alkitab digital 2

alkitab digital 2



 dikaji lebih dalam mengingat bahwa warga gereja yaitu  manusia yang 

hidup dalam dunia moderen yang serba elektronik. Kajian terhadap keberadaan dan pemanfaatan Alkitab 

elektronik dalam ibadah ritual bermaksud meneliti bagaimana pandangan pelayan khusus terhadap keberadaan 

Alkitab Elektronik serta bagaimana pemanfaatannya dalam pelayanan agar dari padanya dapat diambil 

suatu  pandangan dan sikap yang tepat, khususnya bagi warga jemaat GPM di tengah perkembangan dunia yang 

semakin canggih, terkait dengan berbagai pandangan tentang penggunaan Alkitab elektronik melalui telepon 

genggam dalam proses Pendidikan Agama Kristen. 

B. Perumusan Masalah 

Berdasar pada latar belakang yang telah dideskripsikan sebelumnya, maka masalah utama yang akan dikaji 

dalam skripsi ini yaitu  : 

1. Bagaimana pemahaman pelayan khusus Jemaat GPM Bethel tentang keberadaan Alkitab Elektronik ? 

2. Bagaimana penggunaan dan pemanfaatan Alkitab Elektronik di kalangan pelayan pada Jemaat GPM 

Bethel? 

3. Bagaimana Alkitab Elektronik dapat dipakai  sebagai media pengajaran dan pemberitaan firman dalam 

pelayanan Gereja 

C. Tujuan Penelitian 

Tujuan penulisan skripsi ini : 

1. Mengkaji Pemahaman pelayan khusus Jemaat GPM Bethel tentang Alkitab Elektronik 

2. Mengkaji penggunaan dan pemanfaatan Alkitab Elektronik di kalangan pelayan khusus GPM Bethel. 

3. Mengkaji Alkitab Elektronik, dapat dipakai  sebagai media pengajaran dan pemberitaan firman dalam 

Pelayanan Gereja. 

D. Manfaat Penelitian 

Skripsi ini diharapkan dapat : 

Memberikan kontribusi pikir bagi pengembangan wawasan tentang modernisasi dan IPTEK dan kedudukannya 

dalam pelayanan gereja serta pemanfaatan media elektronik (Alkitab) dalam proses Pendidikan Agama Kristen. 

E. Kerangka Teoritik 

Alkitab merupakan kumpulan buku-buku (tulisan-tulisan) yang pada awalnya ditulis di atas papirus dengan 

begitu tradisionalnya. Sebagai kumpulan buku-buku (tulisan-tulisan), Alkitab pasti memiliki sedikit kekeliruan, 

misalnya ketidakcocokan antara tempat, waktu, tokoh, antara buku yang satu dengan yang lain dan sebagainya. 

Dalam gagasan ineransi Alkitab dikatakan bahwa Alkitab tidak mungkin salah, berdasar pada Allah yang selalu 

benar dan bukan pada manusia yang sering berbuat kesalahan. [3] 

Dengan sebuah cara lisan manusia hidup dan berinteraksi dengan sesamanya pada awalnya. Para leluhur yaitu  

orang-orang yang peka dan suka bertutur cerita, namun  sebab  mereka tidak dapat mengaktualisasikan apa yang 

mereka rasakan lewat tulisan maka hanya mampu dimengerti hanya dengan cara memahami apa yang mereka 

pikirkan, rasakan, yakini, dan hargai. 

Sekitar tahun 3300 sM terjadi perubahan besar dalam komunikasi manusia. Beberapa orang telah berhasil 

menemukan suatu sistem untuk menyampaikan pidato secara lisan dan dibuat dalam bentuk tulisan. Plato 

memahami sesuatu yang berubah sebab  kemajuan pemikiran manusia dari lisan ke tulisan pada masa kini, harus 

dipahami sebagai sebuah peralihan oleh kemajuan ke komunikasi elektronik sehingga yang menjadi benang 

merah yang Plato simpulkan yaitu komunikasi itu mengubah bukan hanya yang dipikirkan, melainkan juga 

bagaimana berpikir.[4] 

Dengan kemampuan berpikirnya manusia mulai untuk membuat manuskrip kepada rekan-rekan mereka dengan 

memakai  sebuah media papyrus.  Kata “papyrus” diturunkan dari kata “papuro” bahasa Koptik kuno (Mesir 

kuno). Dalam bahasa Yunani πάπυρος – papuros, yaitu  asal kata dari kata Inggris “paper” atau “papier” 

(Belanda) yang berarti kertas. Kata dalam bahasa koptik “papuro” ini bermakna “termasuk milik raja”, 

mengisyaratkan bahwa pembuatan kertas termasuk monopoli raja pada zaman dulu.[5] 

Dengan sebuah kebingungan lalu manusia mulai berpikir terhadap sebuah kemajuan, seperti yang telah Plato 

ungkapkan, Dunia seakan makin kecil untuk dijangkau sebab  melihat fenomena-fenomena era informasi dalam 

warga  yang cenderung berkembang. Kemajuan IPTEK melahirkan salah satu produk teknologi komunikasi 

yang paling luas pengaruhnya dalam kehidupan manusia pada era informasi sekarang ini ialah televisi. Media 

komunikasi televisi membuat manusia dapat menyaksikan bagaimana opini dunia telah dibentuk melalui media 

televisi. Itu berarti ada sebuah fenomena massifikasi, globalisasi, dan seluruh warga  dunia dipengaruhi oleh 

semacam kebudayaan massa yang bersifat menyeragamkan kebudayaan-kebudayaan lokal dengan 

memunculkan suatu jenis budaya yang bermunculan. 

Pembangunan komunikasi ini pada dasarnya merupakan suatu upaya interpretasi atas diri dalam terang 

pimpinan Roh Allah. Allah telah dan sedang bertindak membangun komunikasi manusia baru yang selalu diberi 

kemampuan menerjemahkan tradisi dalam istilah yang menimbulkan saling pengertian dan dapat dimengerti, 

sebab banyak mitos-mitos baru terkandung dalam media masa kini, yang tidak menolong ke arah perubahan 

warga  yang manusiawi.[6] Untuk menjembatani hal ini  Gereja sebagai sentralisasi pelayanan 

kekristenan guna menumbuhkan nilai-nilai Kristiani, juga mendapatkan tantangan di bidang pendidikan yang 

serba modern dari sisi kemajuan teknologi. sebab  gereja bukan barang antik sebagai pajangan yang enak untuk 

dipandang, melainkan gereja harus menjadi pohon yang rindang dan berbuah lebat. 

Gereja yang hidup di dalam perubahan zaman harus menumbuhkan nilai didik kristiani sebab  itu gereja harus 

bersikap mengajak dan menstimulisasi para ilmuwan dan teknologiawan Kristen untuk berusaha merelasikan 

imannya dengan ilmu dan teknologi yang digelutinya. Sehingga gereja dan para teolog harus mau banyak 

mendengar dari mereka, dan sebaliknya, mereka perlu mendengar dari gereja dan para teolog agar secara 

bersama dapat memperdengarkan tugas profetis dalam pembangunan ilmu dan teknologi.[7] 

Selain itu Gereja juga harus peka membaca perubahan perkembangan zaman dari sisi teknologi multimedia 

sehingga dapat menjadi jembatan melalui pelayan khusus guna memberikan informasi beserta rasionalisasinya 

kepada warga  yang majemuk ini tentang perkembangan zaman dengan spesifikasinya menyangkut 

peribadahan seperti Proyektor dan Alkitab Elektronik. Dari situ warga  akan belajar untuk terbuka terhadap 

sebuah kehidupan globali, kemajuan ilmu dan teknologi yang dikemas secara cyber spaceyang sedang bertumbuh 

subur. Cyber space secara substansi sebenarnya yaitu  keberadaan informasi dan komunikasi yang dalam 

konteks ini dilakukan secara elektronik dalam bentuk visualisasi tatap muka interaktif. 

Komunikasi virtual (virtual communication) ini  yang dipahami sebagai virtual realitysering disalah pahami 

sebagai (alam maya), padahal keberadaan sistem elektronik itu sendiri yaitu  konkrit di mana komunikasi 

virtual sebenarnya dilakukan dengan cara representasi informasi digital yang bersifat diskrit. [8]warga  

memiliki potensi  untuk menghadapi perkembangan itu, warga  perlu mengadakan perubahan paradigma 

dalam berteologi dan mengajarkan tentang pemahaman iman dalam konteks demikian. Oleh sebab  itu warga 

jemaat juga belajar memahami Alkitab dengan kacamata baru. 

Elektronik yaitu  alat yang dibuat berdasarkan prinsip elektronika.[9] Elektronika yaitu  ilmu yang 

mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel 

bermuatan listrik dalam suatu alat seperti komputer, peralatan elektronik, termokopel, semikonduktor, dan lain 

sebagainya. Ilmu yang mempelajari alat-alat seperti ini merupakan cabang dari ilmu fisika, sementara bentuk 

desain dan pembuatan sirkuit elektroniknyayaitu  bagian dari teknik elektro, teknik komputer, dan 

ilmu/teknik elektronika dan instrumentasi.[10] 

Semua hal atau benda yang memakai  prinsip dan alat ini  yaitu  benda elektronik. Sekarang dengan 

kemajuan IPTEK, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) telah menghadirkan sebuah Alkitab Elektronik terbitan  yang 

bisa dioprasikan atau dimediasi oleh sebuah media elektronik seperti komputer, laptop, dan handphone (telepon 

genggam); yang bisa dipakai  oleh siapa saja yang ingin mengaksesnya. 

Meskipun dalam bentuk yang elektronik, Alkitab dilihat sebagai firman yang hidup yang dapat berbicara setiap 

saat kepada setiap orang di tempat  dan dalam suasana yang berbeda-beda. Apabila membaca secara baru arti 

dan makna isi Alkitab, maka akan ditemukan banyak sekali pelajaran yang baru yang akan membantu dalam 

mempersiapkan Pendidikan Agama Kristen secara lebih baik dan tepat. Demikian juga dengan perspektif  baru 

“kacamata baru” dalam membaca Alkitab yang membantu umat menghadapi era “kebudayaan massa” sekarang 

ini, konkritnya dalam era cyber space. 

Perlu disadari juga bahwa untuk menerima sebuah transformasi Teknologi computerisasi tidaklah mudah. 

Sebagaimana yang dikatakan oleh Kupersmith (1992) bahwa simptom utama bagi mereka yang mempunyai 

sikap yang tidak suka atau takut terhadap komputer ialah kebimbangan. Kebimbangan ini boleh diluapkan 

melalui berbagai cara, yaitu sakit kepala, irritability, nightmare, menentang pembelajaran komputer dan menolak 

sama sekali teknologi. Technoanxiety lebih mengganggu mereka yang merasa tertekan oleh majikan, rekan 

sekerja atau budaya umum untuk menerima dan memakai  komputer.[11] 

Weil dan Rosen  mendefinisikan teknostres sebagai kesan negatif terhadap perlakuan, pikiran, tingkah laku atau 

psikologi badan disebabkan oleh teknologi secara langsung atau tidak langsung. Teknostres juga ialah reaksi 

pengguna terhadap teknologi dan bagaimana perubahan berlaku atas kesan teknologi ini .[12] Teknostres 

(stres yang berkaitan dengan komputer) merupakan kombinasi yang terdiri daripada kebimbangan prestasi, 

lebihan beban maklumat, konflik peranan dan faktor organisasi. Terdapat pengkaji-pengkaji yang menyatakan 

bahawa teknostres yaitu  kesan negatif disebabkan oleh teknologi ke atas pemikiran, perlakuan, tingkah laku 

atau beban seseorang individu. Ia disebabkan penggunaan peralatan elektronik dalam kehidupan seharian 

seperti televisi, mesin ATM, komputer, gelombang mikro, telefon bimbit dan sebagainya.[13] sedang  bagi 

Craig Brod technostress, sebagaimana didefinisikan dalam bukunya “Technostress : Biaya Manusia Revolusi 

Komputer”, yaitu  penyakit modern adaptasi yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengatasi atau 

beradaptasi dengan teknologi komputer baru dengan cara yang sehat itu dan memanifestasikan dirinya dalam 

cara-cara yang berbeda namun berkaitan. Dalam perjuangan untuk menerima teknologi komputer, dan dalam 

bentuk yang lebih khusus dari overidentification dengan teknologi computer.[14] 

Teologi Kristen agar relevan dalam era cyber space, harus memfokuskan ajaran tentang manusia atau 

berkonsentrasi pada manusia. Kehadiran Alkitab Elektronik sangat sinkron dengan kebutuhan manusia moderen 

saat ini, penggunaannya yang relatif praktis sebab  selalu dibawasertakan ke manapun, mempermudah orang 

untuk beroleh kesempatan seluasnya dalam mengakses Alkitab. Hal inilah yang harus dimanfaatkan dalam 

koridor PAK.  PAK lebih menekankan etika daripada dogmatika. PAK menekankan axiologia (ajaran tentang nilai-

nilai) dari pada ontologia (ajaran tentang hakikat sesuatu). Itu berati dengan kehadiran kebudayaan massa ia 

juga tidak menggugurkan nilai-nilai yang telah ada dalam kewibawaan Alkitab sebagaimana yang dipahami 

banyak orang Kristen.[15] 

Sentral pemberitaan di dalam gereja juga dipengaruhi oleh keaktifan/ fungsi para pelayan. Pelayan khusus 

majelis jemaat terdiri dari ; Pendeta dan atau penginjil, penatua-penatua dan diaken-diaken. Mereka memiliki 

tugas dan tanggung jawab sebagai berikut ; 

1. Melaksanakan pekabaran injil dan melengkapi warga jemaat bagi pekerjaan pelayanan dan 

pembangunan Tubuh kristus. 

2. Melayani ibadah jemaat, pemberitaan firman Allah dan Sakramen Kudus.[16] 

Gereja-gereja di Indonesia perlu mawas diri dan mempersiapkan diri untuk menjawab masalah-masalah global 

di samping masalah regional, lokal jemaat. Gereja harus mengembangkan cara-cara komunikasi yang efektif dan 

menarik sehingga tidak diremehkan dan diabaikan. Gereja harus mampu menjembatani dengan gaya dan 

struktur serta fungsi yang relevan, permasalahan desa (mungkin lebih banyak agraris), lingkungan kota mungkin 

lebih banyak industrial, ekonomis, moral) dan lingkungan global yang mungkin di warnai oleh masalah-masalah 

filosofis, nilai-nilai dasar kemanusiaan, lingkungan etis teknologis. Di sini sangat menuntut agar gereja itu harus 

komunikatif terhadat kemajuan dunia cyber space.[17] Pemakaian teknologi tak dapat dilepasakan dari 

perbedaan-perbedaan kondisi masing-masing gereja sebagai berikut ; 

1. Kemampuan finansial jemaat, jemaat yang memiliki kemampuan finansial cukup,akan lebih mungkin 

mengikuti perkembangan teknologi moderen. 

2. Peran / pengaruh Pendeta, jika pendeta disuatu jemaat terbuka terhadap perubahan, maka akan 

cenderung mengikuti perkembangan teknologi dsn mendorong jemaat untuk memakai teknologi 

moderen dalam ibadah dan kegiatan-kegiatan gereja. 

3. Konteks wilayah, intensitas pemakaian alat teknologi moderen dalam gereja yang berada di kota besar 

lebih sering dibandingkan dengan gereja yang berada dipedesaan dan kota kecil. Hal ini jelas sebab  akses 

kota lebih baik dari pada desa. 

4. Usia anggota jemaat, kebutuhan besar pemakaian teknologi moderen berhubungan denga usia anggota 

jemaat, sebab  kaum muda lebih memiliki pengharapan besar guna penggunaan teknologi di gereja 

berbeda dengan kaum tua. 

5. Komunikasi, jemaat yang memiliki jalur komunikasi yang lancar akan dapat menangkap kebutuhan 

anggota jemaat. Sebaliknya, anggota jemaat dapat mengkomunikasikan kebutuhannya dengan lancar 

sehingga majelis jemaat dapat menindaklanjuti dengan kebijakan yang tepat.[18] 

F. KERANGKA BERPIKIR 

Dari warga  (dari luar), pendidikan merupakan suatu kegiatan universal dalam kehidupan manusia, sebab  

pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri, yaitu untuk 

membudayakan manusia. Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan 

warga , namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa atau 

warga  dan bahkan individu menyebabkan perbedaan penyelenggaraan kegiatan pendidikan ini . 

Dengan demikian selain bersifat universal pendidikan juga bersifat nasional. Sifat nasionalnya akan mewarnai 

penyelenggaraan pendidikan itu. Life long education, kalimat yang sering kita kenal sejak dulu sampai sekarang, 

yang artinya “Pendidikan sepanjang hayat”, PAK sebenarnya demikian, “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan 

sampai ke liang lahat”. Semua itu menjelaskan bahwa pendidikan telah menjadi kebutuhan pokok bagi manusia. 

Dari dalam (Pelayan Khusus) Pendeta, Penatua, Diaken yaitu  pendidik yang dipilih dan dikhususkan gereja guna 

menyentuh kehidupan berjemaat dengan nilai moral, serta etika mendidik untuk menyiapkan warga jemaat 

menyongsong perubahan-perubahan sosial diakibatkan oleh kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan 

Teknologi), lebih khususnya dengan kehadiran Alkitab Elektronik buatan LAI (Lemabaga Alkitab Indonesia). 

Perkembangan IPTEK yang merambah gereja ini memberi tanggungjawab tambahan bagi para pelayan. 

Pelayan Khusus harus mampu memberikan transformasi dengan mulai memakai  Alkitab Elektronik dan bisa 

juga dengan memahaminya secara teoritis. Hal ini perlu sebab seorang Pelayan Khusus pada hakikatnya selalu 

berhubungan dengan Alkitab dan Alkitab merupakan  dasar pijakan dalam tugas guna memperlancar pelayanan. 

Alkitab Elektronik bisa dipakai  pelayan sebagai media pemberitaan dan pengajaran bagi umat dan bagaimana 

Pelayan Khusus bisa menyiapkan warga gereja sehingga bisa menghadapinya dengan berpikir kritis namun 

terbuka. Tindakan ini tidak dimaksudkan untuk menghilangkan tradisi yang telah ada, namun lebih merupakan 

cara gereja menyikapi perubahan dan perkembangan teknologi secara teologis (kritis). 

Dengan media elektronik manusia bisa membentuk perilaku, misalkan saja Alkitab Elektronik yang terintegrasi 

pada handphone bisa dibaca di mana saja sehingga dalam keadaan marah, putus asah, kecewa dan sebagainya 

manusia dengan mudah saja mengakses Alkitab dengan praktis guna pertumbuhan imannya, pembentukan 

karakter serta cara pikir oleh situasi dan kondisi batin. Dengan demikian selalu diingatkan oleh ayat-ayat Alkitab 

yang sifatnya menghibur serta memberi kekuatan saat  berada dalam kelabilan emosional, ataupun juga dalam 

ketenangan batiniah. Seperti inilah frame PAK yang selalu berusaha menata kehidupan berwarga  dan 

bergereja secara continue sehingga menjadi harmonis berpadu dengan teknologi. 

Sama seperti pendidikan pada umumnya yang tidak hanya mengada di dunia ini, namun mengalami sebuah 

proses yang panjang baik dari hal yang substansi sampai pada hal teknis, dan selalu mengalami pembaharuan 

dari zaman ke zaman, maka Pendidikan Agama Kristen pun tidak luput daripadanya. Pendidikan Agama Kristen 

(PAK) atau Pembinaan Warga Gereja (PWG) menguraikan pokok pembelajaran pada prinsipnya berpusat pada 

Kristus, yang melalui FirmanNya PAK berpijak. Nilai-nilai moralitas yang dipetik, pengetahuan yang memadai, 

serta melahirkan pribadi yang potensial, beretika merupakan konsep umum PAK bagi setiap manusia yang 

dididik di dalamnya (pedagogis dan androgogis). Konsep umum itu dipikirkan serta dikemas pula hingga dapat 

memiliki sebuah kurikulum yang baik, metode pembelajaran yang relevan, bahkan sampai pada pendidiknya. 

Dalam pengertian bahwa, PAK seturut perkembangan dunia yang beranjak dari kuno ke modern, tentunya mesti 

mengalami pembenahan dari waktu ke waktu mengikuti lajunya perkembangan dunia ini. Dari hal ini, maka tidak 

heran kalau PAK mesti meyesuaikan diri dengan kecanggihan dunia dalam bentuk apapun. PAK itu mesti 

bermanfaat untuk menunjang kepribadian manusia mengalami proses pendidikannya (Pendidikan PAK). Kalau 

yang PAK tekankan yaitu  pembentukan moral, etika kepribadian seorang manusia kristen, maka kecanggihan 

teknologi yang dipakai PAK mesti menunjang akan semuanya itu. 

Teknologi yaitu  buah dan karya berpikir manusia yang melihat dunia dengan kemajemukan sosiologis dan juga 

teknologi. Itu berarti tidak semua orang bisa menerima teknologi atau mengoperasikannya. Sederhananya 

menjadi pengguna. Ada beberapa faktor manusia cenderung tidak menerima disebabkan sebab  manusia 

menutup diri terhadap perkembangan teknologi, manusia cenderung tidak memiliki pengetahuan tentang 

teknologi dimaksud misalkan komputer, serta tidak semua orang secara finansial mampu memperoleh alat 

teknologi, ini menimbulkan rasa tidak percaya diri serta stres sebab  tidak mampu memakai nya sebab tidak 

dipenuhi dengan pengetahuan-pengetahuan menyangkut teknologi yang dipakai  itu. namun  ini bukan menjadi 

alasan bahwa teknologi tidak bisa diterima secara baik atau cenderung ditolak. Melainkan tugas PAK untuk 

merasionalisasikan serangkaian produk teknologi yang ditawarkan oleh zaman moderen sekarang ini. Agar 

Gereja bertumbuh subur secara kritis serta dinamis menyesusaikan diri dengan konteks. 

Manusia yang berkembang dan belajar di dalam kebudayaan massa merupakan manusia yang pro aktif 

memikirkan dunia ini dengan kebutuhannya. Berawal dari sebuah peradaban yang kuno manusia hanya mampu 

berbicara, merasakan, menilai sesuatu kenyataan yang terjadi di sekitar mereka itulah leluhur kita dahulu. 

Seperti inilah manusia pada awalnya melakukan sebuah komunikasi informasi. Seiring perubahan saman dunia 

dengan pengetahuan iptek mengalami perubahan di sektor teknologi informasi yang sangat meluas yakni adanya 

media elektronik televisi seakan membuat dunia menjadi kecil dan sempit yang mampu dijangkau untuk 

mengetahui informasi di seluruh pelosok dunia. Dengan mudah berbagi informasi serta pengetahuan dengan 

memiliki sebuah televisi. 

Gereja memposisikan dirinya sebagai sebuah media yang ada di tengah-tengah pertumbuhan IPTEK ini  

dengan tidak menutup diri namun membuka diri menerima segala kemajuan zaman dengan terus menyikapinya 

secara komunikatif dan teologis. Gerak maju zaman menghadirkan sebuah produk Alkitab namun kali ini 

mengambil bentuk lain, tidak sama dengan sebuah kitab melainkan kitab dalam bentuk Elektronik. Alkitab yang 

dikemas menjadi sebuah program dilengkapi dengan latarbelakang kitab, nubuat, perumpamaan, juga peta dunia 

di zaman Alkitab yang dimediasi melalui media elektronik seperti handphone (telepon genggam), komputer, 

laptop, proyektor. Alkitab Elektronik tidak berdiri sendiri menjadi sebuah media yang tunggal namun hanya bisa 

beroperasi jika diintegrasikan (diinstalasi) ke dalam telepon genggam, komputer, dan laptop. Bagaimana nilai 

didik PAK melihat semua perubahan sosial yang terjadi di dalam gereja dan juga warga . Nilai didik PAK 

bertumbuh dan berkembang dalam keluarga dan keluar kepada jemaat. Alkitab Elektronik yaitu  sebuah 

perubahan sosial yang terjadi di dalam gereja dan jemaat, sering sekali pemuda dan ada pun kalangan tua yang 

di dalam handphone, Laptop, dan komputernya memakai  sebuah perangkat aplikasi Alkitab Elektronik yang 

sering dipakai  pada saat beribadah ritual. Namun yang perlu dilihat yakni bagaimana kemajuan ini dari sudut 

pandang IPTEK dipahami sebagai sebuah kolaborasi budaya moderen dan budaya sebelumnya. Singkat kata, 

secara kristiani Pendidikan Agama Kristen (PAK) harus menekankan aksiologi (ajaran tentang nilai-nilai) dari 

pada ontologi (ajaran tentang hakikat sesuatu). Itu berarti bahwa dengan kehadiran kebudayaan massa juga 

tidak menggugurkan nilai-nilai yang telah ada dalam kewibawaan Alkitab sebagaimana telah dipahami. 

G. METODOLOGI PENELITIAN 

1. Jenis Penelitian 

Jenis penelitian yang dipakai  dalam penelitian ini yaitu  kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan 

deskriptif maksudnya ialah menjelaskan seluruh fenomena yang terjadi terkait dengan masalah yang dikaji 

secara sistematis, faktual dan akurat. Dengan kata lain, pendekatan deskriptif berusaha menggambarkan sifat 

suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dan melihat sebab dari sebuah fenomena 

tertentu.[19] Penelitian kualitatif lebih memfokuskan pada manusia yang selalu berubah sebagai alat, proses 

daripada hasil dan perhatian pada kedalaman dan ketepatan data.[20] 

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pengabstraksian dan pentransformasian data 

kasar dari lapangan. Proses ini berlangsung selama penelitian dilakukan, dari awal sampai akhir penelitian. Pada 

awal, misalnya ; melalui kerangka konseptual, permasalahan, pendekatan pengumpulan data yang diperoleh. 

Selama pengumpulan data, misalkan membuat ringkasan, kode, mencari tema-tema, menulis memo, dan lain-

lain. Reduksi merupakan bagian dari analisis, bukan terpisah. Fungsi untuk menajamkan, menggolongkan, 

mengarahkan, membuat yang tidak perlu, dan mengorganisasi sehingga interpretasi bisa ditarik. Dalam proses 

reduksi ini penelitian benar-benar mencari data yang benar-benar valid. saat  penelitian menyangsikan 

kebenaran data yang diperoleh akan dicek ulang oleh informan lain yang dirasa peneliti lebih mengetahui. 

b. Penyajian data 

yaitu  sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan 

pengambilan tindakan. Bentuk penyajiannya antara lain berupa teks naratif, matriks, grafik, jaringan dan bagan. 

Tujuannya yaitu  untuk memudahkan membaca dan menarik kesimpulan. Oleh sebab  itu sajiannya harus 

tertata secara apik. Penyajian data juga merupakan bagian dari analisis, bahkan mencakup pula reduksi data. 

Dalam proses ini peneliti mengelompokkan hal-hal yang serupa menjadi kategori atau kelompok satu, kelompok 

dua, kelompok tiga, dan seterusnya. Masing-masing kelompok ini  menunjukkan tipologi yang ada sesuai 

dengan rumusan masalahnya. Masing-masing tipologi atas sub-sub tipologi yang bias jadi merupakan  urutan-

urutan, atau prioritas kejadian. Dalam tahapan itu peneliti juga melakukan display (penyajian) data secarah 

sistematik, agar lebih mudah dipahami interaksi antar bagian-bagian dalam konteks yang utuh bukan segmental 

atau fragmental terlepas satu dengan lain. Dalam proses ini data diklasifikasikan berdasarkan tema-tema inti. 

c. Menarik Kesimpulan atau Verifikasi 

Penarik kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan 

juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Makna-makna yang muncul dari data harus selalu diuji 

kebenarannya dan kesesuaiannya sehingga validitasnya terjamin. Dalam tahap ini peneliti membuat rumusan 

proposisi yang terkait dengan prinsip logika, mengangkatnya sebagai temuan penelitian, kemudian dilanjutkan 

dengan mengkaji secara berulang-ulang terhadap data yang ada, pengelompokan data yang telah terbentuk, dan 

proposisi yang telah dirumuskan. Langkah selanjutnya yaitu melaporkan hasil penelitian lengkap, dengan 

temuan baru yang berbeda dari temuan yang sudah ada. Berdasarkan uraian diatas, langkah analisis data dengan 

pendekatan ini dapat digambarkan sebagai berikut.[21] 

Koleksi data                      Display data 

Reduksi data 

Pemaparan kesimpilan 

6. Definisi Operasional 

Agar pemahaman yang sama dapat terbangun dan tidak terjadi misskomunikasi, maka beberapa  defenisi 

operasional dari masalah yang dikaji akan dijelaskan pada bagian ini, yakni : 

Alkitab Elektronik, : Salah satu aplikasi yang terintegrasi di dalam telepon genggam atau komputer yang 

berfungsi menampilkan teks Alkitab secara elektronik. 

Pelayan khusus             : Orang-orang yang ditahbis untuk melayani jemaat. Mereka yaitu  pendeta, penatua, dan 

diaken. 

PAK                              : Education for Continuity and Change. Memberikan perhatian yang sama baik dalam 

pendidikan Agama Dan Pendidikan Kristiani. Dalam hal ini, yang pertama menekankan kebutuhan untuk 

kesinambungan dan penerusan warisan.[22] 

7. Cara Penyajian 

Penulisan skripsi ini terdiri atas empat bab, yakni Bab I yang merupakan pendahuluan yang memuat latar 

belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teoritik, kerangka 

berpikir, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisa 

data, definisi operasional dan cara penyajian. Bab II berisikan gambaran umum lokasi penelitian, deskripsi 

seluruh data penelitian yang didapat dan analisa data. Bab III temuan hasi penelitian. Bab IV merupakan penutup 

dari penulisan ini yang berisikan pokok pikiran untuk refleksi teologi, dan kesimpulan dan saran. 

BAB II 

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 

A. KONDISI JEMAAT GPM BETHEL 

1. Letak Geografis 

Jemaat GPM Bethel yaitu  salah satu jemaat yang berada dalam wilayah koordinasi Klasis Kota Ambon. Secara 

administatif pemerintahan, jemaat ini termasuk dalam wilayah Kota Madya Ambon yang berada di ibukota 

Provinsi Maluku. Jemaat dengan luas wilayah pelayanaan ± 230 Ha ini berada di pesisir pantai Teluk Ambon 

hingga punggung bukit dengan batas-batas sebagai berikut : 

Sebelah Utara             :  Berbatasan dengan wilayah pelayanan Jemaat GPM Bethabara di Jln. Rijali dan Jln. Martha 

Christina Tiahahu 

Sebelah Selatan          :    Berbatasan dengan wilayah pelayanan Jemaat GPM Bethania pada kali Waitomu dan 

Jln.W. R. Supratman 

Sebelah Barat             :    Berbatasan dengan Pantai Mardika dan Teluk Ambon 

Sebelah Timur             :    Berbatasan dengan wilayah pelayanan Jemaat GPM Imanuel Karang Panjang dan Jemaat 

GPM Ebenhaezer di Skip. [23] 

2. Aksebilitas 

Jemaat GPM Bethel yang dekat sekali dengan sentra informasi dan komunikasi (beberapa  warung internet, 

pedagang Koran, majalah, dan sebagainya), sentra perekonomian (Pasar Mardika), bahkan sentra transportasi 

(Terminal Angkutan Umum Mardika) di kota Ambon menyumbangkan kepada anak-anak, remaja, pemuda-

pemudi dalam jemaat ini kemudahan untuk mengakses berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan pokok seperti 

pendidikan, kesehatan, sampai pada kebutuhan yang sifatnya sekunder atau instan. Letak yang strategis dan 

aksebilitas yang hampir tak terbatas ini tak pelak lagi membuat jemaat ini rentan terhadap berbagai perubahan 

dan perkembangan yang sedang terjadi, baik dalam skala lokal maupun internasional. Zaman modern sekarang 

ini dengan kehadiran INTERNET membuat warga  memiliki daya akses terhadap informasi sangat mudah 

dan cepat. Di Jemaat Bethel Klasis Kota Ambon sejak tahun 2010-2011 sudah ada 7 Warnet (Warung Internet), 

ini berarti Jemaat Bethel sudah dipagari dengan kemajuan-kemajuan teknologi. Dan ada beberapa hotel-hotel 

juga yang dibangun sekitar tahun 2010, ini merupakan sebuah kemajuan zaman dan dengan kemajuan ini 

manusia dibolehkan untuk bias menyesuaikan diri dengan menyiapkan kesediaan diri terhadap hal baru ataupun 

situasi baru sehingga jemaat ini bertumbuh subur dalam akses dengan sesama. 

3. Demografi 

Berangkat dari data Jemaat GPM Bethel, jumlah kepala keluarga di jemaat ini mencapai 1.614 dengan jumlah jiwa 

6.634, yang terdiri dari 3.221 laki-laki dan 3.413 perempuan. Secara lebih terperinci dapat diklasifikasikan 

sebagai berikut : 

Tabel No. 1 

Jemaat Berdasarkan Umur 

No 

Umur 

(Tahun) 

Jumlah 

(Orang) 

1 00-05 526 

2 06-09 493 

3 10-12 385 

4 13-15 390 

5 16-19 541 

6 20-40 2338 

7 41-59 1353 

8 60-dst 608 

Total 6634 

Sumber : Data Jemaat GPM Bethel tahun 2009 

Totalitas jumlah warga Gereja secara kuantitas banyak usia perkembangan yang telah terkontabinasi mulai dari 

usia 16 tahun keatas merupakan usia yang telah terpengaruh langsung dengan teknologi, mengakses informasi 

secara langsung melalui internet serta media lainnya. 

Tabel No. 2 

Jemaat Berdasarkan Pendidikan 

No Tingkat Pendidikan Jumlah (org) 

1. SD 605 

2. SMP 731 

3. SMU 2422 

4. D3 208 

5. S1 632 

6. S2 52 

7. S3 4 

Total 4.654 

Sumber : Data Jemaat GPM Bethel tahun 2009 

Melihat kapsistas sumberdaya manusia yang tersedia di Jemaat GPM Bethel Mardika boleh dikatakan baik, hanya 

saja proses pengolahan sumberdaya manusia ini harusnya dibina sejak dini secara kristiani melalui Pelayan 

Khusus serta orang tua, secara intensif sehingga melahirkan warga gereja yang berkualitas untuk gereja, jemaat, 

dan juga person. 

Tabel No. 3 

Jemaat Berdasarkan Pekerjaan 

No Tingkat Pendidikan Jumlah (org) 

1. PNS 748 

2. Pegawai swasta 690 

3. Pensiunan 418 

4. TNI/POLRI 55 

5. Wirausasaha 321 

6. Lain-lain 381 

Total 2613 

Sumber : Data Jemaat GPM Bethel tahun 2009 

Berdasarkan data demografi maka dapat dipahami bahwa Jemaat GPM Bethel bukanlah komunitas yang 

homogen. Di situ hidup berbagai etnis dan sub etnis yang membaur menjadi satu mulai dari Tionghoa, Jawa, 

Batak, Sulawesi, Saparua, Seram, Kei, Tanimbar, Kisar, Leti, Haruku, Moa, dan seterusnya dengan beragam 

pekerjaan dari yang bekerja serabutan sampai pada yang profesional. Hal ini mengisyaratkan adanya beragam 

kebutuhan, cara pandang, dan sebagainya, dan tentu juga mengisyaratkan adanya berbagai masalah yang mesti 

dikelola secara baik agar semuanya dapat terakomodir dalam pelayanan jemaat. Lebih dari itu, bertolak dari 

pendekatan yang sederhana bahwa semakin besar jumlah, semakin sulit pengorganisasian, maka sangat mungkin 

ada berbagai kendala yang ditemui dalam pelayanan terkait dengan bagaimana mengorganisir manusia dalam 

jumlah yang besar seperti Jemaat GPM Bethel. Oleh sebab  itu, diperlukan mekanisme yang memadai untuk 

menata kehidupan berjemaat. Terkait dengan itu maka sebuah proses penelitian dan pengkajian sebuah bentuk 

atau Jenis penelitian yang dipakai  dalam penelitian ini yaitu  kualitatif dengan pendekatan deskriptif. 

Pendekatan deskriptif maksudnya ialah menjelaskan seluruh fenomena yang terjadi terkait dengan masalah yang 

di kaji secara sistematis, faktual dan akurat. 

Melihat kehidupan dan perkembangan jemaat dari sisi ekonomi memungkan mereka bisa memiliki berbagai 

media elektronik guna keperluan operasional setiap pribadi, misalkan dengan memiliki Computer, HandPhone, 

sebagai sarana penunjang kebutuhan hidup sebab  tuntutan saman. 

4. Situasi Sosial 

Bertolak dari uraian secara demografis, maka dapat dipahami bahwa Jemaat GPM Bethel yaitu  jemaat yang 

heterogen. Keragaman itu meliputi, baik etnis, budaya, peran sosial, status kewarga an. Jemaat yang terus 

bertumbuh dan berkembah didalam saman era globalisasi   serta peran atau pengaruh kemajuan IPTEK (ilmu 

pengetahuan dan teknologi) yang selalu menjadi konsumsi warga  kota pada khususnya sebab  

kemungkinan besar meiliki akses yang kuat untuk berhadap-hadapan langsung dengan IPTEK yang terealisasi. 

Kompleksitas mewujud dalam berbagai bentuk interaksi sosial yang terus-menerus mengalami perubahannya 

seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan mewarnai sentra-sentra kehidupan, misalnya 

pasar, perkantoran, tempat hiburan, sekolah, dan seterusnya. Selebihnya, kompleksitas itu juga mewujud dalam 

berbagai perkembangan motivasi dan kepentingan baik dalam berelasi antar satu individu dengan individu lain 

dalam seluruh lapisan kehidupan berwarga  maupun kehidupan bergereja, sebab  dalam pembauran antar 

etnis dan interaksi-interkasi sosial yang semakin berkembang itu ada beberapa  plausibilatas yang bisa saja 

diinginkan maupun tidak diinginkan, secara sadar atau tidak tersadarkan misalnya perubahan-perubahan sosial 

yang terjadi meliputi kebiasaan-kebiasaan seperti setiap individu dalam melakukan ibadah ritual selalu 

memakai  atau menenteng Alkitab media cetak. Dalam rentan waktu yang panjang seiring dengan 

perkembangan IPTEK serta kemajuannya lalu mulai beredar berbagai macam multimedia elektronik dimana 

media ini  menjadi konsumsi umum bagi tiap individu seperti kepemilikan computer, 

hanphone, serta  proyektor. Ketiga media cetak ini  memiliki kegunaan yang berbeda pula dan memiliki 

peran yang sama yaitu dengan memakai  media ini  pesan itu dapat sampai kepada jemaat. Ada media, 

pesan, serta jemaat. Media merupakan sebuah perantara di mana computer dan hanphone bisa mengintergrasi 

sebuah aplikasi didalamnya yang berkaitan dengan ibadah ritual jemaat seperti Alkitab Elektronik sehingga 

jemaat bukan saja dapat membaca Alkitab melalui Alkitab media cetak namun dapat membaca Alkitab melalui 

media elektronik seperti yang dimaksudkan. Dan dengan memakai  proyektor didalam ibadah ritual minggu 

membuat ibadah ritual menjadi sangat menarik sebab setiap liturgi yang tertulis secara cetak beserta 

nyanyiannya telah terpampang melalui media proyektor dan mengurangi biaya pencetakan. Sekarang peranan 

PAK secara pedagogis dan androgogis yang mesti merealisasikan pendidikannya bagi warga jemaat sehingga 

warga jemaat mampu menerima kehadiran, perubahan yang baru dengan kritis dan juga realistis memlalui para 

pelayan khusus (Pendeta, penatua, diaken). 

Situasi di atas mengisyaratkan kebutuhan akan mekanisme yang tepat sesuai dengan bagaimana tugas dan 

pengutusan gereja yang terpanggil dalam dunia. Jemaat ini pun menghadapi permasalahan yang sama sebab  

merupakan bagian dari bangsa ini, yakni masalah transformasi nilai-nilai perubahan yang baru terkait dengan 

kebiasaan-kebiasaan yang turun-temurun dilakukan dalam ibadah ritual memakai  Alkitab media cetak. 

Dengan bermunculan sebuah software yakni Alkitab Elektronik dan juga proyektor sebuah media yang 

memediasi ibadah ritual minggu dengan sensai dan gaya yang baru. 

5. Aktivitas Pelayanan 

Jemaat GPM Bethel terdiri dari 19 sektor pelayanan dengan 44 unit. Akibat konflik sosial yang terjadi sejak 19 

Januari 1999, sektor 16 hingga 18 dan sebagian sektor 15 hancur oleh perbuatan kaum perusuh, dan sejak saat 

itu warga jemaat di sektor-sektor ini  tinggal tersebar di beberapa tempat pengungsian. Oleh sebab  situasi 

dan suasana semakin kondusif, maka satu demi satu keluarga mulai membangun rumahnya dan kembali ke 

tempat semula, namun di antaranya hingga kini masih tinggal di barak pengungsian Belakang Soya. Wilayah 

pelayanan yang luas ini dilayani oleh 93 orang majelis jemaat yang terdiri atas 5 orang pendeta jemaat, 44 orang 

penatua dan 44 orang diaken. Jumlah penatua dan diaken ini  disesuaikan dengan jumlah sektor dan unit 

dengan asumsi dasar bahwa satu pasang majelis jemaat (penatua dan diaken) melayani di satu unit pelayanan. 

Supaya  pelayanan di tingkat jemaat dapat berjalan dengan baik, maka ditetapkan kepengurusan pelayanan yang 

terdiri dari pimpinan harian majelis jemaat (PHMJ), pimpinan dan anggota seksi dan sub seksi yang membidangi 

seksi kesehatan dan pembinaan umat, pelayanan dan pembangunan warga  (PELPEM), finansial ekonomi 

(FINEK), dan pekabaran injil dan komunikasi (PIKOM). Seksi kerumahtanggaan ditangani langsung oleh PHMJ 

dalam hal ini yaitu  sekretaris dan wakil sekretaris. Demi pelaksanaan fungsi pelayanan yang menyentuh jemaat 

secara langsung di sektor-sektor maka setiap pendeta melayani di setiap wilayah yang sudah disepakati bersama 

sebagai berikut : 

1. Sektor 1, 2, 3, 4,                   : Pdt. R. Rahabeat 

2. Sektor 5, 6, 7, 13                  : Pdt. Ny. M. Orno 

3. Sektor 8, 9, 10, 11                : Pdt . Ny. Lekahena 

4. Sektor 12, 14, 16                  : Pdt. S. Hehanussa 

5. Sektor 15, 17, 18, 19            : Pdt. Nn. D. Akywen 

Pembagian wilayah pelayanan ini berlangsung selama dua tahun dan setelah itu dilakukan rolling dengan 

pertimbangan bahwa pendeta yang ditempatkan di setiap jemaat akan melayani selama kurun waktu lima tahun. 

Lebih lanjut, perlu diketahui bahwa terkait dengan praksis perubahan dalam era globalisasi sehingga teknologi 

mesti dipakai  didalam ibadah ritual minggu. Disini proses sosialisasi juga bisa dilakukan melalui kunjungan 

keluarga yang dirasa penting dalam rangka penguatan jemaat menghadapi tantangan zaman ini dan pengaruhnya 

untuk keutuhan iman jemaat. Hal ini dilakukan oleh majelis jemaat di sektor-sektor pelayanan menjelang 

Perjamuan Kudus dan akhir tahun pelayanan[22]. Dari sini maka Badan Koordinasi Pelayanan (BAKOPEL) 

memiliki posisi dan peran yang sangat menentukan dalam jemaat dalam melihat masalah-masalah yang 

berkembang secara khusus. 

B. DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA 

1. Karakteristik Informan 

Penelitian dilakukan di Jemaat GPM Bethel Klasis Kota Ambon. Untuk memperoleh data atau informasi terkait 

dengan penulisan ini, penulis memperoleh informasi dengan melakukan proses wawancara terhadap pelayan 

khusus (Pendeta, Penatua, Diaken). 

2. Pelayan Khusus ( Pendeta, Penatua, Diaken) 

Jemaat GPM Bethel memiliki 93 orang majelis jemaat yang terdiri atas 5 orang pendeta jemaat, 44 orang penatua 

dan 44 orang diaken. Boleh dikatakan bahwa Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel dari sisi pengetahuan sangat 

memadahi dan juga beranekaragam. Ada 13 Pelayan Khusus yang diwawancarai diantaranya memiliki latar 

belakang pedidikan yang baik. Ada yang berprofesi sebagai dosen berjumlah 3 orang, adapula yang pegawai 

negeri, pegawai swasta, guru, serta pensiunan. 

ü  Berikut yaitu  data dari pemahaman Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel terhadap Alkitab Elektronik ; 

Menurut Penatua HP, Alkitab Elektronik sebenarnya jembatan untuk membantu, selanjutnya ia ketahui ; 

“ Yang saya pahami tentang Alkitab Elektronik merupakan perangkat lunak ciptaan LAI untuk mempermudah 

jalannya pelayanan, itu bagus juga sebenarnya, praktis tapi tidak samua orang memakai nya,yang satu 

cetak dan yang satunya elektronik namun yang lebih saya pahami itu pada Alkitab media cetak sebab  

tulisannya jelas. Alkitab Elektronik tidak ada masalah selagi isinya sama dengan Alkitab media cetak”.[23] 

 

Lain lagi ungkapan Penatua P, yang menyimpulkan bahwa Alkitab Elektronik itu luarbiasa, hal ini nampak pada 

komentar sebagai berikut ; 

“ Seperti ini yang saya ketahui menyangkut Alkitab Elektronik. Merupakan software yang teristalasi dalam 

handphone dan computer sehingga banyak sekali membantu sebab  saya bisa bawa ke mana saja.”.[24] 

Pada lain pihak Penatua NA menyampaikan kepraktisan dari AE, pendapat yang dikemukakan antara lain ; 

“ Seperti ini yang dipahami Alkitab Elektronik merupakan hasil temuan manusia untuk dipakai  sebagai 

media penyampaian Firman Tuhan. Misalnya kalau mencari ayat-ayat itu dia cepat sekali dan bisa kita 

membaca Alkitab dimana saja seperti dijalan-jalan. Perbedaan pada fisik saja saya lebih memahami Alkitab 

media cetak sebab kebiasaan mempergunakan”.[25] 

Penatua NS menyampaikan bahwa AE masih asing buat umat jadi perlu adanya sosialisasi, sehingga nilai 

kepraktisannya kelihatan positif, demikian komentarnya sebagai berikut; 

“Saya ketahui Alkitab Elektronik itu sesuatu yang berkaitan dengan multimedia didalam mentransfer nilai 

firman itu yang sesuai dengan Alkitab Cetak Alkitab Elektronik memiliki penjelasan latar belakang sedang  

yang cetak tidak. Alkitab elektronik memiliki kelebihan latar belakang dan penjelasan-penjelasan. Perlu ada 

sosialisasi supaya warga  jemaat Kristen tau ada terbitan atau produksi terhadap Alkitab yang diterbitkan 

LAI baik secara elektronik. Dengan demikian juga orang akan tertarik. Sekaligus juga referensi untuk membuat 

renungan. Dan juga bisa menjadi suatu komparataif. Supaya kita jangan terlalu bersifat ortodoks. Agar ada 

nilai-nilai pembaruan. Pada prinsipnya alkitab seperti ini mesti ada mencernakan kembali, penjelasan-

penjelasan khusus terhadap alkitab. Jadi firman yang tulis di sini elektronik mesti sesuai perilaku”.[26] 

Pada lain pihak Pendeta L mengakatakan AE itu praktis namun juga punya kendala, seperti ini yang disampaikan 

“ Pemahaman saya seperti ini, Alkitab Elektronik itu produk LAI melihat sisi konteks yang moderen supaya 

dengan daya akses yang cepat setiap orang bisa membaca Alkitab dimana saja (memakai  media 

elektronik), Misalkan kita hanya ingin mencari ayat-ayat saja, pikiran-pikiran.”.[27] 

Pendeta A menuturkan kepraktisan AE serta kelebihan-kelebihannya, masi sejalan dengan Pendeta L, dan 

selanjutnya yang diketahui ; 

“ Sederhananya demikian pikiran saya, Alkitab Elektronik memiliki rincian soal kitab. Mulai dari latar belakang 

samai nubuat dan perumpamaan semuanya sudah dirampung. Praktis sebab  kemasannya tersaji didalam 

handphone, Komputer. Namun isinya semua sama hanya beda kemasan”.[28] 

Penatua GC sedikit melengkapi yang dikatakan Pendeta L, A. Meresponnya dengan mengungkapkan AE itu 

berguna dan sangat membantunya sebagai seorang pelayan khusus dan begini komentarnya ; 

”Saya memahami Alkitab Elektronik sebagai sebuah media yang sangat membantu dalam pencarian segala 

sesuatu, dia punnya nama nabi. Jadi sangat bagus baik di handphone dan di laptop. Sanganat mudah  mencari 

informasi dalam alkitab itu membuat kita mudah mencari ayat-ayat sebab tingggal ketik langsung dicari secara 

otomatis serta memudahkan kita memahami dan mencernanya, Kalu soal memahami tergantung pribadi 

namun kalau saya lebih cenderung ke elektronik sebab mudah dipakai  dan mecari juga gampang. Perbedaan 

Fisik, dan Elektronik memiliki perincian serta penjelasan soal latar belakang kitab. Alkitab Elektronik sangat 

membantu dalam pencarian segala sesuatu, dia punnya nama nabi. Jadi sangat bagus baik di handphone dan 

di laptop. Sanganat mudah  mencari informasi dalam alkitab itu membuat kita mudah mencari ayat-ayat sebab 

tingggal ketik langsung dicari secara otomatis serta memudahkan kita memahami dan mencernanya. Kalu soal 

memahami tergantung pribadi namun kalau saya lebih cenderung ke elektronik sebab mudah dipakai  dan 

mecari juga gampang”.[29] 

Sangat berbeda dengan yang lain, Penatua NP menyatakan kalau AE itu tidak praktis, juga memiliki kekurangan 

, seperti ini komentar yang dikemukakan ; 

“Kalau yang saya pahami memang itu Firman Tuhan namun  dia tidak praktis. Tidak memakai judul, artinya 

untuk mendalam saya belum perhatikan dan saya juga buka di handphone dan Komputer itu saya pung kendala 

perikop ini apa, dan tidak tau judul apa. Lebih memahami yang Alkitab Cetak. dari cetak sebab  dari cetak kita 

bisa tau perikop ini berbicara tentang apa, contoh Yesus memberi makan lima ribu orang dia punya ayat-ayat 

dia bicara soal itu. namun  kalau kita cuma liat, tapi kalo orang yang sudah mendalam soal alkkitab dia sudah 

bisa mengetahui ayat ini bicara soal ini dia judul ini”.[30] 

Agak berbeda dengan Penatua NP, tuturan Penatua ML melihat dari sisi konteks diamana ia berada, sehingga ia 

memahami betul soal AE berikut argumentasinya ; 

“Seperti ini saya ketahui serta pahami sebab  saya memakai nya, Alkitab Elektronik bisa tersimpan di 

handphone dan Komputer mudah di akses. Pasti dia beda kalau elektronik dimana saja kita bisa gunakan bukan 

berarti cetak tidak, elektronik agak sedikit kontekstual itu juga menolong otomatis kalau di tempat kerja ada 

teman yang muslim nanti mereka mengatakan kita sombong. Memahami dengan baik keduanya bisa di pahami 

dengan baik, kalau elektronik itu saya selalu lakukan untuk memperlengkap untuk pelayanan”.[31] 

Seperti ini yang disampaikan Diaken Ibu P menyangkut pemahamannya, singkat saja : 

“ menurut saya kalau mau memahami Alkitab itu kalau Roh Tuhan saja, saya belum mengalami sebab  belum 

diinstalisasi kedalam handphone.[32] 

 

3. Analisis Pemahaman 

Setiap pelayan khusus memiliki pemahaman sendiri-sendiri dan tidak menutup kemungkinan ada kesamaan 

tujuan dalam memberi pemahaman menyangkut multimedia. Mengenai Alkitab Elektronik sendiri para pelayan 

khusus sungguh memahaminya bahkan ada yang selalu memakai nya untuk menunjang pelayanan dalam 

pembuatan renungan walaupun tidak banyak yang memakai nya di dalam ibadah-ibadah ritual. Yang mereka 

pahami dari Alkitab Elektronik itu yakni sebuah media elektronik yang praktis dan efisiensi waktu terjangkau 

serta mudah untuk mencari ayat-ayat Alkitab dengan mudah dan cepat serta memiliki penjelasan berdasarkan 

latarbelakang setiap kitab. Seluruh pelayan khusus Bethel yang menjadi informan di sini menyadari sungguh 

bahwa ini merupakan kemajuan dari teknologi yang juga diterima dengan kritis. Pada bagian di atas dilihat 

pemahaman responden tentang Alkitab Elektronik. 

ü Berikut yaitu  data dari penggunaan Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel terhadap Alkitab Elektronik 

Selanjutnya dikemukakan Pelayan Khusus memakai  AE didalam pelayanan mereka. Menurut Penatua N, 

penggunaan AE dan media cetak harus berjalan saling melengkapi, demikian ia menegaskan ; 

“Sebenarnya boleh saja namun terpulang pada pemahaman masing-masing Di pergunakan sesuai konteks, saya 

lebih memakai  Alkitab Elektronik untuk mencari ayat-ayat pembanding sebab cepat dalam mencari. 

Jemaat belum semua memahami adanya Alkitab Elektronik harus ada wacana soal hal dimaksud. Alkitab 

Elektronik dengan kemampuan mencari ayak-ayat secara cepat. Yang satu secara cetak dan yang satunya 

secara elektronik perbedaan pada fisiknya. Saya suka Alkitab Media cetak namun kalau butuh referensi 

langsung saja saya memakai  Alkitab Elektronik dengan kemampuan mencari ayak-ayat secara cepat”.[33] 

Hal ini tidak terlalu berbeda dengan yang disampaikan Penatua handphone, soalnya pada kebiasaan, serta faktor 

usia, menurutnya AE itu baik dan sah saja jika dipakai . Lebih mendalam kita dengarkan berikut ungkapannya 

“Kalau untuk saya Alkitab Elektronik dapat dipakai  tidak bermasalah, mungkin sebab  kita suda terbiasa 

dengan Alkitab Buku. Alkitab Elektronik tidak ada masalah selagi isinya sama dengan Alkitab media cetak. 

Alkitab Elektronik juga dapat dipakai sebagai media pengajaran dan pemberitaan namun kalau dirumah ada 

Alkitab cetak ya kita gunakan yang cetak saja. Kalau di handphone terlalu kecil tulisannya kecuali handphone 

communicator itu tulisannya jelas. Hanya menyangkut kejelasan pada tulisan dan mengenai pemahaman kaum 

muda dan tua serta tenga-tenga”.[34] 

Saling melengkapi ungkapan Penatua P, bahwa AE itu tak punya hambatan dan sangat baik bagi kehidupan 

sekarang ini, sebagai berikut komentarnya ; 

“seperti ini Alkitab Elektronik dari sisi penggunaan, Alkitab Elektronik saya  mencari ayat-ayat 

mendapatkannya cepat, terperinci. Kalau Alkitab Cetak mesti buka lagi dulu kemudian dicari lagi. Kedua kalau 

di komputer langsung mengetahui latar belakangnya, dia punya isi tentang penulis dan sebagainya. kalau 

elektronik itu menunjang kita. Sebenarnya sama saja hanya saja di elektronik ada latarbelakang dan penjelasan 

menyangkut kitab itu. Saya rasa Alkitab Elektronik tidak punya hambatan dan mengurangi isi alkitab dia tidak 

mengurangi nilai, bukan bukunya yang merupakan tujuan kita namun  isinya dan itu dibenarkan sekali dan 

sangat dibenarkan.Tidak ada mengganggu sama sekali malah sangat membantu. Saya pernah memakai  

dalam peayanan ada beberapa kali, sebab  misalnya ada terang tidak memungkinkan saya tidak pake Alkitab 

Buku sebab  saya tidak bisa baca sebab  kesehatan mata, dan saya memakai  dari handphone. Saya selalu 

di ibadah memakai  Alkitab Elektronik sebab  itu saya punya kondisi mata yang tidak bagus, saya 

merasakan Alkitab Elektronik enak sekali sebab  mau mencari langsung dapat, ayat apa langsung dapat, 

misalkan mau tau siapa yang menulis cepat tau dan dapat sangant membantu. Saya tidak pernah menemukan 

kendala-kendala menyangkut Alkitab Elektronik.Kadang-kadang orang mungkin belum terbiasa mereka 

mengatakan ada ibadah namun membuka handphone, namun  saya cuek saja sebab  saya membaca Alkitab. 

Selama saya tidak mengganggu orang saya santai”.[35] 

Demikian Penatua NS, yang melihat pada umur, dan belum semua orang mengetahui, sebagai berikut 

ungkapannya ; 

“ Dalam pelayanan boleh saja dipakai  mungkin postif dari kacamata kaum mudah kalau Alkitab Elektronik 

dipakai . Saya belum pernah mempergunakannya didalam pelayanan. Misalnya handphone mati atau ada 

gangguan lalu jemaat mau mendengarkan pembacaan Alkitab bagaimana. Alkitab elektronik belum semua 

jemaat mengetahui masi bersifat langka, harus ada penyampaian transformasi Alkitab elektronik terhadap 

warga jemaat “.[36] 

Pendeta L sangat terbuka terhadap perubahan,dan melihat kendalanya juga. Hal ini terlihat pada komentarnya 

sebagai berikut ; 

” Penggunaan Alkitab Elektronik itu secara praktis misalkan mau cari dia punya latar belakang. Kita sering 

lihat lampu suka padam dan kalau mati berlamaan handphone batrei lemah dan kita tidak bisa memakai . 

Sebenarnya saling menunjang sebab yang elektronik kelebihannya dapat mencari ayat-ayat yang cepat. Sama 

saja sebab isinya kan sama bagi kita tidak ada masalah sebab  Alkitab kan bukan hanya soal buku sebab  suda 

ada teknologi yang canggih untuk dipakai  kenapa tidak bisa dipakai . Kalau memang sangat 

memungkinkan, gunakan. namun  kalau dalam keluarga kan smua Alkitab ada dan mari kita gunakan. Listrik 

kadang-kadang sering padam dan itu kemungkinan tak bisa dipakai . Dan kalau mengggunakan ada 

menerima sms dan telepon. handphone, Nootebook perlu di cas penuh dan penggunaan handphone di offline 

“.[37] 

Dari sisi penggunaan Pendeta A menyatakan kedua kitab ini sama saja, hanya berbeda kemasan, serta belum 

semua umat mengetahui. Dengan tegas mengatakan ; 

“ Alkitab Elektronik dan Cetak sebenarnya sama saja hanya berbeda secara fisik. Sebenarnya tidak masalah 

untuk dipakai  dalam pelayanan. Namun tidak semua umat bisa menerima itu sebab  ini barang baru. Harus 

ada sosialisasi soal Alkitab Elektronik. Semua hal tetap ada dia punya postif dan juga negative tergantung pada 

penggunanya saja. Tapi pandangan umat berbeda, mereka sudah pernah complain kalau Ibu kita tidak usah 

memakai Alkitab cetak lagi, kita tidak perlu beli lagi dan bilang LAI tidak usah cetak lagi cukup isi di handphone 

saja. Bagi tidak ada masalah juga kalau memakai handphone. Kalau orang pahami Alkitab itu Nansi Alkitab. 

Kalo di handphone kan bisa saja ada gambar porno dan di handphone itu juga ada macam-macam. Namun 

kalau dalam batas positif itu mesti dipakai  sebab  kita terbuka bagi teknologi juga “.[38] 

Sama juga denga Penatua FN menyatakan boleh saja dipakai , namun harus diperhatikan cara 

memakai nya demikian, seperti ini pernyataannya ; 

” Alkitab Elektronik dipakai  dalam pelayanan itu biasa, kenapa tidak. namun  tergantung dari element 

warga  yang akan dipimpin. sebab  ini bukan barang yang merupakan barang lasim digunaakan dalam 

ibadah jemaat namun  itu merupakan bahagian penggunaan teknologi yang maju  lalu memudahkan orang 

supaya jangan pegang berat-berat bawa besar-besar, namun  sesungguhnya itu lebih mudah. Saya belum pernah 

memakai nya. namun  untuk penggunaan mesti disempurnahkan dalam perintah-perintah misalkan go to, 

kalau orang awam yang memakai  itu lama sangat lama. Perlu lagi mempelajari langkah-langkah 

penggunaannya “.[39] 

Sama juga dengan tuturan Penatua GC tidak masalah dipakai  dalam ibadah, AE agak susah diterima kalau 

dalam berjemaat sebab pemikiran setiap orang berbeda. Sebagai berikut komentarnya ; 

” Kalau Om Glend sendiri tidak ada masalah, namun  kalau untuk konteks Gereja warga  agak susah diterima. 

sebab  pola pikir pemahaman orang ke gereja itu bawa alkitab intinya begitu, jadi memahami hal itu dia ke 

gereja. namun  dari handphone tiba-tiba dia pergi isi handphone dalam saku itu juga tidak bawa nuansa. 

Mungkin untuk satu dekade ini orang belum terima namun  cepat atau lambat perkembangan informasi 

teknologi ini akan menyebabkan itu juga kearah itu. Sekarang mungkin belum diterima sebab  pemahaman-

pemahanam jemaat masih kaku soal hal itu. Saya memakai nya untuk mempersiapkan renungan-renungan 

dari rumah dengan mempergunakan Alkitab Elektronik pada notebook. Selama ini tidak ada, tidak bermasalah 

“.[40] 

Sangat berbeda dengan yang lain, Penatua NP menolak pembenaran dipakai  dalam beribadah, sebab  

penilaian orang terhadap handphone yang berisikan AE itu negatife. Seperti ini komentarnya ; 

“ Tidak dapat dibenarkan dalam pelayanan, alasannya kita melayani orang dengan memakai  salah satu 

handphone itu tidak baik dalam artian kita datang untuk melayani umat datang dengan handphone saja, lalu 

penilaian orang yang kita layani itu dia bilang ini majellis atau pengurus wadah ini dia bagaimana. Tapi kalau 

untuk saya lebih baik kita memakai yang media cetak supaya benar- benar bahwa apa yang selama ini kita 

gunakan yang dari dahulu itu, jangan kita memakai yang suda ada elektronik yang kita pakai. Dan yang berikut 

orang itu malas dia mau segala sesuatu yang praktis dia tidak mau menenteng kata besok saya pegang alkitab 

besar begini, kalau dari sisi pelayanan itu tidak baik. “.[41] 

Penatua ML  mendukung dan membenarkan AE tidak bermasalah jika dipakai , selanjutnya ia ketahui sebagai 

berikut ; 

” Dapat dibenarkan sebab  baik jadi tidak masalah sebab  tidak mengurangi dan menanamnah sesuai hakekat 

yang ada. Saya memakai  Alkitab Elektronik dari efesiensi waktu, mempermudah dalam perbandingan soal 

kata-kata dan tinggal saya print untuk dipakai  dalam pelayanan. Dan juga kalau mati lampu. 

Menanggulangi kendala saya himpun sekali semuanya materi untuk dibawa dalam pemberitaan firman, dan 

mesti dicek kembali lagi kata-kata “.[42] 

Penatua EL, sungguh tidak menerima kehadiran AE, ia mengatakan dengan adanya AE akan terjadi suatu 

pembodoha