gereja masehi advent 2

gereja masehi advent 2











 sambil 

menafsirkan angka-angka di dalam Alkitab (Daniel 8:14

4

 dan  9:24

5

) akhirnya 

membawanya pada kesimpulan bahwa Kristus akan datang kembali pada 

tahun 1843 M, atau selambat-lambatnya tahun 1844 M.

6

 

Pada suatu sabtu pagi di tahun 1831 M, Miller merasakan adanya suara 

desakan dalam batinnya untuk menyampaikan ke khalayak umum tentang 

nubuatan Kitab Daniel itu. Khotbah dan penemuannya itu yang kemudian 

                                                 

1

 Manembu dan T. Mangunsong, Menerobos Bersama Gereja Allah. Tejemahan 

Departemen Kependetaan MAHK se-Dunia, negara kita  Publishing House, Bandung, 1980, h. 113 

2

 Ellen G White, Kemenangan Akhir, negara kita  Publishing House, Bandung, 2011, h.276 

3

 Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Gunung Mulia, 

Jakarta, 2009, h. 296 

4

 Maka ia menjawab: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat 

kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.” 

5

 Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang 

kudus, untuk meenyapkan yang kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan 

kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, 

dan untuk mengurapi yang maha kudus. 

 

disampaikan di berbagai tempat, ternyata membangkitkan kebangunan rohani 

bagi cukup banyak jemaat. 

Pada mulanya Miller ragu-ragu menentukan tanggal yang tepat dari 

Advent kedua itu. Tetapi sesudah  tahun 1843 M berlalu tanpa peristiwa yang 

berarti, maka pada tanggal 4 Februari 1844 M, Miller menulis artikel pada 

majalah Signs of Times bahwa advent akan berlangsung antara tanggal 21 

Maret 1843 M dan 21 Maret 1844 M. Para jemaat yang memercayai apa yang 

diampaikan Miller mulai kecewa sesudah  pada hari ini  tidak terjadi apa-

apa. Padahal pengikutnya telah menjual harta benda atau membagikan pada 

orang miskin. 

Meskipun ada beberapa tokoh yang dianggap sebaagai peletak dasar 

Adventisme, namun tokoh yang dipandang paling besar dari ajaran yang 

mensucikan hari Sabat ini yaitu  Ellen Gould Harmon White (lebih populer 

dengan sebutan Ellen G. White 1827M-1915 M). Banyak pihak pada saat itu 

menganggap Ellen memiliki  karunia nubuat, bagaikan para nabi yang 

disebutkan di Perjanjian Lama. Hal ini disebab kan penlihatan-penglihatannya 

tentang “terang dan damai Kristus”. Berkat Ellen pula beberapa gerakan 

Millerit yang sempat berjalan sendiri-sendiri pasca hari “kekecewaan Agung”

7

 

mampu bergabung dengan cukup cepat sehingga gereja ini mencapai 

kemajuan besar.

8

  

Pada tahun 1860 M gereja ini mulai eksis dan bertumbuh-kembang di 

Amerika dan membangun reputasinya dan menamai gereja ini dengan Seventh 

Day Adventist.

9

 Akhirnya pada tahun 1863 M diselenggarakan konferensi 

umum yang pertama. Sejak tahun 1903 hingga sekarang kantor pusatnya 

berlokasi di Takoma Park, Wasington DC.

10

 

                                                 

7

 Hari kekecewaan Agung terjadi pada tanggal 22 Oktober 1844. Hari di mana para 

pengikut yang masih percaya akan advent dibuat kecewa untuk kedua kalinya sesudah  prediksi 

awal yang salah. 

8

Sebagai agama mission, sebelum tahun 1870-an berakhir pekerja-

pekerja GMAHK telah menjelajah Swiss (daerah Prusia), Perancis dan Italia. 

Pada tahun 1880-an mulailah penyebrangan ke negara-negara Mesir, Rusia, 

Australia, Afrika Selatan, Hongkong, Pitcairm, dan Turki. Pada tahun-tahun 

ini  Ellen G. White berada di eropa.

 

B. Sejarah Masuknya GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh) di 

negara kita  

GMAHK masuk ke negara kita  di bawa oleh Ralph Waldo Munson

 

dari New York, Amerika. Sebelum masuk ke negara kita  Munson dan 

keluarganya menuju Singapura. Mereka tiba di Teluk Bayur tepat pada 1 

Januari 1900 M. Di Singapura Munson membaptiskan seorang dari Padang 

(Sumatra Selatan, negara kita ) bernama Timothy (Tay Hong Siang). Kemudian 

bersama Timothy, Munson dan keluarga pindah ke Padang. Sesampainya di 

Padanag ia kembali membaptis seorang warga Padang bernama Siregar. 

sesudah  dibaptis kemudian namanya dikenal sebagai Immanuel Siregar. 

sesudah  dari Padang Munson melanjutkan misinya ke Jawa dengan 

membuka percetakan di Sukabumi pada tahun 1909 M.pada 1919 M, didirikan 

organisasi lokal di Kramat Pulo Jakarta dengan sebutan West Java Mission. 

Demikianlah daerah-daerah lain secara berturut-turut, masing-masing: Est 

Java Mission (1913 M), North Sumatra Mission (1917 M), South Sumatra 

Mission (1917 M), Sulawesi Mission (1923 M), Ambon Mission (1929 M), 

dan Batak Land Mission 1927 M). 

C. Sejarah Desa Kuwaron 

Kuwaron merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan 

Gubug, Kabupaten Grobongan, Jawa Tengah. Diperkirakan desa ini berdiri 

pada tahun 1811 M. Sosok dibalik pendirian Desa Kuwaron ialah Mbah 

Dermo. Sejarahnya, pada saat itu Mbah Dermo dengan rombongan yang 

berasal dari Pegandon, Kendal melarikan diri sebab  ingin dijadikan tenaga 

Rodi oleh pemerintahan Belanda saat itu. sesudah  menemukan tempat yang 

                                                

 Munson sebelumnya bekerja sebagai seorang Missionary Methodist. Akan tetapi, 

sebelum tahun 1900 ia tertarik untuk masuk dan menjadi seorang Advent. 

 

saat ini yaitu  Kuwaron, ia beserta rombongannya membuka hutan untuk 

dijadikan pemukiman. Tidak lama berselang disusul oleh rombongan  Mbah 

Lebai yang berasal dari Indramayu yang akhirnya ikut menempati tempat 

ini .

Namun hubungan kedua kelompok ini tidak harmonis. Hampir setiap 

hari terjadi konflik yang melibatkan antar kedua kelompok dari Mbah Dermo 

dan Mbah Lebai ini. Untuk menghindari konflik lebih parah, akhirnya Mbah 

Lebai beserta rombongannya pindah ke tempat pinggir sungai Tuntang. 

Pindahnya Mbah Lebai dan kelompoknya ke wilayah baru tidak 

menyelesaikan masalah. sebab  meskipun Mbah Lebai dan kelompoknya 

sudah pindah, namun pertikaian kini terjadi di internal kelompok Mbah 

Dermo. Sulitnya Mbah Dermo mengatur rombongannya, akhirnya Mbah 

Dermo menyusul Mbah Lebai ke pinggir sungai Tuntang. Kepergian Mbah 

Dermo menjadikan rombongan tidak ada yang memimpin. Suasana “Kowar-

kowar” ditunjukkan oleh warga. Maka desa ini  di namai Kuwaron. 

Karakteristik mayarakat Kuwaron ini  sampai sekarang masih terjadi. 

Namun ada  sumber lain yang menyebutkan bahwa nama Kuwaron 

diambil dari Bahasa Arab “kuwariro” yang artinya Kaca Benggala

14

D. Kondisi Geografi 

Secara geografis Desa Kuwaron terletak pada 0,01mdpl. Suhu 

minimum desa ini rata-rat 23°C dan suhu maksimum desa rata-rata yaitu  

39°C, menyebakan suhu udara desa ini cukup panas pada siang hari. Desa 

Kuwaron merupakan desa yang seluruh luas wilyahnya yaitu  permukaan 

datar. Secara administratif Desa Kuwaron terletak di Kecamatan Gubug, 

Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dengan letak Desa Kuwaron sebagai 

berikut: 

 Sebelah utara berbatasan dengan Desa Gubug 

 Sebelah timur berbatasan dengan Desa Kunjeng 

                                                 

 Wawancara dengan Mbah Heru pada tanggal 4 Desember 2019 

 Kaca Benggala berarti cerminan yang besar. Ini diharapkan bisa menjadi teladan bagi 

desa-desa lain 

 


 Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kapung, Desa Mrisi, dan 

Desa Ngambakrejo 

 Sebelah barat berbatasan dengan Desa Rowosari

15

 

Desa Kuwaron memiliki luas wilayah 480.608 Ha. Terbagi menjadi 

tanah untuk pemukiman, tanah perkebunan, tanah persawahan, dan tanah 

untuk fasilitas umum. Setengah luas wilayah desa Kuwaron merupakan lahan 

pertanian dan perkebunan dengan luas 247.290 Ha. sedang  sekitar 

225.317 Ha merupakan pemukiman penduduk dan sisanya merupakan lahan 

untuk fasilitas umum.

16

 warga  umumnya menanam padi pada musim 

hujan. sedang  pada musim kemarau para petani menanam palawija. 

Desa Kuwaron terdiri atas empat dusun yaitu Krajan, Solotigi, 

Jagansari dan Blumbung. Dukuh Krajan merupakan dukuh dengan wilayah 

yang paling luas dibandingkan dengan tiga dukuh lainnya. Dari sembilan RW 

yang ada di desa Kuwaron, hanya RW sembilan yang tidak berada di Dukuh 

Krajan. sedang  RW sembilan tersebar di tiga dukuh lainnya seperti 

Solotigi, Jagansari dan Blumbung. Dengan pembagian wilayahnya sebagai 

berikut: 

 RW 1 berjumlah 3 RT 

 RW 2 berjumlah 4 RT 

 RW 3 berjumlah 3 RT 

 RW 4 berjumlah 3 RT 

 RW 5 berjumlah 4 RT 

 RW 6 berjumlah 3 RT 

 RW 7 berjumlah 5 RT 

 RW 8 berjumlah 5 RT 

 RW 9 berjumlah 5 RT 

Di desa ini ada  fasillitas umum yang sangat urgen keberadaannya. 

Seperti RS PKU (Rumah Sakit Pusat Kesehatan Umum) Muhammadiyah 

Gubug dan juga Stasiun Kereta Api yang sampai saat ini masih aktif 

                                                 


beroperasi. Selain itu, desa Kuwaron memiliki letak geografis yang sangat 

strategis. Hal ini sebab  berbatasan dengan Desa Gubug yang merupakan 

Kecamatan dari desa Kuwaron. Dengan faktor ini  menjadikan aktivitas 

perekonomian yang ada di Desa Kuwaron sangat aktif, khususnya dukuh 

Krajan. 

Selain dua bangunan ini , di Desa Kuwaron ada  Pondok 

Pesantren Roudlotul Qur’an - Nurul Jannah yang dipimpin oleh K.H. Muhajir 

Zuhri bin Zuhri bin Shofwandurri yang sudah berdiri sejak lama.

17

 Di sekitar 

Pondok Pesantren berdiri satu-satunya masjid yang ada di desa Kuwaron yang 

bernama Masjid Al Huda. Meskipun hanya ada  satu bangunan masjid, 

namun ada  tigapuluh delapan bangunan mushola yang tersebar di desa 

Kuwaron. 

E. Kondisi Demografi dan Sosial Ekonomi 

Data terbaru yang diperoleh pada tahun 2019 menunjukkan Desa 

Kuwaron memiliki jumlah penduduk 9.236 jiwa. Dengan rincian laki-laki 

sebanyak 4.612 jiwa. sedang  jumlah perempuan sebanyak 4.624 jiwa.

18

 

Dari 9.236 jiwa, hampir 8.000 jiwa menempati dukuh Krajan. Sisanya tersebar 

di tiga dukuh lainnya seperti Solotigi, Jagansari dan Blumbung. 

Kepadatan penduduk yang terjadi di dukuh Krajan menjadikan 

aktivitas perekonomian berpusat di dukuh ini . ada nya bangunan 

rumah sakit, stasiun kereta api, pondok pesantren dan juga jarak pasar Gubug 

yang terbilang dekat menjadi salah satu faktor ini . Hal ini yang 

menjadikan warga  desa Kuwaron banyak yang berprofesi sebagai 

wiraswasta. 

Meskipun setengah dari luas Desa Kuwaron yaitu  persawahan, bukan 

berarti mayoritas warga  Desa Kuwaron berprofesi sebagai petani. Hanya 

sekitar 15,7 persen warga  Kuwaron yang berprofesi sebagai petani. 

sedang  persentase ini  masih di bawah wiraswasta yang mencapai 59 

persen dan karyawan pabrik yang mencapai 25,8 persen. Profesi petani hanya 

                                                 

didominasi warga  yang telah berusia 40 tahun ke atas. Sebagian besar 

warga  yang berprofesi sebagai petani bahkan mempuyai pekerjaan lain. 

Petani bukan menjadi pekerjaan utama bagi warga  desa Kuwaron.

Banyaknya pabrik-pabrik di sekitar Grobogan dan sekitarnya, 

khususnya Demak dan Semarang menjadikan warga  desa Kuwaron 

memilih menjadi karyawan pabrik. Mereka beralasan pendapatan yang 

didapatkan lebih pasti. Banyak dari mereka (karyawan pabrik) memilih 

bekerja di pabrik-pabrik yang berada di Semarang atau Demak. Upah yang 

lebih tinggi yang diterima dari pabrik-pabrik yang berlokasi di Demak dan 

Semarang dibanding Grobongan menjadi faktor banyaknya warga  yang 

memilih menjadi buruh pabrik. Mengingat UMK (Upah Minimum Kabupaten) 

Grobogan jauh di bawah dua wilayah ini . Jarak Desa Kuwaron ke 

Demak maupun Semarang yang hanya sekitar satu jam sebanding dengan 

upah yang didapatkan. 

F. Kondisi Sosial Budaya 

Menurut Stele (1983) untuk mengetahui keadaan suatu penduduk yang 

mendiami suatu wilayah, secara demografis biasanya dapat dilihat dari 

karakteristik penduduk. Seperti struktur umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan, 

tingkat pendidikan, suku, agama dan sebagainya.

Data yang diperoleh di Desa Kuwaron menunjukkan bahwa secara 

statistik mayarakat Desa Kuwaron yaitu  muslim. Dari 9.236 jiwa, 9.110 jiwa 

yaitu  pemeluk Islam. Sisanya yaitu Kristen dengan 56  jiwa, Katholik 

sebanyak 64 jiwa,  Buddha sebanyak 3 jiwa dan kepercayaan sebanyak 3 

jiwa.


 

Dari segi pendidikan warga  desa Kuwaron mayoritas merupakan 

orang yang berpendidikan tinggi. Minimal mereka lulus bangku SMA. Dan 

tidak sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini ditunjukkan dengan 

                                                 

19

 Data bersumber dari Sistem Informasi Manajemen Administrasi Kependudukan Desa 

(Simakdes) Desa Kuwaron , Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan tanggal 04 Desember 2019 

20

 Taufik Arbain, h. 100 

21

 Data bersumber dari Sistem Informasi Manajemen Administrasi Kependudukan Desa 

(Simakdes) Desa Kuwaron , Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan tanggal 04 Desember 2019 

 

43 

 

banyaknya warga  yang berprofesi sebagai guru, perawat, dokter, anggota 

DPR dan profesi-profesi yang memerlukan  ijazah tinggi lainnya. 

Sebagai desa yang mayoritas warga nya yaitu  muslim, 

menjadikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh desa lebih identik bercorak 

islami. Seperti peringatan sedekah bumi (apitan) yang ritual upacara 

berkonsep islam. Misalnya dalam apitan warga  desa Kuwaron 

mengadakan acara pengajian yang mengundang tokoh umat islam (kyai). 

Tingkat pluralitas yang tinggi yang ada di desa Kuwaron tidak 

menjadikan desa ini rawan akan konflik. Sebaliknya, harmonisitas 

ditunjukkan oleh warga  desa Kuwaron. Dalam bersosial misalnya, 

banyak dari mereka tidak mempermasalahkan kepercayaan agama yang 

dianutnya. ini yang memicu  tidak ada sekat yang menjadikan 

warga  desa Kuwaron untuk bersosial. 

 Sebagaimana pendapat Bruner (1994) dalam kasus penelitiannya yang 

menyatakan bahwa budaya dominan penduduk di suatu tempat menjadi acuan 

bertingkah laku oleh penduduk di mana ia tinggal.

22

 Hal ini tercermin oleh 

warga  Desa Kuwaron. Sebagai warga  nonmuslim yang tinggal di 

desa Kuwaron mereka diharuskan mampu memahami warga  sekitar yang 

mana yaitu  muslim.  

 Salah satu kasus yaitu warga yang beragama nonmuslim tetap menghadiri 

kenduren

23

 saat  mereka diundang oleh warga  sekitar. Meskipun di 

dalam acara ini  ada  bacaan-bacaan yang identik dengan islam. 

Selain itu, pihak desa yang melarang dibangunnya sebuah tempat peribadatan 

nonmuslim juga mampu dipahami oleh warga  nomuslim pada umumnya. 

Sikap bijak yang ditunjukkan oleh nonmuslim menjadikan desa ini terhindar 

dari konflik agama.

Kristen Advent atau GMAHK masuk desa Kuwaron pada tahun 1972 

M. Tokoh yang memperkenalkan Kristen Advent di desa Kuwaron yaitu  

kakak beradik yang bernama Beny Tua Mulya dan Iwan Setiawan (koh Long). 

Orang tua mereka merupakan pemeluk GKJ (Gereja Kristen Jawa). Awalnya 

pada tahun 1965 M Beny dan empat saudara kandung lainnya, yang salah 

satunya bernama Iwan Setiawan (Koh Long) diajak oleh pamannya pergi ke 

Ambon, Maluku, Manado, Ternate dan beberapa wilayah lainnya di negara kita . 

Nama paman ini  yaitu  Ishak Tua Mulya yang merupakan seorang 

pendeta Kristen Advent. Sejak keikutsertaannya dalam khotbah-khotbah 

pamannya di berbagai wilayah di negara kita , Beny dan saudaranya akhirnya 

menjadi pemeluk Kristen Advent di usia muda. Paman yang sekaligus 

merupakan seorang pendeta Advent akhirnya mengadopsi Beny dan saudara 

perempuannya sebagai anaknya yang menjadikan nama Tua Mulya ada pada 

namanya.

 

Sepulang dari Ambon pada tahun 1972 M, Beny Tua Mulya masih 

sering tinggal di beberapa kota untuk jangka waktu yang lama sebab  faktor 

keluarga. saat  kembali ke Desa Kuwaron pada tahun 1980, Beny Tua 

Mulya tidak memiliki  tempat tinggal di Desa ini . Dia memutuskan 

untuk mengontrak rumah di salah satu warga setempat yang bernama ibu 

Aminah yang beragama Islam pada masa itu.

26

 Kecintaan dan ketekunannya 

Beny Tua Mulya akan Alkitab membuat salah satu anak Ibu Aminah yang 

bernama Budi tertarik untuk ikut belajar agama ini . Terlebih lagi Budi 

melihat ada perbedaan yang sangat signifikan antara apa yang dilakukan Beny 

Tua Mulya dengan Kristen pada umumnya. Tidak berselang lama Budi 

dibaptis, dan beberapa tahun kemudian Ibu Aminah dan sekeluarga menyusul 

masuk agama Kristen Advent.

27

 

Banyaknya persamaan antara Kristen Advent dengan Islam yang 

dianut oleh mayoritas warga  Desa Kuwaron dalam hal makanan, 

membuat agama ini diterima dengan baik. Sebagai agama misi, kristen Advent 

                                                 

berusaha memperkenalkan agama ini kepada warga  desa Kuwaron dan 

sekitarnya. Pada periode 1990 sampai 2000an, agama ini mendapat dukungan 

dari Semarang. Ini ditunjukkan dengan mengirim tenaga sukarela

28

 yang 

didatangkan dari Gereja Advent yang ada di daerah Mataram, Semarang.

29

 

Upaya-upaya yang dilakukan oleh Kristen Advent untuk 

menyebarluaskan agama ini antara lain dengan mengadakan KKR (Kebaktian 

Kebangunan Rohani)

30

, mengadakan pengobatan gratis

31

 dan pembagian 

sembako kepada orang miskin, para janda dan lansia di Desa Kuwaron dan 

sekitarnya yang semua dilakukan secara intensif. Berkat kegiatan-kegiatan 

ini , akhirnya menumbuhkan minat warga  dan beberapa warga  

Desa Kuwaron untuk masuk Kristen Advent.

32

 

 

Bertambahnya jemaat Kristen Advent di Desa Kuwaron dan sekitarnya 

menginisiasi mereka untuk membangun gereja di wilayah sekitar. sebab  

pada saat itu mereka harus ke Semarang setiap hari sabat untuk melakukan 

kebaktian. Jauhnya jarak yang harus ditempuh menjadi salah satu faktor 

sebagian jemaat Kristen Advent Desa Kuaron yang tidak aktif lagi. Oleh 

sebab  itu, jemaat akhirnya menjadikan rumah mereka sebagai tempat ibadah 

di setiap hari sabat secara bergilir. Hal ini berlangsung selama beberapa 

tahun.

33

 

Terbitnya Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri dalam 

Negeri Nomor 9 Tahun 2006 Pasal 14 tentang Pendirian Rumah Ibadah

 KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) merupakan khotbah atau ceramah yang 

dilakukan oleh pendeta dalam sebuah ruang publik. Istilah ini bagi muslim negara kita  biasa disebut 

dengan pengajian (dalam Islam). 

31

 Dalam kegiatan pengobatan gratis sebelumnya diawali dengan khotbah-khotbah 

tentang nubuatan dan penjelasan ayat-ayat Alkitab tentang makanan dan minuman yang baik bagi 

tubuh 

32

 Wawancara dengan Pak Beny Tua Mulya pada tangga 30 November 2019 

33

 Wawancara dengan Pak Beny Tua Mulya 

34

 Pasal 14 ayat 2 poin 1 dan 2. a) Daftar nama dan kartu tanda penduduk pengguna 

rumah ibadat paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan leh pejabat setempat sesuai 

dengan tingkat batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat 3. b) dukungan 

warga  setempat paling sedikit 60  ( enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa  

 

46 

 

menjadikan Kristen Advent mengalami kendala untuk membangun gereja. 

Jumlah jemaat yang tidak memenuhi syarat menjadi kendala dalam upaya 

pembangunan gereja yang ada di Desa Kuwaron.  

H. Kehidupan Jemaat GMAHK Desa Kuwaron 

Hubungan masyrakat pedesaan biasanya didasarkan pada kekuatan 

ikatan tali persaudaraan, kekeluargaan, dan ikatan perasaan secara psikologis. 

Hubungan-hubungan sosial pedesaan mencerminkan kesatuan-kesatuan 

kelompok yang didasari hubungan kekerabatan atau garis keturunan. 

Terkadang desa dihuni oleh beberapa kelompok kerabat atau keturunan, 

terkadang pula hanya dihuni oleh warga dari garis keturunan yang sama. Hal 

ini yang membuat tingkat homogentias yang tinggi di warga  pedesaan. 

Jemaat Advent Desa Kuwaron sebagian merupakan penduduk lokal 

dan sekitarnya. Banyak dari mereka memiliki kerabat yang tinggal di Desa 

Kuwaron. Fenomena ini menjadikan jemaat Advent Desa Kuwaronmemiliki 

hubungan dengan warga  sekitar cukup baik. 

Interaksi sosial di antara jemaat Advent sangat baik. Karakteristik 

kelompok minoritas yang memiliki solidaritas yang tinggi antar anggotanya 

tercermin pula pada kelompok Advent Desa Kuwaron. Status sebagai 

kelompok minoritas membuat jemaat Advent Desa Kuwaron memiliki 

kedekatan antar jemaat layaknya saudara/ keluarga. 

Salah satu cara merekatkan hubungan antar jemaat, pasca kebaktian di 

Hari Sabtu jemaat biasanya memanfaatkan waktu ini  untuk berdiskusi 

tentang agama. Terlebih lagi, larangan untuk bekerja ataupun aktivitas yang 

berbau keduniaan. 

Jemaat Advent desa Kuwaron  sebagian merupakan penduduk asli 

Desa Kuwaron, dan sekitarnya. Menjadikan jemaat advent di sini memiliki 

kerabat atau keturunan yang nenek moyangnya merupakan penduduk lokal. 

memicu  jemaat Advent Desa Kuaron mampu bersosial dengan baik 

dengan warga  setempat. 

Kehidupan sosial antar jemaat Advent Desa kuwaron terbilang cukup 

baik. Seperti  


 

Kelangsungna kehidupan warga  pedesaan sangat dipngaruhi oleh 

kekuatan ikatan sosial, larangan dan kewajiban yang digariskan  sebagai adat 

istiadat. Tidak mengherankan jika kehidupan warga  pedesaan sangat 

berbeda jjauh dengan perkotaan. Tercermin dari tingkat solidaritas yang tinggi 

ditunjukkan oleh warga  desa. 

warga  Desa Kuwaron yang terbuka menjadikan mobilitas sosial 

antar jemaat berlangsung baik. Tidak ada gerakan dari kelompok warga  

yang melarang ibadah jemaat advent menjadikan jemaat tidak khawatir saat 

beribadah. 

Kehidupan saling menghargai ditunjukkan warga  Desa Kuwaron 

. kesadaran yang penting akan kehidupan yang penuh kedamaian menjadikan 

desa ini minim akan konflik agama. 

Tokoh agama memiliki peran penting dalam kehidupan sosial yang ada 

di Desa kuwaron. Salah satu dan merupakan satu-satunya pondok pesantren 

yang berada di desa Kuwaron asuhan K. Muhajir Zuhri bin Zuhri bin 

Shofwandurri yaitu Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an- Nurul Jannah 

memiliki  andil besar terhadap kehidupan harmoni Desa Kuwaron. 

Ditambah dengan hanya adanya satu masjid menjadikan tokoh agama mudah 

mengordinir jemaahnya, yaitu umat muslim. 

Kebijakan desa yang meemohon untuk tidak mendirikan tempat ibdah 

nonmuslim dipatuhi oleh pemeluk agama lain. Termasuk GMAHK. 

Dalam warga  heterogen, kelompok mayoritas lebih dominnan 

untuk mennguasai wilayah, terutama dari sektor politik. Islam yang menjadi 

mayoritas memliki kontrol terhadap kebijakan desa. Seperti halnya kasus 

diatas tentang larangnan mendirikan tempat ibaddah . sedang  minoritas 

menjadi kelompok yang lebih rentan menjadi sasaran diskriminasi. 

Semenjak berkembangnya jemaat Advent, menginisiasi untuk 

mendirikan gereja di wilayah Kuwaron. Memungkinkan supaya jemaat tidak 

terlalu jauh untuk beribadah. 

Kebijakan desa yang memohon kepada umat nonmuslim untuk tidak 

membangun tempat ibadah di wilayah Kuwaron serta peraturan Perundang-

undangan yang memberikan syarat pendirian tempat ibadah membuaat jemaat 

advent mengurungkan niat ini . Dan alternatifnya menjadikan rumah 

warga sebagai tempat ibadah. 

Keluhan jemaat di awal-awal yang menyebut terlalu jauh ibadahnya ke 

Semarang menjadikan rumah jemaat sebagai tempat ibadah secara bergilir 

dengan menghadirkan pendeta dua minggu sekali di hari sabat. Akhirnya pada 

tahun 2014 jemaat Advent memiliki tempat ibadah tetap sesudah  mengonntrak 

salah satu rumah. Kehadiran tempat ibadah di tengah-tengah warga  

muslim menambah tingakt pluralitas Desa Kuwaron. Bangunan yang secara 

resmi bukan merupakan gereja tidak dipermasalahkan warga  desa 

Kuwaron. 

I. Strategi Adaptasi Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Desa 

Kuwaron 

ada  beberapa strategi yang dilakukan oleh jemaat Advent Desa 

Kuwaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, diantaranya: 

1. Menjaga Interaksi Sosial dengan warga  Sekitar 

saat  seseorang tinggal dalam sebuah lingkungan yang baru perlu 

melakukan pendekatan terhadap warga  sekitar. Mengenal maupun 

memperkenalkan diri ke warga  sekitar merupakan salah satu akses 

untuk mampu berkomunikasi lebih lanjut. Dengan begitu memudahkan 

seseorang untuk mencapai tujuannya. Dalam hal ini yaitu  adaptasi. 

Dalam proses adaptasi, tidak hanya interaksi yang perlu diperhatikan. 

Memahami kondisi sosial maupun perekonomin wilayah yang menjadi 

tempat tinggalnya merupakan salah satu faktor yang perlu diidentifikasi 

untuk melakukan sebuah strategi, dalam hal ini yaitu  strategi adaptasi. 

Desa misalnya, yang dulu sering diidentifikasi sebagai penduduk yang 

dengan jumlah kecil dan bekerja di sektor pertanian. sedang  terkait 

relasi sosial, warga  desa memiliki  relasi yang kuat dibandingkan 

dengan perkotaan. 

Sebagimana dikutip dari Koentjaraningrat, bahwa warga  desa 

mengikat diri menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial 

didasari oleh dua prinsip penting yaitu: (1) prinsip hubungan kekerabatan 

(geneologis) dan  (2) prinsip hubungan tinggal dekat/teritorial.

35

 

Sebagai kelompok minoritas yang tinggal di desa, interaksi sangat 

penting bagi jemaat Advent. baik itu sesama jemaat atau warga  

sekitar. Menurut Pak Long keberadaan jemaat Advent di Desa Kuwaron 

yang sampai sekarang tetap eksis tidak lain sebab  tetap menjaga relasi 

yang baik kepada warga  sekitar. Dari awal kemunculan sekte ini, 

jemaat Kristen Advent tidak pernah membuat keributan. Setiap agenda 

yang diselenggarakan oleh jemaat Advent, selalu diawali meminta ijin dari 

pihak desa setempat. 

Selain itu hubungan antar jemaat juga sangat diperhatikan. Interaksi 

sosial yang dilakukan oleh jemaat Advent Desa Kuwaron anatar lain: 

a. Berteman, jemaat Advent desa Kuwaron memiliki relasi yang baik 

dengan warga  sekitar. Perbedaan keyakinan tidak menjadikan 

jemaat advent membatasi pergaulan dengan warga  sekitar. 

Sebagai kelompok minoritas mereka menyadari jika menjaga 

hubungan baik dengan warga  sekitar menjadi hal yang paling 

dasar. 

Ibu Aminah misalnya, salah satu jemaat advent yang semua 

tetangganya yaitu  muslim mengaku sering bergaul dan berbaur 

dengan tetangga. Terlebih lagi sebagai orang yang pindah agama ia 

berusaha agar tidak terkucilkan. Salah satunya yaitu dengan 

melakukan silaturrahmi.

 

b. Gotong royong, merupakan tradisi yang identik dengan warga  

pedesaan. Sebagai warga  yang hidup di desa, jemaat Advent Desa 

Kuwaron merupakan warga  yang mengerti betul akan pentingnya 

gotong royong dalam . Oleh sebab  itu, jemaat Advent sering 

berpartisipasi saat  ada acara gotong royong. Baik dalam mendirikan 

                                                 

rumah warga, bersih-bersih desa dan kegiatan-kegiatan lain yang 

melibatkan warga  umum. 

Ibu Aminah menjelaskan kehadirannya ke pasar dan juga ibu-ibu 

jemaat advent lainnya yang intensif sebab  belanja kebutuhan sehari-hari 

menjadikan mereka untuk tetap berperilau baik. Mereka merasa mewakili 

serta memiliki  tanggung jawab terhadap jemaat advent lainnya di desa 

Kuwaron. Selain itu, Pak Long yang memiliki  sampingan mejual gas 

elpiji juga menjelaskan dirinya harus berlaku jujur. Terlebih lagi tetangga-

tetangganya yang mayoritas merupakan muslim. 

Dalam menjaga interaksi dengan warga  sekitar misalnya, jemaat 

advent sering menghabiskan waktu sore hari untuk berkumpul dengan 

tetangga masing-masing. Saling bercerita tentang pekerjaan maupun 

aktivitas keseharian masing-masing menjadi momen untuk tetap menjaga 

keharmonisan sosial. 

2. Bersikap Inklusif Terhadap warga  Sekitar 

Inklusif merupakan sikap yang perlu ditunjukkan oleh individu 

maupun kelompok saat  hidup bersosial. sebab  pemilihan sikap dapat 

memberi dampak pada individu maupun kelompok ini . Jemaat 

Advent pada umumnya merupakan kelompok yang sangat terbuka. Tidak 

heran jika aliran ini tersebar ke lebih dua ratus negara di dunia.

37

 

Sayangnya di negara kita , jemaat ini masih asing bagi kebanyakan 

warga  negara kita . Pun demikian bagi warga   Desa Kuwaron, 

Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan aliran ini masih tergolong hal 

yang baru di telinga warga  Kuwaron. Bahkan beberapa warga  

Desa Kuwaron tidak mengetahui jika ada  agama ini di desa mereka. 

Seperti yang ditelah dijelaskan di bab sebelumnya dalam pengobatan 

gratis, mereka tidak menutup-nutupi jika kegiatan ini  merupakan 

kegiatan yang dipelopori oleh advent. Dalam mendapatkan partisipan, 

mereka secara terang-terangan mengakui bahaw kegiatan ini  

                                                 

 

mendapat support dari Advent dan mereka juga telah berkoordinasi 

dengan pihak desa setempat untuk mensukseskan keiatan ini . 

Selain mengadakan kegiatan sosial, penyelenggaraan KKR juga 

bersifat terbuka. Ini menunjukkan bahwa langkah kristen advent dalam 

memperkenalkan advent di desa kuwaron benar-benar terbuka. 

Saat diwawancarai, Pak Beny mengungkapkan bahwa kegiatan 

ini  merupakan kegiatan untuk mengabarkan kepada warga  

sekitar tentang apa yang ada pada perjanjian lama (Taurat). Tidak ada 

unsur paksaan kepada warga  yang datang dalam kegiatan ini  

harus dibaptis/ dituntut untuk masuk agama kristen Advent. Oleh sebab  

itu,  

Sebagai minoritas, jemaat Advent sebisa mungkin bersikap terbuka 

kepada semua warga . Bahkan pada awal kedatangan aliran ini, para 

misionaris memperkenalkan agama ini secara terang-terangan. 

Misalnya dalam kegiatan pengobatan gratis, mereka tidak menutup-

nutupi jika kegiatan ini merupakan kegiatan yang dipelopori oleh Advent. 

Dalam mendapatkan partisipan, mereka secara terang-terangan mengakui 

bahwa kegiatan ini  mendapat support dari Advent dan mereka juga 

telah berkoordinasi dengan kepala desa setempat untuk memsukseskan 

kegiatan ini . 

sikap inklusif yang ditunjukkan oleh jemaat Advent yaitu dengan tetap 

menghormati pemeluk agama lain di sekitar lingkungannya. Ibu Aminah 

menjelaskan, meskipun dirinya merupakan orang Advent baru, dia tidak 

terus bersikap eksklusif dengan tetangganya yang mana mayoritas yaitu  

muslim. Bahkan dirinya menyebutkan jika dia lebih sering aktif untuk 

memulai membuka obrolan dengan tetangga. 

Dia juga menegaskan, dirinya tidak pernah memulai pembicaraan 

tentang kepercayaannya yang baru dipeluknya. Sikap inklusif yang 

ditunjukkan oleh tetangga maupun warga  sekitar yang tidak 

mempersekusi, mengintervensi maupun mendiskriminasi jemaat advent 

menjadikan Ibu Aminah melakukan hal yang sama yaitu tetap berbaur 

dengan warga  sekitar. Dia juga mengaku selama berpindah 

kepercayaan, dirinya tidak merasa teralienasi. 

Dengan demikian, sikap inklusif merupakan salah sikap yang 

mendukung jemaat advent untuk bisa diterima dengan baik di desa 

Kuwaron. 

3. Integrasi dalam Kegiatan Sosial warga  

Integrasi warga  bisa diartikan sebagai bentuk penyatuan 

warga  yang terdiri atas berbagai macam elemen dalam lingkungan 

pergaulan. Elemen-elemen ini  biasnya memilki ciri khas masing-

masing bisa dalam wujud kebudayaan, bahasa, agama, etnik, ras, dan 

sebagainya. Elemen-elemen yang ada kemudian melebur menjadi satu 

dalam komunitas warga  di mana mereka bisa hidup berdampingan 

satu sama lain, di mana keberadaannya terikat oleh suatu aturan yang 

sama.

 

Dari uraian ini , dapat disimpulkan bahwa integrasi sosial yaitu  

sebuah keniscayaan bagi siapa saja (individu maupun kelompok) yang 

hidup dalam komunitas yang heterogen. Pada jemaat Kristen Advent 

kuwaron yang tinggal di warga  yang plural misalnya, mereka pada 

akhirnya bakal terlibat dengan warga  sekitar. 

Salah satu hal yang bisa menjadi tolak ukur sejauh mana integrasi 

suatu kelompok dengan kelompok lain yaitu  lewat interaksi dan juga 

keterlibatan dengan kelompok lainnya. Ruang interaksi dalam kegiatan 

sosial ini mendorong tejadinya penguatan frekuensi berinteraksi, tidak 

sekedar saling menyapa, tetapi intensitas interaksi turut pula menguat 

hingga diwujudkan dalam bentuk kerjasama di berbagai bidang. Hal ini 

memberi pengaruh terhadap suatu kelompok terhadap stereotip yang telah 

melekat pada kelompok ini . 

Proses komunikasi yang secara intensif terjadi saat  terlibat dalam 

suatu kegiatan sosial memberi efek positif terhadap kelompok ini . 

Misalnya mampu mengurangi stereotip tehadap suatu ras, etnis maupun 

                                                 

 

sekte sebuah agama. Seperti halnya advent yang dianggap melenceng dari 

agama Kristen dan dianggap sebagai aliran yang berbahaya. 

Bertolak pada pandangan di atas, keterlibatan dalam kegiatan sosial 

menjadi aspek penting dalam mengukur strategi adaptasi yang dilakukan 

jemaat Advent Desa Kuwaron. Dalam kegiatan-kegiatan desa misalnya, 

jemaat Advent aktif berpartisipasi. Kegiatan ini mendorong warga  

untuk berkomunikasi, berinteraksi dengan warga  lainnya. Alhasil, ini 

mempengaruhi jemaat advent Desa Kuwaron. Kehidupan di pemukiman 

yang plural, menggugah kesadaran jemaat advent untuk adaptif terhadap 

lingkungan sekitar seperti gotong royong disekitar komplek pemukiman. 

Ibu Aminah salah satu jemaat advent menjelaskan warga  desa 

Kuwaron yang memiliki sikap toleran terhadap perbedaan keyakinan 

menjadikan jemaat Advent mudah diterima dilingkungannya. Meskipun 

keputusan untuk pensiun dini dari pekerjaannya sebagi pengajar sebab  

faktor agama tidak menjadikan warga  menentang dan dikucilkan 

dalam kurun waktu yang lama. Tidak butuh waktu yang lama Ibu Aminah 

dapat berbaur kembali dengan warga sekitar pasca pindah agama. 

Kondisi warga  pedesaan yang tidak bisa dilepaskan dari interaksi 

sosial menjadikan jemaat advent desa kuwaron ikut terlibat dalam 

kegiatan-kegiatan sosial. Hal ini membuat Jemaat Advent tidak bisa 

bersikap apatis dengan warga . Mereka harus membangun kesadaran 

baik individu maupun sesama jemaat advent desa kuwaron agar ikut 

memerankan dirinya dan ikut menjadi bagian dari warga  desa 

Kuwaron. 

Pak Iwan misalnya, beliau diamanahi menjadi ketua RT sejak tahun 

2000an hingga sekarang. Keterlibatannya pada desa menjadikan ia 

memiliki hubugan yang baik dengan warga  sekitar. Menyadari bahwa 

ia berbeda dengan warganya, menjadikan dirinya terobsesi untuk menjadi 

pribadi yang lebih baik. Baginya ini juga mewakili jemaat advent yang ada 

di desa Kuwaron dan sekitarnya. Selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan 

yang diselenggarakan oleh desa menjadikan dirinya dikenal warga  

Kuwaron. Sebagai orang yang tinggal di desa, ia menyadari pentingnya 

gotong-royong, kerja bakti dan kegiatan-kegiatan yang memerlukan 

keterbitan warga . 

Jemaat Advent perempuan desa Kuwaron juga memiliki hubungan 

yang baik dengan warga  sekitar. Keikutsertaannya pada perkumpulan 

ibu-ibu seperti arisan, membuat ibu-ibu jemaat Advent desa Kuwaron 

mampu beradaptasi dengan baik. 

Integrasi yang dilakukan jemaat Advent dan warga  desa Kuwaron 

lainnya seperti pada acara-acara perlombaan Agustusan, acara perkawinan 

dan acara sedekah bumi (apitan). Acara-acara ini  merupakan salah 

satu strategi adaptasi yang dilakukan jemaat Advent desa Kuwaron untuk 

menunjukkkan kepedulian mereka akan sosial. 

Pada konteks ini , sebagaimana yang diungkapkan Soerjono 

Soekanto, yang menyebut bahwa usaha mengadaptasikan diri melalui 

interaksi sosial akan menghasilkan dimensi baru, yaitu kerjasama 

(cooperation) maupun pertikaian (conflict). Langkah adaptasi ini  

tentu saja telah melalui kotak sosial dan juga komunikasi. Dan usaha 

ini  menghasilkan kerjasama antara jemaat advent dengan warga  

sekitar. 

Selain strategi ini , ada hal unik lainnya. Istri Pak Iwan yang 

sampai saat ini masih memeluk agama Islam membuat dirinya ikut serta 

dalam muulud rutinan. Para peserta yang terdiri dari ibu-ibu muslimah 

ini  tidak khawatir dengan apa yang disuguhkan hidangan saat giliran 

ke rumah ibu Iwan. Menurutnya, kemiripan tentang halal dan haram dalam 

agama Advent dengan Islam menjadikan jemaah muslimah tidak 

mwngkhawatirkannya. Ditambah tidak adaya salib (dalam kepercayaan 

Advent salib dilarang) di rumah-rumah jemaat advent menjadikan 

warga  sekitar bebas bertamu dan tidak risih dengan adanya simbol 

salib. 

Jemaat Advent desa kuwaron juga menampilkan sikap toleran pada 

perayaan Hari Raya Idul Fitri. Mereka mempersilahkan rumah mereka 

dikunjungi tetangga dan warga  sekitar yang beragama Islam. Pun 

sebaliknya, jemaat Advent juga bertamu ke rumah-rumah warga saat hari 

raya idul fitri. Pemandangan seperti ini sudah berlangsung sejak lama. 

Syaiful Amri menuturkan, semua warga  terlibat langsung dalam 

perayaan-perayaan yang bersifat nasional. Misalnya saat Pemilihan Umum 

(Pemilu) baik tingkat desa, Kabupaten, provinsi maupun pemilihan 

presiden semua warga  terlibat dalam mensukseskan kegiatan 

ini . 

Pak Iwan yang merupakan ketua RT setempat sering terlibat langsung. 

Bahkan dia menjelaskan, posisinya sebagai RT yang masih dipercaya 

sampai saat ini menjadikan dirinya aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan 

desa. Dia mengaku juga rajin berangkat dan aktif saat musyawarah desa. 

4. Mematuhi Aturan serta Mencegah Konflik 

Jemaat Advent Desa Kuwaron sebagian merupakan penduduk lokal, 

dan sekitarnya. Banyak dari mereka memiliki kerabat yang tinggal di Desa 

Kuwaron. Fenomena ini menjadikan jemaat Advent Desa Kuwaron 

memiliki hubungan dengan warga  sekitar yang cukup baik. 

Dalam kondisi warga  yang plural, sangat memungkinkan 

timbulnya konflik di kemudian hari. Sebagai kelompok minoritas yang 

tinggal di mayoritas muslim, harus bisa memahami apa yang.menjadi 

keinginan mayoritas. Dalam hal ini yaitu  muslim. 

Sebagaimana diungkapkan Syaiful Amri yang menyebut bahwa untuk 

saat ini, mbah yai (tokoh desa) mengharapkan agar tidak mendirikan 

tempat ibadah nonmuslim. Baik itu gereja, klenteng, dan sebagainya. Bagi 

warga  nonmuslim yang ingin beribadah dapat beribadah ke Gubug. 

sebab  lokasi yang tidak jauh dari Desa Kuwaron. 

Meskipun ada  aturan adat yang sebenenarnya merupakan bentuk 

diskriminasi, akan tetapi warga  nonmuslim tidak mempermasalahkan 

hal ini , termasuk jemaat Advent. Bagi jemaat Advent sendiri, selama 

jemaat tidak merasa teralienasi di warga  serta mengizinkan 

pemakaian  rumah sebagai tempat ibadah sudah merupakan rasa syukur. 

Respon warga  yang tidak mempermasalahkan hal ini  menjadi 

fenomena tersendiri untuk desa Kuwaron. 

Jemaat Advent Desa Kuwaron memahami betul aturan undang-undang 

tentang pendirian rumah ibadah. Mereka menyadari bahwa mendirikan 

sebuah gereja  bukan perkara yang mudah. Selain undang-undang yang 

ada di negara kita , ijin dari desa maupun warga   sekitar juga 

merupakan hal yang harus diperhatikan. 

Pak Beny menyadari bahwa kejadian-kejadian di wilayah lain tentang 

penolakan pendirian rumah ibadah menjadi sebuah pembelajaran baginya 

dan para jemaat lainnya. Bagi dirinya, arsitektur tempat ibadah yang 

identik dengan agama tertentu tidak menjadi permasalahan. Dia juga 

mengetahui jika di desanya tidak diperkenankan membangun gereja. Oleh 

sebab  itu, Pak Beny dan jemaat advent sudah bersyukur dengan 

mengizinkan salah satu rumah untuk dijadikan tempat ibadah jemaat 

Advent. 

  

A. Strategi Adaptasi Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

Adaptasi merupakan kemampuan makhluk hidup baik itu tumbuhan, 

binatang maupun manusia untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang 

terjadi dalam lingkungan hidupnya. Dalam melakukan suatu adaptasi, 

mahkluk hidup khususnya manusia perlu melakukan strategi adaptasi agar 

tujuannya tercapai. Strategi sendiri merupakan seni atau ilmu yang 

menggunakan sumber daya untuk mencapai sasaran khusus. 

Adaptasi mengharuskan individu untuk menyarinng manakah perilaku 

yang harus dan tidak harus dia lakukan. Adaptasi nilai dan norma 

antarpribadi/ kelompok sangat ditentukan oleh dua faktor, yaitu pilihan untuk 

mengadaptasikan nilai dan nilai yang fungsional yang mendukung hubungan 

antarpribadi maupun antar kelompok. 

Jemaat Kristen Advent Desa Kuwaron juga melakukan strategi adaptasi 

agar keberadaan jemaat advent tetap eksis sampai saat ini. Sebagai salah satu 

kelompok minoritas yang ada di Desa Kuwaron, Jemaat Advent harus mampu 

beradaptasi dengan penduduk desa Kuwaron. Berbeda dengan adaptasi yang 

dilakukan para migran yang menghadapi tantangan yang lebih kompleks 

seperti perbedaan suku, ras, bahasa maupun agama. Adaptasi yang dilakukan 

oleh jemaat Advent Desa Kuwaron harusnya memiliki  tantangan yang lebih 

ringan dibandingkan dengan adaptasi para migran yang sebelumnya telah 

terjadi konflik. 

Seperti menurut Bennett yang menyatakan bahwa seorang atau kelompok 

akan melakukan siasat untuk menghindari penolakan agar mampu 

mempertahankan kehidupan di wilayah ini . Hal demikian juga yang 

harus dilakukan oleh Jemaat Advent Desa Kuwaron supaya mereka bisa 

bertahan hidup dan terhindar dari pengusiran. 

Jika parameter keberhasilan adaptasi yang dilakukan oleh sebuah 

kelompok yaitu  betah atau kerasan di mana ia bermukim, maka jemaat 

Advent bisa diaggap berhasil dalam melakukan sebuah adaptasi. Kehidupan 

jemaat advent yang telah puluhan tahun tinggal di Desa Kuwaron bisa 

dijadikan tolak ukur ini .  

Adaptasi yang dilakukan oleh jemaat Advent ada  faktor pendukung 

yang menjadikan jemaat Advent mampu beradaptasi dengan baik. Selain itu, 

ada  indikator sebagai acuan mengapa Jemaat Advent dapat dikatakan 

berhasil dalam beradaptasi di Desa Kuwaron. 

1. Faktor Pendukung Adaptasi Jemaat Gereja Masehi Advent Hari 

Ketujuh 

Dalam bab sebelumnya, penulis menyatakan bahwa adaptasi bukan 

suatu hal yang mudah dilakukan oleh suatu individu maupun kelompok. 

ada  hal-hal yang harus diperhatikan dan juga faktor yang 

mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya suatu individu maupun 

kelompok dalam hal adaptasi. 

Dalam kehidupan warga  kebutuhan akan sosial sangat 

diperlukan. Untuk mendapatkan hak-hak semacam itu, individu maupun 

kelompok pendatang atau kelompok baru perlu melakukan adaptasi. 

Jemaat Advent sebagai aktor dalam penelitian ini, memiliki peran 

tersendiri sebagai kelompok yang melakukan adaptasi. 

Dalam waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, keberadaan Jemaat 

Advent di Desa Kuwaron pastilah ada  faktor pendukung yang 

memicu  Jemaat Advent di Desa Kuwaron berhasil dalam hal 

adaptasi. Dari hasil data yang diperoleh peneliti, ada  faktor yang 

mendukung keberhasilan adaptasi Jemaat Advent Desa Kuwaron, antara 

lain: 

a. Solidaritas Antar Jemaat 

Solidaritas yang dapat diartikan sebagai sifat atau rasa senasib 

menjadikan Jemaat Advent Desa Kuwaron memiliki rasa yang sama. 

Sebagai kelompok minoritas yang identik dengan kesolidan antar 

anggotanya. Pun demikian yang terlihat pada Jemaat Advent Desa 

Kuwaron. Keakraban yang ditunjukkan oleh Jemaat Advent Desa 


Kuwaron sangat trlihat. Tidak hanya saat kebaktian sabat, dalam 

kesehariannya, jemaat Advent juga sering berkumpul. 

Data yang diperoleh peneliti tentang solidaritas yag tinggi yang 

ditunjukkan oleh jemaat Advent membuat mereka saling membantu 

jika ada  salah satu jemaat mengalami masalah, terlebih lagi 

dengan warga  sekitar. 

Salah satu kesolidan yang ditunjukkan oleh jemaat Advent yaitu 

mengenai bagaimana mereka memutuskan untuk menggunakan rumah 

sebagai tempat ibadah. Akses ke Semarang yang jauh serta kepatuhan 

semua jemaat Advent untuk beribadah dengan mematuhi aturan desa 

yang ada menjadi bukti hubungan antar JemaatAdvent Desa 

Kuwaronterbilang sangat baik. 

b. warga  yang Terbuka 

Sebagai warga  pedesaan, interaksi antar warga  akan 

terjadi secara intens. Fenomena seperti ini juga nampak terlihat di 

Desa Kuwaron. Dalam aktivitas sehari-hari bertemunya orang yang 

berlatarbekang berbeda-beda di suatu warga  yang plural tidak 

bisa dinafikan. Oleh sebab  itu faktor lingkungan sangat berpengaruh 

terhadap suatu adaptasi yag dilakukan oleh jemaat Advent Desa 

Kuwaron. 

warga  Desa Kuwaron yang mayoritas  merupakan pemeluk 

Islam memahami betul akan pentingnya kehidupan yang damai. 

Dengan pemahaman seperti ini menjadikan jemaat Advent Desa 

Kuwaron lebih mudah beradaptasi dengan lingkunganyang seperti ini. 

Seperti adanya rumah yang dijadikan jemaat Advent dalam 

beribadah setiap hari Sabtu yang terletak di tengah-tengah penduduk 

muslim. warga  sekitar yang tidak mempermasalahkan rumah 

ini  memperlihatkan bahwa toleransi yang ditunjukkan oleh 

warga  sekitar sangattinggi. 

Selain peristiwa ini , kasus Ibu Aminah yang pindah agama 

serta istri Pak Iwan yang sampai saat ini masaih memeluk agama Islam 

memperlihatkan juga bahwa warga  Desa Kuwaron sangat 

mengerti akan pilihan hidup, dalam hal ini yaitu  kepercayaan. 

c. Kesadaran warga  

Kesadaran seseorang sebagai makhluk hidup yang tidak bisa hidup 

sendiri tanpa bantuan orang lain menjadi alasan lainnya. Selain itu, 

tanpa adanya kesadaran oleh warga  mengenai toleransi tidak akan 

tercipta kehidupan yang damai. Sebagai makhluk sosial manusia tidak 

pernah lepas dari bantuan manusia lainnya. Kesadaran seperti ini yang 

terlihat pada warga  Desa Kuwaron. 

Hasil wawancara dengan Syaiful Amri yang menganggap bahwa 

warga  Desa Kuwaron sangat menghargai kepercayaan seseorang 

(agama) menjadi salah satu alasan adaptasi yang dilakukan oleh 

Jemaat Advent Desa Kuwaron berjalan lancar dan tetap eksis sampai 

saat ini. Meskipun ajaran-ajaran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh 

yang sangat kontras dengan Kristen pada umumnya tidak menjadikan 

warga  Desa Kuwaron mencurigai sekte ini. Meskipun ajaran-

ajaran yang ada pada sekte ini ada  kemiripan dengan Islam yang 

mana merupakan agama yang dipeluk oleh mayoritas warga  Desa 

Kuwaron. 

d. Ajaran Agama 

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang merupakan nama dari 

sekte salah satu agama tidak bisa dihindarkan dari keagamaan. Sebagai 

kelopok keagamaan pastilah betul memahami ajaran-ajaran yang 

ada  di Alkitab. Seperti ajaran Yesus yang sangat identik dengan 

ajaran kasih. 

Hal semacam ini juga ditunjukkan oleh warga  Desa Kuwaron 

yang mayoritas merupakan muslim. Ajaran Islam yang yang sangat 

menghargai umat lain, serta perbedaan merupakan sunnatullah. 

Terlebih lagi keberadaan Pondok Pesantren yang diasuh oleh K.H. 

Muhajir Zuhri yang mampu menjadi sosok penting terciptanya 

kehidupan yang penuh toleransi di Desa Kuwaron. 

2. Indikator Keberhasilan Srategi Adaptasi Jemaat Gereja Masehi 

Advent Hari Ketujuh Desa Kuwaron 

Keberhasilan suatu individu maupun kelompok dalam hal adaptasi 

tidak bisa dilepaskan dari beberapa aktor maupun faktor. Kedua elemen ini 

sangat mempengaruhi proses hingga keberhasilan suatu adaptasi. Sebagai 

hasil dari proses yang panjang ini , tentu ada indikator sebagai tolak 

ukur dalam mengukur keberhasilan suatu adaptasi. Dan indikator suatu 

individu maupun kelompok dikatakan berhasil dalam hal adaptasi ialah 

jika suatu individu ataupun kelompok tetap eksis dan meresa betah di 

lingkungan di mana ia tinggal. 

Dalam langkah melakukan adaptasi, ada  tiga konsep yang 

perlu diperhatikan menurut Jon W. Bennett. Seperti perilaku, siasat, dan 

juga proses. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dan 

dibandingkan dengan indikator keberhasilan suatu adaptasi maka dapat 

disimpulkan sebagai berikut. 

a. Terciptanya Interaksi Sosial di antara Jemaat Advent dan warga  

Sekitar 

Interaksi merupakan bentuk umum dari proses sosial. Ini dipahami 

sebab  interaksi sosial merupakan dasar utama terjadinya aktivitas-

aktivitas sosial. Suatu interaksi terjadi tidak lain sebab  ada kebutuhan 

dari seorang individu. 

Jemaat Advent yang merupakan kelompok minoritas 

memerlukan  suatu interaksi dengan warga  sekitar. Dengan 

terciptanya interaksi yang terjadi antara Jemaat Advent dengan 

warga  sekitar maka akan berpengaruh pada kehidupan para 

Jemaat Advent di Desa Kuwaron. 

Penyesuaian diri yang berbentuk adjustive juga sangat diperlukan 

oleh suatu individu maupun kelompok. Hal ini sebab  sebagai manusia 

perilaku sangat berpengaruh terhadap penerimaan suatu individu 

maupun kelompok. Mematuhi aturan-aturan atau norma-norma yang 

ada merupakan hal yang sangat penting. 

Kehidupan Jemaat Advent yang bersikap terbuka dengan 

warga  menjadikan mereka mudah berbaur. Faktor keluarga serta 

karakteristik orang pedesaan juga mempengaruhi terhadap 

keberhasilan Jemaat Advent dalam menciptakan suatu interaksi 

diantara warga  sekitar. 

Hasil observasi dan wawancara juga menjelaskan bahwa tingkat 

frekuensi interaksi juga dipengaruhi oleh adanya fasilitas umum, 

seperti pasar, sekolah, dan lain-lain. Fasilitas umum ini  

menjadikan jemaat Advent mempuyai kesempatan untuk berbaur 

dengan warga  sekitar.  

Dari fenomena di atas, dapat dilihat bahwa jemaat Advent desa 

Kuwaron sangat mengerti betul pentingya menjaga interaksi dengan 

warga  sekitar. Mereka menyadari bahwa bukan hanya kebutuhan 

biologis yang mampu menjadikan manusia tetap hidup. Akan tetapi, 

ada  faktor lain yang sangat mempengaruhi keberlangsungan hidup 

manusia, yaitu warga  sekitar. Oleh sebab  itu, menjaga interaksi 

dengan warga  menjadi faktor fundamental bagi jemaat Advent 

desa Kuwaron. 

b. Diterimanya Jemaat Advent Di Desa Kuwaron 

Dalam UUD pasal 28 dan 29 negara menjamin kebebasan hak 

warga negara untuk memeluk agama serta ibadah sesuai dengan 

kepercayaan yang mereka percayai. Dan diterimanya jemaat Advent di 

Desa Kuwaron merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam hal 

adapatasi. Hal ini bisa dilihat dari keterlibatan Jemaat Advent di ruang 

publik, seperti di bidang ekonomi, sosial, maupun politik. 

Pak Iwan yang menjadi ketua RT di kampungnya menjadi contoh 

bahwa Jemaat Advent diterima di Kuwaron. Hal ini juga 

memperlihatkan jika Desa Kuwaron menampilkan keintegrasian, 

terutama dalam bidang politik pemerintahan. Fenomena-fenomena 

mengenai keterlibatan jemaat Advent dalam kegiatan sosial 

kewarga an juga menambah tingkat integrasi Desa Kuwaron. 

Proses sosial yang bersifat asosiatif ini memberikan rasa aman kepada 

Jemaat AdventDesa Kuwaron. Hal ini berarti, keadaan lingkungan 

yang positif telah membuat Jemaat Advent mencapai potensi 

maksimalnya dalam hal strategi adaptasi yang dilakukannya. 

c. Eksistensi Jemaat Advent Hingga Sekarang 

Keberadaan jemaat Advent hingga saat ini menjadi indikator 

puncak bahwa jemaat  Advent di Desa Kuwaron mampu beradaptasi 

dengan baik. Usia Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Desa Kuwaron 

yang hampir setengah abad membuktikan bahwa warga  desa 

Kuwaron menerima jemaat ini. 

Sebagai agama yang tergolong minoritas di wilayah ini, bahkan 

masih asing bagi warga  negara kita , jemaat Advent Desa Kuwaron 

tetap berupaya untuk selalu eksis di tengah banyaknya konflik agama 

yang terjadi di negara kita  ini. ada  beberapa faktor yang 

memicu  keeksistensi Jemaat Advent hingga saat ini. 

Seperti halnya menurut Schneidrs bahwa lingkungan memiliki  

peran yang sangat signifikan terhadap proses adaptasi. Lingkungan 

kewarga an Desa Kuwaron yang damai, tentram, serta tidak 

mengusik hal-hal yang bersifat religiusitas menjadikan jemaat Advent 

masih eksis hingga sekarang. 

Dalam periode yang lama ini , jemaat Advent tidak pernah 

menyulut konflik. Sebagai kelompok minoritas, sikap inklusif 

ditunjukkan oleh jemaat ini. Selain itu, perilaku yang ditampilkan oleh 

jemaat Advent Desa Kuwaron yang mematuhi aturan desa untuk tidak 

mendirikan gereja di Desa Kuwaron juga dipenuhi. 

Berbagai hal yang telah disebutkan di atas, setidak-tidaknya dapat 

menggambarkan bahwa strategi-strategi yang dilakukan oleh jemaat Advent 

dalam upaya adaptasi di Desa Kuwaron yaitu  bentuk strategi adaptasi dengan 

cara yang damai. Pemahaman para jemaat tentang pentingnya kehidupan yang 

harmonis juga menjadi faktor GMAHK tetap eksis keberadaannya sampai saat 

ini di Desa Kuwaron. 

  


sesudah  diadakan berbagai wawancara, pengumpulan data serta analisa 

yang diperoleh dalam rangka pembahasan skripsi yang berjudul “Strategi 

Adaptasi Jemaat Advent (Studi Kasus Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug, 

Kabupaten Grobogan)” maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 

1. Dinamika sosial warga  yang ada di Desa Kuwaron sangat baik. 

Kehidupan warga  Desa Kuwaron yang penuh dengan rasa toleransi. 

2. Berdasarkan teori tentang strategi adaptasi menurut para tokoh yang telah 

disebutkan di bab sebelumnya dengan serta indikatornya, maka jemaat 

Advent telah berhasil dalam melakukan adaptasi, sebab  eksistensi jemaat 

ini di Desa Kuwaron sampai saat ini, meskipun penyebarannya tidak 

masif. 

3. Dalam proses adaptasiya, ada  faktor-faktor yang mendukung 

keberhasilan Jemaat Advent Desa Kuwaron dalam beradaptasi, antara 

lain: 

a. Solidaritas antar jemaat 

b. warga  Desa Kuwaron yang terbuka 

c. Kesadaran warga  Desa Kuwaron 

d. Ajaran Agama 

4. Selain itu ada  indikator yang mencerminkan bahwa adaptasi yang 

dilakukan jemaat Adent berhasil, diantaranya: 

a. Terciptanya interaksi sosial di antara Jemaat Advent dan warga  

Sekitar 

b. Diterimanya jemaat Advet di Desa Kuwaron 

c. Eksistensi Jemaat Advent hingga sekarang. 

B. Saran-saran 

Adapun saran yang dapat diberikan berdasarkan kesimpulan penelitian ini 

yaitu : 

1. Harapan penulis agar warga  yang tinggal di Desa Kuwaron tetap 

menjaga harmonitas agar tidak terjadi konflik kelompok di kemudian 

hari. Dan diharapkan pula mendukung kelompok minoritas dalam 

pembangunan tempat ibadah agar tidak ada kecemburuan sosial, dan 

menjadikan desa Kuwaron sebagai cerminan desa-desa yagn lain. 

2. Hasil penelitian ini tentunya msih jauh dari kata sempurna, sehingga 

penulis menyarankan agar penelitian ini dapat dikembangkan lagi oleh 

peneliti lainnya terkait proses adaptasi sosial. 

3. Dalam penelitian ini ada  kekurangan, disebab kan keterbatasan 

peneliti dalam meng-explore data terlebih dalam hal mengenai adaptsi 

jemaat advent Desa Kuwaron. Maka dari itu untuk penelitian 

selanjutnya mengenai adaptasi sosial untuk dapat menggali data lebih 

dalam.