doktrin Advent 1
Kitab Suci, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yaitu Sabda Allah yang tersurat, oleh
ilham Ilahi diberikan melalui orang-orang kudus yang berbicara dan menulis sementara
mereka digerakkan oleh Roh Kudus.
Dalam Kitab ini, Allah menyampaikan kepada manusia pengetahuan tentang keselamat-
an. Kitab Suci yaitu pernyataan kehendak Allah. Kitab Suci merupakan standar tabiat,
ujian pengalaman, pengungkap doktrin-doktrin yang berwenang dan catatan yang dapat
dipercaya akan perbuatan Allah dalam sejarah
Tidak ada buku seperti Alkitab yang amat
disukai, namun sangat dibenci dan seka-
ligus dikecam. Banyak juga orang yang te-
lah mati sebab mencari Alkitab. Sebagian
lagi dibunuh sebab Alkitab. Buku itu telah
mengilhami orang yang paling terkemuka
dengan tindakan-tindakan yang paling luhur,
namun juga dikecam sebab kemerosotan. Pe-
rang berkecamuk sebab Alkitab, revolusi
ada di dalam halaman-halamannya, dan
kerajaan-kerajaan runtuh sebab gagasan-
gagasan yang ada di dalamnya. Manu-
sia dari segala sudut pandang—mulai dari
teolog pembebasan sampai kepada para ka-
pitalis, dari fasis kepada Marxis, dari dikta-
tor kepada para pembebas, dari fasisme hing-
ga militeris—menyelidiki halaman-halaman-
nya untuk mencari kata yang dapat membe-
narkan perbuatan mereka.
Keunikan Alkitab bukanlah sebab ketia-
daan bandingannya secara politis, kultural,
maupun pengaruh sosial, melainkan dari
sumber dan masalah pokok yang dikan-
dungnya. Dengan penyataan Allah tentang
Allah-manusia yang unik:
Anak Allah, Yesus Kristus—Juruselamat
dunia.
WAHYU ILAHI
Berabad lamanya banyak orang memper-
tanyakan keberadaan Tuhan, sementara itu
dalam babakan sejarah manusia banyak pula
yang dengan meyakinkan menyaksikan bah-
wa Ia ada dan Ia menyatakan diri-Nya. Ba-
gaimana caranya Tuhan menyatakan diri-
Nya, dan bagaimana fungsi Alkitab dalam
wahyu-Nya.
Wahyu Secara Umum. Pandangan yang
mendalam mengenai tabiat Allah bahwa se-
jarah, tingkah laku manusia, hati nurani, dan
yang dinyatakan secara alamiah, sering dise-
but “wahyu secara umum” sebab wahyu itu
nyata bagi semua dan menarik pikiran.
Bagi berjuta manusia “Langit menceri-
takan kemuliaan Allah, dan cakrawala mem-
beritakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:
2). Sinar matahari, hujan, bukit-bukit, alir-
an sungai, semuanya menjadi saksi Pencip-
ta yang penuh dengan kasih sayang. “Sebab
apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu
kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya,
dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya
sejak dunia diciptakan, sehingga mereka ti-
dak dapat berdalih” (Rm. 1:20).
Yang lain dapat melihat bukti pemeliha-
raan Allah dalam hubungan yang penuh ba-
hagia serta curahan kasih sayang di antara
sahabat yang erat, kalangan anggota keluar-
ga, suami dan istri, orangtua dan anak. “Se-
perti seseorang yang dihibur ibunya, demi-
kianlah Aku ini akan menghibur kamu” (Yes.
66:13). “Seperti bapa sayang kepada anak-
anaknya, demikian Tuhan sayang kepada
orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm.
103:13).
Namun demikian, sinar matahari yang sa-
ma, yang telah menjadi saksi atas kasih sa-
yang Allah Pencipta itu, dapat pula mem-
balikkan bumi menjadi padang gurun yang
gersang, mendatangkan bala kelaparan. Hu-
jan yang sama juga dapat menjadi air yang
menghanyutkan kaum keluarga; bukit-bukit
yang sama, yang tinggi, dapat runtuh, rubuh
dan hancur. Hubungan antara manusia se-
ring diwarnai rasa cemburu, dengki, ama-
rah, bahkan juga kebencian yang menimbul-
kan pembunuhan.
Dunia sekitar kita memberi isyarat yang
berbaur, sejumlah pertanyaan dan sejumlah
jawabnya. Hal itu menampakkan konflik
antara yang baik dan yang jahat, namun ti-
dak menjelaskan bagaimana terjadinya kon-
flik itu, siapa yang berseteru, mengapa, atau
siapa yang pada akhirnya menang.
Penyataan Istimewa. Dosa membatasi
penyataan diri Allah melalui ciptaan sebab
tersamarnya kemampuan kita menafsirkan
kesaksian Allah. Dengan kasih, Allah mem-
berikan penyataan istimewa tentang diri-Nya
untuk membantu kita memperoleh jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan ini. Melalui Per-
janjian Lama dan Perjanjian Baru, Ia meng-
ungkapkan diri-Nya kepada kita dengan cara
yang istimewa, sehingga tidak ada lagi per-
tanyaan mengenai sifat kasih sayang-Nya.
Pada mula pertama penyataan-Nya melalui
para nabi; kemudian puncak pernyataan-Nya
tampak melalui Yesus Kristus (Ibr 1:1, 2).
Alkitab berisi dalil-dalil yang menyata-
kan kebenaran mengenai Allah, dan menya-
takan Dia sebagai satu pribadi. Kedua bi-
dang penyataan itu perlu: Kita perlu menge-
nal Tuhan Allah melalui Yesus Kristus (Yoh.
17:3), seperti halnya juga “menerima penga-
jaran di dalam Dia menurut kebenaran yang
nyata dalam Yesus” (Ef. 4:21). Melalui sa-
rana Kitab Suci, Allah menerobos mental,
moral dan keterbatasan rohani kita, meng-
komunikasikan keinginan-Nya untuk me-
nyelamatkan kita.
Alkitab menyatakan Allah dan membe-
berkan umat manusia. Diungkapkan-Nya ke-
sulitan yang kita hadapi dan jalan keluar di-
nyatakan-Nya. Buku itu menyampaikan bah-
wa kita sudah hilang, jauh dari Allah, serta
menyatakan Yesus satu-satunya yang mencari
dan membawa kita kembali kepada Allah.
Yesus Kristus yaitu fokus Kitab Suci.
Perjanjian Lama menyatakan Anak Allah se-
bagai Mesias, Penebus dunia: Perjanjian Ba-
ru menyatakan Dia sebagai Yesus Kristus,
Juruselamat. Setiap halaman, apakah itu de-
ngan lambang maupun kenyataan, menun-
jukkan beberapa tahap pekerjaan dan tabi-
at-Nya. Kematian Yesus di kayu salib meru-
pakan puncak penyataan tabiat Allah.
Salib membuat ini sebagai puncak per-
nyataan sebab salib itu mengemukakan dua
hal yang amat berbeda: jahatnya manusia
yang tidak terduga dan kasih Allah yang ti-
19Firman Tuhan Allah
dak habis-habisnya. Apakah yang dapat
memberikan gagasan yang mendalam kepa-
da kita mengenai betapa mudahnya manu-
sia itu berbuat kesalahan? Apakah cara pa-
ling tepat untuk menyatakan dosa? Salib me-
nyatakan Allah yang mengizinkan Anak
Tunggal-Nya dibunuh. Sebuah pengorban-
an yang luar biasa! Betapa Ia melakukan se-
buah pernyataan yang tiada taranya. Sesung-
guhnya, fokus Alkitab ialah Yesus Kristus.
Ia berada pada pusat panggung peristiwa se-
mesta. Tidak lama lagi kemenangan-Nya di
Golgota akan mencapai puncaknya pada
pembinasaan orang jahat. Manusia dan Al-
lah akan dipersatukan kembali.
Tema kasih Allah, khususnya seperti
yang tampak dalam kematian Kristus seba-
gai kor-ban di Golgota—yaitu kebenaran
yang pa-ling mulia dari alam semesta—ada-
lah fokus Alkitab. Semua kebenaran pokok
Alkitab ha-ruslah dipelajari dari sudut ini.
OTORITAS KITAB SUCI
Otoritas Alkitab atas iman dan praktik
muncul dari sumbernya. Para penulisnya me-
nganggap Alkitab sangat berbeda dari lite-
ratur lainnya. Mereka menganggapnya seba-
gai “kitab-kitab suci” (Rm. 1:2), “Kitab Su-
ci” (2 Tim. 3:15), dan “firman Allah” (Rm.
3:2; Ibr. 5:12).
Keunikan Kitab Suci berdasarkan sum-
ber dan keasliannya. Para penulis Alkitab ti-
dak menyatakan bahwa merekalah yang
membuat pesan yang disampaikan mereka
melainkan pesan itu diterima mereka dari
sumber Ilahi. Hanyalah dengan penyataan
Ilahi mereka dapat “melihat” kebenaran yang
telah disampaikan mereka (baca Yes. 1:1;
Am. 1:1; Hab. 1:1; Yer. 38:21).
Para penulis ini menunjuk bahwa Roh
Kudus inilah yang berhubungan dengan na-
bi-nabi, yang kemudian meneruskannya ke-
pada umat (Neh. 9:30; bandingkan dengan
Za. 7:12). Raja Daud berkata, “Roh Tuhan
berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya
ada di lidahku” (2 Sam. 23:2). Yehezkiel me-
nulis, “kembalilah rohku ke dalam aku,”
“Roh Tuhan meliputi aku,” “maka aku di-
angkat oleh Roh” (Yeh. 2:2; 11:5, 24, Terje-
mahan Lama). Lalu Mikha memberi kesak-
sian, “namun aku ini penuh dengan kekua-
tan, dengan Roh Tuhan” (Mi. 3:8).
Perjanjian Baru mengakui peranan Roh
Kudus dalam penulisan Perjanjian Lama. Ye-
sus mengatakan bahwa Daud diilhami Roh
Kudus (Mrk. 12:36). Paulus percaya bahwa
Roh Kudus berbicara “dengan perantaraan
nabi Yesaya” (Kis. 28:25). Petrus mengung-
kapkan bahwa Roh Kudus memimpin semua
nabi, bukan hanya beberapa dari antara me-
reka (1 Ptr. 1:10, 11; 2 Ptr. 1:21). Penulis sa-
ma sekali hanya menjadi latar belakang saja,
dan pengarang yang sebenarnya —Roh
Kudus—yang diakui: “Seperti yang dikata-
kan Roh Kudus....” Dengan ini Roh Kudus
menyatakan....” (Ibr. 3:7; 9:8).
Para penulis Perjanjian Baru mengaku
bahwa Roh Kudus merupakan sumber peka-
baran mereka. Rasul Paulus menjelaskan,
“namun Roh dengan tegas mengatakan bah-
wa di waktu-waktu kemudian, ada orang
yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh pe-
nyesat” (1 Tim. 4:1). Yohanes berbicara “pa-
da hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh” (Why.
1:10). Yesus memberikan perintah-Nya ke-
pada murid-murid-Nya melalui Roh Kudus
(Kis. 1:2; bandingkan dengan Ef. 3:3-5).
Demikianlah Tuhan Allah, dalam priba-
di Roh Kudus, telah menyatakan diri-Nya
melalui Kitab Suci. Ia menulis kitab itu bu-
kan dengan tangan-Nya sendiri, melainkan
dengan tangan orang lain, oleh kurang lebih
empat puluh orang, dalam kurun waktu le-
bih kurang 1500 tahun. Oleh sebab Roh Ku-
dus Allah mengilhami para penulis, sudah
20Firman Tuhan Allah
tentu Allah sendirilah yang menjadi penga-
rangnya.
PENGILHAMAN KITAB SUCI
Rasul Paulus menyatakan bahwa “sega-
la tulisan yang diilhamkan Allah” (2 Tim. 3:
16). Kata Yunani Theopneustos, diterjemah-
kan dengan kata “diilhamkan”sebenarnya
secara harfiah berarti “dihembuskan Allah.”
Allah “menghembuskan” kebenaran ke da-
lam pikiran manusia. Kemudian giliran ma-
nusia itulah untuk mengekspresikannya da-
lam kata yang kemudian menjadi Kitab Suci.
Oleh sebab itu, ilham atau inspirasi yaitu
sebuah proses yang digunakan Allah untuk
menyampaikan kebenaran-kebenaran-Nya
yang abadi.
Proses Inspirasi. Wahyu atau pernyata-
an Ilahi diberikan melalui inspirasi yang di-
berikan Allah kepada “orang-orang berbicara
atas nama Allah” yang digerakkan oleh “do-
rongan Roh Kudus” (2 Ptr. 1:21). Pernyata-
an-pernyataan ini diwujudkan dalam bahasa
manusia dengan segala keterbatasan dan ke-
kurangannya, namun tetap merupakan ke-
saksian Allah. Allah memberi ilham kepada
manusia—bukan kata demi kata.
Apakah para nabi itu pasif saja seperti
tape recorder yang merekam dan memantul-
kan kembali apa yang direkamnya? Dalam
beberapa hal tertentu para penulis disuruh
menuliskan perkataan Tuhan sebagaimana
yang dikatakan-Nya secara kata demi kata,
akan namun pada umumnya Tuhan Allah me-
nyuruh para penulis itu melukiskan perka-
taan dan petunjuk-Nya menurut kemampuan
yang terbaik yang dapat mereka berikan, ten-
tang apa yang dilihat dan didengar mereka.
Pada butir yang disebutkan belakangan, para
penulis menggunakan gaya dan pola kalimat-
nya sendiri.
Pengamatan Paulus mengatakan bahwa
“karunia nabi takluk kepada nabi-nabi” (1
Kor. 14:32). Inspirasi yang sejati tidak mele-
nyapkan individualitas nabi, akal, integritas
ataupun kepribadiannya.
Untuk tingkat tertentu, hubungan Musa
dan Harun menggambarkan hubungan Roh
Kudus dengan penulis. Tuhan Allah berkata
kepada Musa, “Aku mengangkat engkau se-
bagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abang-
mu, akan menjadi nabimu”(Kel. 7:1; ban-
dingkan 4:15, 16). Musa memberitahukan
pekabaran Allah kepada Harun, lalu Harun
menyampaikan pekabaran itu dalam gaya
dan kemampuan berbahasanya kepada Fi-
raun. Seperti halnya para penulis Alkitab me-
nyampaikan suruhan Ilahi, lalu mereka me-
nyampaikan perintah itu, pikiran-pikiran,
ide-ide, dalam gaya bahasa mereka sendiri.
sebab Tuhan berhubungan dengan cara se-
perti ini maka firman Tuhan Allah kosakata
buku yang ada dalam Alkitab berbeda-
beda, membayangkan pendidikan dan kul-
tur penulis-penulisnya yang beranekaragam.
Alkitab “bukanlah cara Allah berpikir dan
menyatakan ekspresi. Manusia akan sering
mengatakan bahwa ekspresi yang seperti itu
bukanlah ekspresi Allah. Akan namun Tuhan
tidak pernah menempatkan diri-Nya dalam
kata, dalam logika, retorika, di dalam gugat-
an dalam Alkitab. Penulis-penulis Alkitab
yaitu pena Allah” yang menuliskan, bukan
pena Dia.”1 “Tindakan pengilhaman bukan
berdasarkan kata-kata manusia atau penga-
lamannya melainkan manusia itu sendiri,
yang berada di bawah pengaruh Roh Kudus,
dikaruniai dengan buah-buah pikiran. Akan
namun , perkataan itu menerima kesan pikir-
an individual. Pikiran Ilahi disatukan. Pikir-
an dan kehendak Ilahi dipadukan dengan pi-
kiran dan kehendak manusia; sehingga ucap-
an yang disampaikan manusia yaitu meru-
pakan perkataan Allah.”2
21Firman Tuhan Allah
Dalam salah satu contoh kita dapati Tu-
han berbicara dan menulis kata demi kata
dalam Sepuluh Hukum. Tuhan yang menyu-
sunnya, bukan manusia (Kel. 20:1-17;31:18;
Ul. 10:4, 5), namun demikian, hal ini harus
diungkapkan dalam batas-batas bahasa ma-
nusia.
Oleh sebab itu, Alkitab yaitu pernya-
taan kebenaran Ilahi di dalam bahasa manu-
sia. Cobalah bayangkan upaya mengajarkan
fisika quantum kepada seorang anak kecil.
Kira-kira beginilah bentuk masalah, yang di-
hadapi Allah untuk menyampaikan kebenar-
an-kebenaran Ilahi kepada manusia, yang pe-
nuh dengan dosa, yang sangat terbatas. Kare-
na keterbatasan kita sebagai manusialah
yang merintangi apa yang dapat dikomu-
nikasikan-Nya kepada kita.
Persamaan seperti itulah yang ada
antara Yesus, yang menjelma menjadi manu-
sia, dengan Alkitab:’ Yesus yaitu Allah
yang juga manusia, yang Ilahi dan manusia
disatukan. Oleh sebab itu, Alkitab yaitu
paduan yang Ilahi dan manusiawi. Sebagai-
mana yang telah dikatakan mengenai Kris-
tus, demikian pula dikukuhkan mengenai Al-
kitab bahwa “Firman itu telah menjadi ma-
nusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14).
Gabungan manusia Ilahi ini telah membuat
Alkitab menjadi unik di antara literatur yang
ada.
Inspirasi dan Para penulis. Roh Kudus
menyiapkan beberapa orang tertentu untuk
menyampaikan kebenaran Ilahi. Alkitab ti-
dak menjelaskan secara rinci bagaimana Ia
melayakkan orang-orang tersebut, namun da-
lam beberapa cara Ia membentuk sebuah per-
paduan antara perwakilan Ilahi dengan per-
wakilan manusia.
Orang-orang yang turut ambil bagian da-
lam penulisan Alkitab dipilih bukan sebab
bakat-bakat alamiah, juga bukan sebab per-
nyataan wahyu perlu menobatkan orang ter-
sebut atau meyakinkannya mengenai hidup
kekal. Bileam mengumumkan pesan yang di-
sampaikan Ilahi sementara ia melakukan per-
buatan yang bertentangan dengan nasihat-
nasihat yang diberikan Tuhan (Bil. 22: 24).
Daud yang digunakan Tuhan melalui Roh
Kudus, juga pernah melakukan kejahatan
yang keji (bandingkan dengan Mzm. 51).
Semua penulis Alkitab yaitu orang-orang
berdosa yang setiap hari memerlukan anuge-
rah Tuhan (bandingkan dengan Rm. 3:12).
Pengalaman diilhaminya penulis-penulis
Alkitab lebih dari sekadar penerangan atau
tuntunan Ilahi, sebab hal ini terjadi kepada
semua orang yang mencari kebenaran. Alha-
sil, kadang-kadang penulis Alkitab menulis
pesan yang disampaikan kepada mereka tan-
pa memahami sepenuhnya pekabaran Ilahi
yang hendak dikomunikasikan oleh mereka
itu (1 Ptr. 1:10-12).
Sambutan penulis-penulis Alkitab itu ter-
hadap pekabaran yang disampaikan mereka
tidaklah seragam. Dikatakan, bahwa Daniel
dan Yohanes sangat tercengang dan tidak
memahami tulisan yang disampaikan mela-
lui mereka (Dan. 8:27; Why. 5:4), dan 1 Ptr.
1:10. menunjukkan bahwa para penulis lain
mencari tahu makna pekabaran yang disam-
paikan mereka atau pekabaran yang disam-
paikan orang-orang lain. Kadang-kadang
orang-orang ini takut menyampaikan peka-
baran yang diilhamkan melalui mereka, dan
beberapa dari antara mereka malahan ber-
debat dengan Allah (Hab. 1; Yun. 1:1-3; 4:1-
11).
Metode dan Isi Wahyu. Kerapkali Roh
Kudus menyampaikan pengetahuan dari Ila-
hi dengan menggunakan khayal dan mimpi
(Bil. 12:6). Kadang-kadang Ia berbicara de-
ngan jelas kadang-kadang juga melalui sua-
ra batin. Allah berbicara kepada Samuel de-
22Firman Tuhan Allah
ngan “memberi tahu” (1 Sam. 9:15, Terje-
mahan Lama). Zakharia menerima pengli-
hatan dengan lambang disertai penjelasan-
nya (Za. 4). Penglihatan atau khayal-khayal
mengenai surga yang diterima Paulus dan
Yohanes diiringi dengan petunjuk-petunjuk
lisan (2 Kor. 12:1-4; Why. 4, 5). Yehezkiel
mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi
di tempat lain (Yeh. 8). Beberapa penulis
turut serta dalam penglihatan-penglihatan
mereka, menjalankan tugas-tugas tertentu se-
bagai satu bagian dari penglihatan itu sen-
diri (Why. 10).
Mengenai isinya, kepada beberapa orang,
Roh memperlihatkan peristiwa yang akan
terjadi (Dan. 2, 7, 8, 12). Sementara itu, be-
berapa dari antaranya mencatat kejadian-ke-
jadian yang penting, apakah berdasarkan pe-
ngalaman pribadi maupun dengan memilih
bahan-bahan dari catatan historis yang ada
(Hakim-hakim, 1 Sam., 2 Taw., Injil dan Ki-
sah Para Rasul).
Inspirasi dan Sejarah. Penegasan Alki-
tabiah bahwa “segala tulisan yang diilham-
kan Allah” bermanfaat serta berkuasa mem-
beri petunjuk moral dan kehidupan rohani
(2 Tim. 3:15, 16) tidak ada keragu-raguan
mengenai bimbingan Ilahi dalam proses pe-
milihan. Entah informasi itu berasal dari pe-
ngamatan pribadi, sumber lisan maupun tu-
lisan, atau pernyataan langsung, semuanya
itu sampai kepada penulis melalui bimbing-
an Roh Kudus. Ini menjamin bahwa Alkitab
layak dipercaya.
Alkitab menyatakan rencana Tuhan Al-
lah di dalam interaksi dinamik-Nya dengan
umat manusia, bukan dalam sebuah him-
punan doktrin abstrak. Penyataan diri-Nya
nyata dalam peristiwa-peristiwa yang benar
yang terjadi pada waktu dan tempat yang
pasti. Nilai-nilai historis yang dapat diper-
caya sangatlah penting sebab hal itulah yang
membentuk kerangka kerja pemahaman kita
mengenai sifat Allah serta maksud tujuan-
Nya bagi kita. Sebuah pemahaman yang te-
pat akan membimbing kepada kehidupan ke-
kal, sedang pandangan hidup yang keli-
ru akan membawa kepada kekacauan dan ke-
matian.
Allah menyuruh orang-orang tertentu un-
tuk menulis sejarah hubungan-Nya dengan
bangsa Israel. Pengisahan yang bersifat his-
toris ini, ditulis dengan cara pandang yang
sangat berlainan dari sejarah sekular, terdiri
dari suatu bagian penting Alkitab (banding-
kan Bil. 33:1, 2; Yoh. 24:25, 26; Yeh. 24:2).
Kepada kita disajikan sejarah yang objektif
dan tepat, tentu dari sudut pandang Ilahi. Roh
Kudus memberikan kepada para penulis wa-
wasan khusus agar mereka dapat mencatat
peristiwa-peristiwa dalam pertentangan an-
tara yang baik dan yang jahat yang menun-
jukkan sifat Allah serta menuntun manusia
dalam pencarian mereka atas keselamatan.
Insiden yang bersifat historis yaitu “con-
toh” dan “dituliskan untuk menjadi peringat-
an bagi kita yang hidup pada waktu di mana
zaman akhir telah tiba” (1 Kor. 10:11). Pau-
lus berkata, “Sebab segala sesuatu yang di-
tulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pe-
lajaran bagi kita, supaya kita teguh berpe-
gang pada pengharapan oleh ketekunan dan
penghiburan dari Kitab Suci” (Rm. 15:4).
Kebinasaan Sodom dan Gomora merupakan
“peringatan” atau amaran (2 Ptr. 2:6; Yud.
7). Pengalaman Ibrahim mengenai pembe-
naran yaitu merupakan sebuah contoh bagi
setiap orang percaya (Rm. 4:1-25; Yak. 2:14-
22). Bahkan hukum-hukum sipil Perjanjian
Lama, yang sarat dengan makna rohani yang
dalam, ditulis demi kepentingan kita seka-
rang ini (1 Kor. 9:8,9).
Lukas menyebutkan bahwa ia menulis In-
jil sebab ia ingin melukiskan kehidupan Ye-
sus “supaya engkau dapat mengetahui, bah-
23Firman Tuhan Allah
wa segala sesuatu yang diajarkan kepada-
mu sungguh benar” (Luk. 1:4). Kriteria yang
digunakan Yohanes untuk memilih peristi-
wa kehidupan Yesus untuk dimasukkan ke
dalam Injil yang ditulisnya ialah “supaya ka-
mu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak
Allah, dan supaya kamu oleh imanmu mem-
peroleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:
31). Allah membimbing para penulis Alkitab
untuk menyajikan sejarah dalam cara yang
dapat menuntun kita kepada keselamatan.
Para penulis riwayat hidup tokoh-tokoh
Alkitab menggunakan bukti lain dari inspi-
rasi Ilahi. Digambarkannya dengan cermat
kelemahan maupun kekuatan yang dimiliki
tokoh-tokoh yang dikisahkannya. Mereka
menuturkan dengan jujur dosa tokoh-tokoh
itu, berikut keberhasilan yang telah diper-
oleh mereka.
Nuh yang tidak dapat menguasai diri, di-
kisahkan jelas tanpa ditutup-tutupi, begitu
pula dengan akal bulus yang dilakukan Ibra-
him. Dengan jelas tingkah laku Musa, Pau-
lus, Yakobus dan Yohanes dicatat. Sejarah
Alkitab mengungkapkan kegagalan raja
bangsa Israel yang paling bijaksana sekali
pun, dan kelemahan kedua belas bapa dan
kedua belas rasul. Kitab Suci tidak membe-
ri dalih mengenai mereka, tidak juga menge-
cilkan kesalahan mereka. Dengan terus te-
rang dituturkan apa adanya tentang mereka
berikut kegagalan mereka, bagaimana me-
reka seharusnya, melalui karunia Allah. Tan-
pa inspirasi dari Tuhan tidak akan ada penu-
lis riwayat hidup tokoh Alkitab dapat menu-
lis uraian pengertian yang demikian.
Para penulis Alkitab menganggap kisah
yang bersejarah, semuanya mengandung ca-
tatan sejarah yang sejati, bukan sebagai do-
ngeng maupun perlambang belaka. Banyak
orang masa kini yang ragu-ragu dan meno-
lak kisah mengenai Adam dan Hawa, menge-
nai Yunus maupun kisah air bah. Padahal
Yesus menganggapnya sebagai sejarah yang
benar dan secara rohaniah sangat relevan
(Mat. 12:39-41; 19:4-6; 24:37-39).
Alkitab tidak mengajarkan pengilhaman
sebagian atau tingkat inspirasi. Teori pengil-
haman yang separuh-separuh itu bersifat spe-
kulatif dan merampas Alkitab dari otoritas-
nya.
Ketepatan Kitab Suci. Sebagaimana Ye-
sus “telah menjadi manusia, dan diam di an-
tara kita” (Yoh. 1:14), supaya dengan demi-
kian kita dapat memahami kebenaran, Alki-
tab telah diberikan dalam bahasa manusia.
Pengilhaman Kitab Suci menjamin kelaya-
kannya untuk dipercaya.
Seberapa jauhkah pimpinan Tuhan keti-
ka mengirimkan pekabaran yang dijamin itu,
bahwa pekabaran itu sendiri sahih dan sem-
purna? Memang benar bahwa naskah kuno
agak beragam namun kebenaran-kebenaran
yang hakiki tetap terpelihara.3 Sementara pa-
ra penyalin dan penerjemah Alkitab sangat
mungkin mengadakan kesalahan-kesalahan
kecil, bukti dari penyelidikan purbakala me-
ngenai Alkitab menunjukkan bahwa kesalah-
an-kesalahan itu sebenarnya yaitu ke-
salahpahaman di pihak para sarjana. Seba-
gian masalah itu timbul sebab orang-orang
yang membaca sejarah dan kebiasaan Al-
kitab dipandang dari mata orang Barat. Kita
harus mengakui bahwa pengetahuan manu-
sia hanya sebagian saja—wawasan mereka
terhadap pekerjaan Ilahi tetap tidak pernah
lengkap.
Pengamatan yang tidak selamanya cocok
seharusnya janganlah membuat keyakinan
kita berkurang terhadap Kitab Suci; sering-
kali hal itu merupakan akibat dari pandang-
an-pandangan kita yang kurang tepat ketim-
bang kesalahan yang sebenarnya. Apakah
Allah harus disalahkan jika kita mene-
mukan sebuah kalimat atau nas yang tidak
24Firman Tuhan Allah
dapat kita pahami betul? Boleh jadi kita ti-
dak akan pernah dapat menerangkan setiap
nas Alkitab, ya, memang tidak akan pernah
dapat kita lakukan. Nubuatan-nubuatan yang
digenapi membenarkan bahwa Alkitab da-
pat dipercaya sepenuhnya.
Walaupun ada usaha-usaha untuk meng-
hancurkannya, Alkitab tetap terpelihara de-
ngan ajaib, bahkan dengan ketepatan yang
menakjubkan. Perbandingan penemuan gu-
lungan Dead Sea Scrolls dengan naskah Per-
janjian Lama menunjukkan kecermatan pe-
nyampaiannya.4 Hal itu mengukuhkan kela-
yakannya untuk dipercaya, keterpercayaan
atas Kitab Suci sebagai pernyataan kehendak
Allah yang tidak pernah salah.
OTORITAS KITAB SUCI
Kitab Suci memperoleh otoritas Ilahi ka-
rena di dalam kitab-kitab itulah Tuhan ber-
bicara melalui Roh Kudus. Oleh sebab itu,
Alkitab yaitu Firman Allah yang ditulis-
kan. Di manakah ada bukti pernyataan
ini dan apakah implikasinya untuk hidup kita
dan pencarian kita akan pengetahuan?
Pernyataan-pernyataan Kitab Suci.
Para penulis Alkitab memberikan kesaksian
bahwa pekabaran mereka langsung datang
dari Tuhan Allah. Itulah “firman Tuhan”
yang datang kepada Yeremia, Yehezkiel, Ho-
sea dan yang lain-lain (Yer. 1:1, 2, 9; Yeh.
1:3; Hos. 1:1; Yl. 1:1; Yun. 1:1). Sebagai juru
kabar-juru kabar Tuhan (Hag. 1:13; 2 Taw.
36:15), para nabi Tuhan diutus untuk berbica-
ra atas nama-Nya, mengatakan, “Beginilah fir-
man Tuhan Allah” (Yeh. 2:4; bandingkan Yes.
7:7). Firman-Nya mengandung kepercayaan
dan otoritas yang dilimpahkan Tuhan.
Seringkali manusia yang digunakan Tu-
han sebagai alat-Nya ditempatkan sebagai
latar belakang. Matius menyinggung otori-
tas di balik Perjanjian Lama, hal mana para
nabi dikutipnya dengan berkata, “Hal itu ter-
jadi supaya genaplah yang difirmankan Tu-
han oleh nabi” (Mat. 1:22). Ia melihat Tu-
han yang menyampaikan langsung, otoritas
itu; nabi hanyalah sebagai utusan yang tidak
langsung.
Petrus menggolongkan tulisan-tulisan ra-
sul Paulus sebagai Kitab Suci (2 Ptr. 3:15,
16). Dan Paulus sendiri memberikan kesak-
sian mengenai apa yang dituliskannya, “Ka-
rena aku bukan menerimanya dari manusia,
dan bukan manusia yang mengajarkannya
kepadaku, namun aku menerimanya oleh per-
nyataan Yesus Kristus” (Gal. 1:12). Para pe-
nulis Perjanjian Baru menerima firman Ye-
sus Kristus sebagai Kitab Suci dan meng-
anggapnya memiliki otoritas yang sama se-
perti tulisan-tulisan Perjanjian Lama (1Tim.
5:18; Luk 10:7).
Yesus dan Otoritas Kitab Suci. Sela-
ma masa pelayanan-Nya, Yesus menekankan
otoritas Kitab Suci. Waktu dicobai Iblis atau
melawan seteru-seteru-Nya, kata “Ada ter-
tulis” merupakan pertahanan dan penyerang-
an-Nya (Mat. 4:4, 7, 10; Luk. 20:17). “Manu-
sia hidup bukan dari roti saja, namun dari se-
tiap firman yang keluar dari mulut Allah”
(Mat. 4:4).
Ketika ditanya bagaimana seseorang dapat
memperoleh kehidupan kekal, Yesus menja-
wab, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?
Apa yang kaubaca di sana?” (Luk. 10:26).
Yesus menempatkan Alkitab di atas tra-
disi dan pendapat-pendapat manusia. Ia me-
ngecam orang-orang Yahudi sebab menge-
sampingkan otoritas Kitab Suci (Mrk. 7:7-
9), dan meminta mereka supaya mempela-
jari Kitab Suci dengan tekun, dengan berka-
ta, “Belum pernahkah kamu baca dalam Ki-
tab Suci?” (Mat. 21:42; bandingkan Mrk. 12:
10, 26).
25Firman Tuhan Allah
Dengan tandas Ia mengatakan dan per-
caya atas otoritas nubuat serta menyatakan
bahwa perkataan itu ditujukan kepada-Nya.
Kitab Suci, kata-Nya, “memberi kesaksian
tentang Aku.” “Sebab jikalau kamu percaya
kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga
kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang
Aku”(Yoh. 5:39, 46). Pengukuhan Yesus
yang paling meyakinkan ialah bahwa Ia men-
dapat tugas dari Tuhan Allah dengan meng-
genapi apa yang telah dinubuatkan dalam
Perjanjian Lama (Luk. 24:25-27).
Demikianlah, tanpa syarat Kristus mene-
rima Kitab Suci sebagai pernyataan yang sah
dari kehendak Tuhan bagi bangsa manusia.
Ia memandang Kitab Suci sebagai batang tu-
buh kebenaran, sebuah pernyataan objektif,
yang diberikan untuk menuntun manusia ke-
luar dari kegelapan, aneka ragam kesalahan,
kebiasaan dan dongeng-dongeng untuk mem-
bawa kepada terang kebenaran yakni penge-
tahuan yang mendatangkan keselamatan.
Roh Kudus dan Otoritas Kitab Suci.
Waktu Yesus hidup di dunia ini para pemim-
pin agama dan masyarakat yang bersikap
acuh tak acuh tidak memperhatikan identi-
tas-Nya yang sejati. Sebagian dari antara me-
reka merasa bahwa Ia hanyalah seorang nabi
seperti Yohanes Pembaptis, Elia, atau’ Ye-
remia—hanya seorang manusia biasa. Ke-
tika Petrus mengakui bahwa Yesus yaitu
“Mesias, Anak Allah yang hidup,” Yesus me-
nunjukkan bahwa penerangan Ilahi itulah
yang memungkinkan pengakuannya (Mat.
16:13-17). Paulus menekankan kebenaran
ini: “Tidak ada seorang pun, yang dapat
mengaku”: ‘Yesus yaitu Tuhan,’ selain oleh
Roh Kudus” (1 Kor. 12:3). Demikian pula-
lah dengan Firman Allah yang tertulis. Tan-
pa penerangan Roh Kudus pikiran kita ti-
dak akan dapat memahami dengan tepat Al-
kitab itu, atau mengakuinya sebagai kehen-
dak otoritas Allah. sebab “tidak ada orang
yang tahu, apa yang ada di dalam diri
Allah selain Roh Allah” (1 Kor. 2:11) ke-
mudian bahwa “manusia duniawi tidak me-
nerima apa yang berasal dari Roh Allah, ka-
rena hal itu baginya yaitu suatu kebodohan;
dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal
itu hanya dapat dinilai secara rohani” (1 Kor.
2:14). Sebab pemberitaan tentang salib me-
mang yaitu kebodohan bagi mereka yang
akan binasa” (1 Kor. 1:18).
Hanya berkat bantuan Roh Kudus, ba-
rangsiapa yang menyelidiki “segala sesuatu,
bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri
Allah” (1 Kor. 2:10), seseorang menjadi ya-
kin akan otoritas Alkitab sebagai suatu wah-
yu Allah dan kehendak-Nya. Hanyalah de-
ngan salib itu ada ”kekuatan Allah” (1
Kor. 1:18) yang akan menjadikan seseorang
dapat bergabung bersama-sama Paulus da-
lam kesaksiannya, “Kita tidak menerima roh
dunia, namun roh yang berasal dari Allah, su-
paya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah
kepada kita” (1 Kor. 2:12).
Roh Kudus dengan Kitab Suci tidak akan
pernah dapat dipisahkan. Roh Kudus penga-
rang dan pewahyu kebenaran Alkitab.
Perkembangan dan kemunduran kuasa
Kitab Suci dalam kehidupan kita sesuai de-
ngan konsep inspirasi. Jika kita menganggap
Alkitab hanyalah sekadar kumpulan kesak-
sian manusia atau jika otoritas yang menja-
di jaminan kita itu dengan cara-cara tertentu
bergantung atas gerakan perasaan kita sendi-
ri, atau pada emosi kita, berarti kita mele-
mahkan kuasanya dalam kehidupan kita.
Akan namun jika kita melihat dan mem-
perhatikan suara Allah berbicara melalui para
penulis itu, tidak peduli betapa lemah dan
betapa manusiawi pun mereka, Kitab Suci
menjadi otoritas mutlak dalam masalah dok-
trin, teguran, perbaikan kelakuan dan men-
didik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16).
26Firman Tuhan Allah
Ruang Lingkup Otoritas Kitab Suci.
Kontradiksi antara Kitab Suci dan ilmu pe-
ngetahuan seringkali disebabkan spekulasi.
jika kita tidak dapat menyelaraskan ilmu
pengetahuan dengan Kitab Suci, penyebab-
nya hanyalah sebab kita “memiliki pema-
haman yang tidak sempurna baik mengenai
ilmu pengetahuan maupun wahyu... namun
jika dapat dipahami dengan baik, pastilah ke-
duanya dalam keselarasan yang sempurna.
Semua hikmat manusia harus tunduk ke-
pada otoritas Kitab Suci. Kebenaran-kebe-
naran Alkitab yaitu norma yang menjadi
patokan ujian segala gagasan. Mengukur fir-
man Allah dengan ukuran-ukuran manusia
‘yang serba terbatas itu sama saja dengan
upaya mengukur bintang-bintang dengan
meteran. Ukuran-ukuran Alkitab tidak bo-
leh ditaklukkan ukuran-ukuran atau norma-
norma manusia. Norma-norma yang terda-
pat di dalamnya jauh lebih tinggi daripada
segala akal budi dan literatur manusia. Kita
ditimbang dengan takaran Alkitab, bukan-
nya kita yang menimbangnya, sebab itulah
ukuran tabiat dan segala pengalaman dan
pikiran.
Akhirnya, Kitab Suci berkuasa atas sega-
la karunia yang berasal dari Roh Kudus, ter-
masuk bimbingan melalui karunia nubuat
atau karunia lidah (1 Kor. 12; 14:1; Ef. 4:7-
16). Karunia Roh tidak lebih tinggi daripa-
da Alkitab; sebenarnya , justru karunia-
karunia itu haruslah diuji oleh Alkitab, ka-
lau karunia itu tidak sesuai dengannya, maka
haruslah disingkirkan sebab karunia yang
demikian yaitu palsu. “Akan torat dan as-
syahadat, barangsiapa yang berkata-kata tia-
da setuju dengan perkataan itu, sekali-kali
tiada akan terbit fajar baginya” (Yes. 8:20,
Terjemahan lama). (Baca juga bab 17 dari
buku ini).
KESATUAN KITAB SUCI
Pembacaan Kitab Suci secara dangkal
akan membuahkan pemahaman yang dang-
kal pula. Kalau dibaca dengan cara seperti
itu, maka Alkitab akan tampak seperti him-
punan cerita yang tidak beraturan, khotbah
yang centang perenang, dan sejarah yang ti-
dak karuan. Akan namun , barangsiapa yang
membuka pikiran kepada penerangan Roh
Allah, barang siapa yang mau menyelidik
kebenaran-kebenaran yang terpendam de-
ngan sabar dan dengan doa, akan menemu-
kan bukti-bukti dalam Alkitab yang meru-
pakan satu kesatuan dalam pengajaran me-
ngenai prinsip-prinsip keselamatan. Ternyata
Alkitab bukanlah sesuatu yang membosan-
kan. Sebaliknya, Alkitab sangat kaya dan
beraneka ragam dalam kesaksian yang amat
serasi dalam keindahannya yang ajaib dan
unik. sebab keanekaragaman yang terkan-
dung di dalamnya, ragam-ragam pandangan
itu sungguh baik untuk memenuhi keperlu-
an manusia sepanjang zaman.
Tuhan Allah tidak menampakkan diri-
Nya kepada manusia dalam sebuah rangkai-
an yang terus-menerus tanpa selingan, me-
lainkan menampakkan diri-Nya sedikit demi
sedikit, dari generasi kepada generasi. Apa-
kah itu dinyatakan melalui pena Musa di
padang belantara Midian, atau melalui Ra-
sul Paulus ketika dipenjarakan di Roma, bu-
ku-buku itu menampakkan komunikasi yang
diilhami oleh Roh yang serupa. Pemahaman
atas “pernyataan yang progresif’ ini berpe-
ran dalam menanamkan pemahaman atas Al-
kitab dan kesatuannya.
Sekalipun ditulis dalam generasi yang
berbeda, kebenaran-kebenaran yang terda-
pat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru tetap tidak dapat dipisahkan; kedua-
27Firman Tuhan Allah
nya saling tidak bertentangan. Kedua saksi
itu satu sebagaimana Tuhan Allah esa ada-
nya. Perjanjian Lama, melalui nubuatan-
nubuatan dan perlambang, menyatakan In-
jil Juruselamat yang akan datang; Perjanji-
an Baru, melalui kehidupan Yesus, menya-
takan Juruselamat yang telah datang—Injil
dalam wujud yang nyata. Kedua-duanya
menyatakan Allah yang sama. Perjanjian
Lama bertindak sebagai fondasi bagi Perjan-
jian Baru. Di dalamnya disediakan kunci
untuk membuka Perjanjian Baru sementara
Perjanjian Baru menjelaskan misteri Per-
janjian Lama.
Dengan penuh rahmat dan karunia Allah
memanggil kita supaya berkenalan dengan
Dia melalui penyelidikan atas Firman-Nya.
Di dalamnya akan kita temukan kekayaan
berkat yang pasti akan keselamatan kita. Kita
dapat mengungkapkannya bagi diri sendiri,
sebab Kitab Suci “diilhamkan Allah me-
mang bermanfaat untuk mengajar, untuk me-
nyatakan kesalahan, untuk memperbaiki ke-
lakuan dan untuk mendidik orang dalam ke-
benaran.” Melalui Kitab Suci itulah kita da-
pat “diperlengkapi untuk setiap perbuatan
baik” (2 Tim. 3:16, 17).
Hanya ada satu Tuhan: Bapa, Anak dan Roh Kudus, satu kesatuan
dari tiga Pribadi-abadi. Allah yang abadi, mahakuasa, mahatahu di
atas segala-galanya, dan mahahadir. Ia tidak mengenal batas dan di
luar kemampuan pemahaman manusia, namun dapat dikenal sebab
penyataan diri-Nya sendiri. Ia layak disembah untuk selama-lamanya,
dipuja dan dilayani oleh seluruh makhluk ciptaan.—Fundamental
Beliefs,—2.
29
Di Golgota hampir semua orang menolak
Yesus. Hanya beberapa orang saja yang
mengetahui siapa Dia sebenarnya—terma-
suk di antara mereka yang mengenal-Nya
ialah pencuri yang hampir mati yang menye-
but Dia Tuhan (Luk. 23:42), dan serdadu Ro-
ma yang berkata, “Sungguh, orang ini ada-
lah Anak Allah!” (Mrk. 15:39).
Tatkala Yohanes menulis, “Ia datang kepa-
da milik kepunyaan-Nya, namun orang-orang
kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”
(Yoh. 1:11), yang dipikirkan Yohanes bukan-
lah hanya orang banyak yang ada di sekeli-
ling salib itu, bahkan bukan hanya orang Is-
rael, melainkan setiap generasi yang pernah
hidup. Kecuali beberapa gelintir saja, semua
manusia, seperti orang-orang yang berteriak
hingga parau di bukit Golgota, telah gagal
mengenal Yesus Tuhan dan Juruselamat me-
reka. Kegagalan ini menunjukkan bahwa pe-
ngetahuan manusia mengenai Allah sangat
kurang dan terbatas sekali.
PENGETAHUAN MENGENAI ALLAH
Telah banyak teori yang dilontarkan ‘un-
tuk menjelaskan ihwal Allah, banyak pula
sanggahan untuk Dia dan menentang ada-
nya Dia, hal ini menunjukkan bahwa akal
budi manusia tidak mampu menembus yang
Ilahi. Kalau bergantung kepada akal budi
manusia saja untuk menyelidiki mengenai
Tuhan sama saja dengan menggunakan sebu-
ah kaca pembesar untuk mempelajari ilmu
perbintangan. sebab itu, bagi banyak orang
hikmat Tuhan yaitu “hikmat yang tersem-
bunyi” (1 Kor. 2:7). Bagi mereka Tuhan ada-
lah misteri. Rasul Paulus menulis,’ Tidak ada
dari penguasa dunia ini yang mengenal-Nya,
sebab kalau sekiranya mereka mengenal-
Nya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang
mulia” (1 Kor. 2:8).
Salah satu perintah Tuhan yang sangat
mendasar dari Kitab Suci ialah supaya me-
ngasihi “Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan de-
ngan segenap akal budimu” (Mat. 22:37;
bandingkan dengan Ul. 6:5). Kita tidak da-
pat mengasihi seseorang yang sama sekali
tidak kita kenal, bahkan kita tidak dapat me-
nyelidiki perkara-perkara Allah yang sangat
mendalam (Ayb. 11:7). Kalau begitu, bagai-
manakah kita dapat mengenal serta menga-
sihi Pencipta kita?
Allah Dapat Diketahui atau Dikenal.
Mengingat manusia yang berada dalam kea-
daan serba berbahaya itu, Allah di dalam ka-
sih-Nya dan panjang sabar-Nya, menjangkau
kita melalui Alkitab. Ditunjukkannya bah-
wa ‘Kekristenan bukanlah sebuah catatan
dari hal pertanyaan manusia mengenai Al-
lah; melainkan hasil pernyataan Allah dari
hal diri-Nya dan maksud-tujuan-Nya kepa-
da manusia.”1 Pernyataan diri ini direncana-
kan untuk menjembatani jurang antara du-
nia yang memberontak dengan Tuhan yang
pemurah.
Pernyataan kasih Allah yang terbesar me-
lalui pernyataan-Nya yang paling agung, yak-
ni dengan kehadiran Yesus Kristus, Anak-
Nya itu. Melalui Yesus kita dapat mengenal
Dia, sang Bapa. Sebagaimana Yohanes me-
ngatakan, “Anak Allah telah datang dan te-
lah mengaruniakan pengertian kepada kita,
supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita
ada di dalam Yang Benar” (1 Yoh. 5:20).
Yesus berkata, “Inilah hidup yang kekal
itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan menge-
nal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”
(Yoh. 17:3).
Inilah kabar baik. Walaupun mustahil me-
ngetahui Tuhan sepenuhnya, namun Kitab
Suci memberikan Pengetahuan praktis ten-
tang Dia yang cukup memadai untuk kita
masuki suatu hubungan yang menyelamat-
kan dengan Dia.
Memperoleh Pengetahuan Mengenai
Allah. Tidak seperti pengetahuan lainnya,
pengetahuan mengenai Allah sama kadarnya
antara hati dengan pikiran. Pengetahuan yang
demikian mencakup keseluruhannya, tidak
hanya intelek saja. Harus ada keterbukaan
terhadap Roh Kudus dan kemauan untuk me-
lakukan kehendak Allah (Yoh. 7:17; banding-
kan Mat. 11:27). Yesus berkata, “Berbaha-
gialah orang yang suci hatinya, sebab mere-
ka akan melihat Allah” (Mat 5: 8).
Oleh sebab itu, orang-orang yang tidak
beriman, tidak dapat memahami Tuhan. Ra-
sul Paulus berseru, “Di manakah orang yang
berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di ma-
nakah pembantah dari dunia ini? Bukankah
Allah telah membuat hikmat dunia ini men-
jadi kebodohan? Oleh sebab dunia, dalam
hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hik-
matnya, maka Allah berkenan menyelamat-
kan mereka yang percaya oleh kebodohan
pemberitaan Injil” (1 Kor. 1:20, 21).
Cara untuk mempelajari pengetahuan
mengenai Allah dari Alkitab berbeda dengan
segala macam metode pengetahuan. Kita ti-
dak boleh menempatkan diri kita sendiri di
atas Allah dan memperlakukan-Nya sebagai
objek analisis dan objek ukuran. Kalau kita
meneliti Allah untuk memperoleh pengeta-
huan mengenai Dia, kita harus tunduk ke-
pada otoritas penyataan diri-Nya, Alkitab.
sebab .Alkitab sendirilah yang menjadi
penafsirnya maka kita harus taat kepada
prinsip-prinsip dan metode yang terkandung
di dalamnya. Tanpa bimbingan yang Alkita-
biah kita tidak akan dapat mengenal Allah.
Mengapa begitu banyak orang yang hi-
dup pada masa Yesus dahulu tidak mampu
melihat pernyataan diri Allah di dalam Ye-
sus? Sebabnya ialah sebab mereka meno-
lak bimbingan Roh Kudus melalui Alkitab,
mereka menafsirkan pekabaran Allah de-
ngan cara yang salah serta menyalibkan Ju-
31Keallahan
ruselamat mereka. Masalah mereka bukan-
lah masalah intelek. sebab mereka menu-
tup pintu hati mereka, maka pikiran mereka
pun digelapkan, akibatnya ialah kematian
yang kekal.
EKSISTENSI ALLAH
Ada dua sumber utama bukti adanya Tu-
han, yakni: buku alam dan Kitab Suci.
Bukti dari Penciptaan. Setiap orang da-
pat belajar mengenai adanya Allah melalui
alam dan pengalaman manusia. Daud menu-
lis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan ta-
ngan-Nya” (Mzm. 19:2). Yohanes berpenda-
pat bahwa pernyataan Allah, termasuk alam,
menerangi setiap orang (Yoh. 16). Paulus
pun menyatakan, “Sebab apa yang tidak
nampak dari pada-Nya; yaitu kekuatan-Nya
yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nam-
pak kepada pikiran dari karya-Nya sejak du-
nia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat
berdalih” (Rm. 1:20).
Perilaku manusia juga menunjukkan buk-
ti adanya Allah. Di dalam perbaktian orang
Athena ada yang disembah yang disebut “Al-
lah yang tidak dikenal,” dan disinilah Pau-
lus melihat bukti adanya Tuhan Allah. Kata
Paulus, “Apa yang kamu sembah tanpa me-
ngenalnya, itulah yang kuberitakan kepada
kamu” (Kis. 17:23). Paulus juga mengata-
kan perilaku orang-orang yang bukan Kris-
ten memberikan kesaksian mengenai “do-
rongan diri sendiri” serta menunjukkan bah-
wa Taurat Allah tertulis “di dalam hati mere-
ka” (Rm. 2:14, 15). Intuisi seperti ini pun,
mengenai adanya Allah, ada pada orang
yang mengetahui Alkitab. Pernyataan yang
umum mengenai Allah ini membawa kepa-
da sejumlah argumen rasional yang klasik
tentang adanya Allah?
Bukti dari Kitab Suci. Alkitab tidak
membuktikan adanya Allah. Melainkan me-
nganggapnya ada. Pada pembukaan Alkitab
itu menyatakan, “Pada mulanya Allah men-
ciptakan langit dan bumi” (Kej.1:1): Alkitab
menggambarkan Allah sebagai Pencipta, Pe-
nyokong dan Pemerintah semua makhluk
ciptaan. Pernyataan Allah melalui pencip-
taan amat tangguh sehingga tiada dalih bagi
penganut ateisme, yang justru timbul dari
penindasan kebenaran Ilahi atau dari buah
pikiran orang yang menolak mengakui buk-
ti bahwa Allah itu ada (Mzm. 14:1; Rm. 1;18-
22, 28).
Cukup banyak bukti tentang adanya Al-
lah yang meyakinkan siapa pun yang dengan
sungguh-sungguh berusaha mencari kebe-
naran mengenai Dia. Namun demikian, iman
yaitu prasyarat sebab ”tanpa iman tidak
mungkin orang berkenan kepada Allah. Se-
bab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia
harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa
Allah memberi upah kepada orang yang
sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).
Beriman kepada Allah tidak berarti buta.
Iman kepada Allah itu didasarkan pada buk-
ti yang cukup memadai yang terkandung da-
lam perwujudan Allah melalui Kitab Suci
dan alam.
ALLAH BERDASARKAN KITAB
SUCI
Alkitab menyatakan ciri-ciri hakiki Al-
lah melalui nama-Nya, kegiatan-kegiatan
dan sifat-sifat-Nya.
Nama-nama Allah. Pada masa Alkitab
ditulis, nama amat penting sebagai mana pa-
da umumnya kebiasaan yang masih berlaku
sekarang ini di Timur Dekat dan Timur. Ada
nama yang dianggap menunjukkan sifat-sifat
pemiliknya, bagaimana sifatnya yang sebenar-
32Keallahan
nya dan berikut identitasnya. Pentingnya nama-
nama Allah, mengungkapkan sifat-Nya, tabi-
at-Nya, kadar-Nya, dinyatakan dalam hukum-
Nya “Jangan menyebut nama Tuhan, Allah-
mu, dengan sembarangan” (Kel. 20:7). Daud
menyanyi: “Aku hendak bersyukur kepada Tu-
han sebab keadilan-Nya” (Mzm. 7:18). “Na-
ma-Nya kudus dan dahsyat” (Mzm. 111:9).
“Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab
hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur”(Mzm.
148:13).
Nama-nama Ibrani El dan Elohim (“God”)
menunjukkan kuasa Tuhan Allah. Digambar-
kannya Tuhan sebagai Oknum yang kokoh dan
perkasa, Tuhan pencipta semesta (Kej. 1:1;
Kel. 20:2; Dan. 9:4). Elyon (“Yang Mahating-
gi”) dan El Elyon (“Allah Yang Mahatinggi”)
berfokus pada peninggian kedudukan-Nya
(Kej. 14:18-20; Yes. 14:14). Adonai (Tuhan)
menggambarkan Allah sebagai Penjaga dan
Pembela (Yes. 6:1; Mzm. 35:23). Nama-nama
ini menekankan sifat Allah yang agung dan
amat mulia.
Nama-nama lain yang dimiliki Allah me-
nunjukkan kesediaan-Nya menjalin hubung-
an dengan umat manusia. Shaddai (“Yang
Mahatinggi”) dan El Shaddai (“Allah Yang
Mahatinggi”) menggambarkan Allah Yang
Mahatinggi yang menjadi sumber berkat dan
penghiburan (Kel. 6:3; Mzm. 91:1). Nama
Yahweh diterjemahkan Jehovah atau Tuhan,
menekankan janji setia Allah dan kemurah-
an-Nya (Kel. 15:2, 3; Hos. 12:5, 6) Di da-
lam Kel. 3:14, Yahweh menggambarkan diri-
Nya sebagai “AKU yaitu AKU,” atau
“AKULAH AKU telah mengutus aku kepa-
damu,” menunjukkan hubungan-Nya yang
tidak dapat diubah terhadap umat-Nya. Da-
lam beberapa peristiwa malahan Tuhan Al-
lah menyatakan diri-Nya dengan cara yang
sangat akrab dengan sebutan “Bapa” (Ul. 32:
6; Yes. 63:16; Yer. 31:9; Mal. 2:10), menye-
but orang Israel dengan “Israel ialah anak
Ku yang sulung” (Kel. 4:22; bandingkan Ul.
32:19).
Kecuali untuk Bapa, nama-nama yang
ada dalam Perjanjian Baru, yang ditu-
jukan kepada Allah mengandung kadar mak-
na yang setara dengan yang ada di da-
lam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian
Baru Yesus menggunakan kata Bapa untuk
meng-akrabkan kita secara pribadi dengan
Allah (Mat. .6:9; Mrk. 14:36; bandingkan
Rm. 8: 15; Gal. 4:6).
Kegiatan-kegiatan Allah. Para penulis
Alkitab menggunakan lebih banyak waktu
untuk melukiskan kegiatan-kegiatan Allah
daripada ciptaan-Nya. Ia diperkenalkan se-
bagai Pencipta (Kej. .1:1; Mzm. 24:1, 2), Pe-
nopang dunia (Ibr. 1:3), dan Penebus serta
Juruselamat
.
(UI. 5:6; 2 Kor. 5:19), mengang-
kat beban demi kepentingan nasib manusia.
Ia mengadakan rencana-rencana (Yes. 46:
11), ramalan (Yes. 46:10), dan janji-janji (Ul.
15:6; 2 Ptr. 3:9). Ia mengampuni dosa-dosa
(Kel. 34:7), dan secara konsekwen meneri-
ma ibadah, kita (Why. 14:6,7).
Akhirnya Kitab Suci menyatakan Allah
sebagai Pemerintah “Raja segala zaman, Al-
lah yang kekal, yang tak nampak, yang Esa”
(1 Tim. 1:17). Tindakan-tindakan yang dila-
kukan-Nya menegaskan bahwa Ia Allah yang
berpribadi.
Ciri-ciri Allah. Para penulis Alkitab
memberikan informasi tambahan mengenai
hakikat Allah melalui kesaksian-kesaksian
tentang ciri-ciri Keilahian-Nya.
Ciri-ciri Allah yang tidak dapat diung-
kapkan berisi aspek-aspek sifat Keilahian-
Nya tidak diberikan kepada makhluk yang
diciptakan. Allah ada dengan sendirinya, ka-
rena Ia memiliki “hidup dalam diri-Nya sen-
diri” (Yoh. 5:26). Ia independen dalam ke-
hendak (Ef. 1:5),dan dalam kuasa (Mzm.
33Keallahan
115:3). Ia Mahatahu, mengetahui segala se-
suatu (Ayb. 37:16; Mzm. 139:1-18; 147:5;
1 Yoh. 3:20), sebab sebagai Alfa dan Ome-
ga (Why. 1:8), Ia mengetahui akhir dari per-
mulaan. (Yes. 46:9-11).
Allah Mahahadir (Mzm. 139:7-12; Ibr. 4:
13), melebihi semua ruang. Bahkan Ia hadir
dalam setiap bagian ruang, Ia abadi (Mzm.
90:2; Why. 1:8), melebihi batas waktu, na-
mun demikian hadir sepenuhnya dalam seti-
ap saat.
Allah penuh kuasa, Mahakuasa. Oleh ka-
rena itu, tidak ada yang tidak mungkin bagi-
Nya untuk menjamin bahwa Ia memenuhi
apa saja yang dimaksudkan-Nya. (Dan. 4:17,
25, 35; Mat. 19:26; Why. 19:6). Ia kekal—
atau tidak dapat diubah—sebab sesungguh-
nya Ia sempurna. Ia berkata, “Bahwasanya
Aku, Tuhan, tidak berubah” (Mal. 3:6; baca
Mzm. 33:11; Yak. 1:17). Oleh sebab itu, ci-
ri-ciri ini menyatakan bahwa Allah itu ke-
kal selama-lamanya.
Sifat-sifat Allah yang dapat disalurkan
mengalir dari cinta kasih-Nya terhadap ma-
nusia. Dicakupnya kasih (Rm. 5:8), kasih ka-
runia (Rm. 3:24), kemurahan (Mzm. 145:9),
sabar (2 Ptr 3:15), suci (Mzm. 99:9), kebe-
naran (Ezr. 9:15; Yoh. 17:25), keadilan
(Why. 22:12), dan hal yang benar (1 Yoh.
5:20). Karunia-karunia ini datang hanya ber-
sama dengan Pemberi itu sendiri.
KEDAULATAN ALLAH
Jelas sekali Kitab Suci mengajarkan ke-
daulatan Allah. “Ia berbuat menurut kehen-
dak-Nya.... Dan tidak ada seorang pun yang
dapat menolak tangan-Nya” (Dan. 4:35).
“Sebab Engkau telah menciptakan segala
sesuatu; dan oleh sebab kehendak-Mu se-
muanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11).
“Tuhan melakukan apa yang dikehendaki-
Nya, di langit dan di bumi” (Mzm. 135: 6).
Dengan demikianlah Salomo berkata, “Hati
raja seperti batang air di dalam tangan Tu-
han, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini” (Ams.
21:1). Paulus yang waspada atas kedaulatan
Allah, menulis sebagai berikut, “Aku akan
kembali kepada kamu, jika Allah menghen-
dakinya.” (Kis. 18:21; baca Rm. 15:32). Se-
mentara Yakobus memohon, “Sebenarnya
kamu harus berkata ‘Jika Tuhan menghen-
dakinya” (Yak. 4:15).
Penentuan nasib lebih dahulu dan Ke-
bebasan Manusia. Alkitab juga menyata-
kan pengendalian yang dilakukan Allah se-
penuh-nya atas dunia ini. “Mereka juga di-
tentukan-Nya dari semula untuk menjadi se-
rupa dengan gambaran Anak-Nya itu (Rm.
8: 29, 30), ditentukan-Nya menjadi anak-
anak-Nya, dan menjadi ahli waris (Ef. 1:4,
5, 11). Betapa suatu pernyataan yang tidak
langsung mengenai kebebasan manusia itu.
Kata kerja menentukan dari sejak semu-
la berarti “menetapkan sebelumnya.” Banyak
orang beranggapan ayat-ayat ini mengajar-
kan bahwa Allah secara acak memilih orang
untuk selamat sedang yang lain membiar-
kannya binasa, tanpa menghargai pilihan me-
reka sendiri. Akan namun jika konteks ini
dipelajari dengan saksama ternyata Paulus
tidaklah membicarakan mengenai Allah yang
secara sewenang-wenang berubah dan me-
nyingkirkan seseorang.
Titik tolak nas ini ialah sifat yang inclu-
sive. Dengan jelas Alkitab menyatakan bah-
wa Allah “menghendaki supaya semua orang
diselamatkan dan memperoleh pengetahuan
akan kebenaran” (1 Tim. 2:4). Ia “menghen-
daki supaya jangan ada yang binasa, melain-
kan supaya semua orang berbalik dan berto-
bat” (2 Ptr. 3:9). Tidak ada bukti yang Allah
telah tetapkan bahwa sebagian orang harus
binasa; pernyataan yang demikian menging-
kari kematian Kristus di Golgota, sebab Ye-
34Keallahan
sus mati di sana bagi semua orang. Kata se-
tiap orang dalam nas, “sebab begitu besar
kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, su-
paya setiap orang yang percaya kepada-Nya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal” (Yoh. 3:16), mengartikan bahwa sia-
pa pun dapat diselamatkan.
“Bahwa manusia, yang mempunyai ke-
bebasan memilih yaitu faktor yang menen-
tukan nasibnya sendiri, merupakan bukti nya-
ta bahwa Allah senantiasa menghadirkan ha-
sil-hasil penurutan dan hasil-hasil pendurha-
kaan, serta mendorong orang berdosa supa-
ya memilih penurutan dan kehidupan (Ul. 30:
19; Yos. 24:15; Yes. 1:16, 20; Why. 22: 17);
dan dari kenyataan bahwa bagi orang beri-
man sangat mungkin, yang pernah menjadi
penerima kasih karunia, jatuh dan binasa (1
Kor. 9:27; Gal. 5:4; Ibr. 6:4-6; 10:29). “Al-
lah mungkin saja mengetahui lebih dahulu
setiap pilihan yang akan dibuat seseorang,
akan namun pengetahuan-Nya yang lebih da-
hulu ini bukanlah menentukan pilihan yang
akan diambilnya.... Penentuan lebih dahulu
yang ada dalam Alkitab tercapai dalam
tujuan efektif yang dirancang Allah yakni,
bahwa semua orang yang memilih percaya
kepada Kristus akan diselamatkan (Yoh.
1:12; Ef. 1:4-10).
Lalu apakah yang dimaksud Kitab Suci
tatkala mengatakan bahwa Allah mengasihi
Yakub dan membenci Esau (Rm. 9:13) yang
juga mengatakan bahwa Tuhan Allah menge-
raskan hati Firaun (ayat 17, 18, bandingkan
dengan ayat 15, 16; Kel. 9:16; 4:21)? Kon-
teks ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ke-
prihatinan Paulus yaitu misi, bukan kese-
lamatan. Penebusan tersedia bagi siapa pun
—namun demikian Tuhan memilih orang-
orang tertentu untuk melaksanakan tugas
khusus. Keselamatan yang sama diberikan
juga kepada Yakub dan Esau, akan namun
Tuhan memilih Yakub, bukan Esau, menjadi
jalur yang digunakan Allah untuk menyam-
paikan pekabaran keselamatan kepada du-
nia. Allah menunjukkan kedaulatan dalam
strategi misi-Nya.
jika Kitab Suci menyebutkan bahwa
Allah mengeraskan hati Firaun itu hanyalah
sekadar pengakuan pada-Nya dalam melaku-
kan apa yang diperkenankan-Nya, bukanlah
berarti Ia menakdirkannya begitu. Sambut-
an Firaun yang negatif terhadap panggilan
Allah yang sebenarnya menggambarkan bah-
wa Tuhan menghormati kebebasan Firaun
dalam menentukan pilihannya.
Mengetahui lebih dahulu dan Kebe-
basan Manusia. Ada orang yang percaya
bahwa Tuhan Allah berhubungan dengan pri-
badi-pribadi tanpa mengetahui pilihan mere-
ka sampai mereka mengadakannya sendiri;
bahwa Tuhan mengetahui beberapa peristi-
wa mendatang yang tertentu, misalnya me-
ngenai Kedatangan Kristus kedua kali, mille-
nium, dan pemulihan kembali bumi ini, na-
mun tidak tahu sama sekali siapa yang akan
diselamatkan. Mereka merasa bahwa hu-
bungan dinamis Allah dengan umat manu-
sia ada dalam bahaya jika Ia mengetahui se-
gala sesuatu yang akan terjadi dari masa ke-
kekalan kepada kekekalan. Ada pula seba-
gian yang mengatakan bahwa Ia akan bosan
bila Ia mengetahui akhir dari permulaan.
Akan namun pengetahuan Allah mengenai
apa yang akan dilakukan individu-individu
tidak menyatu dengan apa yang sesungguh-
nya menjadi pilihan untuk mereka lakukan,
sama halnya pengetahuan seorang ahli seja-
rah tentang apa yang pernah dilakukan orang
pada masa lalu tidak turut menyatu dengan
tindakan-tindakan mereka. Sama seperti po-
tret merekam sebuah pemandangan atau pe-
ristiwa namun tidak mengubahnya, pengeta-
huan yang lebih dahulu (foreknowledge) me-
35Keallahan
natap ke depan tanpa mengubahnya. Menge-
tahui lebih dahulu, sifat yang dimiliki Ke-
allahan itu tidak pernah melanggar kebe-
basan manusia.
DINAMIKA DALAM KEALLAHAN
Apakah hanya satu Allah saja? Bagaima-
na dengan Kristus dan Roh Kudus?
Keesaan Tuhan. Bertentangan dengan
keyakinan bangsa-bangsa yang hidup di se-
keliling bangsa Israel, bangsa-bangsa lain
itu, bangsa Israel percaya bahwa Tuhan itu
Esa (Ul. 14:35; 6:4; Yes. 45:5; Za. 14:9). Per-
jan-jian Baru menekankan yang serupa juga
mengenai keesaan Allah (Mrk. 12:29-32;
Yoh. 17:3; 1 Kor. 8:4-6; Ef. 4:4-6; 1 Tim.
2:5). Pandangan yang monoteistik ini tidak
bertentangan dengan konsep Kristen me-
ngenai Trinitas—Bapa, Anak dan Roh Ku-
dus; malahan mengukuhkan bahwa tidak ada
kuil pelbagai dewa.
Kemajemukan dalam Keallahan. Wa-
laupun Perjanjian Lama tidak mengajarkan
secara tegas bahwa Allah tritunggal, dising-
gungnya juga mengenai kemajemukan da-
lam Keallahan. Berulang-ulang Allah meng-
gunakan kata ganti jamak, misalnya: “Baik-
lah Kita menjadikan manusia menurut
.
gam-
bar dan rupa Kita” (Kej. 1:26); “Sesungguh-
nya manusia itu telah menjadi seperti salah
satu dari Kita”(Kej. .3:22); “Baiklah Kita
turun” (Kej. 11:7). Berulang-ulang malaikat
Tuhan diidentifikasi sebagai Allah. Ketika
menampakkan diri kepada Musa, Malaikat
Tuhan berkata, “Akulah Allah ayahmu, Al-
lah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub”
(Kel. 3:6).
Pelbagai petunjuk yang jelas membeda-
kan Roh Allah dari Allah. Di dalam kisah
Penciptaan “Roh Allah melayang-layang di
atas permukaan air” (Kej. 1:2). Sebagian nas
menunjuk bukan saja kepada Roh namun juga
kepada pribadi ketiga dalam karya penyela-
matan yang berasal dari Allah: "Dan seka-
rang, Tuhan Allah (Allah Bapa) mengutus
Aku (Anak Allah) dengan Roh-Nya (Roh
Kudus)" (Yes. 48:16); "Aku (Bapa) telah me-
naruh Roh-Ku ke atasnya (Mesias), supaya
ia menyatakan hukum kepada bangsa-bang-
sa" (Yes. 42:1).
Hubungan dalam Keallahan.
.jpeg)
