gereja masehi 12
ksa harus merasa bebas untuk memilih salah satu dari tiga daftar
ini sebagai dasar pertanyaan mereka.
1. GC Policy L 50. Ada tiga belas bidang yang disarankan.
a. Panggilan ke dalam pelayanan penginjilan selaku pekerjaan selama hidup.
b. Kepercayaan dan pengetahuan dalam Alkitab.
c. Pengenalan dengan dan penerimaan sepenuhnya atas kebenaran penuh yang kita percayai, dan yang ke
dalamnya kita terpanggil untuk menyatakannya ke dunia ini.
d. Pengalaman dalam pelbagai macam tanggung jawab penginjilan
e. Pengabdian diri dalam seluruh fisik, pikiran dan rohani.
f. Kestabilan kerohanian
g. Kedewasaan sosial
h. Keterampilan selaku seorang guru kebenaran.
i. Kesanggupan menuntun jiwa-jiwa dari dosa ke dalam kesucian.
j. Keberhasilan dalam jiwa-jiwa yang dimenangkan kepada Kristus.
k. Satu sikap kerjasama dan keyakinan dalam organisasi dan fungsi gereja.
l. Satu kehidupan Kristen yang tetap jadi panutan.
m. Sebuah keluarga percontohan.
2. Peraturan pengasingan. Buku peraturan ini mencakup 50 fungsi pelayanan penginjilan, dibagi ke
dalam tujuh kelompok. Konferens atau daerah bertanggung jawab memberikan pelatihan kepada pendeta
pemula dalam masing-masing dari 50 fungsi itu. Dengan demikian, semua pertanyaan dari daftar ini
menguji keduanya, konferens dan calon pengurapan.
Setiap pemeriksaan yang menguji kesiapan seseorang untuk memasuki satu panggilan atau satu keahlian
seharusnya itu didasarkan atas dasar pembagian tugas keahlian itu sendiri. Kelima puluh fungsi ini
mencakup bidang di mana setiap pendeta memerlukan keahlian dan dengan demikian, meskipun itu tidak
tertulis dalam bentuk pembagian tugas, tetapi menyediakan garis penuntun gereja yang paling resmi
tentang apa yang diharapkan dilakukan oleh seorang pendeta Gereja Masehi Advent hari Ketujuh:
a. Pertumbuhan pribadi: (1) Kesetiaan pribadi; (2) Ajaran Advent, satu pergerakan Advent sedunia
yang unik; (3) sikap terhadap pelayanan penginjilan dan pertanggungjawabannya; (4) peraturan gereja
dan struktur organisasi; (5) pendidikan yang berkesinambungan; (6) pengembangan kelompok pribadi
penunjang; (7) sistem kearsipan; (8) kesanggupan kepemimpinan; (9) Etika pelayanan kependetaan; (10)
penampilan kepribadian; (11) keuangan pribadi; (12) kesehatan pribadi; (13) tim pelayanan dengan
pasangan; (14) pengelolaan waktu, waktu untuk keluarga.
b. Hubungan pribadi: (15) hubungan di luar gereja–rumah tangga, warga dan bangsa; (16)
hubungan dalam lingkungan gereja–Kristus, jemaat dan konferens/daerah.
c. Evangelisasi dan pertumbuhan gereja: (17) pertumbuhan gereja dan sistem kewaspadaan; (18)
pertumbuhan gereja sistem jangkauan keluar; (19) perencanaan pertumbuhan gereja dan strategi; (20)
mengambil keputusan; (21) evangelisasi perorangan; (22) evangelisasi umum; (23) evangelisasi
kelompok kecil; (24) jangkauan keluar yang dikhususkan, penjara, dll.
d. Latihan anggota: (25) rekrut dan latihan sukarelawan, pegawai, karunia rohani.
e. Berkhotbah dan berbakti: (26) baptisan; (27) pemberkatan anak-anak; (28) perjamuan kudus; (29)
penguburan; (30) merencanakan dan memimpin perbaktian; (31) kumpulan sembahyang; (32)
berkhotbah; (33) pernikahan.
f. Pemeliharaan dan perawatan penggembalaan: (34) menerima anggota baru; (35) disiplin gereja;
(36) konseling; (37) mantan anggota; anggota yang tidak aktif; (38) formasi kerohanian melalui hubungan
dengan anggota; (39) melawat anggota;
g. Organisasi dan administrasi: (40) pendidikan Kristen; (41) pembangunan gedung gereja,
perawatannya; (42) kehidupan sosial gereja; (43) komite; (44) departemen konferens/daerah’; (45)
keuangan; (46) menggembalakan distrik dengan sejumlah gereja; (47) menyelesaikan permasalahan,
resolusi perpecahan; (48) promosi; kampanye; (49) sekolah Sabat; (50) kepemimpinan orang muda.
3. Kode Etik Kependetaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Buku kode etik ini (buka halaman
51) menyediakan dasar yang paling unggul dalam memeriksa calon pengurapan tentang penyerahannya
kepada pelayanan penginjilan. Sebagian menganjurkan supaya ditandatangani jawabannya itu.
Pasal 16
ritual Pengurapan
Para Pendeta
Keterlibatan hadirin. — Orang-orang Advent mengajarkan bahwa pengurapan yaitu pengasingan para
pelayan penginjil oleh seluruh anggota gereja. Namun dalam praktiknya, ritual pengurapan itu
cenderung hanya semata-mata melibatkan para pendeta. Hadirin begitu sedikit berpartisipasi sehingga
orang-orang kadang-kadang merasa dirinya seperti penonton yang tidak terlibat, yang sedang
menyaksikan satu latihan para pendeta untuk pendeta.
Persahabatan antara para pendeta itu penting dan dapat dinikmati dalam satu resepsi khusus untuk
pendeta-pendeta yang sudah diurapi yang diadakan untuk calon pendeta bersama istrinya. Namun
pengurapan itu bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh para pendeta untuk sesama mereka, tetapi yang
dilakukan oleh seluruh anggota jemaat untuk pelayanan penginjilannya. Jikalau pengurapan itu terutama
untuk ritual di dalam gereja setempat, semua gereja yang dilayani oleh calon [pengurapan itu harus
dilibatkan.
Ada empat usul untuk meningkatkan keterlibatan hadirin:
a. Undanglah seluruh anggota jemaat yang dilayani oleh calon baptisan supaya berdiri bersama
keluarganya sementara calon itu diperkenalkan dan diantar ke mimbar.
2. Masukkanlah sebagian bacaan balasan hadirin dalam ritual itu.
3. Di sebagian urutan ritual itu, bawalah ke mimbar para ketua jemaat yang sekarang dilayani calon itu.
barangkali mereka hanya menyalami pendeta mereka setelah para pendeta melakukannya.
4. Laksanakanlah ritual pengurapan itu di gereja setempat yang sedang digembalakannya.
Keterlibatan pasangan. Ada lima usul untuk meningkatkan keterlibatan pasangan dalam ritual
pengurapan.
1. Antarlah istri bersama suami ke mimbar.
2. Undanglah istri itu bertelut di samping suaminya selama doa pengurapan.
3. Biarlah istri itu tetap berada di samping suaminya selama disumpah dan disambut.
4. Biarkan seorang istri pendeta memberikan satu sambutan istimewa kepada istri pendeta yang sudah
diurapi.
5. Berikanlah kembang kepada istri itu pada saat yang sama suami diberikan sertifikat pengurapan. (Kalau
menurut kebiasaan suami diberikan hadiah, berikan juga kepada sang istri). Mungkin ini datang dari
cabang Sheperdess, dan biarlah ketuanya yang menyerahkannya.
Tatacara pengurapan. — Jika praktis dilaksanakan, semua pendeta yang sudah diurapi duduk di rostrum
sementara ritual pengurapan dimulai. Tatacara pengurapan boleh diatur demikian:
Nyanyian
Doa
Memperkenalkan calon pengurapan dan istri masing-masing
Sampai saat ini biarlah calon pengurapan dan istri masing-masing duduk di baris depan. Sementara
dipanggil nama tiap-tiap calon, pasangan itu berdiri dan berjalan menuju mimbar. yaitu baik bagi
mereka bila dikawal oleh pasangan pendeta yang lebih senior yang dipilih oleh mereka sendiri. Sementara
pasangan itu berdiri, keluarga dan anggota jemaat yang dilayani juga harus berdiri dan tetap berdiri
sampai pasangan itu duduk di mimbar. Sementara itu, sekretaris asosiasi kependetaan, atau siapa saja
yang memperkenalkan calon itu memberitahukan tentang latar belakangnya dan pelayanan
penginjilannya. Harus juga disebutkan karunia unik sang istri dan peranannya dalam pelayanan
penginjilan.
Nyanyian istimewa
Indah nian jika kelompok istri pendeta dapat menyumbangkan nyanyian.
Khotbah singkat
Khotbah ini harus pendeta. Para calon dan istri masing-masing harus duduk di mana pembicara dapat
bicara kepada mereka secara langsung. Khotbah itu disimpulkan dengan satu tantang kepada calon
pengurapan.
Sambutan calon
Ini barangkali dapat dihapuskan jikalau banyak calon yang akan diurapi sekaligus. Sambutan itu bukanlah
khotbah pendek, tetapi kesaksian pribadi yang singkat.
Doa pengurapan (lihat di bawah)
Tantangan (Lihat di bawah)
Selamat datang (lihat di bawah)
Kor pendeta (kalau mungkin) atau nyanyian istimewa lainnya.
Para pendeta sudah berada di rostrum. Nyanyian ini dapat menjadi ucapan selamat datang dan tantangan
bagi uang sudah diurapi.
Acara penutup
Pada titik waktu ini para pendeta sering memakan banyak waktu mengucapkan “selamat” dan menyambut
para pendeta baru dan istri mereka, tetapi hadirin tidak dilibatkan sehingga mereka resah. Hadirin dapat
dibubarkan sebelum berbaris. Kemudian perorangan bebas duduk dan menyaksikan, ikut berbaris dan
meninggalkan ruangan.
Barisan penyambut
— Pengurus yang menyerahkan sertifikat, hadiah, kembang, dsb.
— Para pendeta.
— Ketua-ketua jemaat dari gereja yang dilayani pendeta baru.
— Keluarga dan tamu istimewa dari pendeta baru. Mereka ini dapat duduk di tempat khusus.
— Hadirin.
Doa pengurapan. — Hadirin biasanya duduk sambil menundukkan kepala selama doa pengurapan. Para
pendeta dan calon bertelut, yang terakhir di tengah-tengah kelompok. Istri bisa juga bertelut di samping
suaminya, tetapi dia tidak mendapat tumpangan tangan. Mereka yang mengambil bagian istimewa dalam
ritual , dan sebanyak yang lain yang dapat melakukannya, bertelut dekat calon supaya dapat
menumpangkan tangan dengan tangan bersambung.
Pengurapan mengucapkan terima kasih kepada Allah sebab keluarga yang telah membesarkan calon,
sebab istri dan anak-anak yang berdiri di sampingnya, sebab jemaat yang mendukungnya. Doa itu
mengakui panggilan Allah bagi pendeta untuk pekerjaannya yang kudus, dan memerlukan kekuatan Ilahi
untuk melaksanakan tugas itu. Sementara tangan-tangan pendeta ditumpangkan atas calon dalam
pengakuan gereja akan panggilan Ilahi, doa itu memohon agar Tuhan sudi memberikan kuasa Roh Kudus
dalam ukuran yang lebih besar lagi.
Sementara penumpangan tangan disebutkan dalam doa, setiap pendeta yang telah diurapi itu
menumpangkan tangan di atas calon, atau di atas mereka yang menumpangkan tangan, agar semua
bersambung. Mereka terus melakukannya sampai doa itu berakhir.
Tantangan. — (Setelah berdoa, semua pendeta berdiri sementara diberikan tantangan:)
Saudara _______________________, Allah telah memanggil engkau untuk pekerjaan pelayanan
penginjilan dan gereja, setelah mengakui panggilan itu, telah mengasingkan engkau dengan tumpangan
tangan. Sekarang engkau dinobatkan untuk kekuasaan gerejani yang penuh. Tidak ada penghormatan
yang lebih tinggi dari itu yang diberikan kepada seseorang. Tetapi penghormatan seperti itu juga
mencakup tanggung jawab yang besar.
Saya meminta engkau supaya melayani selaku seorang hamba.
Selaku seorang hamba, pelajarilah Guru Gembala itu seumur hidupmu. Ketahuilah apa yang engkau
ajarkan, tetapi pertama-tama, ketahuilah siapa yang engkau ajar. Dengan memakai waktu bersama
Yesus, engkau akan menjadi sama seperti Yesus. sebab oleh memandang, kita berubah. “Seorang murid
tidak berada di atas gurunya, atau seorang hamba tidak berada di atas tuannya. Sudah cukup bagi seorang
murid bila ia sama seperti gurunya, dan bagi seorang hamba bila sama seperti tuannya” (Mat. 10:24, 25).
Selaku seorang hamba, hiduplah sebagaimana Tuanmu hidup:
Seperti Yesus, hiduplah sederhana. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap
kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-
Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:5-7).
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang
berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia
berkenan kepada komandannya” (2 Tim 2:3, 4).
Seperti Yesus, jadilah seperti apa yang engkau harapkan dari orang lain. “ . . . Jadilah teladan bagi orang-
orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu” (1 Tim. 4:12b).
Saya minta engkau melayani selaku seorang gembala.
Yesus mengatakan, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-
dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan bukan pemilik domba-domba itu sendiri
. . . Meninggalkan domba-domba itu lalu lari. Ia lari sebab ia seorang upahan dan tidak memperhatikan
domba-domba itu” (Yoh 10:11, 13).
Jadilah seorang gembala, bukan seorang upahan. Bekerjalah demi domba-domba itu, bukan demi uang
semata-mata. Kasihilah Kristus dengan amat sangat, dan Dia akan menolong engkau mengasihi domba
yang kesasar sebab keras kepala sebagaimana Doa mengasihinya. “Seorang hamba Tuhan . . . Harus
ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar” (2 Tim 2:24).
Ingatlah, keluargamu sendirilah kawanan domba yang engkau diminta pertama-tama untuk
menggembalakannya.
Saya minta engkau melayani selaku seorang pengawal.
Selaku seorang pengawal, berilah amaran. “Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi
penjaga bagi kaum Israel. Bila engkau mendengar suatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka
demi nama-Ku. Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! — dengan
engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang
jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya
dari padamu.
. . . Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak
berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari
kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu
akan mati, hai kaum Israel?” (Yeh. 33:7, 8, 11).
Selaku penjaga, menangkanlah. Yesus mengatakan: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah
yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan
buahmu itu tetap” (Yoh 15:16).
sebab itu “di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati,
aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi pernyataan-Nya dan demi kerajaan-Nya:
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah
dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. . . . Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal,
sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu” (2 Tim 4:1,
2, 5).
Saya minta engkau melayani selaku seorang guru.
Mengajarlah demi penggembalaan, dengan melatih anggota jemaatmu menjadi pemimpin. “Apa yang
engkau telah dengar dari padaku . . . Percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang
juga cakap mengajar orang lain” (2 Tim. 2:2).
Mengajarlah dengan rajin, dengan menjadi seorang pembaca buku seumur hidup dan menjadi pelajar
firman. “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah
malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (ayat 15).
Mengajarlah dengan pengajaran. “Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita,
engkau akan menjadi seorang pelayan Yesus Kristus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita
dan dalam ajaran sehat yang telah kau ikuti selama ini . . . . Awasilah dirimu sendiri dan awasilah
ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, sebab dengan berbuat demikian engkau akan
menyelamatkan itu, sebab dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua
orang yang mendengar engkau” (1 Tim 4:6, 16).
Mengajarlah dengan jelas dan praktis, sehingga anak kecil pun mendengar dan memahaminya. “sebab
itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan sebab kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi
penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri”
(Kisah 20:28).
Pujangga itu menyimpulkannya demikian:
Kami minta kamu menyambut di dalam nama
Yesus, kepala kita yang ditinggikan:
Datanglah selaku seorang hamba: lalu Ia datang;
Dan kami menerima engkau sebagai penggantinya.
Datanglah selaku seorang gembala: jagalah dan lindungilah
Kawanan domba-Nya dari neraka dan dunia dan dosa;
Peliharalah anak domba, berilah makan domba-domba;
Sembuhkan yang terluka, bawa pulang yang hilang.
Datanglah selaku seorang penjaga: berdirilah teguh
Di atas menara, di tengah-tengah langit;
Dan apabila pedang menyerang bumi;
Panggillah kami untuk berjuang, atau amarkan supaya lari.
Datanglah selaku seorang guru, yang diutus dari Allah,
Nyatakanlah seluruh nasihat-Nya yang diingatkan;
Angkatlah tinggi tongkat gembala itu,
Sementara kami menopang tanganmu dalam doa. — James Montgomery.
Apabila tugasmu sudah berakhir, dapatkah engkau berkata seperti Paulus, “Aku telah mengakhiri
pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah
tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan Hakim yang adil, pada
hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan
kedatangan-Nya” (2 Tim 4:7, 8).
Selamat Datang. — (Rombongan rostrum tetap berdiri sementara seorang pendeta yang telah ditentukan
menyambut:)
Saudaraku (atau pendeta), yaitu kesempatan berbahagia bagiku untuk memberikan salam hangat dan
menyambut Anda ke dalam pangkat pelayanan penginjilan.
Saya menyambut Anda demi konferens atau daerahmu dan gereja sedunia. Setialah kepada
pimpinannya. Gunakanlah kebaktiannya untuk menolong Anda dalam pekerjaanmu. Jangan pernah
kehilangan pandangan tentang misi kita ‘yang padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada
mereka yang diam di atas bumi, dan kepada semua bangsa, suku dan bahasa dan kaum” (Wahyu 14:6).
Saya menyambut Anda demi rekan-rekanmu pendeta. Setiap masalah atau frustrasi yang Anda akan
hadapi telah ditanggulangi dengan berhasil oleh pendeta-pendeta lainnya. Pilihlah seorang menjadi
gembalamu. Biarkan rekanmu pendeta melayani Anda.
Saya menyambut Anda demi jemaat yang Anda layani. Mereka berhak mengharapkan banyak dari
kita. yaitu satu ilham dan penghiburan untuk mengingat bahwa doa mereka dinaikkan demi kita, dan
sebagai gantinya kita memandang mereka selaku rekan sekerja dalam penarikan jiwa.
Sebagai laskar Kristus, Anda tidak luput dari goresan dan luka. Tidak ada di antara kita yang dapat
menghindarinya. Tetapi, bila pada akhirnya kita berdiri di laut kaca dengan kemenangan bersama mereka
yang bekerja dengan kita, tangan Komandan yang terluka itu akan ditumpangkan atas luka-luka kita. Bagi
kita, luka kita itu nampaknya begitu kecil dibanding dengan luka-Nya, sementara kita mendengar
pernyataan-Nya: “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik
dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam
perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21).
Selamat datang kepada istri. — (Rombongan di rostrum masih berdiri sementara istri pendeta yang
sudah ditentukan menyambut istri pendeta yang sudah diurapi yang harus berdiri di samping suaminya).
Selamat datang, _________________ ke dalam keluarga wanita yang suaminya telah diurapi ke dalam
pelayanan penginjilan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
Selamat datang kepada tim penginjilan dengan suamimu. Di Taman Eden diperlukan keduanya Adam dan
Hawa untuk menggambarkan peta Allah secukupnya. Dalam penggembalaan diperlukan kekuatan suami
dan kepekaan istri untuk memperkenalkan Kristus sepenuhnya kepada jemaat.
Pelayanan penginjilan suamimu membutuhkan Anda, apakah ia sudah mengetahuinya atau belum. Sejauh
kesanggupanmu, bekerja samalah dengan dia dalam pengembangan satu tim penginjilan dalam diri Anda
dengan dia dalam pengembangan satu tim penginjilan dalam diri Anda berdua. Kesatuanmu akan
menjadi teladan bagi orang muda, satu penarikan bagi orang-orang yang belum percaya, dan sumber
pertolongan bagi mereka yang mencari nasihat.
Selamat datang kepada pelayanan penginjilanmu sendiri. Anda tidak harus diharapkan melakukan segala
sesuatu yang diharapkan jemaat atau suamimu sendiri. Akan ada beberapa hal yang Anda merasa tidak
sanggup melakukannya. Tidak ada yang mengharapkan dapat melakukan segala sesuatu. Saya mendorong
Anda untuk mencari tempat penginjilanmu sendiri dan mengerjakannya. Janganlah mencoba menjadi
segalanya bagi semua orang. Tetapi pusatkanlah pikiranmu menjadi segalanya menurut keinginan Allah.
Selamat datang kepada masalah yang dihadapi seorang istri pendeta.
* Rasa kesepian dan pengucilan sebab terlalu sering pindah, terlalu banyak akar, dan ketidakpastian
apakah OK atau tidak kalau dekat dengan sahabat-Sabat di antara anggota jemaat.
* Merasa tidak sanggup, takut kalau-kalau tidak selalu senyum bila Anda harus, takut mengucapkan kata-
kata yang benar, atau memiliki semua karunia yang diharapkan anggota jemaat.
* Ingin menyendiri sementara hidup dalam akuarium, selalu diharapkan menjadi model peranan bagi
orang lain ketika kadang-kadang Anda merasa tidak pasti mengetahui siapakah Anda sebenarnya.
* Menghapus air mata sementara Anda berdoa bagi anggota yang tidak tanggap terhadap penginjilan yang
ditawarkan kepadanya.
* Anggaran belanja yang ketat dan acara yang ketat pula.
* Ketegangan bila Anda ingin berteriak melindungi diri sebab suamimu diserang–dan yang Anda berani
lakukan hanyalah menggigit bibir.
Selamat datang kepada kesenangan seorang istri pendeta.
* Hidup dengan seorang yang, walaupun tidak sempurna, bermaksud menjadi orang Kristen yang bakti
diri.
* Menjadi sebagian dari pekerjaan suamimu sebagaimana pilihanmu.
* Menawarkan Injil kepada orang-orang satu-satunya di dunia yang memenuhi segala kebutuhan yang
sesungguhnya.
* Merasa dapat mengerjakan pekerjaan yang berguna.
* Dibutuhkan.
* Paham bahwa hidup seperti melayani, walaupun kadang-kadang membingungkan, tetapi membawa
kepuasan hidup yang terbesar.
* Mengetahui bahwa anggota jemaatmu mengasihi Anda dan banyak yang berdoa setiap hari untuk Anda.
* Mendapati bahwa Yesus tidak pernah gagal, dan bahwa Anda dapat mempercayai-Nya.
* Mengetahui bahwa Allah telah merencanakan ritual hari ini sebelum Anda dilahirkan. Dia telah
membawa Anda kemari bukan supaya gagal, tetapi menyediakan segala sesuatu yang Anda butuhkan
untuk melakukan segala sesuatu yang Dia ingin Anda lakukan.
Ingatlah bahwa semua rekanmu istri pendeta selalu berdoa untuk Anda. Kami menawarkan diri menjadi
pendukung yang istimewa. Selamat datang.
Saran tambahan. — Ada lima saran tambahan yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan ritual
pengurapan.
1. Para pimpinan konferens atau daerah bersama-sama boleh mengundang calon bersama istrinya untuk
dorongan dan persekutuan di suatu malam. Atau, istri ketua konferens/daerah boleh mengundang istri
calon ke luar atau ke rumahnya.
2. Panggilan semua staf kependetaan supaya melakukan perjamuan kudus bersama dan pengakuan khusus
pasangan itu. Sebuah hadiah sangat cocok untuk mengenang peristiwa itu.
3. Gunakanlah kode etik dalam buku peraturan ini. Mungkin juga itu tidak dimaksudkan dalam khotbah
supaya dibaca sebagai penyerahan yang diurapi kepada pelayanan penginjilan, atau dicetak di bagian
belakang sertifikat pengurapan, atau di mana saja supaya ditandatangani sebagai tanda penyerahan
pendeta yang baru saja diurapi.
4. Sebagai sebagian dari acara, suami dapat berbicara kepada istri dan sebaliknya sementara mereka
saling membagi penyerahan kepada pelayanan penginjilan.
5. Di beberapa bagian tempat, itu merupakan sebuah tradisi untuk menghadiahkan sebuah Alkitab pada
waktu pengurapan pendeta itu. Jika demikian, berikanlah sebuah hadiah kepada sang istri juga; barangkali
buku nyanyian untuk melengkapi hadiah itu, atau hadiah lain yang cocok dengan budaya setempat.
6. Gunakanlah sertifikat yang indah dan representatif untuk pengurapan seperti yang dapat diperoleh dari
Asosiasi Kependetaan General Conference.
Ketua Jemaat dan Diaken
Konferens/daerah tidak perlu mengakui ketua atau diaken calon pengurapan. Mereka dipilih oleh gereja
setempat. Namun, hanya seorang pendeta yang telah diurapi yang dapat melaksanakan pengurapan ketua
atau diaken. Ini menegaskan bahwa seseorang tidak diurapi tanpa penyelidikan yang saksama di bawah
kepemimpinan yang sah dalam gereja setempat.
Di beberapa negara, pengurapan ketua jemaat dan diaken sangat langka. Ini barangkali berkaitan dengan
budaya setempat dari gereja-gereja lain yang menyimpulkan bahwa calon itu akan membuat penyerahan
seumur hidup sama seperti pendeta atau imam. Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mengajarkan bahwa
diaken dan ketua jemaat haruslah orang-orang yang berpengalaman dan dipilih dengan akal budi. Tetapi
sekali mereka sudah terpilih dan terpercaya oleh jemaat setempat, pengurapannya tidak harus ditunda.
Ada baik bagi pegawai ini mendapat latihan, tetapi janganlah disimpulkan bahwa pengurapan mereka
bergantung pada latihan itu.
Ketua Jemaat. — Bentuk acara pengurapan ketua memiliki segi seperti ini:
1. Seorang pendeta yang sudah diurapi melaksanakannya. para pendeta dan ketua jemaat yang ada di
tempat itu dapat diundang untuk menolong.
2. Pada waktu yang tepat, biasanya pada acara Sabat pagi, undanglah calon itu ke rostrum. Bacalah ayat
Alkitab seperti 1 Tim. 3:1-7. Bicaralah secara singkat tentang tugas seorang ketua jemaat (baca Peraturan
Gereja pasal 6). Cocok juga catatan untuk istri.
3. Calon bersama pendeta bertelut. Pendeta berdoa agar Allah mengesahkan pengakuan jemaat bahwa
Roh Kudus telah memanggil calon itu ke dalam jabatan ini. Tangan yang mengurapi ditumpangkan di atas
kepala yang diurapi selama berdoa. Yang membantu pendeta dan tua-tua boleh sama-sama
menumpangkan tangan.
4. Setelah berdoa, pendeta bersama pembantunya menolong menjabat tangannya sambil mengucapkan
selamat datang dan mengucapkan kata-kata berkat. Sertifikat pengurapan boleh diserahkan. Yang sudah
diurapi boleh kembali duduk sampai selesai acara seluruhnya.
Setelah diurapi sekali selaku ketua jemaat, tidak perlu lagi diurapi untuk pemilihan berikut; atau kalau
terpilih menjadi ketua di jemaat lain tidak perlu lagi diurapi, asalkan keadaannya tetap setia dan baik
dalam jemaat. Seorang yang pernah diurapi jadi ketua kemudian dapat berfungsi sebagai diaken tanpa
pengurapan selanjutnya.
Diaken. — Acara pengurapan seorang diaken sama dengan seorang ketua jemaat. Bacaan Alkitab yang
disarankan ialah 1 Tim 3:8-13. Komentar selanjutnya tentang pekerjaan seorang diaken terdapat dalam
buku Peraturan Gereja.
Pengurapan sebagai seorang diaken tidak memenuhi syarat untuk melayani sebagai ketua jemaat. Sekali
diurapi selaku diaken, seseorang tidak perlu lagi diurapi pada pemilihan untuk jabatan yang sama.
Saran tambahan. — Pilihan berikut dapat dipertimbangkan dalam perencanaan pengurapan ketua jemaat
atau diaken:
1. Para istri mereka yang akan diurapi dapat diundang supaya duduk di baris depan. Pada waktu yang
ditentukan, mereka dapat menerima kembang atau pemberian lainnya. Ini memberikan pengakuan kepada
istri dan memperkenalkan mereka kepada anggota.
2. Menyusul pengurapan, ketua jemaat dapat memimpin barisan untuk menyambut ketua jemaat baru, dan
ketua diaken memimpin untuk menyambut diaken baru.
3. Calon pengurapan bertelut dekat pendeta, bersama mereka yang sudah diurapi di belakangnya bertelut
juga. Setelah pengurapan, mereka yang sudah diurapi ini mengulurkan tangan kanan persahabatan kepada
orang yang bertelut di hadapan mereka.
Satu penyesuaian akan diberikan kepada setiap calon untuk memilih (atau gereja yang menentukan)
seorang yang sudah duluan diurapi untuk jabatan itu. Mereka inilah menjadi sponsor, masing-masing
diberi petunjuk untuk melatih orang yang baru diurapi. Mereka bahkan dapat mengawal calon ke rostrum,
kemudian bertelut di belakangnya, kemudian menyambut dengan tangan kanan persahabatan.
ritual Pelantikan
Di beberapa bagian dunia ini ada dua macam pimpinan gereja yang diasingkan untuk acara rohani
istimewa dalam satu ritual pelantikan lebih daripada acara pengurapan.
Pendeta angkatan. — (Baca pasal 14 tentang siapa yang masuk dalam golongan ini).
Pengurapan kependetaan yaitu satu pernyataan umum penerimaan gereja yang dilayani oleh pendeta
yang diurapi. Belum seluruh gereja sedunia menyetujui untuk mengurapi pendeta wanita, tetapi telah
menerima wanita dalam pelayanan penginjilan kependetaan. Wanita yang memulai pekerjaan
kependetaan memahami bahwa mereka haus membuktikan dirinya, tetapi sebagian merasa tidak
seluruhnya berterima dalam tugas mereka. Di sana dibutuhkan sebagai satu tanda umum penerimaan
pelayanan penginjilan mereka oleh gereja. Ini juga benar tentang yang lain dalam kelas pendeta angkatan.
Satu ritual pelantikan menyediakan tanda umum ini.
Divisi Amerika Utara menganjurkan ritual yang demikian. “Diusulkan bahwa ritual pengutusan
pengangkatan yang sesuai diselenggarakan apabila seorang pekerja diizinkan menjadi seorang pendeta
kredensi yang diangkat” (NAD Policy D 05 10).
Tatacara pelantikan pengangkatan yang disarankan:
Nyanyian
Doa
Maksud pengangkatan
Memperkenalkan calon
Nyanyian istimewa
Khotbah singkat
Sambutan calon
Penyerahan (satu doa diucapkan oleh pemimpin, calon dan hadirin)
Doa penyerahan
Penyerahan kredensi
Doa penutup
Diakenes. — Buku Peraturan Gereja menganjurkan: “Gereja dapat mengatur satu ritual pelantikan
yang sesuai untuk diakenes yang dilaksanakan oleh pendeta yang diurapi yang sedang memegang kartu
kredensi yang berlaku” (Peraturan Gereja, pasal 6).
ritual seperti itu bisa saja mirip dengan pengurapan diaken atau pengurapan ketua jemaat.
Pasal 17
Mengorganisasi Jemaat Baru
Diperlukan Jemaat Baru
Janganlah tahu membuka jemaat-jemaat baru. Gereja induk yang dengan sengaja menjangkau untuk
membantu perkembangan jemaat-jemaat baru jarang menderita. Kadang-kadang jemaat itu dibangkitkan
kembali Prinsip Alkitab mengatakan: “Berilah, dan kau akan diberi” (Lukas 6:38).
Bilamana sebuah gereja yang keanggotaannya cukup banyak sehingga para pegawainya dapat
melaksanakan tugas dengan baik dalam menggembalakan, memelihara dan melatih anggota, maka baiklah
jemaat baru itu dibangkitkan. Dalam keadaan yang biasa, gereja yang sudah bertumbuh dan mencapai
keanggotaan 200 sampai 300 orang mungkin sudah cukup besar untuk melahirkan sebuah jemaat baru.
Sementara sebuah gereja bertumbuh lewat tingkat keterampilan yang maksimum, bertambahlah bahaya
yang diwarisi dalam administrasi. Besarnya keanggotaan dapat menghalangi persekutuan.
Melahirkan jemaat baru akan membawa pengaruh ganda dalam melibatkan lebih banyak anggota dalam
tugas gereja dan dalam mendirikan jemaat baru di luar wilayah yang juga harus dijangkau oleh pekabaran
kita. Cara yang terbaik untuk memperoleh lebih banyak buah ialah menanam lebih banyak pohon buah.
Jemaat baru memenangkan anggota baru. Pelajaran pertumbuhan gereja menunjukkan bahwa jemaat-
jemaat baru menghidupkan anggota yang tidak aktif lebih mudah daripada gereja lama.
Bagaimana Caranya Memulai Jemaat Baru
1. Rencanakan. — Jajakilah apakah kebutuhan akan sebuah gereja baru yang terbesar. Tempatkanlah
gereja baru itu di mana ada penduduk, bukan di mana tinggal anggota-anggota yang kuat imannya, atau di
mana sebidang tanah disumbangkan. Pelajarilah demografi kependudukan. Ke manakah arah
pertumbuhan kependudukan? Di manakah penduduk penting yang memerlukan sebuah gereja baru
sehingga mereka bisa bertemu secara teratur dan unik?
2. Periksalah. — Lakukanlah sesuatu pemeriksaan sebelum Anda terlalu banyak mencari dana.
Pelajarilah penarikan apa yang dapat diciptakan di wilayah yang dimaksud. Mulailah kelompok belajar
Alkitab di rumah-rumah, yang kemudian dapat dimenangkan menjadi gereja ruah. Mulailah dengan
cabang sekolah Sabat. Buatlah ceramah di situ.
3. Bentuklah satu kumpulan. — Satu saran yang dapat dilaksanakan ialah membentuk satu kumpulan
orang-orang percaya yang terdiri dari sukarelawan dari gereja induk yang menawarkan diri mereka untuk
menghadirinya dan mendukung organisasi persiapan untuk jangka waktu tertentu–mungkin selama dua
atau tiga tahun. Pasal 5 dari buku Peraturan Gereja memberikan perincian dalam mengorganisasi sebuah
perkumpulan orang-orang percaya.
Bagaimana Caranya Memulai Jemaat Baru
Apabila meyakinkan bahwa gereja baru itu akan hidup, mintalah pada pimpinan konferens/daerah untuk
menyetujui pengorganisasiannya secara formal. Pengorganisasiannya harus dipimpin oleh seorang
pendeta yang sudah diurapi. Ketua konferens harus diundang.
Periksalah apakah surat perpindahan anggota dari pelbagai jemaat sudah beres, yang mana mereka mau
bergabung dengan jemaat baru. Aturlah buku-buku laporan penting dan bahan-bahannya sudah ada untuk
pegawai-pegawai baru terpilih seperti bendahara, sekretaris gereja
Sediakanlah alat-alat perjamuan. Walaupun acara perjamuan mengambil waktu yang lama pada waktu itu,
laksanakanlah itu sesudah selesai acara, atau barangkali pada acara gereja yang pertama.
Tatacara Pengorganisasian Jemaat Baru
Nyanyian pembuka
Doa
Sepintas ulangan anggaran dasar iman
(Ini memiliki makna yang lebih besar bila jemaat itu kebanyakan terdiri dari anggota baru Gereja
Masehi Advent Hari Ketujuh, bukan anggota yang dipindahkan dari jemaat lainnya).
Membentuk tenaga inti
Menerima keanggotaan oleh anggota tenaga inti
Membentuk anggota pemilih
Nyanyian jemaat dan lagu istimewa
9Sementara komite pemilih bekerja)
Memilih pegawai baru
Mengurapi ketua dan diaken baru
Tantangan bagi jemaat bau dan anggota-anggotanya
Sambutan jemaat
Doa Penahbisan
Dalam beberapa situasi, beberapa pertemuan akan dilangsungkan untuk mengorganisasi jemaat baru.
Contohnya:
Perjamuan kudus Jumat Malam: dilaksanakan di gereja baru bersama anggota gereja induk yang
diundang.
Penugasan Sabat pagi: satu acara di gereja induk untuk mengakui anggota yang berpisah.
Pemulaian Sabat siang: jemaat baru didirikan.
Pemisahan Sabat malam: rencanakan satu jamuan makan dan acara sosial.
Pasal 18
Menyatukan Dua Jemaat atau Lebih
Perlu diterangkan istilah menyatukan beberapa gereja. Apabila gereja B (yang dianggap kecil)
memutuskan supaya berbaur dengan gereja A (yang dianggap lebih besar), dan hanya memindahkan
anggota-anggotanya ke gereja A dan menyelesaikan semua fasilitasnya, itu sajalah definisi istilah
penyatuan beberapa gereja yang digunakan di sini. Dalam situasi seperti di atas, hanya sebagian langkah
yang di bawah ini yang diperlukan. Semua langkah ini diambil hanya kalau kedua gereja tidak ada lagi
seperti yang telah diorganisasi sebelumnya.
Langkah-langkah berikut untuk menyatukan gereja didasarkan atas buku Peraturan Gereja, pasal 14.
Sebelum Penyatuan
1. Nasihat konferens/daerah. — Selaku gembala jemaat, Anda berada di posisi terbaik untuk
mengetahui apakah dua gereja atau lebih harus disatukan, dengan demikian Andalah orangnya yang
memprakarsai prosedurnya. Namun masa jabatanmu selaku gembala terbatas, penyatuan gereja-gereja ini
mungkin diputuskan dalam waktu yang lama. Lagi pula, kedua gereja ini berada di bawah asuhan
gembala yang berbeda, dan ini dapat menimbulkan pokok persoalan yang peka antara Anda dengan
rekanmu pendeta. Ditambah lagi, Anda mungkin tergoda supaya gereja-gereja dipersatukan agar hal ini
meringankan tugasmu dan lebih mudah ditangani.
Dalam semua situasi seperti ini, menyatukan gereja-gereja berarti melibatkan banyak nasihat
konferens/daerah sejak permulaan. Penyatuan ini harus diputuskan oleh komite konferens/daerah. Ketua
konferens/daerah atau wakilnya harus memimpin pertemuan-pertemuan yang lebih penting yang terlibat
dalam penyatuan gereja
2. Setiap gereja memperbincangkannya dengan ramah-tamah. Mungkin juga bijaksana memulai
perbincangan pendahuluan dengan kelompok yang lebih kecil, seperti ketua-ketua, atau dengan majelis
jemaat. Namun, hanya dalam konferensi jemaat yang resmi tubuh jemaat dapat menentukan penyatuan
dengan jemaat lain.
3. Setiap gereja mengambil suara untuk penyatuan.
4. Gereja-gereja bekerja sama menyediakan persetujuan penyatuan. Satu dokumen yang disediakan
dengan cermat akan menghindari kesalahpahaman di kemudian hari. Persetujuan itu harus mencakup
sebab musabab penyatuan, pemindahan harta, pengaturan harta, pengaturan keuangan, nama jemaat baru,
dsb.
5. Disahkan oleh Komite Eksekutif Konferens/daerah.
Tatacara Penyatuan
1. Pengangkatan persetujuan penyatuan oleh pertemuan gabungan gereja-gereja. — Jika
memungkinkan. semua perbedaan pendapat dalam persetujuan itu seharusnya sudah dibereskan
sebelumnya. Tentu saja tidak boleh tidak, bahwa pertemuan ini haruslah dalam suasana kehangatan kasih
Kristen.
2. Memilih satu komite pemilih. — Dengan pengangkatan persetujuan itu, semua pimpinan ger4eja-
gereja terkait dibebaskan dari jabatannya. Tidak boleh tidak, tentunya, bahwa paling sedikit pejabat utama
dipilih dalam beberapa hari. Gereja baru tak dapat berfungsi tanpa pemimpin.
3. Satu waktu untuk persekutuan. — Satu acara perjamuan kudus akan membangkitkan roh kesatuan
yang diperlukan untuk memulai gereja itu dengan benar. Satu acara jamuan bersama setelah acara itu
dapat juga menolong.
Paska Penyatuan
1. Memindahkan catatan setempat. — Catatan buku, dan data perhitungan bank dari kedua gereja
menjadi sebagian dari gereja baru.
2. Meremajakan catatan Konferens/daerah. — Gereja baru memohon ke konferens/daerah supaya
diterima ke dalam persaudaraan gereja untuk menggantikan tubuh gereja yang lama.
Pasal 19
Membubarkan Gereja
Alasan untuk membubarkan sebuah jemaat ilah: (1) kehabisan anggota, (2) disiplin, dan (3) kemurtadan
atau pemberontakan. Kita beruntung sebab jarang terjadi pembubaran jemaat di Gereja Masehi Advent
hari Ketujuh. Anda boleh saja tidak pernah memimpin pembubaran jemaat. Jikalau itu tampaknya Anda
harus melakukannya, pertama-tama pastikanlah yang Anda telah lakukan apa yang dapat dilakukan untuk
menolong supaya gereja yang dibutuhkan hidup kembali.
Pembubaran sebab Kehabisan Anggota
Kita tidak memiliki persyaratan yang persis untuk menentukan apakah sebuah gereja sudah menjadi
terlalu kecil untuk diteruskan. Kriteria dalam buku Peraturan Gereja mungkin saja yang terbaik dari yang
ada: “Begitu banyak anggota yang pindah ke tempat yang jauh sehingga anggota yang tinggal tidak cukup
untuk menunjang organisasi.” Namun demikian, tanyakanlah pertanyaan ini:
Apakah gereja ini dibutuhkan? — Apakah gereja itu melayani penduduk penting sehingga memerlukan
penginjilan? Apakah anggota yang ada sekarang ini dapat dilayani dengan baik oleh gereja terdekat?
Sampai di mana kedalaman kesetiaan anggota itu? Seorang pendeta mungkin jadi jengkel sebab di
hadapkan melayani jemaat kecil di mana hanya sedikit yang bisa terjadi. Anda menjadi bingung sebab
semakin kecil kumpulan itu, semakin sedikit pula pemimpinnya. Semakin sedikit pemimpinnya, jemaat
itu semakin memerlukan pimpinan penggembalaan. Sebaliknya, jikalau anggota-anggota itu merasa puas
dan sangat setia kepada gerejanya, maka sulitlah membubarkannya dan sudah pasti ini tidak bijaksana.
Dapatkah Anda membuat ceramah kebangunan rohani? Barangkali evangelisasilah jawabannya. Jika
Anda tidak sanggup melakukannya sendiri, gereja kecil yaitu satu tempat yang baik untuk evangelisasi
anggota.
Dapatkah anggota gereja terdekat dipindahkan ke sana? Anggota yang memiliki kesanggupan
kepemimpinan yang tidak terikat di jemaat lain mungkin mau dipindahkan keanggotaannya dan siap
memimpin. Mereka dapat menjadi gembala selaku anggota sehingga membebaskan Anda dari melayani
kelompok kecil itu terlalu sering.
Pembubaran sebab Disiplin atau Kemurtadan
Hal-hal yang akan dicoba sebelum membubarkan gereja yang murtad:
Pelajari secara mendalam. — Gereja yang bergerak ke arah kemurtadan biasanya memiliki
ketidakcocokan secara teologi dengan gereja sedunia. Hampir tanpa kecuali, di antara mereka terdapatlah
orang-orang yang memiliki ketidaksepakatan yang keterlaluan dan pengaruhnya membingungkan
orang lain. Boleh saja Anda tidak dapat menolong orang yang mempengaruhi, tetapi pasti Anda dapat
menolong orang yang dipengaruhi. Bila perlu, bawalah tamu istimewa dalam bidang masalah terkait.
Doakanlah supaya berakhir dengan kesetiaan Kristus dan gereja-Nya.
Perlawatan. — Secara perorangan, anggota perlu dikasihi dan didengar. Menemui anggota yang
kebingungan itu sendirian, jauh dari ketidaksepakatan yang keterlaluan, itu akan menolong Anda
memahami jauh lebih baik apa yang mereka sedang rasakan.
Membuang unsur ketidaksepakatan. — Mungkin sulit mengeluarkan orang seperti itu dari
keanggotaan, tetapi kadang-kadang perlu memotong beberapa jari untuk menyelamatkan seluruh tubuh
itu. Barangkali dibutuhkan disiplin. Ingatlah bahwa disiplin tanpa kasih itu tidak dibutuhkan.
BAGIAN KETIGA
Pendeta dengan Jemaat Setempat
20. Kepemimpinan Jemaat
21. Anggota Jemaat sebagai Pendeta
22. Menggembalakan Distrik Luas
23. Pertumbuhan Jemaat
24. Acara kebaktian
25. Kumpulan Permintaan Doa
26. Perlawatan
27. Penyuluhan
28. Persekutuan Jemaat
29. Keuangan Jemaat
30. Promosi Jemaat
31. Fasilitas Jemaat
32. Pendidikan Kristen
Pasal 20
Kepemimpinan Jemaat
Kepemimpinan Kontra Kekuasaan
Pemimpin harus memimpin. — Pendeta boleh saja terdiri dari banyak hal, tetapi mereka harus terdiri
dari satu hal: pemimpin rohani. Memenuhi tugas di gereja setempat, mereka memikul pimpinan utama
jemaat itu. Pengurapan ke dalam pelayanan penginjilan dan tugas dari konferens/daerah memberi kuasa
kepada mereka untuk melaksanakan semua acara dan ritual gereja. Mereka haus mengurus acara seperti
itu kecuali kalau mereka lebih senang mendelegasikan tanggung jawab itu kepada pimpinan gereja yang
sah lainnya.
“Semua cabang pekerjaan itu termasuk tugas pendeta” (5T, 375). Ini bukan berarti mereka harus
mengikuti seluruh pekerjaan gereja, tetapi semua pekerjaan berada di bawah pengawasan mereka. Mereka
bertanggung jawab memantau dan membantu perkembangan setiap departemen dan program” (baca buku
Peraturan Gereja pasal 9).
Namun para pendeta tidak harus mendirikan satu badan mandiri untuk memimpin dan menguasai gereja.
Mereka bekerja sama dengan ketua jemaat setempat dan pegawai yang sepatutnya terpilih dari tubuh
jemaat itu.
Pemimpin sebagai hamba. — Hasil riset menunjukkan bahwa gereja yang sedang bertumbuh
memiliki kepemimpinan penggembalaan yang kuat. Kuat bukan berarti kepemimpinan yang menguasai
atau bersifat manipulatif. Kita tidak menyamakan kepemimpinan dengan kerajaan. Petrus memberikan
resep, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan
sukarela . . . . Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang
dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (2 Ptr 5:2, 3).
Contoh yang Yesus berikan menunjukkan bahwa Pemimpin Kristen berada di tengah-tengah mereka yang
dipimpin sebagaimana penguasa dunia berabad di atas mereka yang dipimpin. “Kamu tahu bahwa
pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan [pembesar-
pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kami, hendaklah
ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi
hambamu, sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk
memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:25-28).
Kepemimpinan Kristen yaitu kepemimpinan hamba. Injil menyebutkan ini paling sedikit tujuh kali.
Dalam satu peristiwa, Yesus menekankan, “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, sebab hanya satu
Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”
(Mat. 23:10, 11). Bila tergoda memakai peranan kepemimpinannya untuk menjalankan kekuasaan
atas anggota jemaat-Nya, para pendeta perlu mengingatkan dirinya betapa bertentangan hal ini dengan
ajaran Kristus.
Sebagai contoh, kerja paksa menyebabkan sebuah jemaat atau konferens untuk memaksakan satu proses
penilaian terhadap para pendetanya dan pelayanan penginjilan mereka; tetapi pengabdian menyebabkan
para pendeta untuk menghendaki dan mencari penilaian terhadap usahanya agar mereka dapat melayani
lebih efektif. Terlalu sedikit yang dapat menerapkan pengabdian ini tanpa merasa dirinya terancam. Para
pendeta dapat tergoda dalam pemikiran bahwa mereka hanya bertanggung jawab kepada Allah.
Kepemimpinan pelayan ini menganjurkan bahwa mereka juga bertanggung jawab kepada mereka yang
dilayani.
(Asosiasi Kependetaan General Conference menyediakan bahan evaluasi bagi mereka yang mau
mengevaluasi diri sendiri, atau oleh jemaat atau konferens).
Prinsip Manajemen
Gaya kepemimpinan dan kepribadian begitu erat hubungannya sehingga kita jarang memakai satu gaya
kepemimpinan yang berbeda dari kepribadian kita sendiri. Namun untuk mencapai kesanggupan tertinggi,
Anda perlu memakai gaya kepemimpinanmu bagi gereja atau beberapa gereja yang Anda layani.
Bilamana kepemimpinanmu yang sekarang ini nampaknya masih kurang efektif dibanding dengan
kepemimpinanmu di gereja yang Anda layani sebelumnya, perlu Anda bertanya kepada diri sendiri
apakah sebab jemaatmu yang sekarang ini memerlukan kelenturan untuk memakan gaya
kepemimpinanmu dalam memenuhi kebutuhan jemaat yang berbeda-beda.
Kita sudah membayangkan seorang pimpinan yang lebih kuat dari Paulus. Namun dia memahami prinsip
kepemimpinan seorang pelayan seperti ini: “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku
menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
Demikianlah bagi orang Yahudi, aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-
orang Yahudi; . . . Bagi orang-orang yang lemah, aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku
dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang, aku telah menjadi segala-galanya, supaya
aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan
sebab Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya” (1 Kor. (:19-23). Kepemimpinan pelayan
memerlukan penyesuaian dan kelenturan.
Anggota-anggota majelis jemaat terdiri dari ahli-ahli yang terdidik yang biasa menanggulangi persoalan
besar dan membuat keputusan penting. Mereka tidak akan mengizinkan pendetanya untuk memainkan
peranan terutama dalam mengambil keputusan. Anggota-anggota majelis terdiri dari orang-orang yang
bekerja bagi orang lain dan sudah biasa menurut perintah sehingga mereka dapat menerima satu gaya
kepemimpinan penggembalaan yang berbeda.
Gaya kepemimpinan muncul dalam empat jenis: memberitahukan menjual, meminta nasihat dan
melibatkan diri. Gaya memberitahukan dan menjual dapat bekerja dengan baik bersama dua kelompok
yang di atas. Gaya meminta nasihat dan melibatkan diri pada bagaimana dengan mekanisme
kepemimpinanmu.
Di bawah ini ada empat prinsip kepemimpinan yang digunakan dalam kepemimpinan penggembalaan:
1. Gambarkan dalam visikan. — Gambarkanlah dalam imajinasi apa yang sedang terjadi dan
bagaimana seharusnya. Selaku seorang gembala jemaat atau satu distrik, Anda perlu banyak bertanya. Di
manakah gereja itu selama ini? Di manakah itu sekarang dalam arti misi, program, fasilitas, dan
keuangan? Sampai di manakah gereja itu di tahun depan? Lima tahun dari sekarang?
2. Aturlah. — Bagaimanakah caranya gereja bergerak dari keadaan sekarang ke dalam keadaan yang
diinginkan? Program apa yang diperlukan? Siapa-siapakah personalia yang dapat dikaryakan? Hasilnya
sedikit dalam perencanaan kecuali gereja memiliki personalia yang terampil dan berminat untuk
melaksanakannya. Bagaimana pengaturan program ini paling efektif? Bagaimanakah cara mendidik para
pimpinan?
(Gereja yang memiliki komputer dapat membeli perangkat lunak dari General Conference Asosiasi
Kependetaan yang akan menolong proses pengaturannya dalam menyimpan data keinginan, pengalaman
dan keterampilan anggota jemaat).
3. Wakilkan. — Serahkan pekerjaan itu. Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan gembala yang juga
dapat dilakukan dengan baik atau lebih baik oleh anggota jemaat. Satu alasan mengapa gembala tidak
menyerahkan lebih banyak tanggung jawab ialah sebab membutuhkan penyerahan kekuasaan juga; dan
untuk ini mereka merasa enggan melakukannya. Kepemimpinan pelayanan tidak merasa terancam apabila
menyerahkan kekuasaan kepada seseorang anggota jemaat.
Alasan kedua mengapa gembala tidak menyerahkan tanggung jawab ialah sebab merasa takut
menghadapi kegagalan orang lain. Seringkali lebih mudah bagi kita untuk melaksanakannya sendiri
ketimbang membiarkan orang lain melakukannya. Persoalannya ialah: “Kalau Anda ingin pekerjaan itu
dilakukan dengan benar, lakukanlah itu sendiri.” Namun pemikiran seperti ini memiliki cacar fatal dari
segi teologi. Persoalan itu akan menjadi sah jikalau bisnis kita yang utama menyelesaikan tugas gerejani
itu. Padahal bukan itu. Bisnis kita yang utama ialah pertumbuhan anggota jemaat, dan anggota-anggota
yang bekerja bagi Tuhan lebih rapat hubungannya dengan Tuhan. Anggota yang bekerja bagi gereja akan
tetap tinggal dalam gereja.
4. Mengawasi. — Bantulah pada saat-saat gawat. Jika seseorang sedang mengalami kegagalan, carilah
satu jalan bagaimana cara membantu orang itu sampai berhasil. Hargailah prestasi. “Hendaklah kamu
saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10).
Menetapkan Tujuan
Tujuan menjelaskan apa yang hendak dilakukan oleh gereja dan bagaimana gereja itu merencanakan
pelaksanaannya. Proses itu tidak perlu membingungkan atau menakutkan. Paling sedikit sekali setahun,
atau lebih baik sekali satu triwulan, gereja harus meninjau tujuannya, yaitu tujuan yang telah
ditentukannya sendiri.
Waktu yang paling penting meninjau tujuan yang lama dan membentuk tujuan yang baru ialah sebelum
terpilih pegawai baru. Para pimpinan yang terpilih dana komite yang terbentuk seharusnya tidak
bergantung pada apa yang telah dilaksanakan tahun lalu, tetapi atas apa yang Anda rencanakan untuk
dilaksanakan tahun berikutnya. Rencana masa depan akan membedakan sebuah gereja yang sedang mau
mati dari gereja yang sedang bertumbuh.
Unsur penting dari satu tujuan dapat dinyatakan dalam sebuah akronim, 3T: tertentu, tercapai, terukur.
1. Apakah tujuan itu tertentu? — Katakanlah salah satu tujuanmu menolong orang muda bertumbuh
secara rohani. Tetapi itu belum cukup tertentu. Bagaimana dengan ini: mengadakan kumpulan bagi orang-
orang muda setiap Jumat malam.
2. Apakah tujuan itu tercapai? — Anda pasti menginginkan bahwa setiap anggota akan memenangkan
satu jiwa sepanjang tahun itu. Tetapi malang, nampaknya tidak semua orang mau, jadi tujuan yang terlalu
tinggi akan membuat kegagalan gereja. Tetapkanlah tujuan yang tinggi tetapi tercapai.
3. Apakah tujuan itu terukur? — Angka baptisan mudah diukur. Barangkali itulah sebabnya mengapa
kita banyak menekankan tujuan baptisan. Tetapi lebih sulit mengukur bagaimana menolong anggota baru
supaya bertumbuh secara rohani, dan barangkali itulah sebabnya kita tidak menekankan ini sebagaimana
seharusnya. Namun pertumbuhan rohani dapat diukur. Partisipasi dalam acara Sekolah Sabat, meng8ikuti
khotbah, menjadi penatalayan, bersaksi, dan memelihara hubungan sampai tingkat tertentu, itu menolong
mengukur pertumbuhan. Usahakan tujuan yang dapat diukur; kalau tidak, tidak akan ada cara yang tepat
untuk mengetahui kapan Anda melakukannya atau tidak pernah melakukannya.
(Asosiasi Kependetaan General Conference memiliki peralatan yang dapat digunakan untuk menolong
gereja menetapkan tujuan).
Komite
Komite bersifat Kristiani. — Gereja sangat mempercayai sistem komite. (Baca Peraturan Gereja di bawah
Komite, majelis dan dewan). Ini berarti bukan sekadar tradisi kita, tetapi sebab teologi. Alkitab
mengatakan yang gereja itu seperti tubuh manusia. Setiap bagian penting. Tubuh itu berfungsi atas dasar
partisipasi kelompok.
Orang-orang Kristen mengasihi dan mempercayai satu dengan yang lain. Jikalau demikian, itu akan
dibuktikan oleh pengharapan terhadap pandangan dan perimbangan orang lain. Kita menanggapi Alkitab
dengan serius apabila dikatakannya begini: “Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau
penasihat banyak, keselamatan ada” (Ams. 111:14). Kita semuanya terikat menjadi lebih bijaksana
ketimbang siapa pun di antara kita kalau sendirian.
Ellen G. White menyetujuinya: “Dalam memberikan nasihat tentang kemajuan pekerjaan itu, tidak
seorang pun menjadi penguasa, yaitu satu suara untuk semua. haruslah dipertimbangkan masak-masak
semua metode dan rencana yang diajukan supaya semua saudara-saudara itu dapat mempertimbangkan
manfaat yang terkait dan memutuskan yang mana yang akan diikuti” (7T, 259).
Komite memang mahal. — Komite memakan banyak waktu. Di bawah ini ada usul untuk
menyelamatkan waktu:
Janganlah terlalu banyak memimpin komite. Komite dapat menjalankan gereja, tetapi itu bukan berarti
yang Anda selaku gembala harus menjalankan semua komite. Anda atau seorang ketua jemaat yang Anda
tentukan haruslah seorang anggota teras dari komite itu. Kadang-kadang Anda perlu mengikutinya untuk
menunjukkan minat di dalamnya dan mendukung kelompok itu. Terutama kalau ada bahan perbincangan
istimewa untuk dipertimbangkan, pemimpin komite itu menghargai dukungan penggembalaan.
Sebaliknya, kehadiran seorang pendeta yang terus-menerus itu kadang-kadang menakutkan.
Selaku seorang gembala, Anda berhak untuk memimpin majelis, dan barangkali harus melakukannya
(baca Peraturan Gereja, pasal 6, 7). Kadang-kadang itu tergantung kesempatan Anda, kepribadian, gaya
kepemimpinan, dan keberadaan seorang ketua jemaat yang kepadanya tugas ini dapat diserahkan.
Hindarkan hal-hal yang sepele. Buatlah keputusan pada tingkatan serendah mungkin. Contohnya,
janganlah bawa ke konferensi jemaat hal-hal yang dapat diputuskan di majelis jemaat. Janganlah bawa ke
majelis jemaat sesuatu yang dapat diputuskan di komite Sekolah Sabat. Janganlah bawa ke komite
Sekolah Sabat apa yang dapat diatur oleh Pemimpin Sekolah Sabat. Ini bukan hanya menghemat waktu,
tetapi memperbaiki kehadiran anggota majelis jemaat yang mengetahui hanya hal-0hal penting

