doktrin Advent 9
eangkuhan, dan pemujaan
diri sendiri. Umat Allah telah gagal memenu-
hi misi yang diemban mereka.
Di dalam Yesus, bangsa Israel berada di
antara dua mata air. Umat Allah rindu kepa-
da seorang Mesias untuk membebaskan
bangsa mereka, namun bukan seorang Mesias
yang membebaskan mereka dari diri mereka
sendiri. Di kayu salib, kemerosotan rohani
bangsa Israel menjadi nyata sekali. Dengan
menyalibkan Kristus mereka menunjukkan
secara lahiriah kemerosotan yang mereka
alami secara batiniah. Tatkala mereka berte-
riak, “Kami tidak mempunyai raja selain da-
ripada Kaisar!” (Yoh. 19:15), mereka meno-
lak memperkenankan Allah memerintah atas
mereka.
Di atas kayu salib ada dua tugas yang ber-
tentangan mencapai klimaksnya: yang per-
tama, bahwa sebuah jemaat yang cenderung
kepada diri sendiri sehingga buta terhadap
Seorang yang telah mewujudkannya; yang
kedua, bahwa Kristus, yang begitu memusat-
kan perhatian dalam kasih terhadap umat itu
Ia binasa menggantikan tempat mereka un-
tuk memberikan kekekalan kepada mereka.
Sementara penyaliban mengartikan ber-
akhirnya misi bangsa Israel, namun kebang-
kitan Kristus membuka jemaat Kristus de-
ngan misinya; proklamasi Injil keselamatan
melalui darah Kristus. jika orang Yahu-
di telah kehilangan misi maka mereka men-
jadi hanya sekadar bangsa yang lain dan ber-
henti sebagai jemaat Allah. Di tempat mere-
ka Tuhan mendirikan sebuah bangsa yang
baru, sebuah jemaat, yang mau melaksana-
kan tugas lanjutan yang diberikan-Nya un-
tuk dunia ini (Mat. 21:41, 43).
Jemaat Perjanjian Baru, yang begitu erat
berkaitan dengan iman masyarakat Israel
172Gereja atau Jemaat
zaman dulu,4 terdiri dari orang-orang Yahu-
di yang ditobatkan dan orang-orang yang bu-
kan Yahudi yang percaya kepada Yesus Kris-
tus. Oleh sebab itu, orang Israel sejati ialah
semua orang yang beriman dan menerima
Yesus Kristus (baca Gal. 3:26-29). Paulus
menggambarkan hubungan baru secara or-
ganis dari bangsa yang berbeda-beda ini de-
ngan gambaran dua pohon—pohon zaitun
yang baik dan yang liar, menggambarkan
dari sudut yang sepadan, bangsa Israel dan
yang bukan Israel. Orang Yahudi yang tidak
menerima Kristus tidak lagi menjadi anak-
anak Allah (Rm. 9:6-8), digambarkan dengan
dahan yang sudah patah dari batangnya, se-
mentara orang Yahudi yang menerima Kris-
tus masih tetap pada batang itu.
Paulus menggambarkan orang-orang
yang bukan Yahudi yang menerima Kristus
yaitu sebagai cabang dari pohon zaitun
yang liar yang dicangkokkan kepada pohon
yang baik itu (Rm. 11:17-25). Ia mengajar-
kan kepada orang Kristen yang bukan Yahudi
ini menaruh hormat kepada warisan Ilahi,
alat yang telah dipilih oleh Tuhan dengan
berkata sebagai berikut: “Jikalau akar yaitu
kudus, maka cabang-cabang juga kudus. Ka-
rena itu jika beberapa cabang telah dipa-
tahkan dan kamu sebagai tunas liar telah di-
cangkokkan di antaranya dan turut menda-
pat bagian dalam akar pohon zaitun yang pe-
nuh getah, janganlah kamu bermegah ter-
hadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu ber-
megah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang
menopang akar itu melainkan akar itu yang
menopang kamu” (Rm. 11:16-18).
Jemaat Perjanjian Baru amat berbeda dari
pasangannya jemaat Perjanjian Lama. Gere-
ja kerasulan menjadi organisasi yang man-
diri, terpisah dari bangsa Israel. Batas-batas
kebangsaan dirontokkan, sehingga memberi-
kan jemaat ciri-ciri yang universal. Gereja
tidak lagi menjadi gereja nasional, melain-
kan menjadi jemaat yang misionaris, diada-
kan untuk menyelesaikan rencana Allah se-
mula, yang ditegakkan kembali atas mandat
Ilahi, berlandaskan pada pendirinya, Yesus
Kristus: Menjadikan “semua bangsa murid-
Ku” (Mat. 28:19).
Jemaat Digambarkan secara Metafo-
rik. Gambaran secara metaforik jemaat Per-
janjian Baru melukiskan sifat jemaat.
1. Jemaat sebagai satu tubuh. Metafora
tubuh menekankan kesatuan jemaat dan
hubungan fungsional setiap anggota secara
keseluruhan. Salib memperdamaikan semua
orang percaya menjadi “di dalam satu tubuh”
(Ef 2:16). Melalui Roh Kudus mereka “te-
lah dibaptis menjadi satu tubuh” (1 Kor. 12:
13)—jemaat. Inilah wadah tempat Ia mem-
berikan kepenuhan-Nya. Orang-orang per-
caya yaitu anggota tubuh-Nya (Ef. 5: 30).
Akibatnya, Ia memberikan kehidupan roha-
ni melalui kuasa dan anugerah-Nya kepada
setiap orang percaya. Kristus menjadi “kepa-
la tubuh” (Kol. 1:18), “kepala jemaat” (Ef.
5:23).
Di dalam kasih-Nya, Allah telah mem-
berikan kepada setiap jemaat-Nya paling se-
dikit satu karunia rohani yang menyanggup-
kan setiap anggota melengkapkan sebuah
fungsi penting. Seperti halnya setiap organ
tubuh sangat vital bagi manusia, suksesnya
penyelesaian misi jemaat bergantung kepa-
da berfungsinya setiap karunia rohani yang
diberikan kepada masing-masing anggota je-
maat itu. Bagaimanakah sebuah tubuh tan-
pa jantung, atau bagaimana efisienkah tan-
pa mata dan kaki? jika anggota-anggo-
tanya menahan karunia yang diberikan ke-
pada mereka maka jemaat itu akan mati, atau
buta, atau paling sedikit menjadi timpang.
Bagaimanapun, karunia istimewa ini, pem-
berian yang ditugaskan Tuhan tidaklah be-
173Gereja atau Jemaat
rakhir padanya sendiri (baca bab 17).
2. Jemaat sebagai satu bait suci. Gere-
ja yaitu “bangunan Allah,” “bait suci Tu-
han” tempat berdiamnya Roh Kudus. Yesus
Kristus yaitu fondasinya dan menjadi “batu
penjuru” (1 Kor. 3:9-16; Ef. 2:20). Bait suci
ini bukanlah sebuah bangunan (struktur)
yang mati; melainkan menunjukkan pertum-
buhan yang dinamis. sebab Kristus yaitu
“batu yang hidup,” seperti yang dikatakan
oleh Petrus, maka demikian pula dengan
orang percaya menjadi “batu yang hidup”
dan menjadi “pembangunan suatu rumah ro-
hani” (1 Ptr. 2:4-6).
Bangunan itu belumlah lengkap. Batu-
batu baru yang hidup ditambahkan selalu ke
bangunan bait suci itu sehingga “dibangun-
kan menjadi tempat kediaman Allah, di da-
lam Roh” (Ef. 2:22). Paulus mendorong
orang percaya supaya menggunakan bahan
bangunan yang paling baik dalam bait suci
ini, supaya dapat tahan ujian api pada Hari
Pehukuman (1 Kor. 3:12-15).
Metafora bait suci menekankan keku-
dusan jemaat lokal maupun jemaat secara lu-
as. Bait suci Tuhan itu kudus, kata Paulus.
“Jika ada orang yang membinasakan bait
Allah, maka Allah akan membinasakan dia”
(1 Kor. 3:17). Persekutuan yang erat dengan
orang yang tidak beriman bertentangan de-
ngan tabiat yang kudus itu, demikian menu-
rut Paulus, dan sebab itu haruslah dihindar-
kan dan “janganlah kamu merupakan pasang-
an yang tidak seimbang dengan orang-orang
yang tak percaya.... Apakah hubungan bait
Allah dengan berhala?” (2 Kor. 6:14, 16).
(Nasihat ini ada hubungannya dengan masa-
lah bisnis dan perkawinan). Gereja atau je-
maat akan ditinggikan dengan penuh rasa
hormat yang agung sebab inilah sasaran lim-
pahan rasa hormat Allah yang tertinggi.
3. Jemaat sebagai pengantin. Jemaat di-
gambarkan sebagai pengantin wanita sedang-
kan Tuhan dilambangkan sebagai pengantin
pria. Dengan kudusnya Ia berjanji, “Aku
akan menjadikan engkau istri-Ku dalam kea-
dilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan
kasih sayang” (Hos. 2:18). Lagi-lagi Ia men-
jamin, “Aku akan mengambil kamu” (Yer.
3:14).
Paulus menggunakan gambaran yang sa-
ma: “sebab aku telah mempertunangkan
kamu kepada satu laki-laki untuk membawa
kamu sebagai perawan suci kepada Kristus”
(1 Kor. 11:2). Kasih Kristus kepada jemaat-
Nya begitu dalam sehingga Ia “menyerah-
kan diri-Nya baginya” (Ef. 5:25). Ia menga-
dakan pengorbanan ini “untuk mengudus-
kannya, sesudah Ia menyucikannya dengan
memandikannya dengan air dan firman” (Ef.
5:26).
Melalui pengaruh yang menyucikan, dari
kebenaran firman Tuhan (Yoh. 17:17) dan
pembasuhan yang diadakan oleh baptisan,
Kristus menguduskan anggota jemaat, me-
nyingkirkan jubah mereka yang kotor dan
mengenakan jubah kebenaran-Nya yang
sempurna kepada mereka. Dengan demikian-
lah Ia dapat menyiapkan jemaat-Nya men-
jadi pengantin bagi-Nya—“dengan cemer-
lang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa
itu, namun supaya jemaat yang kudus dan ti-
dak bercela” (Ef. 5:27). Kemuliaan jemaat
yang penuh dan gemerlapan belumlah akan
kelihatan sampai saat kedatangan Kristus
kelak.
4. Jemaat sebagai “Yerusalem surga-
wi”. Kitab Suci menyebut Yerusalem Sion.
Di sanalah Allah bertakhta dengan umat-Nya
(Mzm. 9:12); dari Sion datang keselamatan
(Mzm. 14:7; 53:7). Kota itu menjadi “kegi-
rangan bagi seluruh bumi” (Mzm. 48:3).
174Gereja atau Jemaat
Perjanjian Baru memandang jemaat se-
bagai “Yerusalem yang di atas,” sebagai pa-
sangan rohani dari Yerusalem dunia (Gal. 4:
26). Warga kota Yerusalem ini memiliki “ke-
warganegaraan mereka di surga” (Flp. 3:20).
Mereka yaitu “anak perjanjian,” yang la-
hir “dari Roh,” yang menikmati kebebasan
yang telah dibuat Kristus, yang membuat
mereka bebas (Gal. 4:22, 26, 31; 5:4). Pen-
duduk kota ini tidak lagi di bawah perham-
baan upaya “hukum Taurat” (Gal. 4:22, 26,
31; 5:4); “Sebab oleh Roh” mereka menanti
dengan penuh gairah “sebab iman... menan-
tikan kebenaran yang diharapkan.” Mereka
menyadari bahwa di dalam Kristus Yesus
“hanya iman yang bekerja oleh kasih” yang
menjadikan mereka berhak menjadi warga-
negara (Gal. 5:5, 6).
Barangsiapa yang ikut dalam rombongan
yang penuh dengan kemuliaan ini “sudah da-
tang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hi-
dup, Yerusalem surgawi dan kepada beribu-
ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah,
dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang
namanya terdaftar di surga” (Ibr. 12:22, 23).
5. Jemaat sebagai sebuah keluarga. Ge-
reja atau jemaat di surga maupun di dunia
dianggap sebagai sebuah keluarga (Ef. 3:15).
Ada dua metafora yang digunakan untuk
menggambarkan bagaimana orang meng-
gabungkan diri ke dalam keluarga ini (Rm.
8:14-16; Ef. 1:4-6) dan kelahiran baru (Yoh.
3:8). Melalui iman dalam Kristus, barang-
siapa yang dibaptiskan tidak lagi hamba
melainkan menjadi anak-anak Bapa surgawi
(Gal. 3:26-4:7) yang hidup berdasarkan
perjanjian baru. Mereka akan menjadi bagi-
an “anggota-anggota keluarga Allah” (Ef.
2:19), “kawan-kawan... seiman” (Gal. 6:10).
Anggota-anggota keluarga-Nya menye-
but Allah sebagai “Bapa” (Gal. 4:6) dan me-
ngaitkannya satu dengan yang lain sebagai
saudara-saudari (Yak. 2:15; 1 Kor. 8:11; Rm.
16:1). sebab ia membawa banyak orang ma-
suk ke dalam keluarga; maka Paulus me-
nganggap diri-Nya sebagai bapa rohani. “Da-
lam Kristus,” katanya, “akulah yang dalam
Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh In-
jil” (1 Kor. 4:15). la menyatakan bahwa orang
yang dibawanya itu sebagai “anak-anakku
yang kukasihi” (1 Kor. 4:14; bandingkan Ef.
5:1).
Ciri-ciri istimewa jemaat itu sebagai ke-
luarga ialah persekutuannya. Persekutuan
Kristen (koinonia dalam bahasa Yunani) bu-
kanlah sekadar sosialisasi melainkan “per-
sekutuan... dalam Berita Injil” (Flp. 1:5). Hal
itu menyangkut persekutuan yang murni de-
ngan Allah Bapa, Anak-Nya dan Roh Kudus
(1 Yoh. 1:3; 1 Kor 1:9; 2 Kor. 13:14), seba-
gaimana halnya dengan orang-orang yang
percaya (1 Yoh. 1:3,7). Maka selaku anggota,
memperoleh hak “tanda persekutuan” (Gal.
2:9).
Metafora dengan menggunakan lambang
keluarga menunjukkan sebuah jemaat yang
penuh perhatian “tempat orang dikasihi, di-
hormati, dan dianggap sebagai orang yang
penting. Sebuah tempat di mana mereka me-
nyadari bahwa mereka saling membutuhkan.
Tempat talenta dapat dikembangkan. Tem-
pat orang-orang bertumbuh. Tempat setiap
orang dilengkapi.”5 Di dalamnya juga dica-
kup pertanggungjawaban, menghormati ba-
pa rohani, memperhatikan kerohanian sesama
saudara. Pada akhirnya berarti bahwa setiap
anggota saling mengasihi dengan kesetiaan
yang mendalam dan saling mengukuhkan.
Keanggotaan dalam keluarga jemaat me-
nyanggupkan individu-individu yang berbe-
da amat dalam sifat dan jabatan, dapat men-
dukung dan menggembirakan satu sama lain.
Anggota keluarga jemaat belajar hidup da-
lam persatuan sementara tidak kehilangan
sifat individunya.
175Gereja atau Jemaat
6. Jemaat sebagai tiang dan fondasi ke-
benaran. Jemaat Allah yang hidup yaitu
“tiang penopang dan dasar kebenaran” (1
Tim. 3:15). Itulah benteng dan tempat me-
nyimpan serta melindungi kebenaran dari
serangan musuh. Bagaimanapun, kebenaran
itu selalu dinamis, tidak statis. Jika anggota
menyatakan mempunyai terang baru—se-
buah doktrin baru atau penafsiran baru atas
Kitab Suci—orang itu harus menguji penga-
jaran baru itu dengan ukuran Kitab Suci (ba-
ca Yes. 8:20). Jika terang baru itu memenu-
hi ukuran yang diberikan, maka jemaat ha-
ruslah menerimanya; akan namun kalau tidak,
penafsiran itu haruslah ditolak. Semua ang-
gota harus takluk pada pertimbangan berda-
sarkan Alkitab, sebab “jikalau penasihat ba-
nyak, keselamatan ada” (Ams. 11: 14).
Dengan penyebaran kebenaran, misalnya
dengan bersaksi, jemaat menjadi “terang du-
nia,” “kota yang terletak di atas gunung”
yang “tidak mungkin tersembunyi,” dan
menjadi “garam dunia” (Mat. 5:13-15).
7. Jemaat sebagai suatu pasukan—pe-
nuh semangat dan menang. Jemaat yang
di atas dunia ini sama halnya dengan pasu-
kan yang terlibat dalam peperangan. Jemaat
itu terpanggil ke medan perang untuk mela-
wan kegelapan rohani: “sebab perjuangan
kita bukanlah melawan darah dan daging,
namun melawan pemerintah-pemerintah, me-
lawan penguasa-penguasa, melawan penghu-
lu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan
roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Orang-
orang Kristen haruslah mengenakan “selu-
ruh perlengkapan senjata Allah” agar mere-
ka “dapat mengadakan perlawanan pada hari
yang jahat itu dan tetap berdiri” (Ef. 6:13).
Dari abad ke abad jemaat harus berperang
melawan musuh, baik yang datang dari luar
maupun yang datang dari dalam (baca Kis.
20:29, 30; 1 Tim. 4:1). Jemaat memperoleh
kemajuan dan kemenangan yang menakjub-
kan, akan namun itu bukanlah kemenangan
sepenuhnya. Sayangnya, jemaat itu sendiri
masih memiliki banyak cacat. Dengan meng-
gunakan gambaran lain, Yesus melukiskan
ketidaksempurnaan yang ada di dalam
jemaat itu: “Hal Kerajaan Surga itu seum-
pama orang yang menaburkan benih yang
baik di ladangnya. namun pada waktu semua
orang tidur, datanglah musuhnya menabur-
kan benih lalang di antara gandum itu, lalu
pergi” (Mat. 13:24,25). jika hamba-ham-
ba itu hendak mencabut benih itu, petani
pemilik ladang itu berkata, “Jangan, sebab
mungkin gandum itu ikut tercabut pada wak-
tu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah
keduanya tumbuh bersama sampai waktu
menuai” (Mat. 13:29, 30).
Lalang dan gandum bertumbuh bersama-
sama di ladang itu. Manakala Allah menun-
tun orang yang bertobat masuk ke dalam je-
maat, Setan juga tidak ketinggalan memba-
wa orang yang tidak bertobat. Kedua ke-
lompok ini mempengaruhi seluruh tubuh—
yang satu bekerja untuk memurnikan sedang-
kan yang satu lagi bekerja untuk merusak.
Konflik antara mereka—yang ada da-
lam jemaat—akan berlanjut terus sampai
musim menuai, Kedatangan Kristus kedua
kali.
Peperangan dalam jemaat itu belumlah
berakhir. Bencana dan perselisihan memben-
tang di depan. sebab mengetahui waktunya
sudah singkat, Setan berang terhadap jema-
at Allah (Why. 12:12, 17), dan akan menda-
tangkan perlawanan dengan “suatu waktu
kesesakan yang besar, seperti yang belum
pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sam-
pai pada waktu itu.” namun Kristus akan tu-
run tangan demi umat-Nya yang setia, yang
akan “terluput, yakni barangsiapa yang dida-
pati namanya tertulis dalam Kitab itu” (Dan.
12:1). Yesus memberikan jaminan kepada
176Gereja atau Jemaat
kita bahwa “orang yang bertahan sampai ke-
sudahannya akan selamat” (Mat. 24:13).
Pada waktu kedatangan Kristus kedua
kali, muncul kemenangan jemaat. Pada wak-
tu itu Ia dapat mengumpulkan bagi diri-Nya
“dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut
atau yang serupa itu, namun supaya jemaat
kudus dan tidak bercela” (Ef. 5:27), jemaat
yang setia dari zaman ke zaman, yang dite-
bus dengan darah-Nya.
Jemaat yang Tampak dan Tidak Tam-
pak. Istilah tampak dan tidak tampak digu-
nakan untuk membedakan dua aspek jemaat
yang ada di dunia ini. Metafora atau
gambaran kiasan yang telah dikemukakan di
atas pada khususnya diterapkan kepada je-
maat yang tampak.
1. Jemaat yang tampak. Jemaat atau
gereja yang tampak yaitu jemaat Allah yang
diorganisasi untuk melayani. Jemaat itu me-
menuhi perintah besar yang diberikan Kris-
tus, untuk melaksanakan pemberitaan Injil
kepada dunia ini (Mat. 28:18-20), dan me-
nyiapkan orang banyak untuk kemuliaan-
Nya pada waktu kedatangan-Nya kelak (1
Tes. 5:23; Ef 5:27).
Saksi istimewa yang dipilih Kristus akan
menerangi dunia dan melakukan tugas pela-
yanan seperti yang telah dilakukan-Nya,
mengkhotbahkan Injil kepada orang yang
miskin, menyembuhkan orang yang hancur
hatinya, memberitakan kelepasan bagi orang
yang tertawan serta memulihkan penglihat-
an orang yang buta, membebaskan orang
yang tertindas, mengkhotbahkan tahun-tahun
rahmat Tuhan telah datang. (Luk. 4:18, 19).
2. Jemaat yang tidak tampak. Jemaat
yang tidak tampak juga disebut jemaat yang
universal, yang terdiri dari seluruh umat Tu-
han sepanjang zaman di dunia ini. Di dalam-
nya termasuk orang-orang percaya yang ter-
dapat dalam jemaat yang tampak, dan ba-
nyak juga, yang walaupun mereka tidak ter-
masuk ke dalam jemaat yang diorganisasi,
yang menuruti semua terang yang telah di-
berikan Kristus kepada mereka (Yoh. 1:9).
Kelompok yang terakhir ini termasuk di da-
lamnya mereka yang tidak pernah memper-
oleh kesempatan untuk mempelajari kebenar-
an mengenai Yesus Kristus akan namun telah
menyambut Roh Kudus dan “oleh dorongan
diri sendiri melakukan apa yang dituntut hu-
kum Taurat” Allah (Rm. 2:14).
Eksistensi jemaat yang tidak tampak me-
nyatakan bahwa menyembah Tuhan pada ha-
kikatnya dalam pengertian yang paling ting-
gi ialah rohani. “Penyembah-penyembah be-
nar,” kata Kristus, “akan menyembah Bapa
dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa meng-
hendaki penyembah-penyembah demikian”
(Yoh. 4:23). sebab sifat rohani penyembah-
an yang benar maka manusia tidak dapat
menghitung secara tepat siapa yang telah
menjadi bagian jemaat itu dan siapa yang ti-
dak termasuk bagian dari jemaat Allah itu.
Melalui Roh Kudus, Allah memimpin
umat-Nya dari jemaat yang tidak tampak ke
dalam persatuan dengan jemaat-Nya yang
tampak. “Ada lagi pada-Ku domba-domba
lain, yang bukan dari kandang ini; domba-
domba itu harus Kutuntun juga dan mereka
akan mendengarkan suara-Ku dan mereka
akan menjadi satu kawanan dengan satu gem-
bala” (Yoh. 10:16). Hanyalah dalam jemaat
yang tampak ini mereka dapat mengalami se-
penuhnya kebenaran Tuhan, kasih, perseku-
tuan, sebab Ia telah memberikan kepada je-
maat yang tampak itu karunia-karunia rohani
yang memperbaiki anggota-anggotanya baik
secara kelompok maupun secara individu
(Ef. 4:4-16). Setelah Paulus ditobatkan, Al-
lah menghubungkannya dengan jemaat yang
tampak dan kemudian mengangkatnya un-
177Gereja atau Jemaat
tuk melaksanakan tugas memimpin jemaat-
Nya (Kis. 9:10-22). Demikian pula sekarang
ini, Ia bermaksud memimpin umat-Nya ke
dalam jemaat yang nyata, ditandai kesetia-
an kepada perintah-perintah Tuhan serta ber-
iman kepada Yesus Kristus, supaya dengan
demikian mereka dapat mengambil bagian
dalam menyelesaikan misi-Nya di atas du-
nia ini (Why. 14:12; 18:4; Mat. 24:14; lihat
juga bab 13 dari buku ini).
Konsep jemaat yang tidak tampak juga
dianggap termasuk jemaat yang bersatu di
surga dan di dunia (Ef. 1:22, 23) dan jemaat
yang di persembunyian selama masa aniaya
(Why. 12:6, 14).
ORGANISASI JEMAAT
Mandat Kristus untuk menyampaikan In-
jil ke seluruh dunia juga menyangkut pemeli-
haraan atas orang-orang yang telah meneri-
ma Injil itu. Anggota-anggota yang masih ba-
ru haruslah dikukuhkan imannya serta dia-
jar untuk menggunakan talenta yang diberi-
kan Tuhan kepada mereka. Mereka hendak-
nya menggunakannya dalam tugas itu. Kare-
na “Allah tidak menghendaki kekacauan”
melainkan ingin supaya segala sesuatu dila-
kukan dengan “sopan dan teratur” (1 Kor.
14:33,40), jemaat itu harus mempunyai orga-
nisasi yang sederhana namun efektif.
Sifat Organisasi. Marilah kita perhati-
kan keanggotaan dan organisasi jemaat.
1. Keanggotaan jemaat. jika mereka
memenuhi kualifikasi tertentu, orang yang
bertobat itu menjadi anggota jemaat yang
beriman, dalam masyarakat Perjanjian Baru.
Keanggotaan berhubungan dengan peneri-
maan hubungan yang baru terhadap orang-
orang yang lain, kepada negara dan Tuhan.
a. Kualifikasi keanggotaan. Orang yang
ingin menjadi anggota jemaat-Nya haruslah
menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat
dan Tuhan, bertobat dari dosa-dosanya dan
kemudian dibaptiskan (Kis. 2:36-41; ban-
dingkan 4:10-12). Mereka harus mengalami
kelahiran baru serta menerima tugas Kristus
untuk mengajar orang-orang lain memper-
hatikan segala sesuatu yang diperintahkan-
Nya kepada mereka (baca Mat. 28:20).
b. Persamaan dan pelayanan. Sesuai
dengan pernyataan Kristus bahwa “kamu se-
mua yaitu saudara” dan “barangsiapa ter-
besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi
pelayanmu” (Mat. 23:8, 11), merupakan hu-
bungan antara seorang dengan yang lain ber-
dasarkan kesamaan. Namun demikian, me-
reka juga harus menyadari bahwa bila seo-
rang mengikut teladan Kristus berarti mere-
ka harus melayani keperluan orang lain,
membimbing mereka kepada Kristus.
c. Keimamatan semua orang percaya.
Dengan bertugasnya Kristus dalam bait suci
surgawi itu maka keimamatan orang Lewi
pun berakhirlah. Oleh sebab itu, jemaat se-
karang menjadi “suatu imamat yang kudus”
(1 Ptr. 2:5). “namun kamu,” ujar Petrus,
“bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah
sendiri, supaya kamu memberitakan perbuat-
an-perbuatan yang besar dari Dia, yang te-
lah memanggil kamu keluar dari kegelapan
kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Ptr. 2:9).
Peraturan yang baru ini, imamat semua
orang kudus, bukanlah mengartikan bahwa
setiap orang dapat berpikir, percaya dan me-
ngajarkan menurut pilihan sendiri tanpa
mempertimbangkan tubuh jemaat itu. Hal itu
mengartikan bahwa setiap anggota jemaat
mempunyai suatu tanggung jawab untuk me-
178Gereja atau Jemaat
layani orang lain dalam nama Tuhan, dan da-
pat berhubungan secara langsung dengan Dia
tanpa pengantaraan manusia. Hal itu me-
nekankan saling bergantung antara anggota
jemaat, sebagaimana layaknya ketidakter-
gantungan mereka. Keimamatan menyatakan
tidak adanya perbedaan antara imam dan
kaum awam, walaupun secara fungsi dan
peranannya memperlihatkan adanya perbe-
daan.
d. Ketaatan kepada Tuhan dan nega-
ra. Alkitab mengakui campur tangan Tuhan
dalam menegakkan pemerintahan dan me-
nyuruh orang yang beriman menghormati
dan taat kepada pemerintah. Seorang yang
taat kepada pemerintah yaitu “hamba Al-
lah untuk membalaskan murka Allah atas
mereka yang berbuat jahat.” Oleh sebab itu,
anggota jemaat haruslah membayar “pajak
kepada orang yang berhak menerima pajak,
cukai kepada orang yang berhak menerima
cukai; rasa takut kepada orang yang berhak
menerima rasa takut dan hormat kepada orang
yang berhak menerima hormat” (Rm. 13:4, 7).
Sikap mereka terhadap pemerintah, seba-
gai anggota yang dituntun oleh prinsip-prin-
sip Kristus yaitu : “Berikanlah kepada Kai-
sar apa yang wajib kamu berikan kepada
Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib
kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21).
Akan namun kalau pemerintah mencampuri
urusan yang bersifat Ilahi maka ketaatan
yang tertinggi haruslah diberikan kepada
Tuhan Allah. Rasul berkata, “Kita harus le-
bih taat kepada Allah daripada kepada ma-
nusia” (Kis. 5:29).
2. Fungsi utama organisasi jemaat. Je-
maat telah diorganisasi untuk menyelesaikan
rencana Allah untuk mengisi planet ini de-
ngan pengetahuan kemuliaan Allah. Hanya
jemaat yang tampak yang dapat menyeleng-
garakan sejumlah fungsi yang vital untuk
memenuhinya.
a. Perbaktian dan peringatan. Sepan-
jang sejarah, jemaat telah menjadi wakil Al-
lah untuk menghimpun orang-orang perca-
ya agar berbakti dan menyembah Pencipta
hari Sabat. Kristus dan murid-murid-Nya te-
lah mengikuti praktik perbaktian ini, dan Ki-
tab Suci meminta orang-orang percaya yang
ada sekarang ini supaya jangan mengingkari
“pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti
dibiasakan oleh beberapa orang, namun ma-
rilah kita saling menasihati, dan semakin giat
melakukannya menjelang hari Tuhan yang
mendekat” (Ibr. 10:25; bandingkan 3:13).
Perbaktian bersama akan membawa orang
yang berbakti itu kepada suasana segar,
memberikan keberanian dan kegembiraan.
b. Persekutuan orang Kristen. Mela-
lui jemaat keperluan anggota jemaat yang
paling dalam akan dipuaskan. “sebab per-
sekutuanmu dalam Berita Injil” (Flp. 1:5)
melampaui semua hubungan, itulah yang
mengakrabkan hubungan dengan Allah, se-
bagaimana halnya hubungan dengan orang
yang seiman (1 Yoh. 1:3, 6, 7).
c. Petunjuk dalam Kitab Suci. Kristus
memberikan kepada jemaat “kunci Kerajaan
Surga” (Mat. 16:19). Kunci yang dimaksud-
kan di sini ialah firman Kristus—semua Sab-
da yang ada dalam Alkitab. Lebih khu-
sus lagi dikatakan “kunci pengetahuan” se-
hubungan dengan bagaimana memasuki ke-
rajaan itu (Luk. 11:52). Sabda Kristus ada-
lah roh dan hidup bagi semua orang yang
menerimanya (Yoh. 6:63). Hidup kekallah
yang diberikannya (Yoh. 6:68).6
jika jemaat mengumumkan kebe-
naran Alkitab, kunci keselamatan ini mem-
punyai kuasa untuk mengikat dan melepas-
179Gereja atau Jemaat
kan, membuka dan menutup pintu surga, ka-
rena kunci itu menyatakan kriteria bagaima-
na seorang diterima atau ditolak, apakah di-
selamatkan atau dibinasakan. Oleh sebab
itu, pernyataan Injil jemaat mengeluarkan
“bau kehidupan yang menghidupkan” atau
“bau kematian yang mematikan” (2 Kor. 2:16).
Yesus mengetahui pentingnya hidup “dari
setiap firman yang keluar dari mulut Allah”
(Mat. 4:4). Hanya dengan demikianlah je-
maat dapat memenuhi mandat Kristus un-
tuk mengajar semua bangsa “melakukan se-
gala sesuatu yang telah Kuperintahkan ke-
padamu” (Mat. 28:20).
d. Melaksanakan upacara Ilahi. Jema-
at yaitu alat Tuhan untuk melaksanakan
upacara baptisan, upacara untuk menjadi
anggota jemaat (baca juga bab 15 dari buku
ini), dan upacara pembasuhan kaki dan
Perjamuan Kudus (baca bab 16 dari buku ini).
e. Penyebaran Injil ke seluruh dunia.
Jemaat diadakan untuk melaksanakan misi
pelayanan, untuk memenuhi tugas yang ga-
gal dilakukan bangsa Israel. Sebagaimana
yang nyata dalam kehidupan Kristus, tugas
terbesar yang diemban jemaat dalam dunia
ini ialah memenuhi penyelesaian pengaba-
ran Injil itu sepenuhnya “menjadi kesaksian
bagi semua bangsa” (Mat. 24:14), diberi
kekuatan melalui baptisan Roh Kudus.
Tugas ini termasuk proklamasi pekabaran
persiapan atas kedatangan Kristus kembali
yang dialamatkan baik kepada jemaat itu
sendiri (1 Kor. 1:7, 8; 2 Ptr. 3:14; Why. 3:14-
22; 14:5) dan kepada umat yang sisa (Why.
14:6-12; 18:4).
PEMERINTAHAN JEMAAT
Setelah Yesus naik ke surga maka tugas
kepemimpinan jemaat diserahkan kepada
rasul-rasul. Tindakan yang bersifat organisa-
si yang pertama, melalui perundingan de-
ngan orang-orang percaya yang lain, ialah
memilih rasul pengganti tempat Yudas (Kis.
1:15-26).
sebab jemaat bertumbuh, para rasul me-
nyadari kemungkinan baik pemberitaan In-
jil sekaligus dengan pemeliharaan dan pe-
nanganan masalah-masalah aktual yang di-
hadapi jemaat. Dengan demikian mereka
menyerahkan kepengurusan jemaat kepada
tujuh orang yang diangkat oleh jemaat itu
sendiri. Walaupun jemaat membedakan an-
tara “pelayanan Firman”dan “pelayanan me-
ja” (Kis. 6:1-4), sama sekali tidak dibuat upa-
ya untuk memisahkan imam dan kaum awam
dalam pelaksanaan tugas jemaat itu. Sesung-
guhnya, dua dari antara yang tujuh orang ini,
Stefanus dan Filipus, telah dicatat sebab me-
reka berkhotbah dengan berhasil, begitu juga
dalam bidang evangelisasi (Kis. 7, 8).
Perluasan jemaat ke Asia dan Eropa me-
minta perlunya mengambil langkah tambah-
an dalam pengorganisasian. Dengan mendiri-
kan sejumlah jemaat baru, para penatua telah
diurapi “di tiap-tiap jemaat” untuk menegakkan
kepemimpinan yang mantap (Kis. 14:23).
jika sebuah krisis yang hebat terjadi,
kelompok yang terlibat dapat meminta diada-
kan majelis yang lebih besar (majelis umum)
yang terdiri dari para rasul dan penatua-pe-
natua yang mewakili jemaat yang lebih be-
sar. Keputusan-keputusan yang diambil oleh
majelis ini dianggap mengikat semua kelom-
pok dan diterima sebagai suara Tuhan (Kis.
15:1-29). Kejadian ini menggambarkan ke-
nyataan bahwa bila ada suatu isu atau masa-
lah yang mempengaruhi seluruh jemaat, ma-
jelis dan pimpinan pada tingkat yang lebih
luas daripada jemaat setempat diperlukan. Di
dalam masalah ini keputusan yang dihasil-
kan mencakup dan melibatkan semua orang
yang terlibat di dalamnya (Kis. 15:22, 25).
180Gereja atau Jemaat
Perjanjian Baru memberikan penjelasan
yang tuntas bahwa pada waktu kesulitan Tu-
han melaksanakan kepemimpinan di dalam
pekerjaan-Nya. Dengan petunjuk yang dibe-
rikan Tuhan, dan dalam permufakatan de-
ngan jemaat, maka dibentuklah majelis je-
maat. Jika kini diikuti dengan saksama, ma-
ka jemaat akan terpelihara dari kemurtadan
sehingga memungkinkannya memenuhi tu-
gas besar yang diembannya.
PRINSIP ALKITABIAH
PEMERINTAHAN JEMAAT
1. Kristus kepala jemaat. Kepemim-
pinan Kristus atas jemaat pada hakikatnya
didasarkan atas pekerjaan pengantaraan yang
dilakukan-Nya. Sejak kemenangan-Nya atas
Setan di kayu salib, kepada Kristus telah “di-
berikan segala kuasa” baik di “surga dan di
atas bumi?’(Mat. 28:18). Allah telah me-
naruh “segala sesuatu... di bawah kaki Kris-
tus dan Dia telah diberikan-Nya kepada je-
maat sebagai Kepala dari segala yang ada”
(Ef. 1:22; bandingkan Flp. 2:10, 11). Kare-
na itu” Ia yaitu Tuan di atas segala tuan
dan Raja di atas segala raja” (Why. 17:14).
Juga, Kristus yaitu kepala jemaat sebab
jemaat itulah tubuh-Nya (Ef. 1:23; Kol 1:18).
Orang-orang percaya “yaitu anggota tubuh-
Nya” (Ef. 5:30). Mereka harus mempunyai
satu hubungan yang akrab dengan-Nya kare-
na dari Dialah jemaat itu “ditunjang dan di-
ikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-
sendi” (Kol. 2:19).
2. Kristus sumber semua kekuasaan.
Kristus menunjukkan kuasa-Nya dalam (a)
pembangunan jemaat Kristen (Mat. 16:18),
(b) pelembagaan peraturan jemaat, yang ha-
rus dilaksanakan (Mat. 26:26-30; 28:19, 20;
1 Kor. 11:23-29; Yoh. 13:1-17), (c) sokongan
atas jemaat dengan kuasa Ilahi bertindak atas
nama-Nya (Mat. 16:19; 18:15-18; Yoh.
20:21-23),(d) pengiriman Roh Kudus untuk
memimpin jemaat-Nya di bawah kuasa-Nya
(Yoh. 15:26; 16:13-15), (e) pemberian dan
pengangkatan dalam jemaat sehingga ada
individu yang dikaruniai sebagai rasul, nabi,
evangelis, pendeta (gembala), dan guru un-
tuk menyiapkan anggota-anggota jemaat me-
lakukan pelayanan serta membangun “tubuh
Kristus” sehingga mengalami kesatuan iman
serta memantulkan “sesuai dengan kepenuh-
an Kristus” (Ef 4:7-13).
3. Kitab Suci membawa kuasa Kristus.
Walaupun Kristus membimbing jemaat-Nya
melalui Roh Kudus, Firman Allah yaitu sa-
tu-satunya ukuran atau standar pelaksanaan
jemaat. Semua anggotanya harus menurut
firman itu sebab itulah hukum yang mut-
lak. Semua kebiasaan, adat-istiadat dan prak-
tik kebudayaan manusia harus tunduk kepa-
da kuasa atau otoritas Kitab Suci (2 Tim.
3:15-17).
4. Otoritas Kristus dan tugas-tugas je-
maat. Kristus menjalankan kuasa-Nya mela-
lui jemaat-Nya yang diangkat-Nya khusus
untuk melayani dan menjadi pelayan, namun
Ia tidak pernah memindahkan kekuasaan-
Nya. Tiada seorang pun yang mempunyai
otoritas yang mandiri dan terpisah dari Kris-
tus dan firman-Nya.
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh me-
milih para pejabatnya. Akan namun jika pe-
jabat ini melaksanakan fungsinya selaku wa-
kil orang banyak, otoritas yang mereka per-
oleh datang dari Kristus. Pemilihan mereka
hanyalah mengukuhkan panggilan yang me-
reka terima dari Kristus. Tugas utama peja-
bat yang terpilih ini yaitu mengamati apa-
kah petunjuk perbaktian yang ada di da-
lam Alkitab, ajaran-ajaran yang termaktub
di dalamnya, disiplin dan Injil itu diikuti de-
181Gereja atau Jemaat
ngan saksama. sebab jemaat itulah tubuh
Kristus, maka mereka harus senantiasa me-
nyelaraskan segala perbuatan dan keputusan
mereka dengan Kristus.
Pejabat Jemaat pada Zaman Perjan-
jian Baru. Ada dua jabatan yang disebut-
sebut dalam Perjanjian Baru—yakni, pena-
tua dan diaken. Pentingnya kedua jabatan ini
ditandai dengan syarat tingginya moral dan
kerohanian. Hanya orang yang demikianlah
yang dapat memenuhi jabatan itu. Jemaat
mengakui kudusnya panggilan untuk jabat-
an kepemimpinan melalui pengurapan, pe-
numpangan tangan (Kis. 6:6; 13:2, 3; 1 Tim.
4:14; 5:22).
1. Para penatua.
a. Apakah yang dimaksud dengan pe-
natua? Kata “penatua” (dalam bahasa Yu-
nani dikatakan presbuteros) atau “bishop”
(episkopos) yaitu jabatan yang paling pen-
ting dalam jemaat. Istilah penatua berarti
yang dituakan, mengandung makna wibawa,
dan yang dihormati. Jabatan itu sama dengan
jabatan seseorang yang mengawasi sinagog.
sedang istilah bishop berarti “penilik”.
Paulus menggunakan istilah ini saling tin-
dih, menyamakan penatua dengan penilik
atau bishop (Kis. 20:17, 28; Tit. 1:5, 7).
Orang-orang yang memegang jabatan ini
mengawasi dan membina jemaat-jemaat
yang baru dibentuk. Penatua menunjuk ke-
pada status atau rangking jabatan, sementa-
ra bishop menunjuk kepada tanggung jawab
atau tugas dalam jabatan—“penilik.” 7 Kare-
na para rasul pun menyebut diri mereka pe-
natua (1 Ptr. 5:1; 2 Yoh. 1; 3 Yoh. 1), maka
nyatalah bahwa ada penatua setempat, ada
penatua keliling, atau penatua dalam tugas
yang lebih besar. Akan namun , tugas kedua-
duanya yaitu sama, fungsinya menggem-
balakan jemaat.
b. Persyaratan. Orang yang pantas dan
dapat diangkat sebagai penatua “haruslah se-
orang yang tak bercacat, suami dari satu is-
tri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan,
suka memberi tumpangan, cakap mengajar
orang, bukan peminum, bukan pemarah me-
lainkan peramah, pendamai, bukan hamba
uang, seorang kepala keluarga yang baik, di-
segani dan dihormati oleh anak-anaknya. Ji-
kalau seorang tidak tahu mengepalai keluar-
ganya sendiri, bagaimanakah ia dapat me-
ngurus jemaat Allah? Janganlah ia seorang
yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi
sombong dan kena hukuman Iblis. Hendak-
lah ia juga mempunyai nama baik di luar je-
maat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh
ke dalam jerat Iblis” (1 Tim. 3:1-7; ban-
dingkan Tit. 1:5-9).
Sebelum pengangkatan kepada jabatan
seperti itu, calon yang hendak diangkat ha-
ruslah menunjukkan kemampuan memimpin
di dalam rumah tangganya. “Keluarga sese-
orang yang dianjurkan untuk jabatan itu ha-
ruslah dipertimbangkan dengan baik. Apa-
kah mereka taat? Mampukah mereka meme-
lihara rumah tangganya dengan penuh ke-
hormatan? Bagaimana kelakuan anak-anak-
nya? Apakah anak-anak itu menghormati
orang tuanya? Jika sang ayah tidak memiliki
keahlian, tidak bijaksana atau tidak mempu-
nyai kuasa di dalam rumah tangganya, meng-
atur keluarganya sendiri, maka dapat disim-
pulkan bahwa kepemimpinan yang tidak di-
kuduskan yang seperti itulah yang kelak akan
tampak.”8 Calon itu, jika ia sudah menikah,
haruslah memperlihatkan kepemimpinannya
lebih dahulu di dalam rumah tangga sebe-
lum diserahi tanggung jawab yang lebih besar
memimpin “jemaat dari Allah (1 Tim. 3:15).
182Gereja atau Jemaat
sebab begitu pentingnya jabatan itu,
Paulus berkata, “Janganlah engkau terburu-
buru menumpangkan tangan atas seseorang”
(1 Tim 5:22).
c. Tanggung jawab penatua dan kua-
sa atau otoritas. Penatua yaitu pemimpin
rohani. Ia dipilih terutama untuk tugas itu,
yakni “menggembalakan jemaat Allah” (Kis.
20:28). Tugasnya juga mencakup pelayan-
an kepada orang yang lemah (Kis. 20:35),
menegur yang banyak tingkah (1 Tes. 5:12),
dan waspada terhadap ajaran-ajaran yang
menimbulkan perpecahan (Kis. 20:29-31).
Penatua-penatua haruslah menjadi contoh
kehidupan yang Kristiani (Ibr. 13:7; 1 Ptr.
5:3) dan menunjukkan teladan kederma-
wanan (Kis. 20:35).
d. Sikap terhadap penatua. Jelasnya,
kepemimpinan jemaat yang sukses bergan-
tung atas kesetiaan anggota. Paulus mengan-
jurkan orang-orang yang percaya supaya
menghormati para pemimpin mereka dan
“menjunjung mereka dalam kasih sebab pe-
kerjaan mereka” (1 Tes. 5:13). “Penatua-pe-
natua yang baik pimpinannya,” katanya, “pa-
tut dihormati dua kali lipat, terutama mere-
ka yang dengan jerih payah berkhotbah dan
mengajar” (1 Tim. 5:17).
Dengan jelas Kitab Suci mengatakan per-
lunya menghormati pemimpin jemaat: “Ta-
atilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduk-
lah kepada mereka, sebab mereka berjaga-
jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang
harus bertanggung jawab atasnya” (Ibr. 13:
17; bandingkan 1 Ptr. 5:5). jika anggota
mempersulit para pemimpin melaksanakan
tugas yang telah diembankan Kristus kepa-
da mereka, maka mereka akan mengalami ke-
sedihan dan kehilangan kegembiraan atas ke-
sejahteraan Tuhan.
Orang-orang percaya dikukuhkan untuk
memperhatikan dan memelihara gaya kehi-
dupan pemimpin yang Kristiani. “Ingatlah
akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah
menyampaikan firman Allah kepadamu. Per-
hatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah
iman mereka” (Ibr. 13:7). Janganlah mere-
ka memperhatikan pergunjingan. Paulus
memberikan amaran, “Janganlah engkau me-
nerima tuduhan atas seorang penatua kecuali
kalau didukung dua atau tiga orang saksi”
(1 Tim. 5:19).
2. Diaken dan diakenes. Kata diaken be-
rasal dari bahasa Yunani diakonos, yang ber-
arti “pelayan”, atau “penolong.” Jabatan dia-
ken telah dilembagakan untuk menyanggup-
kan rasul-rasul memasrahkan segenap hi-
dupnya “dalam doa dan pelayanan Firman”
(Kis. 6:4). Walaupun para diaken bertugas
untuk mengurus masalah yang bersifat se-
mentara yang timbul dalam jemaat itu, mere-
ka pun terlibat dalam pekerjaan penginjilan
secara giat (Kis. 6:8; 8:5-13, 26-40).
Bentuk istilah untuk wanita ada di
dalam Rm. 16:1.9 Para penerjemah membe-
rinya arti “pelayan” juga, atau lazimnya di-
sebut diakenes, “Perkataan itu dan penggu-
naannya di dalam nas ini menyarankan bah-
wa jabatan diakenes telah didirikan dalam
jemaat pada saat Paulus menulis kitab Ro-
ma.”10
Seperti halnya dengan penatua-penatua,
para diaken juga dipilih oleh jemaat berda-
sarkan ukuran moral dan kerohanian (1 Tim
3:8-13).
Disiplin Jemaat. Kristus memberikan
otoritas kepada jemaat untuk mendisiplin
anggota jemaat serta menyediakan prinsip-
prinsip yang memadai untuk melakukan hal
yang demikian. Ia ingin supaya jemaat meng-
183Gereja atau Jemaat
gunakan prinsip-prinsip ini di mana perlu un-
tuk mencapai wujud panggilan yang paling
mulia sebagai “imamat yang kudus” dan
“bangsa yang Kudus” (Mat. 18:15-18; 1 Ptr.
2:5, 9).
Namun demikian jemaat haruslah ber-
usaha memberi kesan kepada anggota-ang-
gota yang salah itu betapa perlunya mereka
mengubah jalan mereka. Kristus memuji je-
maat Efesus sebab “tidak dapat sabar ter-
hadap orang-orang jahat” (Why. 2:2), akan
namun Ia mencela jemaat-jemaat Pergamus
dan Tiatira sebab mereka itu membiarkan
kemurtadan dan kebejatan moral (Why. 2:14,
15, 20). Perhatikanlah nasihat Alkitab me-
ngenai disiplin ini:
1. Yang menyangkut kesalahan priba-
di. Bila ada seorang anggota bersalah kepa-
da yang lain (Mat. 18:15-17), Kristus me-
nasihati orang yang bersalah itu supaya men-
dekati—domba yang tersesat itu—serta ber-
usaha meyakinkannya untuk mengubah tabi-
atnya. Kalau ia tidak berhasil pertama kali,
usaha kedua patut dilakukan, disertai oleh
satu dua orang saksi yang tidak berprasang-
ka. Jika usaha ini tidak berhasil, persoalan-
nya haruslah dibawa ke hadapan seluruh
anggota jemaat.
Jika anggota yang bersalah itu menolak
kebijaksanaan dan otoritas jemaat Kristus
maka ialah yang memutuskan persekutuan-
nya dari jemaat. Pemecatan orang yang ber-
salah ini hanyalah mengukuhkan keadaan
yang sebenarnya. Jika, di bawah bimbingan
Roh Kudus, jemaat dengan saksama me-
ngikuti nasihat Alkitab, maka keputusannya
itu diakui di surga. Kristus berkata, “Sesung-
guhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan
terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan
di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat.
18:18).
2. Yang menyangkut kesalahan publik.
Walaupun “semua orang telah berbuat dosa
dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm.
3:23), kesalahan dan pemberontakan yang
mencolok mendatangkan cemoohan kepada
jemaat haruslah segera ditangani dengan me-
ngeluarkan orang yang bersalah itu.
Pemecatan berarti menyingkirkan yang
jahat—yang kalau tidak pastilah bekerja se-
perti ragi. Dan itu memulihkan kemurnian
jemaat, dan tindakan pemulihan yang bersi-
fat menebus orang yang bersalah. Dengan
memperhatikan sebuah kasus kebejatan sek-
sual di dalam jemaat Korintus, Paulus meng-
usulkan supaya segera diambil tindakan.
Kristus berkata, ”Bilamana kita berkumpul
dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku,
dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu
harus kita serahkan dalam nama Tuhan Ye-
sus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya,
agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.
... Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu
menjadi adonan yang baru, sebab kamu me-
mang tidak beragi” (1 Kor. 5:4, 5, 7). Jangan-
lah bergaul dengan siapa pun yang menye-
but dirinya orang percaya, katanya, “yaitu
orang cabul, kikir, penyembah berhala, pem-
fitnah, pemabuk atau penipu, dengan orang
yang demikian janganlah kamu sekali-kali
makan bersama-sama.... Usirlah orang yang
melakukan kejahatan dari tengah-tengah ka
mu” (1 Kor. 5:11, 13).
3. Yang menyangkut orang pemecah
belah. Seorang anggota yang suka menye-
babkan “perpecahan dan godaan” (Rm. 16:
17), “yang tidak melakukan pekerjaannya,”
menolak mengikuti nasihat Alkitab, harus-
lah dihindari supaya “ia menjadi malu” ka-
rena sikapnya. “namun janganlah anggap dia
sebagai musuh,” kata rasul Paulus, “namun
tegurlah dia sebagai seorang saudara” (2 Tes.
184Gereja atau Jemaat
3:6, 14,15). Bila “seorang bidat” menolak
mendengarkan “satu dua kali” nasihat jema-
at, ia haruslah ditolak, “orang yang semacam
itu benar-benar sesat dan dengan dosanya
menghukum dirinya sendiri” (Tit. 3:10, 11).
4. Memulihkan para pelanggar. Ang-
gota-anggota jemaat janganlah menghina,
menghindari dan melalaikan orang yang
dipecat itu. Mereka justru harus berusaha
memulihkan hubungan mereka dengan Kris-
tus melalui pertobatan dan kelahiran baru.
Orang-orang yang dikeluarkan dari perseku-
tuan itu haruslah diusahakan pemulihannya
ke dalam jemaat jika mereka memperli-
hatkan bukti pertobatan yang sejati (2 Kor.
2:6-10).
Khususnya melalui pemulihan orang-
orang berdosa ini ke dalam jemaat kembali
membuat kuasa, kemuliaan dan anugerah
Allah diperlihatkan. Ia ingin sejak dahulu
melepaskan tawanan dosa, memindahkan
mereka dari kerajaan kegelapan ke dalam ke-
rajaan terang. Jemaat Allah, panggung alam
semesta, menunjukkan kuasa pengorbanan
Kristus yang mengadakan penebusan di da-
lam kehidupan lelaki maupun perempuan.
Kini Kristus, melalui jemaat-Nya, me-
ngundang semua orang untuk menjadi bagi-
an dari keluarga-Nya. “Lihat,” Ia berkata,
“Aku berdiri di muka pintu dan mengetok;
jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku
dan membukakan pintu, Aku akan masuk
mendapatkannya dan Aku makan bersama-
sama dengan dia, dan ia bersama-sama de-
ngan Aku” (Why. 3:20).
________________:
1. Menurut Berkhof, asal-usul istilah jemaat, “Sebutan ‘Gereja’, ‘Kerk’ dan ‘Kirche’ bukanlah dipungut dari kata ekklesia
... melainkan dari kata kuriake, yang mengandung arti ‘milik Allah.’ Yang ditekankannya ialah bahwa gereja yaitu
milik Tuhan. Nama to kuriakon atau he kuriake semuanya menunjuk kepada tempat berkumpulnya Jemaat. Tempat ini
dianggap milik Tuhan sehingga disebut to kuriakon” (Systematic Theology, hlm. 557).
2. “Church, Nature of,” SDA Encyclopedia, edisi revisi., hlm. 302; “Church,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 224.
3. Menurut terjemahan modern yang mengikuti Tisschendorf mengenai singular atau tunggal. didasarkan atas Codex Si-
naiticus, Alexandrinus, Vaticanus, dan Ephraemi Rescriptus.
4. Kecuali mengenai pengajaran mereka tentang Kristus, kepercayaan orang-orang percaya pada zaman mula-mula jemaat
sangat mirip dengan pengajaran Yudaisme. Baik orang Yahudi maupun yang bukan Yahudi yang menjadi orang Kisten,
semuanya berbakti di sinagog pada hari Sabat, mendengarkan penjelasan Perjanjian Lama (Kisah 13:42-44; 15:13, 14,
21). Terkoyaknya tirai bait suci menandakan bahwa upacara-upacara yang merupakan perlambang itu sudah digenapi.
Buku Ibrani dimaksudkan untuk mengalihkan pikiran orang Kristen dari lambang kepada wujudnya yang nyata: Kema-
tian Kristus yang mendamaikan, keimamatan-Nya di surga, dan anugerah-Nya yang menyelamatkan. Era Perjanjian
Baru yaitu masa transisi, dan sekalipun rasul-rasul itu turut mengambil bagian dalam upacara-upacara Perjanjian
Lama, konferensi yang pertama yang diadakan di Yerusalem menunjukkan bahwa mereka tidak menganggapnya sebagai
sesuatu yang menyelamatkan.
5. Charles E. Bradford, “What the Church Means to Me,” Adventist Review, 20 November 1986, hlm. 15.
6. Lihat SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 5, hlm. 432.
7. Lihat SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 26, 38.
8. White, Testimonies, jilid 5, hlm. 618.
9. Menurut tata bahasa kata diakonos dapat digunakan baik untuk pria maupun perempuan, sehingga bentuk netral (gen-
der) yang digunakan dalam hal ini ditentukan oleh isinya. sebab Phoebe yang disebut “saudari kita” yaitu diakonos,
maka kata ini tentulah ditujukan kepada perempuan sekalipun dilafalkan sebagai bentuk kata benda untuk lelaki.
10. “Deacones,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi, hlm. 277. Pada zaman Perjanjian Baru istilah diakonos mempunyai
makna yang luas. “Masih tetap digunakan untuk menggambarkan semua orang yang melayani jemaat dalam kedudukan
apa pun. Paulus, sekalipun seorang rasul, sering menyebut dirinya (baca 1 Korintus 3:5; 2 Korintus 3:6; 6:4; 11:23;
Efesus 3:7; Kolose 1:23) dan Timotius . . . (lihat I Timotius 4:6), sebagai diakonoi (kata majemuk diakonos).” (SDA
Bible Commentary, edisi revisi, jilid 7, hlm. 300). Di dalam contoh-contoh ini diterjemahkan sebagai “pekerja” atau
“pelayan” ganti “diaken.”
185Gereja atau Jemaat
186
Gereja semesta terdiri dari orang-orang yang benar-benar percaya
kepada Kristus, namun pada hari-hari terakhir, saat kemurtadan me-
rajalela, sebuah rombongan yang sisa dipanggil keluar untuk me-
melihara hukum-hukum Allah dan beriman kepada Yesus. Umat yang
sisa ini mengumumkan tibanya hari penghukuman, menyatakan
keselamatan melalui Kristus, serta memaklumkan dekatnya kedatangan-
Nya yang kedua kali. Proklamasi ini dilambangkan oleh tiga malaikat
yang ada dalam Wahyu 14; bersamaan dengan pekerjaan
penghakiman di surga dan hasilnya pekerjaan pembaruan dan
pertobatan di atas bumi. Setiap orang percaya dipanggil supaya turut
serta secara pribadi dalam kesaksian yang meliputi seluruh dunia ini.
—Fundamental Beliefs—13.
187
Naga merah yang besar itu meringkukkan
badannya siap untuk menerkam. Ia te-
lah merebut sepertiga malaikat surga. (Why.
12:4, 7-9). Sekarang pun, jika sekiranya ia
dapat menelan bayi yang hendak lahir itu,
maka ia pun pastilah memenangkan pepe-
rangan itu.
Perempuan yang berdiri di depan bina-
tang itu mengenakan pakaian matahari dan
bulan di bawah telapak kakinya, di atas ke-
palanya ada mahkota dengan dua belas bin-
tang. Anak lelaki yang hendak dilahirkannya
telah ditetapkan “yang akan menggembala-
kan semua bangsa dengan gada besi.”
Naga itu menyerang namun usahanya sia-
sia belaka untuk membunuh Anak itu. Seba-
liknya, Anak itu “dibawa lari kepada Allah
dan ke takhta-Nya.” Dengan marah naga itu
berpaling melawan sang ibu, yang secara aja-
ib diberi sayap sehingga dapat pindah ke
tempat khusus yang disediakan Tuhan, di
sanalah Ia memeliharanya satu masa dan dua
masa dan setengah masa—3 tahun atau
1260 hari nubuat (Why. 12:1-6, 13, 14).
Menurut nubuatan Alkitab, perempuan
yang suci itu melambangkan jemaat Allah
yang setia.l sedang yang digambarkan
sebagai perempuan cabul atau pelacur meng-
gambarkan umat Allah yang telah murtad
(Yeh. 16, Yes. 57:8; Yer. 31:4, 5; Hos. 1-3;
Why. 17:1-5).
Ular atau naga itu, yang disebut “ular tua,
disebut Iblis atau Setan,” menunggu untuk
membinasakan Anak laki-laki itu, yang te-
lah lama dinanti-nantikan sebagai Mesias,
Yesus Kristus. Setan, memerangi musuh uta-
manya Yesus, dengan menggunakan kera-
jaan Roma. Tiada sesuatu pun, bahkan ke-
matian sekalipun di atas kayu salib, yang
dapat menakut-nakuti Yesus dalam tugas-
Nya selaku Juruselamat manusia.
Di atas kayu salib, Kristus mengalahkan
Setan. Berbicara mengenai penyaliban, Ye-
sus berkata, “Sekarang berlangsung pengha-
kiman atas dunia ini: sekarang juga pengua-
sa dunia ini akan dilemparkan keluar.” (Yoh.
12:31). Wahyu melukiskan nyanyian keme-
nangan surga sebagai berikut: “Sekarang te-
BAB 13
UMAT YANG SISA DAN TUGASNYA
½
188Umat yang Sisa dan Tugasnya
lah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerin-
tahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang
diurapi-Nya sebab telah dilemparkan ke ba-
wah pendakwa saudara-saudara kita yang
mendakwa mereka siang dan malam di ha-
dapan Allah kita. . . . sebab itu bersukaci-
talah, hai surga dan hai kamu sekalian yang
diam di dalamnya” (Why. 12:10-12). Peng-
usiran Setan dari surga merintangi pekerja-
annya. Setan tidak dapat lebih lama lagi me-
nuduh umat Allah di hadapan makhluk sur-
ga.
namun sementara surga bergembira, bumi
harus memperhatikan peringatan: ”Celaka-
lah kamu, hai bumi dan laut! sebab Iblis te-
lah turun kepadamu, dalam geramnya yang
dahsyat, sebab ia tahu, bahwa waktunya su-
dah singkat” (Why. 12:12).
Setelah Setan melepaskan amarahnya ma-
ka mulailah ia menganiaya perempuan itu—
jemaat (Why. 12:13), yang walaupun meng-
alami penderitaan yang amat besar namun te-
tap dapat bertahan. Tempat yang jarang dihu-
ni oleh penduduk bumi—“padang gurun”
menyediakan tempat mengungsi bagi umat
Allah yang tetap setia selama kurun waktu
1260 hari nubuat atau 1260 tahun (Why.
12:14-16; lihat juga bab 4 yang berbicara
mengenai prinsip hari-tahun).2
Pada penghujung pengalaman di padang
gurun ini umat Allah muncul untuk menyam-
but tanda-tanda kedatangan Yesus Kristus
kedua kalinya. Yohanes memberikan ciri
kelompok orang yang setia ini sebagai “yang
menuruti hukum-hukum Allah dan memili-
ki kesaksian Yesus” (Why. 12:17). Iblis sa-
ngat membenci umat yang sisa ini.
Kapan dan di mana aniaya itu terjadi? Ba-
gaimana terjadinya? Kapan umat yang sisa
itu mulai muncul? Apakah misinya? Untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kita ha-
rus memeriksa kembali Kitab Suci dan se-
jarah.
KEMURTADAN BESAR
Aniaya pertama dialami oleh jemaat Kris-
ten berasal dari Roma purbakala, kemudian
diikuti oleh para pemimpinnya sendiri. Ke-
murtadan ini bukanlah sesuatu yang meng-
herankan—Yohanes, Paulus dan Kristus te-
lah meramalkannya.
Pada saat-saat terakhir ceramah-ceramah
yang diberikan Kristus, sebagian besar wak-
tu-Nya digunakannya untuk mengkhotbah-
kan dan mengingatkan murid-murid-Nya ten-
tang datangnya penipuan. “Waspyaitu su-
paya jangan ada orang yang menyesatkan ka-
mu!” kata-Nya, “Sebab Mesias-Mesias pal-
su dan nabi-nabi palsu akan muncul dan me-
reka akan mengadakan tanda-tanda yang dah-
syat dan mukjizat-mukjizat, sehingga seki-
ranya mungkin, mereka menyesatkan orang-
orang pilihan juga” (Mat. 24:4, 24). Para pe-
ngikut-Nya akan mengalami sebuah periode
“siksaan yang dahsyat,” akan namun mereka
akan hidup (Mat. 24:21, 22). Tanda-tanda
yang mengesankan dalam alam akan menan-
dai akhir aniaya ini dan akan menunjukkan
dekatnya kedatangan Kristus kembali (Mat.
24:29, 32, 33).
Rasul Paulus memberikan amaran: “Aku
tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-se-
rigala yang sangat ganas akan masuk ke te-
ngah-tengah kamu dan tidak akan menya-
yangkan kawanan itu. Bahkan dari antara ka-
mu sendiri akan muncul beberapa orang,
yang dengan ajaran palsu mereka akan beru-
saha menarik murid-murid dari jalan yang
benar dan supaya mengikut mereka” (Kis.
20:29, 30). “Serigala-serigala” ini akan mem-
bawa jemaat kepada “kemurtadan,” atau “ke-
sesatan”.
Kemurtadan ini pasti terjadi sebelum ke-
datangan Kristus kembali, kata Paulus. Sama
pastinya kenyataan bahwa hal itu belum ter-
jadi yaitu merupakan sebuah pertanda bah-
189Umat yang Sisa dan Tugasnya
wa kedatangan Kristus belumlah datang. “Ja-
nganlah kamu memberi dirimu disesatkan
orang dengan cara yang bagaimanapun ju-
ga!” katanya, “Sebab sebelum Hari itu harus-
lah datang dahulu murtad dan haruslah di-
nyatakan dahulu manusia durhaka, yang ha-
rus binasa, yaitu lawan yang meninggikan
diri di atas segala yang disebut atau yang di-
sembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di
Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai
Allah” (2 Tes. 2:3, 4).
Pada zaman Paulus pun, dengan cara yang
agak terbatas, kemurtadan ini telah mulai.
Cara yang ditempuhnya sangat licik, “diser-
tai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda
dan mukjizat-mukjizat palsu, dengan rupa-
rupa tipu daya jahat” (2 Tes. 2:9, 10). Sebe-
lum akhir abad pertama, Yohanes mengata-
kan bahwa “banyak nabi-nabi palsu yang
telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.”
sebenarnya , katanya, “Roh itu yaitu roh
antikristus dan tentang dia telah kamu de-
ngar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini
ia sudah ada di dalam dunia” (1 Yoh. 4:1, 3).
Bagaimanakah berlangsungnya sistem
kemurtadan ini?
Pengaruh “manusia dosa”. “Begitu je-
maat meninggalkan ‘kasih yang semula’
(Why. 2:4), maka hilanglah kemurnian dok-
trin atau ajaran, ukuran tingkah laku kepri-
badian yang tinggi serta ikatan yang tidak
kelihatan yang mempersatukan, yang dise-
diakan Roh Kudus itu. Dalam perbaktian, ke-
sederhanaan telah digantikan dengan formal-
isme. Popularitas dan kuasa perorangan se-
makin mencengkam dan menentukan pilih-
an para pemimpin yang pada mulanya me-
ngembangkan kekuasaannya dalam jemaat
lokal, yang mulai berusaha melebarkan sa-
yap kuasanya atas jemaat tetangga atau sesa-
manya.
“Penyelenggaraan jemaat setempat yang
tadinya di bawah pengaruh dan bimbingan
Roh Kudus dialihkan kepada otoritas kege-
rejaan di bawah pejabat tunggal, bishop, se-
hingga jemaat secara pribadi takluk kepa-
danya dan hanya melalui dialah ia dapat
memperoleh keselamatan. Seterusnya yang
dipikirkan ialah bagaimana memerintah je-
maat bukannya melayaninya, dan yang di-
anggap “terbesar” bukanlah anggapan bah-
wa dirinya “pelayan untuk semua.” Oleh ka-
rena itu, dikembangkanlah konsep hirarki ke-
imamatan yang membuat jarak antara indi-
vidu dengan Tuhannya.”3
Sementara pentingnya individu dan je-
maat lokal dikikis, uskup Roma muncul se-
bagai kuasa yang paling tinggi di dunia Kris-
ten. Berkat bantuan penguasa maka uskup
yang tertinggi ini, yakni paus,4 telah diakui
sebagai kepala jemaat yang tampak di dunia
ini secara universal, dikaruniai kuasa ter-
tinggi atas s
.jpeg)
