alkitab digital 3
n. Seperti ini ditegaskannya sebagai berikut ;
“Kalau Alkitab Elektronik saya sudah melihat orang memakai nya duluh dan dalam tahun ini atau sebelum
itu kira-kira tahun 2009. Namun belakangan saya berbicara dengan teman-teman dan mereka mengatakan
sudah ada Alkitab seluler fleksi, katanya khusus buat ayat-ayat Alkitab. Terus saya sempat bertanya apakah
nanti dengan adanya alkitab begitu lalu nanti alkitab yang biasa kita bawa dan gunakan diibadah sudah tidak
dipakai lagi ? artinya saya berpikir benar kita saman sudah canggih untuk sekarang ini pake handphone
saja dia praktis namun kita berpikir secara alkitabiah saja. Alkitab ini kan kita punya kitab suci jadi jangan kita
memakai handphone dengan alasan praktis, kata teman-teman saya nanti kalau mengendarai motor
setengah mati kalau memakai alkitab cetak mau taru dimana. Itu kan kitab suci jadi mau berat ataupun
tidak wajib dibawa”. Sekarang sangat nampak semua sudah sangat praktis lalu nanti sudah tidak membawa
alkitab lagi dan masuk gereja lenggang saja. Nama yang sama namun berbeda pada fisiknya. Dan saya belum
pernah memakai alkitab elektronik sebab saya berpikir berdasarkan yang tadi bahwa okelah ia praktis
tapi kita mempunyai kitab bukan kita bawa-bawa, dan akhirnya fungsi alkitab fisik yang sebenarnya nanti mau
dikemanakan. Bagi saya dengan adanya alkitab elektronik itu merupakan suatu pembodohan atau mengubah
tradisi atau karakter budaya kita. Bisa saja setan memakai nya supay orang sudah tidak membawakan
alkitab lagi dan orang hanya memakai handphone saja untuk bergaya. Kalau alkitab elektronik dipakai
dalam pelayanan atau dibenarkan, rasanya tidak pantas apalagi kalau kita memimpin ibadah minggu, unit,
wadah, nanti orang berpikir ini mereka suda gaya-gayaan apa lagi dengan memimpin ibadah memakai
handphone atau nootboke dan nanti pada saat persidangan atau rapat evaluasi lalu diserang. Kalau buat saya
pada prinsip alkitab tetap alkitab saja bukan alkitab elektronik. Untuk mengatasi kendala-kendala demikian
saya rasa gereja. Gereja punya fungsi dan peran mungkin juga mulai dari rumah-rumah tangga supaya bisa
mengarahkan generasi muda untuk memahami alkitab dengan baik agar jangan terlalu terfokus dengan yang
praktis-praktis atau yang instan dan yang cepat-cepat padahal dulu-dulu orang bawa alkitab, kidung jemaat,
dua sahabat lama. Saya rasa gereja sebagai bait Allah harus memperhatikan yang tadi agar jangan setan akan
pergunakan dengan metode-metode dengan handphone atau notebook (alkitab elektronik ini). Misalnya
sekarang iman bukan matematis. Namun menurut saya pemahaman setiap orang berbeda “.[43]
Diaken Ibu P menyampaikan bahwa AE belum mewarga namun sudah ada yang memakai nya. Sangat
singkat yang disampaikan sebabai berikut ;
“ Kalau dalam ibadah hari minggu saya belum pernah melihat, didalam wadah juga tidak ada. Alkitab
Elektronik banyak belum mewarga . namun ada teman sekolah yang sudah memakai nya.[44]
4. Analisis Penggunaan
Alkitab elektronik dipakai pada saat-saat kritis saja seperti di jalan-jalan di kantor dengan alasan akses Alkitab
yang berlebihan dengan memakai Alkitab cetak, misalnya di jalan-jalan yang memungkinkan terlihat oleh
sebagian besar manusia sehingga bisa diasumsikan bahwa ada penyombongan iman. Namun saat kita
mempergunakan Alkitab elektronik asusmsi ini tidak kena.
Alkitab Elektronik sering dipakai oleh beberapa pelayan khusus guna menunjang pelayanannya untuk
memperkaya renungan sebab Alkitab Elektronik mempunyai kemampuan untuk mencari ayat-ayat dengan
cepat dan di situ mereka mendapatkan ayat atau teks-teks paralel sehingga renungan semakin kaya. Diakui kalau
penggunaannya di dalam ibadah hanya sebagian kecil satu dua orang saja sperti yang dikatakan oleh para pelayan
khusus.
Adapun juga pelayan khusus sendiri yang menjadi pengguna aktif dalam setiap ibadah dengan alasan Alkitab
Elektronik sangat bagus dan menarik juga alasan kesehatan yang katanya tidak mampu membaca Alkitab cetak.
Menariknya asusmsi pelayan khusus yang memakai nya mengatakan bahwa Alkitab Elektronik tidak ada
persoalannya sebab perbedaannya hanyalah pada fisik namun isinya semua sama dan yang paling penting
saat setiap nilai yang ada di dalam Alkitab Elektronik itu mampu diaplikasikan dalam kehidupan bukan soalnya
pada fisik dan bentuk alkitab itu.
Dari amatan penulis dalam peribadahan, kemalasan setiap orang membawa Alkitab atau nyanyian bukan terletak
pada kemajuan teknologi ini , sebab sebelum Alkitab Elektronik hadir, ada juga beberapa orang yang ke
gereja bahkan tidak membawa apa-apa. Ini berarti bahwa malas atau tidaknya seseorang untuk membawa alkitab
dan buku nyanyian setiap kali ibadah, bukan sebab Alkitab Elektronik, melainkan lebih merupakan persoalan
manusia itu sendiri.
ü Berikut yaitu data dari pemanfaatan Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel terhadap Alkitab Elektronik
;
Penatua N, Beliau mengatakan bahwa memanfaatkan penggunaan Multimedia seperti Alkitab Elektronik sebab
Gereja tidak boleh Gaptek (gagap teknologi) seperti ini komentarnya ;
“sebab kita juga mesti melihat manfaatnya / kegunaannya sebab dunia sudah terbuka dan moderen. Padahal
tidak semua orang suka berteknologi. Alkitab lagi tidak perlu beli Alkitab lagi. Harusnya ke gereja itu kita mesti
siap dari rumah menyiapkan semuanya termaksud mental, iman. Bisa sajakan ada orang yang tiba-tiba dia
lewat, ada gereja dia langsung masuk tanpa ada persiapan, itu saya tidak setuju. Akhirnya nanti lama kelamaan
orang suda tidak memiliki Alkitab dan itu akan pasti sebab zaman ini akan berubah terus dan orang sudah
tidak membeli “.[45]
Penatua HP menyatakan AE dapat dipakai sebagai media Pemberitaan dan pengajaran, dan menyatakan
Elektronik merupakan kemajuan IT, berikut ungkapannya ;
“ Alkitab Elektronik juga dapat manfaatkan sebagai media pengajaran dan pemberitaan namun kalau dirumah
ada Alkitab cetak ya kita gunakan yang cetak saja. Bermanfaat saat kita berada didalam pasar dan ditempat-
tempat yang bukan dirumah, sebab masa kita membuka Alkitab cetak dijalan-jalan. Sebab Alkitab Elektronik
merupakan suatu perkembangan ilmu pengetahuan IT. Namun masalah generasi tua dan muda juga soal
menerima perubahan-perubahan ini. saya rasa kalau generasi muda dan usia 40an bisa menerima hal ini. Kalau
menurut saya generasi tua seperti orang tua-orang tua kita mereka memang sulit menerima perubahan ini.
contoh kecil kalau didalam gereja sudah tepuk-tepuk tangan, memakai band, lalu orang tua-tua sudah
mengatakan ini mereka sudah buat apa didalam gereja. AE sangat bermanfaat sebab Alkitab Elektronik
merupakan suatu perkembangan ilmu pengetahuan IT dan juga terbita LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) yang
turut mencetak Alkitab Cetak guna misi pekabaran injil“.[46]
Tanggapan Penatua HP menunjang Penatua P. Penatua P merespon baik sekali soal AE dan menginginkan semua
anaknya memiliki AE berikut komentarnya ;
“ Alkitab Elektronik dapat dibenarkan dan dipergunakan sebagai media pengajaran dan pemberitaan sebab
saman semakin maju kita mestinya menerima perubahan dengan mempergunakan teknologi untuk kebutuhan
yang positif, malahan saya menganjurkan kepada setiap anak-anak saya di dalam handphone itu harus
memiliki Alkitab Elektronik. “.[47]
Lain lagi dengan Penatua NA, ia katakana AE baik kalau konsusmsi pribadi, selanjutnya ia ketahui sebagaiberikut
;
“ Alkitab Elektronik kalau untuk konsumsi pribadi dan keluarga sah-sah saja. Misalnya kalau mencari ayat-ayat
itu dia cepat sekali dan bisa kita membaca Alkitab dimana saja seperti dijalan-jalan. Alkitab Elektronik juga
bermanfaat misalnya dalam keadaan darurat seperti di kantor, jalan dll kita bisa mempergunakannya. “.[48]
Penatua NS menayatakan AE baik dipakai dari sisi konteks, singkat pernyataannya sebagai berikut ;
“ Alkitab Elektronik bermanfaat saat di kantor mau memimpin ibadah tidak membawa Alkitab Cetak ya
memakai Elektronik. “.[49]
Sama dengan yang disampaikan NS, Pendeta L mengungkapkan juga bahwa memanfaatkan juga sesuai keadaan,
dengan tegas mengatakan sebagai berikut ;
” Memanfaatkan AE sesuai kondisi dimana kita berada, sebab semua orang belum mengerti dan mengetahui
apa itu AE walaupun telah diterbitkan oleh LAI sebab tidak pernah ada wacana soal hal ini “.[50]
Saling melengkapi apa yang disampaikan Penatua FN melihat yang telah Pendeta L katakana. FN mengemukakan
kepraktisannya menerobos ruang dan waktu. Sebagai berikut komentarnya ;
” Saya lebih cenderung Keduanya sama saja sebab menunjang dan saling melengkapi. Dapat dibenarkan
kenapa tidak sebab perbedaannya hanya fisik Alkitabnya namun isinya sama. Kan yang dilihat isinya yang mesti
diaplikasikan buka Alkitab itu. Sangat membantu dan bermanfaat sebab kepraktisannya juga jika kita sedang
berpergian lalu saat dibutuhkan Alkitab dalam keadaan darurat sementara tidak ada Alkitab cetak yang
dibawa dan saya memakai Alkitab Elektronik “.[51]
Sama halnya Penatua GC, melihat AE sebagai media yang bermanfaat untuk menunjang pelayanan saya sebagai
berikut komentarnya;
”Saya selalu mempergunakan Alkitab Elektronik di nootbook untuk membuat atau mempersiapkan renungan-
renungan saat mau melakukan pelayanan atau memimpin ibadah wadah. Saya tidak pernah menemukan
kendalanya yang saya temukan itu semua positif sebab sangat membantu. Alkitab Eelektronik dapat
dibenarkan dalam media pemberitaan serta pengajaran kan bedanya hanya di fisik namun isinya semua sama
tergantung kita mengaplikasikan isisnya itu intinya. Alkitab elektronik ini bagi saya sangat bermanfaat dan
rasanya bagi mereka juga yang sudah mengetahui soal ini. “.[52]
Ungkapan Penatua NP AE dipahami dari berbagai macam prespektif, seperti ini ia menegaskan ;
” AE Dapat dipakai sebagai media pembelajaran dan pemberitaan, soal media pemberitaan terbegantung pada
pribadi masing-masing, kebanyakan orang yang suda merasa kedudukan tinggi dia suda merasa dunia suda
canggih saya tidak perlu membawa Alkitab saya pakai saja lewat handphone, saya liat saudara sendiri juga
kalau dia ke ibadah dia tidak membawa Alkitab namun dia buka pembacaan dari handphone lalu dia baca,
terpulang dari pemahaman bagi dia itu baik tapi bagi saya tidak baik soal elektronikitu, saya lebih baik
gunakan cetak“.[53]
Lain lagi yang dikatakan Penatua ML, menyatakan semua itu baik saja untuk dipakai , sebagai berikut
pernyataannya ;
” Kalau semua baik itu gunakan saja dalam media pengajaran dan pemberitaan. Oleh sebab itu jangan kita
terfokus di handphone, jadi AE membantu kita dalam persiapan saja. Dahulu kalau belum ada Alkitab
Elektronik saya biasa ketik di handphone ayat-ayat yang khusus menopang teks dalam pemberitaan firman.
Bagi saya Alkitab Elektronik tidak ada masalah semua terpulang pada pribadi saja. Dan kalau dijalan-jalan
kita bisa gunakan Alkitab Elektronik bisa memperkuat kita dalam kesukaran. Cuman dalam penggunaan mesti
diperhatikan hal teknis. “.[54]
Cukup terbuka pernyataan Diaken Ibu P terkait manfaat AE bagi pelayan khusus. Sebagai berikut komentarnya ;
“Pelayan khusus boleh saja memakai nya, hanya tidak memiliki judul itu berarti ada hal-hal yang kita
analisis sendiri sebab judul mempengaruhi cara untuk membuat renungan pendek. Alkitab Elektronik bisa saja
dipakai sebagai media pengajaran serta pemberitaan sebab isisnya sama saja. Serta teman majelis pernah
memakai pada saat membaca Alkitab, saya juga berniat menginstalnya di handphone hanya belum
kesampaian. Saya menerimanya secara positif di dalam jemaat ini”.[55]
5. Analisis Pemanfaatan
Tidak semua pelayan khusus suka berteknologi, dan juga tidak semua pelayan khusus memanfaatkannya sebab
akses untuk memperoleh benda ini terbatas oleh perekonomian serta kebutuhan yang dilatarbelakangi
oleh pemahaman di dalam spesifikasi handphone serta notebook. Namun, dapat dilihat kembali bahwa sebagian
besar pekayan khusus memberi apresisai baik terhadap kehadiran atau keberadaan Alkitab Elektronik itu terkait
dengan nilai kepraktisannya dan juga penjelasan terperinci tentang setiap kitab serta mampu menjawab
persoalan konteks. Sebab Alkitab Elektronik sangat menunjang dan saling melengkapi Alkitab cetak saat para
pelayan mau mempersiapkan serta mendapat pemahaman yang luas menyangkut teks ini sebab paralel
atau perbandingan dari kata-kata kunci ini nampak. Walaupun harus diakui adapun juga pelayan khusus yang
memberikan apresiasi baik bagi Alkitab Elektronik, namun di sisi yang lain mereka juga mengutarakan
kelemahannya seperti terjadi salah tafsir bagi umat dan juga jemaat nantinya tidak memeiliki Alkitab cetak lagi
namun hanya memakai handphone saja saat beribadah dan juga handphone memiliki multi fungsi sebab
di dalam handphone juga bisa terjadi akses pornografi serta ada kemungkinan jemaat menjadi malas.
BAB III
REFLEKSI TEOLOGI
Manusia menyatakan sikap terhadap perubahan bumi ini selama berabad-abab dan sepanjang kehidupan ini
masih bisa dinikmati manusia. Dalam berabad-abad lamanya dunia mengalami pergeseran dan perubahan yang
begitu panjang sampai pada saat ini, di mana semuanya telah dikemas secara elektronik dan juga fleksibel
terhadap sebagai respon terhadap kebutuhan zaman yang merupakan kebutuhan manusia itu sendiri sebagai
pengguna yang sadar akan fungsi dan kegunaannya.
Di dalam kekristenan dan protestantisme diyakini bahwa manusia dan dunia ini merupakan buah tangan Tuhan
Allah sehingga boleh dikatakan Tuhan sebagai Maha Pencipta (Creator) dari keberadaan dunia dan manusia
sehingga manusia (co-creator) harus meneruskan karya penciptaan Tuhan melalui karyanya dalam dekade
panjang hidup manusia. Hal ini memungkinkan manusia hidup dalam situasi yang kontekstual dan juga selektif
secara pengaplikasiannya.
Sehingga pendidikan agama Kristen, seperti semua pendidikan, yaitu kegiatan yang kompleks, dan tidak akan
pernah ada deskripsi mengenai pendidikan agama Kristen yang lengkap. Pernyataan-pernyataan mengenai
tujuannya, konteksnya, dan sebagainya akan muncul kemudian. Pendidikan agama Kristen ialah kegiatan politis
bersama para peziarah dalam waktu yang secara sengaja bersama mereka memberi perhatian pada kegiatan
Allah di masa kini kita, pada cerita komunitas iman Kristen, dan visi kerajaan Allah, benih-benih yang telah hadir
di antara kita.[56]
Itu berarti teori pendidikan tidak dapat hadir dalam ruang hampa. Teori ini agaknya muncul dari pengalaman
hidup manusia dalam konteks tempat mereka hidup.[57]
Mengatakan bahwa teori pendidikan harus kontekstual juga mengatakan teori ini harus dinamis ketimbang
statis. Seperti waktu dan ruang berpindah dan berganti, seperti kejadian dan pengalaman terus berjalan dan
mengalir, teori pendidiakan perlu merespon dengan segera dan tepat. Oleh sebab itu, setiap orang pendidikan
pasti memiliki suatu kisah dibelakangnya. Sering kali, kisahnya merupakan suatu konflik, ketegangan, realisasi,
dari suatu kekurangan atau kebutuhan akan sesuatu, atau visi dari sesuatu yang lebih baik bagi komunitas atau
warga . Menurut John Dewey.[58]Dinamika ini membuat gereja tertantang dalam arus modernisasi
yang penuh dengan konflik ide atau pemahaman tentang otoritas Alkitab elektronik.
Konflik ini merupakan tanggung jawab pengajaran PAK/PWG merupakan tugas Gereja dan kita semua yang
merupakan anggota gereja. Namun, pendidikan agama Kristen sebagai bagian dari kurikulum pendidikan
nasional di sekolah-sekolah (pendidikan formal), merupakan tanggung jawab sekolah (pimpinan sekolah) yang
ternyata dapat dibantu oleh Gereja melalui berbagai sarana pelayanan pendidikan yang dimilikinya, misalnya
khotbah, sekolah minggu, katekisasi, dan lain sebagainya.
Arah perubahan membawa Gereja masuk pada kebutuhan besar yang lahir dari dalam perubahan itu sendiri,
antara lain tampak dalam kebutuhan akan perubahan suasana ibadah, konsentrasi karya gereja, kepemimpinan,
serta penghargaan terhadap pluralitas penghayatan iman. Globalisasi dan proses demokratisasi dalam
warga telah mengubah pola pikir anggota jemaat. Mereka hidup dalam lingkungan yang memberikan
kebebasan berpendapat. Meskipun demikian, perlu disadari pula bahwa globalisasi merupakan proses yang
paradoksal. Artinya, globalisasi menimbulkan kontradiksi-kontradiksi sebab ternyata menampakkan dua
macam kecenderungan dan akibat yang saling berlawanan. Jelaslah bahwa globalisasi memberikan pengaruh dan
akibat ganda terhadap keberadaan dan nilai-nilai kehidupan, yaitu yang baik atau bermanfaat namun juga buruk
atau merugikan.
Oleh sebab itu, dalam menyikapi globalisasi dan akibat-akibatnya, perlu kewaspadaan dan kearifan yang
didasarkan pada kriteria-kriteria yang mengacu pada prinsip-prinsip teologi dan etis, yang alkitabiah dan
sungguh-sungguh relevan-kontekstual dengan situasi dan kondisi yang ada. Ini yaitu tugas gereja yang secara
fungsional harus membimbing dan mengarahkan umat agar hidup sesuai dengan kehendak Allah di tengah
zaman yang terus berubah.
Gereja perlu secara kritis mengadakan evaluasi dan seleksi secara benar dan tepat terhadap fenomena dan
pengaruh-pengaruh globalisasi, mana yang positif dan negatif demi pemeliharaan dan pengembangan kehidupan
iman umat seperti yang ditekankan PAK/PWG maupun pelaksanaan tugas dan panggilan gereja. Gereja memiliki
peran untuk mengupayakan agar globalisasi jangan sampai menimbulkan hal-hal yang justru kurang atau bahkan
tidak “memanusiakan manusia”.
Dalam Efesus 4:12 tersirat tugas dan tanggung jawab gereja, baik sebagai persekutuan maupun institusi untuk
mempersiapkan para pelayan agar mampu melayani umat dengan baik. Hal ini tentu berkaitan dengan
perubahan zaman yang semakin canggih yang membutuhkan keterampilan tertentu dari para pelayan khusus
agar dapat terus melayani umat seiring perubahan manusia, sebab perubahan sosial juga mengisyaratkan
perubahan karakter manusia.
Kesiapan para pelayan khusus untuk melayani umat, menentukan keberhasilan pelayanan gereja dan
perkembangan spiritualitas umat. Sebelum sampai pada titik di mana gereja mampu mendorong umat untuk
bersikap terbukan dan kritis terhadap berbagai tawaran perubahan, maka gereja secara institusional perlu
terlebih dahulu bersikap terbuka dan kritis terhadap perubahan agar dari situ gereja dapat mengambil langkah
untuk mempersiapkan para pelayannya.
Sikap terbuka dan kritis ini juga dapat berasal dari jemaat yang menghasilkan dorongan kepada gereja. saat
gereja melihat, mendengar, dan menghadapi pelbagai hal baru yang disuarakan oleh anggota jemaat dan
warga . Sikap kritis mutlak diperlukan, namun dilandasi keterbukaan dan dialog untuk menyikapi pluralitas
penghayatan iman dan setiap usulan perubahan. Gereja perlu bersikap terbuka tidak kaku dan tertutup sebab
konteks situasi di mana gereja berkembang terus, sejalan dengan derasnya arus globalisasi dan munculnya
persoalan-persoalan baru.
Konsekuensinya yaitu gereja di bidang PAK/PWG harus tanggap terhadap kepelbagaian, keragaman isi, metode
dan jenis kebutuhan manusia yang dilayaninya. Ia tidak dapat memakai tangan besi dengan otoritas rohani
memagari orang Kristen agar tetap seragam dalam pemikiran, perasaan dan ekspresi imannya. Dengan begitu,
bukan berarti Gereja akan kehilangan esensi, namun harus berusaha mencari bentuk-bentuk spritualitas yang
baru dan bermakna. Di situ terletak kekuatan gereja dan keuletannya bukan hanya untuk tetap bertahan,
melainkan mampu melayani secara efektif.
Mungkin saja orang akan lebih suka memilih kombinasi PAK/PWG yang secara bombastis, diekspos secara publik
seperti gaya presentator-presentaris TV, proyektor. Dengan media ini orang bisa saja mengajar tanpa
bertatap muka. Inilah peranan media dalam pendidikan moderen. Gereja tidak cukup dengan hanya
mengandalkan bentuk-bentuk tradisional. Harus dipikirkan bentuk-bentuk pelayanan baru agar kebutuhan umat
dapat terjawab.
PAK berpijak berlandaskan Alkitab dan manfaatnya untuk Pendewasaan hidup. Alkitab merupakan isi
kepercayaan orang kristen bukan? Untuk menjawab pertanyaan ini, banyak anggota jemaat yang akan menyebut
Alkitab sebagai “pasal pertama” kepercayaan mereka. Kitab sucilah yang merupakan pokok kepercayaan
terpenting, akan namun pengakuan Iman Rasuli tidak memuat sesuatu pasal tentang Alkitab! Setidak-tidaknya hal
ini dapat memperingatkan, bahwa Alkitab bukanlah menjadi pusat kepercayaan Kristen. Dapatlah dikatakan,
berkat adanya Gereja, jemaat beroleh Alkitab. Gereja lama telah menyambut Kitab Kudus orang Yahudi sebagai
Firman Allah. Malahan dalam Perjanjian Lama, Gereja telah mendengar kesaksian tentang Yesus Kristus.
Kesaksian itu juga selanjutnya diberitakan juga dalam pelbagai tulisan para rasul. Demikianlah lama kelamaan
terjadilah suatu himpunan kitab-kitab di dalam Gereja Kristen yang memiliki wibawa sebagai Kitab Kudus.
Berkat adanya Gereja segala abad, Alkitab pun telah disampaikan kepada jemaat dan diterjemahkan ke dalam
berbagai bahasa. Sebaliknya, boleh dikatakan, bahwa berkat adanya Alkitab, ada Gereja Kristen. Gereja ada
berdasarkan kesaksian para nabi dan rasul. Sebagaimana disampaikan bagi jemaat di dalam bentuk Alkitab.
Berkat adanya Alkitab, selalu pula ada orang-orang yang menjadi percaya serta mempercayakan dirinya kepada
Yesus Kristus. Artinya orang yang sudah mendengar suara Tuhan yang memanggilnya untuk menjadi anggota
Jemaat Kristus di dunia ini. Inilah proses keberadaan Alkitab bagi Gereja Kristen hingga saat ini.
Alkitab merupakan sebuah landasan media pembelajaran dan pemberitaan bagi kekristenan mengalami
perubahan secara fisik. Di mana Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) membuatnya untuk dipergunakan warga
agar lebih fleksibel dan kreatif. Zaman dulu Alkitab ditulis di atas papyrus dan masih berupa gulungan-gulungan
secara terpisah-pisah. Seiring dengan gerak zaman, semuanya mengalami perkembangan seperti sekarang ini
telah dipakai seperti Alkitab Cetak dan semua orang memakai nya sebab terkondisi. Sekarang boleh
dilihat gerak zaman ini tidak diam namun terus maju sehingga Alkitab tidak hanya dapat berbentuk cetak namun
juga Elektronik.
Alkitab Elektronik menjadi fenomena bagi warga /warga Gereja sebab keberadaannya masih belum bisa
diterima di semua kalangan warga . Walaupun memang sudah ada pula yang menerima sekaligus
memakai . Boleh dikatakan ini merupakan suatu hal yang baru untuk mau menerima media elektronik itu.
sebab warga telah lama sekali terkondisi dengan Alkitab Cetak sehingga mereka masih menganggap
Alkitab Elektronik sebagai momok yang tidak baik, dipandang sebelah mata dan dikatakan juga merupakan
‘setan’ yang bisa merusak nilai tradisi yang telah ada. Perlu disadari bahwa dahulu manusia membaca Alkitab
dengan media papyrus dan sekarang telah menerima Alkitab dalam bentuk buku. Ini berarti bahwa bentuk
Alkitab mengalami perubahan seirama dengan perubahan konteksnya. Oleh sebab itulah, sering dikatakan
bahwa kontekstualiasi itu perlu dua sayap yakni yang pertama tradisi dan yang kedua ilmu pengetahuan dan
teknologi. Tradisi memungkinkan manusia untuk menjaga nilai-nilai baik yang diwariskan, sedang
pengetahuan dan teknologi menuntun manusia kepada penemuan baru yang membantu mereka untuk hidup
dengan lebih baik. Itu berarti manusia menempatkan media teknologi hanyalah sebagai alat bukan tujuan hidup,
sebab yang menjadi tujuannya yaitu Firman Allah sebagaimana terkandung dalam Alkitab.
Kemunculan bentuk baru Alkitab (Alkitab Eletronik), tidak berarti punahnya betuk lain dari Alkitab (buku). Di
sini Alkitab Elektronik disandingkan dengan Alkitab media cetak agar bisa tetap berfungsi bersama-sama sesuai
kelebihan dan keterbatasan masing-masing media. Dari situ, maka bisa terjadi harmonisasi, kenyamanan serta
fleksibelitasnya dirasakan dalam pelayanan Gereja, sebab Jemaat GPM Bethel merupakan jemaat kota yang dekat
sekali dengan perkembangan IPTEK. Bukan berarti dengan kehadiran teknologi mau menyingkirkan nilai-nilai
yang telah ada dan lama bertumbuh dan berkembang di dalam gereja, namun gereja itu juga mesti relevan
terhadap zaman ini dan tidak menutup diri, mau terbuka dan mampu kritis dalam melihat kebutuhan warga
dalam Gereja.
LAI merancang Alkitab Elektronik sedemikian rupa sebagai media yang dapat dipakai oleh siapa saja,
baik Pendeta, dan pekerja kristiani, bahkan kaum awam sekalipun yang ingin mempelajari Alkitab lebih
mendalam. Alkitab Elektronik dibuat dengan berbagai versi, sehingga aplikasi Alkitab Elektronik dinamis
mengalami upgrade disebabkan sebab kebutuhan manusia menginginkan inovasion.
Di era moderen sekarang ini, di bagian perkotaan kebanyakan sistem pekerjaan dikemas secara
komputerisasi/pemakaian komputer sebagai alat bantu penyelesaian tugas, pengganti penyelesaian pekerjaan
secara manual. Walaupun teknologi memberikan banyak kelebihan kepada sumber daya manusia, namun ia juga
memberikan gangguan atau masalah kepada manusia sebagai pengguna. Misalnya, komputer tiba-tiba tidak
dapat berfungsi dan semua dokumen penting dalam komputer tidak dapat diakses, ia bukan saja akan
mengganggu kerja pengguna saja, komputer malah bisa menyebabkan pengguna merasa tertekan untuk
memakai komputer ini . Selain itu, sekiranya seseorang tidak tahu untuk mengaplikasikan teknologi
baru, maka mereka akan menjauhkan diri daripada penggunaan peralatan yang berteknologi. Oleh sebab itu,
kesediaan serta kesiapan diri perlu dibenahi sebab zaman ini terus berkembang jika tidak beradaptasi
dengannya maka akan ketinggalan di dalam berbagai hal. Dunia sekarang dikendalikan dengan sistem seperti itu,
mau tidak mau kelak setiap orang, harus mempersiapkan diri agar mampu beradaptasi dengan baik.
PAK yang transformatif dan kreatif mengembangkan bentuk pelayanan yang sesuai dengan konteks (Kemajuan
Teknologi). Teknologi yang yaitu daya kreasi manusia yang berakar pada potensi manusia merupakan sebuah
langkah maju. Teknologi merupakan ‘ciri’ dunia moderen yang lagi dikonsumsi manusia sebagai penguna dan
penikmat. sebab Teknologi banyak membantu manusia untuk menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan
mempermudah, mempercepat kerja serta aktifitas keseharian.
Teknologi diciptakan oleh manusia dengan daya cipta penuh kreasi dan juga sarat potensi. Beberapa produk
teknologi yang dihasilkan manusia seperti komputer, TV, dll ini merupakan wujud pengembangan diri secara
potensial. Untuk menjawab kebutuhan manusia berdasarkan tuntutan perubahan pola pikir, berperilaku,
diakibatkan oleh benda-benda elektronik sebagai gaya hidup manusia moderen.
Kemajuan teknologi ini pun dimanfaatkan oleh PAK seperti Alkitab Elektronik versi 2.0 sebagai sebuah mediator
pengajaran serta pemberitaan tentang Firman Allah. Selain sebab sangat praktis dan mudah dibawa ke mana
saja dan dapat diinstal ke dalam handphone itu, tujuan pengadaan Alkitab dalam bentuk elektronik ini
sebenarnya mengandung kepentingan edukasi sebab dengan keberadaannya yang bisa diakses kapan dan di
mana saja, maka penggunaan Alkitab dalam rangka pembinaan spiritual dan perilaku bisa terbuka menerobos
ruang dan waktu, bukan saja di gereja atau dalam ibadah-ibadah namun di mana saja proses ini berlangsung.
Inilah proses PAK sebab ia mendidik dari manusia lahir sampai masuk liang kubur, cara ini dipakai PAK
untuk sanggup melakukan perubahan perilaku.
Teknologi yaitu implikasi dari anugerah Allah kepada manusia, yakni kecerdasan. Pelayan khusus selaku
mediator PAK bagi jemaat sering berjumpa dengan teknologi komputer dan produk dari teknologi ini
melahirkan sebuah perangkat lunak atau software berupa Alkitab Elektronik di mana sebagian besar pelayan
khusus GPM Bethel juga memahami dan turut memakai nya walaupun tidak memakai nya sesering
Alkitab Cetak. Hanya beberapa orang saja yang sering mempergunakannya secara rutin untuk mempersiapkan
renungan dan juga ada seorang penatua sebagai pengguna Alkitab Elektronik aktif sebab ia selalu memakai
Alkitab Elektronik dalam beribadah dan juga gerak pelayanan.
Ini berarti bahwa kesiapan mental serta persediaan diri tentang pengetahuan teknologi itu dibutuhkan oleh
semua warga gereja sehingga nilai PAK dan teknologi bisa berjalan seiring mengikuti gerak perubahan
modernisasi dengan kritis tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah ada. Dengan menyadari bahwa teknologi
yaitu anugerah yang Tuhan berikan melalui buah pikir manusia sehingga bisa membuat sebuah perangkat
elektronik guna kebutuhan banyak orang yang dapat mengatasi setiap permasalahan-permasalahan holistik
seperti bidang administrasi, infrastruktur dan juga menyangkut ibadah ritual “Alkitab Elektronik” dan untuk
memberi warna baru dan kepraktisan guna fleksibelitasnya seiring perkembangan teknologi namun tidak
menghilangkan identitas iman berlandaskan Alkitab yang mengandung Firman Allah.
Selanjutnya, Perkembangan teknologi telah berjaya mengubah cara seseorang belajar atau bekerja dan teknologi
tidak dapat dielakan oleh manusia dalam berbagai organisasi. Oleh sebab itu, penerimaan atau penolakan
terhadap teknologi yaitu bergantung kepada persediaan diri seseorang dari segi fisikal atau mental. Terkait
dengan hal ini ada sebuah konsep, yakni teknostres. Konsep ini menjadi popular sejak tahun 1980-an. Apabila
seseorang tidak dapat mengendalikan perubahan teknologi dengan baik maka teknologi akan menyebabkan stres
muncul. Stres yang muncul sebaga akibat tidak dapat menyesuaikan diri dengan berbagai produk teknologi inilah
yang disebut teknostres. Teknostres semakin diperhatikan oleh organisasi dan juga dikenali sebagai
penyakit.[59]
Tidak Kritis terhadap dampak teknologi dan laju perkembangannya membuat manusia menjadi kewalahan untuk
menyikapinya dengan baik. Dalam era globalisasi kini, komputer memainkan peranan yang penting untuk
meningkatkan keberkesanan dan kecepatan bekerja. Penyesuaian diri terhadap perubahan teknologi yang
berkembang dengan pantas bukanlah perkara mudah. Setengah individu mampu menerima perubahan ini
namun masih ada yang tidak mampu menerimanya.[60]
PAK selaku sentral di dalam landasan pertumbuhan setiap orang yang terbentuk dan dimatangkan di dalam
keluarga memiliki peran penting. Tingkat pengendalian setiap orang terhadap sebuah perubahan yang
dianggapnya asing dan sulit untuk dijangkau merupakan hal yang manusiawi. PAK tidak berfokus kepada
keluarga saja namun PAK selalu terjadi terus menerus dalam kehidupan ini di manapun berada. Gereja
merupakan sentral gerak pelayanan yang turut memaikan peran PAK dalam warga luas lewat pemberitaan-
pemberitaan melalui khotbah-khotbah, sekolah minggu, katekisasi, dan juga wadah-wadah pelayanan. Peranan
PAK dalam gereja sungguh menjadi acuan di mana warga berkembang. Memaksimalkan warga gereja
berpikir terbuka serta kritis menyikapi transformasi teknologi dalam gereja, mempersiapkan diri secara fisik dan
juga mental untuk bersama-sama melangkah maju dengan perubahan-perubahan yang juga positif bagi banyak
orang menjadi tanggungjawab yang tidak bisa diabaikan oleh Pendidikan Agama Kristen.
Bagaimana PAK bisa menyentuh dan memberi pemahaman terhadap umat terkait keberadaan Alkitab Elektronik
dari sisi kesakralannya, sebab di sini tampak sekali warga dan juga segelintir pelayan khusus tidak siap
dalam persediaan dirinya secara fisik maupun mental menerima revolusi teknologi yang berkembang di dalam
gereja. Mereka cenderung bingung untuk mengaktualisasikannya di mana akses terhadap barang
moderen secara ekonomis cukup mahal sehingga tidak semua orang memiliki handphone yang mahal untuk bisa
memediasi Alkitab Elektronik di dalamnya dan juga komputerisasi jika terjadi kedangkalan akses dari sisi
ekonomis. Oleh sebab itu, cara lain untuk menjembatani persoalan ini yakni persediaan diri secara fisik dan
juga mental dari sisi pemahaman, pemanfaatan, serta penggunaan Alkitab Elektronik terhadap transformasi
yang terjadi dalam gereja. Sebab persoalannya yang moderen ini bukan terletak pada rajin atau tidaknya setiap
orang ke gereja membawa Alkitab atau nyanyian untuk mengukur apakah ia telah bertumbuh dan berkembang
secara matang terhadap proses PAK.
Dalam dunia yang terus bergerak menuju maksimalisasi komputer sebagai simbol perkembangan teknologi,
maka upaya membangun sinergitas kritis antara PAK dan teknologi yaitu tanggungjawab gereja yang sedang
hidup dan melayani di dalam dunia moderen.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULANDari penyajian data sebagaimana terungkap diatas maka beberapa kesimpulan yang dapat
ditarik berdasarkan dengan pemahaman, penggunaan, pemanfatan Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel yaitu
sebagai berikut :
1. Alkitab elektronik merupakan sebuah proses hasil berpikir manusia untuk memenuhi kebutuhan praksis
serta praktis mereka. Ini yaitu sebuah revolusi terhadap Alkitab dengan melihat keseluruan konten-
kontennya yang berada pada media ini . Alkitab elektronik versi 2.0 merupakan
sebuah software(perangkat lunak) yang terinstal di dalam handphone, dan juga laptop serta komputer.
Perlu disadari tidak semua orang fasi berteknologi dan tidak semua umat bisa
memiliki handphone dengan kapasitas mengakses Alkitab elektronik sebab dari sisi finansial tergolong
cukup mahal. Oleh sebab itu Alkitab elektronik masih dipakai hanya oleh beberapa orang. sebab
perubahan sosial terkandang cenderung membuat orang stress sebab berpikir untuk mampu
beradaptasi dengan lingkungan yang telah terpengaruh oleh budaya teknologi modern. sedang
kesiapan mental dan kesediaan diri secara fisik belum memadai.
2. Berbagai inovasi dilakukan oleh LAI sebagai pembuat serta pengelola Alkitab. LAI menerbitkan Alkitab
elektronik agar bisa dikonsumsikan warga serta Gereja. Untuk memudahkan pelayanan para
pelayan khusus agar secara umum bisa mengetahui setiap latar belakang, setiap kitab dan juga nubuat,
deutrokanonika, perumpamaan, ayat-ayat tematik, berbagai terjemahan dengan bahasa Inggris dan
bahasa daerah Indonesia serta kamus Alkitab. Dengan demikian Alkitab elektronik memiliki perbedaan
dengan Alkitab buku, sebab Alkitab buku tidak memiliki latarbelakang setiap kitab dan juga nubuat,
deutrokanonika, periumpamaan, ayat-ayat tematik, berbagai terjemahan dengan bahasa daerah
Indonesia secara sistematis.
3. Para pelayan khusus jemaat GPM Bethel memakai Alkitab elektronik dalam pelayanan walupun
hanya yang ada melihat, sebab realitas berjemaat seperti demikian bahwa tidak semua orang bisa
berteknologi atau memahaminya, itu disebabkan sebab akses informasi yang macet dan sikap menutup
diri terhadap perubahan sebab di anggap tidak bermanfaat. Itu berarti ada yang memahaminya dengan
melihat serta membaca sehingga mengetahui tentang Alkitab elektronik sejauh teoritis saja. Namun ada
pelayan khusus yang memakai nya sebagai media untuk memperlancar pelayanan. Dengan demikian
PAK memainkan fungsi sebagai media melalui pelayan khusus untuk bagaimana bisa memediasi setiap
warga Gereja bahwa LAI telah menerbitkan Alkitab elektronik dan itu sangan baik jika dipakai .
Membuat sebuah wacana khusus terhadap inovasi Alkitab elektronik. Sebagai warga jemaat atau warga
belajar, serta pelayan khusus bisa mengetahui serta memahaminya dengan pemahaman iman yang baik.
Jadi pada hakekatknya PAK yaitu pendidikan yang diberikan kepada semua orang dari semua golongan
umur, sebagai usaha gereja yang mendidik dan mendewasakan iman orang-orang itu kepada Yesus
Kristus. Jelas PAK yaitu tugas Gereja yang sangat penting dan harus dilaksanankan bersama oleh
seluruh anggota Gereja itu sendiri berdaasarkan panggilan AM orang percaya dimana moto PAK yaitu :
Fidesqua (iman yang diwariskan), mengajar dan mewujudkan, Fidesque (iman yang ditemukan). Pusat
dari PAK bukanlah manusia, namun Allah. Dan tugas pelayan khusus yaitu membimbing setiap orang ke
dalam relasi yang benar dengan Allah mau ditegaskan di dalam Yesus Kristus dan dengan sesama
manusia.
4. Mau ditegaskan bahwa yang menjadi dasar dari PAK yaitu Alkitab sebagai penyataan firman Allah.
Faktanya di dalam Alkitab sebagai penyataan Allah merupakan penentuan bagi segala pekerjaan Gereja,
termaksud di sini yaitu penyelenggaraan PAK itu. Pendidikan agama itu ada sejak adanya manusia itu
sendiri dan terjadi di setiap ruang dan waktu bukan hanya PAK secara formal yang terjadi pada ruang-
ruang kelas. Oleh sebab itu sangat disayangkan kalau masih banyak pelayan khusus Gereja yang
menganggap bahwa Alkitab elektronik yang dipakai di handphoneitu mengganggu dan merisihkan.
Sebab tidak sampai di situ saja sebab akses penggunaan handphone bisa dianjurkan sebagaimana
mestinya sebab handphoneyaitu sebuah peroduk teknologi Multimedia di mana ia multifungsi, itu
kelebihannya teknologi elektronik. sebab dengan Alkitab elektronik yang berada
dalam handphone mampu membuat orang bisa membaca firman Allah dimana saja, kapan saja ia maus,
serta sebagai penguatan iman saat mengalami masalah sebab mereka bisa saja langsung mengakses
Alkitab itu melalui handphone. Ini juga wujud dari PAK yang transforamtif sebab pemberitaan lewat
media handphone yang berisikan Alkitab elektronik bisa merubah perilaku.
B. SARANBerdasarkan kesimpulan maka fenomena Alkitab elektronik di dalam kehidupan bergereja juga
beranekaragam. Maka adapun beberapa saran yang penulis sampaikan agar dapat membantu pelayanan GPM ke
depan ;
1. Gereja secara fungsional pada hakekatnya masih kaku melihat, memahami, mengaplikasikan sebuah
fenomena-fenomena baru yang terjadi akibat perkembangan IPTEK, sebab LAI telah mengeluarkan
Alkitab elektronik versi 2.0 sehingga boleh berdampingan dengan Alkitab buku supaya ada inovasi ke
arah kemajuan sebuah pelayanan yang juga kontekstual. Para pelayan khusus sebagian besar masih kaku
melihat, memahami, serta mengaplikasikannya bagi warga Gereja. Pelayan khusus seharusnya bisa
mengayomi warga gereja serta memberi wacana-wacana baru terkait perubahan yang berkaitan dengan
pelayanan seperti Alkitab elektronik. Bahwa pada dasarnya Alkitab itu yaitu dasar pak berpijak itu
yaitu Firman Allah dan itu sah sebab semua isinya sama dengan Alkitab buku. Hanya kemasannya yang
berbeda.
2. MPH Sinode GPM bahkan badan pelayanan klasis GPM Ambon, harus menjadi motifator dalam
mentransformasikan sistim pelayanan. Terhadap pelayan khusus agar bisa menyuarakan inovasi
terhadap Alkitab elektronik dijadikan wacana guna jemaat mengenalnnya dan dengan demikian tidak ada
prespektif yang buruk terhadap Alkitab elektronik.
3. Fakultas Teologi juga seharusnya menyuarakan wacana terkait Alkitab elektronik kepada mahasiswa.
Bahwa itu baik untuk dipakai asalkan sesuai prosedur yang tepat. Sebab persoalannya hanya
pada handphone yang multifungsi itu, cenderung mengalami multi tafsir juga.
4. Kepada Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang terhormat, bahwa Alkitab elektronik terbitan versi 2.0
pada kenyataan setelah penulis melakukan penelitian kualitatif terhadap Alkitab elektronik pada Pelayan
Khusus Jemaat GPM Bethel Ambon, pada kenyataan masih mengalami penolakan, sebagian Pelayan
Khusus masih melihatnya sebagai sesuatu yang tidak layak untuk dipakai , sebab akses
multifungsinya handphone.
Bagaimana ponsel pintar dan media sosial
mengubah umat Kristen?
Chris Stokel-WalkerBBC Future
17 Maret 2017
Bagikan artikel ini dengan Facebook
Bagikan artikel ini dengan Messenger
Bagikan artikel ini dengan Tw itter
Bagikan artikel ini dengan Email
Kirim
Gawai pintar selain mengganti Alkitab dalam bentuk buku.
Banyak penganut Kristen beralih ke aplikasi dan meme untuk mengekspresikan iman mereka dan bukan pergi ke
gereja - gejala yang membangkitkan pertanyaan menarik tentang masa depan agama terbesar di dunia ini .
saat Pendeta Pete Phillips pertama kali tiba di Durham sembilan tahun yang lalu, katedral di kota itu menolaknya sebab
dia membaca Alkitab dari gawainya di bangku gereja. Pada saat itu telepon genggam tidak boleh dibawa ke tempat suci, dan
individu yang menegurnya tidak akan percaya bahwa dia memakai gawainya untuk beribadah dan meminta dia untuk
keluar dari gereja.
"Saya sedikit jengkel mengenai hal itu," kata Phillips, yang merupakan direktur Codec Research Centre for Digital
Theology di Durham University, Inggris. "namun itu tahun 2008."
Seiring dengan usia Katedral Durham Cathedral yang tahun depan bakal menginjak 1.000 tahun, aturan yang berkaitan
dengan gawai telah diperbaharui.
"Mereka mengizinkan orang untuk mengambil foto, memakai gawai untuk kebutuhan kebaktian - atau apapun yang
ingin mereka lakukan," kata Phillips.
"Perilaku telah berubah sebab untuk membatasi jemaat dari penggunaan ponsel sama saja dengan meminta mereka untuk
memotong lengan mereka".
Main Pokemon Go di gereja, blogger Rusia dituding ejek agama
Kisah dua keluarga muslim penjaga pintu gereja di Yerusalem
Pendekatan yang lebih longgar terhadap ponsel bukan satu-satunya perkembangan yang terkait penggunaan teknologi di
gereja dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan penggunaan aplikasi dan media sosial mengubah cara ibadah dua milliar
orang Kristen di dunia - dan bahkan mengubah apa arti menjadi relijius.
Banyak Gereja saat ini memiliki kebijakan yang lebih longgar terhadap
gawai.
Pendeta Liam Beadle menjadi pemuka agama Yorkshire yang termuda saat dia menduduki jabatannya di Gereja Anglikan
St Mary di Honley, sebuah desa berpenduduk 6.000 orang yang terletak lima mil di bagian selatan Huddersfield.
Dia kini mengelola akun Twitter parokinya. Seorang lainnya mengelola profil Facebook komunitas gereja. Uskup Leeds,
Pendeta Nick Baines - yang merupakan kepala keuskupan Beadle - merupakan salah satu dari uskup pertama yang memulai
menulis blog dan dikenal di gereja sebagai "uskup yang menulis blog".
namun langkah Beadle kontras dengan pendekatan Gereja terhadap media sosial dengan reaksinya pada media cetak. "
Perbedaan dulu dan sekarang yaitu bahwa kami dulu proaktif dengan media cetak," kata dia. "Dengan munculnya media
sosial, saya pikir kami menjadi reaktif, kami ikut-ikutan."
Alkitab gawai sekarang menggantikan Alkitab berbentuk buku
Bagaimanapun, keberadaan ponsel pintar dan media sosial di mana saja, membuat hal itu sulit dihindari. Dan mereka
mengubah cara orang untuk mempraktikkan agama mereka. Keyakinan diadopsi teknologi daring untuk membuatnya lebih
mudah bagi orang untuk menyampaikan gagasan dan doa, kata Phillips. "namun teknologi itu telah membentuk orang-orang
relijius dengan sendirinya dan mengubah perilaku mereka."
Banyak orang berselancar melalui gawai mereka di dalam gejera Kristen kemungkinan mencari aplikasi Alkitab yang
disebut YouVersion, yang telah dipakai lebih dari 260 juta kali di seluruh dunia sejak diluncurkan pada 2008. Aplikasi
populer yang serupa juga ada untuk Taurat dan Quran.
"Satu yang dilakukan pertama kali oleh orang Kristian dengan komputer yaitu untuk memasukkan Alkitab dalam format
digital," kata Phillips. Mereka yang mendigitalisasi Alkitab kemuduan membuatnya ke dalam gawai. "Untuk batas tertentu
Alkitab gawai sekarang menggantikan Alkitab berbentuk buku."
Salah satu yang dilakukan umat Kristen terhadap komputer yaitu
memasukkan Alkitab dalam versi digital.
Menurut perusahaan yang berada dibelakang YouVersion, orang menghabiskan lebih dari 235 milliar menit memakai
aplikasi ini dan mengakses 636 juta ayat Alkitab. namun membaca Alkitab jenis ini secara keseluruhan dapat
mengubah orang ini . 'Jika Anda melihat Alkitab seperti sebuah buku kertas, itu lumayan besar dan rumit dan Anda
punya jempol untuk menelusurinya,"
"namun jika Anda mengetahui bahwa Kitab Wahyu merupakan yang terakhir Kitab Kejadian merupakan yang pertama dan
Mazmur di antara keduanya. Dengan sebuah versi digital Anda tidak memiliki semuanya, Anda tidak memiliki batasan.
Anda tidak perlu membolak-baliknya: Anda tinggal mengarahkan pada bagian yang Anda inginkan, dan Anda tidak merasa
perlu melihat bagian sebelum atau sesudahnya.
Peneliti seperti Phillipis tengah mengkaji bagaimana seseungguhnya berinteraksi dengan Alkitab yang
seukuran nugget mungkin akan mempengaruhi pandangan orang.
Cara membaca kitab suci dapat mempengaruhi bagaimana mereka diinterpretasikan. Sebagai contoh, beberapa studi
menunjukkan bahwa teks yang dibaca di layar secara umum lebih harfiah dibandingkan dengan teks yang dapat dibaca di
buku. Fitur ekstetika dari sebuah teks, seperti memperluas tema dan konten emosional, juga lebih mungkin untuk ditarik
keluar jika dibaca sebagai sebuah buku.
Dalam sebuah teks relijius, perbedaan akan menjadi sangat krusial. "saat Anda membaca melalui layar, Anda cenderung
akan kehilangan seluruh rasa dan langsung mencari informasi, "kata Phillips. "Ini semacam membaca dengan datar, di mana
Alkitab tidak ditulis untuk itu. Anda akhirnya membaca teks seperti dalam Wikipedia, dan bukan membaca naskah yang
sakral itu sendiri."
saat Anda membaca Alkitab pada sebuah layar Anda, pada akhirnya Anda tak lebih dari
membaca teks seperti Wikipedia.
beberapa kalangan berpikir bahwa interpretasi yang terlalu harfiah terhadap teks relijius dapat mengarahkan ke
fundamentalisme. Jika Anda menganggap Kitab Kejadian sebagai sebuah hitungan enam hari penciptaan, sebagai contoh,
Anda akan percaya bahwa sains itu salah, kata Phillips.
Namun disaat yang sama, sebuah praktik penganut Kristen yang berbeda tengah meledak, didukung oleh penyebaran media
sosial dan desentralisasi aktivitas relijius.
Bagi banyak orang, tak lagi penting untuk menjejakkan kaki di gereja. Di AS, satu dari lima orang yang identifikasikan
sebagai Katolik dan satu dari empat orang Protestan jarang atau tak pernah menghadiri pelayanan yang diorganisir menurut
sebuah survei yang dilakukan Pew Research Centre.
Katedral Durham telah melakukan banyak perubahan selama 1.000
tahun penggunaan media sosial dan gawai pintar hanya salah satunya.
Aplikasi dan akun media sosial
Aplikasi dan akun media sosial menulis cuitan tentang ayat Alkitab memungkinkan ekpresi pribadi keyakinan seseorang dan
layar gawai mereka. Dan kemampuan untuk mengutip dan memilih berarti mereka dapat menghidari doktrin yang tidak
menarik. Banyak orang yang menganggap diri mereka sebagai umat Kristen yang aktif mungkin bahkan tidak terlalu kaku
percaya pada Tuhan atau Yesus atau bertingkah laku sesuai dengan Alkitab.
"Sebuah jenis baru dari agama Kristen bermutasi untuk era digital yang muncul," kata Phillips. "Salah satu yang mengikuti
banyak etika dunia sekuler." Dikenal sebagai deisme terapi moralistik, bentuk kepercayaan lebih terfokus pada sisi amal dan
moral Alkitab - prinsip yang mendasari agama, bukan gagasan bahwa alam semesta diciptakan oleh sesuatu yang terlibat,
semua pemimpin yang kuat.
Bentuk baru dari agama pertama kali disampaikan oleh sosiolog pada tahun 2005, namun telah dibumbui secara berlebihan
oleh internet dan media sosial. "Orang-orang mencari pengalaman religius yang lebih personal," kata Heidi Campbell di
Texas A & M University, yang mempelajari agama dan budaya digital.
Orang lebih banyak mencari agama yang lebih personal
"Milenial memilih generalisasi gambar Tuhan dibandingkan sebuah intervensi Ketuhanan, dan mereka memilih Tuhan
dibanding Yesus, sebab dia tidak spesifik," kata Phillips. "Dia berdiri dibelakang mereka dan mengizinkan mereka untuk
meraih hidup mereka dibandingkan Yesus, yang datang dan menganggu dengan segala sesuatu."
Membagikan ayat Alkitab melalui media sosial memungkinkan jemaat untuk memilih membaca apa yang mereka inginkan
dibandingkan duduk mendengarkan ayat yang dipilih oleh pendeta setiap Minggu. Ayat-ayat Alkitab juga merupakan
subyek dari kontes popularitas, di mana penerimaan oleh warga yang lebih luas dapat mendikte penyebaran mereka.
Ayat-ayat Alkitab yang paling popular ditandai, disoroti dan dibagikan ke media sosial melaui aplikasi YouVersion yang
sering kali merefleksikan sekuler dan gambaran ideal deisme teraupetik moralistik. Banyak kekhawatiran terhadap sesuatu
seperti perjuangan personal atau menghadapi kecemasan, misalnya - dibandingkan mempromosikan keagungan Tuhan.
Hak atas
Banyak meme relijius awalnya dipakai untuk gurauan namun juga
memicu debat mengenai agama.
Memilih dan mencampurkan keyakinan agama bukanlah hal yang baru. namun itu lebih mudah dibandingkan yang pernah
terjadi dalam membentuk keyakinan individu. "Internet dan media sosial membantu orang untuk melakukannya dengan cara
yang lebih konkrit," kata Campbell. "Kita harus mengakses lebih banyak informasi, lebih banyak sudut pandang, dan kami
dapat menciptakan sebuah ritme spiritual dan pola yang lebih personal."
Dan itu termasuk membawa figur sakral menjadi meme. Story Time Jesus - merupakan ikonografi relijius yang klasik
dengan dibubuhi teks tebal yang menggambarkan ayat-ayat relijius dalam bahasa sehari-hari - menjadi meme yang viral
pada 2012 dan masih populer. Yang lainnya termasuk Kelinci Kristus dan Yesus Republikan.
Banyak dari meme ini mungkin berawal dari sebuah lelucon namun kemudian dipakai untuk menyebarkan gagasan
relijius juga. "Orang memakai meme sebagai cara untuk memprovokasi perdebatan mengenai agama dan keyakinan
yang teguh," kata Campbell.
"Anda tidak dapat membuat meme sebagai kebenaran teologis secara mendalam namun Anda dapat meringkas esensi untuk
menarik perhatian orang, memakai mereka sebagai sentilan." Ini berlaku untuk cuitan juga. Ada gereja-gereja di
seluruh dunia yang mendorong jemaat mereka untuk menulis cuitan khotbah secara langsung.
Bagaimanapun, ini merupakan sumber friksi. Beberapa tahun lalu sebuah katedral di Inggris mulai melakukan cuitan
langsung untuk misa. "saat itu muncul pertanyaan mengeni apakah pantas itu dilakukan," kata Beadle. "Saya pikir para
juri masih mengkritisi soal itu. Mungkin harus ditentukan garisnya bahwa jika Anda menulis cuitan berarti Anda tidak
terlibat sepenuhnya seperti saat Anda tidak mengggunakan Twitter."
Para juri masih mengkritisi tentang cuitan langsung
Di atas semua itu, ada kekhawatiran bahwa serangkaian cuitan yang pendek bukanlah cara yang tepat untuk mewakili
konsep yang kompleks dan tak kentara . "saat Anda berbicara dalam 140 karakter atau video tujuh detik, Anda harus
menyingkatnya," kata Campbell.
"Kecenderungan yaitu stereotipe atau menyederhanakan pesan. Ini bukan hanya tentang memakai alat namun
memperlakukan alat dengan hormat yang sepantasnya."
Oleh sebab itu, mungkin mengapa Katedral Durham begitu berhati-hati tentang Phillips dan gawainya pada tahun 2008.
Meski begitu, agama secara umum - bukan hanya Kristen - menjadi tidak melulu tentang pendeta yang berada di mimbar,
kata dia.
"Digital merupakan segala hal tentang komunikasi dua arah. Orang-orang datang dengan harapan tertentu dari bentuk
warga nya dan kebebasan mereka akan memiliki, dan lembaga-lembaga keagamaan harus beradaptasi dengan hal itu
atau menjadi pengecualian."
Agama sebagai iman yang diorganisir memiliki memampuan adaptasi yang baik - Kristen terus menerus menciptakan
kembali dirinya sendiri selama hampir 2.000 tahun. Gawai pintar dan media sosial hanya perkembangan terbaru untuk
memaksa terjadinya perubahan.

