darma budha 1
Bhiksu Sakya Sugata (釋能修) atau kerap dipanggil
dengan sebutan Suhu Neng Xiu, lahir di Tangerang,
7 Agustus 1977, sebagai anak sulung dari lima
bersaudara. Ia mulai mengenal agama Buddha saat
duduk di bangku SMP dan langsung jatuh cinta
sesudah menyadari ternyata Buddha Dharma mampu
menjawab apa yang selama ini dicarinya. Sejak
SMU sampai lulus kuliah, ia aktif membabarkan
Dharma di vihara-vihara daerah Tangerang dan
sekitarnya.
Saat kuliah bahasa di Beijing, beliau mulai
mengenal Y.M. Bhiksu Bhadra Pala dan Buddhisme
Mahayana. Sejak itu, beliau aktif dalam Organisasi
Buddhis Mangala Beijing, China, Tahun 2002-2004.
Demi memperdalam lebih jauh lagi tentang Huma-
nistik Buddhisme, beliau dikirim oleh Bhiksu
Bhadra Pala untuk belajar lebih lanjut di Fo Guang
Shan Tsung Lin University, Taiwan, 2004-2008.
Beliau mendapatkan penahbisan sebagai seorang
Sramanera di Vihara Dharmasagara-Jakarta pada
tanggal 5 Februari 2006 dengan Bhiksu Bhadra
Pala sebagai Guru. Pada Tanggal 22 November
2011 beliau mengambil Upasampana Bhiksu di
Vihara Da Xian, Taiwan. Sejak 2008 sampai
sekarang, Bhiksu Sakya Sugata berdomisili di Mudita
Center (喜來寺), Sunter, Jakarta Utara Indonesia.
Sejak kembali ke Indonesia, beliau aktif membabar-
kan Dharma melalui serangkaian aktivitas ceramah
dan talkshow di berbagai daerah. Serta kerap
menulis renungan harian yang disebarkannya melalui
sms, bbm, dan facebook. Buku ini, yang merupakan
kumpulan tulisannya merupakan buku keduanya.
Buku pertama beliau berjudul "Sahabat Kehidupan".
Lipatan cover depan
Sejak 2008 > dinaikkan aja, dijadikan satu dengan paragraf atasnya.
Bhiksu Sakya Sugata (釋能修) atau kerap dipanggil
dengan sebutan Suhu Neng Xiu, lahir di Tangerang,
7 Agustus 1977, sebagai anak sulung dari lima
bersaudara. Ia mulai mengenal agama Buddha saat
duduk di bangku SMP dan langsung jatuh cinta
sesudah menyadari ternyata Buddha Dharma mampu
menjawab apa yang selama ini dicarinya. Sejak
SMU sampai lulus kuliah, ia aktif membabarkan
Dharma di vihara-vihara daerah Tangerang dan
sekitarnya.
Saat kuliah bahasa di Beijing, beliau mulai
mengenal Y.M. Bhiksu Bhadra Pala dan Buddhisme
Mahayana. Sejak itu, beliau aktif dalam Organisasi
Buddhis Mangala Beijing, China, Tahun 2002-2004.
Demi memperdalam lebih jauh lagi tentang Huma-
nistik Buddhisme, beliau dikirim oleh Bhiksu
Bhadra Pala untuk belajar lebih lanjut di Fo Guang
Shan Tsung Lin University, Taiwan, 2004-2008.
Beliau mendapatkan penahbisan sebagai seorang
Sramanera di Vihara Dharmasagara-Jakarta pada
tanggal 5 Februari 2006 dengan Bhiksu Bhadra
Pala sebagai Guru. Pada Tanggal 22 November
2011 beliau mengambil Upasampana Bhiksu di
Vihara Da Xian, Taiwan. Sejak 2008 sampai
sekarang, Bhiksu Sakya Sugata berdomisili di Mudita
Center (喜來寺), Sunter, Jakarta Utara Indonesia.
Sejak kembali ke Indonesia, beliau aktif membabar-
kan Dharma melalui serangkaian aktivitas ceramah
dan talkshow di berbagai daerah. Serta kerap
menulis renungan harian yang disebarkannya melalui
sms, bbm, dan facebook. Buku ini, yang merupakan
kumpulan tulisannya merupakan buku keduanya.
Buku pertama beliau berjudul "Sahabat Kehidupan".
Namo Amitofo,
Penyelarasan antara pikiran, ucapan, dan tulisan mele-
bihi kata-kata yang tertuang di dalam buku.
Quotes yang dibaca ini, akan jauh lebih hidup jika
tidak sekedar menikmatinya melalui mata dan pikiran,
namun seraplah dengan kelembutan hati dan transfor-
masikan melalui tindakan dan sikap kita pada lingkung-
an dan kepada semua makhluk.
Berkaryalah demi semua makhluk tanpa pernah merasa
telah berkarya.
With Mudita,
Bhiksu Bhadra Pala
( 釋賢秉 )
Sebenarnya, semesta tidak pernah merahasiakan apapun
pada setiap kehidupan.
Ilusi tabir ke”Rahasia”an mulai terasa tatkala kita ber-
diam dalam dua kondisi:
Pertama, lupa bagaimana cara yang tepat dalam mema-
hami semesta, seperti seorang yang membongkar kecapi
untuk menemukan letak keindahan suaranya
Kedua: menolak untuk menerima indahnya kebenaran
semesta yang tanpa rahasia sebab melekati pandangan
salah yang menyengsarakannya, bagai ayah yang me-
nolak kembalinya anak yang hilang sebab telah terlalu
meyakini kematian anaknya..
Hyang Guru Buddha Sakyamuni, yaitu Maha Guru se-
mesta yang dalam keagunganNya, menyatakan dengan
jelas bahwa:
Sejumput Pinang
Kita perlu membebaskan diri dari kungkungan ilusi
kerahasiaan yang semata disebabkan ketidakpahaman
(avidya)
Semesta yaitu bentukan kesempurnaan pikiran kita,
tentunya tidak ada yang pada dasarnya tidak diketahui
batin, asalkan kita mau mencari semua jawaban di
tempat yang tepat, yaitu: “dasar batin tanpa inti”.
Semoga semua makhluk yang sejatinya sekedar terben-
tuk atas ilusi “kerahasiaan” kehidupan, senantiasa ter-
bebas darini lusi ketakutan, segera mencerap ketiadaan
berbagaini lusi, sehingga dapat mengecap kebahagiaan
tak terkatakan, Nirvana.
Sarva Sattva Bhavantu Sukhitatta
Semangat Shi Xiong...
Amitofo,
Sramanera Sakya Vipula
( 释能广 )
Namo Amitofo,
Terima Kasih kepada Guru saya Y.M. Bhiksu Bhadra
Pala atau yang biasa kita kenal dengan Suhu Xian
Bing yang selalu memberi kesempatan bagi kami murid-
muridnya untuk berkarya dan mendorong kami untuk
terus melangkah maju dalam Buddha Dharma.
Juga ucapan terima kasih kepada adik seperguruan
saya, Sramanera Sakya Vipula (Sami Neng Guang)
yang telah banyak memberikan wawasan baru bagi saya
dalam melihat kehidupan dan dunia apa adanya.
Sejak saya belajar di Buddhist College, kami telah dibi-
asakan belajar, bekerja, merenung, menulis, dan mem-
praktekkan Dharma dalam keseharian aktivitas kami,
sehingga kebiasaan menulis sudah meresap ke sanubari.
Semua ini tidak terlepas dari bimbingan dan arahan dari
para Guru, teman, dan sahabat dalam perjalanan hidup
ini, sehingga inspirasi-inspirasi untuk menulis bisa terus
mengalir.
Tulisan-tulisan dalam buku ini sebenarnya yaitu tulisan
untuk memotivasi diri sendiri yang masih dalam proses
Seiris Gambir
belajar, proses pematangan, dan proses pendewasaan
sebagai seorang sramana yang berjuang menaklukkan
‘Sang Ego’.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua,
yang masih belajar dan terus belajar. Semoga sharing
Dharma ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Terima Kasih kepada semua pihak yang dengan penuh
cinta kasih mewujudkan terbitnya buku ini. sebab ide
dan jerih payah mereka, maka buku ini dapat diterbit-
kan bersamaan dengan acara Talkshow yang berjudul
“The Secret Of Life and Death”. Dan, tema “The Secret of Life”
menjadini nspirasi dari judul buku ini.
Ungkapan Kasih dengan sujud dan bakti kepada Para
Buddha dan Para Bodhisattva yang telah membangkit-
kan semangat saya untuk tetap melangkah di dalam
Jalan Bodhisattva demi membangkitkan Bodhicitta untuk
menolong diri sendiri dan menolong semua makhluk
yang membutuhkan.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Salam Mudita,
Bhiksu Sakya Sugata
(釋能修)
Terima Kasih Kepada Para Buddha, Para Bodhisattva,
Para Guru, Para Orang Tua, Para Sahabat, Saudara
dalam Dharma yang telah memberikan insiprasi bagi
torehan tulisan ini. Jasa-jasa kebajikan ini dilimpahkan
kepada Semua Makhluk di Semesta ini.
Perhatian...
Cemberut, bete dan badmut,
dapat memicu ribut,
bahkan tubuh menciut,
kaya liliput,
muka keriput,
kaya cecurut,
ja lan nggak bisa ngebut,
kaya siput.
Jadi mending kita pasang muka imut.
Belajar untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik, lebih
bijaksana, dan memiliki kasih sayang dan cinta kasih. Se-
mua halangan yaitu perkembangan dari bentuk-bentuk
kemajuan batin. Jadikan setiap masalah sebagai bentuk
pengembangan kematangan dalam pola berpikir dan
bertindak.
Sebenarnya kehidupan itu tidak ada yang rahasia. Hanya
sebab tertutup oleh K ekotoran Batin dan tersembunyi
dalam K etidaktahuan. Betapa lelahnya Sang Pikiran yang
terus mencari jawaban keluar dari dalam diri, padahal
kunci dari semua itu telah ada di dalam diri.
Mengapa terus mengembara mencarinya? Bila saja kita
mau mengubah cara berpikir, mencoba melihat ke dalam
diri, dapat menerima kenyataan hidup apa adanya, dan
pencerahan-pencerahan kecil bisa kita dapatkan berupa
kunci-kunci kehidupan untuk membuka harta karun di
dalam hati.
-Shi Neng Xiu (Bhiksu Sakya Sugata)-
Mengapa mengeluh, mengapa sedih, mengapa stres?
Bila mengenal hakekat hukum alam, bahwa segala
sesuatu yang berkondisi pasti akan berubah. Mengapa
harus sampai ada niat bunuh diri?
Ketahuilah akibat dari bunuh diri akan memicu
penderitaan panjang yang tiada akhir. Tiada orang suci
yang hebat sekalipun mampu menolong mereka yang
meninggal sebab bunuh diri. Kehidupan saja tidak
dihargainya, bagaimana mau diberi kehidupan baru?
Maka sebaiknya kita tetap semangat menjalani hidup
ini.
Hidup penuh dengan variabel perubahan. Yang baik
jangan takabur, yang sedang di bawah jangan patah
semangat. Yang sakit semoga cepat sembuh, yang
sehat jagalah kesehatan.
Kidung Kehidupan
9
Yang gagal, pasti bisa sukses bila terus bersemangat.
Yang sukses, jagalah diri dan batin kita, dan jangan
takabur.
Yang pemarah bisa menjadi lebih penyayang. Yang
sudah penyayang, milikilah semangat bodhisattva untuk
menolong sesama. Yang putus asa, ingatlah sebelum
putus nafas masih banyak jalan keluar menuju kebaha-
giaan. Yang sudah tersadarkan, harus memberi motivasi
bagi yang lainnya. Yang lemah bisa menjadi tegar. Yang
tegar dapat menopang dan menyemangati yang lemah.
Bila harus meninggal semoga langsung ke tanah suci
sukhavati, dan terus berjuang sampai mencapai kesem-
purnaan. Hukum semesta tidak akan pernah menyim-
pang dan mengecewakan, bila kita mampu menyadari
hakekatnya.
Mengapa harus membenci, bila sebuah kebencian akan
menghasilkan milyaran penderitaan sebab dibenci? Ibarat
satu biji jeruk, mampu menjadi pohon dan menghasilkan
milyaran biji jeruk baru sesudah melewati proses pan-
jang perjuangannya. Demikian dengan tekad, niat, dan
perbuatan baik, sekali saja menanam di ladang kebaji-
kan, akan berbuah milayaran kali buah kebahagiaan.
Mengapa kita tidak menjadi lebih semangat?
10
Kerajaan Surga tidak perlu menunggu sesudah kematian,
tidak perlu harus dengan perjanjian. Surga ada di hati
setiap manusia, saat mampu merasakan ketenangan,
saat mampu berbahagia, hidup saling mencinta, saling
berbagi, saling memahami, bebas dari kebencian, bebas
dari keserakahan, iri hati, dan kemarahan.
Bila setiap manusia menciptakan surga di hatinya
masing-masing, maka tempat di mana mereka berdiam
akan menjadi tanah surga, kehidupan tanpa perang,
tanpa kejahatan, tanpa ketakutan, kebencian. Itulah
kerajaan surga. Hidup damai penuh dengan berkah.
Bila tanah ini tercemar oleh darah pembunuhan, oleh
darah pembantaian, oleh darah sebab permusuhan dan
kebencian, maka kondisi surga dunia saja sudah tidak
bisa diciptakan, bagaimana mengharap surga sesudah
kematian?
Bila memegang janji untuk tidak membunuh, tidak men-
curi, tidak berbuat asusila, tidak berdusta, tidak mabuk-
mabukkan saja sulit dijaga dan direalisasikan bagaimana
kebahagiaan surga bisa didapat?
Hidup tanpa membenci, tanpa menyakiti, penuh cinta,
damai, tenang dan kebahagiaan itu muncul, semuanya
bukan tanpa sebab. Diawali dengan kebesaran hati, di-
awali dengan kerendahan hati, diawali dengan ketulusan
dan kasih sayang maka dengan seiring waktu akan
terciptalah kebijaksanaan.
Belajar dan terus belajar untuk menggunakan akal sehat
daripada perasaan dan dogmatis yang dapat menyebab-
kan perselisihan dan peperangan.
Tiada cinta yang dapat memuaskan semua pihak, se-
lain cinta kasih yang universal. Cinta yang tidak me-
miliki, cinta yang tidak menuntut, cinta yang tidak ada
batasnya
Ada orang yang senang membuat baju. Dengan me-
teran, penggaris, pensil, gunting, benang, dan mesin
jahit, hanya dalam waktu yang singkat telah jadi satu
karya baju nan indah.
Ada yang senang melukis. Dengan kanvas, cat, serta
kuas sudah mampu menuangkan semua inspirasi di
benaknya. Ada yang senang membuat kue. Segala
macam kue telah dihasilkannya. Ada yang senang
menulis. Dengan tinta dan kertas mampu meluapkan
segala bentuk perasaan dalam bentuk cerita, baik cerita
sedih, senang, atau pun romantis. Semua tergantung
perasaan dan skenario yang diinginkan.
Bila senang berbuat baik, ia pasti mampu memberi-
kan warna warni hidup kepada dirinya dan orang lain.
Tanpa harus mengatakan akulah yang paling hebat,
Skenario
aku yang paling baik, aku yang nomor satu, aku yang
harus dipuji. Bila saja ia melakukannya maka semua
pahalanya pun akan hilang.
namun kalau yang senang marah, apa yang dihasil-
kannya? Hanyalah kekecewaan, sakit hati, pemerasan
emosi, dan penyakit. Tiada satupun efek positif dari
pikiran negatif.
Pada dasarnya semua orang sedang membuat skenario
bagi dirinya, namun banyak yang menganggap skenario
itu sungguh terjadi dalam hidupnya. Walau hanya lakon
belaka, namun dirasakan benar-benar menjadi nyata. Ten-
tunya pembuat masalah bagi dirinya bukanlah orang lain,
juga bukan orang lain yang menghancurkan hidupnya.
Melainkan diri sendiri yang larut dalam permainan yang
tidak jelas dalam kehidupan ini.
Cepat sadari untuk berubah, dan jangan patah semangat
di kala kegagalan itu datang.
Mari bekerja dengan giat sebab kesuksesan tinggal di
ambang mata, buka mata hati. Dan di sana kita men-
dapat jawaban dari kebahagiaan sejati di dalam hati.
Saat sedih, jangan terlalu bersedih. Saat senang jangan
terlampau bahagia. sebab dalam kesedihan terda-
pat banyak butiran- yang menguap,
sampai kembali menyublim dan mencurahkan kembali
hujan kebahagiaan.
Saat bahagia harus terus ingat berbuat baik, agar
pohon kebajikan terus tumbuh subur. Walau kesedihan
pasti akan datang menghadang setidaknya jasa-jasa ke-
bajikan yang berbuah mampu mengurangi bentuk-bentuk
kesedihan yang ada.
Hidup itu memang penuh makna, bila kita mau mem-
buka mata hati, maka setiap pelajaran hidup akan
mampu mendidik kita menjadi lebih matang dan bi-
jaksana. Pelajaran yang sulit, walaupun harus dilalui
dengan terseok-seok, namun bila akhirnya mampu dile-
wati maka penderitaan yang sulit pun sirna berganti
kebahagiaan yang tiada taranya.
Pelajaran demi pelajaran pasti akan memperkaya nilai-
nilai kehidupan kita.
Jangan patah semangat dan teruslah berjuang menjalani
jalan yang masih panjang, yang harus ditempuh dengan
kesabaran, keuletan, dan tekad. Sampai semua mampu
mencapai tujuan
Bila saja ada kesadaran untuk bangkit, maka sese-
orang pasti bisa bangkit. Bila saja ada kesadaran untuk
berubah, maka semua orang pasti akan berubah. Bila
saja ada kesadaran untuk meninggalkan semua sifat
dan karakter yang buruk, maka yakinlah semua juga
pelan-pelan bisa belajar. Bukan untuk menjadi orang
lain, hanya menemukan sosok yang berbeda dari diri
sendiri yang sesungguhnya, yah kita sendiri. Pengenal-
an diri, pengembangan diri, pengendalian diri, dan pe-
nyesuaian dari perubahan diri, sangat diperlukan oleh
siapapun yang ingin maju dalam batinnya.
Saat bahagia, kita menyadari kebahagiaan itu juga
berubah dan menghargai setiap kebahagiaan yang di-
dapatkan. Saat sedih, kita mampu melihat sumber
dan penyebab dari kesedihan itu sendiri. Kita harus
mampu menganalisanya. sebab kesedihan yang kita
pikir sebab faktor dari luar, faktor orang lain, ternyata
sesungguhnya akar permasalahannya justru dari dalam
diri kita sendiri.
Nah, yang mampu menyelesaikan tuntas semuanya juga
diri sendiri. Bila diri sendiri tidak mau menerima saran
dan masukan dari orang lain, yah bagaimana kita bisa
maju?
Saat kedewasaan berpikir dan bersikap itu muncul, ten-
tunya banyak cara yang dapat membangkitkan kema-
tangan itu sendiri. Ada yang menyakitkan, menyedihkan,
membuat down. Ada yang membutuhkan usaha keras,
menguras pikiran dan air mata, ada juga yang muncul
saat kita memperhatikan keluar masuk nafas.
Intinya kesadaran dapat terjadi setiap momen, hanya
saja kita mungkin tidak menyadari dan membiarkan ke-
sempatan untuk mengubah hidup kita berlalu begitu saja.
Mari kita berjuang untuk menjadi pahlawan kehidupan
dengan menaklukkan musuh terbesar yang ada dalam
diri sendiri.
Tertawa, Senyum, Marah, Jengkel, Cemberut, Kesakit-
an, Menangis. Semua yaitu ekspresi dari emosi baik
yang positif maupun yang negatif. Tentunya muncul
dari bentuk-bentuk pikiran, bermain dalam perasaan,
lalu disimpan dalam gudang kesadaran, distempel de-
ngan “like” and “dislike”. Tentunya bagi diri sendiri tidak
masalah, ekspresini tu yaitu spontan adanya, muncul
dengan apa adanya.
Akan Menjadi masalah saat berhubungan dengan orang
lain, atau menjadikan orang lain sebagai saluran pem-
buangan ‘emosi negatif’, atau memang sedang ribut
dengan orang lain, sepertinya perang dunia akan terjadi
kembali.
Sebaliknya, bila memancarkan semua ‘emosi positif’
kepada orang di sekitar kita dengan senyum dan tawa
Ekspresi Jiwa
yang tulus, maka hasilnya yaitu semua orang akan
terkena radiasi cinta dan kasih sayang yang universal.
Semestinya bumi akan terasa semakin sejuk sebab se-
mua terasa begitu bahagia.
Mau bahagia atau tidak, itu hak pribadi kita. namun
yang negatif cukup dirasakan sendiri saja. Yang positif,
kita saling berbagi. Dengan berbagi hal-hal yang positif,
maka perlahan kesedihan kita akan berkurang, sebab
radiasi kebahagiaan sesungguhnya mampu meluluhkan
kesedihan.
Saudara kandung ada yang seperti teman atau sa-
habat, ada yang sangat dekat, saling mengerti, saling
mengingatkan, saling bekerjasama, saling peduli, dan
saling menjaga orang tuanya.
Ada juga hubungan sesama saudara yang terasa jauh,
kadang antara saudara tidak mengerti jalan pemikiran
dan sifat masing-masing. Rasanya justru bisa seperti
orang lain yang baru kenal. Bahayanya bila saudara
kandung sudah seperti musuh, yang pasti merasa pu-
sing tentunya orang tua. Saling rebutan warisan, bah-
kan saling menghasut dan menghancurkan.
Padahal berasal dari orang tua yang sama, ibarat satu
pohon buahnya punya rasa yang berbeda.
Tidak ada orang tua yang membeda-bedakan anaknya,
Sahabat Cahaya
walau anak-anaknya tentu banyak perbedaan. namun
betapa sedih orang tuanya bila anak-anaknya tidak har-
monis. Dan sebaliknya, betapa bangga orang tuanya bila
hubungan antar anak-anaknya sangat harmonis.
Hubungan teman dan sahabat ada yang seperti sau-
dara, terasa sangat dekat dan benar-benar melekat di
hati. Dalam kesusahan bahkan akan menjadi memberi
semangat bagi kita.
Ada juga teman yang hanya setia hadir di saat kita
senang dan paling cepat menghilang di saat kita men-
galami kesusahan. Hanya ibarat semut yang cepat da-
tang bila ada serpihan gula manis.
Dan bahayanya bila teman atau sahabat telah menjadi
musuh. Mereka paling tahu segala kelemahan kita, dan
menjelek-jelekkan di luar. Ibarat pagar makan tanaman.
Kondisi yang sepertini ni sangat menyedihkan.
Tentunya seorang Kalyana Mitra (Sahabat Sejati) akan
mampu menjaga sahabatnya dari hal-hal negatif, bertin-
dak penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang yang
sepenuh hati.
Semoga kita semua memperoleh saudara dan teman
serta sahabat yang baik, yang sehati, yang benar-benar
membimbing kita ke cahaya terang kehidupan, bukan
sebaliknya menghancurkan dan memporakporandakan
hidup kita. Mari menjaga hati saudara dan sahabat
agar selalu ada di hati.
Tujuan kita sekolah dan belajar yaitu untuk mendapatkan
pengetahuan, mengasah ketajaman otak kita, mencarini lmu,
dan mendapatkan gelar. namun di luar bangku pendidikan,
kita bisa belajar dari orang-orang di sekitar kita, termasuk
orang-orang kecil yang sesungguhnya punya jasa besar bagi
kelangsungan hidup orang banyak.
Ada seorang anak yang sejak kecil selalu ditanamkan
ayahnya untuk belajar, belajar, dan belajar. Awalnya ia
sangat bersemangat dan takut ayahnya marah, maka
belajarlah ia dengan giat. Saat SMA ia merasa bela-
jar hanyalah untuk mengejar nilai dan prestasi, bukan
menambah pengetahuan, sebab pengetahuan yang ia
dapat di sekolah toh tak perlu untuk diterapkan di
rumah dan di lingkungan. Demikian sampaini a kuliah
S1 Sarjana Teknik Mesin, sampai meraih S2 di bidang
yang sama.
Saat bekerja, ternyata yang diperlukan hanya se-per-
berapanya dari semua yang dipelajari dari bangku se-
kolah sampai bangku kuliah. sebab ternyata pengala-
man jauh dari segala teori dan pengalaman itu bukan
hanya sekedar coretan di atas kertas. Nyatanya opera-
tor mesin tempatnya bekerja, yang notabene lulusan
Sekolah Kehidupan
STM atau SMK jauh lebih berpengalaman, terampil
dan cekatan di perusahaan tempat ia bekerja.
Teknisi lebih mengenal mesin dan kendalanya.
Bahkan terkadang hanya dengan mendengar suara
mesin sudah tahu apa kerusakannya.
Bahkan lucunya hanya dengan satu sentuhan kecil
ke mesin, bisa membuat mesin menyala kembali.
Alhasil, ia menjadikan teknisi, operator, dan mekanik
sebagai gurunya. Ia belajar dari bawahannya. Dan
ternyata semua teori yang rumit hanya mem-
buat otak manusia berpikir tidak simpel. Padahal
prakteknya hanya membutuhkan ketenangan, kehati-
hatian, konsentrasi, dan sedikit pengalaman saja.
Hal yang simpel ternyata kita sendiri membuatnya
menjadi rumit.
Pelajaran yang didapat di sini yaitu , tujuan kita
sekolah dan belajar yaitu untuk mendapatkan
pengetahuan, mengasah ketajaman otak kita, men-
carini lmu, dan mendapatkan gelar. namun di luar
bangku pendidikan, kita bisa belajar dari orang-
orang di sekitar kita, termasuk orang-orang kecil
yang sesungguhnya punya jasa besar bagi kelang-
sungan hidup orang banyak. Jangan sombong dan
tinggi hati.
Belajarlah dari siapa saja yang memang berpengalaman
di bidangnya. Jangan malu dan takut untuk bertanya
dan belajar, sebab pengalaman yaitu guru yang
paling baik.
Tundukkanlah harga diri kita, maka kita akan dimulia-
kan tanpa bisa dinilai dengan harga berapa pun.
Selamat belajar
Pikiran itu dashyat dan memang luar biasa. Begitu
kebencian bersarang di dalamnya, susah dibuang atau
tidak dipikirkan. Kebencian itu menyita banyak memori
dalam gudang pikiran kita. Seperti virus komputer yang
selalu menjelajahi sisi pikiran kita, mencemari sisi
ruang batin kita. Sampai suatu saat siap meledak
dan menjadi suatu kekuatan dahsyat, baru kita semua
kebingungan menghadapinya.
Sakit hati juga sama, bercokol dalam relung batin ini.
Memakan saraf-saraf kesabaran, saraf-saraf cinta, bah-
kan urat-urat kasih pun bisa putus sebab sakit hatini ni.
Bila saja kita mau untuk merenung sejenak, ‘sakit hati’
itu cuma perumpamaan, tidak ada hati yang benar-
benar sakit. Kalau beneran sakit ‘hati’ namanya sakit
Liver, dan tentunya sudah masuk rumah sakit kali yah?
Semua itu ternyata hanyalah ‘ego’ kita yang tersayat,
Virus Pikiran
‘harga diri’ kita yang terluka, atau merasa terinjak dan
tertindas. Ini baru tercabik-cabiknya ‘keangkuhan’ dan
ke’aku’an yang membuat kita tersiksa.
Jadi bagaimana agar tidak sakit hati? Jangan banyak
‘makan hati’ dan selalu ‘hati-hati’lah dalam setiap tin-
dakan agar selalu menjadi orang yang ‘baik hati’ yang
sudah pasti memiliki ‘hati yang sehat’. ‘Sehat lahir
batin’ ini jurus awet muda loh. Jadi jangan mikir yang
jelek-jelek terus, terus mikir yang ruwet-ruwet. Percuma,
sebab hanya membuat cape.
Apa yang sudah berlalu yah sudah tak bisa diulang.
Jadi, ngapain dipikirin? Kalau mau mikir, yang positif
aja! Yang negatif mah ngapain dipikirin? Hanya buang-
buang energi dan air mata.
Tulisan ini juga hanya sekedar iseng-iseng berhadiah.
Siapa tahu memang ada yang lagi sakit hati. Mudah-
mudahan bisa sembuh, sehat hatinya, terobati luka
hatinya, terhentilah air matanya. Jangan habiskan air
matamu, mata air saja bisa habis apalagi air mata yang
persediaannya nggak banyak.
memiliki semangat hidup yang luar biasa,
sangat liar, sebentar saja sulit dikendalikan, tumbuh
bebas, dan berkembang biak sangat cepat. Bila dicabut
tidak kena ke akarnya, sebentar saja akan tumbuh
kembali. Semakin dicabut semakin menjalar dan tumbuh
subur. Bila tidak diperhatikan, tiba-tiba daerah kekua-
saannya semakin melebar.
Bila semangat hidup seseorang diibaratkan
ini, maka hidup mau susah seperti apa, ia akan terus
berjuang dan berusaha, pantang mundur dan tetap se-
mangat. Semakin tinggi tingkat kesulitan hidup, semakin
keras juga ia berjuang mencari celah untuk dapat ber-
tahan hidup. Memutar otak dan banting tulang, untuk
mendapatkan semua peluang dan kesempatan agar
hidupnya bertambah lebih baik.
namun seseorang yang keras kepala, kaku, dan konsep
serta pola pikirnya seperti ini, bisa sangat
berbahaya, bisa juga bermanfaat. Bahayanya, ia semakin
dilarang, semakin menjadi-jadi. Semakin dibatasi semakin
berontak. Semakin dijaga semakin liar, dan mengguna-
kan setiap kesempatan untuk hal yang membahayakan
dirinya dan orang lain dengan hal-hal negatif.
Disebut bermanfaat bila semangat dan kekuatan dari
orang tipe ini jika diarahkan ke arah yang positif dapat
sangat berguna bagi orang banyak.
Rumput oh rumput, walau sering diinjak-injak, dicabut,
ditelantarkan, namun merupakan sumber makanan bagi
binatang yang senang merumput. Energi bagi kehidupan
satwa pemakan rumput. sebab rumput, kuda, sapi, ker-
bau dapat bekerja, demi kebutuhan manusia. Artinya jan-
gan pernah memandang remeh terhadap sesuatu yang
kelihatan merusak, tidak bermanfaat, selama kita belum
mengetahui kekuatan dan manfaatnya. sebab dalam
kehidupan ini besar-kecil, baik-buruk, semua memiliki arti
dan maknanya masing-masing. Bebaskan pikiran kita dari
negativitas, semua bisa akan sangat bermanfaat.
Awali harini ni dengan pikiran baik, ucapan baik, dan
perbuatan baik.
Tujuan yang baik akan mendapat berkah dan keberun-
tungan yang datang entah dari mana. sebab pikiran
yang baik akan menarik semua unsur dan gelombang
yang baik pula. Dan sebaliknya, hal yang jelek akan
terjadi bila pikiran kita dipenuhi oleh hal-hal yang
negatif.
Bila masa lalu telah terjadi dan tak bisa diulang kem-
bali, biarlah semua itu terjadi. Bila masa kemarin baru
saja terjadi, selama masih bisa diperbaiki, agar masa
mendatang tidak terulang kembali.
Bila kita memiliki sesuatu yang mengganjal, keluar-
kanlah ganjalan itu sebelum kita terganjar. Bila kita
Kebaikan Hati
memiliki kesalahan, akui kesalahan dan minta maaf
pada yang bersangkutan, agar tidak terjadi salah
paham berkepanjangan. Sungguh mudah menilai se-
seorang, namun sulit menilai dan mengerti diri sendiri.
Sebenarnya, jika mengerti diri sendiri saja sulit, lantas
bagaimana kita bisa mengerti perasaan orang lain?
Deburan ombak di laut, memberi suasana dan
energinya sendiri, ditambah dengan sinar mentari yang
mulai terbit, memberi kehangatan tersendiri bagi dunia.
Semilir angin nan sepoi-sepoi memberi harapan akan
sebuah kedamaian.
Deburan emosi demi emosi di dalam hati, akan mem-
buat diri tidak terkendali, tak ada jiwa yang tenang
dan damai. Hari-hari pun akan berjalan sangat lambat,
rumah terasa bagai neraka. Orang terdekat laksana
musuh. Sedang musuh besar dalam dirinya sendiri,
tidak disadari. Janganlah sebab marah dan benci,
mengharap makhluk lain celaka. Berbuatlah untuk
mengisi ladang hati dengan hal yang indah. Bunga-
bunga cinta di hati, semilir angin kesejukan jiwa, om-
bak perasaan yang menghanyutkan jiwa nan bahagia.
Yang ada yaitu rasa nyaman dan tentram di hati.
Buanglah amarah, benci, emosi, dan ketidaktenangan
jiwa. sebab yang negatif hanya akan memberikan pen-
deritaan. Ubahlah energi negatif menjadi energi positif
agar berguna bagi kehidupan, hidup kita pun akan jauh
lebih hidup.
Datang... Lihat... Buktikan.
Inilah yang dikerjakan oleh orang Bijak, ia akan mem-
buktikan terlebih dahulu dibanding percaya begitu saja....
Mari analisa ombak-ombak perasaan, emosi, dan amarah
di hati kita semua....
Dan, jadikan semua itu sebagai pelajaran bagi kehidu-
pan kita untuk belajar menilai yang salah sebagai kesa-
lahan, dan yang benar sebagai kebenaran. Walau ada
juga yang menyatakan kebenaran itu belum tentu benar,
dan kesalahan itu juga belum tentu salah. Oh yaaa?
Silahkan buktikan sendiri....
Dunia makin panas, terik dan gersang. Tumbuhan ter-
lihat menguning dan tak bergairah,
Burung-burung panik terbang kian kemari mencari la-
han hijau. Semakin sulit menemukan keharmonisasian
alam. Hutan ditebang untuk kepentingan pribadi. Air
bersih semakin sulit dan semakin mahal. Jangan biar-
kan air minum lebih mahal dari bensin.
Air, udara, matahari, tanah, dan segalanya yaitu gra-
tis. Untuk dipakai dan dimanfaatkan manusia. Hanya
sebab keserakahan manusia, semua dihitung dengan
mata uang. Sampai nanti udara bersih pun menjadi
mahal. Semua itu dapat diperjualbelikan. Siapa ada
uang, mampu membeli dunia beserta isinya. namun
tetap saja tak mampu membeli kebahagiaan dan ke-
bijaksanaan.
Harmonisasi Alam
Kehidupan bukan hanya sekali saja. Lingkaran tumim-
bal lahir tetap akan berjalan. Jagalah alam kita saat
ini. Jangan sampai, nanti saat terlahir kembali di bumi
ini semua sudah gersang. Tak ada taman, hutan,
serta paru-paru kota. Semua menjadi seperti kota abad
modern. Makan minum hanya dengan satu tablet. Se-
mua pakai masker oksigen. Seperti film-film masa depan
yang canggih namun gersang.
Demikian gambaran yang ada bila kita mengabaikan
kelestarian lingkungan dan terus merusak alam ini. Men-
jadi baik itu mudah kok, mulailah dari menjaga hati.
Siapa yang hatinya terjaga, maka ia akan menjaga ling-
kungannya. Semua pasti akan terlindungi dengan cinta
kasih dan kesabaran. Syukur-syukur, semua bertekad
terlahir di alam bahagia.
Menjadikan bumi sebagai tanah suci tempat melatih diri,
maka tanah suci para Buddha akan terwujud, saat me-
nutup mata dan berhentinya hembusan nafas.
Amitofo..Amitofo..Amitofo
Perasaan tidaklah kekal, selalu berubah dan terus beru-
bah. Dikatakan tidak punya perasaan, malah sesung-
guhnya seseorang memiliki perasaan yang sangat
sensitif. Saking sensitifnya dikatakan tidak berperasaan.
Artinya lebih dashyat dari orang yang berperasaan.
Persepsi muncul dari apa yang kita lihat, apa yang kita
rasa, apa yang kita dengar, apa yang kita cium, apa
yang kita sentuh dan apa yang kita pikirkan. Tepatnya,
muncul dari 6 landasan indria. Persepsi ditambah
dengan perasaan akan menjadi sebuah skenario hebat,
kelihatannya menjatuhkan lawan, namun salah persepsi
akan menghancurkan diri sendiri.
Kesadaran bisa menjadi sangat kuat, bisa menjadi
sangat lemah. Kesadaran yang didasari emosional,
menjadikan seseorang gelap mata. Kesadaran yang di-
Kebodohan Batin
dasari persepsi dan perasaan, bila benar akan menjadi
kekuatan dari batin itu sendiri. namun , bila diikuti oleh
persepsi dan perasaan yang salah dan negatif, kesa-
daran bisa menjadi memabukkan.
Dikatakan cemburu itu baik dan membangun, sebab
masih ada cinta dan sayang.
namun , cemburu buta itu pasti akan sangat menghancur-
kan. Selain menghancurkan orang lain, efek terbesarnya
yaitu diri sendiri.
Bila sesungguhnya tiada indera, tiada perasaan, tiada
persepsi, tiada kesadaran, dan sesungguhnya tiada cem-
buru, senang dan tidak senang. Mengapa harus mele-
katinya, membawanya dalam hati sampai terbawa mati?
sebab semua hanyalah kekosongan yang tanpa inti,
namun sebab hati yang tercemar oleh kebodohan batin
membuat semuanya menjadi nyata. Bukan membawa
kebahagiaan, namun menjadikan beban hidupmu bertam-
bah berat.
Antara ada dan tiada. Dikatakan ada sebab selalu
eksis, dikatakan tiada sebab fisiknya tidak dapat selalu
ditemui. Ada dan tiada sesungguhnya tidak berbeda.
Saat ada hampir jarang dipikirkan, saat tiada dicari pun
hanya kenangan yang dapat dilihat.
Masih perlukah melekat dengan ada dan ketiadaan?
Manusia semasih hidup, jarang diperhatikan, sesudah
meninggal memberikan persembahan yang terbaik pun
tak mampu menggantikan perlakuan dan pelayanan se-
waktu seseorang itu masih hidup.
Saat Ceng Beng semua orang ke kuburan, yang dilihat
hanya batu nisan dan tumpukan tanah. Tiada yang
dapat diajak bicara. Hanya dua keping uang logam
alat komunikasi, untuk bertanya sudah cukup atau
Ada dan Tiada
belum. Serta berbagai persembahan bagi mereka yang
membutuhkan.
Makna terindah yaitu kebersamaan, rasa bakti dari
anak-anak yang berkumpul mendoakan leluhurnya. Men-
doakan agar mereka senantiasa terlahir di alam yang
lebih baik dan tak terlahir di alam menderita, memberi-
kan laporan atas segala keturunan yang telah ada, dan
cerita hidup setiap anak yang senantiasa mengharap
berkah dari orang tua dan leluhurnya.
Inilah indahnya bentuk perhatian dan peringatan kepada
mereka yang paling berjasa kepada kita.
namun bila saat ini orang tua kita masih ada, masih
sehat, berikanlah persembahan yang terbaik kepada
mereka, yakni kasih sayang dan perhatian, serta ma-
kanan yang enak untuk mereka rasakan saat ini. Dan
yang paling penting dari semua itu yaitu ajaklah
orang tua untuk mengenal ajaran kebajikan, agar se-
masa hidupnya memiliki tabungan kebajikan. Belajar
untuk melakukan nian fo dan bertindak sesuai dengan
ajaran kebenaran, agar nanti meninggal tidak kekurangan
apapun dan menjadi penghuni tanah suci sukhavati nan
bahagia.
Bakti yang terpenting yaitu saat ini. Lakukanlah seka-
rang sebelum semua menjadi terlambat.
Memberi bukan berarti kehilangan. Yang penting sebe-
lum, pada saat memberi, dan sesudah memberi kita
bahagia. Kekayaan yang sesungguhnya bukan uang,
melainkan tabungan karma baik. Harta yang sesung-
guhnya bukan harta benda, melainkan kepuasaan, sifat
rendah hati, ramah, dan kebajikan.
Bila kita mampu memiliki hati bodhisattva dan meya-
kini semua orang yaitu calon Buddha, kepada siapa
kita mampu untuk marah lagi? Kepada siapa kita bisa
mendendam? Kepada siapa kita bisa berbuat jahat?
sebab di hati kita sudah terbebas dari keraguan, tak
penting bagaimana sikap orang lain terhadap kita. Yang
penting yaitu apa yang kita lakukan untuk orang lain.
sebab semua orang memiliki bibit-bibit keBuddhaan.
Apapun kesalahan yang dilakukan pasti sebab debu-
debu kekotoran batin. Saat batin telah terbebas dari
debu, saat itulah Para Buddha muncul di hati. Jangan
menunggu orang lain menjadi Buddha, namun mari kita
bertekad membangkitkan semangat bodhisattva, bela-
jar peduli pada orang lain, belajar mengerjakan untuk
kepentingan orang banyak. Kita yaitu orang yang
paling beruntung di dunia.
Beberapa saat lalu di sebuah vihara di Taiwan, saya berjumpa
dengan seorang volunteer. Saat itu, saya berkata kepadanya,
“辛苦你了”. Xin Ku Ni Le (maaf, sudah menyusahkan
anda) namun mereka malah berkata: “幸福我們的,不
會辛苦的 Xing Fu Women De, Bu Hui Xing Ku De”
(Merupakan kebahagiaan bagi kami, kami tidak merasa
direpotkan). Artinya pekerjaan apa pun bagi mereka
bukanlah sesuatu yang menyebalkan, merepotkan, atau
sesuatu yang menyusahkan. Selama berbuat baik, mere-
ka menganggap bahwa apa yang dikerjakan yaitu
Kita bisa memiliki banyak barang, keinginan yang tidak
terpuaskan untuk terus mencari dan mencari kekayaan
sebanyak-banyaknya, namun bisakah kita mengunakan
semua dengan tepat, dan efisien? Bisakah kita me-
ngoptimalkan semua fungsi dari milik kita? Apa yang
kurang? Rasa syukur, puas, serta tahu berterima kasih.
Ada pepatah yang berbunyi, “memiliki ratusan hektar
sawah, namun hanya sejumput padi untuk dimakan
sehari”. Sama seperti halnya seseorang memiliki banyak
rumah atau gedung mewah yang tersebar di setiap
tempat, namun hanya butuh ranjang untuk tidur seluas
ukuran ranjangnya. Dan hanya butuh peti seukuran
badannya saja saat kematiannya.
Memiliki namun tidak dapat mengunakan apalagi menik-
matinya, sama seperti kebau yang kerja keras seharian
namun tidak pernah merasakan apa yang telah dikerja-
kannya. Kondisi alam, air terus menerus mengalir, udara
ada sirkulasi, stock barang dan uang ada perputaran.
Demikian juga halnya dengan kekayaan. Semua harus
bisa berputar dari sepuluh penjuru dating dan dikemba-
likan manfaatnya ke sepuluh penjuru. Kekayaan kita ber-
asal dari berbagai kondisi dan faktor, buruh, karyawan,
pembeli, dan masyarakat. Jadi seharusnya kembali lagi
dapat dirasakan untuk masyarakat banyak. Itulah konsep
seorang dermawan, yang selalu harum namanya dan
dihormati oleh orang banyak.
Kita datang ke dunia dengan tangan hampa dan saat
meninggal dunia juga tiada apapun yang dapat dibawa,
selain karma baik atau buruk yang menjadi warisan se-
jati. Kekayaan hanyalah sebuah sirkulasi di dunia, yang
bila tidak dimanfaatkan untuk kepentingan kebajikan,
tidak akan mengahasikan apa-apa.
“Memiliki harta banyak yaitu orang yang kaya, mereka
yang tahu cara menggunakannya yaitu orang yang
kaya dan bijaksana”
Renungan dari Master Hsing Yun, Disadur dan
dibahasakan kembali Oleh NX.
Kekuatan Supranatural atau Kesaktian Oleh Master
Hsung Yun.
Kehidupan manusia terdiri dari penderitaan dan ketidak-
kekalan. Begitu banyak jenis masalah dan persoalan
manusia yang sulit diatasi, dan biasanya manusia
mencari cara untuk keluar dari problem kehidupan-
nya, baik dengan berdoa kepada para Buddha,
Bodhisattva, dewa-dewi dan orang suci lainnya. Bahkan
ada yang mencari kesaktian, agar dapat memiliki
kekuatan supranatural.
“Kekuatan Supranatural” yaitu suatu kekuatan yang
luar biasa, dapat diperoleh dari praktek Meditasi, dan
hasil sampingan dari pengembangan spiritual. Hasilnya
memang memiliki banyak kelebihan yang tidak dimi-
liki oleh orang lain. Namun, apakah sesudah itu kita
bebas berlalu sesuka hati? Dan bisa memiliki hidup
yang damai? Rasanya belum tentu demikian.
Yang paling penting dari semua itu yaitu praktek
pengembangan spiritual itu sendiri dibanding keingin-
an memiliki kekuatan supranatural. sebab kekuatan
supranatural yang terhebat pun tidak bisa menandingi
dan melawan “karma”. sebab “karma” atau hukum
sebab akibat yaitu kekuatan yang paling hebat.
Yang Arya Mogalanna yang paling sakti saja tidak
bisa membebaskan ibunya dari alam menderita, yang
terjatuh sebab ‘karma beratnya’. Memang, Yang Arya
Moggalana dapat pergi dan mengunjungi semua alam
sampai menembus neraka terendah. namun , tetap tidak
bisa mengubah karma berat Ibunya sendiri. Hanya
dengan kekuatan bersama dari jasa kebajikan terhadap
komunitas Sangha yang bisa mengantarkan ibunya
menuju alam yang lebih baik.
Kekuatan Supranatural bukanlah segalanya. Kadang sete-
lah memilikinya malah semakin terasa fenomenanya.
Tadinya, kita tidak bisa membaca pikiran orang, sete-
lah memiliki kekuatan itu, kita malah menjadi bingung,
sebab bisa mengetahui banyak orang yang lain di
mulut lain di hati. Apakah kita bukannya menjadi sedih,
di depan kita mereka begitu baik, namun di belakang
ternyata begitu membenci dan mendendam kepada kita.
Biasa kita tidak bisa mendengar percakapan orang-orang
tentang kita, namun sesudah memiliki kekuatan tertentu,
kita menjadi tahu semua hal, dan bisa mendengar pen-
deritaan dan curhat dari alam lain, apakah kita tidak
bertambah stres? sesudah mampu mengetahui kejadian
yang akan menimpa seseorang, malah akan menjadi
beban baru. Apakah dengan memiliki kemampun ini
kita benar-benar bisa tenang dan tentram, bila tidak
sanggup dan belum siap menerima semua fenomena
yang ada?
Kekuatan Supranatural bukan hanya dimiliki oleh para
Buddha, Bodhisattva dan para dewa-dewi saja, alam
setan bahkan ashura pun memiliki kemampuan ini.
Kemampuan alam untuk menyesuaikan pergerakan,
perubahan iklim dan cuaca, musim, pergantian ro-
tasi, evolusi bumi, juga merupakan kekuatan fenomenal
Natural.
Saat ini, kita juga memiliki kemampuan hebat yang luar
biasa, yaitu bisa telepati jarak jauh, dengan telephone
ataupun gadget yang kita miliki, bisa terbang di ang-
kasa dengan pesawat terbang, bisa meng-kloning diri
menjadi banyak, bisa melihat semua kejadian di bela-
han dunia dengan televisi, internet dan lainnya. Semua
itu yaitu kekuatan supranatural yang bisa kita miliki
seiring dengan perkembangan jaman.
49
Kekuatan Supranatural merupakan akumulasi dari pen-
galaman hidup manusia, juga merupakan hasil pelatihan
dan kemampuan tertinggi dari manusia, namun bukan
jaminan untuk hidup bahagia, sebab kesaktian belum
bisa menandingi kekuatan moralitas (sila) dan melampaui
hakekat kekosongan tanpa Aku (Sunyata dan Annatta),
serta kebijaksanaan tertinggi (Prajna) yang dapat mem-
bawa diri menuju pada Pembebasan Sejati.
Jadi, jangan gantungkan hidup kita pada kekuatan di
luar diri, tapi jadikan diri sendiri sebagai pelindung
yang sesungguhnya. Laksanakan Sila (latihan moralitas),
Samadhi (meditasi) dan Prajna (kebijaksanaan) sampai
pada mencapai Sunyata (kekosongan).
Sering kali seekor kucing berjalan mantap dengan
anggunnya bak putrini stana. Terkadang, berjalan de-
ngan berhati-hati, ataupun berlari-larian tidak jelas arah.
Saat sedang santai, kucing akan melangkah tanpa
beban, tidur tanpa peduli lingkungan sekitar, bermain
sendiri dengan rumput dan lainnya. Hidup bebas tanpa
ketakutan.
namun , saat akan mencuri makanan, kucing menjadi
sangat waspada, penuh curiga, dengan pandangan
tajam, kuping peka, berjalan mengendap-ngendap meli-
hat kiri melihat kanan, penuh cemas dan was-was.
Bila mereka berdua atau banyakan, yang satu akan
sibuk berjaga, yang lainnya akan mengambil kesem-
patan untuk mencuri. namun , masalah datang saat
mereka hendak berbagi makanan curian, antara satu
Kucing
dengan lainnya bisa ribut dan bertengkar. Jarang yang
bisa makan bersama-sama dengan damai.
Kucing bisa merengek-rengek, memohon untuk dikasihani,
sangat memelas, meminta welas asih kita, mengosok-
gosokan badannya ke kaki kita menandakan ia sayang
kepada kita, menjilati kita agar memberikan kasih sa-
yang kepadanya. Saat kucing menemukan musuhnya
atau saat akan bercinta, tingkat sensitivitas sangat tinggi,
dan akan meraung-raung menakutkan. Cakar tajamnya
siap mencakar siapapun yang ditemuinya.
Demikian juga saat akan melahirkan, suara kucing akan
terdengar pilu yang menyayat hati. sesudah menjadini bu,
kucing akan melindungi anak-anaknya dengan protektif
dan kewaspadaan tinggi, menyusui dan merawatnya, me-
mindahkan anak-anaknya ke tempat yang aman.
namun , bila ada tangan jahil manusia yang menyentuh
anaknya, sang ibu pun tidak akan mengakui anaknya
sebagai anaknya lagi, lantas membuang dan mencam-
pakkannya. sesudah anak-anaknya besar dan dapat ber-
diri sendiri, kucing pun akan meninggalkan mereka untuk
kembali hidup di dunianya sendiri.
Kucing binatang yang unik dan menjadi binatang mi-
tos bangsa tertentu, yang dihubungkan dengan misteri
tertentu. Ia bisa jatuh dari ketinggian dengan posisi
tetap berdiri tanpa terluka, dan kucing dapat mengobati
dirinya sendiri.
Inilah sifat kucing. Ambil sifat yang baik. Yang tidak
baik jangan ditiru dan silahkan dibuang, dan jangan
sampai kita dijuluki kucing garong.
Yang salah bukan pilihannya. Yang salah yaitu pikiran
dan sifat orang yang memilihnya, yang tidak pernah memi-
liki rasa puas dan bersyukur dengan apa yang telah dida-
patkannya. Dari pada memilih lagi, lebih baik menjaga apa
yang telah ada, merawat yang telah terja lin, dan memper-
baiki sesuatu yang perlu diperbaiki.
Saat menjalani hidup ini harus menyadari konsep:
“Tiada orang yang seratus persen baik di dunia ini,
dan sebaliknya tidak ada orang yang seratus persen
jahat di dunia ini.”
Siapapun ia, maka pertobatan dan tekad untuk meng-
ubah segala perbuatan tidak baik yang dijalani dengan
ketulusan itu akan memiliki kekuatan baginya dalam
menjalani hidupnya.
Kata ‘baik’ dan ‘tidak baik’ hanyalah pelabelan, banyak
orang baik yang belum ketahuan ‘kejahatan’nya. Dan
orang yang dicap jahat hanya sebab kebetulan ‘keta-
huan’ perbuatannya. Banyak dari mereka yang dikata-
kan ‘orang jahat’ dan kemudian menyesal. namun lebih
ba-nyak lagi ‘orang baik’ yang tidak menyesali perbua-
tan jahatnya sebab merasa masih di ‘level aman’.
Baik dan Buruk
Permainan ‘baik’ dan ‘buruk’ hanyalah permainan penja-
hat dan polisi. Yang diperankan silih berganti oleh orang
yang sama.
Sesungguhnya kita sendiri yang paling tahu semua per-
buatan kita, dan kita sendiri yang harus bertanggung
jawab dengan semua perbuatan itu.
Mereka yang menabur kebaikan akan mendapatkan hasil
yang jauh lebih baik, walaupun banyak ilalang dan para-
sit yang mengerogotinya. Mereka yang menabur kejahat-
an tidak akan menuai hasil yang baik, walau terkadang
tetap ada beberapa tanaman bagus yang tumbuh di
tengah-tengah semak belukar.
Semoga kegelapan di hati berangsur-angsur men-
jadi terang, menyadarkan kita bahwa kehidupan tidak
selamanya gelap, dan biarlah sinar kebijaksanaan mem-
berikan pancaran kebahagiaan bagi semua orang, agar
semuanya mampu menjalani hidupnya, dan dapat me-
nyadari peranannya di dunia yang penuh dengan sandi-
wara ini.
sesudah melalui keributan yang sangat hebat sepasang
suamini steri, datang menghadap kepada Master Zen
untuk meminta pencerahan.
Suami berkata, “Master, kami sudah lama menikah,
anak-anak pun sudah besar, namun rumah tangga kami
selalu dirundung masalah, keributan dan ketidakcocok-
an selalu terjadi setiap hari. Saya sebagai suami
ingin bercerai dengan isteri saya, dan hendak mencari
pasangan hidup yang baru, mohon pencerahan dari
Master.”
Sang Isteri tidak mau kalah berkata, “Master yang
bijaksana, bagaimana saya tidak sabar, setiap hari
perlakuan suami saya kasar, tidak peduli dengan anak-
anak, saya dengan tulus mengurus semua keperluan
rumah tangga. Menyiapkan semuanya untuk suami dan
anak-anak tercinta dengan penuh kesabaran, melayani
suami tanpa pamrih, dan saya selalu setia menemani
suami saya walau dengan air mata dan hati yang ter-
luka setiap hari, kerena pada dasarnya ia tidak setia,
mana pernah senang berada di rumah. Saya ingin ber-
cerai, bagaimana pendapat Master?”
Master Zen berkata: ”Apapun keputusan yang kalian
ambil, SEMUA HANYA AKAN MENJADI PENYESALAN.
Silakan pulang dengan bahagia”.
Mereka tidak puas, dan bertanya: ”Mengapa demikian?”
Master Zen pun berkata, ”bila saya menyetujui kalian
bercerai, maka kamu sebagaini steri, akan menderita, se-
tiap saat bermandikan air mata PENYESALAN, selama
ini telah hidup bersama dalam suka duka, membesarkan
anak dengan susah payah, sebab hal-hal NEGATIF
yang selalu terlihat melupakan hal yang POSITIF dari
suamimu kemudian bercerai dan harus menghadapi se-
gala persoalan sendiri, mengerjakan semua sendiri, kamu
akan selalu menyalahkan diri sendiri. Kamu akan selalu
berpikir tentang semua kekuranganmu dan akan MENYE-
SALI perceraian ini. Mengapa dahulu tidak mau berubah,
mengapa tidak lebih sabar menghadapi suami dan me-
maafkan semua kesalahannya, mengapa tidak mencoba
memperbaiki hubungan ini dan memberikan perhatian
yang lebih kepadanya.”
Master ini melanjutkan, ”kamu sebagai suami,
mungkin akan memperoleh kebahagiaan yang baru
dengan pilihanmu sendiri, selama belum terjadi masalah
baru, maka semua akan terlihat baik-baik saja, be-
narkah? Semua kondisi kehidupan memiliki dua sisi
positif dan negatif, begitu muncul persoalan-persoalan
dalam hidupmu yang baru, apakah kau tetap bahagia?
Apakah tidak akan muncul PENYESALAN? Mengapa
telah mengecewakan orang yang kau telah nikahi
dan menemanimu selama ini, meninggalkan anak demi
kepuasan sesaat. Masalah yang sama akan kembali
hadir, dan masalahmu akan menjadi bertambah. Keke-
cewaan dan penyesalahan akan muncul di hari tuamu,
melihat sikap benci yang terpancar dari anak-anakmu
terhadap kamu, jadi PENYESALAN pasti akan ada.
”Bila aku mencegah kalian untuk tidak BERCERAI,
maka PENYESALAN pun akan ada. sebab kalian
akan pulang sekarang, dan kemudian hari akan ter-
ulang semua hal yang sama, lalu kalian akan me-
nyalahkan saya sebab tidak mencegah kalian untuk
bercerai. Kalian tetap tidak akan puas, sebab dalam
pikiran kalian hanya ada KATA CERAI, tidak ada kata
BERUBAH. Bahkan kata CINTA pun telah lenyap dari
pikiran kalian, dan yang pasti kalian tetap hidup dalam
KETIDAKPUASAN, dan tidak ada jalan keluarnya”
”PULANGLAH DENGAN BAHAGIA!”
Tapi renungkanlah pesan ini, ”kebanyakan orang TIDAK
PUAS dengan apa yang telah DIPILIHNYA.”
“saat kalian memilih seseorang untuk menjadi pen-
damping hidup kalian, tentu melewati proses yang tidak
mudah. Bila semua berjalan baik-baik saja, hidup ka-
lian akan bahagia, namun begitu muncul segala macam
masalah, maka pikiran yang muncul yaitu SEANDAI-
NYA...., SEHARUSNYA...., BILA PADA AWALNYA... se-
mua akan membawa ingatan kalian pada pilihan yang
dulu telah tersedia. Dan kalian akan menyalahkan ke-
adaan, menyalahkan kondisi, menyalahkan diri sendiri.
Mengapa memilihnya, tidak memilih yang satunya?”
”Sama seperti memilih untuk membeli barang dari ter-
sedianya pilihan, saat kita mengambil keputusan untuk
membelinya, dan kemudian terjadi KETIDAKPUASAN,
maka akan segera berpikir seandainya dulu saya me-
milih yang satunya.” Padahal, bila kita memilih pilihan
yang lain itu sendiri, belum tentu juga bahagia, pasti
akan kembali terulang hal yang sama, sebab pada
dasarnya sifat KETIDAKPUASAN itu selalu ada dalam
pikiran kita.”
”Yang salah bukan pilihannya. Yang salah yaitu
PIKIRAN dan SIFAT orang yang memilihnya, yang tidak
pernah memiliki rasa PUAS dan BERSYUKUR dengan
apa yang telah didapatkannya. Dari pada memilih lagi,
lebih baik menjaga apa yang telah ada, merawat yang
telah terjalin, dan memperbaiki sesuatu yang perlu
diperbaiki.”
”Jadi Pulanglah dengan BAHAGIA, BERCERAILAH
dengan BAHAGIA, atau Kembalilah bersama-sama
membina RUMAH TANGGA YANG BAHAGIA. Saranku
CARILAH KEBAHAGIAAN bukan PENDERITAAN.”
Pembaca semua, marilah kembali pada penilaian
masing-masing, kebijaksanaan masing-masing. Seorang
Master Zen yang hebat sekalipun tidak dapat menentu-
kan kebahagiaan anda, sebab anda sendiri yang dapat
membuat diri anda BAHAGIA.
Mau bahagia atau mau menyesal?
Penyesalan selalu datang belakangan, kalau datang di
muka namanya Pendaftaran.
Diceritakan kembali secara bebas oleh: Sakya Sugata.
Aku yaitu sebuah cincin kawin. Sejak lahir, aku sudah
dipasangkan dengan pasanganku dan disatukan dalam
kotak perhiasan yang indah. Kami dipajang di toko
perhiasan sampai kami menemukan mereka yang berjo-
doh dengan kami, dan jadilah kami sebagai pelengkap
jari manis mereka. Demikian juga dengan saudaraku
yang lain, mereka mengharapkan ada sepasang muda-
mudi yang sedang jatuh cinta dan akhirnya melanjutkan
dalam jenjang pernikahan, memilih saudaraku sebagai
saksi bisu cinta mereka dan menemani sampai usia
mereka telah senja. Tentunya inilah harapan kami para
cincin.
Selama aku berada di toko perhiasan ini, telah banyak
saudaraku yang meninggalkan kami dan menjadi pen-
damping hidup para mempelai yang menikah. Walau
banyak sekali cerita yang ada, saudara kami sering
saat Cincin Bicara
63
masuk ke pegadaian sebab mereka terpaksa harus
dilelang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga pemi-
liknya. Ada juga berita dari para cincin yang telah senior
saat mereka berkunjung ke toko ini. Mereka memberi
semangat kepada kami semua untuk selalu tabah dan
bersabar dalam menghadapi siapapun yang menjadi pe-
milik kami kemudian. Mereka mengatakan bahwa perni-
kahan tidak seindah yang ada di film, maupun buku-
buku percintaan. Banyak sekali kejadian-kejadian yang
tidak akan habis untuk dibuat sinetron khusus untuk
para cincin. Pokoknya para cincin senior kami selalu
bercerita panjang lebar tentang kehidupan para cincin,
kami hanya menjadi pendengar yang baik.
Sampai akhirnya aku dengan pasanganku merasakan
sendiri apa itu perjalanan hidup yang baru bagi sepa-
sang cincin kawin. Aku tahu setiap manusia memiliki
perasaan. Apalagi urusan cinta, siapa yang tidak per-
nah merasakannya? Dalam kehidupan ini, perasaan dan
permainan cinta semua muncul dengan sendirinya. Ber-
langsung dan mungkin berakhir dalam suatu pernyataan,
baik itu yang menyenangkan atau menyedihkan. Aku
sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan diri kami
kemudian. Kami para cincin yang selalu setia pada maji-
kan yang memiliki kami, akan selalu menemani sampai
akhir hayat mereka.
Yang aku tahu, semua orang memiliki kesempatan yang
sama untuk mencintai dan dicintai. Semua ada dalam
proses perjalanan menemukan pasangan yang cocok
dengan dirinya, yang kemudian berlanjut dalam masa-
masa penjajakan, pacaran, pertunangan, sampai pada
jenjang pernikahan. Dan tidak ada orang yang bisa
ikut campur dalam masalah perasaan, apalagi per-
mainan perasaan. Manusia membutuhkan kematangan
dalam berpikir, bertindak dan menyelesaikan masalah-
nya sendiri. Apalagi kami benda kecil yang kerjanya
hanya melingkar di jari manis, dan selalu bersikap
manis tentu tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa.
Sejak seseorang sudah merasa mantap memilih dan
mengambil keputusan untuk bersama dengan kekasih
yang diyakini akan menjadi pendamping hidupnya, sam-
pai pada tahapan itulah aku telah melingkarkan diriku
di jari manisnya.
Artinya sebuah ‘perjanjian dan ikatan’ telah di mulai.
Makanya disebut dengan memulai hidup baru, memulai
sesuatu yang baru, memulai dengan menyatukan dua
kebiasaan yang berbeda, dua keluarga yang berbeda,
menyatukan persepsi dan jalan hidup yang berbeda
menjadi selaras, harmonis, dan serasi. Padahal sejak
saat itu aku telah terpisah dengan pasangan hidupku,
sebab aku melingkar di jari manis pengantin wanita,
dan pasanganku melingkar di jari manis pengantin
laki-laki. Sesungguhnya tugas kami yaitu mengingat-
65
kan para mempelai bahwa ada kekuatan cinta kasih di
dalam diriku yang membuat mereka menjadi satu dalam
kesetiaan.
Banyak yang bilang, sebab diriku memiliki simbol dan
makna yang menurut versi manusia yaitu mengikat
seseorang untuk tetap setia, mengikat seseorang untuk
menyatakan selalu bersama sampai kapan pun dalam
mengarungi bahtera rumah tangganya.
Menurut cerita para sesepuh kami para cincin, jaman
dulu masih sering terlihat orang dengan bangga me-
makai mereka sampai akhir hidupnya. Mereka pun de-
ngan bangga menemai pemiliknya dengan setia di liang
kubur atau hangus bersama kremasi jasad pemiliknya.
Saat kami yang lahir sebagai generasi jaman belakang-
an, mengapa sudah jarang terlihat mereka yang telah
menikah membiarkan kami menghiasi jarinya. Fenomena
apa yang terjadi belakangan ini? Mungkin sebab kami
merupakan benda yang dianggap historikal, benda ber-
harga yang harus dijaga agar jangan sampai hilang.
Dan banyak yang menyimpan kami baik-baik di tempat
yang aman. Akhirnya, banyak di antara kami menjadi
penghuni safety box, lemari pakaian para pemilik kami,
yang kemudian makna di balik kehadiran kami sendiri
menjadi samar.
Sebagian orang berpendapat, kami mengingatkan mere-
ka pada janji yang dibacakan pada saat mereka
menikah, mengingatkan pasangan sebagai suamini steri
yang harus saling setia dan menjaga. Dan, yang pen-
ting

