alkitab digital 1
Kemajuan teknologi menawarkan banyak kemudahan dalam berbagai hal. Telepon genggam kini tidak hanya bisa
menerima dan mengirim pesan atau melakukan panggilan telepon lokal atau internasional, namun mampu
melakukan berbagai macam hal. Hari ini, ponsel dan perangkat serupa disesuaikan dilengkapi dengan perangkat
lunak, akses internet, kamera digital, pemutar musik portabel, GPS dan banyak pilihan lainnya.
Untuk melakukan transaksi pemindahan rekening tidak perlu repot-repot mengantri di Bank, dengan beberapa
kali klik beberapa dana telah berpindah tangan. Jual beli dilakukan oleh mesin tanpa temu atau tatap muka,
seperti banyak penyedia jasa online yang kita ketahui lebih mirip Plaza atau Mal tapi bukan dalam bangunan
megah, namun sebuah benda persegi panjang dengan berbagai ukuran, smartphone dengan berbagai sistem
operasi.
Didalamnya bisa diinstal ragam aplikasi tergantung pengguna. Yang menariknya sebuah perpustakaan mini atau
sedang, atau besar juga bisa dimasukkan kedalamnya disesuaikan kapasitas penyimpanan. Berbagai macam e-
book, papers, komik, jenis bacaan apapun ada didalamnya tidak ketinggalan kitab-kitab suci.
Tidak berat dan tidak ribet dengan ukurannya yang cukup kecil, sehingga bisa dimasukkan ke dalam tas kaum
hawa atau saku kaum Adam. Tidak hanya di hari Minggu di mana saja, kapan saja ingin membaca dan
merenungkan firman Tuhan sepanjang ada smartphone sudah pasti bisa dilakukan. Dalam sesi-sesi
pembelajaran Alkitab pun, sangat mudah untuk melakukan proses pencarian suatu kitab, bab dan ayat atau
bahkan sebuah kata kunci. Hampir sama saat kita memakai kalkultor, untuk mendapatkan hasil tinggal
menekan beberapa tuts dan keluarlah hasilnya.
Begitu juga saat hendak berbagi renungan di media sosial, dengan sentuhan aplikasi maka dalam hitungan
detik, ayat yang ingin dibagi sudah langsung ter-share. Beberapa orang lebih memilih alkitab digital dengan
alasan font yang lebih besar, sebab kesulitan membaca buku alkitab dengan ukuran yang tercetak terlampau
kecil.
Bagaimana dengan buku Alkitab? Apakah tetap menjadi favorit? Ataukah malah ditinggalkan di rumah? sebab
tidak seringan smartphone, atau juga mungkin sebab bentuknya yang hampir sama dengan harga yang relatif
sama, sebuah prestise tidak bisa dipertontonkan? Jawabannya bisa Ya, bisa juga tidak.
Lalu apakah digital bible telah menggantikan peran buku Alkitab sepenuhnya?
Buat sebagian orang buku Alkitab masih tetap menjadi pegangan. Menyentuh lembaran-lembaran kertasnya,
berjelajah dari satu ayat ke ayat yang lain, dan setiap pencarian akan satu ayat dari setiap sesi saat teduh, selalu
saja ada hal-hal baru yang ditemukan, memberikan highlight pada ayat-ayat yang menyentuh dan menjadi
pengingat di satu atau dua atau tiga atau bahkan berapa lama tahun sepanjang ayat itu masih ada, memberikan
catatan kecil di pinggiran-pinggiran bukunya, sensasi yang ada saat telapak tangan memegang stabilo atau
sejenisnya-mulai menggaris sambil membaca dengan perlahan, menghayatinya, meresapinya, menjadikannya
darah dan daging bagian dari diri seutuhnya, itu yaitu sesuatu yang luar biasa meneduhkan. Rasanya tidak sama
saat memakai aplikasi kitab suci.
Keuntungan lain dari membaca buku Alkitab yaitu diharapkan bisa menjadi contoh untuk anak-anak kita, saat
semua orang beralih ke teknologi. Setidaknya semangat untuk menyentuh, membuka, membaca, memberikan
highlight, merenungkan bisa meninggalkan semangat untuk membaca dan merenungkan.
Teknologi selalu membuat hidup kita menjadi lebih mudah, semakin mudah, semakin sedikit waktu dan tenaga
yang dipakai . Tidak ada yang salah dengan menikmati kemajuan teknologi. Jika malu menjadi alasan buku
alkitab tidak dibawa ke gereja atau kemana saja, sebab takut dikatakan “tidak mengikuti perkembangan jaman”
maka iman seseorang yang merasa malu itu boleh dipertanyakan.
Pada akhirnya diharapkan alkitab digital maupun buku alkitab bisa berjalan bersamaan, saling melengkapi
dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Apakah aplikasi atau hasil print, dibaca, direnungkan
intinya para pengguna Alkitab apapun bentuknya, hendaknya menjadi pelaku firman sebab bukan alkitab yang
menyelamatkan kita, namun Kristus itu sendiri.
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, namun jika aku tidak
mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”
Kasih yaitu Kristus itu sendiri.
Malah jadi keingat tahun 90an...saat lagu pujian masih ditulis di buku. Kenangan berbagi buku dengan orang di
kanan-kiri, dan juga Ibu menyanyi sekaligus mengajari saya not angka yang ada di kidung pujian.
Beda dengan zaman sekarang, saat semua orang terpaku pada powerpoint ataupun proyektor di depan.
Agak melenceng dikit, tapi ada kesan dan memori tersendiri saat memegang buku "fisik" (dibanding yang digital).
Apakah Anda memakai Alkitab digital selama kebaktian? Atau apakah Anda menyadari bahwa
memakai sebuah aplikasi untuk membaca Alkitab selama di gereja yaitu mengganggu? Perusahaan saya
memproduksi sebuah platform aplikasi kustom gereja yang berpusat di sekitar interaksi digital dengan Alkitab -
- yang berarti kita mendengar orang-orang dari kedua belah pihak. Banyak pengguna yang merasa bersyukur
Alkitab begitu mudah diakses ke smartphone dan perangkat seluler mereka; namun yang lain sangat percaya
Alkitab digital di gereja tidaklah tepat.
Kritik yang paling umum tentang Alkitab digital yang kami terima yaitu bahwa itu merupakan trend kaum
muda, bahwa itu sangat impersonal, dan bahwa itu mengganggu. Pengkritik mengatakan bahwa kebanyakan
orang yang memakai aplikasi Alkitab menjadi cepat teralihkan dari khotbah pendeta dan mulai melihat
aplikasi lain di smartphone mereka. Apakah mereka benar?
Kritik-kritik ini selalu dapat dengan jelas kita pahami sebab jika mereka akurat, maka membuat Alkitab bisa
diakses dalam aplikasi mungkin malah menghalangi, bukannya membantu interaksi dengan Alkitab yang
bermakna. Setiap minggu, ratusan ribu orang memakai Kustom Aplikasi Gereja mereka untuk membaca
Alkitab di gereja, dalam kelompok-kelompok kecil, dan pada studi Alkitab. Apakah kita membantu mereka
terlibat dengan Alkitab secara lebih dekat dengan membuat Alkitab lebih mudah diakses pada smartphone
mereka, atau kita hanya menambahkan sumber gangguan lain selama ibadah? Apakah kertas menciptakan
pengalaman intim dengan Firman Tuhan sehingga kita harus mengubah pendekatan kita dan mengarahkan
semua orang ke Alkitab cetak mereka?
Pada akhirnya, sulit untuk mengetahui dengan pasti. Namun, melihat data tentang bagaimana orang
memakai teknologi dapat memberikan kita suatu pengertian bagaimana mereka mungkin -- atau mungkin
tidak -- memakai teknologi untuk terlibat dengan Firman Tuhan.
Pertama, kita tahu bahwa orang menghargai membaca Alkitab. Sebuah studi dari Barna /American Bible Society
baru-baru ini menemukan bahwa lebih dari setengah orang Amerika mengatakan mereka ingin lebih banyak
membaca Alkitab mereka.
Pew Research juga melaporkan bahwa 64% dari orang dewasa Amerika memiliki beberapa jenis smartphone.
Penelitian tambahan menunjukkan bahwa smartphone dan aplikasi merupakan alat yang lengkap dalam
kehidupan kebanyakan orang Amerika -- mayoritas pemilik smartphone memakai ponsel dan aplikasi
mereka secara teratur untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengikuti peristiwa-peristiwa di dunia sekitar
mereka. Perhatikan implikasi dari angka-angka ini untuk jemaat gereja yang khas. Ini berarti mayoritas
setiap jemaat gereja umumnya duduk di gereja masing-masing dan setiap akhir pekan dengan sebuah
smartphone -- sebuah smartphone yang merupakan bagian integral dari cara mereka berinteraksi dengan orang
lain dalam kehidupan sehari-hari mereka. saat kita melihat fakta ini maka beberapa hal menjadi jelas:
Aplikasi seluler bukan sebuah keisengan. Mereka yaitu media komunikasi yang diinginkan untuk berhubungan
dengan budaya saat ini. Mereka ada untuk seterusnya.
Aplikasi seluler dipakai oleh sebagian besar orang dewasa di Amerika setiap hari. Aplikasi seluler tidak hanya
untuk para pemain game muda; mereka dipakai oleh semua usia dewasa secara demografis dalam persentase
yang semakin bertambah.
Pertanyaannya yaitu : apakah ini hal yang baik atau buruk?
Hanya sebab warga menerima aplikasi sebagai cara yang lebih disukai untuk terhubung dengan orang-
orang, bisnis, dan organisasi bukan berarti aplikasi secara otomatis baik untuk gereja. Tidak semua yang diterima
warga harus dipakai di gereja. Ada banyak hal yang bermanfaat dalam jangka pendek, tapi menghasilkan
sedikit hasil dalam jangka panjang, dan bahkan mungkin memiliki efek samping yang negatif.
Meski begitu, bertahun-tahun penelitian dan interaksi dengan ribuan pendeta membawa kita kepada keyakinan
ini: Alkitab digital di gereja yaitu ide yang baik. Berikut ini alasannya:
Alkitab Digital lebih mudah untuk diakses, di mana saja. Hampir semua pengguna smartphone membawa ponsel
mereka ke mana-mana, termasuk banyak tempat saat situasinya malahan akan menjadi tidak nyaman jika
membawa atau memakai Alkitab cetak. Pendeta memberitahu kita tidak hanya orang-orang membaca
Alkitab di gereja, mereka juga lebih terlibat dengan itu! Pendeta memberitahu kami Alkitab digital sangat
membantu praktek gereja mereka untuk membaca renungan setiap hari.
Alkitab Digital memungkinkan para pengguna untuk membuat catatan yang lebih baik di gereja. Kami
menemukan saat orang menulis catatan dan memasukkan teks yang sebenarnya dari Kitab Suci (aplikasi digital
memungkinkan untuk menyalin dengan cepat) dalam catatan mereka, ada potensi besar untuk meningkatkan
ingatan dan aplikasi dari khotbah. Dan catatan-catatan itu mudah diakses di smartphone mereka.
Alkitab Digital membawa penginjilan ke tingkat yang baru. Pendeta mampu membuat khotbah-khotbah mereka
lebih interaktif, dan orang-orang sering menyebarkan di media sosial ayat-ayat yang mereka baca. Berbagi secara
sosial yaitu mudah bila Anda memakai aplikasi digital. Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Pew
Research menemukan bahwa dari mereka yang disurvei, 1 dari 5 orang Amerika menyaksikan iman mereka
secara daring dalam seminggu rata-rata di tempat-tempat seperti Facebook dan Twitter.
Sampai beberapa tahun yang lalu, kebanyakan orang Kristen diajarkan untuk berinteraksi dengan Alkitab sebagai
artefak fisik: mereka akan menyoroti ayat-ayat di Alkitab cetak mereka, atau menggaris bawahi dan menjelaskan
kata-kata dan ayat-ayat yang mengena bagi mereka. Mereka didorong untuk membuat Alkitab mereka menjadi
buku pribadi yang penuh dengan catatan, garis bawah, dan sorotan. Untuk orang yang terbiasa dengan
pengalaman pengguna ini, sebuah Alkitab digital bisa tampak impersonal. Jelas akan ada preferensi di kedua sisi,
namun apakah itu benar-benar harus menjadi salah satu atau yang lain? Penelitian kami menunjukkan bahwa bagi
orang yang bersedia menerima format digital, alkitab digital membawa keuntungan yang tidak dimiliki versi
cetak -- namun di atas semua itu, kami berharap orang-orang Kristen akan terus membaca Alkitab berdasarkan
pilihan mereka, digital atau bukan, saat mereka berkumpul untuk ibadah. (t/Jing-Jing)
Diterjemahkan dari:
Nama situs: Bible Gateway Blog
URL: https://www.biblegateway.com/blog/2015/08/bible-apps-in-church-good-or-bad-idea/
Judul asli artikel: Bible Apps in Church: Good or Bad Idea?
Penulis artikel: Jonathan Petersen
Tanggal akses: 15 April 2016
Alkitab dan Alkitab Elektronik
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Alkitab yaitu sebuah peta untuk memperlihatkan kita jalan untuk hidup. Ada dalam Alkitab,”Aku ini orang
asing di dunia, janganlah sembunyikan perintah-perintah-Mu terhadap aku” (Mazmur 119:19). Alkitab
memberikan hikmat kepada kita. Ada dalam Alkitab,”Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab
peringatan-peringatan-Mu kurenungkan” (Mazmur 119:99). Alkitab menawarkan pertolongan apabila jalan
kelihatan tidak jelas. Ada dalam Alkitab, ”Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur
119:105). Alkitab memberikan kita perintah-perintah Allah, yang tidak dapat dirubah. Ada dalam Alkitab,”sebab
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak
akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Matius 5:18).
Alkitab berguna untuk bersaksi tentang Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia,
alkitab berisi hukum dan peraturan dari Allah yang harus ditaati dan dilaksanakan. Alkitab sebagai pedoman
menuju pelabuhan keselamatan di sorga abadi, Sabagai referensi, sumber pengajaran, nasehat, tuntunan menuju
keselamatan abadi, cermin bagi diri sendiri untuk mengetahui dosa dan salah diri sendiri, dan apakah sudah
melaksanakan tanpa henti Firman Allah, sesuai iman kepada Yesus Kristus, Tuhan, Juruselamat manusia.
Mempelajari Alkitab bukan untuk bisa menyalahkan orang lain.
Namun pada abad ini, dunia telah memasuki dan sedang berada dalam perubahan serta perkembangan
cepat sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Berbagai layanan informasi,
jaringan komunikasi, dan beberapa peralatan canggih yang dioperasikan lewat komputer membuat segala
sesuatu menjadi semakin mudah untuk dijangkau. Di mana-mana setiap orang berlomba-lomba untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi melalui
adaptasi dengan berbagai media , seperti komputer, telepon genggam, dan berbagai sarana yang lain.
Media yaitu bukti bagaimana manusia berupaya mengembangkan diri dan berusaha mengatasi kesulitan-
kesulitan hidup, menyediakan kemudahan kerja, kemudahan berbagi informasi, dan sebagainya. Hal ini
membawa dampak bagi kehidupan warga di berbagai bidang kehidupan, termasuk yang religius.
Perkembangan pengetahuan dan teknologi menyebabkan banyak pemuda-pemudi kristen yang hanyut dalam
pengaruh negatif dan mulai mengabaikan kewajibannya untuk membaca alkitab yang sebagai sarana untuk
mengerti akan kehendak Allah
Alkitab yaitu kitab suci umat Kristiani. (Kadang-kadang disebut pula dengan istilah Injil, meskipun
sesungguhnya hanya keempat kitab pertama dalam Perjanjian Baru yang disebut dengan Injil). Alkitab dibagi
atas dua bagian utama, yaitu Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Bagian-bagian utama ini disebut "Perjanjian"
sebab Allah bangsa Israel membuat perjanjian kepada manusia. Pertama kalinya antara Musa dan bangsa Israel
dan kedua kalinya antara Yesus Kristus dan seluruh umat manusia. Hampir semua bukuPerjanjian Lama ditulis
dalam bahasa Ibrani, kecuali beberapa bagian yang ditulis dalam bahasa Aram contohnya
kitab Daniel sedang semua buku Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.
Istilah Alkitab berasal dari kata "Al-Kitab" (bahasa Arab: الكتاب) berarti "buku" atau "kitab".Di negeri-negeri
berbahasa Arab sendiri, Alkitab disebut sebagai "Al-Kitab Al-Muqaddas" (bahasa Arab: المقدس الكتاب). Dalam bahasa
Indonesia, Alkitab kadang disebut dengan istilah Bibel.Filo (20 SM – 50 M) dan Yosefus menyebut Perjanjian
Lama sebagai bibloi hiërai. Hieronimus, seorang Bapak Gereja yang disuruh oleh Paus Damasus untuk merevisi
Alkitab Latin, berkali-kali menyebut Alkitab dengan nama Biblia yang merupakan kata dari bahasa Latin yang
berarti "buku". Alkitab dalam bahasa Inggris menyebut kitab suci sebagai the Bible, dan dalam bahasa Jerman
sebagai die Bibel.
Alkitab terdiri dari:
39 kitab Perjanjian Lama atau kitab-kitab bahasa Ibrani; sebab 97% isinya ditulis dalam bahasa Ibrani dan
sisanya dalam bahasa Aramaik.
27 kitab dan surat Perjanjian Baru atau kitab-kitab bahasa Yunani; sebab ditulis dalam bahasa Yunani oleh para
pengikut Kristus (disebut sebagai orang Kristen).
Kitab-kitab Deuterokanonika atau Apokrif (hanya dipakai oleh gereja Katolik Roma dan Ortodoks dan jumlahnya
berbeda-beda menurut denominasi. Kristen Katolik memakai 7 kitab dan 2 tambahan pada kitab-kitab Perjanjian
Lama lainnya.)
Allah yaitu sumber dari semua informasi di dalam Alkitab. Ada dalam Alkitab,”Semua yang tertulis dalam
Alkitab, diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajarkan yang benar, untuk menegur dan membetulkan yang
salah, dan untuk mengajar manusia supaya hidup menurut kemauan Allah” (2 Timotius 3:16, BIS). Alkitab
memperkenalkan kita kepada Yesus Kristus. Ada dalam Alkitab,”Pada zaman dahulu banyak kali Allah berbicara
kepada nenek moyang kita melalui nabi-nabi dengan memakai bermacam-macam cara. namun pada zaman akhir
ini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya. Melalui Anak-Nya inilah Allah menciptakan alam
semesta. Dan Allah sudah menentukan bahwa Anak-Nya inilah juga yang berhak memiliki segala sesuatu” (Ibrani
1:1-2, BIS).
Apakah yang sanggup dibuat oleh Alkitab kepada orang yang percaya pada Alkitab? Ada dalam
Alkitab,”Ingatlah juga bahwa sejak kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat
kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan melalui iman kepada Kristus Yesus” (2 Timotius 3:15).
Apakah syarat untuk mendapatkan pengertian akan perkara-perkara ilahi yang dijanjikan? Ada dalam
Alkitab,”Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,
sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya,
jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau
mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan
memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. sebab TUHANlah
yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian” (Amsal 2:1-6).
B. Fungsi Alkitab
Alkitab mempunyai fungsi dalam hubungan dengan kehidupan orang percaya dan pertumbuhan iman dari
orang percaya. Sehingga Alkitab mempunyai fungsi sentral dan dominan dalam kehidupan pribadi maupun umat.
Hal ini menjadi penting, sebab jika orang Kristen atau jemaat telah salah memahami fungsi Alkitab bagi mereka
maka bukan tidak mungkin nilai fungsi Alkitab akan mengalami degradasi yang luar biasa, bahwa Alkitab akan
disepelekan. Alkitab memiliki fungsi sentral dan dominan, sebab hidup iman seseorang dan persekutuan
ditumbuh-kembangkan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Alkitab. Seseorang makin mengenal Allah, karya
Keselamatan-Nya serta menghayati makna hidup berimannya tidak dapat lepas dari tuntunan Alkitab.
Fungsi Alkitab selanjutnya yaitu dalam kaitannya dengan pembangunan tubuh Kristus
(bandingkan Kisah Para Rasul 2; Kisah Para Rasul 4; 1 Korintus 12; 1 Korintus 14; Efesus 4). Yang dimaksudkan
di sini yaitu Alkitab berada pada posisi sentral bukan hanya dalam hal kehidupan iman personal atau komunal,
namun juga posisi sentral itu berlaku, menerangi segala keputusan atau kebijakan yang diambil dalam menata dan
membangun persekutuan orang percaya / jemaat. Segala keputusan dan kebijakan gerejawi tidak boleh lepas
dari dasar Alkitab. Alkitab sebagai pernyataan kehendak Allah semestinya menjadi dasar pijak dan memayungi
segala keputusan dan kebijakan gerejawi baik yang berlaku ke dalam mau pun ke luar, baik untuk tingkat di
jemaat maupun di tingkat sinodal. Fungsi ini teramat penting, sebab di sinilah letak perbedaan fundamental
antara gereja dengan organisasi lainnya; antara keputusan dan kebijakan gerejawi dengan keputusan dan
kebijakan organisasi sekuler lainnya. Hal ini juga menjadi penting dan mesti dihayati oleh setiap pribadi dalam
gereja terutama para pelayan dan pejabatnya, segala keputusan dan kebijakan gerejawi yaitu keputusan dan
kebijakan yang mencerminkan citra dan kualitas wibawa Alkitab sebagai pernyataan Allah bagi umat maupun
bagi dunia.
Berikut yaitu data dari pemahaman fungsi alkitab bagi para pemuda-pemudi Kristen:
1. AN, pemuda GKII PETRA: “Fungsi untuk berkomunikasi dengan Tuhan agar kita tahu mana yang baik dan
jahat yang tidak boleh kita lakukan, dan untuk tahu Tuhan punya rencana bagi di masa akan datang.
2. IR, pemudi GKII PETRA: “Fungsi alkitab sebagai sumber untuk mempelajari kebenaran firman Allah.”
3. RD, mahasiswa Fakultas Kesehatan warga angkatan 2011: “Fungsi Alkitab sebagai pedoman dalam
hidup kita, sebab di dalamnya berisi ajaran-ajaran dan nasehat-nasehat dan perintah-perintah untuk membawa
hidup kita kepada keselamatan
4. RO, mahasiswa Fakultas Keperawatan angkatan 2009: “Fungsi alkitab buat saya yaitu sebagai suatu
motivasi untuk hidup saya sebab dari alkitab saya bisa belajar untuk menghargai hidup yang Tuhan berikan.
5. MR, Mahasiwa Fakultas Teknik angkatan 2011: “Sebagai pelita atau petunjuk dalam kehidupan sehari-hari.”
Alkitab menyatakan kepada kita tentang makna dan tujuan di dalam kehidupan kita. Dan kita menjadi kaya
oleh sebab kasihNya dan anugerah-Nya dan kehadiranNya yang melingkupi perjalanan kita di hari-hari
mendatang. Sebagai pemuda dan pemudi Kristen, kita tentunya sadar akan fakta bahwa Tuhan memberi kita
Alkitab yaitu bukti dan gambaran kasih-Nya kepada kita. Dia mau agar kita dapat selalu mengerti isi hatinya
dan agar kita mengerti betapa besar cinta-Nya pada kita
Fungsi Alkitab bagi kita para pemuda-pemudi kristiani yaitu seperti yang difirmankan Tuhan melalui
alkitab itu sendiri (2 Timotius 3 : 16 ), yaitu “Segala sesuatu yang dilhamkan Allah memamng bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran.” Ayat ini telah mencangkup semua fungsi kitab suci kita yaitu Alkitab.
Berikut yaitu data dari pendapat tentang alkitab elektronik bagi para pemuda-pemudi Kristen:
SR, Mahasiswi Fakultas Kesehatan warga angkatan 2011: “Hal itu tidak salah sebab Tuhan memberikan
kita hikmat dalam memakai teknologi, alkitab elektronik dan manual bukan menjadi persoalan yang penting
bagaiman firman Tuhan itu menjadikan hidup kiya menjadi berkat bagi orang lain.”
ER, pemuda GKII PETRA : “Pendapat saya memakai alkitab elektronik itu terkesan seakan-akan kita tidak
menghargai alkitab lagi sehingga kurang memberikan penghayatan yang sungguh-sungguh dibandingkan saat
kita membaca firman secara langsung dari dalam alkitab.”
NN, pemudi GKII PETRA : “Saya kurang setuju dengan penggunaan alkitab di handphone sebab pada saat kita
sedang saat teduh, saat ada telepon atau sms masuk konsentrasi kita dan pikiran akan tidak terarah juga tidak
akan mendapat kepuasan dibandingkan dengan membaca buku alkitab.”
LO, Mahasiswa Fakultas Kesehatan warga angkatan 2010: “saya kurang setuju sebab hal ini akan
membuat orang malas membaca alkitab dan mulai mengabaikan alkitab secara perlahan.”
JN, Mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2011: “hal itu baik, namun saat ibadah haruslah memakai alkitab
sebenarnya, alkitab elektronik hanya dipakai saat mendadak saja.”
Alkitab Elektronik merupakan hasil penemuan manusia untuk dipakai sebagai media penyampaian
Firman Tuhan. Alkitab Elekronik merupakan software yang terinstal dalam handphone atau computer sehingga
memudahkan manusia untuk memakai nya. Alkitab Elektronik merupakan perangkat lunak ciptaan LAI
untuk mempermudah jalannya pelayanan.
Tujuan diciptakan Alkitab Elektronik yaitu untuk memudahkan bukan untuk mengganti adanya peranan
buku alkitab untuk dibawa ke tempat beribadah, hanya saja seringkali manusia sendirilah yang menyalah
gunakan Alkitab Elektronik, contohnya sebagai alasan bermain game saat sedang beribadah dan lain-lan. Dampak
positif dan negatif yang ditimbulkan berasal dari diri manusia itu sendiri yang mempergunakaan alkitab. Harus
kita sadari di era globalisasi teknologi akan terus dan terus berkembang.
Berikut yaitu data dari pemahaman fungsi alkitab jika diletakkan di atas kepada bayi bagi para pemuda-pemudi
Kristen:
EC, pemudi GKII PETRA: “Tidak ada fungsi apa-apa, hanya kepercayaan dari orang tua terdahulu, maka dari itu
terbawa sampai sekarang sebab percuma jika diletakkan di atas kepala bayi jika tidak di baca melainkan hanya
di gambarkan sebagai sebuah buku penjaga.”
AN, pemuda GKII PETRA: “Ada fungsinya juga dengan meletakkan alkitab di atas kepala bayi untuk menjaganya
tidur sampai pagi, dan untuk menjauhkan roh-roh jahat pada saat anak ini tidur.”
ER, pemuda GKII PETRA : “Sama sekali tidak ada gunanya, alasannya sebab jika kita meletakkan alkitab di atas
kepala bayi berarti kita mendewakan alkitab atau menjadi Mamon.”
IR, pemudi GKII PETRA: “Tidak ada fungsi meletakkan alkitab di atas kepaa bayi sebab alkitab hanyalah sebuh
buku bukan Allah, kebanyakan orang mengira cara ini dapat melindungi bayi ini namun hal itu tidak
benar sebab Allah itu sendiri sudah melindungi kita”
RD, mahasiswa Fakultas Kesehatan warga angkatan 2011: “Alkitab yang diletakkan di atas kepala bayi telah
menjadi kebiasaan sejak dulu itu dimaksudkan untuk melindungi bayi terhadap gangguan iblis.”
RO, mahasiswa Fakultas Keperawatan angkatan 2009: “pendapat saya hal ini baik, sebab walaupun bayi
belum mengetahu tentang alkitab namun secara tidak langsung dia bisa merasakan bahwa Tuhan akan selalu
menjaga dan menyertainya dan orang tuanya percaya akan hal itu.”
AP, Mahasiswa Fakultas Kesehatan warga angkatan 2009: “Menurut saya hal itu kurang baik sebab alkitab
bukan yang menyembuhkan orang namun alkitab hanya mengajarkan tentang mengenal pribadi Kristus sebab
firman itu ialah Allah sendiri, yang menyembuhkan yaitu Tuhan Yesus sendiri bukan alkitabnya.”
SR, Mahasiswi Fakultas Kesehatan warga angkatan 2011: “Saya kurang setuju sebab alkitab hanya sebuah
buku biasa namun alkitab itu menjadi bernilai bahkan memiliki kuasa saat firman Tuhan itu hidup dalam diri
seseorang, cukup orang tua menyerahkan bayi itu kepada Tuhan maka Tuhan akan menjaga dan menyertainya.”
Alkitab berisi Firman yang berasal dari mulut Allah yang diilhamkan langsung dari Roh Kudus. Alkitab
yaitu sebuah buku dan yang memiliki kuasa yaitu Firman Tuhan yang berada di dalam alkitab itu sendiri. Jadi
meletakkan alkitab di atas kepala bayi yaitu hal yang tidak berguna sebab hal ini menjadikan alkitab
sebagai jimat pelindung, yang berkuasa yaitu firman yang ada di dalam alkitab itu sendiri.
KESIMPULAN
Alkitab menyatakan kepada kita tentang makna dan tujuan di dalam kehidupan kita. Dan kita menjadi kaya
oleh sebab kasihNya dan anugerahNya dan kehadiranNya yang melingkupi perjalanan kita di hari-hari
mendatang.
Tujuan kitab suci ditulis untuk menyatakan fakta bahwa Tuhan memberi kita Alkitab yaitu bukti dan
gambaran kasih-Nya kepada kita. Istilah "wahyu" berarti Tuhan mengkomunikasikan kepada manusia siapa Dia
dan bagaimana kita dapat memiliki relasi yang benar dengan Dia. Walaupun pewahyuan Allah dalam Alkitab
diberikan secara progresif dalam kurun waktu kurang lebih 1.500 tahun, Alkitab selalu mengandung segala
sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mengenal Allah agar dapat memiliki hubungan yang benar dengan-Nya.
Dan kita harus terus mencari Dia sampai kita melihat dan percaya. Hanya dengan iman kita terus menimba
kekayaan-kekayaan Kristus yang dibeberkan bagi kita dalam Alkitab, kita akan bertumbuh menuju kedewasaan
rohani dan menjadi umat milik Allah yang diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Alkitab yaitu bagian dari kehidupan Kekristenan, namun demikian terkadang masih sulit untuk selalu
mencintai Alkitab, membaca dan merenungkan isi Alkitab. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Untuk itu perlu
sekali kita memahami isi Alkitab agar dapat selalu mencintai Firman Tuhan, membaca, merenungkan dan
melakukan Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Alkitab elektronik merupakan sebuah proses hasil berpikir manusia untuk memenuhi kebutuhan praksis
serta praktis mereka. Ini yaitu sebuah revolusi terhadap Alkitab dengan melihat keseluruan konten-kontennya
yang berada pada media ini . Alkitab elektronik versi 2.0 merupakan sebuah software (perangkat lunak)
yang terinstal di dalam handphone, dan juga laptop serta komputer. Berbagai inovasi dilakukan oleh LAI sebagai
pembuat serta pengelola Alkitab. LAI menerbitkan Alkitab elektronik agar bisa dikonsumsikan warga serta
Gereja. Untuk memudahkan pelayanan para pelayan khusus agar secara umum bisa mengetahui setiap latar
belakang, setiap kitab dan juga nubuat, deutrokanonika, perumpamaan, ayat-ayat tematik, berbagai terjemahan
dengan bahasa Inggris dan bahasa daerah Indonesia serta kamus Alkitab. Dengan demikian Alkitab elektronik
memiliki perbedaan dengan Alkitab buku, sebab Alkitab buku tidak memiliki latarbelakang setiap kitab dan juga
nubuat, deutrokanonika, periumpamaan, ayat-ayat tematik, berbagai terjemahan dengan bahasa daerah
Indonesia secara sistematis. Alkitab Elektronik berguna dan sangat membantu tergantung dari siapa dan
bagaimana dimanfaatkan.
Manfaat & Dampak Buruk Alkitab Digital – Untung Rugi Alkitab Elektronik Relatif Gunakan Sesuai Konteksnya
Kristen Sejati – “Jaman sudah modern ya….” Dimana-mana ungkapan ini sangat populer. Modernisasi di berbagai
bidang yaitu sebuah kebanggaan semu, sebab dampak yang diberikannya seperti pedang bermata dua, bisa
positif dan bisa negatif. Seorang penikmat seakan-akan disajikan makanan enak dan kotoran di atas meja yang
sama. Inilah yang kami sebut sebagai semu, artinya manfaat yang anda peroleh bisa bergerak fleksibel ke arah
positif ataupun negatif. Bukankah semuanya itu tergantung di tangan penggunanya masing-masing? Mari
berharap orang yang memakainya sudah dewasa dalam berpikir.
Ditengah modernisasi yang terus terjadi akhir-akhir ini, janganlah berpikir bahwa keadaan ini akan
semakin membebaskan kita dari dosa. Sebab resiko dosa dan kebenaran itu selalu seimbang, artinya saat
potensi untuk melakukan yang benar lebih banyak maka potensi untuk melakukan yang jahat juga lebih banyak.
Oleh sebab itu, kedepankan prinsip kewaspadaan saat melakukan segala sesuatu. Jangan biarkan dirimu berada
di bawah kendali modernisasi dengan mengubah kehidupan anda menjadi orang yang penuh dengan ambisi yang
arogan. namun injaklah moderniasasi yang berlebihan itu sebab berpotensi membuat kita menjadi orang yang
egois dan tidak peduli kepada orang lain.
Kehidupan kita tidak pernah luput dari kesalahan. Seperti contohnya, kami yang sudah bertahun-tahun datang
ke Gereja dengan rutin. Namun ada satu hal yang kerap kali lupa dibawa, yaitu Alkitab. Ini seharusnya tidak
terjadi. Memang beberapa dari kita meyakini bahwa itu hanyalah sesuatu yang kecil-kecil. Sekalipun demikian,
ketahuilah bahwa dosa kecil bisa saja menarik kita untuk melakukan kesalahan yang besar. namun saat
menyadari hal ini, kami menyesalinya dan mulai bertekad untuk kembali mengaktifkan kegiatan membawa buku
terpopuler ini setiap kali mengikuti ibadah baik di Gereja maupun pada persekutuan kelompok kecil.
Pengertian
Alkitab yaitu (1) kitab suci agama Kristen, terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; (2) Alquran (KBBI
Luring). Bagi kami sendiri, buku ini yaitu buku yang berisi pengajaran dalam perumpamaan tentang kebenaran
yang hakiki/ kebenaran sejati. Mengapa kami menyebutnya sebagai buku yang berisi tentang perumpamaan?
sebab di dalamnya terdapat kisah-kisah pertarungan antara kebajikan dan kejahatan. Sedang sebagai pembaca
yang budiman, kita hindari pemikiran sempit yang berusaha mengambil sisi jahatnya. Melainkan ambillah makna
kebaikan/ kebajikan yang terkandung di dalam setiap kisah yang tersurat.
Harap di sadari bahwa tidak semuanya isi yang terdapat di dalam Alkitab yaitu benar adanya. Melainkan setiap
bagian ini harus kita sesuaikan dengan konteks kebenaran yang hakiki, yaitu kasih kepada Tuhan yang
seutuhnya dan kasih kepada sesama seperti diri sendiri. Jikalau ada hal-hal yang bertentangan dari kedua inti
kebenaran yang hakiki ini maka semestinya didiamkan dan dianggap sebagai perumpamaan belaka.
sedang yang lainnya bisa diambil atau tidak sesuai dengan kebiasaan di Gereja masing-masing. Kedua hal ini
telah dinyatakan Tuhan Yesus sebagai inti dari kitab suci dan kitab para nabi. Seperti ada tertulis.
(Matius 22:36-40) “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal
budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat
dan kitab para nabi.”
Manfaat atau lebih tepatnya keuntungan memiliki Alkitab digital (elektronik)
Ada beberapa situasi saat Alkitab digital menjadi sebuah pengembangan atas teks yang dicetak dalam berbagai
gaya penulisan di dalam setiap LCD tepat di depan mata anda. Kita merasa bahwa ketersedian peralatan super
canggih sekelas smartphone, tablet, laptop dan sebagainya akan memberi solusi yang tepat bagi setiap persoalan
yang dapat muncul. Sayang, tidak ada sedikitpun kesadaran betapa hal itu juga merupakan sebuah ancaman bagi
kehidupan yang berlangsung secara lambat.
Berikut manfaat (kelebihan) Kitab Suci yang berada dalam format digital.
Alkitab digital dapat di buka dengan cepatmemberikan akses pribadi kepada siapa pun.
Budaya serba cepat telah menjalar kemana-mana termasuk dalam hal kepemilikan Kitab. Anda tidak perlu waktu
yang lama saat seorang hamba Tuhan hendak mengarahkan untuk membuka bagian-bagian tertentu dalam
Kitab Suci. Mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa akan menyelesaikannya dalam hitungan detik.
Alkitab digital sangat mudah dibawakapanpun, dimanapun dan apapun aktivitas kita.
Anda dapat membawanya dalam saku, yang tentunya sangat berguna saat bepergian. Kami lebih melihat ini
dalam aspek yang mengutamakan kepraktisan dalam hal penggunaan. Lagian sebuah buku Kitab Suci bisa saja
lebih berat dibandingkan dari ukuran dan bentuk smartphone yang lebih kecil dan ringan.
Lebih murah mengunduh daripada membeli sebuah Alkitab fisik, bahkan sering kali gratis.
Tentu saja harga sebuah Alkitab di sini lebih murah di bandingkan dengan harga smartphone/ tablet/ laptop
ini . Jika anda sudah membeli barang elektronik yang berkelas dan mahal ini maka secara otomatis Kitab
Suci orang Kristen ada di dalamnya dan gratis lagi.
Alkitab digital dapat dibaca dalam kegelapan.
Apa ada orang yang sering membaca firman di dalam kegelapan? Jika anda pernah melakukannya maka versi
digital ini bisa diandalkan di dalam kegelapan. Kami sendiri tidak membacanya lewat LCD di dalam kegelapan.
Malah lebih memilih untuk membaca hardbook Alkitab di dalam kegelapan sembari menghidupkan fasilitas
senter pada handpone/ smartphone yang dimiliki.
Lebih mudah saat menulis konten digital.
Apakah anda seorang operator LCD dalam sebuah kebaktian? Kitab Suci digital ini jelas membantu para operator
LCD untuk mengkopi pastekan firman yang hendak di baca sehingga bisa langsung ditampilkan lewat proyektor.
Kami juga yang suka menulis di blog lebih suka mengambil firman dari Alkitab elektronik yang telah diinstal di
laptop. Ini jelas lebih cepat dan praktis daripada sekedar menyalinnya langsung dari hardbook.
Lebih mudah saat mencari kata per kata atau kalimat.
Pernahkah anda mengingat sebuah ayat di dalam Alkitab namun lupa, di kitab mana hal ini tertulis? Kami
sering sekali mengalami hal ini. Jadi cara praktisnya untuk menemukan posisinya yaitu dengan mencari kata/
kalimat ini di seluruh Alkitab yang dilakukan secara otomatis oleh mesin. Saat anda mengalami masalah
lupa seperti yang kami alami maka tulisan digital ini bisa membantu.
Ada beberapa fitur pilihan.
Harus kami akui memang bahwa ada beberapa fitur pilihan yang ditampilkan dalam versi elektronik 2.0.
Diantaranya yaitu kumpulan perumpamaan Tuhan Yesus Kristus selama di bumi, kumpulan penggenapan dari
nubuatan yang ada di Perjanjian Lama yang digenapi di Perjanjian Baru dan lain sebagainya. Silahkan unduh
sendiri Alkitab Elektronik 2.0 dari nikmati beberapa fitur spesial yang diberikannya.
Kelemahan (kerugian) saat kita lebih suka membawa-bawa yang digital dan selalu meninggalkan versi cetaknya
di rumah.
Ada beberapa alasan mengapa para pemuda dan pemudi harus segera memutuskan untuk memakai Alkitab
cetak untuk membaca, berkhotbah, dan diskusi kelompok. Manfaat yang dirasakan saat memakai hardbook
tidak akan anda temui saat memakai yang versi digital. Berikut ini, beberapa kerugian atau kekurangan
memakai Kitab Suci versi elektronik.
Memiliki susunan yang tidak teratur.
Memang dari soal kecepatan dan kepraktisan yang satu ini tidak dapat diimbangi dengan yang versi cetak. namun ,
coba amati lagi baik-baik susunan kata di dalamnya, terkesan semuanya dipisah-pisah, tidak ada rata kanan-kiri
dan membuat mata tidak tenang saat membacanya. Mungkin memang ini bawaan software-nya yang
memisahkan setiap ayat dengan ayat namun keadaan ini benar-benar membuat mata tidak nyaman saat membaca
sesuatu yang tidak bersambung.
Judul perikop telah di pisah dari isinya.
Kami tidak tahu apa motif dari pemisahan judul perikop dengan isinya. Memang judul itu tidak hilang namun kita
harus mencarinya lagi pada bagian lain untuk mengenali hal ini . Ini tergolong kelemahan yang cukup
merepotkan dan menggugurkan manfaatnya yang praktis sebelumnya. Ini bukan saja hanya sekedar tampilan
yang salah namun seolah melucuti Alkitab yang asli menjadi versi dunianya sendiri.
Menjadi alat kesombongan dan arogansi.
Berhati-hatilah dengan sifat yang sombong sebab anda memiliki barang-barang modern sedang orang
disampingmu hanya memiliki buku kuno yang dibelinya entah sudah beberapa tahun yang lalu. Saat hati anda
yang memiliki teknologi canggih mulai menyombongkan diri maka tepat saat itu jugalah secara tidak langsung
merendahkan orang lain di dalam hati.
Disinilah pentingnya kesetaraan antar manusia agar sikap merasa lebih unggul dan lebih menang itu tidak
menguasai kehidupan kita. Oleh sebab itu, jangan fokus untuk membanggakan diri sebab memiliki smartphone
canggih dengan Alkitab serba praktis di dalamnya. Melainkan rendahkanlah hatimu dan sangkallah dirimu agar
kita layak beroleh keberkahan dalam setiap ibadah/ persekutuaan yang diikuti.
Menjadi sasaran iri hati.
Tentu saja saat orang yang tidak anda kenal disampingmu melihat betapa lebar, besar dan bagusnya gadget itu,
mungkin saja akan mengingininya juga. Atau bisa jadi, ada rasa minder di dalam hatinya sebab melihat peralatan
elektronik yang canggih dan menawan ini .
Sikap mendengki jelas akan membuat hati menjadi tidak tenang saat di mengikut kebaktian. Oleh sebab itu,
katakan langsung di dalam hati, “biarkan dia menang ya Tuhan, dia memang hebat. Saya bersyukur masih bisa
membaca firman-Mu sampai detik ini.”
Tidak ada pemisahan paragraf dan garis baru.
Ini jelas menjadi sebuah kendala bagi kita untuk memahami maksud dari firman ini . Sebab bisa saja kita
masuk dalam satu paragraf tanpa sadar sudah memulai paragraf baru. Ketidak-jelasan susunan paragraf dan
garis baru ini yaitu sebuah kemunduran yang beresiko mengurangi pemahaman kita saat mengartikan suatu
bagian di dalamnya.
Berbalik menjadi penggoda mengacau fokus seseorang saat ibadah.
Beberapa orang Kristen telah mendapati bahwa remaja begitu mudah terganggu saat perangkat mereka
menyala, tergoda untuk memainkan berbagai aplikasi dan tidak fokus pada firman Tuhan.
Berefek ganda mengganggu orang lain disekitarnya.
Seorang remaja yang terganggu sebab melihat aplikasi lain kemudian juga akan menciptakan gangguan bagi
para pemuda di sekitarnya.
Mendadak habis baterai.
Alkitab cetak tidak akan memiliki masalah kehabisan baterai. Siapa yang menduga hal ini akan terjadi tiba-tiba
sesaat sebelum kebaktian di mulai? Keadaan ini jelas tidaklah menyehatkan dan tidak mungkin di hindari. Kecuali
anda sudah mempersiapkan segala sesuatu sebelum berangkat ke Gereja atau persekutuan lainnya.
Tidak dapat berbagi membaca dengan orang lain.
Kita tidak bisa berasumsi bahwa setiap orang memiliki perangkat elektronik portabel, sehingga dengan semua
orang memakai Alkitab cetak tidak ada yang merasa tertinggal. Seorang jemaat atau pemuda yang baru
bergabung, yang tidak membawa Alkitab mereka sendiri juga dapat melirik ke samping untuk melihat firman
yang di bawa oleh teman di sebelah bangku.
sedang saat kita hanya memiliki perangkat elektronik di smartphone yang layarnya kecil, rasanya kurang
enak dan kurang nyaman untuk membagikannya kepada mereka yang ada disamping namun lupa membawanya.
Mungkin ini bisa terjadi sebab ukurannya yang lebih kecil dari Alkitab asli sehingga hanya memungkinkan untuk
dinikmati sendiri saja.
Tidak bernilai saat disedekahkan.
saat seseorang menjadi Kristen atau meminta Alkitab, kami memberikan mereka versi cetaknya daripada
mengatakan kepada mereka untuk mengunduh aplikasi digital di internet secara gratis. Demikianlah, kami
mendorong mereka untuk memakai Alkitab yang telah diberikan kepada mereka.
Kita tidak bisa mengingat bagian-bagiannya sebab semuanya terhampar begitu saja.
Kami sengaja ingin mengajarkan generasi muda untuk terbiasa dengan Alkitab, termasuk mengetahui urutan
kitab-kitab dan di mana pasal-pasal berada, baik dalam konteks kitabnya maupun secara keseluruhan.
Kami masih ingat pernah membaca sebuah kalimat yang elok dan lupa dimana letak ayat dan pasalnya. namun
kami masih ingat persis seperti apa struktur halamannya dan perikopnya. Kemudian membolak-balik halaman
demi halaman secara perlahan sampai kami menemukan firman yang dimaksud ini .
Tidak bisa ditandai dan diwarnai.
Ini yaitu bagian yang paling kami sukai saat membaca firman yang sudah dicetak dalam sebuah buku yang
lumayan tebal. Kita bisa menggaris bawahi beberapa bagian yang dianggap penting, baik dengan memakai
pensil maupun dengan memakai pensil bergambar (stabillo). Kami lebih suka memakai pensil untuk
mewarnai bagian spesial dalam Alkitab sebab tintanya tidak sampai tembus ke sebelah sehingga merusak corak
kitab ini .
Memang di dalam versi digital ada juga yang namanya fasilitas bookmark namun kami sendiri tidak mengetahui
apakah ini benar-benar berfungsi di tempat anda. Kalau di laptop yang kami miliki, bookmark-nya terhapus
begitu kita meng-close software ini . Apakah ini juga terjadi pada anda atau hanya kami yang mengalaminya
sebab kebetulan laptop yang dipakai termasuk model lama?
Membuat mata sakit bila terlalu lama dibaca.
Ini salah satu dampak negatif memakai versi elektronik. Mata menjadi mudah berair dan terasa perih saat
kita membacanya lama. Oleh sebab itu, versi cetak yaitu pilihan terbaik untuk mempelajari firman secara
terus-menerus. Pembelajaran dengan memakai versi cetak ini dapat dilakukan selama beberapa jam sesuai
dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Tidak ada kedekatan antara kita dengan yang digital.
Saat kita memakai Alkitab versi cetak pastilah membuat berbagai penanda di dalamnya. Seiring dengan
semakin tingginya aktivitas membaca firman maka semakin banyak pula penanda yang dapat kita buat. Baik itu
penanda dengan memakai pembatas bawaan, kertas dan kartu-kartu positif maupun dengan mengarsirnya
langsung. Kebiasaan membuat penanda seperti ini membuat kita dekat dengan firman sehingga semakin lama
semakin di dorong untuk lebih paham dan mengerti tentang firman.
Membuat seseorang bebas kemana saja setelah kebaktian.
Bagi kita yang selalu membawa versi Alkitab cetak pasti akan selalu pulang ke rumah saat kebaktian atau
persekutuan muda-mudi telah selesai. Sebab buku tebal itu harus sampai ke rumah dahulu. Kita juga bertemu
dengan orang tua dan saudara-saudari di rumah sambil bercengkrama satu sama lain. Saat memutuskan untuk
berkunjung ke suatu tempat pastilah akan pamitan dulu ke keluarga.
namun saat yang dibawa setiap kebaktian atau persekutuan yaitu versi elektronik, anda bisa saja tidak langsung
pulang ke rumah melainkan langsung mengikuti acara tertentu yang sedang menunggu untuk diikuti. Keadaan
ini, membuat keberadaan anda tidak diketahui oleh anggota keluarga lainnya. Kebiasaan tidak langsung pulang
ke rumah setelah kebaktian/ persekutuan tertentu bisa membuat seseorang menjadi liar padahal di hari minggu
sebaiknya aktivitas di luar rumah diminimalisir (hukum Taurat: Kuduskanlah hari sabat).
Kita seolah diajarkan untuk malas.
Emang beratsih teman membawa-bawa buku Alkitab yang ukuran dan tebalnya lumayan besar itu. Tapi tahukah
anda bahwa membawa-bawa ini bisa jadi suatu beban yang melepaskan kalori anda sehingga membuat lemak-
lemak yang berlebih terbakar di dalam tubuh!
Lagipula jika kita tidak mau sedikit berlelah di dalam hidup ini, bisa-bisa mengajarkan kita untuk lebih suka yang
cepat dan praktis saja. Padahal tidak semua yang cepat dan praktis itu baik lho teman. Terkadang hal-hal digital
semacam itu bisa mengajarkan anda uintuk cenderung meninggalkan kebiasaan baik. Kalau mau melakukan
sesuatu harus praktis, jika tidak malas dan enggan untuk bekerja keras.
Sadarilah teman bahwa malas itu tidak ada obatnya namun saat anda bertekad dan memutuskan bahwa hidup ini
harus dilalui dengan penuh perjuangan niscaya segala sesuatu bisa dikerjakan dengan penuh semangat.
Kita seolah diajarkan untuk terpecah-pecah/ tercerai berai.
Mengapa kami berkata demikian? Memang ada beberapa keunggulan saat memakai versi digital lewat
keunggulan fiturnya yang dapat membantu kita untuk mencari kata-kata terntentu di dalam Kitab Suci. namun
software Alkitab Elektronik 2.0 yang gratisan dan tersebar luas di internet benar-benar kacau balau. Setiap
ayatnya tidak lagi bersambung di dalam satu paragraf sebab masing-masing ayat telah dipisahkan dari yang
lainnya. Demikian juga dengan perikop judul yang telah dipisahkan dari isinya.
Kami tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi, mungkin saja sebab yang kita download sehari-hari yaitu
versi gratis sehingga bentuk dan susunan teks dalam paragraf terkesan kacau balau. Ini seperti sebuah simbol-
simbol perpecahan yang sengaja disebarkan agar orang-orang Kristen semakin membentuk banyak sekte/ aliran
kepercayaan. Perpecahan ini telah dimulai oleh sebab itu, waspyaitu !
Bolehkah kita memakai Alkitab elektronik versi digital? Menurut kami, siapapun dia yang memilikinya
berhak untuk memakai versi elektronik ini. Hanya saja baiklah kita menyesuaikan semuanya itu dengan
konteks yang sedang di hadapi. Jika memang kita sedang berurusan dengan konten digital, tulisan online, khotbah
digital, wawancara online, pembacaan online dan lain sebagainya yang mengharuskan kita untuk memasuki
dunia maya, gunakanlah versi digital. namun jikalau aktivitas kita berhubungan langsung dengan dunia nyata,
pembacaan secara langsung, khotbah langsung, persekutuan/ kebaktian langsung, diskusi dengan tatap muka
dan lain sebagainya yang mengharuskan kita untuk melakukan komunikasi langsung di dunia nyata, gunakanlah
versi cetak. Ingatlah pepatah yang mengatakan, “dimana tanah di pijak, disitu langit dijunjung;” saat anda sedang
online, gunakan yang elektronik. Selama aktivitas ini dilakukan senyatanya dan secara langsung, sebaiknya
dan sebisa mungkin gunakanlah Alkitab cetak.
MULTIMEDIA (Suatu Kajian PAK Terhadap Keberadaan Alkitab Elektronik di Kalangan Pelayan Khusus
Jemaat GPM Bethel)
BAB I
PENDAHULUAN
1. A. LATAR BELAKANG
Pada abad ini, dunia telah memasuki dan sedang berada dalam perubahan serta perkembangan cepat sebagai
akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Berbagai layanan informasi, jaringan
komunikasi, dan beberapa peralatan canggih yang dioperasikan lewat komputer membuat segala sesuatu
menjadi semakin mudah untuk dijangkau. Di mana-mana setiap orang berlomba-lomba untuk menyesuaikan diri
dengan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi melalui adaptasi dengan
berbagai media , seperti komputer, telepon genggam, dan berbagai sarana yang lain. Namun, disadari juga bahwa
tidak semua orang mampu beradaptasi untuk dan menerima setiap revolusi teknologi yang terjadi dalam
warga dan lebih khusus secara bergereja. Pemanfaatan dan pengaruh teknologi ini terjadi di segala bidang
kehidupan dan gereja pun tidak luput dari hal itu. Multimedia merupakan penggunaan komputer untuk
menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi
(link) sehingga pengguna dapat berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi.
Multimedia sering dipakai dalam dunia hiburan. Selain dunia hiburan, multimedia juga diadopsi oleh dunia
permainan (game). Multimedia dimanfaatkan juga dalam dunia pendidikan dan bisnis. Di dunia pendidikan,
multimedia dipakai sebagai media pengajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri.[1]
Media yaitu bukti bagaimana manusia berupaya mengembangkan diri dan berusaha mengatasi kesulitan-
kesulitan hidup, menyediakan kemudahan kerja, kemudahan berbagi informasi, dan sebagainya. Hal ini
membawa dampak bagi kehidupan warga di berbagai bidang kehidupan, termasuk yang religius.
Media telah banyak dimanfaatkan oleh gereja dalam gerak pelayanannya. Penggunaan komputer di bidang
administrasi, penggunaan proyektor, laptop, keyboard, televisi, dll, sebagai sarana pendukung dalam ibadah
ritual yaitu bukti pemanfaatan itu. Sungguh sebuah perkembangan yang luar biasa jika dibandingkan dengan
ibadah ritual yang dilakukan gereja pada abad-abad yang lalu. Satu hal yang positif yaitu berbagai
media dipakai memberikan banyak kemudahan dalam mendukung pelayanan. Secara langsung gereja
menempatkan pemanfaatan media pada sarana yang sebenarnya, yakni membantu manusia dalam mengatasi
berbagai kesulitan hidup dan menikmati hidup.
Realita yang dijumpai di dalam kehidupan berwarga yaitu bahwa semua orang berlomba untuk memiliki
media dengan berbagai motivasi yang berbeda. warga telah menjadi pengguna media dan telah
memanfaatkannya untuk berbagai kemudahan dalam menunjang kelancaran aktivitas dan sebagai sarana
rekreasi, termaksuk ibadah, baik ritual maupun sosial, meskipun memang dalam konteks Maluku, semua orang
belum memakai nya.
Dalam pelayanan gereja akhir-akhir ini sering dijumpai penggunaan Alkitab dalam proses ibadah ritual (konteks
ibadah ritual di daerah Jawa). Alkitab yaitu salah satu aplikasi yang dapat beroperasi jika terintegrasi dalam
telepon genggam atau komputer. Itu berarti penggunaan Alkitab Elektronik tidak bisa dipisahkan dari telepon
genggam dan komputer.
Di Maluku nilai tradisi terkait ibadah ritual dengan memakai Alkitab buku sudah menjadi identitas. Setiap
kali pergi beribadah, orang-orang selalu memakai Alkitab buku. Hal ini telah berlangsung lama dan
membentuk pemahaman yang diwariskan. Pemahaman ini didukung oleh argumentasi yang kuat bahwa
beribadah dengan memakai Alkitab buku itu lebih etis dan juga kelihatan khusyuk. Tentu pandangan ini
muncul sebagai reaksi terhadap munculnya Alkitab Elektronik.
Sekalipun demikian, dengan positif pihak gereja juga menerima transformasi teknologi masuk di dalam gereja.
Namun, terkait dengan kehadiran Alkitab Elektronik di dalam gereja, tidak menutup kemungkinan akan terjadi
juga transformasi dalam memakai Alkitab yang berbeda fisik yakni Alkitab Elektronik. Kehadiran Alkitab
Elektronik di samping Alkitab buku memunculkan berbagai tanggapan. Ada yang kemudian merespon bahwa
penggunaan Alkitab Elektronik boleh diterima namun penggunaannya dalam ibadah-ibadah ritual itu yang
menjadi mungkin masih menjadi persoalan. Dengan kata lain, masih mengalami penolakan dari banyak pihak
walaupun diketahui Alkitab Elektronik yaitu sebuah kitab suci. Dengan demikian maka hal ini bukan
berarti semua orang menolaknya namun dari setiap manusia dengan prespektif pikirnya masing-masing ada
yang menerima dan memakai nya dan ada pula yang belum menerima.
Penggunaan Alkitab elektronik dalam ibadah ritual dilakukan dengan berbagai alasan yang sederhana, yakni
kepraktisan dan adaptasi dengan perkembangan zaman. Dari segi kepraktisan, dapat dipastikan bahwa ke mana
pun telepon genggam akan dibawa sebab ukurannya kecil lagi pula banyak fungsinya sebagai telepon dan itu
berarti Alkitab yang yaitu salah satu aplikasi di dalamnya dibawa serta ke mana pun. Di samping itu, hal yang
unik dari penggunaan media elektronik di kalangan pemuda erat dengan gengsi yang berkaitan dengan
kemampuan seseorang berakses dengan kecanggihan teknologi.
Bethel sebagai jemaat kota dengan latar belakang warga yang berkembang dari sisi pendidikan, pekerjaan,
maupun ekonomi membuatnya terbuka untuk menerima berbagai perkembangan teknologi termasuk Alkitab
Elektronik. Oleh sebab itu, Alkitab elektronik sebagai sebuah media baru kiranya mampu untuk dipakai secara
maksimal demi pelayanan. Berbicara mengenai pelayanan gereja, maka di sana akan ditemukan keberadaan para
pelayan khusus sebagai orang-orang yang ditahbis untuk melayani umat. Pelayan khusus (majelis jemaat) terdiri
dari ; Pendeta dan atau penginjil, penatua-penatua dan diaken-diaken. Mereka memiliki tugas dan tanggung
jawab untuk melayani umat. sebab pelayanan yang dilakukan (ibadah ritual) sering sekali membutuhkan
Alkitab dan sebagai gereja reformasi yang menekankan sola scriptura, maka Alkitab sangat penting bagi pelayan
khusus; untuk khotbah, renungan, meditasi, mengajar, dan lain-lain. Dapat dikatakan bahwa Alkitab yaitu
sumber pemberitaan dan pengajaran gereja.
Memang harus diakui bahwa memakai Alkitab Elektronik itu bukan tindakan menyimpang. Dalam arti
sederhana yaitu tidak melanggar hukum dan aturan gereja. [2] Namun, tidak jarang penggunaan telepon
genggam dengan aplikasi Alkitab elektronik di dalamnya, dalam ibadah ritual cenderung mendapat penilaian
buruk sebagai akibat dari salah tafsir banyak orang terhadapnya. Sebab, tidak sedikit penyalahgunaan media
elektronik yang terjadi (akses pornografi, dll), atau perbedaan pandangan antara para pemuda penggunaan
Alkitab elektronik dengan warga jemaat yang lain. Hal ini sudah sering dijumpai dalam kehidupan bersama di
jemaat. Padahal jika dilihat lebih luas, maka akan dijumpai bahwa sebenarnya media elektronik yang lain juga
telah dipakai dalam ibadah ritual, namun mengapa telepon genggam dengan aplikasi Alkitab elektronik dalam
penggunaannya mempunyai banyak penilaian negatif.
Kenyataan ini menjadi menarik untuk

