doktrin dasar alkitab 6

doktrin dasar alkitab 6


 


elesai"

(Yoh. 19:30), menandai tuntasnya misi-Nya

itu. Dengan hidup-Nya sendiri Ia telah mem-

bayar hukuman atas pelanggaran hukum Al-

lah, yang dituntut oleh hukum itu, menjamin

keselamatan umat kita semua  yang bertobat.

Pada saat itu darah Kristus mengesahkan per-

janjian anugerah itu. Melalui iman dalam

darah-Nya yang mendamaikan, orang-orang

yang berdosa dan bertobat akan diangkat

menjadi putra-putri Allah, sehingga menja-

di waris kehidupan kekal.

Janji anugerah ini menunjukkan kasih Al-

lah yang tiada batasnya bagi umat kita semua .

Diadakan sejak sebelum Penciptaan, perjan-

jian itu diungkapkan sesudah Kejatuhan. Pa-

da ketika itu, dalam suasana yang khusus,

Allah dan kita semua  menjadi sekutu.

Perjanjian Dibarui. Sayang sekali, jan-

ji anugerah yang agung ini ditolak umat

kita semua  baik pada zaman Air bah maupun

sesudahnya (Kej. 6:1-8; 11:1-9). Ketika Al-

lah mempersembahkan perjanjian itu kem-

bali, hal itu dilakukan-Nya melalui Ibrahim.

Lagi-lagi dikukuhkan-Nya janji penebusan:

"Oleh keturunanmulah semua bangsa di bu-

mi akan mendapat berkat, sebab  engkau men-

dengarkan firman-Ku" (Kej. 22:18; banding-

kan 12:3; 18:18).

Kitab Suci secara khusus meninggikan

kesetiaan Ibrahim atas syarat-syarat perjan-

jian itu. Ibrahim percaya kepada Tuhan se-

hingga Ia "memperhitungkan hal itu kepa-

danya sebagai kebenaran" (Kej. 15:6). Tu-

rut sertanya Ibrahim dalam berkat-berkat per-

janjian itu, yang dialaskan pada anugerah

Allah, juga bergantung pada penurutannya

menunjukkan bahwa perjanjian itu mening-

gikan otoritas hukum Tuhan (Kej. 17:1;

26:5).

sebab  iman Ibrahim yang seperti itulah

yang membuat ia disebut "bapa semua orang

percaya" (Rm. 4:11). Ialah contoh Allah me-

ngenai pembenaran oleh iman yang menya-

takan diri dalam penurutan (Rm. 4:2, 3; Yak.

2:23, 24). Perjanjian anugerah tidaklah se-

cara otomatis mencurahkan berkat-berkat ke-

pada keturunan Ibrahim secara lahiriah, me-

lainkan hanya dengan mengikuti teladan

iman Ibrahim."Mereka yang hidup dari iman,

112Sifat dan Keadaan kita semua 

mereka itulah anak-anak Ibrahim" (Gal. 3:7).

Setiap individu di dunia ini dapat memper-

oleh pengalaman atas janji-janji perjanjian

keselamatan itu melalui pemenuhan syarat:

"Dan jikalau kamu yaitu  milik Kristus, ma-

ka kamu juga yaitu  keturunan Abraham dan

berhak menerima janji Allah" (Gal. 3: 29).

Dari pihak Allah perjanjian Sinai itu (juga

lazim disebut perjanjian pertama) yaitu  se-

buah pembaruan dari perjanjian yang dibe-

rikan kepada Ibrahim, janji anugerah itu (Ibr.

9:1). Akan namun  bangsa Israel mengacau-

kannya dengan perjanjian amal (Gal. 4: 22-

31).

Perjanjian Baru. lalu  nas-nas ki-

tab suci berbicara mengenai tiadanya sebuah

perjanjian yang lebih baik dan baru."11 Akan

namun  hal itu disebutkan demikian bukankah

sebab  perjanjian abadi itu telah diubah me-

lainkan sebab  (1) ketidaksetiaan Israel per-

janjian kekal Allah itu telah dikacaukan ke

dalam sebuah sistem amal; (2) perjanjian itu

dihubungkan dengan penyataan baru dari ka-

sih Allah di dalam penjelmaan Kristus Ye-

sus, hidup, mati, kebangkitan dan meditasi

(bandingkan Ibr. 8:6-13); dan (3) di salib itu-

lah disahkan dengan darah Kristus (Dan

9:27; Luk. 22:20; Rm. 15:8; Ibr. 9:11-22).

Betapa banyak yang diberikan bagi orang

orang yang menerima perjanjian ini. Mela-

lui anugerah Allah diberikannya kepada me-

reka keampunan atas dosa-dosa mereka.

Juga memberikan Roh Kudus yang bekerja

dan menuliskan Sepuluh Hukum di dalam

hati mereka, serta memulihkan orang berdo-

sa yang bertobat ke dalam citra Pencipta me-

reka (Yer. 31:33). Perjanjian Baru, kelahi-

ran baru, pengalaman mendatangkan pem-

benaran Kristus serta pengalaman akan pem-

benaran oleh iman.

Pembaruan hati menyanggupkan peruba-

han individu sehingga mereka dapat meng-

eluarkan buah-buah Roh: "kasih, sukacita,

damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, ke-

baikan, kesetiaan, kelemahlembutan, pengu-

asaan diri" (Gal. 5:22, 23). Melalui kuasa

anugerah Kristus yang menyelamatkan itu

mereka dapat berjalan menempuh jalan yang

dijalani Kristus, dari hari ke hari menikmati

hal-hal yang berkenan kepada Allah (Yoh.

8:29). Pengharapan kita semua  yang telah ja-

tuh ke dalam dosa itu hanyalah dengan me-

nerima undangan Allah untuk masuk ke da-

lam perjanjian anugerah-Nya. Melalui iman

di dalam Yesus Kristus kita dapat mengalami

hubungan ini yang memberikan jaminan ke-

pada kita menjadi anak-anak Allah dan men-

jadi ahli waris dalam kerajaan-Nya.

____________________________ :

1. Doktrin tentang kita semua  telah lama digunakan dalam istilah teologis untuk membicarakan komponen-komponen kelu-

arga kita semua . Di dalam diskusi ini kita semua  tidak selamanya dimaksudkan pria, dengan mengesampingkan perempuan,

istilah ini digunakan dalam bahasa Inggris dalam bentuk "man" hanya untuk sekedar memudahkan diskusi dan kelanju-

tan tradisi dan semantik teologis.

2. Berkhof, Systematic Theology, hlm. 183.

3. "Soul," SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 1361.

4. "Soul," SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 1061.

5. Ibid., hlm. 1064.

6. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 7, hlm. 257.

7. Ibid edisi revisi, jilid 3, hlm. 1090.

8. "Sin, 1" SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 1042.

9. James Orr, God's Image in Man (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1948), hlm. 3, 4.

Leonard Verduin, Somewhat Less than God: The Biblical View of Man (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1970),

hlm. 69.

113Sifat dan Keadaan kita semua 

10. Leonard Verduin, Sonewhat Less than God:The Biblical View of Man (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1970),

hlm. 69.

11. Perjanjian Baru menghubungkan pengalaman bangsa Israel di Bukit Sinai dengan perjanjian lama (Gal. 4:24, 25). Di

Sinai Allah membarui perjanjian anugerah-Nya yang kekal kepada umat-Nya yang telah dilepaskan itu (1 Taw. 16:14-

17; Mzm. 105:8-11; Gal. 3:15-17). Allah berjanji kepada mereka, "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-

Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bang-

sa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus"

(Kel. 19:5, 6; bandingkan Kej. 17:7, 9, 19). Perjanjian itu diadakan berdasar  pembenaran oleh iman (Rm. 10:6-8; Ul.

30:11-14) dan hukum itu akan dituliskan di dalam hati mereka (Ul. 6:4-6; 30:14).

Perjanjian anugerah selalu menjadi pokok kekacauan oleh orang-orang percaya yang menempatkannya di bawah sebuah

sistem keselamatan melalui amal atau perbuatan. Paulus memakai  kegagalan Abraham  untuk bergantung kepada

Tuhan—yang bergantung kepada perbuatannya sendiri untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya—sebagai satu

ilustrasi dari Perjanjian Lama (Kej. 16; 12:10-20; 20; Gal. 4:22-25). Sesungguhnya pengalaman pembenaran oleh per-

bu-atan telah ada sejak dosa masuk ke dunia ini dan perjanjian yang kekal itu dilanggar (Hos. 6:7).

Sepanjang sejarah bangsa Israel umumnya mereka mencoba "menegakkan kebenaran mereka sendiri" melalui "melalui

hukum Taurat" (Rm. 9:30-10:4). Mereka hidup sesuai dengan apa yang tersurat, tidak sesuai dengan Roh (2 Kor. 3:6).

Mereka mencoba membenarkan diri mereka melalui hukum (Gal. 5:4), mereka hidup di bawah hukuman hukum dalam

perhambaan, bukannya dalam kemerdekaan (Gal. 4:21-23). Dengan demikianlah mereka mengacaukan perjanjian yang

diadakan di Bukit Sinai itu.

artikel  Ibrani menerapkan yang pertama atau perjanjian yang lama kepada sejarah bangsa Israel sejak Sinai seraya meng-

ungkapkan sifat kontemporernya. Dinyatakannya bahwa keimamatan Lewi bersifat sementara, menunjukkan fungsi

simbolik sampai wujudnya dalam Kristus menjadi kenyataan (Ibr. 9:10). Alangkah sedihnya sebab  begitu banyak orang

yang gagal melihat ini dalam diri mereka sendiri dan dalam upacara-upacara yang menjadi kehilangan makna (Ibr.

10:1). Bertalian dengan sistem "bayang-bayang" tatkala bentuk menjadi wujud bayang-bayang menjadi kenyataan,

mengacaukan misi sejati Kristus. Oleh sebab  itu bahasa yang tegas digunakan untuk menekankan superioritas perjan-

jian yang baru dan yang Iebih baik dibandingkan  perjanjian di Bukit Sinai.

Perjanjian yang lama, oleh sebab  itu, dapat digambarkan dalam istilah yang negatif maupun positif. Secara negatif,

yang menunjuk kepada pemutarbalikan janji kekal Allah yang dilakukan banyak orang. Yang positif, adanya untuk tu-

juan sementara dalam pelayanan di dunia ini yang direncanakan oleh Allah untuk memenuhi keadaan darurat yang di-

timbulkan oleh kegagalan kita semua . Baca juga White, Patriarchs and Prophets, hlm. 370-73; White, "Our Work,"Review

and Herald, 23 Juni 1904, hlm. 8; White, "A Holy Purpose to Restore Jerusalem" Southern Watchman, 1 Maret 1904,

hlm. 142; Hasel, Covenant in Blood (Mountain View, CA: Pacific Press, 1982); bnd Wallenkampt, Salvation Come

From the Lord (Washington, D.C.: Review and Herald, 1983), hlm. 84-90.

12. Bandingkan. Hasel, Covenant in Blood.

114Pertikaian Besar

115Pertikaian Besar

DOKTRIN KESELAMATAN

116

Semua kita semua  kini terlibat dalam pertikaian besar antara Kristus

dan Setan mengenai tabiat Allah, hukum-Nya dan kekuasaan-Nya atas

semesta alam. Konflik ini bermula di surga tatkala seorang makhluk

yang diciptakan, yang dikaruniai kebebasan memilih, meninggikan diri

dan menjadi Setan, seteru Allah, dan memimpin pemberontakan beserta

sebagian dari para malaikat. la memperkenalkan roh pemberontakan

kepada dunia ini ketika is membuat Adam dan Hawa jatuh ke dalam

dosa. Kejatuhan kita semua  mengakibatkan pemutarbalikan atas gambar

Allah dalam diri kita semua , mengharu-birukan dunia yang diciptakan,

sehingga mendatangkan bencana yang dahsyat waktu Airbah melanda

seluruh dunia. Makhluk ciptaan yang memperhatikan, dunia ini menjadi

arena konflik universal, kasih Allah terbukti mencapai puncaknya. Untuk

membantu umat-Nya menghadapi pertarungan ini, Kristus mengirim

Roh Kudus dan malaikat-malaikat yang setia untuk memimpin,

melindungi serta mendukung mereka dalam jalan keselamatan.—

Fundamental Beliefs,–8.

117

Kitab Suci menggambarkan sebuah per-

tempuran alam antara yang baik dan

yang jahat, antara Tuhan dengan Setan. De-

ngan memahami pertikaian ini, yang meli-

batkan seluruh alam, membantu menjawab

pertanyaan, Mengapa Yesus datang ke pla-

net ini?

SEBUAH PANDANGAN DUNIA

MENGENAI PERTIKAIAN

Misteri dari segala misteri, konflik an-

tara yang baik dan yang jahat bermula di sur-

ga. Bagaimanakah mungkin dosa timbul di

sebuah lingkungan yang amat sempurna?

Malaikat-malaikat, makhluk yang lebih

tinggi dibandingkan  kita semua  (Mzm. 8:6), telah

diciptakan untuk menikmati hubungan yang

akrab dengan Allah (Why. 1:1; 3:5; 5:11).

Yang mempunyai kekuatan hebat serta me-

nurut kepada Sabda Tuhan (Mzm. 103:20),

mereka bertugas sebagai pelayan atau “roh-

roh yang melayani” (Ibr. 1:14). Walaupun

pada umumnya tidak tampak dengan mata

kita semua , namun  sekali-sekali mereka menam-

pakkan diri sebagai kita semua  (Kej. 18:19; Ibr.

13:2). Hanya dengan seorang dari antara ma-

laikat inilah dosa diperkenalkan kepada alam

semesta.

Asal-mula Pertikaian. Dengan menggu-

nakan perlambang raja-raja Tirus dan Babi-

lon untuk melukiskan Lusifer, Kitab Suci

menggambarkan bagaimana pertikaian alam

ini dimulai. “Lusifer, anak fajar,” seorang

kherubium yang sudah diurapi, bertempat

tinggal di hadapan hadirat Tuhan (Yes.

14:12; Yeh. 28:14).1 Alkitab berkata, “Gam-

bar dari kesempurnaan engkau, penuh hik-

mat dan maha indah.... Engkau tak bercela

di dalam tingkah lakumu sejak hari pencip-

taanmu sampai ada  kecurangan pada-

mu” (Yeh. 28:12, 15).

Walaupun timbulnya dosa itu tidak da-

pat diterangkan secara tuntas dan tidak pula

dapat dibenarkan, akarnya dapat ditelusuri

kepada keangkuhan Lusifer:

“Engkau sombong sebab  kecantikanmu,

hikmatmu kau musnahkan demi semarak-

mu.” (Yeh. 28:17). Lusifer tidak mau puas

BAB 8

PERTIKAIAN BESAR

118Pertikaian Besar

dengan kedudukannya yang sudah tinggi itu,

jabatan yang diberikan Penciptanya. Dengan

meninggikan diri ia ingin menyamakan ke-

dudukannya dengan Allah sendiri: “Engkau

yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku

hendak naik ke langit, aku hendak mendiri-

kan takhtaku mengatasi bintang-bintang Al-

lah.... Aku hendak naik mengatasi ketinggian

awan-awan, hendak menyamai Yang Maha-

tinggi!” (Yes. 14:13-14). Akan namun , wa-

laupun ia menginginkan kedudukan Allah,

ia tidak ingin tabiat Allah. Ia ingin meraih

otoritas Allah bukan kasih-Nya. Pemberon-

takan Lusifer melawan pemerintahan Allah

yaitu  langkah awal menuju perubahannya

menjadi Setan, “sang seteru” itu.

Tindakan-tindakan Lusifer yang tersamar

itu membutakan banyak malaikat terhadap

kasih Allah. Akibat rasa tidak puas dan ti-

dak setia kepada pemerintahan Allah ber-

tumbuh terus sampai sepertiga malaikat sur-

ga bergabung dengan dia dalam pemberon-

takan (Why. 12:4). Ketenangan dalam kera-

jaan Tuhan diguncang dan “timbullah pepe-

rangan di sorga” (Why. 12:7). Peperangan sur-

ga ditimbulkan Setan, yang digambarkan se-

bagai naga besar, ular tua, iblis, yang “dilem-

parkan ke bumi, bersama-sama dengan malai-

kat-malaikatnya” (Why. 12:9).

Bagaimanakah kita semua  Dilibatkan?

Dengan pengusirannya dari surga, Setan pun

menyebarkan pemberontakannya ke dunia

ini. Setan menyamar sebagai ular yang da-

pat berbicara dan memakai  alasan yang

sama dengan kejatuhannya, secara efektif ia

merusak kepercayaan Adam dan Hawa ter-

hadap Khaliknya (Kej. 3:5). Setan membang-

kitkan di dalam diri Hawa rasa tidak puas

terhadap kedudukan yang diberikan kepada-

nya. Tergiur sebab  ingin setara dengan Tu-

han, ia mempercayai godaan itu dan kemu-

dian mulai merasa bimbang terhadap Tuhan.

Dengan mengingkari perintah Tuhan, ia pun

memakan buah pohon pengetahuan yang ba-

ik dan yang jahat itu serta mempengaruhi

suaminya untuk melakukan hal yang sama.

sebab  mereka mempercayai perkataan ular

itu maka mereka kehilangan percaya dan ke-

setiaan terhadap Tuhan. Tragisnya, benih-be-

nih pertikaian yang dimulai di sorga mulai

berakar di Planet Bumi (baca Kej. 3).

Dengan membujuk leluhur kita yang per-

tama untuk melakukan dosa, jelaslah Setan

merebut pemerintahan bumi ini dari mere-

ka. Kini, dengan menyatakan diri sebagai

“penguasa dunia ini,” Setan menantang Al-

lah, pemerintahan-Nya dan kedamaian se-

mesta alam ini dari pusat pemerintahannya

yang baru, di Planet Bumi.

Pengaruhnya terhadap Umat Manu-

sia. Efek pergolakan antara Kristus dengan

Setan jelas merusak citra Allah dalam manu-

sia. Sekalipun Allah memberikan janji anu-

gerah kepada umat kita semua  melalui Adam

dan Hawa (Kej. 3:15; baca bab 7), anak su-

lung mereka, Kain toh membunuh saudara-

nya (Kej. 4:8). Kejahatan semakin bertam-

bah-tambah sampai akhirnya Tuhan dengan

sedih berkata mengenai kita semua  itu “hati-

nya selalu membuahkan kejahatan semata-

mata” (Kej. 6:5).

Allah memakai  air bah untuk mem-

bersihkan dunia ini dari penduduknya yang

tidak bertobat dan memberikan kepada umat

kita semua  sebuah awal baru (Kej. 7:17-20).

Akan namun  tidak lama lalu  keturunan

Nuh yang setia menjauh dari janji Allah. Wa-

laupun Allah telah berjanji tidak akan men-

datangkan kebinasaan yang menyeluruh lagi,

melalui air bah, namun  mereka terang-terang-

an menunjukkan rasa tidak percaya mereka

kepada Tuhan dengan mendirikan Menara

Babel dalam upaya mereka menjangkau la-

ngit supaya dengan demikian lepas dari air

119Pertikaian Besar

bah berikutnya. Pada kali ini Tuhan meron-

tokkan pemberontakan kita semua  itu dengan

mengacaukan bahasa mereka secara semes-

ta (Kej. 9:1, 11:11).

Ada satu masa lalu , ketika dunia

hampir dipenuhi kemurtadan total, Allah me-

nyampaikan perjanjian-Nya kepada Abra-

ham. Melalui Abraham Allah merencanakan

untuk memberkati semua bangsa di dunia

(Kej. 12:1-3; 22:15-18). Bagaimanapun, ge-

nerasi penerus dari keturunan Abraham ter-

bukti kurang percaya atas janji karunia Tu-

han itu. Dengan terperangkapnya dalam do-

sa, mereka membantu Setan mencapai tuju-

annya dalam pertikaian besar dengan me-

nyalibkan Pencipta dan Penjamin perjanjian

itu, yakni Yesus Kristus.

Bumi, Panggung Alam Semesta. Cata-

tan yang ada  dalam kitab Ayub tentang

pertemuan wakil-wakil dari pelbagai penju-

ru alam semesta memberikan tambahan da-

lam pertikaian besar itu. Catatan itu dimu-

lai, “pada satu hari datanglah anak-anak Al-

lah menghadap Tuhan dan dari antara mere-

ka datanglah juga Iblis. Maka bertanyalah

Tuhan kepada Iblis: ‘Dari mana engkau?’ La-

lu jawab Iblis kepada Tuhan: ‘Dari perjalan-

an mengelilingi dan menjelajah bumi.’” Ayb.

1:6, 7; bandingkan 2:1-7).

lalu  Tuhan berkata, “Apakah eng-

kau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab

tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang

demikian saleh dan jujur, yang takut akan

Allah dan menjauhi kejahatan!” (baca Ayb.

1:8).

Apabila Iblis menjawab, “Apakah de-

ngan tidak mendapat apa-apa Ayub takut

akan Allah? Bukankah Engkau yang mem-

buat pagar sekeliling dia?” Kristus menja-

wab dengan memperkenankannya menco-

bainya (baca Ayb. 1:9-2:7).

Dari artikel  Ayub ini diperlihatkan sebuah

bukti yang cukup kuat betapa besarnya per-

tikaian antara Kristus dengan Setan. Planet

ini menjadi sebuah panggung terjadinya pe-

ristiwa perjuangan antara yang baik dan yang

jahat dilakonkan. Sebagaimana dikatakan

dalam Kitab Suci, “Sebab kami telah men-

jadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-ma-

laikat dan bagi kita semua ” (1 Kor. 4:9).

Dosa membuat renggangnya hubungan

antara Allah dan kita semua , dan “segala sesua-

tu yang tidak berdasar  iman, yaitu  dosa”

Rm. 14:23). Pelanggaran atas hukum-hukum

dan peraturan Tuhan, yaitu  akibat langsung

dari kurangnya iman, merupakan bukti retak-

nya hubungan itu. Sebaliknya, dengan ada-

nya rencana keselamatan Allah ingin memu-

lihkan pengharapan atas Khalik yang mem-

bawa kepada hubungan penuh kasih yang di-

nyatakan dalam penurutan. Sebagaimana di-

nyatakan Kristus, cinta kasih menuntun ke-

pada penurutan (Yoh. 14:15).

Pada zaman kita yang tidak mengindah-

kan hukum ini, yang absolut dikatakan ne-

tral, ketidakjujuran dibanggakan, suap me-

nyuap menjadi sebuah cara hidup, perzinaan

merajalela, dan perjanjian secara pribadi

maupun internasional, dihancurkan dusta.

yaitu  merupakan suatu keistimewaan kita

dapat melihat di balik dunia yang penuh de-

ngan keputusasaan ini, Allah yang Mahakua-

sa dan penuh perhatian. Pandangan yang se-

makin luas ini menunjuk kepada kita pen-

tingnya pendamaian Kristus bagi kita, yang

mengakibatkan berakhirnya pertikaian di

alam semesta.

ISU KOSMIS

Apakah isu yang paling penting dalam

perjuangan hidup dan mati?

Undang-undang dan Pemerintahan

Allah. Hukum moral Allah merupakan hu-

120Pertikaian Besar

kum yang adil dan penting bagi eksistensi

alam semesta Tuhan sebagaimana juga hu-

kum jasmani yang merangkumnya bersama-

sama dan menjaganya agar tetap berfungsi

sebagaimana mestinya. Dosa yaitu  “pe-

langgaran hukum Allah” (1 Yoh. 3:4), atau

“tanpa aturan” sebagaimana yang dinyata-

kan dalam bahasa Yunani, anomia. Isu pe-

langgaran hukum sebab  penolakan atas pe-

merintahan Tuhan dan Tuhan.

Setan tidak mengakui tanggung jawab-

nya atas pelanggaran hukum di atas dunia

ini, malah ia menyalahkan Tuhan Allah. Ia

mengatakan hukum Tuhan, yang disebutnya

sewenang-wenang, melanggar kebebasan in-

dividu. Selanjutnya ia menuduh sebab  mus-

tahil menurut hukum itu, sesungguhnya hu-

kum itu bertentangan dengan kepentingan

makhluk yang diciptakan. Dengan merong-

rong dan menjelek-jelekkan hukum terus

menerus, Setan berusaha menaklukkan pe-

merintahan Allah dan bahkan Allah sendiri.

Kristus dan Pokok Masalah Penurut-

an. Godaan yang dihadapi Yesus Kristus se-

waktu Ia hidup melayani di dunia ini menun-

jukkan betapa seriusnya pertikaian atas penu-

rutan dan menyerah kepada kehendak Allah.

Untuk menghadapi pencobaan ini, yang me-

nyiapkan Dia menjadi “Imam Besar yang

menaruh belas kasihan dan yang setia” (Ibr.

2:17), Ia menghadapi musuh yang memati-

kan itu seorang diri. sesudah  Yesus Kristus

berpuasa 40 hari di padang belantara, Setan

mencobai-Nya dengan meminta supaya me-

ngubah batu menjadi roti untuk membukti-

kan Dia seorang Anak Allah (Mat. 4:3). Se-

tan telah menggoda Hawa di taman Eden un-

tuk meragukan keabsahan apa yang dikata-

kan Allah pada saat Ia dibaptiskan: “Inilah

Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah

Aku berkenan”(Mat. 3:17). Seandainya Kris-

tus menangani masalah itu dengan tangan-

Nya sendiri, menciptakan roti dari batu un-

tuk membuktikan bahwa Ia Anak Allah, ma-

ka Ia akan sama dengan Hawa, menunjukkan

rasa kurang percaya kepada Tuhan Allah.

Maka tugas-Nya akan berakhir dalam kega-

galan.

Akan namun  tugas utama Kristus ialah

menghidupkan suatu kehidupan yang ber-

gantung kepada firman Tuhan. Sekalipun Ia

dilanda rasa lapar yang amat sangat, Ia men-

jawab godaan Setan dengan berkata bahwa

“kita semua  hidup bukan dari roti saja, namun 

dari setiap firman yang keluar dari mulut

Allah” (Mat 4:4).

Dalam upaya lain untuk menaklukkan

Kristus, Setan memperlihatkan pemandang-

an yang indah dari hal kerajaan dunia kepa-

da Yesus seraya berjanji, “Semua ini akan

kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud

menyembah aku” (Mat 4:9). Ia membayang-

kan bahwa dengan berbuat demikian berarti

Kristus dapat memperoleh kembali dunia se-

hingga Ia dapat menyelesaikan tugas-Nya

tanpa merasakan derita di Golgota. Tanpa

menunjukkan kelengahan sejenak pun, dan

dalam kesetiaan yang mutlak kepada Allah,

Yesus berkata, “Enyahlah, Iblis!”Lalu de-

ngan memakai  Kitab Suci, senjata yang

paling tangguh dalam pertikaian besar itu,

Ia berkata, “Engkau harus menyembah Tu-

han, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah

engkau berbakti!” (Mat. 4:10). Perkataan-

Nya itu mengakhiri pertarungan ini .

Dengan bersandar sepenuhnya kepada Bapa,

Kristus mengalahkan Setan.

Perjuangan yang Menentukan di Gol-

gota. Pertikaian kosmik mencapai titik pu-

sat di Golgota. Setan memperkuat usahanya

untuk menggugurkan misi Yesus pada saat

mendekati akhirnya. Dengan sangat berha-

sil Iblis memakai  para pemimpin aga-

ma pada ketika itu, yang sebab  cemburu ter-

121Pertikaian Besar

hadap kepopuleran Kristus, mengakhiri pe-

layanan-Nya di kalangan orang banyak (Yoh.

12:45-54). Melalui pengkhianatan salah se-

orang murid-Nya, dengan sebuah kesaksian

palsu, Yesus ditangkap, dijatuhi hukuman

mati (Mat. 26:63, 64; Yoh. 19:7). Dalam pe-

nurutan yang mutlak kepada kehendak Bapa-

Nya, Yesus tetap setia sampai mati.

Keuntungan dari kematian dan hidup Ye-

sus di luar batas dunia umat kita semua . Berbi-

cara mengenai salib, Kristus berkata, “Se-

karang juga penguasa dunia ini akan di-

lemparkan ke luar” (Yoh. 12:31); “sebab  pe-

nguasa dunia ini telah dihukum” (Yoh. 16: 11).

Pertikaian kosmik mencapai puncaknya

di atas kayu salib. Cinta kasih, kesetiaan dan

penurutan Kristus ditunjukkan waktu meng-

hadapi Setan, penguasa yang kejam itu, ke-

dudukan Iblis tumbang sama sekali di sana.

PERTIKAIAN MENGENAI

KEBENARAN SEBAGAIMANA

ada  DALAM YESUS.

Kini pertikaian besar berkecamuk sekitar

otoritas Kristus bukan saja menyangkut hu-

kum-Nya namun  juga sabda-Nya—Kitab Su-

ci. Pelbagai pendekatan terhadap Alkitab te-

lah dikembangkan dengan penafsiran yang

tidak memberi peluang terhadap penyataan

Ilahi.2 Kitab Suci diperlakukan seolah-olah

tidak ada bedanya dengan dokumen-doku-

men kuno dan dianalisis dengan metode kri-

tis yang sama. Sejumlah besar orang Kris-

ten, termasuk di dalamnya kaum teolog, ti-

dak lagi menganggap Kitab Suci sebagai Fir-

man Tuhan, penyataan kehendak Allah yang

tidak dapat salah. Akibatnya, mereka mem-

pertanyakan pandangan Alkitabiah menge-

nai pribadi Kristus; sifat-Nya, kelahiran dari

seorang anak dara, mukjizat dan kebangkit-

an, semuanya diperdebatkan secara luas.3

Pertanyaan yang Paling Berat. Ketika

Kristus bertanya, “Kata orang, siapakah

Anak kita semua  itu?” lantas murid-murid itu

menjawab “Ada yang mengatakan: Yohanes

Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia

dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau

salah seorang dari para nabi” (Mat. 16:13,

14). Dengan kata lain, pada umumnya or-

ang pada zaman itu menganggap-Nya han-

ya ma-nusia biasa saja. Lebih lanjut Kitab

Suci memberikan laporan: Yesus bertanya

kepada kedua belas murid itu, “namun  apa

katamu, siapakah Aku ini?’ Maka jawab Si-

mon Petrus: ‘Engkau yaitu  Mesias, Anak

Allah yang hidup!’”

“Kata Yesus kepadanya: ‘Berbahagialah

engkau Simon bin Yunus sebab bukan manu-

sia yang menyatakan itu kepadamu, melain-

kan Bapa-Ku yang di sorga’” (Mat. 16:15-17).

Dewasa ini setiap orang menghadapi per-

tanyaan sama yang ditanyakan Kristus ke-

pada murid-murid-Nya. Jawaban atas per-

tanyaan soal hidup mati ini bergantung ke-

pada iman seseorang atas kesaksian firman

Tuhan.

Pusat Ajaran Alkitab. Kristus yaitu 

pusat Kitab Suci. Tuhan mengundang kita

untuk memahami kebenaran sebagaimana

ada  dalam Kristus (Ef. 4:21), sebab  Ia

sendirilah kebenaran itu (Yoh. 14:5). Salah

satu strategi Setan dalam konflik kosmik itu

ialah meyakinkan orang bahwa mereka dap-

at memahami kebenaran itu lepas dari Ye-

sus. Oleh sebab  itu, beberapa pusat kebe-

naran dikemukakan, baik secara individu

maupun secara gabungan: (1) kita semua , (2)

alam atau semesta yang dapat diamati, (3)

Kitab Suci, dan (4) gereja.

Sementara semua ini memang memiliki ba-

gian yang menunjukkan kebenaran, maka Ki-

tab Suci menyampaikan Kristus sebagai Pen-

cipta masing-masing yang di atas dan melebi-

hinya. Mereka akan mendapat makna yang

122Pertikaian Besar

sebenarnya hanyalah pada Seorang yang men-

jadi sumber semua hal itu. Kalau ajaran-ajar-

an Alkitab dipisahkan dari pada-Nya maka pe-

mahaman akan disesatkan mengenai “jalan dan

kebenaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Sepadan

baik bagi alam dan tujuan anti Kristus untuk

menganjurkan pusat kebenaran ketimbang

Kristus. (Menurut bahasa Yunani antichrist bu-

kan saja berarti “melawan” Kristus, namun  juga

“menggantikan” Kristus). Dengan menggan-

tikan pusat yang lain selain Kristus dalam dok-

trin gereja, Setan memperoleh tujuannya un-

tuk mengalihkan perhatian dari Orang yang

menjadi tumpuan harapan kita semua .

Fungsi Teologi Kristen. Pandangan kos-

mik mengungkapkan tabir rahasia usaha Se-

tan untuk menyingkirkan Kristus dari tem-

pat-Nya, baik di alam semesta begitu pula

dalam kebenaran. Teologi, menurut definisi-

nya ialah studi mengenai Allah dan hubung-

an-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya, seha-

rusnya membentangkan semua doktrin da-

lam terang Kristus. Mandat teologi Kristen

ialah mengilhami keyakinan dalam otoritas

Sabda Tuhan dan menempatkan kembali se-

mua kebenaran yang berpusat kepada Kris-

tus. Jika diperlukan dengan demikian, maka

teologi Kristen yang sejati akan melayani je-

maat dengan baik, sebab  itu berakar pada

pertikaian kosmik, membentangkannya, dan

menghadapinya dengan argumen yang tidak

dapat dibantah—Kristus sebagaimana dinya-

takan dalam Kitab Suci. Dari perspektif ini-

lah Allah dapat memakai  teologi menja-

di suatu sarana yang efektif untuk memban-

tu kita semua  dalam menentang upaya Setan

di atas dunia ini.

MAKNA ATAU SIGNIFIKANSI

DOKTRIN

Doktrin mengenai pertikaian besar me-

nampakkan pertempuran yang dahsyat yang

mempengaruhi setiap orang yang lahir di du-

nia ini—yakni, sesungguhnya menyentuh se-

tiap penjuru alam semesta. Alkitab berkata,

“sebab  perjuangan kita bukanlah melawan

darah dan daging, namun  melawan pemerin-

tah-pemerintah, melawan penguasa-pengua-

sa, melawan penghulu-penghulu dunia yang

gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara”

(Ef. 6:12).

Doktrin Menghasilkan suatu Keadaan

yang Tetap Waspada. Dengan memahami pe-

ngajaran ini seseorang diyakinkan betapa per-

lunya melawan si jahat. Keberhasilan dapat

diperoleh hanyalah di dalam Kristus Yesus,

selalu bergantung kepada Dia yang menjadi

Pemimpin pasukan, Seorang yang “jaya dan

perkasa dalam peperangan!” (Mzm. 24:8). Pau-

lus berkata, menerima strategi hidup Kristus

berarti “ambillah seluruh perlengkapan senja-

ta Allah, supaya kamu dapat mengadakan per-

lawanan pada hari yang jahat itu dan tetap ber-

diri, sesudah kamu menyelesaikan segala se-

suatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggang-

kan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberi-

takan Injil damai sejahtera: dalam segala ke-

adaan pergunakanlah perisai iman, sebab de-

ngan perisai itu kamu akan dapat memadam-

kan semua panah api dari si jahat, dan teri-

malah ketopong keselamatan dan pedang Roh,

yaitu firman Allah, dalam segala doa dan per-

mohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam

Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu

dengan permohonan yang tak putus-putusnya

untuk segala orang kudus” (Ef. 6:13-18). Ada-

lah menjadi suatu hak istimewa bagi orang

Kristen sejati untuk hidup menghayati suatu

kehidupan yang ditandai kesabaran dan ke-

setiaan, sebuah kesediaan setiap waktu meng-

hadapi pergolakan (Why. 14:2), menyatakan

ketergantungan yang terus-menerus terhadap

123Pertikaian Besar

Seorang yang telah membuat kita “orang-

orang yang menang” (Rm. 8:37).

Dijelaskannya Misteri Derita. Kejahat-

an tidak berasal dari Tuhan. Ia yang “men-

cintai keadilan dan membenci kefasikan”

(Ibr. 1:9), tidak sepantasnya dituduh ber-

tanggung jawab atas kesengsaraan yang

menimpa dunia. Setan, malaikat yang jatuh,

bertanggung jawab atas segala kekejaman

dan penderitaan. Kita akan dapat memaha-

mi lebih jelas perampokan, pembunuhan, pe-

nguburan, tindak kejahatan dan pelbagai pe-

ristiwa yang demikian—betapapun menya-

kitkan hati—apabila kita melihatnya dalam

kerangka pertikaian yang besar itu.

Salib memberikan kesaksian baik me-

ngenai binasanya dosa dan kedalaman ka-

sih Allah kepada orang-orang yang berdo-

sa. Dengan demikianlah tema pertikaian be-

sar itu mengajarkan kepada kita kebencian

terhadap dosa sekaligus mengasihi orang

yang berdosa.

Menunjukkan Kepribadian Kasih

Allah Terhadap Dunia. Dengan kepergian-

Nya kembali ke surga, Kristus tidak mem-

biarkan umat-Nya dalam keadaan yatim pia-

tu. Dengan penuh rasa kasihan Ia menyiap-

kan segala bantuan yang dapat diberikan un-

tuk melawan kejahatan. Roh Kudus telah di-

utus untuk “mengisi” tempat yang ditinggal-

kan Kristus sampai hari kedatangan-Nya,

menjadi teman bagi kita (Yoh. 14:16; ban-

dingkan Mat. 28:20). Para malaikat juga di-

utus untuk melibatkan diri dalam upaya ke-

selamatan (Ibr. 1:14). Kemenangan kita te-

lah dijamin. Kita dapat berharap dan mem-

peroleh keberanian untuk menghadapi masa

mendatang, sebab  Tuhan kitalah yang me-

ngendalikan. Bibir kita dapat mengucapkan

puji-pujian atas pekerjaan keselamatan yang

dilakukan-Nya.

Dinyatakannya Makna Kosmik Salib.

Keselamatan umat kita semua  dipertaruhkan

dalam pelayanan dan kematian Kristus,

sebab  Ia datang menyerahkan nyawa-Nya

demi keampunan dosa-dosa kita. Dalam ber-

buat demikian Ia mempertahankan sifat

Bapa-Nya, hukum dan pemerintahan mela-

wan fitnahan palsu yang dilontarkan Setan.

Hidup Kristus mempertahankan keadilan

Allah dan kebajikan-Nya serta menunjuk-

kan bahwa hukum Tuhan dan pemerintah-

an-Nya adil. Kristus menyatakan betapa ti-

dak beralasan serangan Setan terhadap Al-

lah, menunjukkan bahwa melalui ketergan-

tungan yang total atas kuasa Allah dan anu-

gerah-Nya, orang-orang percaya yang ber-

tobat dapat bangkit mengatasi gangguan ser-

ta frustrasi godaan hidup sehari-hari dan hi-

dup menang atas dosa.

____________________________ :

1. ‘Lucifer’ berasal dari bahasa Latin, Lucifer berarti “pembawa terang.” Frase “anak fajar” merupakan ungkapan umum

yang berarti “bintang fajar”—Venus. “Terjemahan harfiah ungkapan Ibrani bermakna ‘Lucifer, anak fajar’ berarti ‘yang

bercahaya, anak fajar.’ Gambaran yang digunakan untuk planet Venus yang cemerlang, planet yang paling gemerlap di

langit, digunakan untuk Setan sebelum kejatuhannya... gambaran yang paling tepat mengenai keadaan yang paling

tinggi, tempat dari mana Lucifer jatuh” (“Lucifer,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 683).

2. Lihat, General Conference Committee, “Methods of Bible Study,” 1986; Hasel, Biblical Interpretation Today (Washing-

ton, D.C., Biblical Research Institute (of the General Conference of Seventh-day Adventist), 1985.

3. Lihat, K. Runia, The Present-day Christological Debate (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984); G.C. Berkouwer,

The Person of Christ (Grand Rapids MI: Wm, B. Eerdmans, 1954), hlm. 14-56.

124

Di dalam hidup Kristus yang taat dengan sempurna kepada kehendak

Allah, penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya, disediakan Allah

sebagai satu-satunya sarana pendamaian bagi dosa kita semua , supaya

dengan demikian barangsiapa yang percaya dan menerima pendamaian

ini dapat memperoleh hidup kekal, dan semua makhluk ciptaan dapat

memahami lebih baik cinta kasih Pencipta yang tiada batasnya itu.

Pendamaian yang sempurna ini mempertahankan kebenaran hukum

Tuhan dan kemurahan tabiat-Nya; sebab  dengan itulah dosa-dosa kita

dihukumkan dan sekaligus memberikan keampunan kepada kita.

Kematian Kristus yaitu  pengganti dan korban yang tidak bercacat-

cela, yang mendamaikan dan mengubahkan. Kebangkitan Kristus mem-

proklamasikan kemenangan Kristus atas kekuatan Iblis, dan bagi orang

yang menerima pendamaian merupakan jaminan kemenangan akhir me-

reka atas dosa dan maut. Dinyatakannya juga Ketuhanan Yesus Kristus,

di hadapan-Nya setiap lutut di surga dan di bumi akan tunduk memberi

hormat.—Fundamental Beliefs.—9.

125

Sebuah pintu terbuka, membentangkan

jalan menuju pusat semesta alam, surga.

Ada sebuah suara terdengar berkata, “Ma-

suklah, lihatlah apa yang berlangsung di tem-

pat ini!’’ Di dalam Roh, Rasul Yohanes me-

lihat ke dalam ruangan takhta Allah.

Pelangi zamrud yang mempesonakan me-

ngelilingi pusat takhta, cahaya, guntur dan

suara-suara keluar dari dalamnya. Orang-

orang agung—dengan pakaian putih dan me-

ngenakan mahkota bertatahkan emas duduk

di takhta yang lebih kecil. Ketika Kidung

pu-jian memenuhi udara, tua-tua itu menun-

dukkan diri dalam pujaan, melemparkan

mahkota emas mereka ke muka takhta.

Seorang malaikat membawa sebuah gu-

lungan yang dimeteraikan dengan tujuh me-

terai sambil berseru-seru: “Siapakah yang la-

yak membuka gulungan kitab itu dan mem-

buka meterai-meterainya?” (Why. 5:2). De-

ngan penuh ketakutan Yohanes memperha-

tikan bahwa tidak ada seorang pun di surga

atau di bumi yang layak membuka gulung-

an itu. Ia menangis dan meratap sampai ada

seorang tua-tua yang menghiburnya: “Jangan

engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari

suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah me-

nang, sehingga Ia dapat membuka gulungan

kitab itu dan membuka ketujuh meterainya”

(Why. 5:5).

Yohanes lalu  mengalihkan pan-

dangannya ke takhta yang penuh kemuliaan

itu, ia melihat Anak Domba yang telah ter-

sembelih namun  sekarang telah hidup kembali

dan dipenuhi dengan kuasa Roh. Ketika

Anak Domba itu mengambil gulungan terse-

but maka makhluk hidup dan tua-tua seren-

tak mendengungkan sebuah pujian yang ba-

ru: “Engkau layak menerima gulungan ki-

tab itu dan membuka meterai-meterainya;

sebab  Engkau telah disembelih dan dengan

darah-Mu Engkau telah membeli mereka

bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan

kaum dan bangsa. Dan Engkau telah mem-

buat mereka menjadi suatu kerajaan, dan

menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan me-

reka akan memerintah sebagai raja di bumi”

(Why. 5:9, 10). Setiap makhluk ciptaan di

surga dan di bumi bergabung dalam nyanyi-

an mereka itu: “Bagi Dia yang duduk di atas

BAB 9

HIDUP, MATI DAN KEBANGKITAN KRISTUS

126Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus

takhta dan bagi Anak Domba, yaitu  puji-

pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa

sampai selama-lamanya!” (Why. 5:13).

Betapa pentingkah gulungan ini? Di da-

lamnya dimuat kisah penyelamatan umat

kita semua  mulai dari perhambaan kita semua  ke-

pada Setan dan juga lukisan puncak keme-

nangan Allah atas dosa. Dinyatakannya ke-

selamatan yang begitu sempurna sehingga

orang-orang yang ditawan dosa dapat dibe-

baskan dari rumah penjara nasib mereka ha-

nyalah melalui pilihan mereka. Lama sebe-

lum kelahiran-Nya di Betlehem, Anak Dom-

ba berseru: “Sungguh, aku datang; dalam gu-

lungan kitab ada tertulis tentang aku; aku

suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku;

Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mzm. 40:8,

9; bandingkan Ibr. 10:7). Dengan datangnya

Anak Domba yang telah tersembelih sebe-

lum asas dunia inilah yang mewujudkan pe-

nebusan umat kita semua  (Why. 13:8).

ANUGERAH ALLAH

YANG MENYELAMATKAN

Alkitab menyatakan Allah yang menaruh

perhatian atas keselamatan kita semua . Ang-

gota Keallahan bersatu dalam upaya mem-

bawa kembali kita semua  ke dalam persatuan

dengan Pencipta mereka. Yesus meninggi-

kan kasih Allah yang menyelamatkan itu

dengan berkata, “sebab  begitu besar kasih

Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah me-

ngaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supa-

ya setiap orang yang percaya kepada-Nya

tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang

kekal” (Yoh. 3:16).

Alkitab menyatakan bahwa “Allah yaitu 

kasih” (1Yoh. 4:8). Ia menjangkau kita semua 

“dengan kasih yang kekal” (Yer. 31:3). Al-

lah yang menyodorkan undangan keselamat-

an itu penuh dengan kuasa, akan namun  ka-

sih-Nya mengharuskan Ia mengizinkan se-

tiap orang memiliki kebebasan memilih da-

lam sambutannya (Why. 3:20, 21). Paksaan

bertentangan dengan tabiat-Nya, sehingga

dengan sendirinya tidak termasuk dalam stra-

tegi-Nya.

Inisiatif Ilahi. Tatkala Adam dan Hawa

berdosa, Allah mengadakan inisiatif untuk

mencari mereka. Pasangan yang bersalah itu,

ketika mendengar suara Penciptanya, tidak

berlari dengan gembira untuk menemui Dia

seperti yang biasa mereka lakukan sebelum-

nya. Sebaliknya, mereka justru menyembu-

nyikan diri. Akan namun  Tuhan tidak mening-

galkan mereka. Ia tetap memanggil mereka,

“Di manakah engkau?”

Dengan duka maha dalam, Allah men-

jelaskan akibat pendurhakaan mereka—rasa

sakit, kesukaran akan mereka hadapi. Namun

demikian, dalam keadaan mereka yang lama

sekali tidak ada pengharapan itu, Ia menun-

jukkan sebuah rencana yang ajaib yang men-

janjikan kemenangan atas dosa dan maut

(Kej. 3:15).

Anugerah atau Keadilan? Belakangan,

seiring dengan kemurtadan bangsa Israel di

Sinai, Allah mengungkapkan kemurahan dan

tabiat-Nya yang penuh keadilan kepada Mu-

sa, dengan mengumumkan, “Tuhan, Tuhan,

Allah penyayang dan pengasih, panjang sa-

bar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,

yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada

beribu-ribu orang, yang mengampuni kesa-

lahan, pelanggaran dan dosa; namun  tidaklah

sekali-kali membebaskan orang yang bersa-

lah dari hukuman, yang membalaskan kesa-

lahan bapa kepada anak-anaknya dan cucu-

nya, kepada keturunan yang ketiga dan ke-

empat” (Kel. 34:6, 7).

Tabiat Allah menyatakan sebuah paduan

anugerah dan keadilan secara unik, dari hal

kesudian mengampuni dan ketidaksudian

127Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus

melepaskan kesalahan. Hanya di dalam pri-

badi Kristus kita dapat memahami bagaima-

na kualitas tabiat ini dapat diperdamaikan

satu dengan yang lain.

Mengampuni ataukah Menghukum? Pa-

da zaman bangsa Israel undur dari Tuhan,

betapa sering Tuhan memohon agar mereka

mengakui kesalahan mereka dan kembali

kepada-Nya (Yer. 3:12-14). Akan namun  me-

reka mencemooh undangan-Nya yang penuh

dengan kemurahan itu (Yer. 5:3). Sebuah si-

kap yang tidak bertobat yang mengolok-olok

keampunan itulah yang membuat hukuman

terhadap mereka tidak dapat dielakkan (Mzm.

7:12).

Walaupun Allah penuh dengan kemurah-

an, Ia tidak dapat mengampuni orang yang

berpaut kepada dosa (Yer. 5:7). Pengampun-

an mempunyai tujuan. Allah ingin mengubah

orang-orang berdosa menjadi orang yang sa-

leh: “Baiklah orang fasik meninggalkan ja-

lannya, dan orang jahat meninggalkan ran-

cangannya; baiklah ia kembali kepada Tu-

han, maka Dia akan mengasihaninya, dan

kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengam-

punan dengan limpahnya” (Yes. 55:7). De-

ngan jelas pesan keselamatan itu dikuman-

dangkan ke seluruh dunia: “Berpalinglah ke-

pada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamat-

kan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah

Allah dan tidak ada yang lain” (Yes. 45:22).

Murka Allah terhadap Dosa. Pelang-

garan bermula dalam pikiran kita semua  yang

bertentangan dengan Allah (Kol. 1:21). Aki-

batnya wajarlah kita tidak berkenan di ha-

dapan Allah, yang “yaitu  api yang meng-

hanguskan” terhadap dosa (Ibr. 12:29; ban-

dingkan Hab. 1:13). Yang jelas ialah bahwa

“semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 3:

23), sekalian “dasarnya kami yaitu  orang-

orang yang harus dimurkai” (Ef. 2:3; ban-

dingkan 5:6) dan takluk kepada maut “sebab

upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23).

Murka Ilahi yang dikatakan Kitab Suci

ialah reaksi Allah terhadap dosa dan ketidak-

benaran (Rm. 1:18). Penolakan dengan se-

ngaja terhadap pernyataan kehendak Allah

—hukum-Nya—menimbulkan murka-Nya

(2 Raj. 17:16-18; 2 Taw. 36:16). G.E. Ladd

menulis, “kita semua  secara etis penuh dengan

dosa; dan apabila Allah menghitung-hitung

pelanggaran mereka, ia harus memandang

mereka sebagai orang berdosa, sebagai mu-

suh, sebagai sasaran murka Ilahi; sebab  me-

mang sangatlah etis dan bersifat religius se-

hingga kekudusan Allah itu menyatakan diri-

nya sendiri dalam murka melawan dosa.”1

Namun demikian, pada waktu yang bersama-

an, Allah ingin sekali menyelamatkan dunia

yang memberontak itu. Sementara Ia mem-

benci dosa, Ia juga sangat prihatin dan me-

ngasihi setiap orang yang berdosa.

Sambutan kita semua . Keterkaitan Allah

dengan bangsa Israel mencapai puncaknya

dalam pelayanan Yesus Kristus, yang mem-

berikan pandangan yang begitu jelas ke da-

lam “kekayaan kasih karunia-Nya yang me-

limpah-limpah” dari karunia Ilahi itu (Ef.

2:7). Yohanes berkata, “Dan kita telah me-

lihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang

diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tung-

gal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenar-

an” (Yoh. 1:14). ‘namun  oleh Dia kamu bera-

da dalam Kristus,” tulis Rasul Paulus, “yang

oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.

Ia membenarkan dan menguduskan dan me-

nebus kita. sebab  itu seperti ada tertulis:

‘Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia

bermegah di dalam Tuhan’” (1 Kor. 1:30,

31). Oleh sebab  itu, siapakah gerangan yang

dapat meremehkan “kekayaan kemurahan-

Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-

Nya?” Tidak mengherankan jika Paulus me-

nunjukkan bahwa “kelapangan hati-Nya”

128Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus

yang menuntun orang kepada pertobatan

(Rm. 2:4).

Bahkan sambutan kita semua  terhadap ulur-

an keselamatan yang diberikan Allah itu pun

tidaklah berasal dari makhluk kita semua , me-

lainkan dari Allah. Iman kita yaitu  karunia

Allah (Rm. 12:3); seperti halnya pertobatan

kita (Kis. 5:31). Kasih kita timbul dalam

sambutan kepada kasih Allah (1 Yoh. 4:19).

Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita

sendiri dari Iblis, dosa, derita dan maut. Ke-

benaran kita tidak lebih dari kain yang com-

pang-camping dan kotor (Yes. 64:6). “Teta-

pi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kare-

na kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-

Nya kepada kita, telah menghidupkan kita

bersama-sama dengan Kristus, sekalipun

kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan ki-

ta—Sebab sebab  kasih karunia kamu dise-

lamatkan oleh iman; itu bukan hasil usaha-

mu, namun  pemberian Allah, itu bukan hasil

pekerja- anmu: jangan ada orang yang me-

megahkan diri” (Ef. 2:4, 5, 8, 9).

PELAYANAN KRISTUS DARI HAL

PENDAMAIAN

Kabar yang menggembirakan ialah bah-

wa “Allah mendamaikan dunia dengan diri-

Nya oleh Kristus” (2 Kor. 5:19). Pendamai-

an-Nya memulihkan hubungan antara Allah

dengan umat kita semua . Nas ini menunjukkan

bahwa proses ini mendamaikan kita semua 

yang berdosa dengan Allah, bukannya Tu-

han Allah dengan orang-orang berdosa. Kun-

ci, yang memimpin orang-orang berdosa

kembali kepada Allah ialah Yesus Kristus.

Rencana Allah mengenai pendamaian yaitu 

sesuatu yang sangat menakjubkan dari sikap

merendahkan diri Ilahi. Ia mempunyai hak

untuk membiarkan kebinasaan kita semua .

Sebagaimana telah kita sebutkan di atas,

Tuhan itulah yang mengambil inisiatif un-

tuk memulihkan hubungan yang telah retak an-

tara kita semua  dengan diri-Nya sendiri. “Ketika

kita masih seteru Allah,” kata rasul Paulus,

“diperdamaikan dengan Allah oleh kematian

Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang te-

lah diperdamaikan” (Rm. 5:10).

Proses rekonsiliasi itu diasosiasikan de-

ngan istilah pendamaian. “Kata bahasa Ing-

geris ‘atonement’ pada mulanya berarti ‘at-

one-ment’ yakni suatu keadaan dalam wu-

jud ‘sepakat’ atau dalam persetujuan. De-

ngan demikian ‘atonement’ menunjukkan

kepada hubungan yang serasi, dan apabila

kesepakatan itu telah terjalin baik maka ke-

selarasan ini merupakan hasil proses penda-

maian. Dengan memahami istilah maknanya

semula, ‘atonement’ layaknya menunjuk ke-

pada keadaan pendamaian yang mengakhiri

kerenggangan itu.”

Banyak orang Kristen yang membatasi

istilah atonement hanyalah pada efek pene-

busan dari penjelmaan Kristus, penderitaan

dan kematian. Bagaimanapun, dalam pela-

yanan di kaabah, pendamaian atau atone-

ment ini bukanlah hanya menyangkut pe-

nyembelihan domba yang dikorbankan itu,

namun  juga menyangkut pelayanan keimam-

atan dengan pemercikan darah dalam kaa-

bah itu sendiri (bandingkan Im. 4:20, 26, 35;

16:15-18, 32, 33). Dengan demikian, secara

Alkitabiah pendamaian ini dapat menunjuk

baik kepada kematian Kristus dan tugas pe-

ngantaraan-Nya di dalam kaabah yang di sur-

ga. Di sana, sebagai Imam Besar, Ia meng-

gunakan faedah korban pendamaian-Nya

yang sempurna dan lengkap untuk menca-

pai pendamaian kita semua  dengan Allah.3

Pengamatan Vincent Taylor mengatakan

bahwa doktrin pendamaian mempunyai dua

aspek “(a) tindakan penyelamatan dari Kris-

tus, (b) dan pemberian-Nya melalui iman,

baik secara individu maupun secara umum.

Kedua-duanya bersama-sama merupakan

129Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus

Pendamaian.” Dari sinilah ia mengambil ke-

simpulan bahwa “pendamaian itu diperleng-

kapi untuk kita dan ditempa dalam kita.”

Di dalam bab ini difokuskan pendamaian

dalam kaitannya dengan kematian Kristus.

Pendamaian dihubungkan dengan pelayan-

an Keimamatan sebagai Imam Besar akan

dibicarakan lalu (dalam bab 23 artikel 

ini).

KORBAN PENDAMAIAN KRISTUS

Korban pendamaian Kristus di bukit Gol-

gota menandai titik balik dalam hubungan

antara Allah dan kita semua . Walaupun ada ca-

tatan dosa-dosa kita semua , sebagai basil pen-

damaian, Allah tidak menghitungkan dosa-

dosa mereka (2 Kor. 5:19). Ini bukan berarti

bahwa Allah tidak menjatuhkan hukuman

atau dosa tidak lagi menimbulkan murka

Allah. Bukan demikian. Artinya, Allah mem-

berikan sebuah jalan yang menjamin keam-

punan bagi orang-orang yang berdosa se-

mentara pada waktu yang bersamaan tetap

menjunjung tinggi keadilan hukum-Nya yang

abadi.

Kematian Kristus sebagai suatu Ke-

perluan. Bagi Allah yang penuh kasih itu,

untuk mempertahankan keadilan dan kebe-

naran-Nya, pendamaian dengan kematian

Yesus Kristus merupakan “sebuah moral dan

tindak hukum yang perlu.”Menurut keadil-

an Tuhan, “keadilan mengharuskan dosa di-

hakimkan. Allah harus menghakimkan dosa

atas orang yang berdosa. Dalam pelaksana-

an ini Anak Allah mengambil tempat kita,

tempat orang yang berdosa, sesuai dengan

kehendak Allah. Pendamaian perlu sebab 

kita semua  berada di bawah murka Allah. Di

sinilah letak jantung Injil pengampunan atas

dosa dan misteri salib Kristus: kebenaran

yang sempurna dari Kristus cukup memuas-

kan keadilan Ilahi, dan Tuhan mau meneri-

ma korban diri Kristus sendiri dengan meng-

ambil tempat maut yang seharusnya ditem-

pati kita semua .”5

Orang-orang yang tidak mau menerima

darah pendamaian Kristus tidak akan mene-

rima keampunan atas dosa, dan tetap akan

menjadi sasaran murka Allah. Yohanes ber-

kata, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia

beroleh hidup yang kekal, namun  barangsia-

pa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan me-

lihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada

di atasnya” (Yoh. 3:36).

Oleh sebab  itu, salib merupakan pertun-

jukan kemurahan dan keadilan Allah. ”Kris-

tus Yesus telah ditentukan Allah menjadi ja-

lan pendamaian sebab  iman, dalam darah-

Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjuk-

kan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nya-

ta, bahwa Ia benar dan juga membenarkan

orang yang percaya kepada Yesus” (Rm. 3:

25, 26).

Apakah yang dilengkapkan Korban Pen-

damaian itu? Allah sendiri yang menghadir-

kan Anak-Nya sebagai “jalan pendamaian”

(Rm. 3:25, dalam bahasa Yunani disebut hi-

lasterion). Menurut istilah yang digunakan

dalam terjemahan King James Version “Se-

buah pendamaian”sedang  terjemahan Re-

vised Standard Version disebut “penebusan.”

Penggunaan kata hilasterion dalam Perjan-

jian Baru tidak ada hubungannya sama se-

kali dengan faham kafir “penenangan Allah

pemurka” atau “meredakan Allah yang sewe-

nang-wenang dan bertingkah.”6 Nas itu meng-

ungkapkan bahwa “Allah dalam kemurahan-

Nya akan menampilkan Kristus sebagai per-

damaian atas murka suci-Nya atas kesalahan

kita semua  sebab  Ia menerima Kristus sebagai

wakil kita semua  dan Pengganti Ilahi untuk me-

nerima penghakiman-Nya atas dosa.”7

Dari sudut pandang inilah seseorang da-

pat memahami gambaran yang diberikan

130Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus

Paulus mengenai kematian Kristus sebagai

“persembahan dan korban yang harum bagi

Allah” (Ef. 5:2; bandingkan Kej. 8:21; Kel.

29:18; Im. 1:9). “Pengorbanan diri Kristus

sendirilah yang dapat berkenan kepada Al-

lah sebab  korban persembahan ini menghi-

langkan tirai pemisah antara Allah dengan

orang yang berdosa, yang membuat Kristus

menanggung sepenuhnya murka Allah atas

dosa kita semua . Melalui Kristus, murka Allah

bukannya diubah menjadi cinta kasih me-

lainkan menjauhkan murka itu dari kita semua 

dan menanggungnya Sendiri.”8

Rm. 3:25 juga menunjukkan bahwa me-

lalui pengorbanan Kristus dosa ditebus atau

dibersihkan. Fokus penebusan yaitu  apa

yang dilakukan darah pendamaian terhadap

orang berdosa yang bertobat. Ia akan meng-

alami pengampunan, penghapusan dosa pri-

badi dan pembasuhan dosa.9

Kristus Penanggung Dosa yang Me-

nang. Kitab Suci menggambarkan Kristus

sebagai “Penanggung dosa” umat kita semua .

Sarat dengan bahasa nubuat, nabi Yesaya

menyebutkan “namun  dia tertikam oleh kare-

na pemberontakan kita, diremukkan oleh ka-

rena kejahatan kita;... namun  Tuhan telah me-

nimpakan kepadanya kejahatan kita seka-

lian.... namun  Tuhan berkehendak meremuk-

kan dia dengan kesakitan... sebagai korban

penebus salah... ia menanggung dosa banyak

orang” (Yes. 53:5, 6, 10, 12; bandingkan Gal.

1:4). Nubuat inilah yang ada  dalam be-

nak Paulus ketika ia berkata, “Kristus telah

mati sebab  dosa-dosa kita, sesuai dengan

Kitab Suci” (1 Kor. 15:3).

Nas ini menunjuk kepada satu konsep

yang penting dalam rencana keselamatan:

Dosa-dosa dan kesalahan yang telah meno-

dai kita dapat dipindahkan kepada Penang-

gung dosa kita sehingga membuat kita ber-

sih (Mzm. 51:11). Upacara-upacara korban

dalam kaabah Perjanjian Lama menggam-

barkan peranan Kristus ini. Di sanalah, pe-

mindahan dosa dari orang berdosa yang te-

lah bertobat kepada domba yang tidak ber-

salah itu melambangkan pemindahannya ke-

pada Kristus, Penanggung dosa (lihat bab 4).

Apakah Peranan Darah Itu? Darah me-

megang peranan sentral di dalam persem-

bahan korban pendamaian dalam pelayanan

kaabah. Allah menyediakan pendamaian ma-

nakala Ia berkata, “sebab  nyawa makhluk

ada di dalam darahnya dan Aku telah mem-

berikan darah itu kepadamu... untuk meng-

adakan pendamaian bagi nyawamu,” (Im.

17:11). sesudah  menyembelih hewan maka

imam memakai  darahnya sebelum ja-

minan keampunan diberikan.

Perjanjian Baru menunjukkan bahwa

upacara-upacara Perjanjian Lama diadakan

untuk memperoleh keampunan, penyucian

dan pendamaian melalui darah pengganti

yang digenapi dalam darah pendamaian

Kristus yang menjadi korban di bukit Golgo-

ta. Dikontraskan dengan cara-cara yang la-

ma, Perjanjian Baru berkata sebagai berikut,

“Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh

Roh yang kekal telah mempersembahkan di-

ri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persem-

bahan yang tak bercacat, akan menyucikan

hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan

yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah ke-

pada Allah yang hidup?” (Ibr. 9:14). Dengan

curahnya darah Kristus maka lengkaplah pe-

nebusan dari dosa (Rm. 3:25). Yohanes me-

ngatakan bahwa sebab  kasih-Nya, maka

Allah “telah mengutus Anak-Nya sebagai

pendamaian (hilasmos) bagi dosa-dosa kita”

(1 Yoh. 4:10; “penebusan” RSV; “sebuah

korban pendamaian” NIV.

Singkatnya, “Tindakan tujuan Allah me-

ngenai perdamaian telah dilengkapkan mela-

lui pendamaian dan darah penebusan Kris-

131Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus

tus Yesus (dengan mengorbankan diri-Nya

sendiri), Anak Allah Bapa. Dengan demiki-

anlah Allah menjadi ‘pengada dan sekaligus

penerima pendamaian itu.”10

TEBUSAN KRISTUS

Apabila umat kita semua  jatuh ke bawah

kuasa dosa mereka menjadi takluk kepada

penghukuman dan kutuk Taurat Tuhan (Rm.

6:4; Gal. 3:10-13). Sebagai hamba dosa (Rm.

6:17), takluk kepada maut, mereka tidak

mampu melepaskan diri dari dalamnya. “Ti-

dak seorang pun dapat membebaskan diri-

nya, atau memberikan tebusan kepada Al-

lah ganti nyawanya” (Mzm. 49:8). Hanya Al-

lah sendiri yang mempunyai kuasa untuk

menebus. “Akan Kubebaskankah mereka da-

ri kuasa dunia orang mati, akan Kutebuskah

mereka dari pada maut?” (Hos. 13:14). Ba-

gaimanakah Allah telah menebus mereka?

Melalui Yesus, yang bersaksi bahwa Ia

“datang bukan untuk dilayani, melainkan

untuk melayani dan untuk memberikan nya-

wa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”

(Mat. 20:28; lihat juga 1 Tim. 2:6), jemaat

Allah “diperoleh-Nya dengan darah Anak-

Nya sendiri” (Kis. 20:28). Di dalam Kristus

“kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan

dosa” (Ef. 1:7; bandingkan Rm. 3:24). Ke-

matian-Nya yaitu  ”untuk membebaskan

kita dari segala kejahatan dan untuk mengu-

duskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunya-

an-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit.

2:14).

KRISTUS WAKIL kita semua 

Apakah yang telah Dilengkapkan Pe-

nebusan itu? Kematian Kristus menge-

sahkan tanda kepemilikan Allah atas manu-

sia. Rasul Paulus berkata, “Bahwa kamu bu-

kan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah

dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1

Kor. 6:19, 20; baca juga 1 Kor. 7:23).

Melalui kematian-Nya, Kristus meron-

tokkan pemerintahan dosa, mengakhiri hu-

kuman dan kutuk Taurat, dan mengadakan

kehidupan kekal bagi semua orang yang ber-

tobat. Petrus mengatakan bahwa orang-

orang berdosa telah ditebus dari “cara hidup-

mu yang sia-sia yang kamu warisi dari ne-

nek moyangmu itu bukan dengan barang

yang fana” (1 Ptr. 1:18). Paulus menulis bah-

wa barangsiapa yang telah dilepaskan dari

perhambaan dosa dan dari buah-buahnya

yang mematikan, kini melayani Allah dengan

“bu-ah yang membawa kamu kepada pen-

gudusan dan sebagai kesudahannya ialah

hidup yang kekal” (Rm. 6:22).

Meremehkan atau menyangkal prinsip

penebusan ini berarti “akan kehilangan jan-

tung karunia Injil dan mengingkari motif pa-

ling dalam dari rasa syukur kita kepada Anak

domba Allah.�