doktrin dasar alkitab 2

doktrin dasar alkitab 2


 


n yang masih berlaku

sekarang ini di Timur Dekat dan Timur. Ada

nama yang dianggap menunjukkan sifat-sifat

pemiliknya, bagaimana sifatnya yang sebenar-

32Keallahan

nya dan berikut identitasnya. Pentingnya nama-

nama Allah, mengungkapkan sifat-Nya, tabi-

at-Nya, kadar-Nya, dinyatakan dalam hukum-

Nya “Jangan menyebut nama Tuhan, Allah-

mu, dengan sembarangan” (Kel. 20:7). Daud

menyanyi: “Aku hendak bersyukur kepada Tu-

han sebab  keadilan-Nya” (Mzm. 7:18). “Na-

ma-Nya kudus dan dahsyat” (Mzm. 111:9).

“Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab

hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur”(Mzm.

148:13).

Nama-nama Ibrani El dan Elohim (“God”)

menunjukkan kuasa Tuhan Allah. Digambar-

kannya Tuhan sebagai Oknum yang kokoh dan

perkasa, Tuhan pencipta semesta (Kej. 1:1;

Kel. 20:2; Dan. 9:4). Elyon (“Yang Mahating-

gi”) dan El Elyon (“Allah Yang Mahatinggi”)

berfokus pada peninggian kedudukan-Nya

(Kej. 14:18-20; Yes. 14:14). Adonai (Tuhan)

menggambarkan Allah sebagai Penjaga dan

Pembela (Yes. 6:1; Mzm. 35:23). Nama-nama

ini menekankan sifat Allah yang agung dan

amat mulia.

Nama-nama lain yang dimiliki Allah me-

nunjukkan kesediaan-Nya menjalin hubung-

an dengan umat kita semua . Shaddai (“Yang

Mahatinggi”) dan El Shaddai (“Allah Yang

Mahatinggi”) menggambarkan Allah Yang

Mahatinggi yang menjadi sumber berkat dan

penghiburan (Kel. 6:3; Mzm. 91:1). Nama

Yahweh diterjemahkan Jehovah atau Tuhan,

menekankan janji setia Allah dan kemurah-

an-Nya (Kel. 15:2, 3; Hos. 12:5, 6) Di da-

lam Kel. 3:14, Yahweh menggambarkan diri-

Nya sebagai “AKU yaitu  AKU,” atau

“AKULAH AKU telah mengutus aku kepa-

damu,” menunjukkan hubungan-Nya yang

tidak dapat diubah terhadap umat-Nya. Da-

lam beberapa peristiwa malahan Tuhan Al-

lah menyatakan diri-Nya dengan cara yang

sangat akrab dengan sebutan “Bapa” (Ul. 32:

6; Yes. 63:16; Yer. 31:9; Mal. 2:10), menye-

but orang Israel dengan “Israel ialah anak

Ku yang sulung” (Kel. 4:22; bandingkan Ul.

32:19).

Kecuali untuk Bapa, nama-nama yang

ada  dalam Perjanjian Baru, yang ditu-

jukan kepada Allah mengandung kadar mak-

na yang setara dengan yang ada  di da-

lam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian

Baru Yesus memakai  kata Bapa untuk

meng-akrabkan kita secara pribadi dengan

Allah (Mat. .6:9; Mrk. 14:36; bandingkan

Rm. 8: 15; Gal. 4:6).

Kegiatan-kegiatan Allah. Para penulis

Alkitab memakai  lebih banyak waktu

untuk melukiskan kegiatan-kegiatan Allah

dibandingkan  ciptaan-Nya. Ia diperkenalkan se-

bagai Pencipta (Kej. .1:1; Mzm. 24:1, 2), Pe-

nopang dunia (Ibr. 1:3), dan Penebus serta

Juruselamat

.

(UI. 5:6; 2 Kor. 5:19), mengang-

kat beban demi kepentingan nasib kita semua .

Ia mengadakan rencana-rencana (Yes. 46:

11), ramalan (Yes. 46:10), dan janji-janji (Ul.

15:6; 2 Ptr. 3:9). Ia mengampuni dosa-dosa

(Kel. 34:7), dan secara konsekwen meneri-

ma ibadah, kita (Why. 14:6,7).

Akhirnya Kitab Suci menyatakan Allah

sebagai Pemerintah “Raja segala zaman, Al-

lah yang kekal, yang tak nampak, yang Esa”

(1 Tim. 1:17). Tindakan-tindakan yang dila-

kukan-Nya menegaskan bahwa Ia Allah yang

berpribadi.

Ciri-ciri Allah. Para penulis Alkitab

memberikan informasi tambahan mengenai

hakikat Allah melalui kesaksian-kesaksian

tentang ciri-ciri Keilahian-Nya.

Ciri-ciri Allah yang tidak dapat diung-

kapkan berisi aspek-aspek sifat Keilahian-

Nya tidak diberikan kepada makhluk yang

diciptakan. Allah ada dengan sendirinya, ka-

rena Ia memiliki “hidup dalam diri-Nya sen-

diri” (Yoh. 5:26). Ia independen dalam ke-

hendak (Ef. 1:5),dan dalam kuasa (Mzm.

33Keallahan

115:3). Ia Mahatahu, mengetahui segala se-

suatu (Ayb. 37:16; Mzm. 139:1-18; 147:5;

1 Yoh. 3:20), sebab  sebagai Alfa dan Ome-

ga (Why. 1:8), Ia mengetahui akhir dari per-

mulaan. (Yes. 46:9-11).

Allah Mahahadir (Mzm. 139:7-12; Ibr. 4:

13), melebihi semua ruang. Bahkan Ia hadir

dalam setiap bagian ruang, Ia abadi (Mzm.

90:2; Why. 1:8), melebihi batas waktu, na-

mun demikian hadir sepenuhnya dalam seti-

ap saat.

Allah penuh kuasa,  Mahakuasa. Oleh ka-

rena itu, tidak ada yang tidak mungkin bagi-

Nya untuk menjamin bahwa Ia memenuhi

apa saja yang dimaksudkan-Nya. (Dan. 4:17,

25, 35; Mat. 19:26; Why. 19:6). Ia kekal—

atau tidak dapat diubah—sebab  sesungguh-

nya Ia sempurna. Ia berkata, “Bahwasanya

Aku, Tuhan, tidak berubah” (Mal. 3:6; baca

Mzm. 33:11; Yak. 1:17). Oleh sebab  itu, ci-

ri-ciri ini menyatakan bahwa Allah itu ke-

kal selama-lamanya.

Sifat-sifat Allah yang dapat disalurkan

mengalir dari cinta kasih-Nya terhadap ma-

nusia. Dicakupnya kasih (Rm. 5:8), kasih ka-

runia (Rm. 3:24), kemurahan (Mzm. 145:9),

sabar (2 Ptr 3:15), suci (Mzm. 99:9), kebe-

naran (Ezr. 9:15; Yoh. 17:25), keadilan

(Why. 22:12), dan hal yang benar (1 Yoh.

5:20). Karunia-karunia ini datang hanya ber-

sama dengan Pemberi itu sendiri.

KEDAULATAN ALLAH

Jelas sekali Kitab Suci mengajarkan ke-

daulatan Allah. “Ia berbuat menurut kehen-

dak-Nya.... Dan tidak ada seorang pun yang

dapat menolak tangan-Nya” (Dan. 4:35).

“Sebab Engkau telah menciptakan segala

sesuatu; dan oleh sebab  kehendak-Mu se-

muanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11).

“Tuhan melakukan apa yang dikehendaki-

Nya, di langit dan di bumi” (Mzm. 135: 6).

Dengan demikianlah Salomo berkata, “Hati

raja seperti batang air di dalam tangan Tu-

han, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini” (Ams.

21:1). Paulus yang waspada atas kedaulatan

Allah, menulis sebagai berikut, “Aku akan

kembali kepada kamu, jika Allah menghen-

dakinya.” (Kis. 18:21; baca Rm. 15:32). Se-

mentara Yakobus memohon, “Sebenarnya

kamu harus berkata ‘Jika Tuhan menghen-

dakinya” (Yak. 4:15).

Penentuan nasib lebih dahulu dan Ke-

bebasan kita semua . Alkitab juga menyata-

kan pengendalian yang dilakukan Allah se-

penuh-nya atas dunia ini. “Mereka juga di-

tentukan-Nya dari semula untuk menjadi se-

rupa dengan gambaran Anak-Nya itu (Rm.

8: 29, 30), ditentukan-Nya menjadi anak-

anak-Nya, dan menjadi ahli waris (Ef. 1:4,

5, 11). Betapa suatu pernyataan yang tidak

langsung mengenai kebebasan kita semua  itu.

Kata kerja menentukan dari sejak semu-

la berarti “menetapkan sebelumnya.” Banyak

orang beranggapan ayat-ayat ini mengajar-

kan bahwa Allah secara acak memilih orang

untuk selamat sedang  yang lain membiar-

kannya binasa, tanpa menghargai pilihan me-

reka sendiri. Akan namun  apabila konteks ini

dipelajari dengan saksama ternyata Paulus

tidaklah membicarakan mengenai Allah yang

secara sewenang-wenang berubah dan me-

nyingkirkan seseorang.

Titik tolak nas ini ialah sifat yang inclu-

sive. Dengan jelas Alkitab menyatakan bah-

wa Allah “menghendaki supaya semua orang

diselamatkan dan memperoleh pengetahuan

akan kebenaran” (1 Tim. 2:4). Ia “menghen-

daki supaya jangan ada yang binasa, melain-

kan supaya semua orang berbalik dan berto-

bat” (2 Ptr. 3:9). Tidak ada bukti yang Allah

telah tetapkan bahwa sebagian orang harus

binasa; pernyataan yang demikian menging-

kari kematian Kristus di Golgota, sebab  Ye-

34Keallahan

sus mati di sana bagi semua orang. Kata se-

tiap orang dalam nas, “sebab  begitu besar

kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah

mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, su-

paya setiap orang yang percaya kepada-Nya

tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang

kekal” (Yoh. 3:16), mengartikan bahwa sia-

pa pun dapat diselamatkan.

“Bahwa kita semua , yang mempunyai ke-

bebasan memilih yaitu  faktor yang menen-

tukan nasibnya sendiri, merupakan bukti nya-

ta bahwa Allah senantiasa menghadirkan ha-

sil-hasil penurutan dan hasil-hasil pendurha-

kaan, serta  mendorong orang berdosa supa-

ya memilih penurutan dan kehidupan (Ul. 30:

19; Yos. 24:15; Yes. 1:16, 20; Why. 22: 17);

dan dari kenyataan bahwa bagi orang beri-

man sangat mungkin, yang pernah menjadi

penerima kasih karunia, jatuh dan binasa (1

Kor. 9:27; Gal. 5:4; Ibr. 6:4-6; 10:29). “Al-

lah mungkin saja mengetahui lebih dahulu

setiap pilihan yang akan dibuat seseorang,

akan namun  pengetahuan-Nya yang lebih da-

hulu ini bukanlah menentukan pilihan yang

akan diambilnya.... Penentuan lebih dahulu

yang ada  dalam Alkitab tercapai dalam

tujuan efektif yang dirancang Allah yakni,

bahwa semua orang yang memilih percaya

kepada Kristus akan diselamatkan (Yoh.

1:12; Ef. 1:4-10).

Lalu apakah yang dimaksud Kitab Suci

tatkala mengatakan bahwa Allah mengasihi

Yakub dan membenci Esau (Rm. 9:13) yang

juga mengatakan bahwa Tuhan Allah menge-

raskan hati Firaun (ayat 17, 18, bandingkan

dengan ayat 15, 16; Kel. 9:16; 4:21)? Kon-

teks ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ke-

prihatinan Paulus yaitu  misi, bukan kese-

lamatan. Penebusan tersedia bagi siapa pun

—namun demikian Tuhan memilih orang-

orang tertentu untuk melaksanakan tugas

khusus. Keselamatan yang sama diberikan

juga kepada Yakub dan Esau, akan namun 

Tuhan memilih Yakub, bukan Esau, menjadi

jalur yang digunakan Allah untuk menyam-

paikan pekabaran keselamatan kepada du-

nia. Allah menunjukkan kedaulatan dalam

strategi misi-Nya.

Apabila Kitab Suci menyebutkan bahwa

Allah mengeraskan hati Firaun itu hanyalah

sekadar pengakuan pada-Nya dalam melaku-

kan apa yang diperkenankan-Nya, bukanlah

berarti Ia menakdirkannya begitu. Sambut-

an Firaun yang negatif terhadap panggilan

Allah yang sebenarnya menggambarkan bah-

wa Tuhan menghormati kebebasan Firaun

dalam menentukan pilihannya.

Mengetahui lebih dahulu dan Kebe-

basan kita semua . Ada orang yang percaya

bahwa Tuhan Allah berhubungan dengan pri-

badi-pribadi tanpa mengetahui pilihan mere-

ka sampai mereka mengadakannya sendiri;

bahwa Tuhan mengetahui beberapa peristi-

wa mendatang yang tertentu, misalnya me-

ngenai Kedatangan Kristus kedua kali, mille-

nium, dan pemulihan kembali bumi ini, na-

mun tidak tahu sama sekali siapa yang akan

diselamatkan. Mereka merasa bahwa hu-

bungan dinamis Allah dengan umat manu-

sia ada dalam bahaya jika Ia mengetahui se-

gala sesuatu yang akan terjadi dari masa ke-

kekalan kepada kekekalan. Ada pula seba-

gian yang mengatakan bahwa Ia akan bosan

bila Ia mengetahui akhir dari permulaan.

Akan namun  pengetahuan Allah mengenai

apa yang akan dilakukan individu-individu

tidak menyatu dengan apa yang sesungguh-

nya menjadi pilihan untuk mereka lakukan,

sama halnya pengetahuan seorang ahli seja-

rah tentang apa yang pernah dilakukan orang

pada masa lalu tidak turut menyatu dengan

tindakan-tindakan mereka. Sama seperti po-

tret merekam sebuah pemandangan atau pe-

ristiwa namun  tidak mengubahnya, pengeta-

huan yang lebih dahulu (foreknowledge) me-

35Keallahan

natap ke depan tanpa mengubahnya. Menge-

tahui lebih dahulu, sifat yang dimiliki Ke-

allahan itu tidak pernah melanggar kebe-

basan kita semua .

DINAMIKA DALAM KEALLAHAN

Apakah hanya satu Allah saja? Bagaima-

na dengan Kristus dan Roh Kudus?

Keesaan Tuhan. Bertentangan dengan

keyakinan bangsa-bangsa yang hidup di se-

keliling bangsa Israel, bangsa-bangsa lain

itu, bangsa Israel percaya bahwa Tuhan itu

Esa (Ul. 14:35; 6:4; Yes. 45:5; Za. 14:9). Per-

jan-jian Baru menekankan yang serupa juga

mengenai keesaan Allah (Mrk. 12:29-32;

Yoh. 17:3; 1 Kor. 8:4-6; Ef. 4:4-6; 1 Tim.

2:5). Pandangan yang monoteistik ini tidak

bertentangan dengan konsep Kristen me-

ngenai Trinitas—Bapa, Anak dan Roh Ku-

dus; malahan mengukuhkan bahwa tidak ada

kuil pelbagai dewa.

Kemajemukan dalam Keallahan. Wa-

laupun Perjanjian Lama tidak mengajarkan

secara tegas bahwa Allah tritunggal, dising-

gungnya juga mengenai kemajemukan da-

lam Keallahan. Berulang-ulang Allah meng-

gunakan kata ganti jamak, misalnya: “Baik-

lah Kita menjadikan kita semua  menurut

gam-

bar dan rupa Kita” (Kej. 1:26); “Sesungguh-

nya kita semua  itu telah menjadi seperti salah

satu dari Kita”(Kej. .3:22); “Baiklah Kita

turun” (Kej. 11:7). Berulang-ulang malaikat

Tuhan diidentifikasi sebagai Allah. Ketika

menampakkan diri kepada Musa, Malaikat

Tuhan berkata, “Akulah Allah ayahmu, Al-

lah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub”

(Kel. 3:6).

Pelbagai petunjuk yang jelas membeda-

kan Roh Allah dari Allah. Di dalam kisah

Penciptaan “Roh Allah melayang-layang di

atas permukaan air” (Kej. 1:2). Sebagian nas

menunjuk bukan saja kepada Roh namun  juga

kepada pribadi ketiga dalam karya penyela-

matan yang berasal dari Allah: "Dan seka-

rang, Tuhan Allah (Allah Bapa) mengutus

Aku (Anak Allah) dengan Roh-Nya (Roh

Kudus)" (Yes. 48:16); "Aku (Bapa) telah me-

naruh Roh-Ku ke atasnya (Mesias), supaya

ia menyatakan hukum kepada bangsa-bang-

sa" (Yes. 42:1).

Hubungan dalam Keallahan. Kedatangan

Kristus pertama ke dunia ini memberikan be-

gitu banyak pandangan jelas tentang ketri-

tunggalan Allah. Injil Yohanes menyatakan

bahwa Keallahan terdiri dari Allah Bapa (ba-

ca bab 3 artikel  ini), Allah Anak (baca bab 4),

dan Allah Roh Kudus (bab 5), sebuah kesa-

tuan dari ketiga oknum yang abadi yang me-

miliki hubungan unik dan misterius.

1. Sebuah Hubungan Penuh Kasih. Ke-

tika Kristus berseru, “Allahku, Allahku, me-

ngapa Engkau meninggalkan. Aku?” (Mrk.

15:34) Ia merasakan betapa derita ketera-

singan dari Allah Bapa akibat dosa kita semua ,

sangat menekan perasaan-Nya. Dosa telah

memutuskan hubungan kita semua  dengan Al-

lah (Kej. 3:6-10; Yes. 59:2). Pada detik-de-

tik terakhir, Yesus, yang tidak mengenal dosa

itu, dijadikan dosa bagi kita. Dalam memi-

kul dosa kita, mengambil tempat kita, Ia

merasakan perpisahan dari Allah yang se-

sungguhnya menjadi bagian kita—dan ke-

matianlah akibatnya.

Orang-orang berdosa tidak akan pernah

dapat memahami apa anti kematian Kristus

terhadap Keallahan. Dari sejak zaman keke-

kalan Ia telah bersama-sama dengan Allah

Bapa dan Allah Roh. Mereka hidup abadi

dan saling mengasihi. Bekerja sama selalu

memperlihatkan kesempurnaan, kasih yang

mutlak ada  dalam Keallahan. “Allah

36Keallahan

yaitu  kasih” (1 Yoh. 4:8) berarti bahwa ma-

sing-masing hidup bagi orang lain sehingga

mereka mengalami kesempurnaan kebaha-

giaan yang lengkap.

Mengenai kasih ini diterangkan panjang

lebar dalam 1 Korintus 13. Sebagian orang

mungkin ingin mengetahui kadar panjang sa-

bar dan penderitaan yang ada  dalam Ke-

allahan, yang memiliki hubungan kasih yang

sempurna. Yang pertama-tama diperlukan

ialah kesabaran pada waktu menghadapi ma-

laikat pemberontak itu, dan lalu  manu-

sia yang mendurhaka.

Tidak ada jarak antara pribadi-pribadi Al-

lah tritunggal itu. Tritunggal itu Ilahi, na-

mun kuasa Ilahi dan kadarnya saling berba-

gi. Kalau dalam organisasi kita semua  otoritas

terakhir ada  pada satu orang—misalnya

pada presiden, raja, atau perdana menteri.

Di dalam Keallahan, otoritas terakhir terda-

pat pada ketiganya.

Keallahan itu dalam wujud pribadi bu-

kan satu, sedang  dalam tujuan, pikiran

dan tabiat Allah tetap satu. Keesaan ini ti-

dak melenyapkan ciri-ciri khas Bapa, Anak

dan Roh Kudus. Adanya pribadi-pribadi

yang ter-pisah ini dalam Keilahian tidak

menghancurkan pengharapan yang monote-

istik yang ada  dalam Kitab Suci, bahwa

Bapa, Anak dan Roh Kudus satu adanya, Allah

yang Esa.

2. Hubungan pekerjaan. Di dalam Ke-

allahan ada  fungsi penghematan. Allah

tidak perlu mengulangi pekerjaan yang ti-

dak perlu. Tata tertib yaitu  hukum perta-

ma sur-ga, dan Tuhan Allah bekerja dalam

cara-cara yang tertib. Keteraturan ini dike-

luarkan dan memelihara persatuan yang ter-

dapat dalam Keallahan. Bapa bertindak se-

bagai sumber,

Anak sebagai Mediator (pengantara), dan

Roh sebagai pewujud atau pelaksana.

Indahnya penjelmaan menunjukkan hu-

bungan kerja ketiga oknum Keallahan itu.

Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Kristus

menyerahkan Diri-Nya sendiri, dan Roh me-

ngaruniakan kelahiran Yesus (Yoh. 3:16;

Mat. 1:18, 20). Kesaksian malaikat kepada

Maria jelas menunjukkan kegiatan ketiga-

nya dalam rahasia Allah yang menjadi manu-

sia itu. “Roh Kudus akan turun atasmu dan

kuasa Allah Yang Mahatinggi akan mena-

ungi engkau; sebab itu anak yang akan kau

lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Al-

lah” (Luk. 1:35).

Setiap anggota Keallahan itu, hadir pada

saat Kristus dibaptiskan: Bapa memberikan

dorongan yang menguatkan (Mat. 3:17),

Kristus menyerahkan diri-Nya dalam bap-

tisan untuk menjadi teladan bagi kita (Mat.

3:13-15), dan Roh memberikan diri-Nya

Sendiri kepada Yesus untuk memberi kuasa

kepada-Nya (Luk. 3:21, 22).

Menjelang akhir tugas-Nya di atas dunia

ini, Yesus berjanji akan mengirim Roh Ku-

dus sebagai penasihat atau penolong (Yoh.

14:16). Beberapa jam lalu , ketika ma-

sih tergantung di kayu salib, Yesus berseru

kepada Bapa-Nya, “Allah-Ku, Allah-Ku, me-

ngapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat.

27:46). Pada saat-saat puncak sejarah kese-

lamatan itu, Bapa, Anak dan Roh Kudus

menjadi bagian dalam seluruh keadaan itu.

Sekarang Bapa dan Anak menjangkau ki-

ta melalui Roh Kudus. Yesus berkata, “Jika-

lau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa

datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar da-

ri Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh.

15:26). Bapa dan Anak mengirim Roh un-

tuk menyatakan Kristus kepada setiap orang.

Beban berat Tritunggal yaitu  membawa

Allah dan suatu pengetahuan mengenai Kris-

tus kepada setiap orang (Yoh. 17:3) dan

membuat Yesus hadir dan nyata (Mat. 28:20;

bandingkan Ibr. 13:5). Orang-orang percaya

37Keallahan

dipilih untuk selamat, tentang ini Petrus ber-

kata, “sesuai dengan rencana Allah, Bapa ki-

ta, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya

taat kepada Yesus Kristus dan menerima per-

cikan darah-Nya” (1 Ptr. 1:2).

Puji syukur, rasul memasukkan ketiga pri-

badi Keallahan. “Kasih karunia Tuhan Ye-

sus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutu-

an Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2

Kor. 13:13). Kristus dalam urutan pertama.

Allah berhubungan dengan kita semua  mela-

lui Yesus Kristus—Allah yang menjelma

menjadi kita semua . Walaupun ketiga anggota

Tritunggal itu bekerja sama untuk menga-

dakan karya keselamatan, hanya Kristuslah

yang hidup sebagai kita semua , mati sebagai

kita semua  dan lalu  menjadi Juruselamat

kita (Yoh. 6:47; Mat. 1:21; Kis. 4:12). Akan

namun  “Sebab Allah mendamaikan dunia de-

ngan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak

memperhitungkan pelanggaran mereka” (2

Kor. 5: 19), maka Allah dapat juga dinyata-

kan sebagai Juruselamat kita (bandingkan

Tit. 3:4), sebab  Ia menyelamatkan kita mela-

lui Kristus Juruselamat (Ef. 5:23; Flp. 3:20;

bandingkan Tit. 3:6).

Dalam penghematan fungsi, anggota Ke-

allahan dengan pribadi yang berbeda melak-

sanakan tugas-tugas yang jelas dalam upaya

menyelamatkan kita semua . Pekerjaan Roh Ku-

dus tidak menambahkan sesuatu apa pun un-

tuk melayakkan pengorbanan yang diadakan

Yesus Kristus di kayu salib. Melalui Roh Ku-

dus tujuan pendamaian di kayu salib pada

pokoknya menyatakan Kristus sendirilah

pendamaian itu. Oleh sebab  itulah Paulus

mengatakan “Kristus yang yaitu  pengha-

rapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27).

FOKUS KESELAMATAN

Jemaat yang mula-mula membaptiskan

orang di dalam nama Bapa, Anak dan Roh

Kudus (Mat. 28:19). Sejak itulah melalui

Yesus, kasih Allah dan maksud-Nya dinya-

takan, Alkitab berpusat kepada Kristus. Dia-

lah bayang-bayang pengharapan yang di-

nyatakan dalam korban-korban serta peraya-

an-perayaan dalam Perjanjian Lama. Dialah

yang menjadi titik pusat dalam Injil. Dialah

Kabar Baik yang diberitakan oleh murid-mu-

rid melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tu-

lisan—Pengharapan yang kudus. Perjanjian

Lama menatap dan menantikan kedatangan-

Nya: Perjanjian Baru melaporkan kedatang-

an-Nya yang pertama dan berharap akan ke-

datangan-Nya kembali.

Kristus, pengantara di antara Allah dan

kita, dengan demikian menyatukan kita ke-

pada Keallahan. Yesus yaitu  “jalan dan ke-

benaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Kabar baik

itu berpusat kepada Seorang Pribadi, bukan

hanya sekadar kebiasaan. Ada peran dalam

hubungan, bukan hanya peraturan-peraturan

saja—sebab  Kekristenan itu sendiri yaitu 

Kristus. Kita menemukan di dalam-Nya inti,

isi dan konteks seluruh kebenaran dan hi-

dup.

Dengan memandang kepada salib, kita

memandang ke dalam hati Allah. Di dalam

alat penyiksaan itu Ia mencurahkan kasih-

Nya kepada kita. Melalui Kristus cinta ka-

sih Keallahan memenuhi hati kita yang ham-

pa dan menderita. Yesus tergantung di kayu

salib sebagai karunia Allah dan pengganti

bagi kita. Di bukit Golgota Allah turun ke

bumi yang paling bawah untuk menemui ki-

ta; akan namun  itulah tempat yang paling ting-

gi yang dapat kita tuju. Apabila kita pergi ke

bukit Golgota kita naik setinggi apa yang

dapat kita lakukan untuk menuju Allah.

Di atas kayu salib itulah Tritunggal me-

nyatakan perwujudan dan kelengkapan si-

fat yang tidak mementingkan diri. Di sana-

lah diungkapkan, perwujudan Allah yang pa-

ling lengkap. Kristus menjelma menjadi

38Keallahan

kita semua  dan menjadi korban untuk bangsa

kita semua . Ia lebih menghargai sifat tidak me-

mentingkan diri dibandingkan  sebaliknya. Di sana

Kristus menjadi yang “membenarkan dan

menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:

30). Apa pun nilai dan makna yang kita mi-

liki atau yang pernah kita miliki berasal da-

ri pengorbanan-Nya di kayu salib.

Allah yang benar hanyalah Allah dari

salib itu. Kristus membukakan kepada alam

semesta kasih Keallahan yang tiada batas-

nya itu berikut kuasa yang menyelamatkan;

diperkenalkan-Nya Allah Tritunggal yang re-

la menjalani derita keterpisahan sebab  cin-

ta kasih yang tidak bersyarat yang diberikan

kepada planet yang memberontak. Dari sa-

lib inilah Allah mengumumkan undangan-

Nya yang penuh kasih kepada kita: Damai-

lah, “damai sejahtera Allah, yang melam-

paui segala akal, akan memelihara hati dan

pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:7).

Allah Bapa yang Kekal yaitu  Pencipta, Sumber, Penopang dan Pe-

merintah semua ciptaan. Ia adil, ‘kudus, penuh rahmat dan kemurahan,

lambat marah, dan berkelimpahan cinta kasih dan setiawan. Kualitas

dan kuasa yang tampak dalam Anak dan Roh Kudus yaitu  juga me-

nyatakan Bapa.—Fundamental Beliefs.—3.

41

Hari penghakiman yang besar itu dimulai.

Takhta yang menyala dengan roda-roda

yang berkobar-kobar dengan nyala api meng-

gelinding ke tempatnya. Yang Lanjut Usia

menduduki takhta-Nya. Dengan penampilan

yang penuh kemuliaan, Ia memimpin penga-

dilan. Kehadiran-Nya yang mempesona itu

menyelubungi ruang pengadilan yang sangat

luas, dengan hadirin yang sangat banyak. Pa-

ra saksi yang amat banyak berdiri di hadap-

an-Nya. Pengadilan sudah diatur, kitab dibu-

ka, dan catatan pemeriksaan hidup kita semua 

dimulai (Dan. 7:9, 10).

Saat seperti ini telah lama dinantikan oleh

penghuni alam semesta. Allah Bapa akan

melaksanakan keadilan-Nya terhadap semua

orang yang jahat. Pengumuman yang telah

diberikan ialah: “Dan keadilan diberikan ke-

pada orang-orang kudus” (Dan. 7:22). Puji-

pujian yang penuh kegembiraan dan rasa

syukur menggema di seluruh surga. Sifat-

sifat Allah tampak dengan segala kemulia-

an-Nya, dan nama-Nya yang ajaib diperta-

hankan di seluruh alam semesta.

PANDANGAN-PANDANGAN

TENTANG BAPA

Seringkali Allah Bapa disalahpahami. Ba-

nyak orang yang mengamati dengan cermat

misi Kristus ke dunia ini demi umat manu-

sia dan peranan Roh Kudus dalam individu,

namun  apakah yang dilakukan Bapa kepada

kita? Apakah Ia, berbeda dengan kemuliaan

Anak dan Roh, sama sekali jauh dari dunia

kita ini, Tuan tanah yang tidak hadir di tem-

patnya, Pihak Utama yang tidak tergoyah-

kan?

Atau apakah Ia, seperti yang dianggap ba-

nyak orang mengenai Dia, “Allah Perjanjian

Lama”—seorang Tuhan pembalas dendam,

yang memiliki sifat dan keputusan “mata

ganti mata dan gigi ganti gigi”(Mat. 5:38;

dan Kel. 21:24); tepatnya, Allah yang me-

nuntut perbuatan yang harus sempurna—

atau sesuatu yang lain!

Allah yang sama sekali berbeda dengan

Allah Perjanjian Baru yang dilukiskan be-

gitu penuh kasih sayang, yang menekankan


untuk membiarkan pipi sebelah-menyebelah

ditampar dan juga supaya berjalan dua mil

seperti yang ada  dalam Mat. 5:39-41.

ALLAH BAPA DALAM PERJANJIAN

LAMA

Kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian

Baru, dan kesamaan rencana penebusan, di-

nyatakan oleh fakta bahwa Allah yang sama

jualah yang berbicara dan bertindak, baik

dalam Perjanjian Lama dan Baru, untuk ke-

selamatan umat-Nya. “sesudah  pada zaman

dahulu Allah berulang kali, dan dalam pel-

bagai cara berbicara kepada nenek moyang

kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pa-

da zaman akhir ini Ia telah berbicara kepa-

da kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang

telah Ia tetapkan sebagai yang berhak mene-

rima segala yang ada. Oleh Dia, Allah telah

menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1, 2). Wa-

laupun Perjanjian Lama menyinggung Pri-

badi-pribadi Keallahan, itu bukan berarti

membedakan Mereka. Bahkan Perjanjian

Baru membuat jelas bahwa Kristus, Anak

Allah, yaitu  pribadi yang aktif dalam Pen-

ciptaan (Yoh. 1:1-3, 14; Kol. 1:16) dan Dia-

lah Allah yang menuntun Israel keluar dari

Mesir (1 Kor. 10:1-4; Kel. 3:14; Yoh. 8:58).

Apa yang dikatakan Perjanjian Baru menge-

nai peranan Kristus dalam Penciptaan dan

Keluaran seringkali menyampaikan gambar

Allah Bapa kepada kita melalui Allah Anak

itu. “Sebab Allah mendamaikan dunia de-

ngan diri-Nya” (2 Kor. 5:19). Perjanjian La-

ma melukiskan Bapa dalam istilah berikut:

Allah Penyayang dan Pengasih. Tidak

ada kita semua  berdosa yang pernah melihat

wajah Allah (Kel. 33:20). Kita tidak memi-

liki gambar wajah-Nya atau wujud-Nya. Al-

lah menyatakan tabiat-Nya melalui perbuat-

an-Nya yang penuh murahan dan melalui

gambaran yang diumumkan-Nya kepada

Musa: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan

pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-

Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih

setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang

mengampuni kesalahan, pelanggaran dan

dosa; namun  tidaklah sekali-kali membebas-

kan orang yang bersalah dari hukuman, yang

membalaskan kesalahan bapa kepada anak-

anaknya dan cucunya, kepada keturunan

yang ketiga dan keempat” (Kel. 34:6, 7; ban-

dingkan Ibr. 10: 26, 27). Namun demikian,

kemurahan bukanlah pengampunan yang

buta, melainkan dituntun oleh prinsip keadil-

an. Barangsiapa yang menolak kemurahan-

Nya akan menuai hukuman atas dosa-dosa-

nya.

Di Bukit Sinai Tuhan Allah menyatakan

kerinduan-Nya menjadi sahabat bagi bang-

sa Israel, agar senantiasa

 .

bersama-sama me-

reka. Ia berkata kepada Musa, “Dan mereka

harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supa-

ya Aku akan diam. di tengah-tengah me-

reka” (Kel. 25:8). sebab  tempat itulah tem-

pat Allah di atas dunia ini, maka kaabah men-

jadi titik pusat pengalaman ibadah Israel.

Perjanjian Allah. Untuk menciptakan

hubungan yang kekal dengan umat-Nya, Tu-

han Allah mengadakan perjanjian yang ku-

dus dengan mereka, misalnya dengan Nuh

(Kej. 9:1-17) dan Ibrahim (Kej. 12:1-3, 7;

13:14-17; 15:1, 5, 6; 17:1-8; 22:15-18; lihat

bab 7 artikel  ini). Perjanjian ini menunjuk-

kan satu pribadi, Allah yang menaruh kasih

dan perhatian kepada keperluan umat-Nya.

Kepada Nuh Ia memberikan jaminan dengan

musim yang tetap (Kej. 8:22) dan bahwa ti-

dak akan terjadi lagi air bah yang menutupi

seluruh permukaan bumi (Kej. 9:11); dan ke-

pada Ibrahim Ia berjanji akan memberikan

43Allah Bapa

sejumlah keturunan yang banyak (Kej. 15:5-

7) dan sebuah negeri yang akan didiami oleh

keturunannya (Kej. 15:18: 17:8).

Allah Penebus. Sebagaimana halnya Al-

lah yang membawa bangsa Israel keluar, Ia

memimpin satu bangsa budak dengan cara

yang penuh mukjizat menuju kemerdekaan.

Karya penebusan yang agung ini yaitu  la-

tar belakang seluruh Alkitab Perjanjian La-

ma dan merupakan sebuah contoh kerindu-

an-Nya menjadi Penebus bagi kita. Sesung-

guhnya Allah tidak jauh, bukannya tidak

dapat dihampiri, bukan pula sebuah pribadi

yang bersikap acuh tak acuh, akan namun  Se-

orang Pribadi yang sangat terlibat dalam se-

gala persoalan kita.

Khususnya Mazmur diilhami kedalaman

kasih Allah yang turut serta: “Jika aku melihat

langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-

bintang yang Kautempatkan: Apakah manu-

sia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah

anak kita semua , sehingga Engkau mengindah-

kannya?” (Mzm. 8:4, 5). “Aku mengasihi Eng-

kau, ya Tuhan, kekuatanku! Ya Tuhan, bukit

batuku, kubu pertahananku dan penyelamat-

ku, Allahku, gunung batuku, tempat aku ber-

lindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota

bentengku!”(Mzm. 18:2, 3). “Sebab Ia tidak

memandang hina ataupun merasa jijik keseng-

saraan orang yang tertindas” (Mzm. 22:25).

Allah Tempat Perlindungan. Daud me-

lihat Allah sebagai tempat yang dapat men-

jadi perlindungan bagi kita—seperti enam

kota perlindungan Israel, tempat bernaung

pengungsi yang tidak bersalah. Penulis Maz-

mur memakai  tema “perlindungan” apa-

bila ia hendak menggambarkan Kristus dan

Bapa. Keallahan yaitu  tempat berlindung.

“Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-

Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyi-

kan aku dalam persembunyian di kemah-

Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung ba-

tu” (Mzm. 27:5). “Allah itu bagi kita tempat

perlindungan dan kekuatan, sebagai peno-

long dalam kesesakan sangat terbukti”  (Mzm.

46:2). ”Yerusalem, gunung-gunung sekeli-

lingnya; demikianlah Tuhan sekeliling umat-

Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya”

(Mzm. 125:2).

Penulis Mazmur melukiskan kerinduan-

nya terhadap Allah sebagai berikut: ”Seper-

ti rusa yang merindukan sungai yang berair,

demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya

Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Al-

lah yang hidup. Bilakah aku boleh datang

melihat Allah?”(Mzm. 42:2, 3). Dari penga-

laman, Daud memberikan kesaksian, “Serah-

kanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan

memelihara Engkau! Tidak untuk selama-la-

manya dibiarkan-Nya orang benar itu go-

yah” (Mzm. 55:23). “Percayalah kepada-

Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi

hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat

perlindungan kita” (Mzm. 62:9)—”Allah pe-

nyayang dan pengasih, panjang sabar dan

berlimpah kasih dan setia” (Mzm. 86:15).

Allah yang Suka Mengampuni. Sete-

lah Daud melakukan dosa zina dan pem-

bunuhan, ia memohon dengan sangat, “Kasi-

hanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-

Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut

rahmat-Mu yang besar!” “Jadikanlah hatiku

tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku de-

ngan roh yang teguh!” (Mzm. 51:3, 12). Ia

memperoleh penghiburan melalui jaminan

bahwa Allah penuh kemurahan. “namun  se-

tinggi langit di atas bumi, demikian besar-

nya kasih setia-Nya atas orang-orang yang

takut akan Dia; sejauh timur dari barat, de-

mikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelang-

garan kita. Seperti bapa sayang kepada anak-

anaknya, demikian Tuhan sayang kepada

orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia

44Allah Bapa

sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita

ini debu” (Mzm. 103:11-14).

Allah Kebajikan. Tuhan Allah “yang

menegakkan keadilan untuk orang yang di-

peras, yang memberi roti kepada orang yang

lapar. Tuhan membebaskan orang yang terku-

rung, Tuhan membuka mata orang buta, Tu-

han menegakkan orang yang tertunduk, Tu-

han mengasihi orang benar. Tuhan menjaga

orang asing, anak yatim dan janda ditegak-

kan-Nya kembali, namun  jalan orang fasik di-

bengkokkan-Nya” (Mzm. 146:7-9). Betapa

besarnya gambaran mengenai Tuhan dilukis-

kan dalam artikel  Mazmur!

Allah yang Setiawan. Selain kebesaran

Allah, bangsa Israel hampir sepanjang masa

menjauh dari Tuhan (Im. 26, Ul. 28). Allah

digambarkan mengasihi orang Israel bagai

suami yang mengasihi istrinya. artikel  Hosea

dengan tajam melukiskan kesetiaan Allah di

tengah-tengah penolakan dan ketidaksetiaan

yang parah. Pengampunan yang terus-me-

nerus yang ditunjukkan Allah memperlihat-

kan tabiat-Nya yang menaruh kasih tanpa

syarat.

Walaupun Allah membiarkan bangsa Isra-

el mengalami malapetaka yang disebabkan

pendurhakaan mereka—dengan menegur ja-

lan-jalan salah yang ditempuh mereka—Ia

masih tetap memeluk mereka dengan kemura-

han-Nya. Ia memberikan jaminan, “Engkau

hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan ti-

dak menolak engkau; janganlah takut, sebab

Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bah-

kan akan menolong engkau... dengan tangan

kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes.

41:9, 10). Walaupun mereka tidak setia, Ia te-

tap memberikan janji dengan penuh belas kasi-

han, “namun  bila mereka mengakui kesalahan

mereka dan kesalahan nenek moyang mereka

dalam hal berubah setia yang dilakukan mere-

ka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa

hidup mereka bertentangan dengan Daku, ...

atau bila lalu  hari mereka yang tidak

bersunat itu telah tunduk dan mereka telah

membayar pulih kesalahan mereka, maka Aku

akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub;

juga perjanjian-Ku dengan Ishak dan per-

janjian-Ku dengan Abraham pun” (Im. 26:40-

42; Yer. 3:12).

Allah mengingatkan umat-Nya mengenai

tingkah laku perbuatan-Nya yang bersifat pe-

nebusan: “Hai Israel, engkau tidak Kulupa-

kan. Aku telah menghapus segala dosa pem-

berontakanmu seperti kabut diterbangkan

angin dan segala dosamu seperti awan yang

tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku

telah menebus engkau!” (Yes. 44:21, 22). Ti-

daklah mengherankan jika Ia berkata, “Ber-

palinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu

diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab

Akulah Allah dan tidak ada yang lain” (Yes.

45:22).

Allah Keselamatan dan Pembalas. Per-

janjian Lama melukiskan Allah sebagai Tu-

han yang pembalas, haruslah dilihat dalam

konteks pemusnahan umat-Nya yang setia

oleh orang jahat. Melalui tema “hari Tuhan”

para nabi menunjukkan tindakan-tindakan

Tuhan demi kepentingan umat-Nya pada

akhir zaman. Inilah hari keselamatan bagi

umat-Nya, namun merupakan hari pemba-

lasan atas musuh-musuh mereka yang akan

dibinasakan. “Katakanlah kepada orang yang

tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah ta-

kut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan

pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia

sendiri datang menyelamatkan kamu!’” (Yes.

35:4).

Allah Bapa. Kepada bangsa Israel, Musa

menyatakan Allah sebagai Bapa, yang telah

menebus mereka: “Bukankah Ia Bapamu

45Allah Bapa

yang menciptakan engkau, yang menjadikan

dan menegakkan engkau?” (Ul. 32:6). Me-

lalui penebusan, Allah menjadikan Israel se-

bagai anak-Nya. Yesaya menulis, “Ya Tuhan,

Engkaulah Bapa kami” (Yes. 64:8; banding-

kan 63:16). Melalui Maleakhi, Allah mengu-

kuhkan, “Aku ini Bapa” (Mal. 1:6). Di mana-

mana, Maleakhi menghubungkan kebapaan

Allah atas peran-Nya sebagai Pencipta: “Bu-

kankah kita sekalian mempunyai satu bapa?

Bukankah satu Allah menciptakan kita?”

(Mal. 2:10). Allah yaitu  Bapa kita baik me-

lalui Penciptaan maupun penebusan. Beta-

pa kebenaran yang amat mulia!

ALLAH BAPA DALAM PERJANJIAN

BARU

Allah Perjanjian Lama tidak berbeda dari

Allah Perjanjian Baru. Allah Bapa dinyata-

kan sebagai Pencipta segala sesuatu, Bapa

semua orang percaya yang sejati, dan dalam

sebuah perasaan yang unik Bapa dari Yesus

Kristus.

Bapa Semua Ciptaan. Paulus mengiden-

tifikasi Bapa, membedakan-Nya dari Yesus

Kristus: “Namun bagi kita hanya ada satu

Al-lah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya

berasal segala sesuatu, ... dan satu Tuhan

saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya se-

gala sesuatu telah dijadikan dan yang kare-

na Dia kita hidup” (1 Kor. 8:6 dan Ibr. 12:9;

Yoh. 1: 17). Ia memberikan kesaksian, “Itu-

lah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang

dari pada-Nya semua turunan yang di dalam

surga dan di atas bumi menerima namanya”

(Ef. 3:14, 15).

Bapa Semua Orang Percaya. Pada za-

man Perjanjian Baru ada hubungan rohani

bapa-anak bukan antara Allah dan bangsa

Israel melainkan antara Allah dan orang per-

caya secara individu. Yesus menyediakan pe-

nuntun untuk hubungan ini (Mat. 5:45; 6:6-

15), yang terselenggara dengan mantap me-

lalui penerimaan orang-orang percaya ter-

hadap Yesus Kristus (Yoh. 1:12, 13).

Melalui penebusan Kristus, orang-orang

percaya diangkat menjadi anak-anak Allah.

Roh Kudus melengkapi hubungan ini. Kristus

datang untuk “menebus mereka, yang takluk

kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk mene-

bus mereka, yang takluk kepada hukum Tau-

rat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan

sebab  kamu yaitu  anak, maka Allah telah

menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,

yang berseru: ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Gal. 4:5,

6; bandingkan Rm. 8:15, 16).

Yesus Menyatakan Bapa. Yesus, Allah

Anak, di dalamnya ada  pandangan yang

paling dalam mengenai Allah Bapa ketika Ia,

yang menyatakan, diri Allah sendiri, datang

dalam wujud daging (Yoh. 1:1, 14). Yohanes

berkata, “Tidak seorang pun yang pernah me-

lihat Allah; namun  Anak Tunggal Allah, ...

Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18).

Yesus berkata, “Sebab Aku telah turun dari

surga” (Yoh. 6:38); “Barangsiapa telah me-

lihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9).

Mengenal Yesus berarti mengenal Bapa.

Surat-surat yang ditujukan kepada orang-

orang Ibrani menekankan pentingnya per-

nyataan pribadi ini: “sesudah  pada zaman da-

hulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai

cara berbicara kepada nenek moyang kita de-

ngan perantaraan nabi-nabi, maka pada za-

man akhir ini Ia telah berbicara kepada kita

dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia

tetapkan sebagai yang berhak menerima se-

gala yang ada. Oleh Dia Allah telah menja-

dikan alam semesta. Ia yaitu  cahaya kemu-

liaan Allah dan gambar wujud Allah dan me-

nopang segala yang ada dengan firman-Nya

46Allah Bapa

yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:1-3).

1. Allah yang pemberi. Yesus memper-

lihatkan Bapa-Nya sebagai Allah yang pem-

beri. Kita melihat pemberian-Nya pada Pen-

ciptaan, di Betlehem dan di Golgota.

Dalam penciptaan, Bapa dan Anak beker-

jasama. Allah memberikan hidup kepada kita

walaupun mengetahui, bahwa, dengan mela-

kukan hal yang demikian, akan mendatang-

kan kematian Anak-Nya sendiri.

Di Betlehem, Ia memberikan diri-Nya

sendiri sebagaimana Ia memberikan Anak-

Nya. Betapa pedihnya pengalaman Bapa ke-

tika Anak-Nya memasuki planet kita yang

penuh dengan dosa!

 

Bayangkanlah perasaan

Bapa ketika Ia melihat Anak-Nya memper-

tukarkan kasih dan pujaan para malaikat de-

ngan kebencian orang-orang berdosa; kemu-

liaan dan kebahagiaan surga dengan jalan ke-

matian.

Akan namun  di Golgota diberikan kepada

kita wawasan paling dalam terhadap Bapa.

Bapa yang Ilahi itu, menderita kepahitan ka-

rena dipisahkan dari Anak-Nya—dalam hi-

dup dan kematian—lebih dibandingkan  apa yang

mungkin dirasakan kita semua . Begitulah Ia

menderita dengan Kristus. Sebuah kesaksi-

an yang agung yang pernah ada diberikan

Bapa! Salib menyatakan—yang tidak mung-

kin dapat dilakukan yang lain—kebenaran

mengenai Bapa.

2. Allah Kasih. Tema yang paling disu-

kai Yesus ialah kelembutan dan kelimpahan

kasih Allah. “Kasihilah musuhmu,” kata-

Nya, “berdoalah bagi mereka yang menga-

niaya kamu. sebab  dengan demikianlah ka-

mu menjadi anak-anak Bapamu yang di sor-

ga, yang menerbitkan matahari bagi orang

yang jahat dan orang yang baik dan menu-

runkan hujan bagi orang yang benar dan or-

ang yang tidak benar” (Mat. 5:44, 45). “Teta-

pi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah

baik kepada mereka dan pinjamkan dengan

tidak mengharapkan balasan, maka upahmu

akan besar dan kamu akan menjadi anak-

anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik

terhadap orang-orang yang tidak tahu berte-

rima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti

Bapamu yaitu  murah hati.” (Luk. 6:35, 36).

Waktu Yesus merendahkan diri sambil

membasuh kaki orang yang akan mengkhia-

nati-Nya, Yesus menyatakan sifat Allah yang

penuh belas kasihan. Apabila kita melihat

Kristus memberi makan orang yang lapar

(Mrk. 6:39-44; 8:1-9), menyembuhkan pen-

dengaran orang yang tuli (Mrk. 9:17-29),

membuat yang bisu berbicara (Mrk. 7:32-

37), membuka mata orang yang buta (Mrk.

8:22-26), menyembuhkan orang yang ber-

penyakit kusta (Luk. 5:12, 13), menyuruh

orang yang lumpuh berdiri dan berjalan (Luk.

5:18-26), membangkitkan orang mati (Mrk.

5:35-43; Yoh 11:1-45), mengampuni orang-

orang yang berdosa (Yoh. 8:3-11), mengusir

Setan (Mat. 15:22-28;17:14-21), kita meli-

hat Bapa berada di tengah-tengah kita semua ,

memberikan hidup-Nya kepada mereka,

membebaskan mereka, memberikan peng-

harapan kepada mereka, dan mengarahkan

mereka kepada dunia mendatang yang diba-

harui. Kristus mengetahui bahwa dengan

menyatakan kasih yang sangat berharga dari

Bapa yaitu  kunci untuk membawa manu-

sia kepada pertobatan (Rm. 2:4).

Tiga dari perumpamaan-perumpamaan

Kristus menggambarkan kasih Allah kepa-

da kita semua  yang telah hilang (Luk. 15). Pe-

rumpamaan mengenai domba yang hilang

mengajarkan kepada kita bahwa keselamat-

an datang melalui inisiatif Allah, bukan ka-

rena upaya kita mencari Dia. Sebagaimana

seorang gembala mengasihi domba-domba-

nya dan mempertaruhkan hidupnya apabila

47Allah Bapa

ada seekor pun yang hilang, begitulah da-

lam ukuran yang jauh lebih besar, Allah me-

nunjukkan kasih-Nya terhadap setiap orang

yang hilang.

Perumpamaan ini juga memiliki makna

kosmis—domba yang hilang itu menggam-

barkan dunia kita yang memberontak, tak le-

bih dari sebuah atom di alam semesta Allah

yang mahaluas. Pemberian Allah yang sa-

ngat berharga itu yakni Anak-Nya yang tung-

gal untuk membawa kembali planet kita ke

dalam kawanan itu menunjukkan bahwa du-

nia kita yang sudah hilang ini cukup berharga

bagi-Nya sebagai bagian dari penciptaan-Nya.

Perumpamaan mengenai keping perak

yang hilang menekankan betapa besarnya ni-

lai yang diberikan Allah kepada kita yang

berdosa. Begitu pula perumpamaan menge-

nai anak yang hilang menunjukkan kasih Ba-

pa yang berkelimpahan, yang menyambut ba-

ik: anak-anak yang menyesali perbuatannya.

Jika di surga ada suatu kegembiraan yang

besar sebab  seorang yang berdosa yang ber-

tobat (Luk. 15:7), bayangkanlah betapa gem-

biranya alam semesta pada waktu kedatangan

Tuhan kita yang kedua kalinya.

Perjanjian Baru menyatakan dengan je-

las keterlibatan Bapa yang sangat akrab da-

lam soal kembalinya Anak-Nya. Pada hari

kedatangan Kristus yang kedua kali orang-

orang jahat akan berseru kepada gunung-

gunung dan bukit batu, “Runtuhlah menim-

pa kami dan sembunyikanlah kami terhadap

Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap

murka Anak Domba itu” (Why. 6:16). Ye-

sus berkata, “Sebab Anak kita semua  akan da-

tang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi ma-

laikat- malaikat-Nya” (Mat. 16:27), dan “ka-

mu akan melihat Anak kita semua  duduk di se-

belah kanan Yang Mahakuasa dan datang di

atas awan-awan di langit” (Mat. 26:64).

Dengan hati yang penuh kerinduan Bapa

mengantisipasi hari Kedatangan Kristus

yang kedua kali, saat orang-orang yang dite-

bus pada akhirnya akan dibawa ke rumah

mereka yang abadi. Dengan demikian, me-

ngutus Anak-Nya “yang tunggal ke dalam

dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yoh.

4:9) nyatalah tidak akan sia-sia. Hanyalah

yang tidak dapat diduga, kasih yang tidak

mementingkan diri menjelaskan mengapa,

walaupun kita musuh masih juga kita “diper-

damaikan dengan Allah oleh kematian Anak-

Nya”(Rm. 5:10). Bagaimanakah kita akan

menolak kasih yang demikian dan gagal me-

ngakui Dia sebagai Bapa kita?

48

Anak Allah yang Kekal menjelma dalam Yesus Kristus. Melalui Dialah

segala sesuatu diciptakan, sifat-sifat Allah dinyatakan, keselamatan

kita semua  dilengkapkan, dan dunia dihakimi. Ialah Allah yang sejati

selama-lamanya, juga menjadi kita semua  yang sejati, yakni Yesus Kristus

Dikandung sebab  Roh Kudus dan dilahirkan melalui anak dara Ma-

ria. Ia hidup dan mengalami pencobaan sebagai seorang kita semua , akan

namun  melakukan dengan sempurna kebenaran dan kasih Allah. Melalui

mukjizat yang diperbuat-Nya Dia menyatakan kuasa Allah dan telah

ter-bukti sebagai Mesias yang dijanjikan Allah. Ia menderita dan mati

dengan sukarela di kayu salib sebab  dosa-dosa kita dan menggantikan

tempat kita, lalu  la dibangkitkan dari kematian dan naik ke surga

untuk melayani kepentingan kita di kaabah yang di surga. Ia akan datang

kem-bali dalam kemuliaan untuk melepaskan umat-Nya untuk kali yang

terakhir serta memulihkan segala sesuatu.—Fundamental Beliefs,—4.

49

Padang belantara menjadi tempat ber-

keliaran ular berbisa yang mengerikan.

Ular merayap di bawah periuk, dan berge-

lung di tiang-tiang tenda yang terpancang.

Sebagian lagi bersembunyi di antara bone-

ka-boneka anak-anak, berbaring di atas bale-

bale, menanti. Gigi mereka siap menghun-

jam dalam-dalam, menyemburkan racun

yang mematikan.

Padang belantara, yang tadinya menjadi

tempat berlindung bangsa Israel, telah men-

jadi kuburan. Beratus-ratus orang mati berse-

rakan. Mengingat keadaan yang amat ber-

bahaya itu, orang-orang tua yang ketakutan

mulai bergegas-gegas menuju tenda Musa

untuk meminta pertolongan. “Musa, tolong

doakan bangsa ini.”

Apakah jawab Allah? Buatlah sebuah ukir-

an ular, lalu pancangkan tinggi-tinggi—dan

semua orang yang memandangnya akan hi-

dup. “Lalu Musa membuat ular tembaga dan

menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika

se-seorang dipagut ular, dan ia memandang

kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”

(Bil. 21:9).

Ular sebenarnya tetap merupakan lam-

bang Setan (Kej. 3; Why. 12), menggambar-

kan dosa. Perkemahan itu telah jatuh ke ta-

ngan Setan. Bagaimanakah penyembuhan

dari Tuhan? Bukannya dengan memandang

kepada domba yang di atas mezbah, melain-

kan dengan memandang ular tembaga itu.

Hal ini merupakan sebuah lambang yang

aneh dari Kristus. Sama seperti ular-ular yang

memagut itu diangkat tinggi-tinggi di atas

sebuah galah, Yesus menjadi “serupa de-

ngan daging yang dikuasai dosa sebab 

dosa” (Rm. 8:3), dan ditinggikan di atas kayu

sa-lib yang sangat hina itu (Yoh. 3:14, 15).

Ia menjadi dosa, Ia memikul sendiri semua

dosa orang yang pernah hidup atau akan hi-

dup. “Dia yang tidak mengenal dosa telah

dibuat-Nya menjadi dosa sebab  kita, supaya

dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2

Kor. 5: 21). Dengan memandang kepada

Kristus ma-nusia yang tidak berdaya itu da-

pat memperoleh hidup.

Bagaimanakah penjelmaan itu dapat

membawa keselamatan kepada kita semua ?

Efek apakah yang diakibatkannya kepada

BAB 4

ALLAH ANAK

50Allah Anak

Sang Anak? Bagaimanakah Allah menjadi

kita semua  dan mengapa harus demikian?

PENJELMAAN: RAMALAN DAN

KEGENAPANNYA

Rencana Allah ialah menyelamatkan orang

yang tersesat jauh dari semua petunjuk yang

diberikan-Nya (Yoh. 3:16, 1 Yoh. 4:9) me-

nunjukkan kasih-Nya dengan sangat meya-

kinkan. Di dalam rencana ini Anak-Nya yang

“telah dipilih sebelum dunia dijadikan” men-

jadi korban dosa, menjadi harapan bagi umat

kita semua  (1 Ptr. 1:19, 20). Ia membawa kita

kembali kepada Allah serta menyediakan

kelepasan dari dosa melalui penghancuran

pekerjaan si jahat (1 Ptr. 3:18; Mat. 1:21; 1

Yoh. 3:8).

Dosa telah memisahkan Adam dan Hawa

dari sumber kehidupan, akibatnya ialah ke-

matian yang segera. Akan namun  sesuai de-

ngan rencana yang telah dibentangkan sebe-

lum asas dunia ini (1 Ptr. 1:20, 21), “permu-

fakatan tentang damai”(Za. 6:13), Allah

Anak turun dan berada di antara mereka serta

menjadi keadilan Ilahi, menjembatani kesen-

jangan dan mengendalikan maut. Bahkan se-

belum dan sesudah salib, anugerah-Nya saja

yang membuat orang-orang berdosa hidup

dan memberikan jaminan keselamatan me-

reka. Akan namun , untuk menjadikan kita be-

nar-benar menjadi putra-putri Allah, Ia ha-

rus menjadi kita semua .

Begitu Adam dan Hawa jatuh ke dalam

dosa, Allah memberikan pengharapan de-

ngan janji memperkenalkan kepada mereka

perseteruan yang supra natura antara ular dan

perempuan itu, antara benihnya dan turunan-

nya. Di dalam penjelasan yang agak samar-

samar, dalam Kejadian 3:15 ular dan benih-

nya menggambarkan Setan dengan para pe-

ngikutnya; perempuan dan turunannya me-

lambangkan umat Allah dan Juruselamat

dunia. Pernyataan ini merupakan jaminan

pertama bahwa perbantahan antara yang baik

dan jahat akan berakhir dengan kemenang-

an Anak Allah.

Bagaimanapun, kemenangan itu disertai

dengan hal yang menyakitkan: “Keturunan-

nya (Juruselamat) akan meremukkan kepa-

lamu (Setan), dan engkau (Setan) akan me-

remukkan tumitnya (Juruselamat)” (Kej. 3:

15). Tidak ada yang muncul tanpa cedera.

Sejak saat itulah umat kita semua  berharap

atas datang-Nya Seorang yang telah Dijan-

jikan. Perjanjian Lama mengungkapkan-

Nya. Nubuat telah menyatakan lebih dahu-

lu bahwa apabila yang Dijanjikan itu telah

datang, dunia harus memiliki bukti yang

mengukuhkan identitas-Nya.

Dramatisasi Nubuat Mengenai Kesela-

matan. Sesudah dosa masuk, Allah mendi-

rikan lembaga pengorbanan hewan untuk

menggambarkan tugas Juruselamat yang

akan datang itu (baca Kej. 34:4). Sistem yang

memakai  lambang ini menggambarkan

corak bagaimana Allah Anak akan membi-

nasakan dosa.

sebab  dosa—pelanggaran atas Hukum

Tuhan—kita semua  harus mengalami kematian

(Kej. 2:17; 3:19; 1Yoh. 3:4; Rm. 6:23). Hu-

kum Allah menuntut nyawa orang berdosa.

Akan namun  dalam kasih-Nya yang tiada ba-

tasnya itu, Allah mengaruniakan Anak-Nya,

“yang tunggal, supaya setiap orang yang per-

caya kepada-Nya tidak binasa melainkan

beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Beta-

pa suatu tindakan merendahkan diri yang tia-

da taranya! Allah Anak yang abadi, Ia sendiri

membayar hukuman dosa yang seharusnya

menjadi tanggungan orang lain, supaya dengan

demikian Ia dapat memberikan pengampun-

an dan pendamaian dengan Keallahan.

sesudah  bangsa Israel keluar dari Mesir,

persembahan korban diselenggarakan di da-

51Allah Anak

lam bait suci sebagai suatu bagian hubung-

an perjanjian antara Allah dengan umat-Nya.

Musa membangunnya sesuai dengan pola

yang ada  di surga, bait suci dengan se-

gala pelayanan yang dilakukan di dalamnya

dibuat untuk menggambarkan rencana kese-

lamatan (Kel. 25:8, 9, 40; Ibr. 8:1-5).

Untuk memperoleh pengampunan, orang

berdosa yang bertobat membawa persem-

bahan korban hewan yang tidak bercacat-ce-

la—melambangkan Juruselamat yang tidak

berdosa. Orang yang berdosa menumpang-

kan tangannya di atas binatang yang tidak

bersalah itu seraya mengakui dosa-dosanya

(Im. 1:3, 4). Tindakan ini melambangkan pe-

mindahan dosa dari yang bersalah kepada

korban yang tidak bersalah itu, menggam-

barkan sifat pengganti dari korban itu.

sebab  “tanpa pertumpahan darah tidak

ada pengampunan” dosa-dosa (Ibr. 9:22),

maka kita semua  mengorbankan binatang,

menjadikannya sebagai bukti sifat dosa yang

mematikan. Sebuah jalan duka untuk menya-

takan pengharapan namun  satu-satunya jalan

yang dapat ditempuh oleh orang berdosa un-

tuk menyatakan imannya.

sesudah  pelayanan keimamatan (Im. 4,7),

orang berdosa menerima pengampunan dosa

melalui imannya dalam kematian pengganti

dari Penebus yang akan datang, yang dilam-

bangkan oleh korban persembahan binatang

itu (bandingkan Im. 4:26, 31, 35). Perjan-

jian Baru mengakui Yesus Kristus, Anak Al-

lah, sebagai “Anak domba Allah yang meng-

hapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Melalui da-

rah-Nya yang mahal itu, “seperti darah anak

domba yang tak bernoda dan tak bercacat”

(1 Ptr. 1:19), Ia memperoleh penebusan bagi

umat kita semua  dari hukuman dosa.

Ramalan-ramalan Mengenai Seorang

Juruselamat. Allah menjanjikan bahwa Me-

sias—Juruselamat—Yang Diurapi—akan

datang melalui garis keturunan Abraham:

“Oleh keturunanmulah semua bangsa di bu-

mi akan mendapat berkat,” (Kej. 22:18; ban-

dingkan 12:3).

Yesaya telah menubuatkan bahwa Juruse-

lamat yang akan datang sebagai bayi lelaki,

yang akan menjadi kita semua  dan Ilahi: “Se-

bab seorang anak telah lahir untuk kita, seo-

rang putra telah diberikan untuk kita; lam-

bang pemerintahan ada di atas bahunya, dan

namanya disebutkan orang: Penasihat Aja-

ib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal,

Raja Damai” (Yes. 9:5). Penebus ini akan

naik takhta Daud dan mendirikan pemerin-

tahan damai yang kekal (Yes. 9:6). Betle-

hem akan menjadi tempat kelahiran-Nya

(Mi. 5:2).

Kelahiran kita semua  Ilahi ini ajaib. De-

ngan mengutip dari Yes. 7:14, Perjanjian Ba-

ru berkata, “Sesungguhnya, anak dara itu

akan mengandung dan melahirkan seorang

anak laki-laki, dan mereka akan menamakan

Dia Imanuel—yang berarti: Allah menyer-

tai kita” (Mat. 1:23).

Tugas Juruselamat dinyatakan dalam per-

kataan yang berikut: “Roh Tuhan Allah ada

padaku, oleh sebab  Tuhan telah mengurapi

aku; Ia telah mengutus aku untuk menyam-

paikan kabar baik kepada orang-orang seng-

sara, dan merawat orang-orang yang remuk

hati, untuk memberitakan pembebasan kepa-

da orang-orang tawanan, dan kepada orang-

orang yang terkurung kelepasan dari penjara,

untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan

dan hari pembalasan Allah kita: (Yes. 61:1,

2; bandingkan Luk. 4:18, 19).

Ajaib sekali, sang Mesias harus men-

derita penolakan. Ia akan merasa seperti”

tunas dari tanah kering” “Ia tidak tampan dan

semaraknya pun tidak ada sehingga kita me-

mandang dia, dan rupa pun tidak sehingga

kita menginginkannya.... Seorang yang pe-

52Allah Anak

nuh kesengsaraan dan yang biasa menderi-

ta kesakitan.... Dan bagi kita pun dia tidak

masuk hitungan.” (Yes. 53:2-3).

Seorang sahabat karib pun mengkhianati-

Nya (Mzm. 41:10) dengan uang tiga puluh

keping perak (Za. 11:12). Selama pengadi-

lan-Nya Ia akan diludahi dan dipukuli (Yes.

50:6). Pelaksana hukuman atas diri-Nya me-

ngundi jubah yang dipakai-Nya (Mzm. 22:

19). Tidak ada tulang-Nya yang dipatahkan

(Mzm. 34:21), akan namun  lambung-Nya

akan ditikam (Za. 12:10). Di dalam sengsa-

ra-Nya Ia tidak melawan melainkan seperti

“induk domba yang kelu di depan orang-

orang yang menggunting bulunya, ia tidak

membuka mulutnya” (Yes. 53:7).

Juruselamat yang tidak berdosa itu harus

menderita sangat hebat sebab  orang-orang

berdosa. “namun  sesungguhnya, penyakit ki-

talah yang ditanggungnya, dan kesengsara-

an kita yang dipikulnya.... Dia tertikam oleh

sebab  pemberontakan kita, dia diremukkan

oleh sebab  kejahatan kita; ganjaran yang

mendatangkan keselamatan bagi kita ditim-

pakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya ki-

ta menjadi sembuh.... namun  Tuhan telah me-

nimpakan kepadanya kejahatan kita sekali-

an.... Sungguh, ia terputus dari negeri orang-

orang hidup, dan sebab  pemberontakan

umat-Ku ia kena tulah” (Yes. 53:4-8).

Mengenali Juruselamat. Hanya Yesus

Kristus yang menggenapi nubuatan ini. Ki-

tab-kitab Suci mencatat permulaan garis

keturunan-Nya kepada Abraham, yang me-

nyebut-Nya Anak Abraham (Mat. 1:1), dan

Paulus mengukuhkan bahwa janji kepada

Abraham dan keturunannya telah digenapi

di dalam Kristus (Gal. 3:16). Gelar Kemesia-

san “Anak Daud” secara luas ditujukan pada-

Nya (Mat. 21:9). Ia dikenal sebagai Mesias

yang dijanjikan, yang akan menduduki takh-

ta Daud (Kis. 2:29, 30).

Kelahiran Yesus itu ajaib. Maria yang

masih perawan itu “mengandung dari Roh

Kudus” (Mat. 1:18-23). Maklumat yang

diberikan pemerintah Roma kepada rakyat

jajahan membawa Maria ke Betlehem, tem-

pat kelahiran Mesias yang telah dinubuat-

kan lebih dahulu (Luk. 2:4-7).

Salah satu nama yang diberikan kepada

Yesus ialah Imanuel yang artinya “Allah me-

nyertai kita,” membayangkan sifat-Nya se-

bagai kita semua  Ilahi serta menggambarkan

ciri-ciri Allah dengan kita semua  (Mat. 1:23).

Nama yang umum diberikan pada-Nya, Ye-

sus, dipusatkan pada misi keselamatan yang

diemban-Nya: “Dan engkau akan menama-

kan Dia Yesus, sebab  Dialah yang akan me-

nyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka”

(Mat. 1:21).

Ciri-ciri tugas Yesus yaitu  seperti yang

diramalkan mengenai Mesias dalam artikel 

Yes. 61:1, 2: “Pada hari ini genaplah nas ini

sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:17-

21).

Walaupun Ia mem