh keadilan kepada Mu-
sa, dengan mengumumkan, “Tuhan, Tuhan,
Allah penyayang dan pengasih, panjang sa-
bar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,
yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada
beribu-ribu orang, yang mengampuni kesa-
lahan, pelanggaran dan dosa; namun tidaklah
sekali-kali membebaskan orang yang bersa-
lah dari hukuman, yang membalaskan kesa-
lahan bapa kepada anak-anaknya dan cucu-
nya, kepada keturunan yang ketiga dan ke-
empat” (Kel. 34:6, 7).
Tabiat Allah menyatakan sebuah paduan
anugerah dan keadilan secara unik, dari hal
kesudian mengampuni dan ketidaksudian
127Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
melepaskan kesalahan. Hanya di dalam pri-
badi Kristus kita dapat memahami bagaima-
na kualitas tabiat ini dapat diperdamaikan
satu dengan yang lain.
Mengampuni ataukah Menghukum? Pa-
da zaman bangsa Israel undur dari Tuhan,
betapa sering Tuhan memohon agar mereka
mengakui kesalahan mereka dan kembali
kepada-Nya (Yer. 3:12-14). Akan namun me-
reka mencemooh undangan-Nya yang penuh
dengan kemurahan itu (Yer. 5:3). Sebuah si-
kap yang tidak bertobat yang mengolok-olok
keampunan itulah yang membuat hukuman
terhadap mereka tidak dapat dielakkan (Mzm.
7:12).
Walaupun Allah penuh dengan kemurah-
an, Ia tidak dapat mengampuni orang yang
berpaut kepada dosa (Yer. 5:7). Pengampun-
an mempunyai tujuan. Allah ingin mengubah
orang-orang berdosa menjadi orang yang sa-
leh: “Baiklah orang fasik meninggalkan ja-
lannya, dan orang jahat meninggalkan ran-
cangannya; baiklah ia kembali kepada Tu-
han, maka Dia akan mengasihaninya, dan
kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengam-
punan dengan limpahnya” (Yes. 55:7). De-
ngan jelas pesan keselamatan itu dikuman-
dangkan ke seluruh dunia: “Berpalinglah ke-
pada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamat-
kan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah
Allah dan tidak ada yang lain” (Yes. 45:22).
Murka Allah terhadap Dosa. Pelang-
garan bermula dalam pikiran manusia yang
bertentangan dengan Allah (Kol. 1:21). Aki-
batnya wajarlah kita tidak berkenan di ha-
dapan Allah, yang “yaitu api yang meng-
hanguskan” terhadap dosa (Ibr. 12:29; ban-
dingkan Hab. 1:13). Yang jelas ialah bahwa
“semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 3:
23), sekalian “dasarnya kami yaitu orang-
orang yang harus dimurkai” (Ef. 2:3; ban-
dingkan 5:6) dan takluk kepada maut “sebab
upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23).
Murka Ilahi yang dikatakan Kitab Suci
ialah reaksi Allah terhadap dosa dan ketidak-
benaran (Rm. 1:18). Penolakan dengan se-
ngaja terhadap pernyataan kehendak Allah
—hukum-Nya—menimbulkan murka-Nya
(2 Raj. 17:16-18; 2 Taw. 36:16). G.E. Ladd
menulis, “Manusia secara etis penuh dengan
dosa; dan jika Allah menghitung-hitung
pelanggaran mereka, ia harus memandang
mereka sebagai orang berdosa, sebagai mu-
suh, sebagai sasaran murka Ilahi; sebab me-
mang sangatlah etis dan bersifat religius se-
hingga kekudusan Allah itu menyatakan diri-
nya sendiri dalam murka melawan dosa.”1
Namun demikian, pada waktu yang bersama-
an, Allah ingin sekali menyelamatkan dunia
yang memberontak itu. Sementara Ia mem-
benci dosa, Ia juga sangat prihatin dan me-
ngasihi setiap orang yang berdosa.
Sambutan Manusia. Keterkaitan Allah
dengan bangsa Israel mencapai puncaknya
dalam pelayanan Yesus Kristus, yang mem-
berikan pandangan yang begitu jelas ke da-
lam “kekayaan kasih karunia-Nya yang me-
limpah-limpah” dari karunia Ilahi itu (Ef.
2:7). Yohanes berkata, “Dan kita telah me-
lihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang
diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tung-
gal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenar-
an” (Yoh. 1:14). ‘namun oleh Dia kamu bera-
da dalam Kristus,” tulis Rasul Paulus, “yang
oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.
Ia membenarkan dan menguduskan dan me-
nebus kita. sebab itu seperti ada tertulis:
‘Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia
bermegah di dalam Tuhan’” (1 Kor. 1:30,
31). Oleh sebab itu, siapakah gerangan yang
dapat meremehkan “kekayaan kemurahan-
Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-
Nya?” Tidak mengherankan jika Paulus me-
nunjukkan bahwa “kelapangan hati-Nya”
128Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
yang menuntun orang kepada pertobatan
(Rm. 2:4).
Bahkan sambutan manusia terhadap ulur-
an keselamatan yang diberikan Allah itu pun
tidaklah berasal dari makhluk manusia, me-
lainkan dari Allah. Iman kita yaitu karunia
Allah (Rm. 12:3); seperti halnya pertobatan
kita (Kis. 5:31). Kasih kita timbul dalam
sambutan kepada kasih Allah (1 Yoh. 4:19).
Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita
sendiri dari Iblis, dosa, derita dan maut. Ke-
benaran kita tidak lebih dari kain yang com-
pang-camping dan kotor (Yes. 64:6). “Teta-
pi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kare-
na kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-
Nya kepada kita, telah menghidupkan kita
bersama-sama dengan Kristus, sekalipun
kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan ki-
ta—Sebab sebab kasih karunia kamu dise-
lamatkan oleh iman; itu bukan hasil usaha-
mu, namun pemberian Allah, itu bukan hasil
pekerja- anmu: jangan ada orang yang me-
megahkan diri” (Ef. 2:4, 5, 8, 9).
PELAYANAN KRISTUS DARI HAL
PENDAMAIAN
Kabar yang menggembirakan ialah bah-
wa “Allah mendamaikan dunia dengan diri-
Nya oleh Kristus” (2 Kor. 5:19). Pendamai-
an-Nya memulihkan hubungan antara Allah
dengan umat manusia. Nas ini menunjukkan
bahwa proses ini mendamaikan manusia
yang berdosa dengan Allah, bukannya Tu-
han Allah dengan orang-orang berdosa. Kun-
ci, yang memimpin orang-orang berdosa
kembali kepada Allah ialah Yesus Kristus.
Rencana Allah mengenai pendamaian yaitu
sesuatu yang sangat menakjubkan dari sikap
merendahkan diri Ilahi. Ia mempunyai hak
untuk membiarkan kebinasaan manusia.
Sebagaimana telah kita sebutkan di atas,
Tuhan itulah yang mengambil inisiatif un-
tuk memulihkan hubungan yang telah retak an-
tara manusia dengan diri-Nya sendiri. “Ketika
kita masih seteru Allah,” kata rasul Paulus,
“diperdamaikan dengan Allah oleh kematian
Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang te-
lah diperdamaikan” (Rm. 5:10).
Proses rekonsiliasi itu diasosiasikan de-
ngan istilah pendamaian. “Kata bahasa Ing-
geris ‘atonement’ pada mulanya berarti ‘at-
one-ment’ yakni suatu keadaan dalam wu-
jud ‘sepakat’ atau dalam persetujuan. De-
ngan demikian ‘atonement’ menunjukkan
kepada hubungan yang serasi, dan jika
kesepakatan itu telah terjalin baik maka ke-
selarasan ini merupakan hasil proses penda-
maian. Dengan memahami istilah maknanya
semula, ‘atonement’ layaknya menunjuk ke-
pada keadaan pendamaian yang mengakhiri
kerenggangan itu.”
Banyak orang Kristen yang membatasi
istilah atonement hanyalah pada efek pene-
busan dari penjelmaan Kristus, penderitaan
dan kematian. Bagaimanapun, dalam pela-
yanan di kaabah, pendamaian atau atone-
ment ini bukanlah hanya menyangkut pe-
nyembelihan domba yang dikorbankan itu,
namun juga menyangkut pelayanan keimam-
atan dengan pemercikan darah dalam kaa-
bah itu sendiri (bandingkan Im. 4:20, 26, 35;
16:15-18, 32, 33). Dengan demikian, secara
Alkitabiah pendamaian ini dapat menunjuk
baik kepada kematian Kristus dan tugas pe-
ngantaraan-Nya di dalam kaabah yang di sur-
ga. Di sana, sebagai Imam Besar, Ia meng-
gunakan faedah korban pendamaian-Nya
yang sempurna dan lengkap untuk menca-
pai pendamaian manusia dengan Allah.3
Pengamatan Vincent Taylor mengatakan
bahwa doktrin pendamaian mempunyai dua
aspek “(a) tindakan penyelamatan dari Kris-
tus, (b) dan pemberian-Nya melalui iman,
baik secara individu maupun secara umum.
Kedua-duanya bersama-sama merupakan
129Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
Pendamaian.” Dari sinilah ia mengambil ke-
simpulan bahwa “pendamaian itu diperleng-
kapi untuk kita dan ditempa dalam kita.”
Di dalam bab ini difokuskan pendamaian
dalam kaitannya dengan kematian Kristus.
Pendamaian dihubungkan dengan pelayan-
an Keimamatan sebagai Imam Besar akan
dibicarakan kemudian(dalam bab 23 buku
ini).
KORBAN PENDAMAIAN KRISTUS
Korban pendamaian Kristus di bukit Gol-
gota menandai titik balik dalam hubungan
antara Allah dan manusia. Walaupun ada ca-
tatan dosa-dosa manusia, sebagai basil pen-
damaian, Allah tidak menghitungkan dosa-
dosa mereka (2 Kor. 5:19). Ini bukan berarti
bahwa Allah tidak menjatuhkan hukuman
atau dosa tidak lagi menimbulkan murka
Allah. Bukan demikian. Artinya, Allah mem-
berikan sebuah jalan yang menjamin keam-
punan bagi orang-orang yang berdosa se-
mentara pada waktu yang bersamaan tetap
menjunjung tinggi keadilan hukum-Nya yang
abadi.
Kematian Kristus sebagai suatu Ke-
perluan. Bagi Allah yang penuh kasih itu,
untuk mempertahankan keadilan dan kebe-
naran-Nya, pendamaian dengan kematian
Yesus Kristus merupakan “sebuah moral dan
tindak hukum yang perlu.”Menurut keadil-
an Tuhan, “keadilan mengharuskan dosa di-
hakimkan. Allah harus menghakimkan dosa
atas orang yang berdosa. Dalam pelaksana-
an ini Anak Allah mengambil tempat kita,
tempat orang yang berdosa, sesuai dengan
kehendak Allah. Pendamaian perlu sebab
manusia berada di bawah murka Allah. Di
sinilah letak jantung Injil pengampunan atas
dosa dan misteri salib Kristus: kebenaran
yang sempurna dari Kristus cukup memuas-
kan keadilan Ilahi, dan Tuhan mau meneri-
ma korban diri Kristus sendiri dengan meng-
ambil tempat maut yang seharusnya ditem-
pati manusia.”5
Orang-orang yang tidak mau menerima
darah pendamaian Kristus tidak akan mene-
rima keampunan atas dosa, dan tetap akan
menjadi sasaran murka Allah. Yohanes ber-
kata, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia
beroleh hidup yang kekal, namun barangsia-
pa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan me-
lihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada
di atasnya” (Yoh. 3:36).
Oleh sebab itu, salib merupakan pertun-
jukan kemurahan dan keadilan Allah. ”Kris-
tus Yesus telah ditentukan Allah menjadi ja-
lan pendamaian sebab iman, dalam darah-
Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjuk-
kan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nya-
ta, bahwa Ia benar dan juga membenarkan
orang yang percaya kepada Yesus” (Rm. 3:
25, 26).
Apakah yang dilengkapkan Korban Pen-
damaian itu? Allah sendiri yang menghadir-
kan Anak-Nya sebagai “jalan pendamaian”
(Rm. 3:25, dalam bahasa Yunani disebut hi-
lasterion). Menurut istilah yang digunakan
dalam terjemahan King James Version “Se-
buah pendamaian”sedang terjemahan Re-
vised Standard Version disebut “penebusan.”
Penggunaan kata hilasterion dalam Perjan-
jian Baru tidak ada hubungannya sama se-
kali dengan faham kafir “penenangan Allah
pemurka” atau “meredakan Allah yang sewe-
nang-wenang dan bertingkah.”6 Nas itu meng-
ungkapkan bahwa “Allah dalam kemurahan-
Nya akan menampilkan Kristus sebagai per-
damaian atas murka suci-Nya atas kesalahan
manusia sebab Ia menerima Kristus sebagai
wakil manusia dan Pengganti Ilahi untuk me-
nerima penghakiman-Nya atas dosa.”7
Dari sudut pandang inilah seseorang da-
pat memahami gambaran yang diberikan
130Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
Paulus mengenai kematian Kristus sebagai
“persembahan dan korban yang harum bagi
Allah” (Ef. 5:2; bandingkan Kej. 8:21; Kel.
29:18; Im. 1:9). “Pengorbanan diri Kristus
sendirilah yang dapat berkenan kepada Al-
lah sebab korban persembahan ini menghi-
langkan tirai pemisah antara Allah dengan
orang yang berdosa, yang membuat Kristus
menanggung sepenuhnya murka Allah atas
dosa manusia. Melalui Kristus, murka Allah
bukannya diubah menjadi cinta kasih me-
lainkan menjauhkan murka itu dari manusia
dan menanggungnya Sendiri.”8
Rm. 3:25 juga menunjukkan bahwa me-
lalui pengorbanan Kristus dosa ditebus atau
dibersihkan. Fokus penebusan yaitu apa
yang dilakukan darah pendamaian terhadap
orang berdosa yang bertobat. Ia akan meng-
alami pengampunan, penghapusan dosa pri-
badi dan pembasuhan dosa.9
Kristus Penanggung Dosa yang Me-
nang. Kitab Suci menggambarkan Kristus
sebagai “Penanggung dosa” umat manusia.
Sarat dengan bahasa nubuat, nabi Yesaya
menyebutkan “namun dia tertikam oleh kare-
na pemberontakan kita, diremukkan oleh ka-
rena kejahatan kita;... namun Tuhan telah me-
nimpakan kepadanya kejahatan kita seka-
lian.... namun Tuhan berkehendak meremuk-
kan dia dengan kesakitan... sebagai korban
penebus salah... ia menanggung dosa banyak
orang” (Yes. 53:5, 6, 10, 12; bandingkan Gal.
1:4). Nubuat inilah yang ada dalam be-
nak Paulus ketika ia berkata, “Kristus telah
mati sebab dosa-dosa kita, sesuai dengan
Kitab Suci” (1 Kor. 15:3).
Nas ini menunjuk kepada satu konsep
yang penting dalam rencana keselamatan:
Dosa-dosa dan kesalahan yang telah meno-
dai kita dapat dipindahkan kepada Penang-
gung dosa kita sehingga membuat kita ber-
sih (Mzm. 51:11). Upacara-upacara korban
dalam kaabah Perjanjian Lama menggam-
barkan peranan Kristus ini. Di sanalah, pe-
mindahan dosa dari orang berdosa yang te-
lah bertobat kepada domba yang tidak ber-
salah itu melambangkan pemindahannya ke-
pada Kristus, Penanggung dosa (lihat bab 4).
Apakah Peranan Darah Itu? Darah me-
megang peranan sentral di dalam persem-
bahan korban pendamaian dalam pelayanan
kaabah. Allah menyediakan pendamaian ma-
nakala Ia berkata, “sebab nyawa makhluk
ada di dalam darahnya dan Aku telah mem-
berikan darah itu kepadamu... untuk meng-
adakan pendamaian bagi nyawamu,” (Im.
17:11). Setelah menyembelih hewan maka
imam menggunakan darahnya sebelum ja-
minan keampunan diberikan.
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa
upacara-upacara Perjanjian Lama diadakan
untuk memperoleh keampunan, penyucian
dan pendamaian melalui darah pengganti
yang digenapi dalam darah pendamaian
Kristus yang menjadi korban di bukit Golgo-
ta. Dikontraskan dengan cara-cara yang la-
ma, Perjanjian Baru berkata sebagai berikut,
“Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh
Roh yang kekal telah mempersembahkan di-
ri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persem-
bahan yang tak bercacat, akan menyucikan
hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan
yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah ke-
pada Allah yang hidup?” (Ibr. 9:14). Dengan
curahnya darah Kristus maka lengkaplah pe-
nebusan dari dosa (Rm. 3:25). Yohanes me-
ngatakan bahwa sebab kasih-Nya, maka
Allah “telah mengutus Anak-Nya sebagai
pendamaian (hilasmos) bagi dosa-dosa kita”
(1 Yoh. 4:10; “penebusan” RSV; “sebuah
korban pendamaian” NIV.
Singkatnya, “Tindakan tujuan Allah me-
ngenai perdamaian telah dilengkapkan mela-
lui pendamaian dan darah penebusan Kris-
131Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
tus Yesus (dengan mengorbankan diri-Nya
sendiri), Anak Allah Bapa. Dengan demiki-
anlah Allah menjadi ‘pengada dan sekaligus
penerima pendamaian itu.”10
TEBUSAN KRISTUS
jika umat manusia jatuh ke bawah
kuasa dosa mereka menjadi takluk kepada
penghukuman dan kutuk Taurat Tuhan (Rm.
6:4; Gal. 3:10-13). Sebagai hamba dosa (Rm.
6:17), takluk kepada maut, mereka tidak
mampu melepaskan diri dari dalamnya. “Ti-
dak seorang pun dapat membebaskan diri-
nya, atau memberikan tebusan kepada Al-
lah ganti nyawanya” (Mzm. 49:8). Hanya Al-
lah sendiri yang mempunyai kuasa untuk
menebus. “Akan Kubebaskankah mereka da-
ri kuasa dunia orang mati, akan Kutebuskah
mereka dari pada maut?” (Hos. 13:14). Ba-
gaimanakah Allah telah menebus mereka?
Melalui Yesus, yang bersaksi bahwa Ia
“datang bukan untuk dilayani, melainkan
untuk melayani dan untuk memberikan nya-
wa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”
(Mat. 20:28; lihat juga 1 Tim. 2:6), jemaat
Allah “diperoleh-Nya dengan darah Anak-
Nya sendiri” (Kis. 20:28). Di dalam Kristus
“kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan
dosa” (Ef. 1:7; bandingkan Rm. 3:24). Ke-
matian-Nya yaitu ”untuk membebaskan
kita dari segala kejahatan dan untuk mengu-
duskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunya-
an-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit.
2:14).
KRISTUS WAKIL MANUSIA
Apakah yang telah Dilengkapkan Pe-
nebusan itu? Kematian Kristus menge-
sahkan tanda kepemilikan Allah atas manu-
sia. Rasul Paulus berkata, “Bahwa kamu bu-
kan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah
dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1
Kor. 6:19, 20; baca juga 1 Kor. 7:23).
Melalui kematian-Nya, Kristus meron-
tokkan pemerintahan dosa, mengakhiri hu-
kuman dan kutuk Taurat, dan mengadakan
kehidupan kekal bagi semua orang yang ber-
tobat. Petrus mengatakan bahwa orang-
orang berdosa telah ditebus dari “cara hidup-
mu yang sia-sia yang kamu warisi dari ne-
nek moyangmu itu bukan dengan barang
yang fana” (1 Ptr. 1:18). Paulus menulis bah-
wa barangsiapa yang telah dilepaskan dari
perhambaan dosa dan dari buah-buahnya
yang mematikan, kini melayani Allah dengan
“bu-ah yang membawa kamu kepada pen-
gudusan dan sebagai kesudahannya ialah
hidup yang kekal” (Rm. 6:22).
Meremehkan atau menyangkal prinsip
penebusan ini berarti “akan kehilangan jan-
tung karunia Injil dan mengingkari motif pa-
ling dalam dari rasa syukur kita kepada Anak
domba Allah.”11 Prinsip ini merupakan pu-
sat nyanyian puji-pujian di ruang takhta sur-
ga: “sebab Engkau telah disembelih dan
de-ngan darah-Mu Engkau telah membeli
mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan
bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau
telah membuat mereka menjadi suatu kera-
jaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah
kita, dan mereka akan memerintah sebagai
raja di bumi” (Why. 5:9, 10).
Baik Adam maupun Kristus—“Adam
yang akhir,” atau “manusia kedua” (1 Kor.
15:45, 47)—mewakili seluruh umat ma-
nusia. Sementara kelahiran alamiah membe-
bani setiap manusia dengan akibat pelang-
garan Adam, setiap orang yang mengalami
kelahiran baru menerima manfaat dari kor-
ban dan kehidup-an Kristus yang sempurna.
“sebab sama se-perti semua orang mati da-
lam persekutuan dengan Adam, demikian pu-
la semua orang akan dihidupkan kembali da-
lam persekutuan dengan Kristus” (1 Kor. 15:
132Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
22). Membawa dosa, hukuman, dan maut ke-
pada semua. Kristus sebaliknya membalik-
kan kecende-rungan itu. Di dalam kasih-Nya
yang agung, Ia menaklukkan diri-Nya kepa-
da pengadilan Ilahi mengenai dosa dan men-
jadi wakil bagi manusia. Kematian-Nya se-
bagai pengganti, menyediakan kelepasan
dari hukuman dosa dan memberikan karu-
nia hidup kekal bagi orang berdosa yang te-
lah bertobat (2 Kor. 5:21; Rm. 6:23; 1 Ptr.
3:18).
Dengan jelas Kitab Suci mengajarkan si-
fat universal dari kematian pengganti yang
diberikan Kristus itu. Dengan “kasih karu-
nia Allah.” Ia mati bagi setiap orang (Ibr. 2:
9). Seperti halnya Adam, semuanya telah
berbuat dosa (Rm. 5:12), oleh sebab itu, se-
tiap orang mati—mengalami kematian yang
pertama. Kematian yang dirasakan Kristus
untuk semua orang yaitu kematian yang ke-
dua—untuk maut (Why. 20:6; baca juga bab
26).
KEHIDUPAN KRISTUS
DAN KESELAMATAN
“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru,
diperdamaikan dengan Allah oleh kematian
Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang
telah diperdamaikan, pasti akan diselamat-
kan oleh hidup-Nya!” (Rm. 5:10). Dengan
hidup Kristus, sebagaimana juga dengan ke-
matian-Nya, menjembatani jurang yang di-
akibatkan dosa. Kedua-duanya perlu dan
ber-peran bagi keselamatan kita.
Apakah yang Dapat Diperbuat Hidup
Kristus yang Sempurna bagi Kita? Yesus
menghayati hidup yang murni, kudus, dan
penuh kasih sayang, dengan bergantung se-
penuhnya kepada Allah. Hidup yang mulia
ini dibagikan-Nya kepada orang berdosa
yang bertobat sebagai kasih karunia. Tabi-
at-Nya yang sempurna dilukiskan sebagai
pakaian Perjamuan Kawin (Mat. 22:11) atau
sebagai jubah kebenaran (Yes. 61:10) yang
diberikan-Nya untuk menutupi pakaian ma-
nusia yang sudah kumal dan kotor agar mem-
peroleh kebenaran (Yes. 64:6).
Sebaliknya keadaan kita sebagai manusia
yang sudah rusak, jika kita menyerahkan
diri sepenuhnya kepada Kristus, maka hati
kita dipadukan dengan hati-Nya, kehendak
kita lebur ke dalam kehendak-Nya, pikiran
kita menjadi sama dengan pikiran-Nya, pe-
mikiran kita dikungkung-Nya; maka kita pun
menghidupkan kehidupan-Nya. Kita dilin-
dungi dengan pakaian kebenaran-Nya. Apa-
bila Tuhan melihat orang yang percaya itu,
maka yang dilihat-Nya yaitu orang yang
sudah bertobat, bukan lagi yang telanjang
atau dicemari dosa, melainkan jubah kebe-
naran telah terwujud oleh penurutan yang
sempurna dari Kristus terhadap hukum.12 Ti-
dak seorang pun yang dapat dibenarkan tan-
pa jubah ini.
Dalam perumpamaan pakaian perjamuan
kawin dikatakan tamu yang hadir dengan
pakaian sendiri bukannya diusir sebab ku-
rang percaya. Ia menerima undangan untuk
menghadiri pesta itu (Mat. 22:10). namun
kedatangannya saja tidaklah cukup. Ia perlu
mengenakan pakaian perjamuan kawin. Be-
gitu pula, jika hanya percaya kepada salib
itu saja, tidaklah cukup. Agar dapat diterima
di hadapan Raja, kita juga memerlukan ke-
hidupan sempurna Kristus, tabiat-Nya yang
benar.
Sebagai orang berdosa kita tidak saja per-
lu menunda utang, namun kita perlu agar reke-
ning bank kita dipulihkan. Kita perlu lebih
dari sekadar lepas dari penjara, kita perlu
dimasukkan ke dalam keluarga Raja. Tugas
pengantaraan Kristus yang sudah bangkit itu
mempunyai tujuan ganda yakni pengampun-
an dan pakaian—penerapan kematian dan
133Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus
kehidupan-Nya ke dalam hidup kita dan ke-
dudukan kita di hadapan Allah. Jeritan di
Golgota “Sudahlah genap” menandai per-
lengkapan suatu kehidupan yang sempurna
dan korban yang sempurna. Orang-orang
yang berdosa memerlukan kedua-duanya.
Inspirasi dari Kehidupan Kristus. Ke-
hidupan Kristus di atas dunia ini juga mem-
berikan sebuah contoh kepada manusia ba-
gaimana cara hidup. Petrus, sebagai contoh,
memberikan sebuah contoh kepada kita cara
bagaimana is menyambut penghinaan (1 Ptr.
2:21-23). Ia yang telah dibuat menjadi seru-
pa dengan kita dan telah dicobai dalam se-
gala rupa, menunjukkan bahwa siapa pun
yang bergantung kepada kuasa Allah tidak
perlu lagi terus melakukan dosa. Kehidup-
an Kristus memberikan jaminan bahwa kita
da-pat hidup penuh kemenangan. Rasul Pau-
lus memberikan kesaksian, “Segala perkara
dapat kutanggung di dalam Dia yang mem-
beri kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13).
KEBANGKITAN KRISTUS DAN
KESELAMATAN
“namun andaikata Kristus tidak dibang-
kitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami,”
kata Rasul Paulus, “dan kamu masih hidup
dalam dosamu” (1 Kor. 15:14, 17). Kristus
secara jasmani bangkit (Luk. 24:36-43), naik
ke surga sebagai Allah manusia, dan memu-
lai tugas pengantaraan-Nya yang berat se-
laku Pengantara di sebelah kanan Allah Bapa
(Ibr. 8:1, 2; baca juga bab 4 buku ini).
Kebangkitan Kristus memb
.jpeg)
