gereja masehi 19

Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja masehi 19. Tampilkan semua postingan

gereja masehi 19


 


Anggota jemaat, kemudian diundang untuk saling 

berpegangan tangan dan berlutut bersama-sama untuk berdoa pelantikan. Perbuatan ini 

melambangkan persatuan gembala jemaat dengan anggota-anggota jemaat. 

Ketua jemaat mengucapkan doa, mengundang komitmen anggota jemaat untuk 

mendukung gembala jemaat yang baru. 

Utusan konferens/daerah misi berdoa, secara resmi melantik gembala jemaat yang 

baru sebagai pemimpin jemaat. 

Kemudian utusan konferens/daerah misi memimpin ketua-ketua untuk menyambut 

keluarga gembala jemaat yang baru dengan jabatan tangan. 

 

Khotbah gembala jemaat 

 

Sambutan gereja 

Sesudah acara kebaktian selesai, pada waktu anggota-anggota jemaat keluar 

meninggalkan ruangan gereja, anggota-anggota menyambut keluarga pendeta dengan 

menyalami mereka. Bersekutu makan bersama membuat acara penutup pelantikan itu menjadi 

suatu saat yang mengesankan. 

PASAL 41 

 

Mendoakan Orang Sakit 

 

Kapan Mendorong Mengoles dengan Minyak? 

 

“Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua 

jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama 

Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan 

membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni” (Yak. 

5:14, 15). 

Doa harus selalu menjadi jantung setiap pelayanan gembala jemaat, dan mendoakan 

orang sakit yaitu  bagian yang penting dari pelayanan doa seperti itu. Seorang gembala 

jemaat harus berdoa untuk kesembuhan: kesembuhan rohani, emosi dan fisik. 

Tetapi pelayanan mengoles minyak yang resmi, secara khusus dilakukan untuk orang 

yang sakit secara fisik. Ayat itu mengatakan, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit.” 

Ayat itu tidak mengatakan, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sekarat.” ritual  

mengoles minyak tidak boleh dilakukan kepada semua keluhan fisik secara semberono. 

Mengoles minyak harus dilakukan kepada penyakit yang nyata dan penting, tetapi bukan 

hanya pada penyakit yang fatal. Di beberapa tempat, mengoles minyak sudah menjadi 

ritual  kematian oleh sebab  tradisi beberapa denominasi yang bukan Advent yang 

memakai  pengolesan minyak sebagai seolah-olah ritual  terakhir sebelum seseorang itu 

meninggal. 

Mengoles minyak bukan berarti memberkati orang yang sudah sekarat dan mau mati, 

tetapi untuk menyembuhkannya. Mengoles minyak ialah mengakui masalah jasmani yang 

serius dan menghadapinya dengan menaruh percaya pada Allah sebelum kita mencari usaha-

usaha manusia. Mengoles minyak ialah berpaling kepada Allah terlebih dahulu – bukan 

hanya pada saat terakhir. 

Para pemimpin orang-orang Advent zaman dahulu memakai  ritual  mengoles 

minyak. Ellen White dengan keluarganya diolesi minyak beberapa kali oleh sebab  berbagai 

penyakit. Mengolesi minyak yaitu  praktek bukan pengecualian. 

 

Siapa yang Melaksanakan 

 

Orang yang sakit harus “memanggil para penatua jemaat.”  Para penatua (ketua-

ketuaa) jemaat bisa melaksanakan pengolesan minyak jika tidak ada pendeta, tetapi harus 

melakukannya atas persetujuan gembala jemaat. Idealnya seorang pendeta yang memimpin, 

dibantu untuk berdoa oleh para ketua yang ada. 

 

Mempersiapkan ritual  

 

Dimana dilaksanakan. – Upacarea pengolesan minyak boleh dilaksanakan di gereja, 

di rumah, di rumah jompo atau di rumah sakit. Jika dilaksanakan di rumah sakit, pengolesan 

minyak harus dilaksanakan tanpa mengganggu dokter dan petugas rumah sakit. Panjang dan 

formalitas ritual  tergantung pada tempat pelaksanaan ritual  dan keadaan orang yang akan 

diolesi minyak. 

 

Siapa yang boleh ikut. – Sebagai tambahan kepada pendeta dan para ketua jemaat, 

yang lain yang memiliki  karunia khusus berdoa boleh hadir.  Penerima olesan minyak 

boleh jadi ingin mengundang sahabat-sahabatnya. Keluarga atau sahabat-sahabat yang bukan 

Kristen biasanya tidak diundang, tetapi tidak perlu disuruh pergi jika mereka hadir. Mereka 

yang melaksanakan pengolesan minyak harus memiliki  komitmen yang sungguh-sungguh 

pada Kristus, percaya sepenuhnya pada penyembuhan ilahi dan telah menyediakan hati 

mereka kepada kesempatan itu. 

 

Menyiapkan penerima olesan. – “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah 

Tuhan tidak mau mendengar” (Mzm. 66:18). Doronglah orang yang sakit untuk menyelidiki 

hidupnya sebelum pengolesan minyak. Cara terbaik untuk mempersiapkan diri orang yang 

sakit kepada ritual  itu ialah agar seseorang itu mempelajari fasal “Doa untuk Orang Sakit” 

dalam The Ministry of Healing. 

Hargailah kerahasiaan pribadi seseorang yang tidak mau berbicara terlalu banyak 

mengenai penyakitnya. Sebaliknya, engkau harus mengetahui sebanyak mungkin yang bisa 

diberitahukan oleh orang yang sakit dengan senang, supaya dengan demikian doamu bisa 

lebih khusus. 

 

Urutan ritual  

Kata-kata pendahuluan. --  Sebagai gembala jemaat, engkau harus menjelaskan 

kepada kelompok tujuan dari mengolesi minyak dan bagaimana hal itu berlangsung. Orang 

yang akan diolesi minyak boleh diminta untuk menyaksikan imannya dan memberikan alasan 

mengapa meminta kesembuhan. 

Jika orang sakit tidak terlalu gawat penyakitnya untuk mengikuti ritual  yang 

singkat, ambillah waktu untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci sebagai prasyarat untuk 

memperoleh kesembuhan ilahi. Termasuk prinsip-prinsip berikut: 

 

1. Percaya bahwa Allah dapat dan melakukan kesembuhan. 

2. Mengakui dosa. 

3. Berjanji untuk hidup sehat. Banyak penyakit datang oleh sebab  kebiasaan hidup 

yang salah. Katakanlah kepada orang yang sakit bahwa Allah mau mengampuni 

dosa-dosa kita pada masa lalu, tetapi yaitu  suatu kelancangan memohon Allah 

menyembuhkan tubuh kita yang sakit jika kita bermaksud untuk 

menyalahgunakannya. 

4. Kesediaan memakai  alat manusia. “Setiap pemberian yang baik dan 

anugerah yang sempurna, datangnya dari atas” (Yak. 1:17). Boleh jadi Allah 

telah menganugerahi beberapa orang dokter kepada siapa Allah akan menuntun 

orang yang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Allah melakukan mujizat, 

tetapi Ia sering melakukannya melalui karunia-karunia yang ada di tangan 

manusia. 

5. Percayalah pada jawaban Allah. Kadang-kadang Allah memberikan 

kesembuhan dengan segera, kadang-kadang dengan pelan-pelan, kadang-kadang 

tidak memberikannya sama sekali. Jika orang yang menderita tidak disembuhkan 

dengan segera, itu tidak boleh ditafsirkan sebagai satu tanda kelemahan rohani 

orang yang sakit atau ketidakrelaan Allah untuk menyembuhkannya. ritual  ini 

harus diakhiri dengan kepastian bahwa segala sesuatu telah diserahkan ke tangan 

Allah dan bahwa Allah dapat dipercaya. 

 

Ayat-ayat Kitab Suci yang disarankan untuk dibaca sebelum pewngolesan minyak 

 

Yak. 5:14-16  “Supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan  

minyak.” 

Bil. 21:8, 9  Orang-orang disembuhkan oleh sebab  menuruti acara yang  

disuruh Tuhan untuk dilakukan. 

Mzm. 103:1-5  “Yang menyembuhkan segala penyakitmu.” 

Mzm. 107:19, 20 “Maka berseru-seru mereka kepada Tuhan dalam kesesakan  

mereka.” 

Mark. 16:15-20 “Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan  

orang itu akan sembuh.” 

 

Doa pengolesan minyak. – Engkau, atau orang yang memimpin ritual , harus 

memiliki  sebotol kecil minyak zaitun. Semua berlutut. Orang yang akan diolesi minyak 

boleh jadi ingin mengucapkan doa. Jika demikian halnya, ada lebih baik agar ia berdoa lebih 

dulu. Para pemimpin lain yang sudah ditentukan, berdoa bergantian sesudahnya. Engkaulah 

yang terakhir mengucapkan doa. Pada waktu engkau mulai berdoa, bubuhilah sedikit minyak 

di ujung jari tanganmu. Menjelang akhir doamu, oleskanlah minyak itu ke kening orang yang 

sakit itu. Ini melambangkan jamahan Roh Kudus atas orang sakit itu dalam cara khusus dan 

istimewa. 

Orang-orang Advent tidak mengikuti atau mendukung praktik sebagian orang yang 

membubuhi minyak ke bagian tubuh yang terkena penyakit. 

 

Mengakhiri ritual . – Segera sesudah doa berakhir, tinggalkanlah orang sakit itu. 

Waktu untuk berkenalan dan bersekutu secara sosial boleh dilakukan sebelum ritual  

pengolesan minyak dilaksanakan, tetapi jangan dilakukan sesudah selesai ritual . 

Tinggalkanlah orang sakit itu sementara dalam suasana kudus dan hormat dan hadirat Allah 

menembusi seluruh ruangan itu. 

PASAL 42 

 

Pernikahan 

 

“Ikatan keluarga yaitu  ikatan yang tererat, yang paling penuh kasih sayang dan 

paling kudus di dunia ini. Ikatan keluarga dirancang untuk menjadi berkat bagi umat 

manusia. Dan itu menjadi berkat bilamana janji pernikahan dilaksanakan dengan 

sesungguhnya, dalam takut akan Tuhan, dan dengan mengingat tanggungjawabnya” (The 

Adventist Home, hlm. 18). 

 

Persyaratan Hukum 

 

Sebagai seorang pendeta, engkau harus mengetahui peraturan dan hukum pernikahan 

yang berlaku di negara di mana engkau bertugas. Sebelum melaksanakan pernikahan, 

pastikan bahwa engkau memenuhi semua persyaratan hukum, seperti prosedur pendaftaran 

dan perizinan. Peraturan untuk melaksanakan pernikahan biasanyan tidak terlalu rumit, tetapi 

hal itu juga penting. Kunjungan singkat atau menghubungi pejabat pemerintah setempat yang 

berususan dengan pernikahan akan memberikan kepadamu informasi yang engkau perlukan. 

Di beberapa negara, pendeta yang sudah diurapi, sejauh menyangkut urusan sipil, 

dapat melaksanakan ritual  pernikahan di dalam gereja, tetapi surat nikah harus 

ditandatangani dan dikeluarkan oleh pejabat pendaftaran pernikahan setempat, yang biasanya 

turut hadir dan mendengarkan pernyataan pernikahan yang disetujui. 

Di negara-negara lain hukum mengharuskan kedua belah pihak pengantin harus 

membuat pernyataan tertulis jika mereka mau mengadakan ritual  pernikahan mereka di luar 

gereja, seperti dalam hal ritual  pernikahan yang dilaksanakan di rumah. 

Masih di beberapa negara lain, pendeta sama sekali tidak boleh melaksanakan 

ritual  pernikahan, sebab  hal itu yaitu  tanggungjawab negara dan bahwa pernikahan 

dianggap sebagai suatu kontrak sipil. Dalam hal seperti itu anggota-anggota kita biasanya 

pergi ke gereja atau ke rumah sesudah ritual  di kantor catatan sipil, dan di sana pendeta 

yang sudah diurapi mengadakan ritual  khusus, memohon berkat Tuhan agar dicurahkan ke 

atas kedua mempelai. 

Engkau harus memeriksa surat nikah sebelum melaksanakan ritual . Jangan 

laksanakan jika tanggalnya tidak sah, surat nikah itu diperoleh dari satu tempat dan 

pernikahan dilaksanakan di tempat lain di mana hal itu tidak sah, atau jika terdapat cacat 

hukum lain. 

Pernyataan, “Oleh sebab itu, jika seseorang dapat menunjukkan satu sebab mengapa 

kedua orang ini tidak dapat dipersatukan secara sah, biarlah dia sekarang berbicara, atau 

kalau tidak, berdiam untuk selamanya,”sekarang sudah sering diabaikan. Tidak lagi menjadi 

tanggungjawab pendeta atau ritual  pernikahan untuk menetapkan apakah kedua mempelai 

bisa “dipersatukan secara sah.”  Masalah itu seharusnya sudah diselesaikan oleh pejabat 

pemerintah yang memberikan surat nikah. 

 

Penuntun Denominasi 

 

Siapa yang melaksanakan. – Pada Pasal 6, “Para Pengurus Jemaat dan 

Tanggungjawab Mereka,”  buku Peraturan Gereja (1995) menetapkan, “Dalam ritual  

pernikahan maka pengesahan, sumpah, dan pengumuman pernikahan hanya dilaksanakan 

oleh seorang pendeta yang telah diurapi, kecuali di tempat-tempat di mana komite divisi telah 

mengambil keputusan bahwa wakil pendeta tertentu atau yang ditugaskan secara khusus dan 

telah diurapi sebagai ketua jemaat setempat dapat menjalankan ritual  pernikahan. Baik 

pendeta yang durapi, wakil pendeta atau gembala yang ditugaskan, atau seorang ketua 

setempat dapat memberikan khotbah pendek, melayangkan doa, atau dalam memberikan 

berkat.” 

 

Kapan engkau tidak boleh melaksanakan. – Jika kedua belah pihak yang hendak 

menikah yaitu  orang yang asing bagimu, maka tanyailah mereka dengan cermat sampai 

engkau merasa pasti sepenuhnya bahwa tidak ada hambatan yang serius untuk melaksanakan 

pernikahan. Kemungkinan orang akan memintamu, seorang pendeta, untuk melaksanakan 

ritual  pernikahan oleh sebab  mereka ingin berkat Allah dicurahkan ke atas rumahtangga 

mereka. Ini yaitu  suatu kesempatan besar, tetapi juga tanggungjawab besar. Engkau tidak 

akan berani memberkati seseorang yang engkau rasa pasti Allah tidak akan memberkati. 

Pernikahan yang tidak bijaksana. Dalam konseling dengan satu pasangan yang akan 

menikah, gembala jemaat harus menangani beberapa hal penting, walaupun hal itu tidak 

menyangkut moral. Hal itu termasuk: perbedaan umur, kesehatan yang buruk, tanggungjawab 

finansial, dan perbedaan yang tidak bisa diselesaikan sebab  latar belakang etnis dan atau 

budaya. 

Pendeta-pendeta Advent tidak boleh melaksanakan ritual  pernikahan seorang 

Advent dengan yang bukan Advent. Kitab Suci mengamarkan, “Janganlah kamu merupakan 

pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan 

apakah terdapat antara kebenaran dengan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat 

bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dengan Belial? 

Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Kor. 

6:14, 15). 

Gabungkanlah semua amaran ini, sehingga kita memiliki  pekabaran yang 

sederhana: kita tidak boleh “bersekutu” atau menggabungkan diri kita dengan mereka yang 

terlalu sedikit persamaannya dengan kita. Bagi orang-orang Advent, hal ini bahkan termasuk 

dengan orang-orang Kristen yang lain. Umpamanya, seorang wanita Advent yang taat tidak 

memiliki  banyak persamaan dengan seorang pria Kristen yang bukan Advent yang paling 

taat sekalipun. Ini tidak boleh mengurangi keaslian wanita Advent itu  sebagai seorang 

Kristen. Masalah ini terletak pada pola hidup: teologi holistik Adventisme menuntun kepada 

pola hidup yang terlalu berbeda sehingga membuat pernikahan tidak harmonis. Kita harus 

mengamarkannya bahwa pasangannya tidak akan dapat membuat dia bahagia. Mungkin 

Kristen yang lainpun mengamarkan juga bahwa wanita Advent itu tidak bisa membuatnya 

bahagia. 

Mungkin, pria itu tidak suka kalau isterinya seorang vegetaris. Isterinya tidak mau 

memasak daging babi untuk suaminya. Isteri tidak suka ada bir di dalam kulkas dan asap 

rokok di ruang keluarga. Suami tidak mau agar isterinya membayar perpuluhan. Isteri tidak 

menyetujui TV dihidupkan pada hari Sabat. Mereka tidak akan pernah pergi ke gereja 

bersama-sama atau menjadi bagian dari keluarga gereja yang sama. Waktu yang paling 

menyenangkan bagi suami untuk pergi berbelanja ialah pada hari Sabtu, dan isterinya tentu 

saja tidak akan mau pergi bersama-sama dengan dia. Isteri tidak mau pergi berdansa atau 

pergi ke pesta cocktail bersama suaminya. 

Pada waktu anak-anak lahir, isteri tidak setuju untuk membaptiskan bayi-bayi 

mereka. Ia tidak suka Ayah membawa anak-anak pergi ke permainan pada hari Jumat malam 

atau pada hari Sabtu. Isterinya ingin agar anak-anaknya mendapat pendidikan Advent. Suami 

tidak mau dibebani dengan biaya pendidikan itu. Ayah menanamkan seperangkat 

kepercayaan kepada anak-anak, ibu juga menanamkan yang lain, dan anak menjadi frustrasi 

dan bingung, sering berakhir dengan tidak mempercayai agama sama sekali. 

Tidak heran Alkitab berkata, “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka 

belum berjanji?” (Am. 3:3) [Bisakah dua orang berjalan bersama, kecuali mereka setuju? – 

KJV] 

Ellen White senantiasa menentang pernikahan antara orang yang percaya dengan 

orang yang tidak percaya, dan menjelaskan seseorang yang percaya sebagai seorang yang 

telah “menerima kebenaran untuk zaman ini.” “Walaupun teman pilihanmu itu dalam segala 

hal layak (padahal sebenarnya tidak), ia tidak menerima kebenaran untuk zaman ini; ia yaitu  

seorang yang tidak percaya, dan engkau dilarang surga untuk bersatu dengannya. Engkau 

tidak boleh, tanpa malapetaka kepada jiwamu, mengabaikan perintah ilahi ini” (Testimonies, 

jld. 5, hlm. 364). 

Kita mendebat, “Tetapi bagaimanapun juga anggota ini akan menikahi yang bukan 

anggota. Bukankah lebih baik mengadakan ritual  pernikahan Advent dan menarik yang 

bukan anggota masuk dari pada menolak orang itu dan membuat wanita/pria itu merasa 

dicampakkan keluar?”  Masalahnya ialah, jika engkau melaksanakan ritual  ini, engkau 

menunjukkan kepada gerejamu pada umumnya dan orang mudamu pada khususnya bahwa 

memacari dan menikahi orang di luar gereja tidak memiliki  konsekwensi apa-apa. Maksud 

baikmu untuk melayani pasangan ini menimbulkan perbuatan yang sangat merugikan pada 

orang muda lain dalam gerejamu. 

Janganlah merasa terlalu terkucil atau fanatik untuk menolak menikahkan seorang 

Advent dengan yang bukan Advent.  Beberapa denominasi lain juga memiliki  pendirian 

yang sama terhadap pernikahan antar kepercayaan. Banyak pendeta bahkan bersikeras 

menuntut bukti yang lebih kuat mengenai persamaan mereka sebelum mereka menyetujui 

untuk melaksanakan ritual  pernikahan.  

Memang sangat sulit, tetapi penting, untuk menunjukkan kepada pasangan itu bahwa 

engkau benar-benar perduli kepada mereka, walaupun engkau tidak bisa menikahkan mereka. 

Cobalah yang berikut: 

 

1.  Ajarkanlah kepercayaan Advent kepada orang yang bukan anggota atauy kepada 

keduanya. Advent biasanya tidak menerima orang yang bukan Advent kecuali mereka sudah 

berjuang dengan pengalaman Kristen mereka. Pembaptisan yang dilakukan dengan terburu-

buru diragukan keasliannya, namun satu hati dan pikiran yang terbuka membuat kemajuan 

kerohanian dalam waktu yang singkat.  

2.  Berikan konseling pranikah. Engkau bisa menjadi sahabat mereka walaupun 

engkau tidak bisa memimpin ritual  pernikahan mereka. Dalam proses konseling, mereka 

bisa melihat sendiri semua masalah yang mungkin bisa timbul sebagai akibat dari pernikahan 

antar kepercayaan. 

3.  Mungkin engkau bisa menawarkan bantuanmu untuk mendapatkan pendeta lain. 

Jika jemaatmu tidak salah mengerti, engkau bahkan bisa menghadiri ritual  pernikahan itu. 

Setelah menyatakan keberatanmu tentang pernikahan itu, maka engkau, dan semua orang, 

memiliki  hak untuk menunjukkan perhatianmu pada pasangan yang bersangkutan. 

4.  Sesudah ritual  pernikahan selesai dan sesudah pernikahan sudah diresmikan, 

doronglah gereja untuk menunjukkan dukungannya dan kasih Kristiani mereka kepada 

pasangan itu dalam segala cara yang mungkin untuk menolong rumah tangga mereka menjadi 

rumah tangga yang berbahagia walaupun menurut perkiraan kita mereka telah memulainya 

dengan salah. 

 

Pernikahan kembali yang tidak pantas. Tidak seorangpun pendeta Advent berhak 

untuk melaksanakan pernikahan kembali seseorang yang secara Alkitabiah tidak berhak 

untuk dinikahkan kembali. Yesus menyatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa 

menceraikan isterinya, kecuali oleh sebab  zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia 

berbuat zinah: (Mat. 19:9). 

Buku Peraturan Gereja, pasal 15, “Perceraian dan Pernikahan Kembali,” 

menyebutkan 10 pernyataan dan ketentuan mengenai masalah ini, kemudian menyimpulkan, 

“Pendeta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tidak diizinkan mengambil bagian dalam 

ritual  pernikahan kembali dari seorang yang tidak memiliki  hak untuk kawin kembali 

menurut Kitab Suci, seperti telah dijelaskan dalam alinea-alinea yang terdahulu.” 

Jangan laksanakan ritual  pernikahan kembali seorang anggota yang bercerai 

sebelum terlebih dahulu memperoleh informasi yang akurat dan obyektif mengenai 

pernikahannya yang pertama. Informasi yang dibutuhkan itu biasanya tidak datang dari orang 

yang akan menikah kembali itu. Tidak etis secara profesi dan sama sekali tidak bijaksana 

melaksanakan pernikahan seperti itu tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan gembala 

jemaat atau ketua jemaat gereja di mana perceraian itu terjadi. 

Upara yang tidak layak.  Pernikahan di gereja menyangkut perjanjian menurut hukum 

dan komitmen rohani. Setiap ritual  pernikahan di mana hal-hal duniawi(sekuler) 

menggantikan hal-hal yang rohani yaitu  tidak layak dilaksanakan oleh seorang pendeta 

Kristen. 

Penuntun Jemaat 

 

Engkau harus menuntun gerejamu dalam menyediakan penuntun pernikahan. 

Lakukanlah ini pada waktu tidak ada permohonan untuk dinikahkan diterima dan pada waktu 

tidak ada perasaan yang mungkin dilukai. Berikanlah penuntun ini bersama-sama dengan 

formulir permohonan untuk menikah, kepada siapa saja yang memohon untuk dinikahkan di 

gereja. Formulir yang sudah diisi lengkap harus berisi permohonan khusus pengantin dan 

merefleksikan bahwa penuntun sudah dibaca dan akan dituruti. 

Penuntun itu, antara lain harus menyangkut yang berikut. 

 

Penggunaan gereja. – Pelajarilah bersama-sama dengan majelis jemaat Peraturan 

Gereja dan Peraturan Kependetaan, yang menunjukkan masalah potensial pernikahan antar 

kepercayaan. Jika engkau, sebagai gembala jemaat, tidak diizinkan untuk melaksanakan 

pernikahan seperti itu, doronglah gereja untuk tidak mengizinkan pernikahan itu dilakukan 

dalam fasilitas gereja. Selain itu, engkau akan dipandang sebagai seorang yang kejam dan 

sebagai yang sedang mengikuti standar yang memisahkan engkau dari jemaatmu. 

Siapakah yang boleh menikah di gereja? Jemaat boleh membuat satu penuntun 

sebagai berikut:  “Setiap pasangan yang kedua-duanya yaitu  orang Advent; setiap pasangan 

yang bukan orang Advent. Pasangan itu harus mau meninggikan standar Advent dalam 

gereja. Tidak boleh diadakan ritual  pernikahan di dalam gereja bilamana salah seorang 

pasangan yaitu  orang Advent sementara yang lain tidak.” 

Akankah jemaatmu mengizinkan pendeta yang bukan Advent melaksanakan ritual  

pernikahan di gerejamu? Penuntun khas dari sebuah jemaat:  “Siapakah yang boleh 

melaksanakan ritual  pernikahan digereja? Seorang pendeta dari denominasi lain atau 

gembala jemaat Advent yang lain sejauh orang itu telah disetujui dan mau bekerjasama 

dengan gembala jemaat.” 

 

Musik. – Penuntun pernikahan gereja sering berisi daftar panjang musik yang bisa 

diterima. Jika tidak ada musik lain yang diizinkan, maka pilihan pengantin sangat terbatas. 

Jalan tengah bisa disebutkan bahwa musik yang ada di dalam daftar ialah musik yang sudah 

disetujui, dan bahwa musik lain harus disetujui oleh bagian musik gereja. 

Dalam Penuntun juga perlu disebutkan apakah organ atau instrumen lain bisa 

digunakan orang lain selain orang-orang dari bagian musik gereja.  

 

Pembatasan-pembatasan dan pelayanan lain. – 

 

1.  Koordinator pernikahan. Apakah gereja memiliki  koordinator pernikahan? 

Apakah orang ini digunakan? 

2.  Dekorasi.  Dekorasi yang bagaimana yang dibolehkan dan dekorasi yang 

bagaimana yang tidak dibolehkan. 

3.  Lilin. Pengantin menyukai lilin. Pemelihara kebersihan gedung benci 

membersihkannya sesudah ritual  selesai, terutama kalau gereja memakai carpet. Banyak 

gereja membolehkan hanya lilin yang tidak menetes. Dalam beberapa budaya lilin tidak 

digunakan dalam gereja Advent. 

4. Pakaian. Apakah ada standar pakaian yang layak dan yang tidak layak? 

5. Fotografi. Apakah ada pembatasan pengambilan foto di gereja? Banyak gereja  

tidak mengizinkan pengambilan foto pada saat-saat bagian ritual  kudus.  

Yang lain mengizinkannya selama tidak memakai  lampu blitz dan sama sekali tidak 

mengganggu peserta atau hadirin. 

6. Beras atau pernak-pernik. Apakah diizinkan dalam gedung? 

7. Resepsi.  Apakah ada aturan mengenai penggunaan fasilitas gereja untuk resepsi 

pernikahan? 

8. Biaya.  Apakah ada biaya pernikahan untuk anggota gereja? untuk anggota  

dari gereja Advent yang lain? 

10.  Peralatan dan servis.  Apakah gereja memiliki  tangga, tempat lilin, bantal 

untuk berlutut, dan lain-lain? Sebagian gereja membeli peralatan ini, lalu menyewakannya 

dengan sewa yang ringan untuk pada akhirnya mengembalikan modalnya. 

 

Pengecualian kepada penuntun ini harus sesedikit mungkin dan harus atas 

persetujuan komite yang ditunjuk. Gembala jemaat tidak boleh mengambil tanggungjawab 

atas perbuatan yang menjengkelkan yang dinyatakan oloeh keluarga-keluarga yang 

rencananya bertentangan dengan penuntun ini. 

 

Konseling Pranikah 

Pendeta-pendeta Advent, sementara menentang terputusnya pernikahan, menganggap 

pembentukan sebuah rumah tangga baru lebih ringan daripada yang dilakukan oleh pendeta-

pendeta lain.  

Pendeta-pendeta ini menolak menikahkan sesuatu pasangan tanpa konseling 

pranikah. Sering mereka mengharuskan diadakan pertemuan mingguan dan tugas-tugas 

pekerjaan rumah selama beberapa bulan sebelum menikah. Para pendeta Advent harus 

memberikan konseling pranikah intensif sebelum melaksanakan ritual  pernikahan. 

Sebagian orang memperdebatkan bahwa konseling pranikah tidak memiliki  arti 

banyak, sebab pasangan itu begitu idealistis romantis sebelum pernikahan. Sementara ini 

mungkin benar, dan sementara konseling pranikah jarang menolong satu pasangan mengubah 

pikiran mereka walaupun masalah berat ditunjukkan, namun masih ada manfaat lain. Setelah 

mengadakan persahabatan denganmu dan percaya kepadamu, maka mereka akan datang 

kepadamu bilamana masalah timbul sesudah mereka menikah. 

Family Life tangan kanan Church Ministries Department General Conference telah 

menyediakan bahan yang sangat bagus untuk digunakan pada konseling pranikah, dan 

sekarang sudah tersedia melalui Balai Buku Advent. 

 

Merencanakan Pernikahan 

 

Kesederhanaan. – ritual  pernikahan Advent haruslah sederhana dan rohani lebih 

dari pada mewah tak keruan. “Biarlah setiap langkah ke arah persekutuan pernikahan ditandai 

oleh kesopanan, kesederhanaan, ketulusan dan kesungguh-sungguhan tujuan untuk 

menyenangkan dan menghormati Tuhan”(The Ministry of Healing, hlm. 359). 

Di bagian-bagian dunia di mana barang-barang seperti kerudung, tali dan lilin 

menggambarkan ritus-ritus non-Kristen, semua itu harus dihilangkan dari ritual  pernikahan 

Advent. Pakaian pendeta harus sederhana dan layak. 

 

Perencanaan pribadi. – Engkau harus mengadakan pertemuan perencanaan pribadi 

dengan kedua pengantin sebelum mengadakan pernikahan mereka. Dengarkanlah rencana 

pengantin perempuan. Mintalah dia memberikan urutan acara secara tertulis. Diskusikan 

keinginan mereka mengenai khotbah pendek, janji pernikahan, dan sebagainya. Tentukan 

waktu untuk gladiresik.  

Jika gambar-gambar resmi pesta pernikahan akan diambil, suruhlah mereka 

merencanakan untuk mengambilnya tepat sebelum ritual . Ini mungkin tidak akan berterima 

jika pengantin wanita tidak mau dilihat orang dalam pakaiannya sebelum ritual  

dimulai.Tetapi, besar keuntungannya. Pernikahan sering termasuk sejumlah besar peserta, 

dan mereka harus berpakaian secara khusus untuk kesempatan itu. Jika pernikahan yaitu   

tugasan mereka yang utama, hampir selalu akan terhalang oleh seseorang yang belum siap.  

Jika tugas utama mereka ialah untuk berfoto, maka fotografi bisa dimulai sebelum 

setiap orang hadir. Kemudian, oleh sebab  seluruh peserta pesta pernikahan sudah hadir dan 

sudah berpakaian untuk berfoto, maka pernikahan itu sendiri jarang terhalang.  Dan juga, jika 

berfoto dilakukan di antara ritual  pernikahan dan resepsi, maka tamu-tamu untuk resepsi 

akan gelisah oleh sebab  harus menunggu lama sebelum kedua pengantin muncul.  

 

Gladiresik. – Sebagai pendeta, mungkin hanya engkaulah yang profesional dalam 

pernikahan yang hadir pada waktu gladiresik pernikahan diadakan. Namun, jika engkau 

yaitu  seorang laki-laki, engkau harus siap bilamana profesionalismemu dipertanyakan. 

Wanita biasanya dianggap lebih mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan 

daripada pria. Boleh jadi engkau telah melaksanakan 100 pernikahan, sedangkan wanita yang 

menjadi koordinator pernikahan baru melaksanakan 10, jangan merasa tersinggung jika ia 

dianggap sebagai penguasa. Jangan awasi terlalu banyak kecuali jika diminta.  

Sebaliknya, nasihatmu kadang-kadang akan diminta mengenai masalah seperti 

penempatan yang tepat keluarga-keluarga dalam pertemuan itu, posisi yang tepat panggung 

peserta, dan detil-detil ritual  lain yang baik. Jika engkau tidak menaruh minat pada detil-

detil seperti itu, isterimu mungkin tertarik membaca prosedur yang layak dan menjadi 

anggota timmu dalam memberikan nasihat. Engkaulah orang yang bertanggungjawab untuk 

melihat apakah standar gereja dijunjung tinggi. 

Bilamana gladiresik pernikahan dilakukan terlalu jauh dari waktu ritual , ada 

kemungkinan para peserta lupa bagian mereka.  Jika dilakukan terlalu dekat dengan ritual , 

para peserta mungkin akan terkejut atas ritual  yang sudah di ambang pintu. Mungkin waktu 

paling ideal untuk mengadakan gladiresik ialah pada malam sebelum pernikahan 

dilaksanakan.  

Jika memungkinkan, jangan gunakan pemain organ atau pemain instrumental lainnya 

yang tidak mengikuti gladiresik. Pemusik memegang peran utama dalam ritual  pernikahan. 

Tidak perduli betapa mahirnya pemain musik itu, tak seorangpun dapat melakukan peran 

terbaiknya tanpa mengetahui detil-detil ritual . 

Gladiresik pernikahan cenderung terputus-putus dan membuat frustrasi. Petujuk 

berikut bisa menolong: 

 

1.  Mintalah pengantin perempuan membawa urutan acara secara tertulis. Hal ini 

akan menghilangkan sebagian kebingungan. Walaupun demikian, penyesuaian kelihatannya 

akan banyak dilakukan pada waktu gladiresik. 

2.  Mulailah dengan membicarakan secara keseluruhan. Suruhlah para peserta duduk 

dan bicarakanlah secara keseluruhan urutan ritual  tertulis yang diberikan oleh pengantin, 

klarifikasikan dan buat perubahan seperlunya. Bilamana sudah selesai, semua peserta harus 

sudah mengetahui peran mereka masing-masing. Membicarakan secara keseluruhan ini bisa 

dilakukan sebelum mereka yang suka terlambat tiba. Mudah-mudahan seorang teman bisa 

memberitahukan kepada mereka bilamana mereka sudah datang. 

3.  Lindungilah pengantin perempuan. Pembicaraan pendek pada permulaan 

membicarakan ritual  secara keseluruhan kira-kira seperti berikut: “Kita berada di sini untuk 

menciptakan kenangan bagi kedua pengantin. yaitu  tugas kita untuk menolong membuat 

yang terbaik. Dalam menentukan detil-detil ritual , keinginan pengantin perempuan 

haruslah selalu yang pertama, dan keinginan pengantin laki-laki yang berikut. Kecuali 

menyangkut peraturan gereja, tidak ada keputusan pendeta, koordinator pernikahan, keluarga 

atau sahabat-sahabat yang dibolehkan untuk menggantikan keinginan kedua pengantin.” 

Kemudian perhatikanlah bahwa prinsip ini dilakukan sepanjang gladiresik itu. 

4.  Akhirilah dengan gladiresik terusan. Jika masih ada peserta yang tidak hadir, 

gunakanlah peserta pengganti. Gladiresik terusan pertama akan berjalan lambat, dan para 

peserta akan mengeluh jika diminta untuk mengulangi lagi. Tetapi bagaimanapun juga, 

gladiresik terusan kedua biasanya hanya mengambil waktu beberapa menit saja dan para 

peserta akan lebih merasa senang sebab  sudah mengetahui peran masing-masing. 

5.  Bebaskan pasangan dari tanbggungjawab yang tidak perlu. Pada waktu gladiresik 

berakhir, ingatkanlah para peserta bahwa mereka berada di sana untuk melayani pengantin 

laki-laki dan perempuan, melaksanakan apa yang disuruh, untuk memperhatikan detil-detil 

saat-saat terakhir, untuk menghilangkan ketegangan sebanyak mungkin. Biarlah kedua 

pengantin berbuat sesedikit mungkin selama ritual  itu. Mereka berada di sana bukan untuk 

mengadakan pertunjukan kepada umum, tetapi untuk membuat komitmen kepada satu sama 

lain di hadapan Allah dan di hadapan keluarga dan sahabat-sahabat mereka. 

 

Urutan ritual  

 

Masehi Advent Hari Ketujuh tidak memiliki  ritual  pernikahan yang sudah 

ditentukan. Sebagai gereja dunia, kita harus mengizinkan variasi untuk disesuaikan dengan 

budaya setempat. Pada budaya di mana ritual  pernikahan berbeda dengan yang 

diringkaskan di bawah ini, maka divisi atau uni setempat boleh menganjurkan penyesuaian 

yang membuat ritual  itu lebih layak. 

Pernikahan di rumah biasanya lebih sederhana dan direncanakan sesuai dengan 

citarasa dan keadaan pesta dimaksud.  Orang-orang yang hadir pada ritual  pernikahan di 

rumah biasanya hanya mereka yang diundang saja. Kehadiran pada ritual  pernikahan di 

gereja terbuka untuk siapa saja. 

Berikut ini urutan ritual  yang dianjurkan: 

 

Musik pendahuluan 

 

Buku tamu  :  Buku tamu biasanya diisi di pintu pada waktu masuk.  

   Jika tamu-tamu banyak, sediakanlah beberapa buku tamu  

   untuk diisi pada saat yang sama supaya orang-orang  

   jangan sampai menunggu lama. 

 

Tamu-tamu diantar 

masuk   :  Penerima tamu mendudukkan sahabat-sahabat pengantin  

   perempuan di sebelah kiri ruangan gereja, dan sahabat- 

   sahabat pengantin laki-laki di sebelah kanan. 

   Penerima tamu membawa wanita yang masuk,  

   menuntunnya menuju tempat duduk diikuti mereka yang  

   mengikutinya. Keluarga pengantin wanita dituntun ke  

   tempat duduk yang sudah disediakan di bagian depan  

   sebelah kiri, dan keluarga pengantin laki-laki di sebelah  

   kanan. Tempat khusus bisa disediakan di bangku orang  

   tua buat kakek/nenek. 

Para ibu masuk :  Ibu pengantin laki-laki masuk terakhir sebelum ritual   

   dimulai. Ibu pengantin perempuan masuk pada permulaan  

   ritual . 

 

Penyalaan lilin 

 

Musik pilihan 

 

Pendeta dan rombongan  

pengantin laki-laki  

masuk   :  Biasanya pendeta masuk dari ruangan di samping  

   panggung, langsung ke tengah panggung, dan menghadap  

   hadirin. Pengantin laki-laki mengikuti dan berdiri di  

   sebelah kiri pendeta. Pendamping pengantin laki-laki  

   mengikutinya. 

 

Rombongan pengantin  

perempuan masuk :  Pendamping wanita, pendamping pria, pembawa Alkitab  

   dan penabur bunga (jika semua ini dipakai) masuk  

   melalui lorong tengah gereja. 

 

Pengantin perempuan  

masuk   :  Pengantin perempuan masuk digandeng oleh ayahnya  

   atau walinya. Jika ibunya berdiri, maka hadirinpun  

   berdiri. Hadirin akan bisa melihat lebih baik jika mereka  

   tetap duduk. 

 

Pengantin laki-laki  

menyambut pengantin  

perempuan  :  Pengantin laki-laki menyambut pengantin perempuan  

   pada waktu pengantin perempuan dan ayahnya berdiri di  

   samping tempat duduk keluarga. 

 

Pengantin perempuan  

Diserahkan  :  Lihat rincian di bawah. 

 

Musik pilihan 

 

Pengantin perempuan  

dan pengantin laki-laki 

 maju ke panggung :  Pengantin perempuan dan pengantin laki-laki maju ke  

   panggung sementara organ meneruskan prosesi. Mereka  

   berdiri berhadap-hadapan. Jika mereka menghadap  

   kepadamu, maka mereka membelakangi hadirin dan  

   seolah-olah mengabaikan mereka. 

 

Khotbah pendek :  Lihat rincian di bawah. 

 

Janji/sumpah  

Pernikahan  :  Lihat rincian di bawah. 

 

Doa   :  Pasangan baru saja mengucapkan berjanji/bersumpah  

   satu sama lain. Sekarang mereka berlutut untuk memohon  

   pertolongan Tuhan supaya bisa memenuhi janji itu.  

   Mengundang Allah masuk ke dalam hati mereka supaya  

   ada kasih dalam rumah tangga mereka, untuk menolong  

   mereka membuat rumah tangga ini surga kecil menuju ke  

   dalam surga. 

 

Doa bisa diakhiri dengan “Tuhan memberkati engkau dan 

melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-

Nya dan memberi engkaukasih karunia; Tuhan 

menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau 

damai sejahtera” (Ul. 6:24-26). 

 

Atau akhiri dengan menyebutkan doa “Bapa Kami,” 

bersama-sama, untuk memberikan kesempatan kepada 

hadirin untuk berdoa memohon berkat untuk kedua 

pasangan. 

 

Musik pilihan  :  Musik pilihan boleh menyusul sementara kedua  

   pengantin masih berlutut. Doa “Bapa Kami” atau  “Doa  

   Pernikahan” yaitu  lagu yang sesuai. 

 

Berangkulan 

 

Perkenalan  :  Perkenalan ini bisa tiga bagian. 

 

Pertama, bersama kedua pengantin, majulah ke depan.  

Berdiri di antara mereka pada saat mereka belum pergi, 

 mungkin dengan satu tangan di atas bagu mereka masing- 

masing. Tidak usah berkomentar. Kelihatannya tidak ada  

orang yang mendengarkan apa yang engkau katakan  

sebelumnya. Mereka sibuk memperhatikan kedua  

pengantin dan pembantu-pembantu mereka, dan bagianmu  

yaitu  formal (resmi). Sekarang seluruhnya informal.  

Panggillah kedua pasangan dengan nama kecil mereka dan  

gunakan waktu beberapa menit untuk memberikan nasihat  

pernikahan yang disesuaikan dengan situasi dan  

kepribadian mereka. 

 

Kedua, perkenalkanlah keluarga barru, dengan  

menyebutkan nama kecil dan nama keluarga. 

 

Ketiga, undanglah para tamu ke resepsi jika ini yaitu   

permintaan kedua pengantin. 

 

Penutup  :  Musik penutup mulai. Pengantin perempuan dan  

   pengantin laki-laki turun ke lorong tengah; pasangan  

   rombonmgan pengantin lain mengikuti dengan urutan  

   yang berlawanan pada waktu mereka masuk. Pendeta  

   keluar terakhir. yaitu  sangat baik bagimu jika engkau  

   menyuruh isterimu duduk di tempat duduk tengah dekat  

   lorong tengah. Berhentilah di dekatnya, minta dia berdiri,  

   lalu menggandengnya untuk keluar bersama. 

 

Cukup ideal bilamana kedua pengantin langsung pergi ke  

tempat resepsi untuk siap menyambut para tamu yang  

datang. Sering terlalu berlebihan jika seluruh rombongan  

berdiri untuk menyambut tamu. Yang paling diperlukan  

ialah kedua pengantin dan orang tua mereka. 

 

Orang tua  Orang tua kedua pengantin dituntun keluar, dengan urutan  

yang terbalik dengan pada waktu mereka masuk. 

 

Hadirin bubar Hadfirin keluar baris demi baris. 

 

Pengantin Perempuan Diserahkan 

Pertanyaan tradisional  “Siapakah yang menyerahkan perempuan ini untuk 

dinikahkan dengan laki-laki ini?” boleh dijawab ayahnya dengan mengatakan “Saya orang 

tuanya” atau “Ibunya dan saya ayahnya.” Lalu ayahnya melepaskan tangannya dari pengantin 

perempuan dan memasukkan ke gandengan pengantin laki-laki, sebagai lambang 

perkenannya atas persatuan ini. Pengantin perempuan mungkin akan mencium ayahnya.  

Sebagian pengantin perempuan tidak setuju dengan pertanyaan ini, merasa seolah-

olah perempuan yaitu  milik yang bisa diserahkan dari satu orang kepada orang lain. Engkau 

boleh meminta komitmen dari orang tua kedua pengantin sebagai berikut:  Sementara 

pengantin perempuan dan pengantin laki-laki tetap berdiri di lorong tengah, ayah pengantin 

perempuan pergi ke ibu pengantin perempuan. Kedua pasang orang tua berdiri. Pendeta 

bertanya, “Siapakah yang menyerahkan kedua pasangan ini untuk dipersatukan dalam ikatan 

perkawinan yang kudus? Kedua pasang orang tua menjawab, “Kami orang tua mereka.” Lalu 

pendeta meneruskan, “Apakah engkau berjanji akan melepaskan anakmu dan menerima 

keluarga baru untuk dikasihi sebagai salah satu milikmu?” Kedua orang tua menjawab, 

“Kami berjanji.” Lalu kedua pengantin pergi ke orang tua mereka dan bertukar salam yang 

sesuai. Kemudian kedua orang tua duduk pada waktu kedua pasangan pengantin pergi 

menuju panggung. 

ritual  pernikahan memberikan kesempatan untuk menekankan perpaduan dan 

ikatan dua keluarga. Jika penekanan ini diinginkan, pendeta bisa meminta surat dari para 

orang tua yang menyatakan perasaan mereka mengenai anggota keluarga yang baru. Lalu 

pendeta boleh membacakan bagian-bagian dari surat itu pada waktu ritual  pernikahan. Hal 

ini menciptakan suatu lingkungan kehangatan pribadi dan penerimaan keluarga. 

Pendekatan unik pada “menyerahkan” dimulai sesudah pengantin perempuan datang 

ke tempat duduk keluarga. Pengantin laki-laki bergerak ke arah pengantin perempuan pada 

waktu pendeta berkata, “Dari kisah kasih zaman purba kita membaca bahwa Ishak pergi 

menemui Ribka. Dicatat bahwa mereka bertanya kepada Ribka apakah ia bersedia pergi dan 

menjadi isteri anak Abraham, Ishak. [Pengantin laki-laki sekarang berdiri menghadap pada 

pengantin perempuan.]  Oleh sebab  itu saya bertanya kepadamu, [nama pengantin 

perempuan], maukah engkau pergi dan menjadi isteri orang ini [nama pengantin laki-laki]?” 

Pengantin perempuan menjawab, “Saya mau pergi.” Lalu pengantin laki-laki menemani 

pengantin perempuan menuju panggung. 

 

Khotbah Pendek 

 

Khotbah pendek tidak boleh lebih dari 5 sampai 10 menit pada kebanyakan keadaan. 

Secara khusus, ini sebenarnya yaitu  bagian resmi dari pada ritual  itu. Setiap orang 

memperhatikan pasangan pengantin, menunggu saling mengucapkan janji/sumpah. Janganlah 

terlalu banyak bicara di sini dan katakanlah lebih banyak nanti pada acara tidak resmi, 

sebelum kedua pasangan meninggal tempat itu. Orang-orang akan mendengarkan lebih baik 

dan akan lebih bermanfaat. 

 

Contoh khotbah pendek. – “Kita berkumpuil di sini di pandangan Allah, dan di 

hadapan para hadirin, untuk mempersatukan laki-laki ini dan perempuan ini dalam satu ikatan 

perkawinan yang kudus. 

“Tetapi mengapa di dalam gereja? Pengantin perempuan dan pengantin laki-laki telah 

memilih untuk memulai rumah tangga mereka di rumah Tuhan sebagai lambang dari 

kerinduan mereka untuk senantiasa Tuhan bersama mereka di rumah tangga mereka.  

“Allah mengasihi pernikahan. Segala pemikiran bermula dari pada-Nya pada waktu 

Ia melaksanakan ritual  pernikahan yang pertama di Eden. Allah berfirman,  

‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, 

yang sepadan dengan dia’ (Kej. 2:18). 

“Allah menciptakan baik laki-laki maupun perempuan sedemikian rupa sehingga 

seorang tidak sempurna tanpa yang lain. Pencipta menjadikan Hawa dari rusuk Adam untuk 

mengajarkan kepada kita paling sedikit tiga pelajaran: (1) Hawa diambil dari samping Adam, 

agar perempuan tidak menjadi di atas atau di bawah, tetapi berdiri di samping laki-laki; (2)  

rusuk itu dari bawah lengan laki-laki, sebab  dia harus dilindungi oleh laki-laki itu; (3)  rusuk 

itu diambil dari dekat hati laki-laki, oleh sebab  dia harus dikasihi olehnya. 

“Dengan demikian, inilah yang dikutip oleh Yesus, ‘Sebab itu laki-laki akan 

meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu 

menjadi satu daging’ (Mat. 19:5). 

“Ke dalam ikatan pernikahan yang kudus itulah kedua orang ini, yang sekarang hadir 

di sini, dipersatukan.” 

 

Ayat-ayat Khotbah pendek yang dianjurkan 

 

Kej. 1:26-28  “Laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka.” 

Kej. 2:18-24  Pernikahan yang pertama. 

Kid. 2   Nyanyian cinta kasih. 

Kid. 8:6, 7  “Air yang banyak tak dapat memuaskan cinta.” 

Mrk. 10:6-9  “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” 

Yoh. 2:1-10  Yesus dapat melakukan mujizat pada pernikahan. 

Yoh. 15:9-12  “Dan sukacitamu menjadi penuh.” 

1 Kor. 13  “Kasih itu tidak berkesudahan.” 

Ef. 5:22-28  “Hai istri, tunduklah kepada suamimu.” “Hai suami,  

kasihilah istrimu.” 

Ibr. 13:4  “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap  

perkawinan.” 

 

Sumpah/Janji 

 

Pengantin perempuan dan pengantin laki-laki saling berpegangan tangan untuk saling 

mengucapkan sumpah/janji. Umumnya tangan kanan mereka saling berpegangan, tetapi 

engkau boleh menganjurkan supaya mereka saling memegang kedua tangan mereka sebagai 

pertanda lebih intim. Engkau boleh mengatakan, “Sekarang, sementara pengantin perempuan 

dan pengantin laki-laki saling berpegangan tangan, saya mengundang suami dan istri yang 

hadir di sini untuk saling berpegangan tangan untuk memperbarui sumpah/janji mereka 

sementara kedua pengantin saling mengucapkan sumpah/janji mereka.” Lalu diteruskan 

dengan pengucapan sumpah/janji. 

 

Sumpah/janji tradisional. – Pendeta bertanya kepada pengantin laki-laki: “Dan 

sekarang, berjanjilah dengan khidmat dan dengan sungguh-sungguh di hadirat Allah, dan di 

hadapan saksi-saksi ini, maukah engkau, [nama lengkap pengantin laki-laki], mengambil 

perempuan ini, [nama lengkap pengantin perempuan], menjadi isterimu yang sah, untuk 

hidup bersama di bawah peraturan Allah dalam ikatan pernikahan yang kudus? Apakah 

engkau mau mengasihinya, menghiburnya, menghormatinya, menyayanginya, pada waktu 

sakit dan pada waktu sehat, pada waktu kemakmuran atau kesengsaraan; dan melupakan 

semua yang lain, memelihara dirimu hanya untuk dia selama kamu berdua hidup? Apakah 

engkau mau menyatakan demikian?” 

Pengantin laki-laki menjawab, “Saya mau.” 

Lalu pendeta bertanya kepada pengantin perempuan: “Maukah engkau, [nama 

lengkap pengantin perempuan], mengambil laki-laki ini, [nama lengkap pengantin laki-laki], 

menjadi suamimu yang sah, untuk hidup bersama di bawah peraturan Allah dalam ikatan 

pernikahan yang kudus? Apakah engkau mau mengasihinya, menghormatinya, dan 

menghiburnya, pada waktu sakit dan pada waktu sehat, pada waktu kemakmuran atau 

kesengsaraan; dan melupakan semua yang lain, memelihara dirimu hanya untuk dia selama 

kamu berdua hidup? Apakah engkau maukah menyatakan demikian?” 

Pengantin perempuan menjawab, “Saya mau.” 

Kemudian pendeta meletakkan satu tangannya di atas tangan kedua pengantin yang 

saling berpegangan, dan berkata, “Oleh sebab  [nama lengkap pengantin laki-laki] dan [nama 

lengkap pengantin perempuan] telah setuju untuk dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang 

kudus, dan telah bersaksi di hadirat Allah dan di hadapan para hadirin ini, dan selain itu 

mereka telah saling mengucapkan janji setia mereka, dan telah menyatakan semua itu dengan 

saling berpegangan tangan, maka saya, sebagai seorang pendeta injil dan oleh kuasa undang-

undang  ______________, dengan ini mengumumkan dengan resmi bahwa mereka yaitu  

suami dan istri. Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” 

 

Sumpah/Janji pengganti. – Pendeta bertanya kepada pengantin laki-laki: [Nama 

lengkap pengantin laki-laki], apakah engkau mengambil perempuan yang engkau pegang 

tangannya ini menjadi istrimu yang sah?”  

Pengantin laki-laki menjawab: “Ya.” 

Pendeta bertanya kepada pengantin laki-laki: “Apakah engkau berjanji dengan 

sungguh-sungguh di hadirat Allah dan di hadapan saksi-saksi ini akan menjadi suaminya 

yang setia dan yang mengasihinya baik pada waktu kegembiraan atau pada waktu kesedihan, 

pada waktu keberuntungan atau kerugian, pada waktu pencobaan atau kemenangan, dan 

memelihara dirimu sendiri hanya untuk dia selama kamu berdua hidup, menurut peraturan 

Allah yang kudus? Apakah engkau mau menyatakannya? 

Pengantin laki-laki menjawab: “Saya mau.” 

Kemudian pendeta bertanya kepada pengantin perempuan: [Nama lengkap pengantin 

perempuan], apakah engkau mengambil laki-laki yang tangannya engkau pegang ini menjadi 

suamimu yang sah? 

Pengantin perempuan menjawab: “Ya.” 

Pendeta bertanya kepada pengantin perempuan: “Apakah engkau berjanji dengan 

sungguh-sungguh di hadirat Allah dan di hadapan saksi-saksi ini akan menjadi istrinya  yang 

setia dan yang mengasihinya pada waktu kegembiraan atau pada waktu kesedihan, pada 

waktu keberuntungan atau kerugian, pada waktu pencobaan atau kemenangan, dan 

memelihara dirimu sendiri hanya untuk dia selama kamu berdua hidup, menurut peraturan 

Allah yang kudus? Apakah engkau mau menyatakannya? 

Pengantin perempuan menjawab: “Saya mau.” 

Kemudian pendeta meletakkan satu tangannya di atas tangan mereka dan berkata: 

‘Oleh sebab  engkau, [nama lengkap pengantin laki-laki], dan engkau, [nama lengkap 

pengantin perempuan], telah berjanji untuk saling mengasihi dan telah bersumpah untuk 

saling setia, maka saya, seorang pendeta Injil, yang dikuasakan oleh Firman Allah dan oleh 

undang-undang negara ini, dengan ini menyatakan kamu suami dan istri yang sah. 

 

Sumpah/janji yang diucapkan oleh pasangan.—Pengantin laki-laki kepada 

pengantin perempuan: “Dalam nama Allah, saya, [nama lengkap pengantin laki-laki], 

mengambil engkau, [nama lengkap pengantin perempuan], menjadi istriku, untuk memiliki 

dan memeliharamu mulai hari ini dan seterusnya, pada waktu baik atau buruk, pada waktu 

kaya atau miskin, pada waktu sehat atau sakit, untuk mengasihimu dan menghargaimu, 

sampai kematian memisahkan kita berdua. Inilah sumpah/janjiku dengan sesungguhnya.” 

Pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki: “Dalam nama Allah, saya, [nama 

lengkap pengantin perempuan], mengambil engkau, [nama lengkap pengantin laki-laki], 

menjadi suamiku, untuk memiliki dan memeliharamu mulai hari ini dan seterusnya, pada 

waktu baik atau buruk, pada waktu kaya atau miskin, pada waktu sehat atau sakit, untuk 

mengasihimu dan menghargaimu, sampai kematian memisahkan kita berdua. Inilah 

sumpah/janjiku dengan sesungguhnya.” 

Lalu pendeta meletakkan satu tangannya di atas tangan mereka yang berpegangan 

dan mengumumkan mereka suami dan istri. 

Salah satu masalah pada pasangan mengucapkan sumpah/janji mereka ialah mereka 

sering gugup dan lupa dan tidak bisa memikirkan yang lain selama ritual  itu. Mereka harus 

diingatkan mengenai hal ini pada waktu mereka mengambil keputusan. Sebagai jalan tengah 

pendeta boleh memegang tulisan sumpah/janji itu dengan cara yang tidak terhalang sehingga 

mereka boleh melihatnya bila diperlukan. 

 

Sumpah/janji disediakan oleh pasangan. – Pasangan kadang-kadang mau membuat 

ritual  mereka lebih bersifat pribadi dan lebih kreatif oleh menyediakan sendiri sumpah/janji 

mereka. Jika pilihan seperti itu diinginkan, engkau harus memberikan tuntunan kepada 

pasangan itu, oleh sebab  engkau memiliki  kewajiban hukum dan teologis untuk 

menyatakan mereka suami dan istri hanya bila komitmen tertentu telah mereka buat. 

Sumpah/janji itu harus menyatakan bahwa komitmen mereka yaitu  menyeluruh dan 

permanen. Sumpah/janji itu harus memohon pertolongan Allah. Berikan kepada mereka satu 

salinan sumpah/janji tradisional untuk digunakan sebagai penuntun pada waktu mereka 

menyiapkan sumpah/janji mereka sendiri. 

 

Resepsi 

 

Di resepsi, berikanlah ucapan selamat kepada pasangan, lalu pimpin 

penandatanganan surat nikah. (di beberapa tempat hal ini dilakukan sebagai bagian dari 

ritual  pernikahan.) Biasanya pengantin laki-laki dan pengantin perempuan menandatangani 

bersama dengan saksi-saksi. Saksi-saksi yang lebih disukai ialah pengiring pengantin laki-

laki dan pengiring pengantin perempuan. Gambar sering diambil pada waktu 

penandatanganan surat nikah itu. 

Engkau bertanggung jawab secara legal untuk mendaftarkan pernikahan itu, oleh 

sebab itu engkau harus menyimpan salinan dari dokumen yang sudah ditandatangani yang 

sudah ditetapkan untuk dikirimkan kepada pejabat sipil. Sebagian dokumen harus dikirimkan 

bersama dengan bukti-bukti pernikahan dari pengantin perempuan dan pengantin laki-laki. 

Jika engkau ingin memberikan kado, berikanlah sesuatu yang bisa digunakan dalam 

membentuk mezbah keluarga mereka. 

Para pendeta Advent tidak menerima bayaran sebab  melaksanakan pernikahan atau 

pelayanan mereka yang lain. 

 

Saran-saran tambahan 

 

Sebelum ritual . – Simpanlah salinan dari ritual -ritual  sebelumnya dan 

berikanlah itu kepada pasangan. Secara khusus ini akan mudah jika engkau memakai  

komputer untuk menyimpannya. 

Mintalah pengantin perempuan dan pengantin laki-laki menulis secara terpisah 

jawaban mereka terhadap pertanyaan, seperti, “Mengapa engkau merasa bahwa inilah waktu 

yang tepat bagimu untuk menikah?”  “Mengapa engkau merasa bahwa inilah orang yang 

tepat yang akan engkau nikahi?”  “Bagaimanakah engkau mau agar ritual  pernikahanmu 

diingat oleh mereka yang menghadiri?”  Buatlah ritual  itu lebih bersifat pribadi oleh 

memasukkan cuplikan dari apa yang mereka telah tuliskan. 

Atau mintalah keluarga pasangan untuk menuliskan satu alinea mengenai kejadian 

yang menunjukkan apa yang membuat pengantin perempuan dan / atau pengantin laki-laki 

istimewa kepada mereka. Membagikan sebagian dari ini pada waktu ritual  akan 

meyakinkan pasangan dan membuat ritual  lebih bersifat individu. 

 

Selama ritual . – ritual  lilin trinitas sangat populer di beberapa tempat. Sebuah 

tempat lilin yang berisi tiga batang lilin ditempatkan di belakang pendeta. Pada permulaan 

ritual , penyala lilin hanya menyalakan dua lilin yang ada di ujung-ujungnya. Selama 

ritual , mungkin di antara mengucapkan sumpah/janji dan doa, mengambil masing-masing 

satu lilin yang sedang menyala. Bersama-sama mereka menyalakan lilin yang ada di tengah, 

lalu mematikan lilin yang mereka pegang. Sementara itu, pendeta mengulangi, “Sebab itu 

laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga 

keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” 

Sebagai variasi kepada ritual  tiga lilin ini: tidak ada lilin yang dinyalakan 

sebelumnya. Pada waktu yang tepat dalam ritual  itu, kedua pasang orang tua berdiri. Bapa-

bapa menyalakan lilin yang dipegang oleh masing-masing ibu. Dengan lilin yang menyala, 

ibu pergi ke panggung, menyalakan dua lilin yang ada di ujung-ujung tempat lilin, lalu 

mereka kembali ke tempat duduk mereka, kemudian kedua pasangan melanjutkan seperti di 

atas. Ini bisa menjadi lambang yang kuat mempersatukan dua hidup, mengikat dua keluarga, 

dan membentuk satu keluarga baru terpisah dari orang tua. 

Partisipasi hadirin terbatas pada ritual  pernikahan. Salah satu cara untuk 

melibatkan hadirin ialah dengan menyebutkan “Doa Bapa Kami” bersama-sama, dengan 

demikian setiap orang mengumumkan berkat secara bersama-sama. Cara lain ialah pendeta 

berbalik kepada hadirin tepat sesudah kedua pengantin mengucapkan sumpah/janji dan tepat 

sebelum ia pernyataan pernikahan dan bertanya, “Maukah Anda semua yang menyaksikan 

janji-janji ini dengan sekuat tenaga mendukung kedua orang ini dalam pernikahan mereka? 

Jika mau, jawablah ‘Kami mau.’” 

Klimaks yang sesuai pada ritual  itu, tepat sebelum kedua pengantin keluar melalui 

lorong tengah, mereka mengulangi, mungkin sesudah pendeta mengucapkan, “Ke mana 

engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku 

bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun 

mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, 

bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain 

dari pada maut” (Rut 1:16, 17). 

Pada keadaan di mana baik pengantin perempuan maupun pengantin laki-laki 

memiliki  anak-anak yang akan menjadi bagian dari rumah tangga baru itu, libatkanlah 

mereka dalam ritual  pernikahan. Pada saat tertentu panggillah mereka naik ke panggung, 

mungkin untuk memegang tangan pengantin perempuan atau pengantin laki-laki. Pendeta 

boleh berkata kepada kedua pengantin: “Kita berada di sini untuk mengukuhkan dan 

mendukung kerinduan dari kedua orang ini untuk menyediakan satu rumah untuk [nama 

anak-anak]; menyediakan satu tempat di mana mereka memperoleh keamanan, kehangatan, 

kasih, dan tantangan yang akan menolong mereka bertumbuh dan dewasa. Apakah kamu mau 

mengambil keluarga yang baru saja dibentuk ini sebagai milikmu sendiri, dan apakah kamu 

di sini mau berjanji untuk mengasihi dan memelihara mereka?” Kedua pengantin menjawab: 

“Kami mau.” 

 

Tanda kenangan (cindra mata) ritual . – Tanda tangan di buku tamu dan kado 

yang diberikan oleh sahabat-sahabat menjadi tanda kenang-kenangan (cindra mata) 

pernikahan. Inovasi tambahan ialah menulis sumpah/janji di atas gulungan perkamen. Kedua 

pengantin biasanya membaca sumpah/janji mereka dari perkamen itu. Sesudah ritual  

selesai mereka menandatangani gulungan perkamen itu, mungkin dengan memuat tanda 

tangan keluarga mereka atau seluruh rombongan pengambil bagian dalam ritual  pernikahan 

itu. Perkamen itu digulung dan diikat dengan pita khusus, dan pasangan itu menyimpannya 

sebagai tanda kenang-kenangan. 

Atau berikan kepada setiap orang yang datang sepotong kertas yang cantik pada 

waktu mereka memasuki ruangan. Jika ada program yang dicetak, ruangan yang kosong di 

situ bisa digunakan. Cetaklah permohonan “Kami mengundang Anda menuliskan sepatah 

kata dorongan, nasihat yang berguna, atau ayat Alkitab khusus bagi kedua pengantin 

sementara mereka memulai rumah tangga mereka yang baru bersama-sama. Tolong serahkan 

kepada petugas pada waktu Anda keluar.” Mungkin pada setiap ulang tahun sesudah itu, 

pasangan akan melihat kembali catatan ini, menghidupkan kembali pernikahan mereka dan 

kembali didorong oleh pikiran sahabat-sahabat mereka.