doktrin Advent 17

doktrin Advent 17


 


a pengawet ma-

kanan” dan menyatakan bahwa timbulnya

banyak penyakit disebabkan bakteri ini.23

Selanjutnya, studi yang diadakan belum

lama berselang menunjukkan bahwa bertam-

bahnya konsumsi daging dapat menyebabkan

pertambahan aterosklerosis, kanker, kelainan

ginjal, osteoporosis, trikhinosis dan menurun-

kan gairah hidup.24

Aturan makanan yang ditetapkan Tuhan

di Taman Eden—makanan vegetaris—yang

ideal, namun  kadang-kadang kita tidak dapat

memperoleh yang ideal seperti itu. Dalam ke-

adaan yang demikian, barangsiapa yang mau

tetap memperoleh kesehatan yang optimal

sebaiknya makan makanan yang terbaik

yang dapat diperolehnya.

2. Makanan yang halal dan tidak halal.

Hanyalah setelah peristiwa air bah Allah

memperkenalkan makanan daging sebagai

makanan. sebab  ketika itu semua makanan

dari sayur-sayuran binasa maka Tuhan mem-

beri izin Nuh dan keluarganya untuk makan

daging, dengan syarat bahwa mereka tidak

boleh makan darah dalam daging (Kej. 9:3-

5).

Ketentuan bersyarat yang lain yang ter-

dapat dalam Alkitab menyangkut ketentuan

yang diberikan Allah kepada Nuh bahwa ia

dan keluarganya dapat makan hanya hewan

yang disebutkan Tuhan sebagai hewan yang

halal. Nuh dan keturunannya memerlukan

daging yang halal sebagai makanan mereka,

begitu pula hewan korban persembahan

(Kej. 8:20) sehingga Tuhan Allah menyuruh

Nuh mengambil tujuh pasang masing-masing

dari jenis hewan yang halal, sedang  pa-

sangan hewan yang tidak halal dari setiap je-

nis hanya satu pasang saja, untuk dibawa ma-

suk ke dalam bahtera (Kej. 7:2, 3). Imamat 11

dan Ulangan 14 memberikan gambaran yang

panjang lebar mengenai hewan yang halal

dan yang tidak halal.25

Secara alamiah, hewan atau binatang

yang tidak halal bukanlah makanan yang se-

hat. Kebanyakan dari antaranya binatang pe-

324                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

makan bangkai atau pemangsa—mulai dari

singa dan babi hingga jenis ikan yang hidup di

dasar laut, ikan jenis yang menyusui. sebab 

kebiasaan hewan-hewan itu membuat mere-

ka lebih tepat disebut sebagai pembawa pe-

nyakit.

Penyelidikan di bidang ini lebih lanjut me-

nyatakan bahwa “selain adanya sejumlah ko-

lesterol yang ada  di dalam daging babi

dan kerang, kedua jenis makanan tersebut

mengandung sejumlah toksin dan kontaminasi

lainnya yang dapat meracuni manusia.”26

Dengan makan makanan yang halal, umat

Allah menunjukkan rasa syukur mereka ka-

rena ditebus dari kerusakan, dari dunia yang

kotor yang ada  di sekelilingnya (Im.

20:24-26; Ul. 14:2). Allah tidak menginginkan

kita memasukkan makanan yang haram ke

dalam bait suci tubuh yang menjadi tempat

kediaman Roh Allah.

Perjanjian Baru pun tidak menghapuskan

adanya perbedaan antara makanan yang ha-

lal dan yang haram, yang terdiri dari daging.

Banyak orang yang percaya bahwa sebab 

undang-undang makanan ini disebutkan da-

lam buku Imamat maka peraturan itu berla-

ku hanya sebagai hukum keupacaraan atau

ritual belaka, sebab  itu dianggap tidak lagi

berlaku bagi orang Kristen. Haruslah dimak-

lumi bahwa pembedaan antara binatang yang

halal dan binatang yang haram haruslah dili-

hat kembali ke zaman Nuh—lama sebelum

bangsa Israel ada. Sebagai asas kesehatan,

peraturan mengenai makanan ini terus

 

ber-

langsung sebagai suatu kewajiban.27

3. Keteraturan, kesederhanaan dan

keseimbangan. Pembaharuan dalam hal

makanan secara berhasil maju terus dan ha-

ruslah dicapai secara cerdas. Sebaiknya kita

belajar menghilangkan atau penggunaan se-

cara sederhana saja makanan yang mengan-

dung banyak lemak atau mengandung ba-

nyak gula.

Selanjutnya, kita haruslah menyediakan

makanan yang kita makan dalam keseder-

hanaan dan kalau dapat sealamiah-alamiah-

nya, dan untuk memperoleh manfaat yang

optimum, hendaknya dengan teratur berselang-

seling. Makanan yang agak rumit, yang me-

rangsang sangat tidak menyehatkan tubuh.

Banyak bumbu dan rempah mengganggu

pencernaan,28 dan kalau digunakan umumnya

akan menimbulkan pelbagai gangguan kese-

hatan.29

Berkat Pakaian Kristiani. Allah menyedia-

kan pakaian yang pertama digunakan leluhur

kita Adam dan Hawa dan mengetahui bahwa

kita memerlukan pakaian yang pantas kita

gunakan untuk masa sekarang ini (Mat. 6:25-

33). Pilihan kita harus didasarkan atas asas

kesederhanaan, sopan, praktis, sehat dan me-

narik.

1. Sederhana. Sebagaimana juga dalam

segala aspek kehidupan kita, panggilan kepa-

da orang Kristen atas kesederhanaan berka-

itan juga dengan bagaimana cara kita berpa-

kaian. “Panggilan bagi orang Kristen ialah

bersaksi dalam kesederhanaan.

“Cara kita berpakaian menunjukkan ke-

pada dunia siapa dan bagaimana kita—bukan

menurut apa yang diturunkan pada zaman

Victoria, melainkan merupakan satu ungkapan

kasih kita kepada Yesus.”30

2. Tentang kebajikan moral yang ting-

gi. Orang-orang Kristen hendaknya jangan

menodai keindahan tabiat mereka dengan

gaya dan model berpakaian yang menim-

bulkan “keinginan daging dan keinginan ma-

ta” (1 Yoh. 2:16). sebab  mereka perlu ber-

saksi kepada orang lain maka mereka perlu

Tingkah Laku  Orang Kristen 325

mengenakan pakaian yang sopan, tidak

menggunakan bagian-bagian tubuh untuk

merangsang keinginan seksual. Kesopanan

memajukan kesehatan moral. Tujuan orang

Kristen ialah memuliakan Allah, bukan diri

sendiri.

3. Praktis dan hemat. sebab  mereka

yaitu  penatalayan-penatalayan atas uang

yang dipercayakan Tuhan kepada mereka,

maka mereka sebagai orang Kristen harus

hemat, “jangan memakai emas atau mutiara

ataupun pakaian yang mahal-mahal” (1 Tim.

2:9). Bagaimanapun, berhemat bukanlah ber-

arti membeli pakaian yang paling murah. Se-

ringkali pakaian yang mahal lebih hemat un-

tuk jangka panjang.

4. Menyehatkan. Bukan hanya makanan

yang mempengaruhi kesehatan seseorang.

Orang Kristen hendaknya menjauhi gaya

berpakaian yang kurang mampu melindungi

tubuh atau sangat ketat yang berakibat kese-

hatan merosot.

5. Bercirikan anugerah dan keindah-

an yang alamiah. Orang Kristen memahami

amaran melawan “keangkuhan hidup” (1

Yoh. 2:16). Dengan membandingkan bunga

bakung, Kristus berkata, “Salomo dalam se-

gala kemegahannya pun tidak berpakaian

seindah salah satu dari bunga itu” (Mat.

6:29). Dengan demikianlah Ia menggambarkan

bahwa pandangan Surga atas keindahan di-

tandai oleh anugerah, kesederhanaan, kemur-

nian, dan keindahan yang alamiah. Pameran

yang bersifat duniawi, sebagaimana diperlihat-

kan dalam bentuk-bentuk yang fana, tidak

ada harganya di pemandangan Allah (1 Tim.

2:9).

Orang-orang Kristen menarik orang-

orang yang tidak percaya bukanlah dengan

rupa dan penampilan seperti yang diperli-

hatkan dunia melainkan dengan memper-

lihatkan sesuatu yang berbeda namun  me-

narik dan menyegarkan. Petrus mengatakan

pasangan yang tidak seiman”tanpa perkataan

dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika me-

reka melihat, bagaimana murni dan salehnya

hidup istri mereka itu.” Daripada memuji

yang bersifat lahiriah, ia menasihatkan supa-

ya orang beriman mengembangkan “manusia

batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan

yang tidak binasa yang berasal dari roh yang

le-mah-lembut dan tenteram, yang sangat

ber-harga di mata Allah”(1 Ptr. 3:1-4). Kitab

Suci mengajarkan bahwa:

a. Tabiat menunjukkan keindahan se-

seorang. Baik Petrus maupun Paulus mele-

takkan asas dasar untuk membimbing orang

Kristen, baik lelaki maupun perempuan, da-

lam bidang perhiasan: “Perhiasanmu janganlah

secara lahiriah... memakai perhiasan emas

atau dengan menggunakan pakaian yang in-

dah-indah” (1 Ptr. 3:3). “Demikian juga hen-

daknya perempuan. Hendaklah ia berdan-

dan dengan pantas, dengan sopan dan se-

derhana, rambutnya jangan berkepang-ke-

pang, jangan memakai emas atau mutiara

ataupun pakaian yang mahal-mahal, namun 

hendaklah ia berdandan dengan perbuatan

baik, seperti yang layak bagi perempuan yang

beribadah” (1 Tim. 2:9, 10).

b. Penyelarasan kesederhanaan de-

ngan reformasi dan pembaruan kembali.

jika  Yakub memanggil semua anggota

keluarganya untuk menahbiskan diri mereka

kepada Allah mereka meninggalkan semua

“dewa asing yang dipunyai mereka dan an-

ting-anting yang ada pada telinga mereka,”

dan Yakub memendamnya (Kej. 35:2, 4).31

Setelah kemurtadan bangsa Israel dengan

membuat lembu emas, Allah menyuruh me-

reka, “Tanggalkanlah perhiasanmu, maka

326                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan

kepadamu.” Dengan hati yang bertobat me-

reka “tidak memakai perhiasan-perhiasan la-

gi” (Kel. 33:5, 6). Dengan jelas Paulus me-

nyebutkan bahwa Kitab Suci mencatat ke-

murtadan ini “sebagai contoh dan dituliskan

untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup

pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba”

(1 Kor. 10:11).

c. Penatalayanan yang baik menuntut

hidup berkorban. Sementara sebagian be-

sar dunia ini dilanda kekurangan makanan,

materialisme dibentangkan di hadapan o-

rang-orang Kristen sebagai penggodaan, mu-

lai dari pakaian yang mewah, mobil dan per-

mata hingga kepada rumah yang mewah-me-

wah. Kesederhanaan gaya hidup dan penam-

pilan membuat orang Kristen membuat per-

bedaan yang sangat nyata terhadap ketamak-

an, materialisme dan pamer kehambaran ke-

kafiran, masyarakat abad keduapuluh, di ma-

na nilai dipusatkan pada perkara-perkara ma-

teri bukannya pada manusia.

Dengan memperhatikan ajaran-ajaran

Kitab Suci dan berlandaskan pada asas-asas

yang telah dibentangkan di atas, kita percaya

bahwa orang-orang Kristen tidak berusaha

memuliakan diri melalui perhiasan-perhiasan.

Kita mengetahui dan memahami bahwa pe-

makaian cincin, anting-anting, kalung, ikat

pinggang dan hiasan dasi—dan segala bentuk

lain dari bahan permata yang pada hakikat-

nya berfungsi pamer—tidak perlu dan tidak

selaras dengan kesederhanaan yang dianjur-

kan Kitab Suci.32

Alkitab menyamakan kosmetik dengan

kekafiran dan kemurtadan (2 Raj. 9:30; Yer.

4:30). Sehubungan dengan kosmetik, kita

percaya bahwa orang Kristen seharusnya

mengusahakan agar yang alamiah dan de-

ngan penampilan yang wajar dan sehat. Jika

kita meninggikan Juruselamat dalam cara ki-

ta berbicara, bertindak dan berpakaian, maka

kita akan menjadi seperti maknit,. menarik

orang kepada-Nya.33

PRINSIP-PRINSIP STANDAR

ORANG KRISTEN

Di dalam segala pernyataan, gaya hidup

orang Kristen yaitu  merupakan sambutan

atas keselamatan melalui Kristus. Kerinduan

orang Kristen ialah memuliakan Tuhan dan

hidup sebagaimana Yesus hidup. Sekalipun

ada orang beranggapan kehidupan Kristen itu

merupakan sejumlah jangan, kita seharusnya

menganggapnya sebagai sejumlah kegiatan

asas positif di dalam kerangka keselamatan.

Yesus menekankan bahwa Ia datang supaya

kita memperoleh hidup dan berkelimpahan di

dalamnya. Apakah prinsip-prinsip yang me-

nuntun kita supaya memperoleh hidup yang

penuh? jika  Roh Kudus menempati hidup

seseorang, sesuatu perubahan yang pasti ter-

jadi yang menjadi bukti bagi orang yang ada di

sekitar orang tersebut (Yoh. 3:8). Roh tidak

hanya mengadakan sebuah perubahan awal

dalam hidup; efeknya berkelanjutan. Buah

Roh yaitu  kasih (Gal. 5:22, 23). Alasan yang

paling kuat bagi keabsahan Kristiani ialah

kasih dan kemampuan mengasihi selaku

orang Kristen.

Hidup dengan Pikiran Kristus. “Hendak-

lah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh

pikiran dan perasaan yang ada  juga da-

lam Kristus Yesus” (Flp. 2:5). Dalam segala

keadaan, yang menyenangkan maupun tidak,

kita harus berusaha memahami dan hidup

selaras dengan kemauan dan pikiran Kristus

(1 Kor. 2:16).

Ellen White menjelaskan keindahan hidup

akibat hubungan dengan Kristus seperti ini:

“Semua penurutan yang sejati berasal dari

dalam hati. Hatilah yang bekerja dengan

Tingkah Laku  Orang Kristen 327

Kristus. Jika kita setuju, maka Ia akan me-

nyelaraskan diri-Nya sendiri dengan pikiran

dan tujuan kita, sehingga dengan demikian Ia

akan membaurkan hati dan pikiran kita se-

laras dengan kehendak-Nya, dan jika  kita

menuruti-Nya maka segala dorongan hati ki-

ta akan selaras dengan-Nya. Kemauan, yang

dimurnikan dan disucikan, akan merasakan

nikmatnya melakukan tugas untuk melaya-

ni-Nya. jika  kita mengenal Allah seba-

gai sesuatu hal yang istimewa bagi kita untuk

mengenal-Nya, maka hidup kita akan terus

dalam penurutan. Oleh menghargai tabiat

Kristus, oleh perhubungan dengan Allah, ma-

ka dosa menjadi kebencian bagi kita.”34

Hidup untuk Memuji dan Memuliakan

Allah. Allah telah melakukan begitu banyak

hal untuk kita. Salah satu cara yang dapat kita

tempuh untuk menunjukkan rasa terima kasih

kita ialah dengan melalui pujian yang kita

berikan kepada-Nya.

Dalam kitab Mazmur aspek kehidupan ro-

hani ini ditekankan dengan kuat: “Demikianlah

aku memandang kepada-Mu di tempat ku-

dus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemu-

liaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik

daripada hidup; bibirku akan memegahkan

Engkau seumur hidupku dan menaikkan ta-

nganku demi nama-Mu. Seperti dengan le-

mak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan

bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-

muji” (Mzm. 63:3-6).

Bagi orang Kristen, sikap memuji yang

demikian akan membuat masalah-masalah

hidup lainnya dalam perspektif yang wajar.

Dengan memandang pada Juruselamat ter-

salib itu, kita digerakkan untuk melakukan

hanya “menuruti segala perintah-Nya dan

berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (1

Yoh. 3:22; bandingkan Ef. 5:10). Maka o-

rang-orang Kristen “tidak lagi hidup untuk

dirinya sendiri, namun  untuk Dia yang telah

mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2

Kor. 5:15). Setiap orang Kristen yang sejati

mendahulukan Tuhan dalam segala perbuat-

annya, dalam segala apa yang dipikirkannya,

dibicarakannya, dan dalam segala keinginan-

nya. Ia tidak mempunyai Allah lain di hadap-

an Penebusnya. (1 Kor. 10:31).

Hidup Menjadi Suatu Teladan. Paulus

berkata, “janganlah menimbulkan syak” ke-

pada siapa pun (1 Kor. 10:32). “Sebab itu aku

senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati

nurani yang murni di hadapan Allah dan ma-

nusia” (Kis. 24:16). Jika contoh yang kita be-

rikan membuat orang berdosa, maka kita

menjadi batu sandungan kepada orang-orang

yang untuknya Kristus telah mati. “Barang-

siapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam

Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah

hidup” (1 Yoh. 2:6).

Hidup untuk Melayani. Alasan utama

orang Kristen hidup demikian ialah untuk me-

nyelamatkan pria maupun wanita yang telah

hilang. Paulus berkata, “Sama seperti aku ju-

ga berusaha menyenangkan hati semua

orang dalam segala hal, bukan untuk kepen-

tingan diriku, namun  untuk kepentingan orang

banyak, supaya mereka beroleh selamat” (1

Kor. 10:33; bandingkan Mat. 20:28).

PERSYARATAN DAN PEDOMAN

sebab  dampak gaya hidup seseorang

berpengaruh atas pengalaman rohani dan ke-

saksiannya, sebagai sebuah organisasi gereja

kita telah membuat satu standar gaya hidup

tertentu sebagai persyaratan minimum untuk

menjadi anggota. Standar atau ukuran ini

mencakup upaya menjauhi tembakau, minum-

an beralkohol, obat-obatan yang mempenga-

ruhi pikiran, serta makanan haram dan bukti

pengalaman Kristen yang bertumbuh dalam

328                 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

hal berpakaian, dan penggunaan waktu terlu-

ang. Standar minimal ini belumlah meliputi

seluruh yang dicita-citakan Allah bagi umat

percaya. Di dalamnya ada  hanyalah

langkah pertama untuk pengembangan, pe-

ngalaman Kristiani yang bercahaya. Ukuran

yang demikian juga menyiapkan landasan

penting untuk menciptakan persatuan di da-

lam masyarakat umat percaya.

Perkembangan tingkah laku orang Kris-

ten—“menjadi serupa dengan Allah”—ber-

kaitan dengan persatuan seumur hidup de-

ngan Kristus. Hidup yang kudus tidak lain da-

ripada penyerahan kemauan dari hari ke hari

terhadap pengendalian Kristus dan kesela-

rasan hari demi hari atas pengajaran-penga-

jaran-Nya sebagaimana diungkapkan-Nya

kepada kita waktu belajar Alkitab dan ber-

doa. sebab  kita matang pada tingkat yang

berbeda, maka pentinglah bagi kita menahan

diri agar jangan menghakimi saudara-sauda-

ra kita yang lemah (Rm. 14:1; 15:1).

Tujuan persatuan orang Kristen dengan

Juruselamat hanyalah satu: agar mereka me-

lakukan yang terbaik untuk memuliakan Ba-

pa yang di surga, yang telah menyediakan

rencana yang begitu kaya demi keselamatan

mereka. “Jika engkau makan atau jika eng-

kau minum atau jika engkau melakukan se-

suatu yang lain, lakukanlah semuanya itu un-

tuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31).





Doktrin Mengenai Akhir Zaman

Pernikahan dilembagakan Ilahi di Eden dan dikukuhkan oleh Yesus

menjadi persatuan seumur hidup antara perempuan dengan laki-laki

dalam persekutuan kasih-sayang. Bagi orang Kristen, janji perni-

kahan itu yaitu  kepada Allah sebagaimana berlaku bagi pasangan

itu sendiri, dan seharusnya dilakukan oleh pasangan yang seiman

saja. Cinta kasih yang timbal-balik, penghormatan, penghargaan

dan tanggung jawab yaitu  hasil dari hubungan ini, yang me-

mantulkan kasih, yang menguduskan, mengakrabkan dan meru-

pakan hubungan yang permanen antara Kristus dan jemaat-Nya.

Sehubungan dengan soal perceraian, Yesus mengajarkan bahwa se-

seorang yang menceraikan pasangannya, kecuali sebab  perzinahan,

lalu kawin dengan orang lain, berarti melakukan perzinahan. Wa-

laupun banyak hubungan keluarga yang tidak serasi, pasangan yang

mengikatkan diri dalam pernikahan, yang telah menyerahkan diri

sepenuhnya satu dengan yang lain di dalam Kristus dapat meng-

usahakan kesatuan cinta kasih melalui bimbingan Roh dan peme-

liharaan jemaat. Allah memberkati keluarga dan bermaksud agar

setiap anggota keluarga saling membantu satu sama lain hingga

mencapai kematangan yang sempurna. Orang tua hendaknya mem-

besarkan anak-anak mereka dalam kasih dan penurutan kepada

Allah. Melalui contoh dan perkataan, mereka mengajarkan kepada

anak-anaknya bahwa Kristus penuh dengan disiplin kasih, penuh

kasih sayang dan perhatian, yang menginginkan mereka supaya

menjadi anggota tubuh-Nya, keluarga Allah. Keluarga yang semakin

erat hubungannya merupakan salah satu tanda pekabaran Injil yang

terakhir

Rumah tangga yaitu  tempat yang mula-

mula dibentuk untuk memulihkan kem-

bali citra Allah pada pria dan wanita. Di da-

lam keluarga, ayah, ibu dan anak-anak dapat

menyatakan diri mereka sepenuhnya, saling

mengisi keperluan sesama atas rasa memiliki,

cinta dan keakraban. Di sinilah jati diri diba-

ngun dan perasaan yang berharga sebagai

satu pribadi dikembangkan. Rumah juga tem-

pat di mana, dengan anugerah Allah, prinsip-

prinsip Kekristenan dipraktikkan, dan nilai-ni-

lai yang terkandung di dalamnya diteruskan

dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Keluarga dapat menjadi tempat kebaha-

giaan yang besar. namun  juga dapat menjadi

tempat yang amat menyakitkan. Hidup kelu-

arga yang harmonis menunjukkan asas-asas

hidup Kekristenan sejati, menunjukkan tabiat

Allah. Sayangnya, pernyataan tabiat seperti

ini sekarang jarang di rumah tangga modern.

Sebaliknya, banyak keluarga yang memperli-

hatkan pikiran dan maksud-maksud hati ma-

nusia yang hanya mementingkan diri sendi-

ri—pertengkaran, pemberontakan, persaing-

an, murka, menunjukkan perbuatan yang ti-

dak senonoh, bahkan kekejaman. Sesungguh-

nya tabiat seperti ini bukanlah merupakan ba-

gian dari rencana Tuhan yang semula. Yesus

berkata, “Sejak semula tidaklah demikian”

(Mat. 19:8).

DARI PERMULAAN

Sabat dan pernikahan merupakan dua

pemberian Tuhan yang semula bagi umat

manusia. Kedua-duanya dimaksudkan untuk

mendatangkan kegembiraan dan kesenangan

serta rasa memiliki tanpa memandang waktu,

tempat dan kebudayaan. Pembentukan ke-

dua lembaga ini merupakan puncak penciptaan

Allah atas bumi ini. Lembaga-lembaga itu

merupakan pemberian-Nya yang paling

akhir, pemberian yang luar biasa baiknya

diberikan kepada manusia pada waktu Pen-

ciptaan. Dengan mengadakan Sabat itu, Al-

lah memberikan kepada manusia waktu un-

tuk beristirahat dan pembaruan, waktu berse-

kutu dengan-Nya. Dengan membentuk kelu-

arga leluhur yang pertama itu, Ia menegakkan

dasar kesatuan sosial bagi umat manusia,



 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

memberikan kepada mereka sebuah rasa

memiliki dan menyediakan untuk mereka

suatu kesempatan untuk bertumbuh dengan

baik dalam pribadi-pribadi untuk melayani

Allah dan sesama.

Laki-laki dan Perempuan Menurut Citra

Allah. Kejadian 1:26, 27 menggambarkan

penciptaan Tuhan atas manusia yang meng-

huni bumi: “Baiklah Kita menjadikan manusia

menurut gambar dan rupa Kita.... Maka Al-

lah menciptakan manusia itu menurut gam-

bar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-

Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-

Nya mereka.” Istilah manusia yang diguna-

kan di sini (baik di dalam bahasa Ibrani mau-

pun bahasa Inggris), menurut pengertian

umum, lebih kurang 500 kali di dalam Perjan-

jian Lama. Istilah ini mencakup pengertian

laki-laki dan perempuan. Ayat tersebut men-

jelaskan dengan nyata bahwa itu bukanlah

kasus di mana laki-laki yang dijadikan menu-

rut gambar Allah sedang  perempuan me-

nurut gambar manusia.1 Justru sebaliknya,

keduanya dijadikan menurut gambar Allah.

Sama seperti Bapa, Anak dan Roh Kudus

yaitu  Tuhan, laki-laki dan perempuan sama-

sama “manusia.” Seperti halnya, walaupun

Mereka menjadi satu, namun  fungsi mereka

tidaklah sama. Mereka sama dalam wujud,

sama-sama berharga, namun  tidak dalam pri-

badi yang serupa betul (bandingkan Yoh.

10:30; 1 Kor. 11:3). Jasmani mereka saling

melengkapi, fungsinya pun bekerja sama.

Kedua jenis itu baik adanya (Kej. 1:31),

begitu pula dalam peran mereka yang berbe-

da. Keluarga dan rumah tangga dibangun

atas kenyataan jenis kelamin yang berbeda.

Sebenarnya Tuhan dapat mengembang biak-

kan hidup di atas dunia ini tanpa menciptakan

laki-laki dan perempuan sebagaimana ditunjuk-

kan dalam beberapa jenis binatang yang ber-

kembangbiak bukan dengan cara seks. Akan

namun  Tuhan menjadikan dua individu, ada

kesamaan secara umum dan juga dalam ka-

rakter, namun masing-masing ada sesuatu

yang kurang sehingga dapat saling meleng-

kapi.2 Sebuah dunia yang dibentuk khusus

untuk anggota satu jenis kelamin tertentu saja

tidaklah lengkap. Kelengkapan yang sesung-

guhnya dapat diperoleh hanyalah dalam

masyarakat yang memiliki jenis laki-laki dan

perempuan. Tentang kesamaan, janganlah

dipermasalahkan di sini, sebab  kedua-dua-

nya amat penting.

Pada hari pertama dalam hidup Adam,

anak sulung yang kemudian menjadi kepala

umat manusia,3 merasakan keunikannya—

tidak ada yang mirip dengan dia. “namun  bagi-

nya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang

sepadan dengan dia” (Kej. 2:20). Adam sa-

ngat peka atas kekurangannya ini, sehingga

Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu

seorang diri saja. Aku akan menjadikan pe-

nolong baginya, yang sepadan dengan dia”

(Kej. 2:18).

Kata Ibrani neged, yang diterjemahkan

“sepadan” di sini, yaitu  kata benda yang

berhubungan dengan preposisi yang mengan-

dung arti “sebelum, di depan, berhadapan,

berhubungan dengan” seseorang atau sesua-

tu. Dalam kasus ini orang yang berdiri di de-

pan Adam yaitu  pelengkap baginya, dihu-

bungkan dengan dia sebagai pasangan bagi-

nya. Oleh sebab  itu, Allah “membuat manu-

sia itu tidur nyenyak,” dan kemudian “meng-

ambil salah satu rusuk dari padanya” (Kej.

2:21), membentuknya menjadi pasangan ba-

ginya.4

Waktu terbangun, segera Adam mengeta-

hui hubungan yang akrab dan begitu dekat

sehingga tindakan yang spesifik ini mungkin

terjadi sebagai makhluk yang diciptakan. Itu-

lah sebabnya ia berkata, “Inilah dia, tulang da-

ri tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan

dinamai perempuan, sebab ia diambil dari

Pernikahan dan Keluarga 337

laki-laki” (Kej. 2:23; bandingkan 1 Kor. 11:8).

Pernikahan. Dari perbedaan antara laki-laki

dan perempuan itu Tuhan membuat aturan,

kesatuan. Pada hari Jumat pertama Ia meng-

adakan upacara pernikahan yang pertama,

menyatukan keduanya, sebagai lambang ci-

tra-Nya, untuk membuat mereka menjadi

satu. Dan pernikahan telah menjadi fondasi

keluarga, fondasi masyarakat sendiri, sejak

itu.

Kitab Suci melukiskan pernikahan sebagai

suatu tindakan yang bersifat menentukan, ba-

ik memisahkan dan menyatukan: sebab  se-

orang akan “meninggalkan ayahnya dan ibu-

nya dan bersatu dengan istrinya, sehingga ke-

duanya menjadi satu daging” (Kej. 2:24).

1. Meninggalkan. Yang amat penting

dalam hubungan pernikahan itu ialah mening-

galkan hubungan pertama yang dahulu. Hu-

bungan pernikahan menggantikan hubungan

dengan orang tua dan anak. Ini berarti “me-

ninggalkan” hubungan salah seorang dari ke-

luarga orang tuanya dan kemudian diizinkan

“bertaut” dengan seorang yang lain. Tanpa

adanya proses ini, maka fondasi yang kukuh

dari perkawinan itu tidak akan ada.

2. Bertaut. Istilah Ibrani menerjemahkan

“bertaut” itu dari pengertian kata yang berarti

“berteguh, mengencangkan, menggabungkan,

berpegang pada.” Sebagai kata benda itu da-

pat digunakan untuk pandai besi dengan

penempa logam (Yes. 41:7). Erat dan kuat-

nya ikatan ini menggambarkan sifat ikatan

perkawinan itu. Segala usaha yang hendak

merusak persatuan ini akan melukai ikatan

individu. Eratnya ikatan kedua orang ini juga

ditekankan oleh kenyataan bahwa kata kerja

yang sama digunakan untuk menggambarkan

ikatan antara Allah dengan umat-Nya: “Eng-

kau harus takut akan Tuhan, Allahmu, kepa-

da-Nya haruslah engkau beribadah dan ber-

paut, dan demi nama-Nya haruslah engkau

bersumpah” (Ul. 10:20).

3. Perjanjian. Di dalam Kitab Suci janji

ini, yang diberikan oleh pasangan yang meng-

ikatkan diri dalam pernikahan dikatakan se-

bagai sebuah “perjanjian,” istilah yang digu-

nakan bagi perjanjian yang kudus dan sangat

mengikat yang dikenal dalam Firman Allah

(Mal. 2:14; Ams. 2:16,17). Hubungan antara

suami dan istri haruslah menurut pola perjan-

jian Allah yang kekal dengan umat-Nya, je-

maat (Ef. 5:21-33). Janji antara mereka ber-

dua haruslah berlangsung di dalam kesetiaan

dan ketahanan yang menandai perjanjian

Allah (Mzm. 89:35; Rat. 3:23).

Allah dan keluarga pasangan itu, sahabat

dan masyarakat menyaksikan perjanjian,

yang mereka adakan satu dengan yang lain.

Perjanjian ini disahkan di surga. “sebab  itu,

apa yang telah dipersatukan Allah, tidak bo-

leh diceraikan manusia” (Mat. 19:6). Pa-

sangan orang Kristen memahami bahwa da-

lam pernikahan, mereka telah berjanji menja-

di setia satu dengan yang lain selama hidup

mereka berdua.5

4. Menjadi sedaging. Meninggalkan

dan perjanjian untuk bertaut mengakibatkan

persatuan yaitu  sebuah misteri. Inilah yang

dimaksudkan dengan kesatuan dalam penger-

tian yang sepenuhnya—pasangan yang me-

nikah itu berjalan bersama-sama, berdiri ber-

sama-sama dan membagikan keakraban

yang mendalam secara bersama-sama. Per-

mulaan kesatuan ini ditunjukkan pada persa-

tuan jasmani dalam perkawinan itu. Akan

namun  selain itu, ditujukan kepada kita ikatan

pikiran dan emosi yang akrab yang meliputi

segi fisik dari hubungan ini.

a. Berjalan bersama-sama. Mengenai

338 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

hubungan-Nya dengan umat-Nya, Allah ber-

tanya, “Berjalankah dua orang bersama-sa-

ma, jika mereka belum berjanji?”(Am. 3:3).

Pertanyaan yang serupa juga dapat diajukan

kepada orang yang akan menjadi sedaging.

Tuhan mengatakan kepada orang-orang Is-

rael supaya jangan kawin campur dengan

bangsa-bangsa di sekelilingnya, “sebab me-

reka akan membuat anakmu laki-laki me-

nyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka

beribadah kepada allah lain” (Ul. 7:4; ban-

dingkan Yos. 23:11-13). jika  orang Israel

meremehkan perintah ini, maka mereka

mengalami akibat yang mengerikan (Hak.

14-16; 1 Raj. 11:1-10; Ezr. 9:10).

Paulus mengulangi prinsip ini dalam istilah

yang lebih luas: “Janganlah kamu merupa-

kan pasangan yang tidak seimbang dengan

orang-orang yang tak percaya. Sebab persa-

maan apakah ada  antara kebenaran dan

kedurhakaan? atau bagaimanakah terang da-

pat bersatu dengan gelap? Persamaan apa-

kah yang ada  antara Kristus dan Belial?

Apakah bagian bersama orang-orang percaya

dengan orang-orang tak percaya? Apakah

hubungan bait Allah dengan berhala? sebab 

kita yaitu  bait dari Allah yang hidup menurut

firman Allah” (2 Kor. 6:14-16; bandingkan

ayat 17, 18).

Dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa

hendaknya orang yang beriman menikah de-

ngan orang lain yang seiman. Bahkan prinsip

ini diperluasnya. Tuntutan kesatuan yang se-

jati ialah adanya kesepakatan dalam iman dan

perbuatan. Perbedaan agama akan membawa

perbedaan dalam gaya hidup yang dapat me-

nyebabkan ketegangan yang mendalam serta

perpecahan dalam perkawinan. Untuk men-

capai kesatuan sebagaimana yang dibicarakan

dalam Kitab Suci, hendaknya menikah de-

ngan orang yang seiman.6

b. Berdiri bersama-sama. Untuk menjadi

sedaging, dua insan itu haruslah setia dengan

sungguh-sungguh satu sama lain. jika  se-

orang menikah, risiko apa pun dalam per-

nikahan itu harus ditanggung dan diterima

masing-masing. Orang-orang yang menikah

menyatakan kesediaannya menerima pasang-

annya, siap berdiri bersama-sama untuk

menghadapi apa pun. Pernikahan mewajibkan

keaktifan, mengejar kasih sayang yang tidak

kenal menyerah.

“Dua pribadi saling membagi apa yang

ada pada mereka, bukan hanya tubuh me-

reka, bukan hanya harta milik mereka, namun 

juga pikiran dan perasaan mereka, kegembira-

an dan derita mereka, pengharapan dan rasa

takut mereka, begitu pula dengan sukses dan

kegagalan mereka. ‘Untuk menjadi sedaging’

berarti kedua pribadi itu menjadi satu tubuh

secara lengkap, satu jiwa dan roh, namun de-

mikian tetap dua pribadi yang berbeda.”7

c. Keintiman. Menjadi sedaging berarti

berkaitan dengan persatuan secara seksual:

“Kemudian manusia itu bersetubuh dengan

Hawa, istrinya, dan mengandunglah perem-

puan itu” (Kej. 4:1). Di dalam dorongan me-

reka untuk bergabung bersama-sama, se-

buah dorongan yang dirasakan laki-laki mau-

pun perempuan sejak zaman Adam dan Ha-

wa, setiap pasangan mengulangi kembali ki-

sah kasih yang pertama itu. Perbuatan yang

intim secara seksual yaitu  hal yang paling

dekat kepada persatuan jasmani, yang mung-

kin mereka lakukan; hal itu merupakan gam-

baran eratnya pasangan itu, yang dapat me-

reka ketahui baik secara emosi maupun seca-

ra rohani. Kasih sayang yang ada  dalam

keluarga Kristen yang sudah menikah harus-

lah ditandai dengan kehangatan, kegembiraan

dan kesukaan (Ams. 5:18, 19).

“Hendaklah kamu semua penuh hormat

terhadap perkawinan dan janganlah kamu

mencemarkan tempat tidur” (Ibr. 13:4). “Al-

Pernikahan dan Keluarga 339

kitab menerangkan dengan jelas kepada kita

bahwa pernyataan kasih secara seksual an-

tara suami dan istri yaitu  rencana Tuhan.

Maka sebagaimana dikatakan oleh penulis

Ibrani, yang menekankan janganlah mence-

markan, jangan dengan penuh dosa, jangan

dikotori. Perkawinan itu merupakan tempat

yang patut dihormati dengan sangat—yang

kudus atau kekudusan di mana suami dan istri

bertemu secara pribadi untuk merayakan cin-

ta kasih mereka satu sama yang lain. Itulah

saat yang kudus bagi kedua-duanya, yang da-

pat dihayati secara mendalam dan menye-

nangkan.

5. Cinta kasih yang Alkitabiah. Cinta

kasih dalam hubungan suami-istri tidaklah

bersyarat, penuh dengan kasih sayang dan

saling memperhatikan, pengabdian yang in-

tim dari masing-masing individu yang men-

dorong perkembangan timbal balik dalam

gambar Allah dalam segala aspek pribadi: se-

cara jasmani, emosi, intelektual dan spiritual.

Bentuk-bentuk yang lain dari kasih itu, ialah

kasih yang berlangsung dalam perkawinan; di

dalamnya ada  romantika, waktu untuk

menunjukkan kasih sayang, luapan perasaan,

waktu yang nyaman, di dalamnya ada 

suasana persahabatan dan waktu merasa sa-

ling memiliki. Akan namun  kasih agape yang

dilukiskan dalam Perjanjian Baru—tidak me-

mentingkan diri, segalanya untuk mengasihi

orang lain —yang berisi fondasi yang benar,

cinta kasih antara suami-istri.

Yesus menyatakan bentuk tertinggi jenis

kasih ini ketika menerima baik yang bersalah

maupun konsekuensi atas dosa kita, Ia mem-

bawanya ke salib. “Demikianlah sekarang Ia

mengasihi mereka sampai kepada kesudahan-

nya” (Yoh. 13:1). Ia mengasihi kita sampai

kesudahan, dosa-dosa kita ditanggung-Nya.

Inilah yang dimaksud dengan kasih agape

yang tidak bersyarat yang dimiliki Kristus

Yesus.

Untuk melukiskan kasih ini, Paulus ber-

kata: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia

tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan

tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak

sopan dan tidak mencari keuntungan diri sen-

diri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan

kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita ka-

rena ketidakadilan, namun  sebab  kebenaran.

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala

sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sa-

bar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak

berkesudahan” (1 Kor. 13:4-8).

Berbicara mengenai ayat-ayat ini, Ed

Wheat menulis sebagai berikut: “Cinta agape

bersumbu pada sumber kuasa abadi dan akan

tetap bekerja saat jenis cinta yang lain bu-

yar.... Cinta itu tetap cinta, tidak menjadi soal

apa pun yang terjadi. Tidak menjadi soal beta-

pa tidak menaruh cinta pun yang lain, cinta

agape mengalir terus. Agape tidak bersyarat,

cinta Allah kepada kita. Itu sebuah sikap

mental yang berdasarkan pemilihan yang be-

bas dari kemauan.”9

6. Tanggung jawab spiritual yang

bersifat individu. Walaupun pasangan yang

sudah menikah itu membuat janji saling mem-

perhatikan satu sama lain, secara individu

mereka harus memikul tanggung jawab ma-

sing-masing atas pilihan yang mereka laku-

kan (2 Kor. 5:10). Dengan memikul tanggung

jawab masing-masing, itu berarti mereka ti-

dak akan pernah saling menyalahkan atas

apa yang telah mereka lakukan. Mereka ha-

rus menerima juga tanggung jawab atas per-

tumbuhan kerohanian mereka sendiri; tidak

seorang pun yang dapat mempercayakan ke-

kuatan rohaninya kepada orang lain. Namun,

sebaliknya, setiap hubungan seseorang de-

340 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

ngan Allah dapat bekerja sebagai suatu sum-

ber kekuatan dan mendorong orang lain.

EFEK KEJATUHAN ATAS

PERNIKAHAN

Rusaknya pemantulan manusia akan

gambar Allah yang disebabkan dosa, berpe-

ngaruh pada pernikahan sebagaimana juga

pada bidang lain dari bagian pengalaman

manusia. Sikap mementingkan diri sendiri

mulai menyusup ke tempat yang tadinya di-

kuasai cinta kasih yang sempurna dan me-

nyatu. Sifat mementingkan diri sendiri meru-

pakan penggerak utama bagi orang yang ti-

dak menerima dorongan kasih Kristus. Me-

nentang semua asas penyerahan diri, sikap

mau melayani dan memberi yang dinyatakan

Injil, itulah hal yang umum yang menjadi ke-

jatuhan orang Kristen.

sebab  pendurhakaan Adam dan Hawa

membuat mereka bertentangan dengan tuju-

an penciptaan mereka. Sebelum mereka ja-

tuh ke dalam dosa, mereka hidup sepenuhnya

terbuka di hadapan Allah. Sesudah kejatuhan,

gantinya datang dengan penuh kesukaan ke-

pada-Nya, mereka justru bersembunyi de-

ngan penuh rasa takut dari hadapan-Nya,

mencoba berusaha menyembunyikan kebe-

naran tentang diri mereka sendiri serta me-

nyangkal tanggung jawab mereka atas apa

yang telah mereka lakukan. Hati yang dire-

sapi dengan perasaan bersalah yang menda-

lam, yang tidak dapat dilenyapkan oleh pikir-

an mereka sendiri, tidak dapat memandang

wajah Allah dan bertemu dengan malaikat

yang kudus. Sejak itu dalih dan sikap me-

nyangkal yang membenarkan diri sendiri ini

telah menjadi pola umum hubungan manusia

dengan Allah.

Rasa takut yang mendorong mereka un-

tuk menyembunyikan diri bukan hanya meru-

sak hubungan Adam dan Hawa terhadap

Allah namun  juga terhadap satu sama lain.

Tatkala Allah bertanya kepada mereka, ma-

sing-masing mereka hendak membela diri

mereka sendiri, dengan menimpakan kepada

orang lain. Tuduhan-tuduhan mereka mem-

berikan bukti betapa seriusnya keretakan

yang timbul atas hubungan kasih yang telah

dibuat Tuhan pada waktu Penciptaan.

Setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan Allah

berkata kepada perempuan itu, “Engkau

akan berahi kepada suamimu dan ia akan

berkuasa atasmu” (Kej. 3:16). Prinsip ini di-

maksudkan-Nya, tanpa mengubah prinsip

dasar kesamaan antara laki-laki dan perem-

puan, untuk menguntungkan kedua orang pe-

ngantin pertama itu, dan generasi seterusnya.l0

Sayang sekali prinsip ini telah diselewengkan.

Sejak saat itu maka yang merajalela ialah

penguasaan melalui kuasa, manipulasi, dan

kehancuran secara individu telah menandai

pernikahan dari zaman ke zaman. Sikap yang

berpusat kepada diri sendiri telah mengingkari

sikap penerimaan dan penghargaan satu de-

ngan yang lain.

Wujud Kekristenan itu hidup dalam ke-

serasian penyangkalan diri yang menjadi ciri-

ciri perkawinan sebelum kejatuhan manusia,

yang telah dirusak. Kasih sayang suami-istri

membantu kebahagiaan kedua belah pihak.

Mereka harus berpadu, namun demikian ti-

dak seorang pun dari antara mereka yang

boleh kehilangan individualitas mereka, yang

menjadi milik Tuhan.11

PENYIMPANGAN DARI CITA-CITA

ALLAH

Poligami. Praktik yang dilakukan satu orang

dengan mempersunting beberapa pasangan

bertentangan dengan kesatuan dan persatuan

yang dibuat Allah dalam pernikahan pertama

di Eden. Di dalam poligami tidak boleh me-

ninggalkan semua yang lain. Walaupun Kitab

Pernikahan dan Keluarga 341

Suci menggambarkan perkawinan majemuk

sebagai kenyataan kultural pada masa bapa-

bapa, penggambaran itu dengan jelas menun-

jukkan bahwa perkawinan yang demikian

tidak memenuhi cita-cita Ilahi. Di dalam per-

kawinan yang demikian aneka masalah tim-

bul yang kemudian melibatkan pertarungan

kekuasaan, dendam kesumat dan keterasing-

an (baca Kej. 16; bandingkan 29:16-30: 24),

menggunakan anak-anak sebagai senjata

emosi untuk menyakiti hati anggota keluarga

yang lain di dalam keluarga itu.

Pernikahan monogami memberikan kepa-

da pasangan itu rasa memiliki yang mengu-

kuhkan keintiman mereka dan ikatan mere-

ka. Mereka menyadari bahwa hubungan me-

reka itu khas dan tidak seorang pun yang lain

yang terlibat di dalamnya. Hubungan yang

bersifat monogami memantulkan dengan sa-

ngat jelas hubungan antara Kristus dengan

jemaat-Nya dan antara individu dengan Al-

lah.12

Persundalan dan Perzinahan. Praktik dan

pemikiran belakangan ini meremehkan ke-

wajiban pasangan supaya setia satu sama lain

dalam soal seks, sampai kematian. Bahkan

Alkitab menganggap hubungan seksual yang

bagaimanapun di luar pernikahan itu yaitu 

dosa. Hukum yang ketujuh masih tetap ber-

laku dan tidak pernah diubah: “Jangan berzi-

nah” (Kel. 20:14). Di sini tidak ada yang di-

ringankan ataupun meringankan. Hukum ini

sebuah prinsip yang menjadi pagar yang amat

ketat atas hubungan pernikahan itu.

Pandangan Alkitabiah yang jelas-jelas

mengenai persundalan dan perzinahan sa-

ngat bertentangan dengan kebebasan yang

berlangsung dewasa ini dari hal kegiatan

“orang-orang dewasa yang diperkenankan.”

Banyak ayat yang ada  dalam Perjanjian

Lama maupun dalam Perjanjian Baru yang

menyalahkan perbuatan-perbuatan yang de-

mikian (Im. 20:20-12; Ams. 6:24-32; 7:6-27;

1 Kor. 6:9, 13, 18; Gal. 5:19; Ef. 5:3; 1 Tes. 4:3,

dsb).

Hubungan-hubungan yang tidak senonoh

itu mempunyai efek yang luas dan lama. Per-

buatan itu merampas hak pasangan seksual

yang sah dan mencederai laki-laki atau pe-

rempuan itu secara fisik, emosi, materi, seca-

ra hukum dan secara sosial. Bukan hanya

mereka yang dirugikannya, namun  juga kelu-

arga yang lebih luas, dan bila anak-anak terli-

bat di dalamnya, merekalah yang paling me-

rasakan akibatnya yang parah. Hubungan-

hubungan yang tidak senonoh ini dapat meng-

akibatkan penyebaran penyakit kelamin dan

juga lahirnya bayi-bayi yang tidak sah. Selain

itu, kabut dusta dan ketidakjujuran yang

menggelantung atas skandal itu menghancur-

kan rasa percaya yang mungkin tidak akan

pernah dapat dipulihkan kembali. Selain la-

rangan yang ada  dalam Alkitab atas pel-

bagai bentuk kebejatan ini, ada  juga

rangkaian akibat yang tidak menguntungkan

yang seharusnya menjadi peringatan bagi

mereka yang melibatkan diri di dalamnya.

Pikiran yang Kotor. Dosa bukanlah hanya

sekadar perbuatan lahiriah; termasuk juga di

dalamnya soal hati yang menukik jauh ke da-

lam pola-pola pikiran. Jika sumbernya sudah

cemar, tentu saja sungai yang mengalir dari

padanya tidak akan jernih. Yesus melihat

bahwa persediaan yang jauh di dalam pikiran-

lah yang menggerakkan tingkah laku manu-

sia, “sebab  dari hati timbul segala pikiran

jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan,

pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Mat.

15:19). Di dalam perangai inilah Ia menelu-

suri perbuatan yang durhaka terhadap pikiran

dan emosi: “Kamu telah mendengar firman:

Jangan berzinah. namun  Aku berkata kepa-

damu: Setiap orang yang memandang perem-

puan serta menginginkannya, sudah berzinah

342 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:27, 28).

Industri telah dikembangkan sepenuhnya

untuk memanfaatkan kekacauan imajinasi.

Film-film yang sensual dan buku-buku yang

merangsang dibuat, di dalamnya tidak ada

tempat bagi kehidupan Kristen. Yang dido-

rongnya bukan saja hubungan yang buruk dan

tidak sah, namun  juga menghasilkan laki-laki

dan perempuan yang hanya sekadar objek

seksual, sehingga dengan demikian mengacau-

kan makna seksualitas yang sebenarnya 

serta mengaburkan citra Allah. Orang-orang

Kristen diminta supaya memikirkan hal-hal

yang suci dan menghidupkan kehidupan yang

kudus sebab  mereka sedang disiapkan hidup

di dalam satu masyarakat yang suci untuk

selama-lamanya.

Inses. Ada orang tua yang melewati batas

demarkasi pernyataan kasih sayang yang se-

hat atas anak-anaknya, melibatkan diri seca-

ra fisik dan emosional dalam hubungan yang

intim dengan mereka. Hal ini sering terjadi

sebab  akibat hubungan yang normal antara

suami dan istri telah dilalaikan dan salah satu

dari antara anak-anak ini telah dipilih untuk

memerankan peran pasangannya. Hal seper-

ti ini mungkin terjadi di kalangan sesama sau-

dara dan anggota keluarga yang lebih luas.

Inses dilarang dalam Perjanjian Lama

(Im. 18:6-29; Ul. 27:20-23) dan dikutuk di

dalam Perjanjian Baru (1 Kor. 5:1-5). Bentuk

penyalahgunaan ini merusak pertumbuhan

seksual anak dan menimbulkan dalam dirinya

suatu beban yang tidak dapat dipertanggung-

jawabkan, rasa malu dan bersalah yang tetap

akan melekat dalam dirinya sampai ke perka-

winan kelak. jika  orang tua melanggar ta-

pal batas itu, mereka menghancurkan keper-

cayaan dan pertumbuhan anak itu—yang

begitu penting untuk membina iman kepada

Allah.

Perceraian. Pernyataan yang diberikan Ye-

sus merangkum seluruh pengajaran di dalam

Alkitab mengenai perceraian: “sebab  itu,

apa yang telah dipersatukan Allah, tidak bo-

leh diceraikan manusia” (Mat. 19:6; Mrk.

10:7-9). Pernikahan itu merupakan hal yang

kudus sebab  Allah telah menguduskannya.

Akhirnya, Allah yang menghubungkan suami

dan istri, bukan hanya perkataan manusia

atau perbuatan seks. Allah yang memeterai-

kan persatuan mereka. Pengertian orang

Kristen mengenai perceraian dan perkawinan

kembali, haruslah didasarkan atas kitab suci.

Pernyataan Yesus membuat jelas prinsip

Alkitabiah dasar yang mencakup pemahaman

orang Kristen mengenai perceraian: Allah

bermaksudkan supaya pernikahan itu kekal.

jika  orang-orang Farisi bertanya kepada-

Nya apakah suami-istri yang tidak cocok itu

menjadi alasan yang cukup untuk melakukan

perceraian, Yesus mengukuhkan contoh

yang diberikan di Eden merupakan model

pernikahan sebagai suatu persatuan yang

permanen. jika  Ia terus didesak mereka

mengenai hukum Musa tentang perceraian,

Ia menjawab, “sebab  ketegaran hatimu

Musa mengizinkan kamu menceraikan istri-

mu, namun  sejak semula tidaklah demikian”

(Mat. 19:8). Lebih lanjut dikatakan bahwa sa-

tu-satunya alasan untuk mengadakan perce-

raian ialah penyelewengan seksual (Mat.

5:32; 19:9).

Jawab yang diberikan-Nya kepada orang

Farisi membuat jelas bahwa Yesus memiliki

pengetahuan dan pemahaman yang jauh lebih

mendalam tentang kebenaran dari pada me-

reka. Dari apa yang dikatakan-Nya, dan juga

menurut asas-asas mengenai perkawinan

yang ada  dalam Perjanjian Lama dan

Perjanjian Baru, dikukuhkan bahwa Allah

menginginkan barangsiapa yang melangsung-

kan pernikahan haruslah memantulkan gam-

Pernikahan dan Keluarga 343

bar Allah dalam persatuan yang tetap atau

permanen.

Bahkan, pasangan yang tidak seiman pun

tidaklah menjadi alasan untuk mengakhiri

pernikahan itu dengan perceraian. Jalan salib

itu mendorong supaya mengadakan pertobatan

dan pengampunan, menyingkirkan segala

akar kepedihan. Bahkan dalam kasus per-

zinahan pun, melalui pengampunan dan kuasa

pendamaian Allah, pasangan yang disakiti

haruslah berusaha meraih maksud semula

yang dibuat Allah pada waktu penciptaan.

“Menurut Alkitab, perzinahan merupakan hal

yang sangat merusak terhadap pernikahan

Anda melebihi dosa lain dalam perkawinan...

jika  engkau mau mengampuni dan me-

nyingkirkan sikapmu yang negatif, Allah siap

sedia menyembuhkan engkau dan membarui

cinta kasihmu satu dengan yang lain.”13

Sementara cita-cita Ilahi bagi suatu perni-

kahan yaitu  cinta kasih dan ikatan perma-

nen yang berlangsung sampai kematian me-

renggut salah satu, namun  ada saatnya per-

pisahan yang sah sebab  aniaya fisik terha-

dap pasangan atau anak. “Menurut beberapa

undang-undang sipil perpisahan yang demikian

dapat dijamin hanyalah dengan perceraian,

yang dalam keadaan seperti ini tidak dapat

dipersalahkan. Akan namun  perpisahan atau

perceraian yang mana “ketidaksetiaan terha-

dap sumpah” tidak menjadi kasus, sebab me-

nurut pandangan Alkitab tidak seorang pun

dari antara mereka yang dibenarkan menikah

kembali, kecuali ada salah seorang dari anta-

ra mereka menikah kembali, sebab  melaku-

kan perzinahan atau persundalan, atau kare-

na kematian.”14

sebab  perkawinan itu merupakan se-

buah lembaga Ilahi, maka gereja memiliki

sebuah tanggung jawab yang unik dan kudus

baik untuk mencegah perceraian, maupun se-

kiranya perceraian terjadi, untuk sedapat-

dapatnya menyembuhkan luka-luka yang di-

akibatkannya.

Homoseksualitas. Allah menjadikan laki-

laki dan perempuan berbeda namun saling

melengkapi. jika  Ia melakukan hal yang

demikian, Ia mengarahkan perasaan seksual

mereka terhadap yang berlainan jenis. Pem-

bedaan dan ketersambungan yang menandai

orang dinyatakan dalam daya tarik yang me-

narik kedua jenis kelamin itu satu sama lain

untuk membentuk hubungan yang utuh.

Dalam banyak kasus, dosa telah mem-

pengaruhi pengarahan dasar ini, mendatang-

kan fenomena pemutarbalikan. Dalam kasus

yang seperti itu, tujuan yang semula yang

secara alamiah—tertarik kepada jenis kela-

min yang berbeda—telah dikacaukan dengan

ketertarikan kepada jenis kelamin yang sa-

ma.

Kitab Suci dengan jelas mengutuk praktik

homoseksual dengan istilah yang amat ne-

gatif (Kej.19:4-10; bandingkan Yud. 7, 8; Im.

18:22; 20:13; Rm. 1:26-28; 1 Tim. 1:8-10).

Praktik-praktik jenis seperti ini mendatangkan

pemutarbalikkan yang amat mengacaukan

gambar Allah dalam diri lelaki dan perem-

puan.

sebab  “semua orang telah berbuat dosa

dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm.

3:23), orang-orang Kristen hendaknya me-

nunjukkan sikap yang menyelamatkan atas

orang-orang yang telah menderita sebab 

kekacauan ini. Mereka hendaknya menunjuk-

kan sikap seperti yang diperlihatkan Kristus

kepada wanita yang tertangkap basah dalam

perzinahan: “Aku pun tidak menghukum eng-

kau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi

mulai dari sekarang” (Yoh. 8:11). Bukan ha-

nya kepada orang yang memiliki kecende-

rungan kepada homoseksual, namun  juga ke-

pada semua orang yang terjebak dalam ke-

344 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

biasaan itu atau yang berhubungan dengan

hal yang menyebabkan kecemasan, rasa ma-

lu dan bersalah, memerlukan telinga yang

menaruh simpati dari penasihat dan pembim-

bing Kristen yang telah terlatih dan berpenga-

laman. Tidak ada kebiasaan yang tidak dapat

dijangkau anugerah Tuhan yang dapat mem-

berikan kesembuhan.15

KELUARGA

Setelah Tuhan menjadikan Adam dan

Hawa, Ia menyuruh mereka memerintah du-

nia (Kej. 1:26; 2:15). Mereka membentuk

sebuah keluarga yang pertama, jemaat yang

pertama, dan menandai awal suatu masya-

rakat. Dengan demikianlah masyarakat diba-

ngun atas pernikahan dan keluarga. sebab 

hanya merekalah manusia yang mendiami

bumi, maka Tuhan memberikan perintah,

“Beranakcuculah dan bertambah banyak;

penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” (Kej.

1:28).

Menurut statistik kependudukan, bumi

yang tidak berpenghuni tidak meminta lagi su-

paya diisi dan ditaklukkan. Akan namun  orang

Kristen yang sudah menikah yang bertekad

hendak memiliki anak-anak di atas dunia ini

masih tetap mempunyai kewajiban untuk

membesarkan anak-anak mereka dalam

pemeliharaan dan tuntunan Tuhan. Sebelum

satu pasangan yang menikah meletakkan tu-

juan seperti itu, mereka harus mempertim-

bangkan apa yang diidam-idamkan Allah bagi

keluarga.

ORANG TUA

1. Sang ayah. Kitab Suci telah meng-

gariskan tanggung jawab suami dan ayah se-

laku kepala keluarga dan imam bagi seisi

keluarga (Kol. 3:18-21; 1 Ptr. 3:1-8). Ia men-

jadi satu tipe dari Kristus, kepala jemaat.

“sebab  suami yaitu  kepala istri sama se-

perti Kristus yaitu  kepala jemaat. Dialah

yang menyelamatkan tubuh. sebab  itu se-

bagaimana jemaat tunduk kepada Kristus,

demikian jugalah istri kepada suami dalam

segala sesuatu. Hai suami, kasihilah istrimu

sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat

dan telah menyerahkan diri-Nya baginya un-

tuk menguduskannya, sesudah Ia menyuci-

kannya dengan memandikannya dengan air

dan firman, supaya dengan demikian Ia me-

nempatkan jemaat di hadapan diri-Nya de-

ngan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau

yang serupa itu, namun  supaya jemaat kudus

dan tidak bercela. Demikian juga suami ha-

rus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya

sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya menga-

sihi dirinya sendiri” (Ef. 5:23-28).

Sebagaimana Kristus memimpin jemaat,

suami dan istri “kedua-duanya harus tunduk,

akan namun  Firman Allah menjadi yang ter-

penting bagi pertimbangan suami yang bukan

sekadar soal hati nurani saja.16 Pada waktu

yang bersamaan ia mempunyai tanggung ja-

wab untuk memperlakukannya secara indivi-

du dengan sikap yang paling hormat.

Sebagaimana Kristus telah menunjukkan

pemerintahan yang penuh kelemahlembutan

sampai ke kayu salib dalam sifat seorang pe-

layan, demikian juga sang suami harus me-

mimpin dengan penuh pengorbanan. “Peme-

rintahan Kristus yaitu  hikmat dan kasih, dan

jika  para suami memenuhi tanggung ja-

wab mereka terhadap istri mereka, maka

mereka akan menggunakan kuasa dalam

kelembutan yang serupa sebagaimana dila-

kukan Kristus kepada jemaat. jika  Roh

Kristus mengendalikan suami, maka rasa

tunduk istri akan menjadikan ketenteraman

dan mendatangkan keuntungan, sebab  apa

yang diharapkan dan dituntutnya dari istrinya

hanyalah kebaikan belaka, dan dalam cara

yang serupa dengan yang dituntut Kristus,

Pernikahan dan Keluarga 345

supaya jemaat tunduk.... Biarlah orang-

orang yang berdiri sebagai suami belajar fir-

man Kristus, tidak mencari tahu betapa leng-

kap seharusnya ketaatan sang istri, melainkan

bagaimana ia dapat memperoleh pikiran

Kristus, sehingga dimurnikan, dihaluskan la-

yak menjadi pemimpin rumah tangganya.”17

Sebagai imam keluarga, seperti Abraham,

sang ayah akan mengumpulkan keluarganya

pada pagi-pagi sekali dan menyerahkan me-

reka ke bawah pemeliharaan Tuhan. Pada

petang hari mereka akan dipimpinnya untuk

memuji Dia dan mengucapkan syukur kepa-

da-Nya atas berkat yang dicurahkan kepada

mereka. Kebaktian keluarga akan menjadi

tali pengikat—waktu yang menempatkan

Tuhan menjadi yang pertama dalam keluarga

itu.18

Ayah yang bijaksana akan meluangkan

waktunya bersama-sama dengan anak-

anaknya. Seorang anak dapat belajar banyak

dari ayahnya, misalnya ihwal menaruh hor-

mat dan mengasihi ibu mereka, mengasihi

Tuhan, tentang pentingnya berdoa, mengasihi

orang lain, bagaimana cara bekerja, sopan

santun, menyukai alam dan benda-benda

yang telah dijadikan Tuhan. Akan namun  kalau

sang ayah tidak pernah ada di rumah, maka

anak kehilangan kegembiraan dan hak

istimewa ini.

2. Sang Ibu. Sifat keibuan yaitu  hal

yang paling dekat dengan persekutuan dalam

Tuhan. “Raja yang bertakhta di atas keraja-

annya tidak lebih tinggi daripada pekerjaan

seorang ibu. Ibu yaitu  ratu rumah tang-

ganya. Di tangan ibulah terletak kuasa untuk

membentuk tabiat anak-anak agar mereka

layak kepada yang lebih tinggi dan kehidupan

yang kekal. Malaikat pun tidak dapat me-

ngerjakan pekerjaan yang lebih tinggi dari

pada ini; sebab  di dalam melakukan tugas ini

sang ibu menjalankan tugas pelayanan kepa-

da Tuhan.... Biarlah dia menyadari nilai pe-

kerjaannya dan mengenakan seluruh senjata

Allah sehingga ia dapat menentang pencobaan

untuk menyesuaikan diri dengan standar du-

niawi. Tugasnya yaitu  untuk masa kini dan

keabadian.”19

Seseorang di dalam keluarga itu haruslah

memikul tanggung jawab pokok atas tabiat

anak-anak itu. Pendidikan anak tidak boleh

serampangan atau didelegasikan kepada o-

rang lain, sebab  tidak seorang pun yang me-

rasakan perasaan yang serupa dengan anak

lebih daripada orang tuanya. Allah menjadikan

ibu dengan kemampuan mengandung anak di

dalam tubuhnya, menyusui anak, memelihara

dan mengasihinya. Selain meringankan be-

ban keuangan atau sebab  menjadi orang tua

seorang diri,20 jika toh ia hendak menerima

keadaan yang seperti itu, seorang ibu mem-

punyai tugas khusus atau unik sebab  tinggal

tetap dengan anak-anaknya sepanjang hari;

ia dapat menikmati kerja sama dengan Pen-

cipta dalam membentuk tabiat mereka untuk

kehidupan kekal.

“Seseorang di dalam sebuah hubungan

perlu memandang keluarga sebagai sebuah

karier.... Memangku tugas dan karier seba-

gai seorang ibu dan istri yaitu  suatu pe-

kerjaan yang paling menakjubkan, pekerjaan

sepanjang hayat, dan tugas yang sangat me-

nantang. Usaha yang sia-sia? Tugas yang

tidak memberi rasa syukur? Pekerjaan budak

yang tidak terhormat? Sama sekali tidak, jus-

tru merupakan sesuatu kemungkinan yang

sangat menyenangkan yang dapat mene-

duhkan gelombang, yang menyelamatkan

makhluk, atau mempengaruhi sejarah, atau

sesuatu yang dilakukan yang akan dirasakan

dan didengarkan di dalam lingkaran yang

jauh lebih luas.”21

Di dalam Perjanjian Lama, pada zaman itu

nama seseorang mengandung pengertian

atas orang yang menyandangnya. Hawa me-

346 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .

nerima namanya sesudah Kejatuhan (Kej.

3:20). sebab  ia akan menjadi ibu segala

bangsa manusia, namanya (Ibrani chawwah)

diambil dari kata untuk “hidup” (Ibrani chay).

Nama itu memantulkan kedudukan yang luar

biasa hormatnya, yang tercantum di dalam

sejarah umat manusia.

Sebagaimana hal berketurunan itu bu-

kanlah satu-satunya hak khusus Adam mau-

pun Hawa, demikian juga halnya dengan

orang tua. Yang disebut belakangan yaitu 

tanggung jawab untuk dibagikan bersama.

Begitu pula sekarang, orang tua tidak hanya

melahirkan anak namun  juga bertugas untuk

memeliharanya. Setiap orang tua mempunyai

tanggung jawab tertentu, dan mereka harus

melaksanakannya seakan-akan itu kewajiban

terhadap Tuhan. “sebenarnya , anak-anak

lelaki yaitu  milik pusaka dari pada Tuhan,

dan buah kandungan yaitu  suatu upah”

(Mzm. 127:3).

Anak-anak

1. Prioritas. Selain tanggung jawab ke-

pada Tuhan dan pasangan mereka, tiada lagi

tanggung jawab yang lebih tinggi daripada

tanggung jawab kepada anak-anak yang

dilahirkan mereka ke dunia ini. Mer