doktrin dasar alkitab 22
zm. 37:20;
68:2). Mereka tidak hidup dalam keadaan sa-
dar selama-lamanya; melainkan akan diha-
nguskan (Mal. 4:1; Mat. 13:30, 40; 2 Ptr 3:10).
Mereka akan dibinasakan (Mzm. 145:20: 2
Tes. 1:9; Ibr. 2:14), dilenyapkan (Mzm.
104:35).
3. Hukuman kekal. Berbicara mengenai
penghakiman atas orang-orang yang jahat,
Perjanjian Baru memakai istilah “kekal”
dan “selama-lamanya.” Istilah ini merupakan
terjemahan dari Yunani Aionios, diterapkan
kepada Tuhan dan juga kepada kita semua .
Untuk menghindarkan salah pengertian, se-
seorang harus mengingat bahwa aionios
yaitu istilah relatif; maknanya ditentukan
oleh objek yang diterangkannya. Jadi, apabila
Kitab Suci memakai kata aionios (“se-
lama-lamanya,” “kekal”) mengenai Allah, itu
berarti bahwa Ia memiliki eksistensi yang ba-
ka–sebab Tuhan itu abadi. namun apabila
kata ini digunakan untuk kita semua yang fana
atau makhluk yang dapat binasa, maka yang
dimaksudkannya ialah selama orang itu hidup
atau benda itu masih ada.
Yudas 7, sekadar contoh, mengatakan
bahwa Sodom dan Gomora menderita “siksa-
an api kekal.” Namun demikian kota-kota itu
toh tidak terbakar sampai sekarang ini. Pe-
trus mengatakan bahwa api itu membakar
kota ini menjadi debu, menghukum me-
reka dengan kebinasaan (2 Ptr. 2:6). “Api
kekal” membakar sampai tidak ada lagi yang
tersisa, dan sesudah itu padam (lihat juga
Yer. 17:27; 2 Taw. 36:19).
Begitu pula, apabila Kristus mengirimkan
orang jahat masuk ke dalam “api kekal”
Milenium dan Akhir Dosa 413
(Mat. 25:41), api itu akan membakar orang
jahat dengan “api yang tidak terpadamkan”
(Mat. 3:12). Api itu padam bila tidak ada lagi
sesuatu yang akan dibakarnya.15
Apabila Kristus berbicara mengenai “sik-
saan yang kekal” maka yang dimaksudkan-
Nya bukanlah hukuman yang kekal. Yang
dimaksudkan-Nya dengan “kehidupan yang
kekal (yang akan dinikmati orang yang benar)
akan berlangsung dari abad-abad kekekalan,
yang abadi dan tidak berkesudahan; sedang-
kan hukuman (bagi orang jahat) akan abadi
juga–yang dimaksudkan bukanlah ketahanan
yang abadi dengan kesadaran atas penderita-
an, melainkan hukuman yang sempurna dan
bersifat final. Tamatnya orang-orang yang
mengalami siksa kematian yang kedua itu.
Kematian ini untuk selama-lamanya, sebab
dari situ tidak akan ada lagi dan tidak akan
dapat lagi kebangkitan yang bagaimana-
pun.”16
Apabila Alkitab berbicara dari hal “kele-
pasan yang kekal” (Ibr. 9:12) dan “hukuman
kekal” (Ibr. 6:2), yang ditunjukkannya ialah
akibat yang kekal dari penebusan dan peng-
hakiman–bukanlah proses yang berkelanjutan
tidak ada akhirnya dari penebusan dan peng-
hakiman. Dengan cara yang sama, apabila
yang dibicarakan mengenai hukuman yang
abadi dan kekal, yang dimaksudkannya ialah
hasil akhir dan bukan proses penghukuman
itu. Kematian orang jahat itu merupakan
kematian yang akhir dan selama-lamanya.
4. Disiksa selama-lamanya. Ungkapan
yang digunakan Alkitab “sampai selama-la-
manya” (Why. 14:11; 19:3; 20:20) turut juga
membantu kepada kesimpulan bahwa proses
menghukum Setan dan orang jahat akan ber-
langsung secara kekal. Akan namun seperti
“kekal atau selama-lamanya” maka objek
itulah
.
yang menjelaskan makna pasti dari
kata “selama-lamanya.” Apabila hal itu ber-
kaitan dengan Tuhan, maka maknanya ada-
lah mutlak–sebab Tuhan itu kekal; apabila
itu berkaitan dengan kita semua yang fana, ma-
ka maknanya terbatas.
Gambaran yang diberikan Kitab Suci me-
ngenai hukuman yang dijatuhkan kepada
Edom merupakan sebuah contoh yang pas
dalam penggunaan ini. Yesaya mengatakan
bahwa Tuhan akan menjungkirbalikkan ne-
geri itu dengan api ter yang akan menyala-
nyala “siang dan malam” dan asapnya akan
“naik untuk selama-lamanya. Negeri itu akan
menjadi reruntuhan turun temurun, tidak ada
orang yang melintasinya untuk seterusnya”
(Yes. 34:9, 10). Edom telah dibinasakan,
akan namun tidak terus menyala sampai se-
karang. Kata “selama-lamanya” di sini digu-
nakan untuk menyatakan sampai kehancuran
itu sempurna betul.
Di dalam Kitab Suci dengan jelas dika-
takan bahwa “selama-lamanya” itu mengan-
dung pengertian keterbatasan. Perjanjian La-
ma mengatakan bahwa seorang hamba me-
layani tuannya “selama-lamanya” (Kel.
21:6), bahwa Samuel yang masih kecil itu
tinggal “selama-lamanya” di dalam bait suci
(1 Sam. 1:22), dan bahwa Yunus mengira ia
akan tetap tinggal “selama-lamanya” di da-
lam perut ikan yang besar itu (Yun. 2:6). Per-
janjian Baru memakai istilah ini dengan
cara yang sama: sekadar contoh, Paulus me-
nasihati
Filemon supaya menerima Onesimus “se-
lama-lamanya” (Filemon 15). Dalam semua
contoh yang disebutkan di atas “selama-la-
manya” berarti “selama orang itu masih hi-
dup.”
Mazmur 92:7 mengatakan bahwa orang
jahat akan dibinasakan selama-lamanya.
Dan nubuatan mengenai akan adanya keba-
karan yang hebat yang terakhir, Maleakhi
berkata, “Bahwa sesungguhnya hari itu da-
tang, menyala seperti perapian, maka semua
414 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang. . . .
orang gegabah dan setiap orang yang berbuat
fasik menjadi seperti jerami dan akan ter-
bakar oleh hari yang datang itu, firman Tuhan
semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya
akar dan cabang mereka” (Mal. 4:1).
Sekali orang jahat–Setan, malaikat-malai-
kat jahat umat yang tidak bertobat–dibina-
sakan oleh api, baik akar maupun cabangnya,
maka tidak ada gunanya lagi untuk maut mau-
pun hades (baca bab 25). Ini juga akan
dibinasakan Tuhan selama-lamanya (Why.
20:14).
Oleh sebab itu, Alkitab menjelaskan de-
ngan tandas, bahwa hukuman, bukan peng-
hukuman, yang kekal–itulah kematian yang
kedua. sesudah hukuman ini tidak akan ada
lagi kebangkitan; efeknya yaitu kekal.
Uskup Agung William Temple benar keti-
ka ia menyatakan, “Satu hal yang dapat kita
katakan dengan yakin: Siksaan kekal harus-
lah dikesampingkan. Jika orang tidak meng-
impor pengertian yang tidak Alkitabiah, dari
Yunani tentang sikap kebakaan jiwa individu,
dan lalu membaca Perjanjian Baru de-
ngan apa yang telah ada dalam benak me-
reka, mereka akan memperoleh dari dalam-
nya (Perjanjian Baru) suatu kepercayaan,
bukannya dalam siksaan kekal, melainkan
pembinasaan atau pemusnahan. Apilah yang
disebut aeonian (kekal), bukannya kehidupan
yang dilemparkan ke dalamnya.”17
Hukuman selengkapnya dari hukum Allah
telah dilaksanakan, tuntutan keadilan dipenuhi.
Surga dan bumi menyatakan kebenaran Tu-
han.
5. Prinsip hukuman. Kematian yaitu
hukuman yang paling tinggi sebagai akibat
dosa. Akibat dosa mereka, semua orang yang
menolak keselamatan yang diberikan Tuhan
akan mati selama-lamanya. namun ada seba-
gian yang melakukan dosa yang keji, kejahat-
an yang mereka senangi sehingga menye-
babkan orang-orang lain sengsara. Sementara
sebagian lagi ada yang hidup relatif bermoral,
penuh damai, kesalahan mereka pada haki-
katnya ialah menolak keselamatan yang dise-
diakan Kristus. Apakah adil mereka menda-
pat hukuman yang sama?
Kristus berkata, “Adapun hamba yang
tahu akan kehendak tuannya, namun yang ti-
dak mengadakan persiapan atau tidak mela-
kukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan
menerima banyak pukulan. namun barangsiapa
tidak tahu akan kehendak tuannya dan mela-
kukan apa yang harus mendatangkan pukul-
an, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap
orang yang kepadanya banyak diberi, dari pa-
danya akan banyak dituntut, dan kepada sia-
pa yang banyak dipercayakan, dari padanya
akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk. 12:47,
48).
Jelaslah, bahwa orang yang memberontak
melawan Allah yang paling banyak menderita
dibandingkan dengan orang yang tidak. Akan
namun kita harus mengerti puncak penderitaan
mereka dalam istilah “kematian yang kedua”
yang ditanggung Kristus di kayu salib. Di sa-
nalah Ia menanggung dosa-dosa dunia. Be-
ratnya perpisahan dengan Bapa-Nya yang
diakibatkan dosa yang membuat derita yang
dialami-Nya begitu pahit–duka yang tidak
terperikan. Begitulah kelak akan dirasakan
orang yang hilang. Mereka menuai apa yang
ditaburnya bukan hanya ketika masih hidup di
dunia, namun juga pada waktu pemusnahan
yang terakhir. Di hadapan Allah, kesalahan
yang mereka rasakan sebab dosa-dosa yang
mereka lakukan akan membuat mereka men-
derita sengsara tak terperikan besarnya. Se-
makin besar kesalahan, semakin besar pula
deritanya. Setan, si penghasut dan penganjur
dosa, akan paling menderita.l8
Pembersihan Bumi. Dalam melukiskan
hari Tuhan, manakala semua jejak bekas do-
Milenium dan Akhir Dosa 415
sa dilenyapkan, Petrus berkata, “Pada hari itu
langit akan lenyap dengan gemuruh yang
dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus
dalam nyala api, dan bumi dan segala yang
ada di atasnya akan hilang lenyap” (2 Ptr.
3:10).
Api yang akan membinasakan orang jahat
sekaligus akan membersihkan orang jahat
dari dunia ini dan juga pencemaran dosa. Dari
reruntuhan dunia ini Allah akan mengadakan
“langit yang baru dan bumi yang baru, sebab
langit yang pertama dan bumi yang pertama
telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi (Why.
21:1). Dari tempat yang telah disucikan ini,
dunia yang telah diciptakan kembali–rumah
kediaman mereka yang telah ditebus–Allah
akan menghapus selama-lamanya tangisan,
kesakitan, dan maut (Why. 21:4). Akhirnya
kutuk dosa telah diangkat (Why. 22:3).
Sehubungan dengan datangnya hari Tu-
han, saat mana dosa dan orang yang tidak
mau bertobat akan dibinasakan, Petrus ber-
kata kepada semua, “Jadi, jika segala sesuatu
ini akan hancur secara demikian, betapa suci
dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu
yang menantikan dan mempercepat keda-
tangan hari Allah.” Dengan mengandalkan
pengharapannya atas janji kedatangan Kris-
tus yang kedua kali, ia menegaskan, “Kita
menantikan langit yang baru dan bumi yang
baru, di mana ada kebenaran. Sebab itu,
saudara-saudaraku yang kekasih, sambil me-
nantikan semuanya ini, kamu harus berusaha,
supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak
bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian
dengan Dia” (2 Ptr. 3:11, 13, 14).
____________________________
1. Lihat-SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 7, hlm. 885.
2. Lihat Questions on Doctrine, hlm. 495.
3. “Apabila binatang dan nabi palsu itu dicampakkan ke dalam lautan api (Why. 19:20), dan “semua orang lain”
(Why. 19:21), atau “yang sisa,” dari pengikut-pengikut mereka akan dibinasakan dengan pedang Kristus. Mereka
terdiri dari raja-raja, panglima, para pahlawan, dan “semua orang, baik yang merdeka maupun hamba” (Why.
19:18). Golongan yang sama juga disebutkan di bawah meterai keenam, yang berusaha menyembunyikan diri dari
wajah Anak Domba itu (Why. 6:14-17) tatkala langit lepas seperti gulungan dan setiap gunung dan pulau bergerak.
Jelaslah gambaran Kitab Suci ini menggambarkan peristiwa yang menggoncang yang serupa itu, kedatangan
Kristus yang kedua kali.
“Berapa banyak yang terlibat dalam kematian “orang yang lain” itu? (Why. 19:21). Sesuai dengan Wahyu 13:8
yang ada hanya ada dua golongan orang yang didapati di atas dunia ini pada waktu kedatangan Kristus yang
kedua kali: ‘semua orang yang tinggal di atas dunia harus menyembah dia (binatang itu), yang namanya tidak
tertera di dalam artikel kehidupan.’ Dengan demikian, itulah terbukti bahwa jika ‘yang sisa’ itu ‘dibunuh dengan
pedang’ (Why. 19:21), tidak ada yang tinggal hidup kecuali orang-orang yang menahan binatang itu dengan
namanya, mereka yang tertulis namanya di dalam artikel kehidupan itu (Why. 13:8)” (SDA Bible Commentary,
edisi revisi, jilid 7, hlm.885).
4. Bnd. Questions on Doctrine, hlm. 500. Kambing jantan yang dilepas ke pedang gurun (scapegoat) bukanlah Ju-
ruselamat orang benar.
5. Septuaginta memakai ungkapan ini untuk padanan atau terjemahan dari bahasa Ibrani tehom, “dalam” di
dalam Kejadian 1:22. Ini menunjukkan bahwa kondisi dunia selama milenium memantulkan paling sedikit dalam
satu bagian keadaan dunia pada mula pertama ketika “bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita.” Lihat SDA
Bible Commentary„ edisi revisi, jilid 7, hlm. 879.
6. Kenyataan bahwa mereka memerintah, atau memiliki kekuasaan tidaklah selamanya berarti bahwa haruslah ada
orang jahat yang hidup di atas dunia. Pada mulanya, Allah memberikan kepada Adam dan Hawa sebuah wilayah
kekuasaan untuk diperintah (Kej 1:26). Sebelum mereka jatuh ke dalam dosa, mereka memerintah atas sebagian
ciptaan yang diberikan Tuhan untuk mereka kelola. Untuk memerintah bagi seseorang tidak harus ada rakyatnya
yang tidak mau patuh.
7. SDA Bible Commentary,’edisi revisi, jilid 7, hlm. 880.
8. Maxwell, God Cares (Boise, ID: Pacific Press, 1985), jilid 2, hlm. 500.
9. Gambaran yang diberikan Wahyu mengenai turunnya Yerusalem Baru tidaklah memerlukan petunjuk waktu yang
tepat atas turunnya, sebab dalam bab sebelumnya telah kita ketahui bahwa “kota yang diidam-idamkan” itu
dikelilingi oleh pasukan Iblis. Gambaran ini mengarahkan kepada kesimpulan bahwa Yerusalem Baru sudah harus
turun sebelum dunia ini diremajakan kembali.
416 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang. . . .
10. Nama Gog dan Magog berkaitan dengan musuh-musuh Israel, yang menyerang umat Tuhan dan Yerusalem sesudah
masa pembuangan (baca Yeh. 38:2, 14-16). Pelbagai nubuatan Perjanjian Lama mengenai Israel belum digenapi
seluruhnya. Nubuatan itu akan digenapi dalam Israel rohani. Oleh sebab itu, gabungan pasukan yang hebat yang
dibicarakan Yehezkiel yang akan datang menyerang Yerusalem akan digenapi apabila Tuhan membiarkan Setan
dengan pasukannya yang tidak diselamatkan itu, menyerang umat-Nya dan kota suci-Nya pada peperangan yang
terakhir, pergolakan yang besar itu.
Di dunia baru, yang menjadi tempat tinggal orang-orang saleh,
Allah akan menyediakan tempat kekal bagi orang yang telah ditebus
lengkap dengan lingkungan yang sempurna bagi kehidupan yang
abadi, penuh kasih sayang, kesukaan dan belajar di hadapan hadi-
rat-Nya, sebab penderitaan dan kematian telah tiada. Perbantahan
besar itu sudah berakhir, dan dosa tidak akan pernah ada lagi. Segala
sesuatu, yang bernyawa maupun tidak bernyawa, akan menyatakan
bahwa Allah yaitu kasih; dan Ia akan bertakhta selama-lamanya,
Amin.––Fundamental Beliefs,––28.
419
sesudah ajal mendekat kepada seorang
anak lelaki berkata dengan tenang, “Ru-
mahku di surga, namun aku tidak rindu pulang
ke rumah.” Seperti anak itu, banyak orang
merasa bahwa pada waktu meninggal maka
surga merupakan pilihan yang lebih disukai
ketimbang “tempat lain,” akan namun itu me-
rupakan suatu kemalangan atas realitas dan
perangsang hidup di sini dan sekarang. Jika
pandangan yang dianut oleh banyak orang itu
benar tentang kehidupan sesudah yang seka-
rang, maka perasaan ini dapatlah dibenarkan.
Akan namun menurut gambaran dan petunjuk
Kitab Suci menyatakan apa yang disediakan
Allah untuk dinikmati orang yang ditebus itu
merupakan hidup yang jauh lebih cemerlang
dibandingkan yang ada sekarang, maka hanya
sedikit orang yang enggan meninggalkan du-
nia yang baru itu, untuk memperolehnya.
SIFAT DUNIA BARU
Suatu Realitas yang Sungguh-sungguh.
Dua bab pertama dari Alkitab menceritakan
dari hal penciptaan Tuhan atas dunia yang
sempurna sebagai sebuah rumah kediaman
bagi makhluk kita semua yang diciptakan-Nya
itu. Dua bab akhir Alkitab juga berbicara me-
ngenai karya agung Tuhan atas dunia yang
sempurna bagi kita semua –namun kali ini yang
dimaksudkan ialah dunia yang diciptakan
kembali, dunia yang dipulihkan dari kerusakan
yang diakibatkan oleh dosa.
Berulang-ulang Alkitab menyatakan bah-
wa rumah kekal, akan menjadi tempat yang
sungguh nyata, tempat yang dihuni kita semua
yang memiliki tubuh dan otak, yang dapat me-
lihat, mendengar, menjamah, merasa, men-
cium bau, bertindak, membayangkan, menguji
dan mengalami secara utuh. Di dunia barulah
Allah akan menempatkan surga yang se-
sungguhnya itu.
Dua Petrus tiga dengan tepat memberikan
gambaran ringkas latar belakang yang Alki-
tabiah dari hal konsep ini. Petrus berbicara
mengenai dunia dahulu kala (sebelum da-
tangnya air bah) sebagai “telah sejak dahulu,
dan juga bumi,” yang telah dibinasakan de-
ngan air. Dunia atau bumi yang kedua yaitu
“bumi yang sekarang,” satu bumi yang akan
BAB 28
DUNIA BARU
420 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
dibasuh oleh api untuk menyiapkan dunia
yang ketiga, “bumi yang baru, di mana terda-
pat kebenaran” (ayat 6, 7,13).1 Dunia “ke-
tiga” yang dikatakan di sini yaitu dunia yang
sama nyatanya dengan dua dunia yang per-
tama.
Kelanjutan dan perbedaan. Istilah “dunia
baru” mengungkapkan baik kelanjutan mau-
pun perbedaan dari dunia yang ada sekarang.
Dalam khayal Petrus dan Yohanes, mereka
melihat dunia yang sudah tua dibasuh dengan
api dari segala noda dan lalu dibarui (2
Ptr. 3:10-13; Why. 21:1).3 lalu dunia
yang baru, dunia ini, bukan lagi tempat yang
asing. Walaupun sudah dibarui, dunia ini tetap
dapat dikenali––sebagai rumah. Betapa in-
dahnya! Bagaimanapun, dunia ini telah
menjadi baru, baru dalam pengertian bahwa
Allah menyingkirkan dari permukaan bumi ini
segala noda yang diakibatkan dosa.
YERUSALEM BARU
Yerusalem Baru yaitu ibukota dunia ba-
ru. Di dalam bahasa Ibrani, Yerusalem arti-
nya “kota damai.” Yerusalem yang di dunia
ini jarang dapat mempertahankan namanya,
akan namun Yerusalem Baru dengan sangat
tepat akan memantulkan kenyataan itu.
Mata rantai Penghubung. Salah satu pe-
mahaman yang terkandung dalam kata itu
yaitu bahwa kota ini menghubungkan
surga dan dunia yang baru. Pada dasarnya,
istilah surga mengandung arti “langit.” Alki-
tab memakai nya untuk menunjuk kepa-
da (1) cakrawala (Kej. 1:20), (2) langit yang
berbintang (Kej. 1:14-17), dan (3) “langit
ketiga,” tempat beradanya Firdaus (2 Kor.
12:2-4). Dari hubungan “langit” dengan Fir-
daus ini, itu sinonim dengan Firdaus, tempat
takhta Allah dan kediaman Allah. Oleh ka-
rena itu, dalam pengertian yang lebih luas,
kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya dan
penduduk yang dengan sukarela menerima
pemerintahan-Nya, Kitab Suci menyebutnya
“kerajaan surga.”
Jawaban yang diberikan Tuhan melebihi
apa yang dimohon dalam Doa Bapa Kami,
“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-
Mu di bumi seperti di surga” apabila Ia
menempatkan kembali Yerusalem Baru ke
Planet Bumi ini (Why. 21:1,2). Ia tidak hanya
membarui dunia, namun juga membuatnya
menjadi mulia. Statusnya lebih penting da-
ripada sebelum Kejatuhan, dunia ini menjadi
ibukota alam semesta.
Gambaran secara Fisik. Yohanes meng-
gunakan istilah-istilah yang romantik untuk
menggambarkan keindahan Yerusalem Baru;
Kota itu bagaikan “pengantin perempuan
yang berdandan untuk suaminya” (Why.
21:2). Lukisan yang diberikannya mengenai
ciri-ciri fasik kota itu menggambarkan kepa-
da kita keadaannya.
1. Cahayanya. Ciri khusus yang pertama
yang dicatat Yohanes ketika ia melihat
“mempelai Anak Domba” yaitu ” cahaya-
nya” (Why. 21:9, 11). Kemuliaan Tuhan me-
nerangi kota itu, membuat sinar matahari dan
bulan menjadi tidak dibutuhkan lagi (Why.
21:23, 24). Tidak ada lorong-lorong gelap
yang menodai Yerusalem Baru, sebab tem-
bok-tembok dan jalan-jalannya tembus caha-
ya dan “sebab malam tidak akan ada lagi di
sana” (Why. 21:25). “Dan malam tidak akan
ada lagi di sana, dan mereka tidak memer-
lukan cahaya lampu dan cahaya matahari,
sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka”
(Why. 22:5).
2. Bangunannya. Allah memakai
hanya bahan yang terbaik saja, untuk pemba-
Dunia Baru 421
ngunan kota itu. Dindingnya terbuat dari batu
yaspis, “permata yang
,
paling indah” (Why.
21:11, 18).
Kedua belas pintu gerbangnya, masing-
masing terbuat dari mutiara, menjadi jalan
masuk ke dalam kota. Dasar-dasar tembok
kota itu, dihiasi dengan segala jenis permata:
yaspis, nilam, mirah, zamrud, unam, sardis,
ratna cempaka, beril, krisolit, krisopras, lazu-
ardi, kecubung (Why. 21:19, 20).
namun permata-permata berharga itu
bukanlah satu-satunya bahan untuk pemba-
ngunan kota ini . sebab sebagian besar
bangunan kota yang Allah dirikan itu–ge-
dung-gedung serta jalan-jalannya–berasal
dari emas murni (Why. 21:18, 21), logam
mulia yang dikenal pada zaman ini. Demikian
pula emas yang dipakai yaitu emas murni
yang pernah dikenal sekarang, sebab Rasul
Yohanes menyebutnya “emas murni bagaikan
kaca bening” (Why. 21:18).
Permata dihasilkan oleh derita: sebuah
Benda kecil masuk ke dalam tiram, sesuatu
yang mengganggu dan memedihkan, dan
makhluk yang dimasuki itu menderita sebab -
nya, namun pengganggu yang menyakitkan
itu diubah menjadi mutiara yang sangat ber-
kilau-kilauan. Pintu-pintu gerbangnya dari
mutiara. Pintu masuk bagi saudara dan saya,
disediakan Tuhan dengan derita pribadi yang
tidak ada batasnya, yakni dalam Kristus yang
memperdamaikan segala sesuatu kepada di-
ri-Nya
,
sendiri.”4
Sebagaimana pentingnya daftar bahan-
bahan yang digunakan dewasa ini untuk pem-
bangunan kota, hal itu merupakan fakta bah-
wa malaikat yang menunjukkan kota itu ke-
pada Yohanes mengukur tembok-temboknya.
Bahwa tembok itu dapat diukur, bahwa tem-
bok itu memiliki ketinggian, panjang dan te-
balnya menyatakan kepada orang modern
yang mentalitasnya berorientasi kepada data,
dan kenyataan kota itu.
3. Makanan dan persediaan air. Dari
takhta Allah yang terletak di pusat kota itu,
mengalirlah “sungai air kehidupan” (Why.
22:1). Seperti pohon ara yang banyak ca-
bangnya dan rimbun, pohon kehidupan itu
,
bertumbuh “di seberang menyeberang sungai
itu.” Buahnya tiap-tiap bulan, dua belas bulan
berbuah terus, merupakan unsur yang amat
penting bagi umat kita semua , yang tidak me-
reka peroleh sejak Adam dan Hawa diusir
dari taman Eden–memulihkan usia lanjut
yang sudah aus dan lelah (Why. 22:2; Kej
3:22). Barangsiapa yang memakan buah dari
pohon kehidupan ini tidak memerlukan ma-
lam untuk istirahat (bandingkan Why. 21:25),
sebab di negeri yang baru itu mereka tidak
akan pernah lagi merasa letih.
RUMAH KITA YANG KEKAL
Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa
pada akhirnya orang yang telah diselamatkan
akan mewarisi bumi (Mat. 5:5; Mzm. 37:9,
29; 115:16). Yesus berjanji menyediakan bagi
para pengikut-Nya “tempat kediaman” di
rumah Bapa-Nya (Yoh. 14:1-3). Sebagaimana
telah kita katakan lebih dahulu, lokasi takhta
Bapa menurut Kitab Suci, dan pusat surga
yaitu di Yerusalem Baru, yang akan turun
ke dunia ini (Why. 21:2, 3, 5).
Rumah Kota. Yerusalem Baru yaitu kota
yang diidam-idamkan Abraham (Ibr. 11:10).
Di dalam kota yang besar itu Kristus menye-
diakan “tempat kediaman” (Yoh. 14:2), atau
sebagaimana kata aslinya menyatakan,
“tempat bagimu”–rumah kediaman yang
sesungguhnya.
Tempat tinggal. Akan namun orang yang
telah ditebus itu tidak tinggal dalam batas
tembok-tembok Yerusalem Baru itu saja.
Mereka akan mewarisi bumi. Dari rumah
422 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
kota mereka, umat tebusan itu akan pergi ke
pedalaman untuk merencanakan dan memba-
ngun rumah idaman mereka, menanam ta-
naman, menuai dan memakannya (Yesaya
65:21).
Tinggal Bersama Tuhan dan Kristus. Di
dunia baru, janji yang disampaikan Yesus ke-
pada murid-murid-Nya dulu akan mencapai
kegenapannya yang kekal: “Supaya di tempat
di mana Aku berada, kamu pun berada”
(Yoh. 14:3). Tujuan penjelmaan, “Allah be-
serta kita,” akhirnya terpenuhi. “Lihatlah,
kemah Allah ada di tengah-tengah kita semua
dan Ia akan diam bersama-sama dengan me-
reka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia
akan menjadi Allah mereka” (Why. 21:3). Di
sinilah orang yang telah diselamatkan itu
memperoleh hak hidup di hadapan Bapa dan
Anak, dalam persekutuan dengan mereka.
HIDUP DI DUNIA BARU
Bagaimanakah gerangan hidup di dunia
baru itu?
Memerintah Bersama Allah dan Kristus.
Allah akan melibatkan orang yang ditebus itu
untuk mengurusi kerajaan-Nya. “Takhta Al-
lah dan takhta Anak Domba akan ada di da-
lamnya dan hamba-hamba-Nya akan ber-
ibadah kepada-Nya. Dan mereka akan me-
merintah sebagai raja sampai selama-lama-
nya” (Why. 22:3-5; Bandingkan 5:10).
Kita tidak mengetahui sejauh mana keter-
libatan mereka dalam pemerintahan itu. Na-
mun demikian, kita dapat menduga bahwa
peranan yang dilakonkan mereka di dalam
kerajaan itu yaitu peran yang penting, umat
tebusan ini menjadi duta-duta Kristus kepada
alam semesta, memberikan kesaksian dari
hal pengalaman mereka dari hal kasih Allah.
Kesukaan mereka yang terbesar ialah untuk
memuliakan Tuhan.
Aktivitas Jasmani di Dunia Baru. Kehi-
dupan di dunia baru akan merupakan tan-
tangan bagi orang-orang yang sangat berhas-
rat akan kehidupan kekal. Pandangan selin-
tas mengenai kategori kegiatan yang tersedia
bagi umat yang ditebus merangsang selera
kita, namun tidak membatasi kemungkinan-
kemungkinan.
Kita mengetahui bahwa menurut janji
yang tertera dalam Kitab Suci, orang-orang
yang ditebus itu akan “mendirikan rumah-ru-
mah dan mendiaminya juga” (Yes. 65:21).
Pembangunan menyangkut perencanaan,
konstruksi, pemeliharaan dan kemampuan
untuk membentuk dan membangun kembali.
Dari kata “mendiami” kita dapat menarik ke-
simpulan dari seluruh spektrum kegiatan hi-
dup sehari-hari.
Motif utama eksistensi dunia baru secara
keseluruhan yaitu pemulihan kembali apa
yang telah direncanakan Tuhan bagi makhluk
ciptaan-Nya sejak semula. Di Eden Tuhan
memberikan kepada leluhur kita semua itu se-
buah taman supaya mereka “mengusahakan
dan memeliharanya” (Kej. 2:15). Jika, seperti
yang dikatakan Yesaya, di dunia baru itu
mereka akan menanam anggur, mengapa ti-
dak pohon buah-buahan dan ladang gandum?
Jika, sebagaimana ditunjukkan dalam Wahyu,
mereka akan memainkan kecapi, mengapa
bukan dengan terompet dan instrumen musik
lainnya? Sesungguhnya, Allah sendiri yang
menanamkan di dalam kita semua itu dorongan
kreatif serta menempatkan mereka di sebuah
dunia yang tidak mengenal batas potensi
(Kej. 1:28-31).
Kehidupan Sosial di Dunia Baru. Di da-
lam pergaulan yang abadi tidak ada yang
Dunia Baru 423
tidak penting, semuanya menggembirakan
kita.
1. Sahabat dan keluarga. Akankah kita
mengenal sahabat-sahabat dan keluarga kita
sesudah keadaan kita dimuliakan, dan diubah
menjadi serupa dengan citra Yesus? sesudah
Kristus bangkit dari kubur, murid-murid-Nya
tidak mengalami kesulitan untuk mengenali-
Nya. Maria mengenali suara-Nya (Yoh.
20:11-16), Thomas mengenali fisik-Nya
(Yoh. 20:27,28), dan murid yang dari Emaus
mengenali tingkah laku-Nya (Luk. 24:30, 31,
35). Di dalam kerajaan surga, Abraham,
Ishak dan Yakub tetap memiliki ciri-ciri ke-
pribadian dan nama mereka (Mat. 8:11). Kita
dapat memastikan bahwa di dunia baru itu
kita akan terus mengadakan hubungan de-
ngan orang-orang yang kita kenal dan kita
kasihi.
Sesungguhnya, pergaulan yang demikian
masih akan tetap kita nikmati di sana–bukan
hanya dengan keluarga dan sahabat yang kita
kenal sekarang–yang membuat surga itu
menjadi tempat idaman bagi kita. Kekayaan
yang ada “tidaklah dapat dibandingkan de-
ngan nilai-nilai abadi dalam hubungan dengan
Allah dan Bapa; dengan Juruselamat kita;
dengan Roh Kudus; dengan para malaikat;
dengan orang-orang saleh dari segala rum-
pun, bahasa, suku-bangsa; dan dengan kelu-
arga-keluarga kita....Tidak ada kepribadian
yang rusak, keluarga yang retak atau hu-
bungan yang kacau. Keutuhan dan keutuhan
belaka yang akan meliputi semesta atau uni-
versal. Keutuhan fisik dan mental akan mem-
buat surga dan kekekalan menjadi kegenapan
yang sempurna.5
“Kasih dan simpati yang telah ditanamkan
Allah sendiri di dalam jiwa akan menemukan
kesejatian yang sepenuh-penuhnya dan kein-
dahan yang paling manis. Hubungan yang
sejati dengan makhluk yang kudus, kehidupan
sosial yang harmonis dengan malaikat-malai-
kat yang penuh berkat dan orang yang setia-
wan dari zaman ke zaman...––inilah yang
akan membantu menegakkan kebahagiaan
umat yang ditebus itu.
2. Perkawinan? Beberapa orang yang
hidup pada zaman Kristus membawa kasus
seorang janda yang kawin berkali-kali dan
terus-menerus ditinggal oleh kematian suami,
telah bersuamikan 7 orang. Mereka mena-
nyakan kepada Yesus, kalau pada hari ke-
bangkitan kelak, istri siapakah ia nanti? Da-
patlah dibayangkan betapa rumitnya kelak
keadaan bila perkawinan yang di dunia ini
dilanjutkan di surga. Jawaban yang diberikan
Kristus menyatakan hikmat yang dimiliki
Ilahi: “Pada waktu kebangkitan orang tidak
kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup
seperti malaikat di surga” (Mat. 22:29, 30).
Apakah dengan demikian orang-orang
yang telah diselamatkan itu tidak akan mem-
peroleh keuntungan yang dirasakan dalam
pernikahan sekarang ini? Di dunia yang baru
orang-orang yang telah diselamatkan itu tidak
akan pernah dihalangi dari kebaikan yang
pernah diperoleh! Allah telah berjanji bahwa
“Ia tidak akan menahan kebaikan dari orang
yang hidup tidak bercela” (Mzm. 84:12). Jika
ini berlaku dalam kehidupan ini, betapa pula
dengan kehidupan mendatang.
Intisari perkawinan ialah kasih. Ikhtisar
kegembiraan yaitu pernyataan kasih. Kitab
Suci berkata, “Allah yaitu kasih,” dan “di
hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah,
di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa”
(1 Yoh. 4:8; Mzm. 16:11). Di dunia baru tidak
ada seorang pun yang kekurangan baik kasih
maupun kegembiraan dan kenikmatan. Di
sana tidak ada seorang pun yang merasa
kesepian, merasa hampa dan tidak dikasihi.
Kita dapat berharap bahwa Khalik yang
penuh kasih, yang telah merencanakan per-
424 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
kawinan untuk mendatangkan kegembiraan
di dunia ini, kelak akan memperoleh sesuatu
yang jauh lebih baik–sesuatu yang jauh lebih
tinggi dibandingkan perkawinan seperti halnya
dengan dunia baru-Nya.
KEHIDUPAN INTELEKTUAL DI
DUNIA BARU
Pemulihan mental. “Dan daun pohon-po-
hon itu dipakai untuk menyembuhkan bang-
sa-bangsa” (Why. 22:2). Penyembuhan yang
dikatakan dalam Wahyu ini lebih dari sekadar
“pengobatan”– artinya juga “pemulihan,” ka-
rena di sana tidak ada lagi orang yang sakit
(Yes. 33;24, 20). Sebagaimana mereka me-
makan buah kehidupan, begitulah orang yang
telah ditebus itu bertumbuh secara fisik dan
mental, yang sudah berabad-abad dikacaukan
oleh dosa; mereka akan dipulihkan kembali
ke dalam citra Allah.
Potensi Tak Terbatas. Kekekalan membe-
rikan pemikiran-pemikiran intelektual yang
tidak terbatas. Di dunia baru “pikiran yang
baka akan merenung-renungkan keajaiban
kuasa kreatif Tuhan dengan kenikmatan
yang tidak pernah gagal, merenungkan
rahasia kasih yang mendatangkan penebusan
itu. Di sana tidak akan ada lagi kekejaman,
musuh yang licik untuk menggoda agar me-
lupakan Tuhan. Segala kemampuan dikem-
bangkan, segala daya pikir ditingkatkan. Per-
tambahan pengetahuan tidak akan mele-
lahkan pikiran atau membuat tenaga lemah.
Daya inisiatif yang agung dan mulia mening-
kat terus, aspirasi yang paling tinggi dicapai,
ambisi yang paling agung diwujudkan; akan
namun masih ada yang tetap harus dijangkau,
ketinggian yang senantiasa baru, keajaiban
yang selalu patut dikagumi, kebenaran-kebe-
naran baru untuk dipahami, objek-objek yang
tetap segar untuk mengeluarkan kuasa pikir-
an, badan dan jiwa.”
Mengejar yang Rohani di Dunia Baru.
Kehidupan yang kekal tidak akan ada artinya
jika terpisah dari Kristus. Dari kekekalan ke-
pada kekekalan orang-orang yang ditebus itu
akan lapar dan dahaga akan Yesus–untuk
memperoleh pemahaman yang lebih luas dari
hal hidup-Nya dan pekerjaan-Nya, untuk
memperoleh perhubungan yang lebih banyak
dengan Dia, untuk memperoleh waktu lebih
banyak bersaksi bagi dunia-dunia yang tidak
jatuh ke dalam dosa mengenai kasih-Nya
yang tiada taranya, sebab tabiat yang me-
mantulkan-Nya lebih akrab. Orang-orang
yang telah ditebus Kristus itu akan hidup bagi
Yesus dan dengan Dia. Mereka akan beristi-
rahat, memperoleh kepuasan yang penuh, di
dalam Dia untuk selama-lamanya!
Kristus sendiri hidup untuk melayani
(Mat. 20:28), dan Ia memanggil para peng-
ikut-Nya untuk memperoleh hidup yang seru-
pa. Bekerja dengan Dia sekarang, mendatang-
kan pahala dan memang itulah pahala. Dan
perhubungan yang demikian menghasilkan
berkat yang lebih besar dan hak untuk bekerja
dengan Dia di dunia yang baru. Di sanalah,
dengan kegembiraan dan kepuasan besar,
“hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-
Nya” (Why. 22:3).
Walaupun mereka yang telah ditebus
Kristus itu mempunyai kesempatan untuk
meneliti perbendaharaan permata Tuhan dan
alam, ilmu yang paling populer tetaplah ilmu
mengenai salib itu. Dengan kemampuan inte-
lek yang telah dipulihkan dan tajam seperti
yang direncanakan Tuhan sejak semula un-
tuk mereka miliki, dengan sirnanya dosa, me-
reka akan mampu mengerti kebenaran rohani
di dalam satu cara yang satu-satunya dapat
mereka rindukan di sini. Mereka akan mem-
buat mata pelajaran dari hal keselamatan–
Dunia Baru 425
sebuah mata pelajaran yang berisi kedalaman,
ketinggian dan keluasannya yang melebihi
segala imajinasi–pelajaran dan nyanyian me-
reka sepanjang zaman kekekalan. Melalui
pelajaran ini mereka yang ditebus akan meli-
hat kebenaran yang lebih besar sebagaimana
ada di dalam Yesus.
Dari minggu ke minggu orang yang telah
diselamatkan berkumpul bersama-sama untuk
mengadakan perbaktian Sabat: “Dan Sabat
berganti Sabat, maka seluruh umat kita semua
akan datang untuk sujud menyembah di ha
dapan-Ku, firman Tuhan.” (Yes. 66:23).
DI SANA TIDAK ADA LAGI...
Semua yang Jahat Telah Dimusnah-
kan. Beberapa janji yang paling mengesankan
dan memberikan hiburan dalam dunia baru
itu, ialah tentang sesuatu yang tidak akan
pernah lagi ada di sana. “Dan maut tidak akan
ada lagi, tidak akan ada lagi perkabungan,
atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala
sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why.
21:4).
Semua yang jahat akan lenyap selama-la-
manya sebab Allah akan memusnahkan se-
gala bentuk dosa, penyebab segala yang ja-
hat. Alkitab menyebutkan pohon kehidupan
sebagai bagian dari dunia baru, namun tidak
sekalipun disebutkan di sana termasuk pohon
pengetahuan yang baik dan yang jahat atau
apa pun lainnya yang menjadi sumber peng-
godaan. Di negeri yang senang itu orang
Kristen tidak lagi berperang melawan dunia,
daging atau yang jahat.
Jaminan bahwa dunia baru akan tetap
“baru” walaupun para imigran dari dunia
yang dicemari dosa, planet bumi yang sudah
tua merupakan kenyataan bahwa Allah akan
menyingkirkan “orang-orang keji, orang-
orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-
tukang sihir, penyembah-penyembah berhala
dan semua pendusta” (Why. 21:8; 22:15).
Semua alasan masuknya dosa itu, semuanya
harus dihancurkan.
“Semua bekas kutuk itu dihapuskan....
Satu-satunya yang tersisa: Penebus kita akan
tetap memiliki tanda bekas penyaliban-Nya.
Luka di dahi-Nya, di lambung-Nya, di tangan
dan kaki-Nya, yaitu satu-satunya bekas ke-
kejaman yang diakibatkan dosa. Kata sang
nabi, dengan memandang Kristus dalam ke-
muliaan-Nya: ‘Ada kilauan seperti cahaya,
sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah ter-
selubung kekuatan-Nya.’ Hab. 3:4.... Mela-
lui abad-abad kekekalan luka-luka Golgota
akan menyatakan pujian dan kuasa-Nya.”8
Yang Dulu Telah Dilupakan. Di dunia ba-
ru, menurut nabi Yesaya, ‘hal-hal yang da-
hulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan
timbul lagi dalam hati’ (Yes. 65:17). Bagai-
manapun, dengan membaca konteks itu, nya-
talah bahwa kesusahan-kesusahan hidup
yang dahulu akan dilupakan umat tebusan
(baca Yes. 65:16). Mereka tidak akan melu-
pakan hal-hal baik yang dilakukan Tuhan
untuk mereka, anugerah yang berkelimpahan
yang justru membuat mereka selamat, mem-
buat pergumulan dosa ini sama sekali tidak
ada lagi artinya. Pengalaman umat saleh sen-
diri dari hal anugerah Kristus yang menyela-
matkan merupakan inti kesaksian mereka da-
lam abad-abad kekekalan.
Selain itu, sejarah dari bentuk-bentuk dosa
merupakan satu unsur penting dari jaminan
bahwa “kesengsaraan tidak akan timbul dua
kali!” (Nah. 1:9). Pikiran-pikiran tentang pa-
hitnya akibat dosa telah menghasilkan pela-
yanan yang membuat orang jera dan takut
tergoda untuk memilih jalan bunuh diri. namun
sementara peristiwa-peristiwa masa lalu itu
mempunyai tujuan yang penting, atmosfer
surga menghapuskan ingatan-ingatan yang
mengerikan dari mereka. Janji yang diberikan
426 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
kepada mereka ialah bahwa tidak akan di-
bangkitkan lagi dalam pikiran mereka ke-
nangan atas penyesalan, kekecewaan, ke-
sedihan atau kemarahan.
NILAI KEYAKINAN ATAS DUNIA
BARU
Percaya atas doktrin adanya dunia baru
akan membawa sejumlah keuntungan yang
praktis bagi orang Kristen.
Memberikan Dorongan untuk Bertahan.
Kristus sendiri, “mengabaikan kehinaan te-
kun memikul salib ganti sukacita” (Ibr. 12:2).
Paulus membarui keberaniannya dengan me-
mikir-mikirkan kemuliaan yang akan datang:
Sebab itu kami tidak tawar hati.... Sebab pen-
deritaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan
bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi se-
gala-galanya, jauh lebih besar dibandingkan pen-
deritaan kami” (2 Kor. 4:16, 17).
Membawa Kegembiraan dan Kepastian
Pahala. Kristus berkata, “Bersukacitalah
dan bergembiralah sebab upahmu besar di
surga” (Mat. 5:12). Paulus mengulanginya,
“Jika pekerjaan yang dibangun seseorang ta-
han uji, ia akan mendapat upah” (1 Kor. 3:14).
Memberikan Kekuatan Melawan Peng-
godaan. Musa mampu menghindari “kese-
nangan dari dosa” dan “semua harta Mesir”
sebab “pandangannya ia arahkan kepada
upah” (Ibr. 11:26).
Menyediakan Citarasa Surgawi. Upah
bagi orang Kristen bukan hanya untuk masa
mendatang (Ef. 1:14). Kristus berkata, “Jika-
lau ada orang yang mendengar suara-Ku dan
membukakan pintu, Aku akan masuk menda-
patkannya” (Why. 3:20). “Dan apabila Kris-
tus datang suasana surga selalu menyertai
Dia.” Dalam berhubungan dengan Dia “ter-
dapatlah surga di dalam hati; kemuliaan pun
dimulai; itulah keselamatan yang dinanti-nan-
tikan.”9
Menuntun Kepada Keefektifan yang
Lebih Besar. Beberapa orang menganggap
orang Kristen sebagai makhluk yang hanya
memikirkan surga saja sehingga seolah-olah
nilai yang di dunia ini tidak ada sama sekali.
Akan namun sesungguhnya justru kepercayaan
atas adanya yang baka membuat orang-
orang Kristen sanggup menggerakkan bumi.
Sebagaimana menurut pengamatan C.S. Le-
wis: “Jika Anda membaca sejarah Anda akan
menemukan bahwa orang-orang Kristen
yang berbuat yang terbaik kepada dunia se-
karang ini justru yang sangat memikirkan du-
nia mendatang.... Justru jika orang-orang
Kristen berhenti memikirkan dunia yang lain
maka mereka menjadi begitu tidak efektif di
dunia ini. Tujukanlah pikiran ke surga maka
dunia akan “ditambahkan” padamu; tujukanlah
pikiranmu kepada dunia, maka tidak satu pun
yang akan Anda peroleh.”10
“Orang bijaksana akan lebih menaruh
perhatian kepada pemahatan tugu pualam
dibandingkan pembangunan kita semua salju.“11
Orang Kristen, yang mempunyai rencana hi-
dup untuk selama-lamanya, dengan sendiri-
nya akan membangun hidupnya lebih berhati-
hati (dengan demikian mempunyai dampak
yang konstruktif atas masyarakat) dibandingkan
orang yang menganggap dirinya tidak lebih
dari sesuatu yang dapat dibuang begitu saja,
lahir hanya untuk dibuang percuma.
“Kesibukan atas perkara-perkara yang
surgawi, dengan bantuan Roh Kudus, mem-
punyai sebuah kuasa yang perkasa. Dengan
itu jiwa dapat ditinggikan dan diluhurkan.
Bidangnya dan kuasanya atas visi diperluas,
dan yang berhubungan dengan bagian-bagian
dan nilai hal-hal yang tampak dan tidak
Dunia Baru 427
tampak secara jelas dapat dihargai.”12
Menyatakan Sifat Allah. Dunia yang kita
kenal kini lebih banyak salah mengerti tabiat
Allah maupun rencana-Nya yang semula
untuk planet ini. Dosa telah merusak ekosis-
tem fisik dunia sehingga banyak orang yang
sama sekali tidak dapat membayangkan hu-
bungan antara dunia yang sekarang dengan
Firdaus yang digambarkan dalam Kejadian 1
dan 2. Sekarang perjuangan untuk memper-
tahankan hidup secara terus-menerus menan-
dai hidup. Bahkan hidup orang percaya pun,
yang harus berperang dengan dunia ini,
memerangi keinginan daging dan yang jahat,
tidak melukiskan secara tepat gambar ren-
cana Allah yang semula. Di dalam apa yang
direncanakan Tuhan bagi umat yang ditebus–
sebuah dunia yang tidak disentuh oleh penga-
ruh Setan, sebuah dunia di mana maksud
Allah sendirilah yang memerintah–kita mem-
peroleh gambaran tabiat-Nya yang sejati.
Menarik Kita kepada Tuhan. Akhirnya,
Alkitab menggambarkan dunia baru itu un-
tuk menarik orang yang kurang beribadah
kepada Kristus. Ada seseorang, sesudah
mendengar bahwa “bumi akan dipulihkan ke-
pada keindahan Eden yang dahulu, sama nya-
ta dengan ‘adanya dunia sekarang ini,’ yang
pada akhirnya akan menjadi rumah kediaman
umat saleh,” tempat mereka akan “bebas dari
semua derita, sakit dan kematian, dan satu
dengan yang lain dapat saling melihat muka
dengan muka,” dengan tegas ia menolaknya.
“Mengapa,” katanya, “tidak mungkin de-
mikian: itu hanya cocok untuk dunia; dunia
yang justru diinginkan oleh orang jahat.”
Banyak orang “beranggapan bahwa aga-
ma, dengan... pahalanya yang terakhir, ha-
ruslah sesuatu dunia yang sama sekali tidak
ada keinginan apa pun: oleh sebab itu apabila
ada keadaan kebahagiaan yang bagaimanapun
disebutkan, di mana hati kita semua , dalam
kondisinya yang fana, benar-benar diinginkan,
mereka anggap bukanlah bagian agama yang
benar.”13
Tujuan utama mengapa Allah memberita-
hukan apa yang telah disiapkan-Nya bagi
orang-orang yang mengasihi Dia ialah untuk
menarik perseorangan dari keasyikannya
terhadap dunia ini–untuk membantu mereka
memperhatikan nilai berikut dan memperoleh
pandangan yang selintas atas keindahan se-
suatu yang telah disediakan Bapa yang penuh
dengan cinta kasih itu.
BARU UNTUK SELAMA-
LAMANYA
Di dunia yang sudah tua ini sering terde-
ngar perkataan bahwa “segala sesuatu yang
baik akan berakhir.” Berita yang paling baik
mengenai dunia yang baru yaitu bahwa
dunia yang baru itu tidak akan pernah ber-
akhir. Akan terjadi sebagaimana yang dikata-
kan lirik “Nyanyian Haleluya”: “Pemerintahan
atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia
yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah
sebagai raja sampai selama-lamanya” (baca
Why. 11:15; bandingkan Dan. 2:44; 7:27).
Dan Alkitab mengatakan, setiap makhluk
akan bergabung bersama-sama dalam lagu
pujian itu: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta
dan bagi Anak Domba, yaitu puji-pujian dan
hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai
selama-lamanya!” (Why. 5:13).
“Pertentangan besar berakhir sudah. Do-
sa dan orang berdosa sudah tidak ada lagi.
Alam semesta sudah bersih. Denyut harmo-
nis dan kegembiraan mengalun di alam se-
mesta yang luas. Dari Dia yang telah mencip-
takan sekaliannya mengalirlah kehidupan,
terang dan kesenangan di seluruh ruang dan
waktu yang tiada batasnya. Dari bagian-ba-
gian yang terkecil sampai kepada dunia yang
428 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
paling besar, segala sesuatu yang hidup mau-
pun yang tidak, di dalam keindahannya yang
tiada bayang-bayangnya, dalam kesukaan
.jpeg)
