gereja masehi 19
Anggota jemaat, kemudian diundang untuk saling
berpegangan tangan dan berlutut bersama-sama untuk berdoa pelantikan. Perbuatan ini
melambangkan persatuan gembala jemaat dengan anggota-anggota jemaat.
Ketua jemaat mengucapkan doa, mengundang komitmen anggota jemaat untuk
mendukung gembala jemaat yang baru.
Utusan konferens/daerah misi berdoa, secara resmi melantik gembala jemaat yang
baru sebagai pemimpin jemaat.
Kemudian utusan konferens/daerah misi memimpin ketua-ketua untuk menyambut
keluarga gembala jemaat yang baru dengan jabatan tangan.
Khotbah gembala jemaat
Sambutan gereja
Sesudah acara kebaktian selesai, pada waktu anggota-anggota jemaat keluar
meninggalkan ruangan gereja, anggota-anggota menyambut keluarga pendeta dengan
menyalami mereka. Bersekutu makan bersama membuat acara penutup pelantikan itu menjadi
suatu saat yang mengesankan.
PASAL 41
Mendoakan Orang Sakit
Kapan Mendorong Mengoles dengan Minyak?
“Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua
jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama
Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan
membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni” (Yak.
5:14, 15).
Doa harus selalu menjadi jantung setiap pelayanan gembala jemaat, dan mendoakan
orang sakit yaitu bagian yang penting dari pelayanan doa seperti itu. Seorang gembala
jemaat harus berdoa untuk kesembuhan: kesembuhan rohani, emosi dan fisik.
Tetapi pelayanan mengoles minyak yang resmi, secara khusus dilakukan untuk orang
yang sakit secara fisik. Ayat itu mengatakan, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit.”
Ayat itu tidak mengatakan, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sekarat.” ritual
mengoles minyak tidak boleh dilakukan kepada semua keluhan fisik secara semberono.
Mengoles minyak harus dilakukan kepada penyakit yang nyata dan penting, tetapi bukan
hanya pada penyakit yang fatal. Di beberapa tempat, mengoles minyak sudah menjadi
ritual kematian oleh sebab tradisi beberapa denominasi yang bukan Advent yang
memakai pengolesan minyak sebagai seolah-olah ritual terakhir sebelum seseorang itu
meninggal.
Mengoles minyak bukan berarti memberkati orang yang sudah sekarat dan mau mati,
tetapi untuk menyembuhkannya. Mengoles minyak ialah mengakui masalah jasmani yang
serius dan menghadapinya dengan menaruh percaya pada Allah sebelum kita mencari usaha-
usaha manusia. Mengoles minyak ialah berpaling kepada Allah terlebih dahulu – bukan
hanya pada saat terakhir.
Para pemimpin orang-orang Advent zaman dahulu memakai ritual mengoles
minyak. Ellen White dengan keluarganya diolesi minyak beberapa kali oleh sebab berbagai
penyakit. Mengolesi minyak yaitu praktek bukan pengecualian.
Siapa yang Melaksanakan
Orang yang sakit harus “memanggil para penatua jemaat.” Para penatua (ketua-
ketuaa) jemaat bisa melaksanakan pengolesan minyak jika tidak ada pendeta, tetapi harus
melakukannya atas persetujuan gembala jemaat. Idealnya seorang pendeta yang memimpin,
dibantu untuk berdoa oleh para ketua yang ada.
Mempersiapkan ritual
Dimana dilaksanakan. – Upacarea pengolesan minyak boleh dilaksanakan di gereja,
di rumah, di rumah jompo atau di rumah sakit. Jika dilaksanakan di rumah sakit, pengolesan
minyak harus dilaksanakan tanpa mengganggu dokter dan petugas rumah sakit. Panjang dan
formalitas ritual tergantung pada tempat pelaksanaan ritual dan keadaan orang yang akan
diolesi minyak.
Siapa yang boleh ikut. – Sebagai tambahan kepada pendeta dan para ketua jemaat,
yang lain yang memiliki karunia khusus berdoa boleh hadir. Penerima olesan minyak
boleh jadi ingin mengundang sahabat-sahabatnya. Keluarga atau sahabat-sahabat yang bukan
Kristen biasanya tidak diundang, tetapi tidak perlu disuruh pergi jika mereka hadir. Mereka
yang melaksanakan pengolesan minyak harus memiliki komitmen yang sungguh-sungguh
pada Kristus, percaya sepenuhnya pada penyembuhan ilahi dan telah menyediakan hati
mereka kepada kesempatan itu.
Menyiapkan penerima olesan. – “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah
Tuhan tidak mau mendengar” (Mzm. 66:18). Doronglah orang yang sakit untuk menyelidiki
hidupnya sebelum pengolesan minyak. Cara terbaik untuk mempersiapkan diri orang yang
sakit kepada ritual itu ialah agar seseorang itu mempelajari fasal “Doa untuk Orang Sakit”
dalam The Ministry of Healing.
Hargailah kerahasiaan pribadi seseorang yang tidak mau berbicara terlalu banyak
mengenai penyakitnya. Sebaliknya, engkau harus mengetahui sebanyak mungkin yang bisa
diberitahukan oleh orang yang sakit dengan senang, supaya dengan demikian doamu bisa
lebih khusus.
Urutan ritual
Kata-kata pendahuluan. -- Sebagai gembala jemaat, engkau harus menjelaskan
kepada kelompok tujuan dari mengolesi minyak dan bagaimana hal itu berlangsung. Orang
yang akan diolesi minyak boleh diminta untuk menyaksikan imannya dan memberikan alasan
mengapa meminta kesembuhan.
Jika orang sakit tidak terlalu gawat penyakitnya untuk mengikuti ritual yang
singkat, ambillah waktu untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci sebagai prasyarat untuk
memperoleh kesembuhan ilahi. Termasuk prinsip-prinsip berikut:
1. Percaya bahwa Allah dapat dan melakukan kesembuhan.
2. Mengakui dosa.
3. Berjanji untuk hidup sehat. Banyak penyakit datang oleh sebab kebiasaan hidup
yang salah. Katakanlah kepada orang yang sakit bahwa Allah mau mengampuni
dosa-dosa kita pada masa lalu, tetapi yaitu suatu kelancangan memohon Allah
menyembuhkan tubuh kita yang sakit jika kita bermaksud untuk
menyalahgunakannya.
4. Kesediaan memakai alat manusia. “Setiap pemberian yang baik dan
anugerah yang sempurna, datangnya dari atas” (Yak. 1:17). Boleh jadi Allah
telah menganugerahi beberapa orang dokter kepada siapa Allah akan menuntun
orang yang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Allah melakukan mujizat,
tetapi Ia sering melakukannya melalui karunia-karunia yang ada di tangan
manusia.
5. Percayalah pada jawaban Allah. Kadang-kadang Allah memberikan
kesembuhan dengan segera, kadang-kadang dengan pelan-pelan, kadang-kadang
tidak memberikannya sama sekali. Jika orang yang menderita tidak disembuhkan
dengan segera, itu tidak boleh ditafsirkan sebagai satu tanda kelemahan rohani
orang yang sakit atau ketidakrelaan Allah untuk menyembuhkannya. ritual ini
harus diakhiri dengan kepastian bahwa segala sesuatu telah diserahkan ke tangan
Allah dan bahwa Allah dapat dipercaya.
Ayat-ayat Kitab Suci yang disarankan untuk dibaca sebelum pewngolesan minyak
Yak. 5:14-16 “Supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan
minyak.”
Bil. 21:8, 9 Orang-orang disembuhkan oleh sebab menuruti acara yang
disuruh Tuhan untuk dilakukan.
Mzm. 103:1-5 “Yang menyembuhkan segala penyakitmu.”
Mzm. 107:19, 20 “Maka berseru-seru mereka kepada Tuhan dalam kesesakan
mereka.”
Mark. 16:15-20 “Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan
orang itu akan sembuh.”
Doa pengolesan minyak. – Engkau, atau orang yang memimpin ritual , harus
memiliki sebotol kecil minyak zaitun. Semua berlutut. Orang yang akan diolesi minyak
boleh jadi ingin mengucapkan doa. Jika demikian halnya, ada lebih baik agar ia berdoa lebih
dulu. Para pemimpin lain yang sudah ditentukan, berdoa bergantian sesudahnya. Engkaulah
yang terakhir mengucapkan doa. Pada waktu engkau mulai berdoa, bubuhilah sedikit minyak
di ujung jari tanganmu. Menjelang akhir doamu, oleskanlah minyak itu ke kening orang yang
sakit itu. Ini melambangkan jamahan Roh Kudus atas orang sakit itu dalam cara khusus dan
istimewa.
Orang-orang Advent tidak mengikuti atau mendukung praktik sebagian orang yang
membubuhi minyak ke bagian tubuh yang terkena penyakit.
Mengakhiri ritual . – Segera sesudah doa berakhir, tinggalkanlah orang sakit itu.
Waktu untuk berkenalan dan bersekutu secara sosial boleh dilakukan sebelum ritual
pengolesan minyak dilaksanakan, tetapi jangan dilakukan sesudah selesai ritual .
Tinggalkanlah orang sakit itu sementara dalam suasana kudus dan hormat dan hadirat Allah
menembusi seluruh ruangan itu.
PASAL 42
Pernikahan
“Ikatan keluarga yaitu ikatan yang tererat, yang paling penuh kasih sayang dan
paling kudus di dunia ini. Ikatan keluarga dirancang untuk menjadi berkat bagi umat
manusia. Dan itu menjadi berkat bilamana janji pernikahan dilaksanakan dengan
sesungguhnya, dalam takut akan Tuhan, dan dengan mengingat tanggungjawabnya” (The
Adventist Home, hlm. 18).
Persyaratan Hukum
Sebagai seorang pendeta, engkau harus mengetahui peraturan dan hukum pernikahan
yang berlaku di negara di mana engkau bertugas. Sebelum melaksanakan pernikahan,
pastikan bahwa engkau memenuhi semua persyaratan hukum, seperti prosedur pendaftaran
dan perizinan. Peraturan untuk melaksanakan pernikahan biasanyan tidak terlalu rumit, tetapi
hal itu juga penting. Kunjungan singkat atau menghubungi pejabat pemerintah setempat yang
berususan dengan pernikahan akan memberikan kepadamu informasi yang engkau perlukan.
Di beberapa negara, pendeta yang sudah diurapi, sejauh menyangkut urusan sipil,
dapat melaksanakan ritual pernikahan di dalam gereja, tetapi surat nikah harus
ditandatangani dan dikeluarkan oleh pejabat pendaftaran pernikahan setempat, yang biasanya
turut hadir dan mendengarkan pernyataan pernikahan yang disetujui.
Di negara-negara lain hukum mengharuskan kedua belah pihak pengantin harus
membuat pernyataan tertulis jika mereka mau mengadakan ritual pernikahan mereka di luar
gereja, seperti dalam hal ritual pernikahan yang dilaksanakan di rumah.
Masih di beberapa negara lain, pendeta sama sekali tidak boleh melaksanakan
ritual pernikahan, sebab hal itu yaitu tanggungjawab negara dan bahwa pernikahan
dianggap sebagai suatu kontrak sipil. Dalam hal seperti itu anggota-anggota kita biasanya
pergi ke gereja atau ke rumah sesudah ritual di kantor catatan sipil, dan di sana pendeta
yang sudah diurapi mengadakan ritual khusus, memohon berkat Tuhan agar dicurahkan ke
atas kedua mempelai.
Engkau harus memeriksa surat nikah sebelum melaksanakan ritual . Jangan
laksanakan jika tanggalnya tidak sah, surat nikah itu diperoleh dari satu tempat dan
pernikahan dilaksanakan di tempat lain di mana hal itu tidak sah, atau jika terdapat cacat
hukum lain.
Pernyataan, “Oleh sebab itu, jika seseorang dapat menunjukkan satu sebab mengapa
kedua orang ini tidak dapat dipersatukan secara sah, biarlah dia sekarang berbicara, atau
kalau tidak, berdiam untuk selamanya,”sekarang sudah sering diabaikan. Tidak lagi menjadi
tanggungjawab pendeta atau ritual pernikahan untuk menetapkan apakah kedua mempelai
bisa “dipersatukan secara sah.” Masalah itu seharusnya sudah diselesaikan oleh pejabat
pemerintah yang memberikan surat nikah.
Penuntun Denominasi
Siapa yang melaksanakan. – Pada Pasal 6, “Para Pengurus Jemaat dan
Tanggungjawab Mereka,” buku Peraturan Gereja (1995) menetapkan, “Dalam ritual
pernikahan maka pengesahan, sumpah, dan pengumuman pernikahan hanya dilaksanakan
oleh seorang pendeta yang telah diurapi, kecuali di tempat-tempat di mana komite divisi telah
mengambil keputusan bahwa wakil pendeta tertentu atau yang ditugaskan secara khusus dan
telah diurapi sebagai ketua jemaat setempat dapat menjalankan ritual pernikahan. Baik
pendeta yang durapi, wakil pendeta atau gembala yang ditugaskan, atau seorang ketua
setempat dapat memberikan khotbah pendek, melayangkan doa, atau dalam memberikan
berkat.”
Kapan engkau tidak boleh melaksanakan. – Jika kedua belah pihak yang hendak
menikah yaitu orang yang asing bagimu, maka tanyailah mereka dengan cermat sampai
engkau merasa pasti sepenuhnya bahwa tidak ada hambatan yang serius untuk melaksanakan
pernikahan. Kemungkinan orang akan memintamu, seorang pendeta, untuk melaksanakan
ritual pernikahan oleh sebab mereka ingin berkat Allah dicurahkan ke atas rumahtangga
mereka. Ini yaitu suatu kesempatan besar, tetapi juga tanggungjawab besar. Engkau tidak
akan berani memberkati seseorang yang engkau rasa pasti Allah tidak akan memberkati.
Pernikahan yang tidak bijaksana. Dalam konseling dengan satu pasangan yang akan
menikah, gembala jemaat harus menangani beberapa hal penting, walaupun hal itu tidak
menyangkut moral. Hal itu termasuk: perbedaan umur, kesehatan yang buruk, tanggungjawab
finansial, dan perbedaan yang tidak bisa diselesaikan sebab latar belakang etnis dan atau
budaya.
Pendeta-pendeta Advent tidak boleh melaksanakan ritual pernikahan seorang
Advent dengan yang bukan Advent. Kitab Suci mengamarkan, “Janganlah kamu merupakan
pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan
apakah terdapat antara kebenaran dengan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat
bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dengan Belial?
Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Kor.
6:14, 15).
Gabungkanlah semua amaran ini, sehingga kita memiliki pekabaran yang
sederhana: kita tidak boleh “bersekutu” atau menggabungkan diri kita dengan mereka yang
terlalu sedikit persamaannya dengan kita. Bagi orang-orang Advent, hal ini bahkan termasuk
dengan orang-orang Kristen yang lain. Umpamanya, seorang wanita Advent yang taat tidak
memiliki banyak persamaan dengan seorang pria Kristen yang bukan Advent yang paling
taat sekalipun. Ini tidak boleh mengurangi keaslian wanita Advent itu sebagai seorang
Kristen. Masalah ini terletak pada pola hidup: teologi holistik Adventisme menuntun kepada
pola hidup yang terlalu berbeda sehingga membuat pernikahan tidak harmonis. Kita harus
mengamarkannya bahwa pasangannya tidak akan dapat membuat dia bahagia. Mungkin
Kristen yang lainpun mengamarkan juga bahwa wanita Advent itu tidak bisa membuatnya
bahagia.
Mungkin, pria itu tidak suka kalau isterinya seorang vegetaris. Isterinya tidak mau
memasak daging babi untuk suaminya. Isteri tidak suka ada bir di dalam kulkas dan asap
rokok di ruang keluarga. Suami tidak mau agar isterinya membayar perpuluhan. Isteri tidak
menyetujui TV dihidupkan pada hari Sabat. Mereka tidak akan pernah pergi ke gereja
bersama-sama atau menjadi bagian dari keluarga gereja yang sama. Waktu yang paling
menyenangkan bagi suami untuk pergi berbelanja ialah pada hari Sabtu, dan isterinya tentu
saja tidak akan mau pergi bersama-sama dengan dia. Isteri tidak mau pergi berdansa atau
pergi ke pesta cocktail bersama suaminya.
Pada waktu anak-anak lahir, isteri tidak setuju untuk membaptiskan bayi-bayi
mereka. Ia tidak suka Ayah membawa anak-anak pergi ke permainan pada hari Jumat malam
atau pada hari Sabtu. Isterinya ingin agar anak-anaknya mendapat pendidikan Advent. Suami
tidak mau dibebani dengan biaya pendidikan itu. Ayah menanamkan seperangkat
kepercayaan kepada anak-anak, ibu juga menanamkan yang lain, dan anak menjadi frustrasi
dan bingung, sering berakhir dengan tidak mempercayai agama sama sekali.
Tidak heran Alkitab berkata, “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka
belum berjanji?” (Am. 3:3) [Bisakah dua orang berjalan bersama, kecuali mereka setuju? –
KJV]
Ellen White senantiasa menentang pernikahan antara orang yang percaya dengan
orang yang tidak percaya, dan menjelaskan seseorang yang percaya sebagai seorang yang
telah “menerima kebenaran untuk zaman ini.” “Walaupun teman pilihanmu itu dalam segala
hal layak (padahal sebenarnya tidak), ia tidak menerima kebenaran untuk zaman ini; ia yaitu
seorang yang tidak percaya, dan engkau dilarang surga untuk bersatu dengannya. Engkau
tidak boleh, tanpa malapetaka kepada jiwamu, mengabaikan perintah ilahi ini” (Testimonies,
jld. 5, hlm. 364).
Kita mendebat, “Tetapi bagaimanapun juga anggota ini akan menikahi yang bukan
anggota. Bukankah lebih baik mengadakan ritual pernikahan Advent dan menarik yang
bukan anggota masuk dari pada menolak orang itu dan membuat wanita/pria itu merasa
dicampakkan keluar?” Masalahnya ialah, jika engkau melaksanakan ritual ini, engkau
menunjukkan kepada gerejamu pada umumnya dan orang mudamu pada khususnya bahwa
memacari dan menikahi orang di luar gereja tidak memiliki konsekwensi apa-apa. Maksud
baikmu untuk melayani pasangan ini menimbulkan perbuatan yang sangat merugikan pada
orang muda lain dalam gerejamu.
Janganlah merasa terlalu terkucil atau fanatik untuk menolak menikahkan seorang
Advent dengan yang bukan Advent. Beberapa denominasi lain juga memiliki pendirian
yang sama terhadap pernikahan antar kepercayaan. Banyak pendeta bahkan bersikeras
menuntut bukti yang lebih kuat mengenai persamaan mereka sebelum mereka menyetujui
untuk melaksanakan ritual pernikahan.
Memang sangat sulit, tetapi penting, untuk menunjukkan kepada pasangan itu bahwa
engkau benar-benar perduli kepada mereka, walaupun engkau tidak bisa menikahkan mereka.
Cobalah yang berikut:
1. Ajarkanlah kepercayaan Advent kepada orang yang bukan anggota atauy kepada
keduanya. Advent biasanya tidak menerima orang yang bukan Advent kecuali mereka sudah
berjuang dengan pengalaman Kristen mereka. Pembaptisan yang dilakukan dengan terburu-
buru diragukan keasliannya, namun satu hati dan pikiran yang terbuka membuat kemajuan
kerohanian dalam waktu yang singkat.
2. Berikan konseling pranikah. Engkau bisa menjadi sahabat mereka walaupun
engkau tidak bisa memimpin ritual pernikahan mereka. Dalam proses konseling, mereka
bisa melihat sendiri semua masalah yang mungkin bisa timbul sebagai akibat dari pernikahan
antar kepercayaan.
3. Mungkin engkau bisa menawarkan bantuanmu untuk mendapatkan pendeta lain.
Jika jemaatmu tidak salah mengerti, engkau bahkan bisa menghadiri ritual pernikahan itu.
Setelah menyatakan keberatanmu tentang pernikahan itu, maka engkau, dan semua orang,
memiliki hak untuk menunjukkan perhatianmu pada pasangan yang bersangkutan.
4. Sesudah ritual pernikahan selesai dan sesudah pernikahan sudah diresmikan,
doronglah gereja untuk menunjukkan dukungannya dan kasih Kristiani mereka kepada
pasangan itu dalam segala cara yang mungkin untuk menolong rumah tangga mereka menjadi
rumah tangga yang berbahagia walaupun menurut perkiraan kita mereka telah memulainya
dengan salah.
Pernikahan kembali yang tidak pantas. Tidak seorangpun pendeta Advent berhak
untuk melaksanakan pernikahan kembali seseorang yang secara Alkitabiah tidak berhak
untuk dinikahkan kembali. Yesus menyatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa
menceraikan isterinya, kecuali oleh sebab zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia
berbuat zinah: (Mat. 19:9).
Buku Peraturan Gereja, pasal 15, “Perceraian dan Pernikahan Kembali,”
menyebutkan 10 pernyataan dan ketentuan mengenai masalah ini, kemudian menyimpulkan,
“Pendeta Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tidak diizinkan mengambil bagian dalam
ritual pernikahan kembali dari seorang yang tidak memiliki hak untuk kawin kembali
menurut Kitab Suci, seperti telah dijelaskan dalam alinea-alinea yang terdahulu.”
Jangan laksanakan ritual pernikahan kembali seorang anggota yang bercerai
sebelum terlebih dahulu memperoleh informasi yang akurat dan obyektif mengenai
pernikahannya yang pertama. Informasi yang dibutuhkan itu biasanya tidak datang dari orang
yang akan menikah kembali itu. Tidak etis secara profesi dan sama sekali tidak bijaksana
melaksanakan pernikahan seperti itu tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan gembala
jemaat atau ketua jemaat gereja di mana perceraian itu terjadi.
Upara yang tidak layak. Pernikahan di gereja menyangkut perjanjian menurut hukum
dan komitmen rohani. Setiap ritual pernikahan di mana hal-hal duniawi(sekuler)
menggantikan hal-hal yang rohani yaitu tidak layak dilaksanakan oleh seorang pendeta
Kristen.
Penuntun Jemaat
Engkau harus menuntun gerejamu dalam menyediakan penuntun pernikahan.
Lakukanlah ini pada waktu tidak ada permohonan untuk dinikahkan diterima dan pada waktu
tidak ada perasaan yang mungkin dilukai. Berikanlah penuntun ini bersama-sama dengan
formulir permohonan untuk menikah, kepada siapa saja yang memohon untuk dinikahkan di
gereja. Formulir yang sudah diisi lengkap harus berisi permohonan khusus pengantin dan
merefleksikan bahwa penuntun sudah dibaca dan akan dituruti.
Penuntun itu, antara lain harus menyangkut yang berikut.
Penggunaan gereja. – Pelajarilah bersama-sama dengan majelis jemaat Peraturan
Gereja dan Peraturan Kependetaan, yang menunjukkan masalah potensial pernikahan antar
kepercayaan. Jika engkau, sebagai gembala jemaat, tidak diizinkan untuk melaksanakan
pernikahan seperti itu, doronglah gereja untuk tidak mengizinkan pernikahan itu dilakukan
dalam fasilitas gereja. Selain itu, engkau akan dipandang sebagai seorang yang kejam dan
sebagai yang sedang mengikuti standar yang memisahkan engkau dari jemaatmu.
Siapakah yang boleh menikah di gereja? Jemaat boleh membuat satu penuntun
sebagai berikut: “Setiap pasangan yang kedua-duanya yaitu orang Advent; setiap pasangan
yang bukan orang Advent. Pasangan itu harus mau meninggikan standar Advent dalam
gereja. Tidak boleh diadakan ritual pernikahan di dalam gereja bilamana salah seorang
pasangan yaitu orang Advent sementara yang lain tidak.”
Akankah jemaatmu mengizinkan pendeta yang bukan Advent melaksanakan ritual
pernikahan di gerejamu? Penuntun khas dari sebuah jemaat: “Siapakah yang boleh
melaksanakan ritual pernikahan digereja? Seorang pendeta dari denominasi lain atau
gembala jemaat Advent yang lain sejauh orang itu telah disetujui dan mau bekerjasama
dengan gembala jemaat.”
Musik. – Penuntun pernikahan gereja sering berisi daftar panjang musik yang bisa
diterima. Jika tidak ada musik lain yang diizinkan, maka pilihan pengantin sangat terbatas.
Jalan tengah bisa disebutkan bahwa musik yang ada di dalam daftar ialah musik yang sudah
disetujui, dan bahwa musik lain harus disetujui oleh bagian musik gereja.
Dalam Penuntun juga perlu disebutkan apakah organ atau instrumen lain bisa
digunakan orang lain selain orang-orang dari bagian musik gereja.
Pembatasan-pembatasan dan pelayanan lain. –
1. Koordinator pernikahan. Apakah gereja memiliki koordinator pernikahan?
Apakah orang ini digunakan?
2. Dekorasi. Dekorasi yang bagaimana yang dibolehkan dan dekorasi yang
bagaimana yang tidak dibolehkan.
3. Lilin. Pengantin menyukai lilin. Pemelihara kebersihan gedung benci
membersihkannya sesudah ritual selesai, terutama kalau gereja memakai carpet. Banyak
gereja membolehkan hanya lilin yang tidak menetes. Dalam beberapa budaya lilin tidak
digunakan dalam gereja Advent.
4. Pakaian. Apakah ada standar pakaian yang layak dan yang tidak layak?
5. Fotografi. Apakah ada pembatasan pengambilan foto di gereja? Banyak gereja
tidak mengizinkan pengambilan foto pada saat-saat bagian ritual kudus.
Yang lain mengizinkannya selama tidak memakai lampu blitz dan sama sekali tidak
mengganggu peserta atau hadirin.
6. Beras atau pernak-pernik. Apakah diizinkan dalam gedung?
7. Resepsi. Apakah ada aturan mengenai penggunaan fasilitas gereja untuk resepsi
pernikahan?
8. Biaya. Apakah ada biaya pernikahan untuk anggota gereja? untuk anggota
dari gereja Advent yang lain?
10. Peralatan dan servis. Apakah gereja memiliki tangga, tempat lilin, bantal
untuk berlutut, dan lain-lain? Sebagian gereja membeli peralatan ini, lalu menyewakannya
dengan sewa yang ringan untuk pada akhirnya mengembalikan modalnya.
Pengecualian kepada penuntun ini harus sesedikit mungkin dan harus atas
persetujuan komite yang ditunjuk. Gembala jemaat tidak boleh mengambil tanggungjawab
atas perbuatan yang menjengkelkan yang dinyatakan oloeh keluarga-keluarga yang
rencananya bertentangan dengan penuntun ini.
Konseling Pranikah
Pendeta-pendeta Advent, sementara menentang terputusnya pernikahan, menganggap
pembentukan sebuah rumah tangga baru lebih ringan daripada yang dilakukan oleh pendeta-
pendeta lain.
Pendeta-pendeta ini menolak menikahkan sesuatu pasangan tanpa konseling
pranikah. Sering mereka mengharuskan diadakan pertemuan mingguan dan tugas-tugas
pekerjaan rumah selama beberapa bulan sebelum menikah. Para pendeta Advent harus
memberikan konseling pranikah intensif sebelum melaksanakan ritual pernikahan.
Sebagian orang memperdebatkan bahwa konseling pranikah tidak memiliki arti
banyak, sebab pasangan itu begitu idealistis romantis sebelum pernikahan. Sementara ini
mungkin benar, dan sementara konseling pranikah jarang menolong satu pasangan mengubah
pikiran mereka walaupun masalah berat ditunjukkan, namun masih ada manfaat lain. Setelah
mengadakan persahabatan denganmu dan percaya kepadamu, maka mereka akan datang
kepadamu bilamana masalah timbul sesudah mereka menikah.
Family Life tangan kanan Church Ministries Department General Conference telah
menyediakan bahan yang sangat bagus untuk digunakan pada konseling pranikah, dan
sekarang sudah tersedia melalui Balai Buku Advent.
Merencanakan Pernikahan
Kesederhanaan. – ritual pernikahan Advent haruslah sederhana dan rohani lebih
dari pada mewah tak keruan. “Biarlah setiap langkah ke arah persekutuan pernikahan ditandai
oleh kesopanan, kesederhanaan, ketulusan dan kesungguh-sungguhan tujuan untuk
menyenangkan dan menghormati Tuhan”(The Ministry of Healing, hlm. 359).
Di bagian-bagian dunia di mana barang-barang seperti kerudung, tali dan lilin
menggambarkan ritus-ritus non-Kristen, semua itu harus dihilangkan dari ritual pernikahan
Advent. Pakaian pendeta harus sederhana dan layak.
Perencanaan pribadi. – Engkau harus mengadakan pertemuan perencanaan pribadi
dengan kedua pengantin sebelum mengadakan pernikahan mereka. Dengarkanlah rencana
pengantin perempuan. Mintalah dia memberikan urutan acara secara tertulis. Diskusikan
keinginan mereka mengenai khotbah pendek, janji pernikahan, dan sebagainya. Tentukan
waktu untuk gladiresik.
Jika gambar-gambar resmi pesta pernikahan akan diambil, suruhlah mereka
merencanakan untuk mengambilnya tepat sebelum ritual . Ini mungkin tidak akan berterima
jika pengantin wanita tidak mau dilihat orang dalam pakaiannya sebelum ritual
dimulai.Tetapi, besar keuntungannya. Pernikahan sering termasuk sejumlah besar peserta,
dan mereka harus berpakaian secara khusus untuk kesempatan itu. Jika pernikahan yaitu
tugasan mereka yang utama, hampir selalu akan terhalang oleh seseorang yang belum siap.
Jika tugas utama mereka ialah untuk berfoto, maka fotografi bisa dimulai sebelum
setiap orang hadir. Kemudian, oleh sebab seluruh peserta pesta pernikahan sudah hadir dan
sudah berpakaian untuk berfoto, maka pernikahan itu sendiri jarang terhalang. Dan juga, jika
berfoto dilakukan di antara ritual pernikahan dan resepsi, maka tamu-tamu untuk resepsi
akan gelisah oleh sebab harus menunggu lama sebelum kedua pengantin muncul.
Gladiresik. – Sebagai pendeta, mungkin hanya engkaulah yang profesional dalam
pernikahan yang hadir pada waktu gladiresik pernikahan diadakan. Namun, jika engkau
yaitu seorang laki-laki, engkau harus siap bilamana profesionalismemu dipertanyakan.
Wanita biasanya dianggap lebih mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan
daripada pria. Boleh jadi engkau telah melaksanakan 100 pernikahan, sedangkan wanita yang
menjadi koordinator pernikahan baru melaksanakan 10, jangan merasa tersinggung jika ia
dianggap sebagai penguasa. Jangan awasi terlalu banyak kecuali jika diminta.
Sebaliknya, nasihatmu kadang-kadang akan diminta mengenai masalah seperti
penempatan yang tepat keluarga-keluarga dalam pertemuan itu, posisi yang tepat panggung
peserta, dan detil-detil ritual lain yang baik. Jika engkau tidak menaruh minat pada detil-
detil seperti itu, isterimu mungkin tertarik membaca prosedur yang layak dan menjadi
anggota timmu dalam memberikan nasihat. Engkaulah orang yang bertanggungjawab untuk
melihat apakah standar gereja dijunjung tinggi.
Bilamana gladiresik pernikahan dilakukan terlalu jauh dari waktu ritual , ada
kemungkinan para peserta lupa bagian mereka. Jika dilakukan terlalu dekat dengan ritual ,
para peserta mungkin akan terkejut atas ritual yang sudah di ambang pintu. Mungkin waktu
paling ideal untuk mengadakan gladiresik ialah pada malam sebelum pernikahan
dilaksanakan.
Jika memungkinkan, jangan gunakan pemain organ atau pemain instrumental lainnya
yang tidak mengikuti gladiresik. Pemusik memegang peran utama dalam ritual pernikahan.
Tidak perduli betapa mahirnya pemain musik itu, tak seorangpun dapat melakukan peran
terbaiknya tanpa mengetahui detil-detil ritual .
Gladiresik pernikahan cenderung terputus-putus dan membuat frustrasi. Petujuk
berikut bisa menolong:
1. Mintalah pengantin perempuan membawa urutan acara secara tertulis. Hal ini
akan menghilangkan sebagian kebingungan. Walaupun demikian, penyesuaian kelihatannya
akan banyak dilakukan pada waktu gladiresik.
2. Mulailah dengan membicarakan secara keseluruhan. Suruhlah para peserta duduk
dan bicarakanlah secara keseluruhan urutan ritual tertulis yang diberikan oleh pengantin,
klarifikasikan dan buat perubahan seperlunya. Bilamana sudah selesai, semua peserta harus
sudah mengetahui peran mereka masing-masing. Membicarakan secara keseluruhan ini bisa
dilakukan sebelum mereka yang suka terlambat tiba. Mudah-mudahan seorang teman bisa
memberitahukan kepada mereka bilamana mereka sudah datang.
3. Lindungilah pengantin perempuan. Pembicaraan pendek pada permulaan
membicarakan ritual secara keseluruhan kira-kira seperti berikut: “Kita berada di sini untuk
menciptakan kenangan bagi kedua pengantin. yaitu tugas kita untuk menolong membuat
yang terbaik. Dalam menentukan detil-detil ritual , keinginan pengantin perempuan
haruslah selalu yang pertama, dan keinginan pengantin laki-laki yang berikut. Kecuali
menyangkut peraturan gereja, tidak ada keputusan pendeta, koordinator pernikahan, keluarga
atau sahabat-sahabat yang dibolehkan untuk menggantikan keinginan kedua pengantin.”
Kemudian perhatikanlah bahwa prinsip ini dilakukan sepanjang gladiresik itu.
4. Akhirilah dengan gladiresik terusan. Jika masih ada peserta yang tidak hadir,
gunakanlah peserta pengganti. Gladiresik terusan pertama akan berjalan lambat, dan para
peserta akan mengeluh jika diminta untuk mengulangi lagi. Tetapi bagaimanapun juga,
gladiresik terusan kedua biasanya hanya mengambil waktu beberapa menit saja dan para
peserta akan lebih merasa senang sebab sudah mengetahui peran masing-masing.
5. Bebaskan pasangan dari tanbggungjawab yang tidak perlu. Pada waktu gladiresik
berakhir, ingatkanlah para peserta bahwa mereka berada di sana untuk melayani pengantin
laki-laki dan perempuan, melaksanakan apa yang disuruh, untuk memperhatikan detil-detil
saat-saat terakhir, untuk menghilangkan ketegangan sebanyak mungkin. Biarlah kedua
pengantin berbuat sesedikit mungkin selama ritual itu. Mereka berada di sana bukan untuk
mengadakan pertunjukan kepada umum, tetapi untuk membuat komitmen kepada satu sama
lain di hadapan Allah dan di hadapan keluarga dan sahabat-sahabat mereka.
Urutan ritual
Masehi Advent Hari Ketujuh tidak memiliki ritual pernikahan yang sudah
ditentukan. Sebagai gereja dunia, kita harus mengizinkan variasi untuk disesuaikan dengan
budaya setempat. Pada budaya di mana ritual pernikahan berbeda dengan yang
diringkaskan di bawah ini, maka divisi atau uni setempat boleh menganjurkan penyesuaian
yang membuat ritual itu lebih layak.
Pernikahan di rumah biasanya lebih sederhana dan direncanakan sesuai dengan
citarasa dan keadaan pesta dimaksud. Orang-orang yang hadir pada ritual pernikahan di
rumah biasanya hanya mereka yang diundang saja. Kehadiran pada ritual pernikahan di
gereja terbuka untuk siapa saja.
Berikut ini urutan ritual yang dianjurkan:
Musik pendahuluan
Buku tamu : Buku tamu biasanya diisi di pintu pada waktu masuk.
Jika tamu-tamu banyak, sediakanlah beberapa buku tamu
untuk diisi pada saat yang sama supaya orang-orang
jangan sampai menunggu lama.
Tamu-tamu diantar
masuk : Penerima tamu mendudukkan sahabat-sahabat pengantin
perempuan di sebelah kiri ruangan gereja, dan sahabat-
sahabat pengantin laki-laki di sebelah kanan.
Penerima tamu membawa wanita yang masuk,
menuntunnya menuju tempat duduk diikuti mereka yang
mengikutinya. Keluarga pengantin wanita dituntun ke
tempat duduk yang sudah disediakan di bagian depan
sebelah kiri, dan keluarga pengantin laki-laki di sebelah
kanan. Tempat khusus bisa disediakan di bangku orang
tua buat kakek/nenek.
Para ibu masuk : Ibu pengantin laki-laki masuk terakhir sebelum ritual
dimulai. Ibu pengantin perempuan masuk pada permulaan
ritual .
Penyalaan lilin
Musik pilihan
Pendeta dan rombongan
pengantin laki-laki
masuk : Biasanya pendeta masuk dari ruangan di samping
panggung, langsung ke tengah panggung, dan menghadap
hadirin. Pengantin laki-laki mengikuti dan berdiri di
sebelah kiri pendeta. Pendamping pengantin laki-laki
mengikutinya.
Rombongan pengantin
perempuan masuk : Pendamping wanita, pendamping pria, pembawa Alkitab
dan penabur bunga (jika semua ini dipakai) masuk
melalui lorong tengah gereja.
Pengantin perempuan
masuk : Pengantin perempuan masuk digandeng oleh ayahnya
atau walinya. Jika ibunya berdiri, maka hadirinpun
berdiri. Hadirin akan bisa melihat lebih baik jika mereka
tetap duduk.
Pengantin laki-laki
menyambut pengantin
perempuan : Pengantin laki-laki menyambut pengantin perempuan
pada waktu pengantin perempuan dan ayahnya berdiri di
samping tempat duduk keluarga.
Pengantin perempuan
Diserahkan : Lihat rincian di bawah.
Musik pilihan
Pengantin perempuan
dan pengantin laki-laki
maju ke panggung : Pengantin perempuan dan pengantin laki-laki maju ke
panggung sementara organ meneruskan prosesi. Mereka
berdiri berhadap-hadapan. Jika mereka menghadap
kepadamu, maka mereka membelakangi hadirin dan
seolah-olah mengabaikan mereka.
Khotbah pendek : Lihat rincian di bawah.
Janji/sumpah
Pernikahan : Lihat rincian di bawah.
Doa : Pasangan baru saja mengucapkan berjanji/bersumpah
satu sama lain. Sekarang mereka berlutut untuk memohon
pertolongan Tuhan supaya bisa memenuhi janji itu.
Mengundang Allah masuk ke dalam hati mereka supaya
ada kasih dalam rumah tangga mereka, untuk menolong
mereka membuat rumah tangga ini surga kecil menuju ke
dalam surga.
Doa bisa diakhiri dengan “Tuhan memberkati engkau dan
melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-
Nya dan memberi engkaukasih karunia; Tuhan
menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau
damai sejahtera” (Ul. 6:24-26).
Atau akhiri dengan menyebutkan doa “Bapa Kami,”
bersama-sama, untuk memberikan kesempatan kepada
hadirin untuk berdoa memohon berkat untuk kedua
pasangan.
Musik pilihan : Musik pilihan boleh menyusul sementara kedua
pengantin masih berlutut. Doa “Bapa Kami” atau “Doa
Pernikahan” yaitu lagu yang sesuai.
Berangkulan
Perkenalan : Perkenalan ini bisa tiga bagian.
Pertama, bersama kedua pengantin, majulah ke depan.
Berdiri di antara mereka pada saat mereka belum pergi,
mungkin dengan satu tangan di atas bagu mereka masing-
masing. Tidak usah berkomentar. Kelihatannya tidak ada
orang yang mendengarkan apa yang engkau katakan
sebelumnya. Mereka sibuk memperhatikan kedua
pengantin dan pembantu-pembantu mereka, dan bagianmu
yaitu formal (resmi). Sekarang seluruhnya informal.
Panggillah kedua pasangan dengan nama kecil mereka dan
gunakan waktu beberapa menit untuk memberikan nasihat
pernikahan yang disesuaikan dengan situasi dan
kepribadian mereka.
Kedua, perkenalkanlah keluarga barru, dengan
menyebutkan nama kecil dan nama keluarga.
Ketiga, undanglah para tamu ke resepsi jika ini yaitu
permintaan kedua pengantin.
Penutup : Musik penutup mulai. Pengantin perempuan dan
pengantin laki-laki turun ke lorong tengah; pasangan
rombonmgan pengantin lain mengikuti dengan urutan
yang berlawanan pada waktu mereka masuk. Pendeta
keluar terakhir. yaitu sangat baik bagimu jika engkau
menyuruh isterimu duduk di tempat duduk tengah dekat
lorong tengah. Berhentilah di dekatnya, minta dia berdiri,
lalu menggandengnya untuk keluar bersama.
Cukup ideal bilamana kedua pengantin langsung pergi ke
tempat resepsi untuk siap menyambut para tamu yang
datang. Sering terlalu berlebihan jika seluruh rombongan
berdiri untuk menyambut tamu. Yang paling diperlukan
ialah kedua pengantin dan orang tua mereka.
Orang tua Orang tua kedua pengantin dituntun keluar, dengan urutan
yang terbalik dengan pada waktu mereka masuk.
Hadirin bubar Hadfirin keluar baris demi baris.
Pengantin Perempuan Diserahkan
Pertanyaan tradisional “Siapakah yang menyerahkan perempuan ini untuk
dinikahkan dengan laki-laki ini?” boleh dijawab ayahnya dengan mengatakan “Saya orang
tuanya” atau “Ibunya dan saya ayahnya.” Lalu ayahnya melepaskan tangannya dari pengantin
perempuan dan memasukkan ke gandengan pengantin laki-laki, sebagai lambang
perkenannya atas persatuan ini. Pengantin perempuan mungkin akan mencium ayahnya.
Sebagian pengantin perempuan tidak setuju dengan pertanyaan ini, merasa seolah-
olah perempuan yaitu milik yang bisa diserahkan dari satu orang kepada orang lain. Engkau
boleh meminta komitmen dari orang tua kedua pengantin sebagai berikut: Sementara
pengantin perempuan dan pengantin laki-laki tetap berdiri di lorong tengah, ayah pengantin
perempuan pergi ke ibu pengantin perempuan. Kedua pasang orang tua berdiri. Pendeta
bertanya, “Siapakah yang menyerahkan kedua pasangan ini untuk dipersatukan dalam ikatan
perkawinan yang kudus? Kedua pasang orang tua menjawab, “Kami orang tua mereka.” Lalu
pendeta meneruskan, “Apakah engkau berjanji akan melepaskan anakmu dan menerima
keluarga baru untuk dikasihi sebagai salah satu milikmu?” Kedua orang tua menjawab,
“Kami berjanji.” Lalu kedua pengantin pergi ke orang tua mereka dan bertukar salam yang
sesuai. Kemudian kedua orang tua duduk pada waktu kedua pasangan pengantin pergi
menuju panggung.
ritual pernikahan memberikan kesempatan untuk menekankan perpaduan dan
ikatan dua keluarga. Jika penekanan ini diinginkan, pendeta bisa meminta surat dari para
orang tua yang menyatakan perasaan mereka mengenai anggota keluarga yang baru. Lalu
pendeta boleh membacakan bagian-bagian dari surat itu pada waktu ritual pernikahan. Hal
ini menciptakan suatu lingkungan kehangatan pribadi dan penerimaan keluarga.
Pendekatan unik pada “menyerahkan” dimulai sesudah pengantin perempuan datang
ke tempat duduk keluarga. Pengantin laki-laki bergerak ke arah pengantin perempuan pada
waktu pendeta berkata, “Dari kisah kasih zaman purba kita membaca bahwa Ishak pergi
menemui Ribka. Dicatat bahwa mereka bertanya kepada Ribka apakah ia bersedia pergi dan
menjadi isteri anak Abraham, Ishak. [Pengantin laki-laki sekarang berdiri menghadap pada
pengantin perempuan.] Oleh sebab itu saya bertanya kepadamu, [nama pengantin
perempuan], maukah engkau pergi dan menjadi isteri orang ini [nama pengantin laki-laki]?”
Pengantin perempuan menjawab, “Saya mau pergi.” Lalu pengantin laki-laki menemani
pengantin perempuan menuju panggung.
Khotbah Pendek
Khotbah pendek tidak boleh lebih dari 5 sampai 10 menit pada kebanyakan keadaan.
Secara khusus, ini sebenarnya yaitu bagian resmi dari pada ritual itu. Setiap orang
memperhatikan pasangan pengantin, menunggu saling mengucapkan janji/sumpah. Janganlah
terlalu banyak bicara di sini dan katakanlah lebih banyak nanti pada acara tidak resmi,
sebelum kedua pasangan meninggal tempat itu. Orang-orang akan mendengarkan lebih baik
dan akan lebih bermanfaat.
Contoh khotbah pendek. – “Kita berkumpuil di sini di pandangan Allah, dan di
hadapan para hadirin, untuk mempersatukan laki-laki ini dan perempuan ini dalam satu ikatan
perkawinan yang kudus.
“Tetapi mengapa di dalam gereja? Pengantin perempuan dan pengantin laki-laki telah
memilih untuk memulai rumah tangga mereka di rumah Tuhan sebagai lambang dari
kerinduan mereka untuk senantiasa Tuhan bersama mereka di rumah tangga mereka.
“Allah mengasihi pernikahan. Segala pemikiran bermula dari pada-Nya pada waktu
Ia melaksanakan ritual pernikahan yang pertama di Eden. Allah berfirman,
‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya,
yang sepadan dengan dia’ (Kej. 2:18).
“Allah menciptakan baik laki-laki maupun perempuan sedemikian rupa sehingga
seorang tidak sempurna tanpa yang lain. Pencipta menjadikan Hawa dari rusuk Adam untuk
mengajarkan kepada kita paling sedikit tiga pelajaran: (1) Hawa diambil dari samping Adam,
agar perempuan tidak menjadi di atas atau di bawah, tetapi berdiri di samping laki-laki; (2)
rusuk itu dari bawah lengan laki-laki, sebab dia harus dilindungi oleh laki-laki itu; (3) rusuk
itu diambil dari dekat hati laki-laki, oleh sebab dia harus dikasihi olehnya.
“Dengan demikian, inilah yang dikutip oleh Yesus, ‘Sebab itu laki-laki akan
meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu
menjadi satu daging’ (Mat. 19:5).
“Ke dalam ikatan pernikahan yang kudus itulah kedua orang ini, yang sekarang hadir
di sini, dipersatukan.”
Ayat-ayat Khotbah pendek yang dianjurkan
Kej. 1:26-28 “Laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka.”
Kej. 2:18-24 Pernikahan yang pertama.
Kid. 2 Nyanyian cinta kasih.
Kid. 8:6, 7 “Air yang banyak tak dapat memuaskan cinta.”
Mrk. 10:6-9 “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”
Yoh. 2:1-10 Yesus dapat melakukan mujizat pada pernikahan.
Yoh. 15:9-12 “Dan sukacitamu menjadi penuh.”
1 Kor. 13 “Kasih itu tidak berkesudahan.”
Ef. 5:22-28 “Hai istri, tunduklah kepada suamimu.” “Hai suami,
kasihilah istrimu.”
Ibr. 13:4 “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap
perkawinan.”
Sumpah/Janji
Pengantin perempuan dan pengantin laki-laki saling berpegangan tangan untuk saling
mengucapkan sumpah/janji. Umumnya tangan kanan mereka saling berpegangan, tetapi
engkau boleh menganjurkan supaya mereka saling memegang kedua tangan mereka sebagai
pertanda lebih intim. Engkau boleh mengatakan, “Sekarang, sementara pengantin perempuan
dan pengantin laki-laki saling berpegangan tangan, saya mengundang suami dan istri yang
hadir di sini untuk saling berpegangan tangan untuk memperbarui sumpah/janji mereka
sementara kedua pengantin saling mengucapkan sumpah/janji mereka.” Lalu diteruskan
dengan pengucapan sumpah/janji.
Sumpah/janji tradisional. – Pendeta bertanya kepada pengantin laki-laki: “Dan
sekarang, berjanjilah dengan khidmat dan dengan sungguh-sungguh di hadirat Allah, dan di
hadapan saksi-saksi ini, maukah engkau, [nama lengkap pengantin laki-laki], mengambil
perempuan ini, [nama lengkap pengantin perempuan], menjadi isterimu yang sah, untuk
hidup bersama di bawah peraturan Allah dalam ikatan pernikahan yang kudus? Apakah
engkau mau mengasihinya, menghiburnya, menghormatinya, menyayanginya, pada waktu
sakit dan pada waktu sehat, pada waktu kemakmuran atau kesengsaraan; dan melupakan
semua yang lain, memelihara dirimu hanya untuk dia selama kamu berdua hidup? Apakah
engkau mau menyatakan demikian?”
Pengantin laki-laki menjawab, “Saya mau.”
Lalu pendeta bertanya kepada pengantin perempuan: “Maukah engkau, [nama
lengkap pengantin perempuan], mengambil laki-laki ini, [nama lengkap pengantin laki-laki],
menjadi suamimu yang sah, untuk hidup bersama di bawah peraturan Allah dalam ikatan
pernikahan yang kudus? Apakah engkau mau mengasihinya, menghormatinya, dan
menghiburnya, pada waktu sakit dan pada waktu sehat, pada waktu kemakmuran atau
kesengsaraan; dan melupakan semua yang lain, memelihara dirimu hanya untuk dia selama
kamu berdua hidup? Apakah engkau maukah menyatakan demikian?”
Pengantin perempuan menjawab, “Saya mau.”
Kemudian pendeta meletakkan satu tangannya di atas tangan kedua pengantin yang
saling berpegangan, dan berkata, “Oleh sebab [nama lengkap pengantin laki-laki] dan [nama
lengkap pengantin perempuan] telah setuju untuk dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang
kudus, dan telah bersaksi di hadirat Allah dan di hadapan para hadirin ini, dan selain itu
mereka telah saling mengucapkan janji setia mereka, dan telah menyatakan semua itu dengan
saling berpegangan tangan, maka saya, sebagai seorang pendeta injil dan oleh kuasa undang-
undang ______________, dengan ini mengumumkan dengan resmi bahwa mereka yaitu
suami dan istri. Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.”
Sumpah/Janji pengganti. – Pendeta bertanya kepada pengantin laki-laki: [Nama
lengkap pengantin laki-laki], apakah engkau mengambil perempuan yang engkau pegang
tangannya ini menjadi istrimu yang sah?”
Pengantin laki-laki menjawab: “Ya.”
Pendeta bertanya kepada pengantin laki-laki: “Apakah engkau berjanji dengan
sungguh-sungguh di hadirat Allah dan di hadapan saksi-saksi ini akan menjadi suaminya
yang setia dan yang mengasihinya baik pada waktu kegembiraan atau pada waktu kesedihan,
pada waktu keberuntungan atau kerugian, pada waktu pencobaan atau kemenangan, dan
memelihara dirimu sendiri hanya untuk dia selama kamu berdua hidup, menurut peraturan
Allah yang kudus? Apakah engkau mau menyatakannya?
Pengantin laki-laki menjawab: “Saya mau.”
Kemudian pendeta bertanya kepada pengantin perempuan: [Nama lengkap pengantin
perempuan], apakah engkau mengambil laki-laki yang tangannya engkau pegang ini menjadi
suamimu yang sah?
Pengantin perempuan menjawab: “Ya.”
Pendeta bertanya kepada pengantin perempuan: “Apakah engkau berjanji dengan
sungguh-sungguh di hadirat Allah dan di hadapan saksi-saksi ini akan menjadi istrinya yang
setia dan yang mengasihinya pada waktu kegembiraan atau pada waktu kesedihan, pada
waktu keberuntungan atau kerugian, pada waktu pencobaan atau kemenangan, dan
memelihara dirimu sendiri hanya untuk dia selama kamu berdua hidup, menurut peraturan
Allah yang kudus? Apakah engkau mau menyatakannya?
Pengantin perempuan menjawab: “Saya mau.”
Kemudian pendeta meletakkan satu tangannya di atas tangan mereka dan berkata:
‘Oleh sebab engkau, [nama lengkap pengantin laki-laki], dan engkau, [nama lengkap
pengantin perempuan], telah berjanji untuk saling mengasihi dan telah bersumpah untuk
saling setia, maka saya, seorang pendeta Injil, yang dikuasakan oleh Firman Allah dan oleh
undang-undang negara ini, dengan ini menyatakan kamu suami dan istri yang sah.
Sumpah/janji yang diucapkan oleh pasangan.—Pengantin laki-laki kepada
pengantin perempuan: “Dalam nama Allah, saya, [nama lengkap pengantin laki-laki],
mengambil engkau, [nama lengkap pengantin perempuan], menjadi istriku, untuk memiliki
dan memeliharamu mulai hari ini dan seterusnya, pada waktu baik atau buruk, pada waktu
kaya atau miskin, pada waktu sehat atau sakit, untuk mengasihimu dan menghargaimu,
sampai kematian memisahkan kita berdua. Inilah sumpah/janjiku dengan sesungguhnya.”
Pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki: “Dalam nama Allah, saya, [nama
lengkap pengantin perempuan], mengambil engkau, [nama lengkap pengantin laki-laki],
menjadi suamiku, untuk memiliki dan memeliharamu mulai hari ini dan seterusnya, pada
waktu baik atau buruk, pada waktu kaya atau miskin, pada waktu sehat atau sakit, untuk
mengasihimu dan menghargaimu, sampai kematian memisahkan kita berdua. Inilah
sumpah/janjiku dengan sesungguhnya.”
Lalu pendeta meletakkan satu tangannya di atas tangan mereka yang berpegangan
dan mengumumkan mereka suami dan istri.
Salah satu masalah pada pasangan mengucapkan sumpah/janji mereka ialah mereka
sering gugup dan lupa dan tidak bisa memikirkan yang lain selama ritual itu. Mereka harus
diingatkan mengenai hal ini pada waktu mereka mengambil keputusan. Sebagai jalan tengah
pendeta boleh memegang tulisan sumpah/janji itu dengan cara yang tidak terhalang sehingga
mereka boleh melihatnya bila diperlukan.
Sumpah/janji disediakan oleh pasangan. – Pasangan kadang-kadang mau membuat
ritual mereka lebih bersifat pribadi dan lebih kreatif oleh menyediakan sendiri sumpah/janji
mereka. Jika pilihan seperti itu diinginkan, engkau harus memberikan tuntunan kepada
pasangan itu, oleh sebab engkau memiliki kewajiban hukum dan teologis untuk
menyatakan mereka suami dan istri hanya bila komitmen tertentu telah mereka buat.
Sumpah/janji itu harus menyatakan bahwa komitmen mereka yaitu menyeluruh dan
permanen. Sumpah/janji itu harus memohon pertolongan Allah. Berikan kepada mereka satu
salinan sumpah/janji tradisional untuk digunakan sebagai penuntun pada waktu mereka
menyiapkan sumpah/janji mereka sendiri.
Resepsi
Di resepsi, berikanlah ucapan selamat kepada pasangan, lalu pimpin
penandatanganan surat nikah. (di beberapa tempat hal ini dilakukan sebagai bagian dari
ritual pernikahan.) Biasanya pengantin laki-laki dan pengantin perempuan menandatangani
bersama dengan saksi-saksi. Saksi-saksi yang lebih disukai ialah pengiring pengantin laki-
laki dan pengiring pengantin perempuan. Gambar sering diambil pada waktu
penandatanganan surat nikah itu.
Engkau bertanggung jawab secara legal untuk mendaftarkan pernikahan itu, oleh
sebab itu engkau harus menyimpan salinan dari dokumen yang sudah ditandatangani yang
sudah ditetapkan untuk dikirimkan kepada pejabat sipil. Sebagian dokumen harus dikirimkan
bersama dengan bukti-bukti pernikahan dari pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.
Jika engkau ingin memberikan kado, berikanlah sesuatu yang bisa digunakan dalam
membentuk mezbah keluarga mereka.
Para pendeta Advent tidak menerima bayaran sebab melaksanakan pernikahan atau
pelayanan mereka yang lain.
Saran-saran tambahan
Sebelum ritual . – Simpanlah salinan dari ritual -ritual sebelumnya dan
berikanlah itu kepada pasangan. Secara khusus ini akan mudah jika engkau memakai
komputer untuk menyimpannya.
Mintalah pengantin perempuan dan pengantin laki-laki menulis secara terpisah
jawaban mereka terhadap pertanyaan, seperti, “Mengapa engkau merasa bahwa inilah waktu
yang tepat bagimu untuk menikah?” “Mengapa engkau merasa bahwa inilah orang yang
tepat yang akan engkau nikahi?” “Bagaimanakah engkau mau agar ritual pernikahanmu
diingat oleh mereka yang menghadiri?” Buatlah ritual itu lebih bersifat pribadi oleh
memasukkan cuplikan dari apa yang mereka telah tuliskan.
Atau mintalah keluarga pasangan untuk menuliskan satu alinea mengenai kejadian
yang menunjukkan apa yang membuat pengantin perempuan dan / atau pengantin laki-laki
istimewa kepada mereka. Membagikan sebagian dari ini pada waktu ritual akan
meyakinkan pasangan dan membuat ritual lebih bersifat individu.
Selama ritual . – ritual lilin trinitas sangat populer di beberapa tempat. Sebuah
tempat lilin yang berisi tiga batang lilin ditempatkan di belakang pendeta. Pada permulaan
ritual , penyala lilin hanya menyalakan dua lilin yang ada di ujung-ujungnya. Selama
ritual , mungkin di antara mengucapkan sumpah/janji dan doa, mengambil masing-masing
satu lilin yang sedang menyala. Bersama-sama mereka menyalakan lilin yang ada di tengah,
lalu mematikan lilin yang mereka pegang. Sementara itu, pendeta mengulangi, “Sebab itu
laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga
keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”
Sebagai variasi kepada ritual tiga lilin ini: tidak ada lilin yang dinyalakan
sebelumnya. Pada waktu yang tepat dalam ritual itu, kedua pasang orang tua berdiri. Bapa-
bapa menyalakan lilin yang dipegang oleh masing-masing ibu. Dengan lilin yang menyala,
ibu pergi ke panggung, menyalakan dua lilin yang ada di ujung-ujung tempat lilin, lalu
mereka kembali ke tempat duduk mereka, kemudian kedua pasangan melanjutkan seperti di
atas. Ini bisa menjadi lambang yang kuat mempersatukan dua hidup, mengikat dua keluarga,
dan membentuk satu keluarga baru terpisah dari orang tua.
Partisipasi hadirin terbatas pada ritual pernikahan. Salah satu cara untuk
melibatkan hadirin ialah dengan menyebutkan “Doa Bapa Kami” bersama-sama, dengan
demikian setiap orang mengumumkan berkat secara bersama-sama. Cara lain ialah pendeta
berbalik kepada hadirin tepat sesudah kedua pengantin mengucapkan sumpah/janji dan tepat
sebelum ia pernyataan pernikahan dan bertanya, “Maukah Anda semua yang menyaksikan
janji-janji ini dengan sekuat tenaga mendukung kedua orang ini dalam pernikahan mereka?
Jika mau, jawablah ‘Kami mau.’”
Klimaks yang sesuai pada ritual itu, tepat sebelum kedua pengantin keluar melalui
lorong tengah, mereka mengulangi, mungkin sesudah pendeta mengucapkan, “Ke mana
engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku
bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun
mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku,
bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain
dari pada maut” (Rut 1:16, 17).
Pada keadaan di mana baik pengantin perempuan maupun pengantin laki-laki
memiliki anak-anak yang akan menjadi bagian dari rumah tangga baru itu, libatkanlah
mereka dalam ritual pernikahan. Pada saat tertentu panggillah mereka naik ke panggung,
mungkin untuk memegang tangan pengantin perempuan atau pengantin laki-laki. Pendeta
boleh berkata kepada kedua pengantin: “Kita berada di sini untuk mengukuhkan dan
mendukung kerinduan dari kedua orang ini untuk menyediakan satu rumah untuk [nama
anak-anak]; menyediakan satu tempat di mana mereka memperoleh keamanan, kehangatan,
kasih, dan tantangan yang akan menolong mereka bertumbuh dan dewasa. Apakah kamu mau
mengambil keluarga yang baru saja dibentuk ini sebagai milikmu sendiri, dan apakah kamu
di sini mau berjanji untuk mengasihi dan memelihara mereka?” Kedua pengantin menjawab:
“Kami mau.”
Tanda kenangan (cindra mata) ritual . – Tanda tangan di buku tamu dan kado
yang diberikan oleh sahabat-sahabat menjadi tanda kenang-kenangan (cindra mata)
pernikahan. Inovasi tambahan ialah menulis sumpah/janji di atas gulungan perkamen. Kedua
pengantin biasanya membaca sumpah/janji mereka dari perkamen itu. Sesudah ritual
selesai mereka menandatangani gulungan perkamen itu, mungkin dengan memuat tanda
tangan keluarga mereka atau seluruh rombongan pengambil bagian dalam ritual pernikahan
itu. Perkamen itu digulung dan diikat dengan pita khusus, dan pasangan itu menyimpannya
sebagai tanda kenang-kenangan.
Atau berikan kepada setiap orang yang datang sepotong kertas yang cantik pada
waktu mereka memasuki ruangan. Jika ada program yang dicetak, ruangan yang kosong di
situ bisa digunakan. Cetaklah permohonan “Kami mengundang Anda menuliskan sepatah
kata dorongan, nasihat yang berguna, atau ayat Alkitab khusus bagi kedua pengantin
sementara mereka memulai rumah tangga mereka yang baru bersama-sama. Tolong serahkan
kepada petugas pada waktu Anda keluar.” Mungkin pada setiap ulang tahun sesudah itu,
pasangan akan melihat kembali catatan ini, menghidupkan kembali pernikahan mereka dan
kembali didorong oleh pikiran sahabat-sahabat mereka.

