al-quran akhir zaman 3
� تَق و ثَل
ْ ۚ ا و ه ْ ّللٰا ْ اِن َما ۚ ْ ل ك مْ َخي ًرا اِن تَه اِحد ْ اِل ْٰٓ ۚ ْ و َنه نَْ اَنْ س ب ح لَهْ ي ك و
تِْ فِى َما لَهْ ۚ ْ َولَد ْ و ْ فِْى َوَما الس م ِض َر ْى اْل ِباّلٰلِْ َوَكف
ࣖ َوِكي ًلْ
(Qur’ān, an-Nisa, 4:171)
Wahai para pengikut Kitab Suci, yaitu Injil! Jangan melampaui batas
[kebenaran] dalam keyakinan agamamu, dan jangan katakan
tentang Allah selain kebenaran. Al Masih, Yesus, putra Mariam,
hanyalah utusan Allah—[penggenapan] janji-Nya yang telah Dia
sampaikan kepada Mariam—dan Roh dari-Nya. Maka, percayalah
kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan
“tiga”, yaitu bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi. Hentikan
pernyataan ini demi kebaikanmu sendiri. Allah hanyalah satu Tuhan;
jauh sekali Dia, dalam kemuliaan-Nya, dari memiliki seorang anak
laki-laki: bagi-Nyalah segala yang ada di langit dan semua yang ada
di bumi; dan tidak ada yang layak dipercaya selain Allah
Al-Qur'an juga menegaskan kelahiran Yesus السالم عليه dari
sang ibu perawan dan menyatakan bahwa ibunya secara sakral
diangkat ke derajat atau kedudukan tertinggi di antara para wanita di
dunia.
Baik orang Kristen maupun Muslim percaya bahwa al-Masih
datang, pergi, dan akan kembali suatu hari nanti. Sementara orang
Yahudi (setelah menolak Yesus sebagai al-Masih) berpegang teguh
pada keyakinan bahwa al-Masih belum datang, dan masih akan
menunggu kedatangannya.
76
Ada bukti substansial dalam Al-Qur'an tentang kembalinya
(mukjizat) al-Masih lebih dari 2000 tahun setelah Dia meninggalkan
dunia ini. Bab berikutnya menyajikan bukti ini .
Baik orang Kristen maupun Muslim percaya bahwa sebelum
al-Masīh kembali, akan ada makhluk jahat yang disebut Antikristus,
yang akan mencoba menirunya sambil menyatakan dirinya sebagai
al-Masīh, dan yang pada akhirnya akan muncul di dunia sebagai sosok
pribadi manusa saat memerintah dunia dari Yerusalem. Dia akan
memerintah dari apa yang dia klaim sebagai Negara Suci Israel
Salaiman. Ummat Muslim mengetahui makhluk jahat itu dengan
nama al-Masīh ad-Dajjāl, atau Dajjāl al-Masīh palsu. Orang Kristen
menyebutnya sebagai Antikristus. Ada bukti bahwa orang-orang
Yahudi juga mengetahui tentang Dajjal namun memilih untuk tidak
mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Mereka mengajukan tiga
pertanyaan yang harus dijawab oleh Nabi Muhammad عليه للا صل
untuk membuktikan bahwa dia memang benar seorang Nabi وسلم
dari Tuhan Ibrahim atau Dajjal, hal itu yaitu tujuan dari salah satu
pertanyaan ini . (Lihat buku kami yang berjudul Surah al-Kahfi
dan Zaman Modern.) Bab terakhir dari buku ini akan menjelaskan
bahwa saat dia kembali ke dunia ini, al-Masīh akan membunuh
Antikristus.
Setelah menjelaskan perbedaan mendasar antara keyakinan
Kristen, Yahudi dan Muslim tentang al-Masīh, kami sekarang
menyajikan informasi wahyu Ilahi yang terletak di dalam Al-Qur'an
yang menjelaskan dan mengklarifikasi hal-hal di mana mereka
berbeda. Namun, seperti yang telah kami tulis sebelumnya, Al-Qur'an
sendiri telah menyatakan bahwa ini yaitu salah satu fungsinya
(Qur'an, al-Naml, 27:76).
2.2 Silsilah al-Masih (keluarga Amran) / Imran
Subjek tentang kedatangan Al Masih seperti yang dijelaskan
dalam Al Qur'an dimulai dengan seseorang bernama 'Imran (yaitu,
77
“Amran” dari Kitab Keluaran dalam Taurat) yang sangat berperan
penting sehingga Surat Al Qur'an ketiga dinamai dengan namanya,
yaitu, Sūrah ali-'Imrān atau 'Keluarga Imrān'. Penulis berpendapat
bahwa namanya dalam Taurat yaitu “Amran”, bukan “Amram” yang
sekarang, karena kata “Amran” sesuai dengan bahasa Arab ‘Imrān,
sedangkan “Amram” tidak! Oleh karena itu, penulis memilih untuk
menyebut dia dalam buku ini sebagai “Amran”, dan mengabaikan
bentuk lain dari nama ini .
Amran, atau ‘Imran, tinggal di Mesir dan termasuk generasi
kedua atau ketiga Bani Isrāīl, atau orang Israel, yang telah
meninggalkan Tanah Suci untuk tinggal di Mesir. Mereka bermigrasi
ke Mesir karena Nabi Yūsuf السالم عليه memerintahkan mereka untuk
melakukannya. Pandangan kami yaitu bahwa Allah تعاىل و سبحانه
memerintahkan migrasi mereka ke Mesir untuk alasan yang bab ini
akan mencoba untuk meungkapkannya. Amran yaitu ayah dari dua
Nabi Allah, yaitu Nabi Mūsā السالم عليه dan Nabi Hārūn السالم عليه .
Muhammad Asad13 mengomentari Amran, atau ‘Imrān,
sebagai berikut :
Keluarga 'Imrān terdiri dari Musa dan Harun, yang
ayahnya yaitu 'Imrān (Amram didalam versi
Alkitab), dan keturunan Harun, (kasta setingkat
Pendeta di antara orang Israel) termasuk Yohanes
Pembaptis, yang kedua orang tuanya berasal dari
keturunan yang sama ( lihat referensi : dalam
Lukas I, 5, untuk ibu Yohanes Elisabeth sebagai
salah satu "dari putri Harun"), serta Yesus, yang
ibunya Mariam—kerabat dekat Yohanes—
13 Muhammad Asad atau Leopold Weiss yaitu seorang cendekiawan muslim,
mantan Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa Bangsa, dan penulis
beberapa buku tentang Islam termasuk salah satu tafsir Al Qur'an modern yakni The
Message of the Qur'an (Wikipedia)
78
dibicarakan di tempat lain dalam Al-Qur'an
(19:28) sebagai "saudara perempuan Harun":
dalam kedua kasus ini mewujudkan
kebiasaan Semit kuno yang menghubungkan
nama seseorang atau orang dengan nama
seorang leluhur yang termasyhur. Referensi ke
Rumah `Imran berfungsi sebagai pengantar kisah
Zakharia, Yohanes, Mariam, dan Yesus.
(Muhammad Asad, Terjemahan dan Tafsir
Surah ali-‘Imrān 3:33-34)
Sangat membingungkan dan misterius pendangan dari
seorang Cendikiawan tafsir Qur’an ini yang harus mengecualikan
keturunan Musa السالم عليه dari Keluarga Amran namun disisi lain
memasukkan Musa السالم عليه sendiri, yang notabene putra Amran,
di keluarga amran terebut.
Di antara mereka yang memiliki keturunan dari Amran
yaitu seorang wanita yang digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai
“Imra-atu 'Imran” (yaitu, seorang wanita dari Keluarga Amran),
apakah ia yaitu nenek al-Masīh, atau anak Perempuannya, atau
ibunya al-Masīh, yang kemudian disebut sebagai “Bintu 'Imrān”
(yaitu, putri dari keluarga Amran):
َراَتْ قَالَتِْ اِذْ َرانَْ ام تْ اِن ِيْ َرب ِْ ِعم ِنيْ فِيْ َما لَكَْ َنذَر ًرا َبط َحر م
ْ ِمن ِيْ فَتَقَب لْ ال عَِلي مْ الس ِمي عْ اَن تَْ اِن كَْ ۚ
(Qur’ān, ali-Imran, 3:35)
… saat seorang wanita dari [keluarga] ‘Imran berdoa: “Ya Tuhanku!
Lihatlah, kepadamu aku bersumpah [anak] yang ada di dalam
rahimku, untuk mengabdikan diri pada pelayanan-Mu. Maka
79
terimalah dariku: Sesungguhnya, hanya Engkau yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui!”
َيمَْ نَْ اب َنتَْ َوَمر ر ْٰٓ ِعم َصَنتْ ال تِي َجَها اَح َنا فَر ِحَنا ِمنْ فِي هِْ فََنفَخ و رُّ
تِْ َوَصد قَتْ ِنِتي نَْ ِمنَْ َوَكاَنتْ َوك ت ِبهْ َرب َِها ِبَكِلم ال ق ࣖ
(Qur’ān, at-Tahrim, 66:12)
Dan Mariam, seorang putri [keluarga] dari 'Imran, yang menjaga
kesuciannya, kemudian Kami meniupkan Ruh Kami ke dalam [yang
ada di dalam rahimnya], dan yang menerima kebenaran Firman
Allah dan [dengan demikian, ] dari Wahyu-Nya—dan merupakan
salah satu yang benar-benar saleh.
Justru karena al-Masīh akan datang dari Bani Amran maka Al-
Qur'an (QS ali-'Imrān, [3]:33-34 di bawah) memperkenalkannya
sebagai seseorang dengan kedudukan yang sangat tinggi sehingga ia
disebutkan bersama Adam, Nuh dan Ibrahim sebagai pilihan Ilahi,
dan keturunannya dihormati—generasi demi generasi dalam urutan
biologis yang tak terputus—di atas semua umat manusia :
ىْٰٓ ّللٰاَْ اِنْ َطف دَمَْ اص ًحْا ا لَْ َون و ا ِهي مَْ و لَْ اِب ر َرانَْ َوا َعلَى ِعم
لَِمي َنْ ال ع
(Qur’ān, ali-Imran, 3:33)
Sesungguhnya Allah meninggikan Adam, dan Nuh, dan keluarga
Ibrahim, dan keluarga Amran di atas seluruh umat manusia
ي ةًْ ْ ذ ر ِ َها ۚ ْ ِمن ْ َبع ض َعِلي م ْ َسِمي عْ َوّللٰا ْ بَع ض
(Qur’ān, ali-Imran, 3:34)
generasi demi generasi dalam satu garis keturunan (tidak terputus).
Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
80
Hal ini harus menguras pemikiran yang berat di pihak
pembaca dari ayat diatas bahwa penyebutan dua nabi pertama, yaitu
Adam dan Nuh, hanya disebutkan namanya saja sebagai pilihan Ilahi
tanpa ada kalimat tambahan yang menyematkan pada keluarga
mereka, berbeda dengan nama Ibrahim pada kalimat selanjutnya
(pada ayat al-Qur’an diatas) yang disertai penyematan nama
keluarganya yang dipilih untuk dihormati, dan kemudian, secara
menakjubkan, Keluarga Amran juga dipilih untuk diberikan sebutan
kehormatan dari Ilahi yang terus mengalir kepada mereka dalam
generasi-generasi berikutnya. Beberapa pertanyaan sekarang
muncul:
Mengapa Amran (yaitu, 'Imrān) yang bukan
seorang Nabi Allah, dimasukkan oleh Allah سبحانه
تعاىل و dalam daftar kehormatan-Nya yang berisi
nama-nama Nabi terkemuka seperti Adam, Nuh
dan Ibrahim?
Mengapa dibuat pernyataan bahwa Keluarga
Ibrahim dan Keluarga Amran, yaitu ‘Imran, dipilih
oleh Allah تعاىل و سبحانه untuk dihormati secara
turun-temurun?
Di manakah letak hikmah Ilahi dalam serangkaian
sebutan kehormatan yang berurutan ini—generasi
demi generasi?
Mengapa Amran dimuliakan sedemikian rupa
dalam Al-Qur'an sehingga Surah ali -'Imrān (yaitu
keluarga Amran), terletak di sebelah Surah al
Fātihah dan Surah al-Baqarah di awal Al-Qur'an?
Pandangan kami, dari keterkaitan satu sama lain dari ayat-
ayat Al-Qur'an ini, yaitu sebuah peta jalan generasi Ilahi yang baru
81
telah ditetapkan melalui garis keturunan Amran, yang akan
membawa kita ke jalan yang lurus dari Bani Isrāīl di Mesir menuju Al
Masih. Pandangan kami yaitu bahwa Adam, Nuh, Ibrahim dan
Amran mewakili empat lentera surgawi yang menerangi jalan kami
saat kami melakukan penelusuran, dari generasi ke generasi, dari
Bani Isrāīl di Mesir di jalan yang membawa kita kepada al-Masīh.
Al-Qur'an kemudian melanjutkan untuk membuka lentera
jalan menuju al-Masīh saat menegaskan bahwa Amran (yaitu,
'Imran) yaitu ayah dari Musa السالم عليه dan saudaranya, yaitu
Harun. Hal itu terjadi saat mengutip (dalam ayat al-Qur’an di
bawah), bahwasanya orang Israel menyebut Mariam sebagai
saudara perempuan Harun :
تَْ ٰٓا خ نَْ ي و ر كِْ َكانَْ َما ه َراَْ اَب و ءْ ام َما َسو َكانَتْ و
كِْ بَِغيًّا ا مُّ ْ ۚ
(Qur’ān, mariam, 19:28)
Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah
seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina"
Karena Mariam yaitu seorang putri di keluarga Amran
(yaitu 'Imran), melalui ibunya, yang disebut sebagai “Imra-atu
'Imrān” (yang berarti seorang wanita 'Amran) yaitu termasuk dalam
Keluarga Imran, maka jika dia digambarkan oleh orang Israel sendiri
sebagai saudara perempuan Harun, maka baik Harun maupun
saudaranya yaitu Musa السالم عليه yaitu termasuk anggota keluarga
Amran.
Sama pentingnya, Al-Qur'an telah menjaga kita di jalan yang
lurus menuju al-Masīh saat mengungkapkan informasi yang sangat
penting bahwa al-Masīh diturunkan dari Amran melalui putranya
Musa, dan bukan melalui putranya Harun.
82
Para Pengkritik yang saling berseteru dalam masalah ini
harus berhenti sejenak untuk mencari pemahaman tentang
implikasi sastra dari penggunaan kata saudara perempuan dalam
ayat di atas (QS Mariam19:28).
Mariam disebut sebagai saudara perempuan Harun karena
dua alasan :
Pertama, karena Al-Qur’an memakai kata
saudara perempuan sebagai kiasan, dan bukan
karena dia memiliki ayah atau ibu kandung yang
sama dengan Harun.
Kedua, Al-Qur'an ingin membangun hubungan
generasi yang berurutan antara Almasih, yang lahir
dari Mariam, dengan Harun dan Musa, dan
kemudian ke Amran.
Hal itu karena ibunya telah disebut sebagai wanita Amran,
dan ini berarti seorang wanita yang termasuk dalam Keluarga
Amran—dan bukan istri Amran, dan dia sendiri telah digambarkan
sebagai putri Amran, dan ini berarti bahwa ibunya berasal dari
Keluarga Amran (dan bukan karena dia yaitu putri kandung Amran),
bahwa penggunaan 'saudara perempuan' secara kontekstual tepat
dan sesuai dalam hal gaya sastra.
Para Pengkritik yang saling berseteru harus menghentikan
serangannya dan mengakui bahwa dia salah memahami Al-Qur'an
saat dinyatakan bahwa dia yaitu “saudara perempuan” Harun.
Kata “saudara perempuan” di sini tidak berkonotasi saudara
kandung, melainkan merupakan kiasan yang dipakai dalam
konteks sastra yang sama seperti yang dipakai “putri Amran” dan
“wanita Amran” sebelumnya.
Konsisten dengan implikasi dari hubungan yang dibangun
dalam Al-Qur'an antara Keluarga yang pertama yaitu : Amran dan
83
putranya, Musa dan Harun, dan Keluarga yang kedua yaitu : ibu nya
Mariam, Mariam sendiri, dan Almasih (putra Mariam), jelaslah
sekarang kita dapat menawarkan sebuah hipotesis bahwa Amran
(yaitu, 'Imran) dipilih sebagai “Keluarga Amran yang baru”, tidak
hanya untuk memfasilitasi pembentukan garis keturunan Al Masih,
namun juga untuk memberikan peta jalan yang mengarah dari Ibrahim
ke Al Masih (semoga damai dan berkah Allah تعاىل و سبحانه atas
mereka semua).
Kami menyimpulkan analisis awal ini dengan menyatakan
bahwa Al-Qur’an telah menetapkan dua hal sehubungan dengan Al
Masih dan Keluarga Amran, atau ‘Imran :
Pertama, telah menunjukkan bahwa bayi yang
lahir dari Mariam berasal dari keluarga 'Imrān,
namun ditelusuri keturunannya berasal dari Musa,
bukan dari saudaranya Harun.
Kedua, telah menegaskan bahwa orang Israel
(yaitu Ban Isrāīl) mengetahui bahwa bayi ini
memiliki status keturunan Musa karena mereka
sendiri menyebut Mariam sebagai saudara
perempuan Harun.
Hal yang penting yaitu orang-orang Israel mengakui bahwa
Musa السالم عليه diangkat oleh Allah تعاىل و سبحانه untuk memerintah
atas orang-orang Israel, sedangkan Harun, kakak laki-lakinya,
diangkat sebagai asisten perjuangannya.
Garis keturunan al-Masīh harus ditelusuri ke garis
keturunan dari Musa, bukan ke Harun, karena fungsinya yaitu
untuk memerintah (Pemimpin), bukan menjadi seorang asisten.
Namun ayat-ayat Al-Qur’an tentang al-Masīh memberikan
lebih dari sekadar peta jalan garis keturunan dari Banū Isrāīl di Mesir
sampai pada kelahiran al-Masīh. Ia (Allah melalu al-Qur’an-Red) juga
84
menyampaikan peringatan awal tentang nasib yang menunggu
bagian dari Banū Isrāīl yang akan menolak al-Masīh.
saat Nabī Yūsuf تعاىل و سبحانه memerintahkan Banū Isrāīl
untuk meninggalkan Tanah Suci dan bermukim kembali di Mesir, dia
pasti bertindak atas perintah dari Tuhan.
Ada persamaan antara permulaan baru dalam migrasi
Yahudi dari Tanah Suci ke Mesir yang diperintahkan oleh Nabi Yūsuf
dan peristiwa saudara-saudaranya yang berencana untuk
menempatkan Yusuf السالم عليه dalam timba dan menurunkannya ke
dalam sumur.
Pada Peristiwa Yusuf السالم عليه dan sebuah Sumur, Allah
تعاىل و سبحانه kemudian mengirimkan wahyu kepadanya bahwa suatu
hari Ia akan memberi tahu mereka tentang apa yang mereka lakukan
padanya :
ا ا فَلَم ا ِبهْ ذََهب و َمع و ٰٓ ه ْ اَنْ َواَج عَل و َبتِْ فِيْ ي ج ِْ َغي ب َنآْٰ ال ج َحي اِلَي هِْ َواَو
مْ ِرِهمْ لَت َنب ِئَن ه ذَا ِباَم نَْ َْلْ َوه مْ ه و ع ر َيش
(Qur’ān, Yusuf, 12:15)
Maka, saat mereka pergi bersamanya, mereka memutuskan untuk
melemparkannya ke kedalaman sumur yang gelap. Dan Kami
mengungkapkan [ini] kepadanya: “Kamu akan memberi tahu
mereka suatu hari tentang ini, perbuatan mereka, dan itu akan
terjadi pada waktunya dan mereka bahkan tidak akan
mengenalimu!
Dalam hal migrasi orang Israel ke Mesir, yang (menurut
pendapat kami) telah ditetapkan secara Ilahi, tidak hanya Allah
تعاىل و سبحانه memulai sebuah peta jalan yang memimpin, generasi
demi generasi (kepada al-Masīh), namun Dia juga mengirimkan pesan
kepada mereka yang akan terus terungkap hingga Akhir Zaman.
85
Mereka akhirnya akan mengalami penindasan Fir’aun, dan kemudian
melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana nasib akhir Fir’aun
sebagai penindas; namun bukan hanya itu saja :
رَْ ِبك مْ فََرق َنا َواِذْ ك مْ ال َبح َرق َنآْٰ فَاَن َجي ن لَْ َواَغ نَْ ا َعو َواَن ت مْ فِر
نَْ و تَن ظ ر
(Qur’ān, al-Baqarah, 2:50)
Dan saat Kami membelah laut untukmu, dan dengan demikian
menyelamatkanmu, dan menyebabkan orang-orang Firaun
tenggelam di depan matamu
Banū Isrāīl tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana
Fir’aun mati selain apa yang mereka lihat dengan mata mereka
sendiri bahwa dia mati karena tenggelam. Apa yang tidak mereka
ketahui, dan juga apa yang tidak diketahui oleh saudara-saudaranya
Nabi Yusuf السالم عليه , bukanlah akhir dari permasalah ini. Dengan
cara yang sama bahwasanya Allah تعاىل و سبحانه memiliki pra-
pengetahuan tentang peristiwa yang akan terjadi kemudian, dan
akan mencapai puncaknya saat tiba saatnya Nabi Yusuf السالم عليه
memberi tahu mereka ke wajah mereka tentang apa yang telah
mereka lakukan padanya, demikian juga Dia memiliki pra-
pengetahuan bahwa sebagian Banū Isrāīl akan menolak al-Masīh, dan
bahwa mereka kemudian akan menjadi penindas seperti Fir’aun.
saat waktu itu tiba dalam sejarah, dan orang-orang Yahudi menjadi
penindas seperti Fir’aun, maka peristiwa akhir yang drammatis
Fir’aun akan terulang dalam sejarah. Tubuh Fir’aun akan muncul
kembali dalam sejarah untuk menyampaikan peringatan keras bahwa
mereka yang hidup dengan cara hidup Fir’aun, yaitu, sebagai
penindas, akan mati sebagaimana cara Fir’aun mati yang
mengenaskan.
86
Ini yaitu hubungan atau keterkaitan antara peristiwa yang
melibatkan Yusuf السالم عليه , saudara-saudaranya dan sebuah sumur,
dan Peristiwa penindasan Fir’aun terhadap orang-orang beriman.
Bagaimana Fir’aun mati?
Tidak ada yang tahu bagaimana Fir’aun mati sampai Allah
تعاىل و سبحانه mengungkapkan informasi ini dalam Al-Qur'an.
Karenanya informasi ini tidak dapat ditemukan di tempat lain selain
di dalam Al-Qur’an. Padahal informasi ini sangat penting bagi orang-
orang Yahudi yang menolak Yesus sebagai al-Masīh, serta bagi semua
umat manusia lainnya yang meremehkan untuk menerima Al-Qur'an
sebagai Firman Tuhan Yang Maha Esa!
Al-Qur’an memberitahu kita dalam Sūrah Yūnus bahwa
saat Fir’aun tenggelam, dia menyadari bahwa dia bukan Tuhan, dan
dia kemudian menyatakan imannya kepada Tuhan Banū Isrāīl. Allah
اىلتع و سبحانه menanggapi pernyataan iman dari seorang penindas,
pada saat kematiannya, dengan menyatakan bahwa Dia akan
menjaga jasad atau tubuh Fir’aun sehingga dapat berfungsi sebagai
tanda bagi orang-orang yang akan datang setelahnya—yaitu, tanda
bagi orang-orang yang akan hidup seperti Fir’aun hidup dan
kemudian akan mengalami nasib kematian sebagaimmana Firaun
mati. Inilah petikan Al-Qur'an dalam Sῡrah Yῡnus, 10: 90-92 :
َنا ۞ ْٰٓ َوَجاَوز ِءي لَْ ِبَبِني َراٰۤ رَْ اِس مْ ال َبح نْ فَاَت َبعَه َعو د هْ فِر ن و َوج
ًيا َعد ًوا بَغ َحتٰىْٰٓ و َمن تْ قَالَْ ال غََرقْ اَد َرَكه ْ اِذَآْٰ ۚ هَْ َْلْٰٓ اَن هْ ا ْ اِل اِْل
َمَنتْ ال ِذي ْٰٓ ا ِبهْ ا ِءي لَْ َبن و ٰٓ َراٰۤ ِلِمي نَْ ِمنَْ َواََناْ اِس س ال م
(Qur’ān, Yunus, 10:90)
Dan Kami bawa bani Israil menyeberangi lautan; dan di sana Firaun
dan pasukannya mengejar mereka dengan kekejaman dan
kezaliman yang keras, sampai [mereka dibanjiri oleh air laut. Dan]
87
saat dia hampir tenggelam, [Firaun] berseru: ”Aku menjadi
percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia yang dipercayai oleh
orang-orang Israel, dan aku termasuk orang-orang yang
menyerahkan diri kepada-Nya!”
نَْ ـ
ل
ف ِسِدي نَْ ِمنَْ َوك ن تَْ قَب لْ َعَصي تَْ َوقَدْ ا ٰۤ ال م
(Qur’ān, Yunus, 10:91)
[namun Allah berfirman:] “Sekarang?—sementara selama ini kamu
memberontak [melawan Kami], dan kamu melakukan Fasad?”
مَْ ي كَْ فَال َيو نَْ ِبَبدَِنكَْ ن َنج ِ َيةًْ َخل فَكَْ ِلَمنْ ِلتَك و َواِنْ ا نَْ َكِثي ًرا ۚ ِم
ِتَنا َعنْ الن اِسْ ي نَْ ا ِفل و لَغ
(Qur’ān, Yunus, 10:92)
“Hari ini, Firaun, Kami telah menetapkan agar jasadmu diawetkan
sehingga dapat berfungsi sebagai tanda yang menakjubkan bagi
orang-orang yang akan datang setelah kamu; namun begitu banyak
yang lalai dari peringatan Kami!”
Kesimpulan kami yaitu bahwa Nabī Yūsuf السالم عليه
memerintahkan migrasi seluruh Israel dari Tanah Suci ke Mesir
karena Allah تعاىل و سبحانه ingin memulai babak baru dalam sejarah
Israel yang akan dikhususkan untuk persiapan kedatangan al-Masīh;
Dia juga memilih Amran ('Imran) sebagai cikal bakal dimulainya
babak baru karena dia yaitu ayah dari Musa dan Harun yang
keduanya memiliki peran penting untuk memainkan dalam babak
baru ini.
Sekarang tinggal saatnya Al-Qur’an menjelaskan: mengapa
mereka menolak Yesus السالم عليه sebagai al-Masīh pada saat Allah
88
mengutusnya kepada mereka? dan mengapa mereka terus
melakukannya hingga hari ini?
2.3 al-Masīh lahir dari seorang Ibu Perawan
al-Masīh lahir secara ajaib dan tanpa dosa, dari seorang ibu
perawan yang belum menikah, inilah tanda kekuasaan dari Allah yang
esa. Dia lahir sebagai akibat dari campur tangan Tuhan yang sangat
menakjubkan melalui seorang Malaikat yang berbicara kepada
ibunya Mariam السالم عليه sebelumnya untuk menyampaikan
kepadanya kabar dari Allah bahwa dia akan memiliki bayi laki-laki.
Dalam menjalankan tugasnya, Malaikat juga mengungkapkan
informasi tambahan penting mengenai bayi laki-laki dan ibunya.
Mariam tidak seperti setiap wanita lain di seluruh umat
manusia karena dia dipilih oleh Allah dzat Maha Tinggi Yang
memurnikannya dan mengangkatnya ke derajat tertinggi di antara
semua wanita di dunia :
ىَِٕكة ْ قَالَتِْ َواِذْ
َيمْ ال َمل ٰۤ َمر ىكِْ ّللٰاَْ اِنْ ي َطف ىكِْ َوَطه َركِْ اص َطف َواص
ءِْ ىَعلْ لَِمي نَْ ِنَساٰۤ ال ع
Dan ingatlah ! Para malaikat berkata: “Wahai Mariam!
Sesungguhnya, Allah telah memilih kamu, dan menyucikan kamu,
dan mengangkat kamu di atas semua wanita di dunia.”
(Qur’ān, ali-Imran, 3:42)
Jika Tuhan memilih seorang gadis dan mengangkatnya ke
derajat tertinggi di antara semua wanita di dunia, maka orang-orang
di mana Dia berasal, yang menyembah Tuhan yang sama, dan yang
diberkahi untuk memiliki Nabi yang terus silih berganti generasi di
tengah-tengah mereka selama ribuan tahun, seharusnya memiliki
wawasan spiritual untuk mengenali bahwa Dia bukan gadis biasa.
89
Ada bukti nyata yang menunjukkan kedudukan spiritualnya
yang unik karena dia yaitu satu-satunya gadis yang pernah tinggal
di lingkungan bait suci dari masa kanak-kanak sampai dia mencapai
pubertas. Ibunya telah bersumpah untuk memberikan bayinya
kepada Tuhan untuk dibesarkan di Kuil sebagai Imam. saat seorang
bayi perempuan (bukan bayi laki-laki yang diharapkan) lahir, sumpah
itu tetap dipenuhi, dan bayi perempuan itu diambil sebagai seorang
anak untuk tinggal di bait suci. Ini yaitu peristiwa unik dalam sejarah
Israel.
Orang-orang Israel, yaitu, Bani Isrāīl sesungguhnya memiliki
bukti tambahan yang dapat dipercayai tentang kedudukan
spiritualnya yang sangat tinggi, saat dia ditempatkan di bawah
perwalian Kepala Rabbi, yaitu Zakharia saat dia tinggal di bait Suci.
Tentunya bukti dari Kepala Rabbi mereka sendiri dapat dipercaya.
Saat dia tinggal di bait dalam perawat Kepala Rabi itulah
keajaiban terjadi, dan yang pasti akan diketahui oleh seluruh dunia
Israel. Mihrāb yaitu ruangan khusus Masjid, atau Kuil, yang dikenal
sebagai 'Mahakudus’, dan di mana benda peninggalan suci ini
disimpan seperti tongkat yang dipakai Musa السالم عليه untuk
membelah Laut Merah. Tidak ada yang diizinkan di ruangan itu selain
Kepala Rabi. Namun, karena dia bertanggung jawab untuk merawat
Mariam, dia diizinkan masuk ke Mihrāb. Memang, bahasa yang
dipakai oleh Al-Qur’an menunjukkan bahwa dia pasti tinggal di
Mihrāb.
Setiap kali Zakharia memasuki Mihrāb di mana dia tempati,
dia menemukan makanan yang tidak dia berikan kepadanya. saat
dia menanyainya, dia mengetahui bahwa dia menerima makanan di
ruangan suci yang secara ajaib diturunkan kepadanya dari Surga oleh
Allah SWT.
Orang-orang Israel, yaitu Bani Isrāīl, pasti akan bertanya
pada diri mereka sendiri: bagaimana dia (Mariam) bisa menerima
90
makanan di Ruang Mahakudus saat Zakharia tidak memberikannya
kepadanya, dan dia tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana
makanan itu sampai padanya di sebuah ruangan, tidak ada yang
diizinkan untuk masuk selain dia?
Semua bukti dengan demikian menunjukkan terjadinya
mukjizat! Karena itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa Mariam
bukanlah gadis Israel biasa; melainkan, dia yaitu seorang gadis yang
memiliki hubungan khusus dengan Tuhan.
91
Berikut yaitu sebagian informasi di dalam Al-Qur'an yang
relevan mengungkapkan informasi tentang hal ini, marilah kita simak
surah ali 'Imrān ayat 35 hingga 41 berikut ini :
َراَتْ قَالَتِْ اِذْ َرانَْ ام تْ اِن ِيْ َرب ِْ ِعم ِنيْ فِيْ َما لَكَْ َنذَر ًرا َبط َحر م
ْ ِمن ِيْ فَتَقَب لْ ال عَِلي مْ الس ِمي عْ ن تَْاَْ اِن كَْ ۚ
(Qur’ān, ali-Imran, 3:35)
… saat seorang wanita dari [keluarga] ‘Imran berdoa: “Ya
Tuhanku! Lihatlah, kepadamu aku bersumpah [anak] yang ada di
dalam rahimku, untuk mengabdikan diri padaMu. Maka terimalah
pengabdian dariku: Sesungguhnya, hanya Engkau yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui!”
ا ىْ َوَضع ت َهآْٰ اِن ِيْ َرب ِْ قَالَتْ َوَضعَت َها فَلَم لَمْ َوّللٰا ْ ا ن ث بَِما اَع
ْ َكاْل ن ث ى الذ َكرْ َولَي سَْ َوَضعَت ْ ت َها َواِن ِيْ ۚ ي َيمَْ َسم ْٰٓ َمر َواِن ِي
ي تََها ِبكَْ ا ِعي ذ َها نِْ ِمنَْ َوذ ر ِ ِجي مِْ الش ي ط الر
(Qur’ān, ali-Imran, 3:36)
namun saat dia melahirkan anak itu, dia berkata: “Ya Tuhanku!
Sesungguhnya, aku telah melahirkan seorang perempuan”—
sementara Allah mengetahui sepenuhnya apa yang akan ia lahirkan,
dan sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada anak laki-laki yang
mungkin diharapkannya dapat menjadi seperti perempuan ini (yang
akan melahirkan anak laki-laki yang akan menjadi al-Masīh)— “dan
aku menamainya Maria. Dan sesungguhnya aku memohon
perlindungan-Mu untuknya dan keturunannya dari setan yang
terkutuk.”
92
saat Allah SWT menyatakan di atas, “dan laki-laki tidak
seperti perempuan”, sebagai tanggapan atas seruannya bahwa dia
telah melahirkan seorang bayi perempuan dan bukan bayi laki-laki,
implikasinya yaitu bahwa tidak ada bayi laki-laki yang dapat
memenuhi fungsi historisnya dari bayi perempuan, ini yang dipiliih
yang akhirnya melahirkan al-Masīh.
لْ َربَُّها فَتَقَب لََها َبتََها َحَسنْ ِبقَب و اَن َكف لََها َحَسًناْ َنَباتًا و َزَكِري ا و ْ ۚ
َراَبْ َزَكِري ا َعلَي َها دََخلَْ ك ل َما قًْا ِعن دََها َوَجدَْ ال ِمح ْ ِرز قَالَْ ۚ
َيمْ َمر ذَا لَكِْ اَنٰى ي قْ ّللٰاَْ اِنْ ۚ ْ ّللٰاِْ ِعن دِْ ِمنْ ه وَْ قَالَتْ ۚ ْ ه ز َير
ءْ َمنْ ِحَسابْ ِبغَي رِْ ي َشاٰۤ
(Qur’ān, ali-Imran, 3:37)
Dan kemudian Tuhannya menerima anak perempuan itu dengan
pengasuhan yang baik, dan membuatnya tumbuh dalam
pertumbuhan yang baik, dan menempatkannya dalam asuhan
Zakharia. Setiap kali Zakharia mengunjunginya di ruang
Mahakudus, dia menemukan dia (mariam) diberi makanan. Dia
akan bertanya: "Wahai Mariam, dari mana ini datang kepadamu?"
Dia akan menjawab: “Itu dari Allah; lihatlah, Allah memberikan
rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, melampaui segala
perhitungan
Sangat jelas bahwa Zakharia mempercayai klaimnya bahwa
makanan itu turun secara ajaib dari Allah تعاىل و سبحانه , karena dia
menanggapi keajaiban itu dengan berdoa di ruangan itu sambil
meminta seorang putra yang akan menjadi ahli warisnya:
ْ َرب هْ َزَكِري ا دََعا ه َناِلكَْ ي ةًْ ل د ن كَْ ِمنْ ِليْ َهبْ َرب ِْ قَالَْ ۚ ذ ر ِ
ْ َطي َِبةًْ ءِْ َسِمي عْ اِن كَْ ۚ الدَُّعاٰۤ
93
(Qur’ān, ali-Imran, 3:38)
Di tempat yang sama, Zakharia berdoa kepada Tuhannya, berkata:
“Ya Tuhanku! Berikan kepadaku [juga], dari kasih karunia-Mu,
karunia keturunan yang baik; karena sesungguhnya Engkau maha
mendengar segala doa.”
ىَِٕكة ْ فََنادَت ه ْ
ىِٕمْ َوه وَْ ال َمل ٰۤ َراِبْ فِى يَُّصل ِيْ قَاٰۤ كَْ ّللٰاَْ اَنْ ال ِمح ر ي َبش ِ
ى ي قًاْ ِبَيح َصد ِ نَْ ِبَكِلَمةْ م ًرا َوَسي ِدًا ّللٰاِْ ِم و َحص َنِبيًّْا و نَْ و ِم
الٰصِلِحي نَْ
(Qur’ān, ali-Imran, 3:39)
Kemudian, saat dia berdiri berdoa di tempat suci, para malaikat
memanggilnya: “Allah mengirimkan kabar gembira kepadamu
tentang [kelahiran] Yahya, yang akan mengkonfirmasi kebenaran
sebuah firman dari Allah, dan [akan] menonjol di antara mereka.
laki-laki, dan benar-benar suci, dan seorang nabi dari antara orang-
orang saleh
نْ اَنٰى َرب ِْ قَالَْ مْ ِليْ يَك و قَدْ غ ل َراَِتيْ ال ِكبَرْ َبلَغَنِيَْ و َعاقِرْ َوام ْ ۚ
ِلكَْ قَالَْ ءْ َما َيف عَلْ ّللٰا ْ َكذ َيَشاٰۤ
(Qur’ān, ali-Imran, 3:40)
[Zakharia] berseru: “Ya Tuhanku! Bagaimana saya bisa memiliki
anak laki-laki, padahal usia saya sudah tua, dan istri saya mandul?”
Dijawab [malaikat]: “Demikianlah: Allah melakukan apa yang Dia
kehendaki.”
عَلْ َرب ِْ قَالَْ ْٰٓ اج َيةًْ ل ِي َيت كَْ قَالَْ ۚ ْ ا ْ ا ثَةَْ الن اسَْ ت َكل ِمَْ اَْل اَي امْ ثَل
ْ ًزا اِْل ب كَْ َواذ ك رْ ۚ ْ َرم َسب ِحْ َكِثي ًرا ر ِْ و ب َكارِْ ِبال عَِشي ِ َواْل ࣖ
(Qur’ān, ali-Imran, 3:41)
94
[Zachariah] Berdoa: “Ya Tuhanku! Tunjukanlah tanda padaku! ”
maka beratalah [malaikat]: “Tandamu yaitu selama tiga hari
kamu tidak akan berbicara kepada pria selain dengan gerakan
isyarat. Dan ingatlah Tuhanmu tanpa henti dan memuji
kemuliaannya yang tak terbatas pada malam hari dan siang hari. ”
Di atas merupakan bukti tentang kedudukan spiritual dari
seorang ibu perawan yaitu Mariam yang menakjubkan dan mulia dari
Tuhan yang seharusnya bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang
Israel untuk mengenalinya dan mengamatinya dengan seksama.
• Dia dilahirkan oleh seorang wanita yang bersumpah bahwa
bayinya akan diberikan dan diasuh di bait suci hingga tumbuh
menjadi seorang rabi;
• Meskipun bayi itu dilahirkan sebagai seorang gadis, dia masih
ditampatkan di bait suci.
• Kepala rabi (Zakharia-Red) menjadi pembimbing dan
pengasuhnya di bait suci
• Dia (mariam) diizinkan untuk masuk dan tinggal di ruangan
yang dikenal sebagai Ruang Mahakudus, pintu masuk yang
dilarang bagi semua orang selain Kepala Rabi.
• Makanan turun untuknya di ruangan itu dari surga.
saat dia mencapai usia pubertas, dan dengan demikian
menjadi (tentunya secara biologis) seorang wanita, dia tidak bisa lagi
tinggal di Kuil Suci, dan harus kembali ke orang tuanya. Alasannya
yaitu bahwa darah menstruasi dapat mencemari kuil, dan para rabi
harus memastikan bahwa peristiwa seperti itu tidak boleh terjadi.
Selain itu, pubertas membangunkan hasrat seksual yang kuat, Oleh
karena itu saat seorang gadis mencapai usia pubertas, ia harus
dilindungi dengan keamanan ekstra oleh orang tua atau walinya.
Sementara Zakaria bisa berfungsi sebagai wali dan “orang-tuanya”
95
saat dia masih kecil. Namun, Dia (Zakharia) tidak bisa lagi
melakukannya sekarang karena dia telah menjadi seorang Gadis.
Orang tuanya yang sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga
dan melindunginya.
Dengan demikian pada saat Mariam memiliki kedudukan
moral dan agama tertinggi di negeri itu, dan meskipun dia pasti baru
berusia 13 atau 14 tahun, dan belum menikah, bahwa Allah و سبحانه
mengutus malaikat kepadanya untuk memberi tahu Mariam تعاىل
bahwa dia akan memiliki bayi laki-laki yang akan menjadi al-Masīh.
Jadi, jelaslah dengan keterangan yang kami sampaikan diatas bahwa
Allah تعاىل و سبحانه telah menyiapkan ujian tertinggi kepada Bani
Israel, karena mereka harus menghadapi seorang perawan dengan
status kedudukan spiritual yang sangat tinggi dengan status belum
menikah, namun melahirkan bayi laki-laki yang yaitu al-Masīh.
Ayat-ayat berikut, yaitu Sūrah Ali ‘Imrān [3] ayat 45-47
mengkonfirmasi kelahiran al-Masih dari seorang perawan :
ىَِٕكة ْ قَالَتِْ اِذْ
َيمْ ال َمل ٰۤ َمر كِْ ّللٰاَْ اِنْ ي ر ن ه ْ بَِكِلَمةْ ي َبش ِ ه ْ ِم م ال َمِسي حْ اس
َيمَْ اب نْ ِعي َسى ِخَرةِْ الدُّن َيا فِى َوِجي ًها َمر ِبي َنْ َوِمنَْ َواْل قَر ال م
(Qur’ān, ali-Imran, 3:45)
Ingatlah! Para malaikat berkata: “Wahai Mariam! Sesungguhnya,
Allah mengirimkan kepadamu kabar gembira, melalui firman dari-
Nya, tentang seorang putra yang bernama Al Masih Isa putra
Mariam, seorang yang sangat terhormat di dunia ini dan di
kehidupan yang akan datang, dan [akan menjadi] dia orang yang
didekatkan kepada Allah.
دِْ فِى الن اسَْ َوي َكل ِمْ ًلْ ال َمه ِمنَْ َوَكه الٰصِلِحي نَْ و
96
(Qur’ān, ali-Imran, 3:46)
“Dan dia akan berbicara (secara manakjubkan) kepada manusia
(keduanya saat masih bayi) dalam pangkuannya, dan (sekali lagi)
sebagai pria dewasa, dan akan menjadi orang-orang yang saleh.”
(Bahwa seorang bayi dalam pangkuan ibunya dapat berbicara tentu
saja merupakan suatu keajaiban. Namun demikian, juga, apakah
akan menjadi suatu hal yang menakjubkan saat lebih dari 2000
tahun setelah Ia meninggalkan dunia ini, Ia harus kembali ke dunia
dan kembali berbicara sebagai orang dewasa).
نْ اَنٰى َرب ِْ قَالَتْ لَمْ َولَد ْ ِليْ يَك و نِيْ و َسس ِلكِْ قَالَْ ۚ ْ َبَشرْ َيم َكذ
ل قْ ّللٰا ْ ءْ َما َيخ اِذَا َيَشاٰۤ ٰٓى ۚ ًرا قَض لْ فَِان َما اَم ك نْ لَهْ َيق و
نْ فَيَك و
(Qur’ān, ali-Imran, 3:47)
Dia berkata: “Ya Tuhanku! Bagaimana aku bisa memiliki seorang
putra sedangkan tidak ada seorang pun yang pernah
menyentuhku?” [Malaikat] menjawab: “Begitulah: Allah
menciptakan apa yang Dia kehendaki. saat Dia menginginkan
sesuatu “jadi!”, Dia mengatakan kepadanya, 'Jadilah' (Tidak lebih
dari akal sehat dasar bagi para pengkritik yang saling berseteru
untuk mengenali bahwa Mariam mengacu pada status
keperawannya saat dia mengatakan bahwa tidak ada pria yang
pernah menyentuhnya).
Bagian indah dari Surat Mariam dari Al-Qur'an yang kita bisa
simak di ayat 16 sampai dengan ayat 21, telah menegaskan bahwa
dia masih perawan saat Malaikat Jibril datang kepadanya untuk
memberitahunya bahwa dia akan memiliki bayi laki-laki :
بِْ فِى َواذ ك رْ َيَمْ ال ِكت ِلَها ِمنْ ان تََبذَتْ اِذِْ َمر قِيًّا َمَكاًنا اَه َشر ْ ۚ
97
(Qur’ān, Mariam, 19:16)
Dan ingatlah, melalui Firman Ilahi ini, wahai Mariam. Lihatlah! Dia
menarik diri dari keluarganya ke seuatu tempat di bagian di timur.
نِِهمْ ِمنْ فَات َخذَتْ َسل َنآْٰ ِحَجاًباْ د و َحَنا اِلَي َها فَاَر و َبَشًرا لََها فَتََمث لَْ ر
َسِويًّا
(Qur’ān, Mariam, 19:17)
dan menjaga dirinya dalam pengasingan dari mereka, di mana Kami
mengirim kepadanya malaikat Wahyu Kami (yaitu, Roh Kudus), yang
menampakkan diri kepadanya dalam sosok manusia yang
sempurna.
ْٰٓ قَالَتْ ذ ْ اِن ِي نِْ اَع و م ح تَِقيًّا ك ن تَْ اِنْ ِمن كَْ ِبالر
(Qur’ān, Mariam, 19:18)
Dia berseru: “Sesungguhnya, aku berlindung darimu dengan Tuhan
Yang Maha Pemurah! Jangan dekati aku jika kamu takut kepada
Allah
لْ اََناْ اِن َمآْٰ قَالَْ ًما لَكِْ ِْلََهبَْ َرب ِِكْ َرس و َزِكيًّْا غ ل
(Qur’ān, Mariam, 19:19)
Malaikat itu menjawab: “Aku hanyalah seorang utusan Tuhanmu,
Allah yang mengatakan, ‘Aku akan menganugerahkan kepadamu
seorang anak laki-laki yang diberkahi kesucian.
نْ اَنٰى قَالَتْ مْ ِليْ يَك و لَمْ غ ل نِيْ و َسس لَمْ َبَشرْ يَم َبِغيًّْا اَكْ و
(Qur’ān, Mariam, 19:20)
98
Dia berkata, ”Bagaimana saya bisa memiliki anak laki-laki jika tidak
ada pria yang pernah menyentuh saya? Karena aku tidak pernah
menjadi wanita pezina!”
ِلِكْ قَالَْ ْٰٓ َهي ِن ْ َعلَيْ ه وَْ َربُّكِْ قَالَْ َكذ عَلَه َيةًْ َوِلَنج َمةًْ ل ِلن اِسْ ا َوَرح
ن ْ ًرا َوَكانَْ اْ م ِ ق ِضيًّا اَم م
(Qur’ān, Mariam, 19:21)
Malaikat itu menjawab: “Beginilah; namun Tuhanmu berkata, 'Ini
mudah bagi-Ku; dan kamu akan mempunyai seorang anak laki-laki,
agar Kami menjadikannya sebagai tanda bagi manusia, dan suatu
karunia dari Kami; dan itu yaitu sesuatu yang ditetapkan oleh
Allah.”
Tanggapan Mariam yang mengatakan “Bagaimana saya
bisa memiliki anak laki-laki saat tidak ada seorang pun yang pernah
menyentuh saya? Karena saya tidak pernah menjadi wanita pezina!”,
cukup bagi siapapun yang berfikir dengan benar agar menyadari
bahwa dia memang masih perawan. saat dia mengandung bayi laki-
lakinya, momentum penggenapan Nubuat Tuhan dalam sejarah telah
tiba, yakni Kelahiran sosok al-Masīh yang telah lama ditunggu-
tunggu, dan inilah babak baru ujian bagi Bani Isrāīl yang sebelumnya
belum pernah diuji dengan ujian seperti ini.
2.4 Mariam dan bayi yang baru lahir dalam buaian
Mukzijat kehamilan seorang gadis yang masih perawan inilah
yang dimaksud Al-Qur'an (Mariam, 19:21) saat menyatakan
peristiwa kelahiran Al Masih sebagai Tanda Ilahi dalam bentuk
cobaan atau ujian yang dengannya Allah تعاىل و سبحانه menguji orang
Israel :
ْٰٓ عَلَه َيةًْ َوِلَنج ل ِلن اِسْ ا …
99
(Qur’ān, Mariam, 19:21)
… agar Kami menjadikannya sebagai tanda bagi manusia …
Inilah momentum yang sangat penting dalam sejarah Israel
juga dalam sejarah dunia, suatu bangsa yang seharusnya memiliki
kepasitas untuk melihat dengan dua mata (Penglihatan Internal dan
eksternal) untuk menyadari diantara banyak bayi yang lahir di dunia
ini dari pengamatan yang normal, mereka gagal dalam melewati
ujian Ilahi ini dan menyimpulkan hal ini secara keliru bahwa Mariam
telah melakukan dosa dan bahwa bayi ini , yaitu Yesus السالم عليه
yaitu anak haram. Sūrah at-Tahrīm menegaskan status keperawan
Mariam saat dia mengandung al-Masīh :
َيمَْ نَْ اب َنتَْ َوَمر ر ْٰٓ ِعم َصَنتْ ال تِي َجَها اَح َنا فَر ِمنْ فِي هِْ فََنفَخ
ِحَنا و تِْ َوَصد قَتْ رُّ ِنِتي نَْ ِمنَْ َوَكاَنتْ َوك ت ِبهْ َرب َِها بَِكِلم ال ق ࣖ
(Qur’ān, At-Tahrim, 66:12)
Dan [Kami telah mengemukakan perumpamaan lain tentang
ketentuan Tuhan dalam kisah] Mariam, putri 'Imran (yaitu, seorang
putri yang lahir dari seorang wanita yang berasal dari Keluarga
'Imran) yang menjaga kesuciannya (dan karenanya masih seorang
perawan yang belum menikah), kemudian Kami meniupkan Roh
Kami ke dalam [yang ada di dalam rahimnya], dan yang menerima
kebenaran dari Firman Tuhan-Allahnya dan [dengan demikian,] dari
wahyu-Nya—dan yaitu salah satu dari orang-orang yang benar-
benar saleh.
Al-Qur'an juga mengungkapkan bahwa Mariam sadar dia
akan melahirkan seorang anak yang akan menjadi al-Masīh, dan
bahwa dia menerima perannya dalam pemenuhan Kebenaran yang
diwahyukan. Dia juga tahu bahwa bayinya akan berbicara secara ajaib
dari buaiannya, oleh karena itu saat bayi itu lahir, dia kembali
kepada kaumnya untuk menjalani ujian yang ditetapkan Tuhan.
100
Sejarah pasti telah berhenti pada saat yang luar biasa dramatis ini
saat orang-orang yang telah menunggu (mungkin ribuan tahun)
untuk kedatangan sosok al-Masīh, saat ini mereka sedang
menghadapi al-Masīh yang sedang dalam buaian sebagai bayi yang
baru lahir.
saat Mariam kembali kepada mereka (kaumnya, bani
Israel-Red) dengan seorang bayi laki-laki yang baru lahir disaat
berstatuskan belum menikah, mereka (kaumnya, bani Israel-Red)
mempertontonkan kebutaan spiritualnya yang luar biasa dalam cara
mereka menyapa, atau saat mereka menanyainya dengan
menunjuk ke bayi dari pangkuan Mariam ini , dan sejarah
terbentang di depan mata mereka saat bayi yang baru lahir bisa
berbicara diluar nalar dari buaian dan Bayi ini berbicara untuk
memberikan pembelaan kepada ibunya. Kita kembali ke Sūrah
Mariam ayat 27 sampai dengan ayat 33, untuk menggambarkan ayat
demi ayat al-Qur’an dari peristiwa itu :
َمَها ِبهْ فَاَتَتْ ِمل هْ قَو ا تَح قَال و َيمْ ۚ َمر فَِريًّا َشي ـًٔا ِجئ تِْ لَقَدْ ي
(Qur’ān, Mariam, 19:27)
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan
menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya
kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar
تَْ ٰٓا خ نَْ ي و ر كِْ َكانَْ َما ه َراَْ اَب و َما ءْ َسوْ ام كِْ َكاَنتْ و َبِغيًّا ا مُّ ْ ۚ
(Qur’ān, Mariam, 19:28)
Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah
seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina"
Jika Mariam السالم عليه sudah menikah, tidak mungkin orang
Israel menunjukkan keterkejutan seperti itu dan menanggapi begitu
buruk atas kelahiran bayinya Mariam السالم عليه ? Sikap Terkejut dan
101
kecewaa dari cara ekspresii mereka (bani israel-Red) hanya dapat
dipahami dalam konteks kelahiran anak di luar nikah! Bukan saja
dalam konteks kelahiran bayi disaat Mariam السالم عليه belum nikah,
namun berimplikasi bahwa tidak ada bukti bahwa status Mariam عليه
pernah menikah; maka kami percaya bahwa Gereja Kristen السالم
Ortodoks, serta beberapa yang lain, yaitu benar saat mereka
menolak pandangan bahwa Yesus السالم عليه memiliki saudara
kandung :
ِهْ فَاََشاَرتْ ا اِلَي دِْال مَْ فِى َكانَْ َمنْ ن َكل ِمْ َكي فَْ قَال و َصِبيًّْا ه
(Qur’ān, Mariam, 19:29)
Setelah itu dia menunjuk padanya. Mereka berseru, ”Bagaimana
kami bisa berbicara dengan orang yang masih bayi dalam
pangkuan”?
ِنيَْ ّللٰاِْ َعب د ْ اِن ِيْ قَالَْ ت ا بَْ ۚ َنِبيًّا َوَجعَلَِنيْ ال ِكت ْ ۚ
(Qur’ān, Mariam, 19:30)
(Bayi itu) kemudian berkata: “Lihatlah, aku yaitu hamba Allah. Dia
telah memberikan kepadaku kitab yang diwahyukan (yaitu, Injil) dan
menjadikanku seorang Nabi
َجعَلَنِيْ َرًكا و ب ِنيْ ك ن ت ْ َما اَي نَْ م ص وةِْ َواَو ل وةِْ ِبالص ك تْ َما َوالز د م
ۚ ْ َحيًّا
(Qur’ān, Mariam, 19:31)
102
dan membuat aku diberkati di mana pun aku berada; dan Dia
mewajibkan kepadaku shalat dan zakat selama hidup
اْ بَرًّ عَل نِيْ َولَمْ بَِواِلدَتِيْ و َشِقيًّا َجب اًرا يَج
(Qur’ān, Mariam, 19:32)
dan [telah memberi aku] sikap berbakti terhadap ibuku; dan Dia
tidak menjadikan aku angkuh atau kehilangan kasih atau karunia
مْ مَْ َعلَيْ َوالس ل ِلد تُّْ َيو مَْ و تْ َوَيو و مَْ اَم َحيًّْا ا ب عَثْ َوَيو
(Qur’ān, Mariam, 19:33)
Oleh karena itu, keselamatan atasku pada hari saat aku
dilahirkan, dan pada hari aku mati (yaitu, hari saat Allah
mengambil jiwaku dan tidak mengembalikannya), dan pada hari
saat aku dibangkitkan [ lagi]!
Ini yaitu pernyataan yang cukup panjang dan menarik yang
diucapkkan dari mulut seorang bayi yang baru lahir. Dan jika bukan
karena Al-Qur’an yang menginformasikan, kata-kata yang diucapkan
oleh bayi Yesus ( السالم عليه ) serta begitu banyak informasi lainnya
tentang hal ini, tidak akan tersimpan dalam sejara,. Bahkan
Muhammad ( وسلم عليه للا صل ) sang Nabi pun tidak akan mengetahui
semua ini, jika hal itu tidak diungkapkan dalam Al-Qur’an :
ِلكَْ ءِْ ِمنْ ذ َباٰۤ ِحي هِْ ي بِْال غَ اَن َوَما اِلَي كَْ ن و نَْ اِذْ لَدَي ِهمْ ك ن تَْ ۚ ي ل ق و
مْ مْ اَق َلَمه ف لْ اَيُّه َيَمْ َيك نَْ اِذْ لَدَي ِهمْ ك ن تَْ َوَما َمر و تَِصم َيخ
(Qur’ān, Ali Imran, 3:44)
Informasi ini, terletak di dunia yang tak terlihat, Kami [sekarang]
mengungkapkan kepadamu (Muhammad): karena kamu tidak
103
bersama mereka saat mereka mengundi siapa di antara mereka
yang harus menjadi wali Mariam, dan kamu tidak bersama mereka
saat mereka berdebat [tentang itu] dengan satu sama lain.
Orang Israel menolak mukjizat bayi yang berbicara dari
pangkuan Mariam dan menyatakan bahwa itu yaitu sihir murni.
Dengan sikap ini , mereka telah mempertontonkan kebutaan
spiritual yang mengerikan.
Yang lebih aneh lagi yaitu bahwa orang-orang yang telah
mengklaim diri mereka sendiri sebagai orang-orang pilihan Tuhan,
dan menghadapi bukti nyata didepan mereka seorang anak yang lahir
di luar nikah dari gadis paling dikenal diantara mereka, tidak
berusaha membawa Mariam ke pengadilan Israel untuk
mendapatkan suatu putusan hukum tentang bayinya yang lahir di
luar nikah. Tuduhan percabulan tersirat dalam kata-kata mereka:
“Hai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukan pria jahat, ibumu
juga bukan wanita pezina!” Taurat dengan jelas menetapkan
hukuman untuk kejahatan Zinā (yaitu, percabulan atau hubungan
intim diluar pernikahan) yaitu dengan hukuman 'dirajam sampai
mati'.
Alasan mengapa mereka tidak bisa membawanya ke
pengadilan mereka (mungkin) karena kasusnya akan terlalu
mencolok, dan akan mengarahkan perhatian publik yang tidak
diinginkan terhadap fakta bahwa mereka telah mengkhianati Taurat
selama ratusan tahun dengan mengganti hukum Ilahi tentang 'rajam
sampai mati' sebagai hukuman bagi Zinā, dengan hukum baru ciptaan
mereka sendiri, yaitu, membuat wajah hitam dan cambuk di depan
umum.
2.5 Yesus, putra Mariam yaitu al-Masih
104
Al-Qur’an tidak memberikan penjelasan yang jelas tentang
arti kata al-Masīh. Namun, dengan jelas mengidentifikasi bahwa
Yesus السالم عليه putra Perawan Mariam (yaitu, Nabī 'Īsa السالم عليه )
sebagai al-Masīh, Hal itu menggambarkan Sosok Dia sebagai manusia
dengan kualitas dan fungsi yang membuatnya benar-benar unik
dalam semua ciptaan. Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa Yesus عليه
dikuatkan dengan Roh Kudus (al-Rūh al-Qudus). Al-Qur'an juga السالم
dengan jelas mengidentifikasi Roh Kudus sebagai Malaikat Jibril :
تَي َنا … َيمَْ اب نَْ ِعي َسى َوا تِْ َمر ه ْ ال َبي ِن حِْ َواَي د ن و ْ بِر ال ق د ِس …
(Qur’ān, al-Baqarah, 2:253)
… Dan Kami anugerahkan kepada Isa putra Mariam
dengan bukti Kebenaran, dan Kami kuatkan dia dengan Ruhul
Kudus….
Al-Qur'an mengidentifikasi Roh Kudus, dengan siapa Allah
SWT memperkuat Yesus السالم عليه , sebagai sosok Malaikat Jibril yang
menurunkan Al-Qur'an pada Nabi Muhammad وسلم عليه للا صل :
لَهْ ق لْ حْ نَز و ب ِكَْ ِمنْ ال ق د ِسْ ر ا ال ِذي نَْ ِلي ثَب ِتَْ ِبال َحق ِْ ر َمن و ا
ى َوه دًى ب ش ر ِلِمي نَْ و س ِلل م
(Qur’ān, an-Nahl, 16:102)
Katakanlah: “Roh Kudus telah menurunkannya (yaitu, Al-Qur'an)
dari Tuhanmu secara bertahap, menjelaskan kebenaran, sehingga
memberikan keteguhan kepada orang-orang yang telah mencapai
iman, dan memberikan petunjuk dan kabar gembira bagi semua
orang yang menyerahkan diri kepada Allah.
Mungkin karena Malaikat selalu bersamanya
mengutakannyanya, dan karenanya menguatkannya, sehingga dia
105
dikenal sebagai al-Masīh (Al Masih) atau orang yang disentuh; dan
Allah Maha Tahu! Kata Ibrani, "mashiach" berarti melukis, mengolesi,
atau mengurapi.
Al-Qur'an selanjutnya mengungkapkan bahwa karena dia
dikuatkan dengan Roh Kudus, dia dapat berbicara secara ajaib saat
masih bayi, dan bahwa dia dapat kembali ke dunia ini lebih dari dua
ribu tahun setelah dia pergi, untuk kembali berbicara secara ajaib
sebagai seorang pria yang telah beranjak dewasa :
ِعي َسى ّللٰا ْ قَالَْ اِذْ َيمَْ اب نَْ ي ى َعلَي كَْ ِنع َمتِيْ اذ ك رْ َمر َوَعل
اِذْ َواِلدَِتكَْ حِْ اَي د تُّكَْ ۚ و بِر
ْ دِْ فِى الن اسَْ ت َكل ِمْ ال ق د ِس لًْ ال َمه َوَكه ْ ۚ
(Qur’ān, n, al-Māidah, 5:110)
Lihatlah! Allah berfirman: “Wahai Yesus, putra Mariam! Ingatlah
karunia yang Kuberikan kepadamu dan ibumu—bagaimana Aku
menguatkanmu dengan Roh Kudus, sebagai akibatnya kamu dapat
berbicara (secara ajaib) kepada orang-orang saat kamu masih
bayi dalam buaian, dan (sekali lagi berbicara secara ajaib) sebagai
seorang pria dewasa (saat kammu kembali ke dunia setelah lebih
dari dua ribu tahun) …”
Bab terakhir buku ini memberikan bukti bahwa hal pertama
yang akan dilakukan Yesus السالم عليه , saat ia kembali secara
menakjubkan ke dunia setelah lebih dari 2000 tahun, yaitu berdoa
sesuai dengan Syariah atau Hukum Suci yang dibawa Nabi
Muhammad وسلم عليه للا صل , dan dengan melakukan hal itu dia akan
menegaskan bahwa Al-Qur'an ini benar-benar Firman Tuhan Yang
Maha Esa yang diwahyukan yang tidak ada kerusakan didalamnya,
dan bahwa apa pun yang dikatakan Al-Qur'an tentang dia (Yesus), dan
tentang Tuhan (Allah), yaitu Kebenaran yang mutlak dan tanpa
106
syarat. juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad وسلم عليه للا صل
(sesungguhnya) yaitu seorang Nabi utusan Allah sekaligus sebagai
penutup para nabi :
Berikut ini yaitu ayat Al-Qur'an yang mengidentifikasi
Yesus السالم عليه , putra Mariam, yaitu, Nabi 'Isa السالم عليه sebagai al-
Masīh :
ىَِٕكة ْ قَالَتِْ اِذْ
َيمْ ال َمل ٰۤ َمر كِْ ّللٰاَْ اِنْ ي ر ن ه ْ بَِكِلَمةْ ي َبش ِ ه ْ ِم م ال َمِسي حْ اس
َيمَْ اب نْ ِعي َسى ِخَرةِْ الدُّن َيا فِى َوِجي ًها َمر ِبي َنْ َوِمنَْ َواْل قَر ال م
(Qur’ān, Ali Imran, 3:45)
Lihatlah! Para malaikat berkata: “Wahai Mariam! Lihatlah, Allah
mengirimkan kabar gembira, melalui sebuah Firman dari-Nya, dari
seorang anak laki-laki yang namanya akan menjadi Al Masih, Isa,
putra Mariam, kehormatan besar di dunia ini dan di kehidupan yang
akan datang dan akan menjadi orang-orang yang didekatkan
kepada Allah.”
Al-Qur’an melanjutkan penjelasannya, dan
memperingatkan, bahwa al-Masīh bukanlah Tuhan (bukan bagian
dari Tuhan Tritunggal), bukan pula Anak Tuhan. Melainkan dia yaitu
orang yang diutus (yaitu Rasul atau Utusan Tuhan) diutus dengan
risalah Ilahi :
ٰٓاَه لَْ بِْ ي ا َْلْ ال ِكت ا َوَْلْ ِدي ِنك مْ فِيْ تَغ ل و ل و ْ ّللٰاِْ َعلَى تَق و اِْل
َيمَْ اب نْ ِعي َسى ال َمِسي حْ اِن َما ال َحق ْ لْ َمر َوَكِلَمت هْ ّللٰاِْ َرس و ْ ۚ
َهآْٰ ى اَل ق َيمَْ اِل حْ َمر و ن ه ْ َور ا م ِ ِمن و فَا ْ ِباّلٰلِْ ۚ س ِله ا َوَْلْ َور ل و تَق و
ثَة ْ ا ثَل و اِن تَه ه ْ ّللٰا ْ اِن َما ۚ ْ ل ك مْ َخي ًرا ۚ اِحد ْ اِل ْٰٓ ۚ ْ و َنه اَنْ س ب ح
107
نَْ تِْ فِى َ

