delusi tuhan 2
nda tidak
percaya pada pencipta rakyat bangsa ini, untuk kembali ke tempat Anda berasal.’
Saya telah berbuat sebisa saya untuk menjadi berkat bagi Israel, kemudian Anda
datang dan dengan satu pernyataan dari lidah Anda yang menista, lebih banyak
melemahkan tujuan bangsa Anda daripada seantero usaha orang-orang junjungan kristen
yang mengasihi Israel dapat lakukan untuk menyingkirkan anti-Semitisme di
negeri kita. Profesor Einstein, setiap orang junjungan kristen di Amerika akan langsung
membalas Anda, ‘Ambillah teori evolusi Anda yang gila dan keliru dan
kembalilah ke Jerman tempat Anda berasal, atau hentikan usaha Anda untuk
menghancurkan iman bangsa yang menerima Anda saat Anda terpaksa kabur
dari tanah air Anda.’
Satu-satunya poin yang benar dalam semua kritikus teistik ini yaitu bahwa Einstein
bukan salah satu dari mereka. Dia berkali-kali kesal terhadap perkiraan bahwa dia yaitu seorang
teis. Jadi, apakah dia seorang deis, seperti Voltaire dan Diderot? Atau seorang panteis, seperti
Spinoza, yang filsafatnya dikagumi oleh Einstein: ‘Saya percaya akan pencipta nya Spinoza yang
menyingkapkan dirinya dalam harmoni tertata dari apa yang ada, bukan pencipta yang
menyibukkan dirinya dengan nasib dan tindakan manusia’?
Mari kita ulas kembali terminologinya. Seorang teis percaya akan suatu kecerdasan
supernatural yang, terlepas dari pekerjaan utamanya, yakni, menciptakan alam semesta, masih
ada untuk mengawasi dan memengaruhi nasib berikutnya dari ciptaannya yang semula. Dalam
banyak sistem kepercayaan teistik, pencipta nya terlibat secara intim dengan urusan manusia. Dia
membalas doa; mengampuni atau menghukum dosa; ikut campur di dunia melalui keajaiban;
khawatir tentang tindakan baik dan buruk, dan tahu kapan kita melakukannya (atau bahkan
berpikir untuk melakukannya). Seorang deis juga percaya akan suatu kecerdasan supernatural,
tetapi yang kegiatannya terbatas pada penetapan hukum-hukum yang mengatur alam semesta.
pencipta deis tidak pernah ikut campur setelah itu, dan tentu saja tidak berkepentingan dalam
urusan manusia. Para panteis tidak percaya akan suatu pencipta supernatural sama sekali, tetapi
menggunakan istilah pencipta sebagai sinonim non-supernatural untuk Alam, atau untuk Alam
semesta, atau untuk keteraturan yang menata fungsinya. Para deis berbeda dengan para teis
karena pencipta mereka tidak membalas doa, tidak peduli tentang dosa atau pengakuan, tidak
membaca pemikiran kita dan tidak ikut campur dengan keajaiban yang plinplan. Para deis
berbeda dengan para panteis karena pencipta deis yaitu semacam kecerdasan kosmik, dan bukan
sinonim puitis atau metaforis panteis untuk hukum-hukum alam semesta. Panteisme yaitu
ateisme pakai baju seksi. Deisme yaitu teisme encer.
Semua bukti yang ada mendukung pemikiran bahwa kutipan-kutipan terkenal Einstein
seperti ‘pencipta subtil tetapi dia tidak jahat’ atau ‘Dia tidak bermain dadu’ atau ‘Apakah pencipta
memiliki pilihan saat menciptakan Alam Semesta?’ bersifat panteistis, tidak deistis, dan tentu
saja tidak teistis. ‘pencipta tidak bermain dadu’ seharusnya diterjemahkan menjadi ‘keacakan tidak
berada pada inti segala hal.’ ‘Apakah pencipta memiliki pilihan saat menciptakan Alam Semesta?’
berarti ‘Mungkinkah alam semesta bermula dengan cara lain?’ Einstein menggunakan ‘pencipta ’
dalam arti yang murni metaforis dan puitis. Sama halnya dengan Stephen Hawking, dan
kebanyakan fisikawan yang terkadang menggunakan bahasa metafora religius. The Mind of God
oleh Paul Davies sepertinya melayang di antara panteisme Einsteinian dengan suatu bentuk
deisme yang tidak jelas – untuk itu ia diberikan Penghargaan Templeton (sejumlah besar uang
yang diberikan setiap tahun oleh Yayasan Templeton, biasanya kepada ilmuwan yang siap
mengatakan sesuatu yang baik mengenai kepercayaan ).
Saya rangkum kepercayaan Einsteinian dengan satu lagi kutipan lagi dari Einstein sendiri:
‘Merasa bahwa di balik apa pun yang dapat dialami ada suatu yang pikiran kita tidak dapat
pahami dan yang keindahannya dan keagungannya hanya sampai pada kita secara tidak langsung
dan sebagai bayangan yang tidak memadai, inilah perasaan religius. Dalam arti ini saya religius.’
Dalam arti ini saya juga religius, dengan pengecualian ‘tidak dapat pahami’ tidak harus berarti
‘selamanya tidak dapat dipahami’. Tetapi saya lebih memilih untuk tidak menyebut diri saya
religius karena label itu menyesatkan. Label itu menyesatkan secara destruktif karena, bagi
mayoritas besar orang, ‘kepercayaan ’ menyiratkan ‘supernatural’. Carl Sagan merumuskannya dengan
baik: ‘...jika dengan “pencipta ” maksud kita yaitu kumpulan hukum fisik yang mengatur alam
semesta, jelas ada pencipta seperti itu. pencipta ini kurang memuaskan secara emosional ... tidak
begitu masuk akal berdoa kepada hukum gravitasi.’
Lucunya, poin terakhir Sagan diawali oleh Pastor Dr Fulton J. Sheen, seorang profesor di
Universitas Katolik Amerika, sebagai bagian dari serangan ganas terhadap penyangkalan
Einstein pada 1940 atas suatu pencipta pribadi. Sheen dengan sarkastik bertanya apakah ada orang
yang akan sudi mati demi Bima Sakti. Sepertinya Sheen mengira dia membuat poin yang
melawan Einstein, bukan yang mendukungnya, karena dia menambahkan: ‘Hanya ada satu
kesalahan dengan kepercayaan kosmikalnya: dia menaruh huruf tambahan di katanya – huruf “s”.’
Tidak ada yang komikal dengan kepercayaan Einstein. Namun, saya berharap bahwa para
fisikawan berhenti menggunakan istilah pencipta dalam arti metaforis khusus mereka. pencipta para
fisikawan yang metaforis atau panteistik melampaui, pada skala tahun cahaya, pencipta Alkitab
yang suka ikut campur, membuat keajaiban, membaca pemikiran, menghukum dosa, dan
membalas doa, yakni, pencipta para pastor, imam dan rabi, dan juga pencipta dalam bahasa sehari-
hari. Sengaja merancukan pembedaan itu di antara kedua arti pencipta tersebut, menurut saya,
yaitu tindakan pengkhianatan intelektual.
HORMAT YANG TIDAK LAYAK
Judul saya, Delusi akan pencipta , tidak merujuk pada pencipta nya Einstein dan para ilmuwan
tercerahkan yang lain di seksi sebelumnya. Itulah alasannya saya perlu menyingkirkan kepercayaan
Einsteinian terlebih dahulu: hal itu sudah terbukti membuat orang bingung. Mulai di sini saya
hanya membahas pencipta -pencipta supernatural, dan contoh yang akan paling akrab bagi kebanyakan
pembaca saya yaitu Yahweh, pencipta Perjanjian Lama. Saya akan segera membahas dia. Tetapi
sebelum meninggalkan bab awal ini saya harus mengurus satu persoalan lagi yang, jika tidak
diurus sekarang, akan menghantui seluruh bukunya. Kali ini, persoalan etiket. Bisa jadi pembaca
religius akan tersinggung oleh kata-kata saya, dan akan menemukan pada isi buku ini sikap
kurang hormat terhadap kepercayaan partikular mereka (dan mungkin saja kepercayaan yang
dijunjung tinggi orang lain). Akan sangat disayangkan jika rasa tersinggung itu membuat mereka
enggan lanjut membaca., jadi saya ingin menyelesaikannya di sini, di bagian awal.
Ada asumsi yang tersebar luas dan diterima semua orang di masyarakat kita – termasuk
yang tidak religius – bahwa iman religius rentan secara khusus terhadap hinaan dan harus
dilindungi oleh tembok kehormatan yang luar biasa tebal, kelas kehormatan yang berbeda dari
yang layak diberikan oleh manusia siapa pun kepada sesamanya. Douglas Adams
merumuskannya dengan sangat baik, dalam sebuah pidato tanpa persiapan di Cambridge
beberapa waktu sebelum wafatnya,5 dan saya tidak pernah bosan membagikan kata-katanya:
kepercayaan ... pada intinya memiliki ide-ide tertentu yang kita sebut sakral atau suci
atau semacam itu. Artinya, ‘Ini yaitu ide atau gagasan yang Anda tidak boleh
berkata buruk tentangnya; pokoknya tidak boleh. Kenapa? – karena tidak
boleh!’ Jika seseorang memilih partai politik yang tidak Anda setujui, Anda
bebas berargumen tentangnya sesuka hati; setiap orang akan berdebat tetapi
tidak ada yang merasa tersinggung karenanya. Jika seseorang berpikir bahwa
pajak harus naik atau turun Anda bebas berargumen tentangnya. Tetapi
sebaliknya jika seseorang berkata, ‘Saya tidak boleh menggeserkan tombol
lampu pada hari Sabtu’, Anda berkata, ‘Saya menghormati itu’.
Mengapa harus begitu, bahwa boleh saja mendukung partai Buruh atau
Konservatif, Republikan atau Demokrat, model ekonomi ini atau itu, Macintosh
daripada Windows – tetapi berpendapat mengenai bagaimana Alam Semesta
bermula, mengenai siapa yang menciptakan Alam Semesta ... jangan, itu suci?
... Kita tidak terbiasa membantah ide-ide religius tetapi sangat menarik betapa
besar kerusuhan yang Richard buat ketika dia melakukannya! Semua orang
belingsatan karena tidak boleh berkata demikian. Namun, ketika kita melihatnya
secara rasional, tidak ada alasan kenapa ide-ide itu tidak boleh diperdebatkan,
sama seperti ide-ide lain, kecuali kita telah membuat semacam kesepakatan
bahwa seharusnya tidak demikian.
Berikut contoh partikular atas penghormatan berlebihan masyarakat kita terhadap kepercayaan ,
dan contoh ini penting sekali. Alasan yang jauh paling mudah untuk mendapat status
conscientious objector – yakni, penolak wajib militer untuk alasan hati nurani – yaitu alasan
religius. Anda bisa menjadi filsuf moral cemerlang dengan tesis doktoral unggul mengenai
kejahatan perang, dan Anda masih akan dipersulit oleh panitia mengenai klaim Anda untuk
menjadi conscientious objector. Namun, jika Anda bisa berkata bahwa satu atau kedua orang tua
Anda yaitu Quaker Anda akan lolos dengan mudah, kalaupun Anda tidak pernah membaca apa
pun mengenai pasifisme dan tidak mampu mengatakan apa-apa tentangnya, atau tentang
Quakerisme sendiri.
Di ujung lain spektrum dari pasifisme, ada keengganan kecut untuk menggunakan nama-
nama religius untuk kubu-kubu yang sedang berperang. Di Irlandia Utara, kubu Katolik dan
kubu Protestan disebut dengan eufemisme ‘kaum Nasionalis’ dan ‘kaum Loyalis’. Kata ‘kepercayaan ’
sendiri disensor menjadi ‘komunitas’, seperti dalam frasa ‘peperangan antar-komunitas’. Irak,
akibat invasi Inggris-Amerika pada 2003, merosot ke dalam perang saudara sektarian di antara
Muslim Sunni dengan Muslim Syi’ah. Jelas suatu konflik religius – namun di koran Independent
tanggal 20 Mei 2006, baik judul berita halaman pertama maupun liputan utama
mendeskripsikannya sebagai ‘pembersihan etnis’. ‘Etnis’ dalam konteks ini merupakan
eufemisme yang lain lagi. Apa yang kita saksikan di Irak yaitu pembersihan religius. Dapat
dikatakan bahwa penggunaan asli istilah ‘pembersihan etnis’ di bekas Yugoslavia juga
merupakan eufemisme untuk pembersihan religius yang melibatkan orang Serb Ortodoks, orang
Kroat Katolik, dan orang Bosnia Muslim.6
Saya pernah menarik perhatian kepada diutamakannya kepercayaan di diskusi publik mengenai
etika di media dan di pemerintahan.7 Kapan pun suatu kontroversi muncul mengenai moral
seksual atau reproduktif, hampir pasti para pemuka dari beberapa kepercayaan akan diwakili secara
prominen di panitia-panitia yang berpengaruh, atau di panitia diskusi di radio atau televisi. Saya
tidak bermaksud bahwa kita harus dengan sengaja menyensor pandangan orang-orang itu. Tetapi
kenapa masyarakat kita harus mencari mereka di rumahnya, seolah-olah mereka memiliki
keahlian yang setingkat dengan, misalnya, seorang filsuf moral, seorang pengacara keluarga atau
seorang dokter?
Berikut satu lagi contoh aneh atas diutamakannya kepercayaan . Pada 21 Februari 2006,
Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan, sesuai dengan Konstitusi, bahwa sebuah gereja
di New Mexico seharusnya bebas dari undang-undang, yang harus semua orang lain, yang
melarang penggunaan narkoba halusinogen.8 Anggota taat Centro Espirita Beneficeiente Uniao
do Vegetal percaya bahwa mereka dapat memahami pencipta hanya dengan minum teh hoasca,
yang mengandung narkoba halusinogen terlarang dimetiltriptamin. Perhatikan bahwa mereka
cukup percaya bahwa narkoba itu meningkatkan pemahamannya. Mereka tidak perlu
mengajukan bukti. Sebaliknya, ada banyak bukti bahwa cannabis meringankan rasa mual dan
tidak enak bagi penderita kanker yang sedang menjalankan kemoterapi. Namun, sekali lagi
sesuai dengan Konstitusi, Mahkamah Agung memutuskan pada 2005 bahwa semua pasien yang
menggunakan cannabis untuk alasan medis rentan dituntut hukum (bahkan di minoritas negara
bagian yang melegalkan penggunaan khusus itu). kepercayaan , seperti selalu, yaitu kartu truf.
Bayangkan anggota-anggota suatu komunitas penikmat seni bermohon di pengadilan bahwa
mereka ‘percaya’ butuh suatu narkoba halusinogen untuk meningkatkan pemahaman mereka atas
lukisan Impresionis atau Surealis. Namun, ketika sebuah gereja mengklaim kebupencipta yang
setara, gereja itu didukung oleh mahkamah tertinggi di negaranya. Begitulah kekuatan kepercayaan
sebagai azimat.
Delapan belas tahun yang lalu, saya yaitu satu dari 36 penulis dan seniman yang
diundang oleh majalah New Statesman untuk menulis sebagai tanda dukungan untuk penulis
terkemuka Salman Rushdie,9 yang saat itu divonis mati karena menulis sebuah novel. Terusik
oleh ‘simpati’ untuk ‘rasa sakit’ dan ‘rasa tersinggung’ Muslim yang diucapkan oleh para
pemuka kepercayaan junjungan kristen dan bahkan beberapa sekuler, saya membuat perbandingan berikut:
Jika para pendukung apartheid cukup pintar mereka akan mengklaim – mungkin
saja dengan benar – bahwa membolehkan percampuran ras itu dilarang oleh
kepercayaan nya. Sebagian besar oposisinya akan mundur teratur dengan hormat. Dan
tidak ada gunanya mengklaim bahwa ini yaitu perbandingan yang tidak adil
karena apartheid tidak dapat dibenarkan secara rasional. Alasan iman religius
ada, kekuatannya dan keluhuran utamanya, yaitu bahwa iman itu tidak
bergantung pada pembenaran rasional. Kita-kita yang lain disuruh
mempertahankan prasangka. Tetapi meminta seorang religius untuk
membenarkan imannya dan Anda melanggar ‘kebebasan berkepercayaan ’.
Saya tidak menyangka bahwa hal serupa akan terjadi di abad ke-21. Los Angeles Times
(10 April 2006) melaporkan bahwa berbagai kelompok Kristiani di kampus-kampus di Amerika
Serikat menggugat universitas-universitasnya karena melaksanakan peraturan anti-diskriminasi,
termasuk pelarangan mengganggu atau melecehkan orang homoseksual. Sebagai contoh tipikal,
pada 2004, James Nixon, seorang anak lelaki berumur 12 di Ohio, memenangkan hak di
pengadilan untuk memakai kaus dengan tulisan, ‘Homoseksualitas yaitu dosa, Islam yaitu
kebohongan, aborsi yaitu pembunuhan. Beberapa persoalan memang hitam-putih!’10 Pihak
sekolah melarang anak itu memakai kausnya – dan orang tuanya menggugat sekolah. Orang tua
itu mungkin memiliki kasus yang berwibawa jika mereka mendasarinya pada jaminan
Amendemen Pertama untuk kebebasan berbicara. Tetapi tidak demikian. Para pengacara
keluarga Nixon malah mengandalkan hak konstitusi untuk kebebasan berkepercayaan . Kemenangan
mereka di pengadilan didukung oleh Alliance Defense Fund dari Arizona, yang misinya yaitu
‘melanjutkan pertempuran untuk kebebasan berkepercayaan di pengadilan’.
Pendeta Rick Scarborough, yang mendukung gelombang gugatan Kristiani serupa yang
dijalankan agar menetapkan kepercayaan sebagai pembenaran legal untuk diskriminasi terhadap
homoseksual dan kelompok-kelompok lain, telah menamakannya perjuangan hak sipil abad ke-
21: ‘Orang-orang junjungan kristen akan harus berjuang demi haknya untuk menjadi junjungan kristen .’11 Sekali
lagi, jika orang-orang seperti itu berjuang berdasarkan hak untuk kebebasan berbicara, kita
mungkin dapat bersimpati, meskipun tidak dengan semangat. Tetapi bukan itu yang dipersoalkan
di sini. ‘Hak untuk menjadi junjungan kristen ’ di sini sepertinya berarti ‘hak untuk mengurus kehidupan
privat orang lain’. Kasus legal untuk diskriminasi terhadap orang homoseksual diangkat sebagai
tuntutan balik terhadap apa yang dianggap diskriminasi religius! Dan sepertinya hukum
menghargai hal itu. Seseorang tidak boleh mengatakan, ‘Jika Anda mencoba untuk
menghentikan saya menghina orang homoseksual, hal itu melanggar kebebasan saya untuk
berprasangka.’ Tetapi seseorang boleh saja mengatakan, ‘Hal itu melanggar kebebasan saya
untuk berkepercayaan .’ Lalu, kalau dipikir-pikir, apa bedanya? Sekali lagi, kepercayaan menang atas semua.
Saya akan menutup bab ini dengan satu studi kasus, yang dengan tepat menerangkan
penghormatan masyarakat yang berlebihan terhadap kepercayaan , jauh di atas penghormatan manusia
biasa. Kasus ini muncul di Februari 2006 – sebuah episode konyol yang mondar-mandir tak
terkendali di antara kutub komedi dengan tragedi. Pada September sebelumnya, koran Denmark
Jyllands-Posten menerbitkan 12 kartun yang menggambarkan nabi Muhammad. Selama tiga
bulan berikutnya, rasa dongkol dipelihara secara cermat dan sistematis di seluruh dunia Islam
oleh sekelompok kecil Muslim yang tinggal di Denmark, dipimpin oleh dua orang imam yang
telah diberi suaka di sana.12 Pada 2005 akhir orang-orang eksil jahat ini pergi dari Denmark ke
Mesir membawa berkas, yang disalin dan disebarkan dari sana ke seluruh dunia Islam, termasuk,
secara penting, Indonesia. Berkas itu mengandung dusta mengenai perlakuan buruk terhadap
orang Muslim di Denmark, dan kebohongan tendensius bahwa Jyllands-Posten yaitu koran
pemerintahan. Berkas itu juga memuat dua belas kartun tersebut dan, perlu digarisbawahi, para
imam telah menambahkan tiga gambar lagi yang asal-usulnya misterius tetapi sudah pasti tidak
ada kaitan dengan Denmark. Berbeda dengan duabelas kartun yang asli, tiga tambahan ini
benar-benar menista – atau akan seperti itu, seandainya menggambarkan Muhammad,
sebagaimana diklaim oleh para tukang propaganda fanatik itu. Salah satu dari tiga gambar itu,
yang sangat merusak bukan kartun sama sekali melainkan foto (yang difaks) seorang berjenggot
memakai moncong babi palsu yang dipasang dengan karet. Belakangan diketahui bahwa foto
tersebut yaitu foto Associated Press atas seorang Prancis yang mengikuti lomba bersuara
seperti babi di sebuah pesta rakyat di Prancis.13 Foto itu tidak berkaitan sama sekali dengan nabi
Muhammad, tidak berkaitan dengan Islam, dan tidak berkaitan dengan Denmark. Tetapi para
aktivis Muslim, di perjalanan jail mereka ke Kairo, menyiratkan ketiga kaitan itu...dengan hasil
yang tidak sulit diprediksi.
‘Rasa sakit’ dan ‘rasa tersinggung’ yang dipelihara dengan cermat memuncak lima bulan
setelah dua belas kartun itu pertama kali diterbitkan. Pengunjuk rasa di Pakistan dan Indonesia
membakar bendera Denmark (dari mana mereka mendapatnya?) dan tuntutan histeris diajukan
yang permintaan maaf dari pemerintahan Denmark. (Minta maaf untuk apa? Pemerintah tidak
membuat kartun itu, atau menerbitkannya. Orang Denmark hanya tinggal di negara dengan pers
bebas, sesuatu yang mungkin akan sulit dipahami oleh banyak orang di banyak negara Muslim.)
Koran di Norwegia, Jerman, Prancis dan bahkan Amerika Serikat (tetapi, secara mencolok,
bukan Inggris) mencetak ulang kartunnya sebagai gestur solidaritas dengan Jyllands-Posten, dan
itu hanya menambah bahan bakar kerusuhan. Kedutaan dan konsulat diserang, produk Denmark
diboikot, warga Denmark serta orang Barat pada umumnya diancam secara fisik; gereja junjungan kristen
di Pakistan, tanpa kaitan sama sekali dengan Denmark atau Eropa, terbakar. Sembilan orang
meninggal ketika perusuh Libya menyerang dan membakar konsulat Italia di Benghazi.
Sebagaimana ditulis oleh Germaine Greere, apa yang orang-orang ini sungguh cintai dan paling
pintar lakukan yaitu huru-hara.14
Harga 1 juta dolar ditaruh di atas kepala ‘si komikus Denmark’ oleh seorang imam
Pakistan – yang sepertinya tidak sadar bahwa ada 12 komikus Denmark yang berbeda, dan
hampir pasti tidak sadar bahwa ketiga gambar yang paling menghina tidak pernah muncul di
Denmark sama sekali (dan kita juga boleh bertanya, dari mana kira-kira satu juta dolar itu
berasal?). Di Nigeria, para pengunjuk rasa Muslim yang memprotes kartun-kartun Denmark
membakar beberapa gereja junjungan kristen , dan menggunakan parang untuk menyerang dan membunuh
orang-orang junjungan kristen (orang Nigeria hitam juga) di jalanan. Seorang junjungan kristen ditaruh dalam ban
karet, disirami dengan bensin lalu dibakar. Beberapa pengunjuk rasa difoto di Britania membawa
spanduk dengan tulisan ‘Bunuh mereka yang menghina Islam’, ‘Bantai mereka yang mengejek
Islam’, ‘Eropa kau akan menderita: Kehancuran sebentar lagi’ dan ‘Penggal kepala mereka yang
menghina Islam’. Untungnya, pemimpin politik kita siap mengingatkan kita bahwa Islam yaitu
kepercayaan damai dan berbelas kasih.
Setelah semua ini, wartawan Andrew Mueller mewawancarai Muslim ‘moderat’
terkemuka di Britania, Sir Iqbal Sacranie.15 Mungkin dia moderat menurut tolok ukur Islami
masa kini, tetapi dalam tulisan Andrew Mueller dia masih mempertahankan pernyataan dari saat
Salman Rushdie divonis hukuman mati karena menulis sebuah novel: ‘Barangkali kematian itu
terlalu mudah baginya’ – pernyataan itu membedakannya sebagai sosok yang lebih buruk
daripada pendahulunya yang berani sebagai Muslim paling berpengaruh di Britania, almarhum
Dr Zaki Badawi, yang menawarkan Salman Rushdie suaka di rumahnya sendiri. Sacranie
menyampaikan ke Mueller betapa dia khawatir mengenai kartun-kartun Denmark itu. Mueller
juga khawatir, tetapi untuk alasan yang lain: ‘Saya khawatir bahwa reaksi konyol dan tidak
seimbang terhadap beberapa gambar tidak lucu dalam sebuah koran Skandinavia yang kurang
dikenal mungkin akan mengonfirmasi bahwa ... Islam dan Barat secara mendasar tidak dapat
disesuaikan.’ Sacranie, sebaliknya, memuji koran-koran Britania karena tidak mencetak ulang
kartunnya, dan Mueller membalasnya dengan mengucapkan kecurigaan mayoritas bangsa itu
bahwa ‘penahanan-diri koran-koran Britania bukan karena kepekaan terhadap perasaan Muslim
melainkan karena keinginan agar jendelanya tidak dipecahkan’.
Sacranie menjelaskan bahwa ‘Pribadinya sang Nabi, SAW, dipuji secara begitu
mendalam di dunia Muslim, dengan kasih dan sayang yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-
kata. Hal itu melampaui orang tua, keluarga, anak. Itu bagian dari iman. Ada juga ajaran Islami
bahwa tidak boleh menggambarkan sang Nabi.’ Penjelasan itu agak mengasumsikan,
sebagaimana Mueller amati,
bahwa nilai-nilai Islam lebih penting daripada nilai-nilai siapa pun yang lain –
dan itulah yang diasumsikan oleh penganut Islam siapa pun, sama seperti
penganut kepercayaan apa pun percaya bahwa kepercayaan nya yaitu satu-satunya jalan,
kebenaran, dan terang. Jika ada orang yang ingin mengasihi seorang
pengkhotbah dari abad ke-7 lebih daripada keluarganya sendiri, itu terserah
mereka, tetapi tidak ada orang lain yang diwajibkan untuk menganggap serius
hal itu...
Kecuali, jika seseorang tidak menganggap hal itu serius dan memperlakukannya dengan
cukup hormat, orang itu terancam secara fisik, pada skala yang tidak dicita-citakan oleh kepercayaan
yang lain sejak Abad Pertengahan. Sulit untuk tidak bertanya kenapa kekerasan seperti itu
diperlukan, jika, sebagaimana ditulis oleh Mueller: ‘Jika kalian para badut ternyata benar tentang
apa pun, para komikus itu akan masuk neraka juga – bukankah itu cukup? Sambil menunggu,
jika kalian ingin panas soal penghinaan terhadap orang Muslim, baca saja laporan Amnesty
International mengenai Suriah dan Arab Saudi.’
Banyak orang telah menunjukkan kekontrasan di antara ‘rasa sakit’ histeris yang diklaim
oleh para Muslim dengan kesigapan media Arab untuk menerbitkan kartun-kartun stereotip anti-
Yahudi. Di suatu unjuk rasa atas kartun Denmark itu di Pakistan, seorang perempuan yang
memakai burka hitam difoto membawa spanduk dengan tulisan ‘pencipta Memberkati Hitler’.
Dalam menanggapi semua huru-hara gila ini, koran-koran liberal yang sok baik
menyayangkan kekerasannya dan berbunyi secara tidak menentu mengenai kebebasan berbicara.
Tetapi pada titik yang sama mereka mengucapkan ‘hormat’ dan ‘simpati’ terhadap ‘rasa
tersinggung’ dan ‘rasa sakit’ mendalam yang ‘diderita’ oleh orang Muslim. Ingat, ‘rasa sakit’
dan ‘penderitaan’ itu bukan kekerasan atau rasa sakit nyata yang dialami oleh siapa pun: tidak
lebih dari beberapa olesan tinta cetak dalam sebuah koran yang tak seorang pun di luar Denmark
akan ketahui kecuali ada kampanye sengaja untuk menghasut kerusuhan.
Saya tidak mendukung tersinggungnya atau disakitinya siapa pun tanpa alasan yang
memadai. Tetapi saya tertarik sekaligus kebingungan oleh diutamakannya kepercayaan secara tidak
seimbang dalam masyarakat kita yang, terlepas dari itu, bersifat sekuler. Semua politikus harus
terbiasa dengan kartun mukanya yang menghina, dan tidak ada yang membuat kerusuhan untuk
membelanya. Apa yang begitu istimewa mengenai kepercayaan , sehingga kita memberinya
penghormatan yang diutamakan secara unik? Sebagaimana dikatakan oleh H.L. Mencken: ‘Kita
harus menghormati kepercayaan orang lain, tetapi hanya dalam arti dan sejauh kita menghormati
teorinya bahwa istrinya cantik dan anaknya pintar.’
Dalam konteks anggapan penghormatan yang tidak seimbang ini untuk kepercayaan *, saya
membuat disclaimer buku ini. Saya tidak akan membuat orang tersinggung hanya untuk alasan
itu, tetapi saya juga tidak akan terlalu hati-hati dan membahas kepercayaan dengan lebih lembut
ketimbang cara saya bahas apa pun yang lain.
* Salah satu contoh ‘hormat’ semacam itu diberitakan dalam New York Times sementara edisi ini sedang
dipersiapkan untuk penerbitan. Pada Januari 2007, seorang perempuan Muslim Jerman mengajukan permohonan
percepatan perceraian atas dasar suaminya, dari awal pernikahannya, berulang-ulang dan secara keras memukulinya.
Hakim Christa Datz-Winter tidak menyangkal fakta-fakta kasus itu, tetapi dia menolak permohonannya, dengan
mengutip Alquran. ‘Dalam suatu keputusan luar biasa yang menggarisbawahi ketegangan di antara adat Muslim
dengan undang-undang Eropa, hakim itu, Christa Datz-Winter, berkata bahwa pasangan itu berasal dari konteks
kultural Maroko, di mana katanya suami memukuli istri yaitu hal yang lazim. Alquran, tulisnya, membolehkan
penganiayaan fisik semacam itu’ (New York Times, 23 Maret 2007). Cerita yang sulit dipercaya ini muncul pada
Maret 2007, ketika pengacara wanita malang itu membeberkannya. Pengadilan Frankfurt itu dengan baik cepat
menarik Hakim Datz-Winter dari kasus itu. Namun, artikel New York Times itu menutup dengan mengutip anggapan
bahwa peristiwa itu akan sangat merugikan perempuan Muslim lain yang menjadi korban kekerasan dalam rumah
tangga: ‘Banyak sudah takut melawan suaminya di pengadilan. Sudah ada beberapa ‘pembunuhan-kehormatan’ di
sini, ketika lelaki Muslim Turki membunuh perempuan.’ Motivasi Hakim Datz-Winter dianggap sebagai ‘kepekaan
kultural’, tetapi ada nama lain untuknya: hinaan yang meremehkan. ‘Tentu saja kita orang Eropa tidak mungkin
akan berperilaku seperti itu, tetapi memukul istri yaitu bagian dari “budaya mereka”, diperbolehkan oleh “kepercayaan
mereka”, dan kita harus “menghormati”nya.’
BAB 2
HIPOTESIS pencipta
kepercayaan nya satu zaman yaitu
hiburan literernya zaman berikutnya.
–RALPH WALDO EMERSON
pencipta dalam Perjanjian Lama mungkin saja merupakan tokoh paling tidak
menyenangkan dalam segala fiksi: cemburu dan bangga karenanya; sesosok gila kontrol yang
picik, tidak adil, dan tidak mengenal ampun; pembersih etnis yang mendendam dan haus darah;
perundung yang misoginistik, homofobik, rasis, infantisidal, genosidal, filisidal, penuh wabah,
mekalomaniak, sadomasokistik, dan jahat secara plinplan. Kita yang diajarkan tentang cara-
caranya sejak kecil dapat menjadi kurang peka terhadap kengeriannya. Seorang naif yang
diberkati dengan perspektif yang lugu dapat melihatnya dengan lebih jernih. Anak Winston
Churchill, Randolph, entah bagaimana ternyata tidak tahu-menahu tentang Alkitab sebelum
Evelyn Waugh dan seorang perwira lain, dalam usaha sia-sia untuk membuatnya diam saat
mereka ditugaskan bersama selama perang, bertaruh bahwa Randolph tidak mampu membaca
seluruh Alkitab dalam waktu dua minggu: ‘Sayangnya, hasilnya tidak seperti yang kami
harapkan. Dia belum pernah membacanya dan sangat bersemangat; dia terus membacakan
kutipan-kutipan “Kau pasti tidak tahu ada ini dalam Alkitab...” atau hanya menepuk sebelahnya
& tertawa “Ya Allah, pencipta itu berengsek!”16 Thomas Jefferson – lebih terpelajar – sependapat,
dan mendeskripsikan pencipta nya Musa sebagai ‘entitas yang mengerikan – kejam, mendendam,
plinplan dan tidak adil’.
Tidak adil juga menyerang sasaran yang begitu empuk. Hipotesis pencipta seharusnya tidak
bertahan atau jatuh dengan penjelmaannya yang paling tidak indah, Yahweh, atau pun wajah
terbalik Kristianinya yang kemanisan, ‘junjungan kristen yang lemah lembut’. (Tetapi agar adil, watak tidak
berani tersebut lebih berasal dari penganut-penganut junjungan kristen di era Victoria daripada junjungan kristen
sendiri. Apakah ada yang lebih memualkan dan cengeng daripada tulisan Ibu C.F. Alexander,
‘Anak-anak junjungan kristen semua harus / lembut, patuh, baik seperti dia’?) Saya tidak menyerang sifat-
sifat tertentu Yahweh, atau junjungan kristen , atau Allah, atau pencipta tertentu yang lain seperti Ba’al, Zeus,
atau Wotan. Saya malah mendefinisikan Hipotesis pencipta secara yang lebih dapat dipertahankan:
ada sesosok kecerdasan supernatural yang melampaui manusia yang merancang dan
menciptakan alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya, termasuk kita. Buku ini akan
mengemukakan suatu pandangan alternatif: kecerdasan kreatif apa pun, yang cukup rumit untuk
merancang apa pun, terjadi hanya sebagai produk akhir dari suatu proses evolusi bertahap yang
panjang. Kecerdasan-kecerdasan kreatif, karena berevolusi, secara niscaya datang belakangan di
alam semesta, dan karena itu tidak mungkin bertanggung jawab atas rancangannya. pencipta ,
dalam arti yang didefinisikan di atas, yaitu suatu delusi; dan, sebagaimana akan ditunjukkan
dalam bab-bab lebih akhir, suatu delusi yang tidak baik.
Tidak mengherankan bahwa Hipotesis pencipta , karena didirikan pada tradisi-tradisi lokal
wahyu privat dan tidak pada bukti, muncul dalam banyak versi. Sejarawan-sejarawan kepercayaan
mengenali suatu garis kemajuan dari animisme-animisme kesukuan primitif, melalui politeisme-
politeisme seperti yang dianut orang Yunani, Romawi, dan Nordik, hingga monoteisme-
monoteisme seperti Yudaisme dan turunannya, Kristianitas dan Islam.
POLITEISME
Tidak jelas kenapa perubahan dari politeisme menjadi monoteisme harus dianggap
sebagai kemajuan yang nyata pada dirinya sendiri. Tetapi anggapan itu tersebar luas – suatu
asumsi yang membuat Ibn Warraq (penulis Why I Am Not a Muslim) terpancing untuk membuat
tebakan lucu bahwa monoteisme pada gilirannya ditakdirkan untuk menghilangkan pencipta satu
lagi dan menjadi ateisme. Catholic Encyclopedia menolak politeisme dan ateisme dalam satu
ungkapan yang acuh tak acuh: ‘Ateisme dogmatis formal menyangkal dirinya sendiri, dan belum
pernah secara de facto memenangkan persetujuan bernalar dari sejumlah besar manusia apa pun.
Politeisme juga, semudah apa pun kepercayaan itu meraih imajinasi populer, tidak pernah bisa
memuaskan pikiran seorang filsuf.’17
Hingga akhir-akhir ini, sauvinisme monoteistik tertuang dalam undang-undang organisasi
amal baik di Inggris maupun Skotlandia, yang mendiskriminasi kepercayaan -kepercayaan politeistik dalam
pemberian status bebas pajak, sambil memudahkan organisasi-organisasi yang misinya yaitu
mempromosikan kepercayaan monoteistik, yang tidak perlu melewati pemeriksaan ketat yang,
sebagaimana sepatutnya, dituntut dari organisasi-organisasi sekuler. Saya pernah berambisi
membujuk salah satu tokoh masyarakat dari komunitas Hindu di Britania untuk menggugat
diskriminasi sombong ini terhadap politeisme secara hukum.
Jauh lebih baik, tentu saja, yaitu mengingkari segala promosi kepercayaan sebagai alasan
untuk mendapat status organisasi amal. Tindakan tersebut akan memberi manfaat besar bagi
masyarakat, terutama di Amerika Serikat, di mana jumlah uang bebas-pajak yang disedot oleh
gereja-gereja, dan memperkaya televangelis yang sudah cukup kaya, mencapai tingkat yang
dapat sewajarnya dideskripsikan sebagai sinting. Oral Roberts, yang namanya cocok sekali
dengan perbuatannya, pernah mengatakan kepada penontonnya di televisi bahwa pencipta akan
membunuhnya kecuali mereka memberinya 8 juta dolar. Hampir tidak dapat dipercaya, hal itu
berhasil. Bebas pajak! Roberts sendiri masih kuat, sama dengan ‘Universitas Oral Roberts’ di
Tulsa, Oklahoma. Gedung-gedungnya, dinilai pada angka 250 juta dolar, dipesan langsung oleh
pencipta dengan kata-kata ini: ‘Angkatlah murid-muridmu untuk mendengar suaraKu, untuk pergi
ke tempat cahayaKu redup, ke tempat suaraKu terdengar sayup, dan kekuatan penyembuhanKu
tidak dikenali, bahkan sampai batas-batas Bumi yang terjauh. Karya mereka akan melampaui
karyamu, dan hal itu menyenangkan bagiKu.’
Setelah dipikir-pikir, penggugat Hindu khayalan saya mungkin saja akan menalar, ‘Jika
tidak dapat dikalahkan, mendingan bergabung saja’. Politeismenya sebenarnya bukan politeisme
melainkan monoteisme yang menyamar. Hanya ada satu pencipta – Dewa Brahma sang pencipta,
Dewa Wisnu sang Pemelihara, Dewa Siwa sang Pelebur, para dewi Saraswati, Laksmi dan
Parwati (istrinya Brahma, Wisnu dan Siwa), Dewa Ganesa sang gajah, dan ratusan yang lain,
semua yaitu manifestasi atau perwujudan yang berbeda dari satu pencipta .
Seharusnya para junjungan kristen menerima kesofisan seperti itu. Sungai-sungai tinta di abad
pertengahan, dan darah juga, telah dibuang dalam pertikaian mengenai ‘misteri’ Trinitas, dan
dalam menaklukkan penyimpangan seperti heresi Arian. Arius dari Alexandria, pada abad
keempat Masehi, menyangkal bahwa junjungan kristen yaitu konsubstansial (dengan kata lain, dari
substansi atau esensi yang sama) dengan pencipta . Apa gerangan artinya itu, besar kemungkinan
Anda bertanya? Substansi? ‘Substansi’ apa? Apa persis yang Anda maksudkan dengan ‘esensi’?
Sepertinya ‘sangat sedikit’ merupakan satu-satunya jawaban yang masuk akal. Namun,
kontroversi itu membelah dunia Kristiani menjadi dua selama satu abad, dan Kaisar
Konstantinus menyuruh bahwa semua salinan buku Arius harus dibakar. Membelah dunia
Kristiani karena persoalan kecil sekali – begitulah selalu cara teologi.
Apakah ada satu pencipta dalam tiga bagian, atau tiga pencipta dalam satu? Catholic
Encyclopedia menjelaskan persoalan ini, dalam sebuah mahakarya penalaran dekat teologis:
Dalam kesatuan pencipta ada tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Tiga
Pribadi ini sebenarnya berbeda satu dari yang lain. Jadi, menurut kata-kata
Kredo Athanasius: ‘Bapa yaitu pencipta , Putra yaitu pencipta dan Roh Kudus
yaitu pencipta , namun tidak terdapat tiga pencipta , tetapi hanya satu pencipta .’
Seolah-olah itu kurang jelas, Encyclopedia itu mengutip Santo Gregorius Thaumaturgus,
seorang teolog abad ke-3:
Karena itu tidak ada yang tercipta, tidak ada yang tergantung dari yang lain
dalam Trinitas: tidak ada juga yang ditambah seolah-olah pernah tidak ada,
tetapi masuk kemudian: karena itu Bapa tidak pernah ada tanpa Putra, atau
Putra tanpa Roh: dan Trinitas yang sama ini yaitu kekal dan tidak dapat diubah
selamanya.
Keajaiban apa pun yang dengannya Santo Gregorius meraih julukannya, bukan keajaiban
kejernihan yang jujur. Kata-katanya menyampaikan rasa khas obskurantis teologi, yang –
berbeda dengan ilmu pengetahuan atau kebanyakan bidang kesarjanaan manusia yang lain –
tidak mengalami kemajuan selama 18 abad. Thomas Jefferson, seperti biasa, benar ketika
berkata, ‘Cemoohan yaitu satu-satunya senjata yang dapat digunakan untuk melawan proposisi
yang tidak dapat diartikan. Ide-ide harus jelas sebelum akal budi dapat bekerja dengannya, dan
tak seorang pun pernah memiliki ide jelas mengenai trinitas. Itu hanyalah Sim Salabimnya para
penipu yang menyebut dirinya imam junjungan kristen .’
Hal lain yang harus saya komentari yaitu kepercayaan-diri luar biasa besar yang
diandalkan orang religius ketika menyatakan detail-detail kecil, yang untuknya mereka tidak
memiliki atau dapat memiliki bukti apa pun. Barangkali fakta bahwa tidak ada bukti untuk
mendukung pendapat teologis, di pihak mana pun, yang memelihara permusuhan bengis yang
khas terhadap mereka yang pendapatnya sedikit berbeda, khususnya, kebetulan, dalam bidang
Trinitarianisme ini.
Jefferson mencemooh habis-habisan doktrin bahwa, sebagaimana ia tulis, ‘Ada tiga
pencipta ’, dalam kritiknya atas Kalvinisme. Tetapi khususnya aliran Katolik Romawi dalam
Kristianitas yang terus berulang merayu politeisme secara sungguh berlebihan. Trinitas ditemani
oleh Maria, ‘Ratu Surga’, dewi yang tidak disebut dewi, yang pasti menang juara kedua dengan
pencipta sendiri sebagai sasaran doa. Panteon menjadi lebih besar lagi dengan segerombolan santo,
yang kekuatannya untuk syafaat membuat mereka, kalau bukan separuh dewa, tetap layak
didekati mengenai bidang keahliannya masing-masing. Catholic Community Forum membantu
dengan menyediakan daftar 5.120 santo,18 bersama dengan bidang keahliannya, termasuk sakit
perut, korban pelecehan, anoreksia, penjual senjata, pandai besi, patah tulang, teknisi bom, dan
gangguan usus, dan itu hanya sampai huruf B dalam bahasa Inggris. Dan kita tidak boleh
melupakan empat Paduan Suara Tentara Malaikat, dalam sembilan tataran: Serafim, Kerubim,
Singgasana, Pemerintah, Kebajikan, Kekuatan, Kerajaan, Penghulu Malaikat, dan Malaikat biasa
saja, termasuk teman terdekat kita, para Malaikat Pelindung. Hal yang paling mengesankan bagi
saya mengenai mitologi Katolik yaitu kepicikan yang tidak berselera, tetapi lebih dari itu, sikap
enteng yang masa bodoh pada orang-orang ini ketika mereka mengarang saja detail-detailnya.
Semuanya diada-adakan begitu saja, tanpa rasa malu.
Paus Yohanes Paulus II menciptakan lebih banyak santo daripada semua pendahulunya
selama beberapa abad sebelumnya, dan dia memiliki afinitas khusus dengan Perawan Maria.
Hasrat politeistiknya didemonstrasikan secara dramatis pada 1981 ketika ada yang berusaha
membunuhnya di Roma, dan dia menganggap bertahan hidupnya sebagai intervensi Bunda Kita
dari Fatima: ‘Sebuah tangan maternal membimbing pelurunya.’ Kita tidak bisa tidak bertanya
kenapa tangan itu tidak membimbingnya agar tidak kena sama sekali. Orang lain mungkin akan
mengira bahwa tim ahli bedah yang melakukan pembedahan selama enam jam layak mendapat
sedikit pujian; tetapi barangkali tangan mereka, juga, dibimbing secara maternal. Poin yang
relevan yaitu bukan saja Bunda Kita yang, menurut sang Paus, membimbing pelurunya, tetapi
secara khusus Bunda Kita dari Fatima. Rupanya Bunda Kita dari Lourdes, Bunda Kita dari
Guadalupe, Bunda Kita dari Medjugorje, Bunda Kita dari Akita, Bunda Kita dari Zeitoun, Bunda
Kita dari Garabandal dan Bunda Kita dari Knock sedang sibuk dengan urusan lain pada saat itu.
Bagaimana orang Yunani, Romawi, dan Viking menjawab teka-teki politeologis seperti
itu? Apakah Venus hanya nama lain untuk Afrodit, atau apakah mereka yaitu dua dewi cinta
yang berbeda? Apakah Thor dengan palunya merupakan penjelmaan Wotan, atau dewa yang
berbeda? Siapa yang peduli? Kehidupan terlalu singkat untuk membuang waktu dengan
pembedaan di antara satu khayalan dengan banyak. Saya sudah sedikit membahas politeisme
agar tidak dapat dituduh mengabaikannya, dan saya tidak akan membahasnya lagi. Untuk alasan
kesingkatan saya akan menyebut semua pencipta , baik poli- maupun monoteistik, sebagai ‘pencipta ’
saja. Saya juga sadar bahwa pencipta Abrahamik yaitu jantan secara agresif (agar sopan), dan hal
ini juga akan saya terima sebagai suatu konvensi dalam penggunaan kata ganti he. Teolog-teolog
yang lebih terdidik menyatakan bahwa pencipta tidak berkelamin, sedangkan beberapa teolog
feminis berusaha meluruskan ketidakadilan historis dengan menganggap pencipta sebagai
perempuan. Tapi apa pula perbedaan di antara perempuan yang tidak ada dengan lelaki yang
tidak ada? Saya mengira, dalam teologi dan feminisme yang sekaligus tidak nyata dan dangkal,
eksistensi mungkin yaitu sifat yang kalah menonjol dengan gender.
Saya menyadari bahwa kritikus-kritikus kepercayaan dapat diserang karena tidak mengakui
keberkepercayaan n subur tradisi-tradisi dan pandangan-pandangan dunia yang pernah disebut religius.
Karya-karya yang mempertimbangkan wawasan antropologis, dari Golden Bough-nya Sir James
Frazer hingga Religion Explained-nya Pascal Boyer atau In Gods We Trust-nya Scott Atran,
secara memesonakan mendokumentasikan fenomenologi aneh takhayul dan ritual. Bacalah
buku-buku seperti itu dan kagumi kekayaan keluguan manusia.
Tetapi itu bukan caranya buku ini. Saya menyangkal supernaturalisme dalam segala
bentuknya, dan cara paling efektif untuk berlanjut yaitu berkonsentrasi pada bentuk yang paling
mungkin dikenali oleh pembaca saya – bentuk yang berdampak secara paling berbahaya pada
semua masyarakat kita. Kebanyakan pembaca saya dibesarkan dalam salah satu dari ketiga
kepercayaan monoteistik ‘agung’ saat ini (empat jika Mormonisme dihitung), dan semuanya
menelusuri silsilahnya kembali ke sang patriark mitologis Abraham. Pembaca dianjurkan supaya
mengingat keluarga tradisi-tradisi tersebut di sepanjang buku ini.
Ini yaitu momen yang tepat untuk menangkis terlebih dahulu suatu balasan tak
terelakkan kepada buku ini, yang jika tidak diurus sekarang – sepasti malam mengganti petang –
akan muncul dalam suatu ulasan: ‘pencipta yang akannya Dawkins tidak percaya yaitu pencipta
yang akannya saya juga tidak percaya. Saya tidak percaya akan seorang lelaki tua di langit yang
berjenggot putih panjang.’ Lelaki tua itu yaitu pengalihan isu yang tidak relevan dan
jenggotnya sama bosannya dengan panjangnya. Memang, pengalihan isu itu lebih buruk daripada
tidak relevan. Kekonyolannya diperhitungkan untuk mengalihkan perhatian dari fakta bahwa apa
yang benar-benar dipercayai oleh pembicara itu tidak kalah konyolnya. Saya tahu Anda tidak
percaya akan seorang lelaki tua berjenggot yang duduk di atas awan, jadi tidak usah kita
membuang waktu lebih banyak soal itu. Saya tidak menyerang versi pencipta atau pencipta tertentu.
Saya menyerang pencipta , semua pencipta , apa pun dan segala hal supernatural, di mana pun dan
kapan pun mereka pernah atau akan diciptakan.
MONOTEISME
Kejahatan besar yang tidak boleh disebut pada pusat kebudayaan kita yaitu
monoteisme. Dari sebuah teks biadab dari Zaman Perunggu yang dikenal sebagai Perjanjian
Lama, tiga kepercayaan anti-manusia telah berevolusi – Yudaisme, Kristianitas, dan Islam. Mereka
yaitu kepercayaan pencipta -langit. Mereka secara harfiah patriarkal – pencipta yaitu Bapa Maha
Kuasa – dan karena itu ada kebencian terhadap perempuan selama 2.000 tahun di negara-
negara yang terjangkiti pencipta -langit itu serta utusan jantan duniawinya.
–GORE VIDAL
Yang tertua dari ketiga kepercayaan Abrahamistik, dan yang jelas sebagai leluhur bagi kedua
yang lain, yaitu Yudaisme: pada mulanya sebuah kultus kesukuan yang memuja satu pencipta
yang sangat tidak menyenangkan, terobsesi hingga kematian dengan restriksi seksual, dengan
bau daging hangus, dengan keunggulannya sendiri di atas pencipta -pencipta pesaing dan dengan
keeksklusifan suku gurun terpilihnya. Pada masa okupasi Romawi atas Palestina, Kristianitas
didirikan oleh Paulus dari Tarsus sebagai suatu aliran Yudaisme yang kurang bengis mengenai
monoteismenya dan juga kurang ekslusif – suatu kepercayaan yang memandang ke luar dari para
Yahudi kepada dunia luar. Beberapa abad kemudian, Muhammad dan pengikutnya merosot ke
monoteisme yang tidak mengenal kompromi seperti dalam versi asli Yahudi, tetapi bukan
keekslusifannya, dan mendirikan Islam berdasarkan sebuah kitab suci baru, Alquran, dengan
menambah suatu ideologi penaklukan militer yang kuat untuk menyebarkan kepercayaan nya.
Kristianitas, juga, disebarkan dengan pedang, dipegang pertama-tama oleh tangan-tangan
Romawi setelah Kaisar Konstantinus mengangkatnya dari kultus eksentrik menjadi kepercayaan resmi,
kemudian oleh para prajurit Perang Salib, dan kemudian oleh para conquistadores dan penyerbu
dan penjajah Eropa yang lain, ditemani oleh para misionaris. Untuk sebagian besar tujuan saya,
ketiga kepercayaan Abrahamistik dapat dianggap sama saja. Kecuali saya mengucapkannya secara
eksplisit, saya kebanyakan akan memikirkan Kristianitas, tetapi hanya karena itulah versi yang
kebetulan saya paling kenal. Untuk tujuan saya, perbedaannya kalah penting dengan
kemiripannya. Dan saya tidak akan berurusan sama sekali dengan kepercayaan lain seperti Buddhisme
atau Khonghucu. Memang, ada anggapan yang dapat dibenarkan bahwa kedua kepercayaan tersebut
selayaknya tidak dianggap sebagai kepercayaan sama sekali tetapi sebagai sistem etika atau filsafat
hidup.
Definisi sederhana Hipotesis pencipta yang memulai bab ini harus dibahas secara cukup
terperinci jika akan mencakup pencipta Abrahamik. Dia tidak hanya menciptakan alam semesta;
dia yaitu pencipta pribadi yang berdiam di dalamnya, atau barangkali di luarnya (apa pun artinya
itu), dan memiliki sifat-sifat manusia tidak menyenangkan yang sudah saya sebut.
Sifat-sifat pribadi, baik menyenangkan atau tidak menyenangkan, tidak terdapat dalam
pencipta deis Voltaire dan Thomas Paine. Dibandingkan dengan penjahat gila di Perjanjian Lama,
pencipta deis di Pencerahan abad ke-18 yaitu entitas yang lebih agung dalam segala hal: layak
memiliki ciptaan kosmiknya, tinggi jauh dari urusan manusia, acuh tak acuh mengenai pemikiran
dan harapan privat kita, tidak mengindahkan dosa kita yang kotor atau pengakuan bersalah kita
yang digumamkan. pencipta deis yaitu fisikawan yang mengakhiri segala fisika, alfa dan omega
para matematikawan, penjelmaan pencipta para perancang, hiper-insinyur yang mempersiapkan
hukum-hukum dan konstan-konstan alam semesta, menyetelnya secara halus dengan saksama
dan pra-pengetahuan yang luar biasa, memicu apa yang kita kini sebut sebagai ledakan dahsyat
panas, lalu pensiun dan tidak pernah terdengar lagi.
Pada zaman yang imannya lebih kuat, orang deis dibenci karena dianggap sama saja
dengan ateis. Susan Jacoby, dalam Freethinkers: A History of American Secularism, membuat
daftar pilihan atas ejekan yang dilemparkan kepada Tom Paine yang malang: ‘Yudas, reptil,
babi, anjing gila, pemabuk, benalu, binatang teladan, biadab, pembohong, dan tentu saja kafir’.
Paine meninggal telantar (dengan pengecualian hormat Jefferson) oleh mantan teman politik
yang malu karena pandangannya yang anti-Kristiani. Dewasa ini, medan sudah begitu bergeser
sehingga para deis lebih mungkin dibedakan dengan para ateis dan dikelompokkan dengan para
teis. Mereka, memang, percaya akan suatu kecerdasan tertinggi yang menciptakan alam semesta.
SEKULARISME, PARA FOUNDING FATHERS DAN kepercayaan AMERIKA
Menurut asumsi konvensional, para Founding Fathers-nya Republik Amerika yaitu
deis. Tidak dapat diragukan bahwa banyak dari mereka memang begitu, meskipun pernah
dikemukakan bahwa yang terbaik dari mereka mungkin yaitu ateis. Tentu saja tulisan mereka
mengenai kepercayaan pada zaman mereka sendiri membuat saya tidak ragu bahwa kebanyakan dari
mereka akan menjadi ateis pada zaman kita. Tetapi apa pun pandangan religius mereka masing-
masing pada zaman mereka sendiri, satu hal yang menyatukan mereka secara kolektif yaitu
bahwa mereka sekularis, dan inilah topik saya di seksi ini, bermula dengan sebuah kutipan –
yang barangkali mengejutkan – dari Senator Barry Goldwater di 1981, yang menunjukkan
dengan jelas betapa kuatnya calon presiden dan pahlawan konservatisme Amerika itu
menjunjung tinggi tradisi sekuler dasar Republik:
Tidak ada posisi yang tentangnya orang begitu tidak dapat digerakkan seperti
kepercayaan religiusnya. Tidak ada sekutu lebih kuat yang dapat diklaim dalam
debat daripada junjungan kristen Kristus, atau pencipta , atau Allah, atau sebutan apa pun
untuk entitas tertinggi ini. Tetapi seperti senjata ampuh apa pun, penggunaan
nama pencipta demi kepentingan sendiri seharusnya jarang diandalkan. Faksi-
faksi religius yang sedang tumbuh di seantero negeri kita tidak menggunakan
otoritas religiusnya dengan bijaksana. Mereka berusaha memaksa pemimpin-
pemimpin pemerintahan untuk mengikuti posisinya 100 persen. Jika ada yang
tidak setuju dengan kelompok-kelompok religius ini mengenai salah satu isu
moril tertentu, mereka mengeluh, mereka mengancam dengan kehilangan uang
atau suara atau kedua-duanya. Terus terang saya capek mendengar para
pengkhotbah politik di negara ini menyuruh saya sebagai warga negara bahwa
jika saya ingin menjadi orang yang bermoral, saya harus percaya pada A, B, C,
dan D. Mereka mengira diri mereka siapa? Dan dari mana mereka berani
mengklaim hak untuk memaksakan kepercayaan moralnya kepada saya? Dan
saya lebih marah lagi sebagai seorang legislator yang harus bertahan mendengar
ancaman dari setiap kelompok religius yang menganggap dirinya memiliki hak
yang dikaruniai oleh pencipta untuk menguasai suara saya dalam setiap isu di
Senat. Saya memperingati mereka hari ini: Saya akan melawan mereka pada
setiap langkah jika mereka berusaha memaksakan keyakinan moral mereka
kepada semua warga Amerika atas nama konservatisme.19
Pandangan religius para Founding Fathers sangat menarik perhatian para tukang
propaganda politik kanan Amerika saat ini, yang bersemangat untuk memaksakan versi mereka
sendiri atas sejarah. Bertolak-belakang dengan pandangan mereka, fakta bahwa Amerika Serikat
tidak didirikan sebagai negara Kristiani dinyatakan sejak awal dalam sebuah perjanjian dengan
Tripoli, ditulis pada 1796 di masa George Washington dan ditandatangani oleh John Adams pada
1797:
Karena Pemerintah Amerika Serikat tidak, dalam arti apa pun, didirikan atas
dasar kepercayaan Kristiani; karena Amerika tidak memiliki pada dirinya sendiri sifat
permusuhan terhadap hukum, kepercayaan , atau kedamaian orang Muslim; dan
karena Negara-negara Bagian tersebut belum pernah memasuki perang atau
tindakan permusuhan apa pun terhadap bangsa Muslim apa pun, dinyatakan
oleh kedua belah pihak bahwa suatu dalih yang berasal dari pendapat-pendapat
religius tidak diperkenankan mengganggu kerukunan yang berlaku di antara
kedua negara ini.
Kata-kata yang membuka kutipan ini akan membuat para elite di Washington saat ini
mengamuk. Namun, Ed Buckner telah membuktikan secara meyakinkan bahwa kata-kata itu
tidak menimbulkan pertikaian saat itu, 20 baik di antara politikus atau pun di publik.
Ada suatu paradoks yang sering dikomentari, yakni, bahwa Amerika Serikat, didirikan
pada prinsip sekularisme, kini menjadi negara paling religius di dunia Kristiani, sedangkan
Inggris, dengan gereja resmi yang dikepalai oleh ratu konstitusionalnya, yaitu salah satu negara
yang paling tidak religius. Saya selalu ditanyai kenapa bisa begitu, dan saya tidak tahu. Saya
kira, bisa jadi bahwa Inggris sudah jenuh dengan kepercayaan setelah sejarah kekerasan antarkepercayaan
yang mengerikan, dengan para Protestan dan para Katolik silih berganti mengambil kuasa dan
membunuh kubu lain secara sistematis. Suatu usulan lain berasal dari pengamatan bahwa
Amerika yaitu bangsa imigran. Seorang kolega menunjukkan kepada saya bahwa imigran-
imigran, tercerabut dari stabilitas dan kenyamanan keluarga besarnya di Eropa, mungkin saja
merangkul gereja sebagai semacam pengganti-kerabat di tanah asing. Itu ide yang menarik dan
layak diteliti lebih lanjut. Tidak dapat diragukan bahwa banyak orang Amerika memandang
gereja lokalnya sebagai unit identitas penting, yang memang memiliki beberapa atribut keluarga
besar.
Hipotesis satu lagi yaitu religiositas Amerika berasal secara paradoks dari sekularisme
konstitusinya. Justru karena Amerika sekuler secara hukum, kepercayaan menjadi pasar bebas. Gereja-
gereja pesaing berkompetisi untuk jemaat – termasuk perpuluhannya yang besar – dan kompetisi
itu dilakukan dengan semua teknik penjualan agresif pasar. Apa yang berhasil untuk sabun
berhasil untuk pencipta , dan hasilnya yaitu sesuatu yang mendekati mania religius di antara
kaum-kaum kurang terpelajar saat ini. Di Inggris, sebaliknya, kepercayaan di bawah perlindungan
gereja resmi telah menjadi sekadar hiburan sosial yang menyenangkan, hampir tidak dikenali
sebagai religius sama sekali. Tradisi Inggris ini diucapkan dengan baik oleh Giles Fraser,
seorang pastor Anglikan yang juga bekerja sebagai dosen filsafat di Oxford, yang menulis di
Guardian. Artikel Fraser memiliki subjudul ‘Penetapan Gereja Inggris mencabut pencipta dari
kepercayaan , tetapi ada risiko dalam suatu pendekatan yang lebih bersemangat kepada iman’:
Ada suatu masa ketika pastor kampung yaitu tokoh tetap dalam drama-drama
Inggris. Orang nyentrik lembut ini yang suka minum teh, dengan sepatu yang
disemir dan sopan-santunnya, mewakili sejenis kepercayaan yang tidak membuat
orang tidak religius kurang nyaman. Dia tidak akan mulai berkeringat secara
eksistensial atau menekankan seseorang ke dinding untuk bertanya apakah ia
sudah diselamatkan?, apalagi memicu perang salib dari mimbar atau menanam
bom di pinggir jalan atas nama semacam kekuasaan yang lebih tinggi.21
(Ada resonansi dengan ‘Our Padre’nya Betjeman, yang saya kutip pada awal Bab 1).
Fraser kemudian berkata bahwa ‘pastor kampung yang baik itu ternyata memvaksin sebagian
besar orang Inggris agar tidak terjangkiti Kristianitas’. Dia menutup artikelnya dengan meratapi
kecenderungan lebih mutakhir di Gereja Inggris untuk kembali menganggap kepercayaan serius, dan
kalimat terakhirnya yaitu peringatan. ‘Kekhawatiran yaitu kita mungkin akan melepaskan jin
fanatisme religius Inggris dari kotak keresmian di mana ia tidur selama berabad-abad.’
Jin fanatisme religius merajalela di Amerika saat ini, dan para Founding Fathers akan
ngeri melihatnya. Apakah benar atau tidak untuk menerima paradoks dan menyalahkan
konstitusi sekuler yang mereka buat, para pendiri

