doktrin Advent 8

doktrin Advent 8


 


pengakuan dan penyesalan dosa orang-orang percaya naik bagaikan bau-bauan yang harum ke bait suci surgawi, dengan

melalui saluran manusia yang fana, mereka begitu najis sehingga kalau tidak dibasuh oleh darah, mereka tidak akan

pernah berharga bagi Tuhan. Semuanya dinaikkan bukanlah tanpa noda, sehingga kecuali Pengantara itu, yang duduk di

sebelah kanan Allah, menyampaikan dan membasuhnya dengan kebenaran-Nya, tidak akan mungkin diterima Tuhan.

Semua wangi-wangian dari mezbah pedupaan bumi haruslah dibasahi dengan pembasuhan butir-butir darah Kristus”

(Selected Messages, buku 1, hlm. 344.

15. J. Calvin, Institutes of the Christian Religion (Grand Rapids: Associated Publishers and Authors, Inc. n.d.) III, 11, 6.

16. White dalam SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 1072

151Pengalaman Keselamatan

152

Oleh kematian-Nya di salib, Yesus menang atas kekuatan-kekuatan

kejahatan. Dia yang menaklukkan roh-roh jahat selama pelayanan-Nya

di atas dunia telah menghancurkan kuasa roh-roh itu serta memastikan

kebinasaannya pada akhirnya. Kemenangan Yesus memberikan

kemenangan kepada kita atas kekuatan-kekuatan jahat yang tetap

berusaha mengendalikan kita, sementara kita berjalan bersama Dia

dalam kedamaian, sukacita, dan kepastian akan kasih-Nya. Sekarang

Roh Kudus tinggal di dalam kita serta memberi kuasa kepada kita.

Dengan senantiasa teguh pada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan

kita, kita dibebaskan dari beban perbuatan-perbuatan kita masa lalu.

Kita tidak lagi hidup dalam kegelapan, dalam ketakutan akan kuasa-

kuasa kejahatan, dalam ketidaktahuan, dan dalam kesia-siaan dari cara

hidup kita yang terdahulu. Dengan kebebasan baru dalam Yesus ini,

kita dipanggil untuk bertumbuh ke dalam keserupaan dengan tabiat-

Nya, dengan berhubungan erat dengan-Nya setiap hari dalam doa,

dengan hidup dari sabda-Nya, dengan merenungkan sabda itu dan pe-

meliharaan-Nya, dengan menyanyikan pujian kepada-Nya, dengan ber-

kumpul bersama untuk beribadah, dan dengan turut serta dalam tujuan

misi gereja. Sementara kita memberikan diri kita dalam pelayanan yang

penuh kasih kepada orang-orang di sekitar kita dan dalam bersaksi

tentang keselamatan-Nya, kehadiran-Nya yang tetap menyertai kita

melalui Roh itu mengubah setiap waktu dan setiap tugas menjadi suatu

pengalaman rohani. (Mzm. 1:1, 2; 23:4; 77:11, 12; Kol. 1:13, 14; 2:6,

14, 15; Luk. 10:17-20; Ef. 5:19, 20; 6:12-18; 1 Tes. 5:23; 2 Ptr. 2:9;

3:18; 2 Kor. 3:17, 18; Flp. 3:7-14; 1 Tes 5:16-18; Mat. 20:25-28; Yoh.

20:21; Gal. 5:22-25; Rm. 8:38, 39; 1 Yoh. 4:4; Ibr. 10:25).

153

Kelahiran yaitu  waktu sukacita.

Suatu benih bertunas, dan muncul-

nya dua daun pertama itu menjadikan pemi-

lik kebun senang. Seorang bayi dilahirkan,

dan tangisannya yang pertama mengumum-

kan kepada dunia bahwa di sini ada  satu

kehidupan baru yang perlu diperhitungkan.

Sang ibu melupakan semua rasa sakitnya dan

bergabung dengan seluruh keluarga dalam

sukacita dan perayaan. Suatu negara dilahir-

kan untuk merdeka, dan semua orang bera-

mai-ramai memadati jalan-jalan dan meme-

nuhi alun-alun kota, sambil melambaikan

lambang-lambang dari sukacita yang baru

mereka peroleh. namun  bayangkan: Dua da-

un itu tidak berubah menjadi empat mela-

inkan tetap demikian atau menghilang; satu

tahun kemudian bayi kecil itu tidak terse-

nyum ataupun mulai berjalan melainkan te-

tap tak berdaya dalam kesederhaannya saat

memasuki dunia ini; negara yang baru mer-

deka itu selama beberapa saat berubah di

dalam, menjadi rumah penjara yang penuh

ketakutan, siksaan, dan penawanan.

Sukacita si petani, kegembiraan sang ibu,

dan harapan masa depan yang penuh kebe-

basan berubah menjadi kekecewaan, duka-

cita, dan kesedihan. Pertumbuhan—yakni

pertumbuhan yang berkelanjutan, yang te-

rus-menerus, yang menuju kepada kedewa-

saan, dan yang menghasilkan buah—sangat-

lah penting bagi kehidupan. Tanpa pertum-

buhan itu, kelahiran tidak memiliki makna

atau maksud atau masa depan.

Bertumbuh yaitu  masalah kehidupan

yang tak terpisahkan—baik yang bersifat jas-

mani maupun bersifat rohani. Pertumbuhan

rohani menuntut adanya pemberian makan-

an yang tepat, lingkungan, pemeliharaan,

olah raga, pendidikan, latihan, dan kehidup-

an yang memiliki tujuan. Namun pertumbuh-

an yang dibahas di sini yaitu  pertumbuhan

rohani. Bagaimanakah kita bertumbuh da-

lam Kristus dan menjadi dewasa sebagai

BAB 11

BERTUMBUH DALAM KRISTUS

154Bertumbuh dalam Kristus

orang-orang Kristen? Apa ciri-ciri nyata dari

pertumbuhan rohani?

KEHIDUPAN BERMULA DENGAN

KEMATIAN

Mungkin prinsip yang paling mendasar

dan unik tentang kehidupan Kristiani yaitu 

bahwa kehidupan Kristiani itu dimulai de-

ngan kematian—sebenarnya , dengan dua

peristiwa kematian. Pertama, kematian Kris-

tus di salib memungkinkan adanya kehidup-

an baru kita—yang bebas dari kekuasaan Se-

tan (Kol. 1:13, 14), bebas dari penghukum-

an sebab  dosa (Rm. 8:1), bebas dari kema-

tian sebagai hukuman dosa (Rm. 6:23)—dan

kematian itu membawa pendamaian dengan

Allah dan manusia. Kedua, kematian diri me-

mungkinkan kita menerima kehidupan yang

Kristus tawarkan. Ketiga, sebagai hasilnya,

kita berjalan dalam kebaruan hidup.

Kematian Kristus. Salib menjadi pusat

dari rencana keselamatan Allah. Tanpa sa-

lib, Setan dan kekuatan-kekuatan jahatnya

tidak akan dikalahkan, masalah dosa tidak

akan terselesaikan, dan kematian tidak akan

dihancurkan. Rasul itu mengatakan kepada

kita: “Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyuci-

kan kita dari pada segala dosa” (1 Yoh. 1:7).

“sebab  begitu besar kasih Allah akan du-

nia ini,” bunyi nas yang paling digemari da-

lam Alkitab itu. Jika kasih Allah menghasil-

kan dan menjadi awal dari rencana kesela-

matan, pelaksanaan rencana itu dijelaskan

dalam bagian kedua dari ayat itu: “sehingga

Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tung-

gal.” Keunikan pemberian Allah bukanlah

sebab  Dia memberikan Anak-Nya namun 

sebab  Dia memberikan Anak-Nya untuk

mati sebab  dosa-dosa kita. Tanpa salib itu,

tidak ada pengampunan dosa, tidak ada ke-

hidupan kekal, dan tidak ada kemenangan

atas Setan.

Melalui kematian-Nya di salib, Kristus

menang atas Setan. Mulai dari pencobaan-

pencobaan yang berapi-api di padang belan-

tara hingga penderitaan Getsemani, Setan

dengan tanpa ampun memimpin penyerang-

an melawan Anak Allah ini—untuk mele-

mahkan kemauan-Nya, untuk menggoyah-

kan rencana-Nya, untuk menuntun-Nya ti-

dak mempercayai Bapa-Nya, dan untuk me-

nekan Dia menyimpang dari jalan untuk me-

nanggung cawan pahit dosa umat manusia

sebagai suatu korban pengganti. Salib itu

yaitu  serangan penentu. Di salib itu, “Se-

tan bersama malaikat-malaikatnya, dalam

rupa manusia, hadir,”1 untuk mengadakan

peperangan besar melawan Allah sampai

pada akhirnya, sambil berharap bahwa Kris-

tus bahkan akan turun dari salib dan gagal

menggenapi maksud penebusan Allah dalam

menawarkan Anak-Nya sebagai korban un-

tuk dosa (Yoh. 3:16). namun  Kristus, oleh me-

nyerahkan nyawa-Nya di salib, telah meng-

hancurkan daya Setan, “telah melucuti peme-

rintah-pemerintah dan penguasa-penguasa,”

dan “menjadikan mereka tontonan umum

dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol.

2:15). Di salib, “peperangan telah dimenang-

kan. Tangan kanan-Nya [Kristus] dan le-

ngan-Nya yang kudus telah memberi-Nya

kemenangan. Sebagai pemenang, Dia telah

menancapkan panji-Nya di tempat-tempat

tinggi yang kekal…. Seluruh surga menang

dalam kemenangan Juruselamat itu. Setan

telah dikalahkan, dan dia tahu bahwa kera-

jaannya telah hilang.”2

Gambaran yang jelas yang diberikan ra-

sul itu dalam kitab Kolose patut diperhati-

kan. Pertama, Kristus telah melucuti peme-

rintah-pemerintah dan penguasa-penguasa

kejahatan. Kata bahasa Yunani untuk dilu-

155Bertumbuh dalam Kristus

cuti secara harafiah berarti “ditanggalkan.”

sebab  salib, Setan dalam keadaan ditang-

galkan dari segala kekuatan jahat atas umat

Allah, selama umat Allah itu menempatkan

kepercayaan mereka pada Dia yang mem-

bawa kemenangan itu di atas kayu salib.

Kedua, salib telah menjadikan Setan dan pa-

sukannya “tontonan umum” di hadapan alam

semesta. Dia yang tadinya menyombong bah-

wa dia akan “menyamai Yang Mahatinggi”

(Yes. 14:14) sekarang telah dijadikan tonton-

an memalukan dan kekalahan di hadapan

alam semesta. Kejahatan tidak memiliki daya

lagi atas orang-orang percaya, yang telah ber-

pindah dari kerajaan kegelapan kepada ke-

rajaan terang (Kol. 1:13). Ketiga, salib telah

memastikan kemenangan penentu, pada

akhirnya atas Setan, dosa, dan kematian.

Dengan demikian, salib telah menjadi

suatu alat kemenangan Allah atas kejahatan:

•  Suatu cara yang memungkinkan adanya

pengampunan dosa (Kol. 2:13).

•  Suatu pertunjukan di alam semesta ten-

tang pendamaian seluruh dunia (2 Kor 5:19).

•  Suatu kepastian akan kemungkinan saat

ini untuk memiliki kehidupan yang menang

serta pertumbuhan dalam Kristus, yang oleh-

nya dosa tidak akan berkuasa dalam pikiran

atau tubuh kita (Rm. 6:12)—dan suatu ke-

pastian akan kedudukan kita sebagai putra-

putri Allah (Rm. 8:14).

•  Suatu kepastian masa mendatang bahwa

dunia yang jahat ini, yang tadi yaitu  wila-

yah kekuasaan yang dirampas Setan, akan

dibersihkan dari adanya dosa dan dari kua-

sa dosa (Why. 21:1).

•  Pada setiap anak tangga dari tangga pe-

nebusan dan kemenangan, kita melihat ke-

genapan dari nubuatan Kristus sendiri, “Aku

melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit”

(Luk. 10:18).

Kristus yang disalibkan itu yaitu  tindak-

an penebusan Allah bagi masalah dosa. Ja-

ngan sampai kita melupakan fakta itu, Ye-

sus menegaskan bahwa darah-Nya akan “di-

tumpahkan bagi banyak orang untuk peng-

ampunan dosa” (Mat. 26:28). Tercurahnya

darah itu sangatlah penting bagi adanya pe-

ngalaman dan penghargaan akan keselama-

tan. Untuk satu hal, pencurahan darah itu

berbicara tentang dosa. Dosa itu nyata. Dosa

itu menuntut pengorbanan. Genggaman dosa

itu begitu kuat dan mematikan sehingga pe-

ngampunan dosa dan kebebasan dari kuasa-

nya dan rasa bersalah yang diakibatkannya

tidaklah mungkin tanpa “darah yang mahal,

yaitu darah Kristus” (1 Pet. 1:19). Kebenar-

an tentang dosa ini perlu disebutkan beru-

lang-ulang, sebab  kita hidup dalam suatu

dunia yang menyangkal kenyataan dosa atau

tetap tidak peduli dengan dosa itu. namun  di

salib, kita dihadapkan dengan sifat yang ja-

hat dari dosa, yang dapat dibersihkan hanya

oleh darah “yang ditumpahkan bagi banyak

orang untuk pengampunan dosa” itu (Mat.

26:28).

Janganlah kita pernah lupa atau merasa

tidak peduli dengan kenyataan bahwa Yesus

telah mati sebab  dosa-dosa kita dan bahwa

tanpa kematian-Nya, tidak mungkin terda-

pat pengampunan. Dosa-dosa kitalah yang

membawa Yesus ke salib. Sebagaimana yang

Paulus nyatakan, “sebab  waktu kita masih

lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-

orang durhaka pada waktu yang ditentukan

oleh Allah… sebab  Kristus telah mati un-

tuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:6,

8). Atau, sebagaimana Ellen White menyata-

kan, dosa “menindih Kristus dengan berat,

dan rasa sadar akan murka Allah terhadap

dosa sedang menghancurkan hidup-Nya.”3

Tidak ada dalih untuk tidak meneguhkan dan

mengumandangkan hakikat dari kematian

156Bertumbuh dalam Kristus

Yesus yang “sekali untuk semua” (lihat Rm.

6:10; Ibr. 7:27; 10:10) sebagai korban dan

sebagai pengganti.

Kita tidak diselamatkan oleh Kristus, ma-

nusia baik (good man) itu, atau oleh Kris-

tus, manusia Allah (God-man) itu, atau oleh

Kristus, Guru agung itu, ataupun oleh Kris-

tus, Teladan yang tak bercela itu. Kita dise-

lamatkan oleh Kristus yang tergantung di

salib itu: “Kristus diperlakukan sebagaima-

na kita pantas diperlakukan, agar kita boleh

diperlakukan sebagaimana Dia pantas diper-

lakukan. Dia dinyatakan bersalah sebab 

dosa-dosa kita, yang Dia tidak pernah turut

lakukan, agar kita boleh dinyatakan benar

oleh kebenaran-Nya, yang kita tidak pernah

turut miliki. Dia menderita kematian yang

yaitu  milik kita, agar kita boleh menerima

kehidupan yang yaitu  milik-Nya. ‘Oleh bi-

lur-bilurnya kita menjadi sembuh.’”4

Maka, darah Yesus memberikan kepas-

tian akan pengampunan dari dosa dan mena-

burkan benih bagi kebaruan pertumbuhan.

Salah satu segi dari kebaruan dan pertum-

buhan dalam kehidupan Kristiani ini yaitu 

pendamaian. Salib itu yaitu  alat Allah bagi

tercapainya pendamaian umat manusia de-

ngan Dia. “Sebab Allah,” kata rasul Paulus,

“mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh

Kristus” (2 Kor. 5:19). Oleh sebab  apa yang

Dia telah lakukan di atas kayu salib, maka

kita dapat berdiri di hadapan Allah tanpa dosa

dan tanpa ketakutan. Apa yang telah memi-

sahkan kita dari Allah telah diatasi. “Sejauh

timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya da-

ri pada kita pelanggaran kita” (Mzm. 103:

12). Manusia yang tergantung di atas salib

itu telah membuka jalan baru menuju hadirat

Allah. “Sudah selesai,” Dia mengumumkan

di atas kayu salib, dan kemudian Dia men-

desak para pengikut-Nya untuk memasuki

suatu persahabatan yang tetap dengan Allah.

Pendamaian dengan Allah segera mem-

bukakan tahapan kedua dari proses pertum-

buhan yang membawa keselamatan: penda-

maian dengan sesama manusia. Salah satu

dari gambar yang indah pada salib itu ada-

lah beragamnya manusia yang berkumpul di

sekitar salib itu. Tidak semua mereka yaitu 

pengagum Yesus. Tidak semua mereka ada-

lah orang-orang kudus. namun  lihatlah orang-

orang itu. Ada orang-orang Mesir yang mem-

banggakan diri mereka dalam kecerdikan

usaha niaga mereka; ada orang-orang Roma

yang bermegah dalam peradaban dan buda-

ya; ada orang-orang Yunani yang unggul da-

lam pengetahuan mereka; ada orang-orang

Yahudi yang menganggap diri mereka seba-

gai umat pilihan Allah; ada orang-orang Fa-

risi yang mengira yaitu  orang-orang pilih-

an dari umat pilihan; ada orang-orang Sadu-

ki yang berpikir bahwa mereka murni da-

lam hal doktrin; ada budak-budak yang men-

cari kebebasan, ada orang-orang merdeka

yang memanjakan diri dalam kemewahan

kesenangan; ada pria, wanita, serta anak-

anak.

namun  salib itu tidak membuat perbedaan

di antara semua ini. Salib itu menghakimi

mereka semua sebagai orang-orang berdosa;

salib itu menawarkan kepada semua mereka

jalan pendamaian Ilahi. Di kaki salib itu, ta-

nahnya rata. Semua orang dikumpulkan—

dan tidak ada lagi yang memisah-misahkan

umat manusia. Satu persaudaraan baru telah

dimulai. Satu persahabatan baru telah dimu-

lai. Timur bergabung dengan barat, utara tu-

run ke selatan, putih berjabat tangan dengan

hitam, yang kaya melompat untuk meng-

genggam tangan yang miskin. Salib itu me-

nawarkan kepada semua orang curahan da-

rah itu—untuk merasakan manisnya kehi-

dupan, untuk sama-sama memiliki pengala-

man kasih karunia, dan untuk memberitakan

157Bertumbuh dalam Kristus

kepada dunia munculnya satu kehidupan ba-

ru, satu keluarga baru (Ef. 2:14-16). Dengan

demikian, salib itu menjadi awal kemenang-

an atas Setan dan dosa, dan sebab nya, mem-

bawa kehidupan baru di dalam Kristus.

Kematian terhadap Diri. Segi penting

kedua dari kebaharuan dan pertumbuhan

Kristiani yaitu  kematian terhadap diri yang

lama. Anda tidak dapat membaca Perjanjian

Baru tanpa tiba pada pemahaman tentang as-

pek mendasar ini dari kehidupan baru orang

Kristen. Bacalah Galatia 2:19, 20: “Aku te-

lah disalibkan dengan Kristus; namun aku

hidup, namun  bukan lagi aku sendiri yang hi-

dup, melainkan Kristus yang hidup di dalam

aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang

di dalam daging, yaitu  hidup oleh iman

dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku

dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Atau

bacalah Roma 6:6-11: “Manusia lama kita

telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita

hilang kuasanya, agar jangan kita mengham-

bakan diri lagi kepada dosa… bahwa kamu

telah mati bagi dosa, namun  kamu hidup bagi

Allah dalam Kristus Yesus” Tuhan kita. Atau

bacalah ucapan Yesus tentang prinsip kehidu-

pan baru: “Jikalau biji gandum tidak jatuh

ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji

saja; namun  jika ia mati, ia akan menghasil-

kan banyak buah” (Yoh. 12:24).

Jadi kehidupan Kristiani tidak dimulai de-

ngan kelahiran. Itu dimulai dengan kematian.

Hingga diri mati, hingga diri disalibkan, ti-

dak ada permulaan sama sekali. Harus ada

suatu pembedahan diri yang mendasar, yang

sengaja, dan yang menyeluruh. “Jadi siapa

yang ada di dalam Kristus, ia yaitu  ciptaan

baru: yang lama sudah berlalu, sebenarnya 

yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:17). Ke-

hidupan Kristiani bukanlah suatu perubahan

atau perbaikan dari yang lama, melainkan

suatu transformasi (perubahan menyeluruh)

kodrat. Ada kematian terhadap diri dan dosa,

serta suatu kehidupan yang baru sepenuhnya.

Perubahan dapat terjadi hanya oleh bekerja-

nya Roh Kudus.”5 Rasul itu menggarisbawa-

hi kematian terhadap dosa maupun kebang-

kitan kepada hidup baru melalui pengalaman

baptisan: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa

kita semua yang telah dibaptis dalam Kris-

tus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? De-

ngan demikian kita telah dikuburkan bersa-

ma-sama dengan Dia oleh baptisan dalam ke-

matian, supaya, sama seperti Kristus telah

dibangkitkan dari antara orang mati oleh ke-

muliaan Bapa, demikian juga kita akan hi-

dup dalam hidup yang baru” (Rom. 6:3, 4).

Baptisan dengan demikian secara lambang

membukakan pintu kehidupan baru serta me-

nawarkan agar kita bertumbuh di dalam Kris-

tus.

Sesuatu terjadi kepada seseorang yang

menerima Yesus sebagai Juruselamat dan

Tuan. Simon orang yang goyah menjadi Pe-

trus yang pemberani. Saulus si penganiaya

menjadi Paulus si pemberita. Tomas orang

yang ragu-ragu menjadi pembawa misi ga-

ris depan. Kepengecutan berganti menjadi

keberanian. Ketidakpercayaan berubah men-

jadi obor iman. Rasa cemburu sirna ditelan

oleh kasih. Kepentingan diri menghilang

menjadi perhatian seorang saudara. Dosa ti-

dak memiliki tempat dalam hati. Diri telah

disalibkan. sebab nya Paulus menulis, “me-

nanggalkan manusia lama serta kelakuan-

nya… mengenakan manusia baru yang te-

rus-menerus diperbaharui untuk memperoleh

pengetahuan yang benar menurut gambar

Khaliknya” (Kol. 3:9, 10).

Yesus mendesak: “Setiap orang yang mau

mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,

memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat.

16:24; bandingkan Luk. 9:23). Dalam kehi-

dupan Kristiani, kematian diri bukanlah se-

buah pilihan namun  suatu keharusan. Salib itu

158Bertumbuh dalam Kristus

beserta tuntutan-tuntutannya—baik saat ini

maupun pada akhirnya—pasti menghadap-

kan tantangan bagi status sebagai murid [Ye-

sus] dan menuntut sambutan yang sepenuh-

nya. Komentar Dietrich Bonhoeffer yang te-

gas patut dicatat: “Jika Kekristenan kita ti-

dak lagi menaruh perhatian penuh menyang-

kut status sebagai murid [Yesus], jika kita

telah mengencerkan Injil itu menjadi lonja-

kan emosi yang tidak menuntut pengorban-

an dan yang tidak dapat membedakan antara

kehidupan alami dan kehidupan Kristiani,

maka tak terelakkan lagi kita telah mengang-

gap salib itu sebagai suatu malapetaka seha-

ri-hari biasa, sebagai salah satu pencobaan

dan penderitaan hidup…. Bilamana Kristus

memanggil seseorang, dia meminta agar

orang tersebut datang dan mati… itu yaitu 

kematian yang sama setiap saat—kematian

dalam Yesus Kristus, kematian manusia lama

pada saat panggilannya.”6

Jadi, panggilan kepada kehidupan Kris-

tiani yaitu  suatu panggilan kepada salib itu

—untuk senantiasa menyangkal diri dari ke-

inginannya yang kuat untuk menjadi penye-

lamatnya sendiri dan untuk menuruti Manu-

sia yang tergantung di salib itu, supaya “iman

[kamu] jangan bergantung pada hikmat ma-

nusia, namun  pada kekuatan Allah” (1 Kor.

2:5).

Menghidupkan suatu Kehidupan Ba-

ru. Aspek ketiga dari bertumbuh dalam Kris-

tus yaitu  menghidupkan kehidupan baru.

Salah satu dari kesalahpahaman terbesar ten-

tang kehidupan Kristiani yaitu  bahwa ke-

selamatan yaitu  suatu pemberian cuma-

cuma kasih karunia Allah—dan itulah akhir

ceritanya. Tidaklah demikian. Ya, memang

benar bahwa di dalam Kristus “oleh darah-

Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengam-

punan dosa, menurut kekayaan kasih karu-

nia-Nya” (Ef. 1:7). yaitu  juga benar bah-

wa “sebab  kasih karunia kamu diselamat-

kan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, te-

tapi pemberian Allah, itu bukan hasil peker-

jaanmu: jangan ada orang yang memegah-

kan diri” (Ef. 2:8, 9).

Ya, kasih karunia itu cuma-cuma. namun 

kasih karunia itu menuntut Allah mengor-

bankan nyawa Anak-Nya. Kasih karunia

yang cuma-cuma tidak berarti kasih karunia

murahan. Dengan mengutip Bonhoeffer lagi:

“Kasih karunia murahan yaitu  mengajar-

kan pengampunan tanpa mengharuskan per-

tobatan, baptisan tanpa adanya disiplin gere-

ja, perjamuan tanpa adanya pengakuan, pem-

bebasan dari kesalahan tanpa adanya penga-

kuan pribadi. Kasih karunia murahan ada-

lah kasih karunia tanpa tuntutan sebagai mu-

rid [Yesus], kasih karunia tanpa salib, kasih

karunia tanpa Yesus Kristus, yang hidup dan

yang menjadi daging.”7

Kasih karunia murahan tidak ada kaitan

dengan panggilan Yesus. Bilamana Yesus

memanggil seseorang, Dia menawarkan ke-

padanya salib untuk dipikul. Menjadi seo-

rang murid [Yesus] berarti menjadi seorang

pengikut, dan sebagai seorang pengikut Ye-

sus bukanlah sebuah tipuan murahan. Ke-

pada orang-orang Korintus, Paulus menulis-

kan dengan tegas tentang kewajiban-kewa-

jiban kasih karunia. Pertama, dia berbicara

tentang pengalamannya sendiri: “sebab  ka-

sih karunia Allah aku yaitu  sebagaimana

aku ada sekarang, dan kasih karunia yang

dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.

Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras da-

ripada mereka [para rasul] semua; namun  bu-

kannya aku, melainkan kasih karunia Allah

yang menyertai aku” (1 Kor. 15:10). Dengan

demikian Paulus mengakui keunggulan ka-

sih karunia Allah dalam kehidupannya. Dan

segera dia menambahkan bahwa kasih karu-

nia ini tidak diberikan dengan sia-sia. Kata

bahasa Yunani eis kenon secara harfiah diter-

159Bertumbuh dalam Kristus

jemahkan “untuk kehampaan.” Itu berarti,

Paulus tidak menerima kasih karunia untuk

menghidupkan suatu kehidupan sia-sia, yang

kosong—melainkan suatu kehidupan yang

dipenuhi buah Roh, dan bahkan, bukan da-

lam kekuatannya sendiri, namun  oleh kuasa

kasih karunia yang tinggal di dalam dirinya.

Demikian juga, dia memohon kepada orang-

orang percaya agar “jangan membuat men-

jadi sia-sia kasih karunia Allah” (2 Kor. 6:1).

Kasih karunia Allah tidak datang untuk

menebus kita dari satu jenis kehampaan, un-

tuk menempatkan kita pada suatu jenis ke-

hampaan yang lain. Kasih karunia Allah ada-

lah usaha giat-Nya untuk mendamaikan kita

dengan diri-Nya, untuk menjadikan kita ba-

gian dari keluarga Allah. Kita, setelah ma-

suk menjadi keluarga itu, tinggal dalam ke-

luarga itu sambil menghasilkan buah-buah

kasih Allah melalui kuasa dari kasih karu-

nia-Nya yang menakjubkan itu.

Jadi, bertumbuh dalam Kristus berarti

suatu pertumbuhan dalam kedewasaan se-

hingga hari demi hari kita memantulkan ke-

hendak Kristus dan menjalani jalan Kristus.

sebab  itu, pertanyaannya yaitu : apakah

tanda-tanda pasti dari kehidupan yang de-

wasa ini serta tanda-tanda pertumbuhannya

yang terus-menerus? Tanpa menuliskan daf-

tarnya, kita dapat merenungkan tujuh tanda

pasti tersebut.

TANDA-TANDA BERTUMBUH

DALAM KRISTUS

1. Suatu kehidupan Roh. Yesus berka-

ta kepada Nikodemus, “sebenarnya  jika

seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia

tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Al-

lah” (Yoh. 3:5). Tanpa kuasa yang memba-

rui dari Roh Kudus, kehidupan orang Kris-

ten bahkan tidak dapat dimulai. Dialah Roh

kebenaran itu (Yoh. 14:17). Dia menuntun

kita dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13)

dan membuat kita mengerti kehendak Allah

sebagaimana yang dinyatakan di dalam Ki-

tab Suci. Dia membawa keyakinan tentang

dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh.

16:7, 8), yang tanpa keyakinan tersebut kita

tidak dapat memahami akibat-akibat saat ini

dan kekal dari tindakan-tindakan kita serta

kehidupan yang kita jalani. Kuasa dan ke-

hadiran Roh Kudus yang mengubahkan di

dalam kehidupan kita—itulah yang menja-

dikan kita putra dan putri Allah (Rm. 8:14).

Melalui Roh itulah Kristus “ada [tinggal] di

dalam kita” (1 Yoh. 3:24). Dengan tinggal-

nya Roh itu datanglah suatu kehidupan baru

—baru di mana tinggalnya Roh itu menolak

cara-cara lama dalam berpikir, bertindak, dan

membina hubungan, yang bertentangan de-

ngan kehendak Allah; baru juga di mana ting-

galnya Roh itu menjadikan kita suatu cipta-

an baru, yang didamaikan dan ditebus, dibe-

baskan dari dosa agar bertumbuh dalam ke-

benaran (Rm. 8:1-16) dan agar memantul-

kan gambar Yesus “dalam kemuliaan yang

semakin besar” (2 Kor. 3:17, 18). “jika 

Roh Allah mengendalikan hati, itu akan

mengubah kehidupan. Pemikiran-pemikiran

penuh dosa disingkirkan, perbuatan-per-

buatan jahat ditinggalkan; kasih, kerendah-

an hati, dan kedamaian menggantikan kema-

rahan, iri hati, dan perselisihan. Sukacita

menggantikan kesedihan, dan air muka me-

mantulkan cahaya surga. Tidak ada orang

yang melihat tangan yang mengangkat be-

ban itu, atau melihat cahaya yang turun dari

istana di atas. Berkat itu datang bilamana

oleh iman jiwa itu berserah pada Allah. Ma-

ka, kuasa yang tidak dapat dilihat mata ma-

nusia itu menciptakan suatu kehidupan baru

dalam gambar Allah.”8

Roh itu menjadikan kita “ahli waris, mak-

sudnya orang-orang yang berhak menerima

janji-janji Allah, yang akan menerimanya

160Bertumbuh dalam Kristus

bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita

menderita bersama-sama dengan Dia, supaya

kita juga dipermuliakan bersama-sama de-

ngan Dia” (Rm. 8:17). Kehidupan Roh itu

sebab nya yaitu  suatu panggilan kepada

tindakan rohani: Menolak tatanan lama me-

nurut dosa dan turut mengambil bagian da-

lam penderitaan-penderitaan Kristus dalam

kehidupan saat ini agar dapat turut mengam-

bil bagian bersama Dia dalam kemuliaan

masa mendatang. Jadi spiritualitas (keroha-

nian) Kristiani bukanlah suatu pelarian ke

suatu dunia khayalan dan keyakinan mistis.

Itu yaitu  suatu panggilan untuk menderita,

membagikan, bersaksi, menyembah, dan

menghidupkan kehidupan Kristus di dalam

dunia ini, di dalam masyarakat kita, dan di

dalam rumah kita. Hal ini dapat terjadi ha-

nya oleh kehadiran Roh itu yang tinggal di

dalam kita. Doa Yesus yaitu  agar sekali-

pun sementara kita berada di dalam duni ini,

kita haruslah tidak berasal dari dunia ini

(Yoh. 17:15). Kita harus tinggal di dunia

ini—itulah tempat tinggal kita, dan itulah

daerah misi kita. namun  kita tidak milik du-

nia, sebab  kewarganegaraan dan pengharap-

an kita ada  di dunia yang akan datang (Flp.

3:20).

Paulus menggambarkan kehidupan yang

diberi kuasa oleh Roh ini sebagai satu kehi-

dupan yang secara rohani bertumbuh dan se-

makin dewasa. Kedewasaan seperti ini akan

menolak perbuatan-perbuatan daging—“per-

cabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyem-

bahan berhala, sihir, perseteruan, perselisih-

an, iri hati, amarah, kepentingan diri sendi-

ri, percideraan, roh pemecah, kedengkian,

kemabukan, pesta pora dan sebagainya”

(Gal. 5:19-21)—serta memeluk dan meng-

hasilkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai

sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan,

kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan di-

ri” (Gal. 5:22, 23).

2. Suatu kehidupan kasih dan persa-

tuan. Kehidupan Kristiani yaitu  suatu ke-

hidupan persatuan, suatu kehidupan yang di-

damaikan dengan Allah, pada satu sisi, dan

didamaikan dengan sesama manusia, di sisi

lain. Pendamaian yaitu  pemulihan suatu ke-

retakan dalam hubungan, penyebab utama

dari keretakan dalam hubungan ini yaitu 

dosa. Dosa telah memisahkan kita dari Allah

(Yes. 59:2) dan telah memecahkan umat

manusia ke dalam banyak kelompok kecil—

yang berdasarkan ras, suku, jenis kelamin,

kebangsaan, warna kulit, dan lain-lain. Injil

Yesus mengatasi masalah dosa ini dan se-

mua faktor pemecah yang berkaitan dengan

itu serta menciptakan suatu tatanan baru yak-

ni persatuan dan pendamaian. sebab  itu,

Paulus dapat berkata, Allah “dengan peran-

taraan Kristus telah mendamaikan kita de-

ngan diri-Nya” (2 Kor 5:18). Dari penda-

maian ini dilahirkan suatu kelompok baru—

suatu kelompok yang telah ditebus yang di-

tandai oleh persatuan vertikal dengan Allah

dan persatuan horizontal dengan sesama

manusia. Sungguh, kehidupan kasih dan per-

satuan ini yaitu  inti dari Injil. Tidakkah Ye-

sus berkata demikian dalam doa-Nya seba-

gai imam besar: “Supaya mereka semua

menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa,

di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar

mereka juga di dalam Kita, supaya dunia per-

caya, bahwa Engkaulah yang telah mengu-

tus Aku” (Yoh. 17:21). Seluruh misi pene-

busan Yesus dan kekuatan injil-Nya menye-

rukan perlunya pembuktian kebenaran da-

lam kasih dan adanya persatuan yang harus

mengikat para anggota dari kelompok yang

telah ditebus itu. Tidak ada pertumbuhan

Kristiani tanpa kasih dan persatuan yang

demikian. Dan di mana persatuan dan kasih

ini ada, semua dinding pemisah di antara

orang banyak akan rubuh. Penghalang-peng-

halang berupa ras, asal usul kebangsaan, je-

161Bertumbuh dalam Kristus

nis kelamin, kasta, warna kulit, dan faktor-

faktor pemisah lain akan terhapus dalam ke-

hidupan orang yang telah mengalami cipta-

an baru, satu manusia baru (Ef. 2:11-16). Se-

mentara orang itu bertumbuh dan menjadi

dewasa, kebenaran mulia tentang pendamai-

an, kasih, dan persatuan bersinar semakin

terang dan semakin terang yang terlihat baik

secara perorangan maupun secara jemaat da-

lam kehidupan Kristiani.

Faktor kasih dalam pertumbuhan Kris-

tiani yaitu  unik bagi Injil itu. Yesus menye-

but faktor itu perintah baru (Yoh. 13:34), te-

tapi kebaruan ini tidak menunjuk kepada

kasih namun  kepada objek kasihnya. Orang-

orang mengasihi, namun mereka mengasihi

orang-orang yang layak dikasihi—mereka

mengasihi milik mereka. namun  Yesus mem-

perkenalkan satu unsur baru: “Sama seperti

Aku telah mengasihi kamu demikian pula ka-

mu harus saling mengasihi.” Itu berarti, sama

seperti kasih Yesus yang berlaku untuk se-

mua, yang rela berkorban, dan yang sepe-

nuhnya, maka demikianlah seharusnya ka-

sih kita. Pada jenis kasih itulah “tergantung

seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”

(Mat. 22:37-40).

Perintah untuk mengasihi sesama kita ini

tidak memberi ruang bagi adanya perubahan.

Kita tidak memilih siapa yang kita kasihi; kita

dipanggil untuk mengasihi semua orang. Se-

bagai anak-anak dari satu Bapa, kita diharap-

kan untuk saling mengasihi. Dalam perumpa-

maan Orang Samaria yang baik, Kristus me-

nunjukkan bahwa “sesamamu manusia tidak

berarti hanya seseorang yang berasal dari je-

maat atau iman Anda. Tidak disebutkan ada-

nya pembedaan ras, warna kulit, atau kelas.

Sesama kita manusia yaitu  setiap orang

yang membutuhkan pertolongan kita. Sesa-

ma kita manusia yaitu  setiap jiwa yang ter-

luka dan memar oleh musuh itu. Sesama kita

yaitu  semua orang yang yaitu   milik Allah.”9

Kasih sejati terhadap sesama menembu-

si warna kulit dan mengedepankan rasa ke-

manusiaan orang tersebut; kasih itu meno-

lak untuk bernaung di bawah kasta namun 

memberi sumbangsih pada pengayaan jiwa;

kasih itu menyelamatkan harga diri seseo-

rang dari prasangka-prasangka yang tak ma-

nusiawi; kasih itu melepaskan nasib manu-

sia dari bencana filsafat yang berajaran ke-

bendaan. Pada dasarnya, kasih sejati dapat

melihat gambar Allah—yang mungkin ter-

jadi, yang tersembunyi, ataupun yang nya-

ta—dalam setiap wajah. Seorang Kristen de-

wasa yang bertumbuh akan memiliki jenis

kasih itu, yang sebenarnya  merupakan da-

sar dari semua persatuan Kristiani.

3. Suatu kehidupan belajar. Makanan

yaitu  suatu hal penting yang mendasar bagi

pertumbuhan. Fungsi dari organisme mana

pun membutuhkan pemberian makanan yang

memadai dan terus-menerus. Demikian juga-

lah halnya dalam pertumbuhan rohani. Teta-

pi di mana kita memperoleh makanan roha-

ni kita? Pada dasarnya dari dua sumber: hu-

bungan erat dengan Allah yang senantiasa

melalui belajar sabda-Nya dan melalui me-

ngembangkan kehidupan doa. Pentingnya

sabda Allah bagi kehidupan rohani tidak dia-

jarkan dengan demikian jelas di ayat lain ma-

na pun selain dari yang ada  dalam kata-

kata Yesus sendiri: “Manusia hidup bukan

dari roti saja, namun  dari setiap firman yang

keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4). Yesus

memberikan satu teladan sempurna tentang

bagaimana Dia menggunakan firman itu un-

tuk menghadapi Setan. “Yesus menghadapi

Setan dengan kata-kata Kitab Suci. ‘Ada ter-

tulis,’ kata Yesus. Dalam setiap pencobaan,

senjata perang-Nya yaitu  sabda Allah. Se-

tan menuntut dari Kristus sebuah mukjizat

sebagai satu tanda dari Keilahian-Nya. Teta-

pi apa yang lebih besar dari semua mukji-

162Bertumbuh dalam Kristus

zat, yaitu ketergantungan yang teguh pada

‘Demikian firman Tuhan,’ merupakan suatu

tanda yang tidak dapat ditentang. Selama

Kristus berpegang pada pemikiran ini, peng-

goda itu tidak dapat memperoleh keunggul-

an.”10

Demikian juga dengan kita. Pemazmur

berkata: “Dalam hatiku aku menyimpan jan-

ji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap

Engkau” (Mzm. 119:11). Kepada ayat ini,

tambahkan janji yang diberikan rasul itu:

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan le-

bih tajam daripada pedang bermata dua ma-

na pun; ia menusuk amat dalam sampai me-

misahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sum-

sum; ia sanggup membedakan pertimbang-

an dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12). Bilama-

na orang Kristen menggunakan pedang Roh

yang tajam dan bermata dua ini untuk berta-

han ada  serangan Setan, dia sedang ber-

ada pada sisi yang menang dari pertempur-

an itu. Orang percaya diberi kuasa untuk me-

nembusi dan menerobos setiap penghalang

bagi pertumbuhan rohani, untuk dapat mem-

bedakan kebenaran dari kesalahan supaya pi-

lihan yang tetap dapat diambil atas pihak

yang benar, dan untuk dapat membedakan

suara Allah dan bisikan-bisikan si jahat. Itu-

lah yang membuat firman Allah alat yang ti-

dak dapat digantikan bagi pertumbuhan ro-

hani.

“Seluruh Kitab Suci,” Paulus menulis,

“diilhamkan Allah, memang bermanfaat un-

tuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan,

untuk memperbaiki kelakuan dan untuk men-

didik orang dalam kebenaran. Dengan demi-

kian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah di-

perlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2

Tim. 3:16, 17). Apakah Anda ingin bertum-

buh dalam mengerti kebenaran dan doktrin?

Apakah Anda ingin mengetahui bagaimana

menjaga agar jiwamu tetap berada pada ja-

lur bagi Allah? Apakah Anda ingin menge-

tahui apa yang Allah persiapkan bagimu hari

ini, hari esok, atau hari berikutnya? Ambil-

lah Alkitab. Pelajarilah setiap hari. Pelajari-

lah dengan doa. Tidak ada cara yang lebih

baik untuk mengetahui kehendak Allah dan

mencari jalan-Nya.

4. Suatu kehidupan doa. Allah berbi-

cara kepada kita melalui sabda-Nya. Menge-

tahui kehendak-Nya yaitu  bagian dari per-

tumbuhan rohani—bagian dari berhubung-

an dengan Dia. Satu aspek lain dari berhu-

bungan erat dengan Allah dan bertumbuh da-

lam Dia ini yaitu  doa. Jika sabda Allah ada-

lah roti yang memberi makan jiwa kita, maka

doa yaitu  napas yang menjaga jiwa kita te-

tap hidup. Doa yaitu  berbicara dengan Al-

lah, mendengarkan suara-Nya, berlutut da-

lam penyerahan, dan bangkit dengan pero-

lehan kuasa yang penuh yakni kekuatan

Allah. Doa itu tidak menuntut apa-apa dari

diri kita—kecuali agar kita menyangkal diri,

bersandar pada kekuatannya, dan menanti-

kan Dia. Dari penantian itu mengalir kuasa

yang memungkinkan kita untuk dapat men-

jalani perjalanan Kristiani dan bertarung

dalam peperangan rohani. Doa di Getsema-

ni memberikan kepastian bagi kemenangan

di salib.

Paulus menganggap doa begitu penting

dalam kehidupan dan pertumbuhan Kristiani

hingga dia menyebutkan enam prinsip da-

sar: “Berdoalah setiap waktu;” “dalam se-

gala… permohonan. Berdoalah… di dalam

Roh;” “Berdoalah… di dalam Roh;” “ber-

jaga-jagalah di dalam doamu;” “berdoalah

dengan permohonan yang tak putus-putus-

nya;” dan “berdoalah… untuk segala orang

Kudus” (Ef. 6:18). Seperti orang Farisi (Luk.

18:11), kita sering tergoda untuk berdoa de-

mi pertunjukkan, untuk diri sendiri, atau ha-

nya sebagai kebiasaan. namun  doa yang mem-

bawa hasil yaitu  permohonan yang penuh

163Bertumbuh dalam Kristus

penyangkalan diri, permohonan yang dipe-

nuhi Roh, permohonan pengantaraan—bagi

kebutuhan orang lain, bahkan sementara kita

berdoa bagi kegenapan kehendak Allah di

atas bumi oleh menjadi saksi-saksi-Nya yang

setia. Doa yaitu  percakapan yang terus-me-

nerus dengan Allah; itu yaitu  udara jiwa,

dan tanpa itu jiwa menjadi lemah dan mati.

“Doa,” kata Ellen White, “yaitu  salah satu

dari tugas-tugas yang paling penting. Tanpa

itu kita tidak dapat mempertahankan perja-

lanan Kristiani. Doa itu mengangkat, mengu-

atkan, dan membuat lebih mulia; itu berarti

jiwa berbicara dengan Allah.”11

5. Suatu kehidupan yang menghasil-

kan buah. “Dari buahnyalah,” kata Yesus,

“kamu akan mengenal mereka” (Mat. 7:20).

Menghasilkan buah yaitu  satu aspek pen-

ting dari pertumbuhan Kristiani. Keselamat-

an oleh kasih karunia sering disalahmengerti

sebagai penolakan terhadap penurutan dan

menghasilkan buah. Tidak ada suatu kebe-

naran pun yang dapat berada jauh dari ke-

benaran Alkitab. Ya, kita diselamatkan de-

ngan cuma-cuma oleh iman melalui apa yang

telah dilakukan kasih karunia Allah melalui

Kristus, dan kita tidak memiliki apa yang

dapat dibanggakan dalam diri kita sendiri

(Ef. 2:7, 8; Yoh. 3:16). namun  kita tidak dise-

lamatkan untuk melakukan apa yang kita su-

ka; kita diselamatkan untuk hidup sesuai de-

ngan kehendak Allah. Tidak ada sesuatu

yang legalistik dan, sebab nya, yang tidak

perlu tentang penurutan kepada hukum; me-

lainkan penurutan itu yaitu  urutan alami

dari pembebasan penuh anugerah yang Allah

lakukan, yakni pembebasan dari dosa. Kare-

nanya, “demikian juga halnya dengan iman:

Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka

iman itu pada hakekatnya yaitu  mati” (Yak.

2:17).

Renungkan penegasan dan harapan Ye-

sus dalam Yohanes 14 dan 15. Penegasan-

Nya yaitu  hubungan-Nya dengan Bapa, dan

harapan-Nya yaitu  adanya hubungan mu-

rid-murid-Nya dengan Dia. Pada yang per-

tama, Yesus mengegaskan, “Aku menuruti

perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam ka-

sih-Nya” (Yoh. 15:10). Penurutan Yesus ke-

pada Bapa bukanlah sebuah kepatuhan yang

legalistik namun  merupakan hasil pertumbuh-

an dari tinggalnya Yesus di dalam kasih Ba-

pa. Hubungan yang intim antara Bapa dan

Anak didasarkan atas kasih dan hanya ka-

sih, dan kasih inilah yang telah menuntun

Anak untuk menerima kehendak Bapa serta

merasakan pahitnya Getsemani dan Golgo-

ta.

Yesus menggunakan hubungan kasih Ba-

pa-Anak sebagai satu gambaran dari jenis

hubungan yang harus dimiliki oleh murid-

murid-Nya dengan Dia. Tepat seperti hu-

bungan Yesus dengan Bapa mendahului pe-

nurutan-Nya kepada Bapa, demikian juga-

lah seharusnya hubungan murid-murid itu

dengan Yesus mendahului penurutan mere-

ka kepada-Nya. “Jikalau kamu mengasihi

Aku, kamu akan menuruti segala perintah-

Ku” (Yoh. 14:15). “Supaya dunia tahu, bah-

wa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku me-

lakukan segala sesuatu seperti yang diperin-

tahkan Bapa kepada-Ku” (ayat 31).

Perhatikan harapan yang Yesus miliki ba-

gi murid-murid-Nya. Dia melakukan seperti

yang diperintahkan Bapa supaya dunia me-

ngetahui hubungan kasih-Nya dengan Bapa.

Hubungan kasih ini terjadi sebelum melaku-

kan kehendak Bapa. Dia mengasihi Bapa dan

sebab nya dengan rela melakukan kehendak

Bapa-Nya. Demikian juga, Yesus mengha-

rapkan satu dasar kasih bagi murid-murid-

Nya sendiri. “Tinggallah di dalam Aku,” kata-

Nya, “dan Aku di dalam kamu. Sama seperti

164Bertumbuh dalam Kristus

ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sen-

diri, kalau ia tidak tinggal pada pokok ang-

gur, demikian juga kamu tidak berbuah, ji-

kalau kamu tidak tinggal di dalam Aku”

(Yoh. 15:4). Jadi, berbuah, penurutan, dan

hidup sesuai dengan kehendak Allah meru-

pakan tanda-tanda penting dari pertumbuhan

rohani. Tidak adanya buah menunjukkan

bahwa kita tidak tinggal di dalam Kristus.

6. Suatu kehidupan peperangan ro-

hani. Sebagai murid Kristiani bukanlah su-

atu perjalanan yang mudah. Kita sedang tu-

rut serta dalam suatu peperangan yang nya-

ta dan berbahaya. Sebagaimana yang Pau-

lus katakan, “sebab  perjuangan kita bukan-

lah melawan darah dan daging, namun  mela-

wan pemerintah-pemerintah, melawan pe-

nguasa-penguasa, melawan penghulu-peng-

hulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh

jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh

perlengkapan senjata Allah, supaya kamu

dapat mengadakan perlawanan pada hari

yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah ka-

mu menyelesaikan segala sesuatu” (Ef. 6:12,

13).

Dalam peperangan ini, kekuatan-kekuat-

an supra-natural menuntut menentang kita.

Sama seperti malaikat-malaikat Tuhan ikut

dalam pelayanan melayani para pengikut-

Nya, dengan melepaskan mereka dari keja-

hatan, dan menuntut mereka dalam pertum-

buhan rohani (Mzm. 34:7; 91:11, 12; Kis.

5:19, 20: Ibr. 1:14; 12:22), demikian juga

malaikat-malaikat yang telah jatuh itu de-

ngan gigih sedang bersekongkol untuk me-

malingkan kita dari tuntutan-tuntutan seba-

gai murid. Alkitab menegaskan bahwa Se-

tan dan para malaikatnya sedang mengamuk

melawan pengikut-pengikut Yesus (Why.

12:17) dan si Iblis sendiri sedang berjalan

“keliling sama seperti singa yang mengaum-

aum dan mencari orang yang dapat ditelan-

nya” (1 Pet. 5:8). Perjalanan menuju pertum-

buhan rohani penuh dengan perangkap-pe-

rangkap iblis, dan di sinilah tempat di mana

peperangan rohani kita terjadi dengan sengit-

nya. Oleh sebab  itu, Paulus menggunakan

beberapa kata tindakan yang tegas: Berdiri!

Ambil! Kenakanlah! Hendaklah kamu kuat!

(Ef. 6:12, 13). “Kehidupan Kekristenan ada-

lah suatu peperangan dan suatu baris maju.

Dalam peperangan ini, tidak ada berhenti;

usaha yang dilakukan haruslah terus-mene-

rus dan tekun. Dengan usaha yang tiada hen-

tilah maka kita dapat mempertahankan ke-

menangan melawan penggodaan-penggoda-

an Setan. Keteguhan Kristiani pada prinsip

haruslah diupayakan dengan kekuatan sege-

nap daya dan dipertahankan dengan suatu

keteguhan maksud yang bulat…. Semua

orang harus turut serta dalam peperangan ini

bagi diri mereka; tidak ada orang lain yang

dapat berperang untuk peperangan kita. Se-

cara perorangan, kita bertanggung jawab un-

tuk segala masalah dalam pertarungan ini.”12

namun , Allah tidak meninggalkan kita

sendirian dalam peperangan ini. Dia telah

menyediakan kemenangan bagi kita dalam

dan melalui Yesus Kristus (1 Kor. 15:57).

Dia telah memberikan kepada kita persen-

jataan yang telah teruji yang dapat digunakan

untuk menghadapi musuh itu. Paulus men-

jelaskan bahwa persenjataan ini terdiri dari

ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadi-

lan, kasut injil damai sejahtera, perisai iman,

ketopong keselamatan, pedang Roh, serta

kuasa doa yang terandalkan (Ef. 6:13-18).

Dengan dilindungi oleh persenjataan seperti

itu, dengan bergantung sepenuhnya pada

kuasa yang terandalkan dari Roh itu, kita

pasti bertumbuh dalam keberanian rohani

serta menang dalam peperangan yang sedang

kita hadapi.

165Bertumbuh dalam Kristus

7. Suatu kehidupan ibadah, bersaksi,

dan pengharapan. Pertumbuhan Kristiani

tidak terjadi dalam kehampaan. Pada satu si-

si, pertumbuhan rohani itu terjadi di dalam

kumpulan orang-orang yang telah ditebus,

dan di sisi lain, sebagai satu saksi bagi ke-

lompok yang perlu ditebus. Perhatikan ke-

lompok zaman kerasulan. Segera setelah ke-

naikan Kristus dan dengan disertai kuasa

Roh Kudus, jemaat mula-mula baik secara

perorangan maupun secara jemaat menun-

jukkan pertumbuhan dan kedewasaannya da-

lam ibadah, persekutuan, penyelidikan, ser-

ta bersaksi (Kis. 2:42-47; 5:41, 42; 6:7). Tan-

pa ibadah berjemaat, kita kehilangan jati diri

serta tempat bagi kita untuk bersekutu, dan

dalam persekutuan inilah dan dalam hubung-

an antar pribadi dengan orang lain inilah kita

menjadi dewasa dan bertumbuh. sebab nya

nasihat rasul itu: “Dan marilah kita saling

memperhatikan supaya kita saling mendo-

rong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

Janganlah kita menjauhkan diri dari perte-

muan-pertemuan ibadah kita, seperti dibia-

sakan oleh beberapa orang, namun  marilah

kita saling menasihati, dan semakin giat me-

lakukannya menjelang hari Tuhan yang men-

dekat” (Ibr. 10:24, 25).

Semakin kita bertumbuh dalam ibadah,

penyelidikan, serta persekutuan, maka kita

semakin terdorong untuk melayani dan ber-

saksi. Pertumbuhan Kristiani menuntut per-

tumbuhan dalam pelayanan (Mat. 20:25-28)

serta pertumbuhan menuju bersaksi. “Sama

seperti Bapa mengutus Aku,” kata Yesus,

“demikian juga sekarang Aku mengutus ka-

mu” (Yoh. 20:21). Kehidupan Kristiani ti-

dak pernah dimaksudkan untuk menjadi sua-

tu kehidupan dalam lingkaran diri sendiri,

namun  selalu untuk dicurahkan keluar dalam

pelayanan dan bersaksi bagi orang lain. Pe-

nugasan Agung yang ada  dalam Mat. 28

menuntut orang Kristen cukup dewasa agar

dapat membawakan injil pengampunan itu

ke dunia sekitar agar semua boleh menge-

nal anugerah Allah yang menyelamatkan.

Tanda kehidupan Roh itu dan pertumbuhan

Kristiani itu yaitu  suatu kehidupan bersaksi

yang terus meluas—Yerusalem, Yudea, Sa-

maria, dan ujung bumi (Kis. 1:8).

Kita hidup, beribadah, bersekutu, dan

bersaksi dalam waktu—bagi orang Kristen,

waktu berarti menantikan masa depan.

“[Aku] berlari-lari,” kata Paulus, “kepada tu-

juan untuk memperoleh hadiah, yaitu pang-

gilan surgawi dari Allah dalam Kristus Ye-

sus” (Flp. 3:12-14). Hidupkanlah suatu ke-

hidupan yang disucikan, kata rasul yang sa-

ma, agar “roh, jiwa dan tubuhmu [boleh] ter-

pelihara sempurna dengan tak bercacat pada

kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (1

Tes. 5:23). Bertumbuh dalam Kristus kare-

nanya berarti suatu pertumbuhan dalam pe-

nantian, dalam pengharapan, akan pengge-

napan akhir dari pengalaman penebusan di

dalam Kerajaan yang akan datang. “Bagi

jiwa yang rendah hati, dan yang percaya, ru-

mah Allah di atas dunia merupakan gerbang

surga. Lagu pujian, doa, kata-kata yang diu-

capkan wakil-wakil Kristus, yaitu  cara-cara

yang ditentukan Allah untuk mempersiap-

kan suatu umat bagi jemaat di atas [di sur-

ga], bagi ibadah yang lebih agung yang ke

dalamnya tidak akan masuk sesuatu pun

yang dapat mencemarkan.”

________________ :

1. Ellen G. White, The Desire of Ages, 746, 749.

2. Ibid, 758

166Bertumbuh dalam Kristus

  3. Ibid,  687

  4. Ibid,. 25

  5. Ibid., 172

  6. Ibid., 47.

  7. White, The Desire of Ages, hlm. 173

  8. Ibid., 47

  9. Ibid., 120

10. Testimonies, jilid 5, hlm. 491.

11. White, Testimonies for the Church, jilid. 2, hlm. 313.

12. The Ministry of Healing, hlm. 453.

167Bertumbuh dalam Kristus

168

Gereja yaitu  umat percaya yang mengaku Yesus Kristus sebagai

Tuhan dan Juruselamat. Mengikuti umat yang percaya kepada Tuhan

pada zaman Perjanjian Lama, kita dipanggil keluar dari dunia; dan

kemudian kita menggabungkan diri untuk berbakti, bersekutu,

mempelajari Firman, untuk merayakan Perjamuan Tuhan, untuk

melayani semua umat manusia serta memberitahukan pekabaran Injil

ke seluruh dunia. Gereja memperoleh otoritasnya dari Kristus, yang

menjadi penjelmaan Firman itu, dan juga dari Kitab-kitab Suci yang

menjadi Firman yang tertulis. Gereja yaitu  keluarga Allah, yang

diangkat-Nya menjadi anak-anak-Nya, keanggotaannya yang

berdasarkan hidup atas perjanjian yang baru. Gereja yaitu  tubuh

Kristus, masyarakat orang beriman yang dikepalai Kristus. Gereja

yaitu  pengantin, untuknya Kristus telah mati, supaya dengan demikian

Ia dapat menguduskan dan membasuhnya. Pada waktu kedatangan-Nya

kelak dalam kemenangan, Ia akan mengambil untuk-Nya sebagai jemaat

yang mulia, orang yang setia sepanjang zaman, yang telah ditebus

dengan darah-Nya sendiri, yang tidak bercacat-cela, melainkan kudus

tanpa noda sama sekali.—Fundamental Beliefs—12.

169

Dengan geram orangtua itu mengangkat

tongkatnya dan memukul bukit batu

yang keras itu. Berulang-ulang dilakukan-

nya sambil berteriak, “Dengarlah kepadaku,

hai orang-orang durhaka, apakah kami ha-

rus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu

ini?”

Segera air mengalir deras dari bukit batu,

memenuhi kebutuhan bangsa Israel. Akan

namun , dengan mengandalkan dirinya sebagai

pemberi air, yang seharusnya penghormatan

diberikan kepada Batu itu, Musa telah me-

lakukan dosa. Dan sebab  dosanya itulah ia

tidak boleh masuk ke negeri yang telah di-

janjikan (baca Bil. 20:7-12).

Batu itulah Kristus, yang menjadi lan-

dasan berdirinya umat Tuhan baik secara

pribadi maupun secara umum. Bayangan ini

berlangsung terus dalam Kitab Suci.

Dalam khotbah terakhir Musa kepada

bangsa Israel, barangkali mengingatkan

kembali peristiwa ini, ia menggunakan me-

tafor batu untuk menggambarkan keteguhan

Allah dan ketergantungan:

“Berilah hormat kepada Allah kita,

Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya

sempurna,

sebab  segala jalan-Nya adil;

Allah yang setia, dengan tiada

kecurangan,

adil dan benar Dia” (Ul. 32:3, 4).

Berabad-abad kemudian Daud kembali

menggemakan tema yang sama—Jurusela-

matnya sebagai bukit batu:

“Pada Allah ada keselamatanku dan ke-

muliaanku;

gunung batu kekuatanku,

tempat perlindunganku ialah Allah”

(Mzm 62:8).

Yesaya menggunakan bayangan yang sa-

ma mengenai Mesias yang akan datang itu:

“Sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu

penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh”

(Yes. 28:16).

Petrus memberikan kesaksian bahwa

Kristus menggenapi ramalan ini, bukan se-

bagai batu biasa, melainkan sebuah batu

BAB 12

GEREJA ATAU JEMAAT

170Gereja atau Jemaat

yang hidup, yang memang dibuang oleh ma-

nusia, namun  yang dipilih dan dihormat di ha-

dirat Allah” (1 Ptr. 2:4). Paulus menyebut-

Nya sebagai satu-satunya fondasi yang ko-

koh, dengan berkata, “sebab  tidak ada se-

orang pun yang dapat meletakkan dasar lain

daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu

Yesus Kristus” (1 Kor. 3:11). Menunjuk ke-

pada batu yang dipukul Musa, ia berkata,

“Sebab mereka minum dari batu karang ro-

hani yang mengikuti mereka, dan batu ka-

rang itu ialah Kristus” (1 Kor. 10:4).

Yesus Kristus sendiri menggunakan gam-

baran yang demikian secara langsung ketika

Ia menyatakan, “Engkau yaitu  Petrus dan

di atas batu karang ini Aku akan mendirikan

jemaat-Ku dan alam maut tidak akan mengu-

asainya” (Mat. 16:18). la mendirikan gereja

atau jemaat Kristen di atas diri-Nya sendiri,

Bukit yang Hidup. Tubuh-Nya sendiri dikor-

bankan-Nya demi dosa-dosa dunia, Batu

yang dipukul itu. Fondasi yang kokoh bagi

jemaat itu dibangun, tidak ada yang dapat

merubuhkannya. Dari Batu ini mengalir air

yang menyembuhkan semua bangsa yang

dahaga (bandingkan Yeh. 47:1-12; Yoh. 7:37,

38; Why. 22:1-5).

Betapa lemah dan tidak berdayanya jema-

at itu ketika Yesus Kristus mengumumkan

hal ini! Jemaat ketika itu terdiri dari orang-

orang yang letih, sedikit jumlahnya dan lagi

pula serba ragu-ragu, suka membanggakan

diri, ditambah sejumlah bilangan jari yang

terdiri kaum wanita, dan orang banyak yang

mudah berubah-ubah pikiran serta rapuh bila

Batu itu dipukul. Namun demikian, jemaat

dibangun bukanlah di atas hikmat manusia

yang mudah rusak atau di atas kecerdikan

manusia, melainkan di atas Batu Zaman.

Waktu akan mengungkapkan bahwa tidak

ada yang dapat menghancurkan jemaat-Nya

atau menakut-nakutinya dari misi untuk me-

muliakan Tuhan dan menuntun pria maupun

wanita kepada Juruselamat (bandingkan Kis.

4:12, 13, 20-33).

MAKNA ALKITABIAH “JEMAAT”

Di dalam Kitab Suci kata gereja1 yaitu 

terjemahan dari bahasa Yunani ekklesia,

yang berarti “dipanggil keluar.” Ungkapan

ini pada umumnya digunakan untuk orang

yang mengadakan pertemuan apa saja.

Septuagint, versi Yunani Perjanjian Lama

Ibrani yang cukup populer pada zaman Kris-

tus, menggunakan kata ekklesia untuk me-

nerjemahkan kata Ibrani gahal, yang berarti

“berhimpun,” “Perkumpulan,” atau “jemaat”

(Ul. 9:10; 18:16; 1 Sam. 17:47; 1 Raj. 8:14;

1 Taw. 13:2).2

Penggunaannya telah diperluas dalam

Perjanjian Baru. perhatikanlah penggunaan

istilah Jemaat: (1) orang-orang percaya yang

berkumpul untuk berbakti bersama-sama di

sebuah tempat tertentu (1 Kor. 11:18; 14:19,

28); (2) orang-orang percaya yang tinggal

di tempat tertentu (1 Kor. 16:1; Gal. 1:2; 1

Tes. 2:14); (3) sekelompok orang percaya

di rumah seseorang (1 Kor. 16:19; Kol. 4:15;

Flm. 2); (4) satu kelompok himpunan di dae-

rah (Kis. 9:31);3 (5) keseluruhan tubuh orang

percaya di seluruh dunia (Mat. 16:18; 1 Kor.

10:32; 12:28; bandingkan Ef. 4:11-16); (6)

semua makhluk percaya yang setia di surga

dan yang di dunia (Ef. 1:20-22; bandingkan

Flp. 2:9-11).

SIFAT JEMAAT

Alkitab menggambarkan jemaat itu se-

bagai lembaga Ilahi, menyebutnya “jemaat

Allah” (Kis. 20:28; 1 Kor. 1:2). Yesus mendi-

rikan jemaat dengan otoritas llahi (Mat.

18:17, 18). Kita dapat mengerti sifat jemaat

Kristen dengan memperhatikan akarnya pa-

da Perjanjian Lama dan pelbagai metafora

171Gereja atau Jemaat

Perjanjian Baru yang membicarakan hal itu.

Akar Jemaat Kristen. Perjanjian Lama

menggambarkan jemaat sebagai suatu per-

kumpulan yang diorganisasi dari Umat Al-

lah. Sejak dari mula pertama, keluarga yang

takut akan Allah, dalam silsilah Adam, Set,

Nuh, Sem dan Abraham yaitu  penjaga ke-

benaran. Di tengah-tengah keluarga ini, tem-

pat sang ayah yaitu  selaku imam, demiki-

anlah jemaat itu dapat dilihat dalam bentuk-

nya yang kecil atau mini. Kepada Abraham,

Allah memberikan janji yang melimpah, dan

melalui keturunannyalah Allah menjadikan-

nya suatu bangsa. Tugas bangsa Israel ada-

lah sekadar perluasan apa yang telah diberi-

kan kepada Abraham: Akan menjadi berkat

bagi semua bangsa (Kej. 12:1-3), menunjuk-

kan kasih Allah kepada dunia ini.

Bangsa yang dibawa Allah keluar dari

Mesir disebut “jemaat (atau “perkumpul-

an,”) di padang gurun” (Kis. 7:38). Anggota-

anggotanya dianggap “kerajaan imam dan

bangsa yang kudus” (Kel. 19:6),”umat-Nya

yang kudus” (Ul 28:9; bandingkan Im. 26:

12)—gereja-Nya.

Allah menempatkan mereka di Palestina,

pusat kebudayaan besar dunia. Tiga benua

besar—Eropa, Asia dan Afrika—bertemu di

Palestina. Di sinilah orang Yahudi menjadi

“pelayan” bagi bangsa yang lain, untuk me-

nyampaikan undangan kepada mereka supa-

ya bergabung sebagai umat Allah. Pendek ka-

ta, Allah memanggil mereka keluar untuk

memanggil bangsa-bangsa bergabung (Yes.

56:7). Ia ingin, melalui bangsa Israel, mem-

bangun jemaat terbesar di atas dunia ini—

sebuah jemaat yang menampung wakil-wakil

semua bangsa untuk berbakti bersama-sama,

mempelajari Allah yang benar, dan kemudi-

an kembali kepada masing-masing bangsa-

nya dengan membawa pekabaran keselamat-

an.

Saat Allah terus memperhatikan keperlu-

an umat-Nya, justru bangsa Israel melibat-

kan diri dalam penyembahan berhala, isola-

si, nasionalisme, k