doktrin dasar alkitab 10
asaan Dia yang
diurapi-Nya sebab telah dilemparkan ke ba-
wah pendakwa saudara-saudara kita yang
mendakwa mereka siang dan malam di ha-
dapan Allah kita. . . . sebab itu bersukaci-
talah, hai surga dan hai kamu sekalian yang
diam di dalamnya” (Why. 12:10-12). Peng-
usiran Setan dari surga merintangi pekerja-
annya. Setan tidak dapat lebih lama lagi me-
nuduh umat Allah di hadapan makhluk sur-
ga.
namun sementara surga bergembira, bumi
harus memperhatikan peringatan: ”Celaka-
lah kamu, hai bumi dan laut! sebab Iblis te-
lah turun kepadamu, dalam geramnya yang
dahsyat, sebab ia tahu, bahwa waktunya su-
dah singkat” (Why. 12:12).
sesudah Setan melepaskan amarahnya ma-
ka mulailah ia menganiaya perempuan itu—
jemaat (Why. 12:13), yang walaupun meng-
alami penderitaan yang amat besar namun te-
tap dapat bertahan. Tempat yang jarang dihu-
ni oleh penduduk bumi—“padang gurun”
menyediakan tempat mengungsi bagi umat
Allah yang tetap setia selama kurun waktu
1260 hari nubuat atau 1260 tahun (Why.
12:14-16; lihat juga bab 4 yang berbicara
mengenai prinsip hari-tahun).2
Pada penghujung pengalaman di padang
gurun ini umat Allah muncul untuk menyam-
but tanda-tanda kedatangan Yesus Kristus
kedua kalinya. Yohanes memberikan ciri
kelompok orang yang setia ini sebagai “yang
menuruti hukum-hukum Allah dan memili-
ki kesaksian Yesus” (Why. 12:17). Iblis sa-
ngat membenci umat yang sisa ini.
Kapan dan di mana aniaya itu terjadi? Ba-
gaimana terjadinya? Kapan umat yang sisa
itu mulai muncul? Apakah misinya? Untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kita ha-
rus memeriksa kembali Kitab Suci dan se-
jarah.
KEMURTADAN BESAR
Aniaya pertama dialami oleh jemaat Kris-
ten berasal dari Roma purbakala, lalu
diikuti oleh para pemimpinnya sendiri. Ke-
murtadan ini bukanlah sesuatu yang meng-
herankan—Yohanes, Paulus dan Kristus te-
lah meramalkannya.
Pada saat-saat terakhir ceramah-ceramah
yang diberikan Kristus, sebagian besar wak-
tu-Nya digunakannya untuk mengkhotbah-
kan dan mengingatkan murid-murid-Nya ten-
tang datangnya penipuan. “Waspyaitu su-
paya jangan ada orang yang menyesatkan ka-
mu!” kata-Nya, “Sebab Mesias-Mesias pal-
su dan nabi-nabi palsu akan muncul dan me-
reka akan mengadakan tanda-tanda yang dah-
syat dan mukjizat-mukjizat, sehingga seki-
ranya mungkin, mereka menyesatkan orang-
orang pilihan juga” (Mat. 24:4, 24). Para pe-
ngikut-Nya akan mengalami sebuah periode
“siksaan yang dahsyat,” akan namun mereka
akan hidup (Mat. 24:21, 22). Tanda-tanda
yang mengesankan dalam alam akan menan-
dai akhir aniaya ini dan akan menunjukkan
dekatnya kedatangan Kristus kembali (Mat.
24:29, 32, 33).
Rasul Paulus memberikan amaran: “Aku
tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-se-
rigala yang sangat ganas akan masuk ke te-
ngah-tengah kamu dan tidak akan menya-
yangkan kawanan itu. Bahkan dari antara ka-
mu sendiri akan muncul beberapa orang,
yang dengan ajaran palsu mereka akan beru-
saha menarik murid-murid dari jalan yang
benar dan supaya mengikut mereka” (Kis.
20:29, 30). “Serigala-serigala” ini akan mem-
bawa jemaat kepada “kemurtadan,” atau “ke-
sesatan”.
Kemurtadan ini pasti terjadi sebelum ke-
datangan Kristus kembali, kata Paulus. Sama
pastinya kenyataan bahwa hal itu belum ter-
jadi yaitu merupakan sebuah pertanda bah-
189Umat yang Sisa dan Tugasnya
wa kedatangan Kristus belumlah datang. “Ja-
nganlah kamu memberi dirimu disesatkan
orang dengan cara yang bagaimanapun ju-
ga!” katanya, “Sebab sebelum Hari itu harus-
lah datang dahulu murtad dan haruslah di-
nyatakan dahulu kita semua durhaka, yang ha-
rus binasa, yaitu lawan yang meninggikan
diri di atas segala yang disebut atau yang di-
sembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di
Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai
Allah” (2 Tes. 2:3, 4).
Pada zaman Paulus pun, dengan cara yang
agak terbatas, kemurtadan ini telah mulai.
Cara yang ditempuhnya sangat licik, “diser-
tai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda
dan mukjizat-mukjizat palsu, dengan rupa-
rupa tipu daya jahat” (2 Tes. 2:9, 10). Sebe-
lum akhir abad pertama, Yohanes mengata-
kan bahwa “banyak nabi-nabi palsu yang
telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.”
Sesungguhnya, katanya, “Roh itu yaitu roh
antikristus dan tentang dia telah kamu de-
ngar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini
ia sudah ada di dalam dunia” (1 Yoh. 4:1, 3).
Bagaimanakah berlangsungnya sistem
kemurtadan ini?
Pengaruh “kita semua dosa”. “Begitu je-
maat meninggalkan ‘kasih yang semula’
(Why. 2:4), maka hilanglah kemurnian dok-
trin atau ajaran, ukuran tingkah laku kepri-
badian yang tinggi serta ikatan yang tidak
kelihatan yang mempersatukan, yang dise-
diakan Roh Kudus itu. Dalam perbaktian, ke-
sederhanaan telah digantikan dengan formal-
isme. Popularitas dan kuasa perorangan se-
makin mencengkam dan menentukan pilih-
an para pemimpin yang pada mulanya me-
ngembangkan kekuasaannya dalam jemaat
lokal, yang mulai berusaha melebarkan sa-
yap kuasanya atas jemaat tetangga atau sesa-
manya.
“Penyelenggaraan jemaat setempat yang
tadinya di bawah pengaruh dan bimbingan
Roh Kudus dialihkan kepada otoritas kege-
rejaan di bawah pejabat tunggal, bishop, se-
hingga jemaat secara pribadi takluk kepa-
danya dan hanya melalui dialah ia dapat
memperoleh keselamatan. Seterusnya yang
dipikirkan ialah bagaimana memerintah je-
maat bukannya melayaninya, dan yang di-
anggap “terbesar” bukanlah anggapan bah-
wa dirinya “pelayan untuk semua.” Oleh ka-
rena itu, dikembangkanlah konsep hirarki ke-
imamatan yang membuat jarak antara indi-
vidu dengan Tuhannya.”3
Sementara pentingnya individu dan je-
maat lokal dikikis, uskup Roma muncul se-
bagai kuasa yang paling tinggi di dunia Kris-
ten. Berkat bantuan penguasa maka uskup
yang tertinggi ini, yakni paus,4 telah diakui
sebagai kepala jemaat yang tampak di dunia
ini secara universal, dikaruniai kuasa ter-
tinggi atas seluruh pemimpin dunia.
Di bawah kepemimpinan kepausan,5 je-
maat tenggelam ke dalam kemurtadan yang
lebih dalam. Kepopuleran jemaat yang se-
makin bertambah-tambah mempercepat ke-
merosotannya. Ukuran keimanan yang sema-
kin rendah menyebabkan orang yang tidak
bertobat pun merasa senang tinggal di da-
lam jemaat. Orang-orang yang sama sekali
tidak mengerti Kekristenan menggabungkan
diri ke dalam jemaat hanya sekadar nama
saja, mereka membawa masuk ajaran-ajar-
an kekafiran, patung-patung dan mode-mode
perbaktian, perayaan-perayaan, pesta-pesta
dan lambang-lambang mereka.
Kompromi yang terjadi antara Kekristen-
an dan kekafiran inilah yang membuat “ma-
nusia dosa”—menjadi sebuah sistem agama
palsu yang luar biasa besarnya, paduan ke-
benaran dan kepalsuan. Nubuat dalam 2 Te-
salonika 2 bukannya menghakimkan indivi-
du-individu, melainkan memaparkan sistem
agama yang bertanggung jawab atas kemur-
190Umat yang Sisa dan Tugasnya
tadan besar itu. Di dalamnya banyak juga
orang Kristen yang menjadi milik jemaat Tu-
han sebab mereka hidup menurut terang
yang ada pada mereka.
Jemaat yang Menderita. Dengan terja-
dinya kemerosotan rohani, jemaat Roma me-
ngembangkan bentuk sekularisme yang lebih
besar, yang semakin lebih dekat dan terikat
kepada pemerintahan yang berkuasa. Gere-
ja dan negara disatukan dalam persekutuan
yang tidak kudus.
Di dalam artikel nya yang sudah menjadi
klasik, The City of God, Augustine—salah
seorang Bapa gereja yang paling berpe-
ngaruh—menyatakan cita-cita Katolik yang
ideal, jemaat yang universal yang mengen-
dalikan negara secara universal. Pemikiran
Augustine inilah yang menjadi landasan teo-
logi kepausan abad pertengahan.
Pada tahun 533, dalam sebuah surat yang
disertakan dalam Kode Justinianus, Kaisar
Justinianus mengumumkan uskup Roma ke-
pala seluruh gereja.6 Ia pun mengakui penga-
ruh Paus untuk menumpas para penentang-
nya.7
Ketika salah seorang jenderal dari Justi-
anus membebaskan Roma, Jenderal Belisa-
rius, pada tahun 538, uskup Roma telah di-
bebaskan dari penguasaan Ostrogoth, orang-
orang Aria yang mencoba menghalangi per-
kembangan gereja Katolik. Kini uskup da-
pat menjalankan hak istimewanya, yang di-
nyatakan dalam dekret Justinianus tahun
533, yang menjadi jaminan baginya, ia pun
dapat memperluas kuasa “Takhta Suci.” Ma-
ka itulah awal 1260 tahun aniaya dahsyat
sebagaimana yang ada dalam Kitab
Suci, yang telah dinubuatkan lebih dahulu
(Dan. 7:25; Why. 12:6, 14; 13:5-7).
Tragisnya, gereja dengan bantuan negara,
mencoba memaksakan dekret-dekret dan
pengajaran-pengajarannya kepada semua
orang Kristen. Banyak orang yang menye-
rah dan undur dari keyakinannya sebab ta-
kut aniaya, sementara orang-orang yang te-
tap setia kepada pengajaran Kitab suci men-
derita aniaya yang kejam. Dunia Kristen
menjadi medan pertempuran. Banyak orang
yang dimasukkan ke dalam penjara atau
dibunuh dalam nama Tuhan! Selama kurun
waktu 1260 tahun aniaya itu berjuta-juta
orang Kristen yang tetap setia kepada iman-
nya mengalami penderitaan yang dahsyat,
sedang yang lain membayar kesetiaan
mereka dengan kematian dalam Kristus.8
Setiap darah yang tumpah mencemarkan
nama Allah dan Yesus Kristus. Tidak ada
yang lebih merusak Kekristenan dibandingkan
aniaya yang tiada taranya ini. Pandangan
mengenai sifat Tuhan diputarbalikkan kare-
na perbuatan jemaat ini, dan doktrin purga-
tori (api penyucian) dan siksaan yang kekal
telah membuat orang menolak Kekristenan.
Jauh sebelum Reformasi, sudah ada sua-
ra-suara di dalam gereja Katolik yang me-
nentang perbuatan yang kejam, pembunuhan
Kristen yang tidak mengenal belas kasihan,
pihak yang menentang ini diperlakukan de-
ngan kejam, pernyataan yang angkuh dan
akhlak yang merosot. sebab ketidaksudian
gereja pada ketika itu maka Reformasi Pro-
testan lahir pada abad keenam belas. Keber-
hasilan ini merupakan tiupan angin kencang
terhadap wibawa dan prestise jemaat Roma.
Selama masa Reformasi pembalasan berda-
rah kepausan dilakukan untuk menghancur-
kan Reformasi, akan namun lambat laun ke-
hilangan medan perang melawan kekuatan
yang memperjuangkan kebebasan beragama
dan sipil.
Akhirnya, dalam tahun 1798, 1200 tahun
sesudah tahun 538 TM, Gereja Katolik Ro-
ma menerima pukulan yang mematikan (ban-
dingkan Why. 13:3).9
191Umat yang Sisa dan Tugasnya
Kemenangan-kemenangan hebat yang
diperoleh pasukan Napoleon di Italia mem-
buat Paus berada di bawah belas kasihan
pemerintahan Perancis yang revolusioner,
yang menganggap agama Roma sebagai mu-
suh Republik yang tidak dapat dirujukkan
lagi. Pemerintah Perancis menyuruh Napo-
leon memenjarakan Paus. Ia lalu me-
merintahkan Jenderal Berthier memasuki
Roma dan memaklumkan berakhirnya peme-
rintahan Paus secara politis. Sebagai tawan-
an Paus dibawa Jenderal Berthier ke Peran-
cis, tempat ia meninggal di pengasingan.10
Penggulingan kepausan ini merupakan
puncak rangkaian kejadian yang berhubung-
an dengan kemundurannya. Peristiwa itu me-
nandai akhir kurun waktu nubuat 1260 ta-
hun. Banyak orang Protestan menafsirkan ke-
jadian ini sebagai sebuah kegenapan nubua-
tan.11
REFORMASI
Pengajaran-pengajaran yang tidak ber-
landaskan Kitab Suci, yang didasarkan atas
tradisi, aniaya yang tidak mengenal belas ka-
sihan terhadap mereka yang berbeda penda-
pat, korupsi, dan kemerosotan rohani dari ba-
nyak imam merupakan sebagian besar fak-
tor yang menyebabkan orang banyak berte-
riak meminta reformasi diadakan dalam ge-
reja yang sudah mapan.
Masalah doktrinal. Yang berikut yaitu
contoh-contoh doktrin yang tidak Alkitabiah
yang justru membantu memajukan Reforma-
si Protestan dan tetap memisahkan Protestan
dan Katolik Roma.
1. Kepala jemaat di dunia ini yaitu
wakil Kristus. Doktrin ini menyatakan bah-
wa hanya uskup Roma Raja wakil Kristus
di dunia dan menjadi kepala jemaat yang ke-
lihatan. Bertentangan dengan pandangan Al-
kitabiah mengenai kepemimpinan dalam ge-
reja (baca bab 12 dalam artikel ini), pengajar-
an ini didasarkan atas perkiraan bahwa Kris-
tus mengangkat Petrus sebagai kepala jemaat
yang tampak di dunia ini dan Paus dianggap
penerus Petrus.12
2. Infalibilitas gereja dan kepalanya.
Pengajaran yang paling kuat dan berperan
mendatangkan wibawa bagi gereja Roma
ialah pengajaran bahwa gereja tidak pernah
melakukan kekeliruan (infalibilitas). Gereja
menyatakan dirinya tidak pernah dan tidak
akan pernah melakukan kesalahan. Penga-
jaran ini didasarkan atas alasan yang beri-
kut, yang sama sekali tidak didukung oleh
Alkitab: sebab gereja itu Ilahi, maka seo-
rang yang mewarisi sifat-sifatnya tentulah
tidak pernah melakukan kesalahan. Lagi
pula, sebagaimana yang dimaksudkan Allah,
melalui gereja yang Ilahi ini, yang memim-
pin semua orang yang baik menuju surga,
mengharuskan gereja itu tidak mempunyai
pengajaran iman dan moral yang salah.13
Kristus akan memeliharanya dari segala ke-
salahan melalui kuasa Roh Kudus.
Maka menurut logika yang sehat, yang
mengingkari bahwa kita semua pada dasarnya
jahat (baca bab 7), maka pemimpin gereja
pun tentu tidaklah pernah melakukan kesa-
lahan.14 Dengan demikianlah, menurut litera-
tur Katolik pemimpin gereja memperoleh
hak istimewa dari Ilahi.15
3. Memudarkan pekerjaan penganta-
raan Kristus selaku imam besar. sebab
pengaruh gereja Roma semakin bertambah-
tambah maka perhatian umat percaya dialih-
kan dari tugas pengantaraan Kristus sebagai
Imam Besar surgawi—antitipe (penggenap-
an atas apa yang telah dinubuatkan lebih da-
hulu) korban persembahan harian yang ber-
192Umat yang Sisa dan Tugasnya
kelanjutan dari upacara pelayanan bait suci
menurut Perjanjian Lama (baca bab 4 dan
24)—kepada keimamatan yang di dunia
yang dipimpin oleh pemimpinnya yang ada
di Roma. Gantinya bergantung kepada Kris-
tus mengenai pengampunan dosa dan kese-
lamatan yang kekal (baca bab 9,10), umat
percaya menaruh pengharapan mereka de-
ngan beriman kepada Paus, imam-imam dan
wali gereja. Berlawanan dengan pengajaran
Perjanjian Baru mengenai keimamatan se-
mua orang percaya, tugas keimamatan yang
dilakukan para imam itu mutlak diyakini se-
bagai yang vital untuk keselamatan.
Pelayanan keimamatan Kristus di surga,
tempat Ia memakai korban pendamaian-
Nya bagi umat percaya yang bertobat, ditia-
dakan tatkala gereja jadikan misa pengganti
Perjamuan Tuhan. Tidak seperti Perjamuan
Tuhan—sebuah pelayanan yang didirikan
Yesus sebagai lembaga peringatan atas ke-
matian-Nya dan bayangan atas kerajaan-
Nya yang akan datang (baca bab 16)—Ge-
reja Roma menyatakan misa menjadi korban
yang tidak berdarah dari imam kita semua , kor-
ban Kristus bagi Allah. sebab Kristus diper-
sembahkan kembali, seperti waktu di Gol-
gota dahulu, maka misa dianggap membawa
anugerah istimewa kepada umat percaya dan
orang yang sudah meninggal dunia.16
Dengan mengabaikan Kitab Suci, menge-
tahui hanya misa yang diselenggarakan imam
kita semua , khalayak menjadi kehilangan ber-
kat yang langsung menuju Yesus Kristus Pe-
ngantara kita. Oleh sebab itu, janji dan un-
dangan, “Sebab itu marilah kita dengan pe-
nuh keberanian menghampiri takhta kasih
karunia, supaya kita menerima rahmat dan
menemukan kasih karunia untuk mendapat
pertolongan pada waktunya” (Ibr. 4:16) men-
jadi lenyap.
4. Faedah sifat amal yang baik. Pan-
dangan umum yang mengatakan bahwa amal
baik seseorang dapat memperoleh jasa yang
amat penting bagi keselamatan, dan bahwa
iman tidak dapat menyelamatkan, berlawan-
an dengan ajaran Perjanjian Baru (baca bab
9 dan 10). Gereja Katolik mengajarkan bah-
wa amal baik yang menjadi basil anugerah
yang dimasukkan ke dalam hati orang yang
berdosa, sangat berjasa atau berfaedah yang
berarti bahwa mereka dapat menuntut kese-
lamatan. Dengan demikian, seseorang dapat
saja melakukan amal baik yang melebihi apa
yang diperlukan untuk keselamatan—seperti
halnya juga untuk orang-orang yang kudus
—sehingga dengan demikian dapat dikum-
pulkan jasa tambahan. Jasa tambahan ini da-
pat digunakan untuk kepentingan orang lain.
sebab gereja beranggapan bahwa orang-
orang berdosa dibenarkan atas kebenaran
yang dimasukkan ke dalam hati, maka amal
baik mempunyai peranan yang penting da-
lam pembenaran seseorang.
Jasa atau faedah amal baik juga mema-
inkan peranan yang penting dalam doktrin
purgatori (api penyucian), yang menyatakan
bahwa orang-orang yang tidak murni harus-
lah dibersihkan, harus mengalami masa pe-
hukuman sementara sebab dosa-dosa mere-
ka di dalam api penyucian sebelum mereka
dapat diperkenankan masuk ke dalam surga
yang menyenangkan. Melalui doa-doa dan
perbuatan baik mereka, orang-orang beriman
yang masih hidup dapat meringankan dan
memendekkan penderitaan mereka dalam
purgatori atau api penyucian itu.
5. Doktrin hukuman untuk menebus
dosa dan pengampunan dosa. Hukuman
untuk menebus dosa yaitu sakramen yang
dapat dilakukan orang Kristen untuk mem-
peroleh pengampunan atas dosa-dosa yang
mereka akui sesudah baptisan. Pengampun-
an dosa ini sepenuhnya dapat dilakukan oleh
193Umat yang Sisa dan Tugasnya
seorang imam, akan namun sebelum itu diper-
oleh, orang Kristen haruslah lebih dahulu
memeriksa hati nurani mereka, bertobat atas
dosa-dosa mereka, dan bertekad tidak akan
melukai hati Allah lagi. Mereka harus me-
ngaku dosa-dosa mereka kepada imam dan
melakukan hukuman untuk menebus dosa—
melalui tugas-tugas yang diberikan dan yang
ditentukan oleh sang imam.
Namun demikian, hukuman untuk me-
nebus dosa ini belumlah lengkap untuk da-
pat membebaskan orang berdosa sepenuh-
nya. Mereka masih tetap harus menanggung
hukuman sementara apakah di dalam kehi-
dupan ini ataupun di dalam api penyucian.
Untuk mengatasi hukuman ini gereja mendi-
rikan lembaga pengampunan dosa (indulgen-
ces), yang memberikan keringanan hukuman
(remisi) atas hukuman yang bersifat semen-
tara yang masih tetap ada sehubungan de-
ngan dosa dan kesalahan orang yang telah
dibebaskan. Pengampunan dosa yang bergu-
na bagi orang yang masih hidup maupun me-
reka yang berada dalam api penyucian, dija-
min dengan syarat penyesalan dosa dan per-
lakuan serta perbuatan yang baik, seringkali
diwujudkan dalam bentuk pembayaran de-
ngan uang kepada gereja.
Berkat jasa yang berlebih dari orang-
orang yang mati syahid, para orang kudus,
rasul-rasul dan terutama Yesus Kristus dan
Maria, memungkinkan pengampunan dosa.
Jasa mereka disimpan di dalam “perbenda-
haraan jasa” dapat dialihkan kepada orang
yang perhitungannya tidak memadai. Paus,
yang dinyatakan sebagai pengganti Petrus,
mengatur pengendalian kunci perbendahara-
an ini dan dapat mengeluarkan orang dari hu-
kuman sementara dengan memberikan kre-
dit bagi mereka dari perbendaharaan itu.l7
6. Otoritas utama terletak pada gere-
ja. Selama berabad-abad gereja yang sudah
mapan menyerap banyak kepercayaan kafir,
hari-hari perayaan dan lambang-lambang-
nya. Apabila ada suara-suara yang diperde-
ngarkan untuk menentang hal-hal yang sa-
ngat dibenci ini, maka gereja Roma menya-
takan bahwa merekalah satu-satunya yang
dapat menafsirkan Alkitab. Gereja, bukan-
nya Alkitab, yang mempunyai otoritas akhir
(baca bab 1 dari artikel ini). Gereja menya-
takan bahwa dua sumber kebenaran Ilahi ter-
dapat pada: (1) Kitab Suci dan (2) tradisi
Katolik yang terdiri dari tulisan-tulisan Bapa
Gereja, dekret dewan gereja, konsili-konsili,
kredo yang disahkan, dan upacara-upacara
gereja. Apabila doktrin gereja didukung oleh
tradisi dan bukannya oleh Kitab Suci, maka
tradisilah yang diutamakan. Orang biasa
yang beriman tidak mempunyai hak untuk
menafsirkan doktrin Allah yang dinyatakan
dalam Kitab Suci. Otoritas hanyalah berada
di tangan Gereja Katolik.
Fajar Hari Baru. Pada abad Keempat-
belas John Wycliffe menganjurkan agar di-
adakan reformasi gereja, bukan hanya di Ing-
gris saja melainkan di seluruh dunia Kris-
ten. Pada waktu Alkitab baru beredar hanya
beberapa, ia sudah menyiapkan terjemahan
yang pertama Alkitab ke dalam bahasa Ing-
gris. Ia mengajarkan keselamatan hanya me-
lalui iman saja dan hanya Alkitab saja yang
menjadi dasar yang tidak bercacat-cela dari
Reformasi Protestan. Sebagai bintang fajar
Reformasi, ia mencoba membebaskan gere-
ja Kristen dari kungkungan kekafiran yang
telah merantainya dalam kebodohan. Ia
membuka sebuah gerakan yang dimaksud-
kan untuk membebaskan pikiran individu-
individu serta membebaskan semua bangsa
dari cengkeraman kesalahan agama. Tulisan-
tulisan Wycliffe menyentuh jiwa Huss, Je-
rome, Luther dan banyak lagi yang lain.
Martin Luther—yang berapi-api, orang
194Umat yang Sisa dan Tugasnya
yang lebih suka menurut hati nurani, tidak
kenal kompromi—mungkin yaitu orang
yang paling tangguh kepribadiannya dalam
pergerakan Reformasi. Bahkan tindakannya
lebih dibandingkan yang lain, ia memimpin orang
kembali kepada Kitab Suci dan kebenaran
Injil yang agung dari hal pembenaran oleh
iman, sementara ia menentang keselamatan
sebab perbuatan.
Pernyataan bahwa orang-orang beriman ti-
dak menerima otoritas apa pun selain Kitab
Suci, dan Luther memalingkan mata orang, dari
amal baik kita semua itu, dari pekerjaan manu-
sia, imam-imam, dan hukuman untuk mene-
bus dosa, kepada Kristus sebagai satu-satu-
nya Pengantara dan Juruselamat. yaitu ti-
dak mungkin, katanya, dengan amal manu-
sia mengurangi dosa atau menghindari hu-
kuman sebab nya. Hanya orang yang berto-
bat kepada Allah dan beriman dalam Kris-
tus, orang-orang berdosa dapat diselamatkan.
sebab ini merupakan sebuah karunia, di-
beri dengan cuma-cuma, maka anugerah-Nya
tidak dapat dibeli. kita semua dapat memiliki
pengharapan namun bukan sebab pemba-
yaran melainkan sebab darah Penebus yang
tercurah di kayu salib.
Seperti sebuah ekspedisi arkeologi yang
menemukan permata di bawah tumpukan
barang yang terbuang selama berabad-abad,
maka Reformasi mengungkapkan kebenaran
yang sudah lama dilupakan. Pembenaran
oleh iman, prinsip utama Injil, telah ditemu-
kan kembali, sebagai suatu penghargaan baru
terhadap korban pendamaian yang sekali dan
menyeluruh dari Yesus Kristus serta pengan-
taraan keimamatan-Nya yang lengkap. Ba-
nyak pengajaran yang tidak berdasar Al-
kitab, misalnya doa-doa bagi orang mati, pe-
mujaan kepada orang saleh dan benda kera-
mat, perayaan misa, penyembahan kepada
Maria, purgatori, penebusan dosa, air yang
suci, imam-imam yang tidak boleh menikah,
rosario, inkuisisi, transubstansi, pemberian
minyak suci yang keterlaluan, ketergantung-
an terhadap tradisi, dilepaskan dan diting-
galkan.
Para Reformer Protestan hampir semua-
nya sepakat dalam mengidentifikasi sistem
kepausan sebagai “kita semua dosa,” “rahasia
ketidakadilan,” dan “tanduk kecil” yang ter-
dapat dalam kitab Daniel, yang menganiaya
umat Allah yang benar dalam kurun waktu
1260 tahun sebagaimana yang ada da-
lam kitab Wahyu 12:6, 14 dan 13:5, sebe-
lum Kedatangan Kedua kali.19
Yang menjadi dasar pengajaran Protes-
tantisme ialah doktrin yang ada dalam
Alkitab, hanya Alkitab saja norma iman dan
moral. Para Reformer atau Pembaru meng-
anggap segala tradisi kita semua tunduk kepa-
da otoritas Kitab Suci. Dalam masalah iman
keagamaan tidak ada otoritas—Paus, konsi-
li, bapa-bapa gereja, para raja ataupun sar-
jana—yang memerintah hati nurani. Sesung-
guhnya dunia Kekristenan telah mulai bang-
kit dari tidurnya dan di pelbagai negeri ke-
bebasan beragama telah diumumkan.
MANDEKNYA REFORMASI
Reformasi gereja Kristen tidak berakhir
pada abad keenambelas. Para Reformis te-
lah menyelesaikan begitu banyak pekerjaan-
nya, akan namun belum menemukan kemba-
li seluruh terang yang hilang selama masa
kemurtadan. Mereka telah membawa kelu-
ar Kekristenan dari kegelapan yang pekat,
akan namun masih tetap berada di bawah ba-
yang-bayangnya. Ketika mereka telah mere-
mukkan tangan besi gereja abad pertengah-
an, dan memberikan Alkitab kepada dunia
serta memulihkan dasar Injil, mereka belum
berhasil menggali kebenaran-kebenaran pen-
ting lainnya. Baptisan dengan diselamkan,
keabadian sebagai sebuah pemberian yang
195Umat yang Sisa dan Tugasnya
diberikan oleh Kristus pada kebangkitan
orang benar, Sabat hari ketujuh sebagaima-
na yang ada dalam Alkitab dan kebenar-
an-kebenaran lainnya (baca bab 7, 15, 20 dan
26) masih tetap hilang dalam bayang-ba-
yang.
Akan namun gantinya memajukan Refor-
masi, para penerusnya justru mengadakan
konsolidasi apa yang sudah dicapai. Mere-
ka memusatkan perhatian mereka terhadap
kata-kata para Pembaru, begitu pula dengan
pandangan-pandangan Pembaru itu, menja-
di tumpuan perhatian penerusnya, bukannya
kepada Alkitab. Beberapa dari penerus itu
menemukan kebenaran-kebenaran baru, teta-
pi pada umumnya, mayoritas, menolak maju
melebihi dari apa yang sudah diyakini para
pembaru sebelumnya. Akibatnya, iman Pro-
testan merosot ke dalam formalisme dan sko-
lastiksisme serta kesalahan-kesalahan yang
seharusnya sudah dibuang malah dianggap
sebagai sesuatu yang suci. Nyala Reformasi
lambat-laun meredup dan gereja-gereja Pro-
testan sendiri menjadi dingin, sangat formal
dan memerlukan pembaruan.
Era pasca-Reformasi bergemuruh dengan
kegiatan teologis, namun tidak mendatang-
kan banyak kemajuan di bidang kerohanian.
Frederic W. Farrar menulis bahwa di dalam
periode ini “kebebasan telah diubah menja-
di perbudakan; prinsip-prinsip universal de-
ngan elemen-elemen kemiskinan; kebenaran
dengan dogmatisme; kemandirian dengan
tradisi; agama dengan sistem. Rasa hormat
terhadap Kitab Suci telah digantikan dengan
teori yang hambar tentang inspirasi. Kegem-
biraan yang wajar digantikan dengan kese-
ragaman yang kaku dan pemikiran yang hi-
dup dengan dialektika kontroversial.”20 Dan
kendatipun “Reformasi telah menghancur-
kan tongkat timah skolastikisme kuno yang
cukup berat,” gereja-gereja Protestan me-
ngenalkan “skolastikisme yang baru dengan
tongkat dari besi.”21 Robert M. Grant menye-
but skolastikisme “sekaku bangunan teolo-
gis abad pertengahan mana pun.”22 Maka
Protestan “secara praktis mengikat diri me-
reka sendiri dengan batas-batas pengakuan
mereka kini.”23
Maka meledaklah kontroversi. “Tidak
ada satu zaman, saat mana kita semua saling
menemukan kesalahan, atau zaman saat
mana mereka masing-masing saling menge
jek dan memberi nama yang menghina?24
Oleh sebab itu, kabar baik berubah menja-
di perang kata. “Kitab Suci tidak lagi berbi-
cara ke dalam hati melainkan menjadi kri-
tik intelektual.„25 “Dogma seakan ortodoks
namun kerohanian redup. Teologi menang
namun kasih dingin.”26.
UMAT YANG SISA
Walaupun kemurtadan dan bencana da-
lam 1260 tahun, ada juga kelompok orang
beriman yang tetap memantulkan kemurnian
gereja kerasulan. Ketika aniaya 1260 tahun
berakhir pada tahun 1798 TM, naga itu ga-
gal melenyapkan secara keseluruhan umat
Allah yang setia. Terhadap mereka ini Setan
terus melakukan usaha-usaha yang meng-
hancurkan secara langsung. Yohanes berka-
ta, “Maka marahlah naga itu kepada perem-
puan itu, lalu pergi memerangi keturunan-
nya yang lain, yang menuruti hukum-hukum
Allah dan memiliki kesaksian Yesus” (Why.
12:17).
Apakah yang sisa itu? Di dalam gambar-
an yang diberikan Yohanes mengenai pepe-
rangan antara naga dan perempuan serta ke-
turunannya, ia memakai ungkapan “ke-
turunannya yang lain” (Why. 12:17). Ung-
kapan itu berarti “yang sisa” atau “yang ting-
gal” (menurut terjemahan KJV). Alkitab
menggambarkan yang sisa itu sebagai sebuah
196Umat yang Sisa dan Tugasnya
kelompok kecil umat Allah yang melalui ma-
lapetaka, peperangan, kemurtadan namun te-
tap setia kepada Allah. Umat yang sisa dan
tetap setia ini yaitu inti yang digunakan Al-
lah untuk menyebarkan jemaat-Nya yang ke-
lihatan di dunia (2 Taw. 30:6; Ezr. 9:14, 15;
Yes. 10:20-22; Yer. 42:2; Yeh. 6:8; 14:22).
Allah menugasi umat yang sisa itu untuk
mengumumkan kemuliaan Tuhan dan me-
mimpin umat-Nya yang tercerai berai di se-
luruh dunia menuju “Gunung Sion” “Ke atas
gunung-Ku yang kudus, ke Yerusalem” (Yes.
37:31, 32; 66:20; bandingkan Why. 14:1).
Mengenai mereka yang berhimpun dan di-
kumpulkan bersama-sama Alkitab berkata,
“Mereka yaitu orang-orang yang mengikuti
Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi (Why.
14:4).
Wahyu 12:17 berisi sebuah gambaran
tentang umat yang sisa dalam barisan orang
percaya yang setia yang dipilih Allah—Sak-
si-Nya yang setia pada zaman akhir menje-
lang kedatangan Kristus kedua kali. Apakah
ciri-ciri umat yang sisa itu?
Ciri-ciri Umat yang Sisa. Umat yang si-
sa itu tidaklah sukar untuk dikenali—pada
akhir zaman. Yohanes melukiskan kelompok
ini dengan istilah yang sangat khusus. Mun-
cul sesudah masa aniaya 1260 tahun, mere-
ka terdiri dari orang-orang yang “menuruti
hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian
Yesus” (Why. 12:17).
Mereka memiliki tanggung jawab untuk
mengumumkan, sebelum kedatangan Kris-
tus kedua kalinya, pekabaran tiga malaikat
kepada seluruh dunia yang ada dalam
Wahyu 14, amaran Allah yang terakhir ke-
pada seluruh dunia (Why. 14:6-12). Peka-
baran ini sendiri mengandung gambaran
umat yang sisa itu, yakni mereka yang “me-
nuruti perintah Allah dan iman kepada Ye-
sus” (Why. 14:12). Marilah kita simak lebih
saksama setiap ciri-ciri ini.
1. Iman kepada Yesus. Umat Yesus Kris-
tus yang sisa memiliki tabiat yang sama de-
ngan yang dimiliki Yesus. Mereka meman-
tulkan keyakinan Yesus yang kokoh kepada
Allah dan juga otoritas Kitab Suci. Mereka
percaya kepada Yesus Kristus sebagai Me-
sias yang telah dinubuatkan, Anak Allah,
yang datang sebagai Juruselamat dunia. Iman
mereka meliputi semua kebenaran Alkitab—
yang diyakini dan diajarkan Kristus.
Demikianlah, umat Allah yang sisa me-
ngumumkan Injil keselamatan kekal mela-
lui iman di dalam Kristus. Mereka akan
memberikan amaran kepada dunia ini bah-
wa hari pehukuman sudah tiba dan menyi-
apkan orang lain bertemu dengan Tuhan yang
segera datang itu. Mereka melibatkan diri ke
dalam misi dunia yang luas untuk menye-
lesaikan kesaksian Ilahi terhadap kita semua
(Why. 14:6, 7; 10:11; Mat. 24:14).
2. Hukum Allah. Umat yang sisa itu, ka-
rena mengaku memiliki iman kepada Yesus
Kristus, haruslah meneladani-Nya.” Barang-
siapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam
Dia,” kata Yohanes, “ia wajib hidup sama
seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh. 2:6). Ka-
rena Yesus taat kepada perintah-perintah Ba-
pa, mereka pun harus menuruti hukum Al-
lah (Yoh. 15:10).
Khususnya, sebab mereka yaitu umat
yang sisa, maka tindakan-tindakan mereka
haruslah diselaraskan dengan pengakuan me-
reka—jika tidak demikian, maka pengakuan
itu tidak ada harganya. Yesus berkata, “Bu-
kan setiap orang yang berseru kepada-Ku:
Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Keraja-
an Surga, melainkan dia yang melakukan ke-
hendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 7: 21).
Dengan kekuatan yang mereka peroleh dari
Kristus, mereka mengikuti hukum Allah, hu-
197Umat yang Sisa dan Tugasnya
kum moral yang diberikan Tuhan dan tidak
dapat diubah itu (Kel. 20:1-17; Mat. 5:17-
19; 19:17; Flp 4:13).
3. Kesaksian Yesus. Yohanes memberi-
kan definisi “kesaksian Yesus” sebagai “roh
nubuat” (Why. 19:10). Umat yang sisa di-
tuntun oleh kesaksian Yesus yang disampai-
kan melalui karunia nubuat.
Karunia nubuat yang diberikan Roh Ku-
dus ini berfungsi terus-menerus dalam se-
jarah jemaat, sampai “semua telah menca-
pai kesatuan iman dan pengetahuan yang be-
nar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh,
dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan
kepenuhan Kristus” (Ef. 4:13). Itulah sebagi-
an besar ciri-ciri umat yang sisa.
Tuntunan nubuat yang demikianlah yang
membuat umat yang sisa yang telah dinubu-
atkan itu memberitahukan pekabaran nubu-
at. Mereka akan memahami nubuatan dan me-
ngajarkannya. Pewahyuan kebenaran yang di-
tujukan kepada umat yang sisa itu membantu
mereka menyelesaikan misi mereka tentang
persiapan dunia untuk kedatangan Kristus
kembali (baca bab 18).
Munculnya Umat yang sisa Akhir Za-
man. Alkitab menunjukkan munculnya umat
yang sisa ke panggung dunia lewat masa
aniaya yang hebat itu (Why. 12:14-17). Pe-
ristiwa Revolusi Perancis yang menggon-
cang dunia, dengan tertawannya Paus pada
penghujung periode 1260 tahun itu (1798
Masehi), dan penggenapan tiga peristiwa
kosmis yang hebat—hal mana bumi, mataha-
ri, bulan dan bintang menjadi saksi betapa
dekatnya kedatangan Kristus kembali (baca
bab 24)—menuntun kepada penggerakan
kembali secara besar-besaran untuk belajar
nubuatan. Pengharapan akan datangnya Kris-
tus sangat meluas. Orang-orang Kristen di
pelbagai penjuru dunia ini, banyak yang me-
ngakui bahwa, “akhir zaman” sudah dekat
(Dan. 12:4).27
Genapnya nubuatan Alkitab pada paruh
kedua abad kedelapan belas dan paruh per-
tama abad kesembilan belas mendatangkan
gerakan yang tangguh atas Kedatangan yang
Kedua kali. Hampir di setiap gereja ada
orang percaya yang berharap datangnya Kris-
tus, dan mereka itu berdoa dan bekerja, me-
nyambut puncak zaman.
Pengharapan atas Kedatangan Kedua kali
ini menimbulkan kesatuan rohani yang men-
dalam di antara penganutnya, dan banyak
yang bergabung untuk memberikan amaran
kepada dunia bahwa Kristus akan segera
datang. Gerakan Advent sangat Alkitabiah
dan berpusat pada Firman Tuhan dan peng-
harapan Kedatangan Kedua kali itu.
Makin sungguh-sungguh mereka mem-
pelajari Alkitab, makin yakin mereka bahwa
Tuhan telah memanggil umat yang sisa un-
tuk melanjutkan Reformasi gereja Kristen
yang sudah agak mandek. Mereka merasakan
dan mengalami tidak adanya roh sejati yang
ada pada Reformasi itu di dalam gereja
mereka yang dihormati serta kurangnya per-
hatian untuk mempelajari persiapan untuk
Kedatangan Kedua kali itu. Dengan mem-
pelajari Alkitab mereka mengetahui bahwa
pencobaan dan kekecewaan telah digunakan
Tuhan untuk membimbing mereka melalui
kerohanian yang dalam, dengan pengalaman
yang dimurnikan yang menghimpun mereka
menjadi satu umat Allah yang sisa. Kepada
mereka Tuhan memerintahkan supaya me-
neruskan Reformasi yang telah mendatang-
kan kegembiraan dan kuasa kepada gereja.
Dengan rasa syukur dan rendah hati mereka
menerima tugas itu, menyadari bahwa tugas
yang dibebankan Tuhan diberikan kepada
mereka bukan sebab keunggulan mana pun
yang diwarisi mereka, hanyalah melalui anu-
gerah Kristus dan kuasa-Nya mereka mem-
198Umat yang Sisa dan Tugasnya
peroleh keberhasilan.
MISI UMAT YANG SISA
Nubuatan-nubuatan yang ada dalam
kitab Wahyu dengan jelas mengikhtisarkan
misi umat yang sisa. Pekabaran tiga malai-
kat yang ada dalam Wahyu 14:6-12
menunjukkan pernyataan dari hal umat yang
sisa yang menyampaikan pemulihan akhir
dan sempurna dari kebenaran Injil.28 Peka-
baran tiga malaikat ini berisi jawaban Tu-
han terhadap tipuan Setan yang menyelu-
bungi serta melanda dunia ini sebelum keda-
tangan Kristus (Why. 13:3, 8, 14-16). Sete-
lah panggilan Allah yang terakhir kepada
dunia maka Kristus datang kembali untuk
menuai (Why. 14:14-20).
PEKABARAN MALAIKAT PERTAMA
Dan aku melihat seorang malaikat lain
terbang di tengah-tengah langit dan padanya
ada Injil yang kekal untuk diberitakannya
kepada mereka yang diam di atas bumi dan
kepada semua bangsa dan suku dan bahasa
dan kaum, dan ia berseru dengan suara nya-
ring: ‘Takutlah akan Allah dan muliakanlah
Dia, sebab telah tiba saat penghakiman-Nya,
dan sembahlah Dia yang telah menjadikan
langit dan bumi dan Laut dan semua mata
air.” (Why. 14:6, 7).
Malaikat pertama melambangkan umat
Allah yang sisa yang menyampaikan Injil
kekal kepada dunia ini. Injil ini sama dengan
kabar baik tentang kasih Allah yang tiada
batasnya yang juga diberitakan para nabi
dahulu kala dan yang dinyatakan para rasul
(Ibr. 4:2). Umat yang sisa tidak menyampai-
kan Injil yang berbeda—mengenai pengha-
kiman mereka mengukuhkan bahwa Injil ke-
kal membuat kita semua berdosa dapat dibe-
narkan oleh iman dan menerima pembena-
ran Kristus.
Pekabaran ini memanggil dunia supaya
bertobat. Diundangnya supaya semua orang
“takut,” atau memberi hormat kepada Tuhan
serta “memuliakan” atau “menghormati-
Nya.” Kita diciptakan dengan satu maksud,
supaya kita dapat menghormati dan memu-
liakan Tuhan dalam perkataan maupun per-
buatan: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermu-
liakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan
dengan demikian kamu yaitu murid-murid-
Ku” (Yoh. 15:8).
Yohanes meramalkan bahwa pergerakan
itu menyiapkan dunia bagi kedatangan Kris-
tus kembali dengan menekankan keprihatin-
an Alkitab demi kemuliaan Tuhan. Ditampil-
kannya Perjanjian Baru begitu menarik, be-
lum pernah seperti itu sebelumnya, mengun-
dang supaya hidup kita kudus: “Atau tidak
tahukah kamu, bahwa tubuhmu yaitu bait
Roh Kudus yang diam di dalam kamu.” Kita
tidak berhak atas diri kita sendiri baik mo-
ral dan kuasa rohani; Kristus telah membeli
semua ini dengan darah-Nya di Golgota.
“sebab itu muliakanlah Allah dengan tu-
buhmu!” (1 Kor. 6:19, 20). “Jika engkau
makan atau jika engkau minum, atau jika
engkau melakukan sesuatu yang lain, laku-
kanlah semuanya itu untuk kemuliaan Al-
lah” (1 Kor. 10:31).
Kenyataan bahwa “saat penghakiman-
Nya” telah tiba menambah betapa mendesak-
nya panggilan untuk bertobat (baca bab 24).
Dalam Wahyu 14:7, kata penghakiman ter-
jemahan kata krisis dari bahasa Yunani, tin-
dakan menghakimi, bukannya penjatuhan
hukuman (krima). Yang dikemukakannya
ialah proses keseluruhan penghakiman, di
dalamnya termasuk dakwaan terhadap orang
di hadapan pengadilan Ilahi, penyelidikan,
catatan hidup, keputusan hakim untuk mem-
199Umat yang Sisa dan Tugasnya
bebaskan atau menyatakan bersalah, dan
pemberian hidup kekal atau hukuman mati
(baca Mat. 16:27; Rm. 6:23; Why. 22:12).
Pekabaran tentang saat penghakiman juga
menyatakan penghakiman Tuhan atas semua
kemurtadan (Dan. 7:9-11, 26; Why. 17, 18).
Pekabaran saat penghakiman khususnya
menunjuk kepada saat apabila, sebagai fra-
se terakhir pelayanan-Nya selaku imam be-
sar di bait suci surga, Kristus mulai masuk
ke dalam tahapan pekerjaan atau tugas peng-
hakiman (baca bab 24).
Pekabaran ini juga memanggil semua su-
paya menyembah sang Pencipta. Panggilan
supaya menyembah Allah haruslah dilihat
dalam kontrasnya dengan panggilan kepada
penyembahan binatang dan patungnya (Why.
13:3, 8, 15). Begitu orang menentukan pilih-
an masing-masing akan menyembah yang be-
nar ataukah yang salah—antara penyembah-
an Allah dengan persyaratan-Nya (pembe-
naran oleh iman) ataukah dengan syarat kita
(pembenaran sebab perbuatan). Dengan me-
nyuruh kita supaya menyembah Dia “yang
telah menjadikan langit dan bumi dan laut
dan semua mata air” (Why. 14:7; banding-
kan Kel. 20:11), pekabaran ini meminta per-
hatian kita terhadap hukum yang keempat.
Itulah yang menuntun orang untuk menyem-
bah sang Pencipta, sebuah pengalaman yang
berkaitan dengan penghormatan atas Dia
sebab Penciptaan—Sabat hari ketujuh yang
dijadikan Tuhan sebagai peringatan, yang
dilembagakan-Nya pada waktu Penciptaan
dan dikukuhkan dalam Sepuluh Hukum (ba-
ca bab 20). Pekabaran malaikat pertama me-
ngajak pemulihan atas penyembahan yang
sesungguhnya, dengan mengemukakan ke-
pada dunia bahwa Kristus yaitu Pencipta
dan Tuhan atas hari Sabat yang tertulis da-
lam Alkitab. Inilah tanda Penciptaan yang
dilakukan Tuhan—sebuah tanda yang telah
dilalaikan oleh kebanyakan makhluk yang
telah diciptakan-Nya.
Untunglah, pemakluman pekabaran ini
mengundang perhatian Tuhan selaku Pencip-
ta pada waktu sejarah dunia mulai mema-
suki panggung filsafat evolusioner, saat keba-
nyakan kita semua menyanjung-nyanjung artikel
Origin of Species (1859) yang dikarang oleh
Charles Darwin. Khotbah mengenai pekabar-
an malaikat pertama merupakan penegakan
benteng yang paling besar melawan kema-
juan teori revolusi.
Akhirnya, panggilan ini berarti pemulih-
an kehormatan hukum Allah yang kudus,
yang telah diinjak-injak oleh “kita semua dur-
haka” (2 Tes. 2:3). Hanya jika penyembah-
an yang sejati itu ditegakkan dan orang-
orang percaya hidup dalam prinsip-prinsip
kerajaan Allah maka Allah dapat dimuliakan.
PEKABARAN MALAIKAT KEDUA
“Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota
besar itu, yang telah memabukkan segala
bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya”
(Why. 14:8).
Sejak permulaan sejarah, kota Babilon
melambangkan perlawanan terhadap Allah.
Menaranya merupakan sebuah tugu peringat-
an kemurtadan dan pusat pemberontakan
(Kej. 11:1-9). Lusifer (Setan) yaitu raja
yang tidak tampak (Yes.14:4, 12-14) dan ke-
lihatannya ia hendak menjadikan Babilon se-
bagai perwakilan rencana induknya untuk
memerintah umat kita semua . Di dalam Alkitab
pertentangan antara kota Allah, Yerusalem
dan kota Setan, Babilon, menggambarkan
konflik antara yang baik dan yang jahat.
Selama abad-abad permulaan Kristen, ke-
tika orang-orang Roma menekan baik Yahu-
di maupun orang-orang Kristen, bahan baca-
an dan tulisan yang dikeluarkan orang Yahu-
200Umat yang Sisa dan Tugasnya
di maupun Kristen menunjuk kota Roma se-
bagai Babilon.29 Banyak orang percaya bah-
wa Petrus memakai kata Babilon seba-
gai nama samaran kota Roma (1 Ptr. 5: 13).
sebab kemurtadan dan aniaya yang terda-
pat di dalamnya pada umumnya orang-orang
Protestan zaman Reformasi dan sesudah Re-
formasi menunjuk gereja Roma sebagai Ba-
bilon rohani (Why. 17), musuh umat Allah.30
Di dalam kitab Wahyu, Babilon menun-
juk kepada wanita yang jahat, ibu para pela-
cur, dan putri-putrinya yang jalang (Why. 17:
5). Itulah yang melambangkan semua organi-
sasi agama yang murtad beserta para pemim-
pinnya, bahkan secara khusus menunjuk ke-
pada persekutuan agama murtad yang besar
dengan binatang beserta patungnya yang me-
nyebabkan krisis akhir sebagaimana yang di-
gambarkan dalam Wahyu 13:15-17.
Pekabaran malaikat kedua memberitakan
sifat umum (universal) kemurtadan Babilon
dan kuasanya yang memaksa, mengatakan
bahwa ia “yang telah memabukkan segala
bangsa dengan anggur hawa nafsu cabul-
nya.” Yang dimaksud dengan “anggur” Babi-
lon di sini ialah lambang dari pengajaran-
nya yang menyesatkan. Babilon akan mene-
kan kekuatan negara untuk memaksakan se-
cara menyeluruh ajaran dan dekret-dekret
agama palsunya itu.
“Zina” yang disebutkan di sini menggam-
barkan hubungan yang tidak sah antara Ba-
bilon dan bangsa-bangsa—antara gereja
yang murtad dengan kuasa sipil. Jemaat se-
harusnya menikah dengan Tuhannya, akan
namun justru sebaliknya yang dicari, yakni
dukungan dari negara, ia meninggalkan pa-
sangannya lalu melakukan perzinaan rohani
(bandingkan Yeh. 16:15; Yak. 4:4).
Hubungan yang tidak sah ini mengaki-
batkan tragedi. Yohanes melihat penduduk
bumi “dimabukkan” ajaran palsu dan Babi-
lon sendiri “mabuk oleh darah orang-orang
kudus dan darah saksi-saksi Yesus,” yang
menolak menerima pengajarannya yang ti-
dak berdasar Alkitab dan yang tidak tun-
duk kepada kuasanya (Why. 17:2, 6).
Babilon rubuh sebab ia menolak peka-
baran malaikat pertama—Injil pembenaran
oleh iman di dalam Pencipta. Sebagaimana
beberapa abad pertama gereja ‘Roma yang
murtad, banyak Protestan yang ada sekarang
ini telah meninggalkan kebenaran-kebenar-
an agung yang ada dalam Alkitab yang
dahulu diterima Reformasi. Nubuat menge-
nai Babilon yang rubuh ini digenapi dalam
Protestan yang secara luas meninggalkan ke-
murnian dan kesederhanaan Injil kekal yak-
ni pembenaran oleh iman yang dahulu begi-
tu kuat mendorong Reformasi.
Pekabaran malaikat kedua semakin ber-
kembang dan erat kaitannya menjelang akhir
zaman. Kegenapannya secara lengkap dalam
persekutuan pelbagai organisasi agama yang
telah menolak pekabaran malaikat pertama
itu. Pekabaran mengenai kejatuhan Babilon
diulangi dalam kitab Why. 18:2-4, yang me-
ngumumkan betapa sempurnanya kejatuhan
Babilon dan panggilan kepada umat Allah
yang masih ada dalam pelbagai lemba-
ga agama yang mengandung sifat Babilon
itu agar memisahkan diri dari dalamnya. Ka-
ta malaikat, “Pergilah kamu, hai umat-Ku,
pergilah dibandingkan nya supaya kamu jangan
mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan
supaya kamu jangan turut ditimpa malapeta-
ka-malapetakanya” (Why. 18:4).31
PEKABARAN MALAIKAT KETIGA
Dan seorang malaikat lain, malaikat ke-
tiga, menyusul mereka, dan berkata dengan
suara nyaring: “Jikalau seorang menyembah
binatang dan patungnya itu, dan menerima
tanda pada dahinya atau pada tangannya,
maka ia akan minum dari anggur murka Al-
201Umat yang Sisa dan Tugasnya
lah, yang disediakan tanpa campuran dalam
cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa de-
ngan api dan belerang di depan mata malai-
kat-malaikat kudus dan di depan mata Anak
Domba. Maka asap api yang menyiksa mere-
ka itu naik ke atas sampai selama-lamanya,
dan siang malam mereka tidak henti-henti-
nya disiksa, yaitu mereka yang menyembah
binatang serta patungnya itu, dan barangsia-
pa yang telah menerima tanda namanya.”
(Why. 14:9-12).
Pekabaran malaikat pertama mengumum-
kan Injil kekal dan panggilan untuk memulih-
kan penyembahan kepada Allah yang sejati
sebagai Khalik sebab saat penghakiman te-
lah tiba. Pekabaran malaikat kedua menga-
markan perlawanan terhadap segala bentuk
penyembahan yang dibuat kita semua . Akhir-
nya, pekabaran malaikat ketiga mengumum-
kan amaran Allah yang paling kudus untuk
menentang penyembahan kepada binatang
dan patungnya—semua orang yang menolak
Injil pembenaran oleh iman.
Binatang yang dilukiskan dalam Wahyu
13;1-10 yaitu uni gereja-gereja yang dido-
minasi dunia Kristen selama berabad-abad
dan telah dilukiskan oleh Paulus sebagai
“kita semua durhaka” (2 Tes. 2:2-4) dan menu-
rut Daniel sebagai “tanduk kecil” (Dan. 7:8,
20-25; 8:9-12). Patung binatang itu meng-
gambarkan bentuk agama palsu yang akan
dikembangkan apabila gereja-gereja telah ke-
hilangan semangat sejati Reformasi, akan
bergabung dengan pemerintah untuk memak-
sakan ajaran-ajaran mereka kepada yang lain.
Dengan bersatunya gereja dan negara mere-
ka akan menjadi sebuah patung yang sem-
purna dari binatang itu—gereja yang meng-
aniaya selama 1260 tahun. Oleh sebab itu-
lah disebut patung binatang itu.
Pekabaran malaikat ketiga mengumum-
kan amaran yang paling khidmat dan juga
menakutkan dalam Alkitab. Diungkapkan-
nya bahwa barangsiapa yang tunduk kepa-
da kuasa kita semua dalam krisis akhir dunia
akan menyembah binatang dan patungnya,
bukannya Allah.
Selama konflik akhir ini dua golongan
yang sangat berbeda akan berkembang. Sa-
lah satu kelompok akan menganjurkan Injil
hasil pemikiran kita semua dan akan menyem-
bah binatang dan patungnya, yang dengan
sendirinya mendatangkan hukuman yang pa-
hit bagi diri mereka sendiri. sedang ke-
lompok yang lain, sebaliknya, akan hidup
dengan Injil sejati serta “menuruti perintah
Allah dan iman kepada Yesus” (Why. 14:9,
12). Masalah akhir menyangkut penyembah-
an yang benar dan penyembahan yang pal-
su, Injil yang benar dan Injil yang palsu. Apa-
bila masalah ini dinyatakan atau disampai-
kan dengan jelas di hadapan dunia, barang-
siapa yang menolak peringatan yang dibe-
rikan Allah akan hal penciptaan—yakni hari
Sabat yang ada dalam Alkitab —memi-
lih berbakti dan memuliakan hari Minggu
dengan penuh pemahaman bahwa hari itu
sesungguhnya bukanlah hari perbaktian yang
ditetapkan Allah, akan menerima “tanda dari
binatang itu.” Tanda ini sebuah tanda pem-
berontakan; binatang itu menyatakan peng-
ubahan hari perbaktian itu menunjukkan oto-
ritasnya bahkan terhadap hukum Allah sen-
diri.32
Pekabaran malaikat ketiga mengarahkan
perhatian dunia terhadap akibat penolakan
atas Injil kekal dan pekabaran Tuhan atas
pemulihan perbaktian yang sejati. Dengan
sangat jelas digambarkannya akibat akhir
pilihan orang atas perbaktian itu. Pemilihan
itu tidak mudah dan ringan, sebab apa pun
yang dipilih selalu diikuti derita. Barangsiapa
yang menuruti Allah akan mengalami mur-
ka naga itu (Why. 12:17) dan ancamannya
yaitu kematian (Why. 13:15), sementara
orang-orang yang memilih berbakti dan
202Umat yang Sisa dan Tugasnya
menyembah binatang serta patungnya akan
terkena bencana tujuh bela akhir dan diakhiri
dengan “lautan api” (Why. 15,16; 20: 14, 15).
Sementara kedua pilihan itu berakibat
penderitaan, namun hasil akhir keseluruhan-
nya akan berbeda. Para penyembah Khalik
akan lepas dari murka Allah yang memati-
kan terhadap naga itu lalu berdiri bersama-
sama Anak Domba di atas Bukit Sion (Why.
14:1; 7:2, 4). sedang mereka yang me-
nyembah binatang dan patungnya, sebalik-
nya, menerima murka Allah dan mati di ha-
dapan malaikat-malaikat kudus dan di hadap-
an Anak Domba (Why 14:9, 10; 20:14).
Setiap orang akan mengadakan pilihan
siapa yang akan disembahnya. Apakah pilih-
an seseorang dibenarkan oleh iman akan di-
nyatakan sebagai seorang yang turut serta
dalam bentuk penyembahan Allah dan dibe-
narkan, atau apakah pilihan seseorang dibe-
narkan oleh perbuatan akan dinyatakan se-
bagai partisipasi dalam satu bentuk perbak-
tian Allah telah dilarang kecuali perbaktian
kepada binatang dan patungnya, perbaktian
yang dibuat kita semua sendiri. Allah tidak
menerima bentuk perbaktian yang kedua ini
sebab yang diutamakan ialah perintah-pe-
rintah kita semua dan bukannya yang berasal
dari Allah. Yang diusahakan ialah pembenar-
an sebab perbuatan kita semua dan bukannya
sebab iman yang berasal dari penyerahan
total kepada Allah sebagai Pencipta, Pene-
bus dan Pencipta-kembali (Re-creator). Ma-
ka dengan demikian, pekabaran malaikat ke-
tiga ini yaitu pekabaran pembenaran oleh
iman.
Allah memiliki anak-anak-Nya di dalam
semua gereja-Nya; namun melalui jemaat
yang sisa Ia mengumumkan suatu pekabar-
an yang hendak memulihkan perbaktian-Nya
yang sejati dengan memanggil umat-Nya ke-
luar dari kemurtadan dan menyiapkan me-
reka untuk menyambut kedatangan Kristus
kembali. Dengan mengetahui bahwa banyak
umat Allah yang belum menggabungkan diri,
umat yang sisa merasa kekurangsanggupan
dan kelemahan mereka ketika mereka men-
coba memenuhi pelaksanaan tugas yang pe-
nuh khidmat ini. Mereka menyadari bahwa
hanya dengan anugerah Allah saja mereka
dapat menyelesaikan tugas mereka.
Di dalam terang kebenaran mengenai ke-
datangan Kristus yang segera itu dan perlu-
nya menyiapkan diri menyambut kedatang-
an-Nya, panggilan yang penting dan mende-
sak yang datang kepada masing-masing kita
ialah: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergi-
lah dari padanya supaya kamu jangan me-
ngambil bagian dalam dosa-dosanya, dan su-
paya kamu jangan turut ditimpa malapeta-
ka-malapetakanya. Sebab dosa-dosanya te-
lah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan
Allah telah mengingat segala kejahatannya”
(Why. 18:4, 5).
____________________________:
1. Cahaya matahari yang gemerlapan sekeliling perempuan yang kudus itu (Why. 12:1) menurut banyak pengulas yaitu
menggambarkan terang Injil Perjanjian Baru, yang memberikan kuasa dan semangat kepada jemaat yang mula-mula.
Bulan, yang memantulkan cahaya matahari, melambangkan pantulan Perjanjian Lama, memantulkan terang Injil mela-
lui ramalan dan upacara (ritus) yang menunjuk kepada salib dan Seorang yang akan datang. Mahkota dengan dua belas
bintang-melambangkan pangkal jemaat, yang timbul di dalam Perjanjian Lama dalam bapa-bapa dari dua belas suku
bangsa dan diperluas dengan Perjanjian Baru, melalui kedua belas rasul itu.
2. Prinsip penggunaan hari-tahun untuk menghitung waktu nubuat telah disebutkan lebih dahulu dalam
.jpeg)
