doktrin dasar alkitab 1
Bertahun-tahun lamanya gereja Masehi Advent Hari Ketujuh agak enggan meru-
muskan dasar-dasar kepercayaannya. Namun demikian disadari pula, untuk kepen-
tingan yang praktis kita harus mengikhtisarkan kepercayaan kita.
Pada tahun 1872 rumah percetakan Advent di Battle Creek, Michigan, menerbitkan
sebuah ”sinopsis kepercayaan kita” dalam 25 dalil. Dokumen ini, sesudah mendapat sedikit
perbaikan dan perluasan menjadi 28 bagian, dimuat dalam artikel Yearbook gereja tahun
1889. Untuk tahun-tahun berikutnya memang tidak dicantumkan, sampai pada Yearbook
1905 muncul kembali dan diteruskan setiap tahun sampai tahun 1914. Untuk menjawab
permohonan yang datangnya dari para pemimpin yang bertugas di Afrika, dengan alasan
yang masuk akal, bahwa “sebuah pernyataan yang akan membantu para pejabat pemerin-
tah dan pemimpin lainnya, untuk memahami lebih sempurna mengenai pekerjaan kita, “maka
dibentuklah komite yang terdiri dari empat orang, di dalamnya termasuk ketua General
Conference, untuk menyiapkan sebuah pernyataan yang berhubungan dengan “dasar-dasar
asas kepercayaan” yang diringkaskan. Pernyataan ini terdiri dari 22 kepercayaan dasar
yang pertama kalinya diterbitkan dalam Yearbook 1931, yang tetap bertahan hingga tahun
1980 saat General Conference diadakan untuk membahasnya kembali dan memperluasnya
walaupun masih tetap pada asas yang serupa, dengan ikhtisar dalam 27 paragraf dan kemu-
dian diterbitkan dengan judul “Kepercayaan Dasar Masehi Advent Hari Ketujuh.”
Bahkan saat pencetakan ringkasan tahun 1980, gereja mengambil langkah bahwa hal
itu bukanlah merupakan satu hal kepercayaan yang tidak bisa diubah. Pada kata pendahu-
luan dari Kepercayaan Dasar Masehi Advent Hari Ketujuh itu dijelaskan bahwa:
“Masehi Advent Hari Ketujuh menerima Alkitab sebagai satu-satunya kepercayaan dan
memegang dasar kepercayaan yang pasti sebagai ajaran langsung dari Kitab Suci. Keper-
cayaan itulah yang disediakan di sini, terdiri dari pengertian gereja dan pernyataan dari
Kitab Suci. Perbaikan dari pernyataan-pernyataan itu dapat dibuat pada satu rapat General
Conference bilamana gereja dituntun oleh Roh Kudus kepada pengertian yang lebih sem-
purna akan kebenaran Alkitab atau memperoleh bahasa yang lebih baik dalam menyatakan
ajaran dari Firman Allah.”
Perluasan dan perbaikan seperti itu telah terjadi tahun 2005 pada rapat General Confe-
rence Masehi Advent Hari Ketujuh di St. Louis, Missouri, USA, dimana ditambahkan pada
dasar kepercayaan itu, melalui pemungutan suara, dan tambahan itu bukanlah hal yang ba-
ru atau hal yang belum diketahui sebelumnya, namun pernyataan yang lebih baik dari pe-
ngertian gereja akan kuasa Allah yang memberikan kemenangan dalam kehidupan ini mela-
wan kuasa kejahatan bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. (lihat Bab XI).
Penambahan yang baru ini, berdasar pernyataan ringkasan pendek yang telah mun-
cul pada bagian permulaan setiap bab. Tujuan kita dalam artikel ini yaitu menyediakan
bagi anggota, sahabat, dan individu yang tertarik, akan perluasan yang mudah dibaca dan
praktis dilakukan, inilah ajaran pokok yang meyakinkan dan kegunaannya untuk masyara-
kat Kristen Advent saat sekarang ini. Walaupun penambahan ini, tidak secara resmi dipu-
ngut suara, (hanya ringkasan pernyataan itu secara resmi dipungut suara di rapat General
Conference), itu dapatlah dianggap merupakan bagian dari “kebenaran yang nyata dalam
Yesus” (Epesus 4:21) yang Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia miliki dan kabarkan.
Berkat kepercayaan dan dorongan yang diberikan mantan Ketua Neal Wilson bersama
pemimpin lain dalam staf Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia, maka departemen Kepen-
detaan telah menyiapkan naskah ini, yang dilengkapi dengan bahan informasi yang dapat
dipercayai tentang kepercayaan gereja kita sehingga terbit edisi pertama pada tahun 1988
untuk melengkapi informasi tentang kepercayaan gereja kita. Kita juga menyebut bebera-
pa sarjana dan teknisi yang menyediakan bahan untuk mencetak edisi yang pertama seper-
ti: P.G. Damsteegt, Norman Gulley, Laurel Damsteegt, Mary Louise, McDowell, David
Jarnes, Kenneth Wade, dan Sekretaris Asosiasi Kependetaan yang sudah pensiun sebelum
saya, W. Floyd Bresse. Juga 194 anggota komite yang berasal dari seluruh Divisi ditambah
dengan komite kecil dari pemimpin editorial, ahli teologi, dan pendeta telah terlibat dalam
supervisi penyediaan bahan tambahan edisi 1988. Kita juga berterima kasih atas tulisan
dan hasil edisi yang dibuat oleh John M. Fowler dalam persiapan edisi kedua, edisi yang
lebih luas, istimewa tambahan bab XI yang berjudul: “Bertumbuh Dalam Kristus.”
Akhirnya, penghargaan istimewa diberikan kepada saudara J. Robert Spangler, yang
tadinya Sekretaris Asosiasi Kependetaan dan lama menjadi editor majalah Ministry, yang
memulai konsep ini dan mempersiapkan dana untuk proyek ini. Mimpi juga kadang-ka-
dang sukar menjadi kenyataan. Akan namun beliau sudah mewujudkannya. Anda sudah
pegang itu ditanganmu sekarang. Tanpa visinya maka artikel ini tidak ada seperti yang ada
sekarang. Tanpa ketabahannya, itu tidak akan berlanjut untuk dicetak.
Kita berdoa sebagaimana Anda memperhatikan setiap dasar kepercayaan ini agar dapat
melihat lebih jelas lagi Yesus dan rencana-Nya yang berlimpah untuk hidup pribadimu.
James A. Cress
Sekretaris Asosiasi Kependetaan
General Conference Masehi Advent Hari Ketujuh.
Kepada Para Pembaca artikel Ini...
Apa yang Anda percayai mengenai Tuhan? Siapakah Dia? Apakah yang diharapkan-
Nya dari kita? Bagaimanakah Ia sesungguhnya?
Allah mengatakan kepada Musa bahwa tidak ada orang yang dapat memandang-Nya
dan tetap tinggal hidup. Akan namun Yesus mengatakan kepada Filipus bahwa barangsiapa
telah melihat Dia berarti telah melihat Bapa (Yoh. 14:9). Sejak Ia berjalan di antara kita—
dan sesungguhnya menjadi salah seorang dari antara kita—kita dapat mengamati siapakah
Allah itu dan bagaimanakah Ia sesungguhnya.
Dengan menuliskan 28 kepercayaan pokok ini kita mencoba memperlihatkan bagaima-
na orang-orang Advent memandang Allah. Inilah kepercayaan kita mengenai kasih-Nya,
kelemahlembutan, kemurahan, anugerah, keadilan, belaskasihan, kesejatian, kebenaran dan
damai-Nya. Melalui Yesus Kristus, kita dapat melihat Allah memangku anak-anak-Nya
dengan penuh kasih sayang. Kita melihat Ia berduka ketika menyaksikan orang-orang yang
meratap di kubur Lazarus. Kita melihat kasih-Nya ketika Ia berseru, “Ya Bapa, ampunilah
mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).
artikel ini dituliskan untuk menunjukkan pandangan kita mengenai Kristus—sebuah pan-
dangan yang berfokus pada bukit Golgota, tempat “kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadi-
lan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm. 85:12). Di dalam Dia kita dibenar-
kan oleh Allah” (2 Kor. 5:21).
artikel ini ditulis sebab kita percaya bahwa setiap doktrin, setiap keyakinan, haruslah
menunjukkan kasih sayang Tuhan kita. Menunjukkan satu pribadi yang memiliki cinta
kasih yang tidak mengenal syarat, yang sama sekali tidak ada taranya dalam sejarah umat
kita semua . Mengakui bahwa Ia yang menjadi penjelmaan kebenaran yang tidak terbatas,
yang dengan rendah hati, kita masih mengaku bahwa masih banyak kebenaran yang harus
diungkapkan.
artikel itu ditulis dengan pengakuan bahwa kita sesungguhnya sangat berutang budi atas
kebenaran Alkitabiah yang begitu melimpah yang kita terima dari kurun zaman gereja Kris-
ten. Kita patut berterima kasih kepada saksi-saksi yang mulia seperti: Huss, Wycliffe, Luther,
Tyndale, Calvin, Knox dan Wesley—yang maju menerebos ke dalam terang baru yang
menerangi gereja menuju pemahanan akan sifat-sifat Allah sepenuhnya. Pemahaman itu
terus mengalami perkembangan. “namun jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang
kian bertambah terang sampai rembang tengah hari” (Ams. 4:18). Jika kita menemukan
segi-segi baru mengenai wahyu Allah, penemuan itu haruslah selaras betul dengan kesak-
sian Kitab Suci.
Ketika menulis artikel ini kami senantiasa dibimbing oleh sebuah petunjuk yang jelas
dan senantiasa mengingatkan kami akan pernyataan bahwa “jika engkau menyelidiki Kitab
Suci hanya untuk mengukuhkan pendapatmu sendiri, engkau tidak akan pernah mempero-
leh kebenaran. Selidikilah Kitab Suci itu untuk mengetahui apa yang dikatakan Tuhan. Jika
keyakinan timbul saat engkau menyelidiki, jika engkau melihat bahwa pendapat-pendapat
yang kau anut tidak selaras dengan kebenaran, janganlah salah tafsirkan kebenaran hanya
untuk menyesuaikannya dengan keyakinanmu sendiri, melainkan terimalah terang yang
diberikan dengan hati terbuka. Bukalah hati dan pikiranmu agar engkau melihat hal-hal
X
yang menakjubkan yang keluar dari Sabda Allah” (Ellen G. White, Christ’s Object Lessons
(Mountain View, CA: Pacific Press Pub. Assn., 1900), hlm. 112).
artikel ini ditulis bukanlah untuk digunakan sebagai pernyataan keyakinan dalam per-
angkat kepercayaan konkret secara teologis. Pengajaran satu-satunya yang dianut orang
Advent ialah: “Alkitab, dan hanya Alkitab saja.”
artikel ini bukan dimaksudkan untuk merangsang imajinasi. Ini bukanlah sebuah karya
spekulatif. artikel ini merupakan uraian kepercayaan kita yang dialaskan pada Alkitab de-
ngan berpusatkan pada Kristus. Dan pokok-pokok kepercayaan yang dinyatakan di sini
bukanlah hasil belajar yang rajin pada petang hari; kepercayaan yang disampaikannya meru-
pakan hasil doa selama lebih seratus tahun, belajar, berdoa, refleksi, doa.... Dengan kata
lain, rumusan yang disajikan merupakan hasil pertumbuhan gereja Advent “dalam kasih
karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Ptr.
3:18).
artikel ini ditulis dengan kesadaran bahwa mungkin masih ada orang mempertanyakan
apakah doktrin memang masih penting pada abad kita semua bergumul untuk mempertahan-
kan hidup di tengah-tengah ancaman nuklir yang memusnahkan, dalam abad yang sarat
dengan perkembangan eksplosif teknologi, dalam abad mana orang Kristen berusaha de-
ngan sia-sia menekankan kembali sejumlah hal yang menakutkan, tentang kemiskinan, ke-
laparan, ketidakadilan dan sikap masa bodoh. Namun....
Kami telah menulis artikel ini dengan suatu keyakinan yang mendalam bahwa semua
doktrin, apabila dipahami secara memadai, yang berpusat pada Dia, yang yaitu Jalan
Kebenaran dan Hidup,” sesungguhnya sangatlah penting. Doktrin mendefinisikan sifat Tuhan
yang kita sembah. Doktrin memberikan tafsiran mengenai peristiwa, peristiwa masa lalu
dan sekarang, mengungkapkan suatu perasaan memiliki tempat dan tujuan di dalam kos-
mos. Diuraikannya tujuan Allah ketika Ia melakukan sesuatu. Doktrin merupakan sebuah
penuntun bagi orang Kristen, memberikan keteguhan dalam pengalaman hidup yang tidak
berimbang, memasukkan kepastian ke tengah-tengah masyarakat yang mengingkari hal
yang mutlak. Doktrin memberi makanan pada pikiran kita semua serta menegakkan tujuan
yang memberi ilham bagi orang-orang Kristen serta memotivasi mereka untuk merasakan
keprihatinan orang lain.
artikel ini telah ditulis untuk menuntun orang-orang Advent yang beriman ke dalam sua-
tu hubungan yang lebih dalam dengan Kristus melalui belajar Alkitab. Mengenal Dia dan
kehendak-Nya sangatlah penting di tengah-tengah abad yang penuh dengan tipu muslihat
ini, di tengah-tengah berkecamuknya kemajemukan doktrin serta apatisme. Hanya dengan
adanya pengetahuan yang demikian orang Kristen dapat aman terhadap orang-orang yang
bagaikan “serigala-serigala yang ganas” yang datang dan berbicara untuk mengacaukan
kebenaran serta membinasakan iman umat Allah (baca Kis. 20:29, 30). Terutama pada
zaman akhir ini, agar terpelihara dari “rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu
kita semua dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” (Ef. 4:14), maka semua anggota je-
maat haruslah memiliki konsep yang benar mengenai sifat Allah, pemerintahan dan segala
maksud tujuan-Nya. Hanyalah orang yang telah membentengi pikiran mereka dengan ke-
benaran Kitab Suci yang dapat bertahan pada pergolakan terakhir itu.
artikel ini ditulis untuk membantu orang-orang yang merasa tertarik untuk mengetahui
mengapa kita mempercayai apa yang kita percayai. Studi ini, yang ditulis oleh penulis-
penulis Advent sendiri, bukanlah pandangan sekilas. artikel ini ditulis berdasar peneli-
tian yang saksama, menggambarkan sebuah uraian yang otentik dari keyakinan orang Ad-
vent.
Akhirnya, artikel ini ditulis dengan pengakuan bahwa doktrin yang berpusat pada Kris-
tus mengemukakan tiga fungsi yang jelas: pertama, memajukan jemaat; kedua, memeliha-
ra kebenaran; dan ketiga, mengkomunikasikan Injil dengan segala kekayaannya. Doktrin
yang sejati bukanlah hanya sekadar kepercayaan saja, melebihi hal itu.
Kitab Suci, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yaitu Sabda Allah yang tersurat, oleh
ilham Ilahi diberikan melalui orang-orang kudus yang berbicara dan menulis sementara
mereka digerakkan oleh Roh Kudus.
Dalam Kitab ini, Allah menyampaikan kepada kita semua pengetahuan tentang keselamat-
an. Kitab Suci yaitu pernyataan kehendak Allah. Kitab Suci merupakan standar tabiat,
ujian pengalaman, pengungkap doktrin-doktrin yang berwenang dan catatan yang dapat
dipercaya akan perbuatan Allah dalam sejarah.—Fundamental Beliefs,—1.
17
Tidak ada artikel seperti Alkitab yang amat
disukai, namun sangat dibenci dan seka-
ligus dikecam. Banyak juga orang yang te-
lah mati sebab mencari Alkitab. Sebagian
lagi dibunuh sebab Alkitab. artikel itu telah
mengilhami orang yang paling terkemuka
dengan tindakan-tindakan yang paling luhur,
namun juga dikecam sebab kemerosotan. Pe-
rang berkecamuk sebab Alkitab, revolusi
ada di dalam halaman-halamannya, dan
kerajaan-kerajaan runtuh sebab gagasan-
gagasan yang ada di dalamnya. Manu-
sia dari segala sudut pandang—mulai dari
teolog pembebasan sampai kepada para ka-
pitalis, dari fasis kepada Marxis, dari dikta-
tor kepada para pembebas, dari fasisme hing-
ga militeris—menyelidiki halaman-halaman-
nya untuk mencari kata yang dapat membe-
narkan perbuatan mereka.
Keunikan Alkitab bukanlah sebab ketia-
daan bandingannya secara politis, kultural,
maupun pengaruh sosial, melainkan dari
sumber dan masalah pokok yang dikan-
dungnya. Dengan penyataan Allah tentang
Allah-kita semua yang unik:
Anak Allah, Yesus Kristus—Juruselamat
dunia.
WAHYU ILAHI
Berabad lamanya banyak orang memper-
tanyakan keberadaan Tuhan, sementara itu
dalam babakan sejarah kita semua banyak pula
yang dengan meyakinkan menyaksikan bah-
wa Ia ada dan Ia menyatakan diri-Nya. Ba-
gaimana caranya Tuhan menyatakan diri-
Nya, dan bagaimana fungsi Alkitab dalam
wahyu-Nya.
Wahyu Secara Umum. Pandangan yang
mendalam mengenai tabiat Allah bahwa se-
jarah, tingkah laku kita semua , hati nurani, dan
yang dinyatakan secara alamiah, sering dise-
but “wahyu secara umum” sebab wahyu itu
nyata bagi semua dan menarik pikiran.
Bagi berjuta kita semua “Langit menceri-
takan kemuliaan Allah, dan cakrawala mem-
beritakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:
2). Sinar matahari, hujan, bukit-bukit, alir-
an sungai, semuanya menjadi saksi Pencip-
ta yang penuh dengan kasih sayang. “Sebab
apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu
kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya,
dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya
sejak dunia diciptakan, sehingga mereka ti-
dak dapat berdalih” (Rm. 1:20).
Yang lain dapat melihat bukti pemeliha-
raan Allah dalam hubungan yang penuh ba-
hagia serta curahan kasih sayang di antara
sahabat yang erat, kalangan anggota keluar-
ga, suami dan istri, orangtua dan anak. “Se-
perti seseorang yang dihibur ibunya, demi-
kianlah Aku ini akan menghibur kamu” (Yes.
66:13). “Seperti bapa sayang kepada anak-
anaknya, demikian Tuhan sayang kepada
orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm.
103:13).
Namun demikian, sinar matahari yang sa-
ma, yang telah menjadi saksi atas kasih sa-
yang Allah Pencipta itu, dapat pula mem-
balikkan bumi menjadi padang gurun yang
gersang, mendatangkan bala kelaparan. Hu-
jan yang sama juga dapat menjadi air yang
menghanyutkan kaum keluarga; bukit-bukit
yang sama, yang tinggi, dapat runtuh, rubuh
dan hancur. Hubungan antara kita semua se-
ring diwarnai rasa cemburu, dengki, ama-
rah, bahkan juga kebencian yang menimbul-
kan pembunuhan.
Dunia sekitar kita memberi isyarat yang
berbaur, sejumlah pertanyaan dan sejumlah
jawabnya. Hal itu menampakkan konflik
antara yang baik dan yang jahat, namun ti-
dak menjelaskan bagaimana terjadinya kon-
flik itu, siapa yang berseteru, mengapa, atau
siapa yang pada akhirnya menang.
Penyataan Istimewa. Dosa membatasi
penyataan diri Allah melalui ciptaan sebab
tersamarnya kemampuan kita menafsirkan
kesaksian Allah. Dengan kasih, Allah mem-
berikan penyataan istimewa tentang diri-Nya
untuk membantu kita memperoleh jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan ini. Melalui Per-
janjian Lama dan Perjanjian Baru, Ia meng-
ungkapkan diri-Nya kepada kita dengan cara
yang istimewa, sehingga tidak ada lagi per-
tanyaan mengenai sifat kasih sayang-Nya.
Pada mula pertama penyataan-Nya melalui
para nabi; lalu puncak pernyataan-Nya
tampak melalui Yesus Kristus (Ibr 1:1, 2).
Alkitab berisi dalil-dalil yang menyata-
kan kebenaran mengenai Allah, dan menya-
takan Dia sebagai satu pribadi. Kedua bi-
dang penyataan itu perlu: Kita perlu menge-
nal Tuhan Allah melalui Yesus Kristus (Yoh.
17:3), seperti halnya juga “menerima penga-
jaran di dalam Dia menurut kebenaran yang
nyata dalam Yesus” (Ef. 4:21). Melalui sa-
rana Kitab Suci, Allah menerobos mental,
moral dan keterbatasan rohani kita, meng-
komunikasikan keinginan-Nya untuk me-
nyelamatkan kita.
FOKUS KITAB SUCI
Alkitab menyatakan Allah dan membe-
berkan umat kita semua . Diungkapkan-Nya ke-
sulitan yang kita hadapi dan jalan keluar di-
nyatakan-Nya. artikel itu menyampaikan bah-
wa kita sudah hilang, jauh dari Allah, serta
menyatakan Yesus satu-satunya yang mencari
dan membawa kita kembali kepada Allah.
Yesus Kristus yaitu fokus Kitab Suci.
Perjanjian Lama menyatakan Anak Allah se-
bagai Mesias, Penebus dunia: Perjanjian Ba-
ru menyatakan Dia sebagai Yesus Kristus,
Juruselamat. Setiap halaman, apakah itu de-
ngan lambang maupun kenyataan, menun-
jukkan beberapa tahap pekerjaan dan tabi-
at-Nya. Kematian Yesus di kayu salib meru-
pakan puncak penyataan tabiat Allah.
Salib membuat ini sebagai puncak per-
nyataan sebab salib itu mengemukakan dua
hal yang amat berbeda: jahatnya kita semua
yang tidak terduga dan kasih Allah yang ti-
dak habis-habisnya. Apakah yang dapat
memberikan gagasan yang mendalam kepa-
da kita mengenai betapa mudahnya manu-
sia itu berbuat kesalahan? Apakah cara pa-
ling tepat untuk menyatakan dosa? Salib me-
nyatakan Allah yang mengizinkan Anak
Tunggal-Nya dibunuh. Sebuah pengorban-
an yang luar biasa! Betapa Ia melakukan se-
buah pernyataan yang tiada taranya. Sesung-
guhnya, fokus Alkitab ialah Yesus Kristus.
Ia berada pada pusat panggung peristiwa se-
mesta. Tidak lama lagi kemenangan-Nya di
Golgota akan mencapai puncaknya pada
pembinasaan orang jahat. kita semua dan Al-
lah akan dipersatukan kembali.
Tema kasih Allah, khususnya seperti
yang tampak dalam kematian Kristus seba-
gai kor-ban di Golgota—yaitu kebenaran
yang pa-ling mulia dari alam semesta—ada-
lah fokus Alkitab. Semua kebenaran pokok
Alkitab ha-ruslah dipelajari dari sudut ini.
OTORITAS KITAB SUCI
Otoritas Alkitab atas iman dan praktik
muncul dari sumbernya. Para penulisnya me-
nganggap Alkitab sangat berbeda dari lite-
ratur lainnya. Mereka menganggapnya seba-
gai “kitab-kitab suci” (Rm. 1:2), “Kitab Su-
ci” (2 Tim. 3:15), dan “firman Allah” (Rm.
3:2; Ibr. 5:12).
Keunikan Kitab Suci berdasar sum-
ber dan keasliannya. Para penulis Alkitab ti-
dak menyatakan bahwa merekalah yang
membuat pesan yang disampaikan mereka
melainkan pesan itu diterima mereka dari
sumber Ilahi. Hanyalah dengan penyataan
Ilahi mereka dapat “melihat” kebenaran yang
telah disampaikan mereka (baca Yes. 1:1;
Am. 1:1; Hab. 1:1; Yer. 38:21).
Para penulis ini menunjuk bahwa Roh
Kudus inilah yang berhubungan dengan na-
bi-nabi, yang lalu meneruskannya ke-
pada umat (Neh. 9:30; bandingkan dengan
Za. 7:12). Raja Daud berkata, “Roh Tuhan
berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya
ada di lidahku” (2 Sam. 23:2). Yehezkiel me-
nulis, “kembalilah rohku ke dalam aku,”
“Roh Tuhan meliputi aku,” “maka aku di-
angkat oleh Roh” (Yeh. 2:2; 11:5, 24, Terje-
mahan Lama). Lalu Mikha memberi kesak-
sian, “namun aku ini penuh dengan kekua-
tan, dengan Roh Tuhan” (Mi. 3:8).
Perjanjian Baru mengakui peranan Roh
Kudus dalam penulisan Perjanjian Lama. Ye-
sus mengatakan bahwa Daud diilhami Roh
Kudus (Mrk. 12:36). Paulus percaya bahwa
Roh Kudus berbicara “dengan perantaraan
nabi Yesaya” (Kis. 28:25). Petrus mengung-
kapkan bahwa Roh Kudus memimpin semua
nabi, bukan hanya beberapa dari antara me-
reka (1 Ptr. 1:10, 11; 2 Ptr. 1:21). Penulis sa-
ma sekali hanya menjadi latar belakang saja,
dan pengarang yang sesungguhnya—Roh
Kudus—yang diakui: “Seperti yang dikata-
kan Roh Kudus....” Dengan ini Roh Kudus
menyatakan....” (Ibr. 3:7; 9:8).
Para penulis Perjanjian Baru mengaku
bahwa Roh Kudus merupakan sumber peka-
baran mereka. Rasul Paulus menjelaskan,
“namun Roh dengan tegas mengatakan bah-
wa di waktu-waktu lalu , ada orang
yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh pe-
nyesat” (1 Tim. 4:1). Yohanes berbicara “pa-
da hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh” (Why.
1:10). Yesus memberikan perintah-Nya ke-
pada murid-murid-Nya melalui Roh Kudus
(Kis. 1:2; bandingkan dengan Ef. 3:3-5).
Demikianlah Tuhan Allah, dalam priba-
di Roh Kudus, telah menyatakan diri-Nya
melalui Kitab Suci. Ia menulis kitab itu bu-
kan dengan tangan-Nya sendiri, melainkan
dengan tangan orang lain, oleh kurang lebih
empat puluh orang, dalam kurun waktu le-
bih kurang 1500 tahun. Oleh sebab Roh Ku-
dus Allah mengilhami para penulis, sudah
tentu Allah sendirilah yang menjadi penga-
rangnya.
PENGILHAMAN KITAB SUCI
Rasul Paulus menyatakan bahwa “sega-
la tulisan yang diilhamkan Allah” (2 Tim. 3:
16). Kata Yunani Theopneustos, diterjemah-
kan dengan kata “diilhamkan”sebenarnya
secara harfiah berarti “dihembuskan Allah.”
Allah “menghembuskan” kebenaran ke da-
lam pikiran kita semua . lalu giliran ma-
nusia itulah untuk mengekspresikannya da-
lam kata yang lalu menjadi Kitab Suci.
Oleh sebab itu, ilham atau inspirasi yaitu
sebuah proses yang digunakan Allah untuk
menyampaikan kebenaran-kebenaran-Nya
yang abadi.
Proses Inspirasi. Wahyu atau pernyata-
an Ilahi diberikan melalui inspirasi yang di-
berikan Allah kepada “orang-orang berbicara
atas nama Allah” yang digerakkan oleh “do-
rongan Roh Kudus” (2 Ptr. 1:21). Pernyata-
an-pernyataan ini diwujudkan dalam bahasa
kita semua dengan segala keterbatasan dan ke-
kurangannya, namun tetap merupakan ke-
saksian Allah. Allah memberi ilham kepada
kita semua —bukan kata demi kata.
Apakah para nabi itu pasif saja seperti
tape recorder yang merekam dan memantul-
kan kembali apa yang direkamnya? Dalam
beberapa hal tertentu para penulis disuruh
menuliskan perkataan Tuhan sebagaimana
yang dikatakan-Nya secara kata demi kata,
akan namun pada umumnya Tuhan Allah me-
nyuruh para penulis itu melukiskan perka-
taan dan petunjuk-Nya menurut kemampuan
yang terbaik yang dapat mereka berikan, ten-
tang apa yang dilihat dan didengar mereka.
Pada butir yang disebutkan belakangan, para
penulis memakai gaya dan pola kalimat-
nya sendiri.
Pengamatan Paulus mengatakan bahwa
“karunia nabi takluk kepada nabi-nabi” (1
Kor. 14:32). Inspirasi yang sejati tidak mele-
nyapkan individualitas nabi, akal, integritas
ataupun kepribadiannya.
Untuk tingkat tertentu, hubungan Musa
dan Harun menggambarkan hubungan Roh
Kudus dengan penulis. Tuhan Allah berkata
kepada Musa, “Aku mengangkat engkau se-
bagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abang-
mu, akan menjadi nabimu”(Kel. 7:1; ban-
dingkan 4:15, 16). Musa memberitahukan
pekabaran Allah kepada Harun, lalu Harun
menyampaikan pekabaran itu dalam gaya
dan kemampuan berbahasanya kepada Fi-
raun. Seperti halnya para penulis Alkitab me-
nyampaikan suruhan Ilahi, lalu mereka me-
nyampaikan perintah itu, pikiran-pikiran,
ide-ide, dalam gaya bahasa mereka sendiri.
sebab Tuhan berhubungan dengan cara se-
perti ini maka kosakata
artikel yang ada dalam Alkitab berbeda-
beda, membayangkan pendidikan dan kul-
tur penulis-penulisnya yang beranekaragam.
Alkitab “bukanlah cara Allah berpikir dan
menyatakan ekspresi. kita semua akan sering
mengatakan bahwa ekspresi yang seperti itu
bukanlah ekspresi Allah. Akan namun Tuhan
tidak pernah menempatkan diri-Nya dalam
kata, dalam logika, retorika, di dalam gugat-
an dalam Alkitab. Penulis-penulis Alkitab
yaitu pena Allah” yang menuliskan, bukan
pena Dia.”1 “Tindakan pengilhaman bukan
berdasar kata-kata kita semua atau penga-
lamannya melainkan kita semua itu sendiri,
yang berada di bawah pengaruh Roh Kudus,
dikaruniai dengan buah-buah pikiran. Akan
namun , perkataan itu menerima kesan pikir-
an individual. Pikiran Ilahi disatukan. Pikir-
an dan kehendak Ilahi dipadukan dengan pi-
kiran dan kehendak kita semua ; sehingga ucap-
an yang disampaikan kita semua yaitu meru-
pakan perkataan Allah.”2
21
Dalam salah satu contoh kita dapati Tu-
han berbicara dan menulis kata demi kata
dalam Sepuluh Hukum. Tuhan yang menyu-
sunnya, bukan kita semua (Kel. 20:1-17;31:18;
Ul. 10:4, 5), namun demikian, hal ini harus
diungkapkan dalam batas-batas bahasa ma-
nusia.
Oleh sebab itu, Alkitab yaitu pernya-
taan kebenaran Ilahi di dalam bahasa manu-
sia. Cobalah bayangkan upaya mengajarkan
fisika quantum kepada seorang anak kecil.
Kira-kira beginilah bentuk masalah, yang di-
hadapi Allah untuk menyampaikan kebenar-
an-kebenaran Ilahi kepada kita semua , yang pe-
nuh dengan dosa, yang sangat terbatas. Kare-
na keterbatasan kita sebagai kita semua lah
yang merintangi apa yang dapat dikomu-
nikasikan-Nya kepada kita.
Persamaan seperti itulah yang ada
antara Yesus, yang menjelma menjadi manu-
sia, dengan Alkitab:’ Yesus yaitu Allah
yang juga kita semua , yang Ilahi dan kita semua
disatukan. Oleh sebab itu, Alkitab yaitu
paduan yang Ilahi dan kita semua wi. Sebagai-
mana yang telah dikatakan mengenai Kris-
tus, demikian pula dikukuhkan mengenai Al-
kitab bahwa “Firman itu telah menjadi ma-
nusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14).
Gabungan kita semua Ilahi ini telah membuat
Alkitab menjadi unik di antara literatur yang
ada.
Inspirasi dan Para penulis. Roh Kudus
menyiapkan beberapa orang tertentu untuk
menyampaikan kebenaran Ilahi. Alkitab ti-
dak menjelaskan secara rinci bagaimana Ia
melayakkan orang-orang ini , namun da-
lam beberapa cara Ia membentuk sebuah per-
paduan antara perwakilan Ilahi dengan per-
wakilan kita semua .
Orang-orang yang turut ambil bagian da-
lam penulisan Alkitab dipilih bukan sebab
bakat-bakat alamiah, juga bukan sebab per-
nyataan wahyu perlu menobatkan orang ter-
sebut atau meyakinkannya mengenai hidup
kekal. Bileam mengumumkan pesan yang di-
sampaikan Ilahi sementara ia melakukan per-
buatan yang bertentangan dengan nasihat-
nasihat yang diberikan Tuhan (Bil. 22: 24).
Daud yang digunakan Tuhan melalui Roh
Kudus, juga pernah melakukan kejahatan
yang keji (bandingkan dengan Mzm. 51).
Semua penulis Alkitab yaitu orang-orang
berdosa yang setiap hari memerlukan anuge-
rah Tuhan (bandingkan dengan Rm. 3:12).
Pengalaman diilhaminya penulis-penulis
Alkitab lebih dari sekadar penerangan atau
tuntunan Ilahi, sebab hal ini terjadi kepada
semua orang yang mencari kebenaran. Alha-
sil, kadang-kadang penulis Alkitab menulis
pesan yang disampaikan kepada mereka tan-
pa memahami sepenuhnya pekabaran Ilahi
yang hendak dikomunikasikan oleh mereka
itu (1 Ptr. 1:10-12).
Sambutan penulis-penulis Alkitab itu ter-
hadap pekabaran yang disampaikan mereka
tidaklah seragam. Dikatakan, bahwa Daniel
dan Yohanes sangat tercengang dan tidak
memahami tulisan yang disampaikan mela-
lui mereka (Dan. 8:27; Why. 5:4), dan 1 Ptr.
1:10. menunjukkan bahwa para penulis lain
mencari tahu makna pekabaran yang disam-
paikan mereka atau pekabaran yang disam-
paikan orang-orang lain. Kadang-kadang
orang-orang ini takut menyampaikan peka-
baran yang diilhamkan melalui mereka, dan
beberapa dari antara mereka malahan ber-
debat dengan Allah (Hab. 1; Yun. 1:1-3; 4:1-
11).
Metode dan Isi Wahyu. Kerapkali Roh
Kudus menyampaikan pengetahuan dari Ila-
hi dengan memakai khayal dan mimpi
(Bil. 12:6). Kadang-kadang Ia berbicara de-
ngan jelas kadang-kadang juga melalui sua-
ra batin. Allah berbicara kepada Samuel de-
22
ngan “memberi tahu” (1 Sam. 9:15, Terje-
mahan Lama). Zakharia menerima pengli-
hatan dengan lambang disertai penjelasan-
nya (Za. 4). Penglihatan atau khayal-khayal
mengenai surga yang diterima Paulus dan
Yohanes diiringi dengan petunjuk-petunjuk
lisan (2 Kor. 12:1-4; Why. 4, 5). Yehezkiel
mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi
di tempat lain (Yeh. 8). Beberapa penulis
turut serta dalam penglihatan-penglihatan
mereka, menjalankan tugas-tugas tertentu se-
bagai satu bagian dari penglihatan itu sen-
diri (Why. 10).
Mengenai isinya, kepada beberapa orang,
Roh memperlihatkan peristiwa yang akan
terjadi (Dan. 2, 7, 8, 12). Sementara itu, be-
berapa dari antaranya mencatat kejadian-ke-
jadian yang penting, apakah berdasar pe-
ngalaman pribadi maupun dengan memilih
bahan-bahan dari catatan historis yang ada
(Hakim-hakim, 1 Sam., 2 Taw., Injil dan Ki-
sah Para Rasul).
Inspirasi dan Sejarah. Penegasan Alki-
tabiah bahwa “segala tulisan yang diilham-
kan Allah” bermanfaat serta berkuasa mem-
beri petunjuk moral dan kehidupan rohani
(2 Tim. 3:15, 16) tidak ada keragu-raguan
mengenai bimbingan Ilahi dalam proses pe-
milihan. Entah informasi itu berasal dari pe-
ngamatan pribadi, sumber lisan maupun tu-
lisan, atau pernyataan langsung, semuanya
itu sampai kepada penulis melalui bimbing-
an Roh Kudus. Ini menjamin bahwa Alkitab
layak dipercaya.
Alkitab menyatakan rencana Tuhan Al-
lah di dalam interaksi dinamik-Nya dengan
umat kita semua , bukan dalam sebuah him-
punan doktrin abstrak. Penyataan diri-Nya
nyata dalam peristiwa-peristiwa yang benar
yang terjadi pada waktu dan tempat yang
pasti. Nilai-nilai historis yang dapat diper-
caya sangatlah penting sebab hal itulah yang
membentuk kerangka kerja pemahaman kita
mengenai sifat Allah serta maksud tujuan-
Nya bagi kita. Sebuah pemahaman yang te-
pat akan membimbing kepada kehidupan ke-
kal, sedang pandangan hidup yang keli-
ru akan membawa kepada kekacauan dan ke-
matian.
Allah menyuruh orang-orang tertentu un-
tuk menulis sejarah hubungan-Nya dengan
bangsa Israel. Pengisahan yang bersifat his-
toris ini, ditulis dengan cara pandang yang
sangat berlainan dari sejarah sekular, terdiri
dari suatu bagian penting Alkitab (banding-
kan Bil. 33:1, 2; Yoh. 24:25, 26; Yeh. 24:2).
Kepada kita disajikan sejarah yang objektif
dan tepat, tentu dari sudut pandang Ilahi. Roh
Kudus memberikan kepada para penulis wa-
wasan khusus agar mereka dapat mencatat
peristiwa-peristiwa dalam pertentangan an-
tara yang baik dan yang jahat yang menun-
jukkan sifat Allah serta menuntun kita semua
dalam pencarian mereka atas keselamatan.
Insiden yang bersifat historis yaitu “con-
toh” dan “dituliskan untuk menjadi peringat-
an bagi kita yang hidup pada waktu di mana
zaman akhir telah tiba” (1 Kor. 10:11). Pau-
lus berkata, “Sebab segala sesuatu yang di-
tulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pe-
lajaran bagi kita, supaya kita teguh berpe-
gang pada pengharapan oleh ketekunan dan
penghiburan dari Kitab Suci” (Rm. 15:4).
Kebinasaan Sodom dan Gomora merupakan
“peringatan” atau amaran (2 Ptr. 2:6; Yud.
7). Pengalaman Ibrahim mengenai pembe-
naran yaitu merupakan sebuah contoh bagi
setiap orang percaya (Rm. 4:1-25; Yak. 2:14-
22). Bahkan hukum-hukum sipil Perjanjian
Lama, yang sarat dengan makna rohani yang
dalam, ditulis demi kepentingan kita seka-
rang ini (1 Kor. 9:8,9).
Lukas menyebutkan bahwa ia menulis In-
jil sebab ia ingin melukiskan kehidupan Ye-
sus “supaya engkau dapat mengetahui, bah-
23
wa segala sesuatu yang diajarkan kepada-
mu sungguh benar” (Luk. 1:4). Kriteria yang
digunakan Yohanes untuk memilih peristi-
wa kehidupan Yesus untuk dimasukkan ke
dalam Injil yang ditulisnya ialah “supaya ka-
mu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak
Allah, dan supaya kamu oleh imanmu mem-
peroleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:
31). Allah membimbing para penulis Alkitab
untuk menyajikan sejarah dalam cara yang
dapat menuntun kita kepada keselamatan.
Para penulis riwayat hidup tokoh-tokoh
Alkitab memakai bukti lain dari inspi-
rasi Ilahi. Digambarkannya dengan cermat
kelemahan maupun kekuatan yang dimiliki
tokoh-tokoh yang dikisahkannya. Mereka
menuturkan dengan jujur dosa tokoh-tokoh
itu, berikut keberhasilan yang telah diper-
oleh mereka.
Nuh yang tidak dapat menguasai diri, di-
kisahkan jelas tanpa ditutup-tutupi, begitu
pula dengan akal bulus yang dilakukan Ibra-
him. Dengan jelas tingkah laku Musa, Pau-
lus, Yakobus dan Yohanes dicatat. Sejarah
Alkitab mengungkapkan kegagalan raja
bangsa Israel yang paling bijaksana sekali
pun, dan kelemahan kedua belas bapa dan
kedua belas rasul. Kitab Suci tidak membe-
ri dalih mengenai mereka, tidak juga menge-
cilkan kesalahan mereka. Dengan terus te-
rang dituturkan apa adanya tentang mereka
berikut kegagalan mereka, bagaimana me-
reka seharusnya, melalui karunia Allah. Tan-
pa inspirasi dari Tuhan tidak akan ada penu-
lis riwayat hidup tokoh Alkitab dapat menu-
lis uraian pengertian yang demikian.
Para penulis Alkitab menganggap kisah
yang bersejarah, semuanya mengandung ca-
tatan sejarah yang sejati, bukan sebagai do-
ngeng maupun perlambang belaka. Banyak
orang masa kini yang ragu-ragu dan meno-
lak kisah mengenai Adam dan Hawa, menge-
nai Yunus maupun kisah air bah. Padahal
Yesus menganggapnya sebagai sejarah yang
benar dan secara rohaniah sangat relevan
(Mat. 12:39-41; 19:4-6; 24:37-39).
Alkitab tidak mengajarkan pengilhaman
sebagian atau tingkat inspirasi. Teori pengil-
haman yang separuh-separuh itu bersifat spe-
kulatif dan merampas Alkitab dari otoritas-
nya.
Ketepatan Kitab Suci. Sebagaimana Ye-
sus “telah menjadi kita semua , dan diam di an-
tara kita” (Yoh. 1:14), supaya dengan demi-
kian kita dapat memahami kebenaran, Alki-
tab telah diberikan dalam bahasa kita semua .
Pengilhaman Kitab Suci menjamin kelaya-
kannya untuk dipercaya.
Seberapa jauhkah pimpinan Tuhan keti-
ka mengirimkan pekabaran yang dijamin itu,
bahwa pekabaran itu sendiri sahih dan sem-
purna? Memang benar bahwa naskah kuno
agak beragam namun kebenaran-kebenaran
yang hakiki tetap terpelihara.3 Sementara pa-
ra penyalin dan penerjemah Alkitab sangat
mungkin mengadakan kesalahan-kesalahan
kecil, bukti dari penyelidikan purbakala me-
ngenai Alkitab menunjukkan bahwa kesalah-
an-kesalahan itu sesungguhnya yaitu ke-
salahpahaman di pihak para sarjana. Seba-
gian masalah itu timbul sebab orang-orang
yang membaca sejarah dan kebiasaan Al-
kitab dipandang dari mata orang Barat. Kita
harus mengakui bahwa pengetahuan manu-
sia hanya sebagian saja—wawasan mereka
terhadap pekerjaan Ilahi tetap tidak pernah
lengkap.
Pengamatan yang tidak selamanya cocok
seharusnya janganlah membuat keyakinan
kita berkurang terhadap Kitab Suci; sering-
kali hal itu merupakan akibat dari pandang-
an-pandangan kita yang kurang tepat ketim-
bang kesalahan yang sebenarnya. Apakah
Allah harus disalahkan apabila kita mene-
mukan sebuah kalimat atau nas yang tidak
24
dapat kita pahami betul? Boleh jadi kita ti-
dak akan pernah dapat menerangkan setiap
nas Alkitab, ya, memang tidak akan pernah
dapat kita lakukan. Nubuatan-nubuatan yang
digenapi membenarkan bahwa Alkitab da-
pat dipercaya sepenuhnya.
Walaupun ada usaha-usaha untuk meng-
hancurkannya, Alkitab tetap terpelihara de-
ngan ajaib, bahkan dengan ketepatan yang
menakjubkan. Perbandingan penemuan gu-
lungan Dead Sea Scrolls dengan naskah Per-
janjian Lama menunjukkan kecermatan pe-
nyampaiannya.4 Hal itu mengukuhkan kela-
yakannya untuk dipercaya, keterpercayaan
atas Kitab Suci sebagai pernyataan kehendak
Allah yang tidak pernah salah.
OTORITAS KITAB SUCI
Kitab Suci memperoleh otoritas Ilahi ka-
rena di dalam kitab-kitab itulah Tuhan ber-
bicara melalui Roh Kudus. Oleh sebab itu,
Alkitab yaitu Firman Allah yang ditulis-
kan. Di manakah ada bukti pernyataan
ini dan apakah implikasinya untuk hidup kita
dan pencarian kita akan pengetahuan?
Pernyataan-pernyataan Kitab Suci.
Para penulis Alkitab memberikan kesaksian
bahwa pekabaran mereka langsung datang
dari Tuhan Allah. Itulah “firman Tuhan”
yang datang kepada Yeremia, Yehezkiel, Ho-
sea dan yang lain-lain (Yer. 1:1, 2, 9; Yeh.
1:3; Hos. 1:1; Yl. 1:1; Yun. 1:1). Sebagai juru
kabar-juru kabar Tuhan (Hag. 1:13; 2 Taw.
36:15), para nabi Tuhan diutus untuk berbica-
ra atas nama-Nya, mengatakan, “Beginilah fir-
man Tuhan Allah” (Yeh. 2:4; bandingkan Yes.
7:7). Firman-Nya mengandung kepercayaan
dan otoritas yang dilimpahkan Tuhan.
Seringkali kita semua yang digunakan Tu-
han sebagai alat-Nya ditempatkan sebagai
latar belakang. Matius menyinggung otori-
tas di balik Perjanjian Lama, hal mana para
nabi dikutipnya dengan berkata, “Hal itu ter-
jadi supaya genaplah yang difirmankan Tu-
han oleh nabi” (Mat. 1:22). Ia melihat Tu-
han yang menyampaikan langsung, otoritas
itu; nabi hanyalah sebagai utusan yang tidak
langsung.
Petrus menggolongkan tulisan-tulisan ra-
sul Paulus sebagai Kitab Suci (2 Ptr. 3:15,
16). Dan Paulus sendiri memberikan kesak-
sian mengenai apa yang dituliskannya, “Ka-
rena aku bukan menerimanya dari kita semua ,
dan bukan kita semua yang mengajarkannya
kepadaku, namun aku menerimanya oleh per-
nyataan Yesus Kristus” (Gal. 1:12). Para pe-
nulis Perjanjian Baru menerima firman Ye-
sus Kristus sebagai Kitab Suci dan meng-
anggapnya memiliki otoritas yang sama se-
perti tulisan-tulisan Perjanjian Lama (1Tim.
5:18; Luk 10:7).
Yesus dan Otoritas Kitab Suci. Sela-
ma masa pelayanan-Nya, Yesus menekankan
otoritas Kitab Suci. Waktu dicobai Iblis atau
melawan seteru-seteru-Nya, kata “Ada ter-
tulis” merupakan pertahanan dan penyerang-
an-Nya (Mat. 4:4, 7, 10; Luk. 20:17). “Manu-
sia hidup bukan dari roti saja, namun dari se-
tiap firman yang keluar dari mulut Allah”
(Mat. 4:4).
Ketika ditanya bagaimana seseorang dapat
memperoleh kehidupan kekal, Yesus menja-
wab, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?
Apa yang kaubaca di sana?” (Luk. 10:26).
Yesus menempatkan Alkitab di atas tra-
disi dan pendapat-pendapat kita semua . Ia me-
ngecam orang-orang Yahudi sebab menge-
sampingkan otoritas Kitab Suci (Mrk. 7:7-
9), dan meminta mereka supaya mempela-
jari Kitab Suci dengan tekun, dengan berka-
ta, “Belum pernahkah kamu baca dalam Ki-
tab Suci?” (Mat. 21:42; bandingkan Mrk. 12:
10, 26).
25
Dengan tandas Ia mengatakan dan per-
caya atas otoritas nubuat serta menyatakan
bahwa perkataan itu ditujukan kepada-Nya.
Kitab Suci, kata-Nya, “memberi kesaksian
tentang Aku.” “Sebab jikalau kamu percaya
kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga
kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang
Aku”(Yoh. 5:39, 46). Pengukuhan Yesus
yang paling meyakinkan ialah bahwa Ia men-
dapat tugas dari Tuhan Allah dengan meng-
genapi apa yang telah dinubuatkan dalam
Perjanjian Lama (Luk. 24:25-27).
Demikianlah, tanpa syarat Kristus mene-
rima Kitab Suci sebagai pernyataan yang sah
dari kehendak Tuhan bagi bangsa kita semua .
Ia memandang Kitab Suci sebagai batang tu-
buh kebenaran, sebuah pernyataan objektif,
yang diberikan untuk menuntun kita semua ke-
luar dari kegelapan, aneka ragam kesalahan,
kebiasaan dan dongeng-dongeng untuk mem-
bawa kepada terang kebenaran yakni penge-
tahuan yang mendatangkan keselamatan.
Roh Kudus dan Otoritas Kitab Suci.
Waktu Yesus hidup di dunia ini para pemim-
pin agama dan masyarakat yang bersikap
acuh tak acuh tidak memperhatikan identi-
tas-Nya yang sejati. Sebagian dari antara me-
reka merasa bahwa Ia hanyalah seorang nabi
seperti Yohanes Pembaptis, Elia, atau’ Ye-
remia—hanya seorang kita semua biasa. Ke-
tika Petrus mengakui bahwa Yesus yaitu
“Mesias, Anak Allah yang hidup,” Yesus me-
nunjukkan bahwa penerangan Ilahi itulah
yang memungkinkan pengakuannya (Mat.
16:13-17). Paulus menekankan kebenaran
ini: “Tidak ada seorang pun, yang dapat
mengaku”: ‘Yesus yaitu Tuhan,’ selain oleh
Roh Kudus” (1 Kor. 12:3). Demikian pula-
lah dengan Firman Allah yang tertulis. Tan-
pa penerangan Roh Kudus pikiran kita ti-
dak akan dapat memahami dengan tepat Al-
kitab itu, atau mengakuinya sebagai kehen-
dak otoritas Allah. sebab “tidak ada orang
yang tahu, apa yang ada di dalam diri
Allah selain Roh Allah” (1 Kor. 2:11) ke-
mudian bahwa “kita semua duniawi tidak me-
nerima apa yang berasal dari Roh Allah, ka-
rena hal itu baginya yaitu suatu kebodohan;
dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal
itu hanya dapat dinilai secara rohani” (1 Kor.
2:14). Sebab pemberitaan tentang salib me-
mang yaitu kebodohan bagi mereka yang
akan binasa” (1 Kor. 1:18).
Hanya berkat bantuan Roh Kudus, ba-
rangsiapa yang menyelidiki “segala sesuatu,
bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri
Allah” (1 Kor. 2:10), seseorang menjadi ya-
kin akan otoritas Alkitab sebagai suatu wah-
yu Allah dan kehendak-Nya. Hanyalah de-
ngan salib itu ada ”kekuatan Allah” (1
Kor. 1:18) yang akan menjadikan seseorang
dapat bergabung bersama-sama Paulus da-
lam kesaksiannya, “Kita tidak menerima roh
dunia, namun roh yang berasal dari Allah, su-
paya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah
kepada kita” (1 Kor. 2:12).
Roh Kudus dengan Kitab Suci tidak akan
pernah dapat dipisahkan. Roh Kudus penga-
rang dan pewahyu kebenaran Alkitab.
Perkembangan dan kemunduran kuasa
Kitab Suci dalam kehidupan kita sesuai de-
ngan konsep inspirasi. Jika kita menganggap
Alkitab hanyalah sekadar kumpulan kesak-
sian kita semua atau jika otoritas yang menja-
di jaminan kita itu dengan cara-cara tertentu
bergantung atas gerakan perasaan kita sendi-
ri, atau pada emosi kita, berarti kita mele-
mahkan kuasanya dalam kehidupan kita.
Akan namun apabila kita melihat dan mem-
perhatikan suara Allah berbicara melalui para
penulis itu, tidak peduli betapa lemah dan
betapa kita semua wi pun mereka, Kitab Suci
menjadi otoritas mutlak dalam masalah dok-
trin, teguran, perbaikan kelakuan dan men-
didik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16).
26
Ruang Lingkup Otoritas Kitab Suci.
Kontradiksi antara Kitab Suci dan ilmu pe-
ngetahuan seringkali disebabkan spekulasi.
Apabila kita tidak dapat menyelaraskan ilmu
pengetahuan dengan Kitab Suci, penyebab-
nya hanyalah sebab kita “memiliki pema-
haman yang tidak sempurna baik mengenai
ilmu pengetahuan maupun wahyu... namun
jika dapat dipahami dengan baik, pastilah ke-
duanya dalam keselarasan yang sempurna.
Semua hikmat kita semua harus tunduk ke-
pada otoritas Kitab Suci. Kebenaran-kebe-
naran Alkitab yaitu norma yang menjadi
patokan ujian segala gagasan. Mengukur fir-
man Allah dengan ukuran-ukuran kita semua
‘yang serba terbatas itu sama saja dengan
upaya mengukur bintang-bintang dengan
meteran. Ukuran-ukuran Alkitab tidak bo-
leh ditaklukkan ukuran-ukuran atau norma-
norma kita semua . Norma-norma yang terda-
pat di dalamnya jauh lebih tinggi dibandingkan
segala akal budi dan literatur kita semua . Kita
ditimbang dengan takaran Alkitab, bukan-
nya kita yang menimbangnya, sebab itulah
ukuran tabiat dan segala pengalaman dan
pikiran.
Akhirnya, Kitab Suci berkuasa atas sega-
la karunia yang berasal dari Roh Kudus, ter-
masuk bimbingan melalui karunia nubuat
atau karunia lidah (1 Kor. 12; 14:1; Ef. 4:7-
16). Karunia Roh tidak lebih tinggi daripa-
da Alkitab; sesungguhnya, justru karunia-
karunia itu haruslah diuji oleh Alkitab, ka-
lau karunia itu tidak sesuai dengannya, maka
haruslah disingkirkan sebab karunia yang
demikian yaitu palsu. “Akan torat dan as-
syahadat, barangsiapa yang berkata-kata tia-
da setuju dengan perkataan itu, sekali-kali
tiada akan terbit fajar baginya” (Yes. 8:20,
Terjemahan lama). (Baca juga bab 17 dari
artikel ini).
KESATUAN KITAB SUCI
Pembacaan Kitab Suci secara dangkal
akan membuahkan pemahaman yang dang-
kal pula. Kalau dibaca dengan cara seperti
itu, maka Alkitab akan tampak seperti him-
punan cerita yang tidak beraturan, khotbah
yang centang perenang, dan sejarah yang ti-
dak karuan. Akan namun , barangsiapa yang
membuka pikiran kepada penerangan Roh
Allah, barang siapa yang mau menyelidik
kebenaran-kebenaran yang terpendam de-
ngan sabar dan dengan doa, akan menemu-
kan bukti-bukti dalam Alkitab yang meru-
pakan satu kesatuan dalam pengajaran me-
ngenai prinsip-prinsip keselamatan. Ternyata
Alkitab bukanlah sesuatu yang membosan-
kan. Sebaliknya, Alkitab sangat kaya dan
beraneka ragam dalam kesaksian yang amat
serasi dalam keindahannya yang ajaib dan
unik. sebab keanekaragaman yang terkan-
dung di dalamnya, ragam-ragam pandangan
itu sungguh baik untuk memenuhi keperlu-
an kita semua sepanjang zaman.
Tuhan Allah tidak menampakkan diri-
Nya kepada kita semua dalam sebuah rangkai-
an yang terus-menerus tanpa selingan, me-
lainkan menampakkan diri-Nya sedikit demi
sedikit, dari generasi kepada generasi. Apa-
kah itu dinyatakan melalui pena Musa di
padang belantara Midian, atau melalui Ra-
sul Paulus ketika dipenjarakan di Roma, bu-
ku-artikel itu menampakkan komunikasi yang
diilhami oleh Roh yang serupa. Pemahaman
atas “pernyataan yang progresif’ ini berpe-
ran dalam menanamkan pemahaman atas Al-
kitab dan kesatuannya.
Sekalipun ditulis dalam generasi yang
berbeda, kebenaran-kebenaran yang terda-
pat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru tetap tidak dapat dipisahkan; kedua-
27
nya saling tidak bertentangan. Kedua saksi
itu satu sebagaimana Tuhan Allah esa ada-
nya. Perjanjian Lama, melalui nubuatan-
nubuatan dan perlambang, menyatakan In-
jil Juruselamat yang akan datang; Perjanji-
an Baru, melalui kehidupan Yesus, menya-
takan Juruselamat yang telah datang—Injil
dalam wujud yang nyata. Kedua-duanya
menyatakan Allah yang sama. Perjanjian
Lama bertindak sebagai fondasi bagi Perjan-
jian Baru. Di dalamnya disediakan kunci
untuk membuka Perjanjian Baru sementara
Perjanjian Baru menjelaskan misteri Per-
janjian Lama.
Dengan penuh rahmat dan karunia Allah
memanggil kita supaya berkenalan dengan
Dia melalui penyelidikan atas Firman-Nya.
Di dalamnya akan kita temukan kekayaan
berkat yang pasti akan keselamatan kita. Kita
dapat mengungkapkannya bagi diri sendiri,
sebab Kitab Suci “diilhamkan Allah me-
mang bermanfaat untuk mengajar, untuk me-
nyatakan kesalahan, untuk memperbaiki ke-
lakuan dan untuk mendidik orang dalam ke-
benaran.” Melalui Kitab Suci itulah kita da-
pat “diperlengkapi untuk setiap perbuatan
baik” (2 Tim. 3:16, 17).
Di Golgota hampir semua orang menolak
Yesus. Hanya beberapa orang saja yang
mengetahui siapa Dia sebenarnya—terma-
suk di antara mereka yang mengenal-Nya
ialah pencuri yang hampir mati yang menye-
but Dia Tuhan (Luk. 23:42), dan serdadu Ro-
ma yang berkata, “Sungguh, orang ini ada-
lah Anak Allah!” (Mrk. 15:39).
Tatkala Yohanes menulis, “Ia datang kepa-
da milik kepunyaan-Nya, namun orang-orang
kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”
(Yoh. 1:11), yang dipikirkan Yohanes bukan-
lah hanya orang banyak yang ada di sekeli-
ling salib itu, bahkan bukan hanya orang Is-
rael, melainkan setiap generasi yang pernah
hidup. Kecuali beberapa gelintir saja, semua
kita semua , seperti orang-orang yang berteriak
hingga parau di bukit Golgota, telah gagal
mengenal Yesus Tuhan dan Juruselamat me-
reka. Kegagalan ini menunjukkan bahwa pe-
ngetahuan kita semua mengenai Allah sangat
kurang dan terbatas sekali.
PENGETAHUAN MENGENAI ALLAH
Telah banyak teori yang dilontarkan ‘un-
tuk menjelaskan ihwal Allah, banyak pula
sanggahan untuk Dia dan menentang ada-
nya Dia, hal ini menunjukkan bahwa akal
budi kita semua tidak mampu menembus yang
Ilahi. Kalau bergantung kepada akal budi
kita semua saja untuk menyelidiki mengenai
Tuhan sama saja dengan memakai sebu-
ah kaca pembesar untuk mempelajari ilmu
perbintangan. sebab itu, bagi banyak orang
hikmat Tuhan yaitu “hikmat yang tersem-
bunyi” (1 Kor. 2:7). Bagi mereka Tuhan ada-
lah misteri. Rasul Paulus menulis,’ Tidak ada
dari penguasa dunia ini yang mengenal-Nya,
sebab kalau sekiranya mereka mengenal-
Nya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang
mulia” (1 Kor. 2:8).
Salah satu perintah Tuhan yang sangat
mendasar dari Kitab Suci ialah supaya me-
ngasihi “Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan de-
ngan segenap akal budimu” (Mat. 22:37;
bandingkan dengan Ul. 6:5). Kita tidak da-
pat mengasihi seseorang yang sama sekali
tidak kita kenal, bahkan kita tidak dapat me-
nyelidiki perkara-perkara Allah yang sangat
mendalam (Ayb. 11:7). Kalau begitu, bagai-
manakah kita dapat mengenal serta menga-
sihi Pencipta kita?
Allah Dapat Diketahui atau Dikenal.
Mengingat kita semua yang berada dalam kea-
daan serba berbahaya itu, Allah di dalam ka-
sih-Nya dan panjang sabar-Nya, menjangkau
kita melalui Alkitab. Ditunjukkannya bah-
wa ‘Kekristenan bukanlah sebuah catatan
dari hal pertanyaan kita semua mengenai Al-
lah; melainkan hasil pernyataan Allah dari
hal diri-Nya dan maksud-tujuan-Nya kepa-
da kita semua .”1 Pernyataan diri ini direncana-
kan untuk menjembatani jurang antara du-
nia yang memberontak dengan Tuhan yang
pemurah.
Pernyataan kasih Allah yang terbesar me-
lalui pernyataan-Nya yang paling agung, yak-
ni dengan kehadiran Yesus Kristus, Anak-
Nya itu. Melalui Yesus kita dapat mengenal
Dia, sang Bapa. Sebagaimana Yohanes me-
ngatakan, “Anak Allah telah datang dan te-
lah mengaruniakan pengertian kepada kita,
supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita
ada di dalam Yang Benar” (1 Yoh. 5:20).
Yesus berkata, “Inilah hidup yang kekal
itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan menge-
nal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”
(Yoh. 17:3).
Inilah kabar baik. Walaupun mustahil me-
ngetahui Tuhan sepenuhnya, namun Kitab
Suci memberikan Pengetahuan praktis ten-
tang Dia yang cukup memadai untuk kita
masuki suatu hubungan yang menyelamat-
kan dengan Dia.
Memperoleh Pengetahuan Mengenai
Allah. Tidak seperti pengetahuan lainnya,
pengetahuan mengenai Allah sama kadarnya
antara hati dengan pikiran. Pengetahuan yang
demikian mencakup keseluruhannya, tidak
hanya intelek saja. Harus ada keterbukaan
terhadap Roh Kudus dan kemauan untuk me-
lakukan kehendak Allah (Yoh. 7:17; banding-
kan Mat. 11:27). Yesus berkata, “Berbaha-
gialah orang yang suci hatinya, sebab mere-
ka akan melihat Allah” (Mat 5: 8).
Oleh sebab itu, orang-orang yang tidak
beriman, tidak dapat memahami Tuhan. Ra-
sul Paulus berseru, “Di manakah orang yang
berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di ma-
nakah pembantah dari dunia ini? Bukankah
Allah telah membuat hikmat dunia ini men-
jadi kebodohan? Oleh sebab dunia, dalam
hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hik-
matnya, maka Allah berkenan menyelamat-
kan mereka yang percaya oleh kebodohan
pemberitaan Injil” (1 Kor. 1:20, 21).
Cara untuk mempelajari pengetahuan
mengenai Allah dari Alkitab berbeda dengan
segala macam metode pengetahuan. Kita ti-
dak boleh menempatkan diri kita sendiri di
atas Allah dan memperlakukan-Nya sebagai
objek analisis dan objek ukuran. Kalau kita
meneliti Allah untuk memperoleh pengeta-
huan mengenai Dia, kita harus tunduk ke-
pada otoritas penyataan diri-Nya, Alkitab.
sebab .Alkitab sendirilah yang menjadi
penafsirnya maka kita harus taat kepada
prinsip-prinsip dan metode yang terkandung
di dalamnya. Tanpa bimbingan yang Alkita-
biah kita tidak akan dapat mengenal Allah.
Mengapa begitu banyak orang yang hi-
dup pada masa Yesus dahulu tidak mampu
melihat pernyataan diri Allah di dalam Ye-
sus? Sebabnya ialah sebab mereka meno-
lak bimbingan Roh Kudus melalui Alkitab,
mereka menafsirkan pekabaran Allah de-
ngan cara yang salah serta menyalibkan Ju-
31Keallahan
ruselamat mereka. Masalah mereka bukan-
lah masalah intelek. sebab mereka menu-
tup pintu hati mereka, maka pikiran mereka
pun digelapkan, akibatnya ialah kematian
yang kekal.
EKSISTENSI ALLAH
Ada dua sumber utama bukti adanya Tu-
han, yakni: artikel alam dan Kitab Suci.
Bukti dari Penciptaan. Setiap orang da-
pat belajar mengenai adanya Allah melalui
alam dan pengalaman kita semua . Daud menu-
lis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah,
dan cakrawala memberitakan pekerjaan ta-
ngan-Nya” (Mzm. 19:2). Yohanes berpenda-
pat bahwa pernyataan Allah, termasuk alam,
menerangi setiap orang (Yoh. 16). Paulus
pun menyatakan, “Sebab apa yang tidak
nampak dari pada-Nya; yaitu kekuatan-Nya
yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nam-
pak kepada pikiran dari karya-Nya sejak du-
nia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat
berdalih” (Rm. 1:20).
Perilaku kita semua juga menunjukkan buk-
ti adanya Allah. Di dalam perbaktian orang
Athena ada yang disembah yang disebut “Al-
lah yang tidak dikenal,” dan disinilah Pau-
lus melihat bukti adanya Tuhan Allah. Kata
Paulus, “Apa yang kamu sembah tanpa me-
ngenalnya, itulah yang kuberitakan kepada
kamu” (Kis. 17:23). Paulus juga mengata-
kan perilaku orang-orang yang bukan Kris-
ten memberikan kesaksian mengenai “do-
rongan diri sendiri” serta menunjukkan bah-
wa Taurat Allah tertulis “di dalam hati mere-
ka” (Rm. 2:14, 15). Intuisi seperti ini pun,
mengenai adanya Allah, ada pada orang
yang mengetahui Alkitab. Pernyataan yang
umum mengenai Allah ini membawa kepa-
da sejumlah argumen rasional yang klasik
tentang adanya Allah?
Bukti dari Kitab Suci. Alkitab tidak
membuktikan adanya Allah. Melainkan me-
nganggapnya ada. Pada pembukaan Alkitab
itu menyatakan, “Pada mulanya Allah men-
ciptakan langit dan bumi” (Kej.1:1): Alkitab
menggambarkan Allah sebagai Pencipta, Pe-
nyokong dan Pemerintah semua makhluk
ciptaan. Pernyataan Allah melalui pencip-
taan amat tangguh sehingga tiada dalih bagi
penganut ateisme, yang justru timbul dari
penindasan kebenaran Ilahi atau dari buah
pikiran orang yang menolak mengakui buk-
ti bahwa Allah itu ada (Mzm. 14:1; Rm. 1;18-
22, 28).
Cukup banyak bukti tentang adanya Al-
lah yang meyakinkan siapa pun yang dengan
sungguh-sungguh berusaha mencari kebe-
naran mengenai Dia. Namun demikian, iman
yaitu prasyarat sebab ”tanpa iman tidak
mungkin orang berkenan kepada Allah. Se-
bab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia
harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa
Allah memberi upah kepada orang yang
sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).
Beriman kepada Allah tidak berarti buta.
Iman kepada Allah itu didasarkan pada buk-
ti yang cukup memadai yang terkandung da-
lam perwujudan Allah melalui Kitab Suci
dan alam.
ALLAH berdasar KITAB
SUCI
Alkitab menyatakan ciri-ciri hakiki Al-
lah melalui nama-Nya, kegiatan-kegiatan
dan sifat-sifat-Nya.
Nama-nama Allah. Pada masa Alkitab
ditulis, nama amat penting sebagai mana pa-
da umumnya kebiasaa
.jpeg)
