delusi tuhan 6

delusi tuhan 6


 


n sebagai ‘pembantahan paling ampuh atas teisme tradisional’. Tetapi itu hanyalah 

argumen melawan eksistensi suatu pencipta  yang baik. Kebaikan bukan bagian dari definisi 

Hipotesis pencipta , hanya suatu tambahan yang diinginkan. 

  Tentu, orang yang cenderung teologis sering tidak mampu secara kronis membedakan di 

antara apa yang benar dengan apa yang mereka ingin menjadi benar. Tetapi, untuk seorang yang 

lebih terdidik yang percaya akan semacam kecerdasan supernatural, melampaui masalah 

kejahatan yaitu  hal yang mudah kekanak-kanakan. Lontarkan saja suatu pencipta  jahat – seperti 

yang menunggu di setiap halaman Perjanjian Lama. Atau, jika Anda tidak suka itu, ciptakan 

suatu pencipta  jahat yang terpisah, beri dia nama Iblis, dan salahkan pertempuran kosmiknya 

melawan pencipta  baik untuk kejahatan di dunia. Atau – suatu solusi yang lebih terdidik lagi  – 

lontarkan suatu pencipta  dengan urusan lebih besar daripada khawatir tentang masalah-masalah 

manusia. Atau suatu pencipta  yang tidak masa bodoh terhadap penderitaan tetapi menganggapnya 

sebagai harga yang harus dibayar untuk kehendak bebas dalam suatu kosmos yang teratur. Dapat 

ditemukan teolog-teolog yang menerima semua pembenaran tersebut. 

  Untuk alasan-alasan ini, jika saya mengulangi latihan Bayesian Unwin, bukan masalah 

kejahatan atau pun pertimbangan moral secara umum akan menggeser saya jauh, ke arah satu 

atau yang lain, dari hipotesis nol (50 persennya Unwin). Tetapi saya tidak ingin berargumen soal 

itu karena, bagaimanapun, saya tidak bisa bergairah mengenai pendapat pribadi, baik yang 

Unwin ataupun yang saya. 

  Ada suatu argumen yang jauh lebih ampuh, yang tidak bergantung pada penilaian 

subjektif, dan itu yaitu  argumen dari ketidakmungkinan. Argumen itu benar-benar 

memindahkan kita jauh secara dramatis dari agnostisime 50 persen, jauh menuju kutub teisme 

menurut pandangan banyak teis, jauh menuju kutub ateisme menurut pandangan saya. Saya telah 

merujuknya beberapa kali. Seluruh argumen itu ditentukan oleh pertanyaan lazim ‘Siapa yang 

menciptakan pencipta ?’, yang ditemukan oleh kebanyakan orang berpikir dengan sendirinya. Suatu 

pencipta  perancang tidak dapat digunakan untuk menjelaskan kerumitan tertata karena pencipta  apa 

pun yang mampu merancang apa pun harus cukup rumit untuk menuntut jenis penjelasan yang 

sama pada gilirannya. pencipta  menunjukkan suatu regresi tak terbatas yang darinya dia tidak 

mampu membantu kita keluar. Argumen ini, sebagaimana saya akan tunjukkan di bab 

berikutnya, mendemonstrasikan bahwa pencipta , meskipun tidak dapat disangkal secara teknis, 

tetap sangat sangat tidak mungkin. 

  

BAB 4 

 KENAPA HAMPIR PASTI TIDAK ADA pencipta  

 

Imam-imam dari sekte-sekte religius yang berbeda...membenci kemajuan ilmu pengetahuan 

seperti penyihir membenci pendekatan fajar, dan memandang dengan muram pertanda berat itu 

yang menyatakan bahwa penipuan yang menjadi mata pencarian mereka akan segera diperkecil. 

  – THOMAS JEFFERSON 

 

BOEING 747 MUSTAHIL 

 

  Argumen dari ketidakmungkinan yaitu  argumen utama. Dalam bentuk tradisionalnya, 

yakni, argumen dari rancangan, ini yaitu  argumen paling populer yang ditawarkan saat ini 

untuk membela eksistensi pencipta  dan dipandang, oleh sejumlah teis yang amat sangat besar, 

sebagai meyakinkan secara menyeluruh dan mutlak. Argumen tersebut memang sangat kuat dan, 

saya menduga, tidak dapat dibalas – tetapi persis berlawanan dengan maksud teis. Argumen dari 

ketidakmungkinan, digunakan dengan layak, hampir membuktikan bahwa pencipta  tidak ada. 

Nama saya untuk demonstrasi statistik bahwa pencipta  hampir pasti tidak ada yaitu  taruhan 

Boeing 747 Mustahil. 

  Nama itu berasal dari gambar lucu Fred Hoyle atas sebuah Boeing 747 dan suatu tempat 

barang rongsokan. Saya kurang pasti apakah Hoyle pernah menulisnya sendiri, tetapi itu 

diatribusikan kepadanya oleh kolega dekatnya Chandra Wickramasinghe dan dapat dianggap 

autentik.58 Hoyle berkata bahwa kemungkinan kehidupan muncul di Bumi tidak lebih besar 

daripada kemungkinan bahwa sebuah topan, yang menimpa tempat barang rongsokan akan 

cukup beruntung untuk merakit sebuah Boeing 747. Orang lain telah meminjam metafora itu 

untuk merujuk evolusi lebih akhir atas tubuh hidup rumit, di mana konsepnya tampak masuk 

akal, meskipun anggapan itu keliru. Kemungkinan  untuk merakit seekor kuda, kumbang, atau 

burung unta yang berfungsi lengkap dengan mengocok bagiannya secara acak sekitar sama 

kecilnya dengan contoh 747 di atas. Ini, secara ringkas, yaitu  argumen kesukaan kreasionis – 

suatu argumen yang dapat dilontarkan hanya oleh seseorang yang tidak memahami apa pun 

mengenai seleksi alam: seseorang yang berpikir bahwa seleksi alam yaitu  suatu teori mengenai 

hasil acak, sedangkan – dalam arti acak yang relevan – justru sebaliknya. 

  Penyalahgunaan kreasionis atas argumen dari ketidakmungkinan selalu memakai bentuk 

umum yang sama, dan tidak ada bedanya jika kreasionis itu memilih untuk menyamar dalam 

pakaian mewah politik yang dapat diterima saat ini, yakni, ‘rancangan cerdas’ (intelligent design, 

ID).* Suatu fenomena yang diamati – sering seekor makhluk hidup atau salah satu organnya 

yang cukup rumit, tetapi bisa apa saja dari suatu molekul hingga alam semesta sendiri – dipuji, 

dengan benar, sebagai sangat tidak mungkin secara statistik. Terkadang bahasa teori informasi 

digunakan: orang Darwinian ditantang untuk menjelaskan sumber semua informasi dalam materi 

hidup, dalam arti teknis isi informasi sebagai ukuran ketidakmungkinan atau ‘nilai kejutan’. Atau 

argumen itu mungkin akan menggunakan semboyan klise ekonom: tidak ada makan siang gratis 

– dan Darwinisme dituduh berusaha mendapatkan sesuatu dengan percuma. Sebenarnya, 

sebagaimana saya akan demonstrasikan di bab ini, seleksi alam Darwinian yaitu  satu-satunya 

                                                 

* Rancangan cerdas pernah dideskripsikan dengan kurang ramah sebagai kreasionisme yang sedang memakai 

tuksedo murah. 

solusi yang diketahui untuk teka-teki yang selain dari itu tidak dapat dijawab: yakni, dari mana 

informasi itu berasal. Ternyata Hipotesis pencipta lah yang berusaha mendapat sesuatu dengan 

percuma. pencipta  mencoba mendapat makan siang gratis dan menjadinya juga. Seberapa pun tidak 

mungkin secara statistik entitas yang ingin dijelaskan melalui suatu perancang, perancang itu 

sendiri harus setidaknya sama tidak mungkinnya. pencipta  yaitu  Boeing 747 Mustahil. 

  Argumen dari ketidakmungkinan menyatakan bahwa hal-hal yang rumit tidak mungkin 

terjadi secara acak. Tetapi banyak orang mendefinisikan ‘terjadi secara acak’ sebagai sinonim 

untuk ‘terjadi tanpa rancangan yang sengaja’. Karena itu, tidak mengherankan bahwa mereka 

menganggap ketidakmungkinan sebagai bukti untuk rancangan. Seleksi alam Darwinian 

menunjukkan betapa salah anggapan itu mengenai ketidakmungkinan biologis. Dan meskipun 

Darwinisme mungkin tidak langsung relevan dengan dunia yang tidak hidup – misalnya, 

kosmologi – Darwinisme tetap membangkitkan kesadaran kita di bidang-bidang di luar wilayah 

aslinya, biologi. 

  Suatu pemahaman mendalam atas Darwinisme mengajarkan kita untuk waswas terhadap 

asumsi enteng bahwa rancangan yaitu  satu-satunya alternatif selain dari keacakan, dan 

mengajarkan kita untuk mencari serentetan lereng bertahap yang kerumitannya meningkat 

berangsur-angsur. Sebelum Darwin, filsuf seperti Hume memahami bahwa ketidakmungkinan 

kecil kehidupan tidak berarti kehidupan harus dirancang, tetapi mereka tidak dapat 

membayangkan alternatifnya. Setelah Darwin, kita semua harus merasa, di dalam tulang kita, 

curiga terhadap ide rancangan belaka. Ilusi rancangan yaitu  jebakan yang pernah menangkap 

kita sebelumnya, dan Darwin seharusnya membuat kita kebal dengan membangkitkan kesadaran 

kita. Akan lebih baik seandainya dia berhasil dengan kita semua. 

 

SELEKSI ALAM SEBAGAI PEMBANGKIT KESADARAN 

 

  Dalam sebuah pesawat luar angkasa fiksi-ilmiah, para astronaut merindukan kampung 

halamannya: ‘Bayangkan, sudah musim semi di Bumi sana!’ Mungkin Anda tidak akan langsung 

menangkap apa yang keliru soal ini, karena sauvinisme belahan utara secara tidak sadar begitu 

tertanam dalam diri kita yang hidup di sana, dan bahkan beberapa yang tidak. ‘Tidak sadar’ 

persis tepat. Inilah tempat kebangkitan kesadaran masuk. Ada alasan lebih mendalam daripada 

lelucon bahwa, di Australia dan Selandia Baru, Anda bisa membeli peta dunia dengan Kutub 

Selatan di atas. Peta-peta itu akan menjadi pembangkit kesadaran yang luar biasa jika 

dilengketkan ke dinding ruang belajar belahan utara kita. Setiap hari, anak-anak akan diperingati 

bahwa ‘utara’ yaitu  suatu pengutuban arbitrer yang belum tentu sama dengan ‘atas’. Peta itu 

akan menarik perhatian mereka dan juga membangkitkan kesadarannya. Mereka akan pulang dan 

memberi tahu orang tua mereka – dan, sebagai tambahan, memberi anak sesuatu yang dengannya 

mereka bisa mengejutkan orang tuanya yaitu  salah satu hal terbaik yang dapat diberikan oleh 

seorang guru. 

  Para feminis-lah yang membangkitkan kesadaran saya mengenai kekuatan kebangkitan 

kesadaran. Herstory (istilah pengganti feminis untuk istilah history dalam bahasa Inggris) tentu 

saja konyol, hanya karena ‘his’ dalam history tidak memiliki kaitan etimologis dengan kata ganti 

maskulin. Itu sama konyolnya secara etimologis dengan pemberhentian, pada 1999, seorang 

pejabat di Washington karena ada yang tersinggung saat dia memakai istilah niggardly (yang 

berarti ‘pelit’ dan tidak merujuk ras sama sekali). Tetapi bahkan contoh-contoh bodoh seperti 

niggardly dan herstory berhasil dalam membangkitkan kesadaran. Ketika kita sudah tenang 

kembali secara filologis dan selesai tertawa, herstory memperlihatkan history kepada kita dari 

sudut pandang yang berbeda. Kata ganti berkelamin secara terkenal menjadi garda depan dalam 

kebangkitan kesadaran seperti itu. He or she must ask himself or herself whether his or her sense 

of style could ever allow himself or herself to write like this. Tetapi jika kita mampu menerima 

ketidaknyamanan bahasa seperti itu yang terkesan terlalu kaku, hal itu membangkitkan kesadaran 

kita mengenai kepekaan separuh umat manusia. Man, mankind, the Rights of Man, all men are 

created equal, one man one vote – bahasa Inggris sepertinya terlalu sering mengecualikan 

perempuan.* Waktu saya kecil, saya tidak pernah kepikiran bahwa perempuan akan merasa 

terhina oleh suatu frasa seperti ‘the future of man’. Selama beberapa dekade setelah itu, 

kesadaran kita semua dibangkitkan. Bahkan mereka yang tetap menggunakan ‘man’ dan bukan 

‘human’ melakukannya dengan nada permintaan maaf yang sadar – atau dengan menantang, 

memperjuangkan bahasa tradisional, atau bahkan untuk sengaja mengganggu para feminis. 

Kesadaran semua peserta dalam Zeitgeist telah dibangkitkan, bahkan mereka yang memilih 

untuk menanggapinya secara negatif dengan ngotot dan mengulangi pelanggarannya. 

  Feminisme memperlihatkan kepada kita kekuatan kebangkitan kesadaran, dan saya ingin 

meminjam teknik itu untuk seleksi alam. Seleksi alam tidak hanya menjelaskan keseluruhan 

kehidupan; seleksi alam juga membangkitkan kesadaran kita mengenai kekuatan ilmu 

pengetahuan untuk menjelaskan bagaimana kerumitan yang tertata dapat berasal dari permulaan 

sederhana tanpa bimbingan sengaja sama sekali. Suatu pemahaman penuh atas seleksi alam 

mendorong kita untuk maju dengan berani ke dalam bidang-bidang yang lain. Pemahaman 

tersebut memicu kecurigaan kita, di bidang-bidang lain itu, mengenai jenis alternatif palsu itu 

yang dahulu, di zaman pra-Darwinian, menghantui biologi. Siapa, sebelum Darwin, dapat 

menebak bahwa suatu yang begitu tampak dirancang seperti sayap capung atau mata rajawali 

sebenarnya merupakan hasil akhir dari serangkaian panjang penyebab yang tidak acak tetapi 

murni alami? 

  Cerita Douglas Adams yang mengharukan dan lucu tentang konversi pribadinya ke 

ateisme radikal – dia bersikeras akan istilah ‘radikal’ agar tidak ada yang salah mengira dia 

agnostik – yaitu  kesaksian bagi kekuatan Darwinisme sebagai suatu pembangkit kesadaran. 

Saya berharap saya akan dimaafkan untuk pujian-diri yang akan tampak dalam kutipan berikut. 

Alasan saya yaitu  konversi Douglas oleh buku-buku saya yang lebih awal – yang tidak 

bermaksud untuk mengonversikan siapa pun – menginspirasikan saya untuk mendedikasikan 

kepada kenangannya buku ini – yang memang bermaksud untuk itu! Dalam suatu wawancara, 

dicetak ulang setelah wafatnya dalam The Salmon of Doubt, dia ditanyai oleh seorang wartawan 

bagaimana dia menjadi seorang ateis. Dia mulai balasannya dengan menjelaskan bagaimana dia 

menjadi seorang agnostik, lalu berlanjut: 

   

Dan saya berpikir dan berpikir dan berpikir. Tetapi saya tidak memiliki bukti 

yang memadai, jadi saya tidak mencapai penyelesaian apa pun. Saya sangat 

ragu mengenai ide pencipta , tetapi saya tidak cukup tahu  mengenai apa pun untuk 

memiliki suatu model yang baik dan berfungsi atas penjelasan apa pun yang lain 

untuk kehidupan, alam semesta dan segala-galanya sebagai pengganti. Tetapi 

saya terus berusaha, dan saya terus membaca dan saya terus berpikir. Suatu saat 

di sekitar umur 30-an awal saya kebetulan menemukan biologi evolusioner, 

                                                 

* Bahasa Latin dan Yunani klasik  memiliki perlengkapan yang lebih unggul. Homo dalam bahasa Latin (anthropo- 

dalam bahasa Yunani) berarti manusia, berbeda dengan vir (andro-) yang berarti lelaki, dan femina (gyne-) yang 

berarti perempuan. Karena itu antropologi bersangkutan dengan seluruh umat manusia, sedangkan andrologi dan 

ginekologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang ekslusif secara kelamin. 

khususnya dalam bentuk buku-buku Richard Dawkins The Selfish Gene, 

kemudian The Blind Watchmaker, dan tiba-tiba (sambil, saya kira, pembacaan 

kedua The Selfish Gene) semuanya menjadi jelas. Konsep itu sederhana, tetapi 

menimbulkan, secara alami, segala kerumitan kehidupan yang tidak terbatas dan 

membingungkan. Rasa takjub yang dipicu olehnya dalam diri saya membuat 

rasa takjub yang dibahas oleh orang lain mengenai pengalaman religius 

terkesan, terus terang, konyol jika dibandingkan dengannya. Saya akan memilih 

rasa takjub pemahaman daripada rasa takjub ketidaktahuan kapan pun.59 

 

  Konsep yang sederhana secara memukau yang dia sebut, tentu saja, tidak ada kaitan 

dengan saya. Dia memaksudkan teori evolusi melalui seleksi alam Darwin – pembangkit 

kesadaran ilmiah tertinggi. Douglas, aku merindukanmu. Kau yaitu  mualafku yang paling 

pintar, lucu, berpikiran terbuka, jenaka, tinggi, dan mungkin juga satu-satunya. Aku berharap 

buku ini mungkin akan membuatmu tertawa – tetapi tidak sebanyak yang kau membuatku 

tertawa. 

  Filsuf yang cekatan dalam ilmu pengetahuan itu, Daniel Dennett, menunjukkan bahwa 

evolusi membantah salah satu ide kita yang tertua: ‘ide bahwa harus ada suatu yang besar, 

mewah, dan pintar untuk membuat suatu yang kurang darinya. Saya menyebut itu teori 

penciptaan menetes ke bawah. Anda tidak akan melihat sebuah tombak membuat seorang 

pembuat tombak. Anda tidak pernah akan melihat sebuah ladam membuat seorang pandai besi. 

Anda tidak akan pernah melihat sebuah gerabah membuat seorang perajin tembikar.’60 

Penemuan Darwin akan suatu proses yang masuk akal yang membuat justru hal itu yang sangat 

berlawanan dengan intuisi kita yaitu  apa yang membuat kontribusinya kepada pemikiran 

manusia begitu revolusioner, begitu sarat dengan kekuatan untuk membangkitkan kesadaran. 

  Mengejutkan betapa kebangkitan kesadaran seperti itu diperlukan, bahkan dalam pikiran 

para ilmuwan luar biasa di bidang selain dari biologi. Fred Hoyle yaitu  seorang fisikawan dan 

kosmolog cemerlang, tetapi kesalahpahaman Boeing 747-nya, dan kesalahan-kesalahan lain 

dalam biologi seperti usahanya untuk mengingkari fosil Archaeopteryx sebagai hoaks, 

menunjukkan bahwa dia membutuhkan kesadarannya dibangkitkan oleh eksposur yang baik 

terhadap dunia seleksi alam. Pada tataran intelektual, saya mengira dia memahami seleksi alam. 

Tetapi barangkali seseorang harus dicelupkan dalam seleksi alam, direndam di dalamnya, 

berenang mondar-mandir di dalamnya, sebelum dia bisa benar-benar mengenali kekuatannya. 

  Ilmu-ilmu lain membangkitkan kesadaran kita dengan cara-cara yang berbeda. Ilmu Fred 

Hoyle sendiri, astronomi, menaruh kita pada tempat kita, baik secara metaforis maupun harfiah, 

dengan memperkecil kesombongan kita hingga muat di panggung cilik di mana kita 

menghabiskan kehidupan kita –  butiran debu kita dari ledakan kosmik. Geologi mengingatkan 

kita mengenai eksistensi singkat kita, baik sebagai individu maupun sebagai spesies. Geologi 

meningkatkan kesadaran John Ruskin dan memicu teriakan hatinya yang terkenal pada 1851: 

‘Seandainya para Geolog itu membiarkan saya sendiri, saya bisa baik-baik saja, tetapi palu-palu 

dahsyat itu! Saya mendengar dentingannya pada akhir setiap ayat Alkitab.’ Evolusi melakukan 

hal yang sama untuk rasa kita akan waktu – tidak mengejutkan, karena evolusi bekerja pada 

skala waktu geologis. Tetapi evolusi Darwinian, khususnya seleksi alam, melakukan suatu yang 

lebih dari itu. Seleksi alam memecahkan ilusi rancangan di wilayah biologi, dan mengajarkan 

kita untuk curiga terhadap jenis hipotesis rancangan apa pun dalam fisika dan juga kosmologi. 

Saya mengira fisikawan Leonard Susskind sedang memikirkan hal ini ketika dia menulis, ‘Saya 

bukan seorang sejarawan, tetapi saya berani mengajukan pendapat ini: Kosmologi modern 

sebenarnya mulai dengan Darwin dan Wallace. Berbeda dengan siapa pun sebelumnya, mereka 

memberi penjelasan-penjelasan mengenai eksistensi kita yang menolak pelaku-pelaku 

supernatural secara mutlak ... Darwin dan Wallace menetapkan suatu tolok ukur tidak hanya 

untuk ilmu-ilmu kehidupan tetapi juga untuk kosmologi.’61 Ilmuwan-ilmuwan fisik lain yang 

sangat tidak membutuhkan kebangkitan kesadaran seperti itu yaitu  Victor Stenger, yang 

bukunya Has Science found God? (Jawabannya tidak) saya sangat rekomendasikan, * dan Peter 

Atkins, yang Creation Revisited-nya merupakan karya puisi prosa ilmiah kesukaan saya. 

  Saya terus dibuat heran oleh para teis yang kesadarannya, jauh dari dibangkitkan secara 

yang saya usulkan, sepertinya bersukaria untuk seleksi alam sebagai ‘cara pencipta  untuk mencapai 

ciptaannya’. Mereka menyadari bahwa evolusi melalui seleksi alam akan merupakan suatu cara 

yang sangat mudah dan rapih untuk mencapai suatu dunia yang penuh dengan kehidupan. pencipta  

tidak perlu berbuat apa-apa! Peter Atkins, dalam buku yang baru saya sebut, mengembangkan 

garis pemikiran ini hingga kesimpulannya yang secara masuk akal tidak berpencipta  ketika dia 

melontarkan suatu pencipta  yang malas secara hipotetis, yang berusaha bekerja seminimum 

mungkin untuk menghasilkan suatu alam semesta yang mengandung kehidupan. pencipta  malas 

Atkins bahkan lebih malas daripada pencipta  deis dari Pencerahan abad ke-18: deus otiosus – 

secara harfiah pencipta  sedang beristirahat, tidak ada kesibukan, tidak ada pekerjaan, mubazir, 

tidak berguna. Langkah demi langkah, Atkins berhasil mengurangi jumlah pekerjaan yang harus 

dilakukan pencipta  yang malas sehingga akhirnya dia tidak berbuat apa-apa: dia bisa saja tidak ada. 

Ingatan saya dengan jelas mendengar ratapan Woody Allen yang tajam: ‘Jika ternyata ada 

pencipta , menurutku dia tidak jahat. Tetapi yang terburuk yang dapat dikatakan tentangnya yaitu  

dia seorang pemalas yang tidak mencapai potensinya.’ 

 

KERUMITAN YANG TAK TEREDUKSI 

 

  Kebesaran masalah yang diselesaikan oleh Darwin dan Wallace tidak dapat dilebih-

lebihkan. Saya bisa menyebut anatomi, struktur seluler, biokimia dan perilaku organisme apa 

pun yang hidup sebagai contoh. Tetapi prestasi rancangan semu yang paling mengesankan 

yaitu  yang sudah dipilih – untuk alasan yang jelas – oleh para penulis kreasionis, dan dengan 

ironi lembut saya mengambil prestasi yang akan saya bahas dari sebuah buku kreasionis. Life – 

How Did It Get Here?, yang nama penulisnya tidak disebut, tetapi diterbitkan oleh Watchtower 

Bible and Tract Society dalam 16 bahasa dan 11 juta eksemplar, tentu saja menjadi pilihan 

karena sebanyak enam dari 11 juta eksemplar itu pernah dikirim kepada saya sebagai kado tidak 

diminta oleh orang berniat baik dari belahan dunia. 

  Memilih satu halaman secara acak dari karya anonim dan tersebar dengan murah hati ini, 

kita menemukan bunga karang yang disebut  Venus’ Flower Basket dalam bahasa Inggris 

(Euplectella), didampingi satu kutipan dari Sir David Attenborough: ‘Ketika Anda melihat 

kerangka bunga karang rumit seperti yang terbuat dari duri-duri silika yang dikenal sebagai 

Keranjang Bunga Venus, imajinasi dibuat kebingungan. Bagaimana bisa sel-sel mikroskopik 

yang hanya separuh-mandiri bekerja sama mengeluarkan sejuta duri kaca dan membangun kisi 

yang begitu halus dan indah? Kita tidak tahu.’ Para penulis Watchtower langsung masuk dengan 

penjelasan mereka sendiri: ‘Tetapi satu hal yang kita ketahui: Keacakan bukan perancang yang 

begitu mungkin.’ Memang begitu, keacakan bukan perancang yang begitu mungkin. Itu yaitu  

satu hal yang tentangnya kita semua bisa sepakat. Ketidakmungkinan statistik fenomena seperti 

                                                 

* Lihat juga buku 2007-nya, God: the Failed Hypothesis: How Science Shows that God Does Not Exist. 

kerangka Euplectella yaitu  masalah inti yang harus diselesaikan oleh teori kehidupan apa pun. 

Semakin besar ketidakmungkinan statistik, semakin kecil masuk akalnya bahwa keacakan yaitu  

solusinya: itulah artinya tidak mungkin. Tetapi calon-calon solusi untuk teka-teki 

ketidakmungkinan bukan, sebagaimana tersirat secara keliru, rancangan dan keacakan. Kedua 

calon tersebut yaitu  rancangan dan seleksi alam. Keacakan bukan suatu solusi karena tingkat 

tinggi ketidakmungkinan yang kita lihat di organisme hidup, dan tak seorang pun biolog waras 

pernah mengemukakan penjelasan itu. Rancangan bukan juga solusi yang benar, sebagaimana 

akan kita lihat nanti: tetapi untuk saat ini saya ingin terus mendemonstrasikan masalah yang 

harus diselesaikan oleh teori kehidupan apa pun: masalah bagaimana luput dari keacakan. 

  Dengan maju satu halaman dalam Watchtower, kita menemukan tanaman luar biasa yang 

dikenal sebagai Pipa Belanda (Aristolochia trilobata), yang semua bagiannya sepertinya 

dirancang dengan anggun untuk menangkap serangga, melumurinya dengan serbuk sari, dan 

mengirimkannya ke Pipa Belanda yang lain.  Keanggunan halus bunga itu mengharukan 

Watchtower hingga bertanya: ‘Apakah semua ini terjadi secara acak? Atau apakah ini terjadi 

karena rancangan cerdas?’ Sekali lagi, tidak, tentu saja itu tidak terjadi secara acak. Sekali lagi, 

rancangan cerdas bukan alternatif yang layak dari keacakan. Seleksi alam bukan hanya suatu 

solusi yang pelit, masuk akal, dan anggun; itu yaitu  satu-satunya alternatif dari keacakan yang 

berhasil yang pernah diusulkan. Rancangan cerdas dapat dibantah secara persis sama dengan 

keacakan. Sederhananya, itu bukan suatu solusi yang masuk akal untuk teka-teki 

ketidakmungkinan statistik. Dan semakin tinggi ketidakmungkinan, semakin rancangan cerdas 

tidak masuk akal. Dilihat dengan jernih, rancangan cerdas ternyata menggandakan masalahnya. 

Sekali lagi, ini karena perancang sendiri langsung menimbulkan masalah lebih besar mengenai 

asal-usulnya sendiri. Entitas apa pun yang mampu merancang secara cerdas suatu yang begitu 

tidak mungkin seperti Pipa Belanda (atau alam semesta) harus lebih tidak mungkin lagi daripada 

Pipa Belanda. Jauh dari mengakhiri regresi setan ini, pencipta  membuatnya lebih mendalam lagi. 

  Maju satu halaman lagi dalam Watchtower untuk suatu deksripsi atas Sequoiadendron 

giganteum, sejenis pohon yang saya sukai secara khusus karena ada satu di halaman rumah saya 

– masih bayi, umurnya hanya satu abad lebih sedikit, tetapi masih pohon tertinggi di perumahan 

itu.  ‘Seorang lelaki cilik, berdiri di kaki sequoia, hanya bisa memandang ke atas, tersentak 

hening karena keagungannya yang megah. Apakah masuk akal untuk percaya bahwa 

pembentukan raksasa agung ini, dan bibit kecil yang membungkusnya, tidak dirancang?’ Sekali 

lagi, jika Anda berpikir bahwa satu-satunya alternatif dari rancangan yaitu  keacakan, tidak, itu 

tidak masuk akal. Tetapi sekali lagi para penulis gagal untuk menyebut alternatif yang 

sebenarnya, seleksi alam, mungkin karena mereka dengan tulus tidak memahaminya atau karena 

mereka tidak ingin memahaminya. 

  Proses yang melaluinya tumbuhan, baik bunga pimpernel yang kecil maupun pohon 

wellingtonia yang massif, mendapat energi untuk membangun dirinya sendiri yaitu  fotosintesis. 

Watchtower lagi: “’Ada sekitar 70 reaksi kimia yang berbeda terlibat dalam fotosintesis,” kata 

seorang biolog. “Itu yaitu  peristiwa yang sungguh ajaib. Tumbuhan hijau pernah disebut 

“pabriknya” alam – indah, sepi, tidak menyebar polusi, menghasilkan oksigen, mendaur ulang air 

dan memberi makan kepada dunia. Apakah mereka hanya terjadi secara acak? Apakah itu 

sungguh dapat dipercayai?’ Tidak, itu tidak dapat dipercayai; tetapi pengulangan contoh terus-

menerus tidak membantu sama sekali. ‘Logika’ kreasionis selalu sama. Suatu fenomena alam 

terlalu tidak mungkin secara statistik, terlalu rumit, terlalu indah, terlalu mengagumkan sehingga 

tidak mungkin terjadi secara acak. Rancangan yaitu  satu-satunya alternatif dari keacakan yang 

para penulis dapat bayangkan. Jadi suatu perancang pasti melakukannya. Dan jawaban ilmu 

pengetahuan terhadap logika keliru ini selalu sama. Rancangan bukan satu-satunya alternatif dari 

keacakan. Seleksi alam yaitu  alternatif yang lebih baik. Memang, rancangan sebenarnya bukan 

suatu alternatif karena memicu masalah yang lebih besar daripada yang diselesaikannya: siapa 

yang merancang si perancang? Keacakan dan rancangan gagal sebagai solusi untuk masalah 

ketidakmungkinan statistik, karena salah satunya yaitu  masalahnya, dan yang lain merosot 

kepada masalah itu. Seleksi alam yaitu  suatu solusi yang nyata. Seleksi alam yaitu  satu-

satunya solusi yang berhasil yang pernah dikemukakan. Dan seleksi alam bukan hanya suatu 

solusi yang berhasil saja, melainkan suatu solusi yang keanggunan dan kekuatannya memukau. 

  Apa yang membuat seleksi alam berhasil sebagai suatu solusi untuk masalah 

ketidakmungkinan, sementara baik keacakan maupun rancangan gagal di titik mula? Jawabannya 

yaitu , seleksi alam merupakan suatu proses kumulatif, yang membongkar masalah 

ketidakmungkinan menjadi potongan-potongan kecil. Masing-masing potongan kecil itu sedikit 

tidak mungkin, tetapi tetap masuk akal. Ketika jumlah besar peristiwa yang sedikit tidak 

mungkin ini dihimpun dalam suatu rangkaian, hasil akhir akumulasi memang sangat sangat tidak 

mungkin, cukup tidak mungkin untuk jauh melampaui jangkauan keacakan. Hasil-hasil akhir 

inilah yang merupakan subjek dari argumen kreasionis yang didaur ulang hingga membosankan. 

Orang kreasionis melewatkan poin itu, karena dia bersikeras menganggap kejadian 

ketidakmungkinan statistik sebagai suatu peristiwa tunggal. Dia tidak memahami kekuatan 

akumulasi. 

  Dalam Climbing Mount Improbable, saya mengucapkan poin itu dalam perumpamaan. 

Pada satu sisi gunung itu ada tebing yang terjal, mustahil untuk dinaiki, tetapi di sisi lain ada 

pendakian yang melandai hingga puncak. Di puncak ada sebuah perangkat rumit seperti mata 

atau motor flagelum bakteria. Gagasan absurd bahwa kerumitan seperti itu dapat merakit dirinya 

sendiri secara spontan diumpamakan dengan melompat dari kaki tebing hingga ke  puncak dalam 

satu lompatan. Evolusi, sebaliknya, masuk lewat belakang gunung dan mendaki pelan-pelan 

melalui landaian hingga puncak: gampang! Prinsip mendaki landaian daripada melompat ke atas 

tebing itu begitu sederhana, kita tergoda untuk bertanya kenapa waktu yang begitu lama 

dibutuhkan sebelum seorang Darwin bisa datang dan menemukannya.. Ketika Darwin sudah 

menemukan seleksi alam, hampir dua abad telah berlalu sejak annus mirabilis Newton, 

meskipun prestasi Newton terkesan, pada permukaan, lebih sulit daripada prestasi Darwin. 

  Salah satu metafora kesukaan yang lain untuk ketidakmungkinan ekstrem yaitu  gembok 

kombinasi di ruang besi bank. Secara teori, seorang perampok bank bisa beruntung dan 

menemukan kombinasi angka benar secara acak. Secara praktis, gembok kombinasi bank 

dirancang dengan cukup ketidakmungkinan sehingga hal itu hampir mustahil – hampir sama 

tidak mungkinnya dengan Boeing 747-nya Fred Hoyle. Tetapi bayangkan sebuah gembok 

kombinasi yang dirancang secara buruk dan memberi petunjuk kecil secara progresif. Andaikan 

bahwa ketika masing-masing lempengpemutar gemboknya mendekati setelan yang betul, pintu 

ruang besi membuka sedikit, dan sedikit uang mengalir ke luar. Si perampok akan menemukan 

kombinasi yang benar dalam waktu dekat. 

  Para kreasionis yang berusaha menggunakan argumen dari ketidakmungkinan sebagai 

dukungan selalu berasumsi bahwa adaptasi biologis yaitu  persoalan memenangkan semuanya 

atau tidak dapat apa-apa. Salah satu nama lain untuk kekeliruan ‘memenangkan semuanya atau 

tidak dapat apa-apa’ yaitu  ‘kerumitan tak tereduksi’ (irreducible complexity, IC). Mata melihat 

atau tidak. Sayap terbang atau tidak. Tidak ada tahap menengah berguna yang diasumsikan. 

Tetapi anggapan itu keliru. Secara praktis, ada banyak sekali tahap menengah seperti itu – dan 

justru itu yang seharusnya kita harapkan secara teori. Gembok kombinasi kehidupan yaitu  suatu 

perangkat yang memberi petunjuk. Kehidupan nyata mencari landaian di belakang Gunung 

Ketidakmungkinan, sedangkan para kreasionis buta terhadap semua cara selain dari tebing ngeri 

di depan. 

  Darwin menulis satu bab dalam Asal-usul Spesies tentang ‘Kesulitan mengenai teori 

keturunan tanpa modifikasi’, dan sewajarnya dapat dikatakan bahwa bab singkat itu 

mengantisipasikan dan menyelesaikan semua yang dianggap kesulitan yang pernah dikemukakan 

sejak itu, hingga saat ini. Kesulitan-kesulitan yang paling hebat yaitu  ‘organ kesempurnaan dan 

kerumitan ekstrem’ Darwin, terkadang dideskripsikan secara keliru sebagai ‘rumit secara tak 

tereduksi’. Darwin memilih mata sebagai organ yang melontarkan masalah yang menantang 

secara khusus: ‘Mengandaikan bahwa mata dengan semua kerumitannya yang tidak dapat ditiru 

untuk mengatur fokus untuk jarak-jarak yang berbeda, untuk membiarkan masuk jumlah-jumlah 

cahaya yang berbeda, dan untuk mengoreksi penyimpangan dalam bentuk bola atau secara 

kromatis, dapat dibentuk melalui seleksi alam, terkesan, saya mengaku dengan bebas, seabsurd-

absurdnya.’ Para kreasionis dengan riang mengutip kalimat ini berulang kali. Tidak perlu 

dikatakan bahwa mereka tidak pernah mengutip bagian berikutnya. Pengakuan Darwin yang 

bebas dan memuji lawannya ternyata yaitu  sarana retoris. Dia membawa lawannya dekat agar 

tinjunya, ketika datang, memukul dengan lebih keras. Tinju itu, tentu saja, yaitu  penjelasan 

fasih Darwin mengenai persis bagaimana mata berevolusi melalui tahap-tahap yang berangsur. 

Darwin mungkin tidak menggunakan frasa ‘kerumitan tak tereduksi’, atau ‘gradien halus ke atas 

Gunung Ketidakmungkinan’, tetapi dia jelas memahami kedua prinsip itu. 

  ‘Apa gunanya separuh mata?’ dan ‘Apa gunanya separuh sayap?’ yaitu  contoh atas 

argumen dari ‘kerumitan tak tereduksi’. Suatu satuan yang berfungsi dianggap rumit secara tak 

tereduksi jika pelepasan salah satu bagiannya membuat keseluruhannya tidak berfungsi lagi. Hal 

ini pernah diasumsikan sebagai nyata pada dirinya sendiri untuk mata dan sayap. Tetapi sesegera 

kita memikirkan asumsi-asumsi ini selama satu detik saja, kita langsung melihat kekeliruannya. 

Seorang pasien katarak yang lensa matanya telah diangkat dengan pembedahan tidak mampu 

melihat dengan jelas tanpa kacamata, tetapi ia mampu melihat dengan cukup baik untuk tidak 

menabrak pohon atau jatuh dari tebing. Separuh sayap memang tidak sebaik sayap lengkap, 

tetapi itu tentu saja lebih baik daripada tidak ada sayap sama sekali. Separuh sayap dapat 

menyelamatkan nyawa dengan meringankan kejapencipta  dari pohon dengan ketinggian tertentu. 

Dan 51 persen sayap dapat menyelamatkan jika jatuhnya dari pohon yang sedikit lebih tinggi. 

Seberapa pun fraksi sayap yang dipunyai, ada kejapencipta  yang darinya sayap akan 

menyelamatkan nyawa dalam keadaan sebuah sayap yang sedikit lebih kecil akan gagal. 

Eksperimen pemikiran tentang pohon-pohon yang beda tingginya, dari mana kita bisa jatuh, 

hanyalah satu cara melihat, secara teori, bahwa harus ada suatu gradien manfaat halus dari 1 

persen saya hingga 100 persen. Hutan-hutan penuh dengan hewan yang meluncur atau berparasut 

yang menunjukkan, secara praktis, setiap langkah hingga ke puncak Gunung Ketidakmungkinan 

itu. 

  Melalui analogi dengan pohon-pohon yang beda tingginya, menjadi mudah untuk 

membayangkan peristiwa di mana separuh mata akan menyelamatkan nyawa seekor hewan, 

sedangkan 49 persen mata tidak. Gradien-gradien halus disediakan oleh variasi dalam kondisi 

pencahayaan, variasi dalam jarak yang darinya mangsa – atau pemangsa – pertama kali terlihat. 

Dan, sama seperti sayap dan permukaan terbang, tahap menengah yang masuk akal tidak hanya 

mudah dibayangkan: tahap itu terdapat di mana pun di kerajaan animalia. Seekor cacing pipih 

memiliki mata yang, menurut tolok ukur apa pun yang masuk akal, kurang dari separuh mata 

manusia. Nautilus (dan barangkali saudaranya, Ammonoidea yang punah yang mendominasi 

lautan di era Paleozoikum dan Mesozoikum) memiliki mata yang kualitasnya berada di tengah, 

antara cacing pipih dengan manusia. Berbeda dengan mata cacing pipih, yang dapat mendeteksi 

cahaya dan bayangan tetapi tidak melihat gambar, mata ‘kamera lubang jarum’ Nautilus 

menghasilkan gambar sejati; tetapi gambar itu kabur dan redup dibandingkan dengan gambar 

kita. Menetapkan bilangan untuk pembaikan itu merupakan suatu ketepatan palsu, tetapi tak 

seorang pun dapat membantah dengan waras bahwa semua mata invertebrata ini, dan banyak 

sekali yang lain, lebih baik daripada jika tidak ada mata sama sekali, dan semua berada 

sepanjang suatu landaian yang berkesinambungan menuju puncak Gunung Ketidakmungkinan, 

dengan mata kita dekat dengan salah satu puncak – bukan puncak tertinggi, tetapi tetap tinggi. 

Dalam Climbing Mount Improbable, saya membuat satu bab masing-masing untuk mata dan 

sayap, dan mendemonstrasikan betapa mudah mereka berevolusi melalui derajat bertahap yang 

berangsur (atau bahkan, mungkin, tidak begitu berangsur), dan saya tidak akan membahas subjek 

itu lebih lanjut di sini. 

  Jadi, kita telah melihat bahwa mata dan sayap tentu saja tidak rumit secara tak tereduksi, 

tetapi apa yang lebih menarik daripada contoh-contoh partikular ini yaitu  pelajaran umum yang 

kita tarik darinya. Fakta bahwa begitu banyak orang pernah seratus persen salah mengenai kasus-

kasus jelas ini seharusnya memperingatkan kita mengenai contoh-contoh lain yang tidak sejelas 

itu, seperti kasus-kasus seluler dan biokimia yang kini dipamerkan oleh para kreasionis yang 

berteduh di bawah eufemisme yang berguna secara politik, ‘teoretikus rancangan cerdas’. 

  Di sini ada suatu kisah peringatan, dan inilah apa yang disampaikan olehnya: jangan 

hanya menyatakan bahwa sesuatu rumit secara tak tereduksi; besar kemungkinan Anda belum 

perhatikan detailnya dengan cukup saksama, atau berpikir tentangnya dengan cukup saksama. Di 

sisi lain, kita di kubu ilmu pengetahuan harus tidak terlalu percaya diri secara dogmatis. 

Mungkin ada suatu di alam yang benar-benar membuat mustahil, karena kerumitannya yang 

sungguh tak tereduksi, gradien halus menuju puncak Gunung Ketidakmungkinan. Para kreasionis 

benar bahwa, jika kerumitan tak tereduksi yang sejati dapat didemonstrasikan secara layak, itu 

akan menghancurkan teori Darwin. Darwin sendiri berkata demikian: ‘Jika dapat 

didemonstrasikan bahwa ada organ rumit apa pun yang tidak mungkin terbentuk melalui banyak 

modifikasi kecil yang berturut-turut, teori saya akan rusak secara mutlak.  Tetapi saya tidak dapat 

menemukan kasus seperti itu.’ Darwin tidak dapat menemukan kasus seperti itu, sama dengan 

semua orang sejak zamannya Darwin, kendati usahanya yang keras dan bahkan nekat. Banyak 

calon piala suci kreasionisme ini pernah dikemukakan. Tidak satu pun bertahan ketika dianalisis. 

  Lagi pula, meskipun kerumitan tak tereduksi sejati akan menghancurkan teori Darwin 

seandainya ditemukan, bagaimana bisa kita tahu bahwa hal itu tidak akan menghancurkan teori 

rancangan cerdas juga? Memang, hal itu sudah menghancurkan teori rancangan cerdas, karena, 

seperti saya terus-menerus ulangi dan akan ulangi lagi, sebetapa sedikit yang kita ketahui 

mengenai pencipta , satu-satunya hal yang tentangnya kita bisa pasti yaitu  bahwa dia harus sangat 

sangat rumit, dan dapat diandaikan rumit secara tak tereduksi! 

  

PEMUJAAN CELAH 

 

  Mencari contoh partikular atas kerumitan tak tereduksi yaitu  cara kemajuan yang secara 

fundamental tidak ilmiah: suatu kasus istimewa berargumen dari ketidaktahuan masa kini. 

Pencarian itu mengandalkan logika keliru yang sama seperti strategi ‘pencipta  Celah-celah’ yang 

diingkari oleh teolog Dietrich Bonhoeffer. Para kreasionis dengan semangat mencari suatu celah 

dalam pengetahuan atau pemahaman kekinian. Jika suatu yang dianggap celah ditemukan, secara 

otomatis diasumsikan bahwa pencipta lah yang harus mengisinya. Apa yang membuat teolog 

bijaksana seperti Bonhoeffer khawatir yaitu  celah-celah mengecil seiring kemajuan ilmu 

pengetahuan, dan pencipta  akhirnya terancam tidak memiliki aktivitas atau tempat persembunyian 

lagi. Apa yang membuat ilmuwan-ilmuwan khawatir yaitu  suatu yang lain. Mengakui 

ketidaktahuan merupakan bagian esensial dari prakarsa ilmiah, bahkan merayakan ketidaktahuan 

sebagai suatu tantangan terhadap penaklukan-penaklukan masa depan. Sebagaimana ditulis oleh 

teman saya Matt Ridley, ‘Kebanyakan ilmuwan bosan dengan apa yang mereka sudah temukan. 

Ketidaktahuan mendorong mereka maju.’ Para mistikus merayakan misteri dan 

menginginkannya menjadi tetap misterius. Para ilmuwan merayakan misteri untuk alasan yang 

lain: misteri memberi mereka pekerjaan. Secara lebih umum, sebagaimana saya akan ulangi di 

Bab 8, salah satu efek kepercayaan  yang sungguh buruk yaitu  kepercayaan  mengajarkan kita bahwa 

menjadi puas dengan ketidakpahaman merupakan suatu keutamaan. 

  Pengakuan akan ketidaktahuan dan kebingungan sementara menghidupi ilmu 

pengetahuan yang baik. Maka itu sangat disayangkan bahwa strategi utama para tukang 

propaganda kreasionis yaitu  strategi negatif yang mencari celah dalam pengetahuan ilmiah kita 

dan mengklaim untuk mengisinya secara otomatis dengan ‘rancangan cerdas’. Yang berikut 

bersifat hipotetis namun sangat lazim. Seorang kreasionis berbicara: ‘Sendi siku katak musang 

berbintik kecil itu rumit secara tak tereduksi. Tidak ada bagiannya yang akan berguna kecuali 

keseluruhannya sudah dirakit. Bertaruh, Anda tidak dapat memikirkan cara yang melaluinya siku 

katak musang berevolusi secara bertahap berangsur-angsur. Jika ilmuwan tidak langsung 

memberi suatu jawaban komprehensif, kreasionis menarik kesimpulan otomatis: ‘Baiklah, teori 

alternatif, “rancangan cerdas”, menang secara otomatis.’ Perhatikan logikanya yang berat 

sebelah: jika teori A gagal mengenai salah satu hal partikular, teori B pasti benar. Tidak perlu 

dikatakan bahwa argumen itu tidak diterapkan secara terbalik. Kita didorong untuk langsung 

melompat ke teori otomatis tanpa melihat pun apakah teori tersebut gagal dengan hal partikular 

yang sama seperti teori yang dianggap digantikan olehnya. Rancangan cerdas – ID – diberi kartu 

Bebas Penjara, suatu kekebalan magis terhadap tuntutan berat yang diterapkan kepada evolusi. 

  Tetapi poin saya sekarang yaitu  muslihat kreasonis itu menggerogoti perayaan ilmuwan 

yang alami – justru niscaya – akan ketidakpastian (sementara). Untuk alasan yang murni politis, 

ilmuwan saat ini mungkin akan enggan mengatakan: ‘Hm, poin itu menarik. Saya jadi bertanya 

bagaimana leluhur katak musang mengevolusikan sendi sikunya. Saya bukan spesialis katak 

musang, saya harus ke Perpustakaan Universitas dan menelitinya. Mungkin ini proyek menarik 

untuk mahasiswa pascasarjana.’ Pada saat seorang ilmuwan berkata demikian – dan jauh 

sebelum mahasiswa itu memulai proyeknya – kesimpulan otomatis akan menjadi kepala berita 

dalam pamflet kreasionis: ‘Katak musang hanya dapat dirancang oleh pencipta .’ 

  Jadi ada suatu pertepatan yang disayangkan di antara kebupencipta  metodologis ilmu 

pengetahuan untuk mencari wilayah ketidaktahuan supaya mengarahkan penelitian, dan 

kebupencipta  ID untuk mencari wilayah ketidaktahuan supaya mengklaim kemenangan secara 

otomatis. Persis fakta bahwa ID tidak memiliki bukti sendiri sama sekali, tetapi tumbuh seperti 

rumput liar di celah-celah pengetahuan ilmiah, yang bertepatan secara tidak nyaman dengan 

kebupencipta  ilmu pengetahuan untuk mengidentifikasikan dan menyatakan celah-celah yang sama 

sebagai pendahulu penelitian tentangnya. Dalam arti ini, ilmu pengetahuan ternyata bersekutu 

dengan teolog-teolog terdidik seperti Bonhoeffer, bersatu melawan musuh bersama: teologi naif 

populis dan teologi celah rancangan cerdas. 

  Hubungan cinta para kreasionis dengan ‘celah-celah’ dalam sejarah fosil menyimbolkan 

seluruh teologi celah mereka. Saya pernah mengawali suatu bab dengan apa yang dinamakan 

Letusan Kambrium dengan kalimat, ‘Seolah-olah fosil-fosil itu ditanam di sana tanpa sejarah 

evolusioner apa pun.’ Sekali lagi, kalimat tersebut bersifat retoris, dimaksudkan untuk membuat 

pembaca tertarik dengan penjelasan lengkap yang berikut. Kini saya dengan sedih menyadari 

betapa dapat diprediksi bahwa penjelasan sabar saya akan dipotong dan bagian awal itu sendiri 

akan dikutip dengan riang, tercerabut dari konteks. Para kreasonis mengagumi ‘celah’ dalam 

catatan fosil, sama seperti mereka mengagumi celah pada umumnya.  

  Banyak transisi evolusioner dicatat dengan anggun oleh serentetan fosil menengah yang 

berubah secara bertahap dan yang kurang lebih berkesinambungan. Beberapa tidak seperti itu, 

dan ini yaitu  ‘celah’ yang terkenal. Michael Shermer pernah menunjukkan dengan jenaka 

bahwa jika suatu penemuan fosil baru dengan rapih membelah suatu ‘celah’, seorang kreasionis 

akan menyatakan bahwa kini jumlah celah naik dua kali lipat! Tetapi bagaimanapun, perhatikan 

sekali lagi penggunaan yang tidak layak atas argumen otomatis. Jika tidak ada fosil yang 

mendokumentasikan suatu transisi evolusioner yang dilontarkan, asumsi otomatis yaitu  tidak 

ada transisi evolusioner, jadi pencipta  pasti ikut campur. 

  Sangat tidak logis menuntut dokumentasi menyeluruh atas setiap langkah dalam narasi, 

apakah dalam evolusi atau ilmu apa pun yang lain. Hal itu sama dengan menuntut, sebelum 

menyatakan seseorang bersalah dalam kasus pembunuhan, suatu catatan sinematik lengkap atas 

setiap langkah si pembunuh sebelum kejahatannya, tanpa kehilangan satu detik pun. Hanya 

sebagian sangat kecil bangkai memfosil, dan kita beruntung memiliki sebanyak fosil menengah 

yang kita miliki. Bisa saja kita tidak memiliki fosil sama sekali, dan bukti untuk evolusi dari 

sumber-sumber lain, seperti genetika molekuler dan distribusi geografis, akan terlalu kuat. Di sisi 

lain, evolusi membuat prediksi kuat bahwa jika satu fosil tunggal muncul di stratum geologis 

yang salah, teorinya akan hancur. Ketika ditantang oleh seorang Popperian fanatik untuk 

mengatakan bagaimana evolusi bisa difalsifikasi, J.B.S. Haldane dengan terkenal menggerutu: 

‘Kelinci fosil dari Prakambrium.’ Fosil anakronis seperti itu tidak pernah sejatinya ditemukan, 

kendati legenda kreasionis mengenai tengkorak manusia di strata yang tidak seharusnya dan 

jejak kaki manusia dicampur dengan yang dinosaurus. 

  Celah, secara otomatis dalam pikiran kreasionis, diisi oleh pencipta . Hal yang sama berlaku 

untuk semua yang dianggap tebing di Gunung Ketidakmungkinan, di mana landaian bertahap 

tidak langsung jelas atau tidak dilihat karena alasan lain. Wilayah-wilayah di mana ada 

kekurangan data, atau ketiadaan pemahaman, secara otomatis diasumsikan sebagai milik pencipta . 

Kemunduran cepat ke suatu pernyataan dramatis, ‘kerumitan tak tereduksi’, merupakan 

kegagalan imajinasi. Suatu organ biologis, jika bukan mata, motor flagelum bakteria atau jalur 

biokimia, dinyatakan tanpa argumen lebih lanjut sebagai rumit secara tak tereduksi.  Tidak ada 

usaha untuk mendemonstrasikan kerumitan tak tereduksi. Tanpa mengindahkan kisah-kisah 

peringatan tentang mata, sayap, dan banyak hal yang lain, setiap calon baru untuk julukan tidak 

benar itu diasumsikan rumit secara tak tereduksi dan nyata pada dirinya sendiri, dan status itu 

dinyatakan begitu saja. Tetapi pikirkan itu sejenak. Karena kerumitan tak tereduksi digunakan 

sebagai argumen untuk rancangan, seharusnya itu tidak dinyatakan begitu saja, sama seperti 

rancangan sendiri. Itu sama saja dengan menyatakan bahwa katak musang (kumbang pengebom, 

dst.) mendemonstrasikan rancangan, tanpa argumen atau pembenaran lebih lanjut. Itu bukan 

caranya melakukan ilmu pengetahuan. 

  Logikanya ternyata tidak lebih meyakinkan daripada ini: ‘Saya [masukkan nama sendiri] 

secara pribadi tidak mampu membayangkan cara apa pun yang melaluinya [masukkan fenomena 

biologis] dapat dibangun langkah demi langkah. Jadi fenomena itu rumit secara tak tereduksi. 

Berarti fenomena itu dirancang.’ Rumuskanlah seperti itu, dan kita langsung melihat bahwa 

argumennya rentan terhadap seorang ilmuwan yang datang dan menemukan suatu tahap 

menengah; atau setidaknya membayangkan suatu tahap menengah yang masuk akal. Bahkan jika 

tidak ada ilmuwan yang menghasilkan suatu penjelasan, berasumsi bahwa ‘rancangan’ akan 

lebih bagus yaitu  logika buruk saja. Penalaran yang melandasi teori ‘rancangan cerdas’ bersifat 

malas dan mengalah – penalaran ‘pencipta  Celah-celah’ klasik. Saya pernah menyebut penalaran 

tersebut sebagai Argumen dari Ketidakpercayaan Pribadi. 

  Bayangkan bahwa Anda menonton suatu pertunjukan sulap yang bagus sekali. Pasangan 

sulap terkenal, Penn and Teller, sering menampilkan adegan di mana mereka terlihat saling 

menembak sekaligus, dan masing-masing terlihat menangkap pelurunya dengan giginya. 

Persiapan saksama dilakukan untuk mencoret tanda identifikasi di pelurunya sebelum 

dimasukkan ke dalam pistolnya, seluruh prosedurnya disaksikan dari dekat oleh sukarelawan dari 

para hadirin yang berpengalaman dengan senjata api, dan sepertinya semua kemungkinan untuk 

penipuan ditiadakan. Peluru Teller yang ditandai berakhir di mulutnya Penn dan peluru Penn 

yang ditandai berakhir di mulutnya Teller. Saya [Richard Dawkins] sama sekali tidak mampu 

membayangkan cara ini yaitu  sulap. Argumen dari Ketidakpercayaan Pribadi teriak dari 

kedalaman pusat otak saya yang pra-ilmiah, dan hampir memaksa saya untuk berkata, ‘Itu pasti 

yaitu  suatu keajaiban. Tidak ada penjelasan ilmiah. Itu pasti supernatural.’ Tetapi suara lembut 

dan kecil pendidikan ilmiah berbicara dengan pesan yang berbeda. Penn dan Teller yaitu  

tukang sulap kelas dunia. Ada penjelasan yang sangat memadai. Masalahnya saya terlalu naif, 

atau terlalu ceroboh, atau kurang imajinatif, untuk membayangkannya. Itulah tanggapan yang 

layak terhadap suatu sulap. Itu juga yaitu  tanggapan yang layak terhadap fenomena biologis 

yang tampak rumit secara tak tereduksi. Orang-orang itu yang melompat dari kebingungan 

pribadi karena suatu fenomena alami langsung ke pengandaian atas hal supernatural sama 

buruknya dengan orang bodoh yang melihat seorang pesulap membengkokkan sendok dan 

langsung menarik kesimpulan bahwa itu ‘paranormal’.  

  Dalam bukunya Seven Clues to the Origin of Life, kimiawan Skotlandia A.G. Cairns-

Smith membuat poin tambahan, dengan menggunakan analogi pelengkung. Sebuah pelengkung 

yang berdiri sendiri, terbuat dari batu kasar dan tanpa semen dapat merupakan struktur yang 

stabil, tetapi rumit secara tak tereduksi: pelengkung runtuh jika salah satu batu dikeluarkan. Lalu, 

bagaimana struktur itu dibangun terlebih dahulu? Salah satu cara yaitu  membuat himpunan 

padat dari batu, lalu menarik batunya satu per satu dengan saksama. Secara lebih umum, ada 

banyak struktur yang tak tereduksi dalam arti mereka tidak akan bertahan jika salah satu bagian 

diambil, tetapi yang dibangun dengan bantuan perancah yang kemudian diambil dan sudah tidak 

kelihatan. Ketika struktur sudah selesai, perancah dapat dilepas dengan aman dan struktur itu 

tetap berdiri. Dalam evolusi juga, organ atau struktur yang kita lihat mungkin pernah memiliki 

perancah dalam leluhur yang sejak saat itu ditiadakan. 

  ‘Kerumitan tak tereduksi’ bukan ide yang baru, tetapi fras itu sendiri diciptakan oleh 

kreasionis Michael Behe pada 1996.62 Dia diatribusikan (jika memang dia layak diatribusikan 

untuk ini) dengan menggerakkan kreasionsime ke dalam suatu wilayah biologi yang baru: 

biokimia dan biologi sel, yang barangkali dia lihat sebagai tempat yang lebih beruntung untuk 

memburu celah daripada mata atau sayap. Usaha dia yang paling mendekati suatu contoh yang 

baik (tetap buruk) yaitu  motor flagelum bakteria. 

  Motor flagelum bakteri yaitu  hal yang luar biasa di alam. Motor itu mendorong satu-

satunya contoh as yang berputar bebas yang diketahui, di luar teknologi manusia. Roda-roda 

untuk hewan besar akan, saya menduga, merupakan contoh sejati kerumitan tak tereduksi, dan 

besar kemungkinan itulah alasan hal itu tidak ada. Bagaimana bisa saraf dan pembuluh darah 

menyeberangi bantalannya?* Flagelum yaitu  baling-baling yang menyerupai benang, yang 

dengannya bakteri menggali dalam air. Saya berkata ‘menggali’ dan bukan ‘berenang’ karena, 

pada skala eksistensi bakteri, cairan seperti air tidak akan terasa seperti air bagi kita. Air itu akan 

terasa lebih seperti molases, atau selai, atau bahkan pasir, dan bakteri itu akan terlihat menggali 

atau berputar melalui airnya, tidak berenang. Berbeda dengan apa yang disebut flagelum di 

organisme-organisme lebih besar seperti protozoa, flagelum bakteri tidak hanya bolak-balik 

seperti cambuk, atau bergerak seperti dayung. Flagelum bakteria memiliki sebuah as sejati yang 

berputar terus-menerus dengan bebas di dalam suatu bantalan, didorong oleh sebuah motor 

molekuler kecil yang menakjubkan. Pada tingkat molekuler, motor itu menggunakan secara 

esensial prinsip yang sama seperti otot, tetapi dalam pemutaran bebas, bukan kontraksi 

berselang.† Perangkat itu telah dideskripsikan dengan riang sebagai sebuah mesin tempel cilik 

(tetapi menurut tolok ukur keinsinyuran – dan aneh untuk suatu mekanisme biologis – luar biasa 

tidak efisien).  

  Tanpa satu kata pembenaran, penjelasan atau amplifikasi, Behe hanya menyatakan bahwa 

motor flagelum bakteri rumit secara tak tereduksi. Karena dia tidak menawarkan argumen yang 

mendukung pernyataannya, kita boleh mulai dengan menduga ada kegagalan dalam 

imajinasinya. Dia kemudian mengklaim bahwa literatur biologis spesialis telah mengabaikan 

masalahnya. Kesalahan klaim ini didokumentasikan secara dahsyat dan (bagi Behe) memalukan 

di pengadilan Hakim John E. Jones di Pennsylvania pada 2005, ketika Behe menjadi saksi ahli 

untuk sekelompok orang kreasionis yang telah berusaha memaksakan kreasionisme ‘rancangan 

cerdas’ pada kurikulum ilmu pengetahuan di salah satu sekolah negeri lokal – suatu tindakan 

yang ‘kekonyolannya memesona’, dalam kata-kata Hakim Jones (breathtaking inanity; frasa dan 

manusia itu pasti ditakdirkan menjadi terkenal untuk waktu yang lama). Ini bukan satu-satunya 

kali Behe dipermalukan di sidang itu, sebagaimana kita akan lihat. 

  Kunci untuk mendemonstrasikan kerumitan tak tereduksi yaitu  menunjukkan bahwa 

tidak ada bagian yang bisa berguna dengan sendirinya. Semua bagian harus berada pada 

tempatnya sebelum satu pun bisa berguna (analogi kesukaan Behe yaitu  perangkap tikus). 

Sebenarnya, biolog-biolog molekuler dengan mudah sekali menemukan bagian yang berfungsi di 

luar keseluruhan, baik untuk motor flagelum maupun untuk contoh-contoh lain yang Behe 

anggap rumit secara tak tereduksi. Poin ini dirumuskan dengan baik oleh Kenneth Miller dari 

Universitas Brown, yang hemat saya merupakan musuh ‘rancangan cerdas’ yang paling 

meyakinkan, di antara alasan lain karena dia junjungan kristen  taat. Saya sering merekomendasikan buku 

Miller, Finding Darwin’s God, kepada orang-orang religius yang menulis ke saya setelah 

dikelabui oleh Behe. 

                                                 

* Ada contoh dalam fiksi. Penulis sastra anak, Philip Pullman, dalam His Dark Materials, membayangkan sejenis 

hewan, ‘mulefa’, yang hidup bersama dengan pohon yang menghasilkan polong buah yang bundar sempurna dengan 

lubang di pusatnya. Para mulefa menggunakan polong buah itu sebagai roda. Rodanya, karena bukan bagian dari 

tubuh, tidak memiliki saraf atau pembuluh darah yang termakan atau tertarik ‘as’ (cakar kuat dari tanduk atau 

tulang). Pullman dengan cerdik mencatat suatu poin tambahan: sistem itu berfungsi hanya karena planet itu dicor 

dengan lajur basal alami, yang digunakan sebagai ‘jalanan’. Roda tidak berguna di lahan yang kasar. 

† Menarik sekali, prinsip otot digunakan dalam bentuk ketiga di beberapa serangga seperti lalat dan lebah, di mana 

otot terbang dapat berputar secara intrinsik, seperti dalam motor bakar torak. Sedangkan serangga lain seperti 

belalang mengirimkan perintah saraf untuk setiap gerakan sayap (seperti burung), lebah mengirimkan perintah untuk 

menyalakan (atau mematikan) motor bakar toraknya. Bakteri memiliki mekanisme yang bukan penarik sederhana 

(seperti otot terbang burung) dan bukan juga pembakar torak (seperti otot terbang lebah), melainkan suatu pemutar 

sejati: dalam arti ini seperti motor elektrik atau mesin wankel. 

  Dalam kasus mesin wenkel bakteri, Miller mengajak kita untuk memperhatikan suatu 

mekanisme yang disebut Sistem Sekresi Tipe Tiga atau TTSS (Type three secretion system).63 

TTSS tidak digunakan untuk gerakan berputar. Sistem itu yaitu  salah satu dari beberapa yang 

digunakan oleh bakteri parasitik untuk memompakan zat-zat toksik melalui dinding selnya untuk 

meracuni inangnya. Pada skala manusia kita, kita mungkin akan membayangkan menuang atau 

menyemprotkan cairan melalui lubang; tetapi, sekali lagi, pada skala bakteri semua tampak 

berbeda. Setiap molekul zat yang disekresi yaitu  protein besar dengan struktur tiga-dimensi 

tertentu pada skala yang sam