delusi tuhan 9
jukkan suatu pola: penyimpangan signifikan dari keturunan
bersama. Bahasa-bahasa berpisah dari suatu leluhur bersama jika diberikan cukup waktu terpisah
secara geografis (saya akan kembali ke poin ini sebentar lagi). Hal yang sama sepertinya berlaku
untuk kepercayaan dan larangan yang arbitrer dan tidak berdasar, diwariskan selama generasi-
generasi – kepercayaan yang barangkali dibantu oleh kemampuan berguna otak anak untuk
diprogramkan.
Pemuka-pemuka kepercayaan sangat sadar akan kerentanan otak anak, dan pentingnya
melakukan indoktrinasi sejak dini. Sumbar Jesuit, ‘Beri saya anaknya selama tujuh tahun
pertamanya, dan saya akan memberi Anda orang dewasanya,’ tidak kurang tepat (atau jahat)
hanya karena klise. Zaman sekarang, James Dobson, pendiri gerakan ‘Fokus pada Keluarga’
(Focus on the Family) yang terkenal buruk* sama-sama mengenal prinsip itu: ‘Mereka yang
menguasai apa yang diajarkan kepada pemuda, dan apa yang mereka alami – apa yang mereka
lihat, dengar, pikir, dan percaya – akan menentukan masa depan negara ini.’’79
Tetapi ingat, usulan khusus saya mengenai taklid berguna pikiran anak hanyalah contoh
atas jenis hal yang mungkin merupakan analog dengan ngengat menavigasi menggunakan Bulan
atau bintang-bintang. Ahli etologi Robert Hinde, dalam Why Gods Persist, dan para antropolog
Pascal Boyer, dalam Religion Explained, dan Scott Atran, dalam In Gods We Trust, telah secara
mandiri mempromosikan ide umum mengenai kepercayaan sebagai suatu produk sampingan dari
kecenderungan psikologis biasa – lebih baik disebut banyak produk sampingan, karena
khususnya para antropolog ingin menekankan keberkepercayaan n kepercayaan -kepercayaan dunia, serta apa yang
mereka miliki bersama. Penemuan para antropolog terkesan aneh bagi kita hanya karena belum
terbiasa. Semua kepercayaan religius terkesan aneh bagi mereka yang tidak dibesarkan
dengannya. Boyer meneliti suku Fang dari Kamerun, yang percaya...
...bahwa penyihir memiliki sebuah orang internal tambahan seperti hewan yang
terbang keluar malam-malam dan merusak palawija orang lain atau meracuni
darahnya. Juga dikatakan bahwa penyihir-penyihir ini terkadang berkumpul
untuk pesta besar, di mana mereka melahap korbannya dan merencanakan
serangan masa depan. Banyak akan berkata bahwa seorang teman dari seorang
teman sebenarnya melihat penyihir terbang di atas desa malam-malam, duduk di
atas daun pisang dan melempar damak ke arah beberapa korban yang tidak
menduga.
Boyer berlanjut dengan sebuah anekdot pribadi:
Saya menyebut penyihir tersebut dan hal eksotis lain sambil makan malam di
suatu kolese Cambridge, ketika salah satu tamu kami, seorang teolog
Cambridge terkemuka, membalas saya sebagai berikut: ‘Itulah yang membuat
antropologi begitu menarik dan begitu sulit juga. Anda harus menjelaskan
bagaimana orang bisa percaya omong kosong seperti itu.’ Yang membuat saya
tersentak diam. Percakapan sudah beralih sebelum saya mampu memikirkan
tanggapan yang relevan – mengenai dulang dan paku.
Jika kita berasumsi bahwa teolog Cambridge itu yaitu seorang junjungan kristen aliran utama,
besar kemungkinan dia percaya suatu kombinasi dari yang berikut:
• Pada zaman para leluhur, seorang lelaki dilahirkan dari seorang ibu perawan tanpa
* Saya terhibur ketika melihat tulisan ‘Fokus pada keluargamu sendiri’ di stiker mobil di Colorado, tetapi kini itu
terkesan kurang lucu bagi saya. Mungkin ada anak yang perlu dilindungi dari indoktrinasi oleh orang tuanya sendiri
(lihat Bab 9).
keterlibatan ayah biologis.
• Lelaki tanpa ayah yang sama memanggil seorang teman bernama Lazarus, yang sudah
mati cukup lama sehingga bau, dan Lazarus segera hidup kembali.
• Lelaki tanpa ayah itu sendiri kembali hidup setelah mati dan dikubur selama tiga hari.
• Empat puluh hari kemudian, lelaki tanpa ayah itu naik ke atas bukit lalu menghilang
secara jasmani ke dalam langit.
• Jika Anda menggumam dalam pikiran Anda sendiri, lelaki tanpa ayah itu, dan ‘ayah’nya
(yang merupakan ‘orang’ yang sama) akan mendengar pemikiran Anda dan mungkin
akan bertindak berdasarkan padanya. Dia mampu mendengar pemikiran setiap orang lain
di dunia sekaligus.
• Jika Anda berbuat suatu yang jahat, atau suatu yang baik, lelaki tanpa ayah yang sama itu
melihat semua, bahkan jika tak seorang pun yang lain melihat. Anda mungkin akan
mendapat pahala atau dihukum sesuai dengan perbuatan Anda, termasuk setelah
kematian Anda.
• Ibu perawan lelaki tanpa ayah itu tidak pernah mati tetapi ‘diangkat’ secara jasmani ke
surga.
• Roti dan anggur, jika diberkati oleh seorang pastor (yang harus memiliki testis),
‘menjadi’ tubuh dan darah lelaki tanpa ayah itu.
Apa yang akan dikira oleh seorang antropolog objektif, yang baru menemukan perangkat
kepercayaan ini sambil melakukan penelitian lapangan di Cambridge?
DISIAPKAN SECARA PSIKOLOGIS UNTUK kepercayaan
Gagasan mengenai produk sampingan psikologis tumbuh secara alami dari bidang
psikologi evolusioner yang penting dan masih berkembang.80 Psikolog-psikolog evolusioner
mengemukakan bahwa, sama seperti mata yaitu organ yang berevolusi untuk melihat, dan
sayap yaitu organ yang berevolusi untuk terbang, begitu juga otak yaitu kumpulan organ (atau
‘modul) untuk mengurus seperangkat kebupencipta pemrosesan data spesialis. Ada modul untuk
mengurus kekerabatan, modul untuk mengurus pertukaran timbal balik, modul untuk mengurus
empati, dan seterusnya. kepercayaan dapat dilihat sebagai produk sampingan dari malfungsi beberapa
modul ini, misalnya modul untuk membentuk teori mengenai pikiran yang lain, untuk
membentuk koalisi, dan untuk mendiskriminasi demi anggota kelompok dalam dan melawan
orang asing. Salah satu modul tersebut dapat berfungsi seperti hal setara manusia dengan
navigasi ngengat berdasarkan benda langit, rentan untuk malfungsi dengan cara yang sama yang
saya kemukakan untuk taklid masa kanak-kanak. Psikolog Paul Bloom, pendukung pandangan
‘kepercayaan yaitu produk sampingan’ satu lagi, menunjukkan bahwa anak memiliki kecenderungan
alami terhadap suatu teori pikiran dualistis. kepercayaan , baginya, yaitu suatu produk sampingan
dari dualisme naluri itu. Kita manusia, dia usulkan, dan khususnya anak-anak, yaitu dualis
sejati sejak lahir.
Seorang dualis mengakui suatu pembedaan fundamental di antara materi dengan pikiran.
Seorang monis, sebaliknya, percaya bahwa pikiran yaitu suatu manifestasi dari materi – materi
dalam sebuah otak atau barangkali sebuah komputer – dan tidak bisa ada secara terpisah dari
materi. Seorang dualis percaya bahwa pikiran yaitu semacam roh tidak bertubuh yang
menduduki tubuh dan karena itu dapat dibayangkan bisa pergi dari tubuh dan berada di tempat
lain. Para dualis dengan mudah menafsirkan penyakit jiwa sebagai ‘kesurupan oleh iblis-iblis’,
iblis tersebut dipahami sebagai roh yang masa tinggalnya di tubuh bersifat sementara, sehingga
mereka dapat ‘diusir’. Para dualis pada setiap kesempatan menganggap objek fisik tidak berjiwa
sebagai makhluk hidup, dan melihat roh dan iblis bahkan di air terjun dan awan.
Novel 1883 oleh F. Anstey, Vice Versa masuk akal bagi seorang dualis, tetapi dalam arti
sempit seharusnya tidak terpahami bagi seorang monis sejati seperti saya. Pak Bultitude dan anak
lelakinya secara misterius menemukan bahwa mereka telah bertukar tubuh. Ayahnya terpaksa
pergi sekolah dalam tubuh anak, suatu yang sangat disukai oleh anaknya; sedangkan anak, dalam
tubuh ayah, hampir menghancurkan bisnis keluarga melalui keputusannya yang tidak dewasa.
Suatu alur yang serupa digunakan oleh P.G. Wodehouse dalam Laughing Gas, di mana Earl
Havershot dan seorang anak bintang film dibius pada titik yang sama di kursi dokter gigi yang
bersebelahan, dan bangun dengan tubuhnya tertukar. Sekali lagi, alur itu hanya masuk akal bagi
seorang dualis. Harus ada suatu yang sesuai dengan Tuan Havershot yang bukan bagian
tubuhnya, karena jika tidak, bagaimana bisa dia bangun dalam tubuh aktor anak?
Seperti kebanyakan ilmuwan, saya bukan seorang dualis, namun saya mampu dengan
mudah menikmati Vice Versa dan Laughing Gas. Paul Bloom akan berkata bahwa ini karena,
meskipun saya telah belajar untuk menjadi seorang monis intelektual, saya yaitu hewan
manusia dan karena itu berevolusi sebagai seorang dualis naluri. Ide bahwa ada sesosok saya
yang hinggap di suatu tempat di belakang mata saya dan mampu, setidaknya dalam fiksi,
bermigrasi ke dalam otak orang lain, tertanam secara mendalam di diri saya dan setiap manusia
yang lain, apa pun pretensi intelektual kita untuk menganut monisme. Bloom mendukung
pernyataannya dengan bukti eksperimental bahwa anak-anak bahkan lebih mungkin lagi menjadi
dualis daripada orang dewasa, terutama anak yang sangat muda. Ini menunjukkan bahwa suatu
kecenderungan terhadap dualisme diprogramkan dalam otak dan, menurut Bloom, memberi
suatu kecenderungan alami untuk merangkul ide-ide religius.
Bloom juga mengemukakan bahwa kita cenderung secara watak menjadi kreasionis.
Seleksi alam ‘tidak masuk akal sama sekali secara intuitif’. Khususnya anak-anak sangat
mungkin menetapkan tujuan kepada segala hal, seperti yang diceritakan psikolog Deborah
Keleman dalam artikelnya, ‘Are children “intuitive theists”?’81 Awan ada ‘untuk hujan’. Batu
tajam ada ‘supaya hewan dapat menggunakannya untuk menggaruk saat gatal’. Penetapan tujuan
kepada segala hal disebut teleologi. Anak-anak yaitu teleolog bawaan, dan banyak tidak pernah
melepaskan kepercayaan itu.
Dualisme bawaan dan teleologi bawaan membuat kita cenderung, dengan kondisi yang
kondusif, terhadap kepercayaan , sama seperti reaksi kompas-cahaya ngengat saya membuat mereka
cenderung terhadap ‘bunuh diri’ tidak sengaja. Dualisme bawaan kita menyiapkan kita untuk
percaya akan suatu ‘jiwa’ yang menduduki tubuh daripada menjadi bagian dari tubuh secara
integral. Roh tidak bertubuh seperti itu dapat dengan mudah dibayangkan pergi ke suatu tempat
lain setelah kematian tubuh. Kita juga dapat dengan mudah membayangkan eksistensi suatu
pencipta sebagai roh murni, bukan suatu sifat yang muncul dari materi rumit melainkan yang
berada secara mandiri dari materi. Lebih jelas lagi, teleologi kekanak-kanakan menyiapkan kita
untuk kepercayaan . Jika segala sesuatu memiliki tujuan, itu tujuannya siapa? Tujuan pencipta , tentu saja.
Tetapi apa analog dengannya kegunaan kompas cahaya ngengat? Kenapa seleksi alam
mungkin memilih dualisme dan teleologi dalam otak leluhur kita dan anaknya? Sejauh ini,
penjelasan saya mengenai teori ‘dualis bawaan’ hanya melontarkan bahwa manusia lahir sebagai
dualis dan teleolog alami. Tetapi apa kira-kira manfaat Darwiniannya? Memprediksi perilaku
entitas-entitas di dunia kita yaitu hal yang penting untuk bertahan hidup, dan kita akan
mengharapkan bahwa seleksi alam akan membentuk otak kita untuk melakukan hal itu dengan
cepat dan efisien. Mungkinkah dualisme dan teleologi berguna bagi kita dalam hal itu? Kita
mungkin akan memahami hipotesis ini dengan lebih baik dengan merujuk pada apa yang Daniel
Dennett telah sebut sebagai sikap intensional.
Dennett telah menawarkan suatu klasifikasi berguna atas tiga ‘sikap’ yang kita gunakan
dalam berusaha memahami dan karena itu memprediksi perilaku entitas-entitas seperti hewan,
mesin atau orang lain.82 Ketiganya yaitu sikap fisik, sikap rancangan dan sikap intensional.
Sikap fisik selalu berfungsi secara prinsip, karena segala hal akhirnya mematuhi hukum-hukum
fisika. Tetapi memahami sesuatu menggunakan sikap fisik bisa lambat sekali. Ketika kita sudah
duduk dan memperhitungkan semua interaksi dalam bagian-bagian yang bergerak dalam objek
yang rumit, prediksi kita mengenai perilakuanya besar kemungkinan akan terlambat. Untuk
sebuah objek yang benar-benar dirancang, seperti mesin cuci atau busur silang, sikap rancangan
merupakan jalan pintas yang hemat. Kita dapat menebak bagaimana objek akan berperilaku
dengan mengabaikan saja fisika dan langsung mengandalkan rancangan. Sebagaimana dikatakan
oleh Dennett,
Hampir semua orang dapat memprediksi apakah sebuah jam weker akan
berbunyi atas dasar penyelidikan sekilas terhadap bagian luarnya. Kita tidak
tahu atau ingin tahu apakah jam itu menggunakan per, baterai, matahari, terbuat
dari roda kuningan atau bantalan permata atau chip silikon – kita berasumsi saja
bahwa jam itu dirancang supaya alarm akan berbunyi jika disetel untuk
berbunyi.
Makhluk hidup tidak dirancang, tetapi seleksi alam Darwinian mengizinkan suatu versi
sikap rancangan mengenainya. Kita mendapat jalan pintas menuju pemahaman jantung jika kita
berasumsi bahwa jantung ‘dirancang’ untuk memompa darah. Karl von Frisch didorong untuk
menyelidiki penglihatan warna lebah (melawan pendapat ortodoks bahwa mereka buta warna)
karena dia berasumsi bahwa warna terang bunga ‘dirancang’ untuk menarik perhatiannya. Tanda
kutip itu dirancang untuk menakuti para kreasionis tidak jujur yang jika tanda kutip tidak ada
mungkin akan mengklaim zoolog Austria agung untuk kubu mereka. Tidak perlu dikatakan
bahwa dia mampu dengan sempurna menerjemahkan sikap rancangan ke dalam istilah-istilah
Darwinian yang layak.
Sikap intensional merupakan jalan pintas satu lagi, yang lebih cepat lagi dari sikap
rancangan. Suatu entitas diasumsikan tidak hanya dirancang untuk suatu tujuan tetapi
merupakan, atau mengandung, sesosok pelaku dengan niat yang membimbing tindakannya.
Ketika Anda melihat seekor harimau, sebaiknya Anda tidak menunda prediksi Anda mengenai
perilakunya. Tidak perlu mengindahkan fisika molekulnya, tidak perlu mengindahkan rancangan
kaki, cakar dan giginya. Kucing itu bermaksud untuk makan Anda, dan ia akan menggunakan
kaki, cakar dan giginya dengan cara yang luwes dan pandai untuk memenuhi maksud itu. Cara
paling cepat menebak perilakunya yaitu dengan melupakan fisika dan fisiologi dan melompat
langsung ke niat. Perhatikan bahwa, sama seperti sikap rancangan berhasil bahkan untuk hal
yang sebenarnya tidak dirancang bersama dengan hal yang dirancang, maka sikap intensional
berhasil untuk hal yang tidak memiliki niat sadar sengaja bersama dengan hal yang memiliki niat
itu.
Bagi saya sepertinya sangat masuk akal bahwa sikap intensional memiliki nilai bertahan
hidup sebagai suatu mekanisme otak yang mempercepat pengambilan keputusan dalam keadaan
berbahaya, dan di peristiwa sosial yang krusial. Tidak langsung sejelas itu bahwa dualisme
merupakan pendamping niscaya sikap intensional. Saya tidak akan membahas persoalan itu lebih
lanjut di sini, tetapi saya berpikir kasus dapat dikembangkan bahwa semacam teori mengenai
pikiran-pikiran lain, yang dapat dengan wajar dideskripsikan sebagai dualistik, mungkin
melandasi sikap intensional – khususnya dalam keadaan sosial yang rumit, dan lebih khususnya
lagi ketika intensionalitas tingkat-tinggi terlibat.
Dennett membahas intensionalitas tingkat-ketiga (lelaki itu percaya bahwa perempuan itu
tahu bahwa lelaki itu menginginkannya), tingkat-keempat (perempuan itu menyadari bahwa
lelaki itu percaya bahwa perempuan itu tahu bahwa lelaki itu menginginkannya) dan bahkan
intensionalitas tingkat-kelima (dukun itu menebak bahwa perempuan itu menyadari bahwa lelaki
itu percaya bahwa perempuan itu tahu bahwa lelaki itu menginginkannya). Tataran
intensionalitas sangat tinggi besar kemungkinan hanya terdapat dalam fiksi, sebagaimana
disindir dalam novel sangat lucu Michael Frayn, The Tin Men: ‘Melihat Nunopoulos, Rick tahu
bahwa dia hampir yakin bahwa Anna memandang hina sekali kegagalan Fiddlingchild untuk
memahami perasaannya tentang Fiddlingchild, dan Anna juga tahu bahwa Nina tahu bahwa
Anna tahu tentang pengetahuan Nunopoulos...’ Tetapi fakta bahwa kita dapat menertawakan
pemutarbalikan inferensi akan pikiran yang lain seperti itu dalam fiksi besar kemungkinan
menyampaikan kepada kita suatu yang penting mengenai cara pikiran kita telah diseleksi secara
alami untuk berfungsi di dunia nyata.
Setidaknya pada tatarannya yang lebih rendah, sikap intensional, seperti sikap rancangan,
menghemat waktu yang mungkin akan vital untuk bertahan hidup. Karena itu, seleksi alam
membentuk otak untuk menggunakan sikap intensional sebagai jalan pintas. Kita diprogramkan
secara biologis untuk memandang entitas-entitas yang perilakunya penting bagi kita seolah-olah
mereka memiliki niat. Sekali lagi, Paul Bloom mengutip bukti eksperimental bahwa khususnya
anak-anak lebih mungkin memakai sikap intensional. Ketika bayi-bayi kecil melihat sebuah
objek yang sepertinya mengikuti objek lain (misalnya, di layar komputer), mereka berasumsi
bahwa mereka menyaksikan suatu pengejaran aktif oleh sesosok pelaku intensional, dan mereka
mendemonstrasikan fakta itu dengan tampak terkejut ketika apa yang dianggap sebagai pelaku
tidak mengejar lagi.
Sikap rancangan dan sikap intensional merupakan mekanisme otak yang berguna, penting
untuk mempercepat penebakan mengenai entitas yang sebenarnya penting untuk bertahan hidup,
seperti pemangsa dan pasangan potensial. Tetapi, seperti mekanisme otak yang lain, sikap-sikap
ini bisa malfungsi. Anak-anak, seperti suku primitif, menganggap bahwa cuaca, ombak, arus, dan
batu yang jatuh memiliki niat. Kita semua cenderung terhadap hal yang sama dengan mesin,
terutama ketika mesin mengecewakan kita. Banyak orang akan mengingat dengan senang
harinya mobil Basil Fawlty mogok di tengah misi vitalnya untuk menyelamatkan Gourmet Night
dari kecelakaan. Dia memberinya peringatan yang wajar, menghitung sampai tiga, lalu keluar
dari mobilnya, mengambil dahan pohon dan memukulnya hingga hampir mati. Kebanyakan dari
kita telah mengalami hal yang sama, setidaknya sebentar, dengan sebuah komputer, jika bukan
dengan mobil. Justin Barrett menciptakan akronim HADD, untuk perangkat deteksi pelaku
hiperaktif (hyperactive agent detection device). Kita secara hiperaktif mendeteksi pelaku ketika
tidak ada, dan ini membuat kita menduga ada niat jahat atau baik di mana, sebenarnya, alam
hanya masa bodoh. Saya ternyata mengalami kebencian galak terhadap suatu yang tidak berjiwa
atau bersalah seperti rantai sepeda saya. Ada laporan mengharukan baru-baru ini mengenai
seorang lelaki yang tersandung oleh tali sepatunya yang tidak diikat di Museum Fitzwilliam di
Cambridge, terjatuh dari tangga, dan menghancurkan tiga vas Dinasti Qing yang tak ternilai:
‘Dia berakhir di tengah vas-vas itu, dan mereka terpecah menjadi jutaan kepingan. Dia masih
duduk tersentak di situ ketika staf datang. Semua orang menunggu diam saja, seolah-olah syok.
Lelaki itu terus menunjukkan tali sepatunya, berkata, “Itulah dia, itu pelakunya.’”83
Penjelasan lain mengenai kepercayaan sebagai produk sampingan pernah dikemukakan oleh
Hinde, Shermer, Boyer, Atran, Bloom, Dennett, Keleman, dan orang lain. Salah satu
kemungkinan yang menarik secara khusus yang disebut oleh Dennett yaitu irasionalitas kepercayaan
merupakan produk sampingan dari suatu mekanisme irasionalitas khusus yang tertanam dalam
otak: kecenderungan kita, yang dapat dianggap memiliki manfaat genetik, untuk jatuh cinta.
Antropolog Helen Fisher, dalam Why We Love, telah dengan indah mengucapkan
kegilaan cinta romantis, dan betapa berlebihannya dibandingkan dengan apa yang terkesan
niscaya dalam arti sempit. Lihat persoalannya seperti ini. Dari sudut pandang seorang lelaki,
misalnya, tidak begitu mungkin bahwa salah satu perempuan yang dia kenal seratus kali lebih
dapat disayangi daripada pesaingnya yang terdekat, namun, itu caranya dia akan
mendeskripsikannya ketika “jatuh cinta’. Alih-alih kesetiaan monogami secara fanatik yang
terhadapnya kita semua rentan, semacam ‘poliamori’ pada permukaannya lebih rasional.
(Poliamori yaitu kepercayaan bahwa seseorang dapat sekaligus mencintai beberapa anggota
lawan jenis, sama seperti seseorang dapat menyukai lebih dari satu anggur, komponis, buku atau
olahraga.) Kita dengan senang menerima bahwa kita dapat mencintai lebih dari satu anak, orang
tua, saudara, guru, teman atau hewan peliharaan. Ketika dipikirkan seperti itu, bukankah
ekslusivitas total yang kita harapkan dari cinta suami-istri sungguh aneh? Namun itulah memang
apa yang kita harapkan, dan itulah yang kita berusaha capai. Pasti ada alasan.
Helen Fisher dan orang lain telah menunjukkan bahwa jatuh cinta ditemani oleh status
otak unik, termasuk kehadiran kimia yang aktif dalam saraf (yang berfungsi sebagai narkoba
alami) yang sangat khusus dan khas untuk keadaan itu. Psikolog-psikolog evolusioner setuju
dengannya bahwa coup de foudre irasional dapat merupakan suatu mekanisme untuk menjamin
kesetiaan kepada satu orang-tua-bersama, yang bertahan cukup lama untuk membesarkan
seorang anak bersama. Dari sudut pandang Darwinian, tidak dapat diragukan pentingnya
memilih pasangan yang bagus, untuk banyak macam alasan. Tetapi, ketika keputusan sudah
diambil – bahkan keputusan buruk – dan anak sudah dibuahi, lebih penting untuk berkomitmen
dengan pilihan yang satu itu dalam suka maupun duka, setidaknya hingga anaknya disapih.
Bisakah kepercayaan irasional merupakan produk sampingan dari mekanisme-mekanisme
irasionalitas yang semulanya tertanam dalam otak oleh seleksi untuk jatuh cinta? Pastinya, iman
religius memiliki sebagian ciri yang sama dengan jatuh cinta (dan keduanya memiliki banyak
sifat yang sama dengan melayang pakai narkoba yang membuat ketagihan*). Neuropsikiater John
Smythies memperingatkan kita bahwa ada perbedaan signifikan di antara wilayah otak yang
diaktivasi oleh kedua jenis mania itu. Namun, dia mencatat beberapa kemiripan juga:
Satu sisi dari banyak mukanya kepercayaan yaitu cinta intens terpusat pada satu
* Lihat artikel investigasi saya tentang narkotika berbahaya Minyak Gerin: R. Dawkins, ‘Gerin Oil’, Free Inquiry
24: 1, 2003, 9–11.
orang supernatural, dengan kata lain pencipta , ditambah takzim terhadap ikon-
ikon orang itu. Kehidupan manusia sebagian besar didorong oleh gen-gen egois
kita dan oleh proses-proses penguatannya. Banyak penguatan positif berasal
dari kepercayaan : perasaan hangat dan menghibur akan dikasihi dan dilindungi dalam
suatu dunia yang berbahaya, kehilangan ketakutan akan kematian, bantuan dari
bukit-bukit sebagai balasan terhadap doa dalam waktu sulit, dst. Secara serupa,
cinta romantis untuk orang lain yang nyata (biasanya lawan jenis) menunjukkan
konsentrasi intens yang sama kepada orang lain dan penguatan-penguatan lain
yang terkait. Perasaan-perasaan ini dapat dipicu oleh ikon mengenai yang lain,
seperti surat, fotograf, dan bahkan, seperti di era Victoria, sepotong rambut.
Status jatuh cinta memiliki banyak iringan fisiologis, misalnya mendesah seperti
oven.84
Saya membuat perbandingan di antara jatuh cinta dengan kepercayaan pada 1993, ketika saya
menyadari bahwa gejala-gejala individu yang diinfeksi oleh kepercayaan ‘mungkin secara
mengejutkan menyerupai gejala yang lebih biasanya dihubungkan dengan cinta seksual. Ini
yaitu kekuatan yang sangat ampuh dalam otak, dan tidak mengejutkan bahwa beberapa virus
telah berevolusi untuk mengeksploitasinya’ (‘virus’ di sini merupakan metafora untuk kepercayaan :
artikel saya berjudul ‘Virus-virus pikiran’). Visi orgasmik Santa Teresa dari Avila perlu dikutip
lagi. Secara lebih serius, dan pada tataran yang kurang kasar dan jasmani, filsuf Anthony Kenny
menawarkan kesaksian mengharukan mengenai kenikmatan murni bagi mereka yang berhasil
percaya akan misteri transubstansiasi. Setelah mendeskripsikan penahbisannya sebagai pastor
Katolik Roma, diperkuat oleh penumpangan tangan untuk merayakan misa, dia berlanjut bahwa
dia mengingat
kegembiraan bulan-bulan pertama saya memiliki kekuatan untuk memberi
Misa. Biasanya seorang yang sulit bangun tidur, saya melompat lebih awal dari
kasur, sepenuhnya sadar dan penuh kegirangan ketika memikirkan tindakan
dahsyat yang saya berhak melakukan...
Menyentuh tubuh Kristus, kedekatan pastor dengan junjungan kristen , yang begitu
memesonakan bagi saya. Saya akan memandangi Hosti setelah kata-kata
penyucian, dengan mata lembut seperti seorang pecinta memandangi mata
kekasihnya...hari-hari awal itu sebagai pastor tetap dalam ingatan saya sebagai
hari-hari pemenuhan dan kebahagiaan yang bergetar; suatu yang berharga,
namun terlalu rapuh untuk bertahan, seperti hubungan asmara romantis yang
dihentikan tiba-tiba oleh realitas pernikahan yang tidak cocok.
Hal setara dengan reaksi kompas cahaya ngengat yaitu kebiasaan yang tampak irasional
tetapi berguna untuk jatuh cinta dengan satu, dan hanya satu, anggota lawan jenis. Produk
sampingan yang malfungsi – setara dengan terbang ke dalam api lilin – yaitu jatuh cinta dengan
Yahweh (atau dengan Bunda Maria, atau dengan wafer, atau dengan Allah) dan melakukan
tindakan irasional yang dimotivasi oleh cinta seperti itu.
Biolog Lewis Wolpert, dalam Six Impossible Things Before Breakfast, membuat usulan
yang dapat dipandang sebagai suatu generalisasi atas ide irasionalitas yang berguna. Poinnya
yaitu , keyakinan yang kuat secara irasional merupakan suatu pertahanan terhadap keplinplanan
pikiran: ‘Jika kepercayaan yang menyelamatkan nyawa tidak diyakini secara teguh, itu akan
kurang berguna dalam evolusi manusia awal. Itu akan merupakan suatu hambatan besar,
misalnya, saat memburu atau membuat alat, untuk terus berubah pikiran.’ Implikasi dari
argumen Wolpert yaitu , setidaknya dalam keadaan tertentu, lebih baik meneruskan suatu
kepercayaan irasional daripada tidak tegas, meskipun bukti baru atau pemikiran berpihak pada
perubahan. Mudah melihat bahwa argumen ‘jatuh cinta’ yaitu kasus istimewa, dan mudah juga
melihat ‘kegigihan irasional’ Wolpert sebagai kecenderungan psikologis satu lagi yang berguna
yang dapat menjelaskan aspek-aspek penting dari perilaku religius yang irasional: satu produk
sampingan lagi.
Dalam bukunya Social Evolution, Robert Trivers memperluas teori evolusioner dari 1976
mengenai penipuan-diri. Penipuan-diri yaitu
menyembunyikan kebenaran dari pikiran sadar supaya menyembunyikannya
dari orang lain. Dalam spesies kita sendiri kita mengenali bahwa mata yang
licik, telapak tangan yang berkeringat, dan suara yang parau dapat menunjukkan
stres yang mengiringi pengetahuan sadar akan suatu usaha penipuan. Dengan
menjadi tidak sadar terhadap penipuannya, si penipu menyembunyikan tanda-
tanda ini dari pengamat. Dia bisa berbohong tanpa rasa gugup yang mengiringi
penipuan.
Antropolog Lionel Tiger mengatakan suatu yang serupa dalam Optimism: The Biology of
Hope. Kaitan dengan jenis irasionalitas konstruktif yang baru kita bahas dilihat dalam paragraf
Trivers mengenai ‘pertahanan persepsi’:
Ada kecenderungan manusia untuk secara sadar melihat apa yang ingin dilihat.
Mereka sungguh susah melihat hal dengan konotasi negatif sementara melihat
hal yang positif dengan lebih mudah. Misalnya, kata-kata yang memicu
kecemasan, mungkin karena riwayat pribadi seorang individu atau karena
manipulasi eksperimental, membutuhkan lebih banyak iluminasi sebelum
dilihat.
Relevansi fakta ini dengan angan-angan palsu kepercayaan seharusnya tidak perlu diuraikan.
Teori umum mengenai kepercayaan sebagai suatu produk sampingan kebetulan – malfungsi
atas suatu yang berguna – yaitu teori yang ingin saya pertahankan. Detailnya bervariasi, rumit,
dan dapat dibantah. Sekadar ilustrasi, saya akan terus menggunakan teori ‘anak taklid’ sebagai
wakil teori-teori ‘produk sampingan’ pada umumnya. Teori ini – bahwa otak anak, untuk alasan
yang baik, rentan terhadap infeksi oleh ‘virus-virus’ pikiran – akan terkesan bagi beberapa
pembaca sebagai kurang lengkap. Mungkin saja pikiran rentan, tetapi kenapa harus terinfeksi
oleh virus ini dan bukan yang lain? Apakah ada virus-virus tertentu yang luar biasa lihai dalam
menginfeksi pikiran yang rentan? Kenapa ‘infeksi’ mengejawantahkan dirinya sebagai kepercayaan
dan bukan sebagai ... sebenarnya, apa? Sebagian dari apa yang saya ingin sampaikan yaitu ,
tidak penting gaya omong kosong apa secara khusus yang menginfeksi otak anak. Ketika sudah
terinfeksi, anak itu akan besar dan menginfeksi generasi berikutnya dengan omong kosong yang
sama, apa pun itu.
Suatu survei antropologis seperti Golden Bough-nya Frazer mengesankan dengan
keberkepercayaan n kepercayaan irasional manusia. Ketika sudah tertanam dalam suatu budaya mereka
bertahan, berevolusi dan menyimpang, serupa dengan evolusi biologis. Namun, Frazer
mengenali prinsip-prinsip umum tertentu, misalnya ‘sihir homeopatik’, yang melaluinya mantra
dan jampi meminjam aspek simbolik dari objek di dunia nyata dengan harapan memengaruhi
objek itu. Suatu contoh dengan konsekuensi tragis yaitu kepercayaan bahwa bubuk cula badak
bersifat afrodisiak. Meskipun konyol, legenda itu berasal dari apa yang dianggap kemiripan di
antara cula dengan penis yang berdiri. Fakta bahwa ‘sihir homeopatik’ begitu tesebar luas
menunjukkan bahwa omong kosong yang menginfeksi otak rentan tidak sepenuhnya omong
kosong yang acak dan arbitrer.
Menggoda untuk mengikuti analogi biologis hingga titik bertanya apakah suatu yang
sesuai dengan seleksi alam bekerja di belakang fenomena ini. Apakah ide-ide tertentu lebih dapat
disebar dibandingkan dengan yang lain, karena daya pikat atau keunggulan intrinsik, atau
kesesuaian dengan kecenderungan psikologis yang sudah ada, dan apakah ini bisa menjelaskan
kodrat dan sifat kepercayaan -kepercayaan nyata sebagaimana kita melihatnya, dengan cara yang serupa
dengan cara kita menggunakan seleksi alam untuk menjelaskan organisme hidup? Penting untuk
memahami bahwa ‘keunggulan’ di sini berarti hanya kemampuan untuk bertahan hidup dan
menyebar. Itu tidak berarti layak dinilai positif – suatu yang kita mungkin bisa banggakan
sebagai manusia.
Bahkan menurut suatu model evolusioner, tidak harus ada seleksi alam sama sekali. Para
biolog mengaku bahwa suatu gen dapat menyebar dalam suatu populasi tidak karena gen itu baik
tetapi hanya karena gen itu beruntung. Kita menyebut fenomena ini hanyutan genetik. Seberapa
penting hanyutan tersebut dalam kaitannya dengan seleksi alam pernah kontroversial. Tetapi kini
konsepnya diterima secara luas dalam bentuk apa yang disebut sebagai teori netral genetika
molekuler. Jika suatu gen bermutasi menjadi suatu versi lain dari dirinya sendiri yang
menyebabkan efek yang identik, perbedaan itu netral, dan seleksi tidak dapat lebih memilih salah
satunya. Namun, melalui apa yang disebut oleh para statistikawan sebagai kekeliruan sampel
selama beberapa generasi, bentuk mutan baru akhirnya dapat menggantikan bentuk asli di
lungkang gen. Ini yaitu perubahan evolusioner sejati pada tataran molekuler (meskipun tidak
ada perubahan yang diamati di dunia organisme-organisme utuh). Itu yaitu suatu perubahan
evolusioner netral yang tidak sama sekali berutang kepada manfaat selektif.
Hal setara dengan hanyutan genetik dalam kebudayaan yaitu suatu pilihan meyakinkan
yang kita tidak boleh abaikan ketika memikirkan evolusi kepercayaan . Bahasa berevolusi secara
biologis-semu dan arah evolusi itu terlihat tidak terarah, hampir seperti hanyutan acak. Bahasa
diwariskan melalui analog kebudayaan genetika, berubah dengan lambat selama berabad-abad,
hingga akhirnya berbagai aliran telah menyimpang hingga tidak ada kesalingpahaman lagi.
Mungkin sebagian dari evolusi bahasa dibimbing oleh sejenis seleksi alam, tetapi argumen itu
tidak terkesan begitu meyakinkan. Saya akan menjelaskan di bawah bahwa ide semacam itu telah
dikemukakan untuk tren-tren besar dalam bahasa, seperti Pergeseran Vokal Besar yang terjadi
dalam bahasa Inggris dari abad ke-15 hingga abad ke-18. Tetapi suatu hipotesis fungsional
seperti itu tidak dibutuhkan untuk menjelaskan kebanyakan dari apa yang kita amati. Sepertinya
mungkin saja bahwa bahasa biasanya berevolusi melalui hal setara secara kebudayaan dengan
hanyutan genetik acak. Di bagian-bagian Eropa yang berbeda, bahasa Latin hanyut menjadi
bahasa Spanyol, Portugis, Prancis, Romansh, dan berbagai dialek bahasa-bahasa tersebut. Belum
begitu jelas bahwa pergeseran evolusioner ini mencerminkan manfaat lokal atau ‘tekanan-
tekanan seleksi’.
Saya mengira bahwa kepercayaan , seperti bahasa, berevolusi secara cukup acak, dari asal-usul
yang cukup arbitrer, untuk menghasilkan kekayaan yang membuat kewalahan – dan terkadang
membahayakan – yang kita amati. Sementara itu, mungkin suatu bentuk seleksi alam, bersama
dengan keserkepercayaan n fundamental psikologi manusia, memastikan bahwa berbagai kepercayaan
memiliki cukup banyak corak bersama. Banyak kepercayaan , misalnya, mengajarkan doktrin yang
kurang masuk akal secara objektif namun menarik secara subjektif bahwa kepribadian kita
bertahan setelah kematian jasmani kita. Ide imortalitas sendiri bertahan dan menyebar karena
memanfaatkan angan-angan palsu. Dan angan-angan palsu penting, karena psikologi manusia
memiliki kecenderungan hampir-universal untuk membiarkan kepercayaan diwarnai oleh hasrat
(‘Keinginanmu yaitu ayah pemikiran itu, Harry’, sebagaimana Henry IV Bagian II berkata
kepada anaknya*).
Sepertinya tidak ada keraguan bahwa banyak sifat kepercayaan cocok dengan baik untuk
membantu bertahan hidupnya kepercayaan sendiri, dan bertahan hidupnya sifat-sifat yang berkaitan
dengannya, dalam sop kebudayaan manusia. Kini pertanyaan muncul, apakah kecocokan baik itu
dicapai oleh ‘rancangan cerdas’ atau oleh seleksi alam. Besar kemungkinan jawabannya yaitu
kedua-duanya. Pada pihak rancangan, pemuka-pemuka kepercayaan sepenuhnya mampu mengucapkan
sulap-sulap yang membantu bertahan hidupnya kepercayaan . Martin Luther sangat sadar bahwa akal
budi yaitu musuh kepercayaan yang paling berbahaya, dan dia sering memberi peringatan mengenai
bahaya itu: ‘Akal budi yaitu musuh terbesar bagi iman; akal budi tidak pernah membantu hal-
hal rohani, tetapi lebih sering berjuang melawan Firman ilahi, meremehkan semua yang
memancar dari pencipta .’85 Lagi: ‘Siapa pun yang ingin menjadi seorang junjungan kristen harus mencopot
mata dari akal budinya.’ Dan sekali lagi: ‘Akal budi seharusnya dibinasakan dalam semua orang
junjungan kristen .’ Luther tidak akan mengalami kesukaran dalam merancang secara cerdas aspek-aspek
tidak cerdas dari kepercayaan untuk membantunya bertahan hidup. Tetapi itu belum tentu berarti
bahwa dia, atau siapa pun yang lain, sebenarnya merancangnya. kepercayaan bisa juga berevolusi
melalui suatu bentuk (non-genetik) seleksi alam, dengan Luther bukan sebagai perancangnya
melainkan seorang pengamat licik mengenai kemujarabannya.
Meskipun seleksi gen Darwinian konvensional mungkin akan memilih kecenderungan
psikologis yang menghasilkan kepercayaan sebagai suatu produk sampingan, tidak begitu mungkin
bahwa seleksi itu membentuk detail-detailnya. Saya sudah menunjukkan bahwa, jika kita akan
menerapkan sejenis teori seleksi kepada detail-detail itu, sebaiknya kita melihat bukan gennya
melainkan hal setara dengannya dalam kebudayaan. Apakah kepercayaan merupakan bahan meme?
BERJALANLAH PELAN-PELAN, KARENA ANDA MENGINJAK MEME-MEME SAYA
Kebenaran, dalam persoalan kepercayaan , hanya merupakan pendapat yang telah bertahan hidup.
–OSCAR WILDE
Bab ini bermula dengan pengamatan bahwa, karena seleksi alam Darwinian membenci
pemborosan, corak lazim apa pun pada suatu spesies – seperti kepercayaan – pasti memberi manfaat
atau corak itu tidak akan bertahan hidup. Tetapi saya merujuk bahwa manfaat itu tidak perlu
berkontribusi kepada bertahan hidup atau kesuksesan reproduktif individu. Seperti sudah kita
lihat, manfaat bagi gen-gen virus pilek cukup menjelaskan kelaziman keluhan sengsara itu dalam
spesies kita.† Dan bahkan tidak perlu genlah yang beruntung. Replikator apa pun akan cukup.
Gen hanyalah contoh replikator yang paling nyata. Calon-calon lain yaitu virus komputer, dan
meme – satuan warisan budaya dan topik seksi ini. Jika kita akan memahami meme, kita harus
terlebih dahulu melihat dengan lebih saksama persis bagaimana seleksi alam bekerja.
Dalam bentuknya yang paling umum, seleksi alam harus memilih di antara replikator-
* Bukan lelucon saya: 1066 and All That.
† Khususnya di negara saya, menurut legenda stereotipe nasional: ‘Voici l’anglais avec son sang froid habituel’
(Inilah orang Inggris dengan pileknya seperti biasa). Ini berasal dari Fractured French oleh F. S. Pearson, bersama
kata-kata mutiara yang lain seperti ‘coup de grâce’ (pemotong rumput).
replikator alternatif. Suatu replikator yaitu sepotong informasi terkode yang membuat salinan
tepat atas dirinya sendiri, dan sesekali membuat salinan kurang tepat atau ‘mutasi’. Poin
mengenai ini yaitu poin Darwinian. Jenis-jenis replikator yang kebetulan pintar membuat
dirinya disalin bertambah banyak, dengan mengorbankan replikator-replikator alternatif yang
kurang pintar membuat dirinya disalin. Itu, dalam rumusan paling dasar, yaitu seleksi alam.
Replikator klasik yaitu gen, sepotong DNA yang diduplikasi, hampir selalu dengan ketepatan
ekstrem, melalui sejumlah generasi tidak tertentu. Pertanyaan inti bagi teori meme yaitu apakah
ada satuan-satuan peniruan budaya yang berperilaku seperti replikator sejati, yaitu, seperti gen.
Maksud saya bukan bahwa meme secara niscaya yaitu analog dekat gen, hanya bahwa semakin
dekat mereka dengan gen, semakin baik kerjanya teori meme; dan tujuan seksi ini yaitu untuk
bertanya apakah teori meme mungkin akan bekerja untuk kasus istimewa kepercayaan .
Di dunia gen, kekeliruan sesekali dalam replikasi (mutasi) memastikan bahwa lungkang
gen mengandung varian-varian alternatif dari gen apa pun – ‘alel’ – yang karena itu dapat dilihat
sebagai saling bersaing. Bersaing untuk apa? Untuk slot kromosom tertentu atau ‘lokus’ yang
dimiliki perangkat alel itu. Dan bagaimana mereka bersaing? Tidak melalui pertempuran
langsung molekul-melawan-molekul tetapi melalui wakil. Wakilnya yaitu ‘sifat-sifat fenotipik’
– hal seperti panjang kaki atau warna bulu: manifestasi gen menjadi daging sebagai anatomi,
fisiologi, biokimia atau perilaku. Nasib suatu gen biasanya terkait erat dengan tubuh-tubuh yang
ia duduki secara berturut-turut. Sejauh gen memengaruhi tubuh itu, gen juga memengaruhi
kesempatannya sendiri untuk bertahan hidup di lungkang gen. Seiring berlalunya generasi-
generasi, gen bertambah banyak atau berkurang secara frekuensi dalam lungkang gen karena
wakil fenotopiknya.
Mungkinkah hal yang sama benar terkait meme? Satu cara mereka tidak seperti gen
yaitu tidak ada apa pun yang secara jelas sesuai dengan kromosom atau lokus atau alel atau
rekombinasi seksual. Lungkang meme kalah terstruktur dan kalah terorganisasi dengan lungkang
gen. Namun, belum tentu konyol menyebut suatu lungkang meme, di mana meme-meme tertentu
mungkin memiliki suatu ‘frekuensi’ yang dapat berubah sebagai konsekuensi interaksi saingan
dengan meme alternatif.
Beberapa orang telah mengajukan keberatan soal penjelasan memetik, atas berbagai dasar
yang biasanya berasal dari fakta bahwa meme tidak persis seperti gen. Kodrat fisik persis gen
kini sudah diketahui (suatu rangkaian DNA), sedangkan kodrat meme belum, dan ahli meme
yang berbeda suka saling membingungkan dengan gonta-ganti dari satu medium fisik ke yang
lain. Apakah meme hanya ada dalam otak? Atau apakah setiap salinan kertas dan salinan
elektronik atas, misalnya, sebuah puisi limerick tertentu juga layak disebut meme? Tetapi gen
mereplikasi dengan fidelitas sangat tinggi, sedangkan seandainya meme mereplikasi, bukankah
ketepatannya rendah?
Apa yang dianggap masalah meme tersebut dilebih-lebihkan. Keberatan paling penting
yaitu tuduhan bahwa meme disalin pada fidelitas yang kurang tinggi untuk berfungsi sebagai
replikator Darwinian. Dugaannya yaitu , jika ‘kecepatan mutasi’ tinggi dalam setiap generasi,
meme akan bermutasi hingga tidak ada sebelum seleksi Darwinian dapat berdampak pada
frekuensinya dalam lungkang meme. Tetapi masalah itu yaitu ilusi. Bayangkan seorang master
tukang kayu, atau seorang tukang alat batu dalam prasejarah, yang mendemonstrasikan
keterampilan tertentu kepada seorang magang muda. Jika magang mereproduksi dengan setia
setiap gerakan tangan masternya, kita memang akan mengharapkan bahwa meme itu akan
bermutasi hingga tidak dapat dikenali lagi dalam waktu beberapa ‘generasi’ transmisi
master/magang. Tetapi tentu saja magang itu tidak mereproduksi dengan setia setiap gerakan
tangan. Itu akan konyol. Dia malah memperhatikan tujuan yang ingin dicapai oleh master, dan
meniru itu. Masukkan paku hingga kepalanya pas, menggunakan sebanyak pukulan palu yang
dibutuhkan, yang mungkin bukan persis jumlah pukulan yang digunakan master. Peraturan
seperti itulah yang dapat diwariskan tanpa mutasi selama sejumlah ‘generasi’ peniruan tidak
tertentu; tidak penting bahwa detail pelaksanaannya bisa berubah dari individu ke individu, dan
dari kasus ke kasus. Sulam dalam jahitan, simpul dalam tali atau jala, pola pelipatan origami, kiat
berguna dalam kerajinan kayu atau tembikar; semua dapat direduksi hingga unsur-unsur diskrit
yang sungguh sempat diwariskan melalui sejumlah generasi peniruan tidak tertentu tanpa
perubahan. Detail-detail mungkin akan berubah secara idiosinkratik, tetapi esensinya diwariskan
tanpa mutasi, dan hanya itulah yang dibutuhkan untuk berhasilnya analogi meme dengan gen.
Dalam prakata saya untuk buku Susan Blackmore, The Meme Machine, saya
mengembangkan contoh prosedur origami untuk membuat model kapal jung Tiongkok. Resep itu
lumayan rumit, dan melibatkan 32 operasi pelipatan (atau operasi yang serupa). Hasil akhir
(kapal jung Tiongkok sendiri) merupakan objek yang menyenangkan, sama seperti setidaknya
tiga tahap menengah dalam ‘embriologi’nya, yakni, ‘katamaran’, ‘kotak dengan dua tutup’ dan
‘bingkai foto’. Seluruh pertunjukannya memang mengingatkan saya akan pelipatan dan
invaginasi yang dialami membran-membran embrio sambil ia mengubah dirinya dari blastula ke
gastrula ke neurula. Saya belajar membuat kapal jung Tiongkok saat kecil dari ayah saya yang,
pada usia yang sekitar sama, memperoleh keterampilannya di sekolah asramanya. Suatu tren
membuat kapal jung Tiongkok, dipicu oleh ibu kepala sekolah, menyebar dalam sekolahnya pada
waktu itu seperti epidemi campak, lalu surut, juga seperti epidemi campak. Dua puluh enam
tahun kemudian, ketika ibu itu sudah lama tidak ada, saya belajar di sekolah yang sama. Saya
memperkenalkan kembali tren itu dan ia sekali lagi menyebar, seperti epidemi campak satu lagi,
lalu surut lagi. Fakta bahwa suatu keterampilan yang dapat diajarkan bisa menyebar seperti
epidemi memberi tahu kita suatu yang penting mengenai fidelitas tinggi transisi memetik. Kita
bisa pasti bahwa kapal-kapal jung yang dibuat oleh generasi anak sekolah ayah saya pada 1920-
an tidak begitu berbeda dengan yang dibuat oleh generasi saya pada 1950-an.
Kita dapat menyelidiki fenomenanya secara lebih sistematis dengan eksperimen berikut:
suatu varian atas permainan kanak-kanak Bisikan Tiongkok (Anak-anak Amerika menyebutnya
Telepon). Kumpulkan 200 orang yang belum pernah membuat kapal jung Tiongkok, dan
bariskan mereka menjadi 20 tim, dengan masing-masing tim terdiri atas 10 orang. Kumpulkan
kepala-kepala 20 tim itu di sekeliling sebuah meja dan ajarkan mereka, melalui demonstrasi,
bagaimana membuat sebuah kapal jung Tiongkok. Lalu utus masing-masing untuk menemukan
orang kedua di timnya, dan mengajarkan orang itu sendiri, sekali lagi melalui demonstrasi, untuk
membuat sebuah kapal jung Tiongkok. Setiap orang ‘generasi’ kedua lalu mengajarkan orang
ketiga dalam timnya sendiri, dan seterusnya hingga anggota ke-10 di setiap tim telah diajarkan.
Simpan semua kapal jung yang dibuat sepanjang prosesnya, dan labeli mereka dengan nama tim
dan nomor ‘generasi’ untuk inspeksi kemudian.
Saya belum melakukan eksperimen ini (saya menginginkan itu), tetapi saya mempunyai
prediksi kuat mengenai apa hasilnya. Prediksi saya yaitu , tidak semua dari 20 tim itu akan
berhasil mewariskan keterampilannya secara lengkap hingga anggota ke-10-nya, tetapi sejumlah
signifikan dari mereka akan berhasil. Dalam beberapa tim akan ada kekeliruan: barangkali
seorang mata rantai lemah akan melupakan tahap vital dalam prosedurnya, dan setiap orang ke
hilir dari kekeliruan itu tentu akan gagal. Barangkali tim 4 mencapai ‘katamaran’ tetapi gagal
kemudian. Barangkali anggota ke-8 di tim 13 membuat sebuah ‘mutan’ di suatu saat di antara
‘kotak dengan dua tutup’ dan ‘bingkai foto’ dan anggota ke-9 dan anggota ke-10 timnya lalu
menyalin versi termutasi itu.
Lalu, dari tim-tim di mana keterampilan ditransmisi dengan sukses hingga generasi ke-
10, saya membuat prediksi tambahan. Jika Anda memperurutkan kapal-kapal jung menurut
‘generasi’, Anda tidak akan melihat suatu kemerosotan sistematis dalam kualitas dengan nomor
generasi. Jika, sebaliknya, Anda membuat eksperimen identik dalam segala hal kecuali
keterampilan yang ditransfer bukan origami melainkan menyalin suatu gambar atas kapal jung,
tentu akan ada suatu kemerosotan sistematis pada cara ketepatan pola generasi 1 ‘bertahan
hidup’ hingga generasi 10.
Dalam versi gambar eksperimen, semua gambar generasi 10 akan sedikit menyerupai
gambar generasi 1. Dan dalam setiap tim, kemiripan akan merosot kurang-lebih secara stabil dari
generasi ke generasi. Dalam versi origami eksperimen, sebaliknya, kekeliruannya bersifat
semua-atau-tidak-sama-sekali: mereka yaitu mutasi ‘digital’. Suatu tim tidak akan membuat
kekeliruan sama sekali dan kapal jung generasi 10 tidak akan lebih buruk, atau lebih baik, rata-
rata daripada yang diproduksi oleh generasi 5 atau generasi 1; atau akan ada suatu ‘mutasi’
dalam satu generasi tertentu dan semua usaha di hilir akan gagal total, dan sering mereproduksi
mutasinya dengan setia.
Apakah perbedaan krusial di antara kedua keterampilannya? Perbedaannya yaitu
keterampilan origami terdiri atas serangkaian tindakan diskrit, dan tidak ada satu pun yang sulit
dilakukan pada dirinya sendiri. Kebanyakan operasinya yaitu hal seperti ‘Lipat kedua sisinya
ke dalam pusat.’ Seorang anggota tim tertentu mungkin akan melaksanakan tahap itu dengan
janggal, tetapi akan jelas bagi anggota tim berikutnya apa yang dia berusaha untuk lakukan.
Tahap-tahap origami ‘menormalkan diri sendiri’. Inilah yang membuat mereka ‘digital’. Seperti
perajin kayu master saya, yang niatnya untuk membuat kepala paku datar dalam kayu tampak
jelas bagi magangnya, bagaimanapun detail pukulan pakunya. Seorang melakukan suatu tahap
tertentu dalam resep origami dengan benar atau tidak. Keterampilan menggambar, sebaliknya,
yaitu keterampilan analog. Semua orang boleh mencoba, tetapi ada orang yang menyalin suatu
gambaran dengan lebih tepat daripada orang lain, dan tak seorang pun menyalin dengan
sempurna. Ketepatan salinan bergantung, juga, pada jumlah waktu dan kepedulian yang diberi
untuknya, dan kuantitas-kuantitas itu bervariasi terus-menerus. Beberapa anggota tim, lagi pula,
akan menghiasi dan ‘membaikkan’, daripada menyalin dalam arti sempit, model yang
sebelumnya.
Kata-kata – setidaknya ketika dipahami – menormalkan-diri secara yang sama dengan
operasi-operasi origami. Dalam permainan asli Bisikan Tiongkok (Telepon), anak pertama
mendengar suatu cerita, atau suatu kalimat, dan disuruh untuk menyampaikannya ke anak
berikutnya, dan seterusnya. Jika kalimatnya kurang dari sekitar tujuh kata, dalam bahasa ibu
semua anaknya, ada kesempatan baik bahwa kalimat itu akan bertahan, tanpa mutasi, selama 10
generasi. Jika bahasanya asing dan tidak dikenal, sehingga anak-anak terpaksa untuk meniru
secara fonetis dan bukan kata demi kata, pesannya tidak bertahan. Pola kemerosotan selama
bergenerasi-generasi kemudian menjadi sama dengan untuk suatu gambar, dan akan menjadi
kacau. Ketika pesannya masuk akal dalam bahasa anak-anak itu sendiri, dan tidak mengandung
kata-kata tidak dikenal seperti ‘fenotipe’ atau ‘alel’, pesannya bertahan. Daripada meniru
bunyinya secara fonetik, setiap anak mengenali setiap kata sebagai anggota dari suatu kosakata
terbatas dan memilih kata yang sama, meskipun besar kemungkinan pelafalannya berbeda sesuai
dengan logatnya, ketika disampaikan ke anak berikutnya. Bahasa tertulis juga menormalkan diri
sendiri karena cakaran di kertas, sebeda apa pun secara detail, semua diambil dari suatu aksara
terbatas yang terdiri atas (misalnya) 26 huruf.
Fakta bahwa meme terkadang dapat menunjukkan fidelitas tinggi, karena proses-proses
yang menormalkan-diri seperti ini, memadai untuk membalas beberapa keberatan paling umum
yang diajukan mengenai analogi meme/gen. Bagaimanapun, tujuan utama teori meme, pada
tahap awal ini dalam perkembangannya, bukan untuk menyediakan suatu teori kebudayaan
komprehensif, setara dengan genetika Watson–Crick. Tujuan asli saya dalam berargumen untuk
meme, memang, yaitu untuk melawan kesan bahwa gen yaitu satu-satunya unsur Darwinian –
suatu kesan yang, jika tidak ada teori meme, mungkin akan disampaikan oleh The Selfish Gene.
Peter Richerson dan Robert Boyd menekankan poin ini dalam judul buku mereka yang bernilai
dan bijaksana, Not by Genes Alone, meskipun mereka memberi alasan untuk tidak menggunakan
istilah ‘meme’ sendiri, dan memilih ‘varian-varian budaya’ (cultural variants). Buku Stephen
Shennan, Genes, Memes and Human History, sebagian terinspirasi oleh sebuah buku luar biasa
yang lebih awal oleh Boyd dan Richerson, Culture and the Evolutionary Process. Buku-buku
lain yang membahas meme termasuk The Electric Meme oleh Robert Aunger, The Selfish Meme
oleh Kate Distin, dan Virus of the Mind: The New Science of the Meme oleh Richard Brodie.
Tetapi Susan Blackmorelah, dalam The Meme Machine, yang telah mendorong teori
memetik lebih jauh daripada siapa pun. Dia secara berulang membayangkan suatu dunia penuh
otak (atau wadah lain atau saluran, seperti komputer atau pita frekuensi radio) dan meme yang
berdesak-desakan untuk mendudukinya. Sama seperti gen dalam lungkang gen, meme yang
menang yaitu meme yang pintar membuat dirinya disalin. Mungkin ini karena mereka memiliki
daya pikat langsung, seperti dapat diperkirakan mengenai meme imortalitas untuk orang-orang
tertentu. Atau mungkin karena mereka berkembang-biak dalam kehadiran gen-gen lain yang
sudah menjadi banyak di lungkang meme. Ini menghasilkan kompleks meme atau ‘memepleks’.
Seperti biasa dengan meme, kita mendapat pemahaman dengan kembali ke asal-usul genetik
analoginya.
Untuk alasan pendidikan, saya menganggap gen seolah-olah mereka merupakan satuan
yang terisolasi dan bertindak secara mandiri. Tetapi tentu saja mereka tidak mandiri satu dari
yang lain, dan fakta ini memunculkan dirinya melalui dua cara. Pertama, gen terbujur sepanjang
kromosom, jadi mereka cenderung berjalan melalui generasi-generasi bersama dengan gen-gen
lain tertentu yang menduduki lokus-lokus kromosomal yang bersebelahan. Kami para dokter
menyebut kaitan seperti itu pautan (linkage), dan saya tidak akan membahasnya lebih lanjut
karena meme tidak memiliki kromosom, alel, atau rekombinasi seksual. Cara lain gen tidak
mandiri sangat berbeda dengan pautan genetik, dan di sini ada analogi memetik yang baik. Hal
ini terkait dengan embriologi yang – fakta ini sering disalahpahami – sepenuhnya berbeda
dengan genetika. Tubuh tidak dirakit sebagai mosaik dari potongan-potongan fenotipik yang
berbeda, masing-masing dikontribusi oleh gen yang berbeda. Tidak ada pemetaan satu per satu di
antara gen dengan satuan anatomi atau perilaku. Gen-gen ‘bekerja sama’ dengan ratusan gen lain
dalam memrogramkan proses-proses perkembangan yang bemuara pada sebuah tubuh, dengan
cara yang agak sama seperti kata-kata dalam resep bekerja sama dalam suatu proses masakan
yang bermuara pada suatu hidangan. Tidak benar bahwa setiap kata dalam resep
berkorespondensi dengan potongan lain dalam hidangannya.
Jadi gen bekerja sama dalam kartel untuk membangun tubuh, dan itu yaitu salah satu
prinsip penting dalam embriologi. Menggoda untuk berkata bahwa seleksi alam memilih kartel
gen dalam semacam seleksi kelompok di antara kartel-kartel alternatif. Itu yaitu kebingungan.
Apa yang sebenarnya terjadi yaitu gen-gen lain dalam lungkang gen merupakan sebagian utama
dari lingkungan di mana setiap gen dipilih daripada alelnya. Karena masing-masing dipilih untuk
sukses dalam kehadiran gen-gen lain – yang juga sedang diseleksi secara yang serupa – kartel-
kartel gen yang bekerja sama muncul. Fenomena ini lebih menyerupai pasar bebas daripada
ekonomi terencana. Ada tukang daging dan tukang roti, tetapi mungkin ada celah di pasar untuk
seorang tukang lilin. Tangan tak terlihat seleksi alam mengisi celah itu. Proses itu berbeda
dengan adanya seorang perencana pusat yang memilih troika tukang daging + tukang roti +
tukang lilin. Ide kartel yang bekerja sama yang dikumpulkan oleh tangan tak terlihat ternyata
esensial bagi pemahaman kita mengenai meme-meme religius dan cara mereka bekerja.
Jenis-jenis kartel gen yang berbeda muncul di lungkang-lungkang gen yang berbeda.
Lungkang gen karnivor mengandung gen yang memrogramkan organ indra yang mendeteksi
mangsa, cakar yang menangkap mangsa, gigi taring, enzim yang mencerna daging dan banyak
gen yang lain, semua disetel dengan halus untuk bekerja sama yang satu dengan yang lain.
Sementara itu, di lungkangkolam gen herbivor, perangkat gen yang sesuai yang berbeda dipilih
untuk kerja samanya yang satu dengan yang lain. Kita sudah cukup mengenali ide bahwa suatu
gen dipilih untuk kompatibilitas fenotipenya dengan lingkungan eksternal spesies: gurun, hutan,
atau apa pun itu. Poin yang sedang saya buat yaitu gen juga dipilih untuk kompatibilitasnya
dengan gen-gen lain dalam lungkang gen khususnya. Suatu gen karnivor tidak akan bertahan
hidup di suatu lungkang gen herbivor, dan sebaliknya. Dari sudut pandang jangka panjang gen,
lungkang gen spesies – perangkat gen yang dikocok dan dikocok ulang oleh reproduksi seksual –
mengonstitusikan lingkungan genetik di mana setiap gen dipilih untuk kemampuannya bekerja
sama. Meskipun lungkan

