doktrin Advent 16
n, lembaga Ilahi yakni
Sabat itu harus dipulihkan dan pelanggaran
atas tembok hukum Allah harus diperbaiki.47
yaitu proklamasi pekabaran dari Wahyu
14:6-12 dalam hubungannya dengan Injil ke-
kal itu yang menyudahkan pekerjaan pemu-
lihan dan pemuliaan hukum itu. Dan prokla-
masi pekabaran inilah menjadi misi sidang
Allah pada masa Kedatangan Kristus yang
kedua kali (baca bab 12). Pekabaran ini akan
membangunkan dunia, mengundang setiap
orang supaya siap menghadapi hari penghu-
kuman.
Kata undangan untuk menyembah sang
Pencipta, “Sembahlah Dia yang telah men-
jadikan langit dan bumi dan laut dan semua
mata air” (Why. 14:7), yaitu petunjuk lang-
sung terhadap hukum keempat dari hukum
Allah yang kekal. Amaran terakhir ini mene-
guhkan rasa keprihatinan khusus dari Tuhan
terhadap hari Sabat-Nya yang telah dilupa-
kan secara luas, dipulihkan sebelum Keda-
tangan Kristus yang kedua kali.
Pemberitaan kabar ini akan mempercepat
konflik yang akan melibatkan seluruh dunia.
Isu sentral yaitu penurutan kepada hukum
Allah dan pemeliharaan hari Sabat. Dalam
menghadapi konflik ini setiap orang haruslah
memutuskan apakah akan menuruti hukum-
hukum Allah ataukah mengikuti hukum-hu-
kum manusia. Pekabaran ini akan mengha-
silkan satu umat yang tetap memelihara hu-
kum Allah dan beriman kepada Yesus. Ba-
rangsiapa yang menolaknya akan menerima
tanda binatang (Why. 14:9, 12; baca juga bab
12).
Supaya pelaksanaan misi ini berhasil de-
ngan baik demi kemuliaan hari Sabat-Nya
yang telah dilalaikan itu serta membesarkan
hukum Allah, umat Allah harus konsisten,
memberikan contoh pemeliharaan Sabat
yang penuh dengan kasih sayang.
Hari Sabat 301
PEMELIHARAAN SABAT
Untuk “ingatlah dan kuduskanlah hari Sa-
bat” (Kel. 20:8), kita harus memikir-mikirkan
hari Sabat sepanjang minggu dan mengadakan
persiapan yang diperlukan untuk memeliha-
ranya dengan Cara yang berkenan kepada
Allah. Kita haruslah berhati-hati agar jangan
sampai menghambur-hamburkan tenaga kita
sepanjang minggu sehingga kita tidak dapat
melibatkan diri dalam pelayanan hari Sabat.
sebab Sabat merupakan hari khusus
berhubungan dengan Allah dan di dalamnya
kita diundang supaya merayakannya dengan
penuh kegembiraan atas perbuatan-Nya da-
lam penciptaan dan penebusan, maka pen-
tinglah bagi kita menghindari apapun yang
cenderung menghilangkan suasana kesucian
itu. Dengan jelas Alkitab mengatakan supaya
kita berhenti dari segala pekerjaan sekular
pada hari Sabat (Kel. 20:10), menghindari
segala pekerjaan yang bersifat mencari naf-
kah dan segala transaksi bisnis (Neh. 13:15-
22). Kita harus menghormati Tuhan Allah,
dengan “tidak menjalankan segala acaramu
dan tidak mengurus urusanmu atau berkata
omong kosong” (Yes. 58:13). Kalau
,
hari ini
kita isi dengan hal-hal yang menyenang-nye-
nangkan diri kita sendiri, melibatkan diri da-
lam pelbagai keperluan yang bersifat sekular,
dengan omong kosong, atau percakapan me-
ngenai olah raga maka hal-hal itu akan men-
jauhkan kita dari perhubungan dengan Allah
Pencipta dan melanggar kekudusan hari Sa-
bat.48 Perhatian kita yang sungguh-sungguh
mengenai hari Sabat haruslah juga melibatkan
semua orang yang berada dibawah naungan
kita—anak-anak kita, orang yang bekerja ba-
gi kita, bahkan tetamu dan binatang peliha-
raan kita juga (Kel. 20:10), supaya dengan
demikian mereka dapat menikmati berkat
hari Sabat.
Hari Sabat dimulai pada saat matahari
terbenam pada hari Jumat petang dan ber-
akhir pada matahari terbenam hari Sabtu
petang baca Kej. 1:5; bandingkan Mrk.
1:32).49 Alkitab menyebut hari sebelum hari
Sabat (Jumat)—yaitu hari persediaan—
(Mrk. 15:42)—satu hari persiapan untuk hari
Sabat sehingga tidak ada sesuatu yang me-
nodai kekudusannya. Pada hari ini orang-
orang yang bertugas di tengah-tengah ke-
luarga untuk menyediakan makanan untuk
hari Sabat sudah harus menyediakan makan-
an pada waktu itu sehingga selama jam-jam
hari yang kudus itu mereka dapat berhenti
dari segala pekerjaan mereka (baca Kel.
16:23; Bil. 11:8).
jika jam-jam Sabat itu mendekat, se-
baiknya anggota keluarga atau kelompok
umat percaya berkumpul bersama-sama se-
belum matahari terbenam pada hari Jumat,
dengan menyanyi, berdoa dan membaca fir-
man Allah, supaya dengan demikian mengun-
dang Roh Kristus datang sebagai tamu yang
dihormati. Begitu pula hendaknya mereka
lakukan pada penutupan Sabat, mengadakan
kebaktian bersama pada hari Sabat, Sabtu
petang, seraya memohon kepada Allah agar
hadir dan menuntun sepanjang minggu ber-
ikutnya.
Allah memanggil umat-Nya supaya men-
jadikan hari Sabat itu sebagai hari kesukaan
(Yes. 58:13). Bagaimana mereka dapat ber-
buat seperti ini? Hanyalah jika mereka meng-
ikuti teladan Kristus, Tuhan hari Sabat, me-
reka dapat berharap mengalami kegembiraan
yang sejati, dan kepuasan yang disediakan
Tuhan pada hari ini.
Kristus secara teratur mengikuti kebaktian
pada hari Sabat, mengambil bagian dalam
pelbagai pelayanan, dan memberikan petun-
juk agama (Mrk. 1:21;3:1-4; Luk. 4:16-27;
13:10). Bahkan Ia melakukan hal yang lebih
daripada sekadar berbakti. Ia turut dalam
persekutuan dengan yang lain (Mrk. 1:29-31;
302 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
Luk.14:1), menggunakan waktu-Nya di alam
terbuka (Mrk. 2:23), dan keluar untuk mela-
kukan perbuatan yang kudus dan penuh de-
ngan kemurahan. Apa yang dilakukan-Nya,
menyembuhkan yang sakit maupun yang
menderita sengsara (Mrk. 1:21-31; 3:1-5;
Luk. 13:10-17; 14:2-4;Yoh. 5:1-15; 9:1-14).
jika Ia dikritik sebab melakukan pe-
kerjaan yang meringankan penderitaan orang
banyak, Yesus menjawab, “Boleh berbuat
baik pada hari Sabat” (Mat. 12:12). Kegiatan
yang dilakukan-Nya, yakni dengan menyem-
buhkan yang sakit, bukanlah melanggar atau
memusnahkan hukum itu. Bahkan dengan
demikian dihentikannya peraturan yang
membebani yang telah mengacaukan makna
pemeliharaan Sabat—padahal Allah menga-
turnya sebagai alat
penyegaran dan kesukaan
rohani.50 Allah menginginkan Sabat itu seba-
gai kekayaan batiniah manusia. Kegiatan
yang meninggikan hubungan dengan Allah
yaitu layak; barangsiapa yang menyimpang
dari tujuan itu dengan membuat hari Sabat
men-jadi suatu hari liburan yaitu tidak layak.
Tuhan hari Sabat itu mengundang semua
orang supaya mengikuti teladan yang diberi-
kan-Nya. Barangsiapa yang menerima pang-
gilan-Nya akan merasakan Sabat itu sebagai
suatu hari kesukaan dan pesta rohani—
sehingga dapat merasakan lebih dahulu sua-
sana surga. Mereka menemukan bahwa “ha-
ri Sabat itu direncanakan Allah untuk men-
cegah kekecewaan rohani. Dari minggu ke
minggu hari yang ketujuh itu memberikan
penghiburan kepada hati nurani kita, mem-
berikan jaminan kepada kita bahwa walaupun
tabiat kita belum sempurna kita dapat berdiri
secara utuh di dalam Kristus. Tindakan-Nya
di bukit Golgota dianggap menjadi pendamaian
bagi kita. Kita memasuki tempat perhentian-
Nya.”
Kitalah penatalayan-penatalayan Allah, dipercayakan-Nya kepada
kita waktu dan kesempatan, kesang-gupan dan harta-milik dan juga
berkat-berkat bumi serta segala sumbernya. Kita bertanggung jawab
ke-pada-Nya atas penggunaannya dengan baik. Kita mengakui Allah
pemiliknya dengan pelayanan yang setia kepada-Nya dan kepada
sesama, dan dengan mengembalikan persepuluhan dan persembahan
untuk memproklamasikan Injil-Nya serta membantu dan mengem-
bangkan jemaat-Nya. Penatalayanan yaitu suatu hak istimewa
yang diberikan Allah kepada kita untuk dipelihara dengan kasih
sayang dan menang atas sifat mementingkan diri sendiri dan atas
keinginan terhadap milik orang lain. Penatalayan bergembira di da-
lam berkat-berkat yang datang kepada orang lain sebagai hasil dari
kesetiaannya.—
Hidup Kristen ialah berserah, tidak ada
yang lebih dari itu—menyerahkan diri
kita sendiri dan menerima Kristus. Jika kita
memperhatikan bagaimana Yesus menyerah-
kan dan memberikan diri-Nya kita sudah se-
layaknya berseru dengan nyaring, “Apakah
yang dapat kulakukan bagi-Mu?”
Lalu, jika kita memikirkan bahwa kita te-
lah melakukan penyerahan yang penuh, be-
nar-benar menyerah, maka sesuatu terjadi,
menunjukkan bahwa betapa dangkalnya pe-
nyerahan kita itu. jika kita mendapati ba-
gian-bagian baru dari kehidupan kita dipaling-
kan kepada Allah, maka penyerahan kita pun
semakin bertambah. Demikianlah, dengan le-
mah lembut Ia menarik perhatian kita ke ba-
gian yang lain lagi, diri yang sangat perlu dise-
rahkan. Sehingga hidup menjadi rangkaian
penyerahan kembali yang Kristiani, dalam
dan semakin dalam jauh di lubuk hati, gaya hi-
dup kita, bagaimana kita bertindak dan be-
reaksi.
jika kita memberikan semua yang ada
pada kita kepada Allah, yang menjadi pemilik
segalanya (1 Kor. 3:21-4:2), Ia menerimanya,
namun Ia menyerahkannya kembali kepada
kita selaku tanggung jawab kita, dan membu-
at kita sebagai penatalayan atau yang menja-
lankan segala sesuatu yang kita “miliki.”
Maka kecenderungan kita kepada hidup yang
nyaman, hidup yang sekadar mementingkan
diri sendiri dihancurkan dengan kesadaran
bahwa Tuhan pernah tidak memiliki pakaian,
terpenjara, dan seorang yang asing. Dan ke-
sabaran-Nya yang tidak mengenal lelah “O-
leh sebab itu, pergilah, ajarlah segala bang-
sa” membuat jemaat mempunyai kegiatan —
membagi iman, mengajar, berkhotbah, mem-
baptis—lebih berharga bagi kita. sebab Dia,
kita berusaha menjadi penatalayan yang se-
tia.
APAKAH PENATALAYANAN ITU?
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuh-
mu yaitu bait Roh Kudus... dan bahwa
kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu
telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:
sebab itu muliakanlah Allah dengan tubuh-
mu!” (1 Kor. 6:19, 20). Kita telah dibeli dan
BAB 21
PENATALAYANAN
308 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
ditebus dengan harga yang sangat tinggi. Kita
milik Allah. Bahkan hal yang demikian meru-
pakan tindakan meminta kembali, sebab
sebenarnya Ia yang menjadikan kita; kita
menjadi milik-Nya sejak semula sebab “Pa-
da mulanya Allah menciptakan...” (Kej. 1:1).
Dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala
isinya, dan dunia serta yang diam di dalam-
nya” (Mzm. 24:1).
Pada saat Penciptaan, Tuhan membagi
milik-Nya kepada manusia, dan Ia masih te-
tap menjadi pemilik yang sejati akan dunia ini,
berikut penghuninya, dan segala kekayaan
yang ada di dalamnya (Mzm. 24:1). Di
kayu salib Ia mengambil kembali milik-Nya
yang telah diserahkan manusia kepada Setan
pada waktu kejatuhan (1 Kor. 6:19-20). Se-
karang Ia mengangkat umat-Nya untuk me-
layani sebagai penatalayan-penatalayan harta
milik-Nya.
Seorang penatalayan yaitu orang yang
“dipercayakan dengan pengelolaan seisi ru-
mah atau harta milik yang lain.” Penatalayanan
yaitu “kedudukan, tugas-tugas atau pelayan-
an seorang penatalayan.”1 Kepada orang
Kristen, penatalayanan berarti “tanggung ja-
wab manusia kepada, dan penggunaan dari-
padanya, segala sesuatu yang dipercayakan
Tuhan kepadanya—hidup, tubuh, waktu, ta-
lenta dan kemampuan, benda-benda yang di-
miliki, kesempatan yang dimiliki untuk mela-
yani orang lain, dan pengetahuannya menge-
nai kebenaran.”2 Orang-orang Kristen beker-
ja selaku manajer atas milik Allah dan meng-
anggap hidup sebagai suatu kesempatan Ilahi
“untuk belajar menjadi penatalayan-penatala-
yan yang setia, supaya dengan demikian la-
yak untuk penatalayanan yang lebih tinggi,
yakni hal-hal yang abadi bagi kehidupan
mendatang.”3
Dalam dimensi yang lebih besar, kemu-
dian penatalayanan itu “menyangkut hikmat
dan penggunaan hidup yang tidak memen-
tingkan diri sendiri.”4
CARA-CARA UNTUK MENGAKUI
KEPEMILIKAN ALLAH
Hidup itu dapat dibagi dalam empat bagian
dasar, masing-masing yaitu pemberian Al-
lah. Ia memberikan kepada kita tubuh, ke-
mampuan, waktu dan harta milik. Tambahan
lagi, kita harus memperhatikan dunia sekeli-
ling kita, yang telah diserahkan kepada kita.
Penatalayanan Tubuh. Umat Allah yaitu
penatalayan-penatalayan atas diri sendiri.
Kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap
hati, dan dengan segenap jiwa, dengan sege-
nap tenaga, dan dengan segenap pikiran kita
(Luk. 10:27).
yaitu merupakan suatu hak istimewa
bagi orang Kristen untuk mengembangkan
jasmani mereka, begitu juga dengan kuasa pi-
kiran supaya mempunyai kemampuan yang
terbaik dan kesempatan-kesempatan yang
paling baik. Dengan berbuat demikian mere-
ka mendatangkan kehormatan kepada Allah
dan dapat memberikan bukti berkat yang le-
bih besar kepada sesama manusia. (Baca
bab 22).
Penatalayanan Kemampuan. Setiap orang
memiliki talenta khusus. Ada orang yang ber-
talenta di bidang musik, sedang yang lain
mahir dalam soal perdagangan, sebagai tu-
kang jahit atau montir mobil. Ada pula orang
yang mudah sekali mendapat sahabat dan
berbaur dengan orang lain, sementara yang
lain secara alamiah cenderung menyendiri.
Setiap talenta dapat digunakan untuk me-
muliakan orang yang memilikinya atau Pem-
beri yang sebenarnya. Seorang dapat dengan
rajin mengusahakan kesempurnaan talentanya
Penatalayanan 309
demi kemuliaan Tuhan, atau demi kemuliaan
diri sendiri.
Kita harus berupaya mengusahakan pem-
berian Roh Kudus yang memberikan masing-
masing kita perintah untuk melipatgandakan
talenta ini (Mat. 25). Penatalayan yang baik
menggunakan pemberian yang mereka per-
oleh itu dengan murah hati agar mendatangkan
keuntungan yang besar bagi tuannya.
Penatalayanan Waktu. Sebagai penatala-
yan-penatalayan yang setia, kita memuliakan
Allah dengan menggunakan waktu kita de-
ngan bijaksana. “Apa pun juga yang kamu
perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu
seperti untuk Tuhan dan bukan untuk ma-
nusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah ka-
mu akan menerima bagian yang ditentukan
bagimu sebagai upah. Kristus yaitu tuan
dan kamu hamba-Nya” (Kol. 3:23, 24).
Alkitab meminta agar kita jangan menjadi
“seperti orang yang bebal, namun seperti
orang arif, dan pergunakanlah waktu yang
ada, sebab hari-hari ini yaitu jahat” (Ef.
5:15,16). Seperti Yesus, kita haruslah mela-
kukan pekerjaan yang dikerjakan Bapa (Luk.
2:49). Waktu yaitu pemberian Tuhan, setiap
saat sangat berharga. Pemberian ini diberi-
kan untuk membentuk tabiat bagi kehidupan
yang kekal. Penatalayan yang setia dalam so-
al waktu yang disebutkan di sini ialah dengan
menggunakan waktu itu untuk mengenal Al-
lah, menolong sesama manusia serta memba-
gi-bagikan Injil.
jika , ketika Penciptaan, Allah mem-
berikan waktu kepada kita, Ia menyediakan
Sabat hari yang ketujuh itu sebagai waktu
yang kudus untuk berhubungan dengan Dia.
Akan namun ada waktu enam hari diberikan
kepada keluarga manusia untuk digunakan
untuk pekerjaan yang bermanfaat.
Penatalayanan atas Harta Milik. Allah
memberikan kepada leluhur kita tanggung
jawab untuk menaklukkan bumi, memerintah
kerajaan binatang, serta memelihara Taman
Eden (Kej. 1:28; 2:15). Semua ini menjadi
kepunyaan mereka bukan untuk dinikmati
saja, namun juga untuk dikelola.
Satu larangan yang diberikan kepada me-
reka, yakni, mereka tidak boleh memakan bu-
ah pohon pengetahuan yang baik dan yang ja-
hat. Pohon ini tetap merupakan peringatan
bahwa Tuhanlah sebenarnya pemilik dan pe-
nguasa akhir atas dunia. Menghormati la-
rangan ini, berarti pasangan yang pertama itu
menunjukkan iman mereka di dalamnya dan
menunjukkan kesetiaan mereka kepada-
Nya.
Sesudah Kejatuhan, Allah tidak lagi mem-
berikan ujian kepada manusia melalui pohon
pengetahuan itu. Akan namun manusia masih
tetap memerlukan pengingat yang terus-me-
nerus bahwa Allah merupakan sumber sega-
la yang baik dan sumber pemberian yang
sempurna (Yak. 1:17) dan Ia yang menyedia-
kan kuasa bagi kita untuk memperoleh keka-
yaan (Ul. 8:18). Untuk mengingatkan kita
bahwa Ia sumber segala berkat, Allah mendi-
rikan sebuah sistem persepuluhan dan per-
sembahan.
Sistem inilah yang menunjang keuangan
para imam yang melaksanakan tugas keima-
matan di bait Allah. Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh mengambil model keimamatan
o-rang Lewi ini, metode yang ada di
dalam Alkitab untuk menunjang keuangan
penginjilan untuk menjangkau dunia. Allah
telah menetapkan bahwa penyebaran kabar
baik haruslah bergantung kepada upaya dan
persembahan umat-Nya. Ia mengajak mere-
ka supaya jangan mementingkan diri dan
hendaknya menjadi pekerja bersama Dia de-
310 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
ngan memberikan persepuluhan dan per-
sembahan kepada-Nya.
1. Persepuluhan. Sebagaimana sepertu-
juh dari waktu kita (Sabat) menjadi milik Al-
lah, maka begitu pula sepersepuluh dari sega-
la harta benda yang kita peroleh yaitu milik-
Nya. Kitab Suci mengatakan kepada kita
bahwa persepuluhan “dikuduskan bagi Tu-
han,” melambangkan kepemilikan Tuhan
atas segala sesuatu (Im. 27:30, 32). Perse-
puluhan itu haruslah dikembalikan kepada-
Nya sebagai milik-Nya.
Sistem persepuluhan sangat indah dalam
kesederhanaannya. Keadilannya dinyatakan
dengan tuntutannya yang berimbang baik un-
tuk orang kaya maupun untuk orang miskin.
Kesepadanan itu terletak pada Allah selaku
pemilik yang memberikan kepada kita untuk
digunakan, maka begitu pulalah kita harus
mengembalikan sepersepuluh penghasilan
kita kepada-Nya.
Waktu Tuhan meminta persepuluhan
(Mal. 3:10), Ia tidak meminta rasa syukur
atau kedermawanan. Walaupun sebenarnya
rasa syukur haruslah menjadi bagian pernya-
taan kita kepada Tuhan, kita memberikan
persepuluhan sebab Tuhan memerintahkan-
nya. Persepuluhan itu milik Tuhan dan Ia me-
minta supaya kita mengembalikannya kepada-
Nya.
a. Contoh persepuluhan. Pemberian
persepuluhan telah dipraktikkan dalam Kitab
Suci. Abraham memberikan kepada Melkise-
dek, imam Tuhan Yang Mahatinggi, “seper-
sepuluh dari semuanya” (Kej. 14:20). De-
ngan berbuat demikian, ia mengakui keima-
matan Melkisedek berasal dari Tuhan, dan
menunjukkan bahwa ia mengenal betul lem-
baga yang kudus ini. Penyerahan persepuluhan
ini menunjukkan bahwa kebiasaan ini telah
melembaga pada zaman dahulu.
Yakub juga mengenal betul aturan per-
sepuluhan ini. Sebagai seorang pelarian dan
buronan, ia berjanji kepada Tuhan, “Dari se-
gala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku
akan selalu kupersembahkan sepersepuluh
kepada-Mu” (Kej. 28:22). Dan sesudah Ke-
luaran (Eksodus), ketika bangsa Israel telah
ditetapkan sebagai satu bangsa, Tuhan me-
ngukuhkan kembali hukum persepuluhan se-
bagai lembaga Ilahi, yang di dalamnya ter-
gantung kemakmuran bangsa Israel (Im.
27:30-32; Bil. 18:24, 26, 28; Ul. 12:6, 11, 17).
Jauh dari penghapusan lembaga ini, justru
Perjanjian Baru mengakui keabsahannya.
Yesus membenarkan persembahan persepu-
luhan dan menghakimkan orang yang me-
langgarnya (Mat. 23:23). Sementara hukum
keupacaraan mengatur persembahan korban
yang melambangkan korban pendamaian
Kristus berakhir pada saat kematian-Nya,
hukum mengenai persepuluhan tidak berakhir
di situ.
sebab Abraham yaitu bapa orang ber-
iman, maka ialah yang menjadi contoh pem-
bayaran persepuluhan kepada Melkisedek,
Imam Allah yang Mahatinggi, begitu pulalah
dengan orang yang beriman pada zaman Per-
janjian Baru, memberi persepuluhan kepada
Kristus, Imam Besar kita menurut peraturan
Melkisedek. (Ibr. 5:9, 10; 7:1-22).5
b. Penggunaan persepuluhan. Persepu-
luhan itu suci dan harus digunakan untuk tu-
juan-tujuan yang suci saja. Tuhan menyuruh,
“Demikian juga segala persembahan perse-
puluhan dari tanah, baik dari hasil benih di ta-
nah maupun dari buah pohon-pohonan, ada-
lah milik Tuhan; itulah persembahan yang ku-
dus bagi Tuhan.... Mengenai segala persem-
bahan-persepuluhan dari lembu sapi atau
kambing domba... harus menjadi persem-
bahan kudus bagi Tuhan” (Im. 27:30-32).
“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan
Penatalayanan 311
itu ke dalam rumah perbendaharaan,” kata-
Nya, “supaya ada persediaan makanan di ru-
mah-Ku” (Mal. 3:10).
Di kalangan bangsa Israel, persepuluhan
itu digunakan hanya untuk orang-orang Lewi
yang sama sekali tidak menerima bagian apa-
apa dari suku-suku Israel, sebab mereka ha-
rus menggunakan seluruh waktu mereka me-
rawat perbaktian bangsa Israel, melayani pe-
kerjaan di kaabah, dan memberikan petunjuk
kepada orang banyak dalam hal yang berkait-
an dengan hukum Tuhan (Bil. 18:21, 24).
Sesudah Penyaliban, saat peranan lang-
sung keimamatan orang Lewi berakhir, per-
sembahan persepuluhan masih tetap diguna-
kan untuk membantu pelayanan gereja Tu-
han. Paulus menggambarkan dasar utama
prinsip ini dengan menyejajarkan pelayanan
Keimamatan dengan pelayanan Injil yang ba-
ru didirikan. Ia berkata, “Jadi, jika kami telah
menaburkan benih rohani bagi kamu, berle-
bih-lebihankah, kalau kami menuai hasil du-
niawi daripada kamu? Kalau orang lain mem-
punyai hak untuk mengharapkan hal itu dari
pada kamu, bukankah kami mempunyai hak
yang lebih besar?... Tidak tahukah kamu,
bahwa mereka yang melayani dalam tempat
kudus mendapat penghidupannya dari tempat
kudus itu dan bahwa mereka yang melayani
mezbah, mendapat bahagian mereka dari
mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah me-
netapkan, bahwa mereka yang memberitakan
Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1
Kor. 9:11-14).
Oleh sebab itu, anggota-anggota gereja,
dengan sukarela membawa persepuluhan
mereka ke dalam “rumah perbendaharaan,
supaya ada persediaan makanan di rumah-
Ku” (Mal. 3:10)—dengan kata lain, supaya
cukup biaya di gereja Tuhan untuk mengada-
kan pelayanan serta meneruskan tugas Injil
ke luar.6, 7
2. Persembahan. Orang-orang Kristen
yang tahu berterima kasih tidak membatasi
bagian mereka membantu gereja hanya de-
ngan persepuluhan saja. Mezbah persembah-
an bangsa Israel, yang kemudian dikenal de-
ngan Bait Allah, dibangun dari “pemberian
sukarela”—persembahan yang diberikan de-
ngan hati yang rela (Kel. 36:2-7; bandingkan
1 Taw. 29:14). Persembahan-persembahan
khusus menutupi biaya pembangunan tempat
kebaktian ini (Kel. 30:12-16; 2 Raj. 12:4, 5; 2
Taw. 24:4-13; Neh. 10:32, 33). Barangkali
bangsa Israel yang paling banyak memberi,
dari seperempat sampai sepertiga penghasilan
mereka dibaktikan kepada agama dan mak-
sud-maksud yang bersifat kedermawanan.
Apakah dengan turut sertanya memberi da-
lam jumlah besar dan berat itu membuat me-
reka jatuh miskin? Justru sebaliknya, Allah
berjanji untuk memberkati kesetiaan mereka
(Mal. 3:10-12).8
Begitu pula sekarang ini, Allah meminta
supaya kita memberi dengan murah hati se-
bagaimana Ia telah memberikan kemakmuran
kepada kita. Pemberian dan persembahan di-
perlukan untuk membangun, memelihara dan
menjalankan jemaat, juga untuk mendirikan
lembaga pengobatan sebagai tugas misionaris,
menunjukkan makna praktis Injil itu.
Apakah kita harus memberi seperti bang-
sa Israel memberi, ataukah pola dan cara me-
reka memberi itu tidak lagi dapat digunakan?
Di dalam Perjanjian Baru Kristus meletakkan
dasar-dasar penatalayanan yang sejati—
bahwa pemberian kita kepada Tuhan harus-
lah berimbang dengan terang dan hak-hak is-
timewa yang kita nikmati. la berkata “Setiap
orang yang kepadanya banyak diberi, dari-
padanya akan banyak dituntut, dan kepada
siapa yang banyak dipercayakan, daripada-
nya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk.
12:48). Ketika Kristus mengutus para peng-
312 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
ikut-Nya untuk melakukan sebuah misi, Ia
berkata, “Kamu telah memperolehnya de-
ngan cuma-cuma, sebab itu berikanlah pula
dengan cuma-cuma” (Mat. 10:8). Prinsip ini
berlaku juga atas berkat-berkat keuangan ki-
ta.
Perjanjian Baru sama sekali tidak pernah
menghapuskan sistem ini. Jika kita memban-
ding-bandingkan hak-hak istimewa kita dan
berkat-berkat yang kita peroleh dengan
orang-orang Israel, maka kita akan melihat
bahwa di dalam Kristus bagian kita jauh lebih
besar. Akankah rasa syukur kita memperoleh
pernyataan hubungan melalui kedermawanan
yang lebih besar supaya dengan demikian Injil
keselamatan ini dapat diluaskan kepada
orang lain?9 Makin luas jangkauan Injil itu
diumumkan, makin besar bantuan yang diper-
lukan.
3. Prinsip yang masih tetap berlaku.
Prinsip penatalayanan berlaku juga atas apa
yang tetap ada pada kita sama seperti apa
yang kita berikan. Sementara persepuluhan
yaitu ujian dasar penatalayanan kita atas
harta milik kita yang bersifat sementara,10
penggunaannya tetap juga menjadi ujian bagi
kita.
Bagaimana kita menggunakan harta ben-
da kita menunjukkan sejauh mana kita me-
ngasihi Tuhan dan sesama kita. Uang mung-
kin menjadi satu kuasa demi kebaikan: jika
ada di tangan kita dapat kita gunakan untuk
memberi makan orang-orang yang lapar,
memberikan minuman bagi orang yang da-
haga, dan memberikan pakaian bagi orang
yang tidak berpakaian (Mat. 25:34-40). Dari
sudut Allah, uang sangat berharga jika di-
gunakan untuk keperluan hidup, untuk mem-
berkati orang lain dan menunjang pekerjaan-
Nya.
4. Tidak setia dalam soal persepu-
luhan dan persembahan. Secara umum,
orang-orang tidak mengerti dan melalaikan
prinsip Ilahi mengenai penatalayanan. Bahkan
di kalangan orang Kristen sendiri hanya se-
dikit yang mengetahui peranan mereka sela-
ku penatalayan. Respons Tuhan terhadap ke-
tidaksetiaan bangsa Israel memberikan pan-
dangan yang jelas bagaimana Tuhan mem-
perhatikan hal ini. jika mereka menggu-
nakan persepuluhan dan persembahan untuk
kepentingan diri sendiri, Ia mengamarkan
mereka bahwa hal itu sama dengan pencuri
(Mal 3:8) dan menyifatkan kurangnya keber-
untungan mereka sebab mereka kurang se-
tia dalam soal keuangan: “Kamu telah kena
kutuk, namun kamu masih menipu Aku, ya
kamu seluruh bangsa!” (Mal. 3:9).
Allah menunjukkan panjang sabar-Nya,
kasih dan kemurahan dengan memberikan
amaran-Nya disertai dengan pemberian anu-
gerah: “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku
akan kembali kepadamu” (Mal. 3:7). Ia
memberikan kepada mereka berkat yang
berkelimpahan seraya menantang mereka
supaya menguji kesetiaan-Nya. “Bawalah
seluruh persembahan persepuluhan itu ke
dalam rumah perbendaharaan, supaya ada
persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah
Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah
Aku tidak membukakan bagimu tingkap-ting-
kap langit dan mencurahkan berkat kepadamu
sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik
bagimu belalang pelahap, supaya jangan di-
habisinya hasil tanahmu dan supaya jangan
pohon anggur di padang tidak berbuah bagi-
mu, firman Tuhan semesta alam. Maka sega-
la bangsa akan menyebut kamu berbahagia,
sebab kamu ini akan menjadi negeri kesuka-
an, firman Tuhan semesta alam” (Mal. 3:10-
12).
Penatalayanan bumi. Ilmu pengetahuan
modern telah menjadikan bumi ini sebuah la-
Penatalayanan 313
boratorium yang besar untuk penelitian dan
eksperimen. Penelitian yang demikian telah
memberikan banyak keuntungan, akan namun
revolusi industri juga telah mengakibatkan
pencemaran udara, air dan tanah. Dalam be-
berapa hal, teknologi telah memanipulasi
alam ketimbang mengelolanya dengan bijak-
sana.
Kitalah penatalayan dunia ini, dan kita ha-
rus melakukan segala upaya untuk memper-
tahankan hidup pada segala tingkat dengan
memelihara keseimbangan ekologi secara
utuh. Pada waktu kedatangan-Nya yang ke-
dua kali, Kristus akan “membinasakan ba-
rangsiapa yang membinasakan bumi” (Why.
11:18). Dari sudut ini penatalayan-penatala-
yan Kristen bertanggung jawab bukan saja
atas milik mereka namun bertanggung jawab
juga atas dunia sekelilingnya.
KRISTUS SEBAGAI PENATALAYAN
Penatalayanan yang baik ialah penatala-
yanan yang tidak mementingkan diri; memas-
rahkan diri kepada Tuhan sepenuhnya seraya
melayani manusia. sebab kasih-Nya kepa-
da kita maka Kristus telah menanggung salib
yang kejam itu, bahkan rasa pahit yang paling
dalam sebab penolakan milik-Nya sendiri,
dan rasa ditinggalkan Allah yang tidak terdu-
ga dalamnya. Dibandingkan dengan pembe-
rian ini, bukan atas apa yang dipunyai-Nya—
sekalipun Ia telah memiliki segala sesuatu—
melainkan atas Diri-Nya sendiri. Itulah yang
dimaksudkan dengan penatalayanan. Dengan
merenung-renungkan karunia yang terbesar
ini kita tidak lagi dalam kedirian kita sendiri,
melainkan menjadi semakin serupa dengan
Dia. Itulah yang menggerakkan kita menjadi
orang yang amat memperhatikan jemaat, me-
melihara orang-orang yang berada dalam
lingkup orang percaya dan juga yang tidak
termasuk ke dalam lingkup itu. sebab Kris-
tus mati bagi dunia, penatalayanan, dalam
artinya yang lebih luas, yaitu untuk dunia ini.
BERKAT-BERKAT
PENATALAYANAN
Allah telah menempatkan kita selaku pe-
natalayan demi kepentingan diri kita sendiri,
pertumbuhan kita bukan demi Dia.
Berkat Pribadi. Salah satu alasan Tuhan
meminta kita supaya terus mengabdikan se-
luruh hidup kita kepada-Nya—waktu, kemam-
puan, tubuh dan harta milik kita—untuk me-
nguatkan pertumbuhan rohani kita sendiri,
dan untuk mengembangkan tabiat. Jika kita
senantiasa sadar atas kepemilikan Tuhan
atas segala sesuatu dan kasih yang tidak hen-
ti-hentinya yang dicurahkan-Nya kepada ki-
ta, maka kasih dan rasa syukur kita akan ter-
pelihara.
Penatalayanan yang setia juga membantu
kita untuk memperoleh kemenangan atas ra-
sa ingin terhadap milik orang lain dan sikap
mementingkan diri sendiri. Rasa ingin memili-
ki harta orang lain, salah satu musuh manusia
yang terbesar, dihakimkan di dalam Sepuluh
Hukum. Yesus juga memberikan amaran
mengenai hal itu: “Berjaga-jagalah dan was-
pyaitu terhadap segala ketamakan, sebab
walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,
hidupnya tidaklah tergantung dari pada keka-
yaannya itu” (Luk. 12:15). Memberi secara
teratur akan membantu mencabut rasa ta-
mak dan sifat mementingkan diri sendiri dari
hidup kita.
Penatalayanan menuntun perkembangan
tabiat ekonomis dan efisien. Jika “telah me-
nyalibkan daging dengan segala hawa nafsu
dan keinginannya” (Gal. 5:24),maka kita ti-
dak akan menggunakan apa pun untuk me-
muliakan diri sendiri. “jika prinsip-prinsip
penatalayanan telah menguasai hidup, maka
314 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
jiwa diterangi, maksud tujuan telah tetap, ke-
senangan sosial bebas dari yang bersifat pa-
mer, kehidupan bisnis berjalan di bawah pe-
ngaruh peraturan emas, maka keinginannya
hanyalah memenangkan jiwa. Kehidupan
yang penuh berkat dari perbendaharaan Tu-
han yang demikianlah tersedia dalam kehi-
dupan yang beriman dan setiawan.”11
Sebuah kepuasan yang dalam dan meng-
gembirakan muncul dari jaminan atas apa pun
yang ditanam demi keselamatan orang-o-
rang, yang untuknya Kristus mati. Tuhan
menjelaskan, “sebenarnya segala sesuatu
yang kamu lakukan untuk salah seorang dari
saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). “Ti-
dak ada yang terlalu berharga bagi kita untuk
diberikan kepada Yesus. Jika kita mengem-
balikan kepada-Nya talenta, harta benda
yang dipercayakan kepada pemeliharaan ki-
ta, maka Ia akan memberi lebih banyak lagi
kepada kita. Setiap usaha yang kita lakukan
bagi Kristus akan diberi ganjaran oleh-Nya,
dan segala tugas yang kita lakukan di dalam
nama-Nya akan mengerjakan kebahagiaan
bagi kita sendiri.”
Berkat kepada Orang Lain. Penatalayan
yang sejati ialah penatalayan yang memberkati
semua orang yang berhubungan dengan kita.
Mereka mempraktikkan penatalayanan yang
disarankan Paulus, “Peringatkanlah agar me-
reka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam ke-
bajikan, suka memberi dan membagi dan de-
ngan demikian mengumpulkan suatu harta
sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu
yang akan datang untuk mencapai hidup yang
sebenarnya” (1 Tim. 6:18, 19).
Penatalayanan menyangkut pelayanan
terhadap orang lain dan kerelaan membagikan
apa pun yang telah diberikan Tuhan kepada-
nya dengan limpah sehingga mendatangkan
berkat juga kepada orang lain. Ini berarti bah-
wa “kita tidak lagi beranggapan bahwa hidup
bergantung atas berapa banyak uang yang ki-
ta miliki, berapa banyak gelar yang kita san-
dang, berapa banyak orang penting yang kita
kenal, berapa banyak rumah dan tetangga
tempat kita tinggal, dan jabatan serta penga-
ruh yang kira-kira kita miliki.” Hidup yang se-
jati ialah pengenalan akan Allah, mengem-
bangkan kasih sayang dan sifat dermawan
seperti yang ada pada-Nya, memberi apa
yang dapat kita berikan, sesuai dengan keber-
untungan yang diberikan-Nya kepada kita.
Hidup yang sejati ialah hidup yang sama
dengan roh yang dimiliki Kristus.
Berkat bagi Gereja. Penggunaan rencana
penatalayanan yang berdasarkan Alkitab
mutlak bagi gereja. Anggota jemaat yang te-
rus-menerus turut memberi—merupakan je-
maat yang kuat, turut membagikan berkat
yang telah dicurahkan Kristus atasnya, dan
siap menyambut apa pun yang diperlukan da-
lam pekerjaan Tuhan. Gereja akan memiliki
biaya yang cukup untuk melaksanakan pela-
yanan, untuk meluaskan kerajaan Tuhan di
sekitarnya, dan kemudian meluaskannya ke
tempat yang lebih jauh lagi. Dengan sukarela
akan digunakannya waktu, talenta dan sara-
na apa pun yang ada bagi Tuhan di dalam rasa
syukur dan kasih atas berkat-berkat yang te-
lah diberikan-Nya.
Mengenai jaminan Kristus bahwa Ia akan
kembali jika Injil kerajaan telah diumumkan
sebagai “kesaksian bagi semua bangsa”
(Mat. 24:14), semua diundang menjadi pena-
talayan-penatalayan dan pembantu-pemban-
tu-Nya. Dengan demikian kesaksian jemaat
akan menjadi kuasa yang mendatangkan ber-
kat bagi dunia, dan penatalayan yang setia
akan merasa gembira jika mereka melihat
berkat-berkat Injil itu diteruskan kepada
orang-orang lain.
Penatalayanan
Kita dipanggil untuk menjadi umat yang saleh yang berpikir, me-
rasa dan bertindak selaras dengan asas-asas surga. sebab Roh di
dalam kita menciptakan kembali tabiat Tuhan maka kita melibatkan
diri hanyalah dalam perkara-perkara yang menghasilkan kesucian
seperti Kristus, kesehatan dan kegembiraan dalam hidup kita. Ini ber-
arti bahwa kesenangan dan kesukaan kita haruslah memenuhi ukuran
selera Kristen dan keindahan Kristiani. Sementara mengakui adanya
perbedaan budaya, pakaian kita haruslah sederhana, sopan, bersih,
sesuai dengan keindahan yang sejati bukannya dengan hiasan
lahiriah melainkan dengan hiasan yang tidak akan hancur yakni
dengan roh lemah lembut. Itu juga berarti sebab tubuh kita yaitu
bait suci Roh Kudus, maka kita harus memeliharanya dengan arif dan
bijaksana. Dengan olah raga dan istirahat yang berimbang, kita
harus menerapkan cara makan yang paling sehat dan sama sekali
harus menjauhi makanan haram yang disebutkan dengan jelas dalam
Kitab Suci. Minuman yang mengandung alkohol, tembakau, dan pe-
nyalahgunaan obat-obat bius dan narkotik yang merusak tubuh, ha-
rus membebaskan kita dari semuanya itu. Sebaliknya, kita justru harus
melibatkan dalam apa pun yang membuat pikiran dan tubuh kita taat
kepada Kristus, yang menginginkan kita sehat, gembira dan baik.—
Tingkah laku Kristen—gaya hidup seorang
pengikut Allah–timbul sebagai satu sam-
butan sebab rasa syukur kepada kesela-
matan agung Allah melalui Kristus. Kepada
semua orang Kristen, Paulus mengimbau:
“sebab itu, saudara-saudara, demi kemurah-
an Allah aku menasihatkan kamu, supaya ka-
mu mempersembahkan tubuhmu sebagai
peraembahan yang hidup, yang kudus dan
yang berkenan kepada Allah: itu yaitu iba-
dahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi
serupa dengan dunia ini, namun berubahlah
oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu
dapat membedakan manakah kehendak Al-
lah: apa yang baik, yang berkenan kepada Al-
lah dan yang sempurna” (Rm. 12:1, 2). Oleh
sebab itu orang Kristen haruslah dengan su-
karela menjaga dan mengembangkan mental,
jasmani dan kemampuan rohani agar mereka
dapat menghormati Pencipta dan Penebus
mereka.
Kristus berdoa, “Aku tidak meminta, su-
paya Engkau mengambil mereka dari dunia,
namun supaya Engkau melindungi mereka dari
pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia,
sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yoh.
17:15, 16). Bagaimanakah seorang Kristen
dapat sekaligus berada di dunia ini dan dipi-
sahkan dari padanya? Bagaimanakah gaya
hidup orang Kristen berbeda dari dunia ini?
Orang-orang Kristen harus memakai ga-
ya hidup yang berbeda, bukan hanya sekadar
untuk berbeda melainkan sebab Tuhan telah
menghimbau mereka hidup menurut prinsip.
Gaya hidup yang diminta-Nya agar mereka
hidupkan membuat mereka mampu meraih
potensi penuh sebagai makhluk ciptaan-Nya,
membuat mereka efisien dalam pelayanan-
Nya. Menjadi orang yang berbeda mereka
patut memajukan misi mereka: untuk melaya-
ni dunia—menjadi garam dunia dan mene-
ranginya. Apakah gunanya garam jika su-
dah menjadi tawar, atau terang jika tidak
berbeda dari kegelapan?
Kristus itulah teladan kita. Ia menghayati
hidup yang demikian di dunia ini sehingga
orang banyak menuduh-Nya manusia “pela-
hap dan peminum” (Mat. 11:19), walaupun Ia
bukan seperti itu. Ia secara konsisten hidup
sesuai dengan asas-asas yang ditetapkan Al-
BAB 22
TINGKAH LAKU ORANG KRISTEN
318 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
lah sehingga tidak ada seorang pun yang da-
pat membuktikan Ia bersalah (Yoh. 8:46).
TINGKAH LAKU DAN
KESELAMATAN
Untuk memastikan apakah tingkah laku
yang pantas, kita harus menghindari dua hal
yang ekstrem. Yang pertama penerimaan
hukum-hukum dan penerapan asas-asas
menjadi sebuah sarana keselamatan. Paulus
menyimpulkan sudut ekstrem ini dengan ka-
ta-kata, “Kamu lepas dari Kristus, jikalau ka-
mu mengharapkan kebenaran oleh hukum
Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia”
(Gal. 5:4).
Sudut ekstrem lainnya yang bertolak be-
lakang dengan yang di atas ialah kepercayaan
bahwa sebab amal baik tidak menyelamatkan
maka hal itu tidaklah penting––jadi bagaimana
pribadi seseorang tidaklah menjadi soal. Ke-
pada ekstrem seperti ini Paulus berkata juga
sebagai berikut: “namun janganlah kamu
mempergunakan kemerdekaan itu sebagai
kesempatan untuk kehidupan dalam dosa,
melainkan layanilah seorang akan yang lain
oleh kasih” (Gal. 5:13). jika setiap anggo-
ta atau setiap orang mengikuti hati nurani
sendiri, “maka tidak ada lagi tata tertib se-
sama Kristen sebagaimana digariskan dalam
Matius 18 dan Galatia 6:1, 2. Gereja tidak lagi
menjadi tubuh Kristus, yang di dalamnya ter-
dapat cinta kasih dan saling memperhatikan,
melainkan menjadi sebuah himpunan individu
yang tercerai-berai, masing-masing menurut
kemauan sendiri tanpa merasa perlu ber-
tanggung jawab atas sesama, sepersekutuan
atau merasa prihatin atas keperluan mere-
ka.”1
sebab tingkah laku kita dan kerohanian
kita erat hubungannya, kita tidak akan pernah
dapat memperoleh keselamatan sebab ting-
kah laku yang baik. Sebaliknya, tingkah laku
Kristen yaitu buah keselamatan secara ala-
miah dan berlandaskan apa yang telah dise-
lesaikan Kristus bagi kita di Golgota.
BAIT SUCI ROH KUDUS
Bukan hanya jemaat namun juga individu
Kristen merupakan bait suci Roh Kudus.
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu
yaitu bait Roh Kudus yang diam di dalam
kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari
Allah,—dan bahwa kamu bukan milik kamu
sendiri?” (1 Kor. 6:19).
Oleh sebab itu, orang-orang Kristen
menjalankan kebiasaan-kebiasaan hidup se-
hat untuk melindungi pusat komando bait suci
tubuh mereka, pikiran, tempat tinggal Roh
Kristus. Untuk alasan inilah gereja Masehi
Advent Hari Ketujuh selama kurang lebih
100 tahun yang lalu—telah menekankan pen-
tingnya kebiasaan hidup sehat yang wajar.2
Dan hasilnya sudah kelihatan seperti berikut:
Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa
orang-orang Advent ternyata lebih sedikit
terkena penyakit yang kebanyakan menimpa
masyarakat pada umumnya.3
Sebagai orang Kristen, kita merasa pri-
hatin atas aspek-aspek kehidupan baik aspek
rohaninya maupun aspek jasmaninya. Yesus,
yang menjadi panutan kita, menyembuhkan
“segala penyakit dan kelemahan di antara
bangsa itu” (Mat. 4:23).
Alkitab menganggap manusia sebagai
makhluk yang utuh (baca bab 7). “Pembagian
antara yang rohani dan jasmani agak asing
bagi Alkitab.”4 Demikianlah Allah mengim-
bau kesucian tubuh sama halnya dengan ke-
sehat-an jasmani. Susannah Wesley, ibu pen-
diri gereja Metodis, dengan cekatan meng-
ikhtisarkan asas ini sebagai berikut: “Apa pun
yang melemahkan akalmu, merusak kelemah-
lembutan hati nuranimu, yang mengaburkan
perasaanmu terhadap Allah, mengurangi ke-
Tingkah Laku Orang Kristen 319
kuatan dan otoritas pikiranmu atas tubuhmu—
hal itu salah, betapapun kecilnya sehingga ti-
dak kelihatan salah.”5
Hukum Tuhan, yang termasuk dalamnya
hukum kesehatan, bukanlah sembarangan
atau mana suka, melainkan direncanakan
oleh Pencipta agar kita mampu menikmati
hidup sebaik-baiknya. Setan, sang musuh itu,
ingin mencuri kesehatan kita, kegembiraan
kita, kesejahteraan pikiran kita, dan pada
akhirnya ingin menghancurkan kita (baca
Yoh. 10:10).
BERKAT-BERKAT ALLAH BAGI
KESEHATAN MENYELURUH
Untuk memperoleh kesehatan ini, ber-
gantung pada praktik yang sederhana namun
efektif—prinsip-prinsip yang diberikan Allah.
Beberapa dari antaranya cukup jelas dan
umumnya orang setuju. Yang lain-lain, misal-
nya aturan makan yang baik, agak sukar di-
terima sebab berkaitan dengan orientasi dan
kebiasaan-kebiasaan yang telah begitu men-
dasar atas gaya hidup kita. sebab itulah, kita
harus mengabdikan lebih banyak kesempatan
untuk asas-asas ini sebab kedua-duanya di-
salahpahami, diperdebatkan atau ditolak.6
Manfaat Olah Raga. Olah raga yang rutin
yaitu formula sederhana untuk menambah
energi, ketegapan tubuh, kesantaian tubuh,
kulit yang lebih sehat, menambah rasa per-
caya diri, memulihkan pencernaan, meng-
efektifkan berat tubuh, dan mengurangi de-
presi serta risiko sakit jantung dan sakit kan-
ker. Olah raga bukan hanya sekadar pilihan,
justru ini penting agar dapat tetap sehat seca-
ra optimal—baik fisik maupun mental.7
Kegiatan yang bermanfaat cenderung
mendatangkan kesejahteraan; sedang
ketidakaktifan dan kemalasan cenderung ke-
pada pertikaian (Ams. 6:6-13; 14:23). Allah
memberikan tugas untuk dikerjakan pasangan
leluhur kita yang pertama—untuk memelihara
taman yang menjadi rumah kediaman mere-
ka di tempat terbuka (Kej. 2:5, 15; 3:19). Kris-
tus sendiri memberikan sebuah teladan kegi-
atan jasmani. Hampir seluruh masa hidup-
Nya digunakan dalam pekerjaan kasar selaku
tukang kayu, dan selama Ia bekerja Ia berja-
lan menjelajahi jalan-jalan di Palestina.
Berkat Sinar Matahari. Terang sangat
penting bagi kehidupan (Kej. 1:3). Diberinya
kuasa untuk mengadakan proses yang meng-
hasilkan zat makanan yang memberi makan
dan energi bagi tubuh kita serta mengeluarkan
oksigen yang mau tidak mau harus kita miliki
supaya hidup. Sinar matahari memberi kese-
hatan dan kesembuhan.
Berkat Air. Tubuh manusia terdiri atas 75%
air, akan namun cairan yang amat penting ini
terus-menerus hilang melalui udara yang di-
hembuskan, pernapasan, dan produk-produk
yang perlu dibuang. Meminum air putih 6-8
gelas setiap hari membantu membuat hidup
yang efisien dan bahagia. Fungsi penting lain-
nya air ini ialah untuk membersihkan dan
mendatangkan rasa santai.
Berkat Udara Segar. Lingkungan dengan
udara yang tidak bersih, di luar rumah, mem-
buat darah tidak dapat mengangkut oksigen
secara memadai sesuai dengan keperluan
yang harus ada untuk membuat setiap sel ber-
fungsi secara optimal. Kecenderungan ini
membuat seseorang kurang waspada dan
bertanggung jawab. Oleh sebab itu, betapa
pentingnya melakukan segala sesuatu yang
mungkin untuk memastikan persediaan udara
segar yang memadai setiap hari.
Berkat Bertarak, Bebas dari Obat Bius
dan Obat Perangsang Lainnya. Pelbagai
320 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
obat bius sedang melanda masyarakat kita
sebab obat-obatan ini telah memberikan
rangsangan bebas dari rasa stres dan rasa sa-
kit. Orang Kristen sekarang ini sedang digoda
untuk menggunakannya. Banyak minuman
populer sekarang ini yang demikian: kopi, teh,
dan coca-cola berisi kafein,9 dan anggur sari
buah yang harum berisi alkohol. Penelitian
menunjukkan bahwa minuman ringan seka-
rang cenderung menggunakan lebih keras
lagi yang dapat mempengaruhi pikiran.
Orang Kristen yang arif haruslah menjauhi
segala sesuatu yang merusak itu.
1. Tembakau. Dalam bentuk yang ba-
gaimanapun tembakau secara pelahan-lahan
menjadi racun yang sangat merusak tubuh,
mental dan kuasa moral. Pada mulanya efek-
nya memang sukar diamati. Mula-mula bersi-
fat merangsang dan kemudian melumpuhkan
saraf, melemahkan dan mengeruhkan otak.
Barangsiapa yang menggunakan temba-
kau ia melakukan bunuh diri secara pelahan-
lahan ,10 melanggar hukum keenam: “Jangan
membunuh” (Kel. 20:13).
2. Minuman Beralkohol. Minuman al-
kohol merupakan minuman yang paling ba-
nyak digunakan secara meluas di Planet
Bumi. Telah berjuta-juta orang yang dibina-
sakannya. Hal itu bukan saja merusak orang
yang menggunakannya, namun juga meminta
korban yang cukup besar dari tengah-tengah
masyarakat pada umumnya—melalui rumah
tangga yang pecah belah, kematian mendadak
dan kemiskinan.
sebab Allah berhubungan dengan kita
hanya melalui pikiran, maka ada baiknya kita
mengingat bahwa alkohol merusak setiap
fungsi. Kalau pengaruh alkohol itu sudah
sampai pada tingkat sistem tubuh, maka pe-
minumnya mulai kehilangan koordinasi, mulai
kacau, tidak dapat membulatkan pikiran, ke-
hilangan kesadaran, terbius, koma dan mati.
Umumnya, peminum alkohol yang terus-me-
nerus akan mengakibatkan berkurangnya da-
ya ingat, rusaknya pertimbangan dan ke-
mampuan belajar.11
Cerita-cerita yang ada dalam Alkitab
yang berkaitan dengan pemakaian minuman
beralkohol tampaknya memberikan kesan
bahwa Tuhan berkenan atas pemakaiannya.
Bahkan Kitab Suci juga menunjukkan bahwa
umat Allah turut serta dalam tingkah laku so-
sial, misalnya praktik perceraian, poligami
dan perbudakan––perbuatan yang jelas-jelas
tidak dapat dimaafkan Tuhan. Dalam menaf-
sirkan ayat-ayat Kitab Suci yang demikian,
baik juga kita berpikir bahwa Allah tidak perlu
harus membenarkan apa yang dibiarkan-
Nya.
Jawaban Yesus atas pertanyaan yang
menyelidik, mengapa Musa mengizinkan per-
ceraian menunjuk kepada prinsip penafsiran
ini. Ia berkata, “sebab ketegaran hatimu
Musa mengizinkan kamu menceraikan istri-
mu, namun sejak semula tidaklah demikian”
(Mat. 19:8).12 Eden merupakan contoh Ilahi
yang olehnya Injil memulihkan kita. Sebagai-
mana benarnya praktik yang lain, jelaslah al-
kohol bukanlah bagian dari rencana Allah se-
jak semula.13
3. Obat-obat bius lainnya dan narko-
tika. Masih banyak lagi jenis obat-obat lain
yang merusak, juga narkotik, yang digunakan
Setan untuk menghancurkan hidup manusia.14
Orang Kristen sejati yang selalu memandang
kepada Kristus akan terus memuliakan Allah
dengan tubuh mereka, menyadari bahwa me-
reka yaitu milik yang berharga bagi-Nya,
yang telah dibeli-Nya dengan darah-Nya
yang sangat mulia.
Berkat Istirahat. Istirahat yang memadai
sangat penting bagi kesehatan tubuh dan pi-
Tingkah Laku Orang Kristen 321
kiran. Kristus menyampaikan belas kasihan-
Nya kepada kita, belas kasihan yang pernah
ditunjukkan kepada murid-murid-Nya yang
lelah: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya
kita sendirian, dan beristirahatlah seketika”
(Mrk. 6:31). Saat istirahat, yakni istirahat
yang tenang sangat diperlukan untuk meng-
adakan hubungan dengan Allah: “Diamlah
dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”
(Mzm. 46:11). Allah menekankan perlunya
kita istirahat dengan mengasingkan hari ketu-
juh dari minggu sebagai hari istirahat (Kel.
20:10).
Istirahat bukanlah sekadar tidur atau ber-
henti dari pekerjaan yang melelahkan. Di da-
lamnya terkait cara kita menggunakan waktu
luang kita. Kelelahan tidaklah selalu disebab-
kan oleh stres atau sebab bekerja terlalu be-
rat atau terlalu lama: Pikiran kita juga dapat
menjadi letih sebab stimulasi berlebih-lebih-
an melalui media, penyakit atau sebab masa-
lah pribadi lainnya.
Rekreasi yaitu rekreasi dalam arti yang
sebenarnya dari perkataan itu. Rekreasi
itu meneguhkan, membangun, serta menye-
garkan pikiran dan jasmani, sehingga dengan
demikian menyiapkan umat percaya kembali
ke pekerjaan mereka dengan tenaga yang
baru. Menghayati hidup dengan sebaik-baik-
nya, meminta orang Kristen supaya mengejar
bentuk-bentuk rekreasi dan kesenangan
yang benar-benar menguatkan hubungan
mereka dengan Kristus serta memperbaiki
kesehatan semata.
Kitab Suci membentangkan prinsip ber-
ikut, yang akan membantu orang-orang Kris-
ten memilih rekreasi yang baik: “Janganlah
kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di
dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia,
maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam
orang itu. Sebab semua yang ada di dalam
dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan
mata serta keangkuhan hidup, bukanlah ber-
asal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1
Yoh. 2:15, 16).
1. Bioskop, televisi, radio dan video.
Media yang disebutkan ini dapat menjadi sa-
rana pendidikan yang sangat bermanfaat.
Media ini telah “mengubah atmosfer secara
menyeluruh, suasana dunia kita yang modern
serta mempermudah hubungan dalam hidup,
pikiran dan segala kegiatan yang mencakup
seluruh dunia.15 Orang Kristen akan meng-
ingat bahwa televisi dan video mendatangkan
dampak yang lebih besar atas hidup secara
individual ketimbang kegiatan tunggal lainnya.
Sayangnya, video dan televisi, yang ham-
pir seluruhnya dikuasai pertunjukan, membawa
pengaruh ke dalam rumah, yakni pengaruh
yang tidak meninggikan. Kalau kita tidak ber-
usaha memilih dan menyeleksi, maka media
itu akan “menjadikan rumah kita ruang bios-
kop dan pertunjukan lagu yang dangkal dan
murahan.”16 Orang-orang Kristen yang pe-
nuh pengabdian haruslah menjauhkan diri
dari yang tidak sehat, kekerasan, gambar dan
program televisi yang merangsang seks.
Sebenarnya alat bantu pandang (audio
visual) itu sendiri tidaklah jahat. Saluran yang
sama yang menyajikan dalamnya kejahatan
manusia juga digunakan untuk menyampaikan
khotbah Injil keselamatan. Masih banyak ju-
ga program lainnya yang cukup berharga di-
tayangkan. Akan namun program yang baik itu
juga dapat digunakan orang untuk melepaskan
diri dari tanggung jawab dalam hidup ini.
Orang Kristen bukan hanya ingin menegakkan
prinsip yang menentukan apakah yang dapat
dilihat namun juga menetapkan batas waktu
mereka menonton acara televisi, supaya de-
ngan demikian hubungan sosial dan tanggung
jawab hidup ini tidak mengalami kerugian.
Kalau kita tidak dapat memilih atau jika
kita tidak mampu mengendalikan media yang
ada pada kita, lebih baiklah kita tidak memi-
322 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
likinya daripada benda itu menguasai hidup
kita serta mencemarkan pikiran atau meng-
habiskan sebagian besar waktu kita (baca
Mat. 5:29, 30).
Sehubungan dengan renungan kita atas
Kristus, sebuah prinsip Alkitabiah yang pen-
ting menyatakan bahwa “sebab kemuliaan
itu datangnya dari Tuhan yang yaitu Roh,
maka kita diubah menjadi serupa dengan
gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin
besar” (2 Kor. 3:18). Dengan memandang
terjadilah perubahan. Akan namun orang-o-
rang Kristen haruslah senantiasa mengingat
bahwa prinsip ini pun berlaku untuk segi-segi
yang negatif. Gambar film secara grafis
menggambarkan dosa dan kejahatan manu-
sia—pembunuhan, perzinahan, perampokan
dan pelbagai kegiatan yang merusak lain-
nya—turut berperan memerosotkan akhlak.
Nasihat Paulus di dalam Filipi 4:8 mem-
bentangkan sebuah prinsip yang dapat mem-
bantu mengidentifikasi bentuk-bentuk rekreasi
yang bermutu: “Jadi akhirnya, saudara-sau-
dara, semua yang benar, semua yang mulia,
semua yang adil, semua yang suci, semua
yang manis, semua yang sedap didengar, se-
mua yang disebut kebajikan dan patut dipuji,
pikirkanlah semuanya itu.”
2. Bacaan dan Musik. Standar yang
tinggi juga diperlukan dalam bidang ini, baca-
an dan musik orang Kristen. Musik yaitu
pemberian Tuhan untuk mengilhami kesucian,
agung dan pikiran yang luhur. Musik yang
baik haruslah yang bermutu tinggi, berbudi
luhur.
Musik yang rendah, sebaliknya, yaitu
”merusak ritme jiwa serta merendahkan akh-
lak.” Oleh sebab itu para pengikut Kristus
hendaklah menjauhi “jenis melodi mana pun
yang berbau jez, rock atau yang termasuk ke
dalam bentuk-bentuk liar, atau yang menggu-
nakan bahasa yang menyatakan kebodohan
atau perasaan-perasaan yang tidak berarti.”17
Hendaknya orang Kristen tidak mendengar
musik atau melodi yang berarah ke situ (Rm.
13:11-14; 1 Ptr. 2:11).18
Bacaan juga dapat mendatangkan faedah
yang sangat banyak. Cukup banyak bahan
bacaan yang dapat menghaluskan dan melu-
askan pikiran. Namun demikian banyak juga
“bacaan yang buruk, pada umumnya disalut
dengan cara yang sangat menarik akan namun
merusak pikiran dan moral. Kisah-kisah me-
ngenai petualangan yang liar dan dibumbui
dengan moral yang lemah, apakah berbentuk
kisah rekaan ataupun berdasarkan kenyata-
an,” tidak layak untuk dibaca umat percaya
sebab pengaruh yang ditimbulkannya ialah
merendahkan keluhuran budi, merendahkan
kejujuran dan gaya hidup serta menghalangi
perkembangan persatuan dengan Kristus.19
3. Kegiatan yang tidak dapat diterima.
Masehi Advent Hari Ketujuh juga mengajar-
kan bahwa judi, bermain kartu, menonton
bioskop dan berdansa haruslah dijauhkan (1
Yoh. 2:15-17). Dipertanyakan juga tentang
pemakaian waktu untuk menonton olah raga
kekerasan (Flp. 4:8). Setiap kegiatan yang
melemahkan hubungan dengan Tuhan serta
mengakibatkan hilangnya pandangan kita
terhadap hal-hal yang abadi, membantu ran-
tai Setan mengikat jiwa kita lebih erat. Orang-
orang Kristen sebaiknya melibatkan diri da-
lam bentuk-bentuk kegiatan yang mengisi
masa senggang yang sehat dan menyegarkan
jiwa, tubuh dan pikiran mereka.
Berkat Makanan Bergizi. Kepada leluhur
manusia yang pertama, Sang Pencipta mem-
berikan aturan makanan yang ideal bagi me-
reka berdua: “Lihatlah, Aku memberikan ke-
padamu segala tumbuh-tumbuhan yang ber-
biji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan
yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi
Tingkah Laku Orang Kristen 323
makananmu”(Kej. 1:29). Setelah kejatuhan
manusia ke dalam dosa, Allah menambahkan
kepada makanan mereka “tumbuh-tumbuhan
di padang akan menjadi makananmu” (Kej.
3:18).
Persoalan kesehatan sekarang ini cende-
rung terpusat pada penyakit turunan yang se-
cara langsung dapat ditelusuri kepada ma-
kanan (diet) serta gaya hidup. Aturan ma-
kanan yang diberikan Tuhan dan direnca-
nakan-Nya terdiri dari gandum atau padi
(beras), buah-buahan, buah tanaman keras,
sayur-sayuran, yang kaya akan gizi yang
meningkatkan kesehatan pada tingkat yang
optimum.
1. Makanan Semula. Alkitab tidak me-
larang makanan daging yang halal. namun
sebenarnya makanan yang semula disedia-
kan Tuhan Allah bagi manusia tidak termasuk
makanan daging sebab Ia tidak berkenan
atas pembunuhan binatang dan juga sebab
makanan vegetaris yang berimbang yaitu
merupakan makanan yang paling sehat bagi
kesehatan—suatu kenyataan yang dikukuh-
kan oleh ilmu dan pengetahuan.20 Manusia
menjadikan daging sebagai makanan mereka,
di dalam daging yang dimakan ada bak-
teri atau virus-virus yang mengakibatkan pe-
nyakit yang membuat kesehatan mereka ter-
ganggu 21 Diperkirakan bahwa setiap tahun,
di Amerika Serikat saja, berjuta juta orang
yang menderita sakit sebab makan daging
ayam yang sudah tercemar sebab racun,
lalai me-meriksa kontaminasi yang diakibatkan
oleh salmonella dan mikroorganisme lainnya.22
Beberapa orang ahli merasa bahwa “konta-
minasi yang disebabkan bakteri mengakibat-
kan risiko yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan akibat kimiawi sert
.jpeg)
