doktrin dasar alkitab 8
lamatan kita
149Pengalaman Keselamatan
mendatang, pemuliaan tubuh, bagaimana-
pun, dihubungkan Paulus dengan kedatang-
an Kristus yang kedua kali.
“Untuk alasan inilah maka Paulus dapat
berkata serta-merta: ‘Kita telah diselamat-
kan,’ menurut salib dan kebangkitan Kris-
tus yang dahulu; dan ‘kita belum diselamat-
kan’ dalam hal mendatang, kedatangan Kris-
tus untuk menebus tubuh kita.”12
Menekankan keselamatan kita sekarang
ini dengan mengecualikan keselamatan kita
mendatang akan menimbulkan kekeliruan,
pemahaman yang tidak benar mengenai ke-
selamatan yang sempurna dalam Kristus.
Pemuliaan dan Penyempurnaan. Ba-
nyak yang percaya secara keliru bahwa pe-
muliaan dan penyempurnaan yang asasi yang
akan dibawa itu sudah boleh diperoleh ma-
nusia. Akan namun , Paulus berbicara menge-
nai dirinya sendiri, yang sepenuhnya diab-
dikan kepada Allah, menulis seperti berikut
saat menjelang akhir hayatnya, “Bukan seo-
lah-olah aku telah memperoleh hal ini atau
telah sempurna, melainkan aku mengejarnya,
kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya,
sebab aku pun telah ditangkap oleh Kristus
Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak
menganggap, bahwa aku telah menangkap-
nya, namun ini yang kulakukan: aku melupa-
kan apa yang telah di belakangku dan me-
ngarahkan diri kepada apa yang di hada-
panku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk
memperoleh hadiah, yaitu panggilan surga-
wi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp.
3:12-14).
Penyucian yaitu proses seumur hidup.
Kesempurnaan kita kini hanya ada pada Kris-
tus, akan namun yang pokok, perubahan yang
lengkap hidup kita ke dalam gambar Allah
akan berlangsung pada waktu kedatangan
Kristus yang kedua kali. Paulus mengingat-
kan: “Sebab itu siapa yang menyangka, bah-
wa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia ja-
ngan jatuh!” (1Kor. 10:12). Sejarah bangsa
Israel dan kisah kehidupan Daud, Salomo
dan Petrus merupakan amaran serius bagi
semua orang. “Selama hidup, diperlukan
pengawasan cinta kasih dan perasaan dengan
tujuan yang kokoh. Ada kerusakan batiniah,
ada pula penggodaan lahiriah, dan di mana
saja pekerjaan Tuhan memperoleh kemajuan,
Setan pun membentangkan rencana untuk
menciptakan situasi agar godaan itu mengu-
asai jiwa. Tidak ada satu saat pun kita dapat
aman kecuali bergantung kepada Tuhan, hi-
dup bersama Kristus dalam Allah.”13
Perubahan yang paling akhir dan di da-
lam disempurnakan manakala yang tidak fa-
na dan tidak bercacat-cela itu telah menjadi
milik kita, apabila Roh Kudus memulihkan
kembali secara sempurna seperti semula.
LANDASAN PENERIMAAN KITA
KEPADA ALLAH
Ciri-ciri tabiat Kristus maupun tingkah
laku yang tidak bernoda, bukanlah landasan
penerimaan kita kepada Allah. Kebenaran
yang menyelamatkan hanyalah berasal dari
seorang kita semua saja, yakni Yesus, yang di-
sampaikan kepada kita melalui Roh Kudus.
Kita tidak mampu memberi sesuatu atas ka-
runia pembenaran yang diberikan Kristus
itu; kita hanya dapat menerimanya. Kristus
saja kebenaran, tidak ada yang lain (Rm. 3:
10); kebenaran kita semua yang mandiri hanya-
lah kain lara yang kotor (Yes. 64:6; baca juga
Dan. 9:7, 11, 20; I Kor. 1:30).14
Apa pun yang kita lakukan dalam me-
nyambut kasih Kristus yang menyelamatkan
itu tidak dapat menjadi landasan kita ber-
kenan kepada Allah. Penerimaan diidentifi-
kasikan dengan pekerjaan Kristus. Dengan
150Pengalaman Keselamatan
membawa Kristus kepada kita, Roh Kudus
membawakan penerimaan itu.
Adakah penerimaan kita didasarkan atas
kebenaran Kristus yang membenarkan atau
kebenaran-Nya yang membenarkan ataukah
kedua-duanya? John Calvin menunjukkan
bahwa sebab “Kristus tidak dapat dibagi-
bagi, maka kedua hal itu, pembenaran dan
penyucian, tidak dapat dipisahkan.”15
Pelayanan Kristus haruslah tampak di da-
lamnya secara menyeluruh. Dengan demiki-
an membuatnya sebagai yang paling tinggi
untuk menghindari spekulasi mengenai ke-
dua istilah ini dengan “mencoba mendefini-
sikan secara teliti bagian-bagian yang ber-
beda antara pembenaran dengan penyuci-
an.... Mengapa mencoba berupaya menjadi
lebih teliti dibandingkan Ilham itu mengenai per-
tanyaan-pertanyaan yang vital tentang pem-
benaran oleh iman?”
Sama seperti matahari mempunyai terang
dan panas—yang sama sekali tidak dapat
dipisahkan, namun demikian tetap mempu-
nyai fungsi yang unik—begitu pulalah Kris-
tus menjadi kebenaran dan penyucian bagi
kita (1 Kor. 1:30). Kita bukan saja dibenar-
kan seutuhnya, namun juga disucikan seleng-
kapnya di dalam Dia.
Roh Kudus membawa serta yang “Sudah
selesai” di Golgota itu, memberlakukan pe-
ngalaman satu-satunya penerimaan Allah,
Allah yang telah menjadi kita semua itu, ke-
pada kita. Seruan di kayu salib “Sudahlah
selesai” mempertanyakan semua upaya ma-
nusia lainnya untuk memperoleh penerima-
an itu. Dengan membawakan yang Disalib-
kan itu, Roh Kudus membawa landasan satu-
satunya penerimaan kita kepada Allah, yang
menyediakan kelayakan yang murni bagi
kita kepada keselamatan itu, yang dimung-
kinkan bagi kita.
____________________________ :
1. F.F. Torrance, Royal Priesthood, Scottish Journal of Theology Occasional Papers, No. 3 (edinburgh: Oliver and Boyd,
1963), hlm. 48.
2. Lihat “Conversion” and “Repent, Repentance,” SDA Bible Dictionary,, edisi revisi, hlm. 235. 933.
3. W.E. Vine, An Expository Dictionary of the New Testament Words (Old Tappan, NJ: Fleming H. Revell, 1966), hlm. 284-
286; William F. Arndt and F. Wilbur Gingrich, A Greek English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian
Literature (Chicago, IL: University of Chicago Press, 1973), hlm. 196.
4. “Justification,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 979.
5. La Rondele, hlm. 47
6. “Sanctification,” SDA Bible Dictionary, rev. ed., hlm. 979.
7. Ibid.
8. White, Messages to Young People (Naschville, TN: Southern Publishing Assn., 1930), hlm. 35.
9. White, Desire of Ages, hlm. 668.
10. “Perfect, Perfection,” SDA Bible Dictioinary, edisi revisi, hlm. 864.
11. LaRondelle, hlm. 77.
12. Ibid., hlm. 89.
13. White in SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 2, hlm. 1032.
14. Berbicara mengenai Kristus, Imam Besar kita, White berkata sebagai berikut, “Perbaktian agama, doa-doa, pujian,
pengakuan dan penyesalan dosa orang-orang percaya naik bagaikan bau-bauan yang harum ke bait suci surgawi, dengan
melalui saluran kita semua yang fana, mereka begitu najis sehingga kalau tidak dibasuh oleh darah, mereka tidak akan
pernah berharga bagi Tuhan. Semuanya dinaikkan bukanlah tanpa noda, sehingga kecuali Pengantara itu, yang duduk di
sebelah kanan Allah, menyampaikan dan membasuhnya dengan kebenaran-Nya, tidak akan mungkin diterima Tuhan.
Semua wangi-wangian dari mezbah pedupaan bumi haruslah dibasahi dengan pembasuhan butir-butir darah Kristus”
(Selected Messages, artikel 1, hlm. 344.
15. J. Calvin, Institutes of the Christian Religion (Grand Rapids: Associated Publishers and Authors, Inc. n.d.) III, 11, 6.
16. White dalam SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 1072
151Pengalaman Keselamatan
152
Oleh kematian-Nya di salib, Yesus menang atas kekuatan-kekuatan
kejahatan. Dia yang menaklukkan roh-roh jahat selama pelayanan-Nya
di atas dunia telah menghancurkan kuasa roh-roh itu serta memastikan
kebinasaannya pada akhirnya. Kemenangan Yesus memberikan
kemenangan kepada kita atas kekuatan-kekuatan jahat yang tetap
berusaha mengendalikan kita, sementara kita berjalan bersama Dia
dalam kedamaian, sukacita, dan kepastian akan kasih-Nya. Sekarang
Roh Kudus tinggal di dalam kita serta memberi kuasa kepada kita.
Dengan senantiasa teguh pada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan
kita, kita dibebaskan dari beban perbuatan-perbuatan kita masa lalu.
Kita tidak lagi hidup dalam kegelapan, dalam ketakutan akan kuasa-
kuasa kejahatan, dalam ketidaktahuan, dan dalam kesia-siaan dari cara
hidup kita yang terdahulu. Dengan kebebasan baru dalam Yesus ini,
kita dipanggil untuk bertumbuh ke dalam keserupaan dengan tabiat-
Nya, dengan berhubungan erat dengan-Nya setiap hari dalam doa,
dengan hidup dari sabda-Nya, dengan merenungkan sabda itu dan pe-
meliharaan-Nya, dengan menyanyikan pujian kepada-Nya, dengan ber-
kumpul bersama untuk beribadah, dan dengan turut serta dalam tujuan
misi gereja. Sementara kita memberikan diri kita dalam pelayanan yang
penuh kasih kepada orang-orang di sekitar kita dan dalam bersaksi
tentang keselamatan-Nya, kehadiran-Nya yang tetap menyertai kita
melalui Roh itu mengubah setiap waktu dan setiap tugas menjadi suatu
pengalaman rohani. (Mzm. 1:1, 2; 23:4; 77:11, 12; Kol. 1:13, 14; 2:6,
14, 15; Luk. 10:17-20; Ef. 5:19, 20; 6:12-18; 1 Tes. 5:23; 2 Ptr. 2:9;
3:18; 2 Kor. 3:17, 18; Flp. 3:7-14; 1 Tes 5:16-18; Mat. 20:25-28; Yoh.
20:21; Gal. 5:22-25; Rm. 8:38, 39; 1 Yoh. 4:4; Ibr. 10:25).
153
Kelahiran yaitu waktu sukacita.
Suatu benih bertunas, dan muncul-
nya dua daun pertama itu menjadikan pemi-
lik kebun senang. Seorang bayi dilahirkan,
dan tangisannya yang pertama mengumum-
kan kepada dunia bahwa di sini ada satu
kehidupan baru yang perlu diperhitungkan.
Sang ibu melupakan semua rasa sakitnya dan
bergabung dengan seluruh keluarga dalam
sukacita dan perayaan. Suatu negara dilahir-
kan untuk merdeka, dan semua orang bera-
mai-ramai memadati jalan-jalan dan meme-
nuhi alun-alun kota, sambil melambaikan
lambang-lambang dari sukacita yang baru
mereka peroleh. namun bayangkan: Dua da-
un itu tidak berubah menjadi empat mela-
inkan tetap demikian atau menghilang; satu
tahun lalu bayi kecil itu tidak terse-
nyum ataupun mulai berjalan melainkan te-
tap tak berdaya dalam kesederhaannya saat
memasuki dunia ini; negara yang baru mer-
deka itu selama beberapa saat berubah di
dalam, menjadi rumah penjara yang penuh
ketakutan, siksaan, dan penawanan.
Sukacita si petani, kegembiraan sang ibu,
dan harapan masa depan yang penuh kebe-
basan berubah menjadi kekecewaan, duka-
cita, dan kesedihan. Pertumbuhan—yakni
pertumbuhan yang berkelanjutan, yang te-
rus-menerus, yang menuju kepada kedewa-
saan, dan yang menghasilkan buah—sangat-
lah penting bagi kehidupan. Tanpa pertum-
buhan itu, kelahiran tidak memiliki makna
atau maksud atau masa depan.
Bertumbuh yaitu masalah kehidupan
yang tak terpisahkan—baik yang bersifat jas-
mani maupun bersifat rohani. Pertumbuhan
rohani menuntut adanya pemberian makan-
an yang tepat, lingkungan, pemeliharaan,
olah raga, pendidikan, latihan, dan kehidup-
an yang memiliki tujuan. Namun pertumbuh-
an yang dibahas di sini yaitu pertumbuhan
rohani. Bagaimanakah kita bertumbuh da-
lam Kristus dan menjadi dewasa sebagai
BAB 11
BERTUMBUH DALAM KRISTUS
154Bertumbuh dalam Kristus
orang-orang Kristen? Apa ciri-ciri nyata dari
pertumbuhan rohani?
KEHIDUPAN BERMULA DENGAN
KEMATIAN
Mungkin prinsip yang paling mendasar
dan unik tentang kehidupan Kristiani yaitu
bahwa kehidupan Kristiani itu dimulai de-
ngan kematian—sesungguhnya, dengan dua
peristiwa kematian. Pertama, kematian Kris-
tus di salib memungkinkan adanya kehidup-
an baru kita—yang bebas dari kekuasaan Se-
tan (Kol. 1:13, 14), bebas dari penghukum-
an sebab dosa (Rm. 8:1), bebas dari kema-
tian sebagai hukuman dosa (Rm. 6:23)—dan
kematian itu membawa pendamaian dengan
Allah dan kita semua . Kedua, kematian diri me-
mungkinkan kita menerima kehidupan yang
Kristus tawarkan. Ketiga, sebagai hasilnya,
kita berjalan dalam kebaruan hidup.
Kematian Kristus. Salib menjadi pusat
dari rencana keselamatan Allah. Tanpa sa-
lib, Setan dan kekuatan-kekuatan jahatnya
tidak akan dikalahkan, masalah dosa tidak
akan terselesaikan, dan kematian tidak akan
dihancurkan. Rasul itu mengatakan kepada
kita: “Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyuci-
kan kita dari pada segala dosa” (1 Yoh. 1:7).
“sebab begitu besar kasih Allah akan du-
nia ini,” bunyi nas yang paling digemari da-
lam Alkitab itu. Jika kasih Allah menghasil-
kan dan menjadi awal dari rencana kesela-
matan, pelaksanaan rencana itu dijelaskan
dalam bagian kedua dari ayat itu: “sehingga
Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tung-
gal.” Keunikan pemberian Allah bukanlah
sebab Dia memberikan Anak-Nya namun
sebab Dia memberikan Anak-Nya untuk
mati sebab dosa-dosa kita. Tanpa salib itu,
tidak ada pengampunan dosa, tidak ada ke-
hidupan kekal, dan tidak ada kemenangan
atas Setan.
Melalui kematian-Nya di salib, Kristus
menang atas Setan. Mulai dari pencobaan-
pencobaan yang berapi-api di padang belan-
tara hingga penderitaan Getsemani, Setan
dengan tanpa ampun memimpin penyerang-
an melawan Anak Allah ini—untuk mele-
mahkan kemauan-Nya, untuk menggoyah-
kan rencana-Nya, untuk menuntun-Nya ti-
dak mempercayai Bapa-Nya, dan untuk me-
nekan Dia menyimpang dari jalan untuk me-
nanggung cawan pahit dosa umat kita semua
sebagai suatu korban pengganti. Salib itu
yaitu serangan penentu. Di salib itu, “Se-
tan bersama malaikat-malaikatnya, dalam
rupa kita semua , hadir,”1 untuk mengadakan
peperangan besar melawan Allah sampai
pada akhirnya, sambil berharap bahwa Kris-
tus bahkan akan turun dari salib dan gagal
menggenapi maksud penebusan Allah dalam
menawarkan Anak-Nya sebagai korban un-
tuk dosa (Yoh. 3:16). namun Kristus, oleh me-
nyerahkan nyawa-Nya di salib, telah meng-
hancurkan daya Setan, “telah melucuti peme-
rintah-pemerintah dan penguasa-penguasa,”
dan “menjadikan mereka tontonan umum
dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol.
2:15). Di salib, “peperangan telah dimenang-
kan. Tangan kanan-Nya [Kristus] dan le-
ngan-Nya yang kudus telah memberi-Nya
kemenangan. Sebagai pemenang, Dia telah
menancapkan panji-Nya di tempat-tempat
tinggi yang kekal…. Seluruh surga menang
dalam kemenangan Juruselamat itu. Setan
telah dikalahkan, dan dia tahu bahwa kera-
jaannya telah hilang.”2
Gambaran yang jelas yang diberikan ra-
sul itu dalam kitab Kolose patut diperhati-
kan. Pertama, Kristus telah melucuti peme-
rintah-pemerintah dan penguasa-penguasa
kejahatan. Kata bahasa Yunani untuk dilu-
155Bertumbuh dalam Kristus
cuti secara harafiah berarti “ditanggalkan.”
sebab salib, Setan dalam keadaan ditang-
galkan dari segala kekuatan jahat atas umat
Allah, selama umat Allah itu menempatkan
kepercayaan mereka pada Dia yang mem-
bawa kemenangan itu di atas kayu salib.
Kedua, salib telah menjadikan Setan dan pa-
sukannya “tontonan umum” di hadapan alam
semesta. Dia yang tadinya menyombong bah-
wa dia akan “menyamai Yang Mahatinggi”
(Yes. 14:14) sekarang telah dijadikan tonton-
an memalukan dan kekalahan di hadapan
alam semesta. Kejahatan tidak memiliki daya
lagi atas orang-orang percaya, yang telah ber-
pindah dari kerajaan kegelapan kepada ke-
rajaan terang (Kol. 1:13). Ketiga, salib telah
memastikan kemenangan penentu, pada
akhirnya atas Setan, dosa, dan kematian.
Dengan demikian, salib telah menjadi
suatu alat kemenangan Allah atas kejahatan:
• Suatu cara yang memungkinkan adanya
pengampunan dosa (Kol. 2:13).
• Suatu pertunjukan di alam semesta ten-
tang pendamaian seluruh dunia (2 Kor 5:19).
• Suatu kepastian akan kemungkinan saat
ini untuk memiliki kehidupan yang menang
serta pertumbuhan dalam Kristus, yang oleh-
nya dosa tidak akan berkuasa dalam pikiran
atau tubuh kita (Rm. 6:12)—dan suatu ke-
pastian akan kedudukan kita sebagai putra-
putri Allah (Rm. 8:14).
• Suatu kepastian masa mendatang bahwa
dunia yang jahat ini, yang tadi yaitu wila-
yah kekuasaan yang dirampas Setan, akan
dibersihkan dari adanya dosa dan dari kua-
sa dosa (Why. 21:1).
• Pada setiap anak tangga dari tangga pe-
nebusan dan kemenangan, kita melihat ke-
genapan dari nubuatan Kristus sendiri, “Aku
melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit”
(Luk. 10:18).
Kristus yang disalibkan itu yaitu tindak-
an penebusan Allah bagi masalah dosa. Ja-
ngan sampai kita melupakan fakta itu, Ye-
sus menegaskan bahwa darah-Nya akan “di-
tumpahkan bagi banyak orang untuk peng-
ampunan dosa” (Mat. 26:28). Tercurahnya
darah itu sangatlah penting bagi adanya pe-
ngalaman dan penghargaan akan keselama-
tan. Untuk satu hal, pencurahan darah itu
berbicara tentang dosa. Dosa itu nyata. Dosa
itu menuntut pengorbanan. Genggaman dosa
itu begitu kuat dan mematikan sehingga pe-
ngampunan dosa dan kebebasan dari kuasa-
nya dan rasa bersalah yang diakibatkannya
tidaklah mungkin tanpa “darah yang mahal,
yaitu darah Kristus” (1 Pet. 1:19). Kebenar-
an tentang dosa ini perlu disebutkan beru-
lang-ulang, sebab kita hidup dalam suatu
dunia yang menyangkal kenyataan dosa atau
tetap tidak peduli dengan dosa itu. namun di
salib, kita dihadapkan dengan sifat yang ja-
hat dari dosa, yang dapat dibersihkan hanya
oleh darah “yang ditumpahkan bagi banyak
orang untuk pengampunan dosa” itu (Mat.
26:28).
Janganlah kita pernah lupa atau merasa
tidak peduli dengan kenyataan bahwa Yesus
telah mati sebab dosa-dosa kita dan bahwa
tanpa kematian-Nya, tidak mungkin terda-
pat pengampunan. Dosa-dosa kitalah yang
membawa Yesus ke salib. Sebagaimana yang
Paulus nyatakan, “sebab waktu kita masih
lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-
orang durhaka pada waktu yang ditentukan
oleh Allah… sebab Kristus telah mati un-
tuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:6,
8). Atau, sebagaimana Ellen White menyata-
kan, dosa “menindih Kristus dengan berat,
dan rasa sadar akan murka Allah terhadap
dosa sedang menghancurkan hidup-Nya.”3
Tidak ada dalih untuk tidak meneguhkan dan
mengumandangkan hakikat dari kematian
156Bertumbuh dalam Kristus
Yesus yang “sekali untuk semua” (lihat Rm.
6:10; Ibr. 7:27; 10:10) sebagai korban dan
sebagai pengganti.
Kita tidak diselamatkan oleh Kristus, ma-
nusia baik (good man) itu, atau oleh Kris-
tus, kita semua Allah (God-man) itu, atau oleh
Kristus, Guru agung itu, ataupun oleh Kris-
tus, Teladan yang tak bercela itu. Kita dise-
lamatkan oleh Kristus yang tergantung di
salib itu: “Kristus diperlakukan sebagaima-
na kita pantas diperlakukan, agar kita boleh
diperlakukan sebagaimana Dia pantas diper-
lakukan. Dia dinyatakan bersalah sebab
dosa-dosa kita, yang Dia tidak pernah turut
lakukan, agar kita boleh dinyatakan benar
oleh kebenaran-Nya, yang kita tidak pernah
turut miliki. Dia menderita kematian yang
yaitu milik kita, agar kita boleh menerima
kehidupan yang yaitu milik-Nya. ‘Oleh bi-
lur-bilurnya kita menjadi sembuh.’”4
Maka, darah Yesus memberikan kepas-
tian akan pengampunan dari dosa dan mena-
burkan benih bagi kebaruan pertumbuhan.
Salah satu segi dari kebaruan dan pertum-
buhan dalam kehidupan Kristiani ini yaitu
pendamaian. Salib itu yaitu alat Allah bagi
tercapainya pendamaian umat kita semua de-
ngan Dia. “Sebab Allah,” kata rasul Paulus,
“mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh
Kristus” (2 Kor. 5:19). Oleh sebab apa yang
Dia telah lakukan di atas kayu salib, maka
kita dapat berdiri di hadapan Allah tanpa dosa
dan tanpa ketakutan. Apa yang telah memi-
sahkan kita dari Allah telah diatasi. “Sejauh
timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya da-
ri pada kita pelanggaran kita” (Mzm. 103:
12). kita semua yang tergantung di atas salib
itu telah membuka jalan baru menuju hadirat
Allah. “Sudah selesai,” Dia mengumumkan
di atas kayu salib, dan lalu Dia men-
desak para pengikut-Nya untuk memasuki
suatu persahabatan yang tetap dengan Allah.
Pendamaian dengan Allah segera mem-
bukakan tahapan kedua dari proses pertum-
buhan yang membawa keselamatan: penda-
maian dengan sesama kita semua . Salah satu
dari gambar yang indah pada salib itu ada-
lah beragamnya kita semua yang berkumpul di
sekitar salib itu. Tidak semua mereka yaitu
pengagum Yesus. Tidak semua mereka ada-
lah orang-orang kudus. namun lihatlah orang-
orang itu. Ada orang-orang Mesir yang mem-
banggakan diri mereka dalam kecerdikan
usaha niaga mereka; ada orang-orang Roma
yang bermegah dalam peradaban dan buda-
ya; ada orang-orang Yunani yang unggul da-
lam pengetahuan mereka; ada orang-orang
Yahudi yang menganggap diri mereka seba-
gai umat pilihan Allah; ada orang-orang Fa-
risi yang mengira yaitu orang-orang pilih-
an dari umat pilihan; ada orang-orang Sadu-
ki yang berpikir bahwa mereka murni da-
lam hal doktrin; ada budak-budak yang men-
cari kebebasan, ada orang-orang merdeka
yang memanjakan diri dalam kemewahan
kesenangan; ada pria, wanita, serta anak-
anak.
namun salib itu tidak membuat perbedaan
di antara semua ini. Salib itu menghakimi
mereka semua sebagai orang-orang berdosa;
salib itu menawarkan kepada semua mereka
jalan pendamaian Ilahi. Di kaki salib itu, ta-
nahnya rata. Semua orang dikumpulkan—
dan tidak ada lagi yang memisah-misahkan
umat kita semua . Satu persaudaraan baru telah
dimulai. Satu persahabatan baru telah dimu-
lai. Timur bergabung dengan barat, utara tu-
run ke selatan, putih berjabat tangan dengan
hitam, yang kaya melompat untuk meng-
genggam tangan yang miskin. Salib itu me-
nawarkan kepada semua orang curahan da-
rah itu—untuk merasakan manisnya kehi-
dupan, untuk sama-sama memiliki pengala-
man kasih karunia, dan untuk memberitakan
157Bertumbuh dalam Kristus
kepada dunia munculnya satu kehidupan ba-
ru, satu keluarga baru (Ef. 2:14-16). Dengan
demikian, salib itu menjadi awal kemenang-
an atas Setan dan dosa, dan sebab nya, mem-
bawa kehidupan baru di dalam Kristus.
Kematian terhadap Diri. Segi penting
kedua dari kebaharuan dan pertumbuhan
Kristiani yaitu kematian terhadap diri yang
lama. Anda tidak dapat membaca Perjanjian
Baru tanpa tiba pada pemahaman tentang as-
pek mendasar ini dari kehidupan baru orang
Kristen. Bacalah Galatia 2:19, 20: “Aku te-
lah disalibkan dengan Kristus; namun aku
hidup, namun bukan lagi aku sendiri yang hi-
dup, melainkan Kristus yang hidup di dalam
aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang
di dalam daging, yaitu hidup oleh iman
dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku
dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Atau
bacalah Roma 6:6-11: “kita semua lama kita
telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita
hilang kuasanya, agar jangan kita mengham-
bakan diri lagi kepada dosa… bahwa kamu
telah mati bagi dosa, namun kamu hidup bagi
Allah dalam Kristus Yesus” Tuhan kita. Atau
bacalah ucapan Yesus tentang prinsip kehidu-
pan baru: “Jikalau biji gandum tidak jatuh
ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji
saja; namun jika ia mati, ia akan menghasil-
kan banyak buah” (Yoh. 12:24).
Jadi kehidupan Kristiani tidak dimulai de-
ngan kelahiran. Itu dimulai dengan kematian.
Hingga diri mati, hingga diri disalibkan, ti-
dak ada permulaan sama sekali. Harus ada
suatu pembedahan diri yang mendasar, yang
sengaja, dan yang menyeluruh. “Jadi siapa
yang ada di dalam Kristus, ia yaitu ciptaan
baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya
yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:17). Ke-
hidupan Kristiani bukanlah suatu perubahan
atau perbaikan dari yang lama, melainkan
suatu transformasi (perubahan menyeluruh)
kodrat. Ada kematian terhadap diri dan dosa,
serta suatu kehidupan yang baru sepenuhnya.
Perubahan dapat terjadi hanya oleh bekerja-
nya Roh Kudus.”5 Rasul itu menggarisbawa-
hi kematian terhadap dosa maupun kebang-
kitan kepada hidup baru melalui pengalaman
baptisan: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa
kita semua yang telah dibaptis dalam Kris-
tus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? De-
ngan demikian kita telah dikuburkan bersa-
ma-sama dengan Dia oleh baptisan dalam ke-
matian, supaya, sama seperti Kristus telah
dibangkitkan dari antara orang mati oleh ke-
muliaan Bapa, demikian juga kita akan hi-
dup dalam hidup yang baru” (Rom. 6:3, 4).
Baptisan dengan demikian secara lambang
membukakan pintu kehidupan baru serta me-
nawarkan agar kita bertumbuh di dalam Kris-
tus.
Sesuatu terjadi kepada seseorang yang
menerima Yesus sebagai Juruselamat dan
Tuan. Simon orang yang goyah menjadi Pe-
trus yang pemberani. Saulus si penganiaya
menjadi Paulus si pemberita. Tomas orang
yang ragu-ragu menjadi pembawa misi ga-
ris depan. Kepengecutan berganti menjadi
keberanian. Ketidakpercayaan berubah men-
jadi obor iman. Rasa cemburu sirna ditelan
oleh kasih. Kepentingan diri menghilang
menjadi perhatian seorang saudara. Dosa ti-
dak memiliki tempat dalam hati. Diri telah
disalibkan. sebab nya Paulus menulis, “me-
nanggalkan kita semua lama serta kelakuan-
nya… mengenakan kita semua baru yang te-
rus-menerus diperbaharui untuk memperoleh
pengetahuan yang benar menurut gambar
Khaliknya” (Kol. 3:9, 10).
Yesus mendesak: “Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat.
16:24; bandingkan Luk. 9:23). Dalam kehi-
dupan Kristiani, kematian diri bukanlah se-
buah pilihan namun suatu keharusan. Salib itu
158Bertumbuh dalam Kristus
beserta tuntutan-tuntutannya—baik saat ini
maupun pada akhirnya—pasti menghadap-
kan tantangan bagi status sebagai murid [Ye-
sus] dan menuntut sambutan yang sepenuh-
nya. Komentar Dietrich Bonhoeffer yang te-
gas patut dicatat: “Jika Kekristenan kita ti-
dak lagi menaruh perhatian penuh menyang-
kut status sebagai murid [Yesus], jika kita
telah mengencerkan Injil itu menjadi lonja-
kan emosi yang tidak menuntut pengorban-
an dan yang tidak dapat membedakan antara
kehidupan alami dan kehidupan Kristiani,
maka tak terelakkan lagi kita telah mengang-
gap salib itu sebagai suatu malapetaka seha-
ri-hari biasa, sebagai salah satu pencobaan
dan penderitaan hidup…. Bilamana Kristus
memanggil seseorang, dia meminta agar
orang ini datang dan mati… itu yaitu
kematian yang sama setiap saat—kematian
dalam Yesus Kristus, kematian kita semua lama
pada saat panggilannya.”6
Jadi, panggilan kepada kehidupan Kris-
tiani yaitu suatu panggilan kepada salib itu
—untuk senantiasa menyangkal diri dari ke-
inginannya yang kuat untuk menjadi penye-
lamatnya sendiri dan untuk menuruti Manu-
sia yang tergantung di salib itu, supaya “iman
[kamu] jangan bergantung pada hikmat ma-
nusia, namun pada kekuatan Allah” (1 Kor.
2:5).
Menghidupkan suatu Kehidupan Ba-
ru. Aspek ketiga dari bertumbuh dalam Kris-
tus yaitu menghidupkan kehidupan baru.
Salah satu dari kesalahpahaman terbesar ten-
tang kehidupan Kristiani yaitu bahwa ke-
selamatan yaitu suatu pemberian cuma-
cuma kasih karunia Allah—dan itulah akhir
ceritanya. Tidaklah demikian. Ya, memang
benar bahwa di dalam Kristus “oleh darah-
Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengam-
punan dosa, menurut kekayaan kasih karu-
nia-Nya” (Ef. 1:7). yaitu juga benar bah-
wa “sebab kasih karunia kamu diselamat-
kan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, te-
tapi pemberian Allah, itu bukan hasil peker-
jaanmu: jangan ada orang yang memegah-
kan diri” (Ef. 2:8, 9).
Ya, kasih karunia itu cuma-cuma. namun
kasih karunia itu menuntut Allah mengor-
bankan nyawa Anak-Nya. Kasih karunia
yang cuma-cuma tidak berarti kasih karunia
murahan. Dengan mengutip Bonhoeffer lagi:
“Kasih karunia murahan yaitu mengajar-
kan pengampunan tanpa mengharuskan per-
tobatan, baptisan tanpa adanya disiplin gere-
ja, perjamuan tanpa adanya pengakuan, pem-
bebasan dari kesalahan tanpa adanya penga-
kuan pribadi. Kasih karunia murahan ada-
lah kasih karunia tanpa tuntutan sebagai mu-
rid [Yesus], kasih karunia tanpa salib, kasih
karunia tanpa Yesus Kristus, yang hidup dan
yang menjadi daging.”7
Kasih karunia murahan tidak ada kaitan
dengan panggilan Yesus. Bilamana Yesus
memanggil seseorang, Dia menawarkan ke-
padanya salib untuk dipikul. Menjadi seo-
rang murid [Yesus] berarti menjadi seorang
pengikut, dan sebagai seorang pengikut Ye-
sus bukanlah sebuah tipuan murahan. Ke-
pada orang-orang Korintus, Paulus menulis-
kan dengan tegas tentang kewajiban-kewa-
jiban kasih karunia. Pertama, dia berbicara
tentang pengalamannya sendiri: “sebab ka-
sih karunia Allah aku yaitu sebagaimana
aku ada sekarang, dan kasih karunia yang
dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.
Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras da-
ripada mereka [para rasul] semua; namun bu-
kannya aku, melainkan kasih karunia Allah
yang menyertai aku” (1 Kor. 15:10). Dengan
demikian Paulus mengakui keunggulan ka-
sih karunia Allah dalam kehidupannya. Dan
segera dia menambahkan bahwa kasih karu-
nia ini tidak diberikan dengan sia-sia. Kata
bahasa Yunani eis kenon secara harfiah diter-
159Bertumbuh dalam Kristus
jemahkan “untuk kehampaan.” Itu berarti,
Paulus tidak menerima kasih karunia untuk
menghidupkan suatu kehidupan sia-sia, yang
kosong—melainkan suatu kehidupan yang
dipenuhi buah Roh, dan bahkan, bukan da-
lam kekuatannya sendiri, namun oleh kuasa
kasih karunia yang tinggal di dalam dirinya.
Demikian juga, dia memohon kepada orang-
orang percaya agar “jangan membuat men-
jadi sia-sia kasih karunia Allah” (2 Kor. 6:1).
Kasih karunia Allah tidak datang untuk
menebus kita dari satu jenis kehampaan, un-
tuk menempatkan kita pada suatu jenis ke-
hampaan yang lain. Kasih karunia Allah ada-
lah usaha giat-Nya untuk mendamaikan kita
dengan diri-Nya, untuk menjadikan kita ba-
gian dari keluarga Allah. Kita, sesudah ma-
suk menjadi keluarga itu, tinggal dalam ke-
luarga itu sambil menghasilkan buah-buah
kasih Allah melalui kuasa dari kasih karu-
nia-Nya yang menakjubkan itu.
Jadi, bertumbuh dalam Kristus berarti
suatu pertumbuhan dalam kedewasaan se-
hingga hari demi hari kita memantulkan ke-
hendak Kristus dan menjalani jalan Kristus.
sebab itu, pertanyaannya yaitu : apakah
tanda-tanda pasti dari kehidupan yang de-
wasa ini serta tanda-tanda pertumbuhannya
yang terus-menerus? Tanpa menuliskan daf-
tarnya, kita dapat merenungkan tujuh tanda
pasti ini .
TANDA-TANDA BERTUMBUH
DALAM KRISTUS
1. Suatu kehidupan Roh. Yesus berka-
ta kepada Nikodemus, “Sesungguhnya jika
seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia
tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Al-
lah” (Yoh. 3:5). Tanpa kuasa yang memba-
rui dari Roh Kudus, kehidupan orang Kris-
ten bahkan tidak dapat dimulai. Dialah Roh
kebenaran itu (Yoh. 14:17). Dia menuntun
kita dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13)
dan membuat kita mengerti kehendak Allah
sebagaimana yang dinyatakan di dalam Ki-
tab Suci. Dia membawa keyakinan tentang
dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh.
16:7, 8), yang tanpa keyakinan ini kita
tidak dapat memahami akibat-akibat saat ini
dan kekal dari tindakan-tindakan kita serta
kehidupan yang kita jalani. Kuasa dan ke-
hadiran Roh Kudus yang mengubahkan di
dalam kehidupan kita—itulah yang menja-
dikan kita putra dan putri Allah (Rm. 8:14).
Melalui Roh itulah Kristus “ada [tinggal] di
dalam kita” (1 Yoh. 3:24). Dengan tinggal-
nya Roh itu datanglah suatu kehidupan baru
—baru di mana tinggalnya Roh itu menolak
cara-cara lama dalam berpikir, bertindak, dan
membina hubungan, yang bertentangan de-
ngan kehendak Allah; baru juga di mana ting-
galnya Roh itu menjadikan kita suatu cipta-
an baru, yang didamaikan dan ditebus, dibe-
baskan dari dosa agar bertumbuh dalam ke-
benaran (Rm. 8:1-16) dan agar memantul-
kan gambar Yesus “dalam kemuliaan yang
semakin besar” (2 Kor. 3:17, 18). “Apabila
Roh Allah mengendalikan hati, itu akan
mengubah kehidupan. Pemikiran-pemikiran
penuh dosa disingkirkan, perbuatan-per-
buatan jahat ditinggalkan; kasih, kerendah-
an hati, dan kedamaian menggantikan kema-
rahan, iri hati, dan perselisihan. Sukacita
menggantikan kesedihan, dan air muka me-
mantulkan cahaya surga. Tidak ada orang
yang melihat tangan yang mengangkat be-
ban itu, atau melihat cahaya yang turun dari
istana di atas. Berkat itu datang bilamana
oleh iman jiwa itu berserah pada Allah. Ma-
ka, kuasa yang tidak dapat dilihat mata ma-
nusia itu menciptakan suatu kehidupan baru
dalam gambar Allah.”8
Roh itu menjadikan kita “ahli waris, mak-
sudnya orang-orang yang berhak menerima
janji-janji Allah, yang akan menerimanya
160Bertumbuh dalam Kristus
bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita
menderita bersama-sama dengan Dia, supaya
kita juga dipermuliakan bersama-sama de-
ngan Dia” (Rm. 8:17). Kehidupan Roh itu
sebab nya yaitu suatu panggilan kepada
tindakan rohani: Menolak tatanan lama me-
nurut dosa dan turut mengambil bagian da-
lam penderitaan-penderitaan Kristus dalam
kehidupan saat ini agar dapat turut mengam-
bil bagian bersama Dia dalam kemuliaan
masa mendatang. Jadi spiritualitas (keroha-
nian) Kristiani bukanlah suatu pelarian ke
suatu dunia khayalan dan keyakinan mistis.
Itu yaitu suatu panggilan untuk menderita,
membagikan, bersaksi, menyembah, dan
menghidupkan kehidupan Kristus di dalam
dunia ini, di dalam masyarakat kita, dan di
dalam rumah kita. Hal ini dapat terjadi ha-
nya oleh kehadiran Roh itu yang tinggal di
dalam kita. Doa Yesus yaitu agar sekali-
pun sementara kita berada di dalam duni ini,
kita haruslah tidak berasal dari dunia ini
(Yoh. 17:15). Kita harus tinggal di dunia
ini—itulah tempat tinggal kita, dan itulah
daerah misi kita. namun kita tidak milik du-
nia, sebab kewarganegaraan dan pengharap-
an kita ada di dunia yang akan datang (Flp.
3:20).
Paulus menggambarkan kehidupan yang
diberi kuasa oleh Roh ini sebagai satu kehi-
dupan yang secara rohani bertumbuh dan se-
makin dewasa. Kedewasaan seperti ini akan
menolak perbuatan-perbuatan daging—“per-
cabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyem-
bahan berhala, sihir, perseteruan, perselisih-
an, iri hati, amarah, kepentingan diri sendi-
ri, percideraan, roh pemecah, kedengkian,
kemabukan, pesta pora dan sebagainya”
(Gal. 5:19-21)—serta memeluk dan meng-
hasilkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan,
kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan di-
ri” (Gal. 5:22, 23).
2. Suatu kehidupan kasih dan persa-
tuan. Kehidupan Kristiani yaitu suatu ke-
hidupan persatuan, suatu kehidupan yang di-
damaikan dengan Allah, pada satu sisi, dan
didamaikan dengan sesama kita semua , di sisi
lain. Pendamaian yaitu pemulihan suatu ke-
retakan dalam hubungan, penyebab utama
dari keretakan dalam hubungan ini yaitu
dosa. Dosa telah memisahkan kita dari Allah
(Yes. 59:2) dan telah memecahkan umat
kita semua ke dalam banyak kelompok kecil—
yang berdasar ras, suku, jenis kelamin,
kebangsaan, warna kulit, dan lain-lain. Injil
Yesus mengatasi masalah dosa ini dan se-
mua faktor pemecah yang berkaitan dengan
itu serta menciptakan suatu tatanan baru yak-
ni persatuan dan pendamaian. sebab itu,
Paulus dapat berkata, Allah “dengan peran-
taraan Kristus telah mendamaikan kita de-
ngan diri-Nya” (2 Kor 5:18). Dari penda-
maian ini dilahirkan suatu kelompok baru—
suatu kelompok yang telah ditebus yang di-
tandai oleh persatuan vertikal dengan Allah
dan persatuan horizontal dengan sesama
kita semua . Sungguh, kehidupan kasih dan per-
satuan ini yaitu inti dari Injil. Tidakkah Ye-
sus berkata demikian dalam doa-Nya seba-
gai imam besar: “Supaya mereka semua
menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa,
di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar
mereka juga di dalam Kita, supaya dunia per-
caya, bahwa Engkaulah yang telah mengu-
tus Aku” (Yoh. 17:21). Seluruh misi pene-
busan Yesus dan kekuatan injil-Nya menye-
rukan perlunya pembuktian kebenaran da-
lam kasih dan adanya persatuan yang harus
mengikat para anggota dari kelompok yang
telah ditebus itu. Tidak ada pertumbuhan
Kristiani tanpa kasih dan persatuan yang
demikian. Dan di mana persatuan dan kasih
ini ada, semua dinding pemisah di antara
orang banyak akan rubuh. Penghalang-peng-
halang berupa ras, asal usul kebangsaan, je-
161Bertumbuh dalam Kristus
nis kelamin, kasta, warna kulit, dan faktor-
faktor pemisah lain akan terhapus dalam ke-
hidupan orang yang telah mengalami cipta-
an baru, satu kita semua baru (Ef. 2:11-16). Se-
mentara orang itu bertumbuh dan menjadi
dewasa, kebenaran mulia tentang pendamai-
an, kasih, dan persatuan bersinar semakin
terang dan semakin terang yang terlihat baik
secara perorangan maupun secara jemaat da-
lam kehidupan Kristiani.
Faktor kasih dalam pertumbuhan Kris-
tiani yaitu unik bagi Injil itu. Yesus menye-
but faktor itu perintah baru (Yoh. 13:34), te-
tapi kebaruan ini tidak menunjuk kepada
kasih namun kepada objek kasihnya. Orang-
orang mengasihi, namun mereka mengasihi
orang-orang yang layak dikasihi—mereka
mengasihi milik mereka. namun Yesus mem-
perkenalkan satu unsur baru: “Sama seperti
Aku telah mengasihi kamu demikian pula ka-
mu harus saling mengasihi.” Itu berarti, sama
seperti kasih Yesus yang berlaku untuk se-
mua, yang rela berkorban, dan yang sepe-
nuhnya, maka demikianlah seharusnya ka-
sih kita. Pada jenis kasih itulah “tergantung
seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”
(Mat. 22:37-40).
Perintah untuk mengasihi sesama kita ini
tidak memberi ruang bagi adanya perubahan.
Kita tidak memilih siapa yang kita kasihi; kita
dipanggil untuk mengasihi semua orang. Se-
bagai anak-anak dari satu Bapa, kita diharap-
kan untuk saling mengasihi. Dalam perumpa-
maan Orang Samaria yang baik, Kristus me-
nunjukkan bahwa “sesamamu kita semua tidak
berarti hanya seseorang yang berasal dari je-
maat atau iman Anda. Tidak disebutkan ada-
nya pembedaan ras, warna kulit, atau kelas.
Sesama kita kita semua yaitu setiap orang
yang membutuhkan pertolongan kita. Sesa-
ma kita kita semua yaitu setiap jiwa yang ter-
luka dan memar oleh musuh itu. Sesama kita
yaitu semua orang yang yaitu milik Allah.”9
Kasih sejati terhadap sesama menembu-
si warna kulit dan mengedepankan rasa ke-
kita semua an orang ini ; kasih itu meno-
lak untuk bernaung di bawah kasta namun
memberi sumbangsih pada pengayaan jiwa;
kasih itu menyelamatkan harga diri seseo-
rang dari prasangka-prasangka yang tak ma-
nusiawi; kasih itu melepaskan nasib manu-
sia dari bencana filsafat yang berajaran ke-
bendaan. Pada dasarnya, kasih sejati dapat
melihat gambar Allah—yang mungkin ter-
jadi, yang tersembunyi, ataupun yang nya-
ta—dalam setiap wajah. Seorang Kristen de-
wasa yang bertumbuh akan memiliki jenis
kasih itu, yang sesungguhnya merupakan da-
sar dari semua persatuan Kristiani.
3. Suatu kehidupan belajar. Makanan
yaitu suatu hal penting yang mendasar bagi
pertumbuhan. Fungsi dari organisme mana
pun membutuhkan pemberian makanan yang
memadai dan terus-menerus. Demikian juga-
lah halnya dalam pertumbuhan rohani. Teta-
pi di mana kita memperoleh makanan roha-
ni kita? Pada dasarnya dari dua sumber: hu-
bungan erat dengan Allah yang senantiasa
melalui belajar sabda-Nya dan melalui me-
ngembangkan kehidupan doa. Pentingnya
sabda Allah bagi kehidupan rohani tidak dia-
jarkan dengan demikian jelas di ayat lain ma-
na pun selain dari yang ada dalam kata-
kata Yesus sendiri: “kita semua hidup bukan
dari roti saja, namun dari setiap firman yang
keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4). Yesus
memberikan satu teladan sempurna tentang
bagaimana Dia memakai firman itu un-
tuk menghadapi Setan. “Yesus menghadapi
Setan dengan kata-kata Kitab Suci. ‘Ada ter-
tulis,’ kata Yesus. Dalam setiap pencobaan,
senjata perang-Nya yaitu sabda Allah. Se-
tan menuntut dari Kristus sebuah mukjizat
sebagai satu tanda dari Keilahian-Nya. Teta-
pi apa yang lebih besar dari semua mukji-
162Bertumbuh dalam Kristus
zat, yaitu ketergantungan yang teguh pada
‘Demikian firman Tuhan,’ merupakan suatu
tanda yang tidak dapat ditentang. Selama
Kristus berpegang pada pemikiran ini, peng-
goda itu tidak dapat memperoleh keunggul-
an.”10
Demikian juga dengan kita. Pemazmur
berkata: “Dalam hatiku aku menyimpan jan-
ji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap
Engkau” (Mzm. 119:11). Kepada ayat ini,
tambahkan janji yang diberikan rasul itu:
“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan le-
bih tajam dibandingkan pedang bermata dua ma-
na pun; ia menusuk amat dalam sampai me-
misahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sum-
sum; ia sanggup membedakan pertimbang-
an dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12). Bilama-
na orang Kristen memakai pedang Roh
yang tajam dan bermata dua ini untuk berta-
han ada serangan Setan, dia sedang ber-
ada pada sisi yang menang dari pertempur-
an itu. Orang percaya diberi kuasa untuk me-
nembusi dan menerobos setiap penghalang
bagi pertumbuhan rohani, untuk dapat mem-
bedakan kebenaran dari kesalahan supaya pi-
lihan yang tetap dapat diambil atas pihak
yang benar, dan untuk dapat membedakan
suara Allah dan bisikan-bisikan si jahat. Itu-
lah yang membuat firman Allah alat yang ti-
dak dapat digantikan bagi pertumbuhan ro-
hani.
“Seluruh Kitab Suci,” Paulus menulis,
“diilhamkan Allah, memang bermanfaat un-
tuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan,
untuk memperbaiki kelakuan dan untuk men-
didik orang dalam kebenaran. Dengan demi-
kian tiap-tiap kita semua kepunyaan Allah di-
perlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2
Tim. 3:16, 17). Apakah Anda ingin bertum-
buh dalam mengerti kebenaran dan doktrin?
Apakah Anda ingin mengetahui bagaimana
menjaga agar jiwamu tetap berada pada ja-
lur bagi Allah? Apakah Anda ingin menge-
tahui apa yang Allah persiapkan bagimu hari
ini, hari esok, atau hari berikutnya? Ambil-
lah Alkitab. Pelajarilah setiap hari. Pelajari-
lah dengan doa. Tidak ada cara yang lebih
baik untuk mengetahui kehendak Allah dan
mencari jalan-Nya.
4. Suatu kehidupan doa. Allah berbi-
cara kepada kita melalui sabda-Nya. Menge-
tahui kehendak-Nya yaitu bagian dari per-
tumbuhan rohani—bagian dari berhubung-
an dengan Dia. Satu aspek lain dari berhu-
bungan erat dengan Allah dan bertumbuh da-
lam Dia ini yaitu doa. Jika sabda Allah ada-
lah roti yang memberi makan jiwa kita, maka
doa yaitu napas yang menjaga jiwa kita te-
tap hidup. Doa yaitu berbicara dengan Al-
lah, mendengarkan suara-Nya, berlutut da-
lam penyerahan, dan bangkit dengan pero-
lehan kuasa yang penuh yakni kekuatan
Allah. Doa itu tidak menuntut apa-apa dari
diri kita—kecuali agar kita menyangkal diri,
bersandar pada kekuatannya, dan menanti-
kan Dia. Dari penantian itu mengalir kuasa
yang memungkinkan kita untuk dapat men-
jalani perjalanan Kristiani dan bertarung
dalam peperangan rohani. Doa di Getsema-
ni memberikan kepastian bagi kemenangan
di salib.
Paulus menganggap doa begitu penting
dalam kehidupan dan pertumbuhan Kristiani
hingga dia menyebutkan enam prinsip da-
sar: “Berdoalah setiap waktu;” “dalam se-
gala… permohonan. Berdoalah… di dalam
Roh;” “Berdoalah… di dalam Roh;” “ber-
jaga-jagalah di dalam doamu;” “berdoalah
dengan permohonan yang tak putus-putus-
nya;” dan “berdoalah… untuk segala orang
Kudus” (Ef. 6:18). Seperti orang Farisi (Luk.
18:11), kita sering tergoda untuk berdoa de-
mi pertunjukkan, untuk diri sendiri, atau ha-
nya sebagai kebiasaan. namun doa yang mem-
bawa hasil yaitu permohonan yang penuh
163Bertumbuh dalam Kristus
penyangkalan diri, permohonan yang dipe-
nuhi Roh, permohonan pengantaraan—bagi
kebutuhan orang lain, bahkan sementara kita
berdoa bagi kegenapan kehendak Allah di
atas bumi oleh menjadi saksi-saksi-Nya yang
setia. Doa yaitu percakapan yang terus-me-
nerus dengan Allah; itu yaitu udara jiwa,
dan tanpa itu jiwa menjadi lemah dan mati.
“Doa,” kata Ellen White, “yaitu salah satu
dari tugas-tugas yang paling penting. Tanpa
itu kita tidak dapat mempertahankan perja-
lanan Kristiani. Doa itu mengangkat, mengu-
atkan, dan membuat lebih mulia; itu berarti
jiwa berbicara dengan Allah.”11
5. Suatu kehidupan yang menghasil-
kan buah. “Dari buahnyalah,” kata Yesus,
“kamu akan mengenal mereka” (Mat. 7:20).
Menghasilkan buah yaitu satu aspek pen-
ting dari pertumbuhan Kristiani. Keselamat-
an oleh kasih karunia sering disalahmengerti
sebagai penolakan terhadap penurutan dan
menghasilkan buah. Tidak ada suatu kebe-
naran pun yang dapat berada jauh dari ke-
benaran Alkitab. Ya, kita diselamatkan de-
ngan cuma-cuma oleh iman melalui apa yang
telah dilakukan kasih karunia Allah melalui
Kristus, dan kita tidak memiliki apa yang
dapat dibanggakan dalam diri kita sendiri
(Ef. 2:7, 8; Yoh. 3:16). namun kita tidak dise-
lamatkan untuk melakukan apa yang kita su-
ka; kita diselamatkan untuk hidup sesuai de-
ngan kehendak Allah. Tidak ada sesuatu
yang legalistik dan, sebab nya, yang tidak
perlu tentang penurutan kepada hukum; me-
lainkan penurutan itu yaitu urutan alami
dari pembebasan penuh anugerah yang Allah
lakukan, yakni pembebasan dari dosa. Kare-
nanya, “demikian juga halnya dengan iman:
Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka
iman itu pada hakekatnya yaitu mati” (Yak.
2:17).
Renungkan penegasan dan harapan Ye-
sus dalam Yohanes 14 dan 15. Penegasan-
Nya yaitu hubungan-Nya dengan Bapa, dan
harapan-Nya yaitu adanya hubungan mu-
rid-murid-Nya dengan Dia. Pada yang per-
tama, Yesus mengegaskan, “Aku menuruti
perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam ka-
sih-Nya” (Yoh. 15:10). Penurutan Yesus ke-
pada Bapa bukanlah sebuah kepatuhan yang
legalistik namun merupakan hasil pertumbuh-
an dari tinggalnya Yesus di dalam kasih Ba-
pa. Hubungan yang intim antara Bapa dan
Anak didasarkan atas kasih dan hanya ka-
sih, dan kasih inilah yang telah menuntun
Anak untuk menerima kehendak Bapa serta
merasakan pahitnya Getsemani dan Golgo-
ta.
Yesus memakai hubungan kasih Ba-
pa-Anak sebagai satu gambaran dari jenis
hubungan yang harus dimiliki oleh murid-
murid-Nya dengan Dia. Tepat seperti hu-
bungan Yesus dengan Bapa mendahului pe-
nurutan-Nya kepada Bapa, demikian juga-
lah seharusnya hubungan murid-murid itu
dengan Yesus mendahului penurutan mere-
ka kepada-Nya. “Jikalau kamu mengasihi
Aku, kamu akan menuruti segala perintah-
Ku” (Yoh. 14:15). “Supaya dunia tahu, bah-
wa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku me-
lakukan segala sesuatu seperti yang diperin-
tahkan Bapa kepada-Ku” (ayat 31).
Perhatikan harapan yang Yesus miliki ba-
gi murid-murid-Nya. Dia melakukan seperti
yang diperintahkan Bapa supaya dunia me-
ngetahui hubungan kasih-Nya dengan Bapa.
Hubungan kasih ini terjadi sebelum melaku-
kan kehendak Bapa. Dia mengasihi Bapa dan
sebab nya dengan rela melakukan kehendak
Bapa-Nya. Demikian juga, Yesus mengha-
rapkan satu dasar kasih bagi murid-murid-
Nya sendiri. “Tinggallah di dalam Aku,” kata-
Nya, “dan Aku di dalam kamu. Sama seperti
164Bertumbuh dalam Kristus
ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sen-
diri, kalau ia tidak tinggal pada pokok ang-
gur, demikian juga kamu tidak berbuah, ji-
kalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”
(Yoh. 15:4). Jadi, berbuah, penurutan, dan
hidup sesuai dengan kehendak Allah meru-
pakan tanda-tanda penting dari pertumbuhan
rohani. Tidak adanya buah menunjukkan
bahwa kita tidak tinggal di dalam Kristus.
6. Suatu kehidupan peperangan ro-
hani. Sebagai murid Kristiani bukanlah su-
atu perjalanan yang mudah. Kita sedang tu-
rut serta dalam suatu peperangan yang nya-
ta dan berbahaya. Sebagaimana yang Pau-
lus katakan, “sebab perjuangan kita bukan-
lah melawan darah dan daging, namun mela-
wan pemerintah-pemerintah, melawan pe-
nguasa-penguasa, melawan penghulu-peng-
hulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh
jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh
perlengkapan senjata Allah, supaya kamu
dapat mengadakan perlawanan pada hari
yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah ka-
mu menyelesaikan segala sesuatu” (Ef. 6:12,
13).
Dalam peperangan ini, kekuatan-kekuat-
an supra-natural menuntut menentang kita.
Sama seperti malaikat-malaikat Tuhan ikut
dalam pelayanan melayani para pengikut-
Nya, dengan melepaskan mereka dari keja-
hatan, dan menuntut mereka dalam pertum-
buhan rohani (Mzm. 34:7; 91:11, 12; Kis.
5:19, 20: Ibr. 1:14; 12:22), demikian juga
malaikat-malaikat yang telah jatuh itu de-
ngan gigih sedang bersekongkol untuk me-
malingkan kita dari tuntutan-tuntutan seba-
gai murid. Alkitab menegaskan bahwa Se-
tan dan para malaikatnya sedang mengamuk
melawan pengikut-pengikut Yesus (Why.
12:17) dan si Iblis sendiri sedang berjalan
“keliling sama seperti singa yang mengaum-
aum dan mencari orang yang dapat ditelan-
nya” (1 Pet. 5:8). Perjalanan menuju pertum-
buhan rohani penuh dengan perangkap-pe-
rangkap iblis, dan di sinilah tempat di mana
peperangan rohani kita terjadi dengan sengit-
nya. Oleh sebab itu, Paulus memakai
beberapa kata tindakan yang tegas: Berdiri!
Ambil! Kenakanlah! Hendaklah kamu kuat!
(Ef. 6:12, 13). “Kehidupan Kekristenan ada-
lah suatu peperangan dan suatu baris maju.
Dalam peperangan ini, tidak ada berhenti;
usaha yang dilakukan haruslah terus-mene-
rus dan tekun. Dengan usaha yang tiada hen-
tilah maka kita dapat mempertahankan ke-
menangan melawan penggodaan-penggoda-
an Setan. Keteguhan Kristiani pada prinsip
haruslah diupayakan dengan kekuatan sege-
nap daya dan dipertahankan dengan suatu
keteguhan maksud yang bulat…. Semua
orang harus turut serta dalam peperangan ini
bagi diri mereka; tidak ada orang lain yang
dapat berperang untuk peperangan kita. Se-
cara perorangan, kita bertanggung jawab un-
tuk segala masalah dalam pertarungan ini.”12
namun , Allah tidak meninggalkan kita
sendirian dalam peperangan ini. Dia telah
menyediakan kemenangan bagi kita dalam
dan melalui Yesus Kristus (1 Kor. 15:57).
Dia telah memberikan kepada kita persen-
jataan yang telah teruji yang dapat digunakan
untuk menghadapi musuh itu. Paulus men-
jelaskan bahwa persenjataan ini terdiri dari
ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadi-
lan, kasut injil damai sejahtera, perisai iman,
ketopong keselamatan, pedang Roh, serta
kuasa doa yang terandalkan (Ef. 6:13-18).
Dengan dilindungi oleh persenjataan seperti
itu, dengan bergantung sepenuhnya pada
kuasa yang terandalkan dari Roh itu, kita
pasti bertumbuh dalam keberanian rohani
serta menang dalam peperangan yang sedang
kita hadapi.
165Bertumbuh dalam Kristus
7. Suatu kehidupan ibadah, bersaksi,
dan pengharapan. Pertumbuhan Kristiani
tidak terjadi dalam kehampaan. Pada satu si-
si, pertumbuhan rohani itu terjadi di dalam
kumpulan orang-orang yang telah ditebus,
dan di sisi lain, sebagai satu saksi bagi ke-
lompok yang perlu ditebus. Perhatikan ke-
lompok zaman kerasulan. Segera sesudah ke-
naikan Kristus dan dengan disertai kuasa
Roh Kudus, jemaat mula-mula baik secara
perorangan maupun secara jemaat menun-
jukkan pertumbuhan dan kedewasaannya da-
lam ibadah, persekutuan, penyelidikan, ser-
ta bersaksi (Kis. 2:42-47; 5:41, 42; 6:7). Tan-
pa ibadah berjemaat, kita kehilangan jati diri
serta tempat bagi kita untuk bersekutu, dan
dalam persekutuan inilah dan dalam hubung-
an antar pribadi dengan orang lain inilah kita
menjadi dewasa dan bertumbuh. sebab nya
nasihat rasul itu: “Dan marilah kita saling
memperhatikan supaya kita saling mendo-
rong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
Janganlah kita menjauhkan diri dari perte-
muan-pertemuan ibadah kita, seperti dibia-
sakan oleh beberapa orang, namun marilah
kita saling menasihati, dan semakin giat me-
lakukannya menjelang hari Tuhan yang men-
dekat” (Ibr. 10:24, 25).
Semakin kita bertumbuh dalam ibadah,
penyelidikan, serta persekutuan, maka kita
semakin terdorong untuk melayani dan ber-
saksi. Pertumbuhan Kristiani menuntut per-
tumbuhan dalam pelayanan (Mat. 20:25-28)
serta pertumbuhan menuju bersaksi. “Sama
seperti Bapa mengutus Aku,” kata Yesus,
“demikian juga sekarang Aku mengutus ka-
mu” (Yoh. 20:21). Kehidupan Kristiani ti-
dak pernah dimaksudkan untuk menjadi sua-
tu kehidupan dalam lingkaran diri sendiri,
namun selalu untuk dicurahkan keluar dalam
pelayanan dan bersaksi bagi orang lain. Pe-
nugasan Agung yang ada dalam Mat. 28
menuntut orang Kristen cukup dewasa agar
dapat membawakan injil pengampunan itu
ke dunia sekitar agar semua boleh menge-
nal anugerah Allah yang menyelamatkan.
Tanda kehidupan Roh itu dan pertumbuhan
Kristiani itu yaitu suatu kehidupan bersaksi
yang terus meluas—Yerusalem, Yudea, Sa-
maria, dan ujung bumi (Kis. 1:8).
Kita hidup, beribadah, bersekutu, dan
bersaksi dalam waktu—bagi orang Kristen,
waktu berarti menantikan masa depan.
“[Aku] berlari-lari,” kata Paulus, “kepada tu-
juan untuk memperoleh hadiah, yaitu pang-
gilan surgawi dari Allah dalam Kristus Ye-
sus” (Flp. 3:12-14). Hidupkanlah suatu ke-
hidupan yang disucikan, kata rasul yang sa-
ma, agar “roh, jiwa dan tubuhmu [boleh] ter-
pelihara sempurna dengan tak bercacat pada
kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (1
Tes. 5:23). Bertumbuh dalam Kristus kare-
nanya berarti suatu pertumbuhan dalam pe-
nantian, dalam pengharapan, akan pengge-
napan akhir dari pengalaman penebusan di
dalam Kerajaan yang akan datang. “Bagi
jiwa yang rendah hati, dan yang percaya, ru-
mah Allah di atas dunia merupakan gerbang
surga. Lagu pujian, doa, kata-kata yang diu-
capkan wakil-wakil Kristus, yaitu cara-cara
yang ditentukan Allah untuk mempersiap-
kan suatu umat bagi jemaat di atas [di sur-
ga], bagi ibadah yang lebih agung yang ke
dalamnya tidak akan masuk sesuatu pun
yang dapat mencemarkan.”
____________________________ :
1. Ellen G. White, The Desire of Ages, 746, 749.
2. Ibid, 758
166Bertumbuh dalam Kristus
3. Ibid, 687
4. Ibid,. 25
5. Ibid., 172
6. Ibid., 47.
7. White, The Desire of Ages, hlm. 173
8. Ibid., 47
9. Ibid., 120
10. Testimonies, jilid 5, hlm. 491.
11. White, Testimonies for the Church, jilid. 2, hlm. 313.
12. The Ministry of Healing, hlm. 453.
167Bertumbuh dalam Kristus
168
Gereja yaitu umat percaya yang mengaku Yesus Kristus sebagai
Tuhan dan Juruselamat. Mengikuti umat yang percaya kepada Tuhan
pada zaman Perjanjian Lama, kita dipanggil keluar dari dunia; dan
lalu kita menggabungkan diri untuk berbakti, bersekutu,
mempelajari Firman, untuk merayakan Perjamuan Tuhan, untuk
melayani semua umat kita semua serta memberitahukan pekabaran Injil
ke seluruh dunia. Gereja memperoleh otoritasnya dari Kristus, yang
menjadi penjelmaan Firman itu, dan juga dari Kitab-kitab Suci yang
menjadi Firman yang tertulis. Gereja yaitu keluarga Allah, yang
diangkat-Nya menjadi anak-anak-Nya, keanggotaannya yang
berdasar hidup atas perjanjian yang baru. Gereja yaitu tubuh
Kristus, masyarakat orang beriman yang dikepalai Kristus. Gereja
yaitu pengantin, untuknya Kristus telah mati, supaya dengan demikian
Ia dapat menguduskan dan membasuhnya. Pada waktu kedatangan-Nya
kelak dalam kemenangan, Ia akan mengambil untuk-Nya sebagai jemaat
yang mulia, orang yang setia sepanjang zaman, yang telah ditebus
dengan darah-Nya sendiri, yang tidak bercacat-cela, melainkan kudus
tanpa noda sama sekali.—Fundamental Beliefs—12.
169
Dengan geram orangtua itu mengangkat
tongkatnya dan memukul bukit batu
yang keras itu. Berulang-ulang dilakukan-
nya sambil berteriak, “Dengarlah kepadaku,
hai orang-orang durhaka, apakah kami ha-
rus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu
ini?”
Segera air mengalir deras dari bukit batu,
memenuhi kebutuhan bangsa Israel. Akan
namun , dengan mengandalkan dirinya sebagai
pemberi air, yang seharusnya penghormatan
diberikan kepada Batu itu, Musa telah me-
lakukan dosa. Dan sebab dosanya itulah ia
tidak boleh masuk ke negeri yang telah di-
janjikan (baca Bil. 20:7-12).
Batu itulah Kristus, yang menjadi lan-
dasan berdirinya umat Tuhan baik secara
pribadi maupun secara umum. Bayangan ini
berlangsung terus dalam Kitab Suci.
Dalam khotbah terakhir Musa kepada
bangsa Israel, barangkali mengingatkan
kembali peristiwa ini, ia memakai me-
tafor batu untuk menggambarkan keteguhan
Allah dan ketergantungan:
“Berilah hormat kepada Allah kita,
Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya
sempurna,
sebab segala jalan-Nya adil;
.jpeg)
