delusi tuhan 2

delusi tuhan 2



 nda tidak 

percaya pada pencipta  rakyat bangsa ini, untuk kembali ke tempat Anda berasal.’ 

Saya telah berbuat sebisa saya untuk menjadi berkat bagi Israel, kemudian Anda 

datang dan dengan satu pernyataan dari lidah Anda yang menista, lebih banyak 

melemahkan tujuan bangsa Anda daripada seantero usaha orang-orang junjungan kristen  

yang mengasihi Israel dapat lakukan untuk menyingkirkan anti-Semitisme di 

negeri kita. Profesor Einstein, setiap orang junjungan kristen  di Amerika akan langsung 

membalas Anda, ‘Ambillah teori evolusi Anda yang gila dan keliru dan 

kembalilah ke Jerman tempat Anda berasal, atau hentikan usaha Anda untuk 

menghancurkan iman bangsa yang menerima Anda saat Anda terpaksa kabur 

dari tanah air Anda.’ 

 

  Satu-satunya poin yang benar dalam semua kritikus teistik ini yaitu  bahwa Einstein 

bukan salah satu dari mereka. Dia berkali-kali kesal terhadap perkiraan bahwa dia yaitu  seorang 

teis. Jadi, apakah dia seorang deis, seperti Voltaire dan Diderot? Atau seorang panteis, seperti 

Spinoza, yang filsafatnya dikagumi oleh Einstein: ‘Saya percaya akan pencipta nya Spinoza yang 

menyingkapkan dirinya dalam harmoni tertata dari apa yang ada, bukan pencipta  yang 

menyibukkan dirinya dengan nasib dan tindakan manusia’? 

  Mari kita ulas kembali terminologinya. Seorang teis percaya akan suatu kecerdasan 

supernatural yang, terlepas dari pekerjaan utamanya, yakni, menciptakan alam semesta, masih 

ada untuk mengawasi dan memengaruhi nasib berikutnya dari ciptaannya yang semula. Dalam 

banyak sistem kepercayaan teistik, pencipta nya terlibat secara intim dengan urusan manusia. Dia 

membalas doa; mengampuni atau menghukum dosa; ikut campur di dunia melalui keajaiban; 

khawatir tentang tindakan baik dan buruk, dan tahu kapan kita melakukannya (atau bahkan 

berpikir untuk melakukannya). Seorang deis juga percaya akan suatu kecerdasan supernatural, 

tetapi yang kegiatannya terbatas pada penetapan hukum-hukum yang mengatur alam semesta. 

pencipta  deis tidak pernah ikut campur setelah itu, dan tentu saja tidak berkepentingan dalam 

urusan manusia. Para panteis tidak percaya akan suatu pencipta  supernatural sama sekali, tetapi 

menggunakan istilah pencipta  sebagai sinonim non-supernatural untuk Alam, atau untuk Alam 

semesta, atau untuk keteraturan yang menata fungsinya. Para deis berbeda dengan para teis 

karena pencipta  mereka tidak membalas doa, tidak peduli tentang dosa atau pengakuan, tidak 

membaca pemikiran kita dan tidak ikut campur dengan keajaiban yang plinplan. Para deis 

berbeda dengan para panteis karena pencipta  deis yaitu  semacam kecerdasan kosmik, dan bukan 

sinonim puitis atau metaforis panteis untuk hukum-hukum alam semesta. Panteisme yaitu  

ateisme pakai baju seksi. Deisme yaitu  teisme encer. 

  Semua bukti yang ada mendukung pemikiran bahwa kutipan-kutipan terkenal Einstein 

seperti ‘pencipta  subtil tetapi dia tidak jahat’ atau ‘Dia tidak bermain dadu’ atau ‘Apakah pencipta  

memiliki pilihan saat menciptakan Alam Semesta?’ bersifat panteistis, tidak deistis, dan tentu 

saja tidak teistis. ‘pencipta  tidak bermain dadu’ seharusnya diterjemahkan menjadi ‘keacakan tidak 

berada pada inti segala hal.’ ‘Apakah pencipta  memiliki pilihan saat menciptakan Alam Semesta?’ 

berarti ‘Mungkinkah alam semesta bermula dengan cara lain?’ Einstein menggunakan ‘pencipta ’ 

dalam arti yang murni metaforis dan puitis. Sama halnya dengan Stephen Hawking, dan 

kebanyakan fisikawan yang terkadang menggunakan bahasa metafora religius. The Mind of God 

oleh Paul Davies sepertinya melayang di antara panteisme Einsteinian dengan suatu bentuk 

deisme yang tidak jelas – untuk itu ia diberikan Penghargaan Templeton (sejumlah besar uang 

yang diberikan setiap tahun oleh Yayasan Templeton, biasanya kepada ilmuwan yang siap 

mengatakan sesuatu yang baik mengenai kepercayaan ). 

  Saya rangkum kepercayaan  Einsteinian dengan satu lagi kutipan lagi dari Einstein sendiri: 

‘Merasa bahwa di balik apa pun yang dapat dialami ada suatu yang pikiran kita tidak dapat 

pahami dan yang keindahannya dan keagungannya hanya sampai pada kita secara tidak langsung 

dan sebagai bayangan yang tidak memadai, inilah perasaan religius. Dalam arti ini saya religius.’ 

Dalam arti ini saya juga religius, dengan pengecualian ‘tidak dapat pahami’ tidak harus berarti 

‘selamanya tidak dapat dipahami’. Tetapi saya lebih memilih untuk tidak menyebut diri saya 

religius karena label itu menyesatkan. Label itu menyesatkan secara destruktif karena, bagi 

mayoritas besar orang, ‘kepercayaan ’ menyiratkan ‘supernatural’. Carl Sagan merumuskannya dengan 

baik: ‘...jika dengan “pencipta ” maksud kita yaitu  kumpulan hukum fisik yang mengatur alam 

semesta, jelas ada pencipta  seperti itu. pencipta  ini kurang memuaskan secara emosional ... tidak 

begitu masuk akal berdoa kepada hukum gravitasi.’ 

  Lucunya, poin terakhir Sagan diawali oleh Pastor Dr Fulton J. Sheen, seorang profesor di 

Universitas Katolik Amerika, sebagai bagian dari serangan ganas terhadap penyangkalan 

Einstein pada 1940 atas suatu pencipta  pribadi. Sheen dengan sarkastik bertanya apakah ada orang 

yang akan  sudi mati demi Bima Sakti. Sepertinya Sheen mengira dia membuat poin yang 

melawan Einstein, bukan yang mendukungnya, karena dia menambahkan: ‘Hanya ada satu 

kesalahan dengan kepercayaan  kosmikalnya: dia menaruh huruf tambahan di katanya – huruf “s”.’ 

Tidak ada yang komikal dengan kepercayaan Einstein. Namun, saya berharap bahwa para 

fisikawan berhenti menggunakan istilah pencipta  dalam arti metaforis khusus mereka. pencipta  para 

fisikawan yang metaforis atau panteistik melampaui, pada skala tahun cahaya, pencipta  Alkitab 

yang suka ikut campur, membuat keajaiban, membaca pemikiran, menghukum dosa, dan 

membalas doa, yakni, pencipta  para pastor, imam dan rabi, dan juga pencipta  dalam bahasa sehari-

hari. Sengaja merancukan pembedaan itu di antara kedua arti pencipta  tersebut, menurut saya, 

yaitu  tindakan pengkhianatan intelektual. 

 

HORMAT YANG TIDAK LAYAK 

 

  Judul saya, Delusi akan pencipta , tidak merujuk pada pencipta nya Einstein dan para ilmuwan 

tercerahkan yang lain di seksi sebelumnya. Itulah alasannya saya perlu menyingkirkan kepercayaan  

Einsteinian terlebih dahulu: hal itu sudah terbukti membuat orang bingung. Mulai di sini saya 

hanya membahas pencipta -pencipta  supernatural, dan contoh yang akan paling akrab bagi kebanyakan 

pembaca saya yaitu  Yahweh, pencipta  Perjanjian Lama. Saya akan segera membahas dia. Tetapi 

sebelum meninggalkan bab awal ini saya harus mengurus satu persoalan lagi yang, jika tidak 

diurus sekarang, akan menghantui seluruh bukunya. Kali ini, persoalan etiket. Bisa jadi pembaca 

religius akan tersinggung oleh kata-kata saya, dan akan menemukan pada isi buku ini sikap 

kurang hormat terhadap kepercayaan partikular mereka (dan mungkin saja kepercayaan yang 

dijunjung tinggi orang lain). Akan sangat disayangkan jika rasa tersinggung itu membuat mereka 

enggan lanjut membaca., jadi saya ingin menyelesaikannya di sini, di bagian awal. 

  Ada asumsi yang tersebar luas dan diterima semua orang di masyarakat kita – termasuk 

yang tidak religius – bahwa iman religius rentan secara khusus terhadap hinaan dan harus 

dilindungi oleh tembok kehormatan yang luar biasa tebal, kelas kehormatan yang berbeda dari 

yang layak diberikan oleh manusia siapa pun kepada sesamanya. Douglas Adams 

merumuskannya dengan sangat baik, dalam sebuah pidato tanpa persiapan di Cambridge 

beberapa waktu sebelum wafatnya,5 dan saya tidak pernah bosan membagikan kata-katanya: 

 

kepercayaan  ... pada intinya memiliki ide-ide tertentu yang kita sebut sakral atau suci 

atau semacam itu. Artinya, ‘Ini yaitu  ide atau gagasan yang Anda tidak boleh 

berkata buruk tentangnya; pokoknya tidak boleh. Kenapa? – karena tidak 

boleh!’ Jika seseorang memilih partai politik yang tidak Anda setujui, Anda 

bebas berargumen tentangnya sesuka hati; setiap orang akan berdebat tetapi 

tidak ada yang merasa tersinggung karenanya. Jika seseorang berpikir bahwa 

pajak harus naik atau turun Anda bebas berargumen tentangnya. Tetapi 

sebaliknya jika seseorang berkata, ‘Saya tidak boleh menggeserkan tombol 

lampu pada hari Sabtu’, Anda berkata, ‘Saya menghormati itu’. 

  Mengapa harus begitu, bahwa boleh saja mendukung partai Buruh atau 

Konservatif, Republikan atau Demokrat, model ekonomi ini atau itu, Macintosh 

daripada Windows – tetapi berpendapat mengenai bagaimana Alam Semesta 

bermula, mengenai siapa yang menciptakan Alam Semesta ... jangan, itu suci? 

... Kita tidak terbiasa membantah ide-ide religius tetapi sangat menarik betapa 

besar kerusuhan yang Richard buat ketika dia melakukannya! Semua orang 

belingsatan karena tidak boleh berkata demikian. Namun, ketika kita melihatnya 

secara rasional, tidak ada alasan kenapa ide-ide itu tidak boleh diperdebatkan, 

sama seperti ide-ide lain, kecuali kita telah membuat semacam kesepakatan 

bahwa seharusnya tidak demikian. 

 

  Berikut contoh partikular atas penghormatan berlebihan masyarakat kita terhadap kepercayaan , 

dan contoh ini penting sekali. Alasan yang jauh paling mudah untuk mendapat status 

conscientious objector – yakni, penolak wajib militer untuk alasan hati nurani – yaitu  alasan 

religius. Anda bisa menjadi filsuf moral cemerlang dengan tesis doktoral unggul mengenai 

kejahatan perang, dan Anda masih akan dipersulit oleh panitia mengenai klaim Anda untuk 

menjadi conscientious objector. Namun, jika Anda bisa berkata bahwa satu atau kedua orang tua 

Anda yaitu  Quaker Anda akan lolos dengan mudah, kalaupun Anda tidak pernah membaca apa 

pun mengenai pasifisme dan tidak mampu mengatakan apa-apa tentangnya, atau tentang 

Quakerisme sendiri. 

  Di ujung lain spektrum dari pasifisme, ada keengganan kecut untuk menggunakan nama-

nama religius untuk kubu-kubu yang sedang berperang. Di Irlandia Utara, kubu Katolik dan 

kubu Protestan disebut dengan eufemisme ‘kaum Nasionalis’ dan ‘kaum Loyalis’. Kata ‘kepercayaan ’ 

sendiri disensor menjadi ‘komunitas’, seperti dalam frasa ‘peperangan antar-komunitas’. Irak, 

akibat invasi Inggris-Amerika pada 2003, merosot ke dalam perang saudara sektarian di antara 

Muslim Sunni dengan Muslim Syi’ah. Jelas suatu konflik religius – namun di koran Independent 

tanggal 20 Mei 2006, baik judul berita halaman pertama maupun liputan utama 

mendeskripsikannya sebagai ‘pembersihan etnis’. ‘Etnis’ dalam konteks ini merupakan 

eufemisme yang lain lagi. Apa yang kita saksikan di Irak yaitu  pembersihan religius. Dapat 

dikatakan bahwa penggunaan asli istilah ‘pembersihan etnis’ di bekas Yugoslavia juga 

merupakan eufemisme untuk pembersihan religius yang melibatkan orang Serb Ortodoks, orang 

Kroat Katolik, dan orang Bosnia Muslim.6 

  Saya pernah menarik perhatian kepada diutamakannya kepercayaan  di diskusi publik mengenai 

etika di media dan di pemerintahan.7 Kapan pun suatu kontroversi muncul mengenai moral 

seksual atau reproduktif, hampir pasti para pemuka dari beberapa kepercayaan  akan diwakili secara 

prominen di panitia-panitia yang berpengaruh, atau di panitia diskusi di radio atau televisi. Saya 

tidak bermaksud bahwa kita harus dengan sengaja menyensor pandangan orang-orang itu. Tetapi 

kenapa masyarakat kita harus mencari mereka di rumahnya, seolah-olah mereka memiliki 

keahlian yang setingkat dengan, misalnya, seorang filsuf moral, seorang pengacara keluarga atau 

seorang dokter? 

  Berikut satu lagi contoh aneh atas diutamakannya kepercayaan . Pada 21 Februari 2006, 

Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan, sesuai dengan Konstitusi, bahwa sebuah gereja 

di New Mexico seharusnya bebas dari undang-undang, yang harus  semua orang lain, yang 

melarang penggunaan narkoba halusinogen.8 Anggota taat Centro Espirita Beneficeiente Uniao 

do Vegetal percaya bahwa mereka dapat memahami pencipta  hanya dengan minum teh hoasca, 

yang mengandung narkoba halusinogen terlarang dimetiltriptamin. Perhatikan bahwa mereka 

cukup percaya bahwa narkoba itu meningkatkan pemahamannya. Mereka tidak perlu 

mengajukan bukti. Sebaliknya, ada banyak bukti bahwa cannabis meringankan rasa mual dan 

tidak enak bagi penderita kanker yang sedang menjalankan kemoterapi. Namun, sekali lagi 

sesuai dengan Konstitusi, Mahkamah Agung memutuskan pada 2005 bahwa semua pasien yang 

menggunakan cannabis untuk alasan medis rentan dituntut hukum (bahkan di minoritas negara 

bagian yang melegalkan penggunaan khusus itu). kepercayaan , seperti selalu, yaitu  kartu truf. 

Bayangkan anggota-anggota suatu komunitas penikmat seni bermohon di pengadilan bahwa 

mereka ‘percaya’ butuh suatu narkoba halusinogen untuk meningkatkan pemahaman mereka atas 

lukisan Impresionis atau Surealis. Namun, ketika sebuah gereja mengklaim kebupencipta  yang 

setara, gereja itu didukung oleh mahkamah tertinggi di negaranya. Begitulah kekuatan kepercayaan  

sebagai azimat. 

  Delapan belas tahun yang lalu, saya yaitu  satu dari 36 penulis dan seniman yang 

diundang oleh majalah New Statesman untuk menulis sebagai tanda dukungan untuk penulis 

terkemuka Salman Rushdie,9 yang saat itu divonis mati karena menulis sebuah novel. Terusik 

oleh ‘simpati’ untuk ‘rasa sakit’ dan ‘rasa tersinggung’ Muslim yang diucapkan oleh para 

pemuka kepercayaan  junjungan kristen  dan bahkan beberapa  sekuler, saya membuat perbandingan berikut: 

   

Jika para pendukung apartheid cukup pintar mereka akan mengklaim – mungkin 

saja dengan benar – bahwa membolehkan percampuran ras itu dilarang oleh 

kepercayaan nya. Sebagian besar oposisinya akan mundur teratur dengan hormat. Dan 

tidak ada gunanya mengklaim bahwa ini yaitu  perbandingan yang tidak adil 

karena apartheid tidak dapat dibenarkan secara rasional. Alasan iman religius 

ada, kekuatannya dan keluhuran utamanya, yaitu  bahwa iman itu tidak 

bergantung pada pembenaran rasional. Kita-kita yang lain disuruh 

mempertahankan prasangka. Tetapi meminta seorang religius untuk 

membenarkan imannya dan Anda melanggar ‘kebebasan berkepercayaan ’. 

 

  Saya tidak menyangka bahwa hal serupa akan terjadi di abad ke-21. Los Angeles Times 

(10 April 2006) melaporkan bahwa berbagai kelompok Kristiani di kampus-kampus di Amerika 

Serikat menggugat universitas-universitasnya karena melaksanakan peraturan anti-diskriminasi, 

termasuk pelarangan mengganggu atau melecehkan orang homoseksual. Sebagai contoh tipikal, 

pada 2004, James Nixon, seorang anak lelaki berumur 12 di Ohio, memenangkan hak di 

pengadilan untuk memakai kaus dengan tulisan, ‘Homoseksualitas yaitu  dosa, Islam yaitu  

kebohongan, aborsi yaitu  pembunuhan. Beberapa persoalan memang hitam-putih!’10 Pihak 

sekolah melarang anak itu memakai kausnya – dan orang tuanya menggugat sekolah. Orang tua 

itu mungkin memiliki kasus yang berwibawa jika mereka mendasarinya pada jaminan 

Amendemen Pertama untuk kebebasan berbicara. Tetapi tidak demikian. Para pengacara 

keluarga Nixon malah mengandalkan hak konstitusi untuk kebebasan berkepercayaan . Kemenangan 

mereka di pengadilan didukung oleh Alliance Defense Fund dari Arizona, yang misinya yaitu  

‘melanjutkan pertempuran untuk kebebasan berkepercayaan  di pengadilan’. 

  Pendeta Rick Scarborough, yang mendukung gelombang gugatan Kristiani serupa yang 

dijalankan agar menetapkan kepercayaan  sebagai pembenaran legal untuk diskriminasi terhadap 

homoseksual dan kelompok-kelompok lain, telah menamakannya perjuangan hak sipil abad ke-

21: ‘Orang-orang junjungan kristen  akan harus berjuang demi haknya untuk menjadi junjungan kristen .’11 Sekali 

lagi, jika orang-orang seperti itu berjuang berdasarkan hak untuk kebebasan berbicara, kita 

mungkin dapat bersimpati, meskipun tidak dengan semangat. Tetapi bukan itu yang dipersoalkan 

di sini. ‘Hak untuk menjadi junjungan kristen ’ di sini sepertinya berarti ‘hak untuk mengurus kehidupan 

privat orang lain’. Kasus legal untuk diskriminasi terhadap orang homoseksual diangkat sebagai 

tuntutan balik terhadap apa yang dianggap diskriminasi religius! Dan sepertinya hukum 

menghargai hal itu. Seseorang tidak boleh mengatakan, ‘Jika Anda mencoba untuk 

menghentikan saya menghina orang homoseksual, hal itu melanggar kebebasan saya untuk 

berprasangka.’ Tetapi seseorang boleh saja mengatakan, ‘Hal itu melanggar kebebasan saya 

untuk berkepercayaan .’ Lalu, kalau dipikir-pikir, apa bedanya? Sekali lagi, kepercayaan  menang atas semua. 

  Saya akan menutup bab ini dengan satu studi kasus, yang dengan tepat menerangkan 

penghormatan masyarakat yang berlebihan terhadap kepercayaan , jauh di atas penghormatan manusia 

biasa. Kasus ini muncul di Februari 2006 – sebuah episode konyol yang mondar-mandir tak 

terkendali di antara kutub komedi dengan tragedi. Pada September sebelumnya, koran Denmark 

Jyllands-Posten menerbitkan 12 kartun yang menggambarkan nabi Muhammad. Selama tiga 

bulan berikutnya, rasa dongkol dipelihara secara cermat dan sistematis di seluruh dunia Islam 

oleh sekelompok kecil Muslim yang tinggal di Denmark, dipimpin oleh dua orang imam yang 

telah diberi suaka di sana.12 Pada 2005 akhir orang-orang eksil jahat ini pergi dari Denmark ke 

Mesir membawa berkas, yang disalin dan disebarkan dari sana ke seluruh dunia Islam, termasuk, 

secara penting, Indonesia. Berkas itu mengandung dusta mengenai perlakuan buruk terhadap 

orang Muslim di Denmark, dan kebohongan tendensius bahwa Jyllands-Posten yaitu  koran 

pemerintahan. Berkas itu juga memuat dua belas kartun tersebut dan, perlu digarisbawahi, para 

imam telah menambahkan tiga gambar lagi yang asal-usulnya misterius tetapi sudah pasti tidak 

ada kaitan dengan Denmark.  Berbeda dengan duabelas kartun yang asli, tiga tambahan ini 

benar-benar menista – atau akan seperti itu, seandainya menggambarkan Muhammad, 

sebagaimana diklaim oleh para tukang propaganda fanatik itu. Salah satu dari tiga gambar itu, 

yang sangat merusak bukan kartun sama sekali melainkan foto (yang difaks) seorang berjenggot 

memakai moncong babi palsu yang dipasang dengan karet. Belakangan diketahui bahwa foto 

tersebut yaitu  foto Associated Press atas seorang Prancis yang mengikuti lomba bersuara 

seperti babi di sebuah pesta rakyat di Prancis.13 Foto itu tidak berkaitan sama sekali dengan nabi 

Muhammad, tidak berkaitan dengan Islam, dan tidak berkaitan dengan Denmark. Tetapi para 

aktivis Muslim, di perjalanan jail mereka ke Kairo, menyiratkan ketiga kaitan itu...dengan hasil 

yang tidak sulit diprediksi. 

  ‘Rasa sakit’ dan ‘rasa tersinggung’ yang dipelihara dengan cermat memuncak lima bulan 

setelah dua belas kartun itu pertama kali diterbitkan. Pengunjuk rasa di Pakistan dan Indonesia 

membakar bendera Denmark (dari mana mereka mendapatnya?) dan tuntutan histeris diajukan 

yang permintaan maaf dari pemerintahan Denmark. (Minta maaf untuk apa? Pemerintah tidak 

membuat kartun itu, atau menerbitkannya. Orang Denmark hanya tinggal di negara dengan pers 

bebas, sesuatu yang mungkin akan sulit dipahami oleh banyak orang di banyak negara Muslim.) 

Koran di Norwegia, Jerman, Prancis dan bahkan Amerika Serikat (tetapi, secara mencolok, 

bukan Inggris) mencetak ulang kartunnya sebagai gestur solidaritas dengan Jyllands-Posten, dan 

itu hanya menambah bahan bakar kerusuhan. Kedutaan dan konsulat diserang, produk Denmark 

diboikot, warga Denmark serta orang Barat pada umumnya diancam secara fisik; gereja junjungan kristen  

di Pakistan, tanpa kaitan sama sekali dengan Denmark atau Eropa, terbakar. Sembilan orang 

meninggal ketika perusuh Libya menyerang dan membakar konsulat Italia di Benghazi. 

Sebagaimana ditulis oleh Germaine Greere, apa yang orang-orang ini sungguh cintai dan paling 

pintar lakukan yaitu  huru-hara.14 

  Harga 1 juta dolar ditaruh di atas kepala ‘si komikus Denmark’ oleh seorang imam 

Pakistan – yang sepertinya tidak sadar bahwa ada 12 komikus Denmark yang berbeda, dan 

hampir pasti tidak sadar bahwa ketiga gambar yang paling menghina tidak pernah muncul di 

Denmark sama sekali (dan kita juga boleh bertanya, dari mana kira-kira satu juta dolar itu 

berasal?). Di Nigeria, para pengunjuk rasa Muslim yang memprotes kartun-kartun Denmark 

membakar beberapa gereja junjungan kristen , dan menggunakan parang untuk menyerang dan membunuh 

orang-orang junjungan kristen  (orang Nigeria hitam juga) di jalanan. Seorang junjungan kristen  ditaruh dalam ban 

karet, disirami dengan bensin lalu dibakar. Beberapa pengunjuk rasa difoto di Britania membawa 

spanduk dengan tulisan ‘Bunuh mereka yang menghina Islam’, ‘Bantai mereka yang mengejek 

Islam’, ‘Eropa kau akan menderita: Kehancuran sebentar lagi’ dan ‘Penggal kepala mereka yang 

menghina Islam’. Untungnya, pemimpin politik kita siap mengingatkan kita bahwa Islam yaitu  

kepercayaan  damai dan berbelas kasih. 

  Setelah semua ini, wartawan Andrew Mueller mewawancarai Muslim ‘moderat’ 

terkemuka di Britania, Sir Iqbal Sacranie.15 Mungkin dia moderat menurut tolok ukur Islami 

masa kini, tetapi dalam tulisan Andrew Mueller dia masih mempertahankan pernyataan dari saat 

Salman Rushdie divonis hukuman mati karena menulis sebuah novel: ‘Barangkali kematian itu 

terlalu mudah baginya’ – pernyataan itu membedakannya sebagai sosok yang lebih buruk 

daripada pendahulunya yang berani sebagai Muslim paling berpengaruh di Britania, almarhum 

Dr Zaki Badawi, yang menawarkan Salman Rushdie suaka di rumahnya sendiri. Sacranie 

menyampaikan ke Mueller betapa dia khawatir mengenai kartun-kartun Denmark itu. Mueller 

juga khawatir, tetapi untuk alasan yang lain: ‘Saya khawatir bahwa reaksi konyol dan tidak 

seimbang terhadap beberapa gambar tidak lucu dalam sebuah koran Skandinavia yang kurang 

dikenal mungkin akan mengonfirmasi bahwa ... Islam dan Barat secara mendasar tidak dapat 

disesuaikan.’ Sacranie, sebaliknya, memuji koran-koran Britania karena tidak mencetak ulang 

kartunnya, dan Mueller membalasnya dengan mengucapkan kecurigaan mayoritas bangsa itu 

bahwa ‘penahanan-diri koran-koran Britania bukan karena kepekaan terhadap perasaan Muslim 

melainkan karena keinginan agar jendelanya tidak dipecahkan’. 

  Sacranie menjelaskan bahwa ‘Pribadinya sang Nabi, SAW, dipuji secara begitu 

mendalam di dunia Muslim, dengan kasih dan sayang yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-

kata. Hal itu melampaui orang tua, keluarga, anak. Itu bagian dari iman. Ada juga ajaran Islami 

bahwa tidak boleh menggambarkan sang Nabi.’ Penjelasan itu agak mengasumsikan, 

sebagaimana Mueller amati, 

   

bahwa nilai-nilai Islam lebih penting daripada nilai-nilai siapa pun yang lain – 

dan itulah yang diasumsikan oleh penganut Islam siapa pun, sama seperti 

penganut kepercayaan  apa pun percaya bahwa kepercayaan nya yaitu  satu-satunya jalan, 

kebenaran, dan terang. Jika ada orang yang ingin mengasihi seorang 

pengkhotbah dari abad ke-7 lebih daripada keluarganya sendiri, itu terserah 

mereka, tetapi tidak ada orang lain yang diwajibkan untuk menganggap serius 

hal itu... 

 

  Kecuali, jika seseorang tidak menganggap hal itu serius dan memperlakukannya dengan 

cukup hormat, orang itu terancam secara fisik, pada skala yang tidak dicita-citakan oleh kepercayaan  

yang lain sejak Abad Pertengahan. Sulit untuk tidak bertanya kenapa kekerasan seperti itu 

diperlukan, jika, sebagaimana ditulis oleh Mueller: ‘Jika kalian para badut ternyata benar tentang 

apa pun, para komikus itu akan masuk neraka juga – bukankah itu cukup? Sambil menunggu, 

jika kalian ingin panas soal penghinaan terhadap orang Muslim, baca saja laporan Amnesty 

International mengenai Suriah dan Arab Saudi.’ 

  Banyak orang telah menunjukkan kekontrasan di antara ‘rasa sakit’ histeris yang diklaim 

oleh para Muslim dengan kesigapan media Arab untuk menerbitkan kartun-kartun stereotip anti-

Yahudi. Di suatu unjuk rasa atas kartun Denmark itu di Pakistan, seorang perempuan yang 

memakai burka hitam difoto membawa spanduk dengan tulisan ‘pencipta  Memberkati Hitler’. 

  Dalam menanggapi semua huru-hara gila ini, koran-koran liberal yang sok baik 

menyayangkan kekerasannya dan berbunyi secara tidak menentu mengenai kebebasan berbicara. 

Tetapi pada titik yang sama mereka mengucapkan ‘hormat’ dan ‘simpati’ terhadap ‘rasa 

tersinggung’ dan ‘rasa sakit’ mendalam yang ‘diderita’ oleh orang Muslim. Ingat, ‘rasa sakit’ 

dan ‘penderitaan’ itu bukan kekerasan atau rasa sakit nyata yang dialami oleh siapa pun: tidak 

lebih dari beberapa olesan tinta cetak dalam sebuah koran yang tak seorang pun di luar Denmark 

akan ketahui kecuali ada kampanye sengaja untuk menghasut kerusuhan. 

  Saya tidak mendukung tersinggungnya atau disakitinya siapa pun tanpa alasan yang 

memadai. Tetapi saya tertarik sekaligus kebingungan oleh diutamakannya kepercayaan  secara tidak 

seimbang dalam masyarakat kita yang, terlepas dari itu, bersifat sekuler. Semua politikus harus 

terbiasa dengan kartun mukanya yang menghina, dan tidak ada yang membuat kerusuhan untuk 

membelanya. Apa yang begitu istimewa mengenai kepercayaan , sehingga kita memberinya 

penghormatan yang diutamakan secara unik? Sebagaimana dikatakan oleh H.L. Mencken: ‘Kita 

harus menghormati kepercayaan  orang lain, tetapi hanya dalam arti dan sejauh kita menghormati 

teorinya bahwa istrinya cantik dan anaknya pintar.’ 

  Dalam konteks anggapan penghormatan yang tidak seimbang ini untuk kepercayaan *, saya 

membuat disclaimer buku ini. Saya tidak akan membuat orang tersinggung hanya untuk alasan 

itu, tetapi saya juga tidak akan terlalu hati-hati dan membahas kepercayaan  dengan lebih lembut 

ketimbang cara saya bahas apa pun yang lain. 

  

                                                 

* Salah satu contoh ‘hormat’ semacam itu diberitakan dalam New York Times sementara edisi ini sedang 

dipersiapkan untuk penerbitan. Pada Januari 2007, seorang perempuan Muslim Jerman mengajukan permohonan 

percepatan perceraian atas dasar suaminya, dari awal pernikahannya, berulang-ulang dan secara keras memukulinya. 

Hakim Christa Datz-Winter tidak menyangkal fakta-fakta kasus itu, tetapi dia menolak permohonannya, dengan 

mengutip Alquran. ‘Dalam suatu keputusan luar biasa yang menggarisbawahi ketegangan di antara adat Muslim 

dengan undang-undang Eropa, hakim itu, Christa Datz-Winter, berkata bahwa pasangan itu berasal dari konteks 

kultural Maroko, di mana katanya suami memukuli istri yaitu  hal yang lazim. Alquran, tulisnya, membolehkan 

penganiayaan fisik semacam itu’ (New York Times, 23 Maret 2007). Cerita yang sulit dipercaya ini muncul pada 

Maret 2007, ketika pengacara wanita malang itu membeberkannya. Pengadilan Frankfurt itu dengan baik cepat 

menarik Hakim Datz-Winter dari kasus itu. Namun, artikel New York Times itu menutup dengan mengutip anggapan 

bahwa peristiwa itu akan sangat merugikan perempuan Muslim lain yang menjadi korban kekerasan dalam rumah 

tangga: ‘Banyak sudah takut melawan suaminya di pengadilan. Sudah ada beberapa ‘pembunuhan-kehormatan’ di 

sini, ketika lelaki Muslim Turki membunuh perempuan.’ Motivasi Hakim Datz-Winter dianggap sebagai ‘kepekaan 

kultural’, tetapi ada nama lain untuknya: hinaan yang meremehkan. ‘Tentu saja kita orang Eropa tidak mungkin 

akan berperilaku seperti itu, tetapi memukul istri yaitu  bagian dari “budaya mereka”, diperbolehkan oleh “kepercayaan  

mereka”, dan kita harus “menghormati”nya.’ 

BAB 2 

 HIPOTESIS pencipta  

 

kepercayaan nya satu zaman yaitu  

hiburan literernya zaman berikutnya. 

  –RALPH WALDO EMERSON 

 

  pencipta  dalam Perjanjian Lama mungkin saja merupakan tokoh paling tidak 

menyenangkan dalam segala fiksi: cemburu dan bangga karenanya; sesosok gila kontrol yang 

picik, tidak adil, dan tidak mengenal ampun; pembersih etnis yang mendendam dan haus darah; 

perundung yang misoginistik, homofobik, rasis, infantisidal, genosidal, filisidal, penuh wabah, 

mekalomaniak, sadomasokistik, dan jahat secara plinplan. Kita yang diajarkan tentang cara-

caranya sejak kecil dapat menjadi kurang peka terhadap kengeriannya. Seorang naif yang 

diberkati dengan perspektif yang lugu dapat melihatnya dengan lebih jernih. Anak Winston 

Churchill, Randolph, entah bagaimana ternyata tidak tahu-menahu tentang Alkitab sebelum 

Evelyn Waugh dan seorang perwira lain, dalam usaha sia-sia untuk membuatnya diam saat 

mereka ditugaskan bersama selama perang, bertaruh bahwa Randolph tidak mampu membaca 

seluruh Alkitab dalam waktu dua minggu: ‘Sayangnya, hasilnya tidak seperti yang kami 

harapkan. Dia belum pernah membacanya dan sangat bersemangat; dia terus membacakan 

kutipan-kutipan “Kau pasti tidak tahu ada ini dalam Alkitab...” atau hanya menepuk sebelahnya 

& tertawa “Ya Allah, pencipta  itu berengsek!”16 Thomas Jefferson – lebih terpelajar – sependapat, 

dan mendeskripsikan pencipta nya Musa sebagai ‘entitas yang mengerikan – kejam, mendendam, 

plinplan dan tidak adil’. 

  Tidak adil juga menyerang sasaran yang begitu empuk. Hipotesis pencipta  seharusnya tidak 

bertahan atau jatuh dengan penjelmaannya yang paling tidak indah, Yahweh, atau pun wajah 

terbalik Kristianinya yang kemanisan, ‘junjungan kristen   yang lemah lembut’. (Tetapi agar adil, watak tidak 

berani tersebut lebih berasal dari penganut-penganut junjungan kristen   di era Victoria daripada junjungan kristen   

sendiri. Apakah ada yang lebih memualkan dan cengeng daripada tulisan Ibu C.F. Alexander, 

‘Anak-anak junjungan kristen  semua harus / lembut, patuh, baik seperti dia’?) Saya tidak menyerang sifat-

sifat tertentu Yahweh, atau junjungan kristen  , atau Allah, atau pencipta  tertentu yang lain seperti Ba’al, Zeus, 

atau Wotan. Saya malah mendefinisikan Hipotesis pencipta  secara yang lebih dapat dipertahankan: 

ada sesosok kecerdasan supernatural yang melampaui manusia yang merancang dan 

menciptakan alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya, termasuk kita. Buku ini akan 

mengemukakan suatu pandangan alternatif: kecerdasan kreatif apa pun, yang cukup rumit untuk 

merancang apa pun, terjadi hanya sebagai produk akhir dari suatu proses evolusi bertahap yang 

panjang. Kecerdasan-kecerdasan kreatif, karena berevolusi, secara niscaya datang belakangan di 

alam semesta, dan karena itu tidak mungkin bertanggung jawab atas rancangannya. pencipta , 

dalam arti yang didefinisikan di atas, yaitu  suatu delusi; dan, sebagaimana akan ditunjukkan 

dalam bab-bab lebih akhir, suatu delusi yang tidak baik. 

  Tidak mengherankan bahwa Hipotesis pencipta , karena didirikan pada tradisi-tradisi lokal 

wahyu privat dan tidak pada bukti, muncul dalam banyak versi. Sejarawan-sejarawan kepercayaan  

mengenali suatu garis kemajuan dari animisme-animisme kesukuan primitif, melalui politeisme-

politeisme seperti yang dianut orang Yunani, Romawi, dan Nordik, hingga monoteisme-

monoteisme seperti Yudaisme dan turunannya, Kristianitas dan Islam. 

 

 POLITEISME 

 

  Tidak jelas kenapa perubahan dari politeisme menjadi monoteisme harus dianggap 

sebagai kemajuan yang nyata pada dirinya sendiri. Tetapi anggapan itu tersebar luas – suatu 

asumsi yang membuat Ibn Warraq (penulis Why I Am Not a Muslim) terpancing untuk membuat 

tebakan lucu bahwa monoteisme pada gilirannya ditakdirkan untuk menghilangkan pencipta  satu 

lagi dan menjadi ateisme. Catholic Encyclopedia menolak politeisme dan ateisme dalam satu 

ungkapan yang acuh tak acuh: ‘Ateisme dogmatis formal menyangkal dirinya sendiri, dan belum 

pernah secara de facto memenangkan persetujuan bernalar dari sejumlah besar manusia apa pun. 

Politeisme juga, semudah apa pun kepercayaan itu meraih imajinasi populer, tidak pernah bisa 

memuaskan pikiran seorang filsuf.’17 

  Hingga akhir-akhir ini, sauvinisme monoteistik tertuang dalam undang-undang organisasi 

amal baik di Inggris maupun Skotlandia, yang mendiskriminasi kepercayaan -kepercayaan  politeistik dalam 

pemberian status bebas pajak, sambil memudahkan organisasi-organisasi yang misinya yaitu  

mempromosikan kepercayaan  monoteistik, yang tidak perlu melewati pemeriksaan ketat yang, 

sebagaimana sepatutnya, dituntut dari organisasi-organisasi sekuler. Saya pernah berambisi 

membujuk salah satu tokoh masyarakat dari komunitas Hindu di Britania untuk menggugat 

diskriminasi sombong ini terhadap politeisme secara hukum. 

  Jauh lebih baik, tentu saja, yaitu  mengingkari segala promosi kepercayaan  sebagai alasan 

untuk mendapat status organisasi amal. Tindakan tersebut akan memberi manfaat besar bagi 

masyarakat, terutama di Amerika Serikat, di mana jumlah uang bebas-pajak yang disedot oleh 

gereja-gereja, dan memperkaya televangelis yang sudah cukup kaya, mencapai tingkat yang 

dapat sewajarnya dideskripsikan sebagai sinting. Oral Roberts, yang namanya cocok sekali 

dengan perbuatannya, pernah mengatakan kepada penontonnya di televisi bahwa pencipta  akan 

membunuhnya kecuali mereka memberinya 8 juta dolar. Hampir tidak dapat dipercaya, hal itu 

berhasil. Bebas pajak! Roberts sendiri masih kuat, sama dengan ‘Universitas Oral Roberts’ di 

Tulsa, Oklahoma. Gedung-gedungnya, dinilai pada angka 250 juta dolar, dipesan langsung oleh 

pencipta  dengan kata-kata ini: ‘Angkatlah murid-muridmu untuk mendengar suaraKu, untuk pergi 

ke tempat cahayaKu redup, ke tempat suaraKu terdengar sayup, dan kekuatan penyembuhanKu 

tidak dikenali, bahkan sampai batas-batas Bumi yang terjauh. Karya mereka akan melampaui 

karyamu, dan hal itu menyenangkan bagiKu.’ 

  Setelah dipikir-pikir, penggugat Hindu khayalan saya mungkin saja akan menalar, ‘Jika 

tidak dapat dikalahkan, mendingan bergabung saja’. Politeismenya sebenarnya bukan politeisme 

melainkan monoteisme yang menyamar. Hanya ada satu pencipta  – Dewa Brahma sang pencipta, 

Dewa Wisnu sang Pemelihara, Dewa Siwa sang Pelebur, para dewi Saraswati, Laksmi dan 

Parwati (istrinya Brahma, Wisnu dan Siwa), Dewa Ganesa sang gajah, dan ratusan yang lain, 

semua yaitu  manifestasi atau perwujudan yang berbeda dari satu pencipta . 

  Seharusnya para junjungan kristen  menerima kesofisan seperti itu. Sungai-sungai tinta di abad 

pertengahan, dan darah juga, telah dibuang dalam pertikaian mengenai ‘misteri’ Trinitas, dan 

dalam menaklukkan penyimpangan seperti heresi Arian. Arius dari Alexandria, pada abad 

keempat Masehi, menyangkal bahwa junjungan kristen   yaitu  konsubstansial (dengan kata lain, dari 

substansi atau esensi yang sama) dengan pencipta . Apa gerangan artinya itu, besar kemungkinan 

Anda bertanya? Substansi? ‘Substansi’ apa? Apa persis yang Anda maksudkan dengan ‘esensi’? 

Sepertinya ‘sangat sedikit’ merupakan satu-satunya jawaban yang masuk akal. Namun, 

kontroversi itu membelah dunia Kristiani menjadi dua selama satu abad, dan Kaisar 

Konstantinus menyuruh bahwa semua salinan buku Arius harus dibakar. Membelah dunia 

Kristiani karena persoalan kecil sekali – begitulah selalu cara teologi. 

  Apakah ada satu pencipta  dalam tiga bagian, atau tiga pencipta  dalam satu? Catholic 

Encyclopedia menjelaskan persoalan ini, dalam sebuah mahakarya penalaran dekat teologis: 

   

Dalam kesatuan pencipta  ada tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Tiga 

Pribadi ini sebenarnya berbeda satu dari yang lain. Jadi, menurut kata-kata 

Kredo Athanasius: ‘Bapa yaitu  pencipta , Putra yaitu  pencipta  dan Roh Kudus 

yaitu  pencipta , namun tidak terdapat tiga pencipta , tetapi hanya satu pencipta .’ 

 

  Seolah-olah itu kurang jelas, Encyclopedia itu mengutip Santo Gregorius Thaumaturgus, 

seorang teolog abad ke-3: 

   

Karena itu tidak ada yang tercipta, tidak ada yang tergantung dari yang lain 

dalam Trinitas: tidak ada juga yang ditambah seolah-olah pernah tidak ada, 

tetapi masuk kemudian: karena itu Bapa tidak pernah ada tanpa Putra, atau 

Putra tanpa Roh: dan Trinitas yang sama ini yaitu  kekal dan tidak dapat diubah 

selamanya. 

 

  Keajaiban apa pun yang dengannya Santo Gregorius meraih julukannya, bukan keajaiban 

kejernihan yang jujur. Kata-katanya menyampaikan rasa khas obskurantis teologi, yang – 

berbeda dengan ilmu pengetahuan atau kebanyakan bidang kesarjanaan manusia yang lain – 

tidak mengalami kemajuan selama 18 abad. Thomas Jefferson, seperti biasa, benar ketika 

berkata, ‘Cemoohan yaitu  satu-satunya senjata yang dapat digunakan untuk melawan proposisi 

yang tidak dapat diartikan. Ide-ide harus jelas sebelum akal budi dapat bekerja dengannya, dan 

tak seorang pun pernah memiliki ide jelas mengenai trinitas. Itu hanyalah Sim Salabimnya para 

penipu yang menyebut dirinya imam junjungan kristen  .’ 

  Hal lain yang harus saya komentari yaitu  kepercayaan-diri luar biasa besar yang 

diandalkan orang religius ketika menyatakan detail-detail kecil, yang untuknya mereka tidak 

memiliki atau dapat memiliki bukti apa pun. Barangkali fakta bahwa tidak ada bukti untuk 

mendukung pendapat teologis, di pihak mana pun, yang memelihara permusuhan bengis yang 

khas terhadap mereka yang pendapatnya sedikit berbeda, khususnya, kebetulan, dalam bidang 

Trinitarianisme ini. 

  Jefferson mencemooh habis-habisan doktrin bahwa, sebagaimana ia tulis, ‘Ada tiga 

pencipta ’, dalam kritiknya atas Kalvinisme. Tetapi khususnya aliran Katolik Romawi dalam 

Kristianitas yang terus berulang merayu politeisme secara sungguh berlebihan. Trinitas ditemani 

oleh Maria, ‘Ratu Surga’, dewi yang tidak disebut dewi, yang pasti menang juara kedua dengan 

pencipta  sendiri sebagai sasaran doa. Panteon menjadi lebih besar lagi dengan segerombolan santo, 

yang kekuatannya untuk syafaat membuat mereka, kalau bukan separuh dewa, tetap layak 

didekati mengenai bidang keahliannya masing-masing. Catholic Community Forum membantu 

dengan menyediakan daftar 5.120 santo,18 bersama dengan bidang keahliannya, termasuk sakit 

perut, korban pelecehan, anoreksia, penjual senjata, pandai besi, patah tulang, teknisi bom, dan 

gangguan usus, dan itu hanya sampai huruf B dalam bahasa Inggris. Dan kita tidak boleh 

melupakan empat Paduan Suara Tentara Malaikat, dalam sembilan tataran: Serafim, Kerubim, 

Singgasana, Pemerintah, Kebajikan, Kekuatan, Kerajaan, Penghulu Malaikat, dan Malaikat biasa 

saja, termasuk teman terdekat kita, para Malaikat Pelindung. Hal yang paling mengesankan bagi 

saya mengenai mitologi Katolik yaitu  kepicikan yang tidak berselera, tetapi lebih dari itu, sikap 

enteng yang masa bodoh pada orang-orang ini ketika mereka mengarang saja detail-detailnya. 

Semuanya diada-adakan begitu saja, tanpa rasa malu. 

  Paus Yohanes Paulus II menciptakan lebih banyak santo daripada semua pendahulunya 

selama beberapa abad sebelumnya, dan dia memiliki afinitas khusus dengan Perawan Maria. 

Hasrat politeistiknya didemonstrasikan secara dramatis pada 1981 ketika ada yang berusaha 

membunuhnya di Roma, dan dia menganggap bertahan hidupnya sebagai intervensi Bunda Kita 

dari Fatima: ‘Sebuah tangan maternal membimbing pelurunya.’ Kita tidak bisa tidak bertanya 

kenapa tangan itu tidak membimbingnya agar tidak kena sama sekali. Orang lain mungkin akan 

mengira bahwa tim ahli bedah yang melakukan pembedahan selama enam jam layak mendapat 

sedikit pujian; tetapi barangkali tangan mereka, juga, dibimbing secara maternal. Poin yang 

relevan yaitu  bukan saja Bunda Kita yang, menurut sang Paus, membimbing pelurunya, tetapi 

secara khusus Bunda Kita dari Fatima. Rupanya Bunda Kita dari Lourdes, Bunda Kita dari 

Guadalupe, Bunda Kita dari Medjugorje, Bunda Kita dari Akita, Bunda Kita dari Zeitoun, Bunda 

Kita dari Garabandal dan Bunda Kita dari Knock sedang sibuk dengan urusan lain pada saat itu. 

  Bagaimana orang Yunani, Romawi, dan Viking menjawab teka-teki politeologis seperti 

itu? Apakah Venus hanya nama lain untuk Afrodit, atau apakah mereka yaitu  dua dewi cinta 

yang berbeda? Apakah Thor dengan palunya merupakan penjelmaan Wotan, atau dewa yang 

berbeda? Siapa yang peduli? Kehidupan terlalu singkat untuk membuang waktu dengan 

pembedaan di antara satu khayalan dengan banyak. Saya sudah sedikit membahas politeisme 

agar tidak dapat dituduh mengabaikannya, dan saya tidak akan membahasnya lagi. Untuk alasan 

kesingkatan saya akan menyebut semua pencipta , baik poli- maupun monoteistik, sebagai ‘pencipta ’ 

saja. Saya juga sadar bahwa pencipta  Abrahamik yaitu  jantan secara agresif (agar sopan), dan hal 

ini juga akan saya terima sebagai suatu konvensi dalam penggunaan kata ganti he. Teolog-teolog 

yang lebih terdidik menyatakan bahwa pencipta  tidak berkelamin, sedangkan beberapa teolog 

feminis berusaha meluruskan ketidakadilan historis dengan menganggap pencipta  sebagai 

perempuan. Tapi apa pula perbedaan di antara perempuan yang tidak ada dengan lelaki yang 

tidak ada? Saya mengira, dalam  teologi dan feminisme yang sekaligus tidak nyata dan dangkal, 

eksistensi mungkin yaitu  sifat yang kalah menonjol dengan gender. 

  Saya menyadari bahwa kritikus-kritikus kepercayaan  dapat diserang karena tidak mengakui 

keberkepercayaan n subur tradisi-tradisi dan pandangan-pandangan dunia yang pernah disebut religius. 

Karya-karya yang mempertimbangkan wawasan antropologis, dari Golden Bough-nya Sir James 

Frazer hingga Religion Explained-nya Pascal Boyer atau In Gods We Trust-nya Scott Atran, 

secara memesonakan mendokumentasikan fenomenologi aneh takhayul dan ritual.  Bacalah 

buku-buku seperti itu dan kagumi kekayaan keluguan manusia. 

  Tetapi itu bukan caranya buku ini. Saya menyangkal supernaturalisme dalam segala 

bentuknya, dan cara paling efektif untuk berlanjut yaitu  berkonsentrasi pada bentuk yang paling 

mungkin dikenali oleh pembaca saya – bentuk yang berdampak secara paling berbahaya pada 

semua masyarakat kita.  Kebanyakan pembaca saya dibesarkan dalam salah satu dari ketiga 

kepercayaan  monoteistik ‘agung’ saat ini (empat jika Mormonisme dihitung), dan semuanya 

menelusuri silsilahnya kembali ke sang patriark mitologis Abraham. Pembaca dianjurkan supaya 

mengingat keluarga tradisi-tradisi tersebut di sepanjang buku ini. 

  Ini yaitu  momen yang tepat untuk menangkis terlebih dahulu suatu balasan tak 

terelakkan kepada buku ini, yang jika tidak diurus sekarang – sepasti malam mengganti petang – 

akan muncul dalam suatu ulasan: ‘pencipta  yang akannya Dawkins tidak percaya yaitu  pencipta  

yang akannya saya juga tidak percaya. Saya tidak percaya akan seorang lelaki tua di langit yang 

berjenggot putih panjang.’ Lelaki tua itu yaitu  pengalihan isu yang tidak relevan dan 

jenggotnya sama bosannya dengan panjangnya. Memang, pengalihan isu itu lebih buruk daripada 

tidak relevan. Kekonyolannya diperhitungkan untuk mengalihkan perhatian dari fakta bahwa apa 

yang benar-benar dipercayai oleh pembicara itu tidak kalah konyolnya. Saya tahu Anda tidak 

percaya akan seorang lelaki tua berjenggot yang duduk di atas awan, jadi tidak usah kita 

membuang waktu lebih banyak soal itu. Saya tidak menyerang versi pencipta  atau pencipta  tertentu. 

Saya menyerang pencipta , semua pencipta , apa pun dan segala hal supernatural, di mana pun dan 

kapan pun mereka pernah atau akan diciptakan. 

 

MONOTEISME 

 

  Kejahatan besar yang tidak boleh disebut pada pusat kebudayaan kita yaitu  

monoteisme. Dari sebuah teks biadab dari Zaman Perunggu yang dikenal sebagai Perjanjian 

Lama, tiga kepercayaan  anti-manusia telah berevolusi – Yudaisme, Kristianitas, dan Islam. Mereka 

yaitu  kepercayaan  pencipta -langit. Mereka secara harfiah patriarkal – pencipta  yaitu  Bapa Maha 

Kuasa – dan karena itu ada kebencian terhadap perempuan selama 2.000 tahun di negara-

negara yang terjangkiti pencipta -langit itu serta utusan jantan duniawinya. 

  –GORE VIDAL 

 

  Yang tertua dari ketiga kepercayaan  Abrahamistik, dan yang jelas sebagai leluhur bagi kedua 

yang lain, yaitu  Yudaisme: pada mulanya sebuah kultus kesukuan yang memuja satu pencipta  

yang sangat tidak menyenangkan, terobsesi hingga kematian dengan restriksi seksual, dengan 

bau daging hangus, dengan keunggulannya sendiri di atas pencipta -pencipta  pesaing dan dengan 

keeksklusifan suku gurun terpilihnya. Pada masa okupasi Romawi atas Palestina, Kristianitas 

didirikan oleh Paulus dari Tarsus sebagai suatu aliran Yudaisme yang kurang bengis mengenai 

monoteismenya dan juga kurang ekslusif – suatu kepercayaan  yang memandang ke luar dari para 

Yahudi kepada dunia luar. Beberapa abad kemudian, Muhammad dan pengikutnya merosot ke 

monoteisme yang tidak mengenal kompromi seperti dalam versi asli Yahudi, tetapi bukan 

keekslusifannya, dan mendirikan Islam berdasarkan sebuah kitab suci baru, Alquran, dengan 

menambah suatu ideologi penaklukan militer yang kuat untuk menyebarkan kepercayaan nya. 

Kristianitas, juga, disebarkan dengan pedang, dipegang pertama-tama oleh tangan-tangan 

Romawi setelah Kaisar Konstantinus mengangkatnya dari kultus eksentrik menjadi kepercayaan  resmi, 

kemudian oleh para prajurit Perang Salib, dan kemudian oleh para conquistadores dan penyerbu 

dan penjajah Eropa yang lain, ditemani oleh para misionaris. Untuk sebagian besar tujuan saya, 

ketiga kepercayaan  Abrahamistik dapat dianggap sama saja. Kecuali saya mengucapkannya secara 

eksplisit, saya kebanyakan akan memikirkan Kristianitas, tetapi hanya karena itulah versi yang 

kebetulan saya paling kenal. Untuk tujuan saya, perbedaannya kalah penting dengan 

kemiripannya. Dan saya tidak akan berurusan sama sekali dengan kepercayaan  lain seperti Buddhisme 

atau Khonghucu. Memang, ada anggapan yang dapat dibenarkan bahwa kedua kepercayaan  tersebut 

selayaknya tidak dianggap sebagai kepercayaan  sama sekali tetapi sebagai sistem etika atau filsafat 

hidup. 

  Definisi sederhana Hipotesis pencipta  yang memulai bab ini harus dibahas secara cukup 

terperinci jika akan mencakup pencipta  Abrahamik. Dia tidak hanya menciptakan alam semesta; 

dia yaitu  pencipta  pribadi yang berdiam di dalamnya, atau barangkali di luarnya (apa pun artinya 

itu), dan memiliki sifat-sifat manusia tidak menyenangkan yang sudah saya sebut. 

  Sifat-sifat pribadi, baik menyenangkan atau tidak menyenangkan, tidak terdapat dalam 

pencipta  deis Voltaire dan Thomas Paine. Dibandingkan dengan penjahat gila di Perjanjian Lama, 

pencipta  deis di Pencerahan abad ke-18 yaitu  entitas yang lebih agung dalam segala hal: layak 

memiliki ciptaan kosmiknya, tinggi jauh dari urusan manusia, acuh tak acuh mengenai pemikiran 

dan harapan privat kita, tidak mengindahkan dosa kita yang kotor atau pengakuan bersalah kita 

yang digumamkan. pencipta  deis yaitu  fisikawan yang mengakhiri segala fisika, alfa dan omega 

para matematikawan, penjelmaan pencipta  para perancang, hiper-insinyur yang mempersiapkan 

hukum-hukum dan konstan-konstan alam semesta, menyetelnya secara halus dengan saksama 

dan pra-pengetahuan yang luar biasa, memicu apa yang kita kini sebut sebagai ledakan dahsyat 

panas, lalu pensiun dan tidak pernah terdengar lagi. 

  Pada zaman yang imannya lebih kuat, orang deis dibenci karena dianggap sama saja 

dengan ateis. Susan Jacoby, dalam Freethinkers: A History of American Secularism, membuat 

daftar pilihan atas ejekan yang dilemparkan kepada Tom Paine yang malang: ‘Yudas, reptil, 

babi, anjing gila, pemabuk, benalu, binatang teladan, biadab, pembohong, dan tentu saja kafir’. 

Paine meninggal telantar (dengan pengecualian hormat Jefferson) oleh mantan teman politik 

yang malu karena pandangannya yang anti-Kristiani. Dewasa ini, medan sudah begitu bergeser 

sehingga para deis lebih mungkin dibedakan dengan para ateis dan dikelompokkan dengan para 

teis. Mereka, memang, percaya akan suatu kecerdasan tertinggi yang menciptakan alam semesta. 

 

SEKULARISME, PARA FOUNDING FATHERS DAN kepercayaan  AMERIKA 

 

  Menurut asumsi konvensional, para Founding Fathers-nya Republik Amerika yaitu  

deis. Tidak dapat diragukan bahwa banyak dari mereka memang begitu, meskipun pernah 

dikemukakan bahwa yang terbaik dari mereka mungkin yaitu  ateis. Tentu saja tulisan mereka 

mengenai kepercayaan  pada zaman mereka sendiri membuat saya tidak ragu bahwa kebanyakan dari 

mereka akan menjadi ateis pada zaman kita. Tetapi apa pun pandangan religius mereka masing-

masing pada zaman mereka sendiri, satu hal yang menyatukan mereka secara kolektif yaitu  

bahwa mereka sekularis, dan inilah topik saya di seksi ini, bermula dengan sebuah kutipan – 

yang barangkali mengejutkan – dari Senator Barry Goldwater di 1981, yang menunjukkan 

dengan jelas betapa kuatnya calon presiden dan pahlawan konservatisme Amerika itu 

menjunjung tinggi tradisi sekuler dasar Republik: 

   

Tidak ada posisi yang tentangnya orang begitu tidak dapat digerakkan seperti 

kepercayaan religiusnya. Tidak ada sekutu lebih kuat yang dapat diklaim dalam 

debat daripada junjungan kristen   Kristus, atau pencipta , atau Allah, atau sebutan apa pun 

untuk entitas tertinggi ini. Tetapi seperti senjata ampuh apa pun, penggunaan 

nama pencipta  demi kepentingan sendiri seharusnya jarang diandalkan. Faksi-

faksi religius yang sedang tumbuh di seantero negeri kita tidak menggunakan 

otoritas religiusnya dengan bijaksana. Mereka berusaha memaksa pemimpin-

pemimpin pemerintahan untuk mengikuti posisinya 100 persen. Jika ada yang 

tidak setuju dengan kelompok-kelompok religius ini mengenai salah satu isu 

moril tertentu, mereka mengeluh, mereka mengancam dengan kehilangan uang 

atau suara atau kedua-duanya. Terus terang saya capek mendengar para 

pengkhotbah politik di negara ini menyuruh saya sebagai warga negara bahwa 

jika saya ingin menjadi orang yang bermoral, saya harus percaya pada A, B, C, 

dan D. Mereka mengira diri mereka siapa? Dan dari mana mereka berani 

mengklaim hak untuk memaksakan kepercayaan moralnya kepada saya? Dan 

saya lebih marah lagi sebagai seorang legislator yang harus bertahan mendengar 

ancaman dari setiap kelompok religius yang menganggap dirinya memiliki hak 

yang dikaruniai oleh pencipta  untuk menguasai suara saya dalam setiap isu di 

Senat. Saya memperingati mereka hari ini: Saya akan melawan mereka pada 

setiap langkah jika mereka berusaha memaksakan keyakinan moral mereka 

kepada semua warga Amerika atas nama konservatisme.19 

 

  Pandangan religius para Founding Fathers sangat menarik perhatian para tukang 

propaganda politik kanan Amerika saat ini, yang bersemangat untuk memaksakan versi mereka 

sendiri atas sejarah. Bertolak-belakang dengan pandangan mereka, fakta bahwa Amerika Serikat 

tidak didirikan sebagai negara Kristiani dinyatakan sejak awal dalam sebuah perjanjian dengan 

Tripoli, ditulis pada 1796 di masa George Washington dan ditandatangani oleh John Adams pada 

1797: 

   

Karena Pemerintah Amerika Serikat tidak, dalam arti apa pun, didirikan atas 

dasar kepercayaan  Kristiani; karena Amerika tidak memiliki pada dirinya sendiri sifat 

permusuhan terhadap hukum, kepercayaan , atau kedamaian orang Muslim; dan 

karena Negara-negara Bagian tersebut belum pernah memasuki perang atau 

tindakan permusuhan apa pun terhadap bangsa Muslim apa pun, dinyatakan 

oleh kedua belah pihak bahwa suatu dalih yang berasal dari pendapat-pendapat 

religius tidak diperkenankan mengganggu kerukunan yang berlaku di antara 

kedua negara ini. 

 

  Kata-kata yang membuka kutipan ini akan membuat para elite di Washington saat ini 

mengamuk. Namun, Ed Buckner telah membuktikan secara meyakinkan bahwa kata-kata itu 

tidak menimbulkan pertikaian saat itu, 20 baik di antara politikus atau pun di publik. 

  Ada suatu paradoks yang sering dikomentari, yakni, bahwa Amerika Serikat, didirikan 

pada prinsip sekularisme, kini menjadi negara paling religius di dunia Kristiani, sedangkan 

Inggris, dengan gereja resmi yang dikepalai oleh ratu konstitusionalnya, yaitu  salah satu negara 

yang paling tidak religius. Saya selalu ditanyai kenapa bisa begitu, dan saya tidak tahu. Saya 

kira, bisa jadi bahwa Inggris sudah jenuh dengan kepercayaan  setelah sejarah kekerasan antarkepercayaan  

yang mengerikan, dengan para Protestan dan para Katolik silih berganti mengambil kuasa dan 

membunuh kubu lain secara sistematis. Suatu usulan lain berasal dari pengamatan bahwa 

Amerika yaitu  bangsa imigran. Seorang kolega menunjukkan kepada saya bahwa imigran-

imigran, tercerabut dari stabilitas dan kenyamanan keluarga besarnya di Eropa, mungkin saja 

merangkul gereja sebagai semacam pengganti-kerabat di tanah asing. Itu ide yang menarik dan 

layak diteliti lebih lanjut. Tidak dapat diragukan bahwa banyak orang Amerika memandang 

gereja lokalnya sebagai unit identitas penting, yang memang memiliki beberapa atribut keluarga 

besar.  

  Hipotesis satu lagi yaitu  religiositas Amerika berasal secara paradoks dari sekularisme 

konstitusinya. Justru karena Amerika sekuler secara hukum, kepercayaan  menjadi pasar bebas. Gereja-

gereja pesaing berkompetisi untuk jemaat – termasuk perpuluhannya yang besar – dan kompetisi 

itu dilakukan dengan semua teknik penjualan agresif pasar.  Apa yang berhasil untuk sabun 

berhasil untuk pencipta , dan hasilnya yaitu  sesuatu yang mendekati mania religius di antara 

kaum-kaum kurang terpelajar saat ini. Di Inggris, sebaliknya, kepercayaan  di bawah perlindungan 

gereja resmi telah menjadi sekadar hiburan sosial yang menyenangkan, hampir tidak dikenali 

sebagai religius sama sekali. Tradisi Inggris ini diucapkan dengan baik oleh Giles Fraser, 

seorang pastor Anglikan yang juga bekerja sebagai dosen filsafat di Oxford, yang menulis di 

Guardian. Artikel Fraser memiliki subjudul ‘Penetapan Gereja Inggris mencabut pencipta  dari 

kepercayaan , tetapi ada risiko dalam suatu pendekatan yang lebih bersemangat kepada iman’: 

   

Ada suatu masa ketika pastor kampung yaitu  tokoh tetap dalam drama-drama 

Inggris. Orang nyentrik lembut ini yang suka minum teh, dengan sepatu yang 

disemir dan sopan-santunnya, mewakili sejenis kepercayaan  yang tidak membuat 

orang tidak religius kurang nyaman. Dia tidak akan mulai berkeringat secara 

eksistensial atau menekankan seseorang ke dinding untuk bertanya apakah ia 

sudah diselamatkan?, apalagi memicu perang salib dari mimbar atau menanam 

bom di pinggir jalan atas nama semacam kekuasaan yang lebih tinggi.21 

 

  (Ada resonansi dengan ‘Our Padre’nya Betjeman, yang saya kutip pada awal Bab 1). 

Fraser kemudian berkata bahwa ‘pastor kampung yang baik itu ternyata memvaksin sebagian 

besar orang Inggris agar tidak terjangkiti Kristianitas’. Dia menutup artikelnya dengan meratapi 

kecenderungan lebih mutakhir di Gereja Inggris untuk kembali menganggap kepercayaan  serius, dan 

kalimat terakhirnya yaitu  peringatan. ‘Kekhawatiran yaitu  kita mungkin akan melepaskan jin 

fanatisme religius Inggris dari kotak keresmian di mana ia tidur selama berabad-abad.’ 

  Jin fanatisme religius merajalela di Amerika saat ini, dan para Founding Fathers akan 

ngeri melihatnya. Apakah benar atau tidak untuk menerima paradoks dan menyalahkan 

konstitusi sekuler yang mereka buat, para pendiri