doktrin Advent 12
da usia
yang agak muda, maka mereka harus memi-
kul tanggung jawab pertumbuhan rohani dan
tabiat anak-anak itu.
BUAH BAPTISAN
Buah baptisan yang paling utama ialah
hidup yang tinggal di dalam Kristus. Tujuan
dan keinginan berpusat pada Kristus, tidak
lagi kepada diri sendiri. “sebab itu, kalau ka-
mu dibangkitkan bersama dengan Kristus,
carilah perkara yang di atas, di mana Kristus
ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkan-
228 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
lah perkara yang di atas, bukan yang di bumi”
(Kol. 3:1, 2). Baptisan bukanlah pencapaian
puncak yang paling tinggi yang mungkin di-
peroleh orang Kristen. Kalau kita bertumbuh
dalam kerohanian, kita mencapai karunia-
karunia Kristen untuk digunakan sebagai pe-
layanan kepada orang lain, melipatgandakan
rencana Tuhan: “Kasih karunia dan damai
sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan
akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita”(2
Ptr. 1:2). Jika kita tetap setia kepada janji
baptisan kita, Bapa, Anak dan Roh Kudus,
yang di dalamnya kita dibaptiskan, menjamin
bahwa kita akan dapat jalan masuk ke dalam
kuasa Ilahi supaya dapat membantu kita da-
lam keadaan gawat darurat yang mungkin
akan kita hadapi dalam kehidupan setelah
baptisan.
Buah yang kedua ialah hidup yang tinggal
di dalam jemaat Kristus. Kita tidak lagi men-
jadi orang yang terpencil; kita telah menjadi
anggota jemaat Kristus. Sebagai batu-batu
yang hidup kita menegakkan kaabah Tuhan
(1 Ptr. 2:2-5). Kita memperoleh sebuah hu-
bungan istimewa dengan Kristus, kepala je-
maat itu, tempat kita menerima anugerah
sehari-hari untuk pertumbuhan dan perkem-
bangan dalam kasih (Ef. 4:16). Kita memikul
tanggung jawab dalam masyarakat perjanjian,
yakni para anggota yang menanggungjawabi
yang baru dibaptiskan (1 Kor. 12:12-26).
Demi kebaikan mereka, juga demi kebaikan
jemaat, anggota-anggota yang baru ini harus-
lah dilibatkan dalam kehidupan yang berbakti,
berdoa dan pelayanan yang disertai cinta
kasih (Ef. 4:12).
Buah yang terakhir ialah penghayatan
kehidupan di dunia ini dan bagi dunia ini.
Memang benar bahwa kita telah dibaptiskan
dan kewarganegaraan kita di surga (Flp.
3:20). Akan namun kita sudah dipanggil keluar
dari dunia ini untuk dilatih dalam tubuh Kristus
dan dikembalikan ke dunia ini sebagai hamba,
turut serta dalam pekerjaan Kristus yang
mendatangkan keselamatan itu. Murid yang
sejati tidaklah keluar dari dunia ini lalu
,
mendekam dalam jemaat; kita lahir untuk
kerajaan Kristus sebagai misionaris. Kesetiaan
terhadap janji baptisan berarti melibatkan diri
dalam tugas membimbing orang lain masuk
ke dalam kerajaan anugerah.27
Sekarang ini Tuhan sangat rindu menanti
kita untuk masuk ke dalam kehidupan yang
berkelimpahan, yang telah disediakan-Nya
dengan penuh kemurahan. “Dan sekarang,
mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangun-
lah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu
disucikan sambil berseru kepada nama Tu-
han!”(Kis. 22:16).
________________:
1. SM Samuel, “A Brave African Wife,” Review and Herald, 14 Februari 1963, hlm. 19.
2. Sebuah peraturan yang dibuat sebagai simbol upacara agama atau pemeliharaan yang telah ditetapkan menjadi ke-
benaran-kebenaran inti injil dan merupakan kewajiban yang bersifat universal dan kekal. Kristus memberlakukan
dua perintah—baptisan dan Perjamuan Tuhan. Sebuah peraturan bukanlah sebuah sakramen dalam pengertian
opus operatum—sebuah tindakan yang di dalamnya dan itulah yang menjadi bagian anugerah yang mendatangkan
keselamatan. Baptisan dan Perjamuan Tuhan yaitu sakramen dalam pengertian seperti sacramentum saja,
sumpah yang dilakukan oleh serdadu Roma untuk menurut perintah komandan sampai mati sekalipun. Peraturan-
peraturan ini melibatkan sebuah sumpah takluk sepenuhnya kepada Kristus. Baca buku Strong, Systematic
Theology (Philadelphia, PA: Judson Press, 1954), hlm. 930; “baptisan,” SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm.
128, 129.
3. Jemison, Christian Beliefs, hlm. 244.
4. “Sejak permulaan gereja MAHK, sebagaimana memperoleh warisan dari Protestan, telah menolak pandangan
mengenai baptisan sebagai sebuah opus operatum, yakni, sebuah tindakan yang di dalamnya serta merupakan
bagian anugerah yang mendatangkan keselamatan” (“Baptisan,” SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 128).
Baptisan 229
5. SDA Bible Commemary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 740.
6. Kadang-kadang mereka yang sudah dibaptiskan dengan cara diselamkan ke dalam air merasa yakin bahwa mereka
harus dibaptiskan kembali. Bukankah keinginan seperti ini bertentangan dengan pengajaran Paulus bahwa hanya
“ada satu baptisan” (Ef. 4:5)? Praktik yang dilakukan Paulus menunjukkan bahwa bukan demikianlah adanya.
Dalam sebuah kunjungan yang diadakannya ke Efesus, ia bertemu dengan beberapa murid yang telah dibaptiskan
oleh Yohanes Pembaptis. Mereka telah menghayati pertobatan dan menyatakan iman mereka kepada keda-
tangan Mesias (Kis. 19:1-5). Murid kurang begitu memahami Injil. “Waktu mereka menerima baptisan dari tangan
Yohanes, mereka masih melakukan kesalahan yang sangat besar. namun ketika mereka secara pelahan-lahan
menerima terang Kristus dan bergembira di dalamnya sebagai Penebus mereka; seiring dengan kemajuan pema-
haman terang ini mereka mengalami perubahan dalam kewajiban mereka. Ketika mereka menerima iman yang
semakin murni, di dalam hidup mereka terjadi perubahan, begitu pula dalam tabiat mereka, Dengan tanda
perubahan ini, sebagaimana pengakuan iman mereka di dalam Kristus, mereka dibaptiskan kembali, di dalam nama
Yesus.
“Banyak pengikut Kristus yang sungguh-sungguh mengalami pengalaman yang demikian. Sebuah pemahaman
yang lebih jelas atas kehendak Allah, menempatkan manusia dalam hubungan yang baru dengan Dia. Kewajiban
dan tugas yang baru tampak. Yang tadinya dianggap tidak tahu apa-apa atau bahkan dianggap juga pantas, sekarang
tampak penuh dengan dosa.... Baptisannya yang pertama tidak memuaskannya. Ia melihat dirinya kembali penuh
dengan dorongan dosa.. dihakimkan hukum Tuhan. Ia mengalami sebuah pengalaman baru, mati terhadap dosa
dan ingin kembali dikuburkan dalam Kristus melalui baptisan, agar ia dapat berjalan dalam kehidupan yang baru.
Kira-kira demikianlah teladan Paulus waktu membaptiskan orang-orang Yahudi yang bertobat. Kejadian itu telah
dicatat dengan petunjuk Roh Kudus agar menjadi pelajaran bagi jemaat” [(White, Sketches From the Life of Paul)
(Battle Creek, MI: Review and Herald, 1883), hlm. 132, 133; Baca juga Seventh-day Adventist Church Manual.
(Washington, D.C.: General Conference of Seventh-day Adventists, 1986), edisi revisi, hlm. 50; White,
Evangelism, hlm. 372-375)].
Kitab Suci tidak menyatakan apa-apa atau menolak pembaptisan kembali orang-orang yang telah merusak perjan-
jiannya dengan Allah melalui dosa yang jahat atau kemurtadan dan kemudian mengalami pertobatan dan suatu
keinginan untuk membaharui perjanjian mereka (baca Seventh-day Adventist Church Manual hlm. 51, 162;
White, Evangelism, hlm. 375).
7. Baca buku Albretcht Oepke, “Bapto, Baptizo,” dalam Theological Dictionary of the New Testament, editor
Gerhard Kittel terjemahan Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids. Wm. B. Eerdmans Pub]. co., 1964), jilid 1, hlm.
529. Vine mencatat bahwa bapto “digunakan di kalangan orang Yunani untuk mengartikan pencelupan kain, atau
menimba air lebih dalam untuk dimasukkan ke dalam bejana lain, dsb.” (W.E. Vine, A Expository Dictionary of
Biblical Words (New York, NY: Thomas Nelson, 1985), hlm. 50. Kata “mencelupkan” digunakan tiga kali di
dalam Perjanjian Baru, masing-masing dalam pengertian ‘diselamkan.’ Dalam perumpamaan orang kaya dan
Lazarus, orang kaya itu meminta kepada Abraham supaya mengizinkan Lazarus mencelupkan jarinya ke dalam air
yang dingin dan meneteskannya ke lidahnya (Luk. 16:24). Malam menjelang penyaliban Yesus memberikan ciri-
ciri orang yang akan mengkhianatinya dengan mencelupkan sesuatu dan kemudian memberikannya kepada Yudas
(Yoh. 13:26). Dan ketika Yohanes melihat Yesus menunggang kuda, dalam khayalnya, memimpin pasukan surga,
kepada Yohanes tampak pakaian Yesus seperti sudah dicelupkan dalam darah (Why. 19:13).
8. George E. Rice, “Baptism: Union With Christ,” Ministry, Mei 1982, hlm. 20.
9. Baca karya Albrecht Oepke, “Bapto, Baptizo,” dalam Theological Dictionary of the New Testament, jilid 1, hlm.
535. Bnd Arndt dan Gingrich, Greek-English Lexicon of the New Testament, hlm. 131.
10. J.K. Howard, New Testament Baptism (London: Pickering & Inglis Ltd., 1970), hlm. 48.
1l. Huruf miring ditambahkan.
12. Matthew Black, The Scrolls and Christian Origins (New ‘r oak: Charles Scribner`s Sons, 1961), hlm. 96-98. Baca
juga “Baptism,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi. hlm. 118, 119.
13. G.E. Rice, “Baptism in the Early Church,” Ministry, Maret 1981, hlm. 22. Bnd Henry F. Brown, Baptism Through
the Centuries (Mountain View, Cal.: Pacific Press, 1965); William L. Lampkin, A History of Immersion
(Nashville: Broadman Press, 1962): Woifred N. Cone, The Archeology of Baptism (London: Yates and
Alexander, 1876).
14. Brown, Baptism Through the Centuries, hlm. 49-90.
15. Alfred Plummer, A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel According to S. Luke, The International
Critical Commentary, ed. Samuel R. Driver, et al, edisi ke-5 (Edinburgh: T.&T. Clark, 1981, cetak ulang), hlm.
88.
16. “Baptism,” SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 128.
17. Howard, New Testament Baptism, hlm. 69.
18. G.F. Rice, “Baptism: Union With Christ,’ Ministry, Mei 1982, hlm. 21.
19. Gottfried Oosterwal, “Every member a Minister? From Baptism to a Theological Base,’ Ministry, Februari 1980,
230 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
hlm. 4-7. Baca juga tulisan Rex D. Edwards, ‘Baptism as Ordination,” Ministry, Agustus 1983, hlm. 4-6.
20. White dalam SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 1075.
21. Jika ada syarat-syarat baptisan, bagaimana mungkin ada “baptisan untuk orang mati?” Tafsiran yang berikut ini
selaras dengan apa yang ada dalam pekabaran Alkitab:
Di dalam 1 Korintus 15 Paulus menekankan makna kebangkitan dari maut dan menolak paham tidak adanya
kebangkitan. Ia menunjukkan bahwa jika tidak ada kebangkitan maka sia-sialah iman (1 Kor. 15:14,17). Dalam
lingkup yang sama ia bertanya “kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis
bagi orang-orang yang telah meninggal?” (1 Kor. 15:29).
Banyak orang menafsirkan ungkapan “dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal” sebagai sebuah petunjuk
baptisan pengganti yang dilakukan oleh orang beriman bagi orang yang sudah meninggal dunia. Persyaratan dalam
Alkitab tidak menunjukkan hal yang demikian. W. Robertson Nicoll menyatakan bahwa apa yang dimaksudkan
Paulus di sini ialah “sebuah pengalaman yang biasa, bahwa kematian orang-orang Kristen itu menuntun orang-
orang yang masih hidup kepada pertobatan, yang dalam contoh pertama ‘sebab kebaikan orang yang sudah
meninggal itu’ (orang yang mereka kasihi, yang mati), dan dalam pengharapan bersatu kembali nanti, berpaling
kepada Kristus.” Paulus melukiskan pertobatan yang demikian “dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal.”
“Pengharapan yang penuh berkat untuk masa mendatang, seiring dengan cinta kasih dan persahabatan keluarga,
yaitu merupakan faktor-faktor yang tangguh pada awal penyebaran Kekristenan” (W. Robertson Nicoll, ed., The
Expositor’s Greek Testament (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1956), jilid 2, hlm. 931, M. Raeder
menyatakan bahwa kata depan “bagi” (“for”)—huper dalam bahasa Yunani) dalam ungkapan “dibaptis bagi
orang-orang yang telah meninggal” yaitu sebuah kata preposisi tujuan. Ini berarti bahwa baptisan ini yaitu
“sebab kebaikan” atau “sebab kematian yang bermaksud menyatukan dengan kerabat orang-orang Kristen
yang sudah meninggal nanti pada waktu kebangkitan” (M. Raeder, “Vikariatstaufe in 1 K. 15:29?” Zeitschrift fur
die Neutestamentliche Wtssenschaft, 45 (1955), hlm. 258-260 dikutip oleh Harold Riesenfeld, ‘Huper,” Theo-
logical Dictionary of the New Testament, jilid 8, hlm. 513). Bnd Howard, New Testament Baptism, hlm, 108, 109).
Howard menyebutkan bahwa dalam konteks yang dikemukakan Paulus dalam 1 Korintus 15:29 yaitu “Jika
Kristus tidak bangkit, maka orang yang telah mati di dalam ‘Kristus’ akan binasa, tidak memiliki harapan,
terutama mereka yang sudah menggabungkan diri ke dalam masyarakat Kristen dan telah dibaptiskan demi
kebaikan orang-orang yang telah mati di dalam Kristus, berharap bergabung kembali dengan mereka” (Howard,
“Baptism for the Dead: A Study of 1 Corintians 15:29,” Evangelical Quarterly, ed. F.F. Bruce (Exeter, Eng.:
Paternoster Press), July-September 1965, hlm. 141).
22. Bnd Damsteegt, “Reaping the Harvest,” Adventist Review, 12 Oktober 1987, hlm. 15.
23. Baca SDA Church Manual, hlm. 41.
24. White, Evangelism, hlm. 313.
25. Karl Barth, Church Dogmatics, terjemahan G.W. Bromiley (Edinburgh: T.&T. Clark, 1969), jilid 4/4, hlm. 179.
26. G.R. Beasley - Murray, Baptism in the New Testament (Grand Rapids, MI.:Wm. B. Eerdmans, 1973), hlm. 392.
27. Lihat Edwards, “Baptism.”
Perjamuan Tuhan yaitu satu partisipasi dalam perlambangan
tubuh dan darah Yesus sebagai satu pernyataan iman di dalam Dia,
Tuhan dan Juruselamat kita. Dalam pengalaman Perjamuan Kudus
ini Kristus hadir untuk bertemu dan menguatkan umat-Nya. Jika kita
turut serta maka kita dengan gembira akan memberitahukan kematian
Kristus sampai ikhwal .kedatangan-Nya kembali. Persiapan untuk
Perjamuan Kudus itu menyangkut pemeriksaan diri, pertobatan dan
pengakuan. Guru Besar itu menahbiskan upacara pembasuhan kaki
untuk menyatakan pembasuhan pembaruan kembali, untuk menyata-
kan kerelaan melayani satu dengan yang lain dalam bentuk keren-
dahan hati seperti yang diperlihatkan Kristus serta menyatukan hati
kita dalam kasih. Perjamuan Kudus terbuka bagi semua orang Kristen
yang beriman.—___________________––16.
233
Mereka tiba di ruang atas dengan kaki
yang berdebu. Mereka akan menga-
dakan Paskah. Telah ada orang yang me-
nyediakan kendi berisi air, juga baskom, han-
duk untuk membasuh kaki sebagaimana bia-
sa, akan namun tidak ada seorang pun yang
mau melakukan pekerjaan pembasuhan kaki
yang dianggap tugas kasar,
Yesus, yang menyadari bahaya mendatang
— menghadapi kematian, menyadari keadaan
sekelilingnya sehingga Ia berbicara dengan
sedih, “Aku sangat rindu makan Paskah ini
bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku
menderita. Sebab Aku berkata kepadamu:
Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia
beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Al-
lah” (Luk. 22:15, 16).
Hati Yesus dirundung duka melihat rasa
cemburu yang timbul dalam hati murid-murid,
satu dengan yang lain. Ia mengetahui mereka
masih bertengkar tentang siapakah yang le-
bih besar nanti di dalam kerajaan-Nya (Luk.
22:24; Mat. 8:1; 10:21). Siasat yang dipasang
mereka ialah siasat untuk merebut kedudukan,
keangkuhan diri dan ingin menang sendiri,
sehingga membuat diri murid-murid itu tidak
mau merendahkan diri, yang mencegah me-
reka dari sikap dan tindakan sebagai hamba
pengganti yang mau membasuh kaki sesama-
nya. Apakah mereka tidak pernah mempelajari
bahwa orang yang dianggap paling besar
dalam kerajaan Tuhan yaitu orang yang
menunjukkan kerendahan hati dan mau me-
layani dengan kasih?
Ketika “mereka sedang makan bersama”
(Yoh. 13:2, 4)1, pelahan-lahan Yesus bangkit,
diambil-Nya handuk yang biasa digunakan
seorang hamba, dicurahkan-Nya air ke da-
lam baskom, lalu ia berlutut dan mulai mem-
basuh kaki murid-Nya. Guru Besar itu ber-
tindak sebagai hamba! Murid-murid merasa
malu melihat teguran halus ini. Ketika tugas
itu telah selesai dilaksanakan-Nya dan Ia
kembali ke tempat duduk-Nya, Ia berkata,
“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku
yang yaitu Tuhan dan Gurumu, maka kamu
pun wajib saling membasuh kakimu; sebab
Aku telah memberikan suatu teladan kepada
kamu, supaya kamu juga berbuat sama se-
perti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku
BAB 16
PERJAMUAN TUHAN
234 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
berkata kepadamu: sebenarnya seorang
hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya,
ataupun seorang utusan dari pada dia yang
mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini,
maka berbahagialah kamu, jika kamu mela-
kukannya” (Yoh. 13:14-17).
Demikianlah Yesus melembagakan, peng-
ganti perayaan Paskah, sebuah lembaga pe-
layanan yang mengingatkan pengorbanan-
Nya yang agung: Perjamuan Tuhan. Dengan
mengambil roti yang tidak ‘beragi, Ia “meng-
ucap berkat, memecah-mecahkannya lalu
memberikannya kepada murid-murid-Nya
dan berkata: ‘Ambillah, makanlah, inilah tu-
buh-Ku.’ Sesudah itu Ia mengambil cawan,
mengucap syukur lalu memberikannya kepa-
da mereka dan berkata: “Minumlah, kamu
semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-
Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi
banyak orang untuk pengampunan dosa.”
“Perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya,
menjadi peringatan akan Aku!” “Sebab se-
tiap kali kamu makan roti ini dan minum
cawan ini, kamu memberitakan kematian
Tuhan sampai Ia datang” (baca Mat. 26:26-
28: 1 Kor. 11:24-26; 10:16).
Peraturan pembasuhan kaki dan Perja-
muan Tuhan membuat adanya Perjamuan
Kudus. Oleh sebab itu, Kristus melemba-
gakan kedua peraturan ini untuk membantu
kita masuk ke dalam perjamuan dengan Dia.
PERATURAN PEMBASUHAN KAKI
Menurut kebiasaan di kalangan orang
Yahudi, kalau perayaan Paskah diadakan,
setiap keluarga menyingkirkan semua ragi,
dosa, dari rumah tangga mereka sebelum hari
pertama dari Minggu Roti Tidak Beragi (Kel.
12:15, 19, 20). Oleh sebab itu, orang-orang
percaya haruslah mengaku segala dosanya
dan bertobat—termasuk dalamnya dosa ke-
angkuhan, perseteruan, kecemburuan, pera-
yaan jengkel, sikap mementingkan diri sendi-
ri—sebelum mereka dalam roh yang benar
mengikuti perjamuan kudus dalam pengertian
pada tingkat yang paling dalam.
Setelah perayaan ini berakhir, Kristus
membuat peraturan pembasuhan kaki. Ia bu-
kan saja memberikan contoh untuk mereka,
namun contoh itu haruslah mereka lakukan,
sehingga menjanjikan sebuah berkat kepada
mereka: “Jikalau kamu tahu semua ini, maka
berbahagialah kamu, jika kamu melakukan-
nya” (Yoh. 13:17). Peraturan ini, mendahului
Perjamuan Tuhan, menggenapi amanat bah-
wa semua harus memeriksa diri sendiri supa-
ya mereka jangan turut mengambil bagian
dalam perjamuan itu dalam “cara yang tidak
layak” (1 Kor. 11:27-29).
Makna Peraturan. Peraturan ini menunjuk-
kan sesuatu mengenai tugas Kristus maupun
pengalaman orang yang turut serta di dalam-
nya.
1. Sebuah peringatan dari hal kemu-
rahan Tuhan. Peraturan pembasuhan kaki
mengingatkan sikap rendah hati Kristus dan
kehinaan yang dialami-Nya ketika menjelma
menjadi manusia, dalam pengalaman hidup-
Nya dan pelayanan-Nya.2 Walau pun Ia me-
megang jabatan yang tinggi dalam takhta
kemuliaan Bapa, Ia “telah mengosongkan di-
ri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia”
(Flp. 2:7).
Betapa merendahnya Anak Manusia itu,
menjadi orang yang tidak mementingkan diri
sama sekali. Ia begitu penuh kasih sayang,
hanya untuk melayani sebagian besar orang
yang hendak diselamatkan-Nya namun meno-
lak Dia. Selama masa hidup-Nya di atas du-
nia, Setan selalu bekerja keras untuk meng-
hina-Nya dalam segala kesempatan. Betapa
siksaan yang begitu kejam dan hina ditimpa-
Perjamuan Tuhan 235
kan kepada-Nya––Seorang yang sama se-
kali tidak bercacat itu harus disalibkan se-
bagai seorang penjahat!
Hidup Kristus yaitu hidup yang sama se-
kali tidak mementingkan diri sendiri. Ia tidak
datang “untuk dilayani, melainkan untuk me-
layani” (Mat. 20:28). Melalui perbuatan pem-
basuhan kaki Ia menunjukkan bahwa Ia mau
melakukan pelayanan yang bagaimana pun,
betapa pun rendahnya, demi menyelamatkan
umat manusia. Dengan demikianlah Ia mena-
namkan bakti hidup-Nya dan sikap kerendah-
an hati di dalam pikiran para pengikut-Nya.
Dalam menjadikan upacara persiapan ini
dijadikan sebuah peraturan, Kristus berniat
menuntun umat percaya ke dalam suatu sua-
sana kelemah-lembutan dan cinta kasih yang
akan menggerakkan mereka untuk melayani
orang lain. Peraturan ini memberikan do-
rongan bagi orang-orang yang memantulkan
maknanya, memperlakukan orang-orang lain
dengan penuh kepekaan dan kemurahan.
Dengan mengikuti teladan yang diberikan
Kristus dalam soal pembasuhan kaki berarti
kita mengakui Roh-Nya: melayani “seorang
akan yang lain oleh kasih” (Gal. 5:13).
Walaupun kita turut serta dalam pelayanan
ini—pelayanan untuk merendahkan diri.—
bukanlah berarti menghinakan. Siapa yang
tidak mau merasakan keistimewaan mem-
bungkuk di hadapan Kristus seraya membasuh
kaki yang telah dipakukan ke kayu salib itu?
Yesus berkata, “sebenarnya segala se-
suatu yang kamu lakukan untuk salah se-
orang dari saudara-Ku yang paling hina ini,
kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat.
25:40).
2. Sebuah bentuk pembersihan yang
lebih tinggi. Pembasuhan bukanlah sekadar
pencucian kaki. Upacara itu melambangkan
pemurnian yang lebih tinggi—pembasuhan
hati. Ketika Petrus meminta kepada Yesus
supaya membasuh ia seluruhnya, Yesus
berkata, “Barangsiapa telah mandi, ia tidak
usah membasuh diri lagi selain membasuh
kakinya, sebab ia sudah bersih seluruhnya”
(Yoh. 13:10).
Seorang yang sudah mandi tentulah sudah
bersih. Namun demikian, sebab sandalnya
terbuka, maka debu dari kaki perlu segera
dibersihkan lagi. Demikian halnya murid-mu-
rid itu. Dosa-dosa mereka sudah dibersihkan
melalui baptisan, akan namun godaan telah
membawa mereka kepada keangkuhan, ke-
cemburuan, dan kejahatan yang bersema-
yam dalam hati. Mereka belumlah siap meng-
adakan hubungan yang erat dengan Tuhannya,
begitu pula belum siap menerima perjanjian
baru yang hendak diberikan-Nya kepada me-
reka itu. Melalui upacara pembasuhan kaki
Kristus ingin menyiapkan mereka untuk
mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan.
Kecuali bagi Yudas, sang pengkhianat, hati
mereka telah dibersihkan oleh anugerah
Kristus dari keangkuhan dan rasa memen-
tingkan diri sendiri, dan mereka itu disatukan
dalam kasih satu dengan yang lain, melalui
perbuatan Yesus yang tidak mementingkan
diri, mereka merendahkan diri dan menjadi
orang yang suka belajar.
Seperti murid-murid itu, jika kita telah
diterima Kristus dan dibaptiskan, kita telah
dibersihkan oleh darah-Nya. namun ketika ki-
ta menjalani hidup Kristen, kita gagal. Kaki
kita berdebu. Kita harus datang kembali ke-
pada Kristus dan membiarkan anugerah-Nya
yang membersihkan itu membasuh segala
kekotoran kita. Walaupun demikian, kita ti-
dak perlu dibaptiskan kembali sebab “tidak
usah membasuh diri lagi selain membasuh
kakinya” (Yoh. 13:10).3 Membasuh kaki—
sebagai sebuah peraturan mengingatkan kita
akan perlunya senantiasa dibersihkan dan
benar-benar kita hanya bergantung sepenuh-
nya kepada darah Kristus. Upacara pemba-
236 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
suhan kaki itu sendiri tidak dapat member-
sihkan dosa. Hanya Kristus yang dapat me-
nyucikan kita.
3. Sebuah persekutuan pengampunan.
Sikap mengampuni di antara sesama yang
turut mengambil bagian dalam pembasuhan
kaki itu menunjukkan bahwa ini melambangkan
pelayanan yang efektif. Hanyalah kalau kita
mau mengampuni maka kita dapat mengalami
pengampunan Allah. “sebab jikalau kamu
mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang
di sorga akan mengampuni kamu juga. namun
jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapa-
mu juga tidak akan mengampuni kesalahan-
mu” (Mat. 6:14, 15).
Yesus berkata, “Maka kamu pun wajib
saling membasuh kakimu (Yoh. 13:14). Kita
perlu saling membasuh kaki. Kita perlu
mengakui bahwa kita memerlukan pertolongan
rohani.
jika upacara itu sudah berlalu, maka
iman kita pun memberi rasa sejahtera sebab
kita telah bersih, dosa-dosa kita telah diha-
puskan. Oleh siapa? Tentu oleh Kristus.
Akan namun kawan kita seiman yang melaya-
ni kita yang melambangkan pelayanan Kris-
tus sehingga persekutuan ini menjadi perse-
kutuan untuk saling mengampuni.4
4. Sebuah persekutuan dengan Kris-
tus dan umat percaya. Upacara pembasuh-
an kaki menunjukkan kasih Kristus bagi para
pengikut-Nya “sampai kepada kesudahan-
nya” (Yoh. 13:1). Ketika Petrus menolak ka-
kinya dibasuh, Kristus menjawab, “Jikalau
Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak
mendapat bagian dalam Aku. ” (ayat 8). Ka-
lau tidak ada pembasuhan maka tidak ada
persekutuan. Barangsiapa yang mau terus
ikut dalam persekutuan dengan Kristus, ma-
ka ia harus ikut serta dalam ketetapan ini.
Pada petang hari yang sama, Yesus ber-
kata, “Aku memberikan perintah baru kepa-
da kamu, yaitu supaya kamu saling menga-
sihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu
demikian pula kamu harus saling mengasihi”
(ayat 34). Pekabaran yang ada dalam
peraturan itu jelaslah: “Layanilah seorang
akan yang lain oleh kasih” (Gal. 5:13). Jika
kasih yang seperti ini telah menjadi milik kita
maka itu artinya kita mau mengakui dan
menempatkan sesama kita lebih tinggi dari
diri kita sendiri (Flp. 2:3). Itulah juga yang
memberikan hak kepada kita untuk mengasihi
orang yang berbeda dengan kita. Itulah yang
mengekang kita dari perasaan lebih tinggi
atau sikap pilih kasih. Gaya hidup kita me-
mantulkan kasih kita kepada sesama umat
percaya. Dengan bertelut di hadapan me-
reka, membasuh kaki mereka, kita merasa
gembira bahwa kita akan hidup bersama-sa-
ma dalam abad kekekalan. Semua orang
yang mengikuti teladan Kristus dalam per-
aturan ini akan mengalami suatu pengalaman
entah dalam corak yang bagaimanapun, mak-
na kasih seperti kasih Kristus. Dan cinta ka-
sih yang demikian dapat menjadi kesaksian
yang penuh dengan kuasa.
Seorang rahib Budha, suatu kali meminta
kepada seorang misionaris, sebuah gambaran
yang akan menggambarkan Kekristenan.
Para pelukis menghiasi sebuah gedung biara
dengan lukisan dinding dan lukisan timbul
yang menggambarkan agama-agama besar
dunia. Setelah itu misionaris mulai memper-
lihatkan apa yang ada dalam Yohanes
13. Rahib itu “tidak mengatakan sesuatu ke-
tika saya membaca,” kata misionaris itu me-
ngenangkan kembali, “bahwa saya merasa
aneh, merasakan ada sesuatu ketenangan
yang dahsyat, suatu kuasa dalam bagian per-
buatan Yesus waktu membasuh kaki murid-
murid-Nya.” Menurut adat-istiadat setempat,
membicarakan soal membasuh kaki di ha-
dapan umum dianggap tidak tahu etiket.
Perjamuan Tuhan 237
“Ketika saya selesai membaca, suasana
terasa amat hening. Ia menatap saya seraya
matanya menunjukkan rasa kurang percaya,
lalu berkata, “Maksudmu, Pendiri agamamu
itu membasuh kaki murid-murid-Nya?”
Saya menjawab, “‘Ya,’ Semua wajah
menjadi pucat, terkejut dan terheran-heran.
Ia diam, saya pun diam. Kami tercekam da-
lam peristiwa itu. Ketika saya memperhati-
kan wajahnya kembali, rasa tidak percaya itu
berangsur-angsur berubah menjadi rasa hor-
mat. Yesus, sang Pendiri agama Kristen, te-
lah menjamah dan membasuh kaki nelayan
yang kotor: Setelah beberapa lama ia mulai
dapat mengendalikan dirinya dan kemudian ia
berdiri. ‘Nah, sekarang saya baru dapat me-
nangkap hakikat agama Kristen.”5
PERAYAAN PERJAMUAN TUHAN
Nama yang paling umum dikenal untuk
Perjamuan di kalangan orang Protestan ialah
“Perjamuan (meja) Tuhan” (1 Kor. 11:20).
sedang sebutan yang lain yang mereka
gunakan ialah “dalam perjamuan (meja)
Tuhan” (1 Kor. 10:21) “memecah-mecahkan
roti” (Kis. 20:7; 2:42),6 dan, Ekaristi—aspek
upacara ucapkan syukur dan berkat (Mat.
26:26, 27; 1 Kor. 10:16; 11:24).
Perjamuan Tuhan yaitu waktu untuk
bersuka-suka, bukan waktu untuk bermuram-
durja. Yang mendahului upacara pembasuhan
kaki ini ialah saat pemeriksaan diri, penga-
kuan dosa-dosa, perdamaian atas perbedaan
dan juga saat untuk mengampuni. Kalau su-
dah menerima jaminan penyucian oleh darah
Juruselamat, maka umat yang percaya itu si-
ap masuk ke dalam perjamuan istimewa ber-
sama Tuhannya. Mereka akan menggabung-
kan diri ke meja perjamuan-Nya dengan hati
yang gembira, berdiri dalam terang kesela-
matan, bukan di bawah bayang-bayang salib
itu, dan siap merayakan penebusan Kristus.
Makna Perjamuan Tuhan. Perjamuan Tu-
han menggantikan pesta Paskah dari era per-
janjian lama. Paskah itu digenapi ketika
Kristus Domba Paskah itu menyerahkan
nyawa-Nya. Sebelum kematian-Nya, Yesus
Kristus mendirikan gantinya, pesta perayaan
Israel rohani di bawah perjanjian baru. Oleh
sebab itu, akar lambang Perjamuan Tuhan
merupakan perluasan yang bermula dari upa-
cara Paskah.
1. Peringatan kelepasan dari dosa.
Kalau pesta Paskah mengingatkan kembali
kelepasan bangsa Israel dari perhambaan di
Mesir, maka Perjamuan Tuhan mengingatkan
kelepasan dari Mesir rohani, perhambaan do-
sa.
Darah domba Paskah dipercikkan ke am-
bang pintu untuk melindungi penghuni rumah
dari maut; dagingnya dijadikan makanan
yang menguatkan tubuh mereka ketika me-
nyelamatkan diri dari Mesir (Kel. 12:3-8).
Demikianlah korban Kristus mendatangkan
kelepasan dari maut; umat percaya diselamat-
kan sebab turut mengambil bagian dalam
tubuh dan darah-Nya (Yoh. 6:54). Perjamuan
Tuhan mengumumkan bahwa kematian
Kristus di kayu salib menyediakan kesela-
matan bagi kita, menyediakan keampunan
dan menjamin kehidupan yang kekal.
Yesus berkata, “Perbuatlah ini menjadi
peringatan akan Aku” (1 Kor. 11:24). Per-
aturan ini menekankan dimensi pengganti
pendamaian Kristus. “Inilah tubuh-Ku,” kata
Yesus, “yang diserahkan bagi kamu” (1 Kor.
11:24; bandingkan Yes. 53:4-12). Di atas ka-
yu salib Yang Tidak Mengenal Dosa (In-
nocent) itu menjadi pengganti bagi orang
yang bersalah, Yang Benar bagi orang yang
tidak benar. Tindakan yang penuh kemurahan
hati ini memuaskan tuntutan hukum—sebab
maut bagi orang yang berdosa—menyediakan
pengampunan, damai dan jaminan hidup ke-
238 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
kal bagi orang berdosa yang bertobat. Salib
itulah yang menghapuskan hukuman yang
seharusnya kita tanggung dan menyediakan
jubah kebenaran Kristus bagi kita, serta me-
ngaruniai kita kuasa untuk mengalahkan ke-
jahatan.
a. Roti dan buah anggur. Yesus meng-
gunakan banyak perbandingan atau metafora
untuk mengajarkan kebenaran-kebenaran
yang beragam mengenai diri-Nya sendiri. Ia
berkata, “Akulah pintu” (Yoh. 10:7), “Akulah
jalan” (Yoh. 15:1), dan “Akulah roti hidup”
(Yoh. 6:35). Janganlah kita mengartikan ung-
kapan ini secara harfiah sebab Ia tidak hadir
pada setiap pintu, jalan atau anggur. Sebalik-
nya, hal-hal itulah yang menggambarkan
kebenaran yang lebih dalam.
Pada waktu Ia memberi makan 5000
orang dengan cara mukjizat, Yesus menya-
takan dalamnya makna tubuh dan darah-
Nya. Roti yang sejati itu dikatakan-Nya, “Se-
sungguhnya bukan Musa yang memberikan
kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku
yang memberikan kamu roti yang benar dari
surga. sebab roti yang dari Allah ialah roti
yang turun dari surga dan yang memberi
hidup kepada dunia. Maka kata mereka ke-
pada-Nya: Tuhan, berikanlah kami roti itu
senantiasa. Kata Yesus kepada mereka:
Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepa-
da-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsia-
pa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus
lagi (Yoh. 6:32-35). Ia memberikan tubuh dan
darah-Nya untuk memuaskan lapar dan da-
haga kita yang paling kita perlukan dan ha-
rapkan (Yoh. 6:50-54).
Roti dan anggur Paskah yang dimakan
dan diminum Kristus tidak beragi.7 Ragi yang
menghasilkan peragian sehingga roti meng-
gembung, dianggap sebagai lambang dosa (1
Kor. 5:7, 8), sehingga tidak cocok menggam-
barkan Domba “yang tak bernoda dan tak
bercacat” (1 Ptr. 1:19).8 Yang dapat melam-
bangkan tubuh Kristus yang tidak bercacat
cela dan tak berdosa itulah roti yang “tidak
beragi.” Begitu pula dengan anggur, hanya
buah anggur yang tidak beragi yang pantas
melambangkan darah Kristus yang sempurna,
yang dapat membasuh, yaitu darah sang Ju-
ruselamat.9
b. Makan dan minum. “sebenarnya
jikalau kamu tidak makan daging Anak Ma-
nusia dan minum darah-Nya, kamu tidak
mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsia-
pa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia
mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan
membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh.
6:53, 54).
Memakan daging Kristus dan meminum
darah-Nya yaitu bahasa simbolis bagi per-
paduan firman Allah, di mana umat percaya
berhubungan dengan surga serta menyang-
gupkan mereka memperoleh kehidupan ro-
hani. Ia berkata, “Perkataan-perkataan yang
Kukatakan kepadamu yaitu roh dan hidup”
(Yoh. 6:63). “Manusia hidup bukan dari roti
saja, namun dari setiap firman yang keluar dari
mulut Allah” (Mat. 4:4).
Umat percaya yang dikatakan makan tu-
buh Kristus, yakni roti hidup itu, melalui turut
sertanya dalam firman hidup itu—Alkitab.
Dengan firman itulah diperoleh kuasa pem-
beri hidup dari Kristus. Dalam upacara Per-
jamuan kita turut mengambil bagian, bersatu
dengan firman-Nya melalui Roh Kudus. Itu-
lah sebabnya pemberitaan firman mengikuti
setiap Perjamuan Tuhan.
sebab kita memperoleh faedah dari kor-
ban pendamaian Kristus melalui iman, maka
Perjamuan Tuhan lebih dari sekadar menge-
nangkan. Keikutsertaan dalam upacara Per-
jamuan berarti menguatkan kembali hidup
kita melalui kuasa penunjang Kristus sehing-
ga memberikan kegembiraan hidup kepada
Perjamuan Tuhan 239
kita. Pendek kata, perlambang itu menunjuk-
kan bahwa “kita bergantung kepada Kristus
dalam kehidupan rohani sebagaimana kita
memerlukan makanan dan minuman hidup
jasmani.”10
Pada waktu mengikuti Perjamuan Kudus
kita gunakan cawan “pengucapan syukur” (1
Kor. 10:16). Ini berarti bahwa sebagaimana
Kristus “mengucapkan syukur” atas cawan
itu (Mat. 26:27), begitu pulalah kita menyata-
kan syukur kita atas darah Yesus.
2. Perjamuan dengan Kristus. Di te-
ngah-tengah dunia yang penuh dengan per-
gumulan dan perpecahan, partisipasi kita da-
lam upacara ini turut memadukan serta me-
ngukuhkan jemaat, menunjukkan perjamuan
sejati dengan Kristus dan sesama. Paulus
menekankan soal perjamuan ini sebagai ber-
ikut, “Bukankah cawan pengucapan syukur,
yang atasnya kita ucapkan syukur, yaitu
persekutuan dengan darah Kristus? Bukan-
kah roti yang kita pecah-pecahkan yaitu
persekutuan dengan tubuh Kristus? sebab
roti yaitu satu, maka kita, sekalipun banyak,
yaitu satu tubuh, sebab kita semua menda-
pat bagian dalam roti yang satu itu.” (1 Kor.
10:16, 17).
“Yang disinggungnya di sini ialah kenya-
taan bahwa roti perjamuan dipecah-pecah
menjadi bagian-bagian kecil, yang kemudian
dimakan umat percaya, dan sebab potongan-
potongan roti itu berasal dari roti yang sama,
maka semua orang yang percaya yang turut
serta dalam upacara perjamuan itu disatukan
di dalam Dia sebab tubuh yang dipecah itu
dilambangkan dengan roti yang dipecah-
pecahkan. Dengan turut sertanya dalam per-
aturan ini, orang Kristen menunjukkan ke-
pada khalayak bahwa mereka disatukan dan
masuk dalam keluarga besar, yang dikepalai
Kristus.”11
Semua anggota jemaat harus turut serta
dalam perjamuan yang suci ini sebab di
sanalah, melalui Roh Kudus, “Kristus berte-
mu dengan umat-Nya, memberi kekuatan
kepada mereka dengan kehadiran-Nya. Hati
dan tangan yang tidak layak mungkin mela-
yani upacara itu, namun demikian, Kristus
ada di waktu melayani anak-anak-Nya. Se-
mua orang yang ikut serta dengan iman yang
ditujukan kepada Kristus akan memperoleh
berkat yang besar. Semua orang yang mere-
mehkan saat kesempatan pertemuan yang
khusus dengan yang Ilahi itu akan kehilangan.
Mengenai mereka itu dapatlah dikatakan.
“Semua kamu tidak suci.”12
Kita merasakan suatu pengalaman yang
mendalam dan menguatkan pada perjamuan
di meja Perjamuan Tuhan. Di sinilah kita ber-
diri di atas dasar yang lama, segala rintangan
pemisah antara kita runtuh. Di sinilah kita me-
nyadari bahwa bila berada di tengah-tengah
masyarakat banyak yang memisahkan kita,
sedang bila berada dalam Kristus, terda-
patlah segala sesuatu yang diperlukan untuk
menyatukan kita. Ketika Yesus menyam-
paikan cawan Perjamuan kepada murid-mu-
rid-Nya, sebuah perjanjian yang baru diberi-
kan kepada mereka. Ia berkata, “Minumlah,
kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah da-
rah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan
bagi banyak orang untuk pengampunan do-
sa” (Mat. 26:27, 28; bandingkan Luk. 22:20).
Sebagaimana perjanjian lama disahkan oleh
darah korban-korban hewan (Kel. 24:8), de-
mikianlah perjanjian baru disahkan oleh darah
Kristus. Dengan ketetapan baru ini orang-
orang percaya membaharui tekad setia me-
reka kepada Tuhan, dengan pengakuan yang
baru bahwa mereka yaitu satu bagian dari
persetujuan yang mengagumkan, dan dengan
itu, di dalam Yesus, Allah menyatukan diri-
Nya dengan manusia. Dengan ikut sertanya
dalam perjanjian ini, mereka memiliki sesuatu
yang patut dirayakan. Dengan demikianlah
240 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
Perjamuan Tuhan menjadi sebuah peringatan
dan pengucapan syukur atas pemeteraian
perjanjian kekal dari anugerah itu. Berkat-
berkat yang diterima menjadi berimbang
dengan iman pesertanya.
3. Antisipasi atas Kedatangan Kedua
Kali. “Sebab setiap kali kamu makan roti ini
dan minum cawan ini, kamu memberitakan
kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Kor.
11:26). Upacara Perjamuan merentang wak-
tu antara Golgota dan Kedatangan Kedua
kali. Yang dihubungkannya ialah salib dan ke-
rajaan itu. Dihubungkannya “yang sudah siap
sedia”dan “yang belum,” yang merupakan in-
ti pandangan dunia Perjanjian Baru. Disatu-
kannya korban Juruselamat dan kedatangan-
Nya yang kedua kali—keselamatan yang di-
sediakan dan keselamatan sempurna. Di-
nyatakannya bahwa Kristus hadir melalui
Roh sampai kedatangan-Nya nanti dapat dili-
hat dengan nyata.
Pernyataan Kristus, “Mulai dari sekarang
Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur
ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu
yang baru, bersama-sama dengan kamu da-
lam Kerajaan Bapa-Ku” (Mat. 26:29), meru-
pakan sebuah nubuat. Iman kita ditujukan ke-
pada perayaan Perjamuan mendatang bersa-
ma Juruselamat di dalam kerajaan yang dijan-
jikan. Peristiwa pesta raya “perjamuan kawin
Anak Domba” (Why. 19:9). Untuk menyong-
song peristiwa ini Kristus memberikan petun-
juk, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat
dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah
kamu sama seperti orang-orang yang menan-
ti-nantikan tuannya yang pulang dari perka-
winan, supaya jika ia datang dan mengetok
pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbaha-
gialah hamba-hamba yang didapati tuannya
berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata
kepadamu: sebenarnya ia akan mengikat
pinggangnya dan mempersilakan mereka du-
duk makan, dan ia akan datang melayani me-
reka” (Luk. 12:35-37).
Kristus akan merayakan Perjamuan ber-
sama pengikut-pengikut-Nya di meja perja-
muan seperti yang pernah dilakukan-Nya di
Yerusalem. Sudah lama Ia menanti-nanti ke-
sempatan seperti ini, dan sekarang kesempatan
itu sudah tersedia. Ia bangkit dari takhta-Nya
dan berjalan untuk melakukan pelayanan.
Rasa kagum mengelilingi semuanya. Mereka
benar-benar merasakan bahwa sebenarnya
tidak layak menerima kehormatan seperti pe-
layanan yang diberikan Kristus. Mereka
mengajukan protes seraya berkata, “Biarlah
kita yang melayani!” namun dengan tenang
Kristus menyuruh mereka duduk dan diam.
“Tiada kebesaran sejati yang lebih besar
dari peristiwa perjamuan Tuhan di dunia bagi
Kristus, tatkala Ia mengambil tempat sebagai
pelayan serta merendahkan diri-Nya. Tiada
yang lebih besar bagi Kristus, di surga, dari
saat jika Ia melayani orang-orang sa-
leh.”13 Inilah pengharapan puncak yang di-
arahkan Perjamuan Tuhan itu kepada kita,
suatu kegembiraan atas kemuliaan Tuhan
melalui persekutuan pribadi dengan Kristus
dalam kerajaan-Nya yang kekal itu.
Syarat untuk Turut Serta. Dua ketetapan
besar dalam pelayanan iman Kristen—bap-
tisan dan Perjamuan Tuhan. Yang pertama
merupakan pintu gerbang masuk ke dalam
jemaat, sedang yang berikutnya berfaedah
bagi orang yang menjadi anggotanya.14 Kris-
tus mengadakan Perjamuan hanya kepada
orang yang mengaku sebagai pengikut-peng-
ikut-Nya. Upacara Perjamuan diperuntukkan
bagi orang Kristen yang beriman. Anak-anak
yang belum dibaptiskan tidak biasa diikutkan
dalam upacara ini.15
Alkitab mengajarkan kepada orang-orang
yang beriman supaya menyelenggarakan ke-
tetapan ini dengan penuh hormat dan pujian
Perjamuan Tuhan 241
kepada Tuhan, sebab seseorang yang “de-
ngan cara yang tidak layak makan roti dan
minum cawan ... ia berdosa terhadap tubuh
dan darah Tuhan” (1 Kor. 11:27). “Cara yang
tidak layak” termasuk di dalamnya “tindak-
tanduk yang tidak sepantasnya (baca ayat
21) atau yang kurang beriman dalam korban
pendamaian Kristus.”16 Tingkah laku yang
demikian menunjukkan rasa tidak hormat
kepada Tuhan dan dapat dianggap sebagai
penolakan terhadap Juruselamat sehingga
merupakan bagian dari kesalahan yang dila-
kukan orang yang menyalibkan Dia.
Keikutsertaan yang tidak pada tempatnya
akan mendatangkan ketidaksenangan Tuhan.
Barangsiapa yang makan dan minum dalam
cara yang tidak layak berarti “menghakimkan”
diri mereka sendiri, “tanpa mengakui tubuh
Tuhan” (1 Kor. 11:29). Mereka gagal mem-
bedakan antara makanan sehari-hari dan
perlambang yang dikhususkan untuk melam-
bangkan kematian yang mendatangkan pen-
damaian yang dilakukan Kristus. “Orang
yang beriman janganlah memperlakukan
upacara yang ditetapkan itu hanya sekadar
upacara peringatan sebab adanya peristiwa
sejarah. Upacara ini lebih daripada sekadar
peristiwa, itulah yang mengingatkan bagai-
mana dosa telah membuat Allah berkorban
dan betapa manusia berutang budi kepada
Juruselamat. Peristiwa itu juga berarti bahwa
umat percaya harus tetap mengingat dalam
benak mereka tanggung jawab menyampai-
kan kesaksian kepada khalayak atas imannya
dalam kematian pendamaian yang dilakukan
Anak Allah.”17
Mengingat hal inilah rasul Paulus menasi-
hatkan orang beriman supaya “menguji diri-
nya sendiri” sebelum turut mengambil bagian
dalam Perjamuan Tuhan (1 Kor. 11:28). Se-
belum ikut serta, umat percaya itu harus
berdoa mengamati dengan saksama penga-
laman Kristiani mereka, mengaku dosa-dosa
mereka dan memulihkan hubungan yang pa-
rah.
Pengalaman para pelopor Advent menun-
jukkan betapa berkat besar yang dihasilkan
oleh syarat yang cermat itu: “Ketika anggota
kita masih sedikit jumlahnya, pelaksanaan
upacara itu digunakan sebagai peristiwa yang
sangat berfaedah. Hari Jumat sebelumnya,
tiap-tiap anggota jemaat berusaha menjernih-
kan segala sesuatu yang mungkin memisah-
kannya dari sesama dan dari Tuhan. Hati di-
teliti dengan saksama; berdoa kepada Tuhan
agar dosa-dosa yang tersembunyi dinya-
takan apakah telah dipersembahkan dengan
sungguh-sungguh; pengakuan atas dagang
yang berlebih-lebihan, atau mengucapkan
kata-kata yang menyakitkan dan ceroboh,
dosa yang masih tetap didambakan, semuanya
telah dilakukan. Tuhan datang dekat, dan kita
dikukuhkan dan diberi keberanian yang be-
sar.”18
Pemeriksaan ini merupakan sebuah pe-
kerjaan yang bersifat pribadi. Tidak ada
orang lain yang dapat melakukannya untuk
seseorang, sebab siapakah yang dapat
membaca hati atau membedakan lalang dari
padi? Kristus, teladan kita, menolak sikap
eksklusifisme di Perjamuan. Walaupun dosa
yang terang-terangan membuat seseorang
tidak diperkenankan ikut mengambil bagian
(1 Kor. 5:11). Yesus sendiri makan bersama
dengan Yudas—yang secara lahiriah meng-
aku murid, padahal secara batiniah ia seorang
pencuri dan pengkhianat.
Apakah tanda seseorang layak mengikuti
upacara Perjamuan, yaitu keadaan hati—
sebuah penyerahan penuh kepada Kristus
dan beriman atas pengorbanan-Nya, bukannya
menjadi anggota pada gereja tertentu. Alha-
sil, orang-orang Kristen yang beriman dari
semua jemaat dapat mengambil bagian dalam
Perjamuan Tuhan. Semua diundang untuk
mengikuti perayaan agung perjanjian baru ini
242 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
sedapat-dapatnya, dan dengan keikutsertaan
mereka itulah bersaksi atas penerimaan me-
reka kepada Kristus sebagai Juruselamat
mereka pribadi.19
________________
1. Baca tulisan Robert Odom, “The First Celebration of the Ordinance of the Lord’s House,” Ministry, Januari 1953,
hlm. 20; White, Desire of Ages, hlm. 643-646.
2 . Ibid., hlm. 650.
3. Ada hubungan antara baptisan dengan perjamuan Tuhan. Baptisan sebagai syarat masuk menjadi anggota jemaat,
sedang upacara pembasuhan kaki dilakukan orang yang sudah menjadi anggota jemaat. Selama upacara ini kita
dapat merenungkan secara layak janji Baptisan kita.
4. Baca tulisan C. Mervyn Maxwell, “A Fellowship of Forgiveness,” Review and Herald, 29 Juni 1961,hlm. 6, 7.
5. Jon Dybdahl, Missions: A Two-Way Street (Boise, ID: Pacific Press, 1986), hlm. 28.
6. Walaupun menurut pengertian umum Kisah 20:7 pernyataan itu menunjuk kepada penyelenggaraan Perjamuan
Tuhan tidaklah secara eksklusif menunjuk kepada ketetapan ini. Di dalam Luk. 24:35 yang dinyatakannya ialah
makanan sehari-hari.
7. Berdasarkan dugaan bahwa orang yang hidup pada zaman Alkitab tidak dapat menyimpan air anggur untuk waktu
yang agak lama dalam iklim yang panas (di Israel) dari waktu musim menuai, hingga Paskah pada musim semi
sehingga orang-orang Yahudi terpaksa mengadakan Paskah dengan anggur beragi. Anggapan ini tidak beralasan.
Sejak zaman dahulu telah ditemukan orang banyak cara untuk mengawetkan sari buah sehingga tidak terkena ragi
dan dapat dipelihara dalam waktu yang lama dengan pelbagai metode. Salah satu cara ialah mengkonsentrasikan
sari buah menjadi sirop melalui pemanasan. Disimpan di tempat yang dingin sehingga konsentrasinya tidak
meragi. Sari buah yang ditambah dengan air akan membuatnya “anggur manis” yang tidak beralkohol. Baca tulisan
William Patton, Bible Wines—Laws of Fermentation (Oklahoma City, OK: Sane Press, n.d.). hlm. 24-41; baca
juga Christoforides, “More on Unfermented Wine,” Ministry, April 1955, hlm. 34; Lael O. Caesar, “The Meaning
of Yayin in the Old Testament” (Unpublished M.a. Thesis, Andrews Univeristy, 1986), hlm. 74-77; White, Desire
of Ages, hlm. 653. Anggur Paskah dapat juga dibuat dari kismis (F.C. Gilbert, Practical Lessons From the
Experience of Israel for the Church of Today, Nashville, TN: Southern Publ. Assn., 1972, hlm. 240, 241.
8. Dalam kaitan ini bukanlah tanpa makna bahwa Kristus menghindari penggunaan kata yang biasa untuk anggur
(Yunani, oinos) melainkan menggunakan frase “buah anggur” (Mrk. 14:25). Sementara oinos dapat menunjuk
kepada anggur dengan raginya, begitu juga kepada anggur yang tidak beragi, dengan mengatakan buah anggur maka
yang dimaksudkan ialah sari buah yang murni—lambang yang pantas bagi darah Kristus, yang menyebut diri-Nya
“Anggur yang sejati’ (Yoh. 15:1).
9. Ragi juga menyebabkan peragian sari buah anggur, Spora ragi, dapat dibawa lewat udara atau melalui serangga, me-
lekatkan dirinya ke kulit anggur. Jadi waktu anggur digiling maka spora itu berbaur dengan sari buah. Ragi itu de-
ngan cepat berlipat-ganda, membuat anggur beragi (baca Martin S. Peterson, Arnold H. Johnson, ed., Encyclo-
pedia of Food Technology, CT.: Avi Publishing Co., 1974), vol. 2, hlm. 61-69; idem, Encyclopedia of Food
Science (Westport, CT.: Avi Publishing Co., 1978), vol. 3, hlm. 878).
10. R. Rice, Reign of God, hlm. 303.
11. SDA Bible Commentary, edisi revisi, vol. 6, hlm. 746.
12. White, Desire of Ages, hlm. 656, bnd hlm. 661.
13. ML Andreasen, “The Ordinances of the Lord’s House,” Ministry, Jan. 1947, hlm. 44, 46.
14. Bnd White, Evangelism (Washington, D.C.: Review and Herald, 1946), hlm. 273.
15. Lihat Frank Holbrook, “For Members Only?” Ministry, Februari 1987, hlm. 13.
16. SDA Bible Commentary, edisi revisi, vol. 6, hlm. 765.
17. Ibid
18. White, Evangelism, hlm. 274; bnd SDA Bible commentary, edisi revisi, vol. 6, hlm. 765.
19. Alkitab tidak menjelaskan secara rinci berapa sering Perjamuan Tuhan itu diadakan (baca 1 Kor. 11:25, 26).
Umumnya gereja Advent mengikuti kebiasaan yang dilakukan dalam gereja Protestan lainnya, 4 kali setahun.
“Mengapa diadakan triwulan, umat Advent yang mula-mula menganggap jika upacara ini dilakukan terlalu sering
maka maknanya menjadi hilang, berbahaya dan menjadi sekadar formalitas belaka.” Mungkin itulah keputusan
jalan tengah—antara penyelenggaraan yang terlalu sering dengan penyelenggaraan yang terlalu renggang setahun
sekali (W.R. Read, “Frequency of the Lord’s Supper,” Ministry, April 1955, hlm. 43).
Karunia Rohani dan Tugas Pelayanan 243
Allah mencurahkan karunia rohani kepada seluruh kelompok umur
anggota jemaat-Nya di mana setiap anggota mengambil bagian da-
lam pelayanan penuh kasih demi kebaikan jemaat dan manusia. Ka-
runia rohani itu diberikan melalui Roh Kudus, yang diberikan secara
adil kepada setiap anggota menurut kehendak-Nya, pemberian yang
akan menyanggupkan serta melayani segala keperluan jemaat untuk
melaksanakan fungsi yang ditugaskan Ilahi. Menurut Alkitab, karu-
nia-karunia ini termasuk pelayan iman, penyembuhan, nubuat, peng-
umuman, pengajaran, pe-laksanaan, pendamaian, perasaan kasih-
an, pelayanan pengorbanan diri serta kedermawanan untuk mem-
bantu dan meneguhkan orang. Sebagian anggota dipanggil Allah ser-
ta dikaruniai Roh untuk melaksanakan tugas yang diakui jemaat
selaku gembala jemaat, pekerja Injil, rasul-rasul, dan mengajar jema-
at secara khusus untuk melengkapi anggota jemaat melakukan tugas
pelayanan yang diperlukan, untuk membangun jemaat kepada kema-
tangan rohani, membantu perkembangan kesatuan iman dan penge-
tahuan akan Allah. jika setiap anggota jemaat menggunakan
karunia rohani ini sebagai penatalayan yang setia akan pelbagai ra-
gam anugerah Allah, maka gereja dilindungi dari pengaruh yang me-
rusak dari pengajaran yang palsu, dan jemaat akan berkembang de-
ngan perkembangan yang berasal dari Allah, dan dibangun dalam
iman dan kasih.—___________________—17.
245
P erkataan Yesus yang diucapkan saat
sebelum Ia naik ke surga telah meng-
ubah sejarah. “Pergilah ke seluruh dunia,”kata-
Nya kepada murid-murid, “beritakanlah Injil
kepada seluruh makhluk” (Mrk. 16:15).
Ke seluruh dunia? Kepada setiap makh-
luk? Para murid menganggapnya sesuatu tu-
gas yang mustahil dilakukan. sebab Kristus
mengetahui keadaan mereka yang tidak ber-
daya, Ia menyuruh mereka supaya tetap di
Yerusalem “menantikan janji Bapa.” Kemu-
dian diberikan-Nya janji kepada mereka,
“namun kamu akan menerima kuasa, kalau
Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu
akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di
seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke
ujung bumi” (Kis. 1:4, 8).
Setelah Yesus naik ke surga maka murid-
murid menggunakan banyak waktu untuk
berdoa. Sikap merendahkan diri dan kehar-
monisan menggantikan sikap iri dan pertikaian
yang telah menodai banyak waktu mereka
pada zaman Yesus. Murid-murid itu sudah
bertobat. Hubungan mereka yang erat de-
ngan Kristus menghasilkan persatuan yang
memang mereka perlukan untuk menghadapi
kecurahan Roh Kudus.
Sebagaimana Yesus menerima pengu-
rapan khusus dengan Roh yang melayakkan-
Nya untuk melakukan tugas pelayanan (Kis.
10:38), demikian pulalah murid-murid itu me-
nerima baptisan Roh Kudus (Kis. 1:5) untuk
menyanggupkan mereka memberikan kesak-
sian. Hasilnya sungguh menggetarkan. Pada
saat mereka menerima karunia Roh Kudus,
mereka membaptiskan tiga ribu orang (baca
Kis. 2:41).
KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Kristus menggambarkan karunia Roh
Kudus dengan sebuah perumpamaan: “Sebab
hal kerajaan Sorga sama seperti seorang
yang mau bepergian ke luar negeri, yang me-
manggil hamba-hambanya dan memperca-
yakan hartanya kepada mereka. Yang seo-
rang diberikannya lima talenta, yang seorang
lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, ma-
sing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia
berangkat”(Mat. 25:14, 15).
BAB 17
KARUNIA ROHANI DAN
TUGAS PELAYANAN
246 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ....
Orang yang bepergian ke luar negeri itu
menggambarkan Kristus yang berangkat ke
surga. Yang disebut “hamba-hambanya” ia-
lah murid-murid-Nya yang “telah dibeli dan
harganya telah lunas dibayar” (1 Kor. 6:20)
dengan “darah yang mahal yaitu darah Kris-
tus,” (1 Ptr. 1:19). Kristus menebus mereka
untuk melayani, dan mereka hidup “tidak lagi
hidup untuk dirinya sendiri, namun untuk Dia,
yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk
mereka” (2 Kor. 5:15).
Kristus memberikan talenta kepada ma-
sing-masing sesuai dengan kemampuannya,
dan “masing-masing dengan tugasnya”
(Mrk. 13:34). Begitu juga dengan karunia dan
kemampuan lain (baca Bab 20), talenta ini
menggambarkan pemberian khusus yang di-
bagi-bagikan oleh Roh.1
Dalam pengertian khusus, Kristus mem-
berikan karunia-karunia rohani ini kepada je-
maat-Nya pada waktu Pentakosta. “Tatkala
Ia naik ke tempat tinggi,”kata Paulus, “Ia
memberikan pemberian-pemberian kepada
manusia.” Dengan demikian, “kepada kita
masing-masing telah dianugerahkan kasih
karunia menurut ukuran pemberian Kristus”
(Ef. 4:8, 7). Roh Kudus yaitu perantara
yang membagi-bagikan “kepada tiap-tiap
orang secara khusus, seperti yang dikehen-
daki-Nya” (1 Kor 12:11) pemberian-pembe-
rian ini untuk menyanggupkan jemaat me-
laksanakan tugasnya.
TUJUAN PEMBERIAN KARUNIA
ITU
Roh Kudus memberikan kemampuan
khusus kepada anggota untuk menyanggupkan
mereka membantu jemaat memenuhi tugas
yang diberikan Ilahi.
Keselarasan Dalam Jemaat. Jemaat Ko-
rintus tidak kekurangan karunia rohani mana
pun (1 Kor 1:4, 7). Sayangnya, mereka ber-
tengkar seperti anak-anak mengenai pembe-
rian mana yang paling penting.
Mengenai perpecahan yang terjadi dalam
jemaat, Paulus menulis kepada orang-orang
Korintus mengenai sifat pemberian-pemberian
ini yang sebenarnya, dan bagaimana seharus-
nya mereka melaksanakan fungsinya. Karu-
nia-karunia rohani, kata Paulus menjelaskan,
yaitu pemberian anugerah. Dari Roh yang
sama turunlah “rupa-rupa karunia yang bera-
gam-ragam,” sehingga ada “rupa-rupa pela-
yanan” dan “ada berbagai-bagai perbuat-
an.”Akan namun , Paulus menekankan bahwa
“yaitu satu yang mengerjakan semuanya
dalam semua orang” (1 Kor. 12:4-6).
Roh membagi-bagikan karunia kepada
setiap orang percaya—untuk menguatkan
iman atau membangun jemaat. Keperluan-
keperluan dalam pekerjaan Tuhan menentu-
kan apa yang dibagikan Roh dan kepada
siapa. Tidak semua orang menerima karunia
yang sama. Paulus mengatakan bahwa Roh
memberikan kepada seorang, akal budi ke-
pada yang lain kemampuan mengadakan
mukjizat, ada lagi yang mendapat karunia
nubuat, roh untuk menyelidik, yang lain lagi
mendapat karunia lidah sementara yang lain
diberi kemampuan menafsirkan karunia li-
dah. “namun semuanya ini dikerjakan oleh
Roh yang satu dan yang sama, yang mem-
berikan karunia kepada tiap-tiap orang seca-
ra khusus, seperti yang dikehendaki-Nya”
(ayat 11). Rasa syukur atas karunia yang be-
kerja di dalam jemaat haruslah ditujukan ke-
pada Pemberi karunia itu, bukan berterima
kasih kepada orang yang menjalankan pem-
berian itu. sebab pemberian-pemberian itu
diberikan kepada jemaat bukan untuk indi-
vidu, maka penerimanya janganlah meng-
anggap pemberian itu merupakan milik me-
reka sendiri.
sebab Roh membagi-bagikan karunia
Karunia Rohani dan Tugas Pelayanan 24
.jpeg)
