doktrin Advent 2

doktrin Advent 2


 


Kedatangan

Kristus pertama ke dunia ini memberikan be-

gitu banyak pandangan jelas tentang ketri-

tunggalan Allah. Injil Yohanes menyatakan

bahwa Keallahan terdiri dari Allah Bapa (ba-

ca bab 3 buku ini), Allah Anak (baca bab 4),

dan Allah Roh Kudus (bab 5), sebuah kesa-

tuan dari ketiga oknum yang abadi yang me-

miliki hubungan unik dan misterius.

1. Sebuah Hubungan Penuh Kasih. Ke-

tika Kristus berseru, “Allahku, Allahku, me-

ngapa Engkau meninggalkan. Aku?” (Mrk.

15:34) Ia merasakan betapa derita ketera-

singan dari Allah Bapa akibat dosa manusia,

sangat menekan perasaan-Nya. Dosa telah

memutuskan hubungan manusia dengan Al-

lah (Kej. 3:6-10; Yes. 59:2). Pada detik-de-

tik terakhir, Yesus, yang tidak mengenal dosa

itu, dijadikan dosa bagi kita. Dalam memi-

kul dosa kita, mengambil tempat kita, Ia

merasakan perpisahan dari Allah yang se-

sungguhnya menjadi bagian kita—dan ke-

matianlah akibatnya.

Orang-orang berdosa tidak akan pernah

dapat memahami apa anti kematian Kristus

terhadap Keallahan. Dari sejak zaman keke-

kalan Ia telah bersama-sama dengan Allah

Bapa dan Allah Roh. Mereka hidup abadi

dan saling mengasihi. Bekerja sama selalu

memperlihatkan kesempurnaan, kasih yang

mutlak ada  dalam Keallahan. “Allah

36Keallahan

yaitu  kasih” (1 Yoh. 4:8) berarti bahwa ma-

sing-masing hidup bagi orang lain sehingga

mereka mengalami kesempurnaan kebaha-

giaan yang lengkap.

Mengenai kasih ini diterangkan panjang

lebar dalam 1 Korintus 13. Sebagian orang

mungkin ingin mengetahui kadar panjang sa-

bar dan penderitaan yang ada  dalam Ke-

allahan, yang memiliki hubungan kasih yang

sempurna. Yang pertama-tama diperlukan

ialah kesabaran pada waktu menghadapi ma-

laikat pemberontak itu, dan kemudian manu-

sia yang mendurhaka.

Tidak ada jarak antara pribadi-pribadi Al-

lah tritunggal itu. Tritunggal itu Ilahi, na-

mun kuasa Ilahi dan kadarnya saling berba-

gi. Kalau dalam organisasi manusia otoritas

terakhir ada  pada satu orang—misalnya

pada presiden, raja, atau perdana menteri.

Di dalam Keallahan, otoritas terakhir terda-

pat pada ketiganya.

Keallahan itu dalam wujud pribadi bu-

kan satu, sedang  dalam tujuan, pikiran

dan tabiat Allah tetap satu. Keesaan ini ti-

dak melenyapkan ciri-ciri khas Bapa, Anak

dan Roh Kudus. Adanya pribadi-pribadi

yang ter-pisah ini dalam Keilahian tidak

menghancurkan pengharapan yang monote-

istik yang ada  dalam Kitab Suci, bahwa

Bapa, Anak dan Roh Kudus satu adanya, Allah

yang Esa.

2. Hubungan pekerjaan. Di dalam Ke-

allahan ada  fungsi penghematan. Allah

tidak perlu mengulangi pekerjaan yang ti-

dak perlu. Tata tertib yaitu  hukum perta-

ma sur-ga, dan Tuhan Allah bekerja dalam

cara-cara yang tertib. Keteraturan ini dike-

luarkan dan memelihara persatuan yang ter-

dapat dalam Keallahan. Bapa bertindak se-

bagai sumber,

Anak sebagai Mediator (pengantara), dan

Roh sebagai pewujud atau pelaksana.

Indahnya penjelmaan menunjukkan hu-

bungan kerja ketiga oknum Keallahan itu.

Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Kristus

menyerahkan Diri-Nya sendiri, dan Roh me-

ngaruniakan kelahiran Yesus (Yoh. 3:16;

Mat. 1:18, 20). Kesaksian malaikat kepada

Maria jelas menunjukkan kegiatan ketiga-

nya dalam rahasia Allah yang menjadi manu-

sia itu. “Roh Kudus akan turun atasmu dan

kuasa Allah Yang Mahatinggi akan mena-

ungi engkau; sebab itu anak yang akan kau

lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Al-

lah” (Luk. 1:35).

Setiap anggota Keallahan itu, hadir pada

saat Kristus dibaptiskan: Bapa memberikan

dorongan yang menguatkan (Mat. 3:17),

Kristus menyerahkan diri-Nya dalam bap-

tisan untuk menjadi teladan bagi kita (Mat.

3:13-15), dan Roh memberikan diri-Nya

Sendiri kepada Yesus untuk memberi kuasa

kepada-Nya (Luk. 3:21, 22).

Menjelang akhir tugas-Nya di atas dunia

ini, Yesus berjanji akan mengirim Roh Ku-

dus sebagai penasihat atau penolong (Yoh.

14:16). Beberapa jam kemudian, ketika ma-

sih tergantung di kayu salib, Yesus berseru

kepada Bapa-Nya, “Allah-Ku, Allah-Ku, me-

ngapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat.

27:46). Pada saat-saat puncak sejarah kese-

lamatan itu, Bapa, Anak dan Roh Kudus

menjadi bagian dalam seluruh keadaan itu.

Sekarang Bapa dan Anak menjangkau ki-

ta melalui Roh Kudus. Yesus berkata, “Jika-

lau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa

datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar da-

ri Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh.

15:26). Bapa dan Anak mengirim Roh un-

tuk menyatakan Kristus kepada setiap orang.

Beban berat Tritunggal yaitu  membawa

Allah dan suatu pengetahuan mengenai Kris-

tus kepada setiap orang (Yoh. 17:3) dan

membuat Yesus hadir dan nyata (Mat. 28:20;

bandingkan Ibr. 13:5). Orang-orang percaya

37Keallahan

dipilih untuk selamat, tentang ini Petrus ber-

kata, “sesuai dengan rencana Allah, Bapa ki-

ta, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya

taat kepada Yesus Kristus dan menerima per-

cikan darah-Nya” (1 Ptr. 1:2).

Puji syukur, rasul memasukkan ketiga pri-

badi Keallahan. “Kasih karunia Tuhan Ye-

sus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutu-

an Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2

Kor. 13:13). Kristus dalam urutan pertama.

Allah berhubungan dengan manusia mela-

lui Yesus Kristus—Allah yang menjelma

menjadi manusia. Walaupun ketiga anggota

Tritunggal itu bekerja sama untuk menga-

dakan karya keselamatan, hanya Kristuslah

yang hidup sebagai manusia, mati sebagai

manusia dan kemudian menjadi Juruselamat

kita (Yoh. 6:47; Mat. 1:21; Kis. 4:12). Akan

namun  “Sebab Allah mendamaikan dunia de-

ngan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak

memperhitungkan pelanggaran mereka” (2

Kor. 5: 19), maka Allah dapat juga dinyata-

kan sebagai Juruselamat kita (bandingkan

Tit. 3:4), sebab  Ia menyelamatkan kita mela-

lui Kristus Juruselamat (Ef. 5:23; Flp. 3:20;

bandingkan Tit. 3:6).

Dalam penghematan fungsi, anggota Ke-

allahan dengan pribadi yang berbeda melak-

sanakan tugas-tugas yang jelas dalam upaya

menyelamatkan manusia. Pekerjaan Roh Ku-

dus tidak menambahkan sesuatu apa pun un-

tuk melayakkan pengorbanan yang diadakan

Yesus Kristus di kayu salib. Melalui Roh Ku-

dus tujuan pendamaian di kayu salib pada

pokoknya menyatakan Kristus sendirilah

pendamaian itu. Oleh sebab  itulah Paulus

mengatakan “Kristus yang yaitu  pengha-

rapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27).

FOKUS KESELAMATAN

Jemaat yang mula-mula membaptiskan

orang di dalam nama Bapa, Anak dan Roh

Kudus (Mat. 28:19). Sejak itulah melalui

Yesus, kasih Allah dan maksud-Nya dinya-

takan, Alkitab berpusat kepada Kristus. Dia-

lah bayang-bayang pengharapan yang di-

nyatakan dalam korban-korban serta peraya-

an-perayaan dalam Perjanjian Lama. Dialah

yang menjadi titik pusat dalam Injil. Dialah

Kabar Baik yang diberitakan oleh murid-mu-

rid melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tu-

lisan—Pengharapan yang kudus. Perjanjian

Lama menatap dan menantikan kedatangan-

Nya: Perjanjian Baru melaporkan kedatang-

an-Nya yang pertama dan berharap akan ke-

datangan-Nya kembali.

Kristus, pengantara di antara Allah dan

kita, dengan demikian menyatukan kita ke-

pada Keallahan. Yesus yaitu  “jalan dan ke-

benaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Kabar baik

itu berpusat kepada Seorang Pribadi, bukan

hanya sekadar kebiasaan. Ada peran dalam

hubungan, bukan hanya peraturan-peraturan

saja—sebab  Kekristenan itu sendiri yaitu 

Kristus. Kita menemukan di dalam-Nya inti,

isi dan konteks seluruh kebenaran dan hi-

dup.

Dengan memandang kepada salib, kita

memandang ke dalam hati Allah. Di dalam

alat penyiksaan itu Ia mencurahkan kasih-

Nya kepada kita. Melalui Kristus cinta ka-

sih Keallahan memenuhi hati kita yang ham-

pa dan menderita. Yesus tergantung di kayu

salib sebagai karunia Allah dan pengganti

bagi kita. Di bukit Golgota Allah turun ke

bumi yang paling bawah untuk menemui ki-

ta; akan namun  itulah tempat yang paling ting-

gi yang dapat kita tuju. jika  kita pergi ke

bukit Golgota kita naik setinggi apa yang

dapat kita lakukan untuk menuju Allah.

Di atas kayu salib itulah Tritunggal me-

nyatakan perwujudan dan kelengkapan si-

fat yang tidak mementingkan diri. Di sana-

lah diungkapkan, perwujudan Allah yang pa-

ling lengkap. Kristus menjelma menjadi

38Keallahan

manusia dan menjadi korban untuk bangsa

manusia. Ia lebih menghargai sifat tidak me-

mentingkan diri daripada sebaliknya. Di sana

Kristus menjadi yang “membenarkan dan

menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:

30). Apa pun nilai dan makna yang kita mi-

liki atau yang pernah kita miliki berasal da-

ri pengorbanan-Nya di kayu salib.

Allah yang benar hanyalah Allah dari

salib itu. Kristus membukakan kepada alam

semesta kasih Keallahan yang tiada batas-

nya itu berikut kuasa yang menyelamatkan;

diperkenalkan-Nya Allah Tritunggal yang re-

la menjalani derita keterpisahan sebab  cin-

ta kasih yang tidak bersyarat yang diberikan

kepada planet yang memberontak. Dari sa-

lib inilah Allah mengumumkan undangan-

Nya yang penuh kasih kepada kita: Damai-

lah, “damai sejahtera Allah, yang melam-

paui segala akal, akan memelihara hati dan

pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:7).


 

Allah Bapa yang Kekal yaitu  Pencipta, Sumber, Penopang dan Pe-

merintah semua ciptaan. Ia adil, ‘kudus, penuh rahmat dan kemurahan,

lambat marah, dan berkelimpahan cinta kasih dan setiawan. Kualitas

dan kuasa yang tampak dalam Anak dan Roh Kudus yaitu  juga me-

nyatakan Bapa.—Fundamental Beliefs.—3.

41

Hari penghakiman yang besar itu dimulai.

Takhta yang menyala dengan roda-roda

yang berkobar-kobar dengan nyala api meng-

gelinding ke tempatnya. Yang Lanjut Usia

menduduki takhta-Nya. Dengan penampilan

yang penuh kemuliaan, Ia memimpin penga-

dilan. Kehadiran-Nya yang mempesona itu

menyelubungi ruang pengadilan yang sangat

luas, dengan hadirin yang sangat banyak. Pa-

ra saksi yang amat banyak berdiri di hadap-

an-Nya. Pengadilan sudah diatur, kitab dibu-

ka, dan catatan pemeriksaan hidup manusia

dimulai (Dan. 7:9, 10).

Saat seperti ini telah lama dinantikan oleh

penghuni alam semesta. Allah Bapa akan

melaksanakan keadilan-Nya terhadap semua

orang yang jahat. Pengumuman yang telah

diberikan ialah: “Dan keadilan diberikan ke-

pada orang-orang kudus” (Dan. 7:22). Puji-

pujian yang penuh kegembiraan dan rasa

syukur menggema di seluruh surga. Sifat-

sifat Allah tampak dengan segala kemulia-

an-Nya, dan nama-Nya yang ajaib diperta-

hankan di seluruh alam semesta.

PANDANGAN-PANDANGAN

TENTANG BAPA

Seringkali Allah Bapa disalahpahami. Ba-

nyak orang yang mengamati dengan cermat

misi Kristus ke dunia ini demi umat manu-

sia dan peranan Roh Kudus dalam individu,

namun  apakah yang dilakukan Bapa kepada

kita? Apakah Ia, berbeda dengan kemuliaan

Anak dan Roh, sama sekali jauh dari dunia

kita ini, Tuan tanah yang tidak hadir di tem-

patnya, Pihak Utama yang tidak tergoyah-

kan?

Atau apakah Ia, seperti yang dianggap ba-

nyak orang mengenai Dia, “Allah Perjanjian

Lama”—seorang Tuhan pembalas dendam,

yang memiliki sifat dan keputusan “mata

ganti mata dan gigi ganti gigi”(Mat. 5:38;

dan Kel. 21:24); tepatnya, Allah yang me-

nuntut perbuatan yang harus sempurna—

atau sesuatu yang lain!

Allah yang sama sekali berbeda dengan

Allah Perjanjian Baru yang dilukiskan be-

gitu penuh kasih sayang, yang menekankan


untuk membiarkan pipi sebelah-menyebelah

ditampar dan juga supaya berjalan dua mil

seperti yang ada  dalam Mat. 5:39-41.

ALLAH BAPA DALAM PERJANJIAN

LAMA

Kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian

Baru, dan kesamaan rencana penebusan, di-

nyatakan oleh fakta bahwa Allah yang sama

jualah yang berbicara dan bertindak, baik

dalam Perjanjian Lama dan Baru, untuk ke-

selamatan umat-Nya. “Setelah pada zaman

dahulu Allah berulang kali, dan dalam pel-

bagai cara berbicara kepada nenek moyang

kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pa-

da zaman akhir ini Ia telah berbicara kepa-

da kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang

telah Ia tetapkan sebagai yang berhak mene-

rima segala yang ada. Oleh Dia, Allah telah

menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1, 2). Wa-

laupun Perjanjian Lama menyinggung Pri-

badi-pribadi Keallahan, itu bukan berarti

membedakan Mereka. Bahkan Perjanjian

Baru membuat jelas bahwa Kristus, Anak

Allah, yaitu  pribadi yang aktif dalam Pen-

ciptaan (Yoh. 1:1-3, 14; Kol. 1:16) dan Dia-

lah Allah yang menuntun Israel keluar dari

Mesir (1 Kor. 10:1-4; Kel. 3:14; Yoh. 8:58).

Apa yang dikatakan Perjanjian Baru menge-

nai peranan Kristus dalam Penciptaan dan

Keluaran seringkali menyampaikan gambar

Allah Bapa kepada kita melalui Allah Anak

itu. “Sebab Allah mendamaikan dunia de-

ngan diri-Nya” (2 Kor. 5:19). Perjanjian La-

ma melukiskan Bapa dalam istilah berikut:

Allah Penyayang dan Pengasih. Tidak

ada manusia berdosa yang pernah melihat

wajah Allah (Kel. 33:20). Kita tidak memi-

liki gambar wajah-Nya atau wujud-Nya. Al-

lah menyatakan tabiat-Nya melalui perbuat-

an-Nya yang penuh murahan dan melalui

gambaran yang diumumkan-Nya kepada

Musa: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan

pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-

Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih

setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang

mengampuni kesalahan, pelanggaran dan

dosa; namun  tidaklah sekali-kali membebas-

kan orang yang bersalah dari hukuman, yang

membalaskan kesalahan bapa kepada anak-

anaknya dan cucunya, kepada keturunan

yang ketiga dan keempat” (Kel. 34:6, 7; ban-

dingkan Ibr. 10: 26, 27). Namun demikian,

kemurahan bukanlah pengampunan yang

buta, melainkan dituntun oleh prinsip keadil-

an. Barangsiapa yang menolak kemurahan-

Nya akan menuai hukuman atas dosa-dosa-

nya.

Di Bukit Sinai Tuhan Allah menyatakan

kerinduan-Nya menjadi sahabat bagi bang-

sa Israel, agar senantiasa

 .

bersama-sama me-

reka. Ia berkata kepada Musa, “Dan mereka

harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supa-

ya Aku akan diam. di tengah-tengah me-

reka” (Kel. 25:8). sebab  tempat itulah tem-

pat Allah di atas dunia ini, maka kaabah men-

jadi titik pusat pengalaman ibadah Israel.

Perjanjian Allah. Untuk menciptakan

hubungan yang kekal dengan umat-Nya, Tu-

han Allah mengadakan perjanjian yang ku-

dus dengan mereka, misalnya dengan Nuh

(Kej. 9:1-17) dan Ibrahim (Kej. 12:1-3, 7;

13:14-17; 15:1, 5, 6; 17:1-8; 22:15-18; lihat

bab 7 buku ini). Perjanjian ini menunjuk-

kan satu pribadi, Allah yang menaruh kasih

dan perhatian kepada keperluan umat-Nya.

Kepada Nuh Ia memberikan jaminan dengan

musim yang tetap (Kej. 8:22) dan bahwa ti-

dak akan terjadi lagi air bah yang menutupi

seluruh permukaan bumi (Kej. 9:11); dan ke-

pada Ibrahim Ia berjanji akan memberikan

43Allah Bapa

sejumlah keturunan yang banyak (Kej. 15:5-

7) dan sebuah negeri yang akan didiami oleh

keturunannya (Kej. 15:18: 17:8).

Allah Penebus. Sebagaimana halnya Al-

lah yang membawa bangsa Israel keluar, Ia

memimpin satu bangsa budak dengan cara

yang penuh mukjizat menuju kemerdekaan.

Karya penebusan yang agung ini yaitu  la-

tar belakang seluruh Alkitab Perjanjian La-

ma dan merupakan sebuah contoh kerindu-

an-Nya menjadi Penebus bagi kita. Sesung-

guhnya Allah tidak jauh, bukannya tidak

dapat dihampiri, bukan pula sebuah pribadi

yang bersikap acuh tak acuh, akan namun  Se-

orang Pribadi yang sangat terlibat dalam se-

gala persoalan kita.

Khususnya Mazmur diilhami kedalaman

kasih Allah yang turut serta: “Jika aku melihat

langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-

bintang yang Kautempatkan: Apakah manu-

sia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah

anak manusia, sehingga Engkau mengindah-

kannya?” (Mzm. 8:4, 5). “Aku mengasihi Eng-

kau, ya Tuhan, kekuatanku! Ya Tuhan, bukit

batuku, kubu pertahananku dan penyelamat-

ku, Allahku, gunung batuku, tempat aku ber-

lindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota

bentengku!”(Mzm. 18:2, 3). “Sebab Ia tidak

memandang hina ataupun merasa jijik keseng-

saraan orang yang tertindas” (Mzm. 22:25).

Allah Tempat Perlindungan. Daud me-

lihat Allah sebagai tempat yang dapat men-

jadi perlindungan bagi kita—seperti enam

kota perlindungan Israel, tempat bernaung

pengungsi yang tidak bersalah. Penulis Maz-

mur menggunakan tema “perlindungan” apa-

bila ia hendak menggambarkan Kristus dan

Bapa. Keallahan yaitu  tempat berlindung.

“Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-

Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyi-

kan aku dalam persembunyian di kemah-

Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung ba-

tu” (Mzm. 27:5). “Allah itu bagi kita tempat

perlindungan dan kekuatan, sebagai peno-

long dalam kesesakan sangat terbukti”  (Mzm.

46:2). ”Yerusalem, gunung-gunung sekeli-

lingnya; demikianlah Tuhan sekeliling umat-

Nya, dari sekarang sampai selama-lamanya”

(Mzm. 125:2).

Penulis Mazmur melukiskan kerinduan-

nya terhadap Allah sebagai berikut: ”Seper-

ti rusa yang merindukan sungai yang berair,

demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya

Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Al-

lah yang hidup. Bilakah aku boleh datang

melihat Allah?”(Mzm. 42:2, 3). Dari penga-

laman, Daud memberikan kesaksian, “Serah-

kanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan

memelihara Engkau! Tidak untuk selama-la-

manya dibiarkan-Nya orang benar itu go-

yah” (Mzm. 55:23). “Percayalah kepada-

Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi

hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat

perlindungan kita” (Mzm. 62:9)—”Allah pe-

nyayang dan pengasih, panjang sabar dan

berlimpah kasih dan setia” (Mzm. 86:15).

Allah yang Suka Mengampuni. Sete-

lah Daud melakukan dosa zina dan pem-

bunuhan, ia memohon dengan sangat, “Kasi-

hanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-

Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut

rahmat-Mu yang besar!” “Jadikanlah hatiku

tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku de-

ngan roh yang teguh!” (Mzm. 51:3, 12). Ia

memperoleh penghiburan melalui jaminan

bahwa Allah penuh kemurahan. “namun  se-

tinggi langit di atas bumi, demikian besar-

nya kasih setia-Nya atas orang-orang yang

takut akan Dia; sejauh timur dari barat, de-

mikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelang-

garan kita. Seperti bapa sayang kepada anak-

anaknya, demikian Tuhan sayang kepada

orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia

44Allah Bapa

sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita

ini debu” (Mzm. 103:11-14).

Allah Kebajikan. Tuhan Allah “yang

menegakkan keadilan untuk orang yang di-

peras, yang memberi roti kepada orang yang

lapar. Tuhan membebaskan orang yang terku-

rung, Tuhan membuka mata orang buta, Tu-

han menegakkan orang yang tertunduk, Tu-

han mengasihi orang benar. Tuhan menjaga

orang asing, anak yatim dan janda ditegak-

kan-Nya kembali, namun  jalan orang fasik di-

bengkokkan-Nya” (Mzm. 146:7-9). Betapa

besarnya gambaran mengenai Tuhan dilukis-

kan dalam buku Mazmur!

Allah yang Setiawan. Selain kebesaran

Allah, bangsa Israel hampir sepanjang masa

menjauh dari Tuhan (Im. 26, Ul. 28). Allah

digambarkan mengasihi orang Israel bagai

suami yang mengasihi istrinya. Buku Hosea

dengan tajam melukiskan kesetiaan Allah di

tengah-tengah penolakan dan ketidaksetiaan

yang parah. Pengampunan yang terus-me-

nerus yang ditunjukkan Allah memperlihat-

kan tabiat-Nya yang menaruh kasih tanpa

syarat.

Walaupun Allah membiarkan bangsa Isra-

el mengalami malapetaka yang disebabkan

pendurhakaan mereka—dengan menegur ja-

lan-jalan salah yang ditempuh mereka—Ia

masih tetap memeluk mereka dengan kemura-

han-Nya. Ia memberikan jaminan, “Engkau

hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan ti-

dak menolak engkau; janganlah takut, sebab

Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bah-

kan akan menolong engkau... dengan tangan

kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes.

41:9, 10). Walaupun mereka tidak setia, Ia te-

tap memberikan janji dengan penuh belas kasi-

han, “namun  bila mereka mengakui kesalahan

mereka dan kesalahan nenek moyang mereka

dalam hal berubah setia yang dilakukan mere-

ka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa

hidup mereka bertentangan dengan Daku, ...

atau bila kemudian hari mereka yang tidak

bersunat itu telah tunduk dan mereka telah

membayar pulih kesalahan mereka, maka Aku

akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub;

juga perjanjian-Ku dengan Ishak dan per-

janjian-Ku dengan Abraham pun” (Im. 26:40-

42; Yer. 3:12).

Allah mengingatkan umat-Nya mengenai

tingkah laku perbuatan-Nya yang bersifat pe-

nebusan: “Hai Israel, engkau tidak Kulupa-

kan. Aku telah menghapus segala dosa pem-

berontakanmu seperti kabut diterbangkan

angin dan segala dosamu seperti awan yang

tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku

telah menebus engkau!” (Yes. 44:21, 22). Ti-

daklah mengherankan jika Ia berkata, “Ber-

palinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu

diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab

Akulah Allah dan tidak ada yang lain” (Yes.

45:22).

Allah Keselamatan dan Pembalas. Per-

janjian Lama melukiskan Allah sebagai Tu-

han yang pembalas, haruslah dilihat dalam

konteks pemusnahan umat-Nya yang setia

oleh orang jahat. Melalui tema “hari Tuhan”

para nabi menunjukkan tindakan-tindakan

Tuhan demi kepentingan umat-Nya pada

akhir zaman. Inilah hari keselamatan bagi

umat-Nya, namun merupakan hari pemba-

lasan atas musuh-musuh mereka yang akan

dibinasakan. “Katakanlah kepada orang yang

tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah ta-

kut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan

pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia

sendiri datang menyelamatkan kamu!’” (Yes.

35:4).

Allah Bapa. Kepada bangsa Israel, Musa

menyatakan Allah sebagai Bapa, yang telah

menebus mereka: “Bukankah Ia Bapamu

45Allah Bapa

yang menciptakan engkau, yang menjadikan

dan menegakkan engkau?” (Ul. 32:6). Me-

lalui penebusan, Allah menjadikan Israel se-

bagai anak-Nya. Yesaya menulis, “Ya Tuhan,

Engkaulah Bapa kami” (Yes. 64:8; banding-

kan 63:16). Melalui Maleakhi, Allah mengu-

kuhkan, “Aku ini Bapa” (Mal. 1:6). Di mana-

mana, Maleakhi menghubungkan kebapaan

Allah atas peran-Nya sebagai Pencipta: “Bu-

kankah kita sekalian mempunyai satu bapa?

Bukankah satu Allah menciptakan kita?”

(Mal. 2:10). Allah yaitu  Bapa kita baik me-

lalui Penciptaan maupun penebusan. Beta-

pa kebenaran yang amat mulia!

ALLAH BAPA DALAM PERJANJIAN

BARU

Allah Perjanjian Lama tidak berbeda dari

Allah Perjanjian Baru. Allah Bapa dinyata-

kan sebagai Pencipta segala sesuatu, Bapa

semua orang percaya yang sejati, dan dalam

sebuah perasaan yang unik Bapa dari Yesus

Kristus.

Bapa Semua Ciptaan. Paulus mengiden-

tifikasi Bapa, membedakan-Nya dari Yesus

Kristus: “Namun bagi kita hanya ada satu

Al-lah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya

berasal segala sesuatu, ... dan satu Tuhan

saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya se-

gala sesuatu telah dijadikan dan yang kare-

na Dia kita hidup” (1 Kor. 8:6 dan Ibr. 12:9;

Yoh. 1: 17). Ia memberikan kesaksian, “Itu-

lah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang

dari pada-Nya semua turunan yang di dalam

surga dan di atas bumi menerima namanya”

(Ef. 3:14, 15).

Bapa Semua Orang Percaya. Pada za-

man Perjanjian Baru ada hubungan rohani

bapa-anak bukan antara Allah dan bangsa

Israel melainkan antara Allah dan orang per-

caya secara individu. Yesus menyediakan pe-

nuntun untuk hubungan ini (Mat. 5:45; 6:6-

15), yang terselenggara dengan mantap me-

lalui penerimaan orang-orang percaya ter-

hadap Yesus Kristus (Yoh. 1:12, 13).

Melalui penebusan Kristus, orang-orang

percaya diangkat menjadi anak-anak Allah.

Roh Kudus melengkapi hubungan ini. Kristus

datang untuk “menebus mereka, yang takluk

kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk mene-

bus mereka, yang takluk kepada hukum Tau-

rat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan

sebab  kamu yaitu  anak, maka Allah telah

menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,

yang berseru: ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Gal. 4:5,

6; bandingkan Rm. 8:15, 16).

Yesus Menyatakan Bapa. Yesus, Allah

Anak, di dalamnya ada  pandangan yang

paling dalam mengenai Allah Bapa ketika Ia,

yang menyatakan, diri Allah sendiri, datang

dalam wujud daging (Yoh. 1:1, 14). Yohanes

berkata, “Tidak seorang pun yang pernah me-

lihat Allah; namun  Anak Tunggal Allah, ...

Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18).

Yesus berkata, “Sebab Aku telah turun dari

surga” (Yoh. 6:38); “Barangsiapa telah me-

lihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9).

Mengenal Yesus berarti mengenal Bapa.

Surat-surat yang ditujukan kepada orang-

orang Ibrani menekankan pentingnya per-

nyataan pribadi ini: “Setelah pada zaman da-

hulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai

cara berbicara kepada nenek moyang kita de-

ngan perantaraan nabi-nabi, maka pada za-

man akhir ini Ia telah berbicara kepada kita

dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia

tetapkan sebagai yang berhak menerima se-

gala yang ada. Oleh Dia Allah telah menja-

dikan alam semesta. Ia yaitu  cahaya kemu-

liaan Allah dan gambar wujud Allah dan me-

nopang segala yang ada dengan firman-Nya

46Allah Bapa

yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:1-3).

1. Allah yang pemberi. Yesus memper-

lihatkan Bapa-Nya sebagai Allah yang pem-

beri. Kita melihat pemberian-Nya pada Pen-

ciptaan, di Betlehem dan di Golgota.

Dalam penciptaan, Bapa dan Anak beker-

jasama. Allah memberikan hidup kepada kita

walaupun mengetahui, bahwa, dengan mela-

kukan hal yang demikian, akan mendatang-

kan kematian Anak-Nya sendiri.

Di Betlehem, Ia memberikan diri-Nya

sendiri sebagaimana Ia memberikan Anak-

Nya. Betapa pedihnya pengalaman Bapa ke-

tika Anak-Nya memasuki planet kita yang

penuh dengan dosa!

 

Bayangkanlah perasaan

Bapa ketika Ia melihat Anak-Nya memper-

tukarkan kasih dan pujaan para malaikat de-

ngan kebencian orang-orang berdosa; kemu-

liaan dan kebahagiaan surga dengan jalan ke-

matian.

Akan namun  di Golgota diberikan kepada

kita wawasan paling dalam terhadap Bapa.

Bapa yang Ilahi itu, menderita kepahitan ka-

rena dipisahkan dari Anak-Nya—dalam hi-

dup dan kematian—lebih daripada apa yang

mungkin dirasakan manusia. Begitulah Ia

menderita dengan Kristus. Sebuah kesaksi-

an yang agung yang pernah ada diberikan

Bapa! Salib menyatakan—yang tidak mung-

kin dapat dilakukan yang lain—kebenaran

mengenai Bapa.

2. Allah Kasih. Tema yang paling disu-

kai Yesus ialah kelembutan dan kelimpahan

kasih Allah. “Kasihilah musuhmu,” kata-

Nya, “berdoalah bagi mereka yang menga-

niaya kamu. sebab  dengan demikianlah ka-

mu menjadi anak-anak Bapamu yang di sor-

ga, yang menerbitkan matahari bagi orang

yang jahat dan orang yang baik dan menu-

runkan hujan bagi orang yang benar dan or-

ang yang tidak benar” (Mat. 5:44, 45). “Teta-

pi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah

baik kepada mereka dan pinjamkan dengan

tidak mengharapkan balasan, maka upahmu

akan besar dan kamu akan menjadi anak-

anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik

terhadap orang-orang yang tidak tahu berte-

rima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti

Bapamu yaitu  murah hati.” (Luk. 6:35, 36).

Waktu Yesus merendahkan diri sambil

membasuh kaki orang yang akan mengkhia-

nati-Nya, Yesus menyatakan sifat Allah yang

penuh belas kasihan. jika  kita melihat

Kristus memberi makan orang yang lapar

(Mrk. 6:39-44; 8:1-9), menyembuhkan pen-

dengaran orang yang tuli (Mrk. 9:17-29),

membuat yang bisu berbicara (Mrk. 7:32-

37), membuka mata orang yang buta (Mrk.

8:22-26), menyembuhkan orang yang ber-

penyakit kusta (Luk. 5:12, 13), menyuruh

orang yang lumpuh berdiri dan berjalan (Luk.

5:18-26), membangkitkan orang mati (Mrk.

5:35-43; Yoh 11:1-45), mengampuni orang-

orang yang berdosa (Yoh. 8:3-11), mengusir

Setan (Mat. 15:22-28;17:14-21), kita meli-

hat Bapa berada di tengah-tengah manusia,

memberikan hidup-Nya kepada mereka,

membebaskan mereka, memberikan peng-

harapan kepada mereka, dan mengarahkan

mereka kepada dunia mendatang yang diba-

harui. Kristus mengetahui bahwa dengan

menyatakan kasih yang sangat berharga dari

Bapa yaitu  kunci untuk membawa manu-

sia kepada pertobatan (Rm. 2:4).

Tiga dari perumpamaan-perumpamaan

Kristus menggambarkan kasih Allah kepa-

da manusia yang telah hilang (Luk. 15). Pe-

rumpamaan mengenai domba yang hilang

mengajarkan kepada kita bahwa keselamat-

an datang melalui inisiatif Allah, bukan ka-

rena upaya kita mencari Dia. Sebagaimana

seorang gembala mengasihi domba-domba-

nya dan mempertaruhkan hidupnya jika 

47Allah Bapa

ada seekor pun yang hilang, begitulah da-

lam ukuran yang jauh lebih besar, Allah me-

nunjukkan kasih-Nya terhadap setiap orang

yang hilang.

Perumpamaan ini juga memiliki makna

kosmis—domba yang hilang itu menggam-

barkan dunia kita yang memberontak, tak le-

bih dari sebuah atom di alam semesta Allah

yang mahaluas. Pemberian Allah yang sa-

ngat berharga itu yakni Anak-Nya yang tung-

gal untuk membawa kembali planet kita ke

dalam kawanan itu menunjukkan bahwa du-

nia kita yang sudah hilang ini cukup berharga

bagi-Nya sebagai bagian dari penciptaan-Nya.

Perumpamaan mengenai keping perak

yang hilang menekankan betapa besarnya ni-

lai yang diberikan Allah kepada kita yang

berdosa. Begitu pula perumpamaan menge-

nai anak yang hilang menunjukkan kasih Ba-

pa yang berkelimpahan, yang menyambut ba-

ik: anak-anak yang menyesali perbuatannya.

Jika di surga ada suatu kegembiraan yang

besar sebab  seorang yang berdosa yang ber-

tobat (Luk. 15:7), bayangkanlah betapa gem-

biranya alam semesta pada waktu kedatangan

Tuhan kita yang kedua kalinya.

Perjanjian Baru menyatakan dengan je-

las keterlibatan Bapa yang sangat akrab da-

lam soal kembalinya Anak-Nya. Pada hari

kedatangan Kristus yang kedua kali orang-

orang jahat akan berseru kepada gunung-

gunung dan bukit batu, “Runtuhlah menim-

pa kami dan sembunyikanlah kami terhadap

Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap

murka Anak Domba itu” (Why. 6:16). Ye-

sus berkata, “Sebab Anak Manusia akan da-

tang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi ma-

laikat- malaikat-Nya” (Mat. 16:27), dan “ka-

mu akan melihat Anak Manusia duduk di se-

belah kanan Yang Mahakuasa dan datang di

atas awan-awan di langit” (Mat. 26:64).

Dengan hati yang penuh kerinduan Bapa

mengantisipasi hari Kedatangan Kristus

yang kedua kali, saat orang-orang yang dite-

bus pada akhirnya akan dibawa ke rumah

mereka yang abadi. Dengan demikian, me-

ngutus Anak-Nya “yang tunggal ke dalam

dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yoh.

4:9) nyatalah tidak akan sia-sia. Hanyalah

yang tidak dapat diduga, kasih yang tidak

mementingkan diri menjelaskan mengapa,

walaupun kita musuh masih juga kita “diper-

damaikan dengan Allah oleh kematian Anak-

Nya”(Rm. 5:10). Bagaimanakah kita akan

menolak kasih yang demikian dan gagal me-

ngakui Dia sebagai Bapa kita?

48

Anak Allah yang Kekal menjelma dalam Yesus Kristus. Melalui Dialah

segala sesuatu diciptakan, sifat-sifat Allah dinyatakan, keselamatan

manusia dilengkapkan, dan dunia dihakimi. Ialah Allah yang sejati

selama-lamanya, juga menjadi manusia yang sejati, yakni Yesus Kristus

Dikandung sebab  Roh Kudus dan dilahirkan melalui anak dara Ma-

ria. Ia hidup dan mengalami pencobaan sebagai seorang manusia, akan

namun  melakukan dengan sempurna kebenaran dan kasih Allah. Melalui

mukjizat yang diperbuat-Nya Dia menyatakan kuasa Allah dan telah

ter-bukti sebagai Mesias yang dijanjikan Allah. Ia menderita dan mati

dengan sukarela di kayu salib sebab  dosa-dosa kita dan menggantikan

tempat kita, kemudian la dibangkitkan dari kematian dan naik ke surga

untuk melayani kepentingan kita di kaabah yang di surga. Ia akan datang

kem-bali dalam kemuliaan untuk melepaskan umat-Nya untuk kali yang

terakhir serta memulihkan segala sesuatu.—___________________—4.

49

Padang belantara menjadi tempat ber-

keliaran ular berbisa yang mengerikan.

Ular merayap di bawah periuk, dan berge-

lung di tiang-tiang tenda yang terpancang.

Sebagian lagi bersembunyi di antara bone-

ka-boneka anak-anak, berbaring di atas bale-

bale, menanti. Gigi mereka siap menghun-

jam dalam-dalam, menyemburkan racun

yang mematikan.

Padang belantara, yang tadinya menjadi

tempat berlindung bangsa Israel, telah men-

jadi kuburan. Beratus-ratus orang mati berse-

rakan. Mengingat keadaan yang amat ber-

bahaya itu, orang-orang tua yang ketakutan

mulai bergegas-gegas menuju tenda Musa

untuk meminta pertolongan. “Musa, tolong

doakan bangsa ini.”

Apakah jawab Allah? Buatlah sebuah ukir-

an ular, lalu pancangkan tinggi-tinggi—dan

semua orang yang memandangnya akan hi-

dup. “Lalu Musa membuat ular tembaga dan

menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika

se-seorang dipagut ular, dan ia memandang

kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”

(Bil. 21:9).

Ular sebenarnya tetap merupakan lam-

bang Setan (Kej. 3; Why. 12), menggambar-

kan dosa. Perkemahan itu telah jatuh ke ta-

ngan Setan. Bagaimanakah penyembuhan

dari Tuhan? Bukannya dengan memandang

kepada domba yang di atas mezbah, melain-

kan dengan memandang ular tembaga itu.

Hal ini merupakan sebuah lambang yang

aneh dari Kristus. Sama seperti ular-ular yang

memagut itu diangkat tinggi-tinggi di atas

sebuah galah, Yesus menjadi “serupa de-

ngan daging yang dikuasai dosa sebab 

dosa” (Rm. 8:3), dan ditinggikan di atas kayu

sa-lib yang sangat hina itu (Yoh. 3:14, 15).

Ia menjadi dosa, Ia memikul sendiri semua

dosa orang yang pernah hidup atau akan hi-

dup. “Dia yang tidak mengenal dosa telah

dibuat-Nya menjadi dosa sebab  kita, supaya

dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2

Kor. 5: 21). Dengan memandang kepada

Kristus ma-nusia yang tidak berdaya itu da-

pat memperoleh hidup.

Bagaimanakah penjelmaan itu dapat

membawa keselamatan kepada manusia?

Efek apakah yang diakibatkannya kepada


Sang Anak? Bagaimanakah Allah menjadi

manusia dan mengapa harus demikian?

PENJELMAAN: RAMALAN DAN

KEGENAPANNYA

Rencana Allah ialah menyelamatkan orang

yang tersesat jauh dari semua petunjuk yang

diberikan-Nya (Yoh. 3:16, 1 Yoh. 4:9) me-

nunjukkan kasih-Nya dengan sangat meya-

kinkan. Di dalam rencana ini Anak-Nya yang

“telah dipilih sebelum dunia dijadikan” men-

jadi korban dosa, menjadi harapan bagi umat

manusia (1 Ptr. 1:19, 20). Ia membawa kita

kembali kepada Allah serta menyediakan

kelepasan dari dosa melalui penghancuran

pekerjaan si jahat (1 Ptr. 3:18; Mat. 1:21; 1

Yoh. 3:8).

Dosa telah memisahkan Adam dan Hawa

dari sumber kehidupan, akibatnya ialah ke-

matian yang segera. Akan namun  sesuai de-

ngan rencana yang telah dibentangkan sebe-

lum asas dunia ini (1 Ptr. 1:20, 21), “permu-

fakatan tentang damai”(Za. 6:13), Allah

Anak turun dan berada di antara mereka serta

menjadi keadilan Ilahi, menjembatani kesen-

jangan dan mengendalikan maut. Bahkan se-

belum dan sesudah salib, anugerah-Nya saja

yang membuat orang-orang berdosa hidup

dan memberikan jaminan keselamatan me-

reka. Akan namun , untuk menjadikan kita be-

nar-benar menjadi putra-putri Allah, Ia ha-

rus menjadi manusia.

Begitu Adam dan Hawa jatuh ke dalam

dosa, Allah memberikan pengharapan de-

ngan janji memperkenalkan kepada mereka

perseteruan yang supra natura antara ular dan

perempuan itu, antara benihnya dan turunan-

nya. Di dalam penjelasan yang agak samar-

samar, dalam Kejadian 3:15 ular dan benih-

nya menggambarkan Setan dengan para pe-

ngikutnya; perempuan dan turunannya me-

lambangkan umat Allah dan Juruselamat

dunia. Pernyataan ini merupakan jaminan

pertama bahwa perbantahan antara yang baik

dan jahat akan berakhir dengan kemenang-

an Anak Allah.

Bagaimanapun, kemenangan itu disertai

dengan hal yang menyakitkan: “Keturunan-

nya (Juruselamat) akan meremukkan kepa-

lamu (Setan), dan engkau (Setan) akan me-

remukkan tumitnya (Juruselamat)” (Kej. 3:

15). Tidak ada yang muncul tanpa cedera.

Sejak saat itulah umat manusia berharap

atas datang-Nya Seorang yang telah Dijan-

jikan. Perjanjian Lama mengungkapkan-

Nya. Nubuat telah menyatakan lebih dahu-

lu bahwa jika  yang Dijanjikan itu telah

datang, dunia harus memiliki bukti yang

mengukuhkan identitas-Nya.

Dramatisasi Nubuat Mengenai Kesela-

matan. Sesudah dosa masuk, Allah mendi-

rikan lembaga pengorbanan hewan untuk

menggambarkan tugas Juruselamat yang

akan datang itu (baca Kej. 34:4). Sistem yang

menggunakan lambang ini menggambarkan

corak bagaimana Allah Anak akan membi-

nasakan dosa.

sebab  dosa—pelanggaran atas Hukum

Tuhan—manusia harus mengalami kematian

(Kej. 2:17; 3:19; 1Yoh. 3:4; Rm. 6:23). Hu-

kum Allah menuntut nyawa orang berdosa.

Akan namun  dalam kasih-Nya yang tiada ba-

tasnya itu, Allah mengaruniakan Anak-Nya,

“yang tunggal, supaya setiap orang yang per-

caya kepada-Nya tidak binasa melainkan

beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Beta-

pa suatu tindakan merendahkan diri yang tia-

da taranya! Allah Anak yang abadi, Ia sendiri

membayar hukuman dosa yang seharusnya

menjadi tanggungan orang lain, supaya dengan

demikian Ia dapat memberikan pengampun-

an dan pendamaian dengan Keallahan.

Setelah bangsa Israel keluar dari Mesir,

persembahan korban diselenggarakan di da-

51Allah Anak

lam bait suci sebagai suatu bagian hubung-

an perjanjian antara Allah dengan umat-Nya.

Musa membangunnya sesuai dengan pola

yang ada  di surga, bait suci dengan se-

gala pelayanan yang dilakukan di dalamnya

dibuat untuk menggambarkan rencana kese-

lamatan (Kel. 25:8, 9, 40; Ibr. 8:1-5).

Untuk memperoleh pengampunan, orang

berdosa yang bertobat membawa persem-

bahan korban hewan yang tidak bercacat-ce-

la—melambangkan Juruselamat yang tidak

berdosa. Orang yang berdosa menumpang-

kan tangannya di atas binatang yang tidak

bersalah itu seraya mengakui dosa-dosanya

(Im. 1:3, 4). Tindakan ini melambangkan pe-

mindahan dosa dari yang bersalah kepada

korban yang tidak bersalah itu, menggam-

barkan sifat pengganti dari korban itu.

sebab  “tanpa pertumpahan darah tidak

ada pengampunan” dosa-dosa (Ibr. 9:22),

maka manusia mengorbankan binatang,

menjadikannya sebagai bukti sifat dosa yang

mematikan. Sebuah jalan duka untuk menya-

takan pengharapan namun  satu-satunya jalan

yang dapat ditempuh oleh orang berdosa un-

tuk menyatakan imannya.

Setelah pelayanan keimamatan (Im. 4,7),

orang berdosa menerima pengampunan dosa

melalui imannya dalam kematian pengganti

dari Penebus yang akan datang, yang dilam-

bangkan oleh korban persembahan binatang

itu (bandingkan Im. 4:26, 31, 35). Perjan-

jian Baru mengakui Yesus Kristus, Anak Al-

lah, sebagai “Anak domba Allah yang meng-

hapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Melalui da-

rah-Nya yang mahal itu, “seperti darah anak

domba yang tak bernoda dan tak bercacat”

(1 Ptr. 1:19), Ia memperoleh penebusan bagi

umat manusia dari hukuman dosa.

Ramalan-ramalan Mengenai Seorang

Juruselamat. Allah menjanjikan bahwa Me-

sias—Juruselamat—Yang Diurapi—akan

datang melalui garis keturunan Abraham:

“Oleh keturunanmulah semua bangsa di bu-

mi akan mendapat berkat,” (Kej. 22:18; ban-

dingkan 12:3).

Yesaya telah menubuatkan bahwa Juruse-

lamat yang akan datang sebagai bayi lelaki,

yang akan menjadi manusia dan Ilahi: “Se-

bab seorang anak telah lahir untuk kita, seo-

rang putra telah diberikan untuk kita; lam-

bang pemerintahan ada di atas bahunya, dan

namanya disebutkan orang: Penasihat Aja-

ib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal,

Raja Damai” (Yes. 9:5). Penebus ini akan

naik takhta Daud dan mendirikan pemerin-

tahan damai yang kekal (Yes. 9:6). Betle-

hem akan menjadi tempat kelahiran-Nya

(Mi. 5:2).

Kelahiran manusia Ilahi ini ajaib. De-

ngan mengutip dari Yes. 7:14, Perjanjian Ba-

ru berkata, “sebenarnya , anak dara itu

akan mengandung dan melahirkan seorang

anak laki-laki, dan mereka akan menamakan

Dia Imanuel—yang berarti: Allah menyer-

tai kita” (Mat. 1:23).

Tugas Juruselamat dinyatakan dalam per-

kataan yang berikut: “Roh Tuhan Allah ada

padaku, oleh sebab  Tuhan telah mengurapi

aku; Ia telah mengutus aku untuk menyam-

paikan kabar baik kepada orang-orang seng-

sara, dan merawat orang-orang yang remuk

hati, untuk memberitakan pembebasan kepa-

da orang-orang tawanan, dan kepada orang-

orang yang terkurung kelepasan dari penjara,

untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan

dan hari pembalasan Allah kita: (Yes. 61:1,

2; bandingkan Luk. 4:18, 19).

Ajaib sekali, sang Mesias harus men-

derita penolakan. Ia akan merasa seperti”

tunas dari tanah kering” “Ia tidak tampan dan

semaraknya pun tidak ada sehingga kita me-

mandang dia, dan rupa pun tidak sehingga

kita menginginkannya.... Seorang yang pe-

52Allah Anak

nuh kesengsaraan dan yang biasa menderi-

ta kesakitan.... Dan bagi kita pun dia tidak

masuk hitungan.” (Yes. 53:2-3).

Seorang sahabat karib pun mengkhianati-

Nya (Mzm. 41:10) dengan uang tiga puluh

keping perak (Za. 11:12). Selama pengadi-

lan-Nya Ia akan diludahi dan dipukuli (Yes.

50:6). Pelaksana hukuman atas diri-Nya me-

ngundi jubah yang dipakai-Nya (Mzm. 22:

19). Tidak ada tulang-Nya yang dipatahkan

(Mzm. 34:21), akan namun  lambung-Nya

akan ditikam (Za. 12:10). Di dalam sengsa-

ra-Nya Ia tidak melawan melainkan seperti

“induk domba yang kelu di depan orang-

orang yang menggunting bulunya, ia tidak

membuka mulutnya” (Yes. 53:7).

Juruselamat yang tidak berdosa itu harus

menderita sangat hebat sebab  orang-orang

berdosa. “namun  sebenarnya , penyakit ki-

talah yang ditanggungnya, dan kesengsara-

an kita yang dipikulnya.... Dia tertikam oleh

sebab  pemberontakan kita, dia diremukkan

oleh sebab  kejahatan kita; ganjaran yang

mendatangkan keselamatan bagi kita ditim-

pakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya ki-

ta menjadi sembuh.... namun  Tuhan telah me-

nimpakan kepadanya kejahatan kita sekali-

an.... Sungguh, ia terputus dari negeri orang-

orang hidup, dan sebab  pemberontakan

umat-Ku ia kena tulah” (Yes. 53:4-8).

Mengenali Juruselamat. Hanya Yesus

Kristus yang menggenapi nubuatan ini. Ki-

tab-kitab Suci mencatat permulaan garis

keturunan-Nya kepada Abraham, yang me-

nyebut-Nya Anak Abraham (Mat. 1:1), dan

Paulus mengukuhkan bahwa janji kepada

Abraham dan keturunannya telah digenapi

di dalam Kristus (Gal. 3:16). Gelar Kemesia-

san “Anak Daud” secara luas ditujukan pada-

Nya (Mat. 21:9). Ia dikenal sebagai Mesias

yang dijanjikan, yang akan menduduki takh-

ta Daud (Kis. 2:29, 30).

Kelahiran Yesus itu ajaib. Maria yang

masih perawan itu “mengandung dari Roh

Kudus” (Mat. 1:18-23). Maklumat yang

diberikan pemerintah Roma kepada rakyat

jajahan membawa Maria ke Betlehem, tem-

pat kelahiran Mesias yang telah dinubuat-

kan lebih dahulu (Luk. 2:4-7).

Salah satu nama yang diberikan kepada

Yesus ialah Imanuel yang artinya “Allah me-

nyertai kita,” membayangkan sifat-Nya se-

bagai manusia Ilahi serta menggambarkan

ciri-ciri Allah dengan manusia (Mat. 1:23).

Nama yang umum diberikan pada-Nya, Ye-

sus, dipusatkan pada misi keselamatan yang

diemban-Nya: “Dan engkau akan menama-

kan Dia Yesus, sebab  Dialah yang akan me-

nyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka”

(Mat. 1:21).

Ciri-ciri tugas Yesus yaitu  seperti yang

diramalkan mengenai Mesias dalam buku

Yes. 61:1, 2: “Pada hari ini genaplah nas ini

sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:17-

21).

Walaupun Ia memberi dampak yang sa-

ngat besar kepada umat-Nya, namun peka-

baran yang disampaikan-Nya pada umum-

nya ditolak mereka (Yoh. 1:11; Luk. 23:18).

Dengan beberapa kekecualian Ia tidak diakui

sebagai Juruselamat dunia. Gantinya mene-

rima Dia sebagai Juruselamat, malahan me-

reka mengancam membunuh-Nya (Yoh. 5:

16; 7:19; 11:53).

Menjelang akhir tugas Yesus yang tiga

setengah tahun di dunia ini, Yudas Iskariot,

salah seorang dari antara murid-Nya, meng-

khianati-Nya (Yoh. 13:18; 18:2) dengan

uang tiga puluh keping perak (Mat. 26:14,

15). Gantinya menghalanginya, malahan Ia

menegur murid-Nya yang mencoba memper-

tahankan Dia (Yoh. 18:4-11).

Walaupun Ia tidak melakukan kesalahan

apa pun, kurang dari 24 jam setelah Ia di-

tangkap, la telah diludahi, dipukul, diadili,

53Allah Anak

dihukum mati dan kemudian disalibkan

(Mat. 26:67; Yoh. 19:1-16; Luk. 23:14, 15).

Para serdadu membuang undi atas jubah-Nya

(Yoh. 19:23, 24). Ketika Ia disalibkan tidak

satu pun tulang-tulang-Nya dipatahkan (Yoh.

19:32, 33, 36), dan sesudah Ia mati para ser-

dadu menikam lambung-Nya dengan sebuah

tombak (Yoh. 19:34, 37).

Para pengikut Kristus mengakui kematian-

Nya satu-satunya korban bagi orang-orang

yang berdosa.” Akan namun  Allah menunjuk-

kan kasih-Nya kepada kita, oleh sebab  Kris-

tus telah mati untuk kita, ketika kita masih

berdosa” (Rm. 5:8). “Dan hiduplah di dalam

kasih,” tulisnya,”sebagaimana Kristus Yesus

juga telah mengasihi kamu dan telah menye-

rahkan diri-Nya untuk kita sebagai persem-

bahan dan korban yang harum bagi Allah”

(Ef. 5:20).

Masa Tugas Pelayanan-Nya dan Saat

Kematian-Nya. Alkitab menyatakan bahwa

Allah mengutus Anak-Nya ke dunia ini “Se-

telah genap waktunya” (Gal. 4:4). Tatkala

Kristus memulai tugas pelayanan-Nya Ia me-

nyatakan, “Waktunya telah genap” (Mrk. 1:

15). Petunjuk mengenai waktu ini menun-

jukkan bahwa tugas Juruselamat dihasilkan

dalam keselarasan dengan perencanaan nu-

buatan yang saksama.

Lebih kurang 5 abad sebelumnya, Allah,

melalui Daniel, telah menubuatkan waktu

yang tepat permulaan pelayanan Kristus dan

waktu kematian-Nya.l

Menjelang akhir 70 tahun tertawannya

bangsa Israel di Babilon, Allah mengatakan

kepada Daniel bahwa Ia telah menetapkan

kepada orang-orang Yahudi dan kota Yeru-

salem sebuah kurun waktu percobaan yakni

70 minggu.

Selama kurun waktu ini, dengan meno-

batkan dan menyiapkan mereka sendiri un-

tuk menerima kedatangan sang Mesias,

bangsa Yahudi harus menggenapi tujuan-tu-

juan Allah yang ditentukan untuk mereka.

Daniel juga menulis mengenai “mengha-

puskan kesalahan” dan mendatangkan “kea-

dilan yang kekal” untuk menandai kurun

waktu ini. Kegiatan Mesias ini menunjuk-

kan bahwa Juruselamat datang di dalam ku-

run waktu ini (Dan. 9:24).

Nubuatan Daniel secara rinci menyatakan

bahwa Mesias akan tampak sampai ”ada tu-

juh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali

tujuh masa,” atau jumlah waktunya 69 masa

sesudah datangnya perintah bahwa “Yeru-

salem akan dipulihkan dan dibangun kemba-

li” (Dan. 9:25).

Kunci untuk memahami waktu nubuatan

terletak dalam prinsip Alkitabiah bahwa satu

hari waktu nubuatan yaitu  sama dengan sa-

tu tahun (Bil. 14:34; Yeh. 4:6).2 Sesuai de-

ngan prinsip satu tahun ini, maka 70 masa

(minggu) 490 hari nubuatan) yaitu  490 ta-

hun.

Daniel mengatakan bahwa kurun waktu

ini haruslah dimulai “dari saat firman itu ke-

luar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulih-

kan dan dibangun kembali” (Dan. 9:25).

Maklumat ini, memberikan kepada orang-

orang Yahudi otonomi penuh, dikeluarkan

pada tahun ketujuh Raja Artahsasta meme-

rintah kerajaan Persia dan perintah itu ber-

laku pada tahun 457 STM (Ezr. 7:8, 12-226;

9:9).3 Sesuai dengan nubuat, 483 tahun (69

minggu) sesudah firman itu keluar “seorang

raja” akan muncul. Empat ratus delapan pu-

luh tiga tahun sesudah tahun 457 SM jatuh

pada musim gugur tahun 27 TM, tatkala

Yesus dibaptiskan dan memulai tugas-Nya

di tengah-tengah masyarakat.4 Dengan me-

nerima penanggalan 457 SM, dan tahun 27

TM, Gleason Archer mengomentari bahwa

inilah “kegenapan nubuatan yang paling te-

pat dan paling menakjubkan dari nubuatan

yang dahulu. Hanya Tuhan Allah yang da-

54Allah Anak

Tepat seperti yang sudah dinubuatkan ter-

lebih dahulu, pada waktu Pesta Paskah dia-

dakan, Ia mati. “Sebab”, kata rasul Paulus,

“anak domba Paskah kita juga telah disem-

belih, yaitu Kristus” (1 Kor. 5:7). Nubuatan

mengenai waktu yang amat tepat ini meru-

pakan sebuah bukti yang paling kuat dari hal

kebenaran historis yang paling fundamental

bahwa Yesus Kristus yaitu  Juruselamat du-

nia yang telah dinubuatkan.

Kebangkitan Juruselamat. Alkitab ti-

dak saja menubuatkan mengenai kematian

Kristus, namun  juga kebangkitan-Nya. Daud

telah menubuatkan “bahwa Dia tidak diting-

galkan di dalam dunia orang mati, dan bah-

wa daging-Nya tidak mengalami kebinasa-

an” (Kis. 2:31; bandingkan Mzm. 16:10).

Walaupun Kristus telah membangkitkan

orang lain dari kematian (Mrk. 5:35-42; Luk.

7:11-17; Yoh. 11), kebangkitan-Nya menun-

jukkan kuasa di balik pernyataan-Nya se-

bagai Juruselamat dunia: “Akulah kebang-

kitan dan hidup; barangsiapa percaya kepa-

da-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah ma-

ti, dan setiap orang yang hidup dan percaya

kepada-Ku, tidak akan mati selama-lama-

nya” (Yoh. 11:25, 26).

Setelah kebangkitan-Nya Ia mengumum-

kan, “Jangan takut! Aku yaitu  Yang Awal

dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah

½

pat meramalkan kedatangan Anak-Nya de-

ngan ketepatan yang sangat menakjubkan

itu; hal itu mengingkari semua penjelasan

yang rasionalistis.”5

Pada waktu Yesus dibaptiskan di sungai

Yordan, Ia diurapi Roh Kudus dan meneri-

ma pengakuan Allah sebagai “Mesias” (Ibra-

ni) atau “Kristus” (Yunani) kedua-duanya

berarti “yang diurapi” (Luk. 3:21, 22; Kis.

10: 38; Yoh 1:41). Pernyataan Yesus “Wak-

tunya telah genap” (Mrk. 1:15), menunjuk

kepada kegenapan nubuatan waktu ini.

Pertengahan dari tujuh puluh minggu ini,

pada musim semi tahun 31 TM, tepatnya 3

tahun sesudah Kristus dibaptiskan, Mesias

mengakhiri sistem korban dengan menyerah-

kan nyawa-Nya sendiri. Pada saat kematian-

Nya tirai bait suci “terbelah dua dari atas

sampai ke bawah” (Mat. 27:51), menunjuk-

kan bahwa sistem keimamatan dengan sega-

la upacara-upacara yang dilakukan dalam ba-

it suci sudah dihapuskan Tuhan.

Semua persembahan dan korban-korban

menunjuk kepada korban yang lengkap yang

dilakukan sang Mesias. Tatkala Yesus Kris-

tus, Anak domba Allah, dikorbankan di bu-

kit Golgota sebagai korban penebusan dosa-

dosa kita (1 Ptr. 1:9), lambang telah diwu-

judkan dalam kenyataan, bayang-bayang

menjadi realitas. Maka pelayanan bait suci

dunia tidak diperlukan lagi.

70 Minggu — 490 tahun

457 408 SM — TM 27  31  34

Daniel

538/

537 SM

7 Minggu

49 tahun 62 Minggu — 434 tahun

1 Minggu

7 tahun

55Allah Anak

mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai se-

lama-lamanya dan Aku memegang segala kua-

sa maut dan kerajaan maut” (Why. 1:17, 18).

DUA SIFAT KRISTUS

Dengan mengatakan, “Firman itu telah

menjadi manusia, dan diam di antara kita”

(Yoh. 1:14) Yohanes menyatakan kebenaran

yang agung. Penjelmaan Allah Anak itu me-

rupakan sebuah misteri. Kitab Suci menye-

butkan Allah yang dinyatakan dalam ben-

tuk daging sebagai “Rahasia ibadah kita” (1

Tim. 3:16).

Pencipta seluruh dunia, yang di dalam-

Nya ada  Keallahan yang sempurna,

menjadi seorang bayi yang tidak berdaya da-

lam palungan. Yang jauh lebih tinggi dari

semua malaikat, yang setara dengan Bapa

dalam wibawa dan kemuliaan, namun demi-

kian Ia direndahkan dengan mengenakan pa-

kaian kemanusiaan!

Seorang tidak dapat begitu saja mengerti

misteri ini, lalu berharap hanya dengan per-

tolongan Roh Kudus untuk memperoleh pe-

nerangan atasnya. Untuk memahami penjel-

maan ada baiknya mengingat bahwa “hal-

hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Al-

lah kita, namun  hal-hal yang dinyatakan ia-

lah bagi kita dan bagi anak-anak kita sam-

pai selama-lamanya” (Ul. 29:29).

Yesus Kristus Benar-benar Allah. Apa-

kah bukti bahwa Yesus Kristus itu Ilahi? Ba-

gaimanakah Ia sendiri menganggap diri-

Nya? Apakah orang mengenal Keilahian-

Nya?

1. Sifat-sifat Keilahian-Nya. Kristus

memiliki sifat-sifat Keilahian. Ia Mahakua-

sa. Ia mengatakan bahwa Bapa telah mem-

berikan kepada-Nya “segala kuasa di surga

dan di bumi” (Mat. 28:18; Yoh. 17:2).

Ia Mahatahu. Di dalam Dia, kata Paulus,

“tersembunyi segala harta hikmat dan penge-

tahuan” (Kol. 2:3).

Yesus menegaskan kemahahadiran-Nya

dengan jaminan “Dan ketahuilah, Aku me-

nyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir

zaman” (Mat. 28:20).

Walaupun keilahian-Nya memiliki ke-

mampuan alamiah atas kemahahadiran,

Kristus yang menjelma secara sukarela itu

membatasi diri-Nya dalam hal ini. Ia telah

memilih kemahahadiran itu melalui pela-

yanan Roh Kudus (Yoh. 14:16-18).

Ibrani membuktikan kebakaan-Nya de-

ngan berkata, “Yesus Kristus tetap sama, ba-

ik kemarin maupun hari ini dan sampai se-

lama-lamanya” (Ibr. 13:8).

Adanya diri-Nya sendiri yaitu  merupa-

kan bukti jika  Ia menyatakan hidup di

dalam diri-Nya sendiri (Yoh. 5:26) dan Yoha-

nes memberi kesaksian “Dalam Dia ada hi-

dup dan hidup itu yaitu  terang manusia”

(Yoh. 1:4). Pengumuman Kristus “Akulah

kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25) mengu-

kuhkan bahwa di dalam Dia ada lah “hi-

dup, yang asli, yang tidak dipinjam, bukan

perolehan.”6

Kekudusan yaitu  bagian sifat-Nya. Pada

waktu pemberitaan mengenai kelahiran-Nya,

malaikat berkata kepada Maria, “Roh Ku-

dus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang

Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab

itu anak yang akan kaulahirkan itu akan di-

sebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Wak-

tu melihat Yesus, orang yang kerasukan Se-

tan berkata, “Apa urusan-Mu dengan kami,

... Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari

Allah” (Mrk. 1:24).

Ia kasih. “Demikianlah kita ketahui ka-

sih Kristus,” tulis Yohanes, “yaitu bahwa Ia

telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita”

(1 Yoh. 3:16).

Ia abadi. Yesaya menyebut-Nya “Bapa

56Allah Anak

yang Kekal” (Yes. 9:5). Mikha menyebut-

Nya sebagai Seorang “yang permulaannya

sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala

(Mi. 5:1). Rasul Paulus menandai ada-Nya

“terlebih dahulu dari segala sesuatu (Kol.

1:17), dan Yohanes sependapat dengan itu:

“Ia pada mulanya bersama-sama dengan

Allah. Sega-la sesuatu dijadikan oleh Dia

dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang te-

lah jadi dari sega-la yang telah dijadikan”

(Yoh. 1:2, 3).7

2. Kuasa Ilahi-Nya dan Hak Istimewa.

Karya Allah dinyatakan sebagai karya Ye-

sus. Ia dinyatakan sebagai Pencipta (Yoh. 1:

3; Kol. 1:16) dan Penyokong atau Penegak—

“segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol.

1:17; Ibr. 1:3). Ia dapat membangkitkan

orang mati dengan suara-Nya (Yoh. 5:28, 29)

dan akan menghakimi dunia pada hari ki-

amat (Mat. 25:31, 32). Ia mengampuni dosa

(Mat. 9:6; Mrk. 2:5-7).

3. Nama-nama Ilahi-Nya. Nama-nama

atau gelar-gelar yang diberikan kepada-Nya

menunjukkan sifat Ilahi-Nya. Imanuel ber-

arti “Allah menyertai kita” (Mat. 1:23). Baik

para pengikut-Nya, yakni orang-orang beri-

man, maupun Setan menyebut-Nya sebagai

Anak Allah (Mrk. 1:1; Mat. 8:29; banding-

kan Mrk. 5:7). Kitab Kudus Perjanjian Lama

memberi gelar kepada Allah Yahwe yang di-

kenakan kepada Yesus. Matius mengguna-

kan kata-kata Yesaya yang ada  dalam

Yesaya 40:3, “Persiapkanlah jalan untuk Tu-

han,” untuk menggambarkan pekerjaan pen-

dahuluan untuk misi Kristus (Mat. 3:3). Lalu

Yohanes mengidentifikasi Yesus dengan Tu-

han duduk bersama-sama di atas takhta-Nya

(Yes. 6:1, 3; Yoh. 12:41).

4. Keilahian-Nya Diakui. Yohanes me-

lukiskan Yesus sebagai Kalam Ilahi yang te-

lah “menjadi manusia” (Yoh. 1:1, 14). To-

mas mengaku Kristus yang bangkit itu se-

bagai “Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28).

sedang  Rasul Paulus menunjuk Dia se-

bagai Seorang “Allah yang harus dipuji sam-

pai selama-lamanya” (Rm. 9:5); dan Ibrani

menyebut Dia sebagai Tuhan dan Allah Pen-

cipta (Ibr. 1:8, 10).8

5. Kesaksian-Nya secara Pribadi. Ye-

sus sendiri menyatakan bahwa diri-Nya se-

tara dengan Tuhan Allah. ia menyatakan diri-

Nya sebagai “AKU TELAH ADA” (Yoh. 8:

58), Allah dari Perjanjian Lama. Ia menye-

but Tuhan “Bapa-Ku” ganti “Bapa kita”

(Yoh. 20:17). Dan pernyataan-Nya “Aku dan

Bapa yaitu  satu” (Yoh. 10:30) menegaskan

pernyataan bahwa Ia yaitu  “satu hakikat”

dengan Bapa, “memiliki ciri-ciri hakikat

yang sama.”9

6. Kesetaraan-Nya dengan Allah. Kese-

taraan-Nya dengan Allah Bapa dinyatakan

dalam pembaptisan (Mat. 28:19), dalam doa

syukur kerasulan (2 Kor. 13:14), dalam nasi-

hat perpisahan yang diberikan-Nya (Yoh.

14:16), dan di dalam penjelasa