doktrin dasar alkitab 17
an olah raga dan istirahat yang berimbang, kita
harus menerapkan cara makan yang paling sehat dan sama sekali
harus menjauhi makanan haram yang disebutkan dengan jelas dalam
Kitab Suci. Minuman yang mengandung alkohol, tembakau, dan pe-
nyalahgunaan obat-obat bius dan narkotik yang merusak tubuh, ha-
rus membebaskan kita dari semuanya itu. Sebaliknya, kita justru harus
melibatkan dalam apa pun yang membuat pikiran dan tubuh kita taat
kepada Kristus, yang menginginkan kita sehat, gembira dan baik.—
Fundamental Beliefs,—22.
317
Tingkah laku Kristen—gaya hidup seorang
pengikut Allah–timbul sebagai satu sam-
butan sebab rasa syukur kepada kesela-
matan agung Allah melalui Kristus. Kepada
semua orang Kristen, Paulus mengimbau:
“sebab itu, saudara-saudara, demi kemurah-
an Allah aku menasihatkan kamu, supaya ka-
mu mempersembahkan tubuhmu sebagai
peraembahan yang hidup, yang kudus dan
yang berkenan kepada Allah: itu yaitu iba-
dahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi
serupa dengan dunia ini, namun berubahlah
oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu
dapat membedakan manakah kehendak Al-
lah: apa yang baik, yang berkenan kepada Al-
lah dan yang sempurna” (Rm. 12:1, 2). Oleh
sebab itu orang Kristen haruslah dengan su-
karela menjaga dan mengembangkan mental,
jasmani dan kemampuan rohani agar mereka
dapat menghormati Pencipta dan Penebus
mereka.
Kristus berdoa, “Aku tidak meminta, su-
paya Engkau mengambil mereka dari dunia,
namun supaya Engkau melindungi mereka dari
pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia,
sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yoh.
17:15, 16). Bagaimanakah seorang Kristen
dapat sekaligus berada di dunia ini dan dipi-
sahkan dari padanya? Bagaimanakah gaya
hidup orang Kristen berbeda dari dunia ini?
Orang-orang Kristen harus memakai ga-
ya hidup yang berbeda, bukan hanya sekadar
untuk berbeda melainkan sebab Tuhan telah
menghimbau mereka hidup menurut prinsip.
Gaya hidup yang diminta-Nya agar mereka
hidupkan membuat mereka mampu meraih
potensi penuh sebagai makhluk ciptaan-Nya,
membuat mereka efisien dalam pelayanan-
Nya. Menjadi orang yang berbeda mereka
patut memajukan misi mereka: untuk melaya-
ni dunia—menjadi garam dunia dan mene-
ranginya. Apakah gunanya garam apabila su-
dah menjadi tawar, atau terang jika tidak
berbeda dari kegelapan?
Kristus itulah teladan kita. Ia menghayati
hidup yang demikian di dunia ini sehingga
orang banyak menuduh-Nya kita semua “pela-
hap dan peminum” (Mat. 11:19), walaupun Ia
bukan seperti itu. Ia secara konsisten hidup
sesuai dengan asas-asas yang ditetapkan Al-
BAB 22
TINGKAH LAKU ORANG KRISTEN
318 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
lah sehingga tidak ada seorang pun yang da-
pat membuktikan Ia bersalah (Yoh. 8:46).
TINGKAH LAKU DAN
KESELAMATAN
Untuk memastikan apakah tingkah laku
yang pantas, kita harus menghindari dua hal
yang ekstrem. Yang pertama penerimaan
hukum-hukum dan penerapan asas-asas
menjadi sebuah sarana keselamatan. Paulus
menyimpulkan sudut ekstrem ini dengan ka-
ta-kata, “Kamu lepas dari Kristus, jikalau ka-
mu mengharapkan kebenaran oleh hukum
Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia”
(Gal. 5:4).
Sudut ekstrem lainnya yang bertolak be-
lakang dengan yang di atas ialah kepercayaan
bahwa sebab amal baik tidak menyelamatkan
maka hal itu tidaklah penting––jadi bagaimana
pribadi seseorang tidaklah menjadi soal. Ke-
pada ekstrem seperti ini Paulus berkata juga
sebagai berikut: “namun janganlah kamu
mempergunakan kemerdekaan itu sebagai
kesempatan untuk kehidupan dalam dosa,
melainkan layanilah seorang akan yang lain
oleh kasih” (Gal. 5:13). Apabila setiap anggo-
ta atau setiap orang mengikuti hati nurani
sendiri, “maka tidak ada lagi tata tertib se-
sama Kristen sebagaimana digariskan dalam
Matius 18 dan Galatia 6:1, 2. Gereja tidak lagi
menjadi tubuh Kristus, yang di dalamnya ter-
dapat cinta kasih dan saling memperhatikan,
melainkan menjadi sebuah himpunan individu
yang tercerai-berai, masing-masing menurut
kemauan sendiri tanpa merasa perlu ber-
tanggung jawab atas sesama, sepersekutuan
atau merasa prihatin atas keperluan mere-
ka.”1
sebab tingkah laku kita dan kerohanian
kita erat hubungannya, kita tidak akan pernah
dapat memperoleh keselamatan sebab ting-
kah laku yang baik. Sebaliknya, tingkah laku
Kristen yaitu buah keselamatan secara ala-
miah dan berlandaskan apa yang telah dise-
lesaikan Kristus bagi kita di Golgota.
BAIT SUCI ROH KUDUS
Bukan hanya jemaat namun juga individu
Kristen merupakan bait suci Roh Kudus.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu
yaitu bait Roh Kudus yang diam di dalam
kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari
Allah,—dan bahwa kamu bukan milik kamu
sendiri?” (1 Kor. 6:19).
Oleh sebab itu, orang-orang Kristen
menjalankan kebiasaan-kebiasaan hidup se-
hat untuk melindungi pusat komando bait suci
tubuh mereka, pikiran, tempat tinggal Roh
Kristus. Untuk alasan inilah gereja Masehi
Advent Hari Ketujuh selama kurang lebih
100 tahun yang lalu—telah menekankan pen-
tingnya kebiasaan hidup sehat yang wajar.2
Dan hasilnya sudah kelihatan seperti berikut:
Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa
orang-orang Advent ternyata lebih sedikit
terkena penyakit yang kebanyakan menimpa
masyarakat pada umumnya.3
Sebagai orang Kristen, kita merasa pri-
hatin atas aspek-aspek kehidupan baik aspek
rohaninya maupun aspek jasmaninya. Yesus,
yang menjadi panutan kita, menyembuhkan
“segala penyakit dan kelemahan di antara
bangsa itu” (Mat. 4:23).
Alkitab menganggap kita semua sebagai
makhluk yang utuh (baca bab 7). “Pembagian
antara yang rohani dan jasmani agak asing
bagi Alkitab.”4 Demikianlah Allah mengim-
bau kesucian tubuh sama halnya dengan ke-
sehat-an jasmani. Susannah Wesley, ibu pen-
diri gereja Metodis, dengan cekatan meng-
ikhtisarkan asas ini sebagai berikut: “Apa pun
yang melemahkan akalmu, merusak kelemah-
lembutan hati nuranimu, yang mengaburkan
perasaanmu terhadap Allah, mengurangi ke-
Tingkah Laku Orang Kristen 319
kuatan dan otoritas pikiranmu atas tubuhmu—
hal itu salah, betapapun kecilnya sehingga ti-
dak kelihatan salah.”5
Hukum Tuhan, yang termasuk dalamnya
hukum kesehatan, bukanlah sembarangan
atau mana suka, melainkan direncanakan
oleh Pencipta agar kita mampu menikmati
hidup sebaik-baiknya. Setan, sang musuh itu,
ingin mencuri kesehatan kita, kegembiraan
kita, kesejahteraan pikiran kita, dan pada
akhirnya ingin menghancurkan kita (baca
Yoh. 10:10).
BERKAT-BERKAT ALLAH BAGI
KESEHATAN MENYELURUH
Untuk memperoleh kesehatan ini, ber-
gantung pada praktik yang sederhana namun
efektif—prinsip-prinsip yang diberikan Allah.
Beberapa dari antaranya cukup jelas dan
umumnya orang setuju. Yang lain-lain, misal-
nya aturan makan yang baik, agak sukar di-
terima sebab berkaitan dengan orientasi dan
kebiasaan-kebiasaan yang telah begitu men-
dasar atas gaya hidup kita. sebab itulah, kita
harus mengabdikan lebih banyak kesempatan
untuk asas-asas ini sebab kedua-duanya di-
salahpahami, diperdebatkan atau ditolak.6
Manfaat Olah Raga. Olah raga yang rutin
yaitu formula sederhana untuk menambah
energi, ketegapan tubuh, kesantaian tubuh,
kulit yang lebih sehat, menambah rasa per-
caya diri, memulihkan pencernaan, meng-
efektifkan berat tubuh, dan mengurangi de-
presi serta risiko sakit jantung dan sakit kan-
ker. Olah raga bukan hanya sekadar pilihan,
justru ini penting agar dapat tetap sehat seca-
ra optimal—baik fisik maupun mental.7
Kegiatan yang bermanfaat cenderung
mendatangkan kesejahteraan; sedang
ketidakaktifan dan kemalasan cenderung ke-
pada pertikaian (Ams. 6:6-13; 14:23). Allah
memberikan tugas untuk dikerjakan pasangan
leluhur kita yang pertama—untuk memelihara
taman yang menjadi rumah kediaman mere-
ka di tempat terbuka (Kej. 2:5, 15; 3:19). Kris-
tus sendiri memberikan sebuah teladan kegi-
atan jasmani. Hampir seluruh masa hidup-
Nya digunakan dalam pekerjaan kasar selaku
tukang kayu, dan selama Ia bekerja Ia berja-
lan menjelajahi jalan-jalan di Palestina.
Berkat Sinar Matahari. Terang sangat
penting bagi kehidupan (Kej. 1:3). Diberinya
kuasa untuk mengadakan proses yang meng-
hasilkan zat makanan yang memberi makan
dan energi bagi tubuh kita serta mengeluarkan
oksigen yang mau tidak mau harus kita miliki
supaya hidup. Sinar matahari memberi kese-
hatan dan kesembuhan.
Berkat Air. Tubuh kita semua terdiri atas 75%
air, akan namun cairan yang amat penting ini
terus-menerus hilang melalui udara yang di-
hembuskan, pernapasan, dan produk-produk
yang perlu dibuang. Meminum air putih 6-8
gelas setiap hari membantu membuat hidup
yang efisien dan bahagia. Fungsi penting lain-
nya air ini ialah untuk membersihkan dan
mendatangkan rasa santai.
Berkat Udara Segar. Lingkungan dengan
udara yang tidak bersih, di luar rumah, mem-
buat darah tidak dapat mengangkut oksigen
secara memadai sesuai dengan keperluan
yang harus ada untuk membuat setiap sel ber-
fungsi secara optimal. Kecenderungan ini
membuat seseorang kurang waspada dan
bertanggung jawab. Oleh sebab itu, betapa
pentingnya melakukan segala sesuatu yang
mungkin untuk memastikan persediaan udara
segar yang memadai setiap hari.
Berkat Bertarak, Bebas dari Obat Bius
dan Obat Perangsang Lainnya. Pelbagai
320 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
obat bius sedang melanda masyarakat kita
sebab obat-obatan ini telah memberikan
rangsangan bebas dari rasa stres dan rasa sa-
kit. Orang Kristen sekarang ini sedang digoda
untuk memakai nya. Banyak minuman
populer sekarang ini yang demikian: kopi, teh,
dan coca-cola berisi kafein,9 dan anggur sari
buah yang harum berisi alkohol. Penelitian
menunjukkan bahwa minuman ringan seka-
rang cenderung memakai lebih keras
lagi yang dapat mempengaruhi pikiran.
Orang Kristen yang arif haruslah menjauhi
segala sesuatu yang merusak itu.
1. Tembakau. Dalam bentuk yang ba-
gaimanapun tembakau secara pelahan-lahan
menjadi racun yang sangat merusak tubuh,
mental dan kuasa moral. Pada mulanya efek-
nya memang sukar diamati. Mula-mula bersi-
fat merangsang dan lalu melumpuhkan
saraf, melemahkan dan mengeruhkan otak.
Barangsiapa yang memakai temba-
kau ia melakukan bunuh diri secara pelahan-
lahan ,10 melanggar hukum keenam: “Jangan
membunuh” (Kel. 20:13).
2. Minuman Beralkohol. Minuman al-
kohol merupakan minuman yang paling ba-
nyak digunakan secara meluas di Planet
Bumi. Telah berjuta-juta orang yang dibina-
sakannya. Hal itu bukan saja merusak orang
yang memakai nya, namun juga meminta
korban yang cukup besar dari tengah-tengah
masyarakat pada umumnya—melalui rumah
tangga yang pecah belah, kematian mendadak
dan kemiskinan.
sebab Allah berhubungan dengan kita
hanya melalui pikiran, maka ada baiknya kita
mengingat bahwa alkohol merusak setiap
fungsi. Kalau pengaruh alkohol itu sudah
sampai pada tingkat sistem tubuh, maka pe-
minumnya mulai kehilangan koordinasi, mulai
kacau, tidak dapat membulatkan pikiran, ke-
hilangan kesadaran, terbius, koma dan mati.
Umumnya, peminum alkohol yang terus-me-
nerus akan mengakibatkan berkurangnya da-
ya ingat, rusaknya pertimbangan dan ke-
mampuan belajar.11
Cerita-cerita yang ada dalam Alkitab
yang berkaitan dengan pemakaian minuman
beralkohol tampaknya memberikan kesan
bahwa Tuhan berkenan atas pemakaiannya.
Bahkan Kitab Suci juga menunjukkan bahwa
umat Allah turut serta dalam tingkah laku so-
sial, misalnya praktik perceraian, poligami
dan perbudakan––perbuatan yang jelas-jelas
tidak dapat dimaafkan Tuhan. Dalam menaf-
sirkan ayat-ayat Kitab Suci yang demikian,
baik juga kita berpikir bahwa Allah tidak perlu
harus membenarkan apa yang dibiarkan-
Nya.
Jawaban Yesus atas pertanyaan yang
menyelidik, mengapa Musa mengizinkan per-
ceraian menunjuk kepada prinsip penafsiran
ini. Ia berkata, “sebab ketegaran hatimu
Musa mengizinkan kamu menceraikan istri-
mu, namun sejak semula tidaklah demikian”
(Mat. 19:8).12 Eden merupakan contoh Ilahi
yang olehnya Injil memulihkan kita. Sebagai-
mana benarnya praktik yang lain, jelaslah al-
kohol bukanlah bagian dari rencana Allah se-
jak semula.13
3. Obat-obat bius lainnya dan narko-
tika. Masih banyak lagi jenis obat-obat lain
yang merusak, juga narkotik, yang digunakan
Setan untuk menghancurkan hidup kita semua .14
Orang Kristen sejati yang selalu memandang
kepada Kristus akan terus memuliakan Allah
dengan tubuh mereka, menyadari bahwa me-
reka yaitu milik yang berharga bagi-Nya,
yang telah dibeli-Nya dengan darah-Nya
yang sangat mulia.
Berkat Istirahat. Istirahat yang memadai
sangat penting bagi kesehatan tubuh dan pi-
Tingkah Laku Orang Kristen 321
kiran. Kristus menyampaikan belas kasihan-
Nya kepada kita, belas kasihan yang pernah
ditunjukkan kepada murid-murid-Nya yang
lelah: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya
kita sendirian, dan beristirahatlah seketika”
(Mrk. 6:31). Saat istirahat, yakni istirahat
yang tenang sangat diperlukan untuk meng-
adakan hubungan dengan Allah: “Diamlah
dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”
(Mzm. 46:11). Allah menekankan perlunya
kita istirahat dengan mengasingkan hari ketu-
juh dari minggu sebagai hari istirahat (Kel.
20:10).
Istirahat bukanlah sekadar tidur atau ber-
henti dari pekerjaan yang melelahkan. Di da-
lamnya terkait cara kita memakai waktu
luang kita. Kelelahan tidaklah selalu disebab-
kan oleh stres atau sebab bekerja terlalu be-
rat atau terlalu lama: Pikiran kita juga dapat
menjadi letih sebab stimulasi berlebih-lebih-
an melalui media, penyakit atau sebab masa-
lah pribadi lainnya.
Rekreasi yaitu rekreasi dalam arti yang
sesungguhnya dari perkataan itu. Rekreasi
itu meneguhkan, membangun, serta menye-
garkan pikiran dan jasmani, sehingga dengan
demikian menyiapkan umat percaya kembali
ke pekerjaan mereka dengan tenaga yang
baru. Menghayati hidup dengan sebaik-baik-
nya, meminta orang Kristen supaya mengejar
bentuk-bentuk rekreasi dan kesenangan
yang benar-benar menguatkan hubungan
mereka dengan Kristus serta memperbaiki
kesehatan semata.
Kitab Suci membentangkan prinsip ber-
ikut, yang akan membantu orang-orang Kris-
ten memilih rekreasi yang baik: “Janganlah
kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di
dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia,
maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam
orang itu. Sebab semua yang ada di dalam
dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan
mata serta keangkuhan hidup, bukanlah ber-
asal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1
Yoh. 2:15, 16).
1. Bioskop, televisi, radio dan video.
Media yang disebutkan ini dapat menjadi sa-
rana pendidikan yang sangat bermanfaat.
Media ini telah “mengubah atmosfer secara
menyeluruh, suasana dunia kita yang modern
serta mempermudah hubungan dalam hidup,
pikiran dan segala kegiatan yang mencakup
seluruh dunia.15 Orang Kristen akan meng-
ingat bahwa televisi dan video mendatangkan
dampak yang lebih besar atas hidup secara
individual ketimbang kegiatan tunggal lainnya.
Sayangnya, video dan televisi, yang ham-
pir seluruhnya dikuasai pertunjukan, membawa
pengaruh ke dalam rumah, yakni pengaruh
yang tidak meninggikan. Kalau kita tidak ber-
usaha memilih dan menyeleksi, maka media
itu akan “menjadikan rumah kita ruang bios-
kop dan pertunjukan lagu yang dangkal dan
murahan.”16 Orang-orang Kristen yang pe-
nuh pengabdian haruslah menjauhkan diri
dari yang tidak sehat, kekerasan, gambar dan
program televisi yang merangsang seks.
Sebenarnya alat bantu pandang (audio
visual) itu sendiri tidaklah jahat. Saluran yang
sama yang menyajikan dalamnya kejahatan
kita semua juga digunakan untuk menyampaikan
khotbah Injil keselamatan. Masih banyak ju-
ga program lainnya yang cukup berharga di-
tayangkan. Akan namun program yang baik itu
juga dapat digunakan orang untuk melepaskan
diri dari tanggung jawab dalam hidup ini.
Orang Kristen bukan hanya ingin menegakkan
prinsip yang menentukan apakah yang dapat
dilihat namun juga menetapkan batas waktu
mereka menonton acara televisi, supaya de-
ngan demikian hubungan sosial dan tanggung
jawab hidup ini tidak mengalami kerugian.
Kalau kita tidak dapat memilih atau jika
kita tidak mampu mengendalikan media yang
ada pada kita, lebih baiklah kita tidak memi-
322 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
likinya dibandingkan benda itu menguasai hidup
kita serta mencemarkan pikiran atau meng-
habiskan sebagian besar waktu kita (baca
Mat. 5:29, 30).
Sehubungan dengan renungan kita atas
Kristus, sebuah prinsip Alkitabiah yang pen-
ting menyatakan bahwa “sebab kemuliaan
itu datangnya dari Tuhan yang yaitu Roh,
maka kita diubah menjadi serupa dengan
gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin
besar” (2 Kor. 3:18). Dengan memandang
terjadilah perubahan. Akan namun orang-o-
rang Kristen haruslah senantiasa mengingat
bahwa prinsip ini pun berlaku untuk segi-segi
yang negatif. Gambar film secara grafis
menggambarkan dosa dan kejahatan manu-
sia—pembunuhan, perzinahan, perampokan
dan pelbagai kegiatan yang merusak lain-
nya—turut berperan memerosotkan akhlak.
Nasihat Paulus di dalam Filipi 4:8 mem-
bentangkan sebuah prinsip yang dapat mem-
bantu mengidentifikasi bentuk-bentuk rekreasi
yang bermutu: “Jadi akhirnya, saudara-sau-
dara, semua yang benar, semua yang mulia,
semua yang adil, semua yang suci, semua
yang manis, semua yang sedap didengar, se-
mua yang disebut kebajikan dan patut dipuji,
pikirkanlah semuanya itu.”
2. Bacaan dan Musik. Standar yang
tinggi juga diperlukan dalam bidang ini, baca-
an dan musik orang Kristen. Musik yaitu
pemberian Tuhan untuk mengilhami kesucian,
agung dan pikiran yang luhur. Musik yang
baik haruslah yang bermutu tinggi, berbudi
luhur.
Musik yang rendah, sebaliknya, yaitu
”merusak ritme jiwa serta merendahkan akh-
lak.” Oleh sebab itu para pengikut Kristus
hendaklah menjauhi “jenis melodi mana pun
yang berbau jez, rock atau yang termasuk ke
dalam bentuk-bentuk liar, atau yang menggu-
nakan bahasa yang menyatakan kebodohan
atau perasaan-perasaan yang tidak berarti.”17
Hendaknya orang Kristen tidak mendengar
musik atau melodi yang berarah ke situ (Rm.
13:11-14; 1 Ptr. 2:11).18
Bacaan juga dapat mendatangkan faedah
yang sangat banyak. Cukup banyak bahan
bacaan yang dapat menghaluskan dan melu-
askan pikiran. Namun demikian banyak juga
“bacaan yang buruk, pada umumnya disalut
dengan cara yang sangat menarik akan namun
merusak pikiran dan moral. Kisah-kisah me-
ngenai petualangan yang liar dan dibumbui
dengan moral yang lemah, apakah berbentuk
kisah rekaan ataupun berdasar kenyata-
an,” tidak layak untuk dibaca umat percaya
sebab pengaruh yang ditimbulkannya ialah
merendahkan keluhuran budi, merendahkan
kejujuran dan gaya hidup serta menghalangi
perkembangan persatuan dengan Kristus.19
3. Kegiatan yang tidak dapat diterima.
Masehi Advent Hari Ketujuh juga mengajar-
kan bahwa judi, bermain kartu, menonton
bioskop dan berdansa haruslah dijauhkan (1
Yoh. 2:15-17). Dipertanyakan juga tentang
pemakaian waktu untuk menonton olah raga
kekerasan (Flp. 4:8). Setiap kegiatan yang
melemahkan hubungan dengan Tuhan serta
mengakibatkan hilangnya pandangan kita
terhadap hal-hal yang abadi, membantu ran-
tai Setan mengikat jiwa kita lebih erat. Orang-
orang Kristen sebaiknya melibatkan diri da-
lam bentuk-bentuk kegiatan yang mengisi
masa senggang yang sehat dan menyegarkan
jiwa, tubuh dan pikiran mereka.
Berkat Makanan Bergizi. Kepada leluhur
kita semua yang pertama, Sang Pencipta mem-
berikan aturan makanan yang ideal bagi me-
reka berdua: “Lihatlah, Aku memberikan ke-
padamu segala tumbuh-tumbuhan yang ber-
biji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan
yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi
Tingkah Laku Orang Kristen 323
makananmu”(Kej. 1:29). sesudah kejatuhan
kita semua ke dalam dosa, Allah menambahkan
kepada makanan mereka “tumbuh-tumbuhan
di padang akan menjadi makananmu” (Kej.
3:18).
Persoalan kesehatan sekarang ini cende-
rung terpusat pada penyakit turunan yang se-
cara langsung dapat ditelusuri kepada ma-
kanan (diet) serta gaya hidup. Aturan ma-
kanan yang diberikan Tuhan dan direnca-
nakan-Nya terdiri dari gandum atau padi
(beras), buah-buahan, buah tanaman keras,
sayur-sayuran, yang kaya akan gizi yang
meningkatkan kesehatan pada tingkat yang
optimum.
1. Makanan Semula. Alkitab tidak me-
larang makanan daging yang halal. namun
sesungguhnya makanan yang semula disedia-
kan Tuhan Allah bagi kita semua tidak termasuk
makanan daging sebab Ia tidak berkenan
atas pembunuhan binatang dan juga sebab
makanan vegetaris yang berimbang yaitu
merupakan makanan yang paling sehat bagi
kesehatan—suatu kenyataan yang dikukuh-
kan oleh ilmu dan pengetahuan.20 kita semua
menjadikan daging sebagai makanan mereka,
di dalam daging yang dimakan ada bak-
teri atau virus-virus yang mengakibatkan pe-
nyakit yang membuat kesehatan mereka ter-
ganggu 21 Diperkirakan bahwa setiap tahun,
di Amerika Serikat saja, berjuta juta orang
yang menderita sakit sebab makan daging
ayam yang sudah tercemar sebab racun,
lalai me-meriksa kontaminasi yang diakibatkan
oleh salmonella dan mikroorganisme lainnya.22
Beberapa orang ahli merasa bahwa “konta-
minasi yang disebabkan bakteri mengakibat-
kan risiko yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan akibat kimiawi serta pengawet ma-
kanan” dan menyatakan bahwa timbulnya
banyak penyakit disebabkan bakteri ini.23
Selanjutnya, studi yang diadakan belum
lama berselang menunjukkan bahwa bertam-
bahnya konsumsi daging dapat menyebabkan
pertambahan aterosklerosis, kanker, kelainan
ginjal, osteoporosis, trikhinosis dan menurun-
kan gairah hidup.24
Aturan makanan yang ditetapkan Tuhan
di Taman Eden—makanan vegetaris—yang
ideal, namun kadang-kadang kita tidak dapat
memperoleh yang ideal seperti itu. Dalam ke-
adaan yang demikian, barangsiapa yang mau
tetap memperoleh kesehatan yang optimal
sebaiknya makan makanan yang terbaik
yang dapat diperolehnya.
2. Makanan yang halal dan tidak halal.
Hanyalah sesudah peristiwa air bah Allah
memperkenalkan makanan daging sebagai
makanan. sebab ketika itu semua makanan
dari sayur-sayuran binasa maka Tuhan mem-
beri izin Nuh dan keluarganya untuk makan
daging, dengan syarat bahwa mereka tidak
boleh makan darah dalam daging (Kej. 9:3-
5).
Ketentuan bersyarat yang lain yang ter-
dapat dalam Alkitab menyangkut ketentuan
yang diberikan Allah kepada Nuh bahwa ia
dan keluarganya dapat makan hanya hewan
yang disebutkan Tuhan sebagai hewan yang
halal. Nuh dan keturunannya memerlukan
daging yang halal sebagai makanan mereka,
begitu pula hewan korban persembahan
(Kej. 8:20) sehingga Tuhan Allah menyuruh
Nuh mengambil tujuh pasang masing-masing
dari jenis hewan yang halal, sedang pa-
sangan hewan yang tidak halal dari setiap je-
nis hanya satu pasang saja, untuk dibawa ma-
suk ke dalam bahtera (Kej. 7:2, 3). Imamat 11
dan Ulangan 14 memberikan gambaran yang
panjang lebar mengenai hewan yang halal
dan yang tidak halal.25
Secara alamiah, hewan atau binatang
yang tidak halal bukanlah makanan yang se-
hat. Kebanyakan dari antaranya binatang pe-
324 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
makan bangkai atau pemangsa—mulai dari
singa dan babi hingga jenis ikan yang hidup di
dasar laut, ikan jenis yang menyusui. sebab
kebiasaan hewan-hewan itu membuat mere-
ka lebih tepat disebut sebagai pembawa pe-
nyakit.
Penyelidikan di bidang ini lebih lanjut me-
nyatakan bahwa “selain adanya sejumlah ko-
lesterol yang ada di dalam daging babi
dan kerang, kedua jenis makanan ini
mengandung sejumlah toksin dan kontaminasi
lainnya yang dapat meracuni kita semua .”26
Dengan makan makanan yang halal, umat
Allah menunjukkan rasa syukur mereka ka-
rena ditebus dari kerusakan, dari dunia yang
kotor yang ada di sekelilingnya (Im.
20:24-26; Ul. 14:2). Allah tidak menginginkan
kita memasukkan makanan yang haram ke
dalam bait suci tubuh yang menjadi tempat
kediaman Roh Allah.
Perjanjian Baru pun tidak menghapuskan
adanya perbedaan antara makanan yang ha-
lal dan yang haram, yang terdiri dari daging.
Banyak orang yang percaya bahwa sebab
undang-undang makanan ini disebutkan da-
lam artikel Imamat maka peraturan itu berla-
ku hanya sebagai hukum keupacaraan atau
ritual belaka, sebab itu dianggap tidak lagi
berlaku bagi orang Kristen. Haruslah dimak-
lumi bahwa pembedaan antara binatang yang
halal dan binatang yang haram haruslah dili-
hat kembali ke zaman Nuh—lama sebelum
bangsa Israel ada. Sebagai asas kesehatan,
peraturan mengenai makanan ini terus
ber-
langsung sebagai suatu kewajiban.27
3. Keteraturan, kesederhanaan dan
keseimbangan. Pembaharuan dalam hal
makanan secara berhasil maju terus dan ha-
ruslah dicapai secara cerdas. Sebaiknya kita
belajar menghilangkan atau penggunaan se-
cara sederhana saja makanan yang mengan-
dung banyak lemak atau mengandung ba-
nyak gula.
Selanjutnya, kita haruslah menyediakan
makanan yang kita makan dalam keseder-
hanaan dan kalau dapat sealamiah-alamiah-
nya, dan untuk memperoleh manfaat yang
optimum, hendaknya dengan teratur berselang-
seling. Makanan yang agak rumit, yang me-
rangsang sangat tidak menyehatkan tubuh.
Banyak bumbu dan rempah mengganggu
pencernaan,28 dan kalau digunakan umumnya
akan menimbulkan pelbagai gangguan kese-
hatan.29
Berkat Pakaian Kristiani. Allah menyedia-
kan pakaian yang pertama digunakan leluhur
kita Adam dan Hawa dan mengetahui bahwa
kita memerlukan pakaian yang pantas kita
gunakan untuk masa sekarang ini (Mat. 6:25-
33). Pilihan kita harus didasarkan atas asas
kesederhanaan, sopan, praktis, sehat dan me-
narik.
1. Sederhana. Sebagaimana juga dalam
segala aspek kehidupan kita, panggilan kepa-
da orang Kristen atas kesederhanaan berka-
itan juga dengan bagaimana cara kita berpa-
kaian. “Panggilan bagi orang Kristen ialah
bersaksi dalam kesederhanaan.
“Cara kita berpakaian menunjukkan ke-
pada dunia siapa dan bagaimana kita—bukan
menurut apa yang diturunkan pada zaman
Victoria, melainkan merupakan satu ungkapan
kasih kita kepada Yesus.”30
2. Tentang kebajikan moral yang ting-
gi. Orang-orang Kristen hendaknya jangan
menodai keindahan tabiat mereka dengan
gaya dan model berpakaian yang menim-
bulkan “keinginan daging dan keinginan ma-
ta” (1 Yoh. 2:16). sebab mereka perlu ber-
saksi kepada orang lain maka mereka perlu
Tingkah Laku Orang Kristen 325
mengenakan pakaian yang sopan, tidak
memakai bagian-bagian tubuh untuk
merangsang keinginan seksual. Kesopanan
memajukan kesehatan moral. Tujuan orang
Kristen ialah memuliakan Allah, bukan diri
sendiri.
3. Praktis dan hemat. sebab mereka
yaitu penatalayan-penatalayan atas uang
yang dipercayakan Tuhan kepada mereka,
maka mereka sebagai orang Kristen harus
hemat, “jangan memakai emas atau mutiara
ataupun pakaian yang mahal-mahal” (1 Tim.
2:9). Bagaimanapun, berhemat bukanlah ber-
arti membeli pakaian yang paling murah. Se-
ringkali pakaian yang mahal lebih hemat un-
tuk jangka panjang.
4. Menyehatkan. Bukan hanya makanan
yang mempengaruhi kesehatan seseorang.
Orang Kristen hendaknya menjauhi gaya
berpakaian yang kurang mampu melindungi
tubuh atau sangat ketat yang berakibat kese-
hatan merosot.
5. Bercirikan anugerah dan keindah-
an yang alamiah. Orang Kristen memahami
amaran melawan “keangkuhan hidup” (1
Yoh. 2:16). Dengan membandingkan bunga
bakung, Kristus berkata, “Salomo dalam se-
gala kemegahannya pun tidak berpakaian
seindah salah satu dari bunga itu” (Mat.
6:29). Dengan demikianlah Ia menggambarkan
bahwa pandangan Surga atas keindahan di-
tandai oleh anugerah, kesederhanaan, kemur-
nian, dan keindahan yang alamiah. Pameran
yang bersifat duniawi, sebagaimana diperlihat-
kan dalam bentuk-bentuk yang fana, tidak
ada harganya di pemandangan Allah (1 Tim.
2:9).
Orang-orang Kristen menarik orang-
orang yang tidak percaya bukanlah dengan
rupa dan penampilan seperti yang diperli-
hatkan dunia melainkan dengan memper-
lihatkan sesuatu yang berbeda namun me-
narik dan menyegarkan. Petrus mengatakan
pasangan yang tidak seiman”tanpa perkataan
dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika me-
reka melihat, bagaimana murni dan salehnya
hidup istri mereka itu.” dibandingkan memuji
yang bersifat lahiriah, ia menasihatkan supa-
ya orang beriman mengembangkan “kita semua
batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan
yang tidak binasa yang berasal dari roh yang
le-mah-lembut dan tenteram, yang sangat
ber-harga di mata Allah”(1 Ptr. 3:1-4). Kitab
Suci mengajarkan bahwa:
a. Tabiat menunjukkan keindahan se-
seorang. Baik Petrus maupun Paulus mele-
takkan asas dasar untuk membimbing orang
Kristen, baik lelaki maupun perempuan, da-
lam bidang perhiasan: “Perhiasanmu janganlah
secara lahiriah... memakai perhiasan emas
atau dengan memakai pakaian yang in-
dah-indah” (1 Ptr. 3:3). “Demikian juga hen-
daknya perempuan. Hendaklah ia berdan-
dan dengan pantas, dengan sopan dan se-
derhana, rambutnya jangan berkepang-ke-
pang, jangan memakai emas atau mutiara
ataupun pakaian yang mahal-mahal, namun
hendaklah ia berdandan dengan perbuatan
baik, seperti yang layak bagi perempuan yang
beribadah” (1 Tim. 2:9, 10).
b. Penyelarasan kesederhanaan de-
ngan reformasi dan pembaruan kembali.
Apabila Yakub memanggil semua anggota
keluarganya untuk menahbiskan diri mereka
kepada Allah mereka meninggalkan semua
“dewa asing yang dipunyai mereka dan an-
ting-anting yang ada pada telinga mereka,”
dan Yakub memendamnya (Kej. 35:2, 4).31
sesudah kemurtadan bangsa Israel dengan
membuat lembu emas, Allah menyuruh me-
reka, “Tanggalkanlah perhiasanmu, maka
326 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan
kepadamu.” Dengan hati yang bertobat me-
reka “tidak memakai perhiasan-perhiasan la-
gi” (Kel. 33:5, 6). Dengan jelas Paulus me-
nyebutkan bahwa Kitab Suci mencatat ke-
murtadan ini “sebagai contoh dan dituliskan
untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup
pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba”
(1 Kor. 10:11).
c. Penatalayanan yang baik menuntut
hidup berkorban. Sementara sebagian be-
sar dunia ini dilanda kekurangan makanan,
materialisme dibentangkan di hadapan o-
rang-orang Kristen sebagai penggodaan, mu-
lai dari pakaian yang mewah, mobil dan per-
mata hingga kepada rumah yang mewah-me-
wah. Kesederhanaan gaya hidup dan penam-
pilan membuat orang Kristen membuat per-
bedaan yang sangat nyata terhadap ketamak-
an, materialisme dan pamer kehambaran ke-
kafiran, masyarakat abad keduapuluh, di ma-
na nilai dipusatkan pada perkara-perkara ma-
teri bukannya pada kita semua .
Dengan memperhatikan ajaran-ajaran
Kitab Suci dan berlandaskan pada asas-asas
yang telah dibentangkan di atas, kita percaya
bahwa orang-orang Kristen tidak berusaha
memuliakan diri melalui perhiasan-perhiasan.
Kita mengetahui dan memahami bahwa pe-
makaian cincin, anting-anting, kalung, ikat
pinggang dan hiasan dasi—dan segala bentuk
lain dari bahan permata yang pada hakikat-
nya berfungsi pamer—tidak perlu dan tidak
selaras dengan kesederhanaan yang dianjur-
kan Kitab Suci.32
Alkitab menyamakan kosmetik dengan
kekafiran dan kemurtadan (2 Raj. 9:30; Yer.
4:30). Sehubungan dengan kosmetik, kita
percaya bahwa orang Kristen seharusnya
mengusahakan agar yang alamiah dan de-
ngan penampilan yang wajar dan sehat. Jika
kita meninggikan Juruselamat dalam cara ki-
ta berbicara, bertindak dan berpakaian, maka
kita akan menjadi seperti maknit,. menarik
orang kepada-Nya.33
PRINSIP-PRINSIP STANDAR
ORANG KRISTEN
Di dalam segala pernyataan, gaya hidup
orang Kristen yaitu merupakan sambutan
atas keselamatan melalui Kristus. Kerinduan
orang Kristen ialah memuliakan Tuhan dan
hidup sebagaimana Yesus hidup. Sekalipun
ada orang beranggapan kehidupan Kristen itu
merupakan sejumlah jangan, kita seharusnya
menganggapnya sebagai sejumlah kegiatan
asas positif di dalam kerangka keselamatan.
Yesus menekankan bahwa Ia datang supaya
kita memperoleh hidup dan berkelimpahan di
dalamnya. Apakah prinsip-prinsip yang me-
nuntun kita supaya memperoleh hidup yang
penuh? Apabila Roh Kudus menempati hidup
seseorang, sesuatu perubahan yang pasti ter-
jadi yang menjadi bukti bagi orang yang ada di
sekitar orang ini (Yoh. 3:8). Roh tidak
hanya mengadakan sebuah perubahan awal
dalam hidup; efeknya berkelanjutan. Buah
Roh yaitu kasih (Gal. 5:22, 23). Alasan yang
paling kuat bagi keabsahan Kristiani ialah
kasih dan kemampuan mengasihi selaku
orang Kristen.
Hidup dengan Pikiran Kristus. “Hendak-
lah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh
pikiran dan perasaan yang ada juga da-
lam Kristus Yesus” (Flp. 2:5). Dalam segala
keadaan, yang menyenangkan maupun tidak,
kita harus berusaha memahami dan hidup
selaras dengan kemauan dan pikiran Kristus
(1 Kor. 2:16).
Ellen White menjelaskan keindahan hidup
akibat hubungan dengan Kristus seperti ini:
“Semua penurutan yang sejati berasal dari
dalam hati. Hatilah yang bekerja dengan
Tingkah Laku Orang Kristen 327
Kristus. Jika kita setuju, maka Ia akan me-
nyelaraskan diri-Nya sendiri dengan pikiran
dan tujuan kita, sehingga dengan demikian Ia
akan membaurkan hati dan pikiran kita se-
laras dengan kehendak-Nya, dan apabila kita
menuruti-Nya maka segala dorongan hati ki-
ta akan selaras dengan-Nya. Kemauan, yang
dimurnikan dan disucikan, akan merasakan
nikmatnya melakukan tugas untuk melaya-
ni-Nya. Apabila kita mengenal Allah seba-
gai sesuatu hal yang istimewa bagi kita untuk
mengenal-Nya, maka hidup kita akan terus
dalam penurutan. Oleh menghargai tabiat
Kristus, oleh perhubungan dengan Allah, ma-
ka dosa menjadi kebencian bagi kita.”34
Hidup untuk Memuji dan Memuliakan
Allah. Allah telah melakukan begitu banyak
hal untuk kita. Salah satu cara yang dapat kita
tempuh untuk menunjukkan rasa terima kasih
kita ialah dengan melalui pujian yang kita
berikan kepada-Nya.
Dalam kitab Mazmur aspek kehidupan ro-
hani ini ditekankan dengan kuat: “Demikianlah
aku memandang kepada-Mu di tempat ku-
dus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemu-
liaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik
dibandingkan hidup; bibirku akan memegahkan
Engkau seumur hidupku dan menaikkan ta-
nganku demi nama-Mu. Seperti dengan le-
mak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan
bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-
muji” (Mzm. 63:3-6).
Bagi orang Kristen, sikap memuji yang
demikian akan membuat masalah-masalah
hidup lainnya dalam perspektif yang wajar.
Dengan memandang pada Juruselamat ter-
salib itu, kita digerakkan untuk melakukan
hanya “menuruti segala perintah-Nya dan
berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (1
Yoh. 3:22; bandingkan Ef. 5:10). Maka o-
rang-orang Kristen “tidak lagi hidup untuk
dirinya sendiri, namun untuk Dia yang telah
mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2
Kor. 5:15). Setiap orang Kristen yang sejati
mendahulukan Tuhan dalam segala perbuat-
annya, dalam segala apa yang dipikirkannya,
dibicarakannya, dan dalam segala keinginan-
nya. Ia tidak mempunyai Allah lain di hadap-
an Penebusnya. (1 Kor. 10:31).
Hidup Menjadi Suatu Teladan. Paulus
berkata, “janganlah menimbulkan syak” ke-
pada siapa pun (1 Kor. 10:32). “Sebab itu aku
senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati
nurani yang murni di hadapan Allah dan ma-
nusia” (Kis. 24:16). Jika contoh yang kita be-
rikan membuat orang berdosa, maka kita
menjadi batu sandungan kepada orang-orang
yang untuknya Kristus telah mati. “Barang-
siapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam
Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah
hidup” (1 Yoh. 2:6).
Hidup untuk Melayani. Alasan utama
orang Kristen hidup demikian ialah untuk me-
nyelamatkan pria maupun wanita yang telah
hilang. Paulus berkata, “Sama seperti aku ju-
ga berusaha menyenangkan hati semua
orang dalam segala hal, bukan untuk kepen-
tingan diriku, namun untuk kepentingan orang
banyak, supaya mereka beroleh selamat” (1
Kor. 10:33; bandingkan Mat. 20:28).
PERSYARATAN DAN PEDOMAN
sebab dampak gaya hidup seseorang
berpengaruh atas pengalaman rohani dan ke-
saksiannya, sebagai sebuah organisasi gereja
kita telah membuat satu standar gaya hidup
tertentu sebagai persyaratan minimum untuk
menjadi anggota. Standar atau ukuran ini
mencakup upaya menjauhi tembakau, minum-
an beralkohol, obat-obatan yang mempenga-
ruhi pikiran, serta makanan haram dan bukti
pengalaman Kristen yang bertumbuh dalam
328 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
hal berpakaian, dan penggunaan waktu terlu-
ang. Standar minimal ini belumlah meliputi
seluruh yang dicita-citakan Allah bagi umat
percaya. Di dalamnya ada hanyalah
langkah pertama untuk pengembangan, pe-
ngalaman Kristiani yang bercahaya. Ukuran
yang demikian juga menyiapkan landasan
penting untuk menciptakan persatuan di da-
lam masyarakat umat percaya.
Perkembangan tingkah laku orang Kris-
ten—“menjadi serupa dengan Allah”—ber-
kaitan dengan persatuan seumur hidup de-
ngan Kristus. Hidup yang kudus tidak lain da-
ripada penyerahan kemauan dari hari ke hari
terhadap pengendalian Kristus dan kesela-
rasan hari demi hari atas pengajaran-penga-
jaran-Nya sebagaimana diungkapkan-Nya
kepada kita waktu belajar Alkitab dan ber-
doa. sebab kita matang pada tingkat yang
berbeda, maka pentinglah bagi kita menahan
diri agar jangan menghakimi saudara-sauda-
ra kita yang lemah (Rm. 14:1; 15:1).
Tujuan persatuan orang Kristen dengan
Juruselamat hanyalah satu: agar mereka me-
lakukan yang terbaik untuk memuliakan Ba-
pa yang di surga, yang telah menyediakan
rencana yang begitu kaya demi keselamatan
mereka. “Jika engkau makan atau jika eng-
kau minum atau jika engkau melakukan se-
suatu yang lain, lakukanlah semuanya itu un-
tuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31).
13. Dalam Perjanjian Lama istilah umum yang digunakan untuk anggur ialah yayin. Istilah ini menunjuk kepada air
anggur pada segala tingkatannya mulai dari yang belum beragi sampai yang sudah beragi, walaupun sering
digunakan bagi anggur yang sudah lama yang tentu saja mengandung alkohol. Kata yang umum digunakan untuk
anggur yang belum beragi ialah tirosh. Seringkali diterjemahkan dengan kata “anggur baru” yang masih segar
diambil dari anggur. Kedua istilah itu diterjemahkan menjadi oinos dalam Septuagin Gerika yang diterjemahkan
dari Perjanjian Lama (LXX). Oinos yaitu istilah umum yang digunakan untuk anggur di dalam Perjanjian Baru
dan menunjuk kepada anggur yang sudah beragi maupun yang belum beragi, bergantung kepada konteksnya.
(Untuk Perjanjian Lama baca tulisan Robert P. Teachout, ‘The Use of ‘Wine’ di dalam Perjanjian Lama’
(disertasi doktor 1979, dapat diperoleh dari University Microfilms International, Ann Arbpr, MI); Lael O.
Caesar, ‘The Meaning of Yayin”(tesis MA, tidak diterbitkan, Andrews University, Berrien Springs, MI, 1986;
William Patton, Bible Wines (Oklahoma City, OK: Sane Press, n.d.). hlm. 54-64.
Ungkapan “minuman keras” (shekar dalam bahasa Ibrani) berarti minuman yang manis, umumnya telah beragi
dan biasanya terbuat dari bahan selain anggur. Di dalamnya termasuk produk seperti bir (terbuat dari jelai, juwawut
atau gandum), dan dari buah kurma. Ungkapan itu tidak dimaksudkan kepada minuman keras yang disuling sebab
penyulingan belum dikenal bangsa Israel (Patton, hlm. 57, 58, 62).
Anggur beragi. Kitab Suci menghakimkan anggur alkohol sebab anggur ini menimbulkan kekerasan, kesengsaraan
dan kebinasaan (Am. 4:17; 23:29, 35). Anggur beragi itu membuat para pemimpin bangsa Israel menjadi penindas
(Yes. 56:10-12) dan mengacaukan pertimbangan para pemimpin bangsa Israel itu (Yes. 28:7) dan juga mengacau-
kan pikiran Raja Belsyasar (Dan. 5:1-30).
Anggur tidak beragi. Alkitab berbicara baik mengenai anggur yang tidak beragi atau sari buah dan menyatakannya
sebagai berkat yang besar. Bahan itu digunakan juga sebagai persembahan bagi Tuhan (Bil. 18:12, 13; Neh. 10:37-
39; 13:12, 13). Bahan yang demikian merupakan salah satu berkat Allah (Kej. 27:28, ‘anggur yang baru”; Ul.
7:13; 11:14; Ams. 3:10; Yes. 65:8; Yl 3:18), “yang menyukakan hati Allah dan kita semua ” (Hakim-hakim 9:13),
dan melambangkan berkat rohani (Yes. 55:1, 2; Ams. 9:2, 3). Minuman yang demikian merupakan minuman yang
menyehatkan (1 Tim. 5:23).
Perhatian yang ditujukan sama antara jasmani dengan rohani (Mat. 4:23; 1 Tes. 5:23; 1 Petr. 1:15, 16).
Pernyataan Markus bahwa Yesus mengatakan “semua makanan halal”, (Mrk. 4:29) bukanlah berarti bahwa Ia
menghapuskan perbedaan antara makanan yang halal dan yang tidak halal. Pembicaraan antara Yesus dan orang
Farisi dan Ahli Taurat tidak ada hubungannya dengan jenis makanan, melainkan berkaitan dengan tata cara
makan murid-murid itu. Pokok masalah yang sebenarnya ialah upacara pembasuhan tangan sebelum makan itu
perlu atau tidak (Mrk. 7:2-5). Alhasil, Yesus mengatakan apa yang menajiskan seseorang bukanlah makanan yang
dimakan sebab tangan belum dibasuh melainkan perkara-perkara yang jahat yang timbul dari dalam hati (Mrk.
7:20-23), sebab makanan “bukan masuk ke dalam hati namun ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban.” Dengan
demikian Yesus menyatakan bahwa semua makanan yang dimakan tanpa membasuh tangan yaitu “halal” (Mrk.
7:19).
Kata Yunani untuk makanan (bromata) yang digunakan di sini yaitu istilah umum atas makanan dari segala jenis
makanan yang dimakan kita semua ; itu bukan menunjuk kepada makanan daging saja.
Khayal yang diterima Petrus mengenai binatang, yang ditulis dalam Kisah 10, tidaklah mengajarkan bahwa
makanan yang haram telah boleh dimakan, justru sebaliknya yang dimaksudkan ialah orang yang bukan Yahudi
tidaklah haram, dan bahwa ia dapat bergaul dengan mereka tanpa dicemarkan. Petrus sendiri memahami makna
khayal ini dengan menjelaskan sebagai berikut, “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi bergaul
dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. namun Allah telah menunjukkan kepadaku,
bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir’ (Kis. 10:28).
Di dalam suratnya yang ditujukan kepada orang Roma dan Korintus (Rm. 14; 1 Kor. 8:4-13; 10:25-28) Paulus
menyampaikan amanat kepada orang-orang Kristen mengenai praktik yang umum dilakukan di dunia orang yang
bukan Yahudi untuk mempersembahkan makanan daging bagi para ilah. Masalah yang timbul di kalangan orang
Kristen yang mula-mula itu ialah apakah dengan memakan makanan daging itu dianggap merupakan tindakan
penyembahan kepada berhala. Orang yang kuat imannya tidak percaya akan berhala itu, dan mereka dapat
memakan apa yang dipersembahkan kepada berhala. Dan mereka yang tidak. memiliki iman yang kuat dan hanya
memakan sayur-sayuran saja, yang tidak dipersembahkan kepada berhala. Paulus mengatakan janganlah seorang
pun menghina orang yang memakan sayur-sayuran saja, atau menghakimkan orang yang “makan segala jenis
makanan”yang dapat dimakan (Rm. 14:2).
Paulus memberikan nasihat untuk menentang kemurtadan yang melarang orang percaya mengambil bagian dalam
dua hal yang diberikan Tuhan kepada kita semua pada waktu penciptaan—pernikahan dan makanan. Makanan yang
dimaksudkan di sini ialah makanan yang diberikan Tuhan untuk dimakan kita semua . Apa yang dikatakan Paulus di
sini janganlah diartikan bahwa makanan haram ‘dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang percaya dan yang
telah mengenal kebenaran” (1 Tim. 4:3).
Doktrin Mengenai Akhir Zaman
Pernikahan dilembagakan Ilahi di Eden dan dikukuhkan oleh Yesus
menjadi persatuan seumur hidup antara perempuan dengan laki-laki
dalam persekutuan kasih-sayang. Bagi orang Kristen, janji perni-
kahan itu yaitu kepada Allah sebagaimana berlaku bagi pasangan
itu sendiri, dan seharusnya dilakukan oleh pasangan yang seiman
saja. Cinta kasih yang timbal-balik, penghormatan, penghargaan
dan tanggung jawab yaitu hasil dari hubungan ini, yang me-
mantulkan kasih, yang menguduskan, mengakrabkan dan meru-
pakan hubungan yang permanen antara Kristus dan jemaat-Nya.
Sehubungan dengan soal perceraian, Yesus mengajarkan bahwa se-
seorang yang menceraikan pasangannya, kecuali sebab perzinahan,
lalu kawin dengan orang lain, berarti melakukan perzinahan. Wa-
laupun banyak hubungan keluarga yang tidak serasi, pasangan yang
mengikatkan diri dalam pernikahan, yang telah menyerahkan diri
sepenuhnya satu dengan yang lain di dalam Kristus dapat meng-
usahakan kesatuan cinta kasih melalui bimbingan Roh dan peme-
liharaan jemaat. Allah memberkati keluarga dan bermaksud agar
setiap anggota keluarga saling membantu satu sama lain hingga
mencapai kematangan yang sempurna. Orang tua hendaknya mem-
besarkan anak-anak mereka dalam kasih dan penurutan kepada
Allah. Melalui contoh dan perkataan, mereka mengajarkan kepada
anak-anaknya bahwa Kristus penuh dengan disiplin kasih, penuh
kasih sayang dan perhatian, yang menginginkan mereka supaya
menjadi anggota tubuh-Nya, keluarga Allah. Keluarga yang semakin
erat hubungannya merupakan salah satu tanda pekabaran Injil yang
terakhir.—Fundamental Beliefs,––23.
335
Rumah tangga yaitu tempat yang mula-
mula dibentuk untuk memulihkan kem-
bali citra Allah pada pria dan wanita. Di da-
lam keluarga, ayah, ibu dan anak-anak dapat
menyatakan diri mereka sepenuhnya, saling
mengisi keperluan sesama atas rasa memiliki,
cinta dan keakraban. Di sinilah jati diri diba-
ngun dan perasaan yang berharga sebagai
satu pribadi dikembangkan. Rumah juga tem-
pat di mana, dengan anugerah Allah, prinsip-
prinsip Kekristenan dipraktikkan, dan nilai-ni-
lai yang terkandung di dalamnya diteruskan
dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Keluarga dapat menjadi tempat kebaha-
giaan yang besar. namun juga dapat menjadi
tempat yang amat menyakitkan. Hidup kelu-
arga yang harmonis menunjukkan asas-asas
hidup Kekristenan sejati, menunjukkan tabiat
Allah. Sayangnya, pernyataan tabiat seperti
ini sekarang jarang di rumah tangga modern.
Sebaliknya, banyak keluarga yang memperli-
hatkan pikiran dan maksud-maksud hati ma-
nusia yang hanya mementingkan diri sendi-
ri—pertengkaran, pemberontakan, persaing-
an, murka, menunjukkan perbuatan yang ti-
dak senonoh, bahkan kekejaman. Sesungguh-
nya tabiat seperti ini bukanlah merupakan ba-
gian dari rencana Tuhan yang semula. Yesus
berkata, “Sejak semula tidaklah demikian”
(Mat. 19:8).
DARI PERMULAAN
Sabat dan pernikahan merupakan dua
pemberian Tuhan yang semula bagi umat
kita semua . Kedua-duanya dimaksudkan untuk
mendatangkan kegembiraan dan kesenangan
serta rasa memiliki tanpa memandang waktu,
tempat dan kebudayaan. Pembentukan ke-
dua lembaga ini merupakan puncak penciptaan
Allah atas bumi ini. Lembaga-lembaga itu
merupakan pemberian-Nya yang paling
akhir, pemberian yang luar biasa baiknya
diberikan kepada kita semua pada waktu Pen-
ciptaan. Dengan mengadakan Sabat itu, Al-
lah memberikan kepada kita semua waktu un-
tuk beristirahat dan pembaruan, waktu berse-
kutu dengan-Nya. Dengan membentuk kelu-
arga leluhur yang pertama itu, Ia menegakkan
dasar kesatuan sosial bagi umat kita semua ,
BAB 23
PERNIKAHAN DAN KELUARGA
336 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
memberikan kepada mereka sebuah rasa
memiliki dan menyediakan untuk mereka
suatu kesempatan untuk bertumbuh dengan
baik dalam pribadi-pribadi untuk melayani
Allah dan sesama.
Laki-laki dan Perempuan Menurut Citra
Allah. Kejadian 1:26, 27 menggambarkan
penciptaan Tuhan atas kita semua yang meng-
huni bumi: “Baiklah Kita menjadikan kita semua
menurut gambar dan rupa Kita.... Maka Al-
lah menciptakan kita semua itu menurut gam-
bar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-
Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-
Nya mereka.” Istilah kita semua yang diguna-
kan di sini (baik di dalam bahasa Ibrani mau-
pun bahasa Inggris), menurut pengertian
umum, lebih kurang 500 kali di dalam Perjan-
jian Lama. Istilah ini mencakup pengertian
laki-laki dan perempuan. Ayat ini men-
jelaskan dengan nyata bahwa itu bukanlah
kasus di mana laki-laki yang dijadikan menu-
rut gambar Allah sedang perempuan me-
nurut gambar kita semua .1 Justru sebaliknya,
keduanya dijadikan menurut gambar Allah.
Sama seperti Bapa, Anak dan Roh Kudus
yaitu Tuhan, laki-laki dan perempuan sama-
sama “kita semua .” Seperti halnya, walaupun
Mereka menjadi satu, namun fungsi mereka
tidaklah sama. Mereka sama dalam wujud,
sama-sama berharga, namun tidak dalam pri-
badi yang serupa betul (bandingkan Yoh.
10:30; 1 Kor. 11:3). Jasmani mereka saling
melengkapi, fungsinya pun bekerja sama.
Kedua jenis itu baik adanya (Kej. 1:31),
begitu pula dalam peran mereka yang berbe-
da. Keluarga dan rumah tangga dibangun
atas kenyataan jenis kelamin yang berbeda.
Sebenarnya Tuhan dapat mengembang biak-
kan hidup di atas dunia ini tanpa menciptakan
laki-laki dan perempuan sebagaimana ditunjuk-
kan dalam beberapa jenis binatang yang ber-
kembangbiak bukan dengan cara seks. Akan
namun Tuhan menjadikan dua individu, ada
kesamaan secara umum dan juga dalam ka-
rakter, namun masing-masing ada sesuatu
yang kurang sehingga dapat saling meleng-
kapi.2 Sebuah dunia yang dibentuk khusus
untuk anggota satu jenis kelamin tertentu saja
tidaklah lengkap. Kelengkapan yang sesung-
guhnya dapat diperoleh hanyalah dalam
masyarakat yang memiliki jenis laki-laki dan
perempuan. Tentang kesamaan, janganlah
dipermasalahkan di sini, sebab kedua-dua-
nya amat penting.
Pada hari pertama dalam hidup Adam,
anak sulung yang lalu menjadi kepala
umat kita semua ,3 merasakan keunikannya—
tidak ada yang mirip dengan dia. “namun bagi-
nya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang
sepadan dengan dia” (Kej. 2:20). Adam sa-
ngat peka atas kekurangannya ini, sehingga
Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau kita semua itu
seorang diri saja. Aku akan menjadikan pe-
nolong baginya, yang sepadan dengan dia”
(Kej. 2:18).
Kata Ibrani neged, yang diterjemahkan
“sepadan” di sini, yaitu kata benda yang
berhubungan dengan preposisi yang mengan-
dung arti “sebelum, di depan, berhadapan,
berhubungan dengan” seseorang atau sesua-
tu. Dalam kasus ini orang yang berdiri di de-
pan Adam yaitu pelengkap baginya, dihu-
bungkan dengan dia sebagai pasangan bagi-
nya. Oleh sebab itu, Allah “membuat manu-
sia itu tidur nyenyak,” dan lalu “meng-
ambil salah satu rusuk dari padanya” (Kej.
2:21), membentuknya menjadi pasangan ba-
ginya.4
Waktu terbangun, segera Adam mengeta-
hui hubungan yang akrab dan begitu dekat
sehingga tindakan yang spesifik ini mungkin
terjadi sebagai makhluk yang diciptakan. Itu-
lah sebabnya ia berkata, “Inilah dia, tulang da-
ri tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan
dinamai perempuan, sebab ia diambil dari
Pernikahan dan Keluarga 337
laki-laki” (Kej. 2:23; bandingkan 1 Kor. 11:8).
Pernikahan. Dari perbedaan antara laki-laki
dan perempuan itu Tuhan membuat aturan,
kesatuan. Pada hari Jumat pertama Ia meng-
adakan upacara pernikahan yang pertama,
menyatukan keduanya, sebagai lambang ci-
tra-Nya, untuk membuat mereka menjadi
satu. Dan pernikahan telah menjadi fondasi
keluarga, fondasi masyarakat sendiri, sejak
itu.
Kitab Suci melukiskan pernikahan sebagai
suatu tindakan yang bersifat menentukan, ba-
ik memisahkan dan menyatukan: sebab se-
orang akan “meninggalkan ayahnya dan ibu-
nya dan bersatu dengan istrinya, sehingga ke-
duanya menjadi satu daging” (Kej. 2:24).
1. Meninggalkan. Yang amat penting
dalam hubungan pernikahan itu ialah mening-
galkan hubungan pertama yang dahulu. Hu-
bungan pernikahan menggantikan hubungan
dengan orang tua dan anak. Ini berarti “me-
ninggalkan” hubungan salah seorang dari ke-
luarga orang tuanya dan lalu diizinkan
“bertaut” dengan seorang yang lain. Tanpa
adanya proses ini, maka fondasi yang kukuh
dari perkawinan itu tidak akan ada.
2. Bertaut. Istilah Ibrani menerjemahkan
“bertaut” itu dari pengertian kata yang berarti
“berteguh, mengencangkan, menggabungkan,
berpegang pada.” Sebagai kata benda itu da-
pat digunakan untuk pandai besi dengan
penempa logam (Yes. 41:7). Erat dan kuat-
nya ikatan ini menggambarkan sifat ikatan
perkawinan itu. Segala usaha yang hendak
merusak persatuan ini akan melukai ikatan
individu. Eratnya ikatan kedua orang ini juga
ditekankan oleh kenyataan bahwa kata kerja
yang sama digunakan untuk menggambarkan
ikatan antara Allah dengan umat-Nya: “Eng-
kau harus takut akan Tuhan, Allahmu, kepa-
da-Nya haruslah engkau beribadah dan ber-
paut, dan demi nama-Nya haruslah engkau
bersumpah” (Ul. 10:20).
3. Perjanjian. Di dalam Kitab Suci janji
ini, yang diberikan oleh pasangan yang meng-
ikatkan diri dalam pernikahan dikatakan se-
bagai sebuah “perjanjian,” istilah yang digu-
nakan bagi perjanjian yang kudus dan sangat
mengikat yang dikenal dalam Firman Allah
(Mal. 2:14; Ams. 2:16,17). Hubungan antara
suami dan istri haruslah menurut pola perjan-
jian Allah yang kekal dengan umat-Nya, je-
maat (Ef. 5:21-33). Janji antara mereka ber-
dua haruslah berlangsung di dalam kesetiaan
dan ketahanan yang menandai perjanjian
Allah (Mzm. 89:35; Rat. 3:23).
Allah dan keluarga pasangan itu, sahabat
dan masyarakat menyaksikan perjanjian,
yang mereka adakan satu dengan yang lain.
Perjanjian ini disahkan di surga. “sebab itu,
apa yang telah dipersatukan Allah, tidak bo-
leh diceraikan kita semua ” (Mat. 19:6). Pa-
sangan orang Kristen memahami bahwa da-
lam pernikahan, mereka telah berjanji menja-
di setia satu dengan yang lain selama hidup
mereka berdua.5
4. Menjadi sedaging. Meninggalkan
dan perjanjian untuk bertaut mengakibatkan
persatuan yaitu sebuah misteri. Inilah yang
dimaksudkan dengan kesatuan dalam penger-
tian yang sepenuhnya—pasangan yang me-
nikah itu berjalan bersama-sama, berdiri ber-
sama-sama dan membagikan keakraban
yang mendalam secara bersama-sama. Per-
mulaan kesatuan ini ditunjukkan pada persa-
tuan jasmani dalam perkawinan itu. Akan
namun selain itu, ditujukan kepada kita ikatan
pikiran dan emosi yang akrab yang meliputi
segi fisik dari hubungan ini.
a. Berjalan bersama-sama. Mengenai
338 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
hubungan-Nya dengan umat-Nya, Allah ber-
tanya, “Berjalankah dua orang bersama-sa-
ma, jika mereka belum berjanji?”(Am. 3:3).
Pertanyaan yang serupa juga dapat diajukan
kepada orang yang akan menjadi sedaging.
Tuhan mengatakan kepada orang-orang Is-
rael supaya jangan kawin campur dengan
bangsa-bangsa di sekelilingnya, “sebab me-
reka akan membuat anakmu laki-laki me-
nyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka
beribadah kepada allah lain” (Ul. 7:4; ban-
dingkan Yos. 23:11-13). Apabila orang Israel
meremehkan perintah ini, maka mereka
mengalami akibat yang mengerikan (Hak.
14-16; 1 Raj. 11:1-10; Ezr. 9:10).
Paulus mengulangi prinsip ini dalam istilah
yang lebih luas: “Janganlah kamu merupa-
kan pasangan yang tidak seimbang dengan
orang-orang yang tak percaya. Sebab persa-
maan apakah ada antara kebenaran dan
kedurhakaan? atau bagaimanakah terang da-
pat bersatu dengan gelap? Persamaan apa-
kah yang ada antara Kristus dan Belial?
Apakah bagian bersama orang-orang percaya
dengan orang-orang tak percaya? Apakah
hubungan bait Allah dengan berhala? sebab
kita yaitu bait dari Allah yang hidup menurut
firman Allah” (2 Kor. 6:14-16; bandingkan
ayat 17, 18).
Dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa
hendaknya orang yang beriman menikah de-
ngan orang lain yang seiman. Bahkan prinsip
ini diperluasnya. Tuntutan kesatuan yang se-
jati
.jpeg)
