al-quran akhir zaman 2

al-quran akhir zaman 2


 


��an. Nabi 

melihatnya dalam penglihatan yang diberkahi untuk beliau alami 

saat  beliau dibawa dalam perjalanan yang menakjubkan pada 

malam hari dari Masjid Suci di Mekah yang dibangun oleh Nabi 

Ibrahim  السالم عليه  ke Masjid yang jauh di Yerusalem yang dibangun 

oleh Nabi Sulaiman   السالم عليه , Perjalanan menakjubkan ini  

yaitu Isra' dan Mi'raj : 

ْ اََحاطَْ َرب كَْ اِنْ  لَكَْ ق ل َنا َواِذْ  َيا َجعَل َنا َوَما ِبالن اِس  ء  تِيْٰٓ  الرُّ

ال   

كَْ ْ اََري ن  َنةَْ َوالش َجَرةَْ لن اِسِْل ْ فِت َنةًْ اِْل  نِْ فِى ال َمل ع و  ا  ال ق ر   ْ ۚ  

م ْ  ف ه  ِ ْ َيِزي د ه مْ  فََما َون َخو  َياًنا اِْل  َكِبي ًرا ط غ   ࣖ 

 


 

(Qur’ān, al-Isra, 17:60)  

Dan lihatlah! Kami berkata kepadamu, [Wahai Nabi:] “Lihatlah, 

Tuhanmu meliputi umat manusia — karenanya semua sejarah 

manusia — dalam pengetahuan dan kekuatan-Nya: dan Engkau  

harus tahu bahwa Kami tidak memberikan penglihatan ini 

kepadamu, yaitu, di Isra' dan Mi'raj, kecuali untuk menyampaikan 

kepadamu pengetahuan tentang apa yang akan menyebabkan 

Fitnah (yaitu, cobaan dan kesusahan) bagi umat manusia, dan juga 

untuk menyampaikan pengetahuan tentang pohon yang terkutuk, 

yang dikutuk dalam Al-Qur'an, yang akan menyebabkan  fitnah. 

Kami terus memperingatkan mereka, namun  itu hanya menambah 

sikap pembangkangan mereka. 

Al-Qur'an telah memberi tahu kita tentang perjalanan yang 

menakjubkan yaitu Isra' dan Mi'rāj dalam ayat pertama dari Surat Al-

Qur'an yang diberi nama ganda Surah al-Isra' dan Surah Banī Isrāīl. 

Hal ini mungkin bermaksud untuk menunjukkan bahwa Isra' dan 

Mi'rāj mengizinkan Nabi untuk melihat Neraka yang akan dialami 

umat manusia karena pohon terlarang, yaitu ambisi Yahudi untuk 

menguasai dunia dari Yerusalem dengan kerajaan yang tidak akan 

pernah hilang atau runtuh. 

Kemudian Allah تعاىل و  سبحانه  melanjutkan penjelasan subjek 

pemerintahan yang adil di bumi kepada Adam السالم عليه , Adam dapat 

menerima pengetahuan ini (sementara para Malaikat tidak bisa) 

karena Allah telah meniupkan Rūh Ilahi-Nya ke dalam dirinya; 

akibatnya, ia menjadi mampu menerima pengetahuan baik secara 

eksternal maupun internal. (Al-Qur'an, al-Baqarah, 2:31-2) serta 

mampu, melalui intuisi dan pemikiran kritis, untuk mengintegrasikan 

pengetahuan 'yang diterima secara internal' dan 'yang diperoleh 

secara eksternal' menjadi satu kesatuan yang harmonis. 

Implikasi dari hal di atas yaitu  bahwa pemerintahan yang 

adil di muka bumi hanya dapat berhasil ditegakkan oleh mereka yang 

memiliki pengetahuan yang diajarkan oleh Allah تعاىل و سبحانه  kepada 

Adam السالم عليه  dan kemudian diwahyukan dalam Kitab Suci. Hanya 

pengetahuan itu yang bisa membuat mereka memenuhi syarat untuk 

memerintah. Oleh karena itu siapa pun yang tidak memiliki 

pengetahuan yang berasal dari Allah السالم عليه , dan yang akibatnya 

tidak mampu menerapkan pengetahuan itu dalam penyelenggaraan 

Negara, tidak memenuhi syarat untuk memerintah. 

Allah تعاىل و سبحانه   kemudian meminta Nabi Adam السالم عليه   

untuk menjelaskan subjek pemerintahan di bumi dan dia 

melakukannya. (Al-Qur'an, al-Baqarah, 2:31-33). 

Kesimpulan yang kita peroleh dari uraian di atas yaitu  

bahwa umat manusia ditempatkan di bumi untuk kepentingan utama 

yaitu menegakkan pemerintahan yang adil dimuka bumi, dan hal itu 

tidak dapat dicapai kecuali oleh mereka yang bertindak dengan benar 

sesuai dengan pengetahuan dan petunjuk yang Allah  تعاىل و سبحانه  

telah diwahyukan dalam Kitab Suci-Nya, dan yang tidak mengejar 

kepentingan lain saat menetapkan aturan mereka. Al-Qur'an telah 

memperingatkan bahwa mereka yang memerintah sebaliknya akan 

menghadapi hari kiamat yang mengerikan (lihat Al-Qur'an, Sad, 38:26 

nanti dalam bab ini). 

1.3 Hubungan di Akhir Sejarah dengan Peristiwa Pertama 

Prinsip keyakinan yang menyatakan bahwa Allah yaitu  Dzat 

Yang Pertama dan Yang Terakhir, dan bahwa Dia yaitu  Dzat yang 

Maha mengetahui atas segala sesuatu, Al-Qur'an telah 

mengungkapkan sebuah drama Eskatologis yang akan terungkap 

dalam Sejarah, yaitu: bahwa apa yang terjadi di awal Sejarah, begitu 

juga di akhir Sejarah. 

Sebuah peristiwa pada akhirnya akan terungkap di akhir 

Sejarah akan sejajajar sebagaimana Peristiwa yang terjadi di awal 

Sejarah. 

44 

 

Apa akhir Sejarah yang akan sejajar dengan awal Sejarah 

yang digambarkan di atas? 

Selain bukti substansial didalam Al-Qur'an yang menegaskan 

kembalinya yang begitu manakjubkan, Sabda Nabi Muhammad    صل 

وسلم  عليه  للا  yaitu  yang paling kuat dalam Sejarah yang telah 

menubuatkan kembalinya al-Masih, Yesus   السالم عليه , putra Mariam. 

Dia melanjutkan nubuahnya bahwa Yesus   السالم عليه    akan 

kembali ke dunia sebagai al Hākim al-'Ādil (yaitu, penguasa yang adil), 

dan dengan pemenuhan nubuatan inilah Sejarah akan berakhir 

dengan Pax Dei 12yang dengannya ia ditakdirkan memulainya kembali 

diawal episode Sejarah : 

يَمَْ اب نْ  فِيك مْ  يَن ِزلَْ أَنْ  لَي وِشَكنْ  بِيَِدهِْ نَف ِسي َوال ِذي َحَكًمْا َمر   

 َعد ْلًْ

Demi Dia yang jiwaku di Tangan-Nya, putra Mariam akan  turun di 

antara kalian sebagai penguasa yang adil… 

(Sahih Bukhari) 

Nubuatan yang sama dapat ditemukan di Hadist yang lain dengan 

redaksi yang sedikit berbeda : 

Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai Yesus Putra Mariam turun 

sebagai Penguasa yang Adil (yaitu, atas umat manusia) dan sebagai 

Pemimpin yang Adil (bagi orang-orang yang beriman). 

(Sunan ibnu majah) 

Namun, mari kita ingat bahwa awal Sejarah juga memberi 

tahu kita sebuah hubungan satu samaa lain dengan akhir Sejarah. 

Hubungan atau keterkaitan ini terletak (dalam upaya mereka untuk 

menetapkan Pax Dei Palsu versi mereka) pada karakter orang-orang 

yang arogan, yang menganggap diri mereka sendiri (seperti sifat Iblis) 

lebih unggul dari umat manusia lainnya. Mereka juga mengklaim 

(seperti sifat iblis) bahwa asal-usul keturunan mereka lah yaitu  

keturuan yang terbaik dan superior, Dengan kata lain, mereka 

mengklaim bahwa Tuhan memilih mereka sebagai umat pilihan-Nya 

dengan mengesampingkan seluruh umat manusia. Mereka juga 

mengklaim sebagai kaum yang paling cerdas menurut mereka, 

karena mereka berkeyakinan bahwa Tuhan menganugerahkan 

pengetahuan yang lebih tinggi kepada mereka, seperti yang Dia (Iblis) 

lakukan kepada Adam dan karenanya mereka sendiri (merasa-red) 

yang paling memenuhi syarat untuk mendirikan Pax Dei. 

Perilaku seperti itu tidak dibenarkan di Surga, dan hal itu lah 

yang menyebabkan pengusiran Iblis dari Surga sebagai bentuk 

hukuman ilahi atas dirinya. Allah juga menyatakan bahwa 

kesombongan seperti itu akan dihukum dengan hukuman yang 

mengerikan, menghinakan, dan menestapakan : 

ا ا ال ِذي نَْ فَاَم  َمن و  تِْ َوَعِمل وا ا  َره مْ  فَي َوف ِي ِهمْ  الٰصِلح  و  ا ج   

نْ  َويَِزي د ه مْ  ْ فَضْ  م ِ ا ِله  ا ال ِذي نَْ َواَم  تَن َكف و  ْا اس  و  َبر  تَك  مْ  َواس  ب ه  فَي عَذ ِ  

َْلْ اَِلي ًماْ  َعذَاًبا نَْ و  مْ  َيِجد و  نْ  لَه  نِْ ِم  َْلْ َوِليًّا ّللٰاِْ د و  َنِصي ًرا و   

(Qur’ān, an-nisa, 4:173)  

… adapun orang-orang yang sombong, dan yang menyombongkan 

diri dalam kesombongan mereka, Allah akan menghukum mereka 

dengan hukuman yang mengerikan: dan mereka tidak akan 

menemukan seorang pun untuk melindungi mereka dari Allah, dan 

tidak seorang pun untuk membantu mereka. 

Oleh karena itu, Peristiwa yang akan terjadi di akhir Sejarah 

yang akan menyaksikan bagaimana bentuk hukuman llahi atas 

respon kesombongan (kaum yang arogan-red) ini , 

Sebagaimana bentuk hukuman Allah pada Iblis di akhir sejarah 

karena kesombongannya. 

1.4 Negara Suci didirikan 

Informasi pertama yang tertulis di dalam Al-Qur'an tentang 

realisasi Nubuah Ilahi yang diungkapkan pada episode pertama 

Sejarah untuk menetapkan aturan yang ditetapkan oleh Tuhan di 

bumi,  baru mulai terjadi setelah kedatangan Nabi Nuh  السالم عليه , 

Allah وسلم عليه للا ل  ص  berbicara kepada seorang penguasa tunggal 

bumi . (Al-Qur'an, al-A'rāf, 7:69; Yunus, 10:14; 10:73; an-Naml, 

27:62). Akan namun , Al-Qur’an tidak memberi kita informasi tentang 

Negara apa (jika memang ada) yang mereka kuasai. 

Bukti sejarah pertama yang kita ketahui (informasinya-red) 

tentang realisasi Negara seperti itu (Negara yang menerapkan aturan 

yang ditetapkan illlahi) yaitu  dalam ayat Al-Qur'an di mana Allah 

تعاىل و  سبحانه  menyatakan bahwa Dia meng-anugerahkan kepada Bani 

Ibrahim sebuah kerajaan besar : 

نَْ اَمْ  س د و  ى الن اسَْ َيح  مْ  َمآْٰ َعل  ىه  ت  ْ  ِمنْ  ّللٰا ْ ا  ِله  َنآْٰ فَقَدْ  فَض  تَي  لَْ ا  ا   

ِهي مَْ بَْ اِب ر  َمةَْ ال ِكت  مْ  َوال ِحك  ه  تَي ن  ل ًكا َوا  َعِظي ًما مُّ  

(Qur’ān, an-nisa, 4:54)  

47 

 

… adapun orang-orang yang sombong, dan yang menyombongkan 

diri dalam kesombongan mereka, Allah akan menghukum mereka 

dengan hukuman yang mengerikan: dan mereka tidak akan 

menemukan seorang pun untuk melindungi mereka dari Allah, dan 

tidak seorang pun untuk membantu mereka. 

 

Bukti pertama dalam Al-Qur'an tentang Kerajaan yang akan 

datang yang diberikan kepada Keluarga Ibrahim yaitu  posisi 

kekuasaan strategis yang penting yang diduduki Yusuf  السالم عليه   di 

Mesir yang pada waktu itu yaitu  sebuah monarki. Dia berdoa 

kepada Allah تعاىل و انهسبح  untuk bersyukur kepadaNya atas anugrah 

yang telah diberikan kepadanya: 

تَي تَنِيْ  قَدْ  َرب ِْ ۞ ل كِْ ِمنَْ ا  تَنِيْ  ال م  ََحاِدي ِث ْ تَأ ِوي لِْ ِمنْ  َوَعل م  اْل   

تِْ فَاِطرَْ و  ْ الس م  ِض  َر  ْ  اَن تَْ َواْل  َيا فِى َوِلي  ِخَرةِْ  الدُّن  تََوف ِنيْ  َواْل    

ِلًما س  اَل ِحق ِنيْ  م  ِبالٰصِلِحي نَْ و   

(Qur’ān, Yusuf, 12:101)  

“Ya Tuhanku! Engkau telah menganugerahkan kepadaku kekuatan 

(kekuasaan, kedaulatan), dan telah memberikan kepadaku 

kekuatan untuk menafsirkan  untuk mempelajari makna batin dari 

segala sesuatu. Duhai Pencipta langit dan bumi! Engkau dekat 

denganku di dunia ini dan di kehidupan yang akan datang: 

Matikanlah aku sebagai orang yang telah menyerahkan dirinya 

kepada-Mu dan masukanlah aku kedalam golongan  orang-orang 

yang shalih. 

Ada petunjuk tentang kerajaan yang akan datang dalam 

peristiwa yang terjadi saat  Fir’aun memperbudak orang Israel di 

Mesir dan Allah تعاىل و سبحانه  akan membangkitkan Musa  السالم  عليه   

dan menugaskannya dengan misi untuk mengeluarkan mereka dari 

48 

 

perbudakan di Mesir dan memulai perjalanan kembali ke Tanah Suci. 

Allah   وسلم  عليه  للا  صل  mengungkapkan sebagai berikut: 

نْ  اَنْ  َون ِري د ْ ا ال ِذي نَْ َعلَى ن م  ِعف و  ت ض  ِضْ فِى اس  َر  مْ  اْل  عَلَه  َوَنج   

ةًْ مْ  اَىِٕم  عَلَه  َنج  ِرِثي نَْ و  ال و   ْ ۚ  

(Qur’ān, al-Qasas, 28:5)  

Dan Kami berkehendak untuk melimpahkan nikmat Kami kepada 

orang-orang yang tertindas, dan menjadikan mereka pemimpin dan 

penguasa, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisinya. 

Allah سبحانه و تعالى memberikan Petunjuk lebih lanjut perihal 

ini saat  Ia menyatakan : 

مْ  َوَجعَل َنا ةًْ ِمن ه  نَْ اَىِٕم  د و  ِرَنا ي ه  ا ِباَم  اْ  لَم  و  ا َصَبر  ِتَنا َوَكان و  ي  ِبا   

نَْ قِن و   ي و 

(Qur’ān, as-Sajdah, 32:24)  

Dan [sebagai] Kami mengangkat di antara mereka pemimpin yang, 

selama mereka menanggung diri mereka dengan kesabaran dan 

memiliki keyakinan yang teguh pada perintah Kami, membimbing 

[umat mereka] sesuai dengan perintah Kami [demikian juga dengan 

wahyu yang diturunkan. kepadamu, wahai Muhammad]. 

Kerajaan yang Besar tidak lama lagi akan berdiri; Kerjaaan 

yang besar itu berdiri setelah orang-orang Israel kembali ke Tanah 

Suci dari mana mereka telah terusir sekitar 400 tahun sebelumnya. 

Kerajaan besar yang dianugerahkan kepada Keluarga 

Ibrahim, yang dirujuk oleh Al-Qur’an, tentu saja yaitu  Negara Suci 

Israel yang didirikan oleh Raja Daud, yaitu Nabi Daud   السالم  عليه   di 

Tanah Suci (Yerusalem-Red). Allah تعاىل و سبحانه  menyebutnya dengan 

49 

 

sebuah nama saraya memberi tahu dia bahwa dia ditunjuk secara 

ilahi untuk memerintah di bumi : 

د ْ دَاو  كَْ اِن ا ي  ِضْ فِْى َخِلي فَةًْ َجعَل ن  َر  ك مْ  اْل  ِبال َحق ِْ الن اِسْ َبي نَْ فَاح   

ى تَت ِبعِْ َوَْلْ اِنْ  ّللٰاِْ َسِبي لِْ َعنْ  فَي ِضل كَْ ال َهو  نَْ ال ِذي نَْ ۚ  َيِضلُّو   

مْ  ّللٰاِْ َسِبي لِْ َعنْ  ِبَما َشِدي د ْ َعذَابْ  لَه  ا ۚ  مَْ َنس و  ال ِحَسابِْ َيو   ࣖ 

(Qur’ān, Sad, 38:26) 

“Wahai Daud! Sesungguhnya, Kami telah menetapkan kamu untuk 

memerintah di bumi: tegakkan pemerintahanmu, dan aturlah 

orang-orang dengan Kebenaran, dan jangan mengikuti agenda 

sekuler yang angkuh, karena hal itu akan menyesatkan kamu dari 

jalan Allah. Sesungguhnya bagi orang-orang yang saat  

memerintah kesesatan dari jalan Allah, akan ada siksaan yang 

sangat pedih bagi mereka karena melupakan Hari Pembalasan. 

Tentu saja Nabī Daūd yang memilih Yerusalem sebagai ibu 

kota Negara Suci itu. 

Bukan hanya karena Allah SWT yang menetapkan bahwa 

Nabī Daūd harus mendirikan Negara Khilafah pertama, atau Negara 

Suci di dalam Sejarah, akan namun  Ia melanjutkan kembali untuk 

memenuhi pernyataanNya (Nubuah Illahi-Red) bahwa Allah swt akan 

menganugerahkan kerajaan yang besar kepada Bani Ibrahim, Inilah 

korelasinya dengan apa yang terjadi saat  Dia membawa Negara 

atau Kerajaan ini t tumbuh dan berkembang dalam kekuatan 

dan kekuasaan hingga pada masa Nabi Sulaiman ( السالم عليه  ), 

kerajaan itu menjadi kerajaan terbesar di dunia : 

ل َكهْ  َوَشدَد نَا ه ْ م  تَي ن  َمةَْ َوا  لَْ ال ِحك  ال ِخَطابِْ َوفَص    

(Qur’ān, Sad, 38:20) 


 

Dan Kami kuatkan Kerajaannya (atau Negara) dan Kami berikan 

kepadanya kebijaksanaan dan kecerdasan dalam mengambil 

keputusan.. 

1.5 Negara Suci, Tanah Suci, dan Bangsa Israel 

Al-Qur'an telah memberitahu kita bahwa Allah SWT 

membawa Nabi Ibrahim ( السالم عليه  ) dari Babilonia ke tanah khusus. 

Keturunannya menetap di tanah ini , dan di tanah itulah  Nabi 

Daud ( السالم  عليه  ) mendirikan Negara Israel dan Nabī Sulaimān as 

putranya, memerintah dunia dari Negara ini . 

Hal iitu digambarkan di dalam Al-Qur'an, pertama, Ia 

sebagai tanah yang diberkati (yang secara khusus diberkati oleh Allah 

SWT) : 

ِضْ … َر  َنا ال ِتيْ  اْل  َرك  ِضْ  فِي َهاْ  ب  َر  َنا ال ِتيْ  اْل  َرك  فِي َهاْ  ب   … 

(Qur’ān, al-Anbiya, 21:81) 

…Tanah yang kami berkati… 

 

َنا ال ِذيْ   … َرك  لَهْ  ب  َحو   … 

(Qur’ān, al-Isra, 17:01) 

dan Kami ‘memberkati’ tanah di mana (yaitu, Masjid al-Aqsā) 

berada … 

ِضْ … َر  َْ ال تِيْ  اْل  نا َرك  لَِمي نَْ فِي َها ب  ِلل ع   

(Qur’ān, al-Anbiya, 21:71) 

… tanah yang kami berkahi bagi seluruh umat manusia. 

51 

 

Dan Nabī Musa ( السالم عليه  ) menggambarkannya sebagai 'tanah suci' 

مِْ قَو  ل وا ي  ضَْ اد خ  َر  قَد َسةَْ اْل  ا َوَْلْ لَك مْ  ّللٰا ْ َكتَبَْ ال تِيْ  ال م  تَدُّو  تَر   

ٰٓى ا اَد َباِرك مْ  َعل  ِسِري نَْ فَتَن قَِلب و  خ   

(Qur’ān, al-Maidah, 5:21) 

…Wahai umatku, masuklah ke Tanah Suci… 

Bani Israil sebenarnya yaitu  keturunan Ibrahim (  السالم عليه  ) 

melalui putranya Nabi Ishāq ( السالم عليه  ), dan melalui putra Nabi 

Ishāq, lalu memiki keturunan yaitu Nabi Ya’qub (  السالم عليه  ). Al-

Qur'an menyebut mereka sebagai Bani Isrāīl, dan melalui ayat al-

Qur’an di bawah ini, di mana Zakaria berdoa untuk seorang anak laki-

laki, kami membenarkan bahwa Bani Isrāīl yaitu  nama yang 

diberikan kepada mereka yang memiliki garis keturunan dari Yakub : 

 

لِْ ِمنْ  َويَِرثْ  ي ِرث نِيْ  بَْ ا  عَل ه ْ يَع ق و  َرِضيًّْا َرب ِْ َواج   

(Qur’ān, Mariam, 19:6) 

“siapa yang akan menjadi pewarisku, serta pewaris Keluarga Yakub 

(karenanya garis keturunannya akan mencapai sampai ke Yakub); 

dan berikanlah dia ridha-Mu, ya Tuhanku! 

Untuk alasan yang akan dijelaskan dalam Bab selanjutnya 

dari buku ini, Al-Qur'an memilih penggunaan nama 'Israel', untuk 

Yakub dalam ayat di bawah ini : 

ىِٕكَْ

نَْ َعلَي ِهمْ  ّللٰا ْ اَن عَمَْ ال ِذي نَْ ا ول ٰۤ نَْ ِم  ي ةِْ ِمنْ  الن ِبي   دَمَْ ذ ر ِ نْ  ا  َوِمم   

ح ْ  َمعَْ َحَمل َنا ِمنْ  ن و  ي ةِْ و  ِهي مَْ ذ ر ِ ِءي لَْ اِب ر  َراٰۤ َواِس   ْ ۚ  

(Qur’ān, Mariam, 19:58) 

52 

 

Ada beberapa nabi yang Allah berikan berkah-Nya—[nabi] dari 

keturunan Adam dan dari mereka yang Kami lahirkan [di dalam 

bahtera] bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel … 

Ayat diatas yaitu  bukti didalam Al-Qur'an yang menegaskan 

bahwa Bani Isrāīl, atau orang-orang Israel, yaitu  termasuk golongan 

Bani Ibrahim dan tentu saja Negara atau Kerajaan Suci mereka yang 

didirikan di Tanah Suci dan diberkati itu. 

namun  Taurat melanjutkan dengan mengklaim bahwa Tanah 

Suci diberikan kepada mereka dengan Cuma-cuma sehingga tanah itu 

yaitu  tanah mereka, dan mereka memahami bahwa Taurat telah 

memberi mereka hak eksklusif atas Tanah Suci ini ; maka 

mereka percaya bahwa itu milik mereka, dan hanya milik mereka. 

Kami sekarang melanjutkan, dengan Al-Qur'an, untuk 

memeriksa validitas keyakinan Yahudi tentang kepemilikan eksklusif 

Tanah Suci. 

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa Tanah ini t telah 

telah tertulis untuk mereka, sebagai berikut : 

 

مِْ قَو  ل وا ي  ضَْ اد خ  َر  قَد َسةَْ اْل  ا َوَْلْ لَك مْ  ّللٰا ْ َكتَبَْ ال تِيْ  ال م  تَدُّو  تَر   

ٰٓى ا اَد َباِرك مْ  َعل  ِسِري نَْ فَتَن قَِلب و  خ   

(Qur’ān, al-Maidah, 5:21) 

(Dan Musa berkata): “Wahai umatku! Masuklah ke Tanah Suci yang 

telah Allah tuliskan untukmu; namun  janganlah berbalik [pada 

imanmu], karena pada waktu itu kamu akan tersesat!” 

 

Kita perlu memastikan : apa yang tertulis untuk mereka 

tentang Tanah itu? 

53 

 

Al-Qur’an menjawab pertanyaan itu saat  Allah menyatakan 

bahwa tanah itu ditulis untuk mereka sebagai tanah tempat tinggal : 

أ َنا َولَقَدْ  ْٰٓ َبو  ِءي لَْ َبنِي  َراٰۤ اَْ اِس  َبو  مْ  ِصد قْ  م  ه  َرَزق ن  نَْ و  تِْ ِم  الط ي ِب   

ْ  ۚ ا فََما تَلَف و  َءه مْ  َحتٰى اخ  اِنْ  ال ِعل مْ  َجاٰۤ مْ  َيق ِضيْ  َرب كَْ ۚ  َبي نَه   

مَْ َمةِْ َيو  ا فِي َما ال ِقي  نَْ فِي هِْ َكان و  تَِلف و  َيخ   

(Qur’ān, Yunus, 10:93) 

Dan [setelah itu], sesungguhnya, Kami berikan kepada orang Israel 

tempat tinggal di tanah Sidq (yaitu, tanah kebenaran, kesetiaan, 

ketaatan dan ketulusan — dan itu yaitu  Tanah Suci), dan memberi 

mereka rezeki. dari hal-hal baik dalam hidup. Dan tidak akan sampai 

pengetahuan [tentang apa yang telah ditetapkan Allah dalam 

wahyu-Nya] bahwa mereka mulai memiliki pandangan yang 

berbeda: [namun ,] sesungguhnya, Tuhanmu Allah akan memutuskan 

di antara mereka pada Hari Kebangkitan tentang semua yang 

mereka perselisihkan. 

 

Al-Qur'an kembali memakai  bahasa yang sama saat  

ditujukan kepada orang-orang Israel setelah Allah SWT secara 

manakjubkan menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun dan bala 

tentaranya dengan membelah lautan untuk mereka dan kemudian 

menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya. Allah SWT 

mengarahkan mereka untuk tinggal di Tanah Suci : 

ق ل َنا ِءي لَْ ِلَبنِيْٰٓ  بَع ِدهْ  ِمن ْ  و  َراٰۤ ك ن وا اِس  ضَْ اس  َر  ءَْ فَِاذَا اْل  د ْ َجاٰۤ َوع   

ِخَرةِْ لَِفي فًاْ  بِك مْ  ِجئ َنا اْل    

(Qur’ān, al-Isra, 17:104) 

Dan setelah (mereka telah menyeberangi Laut dengan aman) Kami 

berkata kepada Bani Israel: “Tinggallah dengan aman sekarang di 

54 

 

Tanah (yaitu, Tanah Suci)—namun  [ingatlah bahwa] saat  janji Hari 

Akhir akan terjadi, Kami akan membawamu keluar sebagai [bagian 

dari] kerumunan yang bercampur-baur.” 

 

Al-Qur’an selanjutnya menyatakan, dengan jelas, bahwa 

tanah itu diberikan kepada mereka sebagai Warisan : 

 

 

َرث َنا مَْ َواَو  ْا ال ِذي نَْ ال قَو  نَْ َكان و  عَف و  تَض  ِضْ َمَشاِرقَْ ي س  َر  اْل   

َنا ال تِيْ  َوَمغَاِرَبَها َرك  تْ  فِي َهاْ  ب  ى َرب ِكَْ َكِلَمتْ  َوتَم  ن  س  ى ال ح  َعل   

ْٰٓ ِءي َلْ  َبِني  َراٰۤ اْ  بَِما اِس  و  َنا َصبَر  ر  َنعْ  َكانَْ َما َودَم  نْ  َيص  َعو  فِر   

هْ  م  ا َوَما َوقَو  نَْ َكان و  َيع ِرش و   

(Qur’ān, al-A’raf, 7:137) 

… sedangkan kepada orang-orang yang [di masa lalu] dianggap 

sangat terhina, Kami berikan sebagai warisan mereka (yaitu, untuk 

mewarisi) bagian timur dan barat dari tanah yang telah Kami 

berkahi (yaitu, Tanah Suci). Dan dengan demikian janji baik 

Tuhanmu kepada anak-anak Israel digenapi sebagai hasil dari 

kesabaran mereka dalam kesulitan; sedangkan Kami benar-benar 

membinasakan semua yang dibuat Firaun dan kaumnya, dan semua 

yang mereka bangun. 

 

namun  sekarang kita harus segera menjelaskan bahwa 

Tanah Suci tidak pernah diberikan kepada orang Israel sebagai milik 

abadi dengan mengesampingkan semua umat manusia lainnya. Itu 

salah! Sebaliknya, Al-Qur'an telah memberikan penjelasan yang jauh 

lebih kredibel saat  menyatakan bahwa Allah menempatkan berkah 

55 

 

di Tanah Suci untuk semua dari antara umat manusia yang beriman 

kepada-Nya dan yang perilakunya saleh : 

ه ْ ي ن  ًطا َوَنج  ِضْ اِلَى َول و  َر  َْ ال تِيْ  اْل  نا َرك  لَِمي نَْ فِي َها ب  ِلل ع   

(Qur’ān, al-Anbiya, 21:71) 

Kami menyelamatkan dia (yaitu, Ibrahim) serta Luth, [putra 

saudaranya, dengan membimbing mereka] ke tanah yang Kami 

berkahi untuk seluruh umat manusia 

Kesimpulan pertama yang kita dapatkan yaitu  Pemahaman 

Yahudi tentang Taurat, bahwa Allah SWT memberikan kepemilikan 

eksklusif Tanah Suci kepada orang-orang Israel dengan 

mengesampingkan semua ummat yang lainnya, yaitu  salah. Tanah 

Suci yaitu  milik mereka, serta ummat-ummat yang lainnya yang 

beriman kepada Allah SWT. 

 

1.6 Apakah pemberian Tanah Suci bersyarat atau tidak bersyarat? 

Orang-orang Yahudi memahami Taurat telah menyatakan 

bahwa Tanah Suci diberikan kepada orang-orang Israel tanpa syarat; 

dengan kata lain, tidak peduli apakah perilaku mereka benar atau 

jahat, apakah mereka setia pada Kebenaran atau tidak, tanah itu 

tetap milik mereka. Inilah pemahaman mereka tentang implikasi dari 

pernyataan aneh ini dalam Taurat: 

“Karena itu ketahuilah, bahwa bukan karena keshalihanmu, 

Tuhanmu, telah memberikan kepadamu tanah yang baik ini untuk 

dimiliki; karena kamu yaitu  orang-orang yang angkuh.” 

(Deuteronomy: 9:6) 

56 

 

Al-Qur'an mengungkap kepalsuan kepercayaan Yahudi ini 

saat  memberitahu kita bahwa Allah SWT menetapkan kondisi iman 

dan perilaku yang benar untuk tinggal di Tanah Suci: 

Al-Qur'an mengungkap kepalsuan kepercayaan Yahudi ini 

saat  memberitahu kita bahwa Allah  تعاىل و  سبحانه  menetapkan 

kondisi iman dan perilaku yang benarlah untuk tinggal di Tanah Suci 

رِْ فِى َكتَب نَا َولَقَدْ  ب و  ْ  الز  ك رِْ بَع دِْ ِمن  ضَْ اَنْ  الذ ِ َر  اْل   

نَْ ِعبَاِديَْ يَِرث َها و  الٰصِلح   

(Qur’ān, al-Anbiya, 21:105) 

Kami menyatakan dalam Zabūr (yaitu, Mazmur Daud) bahwa 

hamba-hamba-Ku yang saleh akan mewarisi (dan karenanya 

memiliki hak tinggal di) Tanah. 

Tidak ada bagian bumi yang pernyataan ini (di atas) 

menemukan penerapan yang lebih tegas daripada (yang dimaksud 

dalam ayat diatas – Red) di Tanah Suci karena Al-Qur'an lebih lanjut 

mengungkapkan bahwa setiap kali bangsa Israel melanggar atas 

syarat kepemilikan di Tanah Suci, Allah  تعاىل و  سبحانه  mengusir mereka 

dari Tanah. 

Dalam Surah al-Isra' (17:4-7 di bawah), Al-Qur'an 

mengidentifikasi dua periode pelanggaran ini , dan menyatakan 

bahwa Allah تعاىل و سبحانه  mengusir mereka dari Tanah Suci 

disebabkan oleh kedua perkara yang mereka lakukan : 

 

ى َوقََضي َنآْٰ ْٰٓ اِل  ِءي لَْ َبِني  َراٰۤ بِْ فِى اِس  ِضْ فِْى لَت ف ِسد نْ  ال ِكت  َر  تَي نِْ اْل  َمر   

ا َولَتَع ل نْ  َكِبي ًرا ع ل وًّ  

57 

 

(Qur’ān, al-Isra, 17:4) 

Dan Kami peringatkan Bani Israil melalui Wahyu bahwa mereka 

akan dua kali melakukan Fasad (yaitu, apa yang merusak dengan 

cara yang dapat menghancurkan) di Tanah (yaitu, Tanah Suci), dan 

menjadi sombong dan sombong dalam perilaku mereka (namun  

mereka melakukannya tidak mengindahkan peringatan Kami). 

ءَْ فَِاذَا د ْ َجاٰۤ َمْا َوع  ىه  ل  ْٰٓ ِعبَادًا َعلَي ك مْ  بَعَث نَا ا و  ا وِليْ  ل نَا  

ْ ْا َشِدي دْ  بَأ س  لَْ فََجاس و  يَاِرْ  ِخل  دًْا َوَكانَْ الد ِ ًْلْ َوع  ف ع و  م   

(Qur’ān, al-Isra, 17:5) 

Oleh karena itu, saat  masa pertama perilaku jahat terjadi (seperti 

yang telah Kami peringatkan) Kami menghukum Anda dengan 

mengirimkan kepada Anda beberapa budak Kami yang memiliki 

kecakapan yang mengerikan dalam perang, dan mereka 

menghancurkan Anda dengan kehancuran total; dengan demikian 

peringatan hukuman kami terpenuhi. (Orang Israel diusir dari Tanah 

Suci dan dibawa ke perbudakan di babilonia). 

ةَْ لَك مْ  َردَد َنا ث مْ  ك مْ  َعلَي ِهمْ  ال َكر  دَد ن  َوالْ  َواَم  َبِني نَْ ِباَم  ك مْ  و  ثَرَْ َوَجعَل ن  اَك   

 َنِفي ًرْا

(Qur’ān, al-Isra, 17:6) 

namun  setelah beberapa waktu berlalu, Kami mengizinkanmu untuk 

menang sekali lagi melawan mereka  (dan untuk kembali ke Tanah 

Suci untuk tinggal di dalamnya) dan Kami membantumu dengan 

kekayaan dan keturunan, dan menjadikanmu berjumlah lebih 

banyak [daripada sebelumnya] 

58 

 

َسن ت مْ  اِنْ  َسن ت مْ  اَح  َواِنْ  ِْلَن ف ِسك مْ  اَح  ءَْ فَِاذَا فَلََهاْ  اََسأ ت مْ  ۚ  د ْ َجاٰۤ َوع   

ِخَرةِْ ا اْل   ـُٔو 

َهك مْ  ِلَيس ٰۤ و  ج  ل وا و  ِجدَْ َوِلَيد خ  ه ْ َكَما ال َمس  لَْ دََخل و  اَو   

ة ْ ا َمر  و  ِلي تَب ِر  ا َما و  تَت ِبي ًرا َعلَو   

(Qur’ān, al-Isra, 17:7) 

Dan Kami sekali lagi memberkan peringatan kepadamu, selain  

peringatan sebelumnya: “Jika kamu berjuang untuk kebaikan, kamu 

akan berbuat baik untuk keberuntungan kamu sendiri; dan jika 

kamu kembali ke perbuatan jahat, kamulah yang harus membayar 

akibatnya.” Maka, sebagaimana yang telah kamii periingatkan 

kepadamu, tibalah masa kedua Fasad, Kami bangkitkan kembali 

orang-orang yang menghukummu dengan cara yang sangat 

mengerikan yang membawa aib bagimu, dan mereka memasuki dan 

menghancurkan Masjid (atau Kuil yang dibangun oleh seperti yang 

terjadi pada kesempatan sebelumnya, dan mereka menghancurkan 

dengan kehancuran total semua yang telah mereka taklukkan. 

Setelah menceritakan tentang dua periode Fasad yang 

terjadi pada bangsa Israel, (yaitu yang merusak dan dapat 

menghancurkan) di Tanah Suci, dan tentang akibat dari dua kali 

pengusiran dari Tanah itu (meskipun Tanah diberikan kepada mereka 

untuk tinggal di sana) Al-Qur'an memberitahu mereka bahwa pintu 

rahmat masih terbuka bagi mereka. Namun, jika mereka kembali ke 

Tanah Suci dengan perilaku jahat, mereka diperingatkan akan 

pengusiran lagi dari Tanah itu : 

ى َحَمك م ْ  اَنْ  َربُّك مْ  َعس  َناْ  ع د تُّمْ  َواِنْ  ي ر  َجَهن مَْ َوَجعَل َنا ع د   

ِفِري نَْ َحِصي ًرْا ِلل ك   

(Qur’ān, al-Isra, 17:8) 

Tuhan mu mungkin masih menunjukkan belas kasihan kepadamu; 

namun  jika kamu kembali kepada perilaku jahat, Kami akan kembali 

59 

 

menghukumu; dan ingatlah ! Kami telah menetapkan bahwa  

Neraka akan menutup semua orang yang menolak dan menentang 

kebenaran tentang masalah ini. 

Ayat-ayat Al-Qur'an di atas dengan jelas menetapkan bahwa 

pemberian Tanah Suci kepada orang-orang Israel bergantung pada 

Iman dan perilaku yang saleh; oleh karena itu kepercayaan orang 

Yahudi pada pemberian Ilahi tanpa syarat dari Tanah Suci kepada 

mereka yaitu  salah. 

Bukti lebih lanjut bahwa hal itu salah, akan muncul secara 

dramatis di akhir Sejarah saat  mereka melanggar syarat-syarat 

pewarisan Tanah Suci untuk terakhir kalinya(dan itulah tepatnya 

perilaku mereka saat buku ini ditulis) tapi kali ini bukannya diusir, 

mereka bahkan dihancurkan. 

Buku ini menjelaskan realitas kembalinya orang-orang 

Yahudi yang jahat dan berlumuran darah ke Yerusalem dan Tanah 

Suci di Zaman Modern, dan menjelaskan kehancuran mereka yang 

ditetapkan secara Ilahi di Tanah Suci pada akhir Sejarah. Mereka akan 

dihancurkan sebagai akibat dari pelanggaran dan pembangkangan 

mereka terhadap keimanan dan perilaku yang benar sebagai pewaris 

Tanah Suci ini . 

Al-Qur'an t dengan jelas menetapkan kewajiban bagi orang-

orang beriman untuk bangkit melawan perilaku jahat di 'kota' (yang 

jelas merupakan Yerusalem) pada saat kaum tertindas telah direduksi 

menjadi kelemahan dan ketidakberdayaan yang hina : 

نَْ َْلْ لَك مْ  َوَما عَِفي نَْ ّللٰاِْ َسِبي لِْ فِيْ  ت قَاِتل و  تَض  س  َجالِْ ِمنَْ َوال م  الر ِ  

ءِْ نَْ ال ِذي نَْ َوال ِول دَانِْ َوالن َِساٰۤ ل و  َنا َرب َنآْٰ َيق و  ِرج  ِذهِْ ِمنْ  اَخ  َيةِْ ه  ال قَر   

ل َهاْ  الظ اِلمِْ عَلْ  اَه  عَلْ  َوِليًّاْ  ل د ن كَْ ِمنْ  ل َنا َواج  ل د ن كَْ ِمنْ  ل َنا َواج   

 َنِصي ًرْا

60 

 

(Qur’ān, an-Nisa, 4:75) 

Bagaimana kamu bisa menolak untuk berperang di jalan Allah demi 

orang-orang yang lemah dan tidak berdaya, pria dan wanita dan 

anak-anak yang menangis, “Ya Tuhan kami! Pimpin kami [ke 

kebebasan] keluar dari negeri ini yang rakyatnya penindas, dan 

bangkitkan bagi kami, karena rahmat-Mu, orang yang akan 

melindungi kami, dan bangkitkan bagi kami, dari kasih karunia-Mu, 

orang yang akan membebaskan kami dari penderitaan !” 

Saat buku ini ditulis, beberapa pemerintah negara-negara 

Muslim mengkhianati seruan Al-Qur'an yang meminta mereka untuk 

bangkit dan berjuang untuk membebaskan yang tertindas. Bukannya 

bangkit, mereka malah menjadi negara anggota NATO, atau mereka 

membungkuk dalam sujud di hadapan penindas atau sambil 

memperluas pengakuan politik ke Negara Israel. 

saat  orang-orang beriman yang pada akhirnya bangkit 

sebagai jawaban atas panggilan Allah, dan saatnya tiba untuk 

pembebasan terakhir Yerusalem dari penindasan, situasi akan 

berubah : 

ا اِذَا َحتٰىْٰٓ نَْ َما َراَو  َعد و  نَْ ي و  و  عَفْ  َمنْ  فََسيَع لَم  اَقَلُّْ َناِصًرا اَض  و   

 َعدَدًاْ 

(Qur’ān, al-Jinn, 72:24) 

Biarkan mereka, kemudian, menunggu sampai saat saat  mereka 

melihat malapetaka yang mereka telah diperingatkan sebelumnya: 

karena kemudian mereka akan memahami siapakah yang lebih 

tidak berdaya dan yang jumlahnya lebih sedikit.. 

saat  perjuangan terakhir untuk membebaskan dari 

penindasan di Yerusalem benar-benar terjadi, Allah  تعاىل و سبحانه  

memperingatkan bahwa tidak akan ada ruang untuk berkompromi, 

61 

 

atau untuk perdamaian atau gencatan senjata. Sebaliknya Dia akan  

menghabiskan perjuangan sampai berakhir terlepas dari 

kemungkinan mengorbankan banyak nyawa untuk melawan mereka 

dalam rangka berjuang untuk meraih kebebasan : 

ا فََلْ ا تَِهن و  ِمْ  اِلَْى َوتَد ع و ٰٓ ل  َنْ  َواَن ت مْ  الس  لَو  َع  َوّللٰا ْ اْل   

َمالَك مْ  ي تَِرك مْ  َولَنْ  َمعَك مْ  اَع   

(Qur’ān, Muhammad, 47:35) 

Dan ketahuilah, saat  kamu berjuang untuk tujuan yang adil itu, 

jangan putus asa dan jangan pernah memohon perdamaian: karena 

Allah menyertaimu, Pasti pada akhrnya akan dijadikan lebih unggul; 

dan Dia tidak akan pernah membiarkan perbuatan baikmu menjadi 

sia-sia 

Akhirnya, Al-Qur’an mengirimkan pesan yang luar biasa 

kepada bangsa Israel bahwa sejarah pada saat itu akan berulang. 

Seperti halnya orang-orang yang lemah dan tidak berdaya 

dibebaskan oleh ketetapan Allah dari penindasan Fir’aun di Mesir dan 

kemudian mewarisi Tanah Suci, demikian pula orang-orang beriman 

yang lemah dan tidak berdaya akan dibebaskan dari penindasan 

Negara palsu. Israel, dan mereka kemudian dengan keputusan Ilahi, 

mewarisi Tanah Suci : 

نْ  اَنْ  َون ِري د ْ ا ال ِذي نَْ َعلَى ن م  ِعف و  ت ض  ِضْ فِى اس  َر  مْ  اْل  عَلَه  َوَنج   

ةًْ مْ  اَىِٕم  عَلَه  َنج  ِرِثي نَْ و  ال و   ْ ۚ  

(Qur’ān, al-Qasas, 28:5) 

namun i itulah kehendak Kami untuk melimpahkan kebaikan Kami 

kepada orang-orang yang dianggap sangat rendah di negeri ini, dan 

menjadikan mereka pelopor dalam iman, dan menjadikan mereka 

pewaris Tanah Suci. 

62 

 

Kita akan menunggu bagaimana nasib orang-orang Yahudi 

yang memiliki watak seperti Fir’aun sang penindas, sekali lagi seperti 

Fir’aun yang dengan keras kepala dan arogan menolak Kebenaran. 

kali ini Mereka (orang-orang Yahudi) menolak kebenaran bahwa 

Yesus  السالم عليه   yaitu  al-Masih, niscaya mereka akan mengalami 

nasib yang sama seperti Firaun. Bagimana Nasib mereka ? 

saat  takdir yang telah ditentukan untuk Fir’aun tiba, dan 

dia tenggelam di laut, Kebenaran yang telah disampakan kepadanya 

sedemikian rupa sehingga dia terpaksa menerimanya, dan 

menyatakan, (sesaat sebelum kematiannya), keimanan kepada 

Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang diimani orang-orang Israel. 

Tanggapan Ilahi terhadap pernyataan iman itu dengan jelas 

menunjukkan bahwa sudah terlambat untuk menyelamatkannya dari 

api neraka. Sebaliknya, Allah dzat Maha Tinggi kemudian 

menetapkan (pada saat kematian Fir’aun), bahwa jasadnya akan 

terpelihara sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai tanda 

yang luar biasa bagi orang-orang yang akan datang setelahnya. 

Pandangan kami tentang tanda itu yaitu  bahwa mereka yang akan 

berperilaku jahat seperti dia, akan mengalami nasib yang sama 

seperti dia, yaitu, mereka akan mati dengan cara sebagaimana dia 

(Fir’aun) mati : 

َنا ۞ ْٰٓ َوَجاَوز  ِءي لَْ ِبَبنِي  َراٰۤ رَْ اِس  مْ  ال َبح  نْ  فَاَت بَعَه  َعو  د هْ  فِر  ن و  َوج   

ًيا َعد ًوا بَغ  َحتٰىْٰٓ و  َمن تْ  قَالَْ ال غََرقْ  اَد َرَكه ْ اِذَآْٰ ۚ  هَْ َْلْٰٓ اَن هْ  ا  ْ اِل  اِْل   

َمَنتْ  ال ِذي ْٰٓ ا ِبهْ  ا  ِءي لَْ َبن و ٰٓ َراٰۤ ِلِمي نَْ ِمنَْ َواََناْ  اِس  س  ال م   

(Qur’ān, Yunus, 10:90) 

Dan Kami membawa orang-orang Israel menyeberangi laut; dan 

kemudian Firaun beserta bala tentaranya mengejar mereka dengan 

kekejaman dan kezaliman yang keras, sampai [mereka dibanjiri oleh 

air laut. Dan saat ] dia hampir tenggelam, [Firaun] berseru: “Saya 

percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang dipercayai oleh 

63 

 

orang Israel, dan saya termasuk orang-orang yang menyerahkan 

diri kepada-Nya! 

نَْ ـ  

ل 

ف ِسِدي نَْ ِمنَْ َوك ن تَْ قَب لْ  َعَصي تَْ دْ َوقَْ ا ٰۤ ال م    

(Qur’ān, Yunus, 10:91) 

[namun  Allah berfirman:] “Sekarang?—Padahal selama ini kamu 

memberontak [melawan Kami], dan melakukan Fasad?” 

(Tanggapan ilahi ini menunjukkan bahwa pernyataan iman datang 

terlambat untuk diterima. 

مَْ ي كَْ فَال َيو  نَْ ِبَبدَِنكَْ ن َنج ِ َيةًْ َخل فَكَْ ِلَمنْ  ِلتَك و  َواِنْ  ا  نَْ َكِثي ًرا ۚ  ِم   

ِتَنا َعنْ  الن اِسْ ي  نَْ ا  ِفل و  لَغ   

(Qur’ān, Yunus, 10:92) 

“Hari ini, Firaun, Kami telah menetapkan agar jasadmu diawetkan 

sehingga dapat berfungsi sebagai tanda yang menakjubkan bagi 

orang-orang yang akan datang setelah kamu; namun begitu banyak 

yang lalai dari peringatan Kami!” 

Dari ayat-ayat al-Qur’an diatas, Seolah ingin menyampaikan 

Peringatan keras kepada mereka yang mendukung penindasan tanpa 

henti, dan penolakan keras terhadap Kebenaran yang dlilakukan 

Negara Israel saat ini, seperti berikut : 

“Kamu hidup mengikuti cara hidup Fir’aun, dan Kamu 

akan dibinasakan dengan cara bagaimana dia binasa. 

Hingga saat-saat terakhir sebelum Dia mati karena 

tenggelam di Laut Merah, Dia sempat yakin bahwa dia 

akan berhasil. demikian juga, apakah orang-orang 

Yahudi akan tetap yakin akan keberhasilan sampai 

saat al-Masih kembali?” 

64 

 

Saat buku ini sedang ditulis, Angkatan Bersenjata Amerika 

Serikat (AS) sedang bersiap untuk meninggalkan Afghanistan setelah 

melewati kegagalan, lebih dari dua puluh tahun pendudukan militer 

yang brutal dan tidak adil, untuk menaklukkan rakyat Afghanistan. 

Mundurnya AS dari Afghanistan pasti akan menghasilkan pemulihan 

Imarah Islam di Afghanistan yang telah didirikan setelah penarikan 

Soviet. Rencana Ilahi dengan demikian perlahan-lahan terungkap 

yang akan menyaksikan pembersihan akhir Tanah Suci dari para 

penindas. Nabi Muhammad    وسلم عليه  للا  صل   menubuatkan bahwa 

pasukan tak terbendung yang datang dari Khorasan akan 

membebaskan Tanah Suci, dan peristiwa baru-baru ini tampaknya 

menegaskan bahwa ini memang akan terjadi. 

1.7 Hilangnya tiba-tiba Negara Suci Israel 

Pasca wafatnya Nabi Sulaiman   السالم عليه , Negara Suci Israel 

mulai runtuh, dan akhirnya menghilang. Ini lah peristiwa yang paling 

traumatis dan menyakitkan dalam sejarah Israel. Mereka tidak 

memiliki pengetahuan pasti tentang penyebab hilangnya Israel Suci 

secara misterius (Bukan hanya pada waktu itu, namun  juga sampai hari 

ini) Sebaliknya, mereka berdebat tentang subjek ini dan berselisih  

pendapat dalam penjelasan mereka. 

Hanya saat  Al-Qur’an diturunkan, Allah تعاىل و سبحانه  

mengungkapkan untuk pertama kalinya, penjelasan yang benar atas 

lenyapnya Negara Suci Israel. Kami telah menulis sebuah buku 

tentang topik itu yang berjudul: “Al-Qur'an, Dajjal dan Jasad” 

Pembaca dapat menemukan penjelasan rinci dalam buku ini . 

Al-Qur'an telah menyatakan bahwa Ia datang untuk menjelaskan 

kepada orang-orang Israel banyak hal yang mereka perselisihkan, dan 

inilah salah satu hal yang akan dijelaskan. Berikut penjelasan 

singkatnya yang ada di dalam Al-Qur’an. 

65 

 

Tepat pada saat sejarah saat  Negara Israel  telah menjadi Negara 

Penguasa di dunia, yaitu Pax Dei, Allah dzat Maha Tinggi 

menyebabkan Sulaiman  السالم عليه   mengalami suatu peristiwa yang 

membuatnya tertekan : 

نَْ فَتَن ا َولَقَدْ  ى َواَل قَي نَا س لَي م  ِسي ِهْ  َعل  اَنَابَْ ث مْ  َجَسدًْا ك ر   

(Qur’ān, Sad, 38:34) 

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman saat Kami 

tempatkan seorang Jasad di singgasananya; dan saat  dia 

memahami makna dan menyadari tanda dari penglihatan itu, dia 

berbalik kepada Kami dengan penuh penyesalan” 

Nabi Sulaiman  السالم عليه   mengalami sebuah Penglihatan, 

di mana dia melihat seseorang duduk di singgasananya. Al-Qur'an 

menggambarkan sosok itu sebagai Jasad dan menyatakan bahwa 

Penglihatannya yaitu  Fitnah yang akan terjadi, yaitu, dan hal itulah 

yang membuat Nabi Sulaiman  مالسال  عليه  merasa cemas. 

Sulaiman   السالم عليه   segera mengenali Jasad itu. Dia juga 

memahami arti dan implikasi dari Penglihatannya ini  (Melihat 

Jasad). 

Siapa, atau apa, Jasad ini ? 

Tentu saja, bukanlah metodologi yang tepat untuk 

mempelajari Al-Qur'an memakai  kamus untuk mencari arti kata 

“Jasad”, atau dengan demikian mempelajari dan memahami ayat ini 

secara terpisah—yaitu, berdiri sendiri. 

Metodologi yang tepat yaitu  mempelajari Al-Qur’an 

secara keseluruhan, dan dengan demikian berusaha memahami Al-

Qur’an dengan Al-Qur’an. Dari tanggapan Sulaiman terhadap 

Penglihatan itulah kita bisa mulai mendapatkan informasi tentang 

66 

 

siapa, atau apa, Jasad (yang dilihat oleh Nabi Sulaiman – Red) 

ini . 

Sulaiman  السالم عليه   menanggapi penglihatan itu dengan 

sebuah Do'ā kepada Allah تعاىل و سبحانه  seraya memohon ampunan 

atas dosa-dosa. Dia meminta kepada Allah  تعاىل و سبحانه  untuk 

mengabulkan bahwa tidak ada yang bisa mewarisi Kerajaannya 

setelah sepeninggalannya. Permintaannya juga termasuk bahwa 

tidak akan pernah ada Negara atau Kerajaan lain dalam sejarah yang 

dapat dibandingkan dengan Negara Suci Israel yang telah 

dipimpinnya : 

ِفرْ  َرب ِْ قَالَْ ل ًكا ِليْ  َوَهبْ  ِليْ  اغ  ْ م  َبِغيْ  ْل 

ن ْ  ِْلََحدْ  َين   بَع ِدي ْ  ِم   

ال َوه ابْ  اَن تَْ اِن كَْ  

(Qur’ān, Sad, 38:35) 

Sulaiman berdoa: “Ya Tuhanku! Ampunilah dosa-dosaku, dan 

kabulkanlah  agar tidak ada yang mewarisi Kerajaanku setelah aku 

(dan bahwa tidak akan pernah ada lagi Kerajaan yang sebanding 

dengan kerajaanku). Sesungguhnya hanya Engkau yang dapat 

mengabulkan apa yang aku minta.” 

Allah تعاىل و سبحانه  mengabulkan doa terebut. Israel Suci 

menjadi Negara yang selamanya tidak ada bandingannya dengan 

Negara atau Kerajaan yang lain, dan Allah تعاىل و سبحانه  juga 

menyebabkan Negara itu runtuh dan menghilang segera setelah 

wafatnya Sulaiman  السالم عليه , baik karena doa Sulaiman  السالم  عليه  

maupun karena orang Israel telah melanggar syarat-syarat pewarisan 

Tanah Suci ini . Bahkan saat  al-Masih kembali, dan 

memulihkan Negara Penguasa Suci di Yerusalem, itu masih tidak 

dapat dibandingkan dengan Negara Suci Israel Sulaiman (Kerajaan 

Sulaiman). 

 

67 

 

Informasi penting tentang Jasad berikut ini dapat dengan mudah 

disimpulkan dari tanggapan Sulaiman  السالم عليه   terhadap 

penglihatan ini  : 

• Jasad yaitu  seorang Manusia, dan bukan mayat tak 

bernyawa atau tubuh belaka. 

• Jasad yaitu  seseorang yang sangat jahat. 

• Jasad ingin mewarisi Kerajaan Sulaiman, yaitu Negara Suci 

Israel; dan karena Israel Suci yaitu  Negara penguasa di 

dunia, maka Jasad ingin menguasai dunia dari Negara 

penguasa Sulaiman. 

1.8 Jasad yaitu  Dajjal (anti Kristus) 

Penulis ini mengenali Jasad, yang diperlihatkan dalam 

penglihatan duduk di singgasana Sulaiman, sebagai Dajjal, al-Masih 

Palsu, yang pada akhirnya akan muncul di dunia dalam wujud 

manusia, sebagai manusia yang hidup, berjalan dan berbicara. 

TIDAK ADA SEORANG PUN (mohon maafkan huruf besar) 

yang boleh menerima pandangan, di atas, dari penulis ini kecuali 

yakin bahwa dia benar dalam mengidentifikasi Jasad sebagai Dajjal 

al-Masih palsu! 

Pandangan kami yaitu  bahwa Dajjal digambarkan dalam Al-

Qur'an sebagai “Jasad” karena dia tidak memiliki Ruh yang ditiupkan 

Allah تعاىل و سبحانه  ke dalam setiap manusia. 

Dajjal al-Masih palsu akan memiliki semua karakteristik 

eksternal manusia namun  secara internal tidak memiliki kepribadian 

spiritual. Semua orang yang mengikutinya juga, pada akhirnya, akan 

hidup dalam kehampaan spiritual. Mereka akan menjadi tuli, bisu, 

dan buta, dan dia akan membawa mereka ke api neraka. 

 

68 

 

Karakteristik paling mendasar dari mereka yang mengikuti 

Dajjal yaitu  penerimaan mereka, kenyamanan hidup di jalur cepat, 

dangan  kapasitas yang luar biasa mereka untuk berpikir cepat dan 

cepat dan memahami semua yang berkaitan dengan kehidupan di 

jalur cepat. Namun, akibatnya mereka tidak mampu berpikir kritis, 

yang membutuhkan waktu dan kesabaran; dan karenanya mereka 

tidak akan pernah bisa menembus pengetahuan dalam Al-Qur’an 

yang hanya dapat diakses dengan pemikiran yang mendalam. (Lihat 

buku saya yang berjudul ‘The Qur’ān, Dajjāl and the Jasad’.) 

1.9 Janji Ilahi dari seorang al-Masih 

Pasti tidak lama setelah keruntuhan dan hilangnya Israel Suci 

yang misterius dan traumatis, saat  orang-orang Israel masih 

terguncang karena trauma dan mengalami rasa sakit, derita, dan 

kesedihan, bahwa Allah  تعاىل و  سبحانه  pasti telah membawa 

pertolongan dan kegembiraan kepada mereka dengan janji Ilahi. 

bahwa Dia akan mengutus mereka seorang yang akan menjadi Nabi 

mereka, dan yang akan dikenal sebagai Al-Masih. Mereka pasti telah 

menerima dengan gembira berita tentang kedatangan Al-Masih yang 

dijanjikan yang akan mengembalikan zaman keemasan saat  Israel 

Suci pernah memerintah dunia. 

Mungkin juga berita tentang janji Al-masih sampai kepada 

mereka tidak hanya setelah Negara Israel runtuh, namun  juga setelah 

periode Fasad pertama (Al-Qur'an, al-Isra', 17:4-7) terjadi, dan orang 

Israel telah diusir dari Tanah Suci dan dibawa sebagai budak ke 

Babelilonia. 

Mereka mungkin telah menghabiskan hingga (mungkin) 

seratus tahun di pengasingan di Babilonia, seraya merindukan suatu 

hari kelak saat  al-Masih (yang dijanjikan-Red) akan datang. 

Meskipun setiap orang Kristen dan setiap orang Yahudi 

percaya pada kedatangan al-Masih, namun (secara misterius) kitab 

69 

 

suci sebelum Injil, yang mencatat kehidupan dan ajaran banyak nabi 

yang dikirim pada waktu itu kepada orang Israel, tidak memberikan 

kejelasan dan informasi yang tepat tentang al-Masih yang dijanjikan 

secara ilahi. Sangat mungkin bahwa seseorang dapat menghapus 

informasi tentang janji al-Masih dari kitab suci ini  karena 

informasi yang hilang akan mengkonfirmasi Yesus  السالم عليه    sebagai 

al-Masih. 

saat  Allah تعاىل و  سبحانه  mengizinkan orang Israel untuk 

kembali ke Tanah Suci, dan membangun kembali Masjid atau Kuil, 

mereka yakin bahwa al-Masih akan segera datang (dan tentu saja al-

Masih memang datang!) namun  saat  Allah  اىلتع و سبحانه  mengutus 

al-Masih kepada mereka, hanya sebagian dari mereka yang 

menerimanya, sedangkan para ulama Israel menolaknya. Memang, 

mereka terus menolaknya selama lebih dari 2000 tahun yang telah 

berlalu sejak saat itu. 

Tepat pada saat ini (dalam sejarah) setelah pengusiran 

pertama bangsa Israel dari Tanah Suci, lalu kemudian setelah sekitar 

seratus tahun di pengasingan, saat  mereka kembali dan 

membangun Masjid atau Kuil (pokok bahasan yang tepat dari buku 

ini dimulai), justru pada saat inilah Allah تعاىل و سبحانه  memenuhi janji-

Nya kepada mereka dan mengutus al-Masih kepada mereka. 

Siapa al-Masih itu? Bagaimana dia muncul? Mengapa para 

cendekiawan Israel (yakni para rabi) menolaknya? Kami beralih ke Al-

Qur'an, di bab berikutnya dari buku ini, untuk menjawabnya. 

 

Catatan : 

Seorang pria bernama Mirza Ghulam Ahmad dari India, 

berusaha mengidentifikasi dirinya dengan nubuah tentang 

kembalinya putra Mariam  السالم عليه   ini dengan mengklaim bahwa 

dia menggenapi dalam dirinya sendiri nubuat tentang kembalinya 

70 

 

yang mencengangkan itu, namun  dia memiliki masalah yang tidak 

dapat diatasi karena dia yaitu  putra seorang wanita dari suku 

Punjabi, sedangkan ramalan mengidentifikasi kembalinya seseorang 

yang akan menjadi putra Mariam. masalah, karena hanya ada satu 

Perawan Mariam  السالم عليه  sepanjang sejarah 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

71 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72 

 

erkadang penulis perlu mengutip ayat Al-Qur’an yang sama 

lebih dari satu kali dalam bab ini, kami berdoa agar pembaca 

yang budiman memahami kebutuhan kami untuk 

melakukannya. 

Dalam Surah al-Wāqi'ah (56:75) yang dijalakan didalam Al-

Qur'an, Allah تعاىل و سبحانه  menyatakan sumpah dengan posisi di 

mana bintang-bintang berada, dan melanjutkan untuk menekankan 

bahwa itu yaitu  sumpah yang sangat penting karena itu yaitu  

kunci metodologi untuk mempelajari Al-Qur'an. Sebagaimana kita 

harus belajar membaca bintang-bintang untuk menentukan arah, 

demikian pula jika kita ingin menembus ilmu yang disampaikan 

melalui wahyu Ilahi, kita harus menemukan bagaimana ayat-ayat Al-

Qur’an saling berhubungan satu sama lain secara harmonis. 

Implikasi bagi subjek kita tentang al-Masih yaitu  bahwa kita 

tidak hanya harus menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan 

dengan subjek ini, namun  juga untuk menemukan bagaimana ayat-

ayat ini  terhubung secara harmonis satu sama lain. 

Buku ini mencoba untuk menyatukan semua ayat Al-Qur'an 

tentang pembahasan ini menjadi satu kesatuan yang harmonis, dan 

kemudian menawarkan sebuah pandangan dan analisis yang 

dimaksudkan untuk membantu pembaca dalam memahami sistem 

makna dari subjek ini . 

saat  kita menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an tentang al-

Masih, kita menemukan bahwa ayat-ayat ini  mengungkapkan 

bukti persiapan Ilahi untuk mempersiapkan kedatangan Al-Masih di 

dunia, dalam arti bahwa ayat-ayat itu dengan jelas mengidentifikasi 

garis keturunan al-Masih. 

Selain itu, Allah تعاىل و سبحانه  memberikan peringatan yang 

tegas kepada mereka yang pada akhirnya akan menolak al-Maih, dan 

tentang nasib yang akan menunggu mereka. 

73 

 

2.1 Yahudi, Kristen dan al-Masih 

Sebelum kita beralih ke Al-Qur’an untuk menjelaskan silsilah 

Al-Masih, kita mengarahkan perhatian pada pernyataan yang sangat 

penting bagi orang Kristen dan Yahudi tentang hal-hal di mana 

mereka berbeda satu sama lain. Al-Qur'an menyatakan bahwa ia 

memberikan penjelasan yang menyelesaikan perbedaan-perbedaan 

itu—dan ini harus mencakup perbedaan mereka tentang al Masīh : 

ذَا اِنْ  نَْ ه  ا  ْى َيق صُّْ ال ق ر  ْٰٓ َعل  ِءي لَْ َبِني  َراٰۤ ثَرَْ اِس  فِي هِْ ه مْ  ال ِذيْ  اَك   

نَْ تَِلف و   َيخ 

(Qur’ān, an-Naml, 27:76) 

Lihatlah, Al-Qur'an ini menjelaskan kepada orang-orang Israel 

sebagian besar di mana mereka memiliki pandangan yang berbeda. 

Oleh karena itu, penting bagi orang-orang Kristen dan Yahudi 

bukan hanya secara hati-hati memerksa kredensial Al-Qur'an sebagai 

Firman Tuhannya Ibrahim, namun  juga mempelajari penjelasan yang 

ditawarkannya tentang hal-hal yang berbeda. Subyek buku ini, yaitu 

al-Masīh, sejauh ini merupakan masalah terpenting yang 

memisahkan orang Yahudi dan Kristen (Nashrani-Red). 

Orang-orang Kristen percaya kepada Yesus  السالم  عليه  , putra 

dari sang perawan Mariam, sebagai al-Masīh. namun  selanjutnya juga 

menyatakan bahwa dia yaitu  putra Allah, serta salah satu dari tiga 

pribadi dalam Allah Tritunggal—yaitu, Tuhan yang terdiri dari tiga 

pribadi : Tuhan ayah, Tuhan anak, dan Tuhan Roh Kudus. Orang-orang 

Kristen juga mengakui ibunya, Mariam, memiliki status paling tinggi 

di antara semua wanita di dunia 

Buku ini tidak bermaksud untuk memperdebatkan atau 

beradu argumenn dengan orang-orang Kristen tentang kepercayaan 

mereka pada Tuhan yang terdiri dari tiga pribadi, yaitu Trinitas, dan 

74 

 

tentang kepercayaan mereka kepada al-Masih sebagai Anak Tuhan; 

melainkan kami membatasi diri untuk sekadar menyajikan 

pernyataan Ilahi dari subjek ini . 

Akan merugikan jika kita berhenti sejenak untuk 

mencatat bahwa orang Kristen Haiti yang telah 

lama menderita, menderita karena mereka berani 

menentang penindas Prancis 200 tahun yang lalu, 

memiliki pandangan yang berbeda tentang 

Trinitas. Bagi Haiti, terdiri dari ayah, anak, dan 

CIA. 

 

Orang Yahudi menolak kepercayaan pada Tuhan Tritunggal 

Kristen yang masih Satu Tuhan, dan bersikeras bahwa Tuhan yaitu  

satu kesatuan yang sederhana, namun  mereka juga terus menolak 

Yesus  السالم عليه   sebagai al-Masih karena mereka percaya bahwa dia 

dilahirkan dalam dosa, oleh karena itu mereka memiliki pandangan 

serendah mungkin dan sehina mungkin kepada Dia (Yesus-Red) dan 

ibunya, Mariam. Bukti paling kuat yang mereka (orang-orang Yahudi-

Red) miliki untuk mengkonfirmasi bahwa dia (Yesus-Red) tidak 

mungkin yaitu  sosok al-Masih yaitu  kematiannya dengan 

penyaliban yang mereka saksikan dengan mata mereka. Mereka 

yakin bahwa dia bukan al-Masih karena dia mati tanpa memulihkan 

Negara Suci Israel, dan tanpa menegakkan pemerintahan abadinya 

atas umat manusia dari Yerusalem, dan dari Negara Suci ini . 

Al-Qur'an menegaskan kepercayaan Kristen pada Yesus  عليه 

 سبحانه و sebagai al-Masih, sementara bersikeras bahwa Allah  السالم

-yaitu  Satu Tuhan. Ini dengan tegas menolak klaim bahwa al تعالى

Masih yaitu  'Tuhan Anak', dan bahwa dia yaitu  salah satu dari tiga 

Tuhan yang terdiri dari tiga pribadi, yaitu, Allah Tritunggal : 

 

75 

 

ٰٓاَه لَْ بِْ ي  ا َْلْ ال ِكت  ا َوَْلْ ِدي ِنك مْ  فِيْ  تَغ ل و  ل و  ْ ّللاِْٰ َعلَْى تَق و  ال َحق ْ  اِْل   

َيمَْ اب نْ  ِعي َسْى ال َمِسي حْ  اِن َما لْ  َمر  ْ َوَكِلَمت هْ  ّللاِْٰ َرس و  َهآْٰ ۚ  اَل ق   

ى َيمَْ اِل  حْ  َمر  و  ن ه ْ َور  ا م ِ ِمن و  فَا  ْ  ِباّلٰلِْ ۚ  س ِله  ا َوَْلْ َور  ل و  ثَة �