doktrin dasar alkitab 18
ialah adanya kesepakatan dalam iman dan
perbuatan. Perbedaan agama akan membawa
perbedaan dalam gaya hidup yang dapat me-
nyebabkan ketegangan yang mendalam serta
perpecahan dalam perkawinan. Untuk men-
capai kesatuan sebagaimana yang dibicarakan
dalam Kitab Suci, hendaknya menikah de-
ngan orang yang seiman.6
b. Berdiri bersama-sama. Untuk menjadi
sedaging, dua insan itu haruslah setia dengan
sungguh-sungguh satu sama lain. Apabila se-
orang menikah, risiko apa pun dalam per-
nikahan itu harus ditanggung dan diterima
masing-masing. Orang-orang yang menikah
menyatakan kesediaannya menerima pasang-
annya, siap berdiri bersama-sama untuk
menghadapi apa pun. Pernikahan mewajibkan
keaktifan, mengejar kasih sayang yang tidak
kenal menyerah.
“Dua pribadi saling membagi apa yang
ada pada mereka, bukan hanya tubuh me-
reka, bukan hanya harta milik mereka, namun
juga pikiran dan perasaan mereka, kegembira-
an dan derita mereka, pengharapan dan rasa
takut mereka, begitu pula dengan sukses dan
kegagalan mereka. ‘Untuk menjadi sedaging’
berarti kedua pribadi itu menjadi satu tubuh
secara lengkap, satu jiwa dan roh, namun de-
mikian tetap dua pribadi yang berbeda.”7
c. Keintiman. Menjadi sedaging berarti
berkaitan dengan persatuan secara seksual:
“lalu kita semua itu bersetubuh dengan
Hawa, istrinya, dan mengandunglah perem-
puan itu” (Kej. 4:1). Di dalam dorongan me-
reka untuk bergabung bersama-sama, se-
buah dorongan yang dirasakan laki-laki mau-
pun perempuan sejak zaman Adam dan Ha-
wa, setiap pasangan mengulangi kembali ki-
sah kasih yang pertama itu. Perbuatan yang
intim secara seksual yaitu hal yang paling
dekat kepada persatuan jasmani, yang mung-
kin mereka lakukan; hal itu merupakan gam-
baran eratnya pasangan itu, yang dapat me-
reka ketahui baik secara emosi maupun seca-
ra rohani. Kasih sayang yang ada dalam
keluarga Kristen yang sudah menikah harus-
lah ditandai dengan kehangatan, kegembiraan
dan kesukaan (Ams. 5:18, 19).
“Hendaklah kamu semua penuh hormat
terhadap perkawinan dan janganlah kamu
mencemarkan tempat tidur” (Ibr. 13:4). “Al-
Pernikahan dan Keluarga 339
kitab menerangkan dengan jelas kepada kita
bahwa pernyataan kasih secara seksual an-
tara suami dan istri yaitu rencana Tuhan.
Maka sebagaimana dikatakan oleh penulis
Ibrani, yang menekankan janganlah mence-
markan, jangan dengan penuh dosa, jangan
dikotori. Perkawinan itu merupakan tempat
yang patut dihormati dengan sangat—yang
kudus atau kekudusan di mana suami dan istri
bertemu secara pribadi untuk merayakan cin-
ta kasih mereka satu sama yang lain. Itulah
saat yang kudus bagi kedua-duanya, yang da-
pat dihayati secara mendalam dan menye-
nangkan.
5. Cinta kasih yang Alkitabiah. Cinta
kasih dalam hubungan suami-istri tidaklah
bersyarat, penuh dengan kasih sayang dan
saling memperhatikan, pengabdian yang in-
tim dari masing-masing individu yang men-
dorong perkembangan timbal balik dalam
gambar Allah dalam segala aspek pribadi: se-
cara jasmani, emosi, intelektual dan spiritual.
Bentuk-bentuk yang lain dari kasih itu, ialah
kasih yang berlangsung dalam perkawinan; di
dalamnya ada romantika, waktu untuk
menunjukkan kasih sayang, luapan perasaan,
waktu yang nyaman, di dalamnya ada
suasana persahabatan dan waktu merasa sa-
ling memiliki. Akan namun kasih agape yang
dilukiskan dalam Perjanjian Baru—tidak me-
mentingkan diri, segalanya untuk mengasihi
orang lain —yang berisi fondasi yang benar,
cinta kasih antara suami-istri.
Yesus menyatakan bentuk tertinggi jenis
kasih ini ketika menerima baik yang bersalah
maupun konsekuensi atas dosa kita, Ia mem-
bawanya ke salib. “Demikianlah sekarang Ia
mengasihi mereka sampai kepada kesudahan-
nya” (Yoh. 13:1). Ia mengasihi kita sampai
kesudahan, dosa-dosa kita ditanggung-Nya.
Inilah yang dimaksud dengan kasih agape
yang tidak bersyarat yang dimiliki Kristus
Yesus.
Untuk melukiskan kasih ini, Paulus ber-
kata: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia
tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan
tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak
sopan dan tidak mencari keuntungan diri sen-
diri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan
kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita ka-
rena ketidakadilan, namun sebab kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala
sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sa-
bar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak
berkesudahan” (1 Kor. 13:4-8).
Berbicara mengenai ayat-ayat ini, Ed
Wheat menulis sebagai berikut: “Cinta agape
bersumbu pada sumber kuasa abadi dan akan
tetap bekerja saat jenis cinta yang lain bu-
yar.... Cinta itu tetap cinta, tidak menjadi soal
apa pun yang terjadi. Tidak menjadi soal beta-
pa tidak menaruh cinta pun yang lain, cinta
agape mengalir terus. Agape tidak bersyarat,
cinta Allah kepada kita. Itu sebuah sikap
mental yang berdasar pemilihan yang be-
bas dari kemauan.”9
6. Tanggung jawab spiritual yang
bersifat individu. Walaupun pasangan yang
sudah menikah itu membuat janji saling mem-
perhatikan satu sama lain, secara individu
mereka harus memikul tanggung jawab ma-
sing-masing atas pilihan yang mereka laku-
kan (2 Kor. 5:10). Dengan memikul tanggung
jawab masing-masing, itu berarti mereka ti-
dak akan pernah saling menyalahkan atas
apa yang telah mereka lakukan. Mereka ha-
rus menerima juga tanggung jawab atas per-
tumbuhan kerohanian mereka sendiri; tidak
seorang pun yang dapat mempercayakan ke-
kuatan rohaninya kepada orang lain. Namun,
sebaliknya, setiap hubungan seseorang de-
340 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
ngan Allah dapat bekerja sebagai suatu sum-
ber kekuatan dan mendorong orang lain.
EFEK KEJATUHAN ATAS
PERNIKAHAN
Rusaknya pemantulan kita semua akan
gambar Allah yang disebabkan dosa, berpe-
ngaruh pada pernikahan sebagaimana juga
pada bidang lain dari bagian pengalaman
kita semua . Sikap mementingkan diri sendiri
mulai menyusup ke tempat yang tadinya di-
kuasai cinta kasih yang sempurna dan me-
nyatu. Sifat mementingkan diri sendiri meru-
pakan penggerak utama bagi orang yang ti-
dak menerima dorongan kasih Kristus. Me-
nentang semua asas penyerahan diri, sikap
mau melayani dan memberi yang dinyatakan
Injil, itulah hal yang umum yang menjadi ke-
jatuhan orang Kristen.
sebab pendurhakaan Adam dan Hawa
membuat mereka bertentangan dengan tuju-
an penciptaan mereka. Sebelum mereka ja-
tuh ke dalam dosa, mereka hidup sepenuhnya
terbuka di hadapan Allah. Sesudah kejatuhan,
gantinya datang dengan penuh kesukaan ke-
pada-Nya, mereka justru bersembunyi de-
ngan penuh rasa takut dari hadapan-Nya,
mencoba berusaha menyembunyikan kebe-
naran tentang diri mereka sendiri serta me-
nyangkal tanggung jawab mereka atas apa
yang telah mereka lakukan. Hati yang dire-
sapi dengan perasaan bersalah yang menda-
lam, yang tidak dapat dilenyapkan oleh pikir-
an mereka sendiri, tidak dapat memandang
wajah Allah dan bertemu dengan malaikat
yang kudus. Sejak itu dalih dan sikap me-
nyangkal yang membenarkan diri sendiri ini
telah menjadi pola umum hubungan kita semua
dengan Allah.
Rasa takut yang mendorong mereka un-
tuk menyembunyikan diri bukan hanya meru-
sak hubungan Adam dan Hawa terhadap
Allah namun juga terhadap satu sama lain.
Tatkala Allah bertanya kepada mereka, ma-
sing-masing mereka hendak membela diri
mereka sendiri, dengan menimpakan kepada
orang lain. Tuduhan-tuduhan mereka mem-
berikan bukti betapa seriusnya keretakan
yang timbul atas hubungan kasih yang telah
dibuat Tuhan pada waktu Penciptaan.
sesudah jatuh ke dalam dosa, Tuhan Allah
berkata kepada perempuan itu, “Engkau
akan berahi kepada suamimu dan ia akan
berkuasa atasmu” (Kej. 3:16). Prinsip ini di-
maksudkan-Nya, tanpa mengubah prinsip
dasar kesamaan antara laki-laki dan perem-
puan, untuk menguntungkan kedua orang pe-
ngantin pertama itu, dan generasi seterusnya.l0
Sayang sekali prinsip ini telah diselewengkan.
Sejak saat itu maka yang merajalela ialah
penguasaan melalui kuasa, manipulasi, dan
kehancuran secara individu telah menandai
pernikahan dari zaman ke zaman. Sikap yang
berpusat kepada diri sendiri telah mengingkari
sikap penerimaan dan penghargaan satu de-
ngan yang lain.
Wujud Kekristenan itu hidup dalam ke-
serasian penyangkalan diri yang menjadi ciri-
ciri perkawinan sebelum kejatuhan kita semua ,
yang telah dirusak. Kasih sayang suami-istri
membantu kebahagiaan kedua belah pihak.
Mereka harus berpadu, namun demikian ti-
dak seorang pun dari antara mereka yang
boleh kehilangan individualitas mereka, yang
menjadi milik Tuhan.11
PENYIMPANGAN DARI CITA-CITA
ALLAH
Poligami. Praktik yang dilakukan satu orang
dengan mempersunting beberapa pasangan
bertentangan dengan kesatuan dan persatuan
yang dibuat Allah dalam pernikahan pertama
di Eden. Di dalam poligami tidak boleh me-
ninggalkan semua yang lain. Walaupun Kitab
Pernikahan dan Keluarga 341
Suci menggambarkan perkawinan majemuk
sebagai kenyataan kultural pada masa bapa-
bapa, penggambaran itu dengan jelas menun-
jukkan bahwa perkawinan yang demikian
tidak memenuhi cita-cita Ilahi. Di dalam per-
kawinan yang demikian aneka masalah tim-
bul yang lalu melibatkan pertarungan
kekuasaan, dendam kesumat dan keterasing-
an (baca Kej. 16; bandingkan 29:16-30: 24),
memakai anak-anak sebagai senjata
emosi untuk menyakiti hati anggota keluarga
yang lain di dalam keluarga itu.
Pernikahan monogami memberikan kepa-
da pasangan itu rasa memiliki yang mengu-
kuhkan keintiman mereka dan ikatan mere-
ka. Mereka menyadari bahwa hubungan me-
reka itu khas dan tidak seorang pun yang lain
yang terlibat di dalamnya. Hubungan yang
bersifat monogami memantulkan dengan sa-
ngat jelas hubungan antara Kristus dengan
jemaat-Nya dan antara individu dengan Al-
lah.12
Persundalan dan Perzinahan. Praktik dan
pemikiran belakangan ini meremehkan ke-
wajiban pasangan supaya setia satu sama lain
dalam soal seks, sampai kematian. Bahkan
Alkitab menganggap hubungan seksual yang
bagaimanapun di luar pernikahan itu yaitu
dosa. Hukum yang ketujuh masih tetap ber-
laku dan tidak pernah diubah: “Jangan berzi-
nah” (Kel. 20:14). Di sini tidak ada yang di-
ringankan ataupun meringankan. Hukum ini
sebuah prinsip yang menjadi pagar yang amat
ketat atas hubungan pernikahan itu.
Pandangan Alkitabiah yang jelas-jelas
mengenai persundalan dan perzinahan sa-
ngat bertentangan dengan kebebasan yang
berlangsung dewasa ini dari hal kegiatan
“orang-orang dewasa yang diperkenankan.”
Banyak ayat yang ada dalam Perjanjian
Lama maupun dalam Perjanjian Baru yang
menyalahkan perbuatan-perbuatan yang de-
mikian (Im. 20:20-12; Ams. 6:24-32; 7:6-27;
1 Kor. 6:9, 13, 18; Gal. 5:19; Ef. 5:3; 1 Tes. 4:3,
dsb).
Hubungan-hubungan yang tidak senonoh
itu mempunyai efek yang luas dan lama. Per-
buatan itu merampas hak pasangan seksual
yang sah dan mencederai laki-laki atau pe-
rempuan itu secara fisik, emosi, materi, seca-
ra hukum dan secara sosial. Bukan hanya
mereka yang dirugikannya, namun juga kelu-
arga yang lebih luas, dan bila anak-anak terli-
bat di dalamnya, merekalah yang paling me-
rasakan akibatnya yang parah. Hubungan-
hubungan yang tidak senonoh ini dapat meng-
akibatkan penyebaran penyakit kelamin dan
juga lahirnya bayi-bayi yang tidak sah. Selain
itu, kabut dusta dan ketidakjujuran yang
menggelantung atas skandal itu menghancur-
kan rasa percaya yang mungkin tidak akan
pernah dapat dipulihkan kembali. Selain la-
rangan yang ada dalam Alkitab atas pel-
bagai bentuk kebejatan ini, ada juga
rangkaian akibat yang tidak menguntungkan
yang seharusnya menjadi peringatan bagi
mereka yang melibatkan diri di dalamnya.
Pikiran yang Kotor. Dosa bukanlah hanya
sekadar perbuatan lahiriah; termasuk juga di
dalamnya soal hati yang menukik jauh ke da-
lam pola-pola pikiran. Jika sumbernya sudah
cemar, tentu saja sungai yang mengalir dari
padanya tidak akan jernih. Yesus melihat
bahwa persediaan yang jauh di dalam pikiran-
lah yang menggerakkan tingkah laku manu-
sia, “sebab dari hati timbul segala pikiran
jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan,
pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Mat.
15:19). Di dalam perangai inilah Ia menelu-
suri perbuatan yang durhaka terhadap pikiran
dan emosi: “Kamu telah mendengar firman:
Jangan berzinah. namun Aku berkata kepa-
damu: Setiap orang yang memandang perem-
puan serta menginginkannya, sudah berzinah
342 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:27, 28).
Industri telah dikembangkan sepenuhnya
untuk memanfaatkan kekacauan imajinasi.
Film-film yang sensual dan artikel -artikel yang
merangsang dibuat, di dalamnya tidak ada
tempat bagi kehidupan Kristen. Yang dido-
rongnya bukan saja hubungan yang buruk dan
tidak sah, namun juga menghasilkan laki-laki
dan perempuan yang hanya sekadar objek
seksual, sehingga dengan demikian mengacau-
kan makna seksualitas yang sesungguhnya
serta mengaburkan citra Allah. Orang-orang
Kristen diminta supaya memikirkan hal-hal
yang suci dan menghidupkan kehidupan yang
kudus sebab mereka sedang disiapkan hidup
di dalam satu masyarakat yang suci untuk
selama-lamanya.
Inses. Ada orang tua yang melewati batas
demarkasi pernyataan kasih sayang yang se-
hat atas anak-anaknya, melibatkan diri seca-
ra fisik dan emosional dalam hubungan yang
intim dengan mereka. Hal ini sering terjadi
sebab akibat hubungan yang normal antara
suami dan istri telah dilalaikan dan salah satu
dari antara anak-anak ini telah dipilih untuk
memerankan peran pasangannya. Hal seper-
ti ini mungkin terjadi di kalangan sesama sau-
dara dan anggota keluarga yang lebih luas.
Inses dilarang dalam Perjanjian Lama
(Im. 18:6-29; Ul. 27:20-23) dan dikutuk di
dalam Perjanjian Baru (1 Kor. 5:1-5). Bentuk
penyalahgunaan ini merusak pertumbuhan
seksual anak dan menimbulkan dalam dirinya
suatu beban yang tidak dapat dipertanggung-
jawabkan, rasa malu dan bersalah yang tetap
akan melekat dalam dirinya sampai ke perka-
winan kelak. Apabila orang tua melanggar ta-
pal batas itu, mereka menghancurkan keper-
cayaan dan pertumbuhan anak itu—yang
begitu penting untuk membina iman kepada
Allah.
Perceraian. Pernyataan yang diberikan Ye-
sus merangkum seluruh pengajaran di dalam
Alkitab mengenai perceraian: “sebab itu,
apa yang telah dipersatukan Allah, tidak bo-
leh diceraikan kita semua ” (Mat. 19:6; Mrk.
10:7-9). Pernikahan itu merupakan hal yang
kudus sebab Allah telah menguduskannya.
Akhirnya, Allah yang menghubungkan suami
dan istri, bukan hanya perkataan kita semua
atau perbuatan seks. Allah yang memeterai-
kan persatuan mereka. Pengertian orang
Kristen mengenai perceraian dan perkawinan
kembali, haruslah didasarkan atas kitab suci.
Pernyataan Yesus membuat jelas prinsip
Alkitabiah dasar yang mencakup pemahaman
orang Kristen mengenai perceraian: Allah
bermaksudkan supaya pernikahan itu kekal.
Apabila orang-orang Farisi bertanya kepada-
Nya apakah suami-istri yang tidak cocok itu
menjadi alasan yang cukup untuk melakukan
perceraian, Yesus mengukuhkan contoh
yang diberikan di Eden merupakan model
pernikahan sebagai suatu persatuan yang
permanen. Apabila Ia terus didesak mereka
mengenai hukum Musa tentang perceraian,
Ia menjawab, “sebab ketegaran hatimu
Musa mengizinkan kamu menceraikan istri-
mu, namun sejak semula tidaklah demikian”
(Mat. 19:8). Lebih lanjut dikatakan bahwa sa-
tu-satunya alasan untuk mengadakan perce-
raian ialah penyelewengan seksual (Mat.
5:32; 19:9).
Jawab yang diberikan-Nya kepada orang
Farisi membuat jelas bahwa Yesus memiliki
pengetahuan dan pemahaman yang jauh lebih
mendalam tentang kebenaran dari pada me-
reka. Dari apa yang dikatakan-Nya, dan juga
menurut asas-asas mengenai perkawinan
yang ada dalam Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, dikukuhkan bahwa Allah
menginginkan barangsiapa yang melangsung-
kan pernikahan haruslah memantulkan gam-
Pernikahan dan Keluarga 343
bar Allah dalam persatuan yang tetap atau
permanen.
Bahkan, pasangan yang tidak seiman pun
tidaklah menjadi alasan untuk mengakhiri
pernikahan itu dengan perceraian. Jalan salib
itu mendorong supaya mengadakan pertobatan
dan pengampunan, menyingkirkan segala
akar kepedihan. Bahkan dalam kasus per-
zinahan pun, melalui pengampunan dan kuasa
pendamaian Allah, pasangan yang disakiti
haruslah berusaha meraih maksud semula
yang dibuat Allah pada waktu penciptaan.
“Menurut Alkitab, perzinahan merupakan hal
yang sangat merusak terhadap pernikahan
Anda melebihi dosa lain dalam perkawinan...
Apabila engkau mau mengampuni dan me-
nyingkirkan sikapmu yang negatif, Allah siap
sedia menyembuhkan engkau dan membarui
cinta kasihmu satu dengan yang lain.”13
Sementara cita-cita Ilahi bagi suatu perni-
kahan yaitu cinta kasih dan ikatan perma-
nen yang berlangsung sampai kematian me-
renggut salah satu, namun ada saatnya per-
pisahan yang sah sebab aniaya fisik terha-
dap pasangan atau anak. “Menurut beberapa
undang-undang sipil perpisahan yang demikian
dapat dijamin hanyalah dengan perceraian,
yang dalam keadaan seperti ini tidak dapat
dipersalahkan. Akan namun perpisahan atau
perceraian yang mana “ketidaksetiaan terha-
dap sumpah” tidak menjadi kasus, sebab me-
nurut pandangan Alkitab tidak seorang pun
dari antara mereka yang dibenarkan menikah
kembali, kecuali ada salah seorang dari anta-
ra mereka menikah kembali, sebab melaku-
kan perzinahan atau persundalan, atau kare-
na kematian.”14
sebab perkawinan itu merupakan se-
buah lembaga Ilahi, maka gereja memiliki
sebuah tanggung jawab yang unik dan kudus
baik untuk mencegah perceraian, maupun se-
kiranya perceraian terjadi, untuk sedapat-
dapatnya menyembuhkan luka-luka yang di-
akibatkannya.
Homoseksualitas. Allah menjadikan laki-
laki dan perempuan berbeda namun saling
melengkapi. Apabila Ia melakukan hal yang
demikian, Ia mengarahkan perasaan seksual
mereka terhadap yang berlainan jenis. Pem-
bedaan dan ketersambungan yang menandai
orang dinyatakan dalam daya tarik yang me-
narik kedua jenis kelamin itu satu sama lain
untuk membentuk hubungan yang utuh.
Dalam banyak kasus, dosa telah mem-
pengaruhi pengarahan dasar ini, mendatang-
kan fenomena pemutarbalikan. Dalam kasus
yang seperti itu, tujuan yang semula yang
secara alamiah—tertarik kepada jenis kela-
min yang berbeda—telah dikacaukan dengan
ketertarikan kepada jenis kelamin yang sa-
ma.
Kitab Suci dengan jelas mengutuk praktik
homoseksual dengan istilah yang amat ne-
gatif (Kej.19:4-10; bandingkan Yud. 7, 8; Im.
18:22; 20:13; Rm. 1:26-28; 1 Tim. 1:8-10).
Praktik-praktik jenis seperti ini mendatangkan
pemutarbalikkan yang amat mengacaukan
gambar Allah dalam diri lelaki dan perem-
puan.
sebab “semua orang telah berbuat dosa
dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm.
3:23), orang-orang Kristen hendaknya me-
nunjukkan sikap yang menyelamatkan atas
orang-orang yang telah menderita sebab
kekacauan ini. Mereka hendaknya menunjuk-
kan sikap seperti yang diperlihatkan Kristus
kepada wanita yang tertangkap basah dalam
perzinahan: “Aku pun tidak menghukum eng-
kau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi
mulai dari sekarang” (Yoh. 8:11). Bukan ha-
nya kepada orang yang memiliki kecende-
rungan kepada homoseksual, namun juga ke-
pada semua orang yang terjebak dalam ke-
344 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
biasaan itu atau yang berhubungan dengan
hal yang menyebabkan kecemasan, rasa ma-
lu dan bersalah, memerlukan telinga yang
menaruh simpati dari penasihat dan pembim-
bing Kristen yang telah terlatih dan berpenga-
laman. Tidak ada kebiasaan yang tidak dapat
dijangkau anugerah Tuhan yang dapat mem-
berikan kesembuhan.15
KELUARGA
sesudah Tuhan menjadikan Adam dan
Hawa, Ia menyuruh mereka memerintah du-
nia (Kej. 1:26; 2:15). Mereka membentuk
sebuah keluarga yang pertama, jemaat yang
pertama, dan menandai awal suatu masya-
rakat. Dengan demikianlah masyarakat diba-
ngun atas pernikahan dan keluarga. sebab
hanya merekalah kita semua yang mendiami
bumi, maka Tuhan memberikan perintah,
“Beranakcuculah dan bertambah banyak;
penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” (Kej.
1:28).
Menurut statistik kependudukan, bumi
yang tidak berpenghuni tidak meminta lagi su-
paya diisi dan ditaklukkan. Akan namun orang
Kristen yang sudah menikah yang bertekad
hendak memiliki anak-anak di atas dunia ini
masih tetap mempunyai kewajiban untuk
membesarkan anak-anak mereka dalam
pemeliharaan dan tuntunan Tuhan. Sebelum
satu pasangan yang menikah meletakkan tu-
juan seperti itu, mereka harus mempertim-
bangkan apa yang diidam-idamkan Allah bagi
keluarga.
ORANG TUA
1. Sang ayah. Kitab Suci telah meng-
gariskan tanggung jawab suami dan ayah se-
laku kepala keluarga dan imam bagi seisi
keluarga (Kol. 3:18-21; 1 Ptr. 3:1-8). Ia men-
jadi satu tipe dari Kristus, kepala jemaat.
“sebab suami yaitu kepala istri sama se-
perti Kristus yaitu kepala jemaat. Dialah
yang menyelamatkan tubuh. sebab itu se-
bagaimana jemaat tunduk kepada Kristus,
demikian jugalah istri kepada suami dalam
segala sesuatu. Hai suami, kasihilah istrimu
sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat
dan telah menyerahkan diri-Nya baginya un-
tuk menguduskannya, sesudah Ia menyuci-
kannya dengan memandikannya dengan air
dan firman, supaya dengan demikian Ia me-
nempatkan jemaat di hadapan diri-Nya de-
ngan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau
yang serupa itu, namun supaya jemaat kudus
dan tidak bercela. Demikian juga suami ha-
rus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya
sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya menga-
sihi dirinya sendiri” (Ef. 5:23-28).
Sebagaimana Kristus memimpin jemaat,
suami dan istri “kedua-duanya harus tunduk,
akan namun Firman Allah menjadi yang ter-
penting bagi pertimbangan suami yang bukan
sekadar soal hati nurani saja.16 Pada waktu
yang bersamaan ia mempunyai tanggung ja-
wab untuk memperlakukannya secara indivi-
du dengan sikap yang paling hormat.
Sebagaimana Kristus telah menunjukkan
pemerintahan yang penuh kelemahlembutan
sampai ke kayu salib dalam sifat seorang pe-
layan, demikian juga sang suami harus me-
mimpin dengan penuh pengorbanan. “Peme-
rintahan Kristus yaitu hikmat dan kasih, dan
apabila para suami memenuhi tanggung ja-
wab mereka terhadap istri mereka, maka
mereka akan memakai kuasa dalam
kelembutan yang serupa sebagaimana dila-
kukan Kristus kepada jemaat. Apabila Roh
Kristus mengendalikan suami, maka rasa
tunduk istri akan menjadikan ketenteraman
dan mendatangkan keuntungan, sebab apa
yang diharapkan dan dituntutnya dari istrinya
hanyalah kebaikan belaka, dan dalam cara
yang serupa dengan yang dituntut Kristus,
Pernikahan dan Keluarga 345
supaya jemaat tunduk.... Biarlah orang-
orang yang berdiri sebagai suami belajar fir-
man Kristus, tidak mencari tahu betapa leng-
kap seharusnya ketaatan sang istri, melainkan
bagaimana ia dapat memperoleh pikiran
Kristus, sehingga dimurnikan, dihaluskan la-
yak menjadi pemimpin rumah tangganya.”17
Sebagai imam keluarga, seperti Abraham,
sang ayah akan mengumpulkan keluarganya
pada pagi-pagi sekali dan menyerahkan me-
reka ke bawah pemeliharaan Tuhan. Pada
petang hari mereka akan dipimpinnya untuk
memuji Dia dan mengucapkan syukur kepa-
da-Nya atas berkat yang dicurahkan kepada
mereka. Kebaktian keluarga akan menjadi
tali pengikat—waktu yang menempatkan
Tuhan menjadi yang pertama dalam keluarga
itu.18
Ayah yang bijaksana akan meluangkan
waktunya bersama-sama dengan anak-
anaknya. Seorang anak dapat belajar banyak
dari ayahnya, misalnya ihwal menaruh hor-
mat dan mengasihi ibu mereka, mengasihi
Tuhan, tentang pentingnya berdoa, mengasihi
orang lain, bagaimana cara bekerja, sopan
santun, menyukai alam dan benda-benda
yang telah dijadikan Tuhan. Akan namun kalau
sang ayah tidak pernah ada di rumah, maka
anak kehilangan kegembiraan dan hak
istimewa ini.
2. Sang Ibu. Sifat keibuan yaitu hal
yang paling dekat dengan persekutuan dalam
Tuhan. “Raja yang bertakhta di atas keraja-
annya tidak lebih tinggi dibandingkan pekerjaan
seorang ibu. Ibu yaitu ratu rumah tang-
ganya. Di tangan ibulah terletak kuasa untuk
membentuk tabiat anak-anak agar mereka
layak kepada yang lebih tinggi dan kehidupan
yang kekal. Malaikat pun tidak dapat me-
ngerjakan pekerjaan yang lebih tinggi dari
pada ini; sebab di dalam melakukan tugas ini
sang ibu menjalankan tugas pelayanan kepa-
da Tuhan.... Biarlah dia menyadari nilai pe-
kerjaannya dan mengenakan seluruh senjata
Allah sehingga ia dapat menentang pencobaan
untuk menyesuaikan diri dengan standar du-
niawi. Tugasnya yaitu untuk masa kini dan
keabadian.”19
Seseorang di dalam keluarga itu haruslah
memikul tanggung jawab pokok atas tabiat
anak-anak itu. Pendidikan anak tidak boleh
serampangan atau didelegasikan kepada o-
rang lain, sebab tidak seorang pun yang me-
rasakan perasaan yang serupa dengan anak
lebih dibandingkan orang tuanya. Allah menjadikan
ibu dengan kemampuan mengandung anak di
dalam tubuhnya, menyusui anak, memelihara
dan mengasihinya. Selain meringankan be-
ban keuangan atau sebab menjadi orang tua
seorang diri,20 jika toh ia hendak menerima
keadaan yang seperti itu, seorang ibu mem-
punyai tugas khusus atau unik sebab tinggal
tetap dengan anak-anaknya sepanjang hari;
ia dapat menikmati kerja sama dengan Pen-
cipta dalam membentuk tabiat mereka untuk
kehidupan kekal.
“Seseorang di dalam sebuah hubungan
perlu memandang keluarga sebagai sebuah
karier.... Memangku tugas dan karier seba-
gai seorang ibu dan istri yaitu suatu pe-
kerjaan yang paling menakjubkan, pekerjaan
sepanjang hayat, dan tugas yang sangat me-
nantang. Usaha yang sia-sia? Tugas yang
tidak memberi rasa syukur? Pekerjaan budak
yang tidak terhormat? Sama sekali tidak, jus-
tru merupakan sesuatu kemungkinan yang
sangat menyenangkan yang dapat mene-
duhkan gelombang, yang menyelamatkan
makhluk, atau mempengaruhi sejarah, atau
sesuatu yang dilakukan yang akan dirasakan
dan didengarkan di dalam lingkaran yang
jauh lebih luas.”21
Di dalam Perjanjian Lama, pada zaman itu
nama seseorang mengandung pengertian
atas orang yang menyandangnya. Hawa me-
346 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
nerima namanya sesudah Kejatuhan (Kej.
3:20). sebab ia akan menjadi ibu segala
bangsa kita semua , namanya (Ibrani chawwah)
diambil dari kata untuk “hidup” (Ibrani chay).
Nama itu memantulkan kedudukan yang luar
biasa hormatnya, yang tercantum di dalam
sejarah umat kita semua .
Sebagaimana hal berketurunan itu bu-
kanlah satu-satunya hak khusus Adam mau-
pun Hawa, demikian juga halnya dengan
orang tua. Yang disebut belakangan yaitu
tanggung jawab untuk dibagikan bersama.
Begitu pula sekarang, orang tua tidak hanya
melahirkan anak namun juga bertugas untuk
memeliharanya. Setiap orang tua mempunyai
tanggung jawab tertentu, dan mereka harus
melaksanakannya seakan-akan itu kewajiban
terhadap Tuhan. “Sesungguhnya, anak-anak
lelaki yaitu milik pusaka dari pada Tuhan,
dan buah kandungan yaitu suatu upah”
(Mzm. 127:3).
Anak-anak
1. Prioritas. Selain tanggung jawab ke-
pada Tuhan dan pasangan mereka, tiada lagi
tanggung jawab yang lebih tinggi dibandingkan
tanggung jawab kepada anak-anak yang
dilahirkan mereka ke dunia ini. Mereka harus
mengutamakan kepentingan anak-anak demi
kebaikan dan kemajuan mereka sendiri;
anak-anak tidak memilih datang ke dunia ini,
sebab itu mereka harus diberi kemungkinan
yang terbaik untuk memulai hidup. Pengaruh-
pengaruh sebelum lahir ke dunia ini me-
nentukan kerohanian, mental dan kesehatan
jasmani seseorang, sehingga itulah yang
membuat kesejahteraan anak harus menjadi
prioritas yang dimulai bahkan sebelum lahir
ke dunia.22
2. Cinta kasih. Cinta kasih orang tua
haruslah tidak bersyarat dan harus penuh pe-
ngorbanan. Walaupun pengorbanan itu tidak
akan pernah memperoleh balasannya secara
lengkap, anak-anak harus memperoleh citra
diri yang baik dan kesehatan emosional dalam
kehidupannya. Anak-anak yang harus men-
cari cinta kasih atau yang merasa dirinya di-
tolak dan dianggap remeh akan mencoba
memperoleh cinta kasih orang tuanya melalui
tindak-tanduk yang kurang menyenangkan
yang menjadi kebiasaan yang berurat ber-
akar.23
Anak-anak yang merasa terjamin di ba-
wah naungan cinta kasih orangtuanya akan
menghayati cinta kasih itu dalam hubungannya
kepada orang lain. Mereka dapat diajar mem-
beri sebagaimana halnya menerima sehingga
dengan demikian eksistensi diri tidaklah ha-
nya untuk sendiri. Sewaktu mereka bertumbuh,
mereka dapat belajar memuliakan Tuhan.
3. Tanggung jawab. Orang tua Kristen
sedapat-dapatnya mempersembahkan anak-
anak mereka untuk pelayanan kepada Allah
pada usia sedini mungkin dalam kehidup-
annya. Jemaat Masehi Advent Hari Ketujuh
mengadakan upacara sederhana, yakni pe-
nyerahan anak, di hadapan jemaat, orang tua
membawa anak mereka kepada Tuhan untuk
didoakan, sama seperti Yusuf dan Maria
membawa bayi Yesus kepada Tuhan ke da-
lam Bait Suci (Luk. 2:22-39). Dengan cara
seperti ini hidup anak itu menjadi bagian dari
perluasan kerohanian dalam keluarga. Ang-
gota-anggota jemaat turut ambil bagian da-
lam perkembangan sosial dan rohani anak
yang masih muda itu, sebagai seorang anak
Allah dan anggota tubuh Kristus.
Di dalam pelayanan ini orang tua juga
mengabdikan diri untuk mendidik anak dalam
jalan Tuhan supaya dengan demikian citra
Allah terbentuk di dalam diri anak. Untuk
mencapai tujuan ini, orang tua hendaknya
membawa anak-anak mereka ke Sekolah
Pernikahan dan Keluarga 347
Sabat dan ke gereja secara teratur supaya
anak yang kecil itu menjadi satu bagian dari
tubuh Kristus pada usia yang dini. lalu ,
pada waktu anak itu mencapai usia sekolah,
orang tua dan jemaat mengadakan setiap
usaha untuk menyanggupkannya memperoleh
pendidikan Kristen yang akan memelihara
cinta kasih anak itu kepada Tuhan pada hari-
hari lalu .
4. Ketabahan. Pendidikan kerohanian
yang diberikan orang tua berlanjut terus da-
lam proses sehingga memasuki setiap fase
kehidupan anak. “Haruslah engkau mengajar-
kannya berulang-ulang kepada anak-anakmu
dan membicarakannya apabila engkau duduk
di rumahmu, apabila engkau sedang dalam
perjalanan, apabila engkau berbaring dan
apabila engkau bangun. Haruslah juga eng-
kau mengikatkannya sebagai tanda pada ta-
nganmu dan haruslah itu menjadi lambang di
dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya
pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu
gerbangmu” (Ul. 6:7-9;11:18).
Anak dipengaruhi oleh seluruh suasana
rumah tangga. Orang tua tidak memberitahu-
kan hal kerohanian itu di dalam kebaktian
rumah tangga saja. Hal itu haruslah muncul
melalui pengharapan mereka yang terus-me-
nerus di dalam Yesus; hal itu harus dinyata-
kan dalam gaya hidup mereka, baik dalam
berpakaian maupun dalam soal dekorasi ru-
mah tangga. Mengetahui bahwa Allah se-
bagai orang tua yang menaruh kasih sangat
penting bagi perkembangan anak-anak Kris-
ten.
5. Belajar penurutan. “Didiklah orang
muda menurut jalan yang patut baginya, ma-
ka pada masa tuanya pun ia tidak akan me-
nyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6).
Apakah yang akan diakibatkan pendidikan
ini? Disiplin lebih dibandingkan sekadar hukuman.
Hukuman biasanya berkaitan dengan masa
lalu, sedang disiplin menatap ke depan.
Disiplin yaitu proses pemuridan di mana
orang muda itu berguru kepada orang tua un-
tuk memperoleh pendidikan, bimbingan dan
teladan. Itu berarti pengajaran merupakan
prinsip penting yang meliputi misalnya kese-
tiaan, kebenaran, keadilan, konsistensi, kesa-
baran, keteraturan, kemurahan, kedermawan-
an dan pekerjaan.
Apabila anak-anak belajar lebih awal un-
tuk menuruti orang tua mereka, sikap oto-
ritas tidak lagi menjadi masalah bagi mereka.
Akan namun bentuk pelajaran penurutan itu
penting juga. Penurutan yang sejati muncul
bukanlah sekadar sebab itu memang diwa-
jibkan, melainkan sebab muncul dari dalam.
Rahasia jenis penurutan yang seperti ini terle-
tak pada kelahiran baru.
“Orang yang berusaha memelihara hu-
kum-hukum Allah hanya sebab itu merupa-
kan kewajiban belaka—sebab ia diharuskan
untuk berlaku demikian—tidak akan pernah
masuk ke dalam kegembiraan dalam penu-
rutan. Ia tidak menurut.... Penurutan yang
sejati yaitu hasil pekerjaan yang berlang-
sung di dalam. Dari dalamnya terbitlah cinta
kasih akan kebenaran, sebab mengasihi hu-
kum Tuhan. Hakikat segala pembenaran ia-
lah kesetiaan kepada Penebus kita. Inilah
yang akan membimbing kita untuk melakukan
yang benar sebab memang itu benar—ka-
rena perbuatan yang baik itu berkenan ke-
pada Tuhan.”24
6. Sosialisasi dan perkembangan ba-
hasa. Di dalam keluargalah anak-anak diso-
sialisasikan selaku anggota umat kita semua ,
berikut segala tanggung jawab dan hak-hak
yang diakibatkannya. Sosialisasi yaitu suatu
proses yang dengannya anak-anak mempela-
jari keterampilan dasar yang berfungsi di da-
lam masyarakat. Bahasa dengan segala co-
348 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . .
rak perbedaannya yang halus dari komunikasi
yaitu salah satu keterampilan pertama yang
dipelajari anak-anak. Penggunaan bahasa di
dalam rumah tangga memerlukan pengawasan
yang cermat, sebab demikianlah tabiat Allah
dinyatakan. Anak harus lebih sering mende-
ngar pernyataan kegembiraan dan spontan,
kasih sayang yang penuh di antara anggota
keluarga, dan memuji Tuhan.
7. Identitas jenis kelamin. Di dalam
rumah tanggalah, melalui interaksi yang utuh
antara pria dan perempuan yang membuat
sistem keluarga utuh, sebab anak-anak
dapat berfungsi selaku pria ataupun perem-
puan di tengah-tengah masyarakat. Orang
dewasa perlu mengajar mereka tentang kein-
dahan perkembangan seksualitas melalui in-
formasi yang tepat dan memadai. Juga men-
jadi tanggung jawab mereka untuk menjaga
anak-anak dari penyelewengan seksual.
8. Mempelajari nilai-nilai. Sebuah da-
sar sosialisasi fungsi rumah tangga ialah
menyediakan pemaduan nilai-nilai yang dia-
nut keluarga. Nilai-nilai keluarga dan konsep-
konsep religius tidak selamanya sepadan.
Mungkin saja orang tua menyatakan mereka
menganut asas-asas agama tertentu, akan
namun nilai-nilai yang mereka perlihatkan di
depan anak mungkin pula tidak selaras de-
ngan asas-asas itu. Perlu sekali orang tua
bersikap konsisten.
Keluarga yang Diperluas. Perkawinan,
sebagaimana yang direncanakan Tuhan,
yaitu eksklusif, sedang keluarga tidak
demikian. Di tengah-tengah sebuah masya-
rakat yang amat mudah bergerak, sukarlah
menemukan keluarga yang diperluas—ne-
nek-kakek, anggota keluarga atau saudara
sepupu—semua hidup dalam hubungan yang
akrab. Keluarga jemaat dapat membantu
yang jauh dari keluarganya atau yang tidak
mempunyai kerabat untuk memperoleh pera-
saan berharga dan rasa memiliki. Di sini pun,
orang tua tunggal, dapat memperoleh tempat
yang nyaman di mana anak-anak mereka di-
pelihara dalam cinta kasih dan kelemah-
lembutan yang diinginkan. Lalu jemaat dapat
memenuhi model peranan yang tepat yang
mungkin tak ada di dalam rumah tangga.
Dengan belajar mengasihi orang-orang
yang sudah tua dalam jemaat, anak-anak da-
pat belajar memberi hormat. Dan barangsiapa
yang sudah tua dapat mengalami kepuasan
sebab padanya ada anak kecil yang dapat
dikasihi dan disenangi. “Juga sampai masa
tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah
meninggalkan aku, supaya aku memberitakan
kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-
Mu kepada semua orang yang akan datang”
(Mzm. 71:18).
Allah memberikan pertimbangan khusus
kepada orang yang sudah tua dengan ber-
kata, “Rambut putih yaitu mahkota yang in-
dah, yang didapat pada jalan kebenaran”
(Ams. 16:31), dan “Sampai masa tuamu Aku
tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu
Aku menggendong kamu. Aku telah melaku-
kannya dan mau menanggung kamu terus;
Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan
kamu” (Yes. 46:4).
Di dalam jemaat, orang-orang yang hidup
sendirian (single) boleh memperoleh tempat
istimewa untuk dikasihi dan dihargai serta
memperoleh tempat untuk membagikan ka-
sih sayang dan apa yang dapat mereka la-
kukan. Melalui pelayanan demikian mereka
dapat merasakan pemeliharaan Tuhan atas
mereka. “Aku mengasihi engkau dengan ka-
sih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan
kasih setia-Ku kepadamu” (Yer. 31:3).
yaitu merupakan bagian dari “agama
yang sejati” untuk memberikan perhatian dan
pemeliharaan khusus kepada orang-orang
Pernikahan dan Keluarga 349
yang memerlukan pertolongan (Yak. 1:27;
Kel. 22:22; Ul. 24:17; 26:12; Ams. 23:10;
Yes. 1:17). Keluarga jemaat memiliki ke-
sempatan istimewa untuk menyediakan pela-
buhan, sebuah perlindungan, sebuah tempat
untuk merasakan suasana saling memiliki ba-
gi orang-orang yang tidak mempunyai keluar-
ga; dengan demikian setiap anggota dikelilingi
dengan kesatuan khusus yang dikatakan
Kristus akan menjadi tanda Kekristenan itu
sendiri (Yoh. 17:20-23).
PEMBENTUKAN
sebab keluarga yaitu jiwa jemaat dan
masyarakat, maka keluarga Kristen itu sen-
diri haruslah menjadi sarana untuk meme-
nangkan jiwa dan merangkul anggota-anggo-
tanya bagi Tuhan. Ayat-ayat paling akhir dari
Perjanjian Lama yaitu sebuah nubuat atas
apa yang bakal terjadi sebelum kedatangan
Kristus yang kedua kali: “Sesungguhnya Aku
akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang
datangnya hari Tuhan yang besar dan dah-
syat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-
bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati
anak-anak kepada bapa-bapanya supaya ja-
ngan Aku datang memukul bumi sehingga
musnah” (Mal. 4:5, 6). Dewasa ini banyak
kegiatan yang mendorong anggota jemaat
keluar dari lingkaran keluarga, panggilan Tu-
han ialah untuk menyatukan, mengukuhkan,
membalikkan dan memulihkan. Dan keluarga-
keluarga yang menyambut panggilan ini akan
memperoleh kekuatan yang akan menunjuk-
kan Kekristenan yang sebenarnya. Jemaat
yang terdiri dari keluarga-keluarga demikian
akan bertumbuh; orang-orang muda mereka
tidak akan meninggalkannya; mereka akan
menggambarkan kepada dunia ini sebuah
gambaran yang jelas mengenai Allah.
DOKTRIN MENGENAI AKHIR ZAMAN
Di surga ada bait suci, bait suci sejati yang dibuat oleh Tuhan,
bukan yang dibuat oleh kita semua . Di dalamnya Kristus melayani demi
kepentingan kita, memungkinkan orang-orang percaya memperoleh
keuntungan dari korban pendamaian yang diadakan-Nya sekali dan
untuk selamanya di kayu salib. Ia dilantik sebagai Imam Besar yang
Mahatinggi dan memulai pelayanan pengantaraan-Nya pada waktu
kenaikan-Nya. Pada tahun 1844, pada akhir periode nubuat 2300
pagi dan petang, Ia memasuki fase kedua dan terakhir dari pelayanan
pendamaian-Nya. Pekerjaan penghakiman pemeriksaan yang menja-
di bagian penting yang terakhir dan menentukan atas semua dosa,
dilambangkan oleh pembersihan bait suci Ibrani kuno pada Hari
Pendamaian. Dalam bentuk pelayanan itu, bait suci dibersihkan oleh
darah binatang yang dikorbankan, sedang perkara-perkara sur-
gawi dibersihkan oleh korban yang sempurna, darah Yesus. Pengha-
kiman-pemeriksaan menunjukkan kepada makhluk-makhluk yang ber-
pikir cerdas di surga siapa di antara orang mati yang tertidur di da-
lam Kristus dan lalu di dalam Dia, dianggap layak ikut ambil
bagian dalam kebangkitan yang pertama. Itu juga membuat nyata
orang yang hidup tinggal di dalam Kristus, yang memelihara hukum-
hukum Tuhan dan beriman kepada Yesus, dan di dalam Dia, kemudi-
an, siap diubahkan untuk memasuki kerajaan-Nya yang kekal. Peng-
hakiman ini membuktikan keadilan Tuhan dalam menyelamatkan
orang-orang yang percaya di dalam Yesus. Itulah yang menyatakan
bahwa barangsiapa yang tetap setia kepada Tuhan akan menerima
kerajaan itu. Penyempurnaan pekerjaan Kristus ini akan menandai
penutupan pintu kasihan bagi kita semua menjelang Kedatangan-Nya
kedua kali.—Fundamental Beliefs,––24.
353
Saat persembahan korban senja sudah
tiba. Imam berdiri di pelataran bait suci
di Yerusalem siap untuk mempersembahkan
seekor domba sebagai persembahan. Ketika
ia mengangkat pisau untuk menyembelih
korban, bumi bergoncang. Dengan tangan
gemetar pisau jatuh dari tangannya dan dom-
ba melarikan diri. Dengan bergemuruhnya
gempa dan imam mendengar suara yang nya-
ring dan jelas sementara tangan yang tidak
tampak mengoyak tirai Bait suci mulai dari
atas ke bawah.
Gelap menyelubungi kota, awan gelap
mengitari kayu salib. Saat Yesus, Domba
Paskah Allah berseru, “Sudah selesai!” Ia
mati sebab dosa-dosa dunia.
Bayangan telah bertemu dengan wu-
judnya. Tujuan pelayanan Bait suci dari za-
man ke zaman telah digenapi. Juruselamat
telah menyelesaikan korban pendamaian-
Nya, sebab lambang itu telah diwujudkan,
maka bayang-bayang yang dituju oleh korban
ini sudah diganti. Itulah sebabnya tirai telah
dikoyakkan di bait suci, pisau jatuh dan domba
lepas.
Bagi sejarah keselamatan itu masih ada
lagi yang lebih. Hal itu menjangkau lebih
dibandingkan kayu salib. Kebangkitan Yesus dan
kenaikan-Nya langsung mengarahkan perhati-
an kita kepada bait suci yang di surga, di sana
tidak ada lagi Domba, Ia bertindak di sana se-
bagai imam. Korban yang sekali dan untuk
semua itu, telah dipersembahkan (Ibr. 9:28);
sekarang Ia menyediakan segala yang mung-
kin demi kepentingan semua kita semua dengan
korban pendamaian ini.
BAIT SUCI DI SURGA
Allah menyuruh Musa membangun tem-
pat kediaman-Nya di dunia (Kel. 25:8) seba-
gai bait suci pertama yang berfungsi di bawah
perjanjian (lama) yang pertama (Ibr. 9:1).
Inilah tempat di mana umat diajar mengenai
jalan keselamatan. Kurang-lebih 400 tahun
lalu Bait suci yang permanen di Yeru-
salem dibangun oleh Raja Salomo meng-
gantikan bait suci yang dapat dipindah-pin-
dah, yang dahulu dibangun Musa. sesudah
Nebukadnezar menghancurkan Bait suci itu,
orang-orang buangan yang kembali dari
BAB 24
PELAYANAN KRISTUS DI DALAM
BAIT SUCI DI SURGA
354 Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang . . . .
tawanan Babilon membangun Bait suci ke-
dua, yang pernah diperindah oleh Herodes
Agung, yang lalu dihancurkan oleh Ro-
ma pada tahun 70 TM.
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa janji
yang baru juga memiliki satu bait suci, yakni
bait suci yang di surga. Di dalamnya, Kristus
bertindak sebagai imam agung “yang duduk
di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di
surga.” Bait suci ini yaitu “kemah sejati,
yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh
kita semua ” (Ibr. 8:1, 2).1 Di Bukit Sinai Musa
telah diberi “contoh”, sebuah salinan atau
model miniatur bait suci di surga (baca Kel
25:9, 40).2 Bait suci yang dibangun Musa
disebut Kitab Suci “sesuatu yang melam-
bangkan apa yang ada di surga,” dan itu
“tempat kudus. . . merupakan gambaran saja
dari yang sebenarnya” (Ibr. 9:23, 24). De-
ngan demikian, bait suci dunia dengan segala
pelayanannya, memberikan kepada kita pan-
dangan khusus atas peranan bait suci surga.
Di dalam Alkitab dikatakan adanya bait
suci atau kemah surgawi (misalnya Mzm.
11:4; 102:19; Mi 1:2, 3).3 Di dalam penglihat-
an, Yohanes Pewahyu melihat bait suci sor-
ga. Ia menggambarkannya “Bait Suci–ke-
mah kesaksian di surga”(Why. 15:5) dan
“Bait Suci Allah yang di sorga” (Why. 11:19).
Di sana juga dilihatnya peralatan yang digu-
nakan di dalam bait suci dunia merupakan
tiruan dari yang di sorga, misalnya tujuh kaki
dian (Why. 1:12) dan sebuah mezbah pedu-
paan (Why. 8:3). Ia pun melihat tabut per-
janjian seperti yang ada di bilik yang mahasuci
yang ada di dalam bait suci dunia (Why.
11:19).
Mezbah pedupaan surga terletak di ha-
dapan takhta Allah (Why. 8:3; 9:13), yang di
dalam bait suci surga Allah (Why. 4:2; 7:15;
16:17). Pemandangan di ruangan takhta
sorga (Dan. 7:9, 10) yaitu bait suci atau bait
suci sorga. Itulah sebabnya mengapa peng-
hakiman akhir keluar dari bait Allah (Why.
15:5-8).
Maka jelaslah bahwa Kitab Suci menam-
pilkan bait suci surga sebagai tempat yang
nyata (Ibr. 8:2), bukan hanya sebuah meta-
fora atau sesuatu yang abstrak atau tidak
nyata.4 Bait suci surga yaitu tempat utama
Allah.
PELAYANAN DI DALAM BAIT
SUCI SURGA
Pekabaran mengenai bait suci yaitu
sebuah pekabaran mengenai keselamatan.
Allah memakai pelayanan-pelayanan
yang dilakukan di dalamnya untuk meng-
umumkan Injil (Ibr. 4:2). Pelayanan yang di-
lakukan di dalam bait suci dunia yaitu
“kiasan masa sekarang”–sampai saat keda-
tangan Kristus yang pertama kali (Ibr. 9:9,
10). “Melalui lambang dan upacara-upacara,
Allah ingin memusatkan perhatian dan iman
bangsa Israel melalui sarana Injil–perumpa-
maan, atas korban dan pelayanan keimamatan
Penebus dunia, yakni ‘Domba Allah,’ yang
akan mengangkut dosa dunia ini (Gal. 3:23;
Yoh. 1:29).”5 Bait suci menggambarkan tiga
fase pelayanan Kristus: (1) korban pengganti,
(2) pengantaraan keimamatan, dan (3) peng-
hakiman terakhir.
Korban Pengganti. Setiap korban yang
dipersembahkan di dalam bait suci melam-
bangkan kematian Yesus demi pengampunan
dosa, menyatakan kebenaran bahwa “tanpa
penumpahan darah tidak ada pengampunan”
(Ibr. 9:22). Korban-korban itu menggambar-
kan kebenaran-kebenaran yang berikut:
1. Penghakiman Allah atas dosa. Ka-
rena dosa yaitu pemberontakan yang ber-
akar pada pertentangan melawan segala
yang baik, murni, dan benar, dan itu tidak
Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga 355
boleh dianggap remeh. “upah dosa yaitu
maut” (Rm. 6:23).
2. Kematian Kristus sebagai peng-
ganti. “Kita sekalian sesat seperti domba, ...
namun Tuhan telah menimpakan kepadanya
kejahatan kita sekalian” (Yes. 53:6). “Kristus
telah mati sebab dosa-dosa kita, sesuai
dengan Kitab Suci” (1 Kor. 15:3).
3. Allah menyediakan korban penda-
maian. Korban itulah “Kristus Yesus. Kris-
tus Yesus telah ditentukan Allah menjadi
jalan pendamaian sebab iman” (Rm. 3:24,
25). “Dia yang tidak mengenal dosa telah
dibuat-Nya menjadi dosa sebab kita, supaya
dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor
5:21). Kristus, Penebus itu, menanggung
penghakiman dosa atas diri-Nya sendiri.
Oleh sebab itu, “Kristus telah diperlakukan
sebagaimana seharusnya terjadi kepada kita,
agar kita dapat diperlakukan sebagaimana Ia
seharusnya diperlakukan. Ia dihukum sebab
dosa-dosa kita, yang seharusnya tidak ba-
gian-Nya, agar kita dapat dibenarkan oleh
pembenaran-Nya, yang sebenarnya bu-
kanlah bagian kita. Ia menderita kematian
yang seharusnya menimpa kita, agar kita da-
pat menerima hidup yang ada pada-Nya.
‘Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh’
(Yes. 53:5).” 6
Korban-korban persembahan di bait suci
dunia dilakukan berulang-ulang. Seperti se-
buah cerita, upacara ini mengumpamakan
penebusan yang diceritakan dan diceritakan
kembali dari tahun ke tahun. Sebaliknya, wu-
jud–kematian pendamaian yang sesungguhnya
dari Tuhan kita–berlangsung di Golgota se-
kali untuk selamanya (Ibr. 9:26-28; 10:10-
14).
Di atas kayu salib hukuman atas dosa-
dosa kita semua telah dibayar sepenuhnya. Ke-
adilan Ilahi telah dipuaskan. Dari sudut pan-
dang hukum, dunia telah dipulihkan sesuai
dengan kehendak Allah (Rm. 5:18). Penda-
maian, atau rekonsiliasi, telah disempurnakan
SKEMA BAIT SUCI IBRANI
356 Apa yang Anda Perlu Ketahui Tentang . . . .
di kayu salib, yang telah lebih dahulu diba-
yangkan melalui korban persembahan, dan
orang berdosa yang telah bertobat dapat ber-
harap pada karya Tuhan kita yang telah di-
sempurnakan itu.7
Pengantara Keimamatan. Jika korban
pendamaian itu sebab dosa, mengapa diper-
lukan seorang imam?
Peranan imam menarik perhatian atas
perlunya pengantaraan antara orang berdosa
dengan Tuhan yang kudus. Pengantaraan
keimamatan menyatakan seriusnya dosa dan
kerenggangan yang diakibatkannya antara
Tuhan yang tidak berdosa dan makhluk yang
penuh dengan dosa. “Sebagaimana setiap
korban persembahan itu membayangkan ke-
matian Kristus, demikian pula para imam
membayangkan pekerjaan pengantaraan
Kristus sebagai imam besar di bait suci
surga.”sebab Allah itu esa dan esa pula Dia
yang menjadi pengantara antara Allah dan
kita semua , yaitu kita semua Kristus Yesus” (1
Tim. 2:5).8
1. Pengantara dan pendamaian. Pe-
nerapan darah perdamaian selama pelayanan
pengantaraan imam juga tampak sebagai
sebuah bentuk pendamaian (Im. 4:35). Istilah
yang digunakan dalam bahasa Inggris untuk
pendamaian yaitu atonement yang berarti
sebuah rekonsiliasi antara dua kelompok
yang berjauhan. Sebagaimana kematian
yang mendatangkan pendamaian Kristus
yang mendamaikan dunia kepada Tuhan,
demikian pula pengantaraan yang diadakan-
Nya, atau penerapan jasa Dia yang tidak
berdosa dan kematian pengganti, membuat
rekonsiliasi atau pendamaian dengan Tuhan
sebagai realitas pribadi bagi orang yang
percaya. Keimamatan orang Lewi menggam-
barkan pelayanan penyelamatan yang telah
dilakukan Kristus sejak kematian-Nya.
Imam Besar kita, melayani “di sebelah kanan
takhta yang Mahabesar di surga,” berfungsi
sebagai seorang “yang melayani ibadah di
tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati,
yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh
kita semua ” (Ibr. 8:1,2).
Bait suci surga yaitu pusat komando
agung, tempat Kristus memimpin pekerjaan
keimamatan-Nya demi keselamatan kita. Ia
sanggup “menyelamatkan dengan sempurna
semua orang yang oleh Dia datang kepada
Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk men-
jadi Pengantara mereka” (Ibr. 7:25). Oleh
sebab itu, kita diundang supaya datang
“dengan penuh keberanian menghampiri
takhta kasih karunia, supaya kita menerima
rahmat dan menemukan kasih karunia untuk
mendapat pertolongan kita pada waktunya”
(Ibr. 4:16).
Di bait suci dunia imam melaksanakan
dua tugas pelayanan yang jelas–tugas pela-
yanan harian di bilik yang suci, atau di bilik
bagian pertama (baca bab 4) dan tugas pela-
yanan tahunan di Bilik Mahasuci, atau Bilik
Kedua. Pelayanan itu menggambarkan pe-
kerjaan keimamatan Kristus.9
2. Pelayanan di bilik suci. Pekerjaan
keimamatan di bilik suci dalam bait suci itu
ditandai dengan tugas perantaraan, pengam-
punan, pendamaian, dan pemulihan. Pelayanan
yang terus berlangsung, menyediakan jalan
yang tetap menuju Allah, melalui imam.10 Itu
melambangkan kebenaran sehingga orang
berdosa yang bertobat dapat segera dan se -
nantiasa datang mendekati Allah melalui
pelayanan keimamatan Kristus selaku peran-
tara dan pengantara (Ef. 2:18; Ibr. 4:14-16;
7:25; 9:24; 10:19-22).
Apabila orang berdosa,11 menyesal dan
bertobat datang ke bait suci dengan memba-
wa persembahan, ia menumpangkan tangan-
nya ke atas hewan itu seraya mengakui dosa-
Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga 357
dosanya. Tindakan ini melambangkan pemin-
dahan dosanya dan hukuman atas korban.
Hasilnya, ia memperoleh pengampunan atas
dosa-dosanya.12 Menurut Ensiklopedi Yahu-
di: “Penumpangan tangan atas kepala kor-
ban yaitu upacara biasa yang olehnya peng-
gantian dan pemindahan dosa berlangsung.”
“Di dalam setiap korban persembahan terda-
patlah gagasan pengganti; korban itu meng-
ambil tempat orang yang berdosa.”13
Darah persembahan penghapus dosa itu
dioleskan dalam salah satu dari dua cara ini:
a. Jika itu sudah dibawa ke bilik yang suci,
lalu dipercikkan di depan tirai bagian
dalam dan diletakkan di atas tanduk-tanduk
mezbah pedupaan (Im. 4:6, 7, 17, 18). b. Jika
darah itu tidak dibawa ke dalam bait suci,
maka akan diletakkan di atas tanduk-tanduk
mezbah korban bakaran di pelataran (Im.
4:25, 30). Jika ini yang dilakukan, Imam
memakan sebagian daging yang dipersem-
bahkan (Im. 6:25, 26, 30). Dengan demikian,
yang mengambil bagian dalam upacara ini
mengerti bahwa dosa-dosa mereka dan per-
tanggungjawabannya sudah dipindahkan ke
dalam bait suci dan keimamatannya.14
“Dalam perumpamaan upacara ini bait
suci menanggung kesalahan dan pertang-
gungjawaban orang yang telah bertobat
itu–paling sedikit untuk waktu itu–pada
waktu orang yang menyesal dan bertobat itu
mempersembahkan persembahan dan per-
tanggungjawabannya dengan mengakui kesa-
lahan-kesalahannya. Ia pulang dengan peng-
ampunan, yakin atas penerimaan Tuhan. Be-
gitulah, dalam pengalaman yang dilambangkan
itu (pewujudan lambang), apabila seorang
yang berdosa ditarik ke dalam penyesalan
oleh Roh Kudus supaya menerima Kristus
sebagai Juruselamat dan Tuhannya, Kristus
mempertanggungjawabkan dosa-dosa-
nya. Ia telah diampuni. Kristus yaitu Ke-
pastian bagi umat percaya, dan juga sebagai
Pengganti mereka.”15
Di dalam lambang dan yang dilambang-
kannya pelayanan bilik kudus berpusat pada
individu. Pelayanan keimamatan Kristus me-
nyediakan keampunan bagi orang berdosa
dan mengadakan rekonsiliasi dengan Tuhan
(Ibr. 7:25). “sebab Kristus, Allah mengam-
puni orang berdosa yang bertobat, memberikan
kepadanya tabiat yang benar dan penurutan
Anak-Nya itu, mengampuni dosa-dosanya,
serta mencatat namanya di dalam kitab ke-
hidupan sebagai salah satu dari anak-anak-
Nya (Ef. 4:32; 1 Yoh. 1:9; 2 Kor. 5:21; Rm.
3:24; Luk. 10:20). Dan apabila orang percaya
itu tinggal di dalam Kristus, anugerah rohani
diberikan kepadanya oleh Tuhan kita melalui
Roh Kudus supaya ia matang secara rohani
serta mengembangkan kebajikan dan pelbagai
anugerah yang memantulkan tabiat Ilahi (2
Ptr. 3:18; Gal. 5:22, 23).”16
Pelayanan di bilik suci menghasilkan pem-
benaran dan penyucian orang percaya.
Penghakiman Terakhir. Peristiwa pada
Hari Pendamaian (Hari Grafirat) menggam-
barkan ketiga fase penghakiman Allah yang
terakhir. Yakni (1) “penghakiman pramil-
lenium” (atau lazim juga disebut “penghakiman
pemeriksaan”) yang juga dikenal dengan
sebutan “penghakiman pra-Advent”; (2)
“penghakiman millenium”; dan (3) “peng-
hakiman pelaksanaan” yang akan terjadi pa-
da penghujung millenium itu.
1. Pelayanan di Bilik Mahasuci. Ba-
gian kedua dari pelayanan keimamatan ber-
pusat pada bait suci, sekitar pembersihan bait
suci dan umat Tuhan. Bentuk pelayanan,
yang berpusat pada Bilik Mahasuci dari bait
suci itu dan yang dikerjakan hanya oleh imam
besar, terbatas pada satu hari saja dalam
tahun agama.
Dua kambing jantan diperlukan waktu
358 Apa yang Anda Perlu Ketahui Tentang . . . .
penyucian bait suci–yang merupakan syarat–
yakni kambing jantan bagi Tuhan Allah dan
kambing jantan bagi Azazel (dalam bahasa
Ibrani). Dalam mempersembahkan kambing
untuk Tuhan, imam besar mengadakan pen-
damaian “bagi tempat kudus dan Kemah Per-
temuan serta mezbah” (Im. 16:20; bandingkan
16:16-18).
Darah kambing untuk Tuhan, yang di-
ambil, menggambarkan darah Kristus, diba-
wa ke Bilik Mahasuci, secara langsung di-
gunakan imam besar, di hadapan Allah, ke
tutup tabut pendamaian–tutup tabut yang
berisi Sepuluh Hukum–untuk memenuhi
tuntutan hukum Allah yang kudus. Tindakan-
nya melambangkan harga yang tidak ternilai
yang dibayar Kristus sebab dosa-dosa kita,
menunjukkan betapa inginnya Allah menda-
maikan umat-Nya kepada-Nya sendiri (ban-
dingkan 2 Kor. 5:19). lalu darah ini
dibawa ke mezbah pembakaran ukupan dan
ke mezbah korban bakaran tempat di mana
setiap hari sepanjang tahun darah dipercikkan
yang melambangkan dosa-dosa yang diakui.
Sesudah itu imam besar mengadakan suatu
pendamaian untuk bait suci, sebagaimana ju-
ga dengan umat, dan menyucikan kedua-dua-
nya (Im. 16:16-20, 30-33).
Selanjutnya, menggambarkan Kristus se-
bagai pengantara, imam besar itu menaruh
atas dirinya dosa-dosa yang telah mencemari
bait suci serta memindahkannya ke atas
kambing yang tetap dibiarkan hidup–kambing
Azazel, yang lalu dihalau ke padang
gurun, jauh dari kemah umat Allah. Perbuat-
an ini memindahkan dosa-dosa orang yang
telah dipindahkan secara simbolis dari orang-
orang percaya yang telah bertobat ke bait
suci melalui darah atau daging persembahan
pelayanan harian untuk pe
.jpeg)
