tanda akhir zaman 2
dengan Barat, tetapi dengan yakin berharap bahwa itu akan
menghasilkan kemenangan bagi Barat.
Ada seorang filsuf sejarah dunia Barat, Arnold Toynbee,
yang masih menjadi teka-teki. Dia yaitu seorang Kristen yang
taat, namun pemikirannya tertanam kuat dalam peradaban Barat
sekuler. Dia berjuang untuk merumuskan pandangan sejarah
yang akan mengakomodasi pandangan Barat serta Kristen
tentang kebenaran dan sejarah. Karya intelektualnya
berkontribusi dalam membentuk aliansi Euro-Yahudi / Euro
Kristen yang sekarang menguasai dunia demi kepentingan
Negara Euro-Yahudi Israel.
❖ PANDANGAN ISLAM TENTANG PERGERAKAN
DAN AKHIR SEJARAH
Sekarang mari kita beralih ke pandangan Islam tentang topik di
mana pergerakan sejarah ditentukan oleh pergerakan kebenaran
dalam sejarah. Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Al-Haq (yaitu,
Kebenaran):
“sebab Allah, Dialah (Tuhan) Al-Haq (kebenaran) …”
(Al-Qur’an Surat Al-Hajj, 22: 62)
Tidak hanya Dia Yang Mahatinggi, Kebenaran, tetapi
Kebenaran juga berasal dari-Nya dalam bentuk Firman yang
diwahyukan:
“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari
Tuhanmu …”
39
(Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 29)
Al-Qur’an juga menjelaskan segala sesuatu di alam dunia sekitar
kita mengandung Kebenaran:
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang
(kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit
dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya
melainkan dengan Kebenaran dan dalam waktu yang
ditentukan . . . .”
(Al-Qur’an Surat Rum, 30: 8)
Kebenaran (Al-Haq) yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
memicu konfrontasi dengan kebatilan (Al-Batil). Dalam
pandangan Islam, konflik antara kebenaran dan kebatilan
merupakan faktor dominan yang menentukan pergerakan
sejarah. Manusia berpartisipasi dalam perjuangan ini sebab
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kepada mereka kebebasan
memilih. Meskipun mereka memiliki kebebasan terbatas, namun
tetap saja itu yaitu kebebasan:
“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari
Tuhanmu; barangsiapa menerimanya hendaklah dia
beriman, dan barangsiapa menolaknya biarlah dia kafir.”
(Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 29)
Manusia bebas memilih, apakah menerima kebenaran dan diberi
pahala atas pilihan itu, atau menolaknya dan menerima akibat
dari penolakan itu. Keinginan mandiri dan kemampuan bebas
memilih ini menyebabkan proses sejarah kadang-kadang
bergerak ke arah ini, kadang ke arah itu. Dr. Burhan Ahmad
40
Faruqi menggunakan istilah zigzag untuk menggambarkan
pergerakan sejarah. Ini bergerak sekarang seperti ini, dan
lalu - terkadang kemajuan dan terkadang kemunduran
yang mencerminkan keberhasilan dan kegagalan dalam
perjuangan moral. Dengan demikian, Islam menolak baik
pandangan siklik maupun pandangan regresi linier dan
pandangan progresif linier pada pergerakan sejarah.
Intervensi Ilahi terjadi dalam proses sejarah saat para
Nabi diutus, dan saat Kitab Suci diturunkan. Intervensi
ini mengakibatkan seorang Nabi menyelipkan dirinya
dalam sapuan sejarah dan melancarkan upaya untuk
mengarahkan kembali pergerakan sejarah agar dikembalikan ke
jalan yang lurus (Siratal Mustaqim). Intervensi ilahi ini
merupakan kejadian penting dalam proses sejarah. Kedatangan
Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam), meski demikian,
menyaksikan kemenangan kebenaran yang paling menentukan
dan paling komprehensif atas kebatilan yang pernah terjadi
dalam sejarah.
Dr. Faruqi menggunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan
pandangan Islam bahwa sejarah tidak dapat berakhir tanpa
kemenangan kebenaran atas kebatilan. Peristiwa seperti itu,
meski demikian, akan memvalidasi klaim Islam atas kebenaran
sebab itu akan memberi realisasi kembali zaman keemasan
para Nabi, Daud dan Sulaiman (‘alaihima salam), saat Negara
Suci Israel (Islam) menguasai dunia dari Tanah Suci, dan masa
keemasan Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) yang
menyatakan: “Sahabat-sahabatku seperti hujan. Aku tidak tahu
curahan mana yang lebih baik, yang pertama atau yang terakhir”.
Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) telah
memberi gambaran tentang Akhir Zaman yang akan
mendahului akhir sejarah. Banyak Tanda Hari Akhir
41
mengungkapkan peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi
pada Akhir Zaman. Peristiwa ini akan tampak seperti badai
kejahatan yang bertiup ke seluruh dunia saat menyaring biji-
bijian (yaitu, mereka yang memiliki iman sejati) dari sekam
(mereka yang tidak memiliki keyakinan).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan badai kejahatan yang
akan menyapu semua orang ke dalam tong sampah sejarah -
kecuali mereka yang memiliki keyakinan teguh kepada Tuhan
Yang Maha Esa dan kebenaran yang datang dari-Nya. Islam
menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus
Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) sebagai Nabi terakhir
dan Rasul-Nya kepada seluruh umat manusia, dan mengutusnya
dengan Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan
Tuhan. Sejauh dia benar-benar seorang Nabi yang benar, dan Al-
Qur’an memang wahyu ilahi, maka hanya mereka yang dengan
setia mengikutinya, dan yang dibimbing oleh Al-Qur’an, yang
dapat bertahan dari badai kejahatan.
Esai-esai dalam artikel ini mencoba untuk menemukan dan
menjelaskan beberapa dari Tanda-Tanda Hari Akhir yang telah
muncul di dunia modern. Tanda-tanda itu menggambarkan badai
kejahatan yang sudah dilepaskan dan menyapu semua orang ke
dalam tong sampah sejarah kecuali yang benar-benar beriman.
Bahaya terbesar bagi cara hidup religius yang menyertai badai
itu yaitu serangan epistemologis terhadap jantung spiritual
agama.
❖ BADAI JAHAT DAN PERANG TERHADAP INTI
SPIRITUAL AGAMA
Ada orang-orang sesat dan jahat di dunia modern yang aneh ini
yang terus menerus menyerang dan berusaha menghancurkan
inti spiritual dalam jalan hidup religius. Mereka telah
42
menghancurkan inti spiritual Kristen, Yahudi, Hindu, dan Budha
dan sekarang menargetkan Islam. Mereka menjelekkan ahli Sufi
Islam yang otentik seperti guru saya yang terpelajar Maulana Dr.
Muhammad Fazlur Rahman Ansari, dan gurunya yang
termasyhur, Maulana Abdul Aleem Siddiqui, dan secara keliru
menuduh mereka sebagai orang sesat yang terlibat dalam
tindakan Syirik.
Mereka yaitu orang-orang yang secara efektif bergabung
dengan barisan musuh-musuh Islam yang saat ini sedang
berperang melawan Islam dan umat Muslim di seluruh dunia.
Mereka sendiri tidak menyadari bahwa mereka telah diperalat
oleh seorang dalang dengan tujuan mesianis yaitu menghalangi
umat Islam untuk menyadari kenyataan dunia saat ini.
Dalangnya yaitu Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus, yang
bermata satu, dan sebab nya buta secara spiritual, dan yang tahu
bahwa orang-orang yang buta spiritual tidak dapat mengenali
Tanda-Tanda Hari Akhir.
Banyak nubuwah Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa
salam) tentang ‘Tanda-tanda Hari Akhir’ telah disampaikan
kepada kita dalam bahasa kiasan yang harus ditakwilkan agar
dapat dipahami dengan benar. Proses penakwilan ini
membutuhkan penerapan epistemologi Sufi untuk melihat
dengan mata batin internal (yaitu, ilmu pengetahuan spiritual
intuitif internal). Ini juga membutuhkan pengamatan yang tajam
terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam proses sejarah.
Beruntung sekali penulis ini menjadi murid dari seorang
Syeikh Sufi yang otentik. Esai-esai dalam artikel ini yaitu buah
dari upaya sederhana untuk menakwilkan proses sejarah, dan
peristiwa-peristiwa yang kini terjadi di dunia, dalam konteks
Tanda-tanda Hari Akhir. Barangkali esai-esai ini dapat
membantu orang-orang, yang lebih berbakat dibandingkan penulis
43
ini, untuk memahami dan menakwilkan ‘Tanda-tanda Hari
Akhir’ dengan cara yang lebih meyakinkan tentunya akan
menunjukkan ‘Kebenaran’ dalam Islam.
Hadits (yaitu, sabda Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa
salam)) yang dikutip di bawah ini hanyalah sebagian kecil dari
hadits yang membahas tentang ‘Tanda-tanda Hari Akhir’. Para
pembaca harus senantiasa waspada saat mengkaji Hadits tentang
topik ini sebab hal ini pasti menjadi sasaran utama orang-orang
dengan misi jahat yaitu mengarang Hadits palsu sehingga
menyesatkan Muslim dan merusak pemahaman mereka tentang
topik yang sangat penting ini.
Bagian dari metodologi yang digunakan untuk
mengidentifikasi Hadits dengan integritas yang meragukan
yaitu dengan pertama-tama menemukan sistem makna yang
konsisten yang akan menjelaskan topik secara keseluruhan yang
didapatkan dari Al-Qur’an dan Hadits. lalu kita dapat
menangguhkan pertimbangan sehubungan dengan Hadits yang
tidak selaras dengan sistem makna itu. Tidak ada yang lebih
membutuhkan metodologi seperti ini selain dalam mengkaji
‘Tanda-tanda Hari Akhir’.
Teks terjemahan Hadits berikut kadang-kadang diselingi
dengan komentar singkat kami yang diapit oleh tanda kurung.
Selain itu, terkadang kami menawarkan tafsiran singkat dalam
sebuah Hadits:
***
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Hari
Akhir tidak akan datang kecuali (dan sampai) kaum Muslimin
memerangi kaum Yahudi dan kaum Muslimin membunuh
mereka (yaitu, kalahkan mereka sehingga) kaum Yahudi akan
bersembunyi di balik batu atau pohon dan sebuah batu atau
44
pohon akan berkata: Muslim, atau hamba Allah, ada seorang
Yahudi di belakangku; datang dan bunuh dia; tetapi pohon
Gharqad tidak akan mengatakan demikian, sebab itu yaitu
pohon orang Yahudi.”
(Sahih Muslim)
Nubuwah Hari Akhir ini dengan sangat jelas mengesampingkan
kemungkinan penyelesaian damai dalam konflik antara kaum
Yahudi dan Muslim atas penindasan kaum Yahudi di Tanah Suci
dan di tempat lain di dunia.
***
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi Isfahan
yang mengenakan syal Persia.”
(Sahih Muslim)
Ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi Eropa dan
Gerakan Zionis Eropa yang mendirikan Negara Israel, pada
akhirnya akan melepaskan kekuasaan dan kendali atas Israel dan
merayu orang-orang Yahudi yang sebenarnya, yaitu orang-
orang Yahudi oriental, untuk menggantikan mereka. Sangatlah
penting bahwa seorang Yahudi Iran kini menjadi Presiden Israel.
***
Jabir bin Samurah meriwayatkan: Saya mendengar Rasulullah
bersabda: “Sebelum Hari Kiamat akan ada banyak pendusta
(besar).” Ada tambahan dalam Hadits yang diturunkan atas
otoritas Abul Ahwas dari kata-kata ini: “Saya bertanya
kepadanya: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah?
Dia berkata: Ya.”
45
(Sahih Muslim)
Kebohongan besar itu sudah keluar dari Washington, London,
dan Tel Aviv / Yerusalem. Selain itu, dunia terus menerus
menjadi sasaran kebohongan dan informasi yang salah yang
tersebar melalui media berita internasional yang didominasi
Barat.
***
Hudhayfah bin Usayd Ghifari meriwayatkan: “Rasulullah
datang kepada kami secara tiba-tiba saat kami sedang
berkumpul (dalam sebuah diskusi). Dia bertanya: Apa yang
kalian diskusikan? (Para Sahabat) berkata: Kita sedang
membahas tentang Kiamat. sesudah itu dia bersabda: Itu tidak
akan datang sampai kalian melihat sepuluh tanda dan (dalam
hubungan ini) dia menyebutkan ‘asap’, ‘Dajjal’, ‘binatang’,
‘terbitnya matahari dari barat’, ‘turunnya ‘Isa putra Maryam’,
‘Yakjuj dan Makjuj’, dan ‘gempa bumi di tiga tempat, satu di
timur, satu di barat dan satu di Arab, yang pada akhirnya ‘api
akan menyala dari Yaman dan akan mendorong orang ke
tempat berkumpul mereka’.
(Sahih Muslim)
Lihat esai dalam artikel ini yang berjudul “Sepuluh Tanda Utama
Hari Terakhir - Apakah Satu Baru Saja Terjadi?”
***
‘Umar bin Khattab (ra) berkata:
“Saat kami duduk suatu hari bersama Rasulullah (shala
Allahu ‘alaihi wa salam), seorang pria tiba-tiba muncul. Dia
mengenakan pakaian putih bersih dan rambutnya hitam pekat
46
– tidak ada tanda-tanda perjalanan padanya, namun tidak ada
dari kami yang mengenalnya.
Dia datang dan duduk di hadapan Nabi (shala Allahu ‘alaihi
wa salam), meletakkan lututnya bersentuhan dengan lutut
Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam), dan tangannya di atas
pahanya. Dia berkata, “Hai Muhammad! Jelaskan tentang
Islam.”
Rasulullah (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Islam
yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad yaitu Rasulullah; mendirikan shalat; membayar
Zakat; berpuasa Ramadhan; dan melaksanakan ibadah Haji ke
Rumah Allah jika mampu.”
Pria itu berkata, “Engkau benar,” dan kami terkejut bahwa dia
bertanya dan lalu mengkonfirmasi jawabannya.
lalu , dia bertanya, “Beritahu aku apa itu iman.”
Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Iman
yaitu percaya kepada Allah; Malaikat-malaikat-Nya; Kitab-
kitab-Nya; Rasul-rasul-Nya; Hari Akhir; dan qodho dan
qodhar.”
Pria itu berkata, “Engkau benar. Kini, beritahu aku tentang
keunggulan spiritual (Ihsan).”
Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab,”Ihsan
yaitu beribadah kepada Allah seakan melihat-Nya; dan jika
engkau tidak melihat-Nya, (maka ketahuilah bahwa) Dia
tentu melihatmu.”
“Sekarang, beritahu aku tentang As-Sa’ah,” tanya pria itu.
Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Yang
ditanya tidak lebih tahu dibandingkan yang bertanya.”
47
“Maka beritahu aku tentang tanda-tandanya,” kata pria itu.
Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menjawab, “Bahwa
seorang budak wanita akan melahirkan majikannya; dan
bahwa engkau akan melihat para penggembala tanpa alas kaki
bersaing dalam pembangunan gedung-gedung tinggi.”
Lalu pengunjung itu pergi, dan aku menunggu lama sekali.
lalu Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) bertanya
kepadaku, “Tahukah engkau, Umar, siapa penanya tadi?”
Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu.” Dia
(shala Allahu ‘alaihi wa salam) bersabda, “Dia yaitu Jibril.
Dia datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang
agama.”
(Sahih Muslim)
Berikut yaitu nubuwah yang disajikan dengan sangat jelas
dalam bahasa kiasan yang harus ditakwilkan. Namun Hadits ini
juga mengarahkan perhatian kita pada Al-Ihsan, atau
pendalaman spiritual, sebagai bagian dari prasyarat yang
diperlukan untuk menanggapi ‘Tanda-tanda Hari Akhir’.
“Budak wanita yang melahirkan majikannya” yaitu
nubuwah mengejutkan yang hanya bisa ditakwilkan jika
seseorang memahami dan mendalami nubuwah tentang Dajjal
dengan Riba di satu sisi, dan Dajjal dengan revolusi feminis di
sisi lain.
***
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Hari
Kiamat (yaitu, Hari Akhir) tidak akan datang sebelum ilmu
pengetahuan (agama) diangkat, gempa bumi akan sangat sering
terjadi, waktu akan berlalu dengan cepat, penderitaan akan
48
muncul, pembunuhan akan meningkat dan uang akan melimpah
di antara kalian.”
(Sahih Bukhari)
Kekosongan dalam ilmu agama dapat dengan mudah dipahami
dalam konteks penyerangan yang telah dilancarkan terhadap
para ulama Islam dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam.
Serangan terhadap ulama Islam ini merupakan bagian dari
perang terhadap Islam dan umat Muslim secara keseluruhan.
***
Dari Ubay bin Ka’ab: Saya mendengar Rasulullah bersabda,
“Efrat akan segera menampakkan gunung emas dan saat
orang-orang mendengarnya mereka akan berbondong-bondong
ke sana tetapi orang-orang yang akan memiliki (harta) itu (akan
berkata): Jika kita membiarkan orang-orang ini mengambilnya,
mereka akan mengambil semuanya.” Jadi mereka akan
bertempur dan sembilan puluh sembilan dari seratus akan
terbunuh. Abu Kamil dalam narasinya mengatakan: “Aku dan
Abu Ka'ab berdiri di bawah naungan benteng Hassan.”
(Sahih Muslim)
Saya percaya gunung emas yang ditemukan di Sungai Efrat
hanya dapat dipahami sebagai simbol minyak bumi (emas
hitam) dan bahwa kematian yang dinubuwahkan (99 dari setiap
100) akan terjadi dalam perang untuk menguasai sumber minyak
ini . Mungkin senjata pemusnah massal seperti senjata
nuklir akan digunakan pada masa depan.
***
Berikut yaitu beberapa Hadits yang dipilih secara acak
yang berkaitan dengan Tanda-tanda Hari Akhir:
49
Sa’ad bin Abu Waqqas meriwayatkan: Rasulullah bersabda,
“Kiamat tidak akan datang hingga munculnya orang-orang
yang makan dengan lidah seperti sapi.” Ahmad
merawikannya.”
(Tirmizi)
***
Hudhaifah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Kiamat tidak
akan datang sampai kalian membunuh pemimpin kalian,
bertarung bersama dengan pedang kalian, dan yang terburuk
mewarisi harta dunia kalian.”
(Sunan Tirmizi)
***
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
“Kiamat tidak akan datang sampai waktu berlalu dengan cepat,
satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu
seperti sehari, sehari seperti satu jam, dan satu jam seperti nyala
api.”
(Sunan Tirmizi)
***
Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah
bersabda, “Demi Dia yang jiwaku ada dalam genggaman-
Nya, Kiamat tidak akan datang sampai binatang buas
berbicara kepada manusia, ujung cambuk manusia dan tali
sandalnya berbicara kepadanya, dan memberi tahu dia apa
yang telah dilakukan keluarganya sejak dia pergi
50
meninggalkan mereka.” (Ini tampaknya memperkirakan
munculnya ponsel modern.)
(Sunan Tirmizi)
***
Talhah bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
“Salah satu tanda mendekatnya Hari Kiamat yaitu kehancuran
bangsa Arab (yaitu, perang melawan bangsa Arab).”
(Sunan Tirmizi)
***
Abdullah bin Hawalah al-Azdi meriwayatkan: “Rasulullah
mengutus kami dengan berjalan kaki untuk mendapatkan
rampasan, tetapi kami kembali tanpa mendapatkan apa pun.
saat dia melihat tanda-tanda kesusahan di wajah kami, dia
berdiri di depan kami dan bersabda: Ya Allah, jangan
tempatkan mereka di bawah pengawasanku, sebab aku akan
terlalu lemah untuk merawat mereka; jangan tempatkan mereka
dalam perawatan diri mereka sendiri, sebab mereka tidak akan
mampu melakukannya, dan jangan tempatkan mereka dalam
perawatan manusia, sebab mereka akan memilih hal-hal
terbaik untuk diri mereka sendiri. Dia lalu meletakkan
tangannya di atas kepalaku dan bersabda: Ibnu Hawalah, saat
engkau melihat Khilafah didirikan di Tanah Suci (yaitu, saat
Negara Euro-Yahudi Israel penipu menguasai dunia dari Tanah
Suci) gempa bumi, kesedihan, dan masalah serius akan
mendekat, maka pada hari itu Kiamat akan datang lebih dekat
dengan umat manusia dibandingkan tanganku ini ke kepalamu.”
(Sunan Abu Daud)
***
51
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Kiamat
tidak akan datang sampai orang-orang saling bersaing tentang
Masjid (yaitu, saling bersaing untuk mendapatkan kendali atas
Masjid).”
(Sunan Abu Daud)
***
52
ESAI 4
Iqbal, Epistemologi Sufi
dan Akhir Sejarah
alam esai ini kami berupaya untuk mengkaji munculnya
paradoks epistemologis dalam pemikiran Dr.
Muhammad Iqbal.
Ada ilmu pengetahuan yang dia berikan kepada orang-
orang asli Muslim India yang menjadi sasaran penjajahan brutal
Inggris anti-Islam, ilmu pengetahuan ini menyentuh jiwa mereka
dan menyemangati mereka dengan penegasan kembali
komitmen terhadap Islam sebagai agama. Ilmu pengetahuan ini
dikomunikasikan dalam bahasa asli mereka - Urdu dan Persia.
Seandainya hal ini dikomunikasikan dalam bahasa Inggris,
dunia akademisi Eropa yang berperang melawan Islam akan
menolak dan mencemoohnya. Iqbal akan kehilangan prestise di
antara rekan-rekan Eropa-nya.
Dan lalu ada ilmu pengetahuan lain yang dia
komunikasikan dalam bahasa Inggris, dan termasuk
pandangannya tentang ‘Akhir Zaman’. Ilmu pengetahuan ini
mengesankan akademisi Eropa, serta rekan senegaranya yang
berpendidikan Barat. Seandainya sebagian dari pendapatnya
dikomunikasikan dalam bahasa Urdu atau Persia, seperti
penolakannya terhadap keyakinan pada kedatangan Imam Al-
Mahdi, atau Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus, dan
kembalinya Al-Masih asli, Nabi ‘Isa putra Perawan Maryam,
maka ini akan menciptakan masalah serius dan permanen
D
53
baginya di kalangan warga Muslim. Sampai hari ini, ada
banyak Muslim yang terinspirasi oleh Iqbal, tetapi tetap dengan
senang hati mengabaikan pandangannya tentang ‘Akhir Zaman’.
Dualisme dalam pemikiran dan karya Iqbal diperparah oleh
fakta bahwa ia terkadang mengatakan satu hal dalam bahasa
Inggris, dan lalu melanjutkan dengan mengatakan sesuatu
yang sangat berbeda dalam bahasa Urdu atau Persia.
Misalnya, ia setuju dengan Ijtihad Turki (jika bisa disebut
demikian) sehingga Imamah atau Khilafah (yang dihapuskan
oleh Majelis Nasional Turki Mustafa Kamal pada tahun 1924)
dapat diberikan kepada orang pribadi atau Majelis terpilih.
Asalkan Parlemen modern terdiri dari orang-orang Muslim yang
baik, Iqbal akan bersedia menerimanya sebagai pengganti
Khilafah yang sah. Namun Iqbal, dalam bait puisinya, mendesak
pemulihan Khilafah, dan mengupayakan mobilisasi semangat
Islam:
“Taa Khilafat kee bina dunyah main ho phir ustawaar,
La kahein say dhoond kar aslaaf ka qalb-o-jigar.”
(Untuk memperkuat atau menghidupkan tujuan (pemulihan)
Kekhalifahan di dunia ini,
Sangat penting bagi kita untuk menemukan dan membangun
kembali jantung dan hati, yaitu keberanian, keimanan, dan
kesungguhan Muslim generasi pertama.)
Iqbal cukup terang-terangan dalam penolakannya terhadap
keyakinan pada kedatangan Imam Al-Mahdi dan kembalinya
Al-Masih sejati, Nabi ‘Isa putra Perawan Maryam. Inilah
pendapatnya:
54
“Doktrin finalitas kenabian selanjutnya dapat dianggap
sebagai obat psikologis bagi sikap Majusi dari ekspektasi
konstan yang cenderung memberi pandangan yang keliru
mengenai sejarah. Ibnu Khaldun, melihat semangat
pandangannya sendiri tentang sejarah, sepenuhnya telah
mengkritik dan, saya yakin, akhirnya menghancurkan dugaan
dasar wahyu dalam Islam tentang sebuah gagasan yang mirip,
setidaknya dalam efek psikologisnya, dengan gagasan yang
berasal dari Majusi yang muncul kembali dalam Islam di
bawah tekanan pemikiran Majusi.”
(Iqbal, Dr. Muhammad., Rekonstruksi Pemikiran Religius
dalam Islam, ed. Oleh M. Saeed Shaikh, Lahore, Institute of
Islamic Culture, 1986) hal. 115
Memang, dalam suratnya kepada Muhammad Ahsan dia
menambahkan keyakinan pada kedatangan Dajjal Al-Masih
palsu dalam daftar gagasan Majusi yang, menurutnya, telah
menyusup ke dalam pemikiran Islam. Ini terlihat jelas dari
penggunaan kata masihiyat. (Iqbal, Vol. II, hal. 231. Dikutip
dalam M. Saeed Sheikh, “Pengantar Editor” pada Rekonstruksi
karya Iqbal, op.cit., hal. xi).
Namun Iqbal, dalam bait puisinya, cukup eksplisit dalam
penegasan keyakinan akan kedatangan Imam Al-Mahdi:
“Dari pengasingan gurun Hijaz,
Panduan Zaman (Khidr-e-Waqt) akan datang,
Dan dari lembah yang jauh sekali
Kafilah akan muncul.”
55
Ada pendapat yang diungkapkan bahwa Khidr-e-waqt yang
dimaksud Iqbal tidak lain yaitu pendiri Pakistan Muhammad
Ali Jinnah. Kami tidak setuju. Jinnah tidak dapat dibayangkan
muncul dari lembah yang jauh di Hijaz. Sultan Abdul Aziz bin
Saud, yang menempatkan Hijaz di bawah klien Inggris-
Amerika, juga tidak bisa dianggap sebagai Khidr-e-Waqt. Lalu
siapa, selain Imam al-Mahdi, yang dimaksud Iqbal?
Kami menelusuri dualisme yang tampaknya mengganggu
dalam pemikiran dan karya Iqbal ini, dan kami menyarankan
bahwa hal itu muncul dari ambivalensi epistemologis dalam
pemikirannya. Epistemologi yang berbeda berfungsi pada
tingkat kesadaran yang berbeda. Kesadaran teoretis Iqbal, yang
beroperasi dengan bahasa Inggris, tampaknya berfungsi dengan
satu epistemologi. Kesadaran estetika dan spiritualnya, yang
beroperasi dengan bahasa aslinya, tampaknya berfungsi dengan
epistemologi lain. Kecuali jika seseorang berhasil
mengintegrasikan semua tingkat kesadaran ke dalam
kepribadian, ambivalensi epistemologis dan dualisme dalam
pemikiran dapat muncul.
Akan merugikan Iqbal jika dikatakan bahwa dia sengaja
memilih dualitas pandangan ini untuk menyesatkan
pendengarnya di Eropa. Hal itu menyiratkan bahwa dia juga,
dalam prosesnya, menyesatkan seluruh generasi Muslim
bangsanya yang dengan mudah menyerap pandangannya yang
diungkapkan dalam bahasa Inggris. Iqbal yaitu seorang ulama
yang terlalu masyhur dalam menggunakan keilmuan Islam
untuk menyesatkan pembaca, yang termasuk begitu banyak
orang Muslim bangsanya sendiri.
❖ EPISTEMOLOGI SUFI
56
Para sufi memiliki catatan yang konsisten tidak hanya dalam
menyadari, tetapi juga menggunakan hati sebagai sarana untuk
memperoleh ilmu pengetahuan. Pengalaman hati yang ‘melihat’
dan langsung mengalami ‘kebenaran’, dalam istilah filsafat
sering disebut sebagai ‘pengalaman religius’. Dalam arti yang
lebih luas, ‘pengalaman religius’ juga mencakup ilmu
pengetahuan spiritual intuitif internal yang menyampaikan
‘hakikat’ atau ‘kenyataan’ mengenai suatu hal kepada orang
beriman. Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menyebutkannya
saat dia memperingatkan: “Perhatikanlah firasah (yaitu,
kapasitas spiritual intuitif yang mampu memahami hakikat
suatu hal) orang beriman, sebab tentunya dia melihat dengan
cahaya Allah.” (Tirmidzi) Dan Iqbal sendiri mengarahkan
perhatian pada hal ini dalam sajaknya yang terkenal:
“Hazaron saal Nargis
apni baynuri pay roti hay,
bari mushkil say hota hai,
chaman main, deedawar paida.”
“Selama ribuan tahun,
Sang narcissus (bunga) meratapi kebutaannya;
Dengan susah payahlah seorang bijak yang melihat (yaitu
seseorang yang melihat apa yang orang lain tidak dapat
melihat)
Muncul di taman kehidupan.”
Deedawar (yakni orang bijak) yang dimaksud Iqbal jelas
yaitu orang yang melihat dengan cahaya batin, dan ini yaitu
57
kualitas yang menentukan dari seorang Khidr. Iqbal sendiri,
merupakan contoh deedawar.
Epistemologi yang mengakui ‘pengalaman religius’ sebagai
sumber ilmu inilah yang selanjutnya disebut sebagai
epistemologi Sufi. Ilmu pengetahuan internal yang datang dari
sumber semacam itu dikenal sebagai ‘Ilmu Al-Batin.
Sepanjang sejarah, selalu penting bagi para penuntut ilmu
agar dapat memahami ‘hakikat’ atau ‘kenyataan’ mengenai
berbagai hal. Namun ini justru menjadi sangat penting pada
zaman di mana ‘penampilan’ dan ‘kenyataan’ akan saling
bertentangan satu sama lain. ‘Penampilan’ yang memikat akan
sangat berbahaya sehingga, jika diterima, akan menyebabkan
kehancuran iman. Dan oleh sebab nya, pada zaman ini,
kelangsungan hidup bergantung pada kemampuan melampaui
bentuk penampilan eksternal untuk mencapai hakikat internal,
sehingga dengan demikian terselamatkan dari tipu daya dan
kebinasaan. Islam menyatakan bahwa zaman ini akan terjadi
sebelum hari kiamat. Maka hal ini menegaskan pentingnya
epsitemologi Sufi.
Nabi Muhammad (shala Allahu ‘alaihi wa salam) menyarankan
agar Surat Al-Kahfi (Surat ke-18) dalam Al-Qur’an dibaca
setiap hari Jumat sebagai perlindungan dari Fitnah (tipu daya,
ujian) Dajjal dengan modus operandinya yaitu menipu. Kisah
Musa (‘alaihi salam) dan Khidr (‘alaihi salam) dalam Surat Al-Kahfi
memberi peringatan keras tentang berbahayanya kelemahan
epistemologi Barat yang mengakui ilmu pengetahuan hanya
didapat melalui pengamatan saja. Musa (‘alaihi salam) keliru
dalam ketiga kesempatan. Khidir di sisi lain, yang melihat
dengan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengoreksi kekeliruan
yang dibuat Musa.
58
Kisah ini pun secara tidak langsung menunjukkan dampak
yang tidak menyenangkan bagi komunitas yang bergabung
dengan persekutuan Kristen dan Yahudi yang salah arah dalam
aliansi Kristen-Yahudi yang diciptakan Zionis, sebagai
golongan yang menjadi sasaran penipuan terbesar dan tidak
mampu memahami secara akurat berjalannya proses sejarah.
Oleh sebab tertipu, mereka akan secara membabi buta
mengikuti tokoh yang paling berbahaya, yaitu, Dajjal Al-Masih
palsu atau Anti-Kristus, menuju kehancuran terakhir mereka
dalam sejarah. Pandangan saya yaitu bahwa penipuan ini telah
terjadi, dan penghancuran terakhir Negara Euro-Yahudi Israel
kini sudah pasti.
Iqbal sendiri yaitu contoh yang sangat baik dari seorang
ulama dengan kemampuan melampaui penampilan untuk
memahami kenyataan mengenai suatu hal. Dia melakukan studi
menyeluruh dan mendalam tentang peradaban Kristen-Yahudi
Barat modern dan sampai pada kesimpulan bahwa
penampilannya sangat berbeda dari kenyataan yang sebenarnya.
Hanya tiga bulan sebelum kematiannya, dia menyingkap tabir
penampilan ‘kemajuan’ dan menyampaikan kecaman pedas
terhadap Barat modern. Banyak pendukung modernisme Islam,
termasuk orang-orang seperti Sheikh Muhammad Abduh, serta
kaum liberal sekuler saat ini, telah menyatakan bahwa mereka
justru melihat Islam hadir di Barat modern. Iqbal tidak tertipu:
“Zaman modern bangga dengan kemajuannya dalam
pengetahuan dan perkembangan ilmu sainsnya yang tiada
tara. Tidak diragukan lagi, kebanggaan itu dibenarkan ...
Tetapi terlepas dari semua perkembangan ini, tirani
imperialisme bertebaran di luar negeri, menutupi wajahnya
dengan topeng Demokrasi, Nasionalisme, Komunisme,
Fasisme, dan langit pun tahu apa lagi selain itu. Di balik
topeng ini, di setiap penjuru bumi, semangat kebebasan dan
martabat manusia sedang diinjak-injak sampai sedemikian
59
parah sehingga bahkan periode tergelap dalam sejarah
manusia pun tidak sebanding.”
(Iqbal, Dr. Muhammad, Pesan Tahun Baru,
Disiarkan dari Radio All India, Lahore, 1 Januari 1938.
Dikutip dalam Syed Abdul Vahid, Pemikiran dan Renungan
Iqbal, Lahore, Ashraf, 1964. hal. 373)
❖ EPISTMOLOGI BARAT MODERN
Peradaban Barat modern muncul sebagai akibat dari perubahan
mendadak yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sampai
sekarang tidak dapat dijelaskan, berhasil mengambil alih Eropa.
Sebuah peradaban yang sebelumnya didasarkan kepercayaan
pada Kristen Eropa, dan telah menunjukkan ekspresi misterius
berlandaskan keyakinan ini dengan Perang Salib,
mengalami perubahan radikal yang secara misterius
mengubahnya menjadi peradaban Kristen-Yahudi yang pada
dasarnya sekuler dan suka berbuat maksiat dengan berlandaskan
pada materialisme. Epistemologi ‘mata-satu’ yang baru,
membuka jalan bagi ajaran kolektif materialisme, merupakan
epistemologi yang secara khusus menyangkal kemungkinan
ilmu pengetahuan diperoleh melalui pengalaman religius, atau
melalui ilham dari alam tak terlihat, yakni melalui mata kedua
(mata hati). Observasi dan eksperimen ilmiah merupakan satu-
satunya cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan;
dengan demikian apa yang tidak bisa diamati maka tidak bisa
diketahui. Epistemologi baru secara alami membuka jalan bagi
kesimpulan dramatis, yaitu, bahwa alam yang tidak dapat
diamati dan diketahui, tidak ada. Dengan demikian, tidak ada
alam selain alam materi.
60
❖ TANGGAPAN EPISTEMOLOGIS IQBAL
Iqbal menyadari bahwa penerimaan epistemologi Barat ini akan
mengakibatkan kehancuran total pada ajaran agama, termasuk
Islam. Ilmu pengetahuan akan disekulerkan, dan pikiran sekuler
akan terputus dari alam gaib – alam sakral. Hati lalu akan
kehilangan cahaya suci sehingga tanpanya penglihatan akan
meredup. Bahkan ulama terbaik di dunia Islam akan berada
dalam bahaya ditipu oleh Barat, dan semua bangsa manusia akan
menari mengikuti irama mereka. Pemikiran Islam akan menjadi
sangat sekuler sehingga golongan Protestan buta spiritual yang
disebut versi kebangkitan Islam pun muncul. Sebuah zaman, di
mana peradaban Barat mendominasi total atas seluruh bangsa
manusia, pun mengakibatkan bahaya besar bagi pemahaman
epistemologis dan kerusakan pemikiran Muslim.
Tanggapan Iqbal yaitu mencurahkan dua dari tujuh ceramah
yang lalu disusun dalam sebuah artikel dengan judul
“Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam”, untuk
membela epistemologi Sufi dengan yakin, dan menempatkan
dua ceramah ini di awal rangkaian ceramahnya. Keduanya
menempati posisi penting sebagaimana bab pertama artikel ini.
(Lihat situs; http://www.allamaiqbal.com/works/prose/english/
reconstruction.)
Dalam bab Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman Religius
serta Uji Filsafat Ilham Pengalaman Religius, Iqbal menyajikan
tantangan yang paling argumentatif dan persuasif terhadap
epistemologi Barat baru yang pernah ditulis oleh seorang
Muslim. Dua bab pertama dalam artikel Rekonstruksi ini disusun
dan ditempatkan secara mencolok untuk tujuan ini, yaitu,
mendorong kalangan ulama Islam untuk menyelidiki dengan
cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan melampaui penampilan
61
menggoda yang dihadirkan oleh zaman modern, untuk
memahami kenyataannya yang beracun.
Lebih dari enam puluh tahun telah berlalu sejak tanggapan
epistemologis terhadap tantangan Barat muncul dalam dua bab
pertama artikel Rekonstruksi, dan kalangan cendekia Barat tidak
merendahkan hati untuk menanggapinya, begitu pula ulama
Islam tidak peduli untuk mengikuti jejak epistemologis yang
Iqbal sampaikan. Bahkan, kegagalan golongan ulama Islam ini
sebagian berakibat menimbulkan keadaan buruk yang dialami
umat Islam saat ini. Dunia Barat, dengan sistem pendidikan
sekulernya, politik nafsu kekuasaan, keserakahan dan polarisasi
warga , serta eksploitasi ekonomi, sudah mencapai
keberhasilan hampir secara menyeluruh dalam menipu umat
Islam sehingga dengan demikian memimpinnya menuju
ketidakberdayaan, anarki, kebingungan intelektual, dan
kehancuran iman.
❖ AMBIVALENSI IQBAL
Dari masa remaja sebagai mahasiswa di Lahore saat ia
bertemu dengan Thomas Arnold, hingga pendidikan pasca-
sarjananya di universitas-universitas terkemuka di Inggris dan
Jerman, kedekatan Iqbal dengan pemikiran Barat sangat intim.
Dia hidup pada zaman yang didorong untuk mengamati dan
menanggapi lonjakan ilmu pengetahuan Barat yang unik dan
menakjubkan sehingga memperluas batas-batas pengetahuan di
hampir setiap cabang ilmu. Pemikiran modern peradaban Barat
menempati panggung utama dalam dunia ilmu pengetahuan.
Sejarah belum pernah menyaksikan sesuatu yang sebanding
dengan keilmuan ini. Barat menantang dunia keilmuan
tradisional dengan klaim telah berhasil melampaui segala
sesuatu yang mendahuluinya. Bahkan, revolusi sains dan
teknologi di Barat yaitu sesuatu yang unik dalam dunia ilmu
62
pengetahuan. Sering kali rasa hormat Iqbal kepada keilmuan
Barat tumbuh menjadi kekaguman secara langsung. Ini
memuncak pada tahun-tahun terakhir hidupnya yang dituliskan
dalam artikel Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam.
Kekagumannya kepada keilmuan Barat memicu akibat wajar
yang mengganggu. Ini terungkap dengan sendirinya dalam
klaim yang mengejutkan bahwa “... selama lima ratus tahun
terakhir pemikiran religius dalam Islam praktis tidak
berkembang” (Iqbal, Rekonstruksi, op.cit., hal. 6.)
Dan sebagai akibat dari kekaguman yang mendalam kepada
keilmuan Barat ini ditemukan dalam artikel Rekonstruksi penuh
dengan referensi dan kutipan dari rekan-rekannya di dunia
keilmuan Barat itu. Tidak ada rekan seperti itu dalam
komunitasnya sendiri, jadi tidak ada satu referensi pun dalam
Rekonstruksi yang menyebutkan seorang ulama Muslim
kontemporer dalam komunitas Muslim India yang besar dan
berpengaruh secara intelektual.
Ambivalensi ini, hubungan cinta-benci yang menemukan
ekspresi dalam dua bab pertama Rekonstruksi, seperti dalam
referensi tak berujung kepada para cendekiawan Barat, juga
terungkap dalam pilihan bahasa Iqbal untuk menyapa umat
Islam pada topik yang sama pentingnya dengan rekonstruksi
pemikiran religius mereka. Dia memilih untuk berbicara kepada
kaum intelektual Muslim yang berpendidikan Barat dalam
bahasa Inggris. Tentu menjadi tontonan yang sangat
menakjubkan untuk melihat Iqbal, tujuh puluh tahun yang lalu,
berbicara kepada audiens Muslimnya yang sebagian besar tidak
mengerti (perlu memahami ilmu pengetahuan filsafat untuk
memahami ceramahnya) dalam bahasa Inggris murni dan
dengan cara yang sesuai dengan etika dan kepekaan linguistik
Barat sekuler. Tentu menjadi pemandangan yang sama
menakjubkannya untuk melihat Iqbal yang sama menggunakan
63
bahasa asli Urdu dan bahasa Persia untuk menyampaikan pesan
melalui sajak puisi yang bentuk dan hakikatnya cukup asing bagi
pemikiran Barat.
Kami percaya bahwa Iqbal sendiri tidak kebal dari pengaruh
negatif epistemologi Barat yang sudah dia peringatkan.
Puisinya, yang datang langsung dari hati, menerapkan
penggunaan epistemologi Sufi yang tak tertandingi dan tidak
terkekang oleh batasan epistemologis atau logika Barat. Hal ini
tidak selalu dapat dikatakan sama dengan pemikirannya yang
diungkapkan dalam bahasa Inggris. Tujuan kami dalam esai ini
yaitu untuk mengarahkan perhatian pada topik yang
menggambarkan dualitas pemikiran Iqbal. Topik ini yaitu
tentang eskatologi Islam.
❖ ISLAM DAN AKHIR SEJARAH
Apakah ada eskatologi Islam? Apakah Iqbal pernah
menyampaikannya?
Sesuai dengan konteks topik yang kita bahas di sini, untuk
dicatat bahwa Islam sudah memilih istilah untuk periode waktu
yang merujuk pada akhir zaman. Kata Islamnya yaitu As-Sa’ah.
Informasi terpenting dalam topik As-Sa’ah ini, yakni, akhir
zaman, ditentukan dalam kunjungan terkenal Malaikat Jibril
(‘alaihi salam) saat dia muncul di hadapan Nabi (shala Allahu
‘alaihi wa salam) di Masjid dalam wujud seorang pria. Dia
mengajukan pertanyaan, Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
menjawabnya, dan Jibril lalu menegaskan bahwa jawaban
itu benar. Beberapa saat sesudah kepergiannya, Nabi (shala Allahu
‘alaihi wa salam) memberi tahu umat Islam mengenai identitas
sang pengunjung, dan fakta bahwa dia datang (pada tahap paling
akhir dalam kehidupan Nabi) untuk mengajarkan mereka
tentang ajaran agama mereka. Malaikat Jibril mengajukan lima
64
pertanyaan dan dua pertanyaan terakhir terkait dengan akhir
zaman. Pertanyaan pertama dari dua pertanyaan terakhir itu
yaitu : kapan akhir zaman akan datang? Nabi (shala Allahu ‘alaihi
wa salam) menjawab bahwa orang yang ditanyai tidak memiliki
lebih banyak pengetahuan tentang hal ini dibandingkan sang
penanya. Pertanyaan kedua yaitu : beritahu aku tentang tanda-
tanda yang dengannya kita akan tahu bahwa akhir sudah dekat
(yakni, apa saja tanda-tanda yang dengannya kita akan
mengenali zaman yang merupakan akhir sejarah?) Dia
menjawab bahwa seorang budak wanita akan melahirkan
majikannya (dan ini sekarang menjadi mungkin dengan menjadi
ibu pengganti dalam program bayi tabung), dan bahwa para
gembala yang kemarin tanpa alas kaki akan bersaing satu sama
lain dalam membangun gedung-gedung bertingkat. (Beberapa
ulama Islam terkemuka pada zaman ini telah menyatakan bahwa
tanda ini telah terwujud.)
Hadits yang luar biasa ini menunjukkan betapa pentingnya
keterkaitan Islam dengan pokok bahasan akhir sejarah. Hadits
ini pun dengan jelas menetapkan bahwa kini kita hidup pada
akhir zaman.
Pandangan Islam tentang akhir zaman cukup komprehensif.
Ini termasuk keyakinan bahwa bumi akan berfungsi sebagai
tempat tinggal untuk waktu yang terbatas (Al-Baqarah 2: 36).
Bumi suatu hari akan diubah menjadi tanah yang tandus (Al-
Kahfi 18: 8). Ini menyiratkan bahwa pada akhir zaman, akan
terjadi kematian (sementara) bumi – sehingga dengan demikian
terganggunya produksi makanan – akan didahului oleh zaman di
mana persediaan air (tawar) terus berkurang, yang pada akhirnya
menyebabkan kelangkaan air yang ekstrim. Nabi (shala Allahu
‘alaihi wa salam) menggambarkan akhir zaman sebagai Zaman
Fitnah (yakni ujian dan cobaan), dan Al-Qur’an
memperingatkan bahwa semua bangsa manusia akan menjadi
65
sasarannya, dan bahwa hukuman Allah akan sangat mengerikan.
(Al-Qur’an Surat Al-Anfal, 8: 25).
Persediaan air yang terus berkurang terjadi sebagai akibat
dari dilepasnya makhluk jahat ciptaan-Nya ke dunia oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Yakjuj dan Makjuj. Dua Surat terakhir
dalam Al-Qur’an secara khusus ditujukan untuk
memperingatkan orang-orang beriman mengenai bahaya besar
yang muncul di dunia sebagai akibat dari lepasnya “kejahatan
yang diciptakan oleh Allah.” Bahaya besar muncul dalam
bentuk “makhluk jahat” yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala untuk menguji dan menghukum. Makhluk jahat ini pun
tentunya termasuk Dajjal Al-Masih palsu. Nabi (shala Allahu
‘alaihi wa salam) menggambarkan Yakjuj dan Makjuj sebagai
makhluk yang sangat kehausan sehingga mereka akan meminum
semua air yang ada di dunia. “Mereka akan melewati Danau
Tabariyah di (Tanah Suci) dan meminumnya sampai kering.”
(Sahih Muslim). “Mereka akan melewati sungai”, dia bersabda,
“dan mereka akan meminumnya hingga kering”. (Kanz Al-
Ummal, Vol. 7, Hadits No. 2157). Dengan demikian, akhir
zaman ditandai dengan konsumsi berlebihan, pemborosan, dan
sikap tidak menghargai air. Umat manusia akan menyaksikan,
pada akhir zaman, kerusuhan dan perang demi memperebutkan
air.
Jika kita melihat sekeliling kita di dunia ini, tampak cukup
jelas bahwa hitungan mundur terjadinya kelangkaan air sudah
dimulai. Ada kekurangan air yang tidak menyenangkan dan
terus bertambah parah di hampir semua bagian dunia saat ini.
Kepala Program Lingkungan PBB baru-baru ini
mengungkapkan kekhawatirannya bahwa dunia sedang menuju
“periode perang antar negara disebabkan oleh air”. Seorang
menteri pemerintah Pakistan memperingatkan kemungkinan
terjadinya kerusuhan sebab air di Kota Karachi. Proyek
66
Bendungan Kalabagh mengancam pertumpahan darah.
Bendungan Farrakha, yang dibangun oleh India, mengancam
akan menenggelamkan Bangladesh. Turki dan Suriah mungkin
suatu hari akan berperang memperebutkan air yang merupakan
salah satu masalah paling parah yang memecah belah mereka.
Israel, Arab Palestina, dan negara-negara Arab tetangganya
(khususnya Yordania) memiliki perselisihan yang serius dan
semakin parah terkait pembagian pasokan air yang semakin
menipis. Israel sebenarnya melancarkan perang sebab air
terhadap bangsa Arab Palestina, Muslim dan juga Kristen.
Bukti yang terus bertambah dengan jelas menegaskan
bahwa lepasnya Yakjuj dan Makjuj sudah terjadi. Iqbal setuju.
Bahkan, ia tampaknya menjadi salah satu dari sedikit ulama
Islam yang memiliki visi dan keberanian untuk membuat
pernyataan resmi bahwa pelepasan ini sudah terjadi dan
bahwa kita kini hidup pada akhir zaman, atau zaman yang akan
menyaksikan akhir sejarah. Deklarasi penting ini dibuat oleh
Iqbal dalam sajak Urdu dan sudah bisa diperkirakan, tidak ada
satupun isyarat ini dalam tulisan atau pernyataannya yang
dibuat dalam bahasa Inggris. Berikut inilah sajaknya:
“Khul gayay y’ajuj aur m’ajuj kay lashkar tamam,
Chashmay Muslim dekhlay tafseer harf-e-yansiloon.”
Terlepaslah segerombolan Yakjuj dan Makjuj;
Jelaslah di mata umat Muslim arti kata yansilun.
Kata yansilun, yang muncul di bagian akhir ayat, dan Tafsir
(penjelasan) Iqbal mengarahkan perhatian umat Muslim, dalam
Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman bahwa saat Yakjuj dan Makjuj dilepas, mereka akan
menyebar ke segala arah (min kulli hadabin yansilun). Berikut
ini yaitu ayat yang dimaksud:
67
“Ada larangan di sebuah kota yang telah Kami
hancurkan, bahwa mereka (yakni penduduk kota itu)
tidak akan pernah dapat kembali (untuk merebut kota itu
sebagai milik mereka lagi), hingga Yakjuj dan Makjuj
dilepas (dari dinding penghalang yang dibangun Dzul
Qarnain untuk menahan mereka) dan mereka menyebar
ke segala arah.”
(Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’, 21: 95-96)
Ini menunjukkan bahwa Yakjuj dan Makjuj tidak hanya
menjadi kekuatan dominan di dunia, tetapi mereka pun dapat
menaklukkan seluruh bangsa manusia. Bahkan, kekuatan
mereka akan sedemikian kuat sehingga, menurut Hadits Qudsi,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tidak ada selain Aku yang
mampu melawan (dan membinasakan) mereka.” (Kanz Al-
Ummal, Vol. 7, Hadith No. 3021).
Pendapat kami yaitu Iqbal dapat sampai pada kesimpulan
yang sangat akurat ini sekitar delapan puluh tahun yang lalu
sebagai akibat dari penerapan epistemologi Sufi. Dia memiliki
keberanian untuk membuat lompatan intelektual dengan ilmu
pengetahuan intuitif mengejutkan yang disampaikan kepadanya,
dalam satu momen yang mempesona sebagai inti dari topik
eskatologi Islam ini. Orang yang tidak berpendidikan dapat
mengatakan banyak hal tanpa ilmu pengetahuan. Akan tetapi
jika seorang ulama Al-Qur’an membuat pernyataan seperti ini,
maka pasti didasarkan pada landasan yang sangat kuat.
Cendekiawan Islam konvensional dilengkapi dengan Ijazah-
ijazah yang mengesankan, namun tidak mampu atau tidak mau
menjangkau ilmu pengetahuan intuitif mengenai topik
eskatologi Islam, belum mengumumkan kapan terjadinya
pelepasan Yakjuj dan Makjuj. Penulis ini bertemu di Lahore
68
dengan penafsir artikel -artikel karya Iqbal, almarhum Prof.
Muhammad Munawwar, yang berpendapat bahwa Iqbal
menganggap Barat Kristen-Yahudi modern sebagai peradaban
Yakjuj dan Makjuj.
Kami yakin Iqbal memang benar. Pertimbangkan hal-hal
berikut:
Kedudukan Khalifah merupakan institusi pusat kesatuan
kolektif Umat Muslim. Walaupun kursi Khalifah sering kali diisi
dengan cara yang tidak sesuai dengan Syari’ah Islam, institusi
Khalifah bertahan lama sampai sekitar 1.300 tahun. Ada indikasi
dalam Hadits terkenal bahwa Khalifah akan menghilang tetapi
akan direstorasi pada saat kedatangan Imam Al-Mahdi dan
kembalinya Nabi ‘Isa (‘alaihi salam):
“Betapa bahagianya kalian saat Putra Maryam turun ke
tengah kalian dan Imam kalian akan berasal dari kalangan
kalian sendiri.”
(Sahih Bukhari)
sesudah tujuh tahun pernyataan Iqbal mengenai lepasnya
Yakjuj dan Makjuj pada 1917, kekuatan dan pengaruh yang
belum pernah ada sebelumnya di peradaban Barat yang dominan
saat ini mengakibatkan kehancuran Kekaisaran Islam
Utsmaniyah dan lalu jatuhnya Khalifah.
Kedua, haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi
Islam, dan telah bertahan selama ribuan tahun. Nabi (shala Allahu
‘alaihi wa salam) meramalkan ibadah Haji akan ditinggalkan
dalam konteks sesudah lepasnya Yakjuj dan Makjuj. Nubuwah
atau ramalan ini tampaknya akan segera terjadi. Ini harus terjadi
segera sesudah orang-orang Yahudi memenuhi janji mereka
untuk menghancurkan Masjid al-Aqsa untuk membangun
69
kembali Bait Sulaiman (‘alaihi salam). saat terjadi, maka hal itu
akan mengkonfirmasi tanpa dibayangi keraguan bahwa Iqbal
memang benar dalam pernyataan bahwa Yakjuj dan Makjuj
sudah dilepas.
Ketiga, ciri dasar Yakjuj dan Makjuj yaitu fasad (yaitu,
tingkah laku mereka yang merusak, menipu dan
menghancurkan) (Al-Qur’an Surat Al-Kahfi, 18: 94). Dengan
demikian, pada zaman Yakjuj dan Makjuj terjadi kerusakan dan
kehancuran dalam skala besar dan belum pernah terjadi
sebelumnya. Segalanya rusak dan akhirnya hancur – agama dan
ulama; kehidupan pemerintahan dan politik; pasar, ekonomi,
dan bidang finansial atau keuangan; hukum dan keadilan;
transportasi, lingkungan, bahkan sistem ekologi bumi; seks,
pernikahan dan kehidupan keluarga; olahraga dan hiburan;
pendidikan, pemuda, peran wanita dalam warga , dan
sebagainya. saat kita melihat sekeliling kita di dunia saat ini,
kita menemukan banyak bukti dari kerusakan dan kehancuran
universal ini. Bumi akan menjadi tanah yang kering lagi tandus
yang tidak mampu menghasilkan makanan untuk mendukung
kehidupan manusia. Hal ini menandakan bahwa Iqbal memang
benar, dan hitungan mundur sudah dimulai.
Keempat, karakteristik dasar Yakjuj dan Makjuj lainnya
yaitu sekuler dan suka berbuat maksiat (khabats). Karakteristik
sekuler atau tidak bertuhan ini dijelaskan dalam Hadits Qudsi di
mana kita diberitahu bahwa hanya 1 dari setiap 1.000 orang pada
akhir zaman yang akan masuk ke dalam surga (dan orang itu
yaitu pengikut agama Ibrahim yang sejati). Sisanya, 999 dari
setiap 1.000, merupakan orang-orang yang mengikuti Yakjuj
dan Makjuj akan dimasukkan ke Neraka (Sahih Bukhari, 4:567;
6:265; 8:537).
70
Karakteristik suka berbuat maksiat dijelaskan dalam sebuah
Hadits di mana Nabi menyampaikan kepada istrinya, Zainab,
berita bahwa kehancuran bangsa Arab akan terjadi pada saat
Yakjuj dan Makjuj membanjiri dunia dengan kemaksiatan.
Sabdanya yaitu: “Celaka bagi bangsa Arab, sebab kejahatan
yang kini mendekat” (Sahih Bukhari, 4:797; 9:181; 9:249).
Penggunaan istilah Khabats dalam Al-Qur’an termasuk
penyimpangan seksual yang menjadi ciri penduduk Sodom dan
Gomora. Ada cukup bukti karakteristik sekuler, kemaksiatan,
dan perilaku seksual yang menyimpang di dunia saat ini
sehingga memenuhi syarat sebagai deskripsi yang digambarkan
oleh Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam). Sekali lagi Iqbal benar.
Karakteristik kelima Yakjuj dan Makjuj, juga melanjutkan
dari hal-hal yang sudah disebutkan di atas, yaitu mereka akan
mengubah seluruh bangsa manusia menjadi satu warga
global di mana seluruh manusia pada dasarnya akan mengikuti
cara hidup yang sama. Mereka akan menjadi sekuler dan suka
berbuat maksiat. warga tunggal yang sekuler dan suka
berbuat maksiat ini telah merangkul kalangan elit di seluruh
dunia. Prosesnya sekarang bergerak tanpa henti untuk juga
merangkul warga secara luas. Narasi Hadits yang
sebenarnya yaitu Yakjuj akan berkembang untuk
menggabungkan empat ratus bangsa manusia lainnya dan
Makjuj pun melakukan hal yang sama. Maka dunia Yakjuj dan
Makjuj akan menjadi dunia informasi, komunikasi, hiburan, dsb.
Proses ini akan sampai pada pembentukan satu warga
global yang suka berbuat maksiat dengan penerangan mental
dan spiritual Kentucky Fried Chicken dan Coca Cola.
Pemerintah dunia akan memimpinnya. Televisi telah
memainkan, dan masih memainkan, peran penting dalam upaya
tanpa henti untuk mencapai tujuan ini – sebuah tujuan yang
71
sekarang tampaknya cukup dalam jangkauan. Ini menegaskan
pernyataan Iqbal.
Keenam, mungkin menjadi petunjuk paling penting dari
lepasnya Yakjuj dan Makjuj, dan konsekuensi yang tidak
menyenangkan dari lepasnya mereka bagi umat Islam, ada
dalam hadits (disebutkan di atas) yaitu Nabi (shala Allahu ‘alaihi
wa salam) bersabda kepada istrinya, Ummul Mukminin Zainab
(radhiyallahu ‘anha), tentang lepasnya Yakjuj dan Makjuj.
Sabdanya yaitu: “Celaka bagi bangsa Arab, sebab kejahatan yang
kini mendekat.” Dengan kata lain lepasnya Yakjuj dan Makjuj
akan mengakibatkan penderitaan dan malapetaka besar
khususnya di negara-negara Arab. Petunjuk mengenai hal ini
diungkapkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu
wa Ta’ala menyatakan kota (atau negeri) yang telah dihancurkan
oleh-Nya, bahwa restorasi negeri itu tidak akan dapat terjadi
hingga lepasnya Yakjuj dan Makjuj membuatnya menjadi
mungkin (lihat rujukan pada ayat 95 & 96 Surat Al-Anbiya’ di
atas).
Penggunaan epistemologi Sufi yang saya lakukan
mengarahkan saya pada kesimpulan bahwa kota itu yaitu
Yerusalem (yaitu, berdirinya Negara Israel) dan dengan
demikian saya menginterpretasikan ayat ini bahwa Negara
Israel, yang dihancurkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dua kali
dalam sejarah, direstorasi pada saat Yakjuj dan Makjuj telah
dilepas, dan sebagai konsekuensinya, restorasi Negara Israel ini
merupakan bagian dari Rencana Ilahi sehingga dengan cara ini
Dajjal Al-Masih palsu atau Anti-Kristus akan menipu kaum
Yahudi dan memimpin mereka menuju kebinasaan terakhir
mereka. Sesungguhnya, inilah tepatnya mengapa ia dikenal
sebagai Al-Masih Ad-Dajjal. Identifikasi “Kota” yang dimaksud
yaitu Yerusalem sama sekali tidak dibuat-buat. Ada Hadits
yang menghubungkan Yakjuj dan Makjuj dengan Yerusalem
72
(yakni ibu kota Negara Israel). Nabi (shala Allahu ‘alaihi wa salam)
bersabda bahwa saat Yakjuj dan Makjuj dilepas, mereka akan
melewati Danau Tabariyah (yang ada di Israel) (Kanz Al-
Ummal, Vol. 7, Hadits No. 3021).
Lalu ada Hadits yang sangat panjang dalam Sahih Muslim
di mana kita diberitahu bahwa Yakjuj dan Makjuj akan
menyerang Al-Masih asli, Nabi ‘Isa putra perawan Maryam
(‘alaihi salam) di Yerusalem.
Perlu diperhatikan bahwa Perjanjian Perdamaian Yordania-
Israel Oktober 1994 mengakui hak Yordania atas sejumlah air
dari sungai yang dibagi untuk kedua negara. Israel dapat
memenuhi kewajiban perjanjian ini dengan memompa air dari
Danau Tabariyah. Permukaan air Danau Tabariyah telah
mencapai titik terendah pada tahun 1998 (saat penulisan esai
ini), sehingga pemompaan air lebih lanjut akan mengakibatkan
gangguan pada kepasitasnya untuk menyimpan air. Akibatnya,
Israel terpaksa menangguhkan pemenuhan kewajiban
perjanjiannya tentang penyediaan air ke Yordania. Israel baru-
baru ini mengatakan kepada Yordania bahwa bagian air untuk
Yordania akan berkurang 60% selama musim panas mendatang
sebab “curah hujan rendah”. Menanggapi hal ini , Menteri
Luar Negeri Yordania telah mendesak Israel untuk memenuhi
komitmennya dan melaksanakan kesepakatan yang telah
ditandatangani. Hitungan mundur sudah dimulai!
Restorasi Negara Israel tidak hanya menegaskan lepasnya
Dajjal Al-Masih palsu serta Yakjuj dan Makjuj, tetapi juga
merupakan belati yang benar-benar menghujam ke jantung
dunia Muslim Arab. Ini, pada gilirannya, memenuhi ramalan
yang tidak menyenangkan: “Malapetaka bagi bangsa Arab.” Kita
dapat menambahkan, secara sepintas, bahwa revolusi feminis
zaman modern (di mana malam ingin menjadi siang)
73
menegaskan bahwa Dajjal sekarang berada di tahap akhir
misinya.
Sungguh menjadi suatu kejutan yang menyenangkan bagi
saya mendapati kesimpulan ini dikonfirmasi oleh Syeikh Sufi
terkemuka. Mungkin saja Iqbal sampai pada kesimpulan yang
sama sebab alasan inilah mengapa dia mengarahkan perhatian
pada tafsir yansilun (yaitu penafsiran ayat 95 dan 96 Al-Qur’an
Surat Al-Anbiya’). Lagipula, Gerakan Zionis didirikan pada
tahun 1898, dan aliansi antara Zionis dan Barat modern dengan
menyakitkan diungkapkan kepada Iqbal dalam Deklarasi
Balfour tahun 1917.
❖ AMBIVALENSI EPISTEMOLOGIS IQBAL DAN
AKHIR SEJARAH
Aktor utama dalam tahap akhir sejarah, yaitu Yakjuj dan
Makjuj, Dajjal, Imam Al-Mahdi, dan kembalinya Al-Masih asli,
Nabi ‘Isa putra perawan Maryam (‘alaihi salam), dan peran
masing-masing yang mereka jalankan, semuanya tergabung
dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Hal yang benar-benar mengkhawatirkan yaitu meskipun
Iqbal sudah mengkonfirmasi lepasnya Yakjuj dan Makjuj, dia
menolak kepercayaan pada munculnya Dajjal Al

