doktrin Advent 13

doktrin Advent 13



 7

sesuai dengan pemandangan-Nya, maka ti-

dak boleh ada pemberian yang diremehkan

atau dihinakan. Tidak boleh ada anggota je-

maat merasa sombong sebab  pengangkatan

khusus atau sebab  jabatan dan tugas terten-

tu, begitu pula janganlah seorang pun merasa

rendah sebab  diberi kedudukan yang seder-

hana.

1. Pola Kerjanya. Paulus menggunakan

tubuh manusia untuk menggambarkan kese-

larasan dalam pemberian yang beraneka-

ragam itu. Tubuh mempunyai anggota yang

masing-masing mempunyai peranan dalam

satu cara yang unik. “namun  Allah telah

memberikan kepada anggota, masing-ma-

sing secara khusus, suatu tempat pada tubuh,

seperti yang dikehendaki-Nya” (ayat 18).

Tidak satu pun anggota tubuh itu berkata

kepada satu dengan yang lain “Aku tidak

membutuhkan engkau!” Mereka saling ber-

gantung dan “malahan justru anggota-anggo-

ta tubuh yang nampaknya paling lemah, yang

paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-ang-

gota tubuh yang menurut pemandangan kita

kurang terhormat, kita berikan penghormatan

khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh ang-

gota-anggota kita yang elok. Allah telah me-

nyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga ke-

pada anggota-anggota yang tidak mulia dibe-

rikan penghormatan khusus. (ayat 21-24).

Kegagalan anggota tubuh yang mana pun

akan mempengaruhi keseluruhan tubuh. Ka-

lau tubuh tidak mempunyai otak maka perut

pun tidak akan berfungsi; dan jika tidak ada

perut maka otak pun tidak berguna. Gereja

akan mengalami kesulitan jika ada anggota

walaupun kecil, hilang peranannya.

Bagian-bagian tubuh tertentu yang secara

struktur lemah memerlukan perlindungan is-

timewa. Seseorang mungkin saja masih ber-

fungsi tanpa sebuah tangan atau kaki, namun 

bukan tanpa hati, jantung atau paru. Pada

umumnya kita membiarkan wajah kita ter-

buka, juga tangan kita, namun  anggota-ang-

gota tubuh yang lain kita tutupi dengan pa-

kaian agar tetap terpelihara dengan baik dan

tidak rusak. Karunia-karunia yang kecil ja-

nganlah diremehkan, kita harus memperla-

kukannya dengan pemeliharaan yang lebih

cermat sebab  dengan sehatnya mereka, je-

maat bergantung atasnya.

Allah bermaksud pembagian karunia da-

lam jemaat untuk mencegah “perpecahan da-

lam tubuh” dan menghasilkan roh yang har-

monis dan ketergantungan, supaya dengan

demikian “anggota-anggota yang berbeda itu

saling memperhatikan. sebab  itu jika satu

anggota menderita, semua anggota turut

menderita; jika satu anggota dihormati, se-

mua anggota turut bersukacita” (ayat 25, 26).

Oleh sebab  itu, jika  seorang yang. ber-

iman mengalami derita, maka

,

 seluruh jema-

at itu haruslah diingatkan akan hal itu dan si-

ap membantu meringankan penderitaannya.

Hanyalah dengan pemulihan anggota ini je-

maat akan menjadi sehat dan aman kembali.

Setelah membicarakan nilai setiap karunia

ini, Paulus membuat daftar pemberian itu se-

bagai berikut: “Dan Allah telah menetapkan

beberapa orang dalam Jemaat: pertama se-

bagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga seba-

gai pengajar. Selanjutnya mereka yang men-

dapat karunia untuk mengadakan mujizat,

untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk

memimpin, dan untuk berkata-kata dalam ba-

hasa roh” (ayat 28, bandingkan Ef. 4:11). Ka-

rena tidak ada seorang anggota yang me-

miliki semua karunia, maka wajarlah ia me-

neguhkan semuanya “untuk memperoleh ka-

runia-karunia yang paling utama” (ayat 31),

menunjuk kepada orang-orang yang paling

berguna bagi jemaat itu.2

2. Dimensi yang Tidak Dapat Dihin-

dari. Karunia-karunia Roh Kudus itu, bagai-

248 Apa  yang Perlu Anda Ketahui Tentang ....

mana pun, tidaklah memadai kalau hanya

sekadar karunia saja. Masih ada “yang lebih

utama lagi” (ayat 31). Sementara karunia-

karunia Roh akan berlalu pada waktu keda-

tangan Kristus kedua kali kelak, maka buah

Roh

,

 itu kekal. Di dalamnya ada  keba-

jikan abadi dari kasih dan ketenteraman, ke-

baikan dan kebenaran yang dibawakan kasih

di dalamnya (baca Gal. 5:22, 23; Ef. 5:9). Se-

dangkan nubuat, karunia lidah dan penge-

tahuan akan lenyap, namun  iman, pengharapan

dari kasih akan tetap. Dan “yang paling besar

di antaranya ialah kasih” (1 Kor. 13:13).3

Kasih yang diberikan Allah ini (dalam

bahasa Yunani disebut agape) yaitu  kasih

yang mengorbankan diri dan kasih yang

memberi (1 Kor. 13:4-8). Inilah “bentuk kasih

yang lebih tinggi, yang mengakui sesuatu nilai

dalam diri seseorang atau objek yang dikasihi;

kasih yang berdasarkan prinsip bukan ber-

dasarkan emosi; kasih yang bertumbuh kare-

na rasa hormat terhadap nilai-nilai yang di-

kagumi dari objek itu.”4 Karunia yang hampa

akan kasih hanya mendatangkan kekacauan

dan perpecahan saja di dalam jemaat. Oleh

sebab  itu, jalan yang paling sempurna ialah

seseorang yang memperoleh karunia roh ha-

rus juga memiliki kasih yang tidak memen-

tingkan diri sendiri. “Kejarlah kasih itu dan

usahakanlah dirimu memperoleh karunia-ka-

runia Roh” (1 Kor. 14:1).

Hidup Demi Kemuliaan Tuhan. Paulus

juga berbicara mengenai karunia-karunia ro-

hani dalam suratnya kepada orang Roma. Ia

mengimbau supaya setiap orang yang per-

caya hendaknya hidup untuk memuliakan

Tuhan (Rm. 11:36—12:2), lagi-lagi Paulus

menggunakan anggota-anggota tubuh untuk

menggambarkan keanekaragaman namun

bersatu menandai orang percaya yang meng-

gabungkan diri ke dalam jemaat (ayat 3-6).

Dengan mengakui bahwa baik iman mau-

pun karunia-karunia roh bersumber pada

anugerah Allah, maka umat percaya haruslah

merendahkan diri. Makin banyak karunia di-

berikan kepada seorang yang percaya, maka

makin besar pengaruh karunia rohaninya, dan

semakin besar pula ketergantungannya ke-

pada Allah.

Di dalam bab ini Paulus memberikan se-

buah daftar yang berisi karunia yang berikut:

nubuat (kata yang diilhami, penyataan), pela-

yanan (melayani), mengajar, menasihati (me-

neguhkan), memberi (membagikan), me-

mimpin dan kemurahan (belas kasihan). Se-

bagaimana yang ada  dalam 1 Korintus

12 ia mengakhiri pembicaraannya dengan

prinsip teragung Kekristenan—cinta kasih

(ayat 9).

Petrus mengemukakan topik mengenai

karunia-karunia rohani dengan memperten-

tangkannya dengan “kesudahan segala se-

suatu sudah dekat” (1 Ptr. 4:7). Gentingnya

waktu menyatakan bahwa umat percaya ha-

rus menggunakan pemberian-pemberian itu.

“Sesuai dengan karunia yang telah diperoleh

tiap-tiap orang,” katanya, “sebagai pengurus

yang baik dari kasih karunia Allah” (ayat 10).

Seperti halnya Paulus, Petrus mengajarkan

bahwa pemberian-pemberian ini diberikan

bukanlah untuk kemuliaan diri sendiri, melain-

kan supaya “Allah dimuliakan dalam segala

sesuatu” (ayat 11). Ia juga menghubungkan

cinta kasih dengan pemberian itu (ayat 8).

Pertumbuhan Jemaat. Dalam pembicaraan

ketiga dan terakhir yang dilakukan Paulus

mengenai karunia-karunia Rohani, ia men-

dorong umat percaya supaya ”hidupmu se-

bagai orang-orang yang telah dipanggil ber-

padanan dengan panggilan itu. Hendaklah

kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan

sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal sa-

Karunia Rohani dan  Tugas Pelayanan 249

ling membantu. Dan berusahalah meme-

lihara kesatuan Roh oleh ikatan damai se-

jahtera” (Ef. 4:1-3).

Karunia rohani berperan melestarikan

kesatuan yang membuat jemaat bertumbuh.

Masing-masing orang percaya menerima

“kasih karunia menurut ukuran pemberian

Kristus” (ayat 7).

Kristus sendiri “yang memberikan baik

rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-

pemberita Injil maupun gembala-gembala

dan pengajar-pengajar.” Karunia ini diberikan

dalam tugas pelayanan yang berorientasi

“memperlengkapi orang-orang kudus bagi

pekerjaan pelayanan, baik penggunaan tubuh

Kristus, sampai kita semua telah mencapai

kesatuan iman dan pengetahuan yang benar

tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan

tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan ke-

penuhan Kristus” (ayat 11-13). Barangsiapa

yang menerima karunia rohani dikhususkan

untuk melayani orang yang percaya, mendi-

dik mereka kepada pelbagai pelayanan se-

suai dengan karunia yang diberikan kepada

mereka. Dengan demikianlah jemaat dibangun

menuju kedewasaan untuk mencapai kepe-

nuhan Kristus.

Pelayanan ini mengembangkan kestabilan

rohani dan menguatkan pertahanan jemaat

melawan pengajaran yang palsu, sehingga.

umat percaya tidak lagi seperti “anak-anak,

yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa

angin pengajaran, oleh permainan palsu ma-

nusia dalam kelicikan mereka yang menye-

satkan, namun  dengan teguh berpegang kepa-

da kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh

di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang

yaitu  Kepala” (ayat 14, 15).

Akhirnya, di dalam Kristus, karunia-karu-

nia rohani mendatangkan kesatuan dan ke-

sejahteraan bagi jemaat. “Dari pada-Nyalah

seluruh tubuh,—yang rapi tersusun dan diikat

menjadi satu oleh pelayanan semua bagian-

nya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap

anggota—menerima pertumbuhan-nya dan

membangun dirinya dalam kasih” (ayat 16).

Supaya jemaat bertumbuh sebagaimana

yang diinginkan Tuhan, setiap anggota harus-

lah menggunakan pemberian anugerah yang

disediakan-Nya.

Maka hasilnya, jemaat akan mengalami

pertumbuhan yang berlipat ganda—bertum-

buh dalam jumlah anggota dan bertumbuh di

dalam karunia-karunia rohani secara individu.

Sekali lagi, cinta kasih yaitu  merupakan ba-

gian dari panggilan sebab  jemaat dapat

mengukuhkan iman orang lain, dan perkem-

bangan diperoleh hanyalah dengan menggu-

nakan karunia-karunia kasih ini.

PENGERTIAN KARUNIA-KARUNIA

ROHANI

Pelayanan Umum. Kitab Suci tidak men-

dukung pandangan bahwa pendeta atau

gembala yang melayani anggota awam se-

mentara anggota awam itu duduk-duduk saja

di bangku menunggu untuk disuapi. Gemba-

la maupun anggota awam bersama-sama

membentuk jemaat itu, “umat kepunyaan Al-

lah sendiri” (1 Ptr. 2:9). Mereka bertanggung

jawab bersama-sama demi kebaikan jemaat

dan kesejahteraannya. Mereka dipanggil su-

paya bekerja sama, masing-masing sesuai

dengan pekerjaan mereka, yang diberikan

Kristus kepada mereka. Perbedaan karunia

yaitu  akibat keragaman bidang penggem-

balaan dan pelayanan, semuanya disatukan

dalam kesaksian mereka untuk meluaskan

kerajaan Allah dan menyiapkan dunia untuk

bertemu dengan Juruselamat mereka (Mat.

28:18-20: Why. 14:6-12).

Peranan Gembala. Pengajaran dari hal ka-

runia rohani membuat gembala bertanggung

jawab mendidik dan melatih jemaat. Tuhan

250 Apa  yang Perlu Anda Ketahui Tentang ....

telah mengangkat para rasul, para nabi, para

evangelis, pendeta, dan para guru untuk

memperlengkapi umat-Nya untuk melaksana-

kan pelayanan. “Para pendeta seharusnya ti-

dak melakukan tugas yang diberikan kepada

jemaat, sebab  hal itu akan melelahkan diri

sendiri serta merintangi orang lain melakukan

tugas yang diberikan kepada mereka. Mere-

ka harus mengajar anggota-anggota jemaat

bagaimana bekerja di dalam jemaat dan di

dalam masyarakat.”5

Gembala yang tidak memiliki karunia un-

tuk mendidik, tidak termasuk ke dalam tugas

pelayanan kependetaan, melainkan ke dalam

bagian lain dari pekerjaan yang disediakan

Tuhan.6 Suksesnya rencana Allah bagi jema-

at bergantung kepada kerelaan dan kemam-

puan para pendetanya mendidik anggota je-

maat untuk menggunakan karunia yang telah

diberikan Tuhan kepada mereka.

Karunia dan Misi. Allah memberikan ka-

runia rohani demi keuntungan semua tubuh,

bukan hanya untuk perseorangan yang me-

nerimanya. Oleh sebab  itu, sebab  penerima

karunia rohani itu menerimanya bukan hanya

untuk dirinya sendiri, maka jemaat pun tidak

menerima keseluruhan karunia untuk diri

sendiri pula. Allah memberikan kepada ma-

syarakat jemaat karunia-karunia supaya me-

reka dapat memenuhi tugas mereka, untuk

melaksanakan misi yang diperintahkan Tu-

han Yesus kepada mereka.

Karunia rohani bukanlah upah sebab  se-

buah tugas sudah dilaksanakan dengan baik,

melainkan yaitu  alat untuk melakukan pe-

kerjaan itu dengan baik. Biasanya Roh mem-

berikan karunia yang selaras dengan pembe-

rian-pemberian alamiah perseorangan, sekali-

pun pemberian alamiah itu sendiri bukanlah

karunia-karunia rohani. Karunia rohani itu

memberikan kelahiran baru untuk mengge-

rakkan seseorang dengan Roh. Kita harus

dilahirkan kembali agar dapat dilengkapi de-

ngan karunia-karunia rohani.

Kesatuan dalam Keanekaragaman, Bu-

kan Keseragaman. Banyak orang Kristen

yang mencoba menjadikan setiap orang per-

caya menjadi serupa dengan mereka. Ini ren-

cana manusia, bukan rencana Tuhan. Bahwa

jemaat tetap bersatu walaupun di dalam ke-

anekaragaman karunia-karunia rohani menun-

jukkan lengkapnya sifat karunia-karunia. Itu-

lah yang menunjukkan bahwa kemajuan je-

maat Allah bergantung kepada setiap orang

yang beriman. Allah bermaksud agar semua

pemberian itu, pelayanan dan pelaksanaan di

dalam jemaat berbaur bersama-sama dalam

pekerjaan pembangunan di atas fondasi yang

dialaskan oleh sejarah gereja. Di dalam Ye-

sus Kristus, batu penjuru, “tumbuh seluruh

bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah

yang kudus” (Ef. 2:21).

Bersaksi—Tujuan Karunia-karunia.

Umat percaya menerima pemberian yang

beraneka-ragam, ini menunjukkan bahwa se-

tiap individu melakukan pekerjaan—masing-

masing memiliki pekerjaan. Oleh sebab  itu,

setiap orang percaya haruslah sanggup ber-

saksi atas imannya, membagikan keperca-

yaannya kepada orang lain, menceritakan ke-

pada mereka apa yang telah dilakukan Tu-

han dalam kehidupannya. Tujuan Allah mem-

berikan setiap orang karunia, tidak jadi soal

bagaimana karunia itu, ialah menyanggupkan

masing-masing pemiliknya untuk bersaksi.

Kegagalan Menggunakan Karunia- karu-

nia Rohani. Orang-orang percaya yang

menolak menggunakan karunia-karunia roha-

ni mereka bukan saja membuat pemberian itu

merana namun  juga membuat hidup kekal me-

reka terancam bahaya. Dengan penuh kasih

sayang Yesus mengingatkan bahwa hamba

Karunia Rohani dan  Tugas Pelayanan 251

yang tidak menggunakan talentanya tidak le-

bih daripada seorang “hamba yang jahat dan

malas” yang akan kehilangan hidup yang ke-

kal (Mat. 25:26-30).7 Hamba yang tidak setia

itu dengan sukarela mengakui bahwa kega-

galannya telah disengaja dan direncanakan

lebih dahulu. Maka tentu saja ia bertanggung

jawab atas kegagalannya itu. “Pada masa

penghukuman besar kelak yang terakhir,

orang yang ikut-ikutan, orang yang menghin-

dari tugasnya, akan dimasukkan ke dalam go-

longan orang yang jahat oleh hakim agung

itu.”8

PENEMUAN KARUNIA-KARUNIA

ROHANI.

Anggota-anggota yang mau sukses dalam

tugas jemaat haruslah memahami karunia-

karunia yang diberikan kepada mereka.

Pemberian itu berfungsi sebagai sebuah

kompas, yang mengarahkan pemiliknya ke-

pada pelayanan dan penikmatan hidup yang

berlimpah-limpah (Yoh. 10:10). Untuk mem-

perluasnya kita “janganlah memilih (atau me-

lalaikannya) hanya mengaku, mengembang-

kan dan mempraktikkan karunia yang ada

pada kita, kurang dari apa yang diminta je-

maat dari kemampuan kita. Janganlah. ku-

rang dari apa yang dimaksudkan Tuhan untuk

dilakukan.9

Proses penemuan karunia-karunia rohani

kita10 haruslah ditandai ciri-ciri seperti ber-

ikut:

Persiapan Rohani. Para rasul berdoa de-

ngan sungguh-sungguh memohon agar me-

reka dapat menyampaikan kata-kata atau

sabda itu dengan pantas, untuk membimbing

orang berdosa kepada Kristus. Mereka men-

jauhkan segala perbedaan dan keinginan

yang mengunggulkan diri sendiri yang terpan-

cang di antara mereka. Pengakuan dosa ser-

ta pertobatan membawa mereka ke dalam

persekutuan yang erat dengan Kristus. Ba-

rangsiapa yang menerima Kristus sekarang

ini memerlukan pengalaman yang serupa itu,

untuk menyiapkan mereka menerima baptisan

Roh Kudus.

Baptisan Roh bukanlah untuk sekali wak-

tu saja; kita dapat mengalaminya dalam

kehidupan sehari-hari.11 Kita harus memohon

kepada Tuhan baptisan itu sebab  itulah yang

memberikan kuasa kepada jemaat untuk ber-

saksi dan mengumumkan Injil itu. Untuk me-

lakukan hal seperti ini, kita harus senantiasa

menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, ting-

gal sepenuhnya dalam Kristus, serta memo-

hon pada-Nya akal-budi untuk menemukan

karunia-karunia kita (Yak. 1:5).

Mempelajari Kitab Suci. Belajar Perjanjian

Baru dengan sungguh-sungguh, dalam doa

yang tekun, akan mengajarkan kepada kita

tentang karunia rohani yang memungkinkan

Roh Kudus mengecap pikiran kita dengan

pekerjaan yang khusus yang diperuntukkan-

Nya bagi kita. Sangat perlu kita yakini bahwa

Tuhan telah memberikan kepada kita paling

sedikit satu karunia yang patut digunakan

untuk melayani-Nya.

Terbuka Terhadap Bimbingan Ilahi. Bu-

kan kita yang menggunakan Roh Kudus, me-

lainkan Dia yang menggunakan kita, sebab 

Tuhan yang bekerja di dalam umat-Nya “baik

kemauan maupun pekerjaan menurut kere-

laan-Nya” (Flp. 2:13). yaitu  merupakan

suatu hak istimewa untuk turut serta secara

sukarela dalam bidang apa pun pelayanan

yang diberikan dalam perlindungan dan bim-

bingan Tuhan. Kita harus memberikan ke-

sempatan kepada Tuhan untuk mengerjakan

pertolongan kita bagi orang lain—agar kita

bermanfaat bagi orang lain. Oleh sebab  itu,

kita harus selalu siap menyambut apa yang

252 Apa  yang Perlu Anda Ketahui Tentang ....

diperlukan jemaat di mana pun mereka ber-

ada. Kita tidak boleh takut mencoba hal-hal

yang baru, melainkan kita harus merasa be-

bas untuk memberikan penjelasan bagi orang

yang memerlukan pertolongan kita, dengan

pengalaman dan talenta yang ada pada kita.

Pengesahan dari Tubuh. sebab  Tuhan

memberikan karunia-karunia ini untuk mem-

bangun jemaat-Nya, maka kita dapat meng-

harapkan pengesahan akhir atas karunia

yang kita peroleh, bangkit dari pertimbangan

tubuh Kristus dan bukannya dari perasaan-

perasaan kita sendiri. Sering lebih sukar me-

ngenali karunia yang diberikan kepada kita

daripada karunia-karunia yang diberikan ke-

pada orang lain. Bukan saja kita mau men-

dengarkan apa yang dikatakan orang lain

mengenai karunia yang ada pada kita, namun 

juga penting bagi kita mengakui dan menges-

ahkan karunia-karunia Allah yang diberikan

kepada orang lain.

Tidak ada yang lebih mengesankan dari-

pada pengetahuan bahwa kita menduduki ke-

dudukan atau pelayanan maupun pengabdian

yang telah ditahbiskan Tuhan kepada kita.

Bekerja untuk melayani Yesus Kristus,

menggunakan talenta yang diberikan-Nya

secara khusus kepada kita melalui Roh Ku-

dus merupakan sebuah berkat. Kristus ingin

membagikan karunia-karunia anugerah-

Nya. Sekarang juga kita dapat menerima

undangan-Nya dan memperoleh apa yang

dapat dilakukan pemberian-pemberian itu

dalam kehidupan yang penuh dengan Roh!

________________

  1. Baca tulisan White, Christ’s Object Lesson; hlm. 327, 328. Kita tidak selamanya dapat dengan mudah membe-

dakan yang supernatural (yang di luar kemampuan akal manusia, gaib) dengan yang diwarisi, serta ke-mampuan

yang dapat diperoleh. Di dalam diri orang-orang yang dikendalikan Roh tampaknya kesanggupan dan kemampuan

ini berbaur bersama-sama.

  2. Lihat Richard Hammill, “Spiritual Gifts in the Church Today,” Ministry, Juli 1982, hlm. 15, 16.

  3. Dalam pengertian yang lebih luas, kasih yaitu  berasal dari Tuhan, sebab  semua yang baik datang dari pada-Nya

(Yoh 1:17). Itulah buah Roh (Gal 5:22), akan namun  bukanlah karunia rohani dalam pengertian bahwa Roh Kudus

telah membagi-bagikannya kepada sebagian umat percaya dan tidak untuk semua orang. Setiap orang hendaknya

”mengejar kasih” (I Kor 14:1).

  4. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 778.

  5. White, “Appeals for Our Mission” dalam Historical Sketches of the Foreign Missions of the Seventh-day

Adventists (Basel, Switzerland: Imprimerie Polyglotte, 1886), hlm. 291. Bnd Rex D. Edwards, A New Frontier —

Every Believer a Minister (Mountain View, CA: Pacific Press, 1979), hlm. 58-73.

  6. Bnd J. David Newman, “Seminar in Spiritual Gifts,” tidak diterbitkan, Naskah, hlm. 3.

  7. Mengingat seriusnya hal ini, baca tulisan White, “Home Discipline,” Review and Herald, 13 Juni 1882, hlm. [1].

  8. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 5, hlm. 511.

  9. Don Jacobsen, “What Spiritual Gifts Mean to Me,”Adventist Review, 25 Desember 1986, hlm. 12.

10. Lihat Roy C. Naden, Discovering Your Spiritual Gifts (Berrien Springs, MI.: Institute of Church Ministry, 1982);

Mark A. Finley, The Way to Adventist Church Growth (Siloam Springs, AR Concerned Communications, 1982);

C. Peter Wagner, Your Spiritual Gifts Can Help Your Church Grow (Glendale, CA.: Regal Books, 1979).

11. Bnd White, Acts of the Apostle; hlm. 50: White, Counsels to Parent; Teachers and Students (Mountain View, CA.:

Pacific Press, 1943), hlm. 131.

Salah satu karunia Roh Kudus yaitu  karunia nubuat. Karunia ini

merupakan ciri-ciri jemaat yang sisa dan telah diperlihatkan dalam

pekerjaan pelayanan Ellen G. White. Sebagai jurukabar Allah, tu-

lisan-tulisannya merupakan sumber kebenaran yang bersifat terus-

menerus dan mempunyai kuasa untuk menghibur jemaat, membim-

bing, memberikan petunjuk dan perbaikan. Tulisan-tulisan itu me-

nyatakan dengan jelas bahwa Alkitab merupakan ukuran, dan de-

ngan itulah pengajaran dan pengalaman harus diuji.—Fundamen-

tal Beliefs,—18.

255

Y osafat, raja Yehuda, merasa amat takut

      dan cemas. Balatentara musuh sudah

semakin dekat, dan tampaknya keadaan sa-

ngat menyedihkan dan tanpa harapan. “Dan

Yosafat... mengambil keputusan untuk men-

cari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh

Yehuda supaya berpuasa” (2 Taw. 20:3).

Oleh sebab  itu, rakyat berbondong-bondong

ke bait Allah untuk memohon kemurahan dan

kelepasan dari Tuhan.

Waktu Yosafat memimpin kebaktian, ia

memohon kepada Tuhan supaya keadaan

yang dialaminya itu diubah Tuhan. Ia berdoa:

“Bukankah Engkau Allah di dalam sorga?

Bukankah Engkau memerintah atas segenap

kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan

ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada

orang yang dapat bertahan melawan Eng-

kau” (ayat 6). Bukankah Tuhan telah me-

lindungi umat-Nya pada masa lalu? Bukankah

Ia yang telah memberikan negeri itu kepada

umat pilihan-Nya? Maka Yosafat menyam-

paikan permohonan, “Ya Allah kami, tidak-

kah Engkau akan menghukum mereka? Ka-

rena kami tidak mempunyai kekuatan untuk

menghadapi laskar yang besar ini, yang da-

tang menyerang kami. Kami tidak tahu apa

yang harus kami lakukan, namun  mata kami

tertuju kepada-Mu” (ayat 12).

Ketika semua orang Yehuda berdiri di ha-

dapan Tuhan, seorang yang bernama Yaha-

ziel bangkit. Pekabaran yang disampaikannya

mendatangkan pengarahan yang memberani-

kan hati rakyat yang dilanda ketakutan itu. la

berkata, “Janganlah kamu takut dan terke-

jut... sebab bukan kamu yang akan berperang

melainkan Allah.... Dalam peperangan ini

tidak usah kamu bertempur.... Tinggallah

berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana

Tuhan memberikan kemenangan kepadamu.

... Tuhan akan menyertai kamu” (ayat 15-

17). Keesokan harinya, pagi-pagi, Raja Yo-

safat berkata kepada balatentaranya, “Perca-

yalah kepada Tuhan, Allahmu, dan kamu

akan tetap teguh! Percayalah kepada para

nabinya, dan kamu akan berhasil” (ayat

20).1

Raja ini amat percaya kepada nabi yang

tidak begitu terkenal ini, Yehezkiel, sehingga

ia menempatkan barisan penyanyi di garis

BAB 18

KARUNIA NUBUAT

256 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

depan untuk menyanyikan lagu pujian atas

keindahan dan kekudusan Tuhan! Ketika la-

gu pujian itu mendengung di udara, Tuhan

mendatangkan kekalutan dan kebingungan di

kalangan laskar dan sekutu yang melawan

Yehuda. Pembantaian berlangsung dengan

dahsyat sehingga “tidak ada yang terluput”

(ayat 24).

Yehezkiel menjadi jurubicara Allah pada

saat yang kritis itu.

Para nabi memainkan peranan yang sa-

ngat menentukan baik pada masa Perjanjian

Lama maupun pada masa Perjanjian Baru.

Akan namun , apakah nubuatan berhenti fung-

sinya pada saat penutupan kanonisasi Alki-

tab? Untuk menjawabnya, marilah kita telu-

suri sejarah nubuat.

KARUNIA NUBUAT PADA ZAMAN

ALKITAB

Walaupun dosa mengakhiri komunikasi

tatap muka antara Allah dan makhluk manu-

sia (Yes. 59:2), Allah tidak mengakhiri hu-

bungan-Nya yang akrab dengan manusia; se-

baliknya, Ia mengembangkan cara komunikasi

yang lain. Ia mulai mengirimkan pesan-pe-

san-Nya yang memberikan kekuatan hati,

peringatan dan teguran melalui para nabi.2

Di dalam Kitab Suci dikatakan seorang

nabi “menerima komunikasi dan berhubungan

dengan Allah, dan kemudian diteruskan ke-

pada umat Tuhan.3 Para nabi menyampaikan

nubuatan bukan dengan inisiatif mereka

sendiri, “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan

oleh kehendak manusia, namun  oleh dorongan

Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama

Allah” (2 Ptr. 1:21).

Di dalam Perjanjian Lama kata Prophet

pada umumnya dianggap terjemahan dari

kata Ibrani nabi. Arti kata ini dinyatakan

dalam Keluaran 7:1, 2: “Berfirmanlah Tuhan

kepada Musa: ‘Lihat, Aku mengangkat eng-

kau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun,

abangmu, akan menjadi nabimu (dalam ba-

hasa Ibrani ‘nabi’ yang sama dalam bahasa

Indonesia ’nabi’—penerjemah). Engkau ha-

rus mengatakan segala yang Kuperintahkan

kepadamu, dan Harun, abangmu, harus ber-

bicara kepada Firaun.’” Hubungan Musa de-

ngan Firaun bagaikan Allah dengan umat-

Nya. Dan ketika Harun meneruskan perka-

taan Musa kepada Firaun, begitulah nabi me-

neruskan firman Allah kepada umat. Kata

nabi menunjuk kepada pengertian seseorang

yang diangkat Allah selaku jurubicara bagi

Allah. Padanan kata Ibrani nabi dalam ba-

hasa Yunani ialah prophetes, kata yang ke-

mudian dipungut oleh bahasa Inggris.

“Pelihat,” sebuah terjemahan dari bahasa

Ibrani roeh (Yes. 30:10) atau chozeh (2

Sam. 24:11; 2 Raj. 17:13) yaitu  mengandung

makna penunjukan kepada seseorang yang

mendapat karunia nubuat. Istilah-istilah nabi

dan pelihat satu dengan yang lain erat kait-

annya. Alkitab menjelaskan, “Dahulu di anta-

ra orang Israel, jika  seseorang pergi me-

nanyakan petunjuk Allah, ia berkata begini:

‘Mari kita pergi kepada pelihat,’ sebab nabi

yang sekarang disebutkan dahulu pelihat” (1

Sam. 9:9). Makna yang ditekankan oleh kata

pelihat di sini ialah penerimaan nabi atas

pesan Ilahi. Allah membuka “mata” atau pi-

kiran para nabi atas informasi yang diteri-

manya dari Tuhan yang hendak disampaikan

Tuhan kepada mereka untuk diteruskan ke-

pada umat-Nya.

Dari masa ke  masa Tuhan menyampaikan

kehendak-Nya kepada umat-Nya melalui

orang-orang yang memperoleh karunia nu-

buatan. “Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat

sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya

kepada hamba-hamba-Nya, para nabi” (Am.

3:7; bandingkan Ibr. 1:1).

Fungsi Karunia Nubuat dalam Perjanji-

     Karunia Nubuat 257

an Baru. Perjanjian Baru menempatkan

karunia Roh Kudus, karunia nubuat, sebagai

yang utama, yang pertama karunia tersebut

dan kedua karunia pelayanan yang sangat

berguna bagi jemaat (baca Rm. 12:6; 1 Kor.

12:28; Ef. 4:11). Itulah yang mendorong umat

percaya untuk menginginkan karunia rohani

yang istimewa ini (1 Kor. 14:1, 39).

Menurut Perjanjian Baru beberapa fungsi

nabi disebutkan berikut ini.4

1. Mereka Membantu Membangun

Jemaat. Jemaat “dibangun di atas dasar para

rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus

sebagai batu penjuru” (Ef. 2:20, 21).

2. Mereka Mengupayakan Jang-

kauan ke Luar Misi Jemaat. Melalui na-

bilah Roh Kudus memilih Paulus dan Bar-

nabas untuk mengadakan perjalanan misio-

naris mereka yang pertama (Kis. 13:1, 2) dan

memberikan petunjuk ke mana mereka seha-

rusnya mengabarkan Injil (Kis. 16:6-10).

3. Mereka Meneguhkan Jemaat.

“Siapa yang bernubuat,” kata Paulus, “ia

membangun Jemaat.” Nubuatan diucapkan

untuk “membangun, menasihati dan menghi-

bur” (1 Kor. 14:4, 3). Bersama-sama dengan

karunia-karunia lainnya, Allah memberikan

nubuat kepada jemaat untuk menyiapkan

umat percaya “bagi pekerjaan pelayanan, ba-

gi pembangunan tubuh Kristus” (Ef. 4:12).

4. Mereka Mempersatukan dan

Melindungi Jemaat. Para nabi membantu

mendatangkan “kesatuan iman,” untuk me-

lindungi jemaat dari ajaran-ajaran palsu se-

hingga umat percaya “bukan lagi anak-anak,

yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa

angin pengajaran, oleh permainan palsu ma-

nusia dalam kelicikan mereka yang menye-

satkan,” (Ef. 4:14).

5. Mereka Mengamarkan tentang

Kesukaran yang akan Dihadapi Pada

Masa Mendatang. Salah seorang dari anta-

ra nabi Perjanjian Baru mengamarkan me-

ngenai bala kelaparan yang segera terjadi.

Untuk menghadapinya, jemaat mengadakan

upaya persiapan untuk menanggulangi orang

yang akan mengalami bencana sebab  bala

kelaparan itu (Kis. 11:27-30). sedang  na-

bi-nabi yang lain memperingatkan Paulus

yang akan ditahan dan dipenjarakan di Yeru-

salem (Kis. 20:23; 21:4, 10-14).

6. Mereka Menguatkan Iman Pada

Waktu Pertentangan Terjadi. Pada waktu

rapat jemaat yang pertama diadakan, Roh

Kudus menuntun jemaat atas persoalan yang

pelik, yang berkaitan dengan keselamatan

orang Kristen yang bukan keturunan Yahudi.

Melalui para nabi, Roh meneguhkan kembali

umat percaya dalam rapat itu mengenai dok-

trin yang benar. Setelah memberitahukan ke-

putusan rapat kepada anggota, “Yudas dan

Silas, yang yaitu  juga nabi, lama menasihati

saudara-saudara itu dan menguatkan hati

mereka” (Kis. 15:32).

KARUNIA NUBUAT PADA ZAMAN

AKHIR

Banyak orang Kristen yakin bahwa karu-

nia nubuat berhenti pada penutupan era kera-

sulan. Akan namun  Alkitab menunjukkan ke-

butuhan khusus jemaat atas bimbingan Ilahi

pada masa krisis menjelang akhir zaman;

yang menunjukkan perlunya secara terus-

menerus pengadaan karunia nubuat setelah

zaman Perjanjian Baru.

Berlanjutnya Karunia Nubuat. Tidak ada

bukti yang ada  di dalam Alkitab yang

menyatakan bahwa Allah akan menarik

kembali karunia rohani yang diberikan-Nya

258 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

kepada jemaat sebelum mereka menyelesai-

kan tujuan mereka, yang menurut Rasul

Paulus yang membuat jemaat “mencapai ke-

satuan iman dan pengetahuan yang benar

tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan

tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan ke-

penuhan Kristus” (Ef. 4:13). sebab  jemaat

belum mencapai pengalaman seperti itu, ma-

ka karunia rohani ini masih diperlukan. Karu-

nia yang diberikan Roh, termasuk di dalam-

nya karunia nubuat, akan tetap bekerja demi

kepentingan umat Allah sampai hari keda-

tangan Kristus kedua kali. Alhasil, Paulus

memperingatkan umat percaya supaya ja-

nganlah “anggap rendah nubuat-nubuat” (1

Tes. 5:19, 20) serta menyarankan supaya

berusaha “memperoleh karunia-karunia Roh,

terutama karunia untuk bernubuat” (1 Kor.

14:1).

Karunia-karunia ini tidak selamanya me-

nyatakan diri secara berkelimpahan di dalam

jemaat Kristen.5 Setelah kematian para rasul,

para nabi memperoleh tempat terhormat

dalam pelbagai lingkungan sampai tahun 300

TM.6 Akan namun  serentak dengan kemun-

duran kerohanian di dalam jemaat dan akibat

kemurtadan (baca bab 12), maka berkuranglah

kehadiran kedua hal yang dikemukakan ini

berikut karunia-karunia Roh Kudus. Pada

waktu yang bersamaan, para nabi palsu

membuat orang kehilangan, kepercayaan

terhadap karunia nubuat.7

Kemunduran karunia nubuat selama pe-

riode tertentu di dalam sejarah jemaat bu-

kanlah berarti bahwa Allah telah menarik

karunia itu secara permanen. Alkitab menun-

jukkan bahwa, ketika akhir zaman sudah

mendekat, karunia ini akan diberikan untuk

membantu jemaat melalui masa kesukaran.

Lebih dari itu, kegiatan karunia ini semakin

bertambah.

Karunia Nubuat Menjelang Kedatangan

Kristus Kedua Kali. Allah memberikan

karunia nubuat kepada Yohanes Pembaptis

untuk mengumumkan kedatangan Kristus

yang pertama kali. Dengan cara yang sama

kita dapat mengharapkan Dia untuk mengi-

rimkan karunia nubuat lagi untuk meng-

umumkan kedatangan Kristus kedua kali su-

paya setiap orang memperoleh kesempatan

untuk bertemu dengan Juruselamat.

sebenarnya , Kristus menyebutkan

munculnya nabi-nabi palsu yaitu  sebagai

suatu pertanda bahwa kedatangan-Nya su-

dah dekat (Mat. 24:11, 24). Seandainya tidak

akan ada lagi nabi yang benar selama masa

menjelang kiamat, pastilah Kristus sudah

mengamarkan tentang seseorang yang

mengaku memiliki karunia itu. Peringatan

yang diberikan-Nya supaya waspada terhadap

nabi-nabi palsu memberikan arti bahwa akan

ada juga nabi-nabi yang benar.

Nabi Yoel meramalkan kecurahan khu-

sus karunia nubuat pada waktu mendekati

datangnya Kristus kedua kalinya. Ia berkata,

“Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa

Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas

semua manusia, maka anak-anakmu laki-la-

ki dan perempuan akan bernubuat; orang-

orangmu yang tua akan mendapat mimpi, te-

runa-terunamu akan mendapat penglihatan-

penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu

laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan

Roh-Ku pada hari-hari itu. Aku akan meng-

adakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi:

darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap.

Matahari akan berubah menjadi gelap gulita

dan bulan menjadi darah sebelum datangnya

hari Tuhan yang hebat dan dahsyat itu” (Yl.

2:28-31).

Pentakosta yang pertama merupakan

pernyataan Roh yang menakjubkan. Petrus,

dengan mengutip nubuat Yoel, menunjukkan

bahwa Allah telah menjanjikan berkat-berkat

yang demikian (Kis. 2:2-21). Namun demi-

     Karunia Nubuat 259

kian, kita masih dapat mempertanyakan apa-

kah nubuat Yoel sudah mencapai puncaknya

pada waktu Pentakosta itu atau apakah ma-

sih ada yang harus datang yang lain, yang

lebih lengkap, dan penuh. Kita tidak mem-

peroleh bukti bahwa fenomena yang terjadi

pada matahari dan bulan yang dikemukakan

Yoel apakah mendahului ataukah sesudah

kecurahan Roh. Ternyata fenomena ini tidak

terjadi sampai beberapa abad kemudian (ba-

ca bab 24).

Kemudian Pentakosta yang dimaksudkan

di sini yaitu  ramalan atas manifestasi Roh

sebelum Kedatangan Kristus kedua kali.

Sama halnya dengan hujan awal di Palestina,

yang turun pada musim rontok, setelah panen,

kecurahan Roh Kudus pada Pentakosta me-

ngesahkan dispensasi 

.

Roh.’ Kelengkapan

dan pemenuhan nubuatan Yoel berhubungan

dengan hujan akhir yang jatuh pada musim

semi, waktu gandum sudah masak(Yl. 2:23).

Begitu pulalah, kecurahan akhir Roh Allah

akan berlangsung sebelum Kedatangan ke-

dua kali, setelah tanda-tanda yang diramalkan

mengenai matahari, bulan dan bintang-bin-

tang digenapi (Bandingkan Mat. 24:29; Why.

6:12-17; Yl. 2:31). Sama dengan hujan akhir,

kecurahan Roh yang terakhir ini akan menuai

ladang di bumi (Mat. 13:30, 39), dan “barang-

siapa yang berseru kepada nama Tuhan akan

diselamatkan” (Yl. 2:32).

Karunia Nubuat dalam Jemaat Sisa.

Wahyu 12 menyatakan dua masa yang besar

mengenai aniaya. Yang pertama, yang dimu-

lai dari rentan waktu 538 TM—1798 TM

(Why. 12:6, 14, baca bab 12), umat yang per-

caya mengalami aniaya yang dahsyat. Ke-

mudian, sebelum atau menjelang Kedatangan

Kedua kali, Setan akan menyerang “ketu-

runannya yang lain,” jemaat yang sisa yang

tidak mau mengingkari Kristus. Ciri-ciri yang

diberikan wahyu itu mengenai umat percaya

yang menjadikan mereka jemaat yang sisa,

yakni mereka yang “memiliki kesaksian Ye-

sus, dan yang menuruti hukum-hukum Allah”

(Why. 12:17).

Bahwa frase “kesaksian Yesus” berbicara

tentang nubuatan kitab Wahyu menunjukkan

jelasnya percakapan, kemudian antara ma-

laikat dan rasul Yohanes.8

Menjelang akhir buku itu malaikat meng-

identifikasi dirinya sebagai “hamba, sama de-

ngan engkau dan saudara-saudaramu, yang

memiliki kesaksian Yesus” (Why. 19:10)

yang “yaitu  hamba, sama seperti engkau

dan saudara-saudaramu, para nabi dan se-

mua mereka yang menuruti segala perkataan

kitab ini” (Why. 22:9). Ungkapan yang sela-

ras ini membuat jelas bahwa para nabi yang

memiliki “kesaksian Yesus.”9 Ini menjelaskan

pernyataan malaikat bahwa “kesaksian Ye-

sus yaitu  roh nubuat” (Why. 19:10).

James Moffat mengulas ayat ini dengan

menulis sebagai berikut,” “Untuk kesaksian

atau bersaksi (termasuk di dalamnya dila-

hirkan oleh) tentang Yesus yaitu  (yang ter-

masuk di dalamnya) karunia nubuat.’ Ini ...

mengartikan secara khusus saudara-saudara

yang berpegang pada kesaksian Yesus dan

yang memiliki inspirasi nubuat. Kesaksian

akan Yesus secara praktis sama dengan pe-

nyaksian Yesus (xxii. 20). Itulah wahyu yang

dinyatakan Kristus sendiri (sesuai dengan

yang ada  dalam Why. 1:1) yang meng-

gerakkan nabi-nabi Kristen.”10

Oleh sebab  itu, ungkapan Roh Nubuat

dapatlah dikatakan menunjuk kepada (1) Roh

Kudus yang mengilhami nabi dengan wahyu

yang berasal dari Tuhan, (2) pelaksanaan ka-

runia nubuat, dan (3) sarana nubuat itu sen-

diri.

Karunia roh, kesaksian Yesus “kepada

jemaat melalui sarana nubuat,”11 mencakup

ciri-ciri yang jelas dari jemaat yang sisa. Ye-

remia menghubungkan matinya karunia ini

260 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

dengan kesewenang-wenangan. “Tak ada

petunjuk dari Tuhan, bahkan nabi-nabi tidak

menerima lagi wahyu dari pada-Nya” (Rat.

2:9). Wahyu memberikan ciri-ciri pemilikan

keduanya sebagai ciri khas jemaat akhir

zaman; anggota-anggotanya “menuruti hu-

kum-hukum Allah dan memiliki kesaksian

Yesus”—karunia nubuat (Why. 12:17).

Allah memberikan karunia nubuat kepada

“jemaat” Keluaran (Exodus) untuk mengor-

ganisasi, membimbing dan menuntun umat-

Nya (Kis. 7:38). “Israel dituntun oleh Tuhan

keluar dari Mesir dengan perantaraan seo-

rang nabi, ya, ia dijaga oleh seorang nabi”

(Hos. 12:14). Oleh sebab  itu, tidaklah meng-

herankan menemukan karunia itu di kalangan

orang yang terlibat dalam Keluaran (Eksodus)

itu pada akhirnya—melarikan diri dari Planet

Bumi yang telah dicemari dosa menuju ke

tanah Kanaan surgawi. Eksodus ini, yang

diikuti dengan Kedatangan Kristus Kedua

kali, yaitu  lengkap, final serta menggenapi

apa yang ada  dalam Yesaya 11:11. “Pa-

da waktu itu Tuhan akan mengangkat pula

tangan-Nya untuk menebus sisa-sisa umat-

Nya.”

Membantu waktu Krisis Akhir. Kitab Su-

ci menyatakan bahwa umat Tuhan pada za-

man akhir sejarah dunia akan mengalami

murka dahsyat kuasa naga dan Iblis sebab  ia

terlibat dalam upaya terakhir untuk membina-

sakan mereka (Why. 12:17). Itulah yang di-

sebutkan “akan ada suatu waktu kesesakan

yang besar, seperti yang belum pernah terjadi

sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu

itu” (Dan 12:1). Untuk membantu mereka

agar tetap hidup melewati konflik zaman

yang paling dahsyat ini, Tuhan dalam kemu-

rahan-Nya memberikan jaminan bahwa me-

reka tidak akan dibiarkan sendirian. Kesaksian

Yesus, Roh Nubuat, akan menuntun mereka

dengan selamat sampai di tujuan akhir me-

reka—menyatunya dengan Juruselamat me-

reka pada kedatangan-Nya yang kedua kali

itu.

Ilustrasi berikut menerangkan hubungan

antara Alkitab dan contoh-contoh sesudah

Alkitab mengenai karunia nubuat: “Cobalah

kita membayangkan kita mulai mengadakan

sebuah pelayaran. Pemilik kapal memberikan

sebuah buku petunjuk kepada kita, menjelas-

kan secara rinci isi dan petunjuk yang terda-

pat di dalamnya, cukup memadai buat kita

dalam pelayaran itu, dan bila kita memperhati-

kannya maka kita akan mencapai pelabuhan

yang kita tuju dengan aman. Untuk melaku-

kan pelayaran itu kita membuka buku kita dan

mempelajari isinya. Kita melihat bahwa pe-

ngarangnya mengemukakan prinsip-prinsip

umum yang mengatur kita dalam pelayaran,

memberikan petunjuk yang paling praktis ba-

gi  kita, seraya mempertimbangkan pelbagai

kemungkinan yang mungkin timbul menuju

tujuan; bahkan ia juga menceriterakan bagian

akhir perjalanan kita yang berbahaya; keada-

an dan gambaran pantai yang sewaktu-wak-

tu berubah sebab  badai; ‘akan namun  dalam

perjalanan ini,’ katanya, ‘Saya telah memper-

siapkan seorang jurumudi bagimu, yang akan

menemanimu serta memberikan pelbagai pe-

tunjuk kepadamu ketika keadaan yang berba-

haya itu mengancam, dan kau harus memper-

hatikannya dengan saksama.’ Berkat adanya

petunjuk ini kita menghadapi waktu yang ber-

bahaya yang telah diceritakan secara rinci,

dan sang jurumudi, sesuai dengan janji yang

sudah diberikan, muncul. Akan namun  bebe-

rapa awak kapal, ketika ia melaksanakan tu-

gasnya, bangkit hendak melawannya. ‘Kami

memiliki buku petunjuk yang asli,’ teriak me-

reka, ‘yang cukup memadai bagi kami. Kami

berpegang teguh atasnya, hanya di atas buku

itu saja; kami tidak memerlukan kau.’ Siapa

sekarang yang memperhatikan dengan sak-

sama buku petunjuk yang asli itu? Orang yang

     Karunia Nubuat 261

menolak jurumudi itukah atau orang-orang

yang menerimanya, sebagaimana yang ter-

dapat dalam buku petunjuk itu? Pikirkanlah

dengan saksama.”12

ALKITAB DAN NABI-NABI

SESUDAH ALKITAB

Karunia nubuat menghasilkan Alkitab itu

sendiri. Pada zaman sesudah Alkitab karunia

itu bukanlah mengganti atau menambahi Ki-

tab Suci, sebab  kanonisasi Alkitab sekarang

sudah berakhir.

Karunia nubuat berfungsi pada zaman

akhir sama pentingnya dengan zaman kera-

sulan. Alkitablah yang ditinggikan sebagai

dasar iman dan praktik, mengajarkan penga-

jaran-pengajarannya, serta menerapkan prin-

sip-prinsip yang ada  di dalamnya dalam

kehidupan sehari-hari. Yang turut serta me-

negakkan dan mengukuhkan jemaat, me-

nyanggupkannya melaksanakan tugas yang

diemban Ilahi. Karunia nubuat menegur, me-

nasihatkan, membimbing dan memberikan

semangat kepada jemaat maupun anggota,

melindungi mereka dari kemurtadan serta

menyatukan mereka dalam kebenaran Alki-

tab.

Nabi-nabi sesudah zaman Alkitab sama

saja fungsinya dengan nabi-nabi Natan, Gad,

Asaf, Shemaiah, Miriam, Azariah, Eliezer,

Ahijah, Obed, Debora, Huldah, Simeon, Yo-

hanes Pembaptis, Agabus, Silas, Anna dan

keempat putri Filipus yang hidup pada zaman

Alkitab, dengan kesaksian-kesaksian mereka

yang tidak pernah dimasukkan menjadi bagi-

an Alkitab. Tuhan yang samalah yang mem-

berikan ilham kepada nabi dan nabiah ini sa-

ma seperti ilham yang diberikan kepada nabi-

nabi yang tulisannya dimasukkan dalam Ki-

tab Suci. Pekabaran yang diberikan kepada

mereka tidak bertentangan dengan pekabaran

yang telah dituliskan dalam penyataan Ilahi

sebelumnya.

Ujian Karunia Nubuat. sebab  Alkitab

telah memberikan amaran bahwa sebelum

Kristus datang kembali akan banyak nabi

palsu yang timbul, oleh sebab  itu, kita harus

hati-hati menyelidiki segala pernyataan karu-

nia nubuat. “Janganlah anggap rendah nubu-

at-nubuat,” kata Paulus. “Ujilah segala se-

suatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah

dirimu dari segala jenis kejahatan” (1 Tes.

5:20-22; bandingkan 1 Yoh. 4:1).

Alkitab merinci beberapa petunjuk yang

dapat kita gunakan untuk membedakan karu-

nia nubuat yang murni dari yang palsu.

1. Apakah pesan yang disampaikan-

nya serasi dengan alkitab? “Siapa yang

tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu,

maka baginya tidak terbit fajar” (Yes. 8:20).

Nas ini mengartikan bahwa pekabaran yang

disampaikan nabi mana pun haruslah selaras

dengan hukum Tuhan dan kesaksian yang

ada  di dalam Alkitab. Nabi yang datang

belakangan tidak boleh bertentangan dengan

para nabi yang sebelumnya. Roh Kudus tidak

pernah bertentangan dengan kesaksian yang

diberikan-Nya sebelumnya, sebab  Tuhan

“tidak ada perubahan atau bayangan sebab 

pertukaran” (Yak. 1:17).

2. Apakah ramalan yang diberikan-

nya menjadi kenyataan? “Bagaimanakah

kami mengetahui perkataan yang tidak difir-

mankan Tuhan? jika  seorang nabi ber-

kata demi nama Tuhan dan perkataannya itu

tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah

perkataan yang tidak difirmankan Tuhan;

dengan terlalu berani nabi itu telah mengata-

kannya, maka janganlah gentar kepadanya”

(Ul. 18:21, 22; bandingkan Yer. 28:9). Wa-

262 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

laupun ramalan itu mungkin berisi sebagian

kecil dari pekabaran nubuat, ketepatannya

haruslah dinyatakan.

3. Apakah penjelmaan Kristus dia-

kui? “Demikianlah kita mengenal Roh Allah:

setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kris-

tus telah datang sebagai manusia, berasal dari

Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku

Yesus, tidak berasal dari Allah” (1 Yoh. 4:2,

3). Ujian ini menuntut bukan sekadar penga-

kuan sederhana bahwa Yesus Kristus per-

nah hidup di atas dunia ini. Nabi yang sejati

haruslah mengajarkan pengajaran seperti

yang ada  dalam Alkitab mengenai pen-

jelmaan Kristus—harus percaya dalam ketu-

hanan-Nya dan peri pre-eksistensi-Nya, Dia

yang dilahirkan seorang anak dara, kemanu-

siaan-Nya, hidup-Nya yang tidak berdosa,

korban pendamaian, kebangkitan, kenaikan,

pelayanan pengantaraan dan kedatangan

Kristus kedua kali.

4. Apakah nabi itu mendatangkan

“buah” yang baik ataukah yang buruk?

Nubuat datang melalui ilham yang diberikan

Roh Kudus, melalui “orang-orang berbicara

atas nama Allah” (2 Ptr. 1:21). Kita dapat

memperhatikan nabi-nabi palsu melalui buah-

buahnya. “Tidak mungkin pohon yang baik itu

menghasilkan buah yang tidak baik,” kata

Yesus, “ataupun pohon yang tidak baik itu

menghasilkan buah yang baik. Dan setiap po-

hon yang tidak menghasilkan buah yang baik,

pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi

dari buahnyalah kamu akan mengenal me-

reka” (Mat. 7:18-20).

Nasihat ini merupakan ujian yang sangat

berat dalam penilaian terhadap pernyataan

nabi. Yang pertama dibicarakan ialah kehi-

dupan sang nabi. Itu bukan berarti bahwa

nabi haruslah menjadi manusia yang mutlak

sempurna—sebab  Alkitab juga berbicara

tentang Elia sebagai manusia “biasa sama

seperti kita”(Yak. 5:17). Melainkan kehidupan

nabi haruslah ditandai oleh buah Roh, bukan-

nya sebab  perbuatan jasmani (baca Gal.

5:19-23).

Kedua, prinsip ini berhubungan juga de-

ngan pengaruh nabi atas orang lain. Bagai-

manakah hasilnya dalam hidup orang yang

menerima pekabaran itu? Apakah pekabaran

yang diberikan mereka menyiapkan umat

Tuhan melaksanakan misi serta mempersatu-

kan mereka dalam kesatuan iman (Ef. 4:12-

16)?

Setiap orang yang mengaku memperoleh

karunia nubuat haruslah dapat diuji dengan

ujian dari Kitab Suci. Jika pekabaran yang di-

berikan nabi atau nabiah itu memenuhi krite-

ria maka kita dapat yakin bahwa di dalamnya

Roh Kudus ada, yang memberikan individu

itu karunia nubuat.

ROH NUBUAT DI DALAM GEREJA

MASEHI ADVENT HARI KETUJUH

Karunia nubuat sangat giat dalam pela-

yanan yang dilakukan Ellen G. White, se-

orang pendiri Gereja Masehi Advent Hari

Ketujuh. Kepadanya telah diberikan petunjuk

yang diilhami Tuhan kepada umat-Nya yang

hidup pada akhir zaman. Dunia pada awal

abad kesembilan belas, tatkala Ellen White

mulai menyampaikan pekabaran dari Tuhan,

yaitu  dunia pria. Nubuat yang disampai-

kannya membuat ia berada di bawah kritik

yang amat tajam. Setelah melewati ujian Al-

kitab, ia meneruskan pekerjaannya selama

kurang lebih 70 tahun, dengan karunia rohani.

Dari tahun 1844, ketika ia baru berusia 17

tahun, hingga tahun 1915—tahun kematian-

nya—ia memperoleh kurang lebih 2000 kha-

yal. Dalam kurun waktu itu ia bekerja dan

hidup di Amerika, Eropa, dan Australia,

memberikan nasihat dan bimbingan, menegak-

     Karunia Nubuat 263

kan dan mendirikan kawasan kerja baru,

berkhotbah dan menulis.

Ellen White tidak pernah menyatakan diri-

nya nabiah, akan namun  ia tidak keberatan

jika  ia disebut dengan sebutan itu. Ia men-

jelaskan, “Pada waktu saya masih sangat

muda telah ditanyakan kepadaku, ‘Apakah

Anda seorang nabiah?’ Jawaban yang selalu

saya berikan, ‘Saya yaitu  jurukabar Tuhan.

Saya tahu banyak orang yang menyebut saya

nabi, akan namun  saya sebenarnya tidak per-

nah menuntut sebutan yang demikian....

Mengapa saya tidak menyatakan diri nabiah?

Soalnya, pada masa ini banyak orang yang

dengan lantang menyatakan mereka nabi te-

tapi mempermalukan Kristus; sebab  pekerja-

anku mencakup banyak yang bukan sekadar

kata ‘nabiah’ saja.... Saya sama sekali tidak

pernah menyatakan diri nabiah. Jika ada

orang yang menyebut saya demikian, saya ti-

dak mempermasalahkannya dan tidak me-

nentang mereka. Akan namun  yang jelas pe-

kerjaan saya meliputi begitu banyak bidang

sehingga saya tidak dapat menyebut diri saya

kecuali jurukabar.”13

Penerapan Ujian Nubuat. Bagaimana-

kah mengukur pelayanan Ellen White terha-

dap ujian yang Alkitabiah ihwal seorang nabi?

1. Setuju dengan Alkitab. Tulisannya

yang berlimpah dengan puluhan ribu nas

Alkitab yang ada  di dalamnya, seringkali

berlipat ganda dengan penjelasan yang rinci.

Pengamatan atau studi yang saksama me-

nunjukkan bahwa tulisan-tulisannya taat-

asas, tepat dan penuh keselarasan dengan

Alkitab.

2. Ketepatan ramalan. Secara relatif,

tulisan-tulisan Ellen White berisi sedikit ra-

malan. Beberapa dari antaranya dalam pro-

ses penggenapan sementara yang lain me-

nunggu penggenapan. Akan namun  yang da-

pat diuji telah digenapi dengan ketepatan

yang amat menakjubkan. Dua contoh yang

menunjukkan pandangan nubuatnya yaitu 

yang berikut.

a. Bangkitnya spiritualisme modern.

Dalam tahun 1850, tatkala spiritualisme—

gerakan yang berhubungan dengan dunia roh

dan orang mati—bangkit, Ellen White me-

nyatakannya sebagai ciri-ciri penipuan pada

masa akhir dan meramalkan perkembang-

annya. Walaupun pada waktu itu gerakan

tersebut benar-benar anti-Kristen, ia menatap

jauh ke depan bahwa permusuhan ini akan

berubah, dan akan menjadi gerakan yang di-

sambut hangat dan dihormati di kalangan

pelbagai orang Kristen.14 Sejak saat itu spiri-

tualisme sebagai sebuah gerakan telah terse-

bar luas, memperolehjutaan pengikut. Sikap

anti-kristennya sudah berubah; bahkan ke-

mudian banyak dari antara mereka yang me-

nyebut diri mereka orang Kristen spiritualis,

seraya menyatakan bahwa mereka memiliki

iman Kristen yang sejati dan bahwa ”Kaum

spiritualis sajalah agama yang menggunakan

karunia roh yang dijanjikan Kristus, dan de-

ngan karunia itulah mereka menyembuhkan

penyakit serta menunjukkan kesadaran ter-

hadap masa mendatang dan eksistensi pro-

gresif.”15 Bahkan mereka membela bahwa

spiritualisme “memberikan kepada Anda pe-

ngetahuan dari semua sistem yang besar dari

agama, dan masih tetap, memberikan kepada

Anda pengetahuan yang lebih banyak me-

ngenai Alkitab Kristen lebih daripada semua

tafsir jika digabungkan. Alkitab yang dimak-

sudkan ialah buku Spiritualisme.”16

b. Kerja sama erat antara Protestan

dan Katolik Roma. Pada zaman Ellen

White, kesenjangan terjadi antara Protestan

dan Katolik Roma yang mencegah terjadinya

264 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

kerja sama apa pun antara keduanya. Di ka-

langan Protestan merajalela sikap anti Kato-

lik. Ia meramalkan bahwa perubahan besar di

dalam Protestanisme akan menjauhkan iman

dari Reformasi. Akibatnya, perbedaan anta-

ra Protestan dan Katolik akan dihilangkan,

mengadakan jembatan atas kesenjangan

yang memisahkan keduanya.17

Tahun-tahun setelah kematiannya bangkit

gerakan oikumene, berdirinya Dewan Gereja-

gereja Dunia, Gereja Katolik Vatikan II dan

keluguan Protestan serta penolakan pandang-

an Reformasi mengenai penafsiran nubuat.18

Perubahan yang besar ini telah meruntuhkan

perintang antara orang-orang Protestan de-

ngan Katolik, menuju kepada kerja sama

yang bertumbuh.

3. Pengakuan atas penjelmaan Kris-

tus. Ellen White menulis secara luas tentang

kehidupan Kristus. Peranan-Nya sebagai

Tuhan dan Juruselamat, korban pendamaian

yang diadakan-Nya di atas kayu salib, dan

pekerjaan pengantaraan yang dilakukan-Nya

mendominasi karya-karya tulisnya. Bukunya

yang berjudul Kerinduan Segala Zaman

telah diakui sebagai salah satu buku rohani

yang paling baik yang pernah ditulis mengenai

hidup Kristus, sedang  Jalan Yang Terin-

dah merupakan bukunya yang paling banyak

dicetak, yang telah menuntun berjuta-juta

manusia mengalami hubungan yang akrab

dan mendalam dengan Dia. Karya-karya tu-

lisnya dengan jelas menggambarkan Kristus

benar-benar Allah dan benar-benar manu-

sia. Penjelasannya yang berimbang sungguh

selaras dengan pandangan Alkitab, dengan

saksama menghindari penekanan yang tidak

wajar atas satu dengan yang lain—sebuah

masalah yang telah menimbulkan begitu ba-

nyak pertikaian di dalam sejarah Kekristenan.

Penggambarannya mengenai pekerjaan

Kristus sangat praktis. Tidak menjadi soal as-

pek apa saja yang dibicarakannya, yang men-

jadi perhatiannya ialah membawa pembaca

kepada hubungan yang lebih erat dengan Ju-

ruselamat.

4. Pengaruh pekerjaannya. Sudah lebih

seabad berlalu sejak Ellen White menerima

karunia rohani. Jemaatnya dan hidup orang-

orang yang memperhatikan dan mengikuti

nasihatnya memperlihatkan dampak kehidup-

an dan pekabarannya.

“Walaupun ia tidak pernah menjabat su-

atu kedudukan resmi, bukan pula seorang

pendeta yang diurapi, dan tidak pernah me-

nerima upah dari jemaat sampai pada saat ke-

matian suaminya, pengaruhnya telah mem-

bentuk Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh

lebih daripada faktor mana pun kecuali Al-

kitab yang Kudus.”19 Ialah kekuatan yang

menggerakkan di belakang pendirian pekerja-

an percetakan jemaat, sekolah-sekolah, pe-

kerjaan pengobatan misionaris, dan pekerjaan

jangkauan se dunia yang telah menjadikan

Jemaat Masehi Advent Hari Ketujuh salah

satu yang terbesar dan tercepat perkembang-

annya selaku organisasi misionaris Protestan.

Bahan-bahan yang ditulisnya lebih dari 80

buah buku, 200 traktat dan pamflet serta 4600

artikel yang ditulis secara berkala di majalah.

Khotbah-khotbah, catatan harian, kesaksian-

kesaksian khusus, dan juga surat-surat meru-

pakan bahan dan naskah yang dapat berjum-

lah 60.000 halaman.

Ruang lingkup bahan itu amat mengejutkan.

Keahlian yang ditunjukkan Ellen White tidak-

lah terbatas pada bidang yang terbatas dan

tertentu saja. Tuhan memberikan pelbagai

nasihat kepadanya di bidang kesehatan, pen-

didikan, kehidupan keluarga, pertarakan,

evangelisasi, pekerjaan penerbitan, masalah

diet yang selayaknya, pekerjaan pengobatan

dan masih banyak lagi bidang kehidupan lain-

nya. Barangkali tulisan-tulisannya di bidang

     Karunia Nubuat 265

kesehatan yaitu  hal yang sangat menak-

jubkan sebab  gagasan-gagasannya, keba-

nyakan dari antaranya diberikan lebih kurang

seabad yang lalu, telah dibenarkan oleh ilmu

pengetahuan modern.

Tulisan-tulisannya berpusatkan pada Kris-

tus Yesus serta meninggikan moral dengan

nilai-nilai etis tradisi Yudeo-Kristen.

Walaupun banyak tulisannya ditujukan

kepada Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh,

sebagian besar tulisan itu dihargai oleh khala-

yak yang lebih luas. Bukunya cukup terkenal

Jalan Yang Terindah telah diterjemahkan

ke dalam lebih 100 bahasa dan terjual lebih

kurang 15 juta buah. Karyanya yang paling

besar dan diterima dengan baik yaitu  seri

Conflict of the Ages yang terdiri dari 5 jilid,

isinya mengungkapkan secara rinci pertikaian

hebat antara Kristus dan Setan, mulai dari

awal dosa dan pelenyapannya dari alam se-

mesta.

Dampak tulisan-tulisannya atas perse-

orangan cukup mendalam. Belum lama ber-

selang Lembaga Pelayanan Jemaat dari Uni-

versitas Andrews melakukan studi perban-

dingan antara sikap orang Kristen dan ting-

kah laku orang-orang Advent yang secara

ter-atur membaca buku-buku Ellen White de-

ngan orang-orang yang tidak membacanya.

Penelitian mereka dengan jelas menggaris-

bawahi dampak tulisan-tulisannya atas

orang-orang yang membacanya. Studi per-

bandingan itu memberikan kesimpulan seba-

gai berikut: “Para pembaca mempunyai hu-

bungan yang semakin erat dengan Kristus,

posisi mereka semakin pasti dengan Tuhan,

dan semakin mengenal karunia-karunia roha-

ni. Mereka pun semakin setuju dengan evan-

gelisasi umum serta berperan serta lebih

tangguh dalam proyek-proyek misionaris lo-

kal. Mereka merasa lebih siap untuk ber-

saksi dan melibatkan diri secara nyata dalam

program bersaksi dan berperan keluar. Ke-

inginan mereka untuk mempelajari Alkitab

lebih besar, belajar Alkitab sehari-hari, ber-

doa bagi orang-ora