doktrin Advent 18
eka harus
mengutamakan kepentingan anak-anak demi
kebaikan dan kemajuan mereka sendiri;
anak-anak tidak memilih datang ke dunia ini,
sebab itu mereka harus diberi kemungkinan
yang terbaik untuk memulai hidup. Pengaruh-
pengaruh sebelum lahir ke dunia ini me-
nentukan kerohanian, mental dan kesehatan
jasmani seseorang, sehingga itulah yang
membuat kesejahteraan anak harus menjadi
prioritas yang dimulai bahkan sebelum lahir
ke dunia.22
2. Cinta kasih. Cinta kasih orang tua
haruslah tidak bersyarat dan harus penuh pe-
ngorbanan. Walaupun pengorbanan itu tidak
akan pernah memperoleh balasannya secara
lengkap, anak-anak harus memperoleh citra
diri yang baik dan kesehatan emosional dalam
kehidupannya. Anak-anak yang harus men-
cari cinta kasih atau yang merasa dirinya di-
tolak dan dianggap remeh akan mencoba
memperoleh cinta kasih orang tuanya melalui
tindak-tanduk yang kurang menyenangkan
yang menjadi kebiasaan yang berurat ber-
akar.23
Anak-anak yang merasa terjamin di ba-
wah naungan cinta kasih orangtuanya akan
menghayati cinta kasih itu dalam hubungannya
kepada orang lain. Mereka dapat diajar mem-
beri sebagaimana halnya menerima sehingga
dengan demikian eksistensi diri tidaklah ha-
nya untuk sendiri. Sewaktu mereka bertumbuh,
mereka dapat belajar memuliakan Tuhan.
3. Tanggung jawab. Orang tua Kristen
sedapat-dapatnya mempersembahkan anak-
anak mereka untuk pelayanan kepada Allah
pada usia sedini mungkin dalam kehidup-
annya. Jemaat Masehi Advent Hari Ketujuh
mengadakan upacara sederhana, yakni pe-
nyerahan anak, di hadapan jemaat, orang tua
membawa anak mereka kepada Tuhan untuk
didoakan, sama seperti Yusuf dan Maria
membawa bayi Yesus kepada Tuhan ke da-
lam Bait Suci (Luk. 2:22-39). Dengan cara
seperti ini hidup anak itu menjadi bagian dari
perluasan kerohanian dalam keluarga. Ang-
gota-anggota jemaat turut ambil bagian da-
lam perkembangan sosial dan rohani anak
yang masih muda itu, sebagai seorang anak
Allah dan anggota tubuh Kristus.
Di dalam pelayanan ini orang tua juga
mengabdikan diri untuk mendidik anak dalam
jalan Tuhan supaya dengan demikian citra
Allah terbentuk di dalam diri anak. Untuk
mencapai tujuan ini, orang tua hendaknya
membawa anak-anak mereka ke Sekolah
Pernikahan dan Keluarga 347
Sabat dan ke gereja secara teratur supaya
anak yang kecil itu menjadi satu bagian dari
tubuh Kristus pada usia yang dini. Kemudian,
pada waktu anak itu mencapai usia sekolah,
orang tua dan jemaat mengadakan setiap
usaha untuk menyanggupkannya memperoleh
pendidikan Kristen yang akan memelihara
cinta kasih anak itu kepada Tuhan pada hari-
hari kemudian.
4. Ketabahan. Pendidikan kerohanian
yang diberikan orang tua berlanjut terus da-
lam proses sehingga memasuki setiap fase
kehidupan anak. “Haruslah engkau mengajar-
kannya berulang-ulang kepada anak-anakmu
dan membicarakannya jika engkau duduk
di rumahmu, jika engkau sedang dalam
perjalanan, jika engkau berbaring dan
jika engkau bangun. Haruslah juga eng-
kau mengikatkannya sebagai tanda pada ta-
nganmu dan haruslah itu menjadi lambang di
dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya
pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu
gerbangmu” (Ul. 6:7-9;11:18).
Anak dipengaruhi oleh seluruh suasana
rumah tangga. Orang tua tidak memberitahu-
kan hal kerohanian itu di dalam kebaktian
rumah tangga saja. Hal itu haruslah muncul
melalui pengharapan mereka yang terus-me-
nerus di dalam Yesus; hal itu harus dinyata-
kan dalam gaya hidup mereka, baik dalam
berpakaian maupun dalam soal dekorasi ru-
mah tangga. Mengetahui bahwa Allah se-
bagai orang tua yang menaruh kasih sangat
penting bagi perkembangan anak-anak Kris-
ten.
5. Belajar penurutan. “Didiklah orang
muda menurut jalan yang patut baginya, ma-
ka pada masa tuanya pun ia tidak akan me-
nyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6).
Apakah yang akan diakibatkan pendidikan
ini? Disiplin lebih daripada sekadar hukuman.
Hukuman biasanya berkaitan dengan masa
lalu, sedang disiplin menatap ke depan.
Disiplin yaitu proses pemuridan di mana
orang muda itu berguru kepada orang tua un-
tuk memperoleh pendidikan, bimbingan dan
teladan. Itu berarti pengajaran merupakan
prinsip penting yang meliputi misalnya kese-
tiaan, kebenaran, keadilan, konsistensi, kesa-
baran, keteraturan, kemurahan, kedermawan-
an dan pekerjaan.
jika anak-anak belajar lebih awal un-
tuk menuruti orang tua mereka, sikap oto-
ritas tidak lagi menjadi masalah bagi mereka.
Akan namun bentuk pelajaran penurutan itu
penting juga. Penurutan yang sejati muncul
bukanlah sekadar sebab itu memang diwa-
jibkan, melainkan sebab muncul dari dalam.
Rahasia jenis penurutan yang seperti ini terle-
tak pada kelahiran baru.
“Orang yang berusaha memelihara hu-
kum-hukum Allah hanya sebab itu merupa-
kan kewajiban belaka—sebab ia diharuskan
untuk berlaku demikian—tidak akan pernah
masuk ke dalam kegembiraan dalam penu-
rutan. Ia tidak menurut.... Penurutan yang
sejati yaitu hasil pekerjaan yang berlang-
sung di dalam. Dari dalamnya terbitlah cinta
kasih akan kebenaran, sebab mengasihi hu-
kum Tuhan. Hakikat segala pembenaran ia-
lah kesetiaan kepada Penebus kita. Inilah
yang akan membimbing kita untuk melakukan
yang benar sebab memang itu benar—ka-
rena perbuatan yang baik itu berkenan ke-
pada Tuhan.”24
6. Sosialisasi dan perkembangan ba-
hasa. Di dalam keluargalah anak-anak diso-
sialisasikan selaku anggota umat manusia,
berikut segala tanggung jawab dan hak-hak
yang diakibatkannya. Sosialisasi yaitu suatu
proses yang dengannya anak-anak mempela-
jari keterampilan dasar yang berfungsi di da-
lam masyarakat. Bahasa dengan segala co-
348 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
rak perbedaannya yang halus dari komunikasi
yaitu salah satu keterampilan pertama yang
dipelajari anak-anak. Penggunaan bahasa di
dalam rumah tangga memerlukan pengawasan
yang cermat, sebab demikianlah tabiat Allah
dinyatakan. Anak harus lebih sering mende-
ngar pernyataan kegembiraan dan spontan,
kasih sayang yang penuh di antara anggota
keluarga, dan memuji Tuhan.
7. Identitas jenis kelamin. Di dalam
rumah tanggalah, melalui interaksi yang utuh
antara pria dan perempuan yang membuat
sistem keluarga utuh, sebab anak-anak
dapat berfungsi selaku pria ataupun perem-
puan di tengah-tengah masyarakat. Orang
dewasa perlu mengajar mereka tentang kein-
dahan perkembangan seksualitas melalui in-
formasi yang tepat dan memadai. Juga men-
jadi tanggung jawab mereka untuk menjaga
anak-anak dari penyelewengan seksual.
8. Mempelajari nilai-nilai. Sebuah da-
sar sosialisasi fungsi rumah tangga ialah
menyediakan pemaduan nilai-nilai yang dia-
nut keluarga. Nilai-nilai keluarga dan konsep-
konsep religius tidak selamanya sepadan.
Mungkin saja orang tua menyatakan mereka
menganut asas-asas agama tertentu, akan
namun nilai-nilai yang mereka perlihatkan di
depan anak mungkin pula tidak selaras de-
ngan asas-asas itu. Perlu sekali orang tua
bersikap konsisten.
Keluarga yang Diperluas. Perkawinan,
sebagaimana yang direncanakan Tuhan,
yaitu eksklusif, sedang keluarga tidak
demikian. Di tengah-tengah sebuah masya-
rakat yang amat mudah bergerak, sukarlah
menemukan keluarga yang diperluas—ne-
nek-kakek, anggota keluarga atau saudara
sepupu—semua hidup dalam hubungan yang
akrab. Keluarga jemaat dapat membantu
yang jauh dari keluarganya atau yang tidak
mempunyai kerabat untuk memperoleh pera-
saan berharga dan rasa memiliki. Di sini pun,
orang tua tunggal, dapat memperoleh tempat
yang nyaman di mana anak-anak mereka di-
pelihara dalam cinta kasih dan kelemah-
lembutan yang diinginkan. Lalu jemaat dapat
memenuhi model peranan yang tepat yang
mungkin tak ada di dalam rumah tangga.
Dengan belajar mengasihi orang-orang
yang sudah tua dalam jemaat, anak-anak da-
pat belajar memberi hormat. Dan barangsiapa
yang sudah tua dapat mengalami kepuasan
sebab padanya ada anak kecil yang dapat
dikasihi dan disenangi. “Juga sampai masa
tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah
meninggalkan aku, supaya aku memberitakan
kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-
Mu kepada semua orang yang akan datang”
(Mzm. 71:18).
Allah memberikan pertimbangan khusus
kepada orang yang sudah tua dengan ber-
kata, “Rambut putih yaitu mahkota yang in-
dah, yang didapat pada jalan kebenaran”
(Ams. 16:31), dan “Sampai masa tuamu Aku
tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu
Aku menggendong kamu. Aku telah melaku-
kannya dan mau menanggung kamu terus;
Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan
kamu” (Yes. 46:4).
Di dalam jemaat, orang-orang yang hidup
sendirian (single) boleh memperoleh tempat
istimewa untuk dikasihi dan dihargai serta
memperoleh tempat untuk membagikan ka-
sih sayang dan apa yang dapat mereka la-
kukan. Melalui pelayanan demikian mereka
dapat merasakan pemeliharaan Tuhan atas
mereka. “Aku mengasihi engkau dengan ka-
sih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan
kasih setia-Ku kepadamu” (Yer. 31:3).
yaitu merupakan bagian dari “agama
yang sejati” untuk memberikan perhatian dan
pemeliharaan khusus kepada orang-orang
Pernikahan dan Keluarga 349
yang memerlukan pertolongan (Yak. 1:27;
Kel. 22:22; Ul. 24:17; 26:12; Ams. 23:10;
Yes. 1:17). Keluarga jemaat memiliki ke-
sempatan istimewa untuk menyediakan pela-
buhan, sebuah perlindungan, sebuah tempat
untuk merasakan suasana saling memiliki ba-
gi orang-orang yang tidak mempunyai keluar-
ga; dengan demikian setiap anggota dikelilingi
dengan kesatuan khusus yang dikatakan
Kristus akan menjadi tanda Kekristenan itu
sendiri (Yoh. 17:20-23).
PEMBENTUKAN
sebab keluarga yaitu jiwa jemaat dan
masyarakat, maka keluarga Kristen itu sen-
diri haruslah menjadi sarana untuk meme-
nangkan jiwa dan merangkul anggota-anggo-
tanya bagi Tuhan. Ayat-ayat paling akhir dari
Perjanjian Lama yaitu sebuah nubuat atas
apa yang bakal terjadi sebelum kedatangan
Kristus yang kedua kali: “sebenarnya Aku
akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang
datangnya hari Tuhan yang besar dan dah-
syat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-
bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati
anak-anak kepada bapa-bapanya supaya ja-
ngan Aku datang memukul bumi sehingga
musnah” (Mal. 4:5, 6). Dewasa ini banyak
kegiatan yang mendorong anggota jemaat
keluar dari lingkaran keluarga, panggilan Tu-
han ialah untuk menyatukan, mengukuhkan,
membalikkan dan memulihkan. Dan keluarga-
keluarga yang menyambut panggilan ini akan
memperoleh kekuatan yang akan menunjuk-
kan Kekristenan yang sebenarnya. Jemaat
yang terdiri dari keluarga-keluarga demikian
akan bertumbuh; orang-orang muda mereka
tidak akan meninggalkannya; mereka akan
menggambarkan kepada dunia ini sebuah
gambaran yang jelas mengenai Allah.
DOKTRIN MENGENAI AKHIR ZAMAN
Di surga ada bait suci, bait suci sejati yang dibuat oleh Tuhan,
bukan yang dibuat oleh manusia. Di dalamnya Kristus melayani demi
kepentingan kita, memungkinkan orang-orang percaya memperoleh
keuntungan dari korban pendamaian yang diadakan-Nya sekali dan
untuk selamanya di kayu salib. Ia dilantik sebagai Imam Besar yang
Mahatinggi dan memulai pelayanan pengantaraan-Nya pada waktu
kenaikan-Nya. Pada tahun 1844, pada akhir periode nubuat 2300
pagi dan petang, Ia memasuki fase kedua dan terakhir dari pelayanan
pendamaian-Nya. Pekerjaan penghakiman pemeriksaan yang menja-
di bagian penting yang terakhir dan menentukan atas semua dosa,
dilambangkan oleh pembersihan bait suci Ibrani kuno pada Hari
Pendamaian. Dalam bentuk pelayanan itu, bait suci dibersihkan oleh
darah binatang yang dikorbankan, sedang perkara-perkara sur-
gawi dibersihkan oleh korban yang sempurna, darah Yesus. Pengha-
kiman-pemeriksaan menunjukkan kepada makhluk-makhluk yang ber-
pikir cerdas di surga siapa di antara orang mati yang tertidur di da-
lam Kristus dan kemudian di dalam Dia, dianggap layak ikut ambil
bagian dalam kebangkitan yang pertama. Itu juga membuat nyata
orang yang hidup tinggal di dalam Kristus, yang memelihara hukum-
hukum Tuhan dan beriman kepada Yesus, dan di dalam Dia, kemudi-
an, siap diubahkan untuk memasuki kerajaan-Nya yang kekal. Peng-
hakiman ini membuktikan keadilan Tuhan dalam menyelamatkan
orang-orang yang percaya di dalam Yesus. Itulah yang menyatakan
bahwa barangsiapa yang tetap setia kepada Tuhan akan menerima
kerajaan itu. Penyempurnaan pekerjaan Kristus ini akan menandai
penutupan pintu kasihan bagi manusia menjelang Kedatangan-Nya
kedua kali
Saat persembahan korban senja sudah
tiba. Imam berdiri di pelataran bait suci
di Yerusalem siap untuk mempersembahkan
seekor domba sebagai persembahan. Ketika
ia mengangkat pisau untuk menyembelih
korban, bumi bergoncang. Dengan tangan
gemetar pisau jatuh dari tangannya dan dom-
ba melarikan diri. Dengan bergemuruhnya
gempa dan imam mendengar suara yang nya-
ring dan jelas sementara tangan yang tidak
tampak mengoyak tirai Bait suci mulai dari
atas ke bawah.
Gelap menyelubungi kota, awan gelap
mengitari kayu salib. Saat Yesus, Domba
Paskah Allah berseru, “Sudah selesai!” Ia
mati sebab dosa-dosa dunia.
Bayangan telah bertemu dengan wu-
judnya. Tujuan pelayanan Bait suci dari za-
man ke zaman telah digenapi. Juruselamat
telah menyelesaikan korban pendamaian-
Nya, sebab lambang itu telah diwujudkan,
maka bayang-bayang yang dituju oleh korban
ini sudah diganti. Itulah sebabnya tirai telah
dikoyakkan di bait suci, pisau jatuh dan domba
lepas.
Bagi sejarah keselamatan itu masih ada
lagi yang lebih. Hal itu menjangkau lebih
daripada kayu salib. Kebangkitan Yesus dan
kenaikan-Nya langsung mengarahkan perhati-
an kita kepada bait suci yang di surga, di sana
tidak ada lagi Domba, Ia bertindak di sana se-
bagai imam. Korban yang sekali dan untuk
semua itu, telah dipersembahkan (Ibr. 9:28);
sekarang Ia menyediakan segala yang mung-
kin demi kepentingan semua manusia dengan
korban pendamaian ini.
BAIT SUCI DI SURGA
Allah menyuruh Musa membangun tem-
pat kediaman-Nya di dunia (Kel. 25:8) seba-
gai bait suci pertama yang berfungsi di bawah
perjanjian (lama) yang pertama (Ibr. 9:1).
Inilah tempat di mana umat diajar mengenai
jalan keselamatan. Kurang-lebih 400 tahun
kemudian Bait suci yang permanen di Yeru-
salem dibangun oleh Raja Salomo meng-
gantikan bait suci yang dapat dipindah-pin-
dah, yang dahulu dibangun Musa. Setelah
Nebukadnezar menghancurkan Bait suci itu,
orang-orang buangan yang kembali dari
BAB 24
PELAYANAN KRISTUS DI DALAM
BAIT SUCI DI SURGA
354 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
tawanan Babilon membangun Bait suci ke-
dua, yang pernah diperindah oleh Herodes
Agung, yang kemudian dihancurkan oleh Ro-
ma pada tahun 70 TM.
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa janji
yang baru juga memiliki satu bait suci, yakni
bait suci yang di surga. Di dalamnya, Kristus
bertindak sebagai imam agung “yang duduk
di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di
surga.” Bait suci ini yaitu “kemah sejati,
yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh
manusia” (Ibr. 8:1, 2).1 Di Bukit Sinai Musa
telah diberi “contoh”, sebuah salinan atau
model miniatur bait suci di surga (baca Kel
25:9, 40).2 Bait suci yang dibangun Musa
disebut Kitab Suci “sesuatu yang melam-
bangkan apa yang ada di surga,” dan itu
“tempat kudus. . . merupakan gambaran saja
dari yang sebenarnya” (Ibr. 9:23, 24). De-
ngan demikian, bait suci dunia dengan segala
pelayanannya, memberikan kepada kita pan-
dangan khusus atas peranan bait suci surga.
Di dalam Alkitab dikatakan adanya bait
suci atau kemah surgawi (misalnya Mzm.
11:4; 102:19; Mi 1:2, 3).3 Di dalam penglihat-
an, Yohanes Pewahyu melihat bait suci sor-
ga. Ia menggambarkannya “Bait Suci–ke-
mah kesaksian di surga”(Why. 15:5) dan
“Bait Suci Allah yang di sorga” (Why. 11:19).
Di sana juga dilihatnya peralatan yang digu-
nakan di dalam bait suci dunia merupakan
tiruan dari yang di sorga, misalnya tujuh kaki
dian (Why. 1:12) dan sebuah mezbah pedu-
paan (Why. 8:3). Ia pun melihat tabut per-
janjian seperti yang ada di bilik yang mahasuci
yang ada di dalam bait suci dunia (Why.
11:19).
Mezbah pedupaan surga terletak di ha-
dapan takhta Allah (Why. 8:3; 9:13), yang di
dalam bait suci surga Allah (Why. 4:2; 7:15;
16:17). Pemandangan di ruangan takhta
sorga (Dan. 7:9, 10) yaitu bait suci atau bait
suci sorga. Itulah sebabnya mengapa peng-
hakiman akhir keluar dari bait Allah (Why.
15:5-8).
Maka jelaslah bahwa Kitab Suci menam-
pilkan bait suci surga sebagai tempat yang
nyata (Ibr. 8:2), bukan hanya sebuah meta-
fora atau sesuatu yang abstrak atau tidak
nyata.4 Bait suci surga yaitu tempat utama
Allah.
PELAYANAN DI DALAM BAIT
SUCI SURGA
Pekabaran mengenai bait suci yaitu
sebuah pekabaran mengenai keselamatan.
Allah menggunakan pelayanan-pelayanan
yang dilakukan di dalamnya untuk meng-
umumkan Injil (Ibr. 4:2). Pelayanan yang di-
lakukan di dalam bait suci dunia yaitu
“kiasan masa sekarang”–sampai saat keda-
tangan Kristus yang pertama kali (Ibr. 9:9,
10). “Melalui lambang dan upacara-upacara,
Allah ingin memusatkan perhatian dan iman
bangsa Israel melalui sarana Injil–perumpa-
maan, atas korban dan pelayanan keimamatan
Penebus dunia, yakni ‘Domba Allah,’ yang
akan mengangkut dosa dunia ini (Gal. 3:23;
Yoh. 1:29).”5 Bait suci menggambarkan tiga
fase pelayanan Kristus: (1) korban pengganti,
(2) pengantaraan keimamatan, dan (3) peng-
hakiman terakhir.
Korban Pengganti. Setiap korban yang
dipersembahkan di dalam bait suci melam-
bangkan kematian Yesus demi pengampunan
dosa, menyatakan kebenaran bahwa “tanpa
penumpahan darah tidak ada pengampunan”
(Ibr. 9:22). Korban-korban itu menggambar-
kan kebenaran-kebenaran yang berikut:
1. Penghakiman Allah atas dosa. Ka-
rena dosa yaitu pemberontakan yang ber-
akar pada pertentangan melawan segala
yang baik, murni, dan benar, dan itu tidak
Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga 355
boleh dianggap remeh. “upah dosa yaitu
maut” (Rm. 6:23).
2. Kematian Kristus sebagai peng-
ganti. “Kita sekalian sesat seperti domba, ...
namun Tuhan telah menimpakan kepadanya
kejahatan kita sekalian” (Yes. 53:6). “Kristus
telah mati sebab dosa-dosa kita, sesuai
dengan Kitab Suci” (1 Kor. 15:3).
3. Allah menyediakan korban penda-
maian. Korban itulah “Kristus Yesus. Kris-
tus Yesus telah ditentukan Allah menjadi
jalan pendamaian sebab iman” (Rm. 3:24,
25). “Dia yang tidak mengenal dosa telah
dibuat-Nya menjadi dosa sebab kita, supaya
dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor
5:21). Kristus, Penebus itu, menanggung
penghakiman dosa atas diri-Nya sendiri.
Oleh sebab itu, “Kristus telah diperlakukan
sebagaimana seharusnya terjadi kepada kita,
agar kita dapat diperlakukan sebagaimana Ia
seharusnya diperlakukan. Ia dihukum sebab
dosa-dosa kita, yang seharusnya tidak ba-
gian-Nya, agar kita dapat dibenarkan oleh
pembenaran-Nya, yang sebenarnya bu-
kanlah bagian kita. Ia menderita kematian
yang seharusnya menimpa kita, agar kita da-
pat menerima hidup yang ada pada-Nya.
‘Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh’
(Yes. 53:5).” 6
Korban-korban persembahan di bait suci
dunia dilakukan berulang-ulang. Seperti se-
buah cerita, upacara ini mengumpamakan
penebusan yang diceritakan dan diceritakan
kembali dari tahun ke tahun. Sebaliknya, wu-
jud–kematian pendamaian yang sebenarnya
dari Tuhan kita–berlangsung di Golgota se-
kali untuk selamanya (Ibr. 9:26-28; 10:10-
14).
Di atas kayu salib hukuman atas dosa-
dosa manusia telah dibayar sepenuhnya. Ke-
adilan Ilahi telah dipuaskan. Dari sudut pan-
dang hukum, dunia telah dipulihkan sesuai
dengan kehendak Allah (Rm. 5:18). Penda-
maian, atau rekonsiliasi, telah disempurnakan
SKEMA BAIT SUCI IBRANI
356 Apa yang Anda Perlu Ketahui Tentang . . . .
di kayu salib, yang telah lebih dahulu diba-
yangkan melalui korban persembahan, dan
orang berdosa yang telah bertobat dapat ber-
harap pada karya Tuhan kita yang telah di-
sempurnakan itu.7
Pengantara Keimamatan. Jika korban
pendamaian itu sebab dosa, mengapa diper-
lukan seorang imam?
Peranan imam menarik perhatian atas
perlunya pengantaraan antara orang berdosa
dengan Tuhan yang kudus. Pengantaraan
keimamatan menyatakan seriusnya dosa dan
kerenggangan yang diakibatkannya antara
Tuhan yang tidak berdosa dan makhluk yang
penuh dengan dosa. “Sebagaimana setiap
korban persembahan itu membayangkan ke-
matian Kristus, demikian pula para imam
membayangkan pekerjaan pengantaraan
Kristus sebagai imam besar di bait suci
surga.”sebab Allah itu esa dan esa pula Dia
yang menjadi pengantara antara Allah dan
manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1
Tim. 2:5).8
1. Pengantara dan pendamaian. Pe-
nerapan darah perdamaian selama pelayanan
pengantaraan imam juga tampak sebagai
sebuah bentuk pendamaian (Im. 4:35). Istilah
yang digunakan dalam bahasa Inggris untuk
pendamaian yaitu atonement yang berarti
sebuah rekonsiliasi antara dua kelompok
yang berjauhan. Sebagaimana kematian
yang mendatangkan pendamaian Kristus
yang mendamaikan dunia kepada Tuhan,
demikian pula pengantaraan yang diadakan-
Nya, atau penerapan jasa Dia yang tidak
berdosa dan kematian pengganti, membuat
rekonsiliasi atau pendamaian dengan Tuhan
sebagai realitas pribadi bagi orang yang
percaya. Keimamatan orang Lewi menggam-
barkan pelayanan penyelamatan yang telah
dilakukan Kristus sejak kematian-Nya.
Imam Besar kita, melayani “di sebelah kanan
takhta yang Mahabesar di surga,” berfungsi
sebagai seorang “yang melayani ibadah di
tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati,
yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh
manusia” (Ibr. 8:1,2).
Bait suci surga yaitu pusat komando
agung, tempat Kristus memimpin pekerjaan
keimamatan-Nya demi keselamatan kita. Ia
sanggup “menyelamatkan dengan sempurna
semua orang yang oleh Dia datang kepada
Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk men-
jadi Pengantara mereka” (Ibr. 7:25). Oleh
sebab itu, kita diundang supaya datang
“dengan penuh keberanian menghampiri
takhta kasih karunia, supaya kita menerima
rahmat dan menemukan kasih karunia untuk
mendapat pertolongan kita pada waktunya”
(Ibr. 4:16).
Di bait suci dunia imam melaksanakan
dua tugas pelayanan yang jelas–tugas pela-
yanan harian di bilik yang suci, atau di bilik
bagian pertama (baca bab 4) dan tugas pela-
yanan tahunan di Bilik Mahasuci, atau Bilik
Kedua. Pelayanan itu menggambarkan pe-
kerjaan keimamatan Kristus.9
2. Pelayanan di bilik suci. Pekerjaan
keimamatan di bilik suci dalam bait suci itu
ditandai dengan tugas perantaraan, pengam-
punan, pendamaian, dan pemulihan. Pelayanan
yang terus berlangsung, menyediakan jalan
yang tetap menuju Allah, melalui imam.10 Itu
melambangkan kebenaran sehingga orang
berdosa yang bertobat dapat segera dan se -
nantiasa datang mendekati Allah melalui
pelayanan keimamatan Kristus selaku peran-
tara dan pengantara (Ef. 2:18; Ibr. 4:14-16;
7:25; 9:24; 10:19-22).
jika orang berdosa,11 menyesal dan
bertobat datang ke bait suci dengan memba-
wa persembahan, ia menumpangkan tangan-
nya ke atas hewan itu seraya mengakui dosa-
Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga 357
dosanya. Tindakan ini melambangkan pemin-
dahan dosanya dan hukuman atas korban.
Hasilnya, ia memperoleh pengampunan atas
dosa-dosanya.12 Menurut Ensiklopedi Yahu-
di: “Penumpangan tangan atas kepala kor-
ban yaitu upacara biasa yang olehnya peng-
gantian dan pemindahan dosa berlangsung.”
“Di dalam setiap korban persembahan terda-
patlah gagasan pengganti; korban itu meng-
ambil tempat orang yang berdosa.”13
Darah persembahan penghapus dosa itu
dioleskan dalam salah satu dari dua cara ini:
a. Jika itu sudah dibawa ke bilik yang suci,
kemudian dipercikkan di depan tirai bagian
dalam dan diletakkan di atas tanduk-tanduk
mezbah pedupaan (Im. 4:6, 7, 17, 18). b. Jika
darah itu tidak dibawa ke dalam bait suci,
maka akan diletakkan di atas tanduk-tanduk
mezbah korban bakaran di pelataran (Im.
4:25, 30). Jika ini yang dilakukan, Imam
memakan sebagian daging yang dipersem-
bahkan (Im. 6:25, 26, 30). Dengan demikian,
yang mengambil bagian dalam upacara ini
mengerti bahwa dosa-dosa mereka dan per-
tanggungjawabannya sudah dipindahkan ke
dalam bait suci dan keimamatannya.14
“Dalam perumpamaan upacara ini bait
suci menanggung kesalahan dan pertang-
gungjawaban orang yang telah bertobat
itu–paling sedikit untuk waktu itu–pada
waktu orang yang menyesal dan bertobat itu
mempersembahkan persembahan dan per-
tanggungjawabannya dengan mengakui kesa-
lahan-kesalahannya. Ia pulang dengan peng-
ampunan, yakin atas penerimaan Tuhan. Be-
gitulah, dalam pengalaman yang dilambangkan
itu (pewujudan lambang), jika seorang
yang berdosa ditarik ke dalam penyesalan
oleh Roh Kudus supaya menerima Kristus
sebagai Juruselamat dan Tuhannya, Kristus
mempertanggungjawabkan dosa-dosa-
nya. Ia telah diampuni. Kristus yaitu Ke-
pastian bagi umat percaya, dan juga sebagai
Pengganti mereka.”15
Di dalam lambang dan yang dilambang-
kannya pelayanan bilik kudus berpusat pada
individu. Pelayanan keimamatan Kristus me-
nyediakan keampunan bagi orang berdosa
dan mengadakan rekonsiliasi dengan Tuhan
(Ibr. 7:25). “sebab Kristus, Allah mengam-
puni orang berdosa yang bertobat, memberikan
kepadanya tabiat yang benar dan penurutan
Anak-Nya itu, mengampuni dosa-dosanya,
serta mencatat namanya di dalam kitab ke-
hidupan sebagai salah satu dari anak-anak-
Nya (Ef. 4:32; 1 Yoh. 1:9; 2 Kor. 5:21; Rm.
3:24; Luk. 10:20). Dan jika orang percaya
itu tinggal di dalam Kristus, anugerah rohani
diberikan kepadanya oleh Tuhan kita melalui
Roh Kudus supaya ia matang secara rohani
serta mengembangkan kebajikan dan pelbagai
anugerah yang memantulkan tabiat Ilahi (2
Ptr. 3:18; Gal. 5:22, 23).”16
Pelayanan di bilik suci menghasilkan pem-
benaran dan penyucian orang percaya.
Penghakiman Terakhir. Peristiwa pada
Hari Pendamaian (Hari Grafirat) menggam-
barkan ketiga fase penghakiman Allah yang
terakhir. Yakni (1) “penghakiman pramil-
lenium” (atau lazim juga disebut “penghakiman
pemeriksaan”) yang juga dikenal dengan
sebutan “penghakiman pra-Advent”; (2)
“penghakiman millenium”; dan (3) “peng-
hakiman pelaksanaan” yang akan terjadi pa-
da penghujung millenium itu.
1. Pelayanan di Bilik Mahasuci. Ba-
gian kedua dari pelayanan keimamatan ber-
pusat pada bait suci, sekitar pembersihan bait
suci dan umat Tuhan. Bentuk pelayanan,
yang berpusat pada Bilik Mahasuci dari bait
suci itu dan yang dikerjakan hanya oleh imam
besar, terbatas pada satu hari saja dalam
tahun agama.
Dua kambing jantan diperlukan waktu
358 Apa yang Anda Perlu Ketahui Tentang . . . .
penyucian bait suci–yang merupakan syarat–
yakni kambing jantan bagi Tuhan Allah dan
kambing jantan bagi Azazel (dalam bahasa
Ibrani). Dalam mempersembahkan kambing
untuk Tuhan, imam besar mengadakan pen-
damaian “bagi tempat kudus dan Kemah Per-
temuan serta mezbah” (Im. 16:20; bandingkan
16:16-18).
Darah kambing untuk Tuhan, yang di-
ambil, menggambarkan darah Kristus, diba-
wa ke Bilik Mahasuci, secara langsung di-
gunakan imam besar, di hadapan Allah, ke
tutup tabut pendamaian–tutup tabut yang
berisi Sepuluh Hukum–untuk memenuhi
tuntutan hukum Allah yang kudus. Tindakan-
nya melambangkan harga yang tidak ternilai
yang dibayar Kristus sebab dosa-dosa kita,
menunjukkan betapa inginnya Allah menda-
maikan umat-Nya kepada-Nya sendiri (ban-
dingkan 2 Kor. 5:19). Kemudian darah ini
dibawa ke mezbah pembakaran ukupan dan
ke mezbah korban bakaran tempat di mana
setiap hari sepanjang tahun darah dipercikkan
yang melambangkan dosa-dosa yang diakui.
Sesudah itu imam besar mengadakan suatu
pendamaian untuk bait suci, sebagaimana ju-
ga dengan umat, dan menyucikan kedua-dua-
nya (Im. 16:16-20, 30-33).
Selanjutnya, menggambarkan Kristus se-
bagai pengantara, imam besar itu menaruh
atas dirinya dosa-dosa yang telah mencemari
bait suci serta memindahkannya ke atas
kambing yang tetap dibiarkan hidup–kambing
Azazel, yang kemudian dihalau ke padang
gurun, jauh dari kemah umat Allah. Perbuat-
an ini memindahkan dosa-dosa orang yang
telah dipindahkan secara simbolis dari orang-
orang percaya yang telah bertobat ke bait
suci melalui darah atau daging persembahan
pelayanan harian untuk pengampunan. De-
ngan cara seperti ini bait suci dibersihkan dan
bersiap untuk pelayanan tugas tahun ber-
ikutnya (Im. 16:16-20, 30-33).17 Dengan de-
mikianlah segala sesuatu diatur dengan baik
antara Allah dan umat-Nya.18
Hari Pendamaian, kemudian menggam-
barkan proses penghakiman yang berkaitan
dengan pemusnahan dosa. Pendamaian yang
diadakan pada hari ini “membayangkan tin-
dakan akhir dari jasa Kristus untuk mem-
buang kehadiran dosa untuk selama-lamanya
serta menyempurnakan rekonsiliasi yang
lengkap dari alam semesta ke dalam satu ke-
selarasan pemerintahan Allah.”19
2. Azazel, kambing jantan yang di-
halau. “Terjemahan “scapegoat” (kambing
yang dilepas) dari bahasa Ibrani ialah Azazel
yang berasal dari terjemahan Vulgate caper
emissarius, “kambing yang diusir ke tempat
yang jauh” (Im. 16:8).20 Pembahasan terinci
dari Imamat 16 menunjukkan bahwa Azazel
menggambarkan Setan, bukan Kristus, demi-
kian pandangan banyak orang. Alasan yang
menguatkan tafsiran ini ialah: “(1) kambing
jantan ini tidak disembelih sebagai satu kor-
ban dan oleh sebab itu tidak boleh digunakan
sebagai alat untuk mendatangkan keampunan.
sebab ‘tanpa penumpahan darah tidak ada
pengampunan’ (Ibr. 9:22); (2) bait suci diber-
sihkan sepenuhnya melalui darah kambing
untuk Tuhan sebelum kambing jantan yang
dilepas atau scapegoat itu dimasukkan ke
dalam upacara itu (Im.16:20); (3) ayat-ayat
itu menunjuk bahwa kambing itu sebagai satu
pribadi yang wujudnya bertentangan, mela-
wan Allah (Im.16:8 baca secara harfiah ‘Se-
buah undi bagi Tuhan dan sebuah bagi Aza-
zel’). Oleh sebab itu, dalam penempatan
perumpamaan bait suci itu, yaitu lebih
konsisten untuk melihat kambing untuk Tu-
han sebagai lambang Kristus dan kambing
jantan yang satu lagi bagi Azazel––yang
menjadi lambang Setan.”21
Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga 359
3. Beberapa fase penghakiman. Upa-
cara penghalauan kambing jantan pada Hari
Pendamaian menunjuk jauh ke balik Golgota,
pemusnahan akhir segala masalah dosa–
pemusnahan dosa dan Setan. “Perhitungan
lengkap atas dosa akan digulirkan kepada
Setan, yang telah memulai dan juga sebagai
penghasut. Setan beserta para pengikutnya,
dan semua akibat dosa, akan dilenyapkan dari
alam semesta. Pendamaian melalui pengha-
kiman akan menghasilkan pendamaian yang
utuh dan keharmonisan dalam alam semesta
(Ef. 1:10). Inilah tujuannya, bahwa fase ke-
dua dan terakhir pelayanan keimamatan
Kristus di bait suci surga akan diselesaikan.”22
Penghakiman ini akan memperlihatkan upa-
ya Allah yang terakhir di hadapan alam se-
mesta ini.23
Hari Pendamaian menggambarkan tiga
fase penghakiman terakhir:
a. Pemindahan dosa-dosa dari bait suci
berkaitan dengan yang pertama, atau pra-
Advent, fase pemeriksaan penghakiman.
“Fokusnya ialah pada nama-nama yang ter-
tera dalam Kitab Kehidupan seperti halnya
Hari Pendamaian berfokus kepada pemindah-
an dosa-dosa yang diakui oleh orang-orang
yang bertobat, dari dalam bait suci. Orang-
orang percaya yang palsu akan dikeluarkan;
Iman orang-orang percaya yang benar dan
persatuan mereka dengan Kristus akan diku-
kuhkan di hadapan alam semesta yang tetap
setia, sedang catatan atas dosa-dosa me-
reka akan dihapuskan.”24
b. Pengenyahan kambing jantan ke pa-
dang gurun melambangkan masa 1000 tahun
Setan dirantai di bumi yang lengang ini, dimu-
lai pada waktu Kedatangan Kristus yang ke-
dua kali dan bersamaan waktu dengan fase
kedua penghakiman terakhir, yang berlang-
sung di surga (Why. 20:4; 1 Kor. 6:1-3). Masa
penghakiman seribu tahun ini menyangkut
suatu penghakiman pengkajian atas orang-
orang jahat dan berguna bagi orang yang di-
tebus dengan memberikan kepada mereka
cara Allah memperlakukan dosa dan orang-
orang yang berdosa yang tidak diselamatkan.
Segala pertanyaan orang yang ditebus me-
ngenai kemurahan dan keadilan Allah ter-
jawab (baca bab 26).
c. Kemah yang bersih melambangkan
akibat yang ketiga, atau pelaksanaan, fase
penghakiman, saat api neraka membinasakan
orang jahat dan bumi dibersihkan (Why.
20:11-15; Mat. 25:31-36; 2 Ptr. 3:7-13; baca
bab 26).
BAIT SUCI SURGA DALAM
NUBUATAN
Dalam pembicaraan di atas kita mem-
fokuskan perhatian atas bait suci dari sudut
pandang lambang dengan yang dilambang-
kannya. Nah, cobalah perhatikan dari sudut
nubuatan.
Penahbisan Bait Suci Surgawi. Nubuatan
tujuh puluh minggu dari kitab Daniel 9:25 me-
nunjuk kepada pelantikan Kristus dalam pe-
layanan keimamatan di dalam bait suci surga.
Salah satu dari kejadian akhir yang bakal
terjadi dalam kurun waktu 490 tahun ialah
pelantikan “Yang Mahasuci” (Dan. 9:24, li-
hat juga bab 24). Istilah Ibrani godesh go-
deshin diterjemahkan dengan “Yang Ma-
hakudus” yang arti harfiahnya ialah “kudus
dari segala yang kudus.” Maka lebih baik me-
nerjemahkan frase itu “mengurapi Yang Ku-
dus dari segala Yang Kudus” atau “untuk
mengurapi tempat yang mahakudus.”
Sebagaimana penahbisan bait suci dunia
itu, diminyaki dengan minyak yang kudus un-
360 Apa yang Anda Perlu Ketahui Tentang . . . .
tuk menyucikannya bagi tugas-tugas pela-
yanan maka begitu pulalah penyucian bait
suci surga ditahbiskan untuk pelayanan peng-
antaraan Kristus. Dengan kenaikan-Nya se-
gera setelah Ia bangkit dari kubur (Dan.
9:27)25 Kristus memulai pelayanan-Nya se-
bagai Imam Besar dan pengantara kita.
Penyucian Bait Suci Surga. Berbicara me-
ngenai penyucian bait suci surga, kitab Ibrani
berbicara sebagai berikut, “Dan hampir sega-
la sesuatu disucikan menurut hukum Taurat
dengan darah, dan tanpa penumpahan darah
tidak ada pengampunan. Jadi segala sesuatu
yang melambangkan apa yang ada di surga
dengan ini haruslah ditahirkan (darah bina-
tang), namun benda-benda surgawi sendiri
(Bait Suci di surga) oleh persembahan-per-
sembahan yang lebih baik daripada itu”––
darah Kristus yang amat mulia (Ibr. 9:22, 23).
Pelbagai penafsir membahas ajaran Al-
kitab ini. Henry Alford menyatakan bahwa
surga sendiri memerlukan, dan memper-
oleh, penyucian melalui darah pendamaian
Kristus.”26 B.F. Westcott mengomentari,
“Boleh dikatakan bahwa ‘benda-benda sur-
gawi’ pun, sejauh mereka memiliki wujud
kondisi kehidupan manusia mendatang, ter-
ikat oleh Kejatuhan yang mengharuskan ada-
nya pembersihan.” Ia mengatakan bahwa
darah Kristus itulah yang dapat “membersih-
kan yang asli yang ada di surga yang
,
menjadi
contoh bait suci yang di bumi.”27
Sebagaimana dosa-dosa umat Allah oleh
iman telah ditaruh di atas korban penghapus
dosa dan kemudian melambangkan pemin-
dahannya ke dalam bait suci yang ada di du-
nia, demikianlah di bawah perjanjian yang
baru dosa-dosa orang yang bertobat melalui
iman ditaruh atas Kristus.28
Dan pada waktu Hari Pendamaian pe-
nyucian bait suci dunia dilakukan untuk mem-
buang dosa-dosa yang bertumpuk di sana,
demikian pula dengan bait suci surga diber-
sihkan melalui pembersihan terakhir dosa-
dosa yang ada dalam kitab surga. Akan
namun sebelum kitab catatan itu pada akhirnya
dibersihkan, maka mereka yang tercatat na-
manya di situ akan diperiksa untuk menentu-
kan siapa yang bertobat dan beriman di dalam
Kristus, yakni yang layak masuk ke dalam
kerajaan-Nya yang kekal. Pembersihan bait
suci surga berkaitan dengan pekerjaan peme-
riksaan atau penghakiman29 yang benar-be-
nar sepenuhnya membayangkan sifat Hari
Pendamaian sebagai hari penghakiman.30
Penghakiman ini, mengesahkan ketetapan
atas siapa yang akan diselamatkan dan siapa
yang akan binasa, berlangsung sebelum ke-
datangan Kristus yang kedua kali sebab
pada waktu itulah Kristus akan kembali untuk
menjemput yang telah ditebus-Nya, membawa
upah-Nya, “untuk membalaskan kepada se-
tiap orang menurut perbuatannya” (Why.
22:12). Oleh sebab itu, tuduhan-tuduhan Se-
tan pun akan terjawab (bandingkan Why.
12:10).
Semua orang yang benar-benar bertobat
dan dengan iman menuntut darah korban
pendamaian Kristus telah beroleh pengam-
punan. jika nama mereka muncul pada
hari penghakiman ini dan kepada mereka
disalutkan jubah kebenaran Kristus, maka
dosa-dosa mereka dicoret dan mereka diang-
gap layak memperoleh kehidupan yang kekal
(Luk. 20:35). “Barangsiapa menang,” kata
Yesus, “ia akan dikenakan pakaian putih
yang demikian; Aku tidak akan menghapus
namanya dari kitab kehidupan, melainkan
Aku akan mengaku namanya di hadapan Ba-
pa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya”
(Why. 3:5).
Nabi Daniel menyatakan sifat pengha-
kiman pemeriksaan ini. Sementara kuasa ke-
murtadan dilambangkan oleh tanduk kecil itu
Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga 361
dengan pekerjaan kutuk dan aniaya yang
terus berlangsung terhadap Allah dan umat-
Nya di atas dunia ini (Dan. 7:8, 20, 21, 25),
takhta ditegakkan pada tempatnya dan Allah
memimpin penghakiman yang terakhir.
Penghakiman ini diadakan di ruang takhta
bait suci surga yang dihadiri seribu kali be-
ribu-ribu makhluk surga. jika pengadilan
dimulai, kitab-kitab pun dibuka, inilah me-
nandai awal dari sebuah prosedur pemeriksaan
(Dan. 7:9, 10). Tidak lama sesudah pengha-
kiman ini, kuasa kemurtadan dihancurkan
(Dan. 7:11).31
Waktu Penghakiman. Baik Kristus maupun
Bapa terlibat dalam penghakiman pemeriksa-
an itu. Sebelum Dia kembali ke dunia ini di
atas “awan-awan di langit,” Kristus sebagai
“Anak Manusia” datang “dengan awan-
awan dari langit” kepada “Yang Lanjut Usia-
nya itu,” yakni Allah Bapa, dan berdiri di
hadapan-Nya (Dan.7:13). sebab sejak ke-
naikan Kristus ke surga, Ia bertugas selaku
imam besar, dan menjadi pengantara kita di
hadapan Allah (Ibr. 7:25). Akan namun kali ini
Ia datang untuk menerima kerajaan itu (Dan.
7:14).
1. Pudarnya Pelayanan Keimamatan
Kristus. Daniel menceritakan kepada kita
dalam Daniel 8 mengenai pertentangan an-
tara yang baik dan yang jahat dan kemenang-
an akhir Tuhan. Bab ini menggambarkan
bahwa antara penahbisan pelayanan keima-
matan Kristus sebagai imam besar dengan
penyucian bait suci surga, suatu kuasa dunia
akan mengaburkan pelayanan Kristus.
Domba jantan dalam khayal ini mewakili
kerajaan Medo-Persia (Dan. 8:2)–kedua
tanduk, yang lebih tinggi muncul belakangan,
dengan jelas menggambarkan kedua fase itu,
bagian kerajaan Persia yang lebih kuat pada
akhirnya muncul. Sebagaimana diramalkan
oleh Daniel, kerajaan bagian Timur ini me-
luaskan kekuasaannya “ke barat, ke utara
dan ke selatan,” dan menjadi “membesarkan
diri” (Dan. 8:4).
Dan kambing jantan yang datang dari ba-
rat melambangkan Yunani, tanduk besar de-
ngan “rajanya yang pertama,” diwakili Alek-
sander yang Agung (Dan. 8:21). Datang
“dari barat” Aleksander melesat dengan
mengalahkan Persia. Kemudian, beberapa
tahun setelah kematiannya, kerajaannya di-
bagi ke dalam “empat kerajaan” (Dan. 8:8-
22)––kerajaan Cassander, Lysimakhus, Se-
leukus dan Ptolemy.“Pada akhir kerajaan
mereka” (Dan. 8:23), dengan kata lain, men-
jelang akhir terbaginya kerajaan Yunani
“tanduk kecil” akan bangkit (Dan. 8:9). Seba-
gian orang menganggap Antiokhus Epifanes,
raja Siria yang memerintah Palestina untuk
jangka waktu yang singkat pada abad kedua
SM, merupakan kegenapan nubuat ini. Se-
mentara yang lain, termasuk para reformis,
mengidentifikasi tanduk kecil ini yaitu Ro-
ma pada fase kekafiran maupun kepausan.
Tafsiran yang kedua sangat cocok dengan
rincian yang diberikan Daniel, sedang
yang lain sama sekali tidak cocok.32 Cobalah
perhatikan dengan saksama butir-butir ber-
ikut ini:
a. Tanduk kecil itu semakin berkuasa
sejak kejatuhan kerajaan Yunani sampai “ak-
hir masa” (Dan. 8:17). Hanyalah Roma ke-
kafiran dan kepausan yang memenuhi masa
yang dirinci ini.
b. Nubuatan-nubuatan Daniel 2, 7, dan 8
sejajar atau paralel (lihat peta parallel nu-
buatan, hlm. 401). Keempat patung logam
dalam Daniel 2 dan keempat binatang dalam
Daniel 7 mewakili kerajaan dunia yang sama:
Babilon, Medo-Persia, Yunani dan Roma.
Kedua kaki yang terbuat dari besi dan tanah
362 Apa yang Anda Perlu Ketahui Tentang . . . .
liat serta kesepuluh tanduk dari keempat bi-
natang mewakili atau menggambarkan pem-
bagian Roma; negara-negara yang terbagi
yang akan tetap ada sampai Kedatangan
Kristus yang kedua kali. Perhatikanlah de-
ngan baik nubuatan-nubuatan yang ditujukan
kepada Roma sebagai pengganti Yunani dan
sebagai kerajaan akhir sebelum Kedatangan
Kristus kedua kali dan penghakiman terakhir.
Tanduk kecil yang ada di dalam Daniel 8
cocok sekali dengannya; yang mengikuti Yu-
nani dan kebinasaannya yang luar biasa atau
“tanpa perbuatan tangan manusia, ia akan
dihancurkan” (Dan. 8:25; bandingkan Dan.
2:34).33
c. Medo-Persia dikatakan “membesarkan
diri,” sedang Yunani dilukiskan dengan
“sangat membesarkan dirinya,” sementara
tanduk kecil “menjadi sangat besar” (Dan.
8:4, 8, 9). Roma, salah satu kerajaan terbesar
di dunia, cocok dengan rincian ini.
d. Hanya Roma yang meluaskan kera-
jaannya ke selatan (Mesir), ke Timur (Ma-
kedonia dan Asia Kecil), ke arah “Tanah Per-
mai” (Palestina), persis seperti yang telah di-
ramalkan nubuatan (Dan. 8:9).
e. Roma muncul menentang “Panglima
bala tentara” (Dan. 8:11, 25), yang tidak lain
daripada Yesus Kristus. “Melawan Dia dan
umat-Nya, sebagaimana juga terhadap bait
suci-Nya, kuasa Roma mengadakan pepe-
rangan yang mencengangkan. Penggambaran
ini mencakup fase Roma kafir maupun Roma
kepausan. Sementara Roma kafir melawan
Kristus dan menghancurkan Bait suci di Ye-
rusalem, maka Roma kepausan juga secara
efektif mengaburkan keimamatan, tugas pe-
layanan pengantaraan yang dilakukan Kristus
demi orang-orang yang berdosa di dalam bait
suci surga (baca Ibr. 8:1, 2) dengan meng-
gantikannya dengan sebuah keimamatan
yang bertujuan untuk memberikan peng-
ampunan melalui pengantaraan manusia.34
(baca bab 13). Kuasa kemurtadan itu berja-
lan dengan sukses, sebab “kebenaran di-
hempaskannya ke bumi, dan apa pun yang
dibuatnya, semuanya berhasil” (Dan. 8:12).
2. Waktu pemulihan, pembersihan
dan penghakiman. Allah tidak akan mem-
biarkan kebenaran pelayanan imam besar
Kristus berlangsung tanpa kejelasan. Melalui
laki-laki dan perempuan yang tetap setia dan
takut akan Tuhan, Ia memulihkan kepen-
tingan-Nya. Reformasi yang menemukan
kembali peranan Kristus sebagai Pengantara
kita mengakibatkan pembaruan besar-besar-
an dalam dunia Kristen. Namun demikian,
masih ada lagi kebenaran yang hendak diung-
kapkan dari hal pelayanan Kristus di surga.
Khayal Daniel menunjukkan bahwa pe-
ranan Kristus sebagai Imam Besar kita akan
amat menonjol pada “akhir masa” (Dan.
8:17), jika Ia akan memulai pekerjaan-
Nya yang khusus untuk mengadakan penyu-
cian dan penghakiman sebagai tambahan
atas tugas pelayanan pengantaraan-Nya
yang terus-menerus (Ibr. 7:25).35 Khayal ter-
sebut memberikan gambaran secara rinci
saat Kristus memulai pewujudan pelayanan
hari pendamaian–pekerjaan penghakiman
pemeriksaan (Dan. 7:9) dan penyucian bait
suci–“Sampai lewat dua ribu tiga ratus pe-
tang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan
dipulihkan dalam keadaan yang wajar” (Dan.
8:14).36 sebab khayal itu menunjuk kepada
masa akhir, maka jelaslah bahwa bait suci
yang dimaksudkan di situ tentulah bukan bait
suci yang di dunia–sebab bait suci dunia
telah dihancurkan pada tahun 70 TM. Maka
nubuatan itu pastilah menunjuk kepada bait
Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga 363
suci perjanjian yang baru yang di surga–
tempat di mana Kristus melayani demi kese-
lamatan kita.
Apakah yang dimaksud dengan 2300 hari
atau “2300 petang dan pagi,” sebagaimana
tertera dalam bahasa Ibrani asli?37 Menurut
Kejadian 1 “petang dan pagi” itu yaitu satu
hari. Sebagaimana telah kita lihat dalam bab
4 dan 13 dari buku ini, satu kurun waktu dalam
nubuatan yang simbolis yaitu juga lambang;
satu hari nubuatan sama dengan satu tahun.
Demikianlah, sebagaimana banyak orang
Kristen dari zaman ke zaman yakin, bahwa
nubuatan 2300 hari dalam Daniel 8 meng-
artikan 2300 tahun harfiah.38
a. Daniel 9 kunci untuk mengungkap-
kan Daniel 8. Allah menyuruh malaikat
Gabriel untuk membuat Daniel “memahami
penglihatan itu” (Dan. 8:16). Akan namun
dampaknya sangat mengejutkan sehingga
Daniel menjadi sakit dan Gabriel tidak melan-
jutkan penjelasannya. Pada penutup bab itu
Daniel berkata: “Dan aku tercengang-ce-
ngang tentang penglihatan itu, namun tidak
memahaminya” (Dan. 8:27).
Akibat keadaan atau interupsi ini, Gabriel
terpaksa menunda penjelasannya sampai ku-
run waktu itu–satu-satunya aspek dari kha-
yal itu yang belum diterangkannya. Daniel 9
menggambarkan kembalinya ia untuk menye-
lesaikan tanggung jawab ini. Daniel 8 dan 9
kemudian disambungkan, yang terakhir me-
rupakan kunci yang mengungkapkan misteri
2300 hari itu.39 Pada waktu Gabriel muncul, ia
berkata kepada Daniel: “Aku datang untuk
memberitahukannya kepadamu.... Jadi cam-
kanlah firman itu dan perhatikanlah peng-
lihatan itu!” (Dan. 9:23). Kembali dinyata-
kannya di sini khayal dari hal 2300 hari itu.
Keinginannya untuk menjelaskan unsur wak-
tu dari khayal Daniel 8 membuat jelas meng-
apa ia memperkenalkan penjelasannya de-
ngan nubuatan 70 minggu.
Tujuh puluh minggu itu, atau sama dengan
490 tahun, telah “ditetapkan” atau “diumum-
kan,” bagi bangsa Yahudi dan Yerusalem
(Dan. 9:24). Kata kerja dalam bahasa Ibrani
menyebutnya chattak. Sekalipun kata kerja
ini hanya sekali saja disebutkan di dalam
Kitab Suci, maknanya dapat dipahami dari
sumber-sumber lain di dalam kitab Ibrani.40
364 Apa yang Anda Perlu Ketahui Tentang . . . .
Kamus terkenal Ibrani-Inggris yang disusun
oleh Gesenius menyatakan bahwa artinya
yang tepat ialah “memotong” atau “memba-
gi.” 41
Dengan latarbelakang ini, penjelasan Ga-
briel sangat nyata. Ia menceritakan kepada
Daniel bahwa 490 tahun akan dipotong dari
kurun waktu 2300 tahun itu. Sebagai titik
permulaan yang 490 tahun itu, Gabriel me-
nunjuk “saat firman itu keluar, yakni bahwa
Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun
kembali” (Dan. 9:25), yang terjadi tahun 457
SM, tahun ketujuh pemerintahan Artahsasta
(baca bab 4).42
Yang 490 tahun itu berakhir tahun 34 TM.
jika kita potong 490 tahun dari 2300 ta-
hun, maka yang sisa ialah 1810 tahun. Ka-
rena yang 2300 tahun itu akan dilanjutkan,
maka yang 1810 tahun itu berlanjut setelah ta-
hun 34 TM sehingga dicapailah tahun 1844.43
b. Menuju pemahaman yang lengkap
mengenai pelayanan Kristus. Pada awal
abad kesembilan belas banyak orang Kris-
ten–termasuk di dalamnya kalangan Baptis,
Presbiterian, Metodis, Luteran, Anglikan,
Episkopal, Kongregationalis dan Murid-mu-
rid Kristus–melakukan studi mendalam ten-
tang Daniel 8.44 Para penyelidik Alkitab itu
mengharapkan beberapa kejadian yang sa-
ngat penting yang berlangsung pada akhir
masa 2300 tahun itu. Menurut pemahaman
mereka tentang kuasa tanduk kecil dan bait
suci, mereka menanggapi kurun waktu
nubuat ini untuk mengakhiri pembersihan
jemaat, pembebasan Palestina dan Yerusalem,
kembalinya orang-orang Yahudi, jatuhnya
Turki atau kekuasaan Islam, kehancuran
kepausan, dan pemulihan kembali perbaktian
yang sejati, permulaan milenium di dunia, hari
penghakiman, pembersihan dunia ini dengan
turunnya api, atau kedatangan Kristus yang
kedua kali.45
Tidak ada satu pun dari ramalan ini yang
digenapi, dan semua orang yang tadinya ya-
kin akan hal itu menjadi kecewa. Betapapun
parahnya rasa kecewa mereka, namun itu
masih dalam batas yang sesuai dengan sifat
peristiwa yang diramalkan. Jelas rasa kece-
wa orang-orang yang menantikan kedatangan
Kristus kembali tahun 1844 jauh lebih berat
daripada anggapan akan kembalinya orang
Yahudi ke Palestina.46
Akibatnya, banyak orang yang tidak mau
lagi menyelidiki nubuat atau berpaling dari
metode penafsiran Alkitab menurut sejarah
penafsiran nubuatan, yang telah membawa
mereka ke dalam kesimpulan yang seperti
ini.47 Namun demikian, masih banyak juga
yang terus mengadakan penyelidikan atas
nubuatan, begitu pula mengenai bait suci
disertai dengan doa yang sungguh-sungguh,
terus berharap kepada pelayanan Kristus di
dalam bait suci surga demi kepentingan me-
reka. Wawasan baru dan kaya atas pela-
yanan yang demikian mendatangkan hasil.
Mereka menemukan bahwa iman nubuatan
yang historis dari jemaat yang mula-mula dan
Reformasi masih tetap berlaku. Perhitungan
tahun nubuat benar-benar tepat. Masa 2300
tahun itu berakhir pada tahun 1844. Kesalah-
an mereka–bahwa semua penafsir pada
masa itu–terletak pada pemahaman mereka
atas kejadian apa yang bakal terjadi pada
penghujung kurun nubuat itu. Terang yang
baru dari pelayanan bait suci yang dilakukan
Kristus membalikkan rasa kecewa mereka
menjadi pengharapan dan kegembiraan.48
Studi yang dilakukan mereka mengenai
pengajaran Alkitab atas bait suci menunjukkan
bahwa pada tahun 1844 Kristus datang ke-
pada Yang Lanjut Usia dan mulai mengada-
kan fase terakhir tugas pelayanan-Nya se-
laku Imam Besar di dalam bait suci surga.
Pelayanan ini yaitu kegenapan dari apa
yang dibayangkan oleh Hari Pendamaian
Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga 365
dengan adanya penyucian bait suci sebagai-
mana digambarkan dalam Daniel 7 sebagai
penghakiman pemeriksaan pra-Advent.
Pandangan baru ini tentang pelayanan
Kristus di surga “tidaklah menyimpang dari
iman Kristen yang historis. Justru sebaliknya,
merupakan penyempurnaan secara logis dan
tercapainya tujuan iman yang dicita-citakan
secara pasti. Ini merupakan penampakan
masa akhir dan kegenapan yang dinubuatkan
yang menekankan sifat Injil kekal...dalam ba-
gian akhir penutupan kesaksian atas du-nia.”
4 9
MAKNA DALAM PERTENTANGAN
BESAR ITU
Nubuatan-nubuatan dari Daniel 7 dan 8
membuka perspektif yang lebih luas dari hal
hasil akhir pertentangan besar antara Allah
dan Setan.
Tabiat Allah Dipertahankan. Melalui pel-
bagai kegiatan tanduk kecil itu, Setan ber-
usaha menantang kuasa Allah. Tindakan
kuasa itu telah mencela dan menginjak-injak
bait suci surga, pusat pemerintahan Tuhan.
Penglihatan-penglihatan yang diterima Daniel
menunjuk kepada penghakiman pra-Advent
di mana Tuhan akan memastikan putusan hu-
kuman yang dijatuhkan kepada tanduk kecil
itu, dan demikian pula atas Setan sendiri. Di
dalam terang Golgota itu semua tantangan
Setan akan dinyatakan salah sama sekali.
Semua orang akan memahami dan sependapat
bahwa Allah itu benar; bahwa Ia tidak ber-
tanggung jawab atas masalah dosa. Tabiat-
Nya akan muncul tanpa dapat dibantah, dan
pemerintahan-Nya yang berlandaskan cinta
kasih akan dikukuhkan.
Umat Allah Dipertahankan. jika peng-
hakiman menjatuhkan hukuman atas kuasa
tanduk kecil kemurtadan itu, itu yaitu demi
kepentingan “orang-orang kudus milik Yang
Mahatinggi” (Dan. 7:22). sebenarnya ,
penghakiman ini bukan saja memulihkan na-
ma baik Allah di hadapan alam semesta, te-
tapi juga nama baik umat-Nya. sebab
orang-orang saleh telah dihinakan dan di-
aniaya sebab beriman dalam Kristus dari
zaman ke zaman, maka penghakiman ini
menegakkan kebenaran. Umat Allah akan
merasakan janji Kristus: “Setiap orang yang
mengakui Aku di depan manusia, Aku juga
akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di
surga” (Mat.10:32; bandingkan Luk. 12:8, 9;
Why. 3:5).
Penghakiman dan Keselamatan. Apakah
penghakiman pemeriksaan itu membahayakan
orang-orang yang percaya kepada Yesus
Kristus? Tidak sama sekali. Umat percaya
yang sejati hidup dalam persatuan dengan
Kristus, mereka percaya kepada-Nya seba-
gai pengantara (Rm. 8:34). Jaminan bagi me-
reka dinyatakan dalam janji bahwa “kita
mempunyai seorang pengantara pada Bapa,
yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 Yoh. 2:1).
Lalu kalau begitu, mengapa ada peng-
hakiman pemeriksaan pra-Advent itu? Peng-
hakiman ini bukanlah kepentingan Keallahan.
Hal ini terutama demi kepentingan alam se-
mesta, untuk menjawab tuduhan-tuduhan
yang telah dilontarkan Setan serta memberikan
jaminan kepada makhluk yang telah jatuh ke
dalam dosa bahwa Allah mengizinkan orang
masuk ke dalam kerajaan-Nya itu, hanyalah
orang-orang yang benar-benar telah bertobat.
Demikianlah Tuhan membuka kitab-kitab
catatan untuk mengadakan penelitian yang
tidak memihak (Dan. 7:9, 10).
Makhluk manusia dikelompokkan dalam
tiga golongan yang disebutkan berikut ini: (1)
orang jahat, yang menolak hak dan kuasa Tu-
han; (2) umat percaya yang sejati, yang ber-
366 Apa yang Anda Perlu Ketahui Tentang . . . .
harap di dalam jasa Kristus melalui iman,
hidup sesuai dengan hukum Tuhan; dan (3)
orang yang kelihatannya seperti umat perca-
ya yang sejati padahal tidak.
Makhluk yang tidak berdosa dengan mu-
dah mengenali golongan yang pertama. Akan
namun siapakah yang boleh dikatakan orang
beriman yang sejati dan yang tidak? Kedua-
duanya dicatat dalam kitab kehidupan, yang
berisi nama-nama semua orang yang masuk
ke dalam pelayanan Tuhan (Luk. 10:20; Flp.
4:3; Dan.12:1; Why. 21:27). Di dalam gereja
itu sendiri ada orang percaya yang sejati
dan yang palsu, gandum dan lalang (Mat.
13:28-30).
Makhluk ciptaan Tuhan yang tidak pernah
jatuh ke dalam dosa bukanlah manusia yang
mahatahu, mereka itu tidak dapat membaca
hati. “Oleh sebab itu sebuah penghakiman
diperlukan–sebelum kedatangan Kristus
yang kedua kali–menyelidik dengan saksama
yang benar dari yang palsu dan menunjukkan
keadilan Allah kepada alam semesta yang
berkepentingan, dalam penyelamatan orang
beriman yang sejati. Hal ini menyangkut
Allah dengan alam semesta, bukan antara
Allah dengan anak yang sejati. Ini memerlu-
kan pembukaan kitab catatan, untuk meng-
ungkapkan orang yang beriman dan yang
namanya telah dimasukkan ke dalam kitab
kehidupan.” 50
Kristus menggambarkan penghakiman ini
di dalam perumpamaan-Nya tentang perja-
muan kawin, tamu-tamu yang datang me-
nyambut undangan Injil yang penuh kemu-
rahan itu. sebab tidak semua orang yang
memilih menjadi orang Kristen benar-benar
menjadi murid yang sejati, maka datanglah
sang raja untuk memeriksa para tamu untuk
melihat siapa yang mengenakan pakaian
perjamuan kawin itu. Pakaian yang dimak-
sudkan di sini ialah “tabiat yang suci, tidak
bercela sebagaimana seharusnya dimiliki
pengikut Kristus yang sejati. Kepada jemaat
diberikan ‘kain lenan halus yang berkilau-
kilauan dan yang putih bersih,’ ‘tanpa cacat
atau kerut atau serupa itu.” (Why. 19:8; Ef.
5:27). Kitab Suci mengatakan bahwa kain
linen yang halus yaitu , ‘perbuatan-perbuat-
an yang benar dari orang-orang kudus’
(Why. 19:8). Kebenaran Kristus, tabiat-Nya
yang tidak bercacat-cela, dengan melalui
iman diberikan kepada semua orang yang
menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi.”51
jika raja mengadakan peme-riksaan atas
para tamu, hanyalah tamu yang mengenakan
jubah kebenaran Kristus yang diberikan
murah hati dalam undangan Injil dapat
diterima sebagai umat percaya. Orang-orang
yang mengaku pengikut Tuhan namun hidup
dalam pendurhakaan dan tidak disalut dengan
kebenaran Kristus akan di-coret dari kitab
kehidupan (baca Kel. 32:33).
Konsep penghakiman pemeriksaan semua
orang yang beriman kepada Kristus tidak
bertentangan dengan ajaran Alkitab mengenai
keselamatan oleh iman melalui anugerah.
Paulus mengetahui bahwa pada suatu ketika
kelak ia akan menghadapi penghakiman.
Itulah sebabnya ia menyatakan keinginannya
kelak “berada dalam Dia bukan dengan ke-
benarank
.jpeg)
