doktrin dasar alkitab 12

doktrin dasar alkitab 12


 


embaptiskan hanyalah

orang-orang yang percaya terhadap Injil

(Kis. 8:12, 36, 37; 18:8).

“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan

pendengaran oleh firman Kristus” (Rm.

10:17), petunjuk ini merupakan bagian yang

penting ihwal persiapan baptisan. Perintah

agung yang diberikan Kristus ini mengukuhkan

pentingnya petunjuk itu: “sebab  itu pergilah,

jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan bap-

tislah mereka dalam nama Bapa dan Anak

dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melaku-

kan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan

kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai

kamu senantiasa sampai kepada akhir za-

man” (Mat. 28:19, 20). Untuk menjadi murid,

maka perintah yang di atas perlu dihayati.

Pertobatan. “Bertobatlah,” kata Petrus,

“hendaklah kamu masing-masing memberi

dirimu dibaptis” (Kis. 2:38). Pengajaran yang

ada  dalam firman Tuhan tidak hanya

menghasilkan iman namun  juga pertobatan

dan perubahan. Dalam sambutan terhadap

panggilan Tuhan, orang banyak akan melihat

keadaan mereka yang tidak berdaya atau

hilang, mengakui dosa mereka yang banyak,

mereka menyerahkan diri kepada Tuhan,

bertobat dari dosa-dosa mereka, menerima

pendamaian Kristus, serta mengabdikan diri

mereka ke dalam hidup baru di dalam Dia.

Tanpa perubahan mereka tidak akan dapat

masuk ke dalam Baptisan suatu perhubungan

yang pribadi dengan Yesus Kristus. Hanya

melalui pertobatan mereka dapat mengalami

kematian terhadap dosa—sebuah syarat

mutlak untuk memperoleh baptisan.

Buah-buah Pertobatan. Barangsiapa yang

ingin dibaptiskan haruslah mengaku beriman

dan mengalami pertobatan. Kecuali mereka

mendatangkan “buah yang sesuai dengan

pertobatan” (Mat. 3:8) mereka belum meme-

nuhi syarat mutlak yang dituntut Alkitab un-

tuk baptisan. Hidup mereka haruslah me-

nunjukkan ketaatan mereka terhadap kebe-

naran sebagaimana ada  dalam Yesus

dan menyatakan kasih mereka kepada Allah

melalui penurutan atas perintah-perintah-

Nya. Jika mereka menyiapkan diri untuk

memperoleh baptisan, mereka harus menye-

rahkan semua perbuatan dan keyakinan me-

reka yang salah. Buah-buah Roh yang tam-

pak dalam hidup mereka akan menyatakan

bahwa Tuhan tinggal di dalam mereka dan

mereka di dalam Dia (Yoh. 15:1-8). Kalau

mereka tidak menyatakan bukti hubungan

mereka dengan Kristus seperti ini, berarti

mereka belum siap bergabung dengan je-

maat.22

Pemeriksaan Calon. Kalau mau menjadi

anggota jemaat berarti melibatkan diri dalam

langkah rohani; tidak sekadar mencantumkan

nama seorang dalam artikel  jemaat. Orang-

orang yang bekerja dan melayani baptisan

bertanggung jawab menentukan kesiapan

calon-calon baptisan. Mereka harus menjelas-

kan prinsip-prinsip sampai calon itu mengerti

benar prinsip jemaat yang dipegang teguh

jemaat serta memberikan bukti dalam hidup

yang baru dan menikmati suatu pengalaman

di dalam Yesus Kristus.23

Walaupun demikian janganlah sekali-kali

mereka menghakimi motif orang yang ingin

dibaptiskan. “Apabila ada orang yang meng-

ajukan dirinya sebagai calon baptisan dan

mau menjadi anggota jemaat, kita harus me-

meriksa buah-buah hidupnya, dan membiar-

kan soal motif bagi dirinya sendiri.”24

Ada yang sudah dikuburkan hidup-hidup

dalam air baptisan. Dirinya belum mati.

Orang seperti ini belum menerima suatu kehi-

dupan baru di dalam Kristus. Barangsiapa

telah menggabungkan diri ke dalam jemaat

dalam cara seperti ini berarti telah membawa

Baptisan 227

benih-benih kelemahan dan kemurtadan da-

lam dirinya. Pengaruh mereka yang belum

“disucikan” akan membingungkan orang

yang ada di dalam jemaat dan di luar jemaat

serta kesaksian yang dibawakannya memba-

hayakan.

Apakah Bayi dan Anak-anak boleh Di-

baptiskan? Baptisan menyatukan orang-

orang yang baru percaya ke dalam jemaat

dalam pengertian “lahir kembali.” Perubahan

yang terjadi dalam diri mereka melayakkan

mereka menerima baptisan dan keanggotaan

jemaat. Penggabungan diri ini berlangsung

pada waktu “dilahirkan kembali,” bukan pada

“waktu lahir.” Inilah sebabnya mengapa

umat percaya dibaptiskan—“baik laki-laki

maupun perempuan Kis. 8:12, 13, 29:38; 9:17,

18; 1 Kor. 1:14). “Tidak ada ada  dalam

Perjanjian Baru,” kata Karl Barth mengakui,

“baptisan atas bayi yang diizinkan atau dipe-

rintahkan.”25 G.R. Beasley-Murray meng-

akui, “Saya sendiri tidak mengakui adanya

baptisan anak-anak sebagai baptisan Jemaat

Perjanjian Baru.”26

sebab  anak-anak bayi belum memper-

oleh perubahan pengalaman, mereka belum

memenuhi syarat untuk baptisan. Apakah de-

ngan demikian mereka dikeluarkan dari ma-

syarakat perjanjian itu? Tentu saja tidak! Ye-

sus tidak mengeluarkan mereka dari kera-

jaan-Nya, kerajaan anugerah itu. “Biarkan-

lah anak-anak itu, janganlah menghalang-

halangi mereka datang kepada-Ku,” kata

Yesus, “sebab orang-orang yang seperti itu-

lah yang empunya Kerajaan Sorga.” “Lalu Ia

meletakkan tangan-Nya atas mereka dan ke-

mudian Ia berangkat dari situ” (Mat. 19:14,

15). Orangtua yang teguh imannya akan

membimbing anak-anak mereka, sebuah pe-

ranan yang sangat menentukan, membawa

anak-anak itu ke dalam suatu perhubungan

dengan Kristus sehingga mereka tiba kepada

baptisan.

Sambutan Yesus yang begitu positif ter-

hadap ibu-ibu yang membawa anak-anak

mereka kepada-Nya supaya diberkati telah

menjadikan praktik penyerahan anak-anak.

Untuk inilah orangtua membawa anak-anak

mereka ke dalam jemaat untuk dipersembah-

kan kepada Tuhan.

Pada usia berapakah seorang siap untuk

menerima baptisan? Seseorang dapat dibaptis-

kan jika mereka (1) sudah cukup usia me-

ngerti makna baptisan, (2) telah bertobat dan

menyerahkan diri kepada Kristus (3) mema-

hami prinsip dasar Kekristenan, dan (4) me-

mahami arti keanggotaan dalam jemaat.

Seorang menempatkan keselamatannya da-

lam bahaya hanya apabila ia sudah tiba pada

usia yang layak namun menolak pengaruh

Roh Kudus.

Oleh sebab  tingkat kedewasaan rohani

masing-masing orang berbeda pada usia ter-

tentu, tidaklah mengherankan jika pada usia

yang lebih dini ada orang yang sudah siap me-

nerima baptisan sementara yang lain belum

siap. Oleh sebab  itu, kita tidak menetapkan

usia minimum untuk menerima baptisan.

Apabila ada orangtua yang mengizinkan

anak-anak mereka dibaptiskan pada usia

yang agak muda, maka mereka harus memi-

kul tanggung jawab pertumbuhan rohani dan

tabiat anak-anak itu.

BUAH BAPTISAN

Buah baptisan yang paling utama ialah

hidup yang tinggal di dalam Kristus. Tujuan

dan keinginan berpusat pada Kristus, tidak

lagi kepada diri sendiri. “sebab  itu, kalau ka-

mu dibangkitkan bersama dengan Kristus,

carilah perkara yang di atas, di mana Kristus

ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkan-

228            Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

lah perkara yang di atas, bukan yang di bumi”

(Kol. 3:1, 2). Baptisan bukanlah pencapaian

puncak yang paling tinggi yang mungkin di-

peroleh orang Kristen. Kalau kita bertumbuh

dalam kerohanian, kita mencapai karunia-

karunia Kristen untuk digunakan sebagai pe-

layanan kepada orang lain, melipatgandakan

rencana Tuhan: “Kasih karunia dan damai

sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan

akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita”(2

Ptr. 1:2). Jika kita tetap setia kepada janji

baptisan kita, Bapa, Anak dan Roh Kudus,

yang di dalamnya kita dibaptiskan, menjamin

bahwa kita akan dapat jalan masuk ke dalam

kuasa Ilahi supaya dapat membantu kita da-

lam keadaan gawat darurat yang mungkin

akan kita hadapi dalam kehidupan sesudah 

baptisan.

Buah yang kedua ialah hidup yang tinggal

di dalam jemaat Kristus. Kita tidak lagi men-

jadi orang yang terpencil; kita telah menjadi

anggota jemaat Kristus. Sebagai batu-batu

yang hidup kita menegakkan kaabah Tuhan

(1 Ptr. 2:2-5). Kita memperoleh sebuah hu-

bungan istimewa dengan Kristus, kepala je-

maat itu, tempat kita menerima anugerah

sehari-hari untuk pertumbuhan dan perkem-

bangan dalam kasih (Ef. 4:16). Kita memikul

tanggung jawab dalam masyarakat perjanjian,

yakni para anggota yang menanggungjawabi

yang baru dibaptiskan (1 Kor. 12:12-26).

Demi kebaikan mereka, juga demi kebaikan

jemaat, anggota-anggota yang baru ini harus-

lah dilibatkan dalam kehidupan yang berbakti,

berdoa dan pelayanan yang disertai cinta

kasih (Ef. 4:12).

Buah yang terakhir ialah penghayatan

kehidupan di dunia ini dan bagi dunia ini.

Memang benar bahwa kita telah dibaptiskan

dan kewarganegaraan kita di surga (Flp.

3:20). Akan namun  kita sudah dipanggil keluar

dari dunia ini untuk dilatih dalam tubuh Kristus

dan dikembalikan ke dunia ini sebagai hamba,

turut serta dalam pekerjaan Kristus yang

mendatangkan keselamatan itu. Murid yang

sejati tidaklah keluar dari dunia ini lalu

,

mendekam dalam jemaat; kita lahir untuk

kerajaan Kristus sebagai misionaris. Kesetiaan

terhadap janji baptisan berarti melibatkan diri

dalam tugas membimbing orang lain masuk

ke dalam kerajaan anugerah.27

Sekarang ini Tuhan sangat rindu menanti

kita untuk masuk ke dalam kehidupan yang

berkelimpahan, yang telah disediakan-Nya

dengan penuh kemurahan. “Dan sekarang,

mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangun-

lah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu

disucikan sambil berseru kepada nama Tu-

han!”(Kis. 22:16).

____________________________:

1. SM Samuel, “A Brave African Wife,” Review and Herald, 14 Februari 1963, hlm. 19.

2. Sebuah peraturan yang dibuat sebagai simbol upacara agama atau pemeliharaan yang telah ditetapkan menjadi ke-

benaran-kebenaran inti injil dan merupakan kewajiban yang bersifat universal dan kekal. Kristus memberlakukan

dua perintah—baptisan dan Perjamuan Tuhan. Sebuah peraturan bukanlah sebuah sakramen dalam pengertian

opus operatum—sebuah tindakan yang di dalamnya dan itulah yang menjadi bagian anugerah yang mendatangkan

keselamatan. Baptisan dan Perjamuan Tuhan yaitu  sakramen dalam pengertian seperti sacramentum saja,

sumpah yang dilakukan oleh serdadu Roma untuk menurut perintah komandan sampai mati sekalipun. Peraturan-

peraturan ini melibatkan sebuah sumpah takluk sepenuhnya kepada Kristus. Baca artikel  Strong, Systematic

Theology (Philadelphia, PA: Judson Press, 1954), hlm. 930; “baptisan,” SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm.

128, 129.

3.   Jemison, Christian Beliefs, hlm. 244.

4. “Sejak permulaan gereja MAHK, sebagaimana memperoleh warisan dari Protestan, telah menolak pandangan

mengenai baptisan sebagai sebuah opus operatum, yakni, sebuah tindakan yang di dalamnya serta merupakan

bagian anugerah yang mendatangkan keselamatan” (“Baptisan,” SDA Encyclopedia,  edisi revisi, hlm. 128).

Baptisan 229

5.   SDA Bible Commemary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 740.

6. Kadang-kadang mereka yang sudah dibaptiskan dengan cara diselamkan ke dalam air merasa yakin bahwa mereka

harus dibaptiskan kembali. Bukankah keinginan seperti ini bertentangan dengan pengajaran Paulus bahwa hanya

“ada satu baptisan” (Ef. 4:5)? Praktik yang dilakukan Paulus menunjukkan bahwa bukan demikianlah adanya.

Dalam sebuah kunjungan yang diadakannya ke Efesus, ia bertemu dengan beberapa murid yang telah dibaptiskan

oleh Yohanes Pembaptis. Mereka telah menghayati pertobatan dan menyatakan iman mereka kepada keda-

tangan Mesias (Kis. 19:1-5). Murid kurang begitu memahami Injil. “Waktu  mereka menerima baptisan dari tangan

Yohanes, mereka masih melakukan kesalahan yang sangat besar. namun  ketika mereka secara pelahan-lahan

menerima terang Kristus dan bergembira di dalamnya sebagai Penebus mereka; seiring dengan kemajuan pema-

haman terang ini mereka mengalami perubahan dalam kewajiban mereka. Ketika mereka menerima iman yang

semakin murni, di dalam hidup mereka terjadi perubahan, begitu pula dalam tabiat mereka, Dengan tanda

perubahan ini, sebagaimana pengakuan iman mereka di dalam Kristus, mereka dibaptiskan kembali, di dalam nama

Yesus.

“Banyak pengikut Kristus yang sungguh-sungguh mengalami pengalaman yang demikian. Sebuah pemahaman

yang lebih jelas atas kehendak Allah, menempatkan kita semua  dalam hubungan yang baru dengan Dia. Kewajiban

dan tugas yang baru tampak. Yang tadinya dianggap tidak tahu apa-apa atau bahkan dianggap juga pantas, sekarang

tampak penuh dengan dosa.... Baptisannya yang pertama tidak memuaskannya. Ia melihat dirinya kembali penuh

dengan dorongan dosa.. dihakimkan hukum Tuhan. Ia mengalami sebuah pengalaman baru, mati terhadap dosa

dan ingin kembali dikuburkan dalam Kristus melalui baptisan, agar ia dapat berjalan dalam kehidupan yang baru.

Kira-kira demikianlah teladan Paulus waktu membaptiskan orang-orang Yahudi yang bertobat. Kejadian itu telah

dicatat dengan petunjuk Roh Kudus agar menjadi pelajaran bagi jemaat” [(White, Sketches From the Life of Paul)

(Battle Creek, MI: Review and Herald, 1883), hlm. 132, 133; Baca juga Seventh-day Adventist Church Manual.

(Washington, D.C.: General Conference of Seventh-day Adventists, 1986), edisi revisi, hlm. 50; White,

Evangelism, hlm. 372-375)].

Kitab Suci tidak menyatakan apa-apa atau menolak pembaptisan kembali orang-orang yang telah merusak perjan-

jiannya dengan Allah melalui dosa yang jahat atau kemurtadan dan lalu  mengalami pertobatan dan suatu

keinginan untuk membaharui perjanjian mereka (baca Seventh-day Adventist Church Manual hlm. 51, 162;

White, Evangelism, hlm. 375).

7. Baca artikel  Albretcht Oepke, “Bapto, Baptizo,” dalam Theological Dictionary of the New Testament, editor

Gerhard Kittel terjemahan Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids. Wm. B. Eerdmans Pub]. co., 1964), jilid 1, hlm.

529. Vine mencatat bahwa bapto “digunakan di kalangan orang Yunani untuk mengartikan pencelupan kain, atau

menimba air lebih dalam untuk dimasukkan ke dalam bejana lain, dsb.” (W.E. Vine, A Expository Dictionary of

Biblical Words (New York, NY: Thomas Nelson, 1985), hlm. 50. Kata “mencelupkan” digunakan tiga kali di

dalam Perjanjian Baru, masing-masing dalam pengertian ‘diselamkan.’ Dalam perumpamaan orang kaya dan

Lazarus, orang kaya itu meminta kepada Abraham supaya mengizinkan Lazarus mencelupkan jarinya ke dalam air

yang dingin dan meneteskannya ke lidahnya (Luk. 16:24). Malam menjelang penyaliban Yesus memberikan ciri-

ciri orang yang akan mengkhianatinya dengan mencelupkan sesuatu dan lalu  memberikannya kepada Yudas

(Yoh. 13:26). Dan ketika Yohanes melihat Yesus menunggang kuda, dalam khayalnya, memimpin pasukan surga,

kepada Yohanes tampak pakaian Yesus seperti sudah dicelupkan dalam darah (Why. 19:13).

8. George E. Rice, “Baptism: Union With Christ,” Ministry, Mei 1982, hlm. 20.

9. Baca karya Albrecht Oepke, “Bapto, Baptizo,” dalam Theological Dictionary of the New Testament, jilid 1, hlm.

535. Bnd Arndt dan Gingrich, Greek-English Lexicon of the New Testament, hlm. 131.

10. J.K. Howard, New Testament Baptism (London: Pickering & Inglis Ltd., 1970), hlm. 48.

1l. Huruf  miring ditambahkan.

12. Matthew Black, The Scrolls and Christian Origins (New ‘r oak: Charles Scribner`s Sons, 1961), hlm. 96-98. Baca

juga “Baptism,” SDA Bible Dictionary, edisi revisi. hlm. 118, 119.

13. G.E. Rice, “Baptism in the Early Church,” Ministry, Maret 1981, hlm. 22. Bnd Henry F. Brown, Baptism Through

the Centuries (Mountain View, Cal.: Pacific Press, 1965); William L. Lampkin, A History of Immersion

(Nashville: Broadman Press, 1962): Woifred N. Cone, The Archeology of Baptism (London: Yates and

Alexander, 1876).

14. Brown, Baptism Through the Centuries, hlm. 49-90.

15. Alfred Plummer, A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel According to S. Luke, The International

Critical Commentary, ed. Samuel R. Driver, et al, edisi ke-5 (Edinburgh: T.&T. Clark, 1981, cetak ulang), hlm.

88.

16. “Baptism,” SDA Encyclopedia, edisi revisi, hlm. 128.

17. Howard, New Testament Baptism, hlm. 69.

18. G.F. Rice, “Baptism: Union With Christ,’ Ministry, Mei 1982, hlm. 21.

19. Gottfried Oosterwal, “Every member a Minister? From Baptism to a Theological Base,’ Ministry, Februari 1980,

230            Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

hlm. 4-7. Baca juga tulisan Rex D. Edwards, ‘Baptism as Ordination,” Ministry, Agustus 1983, hlm. 4-6.

20. White dalam SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 1075.

21. Jika ada syarat-syarat baptisan, bagaimana mungkin ada “baptisan untuk orang mati?” Tafsiran yang berikut ini

selaras dengan apa yang ada  dalam pekabaran Alkitab:

Di dalam 1 Korintus 15 Paulus menekankan makna kebangkitan dari maut dan menolak paham tidak adanya

kebangkitan. Ia menunjukkan bahwa jika tidak ada kebangkitan maka sia-sialah iman (1 Kor. 15:14,17). Dalam

lingkup yang sama ia bertanya “kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis

bagi orang-orang yang telah meninggal?” (1 Kor. 15:29).

Banyak orang menafsirkan ungkapan “dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal” sebagai sebuah petunjuk

baptisan pengganti yang dilakukan oleh orang beriman bagi orang yang sudah meninggal dunia. Persyaratan dalam

Alkitab tidak menunjukkan hal yang demikian. W. Robertson Nicoll menyatakan bahwa apa yang dimaksudkan

Paulus di sini ialah “sebuah pengalaman yang biasa, bahwa kematian orang-orang Kristen itu menuntun orang-

orang yang masih hidup kepada pertobatan, yang dalam contoh pertama ‘sebab  kebaikan orang yang sudah

meninggal itu’ (orang yang mereka kasihi, yang mati), dan dalam pengharapan bersatu kembali nanti, berpaling

kepada Kristus.” Paulus melukiskan pertobatan yang demikian “dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal.”

“Pengharapan yang penuh berkat untuk masa mendatang, seiring dengan cinta kasih dan persahabatan keluarga,

yaitu  merupakan faktor-faktor yang tangguh pada awal penyebaran Kekristenan” (W. Robertson Nicoll, ed., The

Expositor’s Greek Testament (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1956), jilid 2, hlm. 931, M. Raeder

menyatakan bahwa kata depan “bagi” (“for”)—huper dalam bahasa Yunani) dalam ungkapan “dibaptis bagi

orang-orang yang telah meninggal” yaitu  sebuah kata preposisi tujuan. Ini berarti bahwa baptisan ini yaitu 

“sebab  kebaikan” atau “sebab  kematian yang bermaksud menyatukan dengan kerabat orang-orang Kristen

yang sudah meninggal nanti pada waktu kebangkitan” (M. Raeder, “Vikariatstaufe in 1 K. 15:29?” Zeitschrift fur

die Neutestamentliche Wtssenschaft, 45 (1955), hlm. 258-260 dikutip oleh Harold Riesenfeld, ‘Huper,” Theo-

logical Dictionary of the New Testament, jilid 8, hlm. 513). Bnd Howard, New Testament Baptism, hlm, 108, 109).

Howard menyebutkan bahwa dalam konteks yang dikemukakan Paulus dalam 1 Korintus 15:29 yaitu  “Jika

Kristus tidak bangkit, maka orang yang telah mati di dalam ‘Kristus’ akan binasa, tidak memiliki harapan,

terutama mereka yang sudah menggabungkan diri ke dalam masyarakat Kristen dan telah dibaptiskan demi

kebaikan orang-orang yang telah mati di dalam Kristus, berharap bergabung kembali dengan mereka” (Howard,

“Baptism for the Dead: A Study of 1 Corintians 15:29,” Evangelical Quarterly, ed. F.F. Bruce (Exeter, Eng.:

Paternoster Press), July-September 1965, hlm. 141).

22. Bnd Damsteegt, “Reaping the Harvest,” Adventist Review, 12 Oktober 1987, hlm. 15.

23. Baca SDA Church Manual, hlm. 41.

24. White, Evangelism, hlm. 313.

25. Karl Barth, Church Dogmatics, terjemahan G.W. Bromiley (Edinburgh: T.&T. Clark, 1969), jilid 4/4, hlm. 179.

26. G.R. Beasley - Murray, Baptism in the New Testament (Grand Rapids, MI.:Wm. B. Eerdmans, 1973), hlm. 392.

27. Lihat Edwards, “Baptism.”

Perjamuan Tuhan yaitu  satu partisipasi dalam perlambangan

tubuh dan darah Yesus sebagai satu pernyataan iman di dalam Dia,

Tuhan dan Juruselamat kita. Dalam pengalaman Perjamuan Kudus

ini Kristus hadir untuk bertemu dan menguatkan umat-Nya. Jika kita

turut serta maka kita dengan gembira akan memberitahukan kematian

Kristus sampai ikhwal .kedatangan-Nya kembali. Persiapan untuk

Perjamuan Kudus itu menyangkut pemeriksaan diri, pertobatan dan

pengakuan. Guru Besar itu menahbiskan upacara pembasuhan kaki

untuk menyatakan pembasuhan pembaruan kembali, untuk menyata-

kan kerelaan melayani satu dengan yang lain dalam bentuk keren-

dahan hati seperti yang diperlihatkan Kristus serta menyatukan hati

kita dalam kasih. Perjamuan Kudus terbuka bagi semua orang Kristen

yang beriman.—Fundamental Beliefs,––16.

233

Mereka  tiba  di ruang atas  dengan  kaki

  yang  berdebu.  Mereka  akan menga-

dakan Paskah. Telah ada orang yang me-

nyediakan kendi berisi air, juga baskom, han-

duk untuk membasuh kaki sebagaimana bia-

sa, akan namun  tidak ada seorang pun yang

mau melakukan pekerjaan pembasuhan kaki

yang dianggap tugas kasar,

Yesus, yang menyadari bahaya mendatang

— menghadapi kematian, menyadari keadaan

sekelilingnya sehingga Ia berbicara dengan

sedih, “Aku sangat rindu makan Paskah ini

bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku

menderita. Sebab Aku berkata kepadamu:

Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia

beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Al-

lah” (Luk. 22:15, 16).

Hati Yesus dirundung duka melihat rasa

cemburu yang timbul dalam hati murid-murid,

satu dengan yang lain. Ia mengetahui mereka

masih bertengkar tentang siapakah yang le-

bih besar nanti di dalam kerajaan-Nya (Luk.

22:24; Mat. 8:1; 10:21). Siasat yang dipasang

mereka ialah siasat untuk merebut kedudukan,

keangkuhan diri dan ingin menang sendiri,

sehingga membuat diri murid-murid itu tidak

mau merendahkan diri, yang mencegah me-

reka dari sikap dan tindakan sebagai hamba

pengganti yang mau membasuh kaki sesama-

nya. Apakah mereka tidak pernah mempelajari

bahwa orang yang dianggap paling besar

dalam kerajaan Tuhan yaitu  orang yang

menunjukkan kerendahan hati dan mau me-

layani dengan kasih?

Ketika “mereka sedang makan bersama”

(Yoh. 13:2, 4)1, pelahan-lahan Yesus bangkit,

diambil-Nya handuk yang biasa digunakan

seorang hamba, dicurahkan-Nya air ke da-

lam baskom, lalu ia berlutut dan mulai mem-

basuh kaki murid-Nya. Guru Besar itu ber-

tindak sebagai hamba! Murid-murid merasa

malu melihat teguran halus ini. Ketika tugas

itu telah selesai dilaksanakan-Nya dan Ia

kembali ke tempat duduk-Nya, Ia berkata,

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku

yang yaitu  Tuhan dan Gurumu, maka kamu

pun wajib saling membasuh kakimu; sebab

Aku telah memberikan suatu teladan kepada

kamu, supaya kamu juga berbuat sama se-

perti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku

BAB 16

PERJAMUAN TUHAN

234 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang

hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya,

ataupun seorang utusan dari pada dia yang

mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini,

maka berbahagialah kamu, jika kamu mela-

kukannya” (Yoh. 13:14-17).

Demikianlah Yesus melembagakan, peng-

ganti perayaan Paskah, sebuah lembaga pe-

layanan yang mengingatkan pengorbanan-

Nya yang agung: Perjamuan Tuhan. Dengan

mengambil roti yang tidak ‘beragi, Ia “meng-

ucap berkat, memecah-mecahkannya lalu

memberikannya kepada murid-murid-Nya

dan berkata: ‘Ambillah, makanlah, inilah tu-

buh-Ku.’ Sesudah itu Ia mengambil cawan,

mengucap syukur lalu memberikannya kepa-

da mereka dan berkata: “Minumlah, kamu

semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-

Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi

banyak orang untuk pengampunan dosa.”

“Perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya,

menjadi peringatan akan Aku!” “Sebab se-

tiap kali kamu makan roti ini dan minum

cawan ini, kamu memberitakan kematian

Tuhan sampai Ia datang” (baca Mat. 26:26-

28: 1 Kor. 11:24-26; 10:16).

Peraturan pembasuhan kaki dan Perja-

muan Tuhan membuat adanya Perjamuan

Kudus. Oleh sebab  itu, Kristus melemba-

gakan kedua peraturan ini untuk membantu

kita masuk ke dalam perjamuan dengan Dia.

PERATURAN PEMBASUHAN KAKI

Menurut kebiasaan di kalangan orang

Yahudi, kalau perayaan Paskah diadakan,

setiap keluarga menyingkirkan semua ragi,

dosa, dari rumah tangga mereka sebelum hari

pertama dari Minggu Roti Tidak Beragi (Kel.

12:15, 19, 20). Oleh sebab  itu, orang-orang

percaya haruslah mengaku segala dosanya

dan bertobat—termasuk dalamnya dosa ke-

angkuhan, perseteruan, kecemburuan, pera-

yaan jengkel, sikap mementingkan diri sendi-

ri—sebelum mereka dalam roh yang benar

mengikuti perjamuan kudus dalam pengertian

pada tingkat yang paling dalam.

sesudah  perayaan ini berakhir, Kristus

membuat peraturan pembasuhan kaki. Ia bu-

kan saja memberikan contoh untuk mereka,

namun  contoh itu haruslah mereka lakukan,

sehingga menjanjikan sebuah berkat kepada

mereka: “Jikalau kamu tahu semua ini, maka

berbahagialah kamu, jika kamu melakukan-

nya” (Yoh. 13:17). Peraturan ini, mendahului

Perjamuan Tuhan, menggenapi amanat bah-

wa semua harus memeriksa diri sendiri supa-

ya mereka jangan turut mengambil bagian

dalam perjamuan itu dalam “cara yang tidak

layak” (1 Kor. 11:27-29).

Makna Peraturan. Peraturan ini menunjuk-

kan sesuatu mengenai tugas Kristus maupun

pengalaman orang yang turut serta di dalam-

nya.

1. Sebuah peringatan dari hal kemu-

rahan Tuhan. Peraturan pembasuhan kaki

mengingatkan sikap rendah hati Kristus dan

kehinaan yang dialami-Nya ketika menjelma

menjadi kita semua , dalam pengalaman hidup-

Nya dan pelayanan-Nya.2 Walau pun Ia me-

megang jabatan yang tinggi dalam takhta

kemuliaan Bapa, Ia “telah mengosongkan di-

ri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang

hamba, dan menjadi sama dengan kita semua ”

(Flp. 2:7).

Betapa merendahnya Anak kita semua  itu,

menjadi orang yang tidak mementingkan diri

sama sekali. Ia begitu penuh kasih sayang,

hanya untuk melayani sebagian besar orang

yang hendak diselamatkan-Nya namun  meno-

lak Dia. Selama masa hidup-Nya di atas du-

nia, Setan selalu bekerja keras untuk meng-

hina-Nya dalam segala kesempatan. Betapa

siksaan yang begitu kejam dan hina ditimpa-

Perjamuan Tuhan 235

kan kepada-Nya––Seorang yang sama se-

kali tidak bercacat itu harus disalibkan se-

bagai seorang penjahat!

Hidup Kristus yaitu  hidup yang sama se-

kali tidak mementingkan diri sendiri. Ia tidak

datang “untuk dilayani, melainkan untuk me-

layani” (Mat. 20:28). Melalui perbuatan pem-

basuhan kaki Ia menunjukkan bahwa Ia mau

melakukan pelayanan yang bagaimana pun,

betapa pun rendahnya, demi menyelamatkan

umat kita semua . Dengan demikianlah Ia mena-

namkan bakti hidup-Nya dan sikap kerendah-

an hati di dalam pikiran para pengikut-Nya.

Dalam menjadikan upacara persiapan ini

dijadikan sebuah peraturan, Kristus berniat

menuntun umat percaya ke dalam suatu sua-

sana kelemah-lembutan dan cinta kasih yang

akan menggerakkan mereka untuk melayani

orang lain. Peraturan ini memberikan do-

rongan bagi orang-orang yang memantulkan

maknanya, memperlakukan orang-orang lain

dengan penuh kepekaan dan kemurahan.

Dengan mengikuti teladan yang diberikan

Kristus dalam soal pembasuhan kaki berarti

kita mengakui Roh-Nya: melayani “seorang

akan yang lain oleh kasih” (Gal. 5:13).

Walaupun kita turut serta dalam pelayanan

ini—pelayanan untuk merendahkan diri.—

bukanlah berarti menghinakan. Siapa yang

tidak mau merasakan keistimewaan mem-

bungkuk di hadapan Kristus seraya membasuh

kaki yang telah dipakukan ke kayu salib itu?

Yesus berkata, “Sesungguhnya segala se-

suatu yang kamu lakukan untuk salah se-

orang dari saudara-Ku yang paling hina ini,

kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat.

25:40).

2. Sebuah bentuk pembersihan yang

lebih tinggi. Pembasuhan bukanlah sekadar

pencucian kaki. Upacara itu melambangkan

pemurnian yang lebih tinggi—pembasuhan

hati. Ketika Petrus meminta kepada Yesus

supaya membasuh ia seluruhnya, Yesus

berkata, “Barangsiapa telah mandi, ia tidak

usah membasuh diri lagi selain membasuh

kakinya, sebab  ia sudah bersih seluruhnya”

(Yoh. 13:10).

Seorang yang sudah mandi tentulah sudah

bersih. Namun demikian, sebab  sandalnya

terbuka, maka debu dari kaki perlu segera

dibersihkan lagi. Demikian halnya murid-mu-

rid itu. Dosa-dosa mereka sudah dibersihkan

melalui baptisan, akan namun  godaan telah

membawa mereka kepada keangkuhan, ke-

cemburuan, dan kejahatan yang bersema-

yam dalam hati. Mereka belumlah siap meng-

adakan hubungan yang erat dengan Tuhannya,

begitu pula belum siap menerima perjanjian

baru yang hendak diberikan-Nya kepada me-

reka itu. Melalui upacara pembasuhan kaki

Kristus ingin menyiapkan mereka untuk

mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan.

Kecuali bagi Yudas, sang pengkhianat, hati

mereka telah dibersihkan oleh anugerah

Kristus dari keangkuhan dan rasa memen-

tingkan diri sendiri, dan mereka itu disatukan

dalam kasih satu dengan yang lain, melalui

perbuatan Yesus yang tidak mementingkan

diri, mereka merendahkan diri dan menjadi

orang yang suka belajar.

Seperti murid-murid itu, apabila kita telah

diterima Kristus dan dibaptiskan, kita telah

dibersihkan oleh darah-Nya. namun  ketika ki-

ta menjalani hidup Kristen, kita gagal. Kaki

kita berdebu. Kita harus datang kembali ke-

pada Kristus dan membiarkan anugerah-Nya

yang membersihkan itu membasuh segala

kekotoran kita. Walaupun demikian, kita ti-

dak perlu dibaptiskan kembali sebab  “tidak

usah membasuh diri lagi selain membasuh

kakinya” (Yoh. 13:10).3 Membasuh kaki—

sebagai sebuah peraturan mengingatkan kita

akan perlunya senantiasa dibersihkan dan

benar-benar kita hanya bergantung sepenuh-

nya kepada darah Kristus. Upacara pemba-

236 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

suhan kaki itu sendiri tidak dapat member-

sihkan dosa. Hanya Kristus yang dapat me-

nyucikan kita.

3. Sebuah persekutuan pengampunan.

Sikap mengampuni di antara sesama yang

turut mengambil bagian dalam pembasuhan

kaki itu menunjukkan bahwa ini melambangkan

pelayanan yang efektif. Hanyalah kalau kita

mau mengampuni maka kita dapat mengalami

pengampunan Allah. “sebab  jikalau kamu

mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang

di sorga akan mengampuni kamu juga. namun 

jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapa-

mu juga tidak akan mengampuni kesalahan-

mu” (Mat. 6:14, 15).

Yesus berkata, “Maka kamu pun wajib

saling membasuh kakimu (Yoh. 13:14). Kita

perlu saling membasuh kaki. Kita perlu

mengakui bahwa kita memerlukan pertolongan

rohani.

Apabila upacara itu sudah berlalu, maka

iman kita pun memberi rasa sejahtera sebab 

kita telah bersih, dosa-dosa kita telah diha-

puskan. Oleh siapa? Tentu oleh Kristus.

Akan namun  kawan kita seiman yang melaya-

ni kita yang melambangkan pelayanan Kris-

tus sehingga persekutuan ini menjadi perse-

kutuan untuk saling mengampuni.4

4. Sebuah persekutuan dengan Kris-

tus dan umat percaya. Upacara pembasuh-

an kaki menunjukkan kasih Kristus bagi para

pengikut-Nya “sampai kepada kesudahan-

nya” (Yoh. 13:1). Ketika Petrus menolak ka-

kinya dibasuh, Kristus menjawab, “Jikalau

Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak

mendapat bagian dalam Aku. ” (ayat 8). Ka-

lau tidak ada pembasuhan maka tidak ada

persekutuan. Barangsiapa yang mau terus

ikut dalam persekutuan dengan Kristus, ma-

ka ia harus ikut serta dalam ketetapan ini.

Pada petang hari yang sama, Yesus ber-

kata, “Aku memberikan perintah baru kepa-

da kamu, yaitu supaya kamu saling menga-

sihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu

demikian pula kamu harus saling mengasihi”

(ayat 34). Pekabaran yang ada  dalam

peraturan itu jelaslah: “Layanilah seorang

akan yang lain oleh kasih” (Gal. 5:13). Jika

kasih yang seperti ini telah menjadi milik kita

maka itu artinya kita mau mengakui dan

menempatkan sesama kita lebih tinggi dari

diri kita sendiri (Flp. 2:3). Itulah juga yang

memberikan hak kepada kita untuk mengasihi

orang yang berbeda dengan kita. Itulah yang

mengekang kita dari perasaan lebih tinggi

atau sikap pilih kasih. Gaya hidup kita me-

mantulkan kasih kita kepada sesama umat

percaya. Dengan bertelut di hadapan me-

reka, membasuh kaki mereka, kita merasa

gembira bahwa kita akan hidup bersama-sa-

ma dalam abad kekekalan. Semua orang

yang mengikuti teladan Kristus dalam per-

aturan ini akan mengalami suatu pengalaman

entah dalam corak yang bagaimanapun, mak-

na kasih seperti kasih Kristus. Dan cinta ka-

sih yang demikian dapat menjadi kesaksian

yang penuh dengan kuasa.

Seorang rahib Budha, suatu kali meminta

kepada seorang misionaris, sebuah gambaran

yang akan menggambarkan Kekristenan.

Para pelukis menghiasi sebuah gedung biara

dengan lukisan dinding dan lukisan timbul

yang menggambarkan agama-agama besar

dunia. sesudah  itu misionaris mulai memper-

lihatkan apa yang ada  dalam Yohanes

13. Rahib itu “tidak mengatakan sesuatu ke-

tika saya membaca,” kata misionaris itu me-

ngenangkan kembali, “bahwa saya merasa

aneh, merasakan ada sesuatu ketenangan

yang dahsyat, suatu kuasa dalam bagian per-

buatan Yesus waktu membasuh kaki murid-

murid-Nya.” Menurut adat-istiadat setempat,

membicarakan soal membasuh kaki di ha-

dapan umum dianggap tidak tahu etiket.

Perjamuan Tuhan 237

“Ketika saya selesai membaca, suasana

terasa amat hening. Ia menatap saya seraya

matanya menunjukkan rasa kurang percaya,

lalu berkata, “Maksudmu, Pendiri agamamu

itu membasuh kaki murid-murid-Nya?”

Saya menjawab, “‘Ya,’ Semua wajah

menjadi pucat, terkejut dan terheran-heran.

Ia diam, saya pun diam. Kami tercekam da-

lam peristiwa itu. Ketika saya memperhati-

kan wajahnya kembali, rasa tidak percaya itu

berangsur-angsur berubah menjadi rasa hor-

mat. Yesus, sang Pendiri agama Kristen, te-

lah menjamah dan membasuh kaki nelayan

yang kotor: sesudah  beberapa lama ia mulai

dapat mengendalikan dirinya dan lalu  ia

berdiri. ‘Nah, sekarang saya baru dapat me-

nangkap hakikat agama Kristen.”5

PERAYAAN PERJAMUAN TUHAN

Nama yang paling umum dikenal untuk

Perjamuan di kalangan orang Protestan ialah

“Perjamuan (meja) Tuhan” (1 Kor. 11:20).

sedang  sebutan yang lain yang mereka

gunakan ialah “dalam perjamuan (meja)

Tuhan” (1 Kor. 10:21) “memecah-mecahkan

roti” (Kis. 20:7; 2:42),6 dan, Ekaristi—aspek

upacara ucapkan syukur dan berkat (Mat.

26:26, 27; 1 Kor. 10:16; 11:24).

Perjamuan Tuhan yaitu  waktu untuk

bersuka-suka, bukan waktu untuk bermuram-

durja. Yang mendahului upacara pembasuhan

kaki ini ialah saat pemeriksaan diri, penga-

kuan dosa-dosa, perdamaian atas perbedaan

dan juga saat untuk mengampuni. Kalau su-

dah menerima jaminan penyucian oleh darah

Juruselamat, maka umat yang percaya itu si-

ap masuk ke dalam perjamuan istimewa ber-

sama Tuhannya. Mereka akan menggabung-

kan diri ke meja perjamuan-Nya dengan hati

yang gembira, berdiri dalam terang kesela-

matan, bukan di bawah bayang-bayang salib

itu, dan siap merayakan penebusan Kristus.

Makna Perjamuan Tuhan. Perjamuan Tu-

han menggantikan pesta Paskah dari era per-

janjian lama. Paskah itu digenapi ketika

Kristus Domba Paskah itu menyerahkan

nyawa-Nya. Sebelum kematian-Nya, Yesus

Kristus mendirikan gantinya, pesta perayaan

Israel rohani di bawah perjanjian baru. Oleh

sebab  itu, akar lambang Perjamuan Tuhan

merupakan perluasan yang bermula dari upa-

cara Paskah.

1. Peringatan kelepasan dari dosa.

Kalau pesta Paskah mengingatkan kembali

kelepasan bangsa Israel dari perhambaan di

Mesir, maka Perjamuan Tuhan mengingatkan

kelepasan dari Mesir rohani, perhambaan do-

sa.

Darah domba Paskah dipercikkan ke am-

bang pintu untuk melindungi penghuni rumah

dari maut; dagingnya dijadikan makanan

yang menguatkan tubuh mereka ketika me-

nyelamatkan diri dari Mesir (Kel. 12:3-8).

Demikianlah korban Kristus mendatangkan

kelepasan dari maut; umat percaya diselamat-

kan sebab  turut mengambil bagian dalam

tubuh dan darah-Nya (Yoh. 6:54). Perjamuan

Tuhan mengumumkan bahwa kematian

Kristus di kayu salib menyediakan kesela-

matan bagi kita, menyediakan keampunan

dan menjamin kehidupan yang kekal.

Yesus berkata, “Perbuatlah ini menjadi

peringatan akan Aku” (1 Kor. 11:24). Per-

aturan ini menekankan dimensi pengganti

pendamaian Kristus. “Inilah tubuh-Ku,” kata

Yesus, “yang diserahkan bagi kamu” (1 Kor.

11:24; bandingkan Yes. 53:4-12). Di atas ka-

yu salib Yang Tidak Mengenal Dosa (In-

nocent) itu menjadi pengganti bagi orang

yang bersalah, Yang Benar bagi orang yang

tidak benar. Tindakan yang penuh kemurahan

hati ini memuaskan tuntutan hukum—sebab 

maut bagi orang yang berdosa—menyediakan

pengampunan, damai dan jaminan hidup ke-

238 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

kal bagi orang berdosa yang bertobat. Salib

itulah yang menghapuskan hukuman yang

seharusnya kita tanggung dan menyediakan

jubah kebenaran Kristus bagi kita, serta me-

ngaruniai kita kuasa untuk mengalahkan ke-

jahatan.

a. Roti dan buah anggur. Yesus meng-

gunakan banyak perbandingan atau metafora

untuk mengajarkan kebenaran-kebenaran

yang beragam mengenai diri-Nya sendiri. Ia

berkata, “Akulah pintu” (Yoh. 10:7), “Akulah

jalan” (Yoh. 15:1), dan “Akulah roti hidup”

(Yoh. 6:35). Janganlah kita mengartikan ung-

kapan ini secara harfiah sebab  Ia tidak hadir

pada setiap pintu, jalan atau anggur. Sebalik-

nya, hal-hal itulah yang menggambarkan

kebenaran yang lebih dalam.

Pada waktu Ia memberi makan 5000

orang dengan cara mukjizat, Yesus menya-

takan dalamnya makna tubuh dan darah-

Nya. Roti yang sejati itu dikatakan-Nya, “Se-

sungguhnya bukan Musa yang memberikan

kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku

yang memberikan kamu roti yang benar dari

surga. sebab  roti yang dari Allah ialah roti

yang turun dari surga dan yang memberi

hidup kepada dunia. Maka kata mereka ke-

pada-Nya: Tuhan, berikanlah kami roti itu

senantiasa. Kata Yesus kepada mereka:

Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepa-

da-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsia-

pa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus

lagi (Yoh. 6:32-35). Ia memberikan tubuh dan

darah-Nya untuk memuaskan lapar dan da-

haga kita yang paling kita perlukan dan ha-

rapkan (Yoh. 6:50-54).

Roti dan anggur Paskah yang dimakan

dan diminum Kristus tidak beragi.7 Ragi yang

menghasilkan peragian sehingga roti meng-

gembung, dianggap sebagai lambang dosa (1

Kor. 5:7, 8), sehingga tidak cocok menggam-

barkan Domba “yang tak bernoda dan tak

bercacat” (1 Ptr. 1:19).8  Yang dapat melam-

bangkan tubuh Kristus yang tidak bercacat

cela dan tak berdosa itulah roti yang “tidak

beragi.” Begitu pula dengan anggur, hanya

buah anggur yang tidak beragi yang pantas

melambangkan darah Kristus yang sempurna,

yang dapat membasuh, yaitu darah sang Ju-

ruselamat.9

b. Makan dan minum. “Sesungguhnya

jikalau kamu tidak makan daging Anak Ma-

nusia dan minum darah-Nya, kamu tidak

mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsia-

pa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia

mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan

membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh.

6:53, 54).

Memakan daging Kristus dan meminum

darah-Nya yaitu  bahasa simbolis bagi per-

paduan firman Allah, di mana umat percaya

berhubungan dengan surga serta menyang-

gupkan mereka memperoleh kehidupan ro-

hani. Ia berkata, “Perkataan-perkataan yang

Kukatakan kepadamu yaitu  roh dan hidup”

(Yoh. 6:63). “kita semua  hidup bukan dari roti

saja, namun  dari setiap firman yang keluar dari

mulut Allah” (Mat. 4:4).

Umat percaya yang dikatakan makan tu-

buh Kristus, yakni roti hidup itu, melalui turut

sertanya dalam firman hidup itu—Alkitab.

Dengan firman itulah diperoleh kuasa pem-

beri hidup dari Kristus. Dalam upacara Per-

jamuan kita turut mengambil bagian, bersatu

dengan firman-Nya melalui Roh Kudus. Itu-

lah sebabnya pemberitaan firman mengikuti

setiap Perjamuan Tuhan.

sebab  kita memperoleh faedah dari kor-

ban pendamaian Kristus melalui iman, maka

Perjamuan Tuhan lebih dari sekadar menge-

nangkan. Keikutsertaan dalam upacara Per-

jamuan berarti menguatkan kembali hidup

kita melalui kuasa penunjang Kristus sehing-

ga memberikan kegembiraan hidup kepada

Perjamuan Tuhan 239

kita. Pendek kata, perlambang itu menunjuk-

kan bahwa “kita bergantung kepada Kristus

dalam kehidupan rohani sebagaimana kita

memerlukan makanan dan minuman hidup

jasmani.”10

Pada waktu mengikuti Perjamuan Kudus

kita gunakan cawan “pengucapan syukur” (1

Kor. 10:16). Ini berarti bahwa sebagaimana

Kristus “mengucapkan syukur” atas cawan

itu (Mat. 26:27), begitu pulalah kita menyata-

kan syukur kita atas darah Yesus.

2. Perjamuan dengan Kristus. Di te-

ngah-tengah dunia yang penuh dengan per-

gumulan dan perpecahan, partisipasi kita da-

lam upacara ini turut memadukan serta me-

ngukuhkan jemaat, menunjukkan perjamuan

sejati dengan Kristus dan sesama. Paulus

menekankan soal perjamuan ini sebagai ber-

ikut, “Bukankah cawan pengucapan syukur,

yang atasnya kita ucapkan syukur, yaitu 

persekutuan dengan darah Kristus? Bukan-

kah roti yang kita pecah-pecahkan yaitu 

persekutuan dengan tubuh Kristus? sebab 

roti yaitu  satu, maka kita, sekalipun banyak,

yaitu  satu tubuh, sebab  kita semua menda-

pat bagian dalam roti yang satu itu.” (1 Kor.

10:16, 17).

“Yang disinggungnya di sini ialah kenya-

taan bahwa roti perjamuan dipecah-pecah

menjadi bagian-bagian kecil, yang lalu 

dimakan umat percaya, dan sebab  potongan-

potongan roti itu berasal dari roti yang sama,

maka semua orang yang percaya yang turut

serta dalam upacara perjamuan itu disatukan

di dalam Dia sebab  tubuh yang dipecah itu

dilambangkan dengan roti yang dipecah-

pecahkan. Dengan turut sertanya dalam per-

aturan ini, orang Kristen menunjukkan ke-

pada khalayak bahwa mereka disatukan dan

masuk dalam keluarga besar, yang dikepalai

Kristus.”11

Semua anggota jemaat harus turut serta

dalam perjamuan yang suci ini sebab  di

sanalah, melalui Roh Kudus, “Kristus berte-

mu dengan umat-Nya, memberi kekuatan

kepada mereka dengan kehadiran-Nya. Hati

dan tangan yang tidak layak mungkin mela-

yani upacara itu, namun demikian, Kristus

ada di waktu melayani anak-anak-Nya. Se-

mua orang yang ikut serta dengan iman yang

ditujukan kepada Kristus akan memperoleh

berkat yang besar. Semua orang yang mere-

mehkan saat kesempatan pertemuan yang

khusus dengan yang Ilahi itu akan kehilangan.

Mengenai mereka itu dapatlah dikatakan.

“Semua kamu tidak suci.”12

Kita merasakan suatu pengalaman yang

mendalam dan menguatkan pada perjamuan

di meja Perjamuan Tuhan. Di sinilah kita ber-

diri di atas dasar yang lama, segala rintangan

pemisah antara kita runtuh. Di sinilah kita me-

nyadari bahwa bila berada di tengah-tengah

masyarakat banyak yang memisahkan kita,

sedang  bila berada dalam Kristus, terda-

patlah segala sesuatu yang diperlukan untuk

menyatukan kita. Ketika Yesus menyam-

paikan cawan Perjamuan kepada murid-mu-

rid-Nya, sebuah perjanjian yang baru diberi-

kan kepada mereka. Ia berkata, “Minumlah,

kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah da-

rah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan

bagi banyak orang untuk pengampunan do-

sa” (Mat. 26:27, 28; bandingkan Luk. 22:20).

Sebagaimana perjanjian lama disahkan oleh

darah korban-korban hewan (Kel. 24:8), de-

mikianlah perjanjian baru disahkan oleh darah

Kristus. Dengan ketetapan baru ini orang-

orang percaya membaharui tekad setia me-

reka kepada Tuhan, dengan pengakuan yang

baru bahwa mereka yaitu  satu bagian dari

persetujuan yang mengagumkan, dan dengan

itu, di dalam Yesus, Allah menyatukan diri-

Nya dengan kita semua . Dengan ikut sertanya

dalam perjanjian ini, mereka memiliki sesuatu

yang patut dirayakan. Dengan demikianlah

240 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

Perjamuan Tuhan menjadi sebuah peringatan

dan pengucapan syukur atas pemeteraian

perjanjian kekal dari anugerah itu. Berkat-

berkat yang diterima menjadi berimbang

dengan iman pesertanya.

3. Antisipasi atas Kedatangan Kedua

Kali. “Sebab setiap kali kamu makan roti ini

dan minum cawan ini, kamu memberitakan

kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Kor.

11:26). Upacara Perjamuan merentang wak-

tu antara Golgota dan Kedatangan Kedua

kali. Yang dihubungkannya ialah salib dan ke-

rajaan itu. Dihubungkannya “yang sudah siap

sedia”dan “yang belum,” yang merupakan in-

ti pandangan dunia Perjanjian Baru. Disatu-

kannya korban Juruselamat dan kedatangan-

Nya yang kedua kali—keselamatan yang di-

sediakan dan keselamatan sempurna. Di-

nyatakannya bahwa Kristus hadir melalui

Roh sampai kedatangan-Nya nanti dapat dili-

hat dengan nyata.

Pernyataan Kristus, “Mulai dari sekarang

Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur

ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu

yang baru, bersama-sama dengan kamu da-

lam Kerajaan Bapa-Ku” (Mat. 26:29), meru-

pakan sebuah nubuat. Iman kita ditujukan ke-

pada perayaan Perjamuan mendatang bersa-

ma Juruselamat di dalam kerajaan yang dijan-

jikan. Peristiwa pesta raya “perjamuan kawin

Anak Domba” (Why. 19:9). Untuk menyong-

song peristiwa ini Kristus memberikan petun-

juk, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat

dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah

kamu sama seperti orang-orang yang menan-

ti-nantikan tuannya yang pulang dari perka-

winan, supaya jika ia datang dan mengetok

pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbaha-

gialah hamba-hamba yang didapati tuannya

berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata

kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat

pinggangnya dan mempersilakan mereka du-

duk makan, dan ia akan datang melayani me-

reka” (Luk. 12:35-37).

Kristus akan merayakan Perjamuan ber-

sama pengikut-pengikut-Nya di meja perja-

muan seperti yang pernah dilakukan-Nya di

Yerusalem. Sudah lama Ia menanti-nanti ke-

sempatan seperti ini, dan sekarang kesempatan

itu sudah tersedia. Ia bangkit dari takhta-Nya

dan berjalan untuk melakukan pelayanan.

Rasa kagum mengelilingi semuanya. Mereka

benar-benar merasakan bahwa sesungguhnya

tidak layak menerima kehormatan seperti pe-

layanan yang diberikan Kristus. Mereka

mengajukan protes seraya berkata, “Biarlah

kita yang melayani!” namun  dengan tenang

Kristus menyuruh mereka duduk dan diam.

“Tiada kebesaran sejati yang lebih besar

dari peristiwa perjamuan Tuhan di dunia bagi

Kristus, tatkala Ia mengambil tempat sebagai

pelayan serta merendahkan diri-Nya. Tiada

yang lebih besar bagi Kristus, di surga, dari

saat apabila Ia melayani orang-orang sa-

leh.”13 Inilah pengharapan puncak yang di-

arahkan Perjamuan Tuhan itu kepada kita,

suatu kegembiraan atas kemuliaan Tuhan

melalui persekutuan pribadi dengan Kristus

dalam kerajaan-Nya yang kekal itu.

Syarat untuk Turut Serta. Dua ketetapan

besar dalam pelayanan iman Kristen—bap-

tisan dan Perjamuan Tuhan. Yang pertama

merupakan pintu gerbang masuk ke dalam

jemaat, sedang  yang berikutnya berfaedah

bagi orang yang menjadi anggotanya.14 Kris-

tus mengadakan Perjamuan hanya kepada

orang yang mengaku sebagai pengikut-peng-

ikut-Nya. Upacara Perjamuan diperuntukkan

bagi orang Kristen yang beriman. Anak-anak

yang belum dibaptiskan tidak biasa diikutkan

dalam upacara ini.15

Alkitab mengajarkan kepada orang-orang

yang beriman supaya menyelenggarakan ke-

tetapan ini dengan penuh hormat dan pujian

Perjamuan Tuhan 241

kepada Tuhan, sebab  seseorang yang “de-

ngan cara yang tidak layak makan roti dan

minum cawan ... ia berdosa terhadap tubuh

dan darah Tuhan” (1 Kor. 11:27). “Cara yang

tidak layak” termasuk di dalamnya “tindak-

tanduk yang tidak sepantasnya (baca ayat

21) atau yang kurang beriman dalam korban

pendamaian Kristus.”16 Tingkah laku yang

demikian menunjukkan rasa tidak hormat

kepada Tuhan dan dapat dianggap sebagai

penolakan terhadap Juruselamat sehingga

merupakan bagian dari kesalahan yang dila-

kukan orang yang menyalibkan Dia.

Keikutsertaan yang tidak pada tempatnya

akan mendatangkan ketidaksenangan Tuhan.

Barangsiapa yang makan dan minum dalam

cara yang tidak layak berarti “menghakimkan”

diri mereka sendiri, “tanpa mengakui tubuh

Tuhan” (1 Kor. 11:29). Mereka gagal mem-

bedakan antara makanan sehari-hari dan

perlambang yang dikhususkan untuk melam-

bangkan kematian yang mendatangkan pen-

damaian yang dilakukan Kristus. “Orang

yang beriman janganlah memperlakukan

upacara yang ditetapkan itu hanya sekadar

upacara peringatan sebab  adanya peristiwa

sejarah. Upacara ini lebih dibandingkan  sekadar

peristiwa, itulah yang mengingatkan bagai-

mana dosa telah membuat Allah berkorban

dan betapa kita semua  berutang budi kepada

Juruselamat. Peristiwa itu juga berarti bahwa

umat percaya harus tetap mengingat dalam

benak mereka tanggung jawab menyampai-

kan kesaksian kepada khalayak atas imannya

dalam kematian pendamaian yang dilakukan

Anak Allah.”17

Mengingat hal inilah rasul Paulus menasi-

hatkan orang beriman supaya “menguji diri-

nya sendiri” sebelum turut mengambil bagian

dalam Perjamuan Tuhan (1 Kor. 11:28). Se-

belum ikut serta, umat percaya itu harus

berdoa mengamati dengan saksama penga-

laman Kristiani mereka, mengaku dosa-dosa

mereka dan memulihkan hubungan yang pa-

rah.

Pengalaman para pelopor Advent menun-

jukkan betapa berkat besar yang dihasilkan

oleh syarat yang cermat itu: “Ketika anggota

kita masih sedikit jumlahnya, pelaksanaan

upacara itu digunakan sebagai peristiwa yang

sangat berfaedah. Hari Jumat sebelumnya,

tiap-tiap anggota jemaat berusaha menjernih-

kan segala sesuatu yang mungkin memisah-

kannya dari sesama dan dari Tuhan. Hati di-

teliti dengan saksama; berdoa kepada Tuhan

agar dosa-dosa yang tersembunyi dinya-

takan apakah telah dipersembahkan dengan

sungguh-sungguh; pengakuan atas dagang

yang berlebih-lebihan, atau mengucapkan

kata-kata yang menyakitkan dan ceroboh,

dosa yang masih tetap didambakan, semuanya

telah dilakukan. Tuhan datang dekat, dan kita

dikukuhkan dan diberi keberanian yang be-

sar.”18

Pemeriksaan ini merupakan sebuah pe-

kerjaan yang bersifat pribadi. Tidak ada

orang lain yang dapat melakukannya untuk

seseorang, sebab  siapakah yang dapat

membaca hati atau membedakan lalang dari

padi? Kristus, teladan kita, menolak sikap

eksklusifisme di Perjamuan. Walaupun dosa

yang terang-terangan membuat seseorang

tidak diperkenankan ikut mengambil bagian

(1 Kor. 5:11). Yesus sendiri makan bersama

dengan Yudas—yang secara lahiriah meng-

aku murid, padahal secara batiniah ia seorang

pencuri dan pengkhianat.

Apakah tanda seseorang layak mengikuti

upacara Perjamuan, yaitu  keadaan hati—

sebuah penyerahan penuh kepada Kristus

dan beriman atas pengorbanan-Nya, bukannya

menjadi anggota pada gereja tertentu. Alha-

sil, orang-orang Kristen yang beriman dari

semua jemaat dapat mengambil bagian dalam

Perjamuan Tuhan. Semua diundang untuk

mengikuti perayaan agung perjanjian baru ini

242 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .

sedapat-dapatnya, dan dengan keikutsertaan

mereka itulah bersaksi atas penerimaan me-

reka kepada Kristus sebagai Juruselamat

mereka pribadi.19

____________________________

1. Baca tulisan Robert Odom, “The First Celebration of the Ordinance of the Lord’s House,” Ministry, Januari 1953,

hlm. 20; White, Desire of Ages, hlm. 643-646.

2 . Ibid., hlm. 650.

3. Ada hubungan antara baptisan dengan perjamuan Tuhan. Baptisan sebagai syarat masuk menjadi anggota jemaat,

sedang  upacara pembasuhan kaki dilakukan orang yang sudah menjadi anggota jemaat. Selama upacara ini kita

dapat merenungkan secara layak janji Baptisan kita.

4. Baca tulisan C. Mervyn Maxwell, “A Fellowship of Forgiveness,” Review and Herald, 29 Juni 1961,hlm. 6, 7.

5. Jon Dybdahl, Missions: A Two-Way Street (Boise, ID: Pacific Press, 1986), hlm. 28.

6. Walaupun menurut pengertian umum Kisah 20:7 pernyataan itu menunjuk kepada penyelenggaraan Perjamuan

Tuhan tidaklah secara eksklusif menunjuk kepada ketetapan ini. Di dalam Luk. 24:35 yang dinyatakannya ialah

makanan sehari-hari.

7. berdasar  dugaan bahwa orang yang hidup pada zaman Alkitab tidak dapat menyimpan air anggur untuk waktu

yang agak lama dalam iklim yang panas (di Israel) dari waktu musim menuai, hingga Paskah pada musim semi

sehingga orang-orang Yahudi terpaksa mengadakan Paskah dengan anggur beragi. Anggapan ini tidak beralasan.

Sejak zaman dahulu telah ditemukan orang banyak cara untuk mengawetkan sari buah sehingga tidak terkena ragi

dan dapat dipelihara dalam waktu yang lama dengan pelbagai metode. Salah satu cara ialah mengkonsentrasikan

sari buah menjadi sirop melalui pemanasan. Disimpan di tempat yang dingin sehingga konsentrasinya tidak

meragi. Sari buah yang ditambah dengan air akan membuatnya “anggur manis” yang tidak beralkohol. Baca tulisan

William Patton, Bible Wines—Laws of Fermentation (Oklahoma City, OK: Sane Press, n.d.). hlm. 24-41; baca

juga Christoforides, “More on Unfermented Wine,” Ministry, April 1955, hlm. 34; Lael O. Caesar, “The Meaning

of Yayin in the Old Testament” (Unpublished M.a. Thesis, Andrews Univeristy, 1986), hlm. 74-77; White, Desire

of Ages, hlm. 653. Anggur Paskah dapat juga dibuat dari kismis (F.C. Gilbert, Practical Lessons From the

Experience of Israel for the Church of Today, Nashville, TN: Southern Publ. Assn., 1972, hlm. 240, 241.

8. Dalam kaitan ini bukanlah tanpa makna bahwa Kristus menghindari penggunaan kata yang biasa untuk anggur

(Yunani, oinos) melainkan memakai  frase “buah anggur” (Mrk. 14:25). Sementara oinos dapat menunjuk

kepada anggur dengan raginya, begitu juga kepada anggur yang tidak beragi, dengan mengatakan buah anggur maka

yang dimaksudkan ialah sari buah yang murni—lambang yang pantas bagi darah Kristus, yang menyebut diri-Nya

“Anggur yang sejati’ (Yoh. 15:1).

9. Ragi juga menyebabkan peragian sari buah anggur,  Spora  ragi, dapat dibawa lewat udara atau melalui serangga, me-

lekatkan dirinya ke kulit anggur. Jadi waktu anggur digiling maka spora itu berbaur dengan sari buah. Ragi itu de-

ngan cepat berlipat-ganda, membuat anggur beragi (baca Martin S. Peterson, Arnold H. Johnson, ed., Encyclo-

pedia of Food Technology, CT.: Avi Publishing Co., 1974), vol. 2, hlm. 61-69; idem, Encyclopedia of Food

Science (Westport, CT.: Avi Publishing Co., 1978), vol. 3, hlm. 878).

10. R. Rice, Reign of God, hlm. 303.

11. SDA Bible Commentary, edisi revisi, vol. 6, hlm. 746.

12. White, Desire of Ages, hlm. 656, bnd hlm. 661.

13. ML Andreasen, “The Ordinances of the Lord’s House,” Ministry, Jan. 1947, hlm. 44, 46.

14. Bnd White, Evangelism (Washington, D.C.: Review and Herald, 1946), hlm. 273.

15. Lihat Frank Holbrook, “For Members Only?” Ministry, Februari 1987, hlm. 13.

16. SDA Bible Commentary, edisi revisi, vol. 6, hlm. 765.

17. Ibid

18. White, Evangelism, hlm. 274; bnd SDA Bible commentary, edisi revisi, vol. 6, hlm. 765.

19. Alkitab tidak menjelaskan secara rinci berapa sering Perjamuan Tuhan itu diadakan (baca 1 Kor. 11:25, 26).

Umumnya gereja Advent mengikuti kebiasaan yang dilakukan dalam gereja Protestan lainnya, 4 kali setahun.

“Mengapa diadakan triwulan, umat Advent yang mula-mula menganggap jika upacara ini dilakukan terlalu sering

maka maknanya menjadi hilang, berbahaya dan menjadi sekadar formalitas belaka.” Mungkin itulah keputusan

jalan tengah—antara penyelenggaraan yang terlalu sering dengan penyelenggaraan yang terlalu renggang setahun

sekali (W.R. Read, “Frequency of the Lord’s Supper,” Ministry, April 1955, hlm. 43).

Karunia Rohani dan  Tugas Pelayanan 243

Allah mencurahkan karunia rohani kepada seluruh kelompok umur

anggota jemaat-Nya di mana setiap anggota mengambil bagian da-

lam pelayanan penuh kasih demi kebaikan jemaat dan kita semua . Ka-

runia rohani itu diberikan melalui Roh Kudus, yang diberikan secara

adil kepada setiap anggota menurut kehendak-Nya, pemberian yang

akan menyanggupkan serta melayani segala keperluan jemaat untuk

melaksanakan fungsi yang ditugaskan Ilahi. Menurut Alkitab, karu-

nia-karunia ini termasuk pelayan iman