doktrin dasar alkitab 13
, penyembuhan, nubuat, peng-
umuman, pengajaran, pe-laksanaan, pendamaian, perasaan kasih-
an, pelayanan pengorbanan diri serta kedermawanan untuk mem-
bantu dan meneguhkan orang. Sebagian anggota dipanggil Allah ser-
ta dikaruniai Roh untuk melaksanakan tugas yang diakui jemaat
selaku gembala jemaat, pekerja Injil, rasul-rasul, dan mengajar jema-
at secara khusus untuk melengkapi anggota jemaat melakukan tugas
pelayanan yang diperlukan, untuk membangun jemaat kepada kema-
tangan rohani, membantu perkembangan kesatuan iman dan penge-
tahuan akan Allah. Apabila setiap anggota jemaat memakai
karunia rohani ini sebagai penatalayan yang setia akan pelbagai ra-
gam anugerah Allah, maka gereja dilindungi dari pengaruh yang me-
rusak dari pengajaran yang palsu, dan jemaat akan berkembang de-
ngan perkembangan yang berasal dari Allah, dan dibangun dalam
iman dan kasih.—Fundamental Beliefs,—17.
245
P erkataan Yesus yang diucapkan saat
sebelum Ia naik ke surga telah meng-
ubah sejarah. “Pergilah ke seluruh dunia,”kata-
Nya kepada murid-murid, “beritakanlah Injil
kepada seluruh makhluk” (Mrk. 16:15).
Ke seluruh dunia? Kepada setiap makh-
luk? Para murid menganggapnya sesuatu tu-
gas yang mustahil dilakukan. sebab Kristus
mengetahui keadaan mereka yang tidak ber-
daya, Ia menyuruh mereka supaya tetap di
Yerusalem “menantikan janji Bapa.” Kemu-
dian diberikan-Nya janji kepada mereka,
“namun kamu akan menerima kuasa, kalau
Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu
akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di
seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke
ujung bumi” (Kis. 1:4, 8).
sesudah Yesus naik ke surga maka murid-
murid memakai banyak waktu untuk
berdoa. Sikap merendahkan diri dan kehar-
monisan menggantikan sikap iri dan pertikaian
yang telah menodai banyak waktu mereka
pada zaman Yesus. Murid-murid itu sudah
bertobat. Hubungan mereka yang erat de-
ngan Kristus menghasilkan persatuan yang
memang mereka perlukan untuk menghadapi
kecurahan Roh Kudus.
Sebagaimana Yesus menerima pengu-
rapan khusus dengan Roh yang melayakkan-
Nya untuk melakukan tugas pelayanan (Kis.
10:38), demikian pulalah murid-murid itu me-
nerima baptisan Roh Kudus (Kis. 1:5) untuk
menyanggupkan mereka memberikan kesak-
sian. Hasilnya sungguh menggetarkan. Pada
saat mereka menerima karunia Roh Kudus,
mereka membaptiskan tiga ribu orang (baca
Kis. 2:41).
KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Kristus menggambarkan karunia Roh
Kudus dengan sebuah perumpamaan: “Sebab
hal kerajaan Sorga sama seperti seorang
yang mau bepergian ke luar negeri, yang me-
manggil hamba-hambanya dan memperca-
yakan hartanya kepada mereka. Yang seo-
rang diberikannya lima talenta, yang seorang
lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, ma-
sing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia
berangkat”(Mat. 25:14, 15).
BAB 17
KARUNIA ROHANI DAN
TUGAS PELAYANAN
246 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ....
Orang yang bepergian ke luar negeri itu
menggambarkan Kristus yang berangkat ke
surga. Yang disebut “hamba-hambanya” ia-
lah murid-murid-Nya yang “telah dibeli dan
harganya telah lunas dibayar” (1 Kor. 6:20)
dengan “darah yang mahal yaitu darah Kris-
tus,” (1 Ptr. 1:19). Kristus menebus mereka
untuk melayani, dan mereka hidup “tidak lagi
hidup untuk dirinya sendiri, namun untuk Dia,
yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk
mereka” (2 Kor. 5:15).
Kristus memberikan talenta kepada ma-
sing-masing sesuai dengan kemampuannya,
dan “masing-masing dengan tugasnya”
(Mrk. 13:34). Begitu juga dengan karunia dan
kemampuan lain (baca Bab 20), talenta ini
menggambarkan pemberian khusus yang di-
bagi-bagikan oleh Roh.1
Dalam pengertian khusus, Kristus mem-
berikan karunia-karunia rohani ini kepada je-
maat-Nya pada waktu Pentakosta. “Tatkala
Ia naik ke tempat tinggi,”kata Paulus, “Ia
memberikan pemberian-pemberian kepada
kita semua .” Dengan demikian, “kepada kita
masing-masing telah dianugerahkan kasih
karunia menurut ukuran pemberian Kristus”
(Ef. 4:8, 7). Roh Kudus yaitu perantara
yang membagi-bagikan “kepada tiap-tiap
orang secara khusus, seperti yang dikehen-
daki-Nya” (1 Kor 12:11) pemberian-pembe-
rian ini untuk menyanggupkan jemaat me-
laksanakan tugasnya.
TUJUAN PEMBERIAN KARUNIA
ITU
Roh Kudus memberikan kemampuan
khusus kepada anggota untuk menyanggupkan
mereka membantu jemaat memenuhi tugas
yang diberikan Ilahi.
Keselarasan Dalam Jemaat. Jemaat Ko-
rintus tidak kekurangan karunia rohani mana
pun (1 Kor 1:4, 7). Sayangnya, mereka ber-
tengkar seperti anak-anak mengenai pembe-
rian mana yang paling penting.
Mengenai perpecahan yang terjadi dalam
jemaat, Paulus menulis kepada orang-orang
Korintus mengenai sifat pemberian-pemberian
ini yang sebenarnya, dan bagaimana seharus-
nya mereka melaksanakan fungsinya. Karu-
nia-karunia rohani, kata Paulus menjelaskan,
yaitu pemberian anugerah. Dari Roh yang
sama turunlah “rupa-rupa karunia yang bera-
gam-ragam,” sehingga ada “rupa-rupa pela-
yanan” dan “ada berbagai-bagai perbuat-
an.”Akan namun , Paulus menekankan bahwa
“yaitu satu yang mengerjakan semuanya
dalam semua orang” (1 Kor. 12:4-6).
Roh membagi-bagikan karunia kepada
setiap orang percaya—untuk menguatkan
iman atau membangun jemaat. Keperluan-
keperluan dalam pekerjaan Tuhan menentu-
kan apa yang dibagikan Roh dan kepada
siapa. Tidak semua orang menerima karunia
yang sama. Paulus mengatakan bahwa Roh
memberikan kepada seorang, akal budi ke-
pada yang lain kemampuan mengadakan
mukjizat, ada lagi yang mendapat karunia
nubuat, roh untuk menyelidik, yang lain lagi
mendapat karunia lidah sementara yang lain
diberi kemampuan menafsirkan karunia li-
dah. “namun semuanya ini dikerjakan oleh
Roh yang satu dan yang sama, yang mem-
berikan karunia kepada tiap-tiap orang seca-
ra khusus, seperti yang dikehendaki-Nya”
(ayat 11). Rasa syukur atas karunia yang be-
kerja di dalam jemaat haruslah ditujukan ke-
pada Pemberi karunia itu, bukan berterima
kasih kepada orang yang menjalankan pem-
berian itu. sebab pemberian-pemberian itu
diberikan kepada jemaat bukan untuk indi-
vidu, maka penerimanya janganlah meng-
anggap pemberian itu merupakan milik me-
reka sendiri.
sebab Roh membagi-bagikan karunia
Karunia Rohani dan Tugas Pelayanan 247
sesuai dengan pemandangan-Nya, maka ti-
dak boleh ada pemberian yang diremehkan
atau dihinakan. Tidak boleh ada anggota je-
maat merasa sombong sebab pengangkatan
khusus atau sebab jabatan dan tugas terten-
tu, begitu pula janganlah seorang pun merasa
rendah sebab diberi kedudukan yang seder-
hana.
1. Pola Kerjanya. Paulus memakai
tubuh kita semua untuk menggambarkan kese-
larasan dalam pemberian yang beraneka-
ragam itu. Tubuh mempunyai anggota yang
masing-masing mempunyai peranan dalam
satu cara yang unik. “namun Allah telah
memberikan kepada anggota, masing-ma-
sing secara khusus, suatu tempat pada tubuh,
seperti yang dikehendaki-Nya” (ayat 18).
Tidak satu pun anggota tubuh itu berkata
kepada satu dengan yang lain “Aku tidak
membutuhkan engkau!” Mereka saling ber-
gantung dan “malahan justru anggota-anggo-
ta tubuh yang nampaknya paling lemah, yang
paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-ang-
gota tubuh yang menurut pemandangan kita
kurang terhormat, kita berikan penghormatan
khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh ang-
gota-anggota kita yang elok. Allah telah me-
nyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga ke-
pada anggota-anggota yang tidak mulia dibe-
rikan penghormatan khusus. (ayat 21-24).
Kegagalan anggota tubuh yang mana pun
akan mempengaruhi keseluruhan tubuh. Ka-
lau tubuh tidak mempunyai otak maka perut
pun tidak akan berfungsi; dan jika tidak ada
perut maka otak pun tidak berguna. Gereja
akan mengalami kesulitan jika ada anggota
walaupun kecil, hilang peranannya.
Bagian-bagian tubuh tertentu yang secara
struktur lemah memerlukan perlindungan is-
timewa. Seseorang mungkin saja masih ber-
fungsi tanpa sebuah tangan atau kaki, namun
bukan tanpa hati, jantung atau paru. Pada
umumnya kita membiarkan wajah kita ter-
buka, juga tangan kita, namun anggota-ang-
gota tubuh yang lain kita tutupi dengan pa-
kaian agar tetap terpelihara dengan baik dan
tidak rusak. Karunia-karunia yang kecil ja-
nganlah diremehkan, kita harus memperla-
kukannya dengan pemeliharaan yang lebih
cermat sebab dengan sehatnya mereka, je-
maat bergantung atasnya.
Allah bermaksud pembagian karunia da-
lam jemaat untuk mencegah “perpecahan da-
lam tubuh” dan menghasilkan roh yang har-
monis dan ketergantungan, supaya dengan
demikian “anggota-anggota yang berbeda itu
saling memperhatikan. sebab itu jika satu
anggota menderita, semua anggota turut
menderita; jika satu anggota dihormati, se-
mua anggota turut bersukacita” (ayat 25, 26).
Oleh sebab itu, apabila seorang yang. ber-
iman mengalami derita, maka
,
seluruh jema-
at itu haruslah diingatkan akan hal itu dan si-
ap membantu meringankan penderitaannya.
Hanyalah dengan pemulihan anggota ini je-
maat akan menjadi sehat dan aman kembali.
sesudah membicarakan nilai setiap karunia
ini, Paulus membuat daftar pemberian itu se-
bagai berikut: “Dan Allah telah menetapkan
beberapa orang dalam Jemaat: pertama se-
bagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga seba-
gai pengajar. Selanjutnya mereka yang men-
dapat karunia untuk mengadakan mujizat,
untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk
memimpin, dan untuk berkata-kata dalam ba-
hasa roh” (ayat 28, bandingkan Ef. 4:11). Ka-
rena tidak ada seorang anggota yang me-
miliki semua karunia, maka wajarlah ia me-
neguhkan semuanya “untuk memperoleh ka-
runia-karunia yang paling utama” (ayat 31),
menunjuk kepada orang-orang yang paling
berguna bagi jemaat itu.2
2. Dimensi yang Tidak Dapat Dihin-
dari. Karunia-karunia Roh Kudus itu, bagai-
248 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ....
mana pun, tidaklah memadai kalau hanya
sekadar karunia saja. Masih ada “yang lebih
utama lagi” (ayat 31). Sementara karunia-
karunia Roh akan berlalu pada waktu keda-
tangan Kristus kedua kali kelak, maka buah
Roh
,
itu kekal. Di dalamnya ada keba-
jikan abadi dari kasih dan ketenteraman, ke-
baikan dan kebenaran yang dibawakan kasih
di dalamnya (baca Gal. 5:22, 23; Ef. 5:9). Se-
dangkan nubuat, karunia lidah dan penge-
tahuan akan lenyap, namun iman, pengharapan
dari kasih akan tetap. Dan “yang paling besar
di antaranya ialah kasih” (1 Kor. 13:13).3
Kasih yang diberikan Allah ini (dalam
bahasa Yunani disebut agape) yaitu kasih
yang mengorbankan diri dan kasih yang
memberi (1 Kor. 13:4-8). Inilah “bentuk kasih
yang lebih tinggi, yang mengakui sesuatu nilai
dalam diri seseorang atau objek yang dikasihi;
kasih yang berdasar prinsip bukan ber-
dasarkan emosi; kasih yang bertumbuh kare-
na rasa hormat terhadap nilai-nilai yang di-
kagumi dari objek itu.”4 Karunia yang hampa
akan kasih hanya mendatangkan kekacauan
dan perpecahan saja di dalam jemaat. Oleh
sebab itu, jalan yang paling sempurna ialah
seseorang yang memperoleh karunia roh ha-
rus juga memiliki kasih yang tidak memen-
tingkan diri sendiri. “Kejarlah kasih itu dan
usahakanlah dirimu memperoleh karunia-ka-
runia Roh” (1 Kor. 14:1).
Hidup Demi Kemuliaan Tuhan. Paulus
juga berbicara mengenai karunia-karunia ro-
hani dalam suratnya kepada orang Roma. Ia
mengimbau supaya setiap orang yang per-
caya hendaknya hidup untuk memuliakan
Tuhan (Rm. 11:36—12:2), lagi-lagi Paulus
memakai anggota-anggota tubuh untuk
menggambarkan keanekaragaman namun
bersatu menandai orang percaya yang meng-
gabungkan diri ke dalam jemaat (ayat 3-6).
Dengan mengakui bahwa baik iman mau-
pun karunia-karunia roh bersumber pada
anugerah Allah, maka umat percaya haruslah
merendahkan diri. Makin banyak karunia di-
berikan kepada seorang yang percaya, maka
makin besar pengaruh karunia rohaninya, dan
semakin besar pula ketergantungannya ke-
pada Allah.
Di dalam bab ini Paulus memberikan se-
buah daftar yang berisi karunia yang berikut:
nubuat (kata yang diilhami, penyataan), pela-
yanan (melayani), mengajar, menasihati (me-
neguhkan), memberi (membagikan), me-
mimpin dan kemurahan (belas kasihan). Se-
bagaimana yang ada dalam 1 Korintus
12 ia mengakhiri pembicaraannya dengan
prinsip teragung Kekristenan—cinta kasih
(ayat 9).
Petrus mengemukakan topik mengenai
karunia-karunia rohani dengan memperten-
tangkannya dengan “kesudahan segala se-
suatu sudah dekat” (1 Ptr. 4:7). Gentingnya
waktu menyatakan bahwa umat percaya ha-
rus memakai pemberian-pemberian itu.
“Sesuai dengan karunia yang telah diperoleh
tiap-tiap orang,” katanya, “sebagai pengurus
yang baik dari kasih karunia Allah” (ayat 10).
Seperti halnya Paulus, Petrus mengajarkan
bahwa pemberian-pemberian ini diberikan
bukanlah untuk kemuliaan diri sendiri, melain-
kan supaya “Allah dimuliakan dalam segala
sesuatu” (ayat 11). Ia juga menghubungkan
cinta kasih dengan pemberian itu (ayat 8).
Pertumbuhan Jemaat. Dalam pembicaraan
ketiga dan terakhir yang dilakukan Paulus
mengenai karunia-karunia Rohani, ia men-
dorong umat percaya supaya ”hidupmu se-
bagai orang-orang yang telah dipanggil ber-
padanan dengan panggilan itu. Hendaklah
kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan
sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal sa-
Karunia Rohani dan Tugas Pelayanan 249
ling membantu. Dan berusahalah meme-
lihara kesatuan Roh oleh ikatan damai se-
jahtera” (Ef. 4:1-3).
Karunia rohani berperan melestarikan
kesatuan yang membuat jemaat bertumbuh.
Masing-masing orang percaya menerima
“kasih karunia menurut ukuran pemberian
Kristus” (ayat 7).
Kristus sendiri “yang memberikan baik
rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-
pemberita Injil maupun gembala-gembala
dan pengajar-pengajar.” Karunia ini diberikan
dalam tugas pelayanan yang berorientasi
“memperlengkapi orang-orang kudus bagi
pekerjaan pelayanan, baik penggunaan tubuh
Kristus, sampai kita semua telah mencapai
kesatuan iman dan pengetahuan yang benar
tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan
tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan ke-
penuhan Kristus” (ayat 11-13). Barangsiapa
yang menerima karunia rohani dikhususkan
untuk melayani orang yang percaya, mendi-
dik mereka kepada pelbagai pelayanan se-
suai dengan karunia yang diberikan kepada
mereka. Dengan demikianlah jemaat dibangun
menuju kedewasaan untuk mencapai kepe-
nuhan Kristus.
Pelayanan ini mengembangkan kestabilan
rohani dan menguatkan pertahanan jemaat
melawan pengajaran yang palsu, sehingga.
umat percaya tidak lagi seperti “anak-anak,
yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa
angin pengajaran, oleh permainan palsu ma-
nusia dalam kelicikan mereka yang menye-
satkan, namun dengan teguh berpegang kepa-
da kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh
di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang
yaitu Kepala” (ayat 14, 15).
Akhirnya, di dalam Kristus, karunia-karu-
nia rohani mendatangkan kesatuan dan ke-
sejahteraan bagi jemaat. “Dari pada-Nyalah
seluruh tubuh,—yang rapi tersusun dan diikat
menjadi satu oleh pelayanan semua bagian-
nya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap
anggota—menerima pertumbuhan-nya dan
membangun dirinya dalam kasih” (ayat 16).
Supaya jemaat bertumbuh sebagaimana
yang diinginkan Tuhan, setiap anggota harus-
lah memakai pemberian anugerah yang
disediakan-Nya.
Maka hasilnya, jemaat akan mengalami
pertumbuhan yang berlipat ganda—bertum-
buh dalam jumlah anggota dan bertumbuh di
dalam karunia-karunia rohani secara individu.
Sekali lagi, cinta kasih yaitu merupakan ba-
gian dari panggilan sebab jemaat dapat
mengukuhkan iman orang lain, dan perkem-
bangan diperoleh hanyalah dengan menggu-
nakan karunia-karunia kasih ini.
PENGERTIAN KARUNIA-KARUNIA
ROHANI
Pelayanan Umum. Kitab Suci tidak men-
dukung pandangan bahwa pendeta atau
gembala yang melayani anggota awam se-
mentara anggota awam itu duduk-duduk saja
di bangku menunggu untuk disuapi. Gemba-
la maupun anggota awam bersama-sama
membentuk jemaat itu, “umat kepunyaan Al-
lah sendiri” (1 Ptr. 2:9). Mereka bertanggung
jawab bersama-sama demi kebaikan jemaat
dan kesejahteraannya. Mereka dipanggil su-
paya bekerja sama, masing-masing sesuai
dengan pekerjaan mereka, yang diberikan
Kristus kepada mereka. Perbedaan karunia
yaitu akibat keragaman bidang penggem-
balaan dan pelayanan, semuanya disatukan
dalam kesaksian mereka untuk meluaskan
kerajaan Allah dan menyiapkan dunia untuk
bertemu dengan Juruselamat mereka (Mat.
28:18-20: Why. 14:6-12).
Peranan Gembala. Pengajaran dari hal ka-
runia rohani membuat gembala bertanggung
jawab mendidik dan melatih jemaat. Tuhan
250 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ....
telah mengangkat para rasul, para nabi, para
evangelis, pendeta, dan para guru untuk
memperlengkapi umat-Nya untuk melaksana-
kan pelayanan. “Para pendeta seharusnya ti-
dak melakukan tugas yang diberikan kepada
jemaat, sebab hal itu akan melelahkan diri
sendiri serta merintangi orang lain melakukan
tugas yang diberikan kepada mereka. Mere-
ka harus mengajar anggota-anggota jemaat
bagaimana bekerja di dalam jemaat dan di
dalam masyarakat.”5
Gembala yang tidak memiliki karunia un-
tuk mendidik, tidak termasuk ke dalam tugas
pelayanan kependetaan, melainkan ke dalam
bagian lain dari pekerjaan yang disediakan
Tuhan.6 Suksesnya rencana Allah bagi jema-
at bergantung kepada kerelaan dan kemam-
puan para pendetanya mendidik anggota je-
maat untuk memakai karunia yang telah
diberikan Tuhan kepada mereka.
Karunia dan Misi. Allah memberikan ka-
runia rohani demi keuntungan semua tubuh,
bukan hanya untuk perseorangan yang me-
nerimanya. Oleh sebab itu, sebab penerima
karunia rohani itu menerimanya bukan hanya
untuk dirinya sendiri, maka jemaat pun tidak
menerima keseluruhan karunia untuk diri
sendiri pula. Allah memberikan kepada ma-
syarakat jemaat karunia-karunia supaya me-
reka dapat memenuhi tugas mereka, untuk
melaksanakan misi yang diperintahkan Tu-
han Yesus kepada mereka.
Karunia rohani bukanlah upah sebab se-
buah tugas sudah dilaksanakan dengan baik,
melainkan yaitu alat untuk melakukan pe-
kerjaan itu dengan baik. Biasanya Roh mem-
berikan karunia yang selaras dengan pembe-
rian-pemberian alamiah perseorangan, sekali-
pun pemberian alamiah itu sendiri bukanlah
karunia-karunia rohani. Karunia rohani itu
memberikan kelahiran baru untuk mengge-
rakkan seseorang dengan Roh. Kita harus
dilahirkan kembali agar dapat dilengkapi de-
ngan karunia-karunia rohani.
Kesatuan dalam Keanekaragaman, Bu-
kan Keseragaman. Banyak orang Kristen
yang mencoba menjadikan setiap orang per-
caya menjadi serupa dengan mereka. Ini ren-
cana kita semua , bukan rencana Tuhan. Bahwa
jemaat tetap bersatu walaupun di dalam ke-
anekaragaman karunia-karunia rohani menun-
jukkan lengkapnya sifat karunia-karunia. Itu-
lah yang menunjukkan bahwa kemajuan je-
maat Allah bergantung kepada setiap orang
yang beriman. Allah bermaksud agar semua
pemberian itu, pelayanan dan pelaksanaan di
dalam jemaat berbaur bersama-sama dalam
pekerjaan pembangunan di atas fondasi yang
dialaskan oleh sejarah gereja. Di dalam Ye-
sus Kristus, batu penjuru, “tumbuh seluruh
bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah
yang kudus” (Ef. 2:21).
Bersaksi—Tujuan Karunia-karunia.
Umat percaya menerima pemberian yang
beraneka-ragam, ini menunjukkan bahwa se-
tiap individu melakukan pekerjaan—masing-
masing memiliki pekerjaan. Oleh sebab itu,
setiap orang percaya haruslah sanggup ber-
saksi atas imannya, membagikan keperca-
yaannya kepada orang lain, menceritakan ke-
pada mereka apa yang telah dilakukan Tu-
han dalam kehidupannya. Tujuan Allah mem-
berikan setiap orang karunia, tidak jadi soal
bagaimana karunia itu, ialah menyanggupkan
masing-masing pemiliknya untuk bersaksi.
Kegagalan memakai Karunia- karu-
nia Rohani. Orang-orang percaya yang
menolak memakai karunia-karunia roha-
ni mereka bukan saja membuat pemberian itu
merana namun juga membuat hidup kekal me-
reka terancam bahaya. Dengan penuh kasih
sayang Yesus mengingatkan bahwa hamba
Karunia Rohani dan Tugas Pelayanan 251
yang tidak memakai talentanya tidak le-
bih dibandingkan seorang “hamba yang jahat dan
malas” yang akan kehilangan hidup yang ke-
kal (Mat. 25:26-30).7 Hamba yang tidak setia
itu dengan sukarela mengakui bahwa kega-
galannya telah disengaja dan direncanakan
lebih dahulu. Maka tentu saja ia bertanggung
jawab atas kegagalannya itu. “Pada masa
penghukuman besar kelak yang terakhir,
orang yang ikut-ikutan, orang yang menghin-
dari tugasnya, akan dimasukkan ke dalam go-
longan orang yang jahat oleh hakim agung
itu.”8
PENEMUAN KARUNIA-KARUNIA
ROHANI.
Anggota-anggota yang mau sukses dalam
tugas jemaat haruslah memahami karunia-
karunia yang diberikan kepada mereka.
Pemberian itu berfungsi sebagai sebuah
kompas, yang mengarahkan pemiliknya ke-
pada pelayanan dan penikmatan hidup yang
berlimpah-limpah (Yoh. 10:10). Untuk mem-
perluasnya kita “janganlah memilih (atau me-
lalaikannya) hanya mengaku, mengembang-
kan dan mempraktikkan karunia yang ada
pada kita, kurang dari apa yang diminta je-
maat dari kemampuan kita. Janganlah. ku-
rang dari apa yang dimaksudkan Tuhan untuk
dilakukan.9
Proses penemuan karunia-karunia rohani
kita10 haruslah ditandai ciri-ciri seperti ber-
ikut:
Persiapan Rohani. Para rasul berdoa de-
ngan sungguh-sungguh memohon agar me-
reka dapat menyampaikan kata-kata atau
sabda itu dengan pantas, untuk membimbing
orang berdosa kepada Kristus. Mereka men-
jauhkan segala perbedaan dan keinginan
yang mengunggulkan diri sendiri yang terpan-
cang di antara mereka. Pengakuan dosa ser-
ta pertobatan membawa mereka ke dalam
persekutuan yang erat dengan Kristus. Ba-
rangsiapa yang menerima Kristus sekarang
ini memerlukan pengalaman yang serupa itu,
untuk menyiapkan mereka menerima baptisan
Roh Kudus.
Baptisan Roh bukanlah untuk sekali wak-
tu saja; kita dapat mengalaminya dalam
kehidupan sehari-hari.11 Kita harus memohon
kepada Tuhan baptisan itu sebab itulah yang
memberikan kuasa kepada jemaat untuk ber-
saksi dan mengumumkan Injil itu. Untuk me-
lakukan hal seperti ini, kita harus senantiasa
menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, ting-
gal sepenuhnya dalam Kristus, serta memo-
hon pada-Nya akal-budi untuk menemukan
karunia-karunia kita (Yak. 1:5).
Mempelajari Kitab Suci. Belajar Perjanjian
Baru dengan sungguh-sungguh, dalam doa
yang tekun, akan mengajarkan kepada kita
tentang karunia rohani yang memungkinkan
Roh Kudus mengecap pikiran kita dengan
pekerjaan yang khusus yang diperuntukkan-
Nya bagi kita. Sangat perlu kita yakini bahwa
Tuhan telah memberikan kepada kita paling
sedikit satu karunia yang patut digunakan
untuk melayani-Nya.
Terbuka Terhadap Bimbingan Ilahi. Bu-
kan kita yang memakai Roh Kudus, me-
lainkan Dia yang memakai kita, sebab
Tuhan yang bekerja di dalam umat-Nya “baik
kemauan maupun pekerjaan menurut kere-
laan-Nya” (Flp. 2:13). yaitu merupakan
suatu hak istimewa untuk turut serta secara
sukarela dalam bidang apa pun pelayanan
yang diberikan dalam perlindungan dan bim-
bingan Tuhan. Kita harus memberikan ke-
sempatan kepada Tuhan untuk mengerjakan
pertolongan kita bagi orang lain—agar kita
bermanfaat bagi orang lain. Oleh sebab itu,
kita harus selalu siap menyambut apa yang
252 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ....
diperlukan jemaat di mana pun mereka ber-
ada. Kita tidak boleh takut mencoba hal-hal
yang baru, melainkan kita harus merasa be-
bas untuk memberikan penjelasan bagi orang
yang memerlukan pertolongan kita, dengan
pengalaman dan talenta yang ada pada kita.
Pengesahan dari Tubuh. sebab Tuhan
memberikan karunia-karunia ini untuk mem-
bangun jemaat-Nya, maka kita dapat meng-
harapkan pengesahan akhir atas karunia
yang kita peroleh, bangkit dari pertimbangan
tubuh Kristus dan bukannya dari perasaan-
perasaan kita sendiri. Sering lebih sukar me-
ngenali karunia yang diberikan kepada kita
dibandingkan karunia-karunia yang diberikan ke-
pada orang lain. Bukan saja kita mau men-
dengarkan apa yang dikatakan orang lain
mengenai karunia yang ada pada kita, namun
juga penting bagi kita mengakui dan menges-
ahkan karunia-karunia Allah yang diberikan
kepada orang lain.
Tidak ada yang lebih mengesankan dari-
pada pengetahuan bahwa kita menduduki ke-
dudukan atau pelayanan maupun pengabdian
yang telah ditahbiskan Tuhan kepada kita.
Bekerja untuk melayani Yesus Kristus,
memakai talenta yang diberikan-Nya
secara khusus kepada kita melalui Roh Ku-
dus merupakan sebuah berkat. Kristus ingin
membagikan karunia-karunia anugerah-
Nya. Sekarang juga kita dapat menerima
undangan-Nya dan memperoleh apa yang
dapat dilakukan pemberian-pemberian itu
dalam kehidupan yang penuh dengan Roh!
____________________________
1. Baca tulisan White, Christ’s Object Lesson; hlm. 327, 328. Kita tidak selamanya dapat dengan mudah membe-
dakan yang supernatural (yang di luar kemampuan akal kita semua , gaib) dengan yang diwarisi, serta ke-mampuan
yang dapat diperoleh. Di dalam diri orang-orang yang dikendalikan Roh tampaknya kesanggupan dan kemampuan
ini berbaur bersama-sama.
2. Lihat Richard Hammill, “Spiritual Gifts in the Church Today,” Ministry, Juli 1982, hlm. 15, 16.
3. Dalam pengertian yang lebih luas, kasih yaitu berasal dari Tuhan, sebab semua yang baik datang dari pada-Nya
(Yoh 1:17). Itulah buah Roh (Gal 5:22), akan namun bukanlah karunia rohani dalam pengertian bahwa Roh Kudus
telah membagi-bagikannya kepada sebagian umat percaya dan tidak untuk semua orang. Setiap orang hendaknya
”mengejar kasih” (I Kor 14:1).
4. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 6, hlm. 778.
5. White, “Appeals for Our Mission” dalam Historical Sketches of the Foreign Missions of the Seventh-day
Adventists (Basel, Switzerland: Imprimerie Polyglotte, 1886), hlm. 291. Bnd Rex D. Edwards, A New Frontier —
Every Believer a Minister (Mountain View, CA: Pacific Press, 1979), hlm. 58-73.
6. Bnd J. David Newman, “Seminar in Spiritual Gifts,” tidak diterbitkan, Naskah, hlm. 3.
7. Mengingat seriusnya hal ini, baca tulisan White, “Home Discipline,” Review and Herald, 13 Juni 1882, hlm. [1].
8. SDA Bible Commentary, edisi revisi, jilid 5, hlm. 511.
9. Don Jacobsen, “What Spiritual Gifts Mean to Me,”Adventist Review, 25 Desember 1986, hlm. 12.
10. Lihat Roy C. Naden, Discovering Your Spiritual Gifts (Berrien Springs, MI.: Institute of Church Ministry, 1982);
Mark A. Finley, The Way to Adventist Church Growth (Siloam Springs, AR Concerned Communications, 1982);
C. Peter Wagner, Your Spiritual Gifts Can Help Your Church Grow (Glendale, CA.: Regal Books, 1979).
11. Bnd White, Acts of the Apostle; hlm. 50: White, Counsels to Parent; Teachers and Students (Mountain View, CA.:
Pacific Press, 1943), hlm. 131.
Salah satu karunia Roh Kudus yaitu karunia nubuat. Karunia ini
merupakan ciri-ciri jemaat yang sisa dan telah diperlihatkan dalam
pekerjaan pelayanan Ellen G. White. Sebagai jurukabar Allah, tu-
lisan-tulisannya merupakan sumber kebenaran yang bersifat terus-
menerus dan mempunyai kuasa untuk menghibur jemaat, membim-
bing, memberikan petunjuk dan perbaikan. Tulisan-tulisan itu me-
nyatakan dengan jelas bahwa Alkitab merupakan ukuran, dan de-
ngan itulah pengajaran dan pengalaman harus diuji.—Fundamen-
tal Beliefs,—18.
255
Y osafat, raja Yehuda, merasa amat takut
dan cemas. Balatentara musuh sudah
semakin dekat, dan tampaknya keadaan sa-
ngat menyedihkan dan tanpa harapan. “Dan
Yosafat... mengambil keputusan untuk men-
cari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh
Yehuda supaya berpuasa” (2 Taw. 20:3).
Oleh sebab itu, rakyat berbondong-bondong
ke bait Allah untuk memohon kemurahan dan
kelepasan dari Tuhan.
Waktu Yosafat memimpin kebaktian, ia
memohon kepada Tuhan supaya keadaan
yang dialaminya itu diubah Tuhan. Ia berdoa:
“Bukankah Engkau Allah di dalam sorga?
Bukankah Engkau memerintah atas segenap
kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan
ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada
orang yang dapat bertahan melawan Eng-
kau” (ayat 6). Bukankah Tuhan telah me-
lindungi umat-Nya pada masa lalu? Bukankah
Ia yang telah memberikan negeri itu kepada
umat pilihan-Nya? Maka Yosafat menyam-
paikan permohonan, “Ya Allah kami, tidak-
kah Engkau akan menghukum mereka? Ka-
rena kami tidak mempunyai kekuatan untuk
menghadapi laskar yang besar ini, yang da-
tang menyerang kami. Kami tidak tahu apa
yang harus kami lakukan, namun mata kami
tertuju kepada-Mu” (ayat 12).
Ketika semua orang Yehuda berdiri di ha-
dapan Tuhan, seorang yang bernama Yaha-
ziel bangkit. Pekabaran yang disampaikannya
mendatangkan pengarahan yang memberani-
kan hati rakyat yang dilanda ketakutan itu. la
berkata, “Janganlah kamu takut dan terke-
jut... sebab bukan kamu yang akan berperang
melainkan Allah.... Dalam peperangan ini
tidak usah kamu bertempur.... Tinggallah
berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana
Tuhan memberikan kemenangan kepadamu.
... Tuhan akan menyertai kamu” (ayat 15-
17). Keesokan harinya, pagi-pagi, Raja Yo-
safat berkata kepada balatentaranya, “Perca-
yalah kepada Tuhan, Allahmu, dan kamu
akan tetap teguh! Percayalah kepada para
nabinya, dan kamu akan berhasil” (ayat
20).1
Raja ini amat percaya kepada nabi yang
tidak begitu terkenal ini, Yehezkiel, sehingga
ia menempatkan barisan penyanyi di garis
BAB 18
KARUNIA NUBUAT
256 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
depan untuk menyanyikan lagu pujian atas
keindahan dan kekudusan Tuhan! Ketika la-
gu pujian itu mendengung di udara, Tuhan
mendatangkan kekalutan dan kebingungan di
kalangan laskar dan sekutu yang melawan
Yehuda. Pembantaian berlangsung dengan
dahsyat sehingga “tidak ada yang terluput”
(ayat 24).
Yehezkiel menjadi jurubicara Allah pada
saat yang kritis itu.
Para nabi memainkan peranan yang sa-
ngat menentukan baik pada masa Perjanjian
Lama maupun pada masa Perjanjian Baru.
Akan namun , apakah nubuatan berhenti fung-
sinya pada saat penutupan kanonisasi Alki-
tab? Untuk menjawabnya, marilah kita telu-
suri sejarah nubuat.
KARUNIA NUBUAT PADA ZAMAN
ALKITAB
Walaupun dosa mengakhiri komunikasi
tatap muka antara Allah dan makhluk manu-
sia (Yes. 59:2), Allah tidak mengakhiri hu-
bungan-Nya yang akrab dengan kita semua ; se-
baliknya, Ia mengembangkan cara komunikasi
yang lain. Ia mulai mengirimkan pesan-pe-
san-Nya yang memberikan kekuatan hati,
peringatan dan teguran melalui para nabi.2
Di dalam Kitab Suci dikatakan seorang
nabi “menerima komunikasi dan berhubungan
dengan Allah, dan lalu diteruskan ke-
pada umat Tuhan.3 Para nabi menyampaikan
nubuatan bukan dengan inisiatif mereka
sendiri, “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan
oleh kehendak kita semua , namun oleh dorongan
Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama
Allah” (2 Ptr. 1:21).
Di dalam Perjanjian Lama kata Prophet
pada umumnya dianggap terjemahan dari
kata Ibrani nabi. Arti kata ini dinyatakan
dalam Keluaran 7:1, 2: “Berfirmanlah Tuhan
kepada Musa: ‘Lihat, Aku mengangkat eng-
kau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun,
abangmu, akan menjadi nabimu (dalam ba-
hasa Ibrani ‘nabi’ yang sama dalam bahasa
Indonesia ’nabi’—penerjemah). Engkau ha-
rus mengatakan segala yang Kuperintahkan
kepadamu, dan Harun, abangmu, harus ber-
bicara kepada Firaun.’” Hubungan Musa de-
ngan Firaun bagaikan Allah dengan umat-
Nya. Dan ketika Harun meneruskan perka-
taan Musa kepada Firaun, begitulah nabi me-
neruskan firman Allah kepada umat. Kata
nabi menunjuk kepada pengertian seseorang
yang diangkat Allah selaku jurubicara bagi
Allah. Padanan kata Ibrani nabi dalam ba-
hasa Yunani ialah prophetes, kata yang ke-
mudian dipungut oleh bahasa Inggris.
“Pelihat,” sebuah terjemahan dari bahasa
Ibrani roeh (Yes. 30:10) atau chozeh (2
Sam. 24:11; 2 Raj. 17:13) yaitu mengandung
makna penunjukan kepada seseorang yang
mendapat karunia nubuat. Istilah-istilah nabi
dan pelihat satu dengan yang lain erat kait-
annya. Alkitab menjelaskan, “Dahulu di anta-
ra orang Israel, apabila seseorang pergi me-
nanyakan petunjuk Allah, ia berkata begini:
‘Mari kita pergi kepada pelihat,’ sebab nabi
yang sekarang disebutkan dahulu pelihat” (1
Sam. 9:9). Makna yang ditekankan oleh kata
pelihat di sini ialah penerimaan nabi atas
pesan Ilahi. Allah membuka “mata” atau pi-
kiran para nabi atas informasi yang diteri-
manya dari Tuhan yang hendak disampaikan
Tuhan kepada mereka untuk diteruskan ke-
pada umat-Nya.
Dari masa ke masa Tuhan menyampaikan
kehendak-Nya kepada umat-Nya melalui
orang-orang yang memperoleh karunia nu-
buatan. “Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat
sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya
kepada hamba-hamba-Nya, para nabi” (Am.
3:7; bandingkan Ibr. 1:1).
Fungsi Karunia Nubuat dalam Perjanji-
Karunia Nubuat 257
an Baru. Perjanjian Baru menempatkan
karunia Roh Kudus, karunia nubuat, sebagai
yang utama, yang pertama karunia ini
dan kedua karunia pelayanan yang sangat
berguna bagi jemaat (baca Rm. 12:6; 1 Kor.
12:28; Ef. 4:11). Itulah yang mendorong umat
percaya untuk menginginkan karunia rohani
yang istimewa ini (1 Kor. 14:1, 39).
Menurut Perjanjian Baru beberapa fungsi
nabi disebutkan berikut ini.4
1. Mereka Membantu Membangun
Jemaat. Jemaat “dibangun di atas dasar para
rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus
sebagai batu penjuru” (Ef. 2:20, 21).
2. Mereka Mengupayakan Jang-
kauan ke Luar Misi Jemaat. Melalui na-
bilah Roh Kudus memilih Paulus dan Bar-
nabas untuk mengadakan perjalanan misio-
naris mereka yang pertama (Kis. 13:1, 2) dan
memberikan petunjuk ke mana mereka seha-
rusnya mengabarkan Injil (Kis. 16:6-10).
3. Mereka Meneguhkan Jemaat.
“Siapa yang bernubuat,” kata Paulus, “ia
membangun Jemaat.” Nubuatan diucapkan
untuk “membangun, menasihati dan menghi-
bur” (1 Kor. 14:4, 3). Bersama-sama dengan
karunia-karunia lainnya, Allah memberikan
nubuat kepada jemaat untuk menyiapkan
umat percaya “bagi pekerjaan pelayanan, ba-
gi pembangunan tubuh Kristus” (Ef. 4:12).
4. Mereka Mempersatukan dan
Melindungi Jemaat. Para nabi membantu
mendatangkan “kesatuan iman,” untuk me-
lindungi jemaat dari ajaran-ajaran palsu se-
hingga umat percaya “bukan lagi anak-anak,
yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa
angin pengajaran, oleh permainan palsu ma-
nusia dalam kelicikan mereka yang menye-
satkan,” (Ef. 4:14).
5. Mereka Mengamarkan tentang
Kesukaran yang akan Dihadapi Pada
Masa Mendatang. Salah seorang dari anta-
ra nabi Perjanjian Baru mengamarkan me-
ngenai bala kelaparan yang segera terjadi.
Untuk menghadapinya, jemaat mengadakan
upaya persiapan untuk menanggulangi orang
yang akan mengalami bencana sebab bala
kelaparan itu (Kis. 11:27-30). sedang na-
bi-nabi yang lain memperingatkan Paulus
yang akan ditahan dan dipenjarakan di Yeru-
salem (Kis. 20:23; 21:4, 10-14).
6. Mereka Menguatkan Iman Pada
Waktu Pertentangan Terjadi. Pada waktu
rapat jemaat yang pertama diadakan, Roh
Kudus menuntun jemaat atas persoalan yang
pelik, yang berkaitan dengan keselamatan
orang Kristen yang bukan keturunan Yahudi.
Melalui para nabi, Roh meneguhkan kembali
umat percaya dalam rapat itu mengenai dok-
trin yang benar. sesudah memberitahukan ke-
putusan rapat kepada anggota, “Yudas dan
Silas, yang yaitu juga nabi, lama menasihati
saudara-saudara itu dan menguatkan hati
mereka” (Kis. 15:32).
KARUNIA NUBUAT PADA ZAMAN
AKHIR
Banyak orang Kristen yakin bahwa karu-
nia nubuat berhenti pada penutupan era kera-
sulan. Akan namun Alkitab menunjukkan ke-
butuhan khusus jemaat atas bimbingan Ilahi
pada masa krisis menjelang akhir zaman;
yang menunjukkan perlunya secara terus-
menerus pengadaan karunia nubuat sesudah
zaman Perjanjian Baru.
Berlanjutnya Karunia Nubuat. Tidak ada
bukti yang ada di dalam Alkitab yang
menyatakan bahwa Allah akan menarik
kembali karunia rohani yang diberikan-Nya
258 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
kepada jemaat sebelum mereka menyelesai-
kan tujuan mereka, yang menurut Rasul
Paulus yang membuat jemaat “mencapai ke-
satuan iman dan pengetahuan yang benar
tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan
tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan ke-
penuhan Kristus” (Ef. 4:13). sebab jemaat
belum mencapai pengalaman seperti itu, ma-
ka karunia rohani ini masih diperlukan. Karu-
nia yang diberikan Roh, termasuk di dalam-
nya karunia nubuat, akan tetap bekerja demi
kepentingan umat Allah sampai hari keda-
tangan Kristus kedua kali. Alhasil, Paulus
memperingatkan umat percaya supaya ja-
nganlah “anggap rendah nubuat-nubuat” (1
Tes. 5:19, 20) serta menyarankan supaya
berusaha “memperoleh karunia-karunia Roh,
terutama karunia untuk bernubuat” (1 Kor.
14:1).
Karunia-karunia ini tidak selamanya me-
nyatakan diri secara berkelimpahan di dalam
jemaat Kristen.5 sesudah kematian para rasul,
para nabi memperoleh tempat terhormat
dalam pelbagai lingkungan sampai tahun 300
TM.6 Akan namun serentak dengan kemun-
duran kerohanian di dalam jemaat dan akibat
kemurtadan (baca bab 12), maka berkuranglah
kehadiran kedua hal yang dikemukakan ini
berikut karunia-karunia Roh Kudus. Pada
waktu yang bersamaan, para nabi palsu
membuat orang kehilangan, kepercayaan
terhadap karunia nubuat.7
Kemunduran karunia nubuat selama pe-
riode tertentu di dalam sejarah jemaat bu-
kanlah berarti bahwa Allah telah menarik
karunia itu secara permanen. Alkitab menun-
jukkan bahwa, ketika akhir zaman sudah
mendekat, karunia ini akan diberikan untuk
membantu jemaat melalui masa kesukaran.
Lebih dari itu, kegiatan karunia ini semakin
bertambah.
Karunia Nubuat Menjelang Kedatangan
Kristus Kedua Kali. Allah memberikan
karunia nubuat kepada Yohanes Pembaptis
untuk mengumumkan kedatangan Kristus
yang pertama kali. Dengan cara yang sama
kita dapat mengharapkan Dia untuk mengi-
rimkan karunia nubuat lagi untuk meng-
umumkan kedatangan Kristus kedua kali su-
paya setiap orang memperoleh kesempatan
untuk bertemu dengan Juruselamat.
Sesungguhnya, Kristus menyebutkan
munculnya nabi-nabi palsu yaitu sebagai
suatu pertanda bahwa kedatangan-Nya su-
dah dekat (Mat. 24:11, 24). Seandainya tidak
akan ada lagi nabi yang benar selama masa
menjelang kiamat, pastilah Kristus sudah
mengamarkan tentang seseorang yang
mengaku memiliki karunia itu. Peringatan
yang diberikan-Nya supaya waspada terhadap
nabi-nabi palsu memberikan arti bahwa akan
ada juga nabi-nabi yang benar.
Nabi Yoel meramalkan kecurahan khu-
sus karunia nubuat pada waktu mendekati
datangnya Kristus kedua kalinya. Ia berkata,
“lalu dari pada itu akan terjadi, bahwa
Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas
semua kita semua , maka anak-anakmu laki-la-
ki dan perempuan akan bernubuat; orang-
orangmu yang tua akan mendapat mimpi, te-
runa-terunamu akan mendapat penglihatan-
penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu
laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan
Roh-Ku pada hari-hari itu. Aku akan meng-
adakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi:
darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap.
Matahari akan berubah menjadi gelap gulita
dan bulan menjadi darah sebelum datangnya
hari Tuhan yang hebat dan dahsyat itu” (Yl.
2:28-31).
Pentakosta yang pertama merupakan
pernyataan Roh yang menakjubkan. Petrus,
dengan mengutip nubuat Yoel, menunjukkan
bahwa Allah telah menjanjikan berkat-berkat
yang demikian (Kis. 2:2-21). Namun demi-
Karunia Nubuat 259
kian, kita masih dapat mempertanyakan apa-
kah nubuat Yoel sudah mencapai puncaknya
pada waktu Pentakosta itu atau apakah ma-
sih ada yang harus datang yang lain, yang
lebih lengkap, dan penuh. Kita tidak mem-
peroleh bukti bahwa fenomena yang terjadi
pada matahari dan bulan yang dikemukakan
Yoel apakah mendahului ataukah sesudah
kecurahan Roh. Ternyata fenomena ini tidak
terjadi sampai beberapa abad lalu (ba-
ca bab 24).
lalu Pentakosta yang dimaksudkan
di sini yaitu ramalan atas manifestasi Roh
sebelum Kedatangan Kristus kedua kali.
Sama halnya dengan hujan awal di Palestina,
yang turun pada musim rontok, sesudah panen,
kecurahan Roh Kudus pada Pentakosta me-
ngesahkan dispensasi
.
Roh.’ Kelengkapan
dan pemenuhan nubuatan Yoel berhubungan
dengan hujan akhir yang jatuh pada musim
semi, waktu gandum sudah masak(Yl. 2:23).
Begitu pulalah, kecurahan akhir Roh Allah
akan berlangsung sebelum Kedatangan ke-
dua kali, sesudah tanda-tanda yang diramalkan
mengenai matahari, bulan dan bintang-bin-
tang digenapi (Bandingkan Mat. 24:29; Why.
6:12-17; Yl. 2:31). Sama dengan hujan akhir,
kecurahan Roh yang terakhir ini akan menuai
ladang di bumi (Mat. 13:30, 39), dan “barang-
siapa yang berseru kepada nama Tuhan akan
diselamatkan” (Yl. 2:32).
Karunia Nubuat dalam Jemaat Sisa.
Wahyu 12 menyatakan dua masa yang besar
mengenai aniaya. Yang pertama, yang dimu-
lai dari rentan waktu 538 TM—1798 TM
(Why. 12:6, 14, baca bab 12), umat yang per-
caya mengalami aniaya yang dahsyat. Ke-
mudian, sebelum atau menjelang Kedatangan
Kedua kali, Setan akan menyerang “ketu-
runannya yang lain,” jemaat yang sisa yang
tidak mau mengingkari Kristus. Ciri-ciri yang
diberikan wahyu itu mengenai umat percaya
yang menjadikan mereka jemaat yang sisa,
yakni mereka yang “memiliki kesaksian Ye-
sus, dan yang menuruti hukum-hukum Allah”
(Why. 12:17).
Bahwa frase “kesaksian Yesus” berbicara
tentang nubuatan kitab Wahyu menunjukkan
jelasnya percakapan, lalu antara ma-
laikat dan rasul Yohanes.8
Menjelang akhir artikel itu malaikat meng-
identifikasi dirinya sebagai “hamba, sama de-
ngan engkau dan saudara-saudaramu, yang
memiliki kesaksian Yesus” (Why. 19:10)
yang “yaitu hamba, sama seperti engkau
dan saudara-saudaramu, para nabi dan se-
mua mereka yang menuruti segala perkataan
kitab ini” (Why. 22:9). Ungkapan yang sela-
ras ini membuat jelas bahwa para nabi yang
memiliki “kesaksian Yesus.”9 Ini menjelaskan
pernyataan malaikat bahwa “kesaksian Ye-
sus yaitu roh nubuat” (Why. 19:10).
James Moffat mengulas ayat ini dengan
menulis sebagai berikut,” “Untuk kesaksian
atau bersaksi (termasuk di dalamnya dila-
hirkan oleh) tentang Yesus yaitu (yang ter-
masuk di dalamnya) karunia nubuat.’ Ini ...
mengartikan secara khusus saudara-saudara
yang berpegang pada kesaksian Yesus dan
yang memiliki inspirasi nubuat. Kesaksian
akan Yesus secara praktis sama dengan pe-
nyaksian Yesus (xxii. 20). Itulah wahyu yang
dinyatakan Kristus sendiri (sesuai dengan
yang ada dalam Why. 1:1) yang meng-
gerakkan nabi-nabi Kristen.”10
Oleh sebab itu, ungkapan Roh Nubuat
dapatlah dikatakan menunjuk kepada (1) Roh
Kudus yang mengilhami nabi dengan wahyu
yang berasal dari Tuhan, (2) pelaksanaan ka-
runia nubuat, dan (3) sarana nubuat itu sen-
diri.
Karunia roh, kesaksian Yesus “kepada
jemaat melalui sarana nubuat,”11 mencakup
ciri-ciri yang jelas dari jemaat yang sisa. Ye-
remia menghubungkan matinya karunia ini
260 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
dengan kesewenang-wenangan. “Tak ada
petunjuk dari Tuhan, bahkan nabi-nabi tidak
menerima lagi wahyu dari pada-Nya” (Rat.
2:9). Wahyu memberikan ciri-ciri pemilikan
keduanya sebagai ciri khas jemaat akhir
zaman; anggota-anggotanya “menuruti hu-
kum-hukum Allah dan memiliki kesaksian
Yesus”—karunia nubuat (Why. 12:17).
Allah memberikan karunia nubuat kepada
“jemaat” Keluaran (Exodus) untuk mengor-
ganisasi, membimbing dan menuntun umat-
Nya (Kis. 7:38). “Israel dituntun oleh Tuhan
keluar dari Mesir dengan perantaraan seo-
rang nabi, ya, ia dijaga oleh seorang nabi”
(Hos. 12:14). Oleh sebab itu, tidaklah meng-
herankan menemukan karunia itu di kalangan
orang yang terlibat dalam Keluaran (Eksodus)
itu pada akhirnya—melarikan diri dari Planet
Bumi yang telah dicemari dosa menuju ke
tanah Kanaan surgawi. Eksodus ini, yang
diikuti dengan Kedatangan Kristus Kedua
kali, yaitu lengkap, final serta menggenapi
apa yang ada dalam Yesaya 11:11. “Pa-
da waktu itu Tuhan akan mengangkat pula
tangan-Nya untuk menebus sisa-sisa umat-
Nya.”
Membantu waktu Krisis Akhir. Kitab Su-
ci menyatakan bahwa umat Tuhan pada za-
man akhir sejarah dunia akan mengalami
murka dahsyat kuasa naga dan Iblis sebab ia
terlibat dalam upaya terakhir untuk membina-
sakan mereka (Why. 12:17). Itulah yang di-
sebutkan “akan ada suatu waktu kesesakan
yang besar, seperti yang belum pernah terjadi
sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu
itu” (Dan 12:1). Untuk membantu mereka
agar tetap hidup melewati konflik zaman
yang paling dahsyat ini, Tuhan dalam kemu-
rahan-Nya memberikan jaminan bahwa me-
reka tidak akan dibiarkan sendirian. Kesaksian
Yesus, Roh Nubuat, akan menuntun mereka
dengan selamat sampai di tujuan akhir me-
reka—menyatunya dengan Juruselamat me-
reka pada kedatangan-Nya yang kedua kali
itu.
Ilustrasi berikut menerangkan hubungan
antara Alkitab dan contoh-contoh sesudah
Alkitab mengenai karunia nubuat: “Cobalah
kita membayangkan kita mulai mengadakan
sebuah pelayaran. Pemilik kapal memberikan
sebuah artikel petunjuk kepada kita, menjelas-
kan secara rinci isi dan petunjuk yang terda-
pat di dalamnya, cukup memadai buat kita
dalam pelayaran itu, dan bila kita memperhati-
kannya maka kita akan mencapai pelabuhan
yang kita tuju dengan aman. Untuk melaku-
kan pelayaran itu kita membuka artikel kita dan
mempelajari isinya. Kita melihat bahwa pe-
ngarangnya mengemukakan prinsip-prinsip
umum yang mengatur kita dalam pelayaran,
memberikan petunjuk yang paling praktis ba-
gi kita, seraya mempertimbangkan pelbagai
kemungkinan yang mungkin timbul menuju
tujuan; bahkan ia juga menceriterakan bagian
akhir perjalanan kita yang berbahaya; keada-
an dan gambaran pantai yang sewaktu-wak-
tu berubah sebab badai; ‘akan namun dalam
perjalanan ini,’ katanya, ‘Saya telah memper-
siapkan seorang jurumudi bagimu, yang akan
menemanimu serta memberikan pelbagai pe-
tunjuk kepadamu ketika keadaan yang berba-
haya itu mengancam, dan kau harus memper-
hatikannya dengan saksama.’ Berkat adanya
petunjuk ini kita menghadapi waktu yang ber-
bahaya yang telah diceritakan secara rinci,
dan sang jurumudi, sesuai dengan janji yang
sudah diberikan, muncul. Akan namun bebe-
rapa awak kapal, ketika ia melaksanakan tu-
gasnya, bangkit hendak melawannya. ‘Kami
memiliki artikel petunjuk yang asli,’ teriak me-
reka, ‘yang cukup memadai bagi kami. Kami
berpegang teguh atasnya, hanya di atas artikel
itu saja; kami tidak memerlukan kau.’ Siapa
sekarang yang memperhatikan dengan sak-
sama artikel petunjuk yang asli itu? Orang yang
Karunia Nubuat 261
menolak jurumudi itukah atau orang-orang
yang menerimanya, sebagaimana yang ter-
dapat dalam artikel petunjuk itu? Pikirkanlah
dengan saksama.”12
ALKITAB DAN NABI-NABI
SESUDAH ALKITAB
Karunia nubuat menghasilkan Alkitab itu
sendiri. Pada zaman sesudah Alkitab karunia
itu bukanlah mengganti atau menambahi Ki-
tab Suci, sebab kanonisasi Alkitab sekarang
sudah berakhir.
Karunia nubuat berfungsi pada zaman
akhir sama pentingnya dengan zaman kera-
sulan. Alkitablah yang ditinggikan sebagai
dasar iman dan praktik, mengajarkan penga-
jaran-pengajarannya, serta menerapkan prin-
sip-prinsip yang ada di dalamnya dalam
kehidupan sehari-hari. Yang turut serta me-
negakkan dan mengukuhkan jemaat, me-
nyanggupkannya melaksanakan tugas yang
diemban Ilahi. Karunia nubuat menegur, me-
nasihatkan, membimbing dan memberikan
semangat kepada jemaat maupun anggota,
melindungi mereka dari kemurtadan serta
menyatukan mereka dalam kebenaran Alki-
tab.
Nabi-nabi sesudah zaman Alkitab sama
saja fungsinya dengan nabi-nabi Natan, Gad,
Asaf, Shemaiah, Miriam, Azariah, Eliezer,
Ahijah, Obed, Debora, Huldah, Simeon, Yo-
hanes Pembaptis, Agabus, Silas, Anna dan
keempat putri Filipus yang hidup pada zaman
Alkitab, dengan kesaksian-kesaksian mereka
yang tidak pernah dimasukkan menjadi bagi-
an Alkitab. Tuhan yang samalah yang mem-
berikan ilham kepada nabi dan nabiah ini sa-
ma seperti ilham yang diberikan kepada nabi-
nabi yang tulisannya dimasukkan dalam Ki-
tab Suci. Pekabaran yang diberikan kepada
mereka tidak bertentangan dengan pekabaran
yang telah dituliskan dalam penyataan Ilahi
sebelumnya.
Ujian Karunia Nubuat. sebab Alkitab
telah memberikan amaran bahwa sebelum
Kristus datang kembali akan banyak nabi
palsu yang timbul, oleh sebab itu, kita harus
hati-hati menyelidiki segala pernyataan karu-
nia nubuat. “Janganlah anggap rendah nubu-
at-nubuat,” kata Paulus. “Ujilah segala se-
suatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah
dirimu dari segala jenis kejahatan” (1 Tes.
5:20-22; bandingkan 1 Yoh. 4:1).
Alkitab merinci beberapa petunjuk yang
dapat kita gunakan untuk membedakan karu-
nia nubuat yang murni dari yang palsu.
1. Apakah pesan yang disampaikan-
nya serasi dengan alkitab? “Siapa yang
tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu,
maka baginya tidak terbit fajar” (Yes. 8:20).
Nas ini mengartikan bahwa pekabaran yang
disampaikan nabi mana pun haruslah selaras
dengan hukum Tuhan dan kesaksian yang
ada di dalam Alkitab. Nabi yang datang
belakangan tidak boleh bertentangan dengan
para nabi yang sebelumnya. Roh Kudus tidak
pernah bertentangan dengan kesaksian yang
diberikan-Nya sebelumnya, sebab Tuhan
“tidak ada perubahan atau bayangan sebab
pertukaran” (Yak. 1:17).
2. Apakah ramalan yang diberikan-
nya menjadi kenyataan? “Bagaimanakah
kami mengetahui perkataan yang tidak difir-
mankan Tuhan? Apabila seorang nabi ber-
kata demi nama Tuhan dan perkataannya itu
tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah
perkataan yang tidak difirmankan Tuhan;
dengan terlalu berani nabi itu telah mengata-
kannya, maka janganlah gentar kepadanya”
(Ul. 18:21, 22; bandingkan Yer. 28:9). Wa-
262 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
laupun ramalan itu mungkin berisi sebagian
kecil dari pekabaran nubuat, ketepatannya
haruslah dinyatakan.
3. Apakah penjelmaan Kristus dia-
kui? “Demikianlah kita mengenal Roh Allah:
setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kris-
tus telah datang sebagai kita semua , berasal dari
Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku
Yesus, tidak berasal dari Allah” (1 Yoh. 4:2,
3). Ujian ini menuntut bukan sekadar penga-
kuan sederhana bahwa Yesus Kristus per-
nah hidup di atas dunia ini. Nabi yang sejati
haruslah mengajarkan pengajaran seperti
yang ada dalam Alkitab mengenai pen-
jelmaan Kristus—harus percaya dalam ketu-
hanan-Nya dan peri pre-eksistensi-Nya, Dia
yang dilahirkan seorang anak dara, kemanu-
siaan-Nya, hidup-Nya yang tidak berdosa,
korban pendamaian, kebangkitan, kenaikan,
pelayanan pengantaraan dan kedatangan
Kristus kedua kali.
4. Apakah nabi itu mendatangkan
“buah” yang baik ataukah yang buruk?
Nubuat datang melalui ilham yang diberikan
Roh Kudus, melalui “orang-orang berbicara
atas nama Allah” (2 Ptr. 1:21). Kita dapat
memperhatikan nabi-nabi palsu melalui buah-
buahnya. “Tidak mungkin pohon yang baik itu
menghasilkan buah yang tidak baik,” kata
Yesus, “ataupun pohon yang tidak baik itu
menghasilkan buah yang baik. Dan setiap po-
hon yang tidak menghasilkan buah yang baik,
pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi
dari buahnyalah kamu akan mengenal me-
reka” (Mat. 7:18-20).
Nasihat ini merupakan ujian yang sangat
berat dalam penilaian terhadap pernyataan
nabi. Yang pertama dibicarakan ialah kehi-
dupan sang nabi. Itu bukan berarti bahwa
nabi haruslah menjadi kita semua yang mutlak
sempurna—sebab Alkitab juga berbicara
tentang Elia sebagai kita semua “biasa sama
seperti kita”(Yak. 5:17). Melainkan kehidupan
nabi haruslah ditandai oleh buah Roh, bukan-
nya sebab perbuatan jasmani (baca Gal.
5:19-23).
Kedua, prinsip ini berhubungan juga de-
ngan pengaruh nabi atas orang lain. Bagai-
manakah hasilnya dalam hidup orang yang
menerima pekabaran itu? Apakah pekabaran
yang diberikan mereka menyiapkan umat
Tuhan melaksanakan misi serta mempersatu-
kan mereka dalam kesatuan iman (Ef. 4:12-
16)?
Setiap orang yang mengaku memperoleh
karunia nubuat haruslah dapat diuji dengan
ujian dari Kitab Suci. Jika pekabaran yang di-
berikan nabi atau nabiah itu memenuhi krite-
ria maka kita dapat yakin bahwa di dalamnya
Roh Kudus ada, yang memberikan individu
itu karunia nubuat.
ROH NUBUAT DI DALAM GEREJA
MASEHI ADVENT HARI KETUJUH
Karunia nubuat sangat giat dalam pela-
yanan yang dilakukan Ellen G. White, se-
orang pendiri Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh. Kepadanya telah diberikan petunjuk
yang diilhami Tuhan kepada umat-Nya yang
hidup pada akhir zaman. Dunia pada awal
abad kesembilan belas, tatkala Ellen White
mulai menyampaikan pekabaran dari Tuhan,
yaitu dunia pria. Nubuat yang disampai-
kannya membuat ia berada di bawah kritik
yang amat tajam. sesudah melewati ujian Al-
kitab, ia meneruskan pekerjaannya selama
kurang lebih 70 tahun, dengan karunia rohani.
Dari tahun 1844, ketika ia baru berusia 17
tahun, hingga tahun 1915—tahun kematian-
nya—ia memperoleh kurang lebih 2000 kha-
yal. Dalam kurun waktu itu ia bekerja dan
hidup di Amerika, Eropa, dan Australia,
memberikan nasihat dan bimbingan, menegak-
Karunia Nubuat 263
kan dan mendirikan kawasan kerja baru,
berkhotbah dan menulis.
Ellen White tidak pernah menyatakan diri-
nya nabiah, akan namun ia tidak keberatan
apabila ia disebut dengan sebutan itu. Ia men-
jelaskan, “Pada waktu saya masih sangat
muda telah ditanyakan kepadaku, ‘Apakah
Anda seorang nabiah?’ Jawaban yang selalu
saya berikan, ‘Saya yaitu jurukabar Tuhan.
Saya tahu banyak orang yang menyebut saya
nabi, akan namun saya sebenarnya tidak per-
nah menuntut sebutan yang demikian....
Mengapa saya tidak menyatakan diri nabiah?
Soalnya, pada masa ini banyak orang yang
dengan lantang menyatakan mereka nabi te-
tapi mempermalukan Kristus; sebab pekerja-
anku mencakup banyak yang bukan sekadar
kata ‘nabiah’ saja.... Saya sama sekali tidak
pernah menyatakan diri nabiah. Jika ada
orang yang menyebut saya demikian, saya ti-
dak mempermasalahkannya dan tidak me-
nentang mereka. Akan namun yang jelas pe-
kerjaan saya meliputi begitu banyak bidang
sehingga saya tidak dapat menyebut diri saya
kecuali jurukabar.”13
Penerapan Ujian Nubuat. Bagaimana-
kah mengukur pelayanan Ellen White terha-
dap ujian yang Alkitabiah ihwal seorang nabi?
1. Setuju dengan Alkitab. Tulisannya
yang berlimpah dengan puluhan ribu nas
Alkitab yang ada di dalamnya, seringkali
berlipat ganda dengan penjelasan yang rinci.
Pengamatan atau studi yang saksama me-
nunjukkan bahwa tulisan-tulisannya taat-
asas, tepat dan penuh keselarasan dengan
Alkitab.
2. Ketepatan ramalan. Secara relatif,
tulisan-tulisan Ellen White berisi sedikit ra-
malan. Beberapa dari antaranya dalam pro-
ses penggenapan sementara yang lain me-
nunggu penggenapan. Akan namun yang da-
pat diuji telah digenapi dengan ketepatan
yang amat menakjubkan. Dua contoh yang
menunjukkan pandangan nubuatnya yaitu
yang berikut.
a. Bangkitnya spiritualisme modern.
Dalam tahun 1850, tatkala spiritualisme—
gerakan yang berhubungan dengan dunia roh
dan orang mati—bangkit, Ellen White me-
nyatakannya sebagai ciri-ciri penipuan pada
masa akhir dan meramalkan perkembang-
annya. Walaupun pada waktu itu gerakan
ini benar-benar anti-Kristen, ia menatap
jauh ke depan bahwa permusuhan ini akan
berubah, dan akan menjadi gerakan yang di-
sambut hangat dan dihormati di kalangan
pelbagai orang Kristen.14 Sejak saat itu spiri-
tualisme sebagai sebuah gerakan telah terse-
bar luas, memperolehjutaan pengikut. Sikap
anti-kri
.jpeg)
